Bentuk-bentuk konflik dalam organisasi menurut Mangkunegara
(2011)
1) Konflik Hierarki merupakan konflik yang hanya bisa terjadi pada
tingkatan hierarki organisasi.
2) Konflik Fungsional merupakan konflik yang bisa terjadi karena
adanya berbagai macam fungsi departemen di organisasi.
3) Konflik Staf dengan kepala unit merupakan konflik yang terjadi di
oraganisasi antara pemimpin unit dengan para stafnya.
4) Konflik Forma-informal merupakan konflik yang berhubungan
erat dengan norma yang berlaku di organisasi informal dengan
organisasi formal.
Pengertian Konflik Peran
Menurut Moorhead dan Griffin (2013) ketika pesan dan petunjuk yang
diberikan orang lain mengenai peran tersebut jelas, tetapi berkontradiksi atau
saling eksklusif itu disebut dengan konflik peran.
Menurut Robbin dan Judge (2015) situasi di mana seorang individu
sedang dihadapkan dengan sebuah ekspektasi-ekspektasi peran yang
berlainan dengan ekspektasinya bisa disebut dengan konflik peran.
Menurut Winardi (2015) sekelompok aktivitas yang telah
diekspektaksi oleh pihak lain dan akan segera dilaksanakan individu tersebut
pada posisinya dalam organisasi tempatnya bekerja sering juga disebut
sebagai konflik peran.
Menurut Rizzo et. al. (1970) Dimana kompatibilitas kongruensi dinilai
relatif terhadap standar kondisi yang mempengaruhi kinerja peran bisa
disebut dengan konflik peran. Berdasarkan berbagai macam pendapat dapat
di simpulkan bahwan konflik peran adalah konflik terjadi pada karyawan
karena adanya ketidak sesuaian saat menjalankan peran-peran tertentu.
Ketika seseorang menghadapi tuntutan yang saling bertentangan antara
pekerja dan keluarganya biasanya akan terjadi konflik peran. Kebingungan
untuk mengambil keputusan mana yang lebih baiktidaknya untuk dirinya
salah satu faktor yang menyebabkannya adalah konflik peran. Ketika
internalisasi nilai, etika, atau standar pribadi saling bertolak belakang dengan
harapan orang lain juga akan terjadi akibat adanya konflik peran
Indikator- Indikator Kinerja
Indikator kinerja sebagai nilai atau karateristik tertentu yang di pergunakan untuk
mengukur output atau outcome suatu kegiatan. Sebagai alat ukur yang di
pergunakan untuk menentukan derajat keberhasilan suatu organisasi dalam
mencapai tujuannya. Sebagai ukuran kuantitatif dan kualitatif yang
menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atatu tujuan yang telah di
tetapkan oleh organisasi. Suatu informasi operasional yang berupa indikasi
mengenai kinerja atau kondisi suatu fasilitas atau kelompok fasilitas (Moeheriono
2012:108).
Bernadin dalam Rosita (2012) dan Rikantika (2016) menjelaskan bahwa
seseorang dapat diukur berdasarkan 6 kriteria yang dihasilkan dari bersangkutan,
yaitu:
- Kualitas
Tingkat di mana hasil aktivitas yang dilakukan mendekati sempurna, dalam arti
menyesuaikan beberapa cara ideal dari penampilan aktivitas ataupun
memenuhi tujuan yang diharapkan dari suatu aktivitas. - Kuantitas
Jumlah yang dihasilkan dalam istilah jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang
diselesaikan - Ketepatan waktu
Tingkat suatu aktivitas diselesaikan pada waktu awal yang diinginkan, dilihat
dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang
tersedia untuk aktivitas lain - Efektivitas
Tingkat penggunaan sumber daya manusia, organisasi dimaksimalkan dengan
maksud menaikkan keuntungan atau mengurangi kerugian dari setiap unit
dalam penggunaan sumber daya - Kemandirian
Tingkat di mana seseorang pegawai dapat melakukan fungsi kerjanya tanpa
meminta bantuan bimbingan dari pengawas atau meminta turut campurnya
pengawas untuk menghindari hasil yang merugikan. - Komitmen
Tingkat di mana pegawai memiliki komitmen kerja dengan organisasi dan
tanggung jawab pegawai terhadap organisasi
Menurut Mathis dan Jackson dalam Ahmad Subekhi dalam Mertha
(2012:193) bahwa kinerja meliputi beberapa indikator kinerja yaitu: - Kuantitas dari hasil
- Kualitas dari hasil
- Ketepatan waktu dari hasil
- Kehadiran
- Kemampuan untuk bekerja sama
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Simanjutak dalam Widodo (2015:133) kinerja dipengaruhi oleh:
- Kualitas dan kemampuan pegawai, hal-hal yang berhubungan dengan
pendidikan/pelatihan, etos kerja, motivasi kerja, sikap mental, dan kondisi fisik
pegawai. - Sarana pendukung, yaitu hal yang berhubungan dengan lingkungan kerja
(keselamatan kerja, kesehatan kerja, sarana produksi, teknologi) dan hal yang
berhubungan dengan kesejahteraan pegawai (upah/gaji, jaminan sosial,
keamanan kerja) - Supra sarana, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kebijaksanaan
pemerintah dan hubungan industrial manajemen.
Sedangkan Sedarmayanti dalam Widodo (2015:133), mengungkapkan
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain: - Sikap dan mental (motivasi, disiplin kerja, dan etika kerja)
- Pendidikan
- Keterampilan
- Manajemen kepemimpinan
- Tingkat penghasilan
- Gaji dan kesehatan
- Jaminan sosial
- Iklim kerja
- Sarana dan prasarana
- Teknologi
- Kesempatan berprestasi
Sedangkan menurut Mangkunegara (2015:67) faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja adalah: - Faktor kemampuan (ability)
Secara psikologis kemampuan (ability) dan kemampuan reality (knowledge
dan skill) artinya pegawai dengan IQ di atas rata-rata (110-120) dengan
pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan
pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah mencapai kinerja diharapkan.
Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan
keahliannya. - Faktor motivasi
Motivasi berbentuk sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi
(situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri
pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja.
Sedangkan menurut Henry simamora dalam Mangkunegara (2017:14)
kinerja di pengaruhi oleh tiga faktor yaitu: - Faktor individual yang terdiri dari:
a. Kemampuan dan keahlian
b. Latar belakang
c. Demografi - Faktor psikologis yang terdiri dari:
a. Presepsi
b. Attitude
c. Personality
d. Pembelajaran
e. Motivasi
Faktor- faktor kinerja terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal yaitu faktor yang di hubungkan dengan sifat-sifat seseorang.
Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang
berasal dari lingkungan (Mangkunegara 2017:15) - Faktor organisasi yang terdiri dari:
a. Sumber daya
b. Kepemimpinan
c. Penghargaan
d. Struktur
e. Job design
Menurut Moeheriono (2012:96) kinerja individu dapat di pengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu: - Harapan mengenai imbalan
- Dorongan
- Kemampuan
- Kebutuhan
- Presepsi terhadap tugas
- Imbalan internal
- Eksternal
- Presepsi terhadap tingkat imbalan dan kepuasan kerja
Pengertian Kinerja
Istilah kinerja berasal dari kata job perfomance atau actual perfomance (prestasi
kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Mangkunegara
(2017:9) pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Menurut Wirawan dalam Abdullah (2014:3) kinerja merupakan singkatan
dari kinetika energi kerja yang padanannya dalam bahasa inggris adalah
perfomance, kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau
indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu.
Nawawi dalam Widodo (2015:131) kinerja adalah hasildari suatu pekerjaan yang
telah dilakukan, baik berupa fisik atau material maupun non fisik atau non
material.
Menurut Simanjutak dalam Widodo (2015:131) kinerja merupakan
tingkatan pecapaian hasil atas tugas tertentu yang dilaksanakan. Simanjutak juga
mengartikan kinerja individu sebagai tingkat pencapaian atau hasil kerja
seseorang dari sasaran yang harus dicapai atau tugas yang harus dilaksanakan
dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan menurut Foster dan Seeker dalam
Widodo (2015:131) kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang pada pekerjaan
yang bersangkutan sesuai dengan ukuran yang berlaku.
Indikator- Indikator Kualitas Kerja
Menurut Malayu Hasibuan dalam Lestari (2015) indikator dari kualitas kerja
pegawai yaitu:
- Potensi Diri
Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud
maupun yang telah terwujud, yang di miliki seseorang, tetapi belum
sepenuhnya terlihat atau di gunakan secara maksimal. - Hasil Kerja Optimal
Hasil kerja optimal harus di miliki oleh seorang pegawai, pegawai harus bisa
memberikan hasil kerjanya yang terbaik, salah satunya dapat di lihat dari
produktivitas organisasi, kualitas kerja, kuantitas kerja. Kualitas kerja adalah
kegiatan yang di lakukan oleh pegawai telah memenuhi berbagai persyaratan,
spesifikasi dan harapan yang telah di tetapkan. Kualitas kerja merupakan suatu
hasil pekerjaan atau sebaik apa harus di selesaikan. Kualitas kerja pegawai
dapat di lihat dari adanya kemampuan menghasilkan pekerjaan yang
memuaskan, tercapainya tujuan secara efektif, dan efisien serta kecakapan
yang di tunjukkan dalam menjalankan pekerjaannya. Kuantitas pekerjaan
adalah banyaknya jumlah yang harus di selesaikan atau di kerjakan pegawai
sesuai target waktu yang telah di tetapkan dan dapat menyelesaikan lebih dari
satu pekerjaan dalam satu waktu dengan baik. - Proses Kerja
Proses kerja merupakan suatu tahapan terpenting di mana pegawai
menjalankan tugas dan perannya dalam suatu organisasi, melalui proses kerja
ini kinerja pegawai dapat di lihat dari kemampuan membuat perencanaan kerja,
kreatif, dalam melaksanakan pekerjaan, mengevaluasi tidakan kerja,
melakukan tindakan perbaikan.
Kinerja yang baik dan berkualitas dapat terlihat dari bagaimana seorang
pegawai dapat melakukan sebuah pekerjaan mulai dari proses perencanaan
sampai proses perbaikan. Pegawai yang memiliki perencanaan kerja yang
matang, kreativitas yang tinggi, mampu mengevaluasi tindakan, serta dapat
memperbaiki tindakan tanpa menunggu perintah dari atasan merupakan
seorang pegawai yang memiliki pemikiran yang rasional dan memiliki inisiatif
sendiri untuk melakukan pekerjaan itu. - Antusiasme
Antusiasme merupakan suatu sikap dimaa seorang pegawai melakukan
kepedulian terhadap pekerjaannya hal ini bisa di lihat dari kehadiran,
pelaksanaan tugas, motivasi kerja, komitmen kerja. Pegawai yang memiliki
antusiame akan senantiasa meningkatkan kinerjanya dalam menjalankan segala
tugas dan tanggunng jawab nya hal ini harus selalu di tumbuhkan dalam jiwa
pegawai sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kinerjanya.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Kerja
Organisasi kerja yang terbaik cenderung di cirikan adanya organisasi terbuka,
kerja sama kelompok, pekerjaan-pekerjaan yang menantang, serta perlakuan yang
fair dan adil dengan kata lain di cirikan dengan adanya suatu kehidupan kerja
yang berkualitas tinggi.
Menurut Gray Dessler (2010:476) kualitas kerja pegawai dapat tercapai
apabila para pegawai dapat memenuhi kebutuhan mereka yang penting dapat
bekerja dalam organisasi, dan kemampuan untuk melakukan hal itu di pengaruhi
atatu bergantung pada apakah terdapat adanya:
a. Perlakuan yang fair, adil, dan sportif terhadap para pegawai.
b. Kesepatan bagi tiap pegawai untuk menggunakan kemampuan secara penuh
dan kesempatan untuk mewujudkan diri, yaitu untuk menjadi orang yang
mereka rasa mampu mewujudkannya.
c. Komunikasi terbuka dan saling mempercayai di antara semua pegawai.
d. Kesempatan bagi semua pegawai untuk berperan secara aktif dalam
pengambilan keputusan-keputusan penting yang melibatkan pekerjaan –
pekerjaan mereka.
e. Kompensasi yang cukup fair.
f. Lingkungan yang aman dan sehat dengan keadaan suasana yang demikian,
maka kualitas kerja dapat terwujud sehingga dapat menentukan tujuan
pekerjaan-pekerjaabn dalam mencapai target atau tidak.
Pengertian Kualitas Kerja
Sumber daya manusia perlu di kembangkan secara terus menerus agar di peroleh
kerja sumber daya manusia yang berkualitas dalam arti yang sebenarnya, yaitu
pekerjaan yang di laksanakan akan menghasilkan sesuatu yang memang di
kehendaki. Berkualitas bukan hanya pandai saja, memenuhi semua syarat
kualitatif yang di tuntut pekerjaan itu, sehingga pekerjaan itu benar-benar dapat di
seesaikan sesuai rencana. Konsep kualitas atau mutu di pandang sesuatu yang
relative, yang tidak selalu mengandung arti yang bagus, baik dan sebagainya.
Kualitas atau mutu dapat mengartikan sifat-sifat yang di miliki oleh suatu produk
barang ataupun jasa yang meunjukkan kepada konsumen kelebihan-kelebihan
yang di miliki oleh barang atau jasa terebut.
Menurut Marcana dalam Hao (2013:11) menyebutkan bahwa: “kualitas
kerja adalah wujud perilaku atau kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan
harapan dan kebutuhan atau tujuan yang dicapai secara efektif dan efisien.”
Kualitas kerja adalah keandalan dalam pelaksanaan tugas sehingga terlaksana
mutu yang tinggi, waktu yang tepat, cermat dan dengan prosedur yang mudah
dipahami oleh pegawai yang mempunyai tanggung jawab besar terhadap tugas-
tugas dan kewajiban yang diberikan, baik tanggungjawab pribadi, sosial,
intelektual maupun tanggung jawab moral dan spiritual. (Hao,2013:3.)
Selanjutnya menurut Sedarmayanti (2009:252) mengemukakan tujuh
definisi kualitas yaitu:
1) Kesesuaian dengan persyaratan atau tuntutan.
2) Kecocokan untuk pemakaian.
3) Perbaikan atau penyempurnaan berkelanjutan.
4) Bebas dari kerusakan atau cacat
5) Pemenuhan kebutuhan pelanggan awal dan setiap saat
6) Melakukan sesuatu secara benar awal.
7) Sesuatu yang bisa membahagiakan pelanggan
Dampak Peran Ganda Pada Pekerjaan Dan Keluarga
Konflik pekerjaan-keluarga berhubungan negatif dengan kinerja karyawan wanita,
begitu juga konflik keluarga-pekerjaan berhubungan negative dengan kinerja
karyawa (Hudalifah,2014). Karyawan yang memiliki tingkat konflik pekerjaankeluarga tingg di laporkan menurun kierjanya karena merasa lebih di kuasai oleh
pekerjaanya yang mengakibatkan karyawan tidak bisa memenuhi tanggung
jawabnya terhadap keluarga (Indriyani,2009).
Munculnya konflik pekerjaan-keluarga menghasilkan efek negatif
terhadap motivasi yang rendah, sulit berkonsentrasi pada pekerjaan, penarikan
pada pekerjaan, penderitaan, lekas marah, kuranng tidur, perasaan bersalah, dan
mengalami panic kesedihan Irawati ddk (2015). Konflik yang terjadi pada peran
di keluarga dan peran di pekerjaan menimbulkan efek-efek negative. Konflik
keluarga pekerjaan (work family conflict) oleh para ahli selalu di kaitkan dengan
suber stress yang mempengaruhi segi fisik dan psikologis. Menurut Frone dkk
dalam Roboth (2015) menyatakan bahwa konflik antara pekerjaan ke keluarga
mempunyai hubungan dengan depresi dan keluhan domestic. Konflik yang
berkepanjangan, tidak saja dapat menurunkan kinerja, tetapi bisa menimbulkan
stress. Stress terjadai karena konflik yang berkepanjangan menimbulkan
ketidakseimbangan fisik dan psikis, sebagai bentuk reaksi terhadap tekanan yang
intensitasnya sudah terlalu tinggi.
Indikator-Indikator Konflik Peran Ganda
Menurut Netmeyer dalam Rahmawati (2015), indikator work family conflict
adalah:
- Tekanan pekerjaan (work demand)
Hal ini mengacu pada tekanan yang timbul dari kelebihan beban kerja dan
tekanan waktu dari pekerjaan seperti kesibukan dalam bekerja dan batas waktu
pekerjaan. - Tekanan Keluarga (family demand)
Tekanan keluarga mengacu pada tekanan waktu yang berkaitan dengan tugas
seperti menjaga rumah tangga dan menjaga anak.
Konflik pekerjaan keluarga menurut Boles dalam Rosita (2012) indikator
indikatornya adalah: - Tekanan kerja
- Banyaknya tuntutan tugas
- Kurangnya kebersamaan keluarga
- Sibuk dengan pekerjaan
- Konflik komitmen dan tanggung jawab terhadap keluarga Konflik keulargapekerjaan
Menurut Frone dalam Rosita (2012) indikator-indikator konflik peran
ganda adalah: - Tekanan sebagai orang tua
- Tekanan perkawinan
- Kurangnya keterlibatan sebagai istri
- Kurangnya keterlibatan sebagai orang tua
- Campur tangan pekerjaan
Bentuk- Bentuk Konflik Peran Ganda
Bentuk konflik peran ganda menurut Pudjiwati Sajogyo dalam (Utaminingsih
2017:59) adalah:
- Konflik Antar Peran (Inter Role Conflict)
Konflik antar peran yaitu konflik yang muncul karena individu menghadapi
peran ganda. Hal ini terjadi karena individu memainkan banyak peran
sekaligus, dan beberapa peran itu mempunyai harapan yang bertentangan serta
tanggung jawab yang berbeda-beda - Konflik Dalam Peran (Intra Role Conflict)
Konflik dalam peran yaitu konflik yang terjadi karena beberapa indivdu yang
berbeda beda menentukan sebuah peran menurut rangkaian harapan yang
berbeda beda, sehingga tidak mungkin bagi individu yang menduduki peran
tersebut untuk memenuhinya. Hal ini dapat terjadi apabila peran tertentu
memiliki peran yang rumit. - Konflik Peran Itu Sendiri (Person Role Conflict)
Konflik ini terjadi apabila persyaratan peran melanggar nilai dasar, sikap da
kebutuhan individu tersebut.
Sedangkan menurut Frone dalam Roboth (2015) Work Family Conflict
memiliki dua bentuk, yaitu konflik pekerjaan-keluarga serta konflik keluarga
pekerjaan. - Konflik pekerjaan-keluarga bentuk konflik peran dimana tuntutan peran
pekerjaan dan keluarga secara mutual tidak dapat di sejajarkan dalam beberapa
hal. - Konflik keluarga-pekerjaan mengacu pada satu bentuk konflik peran yang pada
umumnya tuntutan waktu untuk berkeluarga, dan ketegangan yang diciptakan
oleh keluarga mengganggu tanggung jawab karyawan terhadap keluarga.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konflik Peran Ganda
Faktor-faktor penyebab konflik peran menurut Utaminigsih (2017:47) diantaranya
adalah:
- Permintaan waktu akan peran yang tercampur dengan pengembilan bagian
dalam peran yang lain - Stres yang dimulai dalam satu peran yang terjatuh ke dalam peran lain
dukurangi dari kualitas hidup dalam peran itu - Kecemasan dan kelelahan yang disebabkan ketegangan dari satu peran dapat
mempersulit untuk peran yang lainnya. - perilaku yang efektif dan tepat dalam satu peran tetapi tidak tepat saat
dipindahkan ke peran yang lainnya.
Salah satu penyebab terjadinya konflik kerja-keluarga dapat di pengaruhi
oleh seberapa besar keterlibatan keluarga yang berupa dukungan sosial keluarga
terutama suami dalam mendukung karir istrinya. Disisi lain juga di pengaruhi oleh
jumlah anak, tipe pekerjaan, waktu kerja dan bagimana memaknai nilai pekerjaan
dalam kehidupan wanita karir yang berkeluarga. Sedangkan menurut Aminah
Ahmad dalam Utaminingsih (2017:53) bahwa penyebab terjadinya konflik kerjakeluarga di klasifikasikan menjadi tiga yaitu: - Faktor pekerjaan yang meliputi:
a. Tipe pekerjaan
b. Komitmen waktu kerja
c. Peran yang berlebihan
d. Fleksibilitas pekerjaan - Faktor keluarga yang meliputi:
a. Jumlah anak
b. Tahp siklus hidup
c. Keterlibatan keluarga
d. Pengaturan pengasuhan anak - Faktor diri sendiri yang meliputi:
a. Nilai-nilai peran kehidupan
b. Orientasi peran gender
c. Locus of control
d. prefeksionis
Jenis-Jenis Konflik Pekerjaan-Keluarga (Work Family-Conflict)
Greenhaus dan Beutell dalam (Utaminigsih 2017:49). mengidentifikasikan tiga
jenis Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) yaitu:
- Konflik Berdasarkan Waktu (Time-Based Conflict)
Waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan salah satu tuntutan (keluarga atau
pekerjaan) dapat mengurangi waktu untuk menjalankan tuntutan yang lainnya
(pekerjaan atau keluarga). Bentuk konflik Ini secara positif berkaitan dengan:
a. Jumlah jam kerja
b. Lembur
c. Tingkat kehadiran
d. Ketidakteraturan shift
e. Kontrol jadwal kerja - Konflik Berdasarkan Tekanan (Strain-Based Conflict)
Terjadi tekanan dari salah satu peran mempengaruhi kinerja peran lainnya.
Dimana gejala tekanan, seperti:
a. Ketegangan
b. Kecemasan
c. Kelelahan
d. Karakter peran kerja
e. Kehadiran anak baru
f. Ketersediaan dukungan sosial dari anggota keluarga - Konflik Berdasarkan Perilaku (Behavior-Based Conflict)
Bentuk terakhir dari konflik pekerjaan-keluarga adalah Behavior-Based
Conflict, di mana pola-pola tertentu dalam peran-perilaku yang tidak sesuai
dengan harapan mengenai perilaku dalam peran lainnya. Misalnya, stereotip
manajerial menekankan agresivitas, kepercayaan diri, kestabilan emosi, dan
objektivitas. Hal ini kontras dengan harapan citra dan perilaku seorang istri
dalam keluarga, yang seharusnya menjadi pemberi perhatian, simpatik,
nurturant, dan emosional. Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan
bahwa para eksekutif perempuan lebih mungkin untuk mengalami bentuk
konflik daripada eksekutif laki-laki, sebagai perempuan harus berusaha keras
untuk memenuhi harapan peran yang berbeda di tempat kerja maupun dalam
keluarga
Sumber-Sumber Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict)
Seorang wanita professional ialah mereka yang telah menikah dan memiliki status
karir yang sama dengan suaminya, tetap menghadapi pola tradisional yang tidak
seimbang dalam tugas menjaga anak dan pekerjaan rumah tangga sehari-hari.
