Pengaruh Kepuasan Konsumen terhadap Loyalitas Konsumen


Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dengan harapannya
(Supranto, 2006). Dengan demikian, harapan pelanggan
berdasarkan mengapa dua organisasi pada jenis bisnis yang sama
dapat dinilai berbeda oleh pelanggannya. Dalam konteks kepuasan
pelanggan, umumnya harapan merupakan perkiraan atau keyakinan
pelanggan tentang apa yang akan diterimanya. Harapan mereka
dibentuk oleh pengalaman pembelian dahulu, komentar teman dan
kenalannya serta janji dari perusahaan tersebut. Harapan-harapan
pelanggan ini dari waktu ke waktu berkembang seiring dengan
semakin bertambahnya pengalaman pelanggan. Dengan harapan
yang telah dirasakan pelanggan, apabila sudah mencapai kepuasan
akan berpengerah positif terhadap produk atau citra perusahaan
tersebut bahwa akan berdampak konsumen yang akan setia atau
loyal terhadap perusahaan. Seperti penelitian yang telah dilakukan
Soegoto (2013) bahwa kepuasan konsumen berpengaruh positif dan
signifikan terhadap loyalitas konsumen

Pengaruh Persepsi Nilai terhadap Kepuasan Konsumen


Nilai pelanggan merupakan perbandingan antara manfaat
(benefits) yang dirasakan oleh pelanggan dengan apa yang
pelanggan (costs) untuk mendapatkan atau mengkonsumsi produk
tersebut, sehingga nilai pelanggan merupakan suatu preferensi yang
dirasakan oleh pelanggan dan evaluasi terhadap atribut-atribut
produk serta berbagai konsekuensi yang timbul dari penggunaan
suatu produk untuk mencapai tujuan dan maksud pelanggan
(Balqis,2009). Semakin tinggi kualitas suatu produk atau jasa maka
pelanggan akan mempersepsi kan bahwa barang atau jasa tersebut
mempunyai nilai yang tinggi sehingga dapat memberikan
kepuasaan yang tinggi pula.

Kepercayaan


Menurut Tjiptono (2005), kepercayaan pelanggan adalah respon
pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian yang dirasakan antara
harapan dan kinerja aktual produk dalam pemakainya. Kepercayaan
pelanggan merupakan evaluasi purna jual beli dimana alternatif yang
dipilih sekurang kurangnya sama atau melebihi harapan pelanggan.
Kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk bertumpu pada
orang lain dimana seseorang tersebut memiliki keyakinan padanya.
Kepercayaan merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi
seseorang dan konteks sosialnya. Ketika seseorang mengambil suatu
keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan dari
orang- orang yang lebih dapat ia percaya dari pada yang kurang
dipercayai (Moorman, 1993).
Kepercayaan menurut Sheth dan Mittal (2004), merupakan
faktor paling krusial dalam setiap relasi, sekaligus berpengaruh pada
komitmen. Kepercayaan bisa diartikan sebagai kesediaan untuk
mengandalkan kemampuan, integritas dan motivasi pihak lain untuk
bertindak dalam rangka memuaskan kebutuhan dan kepentingan
seseorang sebagaimana disepakati bersama secara implisit maupun
eksplisit.
Lau dan Lee (1999) menyatakan bahwa faktor kepercayaan
terhadap sebuah merek merupakan aspek krusial dalam pembentukan
loyalitas, karena sebagai kesediaan konsumen untuk mempercayai atau
mengandalkan prduk atau jasa dalam situasi resiko karena adanya
ekspetasi bahwa produk atau jasa yang bersangkutan akan memberikan
hasil yang positif.

Persepsi Nilai


Menurut Kotler dan Keller (2009), persepsi adalah proses yang
digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasi, dan
menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia
yang memiliki arti. Nilai pelanggan merupakan kombinasi kualitas,
pelayanan, harga dari suatu penawaran produk. Nilai terhantar pada
pelanggan adalah selisih antara jumlah nilai bagi pelanggan dan jumlah
biaya dari pelanggan, dan jumlah nilai bagi pelanggan adalah
sekelompok keuntungan yang diharapkan pelanggan dari barang atau
jasa tertentu. Secara garis besar, nilai pelanggan adalah perbandingan
antara manfaat yang dirasakan terhadap suatu produk atau jasa dengan
biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan produk atau jasa
tersebut. Bagi pelanggan, kinerja produk yang dirasakan sama atau lebih
besar dari yang diharapkan, yang dianggap bernilai dan dapat
memberikan kepuasan.
Konsep dan beberapa definisi tentang nilai pelanggan di atas
dapatlah dikembangkan secara komprehensif, bahwa secara garis besar
nilai pelanggan merupakan perbandingan antara manfaat (benefits) yang
dirasakan oleh pelanggan dengan apa yang pelanggan (costs) untuk
mendapatkan atau mengkonsumsi produk tersebut, sehingga nilai
pelanggan merupakan suatu preferensi yang dirasakan oleh pelanggan
dan evaluasi terhadap atribut-atribut produk serta berbagai konsekuensi
yang timbul dari penggunaan suatu produk untuk mencapai tujuan dan
maksud pelanggan (Balqis,2009).
Konsep nilai pelanggan mengindikasikan suatu hubungan yang
kuat terhadap kepuasan pelanggan. Dimana konsep tersebut
menggambarkan pertimbangan yang evaluatif pelanggan tentang produk
yang mereka konsumsi. Nilai yang diinginkan pelanggan terbentuk
ketika mereka membentuk persepsi bagaimana baik buruknya suatu
produk dimainkan dalam situasi penggunaan. Mereka mengevaluasi
pengalaman penggunaan pada atribut yang sama.
Menurut Woodruff (1997), nilai konsumen adalah pilihan yang
dirasakan pelanggan dan evaluasi terhadap atribut produk dan jasa,
kinerja atribut dan konsekuensi yang timbul dari penggunaan produk
untuk mencapai tujuan dan maksud konsumen ketika menggunakan
produk. Woodruff juga mendefinisikan nilai konsumen sebagai persepsi
pelanggan terhadap konsekuensi yang diinginkannya dari penggunaan
suatu produk/jasa. Nilai konsumen dapat dijabarkan sebagai preferensi
yang pelanggan rasakan terhadap ciri produk, kinerja, dan sejauh mana
telah memenuhi apa yang diinginkannya

Kepuasan Konsumen


Menurut Kotler dan Keller (2009), kepuasan pelanggan diberi
peringkat dengan sekala satu sampai lima, pada level kepuasan
pelanggan yang sangat rendah (level satu) para pelanggan cenderung
menjauhi perusahaan dan menyebarkan cerita jelek tentang perusahaan
tersebut. Pada level dua sampai empat, pelanggan agak puas tapi
pelanggan masih merasa mudah untuk beralih ketika tawaran yang lebih
baik muncul. Pada level lima, pelanggan cenderung membeli ulang dan
bahkan menyampaikan cerita pujian tentang perusahaan. Kepuasan atau
rasa senang yang tinngi menciptakan ikatan emosional dengan merek
atau perusahaan tersebut, tidak sekedar kelebih-sukaan rasional.
Menurut Supranto (2006), kepuasan adalah tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan
dengan harapannya. Harapan konsumen dapat dibentuk dari pengalaman
masa lalu, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi pemasar
dan saingannya. Konsumen yang puas akan setia lebih lama, kurang
sensitif terhadap harga dan memberikan komentar yang baik terhadap
perusahaan.
Tjiptono (2005) mengungkapkan ada tiga konsep inti yang
memiliki kesamaan diantara beragamnya cara mengukur kepuasan
konsumen, yaitu:
a. Konfirmasi Harapan (confirmation of excpectations)
Konfirmasi harapan yaitu kesesuaian atau
ketidaksesuaian antara harapan konsumen dengan kinerja aktual
produk perusahaan. Dalam hal ini akan lebih ditekankan pada
service quality yang memiliki komponen berupa harapan
konsumen akan pelayanan yang diberikan (seperti: atmosfer
tempat kecepatan pelayanan, keramahan/kesopanan pengelola
dan karyawan, dan sifat pertemanan dari karyawan).
b. Minat Pembelian Ulang
Kepuasan konsumen diukur secara behavioral dengan
jalan menanyakan apakah konsumen akan berbelanja
menggunakan jasa perusahaan lagi. Pelayanan yang berkulitas
dapat menciptakan kepuasan konsumen dimana mutu pelayanan
tersebut akan masuk kebenak konsumen sehingga dipersepsikan
baik.
c. Ketidakpuasan Konsumen (customer dissastisfaction)
Yaitu menelaah aspek-aspek yang digunakan untuk
mengetahui ketidakpuasan pelanggan, meliputi: komplain,
pengembalian produk (retur), biaya garansi, recall, negative
word of mouth, dan defections

Loyalitas Konsumen


Menurut Griffin (2005), loyalitas adalah respon perilaku
pelanggan yang dapat terlihat secara terus menerus oleh pengambil
keputusan dengan memperhatikan satu merek atau penggunaan jasa
lebih dari satu kali dan juga memperhatikan respon pelanggan dari jasa
yang telah diberikan dengan merek atau jasa yang sejenis dan
merupakan perilaku psikologis. Imbalan dari kesetiaan bersifat jangka
panjang dan kumulatif. Semakin lama loyalitas seorang pelanggan,
maka semakin besar laba yang diperoleh perusahaan dari suatu
pelanggan.
Menurut Hasan (2008) bahwa loyalitas pelanggan adalah
pelanggan yang tidak hanya membeli ulang suatu barang dan jasa tetapi
juga mempunyai komitmen dan sikap yang positif terhadap perusahaan
jasa, misalnya dengan merekomendasikan orang lain untuk membeli
atau menggunakan jasa tersebut. Maka dari itu loyalitas konsumen
terhadap perusahaan sangatlah penting untuk suatu perusahaan agar
perusahaan tersebut mendapatkan profitabilitas yang tinggi dari respon
yang baik oleh pelanggannya.

Menurut Griffin (2005) menyatakan konsep loyalitas lebih
mengarah kepada perilaku (behavior) dibandingkan denga sikap
(attitude) dan seorang pelanggan yang loyal akan memperlihatkan
perilaku pembelian yang dapat diartikan sebagai pola pembelian yang
teratur dan dalam waktu yang lama, yang dilakukan oleh unit-unit
pembuat atau pegambilan keputusan. Aspek-aspek yang mempengaruhi
loyalitas adalah : (1) Kepuasan (satisfaction), (2) Ikatan emosi
(emotional banding), (3) Kepercayaan (trust), (4) Pengalaman terhadap
perusahaan (history with company), dan (5) Kemudahan (choice
reduction and habit).
Menurut Kotler dan Keller (2009), loyalitas konsumen adalah
komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli atau
mendukung kembali produk atau jasa yang disukai di masadepan meski
pengaruh situasi dan usaha pemasaran berpotensi menyebabkan
pelanggan beralih.

Kepuasaan Pelanggan.


Kepuasan pelanggan adalah tanggapan atau evaluasi emosional dimana
pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa. Kepuasan pelanggan merupakan
bahan evaluasi alternatif yang dapat dipilih sekurang-kurangnya melebihi
harapan pelanggan. Dewasa ini dapat dipastikan bahwa kunci utama untuk
memenangkan hati pelanggan dan persaingan adalah memberikan kepuasan
kepada pelanggan Tjiptono (2018). Maka dari itu konsep pemasaran yang
sebaiknya dianut oleh perusahaan ialah yang memiliki tema pokok yang
menyatakan seluruh elemen bahwa bisnis harus berorientasi kepada kepuasan
pelanggannya. Menurut Kotler dalam Januar (2016) kepuasan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya
terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya. Menurut
S.C.Chen (2017) semakin tinggi kepuasan seseorang maka semakin positif pula
sikap yang dimiliki pelanggan. Indikator Kepuasan Pelanggan menurut Brillyan
J.S dalam Sinaga,E (2017).

  1. Kesesuaian harapan dan kenyataan dalam arti ekspektasi atau harapan yang
    dituangkan dalam produk/jasa yang ditawarkan dan menjadi kenyataan
    seperti yang diinginkan pelanggan.
  2. Kualitas customer service dalam aeri Pelayanan yang responsif yang dapat
    dihubungi untuk menjawab kebutuhan pelanggan.
  3. Kesediaan merekomendasikan dalam hal ini Kepercayaan yang sudah
    didapat dan membuat pelanggan bersedia merekomendasikan tanpa diminta.
  4. Minat menggunakan kembali adalah manfaat dan bentuk dari Kepuasan
    pelanggan yang membuat pelanggan kembali menggunakan barang/jasa
    yang ditawarkan.

Indikator Ketepatan Pengiriman


Definisi ketepatan pengiriman adalah ketepatan waktu pengiriman dan
jaminan barang pesanan konsumen selamat hingga sampai tujuan menjadi ujung
tombak usaha agar tetap dapat memperoleh kepercayaan dan kesetiaan konsumen
Handoko (2016). Indikator ketepatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini
menurut Handoko (2016) adalah :

  1. Ketepatan dalam jasa pengiriman barang.
  2. Ketepatan dalam menentukan harga.
  3. Ketepatan dalam menempuh waktu

Indikator Kualitas Pelayanan.


Indikator kualitas pelayanan yang digunakan pada penelitian ini yaitu,
menurut Kotler dalam Fandy Tjiptono (2016) :

  1. Ketanggapan (Responsiveness)
    yaitu keinginan para staff untuk membantu para pelanggan dan memberikan
    pelayanan yang tanggap.
  2. Kehandalan (Reliability)
    Yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera,
    akurat dan memuaskan.
  3. Empati (Empaty)
    Yaitu kesediaan karyawan dan pengusaha untuk lebih peduli memberikan
    perhatian secara pribadi kepada pelanggan.

Kualitas Layanan


Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia pelayanan merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Keunggulan suatu produk jasa
adalah tergantung dari kualitas serta keunikan yang diperlihatkan oleh jasa
tersebut,apakah sudah sesuai dengan harapan pelanggan/penumpang. Kualitas
layanan pada umumya lebih ditekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan serta ketepatan dalam penyampaiannya untuk
mengimbangi kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan dalam
penyampaiannya untuk mengimbangi kebutuhan pelanggan dengan harapan
mereka. Parasuraman dalam Tjiptono (2000) mengemukakan bahwa ada 2 (dua)
hal utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu :

  1. Jasa yang diharapkan (expected service) adalah standar jasa yang
    diinginkan.
  2. Jasa yang diterima (perceived service) adalah perbandingan antara jasa
    yang diharapkan dan jasa yang diterima.
    Perusahaan mempunyai strategi yang mencakup akan kualitas pelayanan
    itu sendiri, menurut Tjiptono (2016) strategi kualitas layanan yang dilakukan
    oleh perusahaan mencakup empat yaitu sebagai berikut :
  3. Atribut Pelayanan
    Atribut pelayanan adalah suatu tata cara atau etika penyampaian pelayanan
    kepada para konsumen. Melakukan jasa pelayanan, hendaknya pelayanan
    tersebut dapat membuat konsumen menjadi merasa dihormati. Oleh karena
    itu Atribut pelayanan sangat dipengaruhi atas berbagai faktor antara lain:
    Keterampilan hubungan antara pribadi, komunikasi, ilmu pengetahuan,
    sensitifitas, pemahaman dan berbagai perilaku eksternal.
  4. Pendekatan untuk menyempurnakan kualitas pelayanan
    Kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas konsumen.
    Agar kualitas jasa menjadi sempurna, maka perlu disertai beberapa faktor
    penunjang antara lain: faktor biaya, waktu penerapan program dan pengaruh
    pelayanan konsumen. Berdasarkan faktor-faktor tersebut maka kepuasan
    yang maksimal akan dapat dicapai.
  5. Sistem umpan balik
    Salah satu cara untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas konsumen
    adalah dengan menggunakan sistem umpan balik. Adanya sistem umpan
    balik makaposisi tingkat kualitas konsumen dapat diketahui, agar
    memperoleh hasil yang baik maka informasi umpan balik harus difokuskan
    pada beberapa hal sebagai berikut:
    a. Mengukur dan memperbaiki kinerja perusahaan.
    b. Memahami persepsi konsumen.
    c. Menunjukan komitmen perusahaan pada kualitas produk pada para
    konsumen.

Indikator Kualitas Layanan E-tracking

menurut Galuh Dwi Septiani dalam Tjiptono (2016), yaitu:

  1. Memudahkan dalam hal ini mempertahankan dan berusaha memberikan
    kemudahan untuk pelanggan.
  2. Design situs WEB diartikan dengan pelanggan yang dimudahkan
    mengetahui update dari paketnya dan mudah diakses dimanapun dan
    kapanpun.
  3. Keamanan/Privasi website memiliki keamanan yang baik, dan melindungi
    seluruh data pengirim atau penerima paket.
    8
  4. Customer service diartikan perusahaan menyediakan layanan untuk
    memberikan jawaban atas pertanyaan dan komplenan dengan cepat dan
    tepat.

Layanan E-tracking
Kualitas E-tracking dapat meyakinkan pelanggan bahwasannya
teknologi informasi yang diimplementasikan adalah suatu hal yang
memudahkan bagi pelangan didalam memanfaatkan sistem yang sudah
disediakan, Sistem tracking yang digunakan akan terus diaplikasikan dan
dikembangkan oleh perusahaan agar dapat membangun selalu kepuasan
pelanggan.
Menurut Kotler & Keller (2017) menyatakan bahwa kualitas layanan
berbasis elektronik berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan. Kualitas
layanan yang berbasis elektronik adalah bentuk dan upaya dari perusahaan
untuk pemenuhan kebutuhan yang diiringi dengan keinginan pelanggan serta
bentuk ketepatan cara penyampaian melalui media elektronik agar dapat
memenuhi harapan serta kepuasan pelanggan. Menurut Shin et al (2017)
kepuasan para konsumen industri jasa pengiriman tersebut dapat dibentuk oleh
beberapa faktor diantaranya kualitas pelayanan, teknologi tracking system dan
harga yang ditawarkan

Kualitas Pelayanan


Menurut (Tjiptono dalam Meithiana Indrasari ,2019:61) kualitas
pelayanan adalah suatu keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk,
jasa, sumber daya manusia, serta proses dan lingkungan yang setidaknya dapat
memenuhi atau malah dapat melebihi kualitas pelayanan yang diharapkan.
Definisi kualitas pelayanan ini adalah upaya pemenuhan kebutuhan yang
dibarengi dengan keinginan konsumen serta ketepatan cara penyampaiannya
agar dapat memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan tersebut, dikatakan
bahwa service quality atau kualitas layanan adalah pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi
harapan pelanggan. Kualitas Pelayanan menurut (Rambat Lupiyoadi dalam
Meithiana Indrasari, 2019:62) service quality adalah seberapa jatuh perbedaan
antara harapan dan kenyataan para pelanggan atas pelayanan yang mereka
terima. Service quality dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi
pelanggan atas pelayanan yang benar-benar mereka terima dengan layanan
sesungguhnya yang mereka harapkan.
Sedangkan menurut (Parasuraman dalam Rositawati dkk, 2016)
Kualitas Pelayanan yang berkaitan dengan Kepuasan ditentukan oleh lima
unsur yang biasa di kenal dengan istilah Kualitas Layanan “RATER”
(responsiveness, assurance, tangible, empathy, dan reliability). Konsep
Kualitas Layanan RATER intinya adalah membentuk sikap dan perilaku dari
pengembang pelayanan untuk memberikan bentuk pelayanan yang kuat dan
mendasar, agar mendapat penilaian sesuai dengan kualitas layanan yang
diterima. Inti dari kualitas pelayanan adalah menunjukkan segala bentuk aktualisasi
kegiatan pelayanan yang memuaskan orang-orang yang menerima pelayanan. Menurut
(Lupiyoadi dan Hamdani dalam Menthiana Indrasari, 2019:63) terdapat beberapa dimensi
atau atribut yang perlu diperhatikan di dalam kualitas layanan yaitu :
a. Barwujud (tangible) yaitu kemampuan suau perusahaan dalam menunjukkan
eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan
prasarana fisik perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya
merupakan bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.
b. Keandalan (realiability) yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan
sesuai dengan dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan
harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua
pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpaik, dan dengan akurasi yang tinggi.
c. Ketanggapan (responsiveness) yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan
memberikan pelayanan yang cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan
penyampaian informasi yang jelas.
d. Jaminan dan kepastian (assurance) yaitu pengetahuan, kesopan santunan dan
kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para
pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen antara lain
komunikasi (communication), kreadibilitas (credibility), keamanan (security),
kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).
e. Empati (emphay) yaitu memberikan perhatan yang tulus dan bersifat individual atau
pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan
konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengethuan
tentang pelanggan.

