Menurut Farla et al. (2019), komitmen kerja menggambarkan kondisi
individu yang mempunyai tekad dan kemauan yang kuat guna mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Hal ini mencerminkan kebanggaan
karyawan terhadap pekerjaan mereka serta keinginan untuk menjadi bagian dari
organisasi. Karyawan yang berkomitmen akan memberikan kontribusi terbaik dan
memperlihatkan dedikasi tinggi dalam melaksanakan tugas mereka, karena mereka
merasa terhubung secara emosional dan terlibat dengan organisasi.
Suhardi et al. (2021) menjelaskan komitmen merupakan ikatan emosional
antara pekerja terhadap pekerjaannya yang berkembang dari rasa percaya dan
kemauan untuk mencapai tujuan bersama, serta keinginan untuk tetap menjadi
bagian dari Perusahaan, meskipun menghadapi tantangan atau situasi yang tidak
menyenangkan, memperlihatkan ketahanan dan loyalitas mereka. Adapun menurut
Mora et al. (2020), komitmen kerja merupakan dimensi perilaku yang
mencerminkan kecenderungan karyawan untuk mendukung dan terlibat dalam
organisasi. Komitmen kerja terdiri dari dua komponen utama, yakni sikap dan
keinginan untuk bertindak. Sikap meliputi identifikasi, keterlibatan, dan loyalitas
terhadap organisasi, sedangkan keinginan untuk bertindak berhubungan dengan
kesiapan karyawan untuk berusaha dan berperilaku tepat pada tuntutan organisasi.
Karyawan yang berkomitmen kerja yang kuat akan memperlihatkan kesetiaan dan
dedikasi, berusaha keras untuk memenuhi tuntutan organisasi.
Work Engagement Theory
Peneliti ini mempergunakan teori keterikatan kerja (work engagement
theory) yang pada awalnya dijelaskan oleh William Kahn pada tahun 1990, namun
kemudian mengalami pengembangan signifikan oleh Schaufeli dan Bakker. Kahn
(1990) mendefinisikan keterikatan kerja sebagai kondisi di mana anggota
organisasi menjalankan peran mereka secara fisik, kognitif, dan emosional.
Schaufeli dan Bakker (2004) memperluas konsep ini, menggambarkannya sebagai
keadaan pikiran positif yang memungkinkan ekspresi diri dalam pekerjaan (Sugito
& Setiabudhi, 2017).
Teori ini berasumsi bahwasanya karyawan yang terikat secara positif
dengan pekerjaannya akan memperlihatkan performa yang optimal, berdedikasi,
lebih produktif, dan lebih berkomitmen pada organisasi. Schaufeli dan Bakker
(dalam Anggraini & Mulyana, 2022), menguraikan keterikatan kerja melalui tiga
dimensi utama: Vigor (semangat), dimensi ini mencerminkan tingkat energi yang
tinggi dan semangat selama bekerja. Karyawan yang memiliki vigor tinggi
memperlihatkan kegigihan dan mental yang kuat dalam menghadapi tantangan, dan
kemauan untuk menginvestasikan usaha ekstra dalam pekerjaan mereka. Mereka
memiliki stamina emosional dan kognitif yang memungkinkan mereka untuk
bertahan dalam situasi kerja yang kompleks. Dedication (dedikasi), mencerminkan
keterlibatan psikologis yang mendalam dengan pekerjaan. Karyawan yang
memiliki dedikasi tinggi memperlihatkan rasa bermakna yang kuat dalam peran
mereka, antusiasme terhadap tugas mereka, dan kebanggaan yang mendalam
terhadap kontribusi mereka. Dedikasi juga mencakup perasaan terinspirasi oleh
pekerjaan dan tantangan yang dihadapi. Absorption (keterlibatan), merujuk pada
keadaan konsentrasi penuh dan fokus mendalam dalam pekerjaan. Karyawan yang
mengalami absorption tinggi seringkali memperlihatkan tingkat fokus yang intens,
seolah-olah “tenggelam” dalam aktivitas kerja mereka.
Teori ini muncul sebagai respons terhadap fokus Wilmar Schaufeli dkk
mengenai job burnout yang berdampak terhadap disengagement dengan
mengemukakan konsep dasar keterikatan kerja, disaat bersamaan Arnold Bakker
dkk mengembangkan model Job Demand-Resources atau tuntutan pekerjaan (job
demands) dan sumber daya pekerjaan (job resources) yang menjelaskan faktor-
faktor yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan dan kinerja. Selanjutnya
Schaufeli dan Bakker mengembangkan sebuah instrument yang dikenal dengan
nama UWES (Utrecht Work Engagement Scale) yang mengukur keterlibatan kerja
dalam tiga dimensi yakni vigor, dedication, dan absorption (Manurung et al.,
2021).
Merujuk dari uraian, peneliti mempergunakan teori keterikatan kerja
menurut Schaufeli & Bakker (2004). Teori ini mendasari hubungan antara individu
dan pekerjaannya, dimana karyawan dengan tingkat keterikatan kerja tinggi
cenderung superior dalam performa kerja, produktivitas yang meningkat, dan
komitmen organisasional yang kuat. Mereka juga cenderung mengalami kepuasan
kerja lebih tinggi yang bisa meningkatkan rasa cinta karyawan terhadap
pekerjaannya serta mengalami keseimbangan dalam kehidupan pekerjaan maupun
pribadi sehingga mendapatkan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Teori keterikatan kerja Schaufeli & Bakker (2004) memiliki relevansi dan
hubungan yang signifikan dengan berbagai konsep penting dalam psikologi
organisasi dan manajemen sumber daya manusia:
- Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan personal adalah faktor
penting yang memengaruhi kesejahteraan karyawan. Karyawan yang
memiliki keterikatan kuat dengan pekerjaannya biasanya lebih efektif dalam
mengelola waktu dan energi, yang berkontribusi pada peningkatan kualitas
hidup di luar lingkungan kerja sehingga mereka seringkali menghadapi
konflik peran yang lebih sedikit antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan
pribadi. - Kepuasan kerja adalah hasil langsung dari keterlibatan kerja. Karyawan
yang merasa bersemangat, terdedikasi, dan terlibat penuh dalam pekerjaan
mereka cenderung merasa lebih puas dengan pekerjaan tersebut.
Keterikatan kerja yang tinggi membawa dampak positif terhadap rasa
kepuasan yang mereka rasakan dalam pekerjaan, baik itu dalam hal
pengakuan, tantangan yang diberikan pekerjaan, atau pencapaian yang
diperoleh. - Rasa cinta terhadap pekerjaan sering kali muncul ketika seorang karyawan
merasa berdedikasi dan terlibat dengan pekerjaan mereka. Ketika karyawan
merasa bahwa pekerjaan mereka bermakna dan mereka memberikan
kontribusi yang berarti, mereka akan mengembangkan rasa cinta terhadap
pekerjaan tersebut. - Keterikatan kerja yang tinggi berkorelasi positif dengan peningkatan
komitmen. Keterikatan karyawan secara mendalam akan mengembangkan
ikatan yang lebih kuat dengan organisasi. Mereka akan mengidentifikasi diri
dengan nilai-nilai dan tujuan perusahaan, loyalitas tinggi, serta
berkeinginan rendah untuk meninggalkan organisasi.
Faktor – faktor Happiness at Work atau Kebahagiaan di Tempat Kerja
Menurut (Hidayati, 2024) kebahagiaan di tempat kerja memiliki beberapa faktor yang
dikutip berdasarkan berbagai literasi jurnal, seperti :
a. Hubungan Positif dengan Orang Lain
Hubungan atau interaksi yang baik antara karyawan dengan atasan, tim kerja,
dan rekan kerja sangat memengaruhi untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik.
Ketika hubungan dengan orang lain berjalan harmonis, karyawan akan merasa lebih
didukung, dihargai, dan nyaman untuk melakukan kolaborasi. Hal tersebut dapat
menciptakan rasa keterikatan emosional yang dapat meningkatkan semangat kerja,
misalnya adanya budaya saling menghormati, mendukung, dan komunikasi yang
terbuka dapat membuat karyawan merasa lebih puas dan termotivasi.
b. Kompensasi dan Pengakuan atas Kinerja
Kompensasi yang adil, baik dalam bentuk gaji, bonus, atau tunjangan lainnya
menjadi salah satu faktor penting dalam kebahagiaan karyawan. Karyawan yang
merasa kompensasinya sesuai dengan Upaya yang mereka lakukan akan lebih
termotivasi untuk bekerja dengan baik. Selain kompensasi yang berupa finansial
penting juga untuk pengakuan atas kinerja, seperti penghargaan Employee of the Month,
pujian dari atasan, atau apresiasi dalam rapat.
c. Lingkungan Kerja yang Mendukung
Lingkungan kerja yang aman, bersih, dan nyaman secara tidak langsung
berkontribusi terhadap kesejahteraan karyawan. Faktor-faktor seperti ergonomic tempat
kerja, ketersediaan fasilitas pendukung, dan suasana kerja yang kondusif membantu
karyawan untuk fokus dan mengurangi stress
Aspek – aspek Happiness at Work atau Kebahagiaan di Tempat Kerja
Menurut (Maharani, Putri. Widyowati, 2023), kebahagiaan di tempat kerja memiliki
beberapa aspek, yaitu :
a. Affective Well-being (Kesejahteraan Afektif)
Aspek ini berkaitan dengan perasaan atau emosi positif yang dirasakan individu
saat bekerja. Emosi positif bisa berupa perasaan bahagia, senang, dan puas saat
menjalankan pekerjaan. Kesejahteraan afektif adalah elemen inti dari kebahagiaan
karena dapat mengukur bagaimana perasaan individu secara emosional selama bekerja.
b. Job Satisfaction (Kepuasan Kerja)
Kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang puas dan menikmati aspek-aspek
pekerjaan, seperti tugas yang dikerjakan, rekan kerja, manajer, dan lingkungan kerja
secara umum. Kepuasan kerja mencakup evaluasi karyawan tentang pekerjaan yang
dilakukan dan lingkungan kerja yang mendukung. Kepuasan kerja juga berperan
penting dalam mempertahankan loyalitas dan komitmen karyawan terhadap perusahaan.
c. Engagement (Keterlibatan)
Keterlibatan memperlihatkan seberapa besar karyawan merasa termotivasi dan
terikat dengan pekerjaannya. Karyawan yang terlibat cenderung lebih bersemangat,
merasa terhubung dengan pekerjaannya, dan memiliki keinginan yang kuat untuk
memberikan kontribusi terbaik. Keterlibatan merupakan salah satu faktor utama yang
membuat karyawan merasa bahagia dan produktif di tempat kerja.
Aspek – aspek tersebut saling terkait dan memengaruhi kesejahteraan karyawan secara
keseluruhan. Fisher menekankan bahwa kebahagiaan di tempat kerja tidak hanya terkait
dengan suasana hati tetapi juga mencakup kepuasan dan keterlibatan yang mendalam terhadap
pekerjaan dan organisasi
Pengertian Happiness at Work atau Kebahagiaan di Tempat Kerja
Dalam (Mahani et al., 2020) kebahagiaan adalah suatu pandangan atau persepsi seseorang
mengenai seberapa besar energi positif yang dimiliki oleh seseorang, baik secara internal
maupun eksternal. Kebahagiaan adalah kualitas hidup seseorang yang dikembangkan lebih
lanjut dalam berbagai aspek, yaitu kesehatan yang baik, kreativitas yang meningkat,
pendapatan yang tinggi, pekerjaan yang baik, dan lain-lain. Kebahagiaan di tempat kerja yaitu
ketika seorang karyawan memiliki perasaan antusias terhadap apa yang mereka lakukan di
tempat kerja mereka dan mereka memungkinkan untuk melakukan yang terbaik dari pekerjaan
mereka (Syarifi et al., 2019). Kebahagiaan di tempat kerja dapat didefinisikan sebagai kondisi
dimana emosi dan aktivitas yang bersifat positif, dirasakan oleh seseorang secara subjektif
tentang apakah mereka bahagia atau tidak dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan
pekerjaan mereka (Tjiabrata et al., 2021).
Kebahagiaan di tempat bekerja merupakan sikap seseorang dalam memaksimalkan potensi
dan kinerja pribadinya. Bahagia di tempat kerja memiliki karakteristik seperti produktivitas
kerja yang tinggi, Tingkat ketidakhadiran atau absensi yang rendah, semangat kerja, dan
kepuasan kerja. Sikap bahagia di tempat kerja secara tidak langsung dapat meningkatkan
motivasi kerja yang tinggi sehingga dapat melakukan pekerjaan secara efektif dan efisien.
Kebahagiaan di tempat kerja dapat diukur dengan komitmen terhadap pekerjaan, kepuasan
kerja, dan komitmen terhadap organisasi yang efektif. Karyawan yang merasakan kebahagiaan
di tempat kerja akan memberikan potensi kerjanya 40% lebih banyak dibandingkan dengan
karyawan yang tidak merasakannya (Mustofa & Prasetyo, 2020)
Karyawan yang melakukan pekerjaannya tanpa merasa terpaksa dan menjadikan
pekerjaannya sebagai tanggung jawab dapat memberikan rasa puas dalam bekerja. Ketika
karyawan tidak memiliki rasa nyaman dalam bekerja, maka akan berdampak negatif tidak
hanya pada kinerja, melainkan pada karyawan yang lain. Karyawan harus merasakan
kebahagiaan dalam bekerja, karena jika tidak, maka akan mengganggu seluruh aktivitas selama
bekerja (Setyawan & Tobing, 2022). Kebahagiaan di tempat kerja pada karyawan sangat
penting, karena karyawan yang merasa bahagia di tempat kerja akan memiliki perasaan positif
yang membuatnya merasa puas, menjadi lebih produktif, dan memiliki tingkat turnover yang
relatif kecil sehingga dapat menciptakan kualitas sumber daya manusia yang baik
Aspek –Aspek Work Engagement atau Keterikatan Kerja
(Qurbani & Solihin, 2021) menyatakan bahwa ketika seseorang memilih untuk mengambil
sikap terlibat atau tidak dalam pekerjaannya, dapat diketahui dari 3 komponen aspek, yaitu :
a. Affection, merupakan komponen yang bersifat emosional dan merujuk pada ekspresi
perasaan atau sikap suka dan tidak terhadap obyek. Hal ini dapat dipandang dari cara
seseorang menunjukkan sikap semangat menghadapi pekerjaan dengan terus
mempertahankan energinya.
b. Behaviour, merupakan komponen yang memperlihatkan perilaku nyata terkait sikap
internal seseorang atau obyek. Hal ini terlihat ketika seseorang sepenuhnya terlibat
dalam perilaku yang didedikasikan dari dirinya sendiri. Saat menjalankan tugas di
tempat kerja, dia akan menggunakan semua kemampuannya dengan harapan mendapat
pengakuan untuk pengembangan diri.
c. Cognitive, merupakan bagian dari “gudang” yang terdiri dari informasi terkait obyek
sikap dan informasi terorganisir untuk merespons sikap. Pada komponen ini, kita bisa
melihat bahwa ketika seseorang terlibat dalam pekerjaannya, dia akan menggunakan
pola pikirnya untuk menghasilkan ide kreatif dan mencari inovasi. Hal ini bertujuan
untuk membuat pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan.
Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa, keterikatan kerja dapat didefinisikan sebagai
komitmen emosional atau perilaku yang ditunjukkan oleh seorang karyawan terhadap
pekerjaannya. Akibatnya, karyawan tersebut memiliki komitmen yang kuat terhadap tujuan dan
visi perusahaan serta memiliki perhatian yang tinggi terhadap pekerjaan yang diberikan kepada
mereka. Karyawan akan melakukan pekerjaan mereka dengan senang hati dan tidak
menganggapnya sebagai beban
Dimensi Work Engagement atau Keterikatan Kerja
Seorang karyawan yang tergolong memiliki keterikatan kerja dengan kata lain dapat
didefinisikan dengan melakukan pekerjaan, didasari oleh pemikiran yang semangat, dedikasi,
dan absorsi dalam menyelesaikan semua pekerjaannya.
(Affia & Mulyana, 2024) Mengungkapkan bahwa keterikatan karyawan terdiri dari tiga
dimensi sebagai berikut :
a. Vigor
Yaitu dimensi utama dalam keterikatan kerja yang menggambarkan tingkat energi,
kekuatan, dan ketahanan individu dalam menghadapi pekerjaannya. Karyawan dengan
vigor tinggi akan menunjukkan antusiasme yang besar terhadap tugas bahkan Ketika
menghadapi tantangan atau tekanan.
b. Dedikasi
Yaitu menggambarkan sejauh mana seseorang merasa terhubung secara emosional
dengan pekerjaannya. Karyawan dengan dedikasi tinggi cenderung memiliki rasa bangga,
bermakna, dan tertarik pada pekerjaan mereka. Mereka melihat pekerjaan tidak sekedar
sebagai kewajiban tetapi sebagai bagian pentibng dari identitas diri.
c. Absorpsi (Keterikatan Mendalam)
Absorpsi merujuk pada keadaan dimana individu begitu terfokus pada pekerjaannya
sehingga mereka merasa sepenuhnya terlibat dan terlarut pada tugas yang dikerjakan.
