(Mangkunegara, 2013) mengemukakan kinerja adalah hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikannya.
Menurut (Busro, 2018), kinerja adalah pekerjaan yang berhasil
ditunjukkan oleh pekerja dengan usaha secara sungguh-sungguh dalam
rangka memenuhi tugas dan kewajiban.
Indikator Disiplin Kerja
Menurut Hasibuan (2016), “pada dasarnya banyak
indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan pegawai
suatu organisasi, diantaranya”:
- Kehadiran
Hal ini menjadi indikator yang mendasar untuk mengukur
kedisiplinan dan biasanya pegawai yang memiliki disiplin kerja
rendah terbiasa untuk terlambat dalam bekerja. - Ketaatan pada Peraturan Kerja
Pegawai yang taat pada peraturan kerja tidak akan melalaikan
prosedur kerja dan akan selalu mengikuti pedoman kerja yang
ditetapkan oleh organisasi. - Ketaatan pada standar kerja
Hal ini dapat dilihat melalui besarnya tanggung jawab pegawai
dengan tugas yang diarahkan kepadanya - Tingkat kewaspadaan tinggi
Pegawai memiliki kewaspadaan tinggi akan selalu berhati-hati,
penuh perhitungan dan ketelitian dalam bekerja, serta selalu
menggunakan sesuatu secara efektif dan efisien. - Bekerja Etis
Beberapa pegawai mungkin melakukan tindakan yang tidak sopan
ke pelanggan atau terlibat dalam tindakan yang tidak pantas. Hal ini
merupakan salah satu bentuk tindakan indispliner, sehingga bekerja
etis sebagai salah satu wujud dari disiplin kerja pegawai
Faktor -faktor yang mempengaruhi Disiplin Kerja
Menurut (Sutrisno, 2017), menyatakan faktor yang
mempengaruhi disiplin pegawai sebagai berikut :
- Besar kecilnya pemberian kompensasi
Besar kecilnya kompensasi dapat memengaruhi tegaknya
disiplin. Para pegawai akan mematuhi segala peraturan yang
berlaku, bila pegawai merasa mendapat jaminan balas jasa yang
setimpal dengan jerih payahnya yang telah dikontribusikan bagi
perusahaan. - Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam organisasi.
Keteladanan pimpinan sangat penting sekali, karena dalam
lingkungan perusahaan, semua pegawai akan selalu memerhatikan
bagaimana pimpinan dapat menegakkan disiplin dirinya dan
bagaimana ia dapat mengendalikan dirinya dari ucapan, perbuatan,
dan sikap yang dapat merugikan aturan disiplin yang sudah
ditetapkan. - Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan.
Disiplin akan dapat ditegakkan dalam suatu organisasi, jika ada
aturan yang tertulis yang telah disepakati bersama. Dengan
demikian, para pegawai akan mendapat suatu kepastian bahwa siapa
saja dan perlu dikenakan sanksi tanpa pandang bulu. - Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan
Bila ada seorang pegawai yang melanggar disiplin, maka
perlu ada keberanian pimpinan untuk mengambil tindakan yang
sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya. Dengan
adanya tindakan terhadap pelanggar disiplin, sesuai dengan sanksi
yang ada, maka semua pegawai akan merasa terlindungi, dan
dalam hatinya berjanji tidak akan berbuat hal yang serupa. - Ada tidaknya pengawasan pimpinan.
Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh organisasi perlu
ada pengawasan, yang akan mengarahkan para pegawai agar dapat
melaksanakan pekerjaan dengan tepat dan sesuai dengan yang
telah ditetapkan. Orang yang paling tepat melaksanakan
pengawasan terhadap disiplin ini tentulah atasan langsung para
pegawai yang bersangkutan. - Ada tidaknya perhatian kepada pegawai
Pegawai adalah manusia yang mempunyai perbedaan karakter
antara yang satu dengan yang lain. Seorang pegawai tidak hanya
puas dengan penerimaan kompensasi yang tinggi, pekerjaan yang
menantang, tetapi juga mereka masih membutuhkan perhatian
yang besar dari pimpinannya sendiri. - Diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya
disiplin. Kebiasaan-kebiasaan positif itu antara lain :
a. Saling menghormati, bila ketemu di lingkungan pekerjaan.
b. Melontarkan pujian sesuai dengan tempat dan waktunya,
sehingga para karyawan akan turut merasa bangga dengan
pujian tersebut.
c. Sering mengikutsertakan pegawai dalam pertemuan-pertemuan,
apalagi pertemuan yang berkaitan dengan nasib dan pekerjaan
mereka.
d. Memberi tahu bila ingin meninggalkan tempat kepada rekan
sekerja, dengan menginformasikan, ke mana dan untuk urusan
apa, walaupun kepada bawahan sekalipun.
Disiplin Kerja
Menurut Sinambela (2017) disiplin kerja adalah kemampuan
kerja seseorang untuk secara teratur, tekun terus menerus dan bekerja
sesuai dengan aturan-aturan berlaku dengan tidak melanggar aturan-
aturan yang sudah ditetapkan.
Menurut (Wahjono, 2015) disiplin merupakan perasaan taat
dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan
pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawab. Menurut (Hasibuan,
2016), Disiplin adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati
semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku.
Kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela menaati semua
peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Sedangkan
kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan seseorang
yang sesuai dengan peraturan perusahaan, baik yang tertulis maupun
tidak
Dimensi dan Indikator Gaya Kepemimpinan
a) Menurut Robbins (2015) Indikator Gaya Kepemimpinan
Kharismatik sebagai berikut :
- Visi dan artikulasi, memiliki visi ditujukan dengan sasaran
ideal yang berharap masa depan lebih baik daripada status quo,
dan mampu mengklarifikasi pentingnya visi yang dapat
dipahami orang lain. - Risiko personal. Pemimpin kharismatik bersedia menempuh
risiko personal tinggi, menanggung biaya besar dan terlibat ke
dalam pengorbanan diri untuk meraih visi. - Peka terhadap lingkungan. Mereka mampu menilai secara
realistis kendala lingkungan dan sumber daya yang dibutuhkan
untuk membuat perubahan. - Kepekaan terhadap kebutuhan pengikut. Pemimpin
kharismatik perseptif (sangat pengertian) terhadap kemauan
orang lain dan responsive terhadap kebutuhan dan perasaan
mereka.
b) Menurut Robbins (2015) Indikator Gaya Kepemimpinan
Transformasional sebagai berikut : - Kharisma
Kharisma menggambarkan pemimpin yang mampu membuat
para bawahan mengagumi, menghormati dan sekaligus
memercayainya. Pemimpin dapat mewujudkan atmosfir
motivasi atas dasar komitmen dan identitas emosional pada
visi, filosofi dan gaya mereka dalam diri bawahannya,
sehingga pemimpin dianggap sebagai panutan. - Motivasi Inspirasional
Motivasi inspirasional menggambarkan pemimpin yang
bergairah dalam mengkomunikasikan masa depan organisasi
yang idealis. Pemimpin memotivasi bawahan akan arti penting
visi dan misi organisasi sehingga seluruh bawahannya
terdorong untuk memiliki visi yang sama. Kesamaan visi ini
akan memicu bawahan untuk bekerja sama mencapai tujuan
jangka panjang dengan optimis. Sehingga pemimpin tidak
hanya akan membangkitkan semangat per individu tapi juga
membangkitkan semangat kelompok. - Stimulasi Intelektual
Stimulasi intelektual ini menggambarkan kemampuan
pemimpin untuk memecahkan masalah lama dengan cara yang
baru. Pemimpin berusaha mendorong kesadaran dan perhatian
bawahan akan permasalahan yang dihadapi. Pemimpin
kemudian berusaha mengembangkan kemampuan bawahan
untuk menyelesaikan permasalahan. Selanjutnya pemimpin
berusaha mengembangkan kemampuan bawahan untuk
menyelesaikan permasalahan dengan perspektif baru. - Perhatian secara Individual
Perhatian secara individual berarti bahwa pemimpin
mempunyai sikap peduli dan memerhatikan bawahannya,
memperlakukan bawahan secara individual, melatih dan
memberi arahan. Pemimpin juga akan mendengarkan dengan
penuh perhatian masukan-masukan yang disampaikan oleh
bawahan dan secara khusus bersedia memerhatikan kebutuhan
bawahan akan pengembangan karir mereka. Dalam hal ini
pemimpin memfokuskan pegawai untuk mengembangkan
kelebihan dalam diri pegawai itu sendiri.
c) Menurut Robbins (2015) Indikator Gaya Kepemimpinan
Transaksional sebagai berikut : - Imbalan Kontigen adalah pemimpin melakukan kontrak
pertukaran imbalan untuk usaha, menjanjikan imbalan untuk
kinerja yang baik atau mengakui prestasi - Manajemen eksepsi aktif adalah tingkah laku pemimpin yang
selalu melakukan pengawasan dan mencari penyimpangan dari
aturan dan standar dan mengambil tindakan yang benar. - Manajemen eksepsi pasif adalah pemimpin transaksional yang
akan memberi peringatan jika standar tidak terpenuhi. - Memberikan Kebebasan adalah pemimpin memberi kebebasan
kepada bawahan, baik dalam melakukan tanggung jawab dan
pengambilan keputusan.
d) Menurut (Komariyah,Aan & Triatna, 2011) indikator gaya
kepemimpinan visioner sebagai berikut : - Fokus ke masa depan yang penuh tantangan dan mampu
mengatasinya - Menjadi agen perubahan
- Menjadi penentu arah organisasi yang memahami prioritas
- Menjadi pelatih profesional
- Membimbing ke arah profesionalisme kerja yang diharapkan
Jenis Gaya Kepemimpinan
(Robbin , 2015) mengidentifikasi ada beberapa jenis gaya
kepemimpinan, antara lain :
a) Gaya kepemimpinan Kharismatik
Teori menurut Robbins (2015) mengemukakan bahwa pengikut
terpacu kemampuan yang heroik atau yang luar biasa ketika
mereka mengamati perilaku – perilaku tertentu pemimpin mereka.
Terdapat lima karakteristik pokok pemimpin kharismatik :
- Visi dan artikulasi. Memiliki visi ditujukan dengan sasaran
ideal yang berharap masa depan lebih baik dari pada status quo,
dan mampu mengklarivikasi pentingnya visi yang didapat
dipahami orang lain. - Resiko personal. Pemimpin kharismatik bersedia menempuh
risiko personal tinggi, menanggung biaya besar, dan terlibat ke
dalam pengorbanan diri untuk meraih visi. - Peka terhadap lingkungan. Mereka mampu menilai secara
realistis kendala lingkungan dan sumber daya yang dibutuhkan
untuk membuat perubahan. - Kepekaan terhadap kebutuhan pengikut. Pemimpij kharismatik
preseptif (sangat pengertian) terhadap kemampuan orang lain
dan responsive terhadap kebutuhan dan perasaan mereka. - Perilaku tindak konvensional. Pemimpin kharismatik terlibat
dalam perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan
norma.
b) Gaya Kepemimpinan Transformasional
Model Gaya Kepemimpinan Transformasional dalam Robbins
(2015) mengidentifikasi bahwa para pemimpin yang menginspirasi
para pengikutnya untuk melampaui kepentingan diri mereka sendiri
dan yang berkemampuan untuk memiliki pengaruh secara
mendalam dan luar biasa terhadap para pengikutnya. Ada empat
karakteristik pemimpin transformaional : - Kharisma, memberikan visi dan rasa atas misi, menanamkan
kebanggaan, meraih penghormatan dan kepercayaan. - Inspirasi. Mengkomunikasikan harapan tinggi, menggunakan
symbol untuk memfokuskan pada usaha, menggambarkan
maksud penting secara sederhana. - Stimulasi intelektual. Mendorong intelegensia, rasionalitas dan
pemecahan masalah secara hati-hati. - Pertimbangan individual. Memberikan perhatian pribadi,
melayani karyawan secara pribadi, melatih dan menasehati.
c) Gaya Kepemimpinan Transaksional
Para pemimpin yang membimbing dan memotivasi para pengikut
mereka yang diarahkan menuju tujuan yang ditetapkan dengan
menjelaskan peranan dan tugas yang dibutuhkan. Ada empat
karakteristik pimpinan transaksional yang meliputi : - Imbalan kontigen. Kontrak pertukaran penghargaan dengan
usaha yang dikeluarkan, menjanjikan penghargaan untuk
kinerja baik, mengakui pencapaian/prestasi. - Manajemen berdasarkan kekecualian (aktif). Mengawasi dan
mencari pelanggaran terhadap aturan dan standar, mengambil
tindakan korektif. - Manajemen berdasarkan kekecualian (pasif). Intervensi hanya
jika standart tidak dipenuhi. - Sesuka hati. Menghindari tanggung jawab, menghindari
pengambilan keputusan.
d) Gaya Kepemimpinan Visioner
Kemampuan menciptakan dan mengartikulasikan visi yang
realistis, kredibel, dan menarik mengenai masa depan organisasi
yang tengah tumbuh dan mambaik. Visi ini jika diseleksi dan
diimplementasikan secara tepat, mempunyai kekuatan besar yang
bisa mengakibatkan terjadinya lompatan awal ke masa depan
dengan membangkitkan keterampilan, bakat, dan sumber daya
untuk mewujudkannya
Gaya Kepemimpinan
Gaya Kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan
pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi
tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah
pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh
seorang pemimpin, (Rivai, 2014).
Gaya Kepemimpinan menurut (Kartono, 2016) adalah pola –
pola perilaku yang diterapkan seorang pemimpin dalam bekerja
dengan melalui orang lain seperti dipresepsikan orang-orang.
Menurut (Siagian, 2014) mengemukakan bahwa kepemimpinan
yang baik adalah pemimpin dapat memberikan pengaruh, informasi,
pengambilan keputusan dan memberikan motivasi bertujuan untuk
meningkatkan organisasi dan pegawai.
Pengaruh gaya kepemimpinan, motivasi, dan disiplin kerja padakinerja karyawan
Pentingnya kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting karena
pimpinan itulah yang akan menggerakan dan mengarahkan karyawan dalam
mencapai tujuan dan sekaligus merupakan tugas yang tidak mudah, selain
kepemimpinan motivasi juga berperan penting bagi peningkatan suatu kinerja
dalam suatu organisasi atau perusahaan, Kepemimpinan dan Motivasi, disiplin
kerja juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja,
disiplin kerja sangat dibutuhkan karena apa yang menjadi tujuan perusahaan akan
sukar dicapai apabila tidak ada disiplin dalam bekerja. Menurut penelitian yang
telah dilakukan oleh Putra dan Bayu (2019), Aeni dan Kuswanto (2021), dan
Arifai (2018) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan, motivasi dan disiplin kerja
terhadap kinerja karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan
Pengaruh Disiplin Kerja pada Kinerja Karyawan
Disiplin kerja merupakan langkah yang dilakukan para pekerja terhadap
tugas dan kewajibannya untuk menyelesaikan dalam waktu yang sudah diberikan
serta mentaati peraturan yang sudah dibuat perusahaan dan norma-norma social
yang berlaku sesuai dengan ketentuan tersebut. Pelaksanaan disiplin kerja dengan
dilandasi kesadaran akan terciptanya suatu kondisi yang harmonis antara
keinginan dan kenyataan. Disiplin kerja sanagat berpengaruh dalam kinerja
karyawan maka dari itu perusahaan harus menciptakan kondisi kerja yang
harmonis antara keinginan dan kenyataan. Untuk menciptakan kondisi kerja yang
harmonis tersebut terlebih dahulu harus diwujudkan keselarasan antara kewajiban
dan hak karyawan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa disiplin merupakan sikap
kesetiaan dan ketaatan seseorang atau sekelompok orang terhadap peraturan-
peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis, yang tercermin dalam bentuk tingkah
laku dan perbuatan. Disiplin yang baik dari karyawan akan menunjukan bahan
suatu perusahaan dapat memelihara dan menjaga loyalitas maupun kualitas
karyawannya. Hal demikian membuktikan bila kedisiplinan karyawan memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan. Menurut penelitian yang telah dilakukan
oleh Putra dan Bayu (2019), Azhari (2019), Arifai (2018), Setyawan (2018),
Khongida et al (2018), Hendry dan Simanjuntak (2018) dan Sunarsi (2017)
menyatakan bahwa disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan
Pengaruh Motivasi pada Kinerja Karyawan
Motivasi kerja adalah energi utama yang terpenting bagi karyawan karena
motivasi sangat mempengaruhi semangat karyawan dalam bekerja, semangat
menjalin hubungan baik dengan stakeholders, semangat dalam menjalankan
pekerjaan, dan bahkan semangat pribadi karyawan sendiri dalam memperbaiki
kehidupan pribadinya. Motivasi kerja sangat berpengaruh dalam kinerja karyawan
maka dari itu perusahaan harus memberikan motivasi kepada karyawannya karena
apabila perusahaan tidak memberi motivasi kepada karyawannya maka tidak akan
memperoleh tujuan yang ingin dicapai dan akan menyebabkan hasil pekerjaan
tidak optimal dalam bekerja. Peran motivasi kerja terhadap kinerja karyawan
dapat meningkatkan semangat kerja karyawan dimana karyawan akan bekerja
secara maksimal dan menyukai lingkungan kerjanya. Sebuah motivasi sangatlah
penting untuk mencapai tujuan tersebut karena dengan adanya motivasi yang
dimiliki karyawan dapat menjadikan karyawan tersebut dapat bekerja dengan baik
dan dapat menjadikan karyawan untuk lebih menggunakan tenaga dan pikiran
dalam merelealisasikan tujuan Perusahaan. Apabila kebutuhan motivasi ini
terpenuhi maka akan timbul rasa kepuasaan dan kelancaran terhadap peningkatan
kinerja karyawan sehingga karyawan tidak mengalami penurunan dalam bekerja.
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Alvian (2020), Putra dan Bayu
(2019), Dewi (2019), Azhari (2019), dan Arifai (2018), Setyawan (2018),
Khongida et al (2018), dan hendry dan simanjuntak (2018) menyatakan bahwa
motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan
Pengaruh Gaya Kepemimpinan pada Kinerja Karyawan
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki bawahan atau pengikut untuk
tujuan keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang dimilikinya.
Sedangkan kepemimpinan telah dideskripsikan oleh beberapa pakar mau bekerja
sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Didalam suatu perusahaan pada
dasarnya mengharapkan kinerja karyawan yang maksimal, dengan gaya
kepemimpinan yang sedemikian rupa mampu menentukan dan berpengaruh pada
kinerja karyawan. Seorang pemimpin memiliki tugas mendorong, mempengaruhi
karyawannya untuk mencapai sasaran organisasi atau perusahaan yang ditetapkan
sebelumnya, maka dapat dikatakan dalam memimpin pasti terlibat kemampuan
seseorang untuk mengarahkan mempengaruhi, memotivasi orang lain agar mereka
mau melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik. Cara seseorang
dalam memimpin sangat menentukan kualitas kinerja karyawan, maka bisa
dikatakan kinerja karyawan bergantung atau dipengaruhi oleh gaya
kepemimpinan. Oleh sebab itu gaya kepemimpinanlah yang berperan aktif pada
keberhasilan organisasi dalam menyelenggarakan berbagai aktivitas-aktivitas
terutama terlihat dalam kinerja karyawannya. Menurut penelitian yang telah
dilakukan oleh Gate dan Fatanah (2020), Alvian (2020), Arifai (2018), dan
Sunarsi (2017) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap
kinerja karyawan.
Indikator Disiplin Kerja
Menurut Hasibuan (2019: 194-198) Pada dasarnya banyak indikator yang
mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan dalam organisasi, diantaranya:
- Tujuan dan Kemampuan
Tujaun yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup
menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini berarti bahwa tujuan yang
dibebankan kepada karyawan harus sesuai dengan kemampuan karyawan, agar
dia bekerja dengan baik dan disiplin dalam mengerjakannya. - Teladan Pemimpin
Pimpinan harus memberi contoh yang baik, berdisplin baik, jujur, adil, serta
sesuai dengan kata dengan perbuatan. Dengan adanya teladan pemimpin yang
baik, kedisiplinan bawahan pun akan ikut baik. - Balas jasa
Balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan karyawan terhadap
perusahaan/pekerjaannya. Jika kecintaan karyawan semakin baik terhadap
pekerjaan, kedisiplinan mereka akan semakin baik-baik pula. - Keadilan
Keadilan yang dijadikan dasar kebijakan dalam pemberian balas jasa
(pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya kedisiplinan
karyawan yang baik. - Waskat (Pengawasan Melekat)
Waskat adalah tindaka nyata dan paling efektif dalam mewujudkan
kedisiplinan karyawan perusahaan. Dengan waskat berarti atasan harus aktif
dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja, dan prestasi kerja
bawahannya. - Sanksi Hukuman
Sanksi hukuman hendaknya cukup wajar untuk setiap tingkatan yang
indisipliner, bersifat mendidik, dan menjadi alat motivasi untuk memelihara
kedisiplinan dalam perusahaan. - Ketegasan
Pemimpin harus berani dan tegas, bertindak untuk menghukum setiap
karyawan yang indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah
ditetapkan. Dengan demikian, pimpinan akan dapat memelihara kedisiplinan
karyawan perusahaan. - Hubungan Kemanusiaan
Hubungan kemanusiaan yang harmonis diantara sesama karyawan ikut
menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan.