Kualitas Pelayanan Publik


Pemberian pelayanan yang baik merupakan salah satu upaya perusahaan
untuk menciptakan kepuasan bagi konsumennya. Jika konsumen merasa telah
mendapatkan pelayanan yang baik berarti perusahaan mampu memberikan
pelayanan yang baik. Demikian pula sebaliknya, pelayanan tidak dapat diuraikan
secara objektif seperti sebuah produk, melainkan merupakan interaksi sosial
dengan subjektivitas yang lebih tergantung pada nilai, parasaan dan perilaku.
Pelayanan yang berkualitas itu tidak hanya ditentukan oleh pihak yang
melayani, tetapi juga pihak yang ingin dipuaskan. Dan yang menjadi prinsipprinsip layanan yang berkualitas menurut H.A.S. Moenir (2002:205) antara lain :
a. Proses dan prosedur harus ditetapkan lebih awal.
b. Proses dan prosedur itu harus diketahui oleh semua pihak yang terlibat.
c. Disiplin bagi pelaksanaan untuk mentaati proses dan prosedur
d. Perlu peninjauan proses dan prosedur oleh pimpinan, sewaktu-waktu dapat
dirubah apabila perlu.
e. Perlu menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembang budaya
organisasi untuk menciptakan kualitas layanan.
f. Kualitas berarti memenuhi keinginan, kebutuhan dan selera konsumen.
g. Setiap orang dalam organisasi merupakan partner dengan orang lainnya.

Penyelenggaraan Pelayanan Publik


Kegiatan pelayanan publik diselenggarakan oleh instansi pemerintah yang
merupakan sebutan kolektif meliputi satuan kerja atau satuan orang kementrian,
departemen, lembaga, pemerintahan non-departemen, dan instansi pemerintah
lainnya, baik pusat maupun daerah termasuk Badan Usaha Milik Daerah.
Sedangakan yang berperan sebagai penerima pelayanan publik adalah orang,
masyarakat, instansi pemerintah dan badan hukum.
Dalam pasal 14 UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
menyatakan penyelenggaran pelayanan publik memiliki beberapa hak sebagai
berikut :
a. Memberikan pelayanan tanpa dihambat pihak lain yang bukan tugasnya
b. Melakukan kerjasama
c. Mempunyai anggaran pembiayaan penyelenggaraan pelayanan publik
d. Melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai
dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan publik, dan
e. Menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.

Faktor Pendukung Pelayanan


Pelayan umum kepeda masyarakat akan dapat berjalan sebagaimana yang
diharapkan, apabila faktor-faktor pendukungnya cukup memadai serta dapat
difungsikan secara berhasil guna dan berdaya guna. Pada proses pelayanan
terdapat faktor penting, dan setiap faktor mempunyai peranan yang berbeda-beda
tetapi saling berpengaruh dan secara bersama-sama akan mewujudkan
pelaksanaan pelayanan yang baik.
H.A.S Moenir (2002:88) berpendapat ada enam faktor pendukung
pelayanan, anatara lain :
a. Faktor kesadaran
Faktor kesadaran ini mengarah pada keadaan jiwa seseorang yang
merupakan titik temu dari beberapa pertimbangan sehingga diperoleh suatu
keyakinan, ketenangan, ketetapan hati dan keseimbangan jiwa.
b. Faktor aturan
Aturan sebagai perangkat penting dalam segala tindakan pekerjaan
seseorang. Oleh karena itu, setiap aturan secara langsung ataupun tidak langsung
akan sangat berpengaruh.
c. Faktor organisasi
Faktor organisasi tidak hanya terdiri dari susunan organisasi tetapi lebih
banyak pada pengaturan mekanisme kerja.
d. Faktor pendapatan
Faktor pendapatan yang diterima oleh seseorang merupakan imbalan atas
tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan orang lain. Pendapatan dalam bentuk
uang, iuran atau fasilitas dalam jaka waktu tertentu.
e. Faktor kemampuan
Faktor kemampuan merupakan titik ukur untuk mengetahui sejauh mana
pegawai dapat melakukan suatu pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau
jasa sesuai dengan apa yang diharapkan.
f. Faktor sarana pelayanan
Faktor sarana yang dimaksud yaitu segala jenis peralatan, perlengkapan
kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat pendukung utama dalam
mempercepat pelaksanaan penyelesaian pekerjaan.

Unsur–unsur Pelayanan


Suatu proses kegiatan pelayanan terdapat beberapa faktor atau unsur yang
saling mendukung jalannya kegiatan. Menurut H.A.S Moenir (2002:8) yang
menjadi unsur-unsur dalam pelayanan adalah :
a. Sistem, prosedur, dan metode.
Dalam pelayanan perlu adanya informasi, prosedur dan metode yang
mendukung kelancaran dalam memberikan pelayanan.
b. Personil
Personil lebih ditekankan pada perilaku aparatur dalam pelayanan.
Aparatur pemerintah selaku personil pelayanan harus profesional, disiplin dan
terbuka terhadap kritik dari pelanggan atau masyarakat.
c. Sarana dan prasarana
Dalam pelayanan diperlukan peralatan dan ruang kerja serta fasilitas
pelayanan. Misalnya seperti ruang tamu, tempat parkir yang memadai dan
sebagainya.
d. Masyarakat sebagai pelanggan
Dalam pelayananya, masyarakat selaku pelanggan sangatlah heterogen
yaitu tingkat pendidikannya maupun perilakunya

Standar Pelayanan Publik


Penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan
dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan.
Penyusunan standar pelayanan dilakukan dengan pedoman tertentu yang diatur
lebih lanjut dalam UU No. 25 tahun 2009. Adapun komponen standar pelayanan
sekurang-kurangnya meliputi :
a. Dasar hukum
b. Persyaratan
c. Sistem, mekanisme dan prosedur
d. Jangka waktu penyelesaian
e. Biaya/ tarif
f. Produk pelayanan
g. Sarana, prasarana atau fasilitas
h. Kompetensi pelaksanaan
i. Pengawasan internal
j. Penanganan pengaduan, saran dan masukan
k. Jumlah pelaksana
l. Jaminan pelayanan yang memberikan kepastian pelayanan dilaksanakan
sesuai dengan standar pelayanan.
m. Jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan dalam bentuk komitmen
untuk memberikan rasa aman, bebas dari bahaya dan resiko keraguraguan.
n. Evaluasi kinerja pelaksana

Asas Pelayanan Publik


Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan pengguna jasa,
penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi asas-asas pelayanan. asas-asas
penyelenggaraan pelayanan publik diatur dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor
25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang dikutip oleh Eny Kusdarini
(2011:190) yakni yang terdiri dari 12 asas :
a. Asas kepentingan umum
b. Asas kepastian hukum
c. Asas kesamaan hak
d. Keseimbangan hak dan kewajiban
e. Asas keprofesionalan
f. Asas partisipasif
g. Asas persamaan perlakuan/tindak deskriminatif
h. Asas keterbukaan
i. Asas akuntabilitas
j. Asas fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan
k. Asas ketepatan waktu
l. Asas kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.

Pelayanan Publik


Pengertian pelayanan publik telah didefinisikan oleh banyak pakar. Salah
satunya dikemukan oleh Agus Dwiyanto (2006:136) yang mendefisinikan
pelayanan publik sebagai serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi
publik untuk memenuhi kebutuhan warga pengguna. Pengguna yang dimaksudkan
disini adalah warga negara yang membutuhkan pelayanan publik, seperti
pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), akta kelahiran, akta nikah, dan
sebagainya.
Berdasarkan Undang Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik, Pelayanan publik diartikan segala bentuk kegiatan dalam rangka pengaturan, pembinaan, bimbingan, penyediaan fasilitas, jasa dan lainnya yang
dilaksanakan oleh aparatur pemerintah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan
kepada masyarakat sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Publik


Istilah publik berasal dari bahasa inggris dengan kata “public” yang
berarti umum, masyarakat ataupun negara. Menurut Litjan Poltak Sinambella, dkk
(2011:5) Kata publik sebenarnya sudah diterima menjadi bahasa Indonesia baku
menjadi publik yang berarti umum, orang banyak atau ramai. Sedangkan Menurut
Inu Kencana Syafiie, dkk (1999:18) arti dari kata publik itu sendiri adalah
sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap
dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang mereka
miliki.

Pelayanan


Pelayanan merupakan salah satu ujung tombak dari upaya pemuasan
pelanggan dan sudah merupakan keharusan yang wajib dioptimalkan baik oleh
individu maupun organisasi, karena dari bentuk pelayanan yang diberikan
tercermin kualitas individu atau organisasi yang memberikan pelayanan.
Menurut Hardiyansah (2011:11) “Pelayanan dapat diartikan sebagai
aktivitas yang diberikan untuk membantu, menyiapkan, dan mengurus baik itu
berupa barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lain”. Pendapat lain mengenai
pelayanan juga dikemukakan oleh Gronross (dalam Ratminto dan Atik Septi
Winarsih, 2006:2) bahwa Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian
aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai
akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang
disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk pemberi
pelayanan untuk memecahkan permasalahan konsumen/ pelanggan.

Customer Satification Index


Secara umum kepuasan atau ketidak puasan konsumen merupakan hasil dari adanya
perbedaan-perbedaan antara harapan konsumen dengan kinerja yang dirasakan oleh konsumen
tersebut (Rangkuti,2002). Dari beragam definisi kepuasan konsumen yang telah diteliti dan
didefinisikan oleh para ahli pemasaran, dapat disimpulkan bahwa kepuasan konsumen merupakan
suatu tanggapan perilaku konsumen berupa evaluasi purna beli terhadap suatu barang atau jasa
yang dirasakannya (kinerja produk) dibandingkan dengan harapan konsumen. Kepuasan adalah
perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau
kesan terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-harapannya. Indeks kepuasan
digunakan untuk mengukur sejauh mana pelanggan puas atas pelayanan yang didapatkan. Terdapat
beberapa manfaat dari index kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Hasil pengukuran selalu dijadikan sebagai acuan untuk menentukan sasaran di tahun-tahun
    yang akan datang.
  2. Indeks diperlukan karena proses pengukuran kepuasan pelanggan yang bersifat kontinyu.
  3. Indeks diperlukan juga untuk melakukan benchmarking antara tingkat kepuasan pelanggan
    suatu perusahaan dan tingkat kepuasan pelanggan dari pelanggan pesaing

Klasifikasi Jasa


Lovelock (2007;12) membagi klasifikasi jasa menjadi tujuh kriteria, yaitu:
1.Segmen Pasar
Berdasarkan segmen pasar, jasa dibedakan menjadi jasa kepada konsumen akhir seperti
Taksi, Asuransi jiwa, Pendidikan. dan Jasa kepada konsumen organisasional seperti jasa
akuntasni dan perpajakan, atau jasa konsultasi.

  1. Tingkat berkewujudan (Tangibility)
    Klasifikasi ini berhubungan dengan tingkat keterlibatan produk fisik dan konsumen.
    Klasifikasi ini dibedakan menjadi, Rented Goods Service, Owned Good Service, dan Non
    Goods Service.
    3.Keterampilan Penyedia Jasa
    Berdasarkan kriteria ini, jasa terdiri atas profesional service (seperti konsultan manajemen,
    konsultan hukum dan konsultan pajak) serta non profesional (seperti sopit taksi dna
    penjaga malam).
    4.Tujuan Organisasi Jasa
    Berdasarkan klasifikasi ini jasa dibagi menjadi commercial service atau profit
    service (seperti bank dan penerbangan), serta Non-Profit (seperti sekola, yayasan, panti
    asuhan dan museum).
    5.Regulasi
    Dalam klasifikasi ini, jasa dibedakan menjadi regulated service (Seperti pialang, angkutan
    umum dan perbankan) dan non-regulated (Seperti catering dan pengecatan rumah).
    6.Tingkat Intensitas karyawan
    Berdasarkan tingkatan ini, klasifikasi jasa dibedakan menjadi equipment-based
    service (seperti cuci mobil otomatis, ATM) dan People based service (seperti satpan, jasa
    akuntasni dan konsultan hukum).
    7.Tingkat Kontak Penyedia Jasa dan Pelanggan
    Pada klasifikasi ini jasa dibedakn menjadi high-contact service (seperti bank,
    dokter) dan low-contact service (seperti bioskop)

Kualitas Pelayanan Jasa


Menurut Wykof dalam Ferikasari (2009), kualitas jasa adalah tingkat keunggulan yang diharapkan
dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Karl
Albrcht dalam Ferikasari (2009) mengemukakan bahwa pelayanan kualitas mendasarkan
pendekatannya pada dua konsep, yaitu :
a. Service Triangle
Suatu model interaktif manajemen pelayanan yang menghubungkan antara perusahaan
dengan para pelanggannya. Model tersebut terdiri dari tiga elemen dengan pelanggan
sebagai titik fokus, yaitu :

  1. Strategi pelayanan
  2. Sumber daya manusia yang memberikan pelayanan
  3. Sistem pelayanan
    b. Total Quality Service
    Pelayanan mutu terpadu adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan
    yang berkualitas kepada orang yang berkepentingan dengan pelayanan (stakeholders),
    yaitu pelanggan, pegawai dan pemilik. Pelayanan mutu terpadu memiliki lima elemen
    penting yang saling terkait, yaitu:
  4. Market and customer research
  5. Strategy formulation
  6. Education
  7. Process Improvement
  8. Assessment

Kualitas Jasa


Kualitas jasa jauh lebih sukar didefinisikan, dijabarkan, dan diukur bila dibandingkan dengan
kualitas barang. Bila ukuran kualitas dan pengendalian kualitas telah lama ada untuk barangbarang berwujud (tangible goods), maka untuk jasa berbagai upaya telah dan sedang
dikembangkan untuk merumuskan ukuran-ukuran semacam itu. Pada dasarnya, definisi “kualitas
jasa berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan
penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan (Tjiptono, 2000 : 51).” Wyckof (dalam
Lovelock, 1998) dalam Tjiptono, (2000:52) Kualitas jasa merupakan tingkat kesempurnaan yang
diharapkan dan pengendalian atas kesempurnaan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Disisi lain, definisi dari kualitas jasa yaitu menurut Lupiyoadi (2014:212) kualitas produk (jasa)
adalah sejauh mana produk (jasa) memenuhi spesifikasi spesifikasinya. Menurut ISO9000 dalam
Lupiyoadi (2014:212) “Kualitas adalah “degree to which a set of inherent characteristics fulfils
requirements” (derajat yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan).
Persyaratan dalam hal ini adalah: “need or expectation that is stated, generally implied or
abligatory” (yaitu, kebutuhan atau harapan yang dinyatakan, biasanya tersirat atau wajib). Jadi,
kualitas sebagaimana yang diinterpretasikan ISO9000 merupakan perpaduan antara sifat dan
karakteristik yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan kebutuhan
pelanggan. Menurut Parasuraman (1998) dalam Lupiyoadi (2014:216) kualitas jasa dapat
didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas
layanan yang mereka terima. Berdasarkan uraian, dapat disimpulkan bahwa kualitas jasa suatu titik
focus yang diupayakan dalam suatu produk atau pelayanan untuk dapat memenuhi keinginan dan
kepuasan pelanggan dalam memenuhi kebutuhannya

Karakteristik Jasa


Menurut Tjiptono (2000:15-18) menyebutkan karakteristik pokok pada jasa sebagai berikut:
a. Tidak berwujud (Intangibility)
Jasa berbeda dengan barang. Jasa bersifat intangible, artinya tidak dapat dilihat, dirasa, diraba,
dicium, atau didengar sebelum dibeli. Konsep intangible ini sendiri memiliki dua pengertian
yaitu: a. Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa. b. Sesuatu yang tidak mudah
didefinisikan, diformulasikan, atau dipahami secara rohaniah.
b. Tidak terpisahkan (Inseparability)
Jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan dari produk yang telah dihasilkan.
Karakteristik ini disebut juga inseparability (tidak dapat dipisahkan) mengingat pada
umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. Dalam hubungan penyedia jasa
dan pelanggan ini, effektivitas individu yang menyampaikan jasa merupakan unsur penting.
c. Bervariasi (Variability)
Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan nonstandardized out-put, artinya banyak
variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada siapa, kapan, dan di mana jasa tersebut
dihasilkan.
d. Mudah Lenyap/tidak tahan lama (Perishability)
Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Dengan demikian
apabila suatu jasa tidak digunakan, maka jasa tersebut akan berlalu begitu saja

Jasa


Banyak para pakar pemasaran jasa yang telah mendefinisikan pengertian jasa. Adapun pengertian
jasa menurut para pakar sebagai berikut: Menurut Kotler dalam Lupiyoadi (2014:7) “Jasa adalah
setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada
dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan perpindahan kepemilikan apapun. Produksi jasa
mungkin berkaitan dengan produk fisik atau tidak.” Selanjutnya, (Zethaml dan Bitner : 1996)
dalam Lupioyadi (2014:7) memberikan batasan tentang jasa sebagai berikut “Service is all
economic activities whose output is not a physical product or construction is generally consumed
at that time it is produced, and provides added value in forms (such as convenience, amusement,
comfort or health). “Jasa merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya bukan berbentuk
produk fisik atau konstruksi, yang umumnya dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan serta
memberikan nilai tambah (misalnya kenyamanan, hiburan, kesenangan, atau kesehatan)
konsumen.”
Sedangkan menurut Mursid (1993:116), “Jasa adalah kegiatan yang dapat diidentifikasikan
secara tersendiri, pada hakikatnya bersifat tidak teraba, untuk memenuhi kebutuhan dan tidak
harus terikat pada penjualan produk atau jasa lain. Beberapa pengertian tersebut memberikan
kesimpulan bahwa Jasa adalah kegiatan ekonomi dengan hasil keluaran yang tidak berwujud yang
ditawarkan dari penyedia jasa yaitu perusahaan kepada pengguna jasa atau konsumen

Indikator Kepuasan Pelanggan


Saat ini kepuasan pelanggan menjadi fokus perhatian oleh hampir semua pihak,
baik pemerintah, pelaku bisnis, pelanggan dan sebagainya. Hal ini disebabkan semakin
baiknya pemahaman mereka atas konsep kepuasan pelanggan sebagai strategi untuk
memenangkan persaingan di dunia bisnis. Kepuasan pelanggan merupakan hal yang
penting bagi penyelenggara jasa, karena pelanggan akan menyebarluaskan rasa puasnya
kepada calon pelanggan, sehingga akan menaikkan reputasi pemberi jasa.
Menurut Tjiptono (2014:101) indikator pembentuk kepuasan konsumen terdiri
dari:
1) Kesesuaian harapan
Merupakan tingkat kesesuaian antara kinerja jasa yang diharapkan oleh
konsumen dengan yang dirasakan oleh konsumen.
2) Minat berkunjung kembali
Merupakan kesediaan konsumen untuk berkunjung kembali atau
melakukan pemakaian ulang terhadap jasa terkait.
3) Kesediaan merekomendasikan
Merupakan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan jasa yang telah
dirasakan kepada teman dan keluarga.

