Menurut Hamzah Uno (2016) motivasi adalah dorongan dasar yang
menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
yang menggerakkan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan
dorongan dalam dirinya.
Menurut Hasibuan (2013) motivasi berasal dari kata latin movereyang berarti
dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation)dalam manajemen hanya
ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi
mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar
mau bekerja sama secara produktif sehingga tercapai tujuan yang ditentukan.
Menurut Gibson (2013) motivasi kerja adalah kekuatan yang mendorong
seseorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku karyawan.
Menurut Farida & Hartono (2016) motivasi merupakan daya penggerak yang
menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja
efektif dan terintegrasi dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan,
untuk mencapai kepuasan itu sendiri dibutuhkan alat motivasi atau daya penggerak
yang diberikan kepada karyawan salah satunya yaitu penghargaan (reward). Farida
& Hartono (2016) Menyatakan alat-alat motivasi (daya perangsang) yang diberikan
kepada karyawan dapat berupa :
1) Material incentive adalah motivasi yang bersifat materiil sebagai imbalan
prestasi yang diberikan kepada karyawan. Yang termasuk material incentive
adalah yang berbentuk uang dan barang-barang.
2) Nonmaterial incentive adalah motivasi yang tidak berbentuk materi. Yang
termasuk nonmaterial incentive adalah penempatan yang tepat, pekerjaan yang
terjamin, piagam penghargaan, bintang jasa, perlakuan yang wajar, dan
sejenisnya.
Tipe-Tipe Kepemimpinan
Menurut Terry dalam Suwatno dan Priansa (2016) tipe-tipe kepemimpinan adalah sebagai
berikut:
- Kepemimpinan pribadi (personal leadership)
Dalam tipe ini pemimpin mengadakan hubungan langsung dengan bawahannya, sehingga
timbul hubungan pribadi yang intim. - Kepemimpinan non-pribadi (non-personal leadership)
Dalam tipe ini pimpinan tidak mengadakan hubungan langsung dengan bawahannya,
sehingga antara atasan dan bawahan tidak timbul kontak pribadi. Hubungan antara
pimpinan dengan bawahannya melalui perencanaan dan instruksi-instruksi tertulis. - Kepemimpinan otoriter (authoritarian leadership)
Dalam tipe ini pimpinan memperlakukan bawahannya secara sewenang-wenang, karena
menganggap diri orang paling berkuasa, bawahannya digerakan dengan jalan paksa,
sehingga para pekerja dalam melakukan pekerjaannya bukan karena ikhlas melakukan
pekerjaannya, melainkan karena takut. - Kepemimpinan kebapakan (paternal leadership)
Dalam tipe ini pimpinan memperlakukan bawahannya seperti anak sendiri, sehingga para
bawahannya tidak berani mengambil keputusan, segala sesuatu yang pelik diserahkan
kepada bapak pimpinan untuk menyelesaikannya. Dengan demikian bapak sangat banyak
pekerjaannya yang menjadi tanggung jawab anak buahnya. - Kepemimpinan demokratis (democratic leadership)
Dalam tipe ini pimpinan selalu mengadakan musyawarah dengan para bawahannya untuk
menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya yang sukar, sehingga para bawahannya merasa
dihargai pikiran-pikirannya dan pendapat-pendapatnya serta mempunyai pengalaman yang
baik di dalam menghadapi segala persoalan yang rumit. Dengan demikian para bawahan
bergeraknya itu bukan karena rasa paksaan, tetapi karena rasa tanggung jawab yang timbul
karena kesadaran atas tugas-tugasnya. - Kepemimpinan bakat (indigenous leadership) Dalam tipe ini pimpinan dapat menggerakan
bawahannya karena mempunyai bakat untuk itu, sehingga para bawahannya senang
mengikutinya, jadi tipe ini lahir karena pembawannya sejak lahir seolah-olah ditakdirkan
untuk memimpin dan diikuti oleh orang lain. Dalam tipe ini pimpinan tidak akan susah
menggerakkan bawahannya, karena para bawahannya akan selalu menurut akan
kehendaknya
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengalaman Kerja
Menurut Ismanto & Nano (2011) Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pengalaman tidaknya seorang karyawan sebagai indikator
pengalaman kerja, yaitu lama waktu atau masa kerja, tingkat pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki, dan penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.
1) Lama kerja atau masa kerja
Suatu ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh
seseorang karyawan dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan, dan telah
melaksanakan dengan baik.
2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
Suatu pengetahuan menunjuk pada konsep, prinsip, prosedur,
kebijakan, atau informasi lain yang dibutuhkan karyawan, pengetahuan juga
mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada
tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada
kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu
tugas atau pekerjaan.
3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
Tingkat penguasaan seorang karyawan dalam melaksanakan aspek-
aspek teknis peralatan dan teknik pekerjaan.
4) Jenis pekerjaan
Semakin banyak jenis tugas yang dilaksanakan seorang karyawan maka
umumnya orang tersebut akan memperoleh hasil pelaksanaan tugas yang
lebih baik
Pengertian Leadership atau Kepemimpinan
Yamin dan Maaisah (2010; 74) Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi yang
dilakukan oleh seseorang dalam mengolah anggota untuk mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan menurut Wukir (2013; 134) kepemimpinan merupakan seni memotivasi dan
mempengaruhi sekelompok orang untuk bertindak mencapai tujuan
Pengukuran Pengalaman kerja
Pengalaman kerja tidak hanya dari lamanya bekerja karyawan pada bidang
pekerjaan tertentu saja, akan tetapi dapat dilihat dari keterampilan, keahlian,
kemampuan, yang dimiliki oleh pekerja tersebut. Lamanya seseorang bekerja
pada pekerjaan yang sama atau sejenis akan mengakibatkan lebih tahu dan
terampil dalam melaksanakan pekerjannya (Hardiansah 2014).
1) Gerakan yang mantap dan lancar
Setiap karyawan yang sudah berpengalaman akan melakukan gerakan
yang mantap dan bekerja tanpa disertai keragunan.
2) Gerakan berirama
Gerakan berirama merupakan terciptanya dari kebiasaan dalam
melakukan pekerjaan sehari-hari.
3) Lebih cepat menanggapi tanda-tanda
Merupakan tanda-tanda seperti akan terjadinya kecelakaan kerja. Dapat
mengetahui atau timbul kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya. Karena
didukung oleh pengalaman dapat mengetahui akan terjadinya kesulitan dan
siap menghadapinya.
4) Bekerja dengan tenang.
Seorang karyawan yang berpengalaman akan memiliki rasa percaya
diri yang cukup besa
Aspek-aspek Loyalitas Karyawan
Menurut Siswanto (2013), aspek-aspek loyalitas karyawan adalah sebagai
berikut :
- Taat pada peraturan
Setiap kebijakan yang diterapkan dalam organisasi untuk
memperlancar dan mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh
manajemen organisasi ditaati dan dilaksanakan dengan baik. Keadaan
ini akan menimbulkan kedisiplinan yang menguntungkan organisasi
baik intern maupun ekstern. - Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi
Karakteristik pekerjaan dan pelaksanaan tugasnya mempunyai
konsekuensi yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan
untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan kesadaran akan setiap
resiko pelaksanaan tugasnya akan memberikan pengertian tentang
keberanian dan kesadaran bertanggungjawab terhadap resiko atas apa
yang telah dilaksanakan. - Kemauan untuk bekerja sama
Bekerja sama dengan orangorang dalam suatu kelompok akan
memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin
dicapai oleh orangorang secara invidual. - Rasa memiliki
Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap organisasi akan
membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan
bertanggung jawab terhadap organisasi sehingga pada akhirnya akan
menimbulkan loyalitas demi tercapainya tujuan organisasi. - Hubungan antar pribadi
Karyawan yang mempunyai loyalitas kerja tinggi mereka akan
mempunyai sikap fleksibel ke arah tata hubungan antara pribadi.
Hubungan antara pribadi ini meliputi hubungan sosial diantara
karyawan, hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan,
situasi kerja dan sugesti dari teman kerja. - Kesukaan terhadap pekerjaan
Organisasi harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya
tiap hari datang untuk bekerjasama sebagai manusia seutuhnya dalam
hal melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati
sebagai indikatornya bisa dilihat dari : keunggulan karyawan dalam
bekerja, karyawan tidak pernah menuntut apa yang diterimanya diluar
gaji pokok
Pengertian Pengalaman Kerja
Menurut Marwansyah (2014) pengalaman kerja adalah suatu pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dimiliki pegawai untuk mengemban
tanggungjawab dari pekerjaan sebelumnya, indikator dari pengalaman kerja
adalah : pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan tanggungjawab.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman kerja
merupakan suatu kemampuan yang dimiliki karyawan yang didapatkan dari
lamanya masa kerja karyawan tersebut.
Menurut Ismanto (2011) pengalaman kerja merupakan proses
pembentukan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena
keterlibatan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan
Steers & Porter (1983) menyatakan bahwa timbulnya loyalitas kerja
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
- Karakteristik pribadi yang meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras, dan sifat kepribadian - Karakteristik pekerjaan, meliputi tantangan kerja, stres kerja,
kesempatan untuk berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
tugas, umpan balik tugas, dan kecocokan tugas - Karakteristik desain perusahaan/organisasi, yang dapat dilihat dari
sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam
pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai
tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan, ketergantungan
fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan - Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan/organisasi, yaitu
internalisasi individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan
pekerjaan dalam perusahaan tersebut meliputi sikap positif terhadap
perusahaan, rasa percaya terhadap perusahaan sehingga menimbulkan
rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi yang dapat dipenuhi
oleh perusahaan.
Indikator Loyalitas Karyawan
Sahar (2019) mengemukakan bahwa indikator loyalitas yang digunakan
untuk menentukan loyalitas anggota organisasi adalah keinginan untuk tetap
bertahan pada organisasi yang ditandai dengan :
- Penerimaan penuh terhadap nilai-nilai organisasi yang ditandai dengan
menerima apapun yang menjadi kebijakan organisasi. - Setia pada perusahaan.
- Keinginan untuk tetap bertahan dalam organisasi.
- Keinginan untuk berusaha semaksimal mungkin ditandai dengan
bersedia bekerja melebihi kondisi biasa.
Pengertian Loyalitas Karyawan
Loyalitas berasal dari kata loyal yang berarti setia. Loyalitas dalam
organisasi dapat diartikan sebagai kesetiaan seorang karyawan terhadap
organisasi. Menurut Andromike (2014: 3) loyalitas karyawan adalah sikap dan
perbuatan mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, melaksanakan
tugas dengan tanggung jawab serta jujur dalam bekerja, menciptakan hubungan
kerja yang baik dengan atasan, rekan kerja dengan bawahan dalam
menyeleseaikan tugas, menciptakan suasana yang mendukung dan menyenangkan
saat ditempat kerja dan adanya kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang
panjang. Utomo (2010) mengemukakan bahwa loyalitas dapat dikatakan sebagai
kesetiaan seseorang terhadap suatu hal yang bukan hanya berupa kesetiaan fisik
semata, namun lebih pada kesetiaan non fisik seperti pikiran dan perhatian.
Loyalitas para karyawan dalam suatu organisasi itu mutlak diperlukan demi
kesuksesan organisasi itu sendiri. Menurut Reichheld (2012), semakin tinggi
loyalitas para karyawan di suatu organisasi, maka semakin mudah bagi organisasi
itu untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya
oleh pemilik organisasi. Begitu pula sebaliknya, bagi organisasi yang loyalitas
para karyawannya rendah, maka semakin sulit bagi organisasi tersebut untuk
mencapai tujuan-tujuan organisasinya yang telah ditetapkan sebelumnya oleh para
pemilik organisasi.
Jenis-jenis Motivasi Kerja
Hasibuan (2017) menyatakan bahwa ada dua jenis motivasi kerja, yaitu
motivasi positif dan motivasi negatif.
- Motivasi positif (insentif positif)
Motivasi positif maksudnya pemimpin memotivasi (merangsang) bawahan
dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas
prestasi standar. Dengan motivasi positif, semangat kerja bawahan akan
meningkat karena umumnya manusia senang menerima yang baikbaik
saja. - Motivasi negatif (insentif negatif)
Motivasi negatif maksudnya pemimpin memotivasi bawahan dengan
standar mereka akan mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini
semangat bekerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat
karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu panjang dapat
berakibat kurang baik.
Tujuan Motivasi Kerja
Menurut Hasibuan (2017) tujuan dari motivasi kerja adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
- Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
- Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan
- Meningkatkan kedisiplinan karyawan
- Mengefektifkan pengadaan karyawan
- Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
- Meningkatkan loyalitas, kreativitas dan partisipasi karyawan
- Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
Indikator Motivasi Kerja
Hasibuan (2008:157) menyatakan bahwa motivasi kerja pegawai
dipengaruhi oleh kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan dan keselamatan,
kebutuhan sosial dan kebutuhan akan penghargaan diri. Kemudian menurut Medi
Prakoso (2015) dari faktor tersebut diturukanlah indikator-indikator untuk
mengetahui tingkat motivasi pada karyawan, yaitu:
- Kebutuhan rasa aman dan keselamatan
Ditunjukan dengan fasilitas keamanan dan keselamatan kerja yang
diantaranya jaminan sosial tenaga kerja, dana pensiun, asuransi kesehatan,
asuransi kecelakaan dan perlengkapan keselamatan kerja. - Kebutuhan fisik
Ditunjukan dengan pemberian gaji, pemberian bonus, uang makan, uang
transport, fasilitas perumahaan dan sebagainya. - Kebutuhan akan penghargaan
Ditunjukan dengan pengakuan dan penghargaan berdasarkan
kemampuannya yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh
pegawai lain dan pimpinan terhadap prestasi kerja. - Kebutuhan sosial
Ditunjukan dengan melakukan interaksi dengan orang lain yang
diantaranya untuk diterima di kelompok dan kebutuhan untuk dicintai dan
mencintai
Pengertian Motivasi Kerja
Motivasi merupakan dorongan-dorongan individu untuk bertindak yang
menyebabkan orang tersebut berperilaku dengan cara tertentu yang mengarah
pada tujuan. Prinsip dasar motivasi adalah kemampuan (ability) dan motivasi
individu. Menurut prinsip tersebut, tidak ada tugas yang dapat dilaksanakan
dengan baik tanpa didukung oleh kemampuan untuk melaksanakannya.
Rivai (2011:837) mengemukakan bahwa motivasi merupakan serangkaian
sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang
spesifik sesuai dengan tujuan individu. Setiap orang yang bekerja mengharapkan
memperoleh kepuasan dari tempatnya bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja
merupakan hal yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki
tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam
diri setiap individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan
keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan.
Namun, kemampuan tidaklah mencukupi untuk menjamin tercapainya kinerja
terbaik. Individu harus memiliki keinginan (motivasi) untuk mencapai kinerja
terbaik (Setiawan dan Ghozali, 2006: 126).
Sedangkan pengertian motivasi lainnya dikemukakan oleh Hakim
(2006:167) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi
kinerja karyawan yaitu faktor motivasi dimana motivasi merupakan kondisi yang
menggerakan seseorang berusaha untuk mencapai tujuan atau mencapai hasil yang
diinginkan
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja
Menurut Nitisemito (1992:159) Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
terbentuknya suatu lingkungan kerja adalah sebagai berikut :
- Pewarnaan
Warna dapat berpengaruh terhadap karyawan didalam melaksanakan
pekerjaannya, namun tidak sedikit perusahaan yang kurang
memperhatikan masalah warna. Pewarnaan pada dinding atau tembok pada
ruang kerja hendaknya menggunakan warna yang lembut. Dengan
demikian karyawan akan merasa nyaman. - Penerangan
Penerangan dalam ruang kerja karyawan memegang peranan yang sangat
penting dalam meningkatkan semangat karyawan. Dengan adanya
penerangan yang cukup maka kegiatan-kegiatan operasional organisasi
akan berjalan dengan lancar sehingga karyawan akan menunjukkan hasil
kerja yang baik. - Udara
Suhu udara yang terlalu panas akan menurunkan semangat kerja karyawan
di dalam melaksanakan pekerjaannya. Maka dari itu perusahaan
diharapkan untuk memberikan udara yang cukup (tidak terlalu panas dan
tidak terlalu dingin) di dalam ruangan kerja karyawan, dengan adanya
pertukaran udara yang cukup maka karyawan akan selalu merasa segar dan
semangat untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung
jawabnya. - Suara Bising
Suara yang bising bisa sangat menganggu para karyawan dalam bekerja.
Suara bising tersebut dapat merusak konsentrasi kerja karyawan sehingga
kinerja karyawan menjadi tidak optimal. Maka dari itu setiap perusahaan
harus selalu berusaha untuk menghilangkan suara bising tersebut atau
paling tidak menekannya untuk memperkecil suara bising tersebut dengan
memperdengarkan musik yang bisa mengembalikan konsentrasi karyawan. - Ruang Gerak
Karyawan yang bekerja dalam suatu perusahaan hendaknya mendapatkan
tempat yang cukup untuk melaksanakan pekerjaannya. Karyawan tidak
mungkin dapat bekerja dengan maksimal jika tempat yang tersedia tidak
dapat memberikan kenyamanan. Dengan demikian ruang gerak untuk
tempat karyawan bekerja seharusnya direncanakan terlebih dahulu agar
para karyawan tidak terganggu di dalam melaksanakan pekerjaan. Menurut
Assauri (1993:33) mengemukakan bahwa: “Agar para karyawan dapat
leluasa bergerak dengan baik, maka ruangan gerak para karyawan perlu
diberikan ruangan yang memadai. Terlalu sempit ruang gerak akan
menghambat proses kerja para karyawan. Sebaliknya ruangan kerja yang
besar merupakan pemborosan ruangan”.
