Total Asset Turn Over merupakan salah satu jenis rasio dalam rasio
aktivitas, rasio ini mengukur tingkat keaktifan dari investasi disuatu perusahaan
yang dihitung dan dilakukan pada saat menyusun laporan keuangan sehingga dapat
mengetahui apakah pihak manajemen perusahaan dapat memanfaatkan modal yang
tersedia dengan efektif yang kemudian akan dibandingkan dengan banyaknya
penjualan yang terjadi di setiap aset dimiliki dengan menggunakan rasio ini.
Total Asset Turn Over merupakan rasio perputaran dari total aktiva yang
menunjukan bahwa perputaran dari modal aktiva dapat diukur dan dihitung dari
volume penjualan (Harahap, 2015), sedangkan menurut (Brigham, Eugene &
Houston, 2018) TATO adalah sebuah rasio yang digunkan untuk menghitung dan
mengukur perputaran dari seluruh aset perusahaan dan didapatkan dari menbagi
total penjualan dengan total aset perusahaan.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Total Asset Turn Over
adalah rasio yang dipakai untuk mengetahui perputaran dari semua aktiva yang
dipunyai oleh perusahaan dan berapa total penjualan yang didapat dari setiap
rupiah
Sentimen Investor
Sentimen investor adalah bagian dari realisasi behavioral finance(Agustya,
2018), behavioral finance adalah penelitian yang dilakukan untuk memahami
bagaimana fenomena berkaitan dengan psikologis seseorang akan mempengaruhi
kondisi keuangannya, penelitian ini menjelaskan secara logis mengenai hubungan
keuangan dan investasi dari sudut pandang manusia secara psikologis, kata Sherfin
dalam (Agustya, 2018).
Shiller dalam (Ryu et al., 2019) mengatakan bahwa sentimen investor
adalah faktor utama yang mempengaruhi dan menjelaskan pergerakan dari harga
aset serta irrational exuberance dalam pasar uang. Kondisi sentimen investor
dipengaruhi oleh perilaku perdagangan noise trader dan irrational investor kata
Banerjee dalam (Ryu et al., 2019). Setimen investor adalah kebiasaan investor
dalam berspekulasi selain itu sentimen investor juga merupakan hasil dari
psikologis investor yaitu keyakinan pada suatu situasi tertentu.
Menurut (Kencana, 2019) menyatakan bahwa keputusan investasi seorang
investor dalam suatu investasi dapat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian baik
itu nasional maupun internasional. Investor berreaksi atas suatu kondisi pasar
tertentu dan respon tersebut mempengaruhi harga serta return saham, respon ini
dapat dibedakan menjadi respon positif dan respon negatif tergantung dari analisa
rasional dan irrasional dari seorang investor, respon inilah yang kemudian disebut
dengan sentimen investor.
Return saham
Tujuan utama dari suatu investasi umumnya adalah untuk mendapat return
atau keuntungan dari investasi tersebut, jika tidak adanya return atau keuntungan
investor tentu tidak mau melakukan investasi. Menurut jogiyanto dalam (Wijaya,
2020) return saham dapat dibagi menjadi 2 jenis yakni:
- Return Realisasian, merupakan pengembalian dana yang sudah terjadi
berdasarkan penghitungan data historis, biasanya return ini dipakai sebagai
data analisis investasi serta analisis portofolio - Return Ekspetasian, merupakan pengembalian dana yang diharapkan oleh para
investor di masa yang akan datang sehingga hal itu belum dapat dipastikan
mengenai hasilnya, biasanya return ini dipakai sebagai data masukan untuk
analisis portofolio.
Umumnya terdapat 2 keuntungan dalam investasi yang dilakukan di Bursa
Efek Indonesia yaitu: - Dividen
Merupakan pembagian keuntungan yang diberikan oleh perusahaan kepada
pemegang saham yang berasal dari profit usaha perusahaan tersebut. Dividen
biasa diberikan setelah mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPS,
jika ingin mendapat dividen investor harus berinvestasi dengan jangka waktu
tertentu hingga kepemilikan saham diakui sebagai pemegang saham yang berhak
mendapat pembagian dividen.
Dividen yang diberikan perusahaan dapat dibedakan menjadi dividen tunai dan
dividen saham. Dividen tunai adalah pemegang saham akan diberikan uang tunai
dalam jumlah tertentu oleh perusahaan sesuai dengan jumlah setiap saham yang
dimiliki investor, sedangkan dividen saham adalah pemegang saham akan
diberikan saham dari perusahaan dalam jumlah tertentu sehingga jumlah saham
yang dimiliki investor akan meningkat.
Saham
Saham merupakan surat yang berharga dan digunakan untuk membuktikan
adanya kepemilikan atas perusahaan yang menerbitkan saham tersebut, saham
dibedakan menjadi 2 jenis yakni:
- Saham biasa(Common Stock)
Saham yang memiliki sifat pemberian dividenya tidak tentu berdasarkan
keuntungan yang diperoleh perusahaan penerbit saham tersebut. - Saham Preferen(Prefferes Stock)
Saham yang memiliki sifat pemberian dividenya berdasarkan kesepakatan
antara perusahaan penrbit saham dan investor.
jogiyanto dalam (Wijaya, 2020) menyatakan ada beberapa perbedaan hak
dari investor saham biasa dengan hak investor saham preferen yaitu pada
investor saham biasa investor memiliki hak mengeluarkan pendapat,
mendapatkan dividen sesuai keputusan rapat umum pemegang saham, dan hak
memilih kepengurusan perusahaan. Sedangkan investor saham preferen
memiliki hak prioritas dalam mendapatkan dividen, diprioritaskan dalam
pembagian aset perusahaan jika perusahaan dinyatakan bangkrut, dan tidak
memiliki hak berpendapat diperusahaan penerbit saham.
Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia (BEI) dikenal juga dengan nama Indonesian Stock
Exchange (IDX) adalah bursa yang dihasilkan dari penggabungan Bursa Efek
Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) ditanggal 1 desember 2007. Bursa
ini dibentuk untuk meningkatkan efektivitas operasional serta transaksinya.
Sebelumnya Bursa Efek Indonesia menggunakan sistem perdagangan yang
bernama Jakarta Automated Trading System (JATS) yang kemudian diganti
menjadi system baru Bernama JATS-NextG pada tanggal 2 maret 2009. BEI
terletak di Jln, Jendral Sudirman no 52-53,Senayan,Jakarta Selatan di Gedung
Bursa Efek Indonesia dekat Kawasan Niaga Sudirman.
Bursa Efek Indonesia membagikan data pergrakan harga saham
menggunakan media cetak serta elektronik guna meberikan informasi yang lengkap
mengenai perkembangan bursa kepada publik. Indeks harga saham gabungan
( IHSG) merupakan salah satu indikator untuk melihat perkembangan harga saham.
Saat ini Bursa Efek Indonesia merupakan satu-satunya pasar modal di Indonesia
menurut (Wardiyah, 2017) pasar modal adalah institusi yang menjalankan kegiatan
perdagangan atas penawaran efek, serta menjadi tempat bagi perusahaan maupun
individu dalam menjual dan membeli efek yang mereka miliki. (Sudirman, 2015)
mengatatakan pasar modal merupakan tempat pertemuan antara penjual serta
pembeli yang diperjual belikan adalah modal dalam bentuk saham dan obligasi.
Pasar modal juga merupakan tempat pertemuan antar pihak yang mempunyai dana
bertemu pihak yang sedang kekurangan dana.
Salah satu faktor penting dalam membangun perekonomian nasional adalah
pasar modal,pasar ini juga merupakan tempat perusahaan meningkatkan nilai
keuangannya (Muklis, 2016). (Wardiyah, 2017) mengatakan pasar modal memiliki
2 fungsi utama yaitu:
- Fungsi Ekonomi, merupakan tempat bertemunya antara investor dan pihak yang
sedang mengalami kekurangan dana seperti perusahaan, yang mana pihak
kekurangan dana bisa mendapatkan dana atau modal dari investor yang
berinvestasi. Dana tersebut bisa digunakan untuk mengembankan usaha
perusahaan. - Fungsi Keuangan, merupakan tempat dimana masyrakat melakukan investasi
keuangan pada suatu perusahaan yang kemungkinan mendapatkan keuntungan
dari hasil dari investasi tersebut.
Pasar modal juga dapat dibagi menjadi beberapa jenis pasar modal yakni: - Pasar Perdana, merupakan pasar dimana perusahaan secara perdana akan
menawarkan efek atau sahamnya pertama kali kepada masyarakat. Penawaran
perdana ini dinamakan Initial Public Offering (IPO), dipasar ini kegiatan jual
beli antara perusahaan dan investor perlu menggunakan perantara serta dipasar
ini perusahaan akan mendapat modal atau dana untuk mengembangkan
usahanya(Wardiyah, 2017). - Pasar Sekunder, ketika proses penawaran efek atau saham di pasar perdana
selesai, selanjutnya saham atau efek akan diperjual belikan dipasar sekunder
dan kurs dari saham akan menentukan naik turunya harga saham. Kurs saham
dipengaruhi oleh besarnya tingkat permintaan serta penawaran dari saham, dan
16
kegiatan jual beli saham atau efek dilakukan antara investor dengan investor
lainnya(Sudirman, 2015) - Pasar Pararel, merupakan pasar tempat perusahaan mengeluarkan efk atau
saham yang tidak mencapai syarat listing di Bursa Efek, pasar ini dijalankan
oleh PPUE atau Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (Sudirman, 2015)
Perusahaan- perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia akan
dikategorikan dan diklasifikasikan menjadi 12 sektor yaitu(IDX, 2021): - Sektor Energi
Sektor ini terdiri dari perusahan yang menjual produk dan jasa untuk ektrasi
energi yang tidak dapat diperbaruhi dan energi alternatif, serta perusahan jasa
yang membant industri ini. - Sektor Barang Baku
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang menjual produk serta jasa dalam bentuk
bahan baku yang akan digunakan perusahaan industri lain untuk membuat
barang jadi. - Sektor Perindustrian
Sektor terdiri dari perusahaan yang menjual produk dan jasa yang secara umum
untuk konsumsi industri, barang yang dijual adalah barang jadi bukan bahan
baku. - Sektor Barang Konsumen Primer
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang memproduksi serta mendistribusikan
produk dan jasa yang umum untuk konsumen dalam bentuk barang primer.
17 - Sektor Barang Konsumen Non- Primer
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang memproduksi serta mendistribusikan
produk dan jasa yang umum untuk konsumen dalam bentuk barang sekunder. - Sektor Kesehatan
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang memproduksi dan memberikan pelayanan
di bidang kesehatan. - Sektor Keuangan
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang menyediakan pelayanan jasa keuangan. - Sektor Properti & Real Estate
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang mengembangkan properti & real estate
serta perusahaan memberikan jasa pendukung di sektor ini. - Sektor Teknologi
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang menjual produk dan jasa yang berkaitan
dengan teknologi. - Sektor Infrastuktur
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang menyediakan dan berkaitan dengan
pembangunan serta pengadaan infrastuktur. - Sektor Transportasi & Logistik
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang berfokus pada jasa pengantaran dan
pengangkutan. - Sektor Produk Investasi Tercatat
Sektor ini terdiri dari produk – produk investasi yang terdaftar dalam Bursa
Efek Indonesia
Teori Signaling
Teori sinyal / signaling adalah teori untuk mempelajari Tindakan dari
manajemen perusahaan dalam memberikan informasi kepada para investor yang
kemudian akan mempengaruhi keputusan dan pandangan investor terhadap kondisi
perusahaan (Suganda, 2018). Informasi yang didapatkan oleh investor dapat dibagi
menjadi 2 macam yaitu sinyal baik dan sinyal buruk, sinyal yang baik dapat
dicontohkan seperti jika laba perusahan mengalami kenaikan ini merupakan sinyal
baik bagi para investor sedangkan jika laba di laporkan menurun hal ini merupakan
sinyal buruk bagi investor. Sinyal ini merupakan informasi yang sangat penting
karena memberikan gambaran dan keterangan dari perusahaan baik masa kini, masa
lalu maupun masa yang akan datang untuk kelangsungan perusahaan. Informasi
relevan, lengkap, akurat, serta tepat waktu diperlukan oleh investor untuk
menganalisis dan mengambil keputusan investasi.
Menurut (Yanti & Abundanti, 2019) teori signaling mengasumsikan bahwa
informasi yang didapatkan dari masing-masing pihak itu berbeda. Teori ini
menunjukan bahwa terdapat asimetri informasi antara pihak manajemen
perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Pihak
yang berkepentingan bisa mendapat kan informasi melalui laporan keuangan yang
diterbitkan. Teori ini secara terperinci menjelaskan bahwa bahwa pihak yang berada
didalam lingkungan perusahaan seperti manajer dan direktur biasanya memiliki
informasi yang lebih bagus dan tepat tentang keadaan perusahaan dibandingakan
dengan pihak diluar lingkungan perusahaan seperti investor, kreditur dan
pemerintah(Ghozali, 2020)
Teori Stakeholder
Menurut (Freeman, 1984) Teori ini menjelaskan bahwa perusahaan harus
bertanggung jawab kepada para stakeholder selain hanya beroperasi untuk
kepentingan pribadi. Stakeholder merupakan individu atau sekelompok masyarakat
yang secara parsial maupun keseluruhan yang memliki kepentingan disuatu
perusahaan. Menurut Ghozali & Chariri dalam(Fardelia Safira & Tituk Diah
Widajantie, 2021) Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan bukan hanya
suatu badan usaha yang berjalan untuk kepentingan pribadi tetapi juga harus
memberikan manfaat kepada para stakeholder seperti pemegang saham, konsumen,
kreditur, supplier, pemerintah dan semua orang yang berkepentingan diperusahaan
tersebut. Menurut Budimanta dalam(Cahyono, Dwi & Qomariah, 2017). Maka
keberadaan dari suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan dari
stakeholder untuk perusahaan tersebut.
Secara umum stakeholder dibagi menjadi dua pendekatan yakni:
- Old-corporate Relation, merupakan pendekatan yang berfokus pada pelaksanaan
aktivitas perusahaan dimana fungsi perusahaan dalam pekerjaan dilakukan
secara terpisah tanpa adanya kesatuan, di pendekataan ini hubungan pemimpin
dan karyawan serta pemasok berjalan dalam satu arah,kaku dan umumnya
berorientasi jangka pendek. Pendekatan ini biasanya menghasilkan banyak
konflik dikarenakan perusahaan terpisah dengan stakeholder-nya, baik itu
stakeholder dari dalam maupun luar perusahaan.
12 - New-corporate Relation, merupakan pendekatan yang berfokus pada kolaborasi
antara seluruh stakeholder dan perusahaan sehingga perusahaan bukan lagi
bagian bekerja sendiri namun bekerja dalam social masyarakat sehingga
profesionalitas merupakah hal utama dari hubungan pendekatan ini. Pendekatan
ini menghilangakan kesenjangan status dari stakeholder perusahaan yang
menerapkan pendekatan Old-corporate Relation.
Gray,Kouhy dan Adams dalam (Ghozali, 2020) menyatakan bahwa
kelangsungan hidup dari suatu perusahaan sangan tergantung oleh dukungan
stakeholder, semakin kuat stakeholder semakin besar perusahaan dapat beradaptasi.
Menurut Deegan dalam (Ghozali, 2020) kekuatan dari stakeholder diukur dari besar
kecilnya kuasa mereka terhadap suatu sumber daya, seperti kemampuan utuk
membatasi sumber ekonomi yang terbatas, kemampuan dalam mengatur
perusahaan, kemampuan dalam mengakses media berpengaruh dan kemampuan
dalam mempengaruhi konsumsi terhadap barang dan jasa yang diproduksi
perusahaan. Menurut Ullman dalam (Ghozali, 2020) perusahaan cenderung akan
memilih stakeholder yang dianggap penting dan berkuasa yang kemudian
perusahaan akan berusaha mengambil tindakan yang bisa membuat hubungan
interaksi antara perusahaan dan stakeholder tersebut terjaga dan harmonis. Teori ini
membantu untuk mempertimbangkan bagaimana perusahaan berinteraksi dengan
masyarakat dan komunitasnya, dan bagaimana persepsi publik terhadap perusahaan
dapat mempengaruhi sentimen investor dan Return saham.
COVID-19
Coronavirus disease 2019 merupakan penyakit menyebar yang
disebabkan oleh SARS-CoV-2, yang merupakan bagian keluarga besar
coronavirus. Penyakit ini menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan yang
secara genetik jenis virus ini sangat berbeda dengan virus SARS-CoV dan
MERS-CoV. Penyakit ini memiliki kesamaan dengan keduanya, menular dan
menyebar melalui tetesan pernapasan dari batuk dan bersin. Kontak langsung
dan penularan aerosol menjadi rute utama dalam penyebaran penyakit ini.
Penelitian Doremalen et al. (2020) menemukan bahwa virus SARS CoV-2
mampu bertahan hingga tiga hari di plastik dan stainless steel dan bertahan
selama 3-4 jam dalam aerosol. Tetesan aerosol oleh penderita di ruangan
tertutup lebih memudahkan penularan karena konsentrasi aerosol di ruang
relatif tertutup.
Penyebaran Covid-19 menyebabkan seluruh negara harus menerima
segala tantangan, hambatan, dan ketidakpastian serta perlambatan ekonomi
global. Pandemi memberikan dampak pada segala aspek baik mikro maupun
makro. Pembatasan kegiatan menyebabkan menurunnya permintaan tenaga
kerja, perusahaan-perusahaan di berbagai sektor mengambil tindakan PHK,
menurunnya pendapatan masyarakat berdampak pada penurunan konsumsi.
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan perekonomian Indonesia 2020
12
mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2.07% (BPS, 2020). Sektor
pertanian tumbuh 2.6% (YoY) didorong oleh sub sektor perikanan, pertanian,
perburuan serta peternakan, tanaman pangan tumbuh hingga 10.5%, tanaman
hortikultura tumbuh sebesar 7.8%. Meningkatnya produksi dan permintaan
padi, jagung, ubi kayu, sayuran dan buah-buah selama pandemi.
Sektor informasi dan komunikasi meningkat sebesar 10.9%
disebabkan pergantian sistem mendorong permintaan masyarakat akan sarana
dan prasarana informasi dan komunikasi. Subsektor kimia, farmasi dan obat
tradisional tumbuh sebesar 8.4%, disebabkan meningkatnya permintaan
domestik dan alat-alat kesehatan. Industri makanan dan minuman tumbuh
sebesar 1.7%. Industri pengolahan turun sebesar 19% (YoY) kontraksi yang
cukup dalam disebabkan turunnya permintaan pasar pada mobil dan motor.
Sektor konstruksi turun sebesar 5.7% disebabkan turunnya kebutuhan
konstruksi. Sektor transportasi dan akomodasi turun sebesar 13.4% hal ini
disebabkan turunnya permintaan transportasi dan pemberlakuan restriksi
perjalanan di berbagai negara. Sektor informasi dan komunikasi meningkat
sebesar 10.9% disebabkan pergantian sistem mendorong permintaan masyarakat
akan sarana dan prasarana informasi dan komunikasi. Sektor industri
pengolahan mengalami kontraksi sebesar 3.1% (YoY) disebabkan penurunan
daya beli masyarakat, turunnya utilitas produksi, dan lesunya aktivitas
perdagangan global (BPS,2020)
Abnormal Return
Return normal merupakan return yang seharusnya diperoleh jika
tidak terjadi suatu peristiwa. Untuk menghitung return normal terdapat
beberapa model yang dapat digunakan yaitu: 1) Model tanpa sesuaian resiko
meliputi mean adjusted model, market adjusted model, dan /random-walk
model, 2) Model sesuaian risiko meliputi market model, CAPM model, zero
beta market, model varian/variance model, model indeks jamak/multi index
model, 3) Model control portofolio model . Penelitian ini menggunakan model
CAPM/CAPM model dengan pertimbangan model ini mengestimasi
menggunakan risiko pasar untuk mempertimbangkan return yang
ekspektasinya.