Sehubungan dengan peran tradisional tersebut, sumber utama Konflik Peran
Ganda (Work Family Conflict) yang dihadapi oleh wanita bekerja pada umumnya
adalah usahanya dalam membagi waktu atau menyeimbangkan tuntutan
pekerjaan dan tuntutan keluarganya. Pekerjaan mengganggu keluarga, artinya
sebagian besar waktu dan perhatian dicurahkan untuk melakukan pekerjaan
sehingga kurang mempunyai waktu untuk keluarga.
Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) ini terjadi ketika kehidupan
rumah seseorang berbenturan dengan tanggung jawabnya ditempat kerja, seperti
masuk kerja tepat waktu, menyelesaikan tugas harian, atau kerja lembur.
Demikian juga tuntutan kehidupan rumah yang menghalangi seseorang untuk
meluangkan waktu untuk pekerjaannya atau kegiatan yang berkenaan dengan
kariernya. Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) muncul apabila wanita
merasakan ketegangan antara peran pekerjaan dengan peran keluarga.
Menurut Utaminingsih (2017:50) sumber-sumber konflik peran ganda
adalah:
a. Ketidakseimbangan tuntutan waktu antara pekerjaan dengan keluarga
b. Jam kerja yang relatif panjang
c. Hal yang ingin dilakukan di rumah terhalang karena pekerjaan
d. Tekanan pekerjaan membuat sulit untk memenuhi kebutuhan keluarga
e. Kewajiban pekerjaan yang sering mengubah rencana bersama keluarga
f. Lamanya jam kerja sehingga waktu untuk keluarga menjadi berkurang
g. Faktor emosi dalam satu wilayah mengganggu wilayah lain
h. Tuntutan pekerjaan atau karir yang terlalu berat mengakibatkan kewajiban di
rumah menjadi terbengkalai
Pengertian Konflik Peran Ganda
Menurut Robbins (2016:305) konflik adalah proses yang di mulai ketika salah
satu pihak memandang pihak lainnya telah mempengaruhi secara negatif atas
sesuatu hal yang di pedulikan oleh pihak pertama. Sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa konflik secara umum adalah bertemunya dua kepentingan yang
berbeda dalam waktu yang bersamaan dan dapat menimbulkan efek yang negatif.
Konflik peran ganda merupakan konflik yang terjadi secara simultan akibat
adanya tekanan dari dua atau lebih peran yang di harapkan, namun bisa saja
terjadi dalam pemenuhan satu peran akan bertentangan dengan peran lain
(Utaminigsih 2017:45).
Menurut Greenhaus dan Buttel dalam (Utaminigsih 2017:45)
mendefinisikan konflik pekerjaan-keluarga sebagai bentuk konflik antar peran
dimana tekanan-tekanan peran pekerjaan dan keluarga saling tidak selaras satu
sama lain dalam beberapa hal, dimana partisipasi dalam salah satu peranan
tersebut menjadi lebih sulit di karenakan tuntunan untuk berpartisipasi dalam
peranan yan lain. Peran ganda dalam diri seseorang yang muncul karena adanya
tekanan peran dari pekerjaan ke dalam peran keluarga. Konflik peran ganda bisa
terjadi akibat lamanya jam kerja individu, sehingga waktu untuk keluarga
berkurang. Konflik peran ganda, yaitu konflik karena tekanan antara pekerjaan –
keluarga di masa lalu di anggap unidimensional.
Hubungan Keterkaitan Antara Beban Kerja dan Kinerja
Beban kerja merupakan besaran tugas atau pekerjaan yang harus
diselesaikan oleh suatu jabatan/unit organisasi yang merupakan hasil kali antara
norma waktu dan volume kerja (Achyana, 2016). Sedangkan menurut Sugianti
(2017) kinerja merupakan hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang
dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan
tanggungjawabnya. Beban kerja yang tinggi dapat mempengaruhi kinerja pegawai,
dikarenakan tuntutan yang dirasakan pegawai dapat mengakibatkan pegawai tidak
menyelesaikan tugas dan kewajibannya sesuai standar organisai. Beban yang
bersifat fisik dan mental selamanya berjangka panjang, beban kerja sangat dapat
berpengaruh pada kinerja pegawai. Kondisi beban kerja yang terlalu tinggi yang
diterima pegawai dalam melaksanakan pekerjaan secara langsung maupun tidak
langsung dapat berdampak pada tidak maksimalnya kinerja pegawai.
Hubungan Keterkaitan Antara Konflik Peran dan Kinerja
Konflik peran terjadi ketika manajemen memberikan tugas yang tidak
dapat diselesaikan oleh pegawai dengan baik karena kurangnya waktu dan sumber
daya seperti dana dan peralatan. Sedangkan menurut Sugianti (2017), kinerja
merupakan hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai seorang
pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan tanggungjawabnya.
Kinerja menjadi gambaran atas kecakapan usaha yang dilakukan seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya. Untuk mencapai kinerja yang maksimal, salah satu
hal yang perlu dihindari dalam suatu organisasi yaitu konflik peran. Hal ini
dikarenakan, dengan adanya konflik peran berupa tugas tambahan yang tidak sesuai
dengan aturan awal dapat mengakibatkan pegawai menjadi tidak fokus untuk
menyelesaikan tugas yang seharusnya menjadi tanggugjawabnya. Tugas tambahan
yang tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki individu menyebabkan tidak
maksimalnya kinerja pegawai.
Hubungan Keterkaitan Antara Beban Kerja dan Kelelahan Kerja
Beban kerja dihasilkan dari interaksi antara tuntutan tugas, lingkungan
tempat kerja, keterampilan, perilaku, dan persepsi dari pekerja. Sitepu (2013)
menyatakan bahwa beban kerja itu adalah besaran pekerjaan yang harus dilakukan
oleh suatu posisi jabatan atau unit organisasi dan merupakan hasil kali antara
volume kerja dan norma waktu. Adapun kelelahan kerja merupakan gejala yang
ditandai adanya penurunan efisiensi serta ketahanan kerja (Salami et al., 2016).
Beban yang bersifat fisik dan mental selamanya berjangka panjang, beban kerja
sangat dapat berpengaruh pada kelelahan kerja karyawan yang dirasakan oleh
pegawai. Kondisi beban kerja yang terlalu tinggi yang diterima pegawai dalam
melaksanakan pekerjaan secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan
dampak terhadap kelelahan kerja karyawan. Pegawai yang mengalami beban kerja
yang terlalu besar akan berdampak pada kelelahan fisik maupun psikisnya serta
menurunkan kemampuannya dalam bekerja sehingga hasil kerjaannya menjadi
tidak maksimal. Oleh karena itu, apabila beban kerja yang terlalu banyak yang
diterima oleh karyawan maka akan meningkatkan kelelahan dalam bekerja
Hubungan Keterkaitan Antara Konflik Peran dan Kelelahan Kerja
Konflik peran merupakan gejala psikologis yang dialami oleh anggota
suatu organisasi yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan di tempat kerja dan
menurunkan motivasi kerja sehingga dapat mempengaruhi kinerja pegawai secara
keseluruhan. Konflik peran terjadi ketika manajemen memberikan tugas yang tidak
dapat diselesaikan oleh pegawai dengan baik karena kurangnya waktu dan sumber
daya seperti dana dan peralatan. Kelelahan kerja merupakan gejala yang ditandai
adanya penurunan efisiensi serta ketahanan kerja (Salami et al., 2016). Kelelahan
kerja merupakan menurunnya kapasitas kerja dan ketahanan kerja dengan ditandai
oleh rasa letih, lesu, dan sensasi lelah. Dengan adanya konflik peran yang tinggi
dapat mengakibatkan kelelahan kerja yang dirasakan oleh pegawai dikarenakan
adanya tugas tambahan yang tidak sesuai dengan aturan yan ada.
Indikator Kinerja
Untuk mengukur kinerja seorang pegawai atau pegawai, Mathis dan
Jacson (2011) menyatakan bahwa terdapat lima kriteria yang menjadi ukuran dalam
kinerjapegawai atau pegawai, antara lain yaitu.
- Kuantitas
Kuantitas yang dihasilkan merupakan jumlah yang dinyatakan dalam istilah
sejumlah unit kerja ataupun merupakan jumlah dari siklus kerja yang
dihasilkan. - Kualitas
Kualitas yang dihasilkan merupakan tingkat dimana hasil akhir dicapai
mendekati sempurna dalam arti memenuhi tujuan yang diharapkan oleh
perusahaan maupun organisasi. - Ketepatan Waktu
Ketepatan waktu dari hasil merupakan tingkat aktivitas pekerjaan yang
diselesaikannya tersebut pada waktu yang diinginkan atau tepat waktu. - Kehadiran
Kehadiran merupakan pegawai atau pegawai harus masuk atau hadir apabila
ada pertemuan di tempat kerja. - Kemampuan untuk bisa berkerja sama
Pegawai atau pegawai yang mempunyai tanggung jawab penuh dalam
melakukan pekerjaanya harus mampu untuk bisa berkerja sama.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Luthans (2005) kinerja pegawai atau pegawai dipengaruhi oleh
beberpa faktor, antara lain.
- Kualitas pekerjaan (quality of work), merupakan tingkat baik atau buruknya
sesuatu pekerjaan yang diterima bagi seorangpegawai yang dapat dilihat dari
segi ketelitian dan kerapian kerja,keterampilan kerja dan kecakapan. - Kuantitas Pekerjaan (quantity of work), merupakan proses penetapan seorang
pegawai yang sesuai dengan background pendidikan maupun keahlian dalam
suatu pekerjaan. Hal seperti ini bisa dilihat dari kemampuan pegawainya dalam
memahami hal-hal yang berkaitan dengan tugas yang mereka lakukan. - Kreatifitas (creativity), merupakan kemampuan seorang pegawai dalam
menyelesaikan pekerjaannya dengan cara atau inisiatif sendiri yang dianggap
mampu secara efektif dan juga efisien serta mampu menciptakan
perubahanperubahan baru guna melakukan perbaikan dan kemajuan suatu
organisasi.
Dimensi Kinerja
Menurut Schuler dan Jackson (2010) secara umum dimensi kinerja dapat
dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu hasil kerja, perilaku kerja dan sifat pribadi:
- Hasil kerja, adalah keluaran kerja dalam bentuk barang dan jasa yang dapat
dihitung dan diukur. Indikator hasil kerja adalah ketepatan dalam
melaksanakan pekerjaan, kepuasan pelanggan, efektifitas melakukan tugas. - Perilaku kerja, adalah ketika berada ditempat kerja pegawai harus memiliki
perilaku kerja yang baik. Indikator oerilaku kerja meliputi ramah kepada
pelanggan, ketelitian dalam kerja - Sifat pribadi yang ada hubungannya dengan pekerjaan, adalah sifat yang
diperlukan dalam melaksanakan pekerjaannya seperti pengetahuan,
keterampilan, inisiatif serta kemampuan adaptasi.
Menurut Mathis dan Jackson (2006) menjelaskan bahwa untuk dapat
melihatkinerja pegawai secara individu, maka ada lima dimensi yang digunakan
untuk mengukur kinerja pegawai antara lain sebagai berikut. - Kualitas merupakan suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan kemudian
mendapatkan hasil yang hampir sempurna dalam arti dapat menyesuaikan cara
yang terbaik untuk mencapai tujuan yang diharapkan. - Kuantitas adalah hasil yang dinyatakan dalam sejumlah unit dan jumlah siklus
yang telah diselesaikan. - Ketepatan waktu adalah tingkat dari suatu aktivitas yang diselesaikan pada
waktu yang disediakan untuk aktivitas lain. - Efektivitas merupakan tingkat pengguna sumber daya organisasi dengan
maksud untukmenaikkan keuntungan ataupun mengurangi kerugian
darisetiapunit dalam setiap pengguna sumber daya. - Komitment kerja merupakan tingkat dimana pegawai atau pegawai harus
memiliki komitmen kerja dan tanggung jawab kerja dengan perusahaan atau
organisasi.
Pengertian Kinerja
Menurut Colquitt et al., (2012) mengemukakan bahwa kinerja merupakan
nilai dari berbagai perilaku pegawai yang memberikan kontribusi baik positif
maupun negatif atas pencapaian tujuan organisasi. Menurut Sugianti (2017), kinerja
merupakan hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai seorang
pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan tanggungjawabnya.
Kinerja menjadi gambaran atas kecakapan usaha yang dilakukan seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya (Paramitadewi, 2017). Menurut Hasibuan (2014)
kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan
tugas yang diberikan kepadanya berdasaerkan keahlian ata kecakapan, pengalaman,
integritas, dan waktu. Sedarmayanti (2019) menyebutkan bahwa kinerja menjadi
pengertian lain dari performance yang berarti hasil kerja seseorang, proses suatu
organisasi secara keseluruhan dimana hasil kerja tersebut harus dapat dibuktikan
secara konkrit dan dapat diukur dan dibandingkan dengan standar yang ada dan
telah ditentukan. Menurut Afandi (2018), kinerja merupakan hasil kerja yang dapat
dicapai oleh individu atau kelompok dalam suatu organisasi sesuai dengan
wewenang dan tanggungjawabnya tanpa melanggar hukum serta sesuai dengan
aturan moral dan etika agar dapat mencapai tujuan organisasi. Menurut Sutrisno
(2016), kinerja adalah hasil kerja seorang pegawai dari segi kualitas, kuantitas, jam
kerja dan kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
Setiap organisasi selalu berusaha untuk mencapai tujuannya dengan kinerja yang
maksimal dari seluruh pegawai, sehingga ada beberapa aspek yang perlu
diperhatikan salah satunya adalah sumber daya manusia. Organisasi diharapkan
selalu memiliki tenaga kerja yang terlatih dan kompeten (Nimalathasan, 2012).
Putro (2016) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai
antara lain konflik, persaingan, beban kerja, situasi kerja, gaya kepemimpinan, dan
struktur dalam suatu organisasi.
Indikator Kelelahan kerja
Indikator kelelahan kerja menurut Priansa (2017) adalah sebagai berikut:
- Kelelahan fisik, seperti susah tidur, serangan sakit kepala, kurangnya nafsu
makan, dan individu merasakan anggota badan yang sakit; - Kelelahan emosional, seperti depresi, mudah marah, cepat tersinggung;
- Kelelahan mental, seperti bersikap sinis terhadap orang lain, cenderung
merugikan diri sendiri, pekerjaan maupun organisasi; - Rendahnya penghargaan terhadap diri, seperti individu tidak pernah merasa
puas dengan hasil kerja diri sendiri; - Depersonalisasi, seperti menjauhnya individu dari lingkungan sosial,
apatis,dan tidak peduli dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi beban menurut Rodahl &
Manuaba (dalam Alif, 2017) adalah sebagai berikut:
- Faktor eksternal yaitu beban yang berasal dari luar tubuh pekerja, seperti:
a. Tugas (Task). Meliputi tugas bersifat fisik seperti, stasiun kerja, tata ruang
tempat kerja, kondisi ruang kerja, kondisi lingkungan kerja, sikap kerja,
cara angkut, beban yang diangkat. Sedangkan tugas yang bersifat mental
meliputi, tanggung jawab, kompleksitas pekerjaan, emosi pekerja dan
sebagainya.
b. Organisasi kerja. Meliputi lamanya waktu kerja, waktu istirahat, shift
kerja, sistem kerja dan sebagainya.
c. Lingkungan kerja. Lingkungan kerja ini dapat memberikan beban
tambahan yang meliputi, lingkungan kerja fisik, lingkungan kerja kimiawi,
lingkungan kerja biologis dan lingkungan kerja psikologis. - Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam tubuh akibat dari reaksi
beban kerja eksternal yang berpotensi sebagai stresor, meliputi faktor somatic
(jenis kelamin,umur, ukuran tubuh, status gizi, kondisi kesehatan, dan
sebagainya), dan faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan,
kepuasan, dan sebagainya).
Indikator Beban Kerja
Beberapa indikator beban kerja menurut Koesomowidjojo (2017) antara
lain meliputi:
- Kondisi pekerjaan
Kondisi pekerjaan dapat terlihat dari bagaimana seorang pegawai memahami
pekerjaannya dengan baik. Perusahaan atau organisasi hendaknya memiliki
dan telah mensosialisasikan SOP (Standard Operating Procedure) kepada
semua pegawainnya agar:
a. Memudahkan dalam menyelesaikan pekerjaan yang didelegasikan
b. Meminimalisir kesalahan
c. Meminimalisir kecelakaan kerja
d. Mengurangi beban kerja pegawai
e. Terciptanya komunikasi yang baik antara pegawai dan atasan maupun
sesama rekan kerja - Penggunaan waktu kerja
Waktu kerja yang sesuai dengan apa yang telah ditetapkan di SOP tentunya
akan meminimalisir beban kerja yang dirasakan pegawai. Akan tetapi, biasanya
terdapat organisasi atau perusahaan yang tidak memiliki SOP atau tidak
konsisten dalam melaksanakan SOP. Biasanya terjadi penggunaan waktu kerja
yang cenderung berlebihan atau sangat sempit kepada pegawai. - Target kerja
Adanya target kerja yang ditetapkan oleh organisasi atau perusahaan tentunya
secara langsung dapat berpengaruh terhadap beban kerja yang diterima
pegawai. Semakin sempit waktu yang tersedia untuk menyelesaikan sebuah
pekerjaan atau tidak seimbangnya antara waktu penyelesaian target
pelaksanaan pekerjaan dengan volume kerja yang diberikan, maka
akansemakin besar beban kerja yang dirasakan oleh pegawai.
Pengertian Beban Kerja
Beban kerja adalah pelaksanaan suatu kegiatan yang membutuhkan proses
mental atau keterampilan yang harus diselesaikan baik secara fisik maupun mental
dalam jangka waktu tertentu. Tarwaka (2014) mengemukakan bahwa beban kerja
dihasilkan dari interaksi antara tuntutan tugas, lingkungan tempat kerja,
keterampilan, perilaku, dan persepsi dari pekerja. Sitepu (2013) menyatakan bahwa
beban kerja itu adalah besaran pekerjaan yang harus dilakukan oleh suatu posisi
jabatan atau unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume kerja dan
norma waktu. Beban kerja merupakan besaran tugas atau pekerjaan yang harus
diselesaikan oleh suatu jabatan/unit organisasi yang merupakan hasil kali antara
norma waktu dan volume kerja (Achyana, 2016). Sedangkan menurut Paramitadewi
(2017), beban kerja adalah sejumlah atau serangkaian kegiatan yang wajib
diselesaikan oleh suatu jabatan dan harus segera diselesaikan dalam jangka waktu
tertentu.
Menurut Vanchapo (2020:1), beban kerja menjadi suatu proses atau
kegiatan yang harus diselesaikan oleh seorang pegawai dalam jangka waktu
tertentu. Jika seorang pekerja dapat menjalankan serangkaian tugas yang telah
ditentukan, maka hal itu tidak akan menjadi beban kerja. Namun, jika pegawai tidak
berhasil, maka tugas dan kegiatan tersebut akan menjadi beban kerja bagi pegawai.
Pendapat lainnya menurut Linda (2014) menyatakan bahwa beban kerja adalah
usaha yang harus dilakukan seseorang atas permintaan untuk menyelesaikan suatu
tugas. Menurut Monika (2018), beban kerja adalah proses yang dilakukan oleh
seseorang untuk menyelesaikan tugas suatu pekerjaan atau kelompok jabatan,
biasanya diadakan selama periode waktu tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian
beban kerja diatas, dapat disimpulkan bahwa beban kerja adalah proses yang
dilakukan seseorang untuk menyelesaikan tugas suatu pekerjaan yang dilaksanakan
dalam keadaan normal dalam jangka waktu tertentu.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konflik Peran
Menurut Sedarmayanti (2007: 362) faktor-faktor yang mempengaruhi
konflik peran adalah:
- Masalah Komunikasi
Hal ini disebabkan salahnya pengertian yang berkaitan dengan kalimat, bahasa
yang kurang atau sulit dipahami atau informasi tidak jelas dan tidak lengkap
serta gaya individu yang tidak konsisten. - Masalah Struktur Organisasi
Masalah yang disebabkan karena adanya peraturan kekuasaan antar
departemen dengan yang berkepentingan atau sistem penilaian yang
bertentangan dan persaingan untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas
atau saling ketergantungan dua atau lebih kelompok kegiatan kerja untuk
mencapai tujuan mereka. - Masalah Pribadi
Hal ini disebabkan karena tidak sesuai dengan tujuan atau nilai-nilai sosial
pribadi pegawai dengan perilaku yang diperankan pada jabatan mereka dan
perbedaan dalam nilai-nilai persepsi.
Menurut Stoner, et al. dalam Munandar (2008: 73) faktor-faktor yang
mempengaruhi konflik peran adalah sebagai berikut: - Time Pressure
Semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja maka semakin sedikit
waktu untuk keluarga. - Family size dan support
Semakin banyak anggota keluarga maka semakin banyak konflik dan semakin
banyak dukungan keluarga maka semakin sedikit konflik. - Kepuasan kerja
Semakin tinggi kepuasan kerja, maka semkain sedikit konflik yang dirasakan. - Size of Firm
Banyaknya pegawai dalam intansi atau organisasi mungkin saja mempengaruhi
konflik peran seseorang.
Indikator Konflik Peran
Menurut Rizzo, House & Lirtzman dalam Priatna (2013) indikator konflik
peran yaitu:
- Sumber daya manusia
Mengerjakan suatu tugas dengan cara yang berbeda-beda serta menerima
penugasan tanpa mempertimbangkan sumber daya manusia yang cukup untuk
menyelesaikan tugas tersebut. - Mengesampingkan aturan
Mengesampingkan suatu aturan yang ada agar dapat menyelesaikan
perintah/penugasan serta menerima permintaan dua pihak atau lebih yang
saling bertolak belakang. - Kegiatan yang menguntungkan satu pihak
Melakukan kegiatan atau pekerjaan yang cenderung hanya diterima oleh salah
satu pihak namun tidak diterima oleh pihak lainnya serta melakukan pekerjaan
yang tidak penting. - Arahan yang tidak jelas
Terdapat arahan dari atasan yang tidak pasti serta perintah yang tidak jelas.
