Indikator Kinerja Karyawan


Menurut Robbins (2016:260) indikator kinerja yaitu alat untuk mengukur
sajauh mana pencapain kinerja karyawan. Berikut indikator-indikator untuk
mengukur kinerja karyawan:

  1. Kualitas kerja
    Kualitas kerja dapat dilihat dari hasil kerja karyawan dalam
    menyelesaikan pekerjaan juga kemampuan dan keterampilan karyawan
    dalam mengerjakan tugas yang diberikan padanya.
  2. Kuantitas
    Kuantitas yaitu ukuran jumlah hasil kerja unit maupun jumlah siklus
    aktivitas yang diselesaikan oleh karyawan sehingga kinerja karyawan
    dapat diukur melalui jumlah (unit/siklus) tersebut.
  3. Ketepatan Waktu
    Kinerja Karyawan juga dapat diukur dari ketepatan waktu karyawan
    dalam menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Sehingga
    tidak mengganggu pekerjaan yang lain yang merupakan bagian dari
    tugas karyawan tersebut.
  4. Efektifitas
    Efektifitas yang di maksud merupakan tingkat penggunaan sumber daya
    organisasi (tenaga, uang, teknologi dan bahan baku) dimaksimalkan
    dengan maksud menaikan hasil dari setiap unit dalam penggunakan
    sumber daya.
  5. Kemandirian
    Kemandirian merupakan tingkat seseorang yang nantinya akan dapat
    menjalankan fungsi kerjanya tanpa menerima bantuan, bimbingan atau
    pengawas

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan, Menurut
Masram (2017:147) faktor-faktor tersebut terdiri dari:

  1. Efektivitas dan efisiensi.
    Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh
    mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-
    akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang
    dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif
    dinamakan tidak efisien.
  2. Otoritas (wewenang).
    Otoritas adalah sifat dari suatu komunikasi atau pemerintah dalam
    suatu organisasi formal yang dimiliki oleh seorang anggota organisasi
    kepada anggota lain untuk melakukan suatu kegiatan kerja dengan
    kontribusinya.
  3. Disiplin.
    Disiplin adalah taat kepada hokum dan peraturan yang berlaku.
  4. Inisiatif.
    Yaitu yang berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam
    membentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan
    tujuan organisasi.

Pengertian Kinerja Karyawan


Menurut Rizaldi (2021) Kinerja adalah suatu hasil dimana orang, sumber-
sumber yang ada di lingkungan kerja tertentu secara bersama membawa hasil
akhir yang didasarkan tingkat mutu dan standar yang telah ditetapkan.
Menurut Busro dalam Narimawati et.al (2022) Kinerja merupakan hasil
kerja yang dapat dicapai pegawai baik individu maupun kelompok dalam suatu
organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan
organisasi dalam mencapai visi dan misi dan tujuan organisasi dengan
kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan waktu yang dietntukan dan
tidak melanggar hukum.
Adapun Menurut Effendy (2018) mengatakan bahwa kinerja merupakan
Hasil kerja yang dapat dicapai oleh individu atau kelompok orang didalam suatu
organisasi, dimulai dari proses awal sampai akhir sebagai hasil yang didapat,
Organisasi yang baik adalah organisasi yang berusaha meningkatkan kemampuan
sumber daya manusia, karena hal tersebut merupakan faktor kunci untuk
meningkatkan kinerja karyawan di sebuah organisasi. Kasmir (2016:182)
mengatakan kinerja merupakan hasil kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai
dalam menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu
periode tertentu.
Menurut Wulantika (2018) Kinerja karyawan merupakan salah satu
dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur, mengevaluasi kemampuan
karyawan menjalankan tugasnya dan memiliki kewajiban kepada organisasi
tempat mereka bernaung. Sedangkan Robbin (2016:260) mendefinisikan kinerja
adalah suatu hasil yang dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya menurut kriteria
tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja
karyawan merupakan pencapaian hasil karyawan dalam suatu proses
melaksanakan tugasnya dengan sesuai tanggung jawab yang diberikan. Dengan
meningkatkan kinerja karyawan akan membawa dampak yang positif bagi
perusahaan, sehingga karyawan memiliki tingkat kinerja yang baik dan optimal
untuk membantu mewujudkan tujuan perusahaan

Indikator Kompetensi


Ada beberapa indikator Menurut Sugiyanto & Santoso (2018) antara lain:

  1. Pengetahuan
    Kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya seorang karyawan
    mengetahui cara melakukan identifikasi belajar dan bagaimana
    melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada
    dengan efektif dan efisien di perusahaan.
  2. Pemahaman
    Kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki individu. Misalnya seorang
    karyawan dalam melaksanakan pembelajaran harus mempunyai
    pemahaman yang baik tetang karakteristik dan kondisi secara efektif
    dan efisien.
  3. Kemampuan/Keterampilan
    Sesuatu yang dimiliki oleh individu yang melaksanakan tugas atau
    pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya, kemampuan
    karyawan dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan
    efisien.
  4. Nilai
    Suatu standar perilaku yang telah ditakini dan secara psikologis telah
    menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku para
    karyawan dalam melaksanakan tugas (kejujuran, keterbukaan,
    demokratis dan lain- lain).
  5. Sikap
    Perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap
    suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya, reaksi terhadap
    krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji dan sebagainya.
  6. Minat
    Kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.
    Misalnya, melakukan sesuatu aktivitas tugas

Faktor – Faktor Kompetensi


Latief et. al (2018) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang
dapat memengaruhi kecakapan kompetensi seseorang, yaitu sebagai berikut:

  1. Keyakinan dan Nilai-nilai
    Keyakinan terhadap diri maupun terhadap orang lain akan sangat
    memengaruhi perilaku. Apabila orang percaya bahwa mereka tidak
    kreatif dan inovatif, mereka tidak akan berusaha berpikir tentang cara
    baru atau berbeda dalam melakukan sesuatu.
  2. Keterampilan
    Keterampilan memainkan peranan di berbagai kompetensi. Berbicara
    di depan umum merupakan keterampilan yang dapat dipelajari,
    dipraktikan dan diperbaiki. Keterampilan menulis juga dapat
    diperbaiki dengan instruksi, praktik dan umpan balik.
  3. Pengalaman
    Keahlian dari banyak kompetensi memerlukan pengalaman
    mengorganisasi orang, komunikasi di hadapan kelompok,
    menyelesaikan masalah, dan sebagainya. Orang yang tidak pernah
    berhubungan dengan organisasi besar dan kompleks tidak mungkin
    mengembangkan kecerdasan organisasional untuk memahami
    dinamika kekuasaan dan pengaruh dalam lingkungan tersebut.
  4. Karakteristik
    Kepribadian Dalam kepribadian termasuk banyak faktor yang di
    antaranya sulit untuk berubah. Akan tetapi, kepribadian bukannya
    sesuatu yang tidak dapat berubah. Kenyataannya, kepribadian
    seseorang dapat berubah sepanjang waktu. Orang merespon dan
    berinteraksi dengan kekuatan dan lingkungan sekitarnya.
  5. Motivasi
    Motivasi merupakan faktor dalam kompetensi yang dapat berubah.
    Dengan memberikan dorongan, apresiasi terhadap pekerjaan bawahan,
    memberikan pengakuan dan perhatian individual dari atasan dapat
    mempunyai pengaruh positif terhadap motivasi seseorang bawahan.
  6. Isu Emosional
    Hambatan emosional dapat membatasi penguasaan kompetensi. Takut
    membuat kesalahan, menjadi malu, merasa tidak disukai atau tidak
    menjadi bagian, semuanya cenderung membatasi motivasi dan
    inisiatif. Perasaan tentang kewenangan dapat mempengaruhi
    kemampuan komunikasi dan menyelesaikan konflik dengan manajer.
    Orang mungkin mengalami kesulitan mendengarkan orang lain apabila
    mereka tidak merasa didengar.
  7. Kemampuan Intelektual
    Kompetensi tergantung pada pemikiran kognitif seperti pemikiran
    konseptual dan pemikiran analitis. Tidak mungkin memperbaiki
    melalui setiap intervensi yang diwujudkan suatu organisasi. Sudah
    tentu faktor seperti pengalaman dapat meningkatkan kecakapan dalam
    kompetensi ini

Pengertian Kompetensi


Menurut Agustian (2018) menjelaskan bahwa kompetensi adalah suatu
kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang
dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang
dituntut oleh pekerjaan tersebut. Kompetensi juga menunjukkan karakteristik
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki atau dibutuhkan oleh setiap individu
yang memampukan mereka untuk melakukan tugas dan tanggung jawab mereka
secara efektif dan meningkatkan standar kualitas profesional dalam pekerjaan
mereka.
Ada juga pengertian Kompetensi menurut Edison et. al (2016) Kompetensi
adalah kemampuan individu untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan benar
dan memiliki keunggulan yang didasarkan pada hal-hal yang menyangkut
pengetahuan, keahlian, dan sikap. Sutrisno (2016:203) “kompetensi adalah suatu
kemampuan yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan yang didukung
oleh sikap kerja serta penerapannya dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan
yang mengacu pada persyaratan kerja yang ditetapkan”.
Sedangkan Menurut Wibowo (2016) Kompetensi adalah suatu kemampuan
untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan yang dilandasi atas
keterampilan dan pengalaman serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh
pekerja. Sugiyanto dan Santoso (2018) menyebutkan bahwa kompetensi juga
dapat menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu dari suatu
profesi dalam ciri keahlian tertentu, yang menjadi ciri dari seorang profesional.
Dengan demikian pegawai yang memiliki kompetensi tinggi akan mendapatkan
kepuasan kerja dan kinerja sumber daya manusia yang meningkat
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi
merupakan karakteristik seseorang yang memiliki kemampuan dan dilandasi
dengan keterampilan, pengetahuan, dan perilaku yang dapat menghasilkan
pekerjaan yang efektif dalam mecapai tujuan perusahaan

Indikator Komitmen


Indikator Komitmen menurut Robbins dalam penelitian Rizaldi (2021)
yaitu:

  1. Komitmen Afektif, yaitu keterikatan berdasarkan emosional
  2. Komitmen Continue, yaitu dimana karyawan akan tetap bertahan di
    tempat ia bekerja karena akan beresiko jika keluar.
  3. Komitmen Normatif, yaitu karyawan akan tetap di perusahaan karena
    kewajiban bagi tujuan perusahaan

Faktor – Faktor Komitmen


Menurut Malayu S.P Hasibuan (2014:78) terbentuknya komitmen suatu
organisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

  1. Faktor Kesadaran
    Kesadaran menunjukkan suatu keadaan jiwa seseoang yang
    merupakan titik temu dari berbagai pertimbangan sehingga diperoleh
    suatu keyakinan, ketetapan hati dan kesinambungan dalam jiwa yang
    bersangkutan.
  2. Faktor Aturan
    Aturan adalah perangkat penting dalam segalatindakan dan perbuatan
    seseorang. Peranan aturan sangat besar dalam hidup bermasyarakat,
    sehingga dengan sendirinyaaturan harus dibuat, dan diawasi yang
    pada akhirnya dapat tercapai sasaran manajemen sebagai pihak yang
    berwenang dan mengatur segala sesuatu yang ada di dalam organisasi
    kerja tersebut.
  3. Faktor Organisasi
    Organisasi pelayanan contohya pelayanan Pendidikan ada dasarnya
    tidak berbeda dengan organisasi pada umumnya hanya terdapat sedikit
    perbedaan pada penerapannya, karena sasaran pelayanan ditujukan
    secara khusus kepada manusia yang memiliki watak dan kehendak
    yang multi kompleks.
  4. Faktor Pendapatan
    Pendapatan adalah penerimaan seseorang sebagai imbalan atas tenaga,
    pikiran yang telah dicurahkan untuk orang lain atau badan organisasi
    baik dalam bentuk uang.
  5. Faktor Kemampuan Keterampilan
    Kemampuan berasal dari kata mampu yang memiliki arti dapat
    melakukan tugas atau pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau
    jasa sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan dapat diartikan
    sebagai sifat/keadaan yang ditujukan oleh keadaan seseorang yang
    dapat melaksanakan tugas atau dasar ketentuan-ketentuan yang ada.
    Keterampilan adalah kemampuan melakukan pekerjaan dengan
    menggnakan anggota badan dan peralatan yang tersedia.
  6. Faktor Sarana Pelayanan
    Sarana pelayanan ada segalajenis perlengkapa kerja dan fasilitas lain
    yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan
    pekerjaan, dan juga berfungsi sosial dalam rangkauntuk memenuhi
    kepentingan orang-orang yang sedang berhubungan dengan organisasi
    kerja itu

Pengertian Komitmen


Komitmen kerja atau komitmen organisasi merupakan suatu kondisi yang
dirasakan oleh karyawan yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat
terhadap organisasi kerja yang dimilikinya. Menurut Steers dan Porter (2013)
suatu bentuk komitmen kerja yang muncul bukan hanya bersifat loyalitas yang
pasif, tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi kerja yang
memiliki tujuan memberikan segala usaha demi keberhasilan organisasi kerja
yang bersangkutan.
Kusumaputri (2015:41) mengatakan bahwa komitmen merupakan
kekuatan yang mengikat individu melakukan aksi untuk menuju satu atau
beberapa tujuan. Karyawan yang memiliki komitmen dalam melaksanakan
pekerjaannya dapat diartikan sebagai kemampuan atau kemauan yang telah ada
dalam diri karyawan untuk menyelaraskan perilaku pribadi dan menjadikan
prioritas dan tujuan perusahaan. Triatna (2016:120) komitmen adalah suatu kadar
kesetiaan karyawan terhadap perusahaan yang dicirikan oleh keinginan untuk
tetap menjadi bagian organisasi, berbuat yang terbaik untuk organisasi dan
selalu menjaga nama baik organisasi.
Cohen dalam Kusumaputri (2015) mendefinisikan bahwa komitmen kerja
adalah kekuatan yang mengikat individu untuk melakukan suatu aksi menuju satu
atau beberapa tujuan organisasi. Sedangkan Miller dan Lee dalam Kusumaputri
(2015) mendefinisikan komitmen kerja adalah keadaan anggota organisasi yang
terikat aktivitas dan keyakinannya, adapun fungsinya untuk mempertahankan
aktivitas dan keterlibatannya dalam organisasi. Menurut Robbins dalam
penelitian Rizaldi (2021), komitmen organisasi yakni suatusituasi yang
dihadapi karyawan mengenai keberadaanya di organisasi tersebut dengan
memutuskan akan memihak serta memiliki tujuan yang diiringi keinginan untuk
tetap berada atau menjadi bagian dalam organisasi.
Menurut Wibowo (2016:429), komitmen adalah perasaan, sikap dan
perilaku individu mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari organisasi,
terlibat dalam proses kegiatan operasional dan loyal terhadap organisasi dalam
mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
komitmen yaitu keadaan psikologis individu yang berhubungan dengan
keyakinan, kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap tujuan dan nilai-nilai
organisasi, kemauan yang kuat untuk bekerja demi organisasi dan tingkat sampai
sejauh mana ia tetap ingin menjadi anggota organisasi

Indikator Komunikasi


Indikator Komunikasi menurut Wibowo (2014 : 171) yaitu :

  1. Kemudahan dalam memperoleh informasi
    Proses komunikasi akan mudah untuk memproleh komunikasi dalam
    pemindahan ide ataupun gagasan
  2. Intensitas Komunikasi
    Apabila banyak percakapan yang baik, maka komunikasi akan
    semakin lancer.
  3. Efektivitas komunikasi
    Berkomunikasi secara tatap langsung akan memudahkan pasan yang
    disampaikan komunikator.
  4. Tingkat pemaham pesan
    Komunikasi yang baik dan lancar akan memudahkan seseorang atau
    penerima mengerti dan memahami pesan yang disampaikan.
  5. Perubahan sikap
    Seseorang yang memahami pesan yang disampaikan komunikator,
    maka akan terjadi perubahan sikap yang dilakukan sesuai dengan apa
    yang di komunikasikan

Faktor – Faktor Komunikasi


Menurut Mangkunegara (2004:148) ada dua tinjauan faktor yang
mempengaruhi komunikasi, yaitu dari pihak sender (pengirim) dan dari
pihak receiver (penerima).

  1. Faktor dari pihak sender (pengirim)
    a) Keterampilan pengirim
    Pihak pengirim sebagai pengirim informasi, ide, berita, pesan,
    perlu menguasai cara-cara penyampaian pikiran, baik secara
    tertulis, maupun lisan
    b) Sikap pengirim
    Pengirim harus bersikap meyakinkan penerima terhadap pesan
    yang diberikan kepadanya
    c) Pengertahuan pengirim
    Pengirim yang mempunyai pengetahuan luas akan dapat
    mengirim informasi kepada penerima sebaik mungkin.
    d) Media saluran yang digunakan oleh pengirim,
    media atau saluran komunikasi sangat membantu dalam
    penyampaian ide, informasi, atau pesan kepada penerima.
  2. Faktor dari pihak receiver (penerima)
    a) Keterampilan penerima,
    Pesan yang diberikan oleh pengirim akan dapat dimengerti
    dengan baik, jika penerima mempunyai keterampilan
    mendengar dan membaca.
    b) Sikap penerima,
    Sikap penerima terhadap pengirim sangat mempengaruhi
    komunikasi, dengan begitu sikap penerima harus bersikap positif
    terhadap pengirim
    c) Pengetahuan penerima
    penerima yang mempunyai pengetahuan yang lebih luas akan
    mudah dalam menafsirkan ide atau pesan yang diterimanya dari
    pengirim.
    d) Media saluran komunikasi
    media saluran komunikasi yang digunakan sangat berpengaruh
    dalam penerimaan ide atau pesan.
    e) Komunikasi yang efektif
    f) Kualitas komunikasi.

Pengertian Komunikasi


Hamali (2016) mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses
penyampaian ide-ide dan informasi berupa perintah dan petunjuk kerja dari
seorang pimpinan kepada karyawan atau para bawahannya untuk melaksanakan
tugas – tugas kerja dengan sebaik-baiknya. Menurut Wibowo (2014) komunikasi
adalah proses dalam pengaturan organisasi untuk memelihara agar manajemen
dan para karyawan tetap tahu tentang bermacam-macam hal yang relevan.
Menurut Nurjaman & Umam (2012) Komunikasi “yaitu suatu kata yang
mencakup segala bentuk interaksi dengan orang lain yang berupa percakapan
biasa, membujuk, mengajar, dan negosiasi”
Adapun pengertian Komuniakasi menurut Handoko (2012:272) adalah
“Proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari
seseorang ke-orang lain”. pengertian dari perpindahan tersebut yaitu tidak
hanya sekedar kata-kata yang digunakan dalam sebuah percakapan, tetapi juga
dibutuhkan ekspresi wajah, intonasi, dan lain sebagainya. Menurut Abidin
(2015:34), komunikasi adalah pertukaran pesan verbal ataupun non verbal antara
pengirim dan penerima pesan untuk mengubah tingkah laku.
Mangkunegara (2018) mengatakan komunikasi ialah proses pemindahan
suatu informasi, ide, pengertian dari seseorang kepada orang lain dengan harapan
orang lain tersebut dapat menginterprestasikan sesuai dengan tujuan yang
dimaksud. Robbins dan Judge (2017:223) mengatakan bahwa komunikasi harus
meliputi baik pemindahan maupun pemahaman makna. Dalam komunikasi yang
sempurna suatu pemikiran yang sempurna, suatu pemikiran akan dikirimkan
sehingga si penerima dapat memahami dengan gambaran mental yamg sama
dengan yang di maksudkan oleh si pengirim.
Menurut pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah
proses penyampaian informasi dari ide –ide dari satu pihak ke pihak lain, baik dari
individu maupun kelompok , komunikasi adalah proses penyampaian sebuah
pesan dalam bentuk atau cara penyampaian yang bisa disesuaikan sehingga makna
dari pesan tersebut dapat diterima sehingga terjadi pertukaran pesan verbal
maupun non verbal. Komunikasi berlangsung melalui proses dan tahap tertentu,
secara terus menerus, berubah-ubah, dan tidak ada hentinya. Proses komunikasi
merupakan proses timbal balik karena antara si pengirim dan penerima
mempengaruhi satu sama lain (Muhammad, 2011:5).

Pengaruh psychological empowerment terhadap employee wellbeing

Psychological empowerment atau pemberdayaan psikologis adalah
konsep unuk meningkatkan efikasi diri dan motivasi intrinsik, yang terdiri dari
empat dimensi kognitif, dampak, kompetensi, kebermaknaan, dan penentuan nasib
sendiri (Conger & Kanungo, 1988; Thomas & Velthouse, 1990) dalam Rantika &
Yustina (2017). Karyawan yang diberdayakan memiliki pengertian lebih besar
terhadap makna dari pekerjaan mereka, terutama saat mereka merasa bahwa
mereka memiliki tugas pekerjaan yang berharga. Makna di tempat kerja
mendorong keterlibatan kerja dalam karyawan (Olivier & Rothmann dalam
Rantika dan Yustina, 2017). Kompetensi yang dimiliki oleh karyawan akan
meningkatkan motivasi intrinsik mereka (Ryan & Desi, 2020). Ketika karyawan
merasa yakin akan hal itu mereka dapat menangani tuntutan pekerjaan mereka
(mereka memiliki efikasi diri yang tinggi), mereka akan mengalami perasaan
senang. Dimensi lain, seperti penentuan nasib sendiri, juga dapat meningkatkan
kesejahteran karyawan (Ryan & Desi, 2020). Sedangkan dampak, didefinisikan
sebagai karyawan yang percaya bahwa kemajuan dibuat untuk tujuan yang
ditetapkan dan tindakan mereka dapat membuat perbedaan dalam organisasi
mereka serta berkontribusi pada keterlibatan kerja (Stander & Rothmann dalam
Rantika dan Yustina, 2017). Bhatnagar (2018) menemukan bahwa pemberdayaan
psikologis berkorelasi positif dan signifikan dengan employee wellbeing melalui
konteks employee wellbeing yang diteliti. Peneliti lain menemukan bahwa
peningkatan perasaan self efficacy berkorelasi dengan employee wellbeing
(Maslach et al dalam Rantika dan Yustina, 2017). Karyawan merasa diberdayakan
secara psikologis, mereka akan lebih aktif dan produktif, mereka akan termotivasi
memberikan yang terbaik untuk organisasinya dan sebagai hasilnya, mereka lebih
terlibat dalam pekerjaannya sehingga berkontribusi terhadap employee wellbeing.

