Indikator Kepercayaan


Menurut Robbins dan Judge (2013:193) Kepercayaan adalah kondisi
psikologis yang ada saat seseorang setuju untuk membuat diri seseorang rentan
terhadapnya lain karena Anda memiliki harapan positif tentang bagaimana keadaan
akan berubah. indikator kepercayaan adalah sebagai berikut:

  1. Integritas menurut Fachreza dan Devilia (2017:737) Integritas merupakan
    kebenaran dari produk atau servis yang diharapkan.
  2. Kompetensi menurut Fachreza dan Devilia (2017:737) Kompetensi adalah
    pengetahuan dan keterampilan teknikal dan interpesonal yang dimiliki individu
    dari produk atau servis yang diharapkan.
  3. Konsistensi menurut Fachreza dan Devilia (2017:737) sesuatu yang
    berhubungan dengan kendala, kemampuan memprediksi dan penilaian individu
    jitu dalam menangani situasi dari produk atau jasa yang diharapkan

Kepercayaan Konsumen Terhadap Atribut Produk


Pada umumnya kepercayaan konsumen selalu berbeda dengan seorang
konsumen lainnya. Mereka harus mengingat bahwa kepercayaan mereka sendiri
terhadap merek tertentu sangat berbeda dari pasar target. Menurut Etta dan sopiah
(2013:202) seseorang membentuk tiga jenis kepercayaan diantaranya:

  1. kepercayaan objek-atribut
    pengetahuan bahwa sebuah objek memeliki atribut khusus disebut kepercayaan
    objek-atribut. Kepercayaan objek-atribut menghubungkan objek, seperti
    seseorang, barang atau jasa, dengan atribut.
  2. kepercayaan atribut-manfaat
    kepercayaan ini merupakan persepsi konsumen tentang seberapa jauh sebuah
    atribut tertentu menghasilkan atau meberikan manfaat tertentu.
  3. kepercayaan objek-manfaat
    kepercayaan objek-manfaat merupakan persepsi konsumen tentang seberapa
    jauh produk, orang, atau jasa tertentu akan memberikan manfaat tertentu

Definisi Kepercayaan


Menurut Menurut Robbins dan Judge (2013:193) Kepercayaan adalah
kondisi psikologis yang ada saat seseorang setuju untuk membuat diri seseorang
rentan terhadapnya lain karena Anda memiliki harapan positif tentang bagaimana
keadaan akan berubah. Menurut Hasan Afzal (2010) dalam Arni Purwanti dan
Rahma Wahdiniwaty (2017:66) Kepercayaan berarti percaya pada keandalan dan
integritas mitra pertukaran. Menurut Kotler dan Keller (2012) dalam Jeremia dan
Djurwati (2019:834) kepercayaan adalah kesediaan perusahaan untuk bergantung
pada mitra bisnis. Kepercayaan tergantung pada beberapa faktor antar pribadi dan
antar organisasi seperti kompetensi, integritas, kejujuran dan kebaikan hati.
Menurut Mowen dan Minor (2013) dalam Robby (2017:351) kepercayaan
konsumen adalah semua pengetahuan yang dimiliki oleh pelanggan dan semua
kesimpulan yang dibuat pelanggan tentang objek, atribut, dan manfaatnya. Menurut
Sumarwan (2012) dalam dalam Robby (2017:351) kepercayaan adalah kekuatan
bahwa satu produk memiliki atribut tertentu

Indikator Kualitas Produk


Indikator kualitas produk yang digunakan untuk mengukur kualitas produk
menurut Tjiptono (2011) dalam Peter Halim (2014:159) adalah:

  1. Kinerja Kinerja yaitu nilai keindahan atau daya tarik suatu produk melakukan
    apa yang memang harus dilakukannya dan sejauh mana produk atau jasa
    digunakan dengan benar serta kemampuan perancang produk untuk menangani
    masalah dengan baik yang diberikan kepada konsumen.
  2. Estetika yaitu nilai keindahan atau daya tarik suatu produk, dan bagaimana
    daya tarik produk tersebut bisa menarik konsumen misalnya: keindahan desain
    produk, keunikan model produk, dan kombinasi.
  3. Kesesuaian yaitu kesesuaian produk dalam standar yang baik pada kebutuhan
    yang ada pada masing-masing konsumen dari selera konsumen sampai
    kepuasan konsumen.

Definisi Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Armstrong (2012) dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2016:37) Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk
melaksanakan fungsinya, meliputi kehandalan, daya tahan, ketepatan, kemudahan
operasi, dan perbaikan produk, serta atribut bernilai lainnya.
Menurut Wijaya (2011) dalam Johanes Dkk (2014:1084) Kualitas adalah
sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan, artinya kualitas didasarkan pada
pengalaman aktual pelanggan atau konsumen terhadap produk atau jasa yang
diukur berdasarkan persyaratan-persyaratan tersebut. sedangkan menurut Menurut
Runtunuwu dan Oroh (2014) dalam Risatul Dkk (2019:251) kualitas produk adalah
sebuah kemampuan dari suatu produk dalam rangka melaksanakan sebuah fungsi
yang meliputi kehandalan, daya tahan, kemudahan operasi, ketepatan, kebaikan dari
produk, ataupun sebuah atribut bernilai lainnya. Kualitas produk merupakan
pernyataan tingkat kemampuan dari suatu merek atau produk tertentu dalam
melaksanakan fungsi yang diharapkan menurut Assauri (2015) dalam Siti Dkk
(2020:45) Dari beberapa pengertian menurut ahli dapat disimpulkan bahwa kualitas
produk adalah kemampuan suatu produk yang memenuhi karakteristik kehandalan,
daya tahan, kemudahan dan ketepatan dari produk tersebut.

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Loyalitas Konsumen Melalui Kepuasan Konsumen


Pelanggan sering kali berakar pada model hubungan pelanggan yang
mengedepankan pentingnya pengalaman pelanggan. Kualitas layanan yang baik
berfungsi sebagai faktor kunci dalam menciptakan kepuasan, yang kemudian
berkontribusi terhadap loyalitas pelanggan (Kurniawan & Soliha, 2022). Dalam
menciptakan loyalitas yang berkelanjutan, perusahaan perlu memahami dan
mengelola kualitas layanan dengan baik, berfokus pada pengalaman pelanggan
yang positif, dan memastikan bahwa setiap interaksi menciptakan kepuasan yang
mendalam. Hal ini akan berkontribusi pada pembentukan hubungan yang kuat
antara pelanggan dan merek. Kurniyawati & Anggadha (2020) Kualitas layanan
merupakan suatu evaluasi dari konsumen mengenai seberapa baik pelayanan yang
mereka terima dibandingkan dengan harapan yang mereka miliki . B

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Loyalitas Konsumen


Rifa’i (2019) Kualitas layanan memiliki pengaruh positif terhadap loyalitas
pelanggan melalui kepuasan pelanggan. Ini menunjukkan bahwa apabila kualitas
layanan yang diberikan oleh efisiensi baik, maka akan tercipta kepuasan di
kalangan penumpang, yang pada gilirannya berpengaruh pada tingkat loyalitas
mereka terhadap jasa tersebut. Selain itu, variabel nilai pelanggan menjadi faktor
paling dominan yang memengaruhi kepuasan pelanggan. Hubungan antara kualitas
pelayanan dan loyalitas pelanggan sering kali didasarkan pada konsep kepuasan dan
pengalaman pelanggan. Kualitas pelayanan merujuk pada seberapa baik layanan
yang diberikan memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Jika pelanggan merasa
bahwa mereka mendapatkan pelayanan yang berkualitas, mereka lebih cenderung
untuk merasa puas dan, pada akhirnya, loyal terhadap merek atau perusahaan.
berdasarkan penjelasan tersebut di dukung oleh Gita et al., 2023 menunjukkan
bahwa kualitas pelayanan memiliki pengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan
secara langsung. Gultom & Samosir (2021) menyatakan bahwa kualitas pelayanan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan.

Pengaruh Kepuasan Konsumen Terhadap Loyalitas Konsumen


Kualitas produk dan pelayanan yang baik, harga yang wajar, serta biaya yang
minim dapat meningkatkan kepuasan konsumen, yang tercermin dalam indikator-
indikator seperti kesesuaian harapan, minat berkunjung kembali, dan kesediaan
merekomendasikan. Membangun hubungan yang kuat antar dimensi dan indikator
ini sangat penting untuk strategi pemasaran dan pengembangan produk (Indrasari,
2019). Puspaningrum (2021) Kepuasan pelanggan berdampak positif dan signifikan
terhadap loyalitas pelanggan. Temuan ini menunjukkan bahwa responden yang
merasa puas dengan layanan bus efisiensi cenderung membangun hubungan jangka
panjang dengan perusahaan. Hal ini terlihat dari kemungkinan mereka untuk
melakukan pembelian ulang dan menciptakan kesetiaan terhadap bus efisiensi.
Selain itu, mereka juga berpotensi memberikan rekomendasi yang menguntungkan
bagi perusahaan

Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen merupakan tingkat perasaan seseorang setelah
mengevaluasi kinerja produk yang diterimanya dibandingkan dengan harapannya
(Indrasari, 2019). Menurut Sari et al., (2024) Kepuasan pelanggan adalah persepsi
yang dibentuk oleh perbandingan antara kinerja produk atau layanan dengan
ekspektasi yang berdampak signifikan pada keberhasilan perusahaan karena
kepuasan meningkatkan loyalitas dan rekomendasi positif sementara ketidakpuasan
bisa menyebabkan pelanggan meninggalkan dan memberikan ulasan negatif. Selain
itu, menurut Kotler & Amstrong (2021) Kepuasan konsumen adalah emosi yang
dirasakan oleh individu ketika mereka menilai kinerja suatu produk atau layanan
berdasarkan harapan yang telah mereka miliki. Berdasarkan uraian diatas maka
dapat disimpulkan bahwa kepuasan konsumen adalah penilaian konsumen terhadap
kinerja produk atau layanan yang dibandingkan dengan harapan yang berdampak
pada loyalitas pelanggan dan keberhasilan perusahaan. Berdasarkan Indrasari
(2019) mengidentifikasi lima dimensi penting yang harus diperhatikan dalam
konteks kepuasan konsumen, antara lain:
a). Kualitas Produk
Kepuasan konsumen dapat tercapai jika evaluasi mereka menunjukkan bahwa
produk yang digunakan memiliki kualitas yang baik. Suatu produk dianggap
berkualitas jika mampu memenuhi kebutuhan pengguna . Kualitas produk terbagi
menjadi dua kategori yaitu, eksternal dan internal, dengan citra merek sebagai salah
satu aspek eksternalnya.

Kualitas Layanan


Kualitas layanan adalah faktor penting dalam meraih kesuksesan dengan
tingkat baik atau buruknya layanan barang atau jasa sangat bergantung pada
kemampuan produsen untuk secara konsisten memenuhi ekspektasi konsumen.
Kepuasan dapat mendorong pelanggan untuk terus loyal dan merekomendasikan
produk kepada orang lain., yang akhirnya dapat memperbaiki citra perusahaan di
mata masyarakat. (Chandra et al., 2020). Menurut Kotler & Keller (2022)
mengemukakan bahwa Kualitas layanan adalah penilaian konsumen terhadap
kesesuaian antara pelayanan yang diterima dan harapan, yang dapat mendorong
pembelian ulang dan menciptakan pelanggan setia. Selain itu, Tjiptono (2022)
menyatakan bahwa Kualitas layanan merupakan harapan dan kebutuhan pelanggan
saat ini, yang berperan sebagai faktor pembeda dan peluang untuk menghasilkan
kepuasan serta loyalitas pelanggan bagi setiap organisasi. Berdasarkan uraian diatas
maka dapat disimpulkan kualitas layanan sangat penting karena secara langsung
memengaruhi kepuasan dan loyalitas pelanggan dengan kemampuan perusahaan
untuk memenuhi ekspektasi konsumen menjadi pelanggan setia dan meningkatkan
citra perusahaan.
Kurniyawati et al., (2020) Kualitas layanan merupakan suatu evaluasi dari
konsumen mengenai seberapa baik pelayanan yang mereka terima dibandingkan
dengan harapan yang mereka miliki. Selain itu, menurut Yulianti et al., (2024)
Kualitas layanan merupakan hal yang meliputi komunikasi, respons, keandalan,
kecepatan, dan kemampuan untuk memenuhi atau melebihi harapan klien yang
krusial bagi keberhasilan perusahaan di tengah persaingan yang ketat. Dengan
demikian menurut Chandra et al., (2020) terdapat dimensi dalam kualitas layanan
yang perlu di perhatikan oleh perusahaan yaitu ;

  1. Daya Tanggap (Responsiveness)
    Daya tanggap mengacu pada kemampuan pegawai untuk memberikan
    layanan dengan cepat dan tepat waktu. Ini mencakup bagaimana pegawai
    merespons permintaan pelanggan dan mengatasi masalah yang muncul. Pelayanan
    yang cepat dapat mengurangi persepsi negatif dari pelanggan dan meningkatkan
    kepuasan. Pemberian penjelasan yang jelas juga penting agar pelanggan merasa
    dihargai dan dipahami.
  2. Jaminan (Assurance)
    Jaminan berhubungan dengan pengetahuan, kesopanan, dan kemampuan
    pegawai dalam menumbuhkan rasa percaya dan keyakinan pada pelanggan.
    Pegawai yang memiliki sikap profesional dan dapat berkomunikasi dengan baik
    akan meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap layanan yang diberikan. Ini
    mencakup aspek kredibilitas, keamanan, dan kompetensi yang menunjukkan bahwa
    pegawai dapat diandalkan.
  3. Bukti Fisik (Tangible)
    Bukti fisik mencakup semua elemen yang dilihat dan dirasakan oleh
    pelanggan, seperti fasilitas, peralatan, dan penampilan pegawai. Fasilitas yang
    bersih, rapi, dan modern menunjukkan bahwa perusahaan memperhatikan kualitas
    layanannya. Bukti fisik yang baik dapat menciptakan kesan positif dan memberikan
    keyakinan bahwa pelayanan yang diberikan juga berkualitas tinggi.
  4. Perhatian (Empathy)
    Perhatian adalah kemampuan dalam memberikan layanan yang bersifat
    personal dan memperhatikan kebutuhan individu pelanggan. Pegawai yang
    menunjukkan empati dapat lebih memahami dan menanggapi keinginan pelanggan
    dengan lebih baik. Menciptakan hubungan yang lebih dekat antara pegawai dan
    pelanggan, serta meningkatkan pengalaman pelanggan secara keseluruhan.
  5. Keandalan (Reliability)
    Keandalan adalah kemampuan perusahaan untuk menyediakan layanan yang
    sesuai, secara tepat dan dapat dipercaya. Ini mencakup konsistensi dalam
    pelayanan, kecepatan, dan ketepatan waktu. Pelanggan mengharapkan bahwa
    perusahaan dapat memenuhi janji layanan tanpa kesalahan. Tingkat keandalan yang
    tinggi dapat meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan, karena mereka
    merasa bahwa mereka dapat bergantung pada layanan yang diberikan.
    Setiap dimensi ini saling terkait dan memiliki dampak signifikan terhadap
    kualitas layanan, di mana indikator yang berkaitan dari masing-masing dimensi
    yaitu, sebagai berikut ;
  6. Daya Tanggap (Responsiveness)
    a). Kecepatan Respons
    Waktu yang diperlukan pegawai untuk merespons permintaan atau keluhan
    pelanggan. Kecepatan yang tinggi menciptakan kesan bahwa perusahaan peduli
    terhadap kebutuhan pelanggan.
    b). Ketepatan dalam Pelayanan
    Kemampuan pegawai untuk memberikan solusi yang tepat dan sesuai dengan
    masalah yang dihadapi pelanggan, yang menunjukkan pemahaman yang baik
    terhadap situasi.
  7. Jaminan (Assurance)
    a). Pengetahuan Pegawai
    Tingkat pemahaman pegawai tentang produk dan layanan yang ditawarkan.
    Pengetahuan yang baik membantu pegawai memberikan informasi yang
    akurat kepada pelanggan.
    b). Sikap Profesional
    Sikap dan perilaku pegawai dalam berinteraksi dengan pelanggan, termasuk
    kesopanan dan ketulusan, yang membangun rasa percaya pelanggan
    terhadap perusahaan.
  8. Bukti Fisik (Tangible)
    a). Kondisi Fasilitas dan pemeliharaan
    Fasilitas fisik seperti gedung, ruang tunggu, dan area pelayanan. Fasilitas yang
    bersih dan rapi menciptakan kesan positif.
    b). Perlengkapan yang Digunakan
    Kualitas dan modernitas peralatan yang digunakan dalam pelayanan, yang
    dapat mempengaruhi efisiensi dan efektivitas pelayanan.
  9. Perhatian (Empathy)
    a). Kemampuan Memahami Pelanggan
    Kemampuan pegawai untuk mendengarkan dan mengidentifikasi kebutuhan
    serta keinginan spesifik pelanggan. Ini menciptakan pengalaman yang lebih
    personal.
    b). Ketersediaan Waktu
    Kesediaan pegawai untuk meluangkan waktu dalam memberikan
    pelayanan, yang menunjukkan perhatian dan komitmen terhadap kepuasan
    pelanggan.
  10. Keandalan (Reliability)
    a). Konsistensi Pelayanan
    Kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang sama setiap
    kali pelanggan berinteraksi, yang menciptakan kepercayaan dan kepuasan.
    b). Akurasi dalam Pelaksanaan Janji
    Kemampuan untuk memenuhi janji yang telah dibuat kepada pelanggan, termasuk
    waktu penyelesaian dan kualitas layanan yang dijanjikan. Setiap indikator ini saling
    mendukung untuk menciptakan pengalaman layanan yang memuaskan dan
    meningkatkan loyalitas pelanggan

Loyalitas Konsumen


Loyalitas konsumen merupakan serangkaian sikap yang sejalan dengan
tindakan pembelian, yang secara konsisten mendukung satu merek daripada merek-
merek lainnya (Warsito, 2021). Srisusilawati et al., 2023 menjelaskan bahwa
loyalitas konsumen adalah sikap dan tindakan konsumen yang menunjukkan
kesetiaan kepada sebuah perusahaan atau merek. Ini termasuk keinginan untuk
membeli lebih banyak produk dari perusahaan tersebut, merekomendasikannya
kepada orang lain, serta tetap setia dan tidak berpindah ke pesaing. Sementara itu,
menurut Manap et al., 2023 loyalitas pelanggan berarti pelanggan secara terus-
menerus memilih untuk menghabiskan uangnya untuk terus membeli produk atau
layanan dari penyedia yang sama. Dari penjelasan di atas, disimpulkan bahwa
loyalitas konsumen mencerminkan sikap atau perilaku konsumen yang membuat
mereka secara konsisten memilih untuk membeli dan mendukung satu merek, serta
tidak beralih ke pesaing. Perusahaan perlu memahami pola transaksi yang beragam
dari pelanggan. Dalam hal ini, menurut Manap et al., 2023 terdapat enam indikator
loyalitas pelanggan yaitu :

  1. Repeat Order (Pembelian Ulang)
    Indikator pertama dari loyalitas pelanggan adalah ketika mereka melakukan
    pembelian berulang terhadap produk atau layanan yang sama dari perusahaan yang
    sama. Tindakan ini mencerminkan adanya kesetiaan, di mana pembelian berkala
    menunjukkan komitmen pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menjaga dan
    meningkatkan tingkat pembelian ulang ini, yang jugamengindikasikan kepuasan
    pelanggan terhadap produk.
  2. Kebiasaan Menggunakan Merek Tertentu
    Kebiasaan terbentuk melalui praktik yang dilakukan secara berulang. Dalam
    konteks loyalitas, pelanggan yang terbiasa menggunakan merek tertentu
    menunjukkan ketahanan loyalitas yang kuat. Mereka cenderung tidak terpengaruh
    oleh penawaran dari merek pesaing, bahkan jika produk pesaing lebih murah atau
    memiliki kelebihan tertentu.
  3. Menyukai Brand
    Setelah menggunakan suatu produk, pelanggan mungkin mulai mencari tahu
    lebih lanjut tentang merek tersebut. Rasa suka akan berkembang ketika citra merek
    selaras dengan nilai-nilai pribadi mereka. Dalam hal ini, merek tersebut bisa
    mendapatkan tempat khusus dalam pikiran pelanggan, menandakan
    berkembangnya loyalitas.
  4. Tidak Beralih Meski Ada Pilihan
    Ketika pelanggan menyukai suatu merek, mereka akan cenderung tetap
    memilihnya meskipun ada banyak alternatif lain. Hal ini menunjukkan tingkat
    kepercayaan yang tinggi terhadap merek tersebut dan menciptakan ikatan
    emosional, di mana pelanggan secara sadar memilih untuk tidak beralih.
  5. Menganggap Merek Pilihan Sebagai yang Terbaik.
    Pelanggan setia seringkali meyakini bahwa merek yang mereka pilih adalah
    yang terbaik di pasar. Dalam pandangan mereka, tidak ada alternatif lain yang bisa
    menggantikan merek tersebut, terlepas dari banyaknya pilihan yang tersedia.
  6. Merekomendasikan Produk kepada Orang Lain
    Pelanggan yang loyal cenderung merekomendasikan merek atau produk yang
    mereka gunakan kepada orang lain dengan antusias. Rekomendasi ini tidak hanya
    menunjukkan kepuasan mereka, tetapi juga berfungsi sebagai promosi gratis bagi
    perusahaan

Kepuasan Pelanggan


Menurut Peter Olson (2014), konsumen yang merasa puas dengan
produk, jasa, atau merek kemungkinan besar akan membelinya dan
memberitahukannya kepada yang lain perihal pengalaman-pengalaman
menyenangkan yang dirasakannya dengan produk, jasa, atau merek
tersebut.Menurut Howard & Sheth (1969) dalam Tjiptono (2014), kepuasan
pelanggan adalah situasi kognitif pembeli berkenaan dengan kesepadanan
atau ketidaksepadanan antara hasil yang didapatkan dibandingkan dengan
pengorbanan yang dilakukan.
Westbrook & Reilly (1983) dalam Tjiptono (2014), berpendapat
bahwa kepuasan pelanggan adalah respon emosional terhadap pengalaman-
pengalaman berkaitan dengan produk, jasa tertentu yang dibeli, gerai ritel,
atau bahkan pola perilaku (seperti perilaku berbelanja dan perilaku pembeli),
serta pasar secara keseluruhan. Respon emosional dipicu oleh proses evaluasi
kognitif yang membandingkan persepsi (atau keyakinan) terhadap obyek,
tindakan atau kondisi tertentu dengan nilai-nilai (atau kebutuhan, keinginan
dan hasrat) individual.
Pada prinsipnya, definisi kepuasan pelanggan dapat diklasifikasikan
ke dalam lima kategori pokok yaitu (Hunt 1991 dalam Tjiptono 2014):
a. Normative deficit definition
Perbandingan antara hasil (outcome) aktual dengan hasil yang secara
kultural dapat diterima.
b. Equity definition
Perbandingan perolehan /keuntungan yang didapatkan dari pertukaran
sosial-bila perolehan tersebut tidak sama, maka pihak yang dirugikan
akan tidak puas.
c. Normative standard definition
Perbandingan antara hasil aktual dengan ekspektasi standar pelanggan
(yang dibentuk dari pengalaman dan keyakinan mengenai tingkat
kinerja yang seharusnya ia terima dari merek tertentu).
d. Procedural fairness definition
Kepuasan merupakan fungsi dari keyakinan/persepsi konsumen bahwa
ia telah diperlakukan secara adil.
e. Atributional definition
Kepuasan tidak hanya ditentukan oleh ada tidaknya diskomfirmasi
harapan, namun juga oleh sumber penyebab diskomfirmasi.
Sebuah kepuasan pelanggan akan tercapai apabila suatu layanan
dinilai memuaskan dan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan yang sesuai
dengan apa yang diinginkan pelanggan.
Enam konsep inti mengenai obyek pengukuran menurut Tjiptono (2014):
a. Kepuasan Pelanggan Keseluruhan (Overall Customer Satisfaction)
Cara yang paling sederhana untuk mengukur kepuasan pelanggan
adalah langsung menanyakan kepada pelanggan seberapa puas mereka
dengan produk atau jasa spesifik tertentu. Ada dua bagian dalam proses.
Pertama, mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk
dan/atau jasa perusahaan bersangkutan. Kedua, menilai dan
membandingkannya dengan tingkat kepuasan pelanggan keseluruhan
terhadap produk dan/atau jasa para pesaing.
b. Dimensi Kepuasan Pelanggan
Pertama, mengidentifikasi dimensi-dimensi kunci kepuasan
pelanggan. Kedua, meminta pelanggan menilai produk dan/atau jasa
perusahaan berdasarkan item-item spesifik, seperti kecepatan layanan,
fasilitas layanan, atau keramahan staf layanan pelanggan. Ketiga,
meminta pelanggan menilai produk dan/atau jasa pesaing berdasarkan
item-item spesifik yang sama. Dan keempat, meminta para pelanggan
untuk menentukan dimensi-dimensi yang menurut mereka paling dalam
menilai kepuasan pelanggan keseluruhan.
c. Konfirmasi Harapan (Confirmation of Expectations)
Dalam konsep ini, kepuasan tidak diukur langsung, namun
disimpulkan berdasarkan kesesuaian/ketidaksesuaian antara harapan
pelanggan dengan kinerja aktual produk perusahaan pada sejumlah
atribut atau dimensi penting.
d. Niat Beli Ulang (Repurchase Intention)
Kepuasan pelanggan diukur secara behavioral dengan jalan
menanyakan apakah pelanggan akan berbelanja atau menggunakan jasa
perusahaan lagi.
e. Kesediaan Untuk Merekomendasi (Willingness to Recommend)
Dalam kasus produk yang pembelian ulangnya relatif lama atau
bahakan hanya terjadi satu kali pembelian. Ketersediaan pelanggan
untuk merekomendasikan produk kepada teman atau keluarganya
menjadi ukuran yang penting untuk dianalisis dan ditindaklanjuti.
f. Ketidakpuasan Pelanggan (Customer Dissatisfaction)
Beberapa aspek yang sering ditelaah guna mengetahui
ketidakpuasan pelanggan, meliputi: komplain, retur atau pengembalian
produk, biaya garansi, produk recall (penarikan kembali produk dari
pasar), gethok tular negatif, dan defections (konsumen yang beralih ke
pesaing)

Citra Perusahaan


Citra perusahaan tidak dapat di buat hanya dalam semalam,
sebaliknya citra perusahaan harus dibangun oleh perusahaan tersebut guna
memberikan kesan dan persepsi positif bagi konsumen. Citra merupakan
seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap
suatu objek (Kotler & Keller 2012). Citra adalah kesan yang diperoleh
seseorang berdasarkan pengetahuan dan pengertiannya tentang fakta-fakta
atau kenyataan (Soemirat & Ardianto 2010).
Citra perusahaan adalah persepsi sesorang mengenai suatu citra
organisasi dan persepsi-persepsi ini diciptakan melalui seluruh indera:
penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, citra rasa dan perasaan yang
dialami melaui penggunaan produk, pelayanan konsumen, lingkungan
komersial dan komunikasi perusahaan, itu merupakan hasil dari setiap
perusahaan yang dilakukan atau tidak dilakukan (Kotler 2006). Sedangkan
menurut Gregory (2011), citra perusahaan merupakan kombinasi dampak
terhadap observer dari semua komponen-komponen verbal maupun visual
perusahaan baik yang direncanakan ataupun tidak atau dari pengaruh
eksternal lainnya.
Elemen-elemen citra perusahaan menurut Kotler dan Keller (2012) :
a. Kepribadian
Keseluruhan karakteristik yang dipahami publik sasaran seperti
perusahaan yang dapat dipercaya, perusahaan yang mempunyai
tanggung jawab.
b. Reputasi
Hak yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini publik sasaran
berdasarkan pengalaman sendiri maupun pihak lain seperti kinerja
keamanan transaksi sebuah bank.
c. Nilai
Nilai-nilai yang dimiliki suatu perusahaan dengan kata lain budaya
perusahaan seperti sikap manajemen yang peduli terhadap pelanggan,
karyawan yang cepat tanggap terhadap permintaan maupun keluhan
pelanggan.
d. Identitas Perusahaan
Komponen-komponen yang mempermudah pengenalan publik sasaran
terhadap perusahaan seperti logo, warna dan slogan