Ketika seseorang mengalami absorpsi, mereka kehilangan rasa waktu dan merasa sulit
untuk melepaskan diri dari pekerjaannya. Biasanya absorpsi disebabkan oleh minat yang
mendalam terhadap tugas, kesesuaian antara kemampuan individu dan kompleksitas
pekerjaan, serta lingkungan kerja yang mendukung
Pengertian Work Engagement atau Keterikatan Kerja
Orang yang terikat dengan aktivitas yang sedang dilakukan, maka akan merasa menyatu
dengan seluruh aspek-aspek aktivitas tersebut. Sebagai contoh, seorang karyawan yang benar-
benar terikat atau terlibat akan dengan senang hati mengorbankan pikiran, emosi, tenaga, dan
waktu untuk menyelesaikan tugas atau aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Oleh
karena itu selain terikat, yang bersangkutan akan tampak seolah-olah menyatu dengan
pekerjaan. Pekerjaan dan seluruh aspek yang meliputinya akan berfungsi sebagai pelarut atau
pengikat, sementara karyawan yang menjalaninya akan terikat kuat pada pekerjaan tersebut
(Ridho, 2023)
Terdapat beberapa faktor keterikatan kerja, yaitu sumber daya kerja (job resources), sumber
daya pribadi (personal resources), dan tuntutan pekerjaan (job demands) yang dikenal sebagai
model JD-R. Menurut model JD-R, sumber daya kerja atau job resources akan lebih menonjol
dan memiliki potensi disaat karyawan dihadapkan pada tuntutan kerja yang tinggi. Jika tuntutan
kerja yang tinggi diikuti oleh sumber daya kerja yang rendah, maka dapat menyebabkan
burnout pada karyawan. Selain itu, ada korelasi positif antara kelelahan emosial dan beban
kerja, tuntutan emosional, dan lingkungan tempat kerja (Rahmayuni & Ratnaningsih, 2020
Aspek – aspek Quality of Work Life (QWL) atau Kualitas Kehidupan Kerja
(Reinaldo et al., 2024) mengemukakan beberapa aspek untuk menentukan kualitas
kehidupan kerja pada karyawan sebagai bagian dari kinerja manajemen oragnisasi atau
perusahaan yang meliputi :
a. Manajemen partisipatif (participatory of management)
Yakni memberikan kesempatan pada karyawan untuk berpartisipasi dalam organisasi
dan melakukan berbagai aktivitas di lingkungan perusahaan.
b. Lingkungan kerja yang baik, sehat dan aman (safety, health & work environment)
Karyawan yang merasa nyaman bekerja di lingkungan yang tidak termasuk kategori
sick environmental (building) meskipun dengan pekerjaan yang memiliki resiko tinggi,
karena perusahaan memberikan sarana dan jaminan, sehingga karyawan merasa aman
dalam menyelesaikan pekerjaannya.
c. Desain karyawanan
Pekerjaan dirancang sedemikian rupa sehinnga karyawan merasa senang dan tertarik
dengan pekerjannya. Rancangan pekerjaan memiliki spesifikasi, seperti ; Skill variety,
yaitu karyawan lebih ditekankan pada keahliannya, yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Task identity, yaitu karyawan melakukan pekerjaan
secara berkala sesuai dengan peraturan kerja. Task significance, yaitu pekerjaan
dipandang sebagai suatu hal yang penting bagi kehidupan pekerjaan orang lain.
Autonomy, yaitu karyawan memiliki kebebasan untuk dapat mempertanggungjawabkan
rancangan pekerjaan sampai pada hasil pekerjaan, dan Feedback, yaitu karyawan
memperoleh timbal balik informasi mengenai kinerjanya.
d. Kesempatan mengembangkan potensi diri (human resource development)
Yaitu partisipasi dalam pelatihan (training), pemahaman nilai (value) pekerjaan,
rancangan kerja sebagai pertimbangan untuk penyelesaian pekerjaan (reason for effort),
dan atribusi diri (internal locus of control).
e. Imbalan kerja (working reward)
Yakni karyawan diberi kesempatan untuk memperbaiki atau meningkatkan
kinerjanya sehingga berusaha menghindari kegagalan (failure), memnadang hal yang
lebih berharga (demonstrating one’s worth), dan dapat membandingkan pandangan
sosial (social comparison) untuk mencapai prestasi pekerjaan
Quality of Work Life
Quality of Work Life (QWL) atau kualitas kehidupan kerja adalah proses yang
menanggapi kebutuhan karyawan dan memberikan kesempatan penuh dalam membuat
keputusan dalam mempersiapkan kehidupan kerja mereka. Proses tersebut mencakup
bagaimana lebih baik bekerja sama, bagaimana memilih operasi pada individu karyawan,
mengubah dan meningkatkan apa yang dibutuhkan dan efektif untuk organisasi,
mengintegrasikan diri dalam organisasi, mengembangkan berbagai kemampuan manusia dan
memberikan peluang untuk pertumbuhan pada karyawan (Hariani & Anastasya Sinambela,
2021). Kualitas kehidupan kerja yang baik akan membuat sesorang merasa puas dengan
pekerjaannya sendiri dan memungkinkan karyawan menikmati pekerjaan yang mereka lakukan,
dan menunjukkan bahwa karyawan yang baik akan tetap terlibat karena keakraban pada
pekerjaanya (Qurbani & Solihin, 2021).
Terdapat dua pandangan terkait makna terhadap kualitas kehidupan kerja. Pandangan
pertama berpendapat bahwa kualitas kehidupan kerja bergantung pada serangkaian keadaan
dan implementasi tujuan organisasi. Misalnya, kesempatan kerja yang baik, pengawasan yang
demokratis, partisipasi pekerja, dan kondisi kerja yang aman. Sedangkan pandangan lain terkait
kualitas kehidupan kerja adalah orang yang didasari oleh persepsi pegawai yang ingin merasa
aman, orang yang merasa puas secara relatif, dan orang yang memiliki peluang untuk tumbuh
dan berkembang sebagai manusia.
(Putri et al., 2024) Menjelaskan bahwa Quality of Work Life (QWL) atau kualitas
kehidupan kerja terbagi menjadi 9 indikator yaitu keterlibatan karyawan (employee
participation), kompensasi yang seimbang (equitable compensation), rasa bangga terhadap
instansi (pride), rasa aman terhadap pekerjaan (job security), keselamatan lingkungan kerja
(save environment), kesejahteraan (wellness), pengembangan karir (career development),
penyelesaian masalah (conflict resolution), dan komunikasi (communication).
Pengertian lain dari (Reinaldo et al., 2024) bahwa quality of work life (QWL) atau kualitas
kehidupan kerja adalah program yang mencakup cara untuk meningkatkan kualitas kehidupan
kerja dengan membuat program seperti pertumbuhan dan pengembangan, sistem kompensasi,
dan pasrtisipasi kerja, serta lingkungan tempat kerja. Program kualitas kehidupan kerja
bertujuan untuk meningkatkan kinerja karyawan melalui peningkatan peluang partisipasi,
tantangan, harapan, dan kesejahteraan yang lebih menjanjikan. QWL adalah suatu dampak dari
efektivitas manusia yang dikombinasikan dengan penekanan partisipasi dalam pemecahan
masalah dan pembuatan Keputusan. QWL sangat penting untuk jalannya aktivitas kerja,
dimana para pimpinan dan bawahan harus dapat mencapai kesepakatan tentang cara
menjalankan kegiatan pekerjaan.
Beberapa dampak negatif yang dapat terjadi antara lain stres kerja, perasaan tidak aman
dalam bekerja menurunnya kepuasan hidup, dan meningkatnya emosi negatif. Kegagalan untuk
mengelola hal ini dapat mempengaruhi kesejahteraan di tempat kerja dan kesejahteraan
subjektif individu. Apabila individu merasa tidak bahagia di tempat kerjanya, maka
produktivitas dan komitmen yang dimiliki oleh pekerja akan menurun. Hal tersebut dapat
terjadi karena adanya aspek-aspek kebahagiaan yang belum terpenuhi secara menyeluruh, yaitu
aspek kepercayaan di lingkungan kerja, penghargaan diri ditempat kerja, dan perasaan nyaman
pada lingkungan kerja (Khoerunnisa & Fahmie, 2023).
Hubungan Budaya Organisasi dengan Keterikatan Kerja
Faktor yang dapat menumbuhkan engagement yaitu keselarasan
dengan nilai-nilai organisasi, lingkungan kerja yang kondusif , dan sistem
kompensasi dan reward yang berkeadilan. Dua faktor pertama merupakan
faktor-faktor yang lebih terkait dengan budaya, sedangkan faktor terakhir
lebih terkait dengan biaya. Kedua faktor pertama tersebut yang biasanya
tercakup dalam Budaya Organisasi suatu perusahaan (Hermala, 2009).
Penggerak engagement akan berbeda di tiap jenis pekerjaan dan organisasi.
Secara umum terdapat 3 (tiga) kluster utama yang menjadi penggerak
engagement, yaitu :
- Nilai-Nilai Organisasi
Karyawan yang memiliki keselarasan nilai-nilai dengan
perusahaan akan memiliki keterikatan yang tinggi pula, atau
dengan kata lain semakin engaged dengan perusahaan. Itulah
sebabnya Budaya Organisasi yang baik biasanya meletakkan
dasar filosofi nilai-nilai ideologis atau humanis sebagai
fondasinya.
Membangun keselarasan nilai dengan filosofi semacam itu,
perusahaan akan mampu secara signifikan membangun work
engagement sehingga karyawan semakin merasa terikat dengan
perusahaan. Namun, pada praktiknya, menyelaraskan nilai-nilai
dasar perusahaan dengan individu karyawan bisa dibilang bukan
pekerjaan yang mudah. Hal ini dikarenakan proses penanaman
nilai-nilai dasar tersebut ibarat melakukan brainwashing terhadap
mindset seluruh karyawan, apalagi bagi karyawan lama yang
sudah bekerja bertahun-tahun sebelum nilai-nilai dasar ini
dirumuskan. Kuncinya terletak pada kontinuitas dalam
menanamkan nilai-nilai tersebut ke dalam diri karyawan.
Hal-hal terkait organisasi yang dapat menjadi penggerak
work engagement adalah budaya organisasi, visi dan nilai yang
dianut, brand organisasi. Budaya organisasi yang dimaksud
adalah budaya organisasi yang memiliki keterbukaan dan sikap
supportive serta komunikasi yang baik antara rekan kerja.
Keadilan dan kepercayaan sebagai nilai organisasi juga
memberikan dampak positif bagi terciptanya work engagement.
Hal-hal ini akan memberikan persepsi bagi karyawan bahwa
mereka mendapat dukungan dari organisasi (Mc Bain, 2008,
dalam Mujiasih, 2012) - Manajemen Kepemimpinan Engagement dibangun melalui proses, butuh waktu yangpanjang serta komitmen yang tinggi dari pemimpin. Untuk itu,dibutuhkan kekonsistenan pemimpin dalam mementoringkaryawan Dalam menciptakan engagement, pimpinan organisasidiharapkan memiliki beberapa keterampilan. Beberapadiantaranya adalah teknik berkomunikasi, teknik memberikanfeedback dan teknik penilaian kinerja (McBain, 2007, dalamMujiasih, 2012). Hal-hal ini menjadi jalan bagi manajer untukmenciptakan engagement sehingga secara khusus hal-hal inidisebut sebagai penggerak employee engagement.
- Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang kondusif juga sangat berpengaruh
terhadap engagement karyawan. Menciptakan lingkungan kerja
yang kondusif berarti menciptakan suatu kondisi dimana
karyawan merasa nyaman untuk bekerja. Dalam Budaya
Organisasi, menciptakan lingkungan yang kondusif biasanya
merupakan bagian dari nilai organisasi yang dikembangkan dari
filosofi dasarnya.
Nilai ini biasanya tertuang dalam salah satu prinsip atau
asas yang mendasari pola interaksi antar sesama karyawan.
Dengan prinsip-prinsip semacam itu, karyawan diharapkan akan
menemukan lingkungan kerja yang kondusif. Kenyamanan
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id28
kondisi lingkungan kerja menjadi pemicu terciptanya work
engagement pada karyawan.
Ada beberapa kondisi lingkungan kerja yang diharapkan
dapat menciptakan engagement. Pertama, lingkungan kerja yang
memiliki keadilan distributif dan prosedural. Hal ini terjadi
karena karyawan yang memiliki persepsi bahwa ia mendapat
keadilan distributif dan prosedural akan berlaku adil pada
organisasi dengan cara membangun ikatan emosi yang lebih
dalam pada organisasi. Kedua, lingkungan kerja yang melibatkan
karyawan dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini
mempengaruhi karyawan secara psikologis, mereka menganggap
bahwa mereka berharga bagi organisasi. Hal ini membuat
karyawan akan semakin terikat dengan organisasi. Ketiga,
organisasi yang memperhatikan keseimbangan kehidupan kerja
dan keluarga karyawan (McBain, 2007, dalam Mujiasih, 2012)
Aspek dalam budaya organisasi
Tujuh hal yang menjadi aspek penting suatu budaya organisasi
menurut Robbins (2002, dalam Mujiasih, 2012) adalah:
a. Inovasi dan pengambilan resiko (Inovation and Risk Taking)
Tingkat daya pendorong karyawan untuk bersikap inovatif, berani
mengambil keputusan dan resiko.
b. Perhatian terhadap detail (Attention to Detail)
Tingkat tuntutan terhadap karyawan untuk mampu
memperlihatkan ketepatan, analisis dan perhatian terhadap detail.
c. Orientasi terhadap hasil (Outcome Orientation)
Tingkat tuntutan terhadap manajemen untuk lebih memusatkan
perhatian pada hasil dibandingkan perhatian pada teknik dan
proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
d. Orientasi terhadap individu (People Orientation)
Tingkat keputusan manajemen dalam mempertimbangkan efek
hasil terhadap individu yang ada dalam perusahaan.
e. Orientasi terhadap tim (Team Orientation)
Tingkat aktivitas pekerjaan yang diatur dalam tim, bukan secara
perorangan.
f. Agresifitas (Aggresiveness)
Tingkat tuntutan terhadap individu agar berlaku agresif dan
bersaing (kompetitif), serta tidak bersikap santai.
g. Stabilitas (Stability)
Tingkat penekanan aktivitas perusahaan dalam mempertahankan
status quo berbanding pertumbuhan
Fungsi budaya organisasi
Robbins (2002), mengemukakan bahwa fungsi dari budaya organisasi
antara lain adalah:
a. Budaya organisasi memiliki suatu peran batas-batas penentu yaitu
budaya menciptakan perbedaan antara satu perusahaan dengan
perusahaan yang lain.
b. Budaya berfungsi untuk menyampaikan rasa identitas kepada
anggota-anggota perusahaan sehingga karyawan merasa bangga
menjadi anggota dari perusahaan tempatnya bekerja
c. Budaya mempermudah penerusan komitmen sampai mencapai
batasan yang lebih luas, melebihi batasan ketertarikan individu
sehingga mampu mencapai tujuan perusahaan
d. Budaya mendorong stabilitas sistem sosial. Budaya merupakan
suatu ikatan social yang membantu mengikat kebersamaan
perusahaan dengan menyediakan standar yang sesuai mengenai
apa yang harus dikatakan dan dilakukan karyawan.
e. Budaya mendorong stabilitas sosial. Budaya merupakan suatu
ikatan sosial yang membantu mengikat kebersamaam perusahaan
dengan menyediakan standar-standar yang sesuai mengenai apa
yang harus dikatakan dan dilakukan karyawan.
f. Budaya bertugas sebgai pembentuk rasa dan mekanisme
pengendalian yang memberikan panduan dan membentuk perilaku
serta sikap karyawan.