Pengaruh Person job fit terhadap employee wellbeing

Person job fit atau kesesuaian orang dengan pekerjaan dikaitkan dengan
employee wellbeing karena tiga alasan. Pertama adalah persepsi dan persepsi
membuat karyawan lebih puas dalam bekerja. Quinn dalam Choi et al ( 2017 )
menunjukkan bahwa persepsi membuat karyawan memiliki kemampuan dalam
memenuhi tugas dan membantu karyawan mendapatkan lebih banyak
kegembiraan dari pekerjaan mereka. Brkich et al. dan Singh dan Greenhaus (Choi
et al, 2017) menemukan bahwa kecocokan yang antara keterampilan dan
kemampuan karyawan dan persyaratan pekerjaan membuat karyawan senang
dengan pekerjaan mereka. Kedua, saat karyawan memandang kecocockan antara
kemampuan dan tuntutan pekerjaan, mereka mengalami lebih sedikit stres dan
kelelahan (Singh dan Greenhaus dalam Choi et al, 2017) dan tidak merasa
khawatir (Quinn dalam Choi et al, 2017). Dengan kata lain, persepsi kecocokan
orang dengan pekerjaan dapat melemahkan efek kelelahan di tempat kerja
(Hobfoll, 2017), sehingga meningkatkan employee wellbeing. Terakhir,
Akkermans et al dalam Choi et al (2017) menyebutkan bahwa evaluasi diri positif
karyawan akan kemampuan mereka berfungsi sebagai sumber daya pribadi.
Sumber daya pribadi ini relevan karena merangsang perkembangan pertumbuhan
pribadi dan pencapaian tujuan. :

Pengaruh inclusive leadership terhadap psychological empowerment

Thomas dan Velthouse (1990) dalam Rantika dan yustina (2017)
mengemukakan bahwa pemberdayaan adalah konsep yang terdiri dari empat
kognitif yaitu, Makna, kompetensi, penentuan nasib sendiri dan dampak. Spreitzer
(1995) dalam Rantika dan Yustina (2017) lebih lanjut menegaskan konsep ini dan
mendefinisikan pemberdayaan psikologis sebagai suatu bentuk motivasi intrinsik
yang mencerminkan orientasi, rasa proaktif dan kontrol atas pekerjaan yang
dimanifestasikan dalam empat kognisi: makna, kompetensi, penentuan nasib diri
dan dampak. Spreitzer menunjukkan bahwa pemberdayaan psikologis mendorong
karyawan untuk membuat keputusan yang terdesentralisasi dalam organisasi yang
memberi wewenang kepada karyawan tingkat bawah untuk secara aktif
memainkan peran mereka dalam proses pengambilan keputusan (Spreitzer, 1995).
Dalam konteks ini, lingkungan kerja yang cenderung inklusif dianggap paling
cocok karena di lingkungan tempat kerja seperti itu, suara didengar dan dihormati,
beragam ide dan perspektif dihargai, dan karyawan didorong untuk melakukan
dan memberikan kontribusi yang berguna bagi organisasi (Pless & Maak dalam
Rantika dan Yustina, 2017). Peran pemimpin sangat penting untuk membangun
dan memelihara lingkungan tertentu di tempat kerja. Hollander dalam choi et al
(2017) menekankan bahwa efektivitas pemimpin terletak pada pemberdayaan
terhadap pengikut mereka dan memungkinkan pengaruh dua arah melalui
mempromosikan pengikut tentang keterampilan dan tanggung jawab. t:

Pengaruh Inclusive leadership terhadap person job fit

Kristof-Brown et al. dalam Choi et al (2017) mengatakan person job fit
terjadi ketika seseorang memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan suatu
pekerjaan. Edwards dalam Choi et al (2017) membagi person job fit menjadi dua
tipe dasar. Salah satunya adalah tuntutan kemampuan yang sesuai dengan
pengetahuan dan keterampilan selanjutnya kemampuan yang sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan mereka. Beberapa penelitian telah meneliti pengaruh yang
berbeda dari setiap sub jenis person job fit pada studi mereka (Ying, 2019).
Lainnya memperlakukan person job fit sebagai satu konstruksi yang menampilkan
karakteristik kedua sub jenis (Mulki et al dalam Choi et al, 2017). Peneliti lain
menjelaskan inclusive leadership terkait dengan kesesuaian orang pekerjaan
dalam tiga cara. Pertama, keterbukaan pemimpin yang inklusif untuk
mendiskusikan masalah dengan karyawan dapat mengurangi ketidakpastian dan
ambiguitas karyawan dalam peran kerja (Thomas dan Lankau dalam Choi et al,
2017), dengan demikian meningkatkan kemampuan mereka untuk memenuhi
tuntutan pekerjaan mereka. Kedua, inclusive leadership menciptakan lingkungan
kerja yang mendukung yang mendorong optimisme dan keyakinan karyawan
bahwa mereka memiliki kemampuan yang sesuai untuk memenuhi persyaratan
pekerjaan dan tugas-tugas mereka (Tims et al dalam Choi et al, 2017). Terakhir,
dengan menunjukkan dukungan yang konstan kepada karyawan (Hollander dalam
Choi et al, 2017).

Pengaruh inclusive leadership terhadap employee wellbeing

Beberapa faktor diketahui menjadi penentu employee wellbeing. Faktor-
faktor tersebut dapat berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung,
salah satunya adalah inclusive leadership. Beberapa penelitian sebelumnya telah
dilakukan untuk menganalisis hubungan antara kepemimpinan yang berbeda dan
dampaknya terhadap employee wellbeing. Tujuan dari kepemimpinan antara lain
adalah untuk memotivasi karyawan dan mencapai goal atau tujuan. Seperti yang
telah dijabarkan dalam definisi ini, keterbukaan, aksesibilitas, dan ketersediaan
untuk berbicara dan mendiskusikan ide-ide karyawan adalah tiga aspek penguat
inclusive leadership (Carmeli et dalam Choi et al, 2017) ketiga aspek inclusive
leadership tidak hanya mencerminkan perhatian dari pemimpin terhadap
pengikut, tetapi juga memungkinkan pemimpin yang inklusif untuk
mengomunikasikan harapan yang diinginkan dengan pengikut secara efektif.
Dengan kata lain, pemimpin inklusif terbuka, bersedia mendengarkan karyawan
dan mendiskusikan cara-cara baru untuk mencapai tujuan kerja dan
memperhatikan peluang baru. Penelitian Carmeli et al dalam Choi et al. (2017)
mengatakan karakteristik ini juga memungkinkan mereka untuk membina
hubungan berkualitas tinggi dengan karyawan. Didasarkan dengan perilaku
tersebut, maka dapat memupuk rasa aman bagi karyawan untuk bersuara dan
menyalurkan aspirasi mereka dan oleh sebab itu inclusive leadership
berkontribusi terhadap employee wellbeing.

Pengertian Inclusive Leadership


Menurut Nembhard dan Edmondson dalam Choi et al (2017)
inclusive leadership adalah kepemimpinan yang mengacu pada para pemimpin
yang menunjukan keterbukaan, aksesibilitas dan ketersediaan dalam interaksi
mereka dengan pengikut. Nembhard dan Edmondson menyatakan bahwa
inclusive leadership membentuk situasi dimana suara benar-benar dihargai.
Mereka percaya bahwa inclusive leadership adalah gaya kepemimpinan di
mana para pemimpin bersedia mendengarkan pendapat karyawan, mendorong
dan menghargai upaya mereka.
Teori Inclusive leadership oleh Edwin Hollander dalam Choi et al
(2017) mendeskripsikan bagaimana pemimpin terikat dengan pengikut melalui
kesamaan dan tujuan dalam diri mereka. Hollander (1958) percaya bahwa para
pemimpin menerima kepercayaan dari pengikut ketika mereka terikat atas visi
bersama (Choi et al, 2017). Hollander dalam Choi et al (2017) menyatakan
bahwa inclusive leadership merupakan cara kepemimpinan yang efektif yang
pada dasarnya terletak dalam kemampuan pemimpin untuk menghormati dan
memahami bawahannya serta memberi perhatian pada kebutuhan mereka,
sehingga organisasi dan karyawan dapat berbagi tujuan dan pencapaian yang
sama dalam memperoleh hasil yang sama-sama menguntungkan.
Selanjutnya Carmeli dan Reiter (2017), menunjukkan bahwa
kepemimpinan yang inklusif adalah bentuk khusus dari kepemimpinan
“relasional”. Sedangkan menurut Zhu dalam Choi et al (2017) inclusive
leadership terarah, terkoordinasi, dan didorong oleh inklusivitas keterbukaan,
demokrasi, dan humanisme. Proses dan upaya anggota organisasi untuk
mencapai tujuan organisasi diwujudkan dalam empat aspek: keterbukaan,
demokrasi, humanisme, dan keadilan.
Penelitian Li (2018) mengusulkan tiga hal yang mewakili perilaku
inclusive leadership dari perspektif generasi baru manajemen karyawan yaitu,
pemberdayaan yang seimbang, manajemen mobile, dan progresif inovasi guna
menyeimbangkan dan mengintegrasikan pengelolaan normatif dan fleksibel
manajemen organisasi, keseimbangan dinamis dan pembangunan inklusif.
Terakhir, Yao et al. (2018) mengemukakan model inklusif empat
derajat kepemimpinan diartikan dengan efektivitas perilaku inclusive
leadership yang tercermin dalam keterbukaan, afinitas, toleransi, dan
dukungannya

Inclusive Leadership


Kepemimpinan adalah sebuah kemampuan atau kekuatan di dalam diri
seseorang untuk memimpin dan mempengaruhi orang lain. Robbins dan Judge
(2018), mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk memengaruhi
suatu kelompok ke arah pencapaian visi atau serangkaian tujuan. Teori klasik
mengenai kepemimpinan yang dikenal sebagai bentuk dari karakteristik seorang
pemimpin dimulai dari trait theory.
Menurut Robbins dan Judge (2018), Trait theory merupakan teori yang
mempertimbangkan kualitas dan karakteristik pribadi yang membedakan
pemimpin dari yang bukan pemimpin. Teori ini berpendapat bahwa seorang
pemimpin menunjukkan sifat-sifat bawaan seseorang sesuai dengan karakteristik
yang disebutkan didalam teori tersebut dan hal inilah yang dapat membuat
seseorang menjadi pemimpin. Seiring perkembangan teori kepemimpinan, teori-
teori baru pun muncul sebagai bagian dari usaha untuk mengkarakteristikkan
kepemimpinan itu sendiri.
Teori kepemimpinan kemudian memperkenalkan behavioral theories
dengan tujuan untuk menentukan parameter kepemimpinan. Menurut Robbins dan
Judge (2018), Behavioral theories merupakan teori yang mengemukakan bahwa
perilaku spesifik membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. Teori ini
menyiaratkan bahwa kita dapat melatih orang untuk menjadi pemimpin.
Perkembangan teori kepemimpinan berikutnya diikuti dengan
kemunculan contingency theory. Contingency theories merupakan teori yang
dikembangkan oleh Fiedler dan dikenal sebagai “The Fiedler Model”. Menurut
Robbins dan Judge (2018), teori ini menjelaskan bahwa kelompok yang efektif
bergantung pada kecocokan yang tepat antara gaya pemimpin dalam berinteraksi
dengan bawahan dan sejauh mana situasi memberikan kontrol dan pengaruh
kepada pemimpin.
Teori kepemimpinan selanjutnya adalah contemporary theory of
leadership. Robbins dan Judge (2018), mengungkapkan bahwa teori kontemporer
dibangun atas fondasi yang baru untuk menemukan cara unik para pemimpin
muncul, mempengaruhi, dan membimbing karyawan dan organisasi mereka. Teori
ini memunculkan beberapa konsep terkemuka saat ini dan mencari aspek-aspek
keseluruhan dari teori kepemimpinan. Konsep-konsep dari teori kepemimpinan
kontemporer terdiri dari leader-member exchange (LMX) theory, charismatic
leadership, transactional and transformational leadership dan inclusive
leadership

Dimensi Psychological Empowerment


Spreitzer (1995) dalam Rantika dan Yustina (2017) pada
penelitiannya merumuskan empat dimensi penting yang membentuk
konstruksi psychological empowerment yaitu :
a. Pemaknaan (Meaning) adalah perasaan yang dialami seseorang ketika
sudah berhasil memahami pekerjaan dan aktivitas yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaanya. Pada dimensi ini seseorang akan menghargai
dan memahami arti dan nilai tujuan pekerjaannya sesuai dengan idealisme
dan standar yang telah ditetapkan secara pribadi oleh dirinya sendiri.
b. Kompetensi (Competence) merupakan rasa percaya seseorang terhadap
kemampuan diri sendiri untuk melakukan suatu pekerjaan dengan
menggunakan keahlian yang di miliki. Kompetensi dapat dianalogikan
sebagai keyakinan karyawan, penguasaan pribadi atau usaha untuk
melakukan pekerjaan sesuai dengan apa yang menjadi ekspektasinya.
c. Determinasi diri (Self-determination) merupakan keadaan ketika
seseorang merasa memiliki kontrol terhadap pilihan dalam memulai dan
mengatur pekerjannya sendiri. Dimensi ini mengarah kepada refleksi dari
otonomi individu dalam perilakunya untuk memulai, melanjutkan
pekerjaan dan menjalani proses kerja. Determinasi diri dalam pekerjaan
dapat dilihat ketika membuat keputusan sendiri mengenai metode kerja
yang akan digunakan, kecepatan kerja, dan berbagai usaha yang akan
dilakukan.
d. Pengaruh (Impact) merupakan tingkatan dimana seseorang dapat
memberikan pengaruh dalam hal strategi, administrasi, atau
pengoperasian hasil kerja di perusahaan.

Pengertian Psychological Empowerment


Teori psychological empowerment atau pemberdayaan psikologis
pertama kali dikemukakan oleh Conger & Kanungo dalam Rantika dan
Yustina (2017), yang diartikan sebagai proses perbaikan self efficacy anggota
dalam organisasi dengan mengidentifikasi dan menghilangkan situasi yang
menyebabkan ketidakberdayaan melalui praktik formal maupun teknik
informal. Adapun self efficacy merupakan persepsi individu tentang dirinya,
tentang kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri dalam memutuskan
tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan dan kinerja yang diinginkan.
Menurut Thomas & Velthouse dalam Rantika dan Yustina (2017),
pemberdayaan psikologis memiliki empat dimensi kognitif yaitu, dampak,
kompetensi, makna, dan penentuan nasib sendiri. Dampak terkait dengan
pengaruh yang diberikan oleh karyawan pada diri mereka sendiri di tempat
kerja mereka. Kompetensi adalah kemampuan orang untuk melakukan tugas
tertentu dengan keahlian dan keterampilan yang mereka miliki. Makna dinilai
sebagai hubungan antara nilai tugas dengan tujuan masing-masing ide atau
standar karyawan dan penentuan nasib sendiri adalah keyakinan pada
kebebasan atau otonomi tentang bagaimana mengerjakan pekerjaannya
sendiri. .
Selanjutnya Conger & Kanungo dalam Rantika dan Yustina (2017)
menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah proses yang mempengaruhi inisiasi
bawahan dan ketekunan dalam perilaku mereka. Pemberdayaan psikologis
juga dapat memberikan motivasi kepada bawahan untuk membuat mereka
gigih dalam memecahkan masalah organisasi.
Sedangkan Quinn & Spreitzer dalam Rantika dan Yustina (2017)
berpendapat bahwa karyawan yang diberdayakan akan menganggap pekerjaan
mereka sebagai bagian penting dari hidup mereka dan menunjukkan
keseriusan terhadap apa yang mereka lakukan. Moye dan Henkin dalam
Dekhordi (2019) menambahkan bahwa pemberdayaan karyawan penting
dikarenakan merupakan suatu metode yang dapat meningkatkan kemampuan
dalam pengambilan keputusan secara mandiri kemudian dapat digunakan
untuk memberikan kekuatan dan motivasi kepada karyawan

Pengertian Person Job Fit

Menurut Scroggins (2018) person job fit merupakan konsep diri
dalam pekerjaan yang sesuai. Dalam hal ini, karyawan cenderung
menyesuaikan diri agar sesuai dengan persyaratan pekerjaan yang terkait
dengan kecocokan yang dirasakan (person job fit). Holland dalam
penelitiannya menyatakan ketika kepribadian dan pekerjaan sangat cocok
maka akan memunculkan kepuasan dalam diri karyawan meningkat. Contoh,
orang yang realistis berada dalam situasi yang realistis lebih sesuai dari pada
orang yang realistis berada dalam situasi yang konvensional (Robbins dan
Judge, 2018 : 171).
Person job fit diartikan sebagai cocoknya kemampuan individu
dengan tuntutan dari sebuah pekerjaan (Edwards dalam Choi et al, 2017).
Person job fit didefinisikan sebagai kompatibilitas antara individu dan
pekerjaan atau tugas yang mereka lakukan di tempat kerja. Person job fit
dikaji dengan menetapkan pekerjaan yang dibutuhkan sesuai dengan analisis
pekerjaan yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang dalam organisasi
sehingga bakat, pengetahuan dan kemampuan pekerja sesuai dengan tuntutan
pekerjaan. Berdasarkan psikologi interaksional, premis yang mendasari person
job fit ketika karakteristik pribadi dan pekerjaan bersama menentukan hasil
individual (Farzaneh et al, 2018).
Kristof-Brown dalam Choi et al (2017) menjelaskan person job fit
diartikan sebagai kesesuaian antara individu dengan pekerjaan atau tugas-
tugas yang dilakukan di tempat kerja. Definisi ini mencakup kesesuaian
berdasarkan kebutuhan karyawan dan perlengkapan kerja yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan tersebut, serta tuntutan pekerjaan dan keterampilan
karyawan untuk memenuhi permintaan tersebut

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Employee Wellbeing


    Danna dan Griffin dalam Choi et al (2017) pada penelitiannya
    menyebutkan jika kecemasan dan frustrasi merupakan faktor yang
    mempengaruhi psikologis, sementara tekanan darah dan kondisi jantung
    dianggap sebagai faktor fisiologis.
    Menurut Enny (2019) dalam buku manajemen sumber daya
    manusia, faktor-faktor yang mempengaruhi employee wellbeing adalah
    sebagai berikut:

    1. Gaji dan upah yang baik. Gaji dapat digunakan untuk kebutuhan
      psikologis dan sosial.
    2. Rekan kerja yang kompak. Hal ini merupakan cermin dari kebutuhan
      sosial. Seorang karyawan mungkin keberatan untuk dipromosikan hanya
      karena tidak menginginkan kehilangan rekan kerja yang kompak.
    3. Kondisi kerja yang aman, nyaman dan menarik. Kondisi kerja yang aman
      berasal dari kebutuhan akan rasa aman.
    4. Keamanan. Meliputi rasa aman terhadap suasana kerja, pemberian jaminan
      asuransi dan pelayanan kesehatan.
    5. Kesenangan Meliputi pemberian waktu rekreasi bersama, pemberian cuti
      dan sebagainya.
    6. Pimpinan yang adil dan bijaksana. Pimpinan yang tidak berat sebelah akan
      menjadi support dalam ketenangan kerja.
    7. Pemimpin yang melengkapi para karyawan dengan sumber dana yang
      diperlukan untuk menjalankan tugasnya.
    8. Pemimpin mengkomunikasikan kepada karyawan tentang apa yang
      diharapkan dari mereka.
    9. Pemimpin yang memberikan penghargaan untuk mendorong kinerja

    Dimensi Employee Wellbeing


    Menurut Cartwright dan Holmes dalam Choi et al (2017) employee
    wellbeing terdiri dari dua dimensi yaitu:
    a. Dimensi kesenangan
    Dimensi kesenangan menekankan bahwa manusia bekerja dan seharusnya
    bekerja menurut prinsif kesenangan.
    b. Dimensi gairah positif
    Gairah positif diartikan sebagai antusiasme dalam menjalani segala
    aktivitas. Individu dengan karakter ini tampil sebagai pribadi yang enerjik,
    gembira, penuh semangat, dan aktif.

    Pengertian Employee Wellbeing


    Kepuasan identik dengan kesenangan, kebahagiaan, keceriaan,
    kegembiraan, dan keriangan. Horn dalam Choi et al (2017) menyatakan
    karyawan yang sejahtera akan mengalami kepuasan serta perasaan bahagia.
    Menurut KBBI kepuasan mengacu pada perasaaan bahagia, lega,
    gembira, puas dan senang karena telah terpenuhi hasratnya. Perasaan puas
    akan menimbulkan perasaan yang nyaman, tentram, damai, senang dan
    bahagia. Kesejahteraan sendiri merujuk pada kesenangan dan keadaan emosi
    yang positif yang dihasilkan dari pengalaman seseorang.
    Employee wellbeing pertama kali dicetuskan oleh Locke dalam Choi
    et al (2017) mengacu pada kesenangan atau keadaan emosi positif yang
    dihasilkan dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang.
    Menurut pandangan Diener dalam Choi (2017) Kesejahteraan dikonsepkan
    sebagai konsep yang dibangun secara global dan dioperasikan dengan
    memasukan kepuasan kerja karyawan, kepuasan keluarga dan kesejahteraan
    fisik maupun kesejahteraan secara psikologis.
    Bakker dan Oerlemans dalam Choi et al (2017) menyatakan
    karyawan akan memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi jika mereka
    lebih puas dengan pekerjaan mereka dan lebih sering mengalami emosi positif
    dalam proses kerja. Menurut Hasibuan (2016), dalam buku Manajemen
    Sumber Daya Manusia, employee wellbeing adalah balas jasa pelengkap
    (material dan non material) yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan.
    Tujuannya untuk mempertahankan dan memperbaiki kondisi fisik dan mental
    karyawan, agar produktivitas kerjanya meningkat.
    Menurut Peng & Chen (2018), employee wellbeing dianggap sebagai
    evaluasi kognitif dan emosional individu sebagai hasil dari pengalamannya
    terkait dengan pekerjaan atau spiritual di tempat kerja. Warr dalam Choi et al
    (2017) menyebutkan employee wellbeing adalah kesadaran psikologis, harga
    diri dan potensi mereka dalam pekerjaan yang terwujud dalam bentuk
    perasaan pribadi, motivasi, dan sikap terhadap kehidupan. .
    Definisi lain employee wellbeing menurut UU No. 13 Tahun 2003
    tentang ketenagakerjaan adalah sebagai suatu pemenuhan kebutuhan atau
    keperluan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, baik di dalam maupun di luar
    hubungan kerja, yang secara langsung atau tidak langsung dapat
    meningkatkan produktivitas kerja dalam lingkungan kerja yang aman dan
    sehat. Sedangkan Chen dan Jin (2018) menganggap employee wellbeing
    sebagai evaluasi keseluruhan atas kualitas kerja dari realisasi nilai dan
    potensinya dalam proses kerja. Perspektif ini berfokus pada persepsi individu
    tentang signifikansi pekerjaan, tantangan kerja, pengembangan potensi, dan
    realisasi nilai.
    Menurut Panggabean (2017:96) employee wellbeing juga dikenal
    dengan benefit yang mencakup semua jenis penghargaan berupa uang yang
    tidak dibayarkan secara langsung kepada karyawan. Menurut Gary Dessler
    yang diterjemahkan oleh Benyamin Molan dalam buku Manajemen Sumber
    Daya Manusia (2019), dikatakan bahwa benefit adalah semua pembayaran
    keuangan tidak langsung yang diterima seseorang karyawan untuk
    melanjutkan pekerjaannya.
    Cartwright dan Holmes dalam Choi et al (2017) mengambil dua
    pendekatan untuk memahami employee wellbeing yaitu, positif dan negatif.
    Pendekatan negatif didedikasikan untuk kelelahan dan stres kerja sedangkan
    pendekatan positif menafsirkan kesejahteraan sebagai keadaan afektif yang
    terdiri dari dua dimensi yaitu, kesenangan dan tingkat gairah. Oleh karena itu,
    kesejahteraan afektif telah dirujuk sebagai kesejahteraan umum. Beberapa
    penelitian menggunakan kesejahteraan afektif untuk mengukur kesejahteraan
    secara umum (Horn et al dalam Choi et al, 2017). Mengikuti garis penelitian
    tersebut, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kesejahteraan positif
    dan berfokus pada kesejahteraan afektif sebagai kesejahteraan umum.

    Faktor Psychological Empowerment


    Menurut Spreitzer (1995), terdapat 4 (empat) faktor yang mempengaruhi
    psychological empowerment:
    a. Self-esteem
    Seseorang yang memiliki self-esteem tinggi, berkemungkinan akan
    memperluas perasaannya tersebut ke rasa kemampuan atau kompetensi
    spefisik dalam konteks pekerjaan. Mereka memandang diri sendiri sebagai
    aset berharga dengan kemampuan yang layak untuk dikontribusikan dan
    mendorong mereka lebih proaktif dalam divisi dan pekerjaan mereka.
    Begitu juga sebaliknya, individu dengan self-esteem rendah cenderung
    meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memberikan kontribusi di
    tempat kerjanya.
    b. Locus of control
    Locus of control menunjukkan sejauh mana individu meyakini dirinya
    sendiri tanpa pihak eksternal untuk menentukan apa saja hal yang mungkin
    akan terjadi pada hidup mereka. Keyakinan ini mencerminkan tingkat
    kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan internalnya untuk
    mengelola situasi dan menghadapi tantangan yang dihadapi dalam
    kehidupan sehari-hari.
    c. Information
    Untuk memberikan pemberdayaan, organisasi perlu menyediakan
    informasi lebih banyak di berbagai tingkatan melalui beragam perangkat.
    Tanpa informasi yang memadai, individu sulit untuk bertanggung jawab
    dan tidak menggunakan energi serta kreativitas mereka secara optimal.
    d. Reward
    Faktor lain yang penting untuk memberikan pemberdayaan, yaitu
    diberikannya insentif sebagai penghargaan (reward) terhadap kinerja yang
    sudah diberikan. Hal ini juga tentunya dapat meningkatkan motivasi dan
    komitmen individu

    Dimensi Psychological Empowerment


    Menurut Spreitzer (1995), terdapat 4 (empat) dimensi dalam psychological
    empowerment:
    a. Meaning
    Meaning merupakan makna pekerjaan yang dinilai berdasarkan
    kesesuaian standar pribadi individu, yaitu kesesuaian antara tuntutan peran
    kerja dengan keyakinan nilai-nilai, dan perilaku individu itu sendiri.
    b. Competence
    Competence merupakan keyakinan yang dimiliki oleh individu terhadap
    kemampuannya sendiri untuk melakukan berbagai aktivitas dengan
    keterampilan yang dimilikinya.
    c. Self-determination
    Self-determination merupakan bagaimana individu memiliki kebebasan
    untuk memilih dalam memulai dan mengatur tindakannya, yang meliputi
    otonomi dalam memulai dan melaksanakan proses pekerjaannya.
    d. Impcat
    Impact merupakan sejauh mana individu mempengaruhi keputusan
    strategis, administratif, atau operasional dalam lingkungan kerjanya,
    sehingga mereka mampu berkontribusi pada hasil yang dicapai oleh
    organisasi.