Persepsi Kewajaran Harga


Persepsi harga merupakan kecenderungan konsumen untuk
menggunakan harga dalam memberi penilaian tentang kesesuaian manfaat
produk. Penilaian terhadap harga pada suatu manfaat produk dikatakan
mahal, murah atau sedang dari masing-masing individu tidaklah sama, karena
tergantung dari persepsi individu yang dilatarbelakangi oleh lingkungan dan
kondisi individu itu sendiri. Persepsi konsumen terhadap suatu harga dapat
mempengaruhi keputusannya dalam membeli suatu produk sehingga suatu
perusahaan harus mampu memberikan persepsi yang baik terhadap produk
atau jasa yang mereka jual. Harga merupakan satu-satunya unsur bauran
pemasaran yang memberikan pendapatan bagi perusahaan (Tjiptono, 2014).
Zeithaml (2000) dalam haryanto (2013), harga adalah apa yang kita
dapat dari sesuatu yang telah dikorbankan untuk memperoleh produk atau
jasa. Sedangkan Menurut Tjiptono (2014), harga dapat diartikan sebagai
jumlah uang (satuan moneter) dan/atau aspek lain (non-moneter) yang
mengandung utilitas/kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan
suatu jasa. Produk dengan mutu jelek, harga yang mahal, penyerahan produk
yang lambat dapat membuat pelanggan tidak puas. Hal itu menunjukkan
bahwa harga merupakan salah satu penyebab ketidakpuasan para pelanggan.
Xia et al. (2004) mengungkapkan bahwa penilaian dari kewajaran
harga kemungkinan besar didasarkan pada perbandingan transaksi yang
melibatkan berbagai pihak. Kewajaran harga adalah suatu penilaian untuk
suatu hasil dan proses yang dapat diterima oleh pelanggan (consuegra et al.,
2007).
Beberapa atribut kewajaran harga adalah sebagai berikut (Consuegra
et al. 2007):
a. Pelanggan merasa membayar dengan harga yang wajar pada setiap
transaksi pembelian.
b. Referensi tingkat harga, ketika pelanggan merasa wajar apabila suatu
produk atau jasa dengan jenis yang sama dari perusahaan yang berbeda
namun dengan harga yang berbeda pula.
c. Kebijakan harga akan suatu produk atau jasa yang ditentukan oleh
perusahan adalah hal yang wajar dan dapat diterima oleh konsumen.
d. Harga yang ditetapkan oleh perusahaan merupakan sebuah etika,
dimana pelanggan diberi tahu mengenai perubahan harga yang akan
dilakukan oleh perusahaan tersebut sebelum harga yang baru
ditetapkan

Loyalitas Pelanggan


Loyalitas diartikan sebagai sebuah kesetiaan yang diambil tanpa
adanya paksaan dan timbul dari kesadaran diri sendiri.Menurut Sheth &
Mittal (2004) dalam Tjiptono (2014), loyalitas pelanggan adalah komitmen
pelanggan terhadap suatu merek, toko, atau pemasok berdasarkan sikap yang
sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten.Menurut
Griffin (2005), terdapat empat jenis loyalitas yang muncul bila keterikatan
rendah dan tinggi diklasifikasi-silang dengan pola pembelian ulang, yang
rendah dan tinggi.
Adapun jenis-jenis loyalitas konsumen yaitu (Griffin, 2005):
a. Tanpa loyalitas
Untuk berbagai alasan tertentu, ada beberapa konsumen yang
tidak mengembangkan loyalitas atau kesetiaan kepada suatu produk
maupun jasa tertentu. Tingkat keterikatan yang rendah dengan tingkat
pembelian ulang yang rendah menunjukkan absennya suatu kesetiaan.
Pada dasarnya, suatu usaha harus menghindari kelompok no loyalty ini
untuk dijadikan target pasar, karena mereka tidak akan menjadi
konsumen yang setia.
b. Loyalitas yang lemah (Inertia Loyalty)
Inertia loyality merupakan sebuah jenis loyalitas konsumen
yang dimana adanya keterikatan yang rendah dengan pembelian ulang
yang tinggi. Konsumen yang membeli berdasarkan kebiasaan ini
biasanya membeli berdasarkan kebiasaan.
c. Loyalitas tersembunyi (Laten Loyality)
Jenis loyalitas tersembunyi merupakan sebuah kesetiaan atau
keterikatan yang relatif tinggi yang disertai dengan tingkat pembelian
ulang yang rendah. Konsumen yang mempunyai sikap laten loyalty
pembelian ulang juga didasarkan pada pengaruh faktor situasional
daripada sikapnya.
d. Loyalitas Premium (Premium Loyalty)
Loyalitas ini merupakan yang terjadi bila suatu tingkat
ketertarikan tinggi yang berjalan selaras dengan aktivitas pembelian
kembali. Contoh jenis ini adalah rasa bangga yang muncul ketika
konsumen menemukan dan menggunakan produk atau jasa tersebut dan
dengan senang hati membagi pengetahuan dan merekomendasikannya
kepada teman, keluarga maupun orang lain

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kualitas Pelayanan


Menurut Utami (dalam Wicaksana dan Ardani, 2022: 305) faktor–faktor
yang memengaruhi kualitas layanan yaitu:
a. Memberi informasi dan pelatihan
Hal tersebut dimaksudkan untuk memberi pemahaman pada penyedia produk
supaya kebutuhan pelanggan dapat terjawab dan tersampaikan dengan tepat.
b. Menyediakan dukungan emosional
Memiliki media yang dapat menyampaikan layanan yang diinginkan oleh
pelanggan
c. Meningkatkan komunikasi internal dan menyediakan pendukung
Karyawan diberikan hak dan wewenang untuk secara asertif dalam hal
memberikan suatu keputusan baik pada pelanggan.
d. Menyediakan perangsang
Yang dimaksudkan perangsang disini adalah pihak pendukung untuk
memotivasi karyawan agar mampu melakukan pelayanan dengan kualitas yang
baik.
Moenir (dalam Pristiria dkk., 2021: 535) faktor-faktor yang memengaruhi
kualitas pelayanan yaitu:
a. Kesadaran pegawai.
b. Aturan sebagai standar kerja pelayanan.
c. Organisasi yang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan pelayanan.
d. Kemampuan dan keterampilan pegawai.
e. Adanya sarana yang menunjang dalam kegiatan pelayanan.
Umbara (2021: 47) mengungkapkan faktor-faktor yang memengaruhi
kualitas pelayanan yaitu:
a. Physycal aspect
Aspek fisik yakni kenampakan fisik suatu produk maupun jasa yang dipasarkan.
b. Reliability
Keandalan suatu produk atau jasa sebagaimana sesuai fungsi.
c. Personal interaction
Interaksi personal dimaknai dengan adanya interaksi antar individu yang
berkontribusi dalam kinerja suatu produk ataupun jasa.
d. Problem solving
Pemecahan masalah, dalam hal ini produsen atau penyedia jasa memiliki teknik
pemecahan masalah yang beragam untuk membantu menangani keluhan
pelanggan.
e. Policy
Kebijakan yang diberlakukan oleh perusahaan dalam hal melakukan tugas dan
fungsinya untuk memecahkan suatu permasalahan.
Kesimpulan dari beberapa ahli mengenai faktor-faktor yang memengaruhi
kualitas pelayanan yaitu faktor internal dari perusahaan, keadaan fisik produk atau
jasa, sarana yang menunjang, problem solving (pemecahan masalah), policy
(kebijakan) dan reliability (kehandalan)

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Kotler (dalam Indrasari, 2019: 55) kualitas adalah semua ciri dan
sifat dari produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan yan sudah dirancangkan. Sedangkan pelayanan menurut R.A
Supriyono (dalam Indrasari, 2019: 57) adalah kegiatan yang diselenggarakan
menyangkut kebutuhan pihak pelanggan sehingga akan menimbulkan kesan
tersendiri.
Kualitas pelayanan menurut Kasmir (dalam Wicaksana dan Ardani,
2022:302) adalah tindakan atau perbuatan seseorang atau suatu organisasi untuk
memberikan kepuasan kepada pelanggan. Diungkapkan pula pengertian kualitas
pelayanan oleh Lupiyoadi (dalam Pangaribuan dan Yunita, 2023:3) sebagai
perpaduan antara berbagai karakteristik dari suatu layanan yang menjadi penentu
sejauh mana layanan tersebut dapat ditawarkan dan disampaikan oleh perusahaan
dalam memenuhi harapan atau kebutuhan pelanggannya.
Menurut Parasuraman., dkk (dalam Sari dan Miswanto, 2022: 213) kualitas
pelayanan ialah suatu perbandingan antara pelayanan yang sesuai dengan harapan
pelanggan dengan pelayanan yang telah diterima oleh pelanggan.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kepuasan Pelanggan


Faktor-faktor kepuasan pelanggan menurut Kotler dan Keller (dalam
Indrasari, 2019: 90) yaitu:
a. Kualitas produk
Kualitas produk yakni penilaian tentang daya guna produk itu sendiri.
b. Kualitas Pelayanan
Adanya pemenuhan harapan pelanggan dari produk atau layanan yang dipakai.
c. Emosional
Suatu kondisi psikologis yang mengungkapkan tetang bagaimana perasaan
pelanggan terhadap produk atau jasa yang digunakan.
d. Harga
Hal ini terkait besarnya nominal yang ditetapkan terhadap suatu produk atau
jasa.
e. Biaya
Besaran modal yang dikeluarkan untuk suatu jasa atau produk yang dijual
belikan.
Menurut Tjiptono (dalam Ningrum dan Budiani, 2023: 266) faktor-faktor
yang memengaruhi kepuasan pelanggan yaitu:
a. Fungsionalitas dari fitur
Karakteristik pada suatu produk atau jasa untuk membantu fungsionalitas
memenuhi kebutuhan pelanggan.
b. Tingkat keandalan
Tingkat keandalan memiliki arti bahwa produk atau jasa dapat bekerja sesuai
fungsi tanpa ada kegagalan pada saat pengoperasian atau penggunaan dalam
periode wakru tertentu.
c. Kesesuaian spesifikasi
Adanya kesesuaian karakteristik produk atau jasa yang dapat memenuhi
kebutuhan pelanggan.
d. Daya tahan
Kemampuan produk atau jasa untuk melakukan fungsinya dalam jangka waktu
tertentu.
e. Pemeliharaan estetika, kualitas, dan kinerja yang dirasakan
Ada proses yang dilakukan oleh perusahaan untuk menjaga dan melakukan
pemeliharaan estetika dari produk, mempertahankan kualitas dan kinerja yang
dilakukan oleh pegawai.
Lubis (dalam Chaerul dkk., 2023: 10) mengungkapkan ada beberapa faktor
yang memengaruhi kepuasan pelanggan yaitu:
a. Kualitas produk
Kualitas produk diartikan bahwa suatu produk memiliki kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan.
b. Ketersediaan
Ketersediaan produk merupakan kemudahan untuk memperoleh produk atau
jasa.
c. Harga yang terjangkau
Harga yang terjangkau menggambarkan bahwa harga atau nilai jual suatu
produk atau jasa dapat diterima disemua kalangan ekonomi, mulai dari kelas
ekonomi kebawah, menengah hingga keatas.
d. Fasilitas yang memadai
Fasilitas merujuk pada segala sesuatu yang dapat memudahkan pelaksanaan
suatu pemasaran untuk menjalankan fungsinya.

Pengertian Kepuasan Pelanggan

Dick dan Basu (dalam Wicaksana dan Ardani, 2022: 309) menyatakan
kepuasan sebagai respon pasca pembelian terhadap merek dengan membandingkan
harapan dan kinerja yang dirasakan. Diungkapkan pula oleh Lovelock (dalam
Indrasari, 2019: 84) kepuasan adalah keadaan emosional pasca melakukan
pembelian atau penggunaan suatu layanan jasa. Hal tersebut juga diungkapkan oleh
ahli lain yaitu Parasuraman dkk., (dalam Sari dan Miswanto, 2022: 213)
mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai perbandingan antara ekspektasi
pelanggan dengan realita dari pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.
Kepuasan pelanggan merujuk pada tingkat perasaan seseorang yang
menjadi indikasi hasil evaluasi antara perbandingan kinerja jasa layanan atau
produk yang digunakannya dengan apa yang diharapkan seseorang tersebut
sebelumnya, Kotler dan Keller (dalam Pangaribuan dan Yunita, 2023: 3). Pendapat
tersebut diperkuat oleh Tjiptono (dalam Agusti dan Verano, 2022: 40) bahwa
diartikan pula sebagai bentuk sikap atau perilaku pelanggan terhadap suatu barang
atau jasa yang telah dikonsumsi atau diperoleh, sehingga akan menimbulkan
rencana untuk pembelian ulang serta menimbulkan rasa kepuasan atau
ketidakpuasan.
Definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa
kepuasan pelanggan merupakan bentuk sikap akibat suatu perasaan atau penilaian
emosional dari pelanggan atas penggunaan produk barang atau jasa ketika harapan
dan kebutuhan terpenuhi.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Loyalitas Pelanggan


Faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas pelanggan menurut Subroto
(dalam Rifa’i, 2019: 52) yaitu:
a. Nilai merek (brand value)
Nilai merek adalah nilai suatu merek dagang apabila nantinya dijual kembali
b. Karakteristik pelanggan
Karakteristik pelanggan yakni karakter yang dimiliki setiap pelanggan
c. Switching barrier
Switching barrier yaitu pengalihan biaya yang dibebankan pada pelanggan
apabila beralih ke produk atau jasa yang lain
d. Customer satification
Kepuasan pelanggan adalah bentuk respon emosional pelanggan seusai
menggunakan produk atau jasa
e. Lingkungan yang kompetitif
Lingkungan yang kompetitif mengacu pada persaingan perusahaan satu dengan
lainnya menggunakan berbagai macam upaya strategi pemasaran untuk
mencapai tujuan perusahaan.
Diperkuat oleh ahli lain yaitu Gaffar (dalam Maharani dkk., 2020: 102)
faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas pelanggan yaitu: a. Kepuasan (satisfaction)
Kepuasan pelanggan merupakan pengukuran antara harapan pelanggan dengan
kenyataan yang diterima atau yang dirasakan.
b. Ikatan emosi (emotional bonding)
Pengaruh sebuah produk atau jasa yang memiliki daya tarik sehingga pelanggan
merasakan ikatan emosional ketika ada pelanggan lain yang menggunakan
produk atau jasa yang sama .
c. Kepercayaan (trust)
Minat seseorang untuk mempercayakan produk atau jasa untuk melakukan atau
menjalankan sebuah fungsi yang dibutuhkan
d. Kemudahan (choice reduction and habit)
Kemudahan dalam bertransaksi pada produk atau jasa membuat pelanggan akan
merasa nyaman.
e. Pengalaman dengan perusahaan (history with company)
Sebuah pengalaman seseorang pada perusahaan dapat membentuk perilaku.
Ketika mendapatkan pelayanan yang baik dari perusahaan, maka akan
mengulangi perilaku pada perusahaan tersebut.
Cravens dan Piercy (dalam Gultom dkk., 2020: 173) mengungkapkan
bahwa faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas pelanggan yaitu:
a. Performa produk atau jasa
b. Citra perusahaan atau produk atau biasa disebut dengan merek
c. Hubungan harga dengan nilai produk atau jasa
d. Kinerja atau prestasi karyawan
e. Persaingan
f. Sistem pengiriman produk tepat waktu,
g. Hubungan kepuasan dengan pelanggan

Dimensi-dimensi Loyalitas Pelanggan


Menurut Subhkhan (dalam Rifa’i, 2019: 52) menyatakan bahwa loyalitas
pelanggan dapat diukur melalui empat dimensi penting, yaitu:
a. Satisfaction (kepuasan)
Kepuasan merupakan perbandingan antara harapan sebelum melakukan
pembelian dengan kinerja yang dirasakan.
b. Retention (retensi)
Retensi berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan
pelanggannya dari pangsa pasar lain yang berkaitan pada pelanggan enggan
terpengaruh hal negatif dari perusahaan.
c. Migration (migrasi)
Perpindahan pelanggan dari satu penyedia produk atau jasa ke penyedia produk
atau jasa lainnya.
d. Enthusiasm (antusiasme)
Adanya keinginan dan minat konsmen untuk menggunakan produk atau jasa.
Yang dan Patterson (dalam Sugiharto dan Wijaya, 2020: 4) dimensi
kesetiaan atau loyalitas pelanggan yaitu:
a. Recomendation
Pelanggan yang loyal sangat dimungkinkan untuk melakukan rekomendasi
kepada orang-orang disekitarnya, dan menceritakan kepada orang-orang tentang
kelebihan dari produk atau jasa yangpernah dirinya gunakan.
b. Repeat Purchase
Kegiatan yang sangat menggambarkan pelanggan loyal, pelanggan yang loyal
akan melakukan pembelian ulang terhadap produk yang dipercayai maka dari itu
merupakan hal yang sangat menguntungkan sekali apabila penyedia jasa atau
produk mendapatkan pelanggan yang loyal terhadap produk yang ditawarkan.
Dikemukakan oleh Kotler dan Keller (dalam Mashuri., 2020: 61) loyalitas
pelanggan dibagi menjadi tiga dimensi yaitu:
a. Kesetiaan terhadap pembelian produk (repeat purchase).
b. Ketahanan terhadap pengaruh yang negatif mengenai perusahaan (retention).
c. Mereferensikan secara total esistensi perusahaan (referalls).
Menurut Tjiptono (dalam Mashuri., 2020: 62) ada enam dimensi loyalitas
pelanggan yaitu:
a. Pembelian ulang
Pembelian ulang diartikan sebagai kegiatan pelanggan untuk membeli kembali
produk atau jasa yang digunakan.
b. Kebiasaan mengkonsumsi merek
Kebiasaan mengkonsumsi merek adalah gambaran suatu pelanggan membeli
produk atau jasa berdasarkan kebiasaan.
c. Rasa suka yang besar pada merek
Rasa suka pada merek diartikan bahwa ada respon emosional positif pada
pelanggan saat menggunakan produk atau jasa yang dibeli.
d. Ketetapan pada merek
Ketetapan merek mengarah pada suatu keajegan simbol atau tanda yang
digunakan suatu perusahaan sebagai identitas.
e. Keyakinan bahwa merek tertentu adalah merek terbaik
Pelanggan memiliki anggapan dan meyakini bahwasanya merek dari produk
atau jasa yang digunakan merupakan merek terbaik.
f. Perekomendasian merek pada orang lain
Pelanggan merekomendasikan atau menyarankan orang lain untuk
menggunakan produk atau jasa yang sama dengan apa yang digunakan oleh
pelanggan.
Keragaman dimensi loyalitas pelanggan atau kesetiaan pelanggan dapat
disimpulkan bahwa dimensi loyalitas pelanggan meliputi kesetiaan terhadap
pembelian produk (repeat purchase), ketahanan terhadap pengaruh yang negatif
mengenai perusahaan (retention), mereferensikan secara total esistensi perusahaan
(referalls) dan keyakinan bahwa merek tertentu adalah merek terbaik.

Pengertian Loyalitas Pelanggan


Menurut Kotler dan Keller (dalam Zusrony, 2021: 95) loyalitas
merupakan komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli atau
mendukung kembali produk atau jasa yang disukai di masa depan meski ada
pengaruh situasi dan usaha pemasaran berpotensi menyebabkan pelanggan beralih.
Pengertian tersebut diperkuat oleh Tjiptono (dalam Pramudita dkk., 2022: 427)
loyalitas pelanggan artinya kesetiaan pelanggan terhadap suatu merek, serta
pemasok berdasarkan sifat yang sangat positif pada pembelian jangka panjang.
Berdasarkan Hurriyati (dalam Gultom dkk., 2020: 173) loyalitas pelanggan
adalah upaya pelanggan bertahan untuk melakukan pembelian ulang terhadap
produk atau jasa terpilih secara konsisten di masa yang akan datang, meskipun ada
pengaruh situasi dan pesaing pemasaran yang bisa menyebabkan perubahan
perilaku. Loyalitas pelanggan juga diartikan seperti seseorang yang terbiasa untuk
membeli atau menggunakan produk maupun jasa yang ditawarkan dalam jangka
waku tertentu dengan tetap setia mengikuti seluruh penawaran perusahaan.
Hal tersebut di tunjukkan dengan adanya tindakan pembelian tidak kurang dari
dua kali dan dilakukan secara periodik atau berturut-turut dalam waktu yang lama
(Rifa’i, 2019:51). Pendapat tersebut diperkuat oleh Fatihudin dan Firmansyah
(dalam Jannah dan Hayuningtyas, 2024: 492) bahwa loyalitas pelanggan
merupakan perilaku pelanggan yang melakukan pembelian ulang,
dengan menggunakan jasa pemilik usaha saat ini. Sejalan dengan pengertian
tersebut, Kolonio dan Soepono (dalam Jannah dan Hayuningtyas, 2024: 492)
loyalitas pelanggan merupakan sebuah hasil dari kepuasan pelanggan akan sebuah
produk atau jasa. Loyalitas dapat berdampak positif bagi perusahaan yang di
tunjukan dengan adanya perilaku pembelian yang berulang-ulang pada produk
maupun jasa perusahaan

Electronic Word of Mouth (E-WOM)


Electronic Word of Mouth (E-WOM) adalah perubahan dari konsep Word
of Mouth (WOM). Menurut Huete-Alcocer dalam Wardhana (2022:159)
menyatakan dengan berkembang dan bertumbuhnya teknologi informasi, dan
semakin banyaknya wadah yang dapat digunakan untuk interaksi digital, maka
memungkinkan tersebarnya suatu informasi mengenai suatu produk dengan waktu
yang relative singkat. E-WOM menurut Wangsa (2022:25) merupakan komunikasi
yang dapat dilakukan antar konsumen dengan memberikan pernyataan positif
maupun negatif di media online mengenai suatu produk.
Ismagilova et al dalam Wardhana (2022:159) mendefiniskan E-WOM
sebagai informasi yang dapat bersifat positif maupun negatif yang diberikan oleh
seseorang mengenai suatu produk atau jasa melalui media internet. E-WOM
merupakan komunikasi yang dilakukan secara tertulis, lisan, dan elektronik yang
dilakukan antar masyarakat mengenai pengalamannya dalam membeli atau
menggunakan suatu barang atau jasa.
Berdasarkan teori diatas mengenai definisi E-WOM, maka dapat
disimpulkan bahwa E-WOM adalah komunikasi yang dilakukan oleh konsumen
dengan cara menulis pengalamannya dalam membeli barang tersebut di situs
jejaring online, yang juga bisa dijadikan salah satu strategi komunikasi. Kualitas E-
WOM akan mengacu pada kekuatan persuasif dari komentar-komentar yang
tertanam di dalam informasi pesan. Kuantitas E-WOM (Electronic Word of Mouth)
akan mengacu pada seberapa banyaknya jumlah komentar yang diposting.
Menurut Hasibuan (2020:85) menyatakan bahwa kelemahan dari E-WOM
yaitu ulasan yang disampaikan atau dikirimkan dari konsumen perlu ditelaah lebih
lanjut kebenarannya, dan memiliki risiko rentan terjadinya kesalahan. Peluang dari
adanya E-WOM menurut Ahmad (2022:113-114), yaitu:

  1. Strategi komunikasi menjadi lebih nyaman dan cepat karena menggunakan
    teknologi, khususnya internet.
  2. E-WOM dapat menjangkau konsumen dengan lebih luas.
  3. E-WOM dapat menyebar dengan cepat.
    Menurut Ahmad (2022:106-107), E-WOM berbingkai positif menyoroti
    kekuatan suatu produk atau jasa dan mendorong konsumen untuk melakukan
    pembelian produk atau jasa, sementara E-WOM yang berbingkai negatif
    menekankan kelemahan atau masalah dari suatu produk atau jasa dan membuat
    konusmen enggan untuk melakukan pembelian produk atau jasa tersebut. Menurut
    Cheung dalam Ahmad (2022:107), terdapat beberapa faktor yang berhubungan
    dengan stimulus dalam E-WOM, yaitu:
  4. Kualitas argumen (relevansi, ketepatan waktu, akurasi dan kelengkapan),
    yaitu mengacu pada sejauh mana pesan dapat diterapkan dan berguna untuk
    mengambil keputusan.
  5. Ketepatan waktu menyangkut apakah pesannya terkini, tepat waktu dan
    mutakhir.
  6. Akurasi menyangkut keandalan pesan, yaitu menyatakan bahwa informasi
    tersebut benar.
  7. Komprehensif, pembingkaian rekomendasi yaitu E-WOM tersebut apakah
    bersifat positif atau negatif.
    Menurut Ahmad (2022:111) E-WOM dapat didasarkan pada perspektif
    konsumen, yang mempelajari bagaimana komunikasi E-WOM dapat
    mempengaruhi sikap dan perilaku pembelian konsumen. Selain itu didasarkan pada
    perspektif perusahaan, yang berfokus pada bagaimana komunikasi E-WOM dapat
    mempengaruhi reputasi perusahaan, pendapatan dan ekuitas konsumen, yang
    merupakan efek tidak langsung.
    Dimensi-dimensi yang terdapat dalam E-WOM menurut Jeong dalam
    Ahmad (2022:111-112), yaitu:
  8. Concern for Others (kepedulian terhadap orang lain)
    Konsumen dengan keinginannya sendiri untuk berbagi pengalaman positif
    nya mengenai suatu produk kepada konsumen lainnya.
  9. Expressing Positive Feelings
    Mengekspresikan perasaan positif dapat dipicu oleh pengalaman konsumsi
    yang positif. Pengalaman positif yang dirasakan oleh konsumen dapat
    memicu ketegangan psikologis karena mereka ingin membagikan
    pengalamannya atau rasa kepuasannya kepada orang lain.
  10. Helping the Company
    Hal ini sama dengan kepedulian terhadap orang lain, yang membedakannya
    hanya objek. Konsumen membagikan pengalaman positif nya sebagai
    imbalan untuk perusahaan tersebut atas kepuasan yang dirasakannya.
  11. Advice seeking
    Yaitu keinginan untuk mencari saran dan rekomendasi dari konsumen
    lainnya. Dalam konteks berbasis web opinion platform, konsumsi terjadi
    ketika konsumen membaca ulasan atau komentar yang ditulis oleh
    konsumen lainnya, yang juga dapat memotivasi konsumen untuk menulis
    ulasan

Kepercayaan Konsumen


Kepercayaan menurut Akbar dan Parvez dalam Sari (2020:23) merupakan
suatu keadaan dimana salah satu pihak merasa yakin dan percaya untuk menjalin
suatu hubungan kerjasama yang memiliki integritas dan dapat diandalkan.
Kepercayaan konsumen adalah suatu persepsi sudut pandang dari pihak konsumen
atas kehandalan produsen dalam melayani dan memenuhi keinginan dan harapan,
serta kepuasan konsumen. Kepercayaan yaitu dasar terjadinya transaksi jual beli
yang dilakukan secara online. Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat penting dan
utama untuk pelaku bisnis karena kepercayaan konsumen sebagai penentu dari
keberlangsungan dari suatu bisnis. Menurut Sari (2020:23) menyatakan bahwa
kepercayaan konsumen akan melibatkan kesediaan dari konsumen untuk
melakukan sesuatu karena merasa yakin pada produsen yang akan memberikan
kepuasan sesuai dengan yang konsumen inginkan atau harapkan.
Berdasarkan teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa kepercayaan
konsumen adalah persepsi konsumen atas suatu perusahaan mengenai
kehandalannya dan bisa menjadi dasar dalam terjadinya jual beli yang dilakukan
secara online. Manfaat dari adanya kepercayaan konsumen menurut Akbar dan
Parvez dalam Sari (2020:23-24), yaitu:

  1. Dari adanya kepercayaan konsumen, dapat mendorong para produsen untuk
    terus berusaha selalu menjaga hubungannya dengan konsumen.
  2. Produsen yang telah memiliki konsumen dengan tingkat kepercayaan yang
    tinggi akan lebih memilih keuntungan untuk jangka panjang dibanding
    jangka pendek, dengan harapan untuk tetap mempertahankan kepercayaan
    konsumen tersebut.
  3. Dari adanya kepercayaan konsumen, mendorong para produsen untuk dapat
    menyikapi setiap risiko yang besar dengan sikap yang bijaksana karena
    mereka percaya kepada rasa kepercayaan yang dimiliki oleh konsumen.
    Komponen-komponen dari kepercayaan konsumen menurut Peppers dan
    Rogers dalam Priansa (2017:126), yaitu:
  4. Integritas (Integrity)
    Yaitu kemampuan dan kejujuran yang dilakukan oleh produsen untuk
    menepati janjinya kepada konsumen. Integritas ini menyangkut mengenai
    bagaimana sikap atau perilaku dari produsen dalam menghadapi konsumen.
  5. Kebaikan hati (Benevolence)
    Yaitu motivasi dan perhatian yang diberikan oleh produsen terhadap
    konsumen demi kepentingan konsumen tersebut dengan tujuan untuk
    memberikan kepuasan kepada konsumen.
  6. Kompetensi (Competency)
    Yaitu suatu kemampuan yang dimiliki oleh produsen dalam melaksanakan
    dan memenuhi keinginan konsumen. Kemampuan yang dimaksud yaitu
    kemampuan dalam melayani, menyediakan dan melakukan transaksi
    dengan aman tanpa gangguan.
  7. Prediktabilitas (Predictability)
    Yaitu kemampuan produsen untuk dapat memberikan kepastian kepada
    konsumen mengenai ketersediaan dan kualitas suatu produk yang dijual,
    sehingga konsumen dapat memberikan penilaian mengenai kinerja dari
    produsen tersebut.
    Menurut Priansa (2017:119), terdapat tiga jenis dalam kepercayaan
    konsumen, yaitu:
    1) Kepercayaan atribut objek
    Kepercayaan objek adalah sebuah pengetahuan mengenai sebuah objek
    yang memiliki atribut-atribut khusus.
    2) Kepercayaan manfaat produk
    Para konsumen akan mencari dan membeli produk-produk yang dapat
    memberikan manfaat kepadanya dan dapat memenuhi kebutuhannya.
    3) Kepercayaan manfaat objek
    Yaitu suatu persepsi yang dibuat oleh konsumen mengenai seberapa jauh
    produk atau jasa akan memberikan manfaat sesuai dengan yang dibutuhkan.
    Didalam kepercayaan konsumen menurut Yee dan Faziharudean dalam Sari
    (2020:24-25) terdapat tiga komponen indikator. Ketiga komponen indikator
    tersebut adalah:
  8. Integritas
    Integritas adalah pendapat dari konsumen bahwa produsen telah mengikuti
    seluruh prinsip yang sesuai dan dapat diterima untuk menepati janjinya
    kepada konsumen, dan memperlakukan konsumen sesuai dengan jujur dan
    sesuai dengan etika yang ada. Produsen harus memiliki konsistensi dimasa
    lalu untuk menentukan integritas dari produsen, tindakan yang dilakukan
    oleh produsen dalam menepati janji-janjinya kepada konsumen, dan
    berkomunikasi secara tidak kredibel dan komunikasi yang dilakukan secara
    kredibel yang dilakukan produsen kepada kelompok lain.
  9. Kebajikan
    Kebajikan yang dimaksud disini yaitu kebajikan yang didasarkan pada
    seberapa besarnya rasa kepercayaan kemitraan, kepercayaan ini harus
    memiliki motivasi dan tujuan yang nantinya akan menjadi kelebihan dari
    produsen yang berguna pada kondisi saat suatu komitmen tidak dapat
    terbentuk.
  10. Kompetensi
    Kompetensi ini maksudnya adalah kemampuan yang dimiliki oleh produsen
    dalam menyelesaikan beberapa permasalahan yang sedang dihadapi oleh
    para konsumen serta kemampuan produsen dalam memenuhi semua
    kepeluan dari konsumen.

