Faktor Resiko Kecemasan (skripsi dan tesis)

beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi terjadinya gangguan kecemasan yaitu

 1) Jenis kelamin
 Perempuan cenderung menunjukkan kejadian gangguan kecemasan yang lebih tinggi, walaupun ada beberapa variasi berdasarkan jenis gangguan kecemasannya. Pada perempuan, terdapat dua kali peningkatan kejadian panik, gangguan kecemasan menyeluruh, agoraphobia, dan fobia spesifik dibandingkan dengan laki-laki. Namun, prevalensi pada fobia sosial hampir sama pada perempuan maupun laki-laki.

 2) Usia
Menurut Merikengas dan Pine, gangguan kecemasan secara umum muncul pada masa anak-anak atau remaja. 13 Pada berbagai penelitian ditemukan perbedaan periode puncak dari onset berbagai jenis gangguan kecemasan: fobia spesifik pada pertengahan masa anak-anak (7-9 tahun), gangguan kecemasan berlebih pada akhir masa anak-anak (10-13 tahun), fobia sosial pada pertengahan masa remaja (15-16 tahun), serangan panik pada akhir masa remaja (17-18 tahun). 20–23 Kejadian gangguan kecemasan pada laki-laki cenderung konstan sepanjang kehidupan dewasa, sedangkan pada perempuan, puncak kejadian gangguan kecemasan pada dekade ke 5 dan 6 kehidupan dan akan menurun setelahnya.13 Kaplan dan Sadock mengatakan gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Sebagian besar kecemasan terjadi pada umur 21-45 tahun.
3) Status sosial dan etnis
 Kejadian gangguan kecemasan umumnya lebih tinggi pada orang dengan status sosial ekonomi yang lebih rendah.  Beberapa penelitian di negara lain menunjukkan orang Afrika-Amerika memiliki kejadian gangguan kecemasan yang lebih tinggi khususnya pada gangguan fobia.  Fobia juga dilaporkan memiliki kejadian yang lebih tinggi pada orang dengan tingkat sosial yang lebih rendah.
4) Konsep diri dan peran
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian 12 yang diketahui individu terhadap dirinya dan memengaruhi individu berhubungan dengan orang lain. Menurut Stuart dan Sundeen, peran adalah pola sikap perilaku dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.  Peran dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran, konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran, kesesuaian dan keseimbangan antara peran yang dijalaninya, dan juga keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran. Individu yang mempunyai peran ganda baik di dalam keluarga atau di masyarakat mempunyai kecenderungan mengalami kecemasan yang berlebih disebabkan konsentrasi terganggu.
5) Temperamen/kepribadian
 Kerentanan perkembangan kecemasan salah satunya ditandai oleh peningkatan reaktivitas fisiologis atau perilaku penarikan diri dari stimulus baru atau situasi menantang.  Tanda lain yang berpotensi dalam perkembangan gangguan kecemasan adalah sensitivitas kecemasan  berupa kepercayaan bahwa sensasi kecemasan merupakan konsekuensi fisiologis, psikologis, atau sosial berbahaya. Sensitivitas kecemasan ini dikatakan berinteraksi dengan pengalaman lingkungan untuk membentuk kepercayaan akan bahaya dari sensasi cemas. Maka dari itu, sensitivitas kecemasan mungkin terkait dengan perkembangan dari beberapa gangguan kecemasan seperti gangguan panik
 6) Gangguan/penyakit medis
Beberapa penelitian dilakukan menunjukkan adanya hubungan antara gangguan kecemasan dan adanya bentuk lain dari psikopatologi yang lebih awal.  Gangguan lain yang mungkin meningkatkan risiko perkembangan gangguan kecemasan yaitu gangguan makan , depresi, dan penggunaan dan penyalahgunaan zat.  Gangguan atau gejala medis juga mempunyai hubungan dengan perkembangan kecemasan.  Kagan mengatakan bahwa kadar kortisol tinggi berhubungan dengan kecemasan.33 Gangguan kecemasan juga mungkin menjadi faktor risiko perkembangan dari beberapa penyakit kardiovaskular dan neurologis. Gangguan fobia dilaporkan berhubungan erat dengan migrain dimana fobia timbul mendahului migrain.
7) Pengalaman menjalani pengobatan
 Pengalaman awal pasien dalam pengobatan merupakan pengalaman penting pada individu terutama untuk masa yang akan datang dan menentukan kondisi mental individu di kemudian hari. Apabila pengalaman individu kurang dalam pengobatan, maka cenderung memengaruhi peningkatan kecemasan saat menghadapi tindakan pengobatan.
 8) Komunikasi terapeutik
 Komunikasi sangat dibutuhkan oleh pasien terlebih pada pasien yang akan menjalani kemoterapi. Hampir sebagian besar pasien yang menjalani kemoterapi mengalami kecemasan. Komunikasi yang baik v antara pasien dan dokter/perawat akan menentukan kemoterapi selanjutnya. Pasien yang cemas saat akan menjalani kemoterapi kemungkinan mengalami efek yang tidak menyenangkan bahkan membahayakan.

 9) Fungsi ventilasi
 Beberapa penemuan mengatakan bahwa abnormalitas respirasi merupakan suatu risiko terhadap kecemasan. Abnormalitas respirasi mnunjukkan kerentanan terhadap kecemasan khususnya panik akut. 10) Kewaspadaan/atensi
 Beberapa penelitian mengenai hubungan regulasi atensi dan kecemasan menunjukkan orang dewasa dengan gangguan kecemasan mempunyai kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap tanda-tanda ancaman.
11) Peristiwa kehidupan/stresor
Peristiwa kehidupan yang pada tingkat tertentu mengancam gagasan individu akan keselamatan dan keamanan sering setidaknya secara retrospektif diterima sebagai pemicu dari gangguan kecemasan. Penelitian yang dilakukan Bennet dan Stirling menemukan bahwa subyek dengan gangguan kecemasan dan trait anxiety memiliki orang tua terlalu protektif.
 12) Proses adaptasi
Menurut Kozier dan Oliveri, tingkat adaptasi manusia dipengaruhi oleh stimulus internal dan eksternal yang dihadapi individu dan membutuhkan respon perilaku yang terus menerus.  Proses adaptasi ini   sering menstimulasi individu untuk mendapatkan bantuan dari sumbersumber di lingkungan.
13) Tingkat pendidikan
 Pendidikan pada umumnya dapat mengubah pola pikir, pola bertingkah laku, dan pola pengambilan keputusan. Tingkat pendidikan yang cukup akan lebih mudah mengidentifikasi stresor yang berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya. Tingkat pendidikan juga memengaruhi kesadaran dan pemahaman terhadap stimulus