Pengertian Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan adalah perbedaan antara harapan pelanggan akan suatu
pelayanan dengan persepsi mereka akan pelayanan yang mereka terima. Saat
harapan pelanggan lebih rendah dari persepsi terhadap pelayanan yang diperoleh,
maka hal tersebut menjadi kejutan yang menyenangkan bagi pelanggan. Pada saat
harapan pelanggan sesuai dengan persepsi terhadap pelayanan yang diperoleh
maka pelanggan akan merasa puas. Namun, pada saat harapan pelanggan lebih
besar dari pada persepsi terhadap pelayanan yang diperoleh maka pelanggan tidak
puas terhadap pelayanan.
Ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa yaitu expected
service ( jasa yang diharapkan) dan perceived service ( jasa yang diterima),
apabila jasa yang diterima atau yang dirasakan sesuai dengan yang diharapkan,
maka kualitas jasa dipersepsikan baik dan memuaskan, sebaliknya jika jasa yang
diterima lebih rendah dari pada yang diharapkan, maka kualitas jasa akan
dipersepsikan buruk atau tidak memuaskan, dengan demikian baik tidaknya
kualitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan
pemakainya secara konsisten

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Setyo (2017:758) indikator kepuasan pelanggan yaitu:

  1. Terpenuhinya harapan pelanggan;
  2. Selalu mengunakan produk;
  3. Merekomendasi ke orang lain;
  4. Kualitas layanan;
  5. Loyalitas;
  6. Reputasi yang baik;
  7. Lokasi

Elemen Yang Menyangkut Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan ditentukan oleh persepsi pelanggan atas performance
produk atau jasa dalam memenuhi harapan pelanggan. Pelanggan merasa puas
apabila harapannya terpenuhi atau akan sangat puas jika harapan pelanggan
terlampui. Menurut Donni Juni Priansa (2017:210) mendefinisikan bahwa
terdapat lima elemen yang menyangkut kepuasan konsumen adalah sebagai
berikut:

  1. Harapan (Expectations) terhadap suatu barang atau jasa telah dibentuk sebelum
    konsumen membeli barang atau jasa tersebut. Pada saat proses pembelian
    dilakukan, konsumen berharap bahwa barang atau jasa yang mereka terima
    sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka. Barang/jasa yang
    sesuai dengan harapan akan menyebabkan konsumen merasa puas.
  2. Kinerja (Performance) pengalaman konsumen tehadap kinerja aktual barang
    atau jasa ketika digunakan tanpa dipengaruhi oleh harapan mereka. Ketika
    kinerja aktual barang atau jasa berhasil maka konsumen akan merasa puas.
  3. Perbandingan (Camparison) hal ini dilakukan dengan mebandingkan harapan
    kinerja barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi kinerja aktual
    barang atau jasa tercsebut. Konsumen akan merasa puas ketika harapan
    sebelum pembelian sesuai atau melebihi persepsi mereka terhadap kinerja
    aktual produk.
  4. Pengalaman (Experience) harapan konsumen dipengaruhi oleh pengalaman
    mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa yang berbeda dari
    orang lain.
  5. Konfirmasi (Comfirmation) dan dikonfirmasi (Disconfirmation) konfirmasi
    atau terkonfirmasi terjadi jika harapan sesuai dengan kinerja produk.
    Sebaliknya diskonfirmasi atau tidak terkonfirmasi terjadi ketika harapan lebih
    tinggi atau lebih rendah dari kinerja aktual produk. Maka konsumen akan
    merasa puas saat terjadi confirmation /disconfirmation.

Faktor-Faktor yang Menentukan Tingkat Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan merupakan penilaian setiap konsumen dengan
membandingkan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diharapkan. Jika
produk atau jasa yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan ekspetasi
pelanggan maka pelanggan akan merasa puas. Sebaliknya, jika produk atau jasa
yang diberikan oleh perusahaan tidak sesuai dengan ekspetasi pelanggan maka
pelanggan akan merasa kecewa.
Dalam memenuhi kepuasan pelanggan terdapat bebrapa faktor untuk
menentukan tingkat dari kepuasan yang dirasakan pada pelanggan. Menurut
Irawan (2015:37), faktor-faktor pendorong kepuasan pelanggan adalah sebagai
berikut:

  1. Kualitas produk, pelanggan puas setelah membeli dan menggunakan produk
    tersebut ternyata kualitas produknya baik.
  2. Harga Untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah adalah sumber
    kepuasan yang penting karena pelanggan akan mendapatkan nilai yang tinggi.
  3. Service quality Kepuasan terhadap kualitas Kualitas Pelayanan biasanya sulit
    ditiru. Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan driver yang mempunyai banyak
    dimensi, salah satunya yang populer adalah SERVQUAL.
  4. Emotional factor pelanggan akan merasa puas (bangga) karena adanya
    emotional value yang diberikan oleh brand dari produk tersebut.
  5. Biaya dan kemudahan pelanggan akan semakin puas apabila relative mudah,
    nyaman dan efisien dalam mendapatkan produk atau Kualitas Pelayanan.
    Berikut ini adalah dimensi kepuasan konsumen menurut Fandy Tjiptono
    (2015:212), yaitu sebagai berikut:
  6. Tangibles (bukti fisik) Bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang digunakan,
    representasi fisik produk atau jasa.
  7. Reliability (keandalan) Kemampuan untuk melaksanakan produk atau jasa
    yang dijanjikan tepat dan terpercaya.
  8. Responsiveness (ketanggapan) Kemampuan untuk membantu pelanggan
    dengan memberikan produk atau jasa dengan cepat atau ke tanggapan.
  9. Empathy (empati) Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi
    pelanggan.

Model Kepuasan Konsumen


Pada umumnya perusahaan melakukan aktivitas bisnis atau tugas pemasaran
dengan menawarkan barang atau jasa dari suatu perusahaannya, untuk
menciptakan sebuah kepuasan bagi konsumen maupun pelanggannya. Dengan hal
ini para peneliti sebelumnya berupaya untuk menyusun kerangka secara teoritis
untuk menjelaskan mengenai faktor yang menentukan proses pembentukan dan
konsekuensi dari kepuasan itu sendiri. Fandy Tjiptono (2015:298) menyatakan
bahwa kepuasan konsumen didasarkan pada tiga teori utama yaitu :

  1. Contrast Theory berasumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja
    produk aktual dengan ekspektasi para-pembelian. Apabila kinerja aktual lebih
    besar atau sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya jika
    kinerja aktual lebih rendah dibandingkan ekspektasi maka konsumen akan
    tidak puas.
  2. Assimiliation Theory menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi
    positif dari ekspektasi konsumen pra-pembelian. Karena proses dikonfirmasi
    secara psikologis tidak enak dilakukan konsumen cenderung secara perceptual
    mendistori perbedaan antara ekpektasi dan kinerjanya kearah ekspektasi awal.
    Dengan kata lain penyimpangan dari ekspektasinya cenderung akan diterima
    oleh konsumen yang bersangkutan.
  3. Assimilation – contrast Theory beranggapan bahwa terjadinya efek asimilasi
    (assilation effect) atau efek kontras (Contras effect) merupakan fungsi dari
    tingkat kesenjangan antara kinerja yang diharapkan dan kinerja actual. Apabila
    kesenjangan besar, konsumen akan memperbesar gap tersebut, sehingga
    produk dipersepsikan jauh lebih bagus atau buruk dibandingkan dengan
    kenyataannya (sebagaimana halnya contrast theory). Namun jika kesenjangan
    tidak terlampau besar, assimilation theory yang berlalu. Dengan kata lain, jika
    rentang deviasi yang bias diterima (acceptable deviations) dilewati, maka
    kesenjangan antara ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan
    disitulah efek kontras berlaku

Pengertian Kepuasan Pelanggan


kepuasan konsumen adalah respon emosional terhadap pengalamanpengalaman berkaitan dengan produk atau jasa tertentu yang dibeli, gerai ritel,
atau bahkan pola perilaku (seperti perilaku belanja dan perilaku pembeli), serta
pasar secara keseluruhan. Respon emosional dipicu oleh proses evakuasi kognitif
yang membandingkan persepsi (atau keyakinan) terhadap objek, tindakan atau
kondisi tertentu dengan nilai-nilai (atau kebutuhan, keinginan dan hasrat)
individual. Menurut Tjiptono (2015:146), “kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara
persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapan-harapannya”.
Menurut Danang Sunyoto (2015:140). Kepuasan konsumen merupakan salah satu
alasan dimana konsumen memutuskan untuk berbelanja pada suatu tempat.
Apabila konsumen merasa puas dengan suatu produk, mereka cenderung akan
terus membeli dan menggunakannya serta memberitahukan orang lain tentang
pengalaman mereka yang menyenangkan dengan produk tersebut. Sedangkan
menurut Kotler dan Amstrong (2018:39) kepuasan pelanggan merupakan salah
satu pendorong utama yang menhubungkan antara perusahaan dan pelanggan
dalam jangka panjang. Jika berbicara tentang kepuasan atau ketidakpuasan, terdiri
dari perasaan senang tertentu atau kecewa yang berasal dari perbandingan antara
kinerja suatu produk dengan keinginan pribadi. Menurut Andi Riyanto (2018:118)
kepuasan pelanggan adalah perbandingan kualitas layanan yang dialami
pelanggan, yang diharapkan pelanggan apabila kualitas yang dialami oleh
pelanggan lebih rendah yang diharapkan, maka akan terjadi ketidakpuasan.
pelanggan sesuai yang diharapkan, pelanggan akan puas, dan apabila kualitas
Kualitas Pelayanan lebih apa yang diharapkan, pelanggan akan sangat puas.

Hubungan Price Discount Terhadap Kepuasan Pelanggan


Konsumen memiliki persepsinya sendiri terhadap discount.Bagaimana
konsumen memandang harga (tinggi, rendah, dan wajar) mempunyai pengaruh
yang kuat terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli. Menurut Putri dan
Edwar (2015:57) price discount merupakan penghematan yang ditawarkan pada
konsumen dari harga normal akan suatu produk, yang tertera di label atau
kemasan produk tersebut. Price discount memberikan beberapa keuntungan
diantaranya: dapat memicu konsumen untuk membeli dalam jumlah yang banyak,
mengantisipasi promosi pesaing, dan mendukung perdagangan dalam jumlah yang
lebih besar. Memberikan contoh suatu kasus yakni saat konsumen sedang melihatlihat di toko ritel, serta tak memiliki maksud guna membeli, secara tiba-tiba
konsumen itu memandang barang tertentu yang tengah berada pada diskon yang
cukuplah besar. Dan secara tak sengaja brand barang tersebut merupakan brand
yang digemari. Ketika hal itu berlangsung, konsumen memberikan keputusan
untuk melaksanakan pembelian barang tersebut. Berdasarkan contoh kasus itu,
brand atau merek barang/produk yang memiliki potongan harga yang sama seperti
kemauan konsumen akibatnya memunculkan dorongan guna membeli dan
menimbulkan rasa puas pada pelanggan

Indikator Price Discount


Menurut Wahyudi (2017:284), indikator dari Price Discount antara lain:
1) Frekuensi Diskon: Frekuensi diskon mengacu pada seberapa sering pemasar
dalam suatu gerai ritel melakukan potongan harga terhadap produk yang
ditawarkannya.
2) Besaran Diskon: Besaran diskon merupakan seberapa besar diskon yang
ditawarkan oleh pemasar terhadap produk yang ditawarkan kepada
konsumennya, yang dapat dilihat dari presentase misalnya 30%, 50% dll.
3) Waktu Pemberian Diskon: Waktu pemberian diskon merujuk pada kapan saja
waktu yang dipilih pemasar untuk melakukan potongan harga produk yang
ditawarkan kepada para konsumen

Tujuan Price Discount


Price discount mempunyai tujuan bagi perusahaan, berikut adalah beberapa
tujuan price discount menurut para ahli. Tujuan diadakannya diskon harga
menurut Nitisemito (dalam Brian, 2016:21) adalah:
a. Mendorong pembeli untuk membeli dalam jumlah yang besar sehingga volume
penjualan diharapkan akan bisa naik. Pemberian potongan harga akan
berdampak terhadap konsumen, terutama dalam pola pembelian konsumen
yang akhirnya juga berdampak terhadap volume penjualan yang diperoleh
perusahaan.
b. Pembelian dapat dipusatkan perhatiannya pada penjual tersebut, sehingga hal
ini dapat menambah atau mempertahankan langganan penjual yang
bersangkutan.
c. Merupakan sales service yang dapat menarik terjadinya transaksi pembelian.
Menurut Sutisna dalam Jurnal Nobel (2018:3) tujuan pemberian price
discount (potongan harga) adalah :

  1. Efektifitas discount, mengetahui seberapa besar dampak dari price discount
    yang dibeikan kepada konsumen
  2. Meningkatkan kuantitas pembelian, dengan diberikannya discount dapat
    mempengaruhi jumlah barang yang akan dibeli oleh konsumen
  3. Harga, adanya discount yang diberikan secara langsung dapat mengurangi
    jumlah pengeluaran konsumen.
  4. Mengikat pelanggan agar tidak berpindah tempat
  5. Mendorong pembelian dilakukan dengan kontan atau waktu yang pendek.
    Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari price
    discount adalah:
  6. Mendorong pembeli untuk membeli dalam jumlah yang besar sehingga volume
    penjualan diharapkan akan bisa naik. Pemberian potongan harga akan
    berdampak terhadap konsumen, terutama dalam pola pembelian konsumen
    yang akhirnya juga berdampak terhadap volume penjualan yang diperoleh
    perusahaan.
  7. Mengikat pelanggan agar tidak berpindah tempat.
  8. Mendorong pembelian dilakukan dengan kontan atau waktu yang pendek.

Jenis-Jenis Price Discount


Terdapat beberapa jenis price discount, penyesuaian harga yang disebut
diskon dan potongan pembelian yang pertama Menurut Abdullah dan Tantri
(2015:1890) di antaranya adalah:
a. Diskon/potongan kas, diskon kas adalah pengurangan harga kepada konsumen
yang membayar kewajiban mereka dengan tepat waktu.
b. Diskon/potongan jumlah, diskon jumlah adalah pengurangan harga bagi
pembeli dalam jumlah besar (tertentu).
c. Diskon/potongan fungsional, diskon fungsional (juga disebut diskon
perdagangan) ditawarkan oleh produsen kepada anggota saluran perdagangan,
jika mereka akan membentuk fungsi tertentu, seperti penjualan, pertokoan, dan
penyimpanan. Produsen dapat menawarkan diskon fungsional yang berbeda
kepada saluran perdagangan yang berbeda karena fungsi-fungsi mereka yang
yang yang bermacam-macam, tetapi produsen harus menawarkan diskon
fungsional yang sama kepada setiap saluran perdagangan.
d. Diskon/potongan musiman, diskon musiman adalah pengurangan harga bagi
pembeli yang membeli dagangan atau jasa di luar musimnya. Diskon musiman
memungkinkan penjual untuk mempertahankan produksi yang tetap selama
setahun.
e. Diskon/potongan pembelian, potongan pembelian adalah jenis lain
pengurangan dari harga dasar.
Yang ke dua Jenis-jenis price discount (potongan harga) Menurut Alma
dalam Lestari (2018:132), terdapat dua jenis price discount diantaranya adalah:
a. Rabat, potongan yang diterima berupa pengurangan harga dari daftar harga
yang resmi.
b. Potongan tunai, pengurangan harga kepada pembeli yang membayar tagihan
mereka lebih awal. Metode potongan ini diberikan berdasarkan pertimbangan
pertimbangan, jumlah pembelian, prosedur pembayaran dan juga tergantung
pada taktik promosi produsen atau penjual. Meskipun potongan harga
merupakan salah satu strategi dalam penetapan harga untuk menarik perhatian
konsumen, tetapi potongan harga secara langsung memberikan dampak positif
terhadap konsumen yang berpendapatan rendah.

Pengertian Price Discount


Potongan harga sering sekali ditemukan dalam proses transaksi jual beli
maupun dalam menentukan pemakaian jasa. Kebanyakan bertujuan untuk
meningkatkan minat beli dari para konsumen. Hal ini terjadi karena dengan
adanya diskon konsumen akan tertarik untuk membelanjakan uangnya pada
produk atau jasa yang menawarkan diskon. Price Discount menurut Abdullah
dan Francis (2015:189) memberikan hadiah kepada konsumen atas pembayaran
awal, volume pembelian, dan pembelian di waktu luar musim dengan mengubah
harga dasar suatu produk. Menurut Tjiptono (2015:229) Potongan harga/diskon
merupakan salah satu jenis dari promosi penjualan. Potongan harga adalah
pengurangan produk dari harga normal dalam periode tertentu. Sedangkan
promosi penjualan adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai
insentif yang dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan secara
dan/atau meningkatkan jumlah barang yang dibeli pelanggan. Sedangkan Menurut
Kotler dan Keller (2016:84) price discount merupakan penghematan yang
ditawarkan pada konsumen dari harga normal akan suatu produk, yang tertera di
label atau kemasan produk tersebut. Menurut Machfoedz dalam Lesrtari
(2018:131) potongan harga (Price Discount) adalah potongan harga yang
menarik, sehingga harga sesungguhnya lebih rendah dari harga umum

Hubungan Kualitas Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan


Kualitas Kualitas Pelayanan memiliki peran penting dalam menciptakan
kepuasan pelanggan. Persepsi pelanggan mengenai Kualitas Pelayanan
perusahaan baik atau tidaknya tergantung antara kesesuaian dan keinginan
Kualitas Pelayanan yang diperolehnya. Perusahaan penyedia jasa, Kualitas
Pelayanan yang diberikan menjadi suatu tolak ukur kepuasan pelanggan. Bila
kualitas Kualitas Pelayanan jasa yang dirasakan lebih kecil dari pada yang
diharapkan maka pelanggan akan merasa kecewa dan tidak puas bahkan memberi
dampak negatif lainnya pada perusahaan. Fandy Tjiptono (2015:125) menyatakan
dengan indeks kepuasan kualitas konsumen yang diukur dalam ukuran apapun
dengan dimensi kualitas Kualitas Pelayanan yaitu tangible, empathy, reliability,
responsiveness dan assurance memiliki pengaruh terhadap kepuasan konsumen.
Pengaruh antara kualitas Kualitas Pelayanan dengan kepuasan konsumen
diperkuat oleh jurnal Wayan Widya Suryadharma dan Ketut Nurcahya (2015)
yang menunjukan bahwa secara simultan variabel kualitas Kualitas Pelayanan
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Penelitian yang dilakukan
oleh Turgay Bucak (2014) menyatakan bahwa secara simultan terdapat pengaruh
antara kualitas Kualitas Pelayanan dengan kepuasan konsumen

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Fitzsimmons dalam Zaenal Mukarom dan Muhibudin (2015:108)
mengemukakan lima indikator Kualitas Pelayanan yaitu :

  1. Reliability yang ditandai dengan pemberian Kualitas Pelayanan yang tepat dan
    benar.
  2. Tangibles yang ditandai dengan penyediaan yang memadai sumber daya
    lainnya.
  3. Responsiveness ditandai dengan keinginan melayani konsumen dengan cepat.
  4. Assurance yang ditandai tingkat perhatian terhadap etika dan moral dalam
    memberikan Kualitas Pelayanan.
  5. Empati yang ditandai tingkat kemauan untuk mengetahui keinginan dan
    kebutuhan konsumen.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Kualitas Pelayanan


Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan faktor yang sangat penting
khususnya bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Aplikasi kualitas
Kualitas Pelayanan sebagai sifat dari penampilan produk atau kinerja merupakan
bagian dari strategi perusahaan dalam rangka meraih keunggulan yang
berkesinambungan, baik sebagai pemimpin pasar maupun strategi untuk terus
tumbuh. Faktor penyebab buruknya kualitas Kualitas Pelayanan menurut Fandy
Tjiptono (2015:178), faktor penyebab buruknya kualitas Kualitas Pelayanan
adalah sebagai berikut :