Promosi


Promosi merupakan suatu bentuk dari komunikasi pemasaran dengan tujuan
untuk menyebarkan dan memberikan informasi, membujuk, mempengaruhi, serta
mengingatkan para konsumen mengenai produknya agar dapat diterima dan
mendorong konsumen untuk loyal kepada produk dan perusahaan nya, Tjiptono
dalam Musfar (2020:141). Promosi dapat membujuk konsumen, memberikan
berbagai informasi yang dibutuhkan oleh konsumen, dan memberikan dampak
kepada pengambilan keputusan konsumen, Musfar (2020:141).
Promosi menurut Musfar (2020:17) promosi merupakan komponen
pemasaran yang sangat penting karena promosi dapat meningkatkan brand
recognition dan penjualan. Keuntungan dari promosi menurut Kotler dan Amstrong
dalam Musfar (2020:148), adalah promosi dapat menarik perhatian penjualan, dan
menawarkan insetif kuat untuk membeli.
Dari beberapa teori diatas berarti dapat disimpulkan, bahwa promosi
penjualan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dengan
menawarkan insentif yang bersifat jangka pendek yang bertujuan untuk
memberikan dorongan berupa motivasi kepada para konsumen untuk meningkatkan
minat, dan membantu dalam mengambil keputusan pembelian.
Produsen melakukan promosi dengan tujuan-tujuan yang menguntungkan
bagi perusahaan. Tujuan dari promosi menurut Suleman (2022:59-60), yaitu:

  1. Menginformasikan, yaitu ditujukan untuk memberitahukan dan
    menginformasikan suatu produk kepada konsumen, baik konsumen lama
    maupun baru.
  2. Membujuk konsumen sasaran, dampak dari tujuan ini yaitu agar terciptanya
    keinginan konsumen untuk melakukan pembelian produk tersebut.
  3. Mengingatkan konsumen mengenai produk yang diproduksi, agar dapat
    mempertahankan merk produk.
  4. Modifikasi tingkah laku konsumen, promosi diarahkan untuk merubah
    kebiasaan pembelian yang dilakukan konsumen. Misal iklan pasta gigi yang
    menginformasikan kalua pemakaian pasta gigi diletakkan penuh di bulu
    sikat.
    Promosi memiliki beberapa fungsi menurut Tjiptono dalam Musfar
    (2020:145-146), antara lain:
  5. Menginformasikan (Informing)
    Produsen melakukan kegiatan promosi untuk menyadarkan dan
    menginformasikan para konsumen terhadap produk-produk yang produsen
    perjual belikan, informasi ini bisa berupa manfaat produk, penggunaan
    produk, dan informasi lainnya.
  6. Membujuk (Persuading)
    Promosi yang dilakukan oleh produsen akan memberikan dorongan dan
    membujuk konsumen untuk mencoba melakukan pmbelian produk yang
    sedang dipromosikan.
  7. Mengingatkan (Reminding)
    Dengan adanya promosi ini secara tidak langsung akan membuat konsumen
    untuk tetap mengingat produk tersebut.
  8. Menambah Nilai (Adding Value)
    Promosi yang dilakukan oleh produsen terhadap produknya akan membuat
    konsumen beranggapan bahwa produk tersebut mempunyai nilai lebih dan
    lebih menarik dibanding dengan produk pesaing.
    Bauran promosi menurut Assauri dalam Musfar (2020:146) yaitu alat yang
    digunakan untuk komunikasi antara konsumen dengan produsen. Maksud dari
    bauran promosi adalah suatu program yang dilakukan oleh perusahaan untuk
    berkomunikasi seperti melakukan promosi penjualan, iklan, hubungan masyarakat,
    dan penjualan pribadi. Beberapa bauran promosi menurut Musfar (2020:147-153)
    yang dapat dilakukan oleh produsen, yaitu:
  9. Periklanan
    Periklanan adalah salah satu promosi yang dapat dilakukan oleh produsen
    secara non personal, dengan membayar untuk mensponsori produk yang
    sedang dipromosikan.
  10. Publisitas
    Publisitas mempunyai fungsi yang sangat luas, produsen dapat melakukan
    publisitas dengan cara menciptakan serta mempertahankan hubungan
    dengan masyarakat yang akan memberikan keuntungan bagi kedua belah
    pihak.
  11. Promosi penjualan
    Produsen dapat melakukan promosi dengan cara melakukan pameran dan
    demonstrasi mengenai produknya.
    Beberapa indikator yang terdapat dalam promosi menurut Kotler
    (2012:413), yaitu:
  12. Periklanan
    Iklan merupakan bentuk dari komunikasi yang biasanya berusaha untuk
    membujuk konsumen yang potensial untuk melakukan pembelian atau
    mengkonsumsi lebih dari sebuah merk tertentu produk atau jasa. Periklanan
    adalah bentuk presentasi dan promosi non personal yang memerlukan biaya
    tentang gagasan, barang atau jasa oleh sponsor yang jelas.
  13. Promosi penjualan
    Tujuannya adalah untuk menarik konsumen untuk membeli, yaitu dengan
    cara membuat pajangan di toko-toko, pameran, dan demonstrasi dengan
    menggunakan alat-alat penjualan seperti poster, selebaran, dan gambar
    temple. Biasanya kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan kegiatan
    promosi lainnya, biayanya relative lebih murah dibandingkan dengan
    periklanan. Promosi penjualan juga lebih fleksibel karena dapat dilakukan
    setiap saat dan dimana saja.
  14. Personal selling
    Yaitu salah satu kegiatan promosi yang lebih kearah komunikasi yang
    bersifat persuatif dengan tujuan untuk mendorong minat beli dari
    konsumen. Selain itu tujuan lainnya adalah menghasilkan penjualan dan
    membangun hubungan dengan para konsumen.
  15. Pemasaran langsung
    Yaitu penjualan yang dilakukan oleh produsen dengan cara melakukan
    komunikasi secara lansung guna untuk menjalin dan menjaga hubungan
    dengan konsumen. Tujuan dari promosi ini yaitu untuk memperoleh
    tanggapan segera dan membina hubungan yang abadi dengan konsumen.
    Bentuk promosi yang dapat digunakan seperti katalog, internet, telephone
    marketing, dan sebagainya.
    Indikator promosi yang akan digunakan yaitu indikator promosi menurut
    Kotler (2012:413), yaitu periklanan (advertising), promosi penjualan (sales
    promotion), penjualan perseorangan (personal selling), dan penjualan langsung
    (direct marketing)

Kualitas Informasi


Menurut Sarwono (2012:227), yang termasuk dalam kualitas informasi
adalah isi dari informasi yang selalu up to date, akurasi isi, kelengkapan dari isi
informasi tersebut dan presentasi suatu informas.. Informasi itu bermanfaat untuk
memprediksi kegunaan, kualitas dari barang atau jasa tersebut.
Informasi yang terdapat di suatu online shop harus selalu up-to-date. Hal ini
dilakukan dengan tujuan untuk memuaskan kebutuhan konsumen akan informasi
informasi mengenai produk dan jasa di toko online shop, selain itu untuk membantu
para konsumen dalam membuat keputusan pembelian. Tata Sutabri (2012:41)
menggambarkan kualitas informasi tergantung dari tiga hal, yaitu akurat, tepat
waktu, dan relevan.
Berdasarkan teori-teori diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas
informasi merupakan berbagai macam informasi yang disajikan oleh produsen
mengenai suatu produk yang dapat membantu konsumen untuk mengambil
keputusan pembelian.
Fungsi dari informasi menurut Tata Sutabri (2012:32) yaitu informasi tidak
digunakan untuk mengarahkan seseorang dalam mengambil keputusan, tetapi
informasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian dan keanekaragaman
sehingga konsumen akan dapat mengambil keputusan yang baik.
Menurut Tata Sutabri (2012:38-39), kualitas informasi memiliki beberapa
ciri atau karakteristik seperti:

  1. Akurasi
    Informasi dapat dikatakan akurat jika informasi yang dicantumkan
    mengenai suatu produk adalah benar adanya, tidak ada kesalahan, dan dapat
    menjelaskan hal yang dimaksud oleh penjual.
  2. Kesesuaian
    Produsen harus mencantumkan informasi yang sesuai dengan produk yang
    dijual, dan bermanfaat untuk konsumen dan dapat membantu konsumen
    untuk mengambil keputusan dalam pembelian.
  3. Kelengkapan
    Informasi yang disediakan haruslah lengkap dan tidak setengah-setengah
    dengan begitu dapat membantu konsumen dengan sangat baik dalam
    membuat keputusan pembelian.
  4. Ketepatan Waktu
    Produsen harus menyediakan informasi dengan tepat waktu dan tidak boleh
    terlambat, produsen juga harus selalu memperbaharui informasi-informasi
    yang ada karena jika tidak informasi tersebut akan usang dan kurang
    memiliki nilai yang baik.
  5. Dimengerti
    Produsen harus menyediakan informasi dengan menggunakan bahasa dan
    kata-kata yang sesuai dengan konsumen yang ingin dituju, sehingga
    informasi tersebut akan mudah dimengerti oleh para konsumen.
  6. Dapat Diverifikasi
    Informasi yang disediakan oleh produsen tidak menyebabkan perbedaan
    dalam hal memahami antara konsumen satu dengan konsumen lainnya.
  7. Dapat Diakses
    Sebuah informasi dikatakan dapat diakses bila informasi tersebut tersedia
    saat diperlukan oleh konsumen dan dibuat dengan menggunakan format
    yang sesuai.
    Pilar-Kualitas dari suatu informasi sangat tergantung dari tiga hal. Menurut
    Tata Sutabri (2012:41) 3 hal tersebut adalah, yaitu:
  8. Akurat, berarti suatu informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan
    tidak menyesatkan konsumen. Informasi harus dijabarkan secara akurat dan
    rinci.
  9. Tepat pada waktunya, berarti informasi yang disediakan atau diberikan
    kepada konsumen tidak boleh terlambat. Teknologi yang canggih dapat
    membantu produsen untuk dapat dengan mudah menyediakan informasi
    yang dibutuhkan sehingga konsumen bias lebih efektif dalam mengambil
    keputusan.
  10. Relevan, berarti informasi tersebut dapat memberikan manfaat untuk para
    konsumennya.
    Suatu informasi dapat dinyatakan bernilai jika informasi tersebut memiliki
    manfaat yang lebih efektif dibandingkan dengan biaya untuk mendapatakannya
    atau membuatnya. Nilai informasi ini didasarkan pada mudah diperoleh, luas dan
    lengkap, ketilitian, kecocokan, ketepatan waktu, kejelasan, keluwesan, dapat
    dibuktikan, tidak adanya prasangka, dan dapat diukur

Loyalitas Konsumen


Arti dari loyalitas secara Bahasa yaitu kesetiaan, kesetiaan yang dimaksud
disini yaitu kesetiaan seseorang terhadap obyek. Loyalitas konsumen menurut
Alrubaiee dan Al-Nazer dalam Sari (2020:26) merupakan suatu fungsi dari
kepuasan pelanggan, konsumen yang loyal mungkin tidak selalu merasa puas atas
suatu produk, sedangkan konsumen yang puas adalah konsumen yang loyal
terhadap suatu produk. Dari kegiatan pembelian yang dilakukan oleh konsumen
secara berulang dan terus-menerus maka akan menunjukkan loyalitas konsumen
terhadap produk tersebut.
Sebuah loyalitas konsumen sangat memegang peran penting di perusahaan,
dengan adanya loyalitas konsumen maka dapat mempertahankan kelangsungan
bisnis perusahaan, dan meningkatkan kinerja keuangan, maka dari itu ini menjadi
hal yang utama bagi perusahaan untuk berusaha mempertahankan dan menarik
konsumen. Menurut Oliver dalam Sari (2020:26-27), loyalitas konsumen adalah
suatu rasa komitmen yang dipegang erat konsumen dalam melakukan pembelian
suatu produk secara konsisten dan berulang. Hal ini menyatakan bahwa walaupun
konsumen mendapatkan pengaruh situasional dan marketing dari pesaing,
konsumen tersebut akan tetap melakukan pembelian suatu produk yang sama secara
berulang. Dimensi yang digunakan dalam loyalitas konsumen yaitu konsumen yang
selalu membeli dan mengedepankan suatu produk secara konsisten.
Berdasarkan teori-teori diatas, maka dapat disimpulkan bahwa loyalitas
konsumen adalah sebuah tekad seseorang untuk bisa komitmen terhadap produk
atau jasa atau pada perusahaan tertentu, untuk melakukan pembelian secara
berulang. Dengan adanya loyalitas konsumen maka produsen akan menerima
keuntungan yang besar, dan biaya operasional yang dikeluarkan oleh produsen
dapat diminimalisir. Menurut Sudarsono (2020:12-13), terdapat empat hal yang
dapat memperlihatkan kecenderungan dari konsumen yang loyal, antara lain:

  1. Konsumen yang memiliki tingkat loyalitas yang tinggi akan cenderung
    mempertahankan dan percaya pada pilihannya.
  2. Konsumen yang memiliki tingkat loyalitas yang tinggi akan cenderung lebih
    merasakan risiko saat melakukan pembelian.
  3. Konsumen yang sudah loyal terhadap produk akan lebih cenderung untuk
    loyal terhadap toko atau perusahaan.
    Terdapat tahap-tahap dalam loyalitas konsumen menurut Sudarsono
    (2020:13), yaitu:
  4. Cognitive Loyalty
    Pada tahap ini konsumen melakukan transaksi secara rutin tetapi rasa
    kepuasannya tidak diproses, sehingga rasa loyalitasnya tidak tercipta dalam
    pengalaman konsumen tersebut dalam bertransaksi.
  5. Affective Loyalty
    Pada tahap ini konsumen rentan untuk mencoba beralih pada produk
    pesaing.
  6. Conative Loyalty
    Pada tahap ini biasanya dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang
    sering kali dialami oleh konsumen yang bersifat positif dalam penggunaan
    suatu produk. Sehingga konsumen akan memiliki tingkat loyalitas yang
    cukup dalam terhadap suatu produk atau brand.
  7. Action Loyalty
    Pada tahap ini para konsumen telah memiliki tingkat loyalitas yang dalam,
    sehingga konsumen tersebut akan melakukan pembelian kembali produk
    tersebut.
    Ada beberapa karakteristik umum yang menyatakan bahwa konsumen itu
    disebut loyal menurut Sudarsono (2020:13), yaitu:
  8. Konsumen yang loyal akan selalu melakukan pembelian secara berulang
    dan konsisten.
  9. Konsumen yang loyal akan bersedia untuk melakukan pembelian di luar lini
    produk.
  10. Konsumen yang loyal akan dengan senang hati untuk merekomendasikan
    dan mengajak orang-orang disekitarnya untuk membeli produk tersebut.
  11. Konsumen yang loyal tidak akan mudah terpengaruh dan terbujuk oleh
    produk pesaing, karena konsumen yang loyal akan menunjukkan kekebalan
    dari pesaing.
    Rahyuda dan Atmaja dalam Sari (2020:29), menyatakan terdapat beberapa
    indikator dalam loyalitas konsumen, yaitu:
  12. Repeat purchase
    Konsumen bersedia untuk selalu melakukan pembelian suatu produk secara
    berulang dan konsisten.
  13. Retention
    Konsumen memiliki ketahanan terhadap pengaruh negatif mengenai
    produsen, dan pengaruh dari produk pesaing. Sehingga kecil
    kemungkinannya seorang konsumen berpaling pada produk pesaing.
  14. Referals
    Konsumen bersedia untuk melakukan produk lain yang ditawarkan oleh
    perusahaan atau produsen yang sama.

Citra Merek


Kadang kita tidak bisa membedakan sesuatu dengan jelas antara citra
dan identitas/merek. Untuk membedakannya, maka akan bisa dilihat
pengertian masing-masing . Menurut (Kotler & Keller, 2009) Citra Merek
merupakan salah satu hal yang diingat didalam benak konsumen pada saat
membeli suatu produk merek tertentu.(Kotller, 2007) Merek merupakan
berbagai cara yang dilakukan perusahaan untuk memposisikan atau
mengidentifikasikan produknya. Sedangkan Citra merupakan persepsi
masyarakat terhadap produk atau perusahaannya. Maka Citra Merek
merupakan bagaimana suatu merek mempengaruhi pandangan, persepsi
konsumen atau masyarakat terhadap produk atau perusahaannya.
Sebuah merek memerlukan citra untuk menyampaikan kepada masyarakat..
Bagi perusahaan citra berarti persepsi masyarakat terhadap image
perusahaan. Persepsi ini dilandasi atas apa yang masyarakat ketahui maupun
tentang perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu perusahaan yang
mempunyai bidang usaha yang sama belum tentu mempunyai citra yang
sama pula dihadapan konsumen. Citra Merek menjadi salah satu pegangan
bagi konsumen dalam mengambil keputusan (Kotller, 2007) .
Citra Merek adalah asosiasi yang muncul dibenak konsumen ketika
mereka mengingat merek tertentu . Asosiasi tersebut secara sederhana bisa
muncul dalam bentuk pemikiran maupun citra yang dikaitkan dengan suatu
merek,seperti ketika kita berfikir tentang orang lain. Asosiasi ini dapat
dikonseptualisasi berdasarkan jenis, keunggulan, dukungan, keunikan, dan
kekuatan. Membangun Citra Merek yang positif ini dicapai melalui program
pemasaran yang kuat untuk produk yang unik dan memiliki manfaat yang
membedakannya dari produk lain Kotler dan Keller (2006). Kombinasi yang
baik dari elemen-elemen yang mendukung, dapat menciptakan Citra Merek
yang kuat bagi konsumen. Menurut (Ratri, 2007) indikator citra merek
sebagai berikut :
a) Atribut produk
Didefinisikan kesan kuat yang melekat pada pepsodent memiliki
kemasan berwarna merah putih sehingga mudah diingat konsumen
b) Manfaat
Didefinisikan kesan kuat yang melekat pada pepsodent mampu
mencegah pembentukan karang gigi
c) Kepribadian
Didefinisikan kesan kuat pada pasta gigi pepsodent sebagai merek yang
mampu membuat nafas lebih segar dan harum sehingga menumbuhkan
percaya diri

Kualitas Produk


Produk diperlukan bagi pemuas akan kebutuhan dan keinginan
bagi konsumen. Produsen harus memperhatikan secara hati-hati kebijakan
produknya. Pada awalnya sebuah produk dapat diklarifikasikan dengan
berbagai cara, antara lain berdasarkan daya tahan produk dalam
penggunannya atau wujud produk tersebut (Kotler dan Armstrong, 2012).
Menurut (Kotler dan Armstrong, 2012) kualitas produk merupakan
kemampuan produk terhadap fungsinya.
Berdasarkan kriteria tersebut (Tjiptono, 2012) mengelompokan
produk menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Durable goods (barang yang bertahan lama), merupakan barang yang
    bersifat tahan lama dan dapat digunakan lebih dari setahun.
  2. Non-durable goods (barang yang tidak tahan lama), merupakan barang
    yang dikonsumsi sekali pakai atau memiliki jangka waktu kurang dari
    satu tahun
  3. Service (jasa), merupakan suatu aktivitas, manfaat atau kepuasan yang
    ditawarkan oleh suatu perusahaan untuk dijual.
    Kualitas adalah sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan kualitas
    didasarkan pada pengalaman aktual pelanggan terhadap jasa atau produk, diukur
    berdasarkan persaratan pelanggan tersebut.
    Menurut (Tjiptono, 2002) indikator kualitas produk sebagai berikut :
    a) Kinerja adalah persepsi konsumen tentang pepsodent yang mampu
    membersihkan gigi dari kuman.
    b) Keistimewaan tambahan persepsi konsumen tentang pepsodent yang
    memiliki banyak varian sesuai manfaat yang dibutuhkan konsumen.
    c) Keandalan adalah persepsi konsumen tentang pepsodent yang mampu
    mencegah gigi berlubang.
    d) Daya tahan adalah persepsi konsumen tentang kemasan pepsodent yang
    tidak mudah rusak sehingga mampu menjaga pasta tetap seteril

Loyalitas konsumen


Menurut (Durianto D. , 2011), konsumen yang loyal secara umum
akan melakukan pembelian suatu merek walaupun dihadapkan beberapa
merek produk pesaing yang menawarkan karakteristik produk unggul di
lihat dari berbagai sudut dan atribut produk. Jika banyak konsumen dari
suatu merek masuk dalam kategori ini, beratrti produk tersebut mempunyai
loyalitas merek yang kuat.
Menurut (Nugroho, 2009),mendefinisikan loyalitas konsumen sebagai
ukuran kesetiaan dari pelanggan dalam menggunakan suatu merek jasa atau
merek produk pada waktu tertentu pada situasi banyak pilihan jasa maupun
produk yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.
Jadi loyalitas konsumen merupakan kesetiaan konsumen dalam
pembelian yang konsisten terhadap jasa dan produk sepanjang waktu ada
sikap yang baik untuk merekomendasikan orang lain untuk membeli
produk.
Menurut (Griffin, 2009) terdapat empat jenis loyalitas yang muncul
bila keterikatan tinggi dan rendah diklarifikasi silang dengan pola pembelian
ulang, yang tinggi dan rendah. Adapun jenis-jenis loyalitas konsumen yaitu:
1.Loyalitas Yang Lemah
Loyalitas yang lemah adalah sebuah jenis loyalitas konsumen
adanya keterikatan yang rendah dengan pembelian ulang yang tinggi.
Konsumen yang mempunyai sikap ini biasanya membeli berdasarkan
kebiasaan. Dasar yang digunakan untuk pembelian jasa atau produk
disebabkan oleh faktor kemudahan. Kesetian jenis ini banyak terjadi
terhadap jasa atau produk yang sering dipakai.
2.Tanpa Loyalitas
Untuk berbagai alasan, ada beberapa konsumen yang tidak
mengembangkan kesetiaan pada layanan jasa atau produk tertentu. Ikatan
yang rendah dengan tingkat yang rendah menunjukkan bahwa tidak ada
loyalitas. Pada dasarnya, perusahaan harus menghindari kelompok tanpa
loyalitas ini untuk dijadikan target pasar karena konsumen tidak akan
menjadi konsumen yang setia.
3.Loyalitas Tersembunyi
Jenis loyalitas tersembunyi adalah sebuah kesetian atau keterikatan
yang relatif tinggi yang dikuti dengan tingkat pembelian ulang yang rendah.
Konsumen yang memiliki sikap loyalitas tersembunyi pembelian ulang juga
didasarkan pada pengaruh faktor situasional dari pada sikap konsumen.
4.Loyalitas Premium
Loyalitas ini adalah yang terjadi dimana suatu tingkat keterikatan
tinggi yang berjalan bersama dengan aktivitas pembeliaan kembali. Setiap
perusahaan tentu sangat berharap kesetiaan jenis ini dari setiap usaha yang
dijalankan. Indikator Loyaliytas Konsumen.
Menurut (Griffin, 2005) indikator loyalitas konsumen sebagai
berikut:
a) Melakukan pembelian ulang secara teratur produk pepsodent
b) Merefrensikan kepada orang lain tentang produk pepsodent
c) Menunjukkan ketahanan produk terhadap merek pesaing

Promosi (Promotion)


Didalam sistem bauran pemasaran, promosi merupakan komponen
penting ke empat setelah produk, harga, dan tempat. Jika ke tiga komponen
penting bauran pemasaran lebih berfokus pada kegiatan marketing di dalam
perusahaan serta rekannya dalam pemasaran, hal ini sedikit berbeda dengan
komponen promosi. Dalam kegiatan promosi perusahaan dapat berkomunikasi
dengan pihak luar yaitu mereka yang berpotensi untuk menjadi konsumen, dengan
tujuan menarik perhatian agar produk perusahaan dapat lebih dikenal.
Menurut Stanton (1991) promosi adalah memberikan informasi kepada,
menghimbau serta mempengaruhi khalayak ramai. Sementara Asri (1986)
mengemukakan promosi merupakan segala usaha untuk memperkenalkan produk
kepada calon konsumen dan membujuk mereka agar membeli, serta mengingatkan
kembali konsumen lama agar melakukan pembelian ulang. Selain itu promosi
juga merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyebarluaskan informasi
tentang barang atau jasa yang di jual dengan maksud untuk menambah pola
prilaku konsumen.
Sedangkan Wiliam Shoell (1993, dalam Alma 2009) menyatakan bahwa
promosi ialah usaha yang dilakukan oleh marketer, berkomunikasi dengan calon
audience. Komunikasi adalah sebuah proses membagi ide, informasi, atau
perasaan audience.
Alma (2009) dalam bukunya mengatakan bahwasanya promosi adalah
sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang meyakinkan calon konsumen
tentang barang dan jasa, dengan tujuan memperoleh perhatian, mendidik,
mengingatkan, serta meyakinkan calon konsumen. Hurriyati (2008)
mengemukakan bahwa tujuan utama dari promosi, yaitu:

  1. Menginformasikan (informing), dimana dapat berupa menginformasikan pasar
    mengenai keberadaan suatu produk baru, memperkenalkan cara pemakaiaan
    produk, menyampaikan perubahan harga produk, menjelaskan cara kerja,
    meluruskan kesan yang keliru, mengurangi ketakutan atau kekhawatiran
    konsumen, serta membangun citra perusahaan.
  2. Membujuk konsumen sasaran (persuading), untuk membujuk pilihan merek,
    pengalihan kemerek tertentu, mengubah persepsi konsumen terhadap atribut
    produk, mendorong pembeli untuk melakukan pembelian disaat itu juga, serta
    mendorong pembeli untuk menerima kunjungan waraniaga (salesmen).
  3. Mengingatkan (remainding), dapat terdiri atas mengingatkan pembeli bahwa
    produk yang bersangkutan dibutuhkan dalam waktu dekat, mengingatkan
    pembeli atas tempat yang menjual produk perusahaan, memberitahu pembeli
    tetap ingat walaupun tidak ada kampanye iklan, serta menjaga agar ingatan
    pertama pembeli jatuh pada produk perusahaan