Abnormal return merupakan selisih dari return yang sesungguhnya
terjadi terhadap return normal. Beberapa cara menghitung abnormal return,
yaitu: 1) Return abnormal selisih antara return sesungguhnya dengan return
ekspektasian, 2) Average abnormal return/ rerata return tak normal dilakukan
secara keseluruhan sekuritas secara cross-sectional, 3) Cumulative abnormal
return yakni penjumlahan return tak normal hari sebelumnya di dalam periode
pengamatan untuk masing-masing saham.
Studi Peristiwa
Studi peristiwa merupakan suatu studi perisiwa sebagai studi yang
melibatkan perilaku harga sekuritas sekitar waktu suatu kejadian atau
pengumuman informasi (Bowman, 1983). Studi peristiwa banyak diteliti karena
mengukur langsung pengaruh peristiwa terhadap harga saham perusahaan saat
terjadinya peristiwa. Suatu peristiwa mengandung informasi, ditunjukkan
dengan oleh adanya abnormal return. Semakin besar kejutan yang diberikan,
semakin besar pula reaksi pasar. Apabila pasar bereaksi terhadap peristiwa
return tak normal akan diperoleh signifikan berbeda dengan nol (Hartono,
2018). Suatu informasi dianggap sebagai kabar baik atau kabar buruk, jika
informasi tersebut mengandung nilai ekonomis meningkatkan (menurunkan)
nilai perusahaan, maka akan dikategorikan sebagai kabar baik atau buruk.
Studi peristiwa terdiri dari periode jendela (window period) yakni
periode terjadinya peristiwa dan pengaruhnya, dan pengaruh estimasi
(estimation period) untuk mengestimasi return ekspektasian. Peristiwa yang
terjadi dan efek dari suatu peristiwa dapat diamati lewat jendela yang ada.
Periode jendela harus diperhatikan, sebab periode yang terlalu pendek
kemungkinan tidak akan dapat menangkap peristiwanya secara utuh. Tetapi
periode jendela yang terlalu panjang juga tidak baik, dikarenakan peristiwa
lainnya akan mengganggu karena tertangkap di jendela. Peristiwa yang
mengganggu disebut dengan confounding events atau peristiwa-peristiwa
penggangu.
Metode studi peristiwa atau event study method telah banyak
digunakan untuk memperkirakan dampak reaksi dari peristiwa tertentu. Peneliti
Adnan & Hossain (2016) meneliti reaksi harga saham akibat pengumuman
merger, Gumanti et al. (2018) meneliti reaksi pasar saham Malaysia peristiwa
kecelakaan pesawat AirAsia, Lam et al. (2019) meneliti peristiwa pengumuman
10
implementasi 3D printing pada perusahaan manufaktur, Ismail et al. (2019)
meneliti peristiwa pengumuman perevisian klasifikasi sektor bisnis dan indeks
sektoral di Bursa Malaysia, Rundengan et al. (2017) meneliti peristiwa politik
pelantikan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan. Metode studi peristiwa
mengidentifikasi pergerakan suatu harga saham, menangkap reaksi pasar yang
tercermin dalam pengembalian saham harian.
Pada tahun 2003 juga pernah terjadi peristiwa epidemi Severe acute
respiratory syndrome (SARS) penyakit pernapasan dengan mirip gejala
pneumonia mendapat perhatian dunia pada tahun 2003. SARS berasal dari
provinsi Guangdong Cina selatan pada pertengahan November. Peneliti Chen et
al. (2007) meneliti dampak wabah SARS (penyakit saluran pernapasan masih
kelompok virus yang sama yakni coronavirus) pada kinerja stok hotel di
Taiwan, menemukan abnormal return yang negatif. Kepanikan global tentang
SARS dan liputan media yang intensif mengakibatkan respon pasar yang tidak
rasional, kepanikan dan aksi jual serta transfer saham ke saham yang lain pun
terjadi.
Pasar Efisien
Pasar efisien merupakan pasar dimana harga sekuritas dan nilai
investasi sepanjang waktu sama yang artinya setiap sekuritas menjual pada
harga yang wajar setiap waktu (Suganda, 2018). Fama (1970) membagi pasar
efisien menjadi 3 bagian yakni pasar efisien bentuk kuat (strong form). pasar
efisien setengah kuat (semi strong form) dan pasar efisien lemah (weak form).
a. Pasar efisien bentuk kuat (strong form) artinya harga saham secara
penuh mencerminkan semua informasi yang bersifat privat atau
informasi yang tersedia hanya untuk orang dalam karena alasan strategi.
Pasar efisiensi ini dapat diuji melalui pengujian terhadap informasi
privat dengan menggunakan proksi yakni return yang diperoleh oleh
corporate insider dan return yang diperoleh dari portofolio reksa dana
(Eliyawati et al., 2014)
b. Pasar efisien setengah kuat (semi strong form) artinya harga saham
secara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan
seperti aksi korporasi, informasi tersebut yang akan mempengaruhi
harga saham. Pasar efisiensi ini dapat diuji melalui studi peristiwa (event
studies) (Eliyawati et al., 2014).
c. Pasar efisien lemah (weak form) artinya harga saham secara penuh dari
informasi di masa lalu. Pasar efisiensi ini dapat diuji melalui pengujian
pendugaan return dengan secara statistik dan aturan perdagangan teknis
(Eliyawati et al., 2014)
Sentimen Investor
Pergerakan saham yang dramatis telah menjadi topik yang
diperdebatkan bagi para praktisi dan sarjana (Baker & Wurgler, 2004). Pada
tahun 1980-an studi mengenai perilaku keuangan mulai mendapatkan perhatian
yang dimana ketika teori klasik hipotesis pasar efisien (efficient market
hypothesis/EMH) gagal menjelaskan volatilitas berlebih di pasar (Shiller, 1984).
Tahun 1990-an para peneliti menganalisis peran sentimen investor terhadap
pergerakan pasar saham. Terdapat dua asumsi kesalahan pasar, pertama investor
memiliki sentimen dan bertindak berdasarkan kebisingan dalam berbagai
bentuk ketidakpastian Shleifer & Summers (1990) dan kedua batasan arbitrase
oleh pedagang rasional tidak dapat memperbaiki kesalahan harga yang berlaku
karena berbagai biaya (Sheilfer & Vishny, 1997).
Sejauh ini terdapat dua jenis pengukuran sentimen, pertama
pengukuran langsung dalam bentuk kuesioner sikap dan kedua pengukuran dari
indeks yang bertujuan untuk mengukur secara kuantitatif (Mehrani et al., 2016).
Baker & Wurgler (2004) meneliti efek sentimen investor pada data crosssectional return saham. Ketika sentimen tampak tinggi, saham yang cenderung
relatif menarik bagi optimis dan spekulan dan pada saat yang sama calon yang
tidak menarik untuk arbitrase – saham muda, saham kecil, saham tidak
menguntungkan, saham yang tidak membayar dividen, stok volatilitas tinggi ,
saham dengan pertumbuhan ekstrem, dan saham tertekan – mengalami
pengembalian yang rendah di masa depan dibandingkan dengan saham lainnya.
Sementara Long et al. (1990) menyatakan bahwa terdapat dua tipe investor,
investor yang rasional dan investor tidak rasional. Investor yang rasional
memiliki makna bebas sentimen sedangkan investor yang tidak rasional
cenderung mengalami sentimen, keduanya bersaing di pasar dan menentukan
8
harga serta return. Apabila salah satunya memiliki dominasi maka akan
mengarah pada terbentuknya pasar yang tidak efisien.
Indikator Harga
Menurut Setyo Ferry (2012:5) dalam penelitiannya, indikator harga yang
digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih
murah, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat produk.
Sedangkan menurut Rinaldi Bursan dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2014:22) menyatakan dimensi atau indikator harga yaitu:
- Kesesuaian harga dengan manfaat produk
- Kesesuaian harga dengan pendapatan atau uang saku yang diterima
- Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Harga
Menurut Ali Hasan (2008: 304) menyatakan bahwa keputusan tentang
harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan
perusahaan. Berikut ini adalah faktor yang memengaruhi keputusan harga:
- Kondisi perekonomian
Kondisi perekonomian (inflasi, resesi, tingkat suku bunga, anggaran),
kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial sangat
memengaruhi tingkat harga yang berlaku. - Price elasticity
Elastisitas permintaan akan memengaruhi penentuan harga dan volume
yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume
penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga,
maka penjualan akan menurun, dan sebaliknya jika terjadi penurunan
harga, volume penjualan akan meningkat. - Non price factor
Pembeli mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah
produk demi harga yang lebih rendah. - Tujuan perusahaan
Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
akan dicapai oleh perusahaan. - Faktor legal dan etis
Faktor legasl dan etis biasanya menjadi alat pengawasan ppemerintah
dalam penentuan harga maksimum, minimum, atau harga tertentu. Serta
praktik lainnya demi mencegah keberlangsungan dan mencegah dari pasar
monopoli atau oligopoli. - Bauran pemasaran
Penetapan harga harus di koordinasikan dan saling mendukung dengan
bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi dan promosi. - Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal,
sebab tingkat harga tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan
mengakibatkan kerugian. Begitupun sebaliknya. - Ukuran bisnis
Manajemen perlu memutuskan siapa yang harus menetapkan harga, setiap
perusahaan menetappkan harga menurut caranya masing-masing. - Persaingan
Kekuatan-kekuatan yang berpengaruh dalam persaingan setiap industri
adalah persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru. - Sifat pasar
Setiap perusahaan perlu memahami kaitan sifat pasar dan permintaan yang
dihadapinya, apakah termasuk persaingan sempurna, persaingan
monopolistik, oligopoli, atau monopoli
Pengertian Harga
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 216) menyatakan bahwa harga
merupakan salah satu atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen, dan
manajer harus benar-benar menyadari peran tersebut dalam pembentukan sikap
konsumen. Pada kondisi tertentu konsumen sangat sensitif terhadap harga
sehingga harga suatu produk yang relatif tinggi dibandingkan para pesaingnya
dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan konsumen. Dalam kasus lain,
harga dapat digunakan sebagai indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil
produk yang berharga tinggi yang bisa dipandang positif oleh segmen pasar
tertentu.
Menurut M Suyanto (2018: 259) menyatakan bahwa harga merupakan
nilai yang akan membeli dalam jumlah yang terbatas, berat, atau ukuran lainnya
dari barang atau jasa. Sebagai pertimbangan yang diberikan dalam pertukaran
untuk transfer kepemilikan, harga membentuk dasar penting transaksi komersial.
Hal ini mungkin sudah ditetapkan oleh kontrak, meninggalkan yang ditentukan
oleh rumus yang disepakati di masa mendatang, atau diketahui atau di
negosiasikan selama transaksi antara pihak-pihak yang terlibat.
Kotler dan Keller (2012:25) harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalu tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
Menurut Ari Setyaningrum (2015: 128) menyatakan bahwa secara lebih luas dapat
dikatakan bahwa harga ialah jumlah semua nilai yang di berikan oleh konsumen
untuk memperoleh keuntungan atas kepemilikan atau penggunaan suatu produk
atau jasa. Secara historis, harga menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan
seorang pembeli. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong, dalam Erna
Susilawati dan Rahma Wahdiniwaty (2017: 17) menyatakan bahwa harga
merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih
jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakan sebuah produk
atau jasa.
Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2016: 218) menyatakan bahwa
penetapan harga merupakan salah satu keputusan terpenting dalam pemasaran.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan
pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsur lainnya
(produk, distribusi, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran).
Disamping itu, harga merupakan unsur bauran pemasaran yang bersifat fleksible,
artinya dapat diubah dengan cepat. Berbeda halnya dengan karakteristik produk
atau komitmen terhadap saluran distribusi. Kedua hal tersebut tidak dapat diubah
dengan mudah dan cepat, karena biasanya menyangkut keputusan jangka panjang.
Menurut Hasan dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4) menyatakan
bahwa harga adalah segala bentuk biaya moneter yang dikorbankan oleh
konsumen untuk memperoleh, memiliki, memanfaatkan sejumlah kombinasi dari
barang beserta pelayanan dari suatu produk
Indikator Kualitas Produk
Indikator kualitas produk menurut Kotler and Armstrong dalam Shandy
Widjoyo Putro (2014:3) menyatakan kualitas produk sebagai “the ablity of a
product to perform its functions. Its includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kualitas produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsinya yaitu diantaranya:
- Keseluruhan Produk,
- Keandalan,
- Ketepatan,
- Kemudahan Pengoperasian,
- Atribut Bernilai Lainnya
Pengertian Kualitas Produk
Definisi kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong dalam Utari
Wijayati dan Rahma Wahdiniwaty (2016: 37) adalah “product quality is the
ability of a product to perform its function, it includes the product’s several
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes”. Artinya kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari produk, keandalan,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang lainnya.
Sedangkan menurut M Suyanto (2018: 214) menyatakan bahwa produk
konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat
yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi
pelanggan. Kualitas produk merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Menurut Hawkins (2010: 19)
menyatakan bahwa “a product quality is anything a consumer acquires or might
acquire to meet a perceived need. Consumer are generally buying need
satisfaction, not physical product attributes”. Yang artinya bahwa kualitas produk
merupakan sesuatu apapun yang diperoleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan yang dirasakan oleh konsumen. Pada umumnya konsumen
membeli karena ingin adanya kepuasan dalam produk tersebut, bukan hanya
atribut produk fisik saja. Sementara menurut John C Mowen (2001: 90)
menyatakan bahwa kualitas produk adalah evaluasi menyeluruh pelanggan atas
kebaikan kinerja barang atau jasa. Menurut Vincent dalam Jogi Morrison
Simanjutak dan Rahma Wahdiniwaty (2018: 195) menyatakan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas produk itu sendiri adalah kinerja, fitur,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, kemudahan servis, estetika,
dan kualitas yang dirasakan.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 189) menyatakan bahwa meskipun
kualitas produk mutlak harus ada, dalam pelaksanaannya faktor ini merupakan ciri
pembentuk citra produk yang paling sulit dijabarkan, pertama produk harus
mampu mencapai tingkat kualitas yang sesuai dengan fungsi penggunaannya yang
mana tidak perlu melebihi. Sedangkan menurut Nelly Nailatie Ma’arif (2008:
114) menyatakan bahwa “a product quality is a good that satisies the needs of the
consumer and is serving the objective of the existence of an organization. For a
business corporation, a product has to have value to be financially proftable. A
product is tangible in the nature”. Yang artinya suatu kualitas produk merupakan
barang yang memuaskan kebutuhan konsumen yang sesuai dengan tujuan dari
perusahaan. Untuk suatu bisnis, produk harus memiliki nilai yang menguntungkan
secara finansial dan berwujud.
Indikator Kualitas Pelayanan
Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017: 65) adalah sebagai berikut:
- Reliability, kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat
diandalkan dan akurat. - Responsiveness, kesediaan untuk membantu pelanggan dan
memberikan layanan yang cepat. - Assurances, pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga peserta percaya dan yakin. - Empathy, perhatian individual terhadap pelanggan.
- Tangibles, penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
Model Kualitas Jasa
Menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 101)
menyatakan bahwa model kualitas jasa di identifikasi lima gap yang
menyebabkan kegagalan penyampaian jasa. Kelima gap tersebut adalah:
- Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, yaitu adanya
peredaan antara penilaian pelayanan menurut pengguna jasa dan persepsi
manajemen mengenai harapan pengguna jasa. - Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan
spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain karena tidak
memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
mengenai ketidaklayakan, tdak memadainya standardisasi tugas, dan tidak
adanya penyusunan tujuan. - Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (service
delievery). Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor
berikut:
a) Ambiguitas pesan, yaitu sejauh mana pegawai dapat melakukan
tugas sesuai dengan harapan manajer dan tetap bisa memuaskan
pelanggan
b) Konflik pesan, yaitu sejauh mana pegawai meyakini bahwa
mereka tidak memuaskan semua pihak.
c) Kesesuaian pegawai dengan tugas yang harus dikerjakannya.
d) Kesesuaian teknologi yang digunakan pegawai.
e) Sistem pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainay sistem
penilaian dan sistem imbalan.
f) Kontrol yang dirasakan (perceived control), yaittu sejauh mana
pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk
menentukan cara pelayanan.
g) Kerja tim (team work), yaittu sejauh mana pegawai dan
manajemen merumuskan tujuan untuk memuaskan pelanggan
secara bersama-sama dan terpadu. - Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Ekspektasi
pelanggan atas kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan yang di
buat oleh perusahaan mengenai komunikasi pemasaran. - Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, yaitu adanya
perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dan yang diharapkan oleh
pelanggan. Jika keduanya terbukti sama, perusahaan akan memperoleh itra
dan dampak positif
Lima Perspektif Kualitas Pelayanan
Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.
- Transcendental Approach
Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini
menegaskan bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui
pengallaman didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure).
Misalkan produk atau jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa. - Product based approach
Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat
diukur. Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor,
kapasitas memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran
dan berat yang berbeda-beda. - User based approach
Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang
paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
subyektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa setiap
pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang
berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau
makanan manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya
masing-masing. - Manufacturing based approach
Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktikpraktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
23
sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
requirement). - Value based approach
Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga
(price). Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga,
kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja
terbaik atau yang sepadan dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam
persepektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Contohnya, mobil
ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil mobil mewah yang
berkualitas
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Fandy Tjiptono (2017: 180) mendefinisikan kualitas pelayanan
atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman
dalam Arni Purwani dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan (persepsi)
pelanggan dengan Kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan.
Menurut Leon G Schiffman (2015: 139) menyatakan bahwa it is more
difficult for consumers to evaluate the quality of service than the quality of
products. This is true because of certain distinctive characteristic of service: they
are intangible, they are variable, they are pershable, and they are simultaneouly
produced and consumed. Yang artinya bahwa lebih sulit bagi konsumen untuk
mengevaluasi Kualitas pelayanan daripada kualitas produk. Ini benar karena
karakteristik khusus layanan tertentu: mereka tidak berwujud, mereka berupa
variabel, mereka mudah rusak karena harus mempertahankan reputasi, dan mereka
secara bersamaan diproduksi dan dikonsumsi.
Menurut Kotler dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 99) menyatakan
bahwa kualitas pelayanan atau jasa merupakan kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut Atep Adya Brata (2003:
36) menyatakan bahwa berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukuran nya bukan
hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak ditentukan
oleh pihak yang dilayani, karena mereka lah yang menikmati layanan sehingga
dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka dalam
memenuhi kepuasan nya.
Hubungan Harga Dengan Loyalitas Pelanggan
Harga merupakan variabel yang mempunyai hubungan dengan loyalitas
pelanggan. Harga juga akan dapat mempengaruhi pelanggan dalam melakukan
tindakan memutuskan membeli atau tidak terhadap sebuah produk. Jika harga
produk sesuai dengan kualitas yang diberikan maka loyalitas pelanggan akan
semakin tinggi. Harga juga merupakan faktor penting yang mempengruhi
loyalitas pelanggan sebagaimana di sampaikan oleh Swasta dan Irawan (2002)
loyalitas pelanggan sering menjadi latar belakang pembelian konsumen. Ada 6
faktor yang menentukan adanya motif berlangganan, yaitu: lokasi penjualan
yang strategis, pelayanan yang baik, tempat persediaan yang mudah tercapai,
dan tidak ramai, harga, penggolongan barang, servis yang ditawarkan, dan toko
yang menarik
Hubungan Kualitas Pelayanan Dengan Harga
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keingginan
pelanggan (Tjiptono,2011:59). Lewis dan Booms dalam (Wijaya, 2011)
menjelaskan kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat
layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Kualitas
pelayanan merupakan komponen penting dalam persepsi konsumen. Semakin
baik kualitas maka jasa yang diberikan maka akan semakin baik pula citra jasa
tersebut dimata konsumen. Tak jarang konsumen dapat menerima harga yang
diberikan dikarenakan kualitas pelayanan yang diberikan sangat baik dan
memuaskan.