  1. Produksi dan konsumsi yang terjadi secara simultan salah satu karakteristik
    unik jasa atau layanan adalah inseparability (tidak dapat dipisahkan), artinya
    jasa diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan. Hal ini kerapkali
    membutuhkan kehadiran dan partisipasi pelanggan dalam proses penyampaian
    jasa. Konsekuensinya, berbagai macam persoalan sehubungan dengan interaksi
    antara penyedia layanan dan pelanggan bisa saja terjadi. Beberapa kelemahan
    yang mungkin ada pada karyawan jasa dan mungkin berdampak negatif
    terhadap persepsi kualitas meliputi :
    a. Tidak terampil dalam melayani pelanggan;
    b. Cara berpakaian karyawan yang kurang sesuai konteks;
    c. Tutur kata karyawan kurang sopan;
    d. Bau badan karyawan mengganggu kenyamanan pelanggan;
    e. Mimik muka karyawan selalu cemberut.
  2. Intensitas tenaga kerja yang tinggi keterlibatan karyawan secara insentif dalam
    penyampaian layanan dapat pula menimbulkan masalah kualitas yaitu berupa
    tingginya variabilitas yang dihasilkan. Faktor-faktor yang biasa
    mempengaruhinya antara lain :
    a. Upah rendah (umumnya karyawan yang melayani atau berinteraksi langsung
    dengan pelanggan memiliki tingkat pendidikan dan upah yang paling rendah
    dalam suatu perusahaan);
    b. Pelatihan yang kurang memadai atau bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan
    organisasi;
    c. Tingkat perputaran karyawan terlalu tinggi;
    d. Motivasi kerja karyawan rendah.
  3. Dukungan terhadap pelanggan internal kurang memadai Karyawan front line
    merupakan ujung tombak sistem penyampaian layanan. Dalam banyak kasus,
    keramahan dan kesopanan operator telepon dan satpam bisa jadi memberikan
    kesan pertama bagi calon pelanggan yang ingin berhubungan dengan sebuah
    perusahaan penyedia jasa. Agar para karyawan front line mampu melayani
    pelanggan secara efektif, mereka membutuhkan dukungan dari fungsi-fungsi
    utama manajemen (operasi, pemasaran, keuangan, dan SDM). Dukungan
    tersebut bisa juga berupa peralatan (perkakas, material, pakaian, seragam),
    pelatihan keterampilan maupun informasi (misalnya, prosedur operasi).
  4. Gap komunikasi, bila terjadi gap komunikasi, maka bisa timbul penilaian atau
    persepsi negatif terhadap kualitas layanan. Gap-gap komunikasi bisa berupa :
    a. Penyedia layanan memberikan janji berlebihan, sehingga tidak mampu
    memenuhinya.
    b. Penyedia layanan tidak bisa selalu menyajikan informasi terbaru kepada
    para pelanggan.
    c. Pesan komunikasi penyedia layanan tidak dipahami pelanggan.
    d. Penyedia layanan tidak memperhatikan atau tidak segera menindaklanjuti
    keluhan atau saran pelanggan.
  5. Memperlakukan semua pelanggan dengan cara yang sama dalam hal interaksi
    dengan penyedia layanan, tidak semua pelanggan bersedia menerima layanan
    yang seragam, sering terjadi ada pelanggan yang menginginkan atau bahkan
    menuntut layanan yang sifatnya personal dan berbeda dengan pelanggan lain.
    Hal ini memunculkan tantangan bagi penyedia layanan dalam hal individual
    dan memahami perasaan pelanggan terhadap penyedia layanan dan layanan
    spesifik yang mereka terima.
  6. Perluasan atau pengembangan layanan secara berlebihan bila terlampau banyak
    layanan baru dan tambahan terhadap layanan yang sudah ada, hasil yang
    didapatkan belum tentu optimal, bahkan tidak tertutup kemungkinan timbul
    masalah-masalah seputar standar kualitas layanan. Selain itu, pelanggan juga
    bisa bingung membedakan variasi penawaran layanan baik dari segi fitur,
    keunggulan maupun tingkat kualitasnya.
  7. Visi bisnis jangka pendek (misalnya orientasi pencapaian target penjualan dan
    laba tahunan, penghematan biaya sebesar-besarnya, peningkatan produktivitas
    tahunan, dll) bisa merusak kualitas layanan yang sedang dibentuk untuk jangka
    panjang. Sedangkan Christian Gronroos dalam Rolando (2018:56)
    mengemukakan bahwa terdapat 4 faktor yang mempengaruhi kualitas Kualitas
    Pelayanan yaitu: 1. Menjaga dan memperhatikan, bahwa pelanggan akan
    merasakan kepuasan Kualitas Pelayanan karyawan dan sistem operasional yang
    ada dapat menyelesaikan problem mereka. 2. Spontanitas, dimana karyawan
    menunjukan keinganan untuk menyelesaikan masalah pelanggan. 3.
    Penyelesaian masalah, karyawan yang berhubungan langsung dengan
    pelanggan harus memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas berdasarkan
    standar yang ada, termasuk pelatihan yang diberikan untuk dapat memberikan
    Kualitas Pelayanan yang lebih baik. 4. Perbaikan, apabila terjadi hal-hal yang
    tidak diinginkan harus mempunyai personil yang dapat menyiapkan usahausaha khusus untuk dapat mengatasi kondisi tersebut

Prinsip – Prinsip Kualitas Kualitas Pelayanan


Kualitas Pelayanan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak
perusahaan berupa hal yang tidak berwujud namun dapat dirasakan oleh
konsumen. Pengukuran Kualitas Pelayanan dapat dilihat dari terhadap suatu
layanan yang telah diterima oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan harapannya.
Dalam memberikan Kualitas Pelayanan perusahaan juga harus memiliki
prinsip untuk mewujudkannya, ada enam pokok prinsip pokok dalam kualitas
Kualitas Pelayanan menurut Tjiptono dan Chandra (2016:141), yaitu :
1) Kepemimpinan Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan
komitmen manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin
perusahaanya untuk meningkatkan kualitas hanya berdampak kecil terhadap
perusahaannya.
2) Pendidikan Semua personil perusahan dari manajer puncak sampai karyawan
operasional harus memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-aspek
yang perlu mendapat penekanan dalam pndidikan tersebut meliputi konsep
kualitas sebagai strategi bisnis, alat dan teknis implementasi strategi kualitas,
dan peranan eksekutif dalam implementasi strategi kualitas.
3) Perencanaan Proses perencanaan strategi harus mencakup pengukuran dan
tujuan kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan untuk
mencapai visinya.
4) Review Proses review merupakan satu-satunya alat yang paling efektif bagi
manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini merupakan
suatu mekanisme yang menjamin adanya konstan untuk mencapai tujuan
kualitas.
5) Komunikasi Implementasi strategi kualitas dalam organisasi dipengaruhi oleh
proses komunikasi dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan oleh
karyawan, pelanggan, dan stakeholder perusahaan lainnya. Seperti pemasok,
pemegang saham, pemerintah, masyarakat umum, dan lain-lain.
6) Penghargaan dan pengakuan Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek
yang penting dalam implementasi strategi kualitas. Setiap karyawan yang
berprestasi baik perlu diberikan penghargaan dan prestasinya tersebut diakui.
Dengan demikian diberikan penghargaan dan prestasinya tersebut diakui.
Dengan demikian dapat meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, rasa
kepemilikan setiap orang dalam organisasi, yang pada akhirnya dapat
memberikan konstribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang
dilayani.

Pengertian Kualitas Kualitas Pelayanan


Sudah menjadi keharusan perusahaan melakukan kualitas Kualitas
Pelayanan yang terbaik supaya mampu bertahan dan tetap menjadi kepercayaan
pelanggan. Terciptanya Kepuasan Pelanggan dapat memberikan manfaat
diantaranya hubungan antara Perusahaan dan Pelanggan menjadi harmonis,
Pelanggan akan melakukan pembelian ulang hingga terciptanya loyaitas
Pelanggan, dan membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of
mouth) yang menguntungkan Perusahaan. Menurut Arianto (2018:83) kualitas
Kualitas Pelayanan dapat diartikan sebagai berfokus pada memenuhi kebutuhan
dan persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi harapan pelanggan.
Kualitas Pelayanan berlaku untuk semua jenis layanan yang disediakan oleh
perusahaan saat klien berada di perusahaan. Menurut Kotler dan Keller
(2016:143) “kualitas adalah kelengkapan fitur suatu produk atau jasa yang
memiliki kemampuan untuk memberikan kepuasan terhadap suatu kebutuhan”.
Menurut Kasmir (2017:47) kualitas Kualitas Pelayanan di definisikan sebagai
tindakan atau perbuatan seorang atau organisasi bertujuan untuk memberikan
kepuasan kepada pelanggan ataupun karyawan. Sedangkan menurut Aria dan Atik
(2018:16) kualitas Kualitas Pelayanan merupakan komponen penting yang
harus diperhatikan dalam memberikan Kualitas Pelayanan prima. Kualitas
Kualitas Pelayanan dmerupakan titik sentral bagi perusahaan karena
mempengaruhi kepuasan konsumen dan kepuasan konsumen akan muncul
apabila kualitas Kualitas Pelayanan yang diberikan dengan baik.

Tujuan Penetapan Harga


Menurut Tjiptono dan Diana (2016: 220), Pada dasarnya terdapat
banyak tujuan penetapan harga. Berikut ini adalah beberapa di antaranya,
sebagai berikut:
a. Survival
Salah satu tujuan pokok penetapan harga yaitu demi survival
(kelangsungan hidup) perusahaan. Survival adalah usaha untuk tidak
melakukan tindakan-tindakan yang meningkatkan laba saat perusahaan
sedang mengalami kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Usaha ini
dilakukan demi kelangsungan hidup perusahaan.
b. Memaksimalkan Laba
Penentuan harga bertujuan untuk memaksimalkan laba dalam
periode tertentu.
c. Return On Investment (ROI)
Tujuan penentuan harga didasarkan atas pencapaian
pengembalian atas investasi (return on investment) yang diinginkan.
Perusahaan pasti menginginkan balik modal dari investasi yang ditanam
perusahaan sehingga penetapan harga yang tepat akan mempercepat
tercapainya modal kembali/ROI.
d. Pangsa Pasar
Perusahaan menetapkan tingkat harga agar dapat
mempertahankan atau meningkatkan penjualan secara relatif
dibandingkan penjualan para pesaing. Dengan menetapkan harga
rendah dibandingkan produk pesaing, dapat mengalihkan perhatian
konsumen dari produk para pesaing dan dapat menggapai pangsa pasar.
e. Aliran Kas
Sebagian perusahaan menetapkan harga agar dapat menghasilkan
kas secepat mungkin. Tujuan ini biasanya dipilih saatperusahaan ingin
menutup biaya pengembangan produk secepatnya. Selain itu, jika siklus
hidup produk diperkirakan berlangsung singkat, maka tujuan ini dapat
menjadi pilihan strategik.
f. Mempertahankan Status Quo
Dalam kasus-kasus tertentu, perusahaan berada dalam posisi
kompetitif yang mapan dan berharap dapat mempertahankan status quo.
Tujuan status quo bisa berfokus pada sejumlah dimensi, seperti
mempertahankan pangsa pasar tertentu, menyamai (namun tidak
mengalahkan) harga pesaing, mewujudkan stabilitas harga, dan
mempertahankan citra publik yang positif. Tujuan semacam ini
membantu perusahaan menekan risiko dengan jalan menstabilkan
permintaan produk.
g. Kualitas Produk
Citra kualitas produk dapat dibentuk melalui strategi penetapan
harga. Contohnya, harga mahal sering kali dijadikan indikator kualitas
tinggi oleh para konsumen. Upaya menghasilkan produk berkualitas
tinggi biasanya membutuhkan biaya besar, diantaranya biaya riset dan
pengembangan, serta bahan baku yang digunakan. Namun demikian,
konsumen mempersepsikan produk dan merek spesifik berkualitas
tinggi, maka produk dan merek bersangkutan berpeluang survive lebih
besar dalam pasar yang sangat kompetitif. Konsumen mempercayai
merek dan produk tersebut sekalipun harganya lebih mahal.

Faktor – Faktor Harga


Ada beberapa faktor penentu yang perlu dipertimbangkan perusahaan
dalam menetapkan harga menurut Kotler dan Keller (2016: 491-492), yaitu:
a. Mengenal permintaan produk dan pesaingan
Besarnya permintaan produk dan banyaknya pesaing juga
mempengaruhi harga jual, jadi jangan hanya menentukan harga sematamata didasarkan pada biaya produksi, distribusi dan promosi saja.
b. Target pasar yang hendak dilayani atau diraih
Semakin menetapkan target yang tinggi maka penetapan harga
harus lebih teliti.
c. Marketing mix sebagai strategi
d. Produk baru
Jika itu produk baru maka bisa ditetapkan harga yang tinggi ataupun
rendah, tetapi kedua strategi ini mempunyai kelebihan dan kelemahan
masingmasing. Penetapan harga yang tinggi dapat menutup biaya riset,
tetapi juga dapat menyebabkan produk tidak mampu bersaing di pasar.
Sedangkan dengan harga yang rendah jika terjadi kesalahan peramalan
pasar, pasar akan terlalu rendah dari yang diharapkan. Maka biaya-biaya
tidak dapat tertutup sehingga perusahaan mungkin menderita kerugian.
e. Reaksi pesaing
Dalam pasar yang semakin kompetitif maka reaksi pesaing ini harus
selalu dipantau oleh perusahaan, sehingga perusahaan dapat menentukan
harga yang dapat diterima pasar dengan mendatangkan keuntungan.
f. Biaya produk dan perilaku biaya
g. Kebijakan atau peraturan yang ditentukan oleh pemerintah dan lingkungan.

Pengertian Harga


Harga merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan untuk sebuah produk
atau jasa, atau sejumlah nilai yang ditukarkan oleh konsumen untuk memperoleh
manfaat atau kepemilikan atau penggunaan atas sebuah produk atau jasa (Kotler
dan Armstrong, 2016:324).
Menurut Lupiyoadi (2013: 95) harga merupakan alat pemberian nilai
kepada konsumen dan mempengaruhi citra produk, dan keputusan konsumen
untuk membeli. Harga merupakan sejumlah uang yang ditukarkan untuk sebuah
produk atau jasa. Lebih jauh lagi, harga adalah sejumlah nilai yang konsumen
tukarkan untuk sejumlah manfaat dengan memiliki atau menggunakan suatu
produk atau jasa. Pemasaran dalam sebuah perusahaan harus benar-benat
menetapkan harga yang tepat dan pantas bagi produk atau jasa yang ditawarkan
karena menetapkan harga yang tepat merupakan kunci untuk menciptakan dan
menangkap nilai pelanggan.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman et al. (1988) mengungkapkan ada 22 faktor
penentu service quality yang dirangkum ke dalam lima faktor dominan atau
lebih dikenal dengan istilah SERVQUAL, yaitu reliability, responsiveness,
assurance, empathy, dan tangible (Steven Darwin,et, al,. 2014). Dengan
penjelasan sebagi berikut :
a. Reliability
Kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan handal
dan akurat. Dalam arti luas, keandalan berarti bahwa perusahaan
memberikan janji-janjinya tentang penyediaan, penyelesaian masalah, dan
harga..
b. Responsiveness
Kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa
dengan cepat. Dimensi ini menekankan pada perhatian dan ketepatan ketika
berurusan dengan permintaan, pertanyaan, dan keluhan pelanggan.
c. Assurance.
Pengetahuan, sopan santun, dan kemampuan karyawan untuk
menimbulkan keyakinan dan kepercayaan. Dimensi ini mungkin akan
sangat penting pada jasa layanan yang memerlukan tingkat kepercayaan
cukup tinggi. Contohnya seperti di bank, asuransi, dan dokter.
d. Emphaty
Kepedulian dan perhatian secara pribadi yang diberikan kepada
pelanggan. Inti dari dimensi empati adalah menunjukkan kepada pelanggan
melalui layanan yang diberikan bahwa pelanggan itu spesial, dan kebutuhan
mereka dapat dimengerti dan dipenuhi.
e. Tangible
Berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan, staff dan bangunannya.
Dimensi ini menggambarkan wujud secara fisik dan layanan yang akan
diterima oleh konsumen. Contohnya seperti fasilitas toko, kebersihan dan
kenyamanan ruang yang digunakan untuk transaksi serta kerapian
penampilan pegawai.

Manfaat Kualitas Pelayanan


Menurut Kotler dan Keller (2016 :158) terdapat lima manfaat kualitas
layanan,yaitu :
a. Mengidentifikasi dengan benar kebutuhan dan persyaratan pelanggan.
b. Menyampaikan harapan pelanggan kepada perancang produk.
c. Memastikan pesanan pelanggan dipenuhi dengan benar dan tepat waktu.
d. Tetap berhubungan dengan pelanggan setelah penjualan untuk memastikan
bahwa mereka puas.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Gronroos (dalam Utami, 2006: 246) menyatakan bahwa
kualitas layanan terdiri dari dua dimensi, yaitu:
a. Dimensi kualitas teknis (techincal quality), yaitu apa saja yang diperoleh
konsumen,
b. Dimensi fungsional (functional quality), yaitu dengan cara bagaimana
konsumen memperoleh jasa.
Menurut Brady dan Cronin (dalam Utami, 2006: 252) menyatakan
adanya tiga dimensi utama sebagai alternatif dari dimensi kualitas layanan,
yaitu:
a. Kualitas interaksi (interaction quality) : kontak yang terjadi pada proses
penyampaian jasa dalam pertemuan antara penyedia jasa dengan konsumen,
dan hal tersebut merupakan kunci penentu dari evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap kualitas layanan.
b. Kualitas hasil (outcome quality) : didefinisikan sebagai evaluasi yang
dilakukan konsumen terhadap hasil dari aktivitas layanan jasa yang
diterimanya, termasuk ketepatan waktu dalam pelayanan jasa.
c. Kualitas lingkungan (environment quality) terkait dengan seberapa jauh dan
seberapa besar fitur berwujud (tangible feature) dari proses penyampaian
layanan yang kemudian memainkan peran dalam mengembangkan persepsi
konsumen terhadap kualitas layanan jasa secara keseluruhan.

Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan


Menurut (Tjiptono, 2014), terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas layanan:
a. Mengidentifikasi determinan utama kualitas layanan
Setiap penyedia layanan diwajibkan untuk menyampaikan layanan
berkualitas terbaik kepada konsumen. Beberapa faktor yang menjadi
penilaian konsumen seperti keamanan transaksi (pembayaran menggunakan
kartu kredit atau debit), keamanan, ketepatan waktu, dan lain-lain. Upaya ini
dilakukan untuk membangun pandangan konsumen terhadap kualitas layanan
yang telah diterima. Apabila terjadi kekurangan dalam beberapa faktor
tersebut, perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Sehingga akan terjadi penilaian
yang lebih baik di mata pelanggan.
b. Mengelola ekspektasi pelanggan
Banyak perusahaan yang berusaha menarik perhatian pelanggan
dengan berbagai cara sebagai salah satunya adalah melebih-lebihkan janji
sehingga itu menjadi bumerang untuk perusahaan apabila tidak dapat
memenuhi apa yang telah dijanjikan. Karena semakin banyak janji yang
diberikan, semakin besar pula ekspektasi pelanggan. Ada baiknya untuk lebih
bijak dalam memberikan janji kepada pelanggan.
c. Mengelola bukti kualitas layanan
Pengelolahan ini bertujuan untuk memperkuat penilaian pelanggan
selama dan sesudah layanan disampaikan. Berbeda dengan produk yang
bersifat tangible, sedangkan layanan merupakan kinerja, maka pelanggan
cendrung memperhatikan seperti apa layanan yang akan diberikan dan seperti
apa layanan yang telah diterima. Sehingga dapat menciptakan persepsi
tertentu terhadap penyedia layanan di mata konsumen.
d. Mendidik konsumen tentang layanan
Upaya mendidik layanan kepada konsumen bertujuan untuk
mewujudkan proses penyampaian dan pengkonsumsian layanan secara efektif
dan efisien. Pelanggan akan dapat mengambil keputusan pembelian secara
lebih baik dan memahami perannya dalam proses penyampaian layanan.
Sebagai contoh :
1) Penyedia layanan memberikan informasi kepada konsumen dalam
melakukan sendiri layanan tertentu.
2) Penyedia layanan membantu konsumen dalam pemberitahuan kapan
menggunakan suatu layanan secara lebih mudah dan murah, yaitu sebisa
mungkin untuk menghindari periode waktu sibuk dan memanfaatkan
periode di mana layanan tidak terlalu sibuk.
3) Penyedia layanan menginformasikan konsumen mengenai prosedur atau
cara penggunaan layanan melalui iklan, brosur, atau staff secara langsung
mendampingi konsumen saat penggunaan layanan.
4) Penyedia layanan meningkatkan kualitas layanan dengan cara penjelasan
kepada konsumen tentang beberapa hal kebijakan yang mungkin akan
mengecewakan konsumen, misalkan kenaikan harga.
e. Menumbuhkan budaya kualitas
Budaya kualitas dapat dikembangkan dalam sebuah perusahaan
dengan diadakannya komitmen menyeluruh dari semua anggota organisasi
dari yang teratas hingga terendah. Budaya kualitas terdiri dari filosofi,
keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang berkenaan
dalam peningkatan kualitas. Beberapa faktor yang dapat menghambat namun
dapat pula memperlancar pengembangan kualitas layanan, yaitu:
1) Sumber daya manusia, sebagai contoh dalam hal penyeleksian karyawan,
pelatihan karyawan, deskripsi job desk, dan sebagainya.
2) Organisasi/ struktur, meliputi intergrasi atau koordinasi antar fungsi dan
struktur pelaporan.
3) Pengukuran (measurement), yaitu melakukan evaluasi kinerja dan
keluhan serta kepuasan konsumen.
4) Pendukung sistem, yaitu faktor teknologi seperti komputer, sistem,
database, dan teknis.
5) Layanan, meliputi pengelolahan keluhan konsumen, alat-alat manajemen,
alat-alat promosi/ penjualan.
6) Komunikasi internal, terdiri dari prosedur dan kebijakan dalam
operasional.
7) Komunikasi eksternal, yakni edukasi pelanggan, manajemen ekspektasi
pelanggan, dan pembentukan citra positif perusahaan.
f. Menciptakan automating quality
Otomatisasi berpotensi mengatasi masalah dalam hal kurangnya
sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Namun dibutuhkan
perhatian dalam aspek-aspek sentuhan manusia (high touch) dan elemenelemen yang memerlukan otomatisasi (high tech). Keseimbangan antara
kedua hal tersebut sangat dibutuhkan untuk menghasilkan kesuksesan
penyampaian layanan secara efektif dan efisien. Contoh, internet banking,
phone banking, dan sejenisnya.
g. Menindaklanjuti layanan
Penindaklanjutan layanan diperlukan untuk memperbaiki aspekaspek layanan yang kurang memuaskan dan mempertahankan yang sudah
baik. Dalam rangka ini, perusahaan perlu melakukan survey terhadap
sebagian atau seluruh konsumen mengenai layanan yang telah diterima.
Sehingga perusahaan dapat mengetahui tingkat kualitas layanan perusahaan
di mata konsumen.
h. Mengembangkan sistem informasi kualitas layanan
Service quality information system adalah sistem yang digunakan
oleh perusahaan dengan cara melakukan riset data. Data dapat berupa hasil
dari masa lalu, kuantitaif dan kualitatif, internal dan eksternal, serta
informasi mengenai perusahaan, pelanggan, dan pesaing. Bertujuan untuk
memahami suara konsumen (consumen’s voice) mengenai ekspektasi dan
persepsi konsumen terhadap lay