    Definisi Loneliness


    Beberapa ahli mendefinisikan psychological empowerment dengan berbeda-
    beda. Diawali oleh Conger dan Kanungo yang mendefinisikan empowerment
    sebagai “empowerment is defined here as a process of enhancing feelings of self-
    efficacy among organizational members through the identification of conditions
    that foster powerlessness and through their removal by both formal organizational
    practices and informal techniques of providing efficacy information” (Conger &
    Kanungo, 1988, p. 474) Inti dari definisi tersebut merujuk pada proses
    meningkatkan kepercayaan diri anggota organisasi terhadap kemampuannya
    dengan menghilangkan rasa ketidakberdayaannya.
    Kemudian Thomas dan Velthous mendefinisikan psychological
    empowerment sebagai “empowerment is defined as increased intrinsic task
    motivation, and our subsequent model identifies four cognitions (task assessments)
    as the basis for worker empowerment: sense of impact, competence,
    meaningfulness, and choice” (Thomas & Velthouse, 1990, p. 666). Empowerment
    didefinisikan lebih luas lagi oleh mereka, yaitu adanya empat persepsi yang
    menggambarkan fokus individu dalam peran pekerjaan yang mereka lakukan:
    meaning, competence, self-determination, dan impact. Setelah itu pada tahun 1995,
    Spritzer mengubah definisi psychological empowerment sebagai sebagai
    “psychological pmpowerment is defined as a motivational construct manifested in
    four cognitions: meaning, competence, self-determination, and impact” (Spreitzer,

    p. 1444).
    Berdasarkan definisi yang sudah dijelaskan diatas, peneliti dalam penelitian
    ini akan menggunakan teori untuk definisi utama yang dikemukakan oleh Spreitzer
    (1995), karena definisi tersebut sudah dikembangkan lebih lanjut dan menjadi
    definisi terbaru dibandingkan dua tokoh sebelumnya. Selain itu, peneliti juga
    memilih teori (Spreitzer, 1995), dalam penelitian ini karena terdapat beberapa
    penelitian yang juga memilih menggunakan teorinya. Penelitian tersebut dilakukan
    oleh Cristy et al., (2023), Amalia & Handoyo (2018), dan Juyumaya (2022)

      Hubungan antar kepuasan kerja dengan keterikatan karyawan


      Dukungan organisasi yang dirasakan berpengaruh terhadap
      kepuasan kerja melalui keterikatan karyawan. Pengaruh mediasi yang
      ditimbulkan oleh keterikatan karyawan sebagai variabel mediasi antara
      kedua variabel tersebut merupakan mediasi parsial. Artinya pengaruh
      positif dan signifikan persepsi dukungan organisasi terhadap kepuasan
      kerja pegawai dapat terjadi dengan atau tanpa melibatkan manajemen
      pegawai sebagai variabel perantara (Roli Ilhamsyah Putra, 2020)
      Penelitian yang dilakukan Haryanto (2024) ini membuktikan
      bahwa employee engagement tidak berpengaruh terhadap kepuasan
      kerja pada hal ini disebbabkan karena perlunya dorongan dari organisasi
      untuk mengatasi ketidakpuasan yang terjadi, seperti pembinaan jalur
      karir dan penugasan kerja, pelatihan kompetensi, dan penghargaan. Hal
      ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja di kalangan tenaga
      kerja yang dapat berdampak pada peningkatan kinerja. Organisasi harus
      focus pada pengembangan lingkungan kerja yang mendukung karyawan
      dan membuat mereka tetap termotivasi, tidak hanya dalam pekerjaan
      tetapi juga dalam organisasi secara keseluruhan.
      Menurut Saks (2006), ada alasan untuk mengharapkan
      keterikatan karyawan berhubungan dengan sikap individu yaitu,
      kepuasan kerja, niat, dan perilaku. Kahn (1992) mengusulkan bahwa
      keterikatan mengarah pada hasil individu (yaitu, kualitas pekerjaan
      masyarakatdan pengalaman mereka sendiri dalam melakukan hal
      tersebut), serta hasil di tingkat organisasi (yaitu, pertumbuhan dan
      produktivitas organisasi). Pengalaman pertunangan telah terjadi
      digambarkan sebagai pengalaman dan keadaan pikiran positif yang
      berhubungan dengan pekerjaan yang memuaskan (Schaufeli and
      Bakker, 2004) dan telah ditemukan terkait dengan kesehatan yang baik
      dan pengaruh kerja yang positif, seperti kepuasan kerja (Sonnentag,
      2012).
      Dalam penelitian yang dilakukan oleh Roli Ilhamsyah Putra
      (2020) ditemukan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap
      keterikatan karyawan yang menunjukan bahwa semakin karyawan puas
      dengan pekerjaannya maka timgkat keterikatan karyawan akan
      meningkat sebaliknya jika karyawan tidak merasakan kepuasan dalam
      pekerjaannya maka tingkat keterikatannya terhadap pekerjaan akan
      semakin menurun

      Hubungan antar pemberdayaan psikologis dengan kepuasankerja


      Pemberdayaan psikologis memiliki hubungan positif dengan
      kepuasan kerja, jika suatu perusahaan menerapkan pemberdayaan
      psikologis dengan lebih baik maka kondisi ini dapat meningkatkan
      kepuasan kerja karyawan. Suatu organisasi menerapkan pemberdayaan
      psikologis dengan benar maka dapat meningkatkan keterikatan
      karyawan dan pada akhirnya meningkatkan kepuasan kerja. Sebaliknya
      jika suatu organisasi tidak dapat menerapkan pemberdayaan psikologis
      dengan baik maka dapat menurunkan keterikatan karyawan dan
      selanjutnya menurunkan kepuasan kerja karyawan (Sefnedi, 2023)
      (Spreitzer, 1996) menemukan bahwa kepuasan kerja sangat
      terkait dengan dimensi pemberdayaan psikologis. Dimensi makna
      sangat terkait dengan kepuasan kerja, dimensi kompetensi
      meningkatkan kepentingan intrinsik karyawan, penentuan nasib sendiri
      merupakan dimensi kunci motivasi, dan terakhir, dimensi dampak
      sangat meningkatkan kepuasan kerja. Menurut Fong & Snape (2015),
      pemberdayaan psikologis memediasi hubungan antara pemberdayaan
      kepemimpinan dan hasil organisasi seperti kepuasan kerja dan
      komitmen organisasi. Ambad & Bahron (2012) berargumentasi bahwa
      karyawan yang memiliki pemberdayaan lebih besar kemungkinannya
      untuk merasa puas dengan peran mereka, dibandingkan dengan
      karyawan yang kurang berdaya.
      Sumber daya manusia adalah sumber daya organisasi yang
      penting oleh karena itu, organisasi mengadopsi praktik terbaik untuk
      memperoleh dan mempertahankan sumber daya manusianya. Salah satu
      pendekatan terbaik yang digunakan untuk mengelola dan memuaskan
      sumber daya manusia adalah keterikatan karyawan. Untuk membangun
      keunggulan kompetitif, organisasi harus meningkatkan keuntungan dan
      produktivitas mereka dengan mengikuti tren baru yang menghargai
      pentingnya keterikatan tenaga kerja. Oleh karena itu, penelitian ini
      membantu organisasi dalam meningkatkan keterikatan dan memuaskan
      tenaga kerja. Penelitian berupaya meningkatkan pemberdayaan
      psikologis melalui beberapa permasalahan terkait dimensi
      pemberdayaan psikologis. Hasil dari penelitian Nassani (2021), poin-
      poin tersebut akan meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan karyawan
      terhadap keterikatan kerjanya. Variabel-variabel ini secara signifikan
      meningkatkan produktivitas dan menciptakan lingkungan kerja yang
      sehat dan sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja saat ini

      Hubungan antar Pemberdayaann Psikologis dengan keterikatankaryawan


      Instrumen pengukuran persepsi pemberdayaan psikologis dan
      keterikatan karyawan ini dapat digunakan pada penelitian selanjutnya
      oleh para akademisi dan praktisi ketika mengevaluasi hubungan atau
      dampak pemberdayaan psikologis dan keterikatan karyawan. Hal ini
      juga akan memberikan wawasan tentang organisasi yang dipilih untuk
      mengidentifikasi tingkat keterikatan yang dimiliki karyawannya saat ini
      dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan tingkat
      keterikatan karyawan. Di sisi lain, hasil penelitian ini akan menjadi
      landasan bagi para pesaing di industri yang sama untuk mengidentifikasi
      langkah-langkah apa saja yang telah diambil Camso Loadstar (Pvt) Ltd
      untuk memberdayakan karyawannya (Gamage, 2022).
      Dalam penelitian yang dilakukan oleh Stander & Rothmann
      (2010) model struktural menegaskan bahwa pemberdayaan psikologis
      (yang terdiri dari makna, kompetensi, dampak, dan penentuan nasib
      sendiri) memprediksi keterikatan karyawan. Koefisien regresi standar
      menunjukkan bahwa makna, kompetensi dan pengaruh (terdiri dari
      dampak dan penentuan nasib sendiri) merupakan prediktor keterikatan
      karyawan pada kelompok ketidakamanan afektif tinggi dan rendah.
      Namun, pengaruh pemberdayaan psikologis terhadap keterikatan
      karyawan lebih kuat ketika ketidakamanan kerja afektif tinggi (40% dari
      varians dijelaskan) dibandingkan ketika ketidakamanan kerja afektif
      rendah (10% dari varians dijelaskan). Dengan demikian dapat
      disimpulkan bahwa ketidakamanan kerja afektif memoderasi pengaruh
      pemberdayaan psikologis terhadap keterikatan karyawan. Dalam
      kondisi ketidakamanan kerja afektif yang tinggi, makna, kompetensi
      dan pengaruh (yaitu dampak dan penentuan nasib sendiri) memberikan
      kontribusi yang kuat terhadap keterikatan karyawan. Tampaknya
      pengalaman kerja yang bermakna berkontribusi terhadap keterikatan
      karyawan ketika mereka takut kehilangan pekerjaan
      Dari penelitian yang dilakukan oleh Rollah (2020) menemukan
      bahwa tingginya kemampuan pemberdayaan psikologis menunjukkan
      bahwa pegawai organisasi memiliki semangat yang tinggi, selalu
      termotivasi dan mau menerima perubahan yang dilakukan manajemen
      karena ingin memastikan organisasi terus berkembang dan berhasil.
      Selain itu, tingginya tingkat keterikatan karyawan pada organisasi ini
      menunjukkan bahwa karyawan merasa dihargai dan diperlukan bagi
      organisasi. Tingginya tingkat keterikatan karyawan ini menunjukkan
      juga adanya hubungan fisik dan emosional karyawan dengan organisasi

      Pengukuran Keterikatan Karyawan


      Menurut Shuck, Adelson and Reio (2017) keterikatan karyawan
      ada tujuh indikator untuk mengukur keterikatan karyawan yaitu:

      1. Saat bekerja, banyak berpikir tentang bagaimana cara
        memberikan yang terbaik
        Saat bekerja, karyawan berfikir bagaimana cara memberikan
        peforma yang terbaik untuk perusahaan untuk kedepannya
      2. Memiliki rasa yang kuat terhadap pekerjaan
        Karyawan dengan rasa memiliki yang kuat terhadap pekerjaan
        lebih termotivasi dan produktif terhadap pekerjaan dan seorang
        karyawan menjadi bekerja secara maksimal
      3. Fokus terhadap pekerjaan ketika bekerja
        Seorang karyawan harus fokus terhadap perkerjaan ketika
        bekerja agar bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik agar
        sesuai yang di harapkan
      4. Bangga memberi tahu orang lain bahwa bekerja untuk
        organisasi saat ini
        Seorang karyawan merasa bangga dengan dirinya karena sudah
        memberikan yang terbaik di perusahannya, dengan
        kebanggaanya tersebut karyawan memberi tahu kepada orang
        lain bahwa karyawan tersebut mampu bekerja dengan baik pada
        suatu organisasi
      5. Memberikan banyak perhatian untuk pekerjaan saat bekerja
        agar bisa.
        Ketika sedang bekerja, memberikan banyak perhatian pada
        pekerjaan menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar
      6. Peduli terhadap masa depan perusahaan
        Karyawan yang memiliki rasa peduli yang tinggi dengan masa
        depan perusahaan maka akan membantu perusahaan untuk terus
        tumbuh. Hal ini akan membuat karyawan selalu siap dan mampu
        bekerja lebih keras, serta mereka akan menyarankan hal-hal agar
        bisa memperbaiki lingkungan kerja untuk jadi lebih baik.
        Tentunya hal tersebut akan menjadi contoh bagi karyawan
        lainnya, sehingga semua karyawan dalam perusahaan dapat
        bekerja lebih produktif.
      7. Sering melampui apa yang di harapkan dari diri sendiri untuk
        membantu tim menjadi sukses
        Seorang karyawan diharapkan mampu belajar untuk saling
        membantu tim satu sama lain

      Faktor – faktor Keterikatan Karyawan


      Berdasarkan Bakker and Demerouti (2007), terdapat tiga faktor
      yang mempengaruhi keterikatan karyawan dalam bekerja, yaitu:

      1. Job Resource, berkaitan dengan aspek fisik, sosial dan
        organisasi yang memungkinkan karyawan mengurangi
        tuntutan dan biaya kerja, aspek psikologis dan fisiologis
        pekerja, pencapaian tujuan kerja dan kemampuan
        merangsang pertumbuhan, perkembangan dan
        pengembangan pribadi.
      2. Sailence of Job Resources, yang mengacu pada pentingnya
        sumber daya tenaga kerja pekerja.
      3. Personal Resources, berkaitan dengan karakteristik
        karyawan. yakni, kepribadian, karakter, usia dll.
        Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dikatakan ada
        tiga faktor yang mempengaruhi keterikatan karyawan, yaitu
        sumber daya kerja berkaitan dengan titik awal beban
        kerjanya, faktor kedua adalah kompresi sumber daya kerja
        relatif terhadap pentingnya pekerjaan. sumber daya kerja,
        yang terakhir adalah sumber daya pribadi yang berkaitan
        dengan karakteristik karyawan atau karyawan itu sendiri

      Pengertian Keterikatan Karyawan


      Keterikatan karyawan adalah variabelnya dipelajari dalam
      penelitian ini yang berperan sebagai variabel yang dipengaruhi.
      Keterikatan karyawan adalah situasi ketika karyawan terlibat dalam
      seluruh organisasi kegiatan dengan menunjukkan sikap positif dan
      perilaku saat bekerja (Schaufeli & Bakker, 2004). Namun keterikatan
      karyawan menurut para ahli dapat didefinisikan sebagai berikut:
      Menurut Gallub (2013) karyawan yang memiliki karakter selalu
      ingin terlibat, memiliki antusiasme yang tinggi, dan berkomitmen tinggi
      terhadap pekerjaannya dan yang berkontribusi terhadap organisasi
      tempat bekerja dalam perilaku yang positif.
      Menurut Albrecht (2013) keterikatan adalah pernyataan positif
      yang berhubungan dengan keiinginan yang sungguh – sungguh untuk
      berkontribusi terhadap kesuksesan organisasi (Adi dan Fithriana, 2018)
      Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
      keterikatan karyawan merupakan kemampuan individu dalam
      pekerjaannya yang ditandai dengan individu memiliki antusias dan
      komitmen yang tinggi pada pekerjaannya sehingga indivdu tersebut
      dapat berkontribusi dan mempunyai sifat yang positif pada pekerjaan
      sehingga dapat mencapai kesuksesan organisasi

      Pengukuran Kepuasan Kerja


      Menurut The Satisfaction with Work Scale (SWWS) yang
      diadaptasi dari (Bérubé, 2016) ada lima pengukuran yang dapat
      dilakukan untuk mengukur kepuasan kerja, yaitu:
      a) Secara umum pekerjaan yang saya lakukan sangat sesuai
      dengan apa yang saya inginkan dalam hidup
      b) Saya melakukan pekerjaan saya dengan baik
      c) Saya menikmati pekerjaan yang saya lakukan saat ini
      d) Saya telah mendapatkan hal – hal penting yang ingin saya
      perolah selama bekerja
      e) Jika saya mempunyai kesempatan untuk mengubah apapun
      dalam pekerjaan saya, saya hampir tidak ingin mengubah
      apapun yang berkaitan pekerjaan saya

      Faktor – faktor Kepuasan Kerja


      Menurut Fortuna (2016) kepuasan kerja dapat dipengaruhi oleh
      beberapa faktor yaitu:
      a) Faktor Psikologis, merupakan faktor yang berhubungan
      dengan kejiwaan karyawan meliputi minat, kenyamanan
      dalam bekerja, sikap terhadap teman kerja, bakat, dan
      keterampilan.
      b) Faktor Sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan
      interaksi sosial baik sesama karyawan, atasan maupun
      karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.
      c) Faktor Fsik, merupakan faktor yang berhubungan dengan
      kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan,
      meliputi. jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan waktu
      istirahat dan sebagainya.
      d) Faktor Finansial, merupakan faktor yang berhubungan
      dengan jaminan dan kesejahteraan karyawan yang meliputi
      sistem besarnya gaji, jaminan sosial, tunjangan, fasilitas
      yang diberikan, promosi, dan sebagainya

      Konsep Kepuasan Kerja


      Teori motivasi dua arah yang dikemukakan oleh Herzberg
      dikutip dari (Moningka, 2012). Teori Herzberg memberikan dua
      kontribusi penting bagi pimpinan organisasi dalam memotivasi
      karyawan. Pertama, teori ini lebih eksplisit dari teori hirarki kebutuhan,
      khususnya mengenai hubungan antara kebutuhan dalam performa
      pekerjaan. Kedua, kerangka ini membangkitkan model aplikasi,
      pemerkayaan pekerjaan.
      Karyawan yang terdorong secara intrinsik akan menyenangi
      pekerjaan yang memungkinnya menggunakan kreaktivitas dan
      inovasinya, bekerja dengan tingkat otonomi yang tinggi dan tidak perlu
      diawasi dengan ketat. Kepuasan disini tidak terutama dikaitkan dengan
      perolehan hal-hal yang bersifat materi. Sebaliknya, mereka yang lebih
      terdorong oleh faktor-faktor ekstrinsik cenderung. melihat kepada apa
      yang diberikan oleh organisasi kepada mereka dan kinerjanya diarahkan
      kepada perolehan hal-hal yang diinginkannya dari organisasi (Sondang,
      2002). Adapun yang merupakan faktor motivasi menurut Herzberg
      adalah: pekerjaan itu sendiri (the work it self), prestasi yang diraih
      (achievement), peluang untuk maju (advancement), pengakuan orang
      lain (ricognition), tanggung jawab (responsible). Sedangkan faktor
      hygienis terdiri dari: kompensasi, kondisi kerja, status, suvervisi,
      hubungan antara manusia, dan kebijaksanaan perusahaan

      Pengertian Kepuasan Kerja


      Sutrisno (2020) menyatakan bahwa kepuasan kerja merupakan
      respon emosional yang kompleks. Respon emosional ini timbul dari
      adanya motivasi, keinginan, tuntutan dan keinginan karyawan terhadap
      tempat kerja, yang dihubungkan dengan realitas yang dialami karyawan,
      sehingga menghasilkan respon emosional yang dinyatakan dalam
      bentuk perasaan bahagia, puas atau tidak puas. Pegawai yang tidak
      mendapatkan kepuasan kerja tidak akan mencapai kepuasan psikologis
      dan mengembangkan sikap negatif yang pada akhirnya menimbulkan
      frustasi, sedangkan pegawai yang puas akan berkinerja baik. Menurut
      Afandi (2018), kepuasan kerja adalah sikap positif karyawan terhadap
      pekerjaannya, termasuk perasaan dan perilakunya terhadap
      pekerjaannya, menilai pekerjaannya sebagai rasa pengakuan atas
      pencapaian nilai perusahaan yang signifikan.
      Menurut Fortuna (2016) kepuasan kerja mempunyai makna
      perasaan yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Perasaan
      tersebut diwujudkan dalam etos kerja, disiplin dan hasil kerja. Kepuasan
      kerja dapat dinikmati bisa di tempat kerja, di luar pekerjaan ataupun
      ketika menggabungkan pekerjaan di dalam dan di luar pekerjaan.
      Kepuasan kerja adalah suatu perasaan dalam bekerja ketika menerima
      pujian atas prestasi kerja, tata letak, pemeliharaan, peralatan dan
      lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang ingin menikmati kepuasan
      kerja lebih memilih pekerjaannya daripada menerima gaji, padahal gaji
      itu penting. (Robbins, 2006) menegaskan bahwa kepuasan kerja
      berhubungan dengan prestasi kerja dan organisasi dengan karyawan
      yang puas cenderung lebih produktif.
      Berdasarkan penjelasan para ahli diatas maka dapat ditarik
      kesimpulan bahwa kepuasan kerja adalah sikap emosional pada
      karyawan yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya sehingga
      karyawan dapat bekerja dengan produktf

      Pengukuran Pemberdayaan Psikologis


      Pengukuran pemberdayaan psikologis diadaptasi dan
      dimodifikasi oleh (Morgado, 2017) adalah sebagai berikut:
      a) Pekerjaan yang saya lakukan berarti bagi saya
      b) Saya memiliki keterampilan yang diperlukan untuk
      pekerjaan saya
      c) Saya memiliki peluang mencapai potensi diri dan perasaan
      yang bebas dalam melakukan pekerjaan saya
      d) Saya yakin dengan kemampuan saya untuk melakukan
      pekerjaan saya
      e) Saya dapat memberikan kontribusi pada perusahaan

      Dimensi Pemberdayaan Psikologis


      Spreitzer (1995) di penelitiannya merumuskan bahwa ada empat
      dimensi penting yang membentuk konstruk dari pemberdayaan
      psikologis, yaitu:
      a) Makna (Meaning) merupakan perasaan yang timbul ketika
      berhasil memahami pekerjaannya dan tindakan yang
      dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut. Dimensi
      ini seseorang mengevaluasi dan memahami makna dan nilai
      tujuan pekerjaannya sesuai dengan cita-cita dan standar yang
      ditetapkannya.
      b) Kompetensi (Competence) merupakan keyakinan seseorang
      bahwa ia mampu melakukan suatu pekerjaan dengan
      menggunakan keahlian yang dimilikinya. Kompetensi dapat
      dianalogikan dengan rasa percaya diri, kemampuan pribadi,
      atau usaha seorang pegawai dalam melakukan suatu
      pekerjaan sesuai dengan harapannya.
      c) Penentuan nasib (Self-determination) ialah ketika seseorang
      merasa memiliki kendali atas pilihannya dalam memulai dan
      mengelola pekerjaannya. Dimensi ini mengarah pada
      refleksi otonomi individu dalam memulai dan melanjutkan
      perilaku dan proses kerjanya sendiri. Penentuan nasib sendiri
      dalam bekerja terlihat ketika mengambil keputusan sendiri
      mengenai teknik kerja yang digunakan, kecepatan kerja dan
      berbagai upaya.
      d) Pengaruh (Impact) ialah sejauh mana seseorang dapat
      mempengaruhi strategi, manajemen, atau kinerja pada
      perusahaan

