Indikator Kinerja


Ukuran secara kualitatif dan kuantitatif yang menunjukkan
tingkatan pencapaian suatu sasaran yang telah ditetapkan adalah
merupakan sesuatu yang dapat dihitung serta digunakan sebagai dasar
untuk menilai atau melihat bahwa kinerja setiap hari dalam perusahaan dan
perseorangan terus mengalami peningkatan sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan. Menurut Mathis dan Jackson (2002) kinerja karyawan
mempengaruhi seberapa banyak kontribusi kepada organisasi antara lain
termasuk (Chairunnisah et al., 2021; Mathis & Jackson, 2006) :

  1. Kuantitas Kerja
    Kuantitas kerja merupakan seberapa banyak pekerjaan yang dapat
    diselesaikan oleh seorang karyawan dalam waktu tertentu. Kuantitas kerja
    dapat diukur dengan cara menghitung jumlah tugas atau proyek yang berhasil
    diselesaikan oleh karyawan dalam periode waktu tertentu.
  2. Kualitas Kerja
    Kualitas kerja yaitu seberapa baik pekerjaan yang dilakukan oleh seorang
    karyawan. Kualitas kerja dapat diukur dengan melihat sejauh mana hasil
    pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Indikator kualitas kerja yang
    baik menunjukkan bahwa karyawan mampu memenuhi standar kualitas yang
    diharapkan dan memberikan hasil pekerjaan yang memuaskan.
  3. Pemanfaatan Waktu
    Pemanfaatan waktu merupakan seberapa efektif dan efisien karyawan
    dalam mengelola waktu kerjanya. Pemanfaatan waktu dapat diukur dengan
    cara membandingkan waktu yang digunakan karyawan untuk menyelesaikan
    tugas dengan waktu yang seharusnya diperlukan untuk menyelesaikan tugas
    tersebut. Indikator pemanfaatan waktu yang baik menunjukkan bahwa
    karyawan mampu mengelola waktu dengan baik dan mengoptimalkan
    produktivitasnya.
  4. Tingkat Kehadiran
    Tingkat kehadiran adalah seberapa sering karyawan hadir di tempat
    kerja. Tingkat kehadiran dapat diukur dengan cara menghitung persentase
    kehadiran karyawan dalam periode waktu tertentu. Indikator tingkat kehadiran
    yang baik menunjukkan bahwa karyawan konsisten dan dapat diandalkan
    dalam menjalankan tugasnya.
  5. Kerja sama
    Penilaian berdasar keterlibatan seluruh karyawan dalam mencapai
    target yang ditetapkan akan mempengaruhi keberhasilan bagian yang
    diawasi

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Berdasarkan teori yang dikemukakan Gibson et al (2012), Kinerja
Seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut, yaitu (Chairunnisah et al.,
2021):
a. Faktor Individu
Menurut gibson et al (2012) faktor individu terdiri dari kemampuan dan
keterampilan, latar belakang, serta demografis. kemampuan dan keterampilan
20
meliputi mental dan fisik. latar belakang meliputi keluarga dan pengalaman.
karakteristik demograsi meliputi umur, etnnis dan jenis kelamin

  1. Kemampuan dan keterampilan
    Kemampuan dan keterampilan memainkan peran dalam kinerja
    individu. Kemampuan adalah sifat alamiah atau yang dipelajari yang
    membolehkan seseorang untuk melakukan sesuatu (mental/fisik). Sedangkan
    keterampilan adalah kompetensi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan.
  2. Latar belakang
    Meliputi keluarga dan pengalaman. Individu yang berasal dari keluarga
    dengan kebiasaan positif seperti disiplin, tanggung jawab, dan jujur akan
    membawa sikap positif tersebut di tempat kerja. Individu yang memiliki
    pengalaman kerja yang banyak dan sesuai dengan bidang pekerjaannya akan
    mempengaruhi kinerja yang semakin baik pula.
  3. Demografi
    Klasifikasi demografis yang paling penting adalah jenis kelamin dan
    ras. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan kinerja antara laki-laki dan
    perempuan untuk pekerjaan tertentu. Ras berkaitan dengan cultural, values,
    language skills dan educational preparation. Kesamaan suku dapat
    meminimalisasi adanya kendala bahasa daerah yang digunakan dalam
    berkomunikasi dengan customer sehingga kinerja menjadi lebih optimal.
    b. Faktor Psikologi
    Faktor psikologis meliputi lima sub faktor yaitu persepsi, attitude,
    personality, pembelajaran, dan motivasi.
  4. Persepsi
    Persepsi adalah proses kognitif di mana seseorang memahami
    lingkungannya dengan mengorganisasikan dan menafsirkan rangsangan
    sebagai pengalaman psikologis. Dalam proses persepsi, individu menggunakan
    lima hal yaitu penglihatan, sentuhan, pendengaran, perasaan, dan penciuman
    untuk memahami lingkungannya.
  5. Attitude
    Sikap adalah respons yang tidak terlihat langsung dari seseorang
    terhadap suatu objek atau stimulus. Sikap hanya bisa dipahami melalui perilaku
    yang tertutup. Sikap mencerminkan reaksi emosional terhadap stimulus sosial.
  6. Personality
    Kepribadian adalah kumpulan kecenderungan dan karakteristik yang
    mempengaruhi kesamaan dan perbedaan dalam perilaku individu. Beberapa
    orang memperhatikan kualitas dari pekerjaan mereka, sementara yang lain
    tidak. Ada yang pasif dan yang sangat agresif
  7. Pembelajaran
    Pembelajaran merupakan proses perubahan perilaku yang bersifat
    relatif permanen yang terjadi karena adanya pengalaman. Perubahan perilaku
    merupakan bukti bahwa pembelajaran telah terjadi. Individu yang memiliki
    kemampuan belajar yang baik mampu menyesuaikan diri dengan perubahan
    lingkungan dengan lebih cepat dan efektif, sehingga dapat menghasilkan
    kinerja yang lebih baik.
  8. Motivasi
    Motivasi dan kemampuan untuk bekerja saling berinteraksi dalam
    mempengaruhi kinerja. Teori motivasi mencoba untuk menjelaskan dan
    memprediksi bagaimana perilaku individu dibangun (aroused), bertahan
    (sustained) dan berhenti (stopped).
    c. Faktor Organisasi
    Faktor Organisasi meliputi lima sub faktor yaitu sumber daya,kepemimpinan,
    penghargaan, struktur, dan job design.
  9. Kepemimpinan (Leadership)
    Kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
    individu, kinerja kelompok, dan kinerja organisasi. Beberapa orang percaya
    bahwa kepemimpinan yang efektif tergantung pada sikap dan perilaku. Ada
    pendapat yang menyatakan bahwa satu gaya kepemimpinan cocok untuk
    semua situasi, sementara pendapat lain menyatakan bahwa setiap situasi
    memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda. Terlepas dari jenis gaya
    kepemimpinan yang dimiliki, seorang pemimpin harus mampu memahami
    potensi masing-masing individu agar dapat mempengaruhi bawahannya untuk
    mencapai kinerja optimal.
  10. Penghargaan (reward)
    Memberikan penghargaan kepada individu dapat mempengaruhi
    motivasi sehingga individu akan lebih termotivasi untuk menyelesaikan
    pekerjaan dengan lebih baik. Penghargaan dapat berupa insentif, bonus, atau
    pujian terhadap kinerja individu.
  11. Struktur
    Kualitas kinerja individu dalam sebuah organisasi dipengaruhi oleh
    kualitas pengaturan struktur organisasi yang ada. Jika struktur organisasi dibuat
    dengan baik, maka kinerja individu dalam organisasi akan menjadi lebih baik,
    sedangkan jika struktur organisasi buruk, kinerja individu juga akan buruk.
  12. Job Design
    Job design adalah proses di mana seorang manajer menentukan tugas,
    metode, dan keterkaitan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan
    individu. Job design mencakup penentuan tugas yang harus dilakukan, metode
    yang akan digunakan untuk menyelesaikan tugas tersebut, dan bagaimana
    pekerjaan tersebut berhubungan dengan pekerjaan lain dalam organisasi

Definisi Kinerja


Menurut (Chairunnisah et al., 2021) Kinerja merupakan suatu prestasi
atau tingkatan keberhasilan yang dicapai oleh individu atau suatu organisasi
dalam melaksanakan pekerjaan pada suatu periode tertentu. Gibson et al (1994)
menyatakan bahwa Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam
melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan
dapat tercapai dengan baik.
Dari pengertian diatas maka diperoleh pengertian kinerja karyawan,
yaitu hasil kerja seseorang dalam melaksanakan tugas yang diberikan
kepadanya untuk mencapai target yang telah ditentukan. Karyawan dapat
bekerja dengan hasil yang baik jika memiliki kinerja yang tinggi sehingga
dapat menghasilkan kerja yang baik

Dampak Leader Member Exchange (LMX ) terhadap Organisasi


Kualitas LMX di tempat kerja dapat mempengaruhi keseluruhan
struktur dan keberhasilan organisasi (Mardanov, Heischmidt, & Henson,
2008). LMX yang berkualitas tinggi akan memberikan banyak dampak positif
terhadap organisasi. Menurut (Heriyadi, 2021). Dampak LMX terhadap
organisasi terbagi kedalam 5 bidang utama, yaitu organizational citizenship
behaviour (OCB), job satisfaction, organizational commitment, turnover
intention, dan performance

Faktor yang mempengaruhi Leader Member Exchange (LMX)


Teori LMX merupakan teori kepemimpinan yang berbasis hubungan
dua unsur (dyadic). Menurut teori ini, kepemimpinan terletak pada
perkembangan kualitas hubungan antara pimpinan dan bawahan Erdoğan dan
Bauer (2015) menjelaskan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
kualitas hubungan antara pimpinan dan bawahan, yaitu:

  1. Perceived & actual similarity (kesamaan rasa) Kesamaan ketertarikan
    (similarity– attraction) antara pimpinan dengan bawahan memainkan
    peran penting dalam pengembangan kualitas LMX.
  2. Dyad expectations (harapan masing-masing pihak) Tingkat harapan
    bawahan terhadap pimpinan, dan tingkat harapan pimpinan terhadap
    bawahan menentukan kualitas LMX yang terbangun.
  3. Delegation-performance interactions (interaksi kinerja) Kinerja dan
    kompetensi bawahan menjadi prediktor penting dalam proses
    pengembangan LMX karena ini merupakan perilaku yang membantu
    dalam membangun kepercayaan.
  4. Member personality (kepribadian bawahan) Kepribadian extraversion
    (senang bergaul, mudah bersosialisasi, hidup berkelompok, dan tegas)
    dan agreeableness (kooperatif, penuh kepercayaan, bersifat baik,
    hangat, berhati lembut, dan suka membantu) merupakan prediktor dari
    kualitas LMX.
  5. Perceptions of fairness (Persepsi keadilan) Keadilan interaksional, atau
    perlakuan dengan martabat dan rasa hormat dari pemimpin merupakan
    faktor yang berkaitan dengan kualitas LMX.
  6. Trust development (kepercayaan) Ketika hubungan dimulai,
    kepercayaan akan berkembang (atau tidak berkembang) sebagai hasil
    dari proses pengujian timbal balik. Tanggapan memuaskan dari
    karyawan terhadap upaya pengujian dari atasan akan menghasilkan
    pengembangan kepercayaan dari pimpinan

Dimensi Leader Member Exchange (LMX)


LMX terdiri dari empat dimensi, yaitu (Liden & Maslyn, 1998):

  1. Affect
    Rasa saling ketertarikan anta r pribadi, dan bukan hanya pada
    pekerjaan saja. Ketertarikan ini diwujudkan dalam bentuk keinginan
    untuk memiliki hubungan yang memiliki manfaat secara pribadi
    (misalnya, persahabatan).
  2. Loyalty
    Yaitu sejauh mana pemimpin dan bawahan saling mendukung
    tindakan dan karakter satu sama lain. Kesetiaan ini merupakan
    kesetiaan terhadap individu yang umumnya konsisten dari situasi ke
    situasi.
  3. Contribution
    Yaitu persepsi mengenai kegiatan berorientasi kerja antara pimpinan
    dan bawahan terhadap tujuan bersama. Hal ini juga mengacu kepada
    sejauh mana bawahan dapat bertanggung jawab dan menyelesaikan
    tugas-tugas mereka, dan sejauh mana pimpinan dapat menyediakan
    sumber daya dan peluang untuk melakukan tugas tersebut.
  4. Professional Respect
    Yaitu persepsi tentang sejauhmana pimpinan dan bawahan telah
    membangun reputasi, baik di dalam maupun di luar organisasi,
    mengenai bidang pekerjaannya. Persepsi ini mungkin didasarkan pada
    data historis, seperti: pengalaman pribadi dengan orang tersebut;
    komentar tentang orang tersebut dari individu di dalam atau di luar
    organisasi; dan penghargaan atau pengakuan profesional lainnya yang
    diraih oleh orang tersebut.

Model Leader Member Exchange (LMX)


Model LMX merupakan pengembangan hubungan diadik (hubungan
dua arah) antara manajer dengan bawahan langsung mereka. Hubungan ini
dikenal dengan istilah vertikal dua (vertical dyad) dan dianggap sebagai proses
yang terjadi secara alami sebagai upaya pimpinan untuk mendelegasikan dan
menetapkan peran kerja bawahannya (Heriyadi, 2021). Proses ini
menghasilkan dua jenis hubungan, yaitu :
a. in-group exchange yang tercermin dengan adanya hubungan timbal
balik saling percaya dan saling menghormati, dan
b. out-group exchange yang dicirikan dengan gagalnya pemimpin
menciptakan rasa saling percaya dan saling hormat.
Bawahan dalam kategori in-group cenderung berfungsi sebagai asisten
atau penasihat, serta memiliki interaksi yang berkualitas tinggi dengan
pimpinan. Sedangkan bawahan dalam kategori out-group cenderung
menekankan persyaratan kerja yang lebih formal dengan tingkat pengaruh
timbal balik yang relatif rendah. Pimpinan biasanya memberikan beberapa
keistimewaan terhadap mereka yang termasuk dalam kategori in-group seperti
memberikan tugas yang menarik, pendelegasian tanggung jawab penting,
sharing informasi, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan manfaat
khusus lainnya, seperti dukungan pribadi, persetujuan, dan jadwal kerja yang
menguntungkan

Dimensi Kepemimpinan Transformasional


Menurut (Prajogo, 2013) dan (Sima et al., 2023) Pengukuran
Kepemimpinan Transformasional dapat diukur dengan Dimensi
Kepemimpinan Transformasional Teori Multifactoral Leadership Quisioner
(MLQ). Berdasarkan (Bass & Riggio, 2006) secara konseptual,dimensi
kepemimpinan transformasional terdiri dari 4 komponen sebagai berikut :
a. Karisma (idealized influence)
Pemimpin transformasional memiliki perilaku yang memungkinkan
mereka menjadi teladan bagi para pengikutnya. Mereka dikagumi, dihormati,
dan dipercayai oleh para pengikutnya.
b. Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation)
Pemimpin transformasional merangsang upaya pengikut mereka untuk
menjadi inovatif dan kreatif dengan mempertanyakan asumsi, membingkai
ulang masalah, dan mendekati situasi lama dengan cara baru. Kreativitas
didorong. Tidak ada kritik publik atas kesalahan anggota individu. Ide-ide baru
dan solusi masalah yang kreatif diminta dari pengikut, yang termasuk dalam
proses mengatasi masalah dan menemukan solusi.
c. Motivasi Inspirasi (Inspirational Motivation)
Pemimpin transformasional berperilaku dengan cara yang memotivasi dan
menginspirasi orang-orang di sekitar mereka dengan memberikan makna dan
tantangan bagi pekerjaan pengikut mereka. Semangat tim dibangkitkan.
Antusiasme dan optimisme ditampilkan. Pemimpin melibatkan pengikut dalam
membayangkan keadaan masa depan yang menarik, mereka menciptakan
harapan yang dikomunikasikan dengan jelas yang ingin dipenuhi oleh pengikut
dan juga menunjukkan komitmen terhadap tujuan dan visi bersama.
d. Perhatian Secara Individu (Individual Consideration)
Pemimpin transformasional memberi perhatian khusus pada kebutuhan
masing-masing pengikut individu untuk pencapaian dan pertumbuhan dengan
bertindak sebagai pelatih atau mentor.

Gaya Kepemimpinan Transformasional


Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang aktif
mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi pengikut. Pemimpin mencoba
memotivasi bawahan dan pemangku kepentingan lainnya, untuk fokus pada
visi dan misi organisasi, menjadikan kepentingan kelompok sebagai prioritas,
dan memotivasi pengikut untuk melampaui kepentingan pribadi (Raffo &
Williams, 2018). Pemimpin transformasional memiliki harapan yang tinggi
untuk pengikut mereka dan percaya pada kemampuan mereka. Mereka
menginspirasi, memberdayakan, dan merangsang pengikut untuk tampil di atas
dan di luar tingkat normal mereka, dan pemimpin transformasional juga
memperhatikan kebutuhan dan pengembangan pribadi pengikut mereka (Bass
& Riggio, 2006). Menurut (Arifudin, 2020) Pemimpin transformasi merupakan
pemimpin yang memiliki visi dan mampu mentransformasikannya kepada
pengikutnya dan juga pemimpin yang mampu menciptakan peluang dengan
memberikan gambaran tentang masa depan yang akan diwujudkan bersama

Definisi Kepemimpinan


Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi suatu
kelompok untuk men-capai tujuan dari suatu visi atau sebuah rangkaian tujuan
(Ahwazi & Cholifihani, 2016). Untuk mencapai suatu tujuan atau visi suatu
organisasi tersebut perlu adanya proses yang dilakukan oleh pemimpin.
Menurut (Prajogo, 2013) Kepemimpinan bukanlah sebuah tindakan tunggal
pada saat tertentu, melainkan sebuah proses yang melibatkan serangkaian
langkah dan tindakan yang terus berlanjut. Sumber lain juga mengatakan
bahwa Kepemimpinan adalah setiap upaya seseorang yang mencoba untuk
memengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok, upaya untuk
memengaruhi tingkah laku ini bertujuan untuk perorangan,tujuan teman, atau
bersama-sama dengan tujuan organisasi yang mungkin sama atau berbeda
(Posuma, 2013).
Berdasarkan beberapa teori mengenai kepemimpinan diatas, dapat
disimpulkan bahwa seorang pemimpin dapat diibaratkan sebagai nahkoda
sebuah kapal, dimana bertugas menentukan arah, menjalankan kapal, dan
mengambil keputusan mau dibawa kemana kapal tersebut. Dengan kata lain
seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi perilaku orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu

Sumber Daya manusia di Rumah Sakit


Menurut peraturan pemerintah republik Indonesia Nomor 47 tahun
2021 tentang penyelenggaraan bidang perumahsakitan, menjelaskan sumber
daya manusia di rumah sakit yaitu :

  1. Sumber daya manusia pada rumah sakit umum dengan klasifikasi kelas A,
    kelas B, kelas C, dan kelas D meliputi : tenaga medis, tenaga psikologis
    klinis, tenaga keperawatan, tenaga kebidanan, tenaga kefarmasian, tenaga
    kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga gizi, tenaga
    keterapian fisik, tenaga teknisian medis, tenaga tehnik biomedis, tenaga
    kesehatan lain, tenaga manajemen rumah sakit, tenaga non kesehatan.
  2. Sumber daya manusia pada rumah sakit khusus dengan klasifikasi kelas A,
    kelas B, dan kelas C meliputi : tenaga medis, tenaga keperawatan, dan
    tenaga bidan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan lain, tenaga manajemen
    rumah sakit, dan tenaga non kesehatan

Tugas dan Fungsi Rumah Sakit


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009 tentang rumah sakit pasal 4 menyatakan bahwa tugas rumah sakit adalah
memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Pada pasal 5
menjelaskan fungsi rumah sakit untuk menjalankan tugas tersebut sebagai
berikut :

  1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
    dengan standar pelayanan rumah sakit.
  2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
    kesehatan paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
  3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya dalam rangka
    peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
  4. Penyelenggara penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
    bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
    memperhatikan etika bidang ilmu pengetahuan bidang kesehatan

Tujuan Penyelenggaraan Rumah Sakit


Undang – undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
rumah sakit menyatakan bahwa tujuan diselenggarakanya rumah sakit adalah
sebagai berikut :

  1. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
  2. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat,
    lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.
  3. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit.
  4. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya
    manusia rumah sakit dan rumah sakit.

