Prinsip – Prinsip Manajemen Risiko


Menurut (Leo J.Susilo ,Victof Riwu Kaho ISO 31000:3) memiliki prisip
manajemen risiko sebagai berikut :
a. Manajemen risiko melindungi dan menciptakan nilai tambah
Manajemen risiko memberikan kontribusi melalui peningkatan
kemungkinan pencapaian sasaran perusahaan secara nyata. Selaian itu,
juga memberikan perbaikan dalam aspek keselamatan, kesehatan kerja,
kepatuhan uterhadap peraturan perundang-undangan, perlindungan
lingkungan hidup, persepsi publik, kualitas produk, reputasi, corporate
governance, efisiensi operasi dan lain-lain.
b. Manajemen risiko adalah bagian terpadu dari proses organisasi
Manajemen risiko merupakan bagaian dari tanggung jawab manajemen
dan merupakan bagian tidak terpisah dari proses organisasi,proyek, dan
manajemen perubahan. Manajemen risiko bukanlah suatu aktivitas yang
berdiri sendiri dan terpisah dari kegiatan serta proses organisasi dalam
mencapai sasaran.
c. Manajemen risiko adalah bagian dari proses pengambilan keputusan
Manajemen risiko membantu para pengambil keputusan untuk
mengambil keputusan atas dasar pilihan-pilihan yang tersedia dengan
informasi yang selengkap mungkin.
d. Manajemen risiko secara khusus menangani aspek ketidakpastian
Manajemen risiko secara khusus menangani aspek ketidakpastian dalam
proses pengambilan keputusan. Manajemen memperkirakan bagaimana
sifat ketidakpastian dan bagaimanakah hal tersebut harus ditangani.
e. Manajemen risiko bersifat sistematik, terstruktur, dan tepat waktu
Sifat sistematik, terstuktur dan tepat waktu digunakan dalam
pendekatan manajemen risiko inilah yang memberikan kontribusi
terhadap efisiensi dan konsistensi manajemen risiko. Dengan dimikian,
hasilnya dapat dibandingkan dengan memberikan hasil serta perbaikan.
f. Manajemen risiko berdasarkan pada informasi terbaik yang tersedia
Pengalaman, observasi, perkiraan, penilaian ahli dan data lain yang
tersedia. Akan tetapi harus disadari bahwa semua informasi ini
mempunyai keterbatasan yang harus dipertimbangkan dalam porses
pengambilan keputusan, baik dalam membuat model risiko maupun
perbedaan pendapat yang mungkin terjadi di antara para ahli.
g. Manajemen risiko adalah khas untuk penggunanya (tailored)
Manajemen risiko harus diselaraskan dengan konteks internal dan
ekternal organisasi, serta sasaran organisasi dan profil risiko yang
dihadapi organisasi tersebut.
h. Manajemen risiko mempertimbangkan faktor manusia dan budaya
Penerapan manajemen risiko haruslah mengenali kapabilatas organisasi
persepsi dan tujuan masing-masing individu di dalam serta di luar
organisasi, khususnya yang menunjang atau menghambat pencapaian
organisasi.
i. Manajemen risiko harus transparan dan inklusif
Untuk memastikan bahwa manajemen risiko tetap relavan dan terkini,
para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan di setiap
tingkatan organisasi harus dilibatkan secara efektif. Keterlibatan ini
juga harus memungkinkan para pemangku kepentingan terwakili
dengan baik dan mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan
pendapat serta kepentingannya, terutama dalam merumuskan kriteria
risiko.
j. Majemen risiko bersifat dinamis, berulang, dan tanggap tehadap
perubahan
Ketika terjadi peristiwa baru, baik di dalam maupun di luar organisasi,
konteks manajemen risiko dan pemahaman yang ada juga mengalami
perubahan. Manajemen risiko senantiasa memerhatikan, merasakan,
dan tanggap terhadap perubahan.
k. Manajemen risiko harus memfasilitasi terjadinya perbaikan dan
peningkatan organisasi secara berlanjut
Manjemen organisasi harus senantiasa mengembangkan dan
menerapkan perbaikan strategi manajemen risiko serta meningkatkan
kematangan pelaksanaan manajemen risiko, sejalan dengan aspek lain
dari organisasi.

Manjemen Risiko berbasis ISO 31000


Definisi dan Ruang Lingkup ISO 31000 merupakan standart yang berkaitan
dengan manajemen risiko yang dikodifikasi oleh internasional Organization for
Standardization (ISO) atau organisasi untuk standarisasi. Standar internasional
yang menyediakan prinsip dan panduan generik untuk penerapan manajemen
risiko. ISO 31000 dapat digunakan untuk organisasi perusahaan publik,
perusahaan swasta, organisasi nirlaba, kelompok, ataupun perseorangan. Oleh
karena itu, standar ini tidak spesifik bagi industri atau sektor tertentu.
Walaupun standar ini menyediakan panduan genrik, hal ini tidak
dimaksudkan untuk membuat keseragaman penerapan manajemen risiko pada
semua organisasi. Perencanaan dan penerapan manajemen risiko akan tergantung
pada kebutuhan yang bervariasi dari setiap organisasi, khususnya sasaran dari
setiap organisasi yang berbeda, konteks, struktur, produk, jasa, proyek dan proses
operasi, serta praktik-praktik khas yang digunakan.
Dalam Standar Internasional ini, digunakan dua macam istilah,
yaitu“manajemen risiko” dan “pengolahan risiko”. Secara umum “manajemen
risiko” merujuk pada arsitektur (prinsip, kerangka kerja, dan proses) untuk
mengelola risiko, sedangkan “mengelola risiko” mengacu pada bagaimana
arsitektur tadi digunakan terhadap suatu risiko tertentu.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen
risiko berbasis ISO 31000 adalah sebagai berikut :
1) Menetapkan konteks secara umum
Dengan ditetapkannya konteks berarti manajemen organisasi menentukan
batasan atau parameter internal dan eksternal yang akan dijadikan
pertimbangan dalam pengelolaan rsiko, menentukan lingkup kerja, dan
kriteria risiko untuk proses-proses selanjutntya. Konteks yang ditetapkan
harus meliputi semua parameter internal dan eksternal yang relavan dan
penting bagi organisasi. Dalam menetapkan konteks akan banyak ditemui
kesamaan parameter dengan proses sebelumnya, saat membuat kontek
untuk prosedur manajemen risiko, perlu dipertimbangkan secara lebih rinci
dan khususnya bagaimana hal tersebut saling berhubungan dengan lingkup
prosedur manajemen risiko (Susilo & Kaho 2010:87)
2) Menentukan konteks eksternal
Konteks ekternal adalah lingkungan eksternak dimana organisasi tersbut
mengupayakan pencapaian sasaran yang ditetapkannya. Memahami
konteks ekternal penting untuk memastikan siapa saja pemangku
kepentingan eksternal dan apa saja kepentingan dan sasarannya sehingga
dapat dipertimbangkan dalam menentukan kriteria risiko. Proses
penentuan kriteria risiko ini dilakukan dengan mempertimbangkan konteks
organisasi secara luas, tetapi dengan memperhatikan ketentuan hokum dan
peraturan perundangan secara lebih rinci, persepsi para pemangku
kepentingan, san aspek lain yang spesifik dari risiko tertentu pada proses
manajemen risiko.
Konteks ekternal dapat meliputi, tetapi terbatas pada hal-hal berikut :
Lingkungan politik, ekonomi, social,budaya,hokum,keunagan,
teknologi, dan keadaan alam, baik nasioanal regional maupun
internasional yang berpengaruh terhadap pencapaian sasaran
organisasi.
Persepsi dan nilai – nilai para pemangku kepentingan eksternal.
3) Menentukan konteks internal
Konteks internala dalah lingkungan internal dimana organisasi tersebut
mengupayakan pencapaian sasaran yang ditetapkannya. Proses manajemen
risiko haruslah diseleraskan dengan budaya, proses dan struktur organisasi.
Konteks internal adalah segala sesuatu didalam organisasi yang dapat
mempengaruhi cara organisasi mengelola risiko. Hal ini harus ditetapkan
karena :
Proses manajemen risiko dilaksanakan dalam bentuk pencapaian
sasaran organisai.
Sasaran dan kriteria dalam sutau proses atau proyek harus di
pertimbangkan dengan memerhatikan sasaran organisasi secara
keseluruhan.
Salah satu risiko terbesar adalah kegagaln organisasi dalam
mencapai sasaran strategis, sasaran proyek, dan sasaran bisnis.
Risiko kegagalan ini mempengaruhi kemampuan organisasi dalam
memenuhi kewajibannya dan dapat berakibat pada kredibilitas,
kepercayaan, serta nilai organisasi.
Penting untuk memahami konteks internal ini dalam pengertian
misalnya sebagai beriikut :
Kapabilitas organisasi dalam pengertian sumber daya dan
sumber pengetahuan yang dimiliki (misalnya modal, waktu,
orang, system, proses, dan teknologi)
Sistem informasi, alur komunikasi, dan proses pengambilan
keputusan, baik yang for,a; ,maupun informal
Kebujakan, sasaran, dan strategi untuk mencapainya
Para emangku kepentingan internal
Persepsi, nilai-nilaui dan budaya organisasi
Standard dan model acuan yang diadopsi organisasi serta
Struktur (governance, peran dan akuntabilitas)
4) Menetapkan konteks proses atau prosedur manajemen risiko
Konteks proses manajemen risiko adalah konteks dimana proses
manajemen risiko diterapkan. Hal ini meliputi sasaran organisasi, startegi,
lingkup. Parameter kegiatan organisasi, atau bagian lain dimana
manajemen risiko diterapkan. Penerapan manajemen risiko dilaksanakan
dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat dalam pelaksanaanya.
Sumber daya, tanggung jawab, akuntabilitas,kewenangan, dan
pencatatan/dokumentasi proses yang diperlukan, harus ditentukan dengan
baik.
Konteks manajemen risiko akan berubah sesuai dengan kebutuhan
organisasi. Hal ini dapat meliputi, tetapi tidak terbatas pada hal – hal
sebagai berikut.
Penetapan tanggung jawab ubtuk proses manajemen risiko.
Penetapan lingkup kegiatan manajemen risiko, baik dari luas
maupun kedalamannya termasuk bila ada hal-hal khusus yang
harus diperhatikan atau tidak dicakup.
Penentuan tujuan, sasaran, lokasi, maupun tempat dari kegiatan,
proses,fungsi,proyek,produk jasa dan harta yang terkena kegiatan
manajemen risiko.
Penentuan hubungan dari proyeka tau kegiatan khusus organisasi
dengan proyek dan kegiatan lain organisasi.
Penentuan metode untuk penilaian kinerja manajemen risiko.
Melakukan identifikasi dan spesifikasi keputusan-keputusan yang
harus di ambil.
Melakukan identifikasi, lingkup, ataupun kerangka kajian studi
yang diperlukan, termasuk luas dan sasaranya serta sumber daya
yang diperlukan untuk melakukan kajian tersebut.
Perhatian terhadap factor relavan dan lainnya harus mampu memastikan
bahwa pendekatan manajemen risiko yang diterapkan sesuai sengan
keadaan organisasi dan risiko yang mempengaruhi pencapaian tujuannya
(Susilo & Kaho 2010:88)

Ruang Lingkup Risiko Operasional


 Menurut Lam (2014:241-246), ruang lingkup risiko operasional terdiri atas :
a. Risiko Proses
Risiko operasional timbul dari proses yang tidak efektif dan/atau tidak efisien.
Tidak efektif dapat didefinisikan sebagai hal-hal yang dapat menggagalkan
pencapaian tujuan, sementara tidak efisien dapat diartikan sebagai hal-hal yang
dapat menunjang pencapaian tujuan akan tetapi menghabiskan banyak biaya. Pada
umumnya risiko proses berkaitan dengan proses transaksi, yang mencakup
penjualan, pematokan harga (pricing),dokumentasi, konfimasi, dan pemenuhan
(fulfilment). Risiko-risiko tersebut berpotensi menimbulkan kerugian dalam aspek
keuangan, pelanggan, dan reputasi perusahaan. Misalnya kesalahan pematokan
harga jual dapat mengakibatkan perusahaan memperoleh laba yang rendah,
sementara masalah pemenuhan dapat mengakibatkan customer menjauh dari
perusahaan.
Risiko signifikan lainnya dapat berasal dari proses dokumentasi.
Ketidakcukupan dokumentasi berpotensi menimbulkan misscommunication antara
pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah kontrak sehingga dapat menciptakan
tambahan risiko ketidakpastian ketika terjadi suatu perselisihan. Misalnya
mengenai dokumen persetujuan transaksi.
13
b. Risiko Sumber Daya Manusia
People Risk biasanya timbul dari hambatan-hambatan yang dialami oleh
karyawan, kompetisi yang tidak membangun pentingnya kesadaran akan risiko.
hambatan karyawan tejadi ketika perusahaan tidak dapat memenuhi posisi-posisi
karyawan di titik-titik kritis karena jangka waktu karyawan lebih pendek, atau
karena kompensasi atau insentif lainnya tidak cukup menarik perhatian kandidat-
kandidat baru. Kompetisi yang kurang memadai menjadi masalah ketika
karyawan-karyawan perusahaan tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan
yang cukup untuk melaksanakan tugas mereka dengan tepat. Lalu masalah ketidak
jujuran pencurian aset perusahaan oleh karywan. Sementara masalah budaya
organisasi yang tidak sadar akan risiko berpotensi juga untuk menimbulkan
perilaku-perilaku yang menyimpang dari para karyawan.
c. Risiko insidental
Risk Event merupakan risiko atas kerugian yang berhubungan erat dengan
peristiwa-peristiwa tunggal yang tidak diharapkan, akan tetapi berpotensi
membawa dampak yang serius jika risiko-risiko tersebut benar-bener terjadi.
Misalnya, kecurangan internal atau kecurangan ekternal, kegagalan
sistem,dislokasi pasar, dan bencan alam.
d. Risiko bisnis
Risiko bisnis merupakan risiko atas kerugian yang berhubungan dengan
perubahan yang tidak diharapkan dalam lingkungan kompetitif. Risiko ini
mencakup masalah strategi perusahaan, manajemen klien, pemgembangan
produk, pematokan harga, dan masalah penjualan.
 Pengelompokan ruang lingkup risiko operasional juga dipaparkan oleh Inter-
American Development Bank dalam Muslich (2007: 11-14) yang membagi ruang
lingkup risiko operasional dalam enam klasifikasi, yakni :
a. Masalah pengendalian internal seperti struktur organisasi, yaitu risiko yang
disebabkan oleh tidak memadainya pemisahan tugas, fungsi, wewenang dan
tanggung jawab dalam struktur organisasi perusahaan.
b. Masalah otorisasi atau pendelegasian wewenang yaitu risiko yang timbul dari
suatu transaksi yang dilaksanakan tanpa otorisasi yang sesuai dengan kerangka
kerja operasional perusahaan.
c. ketidak cukupan prosedur atau tidak berfungsinya proses internal seperti
dalam aktivitas baru.
d. Proses transaksi, yaitu risiko dari kesalahan atau kegagalan pengendalian
dalam satu atau lebih pemrosesan transaksi sebagai berikut :
1) Pencatatan, yaitu risiko yang timbul saat transaksi tidak dicatat atau tidak
tercatat dengan benar, yang mengakibatkan kesalahan dalam informasi
eksposur risiko sehingga memengaruhi keputusan yang di ambil.
2) Penilaian (penghitungan) posisi, yaitu risiko yang disebabkan dari tidak
terdeteksinya perbedaan antara posisi yang dilaporkan oleh unit bisnis
dengan satuan kerja yang melaksanakan fungsi kontrol dan pengendalian.
3) Konfirmasi, yaitu risiko yang timbul akibat proses konfirmasi tidak dapat
mendeteksi terjadinya kesalahan dalam data transaksi yang tercatat, atau
dari transaksi yang telah dilaksanakan namun tidak tercatat.
4) Penyelesain transaksi (settlement), yaitu risiko yang timbul akibat aset
tidak ditagih (diterima) atau dibayarkan (dikirimkan) sesuai dengan
tanggal penagihan atau pembayaran yang telah di sepakati, atau tidak
dilaksanakan dengan tepat.
5) Aset fisik, yaitu risiko yang timbul akibat kas atau aset-aset lain (surat
berharga, cek, dan sebagainya) dapat diakses oleh staf yang tidak
memiliki otorisasi terhadap aset yang bersangkutan.
6) Akses sistem informasi, yaitu risiko yang ditimbulkan dari staf yang tidak
memiliki otorisasi, dapat melakukan modifikasi atau membaca data
tertentu dalam sistem informasi.
7) Finansial, yaitu risiko yang timbulkan dari kesalahan pengelolaan dana
dan aset-aset lainnya yang menyebabkan timbulnya overdraft atau
tingginya biaya oportunitas akibat utilisasi dana yang tidak dilakukan
dengan tepat.
8) Valuasi, yaitu risiko yang timbul akibat suatu transaksi atau aset tidak
dinilai dengan tepat akibat penggunaan data pasar atau model valuasi
yang salah. 
e. Kesalahan manusia dan fraund yang meliputi kerugian operasional seperti
berikut:
1) Integrasi dan pertimbangan yang baik, yaitu risiko yang terjadi akibat
sumber daya manusia perusahaan dengan tidak sengaja maupun sengaja
tidak mematuhi kebijakan, prosedur dan pengendalian yang telah
ditetapkan.
2) Sumber daya manusia, yaitu risiko yang timbul dari inreferensi atau
kesalahan dalam proses transaksi akibat kurangnya sumber daya manusia
yang memadai, program pelatihan dan turn-over pegawai yang tinggi.
3) Fraud dan konflik kepentingan, yaitu risiko yang timbul karena sumber
daya manusia lebih condong kepada kepentingan pribadi dibandingkan
kepentingan perusahaan.
f. Kegagalan sistem teknologi informasi, yaitu kerugian operasional yang
disebabkan oleh gangguan dalam melaksanakan proses transaksi atau
aktivitas kerja, kebocoran dalam sistem informasi dan gangguan lainnya yang
ditimbulkan dari tidak berfungsinya sitem teknologi informasi dan gangguan
akibat kegagalan hardware,software,dan sebagainya

Risiko Operasional


Definisi Risiko Operasional Lam (2014:241) mengungkapkan bahwa
operational is defined as the risik of loss resulting from inadequate of failed
internal process, people, and systems or form external event. Artinya, risiko
operasional dapat di definisikan sebagai risiko atas kerugian yang ditimbulkan
dari ketidak cukupan atau kegagalan proses internal, sumber daya manusia, dan
system atau dari peristiwa-peristiwa eksternal.
Menurut Kurniawan (2012:70) risiko operasional adalalah kemungkinan
terjadinya kegagalan atau kesalahan di dalam pelaksanaan kegiatan – kegiatan
operasional di dalam organisasi yang diakibatkan oleh berbagai macam faktor
seperti faktor alam dalam bentuk bencana alam maupun kesalahan manusia seperti
kelalaian pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya

Risiko Operasional


Definisi Risiko Operasional Lam (2014:241) mengungkapkan bahwa
operational is defined as the risik of loss resulting from inadequate of failed
internal process, people, and systems or form external event. Artinya, risiko
operasional dapat di definisikan sebagai risiko atas kerugian yang ditimbulkan
dari ketidak cukupan atau kegagalan proses internal, sumber daya manusia, dan
system atau dari peristiwa-peristiwa eksternal.
Menurut Kurniawan (2012:70) risiko operasional adalalah kemungkinan
terjadinya kegagalan atau kesalahan di dalam pelaksanaan kegiatan – kegiatan
operasional di dalam organisasi yang diakibatkan oleh berbagai macam faktor
seperti faktor alam dalam bentuk bencana alam maupun kesalahan manusia seperti
kelalaian pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya

Manajemen Risiko


Risiko menurut Hanafi (2006:1), Risiko adalah bahaya, akibat atau
konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung
atau yang akan berlangsung atau yang akan datang. Risiko dapat di artikan
sebagai suatu keadaan ketidakpastian, dimana jika terjadi suatu keadaan yang
tidak dikehendaki dapat menimbulkan suatu kerugian. Menurut AS/NZS Standart
4360:1995 risiko adalah peluang terjadinya sesuatu yang memiliki dampak pada
tujuan yang di ukur dalam hal konsekuensi dan probabilitas. Menurut Airmic
(2010:4) risiko merupakan efek dari ketidakpastian sasaran, efek ketidakpastian
bisa bersifat positif atau negatif, dengan kata lain risiko merupakan kemungkinan
situasi atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan serta sasaran
sebuah organisasi atau individu.
Manajemen Risiko definisi manajemen risiko adalah suatu pengelolaan risiko
yang bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan dalam menghadapi masalah
organisasi secara komprehensif (Hanafi, 2009:18). Manajemen risiko di
definisikan sebagai proses identifikasi, pengukuran dan kontrol keuangan dari
sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau
proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan
tersebut (Smith, 1990:21).
Menurut Bramantyo (2008:43),Manajemen risiko adalah proses terstruktur
dan sitematis untuk identifikasi, mengukur, memetakan,mengembangkan
alternatif penanganan risiko, dan memonitor dan mengendalikan perlakuan risiko.
Dalam ISO 31000 (2009:73), definisi manajemen risiko adalah aktivitas yang
terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan sebuah organisasi dalam
menangani risiko. Definisi tersebut memberikan arti mengenai keluasan dan
kedalaman sebuah risiko yang menjadi obyek sebuah asesment. Manajemen risiko
adalah kegiatan atau proses manajemen yang terarah bersifat proaktif yang
ditunjukan untuk mengakomodasi kemungkinan kegagalan salah satu atau
sebagaian dari sebuah instrument (Tampubolon, 2004)

Manajemen Proyek


Manajemen Proyek adalah semua perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan
koordinasi suatu proyek dari awal (gagasan) hingga berakhirnya proyek untuk
menjamin pelaksanaan proyek secara tepat waktu, tepat biaya dan tepat mutu.
(Ervianto,2005). Manajemen proyek memiliki tujuan secara khusus dan sasaran, untuk
mencapai usaha tujuan tersebut terdapat tiga batasan, yaitu :

  1. Tepat biaya, kegiatan proyek harus dilakukan sesuai dengan biaya yang telah
    ditetapkan pada awal perencanaan yaitu mencakup pekerjaan masa pra
    konstruksi hingga masa pasca konstruksi.
  2. Tepat waktu, kegiatan proyek harus dilakukan sesuai dengan waktu yang telah
    dijadwalkan pada awal perencana, dalam bentuk prestasi pekerjaan.
  3. Tepat mutu, pada kegiatan pelaksanaan konstruksi perlu diperhatikan mutu
    yang digunakan harus seusai dengan persyaratan yang sudah disepakati pada
    awal perencanaan oleh pemilik proyek (owner).

Manajemen Risiko Pasca Konstruksi


Manajemen risiko pasca konstruksi adalah suatu kegiatan untuk
mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan risiko-risiko yang terjadi pada
masa pemeliharaan setelah kegiatan pelaksanaan pembangunan proyek selesai
dilakukan, yang memiliki tujuan untuk mengetahui risiko terkecil hingga terbesar yang
Institut Teknologi Nasional
terjadi pada tahap pasca konstruksi, serta mencari penanganan yang tepat untuk risiko
yang terjadi selama masa pemeliharaan atau pasca konstruksi.

Manajemen Risiko Pelaksanaan Konstruksi


Manajemen risiko pada masa pelaksanaan konstruksi adalah kegiatan yang
dilakukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan risiko-risiko yang
terjadi pada saat berlangsungnya pekerjaan pembangunan proyek, manajemen risiko
pelaksaan konstruksi ini dilakukan setelah berakhirnya masa pra konstruksi yang
bertujuan untuk mengeahui risiko yang terjadi pada masa pelaksanaan konstruksi,
mengurangi risiko yang kemungkinan besar akan terjadi yang dapat menghambat
jalannya pelaksaan konstruksi berlangsung, dan mencari solusi atau penangan yang
tepat untuk mengatasi risiko yang terjadi selama masa pelaksanaan konstruksi

Manajemen Risiko Pra Konstruksi


Manajemen risiko pra konstruksi adalah suatu kegiatan untuk mengidentifikasi,
menganalisis, dan mengendalikan risiko-risiko yang terjadi pada tahap pekerjaan awal
sebuah proyek konstruksi sebelum dilakukannya kegiatan pembangunan proyek, yang
bertujuan untuk mengantisipasi kerugian yang dapat menghambat berlangsungnya
pelaksanaan konstruksi, untuk mengetahui risiko terkecil hingga terbesar yang terjadi
pada tahap pra konstruksi, serta mencari penanganan yang tepat untuk risiko yang
terjadi sebelum pelaksanaan konstruksi.

Manfaat Manajemen Risiko


Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan manajemen risiko antara lain
(Mok et al, 1996) berguna untuk mengambil keputusan dalam menangani masalah –
masalah yang rumit,yaitu diantaranya sebagai berikut :

  1. Memudahkan estimasi biaya.
  2. Memberikan pendapat dan intuisi dalam pembuatan keputusan yang di hasilkan
    dalam cara yang benar.
  3. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi risiko dan
    ketidakpastian dalam keadaan yang nyata.
    Institut Teknologi Nasional
  4. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk memutuskan berapa
    banyak informasi yang di butuhkan dalam menyelesaikan masalah.
  5. Meningkatan pendekatan sistematis dan logika untuk membuat keputusan
  6. Menyediakan pedoman untuk membantu perumusan masalah.
  7. Memungkinkan analisa yang cermat dari pilihan – pilihan alternatif.