Menurut Kreitner dan Kinicki (2005, dalam Mujiasih, 2012), fungsi
budaya organisasi adalah:
a. Memberikan identitas perusahaan kepada karyawan
Budaya memberikan identitas pada sebuah perusahaan Identitas
ini dapat di dukung dengan mengadakan atau memberikan
penghargaan yang dapat mendorong inovasi. Identitas yang
dimiliki suatu perusahaan menjadikan anggotanya berbeda dengan
anggota perusahaan lain dan memberikan pola identifikasi kepada
perusahaan.
b. Memudahkan komitmen kolektif
Salah satu nilai dalam perusahaan adalah menjadi sebuah
perusahaan dimana karyawannya bangga menjadi bagian dari
perusahaan sehingga karyawan akan tetapbertahan dan bekerja
pada perusahaan dalam waktu yang lama.
c. Mempromosikan stabilitas sistem sosial
Stabilitas sistem sosial mencerminkan taraf dimana lingkungan
kerja dirasakan positif dan mendukung karyawan dalam
perusahaan, adanya konflik dan perubahanperubahan yang terjadi
diatur dengan baik dan efektif.
d. Membentuk perilaku dengan membantu manajer merasakan
keberadaannya
Budaya membantu para karyawan memahami alasan perusahaan
melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan bagaimana
perusahaan mencapai tujuan jangka panjang
Dimensi budaya organisasi
Budaya mengimplementasikan adanya dimensi atau karakteristik
tertentu. Budaya organisasi harus mempunyai dimensi mencolok yang dapat
didefinisikan dan diukur. Robbins (2008) membagi menjadi 9 karakteristik
utama yang menjadi pembeda budaya organisasi satu dengan lainnya.
Karakteristik tersebut adalah:
a. Toleransi terhadap tindakan berisiko
Sejauh mana para karyawan dianjurkan untuk bertindak agresif,
inovatif, dan mengambil risiko dalam pekerjaan.
b. Arah
Sejauh mana organisasi menciptakan dengan jelas sasaran dan
harapan mengenai prestasi.
c. Integrasi
Tingkat sejauh mana unit-unit dalam organisasi didorong untuk
bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
d. Dukungan dari manajemen
Tingkat sejauh mana para pimpinan memberi komunikasi yang
jelas, bantuan, serta dukungan terhadap bawahan mereka.
e. Kontrol
Jumlah peraturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk
mengawasi dan mengendalikan perilaku karyawan.
f. Identitas
Tingkat sejauh mana para anggota mengidentifikasi dirinya secara
keseluruhan dengan organisasinya ketimbang dengan kelompok
kerja tertentu atau dengan bidang keahlian profesional.
g. Sistem imbalan
Tingkat sejauh mana alokasi imbalan, seperti kenaikan
gaji/promosi didasarkan atas kriteria prestasi karyawan sebagai
kebalikan dari senioritas, sikap pilih kasih, dan sebagainya.
h. Toleransi terhadap konflik
Tingkat sejauh mana para karyawan didorong untuk
mengemukakan konflik dan ktitik secara terbuka.
i. Pola-pola komunikasi
Tingkat sejauh mana komunikasi organisasi dibatasi oleh hierarki
kewenangan yang formal
Pengertian budaya organisasi
Menurut Schein (2002) merumuskan budaya organisasi sebagai
sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi mendasar yang dipahami bersama
dalam sebuah organisasi, terutama dalam memecahkan masalah-masalah
yang dihadapi. Pola-pola tersebut menjadi sesuatu yang pasti dan
disosialisasikan kepada anggota baru dalam organisasi.
Sedangkan Susanto (2007) memberikan definisi budaya organisasi
sebagai nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk
menghadapi permasalahan eksternal dan usaha penyesuaian integrasi ke
dalam perusahaan sehingga masing-masing anggota organisasi harus
memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka harus bertindak atau
berperilaku.
Salah satu teori penting mengenai budaya organisasi didapat dari
pernyataan Marshal (2005), ia menyatakan bahwa: setiap anggota di dalam
organisasi mempunyai impian dan harapan, mempunyai pokok persoalan dan
masalah. Mereka ingin berhasil dalam bekerja dan memberikan kontribusinya
kepada organisasi. Pemenuhan harapan, keinginan dan kesesuaian nilai akan
menciptakan energi, rasa bangga, kesetiaan dan gairah. Kesemuanya ini
memberikan warna yang kuat kepada budaya kerja, juga kepada budaya
organisasi.
Sedangkan Robbins (2008) memberi definisi budaya organisasi
sebagai suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi
itu
Ciri-ciri keterikatan kerja
Karyawan yang memiliki work engagement terhadap organisasi/
perusahaan memiliki karakteristik tertentu. Berbagai pendapat mengenai
karakteristik karyawan yang memiliki work engagement yang tinggi banyak
dikemukakan dalam berbagai literatur, diantaranya Federman (2009)
mengemukakan bahwa karyawan yang memiliki work engagement yang
tinggi dicirikan sebagai berikut:
a. Fokus dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan juga pada
pekerjaan yang berikutnya
b. Merasakan diri adalah bagian dari sebuah tim dan sesuatu yang
lebih besar daripada diri mereka sendiri
c. Merasa mampu dan tidak merasakan sebuah tekanan dalam
membuat sebuah lompatan dalam pekerjaan
d. Bekerja dengan perubahan dan mendekati tantangan dengan
tingkah laku yang dewasa
Karyawan yang memiliki work engagement yang tinggi akan bekerja
lebih dari kata “cukup baik”, mereka bekerja dengan berkomitmen pada
tujuan, menggunakan intelegensi untuk membuat pilihan bagaimana cara
terbaik untukmenyelesaikan suatu tugas, memonitor tingkah laku mereka
untuk memastikan apa yang mereka lakukan benar dan sesuai dengan tujuan
yang akan dicapai dan akan mengambil keputusan untuk mengkoreksi jika
diperlukan (Thomas, 2009)
Menurut Hewitt (Schaufeli & Bakker, 2010), karyawan yang memiliki
work engagement yang tinggi akan secara konsisten mendemonstrasikan tiga
perilaku umum, yaitu:
a. Say – secara konsisten bebicara positif mengenai organisasi
dimana ia bekerja kepada rekan sekerja, calon karyawan yang
potensial dan juga kepada pelanggan
b. Stay – Memiliki keinginan untuk menjadi anggota organisasi
dimana ia bekerja dibandingkan kesempatan bekerja di organisasi
lain
c. Strive – Memberikan waktu yang lebih, tenaga dan inisiatif untuk
dapat berkontribusi pada kesuksesan bisnis organisasi
Robertson, Smythe (2007) berpendapat bahwa karyawan yang
engaged menunjukkan antusiasme, hasrat yang nyata mengenai pekerjaannya
dan untuk organisasi yang mempekerjakan mereka. Karyawan yang engaged
menikmati pekerjaan yang mereka lakukan da berkeinginan untuk
memberikan segala bantuan yang mereka mampu untuk dapat mensukseskan
organisasi dimana mereka bekerja. Karyawan yang engaged juga mempunyai
level energi yang tinggi dan secara antusias terlibat dalam pekerjaannya
(Schaufeli, Taris & Rhenen,, 2008).
Leiter & Bakker (2010), ketika karyawan engaged, mereka merasa
terdorong untuk berusaha maju menuju tujuan yang menantang, mereka
menginginkan kesuksesan. Lebih lanjut, work engagement merefleksikan
energi karyawan yang dibawa dalam pekerjaan.
Berdasarkan uraian di atas, ciri-ciri karyawan yang engaged tidak
hanya mempunyai kapasitas untuk menjadi energik, tetapi mereka secara
antusias mengaplikasikan energi yang dimiliki pada pekerjaan mereka. Work
engagement juga merefleksikan keterlibatan yang intensif dalam bekerja,
karyawan yang memilikinya memiliki perhatian yang lebih terhadap
perusahaan, memikirkan detail penting, tenggelam dalam pekerjaannya,
merasakan pengalaman untuk hanyut dalam pekerjaaan sehingga melupakan
waktu dan mengurangi segala macam gangguan dalam pekerjaan
Faktor yang memengaruhi keterikatan kerja
Menurut Federman (2009) bahwa employee engagement juga dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
a. Kebudayaan (Cultuure)
b. Indikator Sukses (Success Indikators)
c. Pengertian Prioritas (Priority Setting)
d. Komunikasi (Communication)
e. Inovasi (Innovation)
f. Penguasaan Bakat (Talent Acquisition)
g. Peningkatan Bakat (Talent Enhancement)
h. Insentif dan Pengakuan (Incentives and Acknowledgement)
i. Pelanggaran (Cusomer-Centered)
Menurut Thomas (2009) engagement dapat dipengaruhi oleh empat
intrinsic rewards, yaitu: Kebermaknaan (A Sense of Meaningfulness), Pilihan
(A Sense of Choice), Kemampuan (A Sense of Conpetence), dan Kemajuan (A
Sense of Progress).
Faktor pendorong work engagement yang dijabarkan oleh Perrins
(2003) meliputi 10 hal yang dijabarkan secara berurutan:
a. Senior Management yang memperhatikan keberadaan karyawan
b. Pekerjaan yang memberikan tantangan
c. Wewenang dalam mengambil keputusan
d. Perusahaan/ organisasi yang fokus pada kepuasan pelanggan
e. Memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk berkarier
f. Reputasi perusahaan
g. Tim kerja yang solid dan saling mendukung
h. Kepemilikan sumber yang dibutuhkan untuk dapat menunjukkan
performa kerja yang prima
i. Memiliki kesempatan untuk memberikan pendapat pada saat
pengambilan keputusan.
j. Penyampaian visi organisasi yang jelas oleh senior management
mengenai target jangka panjang organisasi.
Dimensi keterikatan kerja (work engagement)
Utrecht Work Engagement Scale (UWES) (Schaufeli et al, 2003;.
Schaufeli dan Bakker, 2004, Schaufeli, Taris dan Rhenen, 2008). Seorang
karyawan yang tergolong memiliki work engagement dengan kata lain dapat
didefinisikan dengan melakukan pekerjaan pikiran yang ditandai dengan
semangat, dedikasi, dan penyerapan dalam menyelesaikan semua
penugasannya.
Secara ringkas Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma, & Bakker,
(2002) menjelaskan mengenai dimensi yang terdapat dalam work
engagement, yaitu:
a. Vigor
Merupakan curahan energi dan mental yang kuat selama bekerja,
keberanian untuk berusaha sekuat tenaga dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan, dan tekun dalam menghadapi kesulitan kerja.
Juga kemauan untuk menginvestasikan segaala upaya dalam suatu
pekerjaan, dan tetap bertahan meskipun menghadapi kesulitan.
b. Dedication
Merasa terlibat sangat kuat dalam suatu pekerjaan dan mengalami
rasa kebermaknaan, antusiasme, kebanggaan, inspirasi dan
tantangan.
c. Absorption
Dalam bekerja karyawan selalu penuh konsentrasi dan serius
terhadap suatu pekerjaan. Dalam bekerja waktu terasa berlalu
begitu cepat dan menemukan kesulitan dalam memisahkan diri
dengan pekerjaan.
Menurut Macey, Schneider, Barbera & Young (dalam Mujiasih,
2012), work engagement mencakup 2 dimensi penting, yaitu:
a. Work engagement sebagai energi psikis
Dimana karyawan merasakan pengalaman puncak dengan berada
di dalam pekerjaan dan arus yang terdapat di dalam pekerjaan
tersebut. Keterikatan kerja merupakan tendangan fisik dari
perendaman diri dalam pekerjaan (immersion), perjuangan dalam
pekerjaan (striving), penyerapan (absorption), fokus (focus) dan
juga keterlibatan (involvement).
b. Work engagement sebagai energi tingkah laku
Bagaimana work engagement terlihat oleh orang lain. Keterikatan
kerja terlihat oleh orang lain dalam bentuk tingkah laku yang
berupa hasil.
Tingkah laku yang terlihat dalam pekerjaan berupa:
1) Karyawan akan berfikir dan bekerja secara proaktif, akan
mengantisipasi kesempatan untuk mengambil tindakan dan
akan mengambil tindakan dengan cara yang sesuai dengan
tujuan organisasi.
2) Karyawan yang engaged tidak terikat pada “job
description”, mereka focus pada tujuan dan mencoba untuk
mencapai secara konsisten mengenai kesuksesan organisasi.
3) Karyawan secara aktif mencari jalan untuk dapat
memperluas kemampuan yang dimiliki dengan jalan yang
sesuai dengan yang penting bagi visi dan misi perusahaan.
4) Karyawan pantang menyerah walau dihadapkan dengan
rintangan atau situasi yang membingungkan
Pengertian keterikatan kerja
Menurut Kahn (dalam May dkk, 2004) work engagement dalam
pekerjaan dikonsepsikan sebagai anggota organisasi yang melaksanakan
peran kerjanya, bekerja dan mengekspresikan dirinya secara fisik, kognitif
dan emosional selama bekerja. Keterikatan karyawan yang demikian itu
sangat diperlukan untuk mendorong timbulnya semangat kerja karyawan
(Hochschild, dalam May dkk, 2004).
Brown, (Robbins, 2003) memberikan definisi work engagement yaitu
dimana seorang karyawan dikatakan work engagement dalam pekerjaannya
apabila karyawan tersebut dapat mengidentifikasikan diri secara psikologis
dengan pekerjaannya, dan menganggap kinerjanya penting untuk dirinya,
selain untuk organisasi. Karyawan dengan work engagement yang tinggi
dengan kuat memihak pada jenis pekerjaan yang dilakukan dan benar-benar
peduli dengan jenis kerja itu .
Secara lebih spesifik Schaufeli, Salanova, Gonzalez-Roma dan Bakker
(2002) mendefinisikan work engagement sebagai positivitas, pemenuhan,
kerja dari pusat pikiran yang dikarakteristikkan (Schaufeli, dkk, 2008), Work
engagement merupakan sebuah motivasi dan pusat pikiran positif yang
berhubungan dengan pekerjaan yang dicirikan dengan vigor, dedication dan
absorption (Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma, & Bakker, 2002, dalam
Mujiasih, 2012).
Work engagement lebih daripada keadaan sesaat dan spesifik,
mengacu ke keadaan yang begerak tetap meliputi aspek kognitif dan afektif
yang tidak fokus pada objek, peristiwa, individu atau perilaku tertentu
(Schaufeli & Martinez, 2002). Schaufeli, Salanova, dan Bakker (dalam
Mujiasih, 2012) memberikan batasan mengenai work engagement sebagai
persetujuan yang kuat terhadap pelaksanaan pekerjaan dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan pekerjaan.Schaufeli dan Bakker, Rothbard (dalam Saks,
2006) mendefinisikan engagement sebagai keterlibatan psikologis yang lebih
lanjut melibatkan dua komponen penting, yaitu attention dan absorption.
Attention mengacu pada ketersediaan kognitif dan total waktu yang
digunakan seorang karyawan dalam memikirkan dan menjalankan perannya,
sedangkan Absorption adalah memaknai peran dan mengacu pada intensitas
seorang karyawan fokus terhadap peran dalam organisasi.
Secara umum Thomas (2009) menggambarkan employee engagement
dengan istilah worker engagement, yang diartikan sebagai suatu tingkat bagi
seseorang yang secara aktif memiliki managemen diri dalam menjalankan
suatu pekerjaan. Sedangkan menurut Robbins dan Judge (2008) employee
engagement yaitu keterlibatan, kepuasan, dan antusiasme individual dengan
kerja yang mereka lakukan.
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian teori di atas mengenai
work engagement merupakan sikap dan perilaku karyawan dalam bekerja
dengan mengekspresikan dirinya secara total baik secara fisik, kognitif,
afektif dan emosional. Karyawan menemukan arti dalam bekerja, kebanggaan
telah menjadi bagian dari organisasi tempat ia bekerja, bekerja untuk
mencapai visi dan misi keseluruhan sebuah organisasi. Karyawan akan
bekerja ekstra dan mengupayakan sesuatu untuk pekerjaan di atas apa yang
diharapkan baik dalam waktu dan energi
Keteguhan dan Keterikatan Kerja
Hodge et al. (2018) mengungkap peran keteguhan dalam keterikatan
secara umum. Individu dengan skor keteguhan yang tinggi lebih tekun
berupaya dalam lebih konsisten terhadap minatnya, sehingga dampaknya
akan lebih mengalami keterikatan. Pada penelitian tersebut juga ditemukan
bahwa keteguhan secara langsung juga memberi pengaruh positif pada
produktivitas. Produktivitas tinggi muncul karena pengaruh hadirnya
ketekunan upaya dan konsistensi dalam konstruk keteguhan, pada diri
individu. Temuan lain mengungkap bahwa ketekunan upaya dalam
konstruk keteguhan, berpengaruh positif terhadap keterikatan. Keterikatan
juga dipengaruhi oleh well-being secara langsung, maupun yang telah
dimediasi oleh ketekunan upaya dalam keteguhan (Zheng et al., 2019).
