Teori Kebijakan Dividen


Menurut Brigham dan Houston (2011:211) ada beberapa teori kebijakan
dividen yang dikemukakan oleh para ahli keuangan seperti Modigliani dan Miller,
serta Gordon dan Linter. Teori-teori tersebut diantaranya:

  1. Teori Dividen Irelevan (dividend Irrelevant Theory)
    Profesor Merton Miller dan Franco Modigliani (MM) merupakan teori
    bahwa kebijakan dividen tidak berdampak pada harga saham maupun biaya modal
    suatu perusahaan, kebijakan dividen merupakan sesuatu yang irelevan
    (irrelevant). MM mengembangkan teori mereka berdasarkan sekumpulan asumsi
    yang ketat, dan berdasarkan asumsi tersebut mereka membuktikan bahwa nilai
    suatu perusahaan hanya ditentukan oleh profitabilitas dasar dan risiko usahanya.
  2. Teori Burung di Tangan (Brid-in-the-Hand Theory)
    Teori di mana nilai perusahaan akan maksimal ataupun meningkat dengan
    ratio pembayaran dividen yang tinggi. Pendapat Myron Gordon dan John Lintner
    diberi nama Brid-in-the-hand theory, karena menurut mereka investor lebih
    merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembayaran dividen dari
    pada menunggu capital gain. Gordon – Lintner beranggapan bahwa investor
    memandang satu burung lebih berharga dari pada seribu burung di udara.
  3. Tax Preferrence theory
    Teori ini berpendapat bahwa karena dividen cenderung dikenakan pajak
    yang lebih tinggi dari pada capital gain, maka investor akan meminta tingkat
    keuntungan yang lebih tinggi untuk saham dengan dividend yield yang tinggi.
    Teori ini menyarankan bahwa perusahaan lebih baik menentukan dividend payout
    ratio yang rendah atau bahkan tidak membagikan dividen sama sekali untuk
    meminimumkan biaya modal dan memaksimumkan nilai perusahaan.
    b) Bentuk-bentuk Kebijakan Dividen
    Salah satu kebijakan yang harus diambil oleh manajemen adalah
    memutuskan apakah laba yang diperoleh oleh perusahaan selama satu periode
    akan dibagi semua atau dibagi sebagian untuk dividen dan sebagian lagi tidak
    dibagi dalam bentuk laba ditahan. Menurut Sutrisno (2012:268) ada beberapa
    bentuk pemberian dividen secara tunai atau cash dividend yang diberikan oleh
    perusahaan kepada pemegang saham. Bentuk kebijakan tersebut adalah:
  4. Kebijakan Pemberian Dividen Stabil
  5. Kebijakan Dividen yang Meningkat
  6. Kebijakan Dividen dengan Ratio yang Konstan
  7. Kebijakan Pemberian Dividen Reguler yang Rendah Ditambah Ekstra

Kebijakan Dividen


Salah satu return yang akan diperoleh para pemengang saham adalah
dividen. Dividen merupakan bagian dari laba bersih yang dibagikan kepada para
pemengang saham (pemilik modal sendiri). Kebijakan dividen menurut Martono
dan Harjito (2010:253) yaitu merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh
perusahaan pada akhir tahun akan dibagikan kepada pemegang saham dalam
bentuk dividen atau akan ditahan. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat
dikatan bahwa dividen merupakan proporsi pembagian laba yang diperoleh
perusahaan yang dibagikan kepada para pemengang saham perusahaan.
Rasio pembayaran dividen menentukan jumlah laba dibagi dalam bentuk
dividen kas dan laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Rasio ini
menunjukkan persentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang
saham biasa perusahaan berupa dividen kas. Apabila laba perusahaan yang
ditahan lebih besar, berarti laba yang akan dibayarkan sebagai dividen menjadi
lebih kecil. Aspek penting dari kebijakan dividen adalah menentukan alokasi laba
yang sesuai di antara pembayaran laba sebagai dividen dengan laba yang ditahan
perusahaan. Ketika perusahaan menetapkan suatu kebijakan dan memperhatikan
sejumlah hal, pertimbangan ini harus dikaitkan kembali ke teori pembanyaran
dividen dan penilaian perusahaan. Berikut ini beberapa pertimbangan manajerial
dalam pembayaran dividen menurut Martono dan Harjati (2010:255).
1) Kebutuhan Dana Bagi Perusahaan
2) Likuiditas Perusahaan
3) Kemampuan Untuk Meminjam
4) Pembatasan-pembatasan dalam Perjanjian Utang
5) Pengendalian Perusahaan

Mengukur keputusan investasi


Proksi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah price earning
ratio (PER). Price earning ratio dalam mengukur seberapa besar perbandingan
antara harga saham dengan keuntungan yang akan diperoleh pemegang saham
(Sutrisno 2012:224). Price earning ratio melihat harga pasar saham relatif
terhadap earning. Sebaliknya, perusahaan yang diharapkan mempunyai
pertumbuhan yang rendah, akan mempunyai price earning ratio yang rendah
(Hanafi, 2012:43).
Indikator ini secara peraktis telah diaplikasikan dalam laporan keuangan
laba rugi bangian akhir dan menjadi bentuk standar pelaporan keuangan bagi
perusahaan di Indonesia

Bentuk-bentuk Investasi


Fahmi dan Hadi (2011:7) menjelaskan bahwa pada umumnya dalam
aktivitas investasi terdapat dua bentuk, yaitu:

  1. Investasi nyata
    Membeli asset yang produktif untuk menghasilkan suatu produk tertentu
    melalui proses produksi. Investasi dalam bentuk nyata seperti emas, rumah, tanah.
  2. Investasi keuangan
    Investasi keuangan yaitu pembelian saham dan obligasi yang baik

Tujuan Investasi


Fahmi dan Hadi (2011:6), menegaskan akan tujuan yang diharapkan untuk
efektivitas dan efisiensi dalam keputusan yang diperlukan. Begitu pula halnya
dalam investasi, perlu menetapkan tujuan yang hendak dicapai, yaitu:

  1. Tercapainya keberlanjutan dalam investasi tersebut.
  2. Tercapainya profit yang maksimum atau keuntungan yang diharapkan.
  3. Tercapainya kemakmuran bagi para pemegang saham.
  4. Turut memberikan andil bagi pembangunan bangsa

Keputusan Investasi


Tugas manajer keuangan yang dilakukan secara rutin adalah bagaimana
mengatur aliran dana agar operasi perusahaan berjalan dengan baik. Di samping
tugas rutin tersebut, manajer keuangan mempunyai tugas yang cukup berat yaitu
membuat keputusan investasi. Keputusan ini sangat penting dengan semakin
besarnya dan berkembangnya perusahaan, maka manajemen dituntut mengambil
keputusan investasi, seperti pembukaan cabang, perluasan usaha, maupun
pendirian perusahaan lainnya (Sutrisno, 2012:121).
Pengertian keputusan investasi adalah keputusan terhadap aset apa yang
dikelola oleh perusahaan. Keputusan investasi berpengaruh secara langsung
terhadap besarnya rentabilitas investasi dan aliran kas perusahaan untuk waktu
yang akan datang (Martono dan Harjito, 2010).
Menurut Rakhimsya dan Gunawan (2011), investasi adalah mengorbankan
aset yang dimiliki sekarang untuk mendapatkan aset pada masa yang akan datang
dengan jumlah yang lebih besar.
Dari beberapa pengertian keputusan investasi, maka dapat disimpulkan
bahwa investasi adalah kebijakan manajemen dalam menggunakan dana
perusahaan yang ada pada sebuah asset yang diharapkan akan memberikan
keuntungan di masa yang akan datang

Pengukuran Nilai Perusahaan


Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat
keberhasilan perusahaan yang sering dikatakan dengan harga saham. Harga saham
tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan
membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga
pada prospek perusahaan di masa depan (Kusumajaya, 2011:34). Nilai perusahaan
lazim diindikasikan dengan price to book value. Price to book value
menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu
perusahaan. Semakin tinggi rasio ini berarti pasar percaya akan prospek
perusahaan tersebut (Hermuningsih dan Wardani, 2009).
Price to book value dapat diartikan sebagai hasil perbandingan antara
harga pasar saham dengan nilai buku saham. Price too book value juga berarti
rasio yang menunjukkan apakah harga saham yang diperdagangkan overvalued (di
atas) atau undervalued (di bawah) nilai buku saham tersebut (Fakhruddin dan
hadianto, 2001:68 dalam Ayuningtias dan Kurnia, 2013). Harga saham yang
undervalued dapat berarti ada sesuatu yang mendasar yang keliru dalam suatu
perusahaan. Sebaliknya, makin tinggi price to book value berarti pasar percaya
akan prospek perusahaan

Jenis-jenis Nilai Perusahaan


Menurut Kusumajaya (2011:31) beberapa variabel kuantitatif yang sering
digunakan untuk memperkirakan nilai perusahaan sebagai berikut:

  1. Nilai Buku
    Nilai buku adalah nilai perusahaan yang diukur dengan konsep akuntansi.
    Besarnya nilai buku per lembar saham dihitung dengan cara membagi total
    shareholder equity dengan jumlah saham yang beredar.
  2. Nilai Pasar Saham
    Nilai ini hanya ditentukan jika saham perusahaan di jual di pasar saham.
    Pendekatan nilai pasar adalah salah satu yang paling sering dipergunakan dalam
    menilai perusahaan besar. Bagaimanapun nilai ini dapat berubah secara cepat.
  3. Nilai Appraisal
    Nilai appraisal juga akan berguna dalam siatuasi tertentu seperti dalam
    perusahaan keuangan, perusahaan sumber daya alam atau bagi suatu organisasi
    yang beroperasi dalam keadaan rugi.
  4. Nilai Arus Kas
    Pendekatan arus kas untuk penilaian dimaksudkan agar dapat mengestimasi
    arus kas bersih yang tersedia untuk perusahaan yang menawarkan sebagai hasil
    merger atau akuisisi.
  5. Nilai chop-shop
    Pendekatan ini mengkonseptualisasikan praktik penekanan untuk membeli
    aset dibawah harga penempatan mereka

pengaruh keputusan pendanaan dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan

Nilai perusahaan dapat diukur dengan menggunakan harga saham dengan
menggunakan rasio yang disebut sebagai rasio penilaian. Rasio penilaian adalah
ukuran kinerja perusahaan yang dianggap paling komprehensif karena
mencerminkan gabungan dari pengaruh rasio imbalan dan risiko (Morissan, S. H.
2014:354). Teori ini didukung oleh penelitian Ratnasari, M. A. I. (2017) dengan
hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan investasi, keputusan pendanaan,
kebijakan dividen, dan tingkat suku bunga berpengaruh signifikan terhadap nilai
perusahaan. Dari penelitian ini hanya ukuran perusahaan yang tidak berpengaruh
signifikan terhadap nilai perusahaan. Teori yang lainnya juga dilakukan oleh
Amaliyah, F., & Herwiyanti, E. (2020) dengan hasil penelitian mengemukakan
bahwa keputusan investasi, ukuran perusahaan, keputusan pendanaan dan
kebijakan dividen tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Adanya perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya,
maka peneliti tertarik untuk menguji kembali terkait dengan keputusan pendanan
dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan.

pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan

Teori yang dikemukakan oleh Sartono, Agus (2008:281) kebijakan dividen
adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada
pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan
guna pembiayaan investasi di masa datang. Teori ini didukung oleh penelitian
yang dilakukan oleh Martha, L., Sogiroh, N. U., Magdalena, M., Susanti, F., &
Syafitri, Y. (2018) dengan hasil bahwa variabel profitabilitas berpengaruh positif
dan signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan kebijakan dividen
berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian
lainnya juga dilakukan oleh Maulidiana, E. D., & Rizal, N. (2019) menunjukkan
35
hasil bahwa untuk variabel profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap nilai
perusahaan dan untuk variabel kebijakan dividen memiliki pengaruh terhadap
nilai perusahaan. Sedangkan secara simultan pengaruh pengaruh profitabilitas dan
kebijakan deviden terhadap nilai perusahaan.
Adanya perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya,
maka peneliti tertarik untuk menguji kembali terkait dengan kebijakan dividen
terhadap nilai perusahaan. Perbedaan mendasar dari penelitian yang akan
dilakukan terletak pada sektor perusahaan yang dijadikan sampel,

Pengaruh keputusan pendanaan terhadap nilai perusahaan

Teori yang dikemukakan oleh Sudana, I. M. (2019:4) keputusan pendanaan
adalah keputusan keuangan tentang asal dana untuk membeli aktiva. Ada dua
macam sumber dana, yaitu (1) dana pinjaman yang meliputi utang, bank dan
obligasi (2) modal sendiri, seperti laba ditahan dan saham. Dana pinjaman dan
saham, merupakan sumber dana yang berasal dari luar perusahaan, sedangkan
laba ditahan merupakan sumber dana yang berasal dari dalam perusahaan. Teori
ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Himawan, M. R. (2016) dengan hasil
penelitian mengemukakan bahwa keputusan pendanaan, ukuran perusahaan dan
profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan sedangkan
variabel kebijakan dividen tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Valdian, Z. B. (2017) dengan hasil
penelitian menunjukkan bahwa kebijakan dividen mepengaruhi nilai perusahaan,
keputusan pendanaan mempengaruhi nilai perusahaan dan profitabilitas
mempengaruhi nilai perusahaan.
Adanya perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya,
maka peneliti tertarik untuk menguji kembali terkait dengan keputusan pendanaan
terhadap nilai perusahaan. Perbedaan mendasar dari penelitian yang akan
dilakukan terletak pada sektor perusahaan yang dijadikan sampel,

Pengukuran Nilai Perusahaan


Nilai perusahaan dapat diukur dengan menggunakan harga saham dengan
menggunakan rasio yang disebut sebagai rasio penilaian. Rasio penilaian adalah
ukuran kinerja perusahaan yang dianggap paling komprehensif karena
mencerminkan gabungan dari pengaruh rasio imbalan dan risiko (Morissan, S. H.
2014:354). Rasio penilaian memberikan informasi seberapa besar masyarakat
menghargai perusahaan, sehingga mereka tertarik untuk membeli saham dengan
harga yang lebih tinggi dibanding nilai bukunya. Berikut ini beberapa metode
yang digunakan untuk mengukur nilai perusahaan (Muchtar, E. H., & SE, M
2021:95) adalah sebagai berikut.
1) Price Earning Ratio
Rasio ini menunjukkan seberapa banyak jumlah uang yang rela dikeluarkan
oleh para investor untuk membayar setiap dolar laba yang dilaporkan. Rasio ini
menunjukkan seberapa banyak investor bersedia membayar untuk setiap dolar
dari laba yang di laporkan. Rasio ini dapat digunakan untuk mengukur
perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh
pemegang saham. Price earning ratio digunakan untuk mengukur perubahan
dalam perolehan laba masa depan yang diharapkan. Semakin besar rasio, semakin
besar kemungkinan pertumbuhan perusahaan, yang dapat meningkatkan nilai
perusahaan. Price earning ratio (PER) dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
PER = Marker Place per Share
Earning per Share
2) Price to Book Value
Price to Book Value adalah rasio yang menunjukkan apakah harga saham
yang diperdagangkan overvalued (di atas) atau undervalued (di bawah) nilai buku
saham tersebut. Rasio ini menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai
buku saham perusahaan. Makin tinggi rasio ini, berarti pasar memiliki
kepercayaan terhadap kemampuan perusahaan. Metode perhitungan yang biasa
dipakai untuk menghitung price to book value adalah sebagai berikut:
Price to Book Value : Nilai Saham
Nilai Buku Saham
3) Tobin’s Q
Rasio ini dihitung dengan membandingkan rasio nilai pasar saham
perusahaan dengan nilai buku ekuitas perusahaan. Rasio ini menunjukkan estimasi
pasar saat ini tentang nilai hasil pengembalian dari setiap uang yang di
investasikan. Jika hasil nilai diatas 1 (satu) menunjukkan investasi pada aktiva
menghasilkan laba, sebaliknya jika hasil dibawah 1(satu) menandakan investasi
dalam aktiva tidaklah menarik. Modifikasi Tobin’s Q dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
Q = Market Values of All Outstanding Shars+Debt
Total Aset
Market value of all outstanding shares (MVS) merupakan nilai pasar saham
yang diperoleh dari perkalian jumlah saham yang beredar dengan harga saham

Jenis Nilai Perusahaan


Muchtar, E. H., & SE, M (2021:95) terdapat lima jenis nilai perusahaan
berdasarkan metode perhitungan yang digunakann, adalah sebagai berikut:
1) Nilai Nominal
Nilai nominal adalah nilai yang tercantum secara normal pada anggaran dasar
perseroan, disebutkan secara eksplisit dalam neraca perusahaan, dan juga
ditulis secara jelas dalam surat saham kolektif.
2) Nilai Pasar
Nilai pasar merupakan harga yangterjadi akibat adanya proses tawar menawar
di pasar saham. Nilai pasar biasa disebut dengan kurs yang dapat ditentukan
jika saham perusahaan dijual di pasar saham.
3) Nilai Intrinsik
Nilai intrinsik yaitu konsep nilai yang dianggap abstrak, karena pemikiran ini
mengacu terhadap perkiraan nilai riil suatu perusahaan.
4) Nilai Buku
Nilai buku ialah nilai perusahaan yang dihitung dengan menggunakan konsep
dasar akuntansi. Nilai buku dapat dihitung dengan membagi selisih antar total
aset dan total utang dengan melihat jumlah saham yang beredar.
5) Nilai Likuidasi
Nilai likuidasi merupakan nilai jual seluruh aset perusahaan setelah dikurangi
semua kewajiban yang harus dipenuhi. Nilai ini dapat dihitung berdasarkan
performa yang disiapkan ketika suatu perusahaan akan dilikuidasi

Pengertian Nilai Perusahaan


Nilai perusahaan adalah persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan
perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham (Muchtar, E. H., & SE, M.
2021:94). Tingginya harga saham membuat nilai perusahaan menjadi sangat
tinggi, yang tidak hanya meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kinerja
perusahaan saat ini,tetapi juga meningkatkan kepercayaannya terhadap prospek
perusahaan di masa yang akan datang.
Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting bagi ssebuah perusahaan,
karena memaksimalkan nilai sama artinya dengan tujuan utama pada perusahaan.
Meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi bagi perusahaan karena
sesuai dengan keinginan para pemiliknya, sebab dengan meningkatnya nilai
perusahaan kesejahteraan para pemilikpun akan terjamin.
Copeland, T. E., Weston, J. F., & Shastri, K. (2005:104) tujuan utama
perusahaan adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Memaksimalkan
nilai perusahaan mempunyai makna yang lebih luas, bukan hanya sekedar
memaksimalkan laba perusahaan. Pernyataan ini dapat diterima kebenarannya atas
dasar beberapa hal adalah sebagai berikut:
1) Memaksimalkan nilai berarti mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap
nilai uang. Dana yang diterima pada tahun ini bernilai lebih tinggi dari pada
dana yang diterima sepuluh tahun yang akan datang.
2) Memaksimumkan nilai berarti harus mempertimbangkan berbagai risiko
terhadap arus pendapatan perusahaan.
3) Mutu dari arus kas dana diharapkan diterima di masa datang yang mungkin
beragam

Metode Pengukuran Kebijakan Dividen


Adanya metode pengukuran bertujuan sebagai tolak ukur yang
menghubungkan antara dividen dengan laba bersih yang diperoleh perusahaan.
Mengukur dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan biasanya menggunakan
dua alat ukur, yaitu dividend yield dan dividend payout ratio.
1) Dividend Yield
Alat ukur pertama yang digunakan disebut dengan imbal hasil dividen
(dividend yield) yang mengkaitkan besaran dividen dengan harga saham
perusahaan. Besaran dividen yield dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
Dividend Yield = dividen tahunan per saham
harga per lembar saham
Dividen yield adalah bagian yang penting karena mengisyaratkan ukuran
bahwa adanya komponen dari return total disumbang oleh dividen. Oleh karena
itu, dalam menghitung return total, investor perlu memasukkan unsur besarnya
dividen yang diterima selain selisih antara harga saham awal dan akhir
kepemilikan. Kebanyakan investor menggunakan besaran ini sebagai patokan
dalam melakukan investasi serta memilih mana saham yang memiliki tingkat
dividen yield tinggi.
2) Dividend Payout Ratio
Made, I. Sudana (2011:167) dividend payout ratio yaitu besarnya presentase
laba bersih setelah pajak yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang
saham. Semakin besar rasionya, semakin sedikit laba ditahan yang akan
digunakan untuk investasi perusahaan.
Dividend pauout ratio merupakan rasio pembayaran dividen yang berfokus
pada bagian pendapatan (penghasilan) yang dibayarkan kepada investor sebagai
dividen. Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali di
perusahaan (Hanafi, M. M. 2008:86).
Beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli, dapat ditarik kesimpulan
bahwa dividend payout ratio merupakan dividen yang dibagikan kepada para
pemegang saham yang besar presentasenya telah ditentukan. Semakin tinggi
dividend payout ratio yang dimiliki oleh suatu perusahaan, maka akan
menguntungkan bagi para investor, demikian pula sebaliknya jika dividend payout
ratio pada suatu perusahaan rendah hal ini akan memperlemah rasio perusahaan
tersebut (Musthafa, 2017:141). Berikut ini adalah rumus yang digunakan untuk
menghitung dividend payout ratio :
Dividen Payout Ratio = 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑 π‘ƒπ‘’π‘Ÿ π‘†β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’
πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π‘ƒπ‘’π‘Ÿ π‘†β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ x 100%
Rasio ini menetapkan jumlah laba yang akan dibagikan dalam bentuk dividen
kas atau laba yang ditahan. Jika rasio presentasi laba yang ditahan perusahaan
dalam jumlah besar, maka laba yang akan dibandingkan dalam dividen akan lebih
kecil. Namun apabila laba perusahaan lebih banyak dibagikan dalam bentuk
dividen, maka perusahaan akan mengurangi porsi laba sebagai laba ditahan

