Menurut Muhardi (2007:27) “Strategi operasi merupakan salah satu
strategi tingkat fungsional yang krusial, selain strategi pemasaran, keuangan,
sumberdaya manusia, dan strategi tingkat fungsional”. Strategi operasi,
pemasaran, keuangan, sumberdaya manusia, dan lainnya harus mengarah pada
pencipataan nilai terbaik dan inovasi bagi keberhasilan perusahaan dalam jangka
panjang. Sedangkan menurut Krajewski dan Ritzman (1993:22), bahwa
“Operations strategy specifies how operations can achieve the organization’s
overall goals, within the framework of corporate strategy”. Perlu dipahami
bahwa strategi operasi suatu perusahaan secara komprehensif harus
diintegrasikan dengan strategi perusahaan. Karenannya strategi operasi
dirumuskan untuk menentukan kebijakan-kebijakan dan rencana-rencana
penggunaan sumberdaya guna mendukung strategi dengan strategi bersaing
Menurut Chase et al (2002: 24) dalam Muhardi (2007) menyatakan
bahwa strategi operasi meliputi keputusan-keputusan yang berhubungan dengan
desain proses dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung proses
tersebut. Hal ini berarti strategi operasi juga harus didesain untuk mengantisipasi
kebutuhan masa datang. Pernyataan ini memperkuat arti pentingnya strategi
operasi yang perlu dirumuskan untuk tujuan jangka panjang.
Pengertian Strategi (skripsi dan tesis)
Untuk memahami arti penting strategi, dalam hal ini strategi operasi
bagi suatu perusahaan, maka perlu dikemukakan terlebih dahulu berbagai definisi
strategi dari para pakar. Stevenson (2002:45) dalam Muhardi (2007:25-26)
mengartikan sebagai berikut: “Strategy are plans for achieving organizational
goals”. Strategi merupakan rencana untuk mencapai tujuan organisasional. Di
pihak lain, Heizer dan Render (2002:36) menyatakan: “Strategy is an
organization’s action plan to achieve the mission”. Dengan demikian, Heizer dan
Render mendefinisikan strategi sebagai suatu rencana mencapai misi
organisasinya.
Jadi strategi berhubungan dengan rencana yang menentukan arus suatu
organisasi untuk mencapai tujuannya. Dalam lingkup yang lebih luas, strategi
mempengaruhi kemampuan berorganisasi untuk bersaing, kemampuan untuk
melayani dalam mencapai tujuannya. Tanpa strategi, suatu perusahaan tidak akan
terencana dan tidak berjalan dengan baik, artinya tidak akan terarah kemana
perusahaan akan menuju. Strategi yang dibuat tidak hanya sekedar ada tetapi
harus mempunyai nilai yang realistis, jelas, menantang dan berbatas waktu.
Dengan rumusan strategi yang sudah memiliki tidak menjamin tujuan dapat
dicapai, apalagi tanpa strategi, jelas sulit untuk mengarahkan organisasi dalam
mencapai tujuannya.
Menurut Jones dan George (2003:275) dalam Muhardi (2007:27)
“functional-level strategy is a plan of action to improve the ability of an
organization’s departments to create value”. Strategi tingkat fungsional adalah
suatu rencana tindakan untuk meningkatkan kemampuan dari bagian
(departments) dalam suatu organisasi untuk menciptakan nilai. Dengan kata lain,
strategi tingkat fungsional ini merupakan suatu rencana yang menujukkan
bagaimana suatu fungsi intend terhadap pencapaian tujuaannya.
Biaya Lingkungan (skripsi dan tesis)
Biaya lingkungan menurut Hansen dan Mowen (2005:780) adalah
“biaya yang dikeluarkan karena adanya kualitas lingkungan yang buruk
atau karena kualitas lingkungan yang buruk yang mungkin terjadi, dengan
demikian, biaya lingkungan dikaitkan dengan kreasi, deteksi, perbaikan, dan
pencegahan degradasi lingkungan”.
Dengan definisi ini, Hansen dan Mowen (2005: 780-782) dapat
mengklasifikasi biaya lingkungan menjadi empat kategori yaitu:
1. Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention costs)
adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah
26
diproduksinya limbah dan/atau sampah yang menyebabkan
kerusakan lingkungan. Contoh-contoh aktivitas pencegahan adalah
evaluasi dan pemilihan pemasok, evaluasi dan pemelihan alat untuk
megendalikan polusi, desai proses dan produk untuk mengurangi
atau menghapus limbah, melatih pegawai, mempelajari dampak
lingkungan, pelaksanaan penelitian lingkungan, pengembangan
sistem manajemen lingkungan, daur ulang produk, dan pemerolehan
sertifikat ISO 14001 (sertifikasi ISO 14001 diperoleh saat sebuah
organisasi menerapkan sebuah sistem manajemen lingkungan yang
memenuhi standar internasional yang ditetapkan secara khusus.
Standar ini berkaitan dengan prosedur manajemen lingkungan dan
tidak secara langsung menunjukkan tingkat kinerja lingkungan yang
dapat diterima. Oleh karena itu, sertifikasi berfungsi terutama
sebagai sinyal bahwa perusahaan tertarik dan bersedia mempebaiki
kinerja lingkungannya).
2. Biaya deteksi lingkungan (environmental detection costs) adalah
biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan
apakah produk, proses dan aktivitas lainnya diperusahaan telah
memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak. Standar
lingkungan dan prosedur yang diikuti oleh perusahaan didefinisikan
dalam tiga cara yaitu (1) undang-undang dan/atau peraturan
pemerintah (2) standar sukarela (ISO 14001 voluntary standards)
yang dikembangkan oleh International Standards Organization, dan
(3) kebijakan lingkungan yang dikembangkan oleh manajemen.
Contoh-contoh aktivitas deteksi adalah audit aktivitas lingkungan,
pemeriksaan produk dan proses agar ramah lingkungan,
pengembangan ukuran kinerja lingkungan, pelaksanaan pengujian
pencemaran, verivikasi kinerja lingkungan dari pemasok, dan
pengukuran tingkar pencemaran.
3. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure
costs) adalah biaya aktivitas yang dilakukan karena kontaminasi dan
limbah telah diproduksi tapi tidak dibuang ke lingkungan. Dengan
demikian, biaya kegagalan internal dikeluarkan untuk
menghilangkan dan mengelola kontaminasi atau limbah sekali
produksi. Kegiatan kegagalan internal memiliki dua tujuan: (1)
memastikan bahwa kontaminasi dan limbah yang dihasilkan tidak
dilepaskan ke lingkungan dan (2) mengurangi tingkat kontaminasi
yang dilepaskan ke jumlah yang sesuai dengan standar lingkungan.
Contoh-contoh aktivitas kegagalan internal termasuk operasi
peralatan untuk meminimalkan atau menghilangkan polusi, merawat
dan membuang racun, menjaga peralatan polusi, perizinan fasilitas
untuk memproduksi kontaminasi dan bahan daur ulang.
4. Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external
failure costs) adalah biaya aktivitas yang dilakukan setelah
pemakaian kontaminan dan limbah ke lingkungan. Realisasi
kegagalan ekternal biaya adalah biaya yang dikeluarkan dan dibayar
oleh perusahaan. Biaya kegagalan ekternal yang belum direalisasi
(biaya sosial) disebabkan oleh perusahaan namun dikeluarkan dan
dibayarkan oleh pihak-pihak di luar perusahaan. Biaya sosial dapat
diklasifikasikan lebih lanjut sebagai (1) hasil dari degradasi
lingkungan dan (2) hal-hal yang terkait dengan dampak buruk pada
properti atau kesejahteraan individu. Dalam kedua kasus tersebut,
biaya ditanggung oleh orang lain dan bukan oleh perusahaan,
meskipun mereka disebabkan oleh perusahaan.
Dari empat kategori lingkungan yaitu biaya pencegahan lingkungan,
biaya deteksi lingkungan, biaya kegagalan internal lingkungan dan yang terakhir
biaya kegagalan ekternal lingkungan. Kategori kegagalan ekternal adalah yang
paling berbahaya dan menghacurkan.
Terdapat bukti bahwa biaya lingkungan bisa 20% atau lebih dari total
biaya operasi organisasi (Hansen dan Mowen, 2005: 783). Pada sistem akuntansi
konvesiona. Pada sistem akuntansi konvensional, biaya lingkungan seringkali
tersembunyi di biaya overhead pabrik (Burrit et al, 2002), yang menyulitkan
manajer untuk meninjau biaya lingkungan yang sesungguhnya berkaitan dengan
aktivitas organisasi. Dibawah sistem AML, biaya ini diidentifikasi, klasifikasi
dan alokasi, memungkinkan analisis biaya lanjut dan pengurangan biaya yang
mungkin akan terjadi (Bennet et al, 2003; Gibson dan Martin, 2004, dalam
ferreira et al, 2009). Ferreira (2009) menemukan bahwa organisasi yang
menghasilkan laporan sosial dan lingkungan (sustainability reports), mampu
mengembangkan sistem pengendalian internal yang lebih baik. Dia juga
menunjukkan bahwa penghematan biaya pada organisasi ini akan berakibat pada
perbaikan berkelanjutan.
Biaya lingkungan dari proses yang memproduksi, memasarkan, dan
mengirmkan produk serta biaya lingkungan sesudah pembelian yang disebabkan
oleh penggunaan dan pembuangan produk merupakan contoh-contoh biaya
produk lingkungan. Pembebanan biaya lingkungan pada produk dapat
menghasilkan informasi manajerial yang bermanfaat. Dengan membebankan
biaya lingkungan secara tepat, maka akan diketahui apakah suatu produk
menguntungkan atau tidak. Jika tidak menguntungkan, produk tersebut dapat
dihentikan guna mencapai perbaikan yang signifikan dalam kineja lingkungan
dan efisiensi ekonomi
Manfaat Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)
Terdapat beberapa manfaat potensial yang terhubung dalam penerapan
akuntansi manajemen lingkungan. Hal ini termasuk pengurangan biaya (cost
reduction), peningkatan harga produk (improved product pricing), daya tarik
sumber daya manusia (attraction of human resources) dan peningkatan reputasi
(Bennet et al, 2003; Burrit et al, 2002; de Beer et al, 2006; Gibson dan Martin,
2004; Hansen dan Mowen, 2005:778). Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa penerapan akuntansi manajemen lingkungan umumnya akan bermanfaat
bagi organisasi dengan menyediakan informasi berbeda untuk pengambilan
keputusan (Adams dan Zuthsi, 2004; Bennet et al, 2003; Burrit et al., 2002).
Seperti informasi yang mungkin akan mengungkapkan peluang, contohnya
proses pengelolaan limbah yang lebih baik, mengurangi penggunaan energi dan
konsumsi bahan baku atau peluang untuk daur ulang material. Dari sudut
pandang lingkungan informasi seperti ini juga digunakan dalam pengembangan
proses yang lebih efisien dan dengan demikian mengarah kepada inovasi
(Ferreira et al, 2009:923). Sebagai contoh, Hansen dan Mowen (2015)
melaporkan manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh organisasi, seperti Baxter
International and Interface Inc, dari penggunaan akuntansi manajemen
lingkungan (EMA use) menggunakan penghematan masing masing sebesar $14
juta dan $12 juta per tahunnya.
Dalam penggunaannya akuntansi manajemen lingkungan sangat
penting bagi industri. Menurut ikhsan (2009;69) manfaat potensial penerapan
akuntansi manajemen lingkungan diantaranya:
1. “Kemampuan secara akurat meneliti dan megatur penggunaan dan
arus tenaga dan bahan-bahan, termasuk polusi/sisa volume, jenisjenis lain sebagainya.
2. Kemamuan secara akurat mengidentifikasi, mengestimasi,
mengalokasikan, mengatur atau mengurangi, biaya-biaya, khususnya
jenis lingkungan dari biaya-biaya.
3. Informasi yang lebih akurat dan lebih menyeluruh dalam
mendukung, penetapan dari dan keikutsertaan di dalam programprogram sukarel, penghematan biaya untuk memperbaiki kinerja
lingkungan.
4. Informasi yang lebih akurat dan menyeluruh untuk megukur dan
melaporkan kinerja lingkungan, seperti meningkatkan citra
perusahaan pada stakeholder, pelanggan, masyarakat lokal,
karyawan, pemerintah, dan penyedia keuangan.”
Menurut Guide to Corporate Environmental Cost Management (2003),
manfaat dan keuntungan akuntansi manajemen lingkungan terdiri atas:
1. Kepatuhan (Compliance)
Akuntansi manajemen lingkungan mendukung lingkungan lewat
kepatuhan efisiensi biaya dengan regulasi lingkungan dan kebjakan
yang dikenakan sendiri.
2. Eco-Effeciency
Akuntansi manajemen lingkungan mendukung pengurangan
simultan dari biaya-biaya dan dampak lingkungan lewat penggunaan
energi yang lebih efisien, air dan material dalam operasi internal dan
produk akhir.
3. Posisi Strategik (Strategic Position)
Akuntansi manajemen lingkungan mendukung evaluasi dan
implementasi dari program biaya efektif dan lingkungan sensitif
untuk menjamin strategi jangka panjang.
