Aspek-aspek Perilaku kewarganegaraan organisasi


Aspek-aspek Perilaku kewarganegaraan oleh Organ, Podsakoff, &
MacKenzie (2006) dibagi menjadi lima aspek yakni:
a. Altruism (Menolong Orang Lain)
Perilaku menolong muncul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban
pada pekerjaan organisasional, melainkan bersifat sukarela dan tidak berdasar
norma-norma tertentu. Seperti menolong pegawai lain baik yang berhubungan
dengan pekerjaannya ataupun masalah pribadi orang lain. Hal ini dilakukan tanpa
mengharapkan imbalan apapun.
b. Constiousness (Perilaku Melebihi Standar Minimum)
Perilaku melebihi standar persyaratan minimun organisasi yang diharapkan
organisasi. Individu yang sadar akan tanggung jawabnya akan disiplin terhadap
waktu, disiplin dalam kehadiran, melakukan sesuatu melebihi kebutuhan dan
harapan normal, bijaksana dalam mengikuti peraturan-peraturan organisasi.
C. Courtesy (Menghormati Orang Lain)
Perilaku ini berkaitan dengan hubungan pegawai dengan pegawai lainnya
agar terhindar dari masalah interpersonal. Memberikan perilaku yang baik serta
hormat kepada orang lain dalam mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan
pekerjaan, termasuk perilaku seperti membantu orang lain, membantu
meminimalisir keributan, atau membuat langkah-langkah untuk meredakan atau
mengurangi berkembangnya suatu masalah di organisasi. Individu yang memiliki
dimensi ini tinggi adalah orang yang menghormati, menghargai, dan
memperhatikan orang lain. Pegawai dengan perilaku courtesy lebih peka dan
berpikiran terbukan dengan hak-hak orang lain.
d. Sportmanship (Bersikap Toleran)
Perilaku bertoleransi dan sportifitas tinggi pada organisasi tanpa mengeluh
akan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan atau masalah bahkan jika
individu tidak setuju atau setuju dangan perubahan yang yang terjadi dalam
organisasi. Pegawai dapat memberikan toleransi pada keadaan yang kurang ideal
dalam organisasi tanpa mengajukan keberan-keberatan.
e. Civic Virtue (Menjadi Warga yang Bijak)
Perilaku yang menunjukkan keinginan untuk tanggung jawab dan perannya
dalam aktivitas organisasi, memiliki kepedulian terhadap kelangsungan organisasi.
Dimensi ini mengarah pada tanggung jawab yang diberikan organisasi kepada
karyawan untuk meningkatkan kualitas kerjanya. Perilaku ini ditunjukkan dengan
keinginan untuk berpartisipasi aktif dalam organisasi. Civic virtue dapat berupa
kesediaan karyawan untuk terlibat dalam hal-hal yang rutin maupun tidak rutin
dalam organisasi untuk menciptakan kesan baik dari organisas

Pengertian Perilaku kewarganegaraan Organisasi atau OrganizationalCitizenship Behavior (OCB)


Berbagai macam definisi dikemukakan oleh para ilmuwan. Menurut Sri
Widodo (2015) definisi Organizational Citizenship Behavior (OCB) dimana
merupakan sikap yang melebihi kewajiban formal (ekstra role) yang berkaitan
dengan kompensasi secara langsung. Artinya, seorang yang memiliki Perilaku
kewarganegaraan organisasi tinggi tidak akan mengharapkan imbalam, namun
Perilaku kewarganegaraan organisasi lebih kepada perilaku social pada diri tiap-
tiap individu untuk bekerja melebihi dari apa yang dijerjakan, seperti membantu
rekan di saat jam istirahat dengan sukarela adalah salah satu contohnya.
Sejalan dengan itu, menurut Styowidodo (2020) mendefinisikan Perilaku
kewarganegaraan organisasi adalah perilaku sukarela anggota organisasi bukan
tindakan yang diberikan atau dipaksakan oleh organisasi. Perilaku
kewarganegaraan organisasi ini berkarakter yang ditandai dengan bantuan yang
diberikan tetapi bukan berupa bagian dari tugas, dilakukan secara spondan, dan
tidak di minta serta dengan membantu rekan kerja tanpa memperoleh imbalan. OCB
ini merupakan sikap dan perilaku pegawai dalam bekerja dengan sukarela serta
adanya rasa sebagai pegawai yang merasa puas apabila dapat berkontribusi lebih
pada organisasi sehingga jika apabila ditampilkan pun tidak diberi hukuman. Hal
tersebut bukan sebagai akibat dari adanya sistem penghargaan yang diberikan
perusahaan secara formal hanya pekerja yang sukarela untuk meningkatkan kinerja
organisasi.
24
Menurut Robbins dalam Lubis (2016) mengemukakan bahwa Perilaku
Kewarganegaraan Organisasi (OCB) merupakan perilaku pilihan_yang tidak
menjadi bagian dari kewajiban kerja formal seorang karyawan, namun mendukung
berfungsinya_organisasi tersebut secara efektif

Indikator Kepuasan Kerja


Penggunaan indikator kepuasan kerja yakni menggunakan indikator
menurut Luthans (2006) dalam Styowidodo (2020):
a.Perasaan puas terhadap gaji,
b.Puas dengan promosi,
c.Perasaan puas dengan rekan kerja,
d.Perasaan puas terhadap pengawasan,
e.Perasaan puas terhadap pekerjaan itu sendiri
Selain itu, indikator kepuasan kerja menurut Afandi (2018:82) adalah
sebagai berikut:
a. Pekerjaan, ini termasuk dari pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah
memiliki elemen yang memuaskan.
b. Upah, dimana insentif yang diterima seseorang sebagai akibat dari
pelaksanaan keja apakah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan adil.
c. Promosi, dimana terjadinya kemungkinan seseorang dapat naik jabatan.
Ini berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh
peningkatan karir selama bekerja.
d. Pengawas, dimana seseorang yang senantiasa memberikan perintah atau
petunjuk dalam pelaksanaan kerja.
e. Rekan kerja, dimana seseorang senantiasa berinteraksi dalam pelaksanaan
pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan kerjanya sangat
menyenangkan atau tidak menyenangkan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Anwar Prabu Mangkunegara dalam Hamali (2016:205-206) menyatakan
adanya dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu:

  1. Faktor karyawan, yaitu kecakapan khusus, kecerdasan (IQ), pendidikan, umur,
    pengalaman kerja, jenis kelamin, kondisi fisik, masa kerja, kepribadian, emosi,
    cara berfikir, persepsi, sikap kerja.
  2. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, strukturnorganisasi, kedudukan,
    pangkat (golongan), mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan promosi
    jabatan, interaksi sosial, hubungan kerja.
    Sedangkan Sopiah dalam Hamali (2016:206) menyatakan aspek-aspek kerja
    yang berpengaruh pada kepuasan kerja atau disebut juga sebagai dimensi dari
    kepuasan kerja adalah:
    a. promosi,
    b. gaji
    c. pekerjaan itu sendiri,
    d. supervisi,
    e. teman kerja,
    f. keamanan kerja,
    g. kondisi kerja,
    h. administrasi/kebijakan perusahaan,
    i. komunikasi,
    j. tanggung jawab,
    k. pengakuan,
    l. prestasi kerja,
    m. kesempatan untuk berkembang

Pengertian Kepuasan Kerja


Kenyamanan dan tingginya loyalitas pegawai pada perusahaan dapat
tumbuh apabila seorang pegawai memperoleh kepuasan kerja mereka. Kepuasan
kerja sendiri memang mempengaruhi seberapa baik produktivitas kerja mereka.
Oleh karena itu, pimpinan perlu memahami segala hal yang bisa menciptakan
kepuasan kerja pegawainya.
Menurut Green dan Baron dalam Hamali (2016:200) mendeskripsikan
bahwa kepuasan kerja dikatakan sebagai sikap positif atau negatif pegawai terhadap
pekerjaanya.
Menurut Afandi (2018) kepuasan kerja termasuk sikap (positif) tenaga kerja
pada pekerjaannya, dimana hal tersebut timbul berdasarkan penilaiannya pada
situasi kerja. Penilaian tersebut juga dilakukan terhadap salah satu pekerjaannya,
penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai
penting dalam pekerjaan.
Sedangkan menurut Edison (2016) kepuasan kerja merupakan sebuah
perasaan yang muncul pada diri pegawai mengenai hal-hal yang menyenangkan
atau tidak pada suatu pekerjaan yang mereka kerjakan. Kepuasan kerja yang tinggi
menjadi ciri organisasi dikelola dengan baik serta merupakan hasil kepemimpinan
yang efektif

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Dukungan Organisasi


Faktor-faktor berpengaruh kepada persepsi terhadap dukungan organisasi
yang dikemukakan oleh Ghani dan Hussin dalam Meiwintar (2016) yakni:
a) Kepercayaan (Trust)
b) Akses Mendapatkan Informasi
c) Akses mendapatkan pembelajaran dan pengembangan
Selain itu, Farasat & Ziaaddini dalam Hadiyanti dan Prasetio (2020: 2448)
menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dukungan organisasi
yaitu:
a. Memberikan penghargaan kepada karyawan
b. Memperhatikan kesejahteraan
c. Peduli terhadap karyawan, dan
d. Kondisi kerja

Aspek-Aspek Persepsi Dukungan Organisasi


Rhodes dan Eisenberger dalam Sholeh (2018) mengemukakan bahwa
persepsi terhadap dukungan organisasi memiliki aspek-aspek, sebagai berikut:
a. Keadilan
Cropanzo & Greenberg telah menjelaskan dua keadilan yakni keadilan
dalam aspek struktural dimana hal tersebut mencakup aturan-aturan formal serta
keputusan yang menyangkut pegawai. Serta keadilan dalam aspek sosial dimana
dapat dikatakan sebagai keadilan interaksional yang meliputi pelakuan organisasi
terhadap pegawai pada penghargaan martabat serta penghormatan, (Rhoades &
Eisenberger dalam Sholeh, 2018).
b. Dukungan Supervisor
Kottke & Sharafinski dalam Sholeh (2018), mengemukakan bahwa pegawai
menelaah dengan pandangannya secara umum mengenai sejauh mana atasan
menilai kontribusinya serta bagaimana kepedulian atasan terhadap
kesejahteraannya. Hal tersebut dikarenakan atasan memiliki peran sebagai orang
yang memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengevaluasi kinerja
pegawainya dalam organisasi tersebut dengan mengacu kepada penilaian tersendiri.
Begitupun dengan pegawai yang akan melihat ada atau tidaknya dukungan dari
organisasi tempat ia bekerja.
c. Penghargaan Organisasi dan Kondisi Pekerjaan
Bentuk dari penghargaan organisasi serta kondisi pekerjaan ini yakni gaji,
pengakuan, promosi, keamanan dalam bekerja, kemandirian, peran stressor, dan
pelatihan.
Sedangkan Allen & Brady dalam Prasetyo (2016) mengemukakan aspek
persepsi dukungan organisasi yakni:
a. Sikap organisasi terhadap ide-ide karyawan.
18
Hal ini menjadikan persepsi yang positif ketika organisasi mendengarkan
dan menggunakan ide pegawai. Begitupun sebaliknya, bila perusahaan tidak
menerima ide pegawai dan melakukan segala sesuatu sendiri persepsi akan menjadi
negatif.
b. Sikap pada masalah yang dihadapi karyawan
Pegawai akan merasa tidak mendapat dukungan dari organisasi apabula
perusahaan tidak menunjukkan sikap dalam membantu mereka dalam menghadapi
masalah.
c. Sikap pada kesejahteraan dan kesehatan karyawan
Pegawai akan melihat bagaimana organisasi memberikan dukungannya agar
mereka dapat bekerja secara optimal untuk mencapai tujuan dari organisasi
tersebut.
Selanjutnya Robbins dan Judge dalam Sari (2019) mengemukakan aspek
persepsi dukungan organisasi yaitu:
a. Penghargaan
Ada penghargaan berbentuk finansial seperti gaji, upah, insentif, atau
tunjangan. Tetapi, ada juga penghargaan diluar finansial seperti pujian, penerimaan,
pengakuan atau yang lainnya yang tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan
kinerja pegawai.
b. Kepedulian
Rasa peduli merupakan bentuk pimpinan terhadap pegawainya untuk
memberikan penghargaan baik salam bentuk waktu, gagasan, perhatian, maupun
yang lainnya.
19
c. Kesejahteraan
Kesejahteraan (well-being) yang seding juga dikenal sebagai kesejahteraan
subjektif, emosi, atau kebahagiaan. Pengertian lain kesejahteraan dikaitan dengan
tujuan hidup yang bermakna

Indikator Persepsi Dukungan Organisasi


Rhoades dan Eisenberger dalam Putra dan Sriathi (2017) mengemukakan
indikator untuk mengukur persepsi dukungan organisasi antara lain:

  1. Adanya penghargaan dari organisasi dengan segala pekerjaan yang
    dilakukan oleh karyawan;
  2. Adanya penghargaan dari organisasi dengan segala usaha yang telah
    karyawan berikan terhadap perusahaan;
  3. Adanya perhatian dari organisasi untuk berbagai keluhan dari karywan
    mengenai pekerjaan maupun kehidupan pribadinya;
  4. Adanya kepedulian dari organisasi tentang bagaimana kesejahteraan
    karyawan;
  5. Organisasi akan memberitahu karyawan pada saat mereka melakukan
    kesalahan dalam bekerja;
  6. Adanya kepedulian dari organisasi tentang kepuasan karyawan dalam
    pekerjaannya;
  7. Adanya perhatian dari organisasi; dan
  8. Organisasi bangga atas segala pencapaian karyawan dalam bekerja.
    Allen dan Brady dalam Prasetyo (2016) mengemukakan indikator persepsi
    dukungan organisasi yakni:
  9. Sikap organisasi terhadap ide-ide karyawan dengan menerima pendapat
    atau masukan yang karyawan sampaikan serta memasukkan ide dari
    pegawai untuk kebaikan kemajuan organisasi.
  10. Sikap pada masalah yang dihadapi karyawan dimana supervisor mau
    mendengarkan keluhan karyawan dan mau membantu karyawan agar
    merasa dipedulikan.
  11. Sikap pada kesejahteraan dan kesehatan karyawan dimana organisasi
    memberikan penghargaan terhadap karyawan berupa reward dan
    memberikan perhatian bagi kesehatan karyawan seperti memberikan
    jaminan kesehatan.
    Sedangkan Robbins dan Judge dalam Sari (2019) mengemukakan
    indikator persepsi dukungan organisasi yaitu:
  12. Penghargaan, dimana organisasi memberikan reward terhadap
    karyawan baik berupa gaji maupun kenaikan pangkat serta adanya
    penghargaan berupa motivasi dari supervisor.
  13. Kepedulian, adanya bentuk rasa simpati supervisor terhadap karyawan
    dalam bentuk pertolongan atau perhatian.
  14. Kesejahteraan, karyawan dapat merasa sejahtera apabila mereka
    mendapatkan perlindungan baik berupa jaminan kesehatan maupun
    berbentuk salary atau bonus

Pengertian Persepsi Dukungan Organisasi


Pada sebuah perusahaan tentu pegawai membutuhkan dukungan dari
perusahaan tersebut di luar dari timbal balik yang wajib diberikan oleh perusahaan.
Dukungan dari perusahaan akan berpengaruh kepada psikologis Pegawai dalam
bekerja. Dengan kondisi psikologi yang positif maka pegawai akan dapat
mengkontribusikan kemampuan terbaik yang bisa mereka berikan pada perusahaan.
Untuk itu, perlu adanya suatu dukungan dari organisasi atau tempat pegawai
bekerja. Namun, penilaian akan dukungan tersebut akan berbeda pada setiap
karyawan.
Menurut Hendry Setiyawan, Siti Nur Azizah (2019) Persepsi dukungan
organisasional yakni merupakan suatu keyakinan secara global yang dikembangkan
oleh pegawai tentang sejauh mana terjalinnya komitmen organisasi pada mereka
(pegawai) dilihat adanya penghargaan organisasi terhadap kontribusi mereka dan
perhatian organisasi terhadap kehidupan mereka.
Menurut Robbins & Judge dalam Sari (2019) persepsi dukungan organisasi
didefinisikan sebagai sejauh mana pegawai percaya bahwa organisasi menghargai
kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan mereka. Sedangkan menurut
Ismainar (2018:162) tentang persepsi dukungan organisasi menjelaskan bahwa
“persepsi dukungan organisasi berpacu kepada pandangan pegawai mengenai
sejauh mana orgnisasi menilai penting bagi kebutuhan sosioemosional mereka
seperti penghargaan, kepedulian dan benefit seperti gaji dan tunjangan kesehatan”.
Menurut Eisenberger, et al. Dalam Wijaya dan Yuniawan (2017) persepsi
dukungan organisasi adalah keadaan dimana karyawan merasa yakin atas
besarnya kepedulian organisasi atas kontribusi yang telah diberikan oleh para
karyawannya dengan begitu mengusahakan kesejahteraan mereka.
Sedangkan menurut Rhoades, dkk dalam Sholeh (2018) bahwa persepsi
dukungan organisasi itu mengacu kepada keyakinan seorang karyawan kepada
tempat ia bekerja dengan bagaimana organisasi tersebut menghargai kontribusinya
serta kepedulian organisasi terhadap kesejahteraannya.

Pengaruh Keterlibatan Kerja terhadap Keterikatan Karyawan


Keterlibatan kerjapada prakteknya berkaitan dengan tingkat absensi, dan
berkeinginan berpartisipasi dalam tim atau kelompok kerja. Apabilatingkat
keterlibatan kerja tidak diperhatikan maka dapat menyebabkan terjadinya
karyawan merasa tidak semangat dalam bekerja, serta karyawan merasa tidak
diperhatikan oleh perusahaan.
Lodahl dan Kejner (dalam Cohen, 2003) mmendifinisikan keterlibatan
kerja (Job Involvement) sebagai internalisasi nilai-nilai tentang kebaikan
pekerjaan atau pentingnya pekerjaan bagi keberhargaan seseorang.Keterlibatan
kerja sebagai tingkat sampai sejauh mana performansi kerja seseorang
mempengaruhi harga dirinya dan tingkat sampai sejauh mana seseorang secara
psikologis mengidentifikasikan diri terhadap pekerjannya atau pentingnya
pekerjaan dalam gambaran diri totalnya.Individu yang memiliki keterlibatan
yang tingggi lebih mengidentifikasikan dirinya pada pekerjaanya dan
menganggap pekerjaan sebagai hal yang sangat penting dalam kehidupannya.
Menurut Vazirani (2007) sebagai tingkat komitmen dan keterlibatan yang
karyawan miliki terhadap organisasinya dan nilai-nilai yang ada di dalamnya
yang terlihat dalam sikap positif karyawan terhadap organisasi dan nilai-nilai
yang ada di dalamnya.
Adapun didukung oleh peneliti terdahulu Putra F, dkk(2018)
dalampenelitiannya menunjukkan keterlibatan kerjaberpengaruh positif dan
signifikan terhadap keterikatan kerja karyawan

Pengaruh Persepsi Dukungan Organisasi terhadap KeterikatanKaryawan


Jika karyawan menganggapbahwa dukungan organisasi yang diterimanya
tinggi, maka karyawan tersebut akanmenyatukan keanggotaan sebagai anggota
organisasi ke dalam identitas diri merekadan kemudian mengembangkan
hubungan dan persepsi yang lebih positif terhadaporganisasi tersebut. Dengan
menyatunya keanggotaan dalam organisasi denganidentitas karyawan, maka
karyawan tersebut merasa menjadi bagian dari organisasidan merasa
bertanggung jawab untuk berkontribusi dan memberikan kinerjaterbaiknya pada
organisasi (Rhoades dan Eisenberger, 2002).
Persepsi dukungan organisasi mengacu pada persepsi karyawan
mengenaisejauh mana organisasi menilai kontribusi, memberi dukungan, dan
peduli pada kesejahteraan mereka (Rhoades dan Eisenberger, 2002).
Adapun didukung oleh peneliti terdahulu Putra F Dkk(2018) dalam
penelitiannya menunjukkan persepsi dukungan organisasi berpengaruh positif
dan signifikan terhadap keterikatan karyawan

Indikator Keterlibatan Kerja


Berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur keterlibatan kerjamenurut
Istijanto (2005) sebagai berikut :

  1. Aktif berpartisipasi dalam pekerjaannya.
    Karyawan terlibat dalam pekerjaannya (job involvement), aktif
    berpartisipasi adalah perhatian yang dicurahkan seseorang terhadap
    sesuatu.
  2. Menunjukkan pekerjaannya adalah yang utama.
    Karyawan berusaha memberi serta melakukan yang terbaik untuk
    pekerjaannya dan mengganggap pantas untuk diutamakan.
  3. Melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang penting untuk harga diri
    Keterlibatan kerja dapat dilihat dari sikap karyawan dalam pikiran
    mengenai pekerjaannya, dimana karyawan menganggap pekerjaan itu
    penting bagi harga dirinya sendiri