Mengukur Keputusan Pendanaan


Adapun alat ukur rasio solvabilitas yang telah dijelaskan oleh (Kasmir,
2015:155) adalah sebagai berikut:
1) Debt to Asset Ratio (DAR)
Debt to asset ratio ini mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai
oleh liabilitas atau seberapa banyak utang perusahaan mempunyai pengaruh
terhadap pengelolaan aktiva. Debt to asset ratio merupakan rasio liabilitas yang
digunakan untuk menilai perbandingan antara total untang dengan total aktiva.
Apabila hasil pengukuran nilai rasionya tinggi maka menandakan bahwa
pendanaan dengan utang semakin banyak dan semakin sulit bagi perusahaan
untuk memperoleh tambahan pinjaman dengan kekhawatiran perusahaan tidak
mampu menutupi utangnya dengan aktiva yang dimilikinya. Adapun rumus untuk
menghitung debt to asset ratio yaitu:
𝐷𝑒𝑏𝑑 π‘‘π‘œ π‘Žπ‘ π‘ π‘’π‘‘ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘–π‘œ = π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝑑𝑒𝑏𝑑
π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘Žπ‘ π‘ π‘’π‘‘π‘ 
2) Debt to Equity Ratio (DER)
Kasmir, (2015:158) debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan
untuk membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan
seluruh ekuitas. Rasio yang berguna sebagai informasi jumlah dana yang
disediakan kreditor dengan pemilik perusahaan. Bagi perusahaan, semakin besar
rasio ini, akan semakin baik. Sebaliknya, rasio yang rendah maka semakin tinggi
tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin besar batas pengamanan
bagi peminjam jika terjadi penyusutan terhadap nilai aktiva. Adapun rumus untuk
mengukur debt to equity ratio sebagai berikut:
𝐷𝑒𝑏𝑑 π‘‘π‘œ πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦ π‘…π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘–π‘œ = Total utang (𝐷𝑒𝑏𝑑)
Ekuitas (πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦)
3) Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER)
Long term debt to equity ratio merupakan rasio perbandingan antara utang
jangka panjang dengan modal sendiri. Rasio ini berguna untuk mengetahui
seberapa besar bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan
utang jangka panjang dengan modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
Rumusan untuk mencari long term debt to equity ratio yaitu sebagai berikut:
LTDtER = πΏπ‘œπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘š 𝑑𝑒𝑏𝑑
π‘’π‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦
4) Times Interest Earned
Times interest earned merupakan rasio untuk mengukur seberapa besar
pendapatan dapat menurun tanpa membuat perusahaan merasa malu karena tidak
mampu membayar biaya bunga tahunan. Semakin tinggi rasio maka semakin
besar kemungkinan perusahaan dapat membayar bunga pinjaman dan dapat
menjadi nilai untuk mendapatkan tambahan pinjaman baru dari kreditor. Adapun
cara untuk mengukur times interest earned sebagai berikut:
π‘‡π‘–π‘šπ‘’π‘  πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘‘ πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘’π‘‘ = πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π‘π‘’π‘“π‘œπ‘Ÿπ‘’ π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘‘ π‘Žπ‘›π‘‘ π‘‘π‘Žπ‘₯ (EBIT)
Biaya bunga (πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘‘)
5) Fixed Charge Coverage
Fixed charge coverage atau lingkup biaya tetap yaitu rasio yang dilakukan
apabila perusahaan mendapatkan liabilitas jangka panjang atau menyewa aktiva
berdasarkan kontrak sewa (lease contract). Rumus untuk mencari fixed charge
coverage adalah sebagai berikut:

𝐹𝑖π‘₯𝑒𝑑 π‘β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘’ π‘π‘œπ‘£π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘”π‘’
= πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π‘π‘’π‘“π‘œπ‘Ÿπ‘’ π‘‘π‘Žπ‘₯ + Biaya bunga + kewajiban sewa
Biaya bunga + Kewajiban sewa

Pengertian Keputusan Pendanaan


Sudana, I. M. (2019:4) keputusan pendanaan adalah keputusan keuangan
tentang asal dana untuk membeli aktiva. Ada dua macam sumber dana, yaitu (1)
dana pinjaman yang meliputi utang, bank dan obligasi (2) modal sendiri, seperti
laba ditahan dan saham. Dana pinjaman dan saham, merupakan sumber dana yang
berasal dari luar perusahaan, sedangkan laba ditahan merupakan sumber dana
yang berasal dari dalam perusahaan.
Keputusan pendanaan menyangkut tentang sumber-sumber dana yang berada
di sisi aktiva (Sudaryo, Y., Sjarif, D., Sofiati, N. A., & Bandung, S. I. (2021:7).
Ada beberapa hal mengenai keputusan pendanaan, yaitu keputusan mengenai
penetapan sumber dana yang diperlukan untuk membiayai investasi dan
penetapan tentang perimbangan pembelanjaan yang terbaik atau sering disebut
struktur modal yang optimum.
Berdasarkan pengertian diatas maka kesimpulannya adalah bahwa keputusan
pendanaan adalah keputusan mengenai keuangan dalam pembelian aktiva dengan
sumber dana yang berasal dari dalam maupun luar perusahaan.

Tujuan Manajemen Keuangan


Manajemen keuangan yang mencapai sasaran dengan baik adalah dengan
melaksanakan fungsinya secara benar dan disertai dalam setiap tindakan yang
penuh perhitungan dari segala resiko yang mungkin timbul sehingga
pelaksanaannya dapat berjalan efisien dan efektif. Menurut Sartono, A. (2000: 3),
manajemen keuangan yang efektif mencapai tujuan sebagai standar untuk
mengevaluasi efisiensi, yaitu tujuan standar manajemen keuangan adalah untuk
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham, yaitu memaksimalkan nilai
perusahaan, misalnya:
1) Manfaat maksimal bagi pemegang saham Tujuan transformasi dapat dicapai
dengan memaksimalkan nilai perusahaan.
2) Sebagai panduan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan faktor
risiko.
3) Manajemen harus mempertimbangkan kepentingan pemilik, kreditor dan
pihak lain yang berhubungan dengan perusahaan.
4) Dari perspektif akuntansi, memaksimalkan kemakmuran pemegang saham
menekankan arus kas daripada laba bersih.
5) Tidak mengabaikan tujuan sosial dan kewajiban sosial, seperti lingkungan
eksternal, keselamatan kerja dan keamanan produk

Fungsi Manajemen Keuangan


Fahmi, I. (2015:3) ilmu manajemen keuangan berfungsi sebagai pedoman
bagi manajer perusahaan dalam setiap pengambilan keputusan yang dilakukan.
Artinya seorang manajer keuangan bebas menuangkan inovasi dan kreatifitasnya
dalam pengambilan keputusan namun tak lepas dari kaidah-kaidah yang berlaku
dalam ilmu manajemen keuangan.
Manajemen keuangan dalam suatu perusahaan sangat berperan penting dalam
menjalankan fungsinya di berbagai kegiatan keuangan, berikut adalah penjelasan
oleh Yuesti, A., & Kepramareni, P. (2019:3) mengenai fungsi-fungsi manajemen
keuangan:
1) Perencanaa Keuangan
Perencanaan keuangan Fungsi manajemen keuangan adalah membuat rencana
pemasukan dan pengeluaran serta kegiatan lainnya dalam jangka waktu tertentu.
2) Penganggaran Keuangan
Penganggaran ini berfungsi untuk menindaklanjuti rencana keuangan dengan
mencatatnya secara terperinci.
3) Pengelolaan Keuangan
Melalui pengelolaan keuangan, perusahaan dapat menggunakan dana dengan
berbagai cara untuk memaksimalkan dana yang ada.
4) Pencarian Keuangan
Dalam hal ini fungsi manajemen keuangan adalah mencari dan menggunakan
sumber dana yang ada untuk kegiatan usaha perusahaan.
5) Penyimpanan Keuangan
Dapat berfungsi untuk mengumpulkan dana perusahaan dan menyimpan dana
tersebut dengan aman.
6) Pengendalian Keuangan
Dalam hal ini, fungsi manajemen keuangan adalah untuk mengevaluasi dan
memperbaiki sistem keuangan dan keuangan perusahaan
7) Pemeriksaan Keuangan
Melakukan audit internal terhadap keuangan perusahaan yang ada untuk
memastikan tidak ada penyimpangan

Pengertian Manajemen Keuangan


Tampubolon, M. P. (2005:1) manajemen keuangan merupakan integrasi dari
science dan art yang mencermati, dan menganalisa tentang upaya seorang manajer
finansial dengan menggunakan seluruh SDM perusahaan untuk mencari funding,
mengelola funding, dan membagi funding dengan goal mampu memberikan laba
atau welfare bagi para pemilik saham dan suistainability (keberlanjutan) bisnis
bagi entitas ekonomi.
Yuesti, A., & Kepramareni, P. (2019:1) Manajemen keuangan adalah
kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, dan
pengendalian, pencarian dan organisasi penyimpanan atau dana yang dimiliki oleh
perusahaan.
Sutrisno, M. K. (2003:3) manajemen keuangan adalah segala kegiatan
perusahaan yang berkaitan dengan upaya memperoleh dana perusahaan dengan
biaya rendah dan upaya untuk menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut
secara efektif.
Berdasarkan tiga pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa manajemen
keuangan merupakan segala usaha yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam
upayanya memperoleh dana untuk aktifitas perusahaan serta mengoperasikan dana
tersebut secara efektif.

Pengaruh Keputusan Investasi terhadap Nilai Perusahaan


Keputusan untuk memilih alternatif proyek yang menguntungkan diatur
melalui keputusan investasi. Pengeluaran modal yang besar akan berpengaruh
terhadap nilai perusahaan karena beberapa jenis informasi mengenai keputusan
investasi akan membawa informasi pula tentang pertumbuhan pendapatan yang
diharapkan oleh perusahan di masa yang akan datang. Kenaikan dalam
pengeluaran modal terhadap harapan-harapan perusahaan, dapat mengakibatkan
kenaikan return saham dan sebaliknya jika terdapat return yang negatif, maka
perusahaan akan melakukan penurunan pengeluaran modal. Hal ini dapat
memberikan sinyal positif terhadap pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan
datang, sehingga dapat meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai
perusahaan.
Hasil penelitian dari Gany dan Surya (2012), Hesti dan Abriyani (2013), serta
Evril dan Andhi (2015) menyatakan bahwa keputusan investasi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, dengan dilakukannya
investasi maka investor berasumsi bahwa di masa yang akan datang profitabilitas
perusahaan akan meningkat. Dengan demikian investor akan lebih tertarik untuk
membeli saham perusahaan yang melakukan investasi, sehingga hal ini akan
mengakibatkan harga saham meningkat, dan pada akhirnya akan meningkatkan
juga nilai pasar perusahaan.
Hasil penelitian dari Safitri dan Lailatul (2014) dan Fania (2012) menyatakan
bahwa keputusan investasi memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap nilai
perusahaan, yang artinya investasi yang tinggi dengan dibiayai oleh hutang akan
mengakibatkan resiko yang tinggi sehingga mengurangi kepercayaan investor,
dan dapat menurunkan harga pasar saham karena tidak adanya investasi kembali
yang mengakibatkan nilai perusahaan tersebut menurun

Pengaruh Keputusan Pendanaan terhadap Nilai Perusahaan


Keputusan pendanaan berhubungan dengan perolehan dana (raising of funds)
bagi pelaksanaan investasi yang telah dipilih pada keputusan investasi (Moeljadi,
2006). Keputusan pendanaan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
sumber dana (source of funds), baik yang berasal dari luar (external financing)
maupun yang berasal dari dalam (internal financing).
Suatu perusahaan yang memprediksi labanya rendah akan cenderung untuk
menggunakan hutang yang rendah, karena hutang perusahaan yang tinggi akan
meningkatkan kemungkinan perusahaan menghadapi kesulitan keuangan.
Semakin aman perusahaan dari segi pembiayaan, tambahan hutang hanya
meningkatkan sedikit rasio kebangkrutan, atau bisa dikatakan bahwa perusahaan
yang rasional akan menambahkan hutang jika tambahan hutang tersebut dapat
meningkatkan laba.
Hasil penelitian Evrila dan Andhi (2015), Arie dan Abdul (2012) serta Safitri
dan Lailatul (2012) menunjukkan bahwa keputusan pendanaan berpengaruh
positif terhadap nilai perusahaan, yang dimana sebuah keputusan pendanaan yang
dikeluarkan akan berdampak pada peningkatan nilai perusahaan. Artinya dengan
menggunakan pajak penghasilan perusahaan maka penggunaan hutang akan
meningkatkan nilai perusahaan, karena biaya hutang merupakan biaya yang
mengurangi pembayaran pajak (tax deductabe expense). Berbeda pula dengan
penelitian Fania (2012), Gany dan Surya (2012), Hesti dan Abriyani (2013),yang
menyatakan bahwa keputusan pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap
nilai perusahaan. Artinya, apabila perusahaan tidak dapat memanfaatkan
hutangnya, maka resiko perusahaan akan semakin tinggi dan akan mempengaruhi
penurunan performa perusahaan yang dapat memberikan pandangan buruk dari
investor yang dapat berdampak pada menurunnya permintaan akan saham.

Pengaruh Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan


Kebijakan dividen terkait dengan masalah penggunaan laba yang menjadi hak
para pemegang saham (Suad Husnan, 2012 : 297). Laba bersih perusahaan pada
dasarnya bisa dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau ditahan
dalam bentuk laba ditahan untuk membiayai investasi perusahaan (Suad Husnan,
2012 : 297). Rasio pembayaran dividen (divident payout ratio) akan menunjukkan
persentase laba perusahaan yang akan dibagikan kepada pemegang saham biasa
dalam bentuk dividen kas.
Kebijakan dividen akan berpengaruh positif jika dividen yang dibagikan
perusahaan itu tinggi maka harga saham akan meningkat dan berdampak pada
𝐢𝑃𝐴/𝐡𝑉𝐴 = Pertumbuhan Aktiva
π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π΄π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘Ž
meningkatnya nalai perusahaan, namun kebijakan dividen akan berpengaruh
negatif jika laba yang diperoleh perusahaan sebagian besar digunakan untuk
pembagian dividen, maka kemungkinan besar akan mengurangi laba ditahan
sebagai tambahan dana untuk perputaran modal periode selanjutnya, sehingga
laba selanjutnya akan menurun dan berdampak pada menurunnya nilai
perusahaan.
Berdasarkan Bird In The Hand Theory, yang dikemukakan oleh Myron
Gordon dan Jhon Lintner, menyatakan bahwa dividen yang tinggi akan
meningkatkan nilai perusahaan. Hal ini sama dengan hasil penelitian Fania
Yuliariskha (2012), Gany dan Surya (2012), serta Safitri dan Lailatul (2014) yang
menyatakan jika dividen yang dibagikan perusahaan semakin besar, maka harga
pasar saham perusahaan tersebut akan semakin tinggi, sehingga dapat mengurangi
ketidakpastian yang dihadapi oleh para investor dan mereka dapat memutuskan
untuk tetap berinvestasi pada perusahaan yang akhirnya akan meningkatkan nilai
perusahaan pula. Sedangkan menurut teori irrelevansi dividen, dimana kebijakan
dividen yang berpengaruh negatif terhadap perusahaan menyatakan bahwa
semakin tinggi harga saham, maka semakin rendah nilai perusahaan. Hal ini sama
dengan hasil penelitian Hesti dan Abriyani (2013), Evrila dan Andhi (2015), serta
Arie dan Abdul (2012)yang menyatakan bahwa kemampuan perusahaan
membayar dividen bukan merupakan pertimbangan investor dalam membeli
saham, sehingga adanya ketidakyakinan dari pada investor yang dilihat dari
besarnya harga saham yang beredar, yang dapat memberikan rasa
ketidakpercayaan untuk berinvestasi pada perusahaan, yang akhirnya dapat
menurunkan nilai perusahaan

Trade off Theory


Menurut Brigham (2011 : 83), menyatakan bahwa perusahaan menukar
manfaat pajak dari pendanaan hutang dengan masalah yang ditimbulkan oleh
potensi kebangkrutan. Teori ini juga berpendapat bahwa penggunaan hutang akan
meningkatkan nilai perusahaan tapi hanya sampai titik tertentu saja. Setelah titik
tersebut pengunaan hutang justru akan menurunkan nilai perusahaan karena
kenaikan keuntungan dari pengunaan hutang tidak sebanding dengan biaya
financial distress dan agency problem. Titik balik tersebut disebut struktur modal
optimal yang menunjukkan jumlah hutang perusahaan yang optimal

Teori Struktur Modal MM dengan Pajak


Peraturan perpajakan memperkenankan perusahaan untuk mengurangi
pembayaran bunga sebagai suatu beban, tetapi pembayaran dividen kepada
pemegang saham bukan sebagai suatu pengurang pajak. Perbedaan perlakuaan ini
mendorong perusahaan untuk menggunakan hutang dalam struktur modalnya. Hal
ini dikarenakan bunga sebagai pengurang pajak menguntungkan penggunaan
pendanaan dengan hutang, dalam teori ini percaya bahwa bunga hutang yang
dapat dijadikan pengurang pajak akan memiliki dampak paling kuat, sehingga
sistem pajak akan menguntungkan penggunaan hutang oleh perusahaan, sehingga
penggunaan hutang yang tinggi dapat meningkatkan nilai perusahaan (Brigham
dan Houston, 2010 : 180)

Teori Struktur Modal MM tanpa Pajak


Franco Modigliani dan Merton Miller (MM) mengemukakan teori struktur
modal tanpa pajak, teori tersebut menyatakan bahwa nilai perusahaan tidak
dipengaruhi oleh struktur modalnya, sehingga struktur modal adalah sesuatu yang
tidak relevan. Akan tetapi, asumsi-asumsi yang menjadi dasar studi MM bukanlah
asumsi yang realistis karena MM berasumsi bahwa tidak ada pajak, tidak ada
biaya kebangkrutan, seluruh investor memiliki informasi yang sama dengan
seperti manajemen tentang prospek perusahaan dan EBIT tidak dipengaruhi oleh
penggunaan hutang. (Brigham dan Houston, 2010 : 179)

Keputusan Pendanaan


Keputusan pendanaan perusahaan merupakan suatu keputusan tentang bentuk
dan komposisi pendanaan yang akan dipergunakan oleh perusahaan. Keputusan
pendanaan yang berhubungan dengan sumber dana adalah apakah sumber internal
atau eksternal, besarnya hutang dan modal sendiri, dan bagaimana tipe hutang dan
modal yang akan digunakan, mengingat struktur pembiayaan akan menentukan
cost of capital yang akan menjadi dasar penentuan required return yang
diinginkan. Sebagian perusahaan menganggap bahwa penggunaan hutang dirasa
lebih aman dari pada menerbitkan saham baru.
Keputusan pendanaan dapat meningkatkan nilai perusahaan. Asumsi ini
timbul karena pendanaan didanai melalui hutang, peningkatan tersebut terjadi
akibat dari efek tax deductible. Artinya, perusahaan yang memiliki hutang akan
membayar bunga pinjaman yang dapat mengurangi penghasilan kena pajak, yang
dapat memberi manfaat bagi pemegang saham. Selain itu, penggunaan dana
eksternal akan menambah pendapatan perusahaan yang nantinya akan digunakan
untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan

Tax differential theory


Teori ini didasarkan atas pada perbedaan pajak antara dividen dengan
keuntungan modal (capital gain). Pajak atas dividen harus dibayarkan pada tahun
saat dividen tersebut diterima, sedangkan pajak atas capital gain tidak dibayarkan
sampai saham dijual. Adanya keunggulan pajak tersebut maka membuat investor
lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak
dibandingkan dengan dividen. Akibat adanya pengaruh nilai waktu, sehingga
pembayaran dividen tunai yang besar akan menurunkan nilai perusahaan
(Brigham dan Houston, 2011 : 213)

Bird in the hand theory


Gordon dan Lintner berpendapat bahwa para investor lebih menyukai dividen
dibandingkan dengan capital gain. Dividen memiliki risiko yang lebih rendah
dibandingkan dengan capital gain, oleh karenanya investor akan merasa lebih
aman untuk mengharapkan dividen saat ini dibandingkan menunggu capital gain
yang di masa depan. (Brigham dan Houston, 2011 : 213)

Dividend irrelevant theory


Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak berpengaruh pada harga
saham maupun terhadap biaya modal perusahaan. Teori MM berpendapat bahwa
nilai suatu perusahaan ditentukan pada kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba, bukan pada bagaimana laba tersebut dibagi menjadi dividen
dan laba ditahan. Sehingga kebijakan dividen merupakan suatu yang tidak relevan
untuk dipersoalkan. Teori MM menyatakan bahwa nilai perusahaan tidak
dipengaruhi oleh besar kecilnya dividend payout ratio, tetapi hanya ditentukan
oleh profitabilitas dasar dan risiko usahanya, dengan asumsi bahwa tidak ada
pajak yang dibayarkan atas dividen, saham dapat dibeli dan dijual tanpa adanya
biaya transaksi, semua pihak baik manajer maupun pemegang saham memiliki
informasi yang sama tentang laba perusahaan di masa yang akan datang.
(Brigham dan Houston, 2011 : 211)

Kebijakan Dividen


Kebijakan dividen menyangkut tentang penggunaan laba yang menjadi hak
para pemegang saham. Pada dasarnya, laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen
atau ditahan untuk diinvestasikan kembali. Dengan demikian pertanyaannya
seharusnya kapan laba akan dibagi dan kapan akan ditahan, dengan tetap
memperhatikan tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan (Suad
Husnan, 2012).
Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka
akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber
dana intern atau internal financing. Sebaliknya jika perusahaan memilih untuk
π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ π΅π‘œπ‘œπ‘˜ π‘‰π‘Žπ‘™π‘’π‘’ = Harga Saham
Nilai Buku Saham
menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan pembentukan dana intern akan
semakin besar.
Dalam keputusan pembagian dividen perusahaan harus mempertimbangkan
kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Laba yang diperoleh
perusahaan pada umumnya tidak dibagi seluruhnya sebagai dividen karena
sebagian disisihkan untuk investasi kembali atau sebagian ditahan dalam retained
earnings. Besar kecilnya dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang
saham tergantung pada kebijakan tiap-tiap perusahaan sehingga pertimbangan
manajemen dalam hal ini sangat diperlukan. Manajemen haruslah pandai dalam
mengambil keputusan antara membagi laba tersebut berupa dividen atau laba
tersebut yang akan diinvestasikan kembal

Nilai Perusahaan


Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu
perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham yang merupakan tujuan utama
perusahaan (Euis Soliha dan Taswan, 2002).
Semakin tinggi harga saham semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai
perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja
perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan. (Untung
Wahyudi dan Hartini Prasetyaning Pawestri, 2006) menyatakan bahwa nilai
perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari saham
perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi
disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari
nilai aset perusahaan sesungguhnya.
Nilai perusahaan akan secara langsung berdampak pada kemakmuran
pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat,
untuk mencapai nilai perusahaan yang tinggi pada umumnya para pemegang
saham mempercayakan pengelolaannya kepada para profesional. Para profesional
diposisikan sebagai manajer ataupun komisaris dalam struktur organisasi
perusahaan.
Penelitian ini menggunakan variabel dependen yaitu nilai perusahaan. Nilai
perusahaan dapat didefinisikan sebagai nilai pasar karena nilai perusahaan dapat
memberikan kemakmuran pada pemegang saham secara maksimal apabila harga
saham perusahaan meningkat (Hasnawati 2005). Nilai perusahaan dapat di ukur
menggunakan Price Book Value (PBV). PBV mengukur nilai yang diberikan
pasar kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan
yang terus tumbuh.

Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan danKebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan


Nisa (2017: 101) menyatakan keputusan investasi, keputusan pendanaan,
dan kebijakan dividen secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
nilai perusahaan. Walau dalam penelitiannya kebijakan dividen tidak berpengaruh
terhadap nilai perusahaan dan keputusan pendanaan pun berpengruh negatif
signifikan terhadap nilai perusahaan, namun apabila ketiga variabel independen
mempengaruhi nilai perusahaan selaku variabel dependen pada waktu yang sama
maka secara simultan berpengaruh positif dan signifikan.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Rakhimsyah dan Gunawan (2011:
42) juga menyatakan keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan
dividen dan tingkat suku bunga berpengaruh secara simultan terhadap nilai
perusahaan. Maka dapat terlihat apabila variabel-variabel yang dapat
mempengaruhi nilai perusahaan mempengaruhi pada waktu yang sama akan
menjadi simultan

Pengaruh Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan


Sari (2013: 6) menyatakan kebijakan dividen berpengaruh positif dan
signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti dapat disimpulkan bahwa
semakin besar dividen yang dibagikan kepada pemegang saham, maka kinerja
emiten atau perusahaan akan dianggap semakin baik dan menunjukkan nilai
perusahaan meningkat. Fama dan French menemukan bahwa investasi yang
dihasilkan dari kebijakan dividen memiliki informasi yang positif tentang
perusahaan di masa yang akan datang, selanjutnya berdampak positif terhadap
nilai perusahaan.
Berdasarkan a bird in-the-hand theory, menyatakan bahwa nilai
perusahaan akan dimaksimumkan oleh rasio pembayaran dividen yang tinggi,
karena investor menganggap bahwa risiko dividen tidak sebesar kenaikan biaya
modal, sehingga investor lebih menyukai keuntungan dalam bentuk dividen
daripada keuntungan yang diharapkan dari kenaikan nilai modal. Investor
menyukai dividen yang tinggi karena dividen yang diterima seperti burung
ditangan yang risikonya lebih kecil atau mengurangi ketidakpastian dibandingkan
dengan dividen yang tidak dibagikan (Jusriyah, 2013: 13).
Sedangkan berdasarkan signalling theory menekankan bahwa pembayaran
dividen merupakan sinyal bagi pasar bahwa perusahaan memiliki kesempatan
untuk tumbuh dimasa yang akan datang, sehingga pembayaran dividen akan
meningkatkan apresiasi pasar terhadap saham perusahaan yang bersangkutan,
dengan demikian pembayaran dividen berimplikasi positif pada nilai perusahaan

Pengaruh Keputusan Pendanaan terhadap Nilai Perusahaan


Kondisi pasar modal yang sempurna dan terdapat pajak, akan membuat
perusahaan memutuskan untuk menggunakan komposisi hutang lebih banyak
dibandingkan dengan modal sendiri, sehingga akan menurunkan (biaya modal
perusahaan) sampai mendekati biaya hutang setelah pajak. Biaya hutang yang
diasumsikan konstan berapapun proporsi hutang yang digunakan akan membuat
nilai perusahaan semakin meningkat. Keputusan pembiayaan adalah salah satu
keputusan yang paling kritis dan pekerjaan yang menantang untuk manajer
keuangan, hal itu disebabkan karena keputusan ini memiliki dampak langsung
pada kinerja keuangan dan struktur modal dari perusahaan (Fenandar, 2012: 29).
Pada dasarnya, hutang akan membawa kewajiban baru bagi perusahaan.
Hutang tidak hanya menyebabkan timbulnya kewajiban perusahaan di masa yang
akan datang untuk mengembalikan pinjaman tetapi juga menimbulkan beban
bunga. Semakin besar porsi hutang terhadap ekuitas akan menjadi sinyal negatif
bagi investor karena hal itu bisa menunjukkan adanya kesulitan keuangan dalam
perusahaan dan munculnya beban bunga yang besar (Himawan dan Christiawan.
2016: 199).
Keputusan pendanaan diukur dengan menggunakan rasio DER (Debt to
Equity Ratio). Rasio ini mengukur proporsi hutang terhadap ekuitas. Semakin
tinggi rasio DER akan memberikan signal negatif bagi investor karena semakin
besar hutang semakin besar kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar
bunga dan pokoknya.(Yunitasari. 2014: 9). Dari penelitian tersebut berarti
semakin tinggi hutang atau semakin besar keputusan pendanaan yang dilakukan
oleh suatu perusahaan maka semakin tinggi pula nilai suatu perusahaan

Rumus–Rumus Mengukur Nilai Perusahan


Menurut Weston dan Copelan (2008: 244) pengukuran nilai perusahaan
terdiri dari :
a. Price to Book Value (PBV)
Price to Book Value (PBV) mengambarkan seberapa besar pasar
menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini,
berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut. PBV juga
menunjukan seberapa jauh suatu perusahaan mampu menciptakan nilai
perusahaan yang relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan.
Price Book Value =
b. Tobin’s Q
Salah satu alternatif yang digunakan dalam menilai nilai perusahaan
adalah dengan menggunakan Tobin’s Q. Tobin’s Q ini dikembangkan oleh
professor James Tobin. Rasio ini merupakan konsep yang sangat berharga
karena menunjukkan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai hasil
pengembalian dari setiap dolar investasi incremental. Tobin’s Q dihitung
dengan membandingkan rasio nilai pasar saham perusahaan dengan nilai
buku ekuitas perusahaan

Pengertian Nilai Perusahaan


Salah Satu tujuan suatu perusahaan adalah memaksimumkan nilai
perusahaan, nilai perusahaan yang digunakan sebagai pengukur keberhasilan
perusahaan karena dengan meningkatnya nilai perusahaan berarti meningkatnya
kemakmuran pemilik perusahaan atau pemegang saham.
Fahmi (2013: 50) menyatakan bahwa nilai perusahaan adalah
β€œβ€¦memberikan informasi seberapa besar masyarakat menghargai perusahaan,
sehingga mereka membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai buku saham”.
Bagi perusahaan yang sudah go public, nilai perusahaan tercermin pada
harga saham. Semakin tinggi harga pasar aham berarti kemakmuran pemegang
saham semakin meningkat. Harga pasar saham juga menunjukkan nilai
perusahaan. Dengan demikian apabila harga saham meningkat berarti pula nilai
perusahaan meningkat (Sartono, 2012: 9). Nilai perusahaan yang tinggi akan
membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga
pada prospek perusahaan di masa yang akan datang.
Weston dan Brigham (2005: 547) menyatakan bahwa nilai perusahaan
merupakan konsep penting bagi investor, karena nilai perusahaan merupakan
indikator bagaimana pasar menilai perusahaan secara keseluruhan. Nilai
perusahaan akan tercermin dari harga pasar saham perusahaan tersebut. Apabila
harga saham tinggi berarti saham akan diminati oleh investor, dan dengan
permintaan yang meningkat menyebabkan nilai perusahaan juga meningkat.
Harga saham merupakan satu-satunya cara untuk menerjemahkan nilai perusahaan
ke dalam nilai keuangan secara mudah dan dapat diperbandingkan (Ratnasari et
al., 2017: 84).
Nilai perusahaan dapat dihitung melalui dua metode yaitu menggunakan
Tobins’Q dan Price-Book-Value. Kedua rasio ini menggambarkan bagiamana
investor menilai perusahan secara keseluruhan. Rasio Tobins’Q dapat menjadi
proksi nilai perusahaan yang baik dari segi investasi sedangkan rasio Price Book
Value menunjukkan hubungan antara harga saham perusahaan dengan laba dan
nilai buku perusahaan, dimana melalui rasio ini, manajemen dapat mengetahui
bagaimana tanggapan investor terhadap kinerja dan prospek perusahaan.
(Himawan dan Christiawan. 2016: 196)

Pengertian Nilai Buku


Tandelilin (2010: 301) menyatakan bahwa nilai buku adalah β€œβ€¦nilai yang
dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan penerbit saham (emiten)”.
Azis et al., (2015: 87) menyatakan bahwa nilai buku per lembar saham
adalah β€œβ€¦ nilai aktiva bersih (net assets) yang dimiliki pemilik dengan memiliki
satu lembar saham”.
Horne dan Wachowicz, JR yang dialihbahasakan oleh Fitriasari dan Arnos
K (2007: 375) menyatakan bahwa nilai buku per lembar saham adalah β€œβ€¦ekuitas
pemegang saham-total aktiva dikurangi total kewajiban dan saham preferen
seperti yang tercantum dalam neraca- dibagi dengan jumlah lembar saham yang
beredar

Pengertian Perusahaan


Hery (2016: 2) menyatakan bahwa perusahaan adalah β€œSebuah organisasi
yang beroperasi dengan tujuan menghasilkan keuntungan, dengan cara menjual
produk (barang atau jasa) kepada para pelanggannya”.
Hughes dan Kapoor dalam Alma (2012: 21) menyatakan bahwa perusahaan
adalah β€œβ€¦the organized effort of individuals to produce and sell for a profit, the
goods and services that satisfy society’s needs. The general term business refers
to all such efforts within a society or within an industry”. Maksudnya adalah
suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk mengahasilkan dan
menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat.
Alma (2012: 37) menyatakan bahwa perusahaan adalah β€œβ€¦suatu kesatuan
organisasi yang mengorganisir faktor-faktor produksi dengan tujuan berproduksi”

Aspek-aspek Kebijakan Dividen


Sudana (2011: 171) menyatakan bahwa ada beberapa aspek kebijakan
dividen antara lain:

  1. Stabilitas dividen
    Perusahaan yang membayar dividen secara stabil dari waktu ke waktu
    kemungkinan dinilai lebih baik daripada perusahaan yang membayar
    dividen secara berfluktuasi. Hal ini karena perusahaan yang membayar
    dividen secara stabil mencerminkan kondisi keuangan perusahaan
    tersebut stabil dan sebaliknya, perusahaan dengan dividen tidak stabil
    mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang kurang baik.
  2. Target payout ratio
    Sejumlah perusahaan mengikuti kebijakan target dividend payout ratio
    jangka panjang. Hal ini akan mengakibatkan besarnya jumlah dividen
    yang dibayarkan berfluktuasi atau dividennya tidak stabil. Perusahaan
    hanya akan meningkatkan dividend payout ratio, jika pendapatan
    perusahaan meningkat dan perusahaan merasa mampu mempertahakan
    kenaikan pendapatan tersebut dalam jangka panjang.
  3. Dividen reguler dan dividen ekstra
    Salah satu cara perusahaan meningkatkan dividen kas adalah dengan
    memberikan dividen ekstra di samping dividend reguler. Hal ini biasanya
    dilakukan jika pendapatan perusahaan meningkat cukup besar, tetapi
    sifatnya sementara. Apabila tidak terjadi peningkatan pendapatan
    perusahaan, dividen yang dibagikan hanya dividend reguler

Rumus–Rumus Mengukur Kebijakan Dividen


Mengukur dividen yang dibayarakan oleh perusahan dapat diukur
menggunakan beberapa metode. Gumanti (2013: 22) mengemukakan ukuran
kebijakan dividen sebagai berikut:

  1. Dividend payout, menurut Hanafi dan Halim (2012: 83) rasio pembayaran
    dividen diukur dengan cara membagi besarnya dividen per lembar saham
    dengan laba bersih per lembar saham, yang secara matematis dapat
    dinyatakan dengan rumus berikut:
    Dividend Payout Ratio =
  2. Dividend yield, menurut Hanafi dan Halim (2012: 75) merupakan yang
    berkaitan dengan besaran dividen dengan harga saham perusahaan

Jenis-jenis Dividen


Dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham
terdiri dari beberapa jenis dividen yang berbeda-beda. Gumanti (2013: 21)
menyatakan bahwa ada sejumlah cara untuk membedakan dividen. Pertama,
dividen dapat dibayarkan bentuk tunai (cash dividen) atau dalam bentuk saham
(stock dividen). Pembagian dividen umumnya didasarkan atas akumulasi laba
(yaitu laba ditahan) atau atas beberapa pos modal lainnya seperti tambahan modal
disetor.
Rudianto (2012: 290) menyatakan bahwa jenis dividen yang dapat
dibagikan oleh perusahaan kepada pemegang sahamnya sebagai berikut:

  1. Dividen tunai, yaitu bagian laba usaha yang dibagikan kepada
    pemegang saham dalam bentuk uang tunai. Sebelum dividen
    dibagikan, perusahaan harus mempertimbangkan ketersediaan dana
    untuk membayar dividen. Jika perusahaan memilih untuk membagikan
    dividen tunai itu berarti pada saat dividen akan dibagikan kepada
    pemegang saham perusahaan memiliki uang tunai dalam jumlah yang
    cukup.
  2. Dividen harta, yaitu bagian dari laba usaha perusahaan yang dibagikan
    dalam bentuk harta selain kas. Walaupun dapat berbentuk harta lain,
    tetapi biasanya harta tersebut dalam bentuk surat berharga yang
    dimiliki oleh perusahaan.
  3. Dividen skrip atau dividen utang, yaitu bagian dari laba usaha
    perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk
    janji tertulis untuk membayar sejumlah uang dimasa datang. Dividen
    skrip terjadi karena perusahaan ingin membagikan dividen dalam
    bentuk uang tunai, tetapi tidak tersedia kas yang cukup, walupun laba
    ditahan menunjukan saldo yang cukup. Karena itu, pihak manajemen
    perusahaan menjanjikan untuk membayar sejumlah uang di masa
    mendatang kepada para pemegang saham.
  4. Dividen saham, yaitu bagian dari laba usaha yang ingin dibagikan
    kepada pemegang saham dalam bentuk saham baru perusahaan itu
    sendiri. Dividen saham dibagikan karena perusahaan ingin
    mengkapitalisasi sebagian laba usaha yang diperolehnya secara
    permanen.
  5. Dividen Likuidasi, yaitu dividen yang ingin dibayarkan oleh
    perusahaan kepada pemegang saham dalam berbagai bentuknya, tetapi
    tidak didasarkan pada besarnya laba usaha atau saldo laba ditahan
    perusahaan. Dividen likuidasi merupakan pengembalian modal atas
    investasi pemilik oleh perusahaan.

Pengertian Dividen


Halim (2015: 135) menyatakan bahwa β€œβ€¦dividen akan dipergunakan
investor sebagai alat penduga mengenai prestasi perusahaan dimasa mendatang,
dividen menyampaikan pengharapan-pengharapan manajemen menganai masa
depan”.
Syakur (2015: 201) menyatakan bahwa β€œβ€¦bagian dari laba ditahan
perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai keuntungan
investasi”.
Sedangkan Hanafi (2016: 361) mendefinisikan dividen sebagai berikut
”…kompensasi yang diterima oleh pemgang saham, di samping capital gain

Rumus–Rumus Mengukur Keputusan Pendanaan

Terdapat beberapa metode perhitungan untuk mengukur keputusan
pendanaan, adapun rumus-rumus untuk mengukur keputusan pendanaan, sebagai
berikut :

  1. Debt to Total Assets Ratio (debt ratio)
    Pengertian Debt to Total Assets Ratio menurut Kasmir (2015: 156) :
    β€œRasio ini merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur
    perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Dengan kata lain,
    seberapa besar aktiva perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan
    aktiva”.
  2. Debt to Equity Ratio (DER)
    Pengertian Debt to Equity Ratio menurut Kasmir (2015: 157) :
    β€œMerupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas.
    Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang,
    termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk
    mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor dengan
    pemilik perusahaan). Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk
    mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan
    utang”.
    Perhitungan DER dilakukan dengan menggunakan rumus :
  3. Long Term Debt to Equity Ratio (LTDER)
    Pengertian Long Term Debt to Equity Ratio menurut Kasmir (2015: 159) :
    β€œMerupakan rasio antara utang jangka panjang dengan modal sendiri.
    Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal
    sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan cara
    membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang
    disediakan oleh perusahaan”.

Teori Struktur Modal


Terdapat beberapa teori yang berkenaan dengan struktur modal,
diantaranya yaitu trade-off theory, pecking order theory, dan signalling theory;
a. Trade-off theory
Trade-off theory menyatakan bahwa perusahaan menukar manfaat
pajak dari pendanaan hutang dengan masalah yang ditimbulkan oleh
potensi kebangkrutan (Brigham dan Houston, 2011: 183). Esensi trade-off
theory dalam struktur modal adalah menyeimbangkan manfaat dan
pengorbanan yang timbul sebagai akibat penggunaan hutang. Sejauh
manfaat lebih besar, tambahan hutang masih diperkenankan. Apabila
pengorbanan karena penggunaan hutang sudah lebih besar, maka
tambahan hutang sudah tidak diperbolehkan. Trade-off theory telah
mempertimbangkan berbagai faktor seperti corporate tax, biaya
kebangkrutan, dan personal tax dalam menjelaskan mengapa suatu
perusahaan memilih suatu struktur modal tertentu (Rahmanto, 2017: 17).
Kesimpulan trade-off theory adalah penggunaan hutang akan
meningkatkan nilai perusahaan tetapi hanya pada sampai titik
tertentu. Walaupun model ini tidak dapat menentukan secara tepat struktur
modal yang optimal, namun model tersebut memberikan kontribusi
penting yaitu:
1) Perusahaan yang memiliki aktiva tinggi sebaiknya menggunakan
sedikit hutang.
2) Perusahaan yang membayar pajak tinggi sebaiknya lebih banyak
menggunakan hutang dibandingkan dengan perusahaan yang
membayar pajak rendah.
b. Pecking Order Theory
Dalam Pecking Order Theory tidak terdapat struktur modal yang
optimal. Secara spesifik perusahaan mempunyai urut-urutan preferensi
(hierarki) dalam penggunaan dana. Berdasarkan Pecking Order Theory
yang dikutip oleh Smart dan Gitman (2004) dalam Nisa (2017: 94),
terdapat scenario urutan (hierarki) dalam memilih sumber pendanaan,
yaitu:

  1. Perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana dari dalam
    atau pendanaan internal daripada pendanaan eksternal. Dana internal
    tersebut diperoleh dari laba ditahan yang dihasilkan dari kegiatan
    operasional perusahaan.
  2. Jika pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan akan memilih
    pertama kali mulai dari sekuritas yang paling aman, yaitu hutang yang
    paling rendah risikonya, turun ke hutang yang lebih berisiko, sekuritas
    hybrid seperti obligasi konversi, saham preferen, dan yang terakhir saham
    biasa.
  3. Terdapat kebijakan dividen yang konstan, yaitu perusahaan akan
    menetapkan jumlah pembayaran dividen yang konstan, tidak terpengaruh
    seberapa besarnya perusahaan tersebut untung atau rugi.
  4. Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan kas karena adanya kebijakan
    dividen yang konstan dan fluktuasi dari tingkat keuntungan, serta
    kesempatan investasi, maka perusahaan akan mengambil portofolio
    investasi yang lancar tersedia.
    Pecking Order Theory tidak mengindikasikan target struktur modal.
    Manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat hutang yang optimal.
    Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Pecking Order Theory ini
    dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan
    yang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang kecil. (Nisa, 2017: 95)

Pengertian Struktur Modal


Terdapat beberapa pengertian mengenai struktur modal, yaitu:
Sutrisno (2012: 255) mendefinisikan struktur modal bahwa β€œStruktur modal
merupakan imbangan antara modal asing atau hutang dengan modal sendiri”.
Sedangkan Harmono (2011: 235) menyatakan bahwa β€œStruktur modal
adalah proporsi utang dan modal terhadap modal perusahaan”.
Riyanto (2010: 22) mendefinisikan struktur modal adalah β€œStruktur modal
adalah pembelanjaan permanen dimana mencerminkan perimbangan antara utang
jangka panjang dengan modal sendiri”

Pengertian Keputusan Pendanaan


Keputusan pendanaan adalah keputusan yang berhubungan dengan sumber
dana yang didapat perusahaan. Sumber dana bisa berasal dari hutang dan modal
sendiri. Manajemen dapat menentukan seberapa besar komposisi hutang dan
ekuitas bagi perusahaan. Perusahaan yang lebih banyak dibiayai oleh hutang
memiliki kewajiban lebih besar untuk membayar hutangnya. (Himawan dan
Christiawan, 2016: 197)
Martono dan Harjito (2010: 5) menyatakan bahwa keputusan pendanaan
menyangkut beberapa hal; Pertama, keputusan mengenai penetapan sumber dana
yang diperlukan untuk membiayai investasi. Kedua, penetapan tentang
perimbangan pembelanjaan yang terbaik atau sering disebut struktur modal yang
optimum.
Fungsi pendanaan harus dilakukan secara efisien. Manajer keuangan harus
mengusahakan agar perusahaan dapat memperoleh dana yang diperlukan dengan
biaya yang minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan. Manajer
keuangan harus mempertimbangkan dengan cermat sifat dan biaya dari
masingmasing sumber dana yang akan dipilih, karena masing-masing sumber
dana mempunyai konsekuensi finansial yang berbeda-beda. Dalam melaksanakan
fungsi pendanaan, manajer keuangan harus selalu mencari alternatif-alternatif
sumber dana untuk kemudian dianalisa, dan dari hasil analisa tersebut harus
diambil keputusan alternatif sumber dana atau kombinasi sumber dana mana yang
akan dipilih. Dengan demikian, manajer keuangan harus mengambil keputusan
pendanaan (Riyanto, 2010: 5).