Pengertian Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keingginan
pelanggan (Tjiptono,2011:59). Lewis dan Booms dalam (Wijaya, 2011)
menjelaskan kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat
layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Kualitas
pelayanan merupakan komponen penting dalam persepsi konsumen, juga sangat
penting dalam pengaruhnya terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik
kualitas maka jasa yang diberikan maka akan semakin baik pula citra jasa
tersebut dimata konsumen.
Pendapat lain dikemukan oleh Sunyoto (2012:236) bahwa kualitas
pelayanan merupakan suatu ukuran untuk menilai bahwa suatu barang atau jasa
telah mempunyai nilai guna seperti yang dikendaki atau dengan kata lain suatu
barang atau jasa dianggap telah memiliki mutu apabila berfungsi atau
mempunyai nilai guna seperti yang diinginkan.
Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang
diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika
pelayanan yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas layanan
dipersepsikan ideal. Sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah dari
pada yang diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan buruk. Dengan
demikian baik tidaknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan
penyedia layanan dalam memenuhi harapan pelanggan secara konsisten

Pengaruh kupuasan pelanggan terhadap loyalitas pelanggan


Menurut Kotler dan Keller (2009) menyatakan “kepuasan
merupakanperasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena
membandingkan kinerja yang diperesepsikan produk (atau hasil) terdapat
ekspetasi mereka”. Suatu kinerja apabila tidak memenuhi ekspektasi, maka
pelanggan akan merasa tidak puas, segitu juga sebaliknya, dan jika kinerja
melebihi ekspektasi, maka pelanggan akan sangat puas atau senang.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan


Menurut Hurryati (2008) “pelanggan yang loyal mempunyai peran
yang sangat penting bagi perusahaan, karena loyalitas seorang pelanggan
bisa meningkatkan laba dan mempertahankan eksistensi sebuah
perusahaan”.
Menurut Griffin (2003) “konsep loyalitas pelanggan lebih banyak
dikaitkan dengan perilaku dari pada sikap, pembelian oleh seorang
pelanggan bisa dikatakan perlaku dan sikap adalah suatu persaan yang
diperlihatkan oleh seorang pelanggan setelah memakai produk atau jasa”.

Pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan


Kualitas pelayanan adalah perbandingan antara pelayanan yang telah
diterima oleh konsumen dengan apa yang diharapkan untuk memenuhi
permintaan dan harapan konsumen. Menurut Lovelock and Waright (2007)
kualitas pelayanan jasa merupakan evaluasi kognitif jangka panjang
pelanggan terhadap penyerahan jasa sesuatu perusahaan. Pada umumnya
pelayanan yang diberikan perusahaan baik akan menghasilkan kepuasan yang
tinggi serta pembelian ulang yang sangat tinggi.
Parasuraman dalam Lupiyoadi (2008) kualitas pelayanan jasa dapat
dilihat dari lima dimensi antara lain: bukti langsung (tangible),
kehandalan(reability), ketanggapan (responsiverness), jaminan ( assurance)
dan empati(empaty).
Menurut Kotler dan Keller (2009) menyatakan bahwa “Kepuasan
adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan kinerja yang dipresepsikan produk (atau hasil) terhadap
ekspektasi mereka”.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aryani danRosinta(2010)
diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang kuat dan positif antara variabel
kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan.

Loyalitas Pelanggan


Menurut Tjiptono (2000) loyalitas konsumen adalah komitmen
pelanggan terhadap suatu merek, toko atau pemasok berdasarkan sifat yang
sangat positif dalam pembelian jangka panjang.
Loyalitas dapat didefinisikan berdasarkan perilaku membeli.
Pelanggan yang loyal adalah orang yang :
a. Melakukan pembelian berulang secara teratur
b. Membeli antarlini produk dan jasa
c. Mereferensikan kepada orang lain
d. Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing
Konsep loyalitas pelanggan lebih banyak dikaitkan dengan perilaku
(behavior) daripada dengan sikap. Bila seseorang merupakan pelanggan
loyal, ia menunjukkan perilaku pembelian yang didefinisikan sebagai
pembelian non-random yang diungkapkan dari waktu kewaktu oleh beberapa
unit pengambilan keputusan. Dua kondisi penting yang berhubungan dengan
loyalitas adalah retensi pelanggan (customer retention) dan total pangsa
pelanggan (totalshare of customer). Retensi pelanggan menjelaskan lamanya
hubungan dengan pelanggan. Tingkat retensi pelanggan adalah persentase
pelanggan yang telah memenuhi sejumlah pembelian ulang selama periode
waktu yang terbatas, sedangkan pangsa pelanggan suatu perusahaan
menunjukkan persentase dari anggaran pelanggan yang dibelanjakan
keperusahaan tersebut (Griffin: 2003).
Setelah keterikatan, faktor kedua yang menentukan loyalitas
pelanggan terhadap produk atau jasa tertentu adalah pembelian ulang. Empat
jenis loyalitas yang berbeda muncul bila keterikatan rendah dan tinggi
diklasifikasisilang dengan pola pembelian ulang yang rendah dan tinggi. Ada
ada empat jenis loyalitas yaitu :
a. Tanpa loyalitas, pelanggan tanpa loyalitas memiliki tingkat
pembelianberulang yang rendah dan keterikatanya pun relatif rendah.
Untuk berbagai alasan, beberapa pelanggan tidak mengembangkan
loyalitas terhadap produk atau jasa tertentu. Secara umum, perusahaan
harus menghindari membidik para pembeli jenis ini karena mereka tidak
akan pernah menjadi pelanggan yang loyal, mereka hanya berkontribusi
sedikit pada kekuatan keuangan perusahaan. Tantangannya adalah
menghindari membidik sebanyak mungkin orang-orang seperti ini dan
lebih memilih pelanggan yang loyalitasnya dapat dikembangkan.
b. Loyalitas yang lemah, pelanggan dengan loyalitas lemah memiliki
keterikatan relatif rendah namun pembelian berulangnya tinggi.
Keterikatan yang rendah digabung dengan pembelian berulang yang
tinggi menghasilkan loyalitas yang lemah (inertil loyality), pelanggan ini
membeli karena kebiasaan. Ini adalah jenis pembelian “karena kami
selalu menggunakannya” atau “ karena sudah terbiasa”. Dengan kata lain,
faktor nonsikap dan faktor situasi merupakan alasan utama membeli.
Pembeli ini merasakan tingkat kepuasan tertentu dengan perusahaan, atau
minimal tiada ketidakpuasan yang nyata. Loyalitas jenis ini paling umum
terjadi pada produk yang sering dibeli.
c. Loyalitas tersembunyi, pelanggan dengan loyalitas tersembunyi memiliki
tingkat preferensi yang relatif tinggi digabung dengan tingkat pembelian
berulang yang rendah. Bila pelanggan memiliki loyalitas yang
tersembunyi, pengaruh situasi dan bukan pengaruh sikap yang
menentukan pembelian berulang. Dengan memahami faktor situasi yang
berkontribusi pada loyalitas tersembunyi, perusahaan dapat
menggunakan strategi untuk mengatasinya.
d. Loyalitas premium, pelanggan dengan loyalitas premium memiliki
keterikatan relatif tinggi digabung dengan tingkat pembelian berulang
yang juga tinggi. Jenis loyalitas yang paling dapat ditingkatkan, terjadi
bila ada tingkat keterikatan yang tinggi dan tingkat pembelian berulang
yang juga tinggi. Ini merupakan jenis loyalitas yang lebih disukai untuk
semua pelanggan disetiap perusahaan. Pada tingkat preferensi paling
tinggi tersebut, orang bangga karena menemukan dan menggunakan
produk tertentu dan senang membagi pengetahuan mereka dengan rekan
dan keluarga (Griffin: 2003).

Kualitas Layanan


Definisi kualitas pelayanan berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan
dan keinginan pelanggan serta ketetapan penyampaiannnya untuk
mengimbangi harapan pelanggan. Kualitas jasa adalah setiap tindakan atau
perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak yang lain yang
pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak
menghasilkan kepemilikan sesuatu, seperti disebutkan Kotler (2009). Menurut
Wyckof dalam Tjiptono (2005), kualitas jasa merupakan tingkat keunggulan
(excellence) yang diharapkan dan pengendalian atas keunggulan tersebut untuk
memenuhi keinginan pelanggan. Terdapat dua faktor utama yang
mempengaruhi kualitas jasa yaitu, jasa yang diharapkan (expected service) dan
jasa yang dipersepsikan (perceived service), jadi baik dan buruknya kualitas
jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan
pelanggannya secara konsisten.
Menurut Parasuraman, et al dalam Purnama (2006) “ kualitas pelayanan
merupakan perbandingan antara layanan yang dirasakan pelanggan (persepsi)
dengan kualitas layanan yang diharapkan oleh pelanggan”. Kotler dan Keller
(2009) mengatakan “kualitas (quality) adalah totalitas fitur dan karakteristik
produk atau jasa yang tergantung pada kemampuan untuk memuaskan
kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat”. Lupiyoadi dan Hamdani (2008)
menjelaskan bahwa “kualitas produk atau jasa merupakan sejauh mana produk
atau jasa memenuhi spesifikasi-spesifikasinya”.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam Anggraini (2021) indikator didalam
kualitas pelayanan yaitu untuk mengetahui kualitas pelayanan yang dirasakan
secara nyata oleh konsumen, ada indikator kualitas pelayanan yang terletak
pada lima dimensi kualitas pelayanan, yaitu:

  1. Tangibles (yang teramati) yaitu kualitas pelayanan berupa penampilan fisik
    fasilitasnya, teknologi pendukung, dan tampilan karyawannya. Indikator
    dari Tangibles:
    a. Karyawan berpenampilan rapi dan professional.
    b. Peralatan yang dimiliki perusahaan terlihat modern.
    c. Fasilitas fisik perusahaan bersih dan penataannya rapi.
  2. Reliability (keandalan) yaitu kemampuan dan keandalan perusahaan untuk
    untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya. Indikator dari Reliability:
    a. Dalam melayani konsumen, karyawan harus menyampaikan informasi
    dengan jelas.
    b. Karyawan memiliki keahlian untuk mengoperasikan peralatan di
    perusahaan.
  3. Responsiveness (ketanggapan) yaitu berupa kesanggupan untuk membantu
    dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap
    keinginan konsumen. Indikator dari Responsiveness:
    a. Karyawan memberikan pelayanan segera pada konsumen.
    b. Karyawan dalam melayani konsumen secara cepat dan tepat.
    c. Kesediaan karyawan untuk merespon dan membantu konsumen.
  4. Assurance (jaminan) yaitu berupa kemampuan dan keramahan serta sopan
    santun pegawai dalam meyakinkan kepercayaan konsumen. Indikator dari
    Assurance:
    a. Karyawan memiliki sikap yang menumbuhkan rasa percaya para
    konsumen.
    b. Karyawan berperilaku sopan kepada konsumen.
    c. Karyawan dalam melayani konsumen menggunakan tutur bahasa yang
    santun.
    d. Karyawan dalam melayani konsumen harus disertai dengan senyum
    yang ramah.
  5. Empathy (empati) yaitu berupa sikap tegas tetapi penuh perhatian dari
    karyawan terhadap konsumen. Indikator dari Empathy:
    a. Karyawan melayani konsumen dengan pemikiran positif dengan
    memperlakukan mereka dengan baik dan menghormati mereka, tidak
    menjadi acuh terhadap konsumen.
    b. Karyawan memperlakukan konsumen secara penuh perhatian.
    c. Karyawan sungguh-sungguh mengutamakan kepentingan konsumen
    dan berupaya memahami keinginan konsumen.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam Anggraini (2021) untuk mengetahui
kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen terdapat lima dimensi
kualitas pelayanan yaitu:

  1. Tangibles (yang teramati) yaitu kualitas pelayanan berupa penampilan fisik
    fasilitasnya, teknologi pendukung, dan tampilan karyawannya. Penampilan
    fisik perusahaan akan sangat berpengaruh pada evaluasi pelanggan
    terhadap kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan.
  2. Reliability (keandalan) yaitu kemampuan dan keandalan perusahaan untuk
    untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya. Keandalan menunjukkan
    seberapa jauh perusahaan memberikan pelayanan sama seperti yang telah
    dijanjikan secara akurat dan tepat. Keandalan ini tidak hanya penting untuk
    masalah-masalah yang besar, karena masalah kecil juga menjadi hal
    penting untuk pelanggan dalam memberikan evaluasi tentang perusahaan.
  3. Responsiveness (ketanggapan) yaitu berupa kesanggupan untuk membantu
    dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap
    keinginan konsumen. Daya tanggap menunjukkan kemauan dan
    komitmen dari perusahaan dalam memberikan pelayanan yang tepat waktu.
    Daya tanggap tidak hanya mengenai cepatnya pelayanan yang diberikan,
    tetapi juga kemauan dari perusahaan atau karyawan dalam membantu
    pelanggan
  4. Assurance (jaminan) yaitu berupa kemampuan dan keramahan serta sopan
    santun pegawai dalam meyakinkan kepercayaan konsumen. Kemampuan
    untuk melahirkan kepercayaan dan keyakinan dari pelanggan yang meliputi
    pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan karyawan untuk
    menumbuhkan rasa percaya pelanggan terhadap perusahaan.
  5. Empathy (empati) yaitu berupa sikap tegas tetapi penuh perhatian dari
    karyawan terhadap konsumen. Kemampuan komunikasi para karyawan
    untuk menjelaskan dengan baik mengenai pelayanan yang disediakan
    perusahaan akan memberikan dampak baik dari evaluasi pelanggan

Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan merupakan upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan konsumen serta ketepatan dalam penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Wyekof dalam Sinollah (2019)
kualitas pelayanan yaitu seberapa bagus tingkat pelayanan yang diberikan
sesuai dengan ekspektasi pelanggan.
Menurut Parasuraman dalam Yulianto (2018) mendefinisikan kualitas
layanan (service quality) sebagai persepsi pelanggan atas jasa yang mereka
terima. Di samping itu, Parasuraman juga menyatakan kualitas layanan
merupakan evaluasi keseluruhan dari fungsi jasa yang diterima secara aktual
oleh pelanggan (kualitas teknis) dan bagaimana cara layanan tersebut
disampaikan (kualitas fungsional). Apabila layanan yang diterima dan
dirasakan sesuai dengan harapan pelanggan maka kualitas layanan tersebut
dianggap sebagai kualitas yang baik, dan sebaliknya apabila kualitas layanan
yang diterima tidak sesuai dengan yang diharapkan pelanggan maka kualitas
layanan tersebut dipersepsikan buruk

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Layanan


Kualitas layanan merupakan suatu pemberian jasa yang
berbentuk produk maupun jasa yang bersifat dinamis, dimana
kualitas layanan ditentukan pada saat proses pemberian layanan
berlangsung. Konsep dari kualitas layanan berdasarkan perilaku
konsumen (consumen behavior) dimana konsumen memainkan
perannya dalam mencari dan menentukan layanan yang berkualitas
serta memenuhi kebutuhan para konsumen. Dalam pelayanan,
terdapat faktor yang utama dalam mempengaruhi kualitas layanan,
diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Motivasi kerja birokrasi maupun karyawan
  2. Kemampuan karyawan
  3. Perilaku dan sikap birokrasi maupun karyawan
  4. Kontrol sosial
  5. Komunikasi, disposisi, struktur birokrasi, serta komunikasi dan
    aliran informasi terhadap birokrasi/karyawan
  6. Restrukturisasi organisasi (Yuani, 2019).

Standar Pelayanan


Menurut Warni (2020), standar pelayanan telah diatur menurut
Keputusan Menteri PAN Nomor:63/KEP/M.PAN/7/2003. Dalam
pelayanan publik tentunya harus memiliki standar-standar pelayanan
adalah sebagai berikut :

  1. Prosedur pelayanan;
  2. Waktu Penyelesaian
  3. Biaya Pelayanan
  4. Produk Pelayanan
  5. Sarana dan Prasarana
  6. Kompetensi petugas pelayanan

Asas-asas Pelayanan


Menurut Eny Kusdarini dalam Mamopo (2020), di dalam pasal
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik
terdapat asas-asas penyelenggaraan pelayanan publik yaitu meliputi
12 asas adalah sebagai berikut :

  1. Asas kepentingan umum
  2. Asas kepastian hokum
  3. Asas kesamaan hak,
  4. Kesimbangan hak dan kewajiban,
  5. Asas keprofesional (Mamopo, 2020).

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dalam Yuani (2019), dalam pelayanan
publik terdapat beberapa ciri-ciri kualitas layanan, diantaranya
adalah sebagai berikut :

  1. Ketepatan waktu dalam pelayanan
  2. Akurasi dalam pelayanan, yaitu tidak ada kesalahan dalam proses
    pelayanan
  3. Kemudahan dalam mendapatkan pelayanan, meliputi terdapat
    SDM yang memadai dan fasilitas yang mendukung, sehingga
    akses mudah dalam pelayanan
  4. Kesopanan dan keramahan
  5. Kenyamanan dalam mendapatkan pelayanan, meliputi
    ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, ketersediaan
    informasi yang lengkap
  6. Atribut pendukung, seperti fasilitas yang lengkap serta
    kebersihan ruangan

Dasar-dasar Pelayanan


Dalam melakukan serangkaian proses pelayanan publik,
tentunya penyedia jasa melakukan interaksi terhadap pihak penerima
jasa atau konsumen. Pihak penyedia jasa perlu memenuhi dasardasar pelayanan yang mencakup pengetahuan tentang dasar
pelayanan serta standar pelayanan yang diperoleh dari kegiatan
pelatihan bagi seluruh penyedia jasa publik. Menurut Kasmir (2017)
dalam (Yuani, 2019) berikut adalah dasar-dasar pelayanan
diantaranya adalah :

  1. Percaya diri dan bersikap ramah
  2. Berkata lembut dan mendengarkan pembicaraan
  3. Sopan santun
  4. Berkomunikasi secara baik dan benar
  5. Berpakaian rapi dan bersih

Unsur-unsur Pelayanan


Dalam serangkaian kegiatan pelayanan publik terdapat
beberapa unsur-unsur dalam kegiatan tersebut. Menurut Barata
(2007), terdapat empat unsur-unsur dalam pelayanan publik adalah
sebagai berikut :

  1. Penyedia layanan adalah pemilik sebuah layanan kepada
    pelanggan baik layanan berupa jasa atau service maupun
    penyediaan maupun penyerahan barang.
  2. Penerima layanan adalah individu maupun suatu kelompok yang
    menerima suatu layanan dari pihak penyedia
  3. Jenis layanan adalah suatu layanan yang diberikan kepada pihak
    konsumen, seperti jenis layanan jasa ataupun barang.
    13
  4. Kepuasan pelanggan merupakan unsur terpenting dalam
    pelayanan karena hal ini merujuk pada tujuan diadakannya
    pelayanan. Kepuasan pelanggan dapat mengacu pada tingkat
    kualitas layanan jasa maupun barang (Yuani, 2019).