Dari pendapat di atas mengenai ruang gerak yang ideal adalah ruang yang
leluasa sehingga dapat membantu kelancaran kerja karyawan. Ruangan
yang sempit akan mengakibatkan lalu-lintas di tempat kerja menjadi
semrawut, sehingga karyawan akan kehilangan semangat dalam bekerja. - Keamanan
Rasa aman bagi karyawan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja
dan kinerja karyawan. Di sini yang dimaksud dengan keamanan yaitu
keamanan yang dapat dimasukkan ke dalam lingkungan kerja fisik. Jika di
tempat kerja tidak aman karyawan tersebut akan menjadi gelisah, tidak
tenang dan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya serta semangat
kerja karyawan tersebut akan mengalami penurunan. Oleh karena itu
sebaiknya suatu perusahaan terus berusaha untuk menciptakan dan
mempertahankan suasana aman tersebut, misalnya memasang kamera
CCTV di setiap sudut ruangan atau memperketat penjagaan dengan adanya
peran dari security. - Kebersihan
Lingkungan kerja yang bersih akan menciptakan keadaan disekitarnya
menjadi sehat. Oleh karena itu setiap perusahaan hendaknya selalu
menjaga kebersihan lingkungan kerja. Dengan adanya lingkungan kerja
yang bersih karyawan akan merasa senang sehingga kinerja karyawan
akan meningkat.
Jenis-jenis Lingkungan Kerja
Sedarmayanti (2001:21) mengemukakan bahwa ada 2 jenis lingkungan
kerja, yaitu:
- Lingkungan kerja fisik
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang
terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik
secara langsung maupun secara tidak langsung. - Lingkungan kerja non-fisik
Lingkungan kerja non-fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang
berkaitan dengan hubungsn kerja, baik hubungan dengan atasan maupun
hubungan dengan bawahan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan
bawahan
Indikator Lingkungan Kerja
Menurut Nitisemito (1992:159), indikator-indikator lingkungan kerja
terdiri dari:
- Tersedianya fasilitas untuk karyawan
Hal ini dimaksudkan bahwa peralatan yang digunakan untuk mendukung
kelancaran kerja lengkap dan memadai. Tersedianya fasilitas kerja yang
lengkap, adanya fasilitas umum, toilet, poliklinik, tempat ibadah dan
tempat makan/kantin. - Suasana kerja
Suasana kerja adalah kondisi yang ada disekitar karyawan yang sedang
melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu
sendiri. - Hubungan dengan rekan kerja
Hubungan dengan rekan kerja yaitu hubungan dengan rekan kerja
harmonis dan tanpa ada saling intrik diantara sesama rekan kerja.
Hubungan yang harmonis dan kekeluargaan merupakan salah satu faktor
yang dapat memengaruhi kinerja seseorang.
Pengertian Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja memiliki banyak pengertian menurut para ahli, seperti
yang dikemukakan oleh Nitisemito (2002;11), lingkungan kerja adalah sesuatu
yang ada disekitar para pekerja dan yang mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Pengertian lingkungan kerja lainnya
dikemukakan oleh Sedarmayati (2001;21), menyatakan lingkungan kerja sebagai
keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di
mana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai
perseorangan maupun sebagai kelompok. Sedangkan menurut Heijrachman dan
Husnan (1997:34) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengaturan
lingkungan kerja adalah pengaturan penerangan tempat kerja, pengontrolan
terhadap suara gaduh dalam pabrik, pengontrolan terhadap udara, pengaturan
kebersihan tempat kerja, dan pengaturan tentang keamanan kerja.
Perhatian terhadap lingkungan manajemen penting karena tiap elemen
lingkungan mempengaruhi baik langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan-
kegiatan manajerial. Tetapi, tidak semua lingkungan sama dan tidak semua
organisasi memiliki lingkungan yang sama, sementara organisasi tidak
mempunyai informasi yang cukup tentang keadaan lingkungannya. Mereka
berbeda dalam hal karakteristik lingkungan, yaitu satu kondisi dalam mana
pengaruh keadaan lingkungan masa datang suatu organisasi tidak dapat secara
akurat dinilai dan diprediksi (Silalahi,2013:131).
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Organisasi
Menurut Eisenberger dalam Baliarti (2016), organizationalsupport
dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki oleh individu, serta pengamatan
mengenai keseharian organisasi dalam memperlakukan seseorang. Dalam hal ini
sikap organisasi terhadap ide-ide yang dilontarkan oleh pegawai, respon
terhadap pegawai yang mengalami masalah serta perhatian perusahaan terhadap
kesejahteraan dan kesehatan pegawai merupakan tiga aspek yang menjadi
perhatian utama dari pegawai. Ketiga aspek yang menjadi perhatian utama dari
pegawai yaitu:
1) Sikap Organisasi Terhadap Ide-Ide Pegawai
Organizational support dipengaruhi oleh sikap organisasi terhadap ide-
ide yangdilontarkan oleh pegawai. Bila organisasi melihat ide dari pegawai
sebagai sumbangan yang konstruktif, yang mungkin saja dapat diwujudkan
melalui perencanaan yang matang, maka individu yang bekerja ditempat
tersebut memiliki persepsi yang positif akan dukungan organisasi terhadap
diri mereka. Sebaliknya, dukungan organisasi akan menjadi negatif bila
perusahaan selalu menolak ide dari pegawai dan segala sesuatu merupakan
keputusan dari pimpinan puncak.
2) Respon Terhadap Pegawai
Menghadapi Masalah Organizational support juga dipengaruhi oleh
respon terhadap pegawai yangmenghadapi masalah. Bila organisasi
cenderung untuk berdiam diri dan tidak memperlihatkan usaha untuk
membantu individu yang terlibat masalah, maka pegawai akan melihat bahwa
tidak ada dukungan yang diberikan organisasi terhadap pegawai.
3) Respon Terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Pegawai
Perhatian organisasi akan kesejahteraan pegawai juga mempengaruhi
tingkat organizational support pegawai. Pegawai yang melihat bahwa
organisasiberusaha keras untuk meningkatkan kesejahteraan individu yang
bekerja didalamnya, akan melihat hal ini sebagai suatu hal yang positif.
Pegawai melihat bahwa organisasi memberikan dukungan agar setiap orang
dapat bekerja secara optimal demi tercapainya tujuan bersama. Pada dasarnya
organizational support merupakan suatu persepsi pegawai bahwa dirinya
dihargai dan diperhatikan oleh organisasi atau perusahaan tempatnya bekerja.
Bila organisasi memperhatikan dan menghargai upaya yang dilakukan oleh
individu untuk mencapai tujuan perusahaan maka individu akan
mempersepsikan bahwa organisasimemberikan dukungan terhadap mereka
Manfaat Kinerja Karyawan
Pendapat dari Umam (2010;101) beberapa efek yang dapat ditimbulkan
dari adanya kinerja adalah sebagai berikut :
- Pencapaian Target
Pada saat karyawan dan pimpinan bertindak efektif dengan energi
positif, untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab masing-masing
sesuai dengan arahan dari target. Maka pada saat itulah energi positif
setiap orang akan berkontribusi untuk menghasilkan karya serta kinerja
terbaiknya. - Loyalitas Karyawan
Loyalitas memiliki beberapa unsur, diantaranya yaitu adanya sikap
kesetiaan, disiplin kerja yang tinggi, kesadaran untuk melaksanakan
tanggung jawab, dan berusaha menjaga nama baik perusahaan.
semakin tinggi tingkat loyalitasnya, maka akan semakin baik pula
kinerja karyawan tersebut. - Pelatihan dan Pengembangan
Semakin baik kinerja karyawan maka semakin rendah kebutuhan
pelatihan dan pengembangan. Sebaliknya, semakin buruk kinerja
karyawan tersebut maka akan semakin tinggi kebutuhan karyawan
tersebut untuk mendapatkan pelatihan dan pengembangan. - Promosi
Kinerja dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk
promosi karyawan. - Berperilaku Positif
Mendorong orang lain agar berperilaku positif atau memperbaiki
tingkatan mereka yang berada di bawah standar kinerja. - Peningkatan Organisasi
Memberikan dasar yang kuat bagi pembuatan kebijakan untuk
peningkatan organisasi
Dampak dari Adanya Dukungan Organisasi
Berbagai penelitian menunjukan bahwa organizational support
mempunyai dampak baik bagi individu maupun organisasi. Dampak tersebut
menurut Indriana (2016), antara lain:
1) Komitmen organisasi
Pegawai yang mempersepsikan tingkat organizational support yang
tinggi melahirkan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaannya.
Pegawai merasa organisasi berkomitmen terhadap dirinya. Sebagai
balasannya, pegawai pun berkomitmen terhadap organisasi.
2) Kesiapan untuk berubah
Organisasi yang peduli dengan kemajuan yang dicapai oleh para
pegawai membuat pegawai memiliki tanggung jawab terhadap tujuan
organisasi. Ketika organisasi ingin menjadi lebih baik, pegawai siap
mendukungnya.
3) Intensitas meninggalkan organisasi
Pegawai yang memprersepsikan dukungan tinggi dari organisasi akan
membuat pegawai betah bersama organisasi. Pegawai cenderung tidak ingin
meninggalkan organisasi.
4) Organizational citizen behavior
Organizational support yang tinggi membuat pegawai percaya pada
organisasi. Dengan kepercayaan tersebut, pegawai mau melakukan pekerjaan
yang bukan tanggung jawab mereka dengan sukarela.
5) Kepuasan kerja
Organizational support mempunyai pengaruh terhadap job satisfaction
pegawai. Pegawai yang merasa adanya organizational support yang tinggi
cenderung puas terhadap gaji, rekan kerja, atasan dan promosi
Pengertian Dukungan Organisasi
Menurut Eisenberger dalam mangundjaya (2016) Teori dukungan
organisasi menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan emosional dan
menilai keuntungan dari peningkatan usaha dalam bekerja, karyawan
membentuk persepsi umum mengenai sejauhmana organisasi menghargai
kontribusinya dan peduli terhadap kesejahteraannya (persepsi dukungan
organisasi).
Bersamaan dengan itu menurut Erdogan dan Enders (2016) dukungan
oganisasi merupakan derajat kepercayaan individu terhadap organisasi bahwa
organisasi peduli kepadanya, menilai setiap masukan yang diberikan, dan
menyediakan pertolongan dan bantuan untuknya. Sugiyono (2015)
mendeskripsikan dukungan organisasi didefiniskan sebagai seberapa banyak
organisasi menilai kontribusi pegawai dan peduli terhadapnya.
Menurut Danish, Ramzan dan Ahmad (2013), Dukungan organisasi
merupakan ekspektasi pegawai bahwa organisasi menghargai kontribusi dan
pekerjaan yang pegawai lakukan dengan sebaiknya.
Menurut Robbins (2015) dukungan organisasi adalah dimana organisasi
menghadapi suatu lingkungan yang dinamis dan berubah agar organisasi
menyesesuaikan diri
Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia menurut Hasibuan
(2015), yaitu terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengendalian, pengadaan, pengembangan kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan, kedisiplinan dan pemberhentian. Menurut Flippo dalam
Yuniarsih dan Suwanto (2014), fungsi manajemen sumber daya manusia terdiri
dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi dan pemutusan hubungan
kerja. Menurut Harris, Yuniarsih, dan Suwanto (2014), fungsi manajemen
sumber daya manusia terdiri dari perencanaan, penempatan, pengevaluasian,
kompensasi, pengembangan dan mengatur hubungan yang efektif antar tenaga
kerja. Menurut Hasibuan (2015), fungsi manajemen sumber daya manusia
adalah sebagai berikut:
1) Perencanaan
Perencanaan (human resources planning) adalah merencanakan tenaga
kerja secara efektif dan efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan
dalam membantu mewujudkan tujuan perusahaan.
2) Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua
karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
wewenang, integrasi, dan koordinasi dalam bagan organisasi
(organization chart).
3) Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan,
agar mau bekerja sama dengan bekerja efektif dan efisien dalam mebantu
tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
4) Pengendalian
Pengendalian (controlling) adalah kegiatan mengendalikan semua
karyawan, agar menaati peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja
sesuai dengan rencana.
5) Pengadaan.
Pengadaan (procurement) adalah proses penarikan, seleksi,
penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang
sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
6) Pengembangan
Pengembangan (development) adalah proses peningkatan keterampilan
teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui Pendidikan dan
pelatihan.
7) Kompensasi
Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas jasa langsung
(direct) dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan
sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan.
8) Pengintegrasian
Pengintegrasian (integration) adalah kegiatan untuk mempersatukan
kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar terciptanya kerja
sama yang serasi dan saling menguntungkan.
9) Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau
meningkatkan kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan, agar mereka
tetap mau bekerja sama sampai pension.
10) Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan kunci
terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit terwujudnya
tujuan perusahaan yang maksimal.
11) Pemberhentian
Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang
dari suatu perusahaan. pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pension, dan
sebab-sebab lainnya
Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia
Peran manajemen Sumber Daya Manusia dalam menjalankan aspek
Sumber Daya Manusia, harus dikelola dengan baik sehingga kebijakan dan
praktik dapat berjalan sesuai dengan rencana yang diinginkan perusahaan,
menurut Rivai (2015) peran manajemen SDM antara lain:
1) Melakukan analisis jabatan (menetapkan karakteristik pekerjaan masing-
masing SDM)
2) Merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan merekrut calon pekerja
3) Menyeleksi calon pekerja
4) Memberikan pengenalan dan penempatan pada karyawan baru
5) Menetapkan upah, gaji, dan cara memberikan kompensasi
6) Memberikan intensif dan kesejahteraan
7) Melakukan evaluasi kinerja
8) Mengkomunikasikan, memberikan penyuluhan, menegakkan disiplin kerja
9) Memberikan pendidikan, pelatihan dan pengembangan
10) Membangun komitmen kerja
11) Memberikan keselamatan kerja
12) Memberikan jaminan kesehatan
13) Menyelesaikan perselisihan perburuhan
14) Menyelesaikan keluhan dan relationship karyawan
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Farida (2017) Manajemen sumber daya manusia adalah
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dari kegiatan
pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi dan pemeliharaan sumber
daya manusia dengan maksud untuk membantu pencapaian tujuan perusahaan,
individu dan masyarakat. Menurut Irianto dalam Herawati (2014) manajemen
sumber daya manusia merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga
organisasi sebagai sumber daya manusia yang sangat penting dalam memberi
kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi, dan penggunaan beberapa fungsi dan
kegiatan untuk memastikan bahwa SDM tersebut digunakan secara efektif dan
adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat. Menurut Hasibuan
(2014), “manajemen sumber daya manusia adalah ilmu & seni mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.”
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya
manusia merupakan kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, dan
pemeliharaan serta penggunaan Sumber Daya manusia untuk mencapai tujuan
baik bagi industri atau perusahaan
Manajemen
Manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang
diinginkan oleh sebuah industri atau perusahaan. Manajemen juga sebagai ilmu
pengetahuan yang bersifat universal serta mempergunakan kerangka ilmu
pengetahuan yang sistematis.
Menurut Farida (2017) mengemukakan bahwa “manajemen adalah seni
dan ilmu dalam perencanaan, pengoorganisasian/organisasian, pengarahan, dan
pengawasan daripada sumber daya manusia untuk mencapai tujua yang telah
ditetapkan.
Menurut Hasibuan (2016) mengemukakan bahwa “manajemen merupakan
ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu”.
Pengertian Manajemen menurut Robbins, Coulter (2012) mengemukakan
“Manajemen melibatkan suatu koordinasi dan mengawasi aktivitas kerja lainnya
sehingga kegiatan mereka selesai dengan efektif dan efisien. Arti dari efisien
sendiri adalah mendapatkan hasil output terbanyak dari input yang seminimal
mungkin, sedangkan arti dari efektif adalah “melakukan hal yang benar”, yaitu
melakukan sebuah pekerjaan yang dapat membantu organisasi mencapai
tujuannya”.
Berdasarkan semua paparan di atas, dapat di pahami dan dapat
disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang
proses mengatur sumber daya manusia dan sumber daya lainnya guna mencapai
tujuan industri atau perusahaan secara efektif dan efisien
Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
- Efektifitas dan Efisiensi
Prawirosentono (1999:27) berpendapat bahwa efektifitas dan efisiensi
yaitu apabila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh
mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-
akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang
dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif
dinamakan tidak efesien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak
penting atau remeh maka kegiatan tersebut efesien. - Otoritas (wewenang)
Menurut Prawirosentono (1999:27), otoritas merupakan sifat dari suatu
komunikasi atau perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki
seorang anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan
suatu kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya. Perintah tersebut
mengatakan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dalam
organisasi tersebut. - Disiplin
Disiplin adalah taat kepada hukum dan peraturan yang berlaku. Jadi
menurut Prawirosentono (1999:27) disiplin karyawan merupakan
kegiatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian
kerja dengan organisasi dimana dia bekerja. - Inisiatif
Inisiatif berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk
ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan
perusahaan
Karatketistik Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2002:68), karakteristik orang yang memiliki
kinerja tinggi adalah sebagai berikut:
a. Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi.
b. Berani mengambil dan menanggung resiko yang dihadapi.
c. Memiliki tujuan yang realistis.
d. Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk
merealisasi tujuannya.
e. Memanfaatkan umpan balik (feed back) yang konkrit dalam seluruh
kegiatan kerja yang dilakukannya.
f. Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah
diprogramkan.