Tujuan Manajemen Risiko


Tujuan dari manajemen risiko adalah untuk mengenali risiko dalam sebuah
proyek dan mengembangkan strategi untuk mengurangi atau bahkan menghindarinya,
dilain sisi juga harus dicari cara untuk memaksimalkan peluang yang ada (Wideman,
1992). Manajemen risiko memiliki tujuan yaitu untuk meminimalisir kejadian yang
akan berpengaruh terhadap keuntungan atau kerugian, untuk meningkatkan kejadian
yang memiliki dampak positif, dan mengurangi kejadian yang berdampak negatif
terhadap pekerjaan. Tujuan tersebut akan berpengaruh pada biaya, waktu, mutu, dan
ruang lingkup.
Adapun tujuan lain dari manajemen risiko yaitu untuk melindungi organisasi
atau perusahaan dari risiko yang sangat berpengaruh besar terhadap pencapaian sebuah
tujuan, menggerakan manajemen agar lebih aktif dalam menangani risiko yang terjadi,
membantu pembuatan kerangka kerja agar konsisten terhadap risiko yang terjadi,
sebagai peringatan kepada sumber daya agar lebih hati-hati dalam menangani risiko
yang dihadapi untuk memaksimalkan rencana yang akan dituju, membangun
kemampuan setiap sumber daya untuk mensosialisasikan tentang risiko dan
pemahaman terhadap risiko, dapat membantu dalam peningkatan kinerja organisasi
atau perusahaan untuk informasi risiko yang terdapat dalam peta risiko

Pengertian Risiko


Risiko adalah ancaman terhadap kehidupan, properti atau keuntungan finansial
akibat bahaya yang terjadi (Duffield & Trigunarsyah, 1999). Risiko adalah suatu
variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu pada kondisi tertentu
(Halpin, D. W and Woodhead, R. W., 1998). Dari pengertian risiko tesebut terdapat
hal-hal yang memiliki ketidakpastian terhadap suatu kegiatan yang sedang berlangsung
atau yang kegiatan yang akan dilakukan pada kemudian hari, dan memiliki kerawanan
terhadap kuntungan maupun kerugian suatu pekerjaan.
Institut Teknologi Nasional
Jenis-jenis risiko dapat digolongkan secara umum, berikut dapat dijelaskan
jenis-jenis risiko secara umum, yaitu :

  1. Risiko murni (Pure risk) adalah sebuah risiko apabila terjadi maka akan
    mengakibatkan kerugian, dan apabila tidak terjadi risiko makan tidak akan
    terjadi keuntungan.
  2. Risiko spekulatif (Speculative risk) adalah risiko yang bisa mendapatkan
    keuntungan maupun kerugian.
  3. Risiko partikular adalah risiko yang terjadi memiliki sumber dari individu dan
    berdampak lokal.
  4. Risiko fundamental adalah risiko yang dapat berdampak besar, sumber dari
    risiko ini yaitu dari alam.
    Menurut Flanagan & Norman (1993), risiko-risiko dalam proyek konstruksi adalah
    sebagai berikut :
  5. Penyelesaian yang gagal sesuai desain yang telah ditentukan/penetapan waktu
    konstruksi.
  6. Kegagalan untuk memperoleh gambar perencanaan, detail perencanaan/izin
    dengan waktu yang tersedia.
  7. Kondisi tanah yang tak terduga
  8. Cuaca yang sangat buruk.
  9. Pemogokan tenaga kerja.
  10. Kenaikan harga yang tidak terduga untuk tenaga kerja dan bahan.
  11. Kecelakaan yang terjadi dilokasi yang menyebabkan luka.
  12. Kerusakan yang terjadi pada struktur akibat cara kerja yang jelek.
  13. Kejadian tidak terduga (banjir, gempa bumi, dan lain–lain).
  14. Klaim dari kontraktor akibat kehilangan dan biaya akibat keterlambatan
    produksi karena detail desain oleh tim desain.
  15. Kegagalan dalam penyelesaian proyek dengan budget yang telah ditetapkan.

Pengertian Manajemen


Manajemen adalah proses yang dilakukan untuk sebuah perencanaan,
pengkoordinasian, dan pengontrolan terhadap sumber daya yang dilakukan oleh sebuah
organisasi yang memiliki tujuan untuk tercapainya target dengan efektif dan efisien
sesuai dengan yang direncanakan.
Manajemen memiliki fungsi yaitu sebagai sebuah elemen yang mendasari dan
harus ada dalam setiap kegiatan yang akan menjadi acuan untuk tercapainya tujuan
merencanakan, mengorganisir, dan mengontrol sumber daya. Penjelasan mengenai
fungsi utama dalam manajemen terdapat pada gambar 2.2 yaitu :

  1. Perencanaan (Planning) adalah suatu kegiatan yang dijadikan dasar untuk
    proses dalam menentukan pemilihan atau penetapan yang akan dijadikan tujuan
    dalam sebuah kegiatan.
  2. Pengorganisasian (Organizing) adalah suatu pembagian pekerjaan besar yang
    dijadikan pekerjaan-pekerjaan kecil yang memiliki tujuan untuk mempermudah
    dilakukannya pengawasan oleh manajer agar lebih terkontrol.
  3. Penempatan (Staffing) adalah kegiatan penempatan sumber daya yang tepat
    agar pekerjaan dapat tecapai sesuai dengan yang sudah direncanakan.
    Institut Teknologi Nasional
  4. Pengarahan (Directing) adalah tindakan yang dilakukan kepada sumber daya
    untuk melakukan pekerjaan sesuai rencana dan tidak melakukan hal yang
    keluar dari perencanaan.
  5. Pengawasan (Controlling) adalah penilaian secara keseluruhan terhadap
    pekerjaan yang dilakukan selama berjalannya kegiatan sudah sesuai dengan
    tujuan yang direncanakan.

Pengertian Manajemen Risiko


Manajemen risiko adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk
mengidentifikasi, menganalisis dan mengendalikan risiko yang mungkin terjadi dalam
suatu aktivitas atau kegiatan sehingga akan diperoleh efektivitas dan efisiensi yang
lebih tinggi (Darmawi, 2016). Dalam proyek konstruksi sangat sulit untuk menghindari
risiko, maka dari itu perlu diadakannya manajemen risiko karena manajemen risiko
sangat mempengaruhi kegiatan dalam proyek konstruksi, apabila penanganan dalam
proyek berjalan dengan baik maka aktivitas yang dilakukan akan mengalami
kemudahan tanpa hambatan yang dipengaruhi oleh risiko.
Manajemen risiko merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan dalam sebuah
proyek konstruksi karena dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi selama
pekerjaan konstruksi berlangsung, dan dapat berpengaruh terhadap segi biaya, waktu,
kualitas pekerjaan, teknis pekerjaan, dan evaluasi pada proyek.

Pengaruh citra merek, kualitas produk dan promosi terhadap citra perusahaan.


Setiap perusahaan berusahaa untuk menjual produknya
sebanyak mungkin. Peningkatan volume penjualan merupakan hal
yang ingin dicapai oleh perusahaan. Selain itu perusahaan juga ingin
memiliki citra yang positif dimata konsumennya. Dalam penelitian ini
faktor – faktor yang mempengaruhi citra perusahaan dibatasi pada
faktor citra merek, kualitas produk dan promosi, yang apabila
dilakukan perbaikan maka kemungkinan akan meningkatkan citra
perusahaan

Pengaruh promosi terhadap citra perusahaan


Perusahaan memerlukan strategi promosi yang tepat agar dapat
memasarkan produknya kepada konsumen. Kegiatan promosi dapat
mengenalkan produk kepada konsumen akan manfaat dan karakteristik
produk, selanjutnya konsumen akan tertarik untuk melakukan
pembelian. Promosi penjualan merupakan salah satu dari marketing
mix yang dilakukan perusahaan untuk mendorong konsumen agar
konsumen melakukan pembelian. Kegiatan promosi penjualan dapat
dilakukan dengan cara pemberian contoh barang, kupon/nota, kupon
hadiah, undian dan kontes, rabat dan peragaan. Kegiatan promosi
penjualan dapat menarik konsumen untuk melakukan pembelian dan
untuk meningkatkan citra perusahaan tersebut dimata konsumennya.

Pengaruh kualitas produk terhadap citra perusahaan


Produk merupakan atribut yang tidak bisa dilepaskan dengan
kualitas produk yang menentukan bagi pemenuhan kebutuhan
konsumen. Kualitas produk yang tinggi akan mendorong terjadinya
pengambilan keputusan pembelian konsumen yang nantinya dengan
kualitas produk dapat memenuhi harapan konsumen terhadap produk
tersebut. Dengan banyaknya pemasar yang memasarkan bermacam –
macam produk konsumen sudah semakin selektif dalam menentukan
produk yang mana yang akan dipilih, dibeli, dan digunakan. Kualitas
yang dipersepsikan produk tersebut akan membawa nama baik
perusahaan dimata konsumennya, selain itu tentu berdampak positif
juga pada keputusan pembelian konsumenny

Pengaruh citra merek terhadap citra perusahaan


Citra merek (Brand Image) merupakan representasi dari
keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu terhadap merek itu. Citra terhadap merek
berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi
terhadap suatu merek. Makin baik citra merek maka akan baik pula
citra sebuah perusahaa

Proses Terbentuknya Citra Perusahaan


Proses terbentuknya citra perusahaan menurut Hawkins et
al. (2000: 55) diperlihatkan pada gambar sebagai berikut :
Gambar 1. Proses Terbentuknya Citra Perusahaan
Berdasarkan Gambar 1 proses terbentuknya citra perusahaan
berlangsung pada beberapa tahapan. Pertama, obyek
mengetahui (melihat atau mendengar) upaya yang dilakukan
perusahaan dalam membentuk citra perusahaan. Kedua,
memperhatikan upaya perusahaan tersebut. Ketiga, setelah
adanya perhatian obyek mencoba memahami semua yang ada
pada upaya perusahaan. Keempat, terbentuknya citra
perusahaan pada obyek yang kemudian tahap kelima citra
perusahaan yang terbentuk akan menentukan perilaku obyek
sasaran dalam hubungannya dengan perusahaan. upaya
perusahaan sebagai sumber informsai terbentuknya citra
perusahaan memerlukan keberadaan secara lengkap
dimaksudkan sebagai informasi yang dapat menjawab
kebutuhan dan keinginan objek sasaran. Kasali (2003: 10)
mengemukakan, “Pemahaman yang berasal dari suatu
informasi yang tidak lengkap menghasilkan citra yang tidak
sempurna”

Peran Citra


Pentingnya citra perusahaan dikemukakan Gronroos dalam
Sutisna (2001: 332) sebagai berikut :
1) Menceritakan harapan bersama kampanye pemasaran
eksternal.
2) Sebagai penyaring yang mempengaruhi persepsi pada
kegiatan perusahaan.
3) Sebagai fungsi dari pengalaman dan harapan konsumen
atas kualitas pelayanan perusahaan.
4) Mempunyai pengaruh penting terhadap manajemen atau
dampak internal.
Uraian mengenai pentingnya citra perusahaan adalah
sebagai berikut :
1) Menceritakan harapan bersama kampanye pemasaran
eksternal. Citra positif memberikan kemudahan
perusahaan untuk berkomunikasi dan mempunyai tujuan
secara efektif sedangkan citra negatif sebaliknya.
2) Sebagai penyaring yang mempengaruhi persepsi pada
kegiatan perusahaan. citra positif menjadi pelindung
terhadap kesalahan kecil, kualitas teknis atau fungsional
26
sedangkan citra negatif dapat memperbesar kesalahan
tersebut.
3) Sebagai fungsi dari pengalaman dan harapan konsumen
atas kualitas pelayanan perusahaan. Jika kinerja
pelayanan memenuhi atau melebihi citra yang
dihasilkan, maka kinerja pelayanan tersebut berfungsi
memperkuat citra itu atau bahkan mungkin
memperbaikinya. Meskipun demikian, jika kinerja
berada dibawah, maka citra akan memudar secara nyata.
4) Mempunyai pengaruh penting terhadap manajemen atau
dampak internal. Citra perusahaan yang kurang jelas
dan nyata mempengaruhi sikap karyawan terhadap
perusahaan.
Gronroos dalam Sutisna (2001: 332)
Perasaan puas atau tidaknya konsumen terjadi setelah
mempunyai pengalaman dengan produk maupun perusahaan
yang diawali adanya pengambilan keputusan. Sehingga dapat
disimpulkan keberadaan citra perusahaan yang baik penting
sebagai sumber daya internal obyek dalam menentukan
hubungannya dengan perusahaan. Konsisten dengan arti telah
dikemukakan, citra perusahaan merupakan hal yang abstrak.
Sutisna (2001: 215) mengatakan, “Satu hal yang dianalisis
mengapa terlihat ada masalah citra perusahaan adalah
organisasi dikenal atau tidak dikenal”. Dapat dipahami
keterkenalan perusahaan yang tidak baik menunjukan citra
perusahaan yang bermasalah. Masalah citra perusahaan
tersebut, dalam keberadaannya berada dalam pikiran dan atau
perasaan konsumen.
27
Exposure
Attention
Maka dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa citra
perusahaan bersumber dari pengalaman dan atau upaya
komunikasi sehingga penilaian maupun pengembangannya
terjadi pada salah satu atau kedua hal tersebut. Citra perusahaan
yang bersumber dari pengalaman memberikan gambaran telah
terjadi keterlibatan antara konsumen dengan perusahaan.

Unsur – unsur Citra Perusahaan


Menurut Frank Jefkins (2004: 15), unsur – unsur citra
perusahaan ada empat antara lain :
1) Personality, yakni keseluruhan karakteristik perusahaan
yang dipahami oleh lingkungan di luar perusahaan.
2) Reputation, yakni keyakinan seseorang terhadap
perusahaan berdasarkan pengalaman pribadi atau orang
lain atas jasa atau produk perusahaan.
3) Values/Ethics, yakni nilai – nilai dan filosofi yang
dianut perusahaan, keramahan pelayanan, gaya kerja,
dan komunikasi baik internal perusahaan maupun
interaksi dengan pihak luar.
4) Corporate identity, yakni identitas dalam nama, simbol,
logo, warna dan ritual untuk memunculkan perusahaan,
merek dan kepentingan perusahaan

Macam – macam Citra


Macam – macam citra menurut Frank Jefkins (2004: 10)
adalah sebagai berikut :
1) Cerminan citra (the mirror image), yakni citra berasal
dari dugaan manajemen terhadap publik eksternal
dalam melihat organisasi atau perusahaan.
2) Citra yang masih hangat (the current image), yakni citra
yang terdapat pada publik eksternal berdasarkan
pengalaman atau menyangkut miskinnya informasi dan
pemahaman publik eksternal.
3) Citra yang diinginkan (the wish image), yakni citra dari
manajemen yang menginginkan pencapaian prestasi
tertentu.
4) Citra yang berlapis (the multiple image), yakni
pembentukan citra dari sebagian perusahaan cabang
atau organisasi sayap yang belum tentu memiliki
keseragaman citra seluruh organisasi atau
perusahaannya

Pengertian Citra Perusahaan


Sekarang ini banyak sekali perusahaan atau organisasi
memahami sekali perlunya memberi perhatian yang cukup
untuk membangun suatu citra yang menguntungkan bagi suatu
perusahaan tidak hanya dengan melepaskan diri terhadap
terbentuknya suatu kesan publik negatif. Dengan kata lain, citra
perusahaan adalah fragile commodity (komoditas yang
rapuh/mudah pecah). Namun, kebanyakan perusahaan juga
meyakini bahwa citra perusahaan yang positif adalah esensial,
sukses yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang
(Seitel,1999: 69).
Menurut Bill Canton dalam Sukatendel (1999: 46)
mengatakan citra adalah “image: the impression, the feeling,
the conception which the public has of a company; a
concioussly created impression of an object, person or
organization” (citra adalah kesan, perasaan, gambaran diri
publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja
diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi).
Citra perusahaan dapat menjadi informasi ekstrinsik
petunjuk bagi pembeli baik yang ada dan potensi dan mungkin
atau tidak dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan misalnya,
kesediaan untuk memberikan kata positif dari mulut ke mulut.
Citra perusahaan diasumsikan berdampak akibat pada pilihan
pelanggan perusahaan ketika atribut pelayanan sulit untuk
dievaluasi, maka citra perusahaan didirikan dan dikembangkan
di benak konsumen melalui komunikasi dan pengalaman. Citra
perusahaan yang diyakini untuk menciptakan efek halo pada
penilaian kepuasan pelanggan (Andreassen et al., 1999: 22)

Metode – metode promosi penjualan


Metode – metode promosi penjualan menurut Basu Swastha
(1999: 281) ada tujuh yaitu :
1) Pemberian contoh barang, yaitu dengan memberikan
contoh barang secara cuma – cuma kepada konsumen
dengan tujuan untuk digunakan atau dicoba. Ini
merupakan alat promosi penjualan yang dianggap
paling mahal, tetapi juga paling efektif, pemberian
contoh barang ini dapat efektif terutama untuk
mengenalkan produk baru dan produk baru tersebut
sering disertakan dalam penjualan produk lain.
2) Kupon/nota, yaitu dengan menyarankan pada pembeli
untuk menyimpan dan mengumpulkan nota atau kupon
– kupon pembeliannya agar dapat mendapatkan barang
seharga tertentu secara cuma – cuma atau barang
lainnya. penjual menggunakan cara tersebut dengan
maksud untuk menarik pembeli yang lebih banyak.
3) Hadiah, yaitu suatu metode yang pada prinsipnya sama
dengan metode kupon/nota, hanya mempunyai variasi
yang lain. Cara ini dapat mendorong seseorang untuk
membeli lebih banyak lagi, mempelajari keuntungan –
keuntungan dan akhirnya menjadi pelanggan.
4) Kupon hadiah, yaitu dengan cara setiap pembeli yang
membeli sampai jumlah tertentu atau mambeli satu unit
barang akan memeroleh satu kupon yang akan diundi
suatu hari. Nomor kupon yang cocok dengan nomor
undiannya akan mendapatkan hadiah atau dengan
variasi yang lain. Dengan hadiah yang menarik akan
membuat orang tertarik.
5) Undian dan kontes, yaitu merupakan alat promosi yang
hanya dilakukan di tempat – tempat tertentu dan hanya
dilakukan oleh penjual tertentu saja.
6) Rabat (cost refund), merupakan pengurangan harga
yang diberikan kepada pembeli. Rabat ini digunakan
terutama untuk memperkenalkan produk baru. Juga
dipakai untuk pembelian ulang atas suatu barang yang
memiliki margin tertinggi (menguntungkan). Besarnya
rabat dapat dilakukan dengan presentase atau dengan
satuan rupiah.
7) Peragaan, yaitu salah satu alat promosi yang
menghubungkan produsen dengan pengecer. Bagi
produsen yang besar, biasanya tugas ini diberikan
kepada tenaga penjualnya. Pengecer dapat memberikan
kesempatan kepada produsen untuk menggunakan
sebagian ruang atau etalase guna mengadakan peragaan
atau dapat juga ditempat lain

Definisi promosi penjualan


Promosi penjualan adalah kegiatan pemasaran selain
personal selling, periklanan dan publikasi yang mendorong
efektifitas pembelian konsumen dan pedagang dengan
menggunakan alat – alat seperti peragaan, pameran,
demonstrasi dan sebagainya

Promosi


Kegiatan promosi tidak boleh berhenti hanya pada
memperkenalkan produk pada konsumen saja. Akan tetapi harus
dilakukan dengan upaya untuk mempengaruhinya agar konsumen
tersebut menjadi senang kemudian membeli produknya. Menurut
Gitosudarmono (2000: 237) “Promosi merupakan kegiatan yang
ditujukan untuk memengaruhi konsumen agar mereka dapat
menjadi kenal akan produk yang ditawarkan oleh perusahaan
kepada mereka dan kemudian mereka menjadi senang lalu
membeli produk tersebut”. Adapun alat – alat yang dapat
digunakan untuk mempromosikan suatu produk, dapat dipilih
beberapa cara yaitu :
a. Iklan
Iklan merupakan alat utama bagi pengusaha untuk
memengaruhi konsumennya. Iklan ini dapat dilakukan oleh
pengusaha lewat surat kabar, radio, majalah, bioskop, televisi
ataupun dalam bentuk poster yang dipasang di pinggir jalan
atau tempat – tempat yang strategis. Dalam membaca atau
melihat iklan ini diharapkan konsumen atau calon konsumen
akan terpengaruh lalu tertarik untuk membeli produk yang
diiklankan.
b. Promosi penjualan (sales promotion)
Promosi penjualan adalah merupakan kegiatan perusahaan
untuk menjajakan produk yang dipasarkan sedemikian rupa
sehingga konsumen akan mudah untuk melihatnya dan bahkan
dengan cara penempatan dan pengaturan tertentu maka produk
tersebut akan menarik perhatian konsumen. Bentuk yang
termasuk dalam sales promotion adalah memberikan contoh
gratis kepada konsumen, dengan mengadakan demonstrasi
penggunaan barang.
c. Publisitas
Publikasi merupakan cara yang biasa digunakan juga oleh
pengusaha untuk membentuk pengaruh secara tidak langsung
kepada konsumen agar mereka menjadi tahu dan menyenangi
produk yang dipasarkan. Cara ini dilakukan dengan cara
memuat berita tentang produk atau perusahaan yang
menghasilkan produk tertentu di media massa. Misalnya saja
berita di surat kabar, berita di radio atau televisi, maupun
majalah tertentu dan sebagainya. Dengan memuat berita itu
maka para pembaca secara tidak sadar telah dipengaruhi oleh
berita tersebut. Publisitas merupakan suatu alat promosi yang
mampu membentuk opini masyarakat secara tepat, sehingga
sering disebut sebagai usaha untuk “menyosialisasikan” atau
“memasyarakatkan” suatu produk.
d. Personal Selling
Personal Selling merupakan kegiatan perusahaan untuk
melakukan kontak langsung dengan para calon konsumen.
Dengan kontak langsung ini diharapkan akan terjadi hubungan
atau interaksi yang positif antara perusahaan dengan calon
konsumen itu. Kontak langsung ini akan dapat memengaruhi
secara lebih intensif para konsumen, karena dalam hal ini
pengusaha dapat mengetahui keinginan dan selera konsumen
serta gaya hidupnya, dan dengan demikian pengusaha dapat
menyesuaikan cara pendekatan atau komunikasi dengan
konsumen itu secara lebih tepat yang sesuai dengan konsumen
yang bersangkutan, yang termasuk dalam kategori personal
selling ini adalah :
1) Door to door selling
2) Mail order
3) Telephone selling
4) Direct selling
Keempat bentuk promosi tersebut di atas yaitu iklan,
promosi penjualan, publisitas, dan personal selling, oleh
pengusaha haruslah dikombinasikan sedemikian rupa sehingga
akan mampu secara efektif untuk memengaruhi konsumen agar
menjadi tertarik untuk membeli produk yang dipasarkannya itu.
Berdasarkan kenyataan inilah maka diperlukan suatu strategi
promosi yang efektif dan efisien sehingga produk akan cepat
dikenal dan disenangi konsumen secara cepat dan murah.
Tujuan utama perusahaan mengadakan promosi adalah
untuk memberikan informasi, untuk mempengaruhi (persuasi),
dan untuk mengingatkan kembali konsumen terhadap produk
perusahaan. Promosi penjualan merupakan bagian dari
promotional mix. Menurut Basu Swastha (1999: 238),
pengertian promotional mix adalah sebagai berikut :
“promotional mix adalah kombinasi strategi yang paling baik
dari variabel periklanan, personal selling, dan alat promosi lain
yang semuanya direncanakan untuk mencapai tujuan program
penjualan”.
Promotional mix ini digunakan untuk mengkomunikasikan
kegiatan perusahaan kepada konsumen. Komunikasi yang
efektif akan mengubah tingkah laku konsumen dan akan
memperkuat tingkah laku yang telah diubah sebelumnya

Pengertian Kualitas Produk


Perusahaan akan selalu berusaha untuk memuaskan pelanggan
mereka dengan menawarkan produk yang berkualitas. Produk yang
berkualitas adalah produk yang memiliki manfaat bagi pemakainya
(konsumennya). Jika seseorang membayangkan suatu produk,
maka mereka membayangkan manfaat yang akan diperoleh dari
produk yang akan mereka pergunakan. Manfaat dalam suatu
produk adalah konsekuensi yang diharapkan konsumen ketika
mereka membeli dan menggunakan suatu produk. Banyak definisi
yang diungkapkan oleh para ahli ekonomi. Menurut Kotler (2000:
347), “Kualitas produk merupakan ciri dan karakteristik suatu
barang atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya untuk
memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun tersirat”.
Komarrudin (1999: 253), mendefinisikan kualitas produk sebagai
berikut :
Karena itu kualitas tersebut dapat menggambarkan salah satu
dari hal – hal seperti kemampuan untuk mempergunakan
(fitness for use), kelas atau derajat (grade), mutu kecocokan
(quality of conformance), karakteristik mutu (quality of
characteristic), fungsi mutu (quality function), dan nama
sebuah bagian dalam organisasi (quality department).
Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa definisi diatas
adalah bahwa kualitas suatu produk merupakan kadar dari tingkat
baik buruknya suatu yang terdiri dari semua faktor yang melekat
pada barang atau jasa sehingga barang tersebut memiliki
kemampuan untuk dipergunakan sebagaimana yang diinginkan
oleh para konsumen produk tersebut.
Pada dasarnya suatu peningkatan kualitas produk memerlukan
suatu peningkatan yang melibatkan semua orang yang dalam
perusahaan tersebut untuk meningkatkan hasil yang lebih baik atau
yang biasa disebut kaizen. Kaizen mementingkan semua aktivitas
dalam suatu perusahaan diarahkan pada kepuasan pelanggan yang
lebih besar. Oleh karena itu diperlukan kualitas produk yang tinggi
agar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi. Suatu tanggung jawab
yang besar bagi perusahaan untuk memastikan produknya
memenuhi kebutuhan pelanggan.