Tujuan Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)
Lingkungan organisasi merupakan variabel yang sangat penting dalam
menentukan strategi bisnis suatu perusahaan. Perubahan lingkungan yang terjadi
mengakibatkan individu, organisasi, dihadapkan pada perubahaan yang dinamis
untuk tetap bertahan dan memiliki inovasi dalam persaingan bisnis (Ellitan,
2008:51). Dalam hal itu secara umum teknik akuntansi manajemen biasanya
tidak memperdulikan buruknya perilaku perusahaan terhadap lingkungan.
Perusahaan-perusahaan yang terintegrasi, multinasional, dan besar cenderung
akan menerapakan Akuntansi Manajemen Lingkungan (AML) dalam proses
akuntansi mereka melalui sejumlah pengidentifikasian terhadap biaya-biaya,
proses bisnis maupun proses produksi, produk-produk, dan jasa. Meskipun
sistem akuntansi konvensional yang ada tidak cukup mampu untuk disesuaikan
pada biaya-biaya lingkungan dan sebagai hasilnya hanya mampu menunjukkan
akun untuk biaya umum tak langung (Rustika, 2011:13).
Akuntansi manajemen lingkungan (AML) dikembangkann untuk
berbagai keterbatasan dalam akuntansi manajemen konvensional. Beberapa poin
berikut ini dapat menjadi alasan mengapa dan apa yang dapat diberikan oleh
AML dibandingkan dengan akuntansi manajemen konvensional (Ikhsan, 2009):
1. Meningkatnya tingkat kepentingan ‘biaya terkait lingkungan’. Seiring
dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, peraturan terkait
lingkungan menjadi semakin ketat sehingga bisnis harus mengeluarkan
investasi yang semakin besar untuk mengakomodasi kepentingan
tersebut. Jika dulu biaya pengelolaan lingkungan relatif kecil, kini
jumlahnya menjadi cukup signifikan bagi perusahaan. Banyak
perusahaan yang kemudian menyadi potensi untuk meningkatkan
efisiensi muncul dan besarnya biaya lingkungan yang harus ditanggung.
2. Lemahnya komunikasi bagian akuntansi dengan bagian lain dalam
perusahaan. Walaupun keseluruhan perusahaan mempunyai visi yang
sama tentang ‘biaya’, namun tiap-tiap departemen tidak selalu mampu
mengkomunikasikannya dalam bahasa yang dapat diterima oleh semua
pihak. Jika di satu sisi bagian keuangan menginginkan efesiensi dan
penekanan biaya, di sisi lain bagian lingkungan menginginkan
tambahan biaya untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Walaupun
ecoefficiency bisa menjadi jembatan antar kepentingan ini, namun kedua
bagian tersebut berbicara dari sudut pandang yang bersebrangan.
3. Menyembunyikan biaya lingkungan dalam pos biaya umum (overhead).
Ketidakmampuan akuntansi tradisional menelusuri dan
menyeimbangakan akuntansi lingkungan dengan akuntansi keuangan
menyebabkan semua biaya dari pengolahan limbah, perizinan dan lainlain digbungkan dalam biaya overhead; sebagai konsekuensinya biaya
overhead menjadi ‘membengkak’.
4. Ketidakpastian alokasi biaya lingkungan sebagai biaya tetap. Karena
secara tradisional biaya lingkungan tersembunyi dalam biaya umum,
pada saat diperlukan, akan menjadi sulit untuk menelusuri biaya
sebenarnya dari proses, produk atau lini produksi tertentu. Jika biaya
umum dianggap tetap, biaya limbah sesungguhnya merupakan biaya
variabel yang mengikuti volume limbah yang dihasilkan berbanding
lurus dengan tingkat produksi.
5. Ketidaktepatan perhitungan atas volume (dan biaya) atas bahan baku
yang terbuang. Berapa sebenarnya biaya limbah? Akuntansi tradisional
akan menghitungnya sebagai biaya pengelolaannya, yaitu biaya
pembuangan atau pengolahan. AML akan mengjhitung biaya limbah
sebagai pengolahan ditambah biaya pembelian bahan baku. Sehingga
biaya limbah yang dikeluarkan lebih besar (sebenarnya) daripada biaya
yang selama ini diperhitungkan.
6. Tidak dihitungnya keseluruhan biaya lingkungan yang relevan dan
signifikan dalam catatan akuntansi. Banyak sekali biaya yang terkait
dengan pengelolaan lingkungan yang seharusnya diperhitungkan
dengan benar agar tidak terjadi kesalahan pengambilan keputusan.
Biaya tersebut umumnya meliputi biaya pengelolaan limbah, biaya
material dan energi, biaya pembelian material dan energi dan biaya
proses.
Definisi Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)
Menurut Ikhsan (2009:49-50) Akuntansi manajemen lingkungan
merupakan sub bagian dari akuntansi lingkungan yang digunakan untuk
menyediakan informasi dalam pengambilan keputusan suatu organisasi,
walaupun informasi yang dihasilkan untuk tujuan yang lain, seperti pelaporan
ekternal, dengan pelaporan dan pengiriman informasi tentang: a.) Informasi
berdasarkan arus bahan dan energi b.) informasi biaya lingkungan c.) Informasi
lainnya yang terukur, dibentuk berdasarkan akuntansi manajemen lingkungan
untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan.
Menurut pernyataan IFAC (2005:13) pengertian Akuntansi manajemen
lingkungan atau environmental management accounting (EMA) adalah:
“akuntansi manajemen lingkungan merupakan istilah yang digunakan
dalam sejumlah konteks yang berbeda termasuk:
1. Penilaian dan pengungkapan informasi keuangan terkait lingkungan
dalam konteks akuntansi dan pelaporan keuangan
2. Penilaian dan penggunaan informasi fisik dan moneter yang berkaitan
dengan lingkungan dalam konteks akuntansi manajemen lingkungan
(AML)
3. Estimasi dampak dan biaya lingkungan luar biasa, sering dianggap
sebagai full cost accounting
4. Akuntanis untuk persediaan dan arus sumber daya alam baik secara
fisik dan moneter, yaitu natural resourcing accounting (NRA)
5. Pelaporan informasi tingkat organisasi, informasi natural resource
accounting dan informasi lainnya untuk tujuan informasi keuangan
eksternal
6. Pertimbangan informasi fisik dan moneter terkait lingkungan dalam
konteks pembangungan keberlanjutan.”
The United Nations Division for Sustainable Development (UNDSD)
(2011) dalam Ikhsan (2009:54) menyediakan suatu definisi yang lain dari
akuntansi manajemen lingkungan. Definisi akuntansi manajemen lingkungan
adalah informasi yang dihasilkan dari sistem akuntansi manajemen lingkungan
untuk pengambilan keputusan internal, dimana informasi dapat berfokus secara
fisiki atau moneter. Dalam pengambilan keputusan internal tersebut terdapat
prosedul akuntansi manajemen lingkungan yang meliputi prosedur secara fisik
untuk material dan pemakian energi, arus dan sisa akhir, dan memoneterisasi
prosedur untuk biaya-biaya, penghematan dan pendapatan yang berhubungan
terhadap aktifitas-aktifitas dengan dampak lingkungan potensial.
Menurut Hansen dan Mowen (2005:778):
“Environmental Management Accounting essentially maintains that
organizations can produce more useful goods and services while
simultaneously reducing negative environmental impacts, resource
consumption, and costs”.
Akuntansi manajemen lingkungan pada dasarnya merupakan gabungan
dari informasi dari akuntansi keuangan dan akuntansi biaya untuk meningkatkan
efisiensi, mengurangi dampak dan resiko lingkungan serta mengurangi biaya
perlindungan lingkungan. (Hansen dan Mowen 2005:778)
Untuk kategori biaya tersebut berbeda dari skema biaya lingkugan
lingkungan, petunjuk diberikan berdasarkan di mana untuk menemukan mereka
dan bagaimana caranya yang sesuai dengan mereka ketika pembelanjaan atau
biaya dinilai.
Kelemahan Analisis Break Even Point (skripsi dan tesis)
Dalam pemakaian atau penggunaan analisis break even point ini
perlu harusnya menyadari bahwa adanya keterbatasan dan kelemahan
yang terkandung dalam analisis break even point ini. Kelemahan dalam
analisis break even point ini adalah sebagai berikut:
a. Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan, padahal
kenyataannya harga ini kadang-kadang harus berubah sesuai dengan
kekuatan permintaan dan penawaran di pasar. Untuk menutupi
kelemahan itu, maka harus dibuat analisis sensitivitas untuk harga
jual yang berbeda.
b. Asumsi terhadap cost, penggolongan biaya tetap dan biaya variabel
juga mengandung kelemahan. Dalam keadaan tertentu untuk
memenuhi volume penjualan biaya tetap tidak bisa atau tidak harus
berubah karena pembelian mesin-mesin atau peralatan lainnya.
Demikian juga perhitungan biaya variabel per unit juga akan dapat
dipengaruhi perubahan ini.
c. Jumlah barang yang dijual tidak selalu satu jenis.
d. Biaya tetap juga tidak selalu tetap pada berbagai kapasitas.
e. Biaya variabel juga tidak selalu berubah sejajar dengan perubahan
volume. (Sofyan Syafri Harahap, 2010:364)
Pengertian Biaya dan Macam-Macam Biaya (skripsi dan tesis)
a. Pengertian Biaya
“Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi,
yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang
kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu”. Ony
Widilestariningtyas (2012:10)
Ada 4 unsur pokok yang terdapat dalam definisi biaya tersebut
yaitu sebagai berikut:
1) Biaya merupakan pengorbanan dari sumber-sumber ekonomi.
2) Diukur dalam satuan mata uang.
3) Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi.
4) Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu. (Ony
Widilestariningtyas, 2012:10)
Dalam analisis break even point, hanya digunakan dua macam
biaya, yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Oleh karena itu, harus
dipisahkan terlebih dulu komponen antara biaya tetap dan biaya
variabel. Artinya mengelompokkan biaya tetap di satu sisi dan
mengelompokkan biaya variabel di sisi lain. Dalam hal ini secara
umum untuk memisahkan kedua biaya ini relatif sulit karena ada
biaya yang tergolong semi variabel dan tetap.
Untuk memisahkan biaya ini dapat dilakukan melalui dua
pendekatan sebagai berikut:
1) Pendekatan analitis, yaitu kita harus meneliti terlebih dulu setiap
jenis dan unsur biaya yang terkandung satu per satu dari biaya
yang ada beserta sifat-sifat biaya tersebut.
2) Pendekatan historis, dalam hal ini yang harus dilakukan terlebih
dulu adalah dengan memisahkan biaya tetap dan biaya variabel
berdasarkan angka-angka dan data biaya di masa lampau.
(Kasmir, 2014:338)
b. Macam-Macam Biaya
1) Biaya tetap (fixed cost)
Biaya ini berhubungan dengan kapasitas atau volume,
karena pemahaman pemisahan biaya dan karakteristiknya
diperlukan dalam membuat perencanaan, pengendalian biaya
dan pembuatan/pengambilan keputusan.
Biaya tetap adalah biaya yang secara total keseluruhan
tidak mengalami perubahan, walaupun ada perubahan pada
volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu). Artinya
dapat dianggap biaya tersebut tetap konstan sampai kapasitas
tertentu saja, biasanya kapasitas produksi yang dimiliki. Namun
untuk kapasitas produksi yang bertambah, biaya tetap juga
menjadi lain. Contoh biaya tetap adalah seperti gaji, penyusutan
aktiva tetap, bunga, sewa atau biaya kantor, dan biaya tetap
lainnya. (Kasmir, 2014:339)
“Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap
dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap adalah
gaji direktur produksi”. Mulyadi (2012:16)
Biaya tetap mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Biaya total yang tidak berubah atau tidak dipengaruhi oleh
periode yang ditentukan atau kegiatan tertentu.
b. Biaya per unitnya berbanding terbalik dengan perubahan
volume, pada volume rendah biaya tetap unitnya tinggi,
sedangkan sebaliknya apabila pada volume yang tinggi
maka biaya tetap per unitnya rendah. (Kamaruddin Ahmad,
2014:87)
2) Biaya variabel (variabel cost)
Biaya variabel adalah biaya yang secara total berubahubah sesuai dengan perubahan volume produksi atau penjualan.
Artinya dapat diasumsikan biaya variabel berubah-ubah secara
sebanding (proporsional) dengan perubahan volume produksi
atau penjualan. Dalam hal ini sulit terjadi dalam praktiknya
karena dalam penjualan jumlah besar akan ada potonganpotongan tertentu, baik yang akan diterima maupun diberikan
perusahaan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku,
upah buruh langsung, dan komisi penjualan biaya variabel
lainnya. (Kasmir, 2014:339)
“Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya
berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh
biaya variabel adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung”. Mulyadi (2010:15)
Biaya variabel mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Total biaya variabel berubah proporsional dengan
perubahan volume/kapasitas, jadi semakin besar kapasitas
yang digunakan maka akan semakin besar pula total biaya
variabel, demikian pula sebaliknya.
b. Per unit biaya berubah (variabel) konstan/tetap. Misalnya
biaya bahan langsung, contoh dimuka biaya pemakaian
bahan langsung, bensin, oli yang dihitung dan tergantung
kilometer yang akan ditempuh. (Kamaruddin Ahmad,
2014:89)
Manfaat dan Tujuan Break Even Point (skripsi dan tesis)
Berikut adalah beberapa manfaat dari break even point atau titik
impas sebagai berikut:
a. Analisis break even point digunakan untuk mengetahui pada titik
berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya. Atau perusahaan
beroperasi dalam kondisi tidak laba dan tidak rugi, atau laba sama
dengan nol.
b. Analisis break even point digunakan untuk mengetahui bagaimana
hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume
kegiatan (penjualan atau produksi). Oleh karena itu, analisis ini juga
sering disebut dengan nama cost profit volume analysis.
c. Analisis break even point digunakan untuk memberikan pedoman
tentang berapa jumlah produk minimal yang harus diproduksi atau
dijual. Artinya dengan memproduksi sejumlah barang dengan
kapasitas produksi yang dimilikinya perusahaan akan tahu batas
minimal yang harus dijual dan keuntungan maksimal yang diperoleh
apabila diproduksi secara penuh.
d. Analisis break even point juga digunakan untuk membantu manajer
perusahaan mengambil keputusan dalam hal aliran kas, jumlah
permintaan (produksi), dan penentuan harga suatu produk tertentu.