      Faktor – faktor Pemberdayaan Psikologis


      Menurut (Spreitzer, 1995) pemberdayaan psikologis dapat
      dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
      a) Self-esteem, didefinisikan sebagai perasaan umum tentang
      harga diri, dianggap terkait dengan pemberdayaan
      psikologis. Individu yang menjunjung tinggi dirinya sendiri
      cenderung memperluas perasaan harga dirinya hingga ke
      rasa kompetensi yang spesifik dalam pekerjaan. Melalui
      harga diri, individu melihat dirinya sebagai sumber daya
      berharga yang memiliki bakat yang layak untuk
      dikontribusikan, dan dengan demikian mereka lebih
      cenderung mengambil orientasi aktif.
      b) Locus of control, merupakan ciri kepribadian yang paling
      relevan dengan dimensi dampak, juga akan terkait dengan
      pemberdayaan psikologis. Locus of control menjelaskan
      sejauh mana orang percaya bahwa merekalah yang
      menentukan apa yang terjadi dalam hidup mereka, bukan
      kekuatan eksternal. Individu dengan locus of control internal
      mengenai kehidupan secara umum lebih cenderung merasa
      mampu membentuk pekerjaan dan lingkungan kerja mereka
      sehingga merasa diberdayakan. Mereka cenderung melihat
      diri mereka sendiri sebagai agen penyebab yang
      mempengaruhi lingkungan kerja mereka dan bukan sebagai
      pihak yang dikontrol secara eksternal oleh kekuatan
      organisasi. Sebaliknya, “pihak eksternal” cenderung
      memandang perilaku mereka sebagai hal yang sama
      dipengaruhi oleh sistem yang dominan.
      c) Information, agar dapat diberdayakan, organisasi harus
      membuat lebih banyak informasi tersedia bagi lebih banyak
      orang di lebih banyak tingkatan melalui lebih banyak
      perangkat tanpa informasi, dapat dipastikan bahwa orang
      tidak akan mengambil tanggung jawab atau melampiaskan
      energi kreatifnya. Ada dua jenis informasi spesifik yang
      sangat penting untuk pemberdayaan, yaitu informasi tentang
      misi organisasi dan informasi tentang kinerja. Berkenaan
      dengan misi organisasi, sampai para pekerja merasa
      mendapat informasi tentang arah organisasi secara
      keseluruhan, mereka tidak akan merasa mampu mengambil
      inisiatif. Informasi tentang misi merupakan pendahuluan
      penting dari pemberdayaan karena membantu menciptakan
      makna dan tujuan serta meningkatkan kesadaran akan tujuan
      organisasi. kemampuan individu untuk membuat dan
      mempengaruhi keputusan yang selaras dengan tujuan dan
      misi organisasi. Terkait dengan informasi mengenai kinerja,
      pekerja perlu memahami seberapa baik kinerja unit kerjanya
      agar dapat mengambil dan mempengaruhi keputusan untuk
      mempertahankan dan meningkatkan kinerja di masa yang
      akan datang. Informasi kinerja sangat penting untuk
      memperkuat rasa kompetensi dan keyakinan bahwa
      seseorang adalah bagian yang berharga dari suatu organisasi.
      d) Reward, konteks kerja lain yang diyakini penting untuk
      pemberdayaan adalah sistem insentif yang memberikan
      penghargaan terhadap kinerja. Agar dapat memberdayakan,
      sistem penghargaan harus mengakui kontribusi individu.
      Meskipun penghargaan atas kinerja kelompok atau
      organisasi mungkin bermanfaat, seringkali individu tidak
      memiliki pemahaman yang jelas tentang bagaimana tindakan
      mereka dapat mempengaruhi kinerja di tingkat yang lebih
      tinggi. Akibatnya, penghargaan berbasis kinerja individu
      dianggap penting dalam pemberdayaan. Insentif individu
      meningkatkan pemberdayaan dengan mengakui dan
      memperkuat kompetensi pribadi dan memberikan insentif
      kepada individu untuk berpartisipasi dan mempengaruhi
      proses pengambilan keputusan di tempat kerja

      Pengertian Pemberdayaan Psikologis


      Pemberdayaan psikologis adalah seberapa jauh karyawan dapat
      percaya pada organisasi mereka dalam meningkatkan perasaan
      kompetensi maupun otonomi karyawan mengenai pekerjaan mereka
      oleh (Fuller, 2009). Pemberdayaan psikologis terdiri dari kompetensi,
      makna, penentuan nasib sendiri dan dampak serta menunjukkan
      orientasi kognitif tentang pekerjaan seseorang (Spreitzer, 1995).
      Kompetensi adalah sejauh mana seseorang yakin akan kemampuannya
      dalam melaksanakan tugas pekerjaan yang diberikan, mengacu pada
      sejauh mana pekerjaan itu bermakna bagi karyawan, penentuan nasib
      sendiri adalah sejauh mana seorang karyawan yakin bahwa ia memiliki
      kendali atas pekerjaannya, dan dampaknya adalah perasaan bahwa
      pencapaian individu karyawan memberikan kontribusi yang signifikan
      terhadap tujuan (Seibert, 2011). Pemberdayaan psikologis adalah
      “motivasi tugas intrinsik yang menunjukkan rasa pengendalian diri
      mengenai pekerjaan seseorang dan keterikatan dengan peran pekerjaan”
      (Scott, 2011).
      Menurut Andreas (2021), pemberdayaan psikologis adalah sikap
      seseorang terhadap kompetensi yang dimilikinya dalam tugas dan
      pekerjaan serta perannya dalam suatu perusahaan atau organisasi.
      Menurut Lubb (2022), pemberdayaan psikologis adalah keyakinan
      bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaannya sesuai dengan
      keterampilan dan kemampuannya. Menurut Spreitzer (1995), Moghim
      (2013), Amundsend (2015), dimensi pemberdayaan psikologis meliputi
      makna, kompetensi, penentuan nasib sendiri dan efektivitas.
      Berdasarkan penjelasan para ahli diatas maka dapat ditarik
      kesimpulan bahwa pemberdayaan psikologis adalah suatu keyakinan
      dan sikap karyawan/seseorang terhadap pandangannya tentang
      kompetensi dan keterampilan yang dimiliki dalam menyelesaikan tugas
      dan pekerjaannya serta bagaimana pihak tersebut mampu menjalankan
      perannya dalam suatu perusahaan tersebut

      Indikator Kepuasan Kerja


      Indikator kepuasan kerja yang dipakai peneliti adalah indikator-
      indikator yang dikembangkan oleh Robbins dan Judge (2017) yang
      meliputi antara lain:

      1. Kepuasan terhadap Pekerjaan, Kepuasan ini tercapai bilamana
        pekerjaan seorang karyawan sesuai dengan minat dan kemampuan
        karyawan itu sendiri.
      2. Kepuasan terhadap Imbalan, Di mana karyawan merasa gaji atau upah
        yang diterimanya sesuai dengan beban kerjanya dan seimbang dengan
        karyawan lain yang bekerja di organisasi itu.
      3. Kepuasan terhadap Supervisi/Atasan, Karyawan merasa memiliki
        atasan yang mampu memberikan bantuan teknis dan motivasi.
      4. Kesempatan Promosi, Kesempatan untuk meningkatkan posisi jabatan
        pada struktur organisasi

      Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


      Menurut Rivai (2011) Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
      yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan pada dasarnya
      secara praktis dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor
      intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik adalah faktor yang
      berasal dari dalam diri karyawan dan dibawa oleh setiap karyawan sejak
      mulai bekerja ditempat pekerjaannya. Sedangkan factor ekstrinsik
      menyangkut hal-hal yang berasal dari luar diri karyawan, antara lain
      kondisi fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan lain,
      system penggajian dan sebagainya

      Pengertian Kepuasan Kerja


      Sesuai denga kodratnya, kebutuhan manusia sangat beraneka
      ragam, baik jenis maupun tingkatnya, bahkan manusia memiliki
      kebutuhan yang cenderung tak terbatas. Artinya, kebutuhan selalu
      bertambah dari waktu ke waktu dan manusia selalu berusaha dengan
      segala kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Kebutuhan
      manusia diartikan sebagai segala sesuatu yang ingin dimilikinya, dicapai
      dan dinikmati (Rivai, 2011).
      Menurut Davis dan Newstrom (2012) menjelaskan bahwa
      kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan pegawai tentang
      menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka. Ada perbedaan yang
      pentingantara perasaan ini dengan dua unsur lainnya dari sikap pegawai.
      Kepuasan adalah perasaan senang atau tidak senang yang relatif,
      misalnya pernyataan berikut “ saya senang melakukan tugas yang
      beraneka” yang berbeda dari pemikiran obyektif misalnya melalui
      pernyataan “pekerjaan saya rumit” dan keinginan perilaku, misalnya
      pernyataan “saya sedang merencanakan untuk tidak lagi melakukan
      pekerjaan dalam tiga bulan”. Ketiga bagian sikap itu membantu para
      manajer memahami reaksi pegawai terhadap pekerjaan mereka dan
      memikirkan dampaknya pada perilaku masa mendatang.
      Menurut Windryanto (2011), kepuasan kerja atau job satisfaction
      pada dasarnya merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau
      tidak menyenangkan, dan para karyawan memandang pekerjaan
      mereka.Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
      pekerjaannya dan ini nampak pada perilaku dan sikap pegawai dalam
      kehidupan sehari-hari, biasanya ditunjukkan dalam hal tanggapan yang
      positif dalam bekerja.
      Perlu disadari bahwa kepuasan kerja merupakan faktor yang
      mendorong pegawai/karyawan lebih giat bekerja dan sekaligus sebagai
      motivasi dalam bekerja. Kepuasan kerja dalam pekerjaan adalah
      kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh
      pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan, dan suasana
      lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang lebih suka menikmati
      kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaan
      daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting (Hasibuan, 2007).
      Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Kepuasan kerja
      merupakan bentuk perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, situasi
      kerja dan hubungan dengan tim, atasan dan rekan kerja. Dengan
      demikian kepuasan kerja merupakan sesuatu yang penting untuk dimiliki
      oleh seorang karyawan, dimana mereka dapat berinteraksi dengan
      lingkungan kerjanya sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik
      dan sesuai dengan tujuan perusahaan

      Indikator Lingkungan Kerja


      Menurut Siagian (2014) mengemukakan indikator lingkungan
      kerja, yaitu:
      1) Hubungan Rekan Kerja Setingkat, Hubungan dengan rekan kerja kerja
      yang harmonis dan tanpa saling intrik sesama rekan kerja.
      2) Hubungan Atasan Dengan Bawahan, Hubungan atasan dengan
      bawahan harus dijaga dengan baik dan harus saling menghargai antara
      atasan dengan bawahan, saling menghargai maka akan menimbulkan
      rasa hormat diantara individu masing – masing.
      Kondisi lingkungan kerja dapat dikatakan baik atau sesuai apabila
      manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan
      nyaman. Lingkungan-lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut
      tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung
      diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien (Sedarmayanti, 2018).
      Dari beberapa pengertian di atas dapat diketahui bahwa
      lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada disekitar karyawan
      pada saat bekerja, baik berupa fisik atau non-fisik, langsung atau tidak
      langsung, yang dapat mempengaruhi dirinya dan pekerjaannya saat
      berkerja

      Jenis – jenis lingkungan kerja


      Menurut Sedarmayanti (2018) jenis – jenis lingkungan
      kerjaadalah:
      1) Struktur Kerja
      Struktur kerja adalah pekerjaan yang diberikan kepada pegawai yang
      sudah berada di dalam struktur kerja serta organisasi yang baik.
      2) Tanggung Jawab Kerja
      Dengan tanggung jawab kerja, maka pegawai tahu apa saja tanggung
      jawab mereka selama berada di dalam tempat kerja.
      3) Perhatian
      Perhatian merupakan suatu kesadaran jiwa seseorang yang
      ditunjukkan yang berada dalam diri maupun diluar diri.
      4) Dukungan pimpinan
      Suatu kondisi dimana seseorang diberi dorongan sehingga merasa
      aman dan nyaman secara psikologis.

      Pengertian Lingkungan Kerja


      Menurut pendapat Sedarmayanti (2018)lingkungan kerja
      merupakan segala sesuatu yang ada disekitar perusahaan yang bisa
      mempengaruhi karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan
      pendapat dari Supardi (2003) mengatakan bahwa lingkungan kerja adalah
      sesuatu yang didapatkan karyawan sebagai penunjang dalam
      menjalankan tugas, sesuatu tersebut bisa berupa temperatur, kelembapan,
      ventilasi, penerangan, kebersihan tempat kerja hingga fasilitas untuk
      menunjang pekerjaan.
      Pendapat lain Menurut Nitisemito (2016) perusahaan hendaknya
      dapat mencerminkan kondisi yang mendukung kerja sama antara tingkat
      atasan, bawahan maupun yang memiliki status jabatan yang sama di
      perusahaan. Kondisi yang hendaknya diciptakan adalah suasana
      kekeluargaan, komunikasi yang baik dan pengendalian diri..
      Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat dikatakan
      bahwa lingkungan non fisik tidak dapat ditangkap langsung dengan
      panca indra manusia, namun dapat dirasakan keadaannya. Lingkungan
      kerjaini dapat dirasakan melalui hubungan-hubungan sesama pegawai,
      bawahan dengan atasan, maupun atasan dengan bawahan

      Lingkungan Kerja


      Lingkungan kerja tidak berhubungan dengan proses produksi
      perusahaan secara langsung akan tetapi akan berdampak langsung terhadap
      karyawan yang melakukan proses produksinya, sehingga lingkungan kerja
      yang kondusif akan memberikan rasa nyaman bagi karyawan dan
      memungkinkan menyelesaikan pekerjaan dengan optimal.
      Lingkungan kerja memiliki dua jenis yakni lingkungan kerja fisik
      dan non fisik, dalam penelitian ini menggunakan variabel lingkungan
      kerjakarena dalam obyek penelitian berhubungan langsung dengan
      karyawan yang mengukur kinerja

      Pentingnya Retensi Karyawan


      Berdasarkan pendapat Gunawan (2011) menyatakan bahwa
      retensi karyawan adalah suatu hal penting yang harus selalu mendapatkan
      perhatian oleh perusahaan, karena semakin baik tingkat retensi karyawan
      berarti karyawan memiliki nilai loyalitas yang tinggi, serta perrusahaan
      mampu mempertahankan karyawan sesuai dengan kebutuhannya. Jika
      nilai retensi karyawannya rendah maka bisa dipastikan bahwa suatu
      perusahaan mengalami perputaran karyawan yang tinggi sehingga hal
      tersebut akan mempengaruhi tingkat kinerja perusahaan

      Indikator Retensi Karyawan


      Indikator retensi karyawan dijelaskan oleh Sumarni (2011)
      sebagai berikut :

      1. Komponen organisasi : komponen organisasi adalah segala sesuatu
        yang didalamnya terdapat dalam organisasi itu sendiri. Komponen
        organisasi dapat meliputi nilai dan budaya, strategi dan peluang,
        dikelola dengan baik, keamaan kerja serta kontinuitias.
      2. Penghargaan : setiap usaha yang dilakukan karyawan, maka
        perusahaan harus memberikan penghargaan sebagai bentuk
        kepedulian perusahaan atas upaya yang telah dilakukan oleh
        karyawan. Penghargaan dapat berupa gaji dan tunjangan, perbedaan
        penghargaan kinerja, pengakuan serta bonus sesuai pencapaian.
      3. Rancangan tugas dan pekerjaan : perusahaan harus memberikan
        sejelas mungkin terkait tugas dan tanggungjawab yang harus
        dilakukan karyawan, seperti tanggangjawab dan otonomi kerja,
        fleksibilitas kerja, kondisi serta keseimbangan kerja

      Dampak Retensi Karyawan


      Sumarni (2011) mengatakan bahwa dampak adanya retensi
      karyawan sebagai berikut:

      1. Meningkatkan disiplin kerja dan menurunkan absensi
      2. Meningkatkan produktivias kerja
      3. Meningkatkan kesejahteraan karyawan
      4. Mengurangi konflik
      5. Menurunkan niat karyawan untuk keluar dari perusahaan
        Upaya mempertahankan karyawan potensial harus menjadi
        perhatian utama bagi perusahaan sebagai bentuk tanggungjawab
        perusahaan terhadap adanya tantangan SDM pada kemudian hari, selain
        itu untuk membantu perusahaan mencaipai cita-cita atau tujuan
        perusahaan

      Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Retensi Karyawan


      Pendapat Prasetyo dan Suryono (2014) mengatakan bahwa
      terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi retensi karyawan,
      diantaranya :

      1. Lingkungan kerja
        Lingkungan menjadi faktor utama membuat karyawan merasa betah
        dan nyaman berada di perusahaan selain itu lingkungan yang tepat
        akan membuat perusahaan menjadi lebih menarik.
      2. Kepuasan Kerja
        Kepuasan kerja dapat mempengaruhi retensi karyawan. Karyawan
        yang merasa puas dengan pekerjaan mereka dan lingkungan kerja
        cenderung lebih termotivasi dan termotivasi untuk tetap bekerja di
        perusahaan tersebut. Sebaliknya, karyawan yang tidak puas dengan
        pekerjaan dan lingkungan kerja cenderung mencari pekerjaan yang
        lebih baik di tempat lain.
        Ketika karyawan merasa senang dengan pekerjaan dan lingkungan
        kerja mereka, mereka cenderung merasa terikat dan memiliki loyalitas
        yang lebih besar terhadap perusahaan. Hal ini dapat mengurangi
        tingkat turnover karyawan dan mempertahankan keahlian dan
        pengetahuan karyawan dalam organisasi. Hal ini dapat meningkatkan
        tingkat turnover karyawan dan mengurangi retensi karyawan di
        perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk
        memastikan kepuasan karyawan untuk mempertahankan karyawan
        yang berbakat dan terampil di perusahaan.
      3. Hubungan karyawan
        Hubungan yang baik dan harmonis membuat karyawan merasa
        dianggap dan membuat hubungan semakin erat antara satu dengan
        yang lainnya.
      4. Dukungan perusahaan
        Memberikan fasilitas yang memadai, peralatan yang sesuai serta
        informasi yang relevan adalah tugas perusahaan sebagai bentuk
        perhatian kepada karyawan

      Pengertian Retensi Karyawan


      Gunawan (2011) berpendapat bahwa retensi karyawan adalah
      kemampuan perusahaan untuk mempertahankan karyawan yang
      potensial. Sedangkan menurut Das dan Baruah (2013) mengatakan
      bahwa retensi karyawan adalah kebijakan yang telah ditentukan untuk
      membuat karyawan menetap dalam jangka panjang dan mencegah
      terjadinya perputaran karyawan.
      Kemampuan perusahaan dalam mempetahankan karyawan yang
      potensial agar memiliki loyalitas tinggi terhadap perusahaan adalah
      definisi lain dari retensi karyawan (Kumar etal., 2012). Melakukan
      turnover karyawan adalah salah satu bentuk cara untuk mempertahankan
      karyawan, turnover sendiri adalah jumlah karyawan yang meninggalkan
      perusahaan karena mengundurkan diri, (Fatimah: 2011).
      Berdasarkan pemaparan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa
      retensi karyawan adalah usaha atau upaya perusahaan dalam
      mempertahankan karyawan yang potensial agar memiliki rasa loyalitas
      hingga tidak akan meninggalkan perusahaan, oleh karena sebab itu sudah
      menjadi tantangan sendiri untuk setiap perusahaan agar memiliki cara
      untuk mempertahankan karyawan.

      Dimensi dan Indikator Pengukuran Kepuasan Kerja


      Kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang positif dari
      seorang yang ditimbulkan dari penghargaan atas sesuatu pekerjaan yang
      telah dilakukannya. Kepuasan kerja yang tinggi menandakan bahwa
      sebuah organisasi telah dikelola dengan baik dengan manajemen yang
      efektif. Menurut Luthans dalam Mangkunegara (2013:225), ada 6
      dimensi dimensi dan indikator kepuasan kerja adalah yang merupakan 6
      faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pegawai yaitu :

      1. Pay (Upah atau Gaji).
        Merupakan jumlah balas jasa finansial yang diterima pegawai dan
        tingkat dimana hal ini dipandang sebagai suatu hal yang adil dalam
        organisasi baik berupa uang atau bukan uang sebagai balas jasa
        yang di berikan atas kontribusi pegawai kepada perusahaan.
      2. Working Conditions (Kondisi Kerja).
        Kondisi kerja, apabila kondisi kerja pegawai baik (bersih, menarik
        dan lingkungan kerja yang menyenangkan) akan membuat mereka
        mudah menyelesaikan pekerjaan dan akan memberikan kesenangan
        karyawan pada saat bekerja.
      3. Co-worker (Rekan Kerja).
        Rekan kerja, merupakan suatu tingkat dimana rekan kerja
        memberikan dukungan. Rekan kerja yang kooperatif merupakan
        sumber kepuasan kerja, tim yang “kuat” menjadi sumber dukungan,
        kenyamanan, bantuan, dan nasihat bagi pegawai karena rekan kerja
        sangat membantu pekerja pada saat menyelesaikan pekerjaanya.
      4. Supervision (Supervisi).
        Supervisi merupakan kemampuan penyelia untuk memberikan
        bantuan secara teknis maupun memberikan dukungan. Supervisi
        yang adil, terbuka dan mau bekerjasama dengan bawahan akan
        mempengaruhi pegawai agar bekerja secara efektif dalam rangka
        mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
      5. The Work Itself (Pekerjaan Itu Sendiri).
        Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai
        dengan bidangnya masing-masing. Dalam hal ini, sejauh mana
        pegawai memandang pekerjaanya sebagai pekerja yang menarik,
        memberikan kesempatan untuk belajar, dana peluang untuk
        menerima tanggung jawab.
      6. Promotion Opportunities (Promosi Jabatan).
        Kesempatan untuk kenaikan jabatan dalam jenjang karir yang adil
        dan didasarkan pada kinerja dan senioritas (lama bekerja), akan
        meningkatkan kepuasan kerja dan akan membuat karyawan
        semangat untuk melakukan pekerjaan

      Aspek-aspek Kepuasan Kerja


      Menurut Robbins dalam Badriyah (2015:229), ada lima aspek
      kepuasan kerja adalah :
      1) Kerja yang secara mental menantang
      Karyawan cenderung menyukai pekerjaan yang memberi kesempatan
      kepada mereka untuk menggunakan keterampilan, kemampuan, serta
      menawarkan tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai usaha keras
      mereka mengerjakan tugas tersebut.
      2) Ganjaran yang pantas
      Para karyawan menginginkan pemberian upah dan kebijakan promosi
      yang adil serta sesuai dengan harapan mereka. Dikatakan adil apabila
      pemberian upah ini didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat
      keterampilan individu, dan standar upah karyawan.
      3) Kondisi kerja yang mendukung
      Berbagi studi menunjukkan bahwa karyawan lebih menyukai
      lingkungan kerja yang tidak berbahaya. Oleh karena itu, temperatur,
      cahaya, kebisingan dan faktor lingkungan lain harus diperhitungkan
      dalam pencapaian kepuasan kerja.
      4) Rekan kerja yang mendukung
      Karyawan akan mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau
      prestasi yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan,
      kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial. Oleh karena itu,
      sebaiknya karyawan mempunyai rekan bekerja yang ramah dan
      mendukung.
      5) Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan
      Pada hakikatnya, orang yang tipe kepribadiannya sesuai dengan
      pekerjaan yang mereka pilih lebih menunjukkan bakat dan
      kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaanya.
      Dengan demikian, lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada
      pekerjaan tersebut dan mencapai kepuasan yang tinggi dari pekerjaan
      mereka

      Meningkatkan Kepuasan Kerja


      Upaya untuk meningkatkan kepuasan kerja perlu dilakukan
      sehingga pegawai akan bertahan dalam organisasi dan menjadi aset
      yang penting bagi organisasi. Upaya meningkatkan kepuasan kerja
      menurut Priansa (2018: 311-312) sebagai berikut :
      1) Perubahan Struktur Kerja
      Melakukan perubahan struktur kerja, misalnya dengan melakukan
      perputaran pekerjaan, yaitu sebuah sistem perubahan pekerjaan dari
      salah satu tipe tugas ke tugas lainnya (yang disesuaikan dengan job
      description). Cara kedua yang harus dilakukan adalah dengan
      perluasan pekerjaan, atau perluasan satu pekerjaan sebagai
      tambahan dan bermacam-macam tugas pekerjaan.
      2) Melakukan Perubahan Struktur Pembayaran
      Perubahan sistem pembayaran bagi pegawai yang didasarkan pada
      teknik sebagai berikut :
      a) Pembayaran berdasarkan keahliannya
      b) Pembayaran berdasarkan jasanya
      c) Pembayaran berdasarkan keberhasilan kelompok
      3) Pemberian Jadwal Kerja Fleksibel
      Pemberian jadwal kerja yang fleksibel namun taat terhadap aturan
      organisasi juga merupakan salah satu solusi untuk mendorong
      kepuasan kerja pegawai. Pegawai diberikan kesempatan untuk
      memadatkan pekerjaannya pada waktu tertentu. Misalnya bekerja
      penuh di hari Senin sampai Jumat, dan libur untuk hari Sabtu.
      Namun juga pada kondisi tertentu, pegawai tersebut dapat pulang
      lebih cepat di hari kerja, namun bekerja diakhir Minggu ini
      memberikan fleksibelitas waktu bagi pegawai untuk mengatur
      pekerjaannya sendiri.
      4) Program Pendukung
      Organisasi menyediakan program pendukung yang dapat
      meningkatkan kepuasan kerja pegawai seperti pusat kesehatan dan
      kebugaran, rekreasi, penghasilan tambahan, beasiswa bagi anak-
      anak pegawai, dan berbagai program pendukung lainnya.
      Sedangkan Herzberg yang dikutip Priansa (2018: 312-314)
      menyatakan bahwa upaya untuk meningkatkan kepuasan kerja pegawai
      dapat dilakukan melalui dua faktor, yaitu faktor pemuas dan faktor
      pemilihara. Faktor pemuas terdiri dari prestasi yang diraih, pengakuan
      orang lain, tanggung jawab, peluang untuk maju, kepuasan kerja itu
      sendiri, dan kemungkinan pengembangan karir. Faktor pemelihara terdiri
      dari kompensasi, keamanan dan keselamatan kerja, kondisi kerja
      pegawai, status, prosedur organisasi, dan supervisi hubungan
      interpersonal. Kedua faktor tersebut perlu diperhatikan oleh pimpinan
      organisas