Definisi Kepuasan Konsumen


Kepuasan Konsumen Menurut Tjiptono (2009:195), kepuasan atau
satisfaction berasal dari bahasa latin “statis” yang berarti cukup baik atau
memadai dan “facio” (melakukan atau membuat) sehingga secara sederhana
kepuasan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu
yang memadai. Sedangkan konsumen menurut Webster’s Dictionary dalam buku
Lupiyoadi (2013:211) mendefinisikan konsumen sebagai seorang individu atau
kelompok yang berulang kali datang ke tempat yang sama untuk memuaskan
keinginannya dengan memiliki suatu produk atau mendapatkan suatu jasa dan
memuaskan produk atau jasa tersebut.
Dalam menentukan tingkat kepuasan, seorang konsumen sering kali melihat
dari nilai lebih suatu produk dan kinerja pelayanan yang diterima dari suatu proses
pembelian produk atau jasa. Pencarian nilai oleh konsumen terhadap produk atau
jasa perusahaan kemudian menimbulkan teori yang disebut dengan nilai yang
diterima konsumen (customer value delivered), yaitu besarnya selisih nilai yang
diberikan oleh konsumen terhadap produk atau jasa perusahaan yang ditawarkan
kepadanya dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk
memperoleh produk atau jasa tersebut (Lupiyoadi, 2013:212).

Indikator Kepercayaan


Dalam penelitian ini kepercayaan dinilai berdasarkan berikut ini.
a. Kepercayaan terhadap layanan petugas
b. Kepercayaan terhadap fasilitas Hotel
c. Kepercayaan terhadap hotel
(Moorman et. al, 1992 dalam Gatot Yulianto dan Purwanto Waluyo, 2004:359).

Dimensi Kepercayaan


Menurut Mayer et al. (1995) faktor yang membentuk kepercayaan seseorang
terhadap yang lain ada tiga yaitu kemampuan (ability), kebaikan hati
(benevolence), dan integritas (integrity). Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:

  1. Kemampuan (Ability)
    Kemampuan mengacu pada kompetensi dan karakteristik penjual/ organisasi
    dalam mempengaruhi dan mengotorisasi wilayah yang spesifik. Dalam hal ini,
    bagaimana penjual mampu menyediakan, melayani, sampai mengamankan
    transaksi dari gangguan pihak lain. Artinya bahwa konsumen memperoleh
    jaminan kepuasan dan keamanan dari penjual dalam melakukan transaksi. Kim et
    al. (2003) menyatakan bahwa ability meliputi kompetensi, pengalaman,
    pengesahan institusional dan kemampuam dalam ilmu pengetahuan.
  2. Kebaikan hati (Benevolence)
    Kebaikan hati merupakan kemauan penjual dalam memberikan kepuasan yang
    saling menguntungkan antara dirinya dengan konsumen. Profit yang diperoleh
    penjual dapat dimaksimumkan, tetapi kepuasan konsumen juga tinggi. Penjual
    bukan semata-mata mengejar profit maksimum semata, melainkan juga memiliki
    perhatian yang besar dalam mewujudkan kepuasan konsumen. Menurut Kim et al.
    (2003), benevolence meliputi perhatian, empati, keyakinan, dan daya terima.
  3. Integritas (Integrity)
    Integritas berkaitan dengan bagaimana perilaku atau kebiasaan penjual dalam
    menjalankan bisnisnya. Informasi yang diberikan kepada konsumen apakah benar
    sesuai dengan fakta atau tidak. Kualitas produk yang dijual apakah dapat
    dipercaya atau tidak. Kim et al. (2003) mengemukakan bahwa integrity dapat
    dilihat dari sudut kewajaran (fairness), pemenuhan (fulfillment), kesetiaan
    (loyalty), keterus-terangan (honestly), keterkaitan (dependability), dan kehandalan
    (reliabilty).

Definisi Kepercayaan


Kepercayaan, Seperti yang dikutip Ishak dan Zhafitri (2011) menyatakan
kepercayaan adalah kesediaan untuk bergantung kepada pihak lain yang telah
dipercaya. Menurut Sunarto (2004) Kepercayaan konsumen adalah semua
pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat
konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya. Objek dapat berupa Pengaruh
Kepuasan dan Kepercayaan, produk, orang, perusahaan, dan segala sesuatu,
dimana seseorang memiliki kepercayaan dan sikap. Sedangkan Atribut adalah
karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek.
Sedangkan Manfaat (Benifits) adalah hasil positif yang diberikan atribut kepada
konsumen.
Para manajer harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap objek, atribut,
dan manfaat menunjukkan persepsi konsumen, dan karena itu, umumya
kepercayaan seorang konsumen berbeda dengan konsumen lainnya. Barnes
(2008:149) menyatakan bahwa ada beberapa elemen penting dari kepercayaan,
yaitu:
a) Kepercayaan merupakan perkembangan dan pengalaman dan tindakan masa
lalu.
b) Watak yang diharapkan dari partner, seperti dapat dipercaya dan dapat
diandalkan.
c) Kepercayaan melibatkan kesediaan untuk menempatkan diri dalam resiko.
d) Kepercayaan melibatkan perasaan aman dan yakin pada diri partner.

Definisi Fasilitas


Sebelum melakukan pembelian suatu barang atau jasa konsumen akan
dihadapkan pada suatu masalah pokok yaitu mengenai barang atau jasa apa yang
akan dibeli dimana melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan
mempergunakan barang- barang dan jasa ekonomis. Menurut Nirwana (2004:47)
fasilitas merupakan bagian dari variabel pemasaran jasa yang memiliki peranan
cukup penting, karena jasa yang disampaikan kepada pelanggan tidak jarang
sangat memerlukan fasilitas pendukung dalam penyampaiannya. Menurut Mudie
dan Cottam dalam Tjiptono (2004:46) unsur-unsur yang perlu dipertimbangkan
dalam menentukan fasilitas jasa adalah :

  1. Pertimbangan / Perencaan Spasial
    Aspek-aspek seperti simetri, proporsi, tekstur, warna, dan lain-lain
    dipertimbangkan, dikombinasikan, dan dikembangkan untuk memancing respon
    intelektual maupun emosional dari pemakai orang atau yang melihatnya.
  2. Perencanaan Ruangan
    Unsur ini mencakup perancangan inteior dan arsitektur, seperti penempatan
    perabotan dan perlengkapannya dalam ruangan, desain aliran sirkulasi dan lainlain.
  3. Perlengkapan / Perabotan
    Perlengkapan memiliki berbagai fungsi, diantaranya sebagai sarana pelindung
    barang-barang berharga berukuran kecil, sebagai barang pajangan, sebagai tanda
    penyambutan bagi para pelanggan, dan sebagai sesuatu yang menunjukkan status
    pemilik atau penggunanya.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (2008, p.30) Ada empat karakteristik jasa/ layanan yang
membedakannya dari barang yaitu:
1) Intangibility (tidak berwujud). Jasa berbeda dengan barang. Jika barang
merupakan suatu objek, alat, atau benda, maka jasa adalah suatu perbuatan,
kinerja, atau usaha. Konsep intangible pada jasa memiliki dua pengertian,
yaitu:
a) Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa
b) Sesuatu yang tidak dapat dengan mudah didefinisikan, diformulasikan,
atau dipahami secara rohani.

Perishability (tidak dapat disimpan). Jasa merupakan komoditas tidak tahan
lama dan tidak dapat disimpan, harus langsung dikonsumsi pada saat itu juga,
jika tidak jasa tersebut akan hilang begitu saja.

Inseparability (tidak terpisah antara produksi dan konsumsi). Barang
biasanya diproduksi, kemudian dijual lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa,
umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi
secara bersamaan.

Variability (outputnya tidak terstandar). Jasa bersifat sangat variabel yang
memiliki banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis, tergantung pada siapa,
kapan, dan dimana saja jasa tersebut dihasilkan. Para konsumen sangat peduli
akan variability yang tinggi dan seringkali mereka meminta pendapat kepada
orang lain sebelum memutuskan untuk memilih. Dalam hal ini, penyedia jasa
dapat melakukan dua tahap dalam pengendalian kualitas, yaitu:
a. Melakukan investasi dalam seleksi pelatihan personil yang baik .
b. Melakukan standarisasi proses pelaksana jasa.
Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menyiapkan suatu biro jasa yang
menggambarkan peristiwa dan proses jasa dalam suatu diagram alur, dengan
tujuan untuk mengetahui faktor- faktor potensial yang dapat menyebabkan
kegagalan dalam jasa tersebut.

Definisi Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang
diberikan mampu sesuai dengan ekspetasi pelanggan. Kualitas pelayanan bisa
diwujudkan melalui pemenuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan
penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan menurut Tjiptono
(2007:121).
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,
jasa, manusia, proses, lingkungan yang memenuhi melebihi harapan menurut
Fandy Tjiptono (2008). Menurut Freddy Rangkuti (2009), tingkat kualitas
pelayanan tidak dapat dinilai berdasarkan sudut pandang perusahaan tetapi harus
dipandang dari sudut pandang penilaian pelanggan. Karena itu, dalam
merumuskan strategi dan program pelayanan, perusahaan harus berorientasi
kepada kepentingan pelanggan dengan memperhatikan komponen kualitas
pelayanan.
Menurut Tjiptono (2011) kualitas jasa merupakan sesuatu yang dipersepsikan
oleh pelanggan. Pelanggan akan menilai kualitas sebuah jasa yang dirasakan
berdasarkan apa yang mereka deskripsikan dalam benak mereka. Pelanggan akan
beralih ke penyedia jasa lain yang lebih mampu memahami kebutuhan spesifik
pelanggan dan memberikan layanan yang lebih baik. Kualitas yang rendah akan
menimbulkan ketidakpuasan pada pelanggan, tidak hanya pelanggan yang makan
di restoran tersebut tapi juga berdampak pada orang lain. Karena pelanggan yang
kecewa akan bercerita paling sedikit kepada lima belas orang lainnya.
Dampaknya, calon pelanggan akan menjatuhkan pilihannya kepada pesaing
(Lupiyoadi dan Hamdani,2006)

Pengertian Pelayanan Publik


Definisi pelayanan menurut Kottler dalam Yuani (2019)
adalah suatu kegiatan yang terdapat keuntungan didalam suatu
kelompok tersebut dengan menyediakan kepuasan pelanggan dalam
bentuk jasa maupun produk secara fisik. Proses kegiatan ini terjadi
melalui interaksi secara langsung antar satu dengan lainnya.
Budiman Rusli didalam bukunya Lijan Poltak juga mengemukakan
bahwa pelayanan dapat diartikan sebagai pemberian jasa oleh
pemilik jasa kepada konsumen berupa hubungan interaksi,
kemudahan, kecepatan, kesopanan, dan ramah tamah yang
disampaikan melaui sikap saat memberikan pelayanan kepada
konsumen guna mencapai kepuasan konsumen (Yuani, 2019).
Gonroos dalam Ratminto (2005) juga menyampaikan
pendapatnya mengenai pelayanan bahwa hal tersebut merupakan
rangkaian kegiatan yang bersifat tersirat antara pemilik jasa dengan
konsumen dengna tujuan untuk memecahkan permasalahan yang
terjadi pada konsumen. Selain itu, pelayanan juga dapat berarti
sebagai pemenuhan ekspektasi konsumen dengan kecepatan,
kemudahan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi (Hamid,
2019).
Definisi pelayanan publik telah diatur dalam Undang- Undang
RI No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik bahwa :
“Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
dengan peraturan perundang- undangan bagi setiap warga
negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan
administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan
publik”

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parassuraman & Berry (2011:46) terdapat indikator
adanya kualitas penyelenggaraan pelayanan yang bertujuan untuk
mengetahui kualitas pelayanan yang dapat dirasakan secara nyata
oleh pihak penerima layanan. Hal ini tertuang pada lima dimensi
kualitas pelayanan adalah sebaga berikut:

  1. Tangible (Berwujud)
    Tingkat kualitas layanan dapat dilihat melalui saranan dan
    prasarana layanan secara fisik. Selain itu, juga dapat dilihat
    melalui kerapihan para staf penyedia layanan. Hal ini dapat
    menjadi tolak ukur dalam melihat apakah layanan ini memiliki
    kualitas yang baik atau buruk.
  2. Reliability (Keandalan)
    Indikator ini dapat menjadi acuan apakah layanan tersebut
    memiliki tingkat kualitas tinggi ataupun tidak, yakni dapat dilihat
    melalui kecermatan petugas, keandalan, dan keahlian petugas
    dalam melayani.
  3. Responsiveness (Ketanggapan)
    Ketanggapan merupakan salah satu indikator kualitas
    pelayanan tersebut baik atau buruk. Hal ini dapat dilihat dari
    kecakapan petugas dalam merespon sesuatu dan ketanggapan
    dalam menyelesaikan permasalahan.
  4. Assurance (Jaminan)
    Jaminan dalam pelayanan yang dimaksud yaitu petugas
    dapat memberikan kepercayaan, sehingga para konsumen merasa
    aman dan nyaman saat melakukan proses pelayanan. Jaminan
    dapat berupa jaminan ketepatan waktu, jaminan kepastian,
    keamanan, dan jaminan legalitas.
  5. Emphaty (Empati)
    Empati merupakan salah satu indikator yang menjadi tolak
    ukur dalam mengetahui kualitas layanan. Petugas bersikap rama,
    sopan santun, mengedepankan kepentingan publik, dan tidak
    berlaku diskriminatif memiliki layanan dengan kualitas yang baik
    (Mamopo, 2020).

Aspek-aspek Kualitas Pelayanan


Menurut Sinambela dalam Warni (2020) pada dasarnya,
pelayanan publik memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan
terhadap pihak penerima jasa. Maka dari itu, untuk memenuhi
harapan tersebut dibutuhkan nya kualitas pelayanan yang baik
dengan memenuhi aspek-aspek kualitas pelayanan sebagai berikut:

  1. Transparansi
    Pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa haruslah
    bersifat terbuka dalam infomasi terkait maupun pelayanan serta
    mudah dalam akses agar tidak mempersulit pihak penerima jasa.
  2. Akuntanbilitas
    Pelayanan harus sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang telah mengatur tentang pelayanan
  3. Partisipatif
    Pelayanan bersifat memenuhi kebutuhan masyarakat dan
    pemenuhan kepuasan serta dapat mendorong peran masyarakat
  4. Keseimbangan Hak dan Kewajiban
    Pelayanan harus mengedepankan aspek keadilan terhadap
    pihak penerima jasa
  5. Kesamaan Hak
    Pelayanan harus sama rata tidak memandang latar
    belakang, suku, ras, agama, dan status sosial masyarakat. Hal ini
    didasari karena setiap warga negara berhak mendapatkan kualitas
    pelayanan yang baik
  6. Kondisional
    Pelayanan bersifat sesuai dengan kondisi maupun
    kemampuan dari pihak penyedia maupun penerima jasas dengan
    tetap memperhatikan sifat efektif dan efisien.

Pengertian Kualitas


Menurut Goetsh dan Davis dalam Rahayu (2020) definisi dari
kualitas yaitu suatu kondisi barang, jasa, p roses yang memenuhi
harapan. Kualitas juga dapat berarti kesesuaian, kecocokan,
terhindar dari kecacatan, ataupun berkelanjutan, sehingga dapat
memenuhi ekspektasi konsumen (Rahayu, 2020). Menurut Tjiptono
dalam Yuani (2019) bahwa kualitas pelayanan dapat dilihat dari
persepsi dari para penerima jasa atas pelayanan jasa atapun barang
yang diberikan oleh pihak penyedia jasa, sebab persepsi ini dapat
menentukan kepuasan pihak konsumen sebagai penerima pelayanan.

Pengertian Pelayanan


Definisi pelayanan menurut Kotler dan Bloom dalam Fitri
(2023) merupakan suatu kegiatan atau aktivitas yang digerakkan
dalam suatu perkumpulan yang menawarkan suatu barang atau jasa
demi mencapai kepuasan terhadap konsumen. Sinambela dalam Fitri
(2023) juga mengemukakan bahwa pelayanan merupakan aktivitas
yang diselenggarakan oleh birokrasi pemerintah terhadap warganya
yang bertujuan untuk menawarkan suatu kepuasan dengan hasil yang
tidak selalu terikat pada produk ataupun sesuatu yang bersifat fisik.
Pelayanan publik menurut Pasalong (2010) dapat diartikan sebagai
bentuk pelayanan yang melayani kepentingan masyarakat yang
memiliki suatu utusan dalam organisasi tersebut yang sesuai dengan
tata cara yang telah diberlakukan. Jadi dapat diambil kesimpulan
definisi dari pelayanan publik merupakan suatu kegiatan yang
diselenggarakan oleh birokrasi pemerintah yang berfungsi untuk
melayani kepentingan masyarakat dalam bentuk keadministrasian.

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Irawan (2008) indikator kepuasan pelanggan yaitu :

  1. Perasaan puas (Dalam arti puas akan produk dan pelayanannya)
    Adalah ungkapan perasaan puas atau tidak puas dari pelanggan saat
    menerima pelayanan yang baik dan produk yang berkualitas dari
    perusahaan.
  2. Selalu membeli produk
    Adalah pelanggan akan tetap memakai dan terus membeli suatu
    produk apabila tercapainya harapan yang mereka inginkan.
  3. Akan merekomendasikan kepada orang lain
    Adalah pelanggan yang merasa puas setelah memakai suatu produk
    atau jasa akan menceritakannya kepada orang lain serta mampu
    menciptakan pelanggan baru bagi suatu perusahaan.
  4. Terpenuhinya harapan pelanggan setelah membeli produk
    Adalah sesuai atau tidaknya kualitas suatu produk atau jasa pasca

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan.


Menurut Tjiptono dan Chandra (2016:219) ada empat metode yang
digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan yaitu, sebagai berikut:

  1. Sistem Keluhan dan Saran
    Setiap organisasi yang berorientasi pada pelanggan (Costumer
    Oriented) perlu memberikan kesempatan yang luas kepada para
    pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan
    mereka. Media yang digunakan bisa berupa kotak saran yang
    diletakkan di tempat-tempat strategis (yang mudah di jangkau atau
    sering dilewati pelanggan), saluran telepon bebas pulsa dan lain-lain.
    Informasi-informasi ini dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi
    perusahaan dan memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan
    cepat untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul.
  2. Ghost Shopping
    Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
    pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk
    berperan atau bersikap sebagai pelanggan atau pembeli potensial
    produk perusahaan dan pesaing. Kemudian mereka melaporkan
    temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk
    perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam
    pembelian produk-produk tersebut. Selain itu, para ghost shopper juga
    dapat mengamati cara perusahaan dan pesaingnya melayani
    permintaan pelanggan, menjawab pertanyaan pelanggan dan
    menangani setiap keluhan.
  3. Lost Costumer Analysis
    Perusahaan sebaiknya menghubungi para pelanggan yang telah
    berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat
    memahami mengapa hal ini terjadi dan supaya dapat mengambil
    kebijakan perbaikan atau penyempurnaan selanjutnya.
  4. Survei Kepuasan Pelanggan
    Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan yang
    dilakukan dengan penelitian survei, baik survei melalui pos, telepon
    maupun wawancara pribadi. Melalui survei, perusahaan akan
    memperoleh tanggapan dan umpan balik (feed back) secara langsung
    dari pelanggan dan juga memberikan tanda (signal) positif bahwa
    perusahaan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan pelanggan.


Menurut Irawan (2009) terdapat 5 (lima) faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan merasa puas apabila hasil evaluasi mereka
    menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
    Konsumen rasional selalu menuntut produk yang berkualitas pada
    setiap pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh produk
    tersebut. Dalam hal ini kualitas produk yang baik akan memberikan
    nilai tambah dibenak konsumen.
  2. Kualitas pelayanan
    Kualitas pelayanan di bidang jasa akan membuat pelanggan merasa
    puas apabila mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai
    dengan yang mereka harapkan. Pelanggan yang puas akan
    menunjukkan kemungkinan untuk kembali membeli produk atau jasa
    yang sama. Pelanggan yang puas cenderung akan memberikan
    persepsi terhadap produk atau jasa sebuah perusahaan.
  3. Emosional
    Pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
    orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk
    dengan merek tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan
    yang lebih tinggi. Kepuasan yang diperoleh bukan karena kualitas
    dari produk tetapi nilai sosial atau self-esteem yang membuat
    pelanggan menjadi puas terhadap merek tertentu.
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
    yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
    konsumennya. Elemen ini mempengaruhi konsumen dari segi biaya
    yang dikeluarkan, biasanya semakin mahal harga suatu produk atau
    jasa, maka pelanggan atau konsumen memiliki nilai ekspektasi yang
    lebih tinggi.
  5. Kemudahan
    Pelanggan akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman, dan
    efisien dalam mendapatkan produk atau pelayanan.

Pengertian Kepuasan


Kepuasan pelanggan dapat dirasakan setelah pelanggan membandingkan
pengalaman mereka dalam melakukan pembelian barang atau jasa dari
penjual atau penyedia barang atau jasa dengan harapan dari pembeli itu
sendiri. Harapan tersebut terbentuk melalui pengalaman pertama mereka
dalam membeli suatu barang atau jasa, komentar teman dan kenalan, serta
janji dan informasi pemasar dan pesaingnya. Pemasar yang ingin unggul
dalam persaingan tentu harus memperhatikan harapan pelanggan serta
kepuasan pelanggan.
Menurut Kotler dan Keller (2012:128) kepuasan pelanggan adalah
perasaan senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan kinerja
(hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan.
Menurut Lovelock dan Wirtz (2011:74) kepuasan merupakan penilaian
mengenai ciri atau keistimewaan produk atau jasa, atau produk itu sendiri,
yang menyediakan tingkat kesenangan konsumen berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan konsumsi konsumen.