Secara khusus, ketekunan yang hadir pada proses pencapaian, memunculkan
penguasaan dalam bidang yang pada awalnya sering melibatkan kegagalan-
kegagalan awal, yang dialami individu
Dampak Positif Dukungan Organisasional yang Dirasakan
Murthy (2017) menemukan bahwa dukungan organisasional yang
dirasakan menjadi prediktor keterikatan kerja pada karyawan. Temuan
tersebut didukung pada penelitian yang dilakukan oleh Al-Omar, Arafah,
Barakat, Almutairi, Khurshid, dan Alsultan (2019), yang menyatakan
bahwa karyawan yang secara positif merasakan dukungan organisasional,
akan terikat dalam pekerjaannya meskipun berada pada situasi kerja yang
kompetitif dan penuh tekanan. Beberapa hasil penelitian tersebut
mendukung temuan Eisenberger dan Stinglhamber (2011) yang
mengungkap bahwa karyawan dengan skor tinggi untuk konstruk
dukungan organisasional yang dirasakan, lebih terikat dengan pekerjaan,
berkomitmen, puas dan kinerja meningkat, serta rendah stres
Pengukuran Dukungan Organisasional yang Dirasakan
Dukungan organisasional yang dirasakan dapat diukur menggunakan
17 item pertanyaan oleh Eisenberger et al. (1986), namun dapat
digunakan juga lebih sedikit item dari skala aslinya, dan tidak ditemukan
masalah terkait jumlah item tersebut. Rhoades dan Eisenberger (2002)
mengukur persepsi terhadap dukungan organisasi menggunakan delapan
item pernyataan dari Eisenberg, Cummings, Armeli, dan Lynch (1997),
yang mengungkap persepsi karyawan terhadap penghargaan organisasi
atas kontribusi, respon organisasi terhadap keluhan, kepedulian
organisasi terhadap kesejahteraan karyawan, dan kebanggaan organisasi
terhadap karyawan
Pengertian Dukungan Organisasional yang Dirasakan
Dukungan organisasional yang dirasakan merupakan persepsi atas
dukungan yang diberikan organisasi melalui tiga bentuk yaitu, keadilan
prosedural, dukungan dari atasan, serta imbalan dari organisasi terkait
pekerjaan (Eisenberger dan Aselage, 2009). Karyawan profesional
memiliki kecenderungan mengimbangi dukungan organisasional yang
dirasakan melaui kinerja. Dukungan organisasional yang dirasakan
memiliki dampak positif terhadap keterikatan dan kinerja pekerja
profesional. Ketika karyawan menerima dukungan finansial atau
nonfinansial dari perusahaan, mereka merasa wajib untuk membayar
kembali dengan tingkat keterikatan kerja yang lebih tinggi (Dabke dan
Patole, 2014)
Konsep Awal Dukungan Organisasional yang Dirasakan
Organizational Support Theory (OST) atau teori dukungan
organisasional muncul pertama kali pada tahun 1986 oleh Eisenberger,
Huntington, Hutchinson, dan Sowa, yang menyatakan bahwa untuk
memenuhi kebutuhan sosial-emosional dan untuk menilai manfaat dari
peningkatan kinerja, organisasi berkontribusi dan peduli terhadap
kesejahteraan karyawan (Kurtessis, Eisenberger, Ford, Buffardi, Stewart,
dan Adis, 2015). Hal ini mendukung teori yang sebelumnya muncul, yaitu
teori Social Exchange (pertukaran sosial) oleh Homans dan Blau (1964),
yang mengungkap pekerjaan sebagai pertukaran usaha dan loyalitas untuk
manfaat nyata dan penghargaan sosial. Ketika seseorang diperlakukan
baik, maka timbal balik yang diberikan harus menguntungkan
(Eisenberger dan Stinglhamber, 2011). Karyawan selanjutnya membentuk
persepsi umum mengenai sejauh mana organisasi mewujudkan hal itu,
dengan cara menilai kontribusi, pemberian dukungan dan kepedulian dari
organisasi terhadap kesejahteraan karyawan (Eisenberger dan
Stinglhamber, 2011), yang disebut dengan Perceived Organizational
Support (POS) atau dukungan organisasional yang dirasakan
Dampak Positif Keteguhan
Penelitian Duckworth mengungkap temuan bahwa yang lebih
berperan pada kesuksesan akademik bukan bakat, melainkan keteguhan.
Individu dengan skor keteguhan tinggi memiliki ketertarikan terhadap
sesuatu, dan hasrat dipertahankan dalam jangka panjang sehingga
menimbulkan suatu konsistensi (Duckworth et al., 2007). Keteguhan
ditemukan berperan dalam meraih berbagai kesuksesan, seperti dalam
prediksi prestasi akademik (Reraki, Celik, dan Saricam, 2015),
memungkinkan kinerja lebih baik pada penempatan pertama, berperan
positif dalam latihan mengeja, berperan dalam keberhasilan pelatihan
militer yang keras, dan memberikan prediksi kesuksesan lebih baik
daripada efek IQ, hardiness, kontrol diri dan sifat kehati-hatian
(Duckworth, 2007). Bersama dengan keterlibatan kerja, keteguhan telah
diselidiki ketika keduanya bersama memoderasi pengaruh ketidaksopanan
di tempat kerja, dan kemampuan kerja yang dirasakan (Kabbat-Farr,
Walsh, dan McGonagle, 2017), ketekunan menjadi prediktor keterikatan
kerja (Zeng et al., 2019), dan keterikatan secara umum, memediasi
pengaruh keteguhan terhadap produktivitas (Hodge et al., 2018)
Dimensi dan Pengukuran Keteguhan
Keteguhan terdiri atas dua dimensi yaitu perseverance of effort
(ketekunan upaya) dan consistency of interest (konsistentsi minat).
Keteguhan merupakan salah satu sifat kepribadian yang memunculkan
kesadaran, dan ditemukan yang memiliki kesamaan karakteristik dengan
salah satu dari lima kepribadian utama, yaitu conscientiousness yang
berarti kehati-hatian dengan kesungguhan (Rimfeld, Kovas, Dale, dan
Plomin, 2016). Keduanya dianggap berkontribusi positif pada
kesuksesan. Meskipun beberapa peneliti meneliti ketekunan dan
konsistensi minat sebagai dua konstruk terpisah, namun sebagian besar
penelitian menghadirkan tentang laporan keteguhan dengan tingkat skor
keteguhan keseluruhan (Credé, Tynan, dan Harms, 2016).
Keteguhan diukur dengan menggunakan skala Likert untuk
menjawab 12 pernyataan dalam keseluruhan pengukuran keteguhan.
Enam pernyataan mengukur ketekunan, dan enam lainnya mengukur
konsistensi minat. Kedua belas item pengukuran pelaporan diri ini
disebut Grit-O (Duckworth et al., 2016). Sedangkan skala pengukuran
yang lebih singkat namun dapat digunakan sama baiknya, diungkap oleh
Duckworth dan Quinn (2009) dalam delapan item pernyataan yang
masing – masing terdiri atas empat pernyataan untuk dimensi ketekunan
dan konsistensi minat
Pengertian Keteguhan
Pentingnya bakat intelektual untuk prestasi di seluruh domain
profesional sudah diuji dalam banyak penelitian. Namun perbedaan
nonkognitif individu juga dapat menjadi prediktor keberhasilan. Salah
satu sifat nonkognitif tersebut adalah keteguhan, yang tidak berhubungan
positif dengan kecerdasan intelektual, tetapi sangat berkorelasi dengan
lima faktor kepribadian utama, khususnya conscientiousness. Keteguhan
menunjukkan validitas prediktif tambahan dari ukuran-ukuran
keberhasilan, melampaui kecerdasan intelektual dan kesadaran. Temuan
ini menunjukkan bahwa pencapaian bukan hanya ditentukan oleh bakat
tetapi juga penerapan bakat yang berkelanjutan dan terfokus dari waktu ke
waktu (Duckworth et al., 2007).
Duckworth (2016) mendefinisikan keteguhan sebagai ketekunan dan
keinginan besar untuk mencapai tujuan jangka panjang dalam waktu yang
lama, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Keteguhan ditemukan
memiliki kemiripan dengan beberapa konstruk lain, namun secara
mendasar berbeda. Individu yang memiliki keteguhan tinggi tidak hanya
menyelesaikan tugas yang dihadapi tetapi juga mengejar tujuan tertentu
selama bertahun-tahun. Lalu perbedaan keteguhan dengan ketergantungan
aspek kesadaran dan termasuk kontrol diri, adalah adanya spesifikasi
tujuan dan minat yang konsisten. Selanjutnya keteguhan juga berbeda
dari kebutuhan untuk berprestasi, karena kebutuhan akan pencapaian
menurut definisi adalah non-sadar yang mendorong untuk kegiatan
bermanfaat secara implisit, oleh karena itu tidak dapat digunakan metode
self-report seperti pengukuran yang dilakukan pada konstruk keteguhan
(Duckworth et al., 2007).
Konsep Awal Keteguhan
James (1907) mengungkap bahwa yang memengaruhi individu
dalam mencapai hasil, lebih dari individu lain dengan kecerdasan setara
yang baru sebagian kecil digunakan, bukan hanya kemampuan, namun
adalah kemampuan yang dikombinasikan dengan semangat dan kerja
keras (Duckworth, Peterson, Matthews, dan Kelly, 2007). Menurut
Gottfredson et al. (1997) dalam Duckworth et al. (2007), inteligensi
adalah prediktor pencapaian terbaik yang terdokumentasi, valid untuk
mendokumentasikan berbagai hasil pencapaian. Namun, dalam studi
longitudinal Terman dalam Duckworth et al. (2007) diungkap bahwa
kecerdasan tidak selalu diterjemahkan pencapaian, tetapi dalam
pencapaian dibutuhkan juga ketekunan. Selain itu, ada praktik disengaja
yang dilakukan terus menerus, yang dipengaruhi perbedaan faktor-faktor
yang ada pada individu untuk terlibat pada keadaan tersebut (Duckworth
et al., 2007).
The Big Five personality traits (Lima Sifat Kepribadian Utama) oleh
Cattell, yang juga dikenal sebagai the five-factor model (FFM) dan
the OCEAN model, telah menyediakan kerangka kerja deskriptif untuk
banyak karya empiris kontemporer tentang ciri-ciri prediktor kesuksesan
(Duckworth et al., 2007). Kelima faktor kepribadian utama tersebut
adalah Openness to experience, Conscientiousness, Extraversion,
Agreeableness, dan Neuroticism. Meta-analisis Barrick dan Mount dalam
Duckworth et al., (2007) menyimpulkan bahwa Big Five khususnya
Conscientiousness yang bermakna kehati-hatian dengan kesungguhan,
terkait lebih kuat dengan kinerja pekerjaan dari pada empat tipe lain pada
lima faktor kepribadian utama. Studi penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa dalam meta-analisis, studi konfirmasi ukuran kepribadian sebagai
prediktor pekerjaan, diperoleh temuan bahwa aspek yang didefinisikan
dari faktor lima faktor kepribadian utama dapat memrediksi hasil
pencapaian tertentu (Paunonen dan Ashton, 2011, dalam Duckworth et
al., 2007), namun memungkinkan ada ciri-ciri kepribadian penting yang
tidak terwakili oleh lima kepribadian utama, dan jika dimensi seperti itu
bukan merupakan bagian dari lima faktor kepribadian utama, maka
dimensi tersebut perlu dipertimbangkan secara terpisah dalam deskripsi
komprehensif tentang penentu kebiasaan manusia
Dampak Positif dan Prediktor Keterikatan Kerja
Perhatian pada keterikatan kerja meningkat seiring dengan
kemunculan psikologi positif yang berfokus pada studi ilmiah tentang
fungsi manusia secara optimal serta faktor-faktor yang memungkinkan
individu, organisasi, dan masyarakat untuk berkembang (Schaufeli, 2013).
Penelitian–penelitian sebelumnya telah mengungkap peran positif
keterikatan kerja pada kualitas perawatan, kinerja peran dan kepuasan
kerja (Zhu, Liu, Guo, dan Zhao, 2015). Lebih lanjut Bargagliotti (2012)
dalam Keyko et al. (2016) menjelaskan pentingnya peningkatan
pengetahuan tentang keterikatan kerja di ruang perawatan, karena
perawatan pasien yang aman membutuhkan perawat terlibat dalam
pekerjaan.
Keyko et al. (2016) menunjukkan terdapat beberapa dampak dari
keterikatan kerja, yang dari 17 dampak tersebut, dikategorikan ke dalam
tiga tema yaitu, kinerja dan hasil perawatan, hasil profesional, dan hasil
pribadi, hasil positif organisasi seperti kinerja, produktivitas, manfaat
finansial, serta komitmen (Keyko et al., 2016). Hal itu mendukung
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hakanen pada tahun 2010
yang menunjukkan bahwa keterikatan kerja memiliki konsekuensi positif,
seperti komitmen organisasi, perilaku proaktif, dan produktivitas
(Chevalier et al., 2018). Karyawan yang memiliki keterikatan kerja tinggi,
lebih termotivasi dan produktif dalam pekerjaan, dan memiliki hubungan
negatif dengan turnover (Zheng et al., 2019).
Selain memiliki pengaruh positif terhadap beberapa hal, keterikatan
kerja juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lalu dikategorikan ke dalam
enam tema, yaitu iklim organisasi, sumber daya pekerjaan, sumber daya
profesional, sumber daya personal/ pribadi, tuntutan pekerjaan, dan
variabel demografis (Keyko et al., 2016). Sebagai salah satu prediktor
utama, sumber daya personal merupakan evaluasi diri positif atas
kemampuan individu untuk mengontrol dan memberikan dampak terhadap
lingkungan. Sumber daya personal terdiri atas efikasi diri, harga diri
berdasarkan organisasi, optimisme, fleksibilitas, berorientasi pada tujuan,
dan perkembangan diri (Keyko et al., 2016).
Dimensi dan Pengukuran Keterikatan Kerja
Keterikatan kerja sebagai kondisi afektif-kognitif aktif dan positif
karyawan terkait dengan pekerjaan, ditandai dengan semangat, dedikasi,
dan penyerapan/ fokus mendalam (Schaufeli, 2013). Semangat ditandai
dengan tingginya tingkat energi dan ketahanan mental saat bekerja,
kemauan untuk mencurahkan usaha serta ketekunan dalam menghadapi
kesulitan dalam bekerja. Dedikasi ditandai dengan kesungguhan untuk
melibatkan diri dalam pekerjaan, yang diikuti rasa berkmakna, antusiasme,
inspirasi, kebanggaan dan tantangan. Penyerapan ditandai dengan keadaan
sepenuhnya terkonsentrasi dan secara senang hati menikmati pekerjaannya
sehingga waktu berlalu dengan cepat dan akan kesulitan memisahkan diri
dari pekerjaan (Schaufeli, 2013).
Salah satu skala untuk mengukur keterlibatan kerja adalah dari
Utrecht, yaitu Utrecht Scale Work Engagement (UWES), yang merupakan
self-report, didasarkan pada definisi keterlibatan kerja sebagai kombinasi
dari semangat, dedikasi, dan penyerapan (Schaufeli, 2013). Pada awalnya
UWES terdiri atas 24 item, kemudian dieliminasi menjadi 17 item setelah
ditemukan kesalahan pada tujuh item yang selanjutnya dihapus, dan
dengan tujuan mengurangi kemungkinan ketidaknyamanan yang
dirasakan responden, dipersingkat kembali, sehingga muncul hasil skor
Short UWES dengan sembilan item, yang mengukur tiga aspek
keterlibatan kerja yaitu, semangat, dedikasi, dan penyerapan, dengan
masing-masing dimensi terdiri atas tiga item (Schaufeli, Bakker dan
Salanova, 2006). Penelitian selanjutnya juga mengungkap hadirnya Ultra
Short UWES yang terdiri atas tiga item untuk total skor (Schaufeli,
Shimazu, Hakanen, Salanova, dan De White, 2017).
Menurut Debruin dan Henn (2013), dengan kehadiran tiga sub-
dimensi skor pada UWES–9 dapat ditafsirkan pada dua tingkat, yaitu pada
tingkat skala total (keterikatan kerja) dan pada tingkat sub-skala
(semangat, dedikasi, dan penyerapan). Namun interpretasi untuk skor total
lebih disarankan dari pada skor untuk sub-skala, karena kurangnya
validitas diskriminatif dari semangat, dedikasi, dan penyerapan.
Kulikowski (2017) mengungkap temuan yang berbeda di Polandia.