Bentuk-bentuk disiplin kerja
Menurut Zainal et al (2018: 599) Terdapat empat perspektif daftar yang
menyangkut disiplin kerja yaitu:
- Disiplin Retributif (Retributive Discipline), yaitu berusaha menghukum orang
yang berbuat salah - Disiplin Korektif (Corrective Discipline), yaitu berusaha membantu karyawan
mengoreksi perilakunya yang tidak tepat - Perspektif Utilitarian (Utilitaria Perspective), yaitu berfokus kepada
penggunaan dampak-dampak negatifnya
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kerja
Pemimpin mempunyai pengaruh langsung atas sikap kebiasaan yang
diperoleh karyawan karena itu, untuk mendapatkan disiplin yang baik, maka
pemimpin harus memberikan kepemimpinan yang baik pula. Faktor-faktor yang
mempengruhi disiplin kerja karyawan. Singodimedjo dalam buku (Sutrisno, 2017:
89-92) adalah:
- Besar kecilnya pemberian kompensasi
Besar kecilnya kompensasi dapat mempengaruhi tegaknya disiplin, Para
karyawan akan mematuhi segala peraturan yang berlaku, jika karyawan
mendapatkan jaminan balas jasa yang setimpal. - Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan
Semua karyawan akan memerhatikan bagimana pimpinan dapat
mengendalikan dirinya dari ucapan, perbuatan, dan sikap yang dapat
merugikan anturan disiplin yang ditetapkan. - Ada tidaknya aturan yang dapat dijadikan pegangan
Pembinaan disiplin tidak akan terlaksana dalam perusahaan, jika tidak ada
aturan tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan pegangan bersama. - Keberhasilan pimpinan dalam mengambil tindakan
Tindakan tegas yang diambil seorang pimpinan akan membuat karyawan
merasa terlindungi dan membuat karyawan berjanji tidak akan mengulangi
kesalahan yang telah dilakukan. - Ada tidaknya pengawasan pimpinan
Pegngawasan yang dilakukan atasan langsung ini sering disebut WASKAT.
Pemimpin bertanggung jawab melaksanakan pengawasan melekat ini pada
tingkat manapun, sehingga tugas-tugas yang dibebankan kepada bawahan tidak
menyimpang dari apa yang telah ditetapkan. - Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan
Pimpinan yang memberikan perhatian kepada karyawan akan selalu dihormati
dan dihargai oleh para karyawan sehingga berpengaruh besar kepada prestasi,
semangat kerja, dan moral kerja karyawan. - Diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin, antara
lain:
a. Saling menghormati bila bertemu dilingkungan kerja
b. Melontarkan pujian sesuai dengan tempat dan waktunya
c. Sering mengikutsertakan karyawan dalam pertemuan-pertemuan, apalagi
pertemuan yang berkaitan dengan nasib dan pekerjaan karyawan
d. Memberi tahu bila meninggalkan tempat kepada rekan kerja, dengan
menginformasikan kemana dan untuk urusan apa.
Disiplin Kerja
Salah satu faktor yang mempengaruhi pola pikir dalam menentukan sikap
atas tugas yang diberikannya untuk kedepannya agar tidak terbengkalai adalah
disiplin kerja.
Menurut Zainal et al (2018: 599) disiplin kerja ialah suatu alat yang
digunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka
bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk
meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan
perusahaan dan norma-norma social yang berlaku.
Disiplin kerja merupakan tindakan manajemen untuk mendorong kesadar
dan kesedian para anggotanya untuk mentaati semua peraturan yang telah
ditemukan organisasi atau perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku
secara sukarela. (Sintaasih, 2017: 19).
Selanjutnya menurut Setyaningdyah (2018:145) mengungkapkan bahwa
disiplin kerja adalah kebijakan bergeser individu untuk menjadi diri bertanggung
jawab untuk mematuhi peraturan lingkungan.
Disiplin kerja sebagai sesuatu sikap terhadap peraturan perusahaan dalam
rangka pelaksanaan kerjanya, maka disiplin kerja dikatakan baik bila karyawan
mengikuti dengan sukarela aturan atasannya dan berbagai peraturan perusahaan.
(Sutrisno, 2017: 95)
Indikator Motivasi Kerja
Menurut Zameer Edision et al (2019: 297), motivasi adalah keinginan
kayawan untuk melakukan sesuatu yang diberikan dan untuk menumbuhkan rasa
tanggung jawab, indikator dari motivasi kerja menurut mereka ada 5 yang
mengacu kepada 2 dimensi:
- Monetrary motivational,
a. Gaji
Gaji pemberian upah secara tepat waktu dan penetapan gaji sesuai dengan
pekerjaannya maka akan membuat kebiasaan baik karyawan meningkat.
b. Bonus
Bonus yang diberikan oleh perusahaan berdasarkan kinerja karyawan tersebut
akan meningkatkan produktivitas perusahaan. - Non-monetary motivational
a. Jaminan kesejahteraan karyawan
Jaminan tersebut meliputi hak cuti, jaminan kesehatan yang ditanggung oleh
perusahaan, hak mendapatkan jatah rumah dan lain sebagainya.
b. Perasaan aman memiliki pekerjaan
Hal-hal yang dapat memicu motivasi akan membuat karyawan merasa aman
karena bekerja diperusahaan itu.
c. Promosi
Pengembangan dan peningkatan karir yang ditawarkan perusahaan akan
membuat seorang karyawan bertahan diperusahaan tersebut dalam waktu yang
lama atau bahkan sampai pensiun
Teori-teori Motivasi
Ada beberapa teori tentang Motivasi (Tornado, 2017: 10)
a. Teori Herzberg
Teori yang dikembangkan oleh Herzberg dikenal dengan model dua faktor dari
motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau pemeliharaan.
Menurut Herzberg, yang tergolong faktor motivasional antara lain adalah
pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh,
kemajuan dalam karir, dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor hygieni
atau pemeliharaannya mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi,
hubungan seseorang dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan
kerjanya, kebijakan organisasi, kondisi kerja, dan imbalan.
b. Teori Abraham Maslow
Teori motivasi yang dikembangkannya pada tahun 1940-an itu pada intinya
berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki
kebutuhan yaitu:
- Kebutuhan Fisiologikal, seperti kebutuhan makan, minum, perlindungan
fisik, bernafas dan lainnya. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat
dasar. - Kebutuhan Rasa Aman, yaitu kebutuhan akan perlingungan dari ancaman
bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup. Tidak dalam arti fisik semata,
akan tetapi juga mental, psikologikal, dan intelektual. - Kebutuhan Sosial, yaitu kebutuhan untuk merasa memiliki yaitu kebutuhan
untuk diterima dalam kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan
untuk mencintai serta dicintai. - Kebutuhan akan harga diri atau pengakuan, yaitu kebutuhan untuk
dihormati dan dihargai oleh orang lain. - Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan
kemampuan, skill, potensi, kebutuhan untuk berpendapat, dengan
menggunakan ide-ide, memberikan penilaian dan kritik terhadap sesuatu.
c. Teori Mc. Clelland
Terdapat beberapa pola motivasi yang menonjol dan manusia yakni: - Need of achievement: yaitu suatu dorongan/keinginan manusia untuk
mengatasi atau mengalahkan suatu tantangan untuk mendapatkan sesuatu
yakni berupa kemajuan atau pertumbuhan - Need of affiliation: yaitu dorongan/keinginan manusia untuk melakukan
hubungan dengan orang lainnya. - Need of power: yaitu dorongan /keinginan manusia untuk mendapatkan
suatu pengendalian atas suatu keadaan (kekuatan)
Faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi
Menurut Sutrisno (2016: 116) faktor-faktor tersebut dapat dibedakan atas
faktor intern dan faktor ekstern yang berasal dari karyawan.
A. Faktor-faktor Intern antara lain:
- Keinginan untuk dapat hidup
Keinginan untuk dapat hidup merupakan kebutuhan setiap manusia yang hidup
dimuka bumi ini. - Keinginan untuk dapat memiliki
Keinginan untuk dapat memiliki benda dapat mendorong seseorang untuk mau
melakukan pekerjaan. - Keinginan untuk memperoleh penghargaan
Seseorang mau bekerja disebabkan adanya keinginan untuk diakui, dihormati
oleh orang lain. - Keinginan untuk memperoleh pengakuan
Keinginan untuk memperoleh pengakuan itu dapat meliputi hal-hal:
a. Adanya penghargaan terhadap prestasi
b. Adanya hubungan kerja yang harmonis dan kompak
c. Pimpinan yang adil dan bijaksana dan
d. Perusahaan tempat kerja yang dihargai oleh masyarakat. - Keinginan untuk berkuasa
Keinginan untuk berkuasa akan mendorong seseorang untuk bekerja.
Karyawan akan merasa puas bila dalam pekerjaan terdapat:
a. Hak otonomi
b. Variasi dalam melakukan pekerjaan
c. Kesempatan untuk memberikan sumbangan pemikiran
d. Kesempatan memperoleh umpan balik tentang hasil pekerjaan yang telah
dilakukan.
B. Faktor Ekstern
Faktor Ekstern juga tidak kalah peranannya dalam melemahkan motivasi kerja
seseorang. Faktor-faktor ekstern itu adalah: - Kondisi lingkungan kerja
Lingkungan pekerjaan adalah keseluruhan sarana dan prasarana keeja yanga
ada disekitar karyawan yang sedang melakukan pekerjaan yang dapat
mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan. - Kompensasi yang memadai
Kompensasi merupakan sumber penghasilan utama bagi para karyawan untuk
menghidupi diri beserta keluarganya. - Supervisi yang baik
Fungsi supervisi dalam suatu pekerjaan adalah memberikan pengarahan,
membimbing kerja para karyawan, agar dapat melaksanakan kerja dengan baik
tanpa membuat kesalahan. - Adanya jaminan pekerjaan
Setiap orang akan mau bekerja mati-matian mengorbankan apa yang ada pada
dirinya untuk perusahaan, kalau yang bersangkutan mearsa ada jaminan karier
yang jelas dalam melakukan pekerjaan. - Status dan tanggung jawab
Status atau kedudukan dalam jabatan tertentu merupakan dambaan setiap
karyawan dalam bekerja. - Peraturan yang fleksibel
Bagi perusahaan besar, biasanya sudah ditetapkan sistem dan prosedur kerja
yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan.
Motivasi
Motivasi adalah suatu dorongan bagi karyawan agar bekerja lebih giat dan
sungguh-sungguh dalam mencapai sebuah tujuan yang diinginkan. Motivasi juga
mempengaruhi efektivitas seorang manajer. Karena kemampuan seorang manajer
untuk memotivasi, mempengaruhi, mengarahkan dan berkomunikasi yang lebih
baik dengan para karyawan akan menentukan efektivitas manajer tersebut.
Menurut Sutrisno (2016: 109) Motivasi adalah suatu faktor yang mendorong
seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, oleh karena itu motivasi
sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang. Setiap
aktivitas yang dilakukan oleh seseorang pasti memiliki suatu faktor yang
mendorong aktivitas tersebut. Menurut Raharjo (2019: 154) motivasi berkaitan
dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mengejar suatu
tujuan.
Menurut Ismail (2018: 41) motivasi adalah dorongan yang menyebabkan
orang berperilaku. Dorongan itu dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berada
dalam dirinya (intrinsic motivation) dan faktor-faktor yang berasal dari luar diri
(extrinsic motivation). Faktor-faktor dalam diri seseorang itu adalah nilai-nilai
hidup yang dihayati dengan sepenuh jiwa. Faktor pendorong yang berasal dari
luar diri manusia misalnya harapan akan karir, gaji, bonus, dan penghargaan
masyarakat.
Menurut Hasibuan (2016: 146) motivasi merupakan sebuah pembeian daya
penggerak yang dapat menciptakan semangat kerja seseorang agar mereka tertarik
untuk bekerja sama dengan segala upaya untuk mencapai kepuasan.
Indikator Gaya Kepemimpinan
Menurut Veitzhal Rivai (2018: 53) mengemukan bahwa seorang pemimpin
dalam mengimplementasikan kepemimpinannya harus mampu secara dewasa
melaksanakan terhadap instansi atau organisasinya, kepemimpinan dibagi
kedalam lima dimensi, yaitu:
- Kemampuan kerjasama dan hubungan yang baik
a. Membina kerjasama dengan bawahan
b. Menjalin hubungan yang baik dengan bawahan dalam pelaksanaan tugas
yang menjadi tanggung jawab masing-masing - Kemampuan yang efektivitas
a. Mampu menyelesaikan tugas diluar kemampuan
b. Menyelesaikan tugas tepat waktu - Kepemimpinan yang partisipatif
a. Pengambilan keputusan secara musyawarah
b. Mampu dalam meneliti masalah yang terjadi pada pekerjaan - Kemampuan dalam mendelegasikan tugas atau waktu
a. Bersedia untuk membawa kepentingan pribadi dan organisasi kepada
kepentingan yang lebih luas, yaitu kepentingan organisasi menggunakan
waktu sisa untuk keperluan pribadi
b. Mampu dalam menyelesaikan tugas sesuai dengan target - Kemampuan dalam mendelegasikan tugas atau wewenang
a. Tanggung jawab seorang pemimpin dalam menyelesaikan tugas mana yang
harus ditangani sendiri dan mana yang harus ditangani secara berkelompok
b. Memberikan bimbingan dan pelatihan dalam pengambilan keputusan.
Tipe-Tipe Kepemimpinan
Kepimpinan didalam melaksanakan fungsi-fungsinya, maka akan
berlangsung aktivitas kepimpinan. Apabila aktivitas dapat dicapai dan sesuai
dengan rencana maka akan terlihat gaya kepimpinan dengan polanya masing-
masing.
Menurut Veitzhal Rivai (2019: 41) mengemukakan gaya kepemimpinan memiliki
tiga pola dasar, yaitu:
- Gaya kepimpinan yang berpola pada kepentingan pelaksanaan tugas
- Gaya kepimpinan yang berpola pada pelaksanaan hubungan kerja sama.
- Gaya kepemimpinan yang berpola pada kepentingan hasil yang dicapai.
Berdasarkan ketiga pola dasar tersebut terbentuk perilaku kepemimpinan
yang terdiri dari tiga pokok kepemimpinan, yaitu:
a. Tipe Kepemimpinan Otoriter
Tipe kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan ditangan satu orang
pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Kedudukan dan tugas anak
buah semata-mata hanya sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan
kehendak pimpinan. Pimpinan dirinya lebih dalam segala hal, dibandingkan
dengan bawahannya. Kemampuan bawahan selalu dipandang rendah sehingga
dianggap tidak mampu berbuat sesuatu tanpa diperintah.
b. Tipe Kepemimpinan Kendali Bebas
Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan otoriter.
Pemimpinberkedudukan sebagai symbol. Kepemimpinan dijalankan dengan
memberikan kebebasan penuh pada orang yang dipimpin dalam mengambil
keputusan dan melakukan kegiatan menurut kehendak dan kepentingan
masing-masing, baik secara perorangan maupun kelompok-kelompok kecil.
Pemimpin hanya memfungsikan dirinya sebagai penasehat.
c. Tipe kepemimpinan Demokrasi
Tipe kepemimpinan bini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan
terpenting dalam setiap kelompok atau kelompok atau organisasi. Pemimpin
memandang dan menempatkan orang-orang yang dipimpinnya sebagai subjek
yang memiliki kepribadian dengan berbagai aspeknya. Kemauan, kehendak,
kemampuan, buah pikiran, pendapat, kreatifitas, inisiatif yang berbeda-beda
dan dihargai disalurkan secara wajar. Tipe kepemimpinan ini selalu berusaha
untuk memanfaatkan setiap orang yang dipimpin. Kepemimpinan demokratis
adalah kepemimpinan yang aktif, dinamis, dan terarah. Kepemimpinan tipe ini
dalam mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah, yang
diwujudkan pada setiap jenjang dan didalam unit masing-masing.
Teori-Teori Kepemimpinan
Ada beberapa teori tentang kepemimpinan Menurut Samsuddin (2018: 42)
a. Teori sifat
Teori ini bertolak atas dasar pemikiran bahwa keberhasilan seseorang
pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangkai atau ciri-ciri yang dimiliki
pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk
menjadi pimpinan yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemauan pribadi
pemimpin.
b. Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang
individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok kearah
pencapaian tujuan.
c. Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpinan menurut teori situasional ditentukan oleh
ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan
situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan
memperhitungkan faktor waktu dan ruang.
Gaya Kepemimpinan
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki bawahan atau pengikut untuk
tujuan keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang dimilikinya.
Sedangkan kepemimpinan telah dideskripsikan oleh beberapa pakar mau bekerja
sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Beberapa ahli menjelaskan beberapa
pengertian kepemimpinan, sebagai berikut:
Menurut Gary Yukl dalam Edision et al. (2017: 87) Kepemimpinan adalah
proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju dengan apa yang
perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses
memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Jeff Madura dalam Edision et al (2017: 87) Kepemimpinan adalah
proses untuk mempengaruhi kebiasaan-kebiasaan orang lain demi mencapai
sasaran bersama. Artinya keberhasilan ataupun kegagalan dalam mencapai tujuan
organisasi banyak ditentukan oleh gaya kepemimpinan seseorang dalam
mengelola sumber daya yang ada dan dari gaya kepemimpinan inilah suasana
lingkungan kerja sangat ditentukan.
Menurut Siagian dalam Sutrisno (2016: 213) mengatakan kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain, dalam hal ini para
bawahannya sedemikian rupa sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak
pimpinan meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak disenanginya.
Menurut Samsuddin (2018: 36) kepemimpinan adalah proses memengaruhi
orang lain kearah tujuan organisasi. Kepemimpinan merupakan kemampuan
seseorang untuk memobilisasi, menyelaraskan, memimpin kelompok,
menjelaskan gagasan sehingga dapat diterima oleh orang lain
Indikator Kinerja Karyawan
Menurut Wilson Bangun (2018: 233-234) menjelaskan bahwa untuk
memudahkan penilaian kinerja karyawan, standar pekerjaan harus dapat diukur
dan dipahami secara jelas. Terdapat empat indikator kinerja karyawan sebagai
berikut:
- Kualitas pekerjaan
Setiap karyawan harus memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat
menghasilkan pekerjaan sesuai kualitas yang dituntut suatu pekerjaan tertentu. - Ketepatan waktu
Setiap pekerjaan memiliki karakteristik berbeda, untuk jenis pekerjaan tertentu
harus diselesaikan tepat waktu, karena memiliki ketergantungan atas pekerjaan
lainnya. - Kehadiran
Menuntut kehadiran karyawan dalam mengerjakannya sesuai waktu yang
ditentukannya. - Kemampuan kerjasama
Tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan sendiri, mungkin harus diselesaikan
oleh dua orang atau lebih jadi membutuhkan kerja sama antar karyawan.
Manfaat Penilaian Kinerja
Mangkuprawira (2016:232-233) menyatakan bahwa Penilaian kinerja
karyawan memiliki manfaat ditinjau dari beragam perspektif pengembangan
perusahaan yaitu sebagai berikut:
a. Perbaikan kinerja
Umpan balik kinerja bermanfaat bagi karyawan, manajer, dan spesialisasi
personal dalam bentuk kegiatan yang tepat untuk memperbaiki kinerja.
b. Penyesuaian kompensasi
Penilaian kerja membantu pengambil keputusan menentukan siapa yang
seharusnya menerima peningkatan pembayaran dalam bentuk upah dan bonus
yang didasarkan pada sistem.
c. Keputusan penempatan
Promosi, transfer, dan penururan jabatan, biasanya didasarkan pada kinerja
masa lalu dan antisipatif, misalnya dalam bentuk penghargaan.
d. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan
Kinerja buruk mengindikasikan sebuah kebutuhan untuk melakukan pelatihan
kembali. Setiap karyawan hendaknya selalu mampu mengembangkan diri.
e. Perencanaan dan pengembangan karier
Umpan balik kinerja membantu proses pengambilan keputusan tentang karier
spesifik karyawan
Kinerja
Kinerja dalam organisasi, merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya
tujuan organisasi yang ditetapkan. Para atasan atau manajer sering tidak
memperhatikan kecuali sudah sangat buruk atau segala sesuatu jadi serba salah.
