Sumber-Sumber Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict).


Green dan Beutell (2011) menyatakan bahwa seseorang yang mengalami
konflik peran ganda akan merasakan ketegangan dalam bekerja. Konflik
peran ini bersifat psikologis. Gejala yang terlihat pada individu yang
mengalami konflik peran ini adalah frustasi, rasa bersalah, kegelisahan,
dan keletihan
Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) ini terjadi ketika kehidupan
rumah seseorang berbenturan dengan tanggung jawabnya ditempat kerja,
seperti masuk kerja tepat waktu, menyelesaikan tugas harian, atau kerja
lembur. Demikian juga tuntutan kehidupan rumah yang menghalangi
seseorang untuk meluangkan waktu untuk pekerjaannya atau kegiatan yang
berkenaan dengan kariernya.
Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) muncul apabila wanita
merasakan ketegangan antara peran pekerjaan dengan peran keluarga.
Greenhaus dan Beutell dalam Adekola (2010:1070) mengidentifikasikan tiga
jenis Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) yaitu:

  1. Konflik Berdasarkan Waktu (Time-Based Conflict)
    Waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan salah satu tuntutan
    (keluarga atau pekerjaan) dapat mengurangi waktu untuk menjalankan
    tuntutan yang lainnya (pekerjaan atau keluarga). Bentuk konflik Ini secara
    positif berkaitan dengan:
    a. Jumlah jam kerja
    b. Lembur
    c. Tingkat kehadiran
    d. Ketidakteraturan shift
    e. Kontrol jadwal kerja
  2. Konflik Berdasarkan Tekanan (Strain-Based Conflict)
    Terjadi tekanan dari salah satu peran mempengaruhi kinerja peran
    lainnya.Dimana gejala tekanan, seperti:
    a. Ketegangan
    b. Kecemasan
    c. Kelelahan
    d. Karakter peran kerja
    e. Kehadiran anak baru
    f. Ketersediaan dukungan sosial dari anggota keluarga
    g. Konflik Berdasarkan Perilaku (Behavior-Based Conflict)
    Bentuk terakhir dari konflik pekerjaan-keluarga adalah Behavior-Based
    Conflict, di mana pola-pola tertentu dalam peran-perilaku yang tidak
    sesuai dengan harapan mengenai perilaku dalam peran lainnya. Misalnya,
    stereotip manajerial menekankan agresivitas, kepercayaan diri, kestabilan
    emosi, dan objektivitas. Hal ini kontras dengan harapan citra dan perilaku
    seorang istri dalam keluarga, yang seharusnya menjadi pemberi perhatian,
    simpatik, dan mengasuh. Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan
    bahwa para eksekutif perempuan lebih mungkin untuk mengalami bentuk
    konflik daripada eksekutif laki-laki, sebagai perempuan harus berusaha
    keras untuk memenuhi harapan peran yang berbeda di tempat kerja
    maupun dalam keluarga.
    Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi Konflik Peran Ganda ( Work
    Familiy Conflict ) menurut Bellavia & Frone (2005:123) yaitu :
  3. Dalam Diri Individu (General Intra Individual Predictors)
    Ciri demografis (jenis kelamin, status keluarga, usia anak terkecil)
    dapat menjadi faktor resiko; kepribadian (seperti emosi negatif, daya
    tahan, ketelitian); dapat membentengi dari potensi konflik peran.
    contohnya adalah wanita lebih berpotensi mengalami konflik peran karena
    tugas-tugas dalam rumah lebih dipandang sebagai tanggung jawab terbesar
    wanita dari pada laki-laki.
  4. Peran Keluarga (Family Role Predictors)
    Pembagian waktu dalam keluarga (pengasuhan dan tugas rumah
    tangga), stresor dari keluarga (terbebani oleh anggota keluarga, konflik
    peran dalam keluarga,).
  5. Peran Pekerjaan (Work Role Predictors)
    Pembagian waktu, terkena stressor kerja (tuntutan pekerjaan atau
    overload, konflik peran kerja, ambiguitas peran kerja, atau ketidakpuasan),
    karakteristik pekerjaan (kerjasama, rasa aman dalam kerja), dukungan
    sosial dari atasan dan rekan, karakteristik tempat kerja. Jumlah tugas yang
    terlalu banyak akan membuat karyawan harus kerja lembur, atau
    banyaknya tugas keluar kota membuat karyawan akan menghabiskan lebih
    banyak waktunya untuk pekerjaan dan untuk berada di perjalanan