Dimensi Kepuasan Pelanggan


Hal yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan dapat dilihat dari ukuran
atau dimensi kepuasan pelanggan menurut Kotler & Keller (2015) sebagai berikut:
a. Tetap setia
Pelanggan yang terpuaskan cenderung akan menjadi setia atau loyal.
Pelanggan yang puas terhadap produk yang dikonsumsinya akan mempunyai
kecenderungan untuk membeli ulang dari produsen yang sama.
b. Membeli produk yang ditawarkan
Keinginan untuk membeli produk atau makanan lain yang ditawarkan
karena adanya keinginan untuk mengulang pengalaman yang baik dan menghindari
pengalaman yang buruk.
c. Merekomendasikan produk
Kepuasan merupakan faktor yang mendorong adanya komunikasi dari
mulut ke mulut (Word of Mouth Communication) yang bersifat positif. Hal ini dapat
berupa rekomendasi kepada calon pelanggan yang lain dan mengatakan hal-hal baik
mengenai produk dan perusahaan yang menjual produk tersebut.
d. Bersedia membayar lebih
Pelanggan cenderung menggunakan harga sebagai patokan kepuasan.
Ketika harga lebih tinggi, pelanggan cenderung berfikir kualitas menjadi lebih
tinggi juga.
e. Memberi masukan
Walaupun kepuasan sudah tercapai, pelanggan selalu menginginkan yang
lebih lagi. Maka pelanggan akan memberikan masukan atau saran agar keinginan
mereka dapat tercapai.

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Menurut Windasuri dan Susanti (2017:64), “kepuasan pelanggan adalah suatu
tanggapan emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau
jasa”. Menurut Cadotte dalam Tjiptono (2012:311), “kepuasan pelanggan adalah
perasaan yang timbul setelah mengevaluasi pengalaman pemakaian produk”. menurut
Kotler (2014:150) ialah Perasaan senang atau kecewa yang muncul setelah
membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil)
yang diharapkan.

Indikator Kualitas Layanan


Menurut Tjiptono (2014:282) mengemukakan indikator kualitas yang paling
sering dijadikan acuan adalah:
1) Reliabilitas (keandalan)
Yakni kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera,
akurat, dan memuaskan. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti
ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan,
sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi.
2) Responsivitas (daya tanggap)
Suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat
(responsif) dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi yang jelas.
Membiarkan pelanggan menunggu persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan.
3) Assurance (jaminan)
Mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya
yang dimiliki para karyawan; bebas dari bahaya fisik, risiko atau keragu-raguan. Hal
ini meliputi beberapa komponen antara lain: komunikasi (communication),
kredibilitas (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan
santun (courtesy).
4) Emphaty (empati)
Meliputi kemudahan dalam menjalin hubungan, komunikasi yang efektif,
perhatian personal, dan pemahaman atas kebutuhan individual para pelanggan.
Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang
pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu
pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.
5) Tangible (bukti fisik)
Meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan, dan sarana komunikasi.
Contoh: gedung, gudang, dan lain-lain perlengkapan dan
peralatan yang digunakan (teknologi), serta penampilan pegawainya

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Kotler dan Keller (2016:442), terdapat lima dimensi dari kualitas
layanan, yaitu:
a. Reliability (Kehandalan), yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan layanan
yang dijanjikan yang dapat diandalkan dan akurat.
b. Tangibles (Bukti Fisik), yaitu penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana
komunikasi serta penampilan dari karyawan tersebut.
c. Responsiveness (Kepekaan), yaitu kesediaan untuk membantu pelanggan dan
memberikan layanan yang cepat.
d. Assurance (Jaminan), yaitu pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
dari karyawan untuk menyampaikan rasa percaya dan percaya diri.
e. Empathy (Empati), yaitu perhatian, perhatian khusus yang diberikan kepada
pelanggan

Pengertian Kualitas Layanan


Menurut Tjiptono (2014:266) bahwa “kualitas merupakan suatu kondisi dinamis
yang berpengaruh dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi
atau melebihi harapan”. Pemahaman ini menegaskan bahwa kualitas bukan hanya
menekankan pada aspek akhir yaitu produk dan jasa tetapi juga menyangkut kualitas
manusia, kualitas proses dan kualitas lingkungan.
Kualitas layanan, menurut Lewis dan Booms dalam Tjiptono, (2014:271), yaitu
“ukuran seberapa baik tingkat pelayanan yang diberikan, serta sesuai dengan ekspektasi
pelanggan”. Artinya bahwa kualitas pelayanan bisa diwujudkan melalui pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi
harapan pelanggan.
Menurut Kasmir (2017: 47) “kualitas pelayanan adalah tindakan atau perbuatan
seseorang atau suatu organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan, sesama
karyawan, dan juga pimpinan”. Rusydi (2017: 39) berpendapat bahwa “kualitas
pelayanan adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan terbaik yang
bermutu dibandingkan dengan pesaingnya”.

Indikator kualitas produk


Daya saing produk berupa nilai tambah produk yang sesuai harapan pelanggan
menjadi bagian keunggulan bersaing setiap perusahaan. Strategi bersaing dan keunggulan
bersaing dapat dicapai dengan membangun dan memberikan pelayanan yang memiliki nilai
tambah sesuai kebutuhan dan preferensi pelanggan. Untuk menentukan produk yang
berkualitas dan tidak berkualitas, maka perlu dibuat suatu acuan yang berupa indikator.
Indikator tersebut dibuat untuk mengukur bagaimana suatu produk dikatakan berkualitas.
Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:329), terdapat enam elemen kualitas produk
dan hal ini dijadikan sebagai indikator kualitas produk diantaranya yaitu:
1) Kinerja
Kinerja berkaitan langsung dengan bagaimana suatu produk dapat menjalankan
fungsinya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
2) Reliabilitas
Reliabilitas merupakan daya tahan produk selama dikomsumsi.
3) Fitur
Fitur merupakan fungsi-fungsi sekunder yang ditambahkan pada suatu produk,
misalnya fitur kendala jauh (remote control) pada televisi.
4) Keawetan (durability)
Merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkan suatu pengukuran
terhadap siklus produk, baik secara teknis maupun waktu.
5) Konsistensi
Menunjukkan seberapa jauh produk bisa memenuhi standar atau spesifik
tertentu.
6) Desain
Merupakan aspek emosional untuk mempengaruhi kepuasan pelanggan
sehingga desain kemasan ataupun bentuk produk akan turut mempengaruhi persepsi
kualitas produk tersebut

Tujuan kualitas produk


Menurut Aisah (2015:10) adapun tujuan kualitas produk adalah:
a. Mengusahakan agar barang hasil produksi dapat mencapai standar yang telah
ditetapkan.
b. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.
c. Mengusahakan agar biaya desain dari produksi tertentu menjadi sekecil mungkin.
d. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin

Dimensi Kualitas Produk


Persepsi kualitas produk bisa digunakan oleh produsen sebagai kriteria
segmentasi untuk mengidentifikasi kelompok pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pelanggan dengan persepsi yang berbeda kualitas (rendah, sedang, tinggi) berbeda
pula dalam tingkat kepuasan dan niat pembelian. Dengan demikian segmentasi pasar
digunakan untuk mencapai tujuan pemasaran dan merespon tantangan dari para pesaing.
Sartika dan Basriani (2018:85) mengemukakan spesifikasi dari dimensi kualitas
produk yang relevan dengan pelanggan yang dikelompokkan dalam enam dimensi yaitu:
a. Performance
Dimensi ini menyangkut karakteristik sejauh mana produk dapat berfungsi
sebagaimana fungsi utama produk tersebut. Hal yang paling penting bagi pelanggan
adalah apakah kualitas produk menggambarkan keadaan yang sebenarnya atau
apakah cara pelayanan diberikan dengan cara yang benar.
b. Range ond type of features
Dimensi ini menyangkut kelengkapan fitur-fitur tambahan suatu produk
selain punya fungsi utama juga dilengkapi dengan fungsi-fungsi lain yang bersifat
komplemen. Kemampuan atau keistimewaan yang dimiliki produk dan pelayanan
seperti manfaat dan kegunaan produk jika akan digunakan.
c. Reliability and durability
Kehandalan produk dalam penggunaan secara normal dan berapa lama
produk dapat digunakan hingga perbaikan diperlukan. Reliability merupakan dimensi
ini menyangkut kemungkinan tingkat kegagalan pemakaian. Durability merupakan
dimensi ini berkaitan dengan seberapa lama produk dapat terus digunakan selama
jangka waktu tertentu.
d. Maintainability and serviceability
Kemudahan untuk pengoperasian produk dan kemudahan perbaikan maupun
ketersedian komponen pengganti. Dimensi ini menjelaskan sejauh mana kemudahan
produk untuk dapat dilakukan dengan perawatan sendiri oleh penggunanya.
e. Sensory characteristics
Penampilan, corak, rasa, daya tarik, bau, selera, dan beberapa faktor lainnya
mungkin menjadi aspek penting dalam kualitas. Dimensi ini menjelaskan bagaimana
tampilan produk agar dapat menarik perhatian pelanggan.
f. Etchical profile and image
Kualitas adalah bagian terbesar dari kesan pelanggan terhadap produk dan
pelayanan. Pada dimensi ini menjelaskan bagaimana persepsi pelanggan tersebut
berkaitan dengan nama besar atau reputasi perusahaan, atau merek

Pengertian Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Keller (2016:156) kualitas produk merupakan salah satu
kunci persaingan diantara pelaku usaha yang ditawarkan kepada konsumen. Kualitas
produk sangat penting untuk meningkatkan kepuasan pada pelanggan. Kualitas produk
merupakan suatu produk dan jasa yang melalui beberapa tahapan dengan
memperhitungkan nilai suatu produk dan jasa tanpa adanya kekurangan sedikitpun nilai
produk dan jasa sesuai harapan tinggi dari pelanggan.
Menurut Gultom (2017:84) menyatakan bahwa dalam membeli suatu produk
konsumen selalu berharap agar barang yang dibelinya dapat memuaskan segala keinginan
dan kebutuhannya. Untuk itu perusahaan harus dapat memahami keinginan pelanggan,
sehingga perusahaan dapat menciptakan produk yang sesuai dengan harapan pelanggan.
Kualitas produk yang baik merupakan harapan pelanggan yang harus dipenuhi oleh
perusahaan, karena kualitas produk yang baik merupakan kunci perkembangan
produktivitas suatu perusahaan.
Menurut Sangadji (2013:189) menyatakan bahwa kualitas merupakan produk
yang mampu mencapai tingkat kualitas yang sesuai dengan fungsi penggunaannya.
Menurut Abdullah (2016:159) menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan
produk untuk melaksanakan fungsinya.

Konsep Pelayanan Publik


Pelayanan publik diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan orang yang
dilayani, orang-orang yang berkepentingan dengan organisasi ini, masyarakat, atau
organisasi lain, atau pemenuhan kebutuhan orang yang dilayani, masyarakat, atau
organisasi lain, sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dan prosedur yang
telah ada. Tujuannya adalah memberikan kepuasan yang akan diberikan.
Menurut Kasmir (dalam Rahmadana, 2020:159) Ciri-ciri pelayanan publik
yang baik memiliki unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Tersedianya karyawan/staff yang baik
  2. Tersedianya sarana dan prasarana yang baik
  3. Bertanggung jawab kepada pelanggan sejak awal hingga akhir
  4. Mampu melayani secara cepat dan tepat
  5. Mampu berkomunikasi
  6. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi
  7. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik
  8. Berusaha memahami kebutuhan pelanggan
  9. Mampu memberikan kepercayaan kepada pelanggan
    Konsep pelayanan publik berhubungan dengan kualitas yang disampaikan
    oleh Zeithaml,Pasuraman,Berry (1990) pada Kamaruddin Sellang (2019:56) bahwa
    Indikator untuk mengetahui kualias pelayanan yang dirasakan secara nyata oleh
    konsumen, yaitu:
  10. Tangibles, yaitu kualitas pelayanan yang berupa sarana fisik perkatoran,
    kompueterisasi administrasi, ruang tunggu, tempat informasi
  11. Reliability, yaitu kemampuan dan keandalan untuk menyediakan pelayanan yang
    terpercaya.
  12. Responsiveness, yaitu kesanggupan untuk membantu dan menyediakan pelayanan
    secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap keinginan konsumen.
  13. Assurance, yaitu kemampuan dan keramahan serta sopan santun pegawai dalam
    meyakinkan kepercayaan konsumen.
  14. Emphaty, yaitu sikap tegas tetapi penuh perhatian dari pegawai terhadap
    konsumen.
    Dengan kata lain, baik tidaknya kualitas pelayanan yang diberikan oleh suatu
    pemasok tergantung pada persepsi konsumen terhadap pelayanan yang diberikan.
    Pengamatan ini menunjukkan adanya interaksi yang kuat antara “kepuasan
    konsumen” dan “kualitas pelayanan”.

Faktor adanya pelayanan publik dan kualitas pelayanannya


Adanya pelayanan publik dalam administrasi publik dipengaruhi oleh
sejumlah faktor yang mencakup prinsip-prinsip dasar pemerintahan dan tuntutan
masyarakat. Kualitas pelayanan publik juga ada beberapa faktor yang
mempengaruhi. Menurut Flora Han (2000: 88) dalam E-jurnal “Pengaruh Kualitas
Layanan Terhadap Kepuasan Pelanggan Dan Loyalitas Pelanggan” Kualitas
layanan (Service Quality) merupakan harapan pelanggan terhadap layanan
dipengaruhi, secara eksternal, oleh komunikasi dari mulut ke mulut dan secara
internal oleh pelanggan kebutuhan pribadi dan pengalaman masa lalu. Persepsi
pelanggan akan kualitas layanan tergantung pada persepsi kinerja layanan aktual
dibandingkan dengan harapan akan kinerja layanan yang seharusnya. Beberapa
faktor utama yang mempengaruhi adanya kualitas pelayanan publik dalam
administrasi publik meliputi:

  1. Prinsip Demokrasi:
    Prinsip demokrasi menempatkan pelayanan publik sebagai sarana untuk
    mewujudkan kehendak dan kepentingan masyarakat. Pemerintah dijalankan
    dengan dasar keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan
    penyediaan layanan yang mencerminkan kebutuhan dan aspirasi rakyat.
  2. Kepentingan Umum:
    Pelayanan publik diarahkan untuk memenuhi kepentingan umum dan
    kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Ini mencakup penyediaan layanan
    kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan layanan publik lainnya yang mendukung
    kesejahteraan masyarakat.
  3. Prinsip Hukum Yang Berlaku:
    Pelayanan publik harus sesuai dengan hukum dan perundang-undangan
    yang berlaku. Prinsip hukum atau dalam bahasa asing Rule of Law menjamin
    bahwa setiap tindakan pemerintah harus didasarkan pada hukum dan tidak boleh
    melanggar hak-hak warga negara.
  4. Akuntabilitas:
    Akuntabilitas adalah prinsip penting dalam pelayanan publik. Pemerintah
    dan instansi publik harus bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan mereka
    kepada masyarakat. Ini mencakup transparansi dalam pengelolaan sumber daya
    dan penyediaan informasi kepada publik.
  5. Efisiensi dan Efektivitas:
    Pemerintah harus menyelenggarakan pelayanan publik dengan efisien dan
    efektif. Penggunaan sumber daya yang baik, manajemen yang efisien, dan
    pencapaian hasil yang positif adalah faktor-faktor kunci dalam memberikan
    pelayanan yang baik kepada masyarakat.
  6. Partisipasi Masyarakat:
    Adanya pelayanan publik juga tergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
    Pemerintah dapat melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan
    dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan pelayanan.
  7. Perkembangan Teknologi:
    Kemajuan teknologi memberikan dampak signifikan pada penyelenggaraan
    pelayanan publik. Penggunaan teknologi informasi dapat meningkatkan
    aksesibilitas, efisiensi, dan transparansi dalam memberikan layanan kepada
    masyarakat.
  8. Tuntutan Global:
    Globalisasi mempengaruhi cara pemerintah menyelenggarakan pelayanan
    publik. Standar internasional dan tuntutan global juga dapat memengaruhi praktik
    pelayanan publik di suatu negara.
  9. Tuntutan Masyarakat:
    Tuntutan masyarakat yang semakin beragam mendorong pemerintah untuk
    menyediakan pelayanan yang lebih baik dan lebih inovatif. Adanya mekanisme
    umpan balik dari masyarakat membantu menyesuaikan dan meningkatkan
    pelayanan yang disediakan

Pengertian Publik


Pengertian Publik menurut Fredericson (dalam Maulidah, 2014:53-55),
dijabarkan dalam beberapa perspektif, sebagai berikut:

  1. Publik diartikan dalam suatu kelompok kepentingan yang dipahami bahwa
    “Publik” yaitu sebagai kelompok kepentingan yang dikembangan oleh ilmuwan
    politik. Kepentingan (Interest) dan kebutuhan dari unsur publuk dapat disalurkan
    dalam bentuk suatu kelompok penting.
  2. Publik adalah pihak yang diasumsikan telah diwakili oleh wakilnya yaitu yang
    duduk di lembaga-lembaga perwakilan. Kelemahan ini adalah kenyataan bahwa
    polisitsi tdak mampu melibatkan masyarakat dalam menyuarakan kepentingan
    publik, politisi tidak pernah melibatkan masyarakat dalam merumsukan suatu
    kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah atau suatu
    kepentingan publik.
  3. Publik mempunyai unsur pelangga ata menerima pelayanan publik “customer”.
    Pelayanan Publik diselenggarakan oleh birokrasi publik. Menurut Lipsky (2021)
    Publik adalah aktor yang penting dalam melaksanakan kebijakan publik dan
    berinteraksi dengan masyarakat dan dilayani.
  4. Publik sebagai warganegara yang dapat dipahami sebagai orang yang tidak hanya
    mewakili diri sendiri individual) namun juga untuk kepentingan publik.
    Sementara Public dari bahasa inggris memiliki variasi arti dalam bahasa
    indonesia, yaitu; 1). Umum, 2). Masyarakat, 3). Negara. Public dalam pengertian
    umum atau masyarakat mempunyai istilah lainnya. Istilah publik dalam pelayanan
    publik, baik dalam sejarah perkembangannya maupun dalam konteks kemunculan
    dan penerapannya dalam manajemen publik itu luas.
    Dalam perkembangan ilmu administrasi publik, konsep “publik”
    mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar pemerintahan/Government, seperti
    keluarga, rukun tetangga, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi, bahkan organisasi
    swasta.