Tempat (Place)


Elemen marketing mix lainnya yang berada di bawah kendali perusahaan
yang mana sangat berkaitan erat dengan saluran distribusi ialah tempat. Lokasi
atau tempat dimana produk tersebut tersedia serta dengan mudah didapatkan oleh
konsumen menjadi suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam upaya
penyaluran produk, hal ini dikarenakan dengan lokasi usaha yang strategis maka
akan memberikan pengaruh terhadap tingkat pengunjung terutama untuk jenis
bisnis kuliner. Hal ini senada dengan Rachmawati (2011) yang mengatakan
bahwasanya lokasi dapat dikatakan menentukan ramai atau tidaknya pengunjung,
lokasi usaha yang berada di pinggir jalan atau ditempat yang strategis cukup
menyedot pengunjung untuk sekadar mampir dan mencicipi hidangan dan konsep
yang ditawarkan.
Lebih jauh Rachmawati (2011) mengemukakan bahwa lokasi atau tempat
merupakan faktor yang penting dalam mencapai keberhasilan sebuah restoran,
yaitu menyangkut antara lain good visibility, easy access, convenience, curb side
appeal, parking. Keputusan saluran distribusi akan mempengaruhi dua hal, yaitu
jangkauan penjualan dan biaya

Harga (Price)


Harga merupakan elemen yang tidak dapat dikesampingkan dalam bisnis.
Bagi konsumen harga merupakan eleman yang seringkali menjadi bahan
pertimbangan dalam pembelian. Harga merupakan elemen dalam bauran
pemasaran yang paling fleksibel karena perubahan harga dapat dilakukan dengan
cepat guna menstimulasi permintaan ataupun merespon tindakan yang berasal dari
pesaing. Surya dan Setiyaningrum (2009) mengatakan bahwa pemasar
mengganggap harga sebagai elemen kunci dari bauran pemasaran dikarenakan
secara langsung harga berhubungan dengan pendapatan dan profit yang diperoleh
oleh perusahaan.
Asri (1986) menyatakan bahwa harga adalah suatu nilai tukar untuk
manfaat yang ditimbulkan oleh barang atau jasa tertentu bagi seseorang. Alma
(2009) mendefinisikan bahwa harga (price) merupakan nilai suatu barang yang
dinyatakan dengan uang. Kotler dan Armstong (2006) mengemukakan bahwa
harga merupakan jumlah semua nilai yang diberikan oleh konsumen untuk
mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunkan suatu produk atau jasa.
Sementara Swastha (1990, dalam Lembang, 2010) mendefinisikan harga sebagai
sejumlah uang (ditambah beberapa produk) yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
Lebih jauh lagi, Tjiptono (2000, dalam Rachmawati, 2011)
mendefinisikan harga sebagai satuan moneter atau ukuran lainnya termasuk
barang dan jasa lainnya yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau
pengguna suatu barang dan jasa. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat di
ketahui bahwa harga yang di bayarkan oleh konsumen untuk suatu barang
maupun jasa didalamnya telah mencakup produk beserta layanan yang diberikan
oleh penjual.
Empat indikator yang dapat digunakan untuk mencirikan harga antara
lain, yaitu: 1. Keterjangkauan harga, 2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk,

  1. Daya saing harga, 4. Kesesuaian harga dengan manfaat (Stanton, 1998, dalam
    Lembang, 2010).

Produk (Product)


Dalam bauran pemasaran elemen penting yang pertama adalah produk,
dimana perencanaan strategi marketing mix bagi pemuasan kebutuhan dan
keinginan (need and wants) dari konsumen dalam bentuk produk.
Produk merupakan kumpulan atau sekumpulan atribut-atribut yang secara
bersama-sama memuaskan kebutuhan seseorang, baik yang kentara maupun tidak
seperti warna, pembungkusan, harga, prestis, manfaat dan sebagainya, dimana
secara utuh produk tidak hanya menyangkut pengertian fisiknya saja, melainkan
juga perlengkapan, pemasangan, manfaat, instruksi pemakaian, pembungkusan,
serta perawatanya, bahkan hingga merek serta kepastian tentang pelayanan setelah
pembelian atau jika produk tersebut adalah jasa maka sama sekali tidak
menyangkut ujud fisik (Asri, 1986).
Menurut Kotler dan Armstong (2006) produk merupakan semua hal yang
dapat ditawarkan kepada pasar yang meliputi objek-objek fisik, jasa, acara, orang,
tempat, organisasi, ide, ataupun bauran entitas-entitas ini dengan tujuan untuk
menarik perhatian, akuisisi, penggunaan, atau konsumsi yang dapat memuaskan
suatu keinginan ataupun kebutuhan. Jadi, produk dapat berupa manfaat tangible
maupun intangible yang dapat memuaskan konsumen. Produk merupakan
variabel yang penting dari bauran pemasaran karena jika produk yang ditawarkan
oleh perusahaan tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen maka
penjualan produk tersebut akan sulit dan daur hidup produk menjadi lebih singkat
(Surya dan Setiyaningrum, 2009).

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)


Pemasaran secara luas didefinisikan sebagai proses social dan manajerial
dimana pribadi atau organisasi memperoleh apa yang mereka butuhkan dan
inginkan melalui penciptaan dan pertukaran nilai dengan yang lain, dalam konteks
bisnis yang lebih sempit, pemasaran mencakup menciptakan hubungan pertukaran
muatan nilai dengan konsumen yang menguntungkan (Kotler dan Armstrong,
2006).
Asri (1986) mengatakan pemasaran merupakan usaha yang terpadu untuk
mengembangkan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada usaha pemuasan
kebutuhan dan keinginan pembeli, guna mendapatkan penjualan yang
menghasilkan laba. Sementara itu Kotler (2000) dalam Alma (2009) menyatakan
bahwa pengertian pemasaran dapat dilihat dalam 2 sudut pandang, yaitu:
marketing adalah proses dimana sesorang atau kelompok orang dapat memenuhi
need dan want melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran barang dan jasa.
Dari sudut pandang manajerial marketing merupakan proses merencanakan
kosepsi, harga, promosi, dan distribusi ide, menciptakan peluang yang
memuaskan individu dan sesuai dengan tujuan organisasi.
Berdasarkan pengertian pemasaran menurut para ahli diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa pemasaran merupakan suatu proses dalam upaya membangun
11
hubungan konsumen dengan usaha yang terpadu dalam upaya menciptakan nilai
bagi pelanggan serta mendapatkan kembali nilai dari konsumen. Usaha terpadu
yang dimaksud dalam pemasaran ialah untuk memperoleh hasil yang optimal,
meningkatkan penjualan, serta pada ahirnya dapat menaikkan keuntungan, segala
kegiatan dilakukan secara bersama-sama, saling berhubungan serta saling
mempertimbangkan antara yang satu dengan yang lainnya. Salah satu tujuan
utama dari aktivitas pemasaran dalam perusahaan seringkali dilihat dari
pencapaian loyalitas konsumen (Siregar, 2004. dalam Aryani dan Rosinta, 2010).
Dalam memastikan bahwa masing-masing produk dapat memenuhi peranan
diantaranya yaitu mencapai sasaran-sasaran penjualan, bagian pasar, serta laba
untuk suatu produk maka dikembangkan suatu strategi pemasaran. Guiltinan dan
Paul (1990) mengemukakan bahwa strategi pemasaran merupakan pernyataan
pokok tentang dampak yang diharapkan akan dicapai dalam hal permintaan pada
pasar target tertentu, pendekatan terkunci untuk menerapka strategi-strategi ini
ditentukan lewat program-program pemasaran yang spesifik, seperti program
periklanan, program promosi, program pengembangan produk, serta program
penjualan dan distribusi. Terdapat 2 variabel besar dalam strategi pemasaran yaitu
variabel yang tidak dapat di kontrol dan variabel yang dapat dikontrol. Variabel
yang dapat dikontrol terbagi kedalam 4 macam diantaranya ialah marketing mix
(Triyana, 1985 dalam Alma, 2009).
Kotler (2000, dalam Hurriyati, 2008) mengatakan bahwa bauran pemasaran
adalah sekumpulan alat pemasaran yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk
mencapai tujuan pemasarannya dalam pasar sasarannya. Selain itu, Hurriyati
(2008) mengemukakan bahwa marketing mix merupakan unsur-unsur pemasaran
yang saling terkait, dibaurkan, diorganisir, dan digunakan secara tepat, sehingga
perusahaan dapat mencapai tujuan pemasaran dengan efektif, sekaligus
memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Asri (1986) mendefinisikan
marketing mix sebagai suatu variabel-variabel pemasaran yang dapat dikontrol
yang akan di kombinasikan oleh perusahaan untuk memperoleh hasil yang
maksimal

Loyalitas Konsumen


Dalam suatu bisnis loyalitas konsumen merupakan hal yang sangat penting
bagi perusahaan, dimana salah tujuan utama dari aktivitas pemasaran perusahaan
bermuara pada pencapaiaan loyalitas konsumen. Menurut Reichheld dan Sasser
(1990) dalam Aryani dan Rosinta (2010) loyalitas memiliki korelasi yang positif
terhadap performa bisnis. Loyalitas konsumen secara umum dapat dikatakan
sebagai suatu kesetiaan seseorang terhadap suatu produk, baik berupa barang
maupun jasa tertentu. Dick dan Basu (1994 dalam Surya dan Setiyaningrum,
2009) mendefinisikan loyalitas konsumen sebagai kekuatan hubungan antara
sikap relatif individu terhadap suatu kesatuan (merek, jasa, toko, atau pemasok)
dan pembelian ulang. Loyalitas konsumen menekankan pada runtutan pembelian
yang dilakukan konsumen seperti proporsi dan probabilitas pembelian.
Hurriyati (2008) menyatakan bahwasanya loyalitas adalah komitmen
konsumen bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau untuk
melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih secara konsisten dimasa
yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran
memiliki potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku. Loyalitas pelanggan
merupakan reaksi atau akibat dari terciptanya kepuasan pelanggan sebagai
implementasi dari keberhasilan pelayanan yang berkualitas dalam memenuhi
harapan pelanggan (Pratiwi, 2010, dalam Siwi, 2011).
Kotler (2001, dalam Samuel dan Foedjiawati, 2005) mengatakan bahwa
loyalitas dapat dicapai melalui dua tahap, yaitu: (1) Perusahaan harus mempunyai
kemampuan dalam memberikan kepuasan kepada konsumennya agar konsumen
mendapatkan suatu pengalaman positif, berarti pembelian ulang diprioritaskan
pada penjualan sebelumnya. (2) Perusahaan harus mempunyai cara untuk
mempertahankan hubungan yang lebih jauh dengan konsumennya dengan
menggunakan strategi forced loyalty (kesetiaan yang dipaksa) supaya konsumen
mau melakukan pembelian ulang.
Loyalitas konsumen dapat dilihat dari karakteristik yang dimilikinya,
sebagaimana yang diungkapkan Griffin (2002, dalam Hurriyati, 2008), konsumen
yang loyal memiliki karakteristik sebagai berikut: 1). Melakukan pembelian
secara teratur. 2). Tidak membeli diluar lini produk atau. 3). Merekomendasikan
produk kepada orang lain. 4). Menunjukkan kekebalan dari daya tarik produk
sejenis dari pesaing.
Sejalan dengan hal tersebut, Grrifin (2002, dalam Hurriyati, 2008)
mengemukakan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh perusahaan apabila
memiliki konsumen yang loyal antara lain: 1. Dapat mengurangi biaya dalam
pemasaran (karena biaya untuk menarik pelanggan yang baru lebih mahal). 2.
Dapat menggurangi biaya transaksi. 3. Dapat menggurangi biaya turn over
konsumen (karena penggantian konsumen yang lebih sedikit). 4. Dapat
meningkatkan nilai penjualan silang, yang akan memperbesar pangsa pasar
perusahaan. 5. Mendorong word of mouth yang lebih positif, dengan asumsi
bahwa pelanggan yang loyal juga berarti mereka merasa puas. 6. Dapat
mengurangi biaya kegagalan (seperti biaya penggantian, dll).
Menurut Mamang dan Sopian (2013) dalam upaya mengukur loyalitas
konsumen dibutuhkan beberapa atribut penilaian, yaitu: 1). Mengatakan hal yang
positif tentang perusahaan kepada orang lain. 2). Merekomendasikan perusahaan
kepada orang lain yang meminta saran. 3). Mempertimbangkan bahwa perusahaan
merupakan pilihan pertama ketika melakukan pembelian jasa. 4). Melakukan
lebih banyak bisnis atau pembelian dengan perusahaan dalam beberapa tahun
yang akan datang.
Lebih jauh Tjipjono (2005, dalam Mamang dan Sopian, 2013)
mengemukakan enam indicator yang dapat digunakan untuk mengukur loyalitas
konsumen, yaitu: 1). Pembelian ulang, 2). Kebiasaan mengkonsumsi merek, 3).
Rasa suka besar kepada merek, 4). Ketetapan pada merek, 5). Keyakinan bahwa
merek tertentu merek yang terbaik, 6). Perekomendasian merek kepada pihak lain.
Tidak berbeda dengan jenis usaha lainnya, pada usaha berbasis coffee shop
konsumen minuman kopi dengan kepuasan konsumen yang terpenuhi akan
cenderung memiliki penilaiaan yang relatif positif terhadap suatu kesatuan
(produk, harga, lokasi, serta promosi) minuman kopi serta memiliki kemungkinan
yang lebih besar untuk dapat melakukan pemebelian ulang, bahkan akan
merekomendasikannya kepada orang lain. Dengan kata lain, semakin tinggi
tingkat kepuasan konsumen maka akan menyebabkan semakin besar pula
kemungkinan konsumen tersebut untuk lebih loyal terhadap suatu produk
minuman kopi.

Loyalitas Pelanggan


Loyalitas merupakan satu-satunya nilai yang diciptakan perusahaan
dengan membangun nilai yang berasal dari pelanggan yang merupakan semua
nilai perusahaan sekarang dan di masa depan, suatu bisnis disebut sukses jika
berhasil mendapatkan, mempertahankan, dan menumbuhkan pelanggan
(Maftukhah, 2015). Loyalitas dari sudut pandang Wedarini (2013) menyatakan
bahwa itu wujud dari perilaku dalam pengambilan sebuah jkeputusan dalam
melakukan transaksi beli dengan skala terus menerus ke produk yang dipilih.
Loyalitas pelanggan merupakan suatu bentuk perilaku pelanggan yang
mengarah pada kemungkinan pembelian ulang, meningkatnya loyalitas pada
harga, dan memberikan rekomendasi pada pihak lain (Hidayat dan Firdaus, 2014).
Sedangkan menurut dari Wedarini (2013) Loyalitas pelanggan itu sebuah
komitmen dari pelanggan yang sudah lama atau secara mendalam akan kembali
lagi melanggan atau menggunakan barang atau jasa yang dia pilih dimasa yang
akan datang walaupun ada perubahan pemasaran dan perilaku

Kepercayaan Pelanggan


Seperti sebuah artikel menurut Hidayat dan Firdaus (2014) kepercayaan
dalam sebuah bisnis dipandang sebagai salah satu dari anteseden yang paling
relevan dari suatu hubungan yang stabil dan kolaboratif. Kepercayaan bisa juga di
katakan bahwa bisa terjadi jika ketika salah satu pihak memiliki kepercayaan
dalam pertukaran mitra kehandalan dan integritas. Bahrudin dan Siti (2015)
mengemukakan bahwa kepercayaan adalah variabel kunci dalam mengembangkan
keinginan yang tahan lama untuk terus mempertahankan hubungan jangka
panjang.
Membangun Kepercayaan sangat penting karena kepercayaan merupakan
kunci keberlangsungan hidup merek dalam jangka panjang. Kepercayaan
pelanggan terhadap sebuah barang atau jasa dapat didapatkan apabila pemasar
memiliki hubungan baik atau emosional yang positif dengan pelanggannya.
Hidayat dan Firdaus (2014) menyatakan bahwa jika salah satu pihak mempercayai
pihak yang lain maka akhirnya akan melahirkan niat perilaku positif terhadap
pihak kedua. Kepercayaan Pelanggan adalah semua pengetahuan yang dimiliki
oleh pelanggan dan semua kesimpulan yang dibuat pelanggan tentang objek,
atribut, dan manfaatnya. Objek dapat berupa produk, orang, perusahaan, dan
segala sesuatu dimana seseorang memiliki kepercayaan dan sikap. Atribut adalah
karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki objek (Bahrudin
dan Siti, 2015).

Kepuasan pelanggan


Kepuasan adalah tingkat keadaan perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja suatu produk yang ia rasakan dibanding harapannya
menurut (Hidayat dan Firdaus, 2014). Kepuasan adalah tingkat keadaan perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja suatu produk yang ia rasakan dibanding
harapannya (Rivai dan Wahyudi, 2017). Kepercayaan adalah semua pengetahuan
yang dimiliki oleh pelanggan dan semua kesimpulan yang dibuat pelanggan
tentang objek, atribut dan manfaatnya. Mengingat kepercayaan merupakan
pengetahuan kongnitif kita tentang sebuah objek, maka sikap merupakan
tanggapan perasaan atau afektif yang kita miliki tantang objek (Bahrudin dan Siti,
2015).
Kepuasan pelanggan merupakan suatu perasaan / kondisi emosional dari
pelanggan terhadap barang atau jasa yang mereka gunakan dan mereka akan
berusaha memakai atau menggunakan barang atau jasa yang sudah mereka
gunakan (Rivai dan Wahyudi, 2017). Menurut Bahrudin dan Siti (2015) kepuasan
pelanggan adalah sebagai keseluruhan sikap yang ditunjukan pelanggan atas
barang atau jasa setelah mereka memperoleh dan menggunakanya. Ini merupakan
pengalaman menggunakan atau mengkonsumsi barang atau jasa tersebut pasca
pembelian, pelanggan akan mengevaluasi kinerja produk sesuai dengan yang
diharapkan atau tidak, mereka akan mengalami emosi positif, negatif atau netral.

Kepercayaan


Kepercayaan didefenisikan sebagai persepsi kepercayaan terhadap
keandalan perusahaan yang ditentukan oleh konfirmasi sistematis tentang
harapan terhadap tawaran perusahaan. Zaltman (2015), menyatakan bahwa
kepercayaan adalah kesediaa individu untuk menggantungkan dirinya pada
pihak lain yang terlibat dalam pertukaran karena individu mempunyai
keyakinan (confidence) kepada pihak lain tersebut. Sedangkan Lau (2017),
menyatakan bahwa kepercayaan pelanggan pada merek (brand trust)
didefenisikan sebagai keinginan pelanggan untuk bersandar pada sebuah
merek pada resiko yang dihadapi karena ekspektasi terhadap merek itu akan
menyebabkan hasil yang positif. Menurut Rousseau et al dalam Donni Juni
(2017) Kepercayaan adalah wilayah psikologis yang merupakan perhatian
untuk menerima apa adanya berdasarkan harapan terhadap perilaku yang baik
dari orang lain.
Dari definisi para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan
merupakan sebuah harapan yang dipegang oleh sebuah individu atau sebuah
kelompok ketika perkataan, janji, pernyataan lisan atau tulisan dari seseorang
individu atau kelompok lainnya dapat diwujudkan.
Karakteristik Kepercayaan Menurut Donni Juni (2017) kepercayaan
dibangun atas sejumlah karakteristik. Berbagai karakteristik yang berkenaan
dengan kepercayaan adalah sebagai berikut:
1 Menjaga Hubungan
Konsumen yang percaya akan senantiasa menjaga hubungan yang baik
antara dirinya dengan perusahaan karena ia menyadari bahwa
hubungan yang baik akan memberikan dampak yang menguntungkan
bagi dirinya.
2 Menerima Pengaruh
Konsumen yang memiliki kepercayaan yang tinggi akan mudah
dipengaruhi sehingga biaya perusahaan/pemasaran untuk program
pemasaran menjadi semakin murah.

  1. Terbuka dalam Komunikasi
    Konsumen yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap perusahaan
    akan memberikan informasi yang konstruktif bagi perusahaan sehingga
    arus informasi menjadi tidak tersendat.
  2. Mengurangi Pengawasan
    Konsumen yang percaya biasanya jarang mengkritik sehingga ia
    mengurangi fungsi pengawasan nya terhadap perusahaan/pemasar.
    5 . Kesabaran
    Konsumen yang percaya akan memiliki kesabaran yang berlebih
    dibandingkan dengan konsumen biasa.
    6 . Memberikan Pembelaan
    Konsumen yang percaya akan memberikan pembelaan kepada
    perusahaan/pemasar ketika produk yang dikonsumsinya dikritik oleh
    kompetitir atau pengguna lainnya.
    7 .Memberi Informasi yang Positif
    Konsumen yang percaya akan selalu memberikan informasi yang
    positif dan membangun bagi perusahaan.
  3. Menerima Risiko
    Konsumen yang percaya akan menerima resiko apapun ketika ia
    memutuskan untuk menggunakan produk yang dihasilkan oleh
    perusahaan.
  4. Kenyamanan
    Konsumen yang percaya akan melakukan pembelian secara berulang –
    ulang karena ia percaya bahwa perusahaan/pemasar memberikannya
    kenyamanan untk mengkonsumsi produk dalam jangka pendek maupun
    panjang.
  5. Kepuasan
    Konsumen yang percaya akan mudah untuk diberikan kepuasan
    dibanding konsumen yang tidak percaya.
    Menurut Nguyen et al (2014) indikator kepercayaan sebagai berikut:
    a. Trustworthy yaitu menganggap pihak lain terpercaya untuk
    melakukan suatu pekerjaan.
    b. Benefit yaitu percaya bahwa suatu kegiatan akan mendatangkan
    manfaat
    c. Promise yaitu percaya bahwa pihak lain dapat menepati janji
    d. Job Right yaitu percaya bahwa pihak lain dapat melakukan
    pekerjaan dengan benar

Persepsi Masyarakat


Keller (2016) menyatakan bahwa persepsi adalah proses yang
digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi
masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.
Menurut Yuniarti (2015) persepsi adalah sebagai proses mengorga-nisasikan
dan memaknakan kesan-kesan indra untuk memberikan arti terhadap
lingkungannya. Seseorang memersepsikan sesuatu dapat berbeda dengan
kenyataan yang objektif. Sedangkan menurut Sunyoto (2014) Persepsi adalah
sebagai proses di mana seorang memilih, mengorganisasikan dan mengartikan
masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti di dunia
ini. Persepsi dapat melibatkan penafsiran seorang atas suatu kejadian
berdasarkan pengalaman masa lalunya. Indikator persepsi menurut Machfoedz
dalam Nafilah (2012) terdiri dari :

  1. Seleksi
    Seleksi adalah proses dimana konsumen memilih stimulus yang akan
    diterima oleh panca indranya berdasarkan kebutuhan yang dipengaruhi
    oleh masa lalu dan kebutuhan yang menjadi motivasinya.
  2. Organisasi
    Organisasi merupakan proses dimana konsumen mengkategorikan atau
    mengumpulkan kelompok stimulus menjadi satu kesatuan yang utuh
    dan menyeluruh.
    3 Interpretasi
    Interpretasi merupakan keadaan yang terjadi ketika seseorang
    memberikan makna terhadap masukan informasi yang dipengaruhi oleh
    faktor karakteristik individu, stimulus, situasional dan bagaimana
    informasi tersebut ditampilkan. Kedekatan interpretasi konsumen
    dipengaruhi oleh harapan dan motif dari konsume

Kepuasan konsumen


Atmaja (2018), mengemukakan bahwa kepuasan masyakrakat perasaan
senang atau kecewa seseorang yang dihasilkan dan membandingkan kinerja
atau hasil yang dirasakan produk atau layanan dengn harapan. Suryati (2015),
kepuasan konsumen adalah tingkat dimana suatu pencapaian performa dari
sebuah produk yang diterima oleh konsumen sama dengan ekspektasi
konsumen itu sendiri. Kotler (2016) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
diberi peringkat dengan skala satu sampai lima. Pada level kepuasan
pelanggan yang sangat rendah, level satu para pelanggan cenderung
menjauhi perusahaan dan menyebarkan cerita jelek tentang perusahaan
tersebut. Pada level dua sampai empat, pelanggan agak puas tapi pelanggan
masih merasa mudah untuk beralih ketika tawaran yang lebih baik muncul.
Pada level lima, pelanggan cenderung membeli ulang dan bahkan
menyampaikan cerita pujian tentang perusahaan.
Kepuasan konsumen mengacu Kotler dan Keller dalam Rafiah (2019)
ialah rasa kecewa atau puas konsumen setelah menggunakan jasa dari
membandingkan kinerja yang dipersepsikan dengan ekspektasi konsumen.
Konsumen akan puas jika kinerja suatu jasa sesuai yang diharapkan.
Ketidakpuasan terjadi apabila kinerja
suatu jasa yang diharapkan tidak sesuai. Tjiptono (2015) menyebutkan
bahwa ada beberapa poin penting mengenai kepuasan, yaitu, perasaan yang
timbul setelah mengevaluasi pengalaman pemakaian produk, respon
pelanggan terhadap evaluasi persepsi atau perbedaan antara harapan awal
sebelum pembelian dan kinerja aktual produk sebagaimana dipersepsikan
setelah memakai atau mengkonsumsi produk bersangkutan, evaluasi purna
beli keseluruhan yang membandingkan persepsi terhadap kinerja produk
dengan ekspektasi prapembelian, ukuran kinerja ‘produk total’ sebuah
organisasi dibandingkan serangkaian keperluan pelanggan (customer
requirements). Menurut Kotler (2016) Ukuran variabel kepuasan pelanggan
meliputi:
a. Puas terhadap produk
b. Puas terhadap pilihan produk
c. Merekomendasikan produk kepada orang lain
d. Memiliki keinginan untuk tidak berpindah ke produk lain
e. Melakukan pembelian ulang
Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen menurut
tjiptono dalam suyati (2015) :
a. Kinerja ( performance)
b. Karakteristik operasi pokok dari suatu produk inti yang dibeli ( core
product)
c. Keistimewaan tambahan ( features )
d. Keandalan (reliability)
e. Kesesuaian dengan spesifikasi ( conformance to specification)
f. Daya tahan ( durability)
g. Kekuatan pelayanan, (Serviceability)
h. estetika dan kualitas yang dipersepsikan ( perceived quality)

Indikator Loyalitas Konsumen.


Konsumen yang loyal merupakan aset penting bagi perusahaan. Hal ini
dapat dilihat dari indikator yang dimilikinya. Griffin (dalam Sangadji dan
Sopiah, 2015) menyatakan bahwa konsumen yang loyal memiliki indicator
sebagai berikut :
a. Melakukan pembelian secara teratur (makes regular repeat purchases)
b. Melakukan pembelian di semua lini produk atau jasa (purchases across
product and service lines)
c. Merekomendasikan produk lain (refers other)
d. Menunjukkan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari pesaing
(demonstrates on immunity to the full of the competition).
Berdasarkan dari beberapa indikator loyalitas konsumen yang
dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa indikator loyalitas konsumen
yaitu adanya runtutan pembelian dan proporsi pembelian, atau probabilitas
pembelian, tingkat atau ukuran kedekatan konsumen pada sebuah produk
atau jasa, adanya perasaan positif terhadap produk atau jasa, penggunaan
produk atau jasa yang sama secara teratur.

Hubungan Antara Kualitas Produk dan Loyalitas Konsumen Yang
Dimediasi Kepuasan Konsumen


Kualitas produk sangat berhubungan dengan loyalitas konsumen, jika
barang dan jasa dibeli cocok dengan apa yang diharapkan konsumen, maka akan
dapat kepuasan atau loyalitas dan sebaliknya. Menurut (Goestach dan Davis, 2011) kualitas produk merupakan suatu kondisi dinamis yang dihubungkan
dengan barang dan jasa, manusia, proses dari lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan. Selain kualitas produk ada juga faktor lain yang
mempengaruhi loyalitas pelanggan yaitu kepuasan. Menurut (Swastha, 2012)
konsumen akan setia dan loyal pada sautu merek apabila konsumen mendapat
kepuasan dari merek tersebut. Telah banyak penelitian terdahulu mengenai
kepuasan sebagai variabel moderasi, diantaranya adalah penelitian
(Dharmayanti, 2006) yang menyimpulkan bahwa service performance memiliki
pengaruh langsung yang kuat terhadap loyalitas, dan service performance yang
baik tidak selalu menghasilkan kepuasan. Hadirnya kepuasan sebagai
moderating variable bukan sebagai intervening variable adalah tepat, karena
telah terbukti bahwa kepuasan mampu memoderate pengaruh service
performance terhadap kepuasan.
Terciptanya kepuasan pelanggan dapat memberi manfaat, diantaranya
hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya menjadi harmonis.
Hubungan tersebut merupakan dasar yang baik bagi pembelian ulang,
terciptanya loyalitas pelanggan, dan membentuk suatu rekomendasi kepada
orang lain yang menguntungkan bagi perusahaan (Tjiptono, 2008).