      Dampak Kepuasan dan Ketidakpuasan Kerja


      Sutrisno (2016:80-82) dampak perilaku kepuasan dan
      ketidakpuasan kerja telah banyak diteliti dan di kaji. Beberapa hasil
      penelitian tentang dampak kepuasan kerja terhadap produktivitas,
      ketidak hadiran dan keluarnya pegawai, dan dampak terhadap
      kesehatan.
      1) Dampak Terhadap Produktivitas
      Lawler dan Porter yang di kutip Sutrisno (2016:81), mengharapkan
      produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan
      kerja jika tenaga kerja memersepsikan bahwa ganjaran intrinsik
      (misalnya, rasa telah mencapai sesuatu) dan gajaran ekstrinsik
      (gaji) yang diterima kedua-duanya adil dan wajar dan di
      asosiasikan dengan prestasi kerja yang unggul.
      Jika tenaga kerja tidak memersepsikan ganjaran intrinsik dan
      ekstrinsik berasosiasi dengan prestasi kerja, maka kenaikan dalam
      prestasi tak akan berkorelasi dengan kenaikan dalam kepuasan
      kerja.
      2) Dampak Terhadap Ketidakhadiran dan Keluarnya Tenaga Kerja
      Ketidakhadiran lebih spontan sifatnya dan dengan demikian kurang
      mencerminkan ketidakpuasan kerja. Lain halnya dengan berhenti
      atau keluar dari pekerjaan. Perilaku ini karena akan mempunyai
      akibat-akibat ekonomi yang besar, maka lebih kemungkinannya ia
      berhubungan dengan ketidakpuasan kerja. Organisasi melakukan
      upaya yang cukup besar untuk menahan orang-orang ini dengan
      jalan menaikan upah, pujian, pengakuan, kesempatan promosi yang
      ditingkatkan, dan seterusnya. Justru sebaliknya, bagi mereka yang
      mempunyai kinerja buruk, sedikit upaya dilakukan oleh organisasi
      untuk menahan mereka. Bahkan mungkin ada tekanan halus untuk
      mendorong mereka agar keluar.
      Menurut Steers dan Rhodes yang di kutip Sutrisno (2016:81),
      mereka yang melihat adanya dua faktor pada perilaku hadir, yaitu
      motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk hadir. Mereka percaya
      bahwa motivasi untuk hadir dipengaruhi oleh kepuasan kerja dalam
      kombinasi dengan tekanan-tekanan internal dan eksternal untuk
      datang pada pekerja.
      Sedangkan menurut Robbins dalam Sutrisno (2016:81),
      ketidakpuasan kerja pada tenaga kerja atau karyawan dapat
      diungkapkan ke dalam berbagai macam cara. Misalnya, selain
      meninggalkan pekerjaan, karyawan selalu mengeluh,
      membangkang, menghindari sebagaian tanggung jawab pekerjaan
      mereka.
      3) Dampak Terhadap Kesehatan
      Kornhauser dalam Sutrisno (2016:82) tentang kesehatan mental
      dan kepuasan kerja, ialah untuk semua tingkatan jabatan, persepsi
      dari tenaga kerja bahwa pekerjaan mereka menuntut penggunaan
      efektif dan kecakapan-kecakapan mereka berkaitan dengan skor
      kesehatan mental yang tinggi.
      Meskipun jelas bahwa kepuasan kerja berhubungan dengan
      kesehatan, hubungan kausalnya masi tidak jelas. Diduga bahwa
      kepuasan kerja menunjang tingkat dari fungsi fisik dan mental dan
      kepuasan sendiri merupakan tanda dari kesehatan. Tingkat dari
      kepuasan kerja dan kesehatan mungkin saling mengukuhkan
      sehingga peningkatan dari yang satu dapat meningkatkan yang lain
      dan sebaliknya yang satu mempunyai akibat yang negatif juga pada
      yang lain. Kepuasan kerja, ialah untuk semua tingkatan jabatan,
      persepsi dari tenaga kerja bahawa pekerjaan mereka menuntut
      penggunaan efektif dan kecakapan-kecakapan mereka berkaitan
      dengan skor kesehatan mental yang tinggi dan sebaliknya yang satu
      mempunyi akibat yang negatif dan juga pada yang lain

      Teori – Teori Kepuasan Kerja


      Wexly dan Yuki dalam Badriyah (2015: 237) menyatakan tiga macam
      teori tentang kepuasan kerja sebagai berikut :
      1) Teori Perbedaan (Discrepancy Theory)
      Kepuasan atau ketidakpuasan individu merupakan hasil
      perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri
      terhadap berbagai hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan
      menjadi harapannya. Kepuasann akan dirasakan individu tersebut
      apabila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu
      dan sesuatu yang diperoleh dari pekerjaannya kecil.
      2) Teori Keseimbangan (Equity Theory)
      Menurut teori ini, puas atau tidak puasnya karyawan merupakan
      hasil dari membandingkan antara input-outcome dirinya dengan
      input-outcome pegawai lain (camparison person). Jika
      perbandingan tersebut seimbang (equity) maka karyawan tersebut
      akan merasa puas.
      3) Dua faktor teori (Two Factor Theory)
      Dua faktor teori menjelaskan bahwa kepuasan kerja berbeda
      dengan ketidak kepuasan kerja. Artinya ketidak puasan terhadap
      pekerjaan itu tidak merupakan suatu variabel yang berkelanjutan.
      Teori ini membagi situasi yang mempengaruhi sikap pegawai
      terhadap pekerjaannya menjadi dua kelompok penting, yaitu
      satisfiers atau motivator dan kelompok dissatisfiers atau hygiene
      factors.

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


      Menurut Blum dalam Sutrisno (2016:77) faktor-faktor yang
      memberikan kepuasan kerja adalah :
      1) Faktor individual, meliputi umur, kesehatan, watak dan harapan.
      2) Faktor sosial, meliputi hubungan kekeluargaan, pendangan pekerja,
      kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan.
      3) Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah, pengawasan
      ketentraman kerja, kondisi kerja dan kesempatan untuk maju. Selain
      itu, juga penghargaan terhadap kecakapan, hubungn sosial di dalam
      pekerjaan, ketepatan dalam menyelesaikan konflik antarmanusia,
      perasaan diperlakukan adil baik yang menyangkut pribadi maupun
      tugas.
      Sedangkan menurut Herzberg yang dikutip Priansa (2018:304-
      306), faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja terbagi menjadi
      dua faktor utama, yaitu:
      A. Fokter Ekstrinsik.
      Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pegawai secara
      ekstrinsik adalah :
      1) Gaji atau upah yang memadai akan meningkatkan pendapatan
      pegawai untuk meningkatkan sosial ekonominya.
      2) Keamanan kerja, kebutuhan rasa aman menjadi hal yang penting
      dengan terpenuhinya sarana dan prasarana alat keselamatan diri.
      3) Kondisi kerja, pegawai akan bekerja dengan nyaman apabila tercipta
      suasana yang kondusif, kerja sama yang baik dan harmonis dengan
      teman sekerja.
      4) Status (kedudukan), yang meningkat akan berpengaruh terhadap
      kepuasan kerja pegawai.
      5) Kebijakan organisasi, tindakan yang diambil dengan sengaja oleh
      manajemen untuk mempengaruhi sikap atau perilaku pegawai.
      6) Mutu teknik pengawasan, standar operasional prosedur (SOP) yang
      dijalankan dengan tepat serta pengawasan yang baik akan
      meningkatkan kinerja pegawai.
      7) Interaksi antar pegawai, di bedakan menjadi interaksi antar
      sesamanya, interaksi antar pegawai yang lebih rendah dengan
      pimpinan.
      B. Faktor Intrinsik
      Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pegawai secara
      intrinsik adalah :
      1) Pengakuan, merupakan perangsang yang kuat, yang akan
      memberikan kepuasan batin yang lebih tinggi.
      2) Tanggung jawab, adanya rasa ikut memiliki akan menimbulkan
      motivasi untuk turut merasa bertanggung jawab.
      3) Prestasi, pegawai yang memiliki keinginan berprestasi sebagai suatu
      kebutuhan dapat mendorongnya mencapai sasaran.
      4) Pekerjaan itu sendiri, pekerjaan yang disenangi akan menjadi
      motivasi untuk dilaksanakan dengan baik.
      5) Kemungkinan untuk berkembang, kesempatan untuk
      mengembangkan diri memacu pegawai untuk berlomba-lomba
      meraih sukses.
      6) Kemajuan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi
      motivasi bagi pegawai untuk meningkatkan pendidikannya

      Pengertian Kepuasan Kerja


      Kepuasan kerja merupakan hal penting yang dimiliki individu di
      dalam bekerja. Setiap individu pekerja memiliki karakteristik yang
      berbeda-beda, maka tingkat kepuasan kerjanya pun berbeda-beda pula.
      Tinggi rendahnya kepuasan kerja tersebut dapat memberikan dampak
      yang tidak sama. Hal itu sangat tergantung pada sikap mental individu
      yang bersangkutan sebagaimana Roe dan Byars di dalam Priansa
      (2018:291) mengatakan bahwa kepuasan kerja yang tinggi akan
      mendorong terwujudnya tujuan organisasi secara efektif. Sementara
      tingkat kepuasan kerja yang rendah merupakan ancaman yang akan
      membawa kehancuran atau kemunduran bagi organisasi, secara cepat
      maupun perlahan. Tetapi Handoko dalam Badriyah (2015:228)
      mengatakan bahwa kepuasan kerja merupakan emosional yang
      menyenangkan para karyawannya memandang pekerjaan mereka.
      Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
      pekerjaannya.
      Sedangkan Mangkunegara (2009:117), “Kepuasan kerja adalah
      suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri pegawai
      yang berhubungan dengan pekerjaanya maupun dengan kondisi dirinya.
      Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan
      bahwa kepuasan kerja merupakan sekumpulan perasaan pegawai
      terhadap pekerjaanya, apakah senang/ suka atau tidak senang/ tidak
      suka sebagai hasil interaksi pegawai dengan lingkungan pekerjaanya
      atau sebagai persepsi sikap mental, juga sebagai hasil penilaian pegawai
      terhadap pekerjaannya. Perasaan pegawai terhadap pekerjaan
      mencerminkan sikap dan perilakunya dalam bekerja

      Pentingnya Komitmen Organisasi


      Chungtai dan Zafar (dikutip dalam Mandeno, 2017:2)
      menjelaskan bahwa komitmen organisasi mempunyai pengaruh terhadap
      :
      1) Turnover Intention
      Komitmen organisasi berpengaruh terhadap turnover intention.
      Semakin tinggi komitmen karyawan terhadap organisasi maka
      kecenderungan karyawan tersebut untuk keluar akan semakin
      rendah.
      2) Job Perfomance
      Produktifitas kerja merupakan pengaruh dari komitmen organisasi.
      Semakin tinggi komitmen seseorang terhadap organisasinya maka
      tingkat produktivitas kerja seseorang akan cenderung tinggi

      Dimensi Komitmen Kerja


      Robbin yang dikutip dalam Alfresia (2016: 26-27) mengajukan tiga
      dimensi komitmen dan di refleksikan dalam tiga pokok utama yaitu :

      1. Komitmen efektif , yaitu perasaan emosional untuk organisasi dan
        keyakinan dalam nilai-nilainya.
      2. Komitmen berkelanjutan, yaitu nilai ekonomi yang dirasa dari
        bertahan dalam suatu organisasi bila dibandingkan dengan
        meninggalkan organisasi tersebut. Seorang karyawan mungkin
        berkomitmen kepada seseorang pemberi kerja karena dibayar tinggi
        dan merasa bahwa pengunduran diri dari perusahaan akan
        menghancurkan keluarganya.
      3. Komitmen normatif, yaitu kewajiban untuk bertahan dalam organisasi
        untuk alasan-alasan moral atau etis. Sebagai contoh, seorang
        karyawan yang memelopori sebuah inisiatif baru mungkin bertahan
        dengan seorang pemberi kerja karena ia merasa “meninggalkan
        seseorang dalam keadaan yang sulit” bila ia pergi

      Indikator Komitmen Organisasi


      Untuk mengukur variabel komitmen organisasi, digunakan empat
      indikator yang dikembangakan oleh Mowdey et al (dikutip dalam
      Alfresia, 2016: 26-27), yaitu :
      1) Keinginan kuat sebagai anggota
      Karyawan bangga bekerja di perusahaan dan menganggap perusahaan
      sebagai tempat yang baik untuk bekerja
      2) Keinginan berusaha keras dalam bekerja
      Adanya perasaan nyaman yang dirasakan karyawan membuat
      karyawan termotivasi untuk selalu berprestasi lebih baik lagi.
      3) Penerimaan nilai organisasi
      Karyawan merasa bahwa nilai-nilai yang diterapkan dan berlaku
      diperusahaan sesuai dengan nilai yang dianut oleh karyawan.
      4) Penerimaan tujuan organisasi
      Keinginan untuk tetap berada di perusahaan membuat karyawan
      berusaha keras dalam melaksanakan tugas supaya tujuan perusahaan
      tercapai

      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen


      Menurut McShane dalam Priansa (2018:245) komitmen pegawai juga
      dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yaitu :
      1) Keadilan dan Kepuasan Kerja
      Hal yang paling mempengaruhi loyalitas pegawai adalah
      pengalaman kerja yang positif dan adil. Komitmen organisasional
      pegawai sulit untuk dicapai jika pegawai menghadapi beban kerja
      yang meningkat namun justru keuntungan yang diperoleh
      organisasi hanya dinikmati oleh pimpinan. Oleh karena itu,
      organsasi dapat membangun komitmen organisasi dengan berbagai
      keuntungan yang diperoleh organsasi, tidak hanya untuk pimpinan
      dan manajer tingkat atas, namun juga pegawai dalam level yang
      lebih teknis dari operasional.
      2) Kemanan Kerja
      Kemanan kerja harus diperhatikan untuk memelihara hubungan
      dimana pegawai percaya usaha merekan akan dihargai oleh
      organisasi. Di sisi lain, ketidaksamaan kerja mengakibatkan
      hubungan kontrak yang lebih formal tetapi dengan hubungan
      timbal balik yang rendah.
      3) Pemahaman Organisasi
      Pemahaman organisasi merupakan idnetifikasi secara personal
      terhadap organisasi. Sikap ini akan menguat ketika pegawai
      memiliki pemahaman yang kuat tentang organisasi. Pegawai secara
      rutin harus diberikan informasi mengenai kegiatan organisasi dan
      pengalaman pribadi dari bagian lain.
      4) Keterlibatan Pegawai
      Pegawai merasa menjadi bagian dari organisasi ketika mereka
      berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang menyangkut
      masa depan organisasi. Melalui partisipasi tersebut maka pegawai
      mulai melihat organisasi sebagai refleksi dari keputusan mereka.
      Melibatkan pegawai dalam pengambilan keputusan berarti
      organisasi mempercayai pegawainya.
      5) Kepercayaan Pegawai
      Kepercayaan penting bagi komitmen organisasional karena
      menyentuh jantung dari hubungan kerja. Pegawai merasa wajib
      bekerja untuk organisasi hanya ketika mereka mempercayai
      pemimpin mereka

      Pengertian Komitmen Kerja


      Komitmen ialah sikap pegawai yang tertarik dengan tujuan, nilai dan
      sasaran organisasi yang ditunjukan dengan adanya penerimaan
      individu atas nilai dan tujuan organisasi serta memiliki keinginan
      untuk berhubungan dengan organisasi kesediaan bekerja keras
      sehingga membuat individu betah dan tetap ingin bertahan di
      organisasi tersebut demi mencapai tujuan dan kelangsungan
      organisasi. Menurut Mowday yang dikutip Alfresia (2016:24)
      komitmen organisasi adalah komitmen kerja, ia berpendapat bahwa
      komitmen merupakan dimensi perilaku manusia yang digunakan
      untuk menilai loyalitas karyawan terhadap perusahaannya.
      Gibson dalam Priansa (2018:233) menyatakan bahwa komitmen
      organisasional melibatkan tiga sikap, yaitu:
      1) Identifikasi dengan tujuan organisasi
      2) Perasaan keterlibatan dalam tugas-tugas organisasi
      3) Serta perasaan loyalitas terhadap organisasi
      Hal tersebut berarti pegawai yang berkomitmen terhadap organisasi
      memandang nilai dan kepentingan organisasi terintegrasi dengan
      tujuan pribadinya. Pekerjaan yang menjadi tugasnya dipahami sebagai
      kepentingan pribadi, dan memiliki keinginan untuk selalu loyal demi
      kemajuan organisasi.
      Sedangkan Yulk dalam Priansa (2018:233) menyatakan komitmen
      organisasional merupakan persetujuan pegawai terhadap keputusan
      atau permintaan organisasi dan melakukan usaha yang serius untuk
      menjalankan permintaan organisasional dan melakukan usaha yang
      serius untuk menjalankan permintaan atau menerapkan keputusan
      tersebut sesuai dengan kepentingan organisasional.
      Berdasarkan beberapa pengertian yang telah diuraikan tetang
      komitmen organisasional, maka dapat disimpulkan bahwa yang
      dimaksud dengan komitmen organisasional adalah loyalitas pegawai
      terhadap organisasi, yang tercermin dari keterlibatannya yang tinggi
      untuk mencapai tujuan organisasi. Loyalitas pegawai tercermin
      17
      melalui kesedian dan kemauan pegawai untuk selalu berusaha menjadi
      bagian dari organisasi, serta keinginannya yang kuat untuk bertahan
      dalam organisasi.

      Jenis-Jenis Turnover Intention


      Menurut Kasmir (2018 : 321), secara umum karyawan yang
      keluar dari perusahaan biasanya disebabkan oleh dua hal, yaitu :
      1) Diberhentikan
      Diberhentikan maksudnya adalah karyawan diberhentikan dari
      perusahaan disebabkan oleh berbagai sebab, misalnya telah
      memasuki usia pensiun, atau mengalami cacat sewaktu bekerja,
      sehingga tidak mampu lagi bekrja. Untuk yang pensiun alasannya
      karena sudah memasuki usia pensiun, sedangkan yang
      dipensiunkan karena cacat, karena dianggap sudah tidak atau
      kurang memiliki kemampuan, sehingga tidak mampu lagi bekerja
      seperti semula. Kemudian diberhentikan juga dapat dilakukan
      perusahaan karena karyawan 48 melakukan perbuatan yang telah
      merugikan perusahaan, misalnya kasus penipuan,pencurian atau
      hal-hal yang merugikan lainnya.
      2) Berhenti Sendiri
      Artinya karyawan berhenti dengan keinginan atau permohonannya
      sendiri, untuk keluar dari perusahan, tanpa campur tangan pihak
      perusahaan. Alasan pemberhentian ini juga bermacam-macam,
      misalnya karena masalah lingkungan kerja yang kurang kondusif,
      kompensasi yang kurang, atau jenjang karir yang tidak jelas atau
      ketidaknyamanan lainnya. Alasan seperti ini terkadang tidak dapat
      diproses oleh pihak sumber daya manusia dan berusaha untuk
      dipertahankan dengan pertimbangan berbagai hal, misalnya
      kemampuan karyawan masih dibutuhkan. Namun jika karyawan
      tersebut merasa tidak diperlukan tenaganya, maka segera akan
      diproses untuk diberhentikan, karena jika karyawan yang sudah
      minta berhenti dan tetap dipertahankan, akan mengakibatkan
      motivasi kerjanya lemah dan berdampak kepada kinerjanya.
      Bahkan banyak kasus terkadang karyawan tersebut membuat ulah
      yang dapat mengganggu operasi perusahaan

      Dimensi dan Indikator Turnover Intention


      Mobley (2011:150) mengemukakan, ada tiga indikator yang
      digunakan untuk mengukur turnover intention, yaitu :
      1) Pikiran-pikiran untuk berhenti (thoughts of quitting).
      Mencerminkan individu untuk berpikir keluar dari pekerjaan atau
      tetap berada di lingkungan pekerjaan. Diawali dengan
      ketidakpuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan, kemudian
      karyawan mulai berfikir untuk keluar dari tempat bekerjanya saat
      ini sehingga mengakibatkan tinggi rendahnya intensitas untuk tidak
      hadir ke tempatnya bekerja.
      2) Keinginan untuk meninggalkan (intention to quit).
      Mencerminkan individu untuk mencari pekerjaan pada organisasi
      lain. Jika karyawan sudah mulai sering berfikir untuk keluar dari
      pekerjaannya, karyawan tersebut akan mencoba mencari pekerjaan
      diluar perusahaannya yang dirasa lebih baik.
      3) Keinginan untuk mencari pekerjaan lain (intention to search for
      another job).
      Mencerminkan individu yang berniat untuk keluar. Karyawan
      berniat untuk keluar apabila telah mendapatkan pekerjaan yang
      lebih baik, cepat atau 54 lambat akan diakhiri dengan keputusan
      karyawan tersebut untuk tetap tinggal atau keluar dari
      pekerjaannya.
      Indikasi-indikasi diatas dapat digunakan sebagai acuan untuk
      memprediksi turnover intention karyawan dalam organisasi

      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Turnover Intention


      Mobley yang dikutip Alfresia (2016:15) ada 4 faktor yang dapat
      mempengaruhi Turnover Intention, yaitu:
      1) Karakterisitik Individu
      Organisasi adalah wadah yang memiliki tujuan yang ditentukan
      secara bersama oleh orang-orang yang terlibat didalamnya. Untuk
      mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan adanya interaksi yang
      berkesinambungan dari unsur-unsur organisasi. Karakter individu
      yang mempengaruhi keinginan pindah kerja antara lain seperti
      umur, pendidikan, status perkawinan.
      2) Lingkungan Kerja
      Lingkungan kerja dapat meliputi lingkungan fisik maupun sosial.
      Lingkungan fisik meliputi keadaan suhu, cuaca, kontruksi,
      bangunan, dan lokasi pekerjaan. Sedangkan lingkungan sosial
      meliputi sosial budaya di lingkungan kerjanya, dan kualitas
      kehidupan kerjanya.
      3) Kepuasan Kerja
      Pada tingkat individual, kepuasan merupakan variabel psikologi
      yang paling sering diteliti dalam suatu model intention to leave.
      Aspek kepuasan yang ditemukan berhubungan dengan keinginan
      individu untuk meninggalkan organisas meliputi kepuasan akan
      gaji dan promosi, kepuasan dengan rekan kerja dan kepuasan akan
      pekerjaan dan isi kerja.
      4) Komitmen Kerja
      Perkembangan selanjutnya dalam studi intention to leave
      memasukkan konstruk komitmen kerja organisasional sebagai
      konsep yang turut menjelaskan proses tersebut sebagai bentuk
      perilaku. Komitmen orgnisasional dapat dibedakan dari kepuasan
      kerja. Komitmen mengacu pada respon emosional (affective)
      individu kepada keseluruhan organisasi, sedangkan kepuasan
      mengaruh pada respon emosional atas aspek khusus dari pekerjaan.