Definisi Rumah Sakit


Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009
tentang rumah sakit, rumah sakit adalah sebuah institusi layanan kesehatan
yang menyelenggarakan perawatan kesehatan individu secara lengkap, yang
meliputi perawatan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Sementara itu,
menurut World Health Organization (WHO), rumah sakit adalah bagian
penting dari suatu organisasi sosial kesehatan yang menyediakan pelayanan
kesehatan yang komprehensif, meliputi pengobatan penyakit, pencegahan
penyakit, dan pelayanan kesehatan lainnya kepada masyarakat.

Lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan


Menurut Sedarmayanti (2009:31) lingkugan kerja fisik adalah semua
keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerjayang dapat
mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sedangkan lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi
berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun
dengan rekan kerja, ataupun hubungan dengan bawahan

Motivasi terhadap kinerja karyawan


Dalam penelitian yang dilakukan Citra dan Fahmi (2019) menunjukkan
bahwa Kepemimpinan memiliki pengaruh terhadap loyalitas karyawan pada
PT. Perkebunan Nusantara (Persero) IV, Kepuasan Kerja tidak memiliki
pengaruh terhadap loyalitas karyawan PT. Sementara itu penelitian yang
dilakukan Kawulur, Areros dan Pio (2018) menunjukkan bahwa hasil analisis
deskriptif menunjukkan secara umum pemberian reward, dan loyalitas
karyawan mendapat penliaian yang sangat baik

Loyalitas kerja karyawan terhadap kinerja karyawan


Loyalitas adalah sikap yang patuh dan setia terhadap perusahaanya,
loyalitas karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan dan loyalitas
karyawan dapat diukur dari hasil kinerja, ketaatan atau kepatuhan, bertanggung
jawab, pengabdian dan kejujuran pernyataan tersebut didukung oleh hasil
penelitian Hamzah (2013) juga telah mendukung upaya penelitian ini, karena
senioritas karyawan dan loyalitas karyawan berpengaruh terhadap karyawan
dimana senioritas adalah jenjang terhadap kinerja serta kualitas adalah tingkat
seseorang karyawan untuk melihat kinerja karyawan. Selain itu, loyalitas,
motivasi dan budaya kerja berpengaruh terhadap kemajuan karyawan untuk
mengerjakan tugasnya dengan baik serta bagaimana karyawan itu bisa
memecahkan masalah dalam pekerjaanya).

Lingkungan kerja terhadap loyalitas kerja karyawan


Lingkungan kerja memiliki pengaruh positif terhadap loyalitas
karyawan. Hal tersebut disebabkan dengan lingkungan kerja yang nyaman akan
membuat pekerja menjadi semangat dalam melakukan pekerjaannya sehari
hari. Kenyamanan dalam bekerja sehari – hari akan membuat pekerja enggan
untuk berpindah pekerjaan dan memilih loyal untuk bekerja di suatu organisasi
atau perusahaan. Penelitian oleh Rafdan (2016) yang berjudul “Analisis
Pengaruh Lingkungan kerja Kompensasi Serta Kompetensi Terhadap Loyalitas
Karyawan (Studi pada PT Pos Semarang)”, menyatakan bahwa terdapat
pengaruh signifikan antara lingkungan kerja terhadap loyalitas karyawan. Hal
tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh, GeheeSinea (2015)
yang menyatakan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap
loyalitas karyawan. Selain berdasarkan teori dari Andrews (2013) menyatakan
bahwa lingkungan kerja yang baik akan menimbulkan kenyamanan dalam
melakukan kegiatan kerja sehari-hari. Pada dasarnya pekerja menghabiskan
waktu yang cukup lama di lingkungan kerja, dimana hal tersebut menyebabkan
jika terdapat sesuatu yang salah pada lingkungan kerja akan berdampak pada
kondisi emosi dari para pekerja

Motivasi terhadap loyalitas kerja karyawan


Dalam penelitian yang dilakukan Setiawan (2016) menunjukkan bahwa
motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan level
pelaksana di Divisi Operasi PT. Pusri Palembang. Sementara itu dalam
penelitian yang dilakukan Oktavianda dan Iqbal (2018) menunjukkan bahwa
Leader Member Exchange (LMX) berpengaruh positif dan signifikan terhadap
loyalitas karyawan.

Faktor yang mempengaruhi Loyalitas


Menurut Simamora (2003:132) faktor yang mempengaruhi
loyalitas karyawan sebagai berikut:
a. Faktor Rasional

  1. Gaji
  2. Jenjang Karier
  3. Bonus
  4. Fasilitas yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan
    b. Faktor Emosional
  5. Pekerjaan yang menantang
  6. Lingkungan kerja organisasi yang kondusif
  7. Perasaaan aman dan nyaman karena perusahaan adalah
    tempat bekerja dalam jangka panjang
  8. Pemimpin yang berkharisma
  9. Pekerjaan yang menyenangkan
  10. Penghargaan yang diberikan oleh perusahaan kepada
    karyawan
  11. Budaya kerja yang mendukung
    c. Faktor Spiritual
  12. Kepuasan rohani
  13. Pekerjaan yang bersifat rohani
  14. Sikap perusahaan terhadap misi rohani
  15. Pemimpin yang religius
  16. Diberi kesempatan untuk melaksanakan kegiatan rohani

Indikator Loyalitas


Menurut Saydam (2005:485) indikator loyalitas yaitu:
a. Kepatuhan dan ketaatan
Kesanggupan seorang karyawan dalam mentaati aturan yang
ditetapkan dan tidak melanggar peraturan tersebut. Diantara ciri-
ciri karyawan yang taat yaitu mentaati peraturan yang telah
berlaku, mentaati perintah yang diberikan, bekerja sesuai dengan
jam kerja yang telah ditentukan, dan memberikan pelayanan
dengan baik dan maksimal.
b. Tanggung jawab
Kesediaan karyawan dalam mengerjakan tugas dan kewajiban
dengan tepat waktu. Diantara ciri-ciri karyawan yang mempunyai
tanggung jawab yaitu menyelesaikan tugas dengan tepat waktu,
dating di tempat kerja pada jam kerja sesuai dengan peraturan,
selalu mengutamakan kepentingan perusahaan, tidak melempar
kesalahan ke orang lain, sanggup untuk menanggung resiko, dan
sanggup menjaga rahasia perusahaan.
c. Pengabdian
Ketersediaan karyawan dalam menyalurkan pikiran dan tenaga
untuk kemajuan perusahaan.
d. Kejujuran
Ketersinambungan antar karyawan dengan yang diucapkan.
Diantara ciri-ciri karyawan yang jujur yaitu melaksanakan tugas
yang diberikan sesuai dengan aturan, tidak melakukan
penyelewengan, dan melaporkan hasil yang sesuai dengan yang
terjadi kepada pimpinan

Pengertian Loyalitas Kerja Karyawan


Menurut Widodo (2015:119), pengertian loyalitas adalah pengabdian
seorang karyawan kepada tempat bekerja nya untuk terus bekerja dalam
periode yang lama. Selain itu, menurut Fathoni (2006:169) loyalitas yaitu
perilaku yang dimiliki oleh karyawan untuk membela perusahaan dan tidak
merugikan perusahaan.
Uraian diatas bisa disimpulkan bahwa loyalitas adalah sebuah keterikatan
antara karyawan dengan perusahaan. Keterikatan ini membuat karyawan
memiliki kesadaran secara individu untuk mematuhi aturan organisasi,
mengerjakan tugas dengan baik, menjunjung kejujuran, dan tanggung jawab
agar tujuan perusahaan bisa terwujud. Karyawan yang mempunyai sikap loyal
kepada perusahaan akan mempunyai rasa perhatian yang tinggi terhadap
kondisi yang sedang terjadi di perusahaan.
Menurut Saydam (2005:416) pembinaan loyalitas SDM harus dilakukan
supaya dalam diri karyawan agar dalam diri karyawan muncul sikap sebagai
berikut.
a. Memiliki sikap peduli terhadap perusahaan.
b. Merasa memiliki terhadap perusahaan.
c. Bisa mencegah terjadinya turn over atau perputaran karyawan.
d. Bisa menjamin kelangsungan kinerja perusahaan.
e. Bisa menjamin terpeliharanya motivasi kerja karyawan.
f. Bisa meningkatkan profesionalisme dan produktivitas kerja

Manfaat dari Kinerja Karyawan


Menurut Rivai dan Basri (2005) dalam Aditya (2010) tujuan kinerja
antara lain sebagai berikut:

  1. Kemahiran dari kemampuan tugas baru diperuntukan untuk
    perbaikan hasil kinerja dan kegiatannya.
  2. Kemahiran dari pengetahuan baru dimana akan membantu karyawan
    dengan pemecahan masalah yang kompleks atas aktivitas membuat
    keputusan pada tugas.
  3. Kemahiran atau perbaikan pada sikap terhadap teman kerjanya
    dengan satu aktivitas kinerja.
  4. Target aktivitas perbaikan kinerja

Faktor yang mempengaruhi Kinerja Karyawan


Menurut Mangkunegara (2009) dalam Hosnawati (2016) faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja karyawan yaitu:

  1. Faktor kemampuan
    Secara psikologis, kemampuan (ability) karyawan terdiri dari
    kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge +
    skill). Karyawan perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai
    dengan keahliannya.
  2. Faktor motivasi
    Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang karyawan
    dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
    menggerakkan diri karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan
    organisasi.
    Sedangkan menurut sedarmayanti (2007) dalam Ria & Darman (2017:
    180) faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain:
  3. Sikap dan mental (motivasi kerja, disiplin kerja, dan etika kerja )
  4. Pendidikan
  5. Ketrampilan
  6. Manajemen kepemimpinan
  7. Tingkat penghasilan
  8. Gaji dan kesehatan
  9. Jaminan sosial
  10. Iklim kerja
  11. Sarana dan prasarana
  12. Teknologi
  13. Kesempatan berprestasi
    Sedangkan Payaman S. Simanjuntak (2005) dalam Hosnawati (2016)
    menyatakan kinerja setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor yang dapat
    digolongkan dalam 3 kelompok yaitu:
  14. Faktor kompetensi individu
    yaitu kemampuan dan keterampilan yang dimiliki seorang
    karyawan dalam melakukan kerja. Kompetensi individu seseorang
    dipengaruhi beberapan faktor yang dikelompokkan dalam dua
    golongan, yaitu kemampuan dan keterampilan kerja.
    a. Kemampuan dan keterampilan
    kerja setiap individu berbeda yang dipengaruhi oleh
    kesehatan fisik dan jiwa individu, pendidikan, akumulasi
    pelatihan, serta pengalaman kerjanya.
    b. Motivasi dan etos kerja
    Motivasi dan etos kerja dipengaruhi oleh latar belakang
    keluarga, lingkungan masyarakat, budaya, dan nilai nilai agama
    yang dianutnya.
  15. Faktor dukungan organisasi
    Kinerja karyawan tergantung pada dukungan organisasi dalam
    bentuk pengorganisasian, penyediaan sarana dan prasarana kerja,
    pemilihan teknologi, kenyamanan lingkungan kerja, serta kondisi
    dan syarat kerja.
  16. Faktor dukungan manajemen
    Kinerja perusahaan dan kinerja setiap karyawan tergantung
    pada manajerial dari manajemen, dengan melakukan pembangunan
    sistem kerja dan hubungan industrial yang baik dan aman serta
    harmonis dan mengembangkan kompetensi pekerja. Kompetensi
    dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan dan motivasi para
    karyawan untuk bekerja secara optimal. Seluruh karyawan harus
    memahami dan memperhatikan setiap faktor-faktor diatas karena
    akan berdampak pada tercapaian tujuan atau target perusahaan dan
    organisasi

Indikator Kinerja Karyawan


Menurut Mathis dan Jackson (2004) dalam Ria dan Darman (2017:176)
indikator kinerja yang mempengaruhi Kinerja yaitu:

  1. Kuantitas kerja
  2. Kualitas Kerja
  3. Pemanfaatan waktu
  4. Tingkat kehadiran
  5. Kerjasama
    Menurut Robbins (2003) dalam Adi (2013) indikator kinerja yang
    mempengaruhi Kinerja yaitu:
  6. Kualitas kerja
  7. Kuantitas
  8. Waktu produksi (production time)
  9. Efektivitas
  10. Kemandirian
  11. Komitmen kerja

Pengertian Kinerja Karyawan


Menurut Ria dan Darman (2017:171) Kinerja adalah hasil dari kualitas
dan kuantitas kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan
tugas mereka yang sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.deskripsi ini mengungkapkan bahwa pekerjaan dilakukan oleh
seorang karyawan dalam melaksanakan tugas dapat dievaluasi dengan tingkat
kinerja yang diberikan, misalnya kinerja karyawan dapat ditentukan dari
pencapaian target spesifik selama periode dalam organisasi. Menurut
Prawirosentono (2008) dalam Hosnawati (2016) menyatakan bahwa kinerja
adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang kelompok orang dalam
suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab 39 masing-
masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisai bersangkutan secara
legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Menurut
Wirawan (2009:03) Kinerja juga merupakan keluaran yang dihasilkan oleh
fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam
waktu tertentu. Dari pernyataan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa
Kinerja adalah sebuah hasil kerja yang dicapai seorang individu dalam
melaksanakan tugas maupun pekerjaannya yang dapat di evaluasi dan
dipertanggungjawabkan

Fungsi Lingkungan Kerja


Fungsi lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga
kinerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja
dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan
dengan tepat. Artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan
dalam skala waktu yang ditentukan. Kinerjanya akan dipantau oleh individu
yang bersangkutan dan tidak akan membutuhkan terlalu banyak pengawasan
serta semangat juangnya akan tinggi. (Arep, 2003:103)

Indikator Lingkungan Kerja


Adapun indikator lingkungan kerja menurut (Sedarmayanti: 2001:46)
adalah sebagai berikut:

  1. Penerangan/cahaya ditempat kerja
  2. Temperatur/suhu udara ditempat kerja
  3. Kelembapan udara ditempat kerja
  4. Sirkulasi udara ditempat kerja
  5. Getaran mekanis ditempat kerja
  6. Bau tidak sedap ditempat kerja
  7. Tata warna ditempat kerja
  8. Dekorasi ditempat kerja
  9. Musik ditempat kerja
  10. Keamanan ditempat kerja
  11. Hubungan Karyawan

Pengertian Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja adalah kehidupan fisik, sosial, dan psikologi dalam
perusahaan yang memengaruhi kinerja dan produktivitas karyawan. Beberapa
ahli mendeskripsikan lingkungan kerja sebagai segala hal yang ada di sekitar
karyawan dan yang memengaruhi mereka dalam bekerja dan menjalankan
tugas. Ada juga ahli yang berpendapat bahwa lingkungan kerja adalah
keseluruhan alat dan perkakas yang dihadapi oleh karyawan, termasuk
lingkungan, metode kerja, dan pengaturan kerja sebagai seorang individu atau
kelompok.
Selain berupa lingkungan yang menjadi tempat di mana karyawan
bekerja, lingkungan kerja juga menjadi faktor yang bisa meningkatkan kinerja
karyawan atau bahkan menurunkan. Ketika karyawan bekerja di lingkungan
kerja yang baik, maka ide, produktivitas, dan kinerjanya bisa meningkat.
Sebaliknya, jika lingkungan kerja tidak baik dan tidak mendukung kinerja serta
produktivitasnya, maka kemampuan karyawan menghasilkan pekerjaan yang
baik akan menurun.
Jenis Lingkungan Kerja Dari pengertian lingkungan kerja yang telah
dijabarkan di atas, bisa disimpulkan bahwa lingkungan kerja tidak hanya
berupa benda fisik yang bisa disentuh dan dilihat. Lingkungan kerja juga
menjadi hal abstrak non-fisik yang memengaruhi kinerja seorang karyawan.
Fisik dan non- fisik ini kemudian bisa menjadi dua jenis lingkungan kerja.
Lingkungan kerja fisik adalah segala keadaan yang berbentuk secara
fisik yang berada di sekitar tempat kerja. Lingkungan kerja fisik dapat
memengaruhi produktivitas karyawan. Lingkungan kerja fisik dapat
digolongkan menjadi dua: lingkungan kerja yang berhubungan langsung dan
tidak langsung.
Menurut beberapa ahli juga mendefinisikan lingkungan kerja fisik
sebagai berikut:
Sedarmayanti (2001:21) adalah semua elemen atau keadaan yang ada
disekitar tempat kerja yang akan mempengaruhi pegawai baik secara langsung
maupun secara tidak langsung. Sementara pengertian.
Nitisemito (2002:183), lingkungan kerja fisik adalah segala sesuatu
yang ada disekitar karyawan, yang dapat mempengaruhi karyawan dalam
menjalankan tugas-tugas yang dibebankan.
Berdasarkan pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
lingkungan kerja fisik merupakan elemen atau keadaan yang ada disekitar
tempat kerja yang dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak
langsung kinerjakaryawan yang berada didalam lingkungan kerja tersebut.
Contoh lingkungan fisik yang berhubungan langsung adalah meja, kursi, mesin
fotokopi, dan yang lainnya. Sedangkan lingkungan kerja fisik yang tidak
berhubungan langsung atau membutuhkan perantara adalah kelembapan, suhu,
sirkulasi udara, pencahayaan, aroma ruangan, dan yang lain.
Lingkungan kerja non-fisik adalah keseluruhan hubungan yang
termasuk dalam urusan kerja. Seperti hubungan karyawan dengan pimpinan,
maupun hubungan karyawan dengan karyawan yang lain. Jenis lingkungan
kerja non-fisik utamanya berpengaruh juga dalam produktivitas karyawan.
Oleh sebab itu, perusahaan hendaknya wajib menciptakan lingkungan kerja
non-fisik yang mendukung kerja sama antar seluruh elemen dalam perusahaan.
Lingkungan kerja non-fisik setidaknya harus terbuka dan sportif supaya
karyawan merasa dihargai dan didukung. Bila lingkungan kerja non-fisik ini
tidak baik, maka kinerja akan terganggu.
Menurut beberapa ahli lingkungan kerja non-fisik memiliki beberapa
definisi sebagai berikut:
Sedarmayanti (2001:31), Lingkungan kerja non-fisik mencangkup
semua keadaan yang terjadi berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan
dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun hubungan
dengan bawahan
Nitisemito (2000:171-173) menyatakan bahwa perusahaan hendaknya
dapat menciptakan kondisi kerja yang mendukung kerja sama antara tingkat
atasan, bawahan maupun yang memiliki status jabatan yang sama di
perusahaan. Manajemen hendaknya mampu menciptakan suasana kerja yang
penuh dengan nuansa kekeluargaan dan komunikasi yang baik.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja
non-fisik merupakan hubungan antara individu satu dengan yang lain dalam
hubungan kerja, komunikasi serta Kerjasama yang baik agar menimbulkan
lingkungan kerja yang baik.
Pengaruh Lingkungan Kerja dengan Kinerja Karyawan Jenis
lingkungan kerja fisik maupun non-fisik sangat berpengaruh terhadap kinerja
dan produktivitas karyawan. Ketika karyawan berada di lingkungan yang
sangat mendukung ide kreatif nya, ia akan bekerja lebih efektif dan
menghasilkan pekerjaan yang maksimal. Sebaliknya, jika jenis lingkungan
kerja di mendukung karyawan dan keseluruhan operasional kerja, maka akan
sulit memperoleh sistem kerja yang efisien dan efektif.
Lingkungan Kerja Menurut Nitisemito (2002:183) definisi lingkungan
kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja, yang dapat
mempengaruhi seorang pekerja dalam menjalankan tugas-tugas yang di
berikan. Pada dasarnya pengertian lingkungan berkaitan dengan elemen-
elemen yang ada disekitar perusahaan yang berdampak secara langsung
maupun tidak langsung terhadap perusahaan. Dalam konteks lingkungan kerja
maka dapat didefinisikan sebagai elemen-elemen yang ada disekitar karyawan,
yang berdampak secara langsung dan tidak langsung terhadap kinerja
karyawan.
Definisi lingkungan perusahaan menurut Swastha dan Sukotjo
(2004:26- 27) yang menyatakan bahwa lingkungan perusahaan dapat diartikan
sebagai keseluruhan dari faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi organisasi
dan kegiatannya. Sedangkan definisi lingkungan kerja secara luas mencakup
semua faktor eksternal yang mempengaruhi individu, perusahaan, dan
masyarakat
Dari beberapa pengertian yang telah dipaparkan oleh ahli di bidang
sumber daya manusia tersebut dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja pada
dasarnya berkaitan dengan elemen-elemen atau berbagai macam faktor yang
ada di sekitar karyawan, yang berpengaruh baik secara langsung maupun tidak
langsung terhadap performa karyawan perusahaan. Oleh karena itu, menjadi
sebuah keharusan bagi manajemen perusahaan untuk memperhatikan secara
serius komponen lingkungan kerja agar tercipta lingkungan kerja yang
kondusif.