Pengertian Produk


Produk diperuntukkan bagi pemuasan akan kebutuhan dan
keinginan dari konsumen. Produsen harus memperhatikan secara
hati – hati kebijakan akan produknya. Pada dasarnya suatu produk
dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, antara lain
berdasarkan pada daya tahan produk dalam penggunaannya atau
wujud produk tersebut. Berdasarkan kriteria tersebut Fandy
Tjiptono (2002: 5), mengelompokkan produk menjadi tiga
kelompok, yaitu :
1) Non-durable goods (barang yang tidak terlalu lama), yaitu
barang yang dikonsumsi sekali pakai atau memiliki jangka
waktu kurang dari satu tahun.
2) Durable goods (barang yang dapat bertahan lama), yaitu
barang yang bersifat tahan lama dan dapat dipergunakan lebih
dari satu tahun.
3) Service (jasa), yaitu suatu aktivitas, manfaat atau kepuasan
yang ditawarkan oleh suatu perusahaan untuk dijual.
Menurut Stanton dalam Buchari Alma (2000: 20) “Produk
adalah seperangkat atribut, baik berujud maupun tidak berujud,
termasuk didalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik,
nama baik perusahaan dan pelayanan serta pelayanan pengecer
yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginannya”.
Produk tidak hanya berbentuk barang yang berujud, akan tetapi
juga sesuatu yang tidak berujud, seperti pelayanan jasa, produk,
dan lain sebagainya, dipergunakan untuk memuaskan kebutuhan
dan keinginan (needs and wants) dari konsumen. Konsumen tidak
hanya membeli produk sekedar memuaskan kebutuhan (needs),
akan tetapi juga bertujuan memuaskan keinginan (wants).
Basu Swastha (1999: 30) mendefinisikan “produk sebagai
suatu sifat kompleks, baik dapat diraba maupun tidak dapat diraba,
termasuk bungkus, warna, prestice perusahaan dan pengecer, yang
diterima oleh pembeli untuk memuaskan kebutuhan dan
keinginannya”. Sehingga pada dasarnya konsumen membeli
sekumpulan sifat fisik dan kimia sebagai alat pemuas
kebutuhannya. Setiap kombinasi akan memberikan kepuasan yang
berbeda

Brand Image (Citra Merek)


Keterkaitan konsumen pada suatu merek akan lebih kuat
apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakkan untuk
mengkomunikasikannya sehingga akan terbentuk citra merek (brand
image). Citra merek yang baik akan mendorong untuk meningkatkan
volume penjualan dan citra perusahaan.
Citra merek dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul
di benak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu. Asosiasi
tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau
citra tertentu yang dikaitkan pada merek tertentu, sama halnya ketika
kita berpikir mengenai orang lain.
Pendapat Kotler dan Gary Armstrong (2007: 80) dimana
“Brand Image adalah himpunan keyakinan konsumen mengenai
berbagai merek”. Intinya Brand Images atau Brand Description, yakni
diskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek
tertentu.
Dari sebuah produk dapat lahir sebuah brand jika produk itu
menurut persepsi konsumen mempunyai keunggulan fungsi (functional
brand), menimbulkan asosiasi dan citra yang diinginkan konsumen
(image brand) dan membangkitkan pengalaman tertentu saat
konsumen berinteraksi dengannya (experiental brand).
Citra produk dan makna asosiasi brand dikomunikasikan oleh
iklan dan media promosi lainnya, termasuk public relation dan event
sponsorship. Iklan dianggap mempunyai peran terbesar dalam
mengkomunikasikan citra sebuah brand dan sebuah image brand juga
dapat dibangun hanya menggunakan iklan yang menciptakan asosiasi
dan makna simbolik yang bukan merupakan ekstensi dari fitur produk.
Penting untuk dicatat bahwa membangun sebuah brand tidak
hanya melibatkan penciptaan perceived difference melalui iklan.
Sering terjadi kesalahpahaman bahwa sebuah brand dibangun semata –
mata menggunakan strategi periklanan yang jitu untuk menciptakan
citra dan asosiasi produk yang diinginkan. Memang iklan berperan
penting dalam membangun banyak merek terutama yang memang
dideferensiasikan atas dasar citra produk akan tetapi, sebuah image
brand sekalipun harus didukung produk yang berkualitas, strategi
penetapan harga yang tepat untuk mendukung citra yang
dikomunikasikan melalui iklan produk tersebut

Brand (Merek)


Brand adalah salah satu atribut yang sangat penting dari sebuah
produk yang penggunaanya pada saat ini sudah sangat meluas karena
beberapa alasan, dimana merek suatu produk berarti memberikan nilai
tambah produk tersebut.
Pikiran para pelanggan dipengaruhi oleh beragam pesan yang
sampai pada angka ribuan pesan dan sering berubah – ubah. Merek
tidak hanya kesan – kesannya, tetapi merek juga harus menempati
suatu posisi khusus dalam pikiran untuk benar – benar menjadi sebuah
merek.
Permasalahanya bila merek tidak mendapat tempat khusus atau
berbeda dalam benak konsumen, maka akan memberi kesempatan bagi
para pesaing untuk menempati posisi dalam benak konsumen tersebut
dan merek itu menjadi kurang sejati. Oleh karena itulah maka
diperlukan apa yang dinamakan dengan merek sejati.
Merek sejati terdiri dari tiga hal yang merupakan sifat
fundamental yang membedakan merek sejati dalam benak konsumen
yakni internalisasi jumlah kesan – kesan, suatu khusus di “pikiran
(mind’s eye)” konsumen, dan manfaat – manfaat fungsional dan
emosional yang dirasakan. Secara definitif merek sejati dapat
dijelaskan sebagai internalisasi jumlah dari semua kesan yang diterima
para pelanggan dan konsumen yang dihasilkan dalam sebuah posisi
khusus di “pikiran” konsumen berdasarkan manfaat – manfaat
fungsional dan emosional. Cara yang paling mudah untuk
membedakan merek sejati dengan merek lain adalah dengan
melihatnya pada serangkaian kesatuan yang membandingkan
kekhususan relatif. Jika merek menjadi khusus dalam benak
konsumen, maka merek tersebut lebih mendekati definisi merek sejati.
Definisi lain tentang merek dijelaskan oleh Kotler dan Gary
Armstrong (2007: 70) dalam bukunya Dasar – Dasar Pemasaran
Principles of Marketing. Menurut mereka merek adalah nama, istilah,
tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari semua ini yang
dimaksudkan untuk mengenali produk atau jasa dari seseorang atau
penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Jadi merek
mengidentifikasi pembuat atau penjual dari suatu produk. Merek juga
merupakan janji penjual untuk menyampaikan kesimpulan sifat,
manfaat, dan jasa spesifik secara konsisten kepada pembeli. Merek
dapat menyampaikan empat tingkat arti :
a. Atribut
Merek akan mengingatkan orang pada atribut tertentu.
Misalnya keawetan dan sebagainya sehingga hal ini memberikan
suatu landasan pemosisian bagi atribut lain dari produk tersebut.
b. Manfaat
Pelanggan tidak membeli atribut tetapi mereka membeli
manfaat dari produk tersebut. Oleh karena itu atribut harus
diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional.
c. Nilai
Merek juga mencerminkan sesuatu mengenai nilai – nilai
pembeli. Misalnya saja menilai prestasi, keamanan, dan prestise
tinggi suatu produk.
d. Kepribadian
Merek menggambarkan kepribadian. Merek akan menarik
orang yang gambaran sebenarnya dan citra dirinya cocok dengan
citra merek

Pengaruh celebrity endorser terhadap keputusan pembelian.


Celebrity endorser merupakan alat promosi yang populer di dunia bisnis
dikarenakan menggunakan selebriti dapat menjadi daya tarik, dan dapat
dipercaya oleh publik sehingga produk yang dipromosikan diketahui dan dikenal
oleh konsumen. Keputusan Pembelian adalah bentuk pemilihan yang terdiri dari
beberapa tahap untuk membeli merek yang paling disukai diantara sejumlah
merek yang disukai. Semakin baik celebrity endorser maka diharapkan akan
meningkatkan keputusan konsumen untuk membeli produk tersebut, sebaliknya
bila celebrity endorser tidak baik maka akan menurunkan keputusan pembelian.

Pengaruh product quality terhadap keputusan pembelian.


Product quality menjadi faktor yang sangat penting dalam keputusan
pembelian. Dalam keputusan pembelian suatu produk, konsumen tentu ingin
mendapatkan product quality yang baik dan sesuai dengan kebutuhannya.
Memberikan product quality yang tinggi merupakan kewajiban perusahan agar
mendapatkan kepercayaan dan retensi konsumen. Keputusan pembelian adalah
bentuk pemilihan yang terdiri dari beberapa tahap untuk membeli merek yang
paling disukai diantara sejumlah merek yang disukai. Keputusan pembelian
konsumen meningkat pada produk-produk yang berkualitas baik, sebaliknya
keputusan pembelian menurun pada produk-produk yang kurang baik

Pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian.


Brand Image merupakan suatu hasil pandangan atau persepsi konsumen
terhadap suatu merek tertentu, yang didasarkan atas pertimbangan dan
perbandingan dengan beberapa merek lainnya, pada jenis produk yang sama.
Keputusan Pembelian adalah bentuk pemilihan yang terdiri dari beberapa tahap
untuk membeli merek yang paling disukai diantara sejumlah merek yang
disukai. Brand image yang baik menggambarkan citra yang positif dari
konsumen terhadap suatu merek sehingga meningkatkan kemungkinan
konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. Semakin baik Brand Image
maka diharapkan akan meningkatkan keputusan konsumen untuk membeli
produk tersebut, sebaliknya bila Brand Image tidak baik maka akan menurunkan
keputusan pembelian untuk membeli produk tersebut.

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Keller (2016:198), keputusan pembelian adalah
bentuk pemilihan dan minat untuk membeli merek yang paling disukai diantara
sejumlah merek yang berbeda.
Menurut Kotler & Armstrong (2016:185), keputusan pembelian adalah
membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor yang dapat muncul dari
keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain. Faktor kedua
adalah faktor situasional yang tidak terduga.
Menurut Firmansyah (2018:26), keputusan pembelian adalah konsumen
memiliki sasaran atau perilaku yang ingin dicapai atau dipuaskan. Selanjutnya,
konsumen membuat keputusan mengenai perilaku yang ingin dilakukan untuk
dapat memecahkan masalahnya. Selanjutnya dijelaskan bahwa pemecahan
masalah merupakan suatu aliran timbal balik yang berkesinambungan di antara
faktor lingkungan, proses kognitif dan afektif, serta tindakan perilaku.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
keputusan pembelian adalah bentuk pemilihan yang terdiri dari beberapa tahap
untuk membeli merek yang paling disukai diantara sejumlah merek yang
disukai.

Pengukuran Celebrity Endorser


Menurut Andrews & Shimp (2017:228), menyebutkan ada beberapa atribut
pengukuran dari celebrity endorsement, yaitu:
(1) Credibility (Kredibilitas)
Mengacu pada kecenderungan untuk percaya atau mempercayai
endorser. Jika sebuah sumber informasi seperti endorser dianggap kredibel,
ada dua dimensi penting dalam atribut kredibel yaitu:
(a) Keahlian (expertise)
Keahlian mengacu pada pengetahuan, pengalaman, atau
keterampilan yang dimiliki oleh endorser.
(b) Kepercayaan (trustworthiness)
Kepercayaan mengacu pada kejujuran yang dirasakan, integritas,
endorser merupakan orang yang dapat dipercaya oleh khalayak.
(2) Attractiveness (Daya Tarik)
Terdiri dari tiga dimensi yang terkait yaitu kesamaan, keakraban, dan
disukai. Sumber dianggap menarik untuk penerima jika ada kesamaan atau
keakraban dengan sumber, dan jika penerima menyukai sumber terlepas dari
apakah keduanya memiliki kesamaan atau tidak dalam hal apapun. Daya
tarik tidak hanya fisik, tapi juga meliputi sejumlah karakteristik yang
menjadi kelebihan endorser seperti keterampilan intelektual, sifat
kepribadian, karakteristik gaya hidup, kecakapan dan sebagainya
(3) Power (Kekuatan)
Merupakan kharisma yang dipancarkan oleh narasumber sehingga dapat
mempengaruhi pemikiran, sikap, atau tingkah laku konsumen karena
pernyataan atau pesan endorser tersebut.

Pengertian Celebrity Endorser (Pendukung Selebriti)


Menurut Andrews & Shimp (2017:227), celebrity endorser adalah
menggunakan bintang televisi, aktor film, atlet terkenal, dan bahkan tokoh yang
sudah meninggal sebagai bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak,
media sosial, maupun media televisi.
Menurut Rabia et al. (2019), celebrity endorser digunakan untuk menarik
perhatian konsumen, dengan melibatkan selebriti tertentu dalam iklan akan
memotivasi orang untuk mendapatkan perhatian terhadap produk karena strategi
ini meningkatkan perhatian konsumen terhadap produk bermerek.
Menurut Sari Dewi et al. (2020), celebrity endorser merupakan orang yang
mendukung suatu merek dari tokoh masyarakat yang popular dan juga alat yang
dipercaya oleh perusahan untuk berkomunikasi dengan publik guna untuk
meningkatkan angka penjualan pada produk.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa celebrity
endorser adalah penggunaan sebagai icon dari orang-orang terkenal seperti
bintang televisi, aktor film, atlet terkenal, dan bahkan tokoh yang sudah
meninggal sebagai bintang iklan di media-media oleh perusahan untuk
16
berkomunikasi dengan publik guna untuk meningkatkan angka penjualan pada
produk

Pengukuran Kualitas Produk


Menurut Kotler & Keller (2016:393), pengukuran pada kualitas
produk dapat diukur menggunakan product differentiation adalah
sebagai berikut :
(1) Bentuk (Form)
Banyak produk dapat dibedakan dalam ukuran, bentuk, atau
struktur fisik suatu produk. Pertimbangkan banyak kemungkinan
bentuk aspirin. Meskipun pada dasarnya komoditas, dapat dibedakan
berdasarkan dosis, ukuran, bentuk, warna, pelapisan, atau waktu
tindakan.
(2) Fitur (Feature)
Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan beragam fitur
yang melengkapi fungsi dasarnya. Sebuah perusahaan dapat
mengidentifikasi dan memilih fitur baru yang sesuai dengan
melakukan survei pembeli baru dan kemudian menghitung nilai
pelanggan versus biaya perusahaan untuk setiap fitur potensial.
Pemasar harus mempertimbangkan berapa banyak orang yang
menginginkan setiap fitur, berapa lama waktu yang dibutuhkan
untuk memperkenalkannya, dan apakah pesaing dapat dengan
mudah menirunya.
(3) Kualitas Kinerja (Performance Quality)
Kualitas kinerja adalah tingkat di mana karakteristik utama
produk beroperasi. Kualitas tumbuh semakin penting untuk
diferensiasi karena perusahaan mengadopsi model nilai dan
memberikan kualitas yang lebih tinggi dengan biaya lebih sedikit.
Perusahaan harus merancang tingkat kinerja yang sesuai dengan
target pasar dan persaingan. Mereka juga harus mengelola kualitas
kinerja melalui waktu. Meningkatkan produk secara terus-menerus
dapat menghasilkan pengembalian tinggi dan pangsa pasar;
kegagalan dalam melakukannya dapat memiliki konsekuensi
negatif.
(4) Kualitas Kesesuaian (Conformance Quality)
Kualitas kesesuaian pembeli mengharapkan kualitas
kesesuaian tinggi, sejauh mana semua unit yang diproduksi identik
dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan. Produk dengan kualitas
kesesuaian yang rendah akan mengecewakan beberapa pembeli.
(5) Daya Tahan (Durability)
Daya tahan, ukuran dari masa pakai produk yang diharapkan
dalam kondisi alami atau penuh tekanan, adalah atribut yang
dihargai untuk kendaraan, peralatan dapur, dan barang tahan lama
lainnya. Namun, biaya tambahan untuk daya tahan tidak boleh
berlebihan, dan produk tidak boleh mengalami keusangan teknologi
yang cepat, seperti komputer pribadi, televisi, dan telepon seluler
terkadang.
(6) Keandalan (Reliability)
Pembeli biasanya akan membayar premi untuk produk yang
lebih andal. Keandalan adalah ukuran probabilitas bahwa suatu
produk tidak akan mengalami kegagalan fungsi dalam jangka waktu
tertentu.
(7) Perbaikan (Repairabiliy)
Perbaikan mengukur kemudahan memperbaiki produk ketika
tidak berfungsi dengan baik. Perbaikan yang ideal akan ada jika
pengguna dapat memperbaiki produk sendiri dengan sedikit biaya
dalam uang atau waktu.
(8) Gaya (Style)
Gaya menggambarkan tampilan dan nuansa produk kepada
pembeli dan menciptakan kekhasan yang sulit untuk ditiru.
(9) Kustomisasi (Customization)
Produk dan pemasaran khusus memungkinkan perusahaan
untuk menjadi sangat relevan dan berbeda dengan mencari tahu
persis apa yang diinginkan atau yang tidak inginkan konsumen

Pengertian Product Quality (Kualitas Produk)


Menurut Kotler & Keller (2016:156), kualitas produk adalah
totalitas fitur dan karakteristik produk atau layanan yang bergantung
pada kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau
tersirat.
Menurut Kotler et al. (2017:249), kualitas produk merupakan
karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya
untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau tersirat.
Menurut Yanto (2017), kualitas produk adalah suatu usaha untuk
memenuhi atau melebihi harapan konsumen, dimana suatu produk
tersebut memiliki kualitas yang sesuai dengan standar kualitas yang telah
ditentukan, dan kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah karena
selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah.
Kualitas produk menurut Mapaung et al. (2021) merupakan
karakteristik produk dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Dengan adanya kualitas yang baik, maka akan
terbentuk suatu karakteristik yang baik di pandangan pelanggan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kualitas produk adalah karakteristik produk atau layanan yang sesuai
dengan kemampuannya untuk memenuhi harapan maupun melebihi
harapan konsumen

Tingkatan Produk


Dalam merencanakan penawaran pasarnya, pemasar perlu mengatasi
lima tingkatan produk. Setiap tingkatan akan menambahkan lebih banyak
nilai pelanggan, dan bersama-sama lima tingkatan tersebut akan membentuk
customer-value hierarchy. Tingkatan produk menurut Kotler & Keller
(2016:389):
(1) Manfaat Inti (Core Benefit)
Pada tingkatan ini layanan atau manfaat yang benar-benar dibeli oleh
pelanggan. Pemasar harus melihat diri mereka sebagai penyedia
manfaat.
(2) Produk Dasar (Basic Product)
Pada tingkatan ini pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi
produk dasar.
(3) Produk Ekspektasi (Expected Product)
Pada tingkatan ini pemasar menyiapkan produk yang diharapkan,
sekumpulan atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan pembeli
ketika mereka membeli produk tersebut.
(4) Produk Tambahan (Augmented Product)
Pada tingkatan ini pemasar menyiapkan produk tambahan yang
melebihi harapan pelanggan.
(5) Produk Potensial (Potential Product)
Pada tingkatan ini produk potensial yang mencakup semua
kemungkinan tambahan dan transformasi yang mungkin dialami
sebuah produk atau penawaran dimasa depan

Pengertian Produk


Menurut Kotler & Keller (2016:389), produk adalah segala sesuatu
yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau
kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat,
properti, organisasi, informasi, dan ide.
Menurut Kotler et al. (2017:244), produk adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, digunakan, atau
dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan
Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa produk adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar berupa barang fisik, jasa,
pengalaman, acara, orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide.
untuk memuaskan keinginan atau kebutuhannya.

Pengukuran Citra Merek


Menurut Kotler & Keller dalam Juliet (2020), pengukuran citra merek
dapat dilakukan berdasarkan aspek sebuah merek yaitu:
(1) Kekuatan (Strengthness)
Kekuatan dalam hal ini adalah keunggulan-keunggulan yang
dimiliki oleh merek yang bersifat fisik dan tidak ditemukan pada merek
lainnya. Keunggulan merek ini mengacu pada atribut-atribut fisik
sehingga biasa dianggap sebagai sebuah kelebihan dibandingkan
dengan merek lain. Yang termasuk pada kelompok kekuatan (strength):
penampilan fisik, keberfungsian semua fasilitas produk, maupun
fasilitas pendukung dari produk tersebut.
(2) Keunikan (Uniqueness)
Keunikan adalah kemampuan untuk membedakan sebuah merek
di antara merek-merek lainnya. Kesan unik ini muncul dari atribut
produk, menjadi kesan pada diferensiasi antara produk satu dengan
lainnya. Termasuk dalam kelompok untuk ini antara lain: ciri khas,
variasi layanan yang biasa diberikan sebuah produk, variasi harga dari
produk-produk yang bersangkutan maupun diferensiasi dari
penampilan fisik sebuah produk serta nilai unik lainnya.
(3) Kesukaan (Favorable)
Kesukaan mengarah pada kemampuan merek tersebut agar
mudah diingat oleh konsumen, yang termasuk dalam kelompok. yang
termasuk dalam kelompok Favorable ini antara lain: kemudahan merek
tersebut diucapkan, kemampuan merek untuk tetap diingat oleh
pelanggan (Brand Recognition), maupun, kesesuaian antara kesan
merek di benak pelanggan dengan citra yang diinginkan perusahaan
atas merek yang bersangkutan.

Pengertian Brand Image (Citra Merek)


Menurut Kotler et al. (2017:231), brand image harus menyampaikan
manfaat dan pemosisian produk yang khas. Bahkan ketika penawaran yang
bersaing terlihat sama, pembeli merasakan perbedaan berdasarkan
diferensiasi citra merek.
Menurut Kotler & Keller (2016:330), brand image mendeskripsikan
sifat ekstrinsik yang artinya hal yang bisa dilihat atau dinilai bahkan
sebelum konsumen atau orang menggunakan suatu produk atau layanan,
termasuk cara merek tersebut dapat memenuhi kebutuhan sosial dan
psikologis dari konsumen.
Menurut Firmansyah (2018:87), brand image merupakan gambaran
dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman terhadap merek tersebut.
Menurut Sari Dewi et al. (2020), brand image merupakan cara padang
konsumen terhadap suatu merek sebagai sebuah gambaran dari apa yang ada
dalam pikiran atau benak konsumen terhadap suatu merek.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
Brand Image merupakan suatu hasil persepsi konsumen terhadap suatu
merek tertentu, yang didasarkan atas pertimbangan dan perbandingan
dengan beberapa merek lainnya, pada jenis produk yang sama

Fungsi Brand (Merek)


Menurut Kotler dan Keller (2016 : 322), fungsi dari merek bagi perusahaan
dan konsumen yaitu sebagai berikut :
(1) Peranan merek untuk konsumen
Merek adalah janji antara perusahaan dan konsumen. Ini adalah
sebuah penetapan harapan konsumen dan merek mampu untuk
menyederhanakan pengambilan keputusan untuk mengurangi resiko
mereka
(2) Peran merek untuk perusahaan
Merek juga melakukan fungsi yang berharga untuk perusahaan.
Merek menyederhanakan produk penanganan dengan membantu
mengatur catatan barang, catatan akuntansi, dan sebuah merek juga
menawarkan perlindungan hukum

Pengertian Brand (Merek)


Menurut Kotler et al. (2017:250), brand adalah nama, istilah, tanda,
simbol, atau desain atau kombinasi dari semuanya yang mengidentifikasi
pembuat atau penjual produk atau layanan.
Menurut Kotler & Keller (2016:322), Brand diartikan sebagai, sebuah
nama, istilah, lambang, atau desain, atau kombinasinya, yang
mengidentifikasi pembuat atau penjual barang atau jasa.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Brand
adalah nama, simbol, tanda, atau desain untuk dipakai sebagai identitas
pembuat atau penjual suatu barang dan jasa yang dimiliki untuk
membedakan dengan produk jasa lainnya.

Pengaruh Citra Merek terhadap Minat Beli


Minat beli pada dasarnya muncul dari dalam diri konsumen ketika
menjumpai seuatu produk di pasaran. Namun selain menjumpai secara
fisik, minat beli juga sebenarnya dipengaruhi oleh faktor lain yaitu
persepsi yang dimiliki tiap-tiap konsumen berdasarkan informasi yang
pernah didapat sebelumnya. Citra merek yang efektif bisa muncul tidak
hanya dari apa yang mereka lihat, namun juga bisa dari apa yang mereka
dengar baik secara langsung maupun tidak langsung.
Informasi yang sejauh ini didapat nantinya akan tersimpan dalam
memori konsumen, dan saat mereka menjumpai produk tersebut maka
informasi ini akan sendirinya muncul sebagai citra pada sebuah merek dan
mempengaruhi juga pada munculnya minat beli yang ada pada calon
konsumen. Dapat dikatakan juga bahwa seorang konusmen cenderung
lebih memerhatikan dan menerima citra merek yang dimiliki produk
dibandingkan dengan bentuk fisik yang dijumpai.
Dari penelitian ini kita tahu bahwa ada ikatan sangat positif antara
citra merek dengan minat beli konsumen. Citra merek yang sudah melekat
secara positif di benak masyarakat, akan menimbulkan minat beli
konsumen. Semakin citra produk dapat terlihat dengan jelas serta melekat
kuat di benak konsumen, maka minat beli juga akan semakin kuat timbul
dari dalam diri konsumen.
Pernyataan yang telah peneliti paparkan didukung juga oleh
penelitian yang telah dilakukan oleh Kuswati (2013), dan Wiratnaya
(2014), yang menyatakan bahwa citra merek berpengaruh terhadap minat
beli

Pengaruh Brand Personality terhadap Minat Beli


Sebuah merek memang harus diciptakan atau dibuat dengan
mempertimbangkan berbagai faktor yang ada untuk menciptakan karakter
yang kuat sehingga mudah untuk diidentifikasi di pasaran. Brand
personality diciptakan dan dibentuk berdasarkan karakteristik konsumen
yang telah ada dengan menggunakan pedoman 5 dimensi yang ada.
Semakin kuat karakter yang tercipta dari sebuah merek baik dari segi logo,
nama, desain, strategi pemasaran, dsb akan membuat calon konsumen
menaruh perhatian lebih pada produk tersebut saat melakukan analisa atau
identifikasi produk di pasaran.
Seorang calon konsumen yang menaruh perhatiannya pada sebuah
merek, dapat dikatakan ia sudah merasa memiliki kecocokan kepribadian
antara dirinya dengan brand personality produk tersebut. Tanpa disadari
oleh calon konsumen ini, didalam dirinya terjadi sebuah dorongan
emosional untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai informasi yang
dimiliki oleh produk tersebut.
Dorongan emosional yang ada dalam diri dan benak calon
konsumen ini disebut juga dengan minat yang akan mengarahkan mereka
pada rasa untuk ingin mencoba produk tersebut dan bahkan memilikinya
dengan melakukan pembelian. Sehingga kecocokan brand personality
dengan calon konsumen ini akan mengarahkan mereka pada timbulnya
minat beli dalam diri mereka.
Pernyataan yang telah peneliti paparkan didukung juga oleh
penelitian yang telah dilakukan oleh Almanda (2015), dan Rachmatianti
(2014), yang menyatakan bahwa brand personality berpengaruh terhadap
minat beli

Pengaruh Brand Personality terhadap Citra Merek


Brand personality merupakan sebuah pembentukan identitas di
kalangan konsumen yang sedemikian rupa dibentuk dengan komponen-
komponen pembentuk yakni logo, kemasan, desain, slogan, dsb. Brand
personality ini bisa dikatakan sebagai identitas pengenal yang dibagikan di
tengah-tengah masyarakat untuk kedepannya menciptakan suatu persepsi
positif mengenai produk tersebut. Persepsi yang tercipta inilah yang
disebut dengan citra merek. Seperti pernyataan Aaker dalam Tingkir
(2014) bahwa agar menjadi efektif, identitas merek perlu beresonansi
dengan konsumen, membedakan merek dengan pesaing, dan mewakili apa
yang akan dilakukan oleh perusahaan dari waktu ke waktu.
Pembentukan brand personality dengan karakteristik yang kuat
akan menciptakan sebuah persepsi yang menggiring pada terciptanya citra
merek di dalam benak konsumen.Brand personality yang efektif akan
menimbulkan citra merek positif di pasaran, semakin luas cakupan pasar
yang dimiliki oleh merek tersebut maka citra merek yang positif juga ikut
tercipta luas untuk para calon konsumen. Namun dapat dikatakan juga
bahwa citra merek sejatinya ikut menguatkan brand personality suatu
merek, karena karakteristik merek tersebut sudah melekat di benak
konsumen sehingga akan lebih mudah diidentifikasi di pasaran.
Pernyataan yang telah peneliti paparkan ini didukung juga oleh
penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari (2014), dan Tingkir (2014).
Dari hasil penelitian yang dilakukan ini menunjukkan bahwa citra merek
turut memaksimalkan pembentukan brand personality oleh perusahaan.
Pemasar harus dengan jelas menampilkan karakteristik produk untuk
menghasilkan brand personality yang kuat, sehingga brand personality
yang dibentuk dapat sejalan dengan citra merek yang melekat dalam benak
masyarakat.