Rumus–Rumus Mengukur Keputusan Investasi


Terdapat beberapa metode perhitungan untuk mengukur keputusan
pendanaan, adapun rumus-rumus untuk mengukur keputusan pendanaan, sebagai
berikut :

  1. Price Earning Ratio (PER)
    Brigham dan Houston (2011: 150), Price Earning Ratio (PER) merupakan
    rasio harga per saham terhadap laba per saham untuk menunjukan jumlah
    yang rela dibayarkan oleh investor untuk setiap dolar laba yang
    dilaporkan.
    Adapun rumus perhitungan PER adalah sebagai berikut :
    Price Earning Ratio =
    Total Asset Growth (TAG)
    Kasmir (2015: 107), Keputusan investasi dapat diukur dengan indikator
    Total Asset Growth (TAG). Semakin besar aset diharapkan, semakin besar
    hasil operasional yang dihasilkan oleh perusahaan. Peningkatan aset yang
    diikuti peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan
    pihak luar terhadap perusahaan.
    Adapun rumus perhitungan TAG adalah sebagai berikut :
    Total Asset Growth =
    Keterangan :
    TA = Total Asset
    t = Tahun Sekarang
    t-1 = Tahun Sebelumnya

Pengertian Keputusan Investasi


Hemastuti dan Hermanto (2014: 5) menyatakan keputusan investasi adalah
penanaman modal dengan harapan akan memperoleh keuntungan dimasa yang
akan datang. Berdasarkan signaling theory, pengeluaran investasi memberikan
sinyal positif mengenai pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang,
sehingga dapat meningkatkan harga saham yang digunakan sebagai indikator nilai
perusahaan.
Keputusan investasi tidak dapat diamati secara langsung oleh pihak luar.
Beberapa studi yang dilakukan dalam hubungannya dengan keputusan investasi
antara lain Myers (1977) dalam Lestari et al., (2013: 8) yang memperkenalkan
Investment Opportunities Set (IOS). Myers menyatakan bahwa Investment
Opportunities Set (IOS) merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung
pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen dimasa yang akan
datang, dimana investasi yang dilakukan merupakan pilihan-pilihan investasi yang
diharapkan akan menghasilkan return yang besar. Salah satu rasio yang dapat
digunakan untuk menentukan keputusan investasi adalah dengan Price earning
Rasio (PER). PER dapat dilihat dari perbandingan antara harga saham dengan
laba per lembar saham. Semakin tinggi PER maka nilai perusahaan akan
meningkat. PER yang semakin tinggi menunjukkan bahwa harga saham semakin
meningkat dan dari peningkatan harga saham tersebut berpotensi mendatangkan
keuntungan atas selisih harga saham yang terjadi. Perusahaan yang mempunyai
tingkat investasi tinggi maka akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap
perusahaan tersebut. Pertumbuhan investasi tersebut dapat dipersepsikan sebagai
sinyal positif bagi para investor dan peningkatan investasi ini akan dianggap
sebagai pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang dan penentu nilai
perusahaan. (Ratnasari et al., 2017: 83)

Bentuk-bentuk Investasi


Fahmi dan Hadi (2011: 7) menjelaskan bahwa pada umumnya dalam
aktivitas investasi terdapat dua bentuk, yaitu:
a. Investasi nyata (real investment)
Investasi nyata secara umum melibatkan aset berwujud, seperti tanah,
mesin-mesin, atau pabrik.
b. Investasi keuangan (financial investment)
Investasi keuangan melibatkan kontrak tertulis, seperti saham biasa
(common stock) dan obligasi (bond)

Tujuan Investasi


Fahmi dan Hadi (2011: 6) menyatakan untuk mencapai suatu efektifitas
dan efisiensi dalam keputusan, maka diperlukan ketegasan akan tujuan yang
diharapkan. Begitu pula halnya dalam bidang investasi, perlu menetapkan tujuan
yang hendak dicapai, yaitu:
a. Terciptanya keberlanjutan (continuity) dalam investasi tersebut.
b. Terciptanya profit yang maksimum atau keuntungan yang diharapkan
(profit actual)
c. Terciptanya kemakmuran bagi para pemegang saham
d. Turut memberikan andil bagi pembangunan bangsa

Pengertian Investasi


Terdapat beberapa perngertian investasi, yaitu:
Martono dan Harjito (2010: 138) menyatakan bahwa β€œInvestasi merupakan
penanaman dana yang dilakukan oleh suatu perusahaan ke dalam suatu aset
dengan harapan memperoleh pendapatan di masa yang akan datang”.
Mulyadi (2001: 284) menyatakan bahwa β€œInvestasi adalah pengaitan
sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba di masa yang
akan datang”.
Rakhimsyah dan Gunawan (2011: 32) menyatakan bahwa β€œInvestasi
adalah mengorbankan aset yang dimiliki sekarang untuk mendapatkan aset pada
masa yang akan datang dengan jumlah yang lebih besar

Teori Sinyal ( Signalling Theory)


Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya perusahaan
memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal adalah suatu
tindakan yang diambil perusahaan untuk memberi petunjuk bagi investor tentang
bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Sinyal ini berupa
informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk
merealisasikan keinginan pemilik. Informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan
merupakan hal yang penting, karena pengaruhnya terhadap keputusan investasi
pihak di luar perusahaan. (Ratnasari et al., 2017: 82)
Sukirni (2013: 3) menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik
dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar, dengan demikian pasar
diharap dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan buruk. Sinyal
yang dimaksud adalah apa saja yang dilakukan manajemen yang akan
memberikan petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang
prospek perusahaan. Signalling theory menyatakan peningkatan utang diartikan
oleh pihak luar sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban di
masa yang akan datang atau adanya risiko bisnis yang rendah, hal tersebut akan
direspon secara positif oleh pasar (Prapaska, 2013: 5). Jadi, kenaikan pembagian
dividen dapat menjadi sinyal yang baik bagi investor

Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan


Kebijakan dividen adalah keputusan terakhir yang harus diambil oleh seorang
manajer keuangan untuk menentukan proporsi laba yang dibagikan kepada para
pemegang saham yang bertujuan untuk meningkatkan kekayaan dan kinerja para
pemegang saham. Kebijakan dividen akan berpengaruh positif jika dividen yang
dibagikan tinggi maka harga saham akan meningkat, sehingga nilai perusahaan
akan meningkat. Namun kebijakan dividen akan berpengaruh negatif jika laba
yang diperoleh perusahaan sebagian besar digunakan untuk pembagian dividen,
maka kemungkinan besar akan mengurangi laba ditahan sebagai tambahan dana
untuk perputaran modal periode selanjutnya, sehingga laba selanjutnya akan
menurun dan nilai perusahaan pun akan menurun.
Menurut Bird In The Hand Theory, kebijakan dividen dapat berpengaruh
positif terhadap harga pasar saham. Hal ini berarti dividen yang dibagikan
perusahaan semakin besar, maka harga pasar saham perusahaan tersebut akan
semakin tinggi dan sebaliknya. Sebaliknya, menurut Tax preference theory
menyatakan bahwa kebijakan dividen mempunyai pengaruh negatif terhadap
harga pasar saham perusahaan. Hal ini berarti semakin besar jumlah dividen yang
dibagikan suatu perusahaan semakin rendah harga pasar saham perusahaan yang
bersangkutan.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yaitu Yulia Efni dkk (2012)
didapat kesimpulan bahwa kebijakan dividen tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap nilai perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini
berarti kebijakan dividen hanya mengubah timing pembayaran dividen sedemikian
rupa sehingga total aliran kas yang akan diterima dimasa mendatang akan tetap
sama.
Namun berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yaitu Mokhamat Ansori
dkk (2010), Oktaviana Tiara Sari (2013), dan Muhammad Nasrum (2013)
didapatkan kesimpulan bahwa keputusan dividen berpengaruh positif secara
signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti semakin besar dividen yang
dibagikan, maka kinerja perusahaan akan meningkat yang akan meningkatkan
pula nilai perusahaan

Pengaruh Keputusan Pendanaan Terhadap Nilai Perusahaan


Keputusan pendanaan adalah keputusan selanjutnya yang harus diambil seorang
manajer keuangan untuk mendanai investasi-investasi yang dilakukan perusahaan.
Keputusan pendanaan akan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan jika
proporsi hutang meningkat maka dana operasional yang tersedia meningkat, jika
hutang tersebut dikelola dengan baik maka dapat meningkatkan laba perusahaan
sehingga kinerja perusahaan akan tinggi. Jika kinerja perusahaan tinggi maka akan
menaikkan harga saham, sehingga nilai perusahaan akan ikut meningkat. Namun
keputusan pendanaan akan berpengaruh negatif jika proporsi hutang sangat besar,
sehingga menimbulkan biaya bunga yang lebih tinggi dan laba yang diperoleh
menurun dan nilai perusahaan juga akan menurun.
Menurut Static Trade Off Theory (Yulia efni dkk, 2012) menyatakan bahwa
kenaikan hutang akan bermanfaat jika dapat meningkatkan nilai perusahaan. Hal
ini berarti bahwa penambahan hutang belum mencapai batas optimal dari jumlah
hutang yang dapat menyebabkan nilai perusahaan tersebut maksimal.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yaitu Oktaviana Tiara Sari (2013),
didapatkan kesimpulan bahwa keputusan pendanaan berpengaruh negatif tidak
signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti tinggi rendahnya Debt to
Equity Ratio pada perusahaan tidak berpengaruh pada nilai perusahaan.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yaitu Yulia Efni dkk (2012)
didapatkan kesimpulan bahwa keputusan pendanaan hanya akan berpengaruh
terhadap nilai perusahaan jika keputusan pendanaan mampu menurunkan risiko
perusahaan. Hal ini berarti keputusan pendanaan dapat menghasilkan manfaat
yang lebih besar dibandingkan kerugian yang timbul akibat keputusan tersebut
sehingga meningkatkan nilai perusahaan.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yaitu Mokhamat Ansori dkk
(2010) dan Muhammad Nasrum (2013) didapatkan kesimpulan bahwa keputusan
pendanaan berpengaruh positif secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini
berarti semakin meningkat variabel keputusan pendanaan maka akan
mengakibatkan nilai perusahaan meningkat

Kebijakan Dividen


Kebijakan dividen adalah keputusan terakhir manajer keuangan untuk
menentukan proporsi laba yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam
bentuk dividen tunai, proporsi laba yang mungkin akan diputar untuk modal
perusahaan (laba ditahan), dividen dalam bentuk dividen saham (saham biasa &
saham preferen), pemecahan saham (stock split), dan pembelian saham beredar
kembali, keputusan-keputusan ini bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran
dan kinerja para pemegang saham.
Kebijakan dividen dapat diukur dengan indikator DPR (Dividen Payout
Ratio), yaitu rasio untuk mengukur besaran dividen yang akan dibagikan kepada
para pemegang saham perusahaan. Berikut ini rumus untuk mengukur kebijakan
dividen :
………………………………………………………………………. (7)
…………………………………………………………………………………………..(8)
Keterangan :
DPR = Dividen Payout Ratio (%)
DPS = Dividen Per Share (Rp)
EPS = Earning Per Share (Rp)
Beberapa teori kebijakan dividen yang dikemukakan oleh Dermawan
Sjahrial (2007 : 311-313) antara lain:

  1. Teori Dividen Tidak Relevan (Dividend Irrelevance Theory)
    Teori ini dikemukakan oleh Merton Miller dan Franco Modigliani (MM).
    Kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga pasar saham perusahaan atau
    nilai perusahaan. Modigliani dan Miller berpendapat bahwa nilai perusahaan
    hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan
    dan risiko bisnis, sedangkan bagaimana cara membagi arus pendapatan
    menjadi dividen dan laba ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan.
    Dividend Irrelevance Theory adalah suatu teori yang mengemukakan
    bahwa investor tidak peduli terhadap besar kecilnya dividen yang diberikan
    perusahaan kepada para pemegang saham. Teori ini diasumsikan bahwa tidak
    ada biaya transaksi dan pajak sehingga sulit untuk diterapkan dalam dunia
    nyata.
    Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap
    biaya modal dan nilai perusahaan. Nilai perusahaan tidak ditentukan oleh besar
    kecilnya DPR tapi ditentukan oleh pendapatan bersih dan kelas risiko
    perusahaan.
  2. Teori Bird In The Hand (Bird In The Hand Theory)
    Bird In The Hand Theory menurut Myron Gordon dan John Lintner
    adalah kebijakan dividen yang dapat berpengaruh positif terhadap harga pasar
    saham. Hal ini berarti dividen yang dibagikan perusahaan semakin besar,
    maka harga pasar saham perusahaan tersebut akan semakin tinggi dan
    sebaliknya. Hal ini terjadi karena pembagian dividen dapat mengurangi
    ketidakpastian yang dihadapi investor.
    Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri perusahaan
    akan turun jika Dividend Payout Ratio (DPR) tinggi karena investor lebih suka
    menerima dividen dibanding capital gain. Nilai perusahaan akan
    dimaksimalisasi dengan DPR yang tinggi. Namun menurut Modigliani dan
    Miller, pendapat Gordon dan Lintner merupakan suatu kesalahan, karena
    akhirnya investor akan kembali menginvestasikan dividen yang diterima pada
    perusahaan yang sama atau perusahaan yang memiliki resiko yang hampir
    sama.
    Teori Bird-In-The-Hand adalah teori yang menjelaskan bahwa investor
    menghendaki pembayaran dividen yang tinggi. Alasan yang sering
    dikemukakan dalam memilih Teori Bird-In-The-Hand ini karena ada anggapan
    bahwa mendapat dividen tinggi saat ini resikonya lebih kecil daripada
    mendapat capital gain di masa yang akan datang. Salah satu keuntungan bila
    menerapkan Teori Bird-In-The-Hand ini adalah dengan memberikan dividen
    yang tinggi, maka harga saham perusahaan juga akan semakin tinggi pula.
    Tetapi perlu dicatat bahwa investor diharuskan membayar pajak yang besar
    akibat dari dividen yang tinggi.
  3. Teori Perbedaan Pajak (Tax Preference Theory)
    Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Alasannya karena
    adanya pembayaran pajak terhadap dividen dan capital gain, para investor
    lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak.
    Tax preference theory menyatakan bahwa kebijakan dividen mempunyai
    pengaruh negatif terhadap harga pasar saham perusahaan. Hal ini berarti
    semakin besar jumlah dividen yang dibagikan suatu perusahaan semakin
    rendah harga pasar saham perusahaan yang bersangkutan. Hal ini terjadi jika
    ada perbedaan antara tarif pajak personal atas pendapatan dividen dan capital
    gain. Apabila tarif pajak dividen lebih tinggi daripada pajak capital gain, maka
    investor akan lebih senang jika laba yang diperoleh perusahaan tetap ditahan di
    perusahaan, untuk mendanai investasi yang dilakukan perusahaan. Dengan
    demikian di masa yang akan datang diharapkan terjadi peningkatan capital
    gain yang tarif pajaknya lebih rendah. Apabila banyak investor yang memiliki
    pandangan demikian, maka investor cenderung memilih saham-saham dengan
    dividen kecil dengan tujuan untuk menghindari pajak.
    Teori ini adalah teori yang mengemukakan bahwa investor menghendaki
    pembayaran dividen yang rendah. Hal ini dikarenakan dividen dikenakan
    pajak, sehingga banyak investor tidak menghendaki pembayaran dividen yang
    tinggi.
    Berdasarkan ketiga teori diatas dapat disimpulkan bahwa pengaruh
    kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan tergantung dari kelompok pemegang
    saham. Kelompok saham yang suka kepastian akan lebih menyukai dividen
    daripada capital gain yang belum pasti akan diperoleh, kelompok ini lebih
    menyukai posisi aman. Kelompok pemegang saham lainnya yang bertujuan untuk
    menghindari pajak yang tinggi akan lebih menyukai menahan sebagian labanya
    untuk mendanai investasi yang dilakukan perusahaan. Kelompok yang terakhir
    yaitu pemegang saham yang tidak peduli terhadap pembagian dividen, sehingga
    tidak ada biaya transaksi dan pajak. Namun kelompok ini sangat jarang terjadi
    karena pada kehidupan nyata investor tetap memperhitungkan perolehan dividen
    baik besar maupun kecil, sehingga akan mempengaruhi nilai perusahaan.
    Berdasarkan penjelasan diatas, didukung juga oleh teori efek klien
    (Clientele Effect Theory) menurut Agnes Sawir (2004 : 148) yang menyatakan
    bahwa kelompok pemegang saham yang memiliki preferensi berbeda terhadap
    kebijakan dividen perusahaan. Kelompok pemegang saham yang membutuhkan
    penghasilan saat ini lebih menyukai dividend payout ratio yang tinggi.
    Sebaliknya, kelompok pemegang saham yang tidak begtu membutuhkan uang saat
    ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian laba bersihnya.
    Menurut Modgliani dan Miller (MM), efek klien ini tidak menunjukkan
    bahwa dividen besar lebih baik daripada dividen kecil atau sebaliknya. Efek klien
    ini hanya memperlihatkan bahwa bagi sekelompok pemegang saham, kebijakan
    dividen tertentu lebih menguntungkan mereka (Agnes Sawir 2004 : 148)

Keputusan Pendanaan


Keputusan pendanaan adalah keputusan selanjutnya yang harus diambil manajer
keuangan untuk mendanai investasi-investasi yang dilakukan perusahaan. Pada
keputusan ini, manajer keuangan dituntut untuk mempertimbangkan dan
menganalisis sumber-sumber dana untuk membiayai investasi-investasi tersebut.
Pada keputusan ini manajer keuangan harus memahami betul berapa proporsi,
komposisi, kombinasi, dan efisiensi pembiayaan yang diperlukan perusahaan.
Keputusan ini terletak pada sisi kanan laporan neraca, yaitu kewajiban lancar dan
kewajiban jangka panjang. Kewajiban lancar meliputi hutang usaha dan hutang-
kewajiban jangka pendek lainnya. Kewajiban jangka panjang meliputi hutang
bank, penerbitan saham & obligasi, dan kewajiban jangka panjang lainnya.
Keputusan pendanaan dapat diukur dengan rasio DER (Debt to Equity
Ratio), yaitu rasio untuk mengukur seberapa perusahaan menggunakan sumber
dana dari hutang dan merefleksikan kemampuan perusahaan membayar kewajiban
dalam jangka panjang. Semakin tinggi hutang maka semakin besar risiko finansial
perusahaan.
Berikut ini rumus untuk mengukur keputusan pendanaan :
…………………………………………………………………………………..(6)
Keterangan :
DER = Debt to Equity Ratio (X)
Berdasarkan proses arbitrase, M&M berkesimpulan bahwa perusahaan tidak
dapat mengubah nilai total atau biaya modal rata-rata tertimbangnya dengan
menggunakan leverage keuangan. Berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat
dilihat bahwa tidak hanya nilai total perusahaan yang tidak terpengaruh oleh
berbagai perubahan dalam leverage keuangan, tetapi juga harga saham.
Akibatnya, keputusan pendanaan bukanlah masalah dari sudut pandang tujuan
memaksimalkan harga saham per lembar. Struktur modal yang satu sama baiknya
dengan struktur modal lainnya (Van Horne 2007 : 242).
Menurut Modigliani dan Miller (MM) menunjukkan bahwa pendapat
pendekatan tradisional adalah tidak benar. MM menunjukkan kemungkinan
munculnya proses arbitrage yang akan membuat harga saham yang tidak
menggunakan hutang maupun yang menggunakan hutang akhirnya sama. Dengan
demikian MM menunjukkan bahwa dalam keadaan pasar modal sempurna dan
tidak ada pajak, maka keputusan pendanaan menjadi tidak relevan. Hal ini berarti
penggunaan hutang atau modal sendiri akan memberi dampak yang sama bagi
kemakmuran pemegang saham (Suad Husnan 2012 : 266, 268).
Berikut beberapa pendekatan mengenai teori struktur modal, yaitu sebagai
berikut :

  1. Static Trade Off Theory
    Static Trade Off Theory mengemukakan bahwa hutang mempunyai dua sisi,
    yaitu sisi negatif dan positif. Sisi positif dari hutang bahwa pembayaran bunga
    akan mengurangi pendapatan kena pajak. Penghematan pajak ini akan
    meningkatkan nilai pasar perusahaan. Hutang menguntungkan perusahaan
    karena pembayaran bunga diperhitungkan sebagai biaya dan mengurangi
    penghasilan kena pajak, sehingga jumlah pajak yang dibayarkan perusahaan
    berkurang. Sisi negatifnya yaitu pembagian dividen kepada para pemegang
    saham tidak mengurangi pembayaran pajak perusahaan. Jadi dari sisi pajak
    akan lebih menguntungkan jika perusahaan membiayai investasi dengan hutang
    karena adanya pengurangan pajak (Ferdiansyah F. : 2012).
    Teori ini memperkirakan bahwa rasio hutang sasaran akan bervariasi dari
    satu perusahaan ke perusahaan lain. Perusahaan dengan aset berwujud dan
    aman serta laba kena pajak yang melimpah yang harus dilindungi sebaiknya
    memiliki rasio sasaran yang tinggi. Perusahaan yang tidak menguntungkan
    dengan aset tak berwujud yang berisiko sebaiknya hanya bergantung pada
    pendanaan ekuitas (Brealey, Myers, Marcus 2010 : 24).
  2. Pecking Oder Theory
    Teori ini menjelaskan mengapa perusahaan akan menentukan hirearki
    sumber dana yang paling disukai. Teori ini mendasarkan diri atas informasi
    asimetrik, yaitu suatu istilah yang menunjukkan bahwa manajemen mempunyai
    informasi yang lebih banyak daripada pemodal publik. Kondisi ini dapat dilihat
    dari reaksi harga saham pada waktu manajemen mengumumkan sesuatu.
    Informasi asimetrik ini mempengaruhi pilihan antara sumber dana internal atau
    eksternal, dan antara penerbitan hutang baru atau ekuitas baru (Suad Husnan
    2012 : 276). Keputusan pendanaan berdasarkan pecking order theory terhadap
    perilaku pendanaan perusahaan (Suad Husnan 2012 : 278) adalah sebagai
    berikut :
    a. Perusahaan lebih menyukai pendanaan internal.
    b. Perusahaan akan berusaha menyesuaikan rasio pembayaran dividen
    terhadap peluang investasi yang dihadapi, dan berupaya untuk tidak
    melakukan perubahan pembayaran dividen yang terlalu besar.
    c. Pembayaran dividen yang cenderung konstan dan fluktuasi laba yang
    diperoleh mengakibatkan dana internal kadang-kadang berlebih atau kurang
    untuk investasi.
    d. Apabila pendanaan eksternal dibutuhkan, maka perusahaan akan
    menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dulu. Dimulai dari
    penerbitan obligasi, kemudian obligasi yang dapat dikonversikan menjadi
    modal sendiri, lalu menerbitkan saham baru.
    Menurut Brealey dkk (2010 : 25) mengungkapkan bahwa teori ini
    berbunyi :
  3. Perusahaan menyukai pendanaan internal karena dana ini terkumpul
    tanpa mengirimkan sinyal sebaliknya yang dapat menurunkan harga
    saham.
  4. Jika dana eksternal dibutuhkan, perusahaan menerbitkan hutang terlebih
    dahulu dan hanya menerbitkan ekuitas sebagai pilihan terakhir. Teori ini
    muncul karena penerbitan hutang tidak terlalu diterjemahkan sebagai
    pertanda buruk bagi investor bila dibandingkan dengan penerbitas
    ekuitas.

