Havitz & Dimanche (1990) mendefinisikan involvement sebagai
perilaku wisatawan yang menitik beratkan pada nilai kesenangan, nilai
simbolis, resiko profitabilitas dan konsekuensi resiko, sehingga dapat
dipahami bahwa involvement timbul akibat adanya rasa wisatawan
untuk menikmati pelayanan pariwisata. Yuan et al., (2019)
involvement didefiniskan sebagai dorongan dan ketertarikan terhadap
kegiatan tertentu, dimana dorongan dan ketertarikan muncul jika
seseorang mendapatkan dampak positif yang dirasakan sehingga
seseorang dalam evaluasi kegiatan tidak merasakan rasa kecewa pada
saat melakukan perbandingan manfaat dan biaya yang dikeluarkan.
Oleh Xu et al., (2018) involvement ditafsirkan sebagai
keterkaitan hubungan yang dirasakan seseorang sesuai dengan
kebutuhan, nilai dan minat yang berasal dari suatu objek. Gao et al.,
(2020) mendefinisikan involvement sebagai sejauh mana konsumen
terlibat dalam berbagai proses konsumsi yang meliputi jasa, iklan,
pencarian informasi, pemrosesan informasi, pengambilan
keputusan, dan tindakan pembelian.
Suhartanto et al., (2018) mencerminkan variabel involvement
dengan perilaku: am pleased to be involved in tourism activities,
consider tourism activities to be important, get upset when
participation in a tourism activity is poor, feeling a bit lost when
making choices from a variety of tourism activities, and choosing a
tourism activity is rather complicated.
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah disampaikan diatas,
peneliti dapat menyimpulkan definisi involvement adalah sejauh mana
seseorang meluangkan waktunya untuk terlibat dalam proses
pemenuhan kebutuhan berwisata dengan melakukan perbandingan
manfaat dan biaya yang dikeluarkan dengan harapan pada saat
melakukan kunjungan berwisata tidak merasakan rasa kecewa
