Brand Image (Citra Merek)


Berikut ini adalah berberapa pengertian citra merek dari beberapa
sumber :

  1. Citra merek adalah seperangkat keyakinan konsumen mengenai merek
    tertentu (Kotler A. , 2011)
  2. “Brand image can be defined as a perception about brand as reflected by
    the brand association held in consumer memory”. Citra merek adalah
    persepsi tentang merek yang digambarkan oleh asosiasi merek yang ada
    dalam ingatan konsumen (Kotler P. d., 2016).
    Berdasarkan pengertian citra merek di atas, dapat disimpulkan bahwa
    citra merek merupakan kumpulan kesan yang ada di benak konsumen tentang
    suatu merek yang dirangkai dari ingatan-ingatan konsumen terhadap merek
    tersebut.
    Produk dengan brand image yang baik akan membantu perusahaan
    dalam mempromosikan produk sehingga menjadi kekuatan perusahaan
    dalam persaingan bisnis. Hubungan brand image terhadap keputusan
    pembelian konsumen, merek kerap muncul sebagai kriteria determinan,
    berfungsi sebagai indikator pengganti dari mutu produk dan kepentingannya
    tampak bervariasi dengan kemudahan dimana kualitas dapat dinilai secara
    obyektif. Jika sulit untuk menilai kualitas, konsumen kadang akan merasakan
    tingkat resiko yang tinggi dalam pembelian, jadi kepercayaan pada merek
    terkenal dengan reputasi kualitas yang sudah lama dapat menjadi cara efektif
    mengurangi resiko. (Wijaya E. A., 2014)
    Ada tiga bagian yang terdapat dalam pengukuran citra merek.
    Bagian pertama adalah atribut. Atribut adalah ciri-ciri atau berbagai aspek
    dari merek yang diiklankan. Atribut juga dibagi menjadi dua bagian yaitu hal-
    hal yang tidak berhubungan dengan produk (contoh: harga, kemasan,
    pemakai, dan citra penggunaan), dan hal-hal yang berhubungan dengan
    produk (contoh: warna, ukuran, desain). Kemudian bagian kedua pengukuran
    citra merek menurut Shimp adalah manfaat. Manfaat dibagi menjadi tiga
    bagian yaitu fungsional, simbolis, dan pengalaman (A. Shimp, 2014)
  3. Fungsional, yaitu manfaat yang berusaha menyediakan solusi bagi
    masalah- masalah konsumsi atau potensi permasalahan yang dapat
    dialami oleh konsumen, dengan mengasumsikan bahwa suatu merek
    memiliki manfaat spesifik yang dapat memecahkan masalah tersebut.
  4. Simbolis, yaitu diarahkan pada keinginan konsumen dalam upaya
    memperbaiki diri, dihargai sebagai anggota suatu kelompok, afiliasi, dan
    rasa memiliki.
  5. Pengalaman, yaitu konsumen merupakan representasi dari keinginan
    mereka akan produk yang dapat memberikan rasa senang,
    keanekaragaman, dan stimulasi kognitif. Terakhir, bagian ketiga dari
    pengukuran citra merek menurut Shimp adalah evaluasi keseluruhan,
    yaitu nilai atau kepentingan subjektif dimana pelanggan
    menambahkannya pada hasil konsumsi.
    Ada 3 faktor yang dapat membentuk citra merek yaitu (Kotler P. d.,
    2016):
  6. Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association)
    Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan
    konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian
    dari brand image
  7. Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association)
    Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses
    terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, dimana konsumen
    dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat memuaskan
    kebutuhan dan keinginan konsumen.
  8. Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association)
    Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan
    bagi konsumen untuk memilih merek tertentu. Keunikan asosiasi merek
    dapat berdasarkan atribut produk, fungsi produk atau citra yang
    dinikmati konsumen