Keputusan Investasi


Keputusan investasi adalah salah satu keputusan yang harus diambil manajer
keuangan untuk mengalokasikan dana-dana yang ada agar mendatangkan
keuntungan di masa mendatang. Investasi dapat berasal dari dalam maupun luar
perusahaan. Investasi yang berasal dari dalam perusahaan meliputi kas, surat-surat
berharga, piutang dagang, persediaan, beban-beban yang dibayar dimuka (sewa
dibayar dimuka), dan investasi jangka pendek lainnya. Investasi ini terletak dalam
aset lancar di laporan neraca perusahaan. Sebaliknya, investasi dari luar
perusahaan meliputi peralatan, tanah, gedung, mesin, kendaraan, dan investasi
jangka panjang lainnya. Investasi ini terletak dalam aset tetap di laporan neraca.
Keputusan investasi terletak di sisi kiri laporan neraca.
Keputusan investasi dapat diukur dengan indikator Total Asset Growth
(TAG). Semakin besar aset diharapkan semakin besar hasil operasional yang
dihasilkan oleh perusahaan (Bagus Laksono, 2006). Peningkatan aset yang diikuti
peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar
terhadap perusahaan. Berikut ini rumus untuk mengukur keputusan investasi
menggunakan TAG :
……………………………………………………………………………………………….(5)
Keterangan :
TAG = Total Asset Growth (X)
TA = Total Asset
t = Tahun sekarang
t-1 = Tahun sebelumnya
23
Berikut adalah beberapa teori yang mendukung keputusan investasi :

  1. Signalling Theory
    Teori ini dikemukakan oleh Michael Spense di dalam artikelnya tahun
  2. Teori tersebut menyatakan bahwa pengeluaran investasi memberikan
    sinyal positif terhadap pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang,
    sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan
    (Wahyudi dan Pawestri, 2006).
    Teori ini menunjukkan bahwa pengeluaran investasi yang dilakukan oleh
    perusahaan memberikan sinyal, khususnya pada investor maupun kreditur
    bahwa perusahaan tersebut akan tumbuh di masa mendatang. Pengeluaran
    investasi yang dilakukan oleh manajer pastinya telah memperhitungkan return
    yang akan diterima dan hal tersebut sudah pasti akan memilih pilihan yang
    paling menguntungkan perusahaan.
  3. Fisherian’s Theory
    Teori ini dikemukakan oleh Irving Fisher yang merupakan ekonom
    neoklasik berkebangsaan Amerika. Teori tersebut menyatakan bahwa dengan
    adanya asimetri informasi antara investor dengan manajemen, maka investor
    sebagai pihak luar tidak dapat melihat perilaku manajemen dalam membuat
    keputusan investasi sehingga akan melakukan investigasi perilaku manajer
    melalui sisi lain.
    Menurut Harmono (2009 : 9-10) kebijakan investasi dikatakan layak
    dilakukan berdasarkan konsep Balanced Scorecard (BSC), jika :
  4. Aspek pasar berkaitan dengan investasi yang akan dilakukan harus visibel
    sebagai sarana untuk menyalurkan produk yang akan dihasilkan dari kegiatan
    investasi. Misalnya, investasi aktiva tetap berupa mesin dalam rangka
    meningkatkan kapasitas produksi.
  5. Setelah identifikasi nilai pelanggan dari analisis marketing terpenuhi,
    selanjutnya disesuaikan dengan nilai-nilai proses bisnis internal berupa
    investasi aktiva tetap mesin sebagai bagian dari aktivitas proses bisnis internal.
  6. Melakukan pengelolaan sumber daya manusia untuk melaksanakan
    operasionalisasi investasi aktiva tetap mesin secara profesional.
  7. Melakukan pencatatan, pendokumentasian semua aktivitas dari ketiga dimensi
    pengelolaan BSC melalui pencatat skor dalam bentuk indikator-indikator
    kinerja keuangan sebagai dasar evaluasi dan pengendalian aktivitas investasi
    dan aktivitas lain yang terkait dalam bisnis perusahaan secara sinergis.

Definisi promosi

Definisi promosi menurut Michael Ray, yaitu koordinasi dari
seluruh upaya yang dilakukan oleh pihak penjual untuk membangun
berbagai saluran informasi maupun persuasif dalam menjual produk
maupun jasa atau memperkenalkan suatu gagasan (Morissan, 2010). Dalam
kegiatan ini setiap perusahaan berusaha dalam mempromosikan seluruh
produknya baik secara langsung maupun tidak langsung. Tanpa promosi,
tidak bisa dipastikan jika konsumen dapat mengenal perusahaan, bahkan
mengenal produk yang dijual. Oleh sebab itu, setiap perusahaan
membutuhkan promosi sebagai sarana yang paling ampuh dalam menarik
konsumen baru serta mempertahankan konsumen lama

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran merupakan suatu proses untuk
memberikan nilai kepada konsumen serta membangun hubungan
dengan konsumen dengan cara yang menguntungkan perusahaan.
Menurut Philip dan Keller, manajemen pemasaran adalah suatu seni dan
ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, hingga
menumbuhkan konsumen baru dengan cara menciptakan,
menghantarkan, dan mengomunikasikan nilai konsumen yang unggul.
Sementara menurut Stanton, manajemen pemasaran merupakan sarana
yang didayagunakan dalam suatu bisnis untuk menjalankan konsep
pemasaran (Priansa, 2017).
Berdasarkan dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
manajemen pemasaran merupakan ilmu dan seni yang dilaksanakan
melalui fungsi-fungsi manajemen yang meliputi, perencanaan,
pengorganisasian, pengaktualisasian, dan pengendalian guna
menyampaikan produk serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
yang berasal dari produsen kepada konsumen. Oleh sebab itu,
manajemen pemasaran yang efektif akan mampu menjembatani
kebutuhan serta keinginan dari konsumen secara efektif melalui
penyediaan produk serta nilai secara berkesinambungan.

Pemasaran


Marketing (Pemasaran) berasal dari kata market (pasar). Secara
sederhana, pasar dipahami sebagai tempat bertemunya sekelompok penjual
dan pembeli untuk melaksanakan transaksi tukar-menukar barang. Pasar
adalah tempat dimana konsumen dengan segala kebutuhan dan
keinginannya bersedia dan mampu terlibat dalam pertukaran untuk
memenuhi kebutuhan serta keinginannya tersebut. Pemasaran merupakan
serangkaian kegiatan yang tidak hanya menciptakan kegunaan
tempat/place, utility, serta kegunaan waktu, namun juga menciptakan
kegunaan kepemilikan (Priansa, 2017). Utility yaitu kapasitas dari suatu
barang maupun jasa yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Kotler dan
Armstrong sebagaimana dikutip oleh Priansa (2017) menyatakan bahwa
pemasaran adalah kegiatan mengelola hubungan dengan pelanggan yang
saling menguntungkan.
Kegiatan pemasaran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
sebuah perusahaan, baik perusahaan yang berorientasi pada profit maupun
perusahaan yang berbasis sosial, keduanya membutuhkan pemasaran.
Menurut The American Marketing Association dalam Morissan (2010),
pemasaran diartikan sebagai suatu proses perencanaan maupun pelaksanaan
konsepsi, harga, promosi serta mendistribusikan ide, barang dan jasa
sebagai upaya menciptakan pertukaran yang dapat memuaskan individu
serta mencapai tujuan organisasi (Morissan, 2010). Sementara menurut
William J. Stanton, pemasaran merupakan suatu sistem dalam kegiatan
bisnis yang terdiri dari perencanaan, penentuan harga, promosi, serta
pendistribusian barang dan jasa dalam memuaskan kebutuhan existing
customer dan potential customer (Ikatan Bankir Indonesia, 2015). Dari
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah β€˜suatu seni
menjual sebuah produk’ yang diawali dengan perancangan sebuah produk
hingga pada terjualnya produk.
Tidak ada perbedaan dari pengertian pemasaran bagi setiap
perusahaan, hanya saja karakteristik produknya yang berbeda. Misalnya
pemasaran bagi perusahaan yang memproduksi barang tentu akan berbeda 20
dengan perusahaan yang menyediakan jasa seperti perbankan. Bagi
perusahaan jasa seperti perbankan, produk yang ditawarkan bersifat abstrak
atau tidak dapat dilihat secara nyata, hanya saja dapat dirasakan, sehingga
strategi pemasaran yang diterapkan haruslah tepat dan sesuai dengan
karakteristik produknya

Persaingan Bisnis


Persaingan berasal dari bahasa Inggris yaitu competition yang artinya
persaingan itu sendiri atau kegiatan bersaing, pertandingan, dan kompetisi.
Persaingan adalah ketika organisasi atau perorangan berlomba untuk mencapai
tujuan yang diinginkan seperti konsumen, pangsa pasar, peringkat survei, atau
sumber daya yang dibutuhkan (Kuncoro, 2006).
Persaingan adalah usaha-usaha dari dua pihak/lebih perusahaan yang
masing-masing bergiat β€œmemperoleh pesanan” dengan menawarkan harga/syarat
yang paling menguntungkan. Persaingan ini dapat terdiri dari beberapa bentuk
pemotongan harga, iklan/promosi, variasi dan kualitas, kemasan, desain, dan
segmentasi pasar (Marbun, 2013).
Persaingan usaha dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu persaingan sehat
(perfect competition) dan persaingan tidak sehat (Surhasril dan Makarao, 2013) :
a. Persaingan sehat (Perfect Compotititon)
Persaingan sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Menjamin persaingan di pasar yang inheren dengan pencapaian
    efisiensi ekonomi di semua bidang kegiatan usaha dan perdagangan.
  2. Menjamin kesejahteraan konsumen serta melindungi kepentingan
    konsumen.
  3. Membuka peluang pasar yang seluas luasnya dan menjaga agar tidak
    terjadi konsentrasi kekuatan ekonomi pada kelompok tertentu.
    Dalam suatu persaingan usaha, para pelaku usaha harus menekan harga untuk
    merebut konsumen, penekanan harga ini tentunya akan berakibat berkurangnya
    keuntungan yang diperoleh. Namun demikian hal tersebut merupakan suatu
    Tindakan yang logis dilakukan oleh para pelaku usaha. Tindakan seperti ini
    digunakan karena ingin memonopoli paksa pasar dengan menyingkirkan pesaing
    secara tidak wajar. Adapun tindakan-tindakan yang biasa dilakukan oleh para
    pelaku usaha dalam melakukan persaingan usaha secara tidak wajar dalam rangka
    memenangkan persaingan usaha antara lain adalah sebagai berikut (Surhasril dan
    Makarao, 2013) :
  4. Penetapan Harga (Price Fixing). Penetapan harga adalah termasuk dalam
    tindakan persaingan usaha yang bisa terjadi secara vertikal maupun
    horizontal yang dianggap sebagai hambatan perdagangan, karena membawa
    akibat buruk terhadap persaingan harga. Jika penetapan harga dilakukan,
    kebebasan untuk menentukan harga secara bebas menjadi berkurang.
  5. Pembagian Pasar Secara Horizontal. Tindakan ini merupakan salah satu
    cara untuk menghindari persaingan yang bisa diambil oleh suatu perusahaan
    yang saling bersaing dalam suatu usaha. Tujuannya adalah mengurangi
    persaingan dengan cara menentukan pasar yang bisa dikuasai secara
    eksklusif oleh masing-masing pesaing.
  6. Pembatasan Perdagangan Secara Vertikal Dengan Menggunakan Alat
    Selain Harga (Non-Price Vertical Restraints). Hal ini menunjukan bahwa
    perdagangan bisa terhambat ketika perusahaan yang berada pada level usaha
    tertentu mengikat perusahaan lain pada level usaha di bawahnya dengan
    cara menentukan harga. Di samping dengan menentukan harga.
  7. Diskriminasi Harga (Price Discrimination). Diskriminasi harga yaitu
    penetapan harga yang lebih murah bagi pelanggan tetap, umumnya harga
    ditetapkan oleh perusahaan yang sedang berupaya memperluas atau
    membuka pasaran baru bagi produknya. Dari sisi konsumen praktik
    diskriminasi harga bisa menguntungkan apabila mereka termasuk sebagai
    konsumen yang dikenai harga yang lebih rendah.
  8. Bid-rigging. Bid-rigging adalah praktik persaingan yang bisa terjadi di
    antara para pelaku usaha yang seharusnya saling merupakan pesaing dalam
    suatu lelang. Secara sederhananya adalah kesepakatan untuk alih-alih
    bersaing mengatur pemenang dalam suatu penawaran lelang melalui
    pengelabuan harga penawaran.
  9. Penyalahgunaan Posisi Dominan (Abuse of Dominant Position). Ketika
    seseorang pelaku usaha yang memiliki dominasi ekonomi melalui kontrak
    mensyaratkan supaya pelanggannya tidak berhubungan dengan pesaingnya,
    ia telah menyalahgunakan posisi dominan.
    b. Persaingan Tidak Sehat
    Tindakan anti persaingan adalah tindakan yang bersifat menghalangi atau
    mencegah terjadinya persaingan, yaitu suatu tindakan untuk menghindari
    persaingan jangan sampai terjadi. Tindakan seperti ini digunakan oleh pelaku usaha
    yang ingin memegang posisi monopoli, dengan mencegah calon pesaing atau
    menyingkirkan pesaing dengan cara-cara yang curang. Monopoli Suatu pasar
    disebut monopoli apabila pasar tersebut terdiri atas satu produsen dengan banyak
    pembeli dan terlindungi dari persaingan, pasar yang bersifat monopoli umumnya
    menghasilkan kuantitas produk yang lebih sedikit sehingga masyarakat membayar
    dengan harga yang lebih tinggi. Monopoli dapat terjadi baik melalui persaingan
    pasar maupun secara alami (Surhasril dan Makarao, 2013).

Teknik Personal Selling


Teknik-teknik dari personal selling sebagai berikut (Indriani, 2014) :

  1. Mencari calon pembeli (Prospekting) : Personal Selling setuju untuk
    mencari pelanggan bisnis baru yang kemudian dijadikan sebagai pelanggan
    bisnis potensial bagi perusahaannnya.
  2. Komunikasi (Communication) : Personal Selling memberikan informasi
    yang dibutuhkan oleh pelanggan bisnis tentang produk yang jelas dan tepat.
  3. Penjualan (Selling) : Personal selling harus tahu seni menjual, mendekati
    pelanggan bisnis sasaran, mempresentasikan produk, menjawab keberatan-
    keberatan, menutup penjualan.
  4. Mengumpulkan Informasi (Information Gathering) : Personal selling
    melakukan riset pasar sehingga mendapatkan informasi tentang pelanggan
    bisnis dan keadaan pasar serta membuat laporan kunjungan baik yang akan
    dilakukan maupun yang telah dilakukan.
  5. Pelayanan (Servising) : Personal selling melakukan pelayanan kepada
    pelanggan bisnis, mengkomunikasikan masalah pelanggan bisnis,
    memberikan bantuan teknis dan melakukan pengiriman.
  6. Pengalokasian (Allocation) : Personal selling setuju untuk memutuskan
    pelanggan bisnis mana yang akan lebih dulu memperoleh produk bila terjadi
    kekurangan produk pada produsen

Karakteristik Personal Selling


Karakteristik adalah ciri khas seseorang dalam meyakini, bertindak ataupun
merasakan. Berbagai teori pemikiran dari karakteristik tumbuh untuk menjelaskan
berbagai kunci karakteristik manusia (Boeree, 2009). Karakteristik adalah ciri-ciri
dari individu yang terdiri dari demografi seperti jenis kelamin, umur serta status
sosial seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, status ekonomi dan sebagainya
didalam Personal selling mempunyai karakteristik membedakan dirinya dari teknik
penjualan dan promosi lainnya dengan memiliki karakteristik berikut (Tanjung,
2020) :

  1. Kontak manusia: Ini melibatkan interaksi orang ke orang di mana penjual
    berinteraksi langsung dengan calon pelanggan dan menjalankan strategi
    penjualan yang dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan, keinginan, dan
    harapan pelanggan.
  2. Pengembangan hubungan: Penjualan pribadi melibatkan pengembangan
    hubungan antara penjual dan pembeli di mana kepercayaan dibangun, dan
    calon pembeli dapat mengandalkan penjual. Selain itu, teknik ini bahkan
    mengakibatkan tenaga penjual menjadi bagian dari proses pembelian.
  3. Aliran informasi dua arah: Tidak seperti pemasaran massal, penjualan
    pribadi dicirikan oleh aliran informasi dua arah. Para calon pembeli
    mendapatkan kesempatan untuk bertanya dan meluruskan keraguan mereka
    langsung dari penjual sebelum membeli.
  4. Komunikasi cepat: Karena penjualan pribadi melibatkan interaksi orang-ke-
    orang, aliran komunikasinya sangat cepat. 14
  5. Fleksibilitas: Ini melibatkan staf penjualan untuk menyesuaikan promosi
    penjualan sesuai dengan kepribadian dan persyaratan calon audiens,
    menjadikan alat penjualan ini fleksibel.
  6. Kepuasan: Proses penjualan pribadi mengharuskan penjual untuk
    memahami kebutuhan pelanggan dan memenuhi hal yang sama dengan
    menawarkan pelanggan kesempatan untuk membeli sesuatu yang dia
    tawarkan.
  7. Persuasi: Penjualan pribadi bukan hanya tentang memberi tahu calon
    pelanggan tentang penawaran perusahaan. Ini juga melibatkan penggunaan
    kekuatan persuasi untuk membuat pelanggan menerima sudut pandang
    penjual atau meyakinkan pelanggan untuk mengambil tindakan tertentu

Personal Selling


Personal selling atau penjualan personal adalah salah satu teknik penjualan
yang menekankan kepada komunikasi yang bersifat persuasif sehingga mendorong
konsumen untuk membeli produk secara langsung (bertatap muka) antara penjual
dengan calon konsumen (Kotler & Keller, 2012). Dalam (Kotler dan Keller, 2014).
Personal Selling adalah penjualan pribadi yaitu interaksi tatap muka dengan satu
atau lebih calon pembeli dengan tujuan untuk membuat presentasi, menjawab
pertanyaan, dan pengadaan pesanan.
Pada jurnal Internasional Personal selling represents the strategy that
salespeople use to persuade customers to buy their products, provide them with all
the information relating to the products, and work to eliminate consumer fears
about such good. Jadi, berdasarkan definisi diatas personal selling merupakan unsur
terpenting kedua bagi perusahaan untuk menentukan perpaduan promosinya dalam
mendapatkan pesanan (Yousif, 2016).
Tujuan Personal Selling yaitu dapat membangun awareness dari brand dan
produk dengan cara mengedukasi calon pelanggan tentang apa penawaran dan
manfaat yang ditawarkan oleh perusahaan, meningkatkan sales dengan cara
membujuk calon pelanggan untuk membeli penawaran bisnis yang diberikan,
membangun hubungan erat dengan pelanggan, memberikan informasi yang
terperinci sebagai bentuk dukungan terhadap pelanggan, menyediakan produk yang
berguna, membantu kegiatan pemasaran, dan memberikan layanan serta dukungan
yang baik kepada konsumen, meningkatkan penerimaan produk baru oleh
pelanggan, memperoleh pelanggan baru dan mempertahankan loyalitas pelanggan
dan menyempurnakan fasilitas penjualan dan mendapatkan informasi di pasar
(Yosua, 2021). Selanjutnya dijelaskan manfaat dari Personal Selling yang
dikelompokkan menjadi tiga, sebagai berikut (Yosua, 2021) :

  1. Konfrontasi tatap muka.
    Penjualan pribadi mencakup hubungan yang hidup, langsung, dan
    interaktif antara dua orang atau lebih. Masing-masing pihak dapat
    melihat kebutuhan dan karakteristik pihak lain secara lebih dekat dan
    segera melakukan penyesuaian.
  2. Mempererat.
    Penjualan tatap muka memungkinkan timbulnya berbagai jenis
    hubungan penjualan sampai ke hubungan persahabatan. Wiraniaga yang
    efektif harus terus berupaya mengutamakan kepentingan pelanggan jika
    mereka ingin mempertahankan hubungan jangka panjang.
  3. Tanggapan.
    Penjualan tatap muka membuat pembeli merasa berkewajiban untuk
    mendengarkan pembicaraan wiraniaga. Pembeli terutama sekali harus
    menanggapi, walaupun tanggapan tersebut hanya berupa satu ucapan
    terima kasih secara sopan dan baik.