Penelitian validitas konstruk untuk skor UWES-9, menunjukkan
penggunaan dua faktor yaitu dimensi semangat dan dedikasi lebih cocok
digunakan dari pada tiga faktor yang menyertakan dimensi penyerapan di
dalamnya. Untuk versi yang lebih singkat, Schaufeli et al. (2017),
mengungkap bahwa skor UWES-3, sama baiknya dengan versi 9 item,
serta dapat digunakan sebagai indikator kerja yang reliabel dan valid
Konsep Awal Keterikatan Kerja
Konsep keterikatan secara umum dan sejumlah dimensi utama yang
terkait seperti reaksi emosional orang terhadap fenomena, sifat objektif
pekerjaan, dan pengalaman manusia tentang keunggulan diri, pertama kali
dijelaskan oleh Kahn (1990). Kondisi psikologis umum juga diidentifikasi
untuk memperoleh gambaran pemahaman tentang ciri situasi saat
keterikatan terjadi. Perbedaan individu terkait dengan pengalaman
psikologis yang bermakna, dan kemampuan menghadapi situasi tertentu,
membentuk kecenderungan keterikatan berbeda-beda (Schaufeli, 2013)
Pengertian Keterikatan Kerja
Setelah topik keterikatan secara umum menjadi pembahasan,
konstruk keterikatan dalam dunia kerja juga menjadi perhatian.
Keterikatan kerja merupakan salah satu bentuk keterlibatan yang mengacu
pada hubungan karyawan dengan pekerjaannya. Keterikatan secara umum
mengacu pada komitmen, semangat, antusiasme, penyerapan, upaya
terfokus, semangat, dedikasi, dan energi (Schaufeli, 2013).
Harga Dan Minat Beli Ulang
Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Faradiba (2013) menyatakan bahwa
Variabel harga memilik pengaruh positif terhadap Minat beli Ulang Konsumen.
Jadi, apabila kesesuain harga semakin baik, maka minat beli ulang konsumen
akan meningkat. Hasil penelitian Fauzan (2010) menyatakan bahwa harga
memiliki pengaruh terhadap minat pembelian ulang pada konsumen. Harga yang
terjangkau, potongan harga yang lebih besar, kesesuaian antara harga dengan
kualitas dan manfaat yang diberikan produk serta harga yang cukup bersaing
dengan merek atau produk lain menjadi dasar konsumen memiliki minat beli
ulang produk. Hasil penelitian Rahmi Rosita (2016) menyatakan bahwa variabel
harga memiliki pengaruh yang paling dominan dari ke enam variabel penentu
terhadap minat beli ulang konsumen.
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Tjiptono (2012:198)
terdapat empat indikator kualitas layanan yaitu :
- Bukti Fisik (Tangibles,
Berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan, dan material
yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan. - Empati (Emphaty)
Bahwa perusahaan memahami masalah para pelanggannya dan bertindak
demi kepentingan pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada para
pelanggan dan memiliki jam operasi yang nyaman. - Daya tanggap (Responsiveness)
Berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk
membantu para pelanggan dan merespon permintaan mereka, serta
menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian memberikan jasa
secara cepat. - Jaminan (Assurance)
Perilaku para karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan
terhadap perusahaan dan perusahaan bisa menciptakan rasa aman bagi para
pelanggannya. Jaminan juga berarti bahwa para karyawan selalu bersikap sopan
dan menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk menangani
setiap pertanyaan atau masalah pelanggan
Kualitas Pelayanan
Salah satu strategi yang dipakai perusahaan untuk bisa memenangkan
persaingan adalah dengan kualitas layanan yang baik. Pelanggan tertarik membeli
sebuah produk atau jasa karena kualitas layanan yang baik. Kualitas pelayanan
merupakan dasar bagi pemasar jasa, karena inti produk yang dipasarkan adalah
suatu kinerja yang berkualitas dan kinerjalah yang dibeli oleh konsumen. Seperti
yang diketahui bahwa kualitas pelayanan dapat digunakan sebagai salah satu alat
untuk mencapai keunggulan bersaing dan menentukan keberhasilan. Semakin baik
pelayanan yang diberikan dimata pelanggan berarti semakin tingi pula tingkat
keberhasilan dan kualitas perusahaan yang dicapai.
Menurut Tjiptono (2012) mendefinisikan kualitas pelayanan adalah ukuran
seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi
pelanggan. Definisi lain kualitas pelayanan menurut Wyckof dalam Lovelock
dalam Tjiptono (2012) merupakan tingkat keunggulan (excellence) yang
diharapkan dan pengendalian atas keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan.
Kualitas pelayanan memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk
menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan lembaga atau instansi pemberi
pelayanan jasa. Ikatan hubungan yang baik ini akan memungkinkan lembaga
pelayanan jasa untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta
kebutuhan mereka. Kualitas telah menjadi harapan dan impian bagi setiap
konsumen dari sebuah produk yang dibelinya. Konsumen dalam kesehariannya
menggunakan produk baik yang berwujud ataupun tidak berwujud (jasa) tidak
akan lepas dari kualitas baik yang diharapkan konsumen
Menurut Kotler dan Keller dalam Sabran (2011) kualitas produk memiliki
indikator-indikator sebagai berikut:
- Bentuk (form)
Bentuk sebuah produk dapat meliputi ukuran, bentuk, atau struktur fisik
produk. - Kualitas Kesesuaian (Conformance Quality)
Tingkat dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi
spesifikasi yang dijanjikan. - Ketahanan (Durability)
Merupakan ukuran umur operasi harapan produk dalam kondisi biasa atau
penuh tekanan, merupakan atribut berharga untuk produl-produk tertentu
Indikator Harga
Menurut Kotler (2016:52) indikator yang digunakan untuk mengukur
harga, yaitu :
- Keterjangkauan harga produk.
Kemampuan daya beli konsumen atas produk yang dibelinya. - Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
Harga merupakan salah satu indikator dalam menentukan suatu kualitas
barang itu sendiri. Tidak selalu harga yang mahal itu menunjukan bahwa
kualitas dari barang tersebut adalah bagus. - Daya saing harga produk.
Kemampuan suatu produk untuk bersaing dengan produk sejenisnya
dipasaran dengan harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan, meskipun
harga yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan dengan produk sejenis. - Kesesuaian harga dengan manfaat produk.
Harga yang mahal tidak menjadi persoalan untuk suatu produk apabila
berbanding lurus dengan manfaat yang dapat diperoleh dari membeli
produk tersebut.
Kualitas Produk
Pengertian kualitas produk memiliki inti pada upaya pemenuhan
kebutuhan pelanggan yang bertujuan untuk mengimbangi harapan pelanggan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:236) Kualitas produk didefinisikan sebagai
sesuatu yang dapat ditawarkan kedalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki,
dipakai, atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan
Kualitas merupakan faktor yang terdapat dalam suatu produk yang menyebabkan
produk tersebut bernilai sesuai dengan maksud untuk apa produk itu di produksi.
Kualitas biasanya berhubungan dengan manfaat atau kegunaan serta fungsi dari
suatu produk.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012) “Product quality is the
characteristic of a product or service that bear onits ability to satisfy stated or
implied customer needs” yang bila diartikan dalam Bahasa Indonesia: “kualitas
produk adalah karakter yang dimiliki sebuah produk yang mempunyai
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan”. Sedangkan Menurut Kotler
dan Armstrong (2012:283) dalam Kresnamurti (2012) “kualitas produk adalah
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk
keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan
reparasi produk juga atribut produk lainnya”
Strategi Penetapan Harga
Menurut Kotler dan Armstrong (2014) Strategi penetapan harga
berdasarkan bauran produk sebagai berikut :
- Penetapan harga lini produk, yaitu menetapkan jenjang harga diantara
barang- barang pada lini produk. - Penetapan harga produk tambahan, yaitu menetapkan harga produk
tambahan atau pelengkap yang dijual beserta produk utama. - Penetapan harga produk terikat, yaitu menetapkan harga produk yang
harus digunakan bersama produk utama. - Penetapan harga produk sampingan, yaitu menetapkan harga rendah pada
produk – produk sampingan untuk menyingkirkan mereka. - Penetapan harga paket produk, yaitu menetapkan harga untuk paket
produk yang dijual bersama
Harga
Rangsangan dari perusahaan yang berperan sangat penting dalam
penjualan suatu produk adalah harga. Menurut Kotler dan Armstrong (2012:439)
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk, atau jumlah dari
nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki dan
menggunakan produk atau jasa tersebut. Harga merupakan elemen bauran
pemasaran yang dapat menghasilkan pendapatan melalui penjualan. Oleh karena
itu, perusahaan harus dapat menetapkan harga produknya dengan baik dan tepat
sehingga konsumen tertarik dan mau membeli produk yang ditawarkan agar
perusahaan mendapatkan keuntungan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:345) harga dapat didefenisikan
secara sempit sebagai jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa.
Atau dapat didefenisikan secara luas harga sebagai jumlah nilai yang ditukarkan
konsumen untuk keuntungan memiliki dan menggunakan produk atau jasa yang
memungkinkan perusahaan mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar
untuk nilai pelanggan yang diciptakannya
Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli Ulang
Menurut Kotler & Armstrong (2011:135-150) dalam Puspitasari (2016)
faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk melakukan pembelian
ulang, yaitu sebagai berikut ini :
- Faktor Kultur
Kultur dan kelas sosial seseorang dapat mempengaruhi minat seseorang
dalam melakukan pembelian. Konsumen memiliki persepsi, keinginan dan
tingkah laku yang dipelajari sedari kecil, sehingga pada akhirnya akan
membentuk persepsi yang berbeda-beda pada masing-masing konsumen. Faktor
nasionalitas, agama, kelompok ras dan wilayah geografis juga berpengaruh pada
masing-masing individu. - Faktor Psikologis
Meliputi pengalaman belajar individu tentang kejadian di masa lalu, serta
pengaruh sikap dan keyakinan individu. Pengalaman belajar dapat didefinisikan
sebagai suatu perubahan perilaku akibat pengalaman sebelumnya. Timbulnya
minat konsumen untuk melakukan pembelian ulang sangat dipengaruhi oleh
pengalaman belajar individu dan pengalaman belajar konsumen yang akan
menentukan tindakan dan pengambilan keputusan membeli. - Faktor Pribadi
Kepribadian, umur, pekerjaan, situasi ekonomi dan juga lifestyle dari
konsumen itu sendiri akan mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan
dalam membeli. Oleh karena itu, peranan restoran penting dalam memberikan
pelayanan yang baik kepada konsumennya. Faktor pribadi ini termasuk di
dalamnya konsep diri. Konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita melihat
diri sendiri dan dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang upah yang kita
pikirkan. Dalam hubungan dengan minat beli ulang, restoran perlu menciptakan
situasi yang diharapkan konsumen. Begitu pula menyediakan dan melayani
konsumen dengan produk yang sesuai dengan yang diharapkan konsumen. - Faktor Sosial
Mencakup faktor kelompok anutan (small reference group). Kelompok
panutan didefinisikan sebagai suatu kelompok orang yang mempengaruhi sikap,
pendapat, norma dan perilaku konsumen. Kelompok panutan ini merupakan
kumpulan keluarga, kelompok atau orang tertentu. Dalam menganalisis minat beli
ulang, faktor keluarga berperan sebagai pengambil keputusan, pengambil inisiatif,
pemberi pengaruh dalam keputusan pembelian, penentu apa yang dibeli, siapa
yang melakukan pembelian dan siapa yang menjadi pengguna. Pengaruh
kelompok acuan terhadap minat beli ulang antara lain dalam menentukan produk
dan merek yang mereka gunakan yang sesuai dengan aspirasi kelompoknya. Ke
efektifan pengaruh niat beli ulang dari kelompok anutan sangat tergantung pada
kualitas produksi dan informasi yang tersedia pada konsumen
Repurchase Intention (Minat Beli Ulang)
Minat beli ulang menunjukkan keinginan pembeli untuk melakukan
kunjungan ulang di masa yang akan datang. Perilaku pembelian ulang seringkali
dikaitkan dengan loyalitas. Namun keduanya berbeda. Perilaku pembelian ulang
hanya menyangkut pembelian ulang merek tertentu yang sama secara berulang-
ulang, sedangkan loyalitas merek mencerminkan komitmen psikologis terhadap
merek tertentu.
Pengertian minat beli ulang menurut Peter dan Olson (2014:289) adalah
kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa kali.
Kepuasan yang diperoleh seorang pelanggan, dapat mendorong seseorang untuk
melakukan pembelian ulang, menjadi loyal terhadap produk tersebut ataupun
loyal terhadap toko tempat dia membeli barang tersebut sehingga konsumen dapat
menceritakan hal-hal yang baik kepada orang lain.
Menurut Keller dalam Sulistyari (2012:20), minat beli ulang adalah
seberapa besar kemungkinan pelanggan membeli suatu merek atau seberapa besar
kemungkinan pelanggan untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya. Bila
manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk
mendapatkannya, maka dorongan untuk membelinya semakin tinggi
Pemasaran
AMA (American Marketing Association) dalam Kotler dan Keller
(2017:124-135) menjelaskan bahwa “Marketing is the activity, set of institutions,
and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings
that have value for customers, client, partners, and society large” yang artinya
bahwa pemasaran merupakan suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses
untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan memberikan nilai kepada
pelanggan, klien, rekan, dan cakupan sosial yang lebih luas dan untuk mengelola
hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku
kepentingan.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2017:124-135) sebagai berikut :
“Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what
they need and want through creating, offering, and freely exchanging products
and services of value with others”. Artinya pemasaran adalah sebuah proses
kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan secara bebas saling
bertukar produk dan jasa yang bernilai satu sama lainnya.
Menurut Kotler dan Armstrong (2017:124-135) Pemasaran adalah sebagai
berikut : “Marketing as the process by which companies create value from
customers and build strong customers relationship in order to capture value from
customers in return”. Artinya pemasaran sebagai proses dimana perusahaan
menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan
pelanggan untuk mendapat nilai dari pelanggan sebagai imbalan.
Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya
pemasaran bukan hanya kegiatan menjual barang maupun jasa tetapi juga meliputi
kegiatan untuk memenuhi keingian dan kebutuhan dengan berusaha
mempengaruhi konsumen untuk bersedia membeli barang dan jasa perusahaan
melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk yang bernilai. Hal ini
sangat penting bagi manajer pemasaran untuk memahami tingkah laku konsumen
tersebut. Sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan prduk secara lebih baik.
Hubungan antara Brand Trust, Kepuasan Pelanggan dan MinatBeli Ulang
Semakin meningkatnya pengaruh kepercayaan merek terhadap minat
beli ulang yang disebabkan oleh kepuasan konsumen yang tinggi.
Pelanggan yang percaya kepada suatu produk atau jasa tentu saja
akan melakukan transaksi secara berulang secara konsisten dimasa yang
akan datang (Rifa’i et al., 2020). Haron et al., (2020) Terciptanya rasa
kepuasan terhadap produk atau jasa yang digunakan oleh pelanggan
akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan merek karena apa yang
diharapkan oleh konsumen sudah terpenuhi sehingga minat beli ulang
tentu saja akan terjadi secara berulang. Hal ini sejalan dengan
meningkatnya kepercayaan pelanggan maka pelanggan akan terus
menerus menggunakan jasa atau produk tersebut secara konsisten.
Japarianto & Agatha (2020) brand trust memiliki pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen karena konsumen memiliki kepercayaan
terhadap suatu produk, maka produsen harus konsisten membangun
kepercayaan konsumen.
Hubungan Social Media Marketing, Kepuasan Pelanggan danMinat Beli Ulang
Peranan media sosial untuk meningkatkan minat beli ulang konsumen
dapat dipengaruhi oleh hubungan kerja sama yang baik antara
produsen dan konsumen dalam berkomunikasi melalui media sosial
sehingga mampu meningkatkan minat beli ulang konsumen, dimana hal
ini berdampak terhadap kepuasan konsumen yang dirasakan oleh
konsumen saat berbelanja melalui media sosial. Kepuasan konsumen
dirasakan saat tidak adanya keluhan atas produk yang dibelinya sehingga
akan mempengaruhi minat beli konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut (Lestari & Iswati, 2021). Menurut oliver dalam jurnal
Dwipayana & Sulistyawati (2018) kepuasan secara positif berkaitan
dengan niat beli ulang baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada tahap akhir dalam proses pembentukan kepuasan, kepuasan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut disebabkan oleh pengaruh pemasaran di media sosial.
Dilanjutkan menurut Tong & Subagio (2020) terdapat pengaruh
positif antara pemasaran media sosial yang menjadi faktor penting
dalam meningkatkan minat beli ulang dengan bantuan media
promosi dimedia sosial. Adanya pengaruh kepercayaan dari
promosi yang dilakukan terhadap minat beli ulang, karena
dengan semakin meningkatnya kepercayaan maka minat beli ulang juga
akan meningkat (Nur et al., 2021).
Kepuasan Pelanggan terhadap Minat Beli Ulang
Kepuasan pembeli meliputi seberapa dekat harapan pembeli atas
suatu produk dengan kinerja yang dirasakan pembeli atas produk tersebut.