Indikator Kinerja Karyawan
Pengukuran kinerja karyawan dapat bervariasi berdasarkan sifat pekerjaan,
jenis perusahaan dan sektor organisasi atau perusahaan. Bagus Surya Kurniawan
dan Medi Prakoso (2015) mengemukakan bahwa untuk mengukur apakah
karyawan memiliki kinerja yang baik pada pekerjaan mereka maka dapat diukur
dari:
- Ketepatan Waktu
Suatu jenis pekerjaan tertentu menuntut kehadiran karyawan dalam
mengerjakannya sesuai dengan waktu yang ditentukan. - Deskripsi Pekerjaan
Pernyataan tertulis yang menjelaskan tentang tanggung jawab yang harus
dilaksanakan dari suatu pekerjaan tertentu. - Kuantitas
Seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam periode waktu yang
telah ditentukan. - Kualitas
Setiap karyawan dalam mampu mengenal dan manyelesaikan masalah
yang relevan serta memiliki sikap kerja yang positif di tempat kerja
Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2000:67), istilah kinerja berasal dari kata job
performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya
yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja (output) secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja karyawan pada dasarnya
adalah hasil kerja karyawan selama periode tertentu. Kinerja bisa mempengaruhi
berlangsungnya kegiatan suatu perusahaan, semakin baik kinerja yang ditunjukan
oleh para karyawan maka semakin baik pula perkembangan perusahaan tersebut.
Menurut Simamora (2004:53) kinerja karyawan merupakan tingkat hasil
kerja karyawan dalam pencapaian persyaratan pekerjaan yang diberikan. Kinerja
karyawan yang baik sangat penting bagi kemajuan perusahaan. Pengertian kinerja
lainnya dikemukakan oleh Hasibuan (2002:160), kinerja merupakan suatu hasil
kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya atas kecakapan, usaha dan kesempatan. Sedangkan menurut Mathis dan Jackson (2006:378)
kinerja yaitu apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan
Indikator Employee Well-Being
Berikut adalah beberapa indikator kesejahteraan karyawan (Employee
Well-Being) :
- Kesejahteraan subjektif
Kesejahteraan ini mencakup pengalaman emosional yang
menyenangkan, suasana hati positif, dan tingkat kepuasan hidup tinggi. - Kesejahteraan tempat kerja
Kesejahteraan ini merujuk pada kondisi sekitar karyawan yang
mempengaruhi pelaksaan tugas yang telah diberikan - Kesejahteraan psikologis
Kesejahteraan ini melibatkan keterikatan karyawan untuk
berhubungan secara positif dengan rekan kerja, pemahaman diri pribadi,
otonomi, serta pemahaman terhadap tujuan dan makna dalam kehidupan
Faktor yang mempengaruhi Employee Well-Being
Terdapat dua faktor Employee Well-Being, antara lain:
- Faktor yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dengan sesama
karyawan.
a. Gaji dan upah yang cukup dapat digunakan untuk kebutuhan
psikologis dan sosial
b. Rekan kerja yang kompak merupakan keinginan kebutuhan sosial.
c. Kondisi kerja yang aman, nyaman, dan menarik - Faktor yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dan pimpinan
a. Pimpinan yang adil dan bijaksana
b. Melengkapi karyawan dengan sumber dana yang diperlukan untuk
menjalankan tugasnya.
c. Mengkomunikasikan tentang apa yang diharapkan dari karyawan
d. Memberikan penghargaan untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Employee Well-Being
Employee Well-Being merupakan kompensasi pelengkap/benefit dan
manfaat yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan perusahaan dengan
tujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi fisik dan mental
karyawan, sehingga kinerja dan produktivitas kerjanya meningkat.
Employee Well-Being juga dikenal sebagai reward dari perusahaan meliputi
semua jenis penghargaan berupa uang maupun bentuk produk atau barang
yang dibayarkan langsung sebagai penghargaan kepada karyawan atas hasil
kerja yang di capai. Adapun dalam penelitian menyatakan
kesejahteraan karyawan adalah kompensasi tidak langsung yang di berikan
kepada karyawan, baik dinilai dengan uang maupun tidak. Disebut
kompesasi tidak langsung karena tidak berkesinambungan langsung dengan
uang, biasanya dibuat sebagai Upaya penciptaan kondisi dan lingkungan
kerja yang menyenangkan . Employee benefit biasa juga di sebut dengan
kompensasi pelengkap, gaji tersembunyi (fringe benefit), pelayanan
karyawan atau jaminan sosial
Kesejateraan karyawan adalah balas jasa pelengkap dalam bentuk
material maupun non material yang di berikan perusahaan sesuai dengan
kebijaksaan perusahaan dengan tujuan mempertahankan kondisi fisik dan
mental supaya produktivitas kerja karyawan meningkat . Kesejahteraan
karyawan juga diartikan sebagai jaminan sosial yang berbentuk pemberian
penghasilan baik dalam materi atau non materi, yang diberikan kepada
karyawan dari perusahaan selama masa pengabdiannya atau setelah berhenti
di karenakan pensiun dan lanjut usia, dengan tujuan memberikan dorongan
serta semangat kepada karyawan . Dalam penelitian mengungkapkan
bahwa kesejahteraan karyawan merupakan suatu kepuasan yang diperoleh
oleh seorang karyawan dalam melakukan pekerjaan di dalam perusahaan.
Indikator Work-Life Balance
Adapun indikator Work-Life Balance yaitu :
- Time Balance (Keseimbangan Waktu)
Keseimbangan waktu ini merujuk pada keseimbangan antara
waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan dan waktu yang dihabiskan
untuk kehidupan pribadi dan keluarga. Hal ini berarti seseorang atau
karyawan mampu mengalokasikan waktu yang memadai untuk
kehidupannya. - Involment Balance (Keseimbangan Keterlibatan)
Keseimbangan keterlibatan mengacu pada tingkat keterlibatan
psikologis atau komitmen seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan
pribadinya. Ini mencakup bagaimana seseorang dapat mengelola stress
dan keterlibatan emosional dalam kedua aspek tersebut. Keseimbangan
ini penting supaya seseorang atau karyawan tidak terlalu terlibat dalam
pekerjaan sehingga keluarganya dan kehidupan pribadinya diabaikan
ataupun sebaliknya. - Satisfaction Balance (Keseimbangan Kepuasan)
Keseimbangan kepuasan merujuk pada tingkat kepuasan yang
dirasakan sesorang atau karyawan dalam pekerjaan dan kehidupan
pribadinya. Keseimbangan ini membantu memastikan bahwa seseorang
merasa terpenuhi dalam keterlibatannya di tempat kerja dan kehidupan
pribadinya
Faktor yang mempengaruhi Loyalitas Karyawan
Ada tiga faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan di antaranya
adalah :
- Faktor Rasional
Faktor ini berupa hal yang bisa dijelaskan secara logis, seperti:
gaji, bonus, jenjang karir, dan fasilitas yang diberikan perusahaan
kepada karyawannya. - Faktor Emosional
Faktor emosional ini menyangkut perasaan atau ekspresi diri
seperti: menantangnya pekerjaan, adanya dukungan di lingkungan kerja,
perasaan aman karena perusahaan menyediakan tempat kerja yang stabil
untuk jangka panjang, pemimpin yang berwibawa, pekerjaan yang
memberikan rasa bangga, penghargaan yang di berikan oleh perusahaan
dan budaya kerja. - Faktor Kepribadian
Faktor ini menyangkut sifat, karakter, dan tempramen yang
dimiki oleh karyawan
Loyalitas Karyawan
Loyalitas karyawan adalah keadaan dimana individu atau karyawan
memiliki empati kuat terhadap organisasi yang tercermin dalam perilaku,
seperti berpartisipasi untuk mencapai tujuan organisasi dengan
bersungguh-sungguh menjalankan tugas di dalam organisasi, mendukung
kebijakan organisasi dengan cara menataati peraturan dalam organisasi,
dan ingin tetap berada dalam organisasi dalam jangka panjang serta
berkontribusi kepada perusahaan . Adapun pendapat yang sama yaitu
loyalitas karyawan adalah bentuk tekad dan kesanggupan karyawan untuk
menaati dan mengamalkan dengan kesadaran dan tanggung jawab pada
pekerjaan . Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan terhadap
pekerjaannya, loyalitas karyawan mencerminkan rasa kesetiaan dan
tanggung jawab yang tinggi dari karyawan terhadap perusahaan mereka.
Ini merupakan bentuk apresiasi atas penghargaan yang diberikan
perusahaan kepada karyawan .
Loyalitas adalah kepercayaan atau penerimaan dari setiap tujuan
organisasi atau profesi, kemauan untuk melakukan usaha dengan sungguh-
sungguh, serta keinginan untuk menjaga keanggotaan dalam instansi dan
profesi . Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan yang di
tunjukkan ke perusahaan melalui kesediaan untuk menjalankan tugas dan
tanggung jawab yang telah di sepakati sejak awal bekerja . Sama halnya
dengan pendapat yangmana loyalitas karyawan ialah sikap kesetiaan
terhadap perusahaannya, dengan demikian yang menjadi tolak ukur
loyalitas adalah lamanya mereka bertahan dengan dampak produktivitas
yang semakin baik bagi perusahaan
Keterkaitan Loyalitas Kerja dan Kepribadian Terhadap Kinerja Karyawan
Hasil penelitian Reiza Adelia Maulida (2022) menyatakan bahwa tingkat loyalitas
sangat mempengaruhi kinerja karyawan, perusahaan dapat berjalan dengan baik bila
loyalitas dapat dikelola dengan semaksimal mungkin, karena loyalitas kerja sangat
berpengaruh untuk membangun kenyamanan pada kinerja karyawan yang bekerja pada
suatu perusahaan
Hasil penelitian SriIndrastuti (2021) Kepribadian tidak membawa pengaruh
signifikan terhadap kinerja karyawan tetapi kepribadian karyawan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja melalui kompetensi karyawan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa kompetensi karyawan dapat memediasi pengaruh kepribadian karyawan terhadap
kinerja karyawan
Indikator Kinerja Keryawan
Kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance yang berarti
prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja
(prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya (Mangkunegara, 2017).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Menurut Kopelman (dalam Annisa, Setyawan, dan Susila, 2017),faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja adalah: individual characteristics(karakteristik individual),
organizational charasteristic (karakteristikorganisasi), dan work characteristics
(karakteristik kerja). Lebihlanjut oleh Kopelman dijelaskan bahwa kinerja selain
dipengaruhi olehfaktor 9lingkungan juga sangat tergantung dari karakteristik
individusepertikemampuan, pengetahuan, keterampilan, motivasi, norma dan nilai.
Dalamkaitannya dengan konsep kinerja, terlihat bahwa karakteristik
individusepertikepribadian, umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan
sukubangsa,keadaan sosial ekonomi, pengalaman terhadap keadaan yanglalu,
akanmenentukan perilaku kerja dan produktivitas kerja, baik individu maupun organisasi
sehingga hal tersebut akan menimbulkan kepuasan bagi pelangganatau pasien.
Definisi Kinerja Karyawan
Menurut Cole, dkk, (dalam Alfatamma, 2020) kinerjaa adalah menggambarkan
kinerja sebagai proses berkelanjutan untuk meningkatkankinerja individu dengan
menyelaraskan dengan yang di inginkan (dandengantujuan strategis organisasi) secara
informal, sehari-hari, dansecarainformasi/sistematis melalui wawancara penilaian dan
penetapantujuan.Pekerjaan yang dilakukan dalam kapasitas manajemen tenaga kerja.
Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kinerja karyawanmerupakan suatu bentuk
kesuksesan seseorang untuk mencapai peranatauterget tertentu yang berasal dari
perbuatannya sendiri. Kinerja seseorangdikatakan baik apabila hasil kerja individu
tersebut dapat melampaui peranatau target yang ditentukan sebelumnya.
kinerja karyawan dapat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan
dengan melihat tinggi rendahnya kinerja yang diberikan oleh karyawan perusahaan
(Hidayat dan Wulantika, 2021)
Menurut Cash and Fischer (Dalam Isniar, 2013) Kinerja yang sering disebut dengan
performance juga disebut result yang berarti apa yang telah dihasilkan oleh individu
karyawan.
Lita Wulantika (2021) mencirikan bahwa skill pegawai adalah konsekuensi dari
kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai dalam melakukan pekerjaan dan kewajiban
yang diberikan dalam jangka waktu tertentu
Indikator Kepribadian Kerja
Menurut Robbins, (2014:131) Ada Lima indikator dari kepribadian
- Ekstroversi , Kepribadian yang menggambarkan seseorng yang supel , riang dan
percaya diri . - b. Kemampuan bersepakat , kepribadian yang menggambarkan seseorang yang
bersifat baik , kooperatif , dan mempercayai - c. Kemampuan mendengarkan suara hati ,kepribadian yang menggambarkan
seseorang yang bertanggung jawab , dapat diandalkan ,Satabil dan tertata - d. Stabilitas emosi , kepribadian yang mencirikan seseorang yang tenang , percaya
diri , tentram
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Kerja
Kepribadian seseorang di hasilkan oleh faktor keturunan, lingkungan, dan situasi
Stephen dan Timothy (2008;127).
- Keturunan
Keturunan merujuk ke faktor-faktor yang di tentukan pada saat pembuahan, sosok
fisik, daya tarik wajah, kelamin, tempramen, komposisi otot dan refleks, tingkat
energy, dan ritme hayati merupakan karateristik yang umumnya dianggap sebagai
yang paling oleh siapa kedua orang tua. karateristik itu pasti ada pada saat
kelahiran dan tidak ada pengalaman seberapapun yang dapat mengubahnya.Tetapi
karateristik kepribadian tidaklah sepenuhnya ditentukan oleh keturunan. - Lingkungan
Di antara faktor-faktor yang menekan pada pembentukan kepribadian kita adalah
budaya dimana kita di besarkan, normanorma di antara keluarga, teman-teman dan
kelompok sosial, serta pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. - Situasi
Kepribadian seseorang, walaupun pada umumnya mantap dan konsisten, dapat
berubah dalam situasi yang berbeda tuntutan yang berbeda dari situasi yang
berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang
Definisi Kepribadian kerja
Allport (Suryabrata, 1995: 248) kepribadian adalah organisasi dinamis dan sistem
psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas.
Kepribadian juga merupakan sesuatu yang terdapat dalam diri individu yang
membimbing dan memberi arahan pada tingkah laku individu.
Sullivan (Suryabrata, 1995: 260) menyatakan kepribadian merupakan pola yang
relatif dari situasi hubungan antara pesan yang ditandai kehidupan manusia, kepribadian
ini tidak dapat dipisahkan dari situasi hubungan individu dengan orang lain. Menurutnya
tingkah laku yang bersifat sosial juga dapat dianggap sebagai kepribadian.
Kepribadian (personality) didefinisikan oleh Salvator Maddi sebagai karakteristik
dan kecenderungan seseorang yang bersifat konsisten yang menentukan perilaku
psikologis sesorang seperti cara berpikir, berperasaan dan bertindak. Tipe kepribadian
mempengaruhi orientasi umum ke arah penciptaan tujuan, pemilihan alternatif, tindakan
terhadap risiko dan reaksi di bawah tekanan (Kristanti, 2012).
Indikator Loyalitas Kerja
Loyalitas karyawan tidak terbentuk begitu saja dalam perusahaan, tetapi ada
beberapa indikator yang mewujudkan loyalitas tersebut. Indikator loyalitas yang terdapat
pada individu dikemukakan oleh Siswanto, dalam Trianasari (2005) antara lain :
- Taat pada peraturan Karyawan mempunyai tekat untuk melakukan setiap perintah
dari perusahaan atau mentaati dan mematuhi segala peraturan yang berlaku, baik
secara tertulis maupun tidak tertulis. - Tanggung jawab pada perusahaan Kesanggupan karyawan dalam melaksanakan
tugas sebaikbaiknya dan kesadaran tanggung jawab terhadap resiko atas apa yang
telah dilaksanakan - Kemauan untuk bekerja sama Karyawan dapat bekerja sama dengan orang-orang
yang ada dalam suatu perusahaan karena tanpa adanya kerja sama, maka sulit
perusahaan mencapai tujuan. Sebaliknya, dengan bekerja sama memungkinkan
perusahaan dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. - Rasa memiliki terhadap perusahaan Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap
perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk menjaga dan
bertanggung jawab terhadap perusahaan, sehingga akan menimbulkan loyalitas
demi tercapainya tujuan perusahaan. - Hubungan antar pribadi Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan
mempunyai sikap fleksibel ke arah hubungan pribadi. Hubungan antara pribadi
ini meliputi, hubungan sosial antara para karyawan, serta hubungan antara atasan
dan karyawan. - Kesukaan terhadap pekerjaan Karyawan melakukan pekerjaannya dengan senang
hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari keunggulan karyawan dalam bekerja
dan karyawan tidak banyak menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Mas’ud
(2004):Kepuasan dengan promosi Kesempatan promosi sepertinya memiliki pengaruh
yang berbeda pada kepuasan kerja. Hasil ini dikarenakan promosi memiliki sejumlah
bentuk yang berbeda dan memiliki berbagai penghargaan. Kepuasan dengan Rekan kerja
Sifat alami dari kelompok atau tim kerja kan mempengaruhi kepuasan kerja. Pada
umumnya rekan kerja atau anggota tim yang kooperatif merupakan sumber kepuasan
kerja yang paling sederhana pada karyawan secara individu. Kepuasan dengan Gaji Upah
dan gaji merupakan faktor multidimensi dalam kepuasan kerja. Uang tidak hanya
membantu orang memperoleh kebutuhan dasar, tetapi juga alat untuk memberikan
kebutuhan kepuasan pada tingkat uang lebih tinggi. Karyawan melihat gaji sebagai
refleksi dari bagaimana manajemen memandang kontribusi mereka terhadap perusahaan
Definisi Loyalitas Kerja
Riyanti (2017:6), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan adalah tekad dan
kemampuan untuk mengikuti dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, tekad dan
kemampuan yang harus ditunjukkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, dan dalam
pelaksanaan tugas. Pendapat ini dimaknai bahwa loyalitas karyawan terhadap pekerjaan
timbul secara internal serta loyalitas terhadap perusahaan tempatnya bekerja karena
tanggung jawab dan kemampuannya.