Strategi Promosi Bauran Komunikasi Pemasaran


Promosi adalah proses pengembangan dan implementasi berbagai bentuk
program komunikasi persuasif kepada pelanggan dan calon pelanggan secara
berkelanjutan. Tujuan promosi adalah mempengaruhi atau memberikan efek
langsung kepada perilaku khalayak sasaran yang dimilikinya (Sugiono,
Nurwulandari, & Khairina, 2021).
Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program
pemasaran. Kualitas suatu produk bila konsumen belum pernah mendengarnya dan
tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan
pernah membelinya. Promosi berfungsi untuk merangsang konsumen agar
melakukan pembelian sehingga dapat meningkatkan penjualan. Kegiatan
pemasaran memang sangat kompleks dan saling berkaitan antara yang satu dengan
yang lainnya, seperti promosi dan penjualan hendaknya dikelola dengan baik.
Pelaku Usaha yang ingin mempercepat proses peningkatan volume penjualan akan
melakukan kegiatan promosi seperti personal selling, pemasaran langsung ataupun
yang lainya. Apabila penjualan dirasakan cukup besar sesuai dengan yang
diinginkan serta cukup mantap, biasanya perusahaan. Menurunkan kegiatan
promosi atau sekedar mempertahankannya (Tjiptono, 2015).
Adapun bauran promosi komunikasi pemasaran adalah terdiri dari
periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, acara dan
pengalaman, pemasaran langsung tatap muka (personal selling), pemasaran
interaktif, pemasaran mulut ke mulut, dan penjualan pribadi (Kotler & Armstrong,
2016).
Terkait hal di atas menjelaskan adanya Elemen-Elemen promosi disebut
dengan bauran komunikasi pemasaran sebagai berikut (Kotler & Armstrong, 2012):

  1. Public Relations (Hubungan Masyarakat)
    Suatu proses yang memegang kendali manajemen
    perusahaan/pengusaha agar berjalan dengan baik. Hubungan
    masyarakat adalah salah satu tulang punggung perusahaan/pengusaha,
    jika ingin mendapatakan reputasi yang baik dihadapan masyarakat,
    maka perusahaan/pengusaha mempunyai skil komunikasi hubungan
    masyarakat yang baik tentunya didalam bauran komunikasi pemasaran.
  2. Sales promotion (Promosi Penjualan)
    Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan volume penjualan.
    Promosi berasal dari kata promote yang dapat dipahami sebagai
    mengembangkan atau meningkatkan. Promosi mencakup semua alat
    yang ada di dalam bauran pemasaran (marketing mix). Yang peran
    utamanya adalah lebih mengadakan komunikasi yang sifatnya
    membujuk.
  3. Personal Selling (Penjualan Langsung)
    Penjualan personal atau personal selling merupakan suatu bentuk
    komunikasi langsung antara penjual dan calon pembelinya (person-to-
    person communication). Dalam hal ini, penjual berupaya untuk
    membantu dan membujuk calon pembeli untuk membeli produk yang
    ditawarkan.
  4. Direct marketing (Pemasaran Langsung)
    Direct Marketing merupakan bagian dari program komunikasi
    pemasaran (Marketing Communication). Pemasaran langsung
    merupakan pemasaran dengan cara membina hubungan yang sangat
    dekat dengan target market yang memungkinkan terjadinya proses two
    ways communication.
    Strategi promosi pemasaran merupakan serangkaian kegiatan yang
    direncanakan atas penggunaan elemen-elemen promosi secara optimal seperti
    periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, dan penjualan langsung
    dengan cara memengaruhi konsumen agar tertarik melakukan transaksi atau
    pertukaran barang atau jasa sehingga tercapai tujuan perusahaan. Strategi promosi
    dilakukan oleh perusahaan untuk melihat promosi mana yang paling efektif
    dilakukan dengan kata lain biaya yang digunakan untuk promosi lebih kecil
    dibandingkan dengan biaya penjualan produk (Sitorus & Utami, 2017)

Bauran Pemasaran


Bauran pemasaran adalah suatu strategi pencampuran kegiatan pemasaran
untuk mencari kombinasi yang maksimal agar mendatangkan hasil yang
memuaskan (Alma, 2014). Bauran pemasaran adalah kumpulan alat pemasar taktis
terkendali produk, harga tempat, dan promosi yang dipadukan perusahaan untuk
menghasilkan respon yang diinginkannya di pasar sasaran (Kotler & Armstrong,
2012). Bauran pemasaran adalah sekumpulan alat pemasar yang dapat digunakan
oleh perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya dalam pasar sasaran
(Amstrong, 2012).
Terkait hal di atas dijelaskan Empat komponen dalam bauran pemasaran
barang sebagai berikut (Kotler & Armstrong, 2012) :

  1. Product (Produk)
    Produk barang tidak hanya memperhatikan penampilan, tetapi juga
    berupa produk yang simple, aman, tidak mahal, sederhana, dan ekonomis
    dalam proses produksi dan distribusinya.
  2. Price (Harga)
    Sistem manajemen perusahaan akan menentukan harga dasar yang tepat
    bagi produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/pemasar dan harus
    menentukan strategi yang berkaitan dengan berbagai potongan harga,
    pembayaran biaya pengangkutan (transportasi), serta berbagai variable
    biaya lain yang terkait.
  3. Place (Distribusi)
    Sebagian besar produsen menggunakan perantara pemasaran untuk
    memasarkan produk, khususnya barang dengan cara membangun suatu
    saluran distribusi, yaitu sekelompok organisasi yang saling tergantung
    dalam keterlibatan mereka dalam proses yang memungkinkan suatu produk
    tersedia bagi penggunaan atau konsumsi oleh konsumen atau pengguna
    industrial. Beberapa cara yang dilakukan dalam distribusi yaitu :
    a. Memilih dan mengelola saluran perdagangan yang dipakai menyalurkan
    produk atau jasa sehingga dapat mencapai pasar sasaran.
    b. Mengembangkan sistem distribusi untuk pengiriman dan penanganan
    produk secara fisik.
  4. Promotion (Promosi)
    Pemasaran tidak hanya membicarakan produk, harga produk, dan
    mendistribusikan produk, tetapi juga untuk mengkomunikasikan produk
    kepada masyarakat agar produk itu dikenal dan mereka bersedia membeli
    produk tersebut. Untuk mengomunikasikan produk perlu di susun suatu
    strategi bauran promosi (promotion mix) yang terdiri atas empat komponen
    utama, yaitu periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion),
    hubungan masyarakat (public relations), dan penjualan perseorangan
    (personal selling). Promosi adalah suatu unsur yang digunakan untuk
    memberitahukan atau membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru
    pada perusahaan.

Komunikasi Pemasaran


Komunikasi (communicaton) berasal dari bahasa latin communis yang
berarti sama. Communico, communication atau communicare yang berarti membuat
sama (make to common). Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada
kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab
itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu
dengan lainnya (communicatuion depends on our ability to understand one
another) dan kemampuan penyesuaian dengan pihak yang diajak berkomunikasi
(Hermawan, 2012).
Komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang untuk
menyebarkan informasi, mempengaruhi, membujuk dan mengingatkan pasar
sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal
kepada produk yang ditawarkan

Dimensi dan Indikator Kepuasan Konsumen


Menurut teori Kottler dalam jurnal Suwardi (2011), menyatakan kunci untuk
mempertahankan pelanggan adalah kepuasan konsumen.
Indikator Kepuasan konsumen dapat dilihat dari :
1). Re-purchase : membeli kembali, dimana pelanggan tersebut akan kembali kepada
perusahaan untuk mencari barang / jasa.
2). Menciptakan Word-of-Mouth : Dalam hal ini, pelanggan akan mengatakan hal-hal
yang baik tentang perusahaan kepada orang lain.
3). Menciptakan Citra Merek : Pelanggan akan kurang memperhatikan merek dan iklan
dari produk pesaing.
4). Menciptakan keputusan Pembelian pada Perusahaan yang sama : Membeli produk lain
dari perusahaan yang sama.

Kepuasan Konsumen


Dalam upaya memenuhi kepuasan konsumen, perusahaan memang dituntut
kejeliannya untuk mengetahui pergeseran kebutuhan dan keinginan konsumen yang
hampir setiap saat berubah. Pembeli akan bergerak setelah membentuk persepsi terhadap
nilai penawaran, kepuasan sesudah pembelian tergantung dari kinerja penawaran
dibandingkan dengan harapannya. Menurut Kotler dalam buku Sunyoto (2013:p.35),
kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan (kinerja
atau hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya.
Konsumen dapat mengalami salah satu dari tiga tingkat kepuasan umum yaitu kalau
kinerja di bawah harapan, konsumen akan merasa kecewa tetapi jika kinerja sesuai
dengan harapan pelanggan akan merasa puas dan apa bila kinerja bisa melebihi harapan
maka pelanggan akan merasakan sangat puas senang atau gembira Menurut teori
Supranto

dalam jurnal Susanti (2012), kepuasan konsumen merupakan label yang
digunakan oleh konsumen untuk meringkas suatu himpunan aksi atau tindakan yang
terlihat, terkait dengan produk atau jasa.
Sedangkan menurut jurnal Bachtiar (2011), kepuasan konsumen merupakan perasaan
positif konsumen yang berhubungan dengan produk / jasa selama menggunakan atau
setelah menggunakan jasa atau produk. Kesesuaian yang mengalami ketidaksesuaian
antara harapan dengan kinerja aktual jasa atau produk maka konsumen berada pada
diskonfirmasi.
Jadi dapat disimpulkan dari beberapa pengertian tersebut menurut para ahli, bahwa
kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan seseorang ketika menerima produk atau jasa
yang ditawarkan serta membandingkan kinerja atas produk atau jasa yang diterima
dengan harapan yang dimiliki.

Kepuasan Konsumen


Dalam upaya memenuhi kepuasan konsumen, perusahaan memang dituntut
kejeliannya untuk mengetahui pergeseran kebutuhan dan keinginan konsumen yang
hampir setiap saat berubah. Pembeli akan bergerak setelah membentuk persepsi terhadap
nilai penawaran, kepuasan sesudah pembelian tergantung dari kinerja penawaran
dibandingkan dengan harapannya. Menurut Kotler dalam buku Sunyoto (2013:p.35),
kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan (kinerja
atau hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya.
Konsumen dapat mengalami salah satu dari tiga tingkat kepuasan umum yaitu kalau
kinerja di bawah harapan, konsumen akan merasa kecewa tetapi jika kinerja sesuai
dengan harapan pelanggan akan merasa puas dan apa bila kinerja bisa melebihi harapan
maka pelanggan akan merasakan sangat puas senang atau gembira Menurut teori
Supranto dalam jurnal Susanti (2012), kepuasan konsumen merupakan label yang
digunakan oleh konsumen untuk meringkas suatu himpunan aksi atau tindakan yang
terlihat, terkait dengan produk atau jasa.
Sedangkan menurut jurnal Bachtiar (2011), kepuasan konsumen merupakan perasaan
positif konsumen yang berhubungan dengan produk / jasa selama menggunakan atau
setelah menggunakan jasa atau produk. Kesesuaian yang mengalami ketidaksesuaian
antara harapan dengan kinerja aktual jasa atau produk maka konsumen berada pada
diskonfirmasi.
Jadi dapat disimpulkan dari beberapa pengertian tersebut menurut para ahli, bahwa
kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan seseorang ketika menerima produk atau jasa
yang ditawarkan serta membandingkan kinerja atas produk atau jasa yang diterima
dengan harapan yang dimiliki

Dimensi dan Indikator Kualitas Pelayanan


Kualitas layanan/jasa harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada
persepsi pelanggan. Sebagai pihak yang membeli dan mengkonsumsi jasa, pelangganlah
yang menilai tingkat kualitas jasa sebuah perusahaan. Sayangnya, jasa memiliki
karakteristik variability, sehingga kinerjanya seringkali tidak konsisten. Hal ini
menyebabkan pelanggan menggunakan isyarat intrinsik (output dan penyampaian jasa)
dari isyarat ekstrinsik (unsur-unsur pelengkap jasa) sebagai acuan dalam mengevaluasi
kualitas jasa. Konsekuensinya, jasa yang sama bisa dinilai secara berlainan oleh
konsumen yang berbeda.
Berikut ini dimensi kualitas pelayanan/jasa menurut Parasuraman dkk. (1985:41-50):
a. Bukti Nyata (Tangibles)
Yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak
eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat
diandalkan oleh keadaan lingkungan sekitarnya. Berupa fasilitas fisik (gedung, gudang,
dan lain sebagainya), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi), dan
berbagai materi komunikasi, serta penampilan pegawainya.
b. Keandalan (Reliability)
Yaitu kemampuan untuk memberikan jasa sesuai dengan yang dijanjikan, terpercaya,
akurat, konsisten, dan sesuai dengan harapan. Sesuai dengan harapan pelanggan berarti
kinerja yang tepat waktu, pelayanan tanpa kesalahan, sikap simpatik, dan akurasi tinggi.
c. Daya Tanggap (Reponsiveness)
Kemauan dari karyawan dan pengusaha untuk membantu pelanggan dan memberikan
jasa dengan cepat serta mendengar dan mengatasi keluhan yang diajukan pelanggan,
misalnya kesigapan karyawan dalam melayani pelanggan, kecepatan dalam proses
transaksi, dan penanganan keluhan pelanggan.
d. Jaminan (Assurance)
Kemampuan karyawan untuk menimbulkan keyakinan dan kepercayaan terhadap janji
yang telah dikemukakan kepada konsumen, misalnya kemampuan karyawan atas:
pengetahuan terhadap produk secara tepat, kualitas keramah-tamahan, perhatian, dan
kesopanan dalam memberi pelayanan, keterampilan dalam memberikan informasi,
kemampuan dalam memberikan keamanan di dalam memanfaatkan jasa yang
ditawarkan, dan kemampuan dalam menanamkan kepercayaan pelanggan terhadap
perusahaan.
e. Empati (Emphaty)
Kesediaan karyawan dan pengusaha memberikan perhatian mendalam dan khusus
kepada pelanggan dengan berupaya memahami keinginan pelanggan dimana suatu
perusahaan diharapkan memiliki suatu pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan
dan memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik.
Berdasarkan penjelasan di atas maka indikator yang digunakan untuk mengukur
variabel kualitas layanan dalam penelitian ini adalah :
1). Peralatan dan perlengkapan yang digunakan (teknologi)
2). Kinerja yang tepat waktu
3). Kesigapan dalam melayani pelanggan
4). Kejujuran pada pelayanan
5). Kesopanan dalam memberi pelayanan
6). Kemampuan dalam memberikan keamanan di jasa yang ditawarkan
7). Mendengarkan dan memahami kebutuhan pelanggan

Promosi


Promosi merupakan suatu upaya dalam menginformasikan atau menawarkan
produk atau jasa yang bertujuan untuk menarik calon konsumen agar membeli
atau mengkonsumsinya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan volume
penjualan (Kotler dan Keller, 2012;519). Sedangkan menurut Gitosudarmo
(2014;159-160) mengemukakan bahwa promosi merupakan kegiatan yang
ditujukan untuk mempengaruhi konsumen agar mereka dapat menjadi kenal akan
produk yang ditawarkan oleh perusahaan kepada mereka yang kemudian mereka
menjadi senang lalu membeli produk tersebut.
Selanjutnya definisi lain menurut Peter dan Olson (2014;204) menyatakan
bahwa promosi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pemasar untuk
menyampaikan informasi mengenai produknya dan membujuk konsumen agar
mau membelinya.

Kualitas Pelayanan


Menurut Kotler dalam buku Sangadji (2013:99) merumuskan bahwa: β€œkualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.
Gronroos dalam buku Daryanto (2014:135) mengemukakan bahwa β€œPelayanan adalah
suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat
diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan
atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberian pelayanan yang di
maksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/pelanggan”.Selain definisi
pelayanan diatas kotler pun ikut mendefinisikan pelayanan sebagai β€œPelayanan adalah
setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan
menawarkan kepuasan meskipun hasiilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik”
(Kotler dalam Lukman) dalam buku Daryanto (2014:135).
Menurut Lupiyoadi (2013:216) menjelaskan kualitas pelayanan/jasa dapat
didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan
atas layanan yang mereka terima dan keberhasilan perusahaan dalam memberikan jasa
yang berkualitas kepada pelanggannya, pencapaian pangsa pasar yang tinggi, serta
peningkatan laba perusahaan tersebut sangat ditentukan oleh pendekatan yang
digunakan.
Menurut Lovelock (2010:154), mendefinisikan bahwa kualitas layanan dari sudut
pandang pengguna sebagai sesuatu yang secara konsisten memenuhi atau melampai
harapan pelanggan

Dimensi dan Indikator Persepsi Harga


Berikut adalah dimensi harga menurut Mursid (2014:83-84), yaitu sebagai berikut:
Cost oriented pricing, adalah penetapan harga yang semata-mata untuk
memperhitungkan biaya-biaya dan tidak berorentasi pada pasar.terdiri dari dua macam:
a. Mark up pricing dan cost plus pricing cara penetapan harga yang sama, yaitu
menambahkan biaya perunit dengan laba yang diharapkan. Mark up pricing
digunakan dikalangan pedagang pengecer sedangkan cost plus pricing digunakan oleh
manufacturer.
b. Target pricing, yaitu suatu penetapan harga jual berdasarkan target rate of return dari
biaya total yang dikeluarkan ditambah laba yang diharapkan pada volume penjualan
yang diperkirakan. Ini ditetapkan dalam jangka panjang. Kelemahan metode ini
(target pricing): tidak memperhitungkan permintaan, yang dapat menunjukan berapa
unit dapat dijual pada masing-masing tingkat harga.
Jadi, apabila target tidak tercapai, maka laba yang akan diharapkan tidak mencapai
sebagaimana target semula. Demand oriented pricing, penentuan harga dengan
mempertimbangkan keadaan permintan, keadaan pasar dan keinginan konsumen. Terdiri
dari:
a. Perceived value pricing, yaitu berapa nilai produk dalam pandangan konsumen
terhadap yang dihasilkan perusahaan.
b. Demand differential pricing atau price discrimination, yaitu penetapan harga jual
produk dua macam harga atau lebih.
c. Ini dapat didasarkan pada:

  1. Customer basis
  2. Product version basis
  3. Place basis
  4. Time basis

Persepsi Harga


Penetapan harga itu sebenarnya cukup kompleks dan sulit. Kita akan melihat bahwa
kekomplekan dan pentingnya penetapan harga ini memerlukan suatu pendekatan yang
sistematis, yang melibatkan penetapan tujuan dan mengembangkan suatu struktur
penetapan harga lebih lanjut.
Menurut Basu Swastha (2010:147) mengartikan bahwa β€œharga merupakan sejumlah
uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk menambahkan
sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya”. Menurut Alma (2014:169)
mengemukakan bahwaβ€œ Harga (price) adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan
uang”

Dimensi dan Indikator Bauran Promosi


Menurut Stanton, Etzel dan Walker dalam buku Danang Sunyoto dalam memasarkan
suatu produk dengan keempet kombinasi bauran promosi tentu tiddak semudah
pembahasan secara teoretis. Banyak persyaratan dan kendala kompleks yang dihadapi
para pengusaha atau produsen. Dengan persyaratan dan kendala yang kompleks itu
menjadikan pemilihan strategi promosi juga berbeda-beda berdasarkan kondisi yang
dihadapi saat itu dan banyak faktor yang mempengaruhi penerapan bauran promosi.
Berikut ini merupakan dimensi bauran promosi menurut Sunyoto (2015:154):
a. Sifat Pasar
Faktor yang mempengaruhi bauran promosi bersifat pasaran meliputi tiga variabel,
yaitu luasnya geografi pasar, tipe pelanggan, konsentrasi pasar. Jika berdasarkan luas
geografis pasar, misalnya nasional dan internasional berarti promosi dapat dilakukan
melalui televisi atau internet, karena akan lebih efektif dan efisien. Jika faktornya tipe
pelanggan, misalkan pelanggannya cenderung tidak senang membaca berarti lebih baik
menggunakan jenis bauran promosi radio, televisi, atau pameran produk, sampel produk.
Dan jika faktornya konsentrasi pasar, misalkan pasar persaingan sempurna, lebih baik
menggunakan bauran promosi jenis iklan, karena konsumen diajak untuk berfikir
rasional dan langsung melihat produknya dengan produk sejenis lainnya.
b. Sifat Produk
Jika berkaitan dengan sifat produk, seorang manajer pemasaran harus cermat dan tepat
dalam menentukan pasar saasaran dalam menentukan jenis bauran promosinya. Misalkan
produk komputer, pasar sasarannya adalah para pelajar, mahasiswa, perkantoran, dan
orang yang mempunyai aktifitas tinggi dalam kaitannya bidang iptek. Produk
kecantikan, pasar sasarannya adalah para wanita yang cenderung ingin tampil maksimal.
Adapunpun faktor yang mempengaruhi bauran promosi bersifat produk ada tiga variabel
penting yaitu, nilai unit barang, tingkat kebutuhan barang bagi konsumen, dan presale
and postsale servise.