      Pengertian Turnover Intention Karyawan


      Turnover intention atau pergantian adalah keinginan seorang
      karyawan untuk berpindah, berhenti atau keluar dari tempat bekerja
      yang dilakukan secara sukarela atau atas kemauan sendiri maupun
      keputusan dari organisasi. Umumnya turnover intention dilakukan
      karena karyawan ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
      Turnover intention karyawan tidak bisa dihindari, sekalipun sebuah
      organisasi berkomitmen penuh untuk membuat lingkungan kerja yang
      bagus, masih ada karyawan yang tetap mengundurkan diri. Turnover
      intention sangat merugikan perusahaan karena banyak biaya yang telah
      dikeluarkan untuk perekrutan karyawan yang dilakukan. Masalah lain
      yang ditimbulkan oleh turnover intention adalah turunnya produktifitas
      disebabkan kehilangan karyawan sampai dengan adanya pengganti
      karyawan yang baru.
      Menurut Mobley (2011:15) kecendrungan atau niat karyawan
      untuk berhenti bekerja dari pekerjaanya secara sukarela atau pindah dari
      suatu tempat kerja ke tempat kerja lain menurut pilihannya. Sedangkan
      menurut Robbins dan Judge (2009:38), turnover adalah tindakan
      pengunduran diri secara permanen yang dilakukan oleh karyawan baik
      secara sukarela atau pun tidak secara sukarela. Turnover dapat berupa
      pengunduran diri, perpindahan keluar unit organisasi, pemberhentian
      atau kematian anggota organisasi

      Hubungan antar Kepuasan Kerja dengan Turnover Intention


      Kepuasan kerja merupakan sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya.
      Sedangkan turnover intention merupakan keinginan karyawan untuk berpindah
      tempat dia bekerja untuk mencari tempat kerja yang lebih baik. Maka dapat ditarik
      kesimpulan, bahwa kepuasan kerja seorang karyawan akan berdampak pada
      tingkat turnover intention pada perusahaan.
      Kepuasan seseorang pada dasarnya berbeda-beda dan sulit diukur satu
      sama lain. Meski pada mulanya memang motif seseorang memasuki suatu
      perusahaan adalah untuk mencapai dan memenuhi kebutuhan dasar pribadinya,
      hal ini sebagai sesuatu yang wajar dan logis. Karyawan pada dasarnya mempunyai
      keinginan dan keyakinan bahwa pada saatnya nanti akan mencapai apa yang
      dicita-citakannya. Setiap individu berkeinginan agar kebutuhan itu akan
      meningkat sejalan dengan peningkatan kemampuan bekerjanya, karirnya atau
      jenjang jabatannya di dalam perusahaan (dalam jurnal Angga Ahmad Rasyid).
      Kepuasan kerja karyawan merupakan salah satu aspek penting yang perlu
      diperhatikan dalam usaha peningkatkan kinerja dan kualitas sumber daya manusia
      di suatu perusahaan, jika karyawan merasa terpenuhi, mereka akan cenderung
      memiliki motivasi untuk bekerja. Sebaliknya jika karyawan tidak puas akan
      mengakibatkan rendahnya motivasi, ketidakhadiran, penurunan kinerja, hingga
      terjadinya turnover dan tindakan lainnya yang dapat merugikan perusahaan.
      Para ahli memandang tindakan karyawan yang meninggalkan pekerjaanya
      merupakan kelanjutan dari intensi karyawan meninggalkan organisasinya.
      Sebagian besar teori melihat pindah kerja merupakan hasil dari ketidakpuasan
      karyawan terhadap pekerjaannya. Karyawan yang tidak menyukai pekerjaannya
      31
      akan mencari tempat kerja yang lain. Semakin puas karyawan dengan pekerjaan
      yang dilakukan, semakin jarang dia berpikir untuk keluar dari pekerjaannya.
      Dengan demikian apabila semakin tinggi kepuasan kerja karyawan maka
      semakin rendah tingkat turnover karyawan pada perusahaan, hal ini dibuktikan
      pada penelitian yang dilakukan Adhitya Fajar Sukmana (2016) tentang analisis
      job insecurity dan kompensasi terhadap turnover intention melalui kepuasan kerja
      karyawan PT Wijaya Panca Sentosa Food Sidoarjo, yang menemukan bahwa
      kepuasan kerja tidak mempengaruhi turnover intention

      Hubungan antara Kompensasi dengan Turnover Intention


      Secara konseptual turnover intention adalah keluar masuknya karyawan
      pada suatu perusahaan. Turnover intention merupakan keinginan karyawan untuk
      berpindah tempat dia bekerja untuk mencari tempat kerja yang lebih baik. Salah
      satu faktor yang mempengaruhi turnover intention yaitu kompensasi. Pemberian
      kompensasi pada karyawan menjadi salah satu tugas yang paling kompleks bagi
      perusahaan dan menjadi salah satu aspek yang paling berarti baik bagi karyawan
      maupun perusahaan. Kompensasi yang sesuai standart dan keinginan maupun
      latar belakang pendidikan karyawan, akan membuat karyawan puas akan
      penghasilannya dan tidak berpikir untuk keluar dari perusahaan.
      Hubungan antara kompensasi dengan turnover intention yaitu jika
      kompensasi dibayar secara wajar dan benar maka niat karyawan untuk berpindah
      dari perusahaan dapat diminimalkan. Karyawan akan terus bertahan dan tidak
      memikirkan untuk meninggalkan perusahaan Sebaliknya jika kompensasi tidak
      dibayar secara layak dan wajar, maka karyawan tentu akan berusaha keluar dan
      memilih perusahaan yang membayar kompensasi seperti yang diinginkannya.
      Dengan demikian bahwa semakin tinggi kompensasi yang diberikan oleh
      perusahaan maka semakin rendah tingkat turnover karyawan pada perusahaan, hal
      ini dibuktikan pada penelitian yang dilakukan Emeraldo Rizky Yudhistira (2017)
      tentang pengaruh kompensasi terhadap turnover intention dengan kepuasan kerja
      sebagai variabel mediasi studi pada PG Kebon Agung, yang menemukan bahwa
      kompensasi berpengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap turnover
      intention

      Hubungan antara Kompensasi dengan Kepuasan Kerja


      Kepuasan kerja merupakan sikap emosional yang menyenangkan dan
      mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan
      prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan
      kombinasi dalam dan luar pekerjaan.
      Kepuasan kerja dipengaruh oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
      faktor finansial yang berhubungan dengan kompensasi yang diterima oleh
      karyawan. Seorang karyawan membutuhkan sebuah kompensasi sebagai yang
      utama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kompensasi dapat diartikan sebagai
      keseluruhan imbalan yang diterima oleh karyawan karena telah bekerja dalam
      waktu yang ditentukan. Dengan balas jasa, karyawan akan dapat memenuhi
      kebutuhan-kebutuhan fisik, status sosial, dan egoistiknya sehingga memperoleh
      kepuasan kerja dari kinerjanya.
      Dengan demikian jika kompensasi ditingkatkan maka karyawan akan
      bertambah puas, sehingga berusaha untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Namun
      sebaliknya jika kompensasi tidak diberikan atau tidak ditingkatkan, maka
      kepuasan kerja karyawan akan menurun dan akan menimbulkan efek negatif bagi
      perusahaaan.
      Hal ini dibuktikan pada penelitian yang dilakukan Jessica Lauren (2017)
      tentang pengaruh kompensasi dan komitmen organisasional terhadap turnover
      intention dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi pada karyawan PT X,
      yang menemukan bahwa kompensasi berpengaruh signifikan dengan arah positif
      terhadap kepuasan kerja

      Indikator Kepuasan Kerja


      Bintoro dan Daryanto dalam buku Manajemen Penilaian Kinerja Karyawan
      mengutip pendapat Hasibuan (2001) mengenai indikator-indikator kepuasan kerja
      yaitu :

      1. Kesetiaan
        Penilai mengukur kesetiawan karyawan terhadap pekerjaannya, jabatannya,
        dan organisasi, kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga
        dan membela organisasi di dalam maupun di luar pekerjaan dari orang yang
        tidak bertanggung jawab.
      2. Kemampuan
        Penilai menilai hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dapat
        dihasilkan karyawan tersebut dari uraian pekerjaannya.
      3. Kejujuran
        Penilai menilai Kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugasnya memenuhi
        perjanjia baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
      4. Kreatifitas
        Penilai menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan kreativitasnya
        untuk menyelesaikan pekerjaannya sehingga akan dapat bekerja lebih baik.
      5. Kepemimpinan
        Penilai menilai kemampuan untuk memimpin, mempunyai pribadi yang kuat,
        dihormati, berwibawa, dan dapat memotivasi orang lain atau bawahannya
        untuk bekerja scara efektif.
      6. Tingkat gaji
        Penilai menilai jumlah gaji yang diberikan perusahaan dan diterima karyawan
        harus sesuai dengan apa yang karyawan berikan kepada perusahaan agar
        mereka merasa puas.
      7. Kompensasi tidak langsung
        Penilai menilai pemberian balas jasa yang memadai dan layak kepada para
        karyawan atas kontribusi mereka membantu perusahaan mencapai tujuannya.
        Pemberian balas jasa atau imbalan atas tenaga, waktu, pikiran serta prestasi
        yang telah diberikan seseorang kepada perusahaan.
      8. Lingkungan kerja
        Penilai menilai lingkungan kerja yang baik dapat membuat karyawan merasa
        nyaman dalam bekerja.

      Teori-teori tentang Kepuasan Kerja


      Greenberg dan Baron (2003) menyatakan teori mengenai kepuasan kerja secara
      umum adalah:

      1. Teori Dua Faktor (Two-factor Theory)
        Teori kepuasan kerja yang menggambarkan kepuasan dan ketidakpuasan
        berasal dari kelompok variabel yang berbeda yakni hygiene factors dan
        motivators. Hygiene factors adalah ketidakpuasan kerja yang disebabkan
        oleh kumpulan perbedaan dari faktor-faktor (kualitas pengawasan,
        lingkungan kerja, pembayaran gaji, keamanan, kualitas lembaga, hubungan
        kerja dan kebijakan organisasi bisnis). Karena faktor-faktor ini bersifat
        mencegah reaksi negatif maka disebut sebagai hygiene (maintenance) factors.
        Kepuasan kerja yang didatangkan dari sekumpulan faktor-faktor yang
        berhubungan pekerjaannya atau hasil secara langsung dari pekerjaannya
        (peluang promosi, pengakuan, tanggungjawab, prestasi) disebut sebagai
        motivators, karena merupakan level tertinggi dari kepuasan kerja.
      2. Teori Nilai (Value Theory)
        Teori kepuasan kerja yang menjelaskan pentingnya kesesuaian antara hasil
        pekerjaan yang diperolehnya (penghargaan) dengan persepsi mengenai
        ketersediaan hasil. Semakin banyak hasil yang diperoleh maka ia akan lebih
        puas, jika memperoleh hasil yang sedikit maka ia akan lebih sedikit puas.
        Teori ini berfokus pada banyak hasil yang diperoleh. Kunci kepuasannya
        adalah kesesuaian hasil yang diterima dengan persepsi mereka

      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


      Banyak sekali faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan.
      Faktor-faktor itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan maupun
      ketidakpuasan kepada karyawan tergantung pribadi masing-masing karyawan.
      Menurut As’ad (2009) dalam Priansa (2017), menyatakan faktor yang
      mempengaruhi kepuasan kerja yaitu:

      1. Faktor psikologi, yaitu faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan
        yang meliputi minat, kenyamanan dalam bekerja, sikap terhadap pekerjaan,
        bakat dan keterampilan yang dimiliki.
      2. Faktor sosial, yaitu faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik
        antara sesama karyawan, dengan atasannya, maupun karyawan yang berbeda
        jenis pekerjaannya.
      3. Faktor fisik, yaitu faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan
        kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu
        kerja dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu,
        penerangan, pertukaran udara, kesehatan karyawan, umur, dan sebagainya.
      4. Faktor finansial, yaitu faktor yang berhubungan dengan jaminan dan
        kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji/upah,
        jaminan sosial, tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi, dan sebagainya

      Pengertian Kepuasan Kerja


      Menurut Milton (hal 151) dalam Umar Nimran & Amirullah (2015)
      Kepuasan Kerja merupakan kondisi emosional positif atau menyenangkan yang
      dihasilkan dari penilaian pekerja berdasarkan pengalamannya.
      Milton juga mengatakan reaksi positif pekerja terhadap pekerjaannya
      tergantung pada taraf pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis
      pekerja tersebut oleh pekerjaannya. Kesenjangan antara yang diterima pekerja dari
      pekerjaannya dengan yang diharapkannya menjadi dasar bagi munculnya
      kepuasan atau ketidakpuasan.
      Sedangkan menurut Siagian (2010) dalam Donni Juni Priansa,
      menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah sikap umum seseorang karyawan
      terhadap pekerjaannya, artinya secara umum dapat dirumuskan bahwa seorang
      yang memiliki rasa puas terhadap pekerjaannya akan mempunyai sikap positif
      terhadap organisasi bisnis dimana ia bekerja.
      Kepuasan kerja mencerminkan perasaaan seseorang terhadap
      pekerjaannya. Ini nampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan
      segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.
      Menurut Rivai dan Sagala (2009) kepuasan kerja merupakan penilaian
      yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang,
      puas atau tidak puas dalam bekerja.
      Menurut Hasibuan (2001), kepuasan kerja adalah sikap emosional yang
      menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral
      kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan,
      luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan.
      Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepuasan kerja
      mencerminkan sikap positif atau perasaan senang seseorang terhadap
      pekerjaannya. Kepuasan kerja menjadi ukuran seberapa besar karyawan
      menyenangi pekerjaannya dan merupakan sikap karyawan yang berkaitan dengan
      sikap psikologisnya

      Indikator Kompensasi


      Menurut Simamora (2004), indikator untuk mengukur kompensasi
      karyawan diantaranya sebagai berikut:

      1. Upah dan gaji¸ Upah adalah basis bayaran yang seringkali digunakan
        bagi para pekerja produksi dan pemeliharaan. Upah pada umumnya
        berhubungan dengan tarif gaji per jam dan gaji biasanya berlaku untuk
        tarif bayaran tahunan, bulanan, atau mingguan.
      2. Insentif, adalah tambahan kompensasi di atas atau di luar gaji atau upah
        yang diberikan oleh perusahaan.
      3. Tunjangan, adalah asuransi kesehatan dan jiwa, program pensiun, liburan
        yang ditanggung perusahaan, dan tunjangan lainnya yang berkaitan dengan
        hubungan kepegawaian.
      4. Fasilitas, adalah pada umumnya berhubungan dengan kenikmatan seperti
        mobil perusahaan, akses ke pesawat perusahaan, tempat parkir khusus dan
        kenikmatan (baca: perlakuan khusus) yang diperoleh karyawan

      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Kompensasi


      Menurut Hasibuan (2014), faktor-faktor kompensasi diantaranya:

      1. Penawaran dan permintaan tenaga kerja
        Jika pencari kerjaa(penawaran) lebih banyak daripada lowongan pekerjaan
        (permintaan) makaakompensasi relatif kecil. Sebaliknya jikaapencari kerja
        lebih sedikit daripadaalowongan pekerjaan, maka kompensasi relatif semakin
        besar.
      2. Kemampuan dan kesediaan perusahaan
        Apabila kemampuanndan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin
        baik makaatingkat kompensasi akan semakin besar. Tetapi sebaliknya, jika
        kemampuan dan kesediaannperusahaan untuk membayar kuranggmaka
        tingkat kompensasi relatif kecil.
      3. Serikat buruh/organisasi karyawan
        Apabila serikat buruhnya kuat dan berpengaruhhmakaatingkat kompensasi
        semakin besar. Sebaliknyaajika serikat buruh tidak kuat dan kurang
        berpengaruh maka tingkat kompensasi relatif kecil.
      4. Produktivitas kerja karyawan
        Jika produktivitas kerja karyawan baik dan banyak makaakompensasi akan
        semakin besar. Sebaliknya kalau produktivitasskerjanya buruk serta sedikit
        maka kompensasinya kecil.
      5. Pemerintah dengan undang-undang dan keppresnya
        Pemerintah dengan undang-undang dannkeppres menetapkan besarnya atau
        batas upah/balas jasa minimum. Peraturan pemerintah ini sangat penting
        supayaapengusaha tidak sewenang-wenang menetapkannbesarnya balas jasa
        bagi karyawan. Pemerintah berkewajiban melindungi masyarakat dari
        tindakannsewenang-wenang.
      6. Biaya hidup/cost of living
        Apabila biaya hidup di daerah itu tinggi makaatingkat kompensasi/upah
        semakin besar. Sebaliknya, jikaatingkat biaya hidup di daerah itu rendah
        makaatingkat kompensasi/upah relatif kecil. Seperti tingkat upah di Jakarta
        lebih besar dari di Bandung, karena tingkat biayaahidup di Jakarta lebih besar
        daripadaadi Bandung.
      7. Posisi jabatan karyawan
        Karyawan yang menduduki jabatan lebih tinggi akan menerimaa
        gaji/kompensasi lebih besar. Sebaliknya karyawan yang menduduki jabatan
        yang lebih rendah akannmemperoleh gaji/kompensasi yang kecil. Hal ini
        wajar karena seseorang yanggmendapat kewenangan dan tanggung jawab
        yang besar harus mendapatkanngaji/kompensasi yang lebih besar pula.
      8. Pendidikan dan pengalaman karyawan
        Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalamannkerja lebih lama maka
        gaji/balas jasanya akan semakin besar, karena kecakapan serta
        keterampilannyaalebih baik. Sebaliknya, karyawan yang berpendidikan
        rendah dannpengalaman kerja kurang maka tingkat gaji/kompensasinya kecil.
      9. Kondisi perekonomian nasional
        Apabila kondisi perekonomian nasional sedang majuu(boom) maka tingkat
        upah/kompensasi akannsemakin besar, karena akan mendekati kondisi full
        employment. Sebaliknya, jikaakondisi perekonomian kurang majuu(depresi)
        maka tingkat upah rendah, karena terdapat banyak pengangguran (disqueshed
        unemployment).
      10. Jenis dan sifat pekerjaan
        Kalau jenis dan sifat pekerjaan yang sulit dannmempunyai risiko (finansial,
        keselamatan) yang besar makaatingkat upah/balas jasanya semakin besar
        karena membutuhkannkecakapan serta ketelitian untuk mengerjakannya.
        Tetapi jika jenis dan sifat pekerjannya mudah dan risiko (finansial,
        kecelakannya) kecil, tingkat upah/balas jasanya relatif rendah

      Tujuan Kompensasi


      Menurut Hasibuan (2014), ada beberapa tujuan pemberian kompensasi yaitu:
      a. Ikatan Kerja Sama
      Dengan pemberian kompensasiiiterjalinlah ikatan kerja sama formal antara
      majikan dengan karyawan. Karyawan harus mengerjakan tugas-
      tugasnyaadengan baik, sedangkan pengusaha/majikan wajib membayarr
      kompensasi sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
      b. Kepuasan Kerja
      Dengan balas jasa, karyawan akanndapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
      fisik, status sosial, dan egoistiknya sehingga memperoleh kepuasannkerja dari
      jabatannya.
      c. Pengadaan Efektif
      Jika program kompensasiiiditetapkan cukup besar, pengadaannkaryawan
      yang qualified untuk perusahaan akan lebih mudah.
      d. Motivasi
      Jika balas jasa yang diberikanncukup besar, manajer akan mudah memotivasi
      bawahannya.
      e. Stabilitas Karyawan
      Dengan program kompensasi atas prinsip adil dannlayak serta eksternal
      konsistensi yang kompentatif makaastabilitas karyawan lebih terjamin karena
      turnover relatif kecil.
      f. Disiplin
      Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar makaadisiplin karyawan
      semakin baik. Mereka akan menyadariiiserta mentaati peraturan-peraturan
      yang berlaku.
      g. Pengaruh serikat buruh
      Dengan program kompensasiiiyang baik pengaruh serikat buruh dapat
      dihindari dannkaryawan akan berkonsentrasi pada pekerjaannya.
      h. Pengaruh Pemerintah
      Jika program kompensasi sesuai dengan undang-undang perburuhannyang
      berlakuu(seperti batas upah minimum) maka intervensi pemerintah dapat
      dihindarkan.
      Tujuan adanya pemberian balas jasa hendaknya memberikan kepuasan
      kepada semuaapihak, karyawan dapat memenuhi kebutuhannya,
      pengusahaamendapat laba, peraturan pemerintah harus ditaati, dan
      konsumennmendapat barang yang baik dan harga yang pantas

      Pengertian Kompensasi


      Kompensasi pada dasarnya merupakan salah satu tujuan utama seseorang
      melakukan pekerjaan. Dengan kompensasi yang diterima, pekerja berkeinginan
      untuk dapat mendapatkan apa yang diinginkan terutama kebutuhan pekerja
      tersebut. Berikut beberapa definisi yang diungkapkan oleh para ahli tentang
      kompensasi diantaranya:
      Menurut Hasibuan (2003), kompensasi adalah semua pendapatan yang
      berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan
      sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan.
      Kompensasi berbentuk uang artinya karyawan dibayar dengan sejumlah
      uang kartal. Kompensasi berbentuk barang artinya kompensasi dibayar dengan
      barang.
      Wilson Bangun (2012) kompensasi adalah karyawan menerima sesuatu
      atas jasa yang mereka sumbangkan pada pekerjaannya. Sedangkan kompensasi
      menurut Rivai (2009) kompensasi merupakan pengganti kontribusi jasa karyawan
      pada perusahaan yang akan mereka terima.
      Berdasarkan beberapa pendapat yang diatas, dapat disimpulkan bahwa
      kompensasi merupakan imbalan yang diberikan kepada karyawan atas jasa yang
      telah diberikan kepada perusahaan

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Turnover Intention



      Menurut Rekha dan Kamalanbhan (2012) beberapa faktor yang menjadi
      penyebab keinginan karyawan untuk berpindah (turnover intention) antara lain:

      1. Kepuasan kerja
        Kepuasan kerja merupakan factor yang mempengaruhi turnover intention.
        Aspek kepuasan yang ditemukan berhubungan dengan keinginan individu
        untuk meninggalkan perusahaan meliputi kepuasan gaji, promosi, supervisor,
        rekan kerja dan kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri.
      2. Komitmen organisasi
        Komitmen organisasi merupakan tingkat dimana karyawan mengkaitkan
        dirinya dengan suatu organisasi tertentu dan sasarannya, dan berhadap
        mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Semakin tinggi komitmen
        maka keinginan seseorang maka keinginan untuk meninggalkan perusahaan
        semakin rendah.
      3. Keadilan dalam mengambil keputusan
        Keadilan dalam mengambil keputusan dalam suatu perusahaan juga termasuk
        factor yang mempengaruhi turnover intention. Jika karyawan merasa bahwa
        adanya ketidakadilan dalam pengambilan keputusan mereka cenderung untuk
        memiliki pemikiran untuk keluar dari perusahaan.
      4. Dukungan organisasi
        Faktor yang mempengaruhi turnover intention yang terakhir yaitu adanya
        dukungan dari perusahaan. Ketika seorang berfikir bahwa tidak adanya
        dukungan dari perusahaan maka akan menjadikan alasan untuk berhenti dari
        tempat kerjanya.
        Selain faktor di atas, menurut Dr. Kasmir, S.E, M.M (2016) dalam buku
        Manajemen Sumber Daya Manusia, terdapat beberapa variabel yang
        mempengaruhi hubungan dan pengaruh terhadap kompensasi atau sebaliknya
        yakni terhadap :
      5. Motivasi kerja
      6. Semangat kerja
      7. Suasana kerja
      8. Jenjang karir
      9. Komitmen
      10. Kepuasan kerja
      11. Kinerja
      12. Loyalitas
      13. Turnover karyawan
      14. Kualitas kerja
      15. Efesiensi biaya
        Turn over karyawan memiliki hubungan yang sangat erat dengan
        kompensasi atau sebaliknya. Jika kompensasi dibayar secara wajar dan benar,
        maka niat karyawan untuk keluar dari perusahaan dapat diminimalkan. Karyawan
        akan terus bertahan dan tidak berpikir untuk meninggalkan perusahaan. Demikian
        pula sebaliknya jika kompensasi tidak dibayar secara layak dan wajar, maka
        karyawan tentu akan berusaha keluar dan memilih perusahaan yang membayar
        kompensasi seperti yang diinginkannya

      Indikator Turnover Intention


      Menurut Michaels dan Spector dalam Yoga (2016) indikator pengukuran
      turnover intention terdiri atas:

      1. Berfikir untuk keluar (Thinking of quitting)
        Mencerminkan individu untuk berfikir keluar dari pekerjaan atau tetap
        berada di tempat kerjanya. Diawali dengan ketidakpuasan yang dirasakan
        oleh karyawan, kemudian karyawan mulai berfikir untuk keluar dari temapt
        kerjanya saat ini.
      2. Keinginan untuk mencari pekerjaan lain (Intention to search for alternatives)
        Mencerminkan individu yang berkeinginan untuk mencari pekerjaan
        lain, jika karyawan sudah mulai sering berfikir untuk keluar dari
        pekerjaannya karyawan tersebut akan mencoba mencari pekerjaan diluar
        perusahaannya yang dirasa lebih baik.
      3. Berniat untuk keluar (Intention to quit)
        Mencerminkan individu yang berniat untuk keluar. Karyawan berniat
        untuk keluar apabila telah mendapatkan alternatif pekerjaan yang lebih baik
        dan nantinya akan diakhiri dengan keputusannya untuk tetap tinggal atau
        keluar dari pekerjaannya

      Pengertian Turnover Intention


      Menurut Hartono (2002) turnover intention merupakan kadar keinginan
      karyawan untuk keluar dari perusahaan. Penggantian karyawan atau keluar
      masuknya karyawan dari organisasi adalah suatu kondiri yang paling penting
      dalam kehidupan organisasi. Adanya turnover yang tinggi biasanya diawali dari
      niat karyawan untuk berpindah (turnover intention) mengacu pada hasil evaluasi
      individu mengenai kelanjutan hubungan dengan organisasi yang belum
      diwujudkan dalam tindakan pasti meninggalkan organisasinya.
      Turnover intention merupakan penarikan diri secara sukarela atau tidak suka
      rela dari perusahaan (Gibson et al 2000). Sedangkan menurut Mathis dan Jackson
      (2001) mengidentifikasi bahwa keluar masuk karyawan berhubungan dengan
      ketidakpuasan kerja karyawan pada perusahaan.
      Dari beberapa definisi menurut para ahli dapat disimpulkan turnover
      intention adalah keinginan karyawan untuk berpindah dari tempat dia bekerja
      untuk mencari tempat kerja yang lain yang lebih baik dari tempat sebelumnya dan
      mendapatkan kompensasi yang layak.