Adapun menurut Greenhaus & Beutell dalam Fandi (2014:21) konflik
peran memiliki 3 indikator yaitu: - Time based conflict
Time based conflict adalah konflik yang muncul karena waktu yang dihabiskan
untuk melakukan satu peran sehinga tidak dapat memenuhi peran yang lain.
Artinya, seseorang yang mengalami konflik peran ganda tidak akan mampu
melakukan lebih dari satu peran dalam waktu yang bersamaan. - Strain based conflict
Strain based conflict adalah ketegangan yang dikarenakan adanya salah satu
peran membuat seseorang merasa sulit untuk dapat memenuhi tuntutan peran
lainnya. Ketegangan yang dirasakan akan mempengaruhi kualitas hidup secara
keseluruhan. Ketegangan peran ini dapat berupa stres, mudah emosi, tekanan
darah tinggi, kecemasan, dan sakit kepala. - Behaviour based conflict
Behaviour based conflict merupakan konflik yang terjadi ketika suatu perilaku
efektif untuk satu peran tetapi tidak efektif untuk peran yang lain.
Ketidakefektifan perilaku ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kesadaran
individu akan dampak perilakunya terhadap orang lain.
Pengertian Konflik Peran
Peran merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan dari individu yang
menjabat pada posisi tertentu di dalam sebuah organisasi. Harapan peran muncul
dikarenakan adanya sebuah tuntutan tugas atau pekerjaan.apabila terdapat adanya
ketidakjelasan peran atas tanggungjawab dan tugas yang seharusnya dilakukan
seseorang maka dapat mengakibatkan terjadinya kekacauan peran. kekacauan peran
tersebut merupakan dampak dari adanya harapan peran yang tidak sesuai dengan
apa yang sebenarnya menjadi tugas dan kewajiban yang harus diselesaikan oleh
seseorang. Konflik peran merupakan konflik internal yang bermula dari dalam diri
individu. Konflik peran dapat terjadi ketika seseorang dihadapkan dengan
ketidakpastian kerja, dimana terdapat kondisi adanya berbagai tuntutan pekerjaan
yang saling bertolakbelakang serta tidak sesuai dengan kemampuannya. Konflik
peran merupakan ketidaksesuaian antara harapan yang telah ditetapkan dengan
peran yang dijalankan.
Fanani et al., (2008) menyatakan bahwa konflik peran dapat disebabkan
oleh adanya dua perintah yang berbeda serta bertolakbelakang dalam satu waktu
yang bersamaan. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan timbulnya
ketidaknyamanan yang dirasakan pegawai di tempat kerja, ketegangan kerja, dan
faktor negatif lainnya yang dapat memnyebabkan kinerja pegawai tidak maksimal.
Menurut Luthans (2006), seseorang yang mengalami konflik peran ketika memiliki
dua peran atau lebih yang haruss dilakukan pada waktu yang bersamaan. Orang
yang memiliki konflik peran yang tinggi akan cenderung mengalami stres kerja
(Hon, 2013). Wolfe et al., (1962) dalam Azhar (2013) berpendapat bahwa konflik
peran merupakan bentuk tekanan dari dua hal yang berbeda sehingga tidak
memungkinkan untuk mengikuti aturan dari kedua hal yang saling bertentangan
tersebut. dalam hal ini konflik peran menjadi sebuah konflik pertentangan didalam
diri pegawai yang dikarenakan adanya perbedaan peran yang harus dikerjakan
dalam satu waktu tertentu.
Menurut Hanna & Firnanti (2013), konflik peran merupakan jenis
ketidaksesuai antara birokrasi kontrol, norma, aturn, etika, dan independensi
profesional. Penekanan atas gambaran konflik peran ini adalah terdapat
ketidaksesuaian dalam peran yang harus dipenuhi yang dilihat dari tuntutan
profesionalisme. Ketidaksesuaian ini dianggap sebagai bentuk konflik peran.
Johnson & Stinson dalam Sharma (2011:27) berpendapat bahwa konflik peran
adalah sejauh mana tuntutan mengharuskan tugas yang mereka yakini seharusnya
tidak menjadi bagian dari kewajiban dan tugas mereka.
Hanif (2013) mengemukakan bahwa konflik peran merupakan gejala
psikologis yang dialami oleh anggota suatu organisasi yang dapat menyebabkan
ketidaknyamanan di tempat kerja dan menurunkan motivasi kerja sehingga dapat
mempengaruhi kinerja pegawai secara keseluruhan. Wibowo & Rahardja (2015)
menyatakan bahwa konflik peran dan kelelahan kerja memiliki dampak yang
signifikan, dimana semakin tinggi konflik peran dan kelelahan kerja, semakin
rendah kinerja pegawai. Konflik peran terjadi ketika manajemen memberikan tugas
yang tidak dapat diselesaikan oleh pegawai dengan baik karena kurangnya waktu
dan sumber daya seperti dana dan peralatan (Permatasari, 2012). Konflik peran
tingkat tinggi yang dialami pegawai menyebabkan perasaan cemas, takut,
timbulnya ketegangan, dan rasa tidak aman, yang mengindikasikan tingkat kinerja
pegawai yang lebih rendah. Yasa (2017) mengatakan bahwa konflik peran dan
ambiguitas peran tertentu yang terkait dengan pekerjaan mereka dapat
mempengaruhi kinerja pegawai, ada indikasi bahwa hal itu dapat menyebabkan
tingkat stres kerja yang ddapat mempengaruhi kinerja pegawai.
Teori Atribusi
Menurut Friz Heider (1958) teori atribusi merupakan teori yang
menjelaskan tentang perilaku manusia. Teori atribusi menggambarkan mengenai
proses bagaimana kita menentukan penyebab atas perilaku seseorang. Teori atribusi
mengacu tentang bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain
atau dirinya sendiri yang akan ditentukan apakah dari internal misalnya sifat,
karakter, sikap, ataupun eksternal misalnya tekanan situasi atau keadaan tertentu
yang akan memberikan pengaruh terhadap perilaku individu. Friz Haider juga
berpendapat bahwa kekuatan internal seperti kemampuan, usaha dan kelelahan
maupun kekuatan eksternal seperti atribut lingkungan (aturan dan cuaca) itu dapat
menjadi penyebab perilaku manusia. Atribusi internal maupun eksternal telah
dinyatakan dapat berdampak terhadap kinerja seseorang misalnya dalam hal
menetapkan cara seorang atasan dalam memperlakukan bawahannya dan
mempengaruhi sikap serta kepuasan individu terhadap kerja.
Teori atribusi ini dijadikan sebagai pijakan untuk menganalisis penelitian
kinerja pegawai didalam suatu perusahaan, karena teori ini merupakan proses
tingkah laku kerja seseorang. Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua pegawai
mampu untuk meningkatkan kinerjanya, apabila mendapatkan situasi yang sama.
Kinerja pegawai dapat dipengaruhi oleh faktor individu maupun faktor situasi
perihal tersebut merupakan salah satu cara yang mampu digunakan untuk melihat
suatu perkembangan perusahaan. Dengan adanya teori atribusi pemimpin mampu
untuk melihat hasil dari peneilian kinerja pegawai. Ketika suatu perusahaan dapat
mengetahui bagaimana sifat, keadaan, dan perilaku setiap pegawai dengan baik.
Pegawai tersebut akan mengerti apa yang sebenarnya diinginkan sehingga dapat
menghasilkan sesuatu yang menjadikan tujuan dari pekerjaannya.
Pengaruh Role Ambiguity Terhadap Kinerja Auditee
“Menurut Jackson dan Schuler dalam Novia Grestianti (2017) peran
ambiguitas dan skala konflik peran merupakan ukuran yang baik dari kontruksi
peran. Ketidakjelasan peran dan konflik peran adalah dua komponen utama dari
stres peran yang bagaimana hal tersebut sering terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan
yang dilakukan oleh auditor internal pada auditee. Penelitian Rahmawati (2011)
menyatakan bahwa role conflict dan role ambiguity secara bersama-sama
(simultan) berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditee. Ketidakjelasan peran
dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja dan bisa menurunkan
motivasi kerja, karena mempunyai dampak negatif terhadap perilaku individu.
Pengaruh Role Conflict Terhadap Kinerja Auditee
“Konflik peran dapat berasal dari pertentangan yang berasal dari peran
mereka ketika melakukan jasa audit dan jasa konsultasi manajemen yang keduanya
mengandung perbedaan antara peraturan yang berasal dari profesi auditor internal
dan harapan dari manajemen perusahaan. Konflik peran juga dapat disebabkan oleh
adanya ketidaksesuaian antara nilai-nilai personal yang diyakini oleh auditor
internal ,auditee, dan harapan yang berasal dari manajemen dan organisasi profesi.
Konflik peran dapat menimbulkan tekanan pada auditor, sehingga
Hubungan Role Conflict dengan Kinerja Auditee after Auditor Internal
“konflik peran (role conflict) yaitu. konflik yang timbul dari mediasi
institusional yang tidak tepat standar, aturan, etika dan independensi
profesional. Fenomena ini terjadi karena ada dua order yang diterima pada saat
yang sama dan hanya satu yang dieksekusi hanya agar perintah lain diabaikan.
Peristiwa tersebut dapat menyebabkan Ketidaknyamanan di tempat kerja dan
dampaknya terhadap Kinerja Auditee after Auditor Internal berkurang.”
- Hubungan Role Ambiguity dengan Kinerja Auditee after Auditor Internal
“Ketidakpastian peran (role ambiguity) adalah situasi yang terjadi ketika
individu tidak mendapat informasi yang cukup untuk menyelesaikan perannya
di suatu perushaan. Penyebab peristiwa ini terjadi yaitu tidak adanya informasi
yang disampaikan oleh seseorang dan kurangnya pengetahuan mengenai peran
yang telah diberikan kepadanya. Sehingga seseorang tidak mengetahui
perannya dengan baik dan tidak menjalankan perannya sesuai dengan
diharapkan dan berdampak pada mereka yang tidak efisien dan terarah dalam
bekerja dan dapat menurunkan Kinerja Auditee after Auditor Internal.” - Hubungan Role Overload dengan Kinerja Auditee after Auditor Internal
“Kelebihan peran (role overload) adalah konflik dari berbagai prioritas
yang timbul dari ekspektasi bahwa individu dapat melakukan tugas yang luas
dan mustahil untuk dikerjakan dalam waktu yang terbatas. Kebutuhan tenaga
kerja yang tidak direncanakan dapat membuat auditor mengalami kelebihan
peran, terutama pada masa peak season ketika perusahaan kebanjiran pekerjaan
dan staf auditee beserta auditor internal yang tersedia harus mengerjakan semua
pekerjaan pada waktu yang sama. Semakin berat beban pekerjaan seorang
auditee, maka semakin meningkat stres kerja yang dialami oleh auditee
tersebut. Beban kerja yang dirasakan oleh auditee dapat menentukan kinerja
dari auditee.” - Hubungan Burnout dengan Kinerja Auditee after Auditor Internal
“Memiliki lebih dari satu peran bisa memicu tekanan yang berlebihan.
Hal ini disebabkan oleh seseorang dalam kesehariannya tidak hanya memiliki
satu peran. Stres dapat terjadi jika individu sulit menginterpretasikan harapanharapan dari orang lain, terdapat konflik antara harapan atas peran yang satu
dengan peran yang lainnya. Tekanan-tekanan pekerjaan dapat mengakibatkan
kelelahan (burnout) secara emosional dan fisik, yang pada akhirnya dapat
menurunkan kinerja auditee. Hal ini juga dapat menimbulkan keinginan untuk
berpindah dan menurunnya kepuasan kerja auditee.
Pengertian Auditee
“Auditee adalah seseorang atau sebuah organisasi/perusahaan yang
diaudit. Auditee adalah subjek dari audit yang harus memberikan informasi
yang diperlukan oleh auditor untuk melakukan audit yang efektif. Auditor akan
bertanya kepada auditee tentang berbagai aspek operasi dan keuangan mereka
untuk memverifikasi bahwa semua hal tersebut sesuai dengan standar yang
ditetapkan. Tujuan audit adalah untuk menilai keandalan dan kewajaran
informasi keuangan, serta untuk memberikan opini yang independen kepada
pihak yang berkepentingan tentang apakah informasi tersebut dapat
diandalkan.”
- Perbedaan Auditor dan Auditee
“Perbedaan utama antara auditor dan auditee adalah posisi yang mereka
miliki dalam proses audit. Auditor adalah seseorang atau sebuah organisasi
yang bertanggung jawab untuk melakukan audit, yaitu menilai keandalan dan
kewajaran informasi keuangan. Sedangkan auditee adalah seseorang atau
sebuah organisasi yang menjadi subjek dari audit, yaitu yang harus memberikan
informasi yang diperlukan untuk melakukan audit yang efektif.” - Tugas Auditee
Tugas auditee dalam proses audit adalah:
a. Memberikan akses kepada auditor untuk melakukan audit, termasuk
memberikan informasi yang diperlukan dan menyediakan fasilitas yang
diperlukan.
b. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari auditor dan memberikan informasi
yang diperlukan untuk membantu auditor melakukan audit yang efektif.
c. Menjalankan operasional perusahaan/organisasi dan keuangan organisasi
sesuai dengan standar yang ditetapkan, sehingga informasi yang disajikan
dapat diandalkan dan dapat dipertanggungjawabkan.
d. Menindaklanjuti rekomendasi yang diberikan oleh auditor, jika diperlukan,
untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi dan keuangan
organisasi.
e. Bekerja sama dengan auditor untuk memastikan bahwa proses audit berjalan
lancar dan hasil audit dapat diterima oleh pihak yang berkepentingan. - Contoh Auditee
“Contoh auditee adalah perusahaan, badan usaha, organisasi nirlaba,
atau entitas lain yang menjadi subjek dari audit. Auditor akan melakukan audit
terhadap organisasi tersebut untuk memverifikasi bahwa semua aspek operasi
dan keuangan organisasi tersebut sesuai dengan standar yang ditetapkan.”
“Sebagai contoh, sebuah perusahaan publik mungkin menjadi auditee
dalam audit tahunan yang dilakukan oleh auditor eksternal untuk memastikan
bahwa laporan keuangan perusahaan tersebut dapat diandalkan dan sesuai
dengan standar akuntansi yang berlaku.” - Hubungan Auditee dengan Auditor
“Azas ketergantungan antara auditor dengan auditee merupakan hal
sifatnya akan terus terjadi. Tentu saja diperlukan batasan yang mengatur bahwa
pola ketergantungan ini dapat dipertanggungjawabkan kepada stakeholder
(pemangku kepentingan) masing-masing. Stakeholder auditee yang utama
adalah pemegang sahamnya, sedangkan stakeholder auditor adalah kepada
Ikatan Profesi Auditor. Sungguh tidak masuk akal apabila auditor karena
dianggap menerima jasa pembayaran dari auditee, menjadi tidak independen
dalam berhubungan dengan auditee disebabkan masing-masing pihak
bertanggungjawab kepada stakeholdernya.”
“Secara praktis dapat disimpulkan bahwa pada organisasi manapun,
proses audit pasti merepotkan auditee. Apalagi apabila auditee sistem kerjanya
belum mapan atau memadai, mungkin tidak bisa dilakukan proses audit, namun
lebih kepada asistensi pembenahan sistem kerjanya terlebih dahulu. Untuk
membuat pola hubungan auditee dengan auditor yang efektif dan efisien tentu
harus disepakati sejak awal oleh auditee dengan auditor bagaimana cara kerja
simultan dari auditor dengan memperhatikan kesibukan auditee dalam
menjalankan rutinitas pekerjaan.” - Tindak Lanjut Hubungan Auditee dengan Auditor
“Hubungan keseimbangan antara auditee dengan auditor adalah faktor
utama yang harus dipegang, berdiri sama tinggi berdiri sama rendah.
Transparansi auditee dan auditor dalam penilaian operasi organisasi tentu
memberikan dampak kepada jangka panjang operasi bisnis organisasi auditee
dan auditor. Untuk itulah auditee harus memahami standar atau aturan yang
melandasi pekerjaan auditor, dan auditor pun juga harus memahami standar atau
aturan kerja yang melandasi operasi bisnis auditee.”
Role Stress
- Role Conflict
“Konflik peran (Role Conflict) perselisihan muncul dari keberadaan
tidak ada kecocokan antara peran yang dimainkan etika, standar, aturan dan
profesionalisme. Di sisi lain, Fanani dkk. (2008), hal ini terjadi karena adanya
beberapa instruksi mana yang bertemu dan mendapat satu instruksi kursus dapat
mengarah ke tutorial lain tidak dilakukan. Konflik ini adalah pemenuhan
persyaratan peran menyebabkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Di Sini ketidakcocokan antara instruksi dan misalkan peran membuat mereka
muncul Konflik peran (Rahmawati, 2011).”
“Jika tetap berlarut-larut, konflik ini menimbulkan stres mental, baik
fisik maupun mental atau fisik. Konflik peran muncul di lingkungan kerja
auditor karena tidak mengikuti petunjuk Kepemimpinan (Utami & Nahartyo,
2013). Umumnya,auditor memiliki dua peran, pertama, bagaimana pakar etika
peraturan saat ini dan yang kedua adalah anggota dalam sebuah organisasi
dengan sistem kontrol sendiri. Ini sering mengarah ke pengawas mereka
terbalik. Konflik peran disebabkan oleh adanya dua “perintah” yang berbeda.
diterima secara bersamaan saat mengeksekusi hanya satu instruksi dan
mengabaikan hasil dan perintah lainnya. (Wolfe & Snoke, 1962 dan Arfan
İkhsan dan Muhammad İshak, 2005).” - Role Ambiguity
“Ambiguitas peran tidak cukup informasi bagi seseorang untuk
menjalankan memainkan peran yang memuaskan (Kahn et al. 1964 dan Dyah
2002). (Rebele & Michaels, 1990) Ambiguitas peran adalah ketidakpastian
tentang prospek pekerjaan, metode harapan yang diketahui dan/atau hasil
kinerja harus dipenuhi atau peran tertentu. Tentang ambiguitas peran dengan
ketidakpastian dalam harapan bekerja untuk memenuhi harapan ini, atau
pengaruh peran atau kinerja tertentu (Rebele dan Michael, 1990).”
“Menurut Munandara (2001:34), Jenis konflik ini terjadi ketika terjadi
kelaparan. pengalaman pengetahuan sebagai individu dan melaksanakan tugas
pokok dan fungsi atau tidak selesai menunggu pekerjaan terkait peran tertentu
(Maslach dan Jackson, 1984) menjelaskan auditor memiliki informasi ini lebih
atau kurang menyelesaikan tugas atau peran terkait pekerjaannya dan juga
informasi tidak cukup untuk menimbulkan tujuan dan arah kerja menjadi tidak
jelas, kesannya seperti. jangan lakukan itu karena membutuhkan energi mental
yang tinggi menyelesaikan ambiguitas peran individu (Maslach dan Jackson,
1984).” - Role Overload
“Kelebihan peran adalah perselisihan yang muncul pada gagasan bahwa
individu mampu untuk menyelesaikan misi anda tepat dalam waktu singkat
tidak mungkin (Abraham, 1997). (Yustrianthe, 2008) menyimpulkan bahwa
mungkin juga ada peran penyederhanaan yang berlebihan terjadi ketika
keterampilan dan waktu tidak cocok dengan beban kerja. di musim ramai dari
Oktober sampai bulan April , KAP akan menerima banyak pekerjaan tahun
depan sehingga auditor sering memacu waktu dan didorong untuk
menyelesaikan pekerjaan bekerja untuk waktu yang terbatas padahal harus
dilakukan oleh lebih dari satu orang.”
Kinerja Audit internal
“Meski memasuki era New Normal, kondisi saat ini diyakini masih
menimbulkan ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir. Tidak ada yang
tahu kapan kita akan kembali hidup normal tanpa masker seperti dulu. Dewan
Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI)
menemukan bahwa, seiring dengan evolusi situasi pandemi global Virus
Corona (Covid-19), ketidakpastian muncul dari pandemi. penilaian kinerja dan
audit. Organisasi dalam penyusunan laporan keuangan. . Untuk memastikan
konsistensi penerapan SAK, DSAK IAI memutuskan untuk mengeluarkan
pedoman penerapan beberapa standar terkait dampak pandemi Covid-19.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2019: 1), Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) memiliki beberapa penerapan yang perlu
diperhatikan selama wabah Covid 19”
a. PSAK 8
“Peristiwa pasca periode dimaksudkan untuk memberikan petunjuk
apakah wabah Covid-19 merupakan peristiwa pasca periode yang dapat
mempengaruhi laporan keuangan tahun 2019.”
b. PSAK 71
“Instrumen Keuangan – Diimplementasikan pada awal 1 Januari 2020
untuk memberikan penjelasan dan panduan apakah wabah Covid-19 akan
mempengaruhi perhitungan Expected Credit Loss (ECL). ) pada tanggal
penerapan awal PSAK 71 pada 1 Januari 2020 atau tidak.”
c. PSAK 71
Instrumen Keuangan Expected Credit Loss (SEE), indikator dampak
wabah Covid-19 dalam perhitungan ELC 2020, terutama terkait berbagai
kebijakan pelonggaran Proses audit adalah serangkaian langkah-langkah yang
dilakukan oleh auditor untuk menilai keandalan dan kewajaran informasi
keuangan. Proses audit meliputi beberapa tahap, yaitu:
1) Persiapan: Auditor akan menyiapkan semua dokumen dan informasi yang
diperlukan untuk melakukan audit, termasuk mengatur jadwal audit dan
menetapkan tujuan dan sasaran audit.
2) Pengumpulan bukti: Auditor akan mengumpulkan bukti-bukti yang relevan
untuk mendukung penilaian yang akan dilakukan. Bukti-bukti ini dapat
berupa dokumen, catatan, dan informasi lain yang dikumpulkan melalui
wawancara, observasi, atau pengujian sampel.
3) Penilaian: Auditor akan menilai bukti-bukti yang telah dikumpulkan untuk
memverifikasi bahwa semua aspek operasi dan keuangan auditee sesuai
dengan standar yang ditetapkan.