Pemasaran Langsung (direct marketing)


Pemasaran langsung menurut Kotler & Amstrong (2001:242) mengemukakan, bahwa
pemasaran langsung terdiri atas komunikasi langsung dengan konsumen perorangan
sasaran untuk memperoleh tanggapan segera. Dengan demikian, para pemasar langsung
berkomunikasi langsung dengan pelanggan, sering berdasarkan pertemuan secara tatap
muka secara interaktif. Pemasaran langsung saat ini tidak hanya berperan sebagai alat
promosi untuk menjual produk atau jasa saja, akan tetapi pemasaran langsung adalah
sebagai alat yang efektif untuk berinteraksi dengan pelanggan jangka panjang. Jadi dapat
disimpulkan bahwa pemasaran langsung adalah hubungan langsung dengan konsumen
individual demi mencapai hubungan pelangaan yang abadi.
Menurut Kotler dan Amstrong (2014:521) mengemukakan beberapa indikator
pemasaran langsung (direct marketing) adalah sebagai berikut :
1). Face to face selling : Kemenarikan, kesopanan, keramahan, penguasaan produk serta
kesigapan dan marketing dalam menjawab pertanyaan.
2). Telemarketing : Ketepatan waktu menelpon, kesopanan, keramahan dan marketing
saat berbicara ditelepon
3). Online marketing : suatu aktivitas atas usaha untuk melakukan pemasaran produk
atau jasa yang dilakukan melalui media internet yang terhubung secara aktif

Penjualan Tatap Muka (personal selling)


Penjualan tatap muka menurut Philip Kotler yang dikutip oleh Djaslim Saladin
(2006:172) mengemukakan, β€œpersonal selling is face interaction with one more
prospective purchase for the purpose of making presentations, answering quetion, and
procuring ordersales” yang berarti β€œpenjualan tatap muka adalah penyajian lisan dalam
suatu pembicaraan dengan satu atau beberapa pembeli potensial dengan tujuan untuk
melakukan penjualan”. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa penjualan tatap
muka adalah suatu penyajian (presentasi) suatu produk kepada konsumen akhir yang
dilakukan tenaga penjual perusahaan yang representatif. Personal selling melibatkan
interaksi personal langsung antara seorang pembeli potensial dengan seorang salesman.
Penjualan personal dapat menjadi metode promosi yang hebat untuk paling tidak
untuk dua alasan yaitu:
1). komunikasi personal dengan salesman dapat melibatkan keterlibatan konsumen
dengan produk dan atau proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu konsumen dapat
lebih termotivasi untuk masuk dan memahami informasi yang disajikan salesman tentang
suatu produk,
2). situasi komunikasi saling silang/interaktif memungkinkan salesman mengadaptasi apa
yang di sajikannya agar sesuai dengan kebutukan informasi setiap pembeli potensial.
Beberapa produk konsumsi tertentu biasanya dipromosikan melalui penjualan personal
seperti asuransi jiwa, mobil dan perumahan.
Melalui penjualan personal, penjual memiliki interaksi pribadi kepada masyarakat
sehingga penjual dapat mengamati reaksi pelanggan dan dapat dengan segera
menyesuaikan penekatannya. Engan begitu penjual dapat memahami kebutuhan calon
konsumen dan akan tercipta saling pengertian antara kedua belah pihak.
Menurut Philip Kotler indikator personal selling adalah:
1). Katalog
2). Presentasi penjualan

Promosi Penjualan (sales promotion)


Promosi penjualan menurut Kotler dan Amstrong (2014:501) mengemukakan, bahwa
promosi penjualan merupakan insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan dan
untuk mencoba atau membeli suatu produk atau jasa. Jadi dapat disimpulkan promosi
penjualan adalah suatu perencanaan untuk membantu atau melengkapi koordinasi
periklanan dan penjualan pribadi. Banyaknya jenis promosi penjualan, termasuk didalam
penurunan harga temporer melalui kupon, rabat, penjualan multi kardus, kontes, dan
undian, perangko dagang, pameran dagang, tayangan titik jual, contoh gratis, hadiah,
membuat promosi penjualan sulit untuk didevinisikan. Aspek kunci promosi penjualan
adalah untuk menggerakkan produk untuk hari itu juga, bukan esok hari. Suatu promosi
penjualan mendorong seseorang untuk mengambil produk di toko eceran dan
mencobanya dengan menawarkan sesuatu yang nyata (hadiah, penerunan harga, dan lain-
lain). Singkatnya sebagian besar promosi penjualan di orientasikan pada perubahan
prilaku pembelian konsumen yang segera.
Menurut Philip Kotler indikator promosi penjualan adalah :
1). Pembagian Sampel
2). Pembagian Kupon
3). Kortingan

Manajemen Pemasaran


Kegiatan pemasaran memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, hal ini
disebabkan karena manusia dapat memenuhi kebutuhannya melalui kegiatan pemasaran
tersebut. Sejarah telah membuktikan sejak dulu kala manusia telah melakukan kegiatan
pemasaran, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu kegiatan tukar menukar
antara barang yang satu dengan barang yang lainnya, yang lazim disebut dengan
β€œbarter”. Kegiatan pemasaran saat ini sudah sangat luas sehingga pengertian pemasaran
semakin banyak. Terdapat banyak definisi dari pemasaran, perbedaan hanya terletak
dalam rinciannya. Pada dasarnya pemasaran dapat diartikan sebagai suatu kegiatan
meneliti kebutuhan dan keinginan konsumen, memproduksi barang dan jasa sesuai
dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, menentukan tingkat harga, mendistribusikan
produk kepada konsumen, dan memberikan pelayanan yang prima terhadap konsumen.
Menurut Mullins dan Walker (2013:13), manajemen pemasaran merupakan proses
menganalisis, membuat perencanaan, mempersiapkan pelaksanaan, dan melakukan
kordinasi dan mampu untuk melakukan pengendalian program yang dimana semuanya
melibatkan konsepsi, penetapan harga, promosi dan distribusi produk, jasa, dan ide – ide
yang dirancang untuk menciptakan dan memelihara terjadi pertukaran yang dapat
menguntungkan dengan target pasar yang bertujuan untuk mencapai apa yang dituju oleh
perusahaan ataupun organisasi.
Menurut Kotler dan Keller (2009:5) mengemukakan pengertian manajeman
pemasaran sebagai seni dan ilmu dalam memilih pasar sasaran lalu mendapatkan,
menjaga, dan menumbuhkan pelanggan melalui penciptaan, pengantaran, dan
mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.
Menurut Laksana (2008) mendefinisikan pemasaran yaitu segala kegiatan yang
menawarkan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Dari
definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah suatu kegiatan usaha untuk
memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen akan barang dan jasa
melalui proses pertukaran, mengembangkan dan merencanakan barang dan jasa yang
dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut, serta kemudian menetapkan harga,
promosi dan saluran distribusi yang terbaik bagi produk dan jasa tersebut atau yang lebih
dikenal dengan bauran pemasaran (marketing mix).
Orang dapat mengasumsikan bahwa akan selalu ada kebutuhan akan penjualan. Akan
tetapi, tujuan pemasaran bukan untuk memperluas penjualan hingga kemana–mana.
Tujuan pemasaran adalah untuk mengetahui dan memahami pelanggan sedemikian rupa
sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya menjual dirinya
sendiri. Idealnya, pemasaran hendaknya menghasilkan seorang pelanggan yang siap
membeli. Semua yang dibutuhkan selanjutnya adalah menyediakan produk atau jasa
tersebut. Kotler (2009:45), berpendapat bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi
adalah dengan berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan
memahami perilaku konsumen.

Pengertian Pemasaran


Pemasaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mempromosikan produk dan membangun hubungan yang kuat kepada konsumen untuk
menanam keloyalan konsumen terhadap perusahaan. Dalam melakukan promosi,
perusahaan akan memilih pangsa pasar yang sesuai dengan produk dan tidak lupa juga
perusahaan menghadirkan orang terkenal untuk dijadikan endorse produk, agar dapat
menarik para konsumen dan menjadikan pelanggan baru.
Pemasaran Menurut Mullins dan Walker (2013:5), pemasaran adalah proses sosial
yang mencakup aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk memungkinkan individu dan
organisasi mendapatakan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui pertukaran
dengan pihak lain dan untuk mengembangkan relasi pertukaran berkesinambungan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012:27), pemasaran adalah proses dimana
perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat
untuk mendapatkan nilai dari pelanggan sebagai imbalan. Menurut American Marketing
Association (2007) dalam Tjiptono (2014:4), pemasaran adalah aktivitas, serangkaian
institusi, dan proses menciptakan, mengomunikasikan, menyampaikan, dan
mempertukarkan tawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat
luas.
Menurut Kotler dan Keller (2009:5), pemasaran adalah sebuah proses kemasyarakatan
di mana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan
dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa
yang bernilai dengan orang lain.
Menurut Kotler, Brown, Adam & Armstrong (2004), pemasaran adalah upaya
mewujudkan nilai dan kepuasan pelanggan dengan mendapatkan laba (Tjiptono, 2014:3).
Pemasaran berkaitan erat dengan upaya menciptakan dan memberikan nilai kepada
pelanggan. Secara sederhana, nilai pelanggan ditentukan oleh selisih antara manfaat total
dan biaya total bagi pelanggan (Tjiptono, 2014:11).

Indikator Volume Penjualan


Menurut Kotler (Talumewo 2021), mengatakan bahwa ada beberapa
indikator dari volume penjualan adalah sebagai berikut:
1) Mencapai volume penjualan tertentu
Volume penjualan menurut Kotler (2008:28) mengatakan bahwa
menunjukkan total atau jumlah barang yang dijual dalam jangka
waktu tertentu. Menurut Swasta (2002:404), penjualan adalah
interaksi antara individu yang saling bertemu muka yang
ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, atau
mempertahankan hubungan pertukaran sehingga
menguntungkan bagi pihak lain.
2) Mendapatkan laba
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Wild dan
Subramanyan (2005:34) bahwa, β€œlaba merupakan selisih
pendapatan dan keuntungan setelah dikurangi beban dan
kerugian. Laba merupakan salah satu pengukuran aktivitas
operasi dan dihitung berdasarkan atas dasar akuntansi akural”.
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Hendrikson yang
diterjemahkan oleh Suwardjono (2002:242), bahwa: β€œLaba
adalah selisih dari 29 pendapatan dan biaya, dimana jumah
pendapatan lebih besar dari pada biaya”. Sedangkan Pengertian
laba usaha menurut pendapat yang dikemukakan oleh Soemarso
S.R, (2002:23), menyatakan bahwa: β€œLaba usaha adalah laba
yang diperoleh semata-mata dari kegiatan utama perusahaan”.
Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba akan dapat
menarik para investor untuk menanamkan dananya guna
memperluas usahanya, sebaliknya tingkat profitabilitas yang
rendah akan menyebabkan para investor menarik dananya.
3) Menunjang pertumbuhan perusahaan
Kallapur dan Sanjay (2001:58), menjelaskan bahwa
pertumbuhan perusahaan merupakan kemampuan perusahaan
untuk meningkatkan ukuran perusahaan melalui peningkatan
aktiva. Kemampuan perusahaan untuk menjual produknya akan
meningkatkan volume penjualan bagi perusahaan yang dapat
menghasilkan keuntungan bagi perusahaan untuk menunjang
pertumbuhan perusahaan dan perusahaan akan tetap bertahan
di tengah persaingan yang semakin ketat antar perusahaan

Definisi Volume Penjualan


Volume penjualan adalah barang yang terjual dalam bentuk uang untuk
jangka waktu tertentu dan didalamnya mempunyai strategi pelayanan yang baik
(Kotler, 2000:34). Ada beberapa usaha untuk meningkatkan volume penjualan,
diantaranya adalah:
1) Menjajakan produk dengan sedemikian rupa sehingga konsumen
melihatnya.
2) Menempatkan dan pengaturan yang teratur sehingga produk
tersebut akan menarik perhatian konsumen.
3) Mengadakan analisa pasar.
4) Menentukan calon pembeli atau konsumen yang potensial.
5) Mengadakan pameran.
6) Mengadakan discount atau potongan harga.
Menurut Swasta dan Irawan (2003:141) menyatakan bahwa, β€œvolume
penjualan merupakan penjualan bersih dari laporan laba pemilik usaha.
Penjualan bersih diperoleh melalui hasil penjualan seluruh produk (produk lini)
selama jangka tertentu, dan hasil penjualan yang diperoleh dari market share
(pangsa pasar) yang merupakan penjualan potensial, yang dapat terdiri dari
kelompok teritorial dan kelompok pembeli saham jangka waktu tertentu”

Bauran Promosi


Menurut Kotler dan Amstrong (2012:433), bauran promosi terdiri dari:
1) Periklanan (advertising), merupakan setiap bentuk presentasi
yang bukan dilakukan orang dan berupa promosi gagasan,
barang, atau jasa oleh sponsor yang telah ditentukan.
2) Promosi Penjualan (sales promotion), merupakan berbagai jenis
insentif jangka pendek untuk mendorong orang mencoba atau
membeli produk atau jasa.
3) Penjualan Personal (personal selling), merupakan interaksi tatap
muka dengan satu atau beberapa calon pembeli dengan maksud
untuk melakukan persentasi, menjawab pertanyaan, dan
memperoleh pesanan.
4) Pemasaran Langsung (direct marketing), merupakan
penggunaan surat, telepon, faksimil, e-mail, atau internet, untuk
berkomunikasi langsung atau meminta tanggapan atau berdialog
dengan konsumen tertentu dan calon konsumen.
5) Hubungan Masyarakat (public relations), merupakan berbagai
program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi
citra perusahaan atau masing-masing produknya

Indikator Promosi


Menurut Kotler dan Keller (2016:272), indikator-indikator promosi
diantaranya adalah:
1) Pesan promosi
Merupakan tolak ukur seberapa baik pesan promosi dilakukan
dan disampaikan kepada pasar.
2) Media promosi
Adalah media yang digunakan oleh perusahaan dalam
melaksanakan promosi.
3) Waktu promosi
Merupakan lamanya promosi yang dilakukan oleh perusahaan

Definisi Strategi Promosi


Menurut (Jonshon et al., 2005:38), mengatakan bahwa β€œstrategi adalah
arah dan ruang lingkup sebuah organisasi dalam jangka panjang yang mencapai
keuntungan bagi organisasi melalui konfigurasi sumber daya dalam lingkungan
yang menantang, untuk memenuhi kebutuhan pasar dan memenuhi harapan
pemangku kepentingan”. Adapun menurut Siagian (2016:29) juga menyatakan
bahwa, β€œstrategi adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang
dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran
suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut”.
Kemudian menurut (Stephanie & Marrus, 2002:31) bahwa β€œstrategi didefinisikan
sebagai suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus
pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau
upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai”.
Menurut Daryanto (2016:1), bahwa β€œpromosi adalah kegiatan terakhir dari
marketing mix yang sangat penting karena kebanyakan pasar lebih banyak 9
bersifat pasar pembeli dimana keputusan terakhir terjadinya transaksi jual beli
sangat dipengaruhi oleh konsumen”. Kotler & Amstrong (Ridwansyah, 2017:52)
mengemukakan bahwa β€œpromosi adalah alat atau aktivitas yang digunakan oleh
perusahaan untuk mengkomunikasikan nilai konsumen”. Selanjutnya Laksana
(2019:128), β€œpromosi adalah suatu komunikasi dari penjual dan pembeli yang
berasal dari informasi yang tepat yang bertujuan untuk merubah sikap dan
tingkah laku pembeli, yang tadinya tidak mengenal menjadi mengenal sehingga
menjadi pembeli dan tetap mengingat produk tersebut”.
Menurut Daryanto (2011:11), bahwa β€œstrategi promosi adalah suatu
rencana permainan untuk mencapai sasaran yang diinginkan dari suatu unit
bisnis”. Lebih lanjut Kotler dan Armstrong (2008:28), bahwa β€œstrategi pemasaran
adalah logika pemasaran dimana unit bisnis berharap untuk menciptakan nilai
dan memperoleh keuntungan dari hubungannya dengan konsumen”.
b. Tujuan Promosi
Tujuan promosi menurut (Rizky & Yasin, 2014:11), bahwa:
1) Memberitahu
Tujuan ini bersifat informasi dimana produsen menggunakan
promosi untuk memberitahukan pasar. Apa yang ditawarkan
olehnya promosi ini sering digunakan pada tahap-tahap awal
siklus kehidupan produk informasi ini juga membantu konsumen
dalam menentukan jenis motor yang mau di belinya.
2) Membujuk
Tujuan ini berstat persuasif dimana perusahaan berusaha
memberikan kesan positif terhadap pembeli. Maksudnya agar
dapat memberi pengaruh dalam waktu yang lama terhadap
perilaku pembeli. Promosi yang bersifal persuasif ini digunakan
memasuki tahap pertumbuhan dalam siklus kehidupannya.
3) Mengingatkan
Tujuan untuk mempertahankan pembeli dengan terus
mengingatkan adanya jenis motor tersebut. Promosi yang
bersifat mengingatkan ini terutama diperlukan untuk jenis motor
yang telah memasuki tahap kedewasaan dalam siklus
kehidupan

Bauran Pemasaran


Bauran pemasaran (marketing mix) merupakan suatu strategi mencampuri
kegiatan-kegiatan pemasaran, agar dicari kombinasi maksimal sehingga
mendatangkan hasil yang memuaskan (Alma, 2016:205). Pendapat lain menurut
Kolter dan Amstrong (2016:47) bahwa, bauran pemasaran (marketing mix)
mencakup empat (4) hal pokok dan dapat dikontrol oleh pemilik usaha yang
meliputi produk (product), harga (price), tempat (place) dan promosi (promotion).
Kemudian menurut Kotler dan Amstrong (Priansa, 2017:38) menjelaskan 4
komponen dalam bauran pemasaran barang, yaitu sebagai berikut:
1) Produk (product)
Mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan
pengembangan produk atau jasa yang tepat bagi produk atau
jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan mengubah produk atau
jasa yang ada dengan menambah dan mengambil tindakan yang
lain yang memengaruhi bermacam-macam produk atau jasa.
2) Harga (price)
Sistem manajemen prusahaan akan menentukan harga dasar
yang tepat bagi produk atau jasa yang dihasilkan oleh prusahaan
atau pemasar dan harus menentukan strategi yang berkaitan
dengan berbagai potongan harga, pembayaran biaya,
pengangkutan (transportasi), serta berbagai variable biaya lain
yang terkait.
3) Distribusi (place)
Sebagian besar produsen menggunakan perantara pemasaran
untuk memasarkan produk, khususnya barang dengan cara
membangun suatu saluran distribusi, yaitu sekelompok
organisasi yang saling tergantung dalam keterliatan mereka
dalam proses yang memungkinkan suatu produk tersedia bagi
penggunaan atau konsumsi oleh pelanggan atau pengguna
industrial.
4) Promosi (promotion)
Pemasaran tidak hanya membicarakan produk, harga produk,
dan mendistribusikan produk, tetapi juga mengomunikasikan
produk kepada masyarakat agar produk itu dikenal dan mereka
bersedia membeli produk tersebut.

Definisi Pemasaran


Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu atau
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan
menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang
bernilai dari pihak lain. Pemasaran bukanlah semata-mata kegiatan menjual
produk dan jasa, namun didalam pemasaran harus ada kerjasama yang baik
antar bagian agar tercapai pemasaran efektif, Kharisma (2016). Pendapat lain
menurut William J. Stanton (Priansa, 2017:30), menyatakan bahwa, β€œpemasaran
adalah sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang-barang yang
memuaskan keinginan dan jasa, baik kepada konsumen saat ini maupun
konsumen potensial”. Kemudian menurut Kotler (Rangkuti, 2009:8),
mendefinisikan, β€œpemasaran sebagai suatu proses perencanaan dan
menjalankan konsep, harga, promosi, serta distribusi sejumlah barang dan jasa,
untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan
organisasi”.

Penyusunan Naskah dalam Telemarketing


Dari penjelasan target telemarketing diatas menunjukan bahwa
telemarketing membutuhkan sales script atau naskah guna menpersiapkan
speech yang baik. Menurut William R. Gondin & Edward W. Mammen
ada komposisi dari suatu speech yang baik digunakan untuk sales script
dalam keperluan telemarketing, yakni :

  1. Pengantar/Introduction
  2. Pembahasan/Discussion/Body
  3. Penutup/Conclusion (dalam Palapah, 1983:49)
    Naskah yang efektif adalah salah satu unsur penting dalam mencapai
    pencapaian. Berikut adalah penyusunan naskah untuk telemarketing :
  4. Mengenali penelepon dan perusahan secara jelas, ringkas dan akrab
  5. Menciptakan minat dan menangkap perhatian dengan sikap capat,
    lugas dan penuh rasa menghargai
  6. Menentukan kebutuhan orang yang dihubungi dengan mengajukan
    pertanyaan yang relevan
  7. Menyampaikan pesan penjualan dengan menjelaskan setiap bagian
    berdasarkan manfaat bagi pembeli dan mengikutsertakan harga dan
    syarat pembelian
  8. Meminta segera menutup pembelian dengan cara sederhana tetapi
    langsung
  9. Mengatasi keberatan-keberatan dengan mengantisipasi kemungkinan
    adanya keberatan dan siap dengan jawaban serta manfaat produk
    selanjutnya
  10. Menutup penjualan dengan sikap sopan dan akrab. (De Weaver,
    1997:86-87)
    Telemarketing yang efektif haruslah seseorang yang menyenangkan
    dan menunjukan antusiasme. Biasanya telemarketer wanita lebih efektif
    daripada pria dalam menjual produk. Dalam penerapannya seorang
    telemarketing perlu memiliki background atau pengetahuan lebih dari
    produk yang akan dipasarkan ke publik.