Pengertian Pelayanan


Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pelayanan mempunyai tiga
makna yaitu; 1). Perihal cara melayani; 2). Usaha melayani kebutuhan orang lain
dengan imbalann (uang); 3). Kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual
beri barang atau jasa. Keterangan lain dalam KBBI adalah “Pelayanan adalah suatu
usaha untuk membantu menyiapkan atau megurus apa yang diperlukan oleh orang
lain.” Pelayanan berasal dari kata “Service” yang berarti “Melayani”.
Pengertian Pelayanan lainnya oleh para ahli yakni; “pelayanan adalah salah
satu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang tidak kasat mata dan tidak dapat diraba
dan dapat terjadi sebagai akibat dari adanya suatu interaksi antara unsur konsumen
yang membutuhkan pelayanan dengan unsur karyawan yang memberikan pelayanan
atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan oleh pemberi pelayanan yang
dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan dan memenuhi kebutuhan dari
konsumen/pelanggan.” (Gronos dalam Maulidah, 2014:39).
Pengertian dari pelayanan yang diberikan oleh Gronos di atas lebih
menekankan bahwa pelayanan merupakan serangkaian kegiatan yang pada
hakikatnya tidak berwujud dan melibatkan interaksi antara unsur konsumen sebagai
penerima pelayanan dengan unsur usaha sebagai bentuk penyelesaian masalah, Hal
tersebut adalah hasil dari sebuah proses mewakili berbagai format yang memenuhi
kebutuhan dari unsur konsumen atau pelanggan.

Pengertian Kualitas


Dalam E-Jurnal oleh Fery Siswandi, (2020:44) Memberikan pernyataan
menurut Kotler (2000: 438) Kualitas Layanan (Service Quality) adalah perbandingan
dari kualitas yang diterima pelanggan (perceived quality), yaitu setelah pelanggan
menerima layanan, dengan kualitas yang diharapkan (expected quality). Artinya jika
layanan yang diterima memiliki nilai lebih rendah dari pada layanan yang
diharapkan, maka keinginan (interest) pelanggan akan berkurang. Persepsi
pelanggan terhadap layanan yang kualitas terbentuk karena adanya perbedaan antara
layanan yang diterima dengan layanan yang diharapkan. Menurut Baines (2011:
503).

Kepuasan Pelanggan ( Customer Satisfaction )


Menurut Kotler & Keller (2012;150) menyebutkan bahwa kepuasan
pelanggan sebagai “The extent to which a product’s percieved performance
matches a buyer’s expectation”, artinya kepuasan pelanggan adalah tingkatan
di mana kinerja produk yang dirasakan memenuhi harapan pembeli. Apabila
kinerja produk di bawah harapan, pelanggan merasa tidak puas. Jika kinerja
memenuhi harapan maka pelanggan merasa puas. Jika kinerja melebihi
harapan, pelanggan mendapatkan kepuasan yang tinggi atau sangat senang.
Kualitas layanan yang dirasakan (perceived service quality) adalah
penilaian secara umum (overall) atau sikap terkait dengan superioritas suatu
layanan, sementara kepuasan memiliki hubungan dengan suatu transaksi
tertentu (Parasuraman, Zeithaml & Berry, 2013).
Menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry (2013:23), kepuasan pelanggan
dipengaruhi oleh service quality dengan atribut assurance dan reliability
sebagai atribut yang paling dominan. Menurut Zeithaml, V. A., & Bitner, M. J.
(2000;104) menyebutkan bahwa kepuasan sebagai evaluasi pelanggan terhadap
barang atau jasa dalam hubungannya dengan apakah barang atau jasa tersebut
dapat memenuhi kebutuhan dan harapannya. Kepuasan dapat juga
diasosiasikan dengan perasaan senang (pleasure) terhadap jasa. Selanjutnya
beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur variabel kepuasan
pelanggan adalah:

  1. Rasa Senang
    Rasa senang menunjukkan sejauh mana para konsumen tersebut
    merasa senang dengan pengalaman berbelanja.
  2. Kepuasan Terhadap Pelayanan
    Kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan oleh karyawan.
  3. Kepuasan Terhadap Sistem
    Kepuasan terhadap sisitem menunjukkan sejauh mana kecepatan
    dan kemudahan sistem pelayanan yang disediakan memberikan
    kepuasan kepada konsumennya
  4. Kepuasan Finansial
    Kepuasan Finansial adalah kepuasan secara finansial terhadap
    biaya – biaya yang dikeluarkan selama berbelanja.
    Sementara itu, menurut Johnson and Fornell (1991) menyatakan bahwa
    kepuasan konsumen merupakan hasil evaluasi menyeluruh konsumen atas
    kinerja produk yang dikonsumsinya.
    Sementara itu, menurut Lewis and Booms (1983,100) mendefinisikan
    bahwa service quality sebagai ukuran seberapa baik tingkat layanan
    disampaiakn sesuai harapan pelanggan, serta luas pelayanan yang berkualitas
    dan sikap keseluruhan atas keunggulan pelayanan.
    Lebih lanjut, Shin and Elliot (1998) menjelaskan bahwa kepuasan
    konsumen menciptakan retensi konsumen yang selanjutnya dapat
    meningkatkan keuntungan perusahaan, mengingat biaya untuk
    mempertahankan konsumen yang sudah ada lebih murah daripada biaya
    mencari konsumen baru. Dan kepuasan ini, tidak hanya mendorong
    kecenderungan perilaku konsumen untuk melakukan pembelian ulang, tetapi
    juga mendorong mereka untuk melakukan positive word of mouth (Reicheld
    and Sasser, 1990).

Kualitas Pelayanan ( Service Quality )


Service Quality adalah skala berbagai item secara singkat dengan
keandalan dan validitas baik yang dapat digunakan oleh pengecer untuk
memahami lebih baik pelayanan yang diharapkan dan dipersepsikan oleh
konsumen dan sebagai hasilnya meningkatkan pelayanan (Zeithaml, 2013:30).
Dalam mengevaluasi kepuasan terhadap pelayanan jasa yang bersifat
intangible, menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry (2013:23) konsumen
umumnya menggunakan beberapa atribut meliputi tangibles, reliability,
responsiveness, assurance, dan empathy.

Empathy, faktor ini menekankan perhatian karyawan dan perhatian
perusahaan untuk menyediakan kebutuhan pelanggan.
Masih menurut Zeithaml atribut – atribut tersebut secara positif dan
signifikan mempengaruhi minat membeli dan kepuasan konsumen. Menurut
Zeithaml atribut assurance dan reliability menjadi atribut yang sangat
mempengaruhi kepuasan konsumen, sedangkan atribut responsiveness dan
empathy menjadi atribut yang paling lemah mempengaruhi kepuasan
konsumen.
Menurut Kaura & Datta (2012:44) bahwa service quality dapat
meningkatkan customer satisfaction. Dalam hal ini atribut tangible berupa
karyawan memberikan kontribusi yang maksimum dalam mempengaruhi
kepuasan pelanggan. Hal ini dikarenakan interaksi interpersonal antara
konsumen dan karyawan dapat meningkatkan kepuasan konsumen

Tangibles, meliputi fasilitas fisik, peralatan, dan penampilan
personal.

Reliability, meliputi kemampuan untuk melakukan pelayanan yang
dijanjikan secara akurat dan handal.

Responsiveness, yaitu kesediaan untuk membantu pelanggan dan
memberikan pelayanan yang cepat.

Assurance, berhubungan dengan pengetahuan dan rasa hormat dari
karyawan serta kemampuan mereka untuk menginspirasi
kepercayaan dan rasa percaya diri.

Pengaruh Harga Terhadap Kepuasan


Berdasarkan teori Fandy Tjiptono (2015: 8) menyatakan bahwa harga
murah yang di dasari semata-mata aspek diskon tanpa dibarengi efisiensin biaya
berpotensi mengorbankan standar kualitas yang sejatinya merupakan hak
konsumen. Low cost tidak boleh diikuti pengurnagan kualitas. Dasar utama low
cost seharusnya adalah kemampuan menekan biaya dalam menghasilkan tingkat
kualitas yang setara. Dengan kata lain, murah tidak sama dengan murahan.
Masalah lain, dalam promosinya, banyak pemasar yang terjebak menekankan
“how cheap they are” dan bukannya “how valuable they are”. Konsumen
mungkin tertarik membeli sekali, namun jika ia tidak puas, jangan harap ia bakal
membeli lagi! Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan upaya
mempertahankan pelanggan dalam rangka menghadapi para produsen yang
berbiaya rendah. Banyak perusahaan yang mendapati bahwa cukup banyak
pelanggan yang sebenarnya bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas yang lebih baik.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan


Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa
perusahaan yang menerapkan program kepuasan pelanggan harus memiliki
produk yang berkualitas baik dan layanan prima. Berdasarkan teori dari John C
Mowen (2001: 89) menyatakan bahwa penilaian kinerja ini ternyata sangat erat
hubungan nya dengan penilaian kualitas produk. Konsumen membandingkan
persepsi mereka atas kualitas produk setelah menggunakan produk tersebut sesuai
dengan ekspektasi kinerja produk sebelum mereka membelinya. Tergantung pada
bagaimana kinerja aktial dibandingkan dengan kinerja yang diharapkan, mereka
akan mengalami emosi yang positif, negatif atau netral. Tanggapan emosional ini
bertindak sebagai masukan atau input dalam persepsi kepuasan/ ketidakpuasan
menyeluruh mereka.

Model Kepuasan Peserta


Menurut Fandy Tjiptono (2011: 298) menyatakan bahwa secara garis
besar, riset-riset kepuasan pelanggan didasarkan pada 3 teori utama yaitu
diantaranya:

  1. Contrast theory
    Bearsumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja produk aktual
    dengan ekspektasi pra pembelian. Apabila kinerja aktual lebih besar atau
    sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya, jika
    kinerja akttual lebih rendah dibandingkan ekpektasi, maka konsumen
    akan tidak puas.
  2. Assimilation theory
    Menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi positif dari
    ekspektasi konsumen pra pembelian. Karena proses diskonfirmasi secara
    psikologis tidak enak dilakukan, konsumen cenderung secara perseptual
    mendistorsi perbedaan antara ekspektasi dan kinerjanya ke arah
    ekspektasi awal. Dengan kata lain, penyimpangan dari ekspektasinya
    cenderung akan diterima oleh konsumen bersangkutan.
  3. Assimilation – contrast theory berpegangan bahwa terjadinya efek
    asimilasi (assimilation effect) atau efek kontras (contrast effect)
    merupakan fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang di
    harapkan dan kinerja aktual. Apabila kesenjangan nya besar, konsumen
    akan memperbesar gap tersebut, sehingga produk dipersepsikan jauh lebih
    bagus/buruk dibandingkan kenyataan nya (sebagaimana halnya contrast
    theory). Namun, jika kesenjangannya tidak terlampau besar, assimilation
    theory yang berlaku. Dengan kata lain, jika rentang deviasi yang bisa
    diterima (acceptable deviation) dilewati, maka kesenjangan antara
    ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan di situla efek kontras
    berlaku.

Pengertian Kepuasan Peserta


Menurut Kotler dan Armstrong dalam Eni Sudjiani (2019:127)
menyatakan bahwa “Customer satisfaction is the level on person’s fell stale
resultating fromcomparing a product’s perceived performance (or outcome) in
relation to the person’s expectation”. Yang artinya kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan konsumen dengan membandingkan harapan yang dimiliki
dengan realita atau hasil yang sebenarnya.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013:180) menyatakan bahwa kepuasan
atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja produk yang riil/ aktual
dengan kinerja produk yang di harapkan. Sedangkan menurut M Suyanto (2018:
76) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan senang atau kecewa dari
pelanggan yang berasal dari perbandingan antara kinerja produk dengan harapan.
Jika kinerja produk sesuai dengan harapan, pelanggan puas atau senang, dan
begitu juga sebaliknya.
Menurut Engel dalam Ali Hasan (2008: 56) menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan merupakan suatu konsep evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan
ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan. Sedangkan menurut
Menurut Fandy Tjiptono dalam Rida farida (2016: 39) menyatakan bahwa
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan
harapan.

Indikator Harga


Menurut Setyo Ferry (2012:5) dalam penelitiannya, indikator harga yang
digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih
murah, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat produk.
Sedangkan menurut Rinaldi Bursan dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2014:22) menyatakan dimensi atau indikator harga yaitu:

  1. Kesesuaian harga dengan manfaat produk
  2. Kesesuaian harga dengan pendapatan atau uang saku yang diterima
  3. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
    Sedangkan menurut Stanton dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4)
    menyatakan bahwa indikator atau dimensi harga yaitu:
  4. Keterjangkauan harga
  5. Perbandingan dengan merek lain
  6. Kesesuaian harga dengan kualitas

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Harga


Menurut Ali Hasan (2008: 304) menyatakan bahwa keputusan tentang
harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan
perusahaan. Berikut ini adalah faktor yang memengaruhi keputusan harga:

  1. Kondisi perekonomian
    Kondisi perekonomian (inflasi, resesi, tingkat suku bunga, anggaran),
    kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial sangat
    memengaruhi tingkat harga yang berlaku.
  2. Price elasticity
    Elastisitas permintaan akan memengaruhi penentuan harga dan volume
    yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume
    penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga,
    maka penjualan akan menurun, dan sebaliknya jika terjadi penurunan
    harga, volume penjualan akan meningkat.
  3. Non price factor
    Pembeli mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
    pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah
    produk demi harga yang lebih rendah.
  4. Tujuan perusahaan
    Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
    akan dicapai oleh perusahaan.
  5. Faktor legal dan etis
    Faktor legasl dan etis biasanya menjadi alat pengawasan ppemerintah
    dalam penentuan harga maksimum, minimum, atau harga tertentu. Serta
    praktik lainnya demi mencegah keberlangsungan dan mencegah dari pasar
    monopoli atau oligopoli.
  6. Bauran pemasaran
    Penetapan harga harus di koordinasikan dan saling mendukung dengan
    bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi dan promosi.
  7. Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal,
    sebab tingkat harga tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan
    mengakibatkan kerugian. Begitupun sebaliknya.
  8. Ukuran bisnis
    Manajemen perlu memutuskan siapa yang harus menetapkan harga, setiap
    perusahaan menetappkan harga menurut caranya masing-masing.
  9. Persaingan
    Kekuatan-kekuatan yang berpengaruh dalam persaingan setiap industri
    adalah persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
    pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru.
  10. Sifat pasar
    Setiap perusahaan perlu memahami kaitan sifat pasar dan permintaan yang
    dihadapinya, apakah termasuk persaingan sempurna, persaingan
    monopolistik, oligopoli, atau monopoli.

Pengertian Harga


Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 216) menyatakan bahwa harga
merupakan salah satu atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen, dan
manajer harus benar-benar menyadari peran tersebut dalam pembentukan sikap
konsumen. Pada kondisi tertentu konsumen sangat sensitif terhadap harga
sehingga harga suatu produk yang relatif tinggi dibandingkan para pesaingnya
dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan konsumen. Dalam kasus lain,
harga dapat digunakan sebagai indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil
produk yang berharga tinggi yang bisa dipandang positif oleh segmen pasar
tertentu.
Menurut M Suyanto (2018: 259) menyatakan bahwa harga merupakan
nilai yang akan membeli dalam jumlah yang terbatas, berat, atau ukuran lainnya
dari barang atau jasa. Sebagai pertimbangan yang diberikan dalam pertukaran
untuk transfer kepemilikan, harga membentuk dasar penting transaksi komersial.
Hal ini mungkin sudah ditetapkan oleh kontrak, meninggalkan yang ditentukan
oleh rumus yang disepakati di masa mendatang, atau diketahui atau di
negosiasikan selama transaksi antara pihak-pihak yang terlibat.
Kotler dan Keller (2012:25) harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalu tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
Menurut Ari Setyaningrum (2015: 128) menyatakan bahwa secara lebih luas dapat
dikatakan bahwa harga ialah jumlah semua nilai yang di berikan oleh konsumen
untuk memperoleh keuntungan atas kepemilikan atau penggunaan suatu produk
atau jasa. Secara historis, harga menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan
seorang pembeli. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong, dalam Erna
Susilawati dan Rahma Wahdiniwaty (2017: 17) menyatakan bahwa harga
merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih
jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakan sebuah produk
atau jasa.
Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2016: 218) menyatakan bahwa
penetapan harga merupakan salah satu keputusan terpenting dalam pemasaran.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan
pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsur lainnya
(produk, distribusi, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran).
Disamping itu, harga merupakan unsur bauran pemasaran yang bersifat fleksible,
artinya dapat diubah dengan cepat. Berbeda halnya dengan karakteristik produk
atau komitmen terhadap saluran distribusi. Kedua hal tersebut tidak dapat diubah
dengan mudah dan cepat, karena biasanya menyangkut keputusan jangka panjang.
Menurut Hasan dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4) menyatakan
bahwa harga adalah segala bentuk biaya moneter yang dikorbankan oleh
konsumen untuk memperoleh, memiliki, memanfaatkan sejumlah kombinasi dari
barang beserta pelayanan dari suatu produk.

Indikator Kualitas Produk


Indikator kualitas produk menurut Kotler and Armstrong dalam Shandy
Widjoyo Putro (2014:3) menyatakan kualitas produk sebagai “the ablity of a
product to perform its functions. Its includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kualitas produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsinya yaitu diantaranya:

  1. Keseluruhan Produk,
  2. Keandalan,
  3. Ketepatan,
  4. Kemudahan Pengoperasian,
  5. Atribut Bernilai Lainnya.
    Sedangkan menurut Vandaliza (2007) dalam Agus Irwanto (2013:86),
    kualitas terdiri dari dua elemen utama, yaitu: (1) sejauh mana produk dan jasa
    dapat memenuhi kebutuhan konsumen (2) sejauh mana produk atau jasa bebas
    dari adanya cacat atau kerusakan (deficiencies).