Harga adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya (Swasta dan Irawan, 2002).
Harga memiliki dua peranan utama dalam proses pengambilan keputusan, yaitu
peranan alokasi dan peranan informasi. Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi
harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh
manfaat atau utilities tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya.
Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam mendidik konsumen
mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas
Indikator Loyalitas
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan indikator loyalitas menurut
(Tjiptono, 2014) yang menjelaskan bahwa Indikator loyalitas konsumen sebagai
berikut:
a. Melakukan pembelian ulang adalah niat beli yang dilakukan konsumen
lebih dari satu kali pembelian
b. Merekomendasikan kepada pihak lain adalah menyarankan atau
merekomendasikan kepada orang lain mengenai produk yang ia beli
c. Tidak berniat untuk pindah adalah konsumen setia terhadap produk atau
merek yang disukai nya dan enggan berpindah merek
d. Membicarakan hal-hal positif adalah berbicara hal-hal positif produk yang
dibeli.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas
Menurut Hasan (2014) faktor utama yang mempengaruhi loyalitas
pelanggan adalah :
a. Kepuasan Pelanggan (Customer satisfaction)
Kepuasan pelanggan dipertimbangkan sebagai prediktor kuat
terhadap kesetian pelanggan termasuk rekomendasi positif, niat membeli
ulang dan lain-lain.
b. Kualitas Produk atau layanan (Service quality)
Kualitas produk atau layanan berhubungan kuat dengan kesetiaan
pelanggan. Kualitas meningkatkan penjualan dan meningkatkan penguasaan
pasar, dan mengarahkan/ memimpin konsumen ke arah kesetiaan.
c. Citra Merek (Brand Image)
Citra merek muncul menjadi faktor penentu kesetiaan pelanggan
yang ikut serta membesarkan/membangun citra perusahaan lebih positif.
d. Nilai yang dirasakan (Perceived value)
Nilai yang dirasakan merupakan perbandingan manfaat yang
dirasakan dan biaya-biaya yang dikeluarkan pelanggan diperlakukan
sebagai faktor penentu kesetiaan pelanggan.
e. Kepercayaan (Trust)
Kepercayaan didefenisikan sebagai persepsi kepercayaan terhadap
keandalan perusahaan yang ditentukan oleh konfirmasi sistematis tentang
harapan terhadap tawaran perusahaan.
f. Relasional pelanggan (customer relationship)
Relasional pelanggan didefenisikan sebagai persepsi pelanggan
terhadap proporsionalitas rasio biaya dan manfaat, rasio biaya dan
keuntungan dalam hubungan yang terus menerus dan timbal balik.
g. Biaya Peralihan (Switching cost)
Dalam kaitannya dengan pelanggan, switching cost ini menjadi
faktor penahan atau pengendali diri dari perpindahan pemasok/penyalur
produk dan mungkin karenanya pelanggan menjadi setia.
h. Dependabilitas (Reliability)
Tidak hanya sebatas kemampuannya menciptakan superior nilai bagi
pelanggan, tetapi juga mencakup semua aspek capaian organisasi yang
berkaitan dengan apresiasi publik terhadap perusahaan secara langsung
berdampak pada kesetiaan pelanggan
Pengertian Loyalitas Pelanggan
Loyalitas adalah suatu kondisi psikologis yang berkaitan dengan sikap
terhadap suatu produk, konsumen akan membentuk keyakinan, suka atau tidak
suka, dan memutuskan apakah mereka ingin membeli produk atau tidak (Ajzen,
1988 dalam (Fernandes, 2018)). Dalam bisnis, loyalitas pelanggan memegang
peranan penting dalam sebuah perusahaan karena mempertahankan pelanggan
berarti meningkatkan kinerja keuangan dan mempertahankan kelangsungan
hidup perusahaan. Ini adalah alasan utama bagi perusahaan untuk
mempertahankan pelanggannya. Upaya untuk mendapatkan tarif setia tidak bisa
dilakukan sekaligus, tapi melalui beberapa tahapan mulai dari mendapatkan
calon pelanggan hingga mendapatkan mitra.
Loyalitas pelanggan dijelaskan sebagai kombinasi dari sikap yang
disukai klien dan perilaku pembelian kembali (Kim, et al., 2004). Loyalitas
pelanggan telah di identifikasi sebagai faktor utama dalam keberhasilan
perusahaan. Pentingnya loyalitas pelanggan terkait erat dengan kelangsungan
bisnis yang berkelanjutan dan pengaruh pertumbuhan di masa depan (Kim, et al.,
2004).
Kemudian menurut (Griffin, 2005) loyalitas pelanggan adalah seorang
konsumen dikatakan setia atau loyal apabila konsumen menunjukkan perilaku
pembelian secara teratur atau terdapat suatu kondisi dimana mewajibkan
konsumen membeli paling sedikit dua kali dalam selang waktu tertentu. Hal
tersebut sesuai dengan yang disampaikan (Oliver, 1997) loyalitas konsumen
adalah komitmen yang dipegang teguh untuk membeli kembali atau
merepatronisasi yang disukai layanan produk secara konsisten di masa depan,
terlepas dari pengaruh situasional dan pemasaran upaya membuat potensi untuk
menyebabkan perilaku switching
Indikator Harga
Menurut Kotler dan Amstrong (2016: 78), terdapat empat indikator yang
mencirikan harga yaitu:
a. Keterjangkauan harga
Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh
perusahaan. Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek harganya
juga berbeda dari yang termurah sampai termahal.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen,
orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi orang
cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
c. Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang
dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk
mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil dari
uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa produk
tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan
pembelian ulang.
d. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan
produk lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat
dipertimbangkan
Tujuan Penetapan Harga
Menurut Tjiptono dan Diana (2016: 220), Pada dasarnya terdapat
banyak tujuan penetapan harga. Berikut ini adalah beberapa di antaranya,
sebagai berikut:
a. Survival
Salah satu tujuan pokok penetapan harga yaitu demi survival
(kelangsungan hidup) perusahaan. Survival adalah usaha untuk tidak
melakukan tindakan-tindakan yang meningkatkan laba saat perusahaan
sedang mengalami kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Usaha ini
dilakukan demi kelangsungan hidup perusahaan.
b. Memaksimalkan Laba
Penentuan harga bertujuan untuk memaksimalkan laba dalam
periode tertentu.
c. Return On Investment (ROI)
Tujuan penentuan harga didasarkan atas pencapaian
pengembalian atas investasi (return on investment) yang diinginkan.
Perusahaan pasti menginginkan balik modal dari investasi yang ditanam
perusahaan sehingga penetapan harga yang tepat akan mempercepat
tercapainya modal kembali/ROI.
d. Pangsa Pasar
Perusahaan menetapkan tingkat harga agar dapat
mempertahankan atau meningkatkan penjualan secara relatif
dibandingkan penjualan para pesaing. Dengan menetapkan harga
rendah dibandingkan produk pesaing, dapat mengalihkan perhatian
konsumen dari produk para pesaing dan dapat menggapai pangsa pasar.
e. Aliran Kas
Sebagian perusahaan menetapkan harga agar dapat menghasilkan
kas secepat mungkin. Tujuan ini biasanya dipilih saat perusahaan ingin
menutup biaya pengembangan produk secepatnya. Selain itu, jika siklus
hidup produk diperkirakan berlangsung singkat, maka tujuan ini dapat
menjadi pilihan strategik.
f. Mempertahankan Status Quo
Dalam kasus-kasus tertentu, perusahaan berada dalam posisi
kompetitif yang mapan dan berharap dapat mempertahankan status quo.
Tujuan status quo bisa berfokus pada sejumlah dimensi, seperti
mempertahankan pangsa pasar tertentu, menyamai (namun tidak
mengalahkan) harga pesaing, mewujudkan stabilitas harga, dan
mempertahankan citra publik yang positif. Tujuan semacam ini
membantu perusahaan menekan risiko dengan jalan menstabilkan
permintaan produk.
g. Kualitas Produk
Citra kualitas produk dapat dibentuk melalui strategi penetapan
harga. Contohnya, harga mahal sering kali dijadikan indikator kualitas
tinggi oleh para konsumen. Upaya menghasilkan produk berkualitas
tinggi biasanya membutuhkan biaya besar, diantaranya biaya riset dan
pengembangan, serta bahan baku yang digunakan. Namun demikian,
konsumen mempersepsikan produk dan merek spesifik berkualitas
tinggi, maka produk dan merek bersangkutan berpeluang survive lebih
besar dalam pasar yang sangat kompetitif. Konsumen mempercayai
merek dan produk tersebut sekalipun harganya lebih mahal.
Faktor – Faktor Harga
Ada beberapa faktor penentu yang perlu dipertimbangkan perusahaan
dalam menetapkan harga menurut Kotler dan Keller (2016: 491-492), yaitu:
a. Mengenal permintaan produk dan pesaingan
Besarnya permintaan produk dan banyaknya pesaing juga
mempengaruhi harga jual, jadi jangan hanya menentukan harga sematamata didasarkan pada biaya produksi, distribusi dan promosi saja.
b. Target pasar yang hendak dilayani atau diraih
Semakin menetapkan target yang tinggi maka penetapan harga
harus lebih teliti.
c. Marketing mix sebagai strategi
d. Produk baru
Jika itu produk baru maka bisa ditetapkan harga yang tinggi ataupun
rendah, tetapi kedua strategi ini mempunyai kelebihan dan kelemahan
masingmasing. Penetapan harga yang tinggi dapat menutup biaya riset,
tetapi juga dapat menyebabkan produk tidak mampu bersaing di pasar.
Sedangkan dengan harga yang rendah jika terjadi kesalahan peramalan
pasar, pasar akan terlalu rendah dari yang diharapkan. Maka biaya-biaya
tidak dapat tertutup sehingga perusahaan mungkin menderita kerugian.
e. Reaksi pesaing
Dalam pasar yang semakin kompetitif maka reaksi pesaing ini harus
selalu dipantau oleh perusahaan, sehingga perusahaan dapat menentukan
harga yang dapat diterima pasar dengan mendatangkan keuntungan.
f. Biaya produk dan perilaku biaya
g. Kebijakan
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman et al. (1988) mengungkapkan ada 22 faktor
penentu service quality yang dirangkum ke dalam lima faktor dominan atau
lebih dikenal dengan istilah SERVQUAL, yaitu reliability, responsiveness,
assurance, empathy, dan tangible (Steven Darwin,et, al,. 2014). Dengan
penjelasan sebagi berikut :
a. Reliability
Kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan handal
dan akurat. Dalam arti luas, keandalan berarti bahwa perusahaan
memberikan janji-janjinya tentang penyediaan, penyelesaian masalah, dan
harga..
b. Responsiveness
Kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa
dengan cepat. Dimensi ini menekankan pada perhatian dan ketepatan ketika
berurusan dengan permintaan, pertanyaan, dan keluhan pelanggan.
c. Assurance.
Pengetahuan, sopan santun, dan kemampuan karyawan untuk
menimbulkan keyakinan dan kepercayaan. Dimensi ini mungkin akan
sangat penting pada jasa layanan yang memerlukan tingkat kepercayaan
cukup tinggi. Contohnya seperti di bank, asuransi, dan dokter.
d. Emphaty
Kepedulian dan perhatian secara pribadi yang diberikan kepada
pelanggan. Inti dari dimensi empati adalah menunjukkan kepada pelanggan
melalui layanan yang diberikan bahwa pelanggan itu spesial, dan kebutuhan
mereka dapat dimengerti dan dipenuhi.
e. Tangible
Berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan, staff dan bangunannya.
Dimensi ini menggambarkan wujud secara fisik dan layanan yang akan
diterima oleh konsumen. Contohnya seperti fasilitas toko, kebersihan dan
kenyamanan ruang yang digunakan untuk transaksi serta kerapian
penampilan pegawai.
Manfaat Kualitas Pelayanan
Menurut Kotler dan Keller (2016 :158) terdapat lima manfaat kualitas
layanan,yaitu :
a. Mengidentifikasi dengan benar kebutuhan dan persyaratan pelanggan.
b. Menyampaikan harapan pelanggan kepada perancang produk.
c. Memastikan pesanan pelanggan dipenuhi dengan benar dan tepat waktu.
d. Tetap berhubungan dengan pelanggan setelah penjualan untuk memastikan
bahwa mereka puas.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Gronroos (dalam Utami, 2006: 246) menyatakan bahwa
kualitas layanan terdiri dari dua dimensi, yaitu:
a. Dimensi kualitas teknis (techincal quality), yaitu apa saja yang diperoleh
konsumen,
b. Dimensi fungsional (functional quality), yaitu dengan cara bagaimana
konsumen memperoleh jasa.
Menurut Brady dan Cronin (dalam Utami, 2006: 252) menyatakan
adanya tiga dimensi utama sebagai alternatif dari dimensi kualitas layanan,
yaitu:
a. Kualitas interaksi (interaction quality) : kontak yang terjadi pada proses
penyampaian jasa dalam pertemuan antara penyedia jasa dengan konsumen,
dan hal tersebut merupakan kunci penentu dari evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap kualitas layanan.
b. Kualitas hasil (outcome quality) : didefinisikan sebagai evaluasi yang
dilakukan konsumen terhadap hasil dari aktivitas layanan jasa yang
diterimanya, termasuk ketepatan waktu dalam pelayanan jasa.
c. Kualitas lingkungan (environment quality) terkait dengan seberapa jauh dan
seberapa besar fitur berwujud (tangible feature) dari proses penyampaian
layanan yang kemudian memainkan peran dalam mengembangkan persepsi
konsumen terhadap kualitas layanan jasa secara keseluruhan.
Menurut Davis dan Heineke (2003: 295) kualitas layanan itu sendiri
adalah suatu konsep yang sangat luas yang mencakup banyak dimensi
diantaranya adalah:
a. Keramahan karyawan pada saat melayani pelanggan,
b. Kemudahan akses untuk mendapatkan layanan,
c. Pengetahuan karyawan,
d. Kecepatan pelayanan kepada pelanggan,
e. Kenyamanan saat menunggu pelayanan.
Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Menurut (Tjiptono, 2014), terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas layanan:
a. Mengidentifikasi determinan utama kualitas layanan
Setiap penyedia layanan diwajibkan untuk menyampaikan layanan
berkualitas terbaik kepada konsumen. Beberapa faktor yang menjadi
penilaian konsumen seperti keamanan transaksi (pembayaran menggunakan
kartu kredit atau debit), keamanan, ketepatan waktu, dan lain-lain. Upaya ini
dilakukan untuk membangun pandangan konsumen terhadap kualitas layanan
yang telah diterima. Apabila terjadi kekurangan dalam beberapa faktor
tersebut, perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Sehingga akan terjadi penilaian
yang lebih baik di mata pelanggan.
b. Mengelola ekspektasi pelanggan
Banyak perusahaan yang berusaha menarik perhatian pelanggan
dengan berbagai cara sebagai salah satunya adalah melebih-lebihkan janji
sehingga itu menjadi bumerang untuk perusahaan apabila tidak dapat
memenuhi apa yang telah dijanjikan. Karena semakin banyak janji yang
diberikan, semakin besar pula ekspektasi pelanggan. Ada baiknya untuk lebih
bijak dalam memberikan janji kepada pelanggan.
c. Mengelola bukti kualitas layanan
Pengelolahan ini bertujuan untuk memperkuat penilaian pelanggan
selama dan sesudah layanan disampaikan. Berbeda dengan produk yang
bersifat tangible, sedangkan layanan merupakan kinerja, maka pelanggan
cendrung memperhatikan seperti apa layanan yang akan diberikan dan seperti
apa layanan yang telah diterima. Sehingga dapat menciptakan persepsi
tertentu terhadap penyedia layanan di mata konsumen.
d. Mendidik konsumen tentang layanan
Upaya mendidik layanan kepada konsumen bertujuan untuk
mewujudkan proses penyampaian dan pengkonsumsian layanan secara efektif
dan efisien. Pelanggan akan dapat mengambil keputusan pembelian secara
lebih baik dan memahami perannya dalam proses penyampaian layanan.
Sebagai contoh :
1) Penyedia layanan memberikan informasi kepada konsumen dalam
melakukan sendiri layanan tertentu.
2) Penyedia layanan membantu konsumen dalam pemberitahuan kapan
menggunakan suatu layanan secara lebih mudah dan murah, yaitu sebisa
mungkin untuk menghindari periode waktu sibuk dan memanfaatkan
periode di mana layanan tidak terlalu sibuk.
3) Penyedia layanan menginformasikan konsumen mengenai prosedur atau
cara penggunaan layanan melalui iklan, brosur, atau staff secara langsung
mendampingi konsumen saat penggunaan layanan.
4) Penyedia layanan meningkatkan kualitas layanan dengan cara penjelasan
kepada konsumen tentang beberapa hal kebijakan yang mungkin akan
mengecewakan konsumen, misalkan kenaikan harga.
e. Menumbuhkan budaya kualitas
Budaya kualitas dapat dikembangkan dalam sebuah perusahaan
dengan diadakannya komitmen menyeluruh dari semua anggota organisasi
dari yang teratas hingga terendah. Budaya kualitas terdiri dari filosofi,
keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang berkenaan
dalam peningkatan kualitas. Beberapa faktor yang dapat menghambat namun
dapat pula memperlancar pengembangan kualitas layanan, yaitu:
1) Sumber daya manusia, sebagai contoh dalam hal penyeleksian karyawan,
pelatihan karyawan, deskripsi job desk, dan sebagainya.
2) Organisasi/ struktur, meliputi intergrasi atau koordinasi antar fungsi dan
struktur pelaporan.
3) Pengukuran (measurement), yaitu melakukan evaluasi kinerja dan
keluhan serta kepuasan konsumen.
4) Pendukung sistem, yaitu faktor teknologi seperti komputer, sistem,
database, dan teknis.
5) Layanan, meliputi pengelolahan keluhan konsumen, alat-alat manajemen,
alat-alat promosi/ penjualan.
6) Komunikasi internal, terdiri dari prosedur dan kebijakan dalam
operasional.
7) Komunikasi eksternal, yakni edukasi pelanggan, manajemen ekspektasi
pelanggan, dan pembentukan citra positif perusahaan. f. Menciptakan automating quality
Otomatisasi berpotensi mengatasi masalah dalam hal kurangnya
sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Namun dibutuhkan
perhatian dalam aspek-aspek sentuhan manusia (high touch) dan elemenelemen yang memerlukan otomatisasi (high tech). Keseimbangan antara
kedua hal tersebut sangat dibutuhkan untuk menghasilkan kesuksesan
penyampaian layanan secara efektif dan efisien. Contoh, internet banking,
phone banking, dan sejenisnya.
g. Menindaklanjuti layanan
Penindaklanjutan layanan diperlukan untuk memperbaiki aspekaspek layanan yang kurang memuaskan dan mempertahankan yang sudah
baik. Dalam rangka ini, perusahaan perlu melakukan survey terhadap
sebagian atau seluruh konsumen mengenai layanan yang telah diterima.
Sehingga perusahaan dapat mengetahui tingkat kualitas layanan perusahaan
di mata konsumen.
h. Mengembangkan sistem informasi kualitas layanan
Service quality information system adalah sistem yang digunakan
oleh perusahaan dengan cara melakukan riset data. Data dapat berupa hasil
dari masa lalu, kuantitaif dan kualitatif, internal dan eksternal, serta
informasi mengenai perusahaan, pelanggan, dan pesaing. Bertujuan untuk
memahami suara konsumen (consumen’s voice) mengenai ekspektasi dan
persepsi konsumen terhadap layanan yang diberikan perusahaan.
