Sebelum masuk kedalam bahasan kepuasan kerja maka terlebih dahulu
akan melihat pengertian dari kepuasan kerja itu sendiri. Kepuasan Kerja
menjelaskan bagaimana konten dari seorang individu dengan pekerjaannya.
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat individual.
Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan
sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan
dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi juga
kepuasannya terhadap kegiatan tersebut. Jadi secara garis besar kepuasan kerja
dapa diartikan sebagai hal yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan
yang mana karyawan pandang dalam pekerjaannya.
Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja
seseorang, beberapa faktor termasuk tingkat gaji dan tunjangan, keadilan yang
dirasakan dari sistem promosi dalam perusahaan, kualitas kondisi kerja,
kepemimpinan dan hubungan sosial, dan pekerjaan itu sendiri (yang berbagai
tugas yang terlibat, kepentingan dan tantangan pekerjaan menghasilkan, dan
kejelasan deskripsi pekerjaan / persyaratan). Seseorang yang merasa senang
dan bahagia dengan pekerjaannya, dapat dikatakan juga kepuasaan mereka
terhadap pekerjaannya tinggi. Kepuasan kerja tidak sama dengan motivasi tetapi
hal ini jelas terkait satu sama lain.
Menurut Herzberg dalam Hasibuan (2005) ciri perilaku yang puas
adalah mereka yang mempunyai motivasi yang tinggi untuk bekerja , mereka
lebih senang dalam melakukan pekerjaannya, sedangkan ciri pekerja yang
kurang puas adalah mereka yang malas berangkat ke tempat bekerja, dan malas
dalam melaksanakan kewajibannya terhadap pekerjaan.
Sunyoto (2001) juga mengemukakan pendapat bahwa ketidakpuasan
kerja akan berdamapak pada tiga hal, yaitu : produktivitas kerja, kemangkiran
dan keluarnya tenaga kerja, serta kesehatan dari tenaga kerja yang
bersangkutan. Banyak pendapat yang ,menyatakan bahwa produktivitas dapat
ditingkatkan dengan manaikkan kepuasan kerja, namun hasil penelitian tidak
mendukung pandangan ini, karena hubungan antara produktivitas kerja dengan
kepuasan kerja sangat kecil. Produktivitas kerja dipengaruhi oleh banyak faktor
disamping kepuasan kerja itu sendiri. Lawler dan Porter dalam sunyoto (2001)
berpendapat bahwa produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari
kepuasan kerja jika tenaga kerja mempresepsikan bahwa usaha yang telah
dikeluarkan dan hasil yang didapatkan dari usaha tersebut kedua-duanya dirasa
adil dan pantas untuk dibuktikan dengan hasil kerja yang terbaik.
Ketidakhadiran lebih bersifat spontan dan kurang mencerminkan
ketidakpuasan kerja, berbeda dengan berhenti atau keluar dari pekerjaan. Steers
dan Rhodes dalam sunyoto (2001) mengembangkan model pengaruh dari
ketidakhadiran. Ada dua faktor pada perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan
kemampuan untuk hadir. Mereka percaya bahwa motivasi untuk hadir
dipengaruhi oleh kepuasan kerja. Menurut Robbins (1998) ketidakpuasan kerja
pada karyawan dapat diungkapkan melalui berbagai cara selain meninggalkan
pekerjaan, karyawan dapat mengeluh, membangkang, mencuri barang milik
organisasi, menghindar dari tanggung jawab (Ashar SunyotoM, 2001: 365-366).