Konsep Produk


Menurut Fandy Tjiptono (2016: 176) menyatakan bahwa secara spesifik,
konsep produk terdiri atas 3 level yaitu:

  1. Core product, yakni semua manfaat pokok (core benefits) yang ditawarkan
    produk kepada konsumen. Manfaat merupakan hasil yang diterima
    konsumen dari penggunaan atau kepemilikan sebuha barang ataus
    jasa.Contohnya, manfaat pokok sebuah mobil adalah untuk transportasi
    dari satu tempat ke tempat lain.
  2. Actual product, yaitu produk fisik atau delievered service yang
    memberikan manfaat produk. Sebagai contoh, saat kita membeli tiket
    pesawat Air Asia menuju Kuala Lumpur, core product nya adalah time
    critical transport, sedangkan actual product nya berupa nama merek Air
    Asia, layout dan layanan terminal bandara, sistem booking dan fitur
    lainnya.
  3. Augmented product, yaitu actual product ditambah fitur-fitur pendukung
    lainnya, seperti garansi, fasilitas kredit, layan antar, instalasi, dan reparasi
    purna beli

Pengertian Kualitas Produk


Definisi kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong dalam Utari
Wijayati dan Rahma Wahdiniwaty (2016: 37) adalah “product quality is the
ability of a product to perform its function, it includes the product’s several
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes”. Artinya kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari produk, keandalan,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang lainnya.
Sedangkan menurut M Suyanto (2018: 214) menyatakan bahwa produk
konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat
yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi
pelanggan. Kualitas produk merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Menurut Hawkins (2010: 19)
menyatakan bahwa “a product quality is anything a consumer acquires or might
acquire to meet a perceived need. Consumer are generally buying need
satisfaction, not physical product attributes”. Yang artinya bahwa kualitas produk
merupakan sesuatu apapun yang diperoleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan yang dirasakan oleh konsumen. Pada umumnya konsumen
membeli karena ingin adanya kepuasan dalam produk tersebut, bukan hanya
atribut produk fisik saja. Sementara menurut John C Mowen (2001: 90)
menyatakan bahwa kualitas produk adalah evaluasi menyeluruh pelanggan atas
kebaikan kinerja barang atau jasa. Menurut Vincent dalam Jogi Morrison
Simanjutak dan Rahma Wahdiniwaty (2018: 195) menyatakan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas produk itu sendiri adalah kinerja, fitur,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, kemudahan servis, estetika,
dan kualitas yang dirasakan.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 189) menyatakan bahwa meskipun
kualitas produk mutlak harus ada, dalam pelaksanaannya faktor ini merupakan ciri
pembentuk citra produk yang paling sulit dijabarkan, pertama produk harus
mampu mencapai tingkat kualitas yang sesuai dengan fungsi penggunaannya yang
mana tidak perlu melebihi. Sedangkan menurut Nelly Nailatie Ma’arif (2008:
114) menyatakan bahwa “a product quality is a good that satisies the needs of the
consumer and is serving the objective of the existence of an organization. For a
business corporation, a product has to have value to be financially proftable. A
product is tangible in the nature”. Yang artinya suatu kualitas produk merupakan
barang yang memuaskan kebutuhan konsumen yang sesuai dengan tujuan dari
perusahaan. Untuk suatu bisnis, produk harus memiliki nilai yang menguntungkan
secara finansial dan berwujud.

Indikator Kualitas Pelayanan


Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017: 65) adalah sebagai berikut:

  1. Reliability, kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat
    diandalkan dan akurat.
  2. Responsiveness, kesediaan untuk membantu pelanggan dan
    memberikan layanan yang cepat.
  3. Assurances, pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
    mereka untuk menjamin mutu sehingga peserta percaya dan yakin.
  4. Empathy, perhatian individual terhadap pelanggan.
  5. Tangibles, penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
    Sementara menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013:
    100) menyatakan bahwa lima indikator kualitas jasa atau layanan adalah:
  6. Kendalan (reliability), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan
    yang dijanjikan dengan tepat (accurately) dan kemampuan untuk
    dipercaya (dependably), terutama memberikan jasa secara tepat waktu
    (on time), dengan cara yang sama sesuai dengan jadwal yang telah di
    janjikan, dan tanpa melakukan kesalahan.
  7. Daya tanggap (responsiveness), yaitu kemauan atau keinginan para
    karyawan untuk membantu memberikan jasa yang dibutuhkan
    konsumen.
  8. Jaminan (assurances), meliputi pengatahuan, kemampuan, keramahan,
    kesopanan, dan sifat dapat dipercaya dari kontak personal untuk
    menghilangkan sifat keragu-raguan konsumen dan membuat mereka
    merasa terbebas dari bahaya dan risiko.
  9. Empati, yang meliputi sikap kontak personal atau perusahaan untuk
    memahami kebutuhan dan kesulitasn konsumen dalam bentuk
    perhatian pribadimm dan kemudahan untuk melakukan komunikasi.
  10. Produk fisik (tangible), tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan
    saran komunikasi, dan lain-lain yang bisa dan harus ada dalam proses
    jasa.

Model Kualitas Jasa


Menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 101)
menyatakan bahwa model kualitas jasa di identifikasi lima gap yang
menyebabkan kegagalan penyampaian jasa. Kelima gap tersebut adalah:

  1. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, yaitu adanya
    peredaan antara penilaian pelayanan menurut pengguna jasa dan persepsi
    manajemen mengenai harapan pengguna jasa.
  2. Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan
    spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain karena tidak
    memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
    mengenai ketidaklayakan, tdak memadainya standardisasi tugas, dan tidak
    adanya penyusunan tujuan.
  3. Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (service
    delievery). Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor
    berikut:
    a) Ambiguitas pesan, yaitu sejauh mana pegawai dapat melakukan
    tugas sesuai dengan harapan manajer dan tetap bisa memuaskan
    pelanggan
    b) Konflik pesan, yaitu sejauh mana pegawai meyakini bahwa
    mereka tidak memuaskan semua pihak.
    c) Kesesuaian pegawai dengan tugas yang harus dikerjakannya.
    d) Kesesuaian teknologi yang digunakan pegawai.
    e) Sistem pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainay sistem
    penilaian dan sistem imbalan.
    f) Kontrol yang dirasakan (perceived control), yaittu sejauh mana
    pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk
    menentukan cara pelayanan.
    g) Kerja tim (team work), yaittu sejauh mana pegawai dan
    manajemen merumuskan tujuan untuk memuaskan pelanggan
    secara bersama-sama dan terpadu.
  4. Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Ekspektasi
    pelanggan atas kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan yang di
    buat oleh perusahaan mengenai komunikasi pemasaran.
  5. Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, yaitu adanya
    perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dan yang diharapkan oleh
    pelanggan. Jika keduanya terbukti sama, perusahaan akan memperoleh itra
    dan dampak positif.

Lima Perspektif Kualitas Pelayanan


Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.

  1. Transcendental Approach
    Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
    sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
    dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini
    menegaskan bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui
    pengallaman didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure).
    Misalkan produk atau jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa.
  2. Product based approach
    Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
    komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat
    diukur. Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor,
    kapasitas memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran
    dan berat yang berbeda-beda.
  3. User based approach
    Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
    orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang
    paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
    merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
    subyektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa setiap
    pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang
    berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
    dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau
    makanan manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya
    masing-masing.
  4. Manufacturing based approach
    Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktikpraktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
    sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
    requirement).
  5. Value based approach
    Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga
    (price). Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga,
    kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja
    terbaik atau yang sepadan dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam
    persepektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
    paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Contohnya, mobil
    ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil mobil mewah yang
    berkualitas

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Fandy Tjiptono (2017: 180) mendefinisikan kualitas pelayanan
atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman
dalam Arni Purwani dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan (persepsi)
pelanggan dengan Kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan.
Menurut Leon G Schiffman (2015: 139) menyatakan bahwa it is more
difficult for consumers to evaluate the quality of service than the quality of
products. This is true because of certain distinctive characteristic of service: they
are intangible, they are variable, they are pershable, and they are simultaneouly
produced and consumed. Yang artinya bahwa lebih sulit bagi konsumen untuk
mengevaluasi Kualitas pelayanan daripada kualitas produk. Ini benar karena
karakteristik khusus layanan tertentu: mereka tidak berwujud, mereka berupa
variabel, mereka mudah rusak karena harus mempertahankan reputasi, dan mereka
secara bersamaan diproduksi dan dikonsumsi.
Menurut Kotler dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 99) menyatakan
bahwa kualitas pelayanan atau jasa merupakan kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut Atep Adya Brata (2003:
36) menyatakan bahwa berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukuran nya bukan
hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak ditentukan
oleh pihak yang dilayani, karena mereka lah yang menikmati layanan sehingga
dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka dalam
memenuhi kepuasan nya.

Pengaruh Persepsi Harga Terhadap Kepuasan Pelanggan


Menurut (Rianto et al., 2022), persepsi harga mempunyai pengaruh positif
terhadap kepuasan pelanggan. Hal ini dikarenakan perlu mempertimbangkan
kebijakan penetapan harga agar disesuaikan dengan para kompetitor lainnya
terutama berorientasi dengan manfaaat yang dirasakan oleh pelanggan, agar
terciptanya kepuasan pelanggan yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan
penjualan perusahaan. Hal ini didukung oleh penelitian (Abdul Gofur, 2019) dan
(Putra Setiawan & Frianto, 2021) bahwa harga berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan pelanggan, hal itu dikarenakan semakin tingginya harga diikuti dengan
manfaat yang dirasakan akan memberikan kepuasan pelanggan.

Indikator Fasilitas


Menurut (Tauha, 2020) indikator dari fasilitas meliputi:

  1. Pertimbangan/perencanaan spasial.
    Menimbang tekstur, proporsi, warna dan mengkombinasikannya untuk
    menarik respon intelektual maupun emosionl dari konsumen.
  2. Perencanaan ruang.
    Meliputi mendesain arsitektur dan interior dalam ruangan, seperti
    menempatkan perlengkapan perabotan dalam ruangan, perencanaan sirkulasi
    udara dan sebagainya.
  3. Perlengkapan/perabotan.
    Perlengkapan ini memiliki fungsi sebagai perlatan yang dapat memberikan
    rasa nyaman, sebagai hiasan atau sebagai infrastruktur pendukung.
  4. Unsur pendukung.
    Eksistensi fasilitas utama tidaklah lengkap tanpa tersedianya fasilitas
    pendukung, seperti: toilet, parkiran, kantin, wifi gratis.
  5. Tata cahaya dan warna
    Tata cahaya yang dimaksud adalah warna jenis pewarnaan ruangan dan
    pengaturan pencahayaan sebagai aktivitas yang dilakukan dalam ruangan serta
    suasana yang diinginkan. Warna dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
    efesiensi, memberi kesan rileks, serta mengurangi tingkat kecelakaan. Warna yang
    dipergunakan untuk interior fasilitas jasa yang perlu dikaitkan efek dari warna
    yang dipilih.

Faktor-Faktor Fasilitas


Menurut (Suparyanto & Rosad, 2015) beberapa faktor yang berpengaruh
dalam desain fasilitas jasa adalah sebagai berikut :

  1. Biaya konstruksi dan operasi
    Jenis biaya ini dipengaruhi oleh desain fasilitas. Biaya operasi dipengaruhi
    oleh kebutuhan energi ruangan, misalnya berkaitan dengan perubahan suhu. Biaya
    kontruksi dipengaruhi oleh jumlah dan jenis bahan bangunan yang digunakan.
  2. Faktor estetis
    Fasilitas jasa yang menarik dan tertata rapi akan meningkatkan sikap
    positif dari pelanggan sebaliknya fasilitas jasa yang kurang menarik akan
    memunculkan sikap negatif dari pelanggan.
  3. Fleksibilitas
    Fleksibilitas desain sangat dibutuhkan jika volume permintaan sering
    mengalami fluktuasi dan jika spesifikasi jasa cepat berkembang, maka resiko
    keuangan relative besar.
  4. Ketersediaan tanah dan kebutuhan akan ruang
    Setiap perusahaan memerlukan lokasi fisik dalam mendirikan fasilitasnya.
  5. Masyarakat dan lingkungan
    sekitar Masyarakat dan lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar dan
    peranan penting terhadap perusahaan. Perusahaan yang tidak mempertimbangkan
    faktor ini keberlangsungan hidupnya akan terancam.
  6. Sifat dan tujuan
    Sifat suatu jasa seringkali menentukan berbagai syarat dalam desainnya.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut (Cahyono et al., 2020) mengemukakan terdapat lima indikator
kualitas pelayanan diantara lain:

  1. Keandalan (Reliability)
    Keandalan adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan
    sesuai yang dijanjikan, terpercaya, akurat serta konsisten.
  2. Ketanggapan (Responsiveness)
    Ketanggapan adalah suatu kemampuan untuk memberikan pelayanan ke
    pelanggan dengan cepat serta mendengar dan mengatasi keluhan pelanggan.
  3. Jaminan (Assurance)
    Jaminan adalah mengukur kemampuan dan kesopanan karyawan serta sifat
    yang dapat dipercaya yang dimiliki karyawan.
  4. Empati (Empathy)
    Empati adalah memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual
    atau pribadi yang diberikan kepada para konsumen dengan berupaya memahami
    keinginan konsumen.
  5. Berwujud (Tangibles)
    Berwujud adalah penampilan fasilitas fisik, peralatan yang baik yang
    digunakan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen.

Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan merupakan cara atau strategi yang diterapkan pada
perusahaan untuk lebih meningkatkan kepercayaan terhadap jasa yang diberikan
perusahaan (Permana, 2022). Mendefinisikan kualitas pelayanan atau kualitas jasa
sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai
dengan ekspektasi pelanggan. kualitas pelayanan yang diterima konsumen
dinyatakan besarnya perbedaan antara harapan dan keinginan konsumen dengan
tingkat persepsi mereka (Ramadhan, 2021). Sedangkan Menurut (Engkur, 2018)
Kualitas pelayanan yang berkualitas dan akan memberikan kepuasan pelanggan
yang akan memberikan dasar yang baik bagi pelanggan. Pada umumnya
pelanggan yang tidak puas akan menyampaikan pengalaman buruknya kepada
orang lain dan bisa dibayangkan betapa besarnya kerugian dari kegagalan
memuaskan pelanggan.

Indikator Persepsi Harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2016:78) indikator-indikator harga yang
dapat digunakan untuk mengukur dan meneliti kesesuaian harga di antaranya
adalah sebagai berikut.

  1. Keterjangkauan harga
    Konsumen dapat memperoleh harga yang ditetapkan oleh perusahaan.
    Produk sering kali memiliki banyak jenis dalam sebuah merek, harganya pun
    bervariasi, dari yang paling murah hingga yang paling mahal.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
    Harga sering digunakan sebagai indikator kualitas bagi konsumen yang
    sering memilih harga yang lebih tinggi antara dua barang karena melihat
    perbedaan kualitas. Jika harganya lebih tinggi, orang cenderung berpikir bahwa
    kualitasnya juga lebih baik.
  3. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Konsumen memutuskan untuk membeli suatu produk jika manfaat yang
    diterima lebih besar atau sama dengan yang dikeluarkan untuk mendapatkan
    produk tersebut.
  4. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
    Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
    lainnya. Dalam hal ini, rendahnya harga produk menjadi pertimbangan konsumen
    dalam membeli produk tersebut.

Faktor-Faktor Persepsi Harga


Menurut (Carmelita et al., 2017) faktor yang mempengaruhi harga
meliputi:

  1. Faktor internal
    Harga dipengaruhi oleh faktor internal seperti biaya, tujuan pemasaran,
    dan
    strategi dalam penjualan.
  2. Faktor eksternal
    Harga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti tawaran pesaing, biaya,
    serta permintaan pasar.

Persepsi Harga


Persepsi harga merupakan suatu nilai produk, karena akan berpengaruh
terhadap keuntungan produsen. Persepsi harga juga menjadi pertimbangan
konsumen untuk membeli, sehingga perlu pertimbangan khusus untuk
menentukan harga tersebut. Menurut (Lestari & Aprileny, 2020) Persepsi harga
adalah kecenderungan konsumen untuk membandingkan nilai suatu barang atau
jasa dengan keuntungan yang diperoleh konsumen tersebut. Sehingga persepsi
harga yang muncul dari individu dan perbedaan daya beli setiap orang membuat
beberapa konsumen sensitif terhadap harga.
Menurut (Paryanti2, 2022) Persepsi harga sebagai jumlah uang yang
ditagihkan untuk suatu produk atau sejumlah nilai yang dipertukarkan konsumen
untuk manfaat memiliki atau menggunakan produk.
Sedangkan menurut (Rahardjo & Yulianto, 2021) persepsi harga adalah
sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan memiliki dan
menggunakan produk atau jasa yang memungkinkan perusahaan mendapatkan
laba yang wajar dengan cara dibayar untuk mendapatkan nilai pelanggan yang
diciptakan.

Indikator Kepuasan pelanggan


Menurut (Nida Salma Fahriani & Intan Rike Febriyanti, 2022) terdapat
tujuh indikator kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Harga
    Harga merupakan bagian yang integral dari produk yang mencerminkan
    seberapa besar kualitas produk. Dasar penilaian terhadap harga meliputi besaran
    harga, kesesuaian dengan nilai jual produk, pilihan atau variasi harga terhadap
    produk.
  2. Promosi
    Promosi mengenai informasi produk dan jasa dilakukan dalam upaya
    mengkomunikasikan manfaat produk dan jasa tersebut kepada pelanggan sasaran.
  3. Lokasi
    Lokasi merupakan bagian atribut perusahaan yang berupa tempat
    perusahaan dan pelanggan. Penilaian terhadap atribut lokasi meliputi lokasi
    perusahaan, kecepatan, dan ketepatan transportasi.
  4. Fasilitas
    Fasilitas merupakan bagian dari atribut perusahaan yang berupa perantara
    guna mendukung kelancaran operasional perusahaan yang berhubungan dengan
    pelanggan.
  5. Suasana
    Suasana merupakan faktor pendukung, karena apabila perusahaan
    mengesankan maka pelanggan akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Dasar
    penilaian meliputi sirkulasi udara, kenyaman dan keamanan.
  6. Kesesuaian harapan
    Kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi disimpulkan berdasarkan
    kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan kinerja
    perusahaan yang sebenarnya.
  7. Minat berkunjung kembali
    Kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan apakah pelanggan ingin
    membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.
  8. Kesediaan merekomendasikan
    kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan apakah pelanggan akan
    merekomendasikan produk atau jasa tersebut kepada orang lain seperti, keluarga,
    teman, dan lainnya.

Faktor-Faktor Kepuasan Pelanggan


Berikut indikator kepuasan pelanggan menurut (Nasruddin & Nurchayati,
2019):

  1. Kualitas produk
    Pelanggan merasa puas apabila membeli dan menggunakan produk/jasa
    ternyata memiliki kualitas yang diinginkan.
  2. Harga
    Untuk pelanggan yang sensitif harga murah adalah sumber kepuasan yang
    penting karena mereka akan mendapatkan value of money yang tinggi. Bagi
    pelanggan yang tidak sensitif terhadap harga, komponen harga relatif tidak terlalu
    penting bagi mereka.
  3. Kualitas pelayanan
    Karyawan memberikan kinerja terbaiknya kinerja terbaiknya untuk
    memenuhi kepuasan pelanggan.
  4. Faktor emosional
    Rasa bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok
    penting dan sebagainya adalah contoh-contoh emosional yang mendasari
    kepuasan pelanggan.
  5. Biaya dan kemudahan
    Pelanggan akan semakin puas apabila relatif murah, mudah, nyaman, dan
    efisien dalam mendapatkan produk atau pelayanan.