4) Laporan: Auditor akan menyusun laporan audit yang menyajikan hasil
penilaian dan rekomendasi untuk perbaikan, jika diperlukan. Laporan audit
akan diberikan kepada auditee dan pihak yang berkepentingan lainnya.
5) Tindak lanjut: Auditee akan menindaklanjuti rekomendasi yang diberikan
oleh auditor, jika diperlukan, untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
operasi dan keuangan organisasi.instansi/pemerintah.
Pengertian Audit Internal
“Menurut Hery (2018:1), pengertian audit internal adalah sebagai
berikut: “Audit internal adalah serangkaian proses dan teknik yang digunakan
karyawan perusahaan untuk memastikan keakuratan informasi keuangan dan
kinerja operasi sesuai dengan aturan yang ditetapkan.”
“Sementara itu, Faiz Zamzami dkk (2015:7) menjelaskan pentingnya
audit internal sebagai berikut: “Audit internal adalah kegiatan yang independen
dan objektif yang memberikan jasa asurans dan konsultasi yang dirancang
untuk meningkatkan operasi organisasi dan menambah nilai. pengendalian dan
proses manajemen.”
“Kemudian, Moeller (2016:4) menjelaskan pengertian audit internal
sebagai berikut: “Audit internal adalah fungsi evaluasi independen yang
dibentuk dalam suatu organisasi yang memeriksa dan mengevaluasi kegiatan
organisasi tersebut sebagai layanan kepada organisasi tersebut.”
“Pernyataan di atas masuk akal ketika kita fokus pada istilah kunci.
Audit memberikan ide yang berbeda. Ini dapat dipahami secara sempit sebagai
pemeriksaan akurasi numerik atau keberadaan catatan akuntansi yang
sebenarnya, atau lebih luas lagi, sebagai tinjauan dan evaluasi di tingkat
tertinggi organisasi.”
Tekanan Peran
“(Hardy dan Conway, 1978) mendefinisikan role stress sebagai
konstruksi social, kondisi dimana tanggung jawab peran tidak jelas, sulit,
kontradiktif, atau tidak mungkin dipenuhi Dengan kata lain, tekanan peran
merupakan kondisi struktur sosial. peran tidak jelas, sulit, kontradiktif atau tidak
mungkin Tekanan silinder pada dasarnya adalah suatu kondisi peran setiap
orang memiliki harapan yang berbeda yang mempengaruhi harapan orang lain,
ketika harapan ini mungkin bertentangan, Perannya ambigu dan kompleks,
karenanya perannya tidak pasti, sulit, kontradiktif atau tidak mungkin.
Penelitian sebelumnya tentang stres peran dalam profesi akuntan publik
menggunakan dua elemen ketegangan peran; di sini Unsur tekanan peran
berdasarkan pengalaman dan persepsi auditor Terkait dengan karakteristik
organisasi akuntan publik adalah konflik peran. (konflik peran) dan ambiguitas
peran (Bamber, Snowball, dll. 1989). (Gregson, Wendell dan Aono, 1994).
(Sorensen, 1974) “Ini adalah ciri dari profesi akuntan publik,” katanya.
Kemungkinan konflik dan ketidakpastian dengan kata lain, profesi akuntan
publik dianggap sebagai salah satu pekerjaan dengan potensi konflik dan Peran
ambigu. Selain itu, ( Fogarty et al, 2000) dan (Almer dan Kaplan, 2002)
menambahkan unsur penelitiannya ke lingkungan akuntan publik Tekanan
Peran, kelebihan peran (role overload). Oleh karena itu, penelitian ini
menggunakan tiga elemen tekanan peran (role stress), seperti yang
dikemukakan oleh ( Fogarty et al, 2000) dan (Almer & Kaplan, 2002), yang
terdiri dari konflik peran (role conflict), ketidakjelasan peran (role ambiguity),
dan kelebihan peran (role overload)
Pengertian Peran
“Penekanan pada teori peran sifat individu dalam perilakunya di
masyarakat disinkronkan dengan posisi yang diduduki (Solomon et al., 1985).
(Harijanto dkk. 2013) mencerminkan konsep teori peran posisi rata-rata
individu masyarakat dalam suatu sistem sosial yang memiliki Hubungan antara
hak dan kewajiban dan kekuasaan serta tanggung jawab. Setiap orang memiliki
peran, dan keluarga, pekerjaan dan lingkungan sosial, di mana ia berperilaku di
masing-masing peran ini Jika tidak. Misalnya, pekerja bekerja Bisa ada lebih
dari satu orang di perusahaan satu, sebagai bagian dari perusahaan, Anggota
serikat atau ketika itu komite keselamatan Interaksi sosial memegang peranan
penting. dalam sebagai identitas interpretative Identitas dan siapa yang bisa
bertindak sekarang. Hasilnya adalah, Apa profesi yang mendefinisikan
seseorang, Mereka diharapkan berperilaku social dengan perannya masingmasing. Menurut (Agustina, 2009), peran stres atau Tekanan silinder pada
dasarnya adalah suatu kondisi di mana peran juga terpengaruh keinginan orang
lain, untuk Transisi bisa tidak pasti dan sulit. Hal Ini memperumit peran tidak
jelas, kontradiktif, atau sulit diadaptasi mengharapkan. Ada tiga jenis stres
peran: konflik peran, ambiguitas peran, dan kelebihan peran (Fogarty,et al.,
2000)”
Indikasi Kepuasan Kerja
Menurut Edison dkk (2017) beberapa indikasi kepuasan kerja:
1) Upah, kelayakan upah yang diberikan kepada pekerja.
2) Pekerjaan, dapat bertanggung jawab kepada pekerjaannya sendiri.
3) Kesempatan promosi, memberikan peluang untuk pekerja mendapat
promosi.
4) Penyelia, penyelia harus memberikan perhatian pada bawahannya.
5) Rekan sekerja, kontribusi yang diberikan rekan kerja selama
melaksanakan pekerjaan
Fakto-faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Factor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan menurut
Usman (2010):
1) Imbalan Jasa.
2) Rasa Aman.
3) Pengaruh antar pribadi.
4) Kondisi lingkungan kerja.
5) Kesempatan untuk pengembangan dan peningkatan diri.
Menurut Sinambela (2017) terdapat 6 faktor yang mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan:
1) faktor psikologi : minat, ketentraman dalam bekerja, sikap kerja,
bakat dan ketrampilan.
2) faktor sosial : fatror yang mengurus tentang interaksi sosial baik
dengan pegawai maupun dengan atasannya.
3) faktor fisik, faktor tentang kondisi fisik lingkungan dan pegawai.
4) faktor finansial, faktor tentang jaminan soasial serta kesejahteraan
sosial.
5) mutu pengawasan, faktor untuk meningkatkan hubungna baik
antara pemimpin dan bawahan.
6) faktor hubungan antar pegawai: manajer dan pegawai, fisik dan
kondisi kerja, hubungan sosial antar pegawai, sugesti, emosi dan
situasi kerja.
Penyebab kepuasan kerja menurut Menurut Sinambela (2017) ada 2
faktor:
1) faktor gaji, pekerja mendapatkan gaji yang bagus dan aktivitas
pekerjaan yang bervariasi.
2) perbedaan individu, fator tentang harga diri dan kepuasan kerja.
Teori-teori Kepuasan Kerja
Teori-teori tentang kepuasan kerja menurut Mangkunegara (2011)
antara lain:
1) Teori keseimbangan, komponennya input, outcome, comparason
person, equity in equity.
2) Teori perbedaan, menghitung antara selisih yang seharusnya dengan
kenyataan
3) Teori pemenuhan kebutuhan, kepuasan pegawai akan terpenuhi bila
merasa puas
4) Teori pandangan kelompok, bukan hanya pemenuhan saja tetapi
kepuasan juga tergantung pada kelompok.
5) Teori dua faktor dari Herzberg, untuk menganalisis puas atau tidak
puasnya
6) Teori penerapan
Pengertian Kepuasan Kerja
Menurut Robbins dan Judge (2015) kepuasan kerja adalah suatu
perasaan yang bersifat positif tentang pekerjaan mereka yang diperoleh dari
evaluasi karakteristiknya. Begitu juga Menurut Moorhead dan Griffin (2013)
kepuasan kerja adalah pencermianan tingkat dimana orang menemukan
kepuasan atau pemenuhan dalam pekerjaan mereka. Dan Menurut Wibowo
(2015) kepuasan kerja adalah suatu tingkat perasaan senang yang merupakan
penilaian positif terhadap pekerjaan maupun lingkungan tempat kerjanya.
Menurut Prihansa (2018) kepuasan kerja sekumpulan perasaan seorang
pegawai atas pekerjaannya, apakah merasa senang ataupun tidak senang dan
itu dihasilkan dari interaksi antara pekerja dengan lingkungan pekerjaan
maupun sebagai presepsi sikap mental, merupakan penilaian atas pegawai
pada pekerjaannya. Dan Menurut Badriyah (2015) kepuasan kerja sikap atau
perasaan pegawai terhadap aspek-aspek yang senang maupun yang tidak
senang mengnai pekerjaan yang sesuai dengan penilaian kerja masingmasing.
Menurut Sinambela (2017) kepuasan kerja perasaan seorang pegawai
atas pekerjaannya yang dihasilkan berdasarka usahanya sendiri dan
didukung oleh hal-hal yang berasal dari luar dirinya atas keadilan kerja, hasil
kerja dan kerja itu sendiri. Berdasarkan dari berbagai pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap seseorang yang merasa
puas terhadap pekerjaannya.
Cara Menciptakan Budaya Organisasi Yang Positif
Menurut Robbin dan Judge (2015) budaya organisasi yang positif bisa
dilakukan dengan cara:
1) Membangun kekuatan pekerja, hal ini digunakan untuk
menekankan dan memperlihatkan bahwa mereka dapat
mengapitalisasikan kekuatan mereka pada para pekerja, walaupun
budaya organisasi yang positif tidak mungkin mengabaikan
permasalahan yang ada.
2) Imbalan diberikan banyak daripada memberikan hukuman,
memberikan imbalan tidak lah sulit bisanya dilakukan dengan
memberikan gaji maupun promosi.
3) Menekankan pada vitalitas dan pertumbuhan, bukan hanya pekerja
memberikan kontribusi efektif bagi organisasional tetapi juga
menghargai perbedaan antara pekerja dengan karir.
4) Batasan dari budaya yang poistif, .pekerja menjadi bimbang apakah
mereka sudah melakukan dengan baik atau belum, meskipun
perusahan sudah memberlakukan semua aspek dan budaya
organisasi yang positif.
Cara Menciptakan Budaya Yang Baik dan Beretika
Menurut Robbin dan Judge (2015) menciptakan budaya yang baik dan
beretika bisa dilakukan dengan cara:
1) Menjadi panutan yang terlihat, manajemen puncak akan menjadi
patoka untuk pera pekerja dalam mengerjakan pekerjaannya.
2) Mengomunikasikan ekspektasi yang beretika, dengan cara
membagikan kode etik organisasional yang menyangkup prinsip
dasar dan aturan etika dapat meminimalkan ketidakjelasan.
3) Menyediakan pelatihan yang beretika, untuk menegakkan standar
etika perlu diadakan seminar, loka karya serta program pelatihan.
4) Memberi imbalan untuk tindakan yang beretika dan memberi
hukuman untuk tindakan yang tidak beretika, memberikan imbalan
yang tampak bagi mereka yang beretika dan memberika hukuman
yang mencolok bagi mereka yang tidak beretika, beretika atau tidak
beretika diukur atas kode etik perusahaan.
5) Menyediakan mekanismen perlindungan, melaporkan perilaku yang
tidak etis tanpa ketakutan dan teguran dapat dilakukan secara
formal karena tersedianya mekanisme perlindungan.
Cara Membuat Budaya Organisasi Yang Dominan
Menurut Wahjono (2010) budaya organisasi yang dominanv
1) Budaya kuat melawan budaya lemah
Budaya kuat menciptakan iklim internal dari kendali perilaku yang
tinggi itu dipengaruhi oleh perilaku setiap anggotanya karena
kingkat kebersamaan yang tinggi dan intens.
2) Budaya vs formalisasi
Jalan yang berkebalikan tetapi mempunyai tujuan yang sama dapat
dilakukan oleh budaya dan formalitas. Untuk mengontrol dan
bertindak sebagai sebuah substitute bagi formalisasi bisa
menggunakan budaya sebagai sarana yang kuat.
3) Budaya organisasi lewat budaya nasional
Dampak yang lebih besar pada para karyawan daripada organisasi
mereka sendiri dapat dilakukan oleh Budaya nasional
Cara Mempertahankan Suatu Budaya
Menurut Robbin dan Judge (2015) untuk mempertahankan suatu
budaya hidup bisa dilakukan dengan cara:
1) Pemilihan, untuk merekrut individu yang mempunyai keahlian,
pengetahuan dan kemampuan dalam bekerja adalah tujuan secara
eksplisit dari suatu proses pemilihan.
2) Manajemen puncak, dampak utama yang bisa terjadi pada budaya
organisasi bisa jadi itu akibat dari tindakan manajer puncak.
3) Sosialisasi, sosialisasi biasanya dibutuhkan oleh karyawan baru
untuk menyesuaikan diri dengan budaya yang berlaku di organisasi
tersebut, tanpa peduli sebaik apa perusahaan dalam merekrut dan
menyeleksi karyawan.
4) Tahap sebelum kedatangan, para pendatang baru membuat
ekspetasi mereka sendiri tentang pekerjaan dan organisasi, dan
perlu diketahui bahwa pendatang baru datang dengan serangkaian
nilai, tingkah laku.
5) Pertemuan, ditahap ini bisanya pendatang baru mempertentangkan
kemungkinan dari ekspektasi merekas sendiri karena bisa jadi
ekpektasi berbeda dengan realita.
Usaha Untuk Mempertahankan Budaya Organisasi
Menurut Wahjono (2010) usaha-usaha sosialisasi untuk mempertankan
budaya organisasi
1) Menyeleksi karyawan baru, perusahaan mengharapkan menemukan
sumberdaya yang cocok dengan visi pendiri atau yang mempunyai
potensi pengembanagan diri yang besar dengan adanya seleksi
karyawan baru perusahaan.
2) Penempatan kerja, sumberdaya yang baru diharapkan bisa disiplin
pada saat ditempatkan di unit kerja melalui pelatihan yang
dilakukan perusahaan.
3) Penguasaan kerja, jika karyawan sudah memasuki masa kerja yang
cukup maka penugasan akan didapatkan.
4) Mengukur dan memberi penghargaan, dilakuakan dengan seksama
sesuai dengan apa telah disepakati bersama.
5) Ketaatan pada nilai-nilai yang penting, saat pegawai tersebut
mempunyai rasa memiliki organisasi, maka dengan sendirinya akan
bersikap taat.
6) Hikmah terhadap sejarah organisasi, saat pegawai memiliki rasa
ketaatan, rasa cinta rasa memiliki organisasi tersebut maka hikmah
terhadap sejarah organisasi akan kita dapatkan dengan sendirinya.
7) Model peran konsisten dibutuhkan untuk proses sirkuler berikutnya,
melakukan perekrutan anggota organisasi baru membuat pegawai
lama akan melakukan kegiatan yang sama.
Fungsi Budaya Organisasi
Menurut Robbin dan Judge (2015) fungsi dari budaya organisasi itu
ada 5 yaitu:
1) Dalam menyampaikan menciptakan perbedaan antara suatu
organisasi dengan organisasi yang lain, bisa diggunakan saat
mendefinisi batasan.
2) Bagi para anggota organisasi bisa digunakan untuk menyampaikan
suatu perasaan dan identitas sendiri.
3) Daripada kepentingan dirisendiri, budaya akan memfasilitasi
komitmen yang lebih besar.
4) Dengan menyediakan standar bagi apa yang seharusanya dikatakan
dan dilakukan, budaya menjadi perekat sosoal untuk mendorong
stabilitas dari sistem sosial.
5) Tingkah laku dan perilaku dari para pekerja dapat dibentuk melalui
pengambilan perasaan dan mekanisme pengendalian.
Karakteristik Budaya Organisasi
Menurut Robbin dan Judge (2015) karakteristik budaya budaya
organisasi antaralain:
1) Inovasi dalam pengambilan resiko
Sejauh mana perusahaan dapat mendorong para pegawainya untuk
berinovasi dan mengambil resiko.
2) Perhatian kerincian
Sejauh mana perusahaan mendorong para karyawannya untuk
menunjukkan kecermatan, analisi dan perhatian kepada rincian.
3) Orientasi pada hasil
Perusahaan menitikberatkan orientasinya pada hasil dan bukan pada
proses dan teknik yang digunakan oleh karyawan tersebut untuk
mencapai hasil.
4) Orientasi orang
Tingkat efek yang diberikan manajemen akibat dari pengambilan
keputusan oleh para manajemen dari hasil-hasil pada orang-orang
didalam organisasi itu.
5) Orientasi tim
Bukannya oleh individu-individu tetapi kegiatan tim
diorganisasikan sekitar tim-tim oleh perusahaan.
6) Keagresifan
Bukannya santai-santai, perusahaan lebih mengharapkan para
pegawai untuk agresif.
7) Kemantapan
Lebih menekankan untuk mempertahankan status quo dari pada
pertumbuhan suatu perusahaan.
Pengertian Budaya Organisasi
Menurut Robbins dan Coulter (2007) sepertiapa karyawan berperilaku
dalam sebuah organisasi yang ditentukan, oleh sebuah sistem makna dan
keyakinan bersama yang dianut oleh para anggotanya dalam sebuah
organisasi merupakan definisi dari budaya organisasi.
Menurut Robbin dan Judge (2015) sistem yang memiliki berbagai arti
yang dapat diggunakan untuk membedakaan suatu organisasi dengan
organisasi yang lain dimana itu dilakuan oleh pegawai organisasi tersebut
merupakan budaya organisasi.
Menurut Edison dkk (2017) budaya organisasi adalah norma-norma
dan filosofi yang baru yang memiliki energi serta kebanggaan kelompok
dalam menghadapi sesuatu dan tujuan tertentu dan itu didapat dari hasil
proses melebur gaya budaya atau perilaku setiap individu yang mereka bawa
kedalam organisasi.
Metode-metode Penanganan Konflik
Menurut Martoyo (2000) metode-metode penanganan konflik antara
lain:
1) Mengidentifikasi masalah.
Dilakukannya metode ini bertujuan untuk mengetahui pokok dari
permasalahnya agar tidak keliru dalam penanganannya.
2) Menentukan tujuan yang hendak dicapai.
Setelah masalahnya terpecahkan baru melakukan metode ini.
Tujuan tersebut dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
3) Menentukan kreteria keberhasilan.
Untuk menilai keberhasilan pencapaian tujuan.
4) Menjabarkan alternatif-alternaif tindakan.
Beberapa alternatif pemecah masalah konflik perlu dirumuskan
dalam rangka mencari pemecahan yang terbaik.
5) Memilih alternatif terbaik.
Dalam pemilihan aternatif terbaik ini dipilih yang paling tepat
agar semua tujuan penanganan konflik dapat tercapai.
6) Percobaan dan penyempurnaan.
Setelah alternatif terbaik dipilih perlu beberapa percobaan, bila
dirasa kurang tepat maka akan disempurnakan lagi.
7) Pelakasaan.
Setelah dilakukan penyempurnan-penyempurnan yang matang
maka diharapkan konflik bisa diatasi dengan baik dan benar.
Akibat-akibat Konflik
Menurut Nitisemito (1996) akibat-akibat ada 2 yaitu akibat positif dan
akibat negatif:
- Akibat Positif
a. Akan menimbulkan kemampuan mengoreksi diri.
b. Dapat meningkatkan prestasi.
c. Bisa menjadi pendekatan yang lebih baik.
d. Bisa mengembangkan alternatif yang lebih baik - Akibat Negatif
a. Subyektif dan emosionil.
b. Apriori.
c. Saling menjatuhkan.
d. Frustasi.
Penyebab Terjadinya Konflik
Menurut Mangkunegara (2011) penyebab terjadinya konflik kerja
antara lain:
1) Koordianasi kerja yang tidak dilakukan oleh pekerja.
2) Ketergantungan pegawai dalam pelaksanaan tugas.
3) Tugas yang diberikan tidak jelas.
4) Perbedaan dalam orientasi kerja.
5) perbedaan dalam memahami tujuan organisasi.
6) Perbedaan persepsi.
7) Sistem kompetensi insentif.
8) Strategi permotifasian yang tidak tepat.
Tipe dan Lokus Konflik
Menurut Robbin dan Judge (2015) tipe dan lokus konflik adalah:
1) Jenis konflik
Konflik tugas terkait dengan yang terjadi isi dan tujuan dari suatu
pekerjaan itu. Konflik hubungan konflik yang didasari atas
hubungan interpersonal dalam suatu organisasi tersebut. Konflik
proses adalah konflik yang terjadi saat sedang mengerjakan segala
pekerjaan yang sudah ada, tentang bagaimana cara
menyelesaikannya.
2) Lokus konflik
Konflik ini baru akan terjadi apabila ada 2 orang. Konflik
intragrup sudah bisa dipastikan bahwa konflik ini akan terjadi
didalam sebuah grup atau tim. Konflik antar kelompok, sudah bisa
dipastikan bahwa konflik ini akan terjadi di antar grup atau tim.
Pandangan Tentang Konflik
Ada beberapa pandangan tentang konflik menurut para ahli, antara lain
:
1) Pandangan tradisional atas konflik menurut Robbin dan Judge
(2015), menyatakan bahwa yang harus dihindari dan bahaya bisa
diyakini bahwa itu konflik. Akibat dari komunikasi yang buruk,
kurangnaya keterbukaan dan kepercayaan serta kegagalan dari
manajer untuk menjadi responsif terhadap kebutuhan dan masukan
dari para karyawan membuat konflik dipandang sebagai hasil dari
disfungsional atau sering disebut kegagalan fungsi.
2) Pandangan Interaksionis atas konflik menurut Robbin dan Judge
(2015), untuk perubahan dan inovasi kita harus membuat kerjasama
kelompok yang harmonis, damai dan tenang. Memahami bahwa
konflik mempunyai level yang minimal yang dapat membangun
suatu kelompok tetap bersemangat, kritis terhadap diri sendiri dan
kreatif. Semua konflik bukan konflik yang baik menurut pendapat
interakionis. Ada 2 jenis konflik menurut interasksionis. Yang
pertama, konflik fungsional ini adalah jenis konflik yang
membangun. Yang kedua adalah konflik disfungsional konflik ini
adalah konflik yang menghancurkan.