Intinya, kegunaan analisis ini adalah untuk menentukan jumlah
keuntungan pada berbagai tingkat penjualan. (Kasmir, 2014:333)
Berikut adalah beberapa tujuan dari break even point atau titik
impas sebagai berikut:
a. Mendesain spesifikasi produk.
b. Menentukan harga jual per satuan produk.
c. Menentukan suatu jumlah produksi atau penjualan minimal agar
perusahaan tidak mengalami kerugian.
d. Memaksimalkan jumlah produksi yang ada.
e. Merencanakan laba telah yang diinginkan. (Kasmir, 2014:334)
Definisi Break Even Point (skripsi dan tesis)
Dalam rangka memproduksi atau menghasilkan suatu produk, baik
barang maupun jasa, perusahaan terkadang perlu terlebih dulu
merencanakan berapa besar laba yang ingin diperoleh. Artinya dalam hal
ini besarnya laba merupakan prioritas yang harus dicapai perusahaan, di
samping hal-hal lainnya. Agar perolehan laba mudah ditentukan, salah
satu cara agar perusahaan mudah menentukan laba adalah perusahaan
tersebut harus mengetahui terlebih dulu berapa break even pointnya.
Artinya perusahaan beroperasi pada jumlah produksi atau penjulan
tertentu sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian ataupun
keuntungan.
Analisis break even point atau yang lebih dikenal dengan nama
istilah analisis titik impas merupakan salah satu analisis keuangan yang
sangat penting dalam perencanaan keuangan suatu perusahaan. Analisis
titik impas ini sering disebut analisis perencanaan laba (profit planning).
Analisis ini biasanya lebih sering cenderung digunakan apabila
perusahaan ingin mengeluarkan suatu produk baru. Artinya dalam
memproduksi produk baru tentu berkaitan dengan masalah biaya yang
harus dikeluarkan, kemudian penentuan harga jual serta jumlah barang
atau jasa yang akan diproduksi atau dijual ke konsumen. (Kasmir,
2014:332)
Dalam rangka penentuan break even point ini, perlu diketahui
beberapa hal yang penting, agar break even point dapat ditentukan
dengan tepat, yaitu:
a. Tingkat keuntungan (laba) yang ingin dicapai dalam suatu periode.
b. Besarnya kapasitas produksi yang tersedia atau yang mungkin dapat
ditingkatkan.
c. Jumlah biaya yang harus dikeluarkan, baik biaya tetap maupun biaya
variabel.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa arti analisis Break
Even Point (titik impas) adalah suatu keadaan di mana perusahaan
beroperasi dalam kondisi tidak memperoleh pendapatan (laba) dan
tidak pula menderita kerugian. Artinya dalam kondisi ini jumlah
pendapatan yang diterima sama dengan jumlah biaya yang
dikeluarkan. Kasmir (2014:333)
“Break Even Point merupakan tingkat aktivitas dimana suatu
organisasi tidak mendapat laba dan juga tidak menderita kerugian”.
Samryn (2012:174)
Persamaan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen (skripsi dan tesis)
a. Keduanya bersandar pada sistem informasi akuntansi yang sama.
Mempunyai dua sistem pengumpulan data berbeda dan
berdampingan. Karena alasan ini akuntansi manajemen
memanfaatkan seluas-luasnya data akuntansi keuangan yang
dihasilkan secara rutin, meskipun akuntansi manajemen memperluas
dan menambah data tersebut.
b. Baik akuntansi keuangan maupun akuntansi manajemen sangat
bersandar pada konsep pertanggungjawaban atau kepengurusan.
Akuntansi keuangan berkaitan dengan kepengurusan perusahaan
secara keseluruhan, sedangkan akuntansi manajemen ini meluas
sampai personalia terakhir dalam organisasi yang mempunyai
tanggung jawab apapun atas biaya. (Kamaruddin Ahmad, 2014:6)
Definisi Akuntansi dan Akuntansi Manajemen (skripsi dan tesis)
“Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa yang fungsinya adalah
menyediakan data kuantitatif, terutama yang mempunyai sifat keuangan,
dari keatuan usaha ekonomiyang dapat digunakan dalam pengambilan
keputusan-keputusan ekonomi dalam memilih alternatif-alternatif dari
suatu keadaan”. Zaki Baridwan (2008:1)
“Akuntansi manajemen adalah bagian dari akuntansi yang
berhubungan dengan identifikasi, pengukuran dan komunikasi informasi
akuntansi kepada internal manajemen yang bertujuan guna perencanaan,
proses informasi, pengendalian operasi dan pengambilan keputusan”.
Kamaruddin Ahmad (2014:6)
Membuat Sendiri atau Membeli Produk (skripsi dan tesis)
Keputusan manajemen untuk membuat sendiri atau membeli dari pihak
ketiga sesuatu produk menurut Ari Purwanti (2013:268) hakikatnya adalah
masalah penggunaan peralatan untuk memproduksi produk yang paling besar
memberikan sumbangan. Adakalanya suatu perusahaan memiliki satu produk
yang lebih laku di pasaran, dengan keterbatasan kapasitas produksi, tenaga kerja
dan faktor-faktor lainnya perusahaan mempertimbangkan biaya relevan jika
membeli produk dari pihak ketiga. Biaya relevan yang menjadi kategori biaya
yang diperhitungkan menurut Ari Purwanti (2013:268) adalah biaya material
langsung, upah langsung, overhead pabrik variabel, dan fixed overhead pabrik
yang dapat dihapuskan (avoidable fixed factory overhead).
L. M. Samryn (2012:329) Biaya relevan atau biaya terhindarkan dalam
keputusan semacam ini dapat diketahui dengan mengeliminasi: (1) biaya
tenggelam, dan (2) biaya masa datang yang akan terus terjadi tanpa
mempertimbangkan apakah suatu produk dibuat sendiri atau dibeli dari luar.
Menurut L. M. Samryn (2012:329) untuk membuat keputusan sendiri atau
membeli dari pemasok luar dapat digunakan kriteria keputusan sebagai berikut:
1. Jika biaya terhindarkan lebih kecil dari harga dari luar, maka
penawaran dari luar ditolak.
2. Jika biaya terhindarkan lebih besar dari harga beli dari luar, maka
penawaran dapat diterima.
3. Jika harga beli dari luar sama dengan biaya terhindarkan maka
keputusan menerima atau menolak dapat didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan tambahan dari manajemen.
Dengan mengaplikasikan analisis biaya relavan terhadap berbagai
keputusan alternatif manajemen akan bisa menilai keputusan terbaik yang dipilih
untuk perusahaan. Sehingga manajemen dapat mengetahui pendapatan dan biaya
relevan dari setiap alternatif yang akan dipilihnya.
Menentukan Laba Pada Keterbatasan Kapasitas (skripsi dan tesis)
Suatu perusahaan dalam kegiatan usahanya biasanya memproduksi lebih
dari satu jenis produk. Berbagai jenis produk dengan pencapaian penjualan
masing-masing produk yang berbeda-beda menjadi fokus manajemen dalam
menjalankan fungsinya untuk mencapai laba yang optimal. Keterbatasan kapasitas
produksi suatu perusahaan menjadi pembatasan dalam pencapaian target laba,
dengan adanya keterbatasan kapasitas memaksa manajemen untuk memilih
produksi produk yang lebih banyak menyumbangkan laba terhadap perusahaan.
Menurut Ari Purwanti (2013:268) “Rancangan produksi, rancangan kapasitas, dan
rancangan keinginan/kebutuhan/daya beli pelanggan merupakan unsur-unsur
penting dalam perolehan laba maksimum.”
Menutup Divisi atau Mengembangkan (skripsi dan tesis)
Dalam menjalankan bisnis perusahaan manajemen dituntut untuk mampu
menekan risiko kerugian semaksimal mungkin. Dalam fungsinya ini manajemen
seringkali mendapati suatu divisi pusat laba atau suatu produk dari berbagai
produk yang dihasilkan perusahaan mengalami penurunan penjualan. Kerugian
suatu segmen akan disubsidi oleh segmen lain yang mendapatkan laba.
Manajemen mungkin saja memutuskan menutup segmen yang mengalami
kerugian, namun sebelumnya manajemen harus mempertimbangkan secara
matang faktor-faktor yang menjadi dasar penutupan segmen ini. L. M Samryn
(2012:336) menjelaskan untuk memutuskan menutup atau mempertahankan
segmen yang rugi secara umum dapat digunakan kriteria keputusan sebagai
berikut:
1. Jika biaya terhindarkan lebih besar dari margin kontribusi
departemen yang ditutup, maka departemen dapat ditutup.
2. Jika biaya terhindarkan lebih kecil dari margin kontribusi
departemen yang ditutup, maka departemen yang rugi sebaiknya
dipertahankan.
3. Jika biaya terhindarkan sama dengan margin kontribusi departemen
yang ditutup, maka manajemen dapat mempertimbangkan
informasi lain untuk menutup atau mempertahankan.
Ari Purwanti (2013:266) mengatakan bahwa “Kerugian suatu divisi pada
umumnya disebabkan oleh perilaku biaya tetap.”
Menurut Ari Purwanti (2013:266) perilaku biaya tetap dapat dalam
bentuk:
1. Biaya tetap yang dapat dihapuskan (avoidable fixed cost) bila suatu
departemen divisi ditutup, misalnya gaji karyawan.
2. Biaya tetap yang tidak dapat dihapuskan (unavoidable fixed
cost)walau departemen/divisi sudah ditutup, misalnya penyesuaian
aktiva tetap departemen/divisi yang bersangkutan, asuransi,
pemeliharaan, biaya manajemen dan lain-lain.
Berdasarkan pendapatan-pendapat diatas sebelum memutuskan
menghentikan suatu segmen manajemen harus mempertimbangkan besar biaya
tetap yang dapat dihapuskan dan pendapat yang akan hilang jika perusahaan
menghentikan suatu segmen. Sehingga perusahaan tidak akan mengalami
kerugian jika suatu segmen dihentikan atau perusahaan tidak akan kehilangan
pendapatan yang lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan dengan
meneruskan segmen tersebut.
Menetapkan Kebijakan Harga (skripsi dan tesis)
Menetapkan harga adalah keputusan yang sangat sulit bagi manajemen,
perubahan biaya akan memiliki dampak pada harga. Ari Purwanti (2013:263)
mengklasifikasikan kebijakan penetapan harga sesuatu produk menjadi tiga yaitu
harga produk baru, adaptasi harga, dan perubahan harga.
Menurut Ari Purwanti (2013:263) pada umumnya kebijakan harga produk baru
adalah:
1. Skimming Pricing, di mana harga mula-mula diputuskan tinggi
dengan tujuan untuk menutup biaya riset dan pengembangan
produk, kemudian secara tahap demi tahap diturunkan disesuaikan
dengan tingkat persaingan.
2. Penetration Pricing, di mana harga mula-mula diputuskan rendah
dengan tujuan merebut dan menguasai pasar, kemudian tahap demi
tahap dinaikkan setelah pelanggan mulai loyal terhadap produk.
Perusahaan-perusahaan yang baru didirikan memilki keputusan yang
berbeda-beda dalam menetapkan harga produk barunya dengan berbagai
pertimbangan masing-masing, namun keduanya memilki tujuan sama yaitu
pencapaian target penjualan dengan harga jual yang diharapkan dapat diterima
oleh masyarakat. Selain itu harga jual juga harus disesuaikan dengan kondisi
lingkungan konsumen, kebijakan seperti ini adalah kerbijakan adaptasi harga
dimana perusahaan menjadikan kondisi lingkungan sebagai dasar dalam
menetapkan harga. Ari Purwanti (2013:263) menyebutkan kebijakan harga
adaptasi terdiri dari:
1. Geographical Pricing; harga harus didasarkan pada daya beli
masyarakat dan biaya transportasi untuk mendistribusikan produk.
2. Price Discount and Allowance; pelanggan yang melakukan
pembelian dalam jumlah banyak, mendapatkan potongan khusus
(special discount).
3. Promotional Pricing; untuk menarik pelanggan baru, produsen
memperkenalkan harga promosi
4. Discriminatory Pricing; daya beli, selera, kebutuhan konsumen
yang beraneka ragam, menjadi dasar untuk menetapkan harga
berbeda-beda karakteristik dan kualitas produk yang berbeda
menentukan harga yang berbeda.
5. Product Mix Pricing; bauran produk dapat dijadikan penetapan
harga.
