Kepuasan kerja karyawan merupakan aspek yang paling penting
dalam pekerjaan. Ketidakpuasan kerja yang dimiliki karyawan
menyebabkan berbagai masalah yang sama terhadap diri karyawan
maupun perusahaan tempat karyawan bekerja. Perusahaan terpaksa
menanggung biaya yang cukup tinggi apabila kepuasan kerja karyawan
tidak diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari adanya karyawan yang
berhenti kerja, sering absen kerja, dan beberapa masalah pelanggaran
disiplin yang dapat menyebabkan biaya pengeluaran yang cukup tinggi
dalam perusahaan dan menurunnya produktivitas kerja perusahaan. Situasi
tersebut menyebabkan prestasi kerja karyawan menurun dan membuat
karyawan menjadi tidak produktif serta dapat berakibat munculnya stress
kerja dikalangan karyawan yang ada dalam perusahaan. As’ad (2004)
faktor manusia cukup berperan dalam mencapai hasil sesuai dengan tujuan
perusahaan, memberikan motivasi agar dicapai kepuasan kerja bagi para
karyawan merupakan kewajiban bagi setiap pemimpin.
Wijono (2012) kepuasan kerja karyawan adalah suatu hasil perkiraan
karyawan terhadap pekerjaan atau pengalaman positif dan menyenangkan
dirinya. Kepuasan kerja berarti rangsangan yang efektif yang diberikan
oleh karyawan terhadap pekerjaan mereka. Kepuasan kerja karyawan
dapat diklarifikasikan sebagai pengaruh refleksi dari pengalaman
karyawan dan persepsinya terhadap tempat kerja. Karyawan menganggap
bahwa kepuasan kerja karyawan juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik
pekerjaan. Robbins (2001) berpendapat bahwa karakteristik pekerjaan
adalah upaya mengidentifikasi karakteristik tugas dari pekerjaan,
bagaimana karakteristik tersebut digabung untuk membentuk pekerjaanpekerjaan yang berbeda, dan berhubungan dengan motivasi, kepuasan, dan
kinerja karyawan. Karakteristik pekerjaan meliputi bagaimana karyawan
menggunakan beragam keterampilan dan kemampuan untuk
menyelesaikan pekerjaan, tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan
secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil
kinerja seseorang, tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak
yang berarti bagi kehidupan orang lain, seberapa besar kebebasan yang
dimiliki karyawan dalam menjadwalkan dan mengatur pekerjaan mereka,
serta besarnya informasi yang karyawan terima tentang efektivitas dan
kualitas pekerjaan yang karyawan laksanakan.
Ada beberapa karakteristik individu yang juga tidak kalah penting
dalam mempengaruhi produktivitas kerja karyawan terutama dapat terlihat
jelas ialah pada usia dan status perkawinan. Usia dapat mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan dalam bekerja. Robbins (2001) menjelaskan
bahwa karyawan dengan usia lebih tua akan semakin mampu
menunjukkan kematangan jiwa, dalam arti semakin bijaksana, semakin
mampu berfikir rasional, semakin mampu mengendalikan emosi, semakin
toleran terhadap pandangan dan perilaku yang berbeda dari dirinya dan
semakin dapat menunjukkan kematangan intelektual dan psikologisnya.
Karyawan yang telah menikah lebih puas terhadap kerjanya dibandingkan
dengan karyawan yang belum menikah karena karyawan yang telah
menikah merasa mempunyai tanggungjawab yang besar pada
pekerjaannya. Apabila karakteristik pekerjaan sesuai dengan harapan maka
karyawan akan mempunyai kepuasan kerja yang tinggi dan sebaliknya.
Kepuasan kerja karyawan merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh
setiap karyawan. Menurut Waluyo (2009) kepuasan kerja karyawan
merupakan suatu sikap yang positif yang menyangkut penyesuian diri
yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk
didalamnya upah, kondisi sosial, kondisi fisik, dan kondisi psikis. Perasaan
tersebut sangat penting karena kepuasan kerja karyawan yang didukung
dengan karakteristik pekerjaan yang sesuai dapat meningkatkan
produktivitas karyawan