Pengertian Keterlibatan Kerja


Keterlibatan kerja merupakan tingkat di mana seseorang
mengaitkandirinya ke pekerjaannya, secara aktif berpartisipasi di dalamnya
dan menganggapkinerjanya penting bagi nilai dirinya (Robbins, 2003).
Hiriyappa (2009) mendefinisikan keterlibatan kerja (Job
Involvement) sebagai tingkat sampai sejauh mana individu
mengidentifikasikan dirinya dengan pekerjaannya, secara aktif berpartisipasi
didalamnya, dan menganggap performansi yang dilakukannya penting untuk
keberhargaan dirinya. Tingkat keterlibatan kerja yang tinggi akan menurunkan
tingkat ketidakhadiran dan pengunduran diri karyawan dalam suatu organisasi.
Sedangkan tingkat keterlibatan kerja yang rendah akan meningkatkan
ketidakhadiran dan angka pengunduran diri yang lebih tinggi dalam suatu
organisasi.
Karyawan dengan tingkat keterlibatan kerja yang tinggi dengan kuat
aktifmengaitkan dirinya ke jenis pekerjaan yang dilakukannya dan benar-
benarantusias dalam pengerjaannya.Karyawan yang aktif berpartisipasi
dalampekerjaannya menunjukkan kemauan dan keinginan karyawan untuk ikut
terlibatlangsung dalam pekerjaan. Menjelaskan ketika karyawan mempunyai
keterlibatan kerja yang rendahmaka dia akan menjadi seseorang yang hadir
secara fisik tapi mental absen. (Mustika dan Raharjo, 2017)
Ketika seorang karyawan sepenuhnya terlibat dalam karyanya, energi
dan fokus yang ditujukan langsung pada keterlibatannya. Karyawan menjadi
aset organisasidan tidak akan mungkin berpikir meninggalkan organisasi
ketika mempunyaiketerlibatan kerja yang tinggi sedangkan keterlibatan kerja
yang rendahmenambah perasaan karyawan dari keterasingan dalam organisasi
atau perasaanadanya pemisahan antara apa yang dilihat karyawan sebagai
kehidupan danpekerjaan yang mereka lakukan (Hafer dan Martin, 2006).
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keterlibatan
kerja adalah tingkat sejauh mana karyawan ikut serta berpartisipasi dan aktif
dalam pekerjaanya dan tidak akan mungkin berfikir meninggalkan pekerjaanya
saat mempunyai keterlibatan kerja yang tinggi saat bekerja

Indikator Persepsi Dukungan Organisasi


Menurut Rhoades dan Eisenberger (2002) terdapat indikator persepsi
dukungan organisasi sebagai berikut:

  1. Keadilan
    Keadilan prosedural menyangkut cara yang digunakan untuk
    menentukan bagaimana mendistribusikan sumber daya di antara
    karyawan.
  2. Dukungan atasan
    Karyawan mengembangkan pandangan umum tentang sejauh mana
    atasan menilai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan
    karyawan.
  3. Penghargaan organisasi
    Sebuah pengakuan perusahan terhadap kontribusi karyawannya

Pengertian Persepsi Dukungan Organisasi


Robbins dan Judge (2008), mendefinisikan persepsi dukungan organisasi
adalah tingkat sampai mana karyawan yakin organisasi menghargai kontribusi
mereka dan peduli dengan kesejahteraan mereka. Robbins dan Judge juga
menambahkan bahwa dari penelitian yang ada menunjukkan bahwa individu
akan merasaorganisasi mereka bersikap suportif ketika penghargaan
dipertimbangkan dengan adil, karyawan mempunyaisuara dalam pengambilan
keputusan, dan pengawas mereka dianggap suportif.
Persepsi terhadap dukungan organisasi juga dianggap sebagai sebuah
keyakinan global yang dibentuk oleh tiap karyawan mengenai penilaian
mereka terhadap organisasi yang dibentuk berdasarkan pada pengalaman
mereka terhadap kebijakan dan prosedur organisasi, penerimaan sumber daya,
interaksi dengan agen organisasi (misalnya supervisor) dan persepsi mereka
mengenai kepedulian organisasi terhadap kesejahteraan mereka (Rhoades dan
Eisenberger, 2002).
Persepsi dukungan organisasional difokuskan pada perlakuan yang
menguntungkan dan tingkat karyawan yang terilibat dalam hubungan timbal
balik yang positif (Darmawan, 2013).Karyawan dalam suatu perusahaan tentu
membutuhkan dukungan dari perusahaan di luar dari timbal balik yang wajib
diberikan kepada perusahaan. Dukungan dari perusahaan akan mempengaruhi
psikologis karyawan dalam bekerja. Dengan kondisi psikologi yang positif
maka karyawan akan dapat memberikan kemampuan terbaik yang bisa mereka
berikan kepada perusahaan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Shore dan Tetrik (1990, dalam
Cristian 2013) bahwa dukungan organisasi adalah persepsi seseorang terhadap
komitmen mereka pada organisasi tersebut dan kepedulian organisasi terhadap
kesejahteraan mereka, yang dapat meninbulkan komitmen karyawan untuk
tetap setia bekerja pada organisasi tersebut

Indikator Keterikatan Karyawan

  1. Kemauan karyawan dalam suatupekerjaan Karyawan berkemauan
    atau rasa ingin melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh.
  2. Semangat dalam bekerja Keinginan diri bekerja dengan sungguh
    untuk mencapai hasil yang diharapkan.
  3. Bangga terhadap pekerjaan merasa senang dan puas terhadap yang
    diraih atas usaha yang dilakukan untuk mencapai hasil yang
    diinginkan.
  4. Perasaan antusias perasaan senang dan semangat dalam menanggapi
    suatu pekerjaan.
  5. Karyawan berkonsentrasi penuh karyawan bekerja dengan fokus dan
    penuh hati-hati dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
  6. Merasa terpikat dengan pekerjaan karyawan menyukai pekerjaannya
    yang dilakukan dengan sepenuh hati tanpa adanya keterpaksaan.
  7. Sulit melepaskan diri dari pekerjaan karyawan tidak bisa melepaskan
    pekerjaanya karena karyawan merasa nyaman dengan kondisi kerja
    yang ada di lingkungan.

Dimensi Keterikatan Karyawan


Berikut ini penjelasan mengenai dimensiketerikatan karyawan
Schaufeli dan Bakker (2010)) sebagai berikut:

  1. Vigor ( Semangat )
    Kekuatan dikarakteristikkan dengan energy dan resiliensi mental yang
    tinggi ketika sedang bekerja, kemauan berusaha sungguh-sungguh dalam
    pekerjaan dan gigih dalam menghadapi kesulitan.Individu dengan skor
    tinggi pada aspek kekuatan biasanya memiliki energy dan stamina tinggi
    serta bersemangat ketika berkerja.Sedangkan individu dengan skor rendah
    pada aspek kekuatan memiliki tingkat energy semangat dan stamina yang
    rendah saat bekerja.
  2. Dedication( Dedikasi )
    Dedikasi mengacu pada perasaan yang penuh makna, antusias,
    inspirasi, kebanggaan dan tantangan.Individu yang memiliki skor tinggi
    pada aspek dedikasi secara kuat mengidentifikasi diri dengan pekerjaan
    karena adanya pengalaman bermakna, menginspirasi dan menantang.Selain
    itu, mereka selalu antusias dan bangga dengan pekerjaannya.Sedangkan
    individu dengan skor rendah tidak mengidentifikasi diri dengan
    pekerjaannya karena tidak memiliki pengalaman yang bermakna,
    menginspirasi dan menantang.
  3. Absorption (Keasyikan)
    Absorpsi atau keasyikan dikarakteristikkan dengan konsentrasi penuh,
    minat terhadap pekerjaan dan sulit melepaskan diri dari pekerjaan.Individu
    yang memiliki skor tinggi pada aspek absorpsi biasanya merasa tertarik
    dengan pekerjaan dan sulit untuk melepaskan diri dari pekerjaannya,
    begitupun sebaliknya

Pengertian Keterikatan Karyawan


Albrecht (2010) menyatakan bahwa keterikatan karyawan adalah
suatu kondisi psikologis dimana seseorang memiliki hubungan yang positif
dengan pekerjaannya (yang digambarkan dalam bentuk antusiasme,energi,
keinginan yang tinggi, dan kekuatan) yang memotivasi seseorang untuk
mendayagunakan seluruh usahadan kekuatan demi tercapainya tujuan dan
kesuksesan organisasi.
Menurut Schaufeli dan Bakker (2004), employee engagement
(keterikatan karyawan) adalah pemikiran positif, yaitu pemikiran untuk
menyelesaikan hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan dikarakteristikkan
dengan vigor (resiliensi energi dan mental ketika bekerja), dedication
(berpartisipasi dalam pekerjaan mengalami rasa antusiasme dan tantangan),
dan absorption (konsenterasi dan senang dalam bekerja).
Robinson et al. (dalam Saks 2006) mendifinisikan keterikatan
karyawan sebagai sikap positif individu karyawan terhadap organisasi dan nilai
organisasi. Seorang karyawan yang memiliki tingkat keterikatan tinggi pada
organisasi memiliki pemahaman dan kepedulian terhadap lingkungan
operasional organisasi, mampu bekerja sama antara individu karyawan dengan
manajemen.
Scaufeli (dalam Indriati 2012), menyatakan bahwa terdapat beberapa
karakteristik karyawan yang memiliki keterikatan dengan pekerjaanya, seperti
memiliki keyakinan terhadap kemampuannya sendiri serta memiliki anggapan
bahwa “work is fun”. Sejalan dengan Scaufeli et al. (Saks 2006)
mendefinisikan keterikatan karyawan sebagai sesuatu hal yang positif,
memuaskan, sikap pandang yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditandai
oleh kesungguhan (Vigor), dedikasi (dedication), dan penghayatan
(absorption).Keterikatan karyawan mengacu pada kondisi perasaan, dan
pemikiran yang sungguh- sungguh dan konsisten yang tidak hanya berfokus
pada objek, peristiwa individu atau perilaku tertentu.
Berdasarkan pengertian keterikatan karyawan dari beberapa pendapat
diatas, keterikatan karyawan merupakan seseorang memiliki hubungan yang
positif dengan pekerjaanya yang digambarkan dalam bentuk antusias dan
keinginan yang tinggi dan kekuatan yang memotivasi seseorang demi tercapai
tujuan dan kesuksesan organisasi.

Hubungan Variabel Lingkungan Kerja terhadap Motivasi Kerja


Mulyadi, (2015) mengemukakan lingkungan kerja organisasi adalah segala
sesuatu yang dapat memengaruhi kelangsungan, eksistensi, keberadaan, dan lain-lain
yang menyangkut organisasi baik dari dalam maupun dari luar. Sedangkan Manullang
dalam Agustina ika (2008), motivasi merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh
seorang manajer memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada orang lain.
Lingkungan kerja dan motivasi kerja sangat berhubungan erat. Lingkungan kerja
yang baik dapat memberikan dampak positif pada motivasi karyawan, sementara
lingkungan kerja yang buruk dapat menyebabkan penurunan motivasi dan kinerja
karyawan. Hal tersebut dapat terjadi sebab adanya lingkungan kerja yang memberikan
dukungan, penguatan positif, dan dorongan kepada karyawan akan meningkatkan
motivasi mereka. Lingkungan kerja yang memperhatikan keseimbangan kehidupan
kerja dan kepuasan pekerjaan dapat meningkatkan motivasi karyawan. Ketika
karyawan merasa puas dengan pekerjaan mereka dan merasa bahwa pekerjaan mereka
memiliki arti dan nilai, motivasi mereka untuk bekerja keras dan berkinerja tinggi
meningkat. Lingkungan kerja yang memberikan pengakuan dan penghargaan atas
prestasi dan kontribusi karyawan akan meningkatkan motivasi mereka. Lingkungan
kerja yang mendukung kolaborasi, komunikasi terbuka, dan dukungan tim dapat
memperkuat semangat dan motivasi kerja. Dengan begitu apabila lingkungan kerja
semakin baik, maka motivasi kerja karyawan akan semakin baik. Sebaliknya apabila
lingkungan kerja semakin buruk maka motivasi kerja akan semakin turun.
Penelitian Purnama, dkk (2020), & Sukaisih, dkk. (2022) yang dalam
penelitiannya mendapatkan hasil bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap motivasi kerja karyawan

Hubungan Variabel Dukungan Organisasi terhadap Motivasi Kerja


Hasibuan (2017) dukungan organisasi dapat diartikan sebagai upaya yang
dilakukan oleh organisasi untuk memenuhi kebutuhan karyawan dan memberikan
sumber daya yang diperlukan agar karyawan dapat mencapai tujuan organisasi dan
meningkatkan kesejahteraan mereka. Sedangkan Manullang dalam Agustina ika
(2008), motivasi merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer
memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada orang lain.
Salah satu penyebab selanjutnya yaitu dukungan organisasi terhadap motivasi
karyawan. Yang di mana, karyawan akan termotivasi apabila diberikan dukungan lebih
oleh pihak perusahaan. Sebab, karyawan dengan adanya dukungan, akan mempunyai
rasa senang. Seperti pemberian dukungan akan kinerja, penghargaan, fasilitas, serta
dukungan lain yang mempunyai dampak positif untuk karyawan. Dukungan organisasi
mencakup berbagai faktor yang ditawarkan oleh perusahaan atau organisasi kepada
karyawan untuk membantu mereka meraih keberhasilan, kesejahteraan, dan
memotivasi mereka untuk berkinerja tinggi. Organisasi yang menyediakan sumber
daya yang cukup bagi karyawan, seperti alat kerja, teknologi, pelatihan, dan bahan yang
diperlukan untuk menyelesaikan tugas, akan membantu meningkatkan motivasi.
ukungan organisasi melalui komunikasi yang jelas tentang harapan dan tujuan
pekerjaan membantu karyawan memahami apa yang diharapkan dari mereka. Ini
memungkinkan karyawan untuk memiliki pandangan yang jelas tentang bagaimana
kontribusi mereka berdampak pada kesuksesan organisasi secara keseluruhan, dan hal
ini dapat meningkatkan motivasi mereka. Maka dari itu, dukungan organisasi dapat
berpengaruh terhadap motivasi kerja. Jadi, apabila dukungan organisasi semakin baik,
maka motivasi kerja akan meningkat dan sebaliknya

Indikator Lingkungan Kerja



Sunyoto (2015), indikator dalam pengukuran lingkungan kerja adalah:

  1. Hubungan karyawan: dalam hubungan karyawan ini terdapat dua hubungan
    yaitu hubungan sebagai individu dan hubungan sebagai kelompok. Hubungan
    sebagai individu, motivasi yang diperoleh seorang karyawan datangnya dari
    rekan-rekan sekerja maupun atasan. Menjadi sebuah motivasi, jika hubungan
    karyawan dengan rekan sekerja maupun atasannya berlangsung harmonis.
  2. Tingkat kebersihan lingkungan: ingkungan kerja yang tidak tenang atau bising
    akan dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik yaitu adanya
    ketidaktenangan dalam bekerja. Bagi para karyawan tentu saja ketenangan
    lingkungan kerja sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan dan ini
    dapat meningkatkan produktivitas kerja.
  3. Peraturan kerja: peraturan kerja yang baik dan jelas dapat memberikan
    pengaruh yang baik terhadap kepuasan dan kinerja para karyawan untuk
    pengembangan karier di perusahaan tersebut. Dengan perangkat peraturan
    tersebut karyawan akan dituntut untuk menjalankan aktivitasnya guna
    mencapai tujuan perusahaan maupun tujuan individu dengan pasti. Di
    samping itu karyawan akan lebih termotivasi untuk bekerja lebih baik.
  4. Penerangan: penerangan dalam hal ini bukanlah terbatas pada penerangan
    listrik tetapi termasuk juga penerangan matahari. Hal ini sering kali karyawan
    memerlukan penerangan yang cukup, apalagi jika pekerjaan yang diperlukan
    menuntut ketelitian. Untuk melaksanakan penghematan biaya maka dalam
    usaha penerangan hendaknya diusahakan dengan sinar matahari.
  5. Sirkulasi udara, sirkulasi atau pertukaran udara yang cukup maka pertama
    yang harus dilakukan pengadaan ventilasi. Ventilasi harus cukup lebar
    terutama pada ruangan-ruangan yang dianggap terlalu panas.
  6. Keamanan lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan ketenangan
    dan kenyamanan, di mana hal ini akan dapat memberikan dorongan semangat
    untuk bekerja. Keamanan yang dimasukkan ke dalam lingkungan kerja adalah
    keamanan terhadap milik pribadi karyawan

Faktor-Faktor Lingkungan Kerja


Berikut ini beberapa faktor yang di uraikan Sedarmayanti (2017) yang dapat
memengaruhi terbentuknya kondisi lingkungan kerja diantaranya adalah:

  1. Penerangan/Cahaya di Tempat Kerja: Penerangan atau cahaya di tempat kerja
    merujuk pada tingkat kecerahan atau intensitas cahaya yang ada di area kerja.
    Tingkat penerangan yang memadai sangat penting untuk kesehatan mata
    karyawan dan untuk menjalankan tugas dengan efisien. Cahaya yang baik juga
    dapat meningkatkan produktivitas dan konsentrasi.
  2. Temperatur di Tempat Kerja: Temperatur di tempat kerja mencakup suhu
    lingkungan di area kerja. Suhu yang nyaman dan sesuai dapat memengaruhi
    kenyamanan karyawan dan mencegah masalah kesehatan yang disebabkan
    oleh suhu yang ekstrem, seperti dehidrasi atau kedinginan.
  3. Kelembapan di Tempat Kerja: Kelembapan mengacu pada kadar air atau
    kelembaban udara di area kerja. Kelembapan yang tepat dapat membantu
    mencegah masalah pernapasan dan kulit serta meningkatkan kenyamanan dan
    kesejahteraan karyawan.
  4. Sirkulasi Udara di Tempat Bekerja: Sirkulasi udara merujuk pada aliran udara
    di area kerja. Sistem ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi
    konsentrasi polusi dalam udara dan menjaga udara tetap segar. Sirkulasi udara
    yang buruk dapat menyebabkan masalah kualitas udara dalam ruangan dan
    mengganggu kesehatan karyawan.
  5. Kebisingan di Tempat Kerja: Kebisingan di tempat kerja adalah tingkat suara
    atau kebisingan yang ada di lingkungan kerja. Paparan kebisingan yang tinggi
    secara terus-menerus dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, dan masalah
    kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pengendalian kebisingan penting untuk
    melindungi kesehatan dan produktivitas karyawan.
  6. Tata Warna di Tempat Kerja: Tata warna di tempat kerja mencakup pemilihan
    warna untuk dinding, lantai, dan elemen dekoratif lainnya. Warna dapat
    memengaruhi suasana hati dan mood karyawan. Pemilihan warna yang tepat
    dapat menciptakan lingkungan kerja yang menenangkan, energetik, atau
    kreatif, tergantung pada kebutuhan dan karakteristik pekerjaan.
  7. Dekorasi di Tempat Kerja: Dekorasi mencakup elemen-elemen seperti
    furnitur, gambar, tanaman hias, dan aksesori lainnya di tempat kerja. Dekorasi
    yang menyenangkan dan fungsional dapat meningkatkan suasana kerja dan
    memberikan nuansa yang positif bagi karyawan.
  8. Keamanan di Tempat Kerja: Keamanan di tempat kerja mencakup segala
    upaya untuk melindungi karyawan dari potensi bahaya dan cedera. Ini
    melibatkan implementasi peraturan keselamatan, pelatihan keselamatan,
    penggunaan peralatan pelindung diri, serta pemeliharaan peralatan dan
    fasilitas untuk mencegah kecelakaan dan insiden yang tidak diinginkan

Faktor-Faktor Lingkungan Kerja


Berikut ini beberapa faktor yang di uraikan Sedarmayanti (2017) yang dapat
memengaruhi terbentuknya kondisi lingkungan kerja diantaranya adalah:

  1. Penerangan/Cahaya di Tempat Kerja: Penerangan atau cahaya di tempat kerja
    merujuk pada tingkat kecerahan atau intensitas cahaya yang ada di area kerja.
    Tingkat penerangan yang memadai sangat penting untuk kesehatan mata
    karyawan dan untuk menjalankan tugas dengan efisien. Cahaya yang baik juga
    dapat meningkatkan produktivitas dan konsentrasi.
  2. Temperatur di Tempat Kerja: Temperatur di tempat kerja mencakup suhu
    lingkungan di area kerja. Suhu yang nyaman dan sesuai dapat memengaruhi
    kenyamanan karyawan dan mencegah masalah kesehatan yang disebabkan
    oleh suhu yang ekstrem, seperti dehidrasi atau kedinginan.
  3. Kelembapan di Tempat Kerja: Kelembapan mengacu pada kadar air atau
    kelembaban udara di area kerja. Kelembapan yang tepat dapat membantu
    mencegah masalah pernapasan dan kulit serta meningkatkan kenyamanan dan
    kesejahteraan karyawan.
  4. Sirkulasi Udara di Tempat Bekerja: Sirkulasi udara merujuk pada aliran udara
    di area kerja. Sistem ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi
    konsentrasi polusi dalam udara dan menjaga udara tetap segar. Sirkulasi udara
    yang buruk dapat menyebabkan masalah kualitas udara dalam ruangan dan
    mengganggu kesehatan karyawan.
  5. Kebisingan di Tempat Kerja: Kebisingan di tempat kerja adalah tingkat suara
    atau kebisingan yang ada di lingkungan kerja. Paparan kebisingan yang tinggi
    secara terus-menerus dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, dan masalah
    kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pengendalian kebisingan penting untuk
    melindungi kesehatan dan produktivitas karyawan.
  6. Tata Warna di Tempat Kerja: Tata warna di tempat kerja mencakup pemilihan
    warna untuk dinding, lantai, dan elemen dekoratif lainnya. Warna dapat
    memengaruhi suasana hati dan mood karyawan. Pemilihan warna yang tepat
    dapat menciptakan lingkungan kerja yang menenangkan, energetik, atau
    kreatif, tergantung pada kebutuhan dan karakteristik pekerjaan.
  7. Dekorasi di Tempat Kerja: Dekorasi mencakup elemen-elemen seperti
    furnitur, gambar, tanaman hias, dan aksesori lainnya di tempat kerja. Dekorasi
    yang menyenangkan dan fungsional dapat meningkatkan suasana kerja dan
    memberikan nuansa yang positif bagi karyawan.
  8. Keamanan di Tempat Kerja: Keamanan di tempat kerja mencakup segala
    upaya untuk melindungi karyawan dari potensi bahaya dan cedera. Ini
    melibatkan implementasi peraturan keselamatan, pelatihan keselamatan,
    penggunaan peralatan pelindung diri, serta pemeliharaan peralatan dan
    fasilitas untuk mencegah kecelakaan dan insiden yang tidak diinginkan