Dalam menjalankan sebuah bisnis manajemen harus sensitif terhadap
berbagai perubahan terutama yang berpengaruh pada harga, manajemen harus
mampu menyesuaikan harga produk seiring dengan perubahan-perubahan yang
terjadi agar perusahaan dapat mengurangi risiko kerugian dan menambah peluang
mendapatkan keuntungan. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
perubahan harga menurut Ari Purwanti (2013:264) diantaranya:
1. Perubahan nilai tukar mata uang, biasanya disebabkan oleh nilai
ekspor dan impor atau oleh neraca perdagangan (current account).
2. Inflasi, biasanya dalam kondisi ekonomi yang buruk.
3. Perubahan teknologi produksi dan komunikasi.
4. Persaingan.
Kenaikan ekspor yang berakibat pada kenaikan nilai rupiah berakibat juga
pada kenaikan harga-harga produk dalam negeri, kenaikan impor mengakibatkan
keadaan yang sebaliknya dimana harga rupiah turun dan dolar naik ini
mengakibatkan para produsen harus menstabilkan keadaan pasar dengan
menurunkan harga. Kondisi ekonomi inflasi yang identik dengan keadaan
ekonomi yang sulit mengakibatkan naiknya harga-harga produk. Perusahaan
dengan teknologi produksi dan komunikasi yang canggih dapat menghasilkan
produk yang lebih berkualitas dan trend sehingga produsen seperti ini relatif
menetapkan harga yang lebih tinggi dibandingkan produsen dengan teknologi
sederhana. Persaingan antar produsen menjadi faktor yang lebih berpengaruh pada
penetapan harga, dimana produsen berusaha menetapkan harga yang serendahrendahnya untuk bisa menguasai pasar. Penetapan harga dengan faktor persaingan
dikenal juga dengan sebutan penetapan harga predator.
Mowen (2009:93) menyebutkan “Praktik penentuan harga dengan tujuan
merugikan pesaing dan mengeliminasi persaingan disebut penetapan harga
predator.”
Dalam akuntansi manajerial, manajemen menetapkan harga berdasarkan
biaya dengan menghitung biaya produk dan menambah persentase laba yang
diinginkan (Markup). Menurut Mowen (2009:89) ”Markup adalah persentase
yang dibebankan pada biaya dasar, termasuk di antaranya laba yang diinginkan
dan setiap biaya yang tidak termasuk dalam biaya dasar.”
Menolak atau Menerima Order Khusus (skripsi dan tesis)
Adakalanya suatu perusahaan mendapat pesanan order khusus atau
pesanan khusus dengan harga jual dibawah harga jual normal, keadaan ini
menjadi mungkin diterima apabila perusahaan masih memiliki kapasitas
menganggur artinya perusahaan dalam kondisi yang tidak optimal, dimana
perusahaan tidak mampu mencapai target penjualan 100%. Kondisi seperti ini
dapat dimanfaatkanoleh perusahaan dengan menerima pesanan khusus seperti
yang dikatakan Ari Purwanti (2013:260) “Order khusus adalah penjualan yang
harganya dibawah harga pasar karena perusahaan ingin menggunakan kapasitas
menganggu.”
Sedangkan menurut Samryn (2012:333) “Pesanan khusus (special order)
merupakan alternatif pesanan pembelian yang tidak teratur diluar kegiatan
produksi normal perusahaan.”
Order khusus boleh diterima jika order ini dapat menambah laba operasi
dan penjualan order khusus ini harus dipisahkan dari penjualan order reguler.
Menghadapi persoalan seperti ini analisis biaya relevan dapat memberikan
manfaat dalam penyelesaiannya.Beberapa kondisi/asumsi supaya pesanan khusus
dapat dipertimbangkan secara serius menurut Henry (2012:226) adalah :
1. Terdapat kelebihan kapasitas produktif, tanpa adanya alternatif
penggunaan kelebihan kapasitas itu. Biaya kesempatan untuk
penggunaan kapasitas berlebih adalah nol atau sangat rendah.
2. Penjualan khusus tidak boleh mengganggu penjualan reguler.
Penjualan khusus harus berasal dari segmen pasar yang berbeda
dengan yang biasanya dilayani oleh perusahaan.
3. Penjualan khusus adalah pesanan sekali waktu dan tidak boleh
menjadi bisnis yang berulang-ulang (teratur).
Aplikasi Biaya Relevan dalam Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)
Ada sejumlah contoh untuk menjelaskan penggunaan biaya relevan dalam
pengambilan keputusan yang bersifat taktis seperti membuat atau membeli
komponen dari luar, melanjutkan atau meneruskan suatu segmen atau produk,
menerima pesanan khusus di bawah harga normal, memproses produk bersama
lebih lanjut atau menjualnya pada saat pemisahan dan sebagainya. Keputusankeputusan tersebut merupakan keputusan khusus.
Menurut Ari Purwanti (2013:259) “Keputusan khusus adalah keputusan
yang hanya kadangkala saja dibuat.”
Adapun lima keputusan khusus tersebut menurut Ari Purwanti (2013:259):
1. Menolak atau menerima order khusus
2. Menetapkan kebijakan harga
3. Menutup divisi atau mengembangkan
4. Menetapkan laba pada keterbatasan kapasitas
5. Membeli sendiri atau membeli produk
Pengertian Biaya Relevan (skripsi dan tesis)
Biaya merupakan unsur utama yang diperhitungkan dalam pemilihan
alternatif. Alternatif dengan biaya yang lebih murah akan dipilih oleh manejer.
Dalam memilih di antara dua alternatif, diperlukan pertimbangan pendapatan dan
biaya relavan.
Menurut Ari Purwanti (2013:259) “Biaya relevan adalah biaya masa
mendatang dalam berbagai alternatif untuk mengambil keputusan.”
Untuk menjadi relevan, suatu biaya tidak hanya menjadi biaya mendatang,
tetapi biaya tersebut harus berbeda antara satu alternatif dengan lainnya. Jika
biaya mendatang sama untuk satu alternatif, ia tidak mempunyai dampak terhadap
keputusan. Biaya demikian merupakan biaya tidak relevan. Kemampuan untuk
mengidentifikasi biaya relevan dan tidak relevan adalah keahlian pengambilan
keputusan yang penting.
Menurut L. M. Samryn (2012:259) “Pengambilan keputusan dengan
menggunakan konsep biaya relevan umumnya digunakan untuk keputusan tingkat
taktis sebagai penjabaran dari keputusan strategis dari manajemen puncak.”
Menurut Ari Purwanti (2013:259) “Salah satu tugas pokok manajer adalah
membuat keputusan berdasarkan informasi akuntansi yang relevan.” Adapun
fungsi utama dari seorang manajer adalah membuat perencanaan mengenai
kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang. Perencanaan pada dasarnya
adalah pengambilan keputusan, karena perencanaan tersebut dilakukan dengan
cara memilih berbagai alternatif yang ada yang dapat memaksimalkan keuntungan
perusahaan. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat maka manajer
memerlukan informasi yang tepat pula. Jika keputusan tersebut akan
mengakibatkan perubahan pendapatan dan perubahan biaya maka manejer harus
mendapatkan informasi tentang pendapatan dan biaya deferensial untuk
meramalkan pengaruhnya biaya tersebut terhadap laba perusahaan.
Pada keputusan yang hanya mengakibatkan perubahan biaya, maka
keputusan yang paling menguntungkan adalah keputusan yang menghasilkan
biaya yang paling rendah. Untuk mengetahui biaya yang paling rendah dari
berbagai alternatif maka dalam proses pengambilan keputusan adalah
membandingkan biaya dari berbagai alternatif. Masalahnya adalah berapa biaya
relevan yang berhubungan dengan suatu alternatif? Relevansi biaya terhadap suatu
keputusan tergantung keadaan atau kondisi saat diambilnya keputusan. Mungkin
suatu jenis biaya merupakan biaya relevan dalam suatu keputusan tetapi tidak
relevan didalam keputusan yang lain. Biaya relevan merupakan semua biaya yang
akan mempengaruhi suatu pengambilan keputusan dan karena itu harus
dipertimbangkan di dalam pengambilan keputusan.
Menurut L.M Samryn (2012:324) Dua kriteria biaya relevan :
1. Diperkirakan akan terjadi pada masa yang datang. Dari sisi
pandang ini biaya relevan merupakan biaya-biaya taksiran.
2. Berbeda di antara berbagai alternatif yang dipertimbangkan. Suatu
biaya dapat dikategorikan sebagai biaya relevan jika sudah menjadi
unsur masuk dalam sebagai item yang diperbandingkan di antara
alternatif yang tersedia.
L. M. Samryn (2012:324) Termasuk dalam biaya relevan adalah biaya
diferensial, biaya tambahan, biaya kesempatan, biaya terhindarkan, dan biaya
yang dapat dikendalikan.
Biaya diferensial menurut L. M. Samryn adalah “Perbedaan atau selisih
biaya antara dua alternatif atau lebih. Misalnya dalam keputusan investasi yang
akan mengurangi biaya tenaga kerja langsung, maka dalam kasus ini biaya tenaga
kerja langsung termasuk dalam biaya diferensial.
Biaya tambahan (incremental cost) menurut L. M. Samryn adalah
“Kenaikan atau tambahan biaya yang akan terjadi karena memilih suatu
alternatif.” Biaya tambahan biasanya terjadi pada alternatif pesanan khusus
dimana suatu perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan dengan adanya
pesanan khusus tersebut.
Pendapatan diferensial menurut Henry Simamora (2012:220) adalah
“Pendapatan antara pendapatan relevan dari beberapa alternatif”. L. M. Samryn
(2012:325) Perbedaan pendapatan umumnya berupa incremental revenue atau
suatu kenaikan atau tambahan pendapatan karena memilih suatu alternatif.
L. M. Samryn (2012:324) mengatakan “Biaya kesempatan (opportunity
cost) yaitu potensi perolehan keuntungan berupa pendapatan atau penghematan
biaya yang hilang karena memilih suatu alternatif”
Henry Simamora (2012:222) biaya terhindarkan (avoidable cost) adalah
“Biaya yang dapat dihilangkan (sebagian atau seluruhnya) akibat memilih salah
satu alternatif ketimbang alternatif lain dalam situasi pengambilan keputusan.”
L. M. Samryn (2012:325) untuk mengidentifikasi biaya-biaya yang dapat
dihindarkan, maka dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Kumpulkan setiap biaya yang berhubungan dengan tiap alternatif
yang sedang dipertimbangkan.
2. Eliminasi biaya-biaya yang merupakan biaya tenggelam
3. Eliminasi biaya-biaya yang tidak berbeda di antara berbagai
alternatif
4. Buat keputusan berdasarkan biaya-biaya yang tersisa. Biaya-biaya
ini akan menjadi biaya diferensial, oleh karena itu relevan
dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan yang akan diambil.
Henry Simamora (2012:222) biaya tak terhindarkan (unavoidable cost)
adalah “Biaya yang terus berlanjut meskipun suatu kegiatan dihentikan.” Biaya
tak terhindarkan meliputi biaya-biaya bersama dari beberapa departemen. Henry
Simamora (2012:222) Semua biaya dianggap terhindarkan, kecuali biaya tertanam
dan biaya masa depan yang tidak berbeda di antara alternatif-alternatif yang
tersedia. Biaya tertanam bukan merupakan biaya relevan karena biaya relevan
tidak memengaruhi biaya di masa yang akan datang, contoh dari biaya tertanam
adalah nilai buku suatu investasi. Nilai buku dari suatu investasi adalah biaya
masa lalu yang akan selalu sama pada setiap alternatif.
Dalam membuat keputusan, manajer membandingkan alternatif-alternatif
yang ada di hadapannya. Setiap alternatif sudah tentu mengandung biaya-biaya
yang perlu dibandingkan dengan biaya-biaya alternatif lainnya. MenurutL. M.
Samryn (2012:325) pengelompokan biaya-biaya sebagai biaya relevan dan biaya
tidak relevan diperlukan oleh manajemen untuk dua alasan :
1. Penggunaan biaya yang tidak relevan yang bercampur dengan
biaya relevan dapat mengaburkan perhatian dan pengambilan
keputusan dari hal-hal yang sebenarnya kritis bagi masalah yang
sedang dihadapi.
2. Hanya sedikit informasi yang tersedia secara terperinci dalam
menyediakan laporan laba-rugi. Dalam laporan laba-rugi
konvensional biaya-biaya dikelompokkan menurut fungsi-funsi
organisasi, bukan menurut tujuan keputusan taktis.
Pengambilan Keputusan Taktis (skripsi dan tesis)
Mowen (2009:64) mengatakan “Pengambilan keputusan taktis terdiri atas
pemilihan di antara berbagai alternatif dengan hasil yang langsung atau terbatas.”
Menurut pendapat diatas pengambilan keputusan taktis memiliki arti bahwa
keputusan ini merupakan keputusan jangka pendek namun tidak hanya dibuat
untuk mencapai tujuan terbatas tetapi memiliki tujuan jangka panjang.
L. M. Samryn (2012:322) Langkah-langkah keputusan taktis dengan
konsep biaya relevan dapat diurutkan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi dan menetapkan masalah. Misalnya sebuah
perusahaan menghadapi masalah kebutuhan meningkatkan volume
produksi untuk mengatasi permintaan yang meningkat.
2. Mengidentifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah yang
mungkin mengeliminasi alternatif yang secara jelas tidak fleksibel.