Tahapan Minat Beli


Seorang konsumen seringkali tidak menyadari awal mula
bagaimana ia kemudian memiliki minat pembelian pada suatu produk.
Sebelum memiliki keinginan atau hasrat emosional untuk memiliki
produk, ada tahapan yang terjadi pada benak konsumen dan menjadi
dorongan dalam melakukan pembelian.
Pernyataan dari Kotler (2008) ada empat tahapan yang terjadi
sebelum minat pembelian ini timbul dan tahapan ini dikenal dengan
model AIDA, yaitu:

  1. Attention. Ini adalah tahapan awal saat konsumen menaruh
    perhatiannya pada suatu produk saat ia menjumpainya di pasaran.
    Calon konsumen juga melakukan analisis produk serta
    mempelajari produk atau jasa yang ditawarkan.
  2. Interest. Dalam tahapan ini calon konsumen mulai mendapati
    dirinya memiliki ketertarikan pada suatu produk setelah mendapat
    informasi yang terperinci mengenai keadaan suatu produk
    tersebut.
  3. Desire. Rasa ingin memiliki dan mencoba produk tersebut sudah
    muncul. Namun calon konsumen masih berdebat dengan dirinya
    dan meyakinkan apakah produk tersebut memang layak untuk
    dimiliki dan memenuhi ekspektasi yang diharapkan.
  4. Action. Pada tahap ini calon konsumen sudah memeiliki
    kemantapan yang tinggi dan sampai pada keputusan akhir apakah
    ia akan membeli produk tersebut atau tidak.
    Dapat disimpulkan dari tahapan minat beli ini sebenarnya terjadi
    secara alamiah pada benak konsumen serta dorongan emosional ketika
    seorang konsumen menjumpai sebuah produk. Tahapan yang
    mempengaruhinya yaitu attention atau rasa penasaran yang timbul pada
    awal menjumpai produk yang kemudian berlaih ke tahapan interest atau
    ketertarikan yang dimiliki setelah memiliki informasi cukup mengenai
    produk dan semakin berkembang lagi ke tahapan desire yakni puncak
    dari rasa penasaran hingga menimbulkan rasa untuk mencoba dan bahkan
    memiliki produk yang ditemui tersebut, dan pada tahapan akhirnya yaitu
    action yaitu keputusan final dan tindakan yang akan diambil terhadap
    produk tersebut. Semua tahapan ini merupakan proses yang ada dan
    terjadi saat sebelum seorang konsumen dapat dikatakan memiliki minat
    beli pada sebuah produk

Indikator Minat Beli


Minat beli pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor internal dan
eksternal. Perilaku konsumen akan terlihat ketika menjumpai
karakteristik produk yang ada di pasaran, produk yang memiliki karakter
kuat dan cocok dengan ekspektasi calon konsumen akan menstimulus
kecenderungan calon konsumen dalam membeli produk tersebut. Dari
sisi internal kecenderungan untuk membeli produk didasari oleh
kebutuhan dan atau keinginan konsumen tersebut.
Pernyataan dari Ferdinand dalam Akmal (2014) bahwa indikator-
indikator minat beli konsumen adalah sebagai berikut:
1) Tertarik untuk mencoba
2) Mempertimbangkan untuk membeli
3) Keinginan memiliki produk
4) Keinginan mengetahui produk.
Pada jurnal Naibaho & Yuliati (2017) mengemukakan bahwa
minat beli diidentifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut :

  1. Minat Transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
    produk.
  2. Minat Referensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
    seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain.
  3. Minat Eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang
    yang selalu mencari informasi mengenai suatu produk yang
    diminatinya dan mencari informasi-informasi untuk mendukung
    sifat-sifat positif dari produk tersebut.
    Kesimpulan yang bisa ditarik adalah indikator pada minat beli ini
    didasari oleh keinginan personal yang cenderung menghasilkan suatu
    tindakan positif seperti ketertarikan untuk mencoba, pertimbangan untuk
    membeli, keinginan konsumen untuk membeli, dan keingintahuan lebih
    terhadap suatu produk. Berdasarkan makna minat, maka ada 3 indikator
    minat yang menjadi tolak ukur, yaitu minat transaksional atau
    kecenderungan untuk membeli produk, lalu ada minat preferensial atau
    perilaku seseorang yang memiliki preferensi terhadap suatu produk, dan
    ada minat eksploratif yaitu perilaku yang terus mencari tahu mengenai
    informasi sebuah produk

Pengertian Minat Beli


Minat beli merupakan perilaku ketika seorang konsumen
mengenali suatu merek dan memiliki tekad untuk membeli atau
memiliki. Pada mulanya individu akan mencari kepuasan dari produk
yang ditemuinya lalu kemudian akan timbul sebuah hasrat untuk
memiliki produk tersebut. Assael dalam Wiratnaya (2014) menyatakan
minat beli konsumen timbul dan terbentuk setelah konsumen melakukan
evaluasi terlebih dulu terhadap suatu merek dan akan melakukan
pembelian terhadap merek yang dapat meemberikan tingkat paling tinggi
dari kepuasan yang diharapkan.
Rossiter dan Percy dalam Kumala (2012) mengemukakan bahwa
minat beli merupakan sebuah instruksi diri konsumen untuk melakukan
pembelian atas suatu produk, melakukan perencanaan, mengambil
tindakan-tindakan yang relevan seperti mengusulkan, dan akhirnya
mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.
Konsumen yang memiliki ketertarikan pada suatu produk akan
melakukan pencarian informasi lebih lanjut mengenai produk yang
mereka inginkan tersebut. Mengutip dari Keller (2012:113) bahwa minat
beli adalah seberapa besar kemungkinan konsumen membeli suatu merek
atau seberapa besar kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu
merek ke merek yang lain. Dapat dikatakan bahwa minat beli juga
berlaku pada beberapa merek lain disaat yang bersamaan.
Sehingga peneliti menyimpulkan sebuah minat beli didasarkan
dari pengetahuan konsumen mengenai satu atau lebih suatu merek
produk, dan mencari produk mana yang sekiranya yang bisa memberikan
kepuasan paling tinggi, kemudian dilanjutkan dengan tindakan untuk
mencari informasi lebih lanjut mengenai produk tersebut dan akhirnya
melakukan perencanaan pembelian

Pengukuran Citra Merek


Citra merek memiliki pengukuran yang menjadi sebuah tolak
ukur dalam keefektifan sebuah citra merek. Citra merek yang efektif akan
memiliki dampak di kalangan konsumen sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh perusahaan. Selain itu citra merek yang efektif diukur
dengan apakah citra merek juga memberi manfaat pada konsumen.
pertama adalah atribut. Atribut adalah ciri-ciri atau berbagai aspek dari
merek yang diiklankan. Atribut juga dibagi menjadi dua bagian yaitu :

  1. Hal- hal yang tidak berhubungan dengan produk.
    (contoh: harga, kemasan, pemakai, dan citra penggunaan)
  2. Hal-hal yang berhubungan dengan produk.
    (contoh: warna, ukuran, desain)
    Kemudian bagian kedua pengukuran citra merek menurut Shimp
    adalah manfaat. Manfaat dibagi menjadi tiga bagian yaitu fungsional,
    simbolis, dan pengalaman.
    1) Fungsional, yaitu manfaat yang berusaha menyediakan solusi
    bagi masalah-masalah konsumsi atau potensi permasalahan yang
    dapat dialami oleh konsumen, dengan mengasumsikan bahwa
    suatu merek memiliki manfaat spesifik yang dapat memecahkan
    masalah tersebut.
    2) Simbolis, yaitu diarahkan pada keinginan konsumen dalam upaya
    memperbaiki diri, dihargai sebagai anggota suatu kelompok,
    afiliasi, dan rasa memiliki.
    3) Pengalaman, yaitu konsumen merupakan representasi dari
    keinginan mereka akan produk yang dapat memberikan rasa
    senang, keanekaragaman, dan stimulasi kognitif.
    Terakhir, bagian ketiga dari pengukuran citra merek menurut
    Shimp adalah evaluasi keseluruhan, yaitu nilai atau kepentingan subjektif
    dimana pelanggan menambahkannya pada hasil konsumsi.
    Dapat disimpulkan bahwa citra merek yang efektif akan sesuai
    dengan ekspektasi awal yang diharapkan oleh produsen. Tolak ukur
    untuk citra merek yang efektif dibagi dalam 3 bagian yakni atribut, yaitu
    segala hal yang berkaitan dengan merek baik berhubungan langsung
    maupun tidak langsung dengan produk, kemudian ada manfaat yang juga
    dibagi kedalam 3 kategori yaitu fungsional, simbolis, dan pengalaman
    konsumen, serta yang terakhir merupakan evaluasi yang dilakukan secara
    keseluruhan demi mencapai tingkat efektifitas maksimal

Faktor pembentuk Citra Merek


Citra merek pada dasarnya merupakan sebuah persepsi yang
timbul dari sebuah merek yang ada. Sebuah merek terdiri dari beberapa
komponen yang berhubungan satu sama lain sehingga sebuah merek
dapat menciptakan persepsi di kalangan konsumen sesuai dengan
ekspektasi yang diharakan.
Terdapat beberapa faktor yang mendukung terbentuknya citra
merek dalam keterkaitannya dengan asosiasi merek menurut Keller
dalam Wiratnaya (2014), yaitu :

  1. Keunggulan Asosiasi Merek (favorability of brand association).
    Salah satu faktor pembentuk citra merek adalah keunggulan
    produk
  2. Kekuatan Asosiasi (strength of brand association/ familiarly of
    brand association). Yaitu dengan membangun kepopuleran merek
    dengan strategi komunikasi melalui periklanan.
  3. Keunikan Asosiasi Merek (uniqueness of brand association).
    Merupakan keunikan-keunikan yang dimiliki oleh sebuah produk.
    Sedangkan pernyataan dari Aaker dan Biel (2009:71) mengenai
    faktor-faktor pembentuk citra merek adalah sebagai berikut:
    a. Citra pembuat (Corporate Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
    dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat
    suatu barang atau jasa. Meliputi: popularitas, kredibilitas, jaringan
    perusahaan, serta pemakai itu sendiri.
    b. Citra produk / konsumen (product Image), yaitu sekumpulan
    asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau
    jasa. Meliputi: atribut dari produk, manfaat bagi konsumen, serta
    jaminan.
    c. Citra pemakai (User Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
    dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan
    suatu barang atau jasa. Meliputi: pemakai itu sendiri, serta status
    sosialnya.
    Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor
    pembentuk citra merek ini berkaitan erat dengan asosiasi merek, yang
    bertujuan agar suatu produk memiliki ciri khas tersendiri dan
    memudahkan konsumen untuk terus mengingat citra merek yang melekat
    pada suatu produk yang ada

Pengertian Citra Merek


Citra merek atau yang disebut juga Brand Image merupakan salah
satu komponen penting dari kekuatan merek. Menurut Sari (2013) Citra
Merek adalah persepsi dan keyakinan terhadap sekumpulan asosiasi
suatu merek yang terjadi di benak konsumen. Sedangkan Kotler dan
Keller (2009) berpendapat bahwa citra merek adalah persepsi dan
keyakinan yang dipegang oleh konsumen, seperti yang dicerminkan
asosiasi yang tertanam dalam ingatan pelanggan, yang selalu diingat
pertama kali saat mendengar slogan dan tertanam dibenak konsumennya.
Saat melihat suatu merek, maka akan timbul sebuah persepsi di benak
konsumen dan tercipta suatu ekspektasi yang diharapkan dari produk
tersebut.
Dengan memiliki logo, lambang, desain yang berbeda, maka akan
membuat konsumen mampu mengingat dan mendiferensiasi satu produk
dengan yang lain dalam benak mereka. Oleh karenanya, perusahaan tidak
boleh secara asal-asalan dalam pembuatan merek karena dapat
menimbulkan citra yang tidak sesuai di mata konsumen terhadap produk
maupun perusahaannya.
Citra merek juga dikatakan sebagai penglihatan dan kepercayaan
yang terpendam di benak konsumen sebagai cerminan asosiasi yang
tertahan di ingatan konsumen (Kotler, 2008). Citra yang sudah melekat
dalam benak tidak akan mudah dilupakan oleh konsumen. Terkadang
konsumen akan sulit dalam membayangkan bagaimana merek suatu
produk tanpa melihat produknya, namun ketika mereka secara langsung
menjumpai produk tersebut, maka secara otomatis semua informasi
dalam benak yang pernah didapat mengenai produk tersebut akan muncul
saat itu juga.

Dimensi Brand Personality


Pada brand personality ada dimensi-dimensi yang memberi
pengaruh dalam pembentukannya. Dimensi inilah yang dijadikan
pedoman dalam pembentukan brand personality. Pernyataan dari Aaker
dalam Naibaho dan Yulianti (2017) kerangka kerja brand personality
dikelompokkan kedalam 5 dimensi utama yaitu Sincerity (ketulusan),
Excitement (ketertarikan), Competence (kompetensi), Shopistication
(keduniawian), Ruggedness (ketahanan). Berikut penjelasan dari kelima
dimensi diatas :
1) Sincerity (ketulusan), yaitu karakter yang jujur, rendah hati, dan
sederhana. Sincerity tertuang dalam kejujuran dalam kualitas,
keaslian produk dankeidentikan merek dengan sifat-sifat yang
sederhana, seperti ceria dan berjiwa muda.
2) Excitement (ketertarikan), yang berarti karakter dinamis yang
penuh semangat danmemiliki imajinasi yang tinggi dalam
melakukan perbedaan dan inovasi.
3) Competence (kompetensi), yaitu kemampuan untuk dapat
diandalkan dan dipercaya oleh pelanggan.
4) Sophistication (keduniawian), yaitu karakteristik yang berkaitan
dengan eksklusif yang dibentuk oleh keunggulan prestise, citra
merek maupun tingkat daya tarik yang mempesona.
5) Ruggedness (ketahanan), yaitu karakteristik merek yang dikaitan
dengan manfaat suatu merek dalam mendukung kegiatan luar
rumah dan kekuatan atau daya tahan produk.
Adapun pendapat ahli lainnya yaitu Azoulay dan Kapferer dalam
Azhar (2015) menyatakan bahwa terdapat 9 dimensi serta indikator yang
mencirikan brand personality.
Tabel 2.1 Dimensi Brand Personality
DIMENSI INDIKATOR
Friendly Warm
Pleasant
Nice
Creative Inventive
Imaginative
Misleading Hypocrite
Lying
Deceitful
Original Trendy
Modern
Elegant Shopisticated
Has Style
Conscientious Strict
Serious
Charming Attractive
Seductive
Ascendant Manipulative
Arrogant
Pretentious
Introvert Withdrawn
Shy
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa brand
personality didasarkan pada karakteristik yang sudah ada di masyarakat
dan kemudian tercipta 5 dimensi utama yang menjadi pedoman dalam
pembentukan brand personality, yakni sincerity sebagai dimensi yang
menonjolkan karakter jujur dan tulus, lalu excitement sebagai dimensi
yang menunjukkan karakter ketertarikan dan semangat tinggi, kemudian
ada competence sebagai dimensi yang memiliki karakter meyakinkan
atau dapat dipercaya, lalu ada shopistication sebagai dimensi dengan
karakter yang eksklusif dan berdaya tarik tinggi, dan ada ruggedness
yakni dimensi yang menonjolkan karakter yang tahan lama dan kuat.

Pengertian Brand Personality


Brand Personality merupakan salah satu bagian dari kekuatan
merek yang diciptakan demi mengenalkan produk dan
mempertahankannya di pasaran. Brand Personality dibangun dengan
memperhatikan karakterisitik konsumen yang ada, sehingga nantinya
akan menarik perhatian konsumen di pasaran baik secara fisik maupun
emosional. Kotler dan Keller (2012) mendefinisikan brand personality
sebagai “the specific mix of human traits that we can attribute to a
particular brand” yang berarti bahwa brand personality adalah bauran
tertentu dari sifat manusia yang dapat kita kaitkan pada merek tertentu.
Sifat manusia ini menjadi landasan pembentukan brand personality.
Schiffman & Kanuk (2010) menjelaskan pembentukan brand
personality pada sebuah brand akan mendorong konsumen untuk
memberikantanggapan dengan perasaan dan emosi terhadap brand
tersebut. Sehingga adanya ikatan emosi dapat membuat konsumen
merasa lebih dekat dengan merek produk tersebut.
Dari pengertian-pengertian yang telah dipaparkan oleh para ahli,
dapat disimpulkan bahwa brand personality merupakan konsep untuk
mendiferensiasi suatu produk dengan produk lain dengan menciptakan
logo, nama, merek, kemasan, yang dibentuk dan didadasarkan oleh
kepribadian masyarakat sehingga tercipta ikatan emosional antara
konsumen dengan suatu merek.

Pengertian Brand


Brand atau merek merupakan tanda pengenal yang dibuat oleh
perusahaan yang kemudian dilekatkan pada sebuah sehingga bisa dengan
mudah dikenali oleh konsumen. Pernyataan dari Kertajaya (2009, p.11),
merek adalah value indicator yang ditawarkan oleh perusahaan terhadap
pelanggan, aset yang menciptakan value bagi pelanggan dengan
memperkuat kepuasan dan loyalitas pelanggan, merek juga menjadi “alat
ukur” bagi kualitas value yang digunakan perusahaan.
The American Marketing Association dalam Kotler & Keller
(2009), mendefinisikan brand sebagai “a name, term, sign, symbol, or
design or combination of them, intended to identify the goods or service
of one seller or group of seller and to differentiate them from those of
competitor” yang berarti bahwa merek merupakan sebuah nama, istilah,
tanda, symbol atau desain atau kombinasi keseluruhannya, yang
bertujuan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau
sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari kompetitor mereka.
Merek memiliki banyak unsur yang harus dipertimbangkan
sebelum dibuat. Dampak yang dihasilkan oleh adanya merek sangat
besar, terutama untuk keberlangsungan suatu produk yang terjun di
pasaran. Pernyataan Nicolino pada Limanjaya (2015) menyatakan bahwa
sebuah nama, logo, singkatan, desain, atau apa saja yang dikatakan
sebagai merek, harus memenuhi tiga hal, yaitu:

  1. Dapat mengidentifikasi arti mengklarifikasi karakteristik dan sifat
    dari produk atau layanan.
  2. Memilki entitas, artinya merek itu mewakili sesuatu yang ada.
  3. Janji akan nilai, artinya merek menjanjikan apa yang akan
    diberikan kepada pembeli atau pemakai.
    Maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa merek terdiri dari
    logo, simbol, tanda, istilah, atau desain yang dibuat sebagai identitas
    suatu produk agar dapat dikenal dan dibedakan dari produk-produk lain
    yang ada

Definisi Branding


Pada bukunya “Designing Brand Identity fourth edition” Wheeler (2013)
menyatakan bahwa brand atau merek merupakan sesuatu yang dibuat oleh
perusahaan dalam menghubungkan emosional konsumen terhadap produk atau jasa
mereka. Pembuatan suatu merek yang menonjol akan membuat para konsumen
menjadi semakin percaya terhadap brand tersebut bahkan menciptkan hubungan
yang panjang dengan para konsumen (hlm. 2).
Branding merupakan sebuah proses dalam memperluas dan membangun
pengetahuan konsumen akan sebuah brand atau merek. Branding juga bertujuan
untuk mendapatkan kesetiaan pelanggan serta membuat sebuah produk atau jasa
dipilih oleh konsumen dibandingkan dengan yang lainnya. Maka dari itulah,
perusahaan memanfaatkan branding sebagai sebuah sarana dalam menjangkau
konsumen serta bersaing dengan kompetitor. (Wheeler, 2013)
Menurut Wheeler (2013) sebuah brand strategy dibentuk selaras dengan
visi, nilai, dan budaya yang dicerminkan oleh suatu perusahaan dalam memahami
kebutuhan dan persepsi konsumen. Brand strategy merupakan sebuah inti dalam
memandu pemasaran agar dapat meningkatkan penjualan serta memberikan
kejelasan mengenai produk atau jasa yang terkait (hlm. 12).
Pembuatan brand strategy dapat didefinisikan dengan positioning,
diferensiasi, keunggulan, serta value proposition dari sebuah produk atau jasa
(Wheeler, 2013). Menurut Bob Ulrich, seperti yang dikutip oleh Wheeler (2013)
menyatakan bahwa inti strategi ini yakni memberikan atau menyediakan kebutuhan
konsumen dengan desain, nilai serta inovasi yang konsisten sehingga hal tersebut
akan menjadi cerminan citra suatu perusahaan agar mendapat kepercayaan
konsumen (hlm. 12).

Customer Satisfaction dan Customer Loyalty


Pada beberapa penelitian tentang kepuasan pelanggan,ditemukan bahwa
kepuasan keseluruhan adalah suatu evaluasi global yang terdiri atas kepuasan
terhadap komponen-komponen atribut suatu barang atau jasa atau proses
(Anderson, 1973; Oliver, 1980). Penelitian Tu et al.(2012) denga judul
“Corporate Brand Image and Customer Satisfaction on Loyalty: An Empirical
Studyof Starbucks Coffee in Taiwan” disebutkan bahwa pengukuran kepuasan
maupun ketidak puasan pelanggan terhadap suatu produk/jasa/merek merupakan
indikator yang penting dari loyalitas pelanggan.
Hal ini didasarkan atas fenomena yang menunjukkan bahwa sebuah
peningkatan 5 persen dalam retensi pelanggan menyebabkan peningkatan dari
25% menjadi 75% laba perusahaan. Biayanya lebih dari lima kali lebih banyak
untuk mendapatkan pelanggan baru dari pada mempertahankan yang sudah ada.
Dengan pelanggan setia, perusahaan dapat memiliki pangsa pasar yang lebih
tinggi dan mengurangi biaya operasi perusahaan. Gerson (2001) mengatakan
bahwa hubungan antara penjualan, pelayanan,kepuasan,dan profit bersifat
langsung. Hal ini berarti bahwa semakin puas seorang pelanggan, semakin
banyak uang yang dibelanjakannya, atau dengan kata lain, pelanggan tersebut
akan melakukan repeat buying lebih sering sehingga perusahaan semakin
diuntungkan.
Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Suharjo dalam majalah Swa
edisi Mei 2004 mengenai hirarki loyalitas yang tertinggi yaitu enterance, yaitu
orang yang mulai merasa tergantung pada suatu merek produk tertentu, sehingga
ada keterikatan emosional dengan suatu merek produk. Misalnya, ada orang yang
merasa belum sembuh jika belum minum obat merek tertentu. Selain itu, masih
dalam jurnal yang sama juga disebutkan bahwa pelanggan yang puas pada
umumnya juga akan merekomendasikan produk/jasa/merek yang bersangkutan
kepada kerabat dan teman-temannya. Perilaku pelanggan yang merasa puas atas
kinerja perusahaan akan menyampaikan rasa puasnya itu kepada orang lain, yang
biasa disebut komunikasi word of mouth.
Christopher et al. (1991) menyebut pelanggan yang demikian sebagai
advocate bagi perusahaan. Outcomes dari loyalitas diukur melalui voluntary
partnership, yaitu cooperation dan rekomendasi word-ofmouth (Disney, 1999).
Selanjutnya, disebutkan bahwa cooperation didefinisikan sebagai niat untuk
mencapai tujuan bersama dan juga keinginan pelanggan untuk membantu
perusahaan. Sedangkan rekomendasi termasuk juga promosi tentang perusahaan,
membuat cerita-cerita positif, dan berbisnis dengan perusahaan. Mardalis
(2005)menyebutkan bahwa terdapat penelitian-penelitian lain yang mendapati
kurangnya pengaruh kepuasan terhadap loyalitas, misalnya Disney (1999) dan
Jones (1996), menyimpulkan bahwa dengan hanya memuaskan pelanggan, tidak
cukup menjaganya untuk tetap loyal, sementara mereka bebas untuk membuat
pilihan

Customer Experience dan Customer Loyalty


Beberapa peneliti menunjukan bahwa pengalaman konsumen
berpengaruh signifikan terhadap membentuk dan menjaga loyalitas pelanggan.
Oliver(1999) menemukan bahwa experience behavior memiliki pengaruh yang
kuat signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Bolton et al. (2000) juga
menemukan bahwa customer service experience akan mempengaruhi evaluasi
perusahaan dan pembelian kembali. Penelitian Gentile et al. (2007) menunjukkan
bahwa pengalaman dalam mengidentifikasi pilihan pelanggan yang memainkan
peran yang mendasar,dan kemudian mempengaruhi keputusan pembelian. Chang
&Chen (2008) menunjukkan bahwa pengalaman merupakan variabel penting
untuk memahami perilaku konsumen,perilaku terhadap pengalaman dan
pembelian kembali. Berry (2000) menciptakan “service brand equity model”,
dengan penekanan khusus pada pengalaman pelanggan dalam pembangunan
service brand equity dan loyalitas yang memiliki peran kunci.
Selain itu, hasil penelitian Biedenbach& Marell (2010) juga menunjukkan
bahwa customer experience mempunyai pengaruh yang positif kepada semua
dimensi dari brand equity Aaker (1991), yang artinya bahwa customer experience
berbanding lurus dengan loyalitas terhadap merek.Ehret (2008) mengembangkan
model yang menghubungkan antara customer experience, loyalitas, dan word of
mouth.Customer experience yang baik akan menghasilkan loyalitas dan word of
mouth, dimana loyalitas tetap menjaga konsumen, sedangkan word of mouth
akan berguna dalam ekspansi dan akuisisi pelanggan baru. Word of mouth dapat
membuat konsumen melakukan trial produk, tetapi tidak menghasilkan loyalitas
pelanggan. Model ini sesuai dengan McNaughton et al. (2002) bahwa kepuasaan
pelanggan akan menciptakan loyalitas dan word of mouth, yang keduanya akan
memiliki impact pada cash flow.Hollyoake (2009) menyimpulkan bahwa
customer experience yang baik didapat dari pemahaman atas ekspektasi
pelanggan, delivery produk yang tepat pada setiap kesempatan, dan berbagai
faktor lainnya akan menimbulkan loyalitas. Dengan persaingan yang semakin
kuat, customer experience merupakan jalan terbaik sebagai pembeda dari pada
harus bersaing di harga dan meluncurkan program pemasaran yang akan banyak
memakan biaya