Indikator Motivasi


Dalam penelitian ini peneliti menggunakan indikator motivasi dari teori
Abraham H. Maslow. Mempunyai lima tingkat hirarki kebutuhan menurut
Siagian (2016:287), yaitu:

  1. Kebutuhan fisiologis.
    Berdasarkan hiraki kebutuhan maslow, kebutuhan manusia yang
    paling dasar dari manusia yang akan memotivasi mereka untuk
    bekerja adalah kebutuhan fisik. Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan
    makan, minum, perlindungan fisik.
  2. Kebutuhan Keamanan
    Kebutuhan manusia untuk mendapatkan rasa aman dari
    ancaman, bahaya, pertentangan, dan keberlangsungan nafkah.
  3. Kebutuhan sosial
    Kebutuhan manusia untuk memiliki teman, diterima dalam
    kelompok, berafliasi dan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai.
  4. Kebutuhan akan harga diri
    Kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri
    Kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, dan potensi,
    kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide
    memberi penilaiandan kritik terhadap sesuatu.

Pengertian Motivasi


Motivasi Kerja menurut Mangkunegara (2009:93) dalam (Fadillah et
al., n.d.) “Motivasi adalah suatu dorongan kebutuhan dalam diri pegawai yang
perlu dipenuhi agar pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya serta mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan
kata lain, motivasi 20 merupakan sebuah energi untuk membangkitkan
dorongan dalam diri guna mencapai tujuan tertentu”.
Sedangkan Motivasi menurut Sutrisno (2010:109) dalam Arif Yusuf
Hamali, S.S., M.M (2018:113) adalah sebagai berikut : “Motivasi adalah suatu
faktor yang mendorong seseoang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu,
oleh karena itu motivasi sering kali diartikan sebagai faktor pendorong perilaku
seseorang. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang pasti memiliki suatu
faktor yang mendorong aktivitas tersebut. Faktor pendorong dari seseorang
untuk melakukan suatu akivitas tertentu pada umumnya adalah kebutuhan serta
keinginan orang tersebut. Kebutuhan dan keinginan seseorang berbeda dengan
kebutuhan dan keinginan orang lain. Perbedaan kebutuhan dan keinginan
seseorang itu terjadi karena proses mental yang terjadi dalam diri orang
tersebut. Proses mental itu merupakan pembentukan persepsi pada diri orang
yang bersangkutan dan proses pembentukan persepsi diri pada hakikatnya
merupakan proses belajar seseorang terhadap segala sesuatu yang dilihat dan
dialaminya dari lingkungan yang ada di sekitarnya”.
Motivasi memilik komponen, yaitu komponen dalam dan komponen
luar. Komponen dalam adalah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa
tidak puas, ketegangan psikologis. Komponen luar adalah sesuatu yang
diinginkan seseorang, tujuan yang menjadi arah tingkah lakunya. Setiap
kegiatan yang dilakukan oleh seseorang tidak terlepas dari berbagai motif dan
sikap, yang mendorong seseorang melakukan serangkaian perbuatan yang
disebut kegiatan. Motif adalah daya timbul dari dalam diri orang yang
mendorong untuk berbuat sesuatu. Motif itu terdiri dari dua unsur. Unsur
pertama berupa daya pendorong untuk berbuat, dan unsur kedua adalah sasaran
atau tujuan yang akan diarahkan oleh perbuatan itu. Dua unsur dalam motif ini
membuat orang melakukan kegiatan sekaligus ingin mencapai apa yang
dikehendaki melalui kegiatan yang dilakukan itu. Motivasi datang dari dalam
diri manusia, oleh karena itu pemimpin organisasi perlu menciptakan kondisi
dimana karyawan dapat memotivasi dirinya 21 sendiri. Pemimpin perlu
memberikan alasan kepada karyawan untuk percaya diri sendiri dan organisasi
tempat karyawan bekerja. Semua organisasi dibangun diatas landasan pengikut
yang termotivasi untuk melayani organisasi.
Sedangkan Menurut Isniar Budiarti mengatakan bahwa pengertian
Motivasi adalah sebagai berikut: “Motivasi kerja dapat memberikan energi
yang menggerakkan segala potensi yang ada, menciptakan keinginan yang
tinggi dan luhur, serta meningkatkan kebersamaan. Masing-masing pihak
bekerja menurut aturan dan ukuran yang ditetapkan dengan saling
menghormati, saling membutuhkan, saling mengerti, dan menghargai hak dan
kewajiban masing-masing dalam keseluruhan proses kerja, sehingga tenaga
kerja secara produktif dapat berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya oleh perusahaan”. Selajutnya menurut Lita Wulantika (2012:45)
Motivasi merupakan motor penggerak yang berada dalam diri manusia, sangat
penting untuk terus menerus digerakkan karena dengan motivasi kehidupan
manusia akan lebih baik

Pengaruh Work-Life Balance Terhadap Kinerja Karyawan



Semakin baik kemampuan karyawan untuk memposisikan
diri, membagi waktu untuk bekerja dan keluarga maka kinerja
karyawan juga akan semakin meningkat. Saina et al. (2016)
menerangkan bahwa work-life balance mampu meberikan manfaat
untuk individu atau karyawan agar lebih produktif dan sehat dalam
menjalani kehidupan pribadi dan profesional

Pengaruh Organizational Culture Terhadap Kinerja Karyawan


Semakin baik pemahaman karyawan akan tugas dan
tanggung jawab yang harus dikerjakan sesuai dengan nilai, visi dan
misi perusahaan maka kinerja karyawan juga akan meningkat.
Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian Deal dan
Kennedy (2010) menggambarkan bagaimana yang kuat mampu
membantu pegawai mengerjakan tugasnya dengan lebih baik
sehingga pegawai yang terlatih dalam budaya kerja akan mampu
memecahkan permasalahan dengan bantuan keahlian atau
keterampilan yang dimiliki.

Pengaruh Leader Member Exchange Terhadap KinerjaKaryawan


Semakin baik hubungan kerja antara pimpinan dan
karyawan maka kinerja karyawan juga meningkat. Pada penelitian
terdahulu diperoleh hasil kinerja yang dihasilkan pegawai
dipengaruhi adanya kualitas leader member exchange yang ada
(Herlambang, 2017). Sejalan dengan Robbin (2015) yang
menjelaskan bahwa leader member exchange dengan kualitas
tinggi hubungan antara pemimpin dengan bawahan akan
memberikan hasil positif seperti kinerja yang lebih baik

Indikator Work-Life Balance


Menurut McDonald dan Bradley (2005 : 3) ada tiga
indikator work-life balance yakni sebagai berikut :
a. Keseimbangan Waktu (Time Balance).
Merupakan salah satu aspek yang membentuk suatu
keseimbangan atau kesetaraan antara waktu yang diberikan
untuk bekerja atau karir dengan waktu yang diberikan pada
diri sendiri dan keluarga.
b. Keseimbangan Keterlibatan (Involvement Balance).
Membentuk pada psikologis individu dalam
menyeimbangkan antara diri sendiri, keluarga dan karir dan
komitmennya terhadap keputusan yang dipilih terhadap
work life balance. Keterlibatan psikologis ini berperan
penting dalam keputusan individu untuk menyeimbangkan
kehidupannya, sehingga tidak terjadi suatu konflik dan
kebingungan dalam melaksanakan tiga keseimbangan
tersebut.
c. Keseimbangan Kepuasan (Satisfaction Balance).
Membentuk tingkat kepuasan individu dalam
keseimbangannya terhadap diri sendiri, keluarga, dan karir.
Kepuasan terhadap berhasil atau tidaknya individu dalam
menyeimbangkan kehidupan kerja dan kehidupan
pribadinya

Faktor yang Mempengaruhi


Menurut Schabracq, dkk., (2003) ada beberapa faktor
yang mungkin saja mempengaruhi keseimbangan kehidupan
kerja (work-life balance) seseorang, yaitu :
a. Karakteristik Kepribadian
Berpengaruh terhadap kehidupan kerja dan di luar
kerja. Menurut Summer & Knight (dalam Novelia, 2013)
terdapat hubungan antara tipe attachment yang didapatkan
individu ketika masih kecil dengan work-life balance.
Summer & Knight menyatakan bahwa individu yang
memiliki secure attachment cenderung mengalami positive
spillover dibandingkan individu yang memiliki insecure
attachment.
b. Karakteristik Keluarga.
Menjadi salah satu aspek penting yang dapat
menentukan ada tidaknya konflik antara pekerjaan dan
kehidupan pribadi.
c. Karakteristik Pekerjaan.
Meliputi pola kerja, beban kerja dan jumlah waktu
yang digunakan untuk bekerja dapat memicu adanya
konflik, baik konflik dalam pekerjaan maupun konflik dala
kehidupan pribadi.
d. Sikap
Merupakan evaluasi terhadap berbagai aspek dalam
dunia sosial. Baron & Bryne (2005) menjelaskan dimana
dalam sikap terdapat komponen seperti pengetahuan,
perasaan-perasaan dan kecenderungan untuk bertinda

Pengertian Work-Life Balance
Menurut Clarke (2015 : 65) Work-Life Balance
merupakan hubungan antara keseimbangan waktu dan usaha
yang dikhususkan untuk pekerjaan dan aktivitas pribadi, untuk
menjaga keseluruhan harmoni dalam kehidupan. Work-Life
Balance adalah usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk
menyesuaikan pola kerja dari karyawan agar dapat
menjalankan urusan tanggung jawab mereka di rumah dengan
pekerjaan yang mereka lakukan di perusahaan agar bisa jalan
seimbang (Weerakkod & Mendis, 2017).
Vyas & Shrivastava (2017) juga menjelaskan bahwa
work-life balance mengacu pada individu yang memiliki cukup
waktu untuk memiliki keseimbangan dalam pekerjaan dan
kehidupan pribadi, seperti dapat menghabiskan waktu bersama
anggota keluarga, mendapatkan waktu luang untuk bersantai,
adanya komunikasi yang baik dengan rekan kerja, dan mampu
menyelesaikan pekernjaannya dengan baik.
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan
bahwa work life balance adalah kemampuan karyawan untuk
mengatur keseimbangan dalam pekerjaan dan kehidupan
pribadi. Keseimbangan disini berarti tidak ada waktu yang
dirugikan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi
sehingga karyawan dapat beraktivitas dengan nyaman tanpa
paksaan

Indikator Organizational Culture


Menurut Edison (2016 : 131) ada empat indikator
organizational cultur yakni sebagai berikut :
a. Kesadaran Diri.
Anggota organisasi dengan kesadarannya bekerja
untuk mendapatkan kepuasan dari pekerjaan mereka,
mengembangkan diri, menaati aturan, serta menawarkan
produk-produk berkualitas.
b. Keagresifan.
Anggota organisasi menetapkan tujuan yang
menantang tapi realistis. Mereka menetapkan rencana
kerja dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut serta
mengejarnya dengan antusias.
c. Kepribadian.
Anggota bersikap saling menghormati, ramah,
terbuka, dan peka terhadap kepuasan kelompok serta
sangat memperhatikan aspek-aspek kepuasan pelanggan,
baik pelanggan internal maupun eksternal.
d. Orientasi Tim.
Anggota organisasi melakukan kerjasama yang baik
serta melakukan komunikasi dan koordinasi yang efektif
dengan keterlibatan aktif para anggota, yang pada
gilirannya mendapatkan hasil kepuasan tinggi serta
komitmen bersama

Faktor yang Mempengaruhi Budaya Organisasi


Menurut Vijay Sathe dengan melihat asumsi dasar yang
diterapkan dalam suatu organisasi yang membagi “Sharing
Assumption” (loc.cit Vijay Sathe, p. 18) Sharing berarti berbagi
nilai yang sama atau nilai yang samadianut oleh sebanyak
mungkin warga organisasi. Asumsi nilai yang berlaku sama ini
dianggap sebagai faktor-faktor yang membentuk yang dapat dibagi menjadi :
a. Share thing, misalnya pakaian seragam seperti pakaian
Korpri untuk PNS, batik PGRI yang menjadi ciri khas
organisasi tersebut.
b. Share saying, misalnya ungkapan-ungkaoan bersayap,
ungkapan slogan, pemeo seperti didunia pendidikan terdapat
istilah Tut Wuri Handayani, Baldatun thoyibatun wa robbun
ghoffur di perguruan Muhammadiyah.
c. Share doing, misalnya pertemuan, kerja bakti, kegiatan sosial
sebagai bentuk aktivitas rutin yang menjadi ciri khas suatu
organisasi seperti istilah mapalus di Sulawesi, nguopin di
Bali.
d. Share feeling, turut bela sungkawa, aniversary, ucapan
selamat, acara wisuda mahasiswa, dan lain sebagainya

Definisi Organizational Culture


Menurut Schwartz & Davis (1981) budaya organisasi
merupakan pola kepercayaan dan harapan yang dianut oleh
anggota organisasi. Kepercayaan dan harapan tersebut
menghasilkan nilai-nilai yang dengan kuat membentuk perilaku
para individu dan kelompok-kelompok anggota organisasi.
Budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh
organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah,
membentuk pegawai yang mampu beradaptasi dengan
lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi
(Schein, 2012 : 12). Tunstall (1983) mendefinisikan budaya
organisasi sebagai konstelasi umum mengenai kepercayaan,
kebiasaan, nilai, norma perilaku, dan cara melakukan bisnis yang
unik bagi setiap organisasi yang mengatur pola aktivitas dan
tindakan organisasi, serta melukiskan pola implisit, perilaku, dan
emosi yang muncul yang menjadi karakteristik dalam organisasi.
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan
bahwa budaya organisasi merupakan aturan-aturan yang harus
dipahami dan dijalani oleh karyawan terkait visi, misi, dan
tujuan perusahaan. Hal ini memiliki arti bahwa jika karyawan
bekerja sesuai dengan aturan perusahaan, maka pekerjaan akan
berjalan dengan baik dan karyawan tidak seenaknya sendiri
dalam bekerja sehingga nantinya tujuan perusahaan dapat
dicapai dengan baik

Indikator Leader Member Exchange


Menurut Graen & Uhl-Bien (1995) yang dikembangkan
dari angket LMX-7 ada tiga indikator leader member exchange
yakni sebagai berikut :
a. Respect sebagai syarat pembentukan hubungan antara atasan
dan bawahan. Respect akan diukur dengan sub-indikator
sebagai berikut :
1) Pemimpin mengetahui permasalahan dan kebutuhan dalam
pekerjaan karyawan sehingga timbul rasa hormat pada
karyawan terhadap pemimpin.
2) Pemimpin mengakui dan menghargai potensi karyawan
sehingga karyawan juga menghargai pemimpin.
b. Trust, tanpa ada rasa saling percaya yang saling timbal balik
maka hubungan antara atasan dan bawahan akan sulit
terbentuk.
1) Karyawan memiliki rasa percaya untuk dapat berpihak atau
membela pemimpinnya dan sebaliknya.
2) Karyawan dipercaya untuk dapat melakukan pekerjaan
secara independen oleh pemimpin artinya terdapat unsur
kepercayaan pemimpin kepada kinerja karyawan.
c. Obligation, pengaruh kewajiban akan berkembang menjadi
suatu hubungan kerja antara atasan dengan bawahan.
1) Pemimpin bersedia menolong karyawan dalam
menyelesaikan masalah pekerjaan.
2) Pemimpin bersedia menjamin karyawan yang berada dalam
masalah dengan apa yang ia miliki.
3) Karyawan memiliki keyakinan terhadap pemimpinnya
sehingga karyawan akan membela dan mempertahankan
keputusan pemimpin. Hubungan kerja antara pemimpin dan
karyawan yang efektif

Faktor yang Mempengaruhi Leader Member Exchange


Menurut Grand Theory Dienesch dan Liden (1986),
teori Leader Member Exchange melibatkan tiga dimensi utama,
yaitu :
a. Afeksi (Affection)
Afeksi merupakan interaksi sebagai wujud kepedulian
yang dimiliki pimpinan dengan pegawai yang selanjutnya
akan saling berdampak pada kualitas interaksi interpersonal
dan profesionalisme dalam bekerja.
b. Kontribusi (Contribution)
Kontribusi adalah sebuah persepsi baik secara eksplisit
maupun inplisit mengenai aktivitas seseorang berfokus
kepada pelaksanaan fungsi yang bertujuan pada tercapainya
tujuan organisasi.
c. Loyalitas (Loyality)
Loyalitas adalah sebuah wujud pemberian dukungan
pada tujuan serta karakteristik pribadi pada sebuah interaksi
timbal balik antara pimpinan dengan pegawainya. Loyalitas
meliputi konsistensi rasa setia pada seorang pegawai

Definisi Leader Member Exchange


Menurut Luthans (2008) leader member exchange
merupakan hubungan yang terjalin antara atasan dan bawahan
yang saling mempengaruhi untuk meningkatkan kinerja
keduanya dari waktu ke waktu, dalam diri mereka akan timbul
rasa diterima dalam organisasi, dengan begitu mereka nantinya
akan bekerja dengan sepenuh hati demi mencapai tujuan
organisasi. Leader member exchange (LMX) merupakan
peningkatan kualitas hubungan antara supervisi dengan
pegawai akan mampu meningkatkan kerja keduanya (Heilmann
dkk, 2016).
Uhl-Bien dkk (2014) menjelaskan bahwa Leader
member exchange (LMX) merupakan perilaku pegawai
terhadap perusahaan mempunyai peran penting terhadap
keberhasilan sebuah organisasi. Perlakuan yang baik terhadap
pegawai akan mampu menciptakan perasaan suka rela pada diri
pegawai untuk bisa berkorban bagi perusahaan. Selain itu,
melalui perlakuan khusus yang positif akan mampu
meningkatkan kontribusi pegawai pada perusahan di mana
pegawai bekerja.
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan
bahwa leader member exchange adalah hubungan antara atasan
dan bawahan yang bertujuan untuk mencapai keberhasilan
perusahaan. Hubungan ini berupa kerja sama, saling
memotivasi, serta dukungan terkait kontribusi dalam pekerjaan
mereka

Indikator Kinerja Karyawan


Menurut Mangkunegara (2011 : 75) ada empat
indikator kinerja karyawan yakni sebagai berikut :
a. Kualitas Kerja.
Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan
mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.
b. Kuantitas Kerja.
Kuantitas kerja adalah seberapa lama seorang pegawai
bekerja dalam satu harinya. Kuantitas kerja dapat dilihat
dari kecepatan setiap pegawai.
c. Pelaksanaan Tugas.
Pelaksanaan tugas adalah seberapa jauh karyawan
mampu melakukan pekerjaannya dengan akurat dan tidak
ada kesalahan.
d. Tangung Jawab.
Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran
akan kewajiban karyawan untuk melaksanakan pekerjaan
yang diberikan perusahaan

Faktor yang Mempengaruhi


Kinerja karyawan dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Menurut Handoko (2001 : 193) kinerja karyawan
dipengaruhi oleh :
a. Motivasi
Merupakan faktor pendorong penting yang
menyebabkan manusia bekerja adalah adanya kebutuhan
yang harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan ini
berhubungan dengan sifat hakiki manusia untuk
mendapatkan hasil terbaik dalam kerjanya.
b. Kepuasan Kerja.
Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang
terhadap pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dari sikap positif
karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang
dihadapi lingkungan.
c. Tingkat Stres.
Stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang
mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi
sekarang. Tingkat stres yang terlalu besar dapat
mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi
lingkungan sehingga dapat mengganggu pelaksanaan
pekerjaan mereka.
d. Kondisi Pekerjaan.
Kondisi pekerjaan yang dimaksud dapat
mempengaruhi kinerja disini adalah tempat kerja, ventilasi,
serta penyinaran dalam ruang kerja.
e. Sistem Kompensasi.
Kompensasi merupakan tingkat balas jasa yang
diterima oleh karyawan atas apa yang telah dilakukannya
untuk perusahaan.
f. Desain Pekerjaan.
Desain pekerjaan merupakan fungsi penetapan
kegiatan-kegiatan kerja seorang individu atau kelompok
karyawan secara organisasional. Desain pekerjaan harus
jelas agar karyawan dapat bekerja dengan baik sesuai
dengan bidangnya masing-masing

Definisi Kinerja


Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan perusahaan dilihat dari segi
kualitas maupun kuantitas (Mangkunegara, 2013). Menurut
Metin & Asli (2018) kinerja merupakan bentuk realisasi dari
pencapaian visi dan misi perusahaan dan bisa menjadi alat ukur
untuk setiap individu, kelompok, maupun unit kerja agar bisa
mencapai atau bahkan melebihi target produksi yang ditetapkan
sebelumnya.
Adriyani & Surjanti (2007) juga menjelaskan bahwa
kinerja karyawan adalah kemampuan karyawan untuk
melakukan pekerjaan dengan cara tertentu yang mengarahkan
ke organisasi dan karyawan untuk mencapai tujuan bersama.
Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak
mereka memberikan kontribusi kepada organisasi yang antara
lain termasuk kuantitas output, kualitas output, jangka waktu
output, kehadiran di tempat kerja, sikap kooperatif (Mathis,
2000)