Pengertian Konflik Peran
Menurut Moorhead dan Griffin (2013) ketika pesan dan petunjuk yang
diberikan orang lain mengenai peran tersebut jelas, tetapi berkontradiksi atau
saling eksklusif itu disebut dengan konflik peran.
Menurut Robbin dan Judge (2015) situasi di mana seorang individu
sedang dihadapkan dengan sebuah ekspektasi-ekspektasi peran yang
berlainan dengan ekspektasinya bisa disebut dengan konflik peran.
Menurut Winardi (2015) sekelompok aktivitas yang telah
diekspektaksi oleh pihak lain dan akan segera dilaksanakan individu tersebut
pada posisinya dalam organisasi tempatnya bekerja sering juga disebut
sebagai konflik peran.
Menurut Rizzo et. al. (1970) Dimana kompatibilitas kongruensi dinilai
relatif terhadap standar kondisi yang mempengaruhi kinerja peran bisa
disebut dengan konflik peran. Berdasarkan berbagai macam pendapat dapat
di simpulkan bahwan konflik peran adalah konflik terjadi pada karyawan
karena adanya ketidak sesuaian saat menjalankan peran-peran tertentu.
Ketika seseorang menghadapi tuntutan yang saling bertentangan antara
pekerja dan keluarganya biasanya akan terjadi konflik peran. Kebingungan
untuk mengambil keputusan mana yang lebih baiktidaknya untuk dirinya
salah satu faktor yang menyebabkannya adalah konflik peran. Ketika
internalisasi nilai, etika, atau standar pribadi saling bertolak belakang dengan
harapan orang lain juga akan terjadi akibat adanya konflik peran.
Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Menurut Mitchel dalam Sedarmayanti (2001:51), menyebutkan aspekaspek yang meliputi kinerja yang dapat dijadikan ukuran kinerja seseorang,
yaitu sebagai berikut:
a. Kualitas Kerja (Quality of Work)
- Hasil kerja yang diperoleh
- Kesesuaian hasil kerja dengan tujuan organisasi
- Manfaat hasil kerja
b. Ketepatan Waktu (Promptness) - Penataan rencana kegiatan/ rencana kerja
- Ketepatan rencana kerja
- Ketepatan waktu dalam tugas
c. Inisiatif (Initiative) - Pemberian ide/ gagasan dalam berorganisasi
- Tindakan untuk menyelesaikan permasalahan
d. Kemampuan (Capability) - Kemampuan yang dimiliki
- Keterampilan yang dimiliki
- Kemampuan memanfaatkan sumber daya atau potensi
e. Komunikasi (Communication) - Komunikasi intern (ke dalam) organisasi
- Komunikasi ekstern (ke luar) organisasi
- Relasi dan kerjasama dalam pelaksanaan tugas Indikator
Sedangkan menurut Bernadin dan Russel (2000:213), menjelaskan
enam kriteria primer yang digunakan untuk mengukur kinerja :
a. Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil
pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati
tujuan yang diharapkan.
b. Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan, misalkan jumlah
rupiah, jumlah unit, jumlah siklus, kegiatan yang diselesaikan.
c. Timeliness, adalah tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan
pada waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan kordinasi
output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain.
d. Cost effectiviness, adalah tingkat sejauh mana penggunaan daya
organisasi (manusia, keuangan, teknologi, material) dimaksimalkan
utnuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan kerugian dari
setiap unit penggunaan sumberdaya.
e. Need for supervisor, merupakan tingkat sejauh mana seorang dapat
melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan
pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang
kurang diinginkan.
f. Interpersonal impact, merupakan tingkat sejauh mana
karyawan/pekerja memelihara harga diri, nama baik dan kerjasama
di antara rekan kerja dan bawahan.
Pengertian Kinerja
Helfert dalam Rivai & Sagala (2010:604) menjelaskan bahwa kinerja
adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau perestasi yang dipengaruhi oleh
kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber
daya yang dimiliki.
Sedangkan Hasibuan (2005:94) menjelaskan kinerja adalah suatu hasil
kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan
kesungguhan serta waktu.
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson Terjamahaan Jimmy
Sadeli dan Bayu Prawira (2001:78) bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa
yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan. Kinerja karyawan yang
umum untuk kebanyakan pekerjaan meliputi elemen yaitu kuantitas dari hasil,
kualitas dari hasil, ketepatan waktu dari hasil, kehadiran, dan kemampuan
bekerja sama.
Irawan ( 2000:588 ) menyatakan bahwa : kinerja adalah hasil kerja
yang konkrit, dapat diamati, dan dapat diukur. Sehingga kinerja merupakan
hasil kerja yang dicapai oleh pegawai dalam pelaksanaan tugas yang
berdasarkan ukuran dan waktu yang telah ditentukan.
Sedangkan menurut Wibowo (2007:7) kinerja merupakan hasil
pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi,
kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi. Dengan
demikian kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai
dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan
bagaimana cara mengerjakannya.
Kemudian menurut Ambar Teguh Sulistiyani (2003:223) Kinerja
seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan
yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.
Menurut Soeprihanto (2002:7), kinerja merupakan hasil kerja seorang
karyawan selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, misalnya standar, target atau kriteria yang telah ditentukan
terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.
Menurut Veizal Rivai ( 2004:309) Kinerja merupakan hasil atau
tingkatan keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu
dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan standar hasil kerja, target
atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah
disepakati bersama. Lebih lanjut Rivai menyatakan bahwa kinerja tidak
berdiri sendiri tapi berhubungan dengan kepuasan kerja dan kompensasi,
dipengaruhi oleh ketrampilan, kemampuan dan sifat – sifat individu. Dengan
kata lain kinerja ditentukan oleh kemampuan, keinginan dan lingkungan.
Oleh karena itu agar mempunyai kinerja yang baik, seseorang harus
mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengerjakan dan mengetahui
pekerjaannya serta dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara
pekerjaan dan kemampuan.
Pengertian Konflik Peran Ganda
Konflik secara umum adalah bertemunya dua kepentingan yang berbeda
dalam waktu yang bersamaan dan dapat menimbulkan efek yang negatif.
Howard (2008) mengemukakan work family conflict terjadi ketika ada
ketidak sesuaian antara peran yang satu dengan peran lainnya (inter-role
conflict) dimana terdapat tekanan yang berbeda antara peran di keluarga dan
di pekerjaan. Menurut Triaryati (2003), work-family conflict (WFC)
merupakan suatu bentuk konflik peran dimana tuntutan peran dari pekerjaan
dan keluarga secara mutual tidak dapat disejajarkan dalam beberapa hal.
Work family conflict terjadi ketika adanya harapan yang bertentangan
yang dirasakan oleh individu terhadap peran-peran yang dimilikinya
sehingga pemenuhan kebutuhan sulit untuk dipenuhi .
Tuntutan pekerjaan berhubungan dengan tekanan yang berasal dari beban
kerja yang berlebihan dan waktu, seperti; pekerjaan yang harus diselesaikan
terburu-buru dan deadline. Tuntutan keluarga berhubungan dengan waktu
yang dibutuhkan untuk menangani tugas-tugas rumah tangga dan menjaga
anak. Tuntutan keluarga ini ditentukan oleh besarnya keluarga, komposisi
keluarga dan jumlah anggota keluarga yang memiliki ketergantungan
terhadap anggota yang lain. Yang, Chen, Choi & Zou (2000) dalam
Nyoman Triaryati (2003:86).
Sumber-Sumber Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict).
Green dan Beutell (2011) menyatakan bahwa seseorang yang mengalami
konflik peran ganda akan merasakan ketegangan dalam bekerja. Konflik
peran ini bersifat psikologis. Gejala yang terlihat pada individu yang
mengalami konflik peran ini adalah frustasi, rasa bersalah, kegelisahan,
dan keletihan
Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) ini terjadi ketika kehidupan
rumah seseorang berbenturan dengan tanggung jawabnya ditempat kerja,
seperti masuk kerja tepat waktu, menyelesaikan tugas harian, atau kerja
lembur. Demikian juga tuntutan kehidupan rumah yang menghalangi
seseorang untuk meluangkan waktu untuk pekerjaannya atau kegiatan yang
berkenaan dengan kariernya.
Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) muncul apabila wanita
merasakan ketegangan antara peran pekerjaan dengan peran keluarga.
Greenhaus dan Beutell dalam Adekola (2010:1070) mengidentifikasikan tiga
jenis Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) yaitu:
- Konflik Berdasarkan Waktu (Time-Based Conflict)
Waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan salah satu tuntutan
(keluarga atau pekerjaan) dapat mengurangi waktu untuk menjalankan
tuntutan yang lainnya (pekerjaan atau keluarga). Bentuk konflik Ini secara
positif berkaitan dengan:
a. Jumlah jam kerja
b. Lembur
c. Tingkat kehadiran
d. Ketidakteraturan shift
e. Kontrol jadwal kerja - Konflik Berdasarkan Tekanan (Strain-Based Conflict)
Terjadi tekanan dari salah satu peran mempengaruhi kinerja peran
lainnya.Dimana gejala tekanan, seperti:
a. Ketegangan
b. Kecemasan
c. Kelelahan
d. Karakter peran kerja
e. Kehadiran anak baru
f. Ketersediaan dukungan sosial dari anggota keluarga
g. Konflik Berdasarkan Perilaku (Behavior-Based Conflict)
Bentuk terakhir dari konflik pekerjaan-keluarga adalah Behavior-Based
Conflict, di mana pola-pola tertentu dalam peran-perilaku yang tidak
sesuai dengan harapan mengenai perilaku dalam peran lainnya. Misalnya,
stereotip manajerial menekankan agresivitas, kepercayaan diri, kestabilan
emosi, dan objektivitas. Hal ini kontras dengan harapan citra dan perilaku
seorang istri dalam keluarga, yang seharusnya menjadi pemberi perhatian,
simpatik, dan mengasuh. Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan
bahwa para eksekutif perempuan lebih mungkin untuk mengalami bentuk
konflik daripada eksekutif laki-laki, sebagai perempuan harus berusaha
keras untuk memenuhi harapan peran yang berbeda di tempat kerja
maupun dalam keluarga.
Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi Konflik Peran Ganda ( Work
Familiy Conflict ) menurut Bellavia & Frone (2005:123) yaitu : - Dalam Diri Individu (General Intra Individual Predictors)
Ciri demografis (jenis kelamin, status keluarga, usia anak terkecil)
dapat menjadi faktor resiko; kepribadian (seperti emosi negatif, daya
tahan, ketelitian); dapat membentengi dari potensi konflik peran.
contohnya adalah wanita lebih berpotensi mengalami konflik peran karena
tugas-tugas dalam rumah lebih dipandang sebagai tanggung jawab terbesar
wanita dari pada laki-laki. - Peran Keluarga (Family Role Predictors)
Pembagian waktu dalam keluarga (pengasuhan dan tugas rumah
tangga), stresor dari keluarga (terbebani oleh anggota keluarga, konflik
peran dalam keluarga,). - Peran Pekerjaan (Work Role Predictors)
Pembagian waktu, terkena stressor kerja (tuntutan pekerjaan atau
overload, konflik peran kerja, ambiguitas peran kerja, atau ketidakpuasan),
karakteristik pekerjaan (kerjasama, rasa aman dalam kerja), dukungan
sosial dari atasan dan rekan, karakteristik tempat kerja. Jumlah tugas yang
terlalu banyak akan membuat karyawan harus kerja lembur, atau
banyaknya tugas keluar kota membuat karyawan akan menghabiskan lebih
banyak waktunya untuk pekerjaan dan untuk berada di perjalanan
Teori-Teori Mengenai Kepuasan Kerja
Pada umumnya terdapat banyak teori yang membahas masalah
kepuasan seseorang dalam bekerja.
Menurut Wexly dan Yukl (1977) dalam bukunya yang berjudul
Organizatioanl Behaviour And Personnel Psychology, teori – teori tentang
kepuasan kerja ada tiga macam yang sudah sering dikenal, yaitu :
1) Teori Keseimbangan (Equity Theory)
Prinsip dari teori ini adalah bahwa orang akan merasa puas atau tidak
puas, tergantung apakah ia merasakan adanya keseimbangan (equity) atau tidak
terhadap suatu situasi. Menurut teori ini equity terdiri dari tiga elemen, yaitu :
a. Input yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakn oleh
karyawan sebagai sumbangan atas pekerjaannya.
b. Out Comes yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakan
oleh karyawan sebagai hasil dari pekerjaannya.
c. Comparison Persons yaitu Kepada atau dengan siapa karyawan
membandingkan rasio input – outcomes yang dimilikinya.
Comparisons Persons ini bisa berupa seseorang di perusahaan
yang sama, atau ditempat lain, atau bisa pula dengan dirinya
sendiri di waktu lampau.
Menurut teori ini, puas atau tidak puasnya karyawan merupakan hasil dari
membandingkan antara input-outcome dirinya dengan perbandingan inputoutcome karyawan lain (comparison person). Jadi jika perbandingan tersebut
dirasakan seimbang (equity) maka karyawan tersebut akan merasa puas. Tetapi
apabila terjadi tidak seimbang (inequity) dapat menyebabkan dua kemungkinan,
yaitu over compensation inequity (ketidakseimbangan yang menguntungkan
dirinya) dan sebaliknya, under compensation inequity (ketidakseimbangan yang
menguntungkan karyawan lain yang menjadi pembanding atau comparison
person).
2) Teori Perbedaan (Discrepancy Theory)
Teori Perbedaan dari Locke ini menyatakan bahwa kepuasan kerja
karyawan tergantung pada perbedaan antara apa yang didapat dan apa yang
diharapkan oleh karyawan. Apabila yang didapat karyawan ternyata lebih besar
daripada apa yang diharapkan maka karyawan tersebut menjadi puas.
Sebaliknya, apabila yang didapat karyawan lebih rendah daripada yang
diharapkan, akan menyebabkan karyawan tidak puas.
3) Teori Dua Faktor Herzberg (Herzberg’s Two Factor Theory)
Teori dua faktor dikembangkan oleh Frederick Herzberg (1966). Ia
menggunakan teori Abraham Maslow sebagai titik acuannya. Prinsip dari teori ini
adalah kepuasan dan ketidakpuasan kerja itumerupakan dua hal yang berbeda,
artinya kepuasan dan ketidakpuasan kerjaterhadap pekerjaan itu tidak
merupakan suatu variabel yang kontinyu (Herzberg dalam Hasibuan, 2005).
Teori ini pertama dikemukakan oleh Herzberg melalui hasilpenelitian beliau
dengan membagi situasi yang mempengaruhi sikap seseorangterhadap
pekerjaannya menjadi dua kelompok, yaitu :
a.Kelompok satisfiers yaitu situasi yang dibuktikannya sebagai sumber
kepuasan kerja yang terdiri dari tanggung jawab, prestasi,
penghargaan,promosi, dan pekerjaan itu sendiri. Kehadiran faktor ini akan
menimbulkan kepuasan, tetapi tidak hadirnya faktor ini tidak akan selalu
mengakibatkan ketidakpuasan.
b.Kelompok dissatisfiers ialah faktor – faktor yang terbukti menjadi
sumber ketidakpuasan, yang terdiri dari kondisi kerja, gaji, penyelia, teman
kerja,kebijakan administrasi, dan keamanan. Perbaikan terhadap kondisi ini akan
mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan, tetapi tidak akan menimbulkan
kepuasan karena ia bukan sumber kepuasan kerja. Yang menarik dari teori ini
justru terletak pada konsep dasar tentang pemisahan kepuasan dan
ketidakpuasan kerja, karena dianggap kontroversial. Penelitian yang dilakukan
oleh Mills (1967) terhadap 155 orang karyawandari dua buah pabrik besar di
Australia, dimana sampel terdiri dari berbagai tingkatan umur, kebangsaan, lama
dinas, dan macam jabatan.Hasilnya seratus persen mendukung teori dua faktor
tersebut (Moh. As’ad,1995:108-109).(www.scribd.com)
dan dibawah ini juga merupakan teori-teori tambahan mengenai
kepuasan kerja, antara lain :
4) Teori Pemenuhan Kebutuhan (Need Fulfillment Theory)
Teori ini pertama kali dipelopori A. H. Maslow. dikemukakan oleh A. H.
Maslow tahun 1943. Teori ini merupakan kelanjutan dari “Human Science
Theory” Elton Mayo (1880-1949) yang menyatakan bahwa kebutuhan dan
kepuasan seseorang itu jamak, yaitu kebutuhan biologis dan psikologis berupa
kebutuhan meteriil dan non-materiil. Dalam teori ini Maslow menyatakan adanya
suatu hirarki kebutuhan pada setiap orang. Setiap orang memberi prioritas pada
suatu kebutuhan sampai kebutuhan tersebut dapat terpenuhi. Jika suatu
kebutuhan sudah terpenuhi, maka kebutuhan yang kedua akan memegang
peranan, demikian seterusnya menurut urutannya.
5) Teori Pandangan Kelompok (Social Reference Group Theory)
Menurut teori ini, kepuasan kerja karyawan bukanlah bergatung pada
pemenuhan kebutuhan saja, tetapi sangat bergantung pada pandangan dan
pendapat kelompok yang oleh para karyawan dianggap sebagai kelompok
acuan. Kelompok acuan tersebut oleh karyawan dijadikan tolok ukur untuk
menilai dirinya maupun lingkungannya. Jadi, karyawan akan merasa puas
apabila hasil kerjanya sesuai dengan minat dan kebutuhan yang diharapkan oleh
kelompok acuan.
Kepuasan Kerja (Job Satisfaction )
Sebelum masuk kedalam bahasan kepuasan kerja maka terlebih dahulu
akan melihat pengertian dari kepuasan kerja itu sendiri. Kepuasan Kerja
menjelaskan bagaimana konten dari seorang individu dengan pekerjaannya.
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat individual.
Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan
sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan
dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi juga
kepuasannya terhadap kegiatan tersebut. Jadi secara garis besar kepuasan kerja
dapa diartikan sebagai hal yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan
yang mana karyawan pandang dalam pekerjaannya.
Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja
seseorang, beberapa faktor termasuk tingkat gaji dan tunjangan, keadilan yang
dirasakan dari sistem promosi dalam perusahaan, kualitas kondisi kerja,
kepemimpinan dan hubungan sosial, dan pekerjaan itu sendiri (yang berbagai
tugas yang terlibat, kepentingan dan tantangan pekerjaan menghasilkan, dan
kejelasan deskripsi pekerjaan / persyaratan). Seseorang yang merasa senang
dan bahagia dengan pekerjaannya, dapat dikatakan juga kepuasaan mereka
terhadap pekerjaannya tinggi. Kepuasan kerja tidak sama dengan motivasi tetapi
hal ini jelas terkait satu sama lain.
Menurut Herzberg dalam Hasibuan (2005) ciri perilaku yang puas
adalah mereka yang mempunyai motivasi yang tinggi untuk bekerja , mereka
lebih senang dalam melakukan pekerjaannya, sedangkan ciri pekerja yang
kurang puas adalah mereka yang malas berangkat ke tempat bekerja, dan malas
dalam melaksanakan kewajibannya terhadap pekerjaan.
Sunyoto (2001) juga mengemukakan pendapat bahwa ketidakpuasan
kerja akan berdamapak pada tiga hal, yaitu : produktivitas kerja, kemangkiran
dan keluarnya tenaga kerja, serta kesehatan dari tenaga kerja yang
bersangkutan. Banyak pendapat yang ,menyatakan bahwa produktivitas dapat
ditingkatkan dengan manaikkan kepuasan kerja, namun hasil penelitian tidak
mendukung pandangan ini, karena hubungan antara produktivitas kerja dengan
kepuasan kerja sangat kecil. Produktivitas kerja dipengaruhi oleh banyak faktor
disamping kepuasan kerja itu sendiri. Lawler dan Porter dalam sunyoto (2001)
berpendapat bahwa produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari
kepuasan kerja jika tenaga kerja mempresepsikan bahwa usaha yang telah
dikeluarkan dan hasil yang didapatkan dari usaha tersebut kedua-duanya dirasa
adil dan pantas untuk dibuktikan dengan hasil kerja yang terbaik.
Ketidakhadiran lebih bersifat spontan dan kurang mencerminkan
ketidakpuasan kerja, berbeda dengan berhenti atau keluar dari pekerjaan. Steers
dan Rhodes dalam sunyoto (2001) mengembangkan model pengaruh dari
ketidakhadiran. Ada dua faktor pada perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan
kemampuan untuk hadir. Mereka percaya bahwa motivasi untuk hadir
dipengaruhi oleh kepuasan kerja. Menurut Robbins (1998) ketidakpuasan kerja
pada karyawan dapat diungkapkan melalui berbagai cara selain meninggalkan
pekerjaan, karyawan dapat mengeluh, membangkang, mencuri barang milik
organisasi, menghindar dari tanggung jawab (Ashar SunyotoM, 2001: 365-366).
Hubungan Karakteristik Pekerjaan dengan Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja karyawan merupakan aspek yang paling penting
dalam pekerjaan. Ketidakpuasan kerja yang dimiliki karyawan
menyebabkan berbagai masalah yang sama terhadap diri karyawan
maupun perusahaan tempat karyawan bekerja. Perusahaan terpaksa
menanggung biaya yang cukup tinggi apabila kepuasan kerja karyawan
tidak diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari adanya karyawan yang
berhenti kerja, sering absen kerja, dan beberapa masalah pelanggaran
disiplin yang dapat menyebabkan biaya pengeluaran yang cukup tinggi
dalam perusahaan dan menurunnya produktivitas kerja perusahaan. Situasi
tersebut menyebabkan prestasi kerja karyawan menurun dan membuat
karyawan menjadi tidak produktif serta dapat berakibat munculnya stress
kerja dikalangan karyawan yang ada dalam perusahaan. As’ad (2004)
faktor manusia cukup berperan dalam mencapai hasil sesuai dengan tujuan
perusahaan, memberikan motivasi agar dicapai kepuasan kerja bagi para
karyawan merupakan kewajiban bagi setiap pemimpin.