Customer Satisfaction(Kepuasan Pelanggan)


Tjiptono (2008, p.349) berpendapat bahwa kepuasan konsumen
merupakan suatu tanggapan emosional yang dirasakan oleh konsumen pada
evaluasi suatu produk yang dikonsumsi. Konsumen yang merasa puas, akan
merespon layanan atau produk dengan baik dan bersedia untuk membeli produk
lain yang ditawarkan oleh perusahaan serta konsumen tersebut secara tidak
langsung akan membantu proses pemasaran melalui Word of mouth dengan
mengatakan hal-hal yang positif (Kotler dan Keller, 2009, p.140). Menurut
Kotler dan Keller (2009, p.138) kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja atau hasil dari sebuah
produk yang dipikirkan terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan. Jika kinerja
berada dibawah harapan, konsumen tidak puas. Jika kinerja melebihi harapan
maka konsumen akan sangat senang atau puas. Kepuasan itu terjadi saat
terpenuhinya kebutuhan atau harapan yang dicapai melalui interaksi yang
dilakukan oleh perusahaan dan pembeli (Tjiptono, 2011, p.435).
Kepuasan pelanggan merupakan kunci yang penting untuk dapat
mempertahankan pelanggan, seperti yang dikemukakan Kotler (2007, p. 18). Hal
ini menegaskan bahwa tanpa adanya kepuasan pelanggan maka perusahaan akan
sulit untuk bertahan dalam menghadapi persaingan yang kompetitif. Dutka
(1993, p. 41) menyusun tiga atribut pokok untuk mengukur kepuasan pelanggan,
yaitu:

  1. Kepuasan konsumen terhadap atribut yang terkait dengan produk (Attributes
    related to product), Produk merupakan apa saja baik yang berwujud maupun
    yang tidak berwujud yang didalamnya sudah termasuk warna, kemasan,
    prestise pabrik atau pengecer, dan pelayan yang diberikan yang dapat
    ditawarkan ke dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau
    dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan. Produk
    yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa, organisasi, tempat dan gagasan
    antara lain:
    a) Value Price Relationship; merupakan hubungan antara harga yang
    ditetapkan oleh perusahaan dengan nilai yang diperoleh konsumen,
    apabila nilai yang diperoleh konsumen melebihi apa yang dibayar,
    maka suatu dasar yang penting dari kepuasan telah tercipta.
    b) Product Quality; merupakan penilaian dari mutu produk-produk yang
    dihasilkan suatu perusahaan.
    c) Product Benefit; merupakan atribut atau keuntungan dari produk-
    produk yang berarti bagi para konsumen.
    d) Product Features; merupakan ciri-ciri tertentu yang dimiliki oleh
    produk-produk perusahaan yang membedakannya dengan produk
    yang ditawarkan oleh para pesaingnya.
    e) Product Design; merupakan proses untuk merancang bentuk dan
    fungsi utama produk.
    f) Product Reliability and Consistency; merupakan pengukuran adanya
    kemungkinan suatu produk akan rusak atau tidak berfungsi dalam
    periode waktu tertentu.
    g) Range of Product or Service; merupakan banyaknya jenis produk atau
    layanan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan.
  2. Kepuasan terhadap atribut yang terkait dengan pelayanan(Attributes related to
    service) Atribut pelayanan merupakan atribut kepuasan pelanggan yang
    berkaitan dengan pemberian pelayanan pasca pembelian. Ini karena konsumen
    akan melakukan evaluasi pasca akuisisi. Tahap pasca akuisisi dimulai setelah
    pelanggan membuat pilihan dan mulai mengkonsumsi produk yang
    dipilihnya. Proses pasca akuisisi melibatkan lima topik yaitu proses
    mengkonsumsi produk, kepuasan atau ketidak puasan pelanggan, perilaku
    penyampaian keluhan pelanggan, pembuangan produk dan pembentukan
    loyalitas.
    Selama fase konsumsi, pelanggan menggunakan dan memperoleh
    pengalaman mengenai produk tersebut. Serta fase ini akan diikuti dengan fase
    kepuasan atau ketidak puasan. Jika pelanggan tidak puas dengan kinerja
    produk tersebut, perilaku mengeluh akan segera muncul. Jika pelanggan tidak
    puas, maka perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk membangun
    loyalitas terhadap merek. Kepuasan atau ketidak puasan yang dihasilkan
    ditahap ini sangat besar pengaruhnya dalam membangun loyalitas merek,
    antara lain:
    a) Guarantee or Warranty; merupakan jaminan yang diberikan oleh
    suatu perusahaan terhadap produk yang dihasilkan dimana produk
    tersebut dapat dikembalikan bila kinerja produk tersebut tidak
    memuaskan.
    b) Delivery; merupakan menunjukkan kecepatan dan ketepatan dari
    proses pengiriman produk dan jasa yang diberikan perusahaan kepada
    konsumennya.
    c) Complaint handling; merupakan merupakan sikap perusahaan dalam
    menanggapi keluhan-keluhan yang disampaikan oleh konsumen.
    d) Resolution of problem; merupakan kemampuan perusahaan untuk
    membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh para
    konsumennya.
  3. Kepuasan terhadap atribut yang terkait dengan pembelian(Attributes related to
    purchase),Didalam memutuskan suatu pembelian maka konsumen akan
    dipengaruhi oleh rangsangan pemasaran dan kondisi lain yang tidak dapat
    dikendalikan oleh perusahaan. Selanjutnya akan dipengaruhi oleh
    karakteristik konsumen dan proses keputusan pembelian oleh konsumen
    diakhiri dengan keputusan pembelian dimana dipengaruhi oleh beberapa
    komponen seperti produk, toko,merek, waktu dan jumlah. Atribut pembelian
    merupakan atribut pemuasan pelanggan yang berkaitan dengan pemberian
    pelayanan pada saat pembelian dan pra pembelian.Kepuasan juga dilihat dari :
    a) Communication; merupakan penyampaian informasiyang dilakukan
    oleh badan usaha kepada konsumennya.
    b) Courtesy; merupakan kesopanan, rasa hormat, perhatian dan keramah-
    tamahan yang diberikan oleh badan usaha dalam melayani
    konsumennya.
    c) Ease of convenience acquisition; merupakan kemudahan atau
    kenyamanan bagi konsumen terutama dalam hal biaya dan layanan-
    layanan yang berkaitan dengan hal tersebut.
    d) Company reputation; merupakan reputasi yang dimiliki badan usaha
    yang dapat mempengaruhi pandangan konsumen terhadap badan usaha
    tersebut.
    e) Company competence; merupakan kemampuan dan pengetahuan dari
    badan usaha untuk mewujudkan keinginan konsumennya.

CustumerLoyalty (Loyalitas Konsumen)


Oliver (1996) dalam Hurriyati (2008) mengungkapkan definisi loyalitas
pelanggan sebagai berikut : customer loyalty is deeflyheld commitment to rebuy
or repatronize apreferred product or service consistenly inthe future, despite
situasional influencesand marketing efforts having the potentialto cause
switching behavior. Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa loyalitas
adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan
kembali atau melakukan pembelian ulang produk/jasa terpilih secara konsisten
dimasa yang akan datang, meskipun situasi dan usaha-usaha pemasaran
mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku.Menurut Griffin
(2002) “Loyalty is definedas non random purchase expressed over timeby some
decision making unit”. Berdasarkan definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa
loyalitas lebih mengacu pada wujud perilaku dari pengambilan keputusan untuk
melakukan pembelian secara terus menerus terhadap barang/jasa suatu
perusahaan yang dipilih.
Menurut Griffin(2002) karakteristik pelanggan yang loyal antara lain:
 pertama, melakukan pembelian secara teratur.
 kedua,membeli diluar lini produk atau jasa.
 ketiga, menolak produk atau jasa dari perusahaan lain.
 keempat,kebal terhadap daya tarik pesaing.
 kelima,menarik pelanggan baru untuk perusahaan.
 dan keenam, kelemahan atau kekuranganakan diberitahukan
kepada perusahaan.
Customer loyalty dan keputusan pembelian ulang merupakan faktor yang
memilki pengaruh tinggi terhadap perusahaan yang digunakan untuk mengukur
perusahaan dalam hal profit dan pertumbuhan (Palmatieret al., 2006). Niat konsumen
untuk membeli dan pembelian aktual tergantung pada kualitas layanan, kepuasan
terhadap pelayanan. Dari berbagai teori diatas, dapat disimpulkan bahwa loyalitas
adalah kesetiaan pelanggan setelah mengalami pelayanan yang dinyatakan dalam
perilaku untuk menggunakan jasa bank tersebut dan mencerminkan adanya ikatan
jangka panjang.
Pendapat lain dari Oliver, bahwa loyalitas konsumen adalah komitmen yang
mendalam untuk membeli ulang atau berlangganan suatu produk atau jasa secara
konsisten di masa yang akan datang, dengan demikian mengakibatkan pengulangan
pembelian merek yang sama walaupun dipengaruhi situasi dan upaya pemasaran yang
mempunyai potensi untuk menyebabkan tindakan berpindah ke pihak lain (Rowling
dan Hammond, 2003). Konsumen yang loyal terhadap suatu produk atau jasa
memilki beberapa karakter(Assael:2001), diantaranya:
a) Konsumen yang loyal cenderung lebih percaya diri pada pilihannya.
b) Konsumen yang lebih loyal memilih untuk mengurangi resiko dengan
melakukan pembelian berulang terhadap merek yang sama.
c) Konsumen yang loyal lebih mengarah pada kesetiaan terhadap suatu
toko
d) Kelompok konsumen minor cenderung untuk lebih loyal.
Oliver mendefinisikan loyalitas pelanggan sebagai sebuah komitmen yang
kuat untuk membeli ulang terhadap suatu produk atau jasa secara konsisten di waktu
yang akan datang, dengan demikian menyebabkan perulangan pada merek yang sama
atau membeli merek yang sama, walaupun kondisi situasional dan usaha-usaha
pemasaran mempunyai pengaruh yang potensial dalam perilaku pemilihan (switching
behaviour) (Chauduri dan Holbrook, 2001).
Pada dasarnya, konsumen akan melakukan pembelian percobaan terhadap
sebuah merek. Apabila puas mereka akan cenderung untuk melakukan pembelian
berulang terhadap merek tersebut karena yakin bahwa merek tersebut aman dan
terkenal. Loyalitas merek merupakan suatu ukuran keterikatan pelanggan terhadap
sebuah merek.
Tujuan akhir keberhasilan perusahaan menjalin hubungan relasi dengan
pelanggannya adalah untuk membentuk loyalitas yang kuat. Indikator dari loyalitas
yang kuat menurut Zeithaml, Bitner danDwayne (2009,p.47) adalah:
a) Say positive thing, berupa penyampaian kepada orang lain dalam
bentuk kata-kata secara positif tentang suatu penyedia jasa, biasanya
berupa ulasan cerita atau uraian pengalaman.
b) Recommend friends adalah proses yang berujung pada mengajak pihak
lain untuk ikut menikmati penyedia jasa tersebut akibat dari
pengalaman positif yang dirasakan.
c) Continue purchasing adalah sikap untuk membeli ulang terus menerus
oleh konsumen tersebut pada penyedia jasa tertentu sehingga
menimbulkan perulangan yang dapat dilandasi dari kesetiaan.Loyalitas
pelanggan juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat
mendukung atau membuat lemah pembentukan sikap loyalitas.

Customer Experience(Pengalaman Konsumen)


Menurut Bern Schmitt dalam bukunya Customer Experience
Managemen, yang merupakan kelanjutan dari bukunya yang berjudul
Experienctial Marketing. Experience adalah peristiwa pribadi yang terjadi
sebagai jawaban atas beberapa rangsangan yang menimbulkan sebuah
pengalaman. Pengalaman tersebut berdasarkan keseluruhan setiap peristiwa
dalam kehidupan masing-masing individu.
Dengan kata lain, sebagai pemasar harus memilih lingkungan yang benar
untuk pelanggan dan apa yang diinginkan pelanggan. Melalui pengalaman yang
tepat diberikan maka dapat membuat konsumen merasakan sensasi atau hal yang
berbeda ketika mengonsumsi suatu produk atau jasa.Menurut Gentile. (2007),
pengertian customer experience adalah “The customer experience originates
from a set of interactions between a customer and a product, a company, or part
of its organization, whichprovoke a reaction. This experience is strictly
personaland implies the customer’s involvement at different levels(rational,
emotional, sensorial, physical, andspiritual)”. Artinya, customer experience
didefinisikan berasal dari satu set interaksi antara pelanggan dan produk,
perusahaan atau bagian organisasi yang menimbulkan reaksi. Pengalaman pribadi
memiliki keterlibatan pelanggan yang berbeda beda (baik secara rasional,
emosional,sensorik,fisik dan spiritual).
Menurut Meyer & Schwager(2007),customer experience adalah
tanggapan pelanggan secara internal dan subjektif sebagai akibat dari interaksi
secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan. Hubungan secara
langsung ini biasanya dikarenakan adanya inisiatif dari konsumen.Hal ini
biasanya terjadi pada bagian pembelian dan pelayanan. Sedangkan hubungan
tidak langsung sering melibatkan perjumpaan yang tidak direncanakan,seperti
penampilan produk dan merek, iklan, dan event promosi lainnya. Sementara
menurut Chen & Lin(2014), customer experience adalah sebagai pengakuan
kognitif fan persepsi tersebut dapat meningkatkan nilai produk dan jasa.
Costumer experience merupakan hasil interaksi konsumen dengan perusahaan
secara fisik dan emosional. Hasil interaksi ini dapat membekas di benak
konsumen dan mempengaruhi penilaian konsumen terhadap perusahaan. Schmitt
(1999) menyarankan ada limatipe customer experience sebagai dasar untuk
analisis pemasaran pengalaman keseluruhan, yakni: sense,feel, think, act, dan
relate.
Kemudian Schmitt (1999) juga mengelompokkan komponen customer
experience kedalam 5 dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur
pengalaman konsumen yang terdiri dari:

  1. Sense, yaitu indra yang dimiliki oleh manusia sebagai alat untuk
    merasakan produk dan jasa yang ditawarkan.
  2. Feel, yaitu rasa yang ditampilkan melalui ide, kesenangan, dan
    reputasi akan pelayanan konsumen.
  3. Think, yaitu pengalaman menuntut kecerdasan dengan tujuan
    menciptakan pengalaman kognitif dan pemecahan masalah dengan
    melibatkan konsumen secara kreatif.
  4. Act, yaitu didesain untuk menciptakan pengalaman konsumen
    yang berhubungan dengan tubuh secara fisik.
  5. Relate, yaitu adanya hubungan dengan orang lain, kelompok
    sosial lain (seperti pekerjaan, gaya hidup) atau identitas sosial
    yang lebih luas.
    Pengalaman dibentuk oleh komponen-komponen tersebut yang membantu
    pihak perusahaan untuk menghindari kesalahan dan mengetahui cara untuk
    memperluas dan memperkaya pengalaman pelanggan. Dalam mengatur pengalaman
    pelanggan, perusahaan perlu memahami pelanggan melalui riset-riset yang dapat
    memberikan inspirasi dalam mendesain setiap komponen.Smith & Wheeler (2002)
    proses harus dibenahi dalam membentuk customer experience sesuai dengan
    ekspektasi pelanggan, sehingga akan menimbulkan perilaku konsumen yang
    menghasilkan profit ataupun growth bagi perusahaan. Kepuasan pelanggan menurut
    Smith & Wheeler (2002) merupakan bagian dari customer experience. Hollyoake
    (2009) menjelaskan bahwa customer experience adalah tentang bagaimana
    perusahaan memahami ekspetasi pelanggan akan experience pada setiap touchpoints
    serta kontak pada semua tingkatan ketika hubungan bisnis terbangun. Menurut
    Seddon & Sant (2007),manajemen yang efektif akan pengalaman pelanggan diseluruh
    touchpoints, adalah kunci untuk membangun komitmen pelanggan, retensi, dan
    kesuksesan finansial berkelanjutan. Lebih lanjut, Seddon & Sant (2007) mengatakan
    bahwa hanya perusahaan yang memberikan pengalaman yang tepat untuk pelanggan
    akan sukses dipasar global

Pengaruh Kemudahan Transaksi terhadap minat beli ulang


Kemudahan transaksi sangat berpengaruh terhadap minat beli ulang
konsumen. Pada saat awal bertransaksi online calon pembeli akan mengalami
kesulitan, karena faktor keamanan tidak mengerti akan penggunaan situs tersebut,
di sisi lain pembeli yang sudah melakukan belanja online dan telah merasakan
manfaanya serta mendapat kemudahan pada situs belanja online tersebut maka
pembeli akan berniat untuk melakukan pembelian kembali. Memberikan petunjuk
bagaimana cara bertransaksi online, serta cara melalukan pembayaran melalui
situs tersebut, fitur-fitur yang jelas sehingga pelanggan akan mempermudah
konsumen melakukan transaksi belanja online (Pudjihardjo dan Wijaya, 2015).
Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Prasetyo dan Widiyanto (2015)
dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa Kemudahan transaksi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang secara online.
Kemudian menurut penelitian Puspitasari dan Briliana (2017) dengan hasil
penelitian menyatakan bahwa kemudahan transaksi berpengaruh signifikan
terhadap minat beli ulang secara online dan menjelaskan kemudahan dalam
pengaksesan dimana saja memberikan kemanfaatan bagi konsumen

Pengaruh Kualitas pelayanan terhadap minat beli ulang


Nurcahyo et al (2017) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kualitas
pelayanan memiliki pengaruh yang positif terhadap minat beli ulang. Menurut
Christian dan Nuari (2016) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan dan produk
merupakan hal penting yang dapat mendorong kepuasan dan loyalitas pelanggan.
Pelayanan yang diberikan oleh perusahaan dengan baik dan jujur akan
meningkatkan konsumen untuk melakukan pembelian ulang di toko online
tersebut.
Kualitas pelayanan menjadi suatu ukuran untuk menilai bahwa suatu
barang atau jasa telah mempunyai nilai guna seperti yang dikehendaki atau
dengan kata lain suatu barang atau jasa telah memiliki kualitas apabila
memberikan manfaat kepada pembeli dan pembeli merasa puas akan pelayanan
tersebut Sunyoto (2018:242)

Pengaruh Kepercayaan konsumen terhadap minat beli ulang


Menurut Hidman et al. (2016:4) kepercayaan konsumen (trust) adalah
sebagai kemauan untuk bergantung pada penjual yang dapat dipercaya. Dalam
transaksi online, kepercayaan muncul ketika mereka yang terlibat telah mendapat
kepastian dari pihak lainnya, serta mau dan bisa memberikan kewajibannya.
Menurut Tilaar et al. (2018) semakin tinggi kepercayaan konsumen
terhadap suatu produk maka semakin tinggi juga kesetiaan konsumen terhadap
produk tersebut. Belanja online merupakan pembelian barang/jasa ke penjula
melalui media internet. Konsumen tidak perlu bertemu dengan penjual secara
langsung, konsumen dapat dengan mudah dan nyaman melalukan transaksi
belanja online.
Menurut Nurcahyo et al. (2017) Trust merupakan suatu point penting
dalam proses bisnis, suatu transaksi yang dilakukan antara dua pihak atau lebih
akan terjadi dan dapat dipertanggung jawabkan apabila kedua belah pihak dapat
saling percaya. Pengaruh antara variabel ini didukung oleh penelitian terdahulu
yang dilakukan oleh Nangi dan Sukaatmadja (2015) dengan hasil penelitian yang
menyatakan kepercayaan secara simultan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap minat menggunakan e-commerce untuk belanja online.

Indikator Minat beli ulang


Menurut Ferdinand (2011:12) minat beli ulang dapat diidentifikasikan
melalui indikator-indikator sebagai berikut:
1) Minat transaksional yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan
pembelian suatu produk tertentu.
2) Minat referensial yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
produk kepada orang lain. Prefensi ini dapat digantikan jika terjadi sesuatu
dengan produk preferensinya.
3) Minat preferensial yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang
yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya
dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk prederensinya.
4) Minat eksploratif yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan
mencari informasi mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa repurchase intention adalah keputusan terencana
seseorang untuk melakukan pembelian kembali karena didasarkan pada kepuasan
akan produk atau jasa tersebut.

Faktor – faktor yang mempengaruhi minat beli ulang


Menurut Sunyoto (2018:261) menyatakan untuk memahami perilaku
pembeli (buying behavior) dari pasar sasaran merupakan tugas penting dari
manajemen pemasaran. Untuk memahami hal ini, perlu diketahui faktor-faktor
apakah yang mempengaruhi konsumen dalam memutuskan pembelian. Faktor-
Faktor tersebut terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal.
Untuk mengetahui dan memahami serta dapat mengarahkan perilaku
konsumen dalam melakukan kegiaatan, perlu dipelajari teori-teori perilaku
konsumen antara lain:
 Teori ekonomo mikro
Teori ini meliputi keputusan untuk membeli merupakan hasil perhitungan
ekonomis, rasional yang sadar. Pembeli individu berusaha menggunakan
barang-barang yang memberikan kegunaan (kepuasan) paling banyak,
sesuai dengan selera dan harga yang relatif.
 Teori sosiologis
Teori ini menitikberatkan pada hubungan dan pengaruh antara individu-
individu yang dikaitkan dengan perilaku mereka. Teori sosiologis
mengarah analisis perilaku pada keinginan-keinginan kegiatan kelompok
seperti : keluarga, teman-teman. Perusahaan bisa menentukan mana
diantara lapisan-lapisan sosial yang mempunyai pengaruh paling besar
terhadap permintaan suatu produk yang dihasilkan.
 Teori antropologis
Meliputi perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang
lingkupnnya sangat luas seperti kebudayaan, subbudaya dan kelas sosial.
Dengan mempelajari teori ini manajemen akibat-akibat yang ditimbulkan
oleh faktor-faktor tersebut terhadap perilaku konsumen. faktor-faktor
tersebut sangat penting dakam pembentukan sikap dan merupakan
petunjuk penting mengenai nilai-nilai yang akan dianut oleh seseorang
konsumen.
 Teori Psikologi
Meliputi pengalaman belajar individu tentang kejadian di masa
lalu, serta pengaruh sikap dan keyakinan individu. Pengalaman belajar
dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan perilaku akibat pengalaman
sebelumnya. Timbulnya minat konsumen untuk melakukan pembelian
ulang sangat dipengaruhi oleh pengalaman belajar individu dan
pengalaman belajar konsumen yang akan menentukan tindakan dan
pengambilan keputusan membeli. Hal ini dapat dipelajari dari beberapa
teori berkut ini:
 faktor Stimulus Respon
Berdasarkan teori stimulus respon dari B.F Skinner, dapat
disimpulkan bahwa konsumen akan merasa puas jika mendapatkan
produk, merek, pelayanan yang menyenangkan. Dan sebaliknya jika
produk, merek dan layanan diperoleh konsumen dengan tidak
menyenangkan, akan menjadikan konsumen merasa tidak puas.
30
 Teori Kognitif
Berdasarkan teori kognitif dari Heider & Festinger, perilaku
kebiasaan merupakan akibat dari proses berpikir dan orientasi dalam
mencapai suatu tujuan. Berdasarkan teori ini dapat disimpulkan bahwa
keputusan konsumen sangat dipengaruhi oleh memorinya terhadap sesuatu
yang terjadi pada masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan
datang.
 Teori Gestalt dan Teori Lapangan
Berdasarkan teori Gestalt dan teori lapangan, dapat disimpulkan bahwa
faktor lingkungan merupakan kekuatan yang sangat berpengaruh pada
minat konsumen untuk mengadakan suatu pembelian. Penggunan objek
secara keseluruhan akan lebih baik daripada hanya bagian- bagiannya saja.
Misalnya, melayani pembeli secara “sempurna”, dari awal konsumen
masuk pada suatu rumah makan sampai pada saat ia meninggalkan rumah
makan tersebut, akan meninggalkan penilaian positif dimata konsumen.
Dalam hubungan dengan minat beli ulang, sikap dan keyakinan individu
akan pelayanan sebelumnya sangat berpengaruh dalam menentukan
apakah individu tersebut suka dengan apa yang ditampilkan sebelumnya,
atau sebaliknya, individu memilih untuk mencari tempat makan lain
yang dapat memenuhi seleranya.