Target Pasar Telemarketing


Pasar sasaran atau target audiens dari kegiatan telemarketing harus
dirumuskan dengan jelas yang mencakup mutu dan jumlah hasil yang
perlu dicapai oleh perusahaan. Pasar sasaran dari kegiatan telemarketing
adalah pasar yang ingin dicapai oleh perusahaan yang dibagi kedalam dua
kelompok yaitu pelanggan potensial atau pelanggan baru dan pelanggan
yang telah ada atau pelanggan lama (De Weaver, 1997:83).
Keberhasilan seorang telemarketing sangat bergantung pada
kemampuan personal telemarketing itu sendiri. Menurut Keith Davis,
secara psikologis, kemampuan (ability) terdiri dari kemampuan potensi
(IQ) dan kemampuan reality (knowledge+skill), artinya karyawan yang
memiliki IQ diatas rata-rata dengan pendidikan yang memadai untuk
jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka
akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal.
Menurut Mangkunegara, berikut adalah hal-hal yang diperlukan
telemarketing executive agar dapat menyentuh targetnya :

  1. Pastikan list yang dipunyai sesuai dengan target market dan update
  2. Gunakan telemarketer yang berpengalaman
  3. Pastikan mempunyai sales script plus PSM (penawaran yang
    sangat menarik dan bisa dipercaya)
  4. Buat suasana kerja menyenangkan bila telemarketing berhasil close
    the sales boleh pukul gong
  5. Ada papan monitor setiap hari, setiap close, harus langsung dicatat
    dipapan sehingga telemarketer lain bisa menyaksikan
  6. Pelajari, rekam, buat sales script telemarketer yang sukses.
    Telemarketer yang menggunakan sales script yang terbukti
    menghasilkan, penjualannya tiga kali lipat lebih banyak di banding
    telemarketer bagus tanpa script yang terbukti.
  7. Kombinasikan dengan direct mail penjualan Anda bisa meningkat
    8 kali lipat dibanding telemarketing saja atau direct mail saja.
    (Waringin, 2008:86)

Pengertian Telemarketing


Telemarketing berasal dari kata tele berarti jarak dan marketing berarti
pemasaran yang didefinisikan sebagai suatu interaksi yang berusaha untuk
menciptakan hubungan pertukaran yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
dengan keinginan manusia, dengan kata lain pemasaran terjadi apabila setiap
hubungan antar manusia atau organisasi terlihat dengan adanya suatu proses
pertukaran.. Maka, telemarketing merupakan hubungan antar manusia atau
organisasi untuk menciptakan hubungan pertukaran yang dilakukan dengan jarak
jauh. Tak hanya itu telemarketing juga membantu perusahaan, meningkatkan
kepuasan pelanggan. Dapat dikatakan bahwa telemarketing adalah sebuah
aktivitas direct marketing sehingga aktivitas pasar dapat dilaksanakan.
Telemarketing didefinisikan sebagai strategi promosi pemasaran yang
menggunakan teknologi komunikasi dan personal terlatih untuk mengambil sikap
dalam aktivitas pemasaran yang sudah terencana di kelompok konsumen yang
sudah ditargetkan (Subroto, 2011: 255).
Telemarketing adalah suatu alat yang memadukan teknologi
telekomunikasi dan teknik-teknik manajemen untuk memenuhi banyak fungsi
penjualan dan layanan sebuah organisasi pemasaran. (De Weaver, 1997:82)
Telemarketing merupakan aktivitas pemasaran yang dilakukan secara
intensif dengan menggunakan telepon maupun internet. (Solihin, 2005 : 182) Dari
berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, telemarketing adalah
penggunaan telepon dan pusat panggilan (call center) untuk menarik prospek,
menjual pada pelanggan yang telah ada dan menyediakan layanan dengan
mengambil pesanan dan menjawab pertanyaan melalui telepon.
β€œTelemarketing dapat digunakan sebagai alat pemasaran yang berdiri
sendiri. Maksudnya tim telemarketing dapat menghubungi prospek untuk
melakukan kualifikasi dan mengatur pertemuan, menjual barang-barang, atau
melakukan riset pasar dan membuat database.” (Rowson, 2008: 5-6).
Telemarketing mencakup sprektum yang luas, mulai dari tenaga penjualan
menggunakan telepon untuk menelepon konsumen berprospek sampai personel
yang terlatih menggunakan komputer untuk memfasilitasi respons saat itu juga,
untuk menjawab pertanyaan dari konsumen atau prospek.
Telemarketing banyak digunakan oleh banyak perusahaan pemasaran
untuk melakukan promosi, memproses pesanan, membantu penjualan, dan
melayani pelanggan dengan tujuan untuk menghasilkan terjadinya transaksi
penjualan. Telemarketing banyak digunakan karena memberikan kemungkinan
untuk ditanggapi lebih besar. Telemarketing dalam pemasaran sudah banyak
membantu perusahaan, terutama dalam mengurangi biaya penjualan seperti biaya
perjalanan dan biaya untuk meningkatkan volume penjualan. Agar peran
telemarketing bisa lebih efektif, maka perusahaan harus menggunakan personel
terlatih dalam telemarketing (Subroto, 2011: 255)

Promosi dalam Kegiatan Marketing


Menurut Kotler dan Gary A. dalam Sindoro (2000) promosi adalah
ramuan khusus dari iklan pribadi, promosi penjualan dan hubungan
masyarakat yang di pergunakan perusahaan untuk mencapai tujuan iklan
dan pemasarannya. Bauran promosi merupakan alat komunikasi yang
terdiri dari kombinasi alat-alat promosi yang digunakan oleh perusahaan.
Pada umumnya alat-alat promosi tersebut memiliki hubungan yang erat,
sehingga diantaranya tidak dapat dipisahkan, karena bersifat saling
mendukung dan melengkapi.
Kotler dan Armstrong (2012:432) mengemukakan, β€œbauran
promosi (bauran komunikasi pemasaran) adalah campuran spesifik dari
alat-alat promosi yang digunakan perusahaan untuk secara persuasif
mengomunikasikan nilai pelanggan dan membangun hubungan
pelanggan”.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012:432), bauran promosi terdiri
atas 5 (lima) alat-alat promosi, yaitu:

  1. Advertising (periklanan), yaitu semua bentuk presentasi dan
    promosi non-personal yang dibayar oleh sponsor untuk
    mempresentasikan gagasan, barang atau jasa. Periklanan dianggap
    sebagai manajemen citra yang bertujuan menciptakan dan
    memelihara cipta dan makna dalam benak konsumen. Bentuk
    promosi yang digunakan mencakup broadcast, print, internet,
    outdoor, dan bentuk lainnya.
  2. Sales Promotion (promosi penjualan), yaitu insentif-insentif jangka
    pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan suatu produk
    atau jasa. Bentuk promosi yang digunakan mencakup discounts,
    coupons, displays, demonstrations, contests, sweepstakes, dan
    events.
  3. Personal Selling (penjualan perseorangan), yaitu presentasi
    personal oleh tenaga penjualan dengan tujuan menghasilkan
    penjualan dan membangun hubungan dengan konsumen. Bentuk
    promosi yang digunakan mencakup presentations, trade shows,
    dan incentive programs.
  4. Public Relations (hubungan masyarakat), yaitu membangun
    hubungan yang baik dengan berbagai publik perusahaan supaya
    memperoleh publisitas yang menguntungkan, membangun citra
    perusahaan yang bagus, dan menangani atau meluruskan rumor,
    cerita, serta event yang tidak menguntungkan. Bentuk promosi
    yang digunakan mencakup press releases, sponsorships, special
    events, dan web pages.
  5. Direct Marketing (penjualan langsung), yaitu hubungan langsung
    dengan sasaran konsumen dengan tujuan untuk memperoleh
    tanggapan segera dan membina hubungan yang abadi dengan
    konsumen. Bentuk promosi yang digunakan mencakup catalogs,
    telemarketing, kiosks, internet, mobile marketing, dan lainnya

Bauran Pemasaran


Bauran pemasaran menurut Ratih Hurriyanti (2008, 47) adalah
elemen-elemen organisasi perusahaan yang dapat dikontrol oleh
perusahaan dalam melakukan komunikasi dengan konsumen dan akan
dipakai untuk memuaskan konsumen.
Menurut Philip Kotler (1999), bauran pemasaran (marketing mix)
adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus
menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran.
Menurut M.Mursid (1997), marketing mix merupakan kerangka
dari suatu keputusan pemasaran yang variabel (marketing decision
variable) dalam setiap perusahaan di dalam kurun waktu atau sampai batas
waktu tertentu. Marketing mix merupakan faktor – faktor yang dikuasai,
digunakan, dikendalikan oleh seorang marketing manager (controllable
factors) untuk mempengaruhi jumlah permintaan.
Penerapan marketing mix bagi perusahaan tidak hanya sekedar
meningkatkan angka penjualan dengan jumlah pembeli yang semakin
banyak, tetapi juga bagaimana para pembeli tersebut bisa menjadi
pelanggan yang membeli produk berulang kali.
Ada empat elemen yang dikenal dengan bauran pemasaran atau
marketing mix, yang merupakan elemen pokok dalam pemasaran, yaitu:

  1. Product
  2. Place (tempat, atau sering disebut distribusi)
  3. Price
  4. Promotion

Pengertian Marketing


Menurut Istilah pemasaran berasal dari bahasa Inggris dikenal dengan
nama marketing. Secara harafiah, dalam bahasa Indonesia, marketing diartikan
sebagai pemasaran. Asal kata pemasaran adalah pasar, yang dipasarkan disini
adalah barang dan jasa. Memasarkan barang tidak hanya berarti menawarkan
barang atau menjual saja, tetapi lebih luas dari itu dan menyangkut berbagai
macam aspek berkaitan yang luas.
Menurut Kotler & Armstrong (2008:6), β€œPemasaran (marketing) adalah
proses di mana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun
hubungan yang kuat dengan pelanggan, dengan tujuan menangkap nilai dari
pelanggan sebagai imbalannya”.
Kutipan tersebut memiliki arti bahwa pemasaran tidak selamanya harus
diartikan dengan sebagai menjual, menjelaskan dan penjualan, tapi dalam arti
baru, yaitu memuaskan atau memenuhi kebutuhan pelanggan. Jika pemasar
memahami kebutuhan pelanggan; mengembangkan produk dan layanan yang
memberikan nilai pelanggan yang superior; dan penetapan harga, pendistribusian
dan promosi secara efektif. produk akan terjual secara mudah.
Menurut Chaffey (2009:416), β€œPemasaran adalah proses manajemen yang
bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, mengantisipasi dan memuaskan
kebutuhan pelanggan secara menguntungkan”.
Definisi ini menekankan fokus pemasaran pada pelanggan, sementara pada
saat yang sama menyiratkan kebutuhan untuk menghubungkan dengan operasi
bisnis lain untuk mencapai profitabilitas ini. Bagaimana internet dapat digunakan
untuk mencapai proses tersirat dalam pernyataan ini:
ο‚· Identifying: Bagaimana internet digunakan untuk riset pemasaran untuk
mengetahui kebutuhan serta keinginan pelanggan.
ο‚· Anticipating: Merupakan kunci untuk mengatur alokasi sumber untuk e-
business.
ο‚· Satisfying: Merupakan kunci untuk e-marketing, untuk mencapai kepuasan
pelanggan melalui chanel elektronik. Berdasarkan kedua pendapat diatas
dapat disimpulkan pemasaran (marketing) merupakan suatu proses
manajemen dimana pribadi ataupun perusahaan yang bertanggung jawab
dalam menciptakan suatu pertukaran nilai secara menguntungkan.

Bauran promosi


Bauran promosi merupakan cara maupun upaya dimana dalam
mempromosikan suatu produk untuk dapat menghasilkan produk yang
maksimal dan memuaskan. Menurut Kotler & Amstrong dalam Rohaeni
(2016) bauran promosi merupakan rangkaian alat pemasaran taktis yang
dikendalikan produk, harga, tempat, dan promosi yang disatukan oleh
perusahaan agar dapat menghasilkan tanggapan yang diinginkan suatu
perusahaan dalam pasar sasaran.
Metode promotion mix yang ingin dikelola secara strategis agar
dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli suatu produk adalah
sebagai berikut (Firmansyah, 2019):

  1. Periklanan (advertising)
    Penyajian suatu informasi non personal tentang suatu produk
    merk, perusahaan atau toko yang dilakukan dengan bayaran
    tertentu. Bentuk promosi non personal menggunakan berbagai
    media yang bertujuan untuk merangsang pembelian. Ada
    beberapa tujuan periklanan sebagai berikut:
    a. Iklan yang bersifat memberikan informasi (informative
    advertising)
    b. Iklan membujuk (persuasive advertising)
    c. Iklan pengingat (reminder advertising)
    d. Iklan pemantap (reinforcement advertising)
    Pilihan media yang dapat digunakan digunakan untuk melakukan
    pengiklanan seperti surat kabar, majalah, radio, papan reklame, direct mail.
    Pada iklan biasanya ditampakkan organisasi yang mensponsorinya. Iklan
    ditujukan untuk mempengaruhi afeksi dan kognisi konsumen (evaluasi,
    perasaan pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap, dan citra yang berkaitan
    dengan produk dan merk). Dengan demikian konsumen dapat terpengaruh
    untuk membeli produk tersebut. Menurut Sariwaty dan Rahmawati dkk (2019),
    tujuan iklanadalah untuk mengarahkan perilaku konsumen terhadap penawaran
    ataupun mempersuasi seseorang dalam melakukan sesuatu atau tindakan.
  2. Personal Selling (Penjualan Personal)
    Menurut Firmansyah (2019) Promosi ini melibatkan interaksipersonal
    langsung antara seorang pembeli potensial dengan seorang salesman.
    Penjualan personal dapat menjadi metode promosi yang hebat, untuk alasan
    berikut:
    a. komunikasi personal dan salesman dapat meningkatkan keterlibatan
    konsumen dengan produk dan proses pengambilan keputuan
    b. Situasi komunikasi interaktif yang memungkinkan salesman untuk
    mengadaptasi apa yang disajikannya agar sesuai dengan kebutuhan
    informasi setiap pembeli potensial. Dengan ini diharapkan konsumen
    akan memberian tanggapannya.
  3. Sales Promotions (Promosi Penjualan)
    Menurut Firmansyah (2019) Sales Promotions adalah rangsangan
    langsung yang ditujukan kepada konsumen untuk melakukan pembelian.
    Banyaknya jenis promosi penjualan, termasuk di dalamnya penurunan
    harga, pemberi diskon melalui kupon, rabat, kontes dan undian, perangko
    dagang, pameran dagang dan eksebisi, contoh gratis, serta hadiah membuat
    promosi penjualan mempengaruhi konsumen.
    Semua kegiatan yang dimaksud untuk meningkatkan arus barang
    atau jasa dari produsen sampai pada penjualan akhirnya. Sales promotion
    dapat diberikan kepada:
    a. Customer, berupa freeoffers, sampel, demonstrations, coupons, cash
    reunds,prized, contest (lomba) dan warranties (garansi).
    b. Intermediaries (penyalur), berupa free goods, discount, advertising
    allowances, cooperative advertising, distributor contests, awards.
    c. Sales Force (salesman), berupa bonus, penghargaan, contest dan
    hadiah untuk tenaga penjual terbaik (prized for best performer).
  4. Public Relations (Hubungan masyarakat)
    Firmansyah (2019) mengatakan bahwa Public Relations adalah
    kegiatan komunikasi yang dimaksudkan untuk membangun image yang
    baik terhadap perusahaan, menjaga kepercayaan dari para pemegang
    saham.
    Public Relations sangat peduli terhadap beberapa tugas pemasaran,
    antara lain yaitu:
    a. Membangun image (citra)
    b. Mendukung aktifitas komunikasi lainnya
    c. Mengatasi persoalan dan isu yang ada
    d. Memperkuat positioning perusahaan
    e. Mempengaruhi public yang spesifik
    f. Mengadakan launching untuk produksi/jasa baru
    Program Public Relations antara lain yaitu:
    a. Publikasi
    b. Events
    c. Hubungan dengan investor
    d. Exhibitions/pameran
    e. Mensponsori beberapa acara
  5. Direct Marketing
    Menurut Firmansyah (2019) Direct Marketing adalah sistem
    marketing dimana organisasi berkomunikasi secara langsung dengan
    target customer untuk menghasilkan respons atau transaksi. Respons
    yang dihasilkan bisa berupa inquiry, pembelian, atau bahkan dukungan.
  6. Pemasaran dari Mulut ke Mulut (word of mouth)
    Menurut Kotler dan Keller (2009) word of mouth merupakan suatu
    komunikasi secara lisan, tertulis dan elektronik antar masyarakat dalam
    hubungannya dengan suatu keunggulan dan pengalaman membeli maupun
    menggunakan barang dan jasa, Word of mouth ini biasanya terjadi jika
    pelanggan perusahaan merasa puas dalam pelayanan perusahaan, lalu
    kepuasan tersebut akan diceritakan kepada orang terdekat mereka dalam
    artian sebagai tujuan untuk merekomendasikan.

Employee wellbeing memediasi pengaruh workplace spiritualityterhadap OCB

Alshahrani & Iqbal (2021) meneliti peran mediasi psychological well-
being antara pengaruh modal psikologis terhadap OCB. Hasil penelitan
tersebut menunjukkan bahwa psychological well-being memediasi pengaruh
antara modal psikologis terhadap OCB Pada karyawan yang bekerja di
lembaga pendidikan tinggi di Pakistan. Penelitian lainnya Jena (2022)
meneliti peran mediasi OCB dan moderasi kecerdasan emosional antara
pengaruh workplace spirituality terhadap kinerja. Hasil penelitian tersebut
menemukan bahwa OCB memediasi pengaruh antara workplace spirituality
dan kinerja karyawan, Kecerdasan emosional memoderasi pengaruh antara
workplace spirituality dan kinerja karyawan industri manufaktur dan jasa di
india. Kang et al., (2020) meneliti peran mediasi psychological well-being
antara pengaruh persepsi kemampuan fisik, kepercayaan diri dan persentasi
fisik terhadap OCB. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa
psychological wellbeing memediasi pengaruh antara persepsi kemampuan
fisik, kepercayaan diri dan persentasi fisik terhadap OCB pada karyawan
hotel yang berlokasi di Seoul, Korea Selatan. Zhang et al., (2020) meneliti
peran mediasi employee wellbeing antara pengaruh Human resource
practices terhadap hubungan karyawan. Hasil penelitian tersebut ditemukan
bahwa employee wellbeing memediasi pengaruh human resource practices
terhadap hubungan karyawan. Sedangkan penelitian Aboobaker et al., (2019)
menguji peran mediasi employee wethcelbeing at work dan moderasi pilihan
karir terhadap pengaruh antara workplace spirituality terhadap keinginan
untuk tinggal. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa employee
wellbeing at work memediasi pengaruh antara workplace spirituality terhadap
keinginan untuk tinggal pada Guru sektor swasta di India.

Employee wellbeing berpengaruh terhadap OCB

Menurut Joo (2017) tipe kepemimpinan yang mencontohkan nilai-nilai
moral dan etika yang positif seperti kejujuran, altruisme, keadilan, dan
integritas, yang dapat mendorong pengikut untuk memunculkan perilaku
OCB. Menurut Huang et al., (2021) ethical leadership menunjukkan
komitmen terhadap praktik etis di tempat kerja dan berfungsi sebagai model
etika bagi orang-orang di sekitar mereka. Ethical leadership berbeda dari
jenis kepemimpinan lainnya termasuk kepemimpinan transformasional,
kepemimpinan otentik atau kepemimpinan partisipatif karena Ethical
leadership pada dasarnya menekankan motivasi moral ketika berhadapan
dengan karyawan. Penelitian terbaru menemukan bahwa ethical leadership
memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Perilaku kerja positif
seperti OCB. Hasil penelitian Su & Hahn (2021) menemukankan bahwa
kepemimpinan etis merupakan prediktor positif OCB karyawan generasi
milenial di Cina. Hasil penelitian Wang & Sung (2016) menemukan bahwa
ethical leadership dapat menurunkan kecemburuan di tempat kerja dan
berdampak positif pada OCB karyawan rumah sakit di Taiwan. Hasil
penelitian Tan et al., (2019) juga menemukan bahwa ethical leadership
berpengaruh positif dan signifikan terhadap dimensi OCB pada akademisi
universitas swasta di Thailand, Cina dan Malaysia. Hasil penelitian tersebut
sejalan dengan Yang & Wei, (2018) juga menemukan bahwa ethical
leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap OCB pada karyawan
perusahaan di Cina. ketika. Hal tersebut dapat diartikan, ketika intensitas
penerapan ethical leadership diterapkan dengan baik maka akan
meningkatkan OCB. Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapat dibentuk
hipotesis keempat sebagai berikut:
H4: ethical leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap OCB
Menurut Ribeiro et al., (2022) employee wellbeing atau kesejahteraan
karyawan merupakan hal yang penting penentu perkembangan perusahaaan
secara berkelanjutan (sustainable). Hasil penelitian Kang et al., (2020)
menunjukkan bahwa karyawan memiliki kesejahteraan psikologis yang baik,
akan lebih cenderung menunjukkan perilaku kewargaan organisasi atau OCB
daripada karyawan yang memiliki kesejahteraan psikologis rendah pada
karyawan hotel yang berlokasi di Seoul, Korea Selatan. Hasil penelitian
Alshahrani & Iqbal (2021) menemukan bahwa karyawan yang memiliki
sumber daya, seperti modal psikologis, memiliki kesejahteraan psikologis
yang tinggi, akan melakukan upaya khusus atau effort yang lebih baik untuk
mencapai tujuan organisasi di luar tugas dan peran mereka (extra role
behavior), penelitian tersebut dilakukan pada karyawan yang bekerja di
lembaga pendidikan tinggi di Pakistan. Hasil penelitian Yu et al., (2021) juga
menemukan bahwa employee wellbeing berpengaruh positif dan signifikan
terhadap OCB, stres karyawan berpengaruh negatif terhadap employee
wellbeing saat pandemi covid-19 pada karyawan hotel di Korea. Sejalan
dengan pendapat Podsakoff et al., (2014) OCB cenderung fleksibel dan
mendorong karyawan untuk bekerja di luar peran (extra role behavior) dan
tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaan dalam mencapai
produktivitas organisasi secara keseluruhan. Perilaku peran ekstra atau pada
karyawan ini berkontribusi pada efektivitas dan keberhasilan organisasi
(Jena, 2022)

Definisi strategi pemasaran


Strategi pemasaran merupakan cara yang ditempuh perusahaan
untuk merelisasikan 4 misi, tujuan, sasaran yang sudah ditentukan, dengan
menjaga keserasian antara berbagai tujuan yang ingin dicapai, kemampuan
yang dimiliki, peluang dan ancaman yang dihadapi pada pasar produk
perusahaan (Adisaputro, 2010)