Dimensi yang Mempengaruhi Nasabah Menggunakan Internet Banking


Awamleh dan Fernandes (2005) mengemukakan adanya 3 (tiga) dimensi
yang menyebabkan nasabah menggunakan internet banking yaitu:

  1. Kebebasan (Independence)
    Nasabah bank dapat berinteraksi dengan bank tanpa harus
    berhubungan langsung dengan karyawan bank. Hal ini sangat berguna
    untuk mengurangi kekeliruan dalam berkomunikasi.
  2. Kesenangan (Convenience)
    Kenyamanan pada sisi lain dapat menggambarkan kesenangan
    seseorang untuk menggunakan layanan ini. Nasabah dapat
    menggunakan jasa perbankan ini dimana saja dan kapan saja selama
    24 jam non-stop.
  3. Keamanan (Security)
    Keamanan mengukur persepsi nasabah mengenai keselamatan dan
    keandalan layanan perbankan ini. Dalam hal ini penyedia internet
    banking menjamin resiko yang lebih kecil dari pada harus datang
    langsung ke bank yang bersangkutan untuk melakukan transaksi.
    Masalah keamanan menjadi dimensi yang mempengaruhi nasabah
    menggunakan internet banking, dengan layanan internet banking akan
    meminimalisir resiko yang ditimbulkan dari pada langsung ke bank
    yang bersangkutan untuk melakukan transaksi. Namun, keamanan
    dalam melakukan transaksi pada internet banking bukanlah
    sepenuhnya tanggung jawab pihak bank. Nasabah pun dituntut
    berperan aktif menjaganya.

Manfaat Internet Banking


Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2015) internet banking memberikan
banyak manfaat baik bagi nasabah, bank dan otoritas.

  1. Bagi nasabah
    Internet banking memberikan kemudahan bertransaksi dalam hal
    waktu tempat, dan biaya. Nasabah tidak perlu mendatangi kantor
    bank untuk memperoleh informasi atau melakukan transaksi
    perbankan. Bahkan untuk beberapa produk e-banking nasabah dapat
    bertransaksi selama 24 jam dengan menggunakan laptop atau
    perangkat mobile seperti telepon seluler yang dapat dibawa kemana
    saja selama terhubung dengan jaringan internet atau SMS.
  2. Bagi Bank
    Bagi bank, internet banking meningkatkan pendapatan berbasis
    komisi (fee based income) dan mengurangi biaya operasional
    apabila dibandingkan dengan pelayanan transaksi melalui kantor
    cabang yang relatif besar untuk membayar karyawan, sewa gedung,
    pengamanan, listrik, dan lainnya.
  3. Bagi otoritas
    Bagi otoritas, perkembangan teknologi internet banking mendorong
    mewujudkan masyarakat less cash society. Less cash society adalah
    gaya hidup dengan menggunakan media transaksi atau uang
    elektronik dalam bertransaksi sehingga tidak perlu membawa uang
    fisik. Less cash society selain dapat meningkatkan sistem
    pembayaran yang cepat, aman, dan efisien, untuk mempercepat
    perputaran aktivitas ekonomi dan stabilitas sistem keuangan, juga
    dapat mencegah tindak pidana kriminal maupun tindak pidana
    pencucian uang

Cara kerja Internet Banking


Dalam menggunakan internet banking, nasabah harus memiliki user id,
password, media token atau One Time Password (OTP), dan jaringan
internet. User id, password, dan media token dapat diperoleh dengan
mendaftarkan diri ke bank. Saat menggunakan internet banking, nasabah
harus memastikan website yang diakses adalah website internet banking
milik bank, kemudian nasabah akan diminta untuk memasukkan user id
dan password pada halaman muka atau login.
Pada saat melakukan transaksi finansial, nasabah akan diminta untuk
memasukkan sandi OTP yang diperoleh dari media token atau SMS.
Setelah transaksi selesai, nasabah harus memastikan telah keluar/log out
dari halaman internet banking. Bank mengirimkan notifikasi melalui email sebagi bukti bahwa transaksi telah berhasil. Notifikasi e-mail ini
juga sebagai pengendalian agar nasabah mengetahui jika akun internet
banking-nya digunakan oleh orang lain (OJK, 2015).

Fitur Layanan Internet Banking


Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2015:11) fitur layanan internet banking
antara lain informasi umum rekening tabungan atau giro, rekening
deposito, kartu kredit, informasi mutasi rekening, transfer dana, baik
transfer antar rekening maupun antar bank, pembelian pulsa, pembelian
tiket, penempatan deposito, layanan informasi seperti suku bunga dan
kurs, dan pembayaran, misalnya pembayaran telepon, internet, kabel TV,
asuransi, listrik dan berbagai jenis pembayaran lainnya.

Pengertian Internet Banking


Menurut Herington & Weaven (2007) internet banking adalah bentuk elayanan di mana pelanggan dapat belajar langsung antara elektronik dan
layanan pelanggan dan hal ini secara signifikan dipengaruhi oleh kinerja
pelanggan.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Kualitas suatu produk ataupun jasa perlu ditentukan melalui dimensidimensinya. Berikut dimensi kualitas pelayanan menurut Tjiptono dan
Chandra (2011:198) yaitu terdapat 5 (lima) dimensi kualitas pelayanan
utama yang disusun sesuai urutan tingkat kepentingan relatifnya sebagai
berikut:

  1. Reliabilitas (Reliability)
    Pada komponen ini, berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk
    memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat
    kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu
    yang disepakati. Dalam unsur ini, pemasar dituntut untuk
    menyediakan produk atau jasa yang handal. Produk atau jasa jangan
    sampai mengalami kerusakan atau kegagalan. Dengan kata lain,
    produk atau jasa tersebut harus selalu baik. Para anggota perusahaan
    juga harus jujur dalam menyelesaikan masalah sehingga pelanggan
    tidak merasa ditipu. Selain itu, pemasar harus tepat janji bila
    menjanjikan sesuatu kepada pelanggan. Sekali lagi perlu diperhatikan
    bahwa janji bukan sekedar janji, namun janji harus ditepati. Oleh
    karena itu, time schedule perlu disusun dengan teliti.
  2. Daya Tanggap (Responsiveness)
    Berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk
    membantu para pelanggan dan merespon permintaan pelanggan, serta
    menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian
    memberikan jasa secara cepat. Para anggota perusahaan harus
    memperhatikan janji spesifik kepada pelanggan. Unsur lain yang juga
    penting dalam elemen cepat tanggap ini adalah anggota perusahaan
    selalu siap membantu pelanggan, apapun posisi seseorang di
    perusahaan hendaknya selalu memperhatikan pelanggan yang
    menghubungi perusahaan.
  3. Jaminan (Assurance)
    Jaminan yakni keyakinan yang meliputi perilaku para karyawan
    mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan
    dan perusahaan dapat menciptakan rasa aman bagi para
    pelanggannya. Pada saat persaingan sangat kompetitif, anggota
    perusahaan harus tampil lebih kompeten, artinya memiliki
    pengetahuan dan keahlian di bidang masing-masing. Faktor security,
    yaitu memberikan rasa aman dan terjamin kepada pelanggan
    merupakan hal yang penting. Pemasar diharapkan memperhatikan
    kredibilitas perusahaan dan bukan justru menipu pelanggan. Selain
    itu, anggota perusahaan harus bersikap ramah dengan menyapa
    pelanggan yang datang.
  4. Empati (Empathy)
    Empati berarti bahwa dimana perusahaan memberikan perhatian serta
    memahami masalah para pelanggan dan bertindak bagi kepentingan
    pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada pelanggan.
    Setiap anggota perusahaan hendaknya dapat mengelola waktu agar
    mudah dihubungi, baik melalui telepon ataupun bertemu langsung.
    Dering telepon usahakan maksimal tiga kali, lalu segera dijawab.
    Waktu yang dimiliki pelanggan sangat terbatas sehingga tidak
    mungkin menunggu terlalu lama. Usahakan untuk melakukan
    komunikasi individu agar hubungan dengan pelanggan lebih akrab.
    Anggota perusahaan juga harus memahami pelanggan. Dengan
    memahami pelanggan, bukan berarti anggota perusahaan merasa
    “kalah” dan harus “menyetujui” pendapat pelanggan, tetapi paling
    tidak mencoba untuk melakukan kompromi bukan melakukan
    perlawanan.

Pengertian Kualitas Pelayanan (Service Quality)


Menurut Pujawan (2010:97) kualitas pelayanan (service quality)
merupakan hasil persepsi dan perbandingan antara harapan pelanggan
dengan kinerja aktual pelayanan yang terdapat dua faktor utama yang
mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expected service (pengalaman yang
diharapkan) dan perceived service (pelayanan yang diterima).
Menurut Mauludin (2010:67) kualitas pelayanan adalah seberapa jauh
perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas langganan yang
mereka terima atau peroleh.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ada faktor utama
yang mempengaruhi kualitas pelayanan yaitu, jasa yang diharapkan dan
jasa yang dirasakan atau dipersepsikan. Apabila jasa yang dirasakan sesuai
dengan jasa yang diharapkan, maka kualitas pelayanan tersebut akan
dipersepsikan baik atau positif. Jika jasa yang dipersepsikan melebihi jasa
yang diharapkan, maka kualitas jasa di persepsikan sebagai kualitas ideal.
Demikian juga sebaliknya apabila jasa yang dipersepsikan lebih jelek
dibandingkan dengan jasa yang diharapkan maka kualitas jasa
dipersepsikan negatif atau buruk. Maka baik tidaknya kualitas pelayanan
tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan
pelanggannya secara konsisten (Toriq & Martoatmodjo, 2014).

Aspek-aspek Motivasi Kerja


Aspek-aspek dalam motivasi kerja menurut Sopiah (2008: 169-170) antara
lain:
a. Usaha
Karakteristik pertama dari motivasi kerja, yakni usaha, menunjuk kepada
kekuatan yang dimiliki seseorang untuk memunculkan perilaku kerja atau
jumlah yang ditunjukkan oleh seseorang dalam pekerjaannya. Tegasnya hal ini
melibatkan berbagai macam kegiatan atau upaya baik yang nyata maupun yang
kasat mata.
b. Kemauan keras
Karakteristik pokok motivasi kerja yang kedua menunjuk kepada tekad atau
kemauan keras yang ditunjukkan oleh seseorang ketika menerapkan usahanya
kepada tugas–tugas pekerjaannya. Dengan memiliki kemauan keras, maka
apabila segala usaha akan dilakukan mengalami kegagalan maka tidak akan
membuat orang tersebut patah arang untuk terus berusaha sampai tercapainya
tujuan.
c. Arah atau tujuan
Karakteristik motivasi kerja yang ketiga berkaitan dengan arah yang hendak
dituju oleh usaha dan kemauan keras yang dimiliki oleh seseorang.
Aspek-aspek motivasi kerja menurut Wood, dkk (2010: 78) antara lain:
a. Tingkatan (level) yaitu jumlah usaha yang dilakukan oleh individu,
b. Arah (direction) dapat diartikan sebagai usaha individu dalam mengarahkan
perilaku dengan mempertimbangkan perilaku apa yang akan dimunculkan
dengan melihat alternatif-alternatif yang ada,
c. Ketekunan (presistence) yaitu dengan melihat seberapa lama individu dapat
memunculkan perilaku tersebut.
Robbins dan Judge (2015: 127-128) menyatakan tiga aspek dalam motivasi
kerja diantaranya adalah:
a. Kekuatan (intensity) menggambarkan seberapa kerasnya seseorang dalam
berusaha,
b. Arahan (direction) memberikan hasil kinerja agar dapat disalurkan dalam suatu
arahan (direction) yang memberikan keuntungan bagi organisasi,
c. Ketekunan (persistence) mengukur berapa lama seseorang dapat
mempertahankan upayanya.

Pengertian Motivasi Kerja


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam Wardoyo, 2017: 47)
motivasi adalah dorongan-dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara
sadar maupun secara tidak sadar yang berfungsi untuk melakukan suatu tindakan
dengan tujuan tertentu. Menurut American Encyclopedia (dalam Hasibuan, 2007:
143) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu kecenderungan yang ada dalam
diri seseorang yang dapat membangkitkan topangan dan mengarahkan tindak-
tanduknya. Menurut Rue dan Byars (2005: 271) motivasi selalu membutuhkan
motif yang mengarah pada pencapaian tujuan, sehingga motivasi kerja adalah halhal yang berfungsi untuk mendorong perilaku seseorang, mengarahkan perilaku
tersebut ke arah tujuan tertentu, dan mengatur bagaimana perilaku ini
dipertahankan. Motivasi kerja adalah suatu keadaan di mana usaha dan kemauan
keras yang dimiliki oleh seseorang dapat diarahkan kepada pencapaian hasil–hasil
atau tujuan tertentu, hasil–hasil yang dimaksudkan disini dapat berupa
produktivas, kehadiran atau perilaku kerja kreatif lainnya. (Sopiah, 2008: 170).
Motivasi kerja menurut Sofyandi dan Garniwa (2007: 99) adalah suatu dorongan
untuk meningkatkan usaha seseorang dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi,
dalam batas-batas kemampuan yang dimiliki untuk memberikan suatu kepuasan
atas kebutuhan seseorang.
Moorhead dan Griffin (2013: 86), mengatakan bahwa motivasi kerja adalah
serangkaian kekuatan yang menyebabkan orang untuk terlibat dalam suatu
perilaku, bukan beberapa perilaku lainnya. Menurut Kertonegoro (dalam
Darodjat, 2015:188) berpendapat motivasi kerja merupakan kemauan yang
dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tingkat upaya yang tinggi untuk
mencapai tujuan organisasi, sepanjang upaya itu juga memenuhi kebutuhan
individunya. Motivasi kerja mengacu pada proses dimana usaha seorang
karyawan diberi energi atau dorongan, kemudian diarahkan, dan terus menerus
secara berkelanjutan menuju tercapainya suatu tujuan yang hendak dicapai.
(Robbins dan Coulter, 2010:109).

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kualitas Pelayanan


Faktor–faktor yang memengaruhi kualitas layanan agar dapat menyediakan
layanan yang melebihi standar menurut Utami (2006: 263-264) adalah:
a. Memberi informasi dan pelatihan; karyawan toko atau penyedia jasa harus
memahami barang dagangan yang ditawarkan, maupun kebutuhan pelanggan
sehingga dengan informasi ini karyawan dapat menjawab pertanyaan dan
menyarankan produk ke pelanggan.
b. Menyediakan dukungan emosional; layanan penyedia jasa harus mempunyai
pendukung untuk menyampaikan layanan yang diinginkan oleh pelanggan.
c. Meningkatkan komunikasi internal dan menyediakan pendukung; ketika
melayani pelanggan, karyawan sering harus mengatur konflik antara kebutuhan
pelanggan dan kebutuhan perusahaan. Ketika karyawan yang bertanggung
jawab diberi untuk menyediakan layanan diberi hak untuk membuat keputusan
penting, biasanya kualitas layanannya justru meningkat.
d. Menyediakan perangsang; beberapa ritel menggunakan perangsang, seperti
membayar komisi pengawas, memberikan komisi untuk target penjualan untuk
memotivasi karyawan, dan perangsang ini dapat memotivasi tingginya kualitas
layanan.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Gronroos (dalam Utami, 2006: 246) menyatakan bahwa kualitas
layanan terdiri dari dua dimensi, yaitu:
a. Dimensi kualitas teknis (techincal quality), yaitu apa saja yang diperoleh
konsumen,
b. Dimensi fungsional (functional quality), yaitu dengan cara bagaimana
konsumen memperoleh jasa.
Menurut Brady dan Cronin (dalam Utami, 2006: 252) menyatakan adanya
tiga dimensi utama sebagai alternatif dari dimensi kualitas layanan, yaitu:
a. Kualitas interaksi (interaction quality): kontak yang terjadi pada proses
penyampaian jasa dalam pertemuan antara penyedia jasa dengan konsumen,
dan hal tersebut merupakan kunci penentu dari evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap kualitas layanan.
b. Kualitas hasil (outcome quality): didefinisikan sebagai evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap hasil dari aktivitas layanan jasa yang diterimanya,
termasuk ketepatan waktu dalam pelayanan jasa.
c. Kualitas lingkungan (environment quality) terkait dengan seberapa jauh dan
seberapa besar fitur berwujud (tangible feature) dari proses penyampaian
layanan yang kemudian memainkan peran dalam mengembangkan persepsi
konsumen terhadap kualitas layanan jasa secara keseluruhan.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Pelayanan menurut Kasmir (2017: 47) adalah tindakan atau perbuatan
seseorang atau suatu organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan,
sesama karyawan, dan juga pimpinan. Pelayanan dan pemberian dukungan kepada
pelanggan menurut Armistead dan Clark (1999: 56-57) adalah kemampuan
karyawan dalam melaksanakan tugasnya yaitu memberikan layanan dan dukungan
dengan penuh komitmen serta kemampuan memecahkan masalah pada saat
pemberian layanan itu berlangsung. Rusydi (2017: 39) berpendapat bahwa
kualitas pelayanan adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan
terbaik yang bermutu dibandingkan dengan pesaingnya.
American National Standards Institute (ANSI) dan American Society for
Quality (ASQ) (dalam Haksever dkk, 2000: 330-331) berpendapat bahwa kualitas
adalah totalitas dari setiap fitur dan karakteristik dari suatu produk atau jasa yang
mengandalkan pada tiap-tiap kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan
konsumen. Kualitas layanan dapat dijelaskan sebagai konsepsi multidimensional
yang dibangun melalui evaluasi terhadap kosntruksi dari sejumlah atribut yang
terkait dengan jasa (Utami, 2006: 245). Lewis dan Booms (dalam Tjiptono 2017:
142) mengemukakan bahwa kualitas layanan bisa diartikan sebagai tolak ukur
seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi
atau harapan dari pelanggan.
Menurut Lovelock dan Wright (2002: 265-266) mengatakan bahwa persepsi
tentang kualitas didasarkan dalam waktu yang jangka panjang, evaluasi kognitif,
dan proses pemberian layanan. Manfaat dari kualitas layanan terakumulasi dari
waktu ke waktu atau dapat dikatakan dalam jangka panjang sehingga perusahaan
jasa harus mengidentifikasi upaya pemberian kualitas pelayanan yang tepat dan
melaksanakannya secara efektif. Garvin (dalam Lovelock dan Wirtz, 2004: 407)
mengidentifikasi perspektif mengenai kualitas dalam lima arti yang berbeda
sesuai dengan konteksnya, salah satu diantaranya adalah definisi dalam kacamata
konsumen, yang berarti kualitas diawali dengan sebuah jaminan bahwa kualitas
terletak dimata orang yang melihatnya. Perspektif ini cenderung bersifat
subjektif, karena berorientasi pada permintaan dan mengakui bahwa pelanggan
yang berbeda memiliki keinginan serta kebutuhan yang berbeda

Mengukur Kepuasan Pasien


Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur dan
memantau kepuasan pasien. Menurut Kotler dalam Tjiptono & Chandra (2014)
mengembangkan empat metode mengukur kepuasan pasien:
A. Sistem keluhan dan saran
Setiap Rumah Sakit yang berorientasi pasien perlu menyediakan
kesempatan dan akses yang mudah dan nyaman bagi para pasiennya guna
untuk menyampaikan kritik,saran,pendapat serta keluhan mereka.
B. Ghost Shopping
Cara memperoleh gambaran mengenai kepuasan pasien adalah dengan
mempekerjakan beberapa orang ghost shopper guna berpura pura sebagai
pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing. Mereka berinteraksi
dengan staf penyedia jasa dan menggunakan produk/jasa perusahaan.
C. Lost Costomer Analysis
Perusahaan menghubungi para pasien yang telah berhenti atau telah pindah
kerumah sakit lain.Kenapa hal itu terjadi agar dapat bisa mengambil
kebijakan perbaikan atau penyempurnaan selanjutnya.
D. Survei Kepuasan Pasien
Rumah Sakit akan memperoleh tanggapan dan balikan secara langsung dari
pasien dan juga memberikan kesan positif bahwa rumah sakit menaruh
perhatian terhadap para pasiennya. Pengukuran kepuasan pasien melalui
metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya:

Importance Performance Analysis
Responden diminta untuk menilai tingkat kepentingan berbagai atribut
relevan dan tingkat kinerja Rumah Sakit pada tiap atribut tersebut.

Directly Reported Satisfaction
Pengukuran dilakukan menggunakan item-item spesifik yang
menanyakan langsung tingkat kepuasan yang dirasakan pasien.

Derived Satisfaction
Pertanyaan yang diajukan mengarah pada 2 hal utama,yaitu tingkat
harapan atau ekspektasi pasien terhadap kinerja produk atau perusahaan
pada atribut relevan.dan persepsi pelanggan terhadap kinerja actual
produk atau perusahaan bersangkutan (perceived performance).