Sehinggaperusahaan dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan
berdasarkan sudut pandang konsumen
Pengertian Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keingginan
pelanggan (Tjiptono,2011:59). Lewis dan Booms dalam (Wijaya, 2011)
menjelaskan kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat
layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Kualitas
pelayanan merupakan komponen penting dalam persepsi konsumen, juga sangat
penting dalam pengaruhnya terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik
kualitas maka jasa yang diberikan maka akan semakin baik pula citra jasa
tersebut dimata konsumen.
Pendapat lain dikemukan oleh Sunyoto (2012:236) bahwa kualitas
pelayanan merupakan suatu ukuran untuk menilai bahwa suatu barang atau jasa
telah mempunyai nilai guna seperti yang dikendaki atau dengan kata lain suatu
barang atau jasa dianggap telah memiliki mutu apabila berfungsi atau
mempunyai nilai guna seperti yang diinginkan.
Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang
diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika
pelayanan yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas layanan
dipersepsikan ideal. Sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah dari
pada yang diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan buruk. Dengan
demikian baik tidaknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan
penyedia layanan dalam memenuhi harapan pelanggan secara konsisten.
Pengertian Administrasi Kependudukan
Berdasarkan Undang – Undang Nomor 24 tahun 2013 Tentang Perubahan
Atas Undang – Undang No. 23 tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
yang dimaksud dengan Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan
penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan
melalui Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi
Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik
dan pembangunan sektor lain.
Secara umum administrasi kependudukan memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu:
1) Fungsi hukum, yaitu memberikan kepastian hukum, menjamin keadilan
dan memberikan kesejahteraan kepada penduduk sesuai dengan
martabat kemanusiaan.
2) Fungsi registrasi, memberikan pengakuan dan pengesahan status
perdata seseorang dan membentuk data mikro bagi proses
pembangunan, guna perumusan kebijakan – kebijakan yang
berwawasan kependudukan (people centred development).
Pengertian Administrasi
Banyak pengertian administrasi yang dikemukakan oleh para ahli
administrasi, ada pengertian adminitrasi secara luas dan ada pengertian
administrasi secara sempit, dan bahkan ada yang mengartikan sebagai proses
sosial.
Dalam pengertian yang luas menurut Musanef (1996:1) dalam bukunya
Manajemen Kepegawaian di Indonesia menyebutkan bahwa :
” Administrasi adalah kegiatan sekelompok manusia melalui tahapantahapan yang teratur dan dipimpin secara efektif dan efisien, dengan menggunakan
sarana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan”.
Dalam implementasinya, administasi berkembang dan mempunyai tugastugas yang biasa disebut sebagai fungsi administrasi diantaranya adalah fungsi
perencanaan, pengorganisasian sampai dengan fungsi pengawasan ”. (Musanef,
1996 : 1).
Dalam pengertian sempit, yang dikemukakan oleh Soewarno
Handayaningrat (1996:2), dalam bukunya “Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan
Manajemen” menyebutkan bahwa :
” Administrasi adalah suatu kegiatan yang meliputi catat-mencatat, suratmenyurat, pembukuan ringan, ketik mengetik, agenda dan sebagainya yang
bersifat teknis ketatausahaan ’. (Soewarno Handayaningrat, 1996:2).
Sedangkan menurut Sondang P. Siagian dalam bukunya yang berjudul
Filsafat Administrasi, merngemukakan pengertian administrasi sebagai berikut :
”Administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan dari keputusankeputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh
dua orang manusia atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya ”. (Siagian, 1997:3).
Kualitas Pelayanan Publik
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan. Kinerja pelayanan publik akan menyentuh masalah kualitas layanan yang
diberikan oleh organisasi publik pada masyarakat sebagai pelanggan.
Kualitas pelayanan umumnya berfokus pada masyarakat, sehingga produk
pelayanan didesain, diproduksi serta diberikan untuk memenuhi keinginan dan
kepuasan pelanggan Sudarmayanti (1999).
Birokrasi publik harus dapat memberikan layanan publik yang lebih
profesional, efektif, sederhana, transparan, terbuka, tepat waktu, responsif dan
adaptif serta sekaligus dapat membangun kualitas manusia dalam arti
meningkatkan kapasitas individu dan masyarakat untuk secara aktif
menentukan masa depannya sendiri (Effendi dalam Widodo, 2001).
Arah pembangunan kualitas manusia tadi adalah memberdayakan kapasitas
manusia dalam arti menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota
masyarakat mengembangkan kemampuan dan krativitasnya untuk mengatur dan
menentukan masa depannya sendiri.
Goetsch dan Davis (dalam Tjiptono, 1996) mendefinisikan kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,
manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Pelayanan publik yang profesional artinya pelayanan publik yang dicirikan
oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan (aparatur
pemerintah).
Dalam hal peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat, pemerintah
melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Standar Pelayanan,
menetapkan bahwa pelayanan yang berkualitas hendaknya sesuai dengan sendi –
sendi pelayanan prima yaitu :
1) Kesederhanan, dalam arti bahwa prosedur / tata cara pelayanan
diselenggarakan dengan :
a. Prosedur mudah;
b. Pelayanan lancar;
c. Pelayanan cepat;
d. Pelayanan tidak berbelit – belit.
2) Kejelasan dan kepastian , dalam arti adanya kejelasan dan kepastian
mengenai:
a. Prosedur / tatacara;
b. Persyaratan pelayanan;
c. Pengetahuan petugas;
d. Tanggung jawab petugas.
3) Keamanan, dalam arti bahwa proses serta hasil pelayanan umum dapat
memberikan pelayanan dalam hal :
a. Keamanan pelayanan;
b. Kenyamanan pelayanan;
c. Kemampuan petugas;
d. Kepastian hukum.
4) Keterbukaan, dalam arti prosedur / tatacara, persyaratan, satuan kerja /
pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan umum dalam hal :
a. Waktu penyelesaian;
b. Kepastian biaya;
c. Akurasi sistem;
d. Fasilitas dan peralatan.
5) Efisien dan Ekonomis dalam arti :
a. Persyaratan ringan;
b. Kedisiplinan petugas;
c. Kewajaran biaya pelayanan;
d. Sesuai kemampuan ekonomis mayarakat.
6) Keadilan yang merata, dalam arti cakupan / jangkauan pelayanan
umum diusahakan :
a. Keadilan mendapatkan pelayanan;
b. Perhatian terhadap kepentingan masyarakat;
c. Kesediaan dan ketanggapan petugas membantu;
d. Pendistribusian yang merata.
7) Ketepatan waktu dalam arti pelaksanaan pelayanan umum dapat
diselesaikan.
a. Informasi waktu;
b. Kecepatan pelayanan;
c. Realisasi waktu;
d. Kepastian jadwal pelayanan.
Penyelenggaraan Pelayanan Publik
Kegiatan pelayanan publik diselenggarakan oleh instansi pemerintah.
Instansi pemerintah merupakan sebutan kolektif meliputi satuan kerja atau satuan
orang kementrian, departemen, lembaga, pemerintahan non departemen,
kesekertariatan lembaga tertinggi dan tinggi negara, dan instansi pemerintah
lainnya, baik pusat maupun daerah termasuk Badan Usaha Milik Daerah.
Sebagai penerima pelayanan publik adalah orang, masyarakat, instansi
pemerintah dan badan hukum. Kegiatan pelayanan publik atau disebut juga dengan
pelayanan umum, yang biasanya menempel di tubuh lembaga pemerintahan dinilai
kurang dapat memenuhi tugasnya sesuai dengan harapan masyarakat sebagai
konsumen mereka. Salah satu yang dianggap sebagai biang keladinya adalah
bentuk birokrasi.
Birokrasi seperti dikemukakan oleh Achmat Batinggi (1999: 53) adalah
“Merupakan tipe dari orang yang dimaksudkan untuk mencapai tugas- tugas
administratif yang besar dengan cara mengkoordinir secara sistematis (teratur)
pekerjaan dari banyak orang.”
Konsep birokrasi bukan merupakan konsep yang buruk. Organisasi
birokrasi mempunyai keteraturan dalam hal pelaksanaan pekerjaan karena
mempunyai pembagian kerja dan struktur jabatan yang jelas sehingga komponen
birokrasi mempunyai tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan
kewajibannya. Pelaksanaan pekerjaan dalam orang birokrasi diatur dalam
mekanisme dan prosedur agar tidak mengalami penyimpangan dalam mencapai
tujuan orang.
Dalam organisasi birokrasi segala bentuk hubungan bersifat resmi dan
berjenjang berdasarkan struktur orang yang berlaku sehingga menuntut ditaatinya
prosedur yang berlaku pada orang tersebut.
Adapun yang menjadi ciri ideal birokrasi menurut Max Weber seperti yang
dikutip dan diterjemahkan oleh Ahmad Batingi (1999: 53) antara lain adalah :
a) pembagian kerja yang jelas;
b) Adanya hierarki jabatan;
c) Adanya pengaturan sistem yang konsisten;
d) Prinsip formalistic impersonality;
e) Penempatan berdasarkan karier; dan
f) Prinsip rasionalitas.
Faktor Pendukung Pelayanan
Pelayan umum kepada masyarakat akan dapat berjalan sebagaimana yang
diharapkan, apabila faktor-faktor pendukungnya cukup memadai serata dapat
difungsikan secara berhasil guna dan berdaya guna. Pada proses pelayanan
terdapat faktor penting dan setiap faktor mempunyai peranan yang berbeda-beda
tetapi saling berpengaruh dan secara bersama-sama akan mewujudkan pelaksanaan
pelayanan yang baik.
H.A.S Moenir (2002: 88) berpendapat ada enam faktor pendukung
pelayanan, antara lain:
a. Faktor kesadaran;
Faktor kesadaran ini mengarah pada keadaan jiwa seseorang yang
merupakan titik temu dari beberapa pertimbangan sehingga diperoleh
suatu keyakinan, ketenangan, ketetapan hati dan keseimbangan jiwa.
Dengan adanya kesadaran akan membawa seseorang kepada
kesungguhan dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Faktor aturan;
Aturan sebagai perangkat penting dalam segala tindakan pekerjaan
seseorang. Oleh karena itu, setiap aturan secara langsung atau tidak
langsung akan berpengaruh. Dengan adanya aturan ini seseorang akan
mempunyai pertimbangan dalam menentukan langkahnya.
Pertimbangan pertama manusia sebagai subjek aturan ditunjukan oleh
hal-hal penting :
1) Kewenangan;
2) Pengetahuan dan pengalaman;
3) Kemampuan bahasa;
4) Pemahaman pelaksanaan;
5) Disiplin dalam melaksanakan diantaranya disiplin waktu dan
disiplin kerja;
c. Faktor organisasi;
Faktor organisasi tidak hanya terdiri dari susunan organisasi tetapi lebih
banyak pada pengaturan mekanisme kerja. Sehingga dalam organisasi
perlu adanya sarana pendukung yaitu sistem, prosedur, dan metode
untuk memperlancar mekanisme kerja.
d. Faktor pendapatan;
Faktor pendapatan yang diterima oleh seseorang merupakan inbalan
atas tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan orang lain. Pendapatan
dalam bentuk uang, iuran atau fasilitas dalam jaka waktu tertentu;
e. Faktor kemampuan;
Faktor kemampuan merupakan titik ukur untuk mengetahui sejauh
mana pegawai dapat melakukan suatu pekerjaan sehingga
menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan apa yang diharapkan.
f. Faktor sarana pelayanan.
Faktor sarana yang dimaksud yaitu segala jenis peralatan, perlengkapan
kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat pendukung utama dalam
mempercepat pelaksanaan penyelesaian pekerjaan. Adapun fungsi
sarana pelayanan, antara lain :
1) Mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat
menghemat waktu;
2) Meningkatkan produktivitas baik barang atau jasa;
3) Ketetapan susunan yang baik dan terjamin;
4) Menimbulkan rasa nayaman bagi orang yang berkepentingan; dan
5) Menimbulkan perasaan puas pada orang-orang yang
berkepentingan sehingga dapat mengurangi sifat emosional.
Unsur – unsur Pelayanan
Suatu proses kegiatan pelayanan terdapat beberapa faktor atau unsur yang
saling mendukung jalannya kegiatan. Menurut H.A.S Moenir (2002: 8), unsurunsur tersebut antara lain:
a. Sistem, prosedur, dan metode;
Dalam pelayananan perlu adanya informasi, prosedur dan metode yang
mendukung kelancaran dalam memberikan pelayanan.
b. Personil;
Personil lebih ditekankan pada perilaku aparatur dalam pelayanan.
Aparatur pemerintah selaku personil pelayanan harus profesional,
disiplin dan terbuka terhadap kritik dari pelanggan atau masyarakat.
c. Sarana dan prasarana; dan
Dalam pelayanan diperlukan peralatan dan ruang kerja serta fasilitas
pelayanan. Misalya seperti ruang tamu, tempat parkir yang memadai
dan sebagainya.
d. Masyarakat sebagai pelanggan.
Dalam pelayananya, masyarakat selaku pelanggan sangatlah heterogen
yaitu tingkat pendidikannya maupun perilakunya.
Jenis- jenis Pelayanan
Membicarakan tentang pelayanan tidak dapat dilepaskan dengan manusia,
karena pelayanan mempunyai kaitan erat dengan kebutuhan hidup manusia, baik
itu sebagai nidividu maupun sebagai makluk sosial.
Keanekaragaman dan perbedaan kebutuhan hidup manusia menyebabkan
adanya bermacam-macam jenis pelayanan pula, dalam upaya untuk pemenuhan
kebutuhan hidup manusia tersebut. Timbulnya pelayanan umum atau publik
dikarenakan adanya kepentingan, dan kepentingan tersebut bermacam- macam
bentuknya sehingga pelayanan publik yang dilakukan juga ada beberapa macam.
Menurut Ratminto & Atik Septi Winarsih (2006: 20) kegiatan pelayanan
umum atau publik antara lain:
a. Pelayanan administratif ;
Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen resmi
yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status kewarganegaraan,
sertifikat kompetensi, kepemilikan atau penguasaan terhadap suatu
barang dan sebagainya. Dokumen- dokumen ini antara lain Kartu
Tanda Pendudukan (KTP), akte Kelahiran, Akte Kematian, Buku
Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Surat Ijin Mengemudi (SIM),
Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK), Ijin Mendirikan Bangunan
(IMB), Paspor, Sertifikat kepemilikan atau penguasaan Tanah dan
sebagainya.
b. Pelayanan barang;
Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk atau jenis barang
yang digunakan oleh publik, misalnya jaringan telepon, penyediaan
tenaga listrik, air bersih dan sebagainya.
c. Pelayanan jasa.
Yaitu pelayanan yang menghasikan berbagai bentuk jasa yang
dibutuhkan oleh publik, misalnya pendidikan, pemeliharaan kesehatan,
penyelenggaraan transportasi, pos dan sebagainya.
Dilihat dari bidang kegiatan ekonomi, Fitzsmmons yang dikutip oleh
Saefullah (1999: 7), membedakan lima jenis pelayanan umum, yaitu sebagai
berikut:
a. Business service, menyangkut pelayanan dalam kegiatan-kegiatan
konsultasi, keuangan, dan perbankan;
b. Trade sevice, kegiatan-kegiatan pelayanan dalam penjualan,
perlengkapan, dan perbaikan;
c. Infrastructur service, meliputi kegiatan-kegiatan pelayanan dalam
komunikasi dan transportasi; dan
d. Social and personal service, pelayanan yang diberikan antara lain
dalam kegiatan rumah makan dan pemeliharaan kesehatan; dan ePublic
administration, yang dimaksudkan disini adalah pelayanan dari
pemerintah yang membantu kestabilan dan pertumbuhan ekonomi.
Standar Pelayanan Publik
Kualitas pelayanan pada masyarakat merupakan salah satu masalah yang
mendapatkan perhatian serius oleh aparatur pemerintah. Penyelenggaraan
pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai
jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan.
Hal ini dibuktikan dengan diterbitkannya Standar Pelayanan Publik
Menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun
2004, sekurang-kurangnya meliputi:
a. Prosedur pelayanan Prosedur pelayanan yang dibakukan bagi pemberi
dan penerima pelayanan termasuk pengadaan;
b. Waktu penyelesaian Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat
pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan
termasuk pengaduan;
c. Biaya pelayanan Biaya atau tarif pelayanan termasuk rinciannya yang
dititipkan dalam proses pemberian pelayanan;
d. Produk Pelayanan Hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan; dan
e. Sarana dan prasarana Penyedia sarana dan prasarana pelayanan yang
memadai oleh penyelenggara pelayanan publik;
f. Kompetensi petugas pemberi pelayanan Kompetensi petugas pemberi
pelayanan harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan,
keahlian, keterampilan, sikap dan perilaku yang dibutuhkan
Azas Pelayanan Publik
Pelayanan publik harus selalu berubah mengikuti perkembangan
masyarakat, karena masyarakat itu bersifat dinamis. Dalam hal ini pemerintah
harus melakukan negosiasi dan mengkolaborasi berbagai kepentingan masyarakat.
Sehingga pelayanan publik memiliki kualitas yang sesuai dengan yang diharapkan
masyarakat.
Pelayanan publik dilaksanakan dalam suatu rangkaian kegiatan terpadu
yang bersifat sederhana, terbuka, lancar, tepat, lengkap, wajar, dan terjangkau.
Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan pengguna jasa,
penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi asas-asas pelayanan.
Untuk mencapai kepuasan itu dituntut kualitas pelayanan publik yang
profesional, kemudian Lijan Poltak Sinambela, dkk (2011: 6) mengemukakan
asas-asas dalam pelayanan publik tercermin dari:
a. Transparansi;
Bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang
membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
b. Akuntabilitas;
Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan.
c. Kondisional;
Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima
pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan
efektivitas.
d. Partisipatif;
Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan
masyarakat.
e. Kesamanan Hak; dan
Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, agama, ras,
golongan, gender dan status ekonomi.
f. Keseimbangan.
Hak dan kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus
memenuhi hak dan kewajiban masing- masing pihak.
Pengertian Pelayanan Publik
Pelayanan publik dapat diartikan sebagai kegiatan pelayanan yang
dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar sesuai dengan hak – hak
dasar setiap warga negara dan penduduk atas suatu barang, jasa dan atas pelayanan
administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan yang terkait dengan
kepentingan publik.
Pelayanan publik merupakan tanggung jawab pemerintah baik pusat
maupun daerah, permasalahan umum pelayanan publik antara lain terkait dengan
penerapan prinsip – prinsip good governance yang masih lemah seperti masih
terbatasnya partisipasi masyarakat, transparasi dan akuntabilitas baik dalam proses
perencanaan, pelaksanaan atau penyelenggaraan pelayanan maupun evaluasinya.
Dalam kamus besar bahasa indonesia dijelaskan pelayanan sebagai usaha
melayani kebutuhan orang lain sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan
(mengurus) apa yang diperlukan seseorang.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pemerintahan pada hakekatnya
adalah pelayanan kepada masyarakat. Ia tidaklah diadakan untuk melayani
dirinya sendiri, tetap untuk melayani masyarakat serta menciptakan
kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan
kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama (Rasyid, 1998).
Karenanya birokrasi publik berkewajiban dan bertanggung jawab untuk
memberikan layanan yang baik dan profesional.
Gronsross dalam Istujaya (2002, 15) memberikan definisi pelayanan
adalah sebagai suatu aktifitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba)
yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan
atau hal – hal lain yang disediakan oleh purusahaan pemberi pelayanan yang
dimaksud untuk memecahkan permasalahan konsumen atau pelanggan.
Pengertian Publik
Publik merupakan sejumlah manusia yang mempunyai pandangan berfikir
yang sama dan harapan yang sama, maksudnya setiap orang mempunyai
pandangan yang sama terhadap suatu hal yang bersifat umum.
