Problematika pada Lanjut Usia (skripsi dan tesis)

Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan dalam memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi serta memperbaiki kerusakan yang di derita. Seiring
dengan proses menua, tubuh akan mengalami berbagai masalah kesehatan
atau yang biasa disebut dengan penyakit degeneratif (Maryam dkk, 2008
dalam Suri, 2017).
Problematika yang dihadapi orang-orang yang telah lanjut usia sangat
khas. Mereka mengalami penurunan kondisi fisik dan juga masalah
psikologis. Pada usia lanjut, seseorang tidak hanya perlu menjaga kesehatan
fisik tetapi juga menjaga agar kondisi mentalnya dapat menghadapi
perubahan yang akan mereka alami (Nugraheni, 2005 dalam Islamiyah,
2013). Masyarakat sekarang menganggap bahwa lansia itu hanya dapat
berada di dalam rumah, menikmati hari-harinya dengan hanya bersantai tanpa
melakukan aktifitas apapun padahal disisi lain kita dapat menemukan
fenomena-fenomena dimana lansia dalam menjalani masa-masanya dapat
tetap produktif dan berguna bagi orang lain. Usia tua dipandang sebagai masa
kemunduran, masa dimana para lansia merasakan penurunan penurunan yang
terjadi pada dirinya baik secara fisik dan psikologis. Sebagian lansia masih
memandang usia tua dengan sikap yang menunjukkan keputusasaan, pasif,
lemah dan tergantung dengan sanak saudara. Lansia tersebut kurang berusaha
untuk mengembangkan diri sehingga lansia semakin cepat mengalami
kemunduran baik jasmani maupun mental. Disisi lain pandangan ini tidak
berarti bahwa kelompok lansia adalah kelompok orang yang homogen.
(Indrasawari dkk, 2012 dalam Islamiyah, 2013).
Menurut Wahyunita & Fitrah (2010) dalam Suri (2017) Penyakit
degeneratif yang muncul pada lanjut usia diantaranya yaitu :
a. Osteoarthritis (OA)
Peradangan sendi atau yang sering disebut dengan istilah OA,
disebabkan karena adanya pengapuran atau tidak stabilnya sendi.
b. Osteoporosis
Osteoporosis atau sering disebut dengan istilah tulang keropos
biasa sering menyertai individu yang kurang asupan vitamin D
ataupun kurang beraktivitas ketika masa mudanya.
c. Tekanan Darah Tinggi
Kebanyakan lansia sering menderita penyakit tekanan
darah tinggi atau dikenal sebagai hipertensi yaitu kondisi dimana
tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan
tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg, yang terjadi karena
elastisitas arteri pada proses menua. Apabila penyakit ini tidak cepat
ditangani dapat menyebabkan gangguan pada jantung, ginjal dan
pembuluh darah.
d. Kencing Manis (Diabetes Mellitus)
Lansia biasanya menderita penyakit diabetes mellitus dikarenakan
sudah berkurangnya aktivitas tubuh, obesitas dan pola makan yang tidak
tepat.
e. Sering Lupa (Demensia)
Demensia atau yang sering disebut dengan istilah sering lupa
sebenarnya adalah masalah yang berkaitan dengan susunan saraf
pusat atau penyakit vaskular.
f. Penyakit Jantung
Penyakit kardio rentan sekali menyerang lansia. Penyakit jantung
yang biasa dikenal yaitu penyakit jantung koroner, serangan jantung dan
lainnya.
g. Kanker
Penyakit kanker disebabkan karena berubahnya struktur dan fungsi
sel sehingga tidak mampu melaksanakan fungsinya secara normal.
h. Kolesterol
Kadar kolesterol yang tinggi dapat memicu berbagai penyakit
dalam tubuh seperti tekanan darah tinggi, gagal jantung, stroke,
penyakit jantung koroner dan banyak penyakit yang lain.
2. Perubahan Kondisi Fisik
Meskipun perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh,
diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler,
sistem pengaturan tubuh, muskuluskletal, gastrointestinal, dan integument.