Hubungan Antara Kepuasan Konsumen dan Loyalitas Konsumen


Kepuasan konsumen adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan
kebutuhan konsumen dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila
pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen.
Pengukuran kepuasan konsumen merupakan elemen penting dalam
menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih selektif apabila
konsumen tidak puas terhadap sautu pelayanan yang disediakan, maka
pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Adanya
kepuasan konsumen maka akan dapat menciptakan keputusan pembelian.
Sesuai dengan terori (Kotler & Keller, 2013) bahwa kepuasan konsumen
akan mempengaruhi perilaku konsumen. Hasil penelitian (Andreas, 2016),
menunjukkan kepuasan konsumen berpengaruh signifikan terhadap loyalitas
konsumen karena apabila kepuasan konsumen mengalami peningkatan maka
loyalitas konsumen juga mengalami peningkatan.

Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen adalah suatu perasaan yang dirasakan oleh seseorang
setelah pemakaian dan mengetahui manfaat suatu produk (Kotler, Manajemen
Pemasaran, 2007). Kepuasan konsumen dapat didefinisikan sebagai sikap
umpan balik konsumen pada tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja aktual
yang dirasakan oleh konsumen dalam ketidaksesuaian setelah pemakaian
(Rangkuti, 2008). Kepuasan atau tidak kepuasan merupakan respon konsumen
pada konfirmasi adanya ketidaksesuaian antara harapan sebelumnya ( atau
aturan kinerja lainnya ) dan kinerja produk yang dirasakan setelah pemkaian
produk atau jasa (Tjiptono, 2002). Kepuasan juga diartikan sebagai kepercayaan
konsumen yang menjadikan konsumen setia pada perusahaan yang harus dijaga
dengan baik agar konsumen tidak pindah ke yang lain (Hunt, 1991).
Hasil evaluasi konsumen tentang kesesuaian antara kinerja dan harapan atas
produk yang diekspresikan dengan perasaan puas maka kepuasan konsumen di
ukur dengan menggunakan 4 butir pernyataan yang dikembangkan oleh peneliti
a. Saya puas menggunakan kerudung DORA dengan bahan yang nyaman
b. Saya puas dengan bahan kerudung DORA yang tidak tipis
c. Saya puas dengan kerudung DORA yang tidak mudah kusut
d. Saya puas dengan pilihan warna kerudung DORA
Penelitian yang dilakukan (Lawrence A Crosby, 1987) menyebutkan bahwa
ketidakpuasan adalah salah satu penyebab berpindahnya konsumen pada
perusahaan lain. Penelitian lain (Fornel, 1987) juga menjelaskan bahwa
konsumen atau pelanggan yang puas akan menjadi pelanggan yang loyal, dan
konsumen yang loyal adalah dikarenakan tingkat kepuasan yang di rasa oleh
konsumen tinggi

Kualitas Produk


Kualitas merupakan suatu produk dan jasa yang melalui beberapa tahapan
proses dengan memperhitungkan nilai suatu produk dan jasa tanpa ada
kekurangan sedikitpun nilai suatu produk dan jasa guna menghasilkan produk
dan jasa sesuai harapan tinggi dari pelanggan maupun konsumen. Untuk
mencapai kualitas produk yang diinginkan maka diperlukan standarisasi
kualitas.
Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan
fungsinya meliputi daya tahan keandalan, ketepatan kemudahan operasi dan
perbaikan, serta atribut lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk
perusahaan dapat menerapkan program “Total Quality Manajemen (TQM)”.
Selain mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk
meningkatkan nilai konsumen (Tjiptono, 2008).
Menurut (Kotler & Amstrong, Manajemen Pemasaran, Edisi 12, 2008)
kualitas produk adalah karakteristik produk yang bergantung pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau
diimplementasikan. Kualitas produk dibentuk beberapa indikator antara lain
kemudahan penggunaan, daya tahan, kejelasan fungsi, dan keragaman ukuran
produk (Kotler & Amstrong, 2013).
Menurut (Tjiptono, 2008) kualitas produk merupakan suatu penilaian
konsumen terhadap keunggulan atau keistimewaan suatu produk. Berdasarkan
uraian diatas dalam penelitian ini menggunakan pendekatan konsep dari
(Tjiptono, 2008), dengan indikator yang relevan :
a. Pemilihan bahan, pemilihan dari kegunaan dan kualitas bahan kerudung
DORA
b. Desain produk, model dan warna kerudung produk DORA
c. Keragaman ukuran produk, memiliki pilihan produk yang beragam

Loyalitas Konsumen


Loyalitas konsumen adalah sebagai komitmen atau kesetiaan konsumen
pada merek, toko, pemasok, terlihat pada pembelian ulang yang teratur
berdasarkan sikap yang positif yang ada pada konsumen (Tjiptono, Manajemen
Jasa, 2000). Loyalitas konsumen secara umum diartikan sebagai kesetiaan atau
konsisten seseorang atas produk, baik barang atupun jasa tertentu. Konsumen
yang terikat pada merek tertentu adalah konsumen yang setia atau konsisten dan
akan membeli produk yang sama sekalipun tersedia banyak pilihan lainnya
(Tjipono, 2007).
Menurut (Kotler & Keller, 2012), loyalitas atau kesetiaan didefinisikan
sebagai komitmen yang dipegang kuat untuk membeli atau berlangganan lagi
produk atau jasa tertentu di masa depan. Loyalitas sebagai besarnya konsumsi
dan frekuensi pembelian yang digunakan oleh konsumen suatu perusahaan dan
menurut (Mittal, 2004) loyalitas konsumen adalah sikap yang positif dan terlihat
dari pembelian ulang yang teratur yang dilakukan oleh konsumen terhadap suatu
merek toko, atau pemasok. Loyalitas adalah sikap terhadap produk terwujud dan
kemudian memutuskan membeli atau tidak dan di ekspresikan oleh konsumen
dalam bentuk perasaan suka atau tidak suka (Dharmestha, 2002) Loyalitas tinggi
apabila konsumen mempunyai keteguhan pada produk atau jasa yang dipilih,
sedangkan loyalitas rendah apabila konsumen mudah terpengaruh dengan
produk milik orang lain. Indikator yang digunakan adalah diacu dari (Kotler &
Keller, 2012) :
a. Pembelian ulang
Pembelian ulang adalah kemampuan konsumen untuk melakukan
pembelian ulang.
b. Rekomendasi
Rekomendasi adalah penyampaian secara langsung mengenai
pengalaman pembelian yang baik yang dilakukan oleh konsumen kepada
orang lain

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen


Menurut Zeithaml and Bitner (dalam Suparmi dan Handoko, 2018: 312)
menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen yaitu:
a. Fitur produk dan jasa
Kepuasan pelanggan terhadap produk dan jasa dipengaruhi oleh
penilaian pelanggan terhadap fitur produk dan jasa, banyak sekali perusahaan
yang menggunakan kelompok khusus guna menentukan fitur dan atribut
penting dari jasa dan kemudian mengukur persepsi pelanggan dengan fitur
tersebut. Penelitian juga menunjukkan bahwa keinginan pelanggan memiliki
berbagai fariasi seperti tingkat harga dengan kualitas atau juga dengan tingkat
keramahan karyawan.
b. Emosi pelanggan
Emosi juga sangat mempengaruhi persepsi pelanggan terhadap barang
maupun jasa. Emosi dapat berupa pikiran atau perasaan konsumen hal ini
sangat berpengaruh terhadap respon pelanggan terhadap jasa maupun produk.
Emosi konsumen juga dapat disebabkan dari pengalaman mereka
mengkonsumsi atau menggunakan barang yang mempengaruhi kepuasan
konsumen.
c. Atribut untuk keberhasilan atau kegagalan
Saat pelanggan dihadapkan dengan kenyataan sesuai yang mereka
harapkan atau lebih baik maupun lebih buruk dari yang mereka harapkan
pelanggan juga cenderung melihat alasan, dan penilaian merek terhadap alasan
yang dapat mempengaruhi kepuasan konsumen.
d. Persepsi tehadap kewajaran dan keadilan
Kepuasan pelanggan juga dipengaruhi oleh kewajaran dan keadilan,
pelanggan akan membandingkan apakah mereka dilayani sama dengan halnya
orang lain, apakah justru pelanggan lain dilayani dengan lebih baik
dibandingkan dengan konsumen tersebut, dan juga apakah pelanggan lain
diberikan barang yang kualitasnya lebih baik dibandingkan yang pelanggan
tersebut dapatkan.
e. Pelanggan lain, keluarga, dan rekan kerja
Orang lain juga dapat menjadi tolak ukur kepuasan konsumen, seperti
halnya saat melakukan liburan bersama dengan teman atau keluarga dan pada
saat itu menemukan pelayanan jasa yang tidak sesuai harapan yang terjadi
pada orang lain, hal ini sangat mempengaruhi kepuasan konsumen yang
dipengaruhi oleh cerita yang kemungkinan akan diceritakan kembali pada
orang lain dan juga akan menjadi memori suatu peristiwa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasaan konsumen menurut Moenir
(dalam Tresya dkk, 2018: 219) adalah sebagai berikut :
a. Kesopanan petugas layanan
Kesopanan dan keramahan petugas adalah sikap dan perilaku petugas
dalam memberikan pelayanan kepada konsumen secara sopan dan ramah
serta saling menghargai dan menghormati, hal ini sangat berpengaruh pada
kepuasaan konsumen.
b. Cara menyampaikan pada konsumen
Sikap yang harus dimiliki pelayan dalam menyampaikan pada
konsumen yaitu memiliki sikap yang ramah, penuh perhatian, dan juga
memiliki rasa bangga terhadap perusahaan.
c. Waktu dan ketepatan
Kepuasan pelanggan juga dipengaruhi oleh ketepatan waktu yang
mengandung arti bahwa pelaksanaan pelayanan pada konsumen dapat
diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
d. Keramahan dari seorang pelayan
Berdasarkan data yang diperoleh bahwasannya mayoritas konsumen
memberikan penilaian yang baik pada perusahaan setelah mereka
mendapatkan pelayanan yang baik atau yang mereka inginkan. Hal ini dapat
dilihat dari penilaian konsumen terhadap kesamaan perlakuan dan pemerataan
pelayanan

Aspek-aspek Kepuasan Konsumen

Menurut Kotler (dalam Puspaningrum, 2018: 9) aspek-aspek kepuasan
konsumen diantaranya adalah:
a. Loyal terhadap produk
Saat konsumen merasa puas dengan produk atau jasa yang telah mereka
gunakan maka kemungkinan besar mereka akan kembali mengulangi
pembelian pada produsen yang sama, dengan hal ini bagaimana cara dari
produsen mampu memberikan sebuah trobosan jika harga bisa diturunkan
semaksimal mungkin akan tetapi kualitas produk yang dihasilkan mempunyai
kualitas yang tidak kalah dengan produk lain, maka konsumen akan sangat
merasakan puas dalam membeli produk atau menggunakan jasa tersebut.
b. Biaya
Kebanyakan konsumen akan merasa keberatan jika dikenakan biaya
tambahan setelah kesepakatan harga yang telah ditentukan antara produsen
dan konsumen, jika produsen masih menerapkan adanya biaya tambahan maka
konsumen akan berpikir ulang saat akan membeli barang atau jasa yang telah
ditawarkan.
c. Promosi
Promosi merupakan suatu kegiatan dimana dalam setiap promosi selalu ada
event atau acara yang dihadiri oleh banyak orang sehingga hal ini dapat
dijadikan alat guna memberikan informasi atau iklan kepada konsumen terkait
dengan produk atau jasa yang ditawarkan.
Sabarguna (dalam Hariaji, 2019: 66) menyatakan ada beberapa aspek dari
kepuasan konsumen diantaranya adalah:
a. Aspek kenyamanan
Aspek kenyamanan dapat meliputi antara lain lokasi perusahaan apakah
lokasinya strategis, berdekatan dengan fasilitas umum, tingkat kebersihan,
serta kenyamanan
b. Aspek pelayanan
Aspek ini meliputi keramahan karyawan dalam menyambut dan
melayani konsumen, penyampaian informasi kepada konsumen yang
komunikatif, responsif, suportif, dan juga cekatan saat melayani konsumen.
c. Aspek kompetensi teknis
Aspek ini meliputi pengalaman juga keberanian saat melakukan tindakan.
d. Aspek harga
Aspek ini meliputi mahal atau terjangkaunya suatu produk barang dan
jasa yang diinginkan oleh konsumen.
Aspek-aspek kepuasan konsumen menurut Indrasari (2019) antara lain
sebagai berikut:
a. Warranty Coasts
Warranty Coats adalah sebuah jaminan yang merupakan bagian dari
kontrak, atau disebut juga penggantian atau perbaikan barang maupun jasa.
b. Penanganan keluhan dari pelanggan
Mengatasi keluhan pelanggan hendaknya perusahaan membentuk prosedur
standar dengan mekanisme yang efektif dan efisien. Perusahaan juga harus
menyediakan perlengkapan yang digunakan untuk menampung keluhan dari
pelanggan.
c. Market share
Market share adalah sebuah strategi pemasaran yang mencakup sasaran
pasar yang luas menjadi kumpulan dari beberapa bagian kecil diantara
konsumen.
d. Survey kepuasan pelanggan
Survey kepuasaan pelanggan merupakan suatu tindakan dari perusahaan
guna mengetahui seberapa puas pelanggan terhadap produk dan pelayanan
yang diberikan oleh perusahaan.
Aspek-aspek kepuasan konsumen yang dikemukakan oleh Muhlis, Hariadi
dan Mahfuz, 2019: 4 yaitu:
a. Kehandalan
b. Daya tanggap
c. Jaminan
d. Empati
e. Keputusan konsumen
f. Bukti fisik suatu produk
Aspek-aspek kepuasan konsumen yang dikemukakan oleh Setiawan,
Qomariyah,Hermawan, 2019: 5 yaitu:
a. Daya tanggap
b. Jaminan perlindungan
c. Kualitas fisik yang menarik
d. Memahami kebutuhan pelanggan
e. Kehandalan

Pengertian Kepuasan Konsumen


Para ahli mengungkapkan pengertian kepuasan konsumen, Kotler (dalam
Lestari dan Samaniatun, 2020: 238) kepuasan konsumen merupakan tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja jasa atau produk dengan
manfaatnya sama dengan yang diharapkan atau lebih buruk dari yang diharapkan.
Sedangkan menurut Zeithaml dan Bitner (dalam Prestuti, 2020: 2) kepuasan
konsumen adalah tanggapan atau respon dari konsumen mengenai pemenuhan
kebutuhan. Kepuasan konsumen merupakan perasaan konsumen yang telah
membandingkan apa yang diharapkan dan apa yang ada pada realitanya, berikut
adalah pengertian dari kepuasan konsumen yang diungkapkan oleh Umar (dalam
Prestuti 2020, 4: 1658). Kepuasan konsumen yang dikemukakan oleh Tjiptono
(dalam Maramis dkk, 2018: 353) kepuasan konsumen barasal dari bahasa latin
Satis yang artinya cukup baik, memadai serta Facio yang artinya adalah
melakukan atau membuat, secara sederhana kepuasan konsumen dapat diartikan
dengan pemenuhan suatu kebutuhan atau juga membuat suatu barang yang
memadai atau layak.
Kepuasan konsumen menurut Tse dan Wilton (dalam Rahman, 2019: 215)
adalah tanggapan pelanggan terhadap penilaian sudut pandang atas pembedaan
antara harapan sebelum membeli atau menggunakan jasa dan kinerja terkini,
produk dan jasa bagaimana dipersepsikan setelah mengkonsumsi atau memakai
barang dan jasa tersebut. Sedangkan menurut Schnnars (dalam Tresya dkk, 2018:
216) bahwasannya pada dasarnya tujuan dari suatu bisnis adalah untuk
menciptakan konsumen yang merasa puas. Terciptanya kepuasaan konsumen
memberi banyak manfaat salah satunya adalah perusahaan dan konsumen menjadi
harmonis, memberikan kesan yang baik bagi pembeli dan juga terciptanya
loyalitas pelanggan, dan membentuk rekomendasi dari individu ke individu lain
yang menguntungkan produsen. Yuliato (dalam Orlando dan Harjati, 2022: 46)
mendefinisikan kepuasaan konsumen adalah perbedaan antara yang konsumen
harapkan dengan kenyataan yang di berikan perusahaan dalam usaha memenuhi
harapan konsumen.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Konsumen


Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas konsumen menurut Hasan
(Julyanthry dkk, 2022: 22) diantaranya:
a. Kepuasan konsumen
Kepuasan konsumen berpengaruh sangat kuat terhadap loyalitas
konsumen termasuk rekomendasi positif, niat membeli ulang dan lain-lain.
b. Kualitas produk dan kualitas layanan
Kualitas produk dan kualitas layanan dapat dikatakan memiliki
hubungan yang sangat kuat dengan loyalitas konsumen. Kualitas dapat
meningkatkan penjualan dan memperluas penguasaan pasar, juga dapat
mengarahkan konsumen kearah loyalitas.
c. Citra merek
Citra merek dapat muncul dari berbagai faktor penentu loyalitas
konsumen yang ikut serta dalam memberikan kontribusi membangun citra
perusahaan lebih positif.
d. Nilai yang dirasakan
Nilai yang dirasakan oleh konsumen dapat dijadikan suatu alat
perbandingan manfaat yang dirasakan serta biaya yang dikeluarkan konsumen
18
bisa menjadi faktor penentu loyalitas.
e. Kepercayaan
Kepercayaan bisa diartikan sebagai persepsi konsumen dalam
kemampuan suatu perusahaan tentang harapan terhadap tawaran dari pihak
produsen.
f. Relasional
Relasional konsumen dapat diartikan sebagai sudut pandang konsumen
terhadap keseimbangan perbandingan biaya dan manfaat, perbandingan biaya
dan keuntungan dalam hubungan yang terus menerus dan timbal balik.
g. Biaya peralihan
Biaya peralihan berkaitan dengan konsumen menjadi faktor penahan
atau pengendali diri dari perpindahan perusahaan.
Menurut Zikmud (dalam Asmi dan Mardatillah, 2021: 21) faktor-faktor
yang mempengaruhi loyalitas konsumen dalah sebagai berikut:
a. Statisfaction (kepuasan)
Merupakan perbandingan antara harapan sebelum melakukan pembelian
dengan kinerja yang telah disarankan sebelumnya.
b. Emotional Bonding (ikatan emosi)
Dalam hal ini dimana konsumen dapat terpengaruh oleh sebuah merek
yang memiliki daya tarik sendiri sehingga konsumen dapat diidentifikasi
dalam sebuah merek, ikatan yang tercipta dari sebuah merek yaitu ketika
konsumen merasakan ikatan yang kuat dengan konsumen lain yang
menggunakan produk maupun jasa yang sama.
19
c. Trust (kepercayaan)
Kemauan seseorang untuk mempercayakan suatu perusahaan penghasil
barang dan jasa untuk melakukam atau menjalankan sebuah fungsi.
d. Coice Reduction And Habit ( kemudahan)
Konsumen akan merasa mudah dan nyaman ketika situasi melakukan
pembelian dan juga pembayaran merasa dimudahkan.
e. History With The Company
Sebuah pengalaman yang telah dirasakan oleh konsumen pada
perusahaan yang kemudian dapat membentuk perilaku.
Amstrong dan Kotler (dalam Ilmiah, 2021: 19) mengungkapkan
beberapa faktor yang mempengaruhi loyalitas konsumen antara lain sebagai
berikut:
a. Kualitas produk
Kualitas produk merupakan gambaran sejauh mana produk tersebut
dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Definisi kualitas produk
mencerminkan kemampuan produk guna menjalankan tugasnya yang meliputi,
daya tahan, kemampuan atau kemajuan, kekuatan, juga kemudahan dalam
pengemasan serta perbaikan produk.
b. Kualitas pelayanan
Pelayanan atau kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung seseorang
dengan orang lain secara fisik dan menyediakan kepuasan pelanggan,
pelayanan yang mempengaruhi kepuasan konsumen dan juga menimbulkan
loyalitas adalah pelayanan yang cepat, tepat, menyenangkan, tidak
20
mengandung kesalahan, dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan
sebelumnya.
c. Desain produk
Desain merupakan perlengkapan penting pada suatu produk yang
berupa aspek fisik, dimana hal ini dapat mempengaruhi minat konsumen
untuk tetap membeli produk yang sedang produksi. Dan ini adalah salah satu
hal yang mempengaruhi loyalitas karena daya tarik desain untuk konsumen.
d. Harga yang wajar
Harga yang sesuai dengan kualitas, fungsi juga sangat mempengaruhi
loyalitas konsumen, jika harga yang ditawarkan begitu terjangkau dengan
kualitas yang tetap sama baik dan fungsinya maka pelanggan akan berfikir
kembali jika akan beralih pada produk maupun jasa lain.

Aspek-Aspek Loyalitas Konsumen


Menurut Griffin (dalam Maisa dan Widodo: 2020: 5) terdapat empat poin
aspek- aspek loyalitas konsumen diantaranya:
a. Repeat buyer (pembelian ulang)
Kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa
kali oleh konsumen, dikarenakan pemenuhan kebutuhan atau juga konsumen
menyadari bahwa kualitas produk yang akan dibeli merupakan kualitas yang
baik yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen.
b. Purchase across sproduct and service lines (melakukan pembelian antar
lini produk atau jasa)
Membeli satu barang atau seluruh barang dan jasa serta apa yang
mereka butuhkan dengan pembelian yang teratur, berkaitan dengan jenis
pelanggan ini telah kuat dan berlangsung dalam waktu yang sudah cukup
lama serta membuat konsumen tidak terpengaruh dengan produk lain.
c. Referes other (mereferensikan produk atau jasa kepada orang lain)
Mempromosikan jenis barang dan jasa yang digunakan kepada orang
lain, seperti ikut menawarkan atau menjelaskan hal apa saja yang unggul
yang telah dirasakan konsumen lain saat menggunakan barang atau jasa
tersebut, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
d. Demonstrates immunity to the full of competitions (menunjukkan daya
tahan terhadap pesaing)
Konsumen akan menunjukkan sikap tahan terhadap pasaing dengan
tetap berlangganan produk dan jasa yang telah konsumen pakai dalam jangka
waktu lama, konsumen akan tetap memilih barang dan jasa tersebut meskipun
daya saing yang ditawarkan oleh produsen lain, podusen lain akan menarik
perhatian dengan banyak hal seperti diskon besar-besaran dan lainnya. Tetapi
konsumen loyal akan tetap tahan terhadap pesaing yang menawarkan hal
tersebut.
Aspek-aspek loyalitas konsumen yang dikemukakan oleh Tjiptono (dalam
Sangadji dan Sopiah, 2013: 17) yaitu:
a. Pembelian ulang
b. Kebiasaan mengkonsumsi produk
c. Rasa suka yang besar pada produk atau jasa
d. Ketetapan produk atau jasa
e. Keyakinan bahwa produk tertentu adalah yang terbaik
f. Merekomendasikan produk atau jasa pada orang lain.
Aspek-aspek loyalitas konsumen yang dikemukakan oleh Wijayanti Titik
(dalam Sutarso dan Suyanto, 2019: 46) diantaranya:
a. Experiental marketing
Experiental marketing merupakan rencana pemasaran yang membuat
konsumen mendapat pengalaman menggunakan suatu gaya.
b. Experiences provider
Experiences provider merupakan pengalaman pelayanan yang didapatkan
oleh konsumen saat membeli suatu barang atau menggunakan suatu jasa
tertentu.
Aspek-aspek loyalitas konsumen yang dikemukakan oleh Gunawan dan
Djati (dalam Aldama dan putra, 2020: 4) yaitu:
a. Kepercayaan terhadap produk
b. Komitmen terhadap produk
c. Perubahan biaya
d. Perilaku mempublikasikan produk
Aspek-aspek loyalitas konsumen yang dikemukakan oleh Hasan (dalam
Aldama dan Putra, 2020: 4) yaitu:
a. Membeli ulang suatu barang
b. Komitmen pada produk
c. Merekomendasikan dari individu ke individu

Pengertian Loyalitas Konsumen


Menurut Yuniarti (dalam Patimah dan Nurfauzan, 2022) loyalitas adalah
sebesar apa konsumsi dan frekuensi yang dilakukan oleh pelanggan terhadap
suatu produk, pelanggan merasa telah menemukan produk atau barang yang
mereka inginkan dan memenuhi syarat kepuasan. Oliver (Mu‟ah dan Masram,
2014:11) mendefinisikan loyalitas konsumen merupakan komitmen yang
dipegang guna melakukan pembelian ulang atau berlangganan produk dan jasa
dimasa yang akan mendatang. Customer loyality adalah bentuk dari pembelian
ulang (repetitive purchase). Konsumen loyal akan melakukan pembelian berulang
pada produk yang sama, meskipun banyak produk menawarkan diskon dan
promosi. Kesediaan konsumen atau pelanggan untuk secara konsisten
menggunakan produk atau jasa pada perusahaan yang sama, serta menjadikan
sebagai pilihan pertama dari berbagai alternatif yang ada dan memenuhinya
dengan perilaku dan memberikan sikap serta kesadaran yang baik dengan
mengabaikan situasi yang memepengaruhinya, guna untuk berpindah ke produk
atau perusahaan lain.
Menurut Dick and Basu, Buttle and Burton (dalam Junaedi, 2015:17)
mendefinisikan loyalitas secara bahasa sama dengan kesetiaan, yakni kesetiaan
seseorang terhadap suatu objek. Rancangan dari loyalitas berkembang secara
perlahan, dimulai dari upaya atas apa perilaku loyalitas, perilaku loyal hanya
diukur dengan manfaatnya. Loyalitas diartikan sama dengan komitmen, komitmen
merupakan keinginan untuk terus menerus melakukan hubungan. Perilaku loyal
penekanannya adalah melihat pada perilaku pembelian ulang juga sikap untuk
membeli kembali atau frekuensi pembelian. Menurut Tjipto (dalam Wiranti 2020:
45) loyalitas konsumen merupakan komitmen pelanggan terhadap suatu merek,
toko, atau pemasok berdasarkan sifat positif dalam pembelian jangka panjang.
Dari penjabaran ini dapat diartikan bahwa kesetiaan terhadap merek diperoleh
dengan adanya kombinasi dari kepuasan dan keluluhan. Sedangkan kepuasan
pelanggan tersebut hadir dari sebagian besar kinerja perusahaan guna
menimbulkan kepuasan tersebut dengan meminimalkan keluhan sehingga
diperoleh pembelian jangka pajang yang dilakukan oleh konsumen tersebut.
Loyalitas konsumen menurut Sutarso (2019: 32) merupakan komitmen
konsumen bertahan guna berlangganan kembali atau melakukan pembelian secara
berulang produk atau jasa secara konsisten dimasa yang akan mendatang,
meskipun pengaruh dari produk dan pemasaran yang akan menimbulkan
perubahan perilaku. Dikemukakan oleh para ahli lainnya bahwa loyalitas
merupakan cerminan komitmen psikologis terhadap merek tertentu, sedangkan
perilaku semata-mata menyangkut pembelian merek tertentu yang sama dan
dilakukan secara berulang. Menurut Yuniarti (dalam Patimah dan Nurfauzan,
2022: 8) loyalitas adalah besarnya konsumsi serta frekuensi pembelian yang
dilakukan oleh seorang konsumen terhadap suatu barang maupun jasa.
Konsumen berhasil menemukan bahwa kualitas sangat mempengaruhi kepuasan
kepercayaan, dan komitmen yang berhubungan sangat erat dengan loyalitas.
Kotler dan Keller (dalam Patimah dan Nurfauzan, 2022: 11) mendefinisikan
loyalitas konsumen merupakan komitmen yang dipegang oleh konsumen secara
mendalam guna membeli atau mendukung produk atau jasa yang digemari
dimasa depan meski pengaruh usaha dan situasi dari usaha-usaha lain yang
berkemungkinan menyebabkan pelangan beralih dari produk atau jasa yang
ditawarkan. Sedangkan menurut Dharmayanti (dalam Putera dan Wahyono
:2018) apabila konsumen telah melakukan hal tersebut, maka besar kesempatan
perusahaan guna mendapatkan konsumen yang loyal dan merasa puas dengan
produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Loyalitas konsumen yang dikemukakan
oleh Shaw dan Hamillton (dalam Maisa dan Widodo, 2020: 26) adalah hasil dari
sebuah pengalaman emosi positif yang secara konsisten dirasakan oleh konsumen