3. Mengidentifikasi biaya-biaya dan keuntungan yang berhubungan
dengan alternatif yang fisibel. Mengelompokkan biaya-biaya dan
keuntungan sebagai unsur relevan dan mengeliminasi faktor-faktor
yang tidak relevan dari pertimbangan.
4. Menjumlahkan biaya dan keuntungan yang relevan untuk setiap
alternatif keputusan.
5. Menilai faktor-faktor kualitatif
6. Membuat keputusan dengan memilih alternatif yang memberikan
keuntungan paling besar.
Perilaku Biaya (skripsi dan tesis)
Dalam upaya peningkatan volume penjualan pemahaman mengenai
bagaimana biaya-biaya berubah sebagai akibat dari perubahan-perubahan aktivitas
bisnis sangatlah bermanfaat bagi manajer, maka manajemen harus mampu
menaksir biaya keluaran yang mungkin akan meningkat, untuk membuat estimasi
seperti itu, manajemen perusahaan perlu mengetahui jenis biaya yang terlibat dan
bagaimana biaya tersebut berperilaku manakala aktivitas berubah.
Menurut Bustami (2009:7) bahwa: “Perilaku biaya dapat diartikan sebagai
perubahan biaya yang terjadi akibat perubahan dari aktivitas bisnis”.
Perilaku biaya merupakan hal yang sangat penting bagi suatu organisasi
dalam beberapa pengambilan keputusan. Manajer yang handal harus mampu
memahami tentang perilaku biaya dengan baik sehingga bisa mengambil
keputusan secara tepat dan akurat. Manajer yang tidak mampu memahami tentang
perilaku biaya tentu akan mengalami kendala dalam pengambilan keputusan,
terutama keputusan yang berhubungan dengan produk, perencanaan, pengendalian
biaya, dan mengevaluasi kinerja.
Menurut Mowen (2009:56) “Biaya dikelompokkan dalam dua kategori
fungsional utama: produksi dan non produksi.
Yang dimaksud dengan biaya produksi adalah biaya yang langsung
berkaitan dengan produksi suatu perusahaan baik produk barang maupun jasa,
sedangkan yang dimaksud dengan biaya non produkasi adalah biaya yang tidak
berkaitan secara langsung dengan produksi seperti biaya pengembangan,
pemasaran dan administrasi
Seperti yang dikatakan Mowen (2009:57) dalam pelaporan keuangan
eksternal hanya ada tiga elemen biaya yang dapat dibebankan kepada produk yaitu
biaya bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead.
1. Biaya bahan langsung adalah biaya bahan yang secara langsung dapat
ditelusuri dalam proses pembuatan suatu produk barang ataupun jasa.Sebagai
contoh kain pada pakaian, pengobatan dokter, tepung pada kue dan lain
sebagainya.
2. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung mengolah
suatu produksi sampai produk tersebut memiliki nilai jual.Sebagai contoh koki
pada restoran, dokter pada balai pengobatan, tukang jahit pada perusahaan
konveksi dan lain sebagainya.
3. Overhead adalah semua biaya produk diluar biaya langsung dan tenaga kerja
langsung. Seperti biaya listrik pabrik, bahan penolong, pemeliharaan mesin
pabrik dan lain sebagainya.
Pengertian Biaya (skripsi dan tesis)
Dalam mempelajari akuntansi manajemen,kita perlu memahami arti dari
cost atau biaya. Pembebanan cost pada produk atau jasa untuk kepentingan
manajemen merupakan tujuan utama sistem informasi manajemen. Sasarannya
adalah untuk meningkatkan ketelitian pembebanan, informasi biaya produksi, dan
tingkat kualitas yang diharapkandapat digunakan sebagai dasar untuk membuat
keputusan yang lebih baik.
Mowen (2009:47) “Biaya adalah kas atau nilai setara kas yang
dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi
manfaat saat ini atau masa depan bagi organisasi”
Disebut setara kas karena aset non kas dapat ditukar untuk barang atau jasa
yang di inginkan. Misalnya, untuk menghasilkan suatu produkdiperlukan bahan
baku yang digunakan dalam produksi. Dalam dunia bisnis, semua aktivitas dapat
diukur dengan satuan uang yang lazimnya disebut biaya. Aktivitas itu merupakan
pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran, material untuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
Menurut Mursyidi (2008:14) “Biaya diartikan sebagai suatu pengorbanan
yang dapat mengurangi kas atau harta lainnya untuk mencapai tujuan, baik yang
dapat dibebankan pada saat ini maupun pada saat yang akan datang”.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, terdapat 4 (empat) unsur pokok,
yaitu:
1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi
2. Diukur dalam satuan uang
3. Yang telah terjadi atau secara potensial akan terjadi
4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.
Pengertian Akuntansi Manajemen (skripsi dan tesis)
Akuntansi manajemen memegang peranan penting dalam penyajian
informasi yang dibutuhkan oleh manajemen, dimana akuntansi manajemen
mendukung tugas manajemen dalam perencanaan, koordinasi dan pengendalian.
Pengertian akuntansi manajemen diungkapkan oleh L.M. Samryn (2012:4)
yang menyatakan bahwa:
Akuntansi manajemen merupakan bidang akuntansi yang berfokus
pada penyediaan, termasuk pengembangan dan penafsiran informasi
akuntansi bagi para manajer untuk digunakan sebagai bahan
perencanaan, pengendalian operasi dan dalam pengambilan keputusan.
Sedangkan pengertian akuntansi manajemen menurut Henry Simamora
(2012:13) adalah:
Akuntansi manajemen adalah proses pengidentifikasian, pengukuran,
penghimpunan, penganalisisan, penyusunan, penafsiran, dan
pengkomunikasian informasi keuangan yang digunakan oleh
manajemen untuk merencanakan, mengevaluasi, dan mengendalikan
kegiatan usaha di dalam sebuah organisasi, serta untuk memastikan
penggunaan dan akuntabilitas sumber daya yang tepat.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
akuntansi manajemen adalah suatu proses akuntansi untuk menghasilkan
informasi keuangan yang berorientasi ke masa depan, akuntansi manajemen
digunakan oleh pihak internal perusahaan atau manajemen perusahaan sebagai
dasar manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsinya.
Mowen (2009:11) mengemukakan perbedaan antara akuntansi keuangan
dan akuntansi manajemen
Pengertian Akuntansi v
Dalam dunia usaha Akuntansi mempunyai peranan yang sangat penting,
baik dalam perusahaan jasa maupun dagang,informasi akuntansi digunakan
sebagai alat perencanaan, pengawasan maupun sebagai dasar pengambilan
keputusan.
Pengertian akuntansi, menurut L. M. Samryn (2012:4), secara umum
pengertian akuntansi adalah “Suatu proses identifikasi, pengukuran, dan
pengomunikasian informasi yang menghasilkan informasi yang berguna bagi
pembuatan kebijakan dan keputusan oleh pemakainya.”
Menurut Mowen (2009:9) “Sistem informasi akuntansi pada suatu
organisasi memiliki dua subsistem utama, yaitu sistem akuntansi manajemen dan
sistem akuntansi keuangan.”
Akuntansi manajemen lahir akibat adanya kebutuhan akan informasi
akuntansi yang dapat membantu manajemen dalam memimpin suatu perusahaan
agar terus berkembang di tengah persaingan yang semakin kompleks.
Aplikasi Biaya Relevan Dalam Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)
Hansen dan Mowen (2006:76), menyatakan bahwa aplikasi biaya relevan
dalam pengambilan keputusan adalah:
1. Keputusan Membuat Atau Membeli
Tujuan dari keputusan ini adalah penggunaan optimal atas sumber daya
produksi dan keuangan perusahaan. Pengambilan keputusan sering kali
harus dilakukan dalam hubungannya dengan penggunaan yang mungkin
dari peralatan yang menanggur, ruang yang menganggur, dan bahkan
tenaga kerja yang menganggur.
2. Keputusan Meneruskan Atau Menghentikan
Manajer harus memutuskan apakah suatu segmen, seperti lini produk,
harus dipertahankan atau dihapus. Laporan segmen yang disusun atas
dasar perhitungan biaya variabel menyediakan informasi yang berharga
bagi keputusan meneruskan atau menghentikan (keep or drop decision)
ini. Margin kontribusi segmen dan margin segmennya sendiri
bermanfaat dalam mengevaluasi kinerja segmen. Namun, sementara
laporan segmen menyediakan informasi berharga untuk keputusan
meneruskan atau menghentikan, perhitungan biaya relevan
menggambarkan bagaimana informasi tersebut harus digunakan agar
sampai pada keputusan.
3. Keputusan Pesanan Khusus
Harga penawaran dapat berbeda untuk pelanggan dari pasar yang sama,
dan perusahaan sering mendapat kesempatan untuk mempertimbangkan
pesanan khusus dari calon pelanggan dalam pasar yang dilayani dengan
cara yang tidak seperti biasanya. Keputusan pesanan khusus berfokus
pada pertanyaan: apakah pesanan harga khusus harus diterima atau
ditolak. Pesanan-pesanan seperti ini menarik, khususnya ketika
perusahaan sedang beroperasi di bawah kapasitas produktif
maksimumnya.
4. Keputusan Menjual Atau Memproses Lebih Lanjut
Seringkali produk gabungan dijual pada titik pemisahan. Kadangkala
lebih menguntungkan mempross lebih lanjut suatu produk gabungan,
setelah titik pemisahan, sebelum menjualnya. Penentuan apakah akan
menjual atau memproses lebih lanjut merupakan suatu keputusan
penting yang harus dibuat oleh manajer.
Menurut Garrison, dkk (2007:331), untuk mengidentifikasi biaya yang
dapat dihindari dalam pengambilan keputusan tertentu dan apakah biaya tersebut
relevan atau tidak, dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini:
1. Hilangkan biaya dan manfaat yang tidak berbeda di antara berbagai
alternatif. Biaya tidak relevan ini terdiri atas biaya tertanam dan biaya
masa depan yang tidak berbeda diantara berbagai alternatif. Biaya
tertanam adalah biaya yang telah terjadi dan tidak dapat dihindari, apa
pun keputusan yang dibuat oleh manajer.
2. Gunakan biaya dan manfaat yang tersisa yang berbeda di antara
berbagai alternatif dalam pengambilan keputusan. Biaya yang tersisa
tersebut adalah biaya diferensial atau biaya yang dapat dihindari.
Model Pengambilan Keputusan Taktis (skripsi dan tesis)
Hansen Mowen (2006:335) menjelaskan langkah-langkah proses
pengambilan keputusan taktis sebagai berikut:
1. Kenali dan definisikan masalah.
2. Identifikasi setiap alternatif sebagai solusi yang layak atau masalah
tersebut dan eliminasi alternatif yang secara nyata tidak layak.
3. Identifikasi biaya dan manfaat yang berkaitan dengan setiap alternatif
yang layak. Klasifikasikanlah biaya dan manfaat sebagai relevan atau
tidak relevan serta eliminasilah biaya dan manfaat yang tidak relevan
dari pertimbangan.
4. Hitunglah total biaya dan manfaat yang relevan dari masing-masing
alternatif.
5. Nilailah faktor-faktor kualitatif.
6. Pilihlah alternatif yang menawarkan manfaat terbesar secara
keseluruhan.
Menurut Siregar, dkk (2013:358) menyatakan bahwa proses pembuatan
keputusan adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi masalah.
2. Mengidentifikasi setiap alternatif sebagai solusi yang tepat atas masalah
tersebut; mengeliminasi alternatif yang secara tidak layak.
3. Mengidentifikasi biaya dan manfaat yang berkaitan dengan setiap
alternatif yang layak, relevan, serta mengeliminasi yang tidak relevan
dari pertimbangan.
4. Menjumlahkan biaya dan manfaat yang relevan dari masing-masing
alternatif.
5. Menilai faktor-faktor kualitatif
6. Memilih alternatif yang memberi manfaat terbesar.
Biaya dalam Pembuatan Keputusan (skripsi dan tesis)
Pembuat keputusan membutuhkan informasi yang tepat sebelum
menetapkan suatu keputusan. Informasi tersebut dapat diperoleh dari akuntansi
manajemen. Informasi yang diperlukan adalah informasi yang relevan untuk
proses pembuatan keputusan. Siregar, dkk (2013:55-58) menyatakan biaya-biaya
yang dapat digunakan untuk membuat keputusan adalah sebagai berikut:
1. Biaya Relevan dan Pendapatan Relevan
Biaya relevan (relevant cost) adalah biaya masa depan yang berbeda
antara satu alternatif dan alternatif lainnya. Kriteria biaya relevan yaitu:
a. Biaya masa depan. Biaya masa depan berarti biaya tersebut belum
terjadi
b. Biaya berbeda antar-alternatif. Biaya yang berbeda antar-alternatif
berarti bahwa sutau elemen biaya tertentu tidak memiliki jumlah
yang sama antara satu alternatif dengan alternatif lainnya. Biaya
berbeda ini antar-alternatif disebut juga biaya diferensial.
2. Biaya Diferensial dan Pendapatan Diferensial
Biaya diferensial adalah biaya yang berbeda antar-alternatif keputusan.
Biaya diferensial dapat berupa kenaikan atau penurunan biaya.
Pendapatan diferensial adalah pendapatan yang berbeda antar-alternatif
keputusan. Pendapatan diferensial dapat berupa kenaikan atau
penurunan pendapatan.