Work Engagement


Spitzmueller dan Luksyte (2015) mendefinisikan work engagement
sebagai suatu keadaan di mana karyawan merasa terikat secara
emosional, kognitif, dan perilaku terhadap pekerjaan mereka dan
organisasi tempat mereka bekerja. Lebih lanjut, ditambahkan bahwa
work engagement juga melibatkan perasaan positif, seperti semangat,
gairah, dan antusiasme terhadap pekerjaan. Sedangkan menurut Bakker
dan Demerouti (2013), work engagement adalah keadaan ketika
karyawan merasa terikat secara emosional dan kognitif terhadap
pekerjaan mereka, yang menghasilkan perasaan positif tentang pekerjaan
dan organisasi, serta menghasilkan keinginan untuk memberikan
kontribusi yang optimal.
Menurut Saks (2015), work engagement dapat diartikan sebagai
kondisi psikologis positif yang mencakup keterlibatan kognitif, afektif,
dan perilaku yang tinggi dalam pekerjaan. Keterlibatan kognitif
melibatkan fokus dan konsentrasi pada pekerjaan, keterlibatan afektif
melibatkan perasaan positif terhadap pekerjaan, dan keterlibatan perilaku
melibatkan upaya dan aktivitas yang dilakukan dalam pekerjaan.
Sementara itu, Hakanen dan Schaufeli (2017) berpendapat bahwa work
engagement adalah suatu keadaan psikologis positif yang mencakup tiga
dimensi, yaitu vigor (energi dan ketekunan dalam bekerja), dedication
(keterikatan dan kepercayaan pada pekerjaan), dan absorption
(keterlibatan total dalam pekerjaan). Work engagement juga melibatkan
perasaan positif terhadap pekerjaan dan keterlibatan yang tinggi dalam
pekerjaan.
Work Engagement meliputi 3 (tiga) dimensi yang umumnya
dikemukakan oleh para ahli. Berikut adalah penjelasan 3 (tiga) dimensi
work engagement menurut Xanthopoulou, et al. (2019), yaitu:

  1. Vigor (energi dan ketekunan dalam bekerja)
    Vigor mengacu pada tingkat energi yang tinggi dan ketekunan
    dalam bekerja. Seseorang yang memiliki vigor dalam bekerja
    merasa kuat, bertenaga, dan terus-menerus bersemangat dalam
    menjalankan tugas-tugasnya. Mereka merasa energik dan tidak
    cepat merasa lelah dalam melaksanakan tugas-tugas yang
    dihadapinya.
  2. Dedication (keterikatan dan kepercayaan pada pekerjaan)
    Dedikasi merujuk pada tingkat keterikatan seseorang pada
    pekerjaannya. Seseorang yang memiliki dedikasi pada
    pekerjaannya merasa terlibat secara emosional dalam
    pekerjaannya dan memiliki kepercayaan pada tujuan organisasi
    atau perusahaan tempatnya bekerja. Mereka merasa pekerjaannya
    penting dan merasa bahwa pekerjaannya memberikan makna dan
    kepuasan dalam hidupnya.
  3. Absorption (keterlibatan total dalam pekerjaan)
    Absorption merujuk pada tingkat keterlibatan total seseorang
    dalam pekerjaannya. Seseorang yang memiliki absorption dalam
    bekerja merasa terlibat sepenuhnya dalam pekerjaannya, dengan
    menyerap dan meresapi tugas-tugasnya. Mereka merasa tertarik
    dan terus-menerus terlibat dalam tugas-tugasnya hingga waktu
    yang cukup lama.
    Panteli, et al. (2018) berpendapat bahwa work engagement ditandai
    dengan energi yang meningkat dan identifikasi yang menguat dengan
    rekan di tempat kerja. Hal tersebut berkaitan dengan meningkatnya
    produktivitas, kinerja yang membaik, dan suksesnya organisasi. Work
    engagement dapat membantu perusahaan memprediksi keberhasilan
    organisasi, kinerja finansial, dan produktivitas karyawan (Bates, 2004,
    dalam Yudiani, 2017).
    Pengertian work engagement menurut para ahli di atas menunjukkan
    bahwa work engagement melibatkan perasaan positif, seperti
    kegembiraan, semangat, dan antusiasme, serta keterlibatan emosional
    dan kognitif yang kuat terhadap pekerjaan dan organisasi. Work
    engagement juga menciptakan keinginan untuk memberikan kontribusi
    yang optimal, meningkatkan kinerja, dan motivasi positif bagi karyawan.
    Adapun dalam definisi work engagement yang menjadi acuan dalam
    penelitian ini adalah menurut Hakanen dan Schaufeli (2017) berpendapat
    bahwa work engagement adalah suatu keadaan psikologis positif yang
    mencakup tiga dimensi, yaitu vigor (energi dan ketekunan dalam
    bekerja), dedication (keterikatan dan kepercayaan pada pekerjaan), dan
    absorption (keterlibatan total dalam pekerjaan). Work engagement juga
    melibatkan perasaan positif terhadap pekerjaan dan keterlibatan yang
    tinggi dalam pekerjaan

Role Overload


Role overload adalah suatu kondisi di mana individu merasa
terbebani dengan terlalu banyak tugas atau tanggung jawab yang harus
dijalankan dalam waktu yang terbatas. Role overload seringkali terjadi
ketika tugas yang diberikan melebihi kapasitas individu atau ketika
individu tidak memiliki kontrol atas jadwal atau prioritas tugas yang
harus dijalankan (Robbins & Judge, 2017). Sedangkan Jamal dan
Colleague (2015) memberikan definisi bahwa role overload adalah
ketika individu merasa terlalu banyak tugas atau tanggung jawab yang
harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas, sehingga tidak mungkin
untuk melakukan tugas tersebut secara efektif dan efisien.
Menon dan Shrivastava (2021) menyatakan bahwa role overload
adalah keadaan di mana seseorang memiliki terlalu banyak tanggung
jawab dan tugas yang harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas,
sehingga mengalami kesulitan dalam memenuhi semua tuntutan tersebut.
Mereka menekankan bahwa role overload dapat berdampak negatif pada
kesejahteraan psikologis individu, seperti stres, kelelahan, dan bahkan
burnout.
Menurut beberapa penelitian, role overload dapat menjadi faktor
risiko dalam terjadinya stres kerja dan kelelahan, yang pada akhirnya
dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis dan kesehatan
fisik individu. Oleh karena itu, manajemen organisasi perlu
memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya
role overload dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi beban
kerja yang berlebihan pada karyawan (Brough et al., 2019).
Adapun definisi role overload yang dipakai dalam penelitian ini
mengacu pada pengertian yang dikemukakan oleh Menon dan
Shrivastava (2021) yang menyatakan bahwa role overload adalah
keadaan di mana seseorang memiliki terlalu banyak tanggung jawab dan
tugas yang harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas, sehingga
mengalami kesulitan dalam memenuhi semua tuntutan tersebut. Mereka
menekankan bahwa role overload dapat berdampak negatif pada
kesejahteraan psikologis individu, seperti stres, kelelahan, dan bahkan
burnout

Leader-Member Exchange


Leader-Member Exchange (LMX) adalah suatu proses interaksi
antara pemimpin dan anggota timnya, di mana pemimpin
memperlakukan anggota timnya secara berbeda tergantung pada
hubungan yang terjalin antara keduanya. LMX dipandang sebagai faktor
yang penting dalam mempengaruhi kepuasan kerja dan kinerja anggota
tim (Liao et al, 2015). Sedangkan menurut Chen et al. (2021), Leader-
Member Exchange (LMX) adalah suatu hubungan sosial antara
pemimpin dan anggota timnya yang didasarkan pada saling pengertian,
kepercayaan, dan dukungan. LMX dipandang sebagai faktor yang
penting dalam mempengaruhi kinerja dan kepuasan kerja anggota tim
serta kesuksesan organisasi secara keseluruhan.
Graen dan Uhl-Bien (2015) juga berpendapat bahwa Leader-
Member Exchange (LMX) adalah suatu proses di mana pemimpin
membentuk hubungan yang berbeda dengan setiap anggota timnya.
Konsep ini menekankan bahwa hubungan antara pemimpin dan anggota
tim bukanlah sama untuk semua orang dalam tim, melainkan didasarkan
pada tingkat kepercayaan, saling pengertian, dan kesesuaian antara
pemimpin dan anggota tim.
Menurut Liden dan Maslyn (2018), Leader-Member Exchange
(LMX) adalah suatu konsep yang mencakup hubungan interpersonal
antara pemimpin dan anggota timnya yang terbentuk dalam proses kerja
yang berlangsung lama. LMX dapat diartikan sebagai hubungan yang
erat dan berkelanjutan antara pemimpin dan anggota timnya, yang
didasarkan pada saling percaya, dukungan, dan pengertian antara
keduanya. Liden & Maslyn (2013) menambahkan bahwa Leader-
Member Exchange (LMX) dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu high
LMX dan low LMX. High LMX mengacu pada hubungan yang erat
antara pemimpin dan anggota tim, sementara low LMX mengacu pada
hubungan yang kurang dekat antara keduanya.
Leader-Member Exchange (LMX) juga dapat dipahami sebagai
suatu konsep yang mencakup tingkat kepercayaan, penghargaan, dan
dukungan yang diberikan oleh pemimpin kepada anggota timnya, serta
kepercayaan, dedikasi, dan komitmen yang diberikan oleh anggota tim
kepada pemimpin mereka (Tepper & colleague, 2018).
Berdasarkan beberapa definisi menurut para ahli di atas, peneliti
memakai definisi yang dikemukakan oleh Liao et al. (2015) bahwa
Leader-Member Exchange (LMX) adalah suatu proses interaksi antara
pemimpin dan anggota timnya, di mana pemimpin memperlakukan
anggota timnya secara berbeda tergantung pada hubungan yang terjalin
antara keduanya. Leader-Member Exchange (LMX) dipandang sebagai
faktor yang penting dalam mempengaruhi kepuasan kerja dan kinerja
anggota tim

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Gary Dessler dalam bukunya “Human Resource
Management” (2013), fungsi manajemen sumber daya manusia (SDM)
meliputi:

  1. Perencanaan SDM: merencanakan kebutuhan sumber daya
    manusia jangka pendek dan jangka panjang perusahaan.
  2. Pemerataan SDM: menata sumber daya manusia pada posisi yang
    sesuai dengan kualifikasi dan keahliannya.
  3. Pengembangan SDM: meningkatkan kapasitas sumber daya
    manusia dengan memberikan pelatihan, pendidikan dan
    pengembangan keterampilan.
  4. Evaluasi kinerja SDM: mengukur tingkat kinerja sumber daya
    manusia dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya,
    serta memberikan umpan balik dan rekomendasi perbaikan.
  5. Penghargaan SDM: memberikan penghargaan dan insentif
    kepada sumber daya manusia yang berkinerja baik, sehingga
    meningkatkan motivasi dan loyalitas karyawan.
  6. Pengawasan SDM: mengawasi dan mengendalikan perilaku dan
    kinerja sumber daya manusia dalam organisasi.
    Untuk mencapai tujuan organisasi, manajemen sumber daya manusia
    memiliki peran yang sangat penting. Fungsi-fungsi yang disebutkan di
    atas membantu perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia
    secara efektif dan efisien, dengan tujuan untuk mencapai keuntungan
    yang lebih optimal. Dengan melaksanakan manajemen sumber daya
    manusia yang baik, perusahaan dapat meningkatkan kinerja karyawan,
    mengurangi biaya, dan meningkatkan produktivitas

Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia adalah proses perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (leading), dan
pengendalian (controlling) terhadap sumber daya manusia dalam
organisasi (Stephen P. Robbins, 2017). Sedangkan, Mondy dan Noe
(2018) menyebutkan bahwa manajemen sumber daya manusia
melibatkan pengelolaan sumber daya manusia di dalam suatu organisasi
dengan maksud untuk meningkatkan kinerja karyawan dan organisasi
secara menyeluruh.
Selain itu, Bernardin dan Russell (2013) mengartikan manajemen
sumber daya manusia merupakan proses pengelolaan sumber daya
manusia di dalam suatu organisasi yang meliputi perencanaan tenaga
kerja, perekrutan, seleksi, pelatihan, pengembangan, evaluasi kinerja,
dan penggajian. Menurut Gary Johns (2017), manajemen sumber daya
manusia adalah pengelolaan sumber daya manusia dalam suatu
organisasi yang ditujukan untuk mewujudkan efektifitas dan efisiensi
penggunaan sumber daya manusia.
Penelitian ini menggunakan definisi manajemen sumber daya
manusia menurut Gary Johns (2017) yaitu Manajemen sumber daya
manusia adalah pengelolaan sumber daya manusia dalam suatu
organisasi yang ditujukan untuk mewujudkan efektifitas dan efisiensi
penggunaan sumber daya manusia

Fungsi Manajemen


Menurut Griffin (2015), terdapat 4 (empat) fungsi manajemen, antara
lain:

  1. Perencanaan (Planning)
    Perencanaan terdiri dari serangkaian langkah dalam menyusun
    strategi untuk mencapai tujuan, menetapkan tujuan organisasi
    dan merencanakan kegiatan kerja yang akan dilakukan oleh
    organisasi.
  2. Pengorganisasian (Organizing)
    Pengorganisasian melibatkan proses penempatan sumber daya di
    lingkungan kerja dengan mempertimbangkan kemampuan dan
    keterampilan individu yang ada.
  3. Memimpin (Leading)
    Memimpin melibatkan proses menetapkan tugas dan rutinitas
    yang jelas, mengkomunikasikan aturan dan kebijakan yang
    ditetapkan untuk memastikan bahwa pekerjaan dan kegiatan yang
    dilakukan berjalan sesuai rencana dan mencapai tujuan yang telah
    ditetapkan.
  4. Pengendalian (Controlling)
    Pengendalian adalah proses untuk memverifikasi bahwa semua
    kegiatan yang direncanakan dilakukan sesuai dengan rencana dan
    tujuan yang telah ditetapkan

Manajemen


Manajemen merupakan proses pengawasan dan koordinasi kegiatan
kerja untuk mencapai kinerja yang efektif dan efisien. Tanggung jawab
tersebut biasanya diemban oleh seorang manajer yang bertujuan untuk
mencapai efektivitas dan efisiensi dalam pekerjaan. Efisiensi mengacu
pada pencapaian hasil maksimal dengan kesalahan yang minimal,
sementara efektivitas berarti melakukan pekerjaan dengan baik dan
mencapai hasil yang baik (Robbins & Coulter, 2014).
Sedangkan menurut Kinicki dan William (2016), Manajemen adalah
suatu proses yang melibatkan sekelompok orang untuk tujuan mencapai
efektivitas dan efisiensi organisasi dengan merencanakan (planning),
mengorganisasikan (organiziong), memimpin (leading), dan
mengendalikan (controlling) sumber daya organisasi. Efisiensi dalam
konteks ini berarti bijaksana menggunakan sumber daya yang tersedia
seperti tenaga kerja, modal dan bahan baku. Pada saat yang sama,
efektivitas berarti menjadi sarana yang efektif untuk mencapai hasil,
membuat keputusan yang tepat, dan menerapkannya dengan sukses
untuk mencapai tujuan organisasi.
Manajemen adalah sekumpulan kegiatan yang meliputi
perencanaan, pengambilan keputusan, pengorganisasian, memimpin dan
mengendalikan sumber daya organisasi dengan tujuan mencapai tujuan
organisasi secara efektif dan efisien (Griffin, 2016).
Berdasarkan definisi menurut para ahli di atas, maka peneliti
menggunakan definisi yang dikemukakan oleh Kinicki dan William
(2016), yaitu manajemen adalah proses menghimpun sekelompok orang
untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien dengan
merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), memimpin
(leading), dan mengendalikan (controlling) sumber daya organisasi.
Efisiensi dalam konteks ini berarti menggunakan sumber daya yang
tersedia, seperti manusia, uang, dan bahan baku secara bijak. Sedangkan,
efektif berarti menjadi sarana yang efektif untuk mencapai hasil,
membuat keputusan yang tepat, dan berhasil menerapkannya untuk
mencapai tujuan organisas

Dimensi Leader Member Exchange


Pendekatan baru mengenai studi kepemimpinan di dalam perusahaan telah
dikembangkan dan diteliti oleh Graen dan koleganya sekitar tahun 1970.
Pendekatan yang pada awalnya disebut teori Vertical Dyad Linkage (VDL)
kemudian lebih dikenal sebagai Leader-Member Exchange (LMX) atau
pertukaran pemimpin-anggota (Dienech dan Liden, 1986). Dasar pemikiran teori
LMX adalah bahwa di dalam unit kerja, supervisor mengembangkan tipe
hubungan yang berbeda dengan bawahannya (Erdogan et al., 2002).
LMX menyediakan cara yang berguna untuk mengkonseptualisasikan
hubungan antara pemimpin dan persepsi bawahan terhadap keadilan. Tyler
mengatakan bahwa meningkatnya kesempatan untuk mengekspresikan opini
ditunjukkan dengan mempertinggi persepsi keadilan bawahan dan evaluasi
bawahan terhadap kemampuan kepemimpinan atasan, khususnya ketika bawahan
memiliki pengendalian keputusan yang rendah (Pillai et al., 1999).
Kualitas hubungan menentukan jumlah usaha fisik maupun mental,
sumberdaya material, informasi dan dukungan sosial yang dipertukarkan antara
supervisor dan bawahannya (Liden et al., 1993 dalam Erdogen et al., 2002).
Hubungan akan berkembang di dalam pertukaran kualitas tinggi yang diwujudkan
dengan tingkat saling percaya dan hormat yang tinggi, dan kualitas rendah
didasarkan pada kontrak kerja formal.
Truckenbrodt (2000) menyatakan bahwa leader member exchange
difokuskan pada penilaian terhadap hubungan dan interaksi antara supervisor
(atasan) dan bawahan. Tingkat kedekatan dari hubungan antara pimpinan dan
bawahan ini yang menunjukkan adanya indikasi dari leader member exchange di
perusahaan dalam sebuah organisasi, dimungkinkan terdapat hubungan yang
berbeda antara pimpinan dengan karyawan yang menjadi anak buahnya.
Menurut Robbins (2007: 368), akibat dari tekanan waktu, pemimpin
menetapkan bahwa adanya sebuah hubungan khusus dengan suatu group yang
terdiri dari beberapa pengikutnya. Group ini dibagi menjadi dua, pertama disebut
dengan in group, yang terdiri dari orang-orang yang dipercaya dan mendapat
ketidakseimbangan dalam hal ini perhatian dari seorang leader dan cenderung
mendapatkan hak-hak khusus. Yang kedua disebut dengan out group. Mereka
mendapat sedikit dari waktu yang diberikan oleh leadernya, sedikit kontrol yang
diberikan oleh leader dalam hal pemberian penghargaan, dan hubungan leader
dengan out group berdasarkan pada hubungan wewenang yang formal. Agar
hubungan leader member exchange tetap utuh, pemimpin dan pengikutnya harus
saling mengerti bagaimana cara membina hubungan yang baik.
Menurut Morrow, et al (2005: 682) bahwa leader member exchange
merupakan peningkatan kualitas hubungan antara supervisi dengan karyawan
akan mampu meningkatkan kerja keduanya. Namun realitasnya, hubungan antara
karyawan dan supervisi dapat dikelompokkan pada dua hubungan yaitu hubungan
yang baik dan hubungan yang buruk. Hubungan yang baik akan menciptakan
kepercayaan karyawan, sikap positif, dan loyalitas, namun hubungan yang buruk
berpengaruh sebaliknya.
Menurut Organ (1998) bahwa perilaku karyawan terhadap perusahaan
mempunyai peran penting terhadap keberhasilan sebuah organisasi. Perlakuan
yang baik terhadap karyawan akan mampu menciptakan perasaan suka rela pada
diri karyawan untuk bisa berkorban bagi perusahaan. Selain itu, melalui perlakuan
khusus yang positif akan mampu meningkatkan kontribusi karyawan pada
perusahaan dimana karyawan bekerja.
Graen and Scandura (1987) sebagaimana dikutip oleh Truckenbrodt (2000:
234) menyatakan bahwa dalam sebuah organisasi dilihat dari hubungan dan
interaksi antara atasan dan bawahan, dapat dikelompokkan menjadi dua
kelompok, yaitu in group dan out group. Perbedaan antara dua kelompok ini
adalah tingkat kedekatan hubungan dan interaksi antara pimpinan dan bawahan.
Karyawan yang memiliki hubungan dan interaksi yang tinggi antara pimpinan dan
bawahan masuk dalam kelompok in group dan di luar kelompok in group adalah
kelompok out group.
Menurut Truckenbrodt (2000: 234), tingkat interaksi antara pimpinan dan
bawahan dalam sebuah organisasi tidak bisa terstandarisasi untuk semua
karyawan karena keterbatasan waktu pimpinan bersama karyawan dan
keterbatasan sumberdaya perusahaan. Keterbatasan sumberdaya ini lebih
mengarah pada keterbatasan kapabilitas (kemampuan) setiap karyawan dalam
bekerja sehingga apresasi yang diberikan pimpinan kepada karyawan juga
dimungkinkan berbeda.
Menurut Leonard (2002: 1), bahwa pemahaman terhadap leader member
exchange tidak hanya pada ikatan fisik, dimana bawahan harus selalu mengikuti
instruksi atasan, namun lebih dalam lagi yaitu ikatan interaksi antara karyawan
dan pimpinan. Ikatan interaksi ini menyangkut pada ikatan emosional antara
karyawan dan pimpinan.
Dari beberapa pengertian di atas leader member exchange (LMX) dalam
penelitian ini didefinisikan sebagai sejauh mana hubungan kedekatan antara
atasan dan bawahannya yang mempunyai implikasi bagi efektivitas dan kemajuan
dalam organisasi