Problem Analysis
Responden diminta mengungkapkan masalah – masalah yang mereka
hadapi berkaitan dengan produk atau jasa perusahaan dan saran
perbaikan. Kemudian Rumah Sakit melakukan analisi konten terhadap
semua permasalahan dan saran perbaikan untuk mengedintifikasi
bidang yang utama membutuhkan perhatian atau tindakan yang
dilakukan selanjutnya.

Teori Kepuasan Pasien


Menurut Tjiptono dan Chandra (2014) teori mengenai kepuasan pasien
terbagi atas 3 kategori yang dijabarkan menjadi beberapa bagian .Berikut desain
teori kepuasan pasien:
A. Cognitive Dissonance Theory
Teori ini menyangkut kenyamanan pribadi terhadap jasa yang mereka
terima. Perasaan yang tidak sesuai terhadap hasil kinerja dari jasa yang telah
mereka beli dan sangat jauh berbeda dengan ekspektasi yang mereka gantungkan dari suatu jasa. Hal- hal yang perlu diperhatikan mengenai
harapan pasien sebelum melakukan pembelian yaitu:

  1. Nilai pertama yang pertama kali diharapkan oleh pasien atas biaya yang
    telah mereka keluarkan untuk suatau produk atau jasa yang ditawarkan
    oleh rumah sakit.
  2. Hasil kerja optimal yang diinginkan oleh pasien.
  3. Tingkat kinerja yang paling diharapkan oleh pasien .(digunakan untuk
    mengukur kepuasan pasien).
  4. Tingkat paling rendah yang dapat dimaklumi oleh Rumah Sakit
    mengenai suatu jasa atau kelemahan yang tidak menjadi pertimbangan
    bagi pasien dalam melakukan perawatan dirumah sakit.
    B. Contrast Theory
    Tahap ini pasien akan sangat memberikan perbedaan dari suatu jasa yang
    mereka terima dengan hasil kinerja dari suatu jasa. Apabila jasa yang
    mereka terima melebihi ekspektasi maka mereka akan sangat puas.
    C. Assimilation Contrast Theory
    Teori ini melihat ekspektasi konsumen (pasien) terhadap jasa yang
    ditawarkan.Teori ini gabungan teori Cognitive Theory and Contrast Theory.
    D. Adaption Level Theory
    Teori ini menjelaskan pasien yang melakukan perawatan dirumah sakit
    berdasarkan dari hal hal yang diadopsinya.Teori ini melihat pengaruh positif
    dan negative pada tingkat evaluasi akhir dari suatu produk.
    E. Opponent Process Theory
    Teori ini menjelaskan alasan pasien yang pada dasarnya sangat puas dengan
    Suatu produk atau jasa dan tidak puas dengat suatu produk tersebut.
    F. Equity Product
    Teori ini menganilis pertukaran antara hasil antara input dan output.
    G. Consumen Surplus
    Teori ini melihat suatu perbandingan harga,dikatan surplus konsumen
    apabila adanya kepuasan yang dirasakan oleh pasien yang bersangkutan.
    H. Utility Theory
    Teori ini berfikus pada alasan pasien membuat keputusan dalam melakukan
    pembelian dengan berdasarkan referensi dan penilaian terhadap suatu jasa.
    I. Alienation
    Teori ini menjelaskan ketidak puasan pasien dari sisi tidak efektif pasar
    terhadap perasaan kecewa yang dirasakan oleh pasien.
    J. Comunication Effect Theory
    Teori ini menjelaskan bahwa perasaan puas dan tidak puas pelanggan,
    adalah evaluasi akhir dari pelanggan terhadap perubahan komunikasi.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Ada beberapa hal penting dalam kualitas yang perlu dipahami karena
kualitas pelayanan suatu bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat pelayanan
yang dipersepsikan dengan tingkat pelayanan yang diharapkan. Oleh karena itu,
ditinjau dari sudut pandang konsumen terdapat lima dimensi kualitas pelayanan
menurut Tjiptono dan Chandra (2014) adalah sebagai berikut :
A. Bukti Fisik (tangibles)
Meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan, dan sarana
komunikasi. Bukti fisik (tangible) merupakan meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi. Hal ini bisa berarti
penampilan fasilitas fisik, seperti gedung dan ruangan front office,
tersedianya tempat parkir, kebersihan, kerapian dan kenyamanan ruangan,
kelengkapan peralatan komunikasi, dan penampilan karyawan. Prasarana
yang berkaitan dengan layanan konsumen juga harus diperhatikan oleh
manajemen perusahaan. Gedung yang megah dengan fasilitas pendingin
(AC), alat telekomunikasi yang canggih atau perabot kantor yang
berkualitas, dan lain-lain menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih
suatu produk atau jasa. Merupakan seberapa baik penampilan dan
kemampuan sarana dan prasarana fisik harus dapat diandalkan. Penampilan
fisik pelayanan, kayawan, dan komunikasi akan memberikan warna dalam
pelayanan pelanggan. Tingkat kelengkapan peralatan atau teknologi yang
digunakan akan berpengaruh pada pelayanan pelanggan. Karyawan adalah
sosok yang memberikan perhatian terkait dengan sikap, penampilan dan
bagaimana mereka menyampaikan kesan pelayanan. Dalam hal ini sejauh
mana perusahaan memfasilitasi sarana komunikasi sebagai upaya untuk
memberikan kemudahan dalam pelayanan adalah hal yang tidak
terpisahkan. Contohnya: fasilitas reparasi, seragam karyawan, kelengkapan
peralatan, dan ruang tunggu yang representative.
B. Kehandalan (reliability)
Merupakan suatu kemampuan dalam memenuhi janji (tepat waktu,
konsisten, kecepatan dalam pelayanan). Pemenuhan janji dalam pelayanan
akan terkait dan mencerminkan kredibilitas perusahaan dalam pelayanan.
Tingkat kompentensi perusahaan juga dapat dilihat dari sini, sejauh mana
tingkat kemampuan perusahaan dapat ditunjukkan. Keandalan berkaitan
dengan probabilitas atau kemungkinan suatu produk melaksanakan
fungsinya secara berhasil dalam periode waktu tertentu dibawah kondisi
tertentu dengan demikian keandalan merupakan karakteristik yang
merefleksikan kemungkinan atau probabilitas tingkat keberhasilan.
Kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat,
dan memuaskan. Kehandalan (reliability) merupakan kemampuan
memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan
memuaskan. Hal ini berarti perusahaan memberikan jasanya secara tepat
semenjak saat pertama (right the first time). Selain itu juga berarti bahwa
perusahaan yang bersangkutan memenuhi janjinya, misalnya
menyampaikan jasanya sesuai dengan jadwal yang disepakati. Dalam unsur
ini, pemasar dituntut untuk menyediakan produk/ jasa yang handal. Produk/
jasa jangan sampai mengalami kerusakan/ kegagalan. Dengan kata lain,
produk/ jasa tersebut harus selalu baik. Para anggota perusahaan juga harus
jujur dalam menyelesaikan masalah sehingga konsumen tidak merasa
ditipu. Selain itu, pemasar harus tepat janji bila menjanjikan sesuatu kepada
konsumen. Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa janji bukan sekedar janji,
namun janji harus ditepati. Maka, time schedule perlu disusun dengan teliti.
Contohnya: dokter mampu mendiagnosis penyakit pasien dengan akurat.
C. Daya Tanggap (responsiveness)
Merupakan suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan
pelayanan yang cepat kepada pelanggan. Pada pelayanan, kemampuan
untuk segera mengatasi kegagalan secara profesional dapat memberikan
persepsi yang positif terhadap kualitas pelayanan. Adapun bentuk
kepedulian tersebut dapat dilakukan baik melalui pencapaian informasi atau
penjelasan-penjelasan ataupun melalui tindakan yang dapat dirasakan
manfaatnya oleh pelanggan.Keinginan dan kesediaan para karyawan untuk
membantu para pelanggan dan memberikan layanan dengan tanggap. Daya
tanggap (responsiveness) merupakan keinginan para staf untuk membantu
para konsumen dan memberikan pelayanan dengan tanggap. Daya tanggap
dapat berarti respon atau kesigapan karyawan dalam membantu konsumen
dan memberikan pelayanan yang cepat dan, yang meliputi kesigapan
karyawan dalam melayani konsumen, kecepatan karyawan dalam
menangani transaksi, dan penanganan. Para anggota perusahaan harus
memperhatikan janji spesifik kepada konsumen. Unsur lain yang juga
penting dalam elemen cepat tanggap ini adalah anggota perusahaan selalu
siap membantu konsumen. Apa pun posisi seseorang di perusahaan
hendaknya selalu memperhatikan konsumen yang menghubungi
perusahaan. Misal: sistem reservasi dan penanganan bagasi maskapai
penerbangan yang cepat.
D. Jaminan (assurance)
Jaminan merupakan mencakup pengetahuan, slill, kesopanan, dan
sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya, risiko atau
keragu-raguan. Pada saat persaingan sangat kompetitif, anggota perusahaan
harus tampil lebih kompeten, artinya memiliki pengetahuan dan keahlian di
bidang masing-masing. menangani pemasangan dan layanan purna jual.
Faktor security, yaitu memberikan rasa aman dan terjamin kepada
konsumen merupakan hal yang penting pula. Jaminan merupakan
pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan melaksanakan
tugas secara spontan yang dapat menjamin kerja yang baik, sehingga
menimbulkan kepercayaan dan keyakinan pelanggan. Tingkat pengetahuan
mereka akan menunjukkan tingkat kepercayaan bagi pelanggan, sikap
ramah, sopan bersahabat adalah menunjukkan adanya perhatian pada
pelanggan juga mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan sifat
dapat dipercaya yang dimiliki para karyawan, bebas dari bahaya fisik, risiko
atau keragu-raguan.
E. Empati (emphaty)
Empati (empathy) merupakan kemudahan dalam melakukan
hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami
kebutuhan para konsumen. Setiap anggota perusahaan hendaknya dapat
mengelola waktu agar mudah dihubungi, baik melalui telepon ataupun
bertemu langsung. Kemudahan dalam menjalin hubungan, komunikasi yang
efektif, perhatian personal, dan pemahaman atas kebutuhan individual para
pelanggan. Tingkat kepedulian dan perhatian perusahaan pada
pelanggannya secara individual akan sangat didambakan oleh pelanggan.
Persoalan dan masalah dapat muncul dan sejauh mana tingkat kepedulian
untuk menyelesaikan masalah, mengerti kemauan dan kebutuhan pelanggan
dapat diaktualisasikan. Kepedulian terhadap masalah yang dihadapi
pelanggan, mendengarkan serta berkomunikasi secara individual,
kesemuanya itu akan menunjukkan sejauh mana tingkat pelayanan yang
diberikan. Contohnya: seorang dokter mengenal pasiennya dengan baik,
mengingat masalah (penyakit, keluhan, dan sejenisnya) sebelumnya, dan
bersikap sabar serta menjadi pendengar yang baik. adalah memberikan
jaminan yang bersifat individual atau pribadi kepada pelanggan dan
berupaya untuk memahami keinginan pelanggan.

Perspektif Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dan Chandra (2014), perspektif kualitas jasa
diklasifikasikan dalam lima kelompok:

  1. Pendekatan transendental (transcendental approach) Dalam pendekatan ini
    kualitas dipandang sebagai keunggulan bawaan (innate excellence), dimana
    kualitas dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit didefenisikan dan di
    operasionalisasikan.
  2. Pendekatan berbasis produk (product-based approach) Pendekatan ini
    menganggap kualitas merupakan karakteristik atau atribut yang dapat
    dikuantitatifkan dan dapat diukur.
  3. Pendekatan berbasis pengguna (user-based approach) Pendekatan ini
    didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang
    memandangnya sehingga produk yang paling memuaskan menjadi
    preferensi seseorang, misalnya kualitas yang dirasakan ( perceived quality)
    merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.
  4. Pendekatan berbasis manufaktur (manufacturing-based approach)
    Perspektif ini bersifat berdasarkan pasokan (supply-based) dan secara
    khusus memperhatikan praktik-praktik perekayasaan dan kemanufakturan,
    serta mendefenisikan kualitas sebagai kesesuaian atau kesamaan dengan
    persyaratan (conformance to requirements). Penentu kualitas dalam
    pendekatan ini adalah standar-standar yang ditetapkan perusahaan, bukan
    oleh konsumen pengguna.
  5. Pendekatan berbasis nilai (value-based approach) Kualitas dalam perspektif
    ini bersifat relatif sehingga produk yang paling bernilai adalah barang atau
    jasa yang paling tepat di beli (best-buy)

Pengertian Kualitas Pelayanan Kesehatan


Menurut Abdullah dan Tantri (2012) Kualitas pelayanan adalah keseluruhan
ciri dan karakteristik suatu barang atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya
untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun disiratkan.
Menurut Rahma, et al (2012) Kualitas pelayanan adalah pengalaman yang
dirasakan oleh konsumen terhadap produk yang telah diterimanya. Pengalaman ini
merupakan perasaan senang atau tidak senang terhadap suatu produk yang nantinya
akan berdampak kepada rasa puas atau tidak puas dari diri konsumen.
Kualitas pelayanan memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan
pelanggan. Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin
ikatan yang kuat dengan perusahaan. Parasuraman mendefenisikan kualitas
pelayanan sebagai tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas
tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Lubis (2016) memperluas model sesuai dengan pasien rawat inap perspektif
kualitas layanan rumah sakit di Indonesia. Studi sebelumnya dikategorikan kualitas
layanan berdasarkan 10 aspek, yaitu pendidikan pasien layanan, staf
profesionalisme, aspek makanan, jaminan, responsif dan layanan kenyamanan,
empati, kebersihan, staf terdidik, orang-orang mendapatkan layanan, dan layanan
yang dapat diandalkan.

Mengukur Kualitas Pelayanan


Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan, diantaranya adalah dengan melakukan evaluasi dan perbaikan

  • perbaikan yang dilakukan secara berkala. Beberapa cara yang dapat
    dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah sebagai berikut:
    a. Mendapatkan umpan balik dari pelanggan
    Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan feedback dari
    pelanggan, diantaranya seperti mengadakan survei kepada pelanggan,
    dan follow up kepada pelanggan setelah memberikan pelayanan, cara
    ini dapat dilakukan melalui email. Cara lainnya adalah uji coba
    produk kepada pelanggan, aktif di sosial media, memberikan diskon
    atau benefit lain kepada pelanggan atas penghargaan masukan yang
    telah diberikan, serta memanfaatkan teknologi untuk memantau
    perkembangan usaha seperti melalui website, google analytics, dan
    lain sebagainya.
    b. Melakukan evaluasi
    Cara-cara yang dapat dilakukan untuk melakukan evaluasi
    diantaranya adalah melalui survei dengan cara berfokus pada hal-hal
    yang paling penting untuk diketahui. Survei dapat dilakukan untuk
    mengetahui rasa empati atau kepedulian kepada pelanggan,
    mengukur tingkat kemampuan suatu perusahaan terkait kehandalan
    dan cepat tanggap, serta mengetahui pelayanan dan kualitas produk
    berdasarkan pengalaman konsumen secara langsung seperti fungsi
    produk, tingkat kebersihan, penampilan karyawan, dan lain
    sebagainya.
    c. Memperbaiki pelayanan
    Memperbaiki kualitas pelayanan dapat dilakukan dengan cara
    memberikan standar pelayanan perusahaan yang jelas kepada
    karyawan, melatih karyawan agar menjadi seseorang yang
    bertanggung jawab, cepat tanggap, dan memiliki etos kerja yang
    tinggi. Jika memungkinkan, dapat dengan memberikan bonus kepada
    karyawan yang berprestasi. Selain itu, memberikan kemudahan
    kepada pelanggan dalam menyampaikan masukannya adalah hal yang
    perlu untuk dilakukan. Namun akan lebih baik apabila semua usaha
    perbaikan kualitas pelayanan perusahaan ini agar dilakukan secara
    berkelanjutan (Nurdin, 2019)

Dimensi Kualitas Pelayanan


Pelayanan memainkan peran yang sangat penting karena merupakan
aktivitas pendukung dalam kegiatan pemasaran. Kualitas pelayanan
merupakan perbedaan antara kenyataan dengan harapan konsumen atas
pelayanan yang mereka terima. David Garvin mendefinisikan delapan
dimensi mutu yang dapat digunakan pada tingkat strategis untuk
menganalisa karakteristik mutu. Delapan dimensi Garvin’s ini sebagai
berikut:
a. Perfrmance (kinerja) merupakan karakteristik utama dari produk.
b. Features (gambaran) merupakan aspek kinerja kedua.
c. Reliability (kehandalan) merupakan kemungkinan keberhasilan
kinerja digambarkan dalam fungsi yang lebih spesifik selama periode
dan kondisi tertentu.
d. Conformance (kesesuaian) adalah tingkat karakteristik desain dan
pemberian produk sesuai dengan standar yang ada.
e. Durability (daya tahan) merupakan suatu alat ukur masa produk atau
daya tahan dari suatu produk sebelum menjadi rusak, sangat erat
kaitannya dengan reliability (kehandalan) dan service ability
(kemampuan pelayanan).
f. Service Ability (kemauan pelayanan) yaitu kecepatan, keramahan
persaingan dan kemudahan untuk memperbaiki.
g. Aesthetic (keindahan) adalah bagaimana produk tersebut terlihat,
dirasakan atau dicium yang lebih banyak bersifat individual dan
sangat subyektif.
h. Perceived Quality (pengamatan mutu) pelanggan tidak selalu
mempunyai informasi yang lengkap mengenai produk atau layanan
sehingga pengukuran secara tidak langsung terhadap mutu hanya
berdasarkan pada perbandingan produk.

Indikator Kualitas Pelayanan


Untuk menilai atau mengukur kualitas suatu pelayanan, antara lain :
a. Berwujud (tangible)
Dimensi berwujud dapat diukur dari penampilan fasilitas fisik,
peralatan, personil dan media komunikasi seperti perlengkapan
pegawai dan sarana komunikasi, kenyamanan tempat melakukan
pelayanan, kemudahan dalam proses pelayanan, dan penggunaan alat
bantu dalam pelayanan kesehatan.
b. Daya tanggap (responsiveness)
Dimensi daya tanggap diartikan sebagai kemauan dan kemampuan
untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan/jasa secara
tanggap dengan cara cepat, tepat dan cermat serta menerima semua
keluhan pasien.
c. Kehandalan (reliability)
Dimensi kehandalan diartikan sebagai kemauan dan kemampuan
untuk melaksanakan dan memenuhi pelayanan/jasa yang dijanjikan
secara tepat dan terpercaya.
d. Asuransi/keyakinan (assurance/confidence)
Dimensi keyakinan diartikan sebagai pengetahuan dan kesopanan para
karyawan serta kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan
dan keyakinan serta menerima kerahasiaan.
e. Empati (empathy)
Dimensi empati diartikan sebagai syarat untuk peduli dan memberikan
perhatian oleh perusahaan kepada para pelanggan atau pengguna jasa
seperti mendahulukan kepentingan pelanggan, tidak adanya
mendiskriminatif (membeda-bedakan) dalam memberikan pelayanan
kepada pelanggan yang satu dengan pelanggan lainnya, melayani
pelanggan dengan ramah dan sopan santun, dan petugas melayani dan
menghargai setiap pelanggan.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kualitas Pelayanan


Pelayanan yang baik pada akhirnya akan mampu memberikan
kepuasan kepada masyarakat. Pelayanan yang optimal pada akhirnya
juga akan mampu meningkatkan image organisasi sehingga citra
organisasi dimata masyarakat terus meningkat. Adanya citra organisasi
yang baik, maka segala yang dilakukan oleh organisasi akan dianggap
baik pula. faktor utama yang mempengaruhi pelayanan adalah sumber
daya manusia. Artinya peran manusia (karyawan) yang melayani
masyarakat merupakan faktor utama karena hanya dengan manusialah
pelanggan dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka.
Kualitas pelayanan dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal.
Masing-masing bagian tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
cukup penting yaitu sebagai berikut :
a. Faktor internal
Faktor yang memengaruhi kualitas pelayanan internal (interaksi
pegawai organisasi), pola manajemen umum organisasi, penyediaan
fasilitas pendukung, pengembangan sumber daya manusia, iklim
kerja dan keselarasan hubungan kerja, serta pola insentif.
b. Faktor eksternal
Faktor yang memengaruhi kualitas pelayanan eksternal (pelanggan
eksternal), yaitu pola pelayanan dan tata cara penyediaan layanan,
pola layanan dalam penyampaian jasa.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk
meningkatkan kualitas pelayanan banyak faktor yang memengaruhi
antara lain sumber daya manusia, kesadaran, aturan, organisasi,
keterampilan dan kemampuan, sarana pelayanan, serta pengalaman
pelanggan. Selain itu faktor internal dan eksternal juga menjadi penting
dan berpengaruh dalam mewujudkan pelayanan yang berkualitas bagi
setiap pengguna.