Terlalu sering manajer tidak mengetahui betapa buruknya kinerja telah merosot
sehingga perusahaan atau instansi menghadapi krisis yang serius. Kesan-kesan
buruk organisasi yang mendalam berakibat dan mengabaikan tanda-tanda
peringatan adanya kinerja yang merosot.
Definisi kinerja menurut Gibson et al dalam Amins (2017: 41), bahwa
kinerja adalah merupakan tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan
kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sejalan dengan pendapat Mangkunegara (2017: 9) bahwa kinerja karyawan
adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya.
Kinerja merupakan tingkat keberhasilan pegawai dalam menyelesaikan
pekerjaannya. Kinerja merupakan perwujudan dari kemampuan dalam bentuk
karya nyata atau merupakan hasil kerja yang dicapai pegawai dalam mengemban
tugas dan pekerjaan yang berasal dari perusahaan (Priasana, 2017: 48)
Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Sutrisno (2016: 5) Manajemen sumber daya manusia (MSMD)
merupakan bidang strategis dari organisasi. Manajemen sumber daya manusia
harus dipandang sebagai perluasan dari pandangan tradisional untuk mengelola
secara efektif dan untuk itu membutuhkan pengetahuan tentang perilaku manusia
dan kemampuan mengelolanya. Menurut Desseler (2015: 3) manajemen sumber
daya manusia adalah proses untuk memperoleh, melatih, menilai dan
mengompensasi karyawan dan untuk mengurus relasi tenaga kerja, kesehatan dan
keselamatan, serta hal-hal yang berhubungan dengan keadilan.
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu ilmu atau cara bagaimana
mengatur hubungan dan peraturan sumber daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh
individu secara efisien dan efektif serta dapat digunakan secara maksimal
sehingga tercapai tujuan bersama menjadi maksimal (Zainal, 2018: 1)
Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan
dan peranan tenaga kerja agra efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan
perusahaan, karyawan, dan masyarakat (Hasibuan, 2019: 10) Dari definisi yang
dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia
adalah suatu aturan yang dibuat organisasi untuk mengelola dan mengembangkan
sumber daya manusia agar bekerja dengan efektif dan efisien guna mencapai
tujuan bersama. Sumber daya manusia yang dikelola dengan baik dapat
memperoleh hasil yang optimal dan tercapainya tujuan perusahaan
Hubungan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan
Motivasi merupakan variabel penting, yang dimana motivasi perlu mendapat
perhatian yang besar bagi organisasi dalam peningkatan kinerja karyawannya.
Motivasi kerja adalah dorongan atau semangat yang timbul dalam diri seseorang atau
karyawan untuk melakukan sesuatu atau bekerja, karena adanya rangsangan dari luar
baik itu dari atasan dan lingkungan kerja, serta adanya dasar untuk memenuhi
kebutuhan dan rasa puas, serta memenuhi tanggung jawab atas tugas-tugas yang
diberikan dan dilakukan dalam organisasi.
Hubungan Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan
Kepemimpinan pemimpin yang diperlihatkan dan diterapkan kedalam suatu
gaya kepemimpinan merupakan salah satu faktor dalam peningkatan kinerja karyawan,
karena pada dasarnya sebagai tulang punggung pengembangan organisasi dalam
mendorong, dan mempengaruhi semangat kerja yang baik kepada bawahan. Untuk itu
pemimpin perlu memikirkan dan memperlihatkan gaya kepemimpinan yang tepat
dalam penerapannya.
Gaya kepemimpinan ialah suatu cara yang dimilki seorang pemimpin yang
menunjukkan suatu sikap yang menjadi ciri khas tertentu untuk mempengaruhi
karyawannya dalam mencapai tujuan organisasi
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Manajemen perusahaan harus membuat strategi untuk meningkatkan kinerja
karyawan demi tujuan dari perusahaan itu sendiri dapat tercapai sebagaimana
seharusnya. Oleh karena itu, manajer harus harus selalu menimbulkan motivasi kerja
yang tinggi kepada karyawannya guna melaksanakan tugas-tugasnya. Sekalipun harus
diakui bahwa motivasi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi tingkat kinerja
karyawan.
Selanjutnya menurut Masram (2017:147) faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja karyawan terdiri dari:
a. Efektivitas dan efisiensi
Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa
kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-akibat yang tidak dicari kegiatan
menilai yang penting dari hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan
walaupun efektif dinamakan tidak efisien.
b. Otoritas (wewenang)
Otoritas adalah sifat dari suatu komunikasi atau pemerintah dalam suatu organisasi
formal yang dimiliki oleh seorang anggota organisasi kepada anggota lain untuk
melakukan suatu kegiatan kerja dengan kontribusinya.
c. Disiplin
Disiplin adalah taat kepada hokum dan peraturan yang berlaku
d. Inisiatif
Yaitu yang berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide
untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat dilihat bahwa kinerja karyawan dapat
diperoleh melalui beberapa faktor yang berasal dari internal maupun eksternal
karyawan
Indikator Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan perlu dinilai untuk memberikan gambaran atas pencapaian
mengenai prestasi ataupun dedikasi yang sudah diberikan karyawan kepada
perusahaan. Hal tersebut dapat dinilai melalui beberapa hal seperti sebagaimana berikut
disampaikan oleh beberapa ahli: Menurut Simamora dalam Masram (2017:142)
menyatakan “meskipun mustahil mengidentifikasi setiap kriteria kerja yang universal
yang dapat diterapkan pada semua pekerjaan, adalah mungkin menentukan beberapa
karakteristik yang harus dimiliki dan diharapkan bermanfaat bagi penilaian kinerja
karyawan yaitu:
a. Stabilitas dan Konsistensi
Kriteria yang baik harus mampu diukur dengan cara-cara yang dapat dipercaya.
b. Evaluasi Kinerja Anggota Organisasi
Kriteria yang baik harus mampu membedakan individu-individu sesuai dengan
kinerja mereka.
c. Efektivitas Individu Anggota Organisasi
Kriteria yang baik haruslah sensitive terhadap masukan dan tindakan pemegang
jabatan.
d. Dapat diukur
Kriteria yang baik harus dapat diterima oleh individu yang mengetahui kinerjanya
sedang dinilai.
Pengertian Kinerja Karyawan
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan
selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran maupun kriteria yang telah
ditentukan terlebih dahulu telah disepakati Bersama (Rivai & Basri dalam Masram
2017:138).
Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai.
Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan
kelompok kerja di perusahaan tersebut (Mathis dan Jackson dalam Masram 2017:138).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Winardi (2011) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi kerja seorang karyawan berasal dari 2 faktor, yaitu internal dan faktor
eksternal.
a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seorang karyawan.
Faktor internal terdiri dari persepsi mengenai diri sendiri, harga diri, prestasi,
harapan, kebutuhan, pembawaan individu, tingkat pendidikan, dan pengalaman
masa lalu.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri karyawan. Faktor ini
terdiri dari lingkungan kerja, pemimpin dan gaya kepemimpinannya, tuntutan
perkembangan organisasi, dan dorongan atasan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi kerja adalah faktor internal dan eksternal. Dalam penelitian
ini, peneliti menggunakan faktor harga diri yang terdapat di dalam faktor internal,
sebagai faktor yang mempengaruhi motivasi kerja. Pemilihan faktor harga diri di dasari
oleh pemikiran bahwa harga diri merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh setiap
inividu.
Winardi (2011) menyatakan bahwa harga diri dapat mempengaruhi motivasi
kerja seseorang. Harga diri merupakan persepsi seseorang mengenai dirinya sendiri
apakah dirinya mampu dan layak dalam melakukan sesuatu. Ketika seseorang merasa
mampu dan layak, maka orang tersebut akan memiliki semangat dan motivasi yang
tinggi dalam mengerjakannya.
Pengertian Motivasi Kerja
Hasibuan (2015) menyatakan bahwa motivasi kerja merupakan kondisi atau
energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai
tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap
situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja
maksimal.
Menurut Herzberg (dalam Robbins & Judge, 2013) motivasi kerja adalah sikap
seseorang terhadap pekerjaannya agar memunculkan rasa puas pada kinerjanya. Teori
yang dikembangkan oleh Herzberg dikenal dengan teori dua faktor, yaitu Faktor
motivasional dan faktor hygiene atau pemeliharaan. Faktor motivasional adalah
dorongan-dorongan untuk berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber
dari dalam diri seseorang, sedangkan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-
faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri seseorang.
Macam-Macam Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dalam lima tipe menurut pendapat (Siagian dalam Busro,
2018:229), sebagai berikut :
a. Gaya kepemimpinan Otokratis
Yakni kepemimpinan yang cenderung memiliki ciri-ciri pemimpin yang berkuasa
sepenuhnya dalam orgnanisasi dan tidak memperhatikan kebutuhan pegawainya
karena mengidentifikasi tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
b. Gaya kepemimpinan milisteristis
Kepemimpinan dalam menggerakkan pegawainya dengan menggunakan perintah
bergantung pada jabatannya, serta menuntut disiplin yang tinggi dan kaku kepada
pegawainya.
c. Gaya kepemimpinan paternalistis
Gaya kepemimpinan yang mengayomi karena menganggap pegawainya tidak bisa
mengambil keputusan sendiri selalu bergantung kepada pimpinan dan selalu
melindungi.
d. Gaya kepemimpinan karismatis
Memiliki daya penarik yang sangat besar karean umumnya memiliki pengikut
yang anggotanya dalam skala besar dan keikutsertaan anggota bersifat buta serta
sangat setia kepada pimpinannya.
e. Gaya kepemimpinan demokratis
Yakni kepemimpinan yang mengutamakan diskusi dan berusaha mengutamakan
kerja sama dalam mencapai tujuan organisasi, pemimpin yang memiliki karakter
untuk menerima saran dan kritik serta mengerti kebutuhan pegawainya
Pengertian Gaya Kepemimpinan
Dari penjelasan kepemimpinan diatas bisa dijelaskan bahwa gaya
kepemimpinan merupakan suatu cara yang dimilki seorang pemimpin yang
menunjukkan suatu sikap yang menjadi ciri khas tertentu untuk mempengaruhi
karyawannya dalam mencapai tujuan organisasi (Mulyadi, 2015:150). Menurut
penjelasan yang lain bahwa gaya kepemimpinan merupakan suatu cara bagaimana
seorang pemimpin mampu mempengaruhi karyawannya agar dapat suka rela mau
melakukan berbagai Tindakan Bersama yang diperintahkan oleh pimpinan tanpa
merasa bahwa dirinya ditekan guna mencapai tujuan organisasi (Busro, 2018:226).
Dari uraian tersebut dapat di simpulkan bahwa gaya kepemimpinan ialah pola
menyeluruh dari tindakan seorang pimpinan, untuk mengendalikan bawahan yang di
pimpinnya dengan suatu ciri khas yang dominan pada dirinya untuk pencapaian tujuan
organisasi.
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam organisasi tak lepas dari peran seorang pemimpin. Setiap
pemimpin memiliki gaya masing-masing dalam kepemimpinannya. Berikut
merupakan definisi kepemimpinan menurut para ahli, sebagai berikut :
Kepemimpinan merupakan kemampuan, proses dan seni mempengaruhi orang
lain maupun sekelompok orang agar mempunyai kemauan untuk mencapai tujuan
organisasi (Badeni, 2014:126). Berbeda dengan pengertian lainnya kepemimpinan
dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggerakkan, mengarahkan
sekaligus mempengaruhi pola pikir, cara kerja setiap anggota agar bersikap mandiri
dalam bekerja terutama dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan percepatan
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Wahyudi, 2017:119).
Komponen Brand Image
Menurut Keller (2020:76) bahwa brand image terdiri dari komponen-komponen:
1) Attributes (Atribut) Merupakan pendefinisian deskriptif tentang fitur-fitur yang ada
dalam produk atau jasa.
a. Product related attributes (atribut produk) Didefinisikan sebagai bahan-bahan
yang diperlukan agar fungsi produk yang dicari konsumen dapat bekerja.
Berhubungan dengan komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang
ditawarkan, dapat berfungsi.
b. Non-product related attributes (atribut non-produk) Merupakan aspek eksternal
dari suatu produk yang berhubungan dengan pembelian dan konsumsi suatu
produk atau jasa. Terdiri dari: informasi tentang harga, kemasan dan desain
produk, orang, per group atau selebriti yang menggunakan produk atau jasa
tersebut, bagaimana dan dimana produk atau jasa itu digunakan.
2) Benefits (Keuntungan) Nilai personal yang dikaitkan oleh konsumen pada atribut-
atribut produk atau jasa tersebut.
a. Functional benefits : berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti
kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
b. Experiential benefits : berhubungan dengan perasaan yang muncul dengan
menggunakan suatu produk atau jasa. Benefit ini memuaskan kebutuhan
bereksperimen seperti kepuasan sensori.
c. Symbolic benefits : berhubungan dengan kebutuhan akan persetujuan sosial atau
ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Konsumen akan menghargai nilai-
nilai prestise, eksklusivitas dan gaya fashion merek karena hal-hal ini
berhubungan dengan konsep diri mereka
Faktor-Faktor Pembentuk Brand Image
Menurut Schiffman & Kanuk dalam Murti (2019) faktor-faktor yang
mempengaruhi dan membentuk brand image di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Quality, berkaitan dengan kualitas yang ditawarkan produsen baik barang
maupun jasa. Dalam hal pendidikan mencakup kompetensi tenaga pendidik dan
kapabilitas alumni serta keluasan dalam memperoleh pekerjaan.
2) Trusted, berkaitan dengan pandangan atau pendapat yang tercipta oleh
masyarakat atau konsumen terhadap suatu produk yang dikonsumsi.
3) Profit, berkaitan dengan manfaat dari suatu produk barang atau jasa yang bisa
digunakan konsumen.
4) Service, berkenaan perihal pelayanan yang melayani konsumen oleh pembuat
atau produsen.
5) Consequence, berkaitan dengan efek yang mungkin dihadapi konsumen baik
besar kecilnya akibat atau untung ruginya setelah konsumen atau mahasiswa
memilih atau memutuskan suatu produk atau perguruan tinggi dalam
pendidikan.
6) Cost, berkaitan dengan sedikit atau banyaknya jumlah uang atau biaya untuk
suatu produk yang dikeluarkan konsumen atau mahasiswa untuk menempuh
pendidikan ke depannya.
7) Citra yang dipunyai brand itu sendiri, berkaitan dengan pendapat, persepsi serta
berita suatu produk dari merek tertentu.
Sedangkan, Keller dan Swaminathan (2020) mengemukakan faktor-faktor
pembentuk brand image antara lain:
1) Strength of Brand Associations merupakan salah satu faktor pembentuk brand
image, semakin dalam seseorang berpikir tentang informasi produk dan
menghubungkannya dengan pengetahuan merek yang ada, semakin kuat
asosiasi merek yang dihasilkan. Dua faktor yang memperkuat keterkaitan
dengan informasi apapun adalah relevansi pribadinya dan konsistensi
penyajiannya dari waktu ke waktu. Asosiasi tertentu yang kita ingat dan arti-
penting mereka akan tergantung tidak hanya pada kekuatan asosiasi tetapi juga
pada isyarat pengambilan hadir dan konteks di mana kita mempertimbangkan
merek.
2) Favorability of Brand Associations merupakan faktor pembentuk kedua brand
image. Asosiasi merek dapat diciptakan dengan meyakinkan konsumen bahwa
merek tersebut memiliki atribut dan manfaat yang relevan yang memuaskan
kebutuhan dan keinginan mereka, sehingga membentuk penilaian merek secara
keseluruhan yang positif. Konsumen tidak akan menganggap semua asosiasi
merek sama pentingnya, mereka juga tidak akan memandang semuanya dengan
baik atau menghargai semuanya secara setara di berbagai situasi pembelian atau
konsumsi. Asosiasi merek dapat bergantung pada situasi atau konteks dan
bervariasi sesuai dengan apa yang ingin dicapai konsumen dalam keputusan
pembelian atau konsumsi tersebut. Dengan demikian, asosiasi dapat dinilai
dalam satu situasi tetapi tidak pada situasi lain.
3) Uniqueness of Brand Associations merupakan faktor pembentuk brand image
ketiga. Inti dari positioning merek adalah bahwa merek memiliki keunggulan
kompetitif yang berkelanjutan atau proposisi penjualan yang unik yang
memberi konsumen alasan kuat mengapa mereka harus membelinya. Pemasar
dapat membuat perbedaan unik ini secara eksplisit melalui perbandingan
langsung dengan pesaing, atau mereka dapat menyorotinya secara implisit.
Mereka mungkin mendasarinya pada atribut atau manfaat terkait kinerja atau
non kinerja. Meskipun asosiasi unik sangat penting untuk kesuksesan merek,
kecuali jika merek tersebut tidak menghadapi persaingan, kemungkinan besar
akan berbagi beberapa asosiasi dengan merek lain. Salah satu fungsi dari
asosiasi bersama adalah untuk menetapkan keanggotaan kategori dan
menentukan ruang lingkup persaingan dengan produk dan layanan lainnya
Dimensi Brand Image
Menurut Wijaya (2013), terdapat lima dimensi yang membentuk brand image,
antara lain:
1) Brand Identity
Brand identity mengacu pada identitas fisik atau berwujud yang terkait
dengan merek atau produk yang membuat konsumen mudah mengidentifikasi
dan membedakan dengan merek atau produk lain, seperti logo, warna, suara,
bau, kemasan, lokasi, identitas perusahaan, slogan, dan lain-lain.
2) Brand Personality
Brand personality adalah karakter khas suatu merek yang membentuk
kepribadian tertentu sebagai manusia, sehingga khalayak konsumen dapat
dengan mudah membedakan dengan merek lain dalam kategori yang sama,
seperti karakter tegas, kaku, bermartabat, mulia, ramah, hangat, penyayang,
mudah bergaul, dinamis, kreatif, mandiri, dan sebagainya.
3) Brand Association
Brand association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau selalu
dikaitkan dengan suatu merek, dapat timbul dari penawaran unik suatu produk,
kegiatan yang berulang dan konsisten misalnya dalam hal sponsorship atau
kegiatan tanggung jawab sosial, isu-isu yang sangat kuat terkait dengan suatu
merek, serta simbol dan makna tertentu yang sangat kuat melekat pada sebuah
brand
4) Brand Behavior & Attitude
Brand behavior & attitude adalah perilaku dan sikap suatu merek ketika
berkomunikasi dan berinteraksi dengan konsumen dalam rangka menawarkan
manfaat-manfaat dan nilai-nilai yang dimilikinya. Dengan kata lain, sikap dan
perilaku merek adalah sikap, tata krama, dan perilaku yang ditunjukkan oleh
merek dan segala atributnya ketika berkomunikasi dan berinteraksi dengan
konsumen yang pada gilirannya mempengaruhi persepsi dan penilaian
konsumen terhadap merek tersebut.
5) Brand Competence & Benefit
Brand competence & benefit adalah nilai-nilai, keunggulan, dan
kompetensi khas yang ditawarkan oleh suatu merek dalam memecahkan
masalah konsumen, yang memungkinkan konsumen memperoleh manfaat
karena kebutuhan, keinginan, impian, dan obsesinya diwujudkan dengan apa
yang ditawarkannya
Definisi Brand Image
Menurut Keller (2020:76), brand image adalah persepsi tentang suatu merek
sebagaimana tercermin oleh asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsumen. Dapat
disimpulkan bahwa brand image merupakan pemahaman konsumen mengenai suatu
brand secara keseluruhan dengan kepercayaan dan pandangan terhadap suatu brand.
Sedangkan, Firmansyah (2019:60) mendefinisikan brand image sebagai suatu
persepsi yang muncul di benak konsumen ketika mengingat suatu merek dari jajaran
produk tertentu. Selanjutnya, pengalaman tersebut kemudian akan tercitra atau
tergambarkan pada merek sehingga membentuk brand image yang positif maupun
negatif tergantung dari berbagai pengalaman dan citra sebelumnya dari merek.
Kotler dan Keller (2014:315) menjelaskan brand image adalah persepsi dan
keyakinan konsumen yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam ingatan
konsumen. Asosiasi-asosiasi itu akan menyamakan serta membedakan produk serupa
dengan merek yang berbeda. Brand image adalah citra pembeda yang dihasilkan serta
digunakan sebagai pembanding dalam asosiasi-asosiasi tersebut.
Sedangkan menurut Setiadi (2016), brand Image adalah representasi dari
keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa
lalu terhadap merek itu. Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa
keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang
positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian.