Pengaruh Stres Kerja Terhadap Keinginan Berhenti Bekerja


Dalam penelitiannya Shofiah et al., (2017), melakukan penelitian pada
Rumah Sakit Bali Royal Hospita mengungkapkan bahwa stres kerja berpengaruh
positif dan signifikan terhadap turnover intension. Semakin tinggi stres kerja maka
akan meningkatkan keinginan untuk berpindah (intention turnover) dari
pekerjaannya.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Meral Elci dkk (2012) membuktikan
jika kepemimpinan dapat mempengaruhi turnover intention melalui stres kerja.
Stres kerja yang dialami oleh anggota organisasi pada akhirnya dapat
mempengaruhi anggota organisasi memiliki turnover intention

Pengaruh Keseimbangan Kehidupan Kerja Terhadap Keinginan Berhenti Bekerja


Penelitian Patricia (2017) dan Oludayo (2018) PT. Senwell Indonesia
cabang Banjarmasin dimana hasil bahwa jika karyawan diberikan kesempatan
untuk mengurus urusan pribadinya, hal ini akan meningkatkan keterikatan
produktif karyawan. Jika karyawan sudah memiliki job engagement yang baik
dikarenakan sudah mendapat work life balance yang baik pula maka akan
memperbesar kemungkinan turunnya turnover intention pada suatu organisasi.
Hubungan work–life Balance terhadap Turnover Intention, dibuktikan
dengan sebuah penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Suifan, T & Abdallah, A
& Diab, H (2016) dengan ukuran sampel sebanyak 382 karyawan. Penelitian
tersebut berhasil membuktikan bahwa praktik Work–life Balance lebih efektif
dalam mempengaruhi tingkat turnover intention sehingga bedasarkan penelitian ini
oleh Suifan, T, Abdallah, A & Diab, H (2016) menyimpulkan Work–life Balance
memiliki peran vital dalam mengurangi tingkat turnover intention. Penelitian ini
juga menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara work-life
conflict dan turnover intention

Pengaruh Pertukaran Pemimpin-Anggota (LMX) Terhadap KeinginanBerhenti Bekerja


Penelitian yang dilakukan oleh Kim dan Michàlle (2014) dilakukan pada
Hotel Griya Santrian dimana hasil kesimpulan didapatkan bahwa ketika seorang
pekerja merasakan hubungan yang seimbang antara mereka dengan pemimpin atau
supervisor, pekerja akan lebih menikmati pekerjaan mereka dan akan mengurangi
turnover intention.
Penelitian terdahulu oleh Saeed, I., Waseem, M., Sikander, S & Rizwan, M
(2014) dengan jumlah sampel sebanyak 200 karyawan menyatakan bahwa terdapat
hubungan negatif secara signifikan antara LMX dan turnover intention. Analisis
Saeed, I., Waseem, M., Sikander, S & Rizwan, M (2014) membuktikan hipotesis
mereka bahwa LMX memiliki asosiasi negatif secara langsung terhadap turnover
intention

Indikator Keinginan Berhenti Bekerja


Menurut Tika Nur Haimah et all (2016) Indikator pengukuran Keinginan
Berhenti Bekerja terdiri atas:

  1. Memikirkan untuk keluar (Thinking of Quitting)
    Mencerminkan individu untuk berpikir keluar dari pekerjaan atau tetap berada
    di lingkungan pekerjaan. Diawali dengan ketidakpuasan kerja yang dirasakan
    oleh karyawan, kemudian karyawan mulai berfikir untuk keluar dari tempat
    bekerjanya saat ini.
  2. Pencarian alternatif pekerjaan (Intention to search for alternatives)
    Mencerminkan individu berkeinginan untuk mencari pekerjaan pada organisasi
    lain. Jika karyawan sudah mulai sering berpikir untuk keluar dari pekerjaannya,
    karyawan tersebut akan mencoba mencari pekerjaan diluar perusahaannya
    yang dirasa lebih baik.
  3. Niat untuk keluar (Intention to quit)
    Mencerminkan individu yang berniat untuk keluar. Karyawan berniat untuk
    keluar apabila telah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan nantinya akan
    diakhiri dengan keputusan karyawan tersebut untuk tetap tinggal atau keluar
    dari pekerjaannya

Faktor-Faktor Keinginan Berhenti Bekerja


Menurut Pawesti & Wikansari (2017) Keinginan Berhenti Bekerja ada
dibawah kendali setiap individu. Dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
Keinginan Berhenti bekerja yaitu:

  1. Kepuasan kerja
    Karyawan yang merasa puas dan senang terhadap pekerjaannya, tidak akan
    cenderung memikirkan untuk mendapatkan pekerjaan lain dan meninggalkan
    pekerjaannya. Sedangkan karyawan yang merasa tidak puas atau tidak senang
    dengan pekerjaannya, mempunyai pikiran untuk keluar dan mencari pekerjaan
    lain.
  2. Komitmen organisasi dari karyawan
    Komitmen organisasional dapat dibedakan dari kepuasan kerja. Hal ini sebagai
    bentuk perilaku. Komitmen mengarah kepada respon emosional individu
    kepada seluruh organisasi. sedangkan kepuasan mengarah pada respon
    emosional individu terhadap pekerjaannya.
  3. Keamanan Kerja
    Karyawan yang ingin berpindah mencerminkan keinginannya untuk
    meninggalkan organisasi dan mencari pekerjaan lain. Individu yang ingin
    meninggalkan pekerjaannya akan melakukan banyak perhitungan terlebih
    dahulu sebelum sampai keputusan untuk berpindah

Definisi Keinginan Berhenti Bekerja


Menurut Tika Nur Halimah at all (2016) Turnover Intention merupakan niat
atau keinginan keluar karyawan dari pekerjaannya sekarang secara sukarela untuk
mendapatkan pekerjaan ditempat lain. Kemudian menurut Sun & Wang (2017)
turnover intention merupakan tahap terakhir yang dirasakan oleh karyawan sebelum
pada akhirnya memutuskan untuk benar-benar keluar dari perusahaan dimana
tempat karyawan bekerja saat ini. Sedangkan menurut Meilano dan Nugraheni
(2017) definisi lain turnover intention adalah pemberhentian karyawan yang
dilakukan secara permanen dari perusahaan baik yang dilakukan oleh karyawan
sendiri (secara sukarela) maupun yang dilakukan oleh perusahaan. Selanjutnya
menurut Ansory dan Indrasari (2018) turnover intention adalah seberapa besar
(kuat) kemungkinan niat seseorang untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja
dan berpindah ke perusahaan lain, sesuai dengan keyakinan-keyakinan pribadi
maupun keyakinan-keyakinan normatif yang dimiliki tentang perilaku turnover itu.
Sementara itu Li et all. (2019) mengatakan bahwa Turnover intention adalah
kemungkinan seorang karyawan akan keluar dari pekerjaannya saat ini dalam
waktu dekat

Indikator Penyebab Stres Kerja


Indikator stres kerja menurut Robbins & Judge (2018) terdapat 5 indikator
sebagai berikut:

  1. Tuntutan tugas
    Merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan seseorang seperti kondisi
    kerja, tata kerja fisik.
  2. Tuntutan peran
    Berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai suatu
    fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam suatu organisasi.
  3. Tuntutan antar pribadi
    Merupakan tekanan yang diciptakan oleh pegawai lain.
  4. Strktur organisasi
    Gambaran instansi yang diwarnai dengan struktur organisasi yang tidak jelas,
    kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang, dan tanggung jawab.
  5. Kepemimpinan organisasi
    Kepemimpinan organisasi memberikan gaya manajemen pada organisasi.
    Beberapa pihak didalamnya dapat membuat iklim organisasi yang melibatkan
    ketegangan, ketakutan dan kecemasan.
    Tuntutan tugas, Tuntutan peran, Tuntutan antar pribadi, Strktur organisasi,
    Kepemimpinan organisasi

Faktor Stres Kerja


Menurut Nusran (2019) adanya dua faktor penyebab munculnya stres kerja,
yaitu faktor lingkungan dan faktor personal. Faktor lingkungan meliputi kondisi
fisik, hubungan dalam lingkungan pekerjaan, sedang faktor personal yaitu tipikal
kepribadian, peristiwa pribadi maupun kondisi individu. Penjelasan Nusran tersebut
lebih luas, yakni:
a. Tidak adanya dukungan dari lingkungan
Tidak adanya dukungan dari lingkungan yang berarti stres cenderung
mudah muncul pada individu yang tidak mendapatkan dukungan dari
lingkungan. Dukungan ini bisa berupa dukungan dari lingkungan kerja yaitu
rekan kerja, atasan, pemimpin. Dukungan dari lingkungan keluarga yaitu
orangtua, menantu, mertua, anak, saudara. Dukungan dari luar yaitu teman
bermain atau tetangga.
b. Tidak berkesempatan berperan
Tidak berkesempatan dan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di
kantor meskipun memiliki kewenangan tersebut menjadi salah satu faktor
penyebab terjadinya stres kerja karena merasa tidak dianggap dan merasa
dikucilkan.
c. Pelecehan seksual
Pelecehan seksual yakni kontak atau komunikasi yang berhubungan
atau dikonotasikan berkaitan dengan seks yang tidak diinginkan, menyentuh
bagian tubuh yang paling sensitif, merayu, pujian bahkan senyuman yang tidak
pada konteksnya.
d. Kondisi lingkungan kerja
Kondisi lingkungan kerja berupa suhu panas di lingkungan kerja, terlalu
dingin, kurang cahaya atau terlalu terang, sesak secara sirkulasi udara atau
sempit yang menyebabkan berkurangnya kenyamanan kerja sehingga
memunculkan stres kerja.
e. Manajemen yang tidak sehat
Manajemen tidak sehat yaitu cara pemimpin memperlakukan karyawan
seperti pemimpin yang terlalu sensitif, terlalu agresif, atau terlalu ambisius.
f. Tipe kepribadian seseorang
Jenis kepribadian individu menjadi salahsatu faktor penyebab stres
karena kepribadian yang kurang sabar dan kurang telaten lebih rawan terkena
stres kerja dibanding dengan individu yang memiliki tipe kepribadian sabar dan
telaten.
g. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi yaitu peristiwa yang pernah dialami karyawan
berimbas kepada cara individu dalam menerima tekanan dalam kerja seperti
peristiwa menyakitkan, kematian pasangan, perceraian, sekolah, anak sakit
atau gagal, kehamilan yang tidak diinginkan, peristiwa traumatis dalam
menghadapi masalah (pelanggaran) hukum

Definisi Stres Kerja


Menurut Mangkunegara (2017) Stres kerja adalah perasaan tertekan yang
dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Stres ini tampak dari Simptom,
antara lain emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka menyendiri, sulit tidur,
merokok yang berlebihan, tidak bisa rileks, cemas, tegang, gugup, tekanan darah
meningkat, dan mengalami gangguan pencernaan.
Sedangkan menurut Robbins & Judge (2018) stres kerja adalah kondisi yang
dinamis dimana seseorang dikonfontasi dengan kesempatan, hambatan atau
tuntutan yang berhubungan dengan apa yang diinginkannya dan untuk itu
keberhasilannya ternyata tidak pasti. Kemudian menurut Nusran (2019) definisi
stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal karena oleh tuntutan fisik (badan),
lingkungan, dan situasi sosial yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.
Selanjutnya Steven & Prasetio (2020) menyatakan stres kerja didefinisikan
sebagai reaksi dari suatu keadaan yang menekan diri dan jiwa individu di luar batas
kemampuannya. Berdasarkan berbagai teori tentang definisi stres kerja di atas
maka dapat disimpulkan bahwa stres kerja merupakan setiap tekanan baik
secara fisik maupun psikologis yang dirasakan karyawan dalam menjalankan
pekerjaannya. Sementara itu menurut Vanchapo (2020) Stres kerja adalah keadaan
emosional yang timbul karena adanya ketidaksesuaian beban kerja dengan
kemampuan individu untuk menghadapi tekanan tekanan yang dihadapinya. Stres
juga bisa diartikan sebagi suatu kondisi ketengan yang menciptakan adanya
ketidakseimbangan fisik dan psikis yang memengaruhi emosi, proses berfikir, dan
kondisi seorang pegawai

Tugas Hubungan Masyarakat dalam Pemerintah


Menurut Jhon D. Millet dalam bukunya “Management in Public Service the Quest
for Effective Performance”, yang artinya Humas dalam instansi atau lembaga
pemerintah terhadap beberapa hal untuk melakukan tugas utamanya, yaitu:

  1. Mengamati dan mempelajari tentang hasrat, keinginan-keinginan dan aspirasi
    yang terdapat dalam masyarakat (learning about public desires and
    aspiration).
  2. Kegiatan memberikan nasihat atau sumbang saran untuk menanggapi apa yang
    sebaiknya dilakukan oleh instansi atau lembaga pemerintahan seperti yang
    dikehendaki oleh pihak publiknya (advising the public about what is should
    desire).
  3. Kemampuan untuk mengusahakan terjadinya hubungan memuaskan yang
    diperoleh antara hubungan publik dengan para aparat pemerintah (ensuring
    satisfactory contact between public and government official).
  4. Memberikan penerangan dan informasi tentang apa yang telah diupayakan
    oleh suatu instansi atau lembaga pemerintahan yang bersangkutan (informing
    and about what an agencies doing)

Sistematika Strategi Hubungan masyarakat


Menurut Onong Uchjana Effendi (1999: 97-106), sistematika startegi Hubungan
Masyarakat meliputi:

  1. Penelitian
    Merupakan tahap kegiatan mengumpulkan data (collecting data) dan
    pengkajian fakta (fact finding), sehingga kadar intensitas penelitian ditentukan
    oleh besar kecilnya organisasi. Organisasi yang besar dengan manajemen yang
    kompleks memerlukan penelitian yang luas dan mendalam.
  2. Perencanaan
    Dalam hal ini, meskipun pada tahap pertama data yang diperoleh telah cukup
    lengkap dan faktual, namun belum tentu pada tahap pelaksanaannya akan
    efektif apabila tidak melalui tahap perencanaan ditangani secara seksama.
    Pada tahap ini Hubungan Masyarakat terlebih dahulu harus menginventarisasi
    masalah untuk selanjutnya mengkorelasikan aspek yang satu dengan aspek
    lain, sehingga dalam pelaksanaannya kelak, masalah-masalah yang akan
    menghambat proses pelaksanaan akan dapat diatasi.
  3. Penggiatan
    Merupakan tahap pelaksanaan secara aktif terhadap rencana yang sebelumnya
    telah disusun. Pada tahap ini Hubungan Masyarakat menggunakan berbagai
    sarana yang dipandang mendukung pelaksanaan. Hal penting dalam tahap ini
    adalah mekanisme kerja yang mapan sehingga koordinasi dan sinkronisasi
    akan dapat dilakukan optimal.
  4. Penilaian
    Tahap penilaian dilakukan untuk mengetahui dan mengkaji pelaksanaan suatu
    rencana yang terdiri atas program-program yang di dalam penyusunannya
    ditunjang oleh hasil penelitian yang dilaksanakan sebagaimana mestinya. Pada
    tahap penilaian, ditelaah apakah rencana yang ditunjang dengan hsil penelitian
    dapat dilaksanakan secara maksimal; dengan kata lain apakah pelaksanaan
    tersebut sesuai dengan rencana. Singkatnya, Penilaian merupakan tahap yang
    tidak boleh diabaikan dalam strategi hubungan masyarakat.

Langkah-Langkah Strategi Hubungan masyarakat


Terkait dengan strategi hubungan masyarakat, Pearce dan Robinson dalam Soleh
Soemirat dan Elvinaro Ardianto (2002:92) mengembangkan langkah-langkah
strategic management dalam langkah-langkah strategi Hubungan Masyarakat
yang meliputi:

  1. Menentukan mision organisasi. Termasuk di dalamnya adalah pernyataan yang
    umum mengenai maksud pendirian (purpose), filosofi dan sasaran (goal).
  2. Mengembangkan company profile yang mencerminkan kondisi internal
    perusaahaan dan kemampuan yang dimilikinya.
  3. Penilaian terhadap lingkungan eksternal organisasi, baik dari segi semangat
    kompetitif maupun secara umum.
  4. Analisis terhadap peluang dari lingkungan (yang melahirkan pilihan-pilihan).
  5. Identifikasi atas pilihan yang dikehendaki yang tidak dapat digenapi untuk
    memenuhi tuntutan misi organisasi
    selaras dengan objective jangka panjang dan garis besar strategi
  6. Mengembangkan objective tahunan dan rencana jangka pendek yang selaras
    dengan objective jangka panjang dan garis besar strategi
  7. Implementasi atas hasil-hasil di atas dengan menggunakan sumber yang
    tercantum pada anggaran dan mengawinkan rencana tersebut dengan sumber
    daya manusia, struktur, teknologi dan sistem balas jasa yang memungkinkan.
  8. Review dan evaluasi atas hasil hal-hal di atas yang telah dicapai dalam setiap
    periode jangka pendek sebagai suatu proses untuk melakukan kontrol dan
    sebagai in put bagi pengambilan keputusan di masa depan (Kasali, 1994:43).

Strategi Hubungan Masyarakat


Menurut Ahmad S. Adnanputra dalam Rosady Roslan (1997:107), strategi
Hubungan Masyarakat adalah alternatif optimal yang dipilih untuk ditempuh guna
mencapai tujuan Hubungan Masyarakat dalam kerangka suatu rencana hubungan
masyarakat. Hubungan Masyarakat bertujuan untuk menegakkan dan
mengembangkan “citra yang menguntungkan” (favorable image) bagi organisasi/
organisasi, atau produk barang dan jasa terhadap stakeholders-nya (sasaran atau
khalayak yang terkait, meliputi publik internal dan publik eksternal).
Strategi Hubungan Masyarakat diarahkan pada upaya menggarap persepsi para
stakeholder sebagai tempat akarnya tindak dan persepsi mereka. Konsekuensinya
adalah jika strategi penggarapan itu berhasil maka akan memperoleh suatu opini
atau citra yang menguntungkan (Rosady Roslan, 1997:107).