Sementara istilah publik berasal dari bahasa inggris publik yang berarti
umum, masyarakat, negara. Menurut Litjan Poltak Sinambella, dkk (2011: 5) “kata
publik sebenarnya sudah diterima menjadi bahasa Indonesia baku menjadi publik
yang berarti umum, orang banyak, ramai”.
Menurut Inu Kencana Syafiie, dkk (1999: 18) arti dari kata publik itu
sendiri adalah “sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir, perasaan,
harapan, sikap, dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma
yang mereka miliki”.
Pengertian Pelayanan
Pelayanan merupakan salah satu ujung tombak dari upaya pemuasan
pelanggan dan sudah merupakan keharusan yang wajib dioptimalkan baik oleh
individu maupun organisasi, karena dari bentuk pelayanan yang diberikan
tercermin kualitas individu atau organisasi yang memberikan pelayanan.
Menurut Hardiyansah (2011: 11) mendefinisikan bahwa “ pelayanan dapat
diartikan sebagai aktivitas yang diberikan untuk membantu, menyiapkan, dan
mengurus baik itu berupa barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lain”.
Pelayanan pada hakikatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu proses
pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan, meliputi seluruh
kehidupan organisasi dalam masyarakat. Proses yang dimaksudkan dilakukan
sehubungan dengan saling memenuhi kebutuhan antara penerima dan pemberi
pelayanan.
Pengertian pelayanan menurut Kotler dalam Litjan Poltak Sinambela, dkk
(2011: 4) adalah “setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan
atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada
suatu produk secara fisik.”
Pendapat lain mengenai pelayanan menurut Gronross yang dikutip oleh
Ratminto dan Atik Septi Winarsih (2006: 2)
Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat
tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi
antara konsumen dengan karyawan atau hal- hal lain yang disediakan oleh
perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk pemberi pelayanan yang
dimaksudkan utuk memecahkan permasalahan konsumen/ pelanggan.
Hubungan Antara Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Konsumen
Hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan konsuman sangat
berpengaruh, menurut Ibrahim Buddy (2000 : 1) mendefinisikan bahwa kualitas
adalah suatu strategi dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen baik internal maupun eksternal,
secara eksplisit dan implisit.
Menurut Parasuraman et, al (dalam Supranoto, 2001 : 236) ada tiga
pendekatan penciptaan nilai pelanggan sebagai kiat pemasaran yang dapat
digunakan perusahaan untuk mengembangkan ikatan serta kepuasan pelanggan
yang lebih kuat. Tiga pendekatan penciptaan nilai pelanggan tersebut adalah :
- Pendekatan I adalah memberikan kauntungan finansial bagi pelanggan
- Pendekatan II adalah meningkatkan ikatan sosial antara perusahaan dengan
pelanggan dengan cara mempelajari kebutuhan masing-masing pelanggan serta
memberikan pelayanan yang lebih pribadi sifatnya. - Pendekatan III adalah meningkatkan ikatan sturktural
Pemasaran yang didasarkan pada hubungan dengan pelanggan merupakan
kunci mempertahankan pelanggan dan mencakup pemberian keuntungan
finansial serta sosial disamping ikatan struktural dengan pelanggan, karena itu
perusahaan harus dilakukan pada masing-masing segmen pasar dan pelanggan,
dan tingkat pemasaran biasa, kreatif, bertanggung jawab, proaktif sampai
kemitraan penuh.
Teknik Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Pada umumnya banyak penelitian mengenai bagaimana cara mengukur
kepuasan pelanggan dilakukan dengan menggunakan metode survei. Menurut
Tjiptono (2000 : 149) dalam mengukur kepuasan pelanggan dapat menggunakan
pengukuran sebagai berikut :
- Pengukuran yang dilakukan secara langsung
Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka mengharapkan
suatu atribut tertentu atas apa yang mereka rasakan. - Responden dapat diminta untuk menuliskan masalah yang mereka hadapi
berkaitan dengan penawaran dari perusahaan dan juga dminta menuliskan
perbaikan yang mereka sarankan. - Responden diminta untuk merangking berbagai elemen (atribut) dari
penawaran berdasarkan derajat pentignya elemen dan seberapa baik kinerja
perusahaan dan masing-masing elemen
Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Philip Kotler (1994) dalam Fandy Tjiptono (2000) mengidentifikasikan
empat metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu sebagai berikut :
- Sistem Keluhan dan Saran
Organisasi yang beroriantasi pada pelanggan perlu memberikan
kesempatan pada pelanggan dalam menyampaikan pendapatnya yang memang
dirasa baik ataupun yang tidak sesuai. Cara atau media yang digunakan bisa
berupa kotak saran, saluran telepon khusus bebas pulsa, dan lain-lain. dimana
informasi melalui media seperti ini dapat memberikan ide-ide baru dan
masukan kepada perusahaan agar dapat cepat dan tanggap mengatasi masalah
masalah yang timbul. - Ghost Shopping
Yaitu suatu cara untuk mendapatkan gambaran mengenai kepuasan
pelanggan dengan mempekerjakan beberapa orang yang berperan atau bersikap
sebagai pelanggan atau pembeli potensial produk perusahaan dan pesaing
mengenai kekuatan, kelemahan produk dan pesaing berdasarkan pengalaman
merekadalam pembelian produk tersebut. - Lost Customer Ananlisys
Yaitu suatu strategi yang dilakukan oleh perusahaan dengan
menghubungi pelanggan yang telah berhenti membeli atau berpindah tempat
pemasok, hal ini dimaksudkan agar perusahaan bisa mengambil kebijakan
perbaikan dan penyempurnaan selanjutnya. - Survey kepuasan pelanggan
Yaitu suatu cara yang dilakukan oleh perusahaan dalam memperoleh
tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga
memberikan tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap
pelanggannya
Pengertian kepuasan konsumen
Untuk mengetahui kepuasan pelanggan bisa dengan melihat kesesuaian
antara harapan pelanggan dengan kinerja yang diujukan oleh produk atau jasa
yang ada, yaitu pelanggan akan merasa tidak puas jika kinerja tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan, begitu juga sebaliknya. Harapan pelanggan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi
pasar serta saingannya.
Dengan kondisi tersebut diatas Supranoto (2001 : 233) berpendapat bahwa
kepuasan adalah tingkat kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil
yang dirasakannya dengan harapannya. Sehingga bisa dikatakan tingkat kepuasan
merupakan fumgsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
Agar kepuasan pelanggan dapat tercipta, perusahaan harus menciptakan
dan mengelola suatu sistem untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak dan
kemempuan untuk mempertahankan pelanggannya.
Yazid (2008) berpendapat bahwa kepuasan adalah ketiadaan perbedaan
antara harapan yang dimiliki dan unjukkerja yang senyatanya diterima. Kepuasa
konsumen selalu didasarkan kepada upaya peniadaan atau paling sedikit upaya
penyempitan gap antara keadaan yang diinginkan (harapan) dengan keadaan
sebenarnya yang dihadapi (perceived). Ada tiga macam kondisi kepuasan yang
bisa dirasakan oleh konsumen berkaitan dengan perbandingan antara harapan
dan kenyataan, yaitu jika harapan atau kebutuhan sama dengan layanan yang
diberikan maka konsumen akan merasa puas. Jika layanan yang diberikan
pada konsumen kurang atau tidak sesuai dengan kebutuhan atau harapan
konsumen maka konsumen menjadi tidak puas
Model Kualitas Pelayanan
Suatu cara perusahaan agar tetap bisa menjadi yang terbaik adalah dengan
memberikan jasa dengan kualitas yang lebih tinggi dari pesaingnya secara
konsisten. Harapan konsumen dibentuk dari pengalaman masa lampau,
pembicaraan dari mulut kemulut serta promosi yang dilakukan oleh perusahaan
jasa, kemudian membandingkannya.
Sebuah model kualitas pelayanan telah dikembangkan oleh parasuraman et,
al (dalam Yazid, 2008 : 58) membantu mengidentifikasi gap (kesenjangan) antara
kualitas jasa yang dipersepsikan dan diterima pelanggan dengan model yang
mereka harapkan.
Model ini mengidentifisi lima gap yaitu :
- Gap harapan-persepsi manajemen
Merupakan perbedaan antara harapan pelanggan dengan persepsi
manajemen mengenai harapan konsumen. Riset menunjukkan bahwa
organisasi jasa finansial seringkali memperlakukan aspek privacy dan
kerahasiaan sebagai sesuatu yang relatif tidak penting. - Gap persepsi manajemen-harapan kualitas jasa
Merupakan perbedaan antara persepsi manajemen terhadap harapan
konsumen dan spesifikasi kualitas jasa. - Gap spesifikasi kualitas jasa-penyampaian jasa
Merupakan perbedaan antara spesifikasi kualitas jasa dengan jasa yang
secara aktual disampaikan. Ini sangat penting bagi jasa yang sisitem
penyampaiannya sangat tergantung pada sumber daya manusia. - Gap penyampaian jasa komunikasi eksternal pada konsumen
Merupakan perbedaan antara minat penyampaian jasa dan apa yang
dikomunikasikan tentang jasa kepada pelanggan. Ini membentuk harapan
didalam diri pelanggan yang mungkin tidak terpenuhi dan seringkali
merupakan hasil komunikasi yang tidak memadai oleh penyedia jasa. - Gap jasa diharapkan-jasa yang dipersepsikan
Yaitu mencerminkan perbedaan antara kinerja aktual dan persepsi
pelanggan terhadap jasa. Penilaian subyektif terhadap kualitas jasa akan
dipengaruhi oleh banyak faktor, yang seluruhnhya bisa mengubah persepsi
terhadap jasa yang telah disampaikan.
Menurut pendapat Zeithmal, Berry dan Pasaruman dalam Suryani (2008)
mengemukakan bahwa untuk mengidentifikasi ada lima dimensi kualitas jasa
yang digunakan konsumen dalam mengevaluasi kualitas terhadap jasa pelayanan
yang diterima mengacu pada beberapa faktor, antara lain : - Bukti Fisik
Ditunjukkan dari kemampuan suatu perusahaan dalam menujukkan
eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan kantor, dan karyawan,
kemampuan sarana dan prasarana fisik serta lingkungan sekitarnya adalah
bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. - Keandalan
Kemmapuan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang
dijanjikan secara akurat dan terpercaya. - Daya Tanggap
Suatau kemamuan untuk membantu dan memberikan pelayanan
yang cepat dan tepat kepada pelanggan melalui penyampaian informasi
yang jelas, serta didukung oleh adanya keinginan para staf dan karyawan
untuk membantu dan memberikan pelayanan dengan tanggap. - Jaminan
Pengetahuan, kesopansantunan dan kemampuan para pegawai untuk
menumbuhkan rasa percaya. - Empati
Memberikan perhatian yang tulus sifat individual/pribadi yang
diberikan kepada para konsumen dengan berupaya memahami keinginan
pasien, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang
baik dan memahami kebutuhan kosumen.
Tahapan konsep kualitas pelayanan
Menurut Ibrahim Buddy (2000 : 6) ada enam tahap konsep kualitas yang
masing-masing tahap akan dijelaskan sebagai berikut :
- Konsep Tahap 1 sesuai standar (fitness to standard)
Konsep ini menentukan kualitas produk sesuai petunjuk petunjuk
standar berdasarkan desain yang telah ditentukan. Kelemahan konsep ini ialah
:
a. Sikap yang berorientasi pada inspeksi sehingga menimbulkan ketegangan
antara bagian produksi dan bagian pemeriksa.
b. Akibat sistem standar dan inspeksi maka orientasi ialah pada produk dan
bukan pada kebutuhan pasar.
c. Makin tinggi standar yang ditentukan maka makin rumit proses produksi
dengan akibat banyak produk yang tidak sesuai sehingga biaya produksi
meningkat makin tinggi. - Konsep tahap 2 sesuai penggunaan pasar (fitness to use)
Konsep ini membuat produk yang sesuai dengan penggunaan pasar.
Hal ini tercapai apabila melakukan inspeksi. Kelemahan konsep ini adalah :
a. Masih bertumpu pada inspeksi standard.
b. Setiap proses produksi menimbulkan variabilitas produk walaupun untuk
standar dan produk yang sama.
c. Setiap produk baru akan mengundang persaingan yang dapat memberi
harga jual yang lebih rendah apabila dapat mengurangi biaya produksi
dalam proses inspeksi, sehingga pangsa pasar dapat berkurang. - Prinsip tahap 3 sesuai harga (fitness of cost)
Untuk memperoleh penurunan harga sambil mempertahankan tingkat
yang tinggi, maka variabilitas proses produksi terus dikurangi sedemikian
rupa sehingga tetap dalam batas inspeksi, serta diperlukan juga umpan balik
dan koreksi dalam setiap langkah proses produksi. Kelemahan konsep ini
adalah : para pesaing dan negara industri baru dapat membuat produk yang
sama dengan biaya buruh yang lebih rendah sehingga dapat menawarkan
harga jual yang lebih kompetitif. - Konsep tahap 4 sesuai perkembangan kebutuhan (fitness to latent
requirements)
Konsep ini berusaha memberikan apa yang dibutuhkan konsumen
meskipun saat itu produk belum ada di pasar, namun setelah di pasar
langsung diminati oleh konsumen. Kelemahan konsep ini adalah : sekali
konsumen tahu akan produk/jasa tersebut maka harus diusahakan perbaikan
dan perubahan baru bersamaan dengan peningkatan kualitas. - Konsep tahap 5 sesuai budaya perusahaan (fitness to corporate culture)
Konsep ini mendasarkan kualitas sebagai landasan budaya perusahaan
agar dapat memenuhui kebutuhan konsumen secara terus menerus dengan
lebih baik. - Konsep tahap 6 sesuai lingkungan global (fitness to global environ metal
requirements)
Konsep ini menghasilkan produk berkualitas yang melestarikan sumber
daya alam yang langka sehingga terjaga dari kerusakan akibat penggunaan
teknologi yang semakin canggih.
Karakteristik Kualitas Pelayanan
Dalam ibrahim buddy (2000 : 3) beberapa ahli pemasaran
mengidentifikasikan sebelas karakteristik yang menentukan kualitas pelayanan
akan jasa yang dijabarkan sebagai berikut :
- Reliability, yaitu konsistensi dalam kinerja dan ketahanannya.
- Responsiveness, yaitu tanggap terhadap klaim/protes konsumen, kesiapan
karyawan dalam memberikan service pada waktu yang diperlukan,
misalnya adanya teknologi, peraturan, yang berubah dan harus diantisipasi
dengan kemungkinan penawaran baru untuk produk/jasa yang belum ada
di pasar. - Competence, yaitu menguasai ketrampilan dan pengetahuan yang memadai
untuk memberikan service yang diperlukan. - Acces, yaitu kemudahan pendekatan dan akses.
- Courtesy, yaitu diperlukannya sopan santun, perhatian yang tulus dan
keramahan dari personil/karyawan service ketika mendengar keluhan
pelanggan. - Communication, yaitu pemberitahuan informasi kepada konsumen dengan
bahasa yang mudah dipahami konsumen, menjelaskan perihal service/jasa
yang ditawarkan bila diperlukan oleh konsumen. - Credibility, yaitu kepercayaan, keandalan, kejujuran dari karyawan
perusahaan. - Security, yaitu bebas dari bahaya resiko, atau keraguan, keamanan fisik
ataupun keamanan finansial serta kerahasiaan. - Understanding the customer, yaitu memahami konsumen dengan cara
berusaha mengerti kebutuhan konsumen. - Assurance, yaitu memiliki sumber daya manusia dan teknologi serta
fasilitas untuk memberikan jaminan dalam memenuhi kebutuhan
konsumen dengan jasa purnajual jangka panjang dan bukan sesaat saja
sewaktu menyerahkan barang. - Tangibles, yaitu bukti fisik adanya jasa (service). Adanya fasilitas fisik,
ketrampilan personil/karyawan yang baik dalam menyediakan jasa demi
kemudahan dan efisiensi bagi konsumen.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Sebuah jasa atau produk tunggal tidak dapat memenuhi kebutuhan semua
pelanggan, tetapi dapat memenuhi kebutuhan pelanggan yang spesifik. Dengan
kondisi tersebut maka diperlukan kualitas pelayanan yang baik agar pelanggan
bisa merasa puas terhadap apa yang diinginkankannya. Pengertian atau definisi
kualitas itu sendiri menurut J. Supranoto (2001 : 285) adalah “sebuah kata yang
bagi penyedia jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik”.
Sedangkan Ibrahim Buddy (2000 : 1) mendefinisikan bahwa kualitas
adalah suatu strategi dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa yang
memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen internal dan eksternal, secara
eksplisit dan implisit. Strategi kualitas ini menggunakan dan memerlukan
kemampuan sumber daya manajemen pengetahuan, kompetensi inti, modal,
teknologi, peralatan, material, sistem dan manusia perusahaan untuk
menghasilkan barang atau jasa bernilai tambah bagi manfaat masyarakat serta
memberikan keuntungan kepada pemegang saham. Selain itu keunggulan suatu
produk jasa tergantung dari keunikan yaitu apakah sudah sesuai dengan harapan
dan keinginan pelanggan atau tidak.
Bila ditinjau lebih jauh mengapa kualitas sangat diperlukan maka Ibrahim
Buddy (2000 : 5) bisa menjelaskan bahwa kualitas diperlukan karena 4-K yaitu
diharapkan agar :
- Konsumen menjadi labih canggih dalam selera dan pilihan.
- Kompetisi persaigan menjadi lebih ketat dan canggih.
- Kenaikan biaya, yang hanya dapat diatasi lewat perbaikan kualitas
proses dapat meningkatkan produktivitas tanpa hentinya. - Walaupun dengan adanya krisis apapun bentuknya baik dari pihak
pemasok, bank, teknologi proses, pasar konsumen yang labil, moneter,
ataupun ekonomi makro dan mikro bisa membuat kita siap menghadapi
dan mengatasi krisis apabila menjadi kenyataan.
Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler dan Keller dalam Tjiptono (2014:369) ada
beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan pengukuran
kepuasan pelanggan, diantaranya:
- Sistem keluhan dan saran
Organisasi yang berpusat pelanggan (Customer Centered)
memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya
untuk menyampaikan saran dan keluhan. Informasi-informasi ini
dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi perusahaan dan
memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk
mengatasi masalah-masalah yang timbul. - Pembeli bayangan (Ghost atau Mystery Shopping)
Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk
berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian
melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan
produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka
dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost
shopper juga dapat mengamati cara penanganan setiap keluhan. - Analisis konsumen terakhir (Lost Customer Analysis)
Perusahaan selayaknya menghubungi para pelanggan yang telah
berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat
memahami mengapa hal itu terjadi. Bukan hanya exit interview saja
yang perlu, tetapi pemantauan customer loss rate juga penting,
peningkatan customer loss rate menunjukkan kegagalan
perusahaan dalam memuaskan pelanggannya. - Survei kepuasan pelanggan
Umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan
dengan penelitian survei, baik melalui pos, telepon, maupun
wawancara langsung. Perusahaan akan memperoleh tanggapan dan
umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan
tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh perhatian
terhadap para pelanggannya.
Faktor-faktor Kepuasan pelanggan
Menurut Irawan (2004:37) ada lima faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan :
- Kualitas produk, yaitu pelanggan akan puas setelah membeli dan
menggunakan produk tersebut dan ternyata kualitas produknya
baik. Kualitas produk ini adalah dimensi global. - Harga, yaitu untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah
adalah sumber kepuasan yang penting karena mereka akan
mendapatkan value of money yang tinggi. Komponen harga ini
relatif tidak penting bagi mereka yang tidak sensitif terhadap harga. - Kualitas layanan, yaitu sangat bergantung pada tiga hal, yaitu
sistem, teknologi dan manusia. Kualitas layanan merupakan driver
yang mempunyai banyak dimensi. Salah satu konsep kualitas
layanan yang populer adalah ServQual. Berdasarkan konsep ini,
kualitas layanan diyakini mempunyai lima dimensi yaitu reliability,
responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible. - Faktor perasaan, yaitu kepuasan pelanggan dapat timbul pada saat
mengendarai mobil yang memiliki brand image yang baik. Rasa
bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok
orang penting dan sebagainya adalah contoh – contoh emotional
value yang mendasari kepuasan pelanggan. - Kemudahan, yaitu pelanggan akan semakin puas apabila relatif
mudah, nyaman, dan efisien dalam mendapatkan produk atau
layanan.