Pengaruh Harga Terhadap Keputusan Pembelian
Harga memiliki peranan yang sangat penting karenan Keputusan pilihan
konsumen terhadap suatu produk berkaitan langsung dengan tingkat harga, oleh
karna itu Perusahaan harus melakukan berbagai macam pertimbangan dalam
menentukan harga. maka dapat disimpulkan harga adalah sejumlah uang yang harus
dikeluarkan konsumen untuk mendapatkan suatu barang atau jasa yang dibelinya
guna memenuhi kebutuhan dan hasrat keinginannya. Penelitian (Asrizal et al.,
2018) dimana hasilnya harga yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
Sejalan juga peneitian yang dilakukan (Chandra et al., 2019) dan (Anam et al.,
2021) jika harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian
Kualitas Produk yang diterima oleh para konsumen adalah produk yang
kualitasnya dapat memuaskan para konsumen, kualitas produk sangat berpengaruh
untuk meyakinkan para konsumen melakukan keputusan pembelian. Bila kualitas
suatu produk bagus dan dapat memuaskan konsumen, maka dapat ditafsirkan akan
menaikan kepuasan pembelian atas produk tersebut. Produk berkualitas tinggi yang
memenuhi harapan konsumen, keinginan, dan kebutuhan dapat menciptakan
dampak yang besar bagi perusahaan, konsumen akan membeli produk lebih sering
dan teratur dan setia pada produk perusahaan. Hasil penelitian (Ernawati et al.,
2019) dimana kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
Penelitian tersebut mendorong penelitian (Susila, 2019) dan (Kusuma et al., 2022)
yang memberitahu bahwa kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan
pembelian.
Pengaruh brand Image terhadap keputusan pembelian
Pentingnya pengembangan citra merek dalam keputusan pembelian. Citra merek
yang dikelola dengan baik akan menghasilkan konsekuensi yang positif.
Penciptakan kesan menjadi salah satu karateristik dasar dalam orientasi pemasaran
modern yaitu lewat pemberian perhatian lebih serta penciptaan merek yang kuat.
Implikasi dari hal tersebut menjadikan merek suatu produk menciptakan citra dari
produk itu sendiri di benak pikiran konsumen dan menjadikan motivasi dasar bagi
konsumen dalam memilih suatu produk. Semakin tinggi citra merek suatu produk
maka semakin tinggi pula nilai prestis yang didapat oleh konsumen. Keberadaan
merek merupakan kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau
mengingat kembali bahkan menjadi pelanggan setia produk tersebut. Hasil
penelitian (Rosa Indah et al., 2020) menunjukan bahwa brand image berpengaruh
terhadap keputusan pembelian produk hand body and lotion.
Harga
Harga merupakan total uang yang dibebankan untuk membeli produkdan
total uang konsumen untuk membeli atau menggunakan produk (Kotler &
Amstrong, 2018). Definisi tersebut diperkuat oleh Tjiptono (2020) harga ini
merupakan alat ukur untuk dipertukarkan dengan hak untuk membeli barang dan
jasa. Serta nilai pertukaran atau manfaat barang serta jasa yang ditawarkan oleh
penjual.
Sementara itu terdapat dimensi dalam harga, menurut (Kotler & Keller)
menjelaskan yaitu:
- Keterjangkauan Harga
Penampilan harga penjual yang relevan dengan daya beli konsumen. - Kesesuaian Harga
Konsumen membandingkan harga yang berbeda dengan pilihan produk
yang tersedia sehingga dapat memutuskan mengalokasikan dana untuk
produk diinginkan konsumen. - Daya Saing Harga
Penampilan penyesuaian harga dari penjual yang sesuai dengan daya beli
konsumen. - Kesesuaian Harga Dengan Manfaat
Konsumen bandingkan harga dari pilihan produk yang berbeda tersedia
sehingga Anda bisa memutuskan untuk menyerah memberikan uanguntuk
produk itu diinginkan konsumen.
Dari penelitian diatas terdapat indikator harga, dimana menurut (Kotler &
Amstrong, 2018) Indikator harga yang dapat digunakan untuk mengukur dan
memeriksa keterjangkauan antara lain misalnya: - Keterjangkauan harga
Konsumen mendapat harga perusahaan. Seringnya ada beberapa
produk dengan merek yang sama, dan harganya yang bervariasi
dari terendah sampai tertinggi. - Harga dengan kualitas produk
Harga selalu dipakai sebagai indikator kualitas untuk konsumen, yang selalu
memilih harga yang lebih mahal di antara beberapa produk karena
perbedaan kualitas yang dirasakan. apabila harganya mahal, maka pembeli
akan berfikir kualitasnya lebih baik juga. - Kesesuaian harga dengan manfaat
Pembeli memilih memutuskan untuk membeli produk apabila manfaat yang
diterimanya lebih baik dari pembelian produk tersebut. Jika pembeli
mempersepsikan bahwa manfaat produk kurang dari total yang dikeluarkan,
pembeli akan menilai produk tersebut mahal dan pembeli akan berpikir
ulang sebelum melakukan pembelian ulang. - Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen selalu membandingkan harga sebuah produk dengan produk
yang lain. Dengan ini harga produk yang murah menjadi pertimbangan
ulang konsumen ketika membeli produk tersebut
Kualitas Produk
Menurut Wijaya (2018) Kualitas produk merupakan seperangkat
karakteristik yang sama dengan pemasaran, desain, produksi, dan pemeliharaan
barang dan jasa yang membuat barang dan jasa. Menurut (Umami at el, 2019).
Kualitas produk merupakan kemampuan dalam melakukan suatu fungsi, termasuk
keandalan, daya tahan, kemudahan penggunaan, akurasi, kualitas produk, atau
karakteristik berharga lainnya.
Menurut Windarti dan Ibrahim (2017) bahwa kualitas produk merupakan
kesesuain kebutuhan dan keinginan pada setiap produk ke dalam spesifikasi produk,
kualitas produk adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan produk, jasa
manusia dan lingkungan untuk memenuhi harapan konsumen. Agar mencapai
kualitas produk yang diinginkan maka harus diperlukan suatu standarisasi kualias.
Hal ini bertujuan untuk menjaga agar produk yang dihasilkan bisa memenuhi sandar
yang sudah ditetapkan sehingga konsumen tidak akan kehilangan kepercayaan
terhadap produk yang bersangkutan. Pengalaman pelanggan dalam membeli
produk yang baik atau buruk akan mempengaruhi konsumen untuk melakukan
pembelian Kembali atau tidak. Oleh karena itu, pemain usaha harus mampu
menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen.
kebutuhan yan tidak dapat memenuhi harapan konsumen, haruslah cepat ditanggapi
oleh perusahaan, yaitu dengan upaya pengembangan produk sesuai dengan harapan
konsumen tersebut (Assauri, 2012:167). Jadi dapat disimpulkan bahwa kualitas
produk merupakan suatu kemampuan produk yang mampu memenuhi setiap
kebutuhan konsumen sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen
Sementara itu terdapat dimensi dalam kualitas produk menurut (Tjiptono,
2019) mempunyai tiga dimensi yang sering dijadikan metrik dalam evaluasi dan
penelitian bisnis, yang meliputi:
- Kinerja (Performance)
- Karakteristik informasi utama dari produk inti (core product) yang dibeli.
- Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications) Sejauh mana
karakteristik desain memenuhi standar-standar yang sudah ditetapkan
sebelumnya. - Estetika (Aesthetics) Daya tarik produk terhadap panca indra.
Brand Image
Menurut Kotler & Keller (2018) brand image adalah mengidentifikasi suatu
barang dan jasa dari satu penjual atau Kelompok penjual dan untuk
membedakannya dari para pesaingnya sesuatu yang sebenarnya telah membangun
beberapa tingkat kesadaran, reputasi, dan visibilitas di pasar. Menurut (Firmansyah,
2018) pandangan umum dari merek dan terdiri dari pengetahuan dan pengalaman
masa lalu tentang merek tersebut. Citra merek dapat diketahui dari apa yang
dipikirkan dan dirasakan konsumen setelah mendengar atau melihat nama merek
tersebut. Citra konsumen yang positif dari citra merek memungkinkan konsumen
melakukan pembelian lebih banyak.
Dalam hal ini terdapat dimensi dari brand image, menurut (Firmansyah,
2018) dimensi utama yang dapat mempengaruhi brand image, antara lain
- Brand Identity
Identitas merek merupakan identitas fisik saling terkait dengan brand atau
produk yang memungkinkan pembeli untuk dengan gampangmengenalinya
dan membedakan dari merek atau produk lain, seperti logodan lokasi. - Brand Personality
Kepribadian merek merupakan ciri dari suatu merek dimana membentuk
kepribadian yang cocok bagi seseorang tertentu, sehingga masyarakat
konsumen dapat dengan mudah membedakannya, misalnya berkarakter
tegas, kreatif, mandiri. - Brand Association
Asosiasi merek adalah hal yang terkait dengan merek, dapat muncul melalui
penawaran produk yang unik, seperti sponsorship atau tanggung jawab
social, misalnya seni dan teknologi adalah Apple, sepak bola adalah Djarum
Super Soccer, Koboi adalah Marlboro.
Setelah itu ada indikator dalam brand image. Menurut (Swaminathan,2020)
indikator yang bisa digunakan untuk mengukur dan menilai brand image, antara
lain : - Citra Perusahaan (corporate image)
Citra perusahaan atau produsen adalah sekumpulan asosiasi
yang dimiliki konsumen tentang suatu produk/jasa, termasuk
ketenaran, kredibilitas, serta koneksi perusahaan. - Citra pemakai (user image)
Citra pengguna merupakan sekumpulan kelompok yang
dimiliki konsumen tentang pengunaan jasa atau barang,
termasuk pemakai sendiri, kepribadian dan gaya hidup dan
strata sosial. - Citra produk (product image)
yaitu, kumpulan kelompok yang dimiliki pembeli tentang
produk, yang menyeluruhkan fitur produk, manfaat,
penggunaan serta garansi
Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian adalah tindakan atau sesuatu yang mewakili apa yang
diyakini konsumen saat membuat keputusan pembelian. Hal ini dibayangi oleh dua
faktor utama, yaitu sikap orang lain dan situasi yang tidak terduga (Mangkunegara,
2019). Sedangkan menurut Tjiptono (2020) keputusan pembelian merupakan
bagian dari perilaku konsumen berupa tindakan yang berkaitan langsung dengan
perolehan dan penentuan produk serta jasa, serta pengambilan keputusan. Menurut
(Ernawati et al., 2021) Keputusan pembelian adalah proses berpikir selama
seseorang mengevaluasi berbagai pilihan dan memilih di antara banyak pilihan
produk.
Keputusan pembeli yaitu ketika konsumen benar-benar membeli produk
dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi mengenai produk atau
merk tertentu dan mengevaluasi seberapa baik masing-masing alternative tersebut
dapat memecahkan masalahnya yang kemudian mengarah kepada keputusan
pembelian. Menurut Swastha dan Irawan (2018) keputusan pembelian adalah
pemahaman konsumen tentang keinginan dan kebutuhan akan suatu produk dengan
menilai dari sumber-sumber yang ada dengan menetapkan tujuan pembelian serta
mengidentifikasi alternatif sehingga pengambil keputusan untuk membeli yang
disertai dengan perilaku setelah melakukan pembelian.
Sedangkan Irawan dan Farid (2018) mengemukakan keputusan pembelian
adalah tahap penilaian keputusan yang menyebabkan pembeli membentuk pilihan
di antara beberapa merek yang tergabung dalam perangkat pilihan dan membentuk
maksud untuk membeli. Perilaku konsumen akan menentukan pengambilan
keputusan dalam pembelian mereka.
Proses tersebut merupakan sebuah pendekatan penyelesaian masalah yang
terdiri atas enam tahap yaitu: menganalisa keinginan dan kebutuhan, menilai
beberapa sumber yang ada, menetapkan tujuan pembelian, mengidentifikasikan
alternatif pembelian, mengambil keputusan untuk membeli danperilaku sesudah
pembelian. Keputusan pembelian adalah suatu alasan tentang bagaimana konsumen
menentukan pilihan terhadap pembelian suatu produk yang sesuai dengan
kebutuhan, keinginan serta harapan, sehingga dapat menimbulkan kepuasan atau
ketidakpuasan terhadap produk tersebut yang dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya keluarga, harga, pengalaman, dan kualitas produk. (Mustafid &
Gunawan, 2017) Menurut Scifman & Kanuk (2018) mendefinisikan keputusan
pembelian adalah suatu keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau
lebih pilihan alternative. Dengan kata lain agar seseorang membuat keputusan maka
harus ada pilihan alternative yang tersedia. Ada dua faktor yang mempengaruhi
pengambilan keputusan pembelian yang selanjutnya akan menentukan respon
konsumen. Pertama, konsumen itu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian
merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu dalam pemilihan
alternatif perilaku yang sesuai dari dua alternatif perilaku atau lebih dan dianggap
sebagai tindakan yang paling tepat dalam membeli dengan terlebih dahulu melalui
tahapan proses pengambilan keputusan. Perilaku keputusan membeli untuk
kebanyakan produk hanyalah kegiatan rutin dalam arti kebutuhan yang telah
terpenuhi akan terpuaskan melalui pembelian ulang suatu produk yangsama.
Namun apabila terjadi perubahan (harga, produk, layanan), maka pembeli akan
mengulang kembali proses keputusan.
Ada dua unsur dari konsumen itu sendiri yang berpengaruh terhadap
pengambilan keputusan yaitu pikiran konsumen yang meliputi kebutuhan atau
motivasi, persepsi, sikap dan karakteristik konsumen yang meliputi demografi,
gaya hidup dan kepribadian konsumen
Sementara itu, Tjiptono (2020) menjelaskan bahwa keputusan untuk
melakukan pembelian sebuah produk terdapat 4 dimensi yang dapat dijadikan dasar
untuk menarik indikator tersebut dalam penelitian, antara lain
- Pemilihan Produk
Pembeli memutuskan apakah akan membeli barang atau menggunakan uang
mereka dengan tujuan mereka. Tabel indikator misalnya: permintaan
produk, pilihan jenis produk dan kualitas produk. - Pemilihan Merek
Konsumen membuat keputusan tentang brand apa yang akan dibeli. brand
mempunyai ciri khas berbeda.. Misalnya: kepercayaan dan popularitas
merek. - Pemilihan Penyalur
Konsumen memilih toko yang akan di datangi. Setiap mempunyai pendapat
berbeda saat memilih penjual, yang dapat mencakup kedekatan, harga
murah, barang lengkap dan banyak lagi. Misalnya: kemudahan memperoleh
produk dan ketersediaan produk. - Jumlah Pemilihan
Pembeli memutuskan berapa barang yang akan dibeli. Dapat membeli lebih
dari satu kali pembelian. Perusahaan juga harus menyediakan produk sesuai
dengan kemauan pembeli yang berbeda. Misalnya: kebutuhan produk
Hubungan brand image, vanity seeking dan materialism dengan minat beli ulang
Dalam jurnal Rizal manullang dkk (2021) dapat disimpulkan bahwa variabel brand
image, vanity seeking dan materialism secara simultan berpengaruh terhadap variabel minat
beli kembali.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa brand image, vanity seeking
dan materialism berpengaruh signifikan terhadap Minat Beli Ulang.
Hubungan materialism dengan minat beli ulang
Dalam jurnal Rizal manullang dkk (2021)bahwa variabel Materialism berpengaruh secara
parsial terhadap minat beli kembali.
Hasil dari penelitian ini menunjuka bahwa Materialism berpengaruh secara parsial
terhadap minat beli kembali
Hubungan vanity seeking dengan minat beli ulang
Dalam Oktavia & Liendah F (2016), menunjukkan bahwa vanity seeking berpengaruh
positif pada minat beli ulang jasa klinik kecantikan.
Hasil dari penelitian ini menunjuka bahwa Vanity Seeking berpengaruh secara parsial
terhadap minat beli kembali
Hubungan brand image dengan minat beli ulang
Dalam Jurnal Siti Ainul (2019) Hasil dari penelitian ini menunjuka bahwa brand image
mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang konsumen batik
Pekalongan
Hasil dari penelitian ini menunjuka bahwa brand image mempunyai pengaruh positif dan
signifikan terhadap minat beli ulang.
Indikator-indikator dari minat beli ulang
Indikator-indikator dari minat beli ulang Ferdinand (2006) dalam Sartika dewi (2017)
yang terdiri sebagai berikut :
- Kebutuhan akan produk,
- Keinginan membeli ulang,
- Ketertarikan untuk tetap menggunakan
Dimensi Minat Beli Ulang
Terdapat empat dimensi minat beli ulang (repurchase intention) menurut Ferdinand
(Saidani dan Arifin 2012) dalam jurnal Algustin, W., & Matoati, R. (2020), yaitu sebagai
berikut :
- Minat transaksional merupakan kecenderungan konsumen untuk selalu membeli ulang
produk yang telah dikonsumsinya. - Minat referensial merupakan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan produk
yang telah dikonsumsinya kepada orang lain - Minat preferensial merupakan perilaku konsumen yang menjadikan produk yang telah
dikonsumsinya sebagai pilihan utama. - Minat eksploratif merupakan keinginan konsumen untuk selalu mencari informasi
mengenai produk yang diminatinya
Definisi Minat Beli Ulang
Menurut Kotler dan Keller dalam Juniawati (2015) dalam jurnal Rizal Manullang dkk
(2021), mendefinisiakan minat beli ulang sebagai tindakan konsumen pasca pembelian,
terjadinya kepuasan atau ketidakpuasan pasca pembelian konsumen terhadap suatu produk
yang mempengaruhi perilaku selanjutnya, dimana jika konsumen puas maka akan menunjukan
kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli kembali produk tersebut. Tjiptono (2015) dalam
jurnal Rizal Manullang dkk (2021), menambahkan Minat beli ulang menunjukan keinginan
pembeli untuk melakukan kunjungan ulang dimasa yang akan datang.
Menurut Ferdinand, (2006) dalam Sartika dewi (2017) Minat beli ulang adalah minat
pembelian terhadap suatu produk yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang telah
dilakukan di masa lalu. Menurut M. Yudha Prawira dkk (2019) Minat beli ulang merupakan
suatu perilaku konsumen yang berupa dorongan untuk melakukan pembelian kembali terhadap
suatu produk karena konsumen merasa puas dengan pembelian sebelumnya sehingga
memutuskan untuk melakukan pembelian secara teratur.
Menurut Desi Peburiyanti, Sabran (2020) berpendapat bahwa Minat Beli Ulang adalah
kegiatan dimana seseorang sudah pernah membeli atau pengalaman membeli serta
merasakan produk yang sudah dibeli dan kemudian kembali lagi untuk membeli, dari
kegitan tersebut maka dapat dikatakan bahwa hasil pembelian pertama yang memuaskan
tentu konsumen akan memiliki minat pembelian ulang.
Minat Beli Ulang Butcher (2005) dalam jurnal Siti Hidayah & Apriliani (2019),
berpendapat bahwa minat konsumen untuk membeli ulang diartikan sebagai suatu ukuran
keberhasilan dari suatu perusahaan, terutama perusahaan jasa. Konsumen membandingkan
harga suatu produk dengan harga pesaingnya, harga pesaing harus turut dipertimbangkan
dalam proses penetapan harga.
a. Konsumen mengharapkan harga produk yang sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang
ditawarkan.
b. Minat beli konsumen dapat juga dipengaruhi oleh harga yang fleksibel (flexibility price).
Fleksibilitas harga adalah harga yang digunakan dengan jalan menetapkan harga yang
berbeda pada pasar yang berlainan atas dasar lokasi geografis, waktu penyampaian atau
pengiriman, atau kompleksitas produk yang diharapkan
Dimensi Materialisme
Fitriyah, L. (2016) materialisme sebagai tolak ukur kepuasan hidup mencakup tiga
dimensi dimana materi berfungsi sebagai berikut:
- Tujuan dalam hidup,
- Alat untuk mendapatkan kebahagiaan, dan
- Indikator pencapaian kesuksesan hidup.
Pengertian Materialism
Menurut Leon G. Schiffman, Håvard Hansen and Leslie Kanuk (2012) mendefinisikan
Materialism sebagai A personality-like trait of individuals who regard possessions as
particularly essential to their identities and lives, artinya bahwa Materialism adalah Sifat
seperti kepribadian dari individu yang menganggap harta benda sebagai sesuatu yang khusus
penting bagi identitas dan kehidupan mereka.
Menurut Regina Winatha & Sukaatmadja (2014) materialisme didefinisikan sebagai
suatu sifat yang menganggap penting adanya kepemilikan barang, di mana kepemilikan
tersebut dirasa menunjukkan statusnya dan akan membuat ia merasa senang. (Dewi, et al.,
2015) dalam jurnal Rizal Manullang dkk (2021), Materialism didefinisikan sebagai sifat
individu yang ditunjukkan seseorang terhadap harta.