Hasibuan (2021:210), menyatakan bahwa loyalitas kerja karyawan adalah
keragamaan peran dan anggota dalam menggunakan pikiran dan waktunya untuk
mencapai tujuan organisasi.
Suhendi (2017:260), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan ditunjukkan
dengan adanya komitmen karyawan terhadap perusahaan, komitmen organisasi dapat
dibentuk oleh beberapa faktor baik dari organisasi maupun individu.
Kadarwati (2017:108), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan terhadap
pekerjaan adalah aktivitas fisik, psikologis, dan sosial yang menyababkan individu
memilih sikap untuk mengikuti aturan tekad untuk melakukan dan mempraktikkan
sesuatu yang dipahami sebagai sesuatu yang bermakna, penuh pengetahuan dan tanggung
jawab serta persepsi pribadi terhadap upaya pencapaian tujuan organisasi pemerintahan
berdasarkan keahliannya untuk meningkatkan efektivitas organisasi pemerintahan dan
disertai dengan dedikasi yang konsisten dan kuat
Pengaruh kepuasan kerja terhadap Loyalitas Karyawan
Steers dan Porter (2009) menyatakan bahwa salah satu factor yang
menyebabkan timbulnya loyalitas kerja antara lain adalah Pengalaman dalam
dalam bekerja. Hal ini berupa meliputi sikap positif terhadap perusahaan, rasa
percaya pada perusahaan, rasa aman, serta perasaaan puas terhadap perusahaan.
Kepuasan kerja merupakan keadaan emosi atau perasaan positif yang muncul dari
persepsi seorang karyawan mengenai pekerjaan yang mereka lakukan untuk
perusahaan. Sehinga semakin tinggi rasa puas karyawan maka semakin mencintai
pekerjaan dan loyal dalam bekerja begitu sebaliknya, jika semakin rendah rasa puas
karyawan maka semakin tidak loyal dan malas dalam bekerja.
Indikator Kepuasan Kerja
Afandi (2020) Adapun indikator-indikator kepuasan kerja meliputi antara lain :
1) Pekerjaan Isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memiliki elemen
yang memuaskan
2) Upah Jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari
pelaksanaan kerja apakah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan adil.
3) Promosi Kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan
jabatan.
4) Pengawas Seseorang yang senantiasa memberikan perintah atau petunjuk
dalam pelaksanaan kerja
5) Rekan Kerja Rekan kerja yang saling membantu dalam menyelesaikan
pekerjaan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi kepuasan Kerja.
Afandi (2020) ada lima faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja,
yaitu sebagai berikut:
1) Pemenuhan kebutuhan (Need fulfillment) Kepuasan ditentukan oleh
tingkatan karakteristik pekerjaan memberikan kesempatan pada individu
untuk memenuhi kebutuhannya.
2) Perbedaan (Discrepancies) Kepuasan merupakan suatu hail memenuhi
harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang
diharapkan dan apa yang diperoleh individu dari pekerjaannya. Bila
harapan lebih besar dari apa yang diterima, orang akan tidak puas.
Sebaliknya individu akan puas bila menerima manfaat diatas harapan.
3) Pencapaian nilai (Value attainment) Kepuasan merupakan hail dari
persepsi pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja individual yang
penting.
4) Keadilan (Equity) Kepuasan merupakan fungi dari seberapa adil individu
diperlakukan di tempat kerja
5) Budaya Organisasi (Organization Culture). Dalam sebuah organisasi
yang terjalin budaya kerja yang baik dan harmonis maka pegawai akan
merasa puas bekerja dan berupaya bekerja dengan baik
Pengertian Kepuasan Kerja
Menurut Robbins dan Judge (2020) menyatakan bahwa kepuasan kerja
adalah perasaan positif seseorang terhadap pekerjaan yang merupakan hasil dari
evaluasi dari karakteristik pekerjaan tersebut. Pendapat lain mendefinisikan
mengenai kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan tentang seberapa baik
pekerjaan menyediakan hal yang dinilai sebagai sesuatu yang penting
Menurut Robbins (2019) mendefinisikan kepuasan kerja adalah suatu sikap
umum seorang individu terhadap pekerjaannya, selisih antara banyaknya ganjaran
yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang mereka yakini dibandingkan
yang seharusnya mereka terima.
Kepuasan kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang
berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan yang
diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis
(Sutrisno 2019)
Menurut Rivai (2022) kepuasan kerja adalah bagaimana orang merasakan
pekerjaan dan aspek-aspeknya. Dengan demikian, kepuasan merupakan evaluasi
yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang,
puas atau tidak puas dalam bekerja
Indikator Loyalitas Karyawan
Menurut indicator Loyalitas menurut Syadam (2019) adalah sebagai berikut
:
- Ketaatan dan kepatuhan Seorang karyawan yang loyal akan selalu taat
pada peraturan. Sesuai dengan pengertian loyalitas, ketaatan ini timbul
dari kesadaran karyawan jika peraturan yang dibuat oleh perusahaan
semata-mata disusun untuk memperlancar jalannya pelaksaan kerja
perusahaan. Kesadaran ini membuat karyawan akan bersikap taat
tanpa merasa terpaksa atau takut terhadap sanksi yang akan
diterimanya apabila melanggar peraturan tersebut. - Tanggung jawab Ketika seorang karyawan memiliki sikap sesuai
dengan pengertian loyalitas, maka otomatis ia akan merasa memiliki
tanggung jawab yang besar terhadap perusahaannya. Karyawan akan
berhati-hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya, namun sekaligus
berani untuk mengembangkan berbagai inovasi demi kepentingan
perusahaan.. - Rasa Memiliki Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap
perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut
menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada
akhirnya akan menimbulkan sikap sesuai dengan pengertian loyalitas
demi tercapainya tujuan perusahaan.. - Kesukaan Dengan Pekerjaan Sebagai manusia, karyawan pasti akan
mengalami masa-masa jenuh terhadap pekerjaan yang dilakukannya
setiap hari. Seorang karyawan yang memiliki sikap sesuai dengan
pengertian loyalitas akan mampu menghadapi permasalahan ini
dengan bijaksana. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila seorang
karyawan mencintai pekerjaannya
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan
Steers dan Porter (2009) menyatakan bahwa timbulnya loyalitas kerja
dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu::
- Karakteristik pribadi. Hal ini meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan beberapa sifat
kepribadian - Karakteristik pekerjaan. Hal ini Hal ini berupa tantangan kerja, job
stress, kesempatan berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
tugas, umpan balik tugas dan kecocokan tugas - Karakteristik desain perusahaan. Hal ini berupa kondisi Hal ini berupa
kondisi intern perusahaan tersebut yang dilihat dari desentralisasi,
tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi
dengan tanggung jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun
fungsi kontrol perusahaan. - Pengalaman dalam hal ini berupa meliputi sikap positif terhadap
perusahaan, rasa percaya pada perusahaan, rasa aman, serta perasaan
puas terhadap perusahaan.
Pengertian Loyalitas Karyawan
Syadam (2019) Loyalitas merupakan kesetiaan karyawan terhadap
perusahaan yang akan menimbulkan rasa tanggung jawab. Menurut Hasibuan
(2022) mengemukakan bahwa loyalitas atau kesetiaan merupakan salah satu unsur
yang digunakan dalam penilaian karyawan yang mencakup kesetiaan terhadap
pekerjaannya, jabatannya dan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan
karyawan menjaga dan membela organisasi didalam maupun diluar pekerjaan dari
rongrongan orang yang tidak bertanggung jawab.
Dari pembahasan diatas disimpulkan bahwa loyalitas karyawan merupakan
kesetiaan karyawan pada suatu perusahaan dengan bersedia melakukan segala
tanggung jawab yang telah diberikan dengan sikap dan tindakan yang positif karena
mereka akan memberikan sikap timbal balik jika perusahaan tempat mereka bekerja
memperhatikan segala aspek pendukung dalam pengembangan karir
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kerja Inovatif
Munculnya sikap inovatif pada perilaku karyawan didukung beberapa
penunjang. Nijenhuis (2015) mengemukakan faktor eksternal maupun faktor
internal diperkirakan mampu meingkatkan timbulnya perilaku kerja inovatif
pada seorang pekerja.
a. Faktor eksternal
1) Tekanan berkompetitif
Tekanan untuk bersaing atau berkompetisi yang semakin tinggi dapat
menjadi faktor pendorong bagi pekerja untuk bekerja dengan lebih baik, hal
tersebut berimbas secara positif dalam memunculkan sikap inovatif pada
perilaku pekerja.
2) Tekanan sosial – politik
Suatu usaha yang disokong oleh pemerintah diharuskan untuk
menyajikan hasil kerja yang memuaskan secara terus menerus jika igin terus
mendapatkan sokongan tersebut, sehingga seluruh lapisan dalam suatu usaha
harus terus melakukan inovasidalam upaya memberi hasil yang baik pada
pekerjaannya.
b. Faktor Internal
1) Hubungan dengan atasan
Pekerja yang dapat menjalin hubungan baik dengan atasannya lebih
mampu meyakinkan bahwa sikap inovatif yang mereka miliki dapat
menghasilkan keuntungan kinerja, hal tersebut dikarenakan adanya
kepercayaan dan rasa hormat yang lebih.
2) Hubungan dengan rekan kerja
Pekerja yang dapat menjalin hubungan baik dengan rekan kerja akan
membantu mereka dalam menerapkan gagasan baru yang mereka miliki. Hal
tersebut dapat menambah idea generation pada organisasi.
Berdasarkan penelitan Hammon et al. (2011), 4 faktor utama yang
mempengaruhi perilaku kerja inovatif adalah sebagai berikut:
a. Individual Differences
Seorang individu tentu saja mempunyai kondisi yang tidak sama satu sama
lain dari sisi keingintahuan, kecerdasan, imajinasi, hingga kepekaan terhadap
sebuah seni.
b. Motivation
Motivasi mengacu pada keterlibatan pekerja dalam mengerjakan suatu tugas
disebut sebagai motivasi intrinsik, sedangkan motivasi yang mengacu adanya
rewards disebut sebagai motivasi ektrinsik.
c. Job Characteristic
Karakteristik pekerjaan dalam hal ini yang lebih sering dikenal, antara lain
role requirements, job autonomy, job complexity, dan time pressure,. Adapun
dalam kaitannya sebuah pekerjaan yang lebih kompleks, maka akan banyak
inovasi yang dilakukan oleh individu dengan fokus terhadap aspek pekerjaan
mereka secara bersamaan.
d. Job Contextual
Secara umum, ada faktor kontekstual yang dapat memengaruhi kinerja
inovatif. Dalam hal ini, pengaruhnya tentu saja berdampak pada motivasi
intrinsik pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Faktor konstektual dapat
berhubungan dengan dukungan sumber daya organisasi, kreativitas, dan
kepemimpinan transformasiona
Indikator Perilaku Kerja Inovatif
Janssen (2000) menyatakan dalam hal ini sebuah dimensi tentang perilaku
kerja inovatif yang diukur dengan indikator antara lain:
a. Penciptaan sebuah ide baru dalam rangka penyelesaian masalah
b. Pencarian metode kerja, baik itu teknik, maupun instrumen baru.
c. Penghasiilan sebuah solusi dalam penyelesaian masalah.
d. Pemobilisasian dalam sebuah dukungan ke dalam ide inovasi.
e. Sebuah upaya dalam menyetujui gagasan inovatif.
f. Pembuatan anggota organisasi antusias yang sejalan dengan gagasan yang
inovatif.
g. Pengubahan sebuah ide inovatif untuk menjadi aplikasi yang memiliki
kegunaan tertentu.
h. Penjabaran ide inovatif dalam sebuah lingkungan secara sistematis.
Sedangkan Jong & Hartog (2010) menjabarkan generalisasi ide yang
merupakan dimensi perilaku kerja inovatif dapat dilihat juga dalam penjelasan
di bawah ini, seperti:
a. Pembuatan gagasan baru dalam sebuah isu yang rumit.
b. Pencarian sebuah cara, baik itu secara teknis atau instrumen baru.
Kemudian ide promosi yang juga merrupakan dimensi perilaku kerja
inovatif dijelaskan dalam beberapa hal, seperti:
a. Pembuatan anggota organisasi paling antusias untuk ide inovatif.
b. Melakukan generalisasi terhadap sebuah solusi murni agar masalah bisa
teratasi.
c. Pemobilisasian sebuah dukungan terhadap ide yang inovatif.
d. Kejelasan sebuah persetujuan untuk pengembangan ide yang inovatif.
Selanjutnya, penerapan ide yang merupakan dimensi perilaku kerja inovatif
dapat dilihat serta diukur dalam penjelasan di bawah ini:
a. Melakukan transfer baik itu ide inovatif ke dalam penerapan yang berguna.
b. Pengenalan sebuah ide inovatif ke lingkungan kerja secara sistematis.
c. Pengevaluasian sebuah kegunaan ide inovatif itu sendir
Dimensi Perilaku Kerja Inovatif
Dalam penelitiannya, Janssen (2002) menjelaskan mengenai penjabaran
dimensi perilaku kerja inovatif oleh Scott & Bruce (1994) seperti berikut ini:
a. Idea Generation
Idea generation merupakan sebuah langkah dari seseorang di dalam
pekerjaan untuk menerapkan gagasannya dengan tujuan untuk memecahkan
problematika yang muncul pada pekerjaan.
b. Idea Implementation
Idea implementation merupakan proses individu yang berpartisipasi dalam
kegiatan sosial untuk membangun hubungan dengan latar belakang sebagai
pendukung yang diperlukan. (Galbraith dan Kanter, 1988 dalam Jassen, 2000).
c. Idea Realization
Idea realization adalah penerapan sebuah ide dalam proses individu yang
ada dalam peran kerja, kelompok, atau organisasi.
Sedangkan Jong & Hartog (2008), menjabarkan adanya dimensi pada
perilaku kerja inovatif sebagai berikut:
a. Idea Exploration
Idea exploration juga disebut eksplorasi ide adalah sebuah cara dalam
meningkatkan suatu layanan, produk, ataupun proses. Adapun untuk
menyelesaikan pada tahap ini bisa dicoba dalam melakukan sebuah pemikiran
dalam bentuk penyelesaian sebuah tahap.
b. Idea Generation
Idea generation berkaitan dengan suatu kegiatan untuk menjelaskan situasi
pasar yang baru, dimulai dari peningkatan kinerja yang sedang berlangsung
kemudian pengidentifikasian dalam pencarian pemecahan masalah.
c. Idea Championing
Idea championing atau biasa disebut juga dalam perjuangan terhadap
sebuah gagasan ide, dalam hal ini suatu usaha digunakan untuk mencari
dukungan dan membangun koalisi. Hal ini biasanya dilakukan dengan sebuah
ekspresi antusiasme dan kepercayaan diri terhadap keberhasilan akan sebuah
inovasi. Sebuah usaha yang gigih diperlukan keterlibatan sosok yang hebat
dalam suatu ide.
d. Idea Implementation
Idea implementation yang dalam hal ini biasa disebut juga implementasi
gagasan ide adalah pengimplementasian sebuah ide ke dalam proses dan
perilaku kerja rutin. Hal ini biasa juga dilihat dalam pengembangan produk
baru melalui tahap pengujian adau pemodifikasian
Pengertian Perilaku Kerja Inovatif
Perilaku kerja inovatif digambarkan dengan suatu proses menciptakan dan
menerapkan gagasan baru dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pada
sebuah usaha (Janssen, 2000). Scott & Bruce (1994) menyebut perilaku kerja
inovatif sebagai upaya pada seseorang dalam menerapkan gagasan barunya di
dalam pekerjaan dengan tujuan mencari keuntungan. Jong & Hartog (2008)
mendiskripsikan perilaku kerja inovatif sebagai sebuah tindakan seseorang
yang mempunyai tujuan untuk dapat mengenalkan ide atau gagasannya dalam
pembuatan sebuah produk baru
Prinsip Inovasi
Inovasi menurut Kuratko & Hodgetts (2017) mengacu pada berbagai prinsip
sebagai berikut:
a. Be action oriented, dimana individu yang berinovasi harus dapat selalu
membuat gagasan dan peluang baru.
b. Menciptakan produk yang dapat diterima khalayak dengan membuatnya
secara sederhana, sehingga cara kerja inovasi dapat dipahami dengan
mudah.
c. Inovator harus memulai dari yang kecil dan dapat mengembangkan dengan
idenya sehingga perencanaan dan perluasan dapat tumbuh dengan cara dan
waktu yang tepat.
d. Inovator dituntut untuk bersikeras pada tujuannya untuk menggapai
kesuksesan.
e. Test, try, and revise, dimana inovator harus melakukan proses uji coba
hingga pembetulan untuk dapat melihat kekurangan pada produk yang
dirancang.
f. Inovator harus dapat berkaca dari kesalahan yang lalu karena kegagalan
dapat menjadi pedoman dalam menciptakan sebuah inovasi
Jenis-Jenis Inovasi
Berikut ini adalah jenis-jenis dari inovasi berdasarkan Susanto & Putra
(2010):
a. Inovasi meliputi pembuatan produk baru.
b. Inovasi meliputi proses dari pembuatan produk hingga proses pengiriman
produk.
c. Inovasi pada supply chain, dimana inovasi dapat mengalihkan produk baik
dari input dan output.
d. Inovasi pemasaran, dimana hasil terlihat dengan adanya metode baru pada
pemasaran, tambahan pada desain produk, perubahan kemasan, perubahan
harga, dan sebagainya
Tujuan Inovasi
Secara umum, tujuan dari dilakukannya inovasi adalah untuk membuat
kondisi sebuah usaha agar dapat berkembang dengan pesat. Makmur & Thahier
(2015) menyebutkan bahwa terapat beberapa perspektif pada tujuan dari
inovasi:
a. Perspektif anggaran, dimana mencari cara untuk berinovasi dengan
menggunakan anggaran yang relatif kecil namun dapat menghasilkan jumlah
besar.
b. Perspektif pelanggan, dimana semua kalangan di dalam sebuah usaha
melakukan inovasi untuk mendapatkan konsumen sebanyak mungkin dan
dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin.
c. Perspektif pengolahan bisnis internal, dimana setiap bagian dalam sebuah
usaha dapat berinovasi dalam tujuan menciptakan kondisi yang mendukung.
d. Perspektif pertumbuhan, dimana inovasi dilakukan untuk perluasan bidang
usaha
Pengertian Inovasi
Van de Ven (1986) menyebut inovasi sebagai pengembangan dan penerapan
ide-ide baru oleh masing-masing orang pada sebuah organisasi. Ide-ide baru
tersebut dapat berupa pengumpulan gagasan yang telah ada yang bertujuan
untuk dapat menghadapi tantangan yang ada. Van de Ven (1986) menyebutkan
bahwa masing-masing orang dalam organisasi berkesempatan untuk memegang
peran dalam mengembangkan gagasannya. Oleh karena itu, inovasi dapat
disebut sebagai langkah dalam menemukan dan menerapkan suatu hal yang
baru pada situasi yang baru.