Ruang Lingkup Pelayanan Kesehatan


a. Tingkat pertama (primary health service)
Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan
yang bersifat pokok dan dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat
serta memiliki nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
b. Tingkat kedua (secondary health service)
Pelayanan kesehatan tingkat kedua yaitu pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan bagi masyarakat yang memerlukan perawatan oleh tenaga
spesialis yang dilaksanakan di rumah sakit.
c. Tingkat ketiga (tertiary health service)
Pelayanan kesehatan tingkat ketiga merupakan pelayanan yang
memerlukan tenaga ahli atau sub spesialis dan sebagai pelayanan
rujukan (Bramantoro, 2017).
Pada peraturan menteri kesehatan No. 71 Tahun 2013 mengenai JKN
terdapat pembagian tingkatan pelayanan kesehatan yaitu pelayanan rawat
jalan, rawat inap dan rujukan.
a. Rawat jalan
Rawat jalan adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat
nonspesialistik yang dilaksanakan pada fasilitas kesehatan tingkat
pertama untuk keperluan observasi, diagnosis, pengobatan, dan
pelayanan kesehatan lainnya.
b. Rawat inap
Rawat inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat
nonspesialistik dan dilaksanakan pada fasilitas kesehatan tingkat
pertama untuk keperluan observasi, diagnosis, pengobatan, dan
pelayanan kesehatan lainnya, dimana pasien dan anggota keluarganya
dirawat inap paling singkat 1 (satu) hari.
c. Rujukan
Pelayanan kesehatan rujukan adalah upaya pelayanan kesehatan
perorangan yang bersifat spesialistik atau subspesialistik yang
meliputi rawat jalan tingkat lanjut, rawat inap tingkat lanjut dan rawat
inap diruang perawatan khusus (Bramantoro, 2017)

Definisi Kualitas Pelayanan Kesehatan


Pelayanan kesehatan adalah segala kegiatan yang dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menghasilkan
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan atau dituntut oleh masyarakat untuk
mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya. Pelayanan kesehatan
merupakan suatu fasilitas atau wadah yang difasilitasi oleh Pemerintah
Daerah untuk memperoleh pelayanan kesehatan (Gurning, 2018).
Kualitas sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan (Nurdin, 2019). Kualitas pelayanan/jasa adalah
kelebihan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan. Dalam artian bila suatu layanan atau
jasa yang diterima (perceived service) sesuai dengan yang diharapkan,
maka dapat dipersepsikan bahwa kualitas pelayanan/jasa tersebut baik dan
memuaska serta ideal. Begitupun sebaliknya, apabila pelayanan/jasa yang
diterima lebih rendah dari pada yang diharapkan, maka kualitas
pelayanan/jasa akan dipersepsikan buruk (Nurdin, 2019).

Mengukur Loyalitas


Menurut Kottler & Keller (2018), loyalitas pelanggan dapat diukur
dengan tiga hal, yaitu:
a. Say positive things
Adalah mengatakan hal yang positif tentang produk/pelayanan.
b. Recommended friends
Adalah merekomendasikan produk/pelayanan yang telah digunakan.
c. Continue purchasing
Adalah pembelian/jasa yang dilakukan secara terus menerus
terhadap produk yang telah dikonsumsi atau digunakan.

Pentingnya Loyalitas


Griffin (2023) mengemukakan keuntungan-keuntungan yang akan
diperoleh perusahaan apabila memiliki pelanggan yang loyal antara lain :
a. Dapat mengurangi biaya pemasaran (karena biaya untuk menarik
pelangganyang baru lebih mahal).
b. Dapat mengurangi biaya transaksi (seperti biaya negosiasi kontrak,
pemrosesan pesanan, dll).
c. Dapat mengurangi biaya turn over pelanggan (karena pergantian
pelangganyang lebih sedikit).
d. Dapat meningkatkan penjualan silang yang akan memperbesar
pasar perusahaan.
e. Mendorong word of mouth yang lebih positif, dengan asumsi bahwa
pelanggan yang loyal juga berarti mereka yang merasa puas.
f. Mengurangi biaya kegagalan (seperti biaya pergantian, dll).

Dimensi Loyalitas


Dalam Suhartono (2020), dimensi loyalitas dapat dibagi menjadi dua
bagian, yaitu:
a. Dimensi perilaku (Behavioral dimension)
Dimensi perilaku adalah aspek dari perilaku konsumen (seperti
pembelian ulang) yang ditunjukkan pada suatu barang atau jasa
dalam kurun waktu tertentu. Pembelian ulang oleh konsumen
merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi produsen, tapi harus
diketahui bahwa pembelian ulang belum tentu menunjukkan kepuan
pelanggan melainkan tidak adanya alternative lain selain
pembelian ulang, harus dilihat juga sikap positif pelanggan terhadap
produk atau service provider-nya.
b. Dimensi sikap (Attidunal dimension)
Sikap merupakan niat dan preferensi konsumen untuk membeli suatu
jasa atau produk tertentu. Niat untuk membeli atau niat untuk
merekomendasikan dan preferensi pada suatu perusahaan jasa
merupakan faktor penting dalam menentukan bisnis dimasa yang
akan datang. Semakin besar niat konsumen untuk membeli ulang dan
merekomendasikan suatu perusahaan jasa memberikan suatu indikasi
bahwa perusahaan itu memiliki masa depan yang cerah.
Menggambarkan juga, bagaimana keadaan konsumennya yang
memiliki tingkat loyalitas pelanggan yang tinggi.

Indikator Loyalitas Pasien


Di dalam indikator loyalitas pelanggan menurut Baloglu (2022) adalah:
a. Kepercayaan (trust)
Aspek ini merupakan tanggapan kepercayaan pelanggan terhadap
perusahaan. Berbicara masalah kepercayaan dalam pandangan islam
telah disebutkan mengenai kepercayaan.
b. Komitmen psikologi (psychological commitment)
Aspek ini merupakan komitmen psikologi pasien terhadap
perusahaan.
c. Perubahan biaya (switching cost)
Aspek ini merupakan tanggapan pelanggan tentang beban yang
diterima ketika terjadi perubahan.
d. Perilaku publisitas (word of mouth)
Aspek ini merupakan perilaku publisitas yang dilakukan oleh
pelanggan terhadap perusahaan.
e. Kerjasama (cooperation)
Aspek ini merupakan perilaku pelanggan yang menunjukkan sikap
dapat bekerja sama dengan perusahaan

Faktor-faktor yang Memengaruhi Loyalitas


Menurut Zhou et al. (2017), terdapat 7 faktor yang berpengaruh
signifikan terhadap loyalitas pasien pada penyedia layanan kesehatan,
yaitu:
a. Kepuasan pasien (satisfaction patient)
Loyalitas pasien terbukti menjadi hasil langsung dari kepuasan
pasien. Penelitian Sari (2021) menemukan kepuasan pasien memiliki
pengaruh positif dan lebih dominan mempengaruhi loyalitas pasien.
Sama halnya dengan Azizah (2022), kepuasan secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pasien.
b. Nilai yang dirasakan (perceived value)
Nilai yang dirasakan adalah perbandingan antara total manfaat yang
dirasakan dan total pengorbanan yang dirasakan (Zhou et al., 2017).
c. Kepercayaan (trust)
Tiga studi menegaskan kepercayaan sebagai faktor dalam
menentukan loyalitas pasien. Purba et al. (2021), Hutabarat (2018)
menemukan bahwa kepercayaan memiliki pengaruh secara
signifikan terhadap kepuasan dan loyalitas pasien. Penelitian Huang
et al. (2021) menganalisis pengaruh kepercayaan pada loyalitas
pasien melalui komitmen. Hasil penelitiannya menunjukan ketika
pasien memiliki kepercayaan yang lebih besar, mereka cenderung
menganggap layanan medis berharga, mereka kemudian bersedia
mempertahankan komitmen hubungan jangka panjang dan
meningkatkan loyalitas pasien.
d. Kualitas pelayanan (service quality)
Kepuasan, nilai, kepercayaan dan komitmen adalah mediator
hubungan kualitas layanan dan loyalitas (Zhou et al., 2017).
Lestariningsih et al. (2018) menemukan bahwa kualitas pelayanan
memiliki pengaruh terhadap kepuasan pasien, kemudian kepuasan
pasien berpengaruh terhadap kepercayaan, dan kepercayaan
berpengaruh terhadap loyalitas pasien.
e. Komitmen (commitment)
Loyalitas pasien juga dipengaruhi oleh komitmen hubungan (Zhou et
al., 2017). Komitmen pasien terhadap hubungan pasien dan penyedia
layanan kesehatan menunjukkan bahwa mereka menghargai
hubungan tersebut dan bersedia mempertahankan hubungan yang
stabil dan jangka panjang dengan penyedia layanan kesehatan
(Huang et al. 2021). Patawayati et al. (2013) mengemukakan bahwa
komitmen pasien memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap
loyalitas.
f. Citra (brand image)
Citra adalah aset tidak berwujud (intangible assets) yang berharga
dari sebuah perusahaan (Prasetyo, 2017). Penelitian Sibarani & Riani
(2017) yang dilakukan di Rumah Sakit Prof. Dr. R. Soeharso
Surakarta menunjukan bahwa citra rumah sakit memiliki hubungan
yang positif terhadap loyalitas pasien, tidak hanya meningkatkan
loyalitas pasien saja, tetapi juga citra rumah sakit berpengaruh pada
kepuasan pasien.
g. Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Bekerja sesuai dengan tugas-tugas yang ada dalam job
description disebut in role behavior, sedangkan melakukan
pekerjaan yang tidak terbatas pada tugas yang terdapat dalam job
description disebut extra role behavior atau disebut dengan
Organizational Citizenship Behavior (OCB) (Safaat, 2018).

Jenis-Jenis Loyalitas


Jenis-jenis loyalitas pelanggan menurut Griffin (2019) yaitu:
a. No loyalty (tidak ada kesetiaan)
Untuk berbagai alasan yang berbeda, ada beberapa pelanggan yang
tidak mengembangkan suatu kesetiaan terhadap produk atau jasa
tertentu. Pada dasarnya suatu usaha harus menghindari kelompok no
loyality ini untuk dijadikan target pasar karena mereka tidak akan
pernah menjadi pelanggan yang setia.
b. Inertia loyality (kesetiaan yang tidak aktif)
Suatu tingkat keterikatan yang rendah dengan pembelian ulang yang
tinggi akan mewujudkan suatu inertia loyality. Pelanggan yang
memiliki sikap ini biasanya membeli berdasarkan kebiasaan. Dasar
yang digunakan untuk pembelian produk atau jasa biasanya karena
sudah terbiasa memakainya atau karena faktor kemudahan
situasional.
c. Latent loyality (kesetiaan tersembunyi)
Bagi pelanggan yang memiliki sikap latent loyality, pembelian ulang
banyak dipengaruhi oleh faktor situasional daripada faktor sikapnya
d. Premium loyality (kesetiaan premium)
Merupakan jenis kesetiaan yang terjadi bilamana suatu tingkat
keterikatan yang tinggi berjalan selaras dengan aktivitas pembelian
kembali. Kesetiaan jenis inilah yang sangat diharapkan dari setiap
pelanggan dari setiap usaha

Definisi Loyalitas


Loyalitas berasal dari kata loyal yang berarti setia. Loyalitas pada
dasarnya merupakan kesetiaan, pengabdian dan kepercayaan yang
diberikan atau ditujukan kepada seseorang atau lembaga, yang di
dalamnya terdapat rasa cinta dan tanggung jawab untuk berusaha
memberikan pelayanan dan perilaku yang terbaik (Husni, 2018). Menurut
Kotler & Keller (2016 dalam Curatman et al., 2020), loyalitas adalah
komitmen yang dipegang secara mendalam untuk terus menggunakan
atau mendukung produk atau jasa yang disukai di masa depan bahkan
ketika pengaruh situasional dan usaha pemasaran berpotensi
menyebabkan pelanggan beralih. Loyalitas pelanggan merupakan
manifestasi dari kepuasan pelanggan dalam menggunakan fasilitas dan
jasa pelayanan yang ditawarkan oleh pihak perusahaan, dan tetap
menjadi konsumen dari perusahaan tersebut (Hermanto, 2019).

    Tingkat Kepuasan Masyarakat


    Kepuasan masyarakat adalah hasil pengukuran yang diterima
    langsung oleh masyarakat terhadap pelayanan yang diperoleh
    pegawai pelayanan. Kepuasan masyarakat terhadap organisasi publik
    sangat penting karena adanya hubungan kepercayaan masyarakat.
    Kepercayaan masyarakat akansemakin tinggi apabila masyarakat
    mendapatkan pelayanan yang baik dan merasa terpuaskan akan
    pelayanan tersebut.
    KEPMENPAN Nomor 63 tahun 2003 tentang Pedoman Umum
    Penyelenggaraan Pelayanan Publik menyebutkan bahwa, “Ukuran
    keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat
    kepuasan penerima pelayanan. Kepuasan pelayanan dicapai apabila
    penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang
    dibutuhkan dan diharapkan”. Oleh karena itu, setiap penyelenggara
    pelayanan secara berkala melakukan survei Indeks Kepuasan
    Masyarakat.
    Kepuasan pelanggan dapat diukur menggunakan berbagai
    metode pengukuran. Secara sederhana mengemukakan empat
    metode yang dapat mengukur kepuasan pelanggan, yaitu sebagai
    berikut:
    a. Sistem Keluhan dan Saran Setiap perusahaan yang berorientasi
    kepada pelanggan (customer-oriented) perlu memberikan
    kesempatan seluas- luasnya bagi para pelanggannya untuk
    menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan. Media yang bisa
    digunakan adalah kotak saran, kartu komentar, saluran telepon
    khusus (customer hot lines), dan lain-lain.
    b. Survai Kepuasan Pelanggan Melalui survei, perusahaan akan
    memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari
    pelanggan dan sekaligus juga memberikan tanda (signal) positif
    bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap pelanggannya.

    Pengertian Kepuasan Masyarakat


    Kepuasan masyarakat dapat ditunjukkan melalui sikap
    masyarakat setelah mengonsumsi produk yang didapatkan. Kepuasan
    pelanggan akan terlihat dari seberapa baik produk yang didapatkan
    dan dirasakan. Semakin baik kualitas produk yang didapatkan, maka
    kepuasan pelanggan akan semakin baik.
    Kata kepuasan berasal dari bahasa Latin “satis” yang berarti
    cukup baik, memadai, dan “factio” yang berarti melakukan atau
    membuat. Kepuasan bisa diartikan sebagai “upaya pemenuhan
    sesuatu” atau “membuat sesuatu memadai”.
    Berikut pengertian Kepuasan pelanggan menurut beberapa ahli,
    meliputi: Kepuasan masyarakat adalah tingkat perasaan konsumen
    setelah membandingkan antara apa yang diterima dan harapannya
    Umar (2015:65). Seorang konsumen, jika merasa puas dengan nilai
    yang diberikan oleh produk atau jasa, sangat besar kemungkinannya
    menjadi pelanggan dalam waktu yang lama. hubungan antara
    pelanggan dengan instansi menjadi harmonis, memberikan dasar
    yang baik bagi pembeli (pemakaian) ulang, terciptanya loyalitas dari
    pelanggan serta terbentuknya rekomendasi dari mulut ke mulut yang
    kesemuanya menguntungkan perusahaan

    Manfaat Kepuasan


    Menurut Tjiptono (2012:310-311), kepuasan pelanggan telah
    menjelma menjadi kewajiban bagi setiap organisasi bisnis, peneliti
    pemasaran, eksekutif bisnis, bahkan politisi. Kualitas jasa yang unggul
    dan konsisten dapat menumbuhkan kepuasan konsumen dan akan
    memberikan berbagai manfaat seperti:

    1. Berdampak positif pada loyalitas pelanggan.
    2. Berpotensi menjadi sumber pendapatan masa depan (terutama
      melalui pembelian ulang, cross-selling, dan up-selling).
    3. Menekan biaya transaksi pelanggan di masa depan (terutama biayabiaya komunikasi pemasaran, penjualan, dam layanan pelanggan).
    4. Menekan volatilitas dan risiko berkenaan dengan prediksi aliran kas
      masa depan.
    5. Meningkatkan toleransi harga (terutama kesediaan pelanggan untuk
      membayar harga premium dan pelanggan cenderung tidak mudah
      tergoda untuk beralih pemasok).
    6. Rekomendasi gethok tular positif.
    7. Pelanggan cenderung lebih reseptif terhadap product-line (saluran
      produk), extensions (ekstansi), brand extensions (merek ekstansi),
      dan new add-on services (tambahan layanan baru) yang ditawarkan
      perusahaan.
    8. Meningkatkan bargaining power (daya tawar) relatif perusahaan
      terhadap jaringan pemasok, mitra bisnis, dan saluran distribusi

    Metode Pengukuran Kepuasan


    Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan setiap perusahaan
    untuk mengukur dan memantau kepuasan pelanggannya dan
    pelanggan perusahaan pesaing. Kotler (2002:42), mengemukakan 4
    metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu:

    1. Sistem keluhan dan saran.
      Sebuah perusahaan yang berfokus pada pelanggan mempermudah
      pelanggannya untuk memberikan saran, pendapat dan keluhan
      mereka. Media yang digunakan meliputi kotak saran yang
      diletakkan di tempat-tempat strategis, menyediakan kartu
      komentar, saluran telepon khusus dan sebagainya. Tetapi karena
      metode ini cenderung pasif, maka sulit mendapatkan gambaran
      lengkap mengenai kepuasan dan tidak kepuasan pelanggan. Tidak
      semua pelanggan yang tidak puas lantas akan menyampaikan
      keluhannya. Bisa saja mereka langsung beralih ke perusahaan lain
      dan tidak akan menjadi pelanggan perusahaan tersebut lagi.
    2. Survei kepuasan pelanggan
      Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan di
      lakukan dengan menggunakan metode survei baik melalui pos,
      telepon maupun wawancara pribadi. Pengukuran kepuasan
      pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai
      cara, diantaranya:
      a. Directly Reported Satisfaction
      Pengukuran dilakukan secara langsung melalui pertanyaan.
      b. Derived Dissatisfaction
      Pertanyaan yang di ajukan menyangkut 2 hal utama, yaitu
      besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan
      besarnya kinerja yang telah mereka rasakan atau terima.
    3. Problem Analysis
      Pelanggan yang dijadikan responden, diminta untuk
      mengungkapkan 2 hal pokok yaitu: masalah-masalah yang mereka
      hadapi berkaitan dengan penawaran dari menajemen perusahaan
      dan saran-saran untuk melakukan perbaikan.
    4. Importance-Performance Analysis
      Dalam teknik ini responden diminta meranking berbagai elemen
      dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen
      tersebut. Selain itu juga, responden diminta merangking seberapa
      baik kinerja perusahaan dalam masing-masing elemen tersebut.

    Konsep Kepuasan


    Persaingan yang semakin ketat, di mana semakin banyak
    produsen yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan
    konsumen, menyebabkan setiap perusahaan harus menempatkan
    orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama. Kepuasan
    pelanggan merupakan suatu tingkatan dimana kebutuhan, keinginan,
    dan harapan dari pelanggan dapat terpenuhi yang mengakibatkan
    terjadinya pembelian ulang atau kesetiaan yang berlanjut. Faktor yang
    paling penting untuk menciptakan kepuasan konsumen adalah kinerja
    dan kualitas dari layanan yang diberikan oleh organisasi.
    Kualitas berkaitan erat dengan kepuasan pelanggan. Kualitas
    memberikan dorongan khusus bagi para pelanggan untuk menjalin
    ikatan relasi saling menguntungkan dalam jangka panjang dengan
    persahaan. Menurut Gaspersz dalam Nasution (2005:50), adapun
    faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan pelanggan
    adalah sebagai berikut:

    1. Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang
      dirasakan pelanggan ketika pelanggan sedang mencoba
      melakukan transaksi dengan produsen atau pemasok produk
      (perusahaan). Jika pada saat itu kebutuhan dan keinginannya
      besar, harapan atau ekspektasi pelanggan akan tinggi, demikian
      pula sebaliknya.
    2. Pengalaman masa lalu ketika mengkonsumsi produk dari
      perusahaan maupun pesaing-pesaingnya.
    3. Pengalaman dari teman-teman, dimana mereka akan menceritakan
      kualitas produk yang akan dibeli oleh pelanggan itu. Hal ini jelas
      mempengaruhi persepsi pelanggan terutama pada produk-produk
      yang dirasakan berisiko tinggi.
    4. Komunikasi melalui iklan dan pemasaran juga mempengaruhi
      persepsi pelanggan.

    Kepuasan


    Kepuasan (Satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa
    seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja atau hasil
    produk yang dipikirkan terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan.
    Jika kinerja berada dibawah harapan maka pelanggan tidak puas. Jika
    kinerja memenuhi harapan maka pelanggan puas. Jika kinerja melebihi
    harapan maka pelanggan amat puas atau senang (Kotler, 2006:177).