Materialisme didefinisikan sebagai perspektif sosial, budaya, psikologis, dan ekonomi
yang mempengaruhi pandangan hidup, orientasi nilai, sistem budaya, sifat dan kepribadian
seorang individu Bindah dan Othman, (2011) menurut Angga Wijaya & Yuniarinto (2015).
Seorang individu yang materialistis mempunyai kecenderungan untuk mengumpulkan harta
benda, dengan ukuran kuantitas dan kualitas barangnya sehingga hal-hal yang dipentingkan
bersifat keduniaan.
Materialisme secara teori memiliki pengaruh kuat terhadap motivasi belanja. Sifat dan
nilai materialisme menggerakkan konsumen untuk selalu mencari informasi mengenai barang
material terbaru, yang dapat memenuhi hasrat materialistik mereka, sesuai dengan makna dari
aktivitas belanja. Adanya keanekaragaman interaksi sosial dalam aktivitas belanja akan
memuaskan sifat dan nilai materialisme konsumen. Jadi, semakin tertarik konsumen dalam
kepemilikan benda material, semakin banyak mereka ingin pergi berbelanja.dalam Satrio Budi
Permono (2018)
Dampak Vanity Seeking
Menurut (Netemeyer, Burton, & Lichtenstein, 1995) dalam jurnal Wang, P. Z., & Waller,
D. S. (2006) dampak vanity yaitu:
- Pada permintaan untuk barang dan jasa yang tidak terhitung jumlahnya.
- Ada kebutuhan untuk lebih banyak tentang konstruksi psikologis penting yang dikenal
sebagai kesombongan konsumen
Indikator Vanity Seeking
Menurut Netemeyer dkk. (1995) , konstruk kesombongan memiliki dua tema (yaitu,
kesombongan fisik; kesombongan prestasi), yang selanjutnya dibagi menjadi empat
komponen:
- Perhatian pada penampilan fisik
- Pandangan positif terhadap penampilan fisik
- Kepedulian terhadap prestasi
- Pandangan positif tentang pencapaian
Definisi Vanity Seeking
Menurut Netemeyer, Burton, & Lichtenstein, (1995) Vanity’ adalah konstruksi yang telah
dieksplorasi secara ekstensif dalam penelitian merek mewah. Vanity adalah sifat pribadi yang
didefinisikan sebagai “memiliki perhatian yang berlebihan, atau pandangan positif tentang
penampilan fisik/prestasi pribadi seseorang”
Menurut Povy Amelia & Herry Maridjo (2020) Vanity seeking adalah salah satu
karakteristik konsumen yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Menurut
Durianto dan Liana (2004) dalam jurnal Rizal Manullang dkk (2021), menyatakan bahwa
vanity seeking adalah kepribadian seseorang yang memiliki kecenderungan ingin dipuji.
Menurut Durvasula, Lysonski, & Watson dalam jurnal Ahmed, Faroq dkk (2014), vanity
adalah peningkatan diri pada manusia yang dipengaruhi oleh masyarakat dan juga diturunkan
oleh masyarakat. Dewasa ini orang-orang cenderung berusaha membuktikan diri kepada orang
lain dengan berbagai cara antara lain dari segi fisik dan prestasi. Workman dan Lee (2011),
mendefinisikan vanity seeking sebagai salah satu dari karakteristik konsumen dimana
konsumen menunjukkan kepedulian yang sangat tinggi terhadap penampilan fisiknya
Indikator Brand Image
Menurut Aaker dalam Aris Ananda (2014:69) ada 4 indikator yang perlu diperhatikan
dalam membentuk sebuah citra merek yaitu :
- Recognition (pengenalan merek) yaitu mencerminkan dikenalnya sebuah merek oleh
konsumen berdasarkan past exposure, yangartinya konsumen mengingat akan adanya atau
mengingat keberadaan merek tersebut. - Reputasion (reputasi merek) yaitu status yang cukup tinggi bagi sebuah merek karena dimata
konsumen merek memiliki track record yang baik. - Affinity (kekuatan merek) yaitu emotional relationship yang timbul antara sebuah merek
dengan konsumennya. - Domain (diferensiasi produk)yaitu menyangkut seberapa besar scope dari suatu produk
yang mau menggunakan merek bersangkutan
Faktor Terbentuknya Brand Image
Menurut (Schiffman & Kanuk, 2008) faktor yang mempengaruhi brand image adalah
:
a. Persepsi konsumen mengenai pengenalan produk
b. Persepsi konsumen terhadap kualitas, ukuran, daya tahan, design, warna produk dan harga.
c. Persepsi konsumen terhadap lokasi
Definisi Brand Image
Menurut Citra Merek Kotler dan Keller (2012) mendefinisikan brand image sebagai the
perceptions and beliefs held by consumers, as reflected in the associations held in consumer
memory, artinya bahwa citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang dipegang oleh
konsumen, sebagaimana tercermin dalam asosiasi yang dimiliki dalam memori konsumen.
Menurut Aaker (2013) Citra merek adalah bagaimana pelanggan dan orang lain memandang suatu
merek.
Menurut Pradipta, (2012) Citra merek (brand image) merupakan representasi dari
keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu
terhadap merek itu Menurut Evelina dkk. (2012) Citra merek (brand image) merupakan
representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu terhadap merek itu.
Menurut Rizal Manullang dkk (2021) Brand image merupakan persepsi konsumen
terhadap merek suatu produk yang dibentuk dari informasi yang didapatkan konsumen melalui
pengalaman menggunakan produk tersebut. Citra merek merupakan serangkaian kepercayaan
konsumen tentang merek tertentu sehingga asosiasi merek tersebut melekat dibenak konsumen.
Citra merek dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang muncul di benak konsumen ketika
mengingat suatu merek dari produk tertentu. Maharani Oktavia dkk (2020)
Menururt Dini Hidayah & idris (2020) “a trust from consumers of ideas and concepts
that have been created which have an interesting symbol and foster a sense of pleasure and
impression Brand image” kepercayaan dari konsumen atas ide dan konsep yang telah dibuat
yang memiliki simbol yang menarik dan menumbuhkan rasa senang dan kesan Brand image
Bauran Promosi
Bauran Promosi adalah kombinasi dari penjualan tatap muka, periklanan,
promosi penjualan, publisitas, dan hubungan masyrakat yang membantu
pencapaian tujuan perusahaan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2019;116) bauran promosi meliputi :
- Periklanan (advertising)
Periklanan merupakan salah satu bentuk dari komunikasi
impersonal yang digunakan oleh perusahaan barang atau jasa.
Tujuan dari pada periklanan antara lain :
a) Iklan Pemantapan, yaitu iklan yang berusaha
meyakinkan para pembeli bahwa mereka telah
mengambil pilihan yang tepat.
b) Iklan Pengingat, iklan ini akan sangat penting dalam
tahap kedewasaan suatu produk untuk menjaga agar
konsumen selalu ingat akan produk tersebut.
c) Iklan membujuk, yaitu iklan menjadi penting dalam
situasi persaingan dimana sasaran perusahaan adalah
menciptakan permintaan yang selektif atas merek
tertentu.
d) Iklan yang bersifat memberikan informasi, yaitu iklan
yang secara panjang lebar menerangkan produk dalam
tahap rintisan (perkenalan) untuk menciptakan
permintaan atas produk tersebut. - Promosi Penjuaan (Sales Promotion)
Promosi penjualan yaitu semua kegiatan yang
dimaksudkan untuk meningkatkan produk dari produsen sampai
pada penjualan akhirnya, seperti spanduk atau brosur. - Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
Sistem pemasaran dengan memanfaatkan saluran
langsung, seperti pos, direct mail, TV interaktif, situs web,
katalog untuk menjangkau konsumen. - Informasi Mulut ke Mulut (Word of Mouth)
Pelanggan akan berbicara kepada pelanggan lain atau
masyarakat lainnya tentang pengalamannya menggungakan
produk yang dibelinya. Iklan ini bersifat referensi dari orang lain
yang dilakukan dari mulut ke mulut. Jika dilihat secara fisik
kegiatan ini sangat sederhana, namun merupakan jurus jitu
untuk menjual produk. - Hubungan Masyarakat (Public Relation)
Merupakan kiat penting lainnya dimana perusahaan
tidak hanya harus berhubungan dengan pelanggan, pemasok dan
penyalur tetapi juga harus berhubungan dengan kumpulan
kepentingan public yang lebih besar, seperti publikasi,
hubungan dengan investor, pameran atau sebagai sponsor acara. - Penjualan Perseorangan (Personal Selling)
Sifat penjualan perseorangan dapat dikatakan fleksibel
karena tenaga penjualan dapat secara langsung menyesuaikan
penawaran penjualan dengan kebutuhan dan perilaku masing-
masing calon pembeli
Manfaat Promosi
Banyak sekali manfaat pada promosi antara lain :
- Dengan adanya promosi menjadi tau bahwa produk yang menjadi
keinginan dan kebutuhan konsumen. - Mendapatkan informasi tingkat kebutuhan konsumen terhadap produk.
- Promosi dapat mengenalkan dan menyampaikan produk sehingga
sampai ke konsumen - Lebih mudah tau harga yang sesuai dengan keadaan pasar.
- Dengan adanya promosi membuat strategi promosi yang tepat terhadap
calon konsumen - Promosi bisa membuat image produk atau brand
Menurut ahli (Jefry, 2017:37) mengungkapkan dari alat promosi sangat
beragam, semuaya memberikan tiga manfaat yang berbeda, yaitu: - Komunikasi, promosi menarik perhatian dan biasanya
memberikan informasi yang dapat mengarahkan konsumen ke
produk bersangkutan. - Ajakan, promosi merupakan ajakan untuk melakukan transaksi
pembelian sekarang - Intensif, promosi menggabungkan sejumlah kebebasan,
dorongan, atau kontribusi yang memberikan nilai bagi
konsumen
Jenis Promosi
Dalam melakukan promosi agar dapat efektif perlu adanya bauran
promosi, yaitu kombinasi yang optimal bagi berbagai jenis kegiatan atau
pemilihan jenis kegiatan promosi yang paling efektif dalam meningkatkan
penjualan. Ada empat jenis kegiatan promosi, antara lain :
- Periklanan (Advertising), yaitu bentuk promosi non personal
dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk
merangsang pembelia. - Penjualan Tatap Muka (Personal Selling), yaitu bentuk promosi
secara personal dengan presentasi lisan dalam suatu percakapan
dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang
pembelian. - Publisitas (Publisity), yaitu suatu bentuk promosi non personal
mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan
mengulas informasi atau berita tentangnya. - Promosi Penjualan (Sales Promotion), yaitu suatu bentuk
promosi diluar ketiga bentuk diatas yang ditujukan untuk
merangsang pembelian. Tipe-tipe promosi penjualan antara lain
potongan harga, kupon kontes atau undian, program
berkelanjutan, pemberian premium, rabat dan sampel gratis. - Pemasaran Langsung (Direct marketing), yaitu suatu bentuk
penjualan perorangan secara langsung ditujukan untuk
mempengaruhi pembelian konsumen
Tujuan Promosi
Tujuan dari promosi adalah untuk memberi informasi, menarik
keinginan konsumen, dan meningkatkan suatu penjualan pada perusahaan.
Menurut Malau (2017:112) tujuan promosi adalah menginformasikan,
mempengaruhi dan membujuk, serta mengingatkan pelanggan sasaran tentang
perusahaan dan bauran pemasarannya
Sedangkan (Boone & Kurtz) menurut tujuan promosi adalah sebagai
berikut :
- Menyediakan Informasi
Menyediakan informasi ini merupakan tujuan strategi
promosi yang dilakukan oleh perusahaan hanya menyebabkan
informasi yang memberitahukan calon pembeli tentang produk
atau jasa yang akan dipasarkan. - Mendiferensikan sebuah produk
Tujuan dari promosi ini adalah mendiferensiasikan
produk atau tujuan jasa perusahaan dengan produk atau jasa
pesaing. Dengan jasa mengaplikasikan konsep yang disebut
positioning. Pemasar berupaya meraih tempat didalam benak
konsumen, maksudnya yaitu mengkomunikasikan perbedaan-
perbedaaan signifikan mengenai atribut, harga, kualitas, atau
manfaat dari produk atau jasa konsumen. - Menaikan penjualan
Menaikan penjualan adalah tujuan paling umum dari
strategi promosi. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya,
beberapa strategi berkonsentrasi pada merangsang permintaan
primer walaupun sebagian menstabilkan penjualan. - Menstabilkan Penjualan
Stabilitasi penjualan adalah tujuan lain dari promosi,
perusahaan biasanya mempromosikan konten penjualan selama
periode penurunan penjualan, dan memotivasi tenaga penjualan
dengan menawarkan hadiah-hadiah seperti liburan, televisi, dan
beasiswa kepada mereka yang meraih target tertentu. - Menonjolkan nilai produk
Sejumlah promosi diajukan untuk menonjolkan nilai
produk dengan menjelaskan manfaat-manfaat kepemilikan dari
produk yang kurang dikenal pembeli
Promosi
Pengertian Promosi adalah insentif yang cepat atau lambat yang menggerakkan
orang untuk melakukan pembelian atau mendapatkan, umumnya dalam jangka waktu
pendek, baik dalam bentuk uang maupun barang hingga sebuah produk atau jasa.
Promosi pada hakekatnya adalah suatu komunikasi pemasaran, artinya aktifitas
pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi atau membujuk, dan
mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima,
membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.
Sementara arti promosi adalah suatu upaya atau kegiatan perusahaan dalam
mempengaruhi “konsumen actual” maupun “konsumen potensial” agar mereka mau
melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan, saat ini atau dimasa yang
akan datang. Konsumen aktual adalah konsumen yang langsung membeli produk yang
ditawarkan pada saat atau sesaat setelah promosi produk tersebut dilancarkan
perusahaan
Brand Awareness
Asal mula kata Brand Awareness sendiri adalah dari persaingan ketat, brand
yang kuat dari competitor yang menimbulkan brand baru sehingga mempunyai arti
kekuatan merek (Brand Equity). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Brand Awareness
merupakan salah satu strategi untuk mencapai brand equity. Brand Equity memiliki
bentuk emosional dan kekuatan jaringan yang dimiliki oleh sebuah merek, yang mana
Brand Awareness sendiri adalah kesanggupan seseorang calon pembeli untuk
mengingat dan mengenali kembali sebuah merek. Strategi yang dilakukan oleh sebuah
perusahaan demi membangun dan memperkenalkan merek bisnis kepada masyarakat
akan memberikan efek kepada konsumennya untuk lebih mengenal hingga mengingat
sebuah merek tertentu.
Kesadaran merek (brand awareness) sebagai salah satu dimensi dasar ekuitas
merek, sering dianggap menjadi prasyarat dari keputusan konsumen membeli, karena
ini merupakan faktor utama untuk masuk dalam merek pertimbangan yang ada pada
konsumen. menyatakan bahwa kesadaran merek (brand awareness) merupakan
Langkah awal ntuk membangun sebuah merek produk. Kesadaran merek (Brand
Awareness) meliputi suatu proses muldai dari perasaan tidak mengenal merek itu
hingga yakin bahwa merek itu adalah satu-satunya dalam kelas produk atau jasa
tertentu. Kesadaran merek (Brand Awareness), menunjjukan kesanggupan seorang
calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek
merupakan bagian dari kategori produk tertentu.
Kesadaran merek (brand awareness) adalah kemampuan dari seorang calon
pembeli untuk mengenali atau mengingat suatu merek yang merupakan bagian dari
suatu kategori produk, bahwa kesadaran merek mencakup asset asset terpenting bisnis,
yang terdiri dari asset tak berwujud, nama (citra), perusahaan, merek, symbol, slogan
dan asosiasinya, persepsi kualitas, kepedulian merek, basis pelanggan, serta sumber
daya seperti hak paten, trademark, dan hubungan dengan dealer, yang semuanya
merupakan sumber utama keunggulan bersaing dan pendapatan masa depan.
Brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali
dan mengingat merek sebagai bagian dari suatu produk dengan merek yang dilibatkan.
Semakin tinggi tingkat kesadaran merek (brand awareness) dalam benak konsumen,
akan semakin melekat suatu merek dalam benak konsumen, sehingga semakin besar
kemungkinan merek tersebut dipertimbangkan dalam pembelian dan semakin besar
pula kemungkinan ia akan dipilih oleh konsumen.
Adapun tingkatan dalam Brand Awareness dari tingkat terendah sampai tingkat
tertinggi adalah :
a) Unware of Brand ( tidak menyadari merek), merupakan tingkat yang
paling rendah dalam tingkatan brand awareness, dimana konsumen
tidak menyadari akan adanya suatu merek.
b) Brand Recognition (pengenalan merek), kategori ini meliputi kategori
produk yang dikenal konsumen setelah dilakukan pengingatan kembali
lewat bantuan.
c) Brand recall (pengingatan kembali terhadap merek), pengingatan
kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan seseorang untuk
menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk. Hal ini
diistilahkan dengan peringatan kembali tanpa bantuan, karena berbeda
dari tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk
memunculkan merek tersebut.
d) Top of mind (puncak pikiran), apabila seseorang ditanya secara
langsung tanpa diberi bantuan pengingatan dan ia dapat menyebutkan
satu nama merek, maka merek yang paling banyak disebutkan pertama
sekali merupakan puncak pikiran. Dengan kata lain, merek tersebut
merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada di dalam benak
konsumen
Hubungan Antara Brand Image Dan Brand Lokal
Dalam pengembangan brand lokal Indonesia, konsep dari marketing yang baik
merupakan teknik yang ideal oleh karena pendekatan personal yang akan mampu
meningkatkan brand image dari brand lokal di Indonesia, diharapkan dengan
pendekatan yang berbasis brand image akan dapat meningkatkan kekuatan dari produk
lokal untuk dapat bersaing dengan produk asing. Hal ini didasarkan pada prinsip brand
image yang menekankan pada pengalaman dan jasa yang diberikan kepada konsumen,
sehingga produk akan diingat sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, bukan
hanya sekedar produk yang baik. Hal ini akan dapat meningkatkan brand image dari
produk lokal dan diharapkan dapat menimbulkan brand loyalty
Dimensi Brand Image
Menurut (Kotler & Keller, 2013) mengemukakan dimensi-dimensi utama yang
membentuk citra sebuah merek sebagai berikut :
- Brand Identity
Merupakan identitas fisik yang berkaitan dengan merek atau produk
tersebut sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakannya
dengan merek atau produk lainnya. - Brand Personality
Merupakan karakter khas sebuah merek yang membentuk kepribadian
tertentu sebagaimana layaknya manusia misalnya karakter tegas,
beribawa, hangat dan sebagainya. - Brand Association
Merupakan hal-hal spesifik yang pantas atau selalu dikaitkan dengan
suatu merek. - Brand Attitude dan Behavior
Merupakan sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi merek dengan
konsumen dan menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimiliki. - Brand Benefit dan Competence
Merupakan nilai-nilai dan keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu
merek kepada konsumen yang membuat konsumen dapat merasakan
manfaat kebutuhan, keinginan, dan obsesinya terwujudkan oleh apa
yang ditawarkan.
Faktor Yang Mempengaruhi Citra Merek (Brand Image)
Menyebutkan faktor-faktor pembentuk citra merek (Indria Nurul Uyun & Ni
Wayan, 2021) adalah sebagai berikut :
- Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang
ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu. - Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapatan atau
kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk
yang dikonsumsi. - Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu
produk barang yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen. - Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam melayani
konsumennya. - Risiko, berkaitan dengan besar kecilnya akibat atau untung dan rugi
yang mungkin dialami oleh konsumen - Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau
banyak sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk
mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka
panjang. - Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
kesempatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari
produk tertentu.
Manfaat Brand Image ada 2 yaitu : - Manfaat Bagi Perusahaan
Perusahaan dapat mengembangkan lini produk lainnya dengan
memanfaatkan citra positif yang telah terbentuk terhadap produk lamanya. - Manfaat Bagi Konsumen
Konsumen dengan citra yang positif terhadap merek tertentu, lebih
mungkin untuk melakukan pembelian hingga pembelian ulang secara terus
menerus.
Brand Image terdiri dari tiga komponen, yaitu : - Product attribute, berupa hal-hal yang berkaitan dengan brand seperti
kemasan, rasa, harga dan lain-lain. - Consumer benefits, fungsi produk dari brand tersebut.