Fungsi Lingkungan Kerja


Safaria dalam Sunyoto (2015), lingkungan kerja memiliki dua fungsi utama
yaitu:

  1. Sebagai proses integrasi internal, di mana para anggota organisasi dapat bersatu,
    sehingga mereka akan mengerti bagaimana berinteraksi satu dengan yang lain.
    Fungsi integrasi internal ini akan memberikan seseorang dan rekan kerja lainnya
    identitas kolektif serta memberikan pedoman bagaimana seseorang dapat bekerja
    sama secara efektif.
  2. Sebagai proses adaptasi eksternal, di mana lingkungan kerja akan menentukan
    bagaimana organisasi memenuhi berbagai tujuannya dan berhubungan dengan pihak
    luar. Fungsi ini akan memberikan tingkat adaptasi organisasi dalam merespons
    perubahan zaman, persaingan, inovasi, dan pelayanan terhadap konsumen.
    Fungsi lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas
    dan prestasi kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja
    dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat
    yang artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam waktu yang
    ditentukan. (Suwandi, 2017)

Indikator Dukungan Organisasi
Beberapa indikator dukungan organisasi menurut Hasibuan (2017) yaitu sebagai
berikut:

  1. Dukungan emosional: Indikator ini mencakup adanya dukungan sosial dan
    emosional yang diberikan oleh atasan dan rekan kerja kepada karyawan.
    Dukungan emosional dapat ditunjukkan melalui perhatian, penghargaan,
    dukungan moral, dan empati yang diberikan kepada karyawan dalam
    menghadapi masalah atau tantangan.
  2. Dukungan instrumental: Indikator ini mencakup adanya dukungan dalam
    bentuk sumber daya dan bantuan praktis yang diberikan oleh organisasi kepada
    karyawan. Dukungan instrumental dapat berupa fasilitas, peralatan kerja yang
    memadai, akses ke pelatihan dan pengembangan, serta bantuan dalam
    menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan.
  3. Dukungan informasional: Indikator ini mencakup adanya dukungan dalam
    bentuk informasi yang relevan dan berguna yang diberikan oleh organisasi
    kepada karyawan. Dukungan informasional mencakup akses yang mudah
    terhadap informasi terkait pekerjaan, kebijakan dan prosedur organisasi, serta
    umpan balik yang konstruktif untuk membantu karyawan meningkatkan kinerja
    mereka.
  4. Dukungan karir: Indikator ini mencakup adanya dukungan dari organisasi
    dalam pengembangan karir dan pertumbuhan profesional karyawan. Dukungan
    karir dapat berupa kesempatan pelatihan dan pengembangan, jenjang karir yang
    jelas, mentoring atau pembimbingan, serta dukungan dalam mencapai tujuan
    karir yang diinginkan.
  5. Dukungan keseimbangan kerja-kehidupan: Indikator ini mencakup adanya
    dukungan dari organisasi dalam menciptakan keseimbangan antara kehidupan
    kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Dukungan ini dapat berupa kebijakan
    fleksibilitas kerja, program kesejahteraan karyawan, cuti yang memadai, dan
    upaya untuk mengurangi beban kerja yang berlebihan

Faktor-faktor yang memengaruhi Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) mengidentifikasi beberapa faktor yang memengaruhi dukungan
organisasi. Berikut adalah beberapa faktor-faktor berikut:

  1. Kebijakan dan praktik manajemen sumber daya manusia (SDM): Kebijakan
    dan praktik SDM yang adil, transparan, dan konsisten dapat menciptakan iklim
    organisasi yang mendukung. Misalnya, kebijakan yang mengakui dan
    memberikan penghargaan pada prestasi kerja, keadilan dalam sistem
    penggajian, dan pengakuan atas kontribusi karyawan.
  2. Kepemimpinan yang mendukung: Kepemimpinan yang memperhatikan
    karyawan, memberikan arahan yang jelas, dan memberikan dukungan
    emosional dan instrumental dapat meningkatkan tingkat dukungan organisasi.
    Pemimpin yang memberikan perhatian pada kebutuhan karyawan, memberikan
    umpan balik konstruktif, dan mendukung perkembangan karir karyawan dapat
    menciptakan iklim yang positif.
  3. Budaya organisasi yang inklusif: Budaya organisasi yang menghargai
    keberagaman, kolaborasi, dan partisipasi karyawan dapat mempromosikan
    dukungan organisasi. Adanya norma-norma yang mendukung, saling percaya,
    dan saling peduli di dalam organisasi menciptakan lingkungan di mana
    karyawan merasa didukung.
  4. Keadilan organisasional: Keadilan dalam kebijakan, prosedur, dan
    pengambilan keputusan organisasi juga memengaruhi tingkat dukungan
    organisasi. Karyawan yang merasa diperlakukan secara adil dan merasa bahwa
    keputusan organisasi didasarkan pada kriteria yang objektif, merasakan tingkat
    dukungan yang lebih besar.
  5. Dukungan sosial: Interaksi positif antara karyawan, dukungan dari rekan kerja
    dan atasan, serta hubungan sosial yang baik dalam organisasi dapat
    memengaruhi tingkat dukungan organisasi. Dukungan sosial mencakup
    dukungan emosional, dukungan instrumental, dan akses ke sumber daya dan
    informasi yang relevan

Fungsi Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) menjelaskan fungsi-fungsi yang memengaruhi dukungan
organisasi:

  1. Meningkatkan kesejahteraan karyawan: Dukungan organisasi yang diberikan
    kepada karyawan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka secara
    keseluruhan. Dukungan tersebut dapat berupa dukungan emosional, dukungan
    instrumental, dan dukungan informasional. Dengan merasakan dukungan dari
    organisasi, karyawan dapat merasa lebih aman, puas, dan termotivasi dalam
    melaksanakan tugas-tugas pekerjaan mereka.
  2. Meningkatkan kepuasan kerja: Dukungan organisasi yang diberikan kepada
    karyawan juga dapat berdampak positif pada kepuasan kerja mereka. Ketika
    karyawan merasa didukung oleh organisasi, baik melalui dukungan dari atasan,
    rekan kerja, maupun sistem organisasi secara keseluruhan, mereka cenderung
    merasa puas dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat berkontribusi pada
    produktivitas dan kinerja yang lebih baik.
    Meningkatkan keterikatan karyawan: Dukungan organisasi juga berperan
    dalam meningkatkan keterikatan karyawan terhadap organisasi. Ketika
    karyawan merasakan dukungan yang kuat dari organisasi, mereka lebih
    cenderung mengembangkan rasa loyalitas, identitas, dan komitmen terhadap
    organisasi tempat mereka bekerja. Ini dapat membantu memperkuat ikatan
    antara karyawan dan organisasi, serta mengurangi kemungkinan turnover
    karyawan.
  3. Mengurangi stres dan kelelahan kerja: Dukungan organisasi dapat membantu
    mengurangi tingkat stres dan kelelahan kerja yang dialami oleh karyawan.
    Ketika karyawan merasa didukung, mereka dapat mengatasi tekanan dan
    tantangan dengan lebih baik. Dukungan organisasi dapat memberikan sumber
    daya dan bantuan yang diperlukan dalam menghadapi tuntutan kerja yang
    tinggi, sehingga membantu mengurangi risiko kelelahan dan burnout.
  4. Meningkatkan kinerja organisasi: Dukungan organisasi yang efektif juga dapat
    berdampak positif pada kinerja organisasi secara keseluruhan. Karyawan yang
    merasa didukung cenderung lebih termotivasi, berdedikasi, dan berkontribusi
    secara aktif dalam mencapai tujuan organisasi. Dukungan organisasi yang kuat
    juga dapat memfasilitasi kolaborasi, komunikasi yang efektif, dan inovasi, yang
    semuanya dapat meningkatkan kinerja dan keberhasilan organisasi.

Pengertian Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) dukungan organisasi dapat diartikan sebagai upaya yang
dilakukan oleh organisasi untuk memenuhi kebutuhan karyawan dan memberikan
sumber daya yang diperlukan agar karyawan dapat mencapai tujuan organisasi dan
meningkatkan kesejahteraan mereka. Sedangkan Rhoades, et al dalam Rosyiana (2019)
mengatakan bahwa dukungan organisasi dapat berarti menghargai kontribusi pegawai,
mendengar keluhan, merasa bangga akan hasil kerja atau prestasinya dan memenuhi
kebutuhan pegawai. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan dukungan organisasi
merupakan faktor yang perlu untuk diperhatikan oleh perusahan agar dapat berjalan
dengan efektif dan efisien.
Mujiasih (2015) Dukungan organisasi yang dirasakan adalah persepsi karyawan
tentang sejauh mana organisasi menghargai dan berkontribusi terhadap kesejahteraan
mereka. Dharmawan, Nurtjahjanti (2017) Persepsi dukungan organisasi adalah
keyakinan terhadap dukungan organisasi yang dikaitkan dengan kepedulian terhadap
kesejahteraan karyawan berdasarkan kontribusi yang telah diberikan individu kepada
perusahaan. Purnami (2017) mengungkapkan bahwa persepsi dukungan organisasi
juga dianggap sebagai keyakinan universal yang dipegang oleh setiap karyawan terkait
evaluasi kebijakan dan prosedur organisasi. Agustina (2012) Persepsi dukungan
organisasi, salah satu kekuatan yang memengaruhi perilaku guru untuk meningkatkan
perilaku atau kinerjanya. Saud (2016) Dukungan organisasi yang dirasakan oleh
karyawan menimbulkan rasa komitmen, karyawan tidak hanya merasa harus
berkomitmen terhadap atasannya, tetapi juga merasa berkewajiban untuk terlibat dalam
perilaku yang mendukung tujuan organisasi

Indikator Gaya Kepemimpinan


Hasibuan (2017), terdapat ada beberapa indikator gaya kepemimpinan yang
dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan otoritatif: Indikator ini mencakup adanya arahan dan keputusan
    yang jelas dari seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki gaya
    kepemimpinan otoritatif memberikan petunjuk yang jelas, memberikan
    keputusan dengan tegas, dan mengarahkan tim atau organisasi untuk mencapai
    tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Kepemimpinan partisipatif: Indikator ini mencakup adanya partisipasi dan
    keterlibatan anggota tim atau organisasi dalam pengambilan keputusan.
    Pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan partisipatif melibatkan anggota
    tim dalam proses pengambilan keputusan, mendengarkan dan menghargai
    pendapat mereka, serta memfasilitasi kolaborasi dan kontribusi dari seluruh
    anggota tim.
  3. Kepemimpinan demokratis: Indikator ini mencakup adanya kesetaraan dalam
    pengambilan keputusan dan proses pengelolaan organisasi. Pemimpin yang
    memiliki gaya kepemimpinan demokratis memberikan kebebasan kepada
    anggota tim atau organisasi untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan
    keputusan, menghormati kebebasan individu, serta mendorong kerjasama dan
    dialog yang terbuka.
  4. Kepemimpinan transformasional: Indikator ini mencakup adanya pemimpin
    yang mampu menginspirasi dan memotivasi anggota tim atau organisasi untuk
    mencapai tujuan yang lebih tinggi. Pemimpin yang memiliki gaya
    kepemimpinan transformasional memiliki visi yang jelas, mampu
    menggerakkan emosi dan semangat anggota tim, serta mendorong inovasi dan
    perkembangan individu.
  5. Kepemimpinan servant (pelayanan): Indikator ini mencakup adanya pemimpin
    yang mementingkan pelayanan kepada anggota tim atau organisasi. Pemimpin
    yang memiliki gaya kepemimpinan servant mengutamakan kepentingan
    anggota tim, mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan mereka, serta
    berperan sebagai pelayan yang membantu dan memfasilitasi kesuksesan
    individu dan tim

Faktor yang memengaruhi gaya kepemimpinan


Hasibuan (2017), ada beberapa faktor yang memengaruhi gaya kepemimpinan.
Berikut adalah beberapa faktor-faktor tersebut:

  1. Karakteristik kepemimpinan individu: Faktor ini mencakup karakteristik
    pribadi seorang pemimpin, seperti kepribadian, nilai-nilai, sikap, dan tingkat
    kepercayaan diri. Karakteristik individu ini akan memengaruhi gaya
    kepemimpinan yang diadopsi oleh pemimpin.
  2. Pengalaman kepemimpinan: Faktor ini mencakup pengalaman seorang
    pemimpin dalam memimpin dan mengelola tim atau organisasi. Pengalaman
    kepemimpinan dapat membentuk pemahaman dan keterampilan kepemimpinan
    seseorang, dan dapat memengaruhi gaya kepemimpinan yang dijalankan.
  3. Konteks organisasi: Faktor ini mencakup karakteristik dan kebutuhan
    organisasi di mana seorang pemimpin beroperasi. Misalnya, ukuran organisasi,
    struktur organisasi, budaya organisasi, dan tuntutan tugas yang ada dalam
    organisasi dapat memengaruhi gaya kepemimpinan yang dipilih oleh
    pemimpin.
  4. Kepentingan anggota tim atau organisasi: Faktor ini mencakup kepentingan dan
    kebutuhan anggota tim atau organisasi yang dipimpin. Seorang pemimpin perlu
    memperhatikan kebutuhan dan preferensi anggota tim dalam mengadopsi gaya
    kepemimpinan yang efektif.
  5. Lingkungan eksternal: Faktor ini mencakup faktor-faktor eksternal yang
    memengaruhi organisasi dan pemimpin, seperti kondisi pasar, persaingan,
    regulasi pemerintah, dan tren industri. Lingkungan eksternal ini dapat
    memengaruhi pilihan gaya kepemimpinan yang diperlukan untuk menghadapi
    tantangan dan peluang yang ada

Tujuan Gaya Kepemimpinan


Hasibuan (2011) tujuan kepemimpinan adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kinerja organisasi: Salah satu tujuan utama kepemimpinan
    adalah meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Seorang pemimpin
    bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan
    memotivasi karyawan untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan
    efisien.
  2. Mengembangkan dan memotivasi karyawan: Kepemimpinan juga bertujuan
    untuk mengembangkan potensi dan kemampuan karyawan agar dapat mencapai
    performa yang optimal. Seorang pemimpin harus dapat memberikan motivasi,
    arahan, dan dukungan kepada karyawan dalam mencapai tujuan pribadi dan
    profesional mereka.
  3. Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis: Pemimpin bertujuan untuk
    menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan saling mendukung di mana
    karyawan dapat bekerja dengan baik bersama dan saling menghormati. Hal ini
    dapat membantu meningkatkan keterlibatan karyawan, kepuasan kerja, dan
    kolaborasi antar anggota tim.
  4. Mengembangkan visi dan strategi: Kepemimpinan juga bertujuan untuk
    mengembangkan visi jangka panjang dan strategi organisasi. Seorang
    pemimpin harus memiliki kemampuan untuk melihat gambaran besar,
    merumuskan tujuan jangka panjang, dan merancang strategi yang efektif untuk
    mencapai tujuan tersebut

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Gaya Kepemimpinan adalah contoh perilaku yang dirancang sedemikian rupa
untuk mengarahkan bawahan dalam upaya memaksimalkan kinerja keseluruhan
bawahan mereka agar kinerja organisasi secara keseluruhan dan tujuan organisasi dapat
dimaksimalkan (Hidayat, 2018). Sedangkan Sutikno (2014) “Kepemimpinan dalam
organisasi diarahkan untuk memengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, agar mau
berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang lain yang
memimpinnya”.
Kartono (2017) mengatakan kepemimpinan adalah suatu keterampilan
memengaruhi orang lain, bawahan, atau kelompok, mengarahkan perilaku bawahan
atau orang lain untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok. Ketika Edison et al
(2018) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu tindakan memengaruhi orang
lain ketika mereka sedang down ingin bekerja untuk menjadi sukses tujuan tertentu.
Senada dengan itu, Suwatno & Priansa (2018) menyatakan bahwa Kepemimpinan
adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh yang konstruktif lain untuk
melakukan usaha kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan desain

Indikator Motivasi Kerja


Indikator motivasi kerja teori hirarki kebutuhan Maslow dalam Sofyandi dan
Garniwa (2012) terdiri dari:

  1. Kebutuhan fisiologis (Physiological-need) kebutuhan manusia yang paling
    dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan, minum,
    perumahan, oksigen, tidur dan sebagainya.
  2. Kebutuhan rasa aman (Safety-need). meliputi keamanan akan perlindungan dari
    bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya dan
    jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi bekerja.
  3. Kebutuhan sosial (Social-need). kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi dana
    interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan berkaitan
    dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang
    baik, rekreasi bersama dan sebagainya.
  4. Kebutuhan penghargaan (Esteem-need) meliputi kebutuhan keinginan untuk
    dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas kemampuan dan
    keahlian seseorang serta efektifitas kerja seseorang.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self-actualization need). berkaitan dengan proses
    pengembangan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. Kebutuhan untuk
    menunjukkan kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki seseorang

Faktor-faktor yang memengaruhi Motivasi Kerja


Hasibuan (2018) menjelaskan ada beberapa faktor yang memengaruhi motivasi
yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor Intrinsik:
  • Pengakuan: Pengakuan atas prestasi kerja dan kontribusi karyawan
    dapat meningkatkan motivasi kerja mereka.
  • Pekerjaan yang menantang: Tantangan dalam pekerjaan dapat
    memberikan dorongan tambahan untuk mencapai hasil yang baik.
  • Otonomi: Memberikan kebebasan kepada karyawan untuk mengambil
    keputusan dan mengatur pekerjaan mereka sendiri dapat meningkatkan
    motivasi intrinsik.
  1. Faktor Ekstrinsik:
  • Gaji dan imbalan: Kompensasi yang adil dan imbalan yang memadai
    menjadi faktor ekstrinsik yang penting dalam memotivasi karyawan.
  • Kebijakan penghargaan: Kebijakan penghargaan yang jelas dan
    transparan, seperti bonus atau promosi, dapat menjadi faktor penggerak
    yang kuat.
  • Lingkungan kerja yang mendukung: Lingkungan kerja yang positif,
    kolaboratif, dan mendukung dapat memengaruhi motivasi karyawan
    secara positif.
  • Kebijakan pengembangan karir: Kesempatan pengembangan karir yang
    jelas dan jalan untuk promosi dapat meningkatkan motivasi kerja.
  1. Faktor Personal:
  • Nilai-nilai pribadi: Kesenjangan antara nilai-nilai pribadi seseorang
    dengan nilai-nilai organisasi dapat memengaruhi motivasi kerja.
  • Tujuan pribadi: Karyawan yang memiliki tujuan yang jelas dan terkait
    dengan pekerjaan mereka cenderung lebih termotivasi untuk mencapai
    tujuan tersebut.
  • Keterampilan dan kompetensi: Rasa percaya diri dalam melaksanakan
    tugas-tugas pekerjaan dan keterampilan yang relevan juga dapat
    memengaruhi motivasi kerja

Fungsi Motivasi Kerja


Menurut Sardiman (2007), fungsi motivasi ada 3 (tiga), yaitu:

  1. Mendorong manusia untuk berbuat, motivasi dalam hal ini merupakan motor
    penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang hendak dicapai,
    sehingga motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus
    dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
  3. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan perbuatan apa yang
    harus dikerjakan yang sesuai guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan
    perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Pengertian Motivasi


Manullang dalam Agustina ika (2008), motivasi merupakan pekerjaan yang
dilakukan oleh seorang manajer memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada
orang lain. Sedangkan Robbin, dalam Andiyanto (2011) mengemukakan bahwa
motivasi adalah keinginan yang tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh
kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individual. Oleh sebab itu,
dapat dibuat kesimpulan seorang individu melakukan sesuatu atas dasar keinginan serta
adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan.
Motivasi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal yaitu: lingkungan kerja, pimpinan, perkembangan organisasi atau
tuntutan kerja, dorongan atau bimbingan dari atasan, dan kompensasi. Faktor internal,
yaitu: orang alami, tingkat pendidikan, pengalaman masa lalu, keinginan atau harapan
masa depan. (Wicaksono & Hermani, 2017). Hal ini diperlukan untuk memberikan
motivasi yang efektif kepada karyawan. Agar karyawan tidak selalu mengeluhkan hal-
hal yang sepele, tidak melanggar semua aturan yang diberikan perusahaan, dan juga
tidak saling menyalahkan sesama karyawan