Kepuasan Pelanggan


Menurut Kotler dan Keller dalam (Sesaria, 2020) kepuasan adalah
perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan
kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspetasi mereka. Apabila
kinerja gagal memenuhi ekspektasi, pelanggan akan tidak puas. Jika kinerja sesuai
dengan ekspektasi, pelanggan akan puas. Selain itu, apabila kinerja melebihi
ekspektasi, pelanggan akan sangat puas atau senang. Kepuasan pelanggan adalah
respon atau tanggapan pelanggan yang berupa perasaan ataupun penilaian
terhadap penggunaan produk dimana harapan dan kebutuhannya terpenuhi
(Sesaria, 2020).
Kepuasan pelanggan adalah kegiatan memenuhi kebutuhan dan
keinginan pelanggan, dengan terpenuhnya kebutuhan dan keinginan tersebut
muncul perasaan senang atau kecewa dari pelanggan tentang perbandingan
kinerja dirasakan dengan yang diharapkan. Hampir semua perusahaan
layanan berusahan untuk mencapai kepuasan pelanggan karena dapat
memberikan efek yang sangat besar bagi perusahaan itu sendiri seperti
kepercayaan dan loyalitas pelanggan (Riyanto & Tunjungsari, 2020).

Indikator Kualitas Pelayanan


Sebelumnya telah dijelaskan mengenai lima dimensi kualitas
pelayanan, yaitu tangibles, empathy, reliability, responsiveness, dan
assurance. Setiap dimensi ini memiliki indikator-indikator tersendiri.
Berikut Indikator didalam kualitas pelayanan menurut Zeithhaml,
Parasuraman & Berry yang dikutip dari (Anggraini & Alhempi, 2021):

  1. Indikator untuk dimensi tangible, diantaranya:
    a) Penampilan petugas dalam melayani pelanggan.
    b) Kenyamanan tempat penyedia pelayanan.
    c) Kemudahan dalam proses pelayanan.
    d) Kedisiplinan petugas/aparatur dalam melakukan pelayanan.
    e) Kemudahan akses pelanggan dalam permohonan pelayanan.
    f) Penggunaan alat bantu dalam proses pelayanan.
  2. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi reliability, yaitu:
    a) Kecermatan dalam melayani pelanggan.
    b) Satandar pelayanan yang jelas.
    c) Keahlian petugas dalam menggunakan alat bantu dalam
    proses pelayanan.
  3. Indikator pelayanan untuk dimensi responsiveness, terdiri dari:
    a) Merespon dengan baik pelanggan yang ingin mendapatkan
    pelayanan.
    b) Perusahaan melakukan pelayanan dengan cepat, tepat, dan
    cermat.
    c) Perusahaan melayani dalam waktu yang tepat.
    d) Semua keluhan pelanggan direspon oleh perusahaan.
  4. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi assurance,
    diantaranya:
    a) Petugas memberikan jaminan tepat waktu dalam pelayanan.
    b) Perusahaan memberikan jaminan biaya yang sesuai dengan
    pelayanan.
    c) Perusahaan memberikan jaminan legalitas.
  5. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi empathy,
    diantaranya:
    a) Mendahulukan kepentingan pelanggan.
    b) Petugas melayani dengan sikap ramah.
    c) Sopan satun petugas dalam melayani.
    d) Melayani dengan tidak diskriminatif membeda-bedakan.
    e) Menghargai setiap pelanggan

Dimensi Kualitas Pelayanan


Parasuraman mengemukakan, terdapat lima dimensi kualitas
pelayanan yang memberikan pengaruh terhadap kepuasan pelanggan, yaitu
(Lupiyoadi, 2018):

  1. Tangibles (bukti fisik), artinya kemampuan perusahaan dalam
    menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan
    kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat
    diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti
    nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini
    meliputi fasilitas fisik (contoh: gedung, gudang, dan lain-lain),
    perlengkapan dan perlatan yang digunakan (teknologi), serta
    penampilan pegawainya.
  2. Reliability (keandalan) adalah kemampuan perusahaan dalam
    memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara
    akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan
    pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan harus sama
    untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap simpatik, dan
    dengan akurasi yang tinggi.
  3. Responsiveness (daya tanggap), yaitu suatu kebijakan untuk
    membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif)
    dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi
    yang jelas. Membiarkan pelanggan menunggu menciptakan
    presepsi negatif dalam kualitas pelayanan.
  4. Assurance (kepastian), yaitu pengetahuan, kesopansantunan,
    dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan
    rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi
    komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas
    (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence),
    dan sopan santun (courtesy).
  5. Empathy (empati), yaitu memberikan perhatian yang tulus dan
    bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para
    pelanggan dengan berupaya memahami keinginan mereka. Hal
    ini mengharapkan bahwa suatu perusahaan memiliki pengertian
    dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan
    pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian
    yang nyaman bagi pelanggan.

Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono, kualitas pelayanan adalah suatu tingkat layanan
yang berhubungan dengan terpenuhinya harapan dan kebutuhan pelanggan
atau penggunanya. Artinya, pelayanan dikatakan berkualitas apabila
perusahaan atau lembaga tertentu mampu menyediakan produk dan jasa
(pelayanan) sesuai keinginan, kebutuhan, maupun harapan pelanggan atau
penggunanya. Kata “kualitas” mengandung banyak definisi dan makna
karena orang yang berbeda akan mengartikannya secara berlainan, seperti
kesesuaian dengan persyaratan atau tuntutan, kecocokan untuk pemakaian,
perbaikan berkelanjutan, bebas dari kerusakan atau cacat, pemenuhan
kebutuhan pelanggan, serta melakukan segala yang membahagiakan
(Armaniah, et al., 2019).
Kualitas pelayanan kesehatan yang baik dapat dilihat melalui kinerja
sumber daya manusia, kemudahan dalam mengakses, serta kelengkapan
fasilitas (Ananda, et al., 2023). Kualitas pelayanan harus diperhatikan oleh
setiap perusahaan dalam rangka menjaga kepuasan konsumen.

Anomali Musiman (Seasonal Anomaly)


1 January Effect
January Effect merupakan sebuah fenomena anomali
pasar yang terjadi ketika return pada bulan Januari lebih
tinggi dibanding bulan-bulan lainnya. January Effect
pertama kali diamati oleh Sidney B. Wachtel (1942) setelah
ia mencatat sejak tahun 1925, harga saham pada bulan
Januari meningkat. Teori ini menjelaskan dimana investor
cenderung menjual sahamnya pada akhir tahun untuk
mengamankan dana atau merealisasikan capital gain dan
juga mengurangi beban pajak (Tax Loss Selling), kemudian
di awal tahun (Januari), investor membeli kembali
sahamnya dan hal ini mengakibatkan harga saham tersebut
naik.
Menurut As’adah (2009:3) dikatakan bahwa January
Effect adalah sebuah fenomena yang terjadi terkait dengan
pergantian tahun, yaitu pada saat bulan Desember yang
menjadi tahun dimana pajak harus dibayarkan dan Januari
sebagai awal tahun pajak. Ada beberapa faktor yang
diasumsikan dapat mempengaruhi terjadinya fenomena
January Effet ini karena, yaitu adanya window dressing
dimana manajer keuangan menjual sahamnya yang
memiliki kinerja buruk dan membeli saham yang
kinerjanya baik, sehingga tercipta sentimen positif dan
calon investor menjadi tertarik, kemudian adanya tax loss
selling yaitu, ketika investor menjual sahamnya pada akhir
tahun (Desember) untuk mengurangi biaya beban pajak,
selanjutnya membeli kembali ketika awal tahun (Januari),
dan juga adanya small stock beta yaitu ketika return
perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar cenderung
rendah.
Menurut Sharpe (1995) dalam Deannes dan
Isynuwardhana (2015), menyebutkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi fenomena January Effect adalah
adanya hipotesis terkait dengan Tax Loss Selling, Window
Dressing, dan Small Stock’s Beta. Faktor-faktor tersebut
akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Tax Loss Selling
    Banyak pendapat dan beragam penjelasan yang
    mengatakan bahwa fenomena January Effect sangat
    berkaitan dengan hipotesis ini, hal ini dikarenakan
    investor ingin menjual sahamnya untuk mengurangi
    beban pajak. Menurut Chotigeat dan Pandey (2005) Tax
    Loss Selling adalah tindakan investor ketika melakukan
    penjualan saham yang dianggap nilainya akan turun,
    dimaksudkan untuk menghasilkan tax loss sebelum
    akhir tahun atau mengurangi jumlah pajak yang akan
    ditanggung.
  2. Window Dressing
    Menurut Sharpe dalam Subhan dkk. (2016)
    window dressing merupakan suatu tindakan yang
    dilakukan dengan menjual saham-saham yang dinilai
    memiliki kinerja kurang baik atau buruk pada akhir tahun.
    Tindakan ini hampir mirip dengan tax loss selling.
    Namun perbedaanya ialah, hal ini dilakukan oleh
    manajer keuangan atau manajer investasi untuk tujuan
    memperbagu atau mempercantik laporan kinerja
    portofolio yang akan dilaporkan, sehingga seolah-olah
    portofolio dari manajer keuangan tersebut terlihat baikbaik saja dan bagus.
    Menurut Choi dan Chhabria (2013) window
    dressing adalah suatu Praktik manajemen yang
    dilakukan oleh manajer investasi dengan menjual saham
    yang memiliki kinerja buruk untuk memperbaiki
    portofolio saham sebelum pelaporan dan membeli
    kembali saham yang dimiliki.
  3. Small Stock’s Beta
    Menurut Rogalski dan Tinic dalam Subhan dkk.
    (2016) saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil akan
    memiliki resiko yang lebih besar pada bulan Januari
    daripada pada bulan-bulan lainnya selain Januari. Bila
    hal tersebut benar maka saham kapitalisasi kecil tersebut
    akan memiliki rata-rata return yang relatif lebih tinggi
    pada bulan Januari dibandingkan dengan bulan-bulan
    lainnya. Satu studi yang dilakukan Rogalski dan Tinic
    (1986) menemukan bahwa beta saham perusahaan kecil
    cenderung naik di awal tahun. Ritter dan Cophra (1989)
    juga menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
    positif antara saham perusahaan kecil dan beta saham
    tersebut terhadap abnormal return.
    .2 The Day of the Week Effect
    The Day of the Week Effect atau efek hari
    perdagangan merupakan sebuah fenomena anomali pasar
    musiman yang terjadi ketika hari-hari perdagangan
    memberikan return yang berbeda, hari Senin memberikan
    return yang negatif sedangkan hari Jumat memberikan
    return positif Cross (1973). Menurut Damodaran dalam
    Iramani dan Mahdi (2006) fenomena ini merupakan
    fenomena dengan perbedaan return yang signifikan pada
    hari Senin dengan hari-hari lainnya selain hari Senin dalam
    seminggu pada hari perdagangan, dimana return yang
    signifikan negatif terjadi pada hari Senin, sedangkan return
    positif terjadi pada hari-hari selain hari Senin. French
    (1980) menemukan adanya rata-rata return pada hari Senin
    signifikan negatif selama 5 sub-periode 5 tahun di Standard
    and Poor Composite.
    Beberapa pendapat bermunculan terkait dengan
    fenomena The Day of the Week Effect, namun hal tersebut
    masih belum bisa dipastikan secara empiris. Seperti
    contohnya Lakonishok dan Levi (1982) menyatakan bahwa
    faktor yang menyebabkan fenomena The Day of the Week
    Effect disebabkan oleh penundaan prosedur dan cek kliring.
    Pendapat tersebut diteliti oleh Dyl et.al (1985) menyatakan
    bahwa prosedur dan cek kliring bukanlah sebagai faktor
    penentu utama dalam pola mingguan return saham.
    Akhirnya informasi dan psikologi yang dianggap sebagai
    faktor terjadinya fenomena The Day of the Week Effect
    yang mungkin bisa menjelaskan penyebabnya.
    3 Rogalski Effect
    Rogalski Effect adalah fenomena anomali pasar
    musiman dimana kejadiannya terjadi ketika return hari
    Senin yang biasanya negatif, hilang pada bulan-bulan
    tertentu. Rogalski (1984) menemukan adanya hubungan
    antara January Effect dan The Day of the Week Effect
    bahwa return hari Senin yang biasanya negatif, pada bulan
    Januari ini menghilang. Hal ini diakibatkan rata-rata return
    pada bulan Januari cenderung tinggi. Pengujian tersebut
    dilakukan oleh Rogalski dengan menggunakan data indeks
    rata-rata Dow Jones.
    Beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia
    terkait Rogalski Effect ditemukan bahwa bulan Januari
    bukanlah bulan dimana return pada hari Senin menjadi
    positif melainkan bulan April, menurut Cahyaningdyah
    (2005) dalam Satoto (2011) dalam penelitiannya
    menemukan adanya return yang lebih tinggi pada bulan
    Aparil dibanding bulan lainnya. Hal ini disebabkan emiten
    diharuskan untuk melaporkan Laporan Keuangan Tahunan
    paling lambat pada akhir bulan ketiga (Maret) setelah
    tanggal laporan keuangan tahunan dalam keputusan Ketua
    Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: KEP-36/PM/2003,
    penyampaian laporan ini memberikan informasi terhadap
    kondisi perusahaan dan cenderung memberi sentimen
    positif terhadap pasar, sehingga return pada bulan April
    cenderung lebih tinggi. Rata-rata banyak perusahaan di
    Indonesia menerapkan manajemen laba. Manajemen laba
    dilakukan dengan memanfaatkan asimetri informasi antara
    perusahaan dengan pihak luar yang berkepentingan
    terhadap perusahaan. Tujuan dari manajemen laba ini
    adalah pada kondisi tertentu likuiditas perusahaan menurun
    ataupun ketika kondisi keuangan yang lemah dan menurun,
    para manajer berusaha untuk menutupi kondisi yang
    sebenarnya terjadi di perusahaan, baik untuk kepentingan
    perusahaan ataupun kepentingan manajer. Adanya praktik
    manajemen laba ini menimbulkan sentimen positif pada
    pasar, karena pasar cenderung optimis terhadap
    perusahaan-perusahaan yang melaporkan kinerja keuangan
    yang baik. Dengan situasi seperti itu, maka pada bulan
    April, menjadi bulan dimana return sahamnya menjadi
    paling tinggi, dengan tingginya return saham maka, return
    negatif hari Senin pada bulan April menghilang.

Anomali Akuntansi (Accounting Anomaly)


1 P/E Ratio Effect
Sebuah anomali pasar saham dengan p/e ratio rendah
memiliki return yang lebih tinggi dibanding saham dengan
p/e ratio tinggi
.2 Earning Surprise
Saham dengan capaian earnings lebih tinggi dari
yang diperkirakan cenderung mengalami peningkatan
harga.
3 Price/Sales
Saham dengan rasio price/sales yang rendah
cenderung berkinerja lebih baik dibanding dengan saham
yang memiliki rasio price/sales yang tinggi.
2.5.3.4 Price/Book
Saham dengan rasio price/book yang rendah
cenderung berkinerja lebih baik dibanding dengan saham
yang memiliki rasio price/book yang tinggi.
24
5 Dividend Yield
Saham dengan yield-nya tinggi cenderung berkinerja
lebih baik dibanding dengan saham yang yield-nya rendah.
6 Earnings Momentum
Saham perusahaan yang tingkat pertumbuhan
earnings-nya meningkat cenderung berkinerja lebih baik
dibanding dengan saham perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan earnings-nya tidak meningkat.

Anomali Peristiwa (Event Anomaly)


1 Analysis Recommendation
Semakin banyak analis merekomendasikan untuk
membeli suatu saham semakin tinggi pula peluang harga
akan turun.
2 Insider Trading
Semakin banyak saham yang dibeli oleh insiders,
semakin tinggi kemungkinan harga akan naik.
3 Listing
Anomali ini terjadi ketika perusahaan telah
mengumumkan akan melakukan pencatatan saham di bursa
atau listing, harga sekuritas cenderung akan naik.

4 Value Line Rating Changes
Anomali ini terjadi ketukan value line menempatkan
rating perusahaan pada urutan tinggi, menyebabkan harga
sekuritas akan naik

Anomali Perusahaan (Firm Anomaly)


1 Size Effect
Size Effect adalah ketika Excess return atau
kelebihan return sesungguhnya terhadap return normal dari
perusahaan kecil cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi
dibanding perusahaan yang lebih besar
.2 Closed-end Mutual Funds Effect
Anomali ini adalah ketika Return pada close-end
funds yang dijual dengan potongan, memiliki nilai return
yang cenderung lebih tinggi.
3 Neglect Effect
Neglect Effect adalah ketika sebuah perusahaan yang
tidak diikuti oleh banyak analis, memiliki kecenderungan
return lebih tinggi dibanding dengan perusahaan yang
terdapat banyak analisis.
4 Institutional Holdings
Institutional Holdings adalah sebuah perusahaan
yang dimiliki oleh sedikit institusi memiliki kecenderungan
return yang lebih tinggi.