Masalah-masalah fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia menurut
Mubarak, 2006 dalam Wiria, 2015 adalah sebagai berikut:
a. Mudah jatuh
b. Mudah lelah
c. Kekacauan mental akut
d. Nyeri pada dada, berdebar debar
e. Sesak nafas pada saat melakukan aktifitas fisik
f. Pembengkakan pada kaki bawah
g. Nyeri pinggang atau punggung dan pada sendi panggul
h. Sulit tidur dan sering pusing
i. Berat badan menurun
j. Gangguan pada fungsi penglihatan, pendengaran, dan sukar menahan
air kencing
Menurut Wiria tahun 2015, perubahan fungsi organ yang terjadi akibat
proses penuaan, tidak sama diantara satu dengan yang lain, secara umum
dijumpai penurunan fungsi secara menyeluruh. Perubahan fungsi organ yang
terjadi pada lanjut usia adalah sebagai berikut :
a. Sistem integument
Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan
kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adipose,
kulit pucat dan terdapatnya bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran
darah ke kulit dan menurunnya sel-sel yang memproduksi pigmen kuku
pada jari tangan serta kaki menjadi tebal dan rapuh, rambut menipis dan
botak, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya (Ganong, 2002
dalam Wiria, 2015).
b. Temperatur tubuh
Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang
menurun, keterbatasan reflek, menggigil dan tidak dapat memproduksi
panas yang banyak diakibatkan oleh merendahnya aktifitas otot.
c. Sistem muskuloskletal
Kecepatan dan kekuatan otot skeletal berkurang, pengecilan otot
akibat menurunnya serabut otot.
d. Sistem penginderaan (pengecapan danpembau)
Menurunnya kemampuan untuk melakukan pengecapan dan
pembauan, sensitifitas terhadap empat rasa menurun setelah usia 50 tahun.
e. Sistem perkemihan
Ginjal mengecil, nefron menjadi atropi, aliran darah menurun sampai
50% fungsi tubulus berkurang yang berakibat kurang mampu memekatkan
urine, ambang ginjal terhadap glukosa meningkat, kandung kemih sulit
dikosongkan pada pria akibatnya retensi urine (Guyton, 2001 dalam Wiria,
2015).
f. Sistem pernapasan
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku,
menurunnya aktifitas selia, berkurangnya aktifitas paru, alveoli ukurannya
melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang, serta berkurangnya reflek
batuk.
g. Sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi, indra pengecap menurun, esophagus melebar, rasa
lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan lambung
menurun, peristaltic melemah sehingga dapat mengakibatkan konstipasi,
kemampuan absorbsi menurun, hati mengecil, produksi saliva menurun,
produksi HCL dan juga pepsin menurun pada lambung.
h. Sistem penglihatan
Kornea lebih berbentuk selindris, spingter pupil timbul sclerosis dan
hilangnya respon terhadap sinar, lensa menjadi keruh serta meningkatnya
ambang penglihatan sinar (daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat,
susah melihat cahaya gelap).
i. Sistem pendengaran
Presbiakusis atau berkurangnya pendengaran pada usia lanjut,
membran timpani menjadi atropi yang menyebabkan etoklerosisi,
penumpukan serumen hingga mengeras karena peningkatan jumlah kratin,
berkurangnya persepsi nada tinggi (Darmojo, 2006 dalam Wiria 2015).
j. Sistem saraf
Berkurangnya berat otak hingga 10 sampai 20 %, berkurangnya sel
kortikal, reaksi menjadi lambat, kurang sensitive terhadap sentuhan,
berkurangnya aktifitas sel, bertambahnya waktu jawaban motorik,
hantaran neuron motorik melemah, dan mengalami kemunduran fungsi
saraf otonom (Darmojo, 2006 dalam Wiria 2015).
k. Sistem endokrin
Produksi hampir semua hormone menurun, fungsi paratiroid dan
sekresi tidak berubah, berkurangnya ACTH, TSF, FSH, LH, menurunnya
aktifitas tiroid akibatnya basal metabolisme menurun, menurunnya
produksi aldosteron, menurunnya sekresi hormon, progesteron, estrogen,
dan aldosteron serta bertambahnya insulin (Darmojo, 2006 dalam Wiria,
2015).
l. Sistem reproduksi
Selaput lendir vagina kering atau menurun, menciutnya ovarium dan
uterus, atropi payudara, testis masih dapat memproduksi, meskipun adanya
penurunan berangsur angsur dan dorongan seks menetap sampai diatas
usia 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik, penghentian produksi ovum
pada saat menopause (Darmojo, 2006 dalam Wiria, 2015).
m. Sistem kardiovaskuler
Perubahan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler dapat dipahami
dari organ jantung dan pembuluh darah. Pada lansia jantung kirinya
mengalami pengecilan karena rendahnya beban kerja, terjadi penebalan
dan kekakuan atau penebalan katup jantung, serta terdapatnya jaringan ikat
pada sistem hantaran khusus jantung Hal ini mengakibatkan penurunan
kontraktilitas miokardium, lamanya waktu pompa ventrikel kiri, dan juga
perlambatan sistem hantaran jantung.