Definisi Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler (2014:150) kepuasan pelanggan ialah perasaan
senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan kinerja
(hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan.
Sedangkan menurut Daryanto (2011:9) kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang
dirasakan, dibandingkan dengan harapan.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman dalam Lupiyoadi (2006:182), ada 5 (lima)
jenis dimensi dalam kualitas pelayanan (Service Quality), yaitu:
- Bukti fisik (Tangibles)
Yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan
sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat diandalkan
keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata dari
pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini meliputi
fasilitas fisik contoh: gedung, gudang, dan lain-lain, perlengkapan
dan peralatan yang digunakan (teknologi), serta penampilan
pegawainya. - Keandalan (Reliability)
Yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai
dengan yang dijanjikan secara akurat dengan terpercaya. Kinerja
harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan
waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa
kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi. - Ketanggapan (Responsivenes)
Yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
yang cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan
penyampaian informasi yang jelas. - Jaminan dan kepastian (Assurance)
Yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para
pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para
pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen
antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility),
keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun
(courstesy). - Empati (Emphaty)
Yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau
pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya
memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan
diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang
pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta
memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Lovelock yang dikutip oleh Laksana (2008:88) kualitas
pelayanan adalah tingkat mutu yang diharapkan, dan pengendalian
keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik
maka perlu dibina hubungan yang erat antara perusahaan, dalam hal ini
adalah karyawan dengan pemakai jasa tersebut
Menurut Kotler (2005:153) kualitas layanan adalah model yang
menggambarkan kondisi pelanggan dalam membentuk harapan akan
layanan dari pengalaman masa lalu, promosi dari mulut ke mulut, dan
iklan dengan membandingkan pelayanan yang mereka harapkan dengan
apa yang mereka terima atau rasakan.
Tjiotono (2007:51) menyatakan bahwa kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan
konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi
harapan konsumen.
Parasuraman dalam Dimyati, 2005:25) salah satu pendekatan
kualitas pelayanan yang banyak dijadikan acuan riset pemasaran adalah
model SERVQUAL (Service Quality). SERVQUAL dibangun atas
adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi pelanggan atas
layanan yang mereka terima (perceived service) dengan layanan yang
sesungguhnya diharapkan (expected service). Jika kenyataan lebih dari
yang diharapkan maka layanan dapat berkualitas, dan sebaliknya.
Singkat kata, kualitas pelayanan dapat didefinisikan sebagai seberapa
jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan
yang mereka terima
Pengertian Pelayanan
Moenir (2010:26) pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materi
melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha
memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.
Loina (2001:38) mengatakan bahwa pelayanan merupakan suatu
proses keseluruhan dari pembentukan citra perusahaan, baik melalui
media berita, membentuk budaya perusahaan secara internal, maupun
melakukan komunikasi tentang pandangan perusahaan kepada para
pemimpin pemerintahan serta publik lainnya yang berkepentingan.
Pengertian Kualitas
Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Kualitas menurut Lupiyoadi
(2006:175) adalah perpaduan antara sifat dan karakteristik yang
menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan
kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang menentukan dan menilai sampai
seberapa jauh sifat dan karakteristik itu memenuhi kebutuhannya.
Sementara Tjiptono (2008:67) mengatakan bahwa kualitas adalah
produk yang bebas cacat. Dengan kata lain produk sesuai dengan
standar (target, sasaran atau persyaratan yang bisa didefinisikan,
diobservasi, dan diukur). Kualitas mencerminkan semua dimensi
penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefit) bagi
pelanggan.
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman et al. (1988) mengungkapkan ada 22 faktor
penentu service quality yang dirangkum ke dalam lima faktor dominan atau
lebih dikenal dengan istilah SERVQUAL, yaitu reliability, responsiveness,
assurance, empathy, dan tangible (Steven Darwin,et, al,. 2014). Dengan
penjelasan sebagi berikut :
a. Reliability
Kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan handal
dan akurat. Dalam arti luas, keandalan berarti bahwa perusahaan
memberikan janji-janjinya tentang penyediaan, penyelesaian masalah, dan
harga..
b. Responsiveness
Kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa
dengan cepat. Dimensi ini menekankan pada perhatian dan ketepatan ketika
berurusan dengan permintaan, pertanyaan, dan keluhan pelanggan.
c. Assurance.
Pengetahuan, sopan santun, dan kemampuan karyawan untuk
menimbulkan keyakinan dan kepercayaan. Dimensi ini mungkin akan
sangat penting pada jasa layanan yang memerlukan tingkat kepercayaan
cukup tinggi. Contohnya seperti di bank, asuransi, dan dokter.
d. Emphaty
Kepedulian dan perhatian secara pribadi yang diberikan kepada
pelanggan. Inti dari dimensi empati adalah menunjukkan kepada pelanggan
melalui layanan yang diberikan bahwa pelanggan itu spesial, dan kebutuhan
mereka dapat dimengerti dan dipenuhi.
e. Tangible
Berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan, staff dan bangunannya.
Dimensi ini menggambarkan wujud secara fisik dan layanan yang akan
diterima oleh konsumen. Contohnya seperti fasilitas toko, kebersihan dan
kenyamanan ruang yang digunakan untuk transaksi serta kerapian
penampilan pegawai
Manfaat Kualitas Pelayanan
Menurut Kotler dan Keller (2016 :158) terdapat lima manfaat kualitas
layanan,yaitu :
a. Mengidentifikasi dengan benar kebutuhan dan persyaratan pelanggan.
b. Menyampaikan harapan pelanggan kepada perancang produk.
c. Memastikan pesanan pelanggan dipenuhi dengan benar dan tepat waktu.
d. Tetap berhubungan dengan pelanggan setelah penjualan untuk memastikan
bahwa mereka puas.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Gronroos (dalam Utami, 2006: 246) menyatakan bahwa
kualitas layanan terdiri dari dua dimensi, yaitu:
a. Dimensi kualitas teknis (techincal quality), yaitu apa saja yang diperoleh
konsumen,
b. Dimensi fungsional (functional quality), yaitu dengan cara bagaimana
konsumen memperoleh jasa.
Menumbuhkan budaya kualitas
Budaya kualitas dapat dikembangkan dalam sebuah perusahaan
dengan diadakannya komitmen menyeluruh dari semua anggota organisasi
dari yang teratas hingga terendah. Budaya kualitas terdiri dari filosofi,
keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang berkenaan
dalam peningkatan kualitas. Beberapa faktor yang dapat menghambat namun
dapat pula memperlancar pengembangan kualitas layanan, yaitu:
1) Sumber daya manusia, sebagai contoh dalam hal penyeleksian karyawan,
pelatihan karyawan, deskripsi job desk, dan sebagainya.
2) Organisasi/ struktur, meliputi intergrasi atau koordinasi antar fungsi dan
struktur pelaporan.
3) Pengukuran (measurement), yaitu melakukan evaluasi kinerja dan
keluhan serta kepuasan konsumen.
4) Pendukung sistem, yaitu faktor teknologi seperti komputer, sistem,
database, dan teknis.
5) Layanan, meliputi pengelolahan keluhan konsumen, alat-alat manajemen,
alat-alat promosi/ penjualan.
6) Komunikasi internal, terdiri dari prosedur dan kebijakan dalam
operasional.
7) Komunikasi eksternal, yakni edukasi pelanggan, manajemen ekspektasi
pelanggan, dan pembentukan citra positif perusahaan.
f. Menciptakan automating quality
Otomatisasi berpotensi mengatasi masalah dalam hal kurangnya
sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Namun dibutuhkan
perhatian dalam aspek-aspek sentuhan manusia (high touch) dan elemenelemen yang memerlukan otomatisasi (high tech). Keseimbangan antara
kedua hal tersebut sangat dibutuhkan untuk menghasilkan kesuksesan
penyampaian layanan secara efektif dan efisien. Contoh, internet banking,
phone banking, dan sejenisnya.
g. Menindaklanjuti layanan
Penindaklanjutan layanan diperlukan untuk memperbaiki aspekaspek layanan yang kurang memuaskan dan mempertahankan yang sudah
baik. Dalam rangka ini, perusahaan perlu melakukan survey terhadap
sebagian atau seluruh konsumen mengenai layanan yang telah diterima.
Sehingga perusahaan dapat mengetahui tingkat kualitas layanan perusahaan
di mata konsumen.
h. Mengembangkan sistem informasi kualitas layanan
Service quality information system adalah sistem yang digunakan
oleh perusahaan dengan cara melakukan riset data. Data dapat berupa hasil
dari masa lalu, kuantitaif dan kualitatif, internal dan eksternal, serta
informasi mengenai perusahaan, pelanggan, dan pesaing. Bertujuan untuk
memahami suara konsumen (consumen’s voice) mengenai ekspektasi dan
persepsi konsumen terhadap layanan yang diberikan perusahaan.
Sehinggaperusahaan dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan
berdasarkan sudut pandang konsumen.
Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Menurut (Tjiptono, 2014), terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas layanan:
a. Mengidentifikasi determinan utama kualitas layanan
Setiap penyedia layanan diwajibkan untuk menyampaikan layanan
berkualitas terbaik kepada konsumen. Beberapa faktor yang menjadi
penilaian konsumen seperti keamanan transaksi (pembayaran menggunakan
kartu kredit atau debit), keamanan, ketepatan waktu, dan lain-lain. Upaya ini
dilakukan untuk membangun pandangan konsumen terhadap kualitas layanan
yang telah diterima. Apabila terjadi kekurangan dalam beberapa faktor
tersebut, perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Sehingga akan terjadi penilaian
yang lebih baik di mata pelanggan.
b. Mengelola ekspektasi pelanggan
Banyak perusahaan yang berusaha menarik perhatian pelanggan
dengan berbagai cara sebagai salah satunya adalah melebih-lebihkan janji
sehingga itu menjadi bumerang untuk perusahaan apabila tidak dapat
memenuhi apa yang telah dijanjikan. Karena semakin banyak janji yang
diberikan, semakin besar pula ekspektasi pelanggan. Ada baiknya untuk lebih
bijak dalam memberikan janji kepada pelanggan.
c. Mengelola bukti kualitas layanan
Pengelolahan ini bertujuan untuk memperkuat penilaian pelanggan
selama dan sesudah layanan disampaikan. Berbeda dengan produk yang
bersifat tangible, sedangkan layanan merupakan kinerja, maka pelanggan
cendrung memperhatikan seperti apa layanan yang akan diberikan dan seperti
apa layanan yang telah diterima. Sehingga dapat menciptakan persepsi
tertentu terhadap penyedia layanan di mata konsumen.
d. Mendidik konsumen tentang layanan
Upaya mendidik layanan kepada konsumen bertujuan untuk
mewujudkan proses penyampaian dan pengkonsumsian layanan secara efektif
dan efisien. Pelanggan akan dapat mengambil keputusan pembelian secara
lebih baik dan memahami perannya dalam proses penyampaian layanan.
Sebagai contoh :
1) Penyedia layanan memberikan informasi kepada konsumen dalam
melakukan sendiri layanan tertentu.
2) Penyedia layanan membantu konsumen dalam pemberitahuan kapan
menggunakan suatu layanan secara lebih mudah dan murah, yaitu sebisa
mungkin untuk menghindari periode waktu sibuk dan memanfaatkan
periode di mana layanan tidak terlalu sibuk.
3) Penyedia layanan menginformasikan konsumen mengenai prosedur atau
cara penggunaan layanan melalui iklan, brosur, atau staff secara langsung
mendampingi konsumen saat penggunaan layanan.
4) Penyedia layanan meningkatkan kualitas layanan dengan cara penjelasan
kepada konsumen tentang beberapa hal kebijakan yang mungkin akan
mengecewakan konsumen, misalkan kenaikan harga.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keingginan
pelanggan (Tjiptono,2011:59). Lewis dan Booms dalam (Wijaya, 2011)
menjelaskan kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat
layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Kualitas
pelayanan merupakan komponen penting dalam persepsi konsumen, juga sangat
penting dalam pengaruhnya terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik
kualitas maka jasa yang diberikan maka akan semakin baik pula citra jasa
tersebut dimata konsumen.
Pendapat lain dikemukan oleh Sunyoto (2012:236) bahwa kualitas
pelayanan merupakan suatu ukuran untuk menilai bahwa suatu barang atau jasa
telah mempunyai nilai guna seperti yang dikendaki atau dengan kata lain suatu
barang atau jasa dianggap telah memiliki mutu apabila berfungsi atau
mempunyai nilai guna seperti yang diinginkan.
Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang
diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika
pelayanan yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas layanan
dipersepsikan ideal. Sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah dari
pada yang diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan buruk. Dengan
demikian baik tidaknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan
penyedia layanan dalam memenuhi harapan pelanggan secara konsisten
Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler dan Keller yang dikutip Fandy Tjiptono,
(2014:369-370) ada empat metode untuk mengukur kepuasaan
pelanggan, antara lain :
a. Sistem Keluhan dan Saran (Complain and Suggestion System)
Setiap perusahaan yang berorientasi pada pelanggan perlu
menyediakan kesempatan dan akses yang mudah dan nyaman bagi
para pelangganya guna menyampaikan saran, kritik, pendapat dan
keluhan mereka. Media yang digunakan bisa berupa kotak saran yang
ditempatkan dilokasilokasi strategis (yang mudah dijangkau atau
sering dilewati konsumen), kartu komentar (yang diisi langsung
maupun yang dikirim via post kepada perusahaan), saluran telepon
khusus bebas pulsa, website, dan lain-lain. Informasi-informasi yang
diperoleh melalui metode ini dapat memberikan ide-ide baru dan
masukan yang berharga kepada perusahaan, sehingga
memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk
mengatasi masalah-masalah yang timbul.
b. Pembeli Bayangan (Ghost Shopping)
Salah satu cara memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan
adalah dengan mempekerjakan beberapa orang ghost shopers untuk
berperan atau berpura-pura sebagai pelanggan potensial. Sebagai
pembeli potensial terhadap produk dari perusahaan dan juga dari
produk pesaing. Kemudian mereka akan melaporkan temuantemuannya mengenai kekuatan dan kelemahan dari produk perusahaan
dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian
produk-produk tersebut. Selain itu para ghost shopper juga bisa
mengamati cara penanganan terhadap setiap keluhan yang ada, baik
oleh perusahaan yang bersangkutan maupun dari pesaingnya.
c. Analisis Pelanggan yang Hilang (Lost Customer Analysis)
Perusahaan akan menghubungi para pelanggannya atau setidaknya
mencari tahu pelanggannya yang telah berhenti membeli produk atau
yang telah pindah pemasok, agar dapat memahami penyebab mengapa
pelanggan tersebut berpindah ke tempat lain. Dengan adanya
peningkatan customer lost rate, dimana peningkatan customer lost
rate menunjukkan kegagalan perusahaan dalam memuaskan
pelanggannya.
d. Survei Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfation Survey)
Sebagian besar riset kepuasan pelanggan dilakukan dengan
menggunakan metode survei, baik survei melalui pos, telepon, e-mail,
website, maupun wawancara langsung. Melalui survei perusahaan
akan memperoleh tanggapan dan balikan secara langsung (feedback)
dari pelanggan dan juga akan memberikan kesan positif terhadap para
pelanggannya.
Manfaat Kepuasan Pelanggan
Menurut F.Tjiptono, (2012:310-311) kepuasan pelanggan juga
berpotensi memberikan manfaat spesifik antara lain :
a. Berdampak positif terhadap loyalitas pelanggan.
b. Berpotensi menjadi sumber pendapatan masa depan terutama melalui
pembelian ulang, cross-selling dan up-selling.
c. Menekan biaya transaksi pelanggan dimasa depan, terutama biaya
komunikasi, pemasaran, penjualan dan layanan pelanggan.
d. Meningkatkan toleransi harga terutama kesediaan pelanggan untuk
membayar harga premium dan pelanggan tidak mudah tergoda untuk
beralih pemasok.
e. Menumbuhkan rekomendasi yang menular secara positif.
f. Pelanggan lebih cenderung lebih reseptif terhadap product-line
extentions, brand extentions dan new add-on service yang ditawarkan
perusahaan terhadap jejaring pemasok, mitra bisnis dan saluran
distribusi.
Kepuasan Pelanggan
Perusahaan sudah selayaknya memberikan tingkat kepuasan yang
tinggi terhadap para pelanggannya, sebab pelanggan yang mendapatkan
kepuasan yang kurang atau cukup hanya akan bertahan sementara waktu
dan dapat mudah beralih pada perusahaan atau produk sejenis lain yang
memberikan penawaran yang lebih baik. Pelanggan yang tidak mendapatkan
kepuasan akan kabur bahkan tidak akan pernah kembali. Tentunya,
pelanggan akan memilih berganti produk atau merek karena hal-hal seperti
tidak puas dengan produk yang tersedia, munculnya produk lain yang lebih
baik, pengaruh teman atau kerabat, pelanggan yang ingin benar-benar
berpindah merek, ketidakpuasan dengan perilaku pemilik, manajer atau
perilaku karyawan perusahaan. Maka demi kelangsungan hidup perusahaan
sudah selayaknya perusahaan memberikan kepuasan yang tinggi kepada
setiap pelanggannya.
Dalam Fandy Tjiptono dan Gregorius Chandra, (2011:294-297) ada
beberapa sumber yang mendefinisikan kepuasan pelanggan, diantaranya
yaitu Tse dan Wilton mendefinisikan “Kepuasan pelanggan yaitu respon
konsumen pada evaluasi persepsi terhadap perbedaan antara ekspektasi awal
(atau standar kinerja tertentu) dan kinerja aktual produk sebagai mana
dipersepsikan setelah konsumsi produk”.
Sedangkan menurut Oliver dalam Fandy Tjipton dan Gregorius
Chandra, (2011:294-297) “Kepuasan pelanggan adalah evaluasi terhadap
surprise yang inheren dalam memperoleh dan/atau pengalaman konsumsi
produk”.
Howard dan Shets dalam Tjiptono, (2014:353) mengungkapkan
bahwa “Kepuasan pelanggan adalah situasi kognitif pembeli berkenan
dengan kesepadanan atau ketidaksepadanan antara hasil yang didapatkan
dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan”.
Menurut Kotler dan Keller, (2012:128) “Satisfaction is a person’s
feeling of pleasure or disappointment that result from comparing a
product’s perceived performance (or outcome) to expectations”.
“Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang
timbul karena membandingkan kinerja yang dipresepsikan produk (atau
hasil) terhadap ekspektasi mereka”.
Dimensi Kualitas Produk
Terdapat sembilan dimensi kualitas produk menurut Kotler dan Keller
(2010:361), yaitu :
a. Bentuk (Form)
Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan
bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk.
b. Ciri-ciri Produk (Features)
Karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi
produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
c. Mutu Kinerja (Performance Quality)
Mutu kinerja adalah level berlakunya karakteristik dasar produk.
Dimana berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan
merupakan karakterisitik utama yang dipertimbangkan pelanggan
dalam membeli barang tersebut.
d. Ketepatan/Kesesuaian (Conformance Quality)
Pembeli mengharapkan mutu kesesuaian yang tinggi, sejauh semua
unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang
dijanjikan.
e. Daya Tahan (Durabillity)
Merupakan suatu ukuran daya tahan produk yang diharapkan oleh
konsumen atas beroperasinya produk dalam kondisi normal dan/atau
berat.
f. Kehandalan (Reliabillity)
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang
berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode
waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula.
g. Kemudahan Perbaikan (Repairabillity)
Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak.