- Brand personality, berupa asosiasi mengenai sebuah brand apabila brand
tersebut adalah manusia
Citra Merek (Brand Image)
(Fandy Tjiptoono, 2016) menyatakan merek adalah nama, istilah, symbol, atau
disain, maupun kombinasi di antaranya yang dimaksud untuk mengidentifikasi barang
atau jasa seorang penjual atau sekelompok penjual dan membedakannya dari barang
atau jasa para pesaing. Merek adalah produk atau jasa penambah dimensi yang dengan
cara tertentu mengidentifikasikannya dari produk atau jasa yang lain yang dirancang
untuk memuaskan kebutuhan yang sama. Merek adalah ide, kata desain, grafis dan
suara / bunyi yang menyimbolkan produk, jasa dan perusahaan yang memproduksi
produk dan jasa tersebut (Sumarwan et al., 2012).
Brand Lokal
Brand lokal merupakan produk yang berasal dari dalam negeri sendiri, di
produksi dan dipasarkan di dalam negeri sendiri, seperti yang kita ketahui di Indonesia
sendiri sekarang produk lokal sudah mulai menurun daya jualnya, akibat kalah saing
dengan produk asing yang terlihat lebih berbeda dibanding produk lokal. Brand lokal
Indonesia ini memiliki sejumlah karya dan produk yang patut diacungi jempol.
Misalnya seperti event Lands of Leisures yang berada di Yogyakarta yang mewadahi
brand-brand lokal untuk membantu meningkatkan mengenalkan brand terhadap
masyarakat umum, dan meningkatkan penjualan terhadap peminatnya
Pengaruh Kualitas produk Terhadap keputusan pembelian
Kualitas Produk yang diterima oleh para konsumen adalah produk
yang kualitasnya dapat memuaskan para konsumen, kualitas produk sangat
berpengaruh untuk meyakinkan para konsumen melakukan keputusan
pembelian. Bila kualitas suatu produk bagus dan dapat memuaskan
konsumen, maka dapat ditafsirkan akan menaikan kepuasan pembelian atas
produk tersebut.
Dalam konsep produk menegaskan bahwa konsumen akan menyukai
produk-produk yang menawarkan ciri-ciri paling berkualitas, berkinerja
atau inofatif. Para manajer dalam organisasi memutuskan perhatian untuk
menghasilkan produk yang unggul dan meningkatkan kualitasnya
sepanjang waktu. Konsumen berasumsi bahwa para pembeli mengagumi
produk-produk yang dibuat dengan baik serta dapat menghargai mutu dan
kinerja (Kotler P. , 2011).
Salah satu tujuan dari pelaksanaan kualitas produk adalah untuk
mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihanya untuk
menggunakan produk buatannya sehingga memudahkan konsumen dalam
pengambilan keputusan pembelian. Pemahaman perilaku konsumen tentang
kualitas produk dapat dijadikan dasar terhadap proses keputusan pembelian
konsumen (Sutisna, 2009)
Pengaruh Brand Image Terhadap keputusan pembelian
Pentingnya pengembangan citra merek dalam keputusan pembelian.
Citra merek yang dikelola dengan baik akan menghasilkan konsekuensi
yang positif. Penciptakan kesan menjadi salah satu karateristik dasar dalam
orientasi pemasaran modern yaitu lewat pemberian perhatian lebih serta
penciptaan merek yang kuat. Implikasi dari hal tersebut menjadikan merek
suatu produk menciptakan citra dari produk itu sendiri di benak pikiran
konsumen dan menjadikan motivasi dasar bagi konsumen dalam memilih
suatu produk (Aaker, 2009)
Penelitian dengan judul Pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan
Pembelian Produk Smartphone Samsung Galaxy Series pada Mahasiswa
Jurusan….menunjukkan bahwa ada pengaruh citra merek terhadap
keputusan pembelian smartphone Samsung galaxy series. Adapun besarnya
pengaruh citra merek terhadap pengambilan keputusan membeli adalah
sebesar 0,277. (Wijaya E. A., 2014)
Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian (purchase decision) konsumen adalah
tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk..
(Kotler P. d., 2016)
Teradapat lima tahapan dalam proses pengambilan keputusan .
- Tahapan Pengenalan Masalah. Pada tahap ini konsumen mengenali
sebuah kebutuhan, keinginan atau masalah. Kebutuhan pada dasarnya
dapat di cetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Perusahaan
harus menentukan kebutuhan, keinginan atau masalah mana yang
mendorong konsumen memulai proses membeli suatu produk. - Tahapan Pencarian Informasi. Konsumen yang terangsang
kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi- informasi yang
lebih banyak. Sumber-sumber informasi konsumen terbagi dalam 4
(empat) kelompok yaitu:
a. Sumber Pribadi. Sumber Pribadi ini di dapat konsumen melalui
keluarga, teman, dan kenalan atau tetangga.
b. Sumber Komersial. Sumber Komersial ini di dapat konsumen
melalui iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan di toko.
c. Sumber Publik. Sumber Publik ini di dapat konsumen melalui media
masa, organisasi penentu peringkat konsumen atau lembaga
konsumen.
d. Sumber Pengalaman. Sumber Pengalaman ini di dapat konsumen
melalui penanganan, pengkajian, dan pemakaian produk. - Tahapan Evaluasi Alternatif atau Pilihan. Setelah mengumpulkan
informasi sebuah merek, konsumen akan melakukan evaluasi alternatif
terhadap beberapa merek yang menghasilkan produk yang sama dan
bagaimana konsumen memilih di antara produk-produk alternatif. - Tahapan Keputusan Pembelian. Konsumen akan mengembangkan
sebuah keyakinan atas merek dan tentang posisi tiap merek berdasarkan
masing-masing atribut yang berujung pada pembentukan citra produk.
Selain itu, pada evaluasi alternatif konsumen juga membentuk sebuah
prefensi atas produk-produk yang ada dalam kumpulan pribadi dan
konsumen juga akan membentuk niat untuk membeli merek yang paling
di sukai dan berujung pada keputusan pembelian. - Tahapan Perilaku Pasca Pembelian. Tugas perusahaan pada dasarnya
tidak hanya berakhir setelah konsumen membeli produk yang di
hasilkan saja, tetapi yang harus diperhatikan lebih lanjut adalah meneliti
dan memonitor apakah konsumen akan mengalami tingkat kepuasan dan
ketidakpuasan setelah menggunakan produk yang akan dibeli. Tugas
tersebut merupakan tugas akhir setelah periode sesudah pembelian.
Kualitas Produk
Kualitas produk adalah : Kemampuan sebuah produk dalam
memperagakan fungsiya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas,
reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk, juga
atribut produk lainnya Salah satu nilai utama yang diharapkan oleh
pelanggan dari produsen adalah kualitas produk dan jasa yang tertinggi
(Kotler & Amstrong, 2012). Kualitas adalah keseluruhan ciri serta sifat
suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk
memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Untuk menentukan
kualitas produk, kualitas produk dapat dimasukkan ke dalam 9 dimensi,
yaitu (Kotler P. , 2011):
- Kinerja (performance)
Dimensi ini menunjukkan tingkat operasi produk atau kegunaan dasar
dari suatu produk. Dalam implementasinya, kinerja diartikan sebagai
persepsi pelanggan terhadap manfaat dasar dari produk yang
dikonsumsinya misalnya kemudahan, dan kenyamanan dalam berbisnis
dan sebagainya. - Keistimewaan tambahan (features)
Yaitu sifat yang menunjang fungsi dasar produk , misalnya kelengkapan
seperti, paket data internet dan sebagainya. - Keandalan (reliability)
Yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai.
Dalam implementasinya, keandalan diartikan sebagai persepsi pelanggan
terhadap keandalan produk yang dinyatakan dengan waktu garansi atau
jaminan produk tidak rusak sebelum masa kadaluwarsa ditetapkan
misalnya ruko yang tidak sering bocor/kerusakan yang lainnya. - Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications)
Yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-
standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya, standar keamanan
terpenuhi, seperti ukuran sumuran pondasi untuk ruko tentunya harus
lebih besar dari pada sumuran pondasi rumah. - Daya tahan (durability)
Ketahanan mencerminkan suatu ukuran usia operasi produk yang
diharapkan dalam kondisi normal. Dimensi ini mencakup umur teknis
maupun umur ekonomis penggunaan ruko, struktur pembesian ruko yang
kuat. - Estetika (asthethic)
Keindahan menunjukkan bagaimana penampilan atau daya tarik produk
terhadap pembeli. Misalnya bentuk fisik ruko yang menarik, model atau
desain yang artistic, warna, dan sebagainya. - Bentuk (Form)
Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan
bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk. - Ciri-ciri produk (Features)
Karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah
fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan
pengembangannya. - Gaya (Style)
Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap produk.
Brand Image (Citra Merek)
Berikut ini adalah berberapa pengertian citra merek dari beberapa
sumber :
- Citra merek adalah seperangkat keyakinan konsumen mengenai merek
tertentu (Kotler A. , 2011) - “Brand image can be defined as a perception about brand as reflected by
the brand association held in consumer memory”. Citra merek adalah
persepsi tentang merek yang digambarkan oleh asosiasi merek yang ada
dalam ingatan konsumen (Kotler P. d., 2016).
Berdasarkan pengertian citra merek di atas, dapat disimpulkan bahwa
citra merek merupakan kumpulan kesan yang ada di benak konsumen tentang
suatu merek yang dirangkai dari ingatan-ingatan konsumen terhadap merek
tersebut.
Produk dengan brand image yang baik akan membantu perusahaan
dalam mempromosikan produk sehingga menjadi kekuatan perusahaan
dalam persaingan bisnis. Hubungan brand image terhadap keputusan
pembelian konsumen, merek kerap muncul sebagai kriteria determinan,
berfungsi sebagai indikator pengganti dari mutu produk dan kepentingannya
tampak bervariasi dengan kemudahan dimana kualitas dapat dinilai secara
obyektif. Jika sulit untuk menilai kualitas, konsumen kadang akan merasakan
tingkat resiko yang tinggi dalam pembelian, jadi kepercayaan pada merek
terkenal dengan reputasi kualitas yang sudah lama dapat menjadi cara efektif
mengurangi resiko. (Wijaya E. A., 2014)
Ada tiga bagian yang terdapat dalam pengukuran citra merek.
Bagian pertama adalah atribut. Atribut adalah ciri-ciri atau berbagai aspek
dari merek yang diiklankan. Atribut juga dibagi menjadi dua bagian yaitu hal-
hal yang tidak berhubungan dengan produk (contoh: harga, kemasan,
pemakai, dan citra penggunaan), dan hal-hal yang berhubungan dengan
produk (contoh: warna, ukuran, desain). Kemudian bagian kedua pengukuran
citra merek menurut Shimp adalah manfaat. Manfaat dibagi menjadi tiga
bagian yaitu fungsional, simbolis, dan pengalaman (A. Shimp, 2014) - Fungsional, yaitu manfaat yang berusaha menyediakan solusi bagi
masalah- masalah konsumsi atau potensi permasalahan yang dapat
dialami oleh konsumen, dengan mengasumsikan bahwa suatu merek
memiliki manfaat spesifik yang dapat memecahkan masalah tersebut. - Simbolis, yaitu diarahkan pada keinginan konsumen dalam upaya
memperbaiki diri, dihargai sebagai anggota suatu kelompok, afiliasi, dan
rasa memiliki. - Pengalaman, yaitu konsumen merupakan representasi dari keinginan
mereka akan produk yang dapat memberikan rasa senang,
keanekaragaman, dan stimulasi kognitif. Terakhir, bagian ketiga dari
pengukuran citra merek menurut Shimp adalah evaluasi keseluruhan,
yaitu nilai atau kepentingan subjektif dimana pelanggan
menambahkannya pada hasil konsumsi.
Ada 3 faktor yang dapat membentuk citra merek yaitu (Kotler P. d.,
2016): - Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association)
Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan
konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian
dari brand image - Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association)
Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses
terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, dimana konsumen
dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen. - Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association)
Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan
bagi konsumen untuk memilih merek tertentu. Keunikan asosiasi merek
dapat berdasarkan atribut produk, fungsi produk atau citra yang
dinikmati konsumen
Indikator Keputusan Pembelian
Terdapat tiga indikator dalam menentukan keputusan pembelian yang diambil
dari (Kotler 2018: 70), yaitu :
- Kemantapan pada sebuah produk
Dalam melakukan pembelian, konsumen memilih salah satu dari beberapa
alternatif yang ada. Pilihan tersebut didasarkan pada kualitas, mutu, harga, dan
faktor-faktor lain yang dapat memantapkan keinginan konsumen untuk
membeli produk apakah produk tersebut benar-benar ingin digunakan atau
dibutuhkan. - Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan konsumen dalam membeli produk juga berpengaruh terhadap
keputusan pembelian. Konsumen merasa produk tersebut sudah terlalu melekat
dibenak konsumen karena mereka sudah merasakan manfaat dari produk
tersebut. Oleh karena itu, konsumen merasa tidak nyaman jika mencoba produk
baru dan harus menyesuaikan diri lagi dan akhirnya konsumenpun cenderung
memilih produk yang sudah biasa digunakan atau dikonsumsi. - Memberikan rekomendasi
Dalam melakukan pembelian, jika konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai
dengan sebuah produk, maka mereka pasti akan merekomendasikan produk
tersebut dengan orang lain. Mereka ingin orang lain juga merasakan bahwa
produk tersebut sangat bagus dan lebih baik dari produk lain.
Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut (Kotler & Amstrong, 2017 : 180) keputusan pembelian adalah
keputusan pembeli tentang merek mana yang dibeli. Proses pengambilan keputusan
yang rumit sering melibatkan beberapa keputusan. Keputusan ini melibatkan
pilihan antara dua atau lebih alternatif. Keputusan pembelian konsumen merupakan
tahap dimana konsumen juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk
yang paling disukai, dimana keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda,
atau menghindar sangat dipengaruhi resiko yang dirasakan.
Kemudian menurut Suharno (2010:96) dalam (Fatih Imantoro, 2018)
menyatakan keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah menemukan
pilihannya dan melakukan pembelian produk, serta mengkonsumsinya. Hal ini
berkaitan dalam usahanya memenuhi kebutuhan dengan tahap yang dilibatkan
dalam mengevaluasi, memperoleh dan menggunakan produk. Terdapat empat
faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, yaitu
sebagai berikut :
1) Faktor Budaya
Faktor budaya seseorang mempengaruhi perilaku mereka dalam mencari,
menyelesaikan dan mengkonsumsi suatu produk secara mendalam dan
konsisten.
2) Faktor Sosial
Merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yang terbentuk dan
berasal dari lingkungan sekitar. Aktivitas sosialisasi seorang dengan orang-
orang disekelilingnya sehari-hari akan membentuk pola perilaku yang khas
pada masyarakat.
3) Faktor Pribadi
Faktor pribadi yang mempengaruhi perilaku pembelian adalah usia dan tahap
siklus hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup dan personalitas.
4) Faktor Psikologis
Faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri seseorang dan menentukan
bagaimana mereka memilih dan mengkonsumsi produk. Pemasar perlu
memahami faktor psikologis yang terdiri dari motivasi, persepsi, pembelajaran,
keyakinan dan sikap.
Selanjutnya proses keputusan pembelian menurut Kotler dan Keller dalam
(Nurdiansyah, 2017 : 20) memiliki lima tahapan yaitu sebagai berikut :
- Pengenalan Masalah
Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau kebutuhan.
Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal (kebutuhan
umum seseorang) atau eksternal (rangsangan pihak luar, misalnya iklan). - Pencarian Informasi
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan mulai terdorong untuk mencari
informasi yang lebih banyak. Konsumen dalam tahap ini dapat dibagi menjadi
dua level. Pertama, penguatan perhatian. Level ini menunjukan situasi
pencarian bersifat lebuh ringan, hanya sekedar lebih peka pada informasi
produk. Kedua, aktif mencari informasi. Konsumen akan lebih aktif untuk
mencari informasi melalui bahan bacaan, menelpon teman maupun
mengunjungi toko untuk mempelajari suatu produk. - Evaluasi Alternatif
Tidak ada proses evaluasi tunggal sederhana yang digunakan oleh semua
konsumen atau satu konsumen dalam semua situasi pembelian. Beberapa
konsep dasar akan dapat membantu pemahaman terhadap proses evaluasi
konsumen. Pertama, konsumen berusaha memenuhi kebutuhan. Kedua,
konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk. Ketiga, konsumen
masing-masing produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang
berbeda dalam memberikan manfaat untuk memuaskan kebutuhan. - Keputusan Pembelian
Saat melaksanakan maksud pembelian, konsumen dapat mengambil lima sub-
keputusan yaitu merek, dealer, kuantitas, waktu dan metode. Melakukan
pembelian produk sehari-hari, keputusan yang diambil lebih kecil. Beberapa
kasus menunjukan konsumen konsumen bisa mengambil keputusan untuk tidak
secara formal mengevaluasi setiap merek. - Perilaku Pasca Pembelian
Setelah melakukan pembelian, konsumen mungkin mengalami konflik
dikarenakan melihat fitur mengkhawatirkan tertentu atau mendengar hal-hal
menyenangkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang akan
mendukung keputusannya
Indikator Kualitas Produk
Menurut (Gito Sudarma : 2018) mengungkapkan indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur kualitas produk yaitu :
- Berbagai macam variasi produk
Merupakan kumpulan seluruh produk yang ditawarkan penjual kepada
konsumen dan memiliki beraneka ragam yang didasari pada ukuran, harga,
penampilan atau ciri-ciri lain sebagai unsur-unsur pembedanya. - Daya tahan produk
Yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan
sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian
konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya produk. - Kualitas produk sesuai dengan spesifikasi dari konsumen
Menjaga produk yang dihasilkan bisa memenuhi standar yang sudah ditetapkan
sehingga konsumen tidak akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang
dikonsumsi. Pengalaman konsumen dalam membeli produk yang baik atau
buruk akan mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian kembali
atau tidak, oleh karena itu perusahaan harus mampu menciptakan produk yang
sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen. - Tampilan kemasan produk (estetika)
Perancangan dan perencanaan suatu benda agar memliki nilai lebih dalam
berbagai aspeknya seperti fungsi yang lebih efektif, tampilan kemasan produk
yang indah dan bagus akan menarik konsumen untuk menggunakan atau
membeli produk tersebut. - Kualitas produk terbaik dibandingkan dengan merek lain
Konsumen akan beranggapan bahwa produk dengan merek yang terkenal
dipasaran lebih bagus dan berkualitas dibandingkan dengan produk dengan
merek yang kurang populer dipasaran.
Pengertian Kualitas Produk
Menurut ( Wijaya, 2018 : 32) kualitas produk dapat dijelaskan dan
dikomunasikan menurut harapan pelanggannya yang dimana semua periklanan,
penjualan, promosi dan layanan pelanggan tidak banyak membantu dari kualitas
produk yang buruk, untuk menghindarkan hal tersebut maka perusahan bekerja
setiap hari untuk memeriksa setiap produk yang dipesan untuk menjamin dan
meyakinkan bahwa tidak akan terjadi masalah pada kualitas produk yang dapat
menentukan nama baik dari perusahaan.
Adapun menurut Garvin dalam (Laksana, 2019) menemukan 8 dimensi kualitas
produk yang terdiri dari :
- Performance (performansi) berkaitan dengan aspek fungsional dari produk itu
dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika
ingin membeli suatu produk, yaitu faster (lebih cepat) berkaitan dengan dimensi
waktu yang menggambarkan kecepatan dan kemudahan atau bagaimana untuk
memperoleh produk ini, dan aspek cheaper (lebih mudah) berkaitan dengan
dimensi biaya yang menggambarkan harga atau ongkos dari suatu produk yang
harus dibayarkan oleh pelanggan. - Feature (keistimewaan tambahan) merupakan aspek kedua dari performansi
yang menambah fungsi dari dasar berkaitan dengan pilihan-pilihan dan
pengembangannya. - Reliability (kehandalan) berkaitan dengan tingkat probabilitas atau periode
waktu tertentu, dengan demikian kehandalan merupakan karakteristik yang
mereflesikan kemungkinan atau probabilitas tingkat kebersihan dalam
penggunaan produk ini. - Conformance (konformansi) berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk
terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan
pelanggan, konformasi merefleksikan derajat dimana karakteristik desain
produk dan karakteristik operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan, serta
sering didefinisikan sebagai konformasi terhadap kebutuhan (conformance to
requierements). - Durability (daya tahan) merupakan ukuran masa pakai suatu produk,
karakteristik ini berkaitan dengan daya tahan produk itu. - Service Ability (kemampuan pelayanan) merupakan karakteristik yang
berkaitan dengan kecepatan, keramahan/kesopanan, kompetensi, kemudahan
serta akurasi dalam perbaikan. - Aesthetics (estetika) merupakan karakteristik yang bersifat subyektif sehingga
berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan referensi atau pilihan individual.
