Beberapa ahli mendefinisikan psychological empowerment dengan berbeda-
beda. Diawali oleh Conger dan Kanungo yang mendefinisikan empowerment
sebagai “empowerment is defined here as a process of enhancing feelings of self-
efficacy among organizational members through the identification of conditions
that foster powerlessness and through their removal by both formal organizational
practices and informal techniques of providing efficacy information” (Conger &
Kanungo, 1988, p. 474) Inti dari definisi tersebut merujuk pada proses
meningkatkan kepercayaan diri anggota organisasi terhadap kemampuannya
dengan menghilangkan rasa ketidakberdayaannya.
Kemudian Thomas dan Velthous mendefinisikan psychological
empowerment sebagai “empowerment is defined as increased intrinsic task
motivation, and our subsequent model identifies four cognitions (task assessments)
as the basis for worker empowerment: sense of impact, competence,
meaningfulness, and choice” (Thomas & Velthouse, 1990, p. 666). Empowerment
didefinisikan lebih luas lagi oleh mereka, yaitu adanya empat persepsi yang
menggambarkan fokus individu dalam peran pekerjaan yang mereka lakukan:
meaning, competence, self-determination, dan impact. Setelah itu pada tahun 1995,
Spritzer mengubah definisi psychological empowerment sebagai sebagai
“psychological pmpowerment is defined as a motivational construct manifested in
four cognitions: meaning, competence, self-determination, and impact” (Spreitzer,
p. 1444).
Berdasarkan definisi yang sudah dijelaskan diatas, peneliti dalam penelitian
ini akan menggunakan teori untuk definisi utama yang dikemukakan oleh Spreitzer
(1995), karena definisi tersebut sudah dikembangkan lebih lanjut dan menjadi
definisi terbaru dibandingkan dua tokoh sebelumnya. Selain itu, peneliti juga
memilih teori (Spreitzer, 1995), dalam penelitian ini karena terdapat beberapa
penelitian yang juga memilih menggunakan teorinya. Penelitian tersebut dilakukan
oleh Cristy et al., (2023), Amalia & Handoyo (2018), dan Juyumaya (2022)