Idealnya produk akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika
rusak.
h. Gaya (Style)
Gaya menggambarkan tampilan produk dan perasaan yang
ditimbulkan untuk para pembeli. Hal ini menciptakan kekhasan yang
sulit untuk di ikuti oleh para pesaing.
i. Desain (Design)
Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi
penampilan dan fungsi produk terhadap keinginan konsumen.
Klasifikasi Produk
Menurut Kotler dan Keller (2012:327) ada tiga klasifikasi produk, yaitu :
a. Daya Tahan dan Keberwujudan Produk (Durability and Tangibility)
Dikalsifikasikan menjadi tiga kelompok menurut daya tahan dan
wujudnya :
1) Barang yang Tidak Tahan Lama (Non Durable Goods)
Merupakan barang-barang berwujud yang biasanya dikonsumsi
dalam satu atau beberapa kali penggunaan. Contoh: Sabun dan bir
2) Barang Tahan Lama (Durable Goods)
Merupakan barang berwujud yang biasanya tetap bertahan
walaupun sudah digunakan berkali-kali. Contoh: Lemari dan
pakaian.
3) Jasa (Services)
Ialah produk-produk yang tidak berwujud, tidak terpisahkan dan
mudah habis. Contoh: Dokter terhadap pasien dan tukang pangkas
rambut orang yang akan di pangkas rambutnya.
Tingkatan Produk
Menurut Kotler dan Keller, (2012:326) dalam merencanakan
tawaran pasarnya, pemasar perlu memikirkan secara mendalam kelima
tingkat produk. Dimana masing-masing tingkatannya menambahkan
lebih banyak nilai pelanggan dan kelimannya membentuk hierarki nilai
pelanggan, yaitu :
a. Manfaat Inti (Core Benefit), yaitu layanan atau manfaat mendasar
yang sepenuhnya dibeli pelanggan.
b. Produk Dasar (Basic Product), Merupakan produk dasar yang mampu
memenuhi fungsi produk yang paling dasar.
c. Produk yang Diharapkan (Expected Product), yaitu beberapa atribut
dan kondisi yang biasanya diharapkan pembeli ketika mereka
membeli produk ini.
d. Produk yang Ditingkatkan (Augmented Product), yaitu beberapa
atribut atau kondisi yang melampau harapan pelanggan.
e. Produk Potensial (Potential Product), yaitu meliputi segala
kemungkinan peningkatan dan perubahan yang mungkin akan dialami
produk atau tawaran tersebut pada masa mendatang
Kualitas Produk
Kualitas produk yang dirasakan pelanggan akan menentukan persepsi
pelanggan terhadap kinerja, yang pada gilirannya akan berdampak pada
kepuasan pelanggan. Perusahaan akan selalu berusaha untuk memuaskan
pelanggan mereka dengan menawarkan produk yang berkualitas. Produk
yang berkualitas adalah produk yang memiliki manfaat bagi pemakainnya.
Jika seseorang membayangkan suatu produk, maka mereka membayangkan
manfaat yang akan diperoleh dari produk yang akan mereka pergunakan.
Manfaat dalam suatu produk adalah konsekuensi yang diharapkan ketika
mereka membeli dan menggunakan suatu produk.
Menurut definisi American Society For Quality Control yang dikutip
oleh Kotler dan Keller, (2012:131) “Quality is the totality of features and
characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy
stated or implied needs”.
Dimana diartikan kualitas adalah “Totalitas fitur dan karakteristik
produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan
kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat”.
Menurut Kotler dan Amstrong, (2012:283) Kualitas produk adalah
“Kemampuan produk untuk menjalankan fungsinya termasuk keseluruhan
produk, kehandalan, ketapatan, kemudahan pengoperasian dan perbaikan,
dan atribut bernilai lainnya”. Jadi kualitas produk ditunjukan dari
keseluruhan karakter dari sebuah produk yang menunjukan kemampuannya
dalam memuaskan kebutuhan
Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Menurut Fandy Tjiptono, (2012 :182–189) terdapat beberapa faktor
yang perlu dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas layanan:
a. Mengidentifikasi Determinan Utama Kualitas Layanan
Setiap penyedia layanan diwajibkan untuk menyampaikan layanan
berkualitas terbaik kepada konsumen. Beberapa faktor yang menjadi
penilaian konsumen seperti keamanan transaksi (pembayaran
menggunakan kartu kredit atau debit), keamanan, ketepatan waktu,
dan lain-lain. Upaya ini dilakukan untuk membangun pandangan
konsumen terhadap kualitas layanan yang telah diterima. Apabila
terjadi kekurangan dalam beberapa faktor tersebut, perlu diperhatikan
dan ditingkatkan. Sehingga akan terjadi penilaian yang lebih baik di
mata pelanggan.
b. Mengelola Ekspektasi Pelanggan
Banyak perusahaan yang berusaha menarik perhatian pelanggan
dengan berbagai cara sebagai salah satunya adalah melebih-lebihkan
janji sehingga itu menjadi ‘bumerang’ untuk perusahaan apabila tidak
dapat memenuhi apa yang telah dijanjikan. Karena semakin banyak
janji yang diberikan, semakin besar pula ekspektasi pelanggan. Ada
baiknya untuk lebih bijak dalam memberikan ‘janji’ kepada
pelanggan.
c. Mengelola Bukti Kualitas Layanan
Pengelolaan ini bertujuan untuk memperkuat penilaian pelanggan
selama dan sesudah layanan disampaikan. Berbeda dengan produk
yang bersifat tangible, sedangkan layanan merupakan kinerja, maka
pelanggan cendrung memperhatikan “seperti apa layanan yang akan
diberikan” dan “seperti apa layanan yang telah diterima”. Sehingga
dapat menciptakan persepsi tertentu terhadap penyedia layanan di
mata konsumen.
d. Mendidik Konsumen Tentang Layanan
Upaya mendidik layanan kepada konsumen bertujuan untuk
mewujudkan proses penyampaian dan pengkonsumsian layanan secara
efektif dan efisien. Pelanggan akan dapat mengambil keputusan
pembelian secara lebih baik dan memahami perannya dalam proses
penyampaian layanan. Sebagai contoh :
1) Penyedia layanan memberikan informasi kepada konsumen dalam
melakukan sendiri layanan tertentu. Seperti mengisi formulir
pendaftaran, menggunakan fasilitas teknologi (ATM, Internet
banking, dan sebagainya), mengisi bensin sendiri (self-service), dan
lain-lain.
2) Penyedia layanan dapat menginformasikan atau memberitahukan
kepada konsumen, kapan menggunakan suatu layanan secara lebih
mudah dan murah, yaitu sebisa mungkin untuk menghindari
periode waktu sibuk dan memanfaatkan periode dimana layanan
tidak terlalu sibuk.
3) Penyedia layanan menginformasikan konsumen mengenai prosedur
atau cara penggunaan layanan melalui iklan, brosur, atau karyawan
secara langsung mendampingi konsumen pada saat menggunakan
layanan.
4) Penyedia layanan meningkatkan kualitas layanan dengan cara
menjelasan kepada konsumen tentang beberapa hal kebijakan yang
mungkin akan mengecewakan konsumen, misalkan kenaikan harga.
e. Menumbuhkan Budaya Kualitas
Budaya kualitas dapat dikembangkan dalam sebuah perusahaan
dengan diadakannya komitmen menyeluruh dari semua anggota
organisasi dari yang teratas hingga terendah. Budaya kualitas terdiri
dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, prosedur, dan
harapan yang berkenaan dalam peningkatan kualitas
Faktor Penyebab Buruknya Kualitas Pelayanan
Menurut F.Tjiptono, (2012:178–181) terdapat beberapa faktor yang
dapat mengurangi kualitas layanan pada sebuah perusahaan. Sehingga
perusahaan perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut, yaitu:
a. Produksi dan Konsumsi yang Terjadi Secara Simultan
Karakter dari jasa itu sendiri adalah inseparability, artinya jasa
tersebut diproduksi dan dikonsumsi pada waktu yang bersamaan.
Sehingga terjadi interaksi antara penyedia jasa dan pelanggan yang
memungkinkan terjadi hal-hal berdampak negatif di mata pelanggan,
seperti :
1) Tidak terampil dalam melayani pelanggan
2) Cara berpakaian karyawan kurang sesuai dengan konteks
3) Tutur kata karyawan kurang sopan
4) Bau badan karyawan yang mengganggu kenyamanan pelanggan
5) Karyawan kurang senyum atau mimik muka yang tidak ramah
b. Intensitas Tenaga Kerja yang Tinggi
Keterlibatan karyawan secara intensif dalam penyampaian layanan
dapat pula menimbulkan dampak negatif pada kualitas, yaitu berupa
tingginya variabilitas layanan yang dihasilkan. Seperti, pelatihan
kurang memadai atau pelatihan tidak sesuai dengan kebutuhan, tingkat
turnover karyawan yang tinggi, motivasi kerja karyawan kurang
diperhatikan dan lain-lain.
c. Dukungan Terhadap Pelanggan Internal Kurang Memadai
Karyawan front-line adalah ujung tombak dalam sistem penyampaian
layanan. Karyawan front-line dapat dikatakan sebagai citra perusahaan
karena karyawan-karyawan tersebut memberikan kesan pertama
kepada pelanggan. Agar para karyawan front-line mampu memberikan
pelayanan dengan efektif, diperlukan dukungan dari perusahaan
seperti, dukungan informasi (prosedur operasi), peralatan (pakaian
seragam dan materil), maupun pelatihan keterampilan.
d. Gap Komunikasi
Komunikasi merupakan faktor penting dalam menjalin hubungan
antara perusahaan dengan pelanggan. Bila terjadi gap komunikasi,
maka pelanggan memberikan penilaian negatif terhadap kualitas
pelayanan. Gap-gap komunikasi tersebut dapat berupa :
1) Penyedia layanan memberikan janji yang berlebihan, sehingga
tidak mampu memenuhinya
2) Penyedia layanan tidak selalu memberikan informasi terbaru
kepada para pelanggan
3) Pesan komunikasi yang disampaikan penyedia layanan tidak
dipahami pelanggan
4) Penyedia layanan tidak memperhatikan atau menindaklanjuti
keluhan atau saran pelanggan
e. Memperlakukan Semua Pelanggan dengan Cara yang Sama
Setiap pelanggan memiliki karakter, emosi, keinginan yang berbedabeda. Penyedia layanan harus memahami keunikan dan perbedaan
yang ada. Sehingga tidak dapat memperlakukan semua pelanggan
dengan cara yang sama. Banyak kejadian dimana pelanggan ingin
diperlakukan secara personal dan berbeda dengan yang lain.
f. Perluasan atau Pengembangan Layanan Secara Berlebihan
Penambahan layanan dapat berdampak baik atau bahkan mengurangi
service quality pada sebuah perusahaan. Dampak baiknya adalah
untuk menyempurnakan service quality menjadi lebih baik. Tetapi di
sisi lain, apabila layanan baru terlampau banyak, hasil yang didapat
belum tentu optimal.
g. Visi Bisnis Jangka Pendek
Visi jangka pendek (contohnya, penghematan biaya semaksimal
mungkin) dapat merusak service quality yang sedang ditujukan untuk
jangka panjang
Dimensi Kualitas Pelayanan
Pada dasarnya, terdapat tiga orientasi kualitas yang seharusnya
konsisten satu sama lain, yaitu : persepsi pelanggan, produk (jasa), dan
proses. Bagi yang berwujud barang, ketiga orientasi ini hampir selalu
dapat dibedakan dengan jelas, tetapi tidak untuk jasa. Sedangkan jasa,
produk dan proses mungkin tidak dapat dibedakan dengan jelas, bahkan
produknya adalah proses itu sendiri.
Salah satu pendekatan kualitas jasa yang banyak dijadikan acuan
dalam riset pemasaran adalah model SERVQUAL (Service Quality) yang
dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithmal, dan Berry. SERVQUAL di
bangun atas adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi
pelanggan atas layanan yang sesungguhnya diharapkan (expected
service). Harapan para pelanggan pada dasarnya sama dengan layanan
seperti apakah yang seharusnya diberikan perusahaan kepada pelanggan.
Harapan para pelanggan ini didasarkan pada informasi yang disampaikan
dari mulut ke mulut (word of mouth), kebutuhan pribadi, pengalaman di
masa lampau, dan komunikasi eksternal (iklan dan berbagai bentuk
promosi perusahaan lainnya).
Kualitas Pelayanan
Kualitas merupakan salah satu kunci dalam memenangkan persaingan
pasar. Ketika perusahaan telah mampu menyediakan kualitas yang baik
maka telah membangun salah satu fondasi untuk menciptakan kepuasan
pelanggan.
Menurut Goetsch dan Davis yang dikutip oleh Tjiptono, (2012:152)
kualitas dapat diartikan sebagai “Kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, sumber daya manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi
atau melebihi harapan”. Berdasarkan definisi ini, kualitas adalah hubungan
antara produk dan pelayanan atau jasa yang diberikan kepada konsumen
agar dapat memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan.
Menurut Fandy Tjiptono, (2012:157) mendefinisikan kualitas
pelayanan adalah “Ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan”.
Menurut Danang Sunyoto, (2012:236) menyatakan bahwa “Kualias
pelayanan berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan
konsumen serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan
konsumen, yaitu adanya kesesuaian antara harapan dengan persepsi
manajemen, adanya kesesuaian antara persepsi atas harapan konsumen
dengan standar kerja karyawan, adanya kesesuaian antara standar kerja
karyawan dengan pelayanan yang diberikan dengan pelayanan yang
dijanjikan dan adanya kesesuaian antara pelayanan yang diterima dengan
yang diharapkan dengan konsumen”.
Definisi lain kualitas pelayanan menurut Wyckof dalam Lovelock
yang dikutip oleh Fandy Tjiptono, (2012:270) merupakan “Tingkat
keunggulan (excellence) yang di harapkan dan pengendalian atas
keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan”.
Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kualitas Layanan
kepuasan kerja merupakan penilaian dari pekerja bahwa seberapa jauh
pekerjaanya secara keseluruhan dapat memuaskan kebutuhannya. As’ad
mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan sifat umum yang
merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap faktor-faktor
pekerjaan, penyesuaian diri dan hubungan sosial individu di luar kerja.
Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Kualitas Layanan
komitmen sebagai suatu keadaan dimana seorang individu memihak
organisasi serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan
keangotaannya dalam organisasi. Mathis dan Jackson mendefinisikan
komitmen organisasional sebagai derajad dimana karyawan percaya dan
mau menerima tujuan-tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak
akan meninggalkan organisasinya.
Indikator Budaya Organisasi
berikut ini indikator budaya organisasi yang dikemukakan oleh
Robbins dan Coulter yaitu :
a) Inovasi dan pengambilan resiko, yaitu kadar seberapa jauh karyawan
didorong untuk inovatif dan mengambil resiko.
b) Perhatian kehal yang rici atau detail, yaitu kadar seberapa jauh karyawan
diharapkan mampu menunjukan ketepatan, analisi dan perhatian yang
rinci/detail.
c) Orientasi hasi, yaitu kadar seberapa jauh pemimpin berfokus pada hasil
atau output dan bukannya pada cara mencapai hasil itu.
d) Orientasi orang, yaitu kadar seberapa jauh keputusan manajemen turut
mempengaruhi orang orang yang ada dalam organisasi.
e) Orienasi tim, yaitu kadar seberapa jauh pekerjaan disusun berdasarkan
tim dan bukannya perorangan.
f) Keagresifan, yaitu kadar seberapa jauh karyawan agresif dan bersaing.
g) Kemantapan, yaitu kadar seberapa jauh keputusan dan tindakan
organisasi menekan usaha untuk mempertahankan keadaan sekarang
Faktor Yang Mempengaruhi Budaya Organisasi
Menurut Deal dan Kennedy Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan budaya organisasi adalah sebagai berikut :
- Lingkungan usaha
Kelangsungan hidup organisasi ditentukan oleh kemampuan perusahaan
memberi tanggapan yang tepat terhadap peluang dan tantangan
lingkungan. Lingkungan usaha merupakan unsur yang menentukan
terhadap apa yang harus dilakukan perusahaan agar berhasil. - Nilai-nilai
Nilai-nilai adalah keyakinan dasar yang dianut oleh sebuah organisasi.
Setiap perusahaan memiliki nilai-nilai inti sebagai pedoman berfikir dan
bertindak bagi semua karyawan dalam mencapai tujuan atau misi
organisasi. - Pahlawan
Pahlawan adalah tokoh yang dipandang berhasil mewujudkan nilai-nilai
budaya dalam kehidupan nyata. Pahlawan bisa berasal dari pendiri
perusahaan, para manajer, kelompok organisasi atau perorangan yang
berhasil menciptakan nilai-nilai organisasi. Mereka merupakan idola
yang patut diikuti oleh karyawan perusahaan. Mereka bisa menumbuhkan
idealisme, semangat dan tempat mencari petunjuk bila terjadi kesulitan
dalam organisasi.
- Ritual
Stephen dan Robbins mendefinisikan ritual sebagai deretan berulang dari
kegiatan yang mengungkapkan dan memperkuat nilai-nilai utama
organisasi itu, tujuan apakah yang paling penting, orang-orang manakah
yang penting dan mana yang dapat dikorbankan. - Jaringan budaya
Jaringan budaya adalah jaringan komunikasi informal yang pada
dasarnya merupakan saluran komunikasi primer. Fungsinya menyalurkan
informasi dan memberi interprestasi terhadap informasi. Melalui jaringan
informal, kehebatan perusahaan diceritakan dari waktu ke waktu.
Pengertian budaya organisasi
Banyak parah ahli memberikan pendapat tentang pengertian budaya
organisasi menurut Peter F. Druicker yang di kutip Moh. Pembudu Tika
adalah pokok penyesuaian masalah-masalah eksternal dan internal yang
pelaksanaanya dilakukan secara konsisten oleh suatu kelompok yang
kemudian mewariskan kepada anggota baru sebagai cara yang tepat
untuk memahami, memikirkan, dan merasakan terhadap masalah-masalah
terkait. Pengertian selanjutnya adalah menurut Phiti Sithi Amnuai yang
dikutip Moh. Pambudu Tika Budaya organisasi iyalah sekarakteristik
asumsi dasar dan keyakinan yang dianut oleh anggota-anggota organisasi
kemudian dikembangkan dan di wariskan guna mengatasi masalah-masalah
adaptasi eksternal dan masalah integrasi internal.
Indikator Kepuasan Kerja
Tingkat kepuasan kerja setia karyawan berbeda-beda, kepuasan kerja
karyawan tergantung pada apa yang diharapkan dengan apa yang diterima.
Tinggi rendahnya kepuasan kerja berkaitan dengan aspek fisik dalam
melaksanakan kerja, kondisi lingkungan pekerjaan, rekan kerja dan
interaksinya. Tingkat kepuasan kerja dapat di ketahui dengan indikatorindikator kepuasan kerja. Luthans mengungkapkan terdapat sejumlah
indikator-indikator kepuasan kerja, yaitu :
- Pekerjaan itu sendiri
Kepuasan pekerjaan itu sendiri merupakan sumber utama kepuasan - Gaji
Upah dan gaji dikenal menjadi signifikan, tetapi kompleks secara
kongnitif dan merupakan faktor multidimensi dalam kepuasan kerja. - Promosi
Kesempatan promosi sepertinya memiliki pengaruh berbeda pada
kepuasan kerja karna promosi memiliki sejumlah bentuk yang berbeda
dan memiliki berbagai penghargaan. - Pengawasan
Pengawasan merupakan sumber penting lain dari kepuasan kerja.