Dengan demikian estetika dari suatu produk lebih banyak berkaitan dengan
perasaan pribadi dan mencakup karakteristik tertentu. - Perceived Quality (kualitas yang dirasakan) bersifat subyektif berkaitan dengan
perasaan pelanggan dalam menggkonsumsi produk
Indikator Brand Image
Menurut Kotler dan Keller (2017) bahwa dalam brand image terdiri atas tiga
indikator yang meliputi sebagai berikut :
- Attributes (Atribut), merupakan pendefisian deskriptif tentang fitur-fitur yang
ada dalam sebuah produk. Terdapat dua macam atribut yaitu,
a) Product related attributes (atribut produk), didefinisikan sebagai bahan-
bahan yang diperlukan agar fungsi produk yang dicari konsumen dapat
bekerja. Berhubungan dengan komposisi fisik atau persyaratan dari suatu
jasa yang ditawarkan dapat berfungsi.
b) Non-product related attributes (atribut non-produk), merupakan aspek
eksternal dari suatu produk yang berhubungan dengan pembelian dan
konsumsi suatu produk. Terdiri dari informasi tentang herga, kemasan dan
desain produk, orang, per group atau selebriti yang menggunakan produk
tersebut, bagaimana dan dimana produk tersebut digunakan. - Benefits (Keuntungan), nilai personal yang dikaitkan oleh konsumen pada
atribut-atribut sebuah produk, ada tiga jenis benefits :
a) Functional benefits : berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar
seperti kebutuhan fisik atau pemecahan masalah yang dibutuhkan oleh
konsumen.
b) Experiental benefits: berhubungan dengan perasaan yang muncul dengan
menggunakan suatu produk. Benefit ini memuaskan kebutuhan
bereksperimen seperti kepuasan sensori atau bisa disebut juga produk
dapat diterima oleh konsumen bisa dari aspek gizi ataupun fungsional
produk.
c) Symbolic benefits : berhubungan dengan kebutuhan akan persetujuan
sosial atau ekspresi personal dan self-esteem (harga diri) seseorang.
Konsumen akan menghargai nilai-nilai prestise, eksklusivitas dari sebuah
merek karena hal-hal ini berhubungan dengan konsep diri mereka. - Brand Attitude (Sikap Merek), didefinisikan sebagai evaluasi keseluruhan atas
satu merek, apa yang dipercayai oleh konsumen mengenai merek-merek
tertentu sejauh apa konsumen percaya bahwa produk tersebut memiliki atribut
atau keuntungan tertentu, dan penilaian evaluatif terhadap kepercayaan tersebut
bagaimana baik atau buruknya suatu produk jika memiliki atribut atau
keuntungan tersebut.
Pengertian Brand Image
Menurut Keller dalam (Widyastuti & Said, 2017) brand image adalah
persepsi seorang konsumen terhadap suatu merek yang juga merupakan cerminan
ingatan yang dapat digambarkan dan berhubungan dengan merek.
Kemudian menurut (Khuong & Tran, 2018) brand image adalah sebuah situasi
dimana konsumen berpikir dan merasa sebuah atribut dari sebuah merek sehingga
konsumen dapat dengan baik merangsang niat pembelian konsumen dan
meningkatkan nilai merek.
Selain itu menurut (Suhaily & Darmoyo, 2017) hubungan antara brand image
terhadap keputusan pembelian adalah situasi dimana brand dapat mempengaruhi
perilaku seorang konsumen terhadap suatu produk dalam keputusan pembelian
sehingga semakin baik brand image dan semakin besar peluang terhadap keputusan
pembelian.
Indikator Brand Awareness
Setiap kegiatan pemasaran selalu berupaya untuk memperoleh tingkat
kesadaran merek yang lebih tinggi sebagai top of mind. Jika suatu merek tidak
berada dalam benak konsumen, merek tersebut tidak dipertimbangkan di benak
konsumen. Biasanya merek-merek yang disimpan dalam ingatan konsumen adalah
merek yang disukai atau merek yang dibenci oleh konsumen (Durianto dalam sari
dkk, 2017: 205)
Menurut Keller (dalam Winadi, 2017: 3), ada empat indikator yang dapat
digunakan untuk mengetahui seberapa jauh konsumen aware terhadap sebuah
brand, yaitu :
- Recall, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya merek
apa saja yang diingatnya. Nama merek yang sederhana, mudah diingat, mudah
diucapkan, dan memiliki arti yang jelas membuat suatu merek mudah muncul
dalam ingatan konsumen. - Recognition, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut
termasuk kedalam kategori produk tertentu. - Purchase, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut
termasuk pilihan ketika akan membeli sebuah produk. - Consumption, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali suatu merek
ketika sedang menggunakan merek pesaing
Pengertian Brand Awareness
Menurut Durianto, dkk ( 2017 : 54 ) Brand awareness adalah kesanggupan
seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali suatu merek
sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu. Konsumen lebih cenderung
menyukai atau membeli merek yang sudah dikenal karena konsumen merasa aman
dengan sesuatu yang dikenal. Kebanyakan konsumen berasumsi bahwa sebuah
merek yang sudah dikenal mempunyai kemungkinan bisa diandalkan, kemantapan
dalam bisnis, dan kualitas yang bisa dipertanggung jawabkan.
Kemudian menurut Husnawati (2017) Brand awareness merupakan salah
satu dimensi dasar dari ekuitas suatu merek yang sering dianggap sebagai salah satu
persyaratan dari keputusan pembelian seorang konsumen, karena merupakan faktor
penting dalam pertimbangan suatu merek. Faktor kesadaran penting dalam konteks
dimana merek selalu diutamakan dalam suatu rangkaian pertimbangan dalam
keputusan pembelian.
Selain itu menurut (Tariq et al., 2017) hubungan antara brand awareness
terhadap keputusan pembelian adalah suatu gambaran yang dimiliki konsumen
untuk mengenali merek dalam kategori produk dan dapat mempengaruhi konsumen
untuk dapat membuat keputusan pembelian.
Dalam sebuah perusahaan pasti menginginkan agar merek dari produk
tersebut dapat dikenal dan diterima oleh konsumen, dan bukan berarti perusahaan
yang sudah menjalankan bisnisnya sejak lama dapat tenang menghadapi situasi
bisnis yang penuh dengan persaingan dan tantangan. Menurut Aaker (2018 : 105)
brand awareness dapat diraih, dipelihara dan ditingkatkan dengan beberapa cara,
yaitu :
- Menjadi Berbeda dan Dikenang
Suatu pesan kesadaran seharusnya memberikan suatu alasan untuk diperhatikan
dan seharusnya itu bisa dikenang, ada banyak cara yang dapat dilakukan namun
yang paling umum adalah menjadi berbedaan dan istimewa dari kelas produk
tertentu. - Melibatkan Sebuah Slogan atau Jingle
Sebuah slogan atau jingle lagu bisa menimbulkan pengaruh yang besar. Kaitan
pada slogan tersebut bisa menjadi lebih kuat apabila karakteristik produk
divisualkan dan sebuah jingle lagu bisa menjadi alat yang jitu dalam
menciptakan kesadaran. - Penampakan Simbol
Jika sebuah simbol telah terbentuk atau bisa dikembangkan yang berkaitan erat
dengan sebuah merek, maka simbol itu akan memainkan peran yang besar
dalam menciptakan dan memelihara kesadaran. Sebuah simbol mengandung
pencitraan visual yang jauh lebih mudah diketahui dan diingat kembali dari
pada sebuah kata atau frase. - Publisitas
Periklanan sangat cocok dalam meningkatkan kesadaran karena periklanan
memungkinkan pesan dan audiens mengalami kedekatan. Pada umumnya iklan
merupakan suatu cara efisien untuk memberikan penampakan. - Sponsor Kegiatan
Peran utama dari sebagian besar sponsor kegiatan adalah menciptakan atau
memelihara kesadaran. Oleh karena itu seseorang dapat mengenali suatu merek
secara langsung di televisi, dan dari orang lain yang melihat langsung dari suatu
kegiatan. - Pertimbangan Perluasan Merek
Salah satu cara untuk mendapatkan pengingatan kembali merek adalah dengan
meletakkan merek tersebut pada merek lain. - Menggunakan Tanda-Tanda / Isyarat (Cues)
Kampanye atau iklan pada brand awareness kadang bisa membantu dengan
memberi tanda-tanda pada produk tersebut, merek atau keduanya untuk
memberi tanda yang mengarahkan pada suatu kampanye atau iklan.
Pengertian dan Tujuan Brand
Bagi sebuah perusahaan brand merupakan suatu hal yang sangat penting karena
dengan adanya brand sebuah perusahaan memiliki identitas atau ciri khas yang
dapat dikenali pelanggan sehingga dapat bertahan dibenak konsumen pada produk
yang dijual oleh perusahaan. Menurut Aaker (2018 : 9) Brand adalah nama dan
simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap, atau kemasan) dengan
maksud mengidentifikasi barang dari seorang penjual atau sebuah kelompok
penjual tertentu, dengan demikian dapat lebih mudah membedakan barang yang
dihasilkan oleh para kompetitor.
Brand bertujuan sebagai identitas yang bermanfaat dalam membedakan produk
suatu perusahaan, selain itu brand juga dapat membuat produk lebih mudah diingat
oleh konsumen sehingga akan meningkatkan nilai jual produk tersebut. Adapun
tujuan dari pemberian brand menurut Firmansyah (2019 : 26) adalah :
1) Membangun kesadaran merek
Setelah perusahaan membangun kesadaran dalam pasar maka kesadaran
akan merek akan menjadi pelindung bagi kelangsungan bisnis tersebut,
hal ini disebabkan karena brand tersebut akan selalu mendapat perhatian
dari pasar dan juga brand tersebut akan selalu dipercaya oleh konsumen.
2) Menciptakan koneksi emosional
Ketika konsumen membeli produk dari perusahaan tersebut berdasarkan
dari perasaan dan hubungan mereka dengan bisnis perusahaan maka telah
menciptakan koneksi emosinal, menciptakan hubungan emosional
merupakan bagian penting dari branding sebuah bisnis.
3) Membedakan produk
Pada saat konsumen telah memahami mengapa produk berbeda dengan
produk yang lain atau bahkan lebih baik maka konsumen akan selalu
memiliki alasan untuk membeli produk yang ditawarkan oleh perusahaan.
4) Menciptakan kredibilitas dan kepercayaan
Dalam strategi branding sangat penting merencanakan dan
mengembangkan kredibilitas dan kepercayaan konsumen. Hal ini dapat
menciptakan pengakuan dari pasar dan konsumen akan mampu
mengenali nama brand dan simbol visual seperti logo, warna, kemasan
atau produk sehingga dapat tertanam dalam benak konsumen
Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
Pemasaran langsung merupakan hubungan langsung
dengan konsumen individual yang ditargetkan secara cermat
untuk memperoleh respon segera dan membangun hubungan
dengan pelanggan yang erat, seperti pengguna langsung,
telepon, internet, televisi, email, dan sarana lain untuk
berkomunikasi secara langsung dengan konsumen.
Pemasar dapat memilih sarana yang dianggap sesuai
untuk mempromosikan jasa yang dipasarkan. Ada beberapa
faktor yang harus diperhatikan dalam promosi (Lupiyoadi &
Hamdani, 2011:79), yaitu:
- Identifikasi terlebih dahulu audiens targetnya: hal ini
berhubungan dengan segmentasi pasar. - Tentukan tujuan promosi: apakan untuk menginformsikan,
mempengaruhi, atau mengingatkan. - Kembangkan pesan yang disampaikan: hal ini berhubungan
dengan isi pesan (apa yang disampaikan), struktur pesan
(bagaimana menyampaikan pesan secara logis), gaya pesan
(ciptakan bahasa yang kuat), sumber pesan (siapa yang
harus menyampaikannya). - Pilih bauran komunikasi: apakah itu komunikasi personal
(personal communication) atau kumunikasi non-personal
(non-personal communication).
Sementara itu Tjiptono, F., (2011:88) menyatakan
bahwa, promosi merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan suatu program pemasaran, karena produk dengan
kualitas baik, bila konsumen belum pernah mendengar dan
tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka, maka
konsumen tidak akan membelinya. Dalam penelitian yang
dilakukan penulis, penulis akan mengambil inidkator antara
lain :
a. Perikalanan (Advertising)
b. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
c. Penjualan Personal (Personal Selling)
d. Hubungan Masyarakat (Public Relation)
e. Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
Pengertian Bauran Promosi (Promotion Mix)
Menurut Kotler, P. dan Keller. (2016:582) bauran promosi
adalah seperangkat alat yang digunakan oleh perusahaan untuk
mengkomunikasikan produknya kepada konsumen. Pengertian
masing-masing bauran promosi adalah sebagai berikut:
a. Periklanan (Advertising)
Periklanan merupakan semua bentuk penyajian
nonpersonal, promosi ide-ide, promosi barang atau jasa yang
dilakukan oleh sponsor yang dibayar. Dengan periklanan yang
baik, menciptakan keperecayaan yang baik pula dari public
terhadap perusahaan yang melakukan kegiatan iklan. Dengan
adanya kegiatan periklanan, para penerima pesan dapat
membandingkan dengan iklan yang lainya atau
membandingkan dengan iklan-iklan yang telah dipasang
pesaing lainnya. Iklan yang besar sendiri menyatakan bahwa
mengenai besar penjualan, popularitas dan keberhasilan
tersebut.
Rendra Widyatama dalam buku yang berjudul
“Pengantar Periklanan,” menyatakan bahwa dari semua istilah
mengenai periklanan pada dasarnya memiliki 6 prinsip yang
sama. Dari keenam prinsip tersebut saya meruntkan tigaunsur
pokok, Suryadi, Didik (2011:62), yaitu:
1) Pesan
Suatu pesan yang akan ditransfer kepada orang
lain. Pesan ini bisa berbentuk verbal maupun non-verbal
tergantung dari media dan teknik pelaksanaan iklannya.
2) Komunikator
Pihak yang menyampaikan pesan dan memiliki
kepentingan tertentu dalam kegiatan penyampaian iklan.
Komunikator iklan merupakan lembaga bisnis, sosial
atau pemerintah, bahkan boleh jadi perorangan.
3) Media
Iklan membutuhkan media tertentu agar proses
transfer gagasannya lebih efektif. Media iklan pada
dasarnya terbagi dua jenis yaitu above the line (media
line atas). Media antara lain televisi, radio, koran,
majalah, film, dan lain-lain. Above the line bersifat
masal dan dalam waktu yang bersamaan iklan dapat
diterima oleh banyak orang. Sedangkan jenis kedua
bellow the line. “Karakteristik medai ini jangkuannya
terbatas secara jumlah dan wilayah, juga tidak serempak.
Tetapi media mampu menjangkau yang tidak dapat
dijangkau oleh above the line. Media ini antar lain
poster, billboard, spanduk, direct mail, dan lain-lain.
b. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong
percobaan atau pembelian produk atau pelayanan termasuk
promosi pelanggan (seperti stampel, kupon, dan premi).
Promosi pendagangan (seperti iklan dan display tunjangan).
Sales promotion adalah promosi jangka pendek yang dilakukan
untuk mendorong atau menarik perhatian masyarakat.
c. Penjualan Personal (Personal Selling)
Personal selling merupakan persentasi pribadi oleh
wiraniaga perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan
membangun hubungan pelanggan.
d. Hubungan Masyarakat (Public Relation)
Suatu dorongan yang sifatnya tidak perorangan
terhadap permintaan akan suatu produk , jasa, ataupun satuan
usaha dengan memnbuat berita yang sifatnya komersil. Hal ini
perusahaan mempublikasikan melalui media elektronik.
Bertujuan untuk merangsang permintaan dari suatu produk
secara non personal yang bersifat komersial mengenai produk
tersebut di media elektronik ataupun hasil wawancara yang
ditampilkan dalam media tersebut
Pengertian Promosi
Kotler, P. dan Keller, J. (2013:272) menyatakan “promosi adalah
aktivitas menyampaikan manfaat produk dan membujuk mambelinya
“. Indikatornya adalah: 1) frekuensi promosi, 2) kualitas promosi, 3)
kuantitas promosi, 4) waktu promosi, 5) ketepatan atau kesesuaian
sasaran promosi.
Menurut Djan Ismulyana dan Fitriyanti (2017:68) promosi adalah
alat komunikasi dan pengiriman informasi yang menginformasikan,
membujuk, memanggil kembali pelanggan, dan mediator. Ini
penelitian mengukur produk promosi variabel dari responden tentang
promosi produk. Upaya perusahaan untuk iklan, diskon, layanan
tenaga penjual yang baik, dan informasi pentingnya produk.
Promosi merupakan salah satu kegiatan pemasaran yang penting
bagi perusahaan dalam upaya mempertahankan kelangsngan hidup
perusahaan serta untuk meningkatkan penjualan, dan untuk
meningkatkan kegiatan pemasaran dalam hal memasarkan barang atau
jasa dari suatu perusahaan. Bilson Simamora, (201:285) “promosi
adalah segala bentuk komunikasi yang digunakan untuk
menginformasikan (to inform), mebujuk (to persuade), atau
mengingatkan orang-orang tentang produk yang dihasilkan organisasi,
inividu, ataupun rumah tangga.”
Selanjutnya Suryadi, Didik (2011:8) “promosi ialah serangkaian
kegiatan untuk mengkomunikasikan, memberi pengetahuan dan
meyakinkan orang tentang suatu produk agar mengakui kehebatan
produk tersebut untuk membeli dan memakai produk tersebut, juga
mengikat pikiran dan perasaannya dalam suatu wujud loyalitas
terhadap produk”. Menurut Kotler dan Armstrong (2014:76),
mendefinisikan “promotion resfers to activities that communicate to
merits of the product and persuade target customers to buy it”.
Definisi tersebut menyatakan bahwa promosi merupakan aktivitas
untuk mengkomunikasikan berbagai keunggulan yang dimiliki suatu
produk, dan mempengruhi target merket untuk membeli produk
tersebut.
Sedangkan menurut Lupiyoadi, Rambat., (2013:93) mendefinisikan
pengertian promosi sebagai berikut:
“Bahwa promosi adalah kegiatan yang dilakukan perushaan untuk
mengkomunikasikan manfaat produk dan berbagai alat untuk
mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pemeblian atau pengunaan
produk sesuai dengan kebutuhan”
Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Meningkatkan kualitas pelayanan merupakan hal yang sangat
penting agar dapat menghadapi persaingan persaingan uang
semakin ketat dan tetap eksis di era globalisasi. Banyak faktor
yang harus dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas
pelayanan karena hal ini akan berdampak baik langsung maupun
tidak langsung terhadap organisasi secara keseluruhan. Menurut
Fandy Tjiptono (2012:88) ada beberapa faktor dominan yang perlu
diperhatikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, diantaranya
adalah:
a. Mengidentifikasikan determinan utama untuk kualitas jasa.
Setiap perusahan jasa berupaya memberikan kualitas jasa
pelayanan yang terbaik kepada para pelanggan, perlu
melakukan riset untuk mengidentifikasikan jasa dominan yang
paling penting bagi pasar sasaran terhadap perusahaan serta
berdasarkan determinan tersebut, sehingga diketahui posisi
relatif perusahaan dimana konsumen dibandingkan dengan
para pesaing agar dapat memfokuskan peningkatan kualitas
pada aspek dominan tersebut.
b. Mengelola harapan konsumen.
Tidak jarang suatu perusahaan berusaha melebih lebihkan
pesan komunikasinya kepada konsumen agar mereka terpikat.
Hal seperti ini dapat menjadi bumerang bagi perusahan karena
besar pula harapan konsumen yang pada giliran peluangnya
akan menambah peluang tidak dapat terpenuhi harapan
konsumen oleh perusahaan.
c. Mengelola bukti kualitas jasa.
Mengeola bukti kualitas jasa bertujuan untuk memperkuat
persepsi konsumen selama dan sesudah diberikan jasa. Oleh
karena jasa merupakan kinerja dan tidak dapat dirasakan
seperti barang, maka konsumen cenderung untuk
memperhatikan faktor-faktor tangible yang berkaitan dengan
jasa sebagai bukti kualitas. Dari sudut pandang perusahaan
jasa, bukti langsung meliputi segala sesuatu yang dipandang
konsumen sabagai indicator seperti apa saja yang diberikan
dan seperti apa saja yang telah diterima.
d. Mendidik konsumen tentang jasa.
Membantu konsumen dalam memahami merupakan upaya
yang sangat positif dalam rangka menyampaikan kualitas jasa.
