Menurut Tjiptono dan Chandra (2014), perspektif kualitas jasa
diklasifikasikan dalam lima kelompok:
- Pendekatan transendental (transcendental approach) Dalam pendekatan ini
kualitas dipandang sebagai keunggulan bawaan (innate excellence), dimana
kualitas dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit didefenisikan dan di
operasionalisasikan. - Pendekatan berbasis produk (product-based approach) Pendekatan ini
menganggap kualitas merupakan karakteristik atau atribut yang dapat
dikuantitatifkan dan dapat diukur. - Pendekatan berbasis pengguna (user-based approach) Pendekatan ini
didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang
memandangnya sehingga produk yang paling memuaskan menjadi
preferensi seseorang, misalnya kualitas yang dirasakan ( perceived quality)
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. - Pendekatan berbasis manufaktur (manufacturing-based approach)
Perspektif ini bersifat berdasarkan pasokan (supply-based) dan secara
khusus memperhatikan praktik-praktik perekayasaan dan kemanufakturan,
serta mendefenisikan kualitas sebagai kesesuaian atau kesamaan dengan
persyaratan (conformance to requirements). Penentu kualitas dalam
pendekatan ini adalah standar-standar yang ditetapkan perusahaan, bukan
oleh konsumen pengguna. - Pendekatan berbasis nilai (value-based approach) Kualitas dalam perspektif
ini bersifat relatif sehingga produk yang paling bernilai adalah barang atau
jasa yang paling tepat di beli (best-buy)