Tugas Hubungan masyarakat


Menurut Frida Kusumastuti (2002:25), ada tiga tugas Hubungan Masyarakat
dalam organisasi atau lembaga yang berhubungan erat dengan tujuan dan fungsi
hubungan masyarakat. Ketiga tugas tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menginterpretasikan, menganalisis dan mengevaluasi kecenderungan perilaku
    publik, kemudian direkomendasikan kepada manajemen untuk merumuskan
    kebijakan organisasi atau lembaga. Kecenderungan perilaku publik
    diklasifikasikan dengan baik oleh Frank Jeffkins menjadi 4 (empat) situasi
    atau kondisi kecenderungan publik yang dihadapi oleh humas, yakni tidak
    tahu, apatis, prasangka dan memusuhi. Mengacu pada klasifikasi publik
    menurut Jeffkins tersebut, maka tugas humas adalah merubah publik yang
    tidak tahu menjadi tahu, yang apatis menjadi peduli, yang berprasangka
    menjadi menerima, dan yang memusuhi menjadi simpati. Tugas ini melekat
    dengan kemampuan praktisi Hubungan Masyarakat mengamati dan meneliti
    perilaku berdasarkan kajian ilmu-ilmu sosial.
  2. Mempertemukan kepentingan organisasi atau lembaga dengan kepentingan
    publik. Kepentingan organisasi atau lembaga dapat jadi jauh berbeda dengan
    kepentingan publik dan sebaliknya, namun dapat juga kepentingan ini sedikit
    berbeda bahkan dapat juga kepentingannya sama. Dalam kondisi yang
    manapun, tugas dipahami, dihormati, dan dilaksanakan. Bila kepentingannya
    berbeda, maka Hubungan Masyarakat dapat bertugas untuk
    menghubungkannya.
  3. Mengevaluasi program-program organisasi atau lembaga, khususnya yang
    berkaitan dengan publik. Tugas mengevaluasi program manajemen ini
    mensyaratkan kedudukan dan wewenang humas yang tinggi dan luas. Karena
    tugas ini dapat berarti Hubungan Masyarakat memiliki wewenang untuk
    memberikan nasihat apakah suatu program sebaiknya diteruskan, ditunda atau
    dihentikan. Di sini Hubungan Masyarakat bertugas untuk senantiasa
    memonitor semua program.
    Sementara menurut Cutlip & Center dalam Frida Kusumastuti (2002:26),
    menyatakan tugas Hubungan Masyarakat organisasi adalah sebagai berikut:
  4. Mendidik melalui kegiatan nonprofit suatu publik untuk menggunakan barang
    atau jasa intansinya.
  5. Mengadakan usaha untuk mengatasi salah paham antara intansi dengan publik.
  6. Meningkatkan penjualan barang atau jasa.
  7. Meningkatkan kegiatan organisasi yang berkaitan dengan kegiatan
    masyarakat.
  8. Mendidik dan meningkatkan tuntutan serta kebutuhan masyarakat akan barang
    dan jasa yang dihasilkan oleh organisasi. 6. Mencegah pergeseran pengunaan barang atau jasa yang sejenis dari pesaing
    organisasi oleh konsumen

Tujuan Hubungan Masyarakat


Dalam menguraikan tujuan Hubungan Masyarakat ini, terlebih dahulu haruslah
dibagi pengertian tujuan Hubungan Masyarakat tersebut menurut kegiatannya.
Pembagian kegiatan humas menurut Danan Djaja (1985:17), dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Tujuan berdasarkan kegiatan internal hubungan masyarakat
b. Tujuan berdasarkan kegiatan external hubungan masyarakat.
Tujuan Hubungan Masyarakat berdasarkan kegiatan internal relation menurut
Danan Djaja (1985:17), dapat mencakup kepada beberapa hal yaitu:

  1. Mengadakan suatu penilaian terhadap sikap, tingkah laku dan opini publik
    terhadap organisasi, terutama sekali ditujukan kepada kebijaksanaan
    organisasi yang sedang dijalankan.
  2. Mengadakan suatu analisa dan perbaikkan terhadap kebijaksanaanyang sedang
    dijalankan, guna mencapai tujuan yang ditetapkan organisasi dengan tidak
    melupakan kepentingan publik.
  3. Memberikan penerangan kepada publik karyawan mengenai suatu
    kebijaksanaan organisasi yang bersifat objektif serta menyangkut kepada
    berbagai aktivitas rutin organisasi, juga menjelaskan tentang perkembangan
    organisasi tersebut. Pada tahap selanjutnya diharapkan publik karyawan akan
    tetap well inform. 4. Merencanakan berbagai penyusunan suatu staff yang efektif bagi penugasan
    kegiatan yang bersifat internal humas dalam organisasi tersebut.
    Tujuan sentral Hubungan Masyarakat yang akan dicapai adalah tujuan organisasi,
    sebab Hubungan Masyarakat dibentuk atau digiatkan guna menunjang manajemen
    yang berupaya mencapai tujuan organisasi. Telah disinggung di muka bahwa
    organisasi adalah kerangka kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan
    kegiatan itu adalah pengerahaan manusia-manusia secara terarah yang dinamakan
    manajemen. Jelasnya, organisasi merupakan “raga”, dan manajemen adalah
    “jiwanya”. Oleh karena itu, organisasi tanpa manajemen dapat diibaratkan raga
    tanpa jiwa, jadi organisasi yang demikian tidak berfungsi atau mati. (Onong
    Uchjana Effendy, 1992:94).

Pengertian Hubungan Masyarakat


Menurut J. C. Seidel dalam Oemi Abdurrachman (2001: 24), Hubungan
Masyarakat adalah proses yang kontinyu dari usaha-usaha manajemen untuk
memperoleh goodwill dan pengertian dari para pelanggannya, pegawainya dan
publik umumnya, ke dalam dengan mengadakan analisis dan perbaikan-perbaikan
terhadap diri sendiri, keluar dengan mengadakan pernyataan-pernyataan.
Menurut The British Institute of Hubungan Masyarakat dalam Oemi
Abdurrachman (2001:27), Hubungan Masyarakat adalah upaya yang mantap,
berencana dan berkesinambungan untuk menciptakan dan membina pengertian
bersama antara organisasi dengan khalayaknya. Menurut Scott M. Cultip dalam
Allen H. Center dalam Danan Djaja (1985:10), Hubungan Masyarakat adalah
proses yang kontinyu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh kerja sama
yang saling pengertian dari para langganan, pegawai, publik umumnya; ke dalam
mengadakan analisa dan perbaikkan terhadap diri sendiri, ke luar dengan
mengadakan pernyataan-pernyataan.

Proses Strategi


Perencanaan strategis memberikan gambaran ke depan tentang bagaimana suatu
organisasi/badan dapat berjalan menuju tujuan, sesuai dengan misi dan visinya,
dengan memanfaatkan potensi internal dan membenahi kelemahan-kelemahan
internal dalam rangka mengisi peluang dan ancaman yang ada atau datang dari
lingkungannya. Menurut Keban (2000:3), ada sembilan langkah pokok proses
perencanaan strategis, yang terdiri atas:

  1. Kesepakatan awal, rencana strategis merupakan dokumen yang harus
    disepakati bersama antara semua aktor yang berkepentingan (stakeholders)
  2. Pernyataan mandat, merupakan apa yang diharuskan atau diwajibkan oleh
    pihak yang lebih tinggi otoritasnya, termasuk apa yang diharapkan oleh
    masyarakat lokal sendiri.
  3. Perumusan visi, setiap lemabaga atau organisasi diharapkan memiliki visi
    tertentu, yaitu gambaran tentang kondisi ideal yang diinginkan stakeholders
    pada masa mendatang atau dalam kurunwaktu tertentu setelah lembaga
    tersebut berjalan.
  4. Perumusan misi; misi adalah pernyataan tentang untuk apa suatu organisasi
    atau lembaga didirikan. Atau misi merupakan justifikasi tentang kehadiran
    suatu lembaga, mengapa lembaga tersebut mengerjakan pa yang dikerjakan.
  5. Analisis kondisi internal, untuk dapat mencapai misi di atas diperlukan
    dukungan internal, disini diperlukan suatu penilaian tentang kondisi internal
    yang dapat menggambarkan tentang kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. 6. Analisis kondisi eksternal, untuk dapat mencapai misi di atas diperlukan suatu
    dukungan yang kondusif dari faktor-faktor eksternal. Faktor-faktor tersebut
    harus dinilai karena dapat menjadi peluang tetapi sebaliknya dapat berupa
    ancaman. Penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dapat dilakukan dengan
    menganalisis (1) Kecenderungan politik, ekonomi, sosial, teknologi, fisik dan
    pendidikan, (2) peranan yang dimainkan dari pihak-pihak yang dapat diajak
    kerjasama (collaborators) dan pihak-pihak yang dapat menjadi kompetitor,
    seperti swasta, dan lembaga-lembaga lain, dan (3) dukungan pihak-pihak yang
    menjadi sumber resources seperti para pembayar pajak, asuransi dsb.
  6. Penentuan isu-isu strategis, dari hasil analisis faktor-faktor internal dan
    eksternal di atas ditemukan banyak isu dengan tingkat kestrategisan yang
    berbeda-beda. Di sini dibutuhkan suatu ketajaman berfikir untuk menilai
    apakah suatu isu dapat dianggap strategis atau tidak. Biasanya kriteria yang
    digunakan adalah (a) pentingnya suatu isu, yaitu kemungkinan pencapaian visi
    dan misi kalau suatu isu yang sedang dinilai tersebut dibiarkan atau sebaliknya
    diintervensi, (b) dampak atau efek yang ditimbulkan bila isu tersebut dibiarkan
    atau sebaliknya diintervensi.
  7. Perumusan strategi, Kebijakan dan Program-program Strategis, kesalahan
    yang paling fatal adalah mengemban misi dan merealisasikan visi tetapi tidak
    melalui suatu strategi yang jelas. Semua strategi harus dijalankan agar misi
    yang ada dapat diemban secara sukses dan sekaligus dapat mewujudkan visi
    yang telah dirumuskan.
  8. Prinsip-prinsip implementasi strategi, pada bagian ini ditetapkan bagaimana
    prinsip-prinsip yang harus dijalankan dalam rangka mengimplementasikan
    program-program strategis. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan aturan main
    yang harus diikuti dalam (1) penyusunan program/proyek tahunan, (2)
    rancangan implementasi program, (3) mekanisme monitoring terhadap
    program, (4) mekanisme evaluasi program dan (5) mekanisme tindakan
    koreksi melalui proses feedback

Macam Macam Strategi


Menurut Koteen dalam Salusu (2008: 104-105), terdapat beberapa tipe strategi
yaitu sebagai berikut:

  1. Strategi Organisasi (Corporate Strategy)
    Strategi ini berkaitan dengan perumusan misi, tujuan, nilai-nilai dan inisiatifinisiatif strategis yang baru. Pembahasan-pembahasan ini diperlukan, yaitu
    apa yang dilakukan dan untuk siapa.
  2. Strategi Program (Program Strategy)
    Strategi ini memberikan perhatian pada implikasi-implikasi strategis dari suatu
    program tertentu. Apa dampaknya apabila suatu program tertentu dilancarkan,
    apa dampaknya bagi sasaran organisasi.
  3. Strategi Pendukung Sumber Daya (Rescource Support Strategy)
    Strategi ini memusatkan perhatian pada memaksimalkan pemanfaatan sumber
    daya esensial yang tersedia guna meningkatkan kualitas kinerja organisasi.
    Sumber daya itu dapat berupa tenaga kerja, keuangan dan teknologi.
  4. Strategi Kelembagaan (Institutional Strategy)
    Fokus dari strategi kelembagaan ialah mengembangkan kemampuan
    organisasi untuk melaksanakan inisiatif-inisiatif strategis.
    Sementara itu menurut J. Winardi (2003:117-120), macam-macam startegi adalah
    sebagai berikut:
  5. Stategi yang direncanakan (planned strategy). Dalam hal ini intensi yang tepat
    dirumuskan dan ditekankan oleh kepemimpinan sentral tertentu, dan ditopang
    oleh kontrol-kontrol formal guna memastikan implementasi mereka. Tanpa
    adanya kejutan-kejutan di dalam sebuah lingkungan yang bersifat tenang,
    dapat dikendalikan atau dapat diprediksi.
  6. Strategi entrepreneur (entrepreneurial strategy). Terdapat adanya intensiintensi, selaku visi pribadi dan yang tidak diartikulasikan dari seorang
    pemimpin tunggal bersifat adaptif terhadap peluang-peluang baru, organisasi
    yang bersangkutan berada di bawah kontrol pribadi sang pemimpin.
  7. Strategi idiologikal (idiological strategy). Terdapat adanya intensi-intensi,
    karena visi kolektif dari semua anggota organisasi yang bersangkutan
    dikendalikan oleh
    sejumlah norma kuat, yang diterima secara umum oleh para anggota tersebut.
    Organisasi bersangkutan seringkali bersifat proaktif terhadap lingkungannya.
  8. Stategi payung (umbrella strategy). Kepemimpinan yang mengendalikan
    kegiatan-kegiatan keorganisasian secara parsial, menetapkan target-target
    strategis atau batas-batas di dalam mana semua pihak harus bertindak.
    Kepemimpinan secara sadar membolehkan pihak lain untuk melaksanakan
    manuver-manuver dan membentuk pola-pola di dalam batasan yang ada.
  9. Strategi proses (process strategy). Pihak pimpinan mengendalikan aspek- aspek proses dari startegi (siapa saja yang akan dipekerjakan, hingga dengan
    demikian ia memperoleh peluang untuk mempengaruhi strategi, struktur- struktur dengan apa mereka bekerja dsb), isi faktual strategi diserahkan pada
    pihak lain.
  10. Strategi yang dipisahkan (disconnected strategy). Para anggota atau subunit
    yang terikat dengan longgar dengan organisasi yang bersangkutan,
    menciptakan pola-pola dalam arus kegiatan mereka sendiri, karena tiadanya
    atau yang bertentangan secara langsung dengan intensi-intensi umum
    organisasi yang bersangkutan.
  11. Strategi Konsensus (consensus strategy). Melalui tindakan saling
    menyesuaikan berbagai anggota (organisasi) berkonvergensi tentang pola-pola
    yang mencakup seluruh organisasi, karena tidak adanya intensi-intensi sentral
    atau umum.
  12. Strategi yang dipaksakan (imposed strategy). Lingkungan eksternal
    menetapkan pola-pola dalam tindakan-tindakan melalui pemaksaan secara
    langsung atau melalui pembatasan pemilihan keorganisasian.

Dimensi-dimensi Strategi


Menurut J. Winardi (2003:112), dimensi dalam strategi pada suatu organisasi
yaitu sebagai berikut:

  1. Tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran yang paling penting dan yang perlu
    dicapai. Tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran menyatkan apa saja yang yang
    perlu dicapai, kapan hasil-hasil harus dilaksanakan. Dari sasaran-sasaran nilai,
    menyatakan ke arah mana organisasi tersebut menuju, melalui berbagai
    macam sasaran keorganisasian yang bersifat menyeluruh, yang menetapkan
    sifat organisasi, dan menetapkan target bagi setiap kesatuan
    keorganisasiannya.
  2. Kebijakan-kebijakan yang paling penting dan mengarahkan atau membatasi
    kegiatan-kegiatan. Kebijakan-kebijakan (policies) merupakan peratutan- peraturan atau prosedur-prosedur yang menggariskan batas-batas di dalam
    mana kegiatan akan dilaksanakan. Peraturan-peraturan demikian seringkali
    mencapai keputusan-keputusan kontingen, guna menyelesaikan konflik antara
    sasaran-sasaran spesifik.
  3. Tahapan-tahapan tindakan pokok atau program-program yang akan mencapai
    tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam batas-batas yang telah digariskan.
    Program-program menspesifikasi langkah demi langkah tahapan-tahapan
    tindakan yang diperlukan untuk mencapai sasaran-sasaran utama. Mereka
    menyatakan bagaimana sasaran-sasaran akan tercapai di dalam batas-batas
    oleh kebijakan. Mereka menyatakan bahwa sumber-sumber daya diarahkan ke
    arah pencapaian tujuan dan dengan apa kemajuan organisasi dapat diukur.

Pengertian Strategi


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 763), strategi sebagai rencana
yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Penyusunan
sebuah strategi harus menggunakan metode maupun teknik-teknik tertentu
sehingga kebijaksanaan yang dihasilkan akan optimal. Untuk itu diperlukan
pengetahuan dan keahlian yang memadai guna mencapai tujuan organisasi.
Menurut Strickland (J. Winardi, 2003: 106), strategi dalam suatu organisasi
adalah tindakan-tindakan dan pendekatan-pendekatan organisasi yang diterapkan
oleh pihak pimpinan guna mencapai kinerja keorganisasian yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam hal ini secara tipikal strategi merupakan sebuah bauran yang
terdiri dari tindakan-tindakan yang dilakukan secara sadar dan yang ditujukan
pada sasaran-sasaran tertentu serta tindakan-tindakan yang diperlukan guna
menghadapi perkembangan-perkembangan yang tidak diantisipasi, dan arena
tekanan-tekanan yang bersifat kompetetitif yang dilancarkan.
Definisi di atas menitik beratkan strategi sebagai berbagai tindakan keorganisasian
yang diterapkan pimpinan organisasi secara sadar, terencana dan diarah untuk
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Jones (J. Winardi, 2003:106), strategi merupakan suatu kelompok
keputusan, tentang tujuan apa yang akan diupayakan pencapaiannya, tindakantindakan yang diperlukan, dan bagaimana memanfaatkan sumber-sumber daya
guna mencapai tujuan tersebut.

Tinjauan Tentang Strategi


Strategi merupakan sebuah pola atau rencana yang mengintegrasi tujuan pokok
suatu organisasi, kebijakan-kebijakan dan tahapan-tahapan kegiatan ke dalam
suatu keseluruhan yang bersifat kohesif. Suatu strategi yang dirumuskan dengan
baik, membantu menata dan mengalokasikan sumber-sumber daya suatu
organisasi menjadi sebuah postur yang unik, serta bertahan, yang berlandaskan
kompetensi-kompetensi internalnya relatif, dan kekurangan-kekurangannya,
perubahan-perubahan yang diantisipasi dalam lingkungan (J. Winardi, 2003: 102)

Strategi Bersaing


Mei (2023) menyatakan bahwa, dibutuhkan strategi untukmenghadapi
persaingan dengan melakukan perancanaan yang meliputi seluruh aspek
penting dalam organisasi. Ada beberapa poladalam strategi bersaing, yaitu:
1) pola menarik pelanggan (attract customer) dengan cara membangun
kepercayaan, menawarkan harga yang lebih kompetitif dengan mutu yang
terbaik.
2) Menahan tekanan kompetitif (withstand competitive pressures) dengan
cara membangun kekuatan pada semua komponen organisasi/lembaga.
3) Memperkuat posisi organisasi pasar (strengthen an organization’s market
position) yang dilakukan dengan cara memperkuat jaringan, membangun
citra, dan memberikan jaminan kepuasan dan kepercayaan.
4) Strategi kepemimpinan berbiaya rendah (overall low-cost leadership)
dengan fokus strategi pada biaya rendah (focused low-cost strategy) yang
dilakukan dengan cara menetapkan strategi penyediaan biaya terbaik (best
cost provider strategy), menjadi penyedia kebutuhan, memeriksa biaya
setiap kegiatan, mengelola biaya lebih rendah, biaya kegiatan ulanguntuk
mengurangi biaya keseluruhan, potong bebrapa aktivitas biaya karena
rantai nilai, menetapkan harga dan paket alternative.
5) Strategi memperbanyak keragaman pemenuhan konsumen. Dalam hal ini,
menyediakan hal baru seperti ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan
sebagainya. Mencari cara untuk membedakan dan menciptakan nilai bagi
pelanggan yang tidak mudah ditiru, tetapi membangun loyalitas dan
kepercayaan kepada Lembaga.

Karateristik Daya Saing

Mei (2023) menyatakan bahwa, daya saing harus mampu
menganalisis kriteria dalam menentukan keberhasilan untuk suatu
pencapaian tujuan, serta mengidentifikasi masalah produktifitas dengan
melihat Tingkat output yang dihasilkan dan setiap input yang dilakukan.
daya saing memiliki 4 (empat) karateristik, diantaranya adalah:

  1. Daya Saing berorientasi jangka panjang, berfokus pada kinerja jangka
    panjang dan memiliki keunggulan kompetitif.
  2. Daya Saing harus dapat dikendalikan yang mengacu pada berbagai
    sumber daya dan kemampuan organisasi dari kondisi eksternal yang
    menguntungkan dan mengarah pada kinerja yang ungul
  3. Daya saing sebagai konsep relative yang berkaitan dengan seberapa
    kompetitif suatu organisasi dengan organisasi lainnya.
  4. Sifat dinamis yang melibatkan transformasi dinamis dari pontensi
    kompetitif menjadi hasil actual.

Pengertian Daya Saing


Daryanto dalam Sudirman (2022:25) menyatakan bahwa konsep daya
saing diekspresikan oleh beberapa orang dan Lembaga dengan cara yang
berbeda.perbedaan tersebut tidak terlepas dari pandangan atau konteks yang
mereka telaah. Porter dalam Sudirman (2022:25) menyatakan bahwa konsep
daya saing yang di terapkan pada level nasional tak lain adalah produktivitas,
yang didefinisikan sebagai nilai output yang dihasilkan oleh seorang tenaga
kerja. Bank dunia mengatakan hal yang hamper sama, bahwa daya saing
mengacu pada besaran sertalaju perubahan nilai tambah per unit input yang
dicapai oleh perusahaan. Kedua definisi tersebut mengakui bahwa daya saing
tidak secara sempit hanya mencakup tingkat efisiensi suatu perusahaan (mikro
perusahaan), tetapi juga mencakup aspek diluar perusahaan (exsternal) yakni
aspek yang bersifat firm-spesific,region specific, atau bahkan country-spesific.
Dyoulety & Blazkoya dalam Khouroh, Ratnaningsih & Rahayudi (2022:13)
menyatakan bahwa salah satu sudut pandang yang dapat digunakan untuk
melihat kemampuan daya saing adalah dengan menggunakan indeksdaya
saing yang didasarkan pada sepuluh pilar daya saing yaitu teknologi,sumber
daya manusia, modal, produk, pasar domestik, jaringan, pasar internasional,
kehadiran online, pemasaran, pengambilan Keputusan dan
strategi.