Dalam penelitian Scott dan Bruce (1994) disebutkan bahwa perilaku kerja
inovatif berasal dari perilaku inovatif individu yang merupakan inovasi tingkat
awal pada individu.
Trott (2008) menyebut inovasi memegang peran penting pada sebuah usaha
karena inovasi menyokong keberlangsungan hidup sebuah usaha sehingga
inovasi disebut sebagai pusat aktivitas pada sebuah usaha yang meliputi dari
pembentukan sebuah ide, hingga proses pemasaran produk yang melalui
pengembangan serta proses pembuatannya.
Sedangkan Drucker (2012) menyebutkan bahwa inovasi merupakan sebuah
alat bagi sebuah usaha karena dengan adanya perubahan atau inovasi yang
terjadi pada sebuah usaha, maka aka nada kesmepatan bagi sebuah usaa untuk
menjalankan sebuat usaha baru atau berbeda
Indikator Job Satisfaction
Dalam penelitian (Nurhandayani, 2022) menyatakan bahwa indikator dari
kepuasan kerja, yaitu:
a. Gaji
Besaran kompensasi yang diterima oleh karyawan untuk pekerjaan yang
dilakukan. Gaji merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi
kepuasan kerja, karena karyawan biasanya merasa dihargai apabila mereka
menerima gaji yang sesuai dengan upaya dan kinerja mereka.
b. Pekerjaan itu sendiri
Kepuasan yang berasal dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan yang
menarik, menantang, dan sesuai dengan minat atau keahlian seseorang dapat
meningkatkan kepuasan kerja. Sebaliknya, pekerjaan yang monoton atau
tidak sesuai dengan minat bisa menurunkan tingkat kepuasan.
c. Rekan Kerja
Hubungan dan interaksi yang terjalin dengan sesama karyawan juga menjadi
faktor penting dalam kepuasan kerja. Lingkungan kerja yang mendukung,
dengan rekan kerja yang kooperatif dan baik, dapat meningkatkan kepuasan
serta meningkatkan semangat kerja.
d. Atasan
Gaya kepemimpinan atasan dan hubungan interpersonal antara atasan dan
bawahan dapat memengaruhi kepuasan kerja. Atasan yang memberi
dukungan, memberikan umpan balik konstruktif, dan menciptakan
lingkungan kerja yang positif akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
e. Promosi
Kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan promosi atau kenaikan
pangkat merupakan faktor yang berpengaruh dalam kepuasan kerja.
Karyawan cenderung merasa lebih puas jika mereka memiliki peluang untuk
maju dalam karier dan mendapatkan pengakuan atas kinerja mereka.
f. Lingkungan Kerja
Lingkungan fisik dan psikologis tempat kerja juga memainkan peran dalam
kepuasan kerja. Lingkungan yang aman, nyaman, bersih, serta memiliki
fasilitas yang memadai dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan kerja
karyawan
Faktor-Faktor Job Satisfaction
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kepuasan kerja yaitu (Tiong,
2023: 99):
a. Kesempatan untuk maju
Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan bagi karyawan untuk memperoleh
pengalaman dan peningkatan kemampuan selama bekerja.
b. Keamanan kerja
Sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria
maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan
karyawan selama bekerja.
c. Gaji
Faktor ini lebih banyak ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan
kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang akan diperoleh.
d. Perusahaan dan manajemen
Perusahaan dan manajemen yang baik adalah faktor yang mampu
memberikan situasi dan kondisi yang stabil. Faktor ini yang menengtukan
kepuasan kerja karyawan.
e. Pengawasan (supervisi)
Bagi karyawan supervisor dianggap sebagai figure ayah dan sekaligus atasan.
Supervisi yang buruk berakibat absensi dan turnover.
f. Faktor intrinsik dari pekerjaan
Dimana atribut yang ada pada pekerjaan masyarakat keterampilan tertengtu.
Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan atau
mengurangi kepuasan.
g. Kondisi kerja
Faktor ini termasuk dalam kondisi kerja, ventilasi penyinaran, kantin dan
tempat parker.
h. Aspek sosial dalam pekerjaan
Merupakan salah satu sikap yang digambarkan tetapi dipandang sebagai
faktor yang menunjang kepuasan atau ketidakpuasaan dalam pekerjaan.
i. Komunikasi
Komunikasi yang lancar antara karyawan dan pihak manajemen banyak
dipakai sebagai alasan untuk menyukai jabatannya, dalam hal ini adanya
kesediaan piha atasan untuk mau mendengar, memahami, dan mengakui
pendapat ataupun prestasi karyawan. Keadaan ini akan sangat berperan dalam
menimbulkan rasa puas terhadap pekerjaan.
j. Fasilitas
Faktor ini seperti hal nya perusahaan memberikan fasilitas rumah sakit, cuti,
dana pension merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi
akan menimbulkan rasa puas
Teori Job Satisfaction
Ada lima teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja (Indrasari, 2017:42),
yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Teori pemenuhan kebutuhan
Teori ini berargumen bahwa kepuasan kerja diukur melalui penghargaan yang
diterima oleh karyawan atau tingkat kebutuhan yang berhasil dipenuhi.
Karyawan akan merasa puas jika mereka mendapatkan apa yang mereka
butuhkan. Semakin banyak kebutuhan yang terpenuhi, semakin tinggi
kepuasan yang dirasakan oleh karyawan, dan sebaliknya. Terdapat hubungan
positif yang langsung antara kepuasan kerja dan pemenuhan kebutuhan yang
diharapkan. - Teori equity
Teori ini menjelaskan bahwa kepuasan seseorang bergantung pada persepsi
keadilan yang dirasakannya. Rasa keadilan atau ketidakadilan ini muncul dari
perbandingan diri dengan orang lain yang berada dalam posisi yang sama,
baik di lingkungan kerja maupun di tempat lain. Teori ini membagi konsep
equity menjadi tiga kompon utama:
a. Input, yang mencakup segala sesuatu yang dianggap berharga oleh
pegawai sebagai kontribusi untuk pekerjaannya, seperti pendidikan,
pelatihan, dan alat kerja.
b. Out comes, yang merujuk pada segala hal yang dianggap berharga oleh
pegawai sebagai hasil dari pekerjaannya, termasuk gaji, status, dan
pengakuan atas prestasi.
c. Comparisons person, yaitu perbandingan antara input dan out comes yang
diterima. Menurut teori ini, kepuasan atau ketidakpuasan pegawai
ditentukan oleh perbandingan antara input-output dirinya dan input-output
pegawai lain. Jika perbandingan tersebut menunjukkan keadilan, maka
pegawai akan merasa puas, sebaliknya jika tidak, maka ketidakpuasan
akan muncul - Teori Ketidaksesuaian
Teori ini menjelaskan bahwa untuk menilai kepuasan kerja individu, perlu
dilakukan analisis terhadap perbedaan antara harapan yang dimiliki terhadap
pekerjaan dan realitas yang dialaminya. Tingkat kepuasan kerja seseorang
dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara harapan, kebutuhan, atau nilai-nilai
yang diinginkan dengan apa yang dirasakan atau dicapai melalui pekerjaan
tersebut. Oleh karena itu, sikap karyawan terhadap pekerjaannya sangat
dipengaruhi oleh perbedaan yang mereka rasakan. - Teori motivasi dua faktor
Teori ini menyatakan bahwa terdapat dua kategori yang mempengaruhi
tingkat kepuasan dan ketidakpuasan pegawai, yaitu:
a. Faktor pemeliharaan atau faktor ketidakpuasan, yang meliputi elemen-
elemen yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk mencapai
kenyamanan fisik, seperti gaji, kualitas supervisi, kebijakan organisasi,
serta hubungan interpersonal di antara rekan kerja, atasan, dan bawahan,
serta aspek keamanan kerja, status, dan kondisi kerja.
b. Faktor motivator atau faktor kepuasan, yang berfokus pada kebutuhan
psikologis pegawai. Faktor ini berkaitan dengan pengharg aan terhadap
individu yang berhubungan langsung dengan pekerjaan, seperti prestasi,
pengakuan, dan karakteristik pekerjaan itu sendiri. - Teori kelompok acuan sosial
Teori ini memiliki kesamaan dengan teori pemenuhan kebutuhan, tetapi
perbedaannya terletak pada fakta bahwa harapan, keinginan, dan kepentingan
berasal dari individu dalam konteks kelompok, bukan sebagai individu yang
terpisah. Teori ini menyatakan bahwa jika pekerjaan sejalan dengan
kepentingan, harapan, dan tuntutan individu dalam kelompok, maka individu
tersebut akan merasakan kepuasan dalam pekerjaannya. Namun, dalam
praktiknya, individu tidak selalu mengikuti keputusan kelompok dan
terkadang menunjukkan sikap independen
Pengertian Job Satisfaction
Kepuasan kerja pada dasarnya berkaitan dengan perilaku seseorang dalam
bekerja, di mana seorang karyawan akan merasa nyaman dan memiliki loyalitas
tinggi terhadap perusahaan apabila ia mendapatkan kepuasan kerja yang sesuai
dengan harapannya (Yuliani, 2023: 136). “Job satisfaction may be as pleasurable
as positive emotional state resulting from the appraisal of one’s job or job
experiences, state resulting from the appraisal of one’s job or job experiences”.
Kepuasan kerja dapat diartikan sebagai suatu kondisi positif yang dirasakan oleh
seseorang setelah menilai pekerjaan atau pengalaman yang mereka jalani. Hal ini
tercipta ketika individu merasa bahwa pekerjaan yang dilakukannya memenuhi
harapan dan kebutuhan mereka, baik dalam hal tantangan, penghargaan, maupun
keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.“The appraisal of one s job
as attaining or allowing the attainment of one’s important job value, providing these
value are congruent with or help full fit one’s basic needs” hal ini menunjukan
bahwa seseorang akan merasa puas dengan pekerjaannya jika pekerjaan itu tidak
hanya memberikan apa yang mereka nilai penting, tetapi juga jika pekerjaan
tersebut dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti kebutuhan emosional,
finansial, atau kebutuhan akan tantangan dan penghargaan dalam pekerjaan.
(Indrasari, 2017:38).
Kepuasan kerja merupakan perasaan positif atau negatif yang dirasakan oleh
seorang pegawai terkait pekerjaannya maupun kondisi pribadinya. Perasaan yang
berkaitan dengan pekerjaan mencakup aspek seperti upaya yang dikeluarkan,
peluang pengembangan karir, hubungan antar rekan kerja, penempatan posisi, dan
struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan kondisi
pribadi mencakup usia, kesehatan, kemampuan, serta tingkat pendidikan (Setiono
& Sustiyatik, 2019: 173). Kepuasan kerja adalah respons emosional positif atau
negatif yang dirasakan individu terhadap pekerjaan yang mereka lakukan, yang
pada akhirnya memengaruhi tindakan mereka dalam menyelesaikan tugas guna
mencapai tujuan perusahaan (Rony & Yulisyahyanti, 2022). Kepuasan kerja adalah
sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaanya. Sikap ini
dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja (Ernanto &
Indriyaningrum, 2023).
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan job satisfaction atau kepuasan kerja merupakan sikap positif yang
dirasakan oleh karyawan melalui penilaian terhadap berbagai aspek yang dianggap
baik dalam pekerjaan dan kondisi diri mereka. Kepuasan kerja mencakup perasaan
senang atau tidak senang yang dialami individu sehubungan dengan pekerjaan yang
dijalani
Indikator Burnout
Indikator-indikator burnout meliputi empat hal utama (Rosada, 2023), yaitu:
a. Kelelahan Fisik
Merujuk pada kondisi tubuh yang sangat lelah atau letih akibat beban kerja
yang berlebihan, kurang tidur, atau terlalu banyak waktu yang dihabiskan
untuk pekerjaan. Kelelahan fisik ini dapat mengurangi energi dan
mempengaruhi kinerja secara keseluruhan.
b. Kelelahan Mental
Ini berkaitan dengan keletihan yang dirasakan pada tingkat kognitif atau
pemikiran. Individu yang mengalami kelelahan mental mungkin merasa sulit
untuk berkonsentrasi, memproses informasi, atau membuat keputusan. Ini
terjadi akibat stres yang berkepanjangan atau tuntutan kognitif yang berat di
tempat kerja.
c. Kelelahan Emosional
Ini mengacu pada perasaan kewalahan secara emosional, seperti merasa
kosong, tidak termotivasi, atau kehilangan semangat dalam menjalani
pekerjaan. Kelelahan emosional sering kali diiringi dengan perasaan tidak
dapat mengatasi tuntutan pekerjaan atau hubungan interpersonal yang ada di
tempat kerja.
d. Penghargaan Diri yang Rendah
Individu yang mengalami burnout sering merasa bahwa mereka tidak
dihargai atau diakui atas pekerjaan yang mereka lakukan. Ini bisa
menurunkan rasa percaya diri mereka dan mengurangi motivasi untuk bekerja
lebih keras, yang semakin memperburuk kondisi burnout.
Dampak Burnout
Adapun dampak dari burnout adalah sebagai berikut (Hibah, 2023:10):
a. Burnout is Lost Energy
Pekerja yang mengalami kelelahan mental akan merasakan stres, merasa
tertekan, dan kehabisan energi. Mereka juga akan mengalami kesulitan dalam
tidur serta cenderung menjauh dari lingkungan sekitar. Kondisi ini akan
berdampak negatif pada kinerja mereka. Selain itu, produktivitas dalam
pekerjaan juga akan semakin menurun.
b. Burnout is Lost Enthusiasm
Keinginan untuk beraktivitas dalam pekerjaan semakin menurun, menjadikan
segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan terasa kurang menyenangkan.