Kepuasan konsumen memegang peran penting dalam menentukan antara
harapan konsumen dan kemampuan produk dalam memuaskan konsumen.
Pengaruh yang signifikan antara kepuasan pelanggan dengan minat beli
ulang, dimana semakin tinggi tingkat kepuasan suatu pelanggan maka
akan semakin tinggi pula minat beli ulang yang dilakukan oleh pelanggan
tersebut (Maulana & Sukresna, 2022). Tingkat kepuasan pelanggan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali ulang
produk atau membeli ulang produk.
Jadi semakin tinggi konsumen merasa puas terhadap produk maka
semakin banyak konsumen yang melakukan pembelian ulang pada produk.
Kepuasan pelanggan berpengaruh secara parsial terhadap minat beli
pelanggan. Kepuasan pelanggan nantinya dapat menanamkan kepercayaan
bagi konsumen. Kepercayaan yang terbentuk dapat memicu keinginan
pelanggan untuk melakukan pembelian secara berulang (Dwipayana &
Sulistyawati, 2018).
Brand trust terhadap minat beli ulang
Terdapat pengaruh langsung antara kepercayaan merek terhadap
minat beli ulang, karena dengan semakin meningkatnya kepercayaan
terhadap merek maka minat beli ulang juga akan meningkat. Membangun
dan menjaga kepercayaan merek merupakan hal yang sangat penting,
karena berdampak langsung terhadap minat pembelian ulang. Brand trust
menjadi aspek nilai yang mengikat konsumen dengan merek dan sebagai
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Fandiyanto & Endriyasari, 2019). Brand trust
merupakan sebuah kemampuan merek untuk meyakinan pelanggannya
bahwa suatu produk mampu memberikan nilai dan ide yang dijanjikan.
Memiliki kepercayaan pada produk didapatkan ketika menerima respon
baik dari konsumen. Jadi jika produk mendapat kepercayaan,
kemungkinan untuk terjadi niat beli ulang akan besar (Nur et al., 2021).
Minat beli ulang pada dasarnya tentang perilaku pelanggan ketika
pelanggan bereaksi positif terhadap kualitas layanan perusahaan dan
berniat untuk kembali atau mengkonsumsi produk perusahaan lagi.
Sehingga minat membeli ulang akan terjadi jika ada rasa puas dari seorang
konsumen
Social Media Marketing terhadap Minat Beli Ulang
Media sosial sebagai platform komunikasi dengan konsumen untuk
memberitahu suatu brand sehingga menjadi faktor penting dalam
meningkatkan minat beli ulang serta membuat konsumen mengingat
kembali suatu merek atau produk dengan bantuan media promosi di media
sosial (Tong & Subagio, 2020). Media sosial sebagai media pemasaran
dapat mempengaruhi niat beli ulang konsumen dengan terus meningkatkan
kegiatan promosi yang menarik di media sosial, karena dengan terus
mengoptimalkan penggunaan media sosial yang tepat dapat meningkatkan
keuntungan melalui pembelian secara berulang. Sebab media teknologi
menurut teori ekologi media menyatakan bahwa kehidupan manusia tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh teknologi (Rohani et al., 2020)
Brand Trust Terhadap Kepuasan Pelanggan
Kepercayaan merek memiliki pengaruh terhadap kepuasan
pelanggan karena ketika konsumen memiliki kepercayaan terhadap suatu
produk maka konsumen akan merasa puas bahkan akan
merekomendasikan kepada orang lain. Untuk membentuk suatu brand
trust, penjual produk perlu untuk secara konsisten membangun
kepercayaan konsumen. brand trust yang telah terbentuk akan
menimbulkan rasa nyaman dalam diri konsumen, Konsumen akan
cenderung merasa lebih nyaman dengan satu brand yang telah dipercaya
daripada memilih produk atau jasa dari brand lain (Japarianto & Agatha,
2020). Pelanggan akan percaya pada suatu merek walaupun adanya risiko
yang akan dihadapi. Faktor yang mempengaruhi kepercayaan meliputi tipe
suatu merek, tipe perusahaan dan hubungan pelanggan – merek. Terdapat
pengaruh yang baik antara kepercayaan merek dengan kepuasan pelanggan
dengan menandakan apabila tingkat kepuasan pelanggan tinggi maka
sudah dipastikan pelanggan sangat mempercayai merek tersebut.
(Anggraeni & Syuhada Sofyan., 2017). Kepercayaan merek yang telah
menjadi patokan dalam membangun dan menjalin hubungan bisnis
terutama yang berkaitan dengan unsur resiko sehingga dapat merasakan
kepuasan yang diinginkan (Ihsan & Sutedjo, 2022).
Social Media Marketing terhadap Kepuasan Pelanggan
Pemasaran yang efektif di media sosial sangat memungkinkan
perusahaan menciptakan hubungan yang menguntungkan dengan
konsumen untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Kinerja media sosial
dalam memasarkan produk dapat mempengaruhi tingkat kepuasaan
konsumen terhadap produk yang mereka beli. konsumen yang
menggunakan media sosial tentunya ingin mendapat kepuasan sehingga
terdapat hubungan yang positif antar keduanya (Agustini et al., 2022).
(Agustini et al., 2022) Kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh pemasaran
media sosial, dimulai dari mencari informasi melalui media sosial,
menggunakan media sosial, tertarik karena postingan dan merasa senang
melihat media sosial Tiktok Zoya (Agustini et al., 2022). implementasi
program pemasaran yang efektif di media sosial dapat memungkinkan
perusahaan untuk menciptakan hubungan yang menguntungkan terhadap
konsumen dengan meningkatkan kepuasan (Fajri & Ma’ruf, 2018)
Indikator Kepuasan Pelanggan
Indikator kepuasan pelanggan yang digunakan dalam penelitian,
sebagaimana dikemukakan oleh (Kotler dan Keller 2016:120) pada
meliputi:
- Pengalaman: Ini merujuk pada pengalaman atau aktivitas
yang telah dialami atau dilakukan oleh pelanggan dengan
produk atau layanan yang mereka gunakan. Kepuasan
pelanggan dapat muncul sebagai hasil dari pengalaman
positif yang mereka alami dalam berinteraksi dengan
perusahaan atau merek. - Harapan Pelanggan: Harapan pelanggan mencakup sejauh
mana harapan mereka terhadap produk atau layanan tertentu
cocok dengan kinerja aktual yang mereka terima dari
perusahaan. Jika kinerja produk atau layanan memenuhi atau
bahkan melebihi harapan pelanggan, maka hal ini dapat
berkontribusi positif terhadap kepuasan pelanggan.
3) Kebutuhan: Indikator ini mengacu pada kesesuaian antara
kebutuhan atau keperluan pelanggan dengan produk atau
layanan yang ditawarkan oleh perusahaan. Ketika produk
atau layanan secara efektif memenuhi kebutuhan pelanggan,
maka pelanggan cenderung merasa puas.
Ketiga indikator ini membantu dalam memahami faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan pelanggan. Menganalisis dan
memahami hubungan antara pengalaman, harapan pelanggan,
dan pemenuhan kebutuhan dengan kepuasan pelanggan dapat
membantu perusahaan dalam merancang strategi pemasaran yang
lebih efektif, meningkatkan kualitas produk atau layanan, dan
mempertahankan hubungan yang kuat dengan pelanggan.
Definisi Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan (customer satisfaction) adalah suatu tingkatan
dimana perkiraan kinerja produk sesuai dengan harapan pembeli
(Kotler and Keller, 2013:150). Kepuasan pelanggan bergantung
pada perkiraan kinerja produk dalam memberikan nilai, relatif
terhadap harapan pembeli. Kepuasan pelanggan merupakan kunci
dalam menciptakan loyalitas pelanggan. Banyak manfaat yang
diterima oleh perusahaan dengan tercapainya tingkat kepuasan
pelanggan yang tinggi yaitu selain dapat meningkatkan loyalitas
pelanggan tapi juga dapat mencegah terjadinya perputaran
pelanggan, mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga,
mengurangi biaya kegagalan pemasaran, mengurangi biaya operasi
yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah pelanggan,
meningkatkan efektivitas iklan dan meningkatkan reputasi bisnis
(Aryani dan Rosinta, 2010)
Indikator Brand Trust
Menurut Lau dan Lee (1999) dalam jurnal penelitiannya yang
berjudul “Consumers’ Trust in a Brand and Link to Brand Loyalty”
mengemukakan bahwa terdapat tiga indikator yang dapat digunakan
untuk mengukur Brand Trust, yaitu:
- Brand Characteristic (Karakteristik Merek)
Karakteristik merek berperan penting dalam menentukan seorang
konsumen memutuskan untuk mempercayainya. Karakteristik
sebuah merek terdiri dari reputasi merek yang baik yang dapat
terwujud dari iklan dan hubungan masyarakat yang baik pula.
Namun, hal ini juga dapat dilihat dari kualitas dan performa dari
sebuah produk. Reputasi merek juga terwujud dari brand
predictability yang berdampak pada harapan positif konsumen
terhadap merek, dan brand competence, yaitu seberapa kompeten
merek tersebut dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan
pelanggan. - Company Characteristic (Karakteristik Perusahaan)
Tingkat kepercayaan pelanggan terhadap suatu brand juga
dipengaruhi oleh atribut perusahaan tersebut. Nilai suatu merek bisa
dipengaruhi oleh pengetahuan konsumen tentang perusahaan di balik
merek tersebut. Saat sebuah perusahaan mendapatkan kepercayaan
dari konsumennya, maka sebuah merek produk yang muncul dari
perusahaan tersebut juga akan mendapatkan kepercayaan dari
konsumen. Karakteristik perusahaan ini terdiri dari reputasi
perusahaan dan integritas perusahaan. - Consumer-Brand Characteristic (Karakteristik Konsumen-Merek)
Atribut merek bisa berdampak pada kepercayaan pelanggan terhadap
merek tersebut. Ciri-ciri ini terdiri dari pengalaman merek, kesukaan,
kepuasan, dan dampak merek dari konsumen lain (word of mouth),
serta kesamaan antara konsep diri konsumen dan citra merek.
Definisi Brand Trust
Kepercayaan Merek (Brand Trust) diartikan sebagai konsumen yang
mempercayai suatu produk dengan segala resikonya karena adanya
harapan atau ekspektasi tinggi terhadap merek tersebut akan
memberikan hasil yang positif sehingga konsumen akan memberikan
rasa kesetiaan dan kepercayaan terhadap suatu merek (Hidayah &
Apriliani, 2019). Kepercayaan Merek (Brand Trust) didefinisikan
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Tong & Subagio, 2020). Kepercayaan
melibatkan kesediaan seseorang untuk bertingkah laku tertentu
karena keyakinan bahwa mitranya akan memberikan apa yang ia
harapkan (Rodiques & Rahanatha, 2018).
Indikator social media marketing
Variabel social media marketing dalam penelitian ini diukur
dengan mengacu pada indikator-indikator yang telah ditentukan
oleh Oktriyanto, dkk. (2021). Indikator-indikator tersebut
mencakup:
1) Entertainment (Hiburan): Mencerminkan sejauh mana
pemasaran melalui media sosial memberikan aspek hiburan
yang menarik bagi konsumen.
2) Interaction (Interaksi): Mengukur tingkat interaksi dan
keterlibatan konsumen dengan konten yang dipromosikan
melalui media sosial.
3) Trendiness (Keterkinian): Menggambarkan sejauh mana
pemasaran melalui media sosial mengikuti tren dan
perkembangan terkini dalam industri atau pasar.
4) Customization (Penyesuaian): Mencerminkan tingkat
penyesuaian konten pemasaran dengan preferensi dan
kebutuhan individu konsumen
5) Advertisement (Iklan): Mengukur efektivitas iklan yang
disebarkan melalui media sosial sebagai bagian dari strategi
pemasaran.
Definisi Social Media Marketing
Social media adalah platform online di mana orang-orang dengan
minat yang sama mendukung satu sama lain dengan berbagi,
memberi komentar, dan memberikan dukungan (Weber, 2007).
Penggunaan platform komunikasi online yang didasarkan pada
penggunaan internet dan teknologi berbasis seluler dalam strategi
pemasaran oleh bisnis sangat penting karena mempengaruhi
bagaimana konsumen merespons produk dan merek mereka, serta
bagaimana produk dan merek tersebut disajikan kepada konsumen
lain (Sigala & Marinidis, 2009; Chen et al., 2011) (Fahmi et al.,
2019).
Menurut Santoso, Baihaqi, & Persada (2017), pemasaran media
sosial adalah bentuk pemasaran yang digunakan untuk menciptakan
kesadaran, pengakuan, ingatan, dan tindakan terhadap suatu merek,
produk, bisnis, individu, atau kelompok, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dengan menggunakan alat dari web sosial
seperti blogging, microblogging, dan jejaring sosial. Menurut
Ariadi & Saino (2014), pemasaran media sosial adalah upaya untuk
membujuk konsumen agar memilih suatu perusahaan, produk, atau
jasa yang ditawarkan. Pemasaran media sosial melibatkan
penggunaan jaringan sosial, blog pemasaran, dan berbagai platform
lainnya. Qurniawati (2018) menyatakan bahwa pemasaran media
sosial dilakukan untuk melibatkan pelanggan di platform online di
mana mereka secara alami menghabiskan waktu (Arif, 2021).
Social media marketing (SMM) melibatkan metode yang terkait
dengan pemasaran langsung dan tidak langsung untuk menciptakan
kesadaran, pengakuan, dan minat ulang terhadap suatu produk,
orang, atau merek. Ini dilakukan melalui alat-alat seperti jejaring
sosial, penyebaran konten, dan microblogging (Gunelius, 2011).
Dalam istilah yang lebih sederhana, SMM dapat dijelaskan sebagai
praktik periklanan yang dilakukan secara online, memanfaatkan
karakteristik etnis suatu masyarakat melalui jejaring sosial (seperti
Facebook dan YouTube), jejaring virtual (seperti Second Life), dan
situs yang berfokus pada pendapat (seperti Eopinions) untuk
mencapai tujuan pemasaran strategis (Tuten, 2008) (Fahmi et al.,
2019).
Indikator Minat Beli Ulang
Ferdinand dalam (Bahar & Sjaharuddin,2015) mengatakan bahwa
Indikator yang dapat diidentifikasikan dalam minat beli ulang
yaitu:
- Minat transaksional, yang merupakan kecenderungan
seseorang untuk membeli ulang produk yang telah
dikonsumsinya. - Minat referensial, merupakan kecenderungan seseorang
untuk mereferensikan produk yang sudah dibeli, agar dibeli
juga oleh orang lain, dengan referensi pengalaman
konsumsinya; - Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan
perilaku seseorang yang selalu memiliki preferensi utama
pada produk yang telah dikonsumsi. - Minat eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu mencari informasi mengenai produk yang
diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-
sifat positif dari produk yang dilanggananinya
Definisi Minat Beli Ulang
Menurut Kotler (2016) minat beli ulang yakni sebagaimana
perilaku individu yang termotivas untuk menukarkan uangnya
untuk menikmati atas barang yang yang telah dialami oleh
individu. Sedangkan konsep minat beli ulang menurut Belopa
(2015) faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk
melakukan pembelian ulang yaitu psikologis, pribadi, dan sosial.
Minat beli ulang (Repurchase Intention) adalah niat atau keinginan
seorang pelanggan untuk kembali melakukan pembelian produk
atau layanan dari suatu perusahaan atau merek yang telah dia beli
sebelumnya. Ini mencerminkan tingkat kepuasan pelanggan
terhadap pengalaman sebelumnya dengan produk atau layanan
tersebut dan sejauh mana mereka memiliki niat untuk
mempertahankan hubungan bisnis dengan perusahaan atau merek
yang sama. Minat beli ulang adalah indikator penting dalam
mengukur kesetiaan pelanggan dan dapat menjadi petunjuk bagi
perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan
dengan pelanggan yang sudah ada. Menurut Ferdinand (2014)
perilaku pembeli condong membeli produk, kecendurangan orang
merenferensikan produk kepada orang lain, tingkah laku seseorang
yang memiliki preferensi utama pada produk, dan mencar nformasi
untuk mendukung sifat – sifat baik produk tersebut
Pengaruh Promosi Terhadap Minat Beli
Promosi merupakan salah satu kegiatan pemasaran yang penting
bagi perusahaan dalam mempertahankan kontinuitas serta
meningkatkan kualitas penjualan, dan untuk meningkatkan kegiatan
pemasaran terhadap barang atau jasa dari suatu perusahaan. Menurut
Tjiptono (2010) Promosi merupakan suatu ungkapan dalam arti luas
tentang kegiatan-kegiatan yang secara efektif dilakukan perusahaan
untuk mendorong konsumen menggunakan produk atau jasa yang
ditawarkan.Perusahaan yang mampu mempromosikan suatu produk
dengan baik maka akan meningkatkan minat beli. Hasil penelitian ini
didukung dengan adanya penelitian dari Martono dan Iriani (2014)
yang berhasil membuktikan bahwa promosi berpengaruh signifikan
terhadap minat beli
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Minat Beli
Kualitas produk merupakan segala sesuatu yang ditawarkan ke
pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan atau dikonsumsi
yang dapat memuaskan keinginan konsumen. Pemasar yang tidak
memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung
tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun cenderung
menurun. Menurut Kotler dan Amstrong dalam Nurdiansyah (2017),
menyatakan bahwa pemasar harus memperhatikan kualitas, bahkan
diperkuat dengan periklanan dengan harga yang wajar maka konsumen
tidak akan berfikir panjang untuk melakukan pembelian terhadap
produk. Minat beli konsumen adalah tahap dimana konsumen
membentuk pilihan mereka diantara beberapa merk yang tergabung
dalam perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Hasil penelitian Martono dan
Iriani (2014) berhasil membuktikan bahwa kualitas produk berpengaruh
signifikan terhadap minat beli.