3. Biaya Kesempatan
Biaya kesempatan (opportunity cost) adalah manfaat yang dikorbankan
saat satu alternatif keputusan dipilih dan mengabaikan alternatif lain.
4. Biaya Terbenam
Biaya terbenam (sunk cost) adalah biaya yang sudah terjadi dan
keputusan masa depan tidak lagi dapat mengubah biaya tersebut.
Klasifikasi Biaya (skripsi dan tesis)
Mulyadi (2010:13-16), menjelaskan biaya dapat digolongkan menjadi lima
golongan sebagai berikut:
1. Objek Pengeluaran. Nama objek pengeluaran merupakan dasar
penggolongan biaya. Misalnya nama objek pengeluaran adalah bahan
bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan
bakar disebut “biaya bahan bakar”.
2. Fungsi Pokok dalam Perusahaan. Dalam perusahaan manufaktur,
biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga keiompok:
a. Biaya Produksi, secara garis besar biaya produksi ini dibagi
menjadi: biaya bahan baku, biaya tenaga keria langsung, dan biaya
overhead pabrik.
b. Biaya Pemasaran, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk
melaksanakan kegiatan pemasaran produk.
c. Biaya Administrasi dan Umum, merupakan biaya-biaya untuk
mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk.
3. Hubungan Biaya dengan Sesuatu Yang Dibiayai. Dalam hubungannya
dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompok menjadi dua
golongan, yaitu:
a. Biaya Langsung (direct cost) dalam kaitannya dengan produk,
biaya langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung.
b. Biaya Tidak Langsung atau biaya overhead pabrik.
4. Perilaku dalam Kaitannya dengan Perubahan Volume Kegiatan, biaya
dibagi menjadi 4, yaitu:
a. Biaya Variabel (variable cost) adalah biaya yang jumlah totalnya
berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
b. Biaya Semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding
dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel
mengandung unsur biaya tetap dan biaya variabel.
c. Biaya Semi Fixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume
kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada
volume produksi tertentu.
d. Biaya Tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlah totalnya tetap
dalam kisar volume kegiatan tertentu.
5. Jangka Waktu Manfaatnya, biaya dibagi 2 bagian, yaitu:
a. Pengeluaran Modal (Capital Expenditure) adalah biaya yang
mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya
periode akuntansi adalah satu tahun kalender).
b. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure) adalah biaya yang
hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya
pengeluaran tersebut.
Menurut Siregar, dkk (2013:36-38), pada dasarnya biaya dapat
diklasifikasi berdasarkan:
1. Biaya berdasarkan Ketertelusuran
Berdasarkan ketertelusuran biaya ke produk, biaya dapat digolongkan
menjadi dua yaitu:
a. Biaya langsung (direct cost)
Biaya langsung adalah biaya yang dapat ditelusur ke produk.
b. Biaya tidak langsung (inderect cost)
Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak dapat secara
langsung ditelusur ke produk.
2. Biaya Berdasarkan Perilaku
Berdasarkan perilakunya biaya dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Biaya variabel (variabel cost), adalah biaya yang jumlah totalnya
berubah sebanding dengan perubahan tingkat aktivitas.
b. Biaya tetap (fixed cost), adalah biaya yang jumlahnya tidak
terpengaruh oleh tingkat aktivitas dalam kisaran tertentu.
c. Biaya campuran (mixed cost), adalah biaya yang memiliki
karakteristik biaya variabel dan sekaligus biaya tetap.
3. Biaya Berdasaarkan Fungsi
Berdasarkan fungsi pokok perusahaan, biaya dapat diklasifikasi
menjadi tiga.
a. Biaya produksi (production cost)
b. Biaya pemasaran (marketing expense)
c. Biaya administrasi dan umum (general and administrative expense)
4. Biaya Berdasarkan Elemen Biaya Produksi
Berdasarkan fungsi produksi, biaya dapat diklasifikasikan
menjaditiga, yaitu:
a. Biaya bahan baku (raw material cost)
b. Biaya tenaga kerja langsung dan tidak langsung (direct labour cost)
c. Biaya overhead pabrik (manufacture overhead cost), semua biaya
produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
Hansen dan Mowen (2006:50-51) mengklasifikasikan biaya kedalam dua
kategori fungsional utama, antara lain:
1. Biaya produksi.
a. Bahan langsung, dapat langsung dibebankan ke produk karena
pengamatan fisik dapat digunakan untuk mengukur kuantitas yang
dikonsumsi oleh setiap produk.
b. Tenaga kerja langsung, seperti halnya biaya bahan langsung,
pengamatan fisik dapat digunakan dalam mengukur kuantitas
karyawan yang digunakan dalam memproduksi suatu produk dan
jasa.
c. Overhead, semua biaya produksi selain dari bahan langsung dan
tenaga kerja langsung dikelompokkan ke dalam satu kategori yang
disebut ongkos overhead.
2. Biaya non produksi.
a. Biaya penjualan atau pemasaran, adalah biaya yang diperlukan
dalam memasarkan, mendistribusikan dan melayani produk atau
jasa.
b. Biaya administrasi, merupakan seluruh biaya yang berkaitan
dengan penelitian, pengembangan dan administrasi umum pada
organisasi yang tidak dapat dibebankan ke pemasaran ataupun
produksi.
Carter (2009:68) menjelaskan klasifikasi biaya sebagai berikut:
1. Biaya tetap
Biaya tetap didefinisikan sebagai biaya yang secara total tidak
berubah ketika aktivitas bisnis meningkat atau menurun.
2. Biaya variabel
Biaya variabel didefinisikan sebagai biaya yang totalnya meningkat
secara proporsional terhadap peningkatan dalam aktivitas dan
menurun secara proporsional terhadap penurunan dalam aktivitas.
3. Biaya semi variabel
Biaya semi variabel didefinisikan sebagai biaya yang memperlihatkan
baik karakteristik-karakteristik biaya tetap maupun biaya variabel.
Berdasarkan uraian di atas mengenai klasifikasi atau penggolongan biaya,
dapat dinyatakan bahwa klasifikasi biaya ditujukan untuk mempermudah
manajemen dalam melakukan pengendalian terhadap biaya-biaya produksi.
Pengklasifikasian biaya ini juga memberikan informasi biaya yang berguna untuk
menentukan baik harga pokok produksi maupun harga pokok penjualan suatu
produk.
Pengertian Biaya (skripsi dan tesis)
Menjalankan usaha membutuhkan biaya yang harus dikeluarkan agar
perusahaan mampu terus beraktifitas. Biaya sendiri merupakan hal yang sangat
penting dan tidak terpisahkan dalam menentukan harga pokok produksi. Dengan
biaya, perusahaan juga dapat menentukan laba yang akan diperoleh perusahaan.
Biaya dalam akuntansi diartikan dalam dua pengertian yang berbeda, yaitu biaya
dalam artian cost dan biaya dalam artian expense.
Bustami dan Nurlela (2010:7-8) menjelaskan pengertian biaya (cost) dan
beban (expense) adalah sebagai berikut:
Biaya atau cost adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam
satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk
mencapai tujuan tertentu. Biaya ini belum habis masa pakainya, dan
digolongkan sebaga aktiva yang dimasukkan dalam neraca. Sedangkan
beban atau expense adalah biaya yang telah memberikan manfaat dan
sekarang telah habis. Biaya yang belum dinikmati yang dapat memberikan
manfaat di masa akan datang dikelompokkan sebagai harta. Biaya ini
dimasukkan ke dalam Laba-Rugi sebagai pengurangan dari pendapatan.
Menurut Siregar, dkk (2013:23), biaya adalah kos barang atau jasa yang
telah memberikan manfaat yang digunakan untuk memperoleh pendapatan. Hal
ini sependapat dengan yang diungkapkan oleh Hansen dan Mowen (2006:40)
bahwa:
Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk
mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini
atau di masa datang bagi organisasi. Biaya dikeluarkan untuk
mendapatkan manfaat di masa depan. Jika biaya telah digunakan untuk
menghasilkan pendapatan, maka biaya tersebut dinyatakan kadaluwarsa.
Biaya yang kadaluwarsa disebut beban (expense).
Selain itu, mulyadi (2010:8) juga mendefinisikan biaya sebagai berikut:
Biaya (cost) dalam arti luas dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber
ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, atau yang
mungkin akan terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan
tertentu.
Berdasarkan definisi para ahli di atas dapat dinyatakan bahwa biaya adalah
pengorbanan secara ekonomis berupa kas yang digunakan untuk memperoleh
suatu barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat dan keuntungan
pada saat ini atau pada masa yang akan datang.
Pengertian Akuntansi Manajemen (skripsi dan tesis)
Setiap usaha, baik usaha kecil maupun usaha besar membutuhkan
informasi akuntansi yang bearguna bagi pihak manajemen. Informasi akuntansi
dapat dijadikan alat untuk pengawasan maupun sebagai dasar pengambilan
keputusan. Seorang manajer membutuhkan informasi akuntansi manajemen dalam
proses pengambilan keputusan karena informasi manajemen memiliki cakupan
yang luas tidak hanya menyangkut masalah keuangan tetapi juga masalah non
keuangan.
Rudianto (2013:9) menjelaskan bahwa pengertian akuntansi manajemen
adalah sistem akuntansi dimana informasi yang dihasilkannya ditujukan kepada
pihak-pihak internal organisasi, seperti manajer keuangan, manajer produksi,
manajer pemasaran, dan sebagainya guna pengembalian keputusan internal
organisasi.
Menurut Hansen dan Mowen (2006:9) akuntansi manajemen merupakan
alat untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasi, dan
melaporkan informasi yang bermanfaat bagi pengguna internal dalam
merencanakan, mengendalikan, dan mengambil keputusan. Hal ini sejalan dengan
pendapat Siregar, dkk (2013:1) yang mendefinisikan akuntansi manajemen
sebagai berikut:
Akuntansi manajemen (management accounting) adalah proses
mengidentifikasi, mengukur, mengakumulasi, menyiapkan, menganalisis,
menginterpretasikan, dan mengkomunikasikan kejadian ekonomi yang
digunakan oleh manajemen untuk melakukan perencanaan, pengendalian,
pengambilan keputusan, dan penilaian kinerja dalam organisasi.
Horngren (2008:02) menjelaskan akuntansi manajemen sebagai berikut:
Akuntansi manajemen mengukur, menganalisis dan melaporkan informasi
keuangan dan non keuangan yang membantu manajer membuat keputusan
guna mencapai tujuan organisasi. Manajer akan menggunakan informasi
akuntansi manajemen ini untuk memilih, mengkomunikasikan dan
mengimplementasikan strategi. Mereka juga menggunakan informasi
akuntansi manajemen untuk mengkoordinasi keputusan-keputusan desain
produk, produksi serta pemasaran.
Berdasarkan beberapa definisi akuntansi manajemen di atas dapat
dinyatakan bahwa akuntansi manajemen merupakan kegiatan mengidentifikasi,
mengukur, menganalisa untuk menghasilkan suatu informasi manajemen yang
dapat digunakan oleh pihak internal untuk melakukan perencanaan, pengendalian,
pengambilan keputusan, dan penilaian kinerja dalam suatu perusahaan atau
organisasi.
Pengertian Metode Full Costing dan Variable Costing (skripsi dan tesis)
Full costing merupakan metode penentuan kos produksi yang memperhitungkan
semua unsur biaya produksi ke dalam kos produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel
maupun tetap.
Variabel costing merupakan metode penentuan kos produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam kos produksi,
yang terdiri dari biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead pabrik variabel.
Informasi biaya dengan menggunakan full costing seringkali mengalami
ketidaksesuaian dalam mengambil keputusan untuk jangka pendek. Oleh karena itu,
pesanan khusus sering kali ditolak oleh perusahaan karena tidak menghasilkan laba bagi
perusahaan. Sedangkan variabel costing sangat tepat digunakan untuk jangka waktu
pendek karena biaya tetap tidak berubah sehubungan dengan perubahan jumlah volume
produksi sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan
Pesanan Khusus (skripsi dan tesis)
Salah satu informasi biaya diferensial adalah menerima atau menolak pesanan
khusus. Dalam pengambilan keputusan perusahaan sering sekali mengalami fasilitas
produksi yang menganggur sehingga menimbulkan pemikiran untuk menerima pesanan
khusus dari pihak luar. Namun jika merugikan maka pesanan khusus tersebut juga dapat
ditolak oleh perusahaan. Karena perusahaan merasa kurang efisiensi dan biaya yang
dikeluarkan terlalu tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang akan diterima
perusahaan.
Pesanan khusus merupakan pesanan diluar pesanan normal sehingga adanya
permintaan harga jual yang rendah dibandingkan dengan harga jual normal pada
umumnya. Namun adakalanya juga perusahaan memperoleh pesanan penjualan dengan
harga yang khusus tetapi tentu saja sudah ditetapkan oleh perusahaan karena tidak
berdampak pada penjualan normal, dan perusahaan biasanya juga melakukan pemisahan
antara penjualan regular dengan penjualan melayani pesanan khusus. Apabila
perusahaan beroperasi dengan kapasitas penuh maka pengerjaan pesanan khusus
tersebut menyebabkan kenaikan biaya produksi tetap dan variabel. Untuk membuat
keputusan dalam pesanan khusus perusahaan harus memperhatikan biaya diferensial.