      VOS Viewer


      VOSviewer adalah perangkat lunak untuk membangun dan memvisualisasikan
      jaringan bibliometrik. Jaringan ini dapat mencakup jurnal, peneliti, atau publikasi
      individual, dan dapat dibangun berdasarkan kutipan, penggabungan bibliografi,
      kutipan bersama, atau hubungan kepenulisan bersama. VOSviewer juga
      menawarkan fungsionalitas penambangan teks yang dapat digunakan untuk
      membangun dan memvisualisasikan jaringan kemunculan bersama istilah-istilah
      penting yang diekstrak dari kumpulan literatur ilmiah.

      Harzing’s Publish or Perish


      Publish or Perish adalah aplikasi perangkat lunak yang dikembangkan oleh
      Profesor Anne-Wil Harzing. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk
      melakukan analisis akademik dengan cepat dan efisien. Publish or Perish
      menggunakan Google Scholar sebagai sumber data dan menyediakan berbagai
      metrik penting terkait penerbitan ilmiah.
      Fungsi dari Publish or Perish bagi Mahasiswa adalah sebagai berikut :

      1. Analisis Kinerja Penelitian. Publish or Perish menolong mahasiswa untuk
        menganalisa kinerja penelitian sendiri maupun peneliti lain. Aplikasi ini
        membagikan informasi tentang jumlah publikasi, kutipan, faktor pengaruh
        penelitian (h-index), dan indeks sitasi. Dengan mengetahui kinerja penelitian,
        mahasiswa dapat mengoreksi dampak penelitian mereka dan meningkatkan
        visibilitas akademik.
      2. Identifikasi Topik Penelitian dan Pemimpin Riset. Melalui analisis berbasis
        data, Publish or Perish memungkinkan mahasiswa untuk mengenalkan topik
        penelitian yang sedang tren dan pemimpin riset dalam bidang studi tertentu.
        Informasi ini dapat membantu mahasiswa dalam memutuskan area penelitian yang
        sejenis dan menemukan potensi kerjasama dengan peneliti terkemuka.
      3. Menemukan Jurnal dan Konferensi yang Relevan. Dalam dunia penelitian,
        memilih jurnal atau konferensi yang tepat untuk mempublikasikan hasil penelitian
        sangat penting. Publish or Perish dapat membantu mahasiswa menemukan jurnal-
        jurnal terkait yang paling sering mengutip karya dalam bidang studi mereka. Hal
        ini memungkinkan mahasiswa untuk menargetkan publikasi mereka dengan lebih
        efektif

      Penyebab Turn Over Karyawan


      Berikut adalah beberapa faktor penyebab turn over karyawan, diantaranya :

      1. Kompensasi
        Adalah bayaran atau remunerasi yang diberikan oleh perusahaan kepada
        karyawan atas hasil kerja berupa uang atau barang baik secara langsung atau
        tidak langsung.
      2. Stres kerja
        Stres kerja adalah kondisi dimana karyawan mengalami rintangan yang
        dapat merubah perilaku.
      3. Pengembangan karir
        Adalah kegiatan pegawai yang bertujuan untuk mempersiapkan karir di
        masa yang akan datang melalui pendidikan atau pelatihan di perusahaan tempat
        mereka bekerja, pengembangan karir ini sangat menguntungkan bagi
        karyawan karena dapat menggali potensi baru yang ada.
      4. Beban kerja
        Beban kerja yaitu tugas atau aktivitas yang mesti dituntaskan oleh suatu
        departemen perusahaan tertentu atau kepala divisi dalam satuan waktu yang
        sudah ditentukan.
        Dikatakan bahwa suatu proses untuk menetapkan satuan waktu untuk
        mencapai target tersebut adalah dengan cara observasi kegiatan yang dilakukan
        karyawan secara berkelanjutan atau terus menerus dan mengambil sampel
        waktu yang paling cepat, oleh kerena itu dapat dirangkum bahwa target dan
        beban kerja saling berkesinambungan satu dengan lainnya. Artinya beban kerja
        meliputi pengerahan sumber daya dan penetapan durasi waktu, tidak hanya
        soal tugas dan pekerjaan.
        Jika target kerja yang sudah diberikan mampu diselesaikan oleh seorang
        karyawan, maka perihal tersebut tidak lagi menjadi beban kerja, bahwa
        kapasitas kerja karyawan tersebut bisa sama dari jangka waktu yang sudah
        ditentukan atau bahkan lebih. Namun sebaliknya jika karyawan tidak bisa
        menyelesaikan target maka kewajiban dan kegiatan tersebut menjadi suatu
        beban kerja. Oleh karena itu, harus dilakukan juga analisa mengapa karyawan
        tersebut tidak bisa mencapai target.
        5
        Analisis beban kerja menjadi suatu tolak ukur penting yang wajib diamati
        pada setiap perusahaan dikarenakan berimpresi pada karyawan dalam
        menumbuhkan produktivitas dalam bekerja

      Pengertian Turn Over Karyawan


      Berikut adalah pengertian turnover karyawan menurut para ahli.

      1. Mobley
        Mobley mengemukakan bahwa turnover adalah kecenderungan atau niat
        karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaannya secara sukarela atau pindah
        dari satu tempat kerja ke tempat kerja lain menurut kemauannya sendiri.
      2. Ronald dan Milkha
        Ronald dan Milkha menerangkan bahwa turnover merupakan kecenderungan atau
        intensitas orang untuk meninggalkan suatu perusahaan karena berbagai alasan dan
        diantaranya keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
      3. Rivai
        Menurut Rivai, turnover merupakan keinginan karyawan secara sukarela untuk
        berhenti kerja dan meninggalkan perusahaan atau pindah dari satu tempat ke
        tempat kerja yang lain menurut pilihannya sendiri.
      4. Jewell dan Siegall
        Jewell dan Siegall menjelaskan bahwa turnover karyawan terjadi karena adanya
        ketertarikan yang kuat dari seseorang terhadap berbagai alternatif pekerjaan di
        luar perusahaan atau karena adanya rasa tidak puas akan penarikan diri dari
        pekerjaannya saat ini.
      5. Simamora
        Sedangkan menurut Simamora, turnover yaitu pemisahan diri secara sukarela oleh
        seorang pegawai dari perusahaan

      Net Profit Margin (NPM)


      Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
      bersih dari penjualan yang dilakukan perusahaan. Rasio ini mencerminkan
      efesiensi seluruh bagian, yaitu produksi, personalia, pemasaran, dan
      keuangan yang ada dalam perusahaan (Sudana, 2011:23). Rumusan untuk
      mencarai profit margin adalah sebagai berikut :
      ??? = ???? ??????ℎ ????? ?????
      ????????? ?????ℎ × 100%

      Return On Assets (ROA)


      Hasil pengembalian atas aset merupakan rasio yang menujukkan seberapa
      besar kontribusi aset dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain, rasio
      ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan
      dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset. Rasio ini
      dihitung dengan membagi laba bersih terhadap total aset. Semakin tinggi
      hasil pengembalian atas aset berarti semakin tinggi pula jumlah laba bersih
      yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset.
      Rumusan untuk mencari Return On Aset adalah sebagai berikut :
      ??? = ???? ??????ℎ ????? ?????
      ????? ???? × 100%
      Rasio ini juga menunjukan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik
      modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil rasio ini semakin
      tidak baik, demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk
      mengukur efektifitas dari keseluruhan operasi perusahaan

      Profitabilitas


      Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama
      periode tertentu (Munawir, 2014:33). Profitabilitas suatu perusahaan diukur dengan
      kesuksesan perusahaan dan kemampuan menggunakan aktivanya secara produktif,
      dengan profitabilitas suatu perusahaan dapat diketahui dengan membandingkan
      antara laba yang diperoleh dalam satu periode dengan jumlah aktiva atau jumlah
      modal perusahaan tersebut. Dengan demikian analisis profitabilitas penting untuk
      digunakan oleh investor jangka panjang dalam rangka mengukur tingkat
      keuntungan suatu perusahaan dengan menghubungkan antara laba yang diperoleh
      dari kegiatan pokok perusahaan dengan kekayaan atau aset yang dimiliki untuk
      menghasilkan keuntungan perusahaan (operating asset). Serta profitabilitas
      merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting karena untuk dapat
      melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan harus berada dalam keadaan yang
      menguntungkan.
      Profitabilitas suatu perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio
      profitabilitas. Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan
      perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu
      (Kasmir, 2015:114). Menurut Irawati, 2006 yang dikutip oleh Nisran, Jonathan dan
      Suyatin (2016), rasio keuntungan atau profitability ratios adalah rasio yang
      digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva perusahaan atau
      merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode
      tertentu (biasanya semesteran, triwulanan dan lain-lain) untuk melihat kemampuan
      perusahaan dalam beroperasi secara efisien. Rasio profitabilitas dapat dihitung
      dengan menggunakan perbandingan natara komponen yang ada di dalam laporan
      keuangan seperti laporan neraca dan laporan laba rugi. Semakin tinggi rasio
      profitabilitas maka semakin efektif juga perusahaan dalam memanfaatkan aktiva
      untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak

      Perputaran Piutang


      Menurut Kasmir (2015:176), perputaran piutang merupakan rasio yang
      digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode
      atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode.
      Hal yang jelas adalah rasio perputaran piutang menunjukkan kualitas dan
      kesuksesan penagihan piutang. Perputaran piutang merupakan rasio yang
      mengukur berapa kali rata-rata piutang dapat tertagih selama satu periode. Kinerja
      pengelolaan piutang suatu perusahaan dapat dilihat dari tingkat perputaran
      piutangnya, dimana tingkat perputaran piutang merupakan periode terikatnya
      modal kerja dalam piutang. Semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja
      yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah (dibandingkan dengan rasio tahun
      sebelumnya) dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan semakin baik. Sebaliknya
      jika rasio semakin rendah ada over investment dalam piutang. Menurut Sartono
      (2008:44) yang dikutip oleh Lestari (2017) mengatakan bahwa kecepatan
      penerimaan hasil piutang dalam satu periode (perputaran piutang) akan dapat
      mempengaruhi likuiditas perusahaan karena pertukaran piutang lebih cepat dari
      yang diharapkan dan seberapa jauh piutang perusahaan bisa dipakai untuk
      memenuhi jangka pendeknya. Tingkat likuiditas perusahaan yang baik tentunya
      akan memberikan pengaruh baik terhadap aktiva lancar perusahaan yang
      disebabkan dari adanya piutang. Dengan membaiknya aktiva lancar perusahaan
      maka akan memberikan pengaruh yang besar dalam seluruh ataupun sebagian
      aktivitas perusahaan. Aktivitas perusahaan yang berjalan dengan baik tentu akan
      membantu perusahaan dalam meningkatkan profitabilitasnya (Lestari, 2017).
      Rumus untuk mencari rasio perputaran piutang (Account Receivable Turnover)
      adalah sebagai berikut:
      ??????? ?????????? ???????? = ?????????
      ??????? ???? − ????
      Tingkat perputaran piutang dapat membantu perusahaan dalam mengukur
      kelancaran penerimaan piutang dan pengukuran baik tidaknya investasi piutang.
      Perputaran piutang akan menunjukkan berapa kali dan rentang waktu piutang yang
      timbul sampai pada piutang tertagih kembali menjadi kas perusahaan. Jadi dapat
      disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat perputaran piutang maka semakin cepat
      piutang dapat diubah menjadi kas serta menunjukkan penjualan kredit yang efektif
      dan efisien sehingga perusahaan memiliki peluang besar untuk memperoleh laba

      Piutang


      Piutang timbul dari penjualan kredit barang dan jasa, posisi piutang dalam
      neraca yang merupakan bagian dari aktiva lancar sangat mempengaruhi posisi
      aktiva, piutang yang jatuh tempo akan ditagih untuk mendapatkan kas. Menurut
      Satria (2016:33) piutang merupakan aktiva lancar yang diharapkan dapat dikonversi
      menjadi kas dalam waktu satu tahun dalam satu periode akuntansi. Sedangkan
      menurut Subramanyan dan Wild (2014:274), piutang (receivables) merupakan nilai
      jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa, atau dari pemberian
      pinjaman uang. Piutang mencakup nilai jatuh tempo yang berasal dari aktivitas
      seperti sewa dan bunga yaitu dengan membagi total penjualan kredit (neto) dengan
      piutang rata-rata. Rata-rata piutang kalau memungkinkan dapat dihitung secara
      bulanan (saldo tiap-tiap akhir bulan dibagi dua belas) atau tahunan yaitu saldo awal
      tahun ditambah saldo akhir tahun dibagi dua.
      Piutang merupakan tagihan perusahaan kepada pelanggan atau pembeli atau
      pihak lain yang menjual produk perusahaan. Penjualan kredit akan memberikan
      jeda waktu bagi perusahaan sebelum menerima pemasukan (arus kas masuk) dari
      hasil pengumpulan piutang. Hal ini akan membebani perusahaan dengan biaya-
      biaya piutang, yaitu biaya administrasi piutang, biaya modal atas dana yang
      tertanam dalam piutang, biaya penagihan dan biaya piutang yang mungkin tidak
      tertagih. Tetapi biaya-biaya tersebut dapat diimbangi dengan penjualan perusahaan
      yang meningkat.
      Menurut bukti pendukungnya piutang dapat dikelompokkan menjadi (Satria,
      2016:37-38):
      a. Piutang Wesel/Notes Receivable atau Wesel Tagih, yaitu tagihan yang
      didukung oleh instrumen kredit resmi seperti Promes. Promes adalah janji
      tertulis untuk membayar uang pada tanggal tertentu tanpa syarat.
      b. Piutang Usaha Biasa yaitu tagihan yang didukung oleh bukti usaha biasa
      seperti faktur atau bukti bahwa perusahaan telah menjual barang/jasa ke
      pihak yang berhutang (debitur).
      Piutang merupakan aktiva yang paling penting dalam perusahaan dan dapat
      menjadi bagian yang besar dari likuiditas perusahaan. Besar kecilnya piutang
      dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah seperti
      yang dikemukakan oleh Riyanto (Satria, 2016:34-35) sebagai berikut:
      a. Volume penjualan kredit
      Besar kecilnya volume penjualn kredit yang ditetapkan oleh perusahaan
      akan berpengaruh terhadap jumlah piutang yang terdapat dalam perusahaan,
      semakin besar volume penjualn kredit maka semakin besar pula investasi
      dalam piutang perusahaan akan semain besar. Sebaliknya, semakin kecil
      volume penjualan kredit yang ditetapkan perusahaan maka jumlah piutang
      akan semakin kecil.
      b. Syarat pembayaran penjualan kredit
      Syarat atas penjualan kredit yang ditetapkan pihak perusahaan dapat bersifat
      ketat atau lunak. Semakin ketat syarat pembayaran yang ditetapkan, maka
      semakin cepat pengembalian piutang. Sehingga jumlah piutangnya
      perusahaan akan semakin kecil. Sebaliknya semakin lunak syarat
      pembayaran yang ditetapkan, maka pengembalian piutang akan lebih lama
      dan jumlah piutang akan lebih besar.
      c. Ketentuan tentang pembatasan kredit
      Dalam penjualan kredit, perusahaan dapat menetapkan batas pemberian
      kredit kepada pelanggan. Semakin tinggi batas yang ditetapkan, maka
      semakin besar pelanggan membeli secara kredit, sehingga jumlah piutang
      akan lebih besar.
      d. Kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang
      Kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang dapat dilakukan secara aktif
      maupun pasif. Bila digunakan secara aktif, maka perusahaan harus
      mengeluarkan biaya tambahan untuk mendanai usaha ini. Dengan
      menggunakan cara ini piutang yang ada akan cepat tertagih, sehingga akan
      memperkecil jumlah piutang perusahaan. Namun, bila perusahaan
      menerapkan cara pasif, maka pengumpulan piutang akan lebih lama
      sehingga jumlah piutang perusahaan akan lebih besar.
      e. Kebiasaan membayar dari para pelanggan
      Kebiasaan para pelanggan untuk membayar dalam periode cash discount
      akan mengakibatkan jumlah piutang lebih kecil, sedangkan jika pelanggan
      membayar pada periode sesudah cash discount akan mengakibatkan jumlah
      piutang lebih besar, karena jumlah dana yang tertanam dalam piutang lebih
      lama untuk terealisasi menjadi kas

      Perputaran Persediaan


      Menurut Kasmir (2012:180) perputaran persediaan merupakan rasio yang
      digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam sediaan
      (inventory) ini berputar dalam satu periode. Rasio ini dikenal dengan nama rasio
      perputaran sediaan (inventory turn over). Atau dapat diartikan dengan perputaran
      sediaan merupakan rasio yang menunjukkan berapa kali jumlah barang sediaan
      diganti dalam satu periode. Menurut Putra (2009:139), semakin tinggi tingkat
      perputaran persediaan, kemungkinan semakin besar perusahaan akan memperoleh
      keuntungan. Begitu pula sebaliknya, jika tingkat perputaran persediaannya rendah
      maka kemungkinan semakin kecil perusahaan akan memperoleh keuntungan.
      Munawir (Lestari, 2017) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat perputaran
      persediaan akan memperkecil risiko terhadap kerugian yang disebabkan karena
      penurunan harga atau karena perubahan selera konsumen, disamping itu akan
      menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut.
      Perputaran persediaan menunjukkan berapa kali persediaan diganti (dijual)
      dalam waktu satu tahun. Dengan demikian, tingkat perputaran persediaan yang
      tinggi mengindikasikan bahwa tingkat penjualan yang tinggi pada perusahaan.
      Dengan tingkat perputaran persediaan yang tinggi berarti risiko kerugian dan biaya
      terhadap persediaan dapat diminimalkan. Rasio perputaran persediaan dapat
      dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
      ?????????? ?????????? = ????? ????? ?????????
      ?????????? ???? − ????
      Nilai rata-rata persediaan dihitung dari nilai saldo awal persediaan (saldo tahun
      sebelumnya) ditambah dengan saldo akhir persediaan (saldo tahun saat ini) lalu
      dibagi dua (Santoso, 2018:18). Variabel ini diukur dengan menggunakan satuan
      “kali” dalam satu tahun. Berikut rumusnya:
      ???? − ???? ?????????? = ????????? ???? + ?????????? ??ℎ??
      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rasio perputaran persediaan dapat
      mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaan serta
      mengukur likuiditas persediaan perusahaan. Semakin tinggi tingkat perpuataran
      persediaan maka semakin tinggi kesempatan perusahaan untuk memperoleh laba

      Persediaan


      Persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik
      perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu atau
      persediaan barang-barang yang masih dalam proses pengerjaan ataupun proses
      produksi bahkan persediaan bahan baku yang telah menunggu pemakaiannya
      didalam proses produksi (Alexandri, 2009: 135). Menurut Baridwan (2014:149),
      persediaan adalah barang dipakai untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki
      untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan
      dijual. Secara umum, persediaan merupakan sejumlah barang yang disediakan
      untuk proses produksi dalam perusahaan serta barang-barang atau produk jadi
      untuk memenuhi permintaan konsumen atau pelanggan dan termasuk dalam
      golongan aset lancar perusahaan yang memiliki peran penting dalam menghasilkan
      laba perusahaan.
      Unsur persediaan penting dalam perusahaan karena jumlah persediaan dapat
      menentukan kelancaran produksi serta efektifitas dan efisiensi perusahaan. Pada
      beberapa perusahaan, ada kebijakan untuk menjaga jumlah persediaan pada jumlah
      tertentu. Dalam banyak kasus, jumlah persediaan yang sedikit akan mengurangi
      kesempatan untuk mendapatkan optimum penjualan. Jumlah persediaan yang
      berlebihan akan menambah biaya, seperti biaya gudang dan asuransi (Santoso,
      2014:47). Oleh karena itu manajemen harus mengelola persediaan perusahaan
      dengan sebaik-baiknya sehingga kegiatan penjualan perusahaan dapat berjalan
      dengan baik.
      Berikut adalah jenis-jenis persediaan di dalam perusahaan dagang, perusahaan
      industri, dan perusahaan jasa yang dikemukakan oleh La Midjan dan Susanto
      (2011:150).
      a. Persediaan bahan baku
      b. Persediaan barang dalam proses
      c. Persediaan hasil jadi
      d. Persediaan suku cadang
      e. Persediaan bahan bakar
      f. Persediaan barang cetakan dan alat tulis
      g. Persediaan barang dagangan
      Untuk mempertahankan tingkat persediaan, perusahaan dagang harus selalu
      menyelenggarakan pencatatan persediaan secara sistematis untuk mengetahui
      berapa besarnya barang dagangan yang tersedia untuk dijual dan juga berapa yang
      telah laku terjual. Terdapat dua metode akuntansi yang lazim dipakai dalam
      mencatat persediaan barang dagangan (Satria, 2016:59) yaitu:
      a. Sistem Pencatatan Perpetual
      Dalam metode perpetual, baik jumlah penjualan maupun harga pokok
      penjualan dan dicatat pada setiap saat barang dijual. Dengan cara ini catatan
      akuntansi akan secara terus menerus mengungkapkan besarnya persediaan
      yang ada.
      b. Sistem Pencatatan Periodik
      Dalam metode periodik, adanya transaksi pembelian tidak didebet pada
      rekening persediaan tapi didebet pada rekening pembelian begitu juga
      dengan transaksi penjualan tidak dikredit pada rekening persediaan tapi
      pada rekening penjualan. Informasi mengenai persediaan yang ada pada
      suatu saat tertentu, tidak didapat dari rekening persediaan tapi melalui
      perhitungan fisik atas persediaan yang ada digudang. Perhitungan fisik biasa
      dilakukan pada saat perusahaan akan menyusun laporan keuangan. Dalam
      metode ini perhitungan fisik mempunyai peranan penting, karena tanpa
      perhitungan fisik laporan keuangan tidak dapat disusun

      Perputaran Kas


      Kas memiliki hubungan yang erat dengan penjualan. Kas dapat dihubungkan
      dengan penjualan melalui perbandingan antara jumlah penjualan bersih dengan
      jumlah rata-rata kas yang mana menggambarkan tingkat perputaran kas (cash
      turnover). Perputaran kas menggambarkan kemampuan kas dalam menghasilkan
      pendapatan sehingga dapat dilihat berapa kali uang kas berputar dalam satu periode
      tertentu. Rasio ini digunakan untuk megukur tingkat ketersediaan kas untuk
      membayar utang dan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan (Kasmir,
      2012:140). Menghitung perputaran kas dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
      ?????????? ??? = ????????? ?????ℎ
      ??? ???? − ????
      Rata – rata kas dapat dihitung dengan kas tahun sebelumnya ditambah dengan
      kas tahun ini dibagi dua. Variabel ini diukur dengan menggunakan satuan “kali”
      dalam satu tahun. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kas sangat
      berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan. Oleh karena itu, kas
      harus direncanakan dan diawasi dengan baik dari segi penerimaan dan
      pengeluarannya. Menurut Riyanto (2008:254) semakin tinggi perputaran kas akan
      semakin baik, karena ini berarti semakin tinggi efisiensi penggunaan kasnya dan
      keuntungan yang diperoleh akan semakin besa