Pengaruh Harga Terhadap Minat Beli
Harga sering kali dikaitkan dengan kualitas, konsumen cenderung
untuk menggunakan harga sebagai indikator kualitas atau kepuasan
potensial dari suatu produk. Menurut Umar dalam Widyaningrum
(2011), menyatakan bahwa produk dengan harga yang lebih murah,
fasilitas yang mudah didapatkan dan murah akan lebih diminati
masyarakat. Perusahaan yang mampu meluncurkan produk dengan
kualitas yang baik maka akan meningkatkan minat beli. Dalam
menentukan minat beli, informasi tentang harga sangatlah dibutuhkan
dimana informasi ini akan diperhatikan, dipahami dan makna yang
dihasilkan dari informasi harga ini dapat mempengaruhi perilaku
konsumen.
Tujuan promosi
Menurut Tjiptono (2015) Setiap perusahaan yang melakukan
kegiatan promosi tentu tujuan utamanya adalah untuk mencari laba
(keuntungan), pada umumnya kegiatan promosi harus mendasarkan
kepada tujuan sebagai berikut :
- Menginformasikan
Kegiatan promosi yang bertujuan untuk berusaha
menginformasikan konsumen akan merek atau produk tertentu
baik itu produk maupun merek baru atau produk dan merek
yang sudah lama tetapi belum luas terdengar oleh konsumen. - Membujuk
Kegiatan promosi yang bersifat membujuk dan mendorong
konsumen untuk melakukan pembelian atas produk yang
ditawarkan. Perusahaan lebih mengutamakan penciptaan kesan
positif kepada konsumen agar promosi dapat berpengaruh
terhadap perilaku pembeli dalam waktu lama. - Mengingatkan
Kegiatan promosi yang bersifat mengingatkan ini dilakukan
untuk mempertahankan merek produk dihati masyarakat, dan
mempertahankan pembeli yang akan melakukan transaksi
pembelian.
Indikator-indikator promosi
Menurut Kotler (2012) indikator promosi adalah sebagai berikut :
- Advertising (periklanan)
Semua yang bentuk presentasi dan promosi nonpersonal yang
dibayar oleh sponsor untuk mempersentasikan gagasan, dan
barang atau jasa. Periklanan di anggap sebagai manajemen citra
yang bertujuan menciptakan dan memelihara cipta dan makna
dalam benak konsumen. Bentuk promosi yang digunakan
mencakup broadcast, print, internet, outdoor, dan dalam
bentuk lainnya. - Sales promotion (promosi penjualan)
Intensif-intensif jangka pendek untuk mendorong pembelian
atau penjualan suatu produk atau jasa. Bentuk promosi yang
digunakan mencakup discounts, coupons, displays,
demonstrations, contests, sweepstake, dan event. - Personal selling (penjualan perseorangan)
Persentasi personal oleh tenaga penjualan dengan tujuan
menghasilkan penjualan dan membangun hubungan dengan
konsumen. Bentuk promosi yang digunakan mencakup
presentations, trade shows, dan incentive programs. - Public relations (hubungan masyarakat)
Membangun hubungan yang baik dengan berbagai publik
perusahaan supaya memperoleh publisitas yang
menggantungkan, membangun citra perusahaan yang bagus,
dan menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang
tidak menguntungkan. Bentuk promosi yang digunakan
mencakup press releases, ponsorships, special event, dan web
pages. - Direct marketing (penjualan langsung)
Hubungan langsung dengan sasran konsumen dengan tujuan
untuk memperoleh tanggapan segera dan membina hubungan
yang abadi dengan konsumen. Bentuk promosi yang digunakan
mencakup catalogs, telephone marketing, kiosks, internet,
mobile marketing, dan lainnya
Faktor-faktor yang mempengaruhi promosi
Kotler (2012:13) mengungkapkan faktor-faktor yang
mempengaruhi promosi, yaitu :
- Pemasar
Dalam hal ini bisa digunakan push strategy dan pull strategy.
Kegiatan push adalah mendorong penjualan yang dapat terjadi
karena produsen mendorong pedagang besar kemudian
pedagang besar mendorong konsumen agar mau membeli suatu
produk. Dalam hal ini produsen langsung mengarahkan
promosi ke konsumen akhir dan nanti konsumenlah yang
meminta produk tersebut. - Target pasar
Penentuan target pasar mengenai lokasi, usia, jenis kelamin,
status ekonomi, status pendidikan, dan lokasi pasar sebagai
target yang akan dituju karena akan mempengaruhi bauran
pemasaran yang akan digunakan sehingga akan berjalan efektif
dan efisien. - Produk
Maksudnya melihat posisi produk dalam tingkat siklus
kehidupan, pada tahap introduksi produk, promosi diarahkan
untuk memperkenal produk dengan cara memberi sampel. Pada
tahap growth promosi diarahkan untuk memantapkan
kepercayaan masyarakat. - Situasi
Ini tergantung pada berbagai situasi lingkungan perusahaan,
seperti persaingan, ekonomi, politik, dan sebagainya
Pengertian Promosi
Promosi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan
mengkomunikasikan produk kepada konsumennya, sehingga
konsumen tersebut ikut merasakan kegunaan produk yang
dihasilkan sertan kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Oleh karena itu, betapa pun tingginya kualitas produk yang
dihasilkan bila tanpa produk promosi yang optimal atau proses
menginformasikan yang baik kepada konsumen maka aktivitas
pemasaran tidak akan pernah efektif dan efisien. Menurut Kotler
(2012:10) promosi adalah usaha yang dilakukan oleh marketer,
berkomunikasi dengan calon audiens, komunikasi adalah proses
membagi ide, informasi atau perasaan audiens.
Menurut Alma (2014:179) promosi adalah suatu bentuk
komunikasipemasaran, yang merupakan aktivitas pemasaran yang
berusahamenyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan
atau mengingatkanpasar sasaran atas perusahaan dan produknya
agar bersedia menerima,membeli, dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Dalam usaha
menunjangpenjualan suatu produk dan memperkenalkannya kepada
orang lain ataukonsumen, serta menarik konsumen untuk membeli
produk maka diperlukansuatu usaha untuk mempromosikan produk
tersebut.Selain mempunyai mamfaat dalam memperkenalkan
produk baru, promosi juga penting sekali dalam hal
mempertahankan selera konsumen untuktetap mengkonsumsi
produk yang sudah ada. Namun betapun gencarannyakegiatan
promosi yang dilakukan perusahaan, perlu pula didukung oleh
hargadan kualitas dari produk yang dipromosikan.
Lalu Buchari Alma (2012) juga mengatakan promosi adalah
sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang menyakinkan
calon konsumen tentang barang dan jasa. Menurut Kotler dan
Keller (2016) promosi adalah aktifitas yang mengkomunikasikan
keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk
membelinya. Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa promosi adalah suatu kegiatan komunikasi
antara pembeli dan penjual mengenai keberadaan produk dan jasa,
menyakinkan, membujuk, dan meningkatkan kembali akan produk
dan jasa tersebut sehingga mempengaruhi sikap perilaku yang
mendorong kepada pertukaran dalam pemasaran
Tingkatan kualitas produk
Menurut Arif (2012), terdapat lima tingkatan didalam kualitas
produk, yaitu :
- Manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat inti
sesungguhnya yang dibeli dan diperoleh oleh konsumen. - Manfaat dasar tambahan (basic product), tingkat selanjutnya
seorang pemasar harus mampu merubah manfaat inti menjadi
produk dasar. - Harapan produk (expected product), adalah serangkaian kondisi
yang diharapkan dan disenangi, dimiliki atribut produk
tersebut. - Kelebihan yang dimiliki produk (augmented product), yaitu
salah satu manfaat dan pelayanan yang dapat membedakan
produk tersebut dengan pesaing. - Potensi masa depan produk (potensial product), artinya
bagaimana harapan masa depan produk tersebut apabila terjadi
perubahan dan perkembangan teknologi serta selera konsumen.
Indikator dari kualitas produk
Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas produk memiliki
indikator sebagai berikut :
- Bentuk (form), bentuk sebuah produk dapat meliputi ukuran,
bentuk, atau struktur fisik produk. - Fitur (feature), fitur produk yang melengkapi fungsi dasar suatu
produk. - Penyesuaian (customization), pemasar dapat
mendiferensiasikan produk dengan menyesuaikan produk
tersebut dengan keinginan perorangan. - Kualitas kinerja (performance quality), tingkat dimana
karakteristik utama produk beroperasi. - Kualitas kesesuaian (conformance quality), tingkat dimana
semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi
yang dijanjikan. - Ketahanan (durability), merupakan ukuran umur operasi
harapan produk dalam kondisibisa atau penuh tekanan. - Keandalan (reliability),ukuran profitabilitas bahwa produk akan
bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu
tertentu. - Kemudahan perbaikan (repairability), ukuran kemudahan
perbaikan produk ketika produk itu tidak berfungsi atau gagal. - Gaya (style), menggambarkan penampilan dan rasa produk
kepada pembeli. - Desain (design), totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan,
rasa, dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan pelanggan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk
Menurut Menurut Kotler dan Keller (2012) faktor-faktor
kualitas produk adalah sebagai berikut :
- Pasar (market), jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan
dipasar terus bertambah pada laju yang eksplosif. - Uang (money), meningkatnya persaingan dalam banyak bidang
bersamaan dengan fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan
batas (margin) laba. - Manajemen (management), tanggung jawab kualitas telah
didistribusikan antara beberapa kelompok khusus. - Manusia (man), pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan
teknis dan penciptaan seluruh bidang baru seperti elektonika
komputer menciptakan suatu permintaan yang besar akan
pekerja dengan pengetahuan khusus. - Motivasi (motivation), penelitian tentang motvasi manusia
menunjukkan bahwa sebagai hadiah tambahan uang. - Bahan (material), disebabkan oleh biaya produksi dan
persyaratan kualitas. - Mesin dan mekanis (machine and mecanization), kualitas yang
baik menjadi faktor yang kritis dalam memelihara waktu kerja
mesin agar fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya. - Metode informasi modern (modern information method),
evolusi teknologi komputer membuka kemungkinan untuk
mengumpulkan, menyimpan, mengambil kembali,
memanipulasi informasi pada skala yang tidak terbayangkan
sebelumnya. - Persyaratan proses produksi (morning product requirement),
kemajuan yang pesat dalam perancangan produk, memerlukan
pengendalian yang lebih ketat pada seluruh proses pembuatan
produk
Pengertian Kualitas Produk
Produk merupakan inti dari sebuah kegiatan pemasaran karena
produk merupakan output atau hasil dari salah satu kegiatan atau
aktivitas perusahaan yang dapat ditawarkan kepasar sasaran untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada dasarnya
dalam membeli suatu produk, seorang konsumen tidak hanya
membeli produk, akan tetapi konsumen juga membeli manfaat atau
keunggulan yang dapat diperoleh dari produk yang dibelinya. Oleh
karna itu suatu produk harus harus memiliki keunggulan dari
produk-produk yang lain, salah satunya dari segi kualitas produk
yang ditawarkan. Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas
produk adalah kemampuan sebuah produk dalam mempergerakan
fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya. Sedangkan menurut Garvin (2010) kualitas
adalah keunggulan yang dimiliki produk tersebut. Kualitas dalam
pendangan konsumen adalah hal yang mempunyai ruang lingkup
tersendiri yang berbeda dengan kualitas dalam pandangan produsen
saat mengeluarkan suatu produk yang biasa dikenal sebagai
kualitas sebenarnya.
Menurut Fandy Tjiptono (2015:231), dari sudut pandang
pemasar, kualitas produk merupakan segala sesuatu yang dapat
ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, dan dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan
atau keinginan pasar bersangkutan. Dan jika dari perspektif
konsumen, produk adalah segala sesuatu yang diterima konsumen
dari sebuah pertukaran dengan pemasar. Sedangkan menurut
Mowen (2012) kualitas produk adalah proses evaluasi secara
keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk.
Kualitas produk memiliki suatu ketertarikan bagi konsumen dalam
mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia
produk. Berdasrkan beberapa definisi diatas dapat disimpukan
bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu produk dalam
memenuhi keinginan konsumen. Keinginan konsumen tersebut
diantaranya daya tahan produk, keandalan produk, kemudahan
pemakaian, serta atribut bernilai lainnya yang bebas dari
kekurangan dan kerusakan
Tujuan dalam menetapkan harga
Menurut Fandy Tjiptono dalam Hadiyuda (2014) menyatakan
bahwa terdapat empat (4) macam tujuan dalam menetapkan harga,
yaitu:
- Tujuan mengacu terhadap laba, perusahaan memilih harga
untuk dapat mengasilkan laba yang tinggi. - Tujuan mengacu pada citra, perusahaan dapat menetapkan
harga tinggi dalam membentuk citra prestisius dan harga
tertentu citra nilai tertentu. - Tujuan mengacu pada volume penjualan, menetapkan harga
agar bisa mencapai target volume penjualan. - Tujuan mengacu pada stabilitas harga, perusahaan
mempertahankan untuk hubungan yang stabil antara harga dari
perusahaan dengan harga pemimpin
Indikator dari harga
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) indikator yang dimiliki
harga adalah sebagai berikut:
1) Keterjangkauan harga, konsumen bisa menjangkau harga yang
telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa
jenis dalam satu merk dan harganya juga berbeda dari termurah
sampai termahal.
2) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga, konsumen
sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya harga suatu produk
sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat membeli
produk tersebut.
3) Kesesuaian harga dengan kualitas produk, harga sering kali
dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering
memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, konsumen memutuskan
membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar
atau sama dengan yag telah dikeluarkan untuk mendapatkannya.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) didalam variabel harga
ada beberapa unsur kegiatan utama yaitu, meliputi imbalan, diskon,
dan bonus. Teori nilai ini kemudian berkembang melahirkan teori
imbalan yang dikemukakan oleh Lorenzo (2016:37) bahwa setiap
aktivitas transaksi produk dan jasa selalu menyertakan harga
imbalan sebagai kesepakatan. Imbalan adalah balas jasa atas
kegiatan transaksi produk yang saling menguntungkan oleh pihak
produsen dan konsumen atau dengan kata lain provider dan
pelanggan. Pada berbagai kegiatan pemasaran produk dan jasa,
aktivitas penentuan harga menjadi penting dan krusial. Umumnya
pelanggan atau konsumen menghendaki harga yang lebih murah.
Teori potong harga atau diskon merupakan konsepsi tentang
penghargaan dan kejadian transaksi. Muller (2013:25)
mengemukakan bahwa teori potong harga (discount) merupakan
sebuah tindakan dan perilaku yang mengapresiasikan pentingnya
harga untuk menarik keuntungan. Artinya, pemberian diskon
merupakan sebuah daya tarik untuk mendapatkan keuntungan
dengan memberikan penghargaan dan manfaat atas produk dan jasa
yang dibeli. Pemberian bonus menjadi nilai keuntungan yang
dirasakan oleh pelanggan dan menjadi keuntungan bagi pemberi
bonus. Bonus merupakan dua sisiyang saling menguntungkan baik
dari pihak produsen dan konsumen atau dari provider dan
pelanggan
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menetapkan harga
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) penetapan harga yaitu
merupakan keputusan tentang harga yang akan diikuti dalam
jangkawaktu tertentu untuk membuat konsumen agar menjadi
tertarik melakukan pembelian. Harga ditetapkan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :
- Elastisitas dengan harga permintaan
Efektivitas program penetapan harga tergantung pada dampak
perubahan harga terhadap permintaan, karena perubahan unit
penjualan sebgai akibat perubahanharga perlu diketahui.