Biaya diferensial dalam menerima atau menolak pesanan khusus merupakan
biaya yang dapat dihindari (avoidable cost) jika perusahaan menerima pesanan khusus
dibandingkan dengan harga jual jika perusahaan menolak pesanan khusus tersebut.
Akan tetapi jika kegiatan perusahaan masih dibawah kapasitas pabrik, maka biaya
produksi yang bersifat variabel merupakan biaya diferensial. jika dengan melakukan
penerimaan pesanan khusus kenaikan biaya usaha, selain biaya produksi yang berubah
maka biaya tersebut juga merupakan biaya diferensial yang harus dipertimbangkan
dalam pengambilan keputusan.
Adapun kriteria pesanan khusus sebagai berikut :
1. Biasanya konsumen yang melakukan pesanan khusus ini meminta harga
dibawah harga jual normal bahkan sering kali harga yang diminta konsumen
berada dibawah biaya penuh.
2. Ada kapasitas produksi atau mesin yang belum seluruhnya terpakai atau
menganggur dan masih mampu untuk melayani pesanan khusus.
3. Pertambahan biaya tidak melebihi pertambahan penghasilan dari pesanan
khusus tersebut.
Priyatin (2014), Adapun Tahap perhitungan dan penyusunan informasi akuntansi
diferensial dalam rangka menerima atau menolak pesanan khusus yaitu :
1. Perhitungan harga pokok produksi pesanan regular
2. Perhitungan harga pokok produksi pesanan regular dengan metode Full
Costing.
3. Perhitungan harga pokok produksi pesanan regular dengan metode Variabel
Costing.
4. Perhitungan informasi akuntansi diferensial pesanan khusus
5. Perhitungan informasi akuntansi diferensial dalam penentuan harga jual produk
pesanan khusus
6. Laporan diferensial Dengan atau Tanpa pesanan khusus
7. Pengambilan keputusan atas alternatif tindakan menerima atau menolak
pesanan khusus
Manfaat Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)
a. Membeli / Membuat Sendiri
Keputusan membeli atau membuat sendiri dihadapi oleh manajemen terutama
dalam perusahaan yang produknya terdiri dari berbagai komponen dan yang
memproduksi berbagai jenis produk.
Keputusan membeli atau membuat sendiri dibagi menjadi dua macam yaitu :
Keputusan membeli atau membuat sendiri yang dihadapi oleh
perusahaan yang sebelumnya memproduksi sendiri produknya, kemudian
akan mempertimbangkan akan membeli produk tersebut dari pemasok.
Keputusan membeli atau membuat sendiri yang dihadapi oleh
perusahaan yang sebelumnya membeli produk tertentu dari pemasok
luar, kemudian mempertimbangkan akan memproduksi sendiri produk
tersebut.
b. Menjual / Memproses Lebih Lanjut Suatu Produk
Dalam pengambilan keputusan macam ini, Informasi akuntansi diferensial yang
diperlukan oleh manajemen adalah pendapatan diferensial dengan biaya diferensial
jika alternatif memproses lebih lanjut dipilih.
c. Menghentikan atau Melanjutkan Produksi Produk Tertentu.
Dalam mengahadapi kondisi ini, manajemen perlu mempertimbangkan
keputusan menghentikan atau tetap melanjutkan produksi produk atau kegiatan
usaha departemen yang mengalami kerugian tersebut. Dengan dihentikannya
produksi produk tertentu suatu perusahaan akan kehilangan kesempatan dalam
memperoleh pendapatan dari produk/departemen tertentu. Pendapatan yang hilang
ini merupakan pendapatan mengenai informasi diferensial dan pengorbanan yang
ditanggung akibat pemilihan alternatif menghentikan produksi produk tersebut.
d. Menerima / Menolak Pesanan Khusus.
Dalam pengambilan keputusan menerima atau menolak pesana khusus,
informasi akuntansi diferensial yang relevan adalah pendapatan diferensial dan
biaya diferensial. Jika pendapatan diferensial ( yaitu tambahan pendapatan dengan
diterimanya pesanan khusus tersebut ) lebih tinggi dibandingkan dengan biaya
diferensial ( yaitu tambahan biaya karena memenuhi pesanan khusus tersebut maka
pesanan khusus sebaiknya diterima ). Di lain pihak, jika pendapatan diferensial lebih
rendah dibandingkan dengan biaya diferensial, maka pesanan khusus sebaiknya
ditolak.
Pengambilan Keputusan Taktis (skripsi dan tesis)
Menurut Hansen dan Mowen (2011: 64) Keputusan Taktis merupakan suatu
tindakan berskala kecil yang bermanfaat untuk tujuan jangka panjang. Pengambilan
keputusan taktis terdiri atas pemilihan diantara berbagai alternatif dengan hasil yang
langsung atau terbatas.
Enam langkah yang mendeskripsikan proses pengambilan keputusan yang
direkomendasikan adalah sebagai berikut :
1. Kenali dan definisikan masalah
2. Identifikasi alternatve sebagai solusi yang memungkinkan dari masalah,
mengeliminasi alternative terhadap kemungkinan yang belum jelas.
3. Meng-identifikasi biaya-biaya dan manfaat yang terkait dengan masing-masing
alternatif. Mengelompokkan biaya-biaya dan manfaat yang relevant atau tidak
relevan, dan meng-eliminasi ketidak relevan biaya dengan menggunakan
pertimbangan.
4. Hitunglah total biaya dan manfaat yang relevan dari masing-masing alternatif.
5. Nilailah faktor-faktor kualitatif.
6. Pilihlah alternatif yang menawarkan manfaat terbesar secara keseluruhan.
Pengertian Aktiva Diferensial (skripsi dan tesis)
Menurut IAI (2002:13) dalam bukunya yang berjudul “Standar Akuntansi
Keuangan”, aktiva adalah:
“Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari
peristiwa masa lalu dan darinya manfaat ekonomi di masa depan diharapkan
akan diperoleh perusahaan.”
Menurut Mulyadi (2001:116) dalam bukunya “Akuntansi Manajemen, Konsep,
Manfaat, dan Rekayasa”, menyatakan bahwa aktiva diferensial adalah :
“Aktiva diferensial (differential assets) adalah informasi akuntansi diferensial
yang hanya berkaitan dengan aktiva.”
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat diketahui bahwa aktiva
diferensial merupakan taksiran perbedaan aktiva yang akan terjadi di masa yang akan
datang yang diperkirakan akan berbeda untuk setiap alternatif
Pendapatan Diferensial (skripsi dan tesis)
Halim dan Supomo (2005:76) mengatakan :
Pendapatan diferensial merupakan pendapatan yang berbeda dalam suatu
kondisi, dibandingkan dengan kondisi-kondisi yang lalu.
Pendapat ini tidak jauh berbeda dengan pendapatan yang dikemukakan samryn
(2001:279) yaitu :
Pendapatan diferensial yaitu suatu perbedaan atau selisih pendapatan
antara dua alternatif umumnya berupa atau suatu kenaikan atau tambahan
pendapatan karena memilih incremental revence suatu alternatif.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
pendapatan diferensial adalah informasi masa yang akan datang yang berupa
pendapatan yang berbeda pada alternatif keputusan dengan alternatif keputusan yang
lain.
Pengertian Biaya Diferensial (skripsi dan tesis)
Biaya diferensial didefiniskan oleh Halim dan Supomo (2005:76) sebagai
berikut :
Biaya diferensial adalah biaya yang berbeda dalam suatu kondisi, dibandingkan
dengan kondisi-kondisi yang lain.
Sedangkan menurut Sunarto (2004:60) menyatakan :
Biaya diferensial adalah biaya masa yang akan datang yang diperkirakan akan
berbeda atau terpengaruh oleh suatu pengambilan keputusan pemilihan di antara
berbagai alternatif. Biaya tersebut relevan dengan analisis yang dilakukan oleh
manajemen untuk pengambilan keputusan.
Biaya diferensial juga dinamakan biaya relevan (relevant cost). Selanjutnya
dikeukakan bahwa biaya diferensial merupakan informasi masa yang akan datang.
Informasi masa yang akan datang tidak seluruhnya merupaka biaya yang relevan unutk
pengambilan keputusan hanya di masa yang akan datang yang berbeda diantara
alternatif tindakan saja, yang merupakan biaya relevan untuk pengambilan keputusan.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya diferensial merupakan
biaya masa yang akan datang (future cost) karena berhubungan dengan pengambilan
keputusan yang menyangkut masa yang akan datang. Fokus utama dari biaya
diferensial adalah adanya perbedaan – perbedaan yang muncul dari dua atau lebih
alternatif yang ada.
Perilaku biaya diferensial dalam hubungannya dengan perubahan volume
kegiatan. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat
digolongkan menjadi :
a. Biaya variabel
adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding
dengan perubahan volume kegiatan.
b. Biaya tetap
adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan
tertentu.
Berdasarkan tujuan pengambilan keputusan manajemen, biaya dapat
dikelompokkan ke dalam (Supriyono, 2011 32) :
a. Biaya Relevan (relevant cost)
Biaya relevan merupakan biaya yang terjadi pada suatu alternatif
tindakan tertentu, tetapi tidak terjadi pada alternatif tindakan lain.
Biaya relevan akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh
karena itu biaya relevan harus dipertimbangkan dalam pembuatan
keputusan. Biaya relevan mempunyai ciri khusus, yaitu :
Biaya relevan merupakan biaya masa yang akan datang
(future cost), bukan biaya masa lalu.
Biaya yang berbeda antara dua alternatif atau lebih yang
mempengaruhi pengambilan keputusan.
b. Biaya Tidak Relevan (irrelevant cost)
Biaya tidak relevan merupakan biaya yang tidak berbeda diantara
alternatif tindakan yang ada. Irrelevant cost tidak mempengaruhi
pengambilan keputusan dan akan tetap sama jumlahnya tanpa
memperhatikan alternative yang dipilih. Oleh karena itu biaya tidak
relevan tidak harus dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan.
Pengertian Biaya (skripsi dan tesis)
Menurut Bustami dan Nurlela, (2010: 7-8) Biaya merupakan hal yang tidak
dapat dipisahkan dalam suatu proses produksi karena biaya merupakan salah satu
komponen utama. Dalam hal ini biaya (cost) berbeda dengan beban (expense).
Seringkali biaya didefinisikan sama dengan beban oleh masyarakat pada umumnya
tetapi kenyataannya kedua hal tersebut sangatlah berbeda. Biaya adalah pengorbanan
sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau
kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan beban adalah
biaya yang telah memberikan manfaat dan sekarang telah habis.
Keduanya jelas berbeda jika kita dapat memahami dengan baik perbedaan
antara biaya dengan beban.
Pengertian biaya menurut Mulyadi (2014:8) adalah sebagai berikut:
Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam
satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan
tertentu. Ada 4 unsur pokok dalam definisi biaya tersebut:
1. Biaya merupakan pengorbana sumber ekonomi,
2. Diukur dalam satuan uang,
3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi,
4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.
Dalam arti sempit biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi
untuk memperoleh aktiva. Untuk membedakan pengertian biaya dalam arti luas,
pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva ini disebut dengan istilah
kos.
Sedangkan definisi biaya menurut Hansen dan Mowen (2009:40) adalah:
“Biaya didefinisikan sebagai kas atau nilai ekuivalen kas yang
dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberikan
manfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagi organisasi.”
Akuntansi Diferensial (skripsi dan tesis)
Akuntansi manajemen menjalankan fungsinya sebagai perencaan yang baik
dalam menghadapi pengambilan keputusan yang menyangkut pemilihan berbagai
alternatif yang tersedia sebagai tindakan. Di dalam proses pengambilan keputusan,
manajemen sering sekali menghadapi ketidakpastian dalam menghadapi situasi apapun.
Untuk itulah manajemen memerlukan sebuah informasi yang relevan dan dapat
diandalkan sehingga meminimalkan ketidakpastian tersebut dan membantu manajemen
dalam menentukan pilihan yang tepat. Salah satu informasi yang diperlukan pihak
manajemen didalam pengambilan sebuah keputusan adalah informasi akuntansi
diferensial.
Informasi akuntansi diferensial merupakan taksiran perbedaan aktiva,
pendapatan, dan/atau biaya dalam alternatif tindakan yang lain.Informasi akuntansi
diferensial mempunyai dua unsur pokok: merupakan informasi masa yang akan datang
dan berbeda di antara alternatif yang dihadapi oleh pengambil keputusan. Informasi
akuntansi diferensial yang hanya bersangkutan dengan biaya disebut biaya diferensial
(differential costs), yang hanya bersangkutan dengan pendapatan disebut dengan
pendapatan diferensial (differential revenue), dan yang bersangkutan dengan aktiva
disebut aktiva diferensial (differential assets).
Informasi Akuntansi Manajemen (skripsi dan tesis)
Akuntansi Manajemen ditujukan untuk menyediakan informasi akuntansi yang
akurat bagi manajemen yang dalam pelaksanaan fungsi pokoknya sangat memerlukan
informasi ini, terutama untuk perencanaan dan pengendalian bagi perusahaan.