Wijono (2012) kepuasan kerja karyawan adalah suatu hasil perkiraan
karyawan terhadap pekerjaan atau pengalaman positif dan menyenangkan
dirinya. Kepuasan kerja berarti rangsangan yang efektif yang diberikan
oleh karyawan terhadap pekerjaan mereka. Kepuasan kerja karyawan
dapat diklarifikasikan sebagai pengaruh refleksi dari pengalaman
karyawan dan persepsinya terhadap tempat kerja. Karyawan menganggap
bahwa kepuasan kerja karyawan juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik
pekerjaan. Robbins (2001) berpendapat bahwa karakteristik pekerjaan
adalah upaya mengidentifikasi karakteristik tugas dari pekerjaan,
bagaimana karakteristik tersebut digabung untuk membentuk pekerjaanpekerjaan yang berbeda, dan berhubungan dengan motivasi, kepuasan, dan
kinerja karyawan. Karakteristik pekerjaan meliputi bagaimana karyawan
menggunakan beragam keterampilan dan kemampuan untuk
menyelesaikan pekerjaan, tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan
secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil
kinerja seseorang, tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak
yang berarti bagi kehidupan orang lain, seberapa besar kebebasan yang
dimiliki karyawan dalam menjadwalkan dan mengatur pekerjaan mereka,
serta besarnya informasi yang karyawan terima tentang efektivitas dan
kualitas pekerjaan yang karyawan laksanakan.
Ada beberapa karakteristik individu yang juga tidak kalah penting
dalam mempengaruhi produktivitas kerja karyawan terutama dapat terlihat
jelas ialah pada usia dan status perkawinan. Usia dapat mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan dalam bekerja. Robbins (2001) menjelaskan
bahwa karyawan dengan usia lebih tua akan semakin mampu
menunjukkan kematangan jiwa, dalam arti semakin bijaksana, semakin
mampu berfikir rasional, semakin mampu mengendalikan emosi, semakin
toleran terhadap pandangan dan perilaku yang berbeda dari dirinya dan
semakin dapat menunjukkan kematangan intelektual dan psikologisnya.
Karyawan yang telah menikah lebih puas terhadap kerjanya dibandingkan
dengan karyawan yang belum menikah karena karyawan yang telah
menikah merasa mempunyai tanggungjawab yang besar pada
pekerjaannya. Apabila karakteristik pekerjaan sesuai dengan harapan maka
karyawan akan mempunyai kepuasan kerja yang tinggi dan sebaliknya.
Kepuasan kerja karyawan merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh
setiap karyawan. Menurut Waluyo (2009) kepuasan kerja karyawan
merupakan suatu sikap yang positif yang menyangkut penyesuian diri
yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk
didalamnya upah, kondisi sosial, kondisi fisik, dan kondisi psikis. Perasaan
tersebut sangat penting karena kepuasan kerja karyawan yang didukung
dengan karakteristik pekerjaan yang sesuai dapat meningkatkan
produktivitas karyawan
Aspek-aspek Karakteristik Pekerjaan
Ada lima aspek dalam karakteristik pekerjaan menurut Hackman
and Oldham (1980) yaitu :
a. Keragaman keterampilan
Bagaimana karyawan menggunakan beragam
keterampilan dan kemampuan untuk menyelesaikan
pekerjaannya. Semakin menantang pekerjaannya, semakin
berarti pula keterampilannya.
b. Identitas tugas
Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara
keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai
hasil kinerja seseorang.
c. Tingkat pentingnya tugas
Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang
berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang tersebut
merupakan rekan kerja dalam suatu perusahaan yang sama
maupun orang lain disekitarnya.
d. Otonomi
Seberapa besar kebebasan yang dimiliki para pekerja
dalam menjadwalkan dan mengatur pekerjaan mereka sendiri.
e. Umpan balik
Besarnya informasi yang pekerja terima tentang efektivitas
dan kualitas pekerjaan yang mereka laksanakan.
Faktor–faktor yang mempengaruhi Karakteristik Pekerjaan
Ada tujuh faktor dalam karakteristik pekerjaan menurut Wijono
(2012) yaitu :
1) Organisasi dan manajemen
Organisasi dan manajemen menjadi penting jika
karyawan mempunyai moral kerja yang rendah, karena hal itu
merupakan indikasi rendahnya ketidakpuasan karyawan dalam
bekerja.
2) Supervisi langsung
Kepuasan kerja adalah kesesuaian dengan kepentingan
pribadi supervisor secara langsung (immediate supervision) dan
dukungan terhadap karyawan.
Universitas Sahid Surakarta 21
3) Lingkungan sosial
Identitas kelompok kerja tampaknya menjadi sebuah
variabel penting terhadap kepuasan kerja. Individu didalam
kelompok akan lebih puas daripada yang tidak menjadi anggota
dalam kelompok. Sebaliknya, Veroll & Feld (Wijono, 2012)
mengatakan bahwa bekerja secara kelompok mempunyai
manfaat penting untuk memenuhi kebutuhan interpersonal dan
persahabatan yang dijelaskan sebagai sumber kepuasan kerja.
4) Komunikasi
Komunikasi adalah salah satu faktor penting dalam
keseluruhan proses moral. Komunikasi dapat dilihat dari
ketidakhadiran kerja yang cenderung menjadi sumber utama dari
ketidakpuasan dengan syarat individu diletakkan pada posisi
penting dalam satu jalinan komunikasi.
5) Keamanan
Keamanan dikatakan sebagai variabel yang paling penting
dalam kepuasan kerja oleh para peneliti. Walaupun demikian,
kepentingannya merupakan hasil dari ketidakhadirannya dalam
suatu situasi dibandingkan dengan kehadirannya.
6) Monoton
Kecenderungan untuk memperoleh kepuasan yang lebih
dalam terhadap pekerjaan yang dilakukan berulangkali secara
monoton.
7) Penghasilan
Terjadi perbedaan pendapatan di antara karyawan satu
dengan yang lain, tergantung pekerjaan masing-masing jabatan
dan pentingnya pekerjaan.
Pengertian Karakteristik Pekerjaan
Setiap pekerjaan mempunyai karakteristik atau aspek-aspek
tertentu yang menyertai individu dalam melaksanakan pekerjaannya.
Aspek-aspek tersebut dapat membuat individu bekerja dengan baik
atau malah sebaliknya. Oldham (Griffin, 2008) “Job characteristics is
a set of environmental variables that are widely thought to be
important causes of employee effect and behavior”. Artinya ialah
karakteristik pekerjaan adalah serangkaian variabel lingkungan yang
secara luas dirasa penting yang menyebabkan dan mempengaruhi
perilaku karyawan. Menurut Schurman (2011) mendefinisikan
karakteristik pekerjaan “The definition of job characteristics is
aspects specific to a job, such as knowledge and skill, mental and
physical demands, and working conditions that can be recognized,
defined, and assessed that are important causes of employee health”.
Artinya yaitu karakteristik pekerjaan merupakan aspek khusus yang
terdapat pada satu pekerjaan seperti pengetahuan dan keterampilan,
tuntutan mental dan fisik yang diperlukan, dan kondisi pekerjaan yang
dapat diketahui, didefinisikan dan dinilai yang merupakan penyebab
kesehatan karyawan. Kreitner & Kinicki (2007) menyatakan
karakteristik pekerjaan sebagai dimensi inti pekerjaan yaitu “Core job
dimensions are common characteristics found to a varying in all
jobs”. Dimensi inti pekerjaan ialah karakteristik pekerjaan yang
ditemukan dalam berbagai macam jenis pekerjaan.
Widowati (2015) mendefinisikan bahwa karakteristik pekerjaan
adalah wujud dari aspek internal pekerjaan itu sendiri mencakup
variasi keterampilan yang dibutuhkan, prosedur dan kejelasan tugas,
tingkat kepentingan tugas, kewenangan dan tanggungjawab, serta
umpan balik dari tugas yang dirancang agar karyawan dapat
meningkatkan motivasi internal serta kepuasan kerjanya. Menurut
Rahmawati (2013) karakteristik pekerjaan adalah sifat dari tugas yang
terkandung dalam suatu pekerjaan, meliputi berbagai dimensi yang
dapat mendorong efektivitas individu karyawan dalam bekerja.
Sementara itu Robbins (2001) berpendapat bahwa karakteristik
pekerjaan adalah upaya mengidentifikasi karakteristik tugas dari
pekerjaan, bagaimana karakteristik itu digabung untuk membentuk
pekerjaan-pekerjaan yang berbeda, dan berhubungan dengan motivasi,
kepuasan, dan kinerja karyawan. Karakteristik berdasarkan model
karakteristik pekerjaan yang dikembangkan oleh Hackman and
Oldham (Widowati, 2015) terdapat lima dimensi inti pekerjaan yaitu
variasi keterampilan, identitas tugas, tingkat pentingnya tugas,
otonomi dan umpan balik.
Aspek-aspek yang mempengaruhi Kepuasan Kerja Karyawan
Menurut Luthans (2006) aspek-aspek yang dapat mempengaruhi
kepuasan kerja, yaitu :
a. Tingkat upah / Gaji
Keuangan adalah hal yang paling mendasar yang harus
diperhatikan oleh perusahaan karena merupakan hal pokok yang
menjadi motivasi setiap individu dalam bekerja. Menurut Gito
Sudarmo & Sudita (2008) finansial dapat berbentuk gaji, upah,
dan bonus.
b. Pekerjaan itu sendiri
Berhubungan dengan perasaan terhadap pekerjaan yang
dilakukan dan kemampuan menyelesaikan tugas.
c. Rekan kerja
Rekan kerja dalam suatu perusahaan sangat diperlukan dalam
menyelesaikan suatu aktivitas terutama aktivitas yang
membutuhkan kerjasama tim.
d. Promosi karir
Promosi merupakan pemindahan secara vertikal ke jenjang yang
lebih tinggi disertai dengan adanya kenaikan tanggungjawab dan
imbalan dengan memperhatikan prestasi kerja, senioritas, dan
keadilan. Seseorang yang dipromosikan secara obyektif dan
sesuai aturan maka diharapkan tidak akan menimbulkan
ketidakpuasan diantara karyawan yang tidak terpilih untuk
dipromosikan. Promosi yang dilakukan kepada pekerja, erat
kaitannya dengan proses pengembangan karir.
Faktor–faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja Karyawan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan karyawan
dari berbagai ahli. Menurut As’ad (2004) faktor–faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja karyawan ialah :
1) Faktor psikologi.
Faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan
meliputi minat, ketentraman kerja, sikap terhadap kerja, dan
perasaan kerja.
2) Faktor sosial.
Faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik
antara sesama karyawan, dengan atasan, maupun dengan
karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.
3) Faktor fisik.
Faktor yang berhubungan dengan fisik lingkungan kerja
dan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan, peraturan
waktu kerja, perlengkapan kerja, sirkulasi udara, dan kesehatan
karyawan.
4) Faktor finansial.
Faktor yang berhubungan dengan jaminan serta
kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem penggajian,
jaminan sosial, besarnya tunjangan, fasilitas yang diberikan, dan
promosi.
Menurut Wijono (2010) faktor–faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja karyawan ada dua, yaitu :
1) Karakteristik individu
Karakteristik individu memiliki beberapa aspek yang
dapat mempengaruhi kepuasan kerja yaitu perbedaan individu,
usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan dan
lama kerja.
2) Karakteristik pekerjaan
Ada beberapa faktor didalam karakteristik pekerjaan yang
dapat mempengaruhi kepuasan kerja yaitu organisasi dan
manajemen, supervisi langsung, lingkungan sosial, komunikasi,
keamanan, monoton, dan penghasilan.
Menurut Munandar (2001) faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja karyawan yaitu :
1) Keragaman keterampilan, jati diri tugas, tugas yang penting,
otonomi dan umpan balik pada pekerjaan
2) Gaji penghasilan dan imbalan dirasa adil
3) Penyeliaan
4) Rekan-rekan kerja yang menunjang
5) Kondisi kerja yang menunjang
Pengertian Kepuasan Kerja Karyawan
Kepuasan kerja karyawan merupakan hal yang tidak boleh
diabaikan oleh suatu perusahaan karena kepuasan yang dirasakan oleh
karyawan merupakan media untuk meningkatkan semangat kerja.
Hiariey (2010) menjelaskan bahwa kepuasan kerja karyawan adalah
perasaan positif karyawan terhadap pekerjaannya, kepuasan kerja
karyawan merupakan salah satu elemen yang cukup penting pada
perusahaan karena kepuasan kerja dapat mempengaruhi perilaku kerja
karyawan seperti malas, rajin, produktif, apatis, dan lain-lain. Menurut
Widowati (2015) kepuasan kerja karyawan merupakan perasaan yang
dirasakan karyawan ketika bekerja, baik positif maupun negatif
terhadap berbagai aspek pekerjaan yang dihasilkan dari penelitian
maupun pengalaman kerja. Menurut As’ad (2004) faktor manusia
cukup berperan dalam mencapai hasil sesuai dengan tujuan
perusahaan. Memberikan motivasi agar dicapai kepuasan kerja bagi
para karyawan merupakan kewajiban bagi setiap pemimpin. Menurut
Wijono (2010) kepuasan kerja karyawan adalah suatu hasil perkiraan
karyawan terhadap pekerjaan atau pengalaman positif dan
menyenangkan dirinya. Kepuasan kerja karyawan dapat
diklarifikasikan sebagai pengaruh refleksi (reflective) dari pengalaman
karyawan dan persepsinya terhadap tempat kerja. Menurut Waluyo
(2009) kepuasan kerja karyawan merupakan suatu sikap yang positif
yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan
terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk didalamnya upah, kondisi
sosial, kondisi fisik, dan kondisi psikis. Hasibuan (2007)
mendefinisikan kepuasan kerja karyawan harus diciptakan sebaikbaiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan
kerja karyawan meningkat. Gibson (2005) menjelaskan bahwa
kepuasan kerja karyawan ialah suatu sikap positif ataupun negatif
yang dirasakan karyawan terhadap berbagai segi pekerjaan, tempat
kerja, hubungan dengan rekan kerja, hal ini dihasilkan dari intrinsik
dan ekstrinsik serta persepsi karyawan terhadap pekerjaannya.
Indikator–Indikator dalam Motivasi
Operasional variabel motivasi dapat dikembangkan dengan teori kebutuhan
dari (Maslow, 1943; Sari dan Dwiarti, 2018:61). Adapun indikator-indikator dari
motivasi yaitu:
- Physiological Needs atau Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan yang mendasar diantaranya yaitu
makanan, air, udara dan istirahat dapat terpenuhi. - Safety Needs atau Kebutuhan Rasa Aman
Kebutuhan terkait keamanan termasuk semua kebutuhan terhadap dimana
kondisi lingkungan terlindungi baik secara fisik maupun mental. Dalam lingkup
bekerja, kebutuhan ini dapat dilihat menjadi keamanan kerja, pungutan liar,
jenis pekerjaan yang aman, jaminan hari tua dan kebutuhan masa pensiun. - Affection Needs atau Kebutuhan Untuk Disukai
Kebutuhan ini adalah kebutuhan untuk bersosialisasi, memiliki teman, afiliasi,
berkomunikasi, merasa dicintai dan mencintai serta dapat bergaul dan diterima
dalam kelompok pekerja dan masyarakat dilinkungannya. - Esteem Needs atau Kebutuhan Harga Diri
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan seseorang untuk berprestasi dan mendapat
pengakuan serta penghargaan dari orang lain. - Self Actualization atau Kebutuhan Pengembangan Diri
Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan menggunakan kemampuan,
keterampilan dan potensial optimal agar mencapai prestasi kerja yang terbaik.
Teori Motivasi
- Teori Kebutuhan Hierarki oleh (Maslow, 1943)
Maslow (1943), Sari dan Dwiarti (2018:61) menyatakan bahwa manusia
dimotivasi untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang melekat pada diri setiap
manusia yang cenderung bersifat bawaan. Kebutuhan merupakan suatu
kesenjangan yang dirasakan antara kenyataan dengan dorongan yang ada pada
diri individu. Bila kebutuhan karyawan tidak tercukupi maka karyawan tersebut
akan menunjukkan kekecewaannya begitupun sebaliknya. Hierarki kebutuhan
manusia menurut (Maslow, 1943; Sari dan Dwiarti, 2018:61) adalah sebagai
berikut:
a. Kebutuhan Fisiologis
Makan, minum, terlindungi secara fisik, bernafas dan seksual merupakan
suatu kebutuhan. Kebutuhan tersebut menjadi kebutuhan mendasar
seseorang.
b. Kebutuhan Rasa Aman
Terlindungi dari ancaman, bahaya, pertengkaran dan lingkungan hidup
merupakan suatu kebutuhan.
c. Kebutuhan untuk Merasa Memiliki
Diterima oleh individu lainnya, berafiliasi, berkomunikasi maupun
kebutuhan merasa mencintai serta dicintai.
d. Kebutuhan Akan Harga Diri
Dihormati dan dihargai oleh orang lain merupakan kebutuhan yang harus
dipenuhi oleh individu.
e. Kebutuhan untuk Mengaktualisasikan Diri
Menggunakan kemampuan, skill, dan potensi merupakan kebutuhan
individu. Berpendapat dengan mengemukakan ide – ide yang dimiliki serta
memberikan penilaian dan kritik terhadap sesuatu merupakan suatu
kebutuhan. - Teori (McClelland dan Lowell, 1961)
Teori McClelland, menguatkan pada tiga kebutuhan (Bangun, 2012:325), yaitu:
a. Need For Achievement
Kebutuhan seseorang akan prestasi mencerminkan dorongan rasa tanggung
jawab untuk pemecahan masalah. Karyawan memiliki kebutuhan
berprestasi yang tinggi dan sering kali bersedia mengambil risiko.
Kebutuhan berprestasi adalah kebutuhan untuk berbuat lebih baik dari
sebelumnya dan selalu ingin mencapai yang terbaik.
b. Need For Affiliation
Kebutuhan untuk memiliki adalah dorongan untuk berinteraksi dengan
orang lain, bergaul dengan orang lain, dan tidak ingin melakukan hal-hal
yang dapat menyakiti mereka.
c. Need For Power
Kebutuhan akan kekuasaan mencerminkan dorongan untuk memiliki
kekuatan untuk mempengaruhi orang lain. - Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) dari (Aldefer, 1972)
Teori ERG mengemukakan bahwa individu mencakup tiga kebutuhan (Priansa,
2014:211), yaitu:
a. Existence Needs
Kebutuhan ini berkaitan dengan fisik dari kondisi pegawai seperti makan,
minum, pakaian, bernapas, balas jasa, rasa aman di tempat kerja dan
tunjangan.
b. Relatedness Needs
Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain di tempat kerja.
c. Growth Needs
Berkembang dan meningkatkan nilai yang dimiliki individu seperti potensi
dan kecakapan pegawai merupakan suatu kebutuhan.
Tujuan Motivasi
Tujuan motivasi menurut Hasibuan (2017:146) antara lain sebagai berikut:
- Meningkatkan semangat kerja dan kepuasan kerja karyawan.
- Produktivitas karyawan meningkat.
- Menjaga stabilitas karyawan perusahaan.
- Kedisiplinan karyawan meningkat.
- Mengoptimalkan proses rekrutmen pekerja.
- Membangun suasana dan hubungan kerja yang harmonis.
- Loyalitas, kreativitas, dan kontribusi karyawan meningkat.
- Tingkatkan tunjangan karyawan.
- Meningkatkan rasa tanggung jawab karyawan atas pekerjaan mereka sendiri.
- Alat kerja dan bahan baku digunakan lebih efektif.
Motivasi
Hasibuan (2017:14) mengungkapkan motivasi yaitu metode untuk
membimbing kemampuan bawahan agar dapat berkolaborasi secara produktif
untuk mencapai tujuan organisasi yang sudah ditentukan sebelumnya.
Motif merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri individu yang harus
dipenuhi agar individu tersebut mampu menempatkan diri dengan kondisi
lingkungannya, sedangkan motivasi merupakan kondisi yang membuat karyawan
tergerak untuk mencapai tujuan dari motifnya (Mangkunegara, 2018:93).
Sutrisno (2016:111) mengungkapkan motivasi mempunyai bagian yakni
bagian luar dan dalam. Bagian dalam yaitu perubahan dalam diri individu, kondisi
saat kecewa dan tidak puas, dan ketegangan secara mental. Sedangkan bagian luar
yaitu keinginan individu menjadi tujuan tingkah lakunya. Sehingga bagian dalam
yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi sedangkan bagian luar adalah tujuan yang
ingin diperoleh
Indikator Role Overload
Role overload diidentifikasi terjadi karena beberapa indikator yang
dikemukakan oleh Jansen (2018:5) yaitu:
- Jam Kerja
Banyak pekerja yang memilih tetap bekerja di luar jam operasional kantor. Hal
ini biasa terjadi ketika perusahaan sedang dikejar target. - Tidak Menyelesaikan Deadline Tepat Waktu
Banyaknya pekerjaan membuat pekerja menjadi bingung harus
memprioritaskan pekerjaan yang memang harus didahulukan, hal ini membuat
banyaknya pekerjaan yang sudah dekat dengan tenggang waktu yang
terbengkalai. - Tuntutan Yang Sulit
Banyaknya keharusan yang dikerjakan oleh pekerja dapat menimbulkan
perasaan beban tersendiri bagi pekerja - Waktu Istirahat Yang Cukup
Waktu istirahat dalam perusahaan terbilang singkat dan masih banyak pekerja
yang menggunakan waktu istirahat untuk menyelesaikan pekerjaannya. - Kesibukan Yang Lain
Banyaknya aktivitas pekerja dalam melakukan pekerjaannya sering kali
membuat pekerjaan lain terhambat sehingga menjadi beban tersendiri bagi
pekerja.
Role Overload
Menurut Gharib dan Suhail (2016:178) mengklasifikasikan beban kerja
menjadi dua yaitu Role overload dan Role Lower load. Role overload dapat bersifat
kuantitatif dan kualitatif. Menurut Landy, F. J. dalam buku Work In The 21st
Century (2015:401) role overload didefinisikan sebagai kelebihan peran yang
terjadi saat seseorang diharapkan memenuhi terlalu banyak peran pada saat yang
bersamaan. Role overload dapat menyebabkan orang bekerja berjam-jam,
meningkatkan stress dan ketegangan berikutnya.
Menurut Binalay dan Mandey (2016:65) role overload adalah stress kerja
yang terjadi saat seseorang merasa bahwa dia tidak memiliki waktu atau sumber
daya untuk menangani tugas mereka. Fenomena ini secara konseptual berbeda dari
kerja paksa, karena terlalu banyak kerja melibatkan jumlah jam yang dihabiskan
seseorang di tempat kerja. Dari ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa role
overload adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan suatu beban pekerjaan
berdasarkan peran dalam pekerjaannya.