Kreativitas dan minat terhadap pekerjaan juga semakin berkurang, sehingga
hasil yang dicapai menjadi sangat terbatas.
c. Burnout is Lost Confidence
Tanpa adanya energi dan partisipasi aktif dalam pekerjaan, kinerja pekerja
akan terhambat. Hal ini dapat menyebabkan pekerja merasa semakin tidak
efektif dan meragukan kemampuan diri mereka. Dampak dari kondisi ini akan
berpengaruh pada hasil pekerjaan secara keseluruhan. Ambiguitas peran,
motivasi intrinsik, dan konflik peran merupakan faktor yang berkontribusi
terhadap kelelahan kerja, yang memiliki hubungan dengan komitmen
organisasi, kepuasan kerja, kinerja tenaga penjual, serta keinginan untuk
berpindah
Faktor-faktor penyebab Burnout
Burnout umumnya terjadi akibat adanya ketidaksesuaian atau
ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan atau sumber
daya yang dimiliki oleh pekerja. Ketika individu merasa pekerjaan yang dilakukan
tidak sesuai dengan keterampilan, minat, atau nilai-nilai pribadinya, hal ini dapat
menyebabkan stres yang berkepanjangan. Ketidaksesuaian tersebut akan
mengganggu kesejahteraan fisik dan mental, serta menurunkan motivasi dan kinerja
kerja secara signifikan. Dengan kata lain, semakin besar perbedaan antara individu
dengan pekerjaannya, semakin besar kemungkinan terjadinya burnout yang dapat
mempengaruhi efektivitas dan produktivitas kerja. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi munculnya burnout (Alam, 2022:50), yaitu:
a. Work Overloaded
Work Overloaded dapat terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara pekerja dan
tugas yang diberikan. Pekerja sering kali dibebani dengan terlalu banyak
pekerjaan dalam waktu yang terbatas. Kondisi ini muncul karena pekerjaan
yang harus diselesaikan melebihi kapasitas kemampuan manusia yang
memiliki batasan. Akibatnya, kualitas kerja dapat menurun, hubungan antar
rekan kerja menjadi kurang sehat, kreativitas berkurang, dan risiko burnout
meningkat.
b. Lack of Work Control
Setiap orang memiliki keinginan untuk mendapatkan kesempatan dalam
membuat pilihan dan keputusan, serta memanfaatkan kemampuan berpikir
menyelesaikan masalah untuk mencapai prestasi. Namun, aturan yang ada
kadang-kadang membatasi inovasi pekerja, sehingga mereka merasa kurang
memiliki tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai akibat pengawasan
yang terlalu ketat dari atasan.
c. Rewarded for Work
Minimnya penghargaan di tempat kerja dapat menyebabkan karyawan merasa
tidak dihargai. Penghargaan tidak hanya diukur dari bonus finansial, tetapi
juga dari hubungan yang harmonis antara rekan kerja dan antara karyawan
dengan atasan. Penghargaan yang diberikan dapat meningkatkan perasaan
positif karyawan, yang merupakan indikator penting bahwa mereka telah
melaksanakan tugas dengan baik
d. Breakdown in Community
Karyawan yang tidak merasakan rasa memiliki terhadap komunitas di tempat
kerja cenderung mengalami kurangnya keterikatan positif. Seseorang akan
memberikan performa terbaiknya ketika merasa nyaman dan bahagia, yang
terbangun melalui saling menghargai. Namun, seringkali lingkungan kerja
justru menciptakan situasi yang berlawanan. Terdapat kesenjangan baik di
antara rekan kerja maupun dengan atasan, di mana masing-masing lebih fokus
pada diri sendiri dan kurang memiliki waktu berkualitas bersama.
e. Treated Fairly
Perasaan tidak diperlakukan secara adil merupakan salah satu faktor yang
dapat menyebabkan burnout. Keadilan melibatkan penghargaan terhadap
perbedaan dan saling menghormati. Rasa saling menghargai ini akan
memperkuat keterikatan dengan komunitas di tempat kerja. Tanpa adanya
keadilan, pekerja akan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan
kerjanya. Ketidakadilan sering kali muncul dalam konteks promosi atau
ketika pekerja disalahkan atas kesalahan yang tidak mereka buat
Pengertian Burnout
Burnout adalah sindrom yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental
yang intens, yang mencakup perkembangan konsep diri yang negatif, penurunan
kemampuan untuk berkonsentrasi, serta munculnya perilaku kerja yang buruk.
Burnout juga dikatakan sebagai kelelahan yang muncul akibat seseorang bekerja
dengan sangat intens tanpa memperhatikan kebutuhan pribadi mereka (Alam,
2022:42). Burnout merupakan kondisi kelelahan atau kejenuhan yang dialami oleh
seseorang dalam dunia kerja, yang umumnya disebabkan oleh beban kerja yang
berlebihan atau lingkungan kerja yang kurang mendukung. Ketika seseorang
mengalami burnout dalam tingkat yang tinggi, ia cenderung menarik diri
dari pekerjaannya (Amalia, 2021: 4-5).
Burnout merupakan suatu perasaan overload dari kelelahan fisik dan mental
yang merupakan akumulasi dari stres sehari-hari. Burnout juga mengakibatkan
produktivitas dan efekti vitas yang rendah bagi organisasi. Uraian di atas
menunjukkan bahwa burnout memiliki dampak negatif baik bagi individu maupun
organisasi (Natalia, 2016). Kemudian burnout juga dikatakan suatu sindrom karena
adanya tekanan kerja yang menyebabkan seseorang menjadi merasa letih, kelelahan
mental dan emosional, serta perasaan tidak berdaya, yang disebabkan oleh stres
akibat pekerjaan yang terlalu berat (Rosada, 2023).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa burnout adalah suatu
sindrom psikologis yang timbul akibat kelelahan yang sangat berat, baik fisik,
mental, maupun emosional, yang mengakibatkan gangguan pada individu dan
penurunan dalam pencapaian prestasi pribadi
Burnout
Dalam lingkungan profesional, seringkali tuntutan beban kerja yang tinggi
dapat menyebabkan karyawan menghadapi konflik peran yang mengganggu
kemampuan mereka untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaan dengan baik.
Konflik ini sering kali menyebabkan kesulitan dalam mencapai kepuasan kerja,
karena karyawan merasa tertekan oleh berbagai tuntutan yang tidak sejalan atau
bertentangan satu sama lain. Salah satu tantangan terbesar di bidang Sumber Daya
Manusia (SDM) adalah bagaimana mengurangi risiko burnout atau kelelahan akibat
pekerjaan
Indikator Innovative Behavior
Indikator dalam perilaku inovatif ada empat bagian (Puji Astuti et al., 2019)
sebagai berikut:
a. Pencarian Ide
Kemampuan mencari tahu teknologi baru, proses, teknik dan ide-ide baru.
Pencarian ide merupakan langkah pertama dalamkel proses inovasi, dimana
kreativitas dan kemampuan untuk berfikir out of the box sangat dibutuhkan
untuk menemukan solusi baru atau peluang yang belum dieksplorasi.
b. Pengembangan Ide
Kemampuan untuk mengembangkan, memperbaiki dan menghasilkan ide-ide
kreatif. Pada tahap ini, ide-ide tersebut dievaluasi, disempurnakan, dan
dipersiapkan untuk diterapkan. Proses ini memerlukan analisis mendalam dan
pengolahan informasi yang baik untuk menciptakan solusi yang lebih matang.
c. Implementasi Ide
Tahap ini melibatkan kemampuan untuk menerapakan ide yang telah
dikembangkan menjadi tindakan nyata dalam organisasi. Implementasi
meliputi proses perencanaan, pengorganisasian sumber daya, dan penerapan
solusi inovatif kedalam sistem kerja atau produk yang lebih nyata.
d. Pengambilan Risiko
Inovasi sering kali melibatkan ketidakpastian dan kemungkinan kegagalan.
Kemampuan untuk mengambil resiko mencerminkan kesiapan untuk
mencoba hal baru meskipun belum tentu terjamin keberhasilannya.
Aspek Innovative Behavior
Perilaku innovative behavior memiliki 5 aspek penting yang harus
diperhatikan (Laily & Wahyuni, 2018:45) yaitu sebagai berikut:
a. Opportunity Exploration
Aspek ini mengacu pada proses mempelajari dan mengetahui lebih banyak
tentang oeluang untuk berinvasi dan mengembangkan ide-ide baru. Ini
melibatkan analisis dan identifikasi potensi peluang yang dapat dimanfaatkan
untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kinerja, dengan langkah-
langkah seperti mengidentifikasi kebutuhan masalah, mengumpulkan
informasi. Menganalisis data, mengidentifikasi peluang, dan
mengembangkan strategi untuk memanfaatkan peluang yang telah
diidentifikasi.
b. Generativy
Aspek ini mengacu pada kemampuan untuk memunculkan konsep-konsep
baru dan inovatif untuk tujuan pengembangan. Ini melibatkan proses kreatif
yang memungkinkan individu atau tim untuk menghasilkan ide-ide baru,
memecahkan masalah, dan mengembangkan solusi yang lebih baik. Dengan
demikian, generativy meminkan peran penting dalam mendorong inovasi dan
kemajuan dalam berbagai bidang.
c. Formative Investigation
Aspek ini mengacu pada proses pemberian perhatian untuk menyempurnakan
ide, solusi, dan opini, dengan melakukan peninjauan dan evaluasi sistematis.
Dalam proses ini, ide-ide yang telah dihasilkan dievaluasi dan disempurnakan
untuk memastikan bahwa mereka efektif, efisien, dan sesuai dengan
kebutuhan. Dengan demikian, aspek ini memainkan peran penting dalam
meningkatkan kualitas dan keefektifan Solusi yang dihasilkan.
d. Championing
Aspek ini mengacu pada adanya praktek-praktek usaha untuk merealisasikan
ide ide. Dengan kata lain dalam aspek ini, mengambil langkah-langkah nyata
untuk membuat ide-ide menjadi kenyataan, dengan mempromosikan,
mendukung, dan mengdvokasi mereka agar dapat dimplementasikan dan
mencapai hasil yang diinginkan.
e. Application
Aspek ini mengacu pada mencoba untuk mengembangkan, menguji coba, dan
mengkomersialisasikan ide-ide inovatif. Dalam tahap ini ide-ide yang telah
dihasilkan dan disempurnakan kemudian diimplementasikan dalam bentuk
nyata, diuji coba untuk memastikan keefektifanya, dan dipasrkan untuk
mencapai kesuksesan komersial.
Faktor-Faktor Innovative Behavior
Terdapat dua faktor utama yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku
inovatif, yaitu faktor internal dan eksternal (Nardo et al., 2022:13).
- Faktor Internal
a. Tipe Kepribadian
Individu dengan tipe kepribadian yang berani mengambil risiko cenderung
lebih mampu mengembangkan dan melaksanakan perilaku inovatif.
b. Gaya Pemecahan Masalah
Karyawan yang memiliki gaya pemecahan masalah yang intuitif dapat
mengasilkan ide-ide baru, yang pada gilirannya akan menciptakan solusi
inovatif. - Faktor Eksternal
a. Kepemimpinan
Hubungan yang baik antara karyawan dan pemimpin dapat mendorong
munculnya perilaku inovatif. Karyawan yang merasa dihargai dan didorong
oleh pemimpin yang memberikan harapan tinggi akan lebih cenderung
menunjukan perilaku inovatif.
b. Dukungan untuk berinovasi
Dukungan dari orang-orang di sekitar individu, termasuk rekan kerja dan pihak
dalam organisasi, sangat penting untuk menciptakan suasana yang mendukung
perilaku inovatif.
c. Tuntutan Pekerjaan
Tingginya tuntutan pekerjaan dapat menjadi pemicu bagi karuawan untuk
meningkatkan kreativitas dan menghasilkan ide-ide inovatif. Tuntutan ini
menjadi dorongan bagi karyawan untuk menunjukan perilaku inovatif.
d. Iklim Psikologis
Iklim psikologis mengacu pada bagaimana karyawan memandang dan menilai
lingkungan organisasi mereka, yang dapat mepengaruhi kemampuan mereka
untuk berinovasi
Pengertian Innovative Behavior
Innovative behavior atau perilaku inovatif dapat dipahami sebagai
serangkaian tindakan individu yang bertujuan untuk menciptakan,
memperkenalkan, dan mengimplementasikan hal-hal baru yang memberikan
manfaat bagi organisasi secara keseluruhan (Nardo et al., 2022: 9). Perilaku inovatif
merupakan tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam upaya
menemukan solusi terhadap suatu permasalahan dengan menggali dan menerapkan
ide-ide baru, baik dalam konteks bisnis maupun organisasi (Ausat et al., 2023: 55).
Innovative behavior merupakan rangkaian aktivitas individu yang berfokus
pada identifikasi dan penerapan hal-hal baru yang memberikan keuntungan bagi
organisasi (Zain et al., 2024). Perilaku inovatif adalah pengenalan masalah dan
permulaan demonstrasi yang disengaja dari pemikiran baru dan berharga, termasuk
seperangkat perilaku yang diharapkan untuk menciptakan, mengirimkan, dan
melaksanakan pemikiran dengan rencana untuk meningkatkan kinerja individu
(Ernanto & Indri yaningrum, 2023)
Innovative Behavior
Setiap inovasi akan selalu diikuti dengan suatu perubahan, namun tidak setiap
perubahan selalu didorong oleh ide baru yang langsung memberikan pengaruh
positif terhadap kemajuan, perkembangan, dan pertumbuhan suatu organisasi.
Keunggulan kompetitif perusahaan dalam dunia bisnis bisa tercapai melalui budaya
kerja yang inovatif, serta adanya dukungan penuh dari pihak manajemen. Oleh
karena itu, perusahaan harus memandang hal ini sebagai faktor penting dalam
strategi mereka. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan memberikan
dorongan dan motivasi kepada karyawan agar mereka senantiasa mengembangkan
perilaku inovatif. Dengan meningkatkan perilaku inovatif, karyawan dapat
merasakan kepuasan dalam pekerjaan mereka, yang pada gilirannya akan
berdampak positif pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Inovasi yang
didorong oleh perilaku kreatif dan terintegrasi dengan visi perusahaan akan
mempercepat pencapaian tujuan dan memperkuat posisi kompetitif perusahaan
Pengaruh Work-Life Balance terhadap Innovative Work Behavior
WLB tidak hanya memberikan manfaat bagi kesejahteraan individu, tetapi
juga memiliki implikasi penting terhadap kinerja inovatif. Keseimbangan hidup
memungkinkan individu untuk memulihkan energi secara emosional dan fisik,
menjaga kesehatan mental, serta mempertahankan semangat dan motivasi dalam
bekerja. Fisher et al. (2009) menjelaskan bahwa individu yang merasa memiliki
kontrol atas jadwal dan tuntutan hidupnya akan lebih siap dalam menghadapi
tantangan kerja dan lebih terbuka terhadap perubahan. Hal ini menjadi dasar bagi
munculnya kreativitas, fleksibilitas kognitif, dan inisiatif inovatif.
Kim dan Yun (2019) menegaskan bahwa WLB berkontribusi secara
signifikan terhadap kualitas hidup kerja yang berdampak langsung pada perilaku
inovatif karyawan. Wibowo (2024)menemukan bahwa WLB berkontribusi positif
terhadap peningkatan IWB. Karyawan yang mampu menjaga keseimbangan antara
pekerjaan dan kehidupan pribadinya cenderung memiliki tingkat keterlibatan kerja
yang lebih tinggi, sehingga lebih terdorong untuk mengemukakan ide-ide baru dan
mencoba pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan tugas. Temuan ini
mengindikasikan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi dapat menjadi
faktor penting yang menopang kesiapan mental karyawan untuk berinovasi.
WLB menciptakan ruang psikologis yang aman bagi individu untuk
berinovasi. Ketika guru merasa bahwa kehidupan pribadinya tidak terancam oleh
tuntutan pekerjaan, mereka akan lebih berani untuk mengambil risiko kognitif dan
eksperimen dalam pengajaran. Ini memperlihatkan bahwa WLB bukan hanya soal
pengelolaan waktu, tetapi menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya mindset
inovatif dalam dunia pendidikan
Pengaruh Employee Engagement terhadap Work-Life Balance
Meskipun EE secara umum dianggap sebagai hal yang positif, penelitian
menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan kerja yang tinggi dapat berdampak
ambivalen terhadap WLB. Di satu sisi, keterlibatan kerja dapat menyebabkan
kelelahan apabila tidak di padukan dengan sistem kerja yang mendukung
keseimbangan hidup. Namun, studi oleh Ali et al. (2022) menunjukkan bahwa
dalam konteks organisasi yang memiliki fleksibilitas kerja dan budaya dukungan
sosial, EE justru berkontribusi positif terhadap pencapaian WLB. Dalam kondisi
demikian, individu yang engaged merasa lebih memiliki kontrol atas waktu dan
peran-peran kehidupannya, sehingga lebih mampu menjalankan fungsi pribadi
maupun profesional secara seimbang.
Penelitian oleh Christian et al., (2011) menyatakan bahwa EE yang sehat
memungkinkan individu untuk mengelola energi mereka secara adaptif, termasuk
dalam menyeimbangkan tuntutan kerja dan kehidupan pribadi. Guru yang memiliki
keterlibatan tinggi, namun juga mampu mengatur waktu istirahat dan interaksi
sosial di luar pekerjaan, akan mengalami tingkat stres yang lebih rendah dan
kepuasan hidup yang lebih tinggi. EE yang ideal bukan hanya menciptakan
produktivitas tinggi, tetapi juga memperkuat kapasitas individu untuk mengatur
keseimbangan hidup. Guru yang memiliki EE yang sehat tidak memandang
keterlibatan kerja sebagai beban, melainkan sebagai ekspresi aktualisasi diri,
sehingga mampu menjaga batasan sehat antara ranah pekerjaan dan kehidupan
pribadi. Dalam konteks pendidikan modern yang menuntut fleksibilitas tinggi, EE
yang dikombinasikan dengan keterampilan pengelolaan diri akan menjadi kunci
utama tercapainya WLB.
Dinh, (2020) menambahkan bahwa EE secara tidak langsung berperan
sebagai pengatur stres kerja. Ketika individu merasa terhubung secara positif
dengan pekerjaannya, mereka cenderung memiliki persepsi kontrol yang lebih
tinggi terhadap beban kerja dan tuntutan waktu. Kondisi ini memungkinkan
terciptanya keseimbangan antara peran profesional dan personal, yang pada
akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan
Pengaruh Employee Engagement terhadap Innovative Work Behavior
Karyawan yang memiliki tingkat EE yang tinggi umumnya menunjukkan
antusiasme, dedikasi, dan keterlibatan penuh dalam pekerjaan mereka. Schaufeli et
al. (2002)dalam Ali et al., (2022) mendeskripsikan engagement sebagai suatu
kondisi psikologis positif yang mendorong individu untuk bekerja dengan penuh
semangat, memiliki komitmen terhadap organisasi, dan secara aktif terlibat dalam
pencapaian tujuan kerja. Keterlibatan ini menciptakan lingkungan psikologis yang
kondusif bagi munculnya inisiatif, pemikiran kreatif, dan perilaku proaktif. Dalam
konteks pendidikan, guru yang engaged tidak hanya menjalankan tugas mengajar
secara rutin, tetapi juga terdorong untuk mengeksplorasi metode pembelajaran
baru, menyesuaikan pendekatan pengajaran dengan kebutuhan siswa, serta aktif
mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di kelas (Xanthopoulou et al.