Hubungan Kualitas layanan dengan Loyalitas Pelanggan


Salah satu yang diharapkan oleh pelanggan dari perusahaan adalah kualitas
pelayanan yang tinggi. Kebanyakan pelanggan tidak lagi bersedia menerima dan
mentoleransi kinerja kualitas yang biasa-biasa saja, dengan demikian akan
terdapat hubungan yang erat antara kualitas jasa dan loyalitas pelanggan.
Sebagaimana hal ini diungkapkan oleh Kotler (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013)
yang mengatakan bahwa kualitas memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan
konsumen dan loyalitas pelanggan. Kualitas memberikan suatu dorongan kepada
konsumen untuk menjalin ikatan atau hubungan yang kuat dengan perusahaan.
Pada gilirannya, kepuasan pelanggan dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas
pelanggan pada perusahaan yang memberikan kualitas memuaskan.
Caruana (dalam Gunawan dan Djati, 2011) dalam hasil penelitiannya
menemukan bahwa kualitas layanan memiliki hubungan dengan loyalitas
konsumen. Selanjutnya dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dan
Djati pada 2011 pada Rumah Sakit Umum Swasta mengatakan bahwa hasil
penelitian menunjukkan bahwa secara simultan terdapat hubungan positif dan
signifikan antara dimensi kualitas layanan terhadap loyalitas pasien. Artinya baik
tidaknya kualitas layanan akan menyebabkan tinggi rendahnya loyalitas pasien
Rumah Sakit Umum Swasta. Dimensi tampilan fisik (tangibles), kehandalan
(reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati
(emphaty) secara bersama-sama akan menyebabkan tinggi rendahnya loyalitas
pasien.
Hasil penelitian ini mendukung teori yang dikemukakan oleh Parasuraman
et al. (1994), serta Caurana (2002) dan Rifai (2005) yang menemukan bahwa
kualitas layanan mempunyai hubungan dengan loyalitas konsumen

Mengukur Kualitas Layanan


Mengukur kualitas layanan berarti mengevaluasi atau membandingkan
kinerja suatu layanan dengan seperangkat standar atau yang telah ditetapkan
terlebih dahulu untuk model pengukuran. Metode SERVQUAL adalah metode
yang sering digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan. Dalam metode
SERVQUAL terdapat sepuluh faktor utama atau dimensi SERVQUAL yang
menentukan kualitas pelayanan menurut Zeithaml dan Bitner (dalam Wijaya,
2011) yaitu :
a. Tangible (hal-hal nyata secara fisik). Misalnya lantai, seragam staf,tata
letak barang, interior.
b. Reliability (konsistensi). Misalnya, janji yang ditepati, mutu produk,
kebersihan produk, jam buka, bekerja tidak sambil ngobrol.
c. Responsiveness (tanggap, tanggung jawab). Misalnya, respon staf yang
cepat dan kreatif terhadap permintaan atau permasalahan yang dihadapi
konsumen.
d. Competence (Cakap, ahli, terampil). Misalnya, staf terampil dalam
bekerja, menguasai produk knowledge.
e. Credibilty (dipercaya). Misalnya kejujuran, dapat dipercaya.
f. Courtesy (rasa hormat). Misalnya kesopanan staf.
g. Security (rasa hormat). Misalnya konsumen merasa bebas dari bahaya,
risiko atau keraguan, tidak bahaya, merasa aman secara fisik dan
finansial.
h. Acess (mudah dicapai, dihubungi). Misalnya staf mudah ditelepon,
manajer mudah ditemui, konsumen tidak lama menunggu.
i. Communication (komunikasi). Misalnya bahsa yang dapat dimengerti,
informasi yang tepat tentang layanan.
j. Understanding the customer (mengerti pelanggan). Misalnya, stafnya
memahami kebutuhan pelanggan, hal-hal yang berkaitan dengan pribadi
konsumen

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Layanan


Menurut Parasuraman (dalam Tjiptono, 2008) faktor utama yang
mempengaruhi kualitas layanan adalah layanan yang diharapkan pelanggan
(expected service) dan persepsi terhadap layanan (perceived service). Apabila
perceived service sesuai dengan expected service, maka kualitas layanan
bersangkutan akan dinilai baik atau positif. Jika perceived service melebihi
expected service, maka kualitas layanan dipersepsikan sebagai kualitas ideal.
Sebaliknya apabila perceived service lebih jelek dibandingkan expected service,
maka kualitas layanan dipersepsikan negatif atau buruk. Oleh sebab itu, baik
tidaknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan perusahaan dan stafnya
memenuhi harapan pelanggan secara konsisten.
Menurut Wickof (dalam Aliansyah dkk, 2012) ada dua faktor utama yang
mempengaruhi kualitas pelayanan, yaitu expected service dan perceived service.
Apabila jasa yang diterima atau dirasakan (perceived service) sesuai dengan yang
diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik atau memuaskan. Jika
pelayanan yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas pelayanan
dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal. Sebaliknya jika kualitas pelayanan yang
diterima lebih rendah dari yang diharapkan maka kualitas pelayanan dipersepsikan
buruk. Sedangkan Menurut Gronross (dalam Kurniasari dan Cholicul Hadi, 2012)
faktor utama dari kualtas layanan yaitu outcome related, process-related, dan
image-related.

Aspek-Aspek Kualitas Layanan


Menurut Garvin (dalam Tjiptono, 2008), kualitas pelayanan terdiri atas
delapan dimensi berikut yang satu sama lainnya berkaitan erat:
a. Kinerja (performance)
Kinerja berkaitan dengan efisiensi pencapaian tujuan utama sebuah
pelayanan jasa. Umumnya kinerja yang lebih bagus identik dengan kualitas yang
lebih baik.
b. Fitur (features)
Fitur berkaitan dengan atribut pelayanan jasa yang melengkapi kinerja
dasar sebuah pelayanan jasa.
c. Reliabilitas (reliability)
Reliabilitas merupakan kemampuan sebuah pelayanan jasa untuk tetap
berfungsi secara konsisten selama usia desainnya. Sebuah pelayanan jasa akan
dikatakan reliable (andal) apabila kemungkinan kerusakan atau gagal dipakai
selama usia desainnya sangat rendah.
d. Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to specifications)
Kesesuaian dengan spesifikasi yaitu sejauh mana karakteristik desain dan
operasi sebuah pelayanan jasa memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan
sebelumnya, misalnya dalam hal ukuran, kecepatan, kapasitas, daya tahan. Dalam
dunia manufaktur, dimensi ini sangat popular terutama karena mudah
dikuantifikasikan.
e. Daya tahan (durability)
Daya tahan berkaitan dengan tingkat kemampuan sebuah pelayanan jasa
mentolerir tekanan, stres atau trauma tanpa mengalami kerusakan berarti.
f. Kemudahan mereparasi (Service ability)
Sebuah pelayanan jasa dikatakan sangat serviceable apabila bisa direparasi
secara mudah dan murah. Apabila reparasi tersebut cepat dan mudah diakses,
pelayanan jasa bersangkutan dikatakan memiliki service ability tinggi.
g. Estetika
Estetika yaitu daya tarik pelayanan jasa terhadap panca indra, misalnya
bentuk fisik, warna, dan sebagainya.
h. Persepsi kualitas (Perceived quality)
Persepsi kualitas berkaitan dengan citra dan reputasi pelayanan jasa serta
tanggung jawab perusahaan terhadapnya. Biasanya karena kurangnya
pengetahuan pembeli akan atribut atau fitur pelayanan jasa yang akan dibeli, maka
pembeli mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan,UNIVERSITAS MEDAN AREA
20
reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya (country-of-origin, country-of-
manufacture, country-of-assembly, atau country-of-brand). Karena sifatnya
perseptual, maka setiap orang kemungkinan akan memiliki opini yang berbeda.
Salah satu kritik terhadap tipologi Garvin adalah dimensi-dimensi tersebut
cenderung lebih sesuai untuk menilai kualitas fisik dibandingkan jasa atau
pelayanan.
Aspek kualitas pelayanan ritel modern menurut Dabholkar (dalam
Aryotedjo, 2005) meliputi lima aspek utama yaitu :
a. Aspek Fisik (Phisical Aspects) meliputi penampilan fasilitas fisik dan
kenyamanan yang ditawarkan kepada konsumen berkaitana dengan
layout fisik.
b. Reliabilitas (reliability) yang pada prinsipnya sama dengan dimensi
reliabilitas metode SERVQUAL. Hanya saja disini reliabilitas dipilah
kedalam dua sub dimensi yaitu memenuhi janji dan memberikan
layanan dengan tepat.
c. Interaksi Personal mengacu kepada kemampuan karyawan jasa dalam
menumbuhkan kepercayaan konsumen dan sikap sopan / suka
membantu.
d. Pemecahan masalah berkaitan dengan penanganan retur, penukaran dan
komplain.
e. Kebijakan mencakup aspek-aspek kualitas jasa yang secara langsung
dipengaruhi kebijakan toko, seperti jam operasi,fasilitas parkir dan
pemakaian kartu kredit.
Menurut Parasuraman (dalam Wijaya, 2011) mengemukakan lima aspek
kualitas pelayanan yaitu :
a. Bukti Langsung (Tangible) yang meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan,pegawai,dan sarana komunikasi.
b. Keandalan (Reliability) yakni kemampuan memberikan pelayanan yang
dijanjikan dengan segera,akurat, dan memuaskan.
c. Daya tanggap (responsiveness) yaitu keinginan para staf dan karyawan
untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan
tanggap.
d. Jaminan (assurance) yang mencakup pengetahuan, kemampuan,
kesopanan, dan sifat yang dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas
dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.
e. Empati yang meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik , perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan
para pelanggan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Kotler (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013) merumuskan bahwa kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,
manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Secara
sederhana, menurut Lewis & Booms (dalam Tjiptono,2008) kualitas layanan bisa
diartikan sebagai “ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu
sesuai dengan ekspektasi pelanggan”. Berdasarkan defenisi ini, kualitas layanan
ditentukan oleh kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan dan keinginan
pelanggan sesuai dengan ekspektasi pelanggan.
Menurut Parasuraman (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013) mengatakan
kualitas layanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian
atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Selain itu
Tjiptono (dalam Saidani dan Samsul Arifin, 2012) mengatakan kualitas jasa
merupakan sesuatu yang dipersepsikan oleh pelanggan. Pelanggan akan menilai
kualitas sebuah jasa yang dirasakan berdasarkan apa yang mereka deskripsikan
dalam benak mereka. Pelanggan akan beralih ke penyedia jasa lain yang lebih
mampu memahami kebutuhan spesifik pelanggan dan memberikan layanan yang
lebih baik

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas pelanggan


Menurut Hasan (2014) faktor utama yang mempengaruhi loyalitas
pelanggan adalah :

  1. Kepuasan Pelanggan ( Customer satisfaction).
    Kepuasan pelanggan dipertimbangkan sebagai prediktor kuat terhadap
    kesetian pelanggan termasuk rekomendasi positif, niat membeli ulang dan
    lain-lain.
  2. Kualitas Produk atau layanan ( Service quality)
    Kualitas produk atau layanan berhubungan kuat dengan kesetiaan
    pelanggan. Kualitas meningkatkan penjualan dan meningkatkan
    penguasaan pasar, dan mengarahkan/ memimpin konsumen ke arah
    kesetiaan.
  3. Citra Merek ( Brand Image)
    Citra merek muncul menjadi faktor penentu kesetiaan pelanggan yang ikut
    serta membesarkan/membangun citra perusahaan lebih positif.
  4. Nilai yang dirasakan ( Perceived value).
    Nilai yang dirasakan merupakan perbandingan manfaat yang dirasakan
    dan biaya-biaya yang dikeluarkan pelanggan diperlakukan sebagai faktor
    penentu kesetiaan pelanggan.
  5. Kepercayaan (trust)
    Kepercayaan didefenisikan sebagai persepsi kepercayaan terhadap
    keandalan perusahaan yang ditentukan oleh konfirmasi sistematis tentang
    harapan terhadap tawaran perusahaan.
  6. Relasional pelanggan (customer relationship)
    Relasional pelanggan didefenisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap
    proporsionalitas rasio biaya dan manfaat, rasio biaya dan keuntungan
    dalam hubungan yang terus menerus dan timbal balik.
  7. Biaya Peralihan (Switching cost)
    Dalam kaitannya dengan pelanggan, switching cost ini menjadi faktor
    penahan atau pengendali diri dari perpindahan pemasok/penyalur produk
    dan mungkin karenanya pelanggan menjadi setia.
  8. Dependabilitas ( reliability)
    Tidak hanya sebatas kemampuannya menciptakan superior nilai bagi
    pelanggan, tetapi juga mencakup semua aspek capaian organisasi yang
    berkaitan dengan apresiasi publik terhadap perusahaan secara langsung
    berdampak pada kesetiaan pelanggan.
    Sedangkan menurut Hannah dan Karp (dalam Musanto, 2004) faktor-
    faktor yang mempengaruhi loyalitas pelanggan meliputi :
    1) Kualitas produk/ jasa
    Yaitu merupakan mutu dari semua komponen-komponen yang membentuk
    produk/ jasa sehingga produk /jasa tersebut mempunyai nilai tambah.
    2) Hubungan antara nilai sampai pada harga
    Merupakan hubungan antara harga dan nilai produk/ jasa yang ditentukan
    oleh perbedaan antara nilai yang diterima oleh pelanggan dengan harga
    yang dibayar oleh pelanggan terhadap suatu produk yang dihasilkan oleh
    badan usaha.
    3) Bentuk produk
    Bentuk produk merupakan komponen-komponen fisik dari suatu produk
    yang menghasilkan suatu manfaat.
    4) Keandalan
    Merupakan kemampuan dari suatu perusahaan untuk menghasilkan produk
    sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh perusahaan.
    5) Jaminan
    Merupakan suatu jaminan yang ditawarkan oleh perusahaan untuk
    pengembalian harga pembelian atau mengadakan perbaikan terhadap
    produk yang rusak setelah pembelian.
    6) Respon dan cara pemecahan masalah
    Response to and Remedy of Problems merupakan sikap dari karyawan
    dalam menanggapi keluhan serta masalah yang dihadapi oleh pelanggan.
    7) Pengalaman karyawan
    Merupakan semua hubungan antara pelanggan dengan karyawan.
    8) Kemudahan dan kenyamanan
    Convenience of acquisition merupakan segala kemudahan dan
    kenyamanan yang diberikan oleh perusahaan terhadap produk yang
    dihasilkannya.

Karakteristik Loyalitas pelanggan.


Pelanggan yang loyal merupakan aset penting bagi perusahaan. Hal ini
dapat dilihat dari karakteristik yang dimilikinya. Griffin (dalam Sangadji dan
Sopiah, 2013) menyatakan bahwa pelanggan yang loyal memiliki karakteristik
sebagai berikut :
1) Melakukan pembelian secara teratur (makes regular repeat purchases)
2) Melakukan pembelian di semua lini produk atau jasa (purchases across
product and service lines)
3) Merekomendasikan produk lain (refers other)
4) Menunjukkan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari pesaing
(demonstrates on immunity to the full of the competition).
Selain itu, Hasan (2014) menyatakan bahwa pelanggan yang loyal itu
paling tidak menunjukkan karakteristik seperti :
1) Adanya runtutan pembelian dan proporsi pembelian, atau probabilitas
pembelian.
2) Tingkat atau ukuran kedekatan pelanggan pada sebuah produk atau jasa.
3) Adanya perasaan positif terhadap produk atau jasa.
4) Penggunaan produk atau jasa yang sama secara teratur

Pengertian Loyalitas Pelanggan


Loyalitas pelanggan adalah kecenderungan pelanggan untuk membeli
sebuah produk atau menggunakan jasa yang diberikan oleh suatu perusahaan
dengan tingkat konsistensi yang tinggi. Loyalitas pelanggan akan menjadi kunci
sukses tidak hanya dalam jangka pendek tetapi keunggulan bersaing secara
berkelanjutan. Hal ini karena loyalitas pelanggan memiliki nilai strategik bagi
perusahaan. Imbalan dari loyalitas bersifat jangka panjang dan kumulatif. Jadi
semakin lama loyalitas seorang pelanggan, semakin besar laba yang dapat
diperoleh perusahaan dari seorang konsumen.
Menurut Oliver (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013) menyatakan bahwa
loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk
berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih
secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-
usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku.
Sedangkan menurut Morais (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013) mengatakan
bahwa loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan terhadap suatu merek
toko, atau pemasok, berdasarkan sikap yang sangat positif dan tercermin dalam
pembelian ulang yang konsisten.
Selanjutnya Parasuraman (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013)
mendefinisikan loyalitas pelanggan dalam konteks pemasaran jasa sebagai
respons yang terkait erat dengan ikrar atau janji untuk memegang teguh komitmen
yang mendasari kontinuitas relasi, dan biasanya tercermin dalam pembelian
berkelanjutan dari penyedia jasa yang sama atas dasar dedikasi dan kendala
pragmatis. Menjaga pelanggan tetap senang dan loyal merupakan tantangan bagi
perusahaan dan cara terbaik untuk bertahan dalam persaingan. Hasan (2014)
mengatakan loyalitas pelanggan adalah orang yang membeli secara teratur dan
berulang-ulang,mereka secara terus menerus dan berulang kali datang kesuatu
tempat yang sama untuk memuaskan keinginannya dengan memiliki suatu produk
atau mendapatkan suatu jasa dan membayar produk tersebut.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Keterlibatan Pelanggan


Terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi keterlibatan pelanggan, yaitu,
(1) Materialisme, ketika pelanggan merasa bahwa kepemilikan suatu produk atau
jasa merupakan salah satu tolak ukur dari keberhasilan hidupnya, berarti pelanggan
merupakan seseorang yang materialisme. Kondisi inilah yang menyebabkan
seseorang dengan sifat materialisme yang tinggi lebih sering terlibat dalam
hubungan dengan perusahaan, (2) Situasi, ketika pelanggan melakukan pembelian
maka disitulah situasi dimana pelanggan terlibat dengan perusahaan, (3)
komunikasi, ketika pelanggan menanyakan suatu hal kepada perushaan terjadilah
hubungan interaksi dengan perusahaan, (4) Kepribadian pelanggan, terjadi dalam
hal ketika setiap pelanggan yang berbeda memiliki reaksi yang berbeda terhadap
produk, situasi, dan komunikasi yang sama (Rather & Hollebeek, 2021).

Manfaat Keterlibatan Pelanggan


Keterlibatan Pelanggan dapat menguntungkan pelanggan dan perusahaan
dengan meningkatkan tingkat interaksi sekaligus memenuhi harapan pelanggan.
Manfaat lainnya yaitu: selalu terlibat dalam perjalanan pembelian pelanggan, untuk
mengembangkan kesetiaan pelanggan dan mengumpulkan informasi penting
tentang pelanggan. Apabila terjadinya interaksi yang berkelanjutan antara
pelanggan dengan perusahaan, akan mengarahkan pelanggan untuk mengingat
merek perusahaan dan memberi perusahaan informasi tentang pelanggan. Informasi
tersebut berupa: keputusan pemasaran, penargetan ulang dan pengembangan
konten, serta proses penjualan seperti pengiriman pesan. Dengan adanya
keterlibatan pelanggan terhadap perusahaan, memberikan manfaat yang besar bagi
perusahaan (Briglia, 2020)

Pengertian Keterlibatan Pelanggan


Keterlibatan Pelanggan muncul melalui interaksi antara pelanggan dan merek
atau perusahaan tertentu (Rather & Hollebeek, 2021). Keterlibatan pelanggan
merupakan keadaan kejiwaan atau psikologis yang terjadi berdasarkan pengalaman
pelanggan interaktif dengan objek fokus misalnya merek atau tujuan (Rather,
2020b). Selain itu, keterlibatan pelanggan merupakan investasi sumber daya
pelanggan dalam interaksi perusahaan atau merek mereka. Ketika pengalaman
pelanggan mendapatkan pengalaman interaksi yang positif akan membentuk
keterlibatan secara berkelanjutan (Islam et al., 2020).

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengalaman Pelanggan


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengalaman pelanggan,
sebagai berikut: (1) Kemudahan, yaitu kemudahan bagi pelanggan ketika
berinteraksi dan mengakses produk. Ketika pelanggan dipermudah dalam
mengakses produk akan mempunyai nilai positif bagi pengalamannya; (2)
Kompetensi, yaitu kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan, produk yang
memiliki kompetensi (keahlian atau keterampilan khusus) akan menambah
ketertarikan interaksi pelanggan dengan perusahaan; (3) Pengakuan Pelanggan,
yaitu perasaan pelanggan bahwa kedatangannya dikenali oleh penyedia jasa
maupun produk, pelanggan akan merasa diperhatikan oleh penyedia produk; (4)
Membantu (Helpfulness), yaitu perasaan konsumen tentang kemudahan baginya
ketika meminta pertolongan, ketika suatu layanan sigap dan merespon dengan cepat
disaat pelanggan membutuhkan, hal tersebut akan menjadi pengalaman yang baik;
(5) personalisasi, yaitu perasaan pelanggan ketika menerima pelayanan atau
fasilitas yang membuat dirinya nyaman sebagai individu; (6) Pemecahan Masalah,
yaitu perasaan yang dirasakan oleh pelanggan ketika permasalahannya diselesaikan
oleh penyedia produk; (7) Pemenuhan janji, yaitu pemenuhan janji oleh penyedia
produk, ketika janji terpenuhi akan adanya kepuasan emosional positif yang akan
berpengaruh ke pengalaman pelanggan; (8) Nilai untuk waktu, yaitu perasaan
pelanggan bahwa waktu yang dimilikinya dihargai oleh perusahaan (Lemon &
Verhoef, 2016

Pengertian Pengalaman Pelanggan


Pengalaman pelanggan merupakan persepsi pelanggan tentang baik atau
buruknya pengalaman mereka dengan suatu perusahaan atau merek. Pengalaman
pelanggan didefinisikan sebagai hasil dari kombinasi persepsi emosional dan
rasional pelanggan saat berinteraksi langsung atau tidak langsung dengan
perusahaan (Zare & Mahmoudi, 2020). Pengalaman tercipta ketika pelanggan
melakukan interaksi sejak awal dengan perusahaan (Coudounaris & Sthapit, 2017).
Pengalaman pelanggan hasil dari interaksi antara pelanggan dan penawaran tertentu
atau rangsangan terkait penawaran (misalnya promosi), pengalaman pelanggan
menggambarkan perkembangan pelanggan melalui perjalanan pembelian mereka
(Rather & Hollebeek, 2021). Pengalaman pelanggan sebagai perkembangan respon
sensorik, afektif, kognitif, relasional, dan perilaku seseorang terhadap suatu merek
dengan menjalani perjalanan titik sentuh sepanjang pra-pembelian, pembelian, dan
pasca-pembelian dan terus menilai perjalanan ini terhadap ambang respons dari
pengalaman yang terjadi bersama (Rather, 2020a)

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kesetiaan Pelanggan


Terdapat beberapa faktor untuk mempengaruhi loyalitas, sebagai berikut: (1)
Kepuasan, ketika pelanggan merasa harapannya terpenuhi oleh produk atau jasa
yang digunakannya maka pelanggan akan merasa puas dan senang; (2) Komitmen,
pelanggan dapat dipengaruhi oleh merek yang mempunyai daya tarik; (3)
Kepercayaan, perusahaan memberikan produk atau jasa yang sesuai dengan apa
yang dijanjikan, serta dapat produk atau jasa dapat melakukan
atau menjalankan sesuai fungsi, serta dapat memberikan nilai fungsi maka akan
terbentuknya kepercayaan pelanggan sehingga menciptakan loyalitas pelanggan;
(4) Kemudahan, Pelanggan akan merasa nyaman ketika diberikan kemudahan pada
saat mencari produk, menggunakan produk, dan saat mereka melakukan transaksi;
(5) Pengalaman antara pelanggan dengan perusahaan, pengalaman pelanggan
terjadi ketika terjadinya interaksi antara pelanggan dengan perusahaan yang
kemudian membentuk suatu perilaku (Lepojević & Đukić, 2018)

Karakteristik Kesetiaan Pelanggan


Pelanggan tentu memiliki karakteristik agar bisa disebut sebagai
pelanggan yang loyal. Karakteristik loyalitas pelanggan, yaitu: (1) Pembelian jasa
atau barang secara berkala atau teratur, pelanggan yang loyal akan terus membeli
dan mengkonsumsi jasa atau barang secara terus menerus, (2) Melakukan
pembelian lini produk atau jasa, yang dimana pelanggan yang loyal akan membeli
produk atau jasa yang disajikan perusahaan sesuai dengan kebutuhan mereka, (3)
Memberikan rekomendasi produk atau jasa perusahaan kepada orang lain,
pelanggan yang merasa puas cenderung akan menceritakan atau menginformasikan
kepada orang lain secara sengaja, (4) Memperlihatkan sikap kebal dari daya Tarik
produk pesaing yang serupa, pelanggan dapat dikatakan sangat loyal ketika ia tidak
terpengaruh dengan tawaran produk pesaing yang sejenis, sebab pelanggan yang
loyal telah merasa mendapatkan value dari apa yang diharapkan pada produk atau
jasa yang digunakannya. Selain itu, pelanggan yang loyal tidak akan sensitif dengan
masalah harga. Sehingga kemungkinan kecil untuk pelanggan berpindah, justru
akan lebih sering membeli bahkan menambah jumlah pembelian (Mashuri, 2020).

Pengertian Kesetiaan Pelanggan


Kesetiaan pelanggan adalah loyalitas pelanggan terhadap perusahaan dengan
cara membeli dan mengkonsumsi produk atau jasa secara berkelanjutan. Loyalitas
pelanggan terdiri dari dua dimensi, yaitu: perilaku dan sikap. Loyalitas perilaku
mengacu pada pembelian berulang dari penyedia tertentu, sedangkan loyalitas sikap
menyangkut kecenderungan psikologis pelanggan (Lee & Jung, 2018) dan
mencakup aspek afektif dan kognitif preferensi (Hsieh et al., 2018). Kesetiaan
mengacu pada pelanggan yang peduli dengan hubungan mereka dengan
perusahaan, kesetiaan pelanggan adalah bagian kecil dari keseluruhan basis
pelanggan perusahaan (Cudby Ali, 2020). Nilai mereka jauh melebihi jumlah
mereka. Ketika loyalitas tulus dan dikembangkan secara strategis, pelanggan
terlibat untuk jangka panjang dan menjadi sangat menguntungkan.
Konsep loyalitas pelanggan sudah berkembang menjadi loyalty 3.0. Konsep
loyalty 3.0 merupakan evolusi program loyalitas yang dapat melengkapi
kekurangan dari program loyalitas pada loyalty 1.0 dan loyalty 2.0 yang sudah
berkembang sebelumnya. Selain itu, loyalty 3.0 dibangun berdasarkan tiga konsep
besar yaitu motivasi (human motivation), big data, dan gamification (Agustina &
Irwansyah, 2019).
Terdapat beberapa alasan mengapa perusahaan harus mendapatkan kesetiaan
pelanggan, yaitu: (1) Pelanggan lama memberikan keuntungan yang besar untuk
perusahaan; (2) Menghemat biaya untuk menarik pelanggan baru; (3) Pelanggan
yang sudah percaya terhadap perusahaan dalam satu hal, akan percaya pada hal
lainny; (4) Biaya operasional perusahaan akan lebih hemat apabila mempunyai
banyak pelanggan setia; (5) Pelanggan lama lebih banyak
pengalaman dengan perusahaan, sehingga dapat mengurangi biaya sosial dan
psikologis; (6) Pelanggan yang setia akan mendukung perusahaan serta berusaha
untuk menarik serta memberi rekomendasi kepada orang lain untuk membeli dan
mengkonsumsi produk atau jasa dari perusahaan (Prastiwi et al., 2021).