Fungsi Manjemen Sumber Daya Manusia


Sutrisno (2017), mengemukakan fungsi-fungsi manajemen sumber daya
manusia adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi Manajerial, meliputi penentuan program sumber daya manusia yang
    akan membantu pencapaian tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.
  2. Fungsi Pengorganisasian, membentuk organisasi dengan merancang susunan
    dari berbagai hubungan antara jabatan, personalia, dan faktor-faktor fisik.
  3. Fungsi Pengarahan, mengusahakan agar karyawan mau bekerja secara efektif
    melalui perintah motivasi.
  4. Fungsi Pengendalian, mengadakan pengamatan atas pelaksanaan dan
    membandingkan dengan rencana dan mengoreksinya jika terjadi
    penyimpangan atau jika perlu menyesuaikan kembali rencana yang telah
    dibuat.
  5. Fungsi Operasional
    a. Pengadaan, perencanaan sumber daya manusia, perekrutan, seleksi,
    penempatan, dan orientasi karyawan, perencanaan mutu dan jumlah
    karyawan. Sedangkan perekrutan, seleksi, dan penempatan berkaitan
    dengan penarikan, pemilihan, penyusunan, dan evaluasi formulir lamaran
    kerja, tes psikologi, dan wawancara.
    b. Pengembangan, meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap
    karyawan agar dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kegiatan ini
    menjadi semakin penting dengan berkembangnya dan semakin
    kompleksnya tugas-tugas manajer.
    c. Kompensasi, pemberian penghargaan yang adil dan layak kepada
    karyawan sebagai jasa kerja mereka. Pemberian kompensasi merupakan
    tugas yang paling kompleks dan juga merupakan salah satu aspek paling
    berarti bagi karyawan ataupun organisasi.
    d. Integrasi, usaha-usaha untuk menyelaraskan kepentingan individu
    karyawan, organisasi, dan masyarakat. Untuk itu perlu memahami sikap
    dan perasaan karyawan untuk dipertimbangkan dalam pengambilan
    keputusan.
    e. Pemeliharaan, mencegah kehilangan karyawan-karyawan tetapi dimaksud
    untuk memelihara sikap kerja sama dan kemampuan bekerja karyawan
    tersebut.
    f. Pemutusan Hubungan Kerja, memutuskan hubungan kerja dan
    mengembalikannya kepada masyarakat. Proses pemutusan hubungan kerja
    yang utama adalah pensiun, pemberhentian, dan pemecatan

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia mempunyai tujuan (Sinambela, 2018). Berikut
tujuannya:

  1. Sasaran perusahaan, mengenal MSDM dalam rangkaian kontribusi atas
    efektivitas perusahaan (produktivitas dan laba).
  2. Sasaran organisasional, sasaran formal yang disusun untuk pencapaian tujuan
    organisasi.
  3. Sasaran fungsional, mempertahankan kontribusi departemen SDM sesuai
    kebutuhan organisasi (perekrutan, penempatan, dan penilaian).
  4. Sasaran sosial, tanggap dari sisi etika dan sosial akan kebutuhan dan kondisi
    masyarakat (keuntungan perusahaan, taat pada hukum, hubungan dengan
    serikat pekerja).
  5. Sasaran pribadi karyawan, pencapaian tujuan individu dalam organisasi yang
    memotivasi individu dalam bekerja

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia merupakan ilmu dan seni yang mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya
tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat (Handoko, 2017). Oleh sebab itu,
manajemen sumber daya manusia merupakan faktor yang paling penting untuk
diperhatikan oleh pihak perusahaan. Apabila hal tersebut tidak mampu untuk dilakukan
dengan baik, akan membuat perusahaan mengalami kendala dalam mencapai tujuan
perusahaan.
Manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan bidang strategis dari
organisasi. Manajemen sumber daya manusia harus dipandang sebagai perluasan dari
pandangan tradisional untuk mengelola orang secara efektif dan untuk itu
membutuhkan pengetahuan tentang perilaku manusia dan kemampuan mengelolanya.
Bermacam-macam pendapat tentang pengertian manajemen sumber daya manusia,
antara lain adanya yang menciptakan human resources, ada yang mengartikan sebagai
manpower management serta ada yang menyetarakan dengan pengertian sumber daya
manusia dengan personal (personalia, kepegawaian, dan sebagainya). Akan tetapi, pada
manajemen sumber daya manusia yang mungkin tepat adalah human resources
management (manajemen sumber daya manusia).
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah Mengelola Sumber Daya Manusia.
Dessler (1997) dalam Sutrisno (2017). manajemen sumber daya manusia dapat
didefinisikan sebagai suatu kebijakan atau praktik yang dibutuhkan seseorang yang
menjalankan aspek “orang” atau sumber daya manusia dari posisi seorang manajemen,
meliputi perekrutan, penyaringan, pelatihan, pengimbalan, dan penilaian. Sementara
itu Schuler, et al. (1992) dalam Sutrisno (2017). Sumber Daya Manusia (MSDM),
merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya
manusia yang sangat penting dalam memberi kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi,
dan menggunakan beberapa fungsi dan kegiatan untuk memastikan bahwa SDM
tersebut digunakan secara efektif dan adil bagi kepentingan individu, organisasi, dan
masyarakat.
Fokus MSDM terletak pada upaya mengelola SDM di dalam dinamika interaksi
antara organisasi-pekerja yang sering kali memiliki kepentingan berbeda. Menurut
Stoner (1995) dalam Sutrisno (2017), MSDM meliputi penggunaan SDM secara
produktif dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi dan pemuasan kebutuhan pekerja
secara individual. Jadi, MSDM dapat juga merupakan kegiatan perencanaan,
pengadaan, pengembangan, pemeliharaan, serta penggunaan SDM untuk mencapai
tujuan baik secara individu maupun organisasi. Mondy dan Noe dalam Marwansyah
(2016), mendefinisikan Manajemen Sumber Daya Manusia (human resource
management) sebagai pendayagunaan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan-
tujuan organisasi.
Sumber daya manusia menjadi satu-satunya sumber daya yang ada pada suatu
perusahaan yang memiliki keinginan, akal perasaan, pengetahuan, dorongan,
keterampilan, daya dan karya (Sutrisno, 2016). Agar bisnis dapat tumbuh dengan baik,
manajemen manusia yang baik adalah salah satu alasannya

Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Loyalitas Karyawan


Kepuasan kerja merupakan rasa puas atau tidaknya seorang karyawan atas pekerjaan
yang dijalankannya di perusahaan. Suparyadi (2015) berpendapat bahwa kepuasan kerja
merupakan suatu sikap positif yang didasarkan kepada hasil evaluasi terhadap apa yang
diharapkan akan diproleh melalui upaya-upaya yang dilakukan dalam melaksanakan suatu
pekerjaan dengan hasil atau ganjaran yang diterimanya. Seseorang yang memiliki tinggi
kepuasan kerja akan terdorong untuk setia dengan perusahaan. Namun seseorang yang yang
tidak mendapatkan kepuasan didalam pekerjaannya akan sulit loyal terhadap perusahaan.
Penelitian Aminudin dan Tasrif (220) menegaskan bahwa kepuasan kerja berefek
nyata terhadap loyalitas karyawan. Adanya kepuasan kerja akan menciptakan loyalitas yang
tinggi. Seorang karyawan yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi akan memiliki loyalitas
tinggi, sebaliknya seseorang yang tidak mendapatkan kepuasan di dalam pekerjaannya akan
mempunyai loyalitas yang rendah. Penelitian Zanabazar dan Jigjiddorj (2018) menyatakan
karyawan yang suka dengan pekerjaannya akan cenderung loyal dibandingkan karyawan
yang kurang puas di dalam pekrjaannya

Pengaruh Komunikasi Organisasi terhadap Loyalitas Karyawan


Komunikasi organisasi juga dapat mendukung terciptanya loyalitas karyawan.
Komunikasi organisasi adalah berlangsungnya proses penyampaian gagasan, harapan, dan
pesan yang disampaikan oleh individu kepada individu lain dalam organisasi. Purwanto
(2011:4) menjelaskan bahwa komunikasi organisasi adalah proses suatu pertukaran informasi
antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-
sinyal, maupun perilaku atau tindakan. Penelitian yang dilakukan Anisatusa’dyah dan Yusuf
(2020) menegaskan bahwa bahwa komunikasi dalam organisasi berefek nyata terhadap
loyalitas karyawan. Hasil ini mengindikasikan bahwa baik buruknya komunikasi dalam
organisasi akan berdampak kepada loyalitas karyawan

Pengaruh Persepsi Dukungan Organisasi terhadap Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan tidak terlepas dari adanya persepsi dukungan organisasi. Persepsi
dukungan organisasi adalah penilaian individu atas penghargaan yang diberikan oleh
perusahaan terhadap kontribusi yang diberikan. Menurut Robbins (2016) persepsi dukungan
organisasi merupakan tingkat sejauh mana individu memiliki keyakinan bahwa organisasi
menghargai kontribusi mereka yang kemudian peduli terhadap kesejahteraan mereka.
Dengan demikian persepsi dukungan organisasi merupakan pandangan yang dimiliki oleh
karyawan atas rasa peduli organisasi kepada dirinya yang telah berkontribusi kepada
perusahaan.
Adanya persepsi dukungan organisasi yang positif akan mendorong karyawan untuk
setia dengan perusahaan. Sebaliknya, karyawan yang merasa perusahaan tidak memedulikan
kondisinya akan sulit untuk memberikan kesetiaannya kepada perusahaan. Hasil penelitian
yang dilaksankan Nuswantoro (2021) menegaskan bahwa dukungan organisasi mempunyai
pengaruh terhadap loyalitas. Hasil tersebut bermakna bahwa ada atau tidaknya dukungan
organisasi kepada karyawan akan berdampak kepada tinggi rendahnya loyalitas karyawan

Pengaruh Komunikasi Organisasi terhadap Kepuasan Kerja


Komunikasi organisasi turut mmbentuk loyalitas karyawan. Komunikasi organisasi
merupakan berlangsungnya proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang
disampaikan oleh individu kepada individu lain dalam organisasi. Purwanto (2011:4)
menjelaskan bahwa komunikasi organisasi ialah suatu proses pertukaran informasi antar
individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal,
maupun perilaku atau tindakan.
Penelitian yang dilakukan Anisatusa’dyah dan Yusuf (2020) menegaskan bahwa
bahwa komunikasi dalam organisasi berefek nyata terhadap loyalitas karyawan. Komunikasi
yang berjalan lancar dalam suatu organisasi yaitu terciptanya pertukaran informasi antara
pemberi dan penerima dengan baik akan menciptakan kepuasan karyawan di dalam
menjalankan pekerjaannya. Hasil ini mengindikasikan bahwa baik buruknya komunikasi
dalam organisasi akan berdampak nyata kepada terbentuknya loyalitas karyawan. Penelitian
Safari dkk (2019) menyatakan bahwa dengan adanya komunkasi organisasi yang
berlangsung dengan baik akan membantu terbentuknya kepuasan kerja karyawan di
perusahaan.

Pengaruh Persepsi Dukungan Organisasi terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Robbins (2016) persepsi Analisa ini merupakan tingkat sejauh mana individu
memiliki keyakinan bahwa organisasi memberikan reward kontribusi mereka yang kemudian
peduli terhadap kesejahteraan mereka. Dengan demikian persepsi dukungan organisasi
merupakan pandangan yang dihargai oleh karyawan atas rasa peduli organisasi kepada
dirinya yang telah berkontribusi kepada perusahaan.
Adanya persepsi dukungan organisasi yang positif akan mendorong karyawan untuk
puas dengan pekerjaannya. Sebaliknya, karyawan yang merasa perusahaan tidak
memedulikan kondisinya akan sulit untuk merasa senang dengan jerih payah kerja yang
dilakukannya di perusahaan. Hasil penelitian Sari (2019) menegaskan bahwa dukungan
organisasi mempunyai dampak terhadap kepuasan kerja. Hasil tersebut bermakna bahwa ada
atau tidaknya dukungan organisasi kepada karyawan akan berdampak kepada tinggi
rendahnya kepuasan karyawan. Penelitian Maan, dll (2020) menyimulkan bahwa terdapat
hubungan antara pesepsi dukungan organisasi dan kepuasan kerja. Karyawan yang
mendapatkan dukungan psikologis akan lebih proaktif daripada karyawan yang tidak
mendapatkan dukungan psikologis dari perusahaan

Dimensi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja dapat diukur dengan dimensi-dimensi kepuasan menurut Indeks
Deskriptif Jabatan (Job Descriptive Index). Menurut Smith (dalam Luthans, 2014) dimensi-
dimensi tersebut antara lain:
a. Atasan
1) Kesetiaan
2) Rasa keadilan,
b. Promosi
1) Peluang
2) Rasa keadilan mendapatkan promosi,
c. Benefit
1) Asuransi,
2) Fasilitas,
d. Contingen Reward
1) Rasa hormat,
2) Apresiasi,
e. Operating Procedure
1) Aturan,
2) Procedur

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja tidak semata-mata timbul dengan sendirinya. Kepuasan kerja timbul
karena adanya beberapa faktor yang mendorong karyawan merasa puas atas pekerjaannya.
Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mendorong timbulnya kepuasan kerja dalam diri
karyawan menurut (Abdus, 2014)
a. Faktor instrinsik
Merupakan faktor yang berasal dari diri karyawan dan dibawa oleh setiap karyawan
sejak mulai bekerja di mana dia bekerja.
b. Faktor ekstrinsik
Menyangkut hal-hal yang berada dari luar karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan
kerja, sistem penggajian dan interaksinya dengan karyawan lain.
Sementara itu Robbins memiliki pendapat lain mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja. Berikut ini merupakan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja menurut Robbins (2016):
a. Pekerjaan yang Menantang
Menurut Robbins (2016:36), Pekerjaan yang menantang adalah pekerjaan yang
memberikan kesempatan untuk menggunakan kemampuan, ketrampilan dan
menawarkan satu varietas tugas, umpan balik dan kebebasan tentang seberapa baiknya
melakukan pekerjaan yang secara praktek sangat menantang.
b. Ganjaran yang Pantas
Imbalan yang pantas, dan atau imbalan yang layak adalah merupakan keinginan
karyawan akan kebijakan promosi dan sistem upah yang mereka pandangan sebagai adil
dan segaris dengan pengharapan mereka. Bila upah dilihat sebagai adil yang didasarkan
pada tuntutan pekerjaan, tingkat ketrampilan individu, dan standar pengupahan
komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. Serupa pula karyawan
berusaha mendapatkan praktik promosi yang adil, karenaa promosi memberikan
kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, status sosial dan tanggung jawab yang
ditingkatkan. Oleh karenaa itu individu-individu yang berpandangan bahwa
keberagaman promosi dibuat dalam cara yang adil (Robbins, 2015:35).
c. Kondisi Kerja yang Mensupport
Menurut Robbins (2002:36), Kondisi kerja ini disampaikan bahwa para karyawan
memperhatikan lingkungan kerja mereka yang memperhatikan kenyamanan pribadi
maupun kemudahan untuk dapat bekerja dengan baik. pembelajaran menunjukkan
bahwa karyawan sangat peduli pada lingkungan fisik yang tidak berbahaya atau yang
nyaman. Selain itu kebanyakan karyawan lebih suka bekerja tidak jauh dari rumah,
dalam fasilitas yang bersih dan relatif modern, dan dengan alat dan perlengkapan yang
memadai. Kondisi kerja ini adalah berdasarkan lingkungan fisik dan non-fisik, yang
merupakan faktor penting dalam memberikan kepuasan kerja karyawan. Kondisi
lingkungan fisik: dingin, berdebu, panas, bising, dan lain-lain. Termasuk di sini adalah
kondisi tempat, penyinaran, ventilasi, kantin, dan tempat parkir.Sedangkan lingkungan
non-fisik diantaranya adalah lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
d. Rekan Kerja yang Mendukung
Menurut Robbins (2016:36): “Dari kerja orang mendapatkan hasil lebih dari sekadar
uang atau prestasi yang berwujud. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi
kebutuhan akan interaksi sosial”. Oleh karenaa itu tidak heran setiap orang memiliki
rekan kerja yang supportif dan bersahabat dapat meningkatkan kepuasan kerja. Perilaku
dari pimpinan juga merupakan faktor utama pada kepuasan kerja. Studi-studi umumnya
memberikan manfaat bahwa kepuasan karyawan ditingkatkan bila penyedia langsung
akan dapat memahami dan secara bersahabat, memberikan pujian atas kinerja hasil kerja
yang baik, mendengarkan keluh kesah karyawan dan menunjukkan minat pribadi
terhadap mereka. Kepuasan kerja karyawan akan dapat tercapai bilamana pimpinan
langsung dapat memahami, bersahabat dan memberikan pujian atas kinerja karyawan
yang baik, mendengarkan pendapat karyawan, dan menunjukkan minat pribadi terhadap
mereka. Rekan sekerja yang mendukung mengandung arti bahwa seseorang
mendapatkan lebih dari pada sekedar prestasi dan uang yang berwujud dari dalam kerja,
tetapi kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial, sehingga berharap penting
bagi mereka untuk memiliki rekan kerja yang sama smaa mendukung dan dapat bekerja
dengan baik. Dalam hal ini Luthans (2014:152) menambahkan bahwa selain pengaruh
teman sekerja, juga pengaruh atasan pada kepuasan kerja, seperti perhatian pimpinan
akan tingkat kesejahteraan pegawai/karyawan, bimbingan dan bantuan untuk melakukan
pekerjaan, komunikatif, serta mau melibatkan diri dalam pekerjaan akan menimbulkan
kepuasan kerja

Teori-Teori Kepuasan Kerja


Curphy dkk (2012) menyatakan bahwa teori tentang kepuasan kerja dapat
dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam teori, yaitu:
a. Teori Afektivitas
Mengacu pada kecendrungan seseorang untuk bereaksi terhadap rangasangan dalam
sikap emosi yang konsisten. Orang-orang dengan kecenderungan negatif secara tetap
bereaksi terhadap perubahan, peristiwa dalam sikap negatif sehingga tidak bahagia.
Sedangkan afektivitas positif secara konsisten bereaksi terhadap perubahan dengan sikap
positif.
b. Equity Theory (Teori Keseimbangan)
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Adam (1963). Prinsip teori ini adalah orang
akan merasakan puas atau tidak, tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan
(equity) atau tidak dalam situasi, diperoleh dengan cara membandingkan dirinya dengan
orang lain yang sekelas, sekantor maupun di tempat lain.
c. Two Factor Theory (Teori Dua Faktor) dari Herzberg
Teori ini menyatakan ada dua faktor yang dapat memberikan kepuasan dalam bekerja.
Kedua faktor tersebut adalah :
1) Sesuatu yang akan memotivasi (motivator)
Faktor ini antara lain faktor prestasi, penghargaan dan pengakuan, faktor tanggung
jawab, faktor memperoleh perkembangan dan kemajuan dalam bekerja khususnya
faktor pekerjaan atau promosi.
2) Kebutuhan kesehatan lingkungan kerja (hygiene factors)
Faktor ini dapat berbentuk upah/gaji, kondisi kerja, hubungan antara pekerja,
kebijaksanaan dan proses administrasi perusahaan

Pengertian Kepuasan Kerja


Suatu efektifitas atau respon emosional terhadap aspek pekerjaan. Kepuasan kerja
merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaan yang didasarkan atas aspek-aspek
pekerjaan. Kepuasan kerja merupakan masalah yang cukup menarik dan penting, baik bagi
individu sebagai pekerja maupun bagi perusahaan. Seorang manajer perlu menciptakan
lingkungan kerja yang dapat memenuhi kebutuhan atau motif pekerjaannya, guna terciptanya
tujuan organisasi sebagaimana yang diharapkan. Berikut ini terdapat beberapa pendapat ahli
tentang pengertian kepuasan kerja, yaitu:
Menurut Robbins dan Judge (2015: 78) kepuasan kerja merupakan “sikap umum
pada kegiatan personal yang menunjukkan bentuk suatu perbedaan antara jumlah
penghargaan yang diterima oleh pekerja serta jumlah yang mereka yakini seharusnya
mereka terima”. Kepuasan kerja merupakan respon afektif atau emosional terhadap berbagai
segi atau aspek pekerjaan seseorang sehingga kepuasan kerja bukan merupakan konsep
tunggal. Seseorang bisa dikatakan relatif puas dengan beberapa bidang pekerjaan dan kurang
puas dengan satu atau lebih aspek lainnya (Hasibuan, 2016:202).
Kepuasan Kerja merupakan indikasi sikap (positif) yang terjadi pada tenaga kerja
manusia terhadap hasil pekerjaan yang timbul berdasarkan penilaian terhadap proses situasi
kerja. Penilaian sedini mungkin dapat dilaksanakan terhadap salah satu rutinitas kerja,
penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam meraih nilai penting dalam pekerjaan.
Karyawan yang puas lebih mencintai situasi kerjanya daripada kurang menyukainya.
Perasaan yang berhubungan dengan puas dan ketidak puasan kerja cenderung mencerminkan
penilaian dari tenaga kerja tentang pengalaman kerja pada waktu sekarang dan masa lalu
daripada harapan untuk masa depan. Sehingga dapat disimpulkan terdapat dua pola kerja
penting dalam kepuasan kinerja yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-Kebutuhan dasar
(Robbins & Judge, 2015:46).
Definisi lain dikemukakan oleh Kinicki dan Fugate (2012) yang menyatakan bahwa
kepuasan kerja merupakan rangkaian tanggapan afektif atau emosi terhadap berbagai bentuk
kerja seseorang. Pengertian ini menyatakan bahwa kepuasan kerja bukanlah konsep tunggal.
Tepatnya orang sangat bisa relatif puas pada satu atau beberapa aspek pekerjaannya tetapi
mungkin tidak puas dengan satu kegiatan atau bidang lain dari pekerjaannya. Sedangkan
menurut Suparyadi (2015) kepuasan kerja dapat digolongkan pada suatu sikap positif suatu
bentuk pekerjaan dimana sesuai hasil atau jerih payah yang diterimanya.
Menurut Herman (dalam Yanuardini, 2014) kepuasan kerja berbentuk pada sikap
umum seseorang dalam menghadapi pekerjaannya personal yang tinggi kepuasan kerjanya
memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya, sedangkan seseorang yang tidak memperoleh
kepuasan didalam pekerjaannya memiliki sikap yang negatif terhadap pekerjaannya

Faktor Loyalitas Kerja


Steers & Porter (dalam Sari dan Widyastuti, 2008) menyatakan bahwa terciptanya
loyalitas pada kerja dipengaruhi oleh :
a. karakteristik pribadi meliputi masa kerja, usia, jenis kelamin, ras, prestasi yang dimiliki,
tingkat pendidikan dan sifat kepribadian
b. Karakteristik pekerjaan meliputi job enrichment, stress kerja, tantangan kerja,
kesempatan untuk berinteraksi sosial, identifikasi tugas, kecocokan tugas, dan umpan
balik tugas
c. Karakteristik desain perusahaan/organisasi yang dapat dilihat dari sentralisasi, tingkat
keikutsertaan dalam proses pengambilan keputusan, tingkat formalitas, paling tidak bisa
selalu menunjukkan berbagai tingkat asosiasi disertai tanggung jawab perusahaan;
d. Pengalaman kerja yang pernah diperoleh dalam perusahaan dan organisasi yaitu
internalisasi individu kepada perusahaan setelah menjalankan pekerjaan

Aspek Loyalitas Kerja.