2013).
Amanda et al., (2024) dalam penelitiannya membuktikan bahwa EE
memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku kerja inovatif. Penelitian tersebut
menyoroti bahwa keterlibatan guru berkontribusi terhadap munculnya keberanian
dalam mengambil risiko terukur, serta keinginan untuk terus memperbarui strategi
pengajaran secara mandiri. Selain itu, Saks (2019) menyatakan bahwa engagement
berkorelasi positif dengan perilaku kerja ekstra-peran, termasuk inovasi dan
partisipasi dalam pengembangan organisasi EE berfungsi tidak hanya sebagai
pendorong motivasi internal, tetapi juga sebagai sumber energi psikis yang
memungkinkan individu untuk menanggung ketidakpastian dan risiko dalam proses
inovasi. Dalam dunia pendidikan, guru yang engaged cenderung lebih resilien
terhadap hambatan struktural seperti keterbatasan fasilitas atau resistensi terhadap
perubahan, karena mereka memiliki dorongan intrinsik untuk berkontribusi lebih.
Elamin et al., (2024) yang menunjukkan bahwa EE tidak hanya berkorelasi
langsung dengan perilaku kerja inovatif, tetapi karyawan yang engaged cenderung
lebih terbuka dalam bertukar ide dan pengalaman, yang pada akhirnya menciptakan
lingkungan yang mendorong eksplorasi dan implementasi ide-ide baru. Hal ini
menegaskan bahwa EE dapat menjadi katalis yang kuat untuk inovasi yang
berkesinambungan dalam organisasi. Oleh karena itu, EE menjadi prasyarat penting
untuk menciptakan perilaku kerja inovatif yang berkelanjutan di lingkungan
pendidikan. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa IWB sangat dipengaruhi oleh
kondisi psikologis individu, dukungan organisasi, dan keterlibatan kerja. Ali et al.
(2022) menemukan bahwa karyawan yang memiliki EE yang tinggi lebih
cenderung menunjukkan perilaku inovatif karena merasa memiliki tanggung jawab
lebih besar terhadap perbaikan di tempat kerja
Dimensi Work-Life Balance
Hayman (Hayman, 2005), mengidentifikasi tiga dimensi utama yang
menyebabkan mana individu dapat menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan
kehidupan pribadi secara efektif:
- Work Interference with Personal Life (WIPL), merupakan ukuran
sejauh mana pekerjaan individu mengganggu atau menghambat
kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab
dalam kehidupan pribadi. Tingginya tingkat WIPL menunjukkan
adanya tekanan pekerjaan yang berdampak negatif terhadap kualitas
kehidupan non-pekerjaan. - Personal Life Interference with Work (PLIW), menggambarkan
sejauh mana tanggung jawab dan kegiatan pribadi memengaruhi
performa, fokus, dan keterlibatan individu di tempat kerja. Dimensi
ini menekankan adanya interaksi timbal balik antara kehidupan
pribadi dan pekerjaan, yang dapat mempengaruhi efektivitas individu
dalam melaksanakan tugas-tugasnya. - Work/Personal Life Enhancement (WPLE), mencerminkan dampak
positif dari interaksi antara kehidupan kerja dan pribadi, yaitu sejauh
mana pengalaman, keterampilan, atau sumber daya yang diperoleh
dari salah satu domain dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas di
domain lainnya. Dimensi ini menekankan peran synergy antara
pekerjaan dan kehidupan pribadi dalam mendukung kesejahteraan
individu dan produktivitas organisasi
Work-Life Balance
Work-life balance (WLB) merupakan suatu kondisi di mana individu dapat
menjalankan peran dan tanggung jawab dalam pekerjaan maupun kehidupan
pribadi secara harmonis, tanpa menyebabkan konflik yang berlebihan di salah satu
aspek kehidupannya. Konsep ini menekankan pada pentingnya keseimbangan
antara tuntutan profesional dan kebutuhan pribadi agar individu dapat berfungsi
secara optimal di kedua ranah tersebut. (Ali et al., 2022) menjelaskan bahwa WLB
mencerminkan kapasitas seseorang dalam mengelola waktu, energi, dan perhatian
secara proporsional antara pekerjaan dan kehidupan personal, sehingga ia dapat
mempertahankan stabilitas emosional dan performa kerja yang sehat. Dalam
kerangka kerja modern, WLB dipandang bukan hanya sebagai isu kesejahteraan
karyawan, tetapi juga sebagai faktor strategis yang dapat mempengaruhi motivasi,
keterlibatan kerja, dan bahkan perilaku inovatif di tempat kerja.
Wood et al. (2020) menunjukkan bahwa WLB memiliki pengaruh positif
terhadap keterlibatan kerja harian dan kesiapan psikologis karyawan untuk
menghadapi beban kerja. Mereka menyatakan bahwa individu yang secara teratur
mampu menciptakan jeda mikro (micro-breaks) dan mengelola keseimbangan
energi antara aktivitas kerja dan non-kerja akan cenderung menunjukkan
keterlibatan yang lebih tinggi dan sikap kerja yang lebih adaptif. Dalam konteks
organisasi, WLB mendukung pencapaian kinerja berkelanjutan karena mampu
menekan tingkat kelelahan emosional, meningkatkan kepuasan kerja, dan
memperbesar kemungkinan munculnya gagasan atau inovasi baru.
Kim dan Yun (2019) menegaskan bahwa WLB berkontribusi secara
signifikan terhadap kualitas hidup kerja yang berdampak langsung pada perilaku
inovatif karyawan. Individu yang merasakan keseimbangan hidup cenderung lebih
kreatif, terbuka terhadap perubahan, serta bersedia untuk berpartisipasi dalam
penciptaan dan pelaksanaan ide-ide baru. WLB juga memungkinkan seseorang
untuk memproses tantangan pekerjaan secara lebih konstruktif karena tidak
mengalami tekanan berlebihan dari aspek kehidupan pribadinya
Employee Engagement
Employee engagement (EE) menggambarkan sejauh mana karyawan
terlibat secara emosional dan kognitif dalam pekerjaannya. Menurut Kahn (1990)
dalam Huang et al., (2022), EE mencakup keterlibatan fisik, kognitif, dan
emosional karyawan dalam peran kerja mereka. Schaufeli et al. (2002) dalam Ali
et al., (2022) menambahkan bahwa EE adalah kondisi positif yang ditandai oleh
vigor (semangat), dedication (dedikasi), dan absorption (keterlibatan penuh). Vigor
mengacu pada energi dan ketahanan mental yang tinggi saat bekerja, dedication
mencerminkan keterlibatan kuat dan rasa bangga terhadap pekerjaan, sedangkan
absorption adalah keadaan di mana karyawan sepenuhnya tenggelam dalam
pekerjaannya sehingga waktu terasa berlalu dengan cepat
Innovative Work Behavior
Innovative work behavior (IWB) merujuk pada perilaku individu di tempat
kerja yang bertujuan untuk menghasilkan, mengembangkan, serta menerapkan ide-
ide baru guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi. Menurut Farrukh
et al. (2022), IWB melibatkan proses penciptaan, adopsi, dan implementasi ide-ide
baru untuk produk, layanan, dan praktik kerja oleh karyawan. Dalam konteks ini,
inovasi tidak terbatas pada teknologi, tetapi juga mencakup cara kerja baru,
perbaikan proses, hingga pendekatan interaksi kerja yang lebih efisien. IWB bukan
hanya tentang ide, tetapi juga keberanian untuk memperjuangkannya dan
menjadikannya nyata dalam praktik kerja. Perilaku inovatif ini menjadi kunci
penting dalam menciptakan organisasi yang adaptif dan berkelanjutan.
Menurut De Jong & Den Hartog (2010), dalam Ali et al. (2022), IWB terdiri
dari empat fase utama: eksplorasi peluang, generasi ide, promosi ide, dan
implementasi ide. Pada tahap eksplorasi, individu aktif mengamati dan
mengidentifikasi kebutuhan atau peluang di lingkungan kerjanya yang dapat
direspons melalui perubahan. Generasi ide mencerminkan proses berpikir kreatif
dalam menghasilkan solusi baru terhadap masalah yang ada. Promosi ide
melibatkan upaya untuk memperoleh dukungan dari atasan atau rekan kerja
terhadap ide-ide tersebut. Terakhir, implementasi ide mengacu pada penerapan
solusi tersebut secara nyata dalam kegiatan kerja sehari-hari, yang diharapkan
mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi organisasi.
Elamin et al. (2024) menekankan bahwa adanya keterlibatan dalam
knowledge sharing, kepercayaan terhadap pimpinan, dan sistem penghargaan dapat
memperkuat munculnya IWB di lingkungan kerja. Faktor personal seperti rasa
percaya diri dan keinginan untuk berkontribusi juga menjadi pemicu internal yang
penting. IWB memiliki implikasi besar baik terhadap individu maupun organisasi.
Bagi organisasi, perilaku inovatif karyawan mendorong efisiensi proses,
peningkatan kualitas produk atau layanan, serta keunggulan kompetitif yang
berkelanjutan Hock-Doepgen et al. (2025) menjelaskan bahwa perilaku inovatif
karyawan merupakan faktor penting dalam menciptakan inovasi berkelanjutan yang
mampu menjaga daya saing organisasi di pasar yang dinamis. Dalam tingkat
individu, IWB meningkatkan rasa kepemilikan terhadap pekerjaan, memperluas
kompetensi, dan memberi peluang pertumbuhan karier. Yen et al. (2025)
menegaskan bahwa perilaku inovatif individu berkontribusi pada pengembangan
keterampilan baru dan memperkuat motivasi intrinsik untuk berprestasi lebih baik
dalam pekerjaannya.
Pemahaman IWB dapat diperkuat dengan Job Demands-Resources (JDR)
Model dari Bakker & Demerouti (2007) dalam Hwang & Yi, (2025), yang
menekankan bahwa perilaku karyawan dipengaruhi oleh keseimbangan antara
tuntutan pekerjaan (job demands) dan sumber daya pekerjaan (job resources). Job
demands yang tinggi tanpa sumber daya yang memadai dapat menimbulkan stres
dan mengurangi kapasitas inovatif, sedangkan job resources seperti dukungan
atasan, otonomi, dan kesempatan pengembangan kompetensi dapat meningkatkan
employee engagement, motivasi, dan perilaku inovatif. Dengan demikian, model
JDR menyediakan kerangka teoritis yang kuat untuk menjelaskan mengapa
karyawan mampu menunjukkan perilaku inovatif secara konsisten dan
berkelanjutan
Self efficacy terhadap perilaku kerja inovatif.
Dalam studi sebelumnya pada penelitian Dewa Nyoman dan
Komang Ardan (2016) telah ditemukakan bahwa berdasarkan hasil
dari uji regresi linier berganda nilai Sig. pada variabel self efficacy
sebesar 0,000 dan lebih kecil dari alpa 0,05. Sehingga hasil ini
memberikan bukti bahwa self efficacy memiliki pengaruh yang
signifikan dan positif terhadap perilaku kerja inovatif karyawan.
Dengan semakin tinggi self efficacy yang dihasilkan individu maka
semakin tinggi pula perilaku kerja inovatif yang timbul pada diri
karyawan. Hasil penelitian pun diperkuat oleh penelitian terdahulu
pada hasil penelitian Hsi-Chi Hsiao et al., (2011),
Wahyuningrum,dkk. (2012), dan Momeni et al., (2014) yang
menyatakan bahwasannya self efficacy memiliki pengaruh positif
terhadap perilaku kerja inovatif.
Budaya organisasi islami terhadap perilaku kerja inovatif
Dalam penelitian Bondan Ndaru (2014) menyatakan hasil
bahwasannya budaya organisasi memiliki pengaruh signifikan
terhadap perilaku kerja inovatif dengan hasil t-statistik sebesar
(2,756)>t-tabel (1,671). Maka hasil ini memberikan artian bahwa
dengan adanya budaya organisasi yang kuat bahwa akan membuat
karyawan untuk dapat berfikir, berbuat, berprilaku sesuai yang telah
ditetapkan ada pada organisas. Sehingga kesesuaian yang terbentuk
dari masing-masing individu karyawan didalam suatu organisasi akan
mendorong mereka untuk dapat berperilaku inovatif dalam bekerja.
Hasil olah data dari penelitian terdahulu diatas diperkuat oleh hasil
penelitian yang dilakukan oleh Desphande and Farley (2004), Hult et
al. (2004) di dalam penelitian Bondan (2014) bahwasannya
keterkaitan budaya organisasi merupakan determinan utama bagi
perilaku kerja inovatif, juga menekankan pada aspek lingkungan pada
organisasi yang berorientasi pada budaya riset dan pengembangan
sebagai faktor penting perusahaan dalam menghadapi persaingan
Self efficacy terhadap budaya organisasi islami
Self efficacy merupakan kepercayaan yang muncul dari dalam diri
individu akan kemampuannya dalam menjalankan tugasnya agar
mencapai tujuannya (Venna et al, 2017:164). Faktor dari self efficacy
salah satunya yaitu faktor budaya, budaya dapat memberikan
pengaruh kepada self efficacy melalui nilai, kepercayaan dan proses
pengaturan diri yang memiliki fungsi sebagai sumber penilaian self
efficacy juga sebagai keyakinan akan self efficacy. Jika di dalam
organisasi terdapat budaya organisasi yang berlandaskan islami dan
membawa dampak positif dalam perusahaan maka akan mampu
meningkatkan self efficacy dalam bekerja. Sehingga dari budaya
organisasi islami yang positif didalam organisasi tentunya akan
menambah kepercayaan diri pada karyawan dalam mengapresiasikan
pendapatnya. Dalam penelitian Kwan dan Eddy (2013) menunjukkan
bahwa adanya pengaruh positif dari budaya organisasi dan self
efficacy karyawan melalui pengujian inner model menunjukkan
sebesar 0,535. Dengan adanya budaya organisasi dalam perusahaan
dapat memberikan dampak pada karyawan dengan merasa turut
terlibat menjadi bagian dari organisasi sehingga dengan keterlibatan
tersebut memberikan dorongan pada rasa kepercayaan individu dalam
bertindak.
Menurut Muhammad (2004:263) adapun manfaat budaya organisasi
islami bagi berbagai pihak terkait yaitu sebagai berikut:
1) Bagi karyawan muslim. Dapat memberikan dorongan dalam hal:
a) Kesempatan berperan
b) Berprestrasi
c) Aktualisasi diri
d) Mendapatkan pengakuan
e) Penghargaan
f) Kebanggaan kerja
g) Rasa ikut memiliki dan bertanggung jawab
h) Meningkatkan memimpin dan
i) Memecahkan masalah
2) Bagi perusahaan tempat bekerja. Budaya organisasi islami dan
perusahaan akan mampu:
a) Meningkatkan kerjasama
b) Mengefektifkan koordinasi
c) Integrasi dan singkronisasi
d) Memperlancar komunikasi dan hubungan kerja
e) Menumbuhkan kepemimpinan yang partisipatif
f) Mengeliminasi hambatan psikologis dan kultural
g) Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan
h) Mendorong kreativitas karyawan
Indikator dalam budaya organisasi islami
Menurut Muhammad (2004:264) indikator dalam nilai-nilai budaya
kerja islami yaitu:
1) Komitmen dan konsisten. Dalam bekerja karyawan harus
menjaga komitmen dalam perjanjian kerja serta menaatinya
dengan menjaga konsistensi dalam bekerja.
2) Wewenang dan tanggungjawab. Menjaga tanggung jawab
merupakan nilai yang harus dipegang teguh setiap karyawan
agar tidak terjadi penyelewengan dalam bekerja.
3) Keikhlasan dan kejujuran. Dalam bekerja harus memunculkan
niat yang ikhlas dengan pengharapan Ridho Allah semata
dengan bekerja penuh kejujuran yang utama.
4) Kreativitas dan kepekaan. Dalam bekerja diharuskan setiap
karyawan memiliki kreativitas dalam bekerja sehingga mampu
menghadapi persaingan di dunia luar serta menjaga kepekaan
dengan setiap rekan kerja.
5) Kepemimpinan dan keteladanan. Dalam bekerja kepemimpinan
dengan memegang teguh nilai islami bersumber dari Rasulullah
SAW merupakan keteladanan yang wajib dicontoh.
6) Kebersamaan dan dinamika kelompok. Dalam bekerja menjaga
kebersamaan dalam menghadapi kesulitan menjadi kunci utama
agar terus terjalin komunikasi yang baik antar kelompok.
7) Keakurasian dan kecepatan. Dalam bekerja kecepatan dan
keakurasian menjadi keharusan dan harus dipertahankan agar
terus bergerak mencapai tujuan yang diinginkan.
8) Rasionalitas dan kecerdasan emosi. Dalam bekerja karyawan
dengan pikiran emosional dan rasional sangat berkaitan erat
saling melengkapi, emosi memberikan masukan dan informasi
kepada pikiran rasional.
9) Keteguhan dan ketegasan. Dalam bekerja karyawan seharusnya
teguh dalam memegang prinsip tetapi tetap luwes dalam
mengoreksi kesalahan dan tidak ragu-ragu.