Konsumen yang terdidik akan dapat mengambil keputusan
lebih baik sehingga kepuasan mereka dapat tercipta lebih
tinggi. Upaya mendidik konsumen ini dapat dilakukan dalam
bentuk melakukan pelayanan sendiri, membantu konsumen
mengunakan suatu jasa, bagaimana menggunakan jasa, dan
menjelaskan kepada konsumen alasan-alasan yang mendasari
kebijaksanaan yang bisa mengecewakan mereka.
e. Mengembangkan budaya kualitas.
Budaya kualitas merupakan system nilai organisasi yang
menghasilkan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan
dan penyempurnaan kualits secara terus-menerus. Budaya
kualitas berdiri dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, nilai
tradisi, prosedur, dan harapan yang meningkatkan kualitas.
Agar dapat menciptakan budaya kualitas yang baik maka
dibutuhkan menyeluruh pada seluruh orangisasi.
f. Menciptakan automating quality.
Adanya. Namun sebelum memutuskan melakukan
otomatisasi perushaan perlu melakukan penelitan secara
sesakma untuk menentukan bagaian yang dibutuhkan sentuhan
manusia dan bagian yang memerlukan otomatisasi.
g. Menindak lanjuti jasa
Menindak lanjuti jasa dapat membantu memisahkan aspek-
aspek jasa yang perlu ditingkatkan. Perushaan perlu
mengambil inisiatif untk menghubungi sebagian atau semua
konsumen untuk mengetahui keinginan dan persepsi mereka
terhadap jasa yang diberikan. Perusahan dapat pula
memberikan kemudahan bagi para konsumen untuk
berkomunikasi baik menyangkut kebutuhan maupun keluhan
mereka.
h. Mengembangkan system informasi kualitas jasa.
System informasi kulitas jasa merupakan suatu system yang
menggunakan berbagai macam pendekatan secara sistematis
untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi kualitas
jasa guna mendukung pengambilan keputusan. Informasi yang
dibutuhkan mencakup segala aspek, yaitu data saat ini dan
masa lalu, kuantatif internal dan eksternal, serta informasi
mengenai perushaan dan konsumen
Faktor-Faktor Penyebab Buruknya Kualitas
Menurut Tjiptono, F., (2012:85) ada beberapa faktornya yang
dapat menyebabkan kualitas suatu jasa menjadi buruk, diantarnya
adalah sebagai berikut:
a. Produk dan konsumsi yang terjadi secara simultan
Salah satu karakteristik jasa yang paling penting adalah jasa
diproduksi dan dikonsumsi pada saat yang bersamaan sehingga
dalam memberikan jasa dibutuhkan kehadiran partisipasi
pelanggan atau konsumen. Akibatnya timbul masalah-masalah
sehubungan dengan adanya interaksi antara produsen dan
konsumen jasa yang disebabkan karena tidak terampil dalam
melayani pelanggan , penampilan yang tidak sopan, kurang
ramah, cemberut, dan lain-lain.
b. Intesitas tenaga kerja yang tinggi
Keterlibatan tenaga kerja yang intensif dalam penyampaian
jasa dapat menimbulkan masalah dalam kualitas, yaitu tingkat
variabilitas yang tinggi disebabkan oleh tingkat upah dan
pendidikan karyawan yang masih relative rendah, kurang
perhatian dan tingat kemahiran karyawan yang tinggi.
c. Dukungan terhadap konsumen internal yang kurang memadai
Karyawan yang berada digaris depan merupakan ujung
tombak dari system pemberian jasa. Supaya mereka dapat
memberikan jasa yang efektif maka mereka perlu mendapatkan
pemberdayaan dan dukungan dari fungsi-fungsi utama
menejemen sehingga nantinya mereka dapat mengendalikan dan
menguasai cara melakukan pekerjaan, sadar dan konteks dimana
pekerjaan dilaksanakan, bertanggung jawab atau output kinerja
pribadi, bertangung jawab bersama atas kinerja unit dan
organisasi, keadilan dalam distribusi balas jasa berdasarkan
kinerja dan kinerja kolektif.
d. Kesenjangan komunikasi
Komunikasi merupakan faktor yang esensial dalam kontrak
dengan karyawan. Jika terjadi gap dalam komunikasi, maka
akan timbul penilaian dan persepsi yang negativ terhadap
kualitas pelayanan. Kesenjangan komunikasi dalam pelayanan
meliputi: memberikan janji yang berlebihan sehingga tidak
dapat memenuhinya, kurang menyajikan informasi yang baru
kepada pelanggan, pesan kurang dipahami pelanggan, dan
kurang tanggapnya perusahaan terhadap keluhan pelanggan.
e. Memperlakukan konsumen dengan cara yang sama
Para konsumen adalah manusia yang bersifat unik karena
mereka memiliki perasaan dan emosi. Dalam hal melakukan
interaksi dengan pemberi jasa tidak semua konsumen bersedia
menerima layanan jasa yang seragam. Sering terjadi konsumen
menurut jasa yang bersifat personal dan berada dengan
konsumen yang lainnya, sehingga hal lain ini merupakan
tantangan bagi perusahaan agar dapat memahami kebutuhan
konsumen secara khusus.
f. Perluasan dan pengembangan pelayanan secara berlebihan
Memperkenalkan jasa untuk memperkaya jasa yang telah
ada agar dapat menghindari adanya pelayanan yang buruk dan
meningkatkan peluang pemasaran, kadang-kadang menimbulkan
masalah disekitar kualitas jasa dn hasil yang diperoleh tidak
optimal.
g. Visi bisnis jangka pendek
Visi bisnis dalam jangka pendek dapat merusak kualitas
jasa yang sedang dibentuk dalam jangka panjang. Misal
kebijakan suatu bank untuk menekan biaya dengan mengurangi
jumlah teller yang menyebabkan semakin panjang antrian di
bank tersebut.
STRUKTUR KEPUTUSAN PEMBELIAN
Kepentingan untuk membeli yang diambil oleh pembeli itu sebenarnya
merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan-keputusan. Menurut Swastha
(2010:102), setiap keputusan membeli merupakan suatu struktur sebanyak tujuh
komponen yaitu:
a. Keputusan tentang jenis produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli atau menggunakan uangnya
untuk membeli suatu barang atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal
ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat
membeli produk serta instrumentvlain yang mereka pertimbangkan.
b. Keputusan tentang bentuk produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli suatu produk dengan bentuk
tertentu. Keputusan tersebut menyangkut pola, ukuran, mutu, suara, corak, dan lain-
lain.
c. Keputusan tentang merek
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang merek mana yang akan diambil. Dalam
hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
d. Keputusan tentang penjualan
Konsumen mengambil keputusan dimana produk tersebut akan dibeli, apakah di serba
ada, elektronik, khusus dan lain-lain. Oleh karena itu pemasar harus mengetahui
bagaimana konsumen memilih penjual tertentu.
e. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya
pada suatu saat.
f. Keputusan waktu pembelian
Konsumen mengambil keputusan tentang kapan ia harus melakukan pembelian.
Keputusan tersebut menyangkut tentang ketersediaan dana (kapan uang/kesempatan
tersedia) untuk membeli produk yang akan dipilihnya.
g. Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen harus dapat mengambil keputusan tentang metode atau cara pembayaran
produk yang akan dibeli, apa secara tunai atau cicilan.
Tipe Pengambilan Keputusan Konsumen
Konsumen dibagi menjadi beberapa tipe dalam pemecahan masalah ketika melakukan
pengambilan keputusan. Hal tersebut dijelaskan oleh Schiffman dan Kanuk dalam buku
Ujang Sumarwan (2011:360) menyebutkan tiga tipe pengambilan keputusan konsumen
:
- Pemecahan masalah yang diperluas
Ketika konsumen tidak memiliki kriteria untuk mengevaluasi sebuah kategori
produk atau merek tertentu pada kategori tersebut, atau tidak membatasi jumlah mereka
yang dipertimbangkan ke dalam jumlah yang mudah dievaluasi, maka pengambilan
keputusannya bisa disebut sebagai pemecahan masalah yang diperluas. - Pemecahan masalah terbatas
Pada tipe keputusan ini, konsumen telah memiliki kriteria dasar untuk
mengevaluasi kategori produk dan berbagai merek pada kategori tersebut. Namun,
konsumen belum memiliki preferensi tentang merek tertentu. Konsumen hanya
membutuhkan tambahan informasi untuk bisa membedakan antara berbagai merek
tersebut. - Pemecahan masalah rutin
Konsumen telah memiliki pengalaman terhadap produk yang akan dibelinya. Ia
juga telah memiliki standar untuk mengevaluasi merek. Konsumen sering kali hanya
me-review apa yang telah diketahuinya. Konsumen hanya membutuhkan informasi
yang sedikit
Model dan Pengambilan Keputusan
Setiap individu pasti memiliki cara pandang yang berbeda-beda, cara pandang
tersebut mempengaruhi konsumen dalam pengambilan keputusan. Menurut Schiffman
dan Kanuk dalam buku Ujang Sumarwan (2011:358) menjelaskan terdapat empat
model konsumen yang mempunyai cara pandang berbeda dalam pengambilan
keputusan, yaitu:
- Manusia Ekonomi
Manusia dipandang sebagai individu yang melakukan keputusan secara rasional.
Manusia ekonomi berusaha mengambil keputusan yang memberikan kepuasan
maksimum. Keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ekonomi, seperti
harga, jumlah barang, utilitas marjinal, dan kurva indifferen. - Manusia Pasif
Model ini menggambarkan manusia sebagai individu yang mementingkan diri
sendiri dan menerima berbagai macam promosi yang ditawarkan pemasar. - Manusia Kognitif
Model manusia kognitif menggambarkan konsumen sebagai individu yang berfikir
untuk memecahkan masalah (a thinking problem solver). - Manusia Emosional
Model ini menggambarkan konsumen sebagai individu yang memiliki perasaan
mendalam dan emosi yang memperngaruhi pembelian atau pemilikan barang-barang
tertentu
Faktor – Faktor yang Mempengharui Keputusan Pembelian Konsumen
Keputusan pembelian dari konsumen sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor penting.
Faktor-faktor ini sangat penting untuk diketahui bagi pemasar agar dapat menentukan
strategi yang akan diterapkan. Seperti yang telah dikemukakan oleh Kotler & Keller
(2009:166-172) bahwa perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor
budaya, sosial, pribadi dan psikologis. Masing-masing dari faktor-faktor tersebut
memiliki subfaktor yang menjadi elemen pembentuknya. Faktor-faktor budaya
mempunyai pengaruh yang paling luas dan paling dalam. Faktor-faktor tersebut adalah
:
a. Faktor Budaya
Faktor budaya memiliki pengaruh yang sangat luas dan mendalam terhadap perilaku
konsumen, mencakup budaya, sub budaya, dan kelas sosial konsumen. Budaya adalah
suatu nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan tingkah laku dari keluarga dan institusi
lainnya. Setiap perilaku konsumen dipengaruhi oleh berbagai sistem nilai dan norma
budaya yang berlaku pada suatu daerah tertentu, untuk itu perusahaan harus tahu
produknya itu dipasarkan pada suatu daerah yang berkebudayaan seperti apa dan
bagaimana (kondisional).
Sub-budaya adalah kelompok orang yang mempunyai sistem nilai yang sama
berdasarkan pada pengalaman hidup dan situasi. Sub budaya meliputi nasionalis,
agama, kelompok ras dan wilayah geografis. Bagian pemasaran harus merancang
produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka
(konsumen).
Kelas sosial adalah divisi atau bagian-bagian masyarakat yang relatif permanen dan
teratur dengan para anggotanya yang mengikuti nilai-nilai, kepentingan dan perilaku
yang sama. Kelas sosial tidak ditentukan oleh satu faktor saja, misalnya pendapatan,
tetapi ditentukan sebagai suatu kombinasi pekerjaan, pendapatan, pendidikan dan
kekayaan.
c. Faktor Sosial
Selain faktor-faktor budaya, perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial konsumen.
Kelompok acuan adalah kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak
langsung terhadap sikap atau tingkah laku seseorang. Seperti teman, saudara, tetangga
dan rekan kerja. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting
dalam masyarakat dan anggota keluarga sangat mempengaruhi perilaku pembelian.
Sedangkan peran status seseorang yang berpartisipasi diberbagai kelompok akan
membawa pada posisi tertentu. Setiap peran membawa status yang mencerminkan
penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.
Seseorang sering kali memilih produk yang menunjukkan status mereka dalam
masyarakat. Pemasar menyadari potensi simbol status dari produk dan
merek.Kelompok adalah Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok
(group). Kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai
sasaran individu maupun bersama. Pentingnya pengaruh kelompok, bervariasi untuk
setiap produk dan merknya. Pembelian produk yang dibeli dan digunakan secara
pribadi tidak banyak dipengaruhi oleh kelompok karena baik produk maupun merknya
tidak akan dikenali oleh orang lain
Anggota keluarga dapat sangat memengaruhi perilaku pembeli. Keluarga adalah
organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Orang
pemasaran tertarik pada peran dan pengaruh seorang suami, istri, maupun anak- anak
dalam pembelian produk dan jasa yang berbeda. Posisi seseorang dalam setiap
kelompok dapat ditetapkan baik lewat peranya maupun statusnya dalam organisasi
tersebut. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang
diberikan oleh masyarakat. Seseorang seringkali memilih produk yang menunjukkan
status mereka dalam masyarakat.
c. Faktor pribadi
Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti usia
dan tahap siklus hidup, pekerjaaan, keadaan ekonomi dan gaya hidup, serta kepribadian
dan konsep diri pembeli. Usia berhubungan erat dengan perilaku dan selera seseorang,
dengan bertambahnya usia seseorang diikuti pula dengan berubahnya selera terhadap
produk begitu juga dengan faktor pekerjaan dan keadaan ekonomi. Pilihan produk
sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi seseorang.
Bila indikator ekonomi menunjukkan resesi, pemasar dapat mengambil langkah-
langkah untuk merancang ulang, memposisikan kembali dan mengubah harga produk.
Gaya hidup adalah pola hidup seesorang di dunia yang diwujudkan dalam aktivitas,
interes dan opininya yang menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam
berinteraksi dengan lingkunganya.
Sedangkan kepribadian adalah karakteristik psikologis seseorang yang berbeda
dengan orang lain yang menyebabkan respons yang relatif konsisten dan bertahan lama
terhadap lingkungan disekitarnya.Usia sangat memengaruhi perilaku konsumen. Orang
dewasa akan mempunyai perilaku yang berbeda dengan anak- anak atau bahkan
remaja, karena kebutuhan yang mereka perlukan pun berbeda sesuai dengan tingkat
usianya.
Pekerjaan seseorang memengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Sebuah
perusahaan dapat berspesialisasi menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan satu
kelompok pekerjaan tertentu. Situasi ekonomi seseorang akan memengaruhi pilihan
produknya. Seorang pemasar harus peka mengamati tren pendapatan, tabungan pribadi,
dan tingkat bunga. Jika indikator-indikator ekonomi menunjukkan datangnya resesi,
orang pemasaran dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang,
mereposisi, dan menetapkan kembali harga produk mereka dengan cepat.
Gaya Hidup Orang- orang yang berasal dari sub kebudayaan, kelas sosial, dan
pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang cukup berbeda. Gaya hidup
adalah pola kehidupan seseorang seperti yang diperlihatkannya dalam kegiatan, minat,
dan pendapatpendapatnya. Kepribadian tiap orang yang berbeda memengaruhi perilaku
membelinya. Kepribadian adalah karakteristik psikologis unik seseorang yang
menghasilkan tanggapan- tanggapan yang relatif konsisten dan menetap terhadap
lingkungannya. Kepribadian bisa berguna untuk menganalisis perilaku konsumen atas
suatu produk maupun pilihan merk.
d. Faktor Psikologis
Faktor psikologis yang mempengaruhi pilihan pembelian terdiri dari empat faktor,
yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan sikap. Motivasi adalah kebutuhan
yang cukup mendorong seseorang untuk bertindak, dengan memuaskan kebutuhan
tersebut ketegangan akan berkurang, sedangkan persepsi adalah proses yang digunakan
seseorang dalam memilih, mengatur dan menginterpretasikan masukan informasi
untuk menciptakan gambaran yang berarti. Seseorang yang termotivasi siap untuk
bertindak, bagaimana seseorang termotivasi bertindak akan dipengaruhi oleh
persepsinya terhadap situasi tertentu.
Dalam perilaku konsumen yang dipengaruhi faktor budaya, sosial, pribadi dan
psikologis dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pembelian suatu produk khususnya
dalam pengambilan keputusan. Para pembeli dipengaruhi oleh empat faktor tersebut,
meskipun pengaruhnya pada setiap konsumen berbeda-beda. Faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan konsumen ini akan dapat menghasilkan petunjuk bagaimana
meraih dan melayani konsumen secara lebih efektif dan efisien. Motivasi adalah suatu
kebutuhan yang secara cukup dirangsang untuk membuat seseorang mencari kepuasan
atas kebutuhannya.
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan
menginterprestasikan informasi suatu gambaran yang berarti mengenai dunia.
Pembelajaran merupakan perubahn pada perilaku individu yang muncul dari
pengalaman. Proses belajar berlangsung melalui dorongan (drive), rangsangan
(stimuli), petunjuk (clues), tanggapan (response), dan penguatan (reinforcement), yang
saling menguatkan. Keyakinan adalah pemikiran deskriptif seseorang mengenai
sesuatu. Sikap menggambarkan evaluasi, perasaan, dan kecenderungan seseorang
terhadap suatu objek atau gagasan.
Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan salah satu bagian dalam tahap-tahap proses
pembelian konsumen. Sebelum membahas tahap-tahap tersebut dan untuk memberikan
gambaran mengenai keputusan pembelian, maka akan dikemukakan terlebih dahulu
definisi mengenai keputusan pembelian menurut para ahli.
Schiffman dan Kanuk (2007) dalam swas (2004:289) mendefinisikan bahwa suatu
keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif.
Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia harus memiliki pilihan
alternatif. Artinya bahwa seseorang dalam membuat keputusan, haruslah tersedia
beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada
bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut. Kotler & Keller (2009:240)
mendefinisikan “Keputusan Pembelian konsumen adalah keputusan para konsumen
membentuk preferensi atas merek-merek yang ada dalam kumpulan pilihan, konsumen
tersebut juga dapat membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai”.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Dimensi kualitas pelayanan dikelompokan menjadi lima. Kelima dimensi kualitas
pelayanan menurut Kotler dan Keller (Dialih bahasakan oleh Bob Sabran, 2012: 174)
adalah :
- Produk-produk fisik (Tangibles)
Produk-produk fisik yang tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan sarana
komunikasi dan lain-lain yang dapat dan harus ada dalam proses jasa. - Kehandalan (Reliability)
Kehandalan yaitu kemampuan untuk memberikan pelajaran yang dijanjikan dengan
tepat (accurately) dan kemampuan untuk dipercaya (dependably) terutama
memberikan jasa secara tepat waktu (ontime), dengan cara yang sama sesuai dengan
jadwal yang telah dijanjikan dan tanpa ada kesalahan. - Daya Tanggap (Responsiveness)
Daya tanggap yaitu kemauan atau keinginan para karyawan untuk membantu dan
memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan. - Jaminan (Assurance)
Jaminan yaitu meliputi pengetahuan, kemampuan, keramahan, kesopanan dan sifat
dapat dipercaya dari kontak personal untuk menghilangkan sifat keragu raguan
pelanggan dan merasa terbebas bahaya dan risiko. - Empati (Emphaty)
Empati yaitu meliputi sikap kontak personal maupun perusahaan dalam memahami
kebutuhan maupun kesulitan pelanggan, komunikasi atau hubungan.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan merupakan pemahaman bahwa kinerja yang ditawarkan oleh
penjual mempunyai nilai yang sempurna bagi konsumen dan tidak dimiliki oleh
perusahaan pesaing. Oleh karena itu perusahaan penting memfokuskan pada kualitas
pelayanan agar konsumen merasa terpenuhi mengenai apa yang diinginkannya sesuai
dengan kinerja pelayanan didapat. Memasarkan produk perusahaan harus memiliki
strategi pemasaran untuk mencapai tujuannya, selain itu perusahaan juga harus
mempunyai kualitas pelayanan yang baik pula supaya dapat meraih konsumen.
Menurut Kotler (2008: 57), kualitas adalah keseluruhan sifat suatu produk atau
pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang
dinyatakan atau tersirat.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (Dialih bahasakan oleh Bob Sabran, (2012:
131), mendefinisikan kualitas pelayanan adalah kemampuan perusahaan untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Berdasarkan definisi ini, kualitas
pelayanan ditentukan oleh kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen sesuai dengan ekspektasi konsumen. Atau dengan kata lain, faktor
utama yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah layanan yang diharapakan
konsumen (expexted service) dan persepsi layanan (perceived service).