Indikator Keragaman Barang


Menurut Engel, James F, dan Miniard, (2001:840) indikator keragaman
barang memiliki empat cara yaitu :
a. Kelengkapan produk yang dijual
b. Produk yang bervariasi
c. Ketersediaan produk yang dijual
d. Macam merek yang tersedia

Dimensi-dimensi Keragaman Barang


Menurut Kotler dan Amstrong (2008:16), “dimensi keragaman barang
memungkinkan untuk memperluas bisnisnya dengan empat cara yaitu :
a. Perusahaan dapat menambah lini barang baru, sehingga memperlebar
keragaman barangnya.
b. Perusahaan dapat memperpanjang lini barangnya.
c. Perusahaan dapat menambah lebih banyak varian barang pada tiap
barang.
d. Perusahaan dapat menjaga lini barang yang lebih kuat.

Atribut Keragaman Barang bagi Pengecer


Atribut Produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang pentig oleh
konsumen dan dijadikan dasr pengambilan keputusan pembelian.
Menurut Fandy Tjiptono (2004:103) atribut produk meliputi:
a. Merk merupakan nama, istilah, tanda, simbol atau lambang, desain,
warna, gerak atau kombinasi atribut produk lain yang diharapkan dapat
memberikan identitas dan differensiasi terhadap produk lainnya.
b. Kemasan merupakan proses yang berkaitan dengan perancangan dan
pembuatan wadah (container) atau pembungkus (wrapper) untuk suatu
produk.
c. Pemberian label (labelling) merupakan bagian dari suatu produk yang
menyampaikan infoormasi mengenai produk yang menyampaikan
informasi mengenai produk dan penjualan, sebuah label bisa merupakan
bagian dari kemasan atau bisa merupakan etiket (tanda pengenal) yang
dicantumkan dalam produk.
d. Layanan pelengkap (suplementary service) dapat diklasifikasikan :
informasi, konsultasi, ordering, hospitality, caretaking, billing,
pembayaran.
e. Jaminan (garansi) yaitu janji yang merupakan kewajiban produsen atas
produk atau konsumen, diaman para konsumen akan diberi ganti rugi bila
produk ternyata tidak berfungsi sebagaimana yang dijanjikan.
Jenis produk pengecerpun harus cocok dengan harapan kosumen,
disamping itu pilihan produk menjadi unsur penting dalam ajang pesaingan
diantara pengecer. Oleh karena itu, pengecer harus menyusun strategi produk
yang berbeda-beda. Wortzel (dalam Kotler, 2004:214) menyarankan beberapa
strategi pembedaan produk bagi para pegecer sebagai berikut :
a. Mengikutsertakan sejumlah merek nasional eksklusif yang tidak dimiliki
oleh pengecer pesaing.
b. Sebagian merek yang dijual bermerek sendiri.
c. Menyelenggarakan peragaan-peragaan produk khas sangat terkenal.
d. Mengikutsertakan produk sampingan atau secara terus menerus mengganti
sebagian barang-barang yang dijual.
e. Menjadi yang pertama dalam mengikutsertakan produk terbaru.
f. Menawarkan produk yang spesifikasinya disesuaikan dengan keinginan
pembeli.
g. Menawarkan bauran dengan sasaran yang sempit

Barang Industri


Barang ini diklasifikasikan atas dasar bagaimana mereka memasuki
proses produksi dan dari segi biaya relatif yaitu:
1) Bahan baku dan suku cadang yang seluruhnya masuk dalam barang
jadi,
2) Barang modal yaitu barang yang memberi kemudahan dalam
mengelola dan mengembangkan produk jadi,
3) Perlengkapan dan jasa yaitu barang yang tidak tahan lama dan jasa
memberikan kemudahan dalam mengembangkan dan mengelola
keseluruhan produk jadi.
Barang yang disediakan oleh pasar bunder termasuk convenience
goods dimana barang yang disediakan yaitu sayuran, buah, makanan,
minuman, buah, dan keperluan rumah tangga lainnya

Kalsifikasi Barang


Salah satu unsur kunci dalam persaingan diantara bisnis eceran adalah
ragam produk yang disediakan oleh pegecer. Oleh karena itu, pengecer harus
keputusan yang tepat mengenai keragaman produk yang dijual, karena
dengan adanya macam-macam produk dalam arti produk yang dilengkap
mulai dari merk, ukuran, kualitas dan ketersediaan produk setiap saat seperti
yang telah diuraikan di atas. Dengan hal tersebut maka akan memudahkan
konsumen dalam memilih dan membeli berbagai macam produk sesuai
dengan keinginan mereka.
Produk menurut Philip Kotler (2000:55) dapat diklasifikasikan
berdasarkan beberapa kriteria, adapun klasifikasi produk berdasarkan
konsumen dan manfaatnya adalah:
a. Barang Konsumsi
1) Conveniniece Goods, yaitu barang yang dibeli konsumen dalam
frekuensi tinggi, dibutuhkan dalam waktu yang segera dan hanya
memerlukan usaha yang minimum dalam membandingkan dan
pembeliannya. Contoh: sabun mandi.
2) Shooping Goods, barang yang dalam proses pemilihan dan
pembeliannya usaha yang minimum dalam membandingkan dan
pembeliannya dibandingkan dengan karakteristiknya untuk melihat
kecocokannya baik dalm hal mutu, harga, maupun model. Contoh:
sepatu, baju.
3) Specialty Goods, barang yang memiliki karakteristik yang unik atau
indentifikasi merk yang sedemikian rupa sehingga untuk
mendapatkannya pembeli bersedia untuk membeli dengan harga
mahal. Contoh: sepeda motor, mobil.
4) Unsought Goods, barang yang diketahui pembeli ataupun kalau sudah
diketahui pada umumnya mereka belum terpikirkan untuk
membelinya. Contoh: ensiklopedi, asuransi

Pengertian Keragaman Barang


Keragaman barang merupakan salah satu unsur yang harus diperhatikan
oleh suatu bisnis ritel. Dengan adanya keragaman barang yang baik
perusahaan dapat menarik konsumen untuk berkunjung dan melakukan
pembelian. Barang atau produk menurut Kotler dan Amstrong (2009:9),
“sesuatu yang dapat ditawarkan ke dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki,
dipakai atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau
kebutuhan”.
Menurut Kotler dan Amstrong (2008:15), “ keragaman produk adalah
sekumpulan seluruh produk dan barang yang ditawarkan penjual tertentu
kepada pembeli”. Keragaman barang menurut James F. Engels (2001:258),
“kelengkapan produk yang menyangkut kedalaman, luas dan kualitas produk
yang ditawarkan juga ketersediaan produk tersebut setiap saat di toko”.

Dimensi-dimensi Pelayanan


Dimensi kualitas jasa layanan serqual merupakan dimensi kualitas jasa
dimana setiap jasa yang ditawarkan memiliki beberapa aspek yang dapat
dipergunakan untuk mengetahui tingkat kualitasnya.
Menurut Zeithaml, Parasuraman, dan Berry (Fandy Tjiptono,
2005:53) telah mengidentifikasi lima dimensi pelayanan berkualitas, yaitu :

  1. Bukti langsung (tangibles)
    Pemaparan bukti langsung dalam Lupiyoadi (2001:148),
    “kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensi kepada
    pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana, fisik
    perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari
    pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa, yang meliputi fasilitas fisik
    (gedung, gudang, dan lain sebagainya). Perlengkapan dan peralatan yang
    dipergunakan (tekhnologi) serta penampilan pegawainya”.
    Bukti langsung dalam Tjiptono (2005:70), “bukti fisik dari jasa,
    bisa berupa fisik peralatan yang digunakan, representasi fisik dari jasa
    (misalnya, kartu kredit plastik)”.
  2. Kehandalan (Reliabilty)
    Menurut Lopiyoadi (2001:148), “kemampuan perusahaan untuk
    memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan
    terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan (costumer)
    yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama, untuk semua
    pelanggan (costumer) tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan
    akurasi yang tinggi.
  3. Daya tanggap (responsiveness).
    Menurut Lupiyoadi (2001:148), “suatu kemampuan untuk
    membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat
    kepada pelanggan (costumer), dengan penyampaian informasi yang jelas.
    Membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya alasan yang jelas
    menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan”.
    16
  4. Jaminan (Assurance).
    Jaminan menurut Lupiyoadi (2001:148), “Pengetahuan,
    kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk
    menumbuhkan rasa percaya para pelanggan (costumer) kepada
    perusahaan”. Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi
    (communication), kredibilitas (credibilty), keamanan (security),
    kompetensi (competence) dan sopan santun (courtesy).
    Dari keseluruhan teori tersebut rata-rata mengacu pada teori
    Zeithaml, Parasuraman dan Berry (Fandy tjiptono, 2005:53), yang di
    kenal dengan service quality (serqual) yang berdasarkan pada lima
    dimensi kualitas yaitu tangibles (bukti langsung), reliability
    (kehandalan), responsivness (daya tanggap), assurance (jaminan) dan
    emphaty (empati).
    d. Indikator Pelayanan
    Menurut parasuraman Berry, Zethmail dalam lupiyoadi (2001:148)
    telah melakukan penelitian terhadap beberapa jenis perusahaan jasa dan
    berhasil mengidentifikasi faktor utama yaitu lima dimensi kualitas
    pelayanan.
    a) Tangible (Bukti fisik)
    Merupakan berbagai fasilitas fisik yang dapat dilihat dan digunakan
    perusahaan dalam upaya memenuhi kepuasan konsumen. Penampilan
    dan kemampuan, sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan
    lingkungan sekitarnya dalam bukti nyata dari pelayanan yang diberikan
    oleh pembelian produk.
    b) Reliability (Keandalan)
    Merupakan keandalan perusahaan, kehandalan karyawan maupun
    karyawati dalam melayani pelanggan sesuai yang dijanjikan kualitas
    pelayanan harus sesuai dengan keinginan konsumen yang berarti
    ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua konsumen tanpa
    kesalahan, sikap yang simpatik dan dengan akurasi yang tinggi.
    17
    c) Responsiveness ( daya tanggap)
    Merupakan sikap tanggap mau mendengarkan dan merespon
    konsumen dalam upaya memuaskan konsumen. Mampu membantu dan
    memberikan pelayanan yang cepat dan tepat kepada konsumen dengan
    penyampaian tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan
    persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan.
    d) Assurance (jaminan)
    Merupakan pengetahuan dan kemampuan para karyawan
    perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para konsumen kepada
    perusahaan.
    e) Emphaty (empati)
    Merupakan kemampuan peerusahaan maupun karyawannya dalam
    memberikan perhatian yang bersifat pribadi kepada konsumennya,
    dengan berusaha memahami keinginan konsumen.

Faktor-faktor Kualitas Pelayanan


Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas
pelayanan Wolkins dalam (Tjiptono, 2004:63) adalah :
1) Mengidentifikasi determinan utama kualitas pelayanan
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan riset
mengidentifikasi determinan kualitas pelayanan yang penting bagi pasar
sasaran dan memperkirakan penilaian yang diberikan pasar sasaran.
2) Mengelola harapan pelanggan
Semakin banyak janji yang diberikan, maka semakin besar pula
harapan pelanggan yang pada gilirannya akan menambah peluang tidak
dapat terpenuhinya harapan pelanggan oleh perusahaan. Untuk itu ada
satu hal yang dapat dijadikan pedoman yaitu jangan janjikan apa yang
tidak bisa diberikan tetapi berikan lebih dari yang dijanjikan.
3) Mengelola bukti
Pengelolaan bukti kualitas pelayanan bertujuan untuk memperkuat
persepsi pelanggan selama dan sesudah pelayanan diberikan. Oleh
karena itu pelanggan lebih cenderung memperhatikan fakta-fakta
tangible.
4) Mengembangkan budaya kualitas
Budaya kualitas merupakan sistem oraganisasi yang menghasilkan
lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan penyempurnaan
kualitas secara terus menerus. Budaya kualitas terdiri dari filosofi,
keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, prosedur dan harapan.

Pengertian Pelayanan


Menurut Edy soeryatno soegito (2007:152), “ pelayanan (service) setiap
kegiatan atau manfaat yang dapat diberikan suatu pihak kepada pihak lainnya
yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak pula berakibat pemilikan
sesuatu dan produksinya dapat atau tidak dapat dikaitkan sengan suatu
produk fisik”.
Pelayanan dalam hal ini diartikan sebagai jasa atau service yang
disampaikan oleh pemilik jasa yang berupa kemudahan, kecepatan,
hubungan, kemampuan dan keramahtamahan yang ditujukan melalui sikap
dan sifat dalam memberikan pelayanan untuk keputusan pembelian. Setiap
orang pada umumnya mempunyai kebutuhan yang beraneka ragam baik
material maupun non material. Untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka
ragam diperlukan pelayanan yang baik dalam pemenuhan kebutuhannya.
Menurut Stanton (2001:220), “Pelayanan adalah kegiatan yang dapat
didefinisikan secara tersendiri yang pasa hakekatnya bersifat tak teraba
(intangible) yang merupakan pemenuhan kebutuhan, dan tidak harus terikat
penjualan produk atau jasa lain. Pelayanan adalah merupakan tindakan atau
perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang
pada dasarnya bersifat Intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak
mengahsilkan sesuatu. Produksi jasa bisa berhubungan dengan fisik maupun
tidak.
Menurut Kotler (2002:83), “Pelayanan adalah setiap tindakan atau
kegiatan yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada
dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
Produksinya dapat diakaitkan atau tidak dikaitkan pada satu prroduk fisik.
Pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi kebutuhan
dan keinginan konsumen dem tercapainya kepuasan pada konsumen itu
sendiri. Kotler juga mengakatakan bahwa perilaku tersebutdapat terjadi pada
saat sebelum dan sesudah terjadinya taransaksi. Pada umumnya pelayanan
yang bertaraf tinggi akan mengahsilkan kepuasan yang tinggi serta
pembelian ulang yang lebih sering.
Sedangkan Atep Adya Barata (2004:23), “pelayanan adalah daya tarik
yang besar bagi para pelanggan sehingga korporat bisnis seringkali
menggunakannya sebagai alat untuk menarik minat pelanggan”. Menurut
Lovelock dalam (Tjiptono 2004:54), “tingkat keunggulan yang diharapkan
dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan
pelanggan”.
Tingkat kalitas pelayanan tidak dapat dinilai berdasarkan sudut pandang
konsumen. Karena itu dalam merumuskan strategi dan program pelayanan
pasar bunder harus berorientasi pada kepentingan konsumen dengan
memperhatikan komponen kualitas konsumen

Karakteristik Loyalitas Konsumen


Loyalitas pelanggan merupakan ukuran yang dapat diandalkan untuk
memprediksi pertumbuhan penjualan dan loyalitas pelanggan juga dapat
didefinisikan berdasarkan perilaku pembelian yang konsisten (Griffin,
2005:31). Berikut ini ada lima karakteristik loyalitas konsumen yang perlu
diperhatikan yaitu:
a) Melakukan pembelian ulang secara teratur
Konsumen melakukan pembelian secara contineu pada suatu
produk tertentu. Contoh: pencipta motor Harley Davidson akan
membeli motor Harley baru jika ada model Harley Davidson yang
terbaru, bahkan tidak hanya membeli tetapi mereka juga mengeluarkan
uang tambahan untuk mengubahnya sesuai dengan keinginan mereka.
b) Membeli antarlini produk dan jasa
Konsumen tidak hanya membeli jasa dan produk utama tetapi
konsumen juga membeli lini produk dan jasa dari perusahaan yang
sama. Contoh: konsumen tidak hanya membeli motor Harley davidson
saja, tetapi mereka juga membeli aksesoris dari Harley Davidson untuk
mempercantik diri mereka.
c) Mereferensikan kepada orang lain.
Dimana konsumen melakukan komunikasi dari mulut ke mulut
(word of mouth) berkenan dengan produk tersebut. Contoh: seorang
konsumen Harley Davidson yang sudah lama memakai motor tersebut,
menceritakan tentang kehebatan dan keunggulan dari motor tersebut,
kemudian setelah itu temannya tertarik membeli motor Harley
Davidson karena mendengar cerita tersebut.
d) Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing.
Konsumen menolak untuk menggunakan produk atau jasa
alternatif yang ditawarkan oleh pesaing. Contoh: para pecinta motor
Harley Davidson menolak untuk menggunakan motor lain, bahkan
mereka juga cenderung menolak untuk mengetahui jenis-jenis motor
lainnya

Jenis-jenis Loyalitas Konsumen


Menurut Jill Griffin (2005:22) terdapat empat jenis loyalitas yang
muncul bila keterikatan rendah dan tinggi diklasifikasi-silang dengan pola
pembelian ulang, yang rendah dan tinggi.
Adapun jenis-jenis loyalitas konsumen yaitu :
1) Tanpa Loyalitas
Untuk berbagai alasan tertentu, ada beberapa konsumen yang
tidak mengembangkan loyalitas atau kesetiaan kepada suatu produk
maupun jasa tertentu. Tingkat keterikatan yang rendah dengan tingkat
pembelian ulang yang rendah menunjukkan absennya suatu kesetiaan.
Pada dasarnya, suatu usaha harus menghindari kelompok no loyality ini
untuk dijadikan target pasar, karena mereka tidak akan menjadi
konsumen yang setia.
2) Loyalitas yang lemah (Inertia Loyality)
Inertia loyality merupakan sebuah jenis loyalitas konsumen yang
dimana adanya keterikatan yang rendah dengan pembelian ulang yang
tinggi. Konsumen yang memiliki sikap ini biasanya membeli
berdasarkan kebiasaan. Dasar yang digunakan untuk pembelian produk
atau jasa disebabkan oleh faktor kemudahan situsional. Kesetiaan
semacam ini biasanya banyak terjadi terhadap produk atau Jasa yang
sering dipakai. Contoh dari kesetiaan ini terlihat dari kegiatan pembelian
bensin yang dilakukan konsumen di dekat daerah rumahnya dan
sebagainya.
Pembeli dengan loyalitas yang lemah rentan beralih ke produk
pesaing yang dapat menunjukkan manfaat yang jelas. Meskipun
demikian, perusahaan masih memiliki kemungkinan untuk mengubah
jenis loyalitas ini ke dalam bentuk loyalitas yang lebih tinggi melalui
pendekatan yang aktif ke pelanggan dan peningkatan nilai perbedaan
positif yang diterima konsumen atas produk maupun jasa yang
ditawarkan kepadnya dibandingkan dengan yang ditawarkan para
pesaing lain. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan keramahan
dalam pelayanan dan fasilitas yang diberikan kepada konsumen.
3) Loyalitas Tersembunyi (Laten Loyality)
Jenis loyalitas tersembunyi merupakan sebuah kesetiaan atau
keterikatan yang relatif tinggi yang disertai dengan tingkat pembelian
ulang yang rendah. Konsumen yang mempunyai sikap laten loyality
pembelian ulang juga didasarkan pada pengaruh faktor situasional
daripada sikapnya. Sebagai contoh, seorang suami menyukai masakan
Eropa, tetapi mempunyai istri yang kurang menyukai masakan Eropa.
Maka suami tersebut hanya sesekali saja mengunjungi restoran Eropa
dan lebih sering pergi ke restoran yang dimana masakan yang
ditawarkan dapat dinikmati bersama.
4) Loyalitas Premium (Premium Loyalty)
Loyalitas ini merupakan yang terjadi bilamana suatu tingkat
keterikatan tinggi yang berjalan selaras dengan aktivitas pembelian
kembali. Setiap perusahaan tentunya sangat mengharapkan kesetiaan
jenis ini dari setiap usaha preference yang tinggi. Contoh jenis loyalty
premium adalah rasa bangga yang muncul ketika konsumen menemukan
dan menggunakan produk atau jasa tersebut dan dengan senang hati
membagi pengetahuan dan merekomendasikannya kepada teman,
keluarga maupun orang lain

Pengertian Loyalitas Konsumen


Secara harfiah loyal berarti setia, atau loyalitas dapat diartikan
sebagai suatu kesetiaan. Kesetiaan ini diambil tanpa adanya paksaan, tetapi
timbul dari kesadaran sendiri pada masa lalu. Usaha yang dilakukan untuk
menciptakan kepuasan konsumen lebih cenderung mempengaruhi sikap
konsumen. Sedangkan konsep loyalitas konsumen lebih menerangkan
kepada perilaku pembelinya.
Komitmen yang menyertai pembelian berulang tersebut adalah
keadaan dimana konsumen tidak mau berpindah walaupun produk maupun
jasa tersebut sedang langka dipasaran dan konsumen dengan sukarela
merekomendasikan produk maupun jasa tersebut kepada rekan, keluarga
atau konsumen yang lain.
Menurut Rangkuti,Freddy (2002:60), “Loyalitas konsumen adalah
kesetiaan konsumen terhadap perusahaan, merek maupun produk. Sutisna
(2003:41) mendefinisikan loyalitas adalah sikap menyenangi terhadap suatu
merek yang dipresentasikan dalam pembelian yang konsisten terhadap
merek itu sepanjang waktu.
Menurut Tjiptono (2004:110), “loyalitas konsumen adalah
komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko atau pemasok berdasarkan
sifat yang sangat positif dalam pembelian jangka panjang”. Dari pengertian
ini dapat diartikan bahwa kesetiaan terhahadap merek diperoleh karena
adanya kombinasi dari kepuasan dan keluhan. Sedangkan kepuasan
pelanggan tersebut hadir dari seberapa besar kinerja perusahaan untuk
menimbulkan kepuasan tersebut dengan meminimalkan keluhan sehingga
diperoleh pembelian jangka panjang yang dilakukan oleh konsumen.
Menurut Durianto (2001:4), “Konsumen yang loyal pada umumnya
akan melakukan pembelian merek tersebut walaupun dihadapkan pada
banyak alternatif merek produk pesaing yang menawarkan karakteristik
produk yang lebih unggul dipandang dari berbagai sudutnya. Dipandang
dari berbagai sudut atributnya. Bila banyak konsumen dari suatu merek
masuk dalam kategori ini, berarti mereka tersebut memiliki ekuitas merek
yang kuat. Ekuitas merek adalah seperangkat harta dan hutang merek yang
terkait dengan suatu merek, nama, simbol, yang mampu menambah atau
mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah produk atau jasa baik pada
perusahaan maupun pada pelanggan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai

Menurut Kasmir (2016) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja
pegawai, yaitu:
1) Kompetensi/Kemampuan
Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan.
Semakin memiliki kemampuan dan keahlian maka akan dapat
menyelesaikan pekerjaannya secara benar dan sesuai dengan yang
ditetapkan.
2) Pengetahuan
Maksudnya adalah pengetahuan tentamg pekerjaan. Seseorang yang
memiliki pengetahuan tentang pekerjaan secara baik akan memberikan
hasil pekerjaan yang bagus.
3) Rancangan kerja
Adapun rancangan pekerjaan yang akan memudahkan pegawai dalam
mencapai tujuannya.
4) Kepribadian
Kepribadian seseorang atau karakter yang dimiliki seseorang. Setiap
orang memiliki kepribadian atau karakter yang berbeda satu sama lain.
Seseorang yang memiliki kepribadian atau karakter yang baik akan dapat
melakukan
pekerjaan secara sungguh-sungguh penuh tanggung jawab sehingga hasil
pekerjaannya juga baik.
5) Motivasi kerja
Adalah dorongan bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan. Jika
karyawan memiliki dorongan yang kuat dari dalam dirinya atau dorongan
dari luar dirinya (misalnya dari pihak perusahaan).
6) Kepemimpinan
Adalah perilaku seorang pemimpin dalam mengatur, mengelola dan
memerintah bawahannya untuk mengerjakan sesuatu tugas dan tanggung
jawab yang diberikannya.
7) Gaya kepemimpinan
Adalah gaya atau sikap seorang pemimpin dalam mengahadapin atau
memerintahkan bawahannya. Dalam pratiknya gaya kepemimpinan ini
dapat diterapkan sesuai dengan kondisi organisasinya.
8) Budaya organisasi
Adalah kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang berlaku dan dimiliki
oleh suatu organisasi atau perusahaan.
9) Kepuasan kerja
Adalah perasaan senang atau gembira, atau perasaan suka seseorang
sebelum dan setelah melakukan suatu pekerjaan.
10) Lingkungan kerja
Adalah suasana atau kondisi disekitar lokasi tempat bekerja. Limgkungan
kerja dapat berupa ruangan, layout, sarana dan prasarana serta hubungan
kerja dengan sesama rekan kerja.
11) Loyalitas
Adalah kesetiaan karyawan untuk tetap bekerja dan membela perusahaan
dimana tempatnya bekerja. Kesetiaan itu ditunjukan dengan terus bekerja
sungguh-sungguh sekalipun perudahaannya dalam kondisi kurang baik.
12) Komitmen
Adalah kepatuhan karyawan untuk menjalankan kebijakan atau peraturan
perusahaan dalam bekerja.
13) Disiplin kerja
Adalah usaha karyawana untuk menjalankan aktivitas kerjanya secara
sungguh-sungguh. Disiplin kerja dalam hal ini dapat berupa waktu,
misalnya masuk kerja selalu tetap waktu.