Namun, perubahan harga memiliki damapak ganda terhadap
penerimaan penjualan perusahaan, yakni perubahan unit
penjualan dan perubahan penerimaan per-unit. - Faktor persaingan
Reaksi persaing terhadap perubahan harga merupakan salah
satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan setiap
perusahaan. Jika perubahan harga disamai oleh semua pesaing,
maka sebenarnya tidak akan ada perubahan pangsa pasar.
Dalam hal ini pengurangan harga tidak akan berdampak pada
permintaan selektif. - Faktor biaya
Struktur biaya perusahaan (biaya tetap dan biaya variabel)
merupakan faktor pokok yang menentukan batas bawah harga.
Artinya tingkat harga minimal harus bisa menutup biaya
(setidaknya biaya variabel). - Faktok lini produk
Perusahaan bisa menambah lini produknya dalam rangka
memperluas served market dengan cara perluasan ini dalam
bentuk perluasan vertikal dan perluasan horizontal. - Faktor pertimbangan lain dalam penetapan harga
Faktor-faktor lain yang harus juga dipertimbangkan dalam
rangka merancang program penetapan harga antara lain,
lingkungan politik dan hukum, lingkungan internasional, dan
unsur harga dalam program pemasaran lain
Pengertian Harga
Perusahaan mampu bertahan ditengah persaingan yang ketat
apabila perusahaan tersebut berhasil dalam memadukan keempat
varial bauran pemasaran, yaitu harga, produk, promosi, dan saluran
distribusi dengan tepat. Harga memiliki peranan yang sangat
penting dalam mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli
produk atau jasa, sehingga sangat menentukan keberhasilan
pemasaran suatu produk dan jasa. Disamping itu harga merupakan
unsur dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, yang artinya
dapat diubah dengan cepat. Definisi harga menurut Kotler dan
Amstrong (2012) dalam artian sempit harga dapat didefiniskan
sebagai jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa,
atau dapat didefiniskan secara luas harga adalah sebagai jumlah
nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan memiliki dan
menggunakan produk atau jasa yang memungkinkan perusahaan
mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar untuk nilai
pelanggan yang diciptakannya.
Definisi harga menurut Buchari Alma (2015) harga adalah
nilai suatu produk untuk ditukarkan dengan produk lain. Nilai ini
dapat dilihat dalam situasi barter yaitu pertukaran barang dengan
barang. Sekarang ini ekonomi kita tidak melakukan barter lagi,
akan tetapi menggunakan uang sebagai ukuran yang disebut harga.
Lalu Kotler (2014) juga menjelaskan bahwa harga adalah
penetapan balas jasa sesuai dengan nilai produk.Harga sangat
penting dalam menentukan nilai suatu produk nilai produk
tergantung pada harganya, nilai produk ditentukan berdasarkan
harganya. Pernyataan ini biasa dikenal dengan teori nilai. Semakin
mahal harga produk, maka semakin tinggi nilainya.
Menurut Philip Kotler (2012) harga adalah jumlah uang yang
harus dibayar pelanggan untuk produk yang akan dibelinya.
Menurut kebijakan mengenai harga sifat hanya sementara, itu
berarti produsen harus mengikuti perkembangan harga dipasar dan
harus mengetahui posisi perusahaan dalam situasi pasar secara
keseluruhan. Dari beberapa definisi menurut para ahli diatas dapat
disimpulkan harga adalah nilai uang yang harus dibayarkan oleh
konsumen kepada penjual atas barang atau jasa yang dibelinya,
dengan kata lain harga adalah nilai suatu barang yang ditentukan
oleh penjual
Indikator minat beli
Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) ada beberapa
indikator yang menentukan minat beli, yaitu :
a) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang dalam
membeli produk.
b) Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang
mereferensikan produk kepada orang lain.
c) Minat preferensial, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
memiliki preferensial utama pada produk tersebut.
d) Minat eksploratif, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminati dan
mencari produk lain yang akan mendukung sifat-sifat positif
dari produk tersebut.
d. Aspek-aspek minat beli
Menurut Lucas dan Britt dalam Wisnu (2016) aspek-aspek
yang terdapat dalam minat beli adalah :
1) Aspek ketertarikan adalah perilaku konsumen yang
menunjukkan adanya pemusatan perhatian yang disertai rasa
senang terhadap suatu produk.
2) Aspek keinginan adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya dorongan untuk berkeinginan memiliki suatu produk.
3) Aspek keyakinan, adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya rasa percaya diri terhadap kualitas, daya guna dan
manfaat dari membeli suatu produk
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli
Faktor-faktor yang membentuk minat beli menurut Kotler
dalam Abzari, et al (2014), yaitu :
a) Faktor kualitas produk, merupakan atribut produk yang
dipertimbangkan dari segi manfaat fisiknya.
b) Faktor brand / merek, merupakan atribut yang memberikan
manfaat non material, yaitu kepuasan emosional.
c) Faktor kemasan, atribut produk berupa pembungkus dari pada
produk utamanya.
d) Faktor harga, pengorbanan riel dan material yang diberikan oleh
konsumen untuk memproleh atau memiliki produk.
e) Faktor ketersediaan barang, merupakan sejauh mana sikap
konsumen terhadap ketersediaan produk yang ada.
f) Faktor promosi, merupakan pengaruh dari luar yang ikut
memberikan rangsangan bagi konsumen dalam memilih produk
Pengertian Minat Beli
Banyak pakar yang mendefinisikan tentang minat beli
berdasarkan perspektifnya masing-masing meskipun tidak terdapat
satu definisi tunggal yang menjadi rujukan bersama mengenai
minat beli, namun pada intinya mereka menyatakan subtansi yang
sama tentang minat beli. Salah satu bentuk dari perilaku konsumen
yaitu minart atau keinginan membeli suatu produk atau layanan
jasa. Bentuk dari konsumen minat beli adalah konsumen potensial
yaitu konsumen yang belum melakukan tindakan pembelian pada
masa sekarang dan kemungkinan akan melakukan tindakan
pembelian pada masa yang akan datang atau bisa disebut sebagai
calon pembeli.Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) minat
beli adalah perilaku konsumen dimana konsumen memiliki
keinginan dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk. Minat
beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah berpengaruh
terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk dan informasi suatu
produk. Menurut Engel dalam Nih Luh Julianti (2014) berpendapat
bahwa minat beli sebagai kekuatan pendorong atau sebagai motif
yang bersifat instristik yang mampu mendorong seseorang untuk
menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan
dan selektif pada suatu produk untuk kemudian mengambil
keputusan membeli. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesesuaian
dengan kepentingan individu yang bersangkutan serta memberi
kesenangan dan kepuasan pada dirinya. Jadi sangatlah jelas bahwa
minat beli diartikan sebagai suatu sikap menyukai yang ditunjukan
dengan kecenderungan untuk selalu membeli yang sesuai dengan
kesenangan dan kepentingannya. Sedangkan Menurut Durianto
(2013) minat beli adalah keinginan untuk membeli produk.
Menurut Assael Sukmawati dan Suyono dalam Pramono
(2012) minat beli adalah tahap dimana konsumen membentuk
pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam
perangkat pilihan. Kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Kemudian Kotler, Bowen,
dan Makens (2014) menyatakan bahwa minat beli timbul setelah
adanya proses evaluasi alternatif. Dalam proses evaluasi seseorang
akan membuat suatu rangkaian pilihan mengenai produk yang
hendak dibeli atas dasar merek maupun niat. Menurut Ferdinand
(2016) minat beli konsumen dapat diartikan sebagai minat beli
yang mencerminkan hasrat dan keinginan konsumen untuk
membeli suatu produk. Berdasarkan dari beberapa definisi diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa minat beli adalah perilaku
konsumen dimana konsumen memiliki keinginan dalam memilih
dan mengkonsumsi suatu produk dengan merk yang berbeda,
kemudian melakukan suatu pilihan yang disukainya dengan cara
membayar uang atau dengan pengorbanan
Hubungan Citra Merek terhadap Minat Beli Ulang
Citra merek diartikan sebagai ingatan akan suatu merek atau produk yang
terbentuk di benak konsumen. Sehingga konsumen akan lebih bersedia untuk
memilih produk yang sudah dikenal memiliki citra merek yang positif. Oleh karena
itu, sangat penting bagi produsen untuk menjaga citra merek yang baik dari
produknya di benak konsumen. Munculnya niat beli kembali suatu produk pada
konsumen disebabkan oleh pengaruh dari produk itu sendiri
Brand image juga merupakan pondasi penting untuk menarik minat beli
ulang konsumen. Ketika konsumen mengukur suatu merek melalui kualitas,
keandalan, dan nilai tambah, minat beli ulang cenderung akan meningkat. Sebuah
brand image yang kuat akan membangun kepercayaan dan loyalitas, dapat
menimbulkan minat beli ulang yang kuat, serta pengaruh positif terhadap
pertumbuhan dan kesuksesan merek dalam pasar.
Citra merek memiliki keterkaitan terhdap minat beli ulang, karena dengan
adanya citra merek yang positif dapat menarik dan juga meningkatkan minat
konsumen untuk membeli kembali produk atau layanan yang ditawarkan. Dengan
adanya keyakinan oleh konsumen terhdap suatu merek maka citra merek dianggap
memiliki hubungan yang signifikan terhadap minat beli ulang
Hubungan Kredibilitas Selebrity Endorser terhadap Minat Beli Ulang
Kredibilitas celebrity endorser di artikan sebagai sebuah kepercayaan
kepada seorang celebrity endorser, dengan adanya kepercayaan yang dibangun
oleh celebrity endorser maka akan mempengaruhi kepercayaan para pengikutnya
melalui segala informasi yang di sampaikan, dengan kepercayaan yang telah di
bangun dengan baik maka seorang celebrity endorser akan sangat mudah
mempengaruhi minat beli ulang jika melakukan promosi kepada para konsumen.
Kredibilitas selebrity endorser memiliki peran penting dalam
mempengaruhi minat beli ulang calon konsumen terhadap produk atau jasa yang
iklankan. Apabila seorang selebriti mempunyai reputasi yang baik dan dihormati
dalam bidangnya, pengikutnya cenderung untuk mengaitkan reputasi positif
tersebut dengan produk yang diiklankan.
Selain itu pemilihan selebrity sebagai endorser suatu produk harus
disesuaikan menurut sikap maupun karakteristik agar sesuai dengan produk yang
akan ditawarkan sehingga calon konsumen akan lebih mudah menerima pesan yang
di sampaikan dan berminat untuk membeli kembali.
Citra Merek
Menurut (Intan & Hardjanti, 2020) Citra terhadap sebuah merek
bersangkutan dengan sikap yang berupa kepercayaan dan preferensi terhadap
sebuah merek, Merek bisa dideskripsikan dengan karakteristik-karaktetristik
terentu. Semakin baik pemaparan dari karakteristik merek, maka semakin kuat citra
merek dan semakin besar kesempatan untuk pertumbuhan citra itu. Selain itu, citra
merek didefinisikan juga sebagai salah satu peran penting dalam membedakan
penyedia layanan dengan para pesaing lainnya (Novriani, 2022)
Citra merek adalah pemikiran setiap konsumen terhadap suatu produk
berdasarkan pemikiran, perasaan, dan visualisasi yang diterima pengunjung,
keduanya dirasakan secara langsung, serta informasi dari media (Nimas Bidari &
Kurniawan, 2023). Citra merek merupakan ciri khas, nama, istilah, desain, atau
kombinasi yang menampilkan identitas produk baik barang atau jasa, serta dapat
dijadikan pembeda suatu produk dengan produk pesaing lainnya (Iswara & Santika,
2019). Citra merek (Brand Image) adalah pengamatan dan kepercayaan yang
digenggam konsumen, seperti yang dicerminkan di asosiasi atau diingatan
konsumen (Rachmawati et al., 2024).
Brand image diartikan sebagai suatu gambaran atau kesan yang ditunjukkan
oleh suatu merek didalam benak pelanggan (I Gusti Ayu Elsa Permata Sari, dkk,
2022). Citra merek merupakan sebuah jati diri dari produk yang berada di dalam
benak konsumen. Citra merek sendiri dapat berupa logo, nama merek, semboyan
ataupun slogan dari suatu perusahaan, pemasar produk atau jasa (Amalia & Riva’i,
2022). Brand Image merupakan ingatan pada suatu merek yang dibentuk serta
29
ditanamkan pada seorang individu dalam pikiran mereka. Konsumen yang sudah
terbiasa dengan suatu merek tertentu mampu membangun citra merek yang
konsisten (Putri et al., 2022)
Merek atau brand, dalam suatu perusahaan merupakan suatu pengenal.
Lebih dari sekedar lambang ataupun nama (Suardhita & Rafik, 2019). Brand Image
adalah wujud dari keseluruhan persepsi terhadap sebuah merek dan dibentuk dari
informasi dan pengalaman masa lalu terhadap sebuah merek (Prihartini et al.,
2022). Brand image juga merupakan sebuah persepsi atau suatu keyakinan terhada
brand atau merek yang melekat pada produk sehingga memungkinkan konsumen
untuk melakukan pembelian (Prisca, dkk, 2020). Citra merek dalam penelitian ini
melambangkan keseluruhan persepsi konsumen terhadap merek yang muncul
karena informasi dan pengalaman konsumen pada suatu merek.
Adapun komponen-komponen yang terkandung dalam citra merek atau
brand image (Joseph, 2020) diantara lain yaitu sebagai berikut:
- Attributes (atribut)
Atribut merupakan penjelasan secara deskriptif terhadap fitur-fitur yang
melekat pada sebuah produk atau jasa. Berikut hal-hal yang ada di dalam
komponen atribut yakni:
a. Product related attributes (atribut produk). Merupakan berbagai hal
yang diperlukan agar fungsi produk yang ditawarkan kepada kondumen
dapat berfungsi dengan baik. Hal tersebut berhubungan dengan
komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang ditawarkan.
b. Non-product related attributes (atribut non-produk). Merupakan aspek
eksternal dari sebuah produk yang berhubungan dengan pembelian dan
konsumsi suatu produk atau jasa. beruapa informasi tentang harga,
kemasan dan desain produk, orang, per group atau selebriti yang
menggunakan produk atau jasa tersebut, bagaimana dan dimana produk
atau jasa itu digunakan. - Benefits (keuntungan)
Benefits atau keuntungan adalah nilai personal yang konsumen kaitkan pada
atribut-atribut produk atau jasa tersebut. Adapun hal-hal yang perlu ada
dalam komponen benefits adalah:
a. Functional benefits, digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar
seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
b. Experiental benefits, dihubungkan dengan perasaan yang muncul
dengan menggunakan suatu produk atau jasa. Benefit ini dimaksudkan
untuk memenuhi kebutuhan bereksperimen seperti kepuasan sensori.
c. Symbolic benefits, dihubungkan dengan kebutuhan akan persetujuan
sosial atau ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Konsumen
akan menghargai nilai-nilai prestise, eksklusivitas dan gaya fashion
karena hal tersebut berhubungan dengan konsep diri mereka. - Brand Attitude (sikap merek)
Brand attitude atau sikap merek merupakan penilaian keseluruhan atas
suatu merek, seperti apa saja yang dipercayai oleh konsumen mengenai
merek-merek tertentu , serta sejauh apa konsumen percaya bahwa produk
atau jasa tersebut memiliki atribut atau keuntungan tertentu, dan penilaian
evaluatif terhadap kepercayaan tersebut bagaimana baik atau buruknya
suatu produk jika memiliki atribut atau keuntungan tersebut.
(Schiffman, Leon G. Kanuk, 2021) menyebutkan faktor-faktor pembentuk citra
merek yaitu: - Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang
ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu. - Dipercaya atau diandalkan. Berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan
yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi. - Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk barang
yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen. - Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi
suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang. - Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk
tertentu.
Menurut (Kotler & Keller, 2021) Citra merek adalah proses dimana seseorang
memilih, mengorganisasikan, dan mengartikan masukan informasi untuk
menciptakan suatu gambaran yang berarti. Citra merek diperlukan sebagai sebuah
identitas atau daya tarik tersendiri untuk menarik minat konsumen berdasarkan
persepsi konsumen terhadap sebuah merek. Terdapat 3 indikator brand image (citra
merek) menurut (Kotler & Keller, 2021) diantaranya adalah: - Keunggulan, merupakan kinerja suatu merek untuk mudah dikenal oleh
pembeli serta mempunyai kelebihan dalam persaingan. - Kekuatan, merupakan ukuran seberapa kuat interaksi yang bisa dibuat oleh
merek dengan pembeli. - Keunikan, merupakan kesanggupan untuk membedakan sebuah merek
diantara merek-merek yang lainnya.