Role Conflict
Konflik peran terjadi ketika seseorang diberikan peran yang membuatnya
sulit beradaptasi ke peran lain (Robbin dan Judge, 2015:183). Konflik peran terjadi
ketika mereka diinstruksikan oleh dua atau lebih peran pada saat yang sama, dan
dengan tugas yang berbeda sehingga menimbulkan ambiguitas (Choi dan Kim,
2015:13). Role conflict adalah jenis konflik yang dihasilkan dari berbagai peran.
Konflik ini terjadi karena individu secara bersamaan memainkan berbagai peran,
beberapa memiliki harapan yang saling bertentangan.
Role conflict, terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara harapan dan
persyaratan yang terkait dengan peran seseorang. Mencapai harapan dan dapat
memperumit harapan dan peran lainnya. Role conflict merupakan ketidaksesuaian
permintaan peran tugas dengan tugas yang biasa dikerjakan (Wiguna, 2017:506).
Role conflict ada dua pengertian yaitu keberadaan dari tujuan dan sasaran hasil
suatu pekerjaan yang telah didefinisikan dengan jelas (Goal Clarity) dan
keberadaan dari setiap individu di mana mereka merasa yakin tentang bagaimana
harus melakukan pekerjaannya (Process Clarity). Dari ulasan diatas dapat
disimpulkan bahwa role conflict adalah suatu keadaan yang dialami seseorang
dengan peran pekerjaan yang dialaminya.
2.1.2.1. Indikator Role Conflict
Menurut Rizzo dan Lirtzman (2017:3), konflik peran diukur menggunakan
indikator-indikator sebagai berikut:
- Sumber Daya Manusia
Setiap individu bekerja dengan cara yang berbeda dan beberapa menerima tugas
tanpa bakat yang cukup untuk menyelesaikannya. - Mengesampingkan Aturan
Mengesampingkan peraturan yang ada supaya bisa menuntaskan tugas dan
menerima permintaan dua pihak atau lebih yg tidak sinkron satu sama lain. - Kegiatan Yang Tidak Perlu
Pekerjaan yang dapat diterima oleh satu pihak tetapi tidak bagi pihak lain, dan
kegiatan yang sebenarnya tidak menjadi prioritas. - Instruksi Yang Ambigu
Penjelasan tentang pekerjaan yang tidak jelas atau adanya perbedaan antara
penjelasan dengan pelaksanaan pekerjaan yang seharusnya.
Indikator Kepuasan Kerja
Menurut Robbin dan Judge (2015:181-182) Indikator Kepuasan Kerja
Karyawan Sebagai berikut:
- Pekerja itu sendiri
Pekerjaan itu sendiri yaitu keadaan di mana karyawan menemukan tugas-tugas
yang menarik, kesempatan untuk belajar dan kesempatan untuk
bertanggungjawab dalam pekerjaannya. Indikatornya memuat pekerjaan yang
sesuai kemampuan serta pekerjaan yang secara mental menantang. - Supervisi
Supervisi menurut KBBI ialah pengawasan utama atau pengontrolan tertinggi.
Indikatornya terkait dengan pengawasan yang diberikan pimpinan dan metode
yang diambil pimpinan. - Rekan Kerja
Bagi kebanyakan karyawan, bekerja juga mengisi kebutuhan interaksi sosial.
Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan apabila mempunyai rekan sekerja yang
ramah dan mendukung mengarah ke kepuasan kerja yang meningkat. Perilaku
atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan. - Promosi
Promosi yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan
jabatan. Indikatornya terkait kesempatan karyawan untuk maju dan metode
yang diambil pimpinan dalam melakukan promosi karyawan. - Gaji
Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka
persepsikan sebagai adil dengan pengharapan. Bila upah dilihat sebagai adil
yang didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan
standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar dihasilkan kepuasan.
Dampak Ketidakpuasan Kerja
Menurut Robbin dan Judge (2015:185) ada beberapa cara untuk karyawan
menunjukan ketidak puasan terhadap pekerjaannya, yaitu:
- Keluar / Resign
Ketidakpuasan karyawan memilih untuk bekerja ditempat lain. Termasuk
mencari posisi baru atau mengundurkan diri. Jika traffic keluar-masuk
karyawan terlalu banyak, akan berdampak pada performa kerja perusahaan.
Karena karyawan belum bisa langsung bekerja secara normal, ada masa
adaptasi dan probation. - Menyuarakan
Ketidakpuasan karyawan akan konsultasi terlebih dahulu atas masalah yang
dihadapi kemudian memberi saran. - Mengabaikan
Ketidakpuasan karyawan membiarkan keadaan menjadi lebih buruk dengan
cara sering absen atau sering membuat kesalahan. - Kesetiaan
Tipe ini cenderung untuk setia kepada perusahaan dan menunggu hingga
keadaan membaik.
Faktor – Faktor Kepuasan Kerja
Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Sutrisno
(2017:27) yaitu:
- Faktor Psikologis
Faktor ini berhubungan dengan kondisi kejiwaan karyawan yang meliputi
minat, ketenteraman dalam bekerja, sikap terhadap pekerjaan, bakat dan
keterampilan. Seseorang yang memiliki ketenteraman dalam bekerja akan
bekerja dengan perasaan yang positif sehingga dapat meningkatkan
produktivitas dan kinerja yang dapat berpengaruh pada kepuasan kerja. - Faktor Sosial
Faktor ini berhubungan dengan interaksi sosial antara karyawan dengan rekan
kerja maupun karyawan dengan atasan. - Faktor Fisik
Faktor ini berhubungan dengan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan,
pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruang, suhu,
penerangan, sirkulasi udara, kondisi kesehatan karyawan, umur dan sebagainya. - Faktor Finansial
Faktor ini berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang
meliputi sistem dan besarnya gaji, tunjangan, promosi, jaminan sosial, fasilitas
yang diberikan dan sebagainya.
Jenis – Jenis Kepuasan Kerja
Menurut Afandi (2018:82) Kepuasan kerja dalam hal ini dibagi menjadi
beberapa jenis yaitu:
- Kepuasan Terhadap Atasan
Kepuasan terhadap gaya kepemimpinan atasan ini ternyata memberikan
pengaruh yang cukup besat terhadap kepuasan kerja karyawan. Terdapat
berbagai macam tipe gaya kepemimpinan atasan yang memengaruhi kepuasan
kerja diantaranya atasan yang berorientasi terhadap kinerja karyawan dan
atasan yang menguatamakan partisipasi karyawannya. - Kepuasan Terhadap Rekan Kerja
Salah satu cara yang ditempuh oleh perusahaan dalam mempertahankan
karyawannya adalah dengan meningkatkan kepuasan karyawan dalam
melaksanakan tugasnya. Dengan meningkatkan kesejahteraan dan kepuasan
karyawan, maka mereka akan dapat bekerja sama dengan baik dengan rekan
sekerja, terlibat sepenuhnya dalam pekerjaan dan lebih bertanggung jawab. - Kepuasan Terhadap Pekerja
Ukuran dari tingkat kepuasan pekerja dengan jenis pekerjaan mereka yang
berkaitan dengan sifat dari tugas pekerjaannya, hasil kerja yang dicapai, bentuk
pengawasan yang diperoleh maupun rasa lega dan perasaan suka terhadap
pekerjaan yang ditekuninya. - Kepuasan Terhadap Peluang Promosi
Dimana adanya suatu peluang untuk mendapatkan penghargaan atas prestasi
kerja seseorang dimana diberikan jabatan dan tugas yang lebih tinggi dan
disertai dengan kenaikan gaji. Promosi ini sangat mempengaruhi kepuasan kerja
dapat dihargai dengan dinaikan posisinya disertai gaji yang akan diterimanya. - Kepuasan Terhadap Pendapatan
Kepuasan kerja bisa dilihat atau dikatakan puas dalam bekerja jika pendapatan
yang diperoleh telah dapat mencukupi kebutuhan pekerja tersebut, dan dalam
perusahaan tersebut pegawai merasakan nyaman dalam bekerja dan tidk
mempunyai kekhawatiran lain seperti kurang cukup gaji yang diterima, tidak
adanya jaminan kesehatan/keselamatan kerja dan jaminan masa tua atau
pension
Kepuasan Kerja
Robbin dan Judge (2015:49) secara spesifik mendeskripsikan kepuasan
kerja sebagai perasaan positif seseorang atas pekerjaannya yang diperoleh dari
suatu evaluasi terhadap karakteriskik kepuasan itu sendiri. Perasaan positif ini
umumnya identik dengan rasa bahagia dan nyaman karena harapan seseorang
dari pekerjaannya telah banyak terpenuhi. Selanjutnya, menurut Sutrisno
(2019:74) Kepuasan Kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan
yang berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan
yang diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan
psikologis.
Kepuasan kerja jika dapat dinikmati, akan membuat individu merasa
percaya diri, merasa dihargai dan pada gilirannya menjadi motivator dalam
melakukan pekerjaan dengan lebih baik di masa depan. Menurut Citra dan
Fahmi (2019:214) dengan kepuasan kerja yang baik, seorang individu akan
dapat mempertahankan loyalitas dalam pekerjaan yang dilakukan. Berdasarkan
ulasan tersebut dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan positif
pada pekerja yang berdampak dalam menyelesaikan tugas yang telah
dilakukannya.
Indikator Produktivitas Bongkar Muat
Indikator produktivitas bongkar muat merupakan elemen penting dalam
menilai kinerja operasional di industri pelabuhan. Menurut Naidu et al. (2017),
indikator-indikator ini mencakup berbagai faktor seperti Kerja gang buruh,
kesiapan alat bongkar muat, kecepatan bongkar muat, alat pengangkutan
muatan, jumlah, jenis status dan kondisi muatan, serta factor alam.
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas bongkar-muat adalah:
1) Kerja gang buruh (gang output/labour output)
kerja gang buruh (gang output/labour output) dihitung untuk mengetahui
tonase bongkarmuat yang dikerjakan satu gang dalam satu jam kerja (Lasse,
2014). Hasil hitungannya menunjukkan kekuatan dan kecepatan tenaga
kerja melaksanakan bongkar-muat didukung keterampilan, peralatan bantu,
dan karakteristik muatan;
2) Kesiapan alat bongkar muat
kesiapan alat bongkar muat dalam kegiatan bongkar-muat agar berjalan
secara efektif dan efisien;
3) Kecepatan bongkar muat
Kecepatan bongkar muat diukur melalui perhitungan ship output per waktu
pelayanan kapal (Lasse, 2014). Dimensi ship’s output yang digunakan
adalah tonase bongkar muat per waktu kerja kapal, tonase bongkar muat per
waktu kapal di dermaga, dan tonase bongka muat per waktu kapal di
pelabuhan;
4) Alat pengangkut muatan (trucking)
Alat pengangkut muatan (trucking) merupakan alat berat yang digunakan
untuk kegiatan bongkar muat dari kapal langsung keatas truk atau rel yang
ditangani khusus oleh tenaga profesional dengan memperhatikan segi
keamanan dan keselamatan kapal, barang dan manusia (operator);
5) Jumlah, jenis, status dan kondisi muatan
Jumlah, jenis, status dan kondisi muatan yang bermacam seperti jenis
muatan yang terdapat di dalam palka (general cargo, muatan curah kering
atau basah), jumlah dan kemasan muatan yang terdapat dalam palka (dalam
satuan kubik, ton, bundles, bag, drum, cartoon), status muatan (langsung
atau pindahan/’transhipment), dan sifat muatan (berbahaya atau berharga);
dan
6) Faktor Alam (Cuaca)
faktor alam (cuaca) dapat berubah secara tibatiba, namun hal tersebut
merupakan fenomena alam yang tak dapat dicegah dan diatasi oleh
kemampuan manusia.
Jenis – Jenis Peralatan Untuk Bongkar dan Muat
Peralatan bongkar muat peti kemas terdiri dari alat-alat angkat dan angkut
mulai dari operasi kapal, haulage, lift on lift off, receipt dan delivery. Uruturutan kegiatan operasi selengkapnya adalah :
- Ship Operation, meliputi memuat dan membongkar peti kemas antara kapal
dengan dermaga. Semua peti kemas yang masuk maupun keluar mesti
melalui operasi kapal, sehingga operasi kapal secara mutlak menentukan
kecepatan handling pada keseluruhan terminal. Operasi kapal dengan
alasan itu disebut juga sebagai “dominant system”. - Gerakan pemindahan peti kemas antara dermaga lapangan (container yard)
disebut Quay Transfer Operation (QTO) berperan mengatur dan
mengimbangi kecepatan memuat dan membongkar peti kemas ke dan
dari atas kapal. Kebanyakan sistem terminal peti kemas tidak melakukan
kegiatan memuat atau membongkar secara langsung. - Peti kemas pada umumnya ditempatkan sementara di lapangan sambil
menunggu penyelesaian dokumen, administrasi dan formalitas lain.
Karena lapangan dianggap sebagai gudang terbuka, maka kegiatan ini
disebut Storage Operation yang berfungsi sebagai stok pengaman antara
operasi penyerahan/ penerimaan dengan operasi kapal. - Receipt/ Delivery Operation adalah kegiatan operasi penerimaan dan
penyerahan peti kemas. Operasi ini menghubungkan terminal peti kemas
dengan kendaraan angkutan jalan raya dan angkutan rel kereta api.
Operasi ini berhubungan langsung dengan pihakpihak pengguna jasa
meliputi importir, eksportir dan depo peti kemas.
Pengertian Produktivitas Bongkar Muat
Menurut Gurning dan Budiyanto (2018) produktivitas bongkar muat
adalah tingkat kemampuan dan kecepatan pelaksanaan penanganan kegiatan
pembongkaran barang dari atas kapal sampai ke gudang atau lapangan
penumpukan atau sebaliknya untuk kegiatan pemuatan barang sejak dari
gudang/lapangan penumpukan sampai ke atas kapal.
Tingkat kemampuan tersebut ditunjukkan oleh beberapa indicator, yakni:
1) jumlah rata-rata bongkar muat yang dicapai per jam dan dilakukan oleh 1
gang buruh ( 12 orang) di atas kapal yang diukur dengan satuan ton/gang/jam
(T/G/J);
2) jumlah ratarata bongkar muat barang yang dicapai per jam dan dilakukan
oleh alat bongkar muat petikemas diukur dengan satuan box/crane/hour
(B/C/H);
3) jumlah ratarata bongkar muat barang yang dicapai per jam dan dilakukan
oleh seluruh gang yang ketiga diatas kapal selama kapal berada di dermaga
(BWT) yang diukur dengan satuan ton/kapal/jam (T/K/J) dan lazim disebut
dengan ‘ship’s output’.
Menurut Tohardi dalam penelitian Sutrisno (2017). Produktivitas adalah
sikap mental yang selalu mencari perbaikan pada apa yang telah ada. percaya
bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik hari ini
daripada hari kemarin dan esok daripada hari ini.
Produktivitas dalam penelitian Haryono, T. (2018) merupakan
produktivitas bongkar muat juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
teknologi, manajemen operasional, dan pelatihan tenaga kerja. Integrasi
teknologi canggih dalam operasional bongkar muat, seperti penggunaan crane
otomatis dan sistem manajemen data yang terintegrasi, dapat secara signifikan
meningkatkan produktivitas. Selain itu, manajemen operasional yang baik
dengan strategi perencanaan yang matang, seperti penjadwalan dan
penempatan optimal dari tenaga kerja dan peralatan, juga memainkan peran
penting. Tenaga kerja yang terlatih dengan baik dan memiliki kompetensi yang
diperlukan tentu saja akan menambah produktivitas bongkar muat
Produktivitas dalam penelitian Wahyudi, R. (2019), produktivitas
bongkar muat memiliki erat dengan kepuasan kerja para asisten operator crane.
Kepuasan kerja ini mencakup aspek-aspek seperti kondisi kerja, hubungan
antar rekan kerja, dan penghargaan yang diberikan oleh perusahaan. Ketika
asisten operator crane memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi, mereka
cenderung lebih bersemangat dan produktif dalam menjalankan tugas-tugas
mereka, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas bongkar muat.
Maka, menjaga dan meningkatkan kepuasan kerja para asisten operator
merupakan bagian integral dari strategi peningkatan produktivitas bongkar mua
Menurut Sutrisno (2016), produktivitas bongkar muat dapat diartikan
sebagai rasio antara output atau volume barang yang dibongkar dan dimuat
dengan input atau faktor produksi yang digunakan selama periode waktu
tertentu. Istilah ini mencerminkan kemampuan sistem pelabuhan dalam
mengoptimalkan penggunaan sumber daya untuk mencapai volume bongkar
muat maksimal diiringi dengan biaya dan waktu yang minimum. Oleh karena
itu, definisi produktivitas bongkar muat menekankan pada aspek keluaran dan
masukan dalam proses operasional pelabuhan.
Produktivitas bongkar muat juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
teknologi, manajemen operasional, dan pelatihan tenaga kerja. Integrasi
teknologi canggih dalam operasional bongkar muat, seperti penggunaan crane
otomatis dan sistem manajemen data yang terintegrasi, dapat secara signifikan
meningkatkan produktivitas. Selain itu, manajemen operasional yang baik
dengan strategi perencanaan yang matang, seperti penjadwalan dan
penempatan optimal dari tenaga kerja dan peralatan, juga memainkan peran
penting. Tenaga kerja yang terlatih dengan baik dan memiliki kompetensi yang
diperlukan tentu saja akan menambah produktivitas bongkar muat
Faktor- Faktor Untuk Meningkatkan Kualitas Kerja
Bitner dan Zeithaml (dalam Riorini, 2004:22) menyatakan untuk dapat
meningkatkan performance quality (kualitas kerja) ada beberapa cara yang
dapat dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan memberikan pelatihan atau
training, memberikan insentive atau bonus dan mengaplikasikan atau
menerapkan teknologi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi dan
efektifitas. Sunu (dalam Flippo, 1995:91) menyatakan bahwa penting untuk
menciptakan lingkungan untuk meningkatkan kualitas kerja, yaitu:
- Tanggung jawab dan kepentingan pimpinan untuk menciptakan lingkungan
peningkatan kualitas. - Nilai, sikap dan perilaku yang disetujui bersama diperlukan untuk
meningkatkan mutu. - Sasaran peningkatan kualitas yang diterapkan oleh organisasi.
- Komunikasi terbuka dan kerja sama tim baik.
- Pengakuan dapat mendorong tindakan yang sesuai dengan nilai, sikap dan
perilaku untuk meningkatkan mutu.
Indikator Kualitas Kerja
Adapun indikator dari kualitas kerja pegawai menurut Hasibuan
(2008:95) yaitu;
- Potensi diri,
merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang
telah terwujud, yang dimiliki seseorang tetapi belum sepenuhnya terlihat
atau dipergunakan secaramaksimal. - Hasil kerja optimal,
harus dimiliki oleh seorang pegawai, pegawai harus bisa memberikan hasil
kerjanya yang terbaik, salahsatunya dapat dilihat dari produktivitas
organisasi, kualitaskerja dan kuantitas kerja. - Proses kerja,
merupakan suatutahapan penting dimana pegawai menjalankan tugas dan
perannyadalam suatu organisasi, melalui proses kerja ini kinerja pegawai
dapat dilihat dari kemampuanmembuat perencanaan kerja, kreatif
dalammelaksanakanpekerjaan, mengevaluasi tindakankerja, melakukan
tindakanperbaikan. - Antusiasme,
merupakan suatusikap dimana seorang pegawai melakukan kepedulian
terhadappekerjaannya yang berhubungandengan pelaksanaan
pelayananyaitu kehadiran, pelaksanaantugas, motivasi kerja, komitmen
kerja.
Pengertian Kualitas Kerja
Kualitas kerja adalah Meskipun setiap organisasi berbeda pandangan
tentang standar dari kualitas kerja pegawai, tetapi pada intinya efektifitas dan
efisiensi menjadi ukuran yang umum. Bertitik tolak dari definisi yang diberikan
oleh Flippo tersebut maka dapat dikatakan bahwa inti dari kualitas kerja adalah
suatu hasil yang dapat diukur dengan efektifitas dan efisiensi suatu pekerjaan
yang dilakukan oleh sumber daya manusia atau sumber daya lainnya dalam
pencapaian tujuan atau sasaran perusahaan dengan baik dan berdaya guna.
Menurut Nitisemito didalam penelitian (Hadi & Mustika, 2023), lingkungan
kerja terdiri dari semua kondisi yang ada di sekitar pekerja yang dapat
memengaruhi bagaimana mereka menyelesaikan tugas yang diberikan kepada
mereka. Lingkungan kerja merupakan sebuah kondisi yang menempatkan
tenaga kerja yang memiliki rasa semangat dan energi untuk bekerja dalam
upaya meningkatkan produktivitas kerja sesuai dengan tujuannya.
Menurut Hariandja (2017:292), kualitas kehidupan kerja merupakan
sebuah proses yang merespons pada kebutuhan pegawai dengan
mengembangkan suatu mekanisme yang memberikan kesempatan secara
penuh pada pegawai dalam pengambilan keputusan dan merencakanan
kehidupan kerja mereka. Indikator-indikator kualitas kehidupan kerja yaitu,
kompensasi yang tepat dan adil, lingkungan kerja yang aman dan sehat,
kesempatan untuk menggunakan dan mengembangkan kemampuan pekerja,
interaksi sosial ditempat kerja, hak- hak pegawai dalam kantor.
Lupiyoadi dan Hamdani (2018:162) mengemukakan pengertian kualitas
kerja adalah kualitas kerja yang ditunjukkan pegawai dalam rangka
memberikan kinerja yang terbaik bagi organisasi.Menurut beberapa paparan
para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Lingkungan Kerja adalah
situasi atau keadaan di sekitar para karyawan. Hal yang perlu ditekankan yaitu
bahwa situasi atau kondisi di sekitar karyawan tersebut memiliki pengaruh
terhadap dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Menurut Marcana dalam Rao (2013:11) menyebutkan bahwa kualitas
kerja adalah wujud perilaku atau kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan
harapan dan kebutuhan atau tujuan yang dicapai secara efektif dan efisien.
Kualitas Kerja menurut Damanik, Sanny A. (2018). Kualitas atau mutu
dapat didefinisikan sebagai sifat-sifat yang dimiliki oleh suatu barang atau
jasa yang menunjukkan kepada pelanggan kelebihan-kelebihan yang dimiliki
barang atau jasa tersebut. Istilah “kualitas” dipandang sebagai suatu yang
rekatif, yang tidak selalu mengandung arti yang bagus, baik, atau sebagainya.