Pengertian Kinerja Pegawai


Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluhan
selama priode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan
berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target, sasaran atau kriteria
yang telah ditenyukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2013) kinerja adalah hasil kerja
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
Menurut Irham Fahmi (2016) kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh
suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non profit
oriented yang dihasilkan selama satu periode waktu.
Menurut Kasmir (2016) mengatakan kinerja merupakan hasil kerja dan
perilaku kerja yang telah dicapai dalam suatu menyesaikan tugas-tugas dan
tanggung jawab yang diberikan dalam suatu periode tertentu. Sedangkan
menurut Edison (2016) kinerja adalah hasil dari suatu peroses yang mengacu
dan diukur selama periode waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau
kesepakatan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dimensi dan Indikator Kinerja


Indikator adalah ukuran yang dapat menunjukan sejauh mana seorang
karyawan dapat bekerja dengan optimal. berdasarkan teori dari John Miner
(2019:70) yang dialih bahasakan oleh Anwar Prabu Mangkunegara dimensi dan
indikator Kinerja adalah sebagai berikut :

  1. Kualitas kerja
    Kualitas adalah suatu yang terkait dengan proses pekerjaan sampai hasil kerja
    yang bisa di ukur dari tingkat efisiensi dan efektifitas seseorang dalam
    melakukan suatu pekerjaan yang di dukung oleh sumber daya lainnya. Adapun
    indikator dari kualitas yaitu : kerapihan, ketelitian dan kehandalan
  2. Kuantitas kerja
    Kuantitas yaitu satuan jumlah atau batas maksimal yang harus dicapai oleh
    pekerja dengan waktu yang telah ditentukan oleh pimpinan perusahaan. Adapun
    indikator dari kuantitas yaitu : ketepatan waktu, hasil kerja, dan kepuasan kerja
  3. Kerjasama
    Kerjasama merupakan sikap dan perilaku setiap karyawan yang menjalin
    hubungan kerjasama dengan pimpinan atau rekan kerja untuk menyelesaikan
    pekerjaan secara bersama-sama. Adapun indikator dari kerjasama yaitu :
    jalinan kerjasama dan kekompakan
  4. Tanggung jawab
    Tanggung jawab merupakan hal yang terkait dengan hasil pekerjaan yang telah
    diselesaikan yang harus dipertanggung jawabkan para karyawan apabila masih
    ada pekerjaan yang belum sesuai dengan harapan pemimpin. Adapun indikator
    dari tanggung jawab yaitu : rasa tanggung jawab dalam mengambil keputusan
    dan memanfaatkan sarana dan prasarana
  5. Inisiatif
    Inisiatif adalah segala bentuk gerakan dari dalam diri anggota untuk melakukan
    pekerjaan serta mengatasi masalah. Adapun indikator dari inisiatif yaitu :
    kemandirian

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Menurut Mangkunegara (2019:15), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kinerja terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor
yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. Salah satunya disiplin kerja. Dan
faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang
berasal dari lingkungan kerja, seperti perilaku, sikap dan tindakan- tindakan rekan
kerja, bawahan atau pemimpin, fasilitas kerja dan iklim organisasi.
Sedangkan menurut Mathis dan Jackson yang dikutip oleh Noor (2019:280)
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah kemampuan, motivasi, dukungan
yang diterima, keberadaan pekerjaan yang dilakukan dan hubungan karyawan dan
organisasi
Sedangkan menurut Umam (2019:190) ada tiga faktor yang berpengaruh
terhadap kinerja yaitu :

  1. Faktor individu yang meliputi :
    a. Kemampuan
    b. Keterampilan
    c. Latar belakang keluarga
    d. Pengalaman kerja
    e. Tingkat sosial, dan
  2. Faktor psikologi
    a. Sikap
    b. Kepribadian
    c. Motivasi, dan
    d. Kepuasan kerja
  3. Faktor organisasi
    a. Struktur organisasi
    b. Desain pekerjaan
    c. Kepemimpinan
    d. Sisitem penghargan
    e. Budaya organisasi

Kegunaan Penilaian Kinerja


Kegunaan penilaian kinerja karyawan ditinjau dari berbagai perspektif
pengembangan perusahaan khususnya manajemen SDM, yaitu dokumentasi untuk
memperoleh data yang pasti, sistematik (berurutan), dan faktual dalam penetuan
nilai suatu pekerjaan. Salah satu kegunaan penilaian kinerja yaitu dapat mengelola
operasional organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian karyawan
secara maksimal. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan
karyawan.
Adapun kegunaan penilaian kinerja yang dikemukakan oleh Veithzal Rivai
(2018:410) menyatakan kegunaan penilaian kinerja sebagai berikut :

  1. Posisi tawar
    Untuk memungkinkan manajemen melakukan negosiasi yang rasional dan
    objektif dengan serikat buruh (kalau ada) atau langsung dengan karyawan
  2. Perbaikan kinerja
    Umpan balik pelaksanaan kerja yang bermanfaat bagi karyawan, dan manajer dalam
    bentuk kegiatan untuk meningkatkan kinerja karyawan
  3. Penyesuaian kompensasi
    Penilaian kinerja membantu mengambil keputusan dalam penyesuaian ganti
    rugi, menentukan siapa yang perlu dinaikan upahnya, bonus atau kompensasi
    lainnya. Banyak perusahaan mengabaikan sebagian atau semua dari bonus dan
    peningkatan upah mereka atas dasar penilaian kinerja
  4. Keputusan penempatan
    Membantu dalam promosi, keputusan penempatan, perpindahan, dan
    penurunan pangkat pada umumnya didasarkan pada masa lampau atau
    mengantisipasi kinerja
  5. Pelatihan dan pengembangan
    Kinerja buruk mengidikasikan adanya suatu kebutuhan untuk latihan, demikian
    juga, kinerja baik dapat mencerminkan adanya potensi yang belum digunakan
    dan harus dikembangkan oleh organisasi, perusahaan atau instansi
  6. Perencanaan dan pengembangan karier
    Umpan balik penilaian kerja dapat digunakan sebagai paduan dalam
    perencanaan dan pengembangan karier karyawan, penyusunan program
    pengembangan karier yang tepat, dapat menyelaraskan antara kebutuhan
    karyawan dengan kepentingan perusahaan
  7. Evaluasi proses staffing
    Prestasi kerja yang baik atau buruk mencerminkan kekuatan atau kelemahan
    prosedur staffing departemen SDM
  8. Defisiensi proses penempatan karyawan
    Kinerja yang baik atau jelek mengisyaratkan kekuatan atau kelemahan dalam
    prosedur penempatan karyawan di departemen SDM
  9. Ketidak akuratan informasi
    Kinerja lemah menandakan adanya kesalahan di dalam informasi analisis
    pekerjaan, perencanaan SDM atau sistem informasi manajemen SDM.
    Pemakaian informasi yang tidak akurat dapat mengakibatkan proses
    rekrutmen, pelatihan, atau pengambilan keputusan tidak sesuai
  10. Kesalan dalam merancang kesalahan
    Kinerja yang lemah mungkin merupakan suatu gejala dari rancangan
    pekerjaan yang kurang tepat
  11. Kesempatan kerja yang adil
    Penilaian kinerja yang akurat terkait dengan pekerjaan dapat memastikan
    bahwa keputusan penempatan internal tidak bersifat diskriminatif
  12. Elemen-elemen pokok sistem penilaian kinerja
    Departemen SDM biasanya mengembangkan penilaian kinerja bagi karyawan
    di semua departemen. Elemen pokok sistem penilaian ini mencakup kriteria
    yang ada hubungan dengan pelaksanaan kerja dan ukuran-ukuran kriteria
  13. Umpan balik ke SDM
    Kinerja baik atau jelek yang dilakukan karyawan di seluruh perusahaan,
    mengidikasikan seberapa baik departemen Sumber Daya Manusia berfungsi
    berdasarkan uraian di atas, penulis sampai pada pemahaman penilaian kinerja
    dapat memperbaiki keputusan-keputusan manajemen dan memberikan umpan
    balik kepada manajemen serta pegawai tersebut untuk mencapai tujuan

Tujuan Penilaian Kinerja


Tujuan penilaian kinerja menurut Rivai (2018:408) menyatakan tujuan
penilaian kinerja pada dasarnya meliputi :

  1. Untuk mengetahui tingkat prestasi karyawan selama ini
  2. Pemberian imbalan yang serasi, misalnya untuk pemberian kenaikan gaji
    berkala, gaji pokok, kenaikan gaji istimewa, insentif uang
  3. Mendorong pertanggung jawaban karyawan
  4. Untuk pembeda yang satu dengan yang lain
  5. Pembangunan SDM yang masih dapat dibedakan lagi ke dalam
    a. Penugasan kembali, seperti diadakannya mutasi atau transfer, rotasi
    b. Promosi kenaikan jabatan
    c. Training atau latihan
  6. Meningkatkan motivasi kerja
  7. Meningkatkan etos kerja
  8. Riset seleksi sebagai kriteria keberhasilan/efektivitas
  9. Memperkuat hubungan antara karyawan dengan supervisor melalui diskusi
    tentang kemajuan kerja mereka
  10. Sebagai alat untuk memperoleh umpan balik dari karyawan untuk memperbaiki
    desain pekerjaan, lingkungan kerja, dan rencana karier selanjutnya
  11. Sebagai salah satu sumber informasi untuk perencanaan SDM, karier dan
    keputusan perencanaan suksesi
  12. Membantu penempatan karyawan dengan pekerjaan yang sesuai untuk
    mencapai hasil yang baik secara menyeluruh atau bisa disebut right man on
    the right place
  13. Sebagai sumber informasi untuk pengambilan keputusan yang berkaitan
    dengan gaji, upah dan sebagai imbalan lainnya sehingga tercipta keadilan
  14. Sebagai penyalur keluhan yang berkaitan dengan masalah pribadi maupun
    kerjaan
  15. Sebagai alat untuk menjaga tingkat kinerja
  16. Sebagai alat untuk membantu dan mendorong karyawan untuk mengambil
    insentif dalam rangka memperbaiki kinerja
  17. Mengidentifikasi dan menghilangkan hambatan-hambatan agar kinerja menjadi
    baik
  18. Mengembangkan dan menetapkan kompensasi pekerjaan
  19. Untuk mengetahui efektivitas sebagai SDM, seperti seleksi, rekrutmen,
    pelatihan dan analisis pekerjaan sebagai komponen yang saling ketergantungan
    diantara fungsi-fungsi SDM
  20. Pemutus hubungan pekerja, pemberian sanksi ataupun hadiah

Pengertian Kinerja


Menurut Mangkunegara (2019:67) pengertian kinerja pegawai adalah “hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.
Sama halnya seperti Hasibuan (2018:94) menyatakan bahwa kinerja adalah
suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melakukan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan
serta waktu.
Adapun menurut Rivai (2018:406) menyatakan kinerja sebagai berikut
“kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi
yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.”
Selain itu pendapat Marwansyah (2018:229) yang menyatakan kinerja
sebagai berikut “kinerja atau unjuk kerja adalah pencapaian atas prestasi seseorang
berkenaan dengan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.”

Kinerja Karyawan


Kinerja dalam sebuah organisasi merupakan salah satu unsur yang tidak
dapat dipisahkan, baik itu lembaga pemerintahan maupun lembaga swasta. Kinerja
sebagai hasil-hasil fungsi pekerjaan atau kegiatan seseorang atau kelompok dalam
suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan
organisasi dalam waktu tertentu. Fungsi pekerjaan atau kegiatan yang dimaksudkan
adalah pelaksanaan hasil pekerjaan atau kegiatan seseorang atau kelompok yang
menjadi tanggung jawab seseorang tersebut dalam organisasi

Dimensi dan Indikator Komitmen


Dalam mengukur variable komitmen terdapat beberapa dimensi dan
indikator yang mempengaruhi karyawan dalam menjalankan tugas yang diberikan
kepadanya. Berikut adalah yang menjadi dimensi dan indikator komitmen organiasi
yang dikemukakan Darmawan (2018:169) ada 3 dimensi organisasi yaitu:

  1. Komitmen Afektif
    Komitmen Afektif (affective commitment), merupakan keterikatan emosional t
    erhadap organisasi dan kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi.
    a. Keinginan berkarir di organisasi.
    b. Rasa percaya terhadap organisasi
    c. Pengabdian kepada organisasi
  2. Komitmen Berkelanjutan
    Komitmen berkelanjutan (continuance commitment) yang tinggi akan bertahan
    di organisasi, bukan karena alasan emosional, tetapi karena adanya kesadaran
    dalam individu tersebut akan kerugiaan yang akan dialami jika meninggalkan
    organisasi.
    a. Kecintaan karyawan kepada organisasi
    b. Keinginan bertahan dengan pekerjaannya
    c. Bersedia mengorbankan kepentingan pribadi
    d. Keterikatan karyawan kepada pekerjaan
    e. Tidak nyaman meninggalkan pekerjaan saat ini
  3. Komitmen Normatif
    Komitmen normatif (normative commitment) merupakan suatu keharusan untuk
    tetap menjadi anggota organisasi karena alasan moral atau alasan etika.
  4. Kesetiaan terhadap organisasi
    a. Kebahagiaan dalam bekerja
    b. Kebanggaan bekerja pada organisasi
    c. Merasa malu untuk meninggalkan organisasi
    Berdasarkan pemaparan Allen dan Meyer dalam Darmawan (2018:169)
    Seseorang dikatakan memiliki komitmen organisasi dapat dikenali dengan
    kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi,
    kemauan yang kuat untuk bekerja demi organisasi dan keinginan yang kuat untuk
    tetap menjadi anggota organisasi

Manfaat Komitmen


Organisasi menginginkan agar seluruh karyawan memiliki komitmen
yang tinggi, manfaat komitmen karyawan bagi organisasi, yaitu :

  1. Menghindari biaya pergantian karyawan yang tinggi
    Seseorang yang berkomitmen tidak menyukai untuk berhenti dari
    pekerjaannya dan menerima pekerjaan lainnya. Ketika seorang karyawan
    berkomitmen maka tidak akan terjadi pergantian karyawan yang tinggi.
    Komitmen organisasi mempengaruhi apakah seorang karyawan akan tetap
    bertahan sebagai anggota organisasi atau meninggalkan organisasi untuk
    mencari pekerjaan lain. Keluarnya seorang karyawan dari suatu organisasi
    dapat dilakukan secara sukarela atau dikeluarkan secara paksa oleh organisasi.
    Seorang pegawai yang memiliki komitmen yang kuat maka dia akan bertahan
    untuk anggota organisasi. Karyawan yang tidak memilki komitmen terhadap
    organisasi maka dia akan mudah untuk menarik diri atau keluar dari suatu
    organisasi.
  2. Mengurangi atau meringankan supervise karyawan
    Karyawan yang berkomitmen dan memiliki keahlian yang tinggi akan
    mengurangi keperluan supervise terhadapnya. Supervise yang ketat dan
    pengawasan yang melekat akan membuang-buang waktu dan biaya dan
    membuat karyawan merasa kurang nyaman.
  3. Meningkatkan efektifitas organisasi
    Penelitian menunjukan bahwa ketiadaan komitmen dapat mengurangi
    efektivitas organisasi. Sebuah organisasi yang pegawainya memiliki komitmen
    organisasi akan mendapatkan hasil yang diinginkan seperti kinerja tinggi,
    tingkat pergantian pegawai rendah dan tingkat ketidak hadiran yang rendah.
    Selain itu juga akan menghasilkan hal lain yang diinginkan yaitu iklim
    organisasi yang hangat, mendukung menjadi anggota tim yang baik dan siap
    membantu

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komitmen Karyawan


Simatupang (2018: 13) berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi. Faktor faktor tersebut
dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:

  1. Karakteristik pribadi yang berkaitan dengan usia karyawan dan masa kerja,
    tingkat pendidikan status perkawinan, dan jenis kelamin.
  2. Karakteristik pekerjaan yang berkaitan dengan peran, self employment,
    otonomi, jam kerja, tantangan dalam pekerjaan, serta tingkat kesulitan dalam
    pekerjaan.
  3. Pengalaman kerja dipandang sebagai suatu kekuatan sosialisasi utama yang
    mempunyai pengaruh penting dalam pembentukan ikatan psikologi dengan
    organisasi
  4. Karakteristik struktural yang meliputi kemajuan karier dan peluang promosi,
    besar atau kecilnya organisasi, dan tingkat pengendalian yang dilakukan
    organisasi terhadap karyawan

Pengertian Komitmen

Pendapat Darmawan (2018:169) menyatakan bahwa: “Komitmen adalah
suatu konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota
organisasi dengan organisasinya, dan memiliki implikasi terhadap keputusan
individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi”.
Sedangkan menurut Noor (2019: 131) : “Komitmen adalah derajat sejauh
mana keterlibatan seseorang dalam organisasinya dan kekuatan identifikasinya
terhadap suatu organisasi tertentu”.
Selanjutnya Wibawa (2018: 12) menyatakan bahwa: “Komitmen adalah hal
yang berharga untuk seluruh organisasi, dan bukan hanya untuk pekerjaan,maupun
kelompok kerja. Komitmen karyawan sendiri bersifat relatif dari individu dalam
mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam bagian organisasi itu sendiri”.
Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli diatas, dapat diambil
kesimpulan bahwa komitmen adalah sikap karyawan untuk tetap berada dalam
perusahaan dan terlibat dalam upaya-upaya mencapai tujuan perusahaan.
2.1.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komitmen Karyawan
Simatupang (2018: 13) berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi. Faktor faktor tersebut
dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:

Indikator Budaya Kerja


Indikator budaya kerja yang baik adalah adanya kedisiplinan dari pelaku
organisasi baik atasan maupun bawahan, adanya ketaatan dalam menjalankan
peraturan yang berlaku dan memiliki nilai-nilai yang baik dalam melaksanakan
budaya kerja tersebut, menurut Sulaeman (2019: 302) Budaya kerja merupakan
sejumlah pikiran dasar atau program mental yang dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan efektivitas kerja dan kerjasama manusia yang dimiliki oleh suatu
golongan masyarakat. Serta membagi budaya kerja menjadi dua unsur yaitu:

  1. Sikap terhadap pekerjaan yakni kesuksesan akan kerja dibandingkan dengan
    kegiatan lain, seperti bersantai, atau semata-mata memperoleh kepuasan dari
    kesibukan pekerjaannya sendiri, atau merasa terpaksa melakukan sesuatu
    hanya untuk kelangsungan hidupnya;
  2. Perilaku pada waktu bekerja, yaitu seperti rajin, berdedikasi, tanggung jawab,
    berhati-hati, teliti, cermat, kemauan yang kuat untuk mempelajari tugas dan
    kewajibannya, suka membantu sesama karyawan atau sebaliknya.
    Budaya kerja kini telah diterapkan pada setiap organisasi. Karena dengan
    adanya budaya kerja kebijakan nilai-nilai budaya kerja yang dijalankan organisasi
    membuat semua karyawan harus mematuhi peraturan yang telah ditetapkan. Maka
    dari itu budaya kerja dianggap sangatlah penting dalam sektor perbankan. Karena
    dalam organisasi perbankan identik dengan yang namanya disiplin.
    Menurut Wibowo (2019: 81) Warna budaya kerja adalah produktivitas,
    yang berupa perilaku kerja yang tercermin antara lain: kerja keras, ulet, disiplin,
    produktif, tanggung jawab, motivasi, manfaat, kreatif, dinamik, konsekuen,
    konsisten, responsive, mandiri, makin lebih baik, dan lain-lain. Dimensi budaya
    kerja yang harus dimiliki oleh setiap organisasi, yaitu:
  3. Profesionalisme adalah kompeten dibidangnya dan senantiasa mengembangkan
    diri sehingga menghasilkan kinerja terbaik serta memberikan nilai tambah bagi
    perusahaan.
  4. Kerjasama adalah membangun hubungan yang tulus dan terbuka dengan semua
    karyawan dan semua pihak yang dilandasi sikap saling percaya dan menghargai
    untuk mencapai tujuan bersama.
  5. Pelayanan Prima adalah memberikan pelayanan yang melebihi harapan
    pelanggan (internal dan eksternal).
  6. Inovasi adalah senantiasa mengembangkan gagasan baru dan penyempurnaan
    berkelanjutan yang bernilai tambah bagi perusahaan.
  7. Keteladanan adalah mulai dari diri sendiri menjadi suri tauladan dalam
    berperilaku yang mencerminkan nilai-nilai budaya kerja suatu organisasi atau
    perusahaan. (Wibowo, 2019: 81)
    Dari teori di atas, dapat penulis simpulkan program budaya kerja akan
    menjadi kenyataan melalui proses panjang, karena perubahan nilai-nilai lama
    menjadi nilai-nilai baru akan memakan waktu untuk menjadi kebiasaan dantak
    henti-hentinya terus melakukan penyempurnaan dan perbaikan

Fungsi dan Manfaat Budaya Kerja

Budaya kerja merupakan hal yang sangat penting yang dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan efektivitas kerja dalam suatu perusahaan. Menurut Robbins
(2018: 82) menjelasakan mengenai fungsi budaya dan manfaat dari terlaksananya
budaya kerja yaitu sebagai berikut:

  1. Mempunyai boundrary-difining roles, yaitu menciptakan perbedaan antara
    organisasi yang satu dengan lainnya;
  2. Menyampaikan rasa indentitas untuk anggota organisasi;
  3. Budaya memfasilitasi bangkitnya komitmen pasa sesuatu yang lebih besar
    daripada kepetingan diri individual;
  4. Meningkatkan stabilitas sistem sosial. Budaya adalah perekat sosial yang
    membantu menghimpun organisasi bersama dengan memberikan standar yang
    cocok atas apa yang dikatakan dan dilakukan pekerja;
  5. Budaya melayani sebagai sense-making dan mekanisme kontrol yang
    membimbing dan membentuk sikap dan perilaku karyawan.
    Pujiani (2018: 13) menuturkan budaya kerja dapat diartikan yang sangat
    dalam karena akan mengubah sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk
    mencapai produktivitas kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa
    depan. Manfaat yang dapat diperoleh, seperti menjamin hasil kerja dengan kualitas
    yang lebih baik, membuka seluruh jaringan komunikasi, keterbukaan,
    kebersamaan, bergotong-royong, kekeluargaan, menemukan kesalahan dan cepat
    memperbaiki kesalahan, cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan dari luar
    (faktor eksternal) organisasi, serta mengurangi laporan berupa data-data dan
    informasi yang salah dan palsu. Selain itu, terdapat beberapa manfaat lain dari
    budaya kerja, seperti kepuasan kerja meningkat, pergaulan yang lebih akrab,
    disiplin yang meningkat, pengawasan fungsional berkurang, pemborosan yang
    bekurang, tingkat kehadiran menurun, adanya keinginan belajar terus, keinginan
    memberikan yang terbaik bagi organisasi, dan lain-lain.

Pengertian Budaya Kerja


Budaya kerja adalah nilai, karakteristik, dan atribut yang dimiliki suatu
perusahaan dan dijalankan oleh setiap pekerja. Menurut Triguno dalam Ruliyansa
(2018 : 83) Budaya kerja merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan
perusahaan atau organisasi dalam membangun prestasi dan produktivitas kerja
para pegawai sehingga mengarahkan perusahaan kepada keberhasilan yang
dilakukan dengan kesadaran masing-masing individu, sedangkan kesadaran
adalah merupakan sikap seseorang yang secara sukarela mentaati semua peraturan
dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya.
Budaya kerja adalah Cara kerja sehari-hari yang bermutu dan selalu
mendasari nilai-nilai yang penuh makna, sehingga menjadi motivasi, memberi
inspirasi, untuk senantiasa bekerja lebih baik, dan memuaskan bagi masyarakat
yang dilayani (Ruliyansa, 2018 : 83) . Sedangkan menurut Sulaksono (2019: 385)
budaya kerja adalah “ The way we are doing here” artinya sikap dan perilaku
pegawai dalam melaksanakan tugas.
Selanjutnya Robbins (2018:721) budaya kerja mengarah kepada kesatuan
sistem makna bersama yang dianut oleh anggota organisasi yang membedakan
organisasi itu dengan organisasi yang lain. Budaya kerja adalah perwujudan dari
kehidupan yang dijumpai di tempat kerja. Secara lebih khusus, budaya kerja
merupakan suatu sistem makna yang terkait dengan kerja, pekerjaan dan interaksi
kerja yang disepakati bersama dan digunakan di dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya menurut Hartanto (2019: 19) budaya kerja yang terdapat dalam suatu
organisasi adalah tempat mengasah anggota organisasi berkarya di organisasi
tersebut. Kualitas dari karakter budaya kerja inilah yang akan membentuk besar
kecilnya kemauan, hasrat, dan gairah anggota organisasi untuk memunculkan dan
memanfaatkan potensi insani mereka untuk dikontribusikan pada proses
penciptaan kinerja organisasi.
Menurut Moeljono (2018: 90) budaya mempunyai suatu dampak yang
sangat kuat dan semakin besar pada prestasi kerja organisasi, yaitu:

  1. Budaya korporat dapat mempunyai dampak signifikan pada prestasi kerja
    ekonomi organisasi dalam jangka panjang;
  2. Budaya korporat bahkan mungkin merupakan faktor yang lebih penting dalam
    menentukan sukses atau kegagalan suatu organisasi dalam masa mendatang;
  3. Budaya korporat yang menghambat prestasi keuangan yang kokoh dalam
    jangka panjang adalah tidak jarang, dan budaya itu berkembang dengan mudah,
    bahkan dalam organisasi yang penuh dengan orang yang bijaksana dan pandai;
  4. Walaupun sulit diubah, budaya korporat dapat dibuat untuk lebih meningkatkan
    prestasi.

Budaya Kerja


Budaya kerja akan terlihat dari praktik kepemimpinan, perilaku karyawan,
fasilitas tempat kerja, hingga kebijakan sebuah perusahaan, menurut Darojat (2018:
25) Budaya adalah suatu dampak dari proses yang secara tidak langsung
berkesinambungan. Proses terjadinya suatu budaya dimulai dari tindakan misalnya
bekerja berhati-hati yang terjadi berulang-ulang menjadi kebiasaan, yang apabila
terus berlangsung lama menjadi tabiat berhati-hati individu. Apabila suatu
kelompok individu mempunyai kesamaan tabiat berhati-hati maka dapat disebut
bahwa budaya kerja kelompok tersebut adalah budaya berhati-hati. Jadi budaya
kerja organisasi adalah bentuk etika, sikap, perilaku dan cara pandang bersama dari
kelompok yang tergabung dalam organisasi tersebut terhadap setiap masalah atau
perubahan lingkungan yang bervariasi

Indikator Lingkungan Kerja


Yang menjadi dimensi dan indikator lingkungan kerja menurut
Sedarmayanti (2020:21) adalah sebagai berikut:

  1. Lingkungan kerja fisik
    a. Pencahayaan
    Penerangan dan pencahayaan sangat besar manfaatnya bagi karyawan guna
    mendapatkan kenyamanan dan kelancaran dalam bekerja
    b. Kelembaban
    Kelembaban adalah banyak air yang terkandung dalam udara, biasanya
    dinyatakan dalam persentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi
    oleh temperatur udara, dan secara bersama-sama antara temperatur,
    kelembaban, kecepatan udara bergerak, dan radiasi panas dari udara tersebut
    akan mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat menerima atau
    melepaskan panas dari tubuhnya
    c. Kebisingan
    Salah satu polusi yang cukup menyibukkan para pakar untuk mengatasinya
    adalah kebisingan, yaitu bunyi yang tidak dikehendaki oleh telinga. Tidak
    dikehendaki karena terutama dalam janka panjang bunyi tersebut dapat
    mengganggu ketenangan dalam bekerja, merusak pendengaran, dan
    menimbulkan kesalahan komunikasi yang dapat merusak kerja sama.
    d. Pewarnaan
    Warna dapat berpengaruh terhadap jiwa manusia, sebenarnya bukan warna
    saja yang diperhatikan tetapi komposisi warna yang dapat berpengaruh
    terhadap konsentrasi
    e. Ruang gerak
    Ruang gerak yang diperlukan suatu organisasi sebaiknya karyawan yang
    bekerja mendapat tempat yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan atau
    tugas. Karyawan tidak mungkin dapat bekerja dengan tenang danmaksimal
    jika tempat yang tersedia tidak dapat memberikan kenyamanan
    f. Fasilitas
    Fasilitas merupakan suatu penunjang untuk karyawan dalam menjalankan
    aktivitas dalam bekerja.
    g. Bau-bauan di tempat kerja
    Adanya bau-bauan di sekitar tempat kerja dapat dianggap sebagai
    pencemaran, karena dapat mengganggu konsentrasi bekerja, dan bau- bauan
    yang terjadi terus menerus dapat mempengaruhi kepekaan penciuman.
  2. Lingkungan kerja non fisik
    a. Hubungan dengan pemimpin
    Hubungan atasan dengan bawahan atau karyawannya harus di jaga dengan
    baik dan harus saling menghargai antara atasan dengan bawahan, dengan
    saling menghargai maka akan menimbulkan rasa hormat diantara individu
    masing-masin.
    b. Hubungan sesama rekan kerja
    Hubungan dengan rekan kerja yang harmonis dan tanpa saling intrik di
    antara sesama rekan sekerja. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
    karyawan tetap tinggal dalam suatu organisasi adalah adanya hubungan
    yang harmonis dan kekeluargaan.
    c. Komunikasi antar pegawai
    Kerjasama antar karyawan harus dijaga dengan baik, karena akan
    mempengaruhi pekerjaan yang mereka lakukan. Jika kerja sama antar
    karyawan dapat terjalin dengan baik maka karyawan dapat menyelesaikan
    pekerjaan mereka secara efektif dan efisien
    d. Keamanan kerja
    Suatu keadaan yang aman, selamat dan sehat baik fisik maupun mental yang
    berhubungan dengan dunia kerja, unsur-unsur penunjang yang mendukung
    terciptanya suasana kerja yang aman baik berupa materil ataupun
    nonmateril. Guna menjaga tempat dan lingkungan kerja tetapdalam keadaan
    aman, maka perlu diperhatikan adanya keberadaannya. Salah satu upaya
    menjaga keamanan di tempat kerja, dapat memanfaatkan tenaga kerja
    satuan petugas keamanan

Jenis Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja di dalam perusahaan/instansi sangat penting untuk
diperhatikan oleh pimpinan oleh karena lingkungan kerja yang baik mempunyai
pengaruh terhadap efektifitas yang bekerja dalam perusahaan. Di dalam usaha
untuk membuat perencanaan lingkungan kerja maka perlu mengkaji dan
menentukan aspek-aspek pembentuk lingkungan kerja itu sendiri
Menurut Sadarmayanti (2020:19) menyatakan bahwa secara garis besar,
lingkungan kerja terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu :

  1. Lingkungan kerja fisik
    Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang
    terdapat disekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik secara
    langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja fisik dapat dibagi dalam
    dua kategori, yaitu :
    a. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan pegawai seperti : pusat
    kerja, kursi, meja, dan sebagainya
    b. Lingkungan perantara atau disebut juga lingkungan kerja yang
    mempengaruhi kondisi manusia, misalnya temperatur, kelembaban,
    sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau tidak
    sedap, warna, dan lain-lain.
    Untuk dapat memperkecil pengaruh lingkungan fisik terhadap pegawai,
    maka langkah pertama adalah harus mempelajari manusia, baik mengenai fisik
    dan tingkah lakunya.
  2. Lingkungan kerja non fisik
    Lingkungan kerja non fisik adalah keadaan lingkungan tempat kerja
    karyawan yang berupa suasana kerja yang harmonis dimana terjadi hubungan
    atau komunikasi antara bawahan dengan atasan (hubungan vertikal) serta
    hubungan antar sesama karyawan (hubungan horizontal). Dengan adanya
    suasana kerja dan komunikasi yang harmonis, maka karyawan akan merasa
    betah di tempat kerja sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat terlaksanakan
    dengan baik, dengan efektif dan efisien.
    Sedarmayanti (2020:50) menyatakan bahwa lingkungan kerja non fisik
    adalah semua keadaan yang terjadi berkaitan dengan hubungan kerja, baik
    dengan atasan, bawahan maupun sesama rekan kerja. Lingkungan kerja non
    fisik ini juga merupakan kelompok lingkungan kerja yang tidak dapat
    diabaikan.