Steers dan Porter (1983) menjeaskan beberapa aspek loyalitas yaitu motivasi yang
kuat, motivasi untuk bekerja semaksimalnya dan memiliki keyakinan yang pasti terhadap
nilai-nilai perusahaan. Sedangkan (Nitisemito, 2015 ) menekankan aspek loyalitas pada
aktivitas kerja karyawan antara lain: mentaati peraturan, menunjukkan sikat kerja yang
bertanggung jawab. Sekap mentaati peraturan ditunjukkan dengan mempunyai tekad dan
kesediaan untuk mematuhi segala peraturan, perintah perusahaan serta tidak melanggar
larangan yang ditetapkan baik secara lisan dan tertulis. Tanggung jawab yang dicirikan
dengan kesediaan karyawan dalam melakukan pekerjaan dengan hasil terbaik dan kesadaran
terhadap resiko dalam mengemban tugas akan memberikan pemahaman tentang kesediaan
dan keberanian merasa mendapat tanggung jawab akan menciptakan loyalitas kerja. Aspek
loyalitas menurut Kurniawan (2015) adalah : a) Taat dan patuh, b) tanggung jawab, c)
pengabdian, d) kejujuran. Taat adalah kesanggupan seorang karyawan untuk mematuhi
segala peraturan perusahaan yang berlaku dan mematuhi perintah atasan, serta bersedia tidak
melanggar aturan yang ditetapkan. Tanggung jawab ditandai dengan kesediaan seorang
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan sampai selesai dengan hasil yang baik, tepat waktu
serta berani menanggung resiko terhadap keputusan yang dibuat atau tindakan yang diambil.
Pengabdian, yaitu sumbangsih ide dan tenaga kepada perusahaan dengan penuh keikhlasan
dan kejujuran, adanya keserasian antara yang diucapkan dengan kenyataan. Dari keterangan
diatas dapat diartikan bahwa loyalitas kerja merupakan kesetiaaan karyawan terhadap
perusahaan. Seseorang karyawan dengan loyalitas kerja yang tinggi akan memiliki motivasi
yang tinggi untuk tetap menjadi berada di perusahaan, motivai yang tinggi untuk
mengembangkan perusahaan, mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan.

Indikator Loyalitas Kerja


Adapun ciri-ciri karyawan yang mempunyai loyalitas tinggi pada perusahaan, antara
lain adalah:
a. siap bekerja berdedikasi tinggi
b. bangga terhadap kinerja perusahaan,
c. merasa terinspirasi
d. siap mengorbankan kepentingan pribadi
e. merasa ada kesesuaian nilai dengan perusahaan.
Kurniawan (2015) mengutarakan beberapa indikator loyalitas kerja antara lain:
a. patuh terhadap peraturan seperti, mematuhi segala undang-unadang dan peraturan yang
berlaku, kerja yang diberikan pimpinan yang berwenang, selalu mematuhi jam kerja
yang sudah ditetapkan
b. mempunyai tanggung jawab mampu menyelesaikan tugas secara tepat waktu dan dengan
hasil yang baik, selalu memelihara barang-barang perusahaan dengan sebaik-baiknya,
mengutamakan kepentingan perusahaan dari kepentingan pribadi, tidak pernah
menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuatnya.
c. menyumbangkan pemikiran dan tenaga secara ikhlas kepada perusahaan
d. jujur, antara lain selalu melaksanakan tugas secara ihlas tanpa merasa dipaksa, tidak
menyalah gunakan wewenang yang dipercayakan padanya dan melaporkan hasil
kerjanya kepada pimpinan secara apa adanya

Pengertian Loyalitas Kerja


Loyalitas kerja didefiniskan oleh Sudimin (2003) sebagai kesediaan karyawan untuk
turut berpartisipasi mencapai tujuan perusahaan dengan dengan mempergunakan semua
kemampuan, keterampilan, pikiran, waktu dan menjaga data nama perusahaan untuk tidak
melakukan kegiatan yang mengakibatkan perusahaan rugi. Loyalitas dirumuskan oleh
Sudimin (2003) sebagai jasa bakti kita kepada seseorang dan tidak menjadi pengkhianat
ketika dibutuhkann. Robbins (2015) mengutarkan bahwa loyalitas adalah kerelaan untuk
memproteksi serta menyelamatkan perasan dan fisik seseorang. Siswanto (2005)
mengartikan loyalitas sebagai suatu tekad dan kesediaan mematuhi, melakukan, dan
mendistribusi perintah yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran.
Agustian (2009) mendefinisikan loyalitas sebagai kesetiaan terhadap prinsip yang diyakini.
Loyalitas karyawan didefiniskan sebagai sikap emosional yang menggembirakan dan
menyukai pekerjaannya (Dessler, 2015. Pada dasarnya loyalitas berarti sebagai kesetiaan
terhadap seseorang pada suatu hal bisa berupa kesetian fisik maupun non fisik seperti
perhatian dan pikiran. Untuk bisa sukses dalam mencapai tujuan perusahan maka perusahaan
mutlak memerlukan karyawan dengan loyalitas tinggi. Hasibuan (2016) berpendapat bahwa
karyawan menunjukkan loyalitas dengan keikhlasan karyawan untuk membela dan menjaga
perusahaan tempat bekerja dari gangguan orang yang ingin menjatuhkan perusahaan.
Pendapat serupa diutarakan oleh Poerwadarminta (2002) loyalitas merupakan kepercayaan,
pengabdian dan kesetiaan yang dipersembahkan kepada seseorang atau instansi, dimana
didalamnya ada tanggung jawab dan cinta serta berperilaku dan memberikan pelayanan
terbaik. Nitisemito (2015) mengutarakan, loyalitas terhadap perusahaan adalah sikap yaitu
seberapa jauh seseorang karyawan mengidentifikasikan perusahaan tempat dimana dia
bekerja dengan menunjukkan keinginan bekerja dan berusaha yang terbaik dan loyalitas yang
diberikan untuk perusahaan merupakan perilaku, yaitu suatu keputusan seseorang untuk tetap
tinggal di perusahaan. Robbins (2006) berpendapat bahwa loyalitas berhubungan dengan
tingkat kepercayaan yaitu suatu keinginan untuk menyelamatkan dan melindungi seseorang.
Apabila loyalitas dan kepercayaan terhadap organisasi dimiliki oleh seseorang, maka orang
tersebut rela berkorban dan berjasa dengan hal apa yang diyakininya. Dengan demikian,
loyalitas mempunyai korelasi positif terhadap tingkat kepuasan, semakin tinggi level
kepercayaan karyawan kepada perusahaan, maka level loyalitas karyawan terhadap
perusahaan juga semakin tinggi. Purwopoespito (2014), mengutarakan loyalitas yang terjadi
pada pekerjaan dicerminkan oleh sikap karyawan yang mendedikasikan keahliannya,
melakukan pekerjaan dengan tanggung jawab, jujur dan disiplin dalam bekerja. Loyalitas
kerja para karyawan terhadap perusahaan akan dapat menciptakan rasa tanggung jawab dan
menimbulkan semangat dan motivasi kerja (Nitisemito, 2015). Agar dapat menciptakan
loyaIitas karyawan terhadap perusahaan maka perusahaan harus berusaha agar karyawan
merasa ikut memiliki perusaan. Dengan perasaan ikut memiliki perusahaan maka karyawan
akan juga ikut merasakan perkembangan perusahaan. Berdasarkan definisi yang diutarakan
oleh para ahli diatas, dapat diambil kesimpulkan bahwa loyalitas kerja adalah merupakan
kesetiaaan karyawan terhadap perusahaan yang ditunjukkan melalui keinginan yang kuat
untuk tetap berada dalam perusahaan dan bekerja dengan baik untuk kemajuan perusahaan
tersebut serta rela berkorban dan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Runtu (2014) Loyalitas hanya mungkin bisa dianggap sebagai bentuk yg
terjadi dengan sendirinya apabila seorang karyawan bergabung. Pada saat organisasi
menginginkan salah satu karyawan yang loyal, organisasi harus mengupayakan supaya
berubah kepada tingkatan lebih tinggi. Dengan apa yang terjadi karyawan tersebut sungguh
senang akan merasa “suka-duka” organisasi. Oleh karena itu loyalitas meliputi kesediaan
tetap harus bertahan, memiliki bentuk produktivitas standard. Loyalitas jangan diartikan
sebagai sesuatu yang terjadi dengan sendirinya ketika seorang karyawan bergabung di dalam
organisasi. Karyawan yang memiliki loyalitas yang rendah karena sifat karakternya,
kekecewaan pada karyawan, dan sikap dari atasan, serta perasaan secara negatif, seperti
meninggalkan organisasi, organisasi lain sangat menguntungkan, tidak dapat mendapat
manfaat, dan menyesali bergabung pada suatu organisasi.

Indikator Komunikasi Organisasi


Baik buruknya komunikasi organisasi dapat diukur dengan indikator dalam
komunikasi pada organisasi yang dikemukakan beberapa ahli seperti Suliyem (2016):
a. Kenyataan pesan yang disampaikan sesama individu
b. Kesamaan pemahaman makna berasal pada pesan diantara anggota semua organisasi
c. Adanya umpan balik antara anggota organisasi
Sedangkan Purwanto (2011) mengemukakan bahwa dimensi dan indikator dari
komitmen organisasi antara lain yaitu:
a. Dimensi Vertikal
1) Komunikasi yang berasal dari atas ke bawah. Indikatornya yaitu perintah, prosedur,
teguran dan pujian.
2) Komunikasi yang berasal dari bawah ke atas. Indikatornya yaitu saran dan laporan
pekerjaan.
b. Dimensi Horizontal
Indikatornya yaitu informasi, koordinasi tugas dengan bagian yang sama dan rapat.
c. Dimensi Diagonal
Indikatornya yaitu informasi diterima dengan cepat, hubungan antar divisi dan
koordinasi dengan bagian lain.

Komponen Komunikasi Organisasi


Menurut Muhammad (2014:17), Secara teknis dapat dilakukan bahwa komunikasi
organisasi melibatkan :
a. Pengirim pesan atau komunikator
adalah individu mengirim pesan. Pesan atau informasi akan diberikan berasal dari otak
pengirim pesan. Oleh karena itu proses sebelum pengirim mengirimkan pesan, pengirim
harus menciptakan pesan yang akan dikirimkannya.
b. Pesan
adalah informasi yang dapat dikirimkan pada komunikan. Pesan dapat berupa pesan
verbal atau non verbal. Pesan verbal itu bisa lisan dan juga bisa tulisan, sedangkan pesan
non verbal bisa berupa gerak tubuh, nada suara, ekspresi muka dan lain lain.
c. Saluran
adalah jalan yang dilalui pesan dari komunikator dengan komunikan. Channel yang
biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya serta suara yang bisa kita lihat dan
dengar, akan tetapi alat yang digunakan itu berbeda-beda.
d. Penerima pesan atau komunikan
adalah yang menganalisis serta menginterpretasikan pesan yang di terimanya.
e. Balikan (Feedback)
adalah respon terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan
atau komunikator. Dengan diberikannya reaksi ini kepada komunikator, komunikator
akan dapat mengetahui apakah pesan yang disampaikan dilaksanakan bersama selaras
dengan kesamaan yang disebut dengan komunikator

Arah dan Tujuan Komunikasi Organisasi


Menurut Robbins (2016:7) arah komunikasi terdiri dari:
a. Komunkasi dari atas ke bawah
Bentuk pembicaraan yang di dapati dari satu tingkatan pada suatu perkumpulan
organisasi ke tingkatan lebih rendah disebut komunikasi ke bawah. Komunikasi inilah
yang diberikan oleh pemimpin kelompok, manajer dalam menetapkan suatu tujuan,
menyampaikan bentuk instruksi, menginformasikan kebijakan dan prosedur kepada
karyawan, menunjukkan persoalan yang membutuhkan perhatian dan menawarkan
umpan balik mengenai kinerja.
b. Komunkasi dari bawah menuju atas
Komunikasi ke atas dapat mengalir menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi pada
salah satu kelompok dan organisasi. Komunikasi dapat dilakukan untuk membuat
peranan penting kepada orang–orang yang memegang kekuasaan, member mereka
informasi mengenai proses pencapaian tujuan, dan menyampaikan masalah–masalah
terkait.
c. Komunkasi lateral
Komunikasi terjadi antara anggota berdasar pada kelompok kerja seperjuangan, antara
anggota dari lingkungan perusahaan pada tingkatan yang sama, sesama manajer pada
tatanan yang sama atau diantara individu–individu yang setara secara horizontal.
Menurut Wahjono (2015:218), komunikasi organisasi menjalanan empat fungsi
yaitu:
a. Fungsi kendali (kontrol/pengawasan)
Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku pada kelompok pekerja supaya
mereka mematuhi total aturan dan hierarki yang diberikan wewenang dalam organisasi.
b. Fungsi motivasi
Dengan komunikasi dapat menjelaskan pada anggota apa yang harus dikerjakan dan
bagimana dapat bekerja lebih baik.
c. Fungsi pengungkapan emosi
Dengan komunikasi anggota dapat mengexpresikan ketidak puasan atau rasa puas tidak
terhingga yang mereka rasakan.
d. Fungsi informasi
Dengan komunikasi semua keputusan dapat diambil dan dapat diteruskan pada semua
anggota orgnisasi.
Sementara Menurut Bungin (2013) fungsi komunikasi dikatakan menjadi 4 dalam
organisasi yaitu fungsi informatif, regulatif, persuasif, serta integratif dijelaskan sebagai
berikut:
a. Informasi dalam sebuah organisasi sangat dibutuhkann dalam mengerjakan pekerjaan
tepat, baik dari pimpinan yang memberi informasi, maupun bawahan yang
membutuhkan informasi. Informasi juga dibutuhkann dalam mengatasi konflik, sebagai
contoh menghindari miscommunication atau misunderstanding, dan bisa untuk
menetapka suatu kebijakan.
b. Regulatif merupakan bentuk aturan yang berlaku dalam sebuah bentuk menejerial. Ada
2 regulatif pada suatu organisasi. Pertama, pimpinan organisasi memiliki kuasa memberi
perintah, intruksi kerja, membuat standar operation dalam bekerja. Kedua, anggota atau
bawahan membutuhkan bentuk peraturan dan wajib dipatuhi. Berikut harus diketahui
dan di pahami bawahan untuk menjalankan perintah atasan:
1) Kejelasan atasan menyampaikan perintah
2) Ketegasan atasan memberikan sanksi
3) Mewujudkan kepercayaan anggota atau bawahan kepada atasan,
4) Pesan yang disampaikan pada bawahan secara jelas dan benar.
c. Persuasif atau ajakan, untuk kesejahteraan organisasi biasanya pimpinan lebih memilih
untuk mengajak daripada memerintah anggota.
d. Integratif atau saluran dalam organisasi dibutuhkan oleh anggota. Ada 2 saluran, yaitu
saluran komunikasi formal seperti penerbitan bidang khusus pada organisasi tersebut
(newsletter, bulletin) dan laporan mengenai kemajuan organisasi juga komunikasi
informal, seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan
olahraga, dan kegiatan darmawisata. Maka pada pelaksanaan ini dapat menimbulkan
kontribusi dengan baik bagi anggota dalam kelompok sebuah organisasi