Anomali Pasar


Anomali pasar merupakan sebuah keganjilan di dalam pasar yang
terjadi dan tidak dapat dijelaskan latar belakang, proses, maupun arahnya
secara rasional. Jones (1981) menemukan adanya anomali pasar ketika meneliti
tentang konsep hipotesis pasar efisien. Jones (1981) mendefinisikan anomali
sebagai teknik-teknik atau strategi-strategi yang berlawanan dengan konsep
pasar modal yang efisien. Menurut Gumanti (2012) anomali pasar ini sebagai
peristiwa (event) yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh abnormal return.
Hasil yang ditimbulkan dari anomali pasar ini berlawanan dari konsep teori
pasar efisien yang telah dipaparkan sebelumnya. Hal ini menjadi banyak
pertanyaan bagi para peneliti dan ahli di bidang keuangan. Anomali yang telah
ditemukan terdapat hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya terjadi jika teori
pasar efisien ini benar-benar ada. Dengan kata lain, akibat dari adanya anomali
pasar ini dapat digunakan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan
melalui abnormal return.
Levi (1996) dalam Alteza (2007) menggolongkan anomali pasar
menjadi empat jenis kelompok yang berdasarkan karakteristik kejadian atau
peristiwanya yaitu: anomali musiman (seasonal anomaly), anomali peristiwa
(event anomaly), dan anomali akuntansi (accounting anomaly)

Efisiensi Pasar


Dari berbagaimacam literatur keuangan, hipotesis pasar efisien
(Efficiency Market Hipothesis) sudah dikonfirmasi oleh sejumlah peneliti.
Awal mula dari hipotesis pasar efisien ini bermula ketika Fama
memperkenalkannya pada tahun 1970 dalam jurnalnya yang berjudul Efficient
Capital Market: A Review of Theory and Empirical Work. Fama (1970)
mengatakan pasar dikatakan efisien ketika harga yang dicerminkan
sepenuhnya sesuai dengan informasi yang tersedia dan sebagai implikasinya
harga akan bereaksi seketika tanpa adanya bias terhadap informasi baru. Fama
juga menklasifikasikan hipotesis pasar efisien menjadi tiga bentuk berdasarkan
informasi yang ada. Tiga bentuk tersebut adalah:
1 Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form)
Pasar efisien dalam bentuk yang lemah, yaitu apabila hargaharga dari saham atau sekuritas mencerminkan secara penuh (fully
reflect) informasi masa lalu. Bentuk efisiensi pasar secara lemah ini
sangat berkaitan dengan teori langkah acak (random walk theory)
yang menyatakan bahwa data masa lalu tidak dapat dihubungkan
dengan nilai yang sekarang. Dengan begini nilai-nilai di masa lalu
tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekarang.
implikasinya bagi investor adalah mereka tidak bisa menggunakan
informasi masa lalu untuk memperoleh abnormal return dan analisis
teknikal tidak ada gunanya
2 Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form)
Pasar efisien berbentuk setengah kuat yaitu, harga yang
tercerminkan sepenuhnya merupakan harga dari semua informasi
yang dipublikasikan (all publicy available information),
implikasinya bagi investor tidak dapat menggunakan informasi yang
dipublikasikan untuk memperoleh abnormal return dan analisis
fundamental tidak ada gunanya.
3 Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)
Pasar efisien berbentuk sempurna yaitu, harga yang
tercerminkan sepenuhnyna merupakan semua informasi baik yang
dipublikasikan maupun informasi privat perusahaan, implikasinya
bagi investor tidak dapat menggunakan informasi publik maupun
privat dalam memperoleh abnormal return dan insider information
tidak ada manfaatnya
Ketiga bentuk efisien ini berupa tingkat kumulatif yang artinya bersifat
menambah. Hubungan dari ketiga bentuk pasar efisien ini ialah, pasar dengan
bentuk kuat memuat seluruh informasi dari pasar berbentuk setengah kuat dan
bentuk lemah. Dan berlaku sebaliknya, pasar dengan bentuk lemah tidak
mencakup pasar setengah kuat maupun pasar dengan bentuk kuat.

Return Saham


Return saham merupakan tingkat pengembalian saham yang diperoleh
dari perbandingan atau selisih dari harga beli dengan harga jual dari
kepemilikan suatu saham. Menurut Mahmud M. Hanafi dan Abdul Halim,
return saham disebut juga sebagai pendapatan saham yang diperoleh dari
perubahan nilai harga saham pada periode t dengan t-1. Dengan demikian
semakin tinggi perubahan harga saham, semakin tinggi return saham yang
dihasilkan.
Sedangkan menurut Tandellin, return saham merupakan salah satu
faktor kenapa investor ingin melakukan investasi dan sebagai dari imbalan atas
resiko yang didapat dari investor atas investasi yang dilakukannya. Return
investasi memiliki 2 dua komponen utama, yaitu :
16

  1. Yield, atau sering disebut Dividen merupakan tingkat keuntungan
    yang diberikan oleh perusahaan kepada investor. Komponen ini
    mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara
    periodic dari suatu investasi. Yield hanya berupa angka nol (0) dan
    positif (+).
  2. Capital gain (loss), merupakan komponen return yang mencerminkan
    kenaikan (penurunan) harga suatu keuntungan (kerugian) bagi
    investor. Capital gain bisa berupa angka minus (-), nol (0) dan positif
    (+).
    Menurut Jogiyanto (2003) return saham dibagi menjadi dua,
    yaitu :
    a. Actual return, merupakan return yang telah terjadi atau sudah
    diterima oleh investor.
    b. Expected return, merupakan return yang diharapkan oleh
    investor dan belum terjadi.

Indeks LQ-45


Indeks LQ-45 secara sederhana dapat diartikan sebagai 45 indeks
saham yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, diambil dari namanya LQ
(liquid) dan 45 sebagai jumlah sahamnya, yang berada di BEI (Bursa Efek
Indonesia). Indeks LQ-45 pertama kali diluncurkan pada tanggal 1 Februari
1997 dengan ukuran utamanya likuiditas transaksi adalah nilai transaksi di
pasar reguler. Dengan perkembangan pasar dan untuk mempertajam kriteria
likuiditas, pada review Januari 2005, jumlah hari perdagangan dan frekuensi
transaksi dimasukan sebagai ukuran likuiditas. Sehingga untuk masuk kedalam
Indeks LQ-45 ini perlu dilakukan seleksi melalui beberapa kriteria pemilihan
sebagai berikut:

  1. Bursa Efek memilih 60 saham biasa dengan nilai rata-rata transaksi
    tertinggi di pasar reguler dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
  2. Dari 60 saham tadi, dipilih 45 saham terbaik dengan
    mempertimbangkan nilai transaksi, kapitalisasi pasar, jumlah hari
    diperdagangkan dan frekuensi transaski di pasar reguler dalam kurun
    waktu 12 bulan terakhir.
  3. Saham yang masuk perhitungan indeks LQ45 harus masuk juga dalam
    perhitungan IHSG.
  4. Saham sudah tercatat setidaknya 3 bulan di BEI.
  5. Saham harus memiliki kondisi keuangan yang sehat, prospek
    pertumbuhan, dan memiliki frekuensi perdagangan dan transaksi yang
    tinggi di pasar reguler.
    Setiap 6 bulan Indeks LQ-45 akan di review atau ditinjau oleh BEI
    (Bursa Efek Indonesia) terhadap pergerakan saham yang ada di dalam daftar.
    Apabila terdapat saham yang tidak memenuhi kriteria yang sudah disebutkan
    diatas, maka saham tersebut akan diganti dengan saham yang lebih relevan
    pada periode pemilihan saham berikutnya. Daftar ini akan diganti setiap 6
    bulan sekali pada bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya.
    Untuk menjamin keadilan dalam pemilihannya, BEI (Bursa Efek
    Indonesia) meminta pertimbangan dari pihak lain seperti OJK (Otoritas Jasa
    Keuangan), institusi pendidikan, dan konsultan saham independen yang
    profesional.

Investasi dan Pasar Modal


Pasar modal adalah sebuah pasar dari berbagai macam instrumen
keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang,
ekuitas (saham), instrumen derivatif, maupun instrumen lainnya. Pasar modal
merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan ataupun institusi untuk
memperoleh dana dari investor hal ini dipaparkan oleh Darmadji dan
Fakhrudin (2006). Menurut Undang-Undang Pasar Modal No.8 Tahun 1995
pasar modal diartikan sebagai sebuah kegiatan yang bersangkutan dengan
penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan
dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan
dengan efek. Sedangkan menurut Martalena dan Malinda (2011:2) pasar modal
terdiri dari kata pasar dan modal, jadi pasar modal dapat didefinisikan sebagai
tempat bertemunya permintaan dan penawaran terhadap modal; baik bentuk
ekuitas maupun jangka panjang. Dari definisi-definisi yang telah dipaparkan
diatas maka dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah sebuah pasar dengan
berbagai macam instrumen yang diperjualbelikan seperti saham, obligasi,
instrumen derivatif, dan semacamnya serta pasar modal sebagai fasilitator
untuk mempertemuka pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dengan
pihak yang membutuhkan dana (emiten).
Menurut Hadi (2013:14) manfaat dari pasar modal sendiri ialah sebagai
wadah yang terorganisir berdasarkan Undang-undang untuk mempertemukan
antara investor sebagai pihak yang surplus dana untuk berinvestasi dalam
instrumen keuangan jangka panjang, pasar modal memiliki manfaat antara lain:

  1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha
    sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal.
  2. Alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan
    resiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan
    diversifikasi investasi.
  3. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan
    mempunyai prospek, keterbukaan dan profesionalisme, menciptakan
    iklim berusaha yang sehat.
  4. Menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik.
  5. Memberikan akses control social.
  6. Menyediakan leading indicator bagi trend ekonomi negara.
    Investasi Menurut Horne (1981) investasi merupakan kegiatan yang
    dilangsungkan ialah dengan memanfaatkan kas pada masa sekarang ini, dengan
    tujuan untuk mendapatkan hasil barang di masa yang akan datang. Dari
    definisi-definisi yang sudah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
    investasi merupakan sebuah pengorbanan pada masa sekarang demi mendapat
    keuntungan di masa yang akan datang. Kaitan investasi dengan pasar modal
    adalah sebagai fasilitas atau wadah dimana para investor yang ingin
    menanamkan modal dengan cara membeli instrumen dalam pasar modal
    dengan harapan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang.
    Pasar modal dapat menjadi pilihan alternatif bagi investor yang ingin
    melakukan investasi. Di dalam pasar modal terdapat banyak perusahaan
    dengan kondisi keuangan dan kinerja yang berbeda-beda yang dapat dipilih
    oleh investor. Perusahaan-perusahaan yang ada di pasar modal dan menjual
    instrumen-instrumennya di pasar modal harus sudah memenuhi syarat yang
    ditentukan oleh Badan Pengawas Modal atau Bapepam sehingga dapat menjual
    instrumennya kedalam pasar modal dan menjadi perusahaan go public.
    Investor masuk ke dalam pasar modal dengan tujuan utama
    memperoleh keuntungan (return). Untuk memperoleh return yang maksimal,
    investor perlu memperhatikan teknik mereka dalam menganalisis saham,
    analisis saham dilakukan dengan analisis fundamental dan analisis teknikal.
    Tanndelilin (2010:392), “Analisis Teknikal adalah teknik untuk memprediksi
    arah pergerakan harga saham dan indikator pasar saham lainnya berdasarkan
    pada data pasar historis seperti informasi harga saham dan volume.” Sedangkan
    menurut Tanndelilin (2010:338) Analisis Fundamental melakukan analisis
    terhadap faktor-faktor makro ekonomi yang mempengaruhi kinerja seluruh
    perusahaan-perusahan, kemudian dilanjutkan dengan analisis industri, dan
    pada akhirnya dilakukan analisis terhadap perusahaan yang mengeluarkan
    sekuritas bersangkutan untuk menilai apakah sekuritas yang dikeluarkannya
    menguntungkan atau merugikan bagi investor

Matplotib


Matplotlib merupakan librari yang digunakan sebagai luaran berupa
visualisasi data. Visualisasi tersebut tersaji dalam grafik yang dapat
mempermudah dalam membaca data secara jangka panjang. Sesuai dengan
Namanya yaitu plot, maka grafik yang dihasilkan didasarkan pada plot yang
diinginkan. Plot tersebut dituliskan pada suatu tabel yang berisikan banyak
data. Grafik yang dihasilkan dapat disatukan bersama dengan data lain
sehingga akan terlihat perbedaan nilai pada setiap kolom yang di ini
sialisasikan untuk dituangkan ke dalam suatu grafik

Python


Python merupakan bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Guido
van Rossum pada 1990 di Scitchting Mathematisch Centrum, Amsterdam,
Belanda. Python termasuk bahasa pemrograman yang berorientasi objek dan
dikategorikan sebagai bahasa pemrograman tingkat tinggi. Python juga
memiliki library yang siap digunakan untuk pengolahan data seperti NumPy,
Pandas (Python, 2021). Python adalah bahasa pemrograman interpretatif
yang serbaguna. Dibandingkan dengan bahasa pemrograman lain yang
cenderung sulit dibaca dan dipahami, Python menekankan pada keterbacaan
kode sehingga lebih mudah dipahami dari segi sintaks. Ini membuat Python
sangat cocok untuk pemula maupun bagi mereka yang sudah menguasai
bahasa pemrograman lain. Python pertama kali muncul pada tahun 1991 dan
dirancang oleh Guido van Rossum. Saat ini, pengembangan Python dilakukan
oleh Python Software Foundation. Python dapat digunakan di hampir semua
sistem operasi, termasuk berbagai distribusi Linux yang umumnya telah
menyertakan Python di dalamny

Word Cloud


Word cloud adalah sebuah visualisasi yang menampilkan kata-kata dari teks
yang diberikan. Kata-kata yang muncul lebih sering dalam teks tersebut akan
ditampilkan dengan ukuran font yang lebih besar. Tujuan dari word cloud
adalah untuk menyoroti kata-kata yang penting atau sering muncul dalam teks
yang dianalisis. Word cloud dapat digunakan untuk mengevaluasi isi teks,
mengidentifikasi topik utama, atau menemukan ide-ide baru. Fitur word
cloud tersedia di berbagai perangkat lunak analisis data seperti R Studio.
Dengan menggunakan word cloud, frekuensi kata-kata dapat disajikan secara
visual dengan gambaran yang menarik dan informatif. Ukuran kata-kata
dalam word cloud akan disesuaikan dengan frekuensi penggunaannya,
sehingga kata-kata yang lebih sering muncul akan ditampilkan dengan ukuran
yang lebih besar dalam visualisasi word cloud

Labeling Data


Pemberian label adalah proses mengelompokkan data ke dalam beberapa
kelas yang akan digunakan oleh penulis. Dalam konteks analisis sentimen,
kelas yang digunakan adalah positif, netral, dan negatif. Pada tahap ini, data
akan diberikan label berdasarkan evaluasi penulis terhadap sentimen yang
terkandung dalam data tersebut, apakah bersifat positif, netral, atau negatif

Analisis Sentimen


Analisis sentimen merupakan metode otomatis untuk mengolah data teks
dengan tujuan memperoleh pemahaman yang akurat. Tujuan dari analisis
sentimen adalah untuk mengidentifikasi pendapat dan opini masyarakat
terhadap topik atau isu tertentu yang terdapat dalam data teks yang tidak
terstruktur. Saat ini, analisis sentimen banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari karena pentingnya diskusi dalam pengambilan keputusan terkait
produk [6]. Analisis sentimen merupakan suatu metode klasifikasi teks yang
difokuskan pada ulasan dan membedakan apakah ulasan tersebut bersifat
negatif, positif, atau netral. Analisis sentimen memiliki peran yang sangat
krusial dalam memahami preferensi pengguna guna pengambilan keputusan
yang cepat. [7].
Sentiment analysis terdiri dari 3 sub proses yaitu: [8]
a. Klasifikasi Subjektivitas: mengidentifikasi kalimat yang mengandung opini
atau pendapat subjektif.
b. Deteksi Orientasi: Mengklasifikasikan opini ke dalam kategori positif,
negatif, atau netral.
c. Deteksi Pengguna Opini dan Target: Mengidentifikasi entitas atau bagian
teks yang merupakan pemberi opini (opinion holder) dan entitas atau bagian
yang menjadi target opini.
Kelemahan dari sentimen analisis adalah dimana setiap orang memiliki
perbedaan dalam mengemukakan pendapatnya, ada yang sarkasme dan ada
juga yang menggunakan kata negasi. Hal tersebut membuat suatu sistem
terkadang salah dalam mengklasifikasikan suatu kelas dari sebuah sentimen.
Sentimen analisis banyak dilakukan pada beberapa bidang seperti memonitor
opini publik terhadap suatu produk di sosial media mengenai monitoring
awarness dari sebuah brand dan menganalisis testimoni dari pelanggan. Hasil
dari analisis sentimen dapat memberikan gambaran dari pelanggan sehingga
suatu perusahaan dapat menentukan langkah selanjutnya dalam
mengembangkan brand dan produk. Selain itu, dalam konteks kebijakan
pemerintah, hasil dari analisis sentimen dapat digunakan untuk menyusun
strategi agar kebijakan-kebijakan bisa diterima dan atau diperbaiki untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat [9].
Analisis sentimen termasuk dalam bidang ilmu natural language processing
yang dipelajari secara luas dalam text mining. Analisis sentimen adalah proses
untuk menganalisis suatu opini atau pendapat, mengekstrak dan
mengklasifikasikannya sesuai dengan sikap emosionalnya. Data opini bisa
didapatkan dari berbagai digital platform, misalnya berupa ulasan pada media
sosial Twitter, Instagram, Youtube, situs web berita, serta market store seperti
Google Play Store dan App Store

Support Vector Machine


Metode Support Vector Machine digunakan untuk melakukan
prediksi atau klasifikasi terhadap suatu kelas berdasarkan pola yang ada.
Support Vector Machine bekerja dengan prinsip mencari garis pembatas
(hyperplane) yang optimal untuk memaksimalkan pemisahan antara kelas
positif dan negatif (Fitriyah, dkk., 2020).
Keunggulan Support Vector Machine mencakup kemampuannya
dalam bekerja dengan baik pada berbagai jenis data, mendapatkan solusi
optimal, memiliki rasio konvergensi yang rendah, serta mampu mengatasi
kesulitan dalam masalah. Namun, Support Vector Machine juga memiliki
kelemahan terkait pemilihan parameter yang tepat yang dapat memengaruhi
akurasi hasil algoritmanya. Secara umum, Support Vector Machine
memiliki tingkat akurasi yang lebih baik daripada metode Naïve Bayes
(Kristiyanti, dkk., 2020).
Dalam algoritma Support Vector Machine, objek data yang berada
paling dekat dengan hyperplane disebut sebagai vektor pendukung (support
vector). Vektor pendukung ini menjadi fokus utama dalam penentuan
hyperplane optimal, sedangkan objek data lainnya tidak begitu
diperhatikan.
Support Vector Machine adalah salah satu dari kelas supervised
learning. Metode ini mampu melakukan prediksi baik dalam klasifikasi
maupun regresi. SVM bertujuan untuk menemukan fungsi pemisah optimal
yang dapat memisahkan dua kelas yang berbeda. SVM dapat diterapkan
pada berbagai jenis dataset, baik yang dapat dipisahkan secara linier
maupun non-linier. SVM linier digunakan ketika data dapat dipisahkan
secara linier, sedangkan untuk data yang tidak dapat dipisahkan secara
linier, diperlukan pendekatan non-linier

Machine Learning


Machine learning merupakan teknik yang memungkinkan mesin
untuk mengakuisisi pengetahuan dengan memecahkan masalah berdasarkan
pola yang terdapat pada data yang telah diberikan sebelumnya. Meskipun
machine learning sering dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI), beberapa
teknik ini tidak secara langsung menunjukkan kecerdasan, tetapi sangat
bermanfaat dalam pengembangan Sistem Dukungan Keputusan yang cerdas
(Kristina, dkk., 2020).
Teknologi machine learning adalah pengembangan mesin yang
mampu belajar secara otomatis tanpa perlu arahan langsung dari pengguna.
Dibangun berdasarkan konsep-konsep dari disiplin ilmu seperti statistika,
matematika, dan data mining, pembelajaran mesin memungkinkan mesin
untuk memahami dan menganalisis data tanpa memerlukan reprogram
ulang atau instruksi langsung.
Dalam konteks ini, machine learning memiliki kapabilitas untuk
mengumpulkan dan memanfaatkan data secara mandiri. machine learning
juga dapat mengambil pelajaran dari data yang telah ada serta yang baru
diperolehnya, memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai tugas
yang beragam, tergantung pada apa yang telah dipelajarinya. Istilah
machine learning pertama kali diperkenalkan oleh beberapa ilmuwan
matematika seperti Adrien Marie Legendre, Thomas Bayes, dan Andrey
Markov pada tahun 1920-an, yang mengemukakan dasar-dasar konsep dan
prinsip machine learning. Sejak saat itu, pengembangan dalam bidang
machine learning telah berkembang pesat. Salah satu contoh implementasi
yang terkenal adalah Deep Blue, yang dikembangkan oleh IBM pada tahun
1996