  1. Faktor Pribadi
    Kepribadian konsumen akan mempengaruhi persepsi dan
    pengambilan keputusan dalam membeli. Oleh karena itu, peranan
    pramuniaga toko penting dalam memberikan pelayanan yang baik kepada
    konsumen. Faktor pribadi ini termaswuk di dalamnya konsep diri. Konsep
    diri dapat didefinisikan sebagai cara kita melihat diri sendiri dan dalam
    waktu tertentu sebagai gambaran tentang upah yang kita pikirkan.
    Dalam hubungan dengan minat beli ulang, produsen perlu menciptakan
    situasi yang diharapkan konsumen. Begitu pula menyediakan dan
    melayani konsumen dengan produk dan merek yang sesuai dengan yang
    diharapkan konsumen.
  2. Faktor Sosial
    Mencakup faktor kelompok panutan (small reference group).
    Kelompok panutan didefinisikan sebagai suatu kelompok orang yang
    mempengaruhi sikap, pendapat, norma dan perilaku konsumen. Kelompok
    anutan ini merupakan kumpulan keluarga, kelompok atau orang tertentu.
    Dalam menganalisis minat beli ulang, faktor keluarga berperan sebagai
    pengambil keputusan, pengambil inisiatif, pemberi pengaruh dalam
    keputusan pembelian, penentu apa yang dibeli, siapa yang melakukan
    pembelian dan siapa yang menjadi pengguna. Menurut Kotler (2007,
    p158) mengatakan “anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer
    yang paling berpengaruh”. Pengaruh kelompok acuan terhadap minat beli
    ulang anatara lain dalam menentukan produk dan merek yang mereka
    gunakan yang sesuai dengan aspirasi kelompoknya. Keefektifan pengaruh
    minat beli ulang dari kelompok anutan sangat tergantung pada kualitas
    produksi dan informasi yang tersedia pada konsumen

Minat Beli Ulang (Repurchase Intention)


Kotler dalam Puspitasari dan Briliana (2017) minat beli ulang merupakan
tindakan konsumen pasca pembelian. Terjadinya kepuasan dan ketidakpuasan
pasca pembelian terhadap suatu produk data mempengaruhi perilaku pembeli
selanjutnya. Keinginan membeli kembali mengacu pada penilaian individu
tentang membeli lagi layanan dari perusahaan yang sama, dengan
mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Menurut Chao et al, perilaku niat
membeli kembali mengacu pada probabilitas subjektif bahwa seseorang akan
membeli secara terus-menerus pada toko online tersebut di masa depan.
Kepuasan sesudah pembelian tergantung dari kinerja penawaran
dibandingkan dengan harapannya, maka kepuasan pelanggan adalah tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan (kinerja atau hasil) yang dirasakan
dengan harapannya. Pelanggan dapat mengalami salah satu dari tiga tingkat
kepuasan umum yaitu kalau kinerja dibawah harapan, pelanggan akan merasa
kecewa tetapi kinerja sesuai dengan harapan pelanggan akan merasa puas dan bila
kinerja melebihi harapan maka pelanggan akan merasa sangat puas dan bahagia
(Sunyoto, 227:2018).
Menurut Wahyuningtyas (2016) perilaku pembelian ulang seringkali
dikaitkan dengan loyalitas. keduanya memang berhubungan namun sebenarnya
berbeda, loyalitas mencerminkan komitmen psikologis tertentu pada suatu merk
secara berulang kali (bisa dikatakan memang hanya ada satu-satunya merk
tersebut yang tersedia, merk termurah dan sebagainya).
Menurut Sunyoto (2018:255) perilaku konsumen (consumen behavior)
adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam
mendapatkan dan mempergunakan barang/jasa termasuk di dalamnya proses
pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut

Indikator Kemudahan Transaksi


Davis et al dalam Palma dan Andjarwati (2016) kemudahan atau perceived
ease of use yaitu sebuah tingkatan dimana seseorang dapat percaya bahwa dengan
menggunakan sistem yang mudah tanpa dibutuhkan waktu yang banyak.
Intensitas penggunaan dan interaksi yang dilakukan antara pengguna dengan
sistem juga dapat menunjukkan kemudahan penggunaan. Variabel ini
menggunaka indikator Menurut Davis dalam Prasetyo dan Raharja (2015)
kemudahan transaksi dapat diukur melalui empat indikator sebagai berikut:

  1. Teknologi Informasi sangat mudah untuk dipelajari (easy to use).
  2. Teknologi informasi mudah mengoperasikan oleh pengguna (easy to get
    sistem to do what user want to do).
  3. Tidak dibutuhkan banyak usaha untuk berinteraksi dengan teknologi
    informasi.
  4. Teknologi informasi sangat jelas dan mudah untuk dioperasikan.
    Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi
    kemudahan dalam penggunaan sebuah teknologi dapat mempermudah seseorang
    untuk melakukan pekerjaannya. Teknologi yang mudah dan dapat dipahami
    mampu mengurangi waktu maupun tenaga seseorang untuk mempelajari sekaligus
    menggunakan teknologi tersebut

Kualitas Pelayanan


Menurut Sunyoto (2018:240) kualitas pelayanan dalam industri pelayanan
jasa. “Suatu penyajian produk jasa sesuai dengan ukuran yang berlaku ditempat
produk tersebut diadakan dan penyampaiannya setidaknya sama dengan yang
diinginkan dan diharapkan oleh konsumen”.
Pemenuhan kebutuhan dan keinginan kosumen serta ketepatan
penyampainnya untuk mengimbangi harapan konsumen, yaitu adanya kesesuaian
harapan dengan persepsi konsumen, adanya kesesuaian antara persepsi atas
kepercayaan konsumen dengan standar kerja karyawan, adanya kesesuaian dengan
standar kerja karyawan dengan pelayanan yang diberikan, adanya kesesuaian
dengan pelayanan yang diberikan dengan pelayanan yang dijanjikan dan adanya
kesesuaian antara pelayanan yang diterima sesuai dengan harapan konsumen.


Kemudahan Transaksi


Kemudahan dalam penggunanannya adalah salah satu hal yang menjadi
pertimbangan dalam kegiatan belanja online oleh pembeli. Perceived ease of use
didefinisikan oleh Chin dan Todd dalam Pudjiharjo dan Wijaya (2015) yaitu
seberapa besar teknologi komputer dirasakan relatif mudah untuk dipahami dan
dapat digunakan. Dalam hal ini dapat mencakup tujuan dan kejelasan dari
penggunaan teknologi internet untuk transaksi belanja online.
Menurut Davis dalam Wahyuningtyas (2016), Pengertian perspektif
kemudahan memberikan indikasi bahwa seharusnya suatu sistem tidak
menyulitkan pemakainya, akan tetapi penggunaan sistem justru mempermudah
seseorang dalam menyelesaikan pekerjaannya. Menurut Venkatesh dan moris
persepsi kemudahan telah terbukti memiliki efek atau pengaruh pada minat
melalui jalur kausal, yaitu : efek langsung pada minat dan efek tidak langsung
pada minat melalui persepsi kemanfaatan yang dirasakan. Pengaruh atau efek
langsung menjelaskan kemudahan penggunaan bisa meningkatkan kemungkinan
penerimaan pengguna, pengaruh efek tidak langsung menjelaskan bahwa semakin
mudah teknologi digunakan, maka semakin mudah manfaat teknologi tersebut,
Jika penggunaan situs memiliki waktu yang lama pada saat diakses, dan
memiliki tingkat kerumitan yang tinggi makan hal tersebut dapat mempengaruhi
pembeli dalam berbelanja pada website tersebut dan pembeli akan memilih untuk
tidak melakukan pembelian secara online, pembeli berpotensi akan memilih
belanjan secara konvensional, hal lain apabila situs website dapat mudah
digunakan dan memberikan manfaat yang besar kepada calon pembeli makan
calon pembeli akan melakukan transaksi belanja pada situs tersebut (Alwafi dan
Magnadi, 2016).

Indikator Kepercayaan Konsumen


Gustavvson dan Johansson (2006:41-44), menyatakan bahwa penilaian
individu terhadap kepercayaan tidak dapat digeneralisasikan karena
kepercayaan setiap individu dapat dipengaruhi dengan berdasarkan latar
belakang, pengalaman dan harapan. Oleh sebab itu Gustavsson dan johansson,
telah memilih beberapa faktor yang relevan dan dapat mempengaruhi
kepercayaan dalam e-commerce, antara lain:

  1. Security
    Rasa aman yang diterima oleh konsumen terhadap penipuan yang dapat
    diciptakan dengan adanya informasi yang jelas bagaimana solusi
    keamanan, pilihan metode pembayaran dan sistem pembayaran yang aman
    dan dapat terpercaya.
  2. Privacy
    Rasa aman yang diterima oleh konsumen dalam menyerahkan data diri
    mengenai informasi bersifat pribadi maupun informasi yang bersifat
    keuangan karena adanya kebijakan keamanan yang dimiliki oleh
    perusahaan. Penanganan yang diberikan oleh penyedia jasa atas jaminan
    bahwa informasi pribadi tidak akan disalah gunakan.
  3. Guarantees
    Kompensasi atau garansi yang diberikan oleh perusahaan jasa sebagai
    akibat adanya kerusakan peristiwa negative yang tidak terduga atau tidak
    disengaja. Hal ini dapat melaui pengembalian dana atau penukaran barang.
  4. Customer Service
    Pelayanan yang diberikan kepada konsumen agar konsumen tetap
    berhubungan dengan perusahaan. Hal ini dapat memperkuat hubungan
    antara konsumen dengan perusahaan dan dapat juga mengurangi
    ketidakpastian, salah satunya dapat dilakukan dengan menyediakan
    layanan bantuan melalui online atau telepon.
  5. Familiarity
    Bagi perusahaan yang bergerak dibidang elektronik reputasi dan merek
    menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk dapat mendapatkan
    kepercayaan dari konsumen. Reputasi dapat meningkatkan kepercayaan
    sedangkan merek, konsumen akan berfikir mengenai merek dan brand dari
    suatu perusahaan dan simbol yang konsumen lihat.
  6. The Website
    Situs atau website dari perusahaan penyedia jasa merupakan hal yang
    penting. Website yang mudah dan aman digunakan akan mendapatkan
    tingkat kepercayaan dari konsumen yang tinggi. Hal tersebut dapat
    diciptakan melalui tampilan website atau situs yang menarik dan mudah
    digunakan.
  7. Information
    Rasa percaya konsumen yang timbul oleh adanya informasi detail
    mengenai alamat perusahaan dan informasi berdirinya perusahaan tersebut
    di situs atau website perusahaan.
  8. Control
    Perasaan nyaman yang dirasakan oleh konsumen ketika perusahaan
    mengakses informasi data konsumen dapat meminta izin akses terlebih
    dahulu.
  9. Price
    Memungkinkan pelanggan untuk merasa lebih percaya dengan membeli
    online jika harga produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan lebih
    rendah. Konsumen akan lebih hati-hati sebelum mengambil keputusan
    untuk membeli produk atau jasa dengan harga tinggi.
    Konsumen banyak menjadikan website atau situs perusahaan yang
    menarik dan aman serta mudah digunakan untuk memutuskan apakah akan
    berbelanja online atau tidak. Kepercayaan konsumen terhadap website online
    terletak pada popularitas dan tampilan website tersebut. Semakin popular website
    tersebut dan mudah digunakan serta tampilan menarik, maka akan semakin tinggi
    minat konsumen untuk berbelanja online

Kepercayaan konsumen


Kepercayaan adalah suatu pikiran deskritif yang dianut seseorang
mengenai sesuatu. Menurut Sunyoto (2018:271). Kepercayaan ini merupakan citra
produk dan merek. Seseorang yang bertindak atas kepercayaannya jika sebagian
dari kepercayaan ini salah dan mennghambat pembelian, maka produsen akan
menyuarakan pendapat untuk membantah kepercayaan ini.
Menurut Nurcahyo (2017) Trust merupakan suatu point penting dalam
proses bisnis, suatu transaksi yang dilakukan antara dua pihak atau lebih akan
terjadi dan dapat dipertanggugjawabkan apabila kedua belah pihak dapat saling
percaya.
Trust adalah suatu kemampuan seseorang yang bertumpu pada orang lain,
yang dimana kita memiliki keyakinan padanya. Semakin tinggi kepercayaan
seseorang maka akan semakin tinggi pula niat untuk membeli suatu produk
tersebut kembali. Dalam proses online shopping dan e-commerce kepercayaan
konsumen memiliki peranan yang sangat penting karena konsumen mendapatkan
rasa kenyamanan dan keamanan dalam hal privasi maupun dalam hal kualitas
produk yang ditawarkan (Puspitasari dan Briliana, 2017).
Trust adalah kepercayaan pihak tertentu dalam melakukan hubungan
transaksi yang berdasarkan suatu keyakinan bahwa orang tersebut yang
dipercayainya dapat memenuhi segala kewajibannya dengan baik, sesuai yang
diharapkan. Oleh karena itu, kepercayaan terhadap penjual, produk, dan peruhaan
sangat penting dalam hubungan jangka panjang antara perusahaan dengan
konsumen (Adji dan Samuel, 2014).

Consumer to Bisnis (C2B)


Beberapa situs yang telah berinisiasi untuk mendukung bisnis yang
berbasiskan konsumen ke pebisnis consumer to business atau C2B. Pada
prinsipnya C2B, individual menawarkan produk atau layanan ke
perusahaan. Sebagai contoh Amazon (setiap individu dapat mengikuti
program afiliasi yang ditawarkan oleh amazon). Fotolia (setiap individu
dapat menjual foto ke perusahaan-perusahaan yang akan membutuhkan).

Consumer to consumer (C2C)


Consumer to consumer disebut person to person yaitu proses
dimana suatu produk atau layanan yang dikembangkan dalam satu
kesatuan (bisnis e-commerce, orang per orang atau kombinasi) yang dijual
oleh penjual aktif lainnya dengan pembagian keuntungan. Situs seperti
eBay (www.ebay.com) dan Tokobagus.com (www.tokobagus.com)
Shopee (www.shopee.co.id) adalah contoh situs yang menyediakan sarana
yang menungkinkan orang-orang untuk dapat menjual atau membeli
barang diantara mereka sendiri.

Business to consumer (B2C)


B2C ( business to customer ) yaitu Sebuah organisasi (perusahaan)
yang mendesain produk sehingga menghasilkan nilai tambah dengan
memperoleh penjualan dari situs Webnya. Melibatkan interaksi dan
transaksi antara sebuah perusahaan penjual dan para konsumen
perusahaan-perusahaan terkenal. Contoh pelaku bisnis yang orientasinya
memasarkan produk dengan mendesain web yaitu Amazon.com, olx.com,
blibli.com

Pemasaran Internet


Menurut Hermawan (2012:206), Pemasaran Internet (Internet Marketing)
juga disebut sebagai pemasaran-I, web marketing, online marketing, atau e-
marketing, atau e-commerce adalah pemasaran dari produk atau jasa melalui
internet. Internet telah media kepada masyarakat dunia. Sifatnya yang interaktif
serta respons dan tanggapan cepat adalah kualitas dari internet yang sangat unik.
Pemasaran internet yang dianggap sangat luas dalam lingkup karena tidak hanya
merujuk pada pemasaran di internet, tetapi juga mencakup pemasaran yang
dilakukan melalui e-mail.
Pemasaran internet menjadi isu yang paling penting dalam dunia pemasaran
saat ini. Hermawan (2012:208), menggunakan istilah red-shot, untuk
menggambarkan peluang pemasar yang sedemikian besar dalam pemasaran via
internet. Dengan internet pemasaran produk dapat lebih terbantu, karena internet
memungkinkan proses pemasaran yang lebih efektif, respons yang lebih cepat dan
biaya yang lebih murah.
Menurut Setiyaningrum (2015:372) menyatakan bahwa E-Marketing
menggambarkan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan dengan
menggunakan media internet dan media elektronik lainnya., seperti ponsel. E-
Marketing bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemasaran dan efektivitas
pemasaran.
Pemasaran melalui telepon selular (ponsel) atau yang dikenal dengan istilah
mobile marketing menjadi alat pemasaran yang sangat bermanfaat bagi
perusahaan untuk melayani dan menjangkau pelanggan kapan pun dan dimana
pun. Ponsel menciptakan peluang besar bagi pemasar untuk memanfaatkan
dengan tujuan meningkatkan kesadaran konsumen pada produk serta membangun
hubungan antara perusahaan dan pelanggan. Menurut Setiyaningrum (2015),
munculnya smartphone dengan sistem yang tinggi dan kualitas yang mumpuni
dapat meningkatkan kemampuan ponsel untuk melakukan browsing website,
sehingga pemasar dapat memanfaatkan untuk melakukan aktivitas pemasaran
dengan cara menawarkan paket data dan mendorong konsumen untuk lebih sering
menggunakan smartphone melalui berbagai cara.
Menurut Setiyaningrum (2015) mengidentifikasi sebelas Fungsi e-marketing
yang digambarkan dalam bentuk elemen bauran pemasaran (e-marketing mix)
sebagai berikut :

  1. Product
    Saat ini banyak website yang menawarkan fitur beragam produk
    seperti adanya layanan informasi lokasi melalui peta, layanan informasi
    keuangan, layanan berita, dan sebagainya.
  2. Price
    Harga secara umum menggambarkan apa yang dikorbankan
    konsumen untuk memperoleh produk atau melanjutkan hubungan dengan
    perusahaan. Pengorbanan tidak hanya bersifat finansial seperti uang, tetapi
    juga bersifat nonfinansial seperti waktu, usaha perizinan dan sebagainya.
  3. Place
    Tempat berhubungan dengan fasilitas dan lokasi transaksi. Pada
    pemasaran tradisional, fasilitas biasanya terjadi pada lokasi yang
    ditentukan oleh pihak ketiga, seperti distributor atau pengecer. Pada
    konteks e-marketing fasilitas dapat terjadi pada website perusahaan
    pembuat produk. Perusahaan dapat secara langsung menjual produknya ke
    konsumen akhir tanpa menggunakan perantara.
  4. Promotion
    Promosi dalam bauran e-marketing yaitu iklan online. Seperti
    banner ads atau pop ups ads, search engines, outbound email, dan viral
    marketing.
  5. Sales Promotion
    Promosi penjualan melalui kupon elektronik (e-coupon) juga
    digunakan oleh pemasar sebagai intensif khusus untuk menjalin hubungan
    dengan pelanggan agar membeli produk tertentu dalam batas waktu
    tertentu.
  6. Site
    Hubungan dengan pelanggan yang berbasis media digital
    menghendaki titik akses digital kapan pun dan dimana pun. Website
    merupakan salah satu bentuk situs yang digunakan untuk berinteraksi
    mengenai aspek pertukaran relasional. Pelanggan dapat memperoleh
    informasi mengenai produk dan harga, mengakses promosi penjualan
    terkini atau meminta layanan pelanggan.
  7. Personalization
    Personalisasi merupakan bentuk kustomisasi yang terjadi karena
    pengenalan tertentu dari pelanggan yang sudah ada. Konseptualiasi
    mengenai personalisasi dapat didasarkan pada aplikasi website, yaitu
    kustomisasi, individualisasi, dan karakteristik kelompok. Kustomisasi-kan
    produk menggambarkan kemampuan system untuk meng-kustomisasi-kan
    item produk dengan cara mempersilakan pengguna untuk menentukan
    sendiri sesuai dengan seleranya. Individualisasi menggambarkan
    kemampuan system untuk meng-kustomisasi dirinya ke pengguna, sesuai
    dengan perilaku yang ditunjukkan oleh pengguna. Karekteristik kelompok
    menggambarkan kemampuan sistem untuk meng-kustomisasi dirinya ke
    pengguna sesuai dengan preferensi pengguna lain yang memiliki
    kesamaan minat.
  8. Privacy
    Pengumpulan informasi mengenai pelanggan untuk keperluan
    personalisasi mendorong pemasar untuk menentukan bagaimana informasi
    tersebut digunakan, khususnya terkait dengan keputusan mengenai siapa
    yang boleh untuk mengakses informasi tersebut. Pertimbangan mengenai
    privasi memiliki kekuatan hukum.
  9. Security
    Keamanan mencakup keamanan yang berhubungan dengan
    transaksi pembelian produk menggunakan kartu kredit dan isu keamanan
    berhubungan dengan data yang terekam dari seseorang yang telah
    melakukan transaksi, data ini akan sangat mungkin dimanfaatkan oleh
    hacker. Pemasar memiliki tanggung jawab penuh atas isu keamanan
    karena tidak adanya jaminan keamanan dapat membuat perusahaan
    bangkrut.
  10. Customer Service
    Layanan pelanggan perlu dipertimbangkan sebagai fungsi penting
    dan dilakukan terus-menerus oleh perusahaan. Layanan pelanggan
    merupakan fungsi yang sangat diperlukan, khususnya dalam perusahaan
    untuk mendukung pelanggan berinteraksi secara langsung dengan
    customer service.
  11. Community
    Komunitas adalah serangkaian hubungan yang terjalin karena
    adanya kepentingan bersama yang memuaskan kebutuhan anggota, yang
    mana kebutuhan tersebut tidak dapat dicapai jika dilakukan sesorang diri.
    Pelanggan merupakan anggota dalam suatu komunitas yang berinteraksi
    satu sama lain secara terus-menerus. Interaksi yang diciptakan oleh
    pemasar dapat berbentuk pertukaran informasi mengenai produk atau
    menyediakan fasilitas, seperti frequently asked question (FAQs).
    Menurut Kotler dan Keller (2009:132) e-commerce berarti bahwa
    perusahaan atau situs menawarkan untuk bertransaksi atau memfasilitasi
    penjualan produk dan jasa secara online

Hubungan Involvement Terhadap Revisit Intention


Involvement oleh S. H. Kim et al., (2009) didefinisikan sebagai
keterkaitan kebutuhan yang dirasakan antara wisatawan dengan suatu
destiansi wisata, wisatawan akan mempresepsikan relevansi destinasi
wisata dengan pribadinya. Wisatawan yang terlibat melakukan
kegiatan berwisata dan menikmatinya akan memiliki pengalaman
yang berkesan (Wee & M. Ariffin, 2021). Wildana (2021) dalam
enelitiannya menyampaikan bahwa wisatawan ingin terlibat
dalam pengalaman yang menyenangkan. Pengalaman yang
menyenangkan menandakan bahwa wisatawan mendapatkan sikap
positif terhadap kunjungan berwisata. Pengalaman yang
menyenangkan dapat membuat wisatawan melakukan niat kunjungan
kembali (Goh, 2015). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Khazami
& Lakner (2021) menunjukkan bahwa involvement memberikan
pengaruh positif terhadap revisit intention

Hubungan Perceived Authenticity Terhadap Involvement


Marie (2018) dalam penelitiannya menyampaikan bahwa
authenticity yang dirasakan wisatawan bergantung pada authenticity
destinasi wisata yang dikunjungi dan harapan wisatawan dalam
menciptakan merasakan pengalaman yang otentik. Pengalaman
pariwisata yang authenticity menciptakan masyarakat modern
merasakan kerinduan sehingga destinasi wisata yang memiliki
authenticity dicari dalam pariwisata (Olsen, 2002).
Menurut Kim & Ritchie (2014) wisatawan dalam merencanakan
perjalanan berwisata untuk mengunjungi destinasi wisata yang telah
dinanti, maka akan memiliki perasaan yang berbeda, sehingga
wisatawan akan cenderung lebih memiliki pengalaman yang tidak
terlupakan ketika wisatawan menikmati kegiatan berwisata.
Involvement wisatawan terhadap destinasi wisata yang memiliki
authenticity lebih memiliki sikap positif sehingga mempengaruhi
sikap wisatawan terhadap kunjungan (Shen et al., 2014). Dibuktikan
oleh penelitian yang dilakukan oleh Zhang et al., (2019) yang
menunjukkan hasil authenticity memberikan pengaruh positif terhadap
involvement

Hubungan Perceived Authenticity Terhadap Revisit Intention


Croes et al., (2013) mengungkapkan bahwa makna authenticity
dalam konteks budaya yaitu kegiatan unik suatu masyarakat, seperti
bahasa, perilaku, cara hidup, dan tradisi. Budaya dapat dikatakan
authenticity jika budaya tersebut berbeda dengan budaya lain,
misalnya yaitu tradisi hari raya.
Menurut Antón et al., (2019) authenticity seperti warisan,
budaya, sumber daya alam, dan makanan menjadi daya tarik khas
penarik wisatawan. Wisatawan yang terpengaruh authenticity
dianggap cenderung akan melakukan niat mengunjungi kembali
(Ramkissoon & Uysal, 2011). Niat berkunjung kembali dilakukan
setelah wisatawan melakukan evaluasi tentang pengalaman yang
dirasakan ketika melakukan kunjungan yang mengacu pada kesediaan
wisatawan untuk mengunjungi kembali tempat yang sama (Libre et
al., 2022).
Peneliti dapat menyimpulkan jika wisatawan mendapatkan
pengalaman yang berkesan mengenai authenticity suatu destinasi
wisata, maka wisatawan akan selalu mengingatnya dan pada waktu
tertentu akan melakukan kunjungan kembali (revisit intention).
Penelitian yang dilakukan oleh Yadi & Hariyadi Triwahyu Putra
(2021) menyatakan bahwa authenticity memberikan pengaruh positif
secara langsung terhadap revisit intention, authenticity memiliki peran
penting dalam memenuhi harapan wisatawan dalam memberikan
evaluasi mengenai destinasi wisata bersejarah

Involvement


Havitz & Dimanche (1990) mendefinisikan involvement sebagai
perilaku wisatawan yang menitik beratkan pada nilai kesenangan, nilai
simbolis, resiko profitabilitas dan konsekuensi resiko, sehingga dapat
dipahami bahwa involvement timbul akibat adanya rasa wisatawan
untuk menikmati pelayanan pariwisata. Yuan et al., (2019)
involvement didefiniskan sebagai dorongan dan ketertarikan terhadap
kegiatan tertentu, dimana dorongan dan ketertarikan muncul jika
seseorang mendapatkan dampak positif yang dirasakan sehingga
seseorang dalam evaluasi kegiatan tidak merasakan rasa kecewa pada
saat melakukan perbandingan manfaat dan biaya yang dikeluarkan.
Oleh Xu et al., (2018) involvement ditafsirkan sebagai
keterkaitan hubungan yang dirasakan seseorang sesuai dengan
kebutuhan, nilai dan minat yang berasal dari suatu objek. Gao et al.,
(2020) mendefinisikan involvement sebagai sejauh mana konsumen
terlibat dalam berbagai proses konsumsi yang meliputi jasa, iklan,
pencarian informasi, pemrosesan informasi, pengambilan
keputusan, dan tindakan pembelian.
Suhartanto et al., (2018) mencerminkan variabel involvement
dengan perilaku: am pleased to be involved in tourism activities,
consider tourism activities to be important, get upset when
participation in a tourism activity is poor, feeling a bit lost when
making choices from a variety of tourism activities, and choosing a
tourism activity is rather complicated.
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah disampaikan diatas,
peneliti dapat menyimpulkan definisi involvement adalah sejauh mana
seseorang meluangkan waktunya untuk terlibat dalam proses
pemenuhan kebutuhan berwisata dengan melakukan perbandingan
manfaat dan biaya yang dikeluarkan dengan harapan pada saat
melakukan kunjungan berwisata tidak merasakan rasa kecewa