Definisi Analisis SWOT


Mujito (2023:43) menyatakan bahwa Analisis SWOT adalah
metode yang digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal
(Kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) yang
mempengaruhi sukses Perusahaan. Ini membantu perusahaan untuk
mengevaluasi strategi mereka yang menentukan tindakan yang perlu
diambil untuk memperkuat posisi mereka di pasar.
Rengkuty dalam Mujito (2023) dalam menyatakan bahwa analisis
SWOT adalah analisa yang didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (Strength) dan peluang (Opportunity), namun
secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan
ancaman (Threats).
Pearce & Robinson dalam Mujito (2023) menyatakan bahwa
SWOT adalah singkatan dari kekuatan internal dan kelemahan dari suatu
perusahaan, kesempatan-kesempatan lingkungan dan ancaman
lingkungan yang dihadapi perusahaan itu. Analisis SWOT adalah teknik
dimana manajer membuat gambaran singkat dari situasi strategi
perusahaan. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa strategi yang efektif
berasal dari sumber daya internal Perusahaan dan situasi eksternal
Perusahaan.
Penjelasan analisis SWOT menurut (Mujito, 2023)

  1. Kekuatan (Strengths): Kekuatan adalah faktor-faktor internal perusahaan
    yang membantu perusahaan mencapai tujuanya dan membedakan
    perusahaan dari pesaingnya. Kekuatan dapat meliputi aspek seperti
    kualitas produk, merek yang kuat, sumber daya yang baik, teknologi
    terdepan, dan tenaga kerja yang berkualtas.
  2. Kelemahan (Weakness): Kelemahan adalah faktor-faktor internal
    perusahaan yang membatasi kinerja perusahaan dan membuat
    perusahaan kurang kompetitif dibandigkan pesaingnya. Kelemahan dapat
    meliputi aspek seperti produk yang kurang berkualitas, merek yanglemah,
    sumber daya yang kurang, teknologi yang ketinggalan, dan tenagakerja
    yang kurang berkualitas.
  3. Peluang (Oppurtunity): peluang adalah faktor-faktor eksternal
    perusahaan yang dapat membantu perusahaan memperluas bisnis mereka
    dan memperkuat posisi mereka di pasar. Peluang dapat meliputi aspek
    seperti pasar yang berkembang, perubahan teknologi, tren pasar yang
    berubah, dan munculya pasar baru.
  4. Ancaman (Treats): Ancaman adalah faktor-faktor eksternal perusahaan
    yang dapat membatas kinerja Perusahaan dan membuat perusahaan
    kurang kompetitif dibandingkan pesaingnya. Ancaman dapat meliputi
    aspek seperti pesaing yang semakin kuat, perubahan regulasi, perubahan
    tren pasar, dan perubahan teknologi.

Proses Pengembangan Kewirausahaan


Fachrurazi et al. (2023:5) menyatakan bahwa proses
pengembangan kewirausahaan melibatkan serangkai langkah dan
aktivitas yang harus dilakukan untuk menciptakan dan mengembangkan
usaha baru. Berikut adalah beberapa tahapan umum dalam proses
pengembangan kewirausahaan :

  1. Identifikasi Peluang Usaha
    a. Melakukan riset pasar dan analisis tren industri untuk
    mengidentifikasi peluang yang ada
    b. Mengamati permasalahan yang ada di pasar atau
    kebutuhan yang belum terpenuhi.
    c. Membangun pemahaman yang mendalam tentang target
    pasar dan calon pelanggan.
  2. Validasi Peluang Usaha
    a. Mengevaluasi keberlanjutan dan potensi profitabilitas
    peluang usaha yang diidentifikasi.
    b. Mengumpulkan umpan balik dari calon pelanggan dan
    pemangku kepentingan lainnya.
    c. Mengidentifikasi tantangan dan hambatan yang
    mungkin dihadapi dalam mengembangkan usaha
  3. Perencanaan Strategi
    a. Merumuskan visi, misi, dan tujuan jangka panjang usaha.
    b. Mengembangkan strategi bisnis yang komperhensif,
    termasuk strategi pemasaran, operasional, keuangan dan
    sumber daya manusia.
    c. Membuat rencana bisnis yang menggambarkan
    bagaimana usaha akan beroprasi, menghasilkan
    pendapatan, dan mencapai keberhasilan jangka panjang.
  4. Pengembangan Produk atau Layanan
    a. Merancang dan mengembangkan produk atau layanan
    yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
    b. Menguji prototipe produk atau layanan dan melakukan
    perbaikan berdasarkan umpan balik dari pengguna atau
    pelanggan potensial.
    c. Memperhatikan aspek inovasi, keunggulan kompetitif,
    dan nilai tambah yang dapat ditawarkan kepada
    pelanggan.
  5. Pemasaran dan Promosi
    a. Membuat strategi pemasaran yang efektif untuk
    memperkenalkan produk atau layanan kepada pasar
    target.
    b. Mengembangkan rencana promosi yang melibatkan
    media sosial, iklan, branding, dan kegiatan pemasaran
    lainnya.
    c. Membangun hubungan dengan calon pelanggan dan
    menjalin kemitraan dengan mitra bisnis potensial.
  6. Manajemen Operasional
    a. Mendirikan infrastruktur operasional yang efisien,
    termasuk pengaturan proses produksi, rantai pasok,
    system pengiriman, dan manajemen persediaan.
    b. Menerapkan praktik manajemen yang baik untuk
    mengoptimalkan efisiensi operasional.
    c. Mengembangkan kebijakan dan prosedur yang jelas
    untuk mengelola aspek operasional usaha sehari-hari
  7. Manajemen Keuangan
    a. Menyusun proyeksi keuangan yang realistis dan
    mengelola arus kas dengan hati-hati.
    b. Membuat dan mengelola anggaran usaha.
    c. Memonitor kinerja keuangan dan membuat laporan
    keuangan yang akurat
  8. Manajemen Sumber Daya Manusia
    a. Merekrut, mengembangkan, dan memotivasi tim kerja
    yang berkualitas.
    b. Membangun budaya kerja yang positif dan inklusif.
    c. Mengelola hubungan dengan karyawan, termasuk
    kebijakan kompensasi, manfaat, dan mengembangkan
    karir.

Pengertian pengembangan bisnis


Iswahyudi et al. (2023) menyatakan bahwa pengembangan bisnis merupakan
sebuah perjalanan yang penuh tantangan dan peluang dalam mencapai pertumbuhan
dan keberhasilan jangka panjang. Dalam menghadapi dinamika pasar yang terus
berubah. David, F.R dalam Indriayu et al. (2020:49) menyatakan bahwa dalam
pengembangan pasar terdapat tiga tahapan proses manajemen strategi yang harus
dilalui oleh setiap pengembang pasar yaitu: (a) memformulasikan strategi, (b)
Mengimplementasikan strategi, (c) Mengevaluasi strategi.

Manfaat manajemen srategi


Paramansyah (2022) menyatakan bahwa manfaat utama dari
manajemen strategis telah membantu organisasi merumuskan strategi
yang lebih baik melalui penggunaan yang lebih besar dari pendekatan
yang sistematis, logis, dan rasional untuk pemilihan strategi. Selain
membantu perusahaan menghindari kematian finansial, manajemen
strategi menawarkan manfaat nyata lainnya, seperti peningkatan
kesadaran akan ancaman eksternal, peningkatan pemahaman tentang
strategi pesaing, peningkatan produksi pekerja, pengurangan resistensi
terhadap perubahan, dan pemahaman yang jelas tentang hubungan antara
kerja dan upah.

Karateristik Manajemen Strategi


Satispi & Si dalam Nurfitriani (2022) menyatakan bahwa
beberapa karateristik dari manajemen strategi adalah sebagai
berikut:
a. Sustainability
Bersifat berkelanjutan bisa dikatakan manajemen strategi
tersebut mempunyai target yang tiada terhenti dan terus
berupaya agar bisnis tetap berkembang.
b. Dynamic
Dynamic atau dalam Bahasa indoensia adalah dinamis
mengandung arti secara umum adalah bergerak bebas namun
terkontrol dan tidak monoton, jika dalam manajemen dinamis
sendiri mempunyai makna sebagai gerakan atau kekuatan yang
dimiliki organisasi yang bisa menimbulkan suatu perubahan
dalam operasional tersebut.
c. Operational Orientation
Tidak dapat dipungkiri bahwa konsep dalam manajemen
strategi dan manajemen operasional berkaitan satu sama lain.
Hal tersebut dapat dibuktikan ketika perencanaan manajemen
strategi dibuat melibatkan prinsip-prinsip dalam manajemen
operasional. Karena strategi tersebut dibuat untuk menciptakan
perilaku kepemimpinan yang mampu menyuarakan aspirasinya
dalam bentuk visi dan misi bagi perusahaan.
d. Top Managerial Involvement
Salah satu yang menjadi dasar dari manajemen strategi sendiri
didasarkan dari keputusan dan tindakan yang ditetapkan
manajemen puncak, hal tersebut yang menjadikan manajemen
puncak sebagai penanggung jawab dan memonitor setiap
kegiatan terkait manajemen strategi.
e. Future Orientation
Prinsip manajemen secara umum sebagai proses yang
berorientasi masa depan untuk mendapatkan kesuksesan pada
masa depan untuk mendapatkan kesuksesan pada masa yang
akan datang, maka setiap keputusan yang dibuat harus
membawa perubahan yang lebih baik mengikuti perkembangan
zaman.
f. Holistic
Pada dasarnya, strategi dibuat untuk tujuan utama perusahaan.
Oleh karena itu, seluruh aktivitas yang dilakukan terdapat
keterkaitan satu sama lain. Visi dan misi dari organisasi akan
sulit dicapai jika salah satu departemen atau koponen bisnis
tidak berkontribusi secara maksimal pada operasional
manajemen tersebut. Seperti HR harus mengetahui dan
menjalankan human capital manajemen dengan
mempertimbangkan iklim organisasi dan kompetensi karyawan
yang ingin diberdayakan, departemen yang berhubungan
dengan riset and teknologi harus bisa berinovasi dan
memprediksi kondisi ekonomi global dan domestic untuk
memberikan input pada kegiatan bisnis dan lain sebagainnya.

Konsep manajemen strategis


Paramansyah (2022) menyatakan bahwa manajemen strategi
didasarkan pada pemahaman organisasi yang jelas tentang misinya; visi
tentang apa yang dia inginkan di masa depan dan nilai-nilai yang akan
mendorong tindakannya. Proses tersebut membutuhkan komitmen
terhadap perencanaan strategis. Memiliki proses yang pasti untuk
mengelola strategi kelembagaan akan membantu organisasi membuat
keputusan logis dan mengembangkan tujuan baru dengan cepat untuk
mengikuti perkembangan teknologi, pasar, dan komunikasi bisnis.
Manajemen strategis dapat, dengan demikian membantu organisasi
mendapatkan keunggulan kompetitif, meningkatkan pangsa pasar dan
merencanakan masa depan.
David, F.R & David, M.E (2017) dalam Paramansyah (2022)
menyatakan bahwa menyajikan terminology penting yang harus
dipahami dalam manajemen strategis, yaitu ahli strategi, pernyataan misi,
peluang dan ancaman eksternal, kekuatan dan kelemahan internal, tujuan
jangka pajang, strategi, tujuan tahunan, dan kebijakan.
a. Ahli strategi
Seorang ahli strategi adalah orang yang penting bertanggung
jawab atas keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi. Ahli
strategi diharapkkan dapat membuat perubahan dalam organisasi,
seperti memberikan lebih banyak visi kepemimpinan,
menghubungkan kompensasi yang lebih baik menuju pencapaian,
berkomunikasi lebih sering dengan karyawan, dan lebih
menekankan pada etika bisnis.
b. Pernyataan misi
Pernyataan misi adalah pernyataan tujuan jangka panjang yang
membedakan bisnis dari organisasi serupa lainnya. Pernytaan misi
mengidentifikasi ruang lingkup operasi organisasi dalam hal produk
dan pasar. Pernyataan misi menjawab pertanyaan mendasaryang
dihadapi oleh semua ahli strategi: “apa sebenarnya usaha kita?
Pernyataan misi yang jelas menguraikan nilai-nilai dan prioritas
suatu organisasi. Mengembangkan misi bisnis memaksa ahli
strategi untuk berfikir mengenai sifat dan ruang lingkup operasi saat
ini dan untuk menilai potensi daya tarik pasar dan aktifitas masa
depan. Pernyataan misi yang luas menggambarkan arah organisasi
di masa depan.
c. Peluang dan Ancaman eksternal
Peluang dan ancaman eksternal adalah kecenderungan dan
peristiwa ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan, politik,
hukum, pemerintahan, teknologi dan persaingan yang dapat secara
signifikan menguntungkan atau merugikan organisasi dimasa
depan. Peluang dan ancaman umumnya berada diluar kendali
organisasi, sehingga disebut faktor eksternal.
d. Kekuatan dan kelemahan internal
Kekuatan dan kelemahan internal adalah aktivitas yang
dikendalikan organisasi dengan kinerja yang sangat baik atau buruk.
Kekuatan dan kelemahan ini muncul dalam kegiatan manajemen,
produksi, pemasaran, keuangan/akutansi, penelitian dan
pengembangan, system informasi komputer suatu bisnis. Kekuatan
dan kelemahan ditentukan relatif terhadap pesaing bisnis. Kekuatan
dan kelemahan dapat ditentukan berdasarkan elemen selain
penampilan organisasi. Contoh kekuatan adalah memiliki sumber
daya alam dan reputasi kualiatas. Faktor internal dapat ditentukan
dengan menghitung rasio, mengukur kinerja, membandingkan
dengan periode sebelumnya atau rata-rata industri lainnya. Faktor
internal lainnya adalah semangat kerja karyawan, efisiensi
produksi/program, efektivitas pemasaran, loyalitas pelanggan.
e. Tujuan jangka panjang
Tujuan jangka panjang didefinisikan sebagai hasil spesifik
yang anda inginkan, mencapai organisasi dalam misinya selama
lebih dari satu tahun. Tujuan yang diperlukan oleh suatu organisasi
adalah untuk menyatakan arah, membantu dalam evaluasi,
menciptakan sinergi, menyatakan prioritas, fokus pada koordinasi,
dan membentuk dasar untuk perencanaan, pengorganisasian,
memotivasi dan mengandalkan kegiatan manajemen secara efektif.
f. Strategi
Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Strategi bisnis mencakup ekspansi geografis, diversifikasi, akuisisi,
pengembangan produk, penetrasi pasar, pengurangan karyawan,
divestasi, likuidasi, dan merger. Strategi dapat dilihat secara
hirarkis mulai dari strategi korporat/manajemen, strategi
bisnis/divisi dan strategi fungsional/teknis.

Substansi Manajemen Strategi


Andrew dalam Yam (2020) menyatakan bahwa pada dasarnya gagasan
manajemen strategi perusahaan melekat dengan instrument analisis
pemasaran SWOT yang terdiri dari 2 sisi yaitu: pertama, menciptakan
perpaduan antara kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dari
internal perusahaan, yang kedua, menciptakan perpaduan antara peluang
(opportunity) dan ancaman (threat) dari eksternal perusahaan.
Yam (2020) menyatakan bahwa substansi manajemen strategi adalah
merancang strategi berdasarkan kolaborasi antara unsur internal dan
eksternal perusahaan dengan tujuan menciptakan strategi baru bernilai
sinergi. Dan pada sisi lain diluar perancangan, substansi manajemen
strategi adalah menjaga eksistensi dan keberlanjutan operasional
perusahaan. Dari sudut pandang holestic manajemen strategi melakukan
kolaborasi strategi internal dan strategi eksternal. kolaboras strategi yang
dimaksud adalah perancangan strategi dilakukan secara cermat dengan
mempertimbangkan berbagai unsur terkait, antara lain tata kelola
perusahaan, sumber daya, nilai budaya, teknologi, lingkungan sosial dan
lain-lain.
Berikut komponen dan perencanaan strategi antara lain:
a. Formulasi tujuan
Diuraikan secara rinci dan jelas tentang tujuan yang menjadi sasaran.
Sasaran perlu diformulasikan dalam bentuk kinerja yang bisa diukur.
b. Analisis pasar industry (Perusahaan) dan lingkungan
Strategi ideal yang dirumuskan adalah bersifat global: dengan makna
strategi yang sudah mempertimbangkan unsur-unsur persaingan dalam
pasar mikro dan makro.
c. Sumber daya iternal dan eksternal
Unsur yang menjadi fokus dalam hal ini adalah sumber daya. Demi
mencapai hasil optimal dari strategi.
d. Implementasi
Pada tahap ini melibatkan banyak pihak dan lintas fungsional dalam
organisasi. Pihak-pihak atau kelompok kerja, khususnya tingkat
manajmen yang terlibat dalam implementasi strategi perlu memahami
substansi dan menyeragamkan penafsiran.
e. Pengawasan implementasi
Strategi yang dibuat dengan cermat tidak menjamin implementasi bisa
berjalan baik dan lancar, karena situasi lingkungan bisa berubah tanpa
batas dan diluar batas kendali.
f. Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi
dalam masa implementasi. Pada sisi lanjutan adalah menentukan
langkah perbaikan atau penyesuaian apabila hasil implementasi tidak
memenuhi sasaran dan menentukan langkah penguatan terhadap
implementasi yang berhasil.

Pengertian Manajemen Strategi


Mujito (2023:1) menyatakan bahwa manajemen strategik adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya
perusahaan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Tujuan dari manajemen strategik
adalah untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki arah yang jelas dan dapat
bersaing secara efektif dan efisien dalam lingkungan bisnis yang dinamis. Manajemen
strategik melibatkan berbagai aktivitas, seperti analisis lingkungan bisnis, identifikasi
peluang dan ancaman, formulasi strategi, implementasi strategi, dan evaluasi hasil. Hal
ini memastikan bahwa Perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat an
memastikan bahwa sumber daya yang tersedia digunakan secara efektif dan efisien.
Berikut beberapa pengertian manejemen strategik menurut para ahli:

  1. Wahyudi dalam Ahmad (2020) menyatakan bahwa manajemen strategi
    adalah suatu proses yang digunakan oleh manager dan karyawan untuk
    merumuskan dan mengimplementasikan strategi dalam penyediaan
    customer vebet terbaik untuk mewujudkan visi organisasi.
  2. Simongkir dalam Ahmad (2020) menyatakan bahwa manajemen strategik
    adalah suatu seni dan ilmu dari pembuatan (formulating), penerapan
    (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategis
    antara fungsi-fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai
    tujuan-tujuan masa datang.
  3. Mintzberg dalam Mujito (2023) menyatakan bahwa manajemen strategik
    adalah proses pemikiran dan pembuatan keputusan yang berlangsung secara
    terus-menerus dan melibatkan perencanaan, pengambilan keputusan, dan
    evaluasi
  4. Porter dalam Mujito (2023) menyatakan bahwa manajemen strategik
    adalah proses memahami lingkungan bisnis dan membuat pilihan yang
    membedakan perusahaan dari kompotitornya, sehingga perusahaan dapat
    memenuhi kebutuhan pasar dan mencapai tujuan jangka panjang.
    Menurut David dan David dalam Mujito (2023) manajemen strategik
    melibatkan tiga langkah utama: analisis lingkungan bisnis, formulasi strategi, dan
    implementasi strategi. Langkah-langkah ini harus dilakukan secara berkesinambungan
    dan membutuhkan interaksi antara berbagai tingkatan manajemen dalam organisasi.
    Mereka juga menekankan pentingnya evaluasi dan strategi untuk mengatasi perubahan
    lingkungan bisnis dan mencapai tujuan jangka panjang perusahaan.
    Strategi merupakan pilihan tentang bagaimana cara untuk terus
    mengembangkan usaha dan juga bagaimana cara untuk mencapai tujuan perusahaan.
    Berikut beberapa ahli yang memberikan teori tentang manajemen strategi itu sendiri
  5. Barney dalam Mujito (2023) menyatakan bahwa manajemen strategis
    (strategic management) dapat dipahami sebagai proses pemilihan dan
    penerapan strategi-strategi. Sedangkan strategi adalah pola alokasi sumber
    daya yang memungkinkan organisasi-organisasi dapat mempertahankan
    kinerjanya.
  6. David dalam Mojito (2023) menyatakan bahwa manajemen strategi adalah
    ilmu mengenai perumusan, pelaksanaan dan evaluasi keputusan-keputusan
    lintas fungsi yang memungkinkan organisasi mencapai tujuannya.