Definisi Komunikasi Organisasi
Komunikasi dalam organisasi memegang peranan sangat penting dalam menunjang
aktivitas organisasi. Setiap fungsi SDM selalui disertai dengsn komunikasi, serta dimulai
proses seleksi, interview sampai pemecatan pekerja semuanya membutuhkan komunikasi.
Komunikasi organisasi merupakan hal yang penting di dalam kehidupan berorganisasi
sehingga diperlukan beberapa pemahaman mengenai komunikasi organisasi.
Kata komunikasi (dengan kata Inggris “communication”) secara etimologi atau
menurut asalnya didapat kata bahasa latin communicare dan ini berasal pada kata communis.
Kata communis memiliki makna “berbagi” atau “menjadi hak bersama”, yaitu suatu
keinginan kerja yang bertujuan untuk memperoleh kebersamaan dan keberagaman makna.
(Hubeis dkk, 2012:4). Komunikasi adalah rangkaian penyampaian melalui pesan oleh
sesorang kepada semua orang untuk memberitahu serta untuk dapat selalu mengubah pada
sikap, gagasan, atau tingkah laku, baik secara langsung (lisan) maupun tidak (dapat
dilakukan pada media). (Hubeis dkk, 2012:5).
Sementara Waynespaces dan Faules menyebutkan bahwa definisi fungsional pada
komunikasi dalam organisasi sebagai petunjuk dan penafsiran didalam pesan diantara unit
bagian komunikasi apa merupakan bagian salah satu pada suatu organisasi tertentu (Ruliana,
2016:25). Depari (dalam Triana, Utami, & Ruhana, 2016) menyatakan bahwa komunikasi
adalah suata proses pada penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang diberikan dengan
lambang tertentu dapat mengandung arti dilakukan oleh penyampain melalui pesan untuk
diberikan kepada siapa penerima isi pesan. Muhammad (2014:4) dapat mengemukakan
apapun bahwa ada dalam di kaitannya dengan komunikasi pada organisasi, komunikasi
adalah bentuk pertukaran pada pesan verbal serta non verbal dari pengirim dan penerima
untuk mengubah pola tingkah pada perilaku. Perubahan tingkah laku pada pengertian yang
lebar yaitu pergantian yang akan terjadi pada dalam diri suatu individu didalam aspek
kognitif, efektif atau psikomotor. Menurut Purwanto (2011:4) komunikasi pada organisasi
merupakan suatu rangkaian pertukaran pada informasi pada individu melewati suatu cara
atau sistem yang biasa (wajar) baik bersama tanda, sinyal, maupun perilaku dan tindakan.
Robbins dan Jugde (2015:47) mengatakan bahwa, “organizational commitment is deefined as
a state in which an employee identifies with a particular organizatioon, its goals and wishes
to maintain membership in the organization.” Komitmen dalam organisasi dikelompokkan
untuk keadaan di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan organisasi, tujuan
organisasi dan keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Selanjutnya
menurut Davis & Newstroom (dalam Suliyem, 2016) mengemukakan bahwa,
“organizational commitment, organizational degree to which an employee identifiies with the
organization and wants to continue actively participating in it. Komitmen organisasi adalah
tingkatan dalam organisasi di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan
organisasi dan melanjutkan keaktifan untuk berpartisipasi di dalam organisasi. Seperti gaya
magnet yang kuat menarik satu objek logam lain, itu adalah ukuran dari kesediaan karyawan
untuk tetap berada dalam organisasi demi masa depan. Adanya misi dan tujuan dari
seseorang dengan keinginan yang tinggi untuk berusaha mencapai prestasi dan niat untuk
terus bekerja pada organisasi.
Menurut Golddhaber (1986) mengetahui proses penciptaan untuk saling bertukar
pesan pada salah satu jaringan pada hubungan dimana tergantung pada yang lain guna
memberikan manfaat sekitar lingkungan yang kurang jelas atau yang selalu dapat berubah.
Pengertian ini mengandung proses beberapa salah konsep sebagai dari berikut :
a. Proses
adalah sistem kerja yang sangat terbuka serta dinamis yang secara tidak langsung.
Karenaa bentuk kegiatan yang diulang-ulang dan tidak terkontrol tersebut maka dapat
dinyatakan sebagai suatu proses.
b. Pesan
adalah rangkaian simbol dimana mengandung pengertian mengenai objek manusia,
kejanggalan kerja yang diberikan terhadap interaksi bersama dengan kelompok lain.
Pesan dalam suatu organisasi dilihat menurut jenis klasifikasi yang berhubungan
langsung dengan kata bahasa, penerima yang dikehendaki, metode difusi, dan arus untuk
tujuan berbagai beberapa pesan. Jenis pesan pada bahasa dibedakan menjadi 2 (dua)
kelompok yaitu verbal dan non verbal, dalam suatu organisasi adalah surat, memo,
percakapan, dan pidato. Sedangkan pesan non verbal pada suatu organisasi dapat berupa
bahasa gerak seluruh bagian tubuh.
c. Jaringan
Bentuk organisasi terbentuk dari satu seri manusia yang setiap person menduduki posisi
atau peranan penting pada suatu di dalam organisasi. Ciptaan serta pertukaran suatu
pesan dari seseoang terjadi melampaui suatu jalur jalan kecil yang disebut jaringan
komunikasi. Suatu kelompok komunikasi ini dapat mencukupi dengan lebih dari satu
orang, beberapa orang atau keseluruhan dalam organisasi. Luas dari system jaringan
komunikasi ini dijalankan oleh beberapa faktor arah & arus pesan, isi pesan, dan
hubungan peranan, serta lain-lain.
d. Keadaan dimana selalu membutuhkan
Hal ini dapat berubah sifat yang berada pada kelompok yang merupakan bentuk sistem
yang terbuka. Bila mengalami gangguan dapat berpengaruh divisi yang lainnya dan akan
terjadi juga kepada semua sistem organisasi.
e. Hubungan
Karena organisasi adalah bagian dari suatu sistem terbuka, sistem pada suatu kehidupan
sosial yang untuk memanfaatkan bagian-bagian dimana terletak pada individu yang ada
dalam organisasi. Oleh karenaa itu hubungan individu dalam organisasi yang menitik
beratkan pada tingkah laku komunikasi dari seseorang yang terlibat suatu hubunngan
perlu untuk dipelajari.
f. Lingkungan
Lingkungan adalah bentuk totalitas secara fisik dan faktor sosial yang diperhitungkan
dalam pembuatan dalam keputusan individu berada pada suatu sistematik. Yang menjadi
bagian dalam lingkungan internal adalah personal, staf, golongan fungsional dari
organisasi, dan juga bagian lainnya seperti tujuan, produk, serta lainnya. Organisasi
sebagai program terbuka yang mana harus berhubungan pada lingkungan eksternal
seperti: teknologi, ekonomi, dan faktor sosial. Karena faktor yang berada pada
lingkungan tidak tetap maka organisasi memerlukan sistem informasi baru guna
mengatasi perubahan pada lingkungan dengan menciptakan serta melakukan penukaran
pesan baik secara internal dan eksternal.
g. Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang
diharapkan. Ketentuan tidak pasti dalam organisasi didapatkan daripada informasi
sesungguhnya yang dimanfaatkan dan dihadapkan pada lingkungan yang bersangkutan.
Dapat dinyatakan ketidakpastian dapat disebabkan karena terlalu sedikitnya informasi
yang didapatkan dan sangat berlebih atau banyak informasi yang diberikan untuk
diterima.
Menurut Redding and Saborn dalam Safari dkk. (2019) “komunikasi organisasi
adalah pengiriman serta penerimaan pada informasi dalam kelompok sangat kompleks.
Komunikasi organisasi ini antara lain, hubungan antar manusia, komunikasi yang berasal
dimana atasan kepada bawahan, seperti : komunikasi dari asal bawahan kepada atasan,
komunikasi bersama sesama rekan kerja, keterampilan berkomunikasi dan berbicara
mendengarkan serta menulis”. Menurut Katz & Kahn dalam Safari dkk. (2019) “Bahwa
komunikasi organisasi merupakan bentuk arus informasi, pertukaran dari informasi dan
pemindahan arti dalam suatu organisasi”
Berdasarkan definisi komunikasi organisasi menurut para ahli di atas, dapat
diartikan bahwa komunikasi organisasi adalah proses di mana karyawan atau anggota
organisasi bertukar informasi di lingkungan perusahaan atau organisasi

Faktor Akibat atau Dampak Persepsi Dukungan Organisasi


Menurut Rhoades & Eisenberger (2002) persepsi pada dukungan kelompok kerja
memiliki beberapa akibat yang meliputi:
a. Komitmen organisasi
Berdasar norma komunikasi searah, persepsi suatu dukungan di dalam organisasi akan
menciptakan kewajiban untuk memperhatikan kesejahteraan organisasi. Kewajiban
kondisi tersebut akan menaikkan komitmen efektif pekerja terhadap organisasi.
b. Efek terkait pekerjaan
Persepsi dukungan organisasi mempengaruhi reaksi afektif karyawan terhadap
pekerjaannya, termasuk kepuasan kerja dan suasana hati yang positif. Kepuasan kerja
berdampak pada sikap keseluruhan karyawan terhadap pekerjaannya. Persepsi untuk
dukungan organisasi dapat berperan aktif terhadap kepuasan kinerja dengan
meningkatkan harapan penghargaan atas jerih payah, dan memperlihatkan peluang
bantuan bila dibutuhkann. Suasana jiwa yang sehat berbeda dengan kepuasan kerja
karena mendukung keadaan tidak stabil seseorang tidak menggunakan objek tertentu.
Persepsi terhadap dukungan organisasi dapat berkontribusi pada perasaan hati,
kompetensi diri dan kelayakan karyawan sehingga meningkatkan suasana hati yang
positif.

  1. Job Involvment (Keterlibatan Kerja)
    Keikut campuran kerja menuju pada identifikasi dan tertuju pada aktifitas harian yang
    dilakukan oleh orang tertentu. Kompetensi yang di terima karyawan sangat bergantung
    dengan keinginan. Dengan menitik beratkan tingakt kompetensi karyawan, persepsi yang
    terjadi pada dukungan organisasi bisa meningkatkan pada minat karyawan dalam
    kegiatan kerja yang dilakukan.
  2. Kinerja
    Persepsi pada dukungan organisasi yang dapat meningkatkan standar kinerja karyawan
    dengan tindakan yang melampaui pada tanggung jawab yang sudah ditentukan sehingga
    dapat memberi keuntungan organisasi. Tindakan tersebut berupa saling membantu
    sesama teman kerja, melakukan tindakan yang dapat melindungi organisasi dari berbagai
    resiko, berbagi ilmu dan ketrampilan yang memiliki manfaat bagi organisasi.

Dimensi Persepsi Dukungan Dalam Organisasi
Menurut Robbins & Judge (2016) terdapat beberapa tingkatan persepsi dukungan
organisasi yaitu meliputi:
a. Penghargaan
Penghargaan finansial baik yang berwujud gaji, upah, insentif, atau tunjangan sudah
amat popular. Namun penghargaan nonfinansial, seperti pujian, penerimaan, pengakuan
atau yang lainnya tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan kinerja karyawan.
Sebuah survey yang meminta karyawan memberikan nilai terhadap berbagai
penghargaan menemukan bahwa penghargaaan nonfinansial ada pada peringkat yang
lebih tinggi daripada penghargaan finansial (Luthans, 2011). Pengakuan dapat dijadikan
satu motivator yang ampuh. Tindakan pengakuan dapat berupa promosi, penempatan
pada proyek yang bergengsi, perluasan pekerjaan untuk memberinya lingkup pekerjaan
yang lebih menarik dan menguntungkan, dan berbagai simbol status dan kebanggaan.
b. Kepedulian
Kepedulian ialah bentuk perhatian pemimpin terhadap orang lain, khususnya anggota
tim dengan memberi sumbangan dalam bentuk materi, gagasan/pemikiran, waktu,
dan/atau, keahlian/keterampilan. Menurut Kaswan (2015) kepedulian menyiratkan
tentang banyak hal, yaitu empati dan mengutamakan orang lain.
c. Kesejahteraan
Kesejahteraan (well-being) juga dikenal dengan kesejahteraan subjektif atau emosi, atau
kebahagiaan. Pengertian lain kesejahteraan dikaitan dengan tujuan hidup yang
bermakna.
Sementara Rhoades & Eisenberger (2002) dalam Mujiasih (2015), persepsi dalam
dukungan pada organisasi memiliki aspek sebagai berikut:
a. Penghargaan pada kontribusi karyawan
Penghargaan perusahaan terhadap kontribusi atau usaha yang dilaksanakan oleh
karyawan berpedoman pada pengakuan dan perhatian, gaji dan promosi, serta akses
informasi atau bentuk lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya dengan
baik.
b. Perhatian atau bertanggung jawab terhadap besar kesejahteraan pada karyawan
Perhatian organisasi bisa berupa memperhatikan kesejahteraan karyawan, mendengarkan
pendapat atau keluh kesah kebutuhan karyawan untuk memperhatikan pekerjaan
karyawan.
Sedangkan indikator persepsi dukungan organisasi menurut Rhoades & Eisenberger
(2002:699) dalam Tjandra dkk (2018), yaitu:
a.Organisasi menghargai pada kontribusi karyawan.
b. Organisasi menghargai besar usaha lebih yang diberikan karyawan
c. Organisasi akan memperhatikan terhadap segala sebab akibat dari karyawan.
d. Organisasi sangat peduli terhadap kesejahteraan karyawan.
e. Organisasi akan menginformasikan pekerja apabila tidak melaksanakan pekerjaan dengan
baik.
f. Organisasi akan peduli anisasi menunjukan perhatian yang sangat besar terhadap
karyawan.
g. Organisasi akan mengapresiasi keberhasilan karyawan saat bekerja.

Definisi Persepsi Dukungan Organisasi


Disebut kontribusi yang diberikan oleh individu kemudian mendapatkan perhatian
dan kepedulian dari organisasi tentang kesejahteraan mereka. Teori ini mengartikan mereka
percaya bahwa organisasi akan memberikan perhatian dan kesejahteraan yang layak sesuai
dengan kontribusi kinerja yang dilakukan (Eisenberger dkk., 1986). Kemudian, Robbins
(2016) mengatakan Persepsi pada dukungan organisasi adalah merupakan tingkat sejauh
mana individu memiliki keyakinan bahwa kelompok usaha menghargai kontribusi mereka
yang kemudian peduli terhadap tingkat kesejahteraan mereka.
Dalam lingkungan interaksi sosial melibatkan begitu banyak hal seperti interaksi
sesama individu dan kelompok kemudian kelompok dengan kelompok sampai pada individu
dengan organisasi. Sehingga, teori persepsi dukungan organisasi mempelajari interaksi antara
individu dengan organisasi/instansinya. Bagaimana organisasi dalam memahami dan
memperlakukan mereka.
Sementara menurut Ningrum (2013), persepsi dukungan organisasi ialah persepsi
anggota mengenai seberapa jauh organisasi akan memberikan dukungan terhadap pegawai
dan sejauh mana menghadapi tingkat untuk kesiapan dalam organisasi guna akan bermanfaat
jika menggunakan bantuan pada saat akan dibutuhkan

Hubungan Pengaruh Reward Terhadap Produktivitas Kerja


Reward merupakan faktor penting bagi motivasi karyawan. Reward
disebut juga sebagai imbalan intrinsik yaitu imbalan yang merupakan bagian dari
pekerjaan itu sendiri, imbalan tersebut mencakup rasa penyelesaian, otonomi
dan pertumbuhan, maksutnya semangat untuk memulai atau menyelesaikan
suatu proyek pekerjaan merupakan hal penting bagi motivasi karyawan
irmayanti (2013), karena dengan adanya reward yang diberikan kepada
karyawan maka akan memotivasi karyawan lebih semangat dan giat dalam
bekerja sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh solikah, setyowati, dan
sanosra (2016) yang diperoleh hasil bahwa reward berpengaruh positif dan
signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan

Hubungan Pengaruh Pengalama Kerja Terhadap Produktivitas Kerja


Pengalaman Kerja sangat penting untuk melihat keterampilan karyawan,
karena semakin lama pengalaman kerja pada karyawan maka akan semakin
tinggi pula tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan
sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Seperti yang di
ungkapkan (fagbenle, 2012) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi produktivitas karyawan adalah berasal dari diri karyawan sendiri
atau human factor, salah satunya adalah pengalaman kerja. Hal ini didukung
dengan penelitian yang dilakukan oleh sulaeman (2015) yang diperoleh hasil
bahwa pengalaman kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
produktivitas kerja karyawan

Produktivitas Kerja


Produktivitas kerja karyawan bagi suatu perusahaan sangatlah penting
sebagai alat pengukur keberhasilan dalam menjalankan usaha. Semakin tinggi
produktivitas kerja karyawan dalam perusahaan, berarti laba perusahaan dan
produktivitas akan meningkat. Produktivitas adalah perbandingan antara hasil
yang di capai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu. Peran serta
tenaga kerja di sini adalah penggunaan sumber daya serta efisien dan efektif
(Sutrisno, 2017).
Menurut Tohardi (2017:100), produktivitas merupakan sikap mental,
yang selalu mencari perbaikan terhadap apa yang telah ada. Suatu keyakinan
bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaan lebih baik hari ini daripada hari
kemarin dan hari esok lebih baik dari hari i

Indikator DIsiplin Kerja


Sutrisno (2016) menjelaskan bahwa disiplin kerja adalah suatu perilaku
seorang individu yang disesuaikan bersama aturan, prosedur pekerjaan yang
berlaku. Maka dari hal tersebut, disiplin kerja ialah suatu sikap ataupun tindakan
serta perbuatan yang disesuaikan bersama aturan-aturan baik tertulis ataupun tak
tertulis.
Menurut sutrisno (2016:94), terdapat 3 indikator disiplin pekerja di dalam
sebuah perusahaan, antara lain:

  1. Memiliki ketaatan pada peraturan akan waktu. Memberikan
    perhatian kepada jam masuk kerja, jam istirahat, jam pulang kerja yang
    tepat waktu sertadisesuaikan bersama peraturan yang berlangsung pada
    suatu organisasai ataupun perusahaan.
  2. Memiliki ketaatan pada aturan organisasi ataupun perusahaan.
    Aturan perusahaan tentang tatacara mengenakan pakaian dan juga tingkah
    laku ketika melakukan pekerjaannya.
  3. Memiliki ketaatan pada aturan yang lainnya pada perusahaan.
    Peraturan mengenai apa saja yang dibolehkan serta tak dibolehkan
    dilaksanakan untuk pekerja pada organisasi ataupun perusahaan.

Hubungan Pengaruh Dukungan Organisasi Terhadap Produktivitas Kerja


Dukungan organisasi merupakan salah satu elemen yang
mempengaruhi perilaku karyawan. Karena dukungan positif dari pimpinan dan
segenap karyawan akan menciptakan situasi kerja yang kondusif. Dukungan
organisasi mengacu pada presepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi
menilai kontribusi dan peduli pada kesejahteraan karyawannya Putra dan
Moeins (2019). Apabila karyawan menganggap dukungan organisasi yang
diterimanya tinggi, maka karyawan akan menyatukan keanggotaan sebagai
anggota organisasi di dalam diri mereka dan mereka akan mengembangkan
hubungan dan presepsi yang lebih positif terhadap organisasi tersebut,
sehingga produktivitas karyawan akan meningkat. Hal ini didukung dengan
penelitian yang dilakukan oleh Mujiasih (2015) yang diperoleh hasil bahwa
dukungan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas
kerja karyawan

Indikator Loyalitas Kerja


Loyalitas karyawan dapat terlihat melalui sikap dan perilaku karyawan
saat bekerja dalam perusahaan. Sikap dan perilaku karyawan yang mencerminkan
loyalitas karyawan terkandung dalam setiap indikator loyalitas karyawan yang
digunakan untuk mengukur loyalitas karyawan. Terdapat empat indikator loyalitas
karyawan menurut Susanti et al (2021:225), antara lain:

  1. Kepatuhan
    Adalah kemampuan karyawan untuk menaati seluruh peraturan
    yang berlaku, untuk melaksanakan segala tugas yang diberikan oleh
    atasan yang bertanggung jawab dan tidak melanggar larangan yang telah
    ditentukan. Semakin tinggi kepatuhan karyawan kepada perusahaan maka
    semakin tinggi loyalitas karyawan.
  2. Tanggung Jawab
    Adalah kemampuan karyawan dalam menyelesaikan tugas dengan
    benar, tepat waktu dan berani menanggung konsekuensi dari keputusan
    atau tindakan yang telah diambil oleh karyawan. Semakin tinggi tanggung
    jawab karyawan kepada perusahaan maka semakin tinggi loyalitas
    karyawan.
  3. Dedikasi
    Adalah kontribusi gagasan dan tenaga yang diberikan oleh
    karyawan dengan tulus kepada perusahaan. Semakin tinggi dedikasi
    karyawan kepada perusahaan maka semakin tinggi loyalitas karyawan.
  4. Integritas
    Adalah kemampuan karyawan untuk mengakui, berbicara atau
    memberikan informasi yang tepat sesuai dengan realita dan kebenaran.
    Semakin tinggi integritas karyawan maka semakin tinggi loyalitas
    karyawan.
    Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa loyalitas kerja
    dipengaruhi oleh faktor faktor rasiona seperti gaji, bonus dan jenjang karir, factor
    emosional seperti pekerjaan yang menantang, lingkungan kerja yang mendukung
    dan faktor spiritual menyangkut kebutuhan rohani seperti kebebasan untuk
    melakukan ibadah.

Loyalitas Kerja


Loyalitas adalah kesetiaan seorang karyawan kepada perusahaan,
karyawan yang loyal kepada perusahaan. Loyalitas mempengaruhi karyawan
untuk meningkatan kariernya, demikian pula sebaliknya loyalitas dapat
memengaruhi karier baik secara langsung maupun tidak langsung melalui variabel
lain (Dewi, 2019)
Menurut Onsardi (2017), loyalitas merupakan kondisi yang mengikat
karyawan dengan perusahannya, karena loyalitas bukan hanya kesetiaan yang
terlihat dari seberapa lama seseorang bekerja di dalam organisasi perusahaan,
namun dapat dilihat juga dari seberapa besar ide, pikiran dan gagasan, serta
kinerjanya tercurah sepenuhnya kepada perusahaan itu. Sutriniasih (2018)
menyatakan timbulnya loyalitas dipengaruhi oleh karakteristik pribadi,
karakteristik pekerjaan, karakteristik perusahaan atau organisasi dan pengalaman
yang diperoleh selama bekerja. Loyalitas karyawan didasarkan pada hubungan
kepercayaan, rasa memiliki yang kuat, dan kemauan untuk tetap dalam organisasi.
Kepuasan karyawan memberikan dampak positif pada loyalitas dan kepercayaan
diri karyawan yang dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja (Al-edenat dan
Alhawamdeh, 2018).
Menurut Siswanto (2012:28), pengertian loyalitas karyawan adalah
biasanya identik dengan komitmen kepada organisasi kadang-kadang dipandang
sebagai sikap. Namun, tidak begitu banyak sikap (atau komponen pemikiran)
yang penting dalam organisasi, melainkan itu adalah komponen tindakan bottom-
line.
Menurut Wan (2012:2), loyalitas karyawan adalah sebagai lampiran
psikologis atau komitmen terhadap organisasi dan terjadi sebagai akibat dari
meningkatnya kepuasan yang berasal dari hasil proses evaluasi internal, dan jika
tingkat harapan karyawan yang memenuhi atau melampaui maka kepuasan akan
tumbuh. Dalam melaksanakan kegiatan kerja karyawan tidak akan terlepas dari
loyalitas dan sikap kerja, sehingga dengan demikian karyawan tersebut akan
selalu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Karyawan merasakan adanya
kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan (Soegandhi dan
Sutanto et al, 2013:45)

Perilaku Inovatif Karyawan (Employee Innovative Behaviour)


Perilaku inovatif karyawan merupakan wujud nyata dari kreativitas
karyawan dalam menjalankan pekerjaan. Kreativitas yang berasal dari individu,
dalam hal ini disebut karyawan, merupakan dasar dalam melakukan suatu inovasi.
Inovasi bergantung pada bagaimana individu tersebut melahirkan gagasan atau
ide-ide baru, melakukan perancangan terhadap ide, menerapkan ide yang telah
dirancang dan dipersiapkan dengan baik lalu melakukan modifikasi pada
pekerjaan (Etikariena & Muluk, 2014). Pernyataan Widiyanti & Sawitri (2018)
perusahaan yang mampu melakukan inovasi secara berkelanjutan, selalu
melakukan perbaikan kualitas pada produk yang dihasilkan. Inovasi juga menjadi
salah satu motivasi karyawan dalam menjaga kinerjanya saat bekerja, sehingga
menyebabkan kinerja perusahaan lebih unggul jika dibandingkan dengan
perusahaan lain.
Karyawan dikatakan sebagai salah satu aset berharga perusahaan, karena
karyawan mampu melakukan inovasi. Hal ini menjadi alasan, pentingnya
perusahaan membangun kesadaran karyawan dalam memunculkan perilaku
inovatif saat bekerja. Perilaku inovatif yang berasal dari dalam diri karyawan
dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:
18

  1. Faktor internal berasal dari dalam diri individu, seperti cara individu
    melakukan pemecahan masalah atau mencari solusi, kepribadian setiap
    individu, dan motivasi yang dibangun dalam diri masing-masing.
  2. Faktor pekerjaan berasal dari lingkungan kerja individu seperti tuntutan yang
    harus diselesaikan dalam pekerjaan dan karakteristik pekerjaan.
  3. Faktor kontekstual berasal dari suatu peristiwa tertentu seperti gaya
    kepemimpinan, iklim psikologis dan juga dukungan dari karyawan lain.
    (Widiyanti & Sawitri, 2018).

