Authenticity menurut Castéran & Roederer (2013) diartikan
sebagai gambaran yang merangkum tentang keaslian, kenyataan, dan
kebenaran mengenai objek. Oleh Zeng et al., (2012) authenticity
didefinisikan sebagai label yang menempel sebagai identitas suatu
objek, subjek, atau orang yang mengacu pada hal yang nyata.
Authenticity terbagi menjadi tiga kategori yang terdiri dari authenticity
objektif, konstruktif, dan eksistensial (N. Wang, 2017).
Authenticity objektif diukur menggunakan kriteria absolute dan
objektif terkait dengan destinasi wisata yang dirasakan oleh wisatawan
saat melakukan kunjungan. Authenticity konstruktif diukur
menggunakan sudut pandang dan keyakinan wisatawan dalam menilai
authenticity destinasi wisata. Sedangkan authenticity eksistensial
diukur menggunakan perasaan pribadi wisatawan terhadap destinasi
wisata. Sehingga dapat disimpulkan bahwa authenticity objektif dan
konstuktif menekankan kepada wisatawan dalam merasakan tingkat
authenticity dan authenticity eksistensial menekankan kepada
pengalaman authenticity yang dirasakan oleh wisatawan.
Dalam penelitian (Zhang et al., 2019) variabel authenticity
dicerminkan dengan:
a. Objektive Authenticity
- Acquire knowledge of tourism object.
- Experience the native culture of tourism object.
- Confirm the authenticity of tourism object.
- Confirm the excellence of tourism object.
- Confirm cultural of life.
a. Konstruktif Authenticity - Tourism object is preserved well.
- History and culture can reappear through tourism
object. - Traditional life can reappear.
- Traditional culture is very strong in tourism object.
b. Eksistensial Authenticity - Revere the culture of the tourism object.
- Feel the meaning of the tourism object.
- Feel unique culture.
- Tourism object scenery is unique.
- Can experience the life of tourism object.
Menurut Lu et al., (2015) dalam penelitian yang dilakukan
variabel perceived authenticity dicerminkan dengan: historical
architectures are well preserved, tourism object is an authentic
portrayal of ancient life and customs, tourism object presents local
history and culture very well, and tourism object arouses feelings of
authentic history and culture.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan
perceived authenticity yang cerminkan oleh Lu et al., (2015),
dikarenakan cerminan sesuai dengan study yang dilakukan
dalam penelitian ini yaitu pada destinasi wisata heritage.
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah disampaikan diatas,
maka dapat disimpulkan authenticity adalah sebuah konsep mengenai
hal yang nyata dan asli mengenai destinasi wisata yang melibatkan
authenticity objektif, konstruktif, dan eksistensial