Konsep Manajemen


James A.F & Stonner dalam Amri et al. (2022) menyatakan bahwa,
manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarah dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan pengunaan sumber-sumber daya
organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang diterapkan.
R. Terry dalam Amri et al. (2022) menyatakan bahwa, manajemen merupakan
suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengendalian yang dilakukan menentukan serta mencapai sasaran
yang telah ditentukan melalui pemanfaatan daya dan sumber daya lainnya.

Analisis SWOT


Menurut Freddy Rangkuti (2005) Analisis SWOT adalah identifikasi
berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis
ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan
peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan (weakness) dan ancaman (threats) Proses pengambilan keputusan
strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan
kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategis harus menganalisis
faktor-faktor strategis organisai yaitu (kekuatan, kelemahan, peluang, anaman)
dalam kondisi yang ada pada saat ini. Hal ini disebutkan dengan analisis situasi.
a. Kekuatan
Merupakan sumberdaya, keterampilan atau keunggulan-keunggulan lain
relative terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani atau ingin
dilayani oleh perusahaan. Kekuatan adalah kompetensi khusus (distinctive
competence) yang memberikaan keunggulan komparatif bagi perusahaan
di pasar. Kekuatan dapat terkandung dalam sumberdaya keuangan, citra,
kepemimpinan pasar, hubungan pembeli dengan pemasok dan faktorfaktor lain.
b. Kelemahan
Kelemahan sebagai keterbatasan atau kekurangan dalam sumberdaya,
keterampilan, dan kapabilitas yang dapat menghambat kinerja efektif
perusahaan. Sumber-sumber kelemahan tersebut dapat meliputi fasilitas,
sumberdaya keuangan, kapabilitas manajemen, keterampilan pemasaran
dan citra merk.
c. Peluang
Peluang merupakan situasi penting yang mengantungkan dalam
lingkungan perusahaan. Perkembangan trend merupakan salah satu sumber
peluang. Identifikasi segmen pasar yang terabaikan, perubahan situasi
persaingan atau peraturan, perubahan teknologi serta membaiknya
hubungan antara pembeli dengan pemasok dapat memberikan peluang
bagi perusahaan.
d. Ancaman
Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungkan dalam
lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan penggangu utama bagi
posisi perusahaan. Masuknya pesaing baru, lambatnya pertumbuhan pasar,
meningkatnya kekuatan tawar-menawar pembeli dengan pemasok utama,
perubahan teknologi serta peraturan baru atau yang direvisi dapat
menjadiancaman bagi keberhasilan perusahaan. Pearce dan Robinson
dalam hendry (2011)

Penentuan Strategi Pemasaran


Penentuan strategi pemasaran merupakan pokok perumusan strategi
pemasaran adalah pemilihan strategi pasar sasaran produk pada tiap unit bisnis,
penetapan tujuan pemasaran dan pengembangan, pelaksanaan serta pengolahan
strategi untuk memenuhi keinginan konsumen pasar sasaran. Porter, (2004).
Analisis situasi mengidentifikasiakn peluang dan ancaman dalam bisnis serta
kekuatan kelemahan organisasi. Semua informasi yang diperoleh memiliki peran
penting dalam desain strategi permasalahan, termasuk analisis penentuan sasaran
pasar dan pengembangan serta penentuan posisi produk baru di pasar. Porter,
(2004).
Strategi penentuan pasar
Keunggulan pemasaran dipengaruhi oleh beberapa faktor situasi
seperti ciri-ciri industri, sejenis perusahaan (seperti ukuran perusahaan)
diferesiasi kebutuhan pembeli dan keunggulan pesaing perusahaan yang
spesifik dalam merancang strategi pemasaran. Permasalahan yang penting
adalah memutuskan bagaimana, kapan dan dimana akan bersaing, serta
memberikan gambaran lingkugan perusahaan baik lingkungan internal dan
lingkungan eksternal. Porter, (2004).
Strategi penentuan posisi
Strategi penentuan posisi dalam program pemasaran merupakan
hasil kombinasi antara strategi produk, saluran distribusi, harga dan
promosi yang digunakan oleh perusahaan untuk menentukan posisinya
terhadap pesaing utama dalam usaha memenuhi kebutuhan dan keinginan
pasar sasaran . Porter, (2004).
Untuk mengetahui posisi dalam lingkungan, sekaligus sebagai
startegi menghadapi perubahan yang terjadi dalam lingkungan,
dilakukannidentifikasi dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman
dari organisasi yang bersangkutan. Identifikasi ini didasarkan pada 2 (dua)
kriteria utama, dan setiap kriteria juga mempunyai sub-sub kriteria sendirisendiri. Kedua kriteria utama tersebut ialah :

  1. Pengaruh Positif, yaitu pengaruh yang dapat mendukung ( secara
    positif ) perkembangan organisasi agar sesuai dengan arah/sasaran
    organisasi. Pengaruh ini dapat datang dari luar dan dalam perusahaan,
    pengaruh tersebut adalah :
    a. Sisi Peluang ( Opportunity), yaitu lingkungan di luar (eksternal)
    yang merupakan keuntungan bagi organisasi. Lingkungan
    tersebut diidentifikasikan sebagai Remote Environment yang
    melipuri : politik, ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan, dan
    teknologi.
    b. Sisi Kekuatan ( Strength) adalah lingkungan di dalam usaha yang
    sangat mendukung berkembangnya organisasi, kriteria ini
    diiidentifikasikan dengan pendekatan fungsional.
  2. Pengaruh Negatif ialah pengaruh yang menghambat perkembangan
    organsisasi ( memberikan dampak negatif ) dalam mencpai
    arah/sasaran ortganisasi. Pengaruh ini juga yang akan datang dari
    luar maupun dari dalam, yaitu :
    a. Sisi Ancaman ( Threat ) merupakan lingkungan eksternal yang
    akan menghambat kemampuan organsisasi dalam
    mengembangkan usahanya.
    b. Sisi Kelemahan ( Weaknesses) yaitu lingkungan di dalam
    usaha/organisasi.

Strategi Pemasaran


Strategi pemasaran merupakan rencana yang menjabarkan ekspektasi
perusahaan akan dampak dari berbagai aktivitas atau program pemasaran terhadap
permintaan produk atau lini produknya di pasar sasaran tertentu. Perusahaan dapat
menggunakan dua atau lebih program pemasaran secara bersamaan, sebab setiap
jenis program seperti (periklanan, promosi penjualan, personal selling, layanan
pelanggan atau pengembangan produk) memiliki pengaruh yang berdeba-beda
terhadap permintaan. Tjiptono, Chandra dan Adriana dalam Hendry (2015).
Sedangkan dalam strategisnya, pemasaran mencakup setiap usaha untuk mencapai
kesesuaian antara perusahaan dengan lingkungannya dalam rangka mencari
pemecahan atas masalah penentuan dua pertimbangan pokok. Pertama, bisnis apa
yang digeluti perusahaan pada saat ini dan jenis bisnis apa yang dapat dimasuki di
masa mendatang. Kedua, bagaimana bisnis yang telah dipilih tersebut dapat
dijalankan dengan sukses dalam lingkungan yang kompetitif atas dasar prespektif
produk, harga, promosi dan distribusi (bauran pemasaran) untuk melayani pasar
sasaran. Tjiptono dalam Hendry (2015).
Semua organisasi membutuhkan pemasaran untuk mencapai tujuan
dan objektifnya, jadi perusahaan memerlukan strategi yang berbeda-beda guna
jangka panjang yang digunakan bagi pedoman masing-masing tingkat perusahaan.
Strategi Pemasaran didasarkan analisis manajer perusahaan akan lingkungan
perusahaan baik internal maupun eksternal. Terdapat 3 elemen pokok menurut
Fandy Tjiptono dalam Sri Yati (2010) didalam strategi pemasaran :
a. Konsumen
Pemasaran berawal dari kebutuhan dan keinginan pelanggan serta
berakhir dengan kepuasan loyalitas pelanggan. Pemasar wajib
memahami siapa saja pelanggannya, preferensi, karakteristik,
kebutuhan, dan keinginan, gaya hidup, serta faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap pola konsumsi mereka.
b. Pesaing
Memenuhi kepuasan konsumen belumlah cukup. Apabila ada pesaing
yang sanggup memuaskan pelanggan dengan lebih baik, maka
pelanggan akan beralih kepesaing. Oleh sebab itu, setiap organisasi
harus memperhatikan faktor persaingan pula. Faktor tersebut meliputi
siapa saja pesaing perusahaan, strategi, kelemahan, kompetensi diri,
serta relasi mereka.
c. Perusahaan
Tujuan perusahaan dicapai melalui upaya memuaskan pelanggan.
Caranya tidak semata-mata dengan menekankan pada aspek transaksi,
namun justru lebih fokus pada aspek relasi. Untuk itu dibutuhkan
strategi, kinerja, kompetensi diri, sumberdaya (manusia, alam,
finansial, teknologi, intelektual, informasi, dan waktu).

Pemasaran


Menurut Kotler dalam Hendry (2015), mendefinisikan pemasaran
sebagai suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok dalam
mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan adalah melalui proses
menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk yang
bernilai dengan pihak lain. Kartajaya dalam Hendry (2015), mendefinisikan
pemasaran yang lebih luas, yaitu pemasaran adalah sebuah disiplin bisnis strategis
yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan nilai dari satu
penggagas kepada pengikut gagasannya.
Menurut Freddy Rangkuti dalam Sri Yati (2010), pemasaran adalah
suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya,
politik, ekonomi dan manajerial. Akibat dari pengaruh beberapa faktor tersebut
masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan
keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan menukarkan produk yang
memiliki nilai komoditi

Strategi


Istilah strategi berasal dari kata Yunani Strategia (Stratos = militer;
dan ag = memimpin), yang artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang jendral
Tjiptono dalam Hendr y (2015). Strategi juga bisa diartikan sebagai suatu rencana
untuk pembagian dan penggunaan kekuatan militer dan material pada daerahdaerah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Konsep strategi militer seringkali diadaptasi dan diterapkan dalam
dunia bisnis, misalnya konsep Sun Tzu, Hannibal, dan Carl von clausewitz.
Dalam konteks bisnis, strategi menggambarkan arah bisnis yang mengikuti
lingkungan yang dipilih dan merupakan pedoman untuk mengalokasikan sumber
daya atau usaha suatu organisasi. Setiap organisasi membutuhkan strategi
manakalah menghadapi situs berikut : Jain dalam Hendry (2015).

  1. Sumber daya yang dimiliki terbatas.
  2. Ada ketidak pastian mengenai kekuatan bersaing organisasi.
  3. Komitmen terhadap sumber daya tidak dapat diubah lagi.
  4. Keputusan-keputusan harus dikoordinasikan antar bagian sepanjang
    waktu.

Tipe-Tipe Strategi


Menurut Frredy Rangkuti (2005) Pada prinsipnya strategi dapat
dikelompokan berdasarkan tiga tipe strategi yaitu, strategi manajemen,
strategi investasi dan strategi bisnis.

  1. Strategi Manajemen
    Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh
    manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro
    misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penerapan harga,
    strategi akuisisi, strategi pengembangan pasar, strategi mengenai
    keuangan dan sebagainya.
  2. Strategi Investasi
    Strategi ini merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi.
    Misalnya, apakah perusahaan ingin melakukan strategi pertumbuhan
    yang agresif atau berusaha mengadakan penetrasi pasar, strategi
    bertahan, strategi pembangunan kembali suatu divisi baru atau strategi
    divestasi dan sebagainya.
  3. Strategi Bisnis
    Strategi bisnis ini sering juga disebut strategi bisnis secra fungsional
    karena strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan
    manajemen, misalnya strategi pemasaran, strategi produksi atau
    oprasional, strategi distribusi, strategi organisasi dan strategi-strategi
    yang berhubungan dengan keuangan.

Faktor-faktor Perilaku Konsumen


Menurut Setiadi (2019), ada empat faktor yang menentukan perilaku
konsumen dalam membeli barang atau jasa yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor Kebudayaan
    Faktor Kebudayaan mempunyai tiga bagian yaitu budaya, subbudaya, dan kelas
    sosial:
    a. Budaya yaitu perilaku konsumen yang tercermin dari kebiasaan dan tradisi
    dalam permintaan berbagai barang dan jasa.
    b. Subbudaya merupakan bagian yang lebih kecil dari kebudayaan, yaitu seperti
    suku, agama, dan ras.
    c. Kelas social adalah sektor masyarakat yang relatif permanen dan hierarkis,
    dan anggotanya memiliki nilai, minat, dan perilaku yang sama.
  2. Faktor Sosial
    Ada beberapa faktor sosial yang dapat menentukan perilaku konsumen yaitu:
    a. Kelompok Referensi yang berfungsi sebagai informasi atau perbandingan
    pribadi, sehingga perilaku saat membeli produk dari merek tertentu akan
    ditentukan oleh kelompok referensinya.
    b. Keluarga. Setiap anggota keluarga memiliki selera dan minat yang berbeda
    sehingga berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.
    c. Peran dan Status merupakan faktor yang juga dapat mempengaruhi perilaku
    konsumen berdasarkan posisinya di dalam kelompok tersebut.
  3. Faktor Pribadi dapat berupa pengaruh umur, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya
    hidup, dan konsep diri.
  4. Faktor Psikologi merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keadaan kejiwaan
    individu seperti motivasi, persepsi, proses belajar, dan kepercayaan.

Indikator Minat Beli


Berikut merupakan indikator minat beli seseorang dalam memutuskan
pembelian menurut Priansa (2017) sebagai berikut:

  1. Perhatian (attention)
    Perhatian merupakan tahap awal dalam menilai suatu produk atau jasa sesuai
    dengan kebutuhan calon konsumen, selain itu calon konsumen juga mempelajari
    produk atau jasa yang ditawarkan.
  2. Tertarik (interest)
    Dalam tahap ini, calon konsumen mulai tertarik untuk membeli produk atau jasa
    yang ditawarkan, setelah mendapatkan informasi yang lebih terperinci mengenai
    produk atau jasa yang ditawarkan.
  3. Hasrat (desire)
    Calon konsumen mulai memikirkan serta berdiskusi mengenai produk atau jasa
    yang ditawarkan, karena hasrat dan keinginan untuk membeli mulai timbul.
    Dalam tahapan ini, calon konsumen sudah mulai berminat terhadap produk atau
    jasa yang ditawarkan. Tahap ini ditandai dengan munculnya minat yang kuat
    dari calon konsumen untuk membeli dan mencoba produk atau jasa yang
    ditawarkan.
  4. Tindakan (action)
    Pada tahap ini, calon konsumen telah mempunyai kemantapan yang tinggi untuk
    membeli atau menggunakan produk (barang/jasa) yang ditawarkan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Beli


Minat beli pada dasarnya adalah suatu pembelian secara subyektif dalam
diri setiap individu terhadap suatu hal yang berhubungan langsung dengan
transaksi ekonomi (Priansa, 2017). Menurut Pratama et al. (2021), terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen antara lain:

  1. Faktor kualitas merupakan bagian dari produk yang dipertimbangkan pada segi
    manfaat fisiknya.
  2. Faktor merek merupakan bagian yang memberikan manfaat pada kepuasan
    emosional konsumen.
  3. Faktor kemasan merupakan bagian produk yang dipertimbangkan pada sisi
    pembungkus produknya.
  4. Faktor harga merupakan pengorbanan biaya yang dikeluarkan konsumenuntuk
    mendapatkan produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan.
  5. Faktor ketersediaan barang merupakan sikap konsumen terhadap ketersediaan
    barang.
  6. Faktor acuan merupakan pengaruh dari luar perusahaan yang dapat
    mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli produk atau jasa yang
    ditawarkan

Pengertian Minat Beli


Menurut Rahima (2018), minat beli konsumen pada dasarnya merupakan
faktor pendorong dalam pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk.
Murwaningtyas et al. (2020) juga berpendapat bahwa minat beli merupakan sikap
positif yang dimiliki konsumen terhadap suatu produk atau merek, yang akan
menimbulkan pembelian terhadap produk atau merek tersebut.
Proses minat beli konsumen tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Semakin
banyak testimoni positif diduga akan menyebabkan semakin besar minat beli
konsumen. Terbukti dari suatu hasil penelitian bahwa semakin banyak dan
terpercaya testimoni yang ada, semakin tinggi juga minat beli konsumen (Dhaefina
et al., 2021). Minat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran
yang membentuk suatu persepsi (Iwan dan Nainggolan, 2017). Menurut Dharma
dan Iskandar (2017), minat beli merupakan rasa ketertarikan konsumen yang timbul
pada suatu produk untuk membeli dan memiliki produk tersebut setelah menerima
rangsangan baik dari produk itu sendiri maupun rangsangan yang berasal dari dalam
diri konsumen itu sendiri. Indikator dari minat beli adalah perhatian (attention),
tertarik (interest), hasrat (desire), dan tindakan (action) (Recha dan Sari, 2018)

Bauran Pemasaran


Dalam merencanakan dan melaksanakan strategi pemasaran, maka
diperlukan taktik yang disebut dengan bauran pemasaran (Aji, 2019). Menurut
Swastha (2014), bauran pemasaran adalah kombinasi dari berbagai kegiatan
pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memasarkan produknya selama
periode waktu tertentu dan pasar tertentu. Terdapat empat variable dalam bauran
pemasaran yang dapat digunakan perusahaan untuk menarik minat beli
konsumennya antara lain product, price, place, dan promotion.

  1. Product
    Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada konsumen untuk
    memenuhi kebutuhannya (Kurniawan, 2018). Selain itu, produk adalah sesuatu
    yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dipakai, dimiliki, dan
    dikonsumsi sehingga memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen
    (Firmansyah, 2018).
    Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa produk adalah segala sesuatu
    yang ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dipakai, dimiliki, dan dikonsumsi
    sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
  2. Price
    Harga adalah total nilai yang diberikan oleh konsumen untuk mendapatkan
    manfaat dari produk atau jasa (Aji, 2019). Pendapat lain mengemukakan, harga
    adalah jumlah nilai yang diberikan oleh konsumen untuk mendapatkan manfaat
    dari produk yang dimiliki atau digunakan (Setiyaningrum, 2015).
    Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, produk adalah total atau jumlah nilai
    yang diberikan oleh konsumen untuk mendapatkan manfaat dari produk yang di
    telah digunakan atau dimiliki.
  3. Place
    Menurut Kurniawan (2018) place adalah tempat atau saluran distribusi yang
    digunakan oleh perusahaan untuk menjangkau konsumennya. Sedangkan
    menurut Aji (2019), saluran distribusi adalah rangkaian organisasi independent
    yang saling terkoneksi agar produk dapat dimiliki atau digunakan oleh
    konsumen atau pengguna bisnis.

Langkah-langkah Strategi Pemasaran


Dalam melakukan strategi pemasaran diperlukan langkah-langkah dalam
mendukung kesuksesan strategi pemasaran untuk mencapai tujuan. Adapun
langkah-langkah strategi pemasaran menurut Kotler dan Keller (2018) yaitu:

  1. Segmentasi pasar
    Seorang pemasar tidak dapat memuaskan semua orang dalam satu pasar.
    Karenanya, pemasar memulai membagi-bagi pasar kedalam beberapa kelompok
    lalu mengidentifikasi dan membuat profil dari kelompok-kelompok pembeli
    yang berbeda menurut demografis, psikografis, dan perilaku. Menurut Huda
    (2017) segmentasi pasar dapat dijelaskan sebagai berikut:
    a. Segmentasi geografik, yaitu membagi pasar menjadi beberapa unit secara
    geografik seperti negara, regional, negara bagian, kota atau kompleks
    perumahan.
    b. Segmentasi demografik, yaitu membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan
    pada variabel seperti umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, daur kehidupan
    keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kebangsaan.
    c. Segmentasi psikografis, yaitu mengelompokkan konsumen atau pembeli
    menjadi bagian pasar menurut variabel-variabel pola atau gaya hidup (life
    style) dan kepribadian (personality).
    d. Segmentasi tingkah laku, yaitu mengelompokkan pembeli pada pengetahuan,
    sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Setelah di
    identifikasi segmen pasar yang dapat memberikan peluang tinggi maka
    pemasar atau perusahaan menetapkan segmen tersebut sebagai pasar sasaran
    (target pasar).
  2. Penetapan target pasar
    Setelah mengidentifikasi segmen pasar yang memberikan peluang besar maka
    pemasar menentukan segmen tersebut sebagai pasar sasaran.
  3. Positioning
    Langkah yang terakhir yaitu perusahaan atau pemasar harus melakukan
    penawaran terhadap produknya agar mendapat posisi tersendiri di benak
    konsumen dan memudahkan konsumen untuk membedakan dengan produk
    pesaing