Pre-processing


Pre-processing merupakan tahap pertama melakukan text mining
berupa mengubah data. Tahap ini melakukan tahap penggalian, pengolahan
dan pengaturan informasi untuk menganalisis hubungan tekstual. Preprocessing merupakan langkah pertama dalam pengolahan data yang
bertujuan untuk membersihkan, memformat, dan menyiapkan data mentah
sebelum dilakukan analisis lebih lanjut. Proses pre-processing berguna
untuk mengubah informasi dari ulasan atau teks yang tidak terstruktur
menjadi bentuk standar yang lebih mudah untuk dianalisis (Faadilah, 2020).
a. Case Folding
Case folding adalah langkah untuk mengubah huruf kapital menjadi
huruf kecil dalam teks. Dalam konteks analisis sentimen, proses ini
bermanfaat untuk mengurangi variasi kata yang pada dasarnya memiliki
makna yang sama, namun ditulis dengan huruf kapital atau kecil yang
berbeda. Sebagai contoh, kata “SeLAmat”, “selamat” dan “SELAMAT”
memiliki arti yang identik, namun tanpa case folding, keduanya akan
dianggap sebagai kata yang berbeda dan dianalisis secara terpisah dalam
proses analisis sentimen.
Case folding bertujuan untuk merubah semua huruf dalam teks
menjadi huruf kecil atau huruf besar (Faadilah, 2020). Langkah ini
dilakukan untuk mencegah adanya perbedaan dalam kata yang sama
karena penggunaan huruf kapital atau huruf kecil yang berbeda.
b. Tokenizing
Tokenizing adalah langkah membagi teks menjadi unit-unit yang
lebih kecil yang dikenal sebagai “token”. Token tersebut bisa berupa
kata, frasa, atau tanda baca. Proses ini bertujuan untuk memecah kalimat
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sebelum dilakukan analisis lebih
lanjut (Amaliah, dkk., 2022). Dalam analisis sentimen, tokenizing
penting untuk menyiapkan data teks agar dapat diproses lebih lanjut.
Tanpa proses tokenizing, data teks tidak dapat diolah dalam analisis
15
sentimen karena perlu dipisahkan menjadi token-token terlebih dahulu
untuk memungkinkan analisis kata dan frasa yang ada dalam teks.
Bisa disimpulan tokenizing merupakan langkah dalam preprocessing teks yang bertujuan untuk membagi teks menjadi unit-unit
kecil yang disebut token untuk analisis selanjutnya. Token bisa berupa
kata, frasa, atau karakter khusus, dan setiap token melambangkan satu
unit makna dalam teks.
c. Stopword Removal (Filtering)
Stopword Removal merupakan proses mengeliminasi kata-kata yang
biasa dan sering muncul dalam teks, seperti kata depan, kata imbuhan,
kata ganti, kata penghubung, dan kata-kata lainnya yang tidak
memberikan kontribusi signifikan dalam memahami makna teks.
Biasanya, ini melibatkan kata-kata penghubung seperti “yang”, “dan”,
“di”, “dari”, serta kata-kata lain yang tidak terlalu relevan dalam analisis
teks. Tindakan ini mencakup penghapusan kata-kata yang kurang
memiliki makna penting, seperti “dan”, “saya”, atau kata-kata sejenis
(Rahma, dkk., 2021).
d. Stemming
Stemming adalah langkah dalam pre-processing teks yang bertujuan
untuk mengonversi kata-kata ke dalam bentuk dasar atau kata dasar
dengan cara memotong akhiran kata. Proses stemming ini merubah katakata yang memiliki imbuhan menjadi bentuk dasar aslinya (Rahma,
16
dkk., 2021). Tujuan utama dari stemming adalah untuk mengurangi
variasi kata yang muncul dalam teks serta menjaga konsistensi makna
kata meskipun berbeda dalam bentuk.
e. Pembobotan TF-IDF
Pembobotan adalah teknik yang digunakan untuk mengubah data
input menjadi suatu fitur vector. Tiap dokumen mencakup variasi kata
yang berbeda-beda. Dalam pencarian informasi dari dokumen
heterogen, pentingnya pemahaman terhadap pembobotan kata
terungkap, sebab setiap kata memiliki tingkat signifikansi yang berbeda
di dalam dokumen. Inilah sebabnya mengapa bobot term menjadi
relevan (Hasna, 2021).
Pembobotan TF-IDF (Term Frequency-Inverse Document
Frequency) adalah teknik yang digunakan untuk memberikan nilai
bobot kepada setiap kata dalam sebuah dokumen berdasarkan seberapa
sering kata tersebut muncul dan seberapa uniknya dalam seluruh
dokumen. Term frequency (TF) mencerminkan frekuensi kemunculan
kata dalam dokumen tersebut. Sering kali, kata-kata yang sering muncul
dapat mengganggu proses identifikasi kata-kata yang lebih unik. Inverse
Document Frequency (IDF) berfungsi untuk menyeimbangkan bobot
kata-kata yang sering muncul dengan mengurangi nilai bobotnya, serta
mengukur pentingnya makna suatu kata dalam sebuah dokumen.
17
f. Confusion Matrix
Tabel Confusion Matrix digunakan untuk mengevaluasi kinerja
model klasifikasi yang melibatkan analisis sentimen. Di mana metode
digunakan untuk menghitung akurasi dengan membandingkan hasil
klasifikasi yang dilakukan secara aktual dengan hasil klasifikasi metode
(Amaliah, dkk., 2022). Dengan membandingkan hasil prediksi model
dengan label kelas yang sebenarnya, Confusion Matrix menunjukkan
seberapa baik model melakukan klasifikasi. Informasi dalam matriks
confusion diperlukan untuk menentukan kinerja model klasifikasi,
menurut Ilmawan dan Mude dalam Maulana (Maulana, 2023)

Google Collaboratory


Colaboratory, yang sering disebut sebagai “Colab,” adalah sebuah
produk dari Google Research. Colab memungkinkan pengguna untuk
menulis dan mengeksekusi kode Python secara bebas melalui peramban
web, dan sangat cocok digunakan untuk keperluan machine learning,
analisis data, dan pembelajaran. Secara teknis, Colab merupakan layanan
notebook Jupyter yang di-hosting dan dapat digunakan tanpa perlu
melakukan penyiapan, serta memberikan akses gratis ke sumber daya
komputasi termasuk GPU. Sumber daya yang tersedia di Colab tidak
dijamin dan memiliki keterbatasan, dengan batasan penggunaan yang
kadang berfluktuasi. Langkah ini diperlukan agar Colab dapat menyediakan
sumber daya secara gratis kepada penggunanya (Soen dkk., 2022)

Web Scraping


Web scraping adalah metode otomatisasi yang memanfaatkan kode
program untuk menjelajahi halaman web, menemukan pola data yang
ditargetkan, dan mengekstrak data sesuai kebutuhan pengguna. Scraping
web dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk pengumpulan data
untuk analisis bisnis dan penelitian akademis.
Menurut Santoso (2019), web scraping telah menjadi alat penting
dalam penelitian ilmiah di Indonesia. Mereka mencatat bahwa scraping web
memungkinkan peneliti mengumpulkan data dengan cepat dan efektif dari
berbagai sumber internet. Data ini dapat digunakan untuk analisis statistik,
penelitian pasar, dan pemodelan prediktif. Studi ini juga menekankan betapa
pentingnya mempertimbangkan etika saat menggunakan scraping web
untuk menghindari pelanggaran hak cipta dan privasi.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2020) melihat
aplikasi scraping web untuk analisis media sosial di Indonesia. Mereka
menemukan bahwa web scraping dapat digunakan untuk mengumpulkan
data dari situs media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram untuk
memahami tren dan pola perilaku pengguna

Google Play Store


Google Play Store menjadi tempat untuk mengunduh berbagai
aplikasi Android dengan jumlah mencapai ratusan ribu. Google Play Store
merupakan salah satu pasar platform Android yang memiliki peran krusial
dalam mendistribusikan aplikasi seluler. Menurut situs resmi Google Play
Store, tahun lalu terjadi lebih dari 140 Miliar proses download konten yang
ada, lebih dari 2,5 Miliar pengguna aktif setiap bulan, dan Google Play Store
tersedia di 190 negara di seluruh dunia.
Fitur review aplikasi disediakan untuk memungkinkan pengguna
memberikan komentar terhadap aplikasi yang telah mereka gunakan, dan
tujuannya adalah untuk memberikan mekanisme umpan balik dari pengguna
kepada pengembang aplikasi

Binance


Binance adalah sebuah platform pertukaran cryptocurrency yang
didirikan pada tahun 2017 di Hong Kong. Dikenal dengan fokusnya yang
kuat pada perdagangan altcoin. Binance merupakan sebuah ekosistem
blockchain yang menawarkan berbagai produk, termasuk pertukaran aset
digital terbesar. Menurut Binance.com, platform ini menyediakan
perdagangan crypto-to-crypto untuk lebih dari 600 cryptocurrency dan
token virtual, seperti Bitcoin (BTC), Etherium (ETH), Litecoin (LTC),
Dogecoin (DOGE), serta token Binance Coin (BNB) yang merupakan
produk mereka sendiri (Pramesti, 2022)

Cryptocurrency


Cryptocurrency merupakan bentuk uang digital yang menggunakan
teknologi kriptografi untuk mengamankan transaksi, mengatur penciptaan
unit tambahan, dan memverifikasi transfer aset. Keberadaan cryptocurrency
memungkinkan perubahan yang signifikan dalam sistem keuangan
tradisional yang dikelola oleh lembaga keuangan seperti bank dan
pemerintah. Dengan adanya cryptocurrency, transaksi dapat dilakukan
secara langsung antara dua pihak tanpa perlu melalui perantara dan
mengurangi biaya transaksi yang tinggi (Priambodo, 2022).
Pada tahun 2008, dimulailah era cryptocurrency ketika seseorang
yang menggunakan nama samaran Satoshi Nakamoto merilis sebuah
makalah. Cryptocurrency pertama yang dikenalkan adalah Bitcoin, yang
mulai beroperasi pada tahun 2009. Popularitas Bitcoin memicu minat yang
besar dari investor dan konsumen ritel terhadap cryptocurrency lainnya.
Harga Bitcoin melonjak tinggi sebagai akibat dari minat publik yang tinggi.
Seperti halnya cryptocurrency lainnya, Bitcoin juga memiliki dampak
negatif di berbagai sektor. Bank Sentral dan otoritas moneter memberikan
peringatan mengenai risiko yang terkait dengan penggunaan
cryptocurrency. Harga Bitcoin pada Juli 2010 tercatat sebesar USD 0,04951
dan mencapai puncaknya pada 17 April 2021, mencapai USD 63.223,88
11
atau meningkat sebanyak 127.699.212,28 persen dari harga awalnya
(Afrizal & Marliyah, 2021)

Analisis Sentimen


Analisis Sentimen merupakan salah satu metode untuk
mengeksplorasi pendapat atau pandangan individu terhadap suatu topik atau
peristiwa. Ini dapat diterapkan untuk mengungkapkan sikap masyarakat
terhadap berbagai masalah, kualitas layanan, kebijakan, cyber bullying,
evaluasi harga saham, dan evaluasi pesaing berdasarkan teks. Namun,
dengan pertumbuhan data yang cepat, tantangan baru muncul dalam proses
analisis sentimen. Metode konvensional tidak lagi cukup untuk
mengidentifikasi dan memahami berbagai jenis sentimen dalam teks secara
efektif. Menggunakan tenaga manusia untuk mengklasifikasikan sentimen
dalam volume teks yang besar dan beragam memerlukan investasi waktu
dan biaya yang signifikan.
Analisis sentimen, juga dikenal sebagai opinion mining, adalah
cabang ilmu yang mempelajari pendapat, evaluasi, penilaian, sikap, dan
emosi yang terkait dengan suatu entitas, seperti produk, layanan, organisasi,
individu, isu-isu, peristiwa, dan topik tertentu. Tujuan utama dari analisis
sentimen adalah untuk mengidentifikasi apakah suatu opini bersifat positif
atau negatif. Contoh penerapan analisis sentimen dalam kehidupan nyata
adalah untuk mengidentifikasi tren pasar dan opini pasar terhadap suatu
produk (Nurzahputra & Muslim, 2022)

Hubungan Sentimen Investor dengan Return saham


(Wijaya, 2020) mengatakan bahwa sentimen investor memiliki pengaruh
yang signifikan positif pada return saham. Sedangkan (Hu et al., 2013)
mengungkapkan bahwa dalam pembentukan return saham cross-section, sentimen
individual investor berperan penting didalamnya, (Dragoș Ștefan, OPREA & Laura,
2014) mengatakan bahwa pengukuran sentimen investor menggunakan
keyakinanan konsumen menghasilkan pengaruh positif pada return saham.
Menurut (Wendy Ary, 2019) menyatakan sentimen investor mempengaruhi
return saham pada sektor industri, property, real estate & kontruksi, serta sektor
keuangan secara signifikan dan negatif Hal ini menujukan adanya fenomena
misspricing sedang terjadi di bursa efek Indonesia, dari penelitian penelitian dapat
disimpulkan bahwa senttimen investor mempunyai pengaruh penting dan tetap pada
suatu perusahaan dan pasar saham secara menyeluruh

Perusahaan Property & Real Estate


Perusahaan Prorperty & Real Estate adalah perusahaan industri yang
terlibat dalam pembangunan, pengembangan, pengelolaan, dan perdagangan real
estat atau real estat. Mereka fokus pada kegiatan seperti membeli, menjual,
mengembangkan dan mengelola real estat atau tanah untuk tujuan komersial,
perumahan, industri atau investasi. Perusahaan Prorperty & Real Estate dapat
terlibat dalam berbagai macam properti, termasuk:

  1. Properti Komersial: Ini termasuk properti seperti kantor, pusat perbelanjaan, toko
    ritel, bangunan industri, hotel, restoran, dan ruang komersial lainnya. Fokus
    perusahaan real estat komersial adalah pada pengembangan, penjualan, dan
    penyewaan real estat untuk tujuan komersial.
  2. Properti perumahan: Ini termasuk rumah, apartemen, rumah, townhouse dan
    properti perumahan lainnya. Sebuah perusahaan real estate yang
    mengembangkan, menjual dan menyewakan apartemen.
  3. Kawasan industri: Ini termasuk pabrik, gudang, kompleks industri dan properti
    lain yang digunakan untuk kegiatan manufaktur atau industri. Real estat industri
    berfokus pada pengembangan, penjualan, dan penyewaan real estat industri
  4. Investasi properti: Properti investasi adalah properti yang dimiliki bisnis untuk
    menghasilkan sewa atau untuk meningkatkan nilainya. Fokus perusahaan real
    estat yang dimiliki sebagai investasi keuangan adalah pada akuisisi,
    pemeliharaan, dan penjualan real estat untuk investasi modal jangka panjang.
    Perusahaan real estat dan real estat dapat terlibat dalam berbagai aktivitas,
    termasuk pengembangan proyek, manajemen properti, pemasaran dan
    penjualan, penilaian properti, manajemen sewa, dan manajemen properti. Anda
    juga dapat terlibat dalam proses perizinan, pembiayaan proyek, dan negosiasi
    kontrak dengan pihak terkait.Tujuan real estat dan real estat biasanya untuk
    menghasilkan pendapatan dari pengoperasian properti dan untuk meningkatkan
    nilai properti dari waktu ke waktu. Anda beroperasi di lingkungan yang
    dipengaruhi oleh faktor ekonomi, perubahan pasar real estat, kebijakan regulasi,
    dan permintaan

Variabel Moderasi


Variabel moderasi merupakan variabel yang mempengaruhi antara variabel
dependen dan independen yang dapat memperkuat ataupun memperlemah
hubungan antara variabel independen dengan dependen (Sugiyono, 2018). Menurut
(Solimun, 2011) variabel moderasi dapat dikategorikan menjadi empat jenis yaitu,
Variabel Moderasi Murni (Pure Moderarator) merupakan variabel moderasi yang
diidentifikasi melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1
dinyatakan tidak signifikan akan tetapi koefisien 2 signifikan secara statistika.
Moderasi murni merupakan variabel yang memoderasi hubungan antara variabel
dependen dan variabel independen di mana variabel moderasi murni berinteraksi
dengan variabel independen tanpa menjadi variabel independen. Variabel Moderasi
Semu (Quasi Moderarator) merupakan variabel moderasi yang diidentifikasi
melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1 dinyatakan
signifikan serta koefisien 2 signifikan secara statistika. Moderasi semu merupakan
variabel yang memoderasi hubungan antara variabel independen dan variabel
dependen yang mana variabel moderasi semu berinteraksi dengan variabel
independen sekaligus menjadi variabel independen. Variabel Moderasi Potensial
(Homologiser Moderarator) merupakan variabel moderasi yang diidentifikasi
melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1 dinyatakan tidak
signifikan serta koefisien 2 tidak signifikan secara statistika. Moderasi potensial
adalah variabel yang potensial menjadi sebuah variabel moderasi yang
25
mempengaruhi kekuatan hubungan antara variabel independen serta variabel
dependen. Variabel ini tidak berhubungan dengan variabel independen dan tidak
mempunyai hubungan yang signifikan dengan variabel dependen. Variabel
Prediktor Moderasi (PredictorModerasi Variabel). Merupakan jenis variabel
moderasi yang diidentifikasi melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika
koefisien 1 dinyatakan signifikan sedangkan koefisien 2 tidak signifikan secara
statistika. Berarti variabel moderasi ini hanya dapat berperan sebagai variabel
Independen dalam penelitian yang dilakukan

Sales Growth


Pertumbuhan pendapatan atau Sales Growth adalah persentase peningkatan
pendapatan perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Ini adalah indikator
kinerja utama yang mengukur seberapa baik perusahaan mampu meningkatkan
penjualan produk atau layanannya dari tahun ke tahun. Pertumbuhan penjualan
yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan penjualan dan
dapat mencapai pertumbuhan yang sehat. Namun, perlu diingat bahwa
pertumbuhan pendapatan harus dianalisis dalam konteks yang lebih luas, termasuk
faktor-faktor seperti margin laba, biaya operasional, dan strategi pemasaran
perusahaan.
Ketika kondisi Sales Growth suatu perusahaan mengalami pertumbuhan,
perusahaan akan terlihat menarik pertumbuhan ini juga akan menentukan berapa
lama perusahaan akan tetap berdiri dan berkembang (Toto, 2019). Menurut
(Kasmir, 2018) pertumbuhan penjualan adalah bagaimana perusahaan
meningkatkan penjualannya yang kemudian dibandingkan dengan total penjualan
secara keutuhan. Manfaat dari pertumbuhan penjualan ini selain untuk memperoleh
laba dari hasil penjualan yang telah dilakukan juga dapat mempercantik laporan
keuangan sehingga dapat memikat para investor untuk melakukan investasi di
perusahaan tersebut