      Kas


      Kas adalah aktiva perusahaan yang berupa uang tunai dan segala sesuatu yang
      dapat disifati sebagai uang tunai dan aktiva perusahaan yang tidak produktif dan
      sangat rentan terhadap perubahan nilai atau perubahan daya beli dan
      penyalahgunaan. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah manajemen kas yang baik
      (Satria, 2016:24).
      Menurut Rudianto (2012:188), pengertian kas adalah suatu alat pertukaran
      yang dimiliki oleh perusahaan dan siap untuk digunakan dalam transaksi
      perusahaan setiap kali diperlukan. Karena itu kas mencakup semua alat pembayaran
      yang dimiliki perusahaan yang disimpan di dalam perusahaan maupun di bank dan
      siap dipergunakan. Sedangkan menurut Munawir (2014:158), kas merupakan
      aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur modal kerja yang paling
      tinggi likuiditasnya, berarti bahwa semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh
      suatu perusahaan akan semakin tinggi pula likuiditasnya. Jika likuiditas perusahaan
      tinggi karena adanya jumlah kas yang besar maka tingkat perputaran kas tersebut
      rendah. Oleh karena itu, perusahaan dalam menjalankan usahanya membutuhkan
      uang tunai ataupun dalam bentuk investasi aktiva tetap untuk operasional
      perusahaan sehari-hari. Jumlah kas yang ada dalam perusahaan hendaknya tidak
      kurang dari 5% sampai 10% dari jumlah aktiva lancar (Riyanto, 2008:95). Jadi kas
      harus siap sedia untuk digunakan membiayai operasi atau membayar kewajiban
      jangka pendek perusahaan.
      Keynes menyatakan bahwa ada tiga motif untuk memiliki kas yang dikutip oleh
      Widiarti (2020:7), yaitu:
      a. Motif Transaksi
      Motif Transaksi berarti perusahaan menyediakan kas untuk membayar
      berbagai transaksi bisnisnya. Baik transaksi yang regular maupun yang tidak
      regular.
      b. Motif Berjaga-jaga
      Motif berjaga-jaga dimaksudkan untuk mempertahankan saldo kas guna
      memenuhi permintaan kas yang sifatnya tidak terduga. Seandainya semua
      pengeluaran dan pemasukan kas bisa diprediksi dengan sangat akurat, maka
      saldo kas untuk maksud berjaga-jaga akan sangat rendah. Selain akurasi
      prediksi kas, apabila perusahaan mempunyai akses kuat ke sumber dana
      eksternal, saldo kas ini juga akan rendah. Motif berjaga-jaga ini nampak
      dalam kebijakan penentuan saldo kas minimal dalam penyusunan anggaran
      kas.
      c. Motif Spekulatif
      Motif spekulatif dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari memiliki
      atau menginvestasikan kas dalam bentuk investasi yang sangat likuid.
      Biasanya jenis investasi yang dipilih adalah investasi pada sekuritas.
      Apabila tingkat bunga diperkirakan turun, maka perusahaan akan merubah
      kas yang dimiliki menjadi saham, dengan harapan saham akan naik apabila
      memang semua pemodal berpendapat bahwa suku bunga akan (dan
      mungkin telah) turun”.
      Menurut Munawir (2014:159), sumber kas pada dasarnya dapat berasal dari:
      a. Hasil penjualan investasi jangka panjang dan aktiva tetap yang diikuti
      dengan penambahan kas.
      b. Pengeluaran surat tanda bukti hutang, baik jangka pendek maupun jangka
      panjang serta bertambahnya hutang yang diimbangi dengan adanya
      penerimaan kas.
      c. Penjualan atau adanya emisi saham maupun adanya penambahan modal
      oleh pemilik perusahaan dalam bentuk kas.
      d. Adanya penurunan atau berkurangnya aktiva lancer selain kas uang
      diimbangi dengan adanya penerimaan kas.
      e. Adanya penerimaan kas karena sewa, bunga atau deviden dari investasinya.
      Sedangkan pengeluaran kas dapat disebabkan adanya transaksi-transaksi
      sebagai berikut:
      a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun
      jangka panjang serta adanya pembelian aktiva tetap lainnya.
      b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun pengembalian oleh pemilik
      perushaan.
      c. Pelunasan atau pembayaran angsuran hutang jangka pendek atau jangka
      Panjang.
      d. Pembelian barang dagangan secara tunai, adanya pembayaran biaya operasi
      yang meliputi upah dan gaji, pembelian perlengkapan kantor, pembayaran
      bunga dan premi asuransi serta adanya persekot biaya maupun persekot
      pembelian.
      e. Pengeluaran kas untuk membayar deviden, pembayaran pajak, denda-denda
      lainnya

      Dampak Negatif Labour Turnover
      Akibat-akibat negatif labour turnover bagi perusahaan antara lain adalah
      (Mobley, 2011;20):

      1. Biaya Pergantian Karyawan Mahal
        Akibat dari suatu pergantian karyawan terhadap organisasi yang paling sering
        ditelaah adalah biaya moneternya meskipun sudah bertahun-tahun di
        tekankan pentingnya pengukuran biaya pergantian karyawan, sangat
        mengherankan bahwa tidak banyak organisasi yang secara sistematis
        berikhtiar untuk mengevaluasi biaya-biaya pergantian karyawan yang
        langsung dan tidak langsung. Flamholtz dalam Mobley (2011;22) menyajikan
        model-model pemerkiraan biaya biaya sumber daya manusia yang masuk dan
        biaya-biaya pergantian.Masalah pola komunikasi dan sosial
      2. Pola-pola komunikasi dan sosial yang formal dan yang tidak formal merupakan ciri khas dari setiap organisasi. Apabila mereka yang pergi itu merupakan kerabat-kerabat kerja yang berharga, apabila mereka merupakan pusat dari suatu jaringan komunikasi, dan apabila mereka merupakan kerja yang terpadu, pergantian mereka dapat menimbulkan efek-efek negatif terhadap mereka yang tinggal, yang akan merupakan beban tambahan dan kemungkinan menurunkan prestais pula.
      3. Merosotnya semangat kerja
        Berhubung erat kaitanya dengan masalah prestasi dan pola-pola sosial
        komunikasi, maka pergantian karyawan dapat memberikan pengaruh yang
        negatif pada mereka yang tinggal. Pergantian karyawan itu sendiri dapat
        mendorong pada bertambahnya pergantian akibat dari terciptanya sikap-sikap
        yang kurang baik dan kemungkinan adanya pekerjaan-pekerjaan lai. Dengan
        demikian para karyawan yang sebelum itu tidak mencari pekerjaan lain akan
        mulai mencarinya, sebagaimana akan nampak bagian mengenai akibat-akibat
        terhadap individu, efek-efek pergantian karyawan terhadap sikap dan perilaku
        mereka yang tinggal, sebagian menjadi alasan untuk perg, dan ini ada sangkut
        pautnya dengan prestasi, dukungan sosial, dan mobilitas intern bagi mereka
        yang tinggal.
      4. Strategi-strategi pengendalian yang kaku
        Suatu kemungkinan akibat negatif lain bagi organisasi adalah bahwa akan
        dilaksanakan strategi-strategi pergantian karyawan yang kaku. Meskipun
        pergantian karyawan merupakan perilaku yang dapat di lihat, tetapi karena
        informasi yang cukup tentang sebab akibatnya sering kali tidak di dapat,
        maka manajemen kerap kali menghadapinya dengan tanggapan-tanggapan
        yang kurang tepat, kurang efektif, atau kurang produktif.
      5. Biaya-biaya peluang strategik
        Pergantian karyawan dapat menimbulkan efek negatif yang parah bagi
        organisasi, misalnya dengan membuat organisasi itu menunda atau
        membatalkan usaha-usaha yang mempunyai kemampulabaan cukup besar.
        Sebagai contoh, kami penah bekerja pada suatu perusahaan sumber energi
        yang memiliki potensi besar. Kami menyaksikan manajemenya sedang
        menilai perlunya pembatalan beberapa usaha baru sebagai akibat langsung
        dari kendala sumber daya manusia yang disebabkan oleh pergantian
        karyawan senior bagian teknik dan manajemen. Sebuah rumah sakit tempat
        penulis pernah bekerja terpaksa menunda pembukaan suatu bagian baru
        karena tidak dapat menarik dan mempertahankan perawat-perawat yang ada

      Pengendalian Labour Turnover


      Menurut Mobley (2011;73) Pengendalian labour turnover adalah memanajemeni
      pergantian karyawan secara efektif, mendorong terjadinya pergantian bila
      pengendalian itu memberikan akibat-akibat akhir yang positif, dan mencarai jalan
      untuk sebanyak mungkin mengurangi pergantian bila pergantian itu akan
      mempunyai akibat-akibat akhir yang negatif. Hal-hal yang harus di manage dalam
      proses manajemen adalah perekrutan serta seleksi karyawan, sosialisasi awal,
      bobot/beban pekerjaan, praktik kompensasi, kepemimpinan dan penyeliaan,
      perencanaan dan pengembangan karir, jadwal pekerjaan alternativ, dan peluang
      atau kesempatan lain untuk memanajemeni pergantian karyawan secara efektif

      1. Perekrutan serta seleksi karyawan dan sosialisasi awal
        Wanous dalam Mobley (2012;74) berpendapat bahwa proses memasuki
        organisasi adalah proses menyesuaikan individu dan organisasi. Penyesuain
        ini di dasarkan atas bakat dan kemampuan individu yang memenuhi kriteria
        pekerjaan dan nilai-nilai, preferensi-preferensi, serta harapan-harapan
        individu yang sesuai dengan norma, kebijakan, praktik, sistem penggajian,
        serta syarat-syarat keorganisasian. Pada proses penyesuaian terdapat
        ancangan tradisonal yang di dasarkan atas pemerkiraan organisasi terhadap
        individunya yang berkaitan dengan syarat-syarat organisasi dan pekerjaan,
        salah satunya seperti ujian-ujian yang telah di bakukan, comtoh-contoh
        pekerjaan, wawancara, formulir-formulir pelamaran yang berbobot, catatan-
        catatan biodata. Bila di benarkandapat berupa teknik-teknik yang bermanfaat
        (Arvey dalam Mobley, 2012;75).
        Menurut Mobley (2012;77) Setelah memasuki organisasi sangat penting
        untuk membentuk sikap dan perilaku karyawan dengan cara :
        a. Di beri harapan-harapan yang tepat tentang apa yang di perlukan dalam
        pekerjaanya dan apa yang di harapkan oleh organisasi.
        b. Di beri suatu pengertian yang jelas mengenai kemungkinan-kemungkinan
        imbalan atau kompensasi
        c. Di beri bantuan menegakkan suatu sistem jaminan sosial di antara
        sesamanya, penyelia, dan orang lain.
      2. Beban atau bobot pekerjaan
        Mobley (2012;80) menggunakan analogi antara pekerjaan dan permainan golf
        untuk menggambarkan beberapa hal mengenai rancangan pekerjaan. Sejauh
        tujuan-tujuanya tidak jelas, umpan-baliknya tidak langsung atau tertunda-
        tunda, variasi kerja kecil akibat spesialisasi dan rutinitas, tanggung gugat,
        kebijakan dan pengendalian diri sudah sangat berkurang, maka permainan
        seperti golf, dan pekerjaan lainnya, akan menjemukan dan menekan jiwa bagi
        para individu yang mencari makna dan identitas. Tidak semua individu
        mengahrgai “pemerkayaan” pekerjaan dan rancang ulang setiap pekerjaan tidak
        selalu tepat. Masalahnya adalah bagaimana menyesuaikan kemampuan, minat,
        dan nilai-nilai individual secara efektif kepada kebutuhan tugas dan organisasi.
      3. Praktik Kompensasi
        Perbedaan penentuan gaji antar perusahaan memiliki hubungan dengan laju
        pergantian karyawan. Meskipun hubungan ini jauh dari menentukan dan tidak
        menunjukkan ramalan pergantian karyawan pada tingkat individual, jelaslah
        bahwa organisasi harus meneruskan pemerkiraan daya saing upah dan
        maslahat-maslahat organisasi itu di pasar tenaga kerja yang bersangkutan.
        Pemerikasaan manajerial untuk mengantisipasi dampak upah akan
        memungkinkan evaluasi yang tepat waktu terhadap strategi-strategi baru
        (Mobley, 2012;83).
      4. Kepemimpinan dan penyeliaan
        Penyelia adalah sumber utama informasi peran, harapan-harapan terhadap
        peran, umpan balik dan tunjagan sosial bagi karyawan baru dan kegiatan
        Penyelia adalah sumber utama informasi peran, harapan-harapan terhadap
        peran, umpan balik dan tunjagan sosial bagi karyawan baru dan kegiatan
        kegiatan penting penyeliaan yang menyangkut karyawan baru mencakup :
        a. membantu karyawan baru dengan memperkecik ketaksaan keadaanya yang
        baru, mengajar cara-car, norma-norma, dan jaringan komunikasi yang
        formal dan informal.
        b. Menjelaskan dan merundingkan tujuan dan imbalan baru sedikit demi
        sedikit mengukuhkan perkiraan-perkiraan yang makin dekat pada perilaku
        peran yang di harapkan.
      5. Perencanaan dan Pengembangan Karir
        Pergantian karyawan berhubungan dengan kepuasan yang sekarang dan
        harapan-harapan di masa depan, serta penilaian pekerjaan-pekerjaan dan peran-
        peran di dalam atau di luar organisasi. Bagi karyawan-karyawan yang
        menghargai pelatihan atau mengasah keterampilan dan kemampuan untuk
        meningkatkan prestasi mereka, pelatihan dan pengembangan yang di dukung
        organisasi dapat menambah kepuasan bagi karyawan terhadap pekerjaan.
        Meskipun para karyawan merasa puas dengan pekerjaannya yang
        sekarang, mereka mungkin keluar karena tidak mempunyai harapan akan
        mendapatkan peran yang memuaskan di masa yang akan datang. Penting untuk
        mengetahui bahwa suatu proses perencanaan dan pengembangan karir yang
        dapat bertahan, yang mencakup pemerkiraan bersama antara karyawan dan
        organisasi yang berkesinambungan mengenai kemungkinan-kemungkinan
        keberhasilan sepanjang berbagai jalan karir, dalam beberapa hal akan
        menggairahkan pergantian karyawan.
      6. Jadwal-jadwal kerja alternatif
        Regu-regu yang bergilir, regu-regu yang ridak di dasarkan pada hari-hari
        tertentu dan atau kebiasaan untuk bekerja sehari penuh mungkin menyebabkan
        beberapa individu mencari pekerjaan-pekerjaan lain, atau tidak melamar.
        Menurut nollen dalam Mobley (2012;98) Jam-jam kerja yang luwes dan pilihan
        di luar delapan jam kerja, lima hari kerja dalam seminggu, juga dapat berguna
        bagi perekrutan dan usaha menahan karyawan. Keluwesan dalam jam kerja dan
        kerja beregu itu sama sekali bukan merupakan kecenderungan yang lebih
        bersifat nasional, bagian terbesar organisasi-organisasi yang mengikuti
        organisasi organisai itu menyatakan kepuasan mereka.
      7. Peluang atau kesempatan lain untuk memanajemeni pergantian karyawan
        secara efektif
        a. Jaminan
        Organisasi-organisasi yang memperhatikan fluktuasi dalam tingkat-tingkat
        kekaryawanan mungkin mendapatkan kesulitan dalam mempertahankan
        karyawan-karyawan mereka karena mengakhawatirkan pemecatan. Dana
        jaminan atau patungan kerja dapat digunakan untuk menyangga beberapa
        dari dampak kecenderungan merosotnya keaadaan ekonomi, dan demikian
        membantu mengurangi kontribusi pergantian karyawan terhadap jaminan
        pekerjaan. Dengan demikian diperlukan penelaahan yang hati-hati
        terhadap implikasi ekonomi dari strategi seperti itu sebelum dilaksanakan.
        b. kondisi-kondisi kerja
        Keadaan fisik lingkungan kerja tidak dapat di abaikan. Peraturan,
        publisitas, dan kesadaran umum akan kondisi-kondisi keselamatan dan
        lingkungan yang bertambah, bersamaan dengan sarana pabrik di negara ini
        yang bertambah tua, membawa pada hipotesis bahwa kondisi kerja akan
        menjadi faktor yang makin penting dalam hal perekrutan dan usaha
        mempertahankan karyawan.
        c. Pembentukan tim
        Bobot pekerjaan, penyelia, tujuan organisasi dan lain-lain dapat menjadi
        sumber keikatan pada organisasi, demikian juga halnyadengan kelompok
        kerja karyawan dan kelompok kerja yang di perluas dengan siapa tiap-tiap
        karyawan berinteraksi.
        d. Sentralisasi
        Peninjauan yang di lakukan oleh Price dalam Mobley (2012;102)
        mengambil kesimpulan bahwa organisasi-organisasi yang sangat
        tersentralisasi lebih banyak mengalami pergantian karyawan. Hubunganya
        mungkin ada pada faktor-faktor seperti kurangnya autonomi, kurangnya
        keterlibatan dalam pengambilan keputusan, kurangnya waktu dalam
        menanggapai kebutuhan unit dan individu dan kurangnya pengendalian
        yangt tercapai.
        e. Komunikasi
        Price dalam Mobley (2012;102) mengemukakan bahwa komunikasi
        organisasi secara formal dan komunikasi yang di dasarkan atas penentuan
        tugas adalah faktor-faktor penentu pergantian karyawan. Mengembangkan
        umpan balik yang didasarkan atas penentuan tugas dan dijalankan secara
        langsung dan berulang-ulang serta saluran komunikasi formal yang
        bersifat ganda, berulang dan terpercaya adalah sasaran yang berharga.
        f. Keikatan Keorganisasian
        Kepercayaan individu dan tunjang terimanya terhadap tujuan dan nilai-
        nilai organisasi merupakan bagian terbesar dari keikatan organisasi.
        Pengenalan terhadap suatu tujuan dan nilai nilai seperti itu merupakan
        suatu pemustaan lain pada kelengkapan lain pada organisasi. Pengenalan
        ini dapat ditingkatkan melalui suatu perincian mengenai dasar pemikiran
        dari tujuan-tujuan dan niali-nilai organisasi, dan keterlibatan proses

      Faktor Penyebab Terjadinya Labour Turnover

      Ekonomi Extern
      a. Tingkat-tingkat pemekerjaan pengangguran
      Terdapat hubungan ang jelas antara laju labour turnover dan keadaan
      ekonomi. March dan Simon mengemukakan bahwa “dalam hampir setiap
      keadaan, satu-satunya peramal labour turnover yang paling tepat yakni
      keadaan ekonomi” , price dalam meninjau pustaka tentang tingkatan-
      tingkatan pemekerjaan dan laju labour turnover, tidak menemukan bukti-
      bukti yang menyanggah hubungan ini.
      b. Komposisi dan bauran angkatan kerja
      Sisa dari abad ke duapuluh akan ditandai oleh suatu komposisi dan
      bauran angkatan kerja yang berbeda sekali dengan dasawarsa
      sebelumnya. Dewasa ini kita berada pada abad “kekurangan bayi” bukan
      “kebanyakan bayi”, dan kependudukan mulai tua sebagai akibat ledakan
      bayi sebelumnya. Sementara para ahli ekonomi secara aktif menganalisis
      implikasi dari perubahan-perubahan ini. Menejemen dan kepustakaan
      mengenai sumber daya manusia tidak memusatkan perhatiannya pada
      jangkauan dan implikasi-implikasi perubahan itu. Drucker dalam Mobley
      (2011;117) mengemukakan bahwa suatu perubahan penting yang akan
      terjadi pada dasawarsa yang akan datang adalah struktur dan dinamika
      angkatan kerja yang berubah-ubah. labour turnover pasti merupakan satu
      implikasi penting dari komposisi dan bauran angkatan kerja yang
      berubah-ubah.
      c. Inflasi
      Inflasi dapat mempengaruhi pergantian karyawan dan variabel-variabel
      lainnya yang berkaitan dengan pergantian tersebut dengan banyak cara,
      termasuk:
      1) Mendorong penerima-penerima upah sekunder untuk memasuki pasar
      tenaga kerja guna melengkapi penghasilan keluarga.
      1) Mendorong pergantian karyawan sebagai suatu cara untuk melindungi
      penghasilan.
      2) Meniadakan keinginan akan pergantian karyawan yang melibatkan
      mobilitas geografis karena biaya-biaya pindah
      d. Tipe industri
      Terdapat tanda-tanda variasi antar industri dalam hal laju labour
      turnover. Namun karena laju industri tidak begitu sering di tabulasi
      silangkan dengan jabatan, besar kecilnya sacara geografs atau variabel-
      variabel relevan yang potensial lainnya, maka tidak dapat di berikan
      perumusan umum yang tegas.

      1. Variabel-variabel keorganisasian
        Satu-satunya perumusan umum yang kuat dapat dibuat perihal kumpulan
        analisis mengenai variabel-variabel organissi adalah bahwa laju labour
        turnover itu lebih tinggi pada industri-industri yang membayar lebih kecil.
        Namun adapun yang dihubungkan dengan laju labour turnover yang lebih
        tinggi yaitu kelompok kerja yang lebih besar dan tingkat-tingkat keterampilan
        yang lebih rendah dikalangan tenaga kerja halus. Dan bahwa rutinitas atau
        pengulangan tugas, pertimbangan penyeliaan yang kurang banyak, banyaknya
        sentralisasi kurangnya keterpaduan, dan kurangnya komunikasi di hubungkan
        dengan laju labour turnover yang lebih tinggi.
      2. Variabel-variabel individu yang menyangkut pekerjaan
        a. Faktor-faktor demografik dan pribadi
        Satu-satunya kesimpualan kuat yang dapat kita tarik dari seperangkat
        variabel-variabel ini ialah bahwa usia dan masa jabatan mempunyai
        hubungan negatif yang taat asas dengan labour turnover. Ada bukti
        bahwa informasi biografis yang berbobot dapat bermanfaat tetapi harus
        dinilai silang. Selanjutnya terbatasnya jumlah penelitian mengenaisumber
        penyerahan tenaga kerja memberi kesan adanya hubungan yang
        bermanfaat, dengan sumber-sumber informal yang memperagakan
        labour turnover yang lebih kecil. Minat, bakat, dan kemampuan telah
        dihubungkan dengan labour turnover, tetapi jumlah, mutu, dan hasil-
        hasil penelitian seperti itu tidak cukup untuk membenarkan hubungan ini.
        Alhasil bukti-bukti mengenai labour turnover dan kepribadian, jenis
        kelamin, pendidikan, profesionalismne prestasi kerja, dan kemangkiran
        tetap tidak meyakinkan.
        b. Variabel-variabel terpadu
        Telah disarankan sejumlah variabel yang mencoba untuk memadukan
        perbedaan-perbedaan individual, cerapan berbagai segi keorganisasian,
        dan lingkungan ekstern. Variabel-veriabel ini mencankup kepuasan
        terhadap pekerjaan, aspirasi-aspirasi dan harapan karir, keikatan pada
        organisasi, tekanan jiwa, harapan-harapan yang menyangkut pekerjaan.
      3. Variabel-variabel individu yang tidak menyangkut pekerjaan
        Secara naluriah, keputusan individu untuk meninggalkan pekerjaan-pekerjaan
        kelihatannya bukan hanya melibatkan penilaian mengenai pekerjaannya yang
        sekarang dan mungkin juga yang akan datang baik di dalam maupun diluar
        organisasinya, tetapi juga penenilainnya mengenai variabel-variabel yang
        tidak berkenaan dengan pekerjaan seperti keluarga, pilihan-pilihan mengenai
        hal-hal yang santai, gaya hidup dan sebagainya.
        Hingga sekarang, sebagian besar dari penelitian-penelitian mengenai
        labour turnover telah memusatkan perhatin pada hal-hal yang umumnya
        disebut “tanggung jawab keluarga”. Ini merupakan suatu faktor yang
        kompleks yang diukur dengan berbagai cara, termasuk jumlah dan usia anak-
        anak, status perkawinan, dan sebagainya. Meskipun perumusan umum yang
        sederhana itu tidak mungkin, Mucinsky dan Tuttle mengemukakan bahwa ada
        satu hubungan yang positif antara tanggung jawab keluarga dan labour
        turnover, tetapi ini menjadi sederhana bila ditentukan apakah karyawan itu
        menjadi pencari nafkah utama atau hanya sebagai penunjang