10) Disiplin dan keteraturan kerja. Dalam bekerja karyawan
diwajibkan menjaga kedisiplinan dalam bekerja ini merupakan
contoh karyawan yang siap untuk bekerja dengan teratur sesuai
dengan peraturan yang ada dalam perusahaan.
11) Keberanian dan kearifan. Dalam bekerja penting menjunjung
tinggi keberanian dalam mengemukakan pendapat jika benar
dan jika salah menghindari kemungkaran terjadi disekelilingnya
dalam bekerja.
12) Dedikasi dan loyalitas. Dalam bekerja penting perlunya loyalitas
karyawan dalam bekerja dengan mencurahkan seluruh keahlian
yang dimilikinya dengan dedikasi penuh pada pekerjaannya.
13) Semangat dan motivasi. Dalam bekerja karyawan perlu menjaga
semangat serta motivasi yang tinggi agar dapat memberikan
dorongan dalam bekerja.
14) Ketekunan dan kesabaran. Dalam bekerja semua butuh proses
yang tidak instan butuh pengorbanan, kesabaran diimbangi
dengan ketekunan yang menjadikan pekerjaan menjadi
15) Keadilan dan keterbukaan. Dalam bekerja Rasulullah pun
menerapkan keadilan dalam bekerja serta bersikap keterbukaan
yang terus dipertahankan.
16) Penguasaan ilmu dan teknologi. Dalam bekerja tantangan terus
ada dengan perkembangan teknologi menjadikan karyawan
harus mampu menguasai ilmu yang mendalam dan teknologi
sebagai pendamping yang bersatu padu.
Pengertian budaya organisasi islami
Menurut Robbins dan Judge (2008) budaya organisasi
merupakan sebuah sistem dimana para anggota organisasi
menganutnya bersama sehingga membedakan organisasi tersebut
dengan organisasi lainnya. Sedangkan menurut R.Denison dalam
Umam (2010) mengatakan bahwa budaya organisasi merupakan
nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip-prinsip dasar yang merupakan
sebagai landasan serta perilaku yang gunanya untuk meningkatkan
atau menguatkan dari prinsip-prinsip tersebut. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa budaya organisasi islami menurut Diah (2015)
yaitu suatu sistem makna dengan nilai-nilai, kepercayaan yang
berdasarkan pada nilai islami yang dianut didalam organisasi
tersebut menjadi sebuah rujukan dalam bertindak serta
membedakan dengan organisasi lainnya
Karakter individu dengan perilaku kerja inovatif
Menurut George dan Zhou (2001) dalam Sujarwo (2017)
menyatakan tentang karakter dari individu yang memiliki perilaku
kerja inovatif ada beberapa karakter yaitu,
1) Mencari tahu teknologi baru, proses, teknik dan ide-ide baru.
2) Menghasilkan ide-ide kreatif
3) Memajukan serta memperjuangkan ide-ide tersebut ke orang
lain.
4) Meneliti serta menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk
mewujudkan ide-ide baru.
5) Mengembangkan rencana serta jadwal yang matang untuk dapat
merealisasikan ide baru tersebut
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kerja inovatif
Menurut Etikariena dan Muluk (2014) dalam Bobo (2017) ada
beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku kerja inovatif
yaitu:
1) Faktor Internal
a) Tipe Kepribadian
Individu yang memiliki tipe kepribadian ialah
individu yang mampu serta berani menanggung resiko
terhadap perilaku inovatif yang dibuat. Sehingga orang
yang menyatakan dirinya mampu akan dengan mudah
untuk munculnya perilaku kerja inovatif.
b) Gaya individu memecahkan masalah.
Individu yang mempunyai gaya dalam pemecahan
masalah bersifat intuitif dapat memberikan ide sehingga
menghasilkan solusi yang baru. Individu seperti ini dapat
dengan mudah menyesuaikan beradaptasi dengan cepat
akan kondisi yang terjadi untuk dapat memecahkan
masalah yang terjadi didalam lingkungan kerja.
2) Faktor Eksternal
a) Kepemimpinan
Jika bawahan yang kurang menjaga hubungan baik antar
bawahan dan atasannya, hal ini dapat menjadikan perilaku
inovatif individu kurang terlihat, tetapi jika individu
karyawan memiliki hubungan baik dengan atasannya, maka
dapat memunculkan perilaku inovatif pada diri karyawan.
b) Dukungan dalam berinovasi
Dukungan yang berasal dari orang-orang sekitar dapat
membantu individu karyawan dalam berperilaku inovatif,
tetapi bukan hanya dukungan dari orang dalam pun bisa
memunculkan perilaku inovatif bagi karyawan tersebut.
Sehingga dukungan orang sekitarnya bekerja seperti rekan
kerja sangat mampu untuk individu berinovatif karena
lingkungan sekitarnya mendukung dirinya.
c) Tuntutan dalam pekerjaan
Tuntutan pekerjaan berasal dari perusahaan tempatnya
bekerja yang cenderung memicu semangat karyawan dalam
berperilaku inovatif, sehingga menjadi sebuah dorongan
tersendiri bagi karyawan. Akibat yang muncul dari adanya
adanya tuntutan pekerjaan yang tinggi adalah berperilaku
inovatif.
d) Iklim psikologis
Iklim psikologis menunjukkan bagaimana lingkungan
tempatnya bekerja dipersiapkan dan di interpretasikan oleh
karyawan
Indikator perilaku kerja inovatif
Indikator perilaku kerja inovatif menurut Jenssen (2000) dalam
Aditya dan Ardhana (2016) terdiri dari beberapa indikator yaitu,
1) Generasi ide (idea generation)
Indikator ini mengacu pada pengembangan serta dari
penggunaan ide-ide yang memberi banyak manfaat bagi
organisasi sendiri. Indikator ini dapat diukur dari tanggapan
responden terhadap upayanya dalam mencari metode kerja yang
baru. Dalam bekerja individu dapat mencari metode kerja yang
baru yang dapat meningkatkan kinerjanya agar bermanfaat bagi
perusahaan.
2) Promosi ide (idea promotion)
Indikator ini mengacu pada perilaku individu yang
bertujuan menjual ide inovatifnya pada rekan kerjanya ataupun
pada atasannya sekalipun. Pada indikator ini dapat diukur dari
bagaimana tanggapan dari responden pada upayanya untuk
mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak seperti atasan
ataupun rekan kerjanya sehingga ide inovatif yang dimiliki
individu dapat tersampaikan. Dapat mengkonsultasikan ide baru
nya hingga membicarakannya kepada atasan akan ide barunya
yang membawa manfaat agar dapat diterapkan di lingkungannya
bekerja.
3) Impelementasi ide (idea implementation)
Indikator mengacu pada penyertaan perilaku individu yang
mengarah untuk realisasi serta pengaplikasian ide atau
gagasannya di tempatnya bekerja. Pada indikator ini dapat
diukur dari tanggapan responden terhadap bagaimana cara
individu untuk mewujudkan ide-ide barunya tersebut menjadi
aplikasi atau program yang dapat digunakan. Ide baru yang telah
diajukan sehingga dapat diterapkan didalam lingkungannya
bekerja serta membawa manfaat bagi sekitar.
Dari indikator perilaku kerja inovasi diatas menurut Jenssen
(2000) yang telah diuraikan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
indikator perilaku kerja inovasi dibagi menjadi beberapa indikator
yaitu generasi ide (idea generation), promosi ide (idea promotion), dan
impelementasi ide (idea implementation)
Pengertian perilaku kerja inovatif
Menurut Farr dan Ford dalam Wardhani dan Gulo (2017)
menyatakan bahwa perilaku kerja inovatif yaitu bentuk perilaku
dengan tujuan untuk mencapai inisiasi serta pengenalan suatu ide,
proses, prosedur maupun produk baru yang berguna bagi
organisasi. Menurut Inkeles, et al dalam Wardhani dan Gulo (2017)
mengartikan sebagai bagian proses dari modernisasi yang dikaitkan
pada perilaku kerja inovatif sebagai bagian dari proses perubahan
dalam kehidupan masyarakat, dengan diikuti oleh perubahan sikap,
sifat serta gaya hidup individu dalam bermasyarakat. Menurut
West dan Farr (1989) dalam Wardhani dan Gulo (2017) perilaku
kerja inovatif yaitu penemuan, pengalaman serta pengaplikasian
dari ide, proses, produk dan prosedur yang baru lalu digunakan ke
dalam organisasi untuk mendapatkan manfaat terhadap performa
kerja, kelompok kerja, organisasi dan masyarakat luas. Jadi dapat
disimpulkan bahwa perilaku kerja inovatif merupakan suatu bentuk
perilaku individu akan penemuan, pengalaman dengan
mengimplementasikan ide-ide, gagasan, proses, produk, hingga
prosedur baru untuk digunakan dalam organisasi serta berguna
Dimensi self efficacy
Dimensi self efficacy menurut Bandura dalam Ismail (2016:39)
memiliki tiga dimensi yaitu,
1) Tingkat (level).
Yaitu persepsi diri individu tentang kemampuannya untuk
memperoleh tingkah laku atau perilaku yang akan diukur
dengan tingkat tugas yang menunjukkan variasi kesulitan
tugas. Maka dengan tingkatan kesulitan yang dimiliki akan
mampu mengindikasi dimensi kecerdikan, tenaga, serta akurasi
yang dibutuhkan untuk menyebutkan beberapa dimensi
perilaku kerja. Jika individu karyawan yang memiliki self
efficacy yang tinggi akan mampu bahwa dirinya yakin dapat
menyelesaikan tugas yang sulit sedangkan jika individu
memiliki self efficacy yang rendah memiliki keyakinan bahwa
dirinya hanya mampu menyelesaikan tugas yang mudah saja.
2) Keluasan (generality).
Yaitu individu menilai keyakinannya berfungsi di berbagai
kegiatan tertentu. Dimensi ini berkaitan dengan bagaimana
penguasaan individu dengan bidang atau tugas pekerjaan.
Maka jika individu dengan self efficacy yang tinggi mampu
menguasai beberapa bidang sekaligus untuk dapat
menyelesaikan suatu tugas. Sedangan jika individu dengan self
efficacy yang rendah hanya menguasai sedikit bidang yang
diperlukan dalam menyelesaikan tugas karena rendahnya
penguasaan individu terhadap beberapa bidang pekerjaan.
3) Kekuatan (strenght).
Yaitu pada dimensi ini lebih menekankan pada tingkatan
kekuatan atau kemantapan individu terhadap keyakinannya.
Maka Self efficacy menjadi dasar dalam melakukan usaha yang
keras, bahkan jika menemukan hambatan-hambatan dalam
pekerjaan. Jika individu karyawan yang memiliki tingkat
kekuatan yang tinggi dengan memiliki keyakinan diri kuat
akan kompetisi maka karyawan tidak akan mudah untuk
menyerah, putus asa atau frustasi dalam menghadapi hambatan
serta memiliki kecenderungan untuk menadaptkan
keberhasilan yang lebih besar dibandingkan dengan individu
yang memiliki kekuatan yang rendah
Pengertian Self efficacy
Menurut Bandura (1997) dalam Ismail (2016) Self efficacy
merupakan sebagai keyakinan diri dari individu akan kemampuannya
untuk mengorganisasikan serta melakukan tindakan atau sikap yang
dianggap perlu agar mencapai hasil yang diinginkan. Menurut Baron
dan Byrne (1991) dalam Al Musadieq (2016) efikasi diri (self efficacy)
sebagai evaluasi individu mengenai kemampuan atau kompetensi
dirinya untuk melakukan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi
hambatan. Keitner dan Kinicki (2003) dalam Venna, Endang dan
Cahyo (2017) self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai
peluangnya untuk berhasil mencapai tugas tertentu. Jadi dapat
disimpulkan bahwa efikasi diri (self efficacy) adalah kemampuan
individu untuk dapat meyakinkan dirinya bahwa dirinya mampu
melakukan sesuatu. Dalam konteks penelitian ini yang akan diteliti
adalah peranan dari self efficacy dari individu karyawan, sehingga
nantinya peneliti akan mencari tahu kemampuan individu dalam
meyakinkan dirinya dalam mengerjakan tugas sehingga harapannya
ketika ada self efficacy dari dalam individu karyawan maka individu
akan lebih mampu untuk berinovasi
Hubungan antara Psychological Capital dan Budaya organisasiTerhadap Perilaku Kerja Inovatif
Menurut Li & Zheng (2014), perilaku kerja inovatif dipengaruhi oleh
dua faktor, yaitu faktor individual dan faktor organisasi. Modal psikologi
merupakan salah satu dari faktor individual yang membentuk sebuah
inovasi dalam bekerja. Dan faktor organisai salah satu contohnya adalah
budaya organisasi, dimana ketika budaya di organisasi tersebut
mendukung maka perilaku kerja inovatif pun ikut meningkat
Hubungan antara Psychological Capital dan Budaya organisasiTerhadap Perilaku Kerja Inovatif
Menurut Li & Zheng (2014), perilaku kerja inovatif dipengaruhi oleh
dua faktor, yaitu faktor individual dan faktor organisasi. Modal psikologi
merupakan salah satu dari faktor individual yang membentuk sebuah
inovasi dalam bekerja. Dan faktor organisai salah satu contohnya adalah
budaya organisasi, dimana ketika budaya di organisasi tersebut
mendukung maka perilaku kerja inovatif pun ikut meningka
Hubungan Budaya Organisasi dengan Perilaku Kerja inovatif
Kreativitas dan inovasi merupakan hal yang memiliki kaitan dengan
pengelolaan sumber daya manusia pada organisasi. Secara eksplisit
berfokus pada interaksi dinamis antara pengembangan individu dalam
keterampilan berfikir kreatif dan budaya organisasi yang mendukung,
melalui peningkatan praktek dalam manajemen sumber daya manusia
dalam organisasi yang mendasarkan pada nilai objektifitas didalam
lingkungan organisasi (Prayudhayanti, 2014) . Hal ini menunjukkan
adanya keterkaitan antara perilaku kerja inovatif pada guru dengan budaya
organisasi yang terjadi pada instansi
Hubungan Psychological Capital dengan Perilaku Kerja Inovatif
Pada faktor individu, secaara psikologis individu yang bersedia
untuk menerima resiko akan kegagalan dalam berinovasi. Hal ini berkaitan
dengan karakteristik psikologis mereka. Maka dari itu, individu yang
memiliki psychological capital yang tinggi akan memiliki perilaku yang
lebih inovatif (Ratnaningsih et al., 2016)
Elemen Budaya Organisasi
Menurut Deninson (2009) elemen budaya dalam organiasi, antara
lain : nilai-nilai, keyakinan, prinsip dasar, serta praktek-praktek
manajemen dan juga perilaku. Terlepas akan adanya seberapa banyak
elemen menurut para ahli, secara umum elemen budaya organisasi
terdiri dari dua elemen pokok, yaitu:
1) Elemen Behavioural
Merupakan elemen yang kasat mata atau terlihat dalam
bentuk perilaku sehari-hari para anggotannya, logo atau jargon,
cara berkomunikasi, cara berpakaian, ataupun cara bertindak yang
dapat dipahami oleh individu diluar organisasi. Bagi individu
diluar organisasi elemen tersebut dianggap sebagai representasi
dari budaya sebuah organisasi sebab elemen ini mudah diamati,
dipahami, dan diinterpretasikan.
2) Elemen Idealistik
Elemen idealistik dinyatakan secara formal dalam bentuk
penyataan visi dan misi organisasi, tujuan dari elemen ini agar
ideologi dari organisasi tetap berlanjut.
d. Indikator budaya organisasi
Menurut Schein (2012)budaya organisasi kedalam beberapa level,
yaitu:
1) Artifak (artifact), tingkat pertama dalam budaya organisasi yang
tampak (visible) atau permukaan (surface). Level ini merupakan
dimensi yang dapat dilihat, didengar, dirasakan ketika seseorang
masuk pada suatu organisasi dengan budaya yang kurang dikenal.
Seperti produk, sejarah organisasi, arsitektur, mitos, teknologi, dan
cara berpakaian.
2) Nilai-nilai (espoused values), tingkatan kedua dalam budaya
organisasi yang tidak tampak (invisible). Yaitu nilai-nilai yang
diekspresikan oleh seluruh anggota organisasi. Tingkatan budaya
ini dapat diukur dengan perubahan-perubahan yang berada pada
organisasi.
3) Asumsi Dasar (basic underlying assumptions), tingkatan ini yang
paling mendalam yang mendasari pada nilai-nilai yaitu keyakinan
(beliefs), yang terdiri dari berbagai asumsi dasar. Asumsi dasar
mencakup pada hubungan dengan lingkungan, hakikat manusia,
hakikat mengenai aktivitas manusia dan hakikat pada hubungan
antar manusia
Fungsi Budaya Organisasi
Menurut Robbins et al., (2013), mengemukakan lima fungsi
utama dari budaya dalam organisasi sebagai berikut:
1) Budaya organisasi berfungsi sebagai pembeda, hal itu berarti
bahwa budaya yang ada dalam organisasi menciptakan perbedaan
dengan organisasi lainnya.
2) Budaya memberikan akan rasa identitas ke anggota-anggota
organisasi
3) Budaya mempermudah timbulnya sebuah komitmen pada sesuatu
yang lebih luas daripada kepentingan akan diri sendiri.
4) Budaya meningkatkan kemantapan akan sistem sosial. Budaya
merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan
organisasi dengan memberikan standar-standar yang tepat
mengenai apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para
karyawan
5) Budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan
mekanisme pengendali yang memandu dan membentuk sikap serta
perilaku karyawan