    Standar Pelayanan Publik


    Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar
    pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi
    penerima layanan. Standar pelayanan merupakan ukuran yang
    dilakukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati
    oleh pemberi dan atau penerima pelayanan. Berdasarkan Peraturan
    Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
    Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Standar
    Pelayanan, sebagaimana di atur dalam Undang-Undang Nomor 25
    Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menyatakan komponen standar
    pelayanan sekurang-kurangnya meliputi:
    a. Persyaratan;
    b. Sistem, mekanisme, dan prosedur;
    c. Jangka waktu peneyelesaian;
    d. Biaya/tarif;
    e. Produk pelayanan;
    f. Penanganan pengaduan, saran, dan masukan (Fanar, 2009: 56).
    Penyelenggaraan pelayanan publik tidak bisa dilepaskan dari
    standar pelayanannya. Standar inilah yang kemudian menjadi tolak ukur
    pelayanan yang berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan
    publik. Pedoman ini akan berfungsi sebagai acuan pelaksana dan
    pengguna pelayanan dalam memenuhi dan memperoleh hak serta
    kebutuhan dasarnya.

    Jenis Pelayanan Publik


    Menurut Batinggi (2010) ada tiga jenis layanan yang bisa
    dilakukan oleh siapapun, yaitu:

    1. Layanan dengan Lisan
      Layanan dengan lisan dilakukan oleh petugas-petugas di bidang
      Hubungan Masyarakat (HUMAS), bidang layanan informasi, dan
      bidang-bidang lain yang tugasnya memberikan penjelasan atau
      keterangan kepada siapapun yang memerlukan.
      Agar supaya layanan lisan berhasil sesuai dengan yang diharapkan,
      ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pelaku layanan yaitu:
      a) Memahami masalah-masalah yang temasuk ke dalam bidang
      tugasnya.
      b) Mampu memberikan penjelasan apa yang diperlukan dengan
      lancar, singkat tetapi cukup jelas sehingga memuaskan bagi
      mereka yang memperoleh kejelasan mengenai sesuatu.
      c) Bertingkah laku sopan dan ramah.
    2. Layanan Melalui Tulisan
      Layanan melalui tulisan merupakan bentuk layanan yang paling
      menonjol dalam melaksanakan tugas. Layanan tulisan ini terdiri
      dari 2 (dua) golongan yaitu, berupa petunjuk informasi yang
      ditujukan kepada orang-orang yang berkepentingan, agar
      memudahkan mereka dalam berurusan dengan instansi atau
      lembaga pemerintah. Kedua, layanan berupa reaksi tertulis atau
      permohonan laporan, pemberian/penyerahan, pemberitahuan dan
      sebagainya. Adapun kegunaannya yaitu:
      a) Memudahkan bagi semua pihak yang berkepentingan.
      b) Menghindari orang yang banyak bertanya kepada petugas.
      c) Mamperlancar urusan dan menghemat waktu bagi kedua pihak.
      d) Menuntun orang ke arah yang tepat.
    3. Layanan dengan Perbuatan
      Pada umumnya layanan dalam bentuk perbuatan dilakukan oleh
      petugas-petugas yang memiliki faktor keahlian dan keterampilan.
      Dalam kenyataan sehari-sehari layanan ini memang tidak terhindar
      dari layanan lisan jadi antara layanan perbuatan dan lisan sering
      digabung. Hal ini disebabkan karena hubungan pelayanan secara
      umum banyak dilakukan secara lisan kecuali khusus melalui
      hubungan tulis yang disebabkan oleh faktor jarak.
      Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012, secara garis
      besar ruang lingkup pelayanan publik dapat dikelompokkan menjadi
      tiga, yaitu:
    4. Pelayanan administratif
      Jenis pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen
      resmi yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status
      kewarganegaraan, sertifikat kompetensi, kepemilikan atau
      penguasaan terhadap suatu barang dan sebagainya.
    5. Kelompok pelayanan barang
      Jenis pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jenis barang
      yang digunakan oleh publik.
    6. Kelompok pelayanan jasa
      Jenis pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang
      dibutuhkan oleh publik, misalnya pendidikan, pemeliharaan
      kesehatan, penyelenggaraan transportasi, pos dan sebagainya.

    Dimensi Kualitas Pelayanan


    Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) dalam Tjiptono
    (2017) terdapat lima indikator pokok dari kualitas layanan, yaitu:

    1. Reliabilitas (Reliability)
      Kemampuan melaksanakan layanan yang dijanjikan secara
      meyakinkan dan akurat.
    2. Daya Tanggap (Responsiveness)
      Kesediaan membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan
      cepat.
    3. Jaminan (Assurance)
      Pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka
      dalam menumbuhkan rasa percaya dan keyakinan.
    4. Empati (Empathy)
      Kesediaan memberikan perhatian yang mendalam dan khusus
      kepada masing-masing pelanggan.
    5. Bukti Fisik (Tangible)
      Penampilan fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan dan bahan
      komunikasi.
      D. Pelayanan Publik
      Menurut Sinambela (2006:5), istilah publik berasal dari bahas
      Inggris public yang berarti umum, masyarakat, negara. Kata public
      sebenarnya sudah diterima menjadi Bahasa Indonesia Baku menjadi
      ”publik” yang berarti umum, orang banyak dan ramai.

    Karakteristik Kualitas Pelayanan


    Menurut Tjiptono (2000) menyebutkan karakteristik pokok pada jasa
    sebagai berikut:

    1. Intangibility
      Jasa berbeda dengan barang. Jasa bersifat intangible, artinya tidak
      dapat dilihat, dirasa, diraba, dicium, atau didengar sebelum dibeli.
      Konsep intangible ini sendiri memiliki dua pengertian yaitu:
      a. Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa.
      b. Sesuatu yang tidak mudah didefinisikan, diformulasikan, atau
      dipahami secara rohaniah.
    2. Inseparability
      Jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan dari produk yang
      telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut juga inseparability (tidak
      dapat dipisahkan) mengingat pada umumnya jasa dihasilkan dan
      dikonsumsi secara bersamaan. Dalam hubungan penyedia jasa dan
      pelanggan ini, efektivitas individu yang menyampaikan jasa
      merupakan unsur penting.
    3. Variability
      Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan nonstandardized output, artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada
      siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut dihasilkan.
    4. Perishability
      Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan.
      Dengan demikian apabila suatu jasa tidak digunakan, maka jasa
      tersebut akan berlalu begitu saja.

    Kualitas Pelayanan


    Menurut Goetsch and Davis (1994) dalam Tjiptono dan Chandra
    (2016) bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang memiliki
    hubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses dan
    lingkungan yang dapat memenuhi harapan pelanggan. Di dalam kualitas
    terdapat konsep yang dimiliki seperti kualitas desain dan kualitas
    kesesuaian. Kualitas desain merupakan suatu fungsi spesifikasi produk
    sedangkan kualitas kesesuaian merupakan suatu ukuran seberapa besar
    tingkat kesesuaian antara sebuah produk dan jasa dengan persyaratan
    yang sudah ditetapkan.
    Menurut Kotler and Keller (2016) mengatakan, kualitas pelayanan
    juga dapat diartikan sebagai keseluruhan ciri dan karakteristik sifat suatu
    produk atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya untuk
    memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat, sedangkan layanan
    dapat diartikan sebagai tindakan atau kinerja yang dapat ditawarkan satu
    pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
    mengakibatkan kepemilikan sesuatu.

    Kepuasan Pelanggan


    Kepuasan, kata ‘kepuasan atau satisfaction’ berasal dari bahasa latin “satis”
    (artinya cukup baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat) secara
    sederhana kepuasan dapat diartikan sebagai ‘upaya pemenuhan sesuatu’ atau
    ‘membuat sesuatu memadai’. Pelanggan menurut (Melfa, 2013) secara tradisional
    pelanggan diartikan orang yang membeli dan menggunakan produk. Dalam
    perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelanggan adalah orang yang menggunakan
    jasa pelayanan.
    Menurut (Kotler, 2017) mengungkapkan kepuasan adalah perasaan senang atau
    kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang
    dipikirakan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan jika kinerja memenuhi
    harapan, pelanggan puas, jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas.
    Bahwa kepuasan pelanggan adalah situasi kognitif pembeli berkenaan dengan
    kesepadananan atau ketidaksepadanaan antara hasil yang didapatkan dibandingkan
    dengan pengorbanan yang dilakukan. Westbrook dan Reilly berpendapat bahwa
    kepuasan pelanggan adalah respon emosional terhadap pengalaman-pengalaman
    berkaitan dengan produk atau jasa tertentu yang dibeli atau bahkan pola perilaku
    (seperti perilaku berbelanja dan perilaku pembeli), serta pasar secara keseluruhan.
    Respon emosional dipicu oleh proses evaluasi kognitif yang membandingkan
    presepsi (atau keyakinan) terhadap obyek, tindakan atau kondisi tertentu dengan
    nilai-nilai (atau kebutuhan, keinginan dan hasrat) individual.
    Menurut (Daryanto, 2019) menyatakan kepuasan konsumen adalah suatu
    penilaian emosional dari konsumen setelah konsumen menggunakan produk dimana
    harapan dan kebutuhan konsumen yang menggunakan nya terpenuhi. Kepuasan
    konsumen adalah suatu penilaian emosional dari konsumen setelah konsumen
    menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan konsumen yang menggunakan
    terpenuhi. Menurut (Kotler, 2017) ada 4 cara mengukur kepuasan pelanggan :

    1. Complaint and suggestion system (sistem keluhan dan saran).
      Banyak perusahaan membuka kotak saran dan menerima keluhan yang dialami oleh
      langganan .ada juga perusahaan yang memberi amplop yang telah ditulis alamat
      perusahaan untuk digunakan menyampaikan pesan,saran, keluhan serta kritik . saran
      tersebut dapat juga disampaikan melalui kartu komentar,customer hot line,telepon
      bebas pulsa.informasi ini dapat memberikan ide dan masukan kepada perusahaan
      yang memungkinkan perusahaan mengantisipasi dan cepat tanggap terhadap kritik
      dan saran tersebut.
    2. Customer satisfaction surveys (survey kepuasan pelanggan ).
      Dalam hal ini perusahaan melakukan survey untuk mendeteksi komentar pelanggan
      survey ini dapat dilakukan melalui pos,telepon,atau wawancara pribadi atau
      pelanggan diminta mengisi angket.
    3. Ghost shopping ( pembeli bayangan )
      Dalam ini perusahaan menyuruh orang tertentu sebagai pembeli ke perusahaan lain
      atau ke perusahaan nya sendiri. Pembeli misteri ini melaporkan keunggulan dan
      kelemahan yang melayaninya. Juga dilaporkan segala sesuatu yang bermanfaat
      sebagai bahan pengambil keputusan oleh manajemen. Bukan saja orang lain yang
      disewa untuk menjadi pembeli bayangan tetapi juga manajer sendiri harus turun
      tangan ke lapangan, belanja ketoko saingan dimana ia tidak dikenal. Pengalaman
      manajer ini sangat penting karna data dan informasi yang diperoleh langsung ia
      alami sendiri.
    4. Lost customer analiysis (analisa pelanggan yang lari)
      Langganan yang hilang,dicoba dihubungi,nereka diminta untuk mengungkapkan
      mengapa mereka berhenti,pindah ke perusahaan lain,adakah sesuatu masalah yang
      terjadi yang tidak bisa di atasi atau terlambat di atasi.dari kontak semacam ini akan
      diperoleh informasi dan akan memperbaiki kinerja perusahaan sendiri agar tidak ada
      lagi langganan yang lari dengan cara meningkatkan kepuasan mereka.
      Indikator kepuasan konsumen menurut (Tjiptono, 2019) :
    5. Kepuasan pelanggan keseluruhan
    6. Dimensi kepuasan pelanggan
    7. Konfirmasi harapan
    8. Niat beli ulang
    9. Kesediaan untuk merekomendasikan

    Indikator Kualitas Pelayanan


    Menurut (Mukarom & Muhibudin, 2015) mengemukakan lima indikator Kualitas
    Pelayanan yaitu :

    1. Reliability yang ditandai dengan pemberian Kualitas Pelayanan yang tepat
      dan benar. Reliability atau keandalan menjadi salah satu indikator
      membangun kualitas pelayanan. Jadi, dikatakan memiliki reliabilitas apabila
      memenuhi kecermatan dalam melayani pelanggan, dan memiliki standar
      pelayanan yang jelas. Keandalan juga dapat dilihat dari kemampuan
      perusahaan dalam menggunakan alat bantu yang ada, fungsinya untuk
      memproses pelayanan, sehingga memberikan kepuasan bagi pelanggan.
    2. Tangibles yang ditandai dengan penyediaan yang memadai sumber daya
      lainnya. Istilah tangible adalah bentuk pelayanan yang dapat dirasakan dan
      dilihat secara langsung. Salah satu bentuk yang berbentuk tangible adalah
      fasilitas fisik, fasilitas komunikasi hingga peralatan staf. Adapun
      kehadiran tangible, yaitu memberikan kemudahan dalam proses pelayanan,
      dan menampilkan dalam melayani pelanggan. Adapun fungsi dari tangible,
      yaitu memberikan kenyamanan, dan memberikan kemudahan akses bagi
      pelanggan maupun konsumen.
    3. Responsiveness ditandai dengan keinginan melayani konsumen dengan cepat.
      Indikator kualitas pelayanan juga harus bersifat responsiveness. Jadi butuh
      daya tanggap yang cepat terhadap perkembangan dan perubahan selera
      konsumen terhadap produk, barang atau keinginan konsumen. Adapun ciriciri responsiveness, yaitu dapat ditandai dari kemampuan dalam merespon
      pelanggan dengan baik, disertai dengan respon secara cermat, cepat, dan
      tepat. Ketika ada konsumen yang mengeluh, segera direspons dan dibenahi.
    4. Assurance yang ditandai tingkat perhatian terhadap etika dan moral dalam
      memberikan Kualitas Pelayanan. Jika diperhatikan, khususnya untuk jual beli
      barang/jasa yang memiliki daya jual tinggi, bentuk kualitas pelayanan
      berbentuk jaminan atau assurance. Sadar atau tidak, jaminan sangat
      membantu meningkatkan rasa kepercayaan pelanggan kepada perusahaan.
      Adapun ciri-ciri perusahaan yang memberikan jaminan kepada pelanggan.
      Pertama harus tepat waktu. Kedua jaminan diberikan disesuaikan dengan
      pelayanan dan terakhir diberikan karena perusahaan memiliki integritas.
    5. Emphaty yang ditandai tingkat kemauan untuk mengetahui keinginan dan
      kebutuhan konsumen. Emphaty adalah perhatian yang sangat membantu
      dalam membangun sebuah hubungan, perhatian dan komunikasi antar orang
      lain. Bentuk perhatian sebenarnya berbentuk hal-hal kecil. Namun,
      memberikan dampak pengaruh yang luar biasa kepada pelanggan. Adapun
      bentuk-bentuk attention, misalnya melayani konsumen dengan sopan santun,
      ramah, menghargai siapapun itu pelanggan, dan mendahulukan kepentingan
      pelanggan. Hal terpenting, tidak boleh melayani dengan cara diskriminatif
      dan pilih kasih

    Kualitas Pelayanan


    Sudah menjadi keharusan perusahaan melakukan kualitas Kualitas Pelayanan
    yang terbaik supaya mampu bertahan dan tetap menjadi kepercayaan pelanggan.
    Terciptanya Kepuasan Pelanggan dapat memberikan manfaat diantaranya hubungan
    antara Perusahaan dan Pelanggan menjadi harmonis, Pelanggan akan melakukan
    pembelian ulang hingga terciptanya loyalitas Pelanggan, dan membentuk suatu
    rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth) yang menguntungkan Perusahaan.
    Menurut Arianto kualitas Kualitas Pelayanan dapat diartikan sebagai berfokus pada
    memenuhi kebutuhan dan persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi
    harapan pelanggan. Kualitas Pelayanan berlaku untuk semua jenis layanan yang
    disediakan oleh perusahaan saat klien berada di Perusahaan (Arianto, 2018).
    Kualitas Pelayanan merupakan komponen penting yang harus diperhatikan dalam
    memberikan Kualitas Pelayanan prima. Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan titik
    sentral bagi perusahaan karena mempengaruhi kepuasan konsumen dan kepuasan
    konsumen akan muncul apabila kualitas Kualitas Pelayanan yang diberikan dengan
    baik (Raintung et al., 2021). Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan
    bahwa Kualitas Pelayanan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak
    perusahaan berupa hal yang tidak berwujud namun dapat dirasakan oleh konsumen.
    Pengukuran Kualitas Pelayanan dapat dilihat dari terhadap suatu layanan yang telah
    diterima oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan harapannya.

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


    Beberapa riset telah dilakukan dalam menentukan kepuasan pelanggan,
    meskipun ini bukanlah suatu pekerjaan mudah, namun perusahaan harus
    melakukannya agar costumer selalu merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan.
    Menurut McCarthy & Perreault, Jr yang dikutip dari Amatullah (2017) prilaku untuk
    mengukur kepuasan costumer merupakan hal yang sulit, dikarena ketergantungan pada
    tingkat aspirasi dan harapan yang ada.
    Kepuasan Pelanggan berhubungan dengan beberapa faktor yang yang
    mendukung terhadap kepuasan pelanggan, Tjiptono mengatakan bahwa faktor yang
    mempengaruhi kepuasan pelanggan di bagi menjadi dua yaitu faktor internal dan
    eksternal. Faktor internal adalah suatu faktor yang dikendalikan perusahaan, seperti
    sopan santun karyawan, kedisplinan dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal yang
    terdapat diluar kendali dari perusahaan tersebut, seperti iklim, gangguan dilapangan,
    dan masalah pribadi dengan pelanggan. dapat dikatakan bila terjadi hal terkait dengan
    ketidakpuasan, ada beberapa hal yang mungkin akan dilakukan costumer, yaitu:
    a) Tidak melakukan sesuatu, costumer yang tidak puas diam dan tidak melakukan
    apapun, tetapi mereka langsung tidak ingin menggunakan peroduk atau jasa dari
    perusahaan tersebut
    b) Beberapa faktor yang membuat costumer melakukan complain atau tidak, yaitu:

    1. Tingkat kepentingan konsumsi yang dilakukan.
    2. Tingkatan rasa ketidakpuasan pelanggan.
    3. Manfaat yang didapatkan.
    4. Pengetahuan dan pengalaman.
    5. Sikap costumer terhadap keluhan.
    6. Tingkat kesulitan dalam mendapatkan ganti rugi atau kompensasi.
    7. Peluang keberhasilan dalam melakukan suatu complain terhadap perusahaan.
      Terkait dengan hal tersebut, kepuasan pelanggan juga dipengaruhi oleh suatu
      tingkat pelayanan. Menurut Moenir pelayanan dapat dikatakan memuaskan jika orang
      atau sekelompok orang yang dilayani dengan baik, terdapat 4 faktor, yaitu:
      a) Prilaku yang sopan.
      b) Cara penyampaian sesuatu yang berhubungan dengan apa yang harusnya
      diterima oleh yang bersangkutan.
      c) Waktu penyampaian yang tepat dan cepat.
      d) Keramahan.

    KEPUASAN PELANGGAN


    Kepuasan pelanggan faktor kunci dalam berbagai kegiatan usaha atau bisnis.
    Kepuasan pelanggan adalah suatu tanggapan konsumen terhadap evaluasi kinerja yang
    dirasakan antara harapan yang sebelumnya dengan kinerja produk yang mereka
    dirasakan. Dengan terpuaskannya keinginan dan kebutuhan dari costumer, maka hal
    tersebut memiliki efek yang positif bagi perusahaan. Apabila costumer merasa puas
    terhadap suatu produk tentunya costumer tersebut akan selalu menggunakan atau
    mengkonsumsi produk tersebut secara rutin. Dengan begitu suatu produk dari
    perusahaan dapat dinyatakan laku dalam pasar, sehingga perusahaan mendapatkan
    keuntungan dan pada akhirnya perusahaan akan tetap survive atau bertahan dan
    berkembang.
    Menurut Willie mengartikan bahwa kepuasan pelanggan sebagai “Suatu bentuk
    emosional dalam evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa”.
    Sebagai bentuk dari pengalaman yang dirasakan oleh pelanggan setelah mengkonsumsi
    suatu produk atau jasa.
    Sedangkan menurut Gerso Ricard menyatakan bahwa “Kepuasan pelanggan
    adalah suatu persepsi yang dibuat oleh pelanggan melalui harapannya yang telah
    terpenuhi atau terlampaui.
    Schemerhorn berpendapat bahwa pada dasarnya tujuan dari perusahaan yaitu
    melakukan produksi barang atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pelanggannya.
    Definisi kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan secara tradisional yaitu selisih antara
    harapan (expectations) dan kinerja yang dirasakan (perceived performance).
    Pengertian ini memiliki dasar pada “disconfirmation paradigm” dari Oliver), yang
    mengatakan bahwa kepuasan pelanggan disebabkan oleh dua variabel kognitif yaitu
    harapan sebelum pembelian (pre-purchase expectations) yaitu keyakinan tentang hasil
    yang diantisipasi dari suatu produk atau jasa dan “disconfirmation” yaitu perbedaan
    antara harapan sebelum pembelian dan persepsi setelah pembelian (post-purchase
    perception).