Terdapat dua dimensi pengawasan yang dapat mempengaruhi kepuasan
kerja. Yang pertama adalah berpusat pada karyawan dan dimensi yang
lain adalah partisipasi atau pengaruh, seperti diilustrasikan oleh manajer
yang memungkinkan orang untuk berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan. - Rekan kerja
Rekan kerja atau anggota tim yang kooferatif merupakan sumber
kepuasan kerja yang paling sederhana pada karyawan secara individu.
Kelompok kerja, terutama tim yang kuat bertindak sebagai sumber
dukungan, kenyamanan, nasehat, dan bantuan pada anggota individu. - Kondisi kerja
Efek lingkungan kerja pada kepuasan kerja sama halnya dengan efek
kelompok kerja. Jika segalahnya berjalan baik, tidak ada masalah
kepuasan kerja.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan. Faktorfaktor itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan kepada karyawan
Menurut Blum Faktorfaktor yang memberikan kepuasan adalah:
- Faktor individual, meliputi umur, kesehatan, watak, dan harapan.
- Faktor sosial, meliputi hubungan kekeluargaaan, pandangan pekerjaan,
kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan. - Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah pengawasan, ketenteraman
kerja, kondisi kerja, dan kesempatan untuk maju. Selain itu, juga
penghargaan terhadap kecakapan, hubungan sosial di dalam pekerjaan,
ketepatan dalam menyelsaikan konflik antarmanusia, perasaan
diperlakukan adil baik yang menyangkut pribadi maupun tugas.
Pengertian Kepuasan Kerja
Menurut Handoko, kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang
menyenagkan atau tidak menyenagkan bagi parah karyawan memandang
pekerjaan mereka.15 Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang
terhadap pekerjaannya. Ini tampak dalam sikap positif karyawan terhadap
pekerjaan dan segalah sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjannya.
Menurut Hoppeck kepuasan kerja merupakan penilaian dari pekerja
bahwa seberapa jauh pekerjaanya secara keseluruhan dapat memuaskan
kebutuhannya. As’ad mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan
sifat umum yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap
faktor-faktor pekerjaan, penyesuaian diri dan hubungan sosial individu di
luar kerja
Indikator Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi dapat menggambarkan keinginan karyawan
untuk ikut berperan serta dalam mencapai tujuan perusahaan dan loyalitas
pegawai terhadap perusahaan. Komitmen organisasi dapat diukur dengan
menggunakan empat indikator yang sudah dikembangkan sebagai berikut :
a) Keinginan kuat tetap sebagai anggota, karyawan bangga bekerja di
perusahaan, dan menggangap perusahaan sebagai tempat yang baik untuk
bekerja.
b) Keinginan bekerja keras dalam berusaha, adanya perasaan nyaman yang
dirasakan karyawan membuat karyawan termotivasi untuk selalu
berprestasi lebih baik lagi.
c) Penerimaan nilai organisasi, karyawan merasa bahwa nilai-nilai yang
diterapkan dan berlaku di perusahaan sesuai dengan nilai yang dianut
oleh karyawan.
d) Penerimaan tujuan organisasi, keinginan untuk tetap berada di
perusahaan membuat karyawan berusaha keras dalam melaksanakan
tugas supaya tujuan perusahaan tercapai
Faktor-Faktor Mempengaruhi Komitmen Organisasi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebab komitmen
organisasi yaitu:
a. Penyebab Komitmen Afektif
Beberapa literatur menunjukan bagaimana komitmen afektif dipelajari
dalam wujud karakteristik pribadi atau apa yang dikontribusikan oleh
karyawan pada organisasi. Walaupun banyak argument yang menyatakan
tidak adanya profil sebuah komitmen sehingga tidak mungkin ada hubungan
antara karakteristik pribadi dengan komitmen terhadap organisasi.
karakteristik dan pengalaman yang dibawa seseorang ke dalam organisasi
dapat memprediksikan bagaimana komitmen mereka terhadap organisasi.
Pengalaman kerja yang baik dan didukung oleh sejarah kerja yang baik
diperusahaan yang lama bisa saja pengalaman kerja di organisasi yang
sudah terjalin dan baik dan memberikan kenyamanan psikologis, membuat
seseorang terbiasa dengan apa yang menjadi pekerjaannya, dan betah
bekerja di organisasi tersebut sehingga akan membuat komitmennya
terhadap organisasi semakin tinggi.
b. Penyebab Komitmen Berkelanjutan
Menurut Meyer dan Allen komitmen berkelanjutan terkait dengan tiga
penyebab, yaitu karakteristik pribadi,investasi, dan alternatif. Investasi yang
dimaksud disini misalnya waktu, uang, atau usaha. Karyawan yang merasa
telah berkorban maupun mengeluarkan banyak waktu, usaha dan uang untuk
kehilangan apa yang telah diberikan selama ini. Kemudian terkait factor
alternatif, karyawan yang merasa tidak memiliki alternative kerja lain yang
lebih menarik, lebih sesuai atau menawarkan bayaran yang lebih tinggi,
akan merasa rugi jika meninggalkan organisasi karena belum tentu
memperoleh lebih baik dari apa yang telah diperolehnya selama ini.12
c. Penyebab Komitmen Normatif
Komitmen normatif terdiri dari norma-norma tertanam di dalam diri
seseorang, sejak kecil sebelum berada di dalam suatu organisasi, sampai
ketika seseorang berada dan bekerja di dalam organisasi (penanaman lewat
keluarga, teman sepermainan, dan proses sosialisasi di lingkungan lainnya).
Meyer dan Allen menyatakan komitmen normative akan semakin dapat
diperkuat dengan adanya kontrak psikologis antara karyawan dan
organisasi. Kontrak psikologis adalah kepercayaan yang seseorang miliki
mengenai suatu pertukaran antara karyawan dan organisasi sehingga
mempengaruhi rasa memiliki kewajiban kepada organisasi.
Pengertian Komitmen Organisasi
Robbins dan Judge mendefinisikan komitmen sebagai suatu keadaan
dimana seorang individu memihak organisasi serta tujuan-tujuan dan
keinginannya untuk mempertahankan keangotaannya dalam organisasi.
Mathis dan Jackson mendefinisikan komitmen organisasi sebagai derajad
dimana karyawan percaya dan mau menerima tujuan-tujuan organisasi dan
akan tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasinya.
Menurut Robert dan Jackson komitmen organisasi merupakan
karyawan yakin dan menerima tujuan organisasional, serta berkeinginan
untuk tinggal bersama dalam organisasi tersebut.
Indikator Kualitas Layanan
Menurut Parasuraman, Zeithaml, Dan Berry lima dimensi kualitas
layanan yaitu:
- Bukti langsung (tangibles) meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai
dan sarana komunikasi. - Keandalan (Reability) yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang di
janjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan. - Daya tanggap (responsiveness) yaitu keinginan para staff untuk
membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap. - Jaminan (assurance) mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan,
dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staff, bebas dari bahaya,
resiko, dan keragu-raguan. - Empati meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi
yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan pelanggan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Layanan
Menurut Fandy Tjiptono terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
kualitas layanan pada sebuh perusahaan. Sehingga perusahaan perlu
memperhatikam faktor-faktor tersebut yaitu :
- Produksi dan konsumsi yang terjadi secara simultan
Karakter dari jasa itu sendiri adalah inseparability, artinya jasa tersebut
diproduksi dan di konsumsi pada waktu yang bersamaan. Sehingga
terjadi interaksi antara penyedia jasa dan konsumen yang memungkinkan
terjadi hal-hal berdampak negatif dimata konsumen, seperti :
a. Tidak terampil dalam melayani pelanggan
b. Cara berpakian karyawan kurang sesuai dengan konteks
c. Tutur kata karyawan kurang sopan
d. Bau badan karyawan yang menggangu kenyamanan konsumen
e. Karyawan kurang senyum atau mimik muka yang kurang ramah - Intensitas tenaga kerja yang tinggi
Keterlibatan karyawan secara intensif dalam menyampaikan pelayanan
dapat pula menimbulkan dampak negatif pada kualitas, yaitu berupa
tingginya variabilitas layanan yang dihasilkan. Sepereti, pelatihan kurang
memadai atau pelatihan kurang sesuai dengan kebutuhan, tingkat
turnover karyawan yang tinggi. - Dukungan terhadap pelanggan internal kurang memadai
Karyawan fort-line adalah ujung tombak dalam sistem penyampaian
layanan. Karyawan fort-line dapat dikatakan sebagai citra perusahaan
karna karyawan tersebut memberikan kesan pertama kepada konsumen.
Agar karyawan fort-line mampu memberikan pelayanan secara efektif,
diperlukan dukungan dari perusahaan seperti dukungan informasi
(prosedur operasional) peralatan, (pakaian seragam material), maupun
pelatihan keterampilan - Gap komunikasi
Komunikasi merupakan faktor yang paling penting dalam menjalani
hubungan antara perusahaan dengan konsumen. Bila terjadi gap
komunikasi, maka konsumen memberikan penilaian negatif terhadap
kualitas pelayanan. Gap-gap komunikasi tersebut dapat berupa :
a. Penyedia layanan memberikan janji yang berlebihan, sehingga tidak
mampu memenuhinya
b. Penyedia layanan tidak selalu memberikan informasi terbaru kepada
konsumen
c. Pesan komunikasi yang disampaikan penyedia layanan tidak di
pahami konsumen
d. Penyedia layanan tidak memperhatikan atau tidak menindaklanjuti
keluhan atau saran konsumen - Memperlakukan semua pelanggan dengan cara yang sama
Setiap konsumen memiliki karakter, emosi, keinginan yang berbedabeda. Penyedia layanan harus memahami keuinikan dan perbedaan yang
ada. Sehingga tidak dapat memperlakukan semua konsumen dengan cara
yang sama - Perluasan atau pengembangan layanan secara berlebihan
Penambahan layanan dapat berdampak baik atau bahkan mengurangi
service qualitypada sebuah perusahaan. Dampak baiknya adalah untuk
menyempurnakan service quality menjadi lebih baik. Tetapi disisi lain,
apabila layanan baru terlampau banyak, hasil yang didapat belum tentu
optimal. - Visi bisnis jangka pendek
Visi jangka pendek (contohnya penghematan biaya semaksimal
mungkin) dapat merusak service quality yang sedang ditunjukan untuk
jangka panjang. Sebagai contoh, kebijakan sebuah restoran menutup
sebagian cabang akan mengurangi akses bagi para pelanggan restoran
tersebut.
Pengertian Kualitas Layanan
Menurut Elhaitammy service excellence adalah sikap atau cara
karyawan dalam melayani pelanggan secara memuaskan. Kualitas
pelayanan juga bergantung pada beberapa hal, yaitu sistem, teknologi dan
manusia. Dari faktor manusia sangat memegang kontribusi terbesardari
kualitas pelayanan terhadap perusahaan. “Kualitas pelayanan sebagai ukuran
seberapa bagus tingkat layanan yang diberikanmampu sesuai dengan
ekspektasi pengunjung.
Pengertian Layanan
Menurut Kotler dan Amstrong layanan merupakan kunci sukses
perusahaan yang bersifat jasa. Peranannya akan bersifat lebih besar dan
bersifat menetukan manakala dalam kegiatan jasa dalam masyarakat
terdapat kompetisi dalam suatu usaha merebut pasaran atau pelanggan.
Berbagai kegiatan dan atau manfaat yang dapat di tawarkan oleh suatu pihak
lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan
perpindahan kepemilikan.
Menurut Parasuraman kualitas pelayanan merupakan persepsi
penerima layanan dengan keunggulan suatu pelayanan yang di berikan oleh
suatu organisasi.
Manfaat Pengukuran Kepuasan pasien
Berikut beberapa manfaat pengukuran kepuasan pasien yang ditunjukkan
berdasarkan pelayanan kesehatan:
- Pengukuran bisa dijadikan dasar menentukan standar kinerja dan
standar prestasi yang harus dicapai, yang akan mengarah pada mutu
yang semakin baik dan kepuasan pasien yang meningkat. - Pengukuran meningkatkan kualitas pelayanan. Ini bermaksud untuk
melalukan evaluasi demi meningkatkan kualitas pelayanan. Ketika
mengukur kepuasan pasien banyak informasi penting yang akan
didapat, dan dijadikan tolak ukur untuk kegiatan peningkatan kualitas
pelayanan. - Pengukuran akan memberikan umpan balik ke dalam sistem dan
membantu dalam merancang ulang sistem. Berdasarkan informasi
yang didapat, sistem manajemen harus berupaya mengambil langkahlangkah perbaikan pada bagian yang bermasalah, dimana hal tersebut
secara langsung memiliki efek positif pada kesehatan pasien, atau
dalam jangka panjang meningkatkan tingkat kepuasan pasien. - Upaya untuk mengatasi kepuasan pasien berguna juga dalam
memperkirakan kinerja staf lembaga pelayanan. Pada saat yang sama
data kepuasan pasien dapat berguna untuk menilai sikap dan perilaku
staf dalam mengambil intervensi korektif. - Keunggulan Komparatif yaitu pengukuran kepuasan pasien sebagai
alat evaluasi kinerja staf.
Faktor- Faktor yang Mendorong kepuasan
Menurut McMillan (R.J. Leimena, 1994), faktor-faktor yang berperan
terhadap kepuasan pasien adalah:
- Gambaran lingkungan dan struktural, misalnya tersedianya bangku di
ruang tunggu. - Akses dan kelegaan, misalnya kemudahan akses, lamanya waktu
menunggu pada saat pasien berobat. - Kualitas pelayanan, misalnya kebersihan ruangan dan kualitas makanan
yang disediakan. - Hubungan interpersonal, misalnya keramahan petugas kesehatan.
- Kompetensi klinis dari penyediaan pelayanan kesehatan, misalnya
kemampuan petugas untuk menunjukkan keterampilan dalam tugas
teknis, menyediakan informasi yang akurat dan mempunyai ketelitian.
Metode pengukuran kepuasan
Tjiptono mengelompokkan teknik pengukuran kepuasan pelanggan ke
dalam lima konsep inti, yaitu:
- Kepuasan pelanggan secara langsung, yaitu langsung menanyakan
kepada pelanggan seberapa puas mereka dengan produk dan jasa
tertentu (directly reported satisfaction). - Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka
mengharapkan suatu atribut tertentu dan seberapa besar yang mereka
rasakan (derived dissatisfaction). - Konfirmasi harapan, dimana pengukuran kepuasan tidak diukur
langsung namun disimpulkan berdasarkan kesesuaian /ketidaksesuaian
antara harapan pelanggan dan kinerja aktual produk. - Minat pembelian ulang, yaitu kesediaan konsumen untuk kembali
setelah mendapat suatu pelayanan. - Kesediaan untuk merekomendasi, yaitu kesediaan untuk
merekomendasikan jasa kepada orang lain
TINGKAT KEPUASAN
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan
kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya. Tingkat kepuasan
merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
Apabila kinerja dibawah harapan, maka pelanggan akan sangat kecewa, bila
sesuai harapan, maka pelanggan akan sangat puas. Sedangkan bila kinerja
melebihi harapan pelanggan akan sangat puas.
Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai
akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien
membandingkan dengan apa yang dirasakan.
Indikator Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan dapat diukur dengan menggunakan lima indikator
dimensi kualitas pelayanan (SERVQUAL) sebagai berikut:
- Bukti langsung (tangibles)
Yaitu kemampuan perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya
kepada pihak eksternal. Dalam hal ini berupa fasilitas fisik, peralatan
yang digunakan atau dapat pula berupa representasi fisik atau jasa,
meliputi :
a. Fasilitas yang menarik
b. Kebersihan, kerapian dan kenyamanan ruangan
c. Kelengkapan peralatan
d. Penampilan karyawan - Keandalan (reliability)
Yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan dengan segera, akurat
dan memuaskan sesuai dengan yang dijanjikan. Hal ini berarti
perusahaan memberikan pelayanannya secara tepat sejak pertama
kalinya, meliputi :
a. Memberikan pelayanan sesuai janji
b. Tanggung jawab pelayanan kepada konsumen akan masalah
pelayanan
c. Memberikan pelayanan tepat waktu
d. Memberikan informasi kepada konsumen tentang kapan pelayanan
yang dijanjikan akan direalisasikan. - Daya tanggap (responsiveness)
Yaitu keinginan dan kesigapan dari para karyawan untuk membantu
pelanggan dalam memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya,
meliputi:
a. Memberikan pelayanan secara cepat dan tepat
b. Kerelaan untuk membantu dan menolong konsumen
c. Penanganan keluhan pelanggan
d. Siap dan tanggap untuk menangani respon permintaan konsumen - Jaminan (assurance)
Yaitu kemampuan para karyawan untuk menumbuhkan rasa percaya
pelanggan terhadap perusahaan berupa kompetensi (memiliki
keterampilan dan pengetahuan yang berhubungan dengan perusahaan);
kesopanan (sikap sopan santun, perhatian dan keramahtamahan yang
dimiliki oleh para contact personal); kredibilitas (sifat jujur dan dapat
dipercaya yang mencakup nama perusahaan, reputasi perusahaan dan
karakteristik pribadi), meliputi :
a. Sopan santun karyawan dalam memberikan pelayanan
b. Karyawan memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat
menjawab pertanyaan konsumen
c. Kemampuan karyawan untuk membuat konsumen merasa aman saat
menggunakan jasa perusahaan - Empati (empathy)
Yaitu perhatian yang tulus dan bersifat pribadi yang diberikan kepada
para pelanggan dengan berupaya untuk memahami keinginan
pelanggan, meliputi:
a. Kemudahan kepada konsumen untuk menghubungi perusahaan
b. Memberikan perhatian individu kepada konsumen
c. Karyawan yang mengerti keinginan dan kebutuhan konsumen serta
selalu mendengarkan saran dan keluhan dari pelanggan
Standar Pelayanan
Standar pelayanan adalah ukuran yang telah ditentukan sebagai suatu
pembakuan pelayanan yang baik. Standar pelayanan berbentuk suatu dokumentasi
yang berisi rincian teknis dari sebuah pelayanan. Rincian yang biasanya tercantum
dalam dokumen ini mencakup pernyataan visi dan misi pelayanan, prosedur
pelayanan, denah alur pelayanan, ketentuan tarif, prasyarat pelayanan, klasifikasi
pelanggan, jenis layanan, jaminan mutu dan janji pelayanan.
Adapun ciri pelayanan yang baik yang harus diikuti oleh pegawai yang
bertugas melayani pelanggan, antara lain :
a. Tersediannya pegawai yang baik
b. Tersediannya sarana dan prasarana yang baik
c. Bertanggung jawab kepada setiap pelanggan sejak awal hingga selesai
d. Mampu melayani secara cepat dan tepat
e. Mampu berkomunikasi
f. Memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik
Tujuan Pelayanan
Tujuan kualitas pelayanan membutuhkan identifikasi sasaran utama yang
terdiri dari : kepuasa pelanggan dan perbaikan terus menerus. Sementara itu, yang
dimaksud dengan pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh negara
dan perusahaan milik Negara kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya dalam rangka menciptakan kesejahteraan umum. Untuk itu, pemberi
pelayanan dalam hal ini pemerintah perlu menyadari akan tugas dan fungsinya
sebagai abdi negara yang mana sangat berperan penting dalam memberikan
pelayanan yang baik dan optimal kepada masyarakat (publik).14
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan rumah sakit
telah menjadi masalah mendasar yang dihadapi sebagian besar rumah sakit
diberbagai negara. Tuntutan ini menjadi dasar pengembangan organisasi
kesehatan dan sistem pelayanan kesehatan diberbagai negara melalui pelaksanaan
desentralisasi. Kompleksitas masalah kualitas pelayanan rumah sakit tidak saja
terkait dengan keterbatasan sumber daya dan lingkungan, tetapi juga bersumber
dari perbedaan persepsi diantara pemakaian jasa pelayanan, petugas kesehatan dan
pemerintah