Perceived Authenticity


Authenticity menurut Castéran & Roederer (2013) diartikan
sebagai gambaran yang merangkum tentang keaslian, kenyataan, dan
kebenaran mengenai objek. Oleh Zeng et al., (2012) authenticity
didefinisikan sebagai label yang menempel sebagai identitas suatu
objek, subjek, atau orang yang mengacu pada hal yang nyata.
Authenticity terbagi menjadi tiga kategori yang terdiri dari authenticity
objektif, konstruktif, dan eksistensial (N. Wang, 2017).
Authenticity objektif diukur menggunakan kriteria absolute dan
objektif terkait dengan destinasi wisata yang dirasakan oleh wisatawan
saat melakukan kunjungan. Authenticity konstruktif diukur
menggunakan sudut pandang dan keyakinan wisatawan dalam menilai
authenticity destinasi wisata. Sedangkan authenticity eksistensial
diukur menggunakan perasaan pribadi wisatawan terhadap destinasi
wisata. Sehingga dapat disimpulkan bahwa authenticity objektif dan
konstuktif menekankan kepada wisatawan dalam merasakan tingkat
authenticity dan authenticity eksistensial menekankan kepada
pengalaman authenticity yang dirasakan oleh wisatawan.
Dalam penelitian (Zhang et al., 2019) variabel authenticity
dicerminkan dengan:
a. Objektive Authenticity

  1. Acquire knowledge of tourism object.
  2. Experience the native culture of tourism object.
  3. Confirm the authenticity of tourism object.
  4. Confirm the excellence of tourism object.
  5. Confirm cultural of life.
    a. Konstruktif Authenticity
  6. Tourism object is preserved well.
  7. History and culture can reappear through tourism
    object.
  8. Traditional life can reappear.
  9. Traditional culture is very strong in tourism object.
    b. Eksistensial Authenticity
  10. Revere the culture of the tourism object.
  11. Feel the meaning of the tourism object.
  12. Feel unique culture.
  13. Tourism object scenery is unique.
  14. Can experience the life of tourism object.
    Menurut Lu et al., (2015) dalam penelitian yang dilakukan
    variabel perceived authenticity dicerminkan dengan: historical
    architectures are well preserved, tourism object is an authentic
    portrayal of ancient life and customs, tourism object presents local
    history and culture very well, and tourism object arouses feelings of
    authentic history and culture.
    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan
    perceived authenticity yang cerminkan oleh Lu et al., (2015),
    dikarenakan cerminan sesuai dengan study yang dilakukan
    dalam penelitian ini yaitu pada destinasi wisata heritage.
    Berdasarkan pendapat para ahli yang telah disampaikan diatas,
    maka dapat disimpulkan authenticity adalah sebuah konsep mengenai
    hal yang nyata dan asli mengenai destinasi wisata yang melibatkan
    authenticity objektif, konstruktif, dan eksistensial

Revisit Intention


Menurut Hamid et al., (2021) revisit intention didefinisikan
sebagai perilaku seseorang akan kembali melakukan kunjungan pada
waktu yang akan datang jika memiliki kesempatan dan revisit
intention merupakan bentuk perilaku pasca melakukan kegiatan.
Revisit intention diartikan sebagai sikap wisatawan kemungkinan
untuk bersedia mengulangi melakukan kunjungan kembali pada
destinasi wisata yang telah dikunjungi (Lin, 2014). Oleh Su et al.,
(2018) revisit intention diartikan sebagai kemauan seseorang untuk
mengunjungi kembali tempat yang sama dan merekomendasikan
kepada orang lain.
Variabel revisit intention menurut X. Chen et al., (2020)
dicerminkan dengan perilaku: if could, would come to tourism object
again, will always consider tourism object be first destination choice,
and have a strong intention to visit tourism object again.
Berdasarkan pengertian yang telah disampaikan oleh para ahli
diatas, peneliti menyimpulkan bahwa revisit intention adalah
kesediaan seseorang untuk melakukan kunjungan wisata lagi ditempat
yang pernah dikunjungi bila memiliki kesempatan di waktu yang akan
datang

Theory of Planned Behavior (Teori Perilaku yang Direncanakan)


Mengacu pada Ajzen (1991), Theory of Planned Behavior
(TPB) merupakan hasil pengembangan dari teori sebelumnya yaitu
Theory of Reasoned Action (TRA) yang ditujukan untuk memprediksi
perilaku individu pada konteks yang lebih spesifik. Theory of
Reasoned Action (TRA) menurut analisis Ajzen hanya dapat
digunakan untuk suatu perilaku yang sepenuhnya berada dibawah
kendali individu tersebut dan tidak berada dibawah kendali individu
dikarenakan terdapat faktor yang memungkinkan bisa mendukung
atau menghambat untuk mewujudkan niat individu agar berperilaku,
oleh karenanya Ajzen dalam Theory of Planned Behavior (TPB)
menambahkan satu faktor yaitu kontrol perilaku yang dirasakan
(perceived behaviour control). Inti dari Theory of Planned Behavior
(TPB) adalah niat individu untuk melakukan sebuah perilaku tertentu.
model Theory of Planned Behavior,
penentu niat dan perilaku individu dapat dijelaskan secara singkat
sebagai berikut:
1) Attitude toward the behavior (sikap terhadap perilaku),
ditentukan oleh keyakinan mengenai konsekuensi dari suatu
perilaku. Keyakinan individu berkaitan dengan penilaian
perilaku tertentu dengan berbagai manfaat atau kerugian yang
mungkin diperoleh apabila individu melakukan atau tidak
melakukan perilaku yang dapat memperkuat sikap terhadap
perilaku apabila berdasarkan evaluasi yang dilakukan dapat
memberikan manfaat bagi individu.
2) Subjective norm (norma subjektif), dipengaruhi oleh persepsi
orang lain yang berpengaruh dalam kehidupannya mengenai
dilakukan atau tidak dilakukannya suatu perilaku tertentu.
3) Perceived behavioral control (persepsi kontrol perilaku),
merupakan persepsi individu tentang kemudahan atau kesulitan
yang dirasakan oleh individu dalam mewujudkan perilaku,
ditentukan oleh keyakinan ketersediaan sumberdaya yang
dimiliki oleh individu. Semakin kuat sumberdaya yang dimilki
oleh individu maka semakin mudah individu dalam mencapai
keyakinan untuk melakukan perilaku tertentu

Prasyarat Flow


Agar seseorang dapat mengalami flow, maka seseorang harus
harus memenuhi beberapa syarat, yaitu;
a. Goal
Untuk dapat mengalami flow seseorang harus memiliki
tujuan dalam setiap aktifitas yang sedang dilakukannya. Tujuan
yang dimiliki oleh seseorang akan dapat memberikan daya gerak
yang membuatnya mengeluarkan seluruh kemampuan dan usaha
yang dimiliki menuju ke tujuannya. Tujuan yang bermakna
dapat menjadi penggerak yang efektif, bahkan ketika orang
tersebut sedang menghadapi berbagai kesulitan.91
b. Feedback
Aktifitas apapun yang dilakukan seseorang meskipun
dengan rentang waktu yang singkat namun sudah dapat
memberikan gambaran yang jelas bagi seseorang tentang apa
yang sedang dilakukannya, seperti apakah yang dilakukannya
sudah cukup baik atau belum, ataukah masih buruk dan perlu
banyak perbaikan. Saat memperoleh feedback terbaik ini, maka
seketika itu mereka akan dapat memutuskan untuk
mempertahankan atau mengubah aktifitas mereka. Feedback

dapat berasal dari diri sendiri , orang lain, ataupun orang
ketiga.
c. High Skill
Semakin tinggi keterampilan yang dimiliki sesseorang
dalam suatu bidang maka kemungkinan untuk terjadinya hal –
hal yang baru akan makin terbuka lebar dan kreaktifitas dalam
bidang tersebut akan semakin meningkat. Keterampilan yang
semakin tinggi akan membuat dunia yang digeluti akan selalu
terasa segar karena banyak kemungkinan baru yang senantiasa
muncul. Selain itu semakin tinggi keterampilan seseorang maka
akan semakin menarik aktifitas itu dan semakin mudah
seseorang untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan yang
mampu dilakukannya dalam bidang tersebut.
Keterampilan tinggi juga dapat membuat seseorang
melakukan suatu aktifitas dengan semakin tidak self-counsious.
Karena saat seseorang baru mulai belajar melakukan sesuatu,
maka ia akan sangat self-counsious, dan ceroboh, sehingga ia
akan melakukan aktifitas tersebut dengan tidak mengalir dan
penuh dengan daya upaya, hal tersebut dapat mengurangi
keluwesan dan kemungkinan – kemungkinan kreatif. Namun
jika seseorang sudah memiliki keterampilan yang tinggi maka ia
akan dapat membuat aktifitas yang sedang dikerjakannya

semakin mengalir, luwes, langsung, responsif, tidak dipikir lebih
dulu, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang sangat
lancar dengan realitas, serta terbukanya kemungkinan –
kemungkinan baru yang muncul seketika saat aktifitas tersebut
berlangsung.
d. Optimal Challenge
Syarat terakir adalah tantangan dengan tingkat kesulitan
yang cukup tinggi, sehingga tantangan tersebut membuat
seseorang perlu untuk mengeluarkan seluruh kemampuan dan
keterampilan yang dimilikinya. Untuk dapat merasakan flow,
tantangan tersebut tidak boleh terlalu mudah, karena jika
tantangan tersebut dinilai sangat mudah akan dapat
menyebabkan kebosanan, tetapi juga tidak boleh terlalu sulit,
karena dapat menyebabkan kecemasan. Tingkat kesulitan yang
dihadapi seseorang harus setara atau berada sedikit lebih tinggi
dari tingkat keterampilan yang dimiliki, sehingga ia harus
mengeluarkan seluruh keterampilannya untuk menghadapi
tantangan tersebut. Ketika menghadapi tantangan yang sulit
itulah seseorang akan baru dapat merealisasikan dan menyadari
seluruh keterampilan yang telah dimilikinya. Bahkan tak jarang

keterampilan yang baru muncul pada saat itu, keterampilan yang
ia sendiri tidak tahu sebelumnya bahwa ia mampu
melakukannya, hal ini muncul karena panggilan keadaan.
Emerging skills adalah kondisi dimana seseorang telah
menyentuh dan melewati batas kemampuan dirinya atau disebut
dengan momen bertumbuh (growth moment)


saat seseorang mengalami tantangan yang sulit dia akan
memunculkan emerging skills. Emerging skills adalah berbagai

Faktor – faktor Penyebab Flow tidak Terjadi saat Bekerja


a. Pekerjaan tidak memiliki tujuan yang jelas
Banyak pekerjaan yang hanya berorientasi pada tujuan
perusahaan, daripada tujuan dari para pekerjanya.85 Kebanyakan
tugas yang dikerjakan oleh pekerja hanya ditentukan oleh
tuntutan – tuntutan yang masuk akan bagi para petinggi di
perusahaan dan kabur bagi para pekerja. Sering sekali pekerja
hanya memahami apa pekerjaan mereka tapi tidak memahami
mengapa mereka harus mengerjakannya. Tanpa memiliki tujuan
yang jelas, cepat atau lambat, pekerja akan sulit menikmati
pekerjaannya.
b. Pekerjaan tidak memberikan umpan balik yang memadai
Sulit untuk dapat larut dalam sebuah aktifitas jika
performa seseorang hanyalah faktor kecil, meskipun ia bekerja
dengan baik hampir tidak ada pengakuan, bahkan ia tidak tahu
apakah pekerjaannya telah terselesaikan dengan baik atau tidak.
Ketiadaan umpan balik bukan hanya akan berimbas pada para
pekerja tapi juga bagi pimpinan. Karena ketidaklancaran
informasi antar posisi secara hierarkhis dan antardepartemen
dapat membuntuhkan usaha untuk memfokuskan diri pada

Keterampilan pekerja tidak seimbang dengan peluang untuk
bertindak
Tugas yang sedikit menuntut keahlian akan menyebabkan
kejenuhan. Pekerjaan yang hanya mempergunakan sebagian
keterampilan pekerja akan segera terasa menjadi beban. Pekerja
akan merasa sebagian besar potensinya dibiarkan tidak terpakai.
Ketika sebagian besar kemampuan yang dimiliki tidak
termanfaatkan maka keterlibatannya dalam pekerjaan segera
mengendur dan tidaklah mengherankan jika kemudian orang
mulai mendambakan waktu luang untuk menikmati hidup.88
d. Tidak adanya kontrol dalam pekerjaan
Pekerja yang merasa dikontrol sampai hal kecil akan
segera kehilangan minat terhadap pekerjaannya. Pekerja hanya
akan memberikan apa yang diwajibkan atas dirinya tetapi jarang
lebih dari itu. Kebutuhan akan kontrol harus seimbang dengan
kebutuhan akan otonomi yang diperlukan bahkan oleh orang
yang paling rendah.
e. Penggunaan waktu ditentukan oleh ritme yang datang dari luar
para pekerja
Jadwal kerja yang tidak fleksibel membentuk kerangka
waktu yang tidak fleksibel. Dalam kerangka waktu ini, pekerja

Tujuan bersama

Tidak lagi dapat mengontrol energi psikisnya baik ada yang perlu
dikerjakan atau harus yang tidak dilakukan

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Flow


Mihaly Csikszentmihalyi menyatakan bahwa terdapat dua faktor
yang memengaruhi flow yaitu ;
a. Faktor dari individu (person factor)
Kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh
individu dalam melakukan suatu aktivitas.
b. Faktor dari lingkungan (environtment factor)
Seberapa besar tantangan tugas yang diberikan kepada
individu.78
Sedangkan berdasarkan hasil penelitian dari Karen Stanberry
Beard dan Wayne K. Hoy pada guru sekolah dasar di Ohio Amerika
Serikat flow pada guru sekolah dasar dapat dipengaruhi oleh efikasi
diri guru, kepercayaan guru terhadap siswa dan orang tuanya, dan
penekanan akademis oleh guru terhadap siswanya.
a. Efikasi diri guru
Sekumpulan keyakinan yang dimiliki oleh guru bahwa dia
dapat mengajar secara efektif meskipun ada kesulitan

Keyakinan seperti itu memotivasi guru untuk bertindak untuk
mencapai tujuan yang menantang dan bertahan sampai mereka
berhasil.80
b. Kepercayaan guru terhadap siswa dan orang tuanya
Guru mempercayai siswa untuk belajar dan percaya
terhadap dukungan pembelajaran dari orang tua siswa.81
Kepercayaan orang tua dan siswa membebaskan guru untuk
mengambil resiko dan berinovasi tanpa takut akan pembalasan
ketika sesuatu tidak berhasil.82
c. Penekanan akademis
Guru dapat menetapkan standar tinggi dan menekankan
pencapaian prestasi akademis.83 Tidak hanya guru dan orang tua
yang mendorong untuk keberhasilan akademis, tetapi siswa juga
diharapakan dapat menghargai kerja keras, nilai bagus, dan
prestasi. Penekanan akademis di sekolah dapat dijadikan sebagai
norma.

Karakteristik Flow


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mihalyi
Csikszentmihalyi bahwa setiap orang yang mengalami flow memiliki
karakteristik khusus, yaitu atensi terpusat penuh, penyatuan antara
tindakan dan kesadaran, ada rasa kebebasan, pudarnya self-
counsiusness, dan transformasi dalam penghayatan akan waktu

Atensi Terpusat Penuh
Flow di mulai ketika seseorang menghadapi tantangan
yang sulit, sehingga ia harus mengerahkan seluruh kemampuan
dan keterampilannya. Kesulitan akan membuat atensi menjadi
terfokus hanya terarah pada hal – hal yang relevan dalam
pengerjaan aktifitas tersebut. Pemusatan atensi ini akan terus
dipertahankan dan dipertajam ketika pertemuan dengan
kesulitan itu semakin intens. Ketika seseorang telah memasuki
zona flow, yaitu ketika terjadi interaksi yang sangat baik,
langsung, dan mengalir antara tantangan dengan keterampilan
yang dimiliki. Atensi menjadi stabil, effortless, dan
menghasilkan kejernihan persepsi. Saat telah berada dalam zona
flow, seseorang tidak perlu memelihara atensinya, karena secara
otomatis atensinya akan terfokus dan sulit untuk dialihkan.
Dalam atensi tersebut, maka persepsi akan detail – detail
pengalaman yang dialami akan terasa sangat jelas. Seseorang
seolah menjalankan aktifitas ini dalam gerakan lambat sehingga
semua detail yang terjadi dapat diamati dan dihayati dengan
jelas.
b. Penyatuan antara tindakan dan kesadaran
Semakin dekat jarak seseorang dengan zona flow, maka
antara tindakan dan kesadarannya akan semakin menyatu

Tindakan dan kesadarannya menjadi tidak terpisahkan, apa yang
disadari seseorang bukanlah hal lain kecuali apa yang sedang
dilakukannya. Di saat seperti ini ada rasa total kontrol yang
dihayati oleh seseorang yang sedang mengalami flow yaitu
penghayatan bahwa ia dapat mengendalikan situasi dan
mengendalikan semua tindakannya dengan baik. Apa yang ingin
dilakukannya berjalan dengan baik dan dia dapat membaca
situasi dengan akurat sehingga dapat memegang kendali atas
situasi tersebut, sekalipun di mata orang lain dia terlihat seperti
kewalahan dan terancam berbagai resiko namun bagi seseorang
yang sedang mengalami flow dia justru sedang merasa
memegang kendali penuh atas apa yang terjadi dan menikmati
setiap gerakan yang sedang dilakukannya.74
c. Ada rasa kebebasan
Saat seseorang tidak mengalami flow, seseorang biasanya
dibebani oleh banyak kekhawatiran, seperti pandangan orang
lain terhadapnya, singkatnya waktu yang dimiliki untuk
menyelesaikan suatu masalah, tidak cukup mampu untuk
menyelesaikan masalah, dan juga takut gagal. Begitu banyak
kekhawatiran yang menghantui tiap langkah dan megeruhkan

Kekhawatiran menjadi tak memiliki kuasa bagi seseorang yang
sedang mengalami flow, mereka akan merasakan kebebasan
yang luar biasa. Aktifitas yang dilakukannya begitu
mengasyikkan dan membuatnya hanyut sehingga ia tidak peduli
lagi atas hal lain yang selama ini menganggunya.75
d. Pudarnya self-counsiousness
Pudarnya self-counsiousness berkaitan erat dengan
kekhawatiran. Kekhawatiran terbesar dalam diri seseorang
adalah tentang “aku”. Saat seseorang sedang merasa cemas dan
larut dalam berbagai masalah yang yang sedang dihadapinya
maka kepercayaan dirinya akan menurun dan self-
counsiusnessnya biasanya akan meningkat. Seseorang yang
memiliki tingkat self-counsiusness tinggi, akan memiliki
kesadaran yang berlebihan tentang dirinya, di mana diri
ditempatkan secara keliru sebagai pusat dari segala sesuatu,
sehingga membuatnya semakin sensitif dan cemas pada
bagaimana diri dinilai dan dipandang orang lain.
Setiap seseorang mengalami flow, self-consiusness
memudar, dia akan merasa tidak memiliki kekhawatiran lagi
tentang dirinya sehingga dia dapat mengeksplorasi berbagai

epenuhnya, dan dapat melihat siapa dirinya yang
sesungguhnya.76
e. Distorsi dalam penghayatan waktu
Dalam aktifitas sehari – hari umumnya kita
memperhatikan berjalannya waktu, karena umumnya waktu
dinilai sebagai sesuatu yang sangat berharga. Namun, di sisi lain
dapat dikatakan pula bahwa waktu umumnya memiliki kuasa
untuk mengarahkan kita. Kita taat pada arahan tersebut dan
dengan demikian ruang gerak kita menjadi lebih sempit.
Kebanyakan dari orang adalah bagian dari hamba waktu, namun
bagi orang – orang yang sedang mengalami flow, maka mereka
akan merasa telah kehilangan kesadaran atas waktu yang telah
mereka gunakan.
Ketika mengalami flow, seseorang tak lagi begitu
memperhatikan silih bergantinya waktu. Terkadang aktifitas
yang sejatinya telah berlangsung sangat lama, namun bagi
mereka aktifitas tersebut hanya sebentar. Di saat yang
bersamaan dengan adanya atensi penuh dan mendalam, suatu
gerak yang mungkin sebenarnya sangat cepat dapat terasa seolah
berlangsung dengan gerakan yang lambat. Sehingga waktu dapat

hidup manusia yang dapat membatasi daya kreatifitas seseorang,
namun waktu akan dapat mengalir dengan harmonis sejalan
dengan gerak kitamenjadi sahabat dan bukan musuh bagi manusia, waktu bukan
hanya sebagai kotak – kotak yang digunakan untuk menertibkankemungkinan baru. Saat seseorang sudah tidak terlalu khawatir
tentang dirinya maka saat itu dia akan dapat berfungsi
kesadaran. Tapi saat seseorang mengalami flow, segala
kekhawatiran menjadi tidak penting dan tidak relevan.

Aspek – aspek Flow


Flow menurut Baker memiliki tiga aspek yaitu absorption,
enjoyment, dan intrinsic motivation.68 Absorption adalah kondisi
dimana seseorang dapat berkonsentrasi dengan sepenuhnya.
Enjoyment diartikan sebagai penilaian positif terhadap tugas atau
kegiatan yang sedang dilakukan. Intrinsic motivation adalah keinginan
yang muncul dari dalam diri seseorang ketika dia melakukan aktivitas

dengan tujuan agar mendapat kesenangan dan kepuasan dari aktivitas
yang sedang dilakukan.69
Sedangkan aspek – aspek flow menurut Mihalyi
Czikszentmihalyi adalah challenge-skill balance (keseimbangan
antara kemampuan dan tantangan), action awareness merging
(penyatuan antara tindakan dengan kesadaran), clear goals (tujuan
yang jelas), unambiguous feedbacks (umpan balik yang memadai),
concentration on task at hand (konsentrasi pada tugas yang
dikerjakan), sense of control (rasa kontrol), loss self-consciousness =
transcendence (hilangnya kesadaran akan diri), transformation of time
(transformasi akan waktu), dan authotelic experience (pengalaman
autotelic).
a. Challenge-Skill Balance (keseimbangan antara kemampuan dan
tantangan)
Flow dapat muncul ketika terjadi antara keseimbangan
tantangan dan keterampilan. Suatu aktivitas mampu
merepresentasikan kemampuan seseorang ketika tantangan dan
keterampilan berada pada titik yang seimbang. Flow adalah
pengalaman optimal yang terjadi akibat situasi yang
mengharuskan tantangan dan keterampilan pada tingkat
sederajat. Ketika tantangan dan keterampilan di tingkat yang
sama maka motivasi intrinsik bisa muncul pada diri seseorang

Keseimbangan antara tantangan dan keterampilan mengarahkan
kepada keberhasilan menyelesaikan tugas yang dapat
memotivasi orang untuk menyelesaikan tugas pada tingkat yang
lebih tinggi dengan menggunakan keterampilan yang diperoleh
sebelumnya.
b. Action Awareness Merging (Penyatuan antara tindakan dengan
kesadaran)
Sering terjadi di kehidupan sehari – hari pikiran tidak
menyatu dengan apa yang dilakukan. Apabila kesadaran dan
tindakan dapat digabungkan maka seluruh perhatian akan
terserap dalam suatu aktivitas tertentu. Seluruh perhatian yang
terpusat akan membuat individu merasa begitu terlibat dengan
apa yang dilakukannya dan dia dapat mengalami flow. Flow
akan membuat aktivitas yang dilakukan akan terasa spontan,
otomatis, dan menimbulkan perasaan menyatu.
c. Clear Goals (tujuan yang jelas),
Ketika melakukan sesuatu tanpa tujuan yang terjadi adalah
tidak tahu apa yang hendak dicapai. Manfaat dari adanya tujuan
adalah menjadi patokan agar mendapatkan hasil yang sesuai
dengan harapan. Dalam keadaan flow seseorang mampu
mengetahui apa yang dibutuhkan dan perlu dilakukan
selanjutnya. Ketika tujuan dapat dicapai maka akan
memunculkan perasaan puas yang luar biasa sedangkan apabila
tujuan belum tercapai maka seseorang akan terus berusaha
hingga tujuannya tercapai. Tujuan dapat pula menjadi pemicu
bagi seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu.
d. Unambiguous Feedbacks (umpan balik yang memadai)
Setelah tujuan dapat dicapai, umpan balik diperlukan
untuk menilai pencapaian tujuan maupun kegiatan yang telah
dilakukan. Umpan balik dapat digunakan sebagai catatan atas
keberhasilan maupun kegagalan kegiatan yang telah dilakukan.
Umpan balik yang memadai dan segera membantu untuk
mencapai tujuan dengan baik.
e. Concentration on Task at Hand (konsentrasi pada tugas yang
dikerjakan)
Flow dapat membuat orang yang merasakannya
melupakan seluruh aspek kehidupan yang tidak
menyenangkannya. Kegiatan yang menyenangkan
membutuhkan fokus penuh pada kegiatan yang sedang
dilakukannya (concentration on task at hand) sehingga tidak ada
ruang dalam pikiran untuk informasi yang tidak relevan.
f. Sense of Control (rasa control)
Flow melibatkan rasa kontrol atau lebih tepatnya tidak
merasa khawatir kehilangan kontrol dalam banyak situasi
kehidupan. Perasaan mengatur kendali dalam situasi sulit akan
membuat seseorang berupaya kuat dalam berbagai situasi.
g. Loss Self-Consciousness = Transcendence (hilangnya kesadaran
akan diri = transedensi)
Flow dapat membuat seseorang yang merasakannya tidak
mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan tentangnya,
sehingga orang tersebut merasa kehilangan perhatian terhadap
diri. Hilangnya perhatian terhadap diri dapat membuat hilangnya
kesadaran terhadap diri sehingga yang mengalaminya dapat
berkonsentrasi penuh pada tugas yang dikerjakan tanpa
menghiraukan hambatan yang muncul dari orang lain. Ketiadaan
diri dari kesadaran berarti bahwa seseorang yang mengalami
flow telah melepaskan kendali energi psikisnya, mereka tidak
lagi menyadari apa yang terjadi dalam tubuhnya atau dalam
pikirannya. Hilangnya kesadaran diri tidak berkaitan dengan
hilangnya diri, tetapi hilangnya kesadaran akan diri.
h. Transformation of Time (transformasi akan waktu)
Flow dapat membuat orang yang merasakannya merasa
bahwa waktu tampaknya tidak lagi berjalan seperti biasanya.
Waktu yang biasanya diukur dengan siang dan malam, atau
menggunakan jam tidak lagi relevan, waktu menjadi berjalan
jauh lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya.
i. Authotelic Experience (pengalaman authotelic)
Elemen kunci dari flow terletak pada tujuan. Sekalipun
pada awalnya suatu aktivitas dilakukan seseorang karena alasan
lain, namun pada dasarnya segala aktivitas yang dijalani
seseorang memberikan penghargaan bagi dirinya sendiri. Istilah
autotelic berasal dari dua kata Yunani, auto artinya diri, dan
telos memiliki arti tujuan autotelic merujuk pada aktivitas
mandiri yang dilakukan bukan dengan harapan akan mendapat
manfaat di masa depan, tetapi hanya karena melakukan aktivitas
tersebut adalah suatu hadiah.70 Begitu banyak orang yang
menjalani suatu aktivitas tertentu namun aktivitas tersebut tidak
memberikan nilai dalam dirinya, ia melakukannya hanya karena
harus melakukannya, atau karena mengharapkan beberapa
manfaat di masa depan. Pengalaman autotelic mengangkat jalan
kehidupan seseorang ke tingkat yang berbeda.