Loyalitas Karyawan (Employee Loyalty)


Asriandi et.al (2017) mendefinisikan loyalitas sebagai suatu kesetiaan,
dimana kesetiaan ini berdasar pada kesadaran diri seseorang. Konsep ini terlihat
mudah ketika diperbincangkan namun dalam kenyataannya sangat sulit untuk
dianalisis. Loyalitas karyawan merupakan kesadaran yang dimiliki karyawan
berkaitan dengan kesetiaan karyawan terhadap organisasi, keputusan untuk tetap
bertahan pada pekerjaan dan mempertahankan posisi karyawan dalam organisasi.
Bentuk kesetiaan karyawan diwujudkan dengan menjaga nama baik organisasi
serta melakukan pembelaan jika diperlukan untuk melindungi organisasi. Terdapat beberapa unsur yang diperlihatkan ketika karyawan memiliki loyalitas
kerja yaitu:

  1. Mentaati peraturan perusahaan. Kebijakan perusahaan dibuat untuk
    meningkatkan kedisiplinan dalam bekerja sehingga peraturan perusahaan dapat
    membantu dalam melakukan pengawasan pekerjaan.
  2. Memiliki rasa tanggung jawab dalam bekerja. Risiko pekerjaan merupakan
    hal yang tidak dapat dihindari. Ketika karyawan secara sadar mau untuk
    menanggung segala risiko dan beban yang akan diterima akibat dari tanggung
    jawab pekerjaan, maka karyawan tersebut telah menunjukkan sikap setia terhadap
    perusahaan.
  3. Bekerja sama. Terdapat beberapa hal dalam pekerjaan yang tidak dapat
    dilakukan secara individu sehingga membutuhkan bantuan orang lain secara
    kelompok. Karyawan yang memiliki loyalitas dalam bekerja akan melakukan
    kerjasama yang baik dengan karyawan lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
  4. Rasa memiliki terhadap perusahaan. Karyawan akan bertanggung jawab
    atas tantangan yang dihadapi dalam perusahaan. Karyawan juga merasa harus
    menjaga perusahaan dari segala ancaman, demi tercapainya tujuan perusahaan.
  5. Rasa suka terhadap pekerjaan. Karyawan yang merasa pekerjaannya telah
    sesuai dengan passion yang dimiliki, membuat pekerjaan yang dilakukan menjadi
    lebih mudah. Hal ini disebabkan karena karyawan melakukan pekerjaan sesuai
    dengan hal yang disukai dan dikuasai (Safitri, 2015).

Pemberdayaan Karyawan (Employee Empowerment)


Menurut Pelit et.al (2011) dalam Appelbaum et.al (2014) pemberdayaan
diartikan sebagai pemberian wewenang untuk menjalankan suatu tanggung jawab
yang diberikan atasan kepada karyawannya. Pemberdayaan karyawan tidak hanya
berorientasi pada hasil akhir, namun terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam memberdayakan seseorang. Faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan yaitu tingkat motivasi karyawan, gaya kepemimpinan dari
atasan, serta umpan balik yang diberikan oleh bawahan. Pemberdayaan karyawan
juga menjadi salah satu faktor dalam menentukan keberhasilan organisasi.
Penelitian Kirkman & Rosen (1999) dalam Baird et.al (2018) menyatakan
pemberdayaan karyawan memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja
organisasi. Ketika perusahaan berhasil menerapkan pemberdayaan karyawan yang
baik maka kinerja karyawan juga ikut meningkat.

Indikator Produktivitas Kerja Karyawan


Menurut Sutrisno (2014) untuk mengukur produktivitas kerja
diperlukan suatu indicator, sebagai berikut :
1) Kemampuan
Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Kemampuan karyawan
sangat bergantung pada ketrampilan yang dimiliki serta profesionalisme
mereka dalam bekerja dan menyelesaikan tugas – tugas yang diembannya.
2) Meningkatkan hasil yang dicapai
Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan salah
satu yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang
menikmati hasil pekerjaan tersebut. Jadi, upaya untuk memnfaatkan
produktivitas kerja bagi masing – masing yang terlibat dalam suatu
pekerjaan.
3) Semangat kerja
Semangat kerja merupakan upaya untuk lebih baik dari hari kemarin.
Indikator ini dapat dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapai dalam satu
hari kemudian dibandingkan dengan hari sebelumnya.
4) Membangun diri
Selalu mengembangkan diri untuk meningkatkan kemampuan kerja.
Pengembangan diri dapat dilakukan dengan melihat tantangan dan harapan
dengan apa yang akan dihadapi. Karenan semakin kuat tantangannya,
pengembangan diri mutlak dilakukan.
5) Mutu
Mutu merupakan hasil pekerjaan yang dapat menunjukkan kualitas kerja
seorang pegawai. Jadi, meningkatkan mutu bertujuan untuk memberikan
hasil terbaik yang akan sangat berguna bagi perusahaan dan pada dirinya
sendiri.
6) Efisiensi
Perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya
yang digunakan. Masukan dan keluaran merupakan aspek produktivitas
yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi karyawan

Pengaruh Kompensasi terhadap Loyalitas Karyawan


Kompensasi adalah sesuatu yang diterima karyawan atas jasa yang
mereka sumbangkan pada pekerjaannya. Mereka menyumbangkan apa
yang menurut mereka berharga, baik tenaga maupun pengetahuan yang
dimiliki. Seorang pekerja sebagai tukang pikul barang merasa bahwa
kekuatan fisik yang dimiliki adalah sesuatu yang berharga yang mereka
sumbangkan atas pekerjaannya. Untuk memindahkan barang dari satu
tempat ke tempat lain mereka akan memperoleh balasan yang setimpal
atas pekerjaannya. Sesuatu yang berharga bagi karyawan adalah
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dijadikan sebagai dasar
dalam menuntun haknya sebagai pekerja, Wilson Bangun (2012).

Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Loyalitas Karyawan


Menurut Cahyadi (2013) Lingkungan kerja dalam perusahaan sangat
penting untuk diperhatikan oleh manajemen. Meskipun lingkungan
kerja tidak melaksanakan proses produksi dalam suatu perusahaan,
namun lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap
pegawai yang melaksanakan proses produksi tersebut.
Lingkungan kerja yang baik dapat mengakibatkan sesama karyawan
lebih saling mendukung satu sama lain untuk menyelesaikan pekerjaan
yang dibebankan kepada mereka, sehingga lingkungan kerja yang aman
dan nyaman akan menciptakan kepuasan kerja bagi karyawan dan akan
menghasilkan kinerja yang baik bagi perusahaan

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja


Faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja menurut Mulyadi
(2015) adalah :
1) Pelatihan dan pendidikan karyawan
Dengan adanya program pelatihan dan pendidikan kerja pada karyawan
akan meningkatkan ketrampilan pada karyawan sehingga dapat
menggunakan peralatan yang disediakan perusahaan untuk melaksanakan
pekerjaannya. Setelah karyawan mendapatkan pelatihan dan pendidikan
yang tepat akan dapat melakukan perkerjaannya dengan benar dan
memperkecil kesalahan di masa lalu. Oleh sebab itu, pelatihan dan
pendidikan sebagai dasar pengetahuan kepada karyawan.
2) Hubungan industrial
Hubungan industrial adalah hubungan antara pimpinan atau wakil dari
perusahaan dan wakil pekerja atau serikat pekerja bila sudah mengenai
pekerjaan dan pribadi antara atasan dan bawahan yang dilakukan sehari –
hari. Hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan, antara sesame
karyawan, dan sesame atasan akan meningkatkan produktivitas kerja. Oleh
sebab itu, karyawan harus diperlakukan dengan baik, dengan demikian
sikap karyawan akan baik pula dalam menjalankan proses produksi,
sehingga akan berpengaruh pada tingkat produktivitas kerja.
3) Sikap mental dan kemampuan fisik karyawan
Kondisi sikap dan mentall semua karyawan akan menjadi hal yang sangat
penting bagi perusahaan atau organisasi, karena kondisi sikap dan fisik
karyawan sangat erat hubungannya dengan produktivitas kerja karyawan

Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan


Tingkat loyalitas karyawan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
bukan hanya dari faktor eksternal melainkan dari faktor internal yang
ada dalam diri karyawan. Menurut Steer dan Porter dalam Agustina
(2016:60) bahwa timbulnya loyalitas dipengaruhi karena faktor
dibawah ini:
a. Karakteristik pribadi
Meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
prestasi yang dimiliki, ras, dan beberapa sifat individu lainnya.
b. Karakteristik pekerjaan
Meliputi tantangan dalam pekerjaan, stres kerja, interaksi
sosial, umpan balik tugas, dan kesesuian tugas.
c. Karakteristik desain perusahaan
Menyangkut pada intern perusahaan yang dapat dilihat dari
sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
pengambilan keputusan, paling tidak mengajukan beberapa tingkat
asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan, baik ketergantungan
fungsional maupun control perusahaan.
d. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan
Internalisasi individu terhadap perusahaan setelah melakukan
tugas seperti rasa aman

Pengertian Karyawan


Menurut undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa karyawan adalah
setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun
masyarakat, baik didalam maupun diluar hubungan kerja.
Menurut Hasibuan (2013) karyawan adalah penjual jasa
(perorangan atau tenaga) dan mendapat kompensasi yang bersarnya
ditetapkan terlebih dahulu. Dan jika karyawan adalah setiap orang yang
menjual tenaganya (fisik dan pikiran) kepada suatu perusahaan dan
memperoleh balas jasa yang sesuai dengan perjanjian.

Pengertian Loyalitas


Robbins (2012:231) stated loyalty is processes that arise as a
result the desire to be faithful and devoted both at work, group, boss nor
in his company, for that matter cause someone to be willing to sacrifice
for the sake of satisfying the other party or Public.
Menurut Mondy dalam Anesia (2016:6) mengemukakan bahwa
loyalitas adalah keterikatan yang diidentifikasi dari psikologi individu
pada pekerjaannya dan sejauh mana hubungan karyawan dengan
Menurut Wicaksono (2013:48) loyalitas merupakan setia pada
sesuatu dengan rasa cinta, sehingga rasa loyalitas yang tinggi seseorang
merasa tidak perlu mendapatkan imbalan dalam melakukan sesuatu
untuk orang lain atau perusahaan tempat ia meletakkan loyalitasnya.

Indikator Kompensasi


Indikator dalam pemberian kompensasi untuk karyawan tentu
berbeda-beda. Hasibuan (2012:118) mengemukakan secara umum
indikator kompensasi, antara lain:
a. Gaji
b. Upah
c. Insentif
d. Tunjangan
e. Fasilitas

Indikator Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja di perusahaan terbagi menjadi dua yaitu:
lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik.
a. Lingkungan kerja fisik (Physical Work Environment)
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik
yang terdapat di lingkungan tempat kerja tersebut dan dapat
mempengaruhi karyawan. Siagian (2014:69) mengemukakan bahwa
lingkungan kerja fisik terdiri dari beberapa indikator yaitu:
1) Bangunan tempat kerja
Bangunan tempat bekerja di samping menarik untuk dipandang
juga dibangun dengan pertimbangan keselamatan dan kesehatan
kerja, agar karyawan merasa nyaman dan aman dalam
melakukan pekerjaannya.
2) Peralatan kerja yang memadai
Peralatan yang memadai sangat dibutuhkan oleh karyawan
karena akan mendukung karyawan dalam menyelesaikan tugas
yang di embannya di dalam perusahaan.
3) Fasilitas
Fasilitas perusahaan sangat dibutuhkan oleh karyawan sebagai
pendukung dalam menyelasikan pekerjaan yang ada di
perusahaan. Selain itu ada hal yang perlu di perhatikan oleh
perusahaan yakni tentang cara memanusiakan karyawannya,
seperti tersedianya fasilitas untuk karyawan beristirahat seperti
loker setelah lelah bekerja dan juga tersedianya tempat ibadah.
4) Tersedianya sarana angkutan
Tersedianya sarana angkutan yang akan mendukung para
karyawan untuk sampai di tempat kerja dengan tepat waktu, baik
yang diperuntukkan karyawan maupun angkutan umum yang
nyaman, murah dan mudah di peroleh.
b. Lingkungan kerja non fisik (Non Physical Work Environment)
Lingkungan kerja non fisik adalah terciptanya hubungan kerja
yang harmonis antara karyawan dengan atasan. Siagian (2014:70)
mengemukakan bahwa lingkungan kerja non fisik terdiri dari
beberapa indikator yaitu:
1) Hubungan rekan kerja setingkat
Indikator hubungan dengan karyawan yaitu hubungan dengan
karyawan yang harmonis dan tanpa saling intrik di antara
sesama karyawan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
dalam satu organisasi agar karyawan tetap tinggal adalah dengan
adanya hubungan yang harmonis dan kekeluargaan.
2) Hubungan atasan dengan karyawan
Hubungan atasan dengan karyawan atau bawahan harus di jaga
dengan baik dan harus saling menghargai antara atasan dengan
karyawan atau bawahan, dengan saling menghargai maka akan
menimbulkan rasa hormat diantara individu masing – masing.
3) Kerjasama antar karyawan
Kerjasama antara karyawan harus dijaga dengan baik, karena
akan mempengaruhi pekerjaan yang akan mereka lakukan. Jika
kerjasama antara karyawan dapat terjalin dengan baik maka
karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka secara efektif
dan efisien

Pengertian Lingkungan Kerja


Menurut Sedarmayanti (2013:22) bahwa suatu tempat yang terdapat
sebuah kelompok dimana di dalamnya terdapat beberapa sarana dan
prasarana yang mendukung untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai
dengan visi dan misi perusahaan.
Menurut Siagian (2014:66) mengemukakan bahwa lingkungan kerja
adalah lingkungan dimana para karyawan melakukan pekerjaannya
sehari-hari. Secara garis besar, lingkungan kerja terdapat dua jenis
yaitu: Lingkungan kerja fisik, dan Lingkungan kerja non fisik.
Menurut Afandi (2016:61) lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada
di lingkungan para karyawan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas seperti temperatur, kelembaban, ventilasi,
penerangan, kegaduhan, kebersihan tempat kerja dan memada tidaknya
alat-alat perlengkapan kerja. Lingkungan kerja dapat didefinisikan
sebagai keseluruhan alat perkakas yang dihadapi, lingkungan sekitarnya
dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, sebagai pengaruh kerjanya
baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.
Gomes (2014:89) the work environment is a process work where the
environment is mutual interact according to certain patterns, and each
of them has a characteristic or certain values regarding the
organization that will not be separated from the environment where the
organization is located, and the human being who is the center
everything

Pengertian Produktifitas


Menurut Sutrisno (2014) produktivitas adalah ukuran efisiensi
produktif suatu perbandingan antara hasil keluaran dan masukan. Masukan
dalam hal ini sering dibatasi tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam
kesatuan fisik, bentuk dan nilai.
Menurut Kusrianto (Sutrisno, 2014) menyatakan bahwa produktivitas
adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran satu tenaga kerja
per satuan waktu. Yang dimaksud peran serta tenaga kerja disini adalah
penggunaan sumber daya manusia serta efektif dan efisien.
Berdasarkan kedua uraian pendapat tersebut maka dapat disimpulkan
produktivitas adalah perbandingan antara jumlah yang dihasilkan selama
produksi dan jumlah setiap sumber yang dipergunakan selama produksi

Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Transformasional dengan Loyalitas Karyawan


Loyalitas karyawan kepada perusahaan merupakan kesetiaan atau
bentuk dari keterikatan emosi yang mendalam terhadap perusahaan akibat
adanya kepuasan terhadap kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan
kepadanya. Poerwopoespito (2004), menyebutkan bahwa loyalitas kepada
pekerjaan tercermin pada sikap karyawan yang mencurahkan kemampuan dan
keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin
serta jujur dalam bekerja. Poerwopoespito (2005), juga menjelaskan bahwa
sikap karyawan sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah
loyal.
Setiap perusahaan memiliki visi dan misi yang ingin dicapainya.
Pencapaian visi dan misi tersebut dilakukan dengan menyusun berbagai
tugas dan peran yang membentuk sebuah struktur organisasi. Dalam struktur
suatu organisasi pasti memiliki pemimpin guna mengarahkan dan mengatur
sumber daya yang ada agar tujuan organisasi tercapai. Pendekatan seorang
atasan kepada bawahannya dalam memimpin sebuah organisasi tercermin
dalam gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan seorang atasan yang
berbeda di setiap organisasi menyebabkan perbedaan hasil yang dicapai oleh
masing-masing organisasi.
Dalam pembentukan loyalitas kerja diperlukan adanya kesadaran diri
individu, baik langsung atau tidak langsung, yang didukung oleh berbagai
faktor. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan salah satu faktor
penentu loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Sense of power, merupakan
wujud kepemimpinan transformasional dalam menciptakan pemberdayaan
karyawan. Pemberdayaan merupakan kebutuhan instrinsik dari dalam
individu untuk memiliki kebebasan membuat keputusan (self-determination)
dan merasa yakin pada efektifitas diri (self-efficacy) (Spreitzer, 1997).
Melalui konsep ini, bawahan diberikan tugas dan wewenang yang lebih
besar dalam pengambilan keputusan. Dengan keyakinannya, bawahan akan
memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian prestasi organisasi dan
berperilaku yang lebih efektif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Reward


Menurut Rivai (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi reward terbagi
menjadi dua yaitu, lingkungan eksternal dan internal. Lingkungan eksternal
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi reward dan berasal dari luar
perusahaan, seperti pasar tenaga kerja, kondisi ekonomi, peraturan pemerintah,
dan serikat pekerja, sedangkan untuk lingkungan internal berkaitan dengan hal-
hal didalam perusahaan yang turut memengaruhi reward tersebut.
1) Pasar tenaga kerja
Pasar tenaga kerja mempengaruhi pemberian reward dalam dua cara, yang
pertama tingkat persaingan tenaga kerja sebagian menentukan batas rendah
atau floor tingkat pembayaran. Tingkat pembayaran suatu perusahaan yang
terlalu rendah, tenaga kerja yang memenuhi syarat tidak akan bersedia
bekerja diperusahaan itu. Kedua, pada saat yang sama, mereka menekan
pengusaha untuk mencari alternatif, seperti penyediaan tenaga kerja asing,
yang harganya mungkin lebih rendah, atau teknologi yang mengurangi
kebutuhan tenaga kerja.
2) Kondisi ekonomi
Salah satu aspek yang juga mempengaruhi reward sebagai salah satu faktor
eksternal adalah kondisi-kondisi ekonomi industri, terutama derajat tingkat
persaingan, yang mempengaruhi kesanggupan untuk membayar perusahaan
itu dengan gaji tinggi.
3) Peraturan pemerintah
Pemerintah secara langsung mempengaruhi tingkat reward melalui
pengendalian upah dan petunjuk yang melarang peningkatan dalam reward
untuk para pekerja tertentu pada waktu tertentu, dan hukum yang menetapkan
tingkat tarif upah minimum, gaji, pengaturan jam kerja dan mencegah
diskriminasi. Pemerintah juga melarang perusahaan mempekerjakan pekerja
anak-anak dibawah umur (yang telah ditetapkan).
4) Serikat pekerja
Pengaruh eksternal penting lain pada suatu program reward kerja adalah
serikat kerja. Kehadiran serikat pekerja diperusahaan sektor swasta
diperkirakan meningkat upah 10 sampai 15 persen dan menaikkan tunjangan
sekitar 20 sampai 30 persen. Perbedaan upah antara perusahaan yang
mempunyai serikat pekerja dengan yang tidak mempunyai serikat pekerja
tampak paling besar selama periode resesi dan paling kecil selama periode
inflasi.
5) Anggaran tenaga kerja
Anggaran tenaga kerja secara normal identik dengan jumlah uang yang
tersedia untuk reward karyawan tahunan. Tiap-tiap unit perusahaan
dipengaruhi oleh ukuran anggaran tenaga kerja. Suatu anggaran perusahaan
tidak secara normal menyatakan secara tepat jumlah uang yang dialokasikan
ke masing-masing karyawan melainkan berapa banyak yang tersedia untuk
unit atau divisi.
6) Siapa yang membuat keputusan reward
Kita lebih mengetahui siapa yang membuat keputusan reward dibanding
sekitar beberapa faktor lain, tetapi masalah ini bukan suatu hal sederhana.
Keputusan atas berapa banyak yang harus dibayar, sistem apa yang dipakai,
manfaat apa untuk ditawarkan, dan sebagainya, dipengaruhi dari bagian atas
hingga dibawah perusahaan

Gaya Kepemimpinan Transformasional


Kepemimpinan merupakan kemampuan individu untuk
mempengaruhi, memotivasi dan memungkinkan pengikut untuk
memberikan kontribusi terhadap efektivitas dan kesuksesan organisasi
(House et all., 1999).
Menurut Bass (1985) dan Yukl (1994 : 297) tingkat sejauh mana
seorang pemimpin disebut transformasional terutama diukur dalam
hubungannya dengan efek kepemimpinan tersebut terhadap para
pengikut. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa
adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap
pemimpin tersebut dan mereka merasa termotivasi untuk melakukan lebih
dari pada yang awalnya diharapkan oleh mereka.
Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional telah
diformulasikan oleh Burns Yukl, Selanjutnya Burns menjelaskan
kepemimpinan transformasional sebagai sebuah proses yang padanya para
pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan
motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin tersebut mencoba
menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita cita
yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan dan
kemanusiaan bukan didasarkan atas emosi, seperti keserakahan,
kecemburuan dan kebencian.
Menurut Keller (1992) mengemukakan bahwa Kepemimpinan
Transformational adalah sebuah gaya kepemimpinan yang mengutamakan
pemenuhan terhadap tingkatan tertinggi dari hirarki maslow yakni
kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri. Kepemimpinan
transformasional inilah yang sungguh-sungguh diartikan sebagai
kepemimpinan yang sejati karena kepemimpinan ini sungguh bekerja
menuju sasaran pada tindakan mengarahkan organisasi kepada suatu
tujuan yang tidak pernah diraih sebelumnya. Para pemimpin secara riil
harus mampu mengarahkan organisasi menuju arah baru (Locke, 1997).
Sedangkan menurut O’Leary (2001) “Kepemimpinan
transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh
seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan
memiliki kinerja melampaui status dan mencapai serangkaian sasaran
organisasi yang sepenuhnya baru”. Tjiptono (2002: 84) mendefinisikan
kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang menciptakan visi
dan lingkungan yang memotivasi para karyawan untuk berprestasi melampaui
harapan. Kepemimpinan transformasional juga didefinisikan sebagai
kepemimpinan yang mencakup upaya perubahan organisasi (sebagai lawan
kepemimpinan yang dirancang untuk mempertahankan status quo).
Kepemimpinan transformasional yaitu pemimpin yang
mencurahkan perhatiannya kepada persoalan- persoalan yang dihadapi
oleh para pengikutnya dan kebutuhan pengembangan dari masing-masing
pengikutnya dengan cara memberikan semangat dan dorongan untuk
mencapai tujuannya (Robbin,2007:473).

    Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan


    Pambudi juga menambahkan bahwa lima (5) faktor yang menjadi
    tolok ukur sumber daya manusia yang mempunyai loyalitas atau
    komitmen (Utomo, 2002, p.17), yaitu:
    a. Karyawan tersebut berada di perusahaan tertentu;
    b. Karyawan tersebut mengenal seluk beluk bisnis perusahaannya
    maupun para pelanggannya dengan baik.
    c. Karyawan tersebut turut berperan dalam mempertahankan
    hubungan dengan pelanggan yang menguntungkan bagi
    perusahaannya;
    d. Karyawan tersebut merupakan aset tak berwujud yang tidak dapat
    ditiru oleh para pesaing; Karyawan tersebut mempromosikan
    perusahaannya, baik dari sudut produk, layanan, sebagai tempat
    kerja yang ideal maupun keunggulan kinerja dan masa depan yang
    lebih baik.
    Sedangkan menurut Steers dan Porter (1983) menyatakan bahwa
    timbulnya loyalitas kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor :
    a. Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
    tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras, dan sifat
    kepribadian
    b. Karakteristik pekerjaan, meliputi tantangan kerja, stres kerja,
    kesempatan untuk berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
    tugas, umpan balik tugas, dan kecocokan tugas
    c. Karakteristik desain perusahaan, yang dapat dilihat dari
    sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
    pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai
    tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan,
    ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan
    d. Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan, yaitu internalisasi
    individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan pekerjaan
    dalam perusahaan tersebut meliputi sikap positif terhadap
    perusahaan, rasa percaya terhadap perusahaan sehingga
    menimbulkan rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi yang
    dapat dipenuhi oleh perusahaan.

    Tujuan Penghargaan/Reward


    Menurut Sedarmayanti (2017) tujuan diberikannya reward oleh
    perusahaan kepada karyawannya adalah sebagai berikut:
    1) Menarik SDM
    Hendaknya setiap penghargaan kepada pegawai dapat menimbulkan
    ketertarikan/hasrat bagi pegawai untuk memperolehnya.
    2) Memotivasi SDM
    Penghargaan pegawai harus memotivasi pegawai untuk dapat bekerja lebih
    baik, lebih bersemangat dan lebih berkinerja tinggi.
    3) Mengembangkan SDM
    Penghargaan pegawai hendaknya dapat memberi peluang kepada pegawai
    untuk berkembang, berkekmbang kemampuan dan wawasannya, berkembang
    kariernya dan berkembang pendapatannya.
    4) Memuaskan SDM
    Hendaknya setiap penghargaan dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi
    pegawai yang memperolehnya.
    5) Memelihara SDM
    Penghargaan pegawai hendaknya dapat mempertahankan keberadaan
    pegawai pada organisasi tertentu sehingga tingkat turn over atau keluar dari
    organisasi rendah

    Loyalitas Karyawan


    Secara umum loyalitas dapat diartikan dengan kesetiaan,
    pengabdian dan kepercayaan yang diberikan atau ditujukan kepada
    seseorang atau lembaga, yang di dalamnya terdapat rasa cinta dan
    tanggung jawab untuk berusaha memberikan pelayanan dan perilaku
    terbaik (Rasimin, 1988). Siswanto (1989) juga berpendapat hal yang sama
    bahwa loyalitas adalah tekad dan kesanggupan individu untuk mentaati,
    melaksanakan, mengamalkan peraturan-peraturan dengan penuh kesadaran
    dan sikap tanggung jawab. Hal ini dibuktikan dengan sikap dan tingkah
    laku kerja yang positif.
    Hasibuan (2005), mengemukakan bahwa loyalitas atau kesetiaan
    merupakan salah satu unsur yang digunakan dalam penilaian karyawan
    yang mencakup kesetiaan terhadap pekerjaannya, jabatannya dan
    organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga
    dan membela organisasi didalam maupun diluar pekerjaan dari rongrongan
    orang yang tidak bertanggung jawab. Poerwopoespito (2004),
    menyebutkan bahwa loyalitas kepada pekerjaan tercermin pada sikap
    karyawan yang mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki,
    melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin serta jujur dalam
    bekerja. Poerwopoespito (2005), juga menjelaskan bahwa sikap karyawan
    sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah loyal. Sikap ini
    diantaranya tercermin dari terciptanya suasana yang menyenangkan dan
    mendukung ditempat kerja, menjaga citra perusahaan dan adanya
    kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang.
    Lebih lanjut, terdapat beberapa ciri karyawan yang memiliki
    loyalitas yang rendah diantaranya karena sifat karakternya (bawaan),
    kekecewaan karyawan, dan sikap atasan, serta perasaan negatif, seperti
    ingin meninggalkan perusahaan, merasa bekerja di perusahaan lain
    lebih menguntungkan, tidak merasakan manfaat, dan menyesali bergabung
    dengan perusahaan. Adapun karakteristik karyawan yang menunjukkan
    loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan diantaranya adalah : bersedia
    bekerja melebihi kondisi biasa, merasa bangga atas prestasi yang
    dicapai perusahaan, merasa terinspirasi, bersedia mengorbankan
    kepentingan pribadi, merasa ada kesamaan nilai dengan perusahaan.
    Menurut Pambudi, di masa lalu atau masa sebelumnya, loyalitas para
    karyawan hanya diukur dari jangka waktu lamanya karyawan tersebut bekerja
    bagi sebuah organisasi. Namun saat ini, ukuran loyalitas para karyawan telah
    sedikit bergeser ke arah yang lebih kualitatif, yaitu yang disebut sebagai
    komitmen. Komitmen itu sendiri dapat diartikan sebagai seberapa besar
    seseorang mencurahkan perhatian, pikiran dan dedikasinya bagi organisasi
    selama dia bergabung di dalam organisasi tersebut (Utomo, 2002, p.10).

      Sistem Penghargaan/Reward dari Perusahaan untuk Karyawan


      Menurut Sedarmayanti (2017) membagi reward ke dalam beberapa
      bentuk, yaitu sebagai berikut:
      1) Keadilan
      Model penghargaan organisasi dengan memberikan penghargaan kepada
      pegawai sesuai proporsi
      2) Kesamaan
      Model penghargaan organisasi dengan memberi penghargaan yang sama
      tanpa memandang kontribusi dan masing-masing individu
      3) Kebutuhan
      Model penghargaan organisasi dengan mendasarkan kebutuhan pegawai
      daripada kontribusinya

      Hubungan Kepuasan Kerja Terhadap Loyalitas Kerja


      Menurut Hasibuan (2011:73) Karyawan yang puas akan pekerjaan mereka akan berdampak
      positif bagi loyalitas perusahaan karena semangat dan komitmen kerja dapat tumbuh dari
      kepuasan karyawan tersebut. Kepuasan karyawan terhadap loyalitas pekerjaan mereka dapat
      dilihat dari beberapa indikator seperti kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap promosi,
      rekan kerja, dan atasan. Jika indikator tersebut terpuaskan karyawan akan mencintai pekerjaan
      mereka dan lebih setia dan loyal kepada perusahaan. Sebaliknya jika indikator tersebut tidak
      terpuaskan karyawan akan cenderung tidak menyukai pekerjaan mereka sehingga tidak akan
      optimal dan loyal saat bekerja dan memiliki kecenderungan lain untuk meninggalkan pekerjaan
      mereka suatu saat nanti. Hal ini sependapat dengan penelitian Ovinda, (2013) bahwa hubungan
      kepuasan kerja dengan loyalitas karyawan bersifat positif karena jika karyawan nyaman akan
      pekerjaannya maka akan timbul loyalitas

      Hubungan Leadership Terhadap Loyaitas kerja


      Kepemimpinan adalah kombinasi karakter atau kepribadian seorang individu yang mendorong
      individu tersebut untuk menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan, yang tanpa motivasi
      dari pemimpin, sulit untuk dicapai. Dalam organisasi, pemimpin memiliki gambaran jelas
      mengenai dimana posisi organisasi sekarang; kemana arah organisasi harus dijalankan; dan
      bagaimana organisasi menuju ke arah tersebut (Bertocci, 2009:6). Arah hubungan positif
      menunjukkan bahwa jika kepemimpinan dalam perusahaan sudah baik maka akan berdampak
      positif terhadap loyalitas pegawai. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh hasibuan
      (2013: 169) bahwa pelaksanaan kepemimpinan cenderung menumbuhkan kepercayaan,
      partisipasi, loyalitas, dan internal motivasi para bawahan dengan cara persuasif. Hal ini sesuai
      dengan penelitian terdahulu milik Kitriawaty (2017) yang menyatakan bahwa hubungan
      leadership berpengaruh signifikan terhadap loyalitas karyawan

      Dimensi Penghargaan/Reward


      Rewards dalam penelitian ini akan diukur menggunakan dimensi yang
      digunakan oleh Karami et al (2013) dengan dimensi rewards sebagai berikut:
      1) Financial Rewards
      Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
      uang atau finansial seperti gaji, bonus dan tunjangan.
      2) Inherent Rewards
      Adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk kebanggaan
      dan rasa empati dari pihak perusahaan.
      3) Non-Financial Rewards
      Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
      bukan uang seperti wewenang, apresiasi dan penunjukan pegawai sebagai
      perwakilan perusahaan

      Motivasi Terhadap Loyalitas Kerja


      Menurut Robbins (2013:198), bila seseorang termotivasi, ia akan mencoba sekuat tenaga
      dalam berusaha. Tingkat upaya yang tinggi akan mengantar kehasil loyalitas yang
      menguntungkan dan bermanfaat bagi organisasi tersebut. Maka dapat disimpulkan motivasi
      yang tinggi dapat mempengaruhi tingginya loyalitas karyawan. Motivasi dengan loyalitas
      karyawan memiliki hubungan positif hal tersebut didukung oleh penelitian dari ihwan (2017)
      dari motivasi yang diberikan menjadikan dorongan untuk bekerja lebih baik sehingga
      menghasilkan SDM yang baik dan secara tidak langsung akan meningkatkan loyalitar
      karyawan

      Indikator Loyalitas Kerja Karyawan


      Loyalitas menurut Saydam dalam Kurniawan ( 2015;78) adalah sebagai berikut:
      1) Ketaatan atau kepatuhan
      Ketaatan yaitu kesanggupan seorang pegawai untuk menaati segala peraturan kedinasan
      yang berlaku dan metaati perintah kedinasan yang berlaku dan mentaati perintah dinas
      yang diberikan atasan yang berwenang, serta sanggup tidak melanggar larangan yang
      ditentukan.
      2) Bertanggung jawab
      Bertanggung jawab ditandai dengan kesanggupann seorang karyawan dalam
      menyelesesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan baik, tepat waktu serta
      berani mengambil resiko untuk keputusan yang dibuat atau tindakan yang dilakukan.
      3) Pengabdian
      Yaitu sumbangan pemikiran dan tenaga serta ikhlas kepada perusahaan.
      4) Kejujuran
      Berarti adanya keselarasan antara yang terucap atau perbuatan dengan kenyataan

      Pengertian Reward


      Menurut Fahmi (2016) reward merupakan bentuk pemberian balas jasa
      yang diberikan kepada seseorang karyawan atas prestasi pekerjaan yang
      dilakukan, baik berbentuk finansial maupun non finansial.
      Menurut Siagian (2015) reward adalah pekerjaan itu sendiri, upah,
      peluang promosi, pengawasan, dan rekan kerja. reward juga merupakan usaha
      atau cara untuk menumbuhkan pengakuan atau perasaan diterima didalam
      organisasi, yang meliputi non finansial dan finansial.
      Menurut Satrohadiwirya (2010) yang mengatakan penghargaan
      merupakan imbalan balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada para
      tenaga kerja, karena tenaga kerja tersebut telah memberikan sumbangan tenaga
      dan pikiran demi kemajuan perusahaan guna mencapai tujuan yang telah
      ditetapkan.
      Berdasarkan definisi para ahli diatas, reward adalah ganjaran, hadiah, atau
      imbalan. Dalam konsep manajamen reward merupakan salah satu alat untuk
      meningkatkan motivasi para pegawai, metode ini bisa juga mengasosiasikan
      perbuatan dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang dan
      biasanya akan membuat mereka melakukan suatu perbuatan yang berulang-
      ulang, selain motivasi reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi
      usahanya untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi yang telah dapat
      dicapainya. Maka dapat disimpulkan bahwa reward adalah segala imbalan balas
      jasa yang diberikan oleh perusahaan atas kontribusi karyawan

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja

      Menurut Steers dan Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013;30) bahwa loyalitas di pengaruhi
      empat faktor:

      1. Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan, prestasi
        yang dimiliki, ras dan beberapa sifat kepribadian.
      2. Pekerjaan, berupa tantangan kerja, job stress, kesempatan berinteraksi sosial, job
        enrichment, identifikasi tugas, umpan balik tugas dan kecocokan tugas.
      3. Karakteristik desain perusahaan, menyangkut pada internal perusahaan itu yang dapat
        dilihat dari desentralisasi, tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
        keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi dengan tanggung
        jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan.
      4. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan, meliputi sikap positif terhadap perusahaan,
        rasa percaya pada sikap positif terhadap perusahaan, rasa aman

      Konsep Loyalitas


      Menurut Steers & Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013) ada beberapa konsep loyalitas,
      yaitu:

      1. Loyal Kepada Perusahaan
        Loyal kepada perusahaan merupakan konsep loyal yang sangat popular. Loyalitas seperti
        ini menuntut karyawan untuk terus bekerja di perusahaan dalam kondisi apapun. Oleh
        karena itu, orang yang pindah kerja sering di anggap tidak loyal terhadap perusahaan.
      2. Loyal Kepada Pekerjaan
        Di sini seorang karyawan tidak loyal terhadap perusahaan, tapi loyal terhadap pekerjaan
        yang ia kerjakan. ia akan bekerja dengan gigih demi pekerjaannya. Karyawan seperti ini di
        anggap sebagai asset perusahaan yang berharga karena ia akan mengerjakan pekerjaan yang
        menjadi job desc-nya dengan sebaik-baiknya.
      3. Loyal Kepada Visi, Misi Dan Tujuan Perusahaan
        Dalam bekerja kita harus tahu visi, misi dan tujuan perusahaan serta loyal terhadapnya.
        Bukan hanya job desc-nya saja. Konsep loyalitas seperti ini membutuhkan pemahaman
        sepenuhnya bahwa yang kita kerjakan bukan saja harus selesai dengan baik, tapi juga harus
        sejalan dengan tujuan perusahaan.

      Jenis-jenis motivasi

      1. Motivasi Positif (Insentif Positif)
        Maksudnya manajer memotivasi (merangsang) karyawan dengan memberikan
        hadiah (reward) kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar atau
        proses untuk mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita
        inginkan dengan memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah
        (reward.
      2. Motivasi Negatif (Insentif Negatif)
        Maksudnya manajer memotivasi karyawan dengan standar mereka akan
        mendapatkan hukuman atau proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau
        melakukan sesuatu yang kita inginkan tetapi teknik dasar yang digunakan
        adalah lewat kekuatan ketakutan

      Indikator Kepuasan Kerja


      Menurut Luthans (2011:141), kepuasan kerja memiliki 6 indikator yang dapat mempengaruhi,
      yaitu:

      1. Pekerjaan itu sendiri
        Karyawan akan lebih merasa puas terhadap pekerjaannya apabila mereka diberikan tugas
        yang menarik dan menantang serta kesempatan untuk belajar. Dalam research yang
        ditemukan oleh penulis, kepuasan kerja juga berhubungan dengan oportunitas yang sama,
        lingkungan yang ramah, dan perilaku anti-harassment dalam suatu organisasi.
      2. Gaji Uang
        Digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Uang juga dapat dijadikan sebagai
        alat untuk memperoleh kepuasan tingkat atas. Gaji dilihat oleh karyawan sebagai
        gambaran bagaimana manajemen mengevaluasi kontribusi mereka terhadap organisasi.
      3. Promosi Secara tradisional
        promosi adalah cara seseorang menaikan posisi mereka dalam hirarki suatu organisasi.
        Promosi memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kepuasan kerja dikarenakan bentuk
        promosi berbedabeda, perbedaan tersebut dapat dicontohkan dengan promosi yang
        diterima orang berdasarkan senioritas akan berbeda dengan promosi yang didasarkan oleh
        prestasi atau kinerja.
      4. Supervisi atasan
        Supervisi dibagi menjadi 2 dimensi, yang pertama adalah Employee Centered lebih
        memfokuskan pada interaksi supervisor kepada karyawan. Interaksi yang dimaksud dalam
        dimensi ini adalah bagaimana supervisor memeriksa kondisi karyawan dalam melakukan
        tugas, memberikan saran dan bantuan, serta berkomunikasi dalam personal ataupun resmi.
        Dimensi kedua dalam supervisi adalah partisipasi yang dapat dilihat dari cara supervisor
        melibatkan karyawan dalam beberapa pengambilan keputusan.

      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


      Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Hasibuan, (2009;203)
      yaitu:

      1. Balas jasa yang adil dan layak
      2. Penempatan yang tepat sesuai keahlian
      3. Berat ringannya pekerjaan
      4. Suasana dan lingkungan pekerjaan
      5. Peralatan yang menjangkau pelaksanaan pekerjaan
      6. Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya
      7. Sifat pekerjaan monoton atau tidak

      Teori Kepemimpinan


      Dalam Wibowo (2016;107) ada beberapa teori tentang kepemimpinan yang dipaparkan,
      diantaranya adalah:

      1. Teori sifat
        Trait theories atau teori sifat merupakan teori yang berusaha mengidentifikasi karakteristik
        spesifik (fisik, mental, kepribadian) berkaitan dengan keberhasilan kepemimpinan menurut
        Ghibson dik (1995:78). Terdapat tiga karakteristik berkaitan dengan efektivitas
        kepemimpinan adalah:
        a. Personality (kepribadian): tingkat energy, toleransi terhadap stress, percaya diri,
        kedewasaan emosional, dan integritas.
        b. Motivation (motivasi): orientasi kekuasaan tersosialisasi, kebutuhan kuat untuk
        berprestasi, memulai diri, membujuk.
        c. Ability (kemampuan): keterampilan interpersonal, keterampilan kognitif, keterampilan
        teknis.
        • Teori perilaku
          Behavioral theories atau teori perilaku kepemimpinan tumbuh sebagai hasil dari
          ketidakpuasan terhadap trait theories atau teori sifat karena dinilai tidak dapat menjelaskan
          efektivitas kepemimpinan dan gerakan hubungan antara manusia. Teori ini percaya bahwa
          perilaku pemimpin secara langsung mempengaruhi efektivitas kelompok. Pemimpin dapat
          menyesuaikan gaya kepemimpinannya untuk mempengaruhi orang lain dengan efektif.