Menurut Hasibuan (2012:30), kualitas kerja adalah suatu standar fisik
yang diukur dari hasil kerja yang dilakukan atau dilaksanakan oleh karyawan
atau tugas-tugasnya. Sebaliknya menurut Susilo Martoyo (2011:33), kualitas
kerja adalah suatu proses dimana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi
kerja yang dilaksanakan dengan baik, tertib, dan benar. Kualitas kerja dapat
membantu meningkatkan motivasi kerja dan meningkatkan loyalitas
karyawan.
Indikator Kepuasan Kerja
Menurut Agustini (2019:64-65) indikator kepuasan kerja adalah :
a. Gaji/Imbalan
Merupakan imbalan atas jasa yang diterima pegawai
sesuai dengan jenis pekerjaan dan bebannya.
b. Pekerjaan Menyangkut karakteristik pekerjaan,
yaitu Apakah pekerjaan itu menantang, menarik, atau membosankan.
c. Supervisi Merupakan kualitas dan bentuk pengawasaan, instruksi dan
arahan yang diterima dari atasan.
d. Promosi merupakan komponen yang mengatur peluang pengembangan
dalam tugas dan jabatan.
e. Rekan Sekerja merupakan komponen yang mengukur apakah mungkin
untuk mengundang rekan kerja untuk bekerja sama, dan apakah ada
keterampilan saling mendukung, persahabatan, dan sikap membantu di
antara rekan kerja.
Fungsi-Fungsi Kepuasan Kerja
Fungsi kepuasan kerja (Michel 1992)
A. Untuk meningkatkan disiplin pekerja dalam bekerja. Pekerja akan datang
tepat Waktu dan akan menyelesaikan tugasnya sesuai dengan waktu yang
telah Ditentukan.
B. Untuk meningkatkan semangat kerja dan loyalitas pekerja terhadap
Perusahaan (Nulandari, 2015).Pada umumnya pekerja yang puas dengan
sesuatu yang diperoleh dari Perusahaan akan memberikan hasil yang lebih
dari yang diharapkan perusahaan Dan akan terus berusaha akan
memperbaiki kinerjanya. Untuk itu merupakan Keharusan bagi perusahaan
untuk mengenali faktor yang membuat pekerja puas di Perusahaan. Dengan
tercapainya kepuasan kerja pada pekerja, produktivitaspun Akan meningkat.
Pengertian Kepuasan Kerja
Kepuasan Kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang
berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan yang
diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis.
Sikap tersebut dapat berupa sikap positif yang berarti karyawan atau anggota
organisasi puas atau justru negatif yang berarti ia tidak puas terhadap segala
aspek pekerjaan baik itu dari situasi kerja, beban tugas, imbalan, risiko, dan
sebagainya. (Edy Sutrisno, 2019)
Kepuasan kerja adalah pendapat karyawan yang menyenangkan atau
tidak mengenai pekerjaannya, perasaan itu terlihat dari perilaku baik karyawan
terhadap pekerjaan dan semua hal yang dialami lingkungan kerja. Dengan
demikian kepuasan kerja juga berhubungan dengan rasa memiliki dan loyalitas
karyawan karena merupakan pandangan afeksi atau perasaan mereka mengenai
organisasi atau perusahaan(Handoko, 2020).
Kepuasan Kerja merupakan sikap emosional yang menyenangkan serta
mencintai pekerjaanya. Kepuasan Kerja karyawan harus diciptakan sebaik –
baiknya supaya moral kerja, dedikasi, dan kedisiplinan karyawan dapat
meningkat. (Prayogo, 2019)
Kepuasan kerja secara pengertian diartikan sebagai bentuk positif dari
karyawan dalam menerima evaluasi terhadap pekerjaan. Kepuasan kerja
merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepuasan hidup
karena sebagian besar waktu manusia dihabiskan ditempat kerja(Wijonarko,
2023)
Kepuasan Kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau
tidak menyenangkan bagi para karyawan memandang pekerjaan mereka.
Kepuasan Kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan
segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya. (Edy Sutrisno, 2019)
Kepuasan kerja adalah selisih antara tujuan individu dalam bekerja
dengan kenyataan yang dirasakan. Menggunakan kata yang berbeda, dapat
dinyatakan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja seorang pegawai
dipengaruhi oleh selisih (discrappancy) antara apa yang telah didapatkan
dengan apa yang diinginkan. (Sunarta, 2019)
Kepuasan kerja didefinisikan sebagai Suatu sikap positif terhadap hasil
pekerjaan seseorang dan merupakan hal yang Bersifat individual. Individual
yang memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi Akan memiliki nilai positif
terhadap pekerjaan tersebut, sedangkan individu yang Memiliki tingkat
kepuasan yang rendah atau tidak puas akan memiliki nilai negatif Terhadap
pekerjaan. (Cahyani, Sundari, & Dongoran, 2019)
Pengaruh Kepemimpinan dengan Produktivitas Kerja
Pemimpin mempunyai tanggung jawab menciptakan situasi yang
dapat mendorong anggota agar dapat mencapai tujuan yang ditentukan.
Kepemimpinan menjadi simbul kemampuan seseorang dalam
mempengaruhi individu atau kelompok. Seorang pemimpin harus mampu
menjaga keselarasan antara pemenuhan kebutuhan individu dengan
pengarahan individu pada tujuan organisasi. Pemimpin yang efektif adalah
pemimpin yang mengakui kekuatan-kekuatan penting yang terdapat dalam
individu atau kelompok, serta fleksibel dalam cara pendekatan yang
digunakan demi meningkatkan kinerja seluruh organisasinya.
Kepemimpinan dalam perusahaan merupakan hal penting dalam
sebuah era organisasi modern yang menghendaki adanya demokratisasi
dalam pelaksanaan kerja dan kepemimpinan perusahaan. Kepemimpinan
adalah suatu seni mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki dalam
upaya mencapai tujuan dengan setrategi yang disesuaikan dengan kondisi
lingkungan. Akibat yang mungkin timbul dari adanya kepemimpinan yang
buruk adalah penurunannya produktivitas kerja karyawan yang akan
membawa dampak kepada penurunan kinerja total perusahaan.
Kepemimpinan merupakan cara pimpinan untuk mempengaruhi orang
lain atau bawahannya sehingga bersedia melakukan kehendak pimpinan
untuk mencapai tujuan organisasi meskipun secara pribadi hal tersebut
mungkin tidak disenangi. Kepemimpinan berpengaruh positif terhadap
produktivitas kerja dan juga berpengaruh signifikan terhadap struktur yang
ada di dalam organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan
seorang pemimpin sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja
bawahannya, di samping itu untuk mendapatkan produktivitas kerja yang
tinggi diperlukan juga adanya pemberian pembelajaran terhadap
bawahannya.
Pengaruh Kepemimpinan dengan Kepuasan Kerja
Perilaku pemimpin merupakan salah satu faktor penting yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja. Berdasarkan kajian teori yang telah
disampaikan menunjukkan bahwa kepemimpinan mempunyai hubungan
yang positif terhadap kepuasan kerja para pegawai. Hubungan yang akrab
dan saling tolong-menolong dengan teman sekerja serta penyelia sangat
penting dan memiliki hubungan kuat dengan kepuasan kerja dan tidak ada
kaitannya dengan keadaan tempat kerja serta jenis pekerjaan.
Kepemimpinan yang efektif merupakan kepemimpinan yang
disesuaikan dengan situasi dan kondisi (contingency). Indikasi turunnya
semangat dan kegairahan kerja ditunjukkan dengan tingginya tingkat
absensi dan perpindahan pegawai. Hal itu timbul sebagai akibat dari
kepemimpinan yang tidak disenangi.
Salah satu faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja ialah sifat
penyelia yang tidak mau mendengar keluhan dan pandangan pekerja dan
mau membantu apabila diperlukan. Seorang pekerja yang menerima
penghargaan dari penyelia yang lebih tinggi dibandingkan dengan
penilaian mereka sendiri akan lebih puas, akan tetapi penyeliaan yang
terlalu ketat akan menyebabkan tingkat kepuasan yang rendah.
Tipologi Kepemimpinan
Terdapat banyak gaya yang digunakan untuk mengidentifikasi tipetipe kepemimpinan. salah satunya tipologi menurut Kartini Kartono
(2003;69-73) yang membagi tipe kepemimpinan menjadi delapan tipe,
antara lain :
1) Tipe Kharismatis
Pemimpin memiliki kekuatan energi, daya tarik dan perbawa yang
luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai
pengikut yang sangat besar jumlahnya yang dapat dipercaya.
Pemimpin memiliki banyak inspirasi, keberanian, dan
berkeyakinan teguh pada pendiriannya. Totalitas kepribadian
pemimpin mencerminkan pengaruh dan daya tarik teramat besar.
2) Tipe Paternalistis
Merupakan tipe kepemimpinan kebapakan, dengan sifat-sifat
antara lain:
a) Menganggap bawahannya sebagai manusia yang belum dewasa
atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.
b) Bersikap terlalu melindungi.
c) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk
mengambil keputusan sendiri.
d) Jarang memberi kesemptan kepada bawahan untuk berinisiatif.
e) Selau bersikap maha tahu dan maha benar.
3) Tipe Militeris
Bersifat militeris namun hanya gaya luarnya saja yang mencontoh
gaya militer. Tetapi jika dilihat lebih seksama tipe ini mirip sekali
dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat pemimpin
yang militeris yaitu:
a) Lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando.
b) Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
c) Senang dengan formalitas.
d) Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya.
e) Tidak menghendaki saran atau usul dari bawahan.
f) Komunikasi searah.
4) Tipe Otokratis
Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah
merupakan suatu hak. Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai
berikut :
a) Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi.
b) Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
c) Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata.
d) Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain
karena dia menganggap dialah yang paling benar.
e) Selalu bergantung pada kekuasaan formal.
f) Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan
pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.
5) Tipe Laissez faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan
berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi
terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa
yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin
dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing
anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
6) Tipe Populistis
Tipe populistis ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat
yang tradisional. Kurang mempercayai dukungan dan bantuan
kekuatan dari luar. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan
penghidupan kembali kecintaan terhadap orgnisasi yang dipimpin.
7) Tipe Administratif
Kepemimpinan tipe administratif adalah keemimpinan yang
mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif.
8) Tipe Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan
memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya.
Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan
demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal
ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan
kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.
Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai
berikut:
a) Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari
pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di
dunia.
b) Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi
dengan kepentingan organisasi.
c) Senang menerima saran, kritik dan pendapat.
d) Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan
pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan
dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisiatif dan
prakarsa dari bawahan.
e) Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
f) Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses
daripadanya.
g) Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai
pemimpin
Teori-teori Kepemimpinan
Banyak orang yang telah melakukan penelitian dan studi tentang
kepemimpinan dan hasil dari penelitian tersebut berupa teori-teori
tentang kepemimpinan. Salah satu orang yang menegemukakan teoriteori tentang kepemimpinan adalah George R. Terry yang di kutip oleh
Kartini Kartono (2003;61-68) antara lain sebagai berikut:
1) Teori Otokratis
Menurut teori ini kepemimpinan didasarkan atas perintah-perintah,
paksaan dan tindakan-tindakan yang arbitrer. Pemimpin melakukan
pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara
efisien. Kepemimpinannya berorientasi pada struktur organisasi
dan tugas-tugas.
2) Teori Psikologis
Teori ini menyatakan bahwa fungsi seorang pemimpin adalah
memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk
merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah.
3) Tori Sosiologis
Kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan
antar-relasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk
menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya
agar tercapai kerja sama yang baik.
4) Teori Suportif
Menurut teori ini para pengikut harus berusaha sekuat mungkin,
dan bekerja penuh gairah, sedang pemimpinnya akan membimbing
dengan sebaik-baiknya melalui policy tertentu.
5) Teori Laissez Faire
Seorang pemimpin memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada
para pengikutnya dalam menentukan aktivitasnya. Pemimpin tidak
berpartisipasi, kalaupun dilakukan partisipasi tersebut hampir tak
berarti.
6) Teori Kelakuan Pribadi
Kepemimpinan jenis ini akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas
pribadi atau pola-pola kelakuan para pemimpinnya. Seorang
pemimpin selalu berkelakuan kurang lebih sama, yaitu: ia tidak
melakukan tindakan-tindakan yang identik sama dalam setiap
situasi yang dihadapi.
7) Teori Sifat
Pemimpin harus mempunyai sifat-sifat diantaranya memiliki
intelegensi tinggi, inisiatif, energik, kedewasaan emosional,
persuasif, komunikatif, kepercayaan diri, peka, kreatif, dan juga
partisipasi sosial.
8) Teori Situasi
Teori ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya lenting yang
tinggi/flexibilitas pada pemimpin untuk menyesuaikan diri
terhadap tuntutan situasi, lingkungan sekitar zamannya. Faktor
lingkungan itu harus dijadikan tantangan untuk diatasi.
9) Teori Humanistik
Fungsi kepemimpinan menurut teori ini adalah merealisir
kebebasan manusia dan memenuhi segenap kebutuhan insani, yang
dicapai melalui interaksi pemimpin dengan bawahan
Sifat-sifat Kepemimpinan
Upaya untuk menilai sukses atau gagalnya pemimpin itu antara
laian dilakukan dengan mengamati sifat-sifat dan kualitas perilakunya.,
yang dipakai sebagai kriteria untuk menilai kepemimpinannya.
Menurut Ordway Tead yang dikutip oleh Kartini Kartono (2003;37-41)
menjelaskan terdapat 10 sifat yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin, yaitu sebagi berikut :
1) Energi jasmaniah dan mental, yaitu mempunyai daya tahan,
keuletan, kekuatan baik jasmani maupun mental untuk mengatasi
semua permasalahan.
2) Kesadaran akan tujuan dan arah, mengetahui arah dan tujuan
organisasi, serta yakin akan manfaatnya.
3) Antusiasme, pekerjaan mempunyai tujuan yang bernilai,
menyenangkan, memberikan sukses, dan dapat membangkitkan
antusiasme bagi pimpinan maupun bawahan.
4) Keramahan dan kecintaan, dedikasi pemimpin bisa memotivasi
bawahan untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan semua
pihak, sehingga dapat diarahkan untuk mencapai tujuan.
5) Integritas, pemimpin harus bersikap terbuka; merasa utuh bersatu,
sejiwa dan seperasaan dengan anak buah sehingga bawahan
menjadi lebih percaya dan hormat.
6) Penguasaan teknis, setiap pemimpin harus menguasai satu atau
beberapa kemahiran teknis agar ia mempunyai kewibawaan dan
kekuasaan untuk memimpin.
7) Ketegasan dalam mengambil keputusan, pemimpin yang berhasil
pasti dapat mengambil keputusan secara cepat, tegas dan tepat
sebagai hasil dari kearifan dan pengalamannya.
8) Kecerdasan, orang yang cerdas akan mampu mengatasi masalah
dalam waktu yang lebih cepat dan cara yang lebih efektif.
9) Keterampilan mengajar, pemimpin yang baik adalah yang mampu
menuntun, mendidik, mengarahkan, mendorong, dan
menggerakkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu.
10) Kepercayaan, keberhasilan kepemimpinan didukung oleh
kepercayaan anak buahnya, yaitu percaya bahwa pemimpin dengan
anggota berjuang untuk mencapai tujuan.
Hal yang sama disampaikan oleh George R. Terry yang dikutip
oleh Kartini Kartono (2003;41-43) tentang sepuluh sifat pemimpin
yang unggul, yaitu:
1) Kekuatan. kekuatan badaniah dan rokhaniah merupakan syarat
yang pokok bagi pemimpin sehingga ia mempunyai daya tahan
untuk menghadapi berbagai rintangan.
2) Stabilitas emosi. pemimpin dengan emosi yang stabil akan
menunjang pencapaian lingkungan sosial yang rukun, damai, dan
harmonis.
3) Pengetahuan tentang relasi. Pemimpin memiliki pengetahuan
tentang sifat, watak, dan perilaku bawahan agar bisa menilai
kelebihan/kelemahan bawahan sesuai dengan tugas yang
diberikan.
4) Kejujuran. Pemimpin yang baik harus mempunyai kejujuran yang
tinggi baik kepada diri sendiri maupun kepada bawahan.
5) Obyektif. Pemimpin harus obyektif, mencari bukti-bukti yang
nyata dan sebab musabab dari suatu kejadian dan memberikan
alasan yang rasional atas penolakannya.
6) Dorongan pribadi. Keinginan dan kesediaan untuk menjadi
pemimpin harus muncul dari dalam hati agar ikhlas memberikan
pelayanan dan pengabdian kepada kepentingan umum.
7) Keterampilan berkomunikasi. Pemimpin diharapkan mahir menulis
dan berbicara, mudah menangkap maksud orang lain, mahir
mengintegrasikan berbagai opini serta aliran yang berbeda-beda
untuk mencapai kerukunan dan keseimbangan.
8) Kemampuan mengajar. Pemimpin diharapkan juga menjadi guru
yang baik, yang membawa orang belajar pada sasaran-sasaran
tertentu untuk menambah pengetahuan, keterampilan agar
bawahannya bisa mandiri, mau memberikan loyalitas dan
partisipasinya.
9) Keterampilan sosial. Dia bersikap ramah, terbuka, mau menghargai
pendapat orang lain, sehingga ia bisa memupuk kerjasama yang
baik.
10) Kecakapan teknis atau kecakapan manajerial. Pemimpin harus
superior atau beberapa kemahiran teknis tertentu.
Syarat-syarat Kepemimpinan
Menurut Stogdill yang di kutip oleh Kartinin Kartono (2003;31)
seorang pemimpin harus memiliki beberapa kelebihan, yaitu :
1) Kapasitas : kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara,
keaslian dan kemampuan menilai.
2) Prestasi : gelar kesarjanaan, ilmu pengethuan dan perolehan dalam
olah raga.
3) Tanggung jawab : mandiri, berinisiatif, tekun, ulet, percaya diri,
agresif, dan punya hasrat untuk unggul.
4) Partisipasi : aktif, memiliki sosiabilitas tingg, mampu bergaul,
koordinatif atau dapat bekerjasama, mudah menyesuaikan diri, dan
punya rasa humor.
5) Status : meliputi kedudukan sosial-ekonomi yang cukup tinggi,
populer dan tenar.
Nightingale dan Schult dalam bukanya “Creative Thinking – How
to win Ideas”, yang dikutip oleh Kartini Kartono (2003;31)
menuliskan bahwa syarat yang harus dimiliki seorang pemimpin ialah :
1) Kemandirian, berhasrat memajukan diri sendiri.
2) Besar rasa ingin tahu, dan cepat tertarik pada manusia dan bendabenda.
3) Multi-terampil atau memiliki kepandaian beraneka ragam.
4) Memiliki rasa humor, antusiasme tinggi, suka berkawan.
5) Perfeksionis, selalu ingin mendapatkan yang sempurna.
6) Mudah menyesuaikan diri.
7) Sabar namun ulet.
8) Waspada, peka, jujur, optimistis, gigih, ulet realistis.
9) Komunikatif, serta pandai berbicara.
10) Berjiwa wiraswasta.
11) Sehat jasmaninya, dinamis sanggup dan suka menerima tugas yang
berat , serta berani mengambil resiko.
12) Tajam firasatnya, tajam dan adil pertimbangannya.
13) Berpengetahuan luas, dan haus akan ilmu pengetahuan.
14) Memiliki motivasi tinggi, dan menyadari target atau tujuan
hidupnya yang ingin dicapai, dibimbing oleh idealisme yang tinggi.
15) Punya imajinasi tinggi, daya kombinasi, dan daya inovasi
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan menurut Winardi (2000 ; 47) “merupakan suatu
kemampuan yang melekat pada diri seorang yang memimpin, yang
tergantung dari macam-macam faktor, baik faktor-faktor intern
maupun faktor-faktor ekstern”.
Pendapat lain menurut Wexley dan Yuki (2003 ; 189 )
kepemimpinan adalah “mempengaruhi orang untuk melakukan usaha
lebih banyak dalam sejumlah tugas atau mengubah perilakunya”.
Sedangkan menurut Ordway Tead yang dikutip oleh Kartini Kartono
(2003 ; 49) kepemimpinan adalah “kegiatan mempengaruhi orangorang agar mereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang di
inginkan”.
Pengertian kepemimpinan dari sejumlah ahli tersebut menunjukkan
bahwa dalam suatu organisasi terdapat orang yang mempunyai
kemampuan untuk mempengaruhi, mengarahkan, membimbing dan
juga sebagian orang yang mempunyai kegiatan untuk mempengaruhi
perilaku orang lain agar mengikuti apa yang menjadi kehendak dari
pada atasan atau pimpinan mereka. Karena itu, kepemimpinan dapat
dipahami sebagai kemampuan mempengaruhi bawahan agar terbentuk
kerjasama di dalam kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.
Apabila orang-orang yang menjadi pengikut atau bawahan dapat
dipengaruhi oleh kekuatan kepemimpinan yang dimiliki oleh atasan
maka mereka akan mau mengikuti kehendak pimpinannya dengan
sadar, rela, dan sepenuh hati.
Karakteristik Produktivitas Kerja
Menurut Nasution (2001:205) pada dasarnya setiap karyawan yang
produktif memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Secara konsisten selalu mencari gagasan-gagasan yang lebih baik
dan cara penyelesaian tugas yang lebih baik lagi.
2) Selalu memberikan saran-saran untuk perbaikan secara sukarela.
3) Menggunakan waktu secara efektif dan efisien.
4) Selalu melakukan perencanaan dan menyertakan jadwal waktu.
5) Bersikap positif terhadap pekerjaan.
6) Dapat berlaku sebagai anggota kelompok yang baik, sebagaimana
menjadi seorang pemimpin yang baik.
7) Dapat memotivasi dirinya sendiri melalui dorongan dari dalam.
8) Memahami pekerjaan orang lain yang lebih baik.
9) Hubungan antar pribadi pada semua tingkatan dalam organisasi
berlangsung dengan baik.
10) Sangat menyadari dan memperhatikan masalah pemborosan dan
biaya-biaya.
11) Mempunyai tingkat kehadiran yang baik.
12) Seringkali melampaui standar yang telah ditetapkan.
13) Selalu mempelajari sesuatu yang baru dengan cepat.
14) Bukan merupakan tipe orang yang selalu mengeluh dalam bekerja