Definisi Flow


Menurut Mihalyi Csikszentmihalyi, flow adalah keadaan ketika
seseorang benar – benar merasa begitu terhanyut dalam kegiatan yang
sedang dilakukannya, sehingga hal lain menjadi tidak penting,
pengalaman ini terasa sangat menyenangkan sehingga orang akan
melakukannya bahkan dengan biaya yang besar.60 Flow merupakan
cara untuk menggambarkan keadaan fikiran seseorang yang
kesadarannya dapat diatur secara harmonis, dan mereka ingin
mengejar apa pun yang sedang mereka lakukan untuk dirinya sendiri.
Flow dapat membangun kepercayaan diri yang memungkinkan
seseorang untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki.61
Flow dapat membuat seseorang melupakan semua hal yang
tidak menyenangkan. Flow membuat seseorang merasa senang saat
melakukan aktivitas dan mampu memberikan fokus penuh pada tugas
yang ada sehingga tidak ada ruang lain dalam pikiran untuk informasi
yang tidak relevan. Flow dapat membuat orang menghasilkan
kualitas kerja terbaik ketika mengalami suatu peleburan total atau
hanyut dalam apa yang sedang mereka kerjakan. Perasaan itu

memabukkan dan menimbukan ketagihan seperti sedang melayang
atau mengalir seperti air. Beberapa kegiatan yang secara konsisten
menghasilkan flow seperti olahraga, permainan, seni, dan hobi.64
Flow di tempat kerja dapat membuat orang menikmati
pekerjaannya lebih daripada yang lainnya. Fokusnya bukan pada
kenaikan gaji atau pujian dari sang atasan. Dia hanya antusias pada
tujuan pribadinya.65 Flow akan membuat orang lebih cepat, lebih
efektif, lebih mahir, dan lebih menikmati pekerjaan.66 Banyak lansia
di Jepang yang lebih memilih bekerja daripada pensiun, pekerjaannya
telah membuat mereka berada dalam kondisi flow. Kondisi ini dapat
membuat mereka merasa senang dan ingin melanjutkan
pekerjaannya

Dimensi Flow Experience Distorsi Waktu (Time Distortion) dan Kepuasan Konsumen


Distorsi waktu merupakan salah satu dimensi yang penting dalam
penggunaan internet (Kazancoglu & Demir, 2021), sehingga dapat mempengaruhi
sikap positif konsumen dan menghasilkan kepuasan konsumen ketika melakukan
proses berbelanja secara online (M. Kim & Thapa, 2018). Distorsi waktu yang
dirasakan oleh konsumen akan menghasilkan efek yang signifikan terhadap
kepuasan konsumen (Ozkara et al., 2017)

Dimensi FLow Experience Kontrol (Control) dan Kepuasan Konsumen



Kontrol memiliki korelasi yang positif dengan kepuasan konsumen dan niat
berkelanjutan bagi konsumen(Hsu et al., 2013). Hasil penelitian dari Ozkara et al.,
2017 menemukan bahwa seseorang akan berperilaku secara positif ketika memiliki
persepsi mengenai sebuah fakta bahwa seseorang tersebut memiliki kendali atau
kontrol atas lingkungan tersebut. Kontrol yang dirasakan oleh konsumen ketika
melakukan proses berbelanja secara online dapat berpengaruh positif terhadap
kepuasan konsumen dan niat berkelanjutan oleh konsumen (Domina et al., 2012)

Dimensi Flow Experience Konsentrasi (Concentration) dan Kepuasan Konsumen


Konsentrasi memiliki pengaruh yang potensial terhadap kepuasan konsumen
(Bölen & Özen, 2020). Dalam flow experience seseorang akan mengarahkan
konsentrasi penuh ketika melakukan proses berbelanja online, maka dari itu akan
menghasilkan sikap positif dari konsumen seperti kepuasan akan sebuah produk
atau jasa (Mohammadi & Dickson, 2021). Terdapat efek yang positif dari
konsentrasi yang dirasakan oleh konsumen ketika melakukan proses berbelanja
secara online dengan kepuasan konsumen (Ozkara et al., 2017)

Dimensi Flow Experience Kejelasan Tujuan (Goal Clarity) dan Kepuasan Konsumen


Tujuan pembelian konsumen yang jelas memiliki efek yang positif terhadap
kepuasan konsumen (Lee et al., 2019). Tujuan yang jelas merupakan salah satu
faktor yang penting untuk meningkatkan kinerja konsumen, sehingga konsumen
dapat merasakan kepuasan setelah membeli sebuah produk atau jasa (Kazancoglu &
Demir, 2021). Kejelasan tujuan merupakan salah satu dimensi dari flow experience
bagi konsumen yang melakukan proses berbelanja secara online dan dapat
meningkatkan rasa puas terhadap suatu produk atau jasa yang dibeli (Ozkara et al.,
2017).

Dimensi Flow Experience Kenikmatan dan Kepuasan Konsumen


Kenikmatan yang dirasakan oleh konsumen akan berpengaruh secara positif
terhadap kepuasan konsumen. Studi yang dilakukan oleh (Domina et al., 2012)
menemukan bahwa terdapat efek yang positif dari dimensi kenikmatan pada
kepuasan individu terhadap produk baik secara virtual atau online. Dalam studi
yang dilakukan oleh Ozkara et al., 2017 menemukan bahwa kenikmatan
berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen. Kenikmatan juga memiliki efek
yang positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen dan dapat merangsang
konsumen untuk merasakan kepuasan dari sebuah produk. Flow experience juga
dapat meningkatkan persepsi yang positif dari konsumen terhadap situs web dan
juga kepuasan konsumen sendiri (Mohammadi & Dickson, 2021). Dalam konteks
e-commerce, konsumen dapat menilai bahwa berbelanja online tidak hanya
bermanfaat untuk nilai kelayakan sebuah produk namun juga untuk memperoleh
kenikmatan dan kepuasan yang diperoleh individu tersebut (Aboubaker Ettis,
41
2017). Ozkara et al., 2017 menemukan bahwa niat pembelian kembali konsumen
secara positif dan signifikan dipengaruhi oleh kenikmatan. Penelitian yang
dilakukan oleh Pu et al., 2015 menemukan bahwa flow experience berpengaruh
positif terhadap kepuasan konsumen

Niat Beli Ulang


Niat beli ulang mengacu pada konsumen yang menunjukkan kecenderungan
untuk membeli produk atau jasa secara berulang karena adanya perasaan puas
terhadap produk atau jasa tersebut (Rezaei et al., 2014). Ketika konsumen
merasakan bahwa produk atau jasa yang diberikan dapat memenuhi harapan dan
kebutuhan konsumen dengan baik, maka konsumen akan membeli produk atau jasa
pada perusahaan atau penjual yang sama. Sama halnya dengan konsumen yang
percaya dengan sebuah produk atau jasa tersebut, maka konsumen tersebut akan
kembali ke e-commerce yang menyediakan produk atau jasa yang sama. Beberapa
penelitian yang telah dilakukan oleh (Chou & Hsu, 2016; Zhou et al., 2012) telah
mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat menentukan niat beli ulangoleh
konsumen yaitu sebagai berikut:

  1. Karakteristik individu yang berisi mengenai persepsi dari konsumen
    mengenai hasil dan proses belanja, dan kepercayaan konsumen akan produk
    atau jasa tersebut,
  2. Faktor konstektual yaitu berupa kebiasaan berbelanja oleh konsumen dan
    pengalaman yang didapatkan oleh konsumen ketika berbelanja.
  3. Fitur dalam situs berbelanja meliputi situs web yang mudah dipahami dan
    juga tata letak situs web yang tertata dengan rapi sehingga memudahkan
    konsumen untuk mencari produk atau jasa yang diinginkan

Kepuasan Konsumen


Studi yang dilakukan untuk layanan secara online menyoroti beberapa aspek
kepuasan konsumen untuk dapat memahami riwayat interaksi yang dilakukan oleh
konsumen dengan aplikasi online, yang selanjutnya akan mempengaruhi perilaku
dari konsumen (Zhao et al., 2012). Kepuasan konsumen merupakan respon yang
dibuat secara sosial terhadap hubungan antara pelanggan dengan produk dan
pemasok (Xue et al., 2021), kepuasan konsumen merupakan tahap akhir dari proses
berbelanja online oleh konsumen (Lee et al., 2019). Kepuasan konsumen
merupakan perspektif yang dirasakan oleh konsumen ketika membeli sebuah
barang atau merasakan kesenangan ketika menggunakan produk tersebut, sehingga
dapat meningkatkan gairah konsumen. Menurut buku dari Kotler, 2015
mengatakan bahwa secara umum kepuasan adalah perasaan senang maupun kecewa
dari seorang konsumen yang dihasilkan dari membandingkan sebuah kinerja,
sebuah produk atau layanan yang dirasakan.
Kotler, 2015 menjelaskan bahwa kepuasan konsumen yang ditentukan
berdasarkan perbandingan antara produk yang diterima oleh konsumen dan harapan
yang dirasakan oleh konsumen pada tiga tingkatan yaitu sebagai berikut:

  1. Jika kinerja dari sebuah produk atau layanan tidak sesuai dengan harapan
    dari pelanggan.
  2. Jika konsumen merasa bahwa produk atau layanan sesuai dengan harapan
    konsumen, pelanggan mungkin akan merasa puas.
  3. Jika melebihi dari harapan konsumen, maka pelanggan akan merasa sangat
    puas dan senang.
    Kepuasan mengacu pada tingkat kesenangan yang diperoleh konsumen dari
    sebuah produk atau jasa sehingga menghasilkan pengalaman yang menarik dalam
    proses berbelanja, serta dapat dipengaruhi selama konsumen melakukan proses
    konsumsi dari produk atau jasa tersebut (Lee & Wu, 2017). (Ha, 2021) menjelaskan
    bahwa beberapa faktor kepuasan konsumen yang telah diindentifikasi termasuk
    kebutuhan dari konsumen, emosi, layanan dan fitur yang diberikan sebuah produk
    atau jasa. Terdapat dua perspektif berbeda yang diteorikan dalam kepuasan
    pelanggan yaitu: pertama, kepuasan kumulatif, adalah evaluasi secara total oleh
    pelanggan ketika merasakan sebuah produk atau jasa, kedua, kepuasan spesifik
    dalam bertransaksi, merupakan perkiraan mengenai pengalaman dan reaksi
    konsumen ketika mengalami sebuah produk atau jasa (Ha, 2021). Oleh karena itu,
    kinerja dan juga pengiriman sebuah produk atau jasa sangat penting bagi
    perusahaan agar konsumen dapat merasakan pengalaman yang luar biasa sehingga
    konsumen dapat merasakan kepuasan dari sebuah produk atau jasa tersebut.
    Literatur yang dijelaskan oleh (Jana, 2014) pada semua definisi dari kepuasan
    pelanggan telah menggambarkan kepuasan sebagai suatu proses dan mengakui
    bahwa kepuasan merupakan proses terakhir dari proses psikologis seseorang. Studi
    yang dilakukan oleh Zhao et al., 2012 mempertimbangkan dua mode kepuasan
    konsumen yang berbeda, yaitu sebagai berikut:
  4. Kualitas proses yang menekankan sebagaimana pengecer online dapat
    memfasilitasi proses berbelanja dari konsumen dengan baik. Dalam hal ini
    kualitas proses mencerminkan nilai dan upaya yang dirasakan oleh konsumen
    dalam hal meningkatkan proses berbelanja secara online.
  5. Kualitas hasil pengecer online mempertimbangkan apakah konsumen akan
    puas dengan produk atau jasa yang dijual tersebut. Dalam hal ini kualitas hasil
    juga menangkap kepuasan konsumen dengan proses berbelanja dan hasil dari
    pencarian kualitas produk dalam membuat keputusan berbelanja

Dimensi Flow Experience


1 Kenikmatan (Enjoyment)
Definisi pertama dari sebuah flow sebenarnya menyatakan bahwa
pengalaman itu merupakan hal yang sangat menyenangkan (Ozkara et al., 2017).
Dimensi kenikmatan juga didefinisikan sejauh mana individu menggunakan dunia
virtual sebagai hal yang menyenangkan, terlepas dari konsekuensi yang diakibatkan
dari penggunaannya (Domina et al., 2012). Kenikmatan dapat dicirikan dengan
gerakan-gerakan maju seperti pembaharuan dan juga sebuah pencapaian oleh
individu (Csikszentmihalyi, 2008: 46). Kenikmatan dapat dianggap sebagai
kesenangan yang ditangkap dari individu secara subjektif dari adanya interaksi
dengan teknologi (Ozkara et al., 2017). Kenikmatan telah ditetapkan sebagai salah
satu motivasi intrinsik bagi sebuah individu (Aboubaker Ettis, 2017).
Ozkara et al., (2017) mengatakan bahwa meskipun banyak studi dalam
sebuah literatur dimana sebuah kenikmatan mendekati konteks dalam pembelian
secara online yang dapat mencapai kesimpulan, menunjukkan bahwa terdapat hasil
yang positif, namun dalam beberapa studi juga menunjukkan efek yang tidak
signifikan. Sebuah kegiatan dapat dinikmati oleh seseorang karena kegiatan
tersebut memiliki lebih banyak kesamaan daripada perbedaan (Csikszentmihalyi,
2008 : 49) Kenikmatan merupakan perwakilan dari sebuah flow experience individu
di lingkungan sekitar individu tersebut (Aboubaker Ettis, 2017).Dalam fenomena
kenikmatan memiliki delapan komponen utama yang dijelaskan dalam buku
menurut (Csikszentmihalyi, 2008 : 49), delapan komponen utama, yaitu sebagai
berikut :

  1. Pengalaman dapat terjadi apabila seseorang mengalami atau menghadapi
    tugas, seseorang tersebut memiliki kesempatan untuk menyelesaikan tugas
    tersebut.
  2. Seseorang harus bisa memiliki konsentrasi pada apa yang sedang dilakukan.
  3. Untuk point ketiga dan keempat sama, yaitu konsentrasi biasanya dibutuhkan
    karena tugas yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas dan dapat
    memberikan umpan balik secara cepat.
  4. Seseorang yang bertindak dengan keterlibatan yang dalam tetapi tanpa usaha
    dapat menghilangkan kesadaran akan kekhawatiran dan frustasi dalam
    kehidupan sehari-hari.
  5. Pengalaman yang menyenangkan memungkinkan seseorang untuk melatih
    rasa akan kontrol atas tindakan yang dilakukannya.
  6. Kepedulian terhadap diri sendiri akan menghilang, namun secara paradoks
    rasa percaya diri akan muncul lebih kuat setelah seseorang selesai merasakan
    flow experience.
  7. Perasaan durasi waktu yang diubah seperti; hitungan jam berlalu dalam
    hitungan menit, dan mungkin menit dapat terasa seperti berjam-jam.
    .2 Kejelasan Tujuan (Goal Clarity)
    Kejelasan dari sebuah tujuan sangat penting dalam tujuan untuk mencapai
    tingkat kinerja yang diharapkan oleh seseorang. Menurut buku dari
    (Csikszentmihalyi, 2008: 54) mengatakan bahwa alasan yang memungkinkan untuk
    mencapai keterlibatan secara penuh dalam flow experience adalah dengan adanya
    tujuan yang jelas dan juga umpan balik yang cepat. Seseorang yang bekerja untuk
    mencapai tujuan pasti akan meluangkan lebih banyak waktu dan juga mengerjakan
    pekerjaan maupun tugas–tugas secara lebih giat, agar tujuan dari seseorang tersebut
    dapat tercapai. Banyak kegiatan-kegiatan tertentu yang membutuhkan waktu yang
    sangat lama untuk menyelesaikannya, namun tujuan yang jelas merupakan hal yang
    terpenting bagi seseorang untuk melakukan aktivitas maupun tugas yang sedang
    dikerjakan (Csikszentmihalyi, 2008: 55).
    Kejelasan suatu tujuan juga berguna bagi seseorang untuk bekerja dan
    berusaha agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam beberapa kegiatan
    kreatif, di mana sebuah tujuan tidak ditetapkan dengan jelas sebelumnya, maka
    seseorang tersebut harus mengembangkan pribadi yang kuat mengenai apa yang
    ingin dilakukan (Csikszentmihalyi, 2008: 55). Adanya kejelasan dari sebuah tujuan
    dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk dapat mencapai tujuan tersebut.
    Agar sebuah flow terjadi, diperlukan adanya kejelasan suatu tujuan yang bersamaan
    dengan sebuah tantangan, keterampilan dan juga umpan balik. Tujuan yang sudah
    ditentukan dengan jelas dapat mengartikan bahwa konsumen memiliki gagasan
    mengenai apa yang ingin dicapai sebelum melakukan proses berbelanja secara
    online(Ozkara et al., 2017).
    .3 Kontrol (Control)
    Semua individu yang melaporkan flow experience di mana rasa kontrol
    memerankan peran yang sangat penting (Csikszentmihalyi, 2008: 60). Persepsi
    kontrol yang dilakukan oleh konsumen dapat dibentuk oleh pengalaman sistem
    yang relevan seperti mesin pencari, sistem rekomendasi, sistem keamanan dalam
    bertransaksi dan faktor-faktor lainnya yang memungkinkan penggunanya
    menemukan informasi yang diinginkan (Lee & Wu, 2017). Flow experience juga
    melibatkan rasa kontrol seseorang, lebih tepatnya dapat juga dikatakan sebagai
    kurangnya rasa khawatir dalam diri seseorang akan kehilangan kontrol yang
    dimiliki dalam kehidupan sehari-hari (Csikszentmihalyi, 2008: 59). Kontrol yang
    dapat dirasakan adalah sebuah tingkat dari rasa kontrol yang dapat dilakukan oleh
    seseorang atas lingkungan dan perilakunya sendiri (Lee & Wu, 2017).
    Emosi positif yang dapat dirasakan oleh seseorang adalah ketika seseorang
    tersebut mampu untuk mengendalikan kekuatan yang berasal dari diri sendiri dan
    cenderung berbahaya bagi lingungan sekitarnya (Csikszentmihalyi, 2008: 60).
    Seseorang yang sedang berada dalam flow experience akan berusaha untuk
    mengendalikan atau mengkontrol tindakan dan juga lingkungan individu tersebut.
    Flow experience merupakan salah satu jenis pengalaman yang menyenangkan di
    mana seseorang dapat merasakan tingkat kontrol yang tinggi atas perilaku individu
    tersebut, namun tetap dapat menikmati kesenangan dari aktivitas yang dilakukan(C.
    H. Lee & Wu, 2017). Rasa kontrol juga dapat dilihat dalam kegiatan yang
    menyenangkan dan juga melibatkan resiko yang serius, kegiatan yang bagi orang
    lain tampak lebih jauh memiliki potensi yang berbahaya daripada urusan kehidupan
    manusia yang normal (Csikszentmihalyi, 2008 : 60).
    4 Konsentrasi (Concentration)
    Individu dapat merasakan flow experience ketika individu tersebut
    berkonsentrasi atau berfokus kepada aktivitas yang sedang dilakukan (Aboubaker
    Ettis, 2017). Fokus dan konsentrasi merupakan faktor penting untuk dapat
    mencapai flow, keanehan yang biasa dikaitkan dengan orang – orang kreatif adalah
    sebagai cara untuk dapat mempertahankan konsentrasi dan juga pertahanan diri
    dalam proses menuju kreatif (Csikszentmihalyi, 2008). Salah satu dimensi dari flow
    yang sering disebutkan yaitu konsentrasi, dimana seseorang dapat melupakan
    segala aspek yang tidak menyenangkan dalam kehidupan seseorang tersebut. Saat
    melakukan kegiatan berbelanja secara online gangguan pada komputerisasi seperti
    email, pesan instan dan lain sebagainya dapat mengurangi konsentrasi konsumen
    selama berbelanja sehingga dapat menghambat terjadinya flow experience
    (Aboubaker Ettis, 2017).
    Pada halaman situs berbelanja online yang dibuat dengan fitur dan fungsi
    secara khusus akan meningkatkan konsentrasi konsumen kemudian konsumen akan
    tenggelam dalam pengalaman berbelanja online dan tidak akan terganggu oleh
    rangsangan secara eksternal (C. H. Lee & Wu, 2017). Konsentrasi juga merupakan
    salah satu yang mewakili dari flow experience di lingkungan individu terhadap
    teknologi (Aboubaker Ettis, 2017). Ketika konsumen ingin menyelesaikan kegiatan
    berbelanja secara online dengan efisien, maka konsentrasi merupakan hal yang
    sangat dibutuhkan oleh konsumen (C. H. Lee & Wu, 2017). Konsentrasi ini
    merupakan fitur dalam flow experience merupakan produk sampingan yang penting
    dari sebuah fakta bahwa kegiatan yang menyenangkan membutuhkan pemusatan
    perhatian atau konsentrasi yang lengkap pada tugas yang ada sehingga tidak
    menyisakan ruang kosong dalam pikiran untuk sebuah informasi yang tidak relevan
    (Csikszentmihalyi, 2008: 58).
    5 Distorsi Waktu (Time Distortion)
    Emosi lain yang dapat dirasakan oleh individu yang sedang merasakan flow
    experience menyadari bahwa individu tersebut memanifestasikan waktunya
    seakan-akan bergerak begitu cepat dari waktu yang sebenarnya (Ozkara et al.,
    2017). Salah satu gambaran umum dari flow experience adalah bahwa waktu
    tampak tidak berlalu seperti pada umumnya, durasi eksternal yang diukur lebih
    mengacu pada peristiwa yang terjadi di luar seperti malam, dan siang yang dianggap
    tidak lagi relevan oleh ritme yang dapat ditentukan oleh sebuah aktivitas
    (Csikszentmihalyi, 2008: 66). Apabila orang lain merasakan bahwa hitungan jam
    berlalu dalam beberapa menit, namun bagi seseorang yang sedang mengalami flow
    maka akan merasakan waktu yang berlalu sangat cepat. Generalisasi yang aman
    untuk fenomena ini adalah selama melalui flow experience, pengertian waktu
    memiliki hubungan dengan perjalanan waktu yang diukur dengan jam
    (Csikszentmihalyi, 2008)

Flow Experience


Flow experience telah menjadi satu faktor yang penting dan signifikan dalam
dunia ritel secara online (Kazancoglu & Demir, 2021). Flow menggambarkan situasi
yang optimal di mana seseorang atau individu tersebut dapat terpengaruh secara
kognitif, seperti merasa asik dengan siklus temporal dan suatu tindakan, merasa
memiliki motivasi pada saat merasakan kesenangan, merasakan konsentrasi,
merasa memiliki keterlibatan secara mendalam dan juga memiliki perasaan untuk
dapat memegang kendali suatu situasi (Csikszentmihalyi, 2008 : 72). Teori ini
menjelaskan bawah seseorang akan mencapai flow experience adalah ketika
memiliki ketrampilan dan tantangan serta online flow yang akan muncul karena
adanya interaksi antara kedua komponen tersebut (Kazancoglu & Demir, 2021).
Flow merupakan keadaan yang membutuhkan konsentrasi yang terfokus sehingga
dapat mencapai penyerapan mutlak dalam suatu aktivitas yang dilakukan
(Csikszentmihalyi, 2008 : 77). Teori flow experience memiliki tujuan untuk
menyelidiki alasan di balik perilaku yang dilakukan oleh konsumen dengan
kesenangan dan kebahagiaan tanpa mengharapkan suatu imbalan, seperti uang,
barang, dan lain sebagainya (Kazancoglu & Demir, 2021).
Menurut buku dari (Csikszentmihalyi, 2008: 60) mengatakan bahwa
konsumen yang mencoba untuk mengendalikan apa yang dilakukan dan nasib dari
konsumen itu sendiri, maka konsumen akan merasakan kegembiraan dan
kesenangan yang mendalam. Pengalaman yang konsumen dapatkan begitu
24
menyenangkan, sehingga beberapa konsumen rela untuk menanggung segala
macam biaya yang cukup tinggi untuk dapat mencapai pengalaman menyenangkan
tersebut (Kazancoglu & Demir, 2021). Flow experience ini membuat konsumen
merasa bahwa konsumen memiliki kendali akan keputusan dan tindakan yang akan
dilakukan, konsumen juga dapat merasakan kenikmatan sembari melakukan
aktivitas lainnya (Mahfouz et al., 2020). Flow experience adalah keadaan dimana
orang-orang yang terlibat di dalam suatu kegiatan sehingga tidak ada hal lain yang
penting; pengalaman itu sendiri sangat menyenangkan sehingga orang akan
melakukan kegiatan tersebut bahkan dengan biaya yang cukup mahal untuk dapat
melakukan kegiatan tersebut (Csikszentmihalyi, 2008: 4). Untuk dapat mendorong
flow experience, baik situs web maupun aplikasi pada seluler juga perlu untuk
merangsang dan merespon flow experience yang dirasakan oleh pengguna
(Mahfouz et al., 2020).
Ketika seseorang merenungkan lebih jauh mengenai apa yang membuat hidup
terasa lebih berharga, individu tersebut cenderung bergerak melampaui kenangan
yang menyenangkan dan mulai untuk mengingat peristiwa lainnya secara tumpeng
tindih namun bagi individu tersebut terasa menyenangkan (Csikszentmihalyi, 2008:
46). Mahfouz et al., 2020 mengatakan bahwa penerapan dari flow theory dalam
konteks untuk berbelanja online, merupakan hal yang signifikan untuk dapat
memahami perilaku konsumen. Flow experience harus dibagi menjadi kondisi
untuk dapat mencapai flow dan output psikologis yang akan mengikuti untuk dapat
mencapai pengalaman secara optimal (Hamari & Koivisto, 2014). Ketika sedang
berada dalam flow, biasanya kita tidak akan merasakan kebahagiaan, alasan
25
sederhananya karena ketika sedang berada dalam flow, seseorang hanya akan
merasakan apa yang relevan dengan aktivitas yang dilakukan tersebut
(Csikszentmihalyi, 2008: 48)