Menurut Mulyadi (2001:16) informasi akuntansi manajemen dibagi menjadi 3
tipe, yaitu :
1. Informasi akuntansi penuh (Full accounting information)
Informasi akuntansi penuh dapat mencakup informasi masa lalu maupun
informasi yang akan datang dan mencakup informasi mengenai biaya,
pendapatan dan aktiva. Informasi akuntansi penuh selalu dihubungkan
dengan kesatuan usaha, produk atau departemen karena informasi ini
digunakan untuk pelaporan informasi keuangan dan analisis kemampuan
menghasilkan laba rugi suatu divisi atau bagian secara khusus, pada bagian
inilah informasi akuntansi perusahaan yang berisi informasi masa lalu
digunakan.
2. Informasi akuntansi pertanggungjawaban (Full Responsibility Information)
Tiap manajer dalam organisasi merencanakan aktiva, pendapatan dan biaya
yang menjadi tanggungjawabnya dibawah koordinasi manajemen puncak
dan menyusun program berdasarkan informasi akuntansi
pertanggungjawaban. Informasi akuntansi pertanggungjawaban juga
digunakan untuk mengamati pelaksanaan anggaran dan menilai seberapa
jauh manajer melaksanakan rencananya.
3. Informasi Akuntansi Diferensial ( Differential accounting information)
Informasi akuntansi diferensial mempunyai dua ciri utama, pertama
informasi akuntansi merupakan informasi masa yang akan datang. Kedua,
informasi akuntansi merupakan informasi yang berbeda diantara berbagai
macam alternatif yang dihadapi oleh berbagai keputusan. Informasi
akuntansi diferensial ini sangat diperlukan pihak manajemen dalam
pengambilan keputusan sebagai pemilihan alternatif tindakan yang terbaik
diantara alternatif yang tersedia, ditinjau dari segi pengorbanan dan manfaat
yang diperoleh bila suatu alternatif tersebut diambil.
Pengertian Akuntansi Manajemen (skripsi dan tesis)
Menurut Blocher & Cokins ( 2011 : 5) mendefinisikan bahwa :
akuntansi manajemen adalah suatu profesi yang melibatkan kemitraan dalam
pengambilan keputusan manajemen, menyusun perencanaan dan sistem
manajemen kinerja, serta menyediakan keahlian dalam pelaporan keuangan dan
pengendalian untuk membantu manajemen dalam memformulasikan dan
mengimplementasikan suatu strategi organisasi.
Sedangkan menurut Simamora ( 2012:13) adalah sebagai berikut :
Akuntansi Manajemen adalah Proses pengidentifikasian, pengukuran
penghimpunan, penganalisaan, penyusunan, penafsiran dan pengkomunikasian
informasi keuangan yang digunakan oleh manajemen untuk merencanakan,
mengevaluasi dan mengendalikan kegiatan usaha di dalam sebuah organisasi,
serta untuk memastikan penggunaan dan akuntabilitas sumber daya yang tepat.
Menurut Siregar, Suripto, dkk (2013 : 1) mendefinisikan bahwa :
Akuntansi Manajemen adalah proses mengidentifikasi, mengukur,
mengakumulasi, menyiapkan, menganalisis, menginterpretasikan, dan
mengomunikasikan kejadian ekonomi yang digunakan oleh manajemen untuk
melakukan perencanaan, pengendalian, pengambilan keputusan dan penilaian
kinerja dalam organisasi.
Menurut Hansen dan Mowen ( 2013:7) adalah :
Akuntansi Manajemen adalah proses mengidenfitikasi, mengumpulkan,
mengukur, mengklasifikasi dan melaporkan informasi yang bermanfaat bagi
pengguna internal dalam merencanakan, mengendalikan dan mengambil
keputusan.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
akuntansi manajemen sebagai suatu sistem pengolahan informasi keuangan
ialah “suatu proses pengolahan informasi untuk memenuhi semua kebutuhan
manajemen dalam menjalankan fungsi dari sebuah perencanaan, pengkoordinasian dan
juga pengendalian perusahaan atau organisasi”.
Waka Kesiswaan (skripsi dan tesis)
Waka Kesiswaan bertanggung jawab kepada kepala sekolah dalam bidang kesiswaan dan bertugas menyusun program pembinaan dan kegiatan kesiswaan / OSIS sebagai berikut :
- Menyusun program pembinaan kesiswaan / OSIS
- Melaksanakan bimbingan, pengarahan, pengendalian kegiatan siswa / OSIS dalam rangka menegakkan disiplin dan tata tertib sekolah serta pemilihan pengurus
- Membina pengurus OSIS dalam berorganisasi
- Menyusun program dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insindental
- Membina dan melaksanakan koordinasi keamanan, kesehatan, kebersihan, ketertiban, kerindangan, keindahan dan kekeluargaan ( 7 K )
- Melaksanakan pemilihan calon siswa teladan dan calon – calon siswa penerima beasiswa
- Pengadaan pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah
- Mengatur mutasi siswa
- Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan kesiswaan
- Menyusun program kegiatan ekstrakurikuler
Waka Humas (skripsi dan tesis)
Humas (hubungan masyarakat) Sekolah bertanggung jawab kepada kepala sekolah dalam bidang kerja sama industri, perguruan tinggi, dan masyarakat / stakeholder.
Tanggung jawab yang ada pada Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat antara lain:
- Menyusun program kerja dan anggaran Humas
- Membantu komite dalam pengembangan sekolah
- Menfasilitasi hubungan antar warga sekolah dan komite
- Mengkoordinasikan pelaksanaan promosi sekolah
- Memetakan DU / DI
- Mengkoordinasikan pelaksanaan praktik kerja industri (prakerin)
- Mengkoordinasikan pelaksanaan ujian kompetensi produktif
- Mengkoordinasikan penelusuran lulusan
Wewenang yang ada pada Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat antara lain:
Memeriksa dan menyetujui rencana praktik kerja industri tiap program keahlian
Melakukan verifikasi kelayakan institusi pasangan
Memberikan pembekalan praktik kerja industri untuk siswa dan orang tua/wali murid
Pengantaran ,Memonitoring dan Penjemputan peserta didik prakerin
Menyelesaikan permasalahan (apabila ada) selama pelaksanaan prakerin
Mengkoordinasikan kegiatan Bursa Kerja Khusus
Reorientasi peserta didik yang selesai prakerin
Waka Kurikulum (skripsi dan tesis)
Berikut ini merupakan tugas dan fungsi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum:
- Menyusun program pengajaran (Program Tahunan dan Semester)
- Menyusun Kalender Pendidikan
- Menyusun SK pembagian tugas mengajar guru dan tugas tambahan lainnya
- Menyusun jadwal pelajaran
- Menyusun Program dan jadwal Pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah / Nasional
- Menyusun kriteria dan persyaratan siswa untuk naik kelas/tidak serta lulus/tidak siswa yang mengikuti ujian
- Menyusun jadwal penerimaan buku laporan pendidikan (Raport) dan penerimaan STTB/Ijasah dan STK
- Menyediakan silabus seluruh mata pelajaran dan contoh format RPP
- Menyediakan agenda kelas, agenda piket, surat izin masuk/keluar, agenda guru (yang berisi: jadwal pelajaran, kontrak belajar dengan siswa, absensi siswa, form catatan pertemuan dan materi guru, daftar nilai, dan form home visit)
- Penyusunan program KBM dan analisis mata pelajaran
- Menyediakan dan memeriksa daftar hadir guru
- Memeriksa program satuan pembelajaran guru
- Mengatasi hambatan terhadap KBM
- Mengatur penyediaan kelengkapan sarana guru dalam KBM (kapur tulis, spidol dan isi tintanya, penghapus papan tulis, daftar absensi siswa, daftar nilai siswa, dsb.)
- Mengkoordinasikan pelaksanaan KBM dan laporan pelaksanaan KBM
- Mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan satuan pelajaran
- Menyusun laporan pelaksanaan pelajaran secara berkala
Komite Sekolah (skripsi dan tesis)
Komite Sekolah adalah suatu lembaga mandiri di lingkungan sekolah dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arah, dan dukungan tenaga, sarana, dan prasarana serta pengawasan pada tingkat satuan pendidikan (sekolah). Badan ini bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan lembaga pemerintahan.
Untuk menjalankan perannya komite sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:
- Mendorong perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
- Melakukan kerja sama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/dunia usaha) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
- Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.
- Memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai: a). kebijakan dan program pendidikan; b). rencana anggaran pendidikan dan belanja madrasah (RAPBM); c). Kriteria kinerja satuan pendidikan; d). criteria tenaga kependidikan; e). hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan.
- Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.
- Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
- Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
Kepala Sekolah (skripsi dan tesis)
Kepala Sekolah adalah salah satu bagian penting dalam struktur di dalam suatu sekolah, mulai dari tingkat pendidikan dasar, sampai tingkat pendidikan menengah. Kepala sekolah yaitu guru yang diberi tugas dan amanah sebagai pimpinan yang menjalankan semua bentuk kegiatan sekolah, baik kegiatan operasional, ataupun kegiatan non-operasional yang terkait dengan sekolah dan strukturnya.
Berikut ini adalah beberapa tugas dan fungsi kepala sekolah :
- Fungsi Manajerial. Fungsi manajerial ini adalah fungsi penting kepala sekolah, sebab kepala sekolah dituntut untuk mampu dan juga handal dalam mengatur setiap kegiatan, dan juga perangkat yang ada di lingkungan sekolah tempatnya memimpin.
- Fungsi Perencanaan. Fungsi perencanaan merupakan fungsi yang juga tidak kalah penting. Setiap kepala sekolah dituntut untuk mampu membuat dan menyusun perencanaan kegiatan, baik kegiatan pembelajaran, kegiatan ekstra kulikuler, kegiatan pelatihan bagi guru dan staff, serta berbagai perencanaan lainnya yang berkaitan dengan masa depan sekolah yang dipimpinnya.
- Fungsi Pengawasan. Kepala sekolah memiliki peran, fungsi dan juga kewenangan menegakkan keadilan, dan juga peraturan yang berlaku di lingkungan sekolahnya. Selain itu, kepala sekolah juga harus mengawasi setiap kegiatan sekolah, yang dilakukan di dalam lingkungan sekolah, maupun di luar lingkungan sekolah yang membawa nama baik sekolah. Fungsi pengawasan ini meskipun terkesan gampang, namun sebenarnya sulit untuk dilakukan, karena melalui fungsi pengawasan ini, kepala sekolah diharuskan untuk menjadi individu yang objektif dan juga adil dalam melakukan pengawasan, baik pemberian sanksi, hukuman, ataupun penghargaan kepada setiap perangkat sekolah.
- Fungsi Dukungan dan Fungsi Sosial. Kepala sekolah juga dituntut memiliki fungsi dukungan dan juga fungsi sosial bagi setiap perangkatnya. Hal ini berarti, setiap kepala sekolah memiliki kewajiban untuk memberikan dukungan kepada setiap perangkatnya, dan juga berlaku adil dan memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan.
Analisa Data (skripsi dan tesis)
Teknik analisa data yang digunakan adalah model alir (in going process). Dengan teknik ini, setelah data terkumpul dilakukan analisa melalui 3 komponen utama yakni, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dalam penelitan kualitatif ketiga komponen itu merupakan proses yang harus dilakukan supaya dapat membangun analisa yang tepat. Adapun langkah-langkah analisa data sebagai berikut :
- Reduksi data
Data yang diperoleh di lokasi penelitian/data lapangan yang dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. Laporan lapangan dirangkum, dipilih hal pokok, dikelompokkan atau dikategorikan agar mudah untuk analisis selanjutnya. Data ini diolah lagi menjadi laporan parsial. Pada mulanya diidentifikasikan adanya satuan, yaitu bagian terkecil yang ditemukan daam data yang memiliki makna, bila dikaitkan dengan fokus masalah penelitian (Rohendi, 2002)
- Penyajian data
Proses penyajian data berfungsi untuk membuat sajian data (data display), yakni memudahkan bagi peneliti untuk memaparkan temuan dan pembaca untuk melihat serta memahami gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dan hubungan dari masing-masing laporan parsial. Penyajian data dilakukan dengan mengelompokkan data baik dari hasil wawancara, observasi maupun dokumentasi sehingga memudahkan pembuatan deskripsi yang berisi penjelasan sesuai dengan hasil temuan lapangan.
- Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan proses pencarian dan penjabaran makna dari data yang dikumpulkan. Penarikan kesimpulan didasarkan pada reduksi data dan penyajian data yang telah dilakukan sejak awal hingga akhir pengumpulan data. Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung agar dapat ditemukan kesimpulan akhir yang lebih kuat. Verifikasi dapat dilakukan dengan mencari data baru, dapat pula lebih mendalam dengan melakukan wawancara beberapa kali.
Subjek Penelitian (skripsi dan tesis)
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah para civitas akademika beserta pimpinan SMKN 1 Tanjungsari Gunung Kidul.
Pemilihan Informan (skripsi dan tesis)
Dalam penelitian ini fokus pencarian data melalui wawancara kepada:
- Kepala SMKN 1 Tanjungsari Gunung Kidul
- Wakil Kepala SMKN 1 Tanjungsari Gunung Kidul
- Guru dan Siswa SMKN 1 Tanjungsari Gunung Kidul.
Teknik Pengumpulan Data (skripsi dan tesis)
Untuk mengumpulkan data dipergunakan metode :
- Observasi
Teknik Observasi yang dilakukan adalah observasi tidak berpartisipasi, yaitu kegiatan pengumpulan data yang bersifat non verbal di mana peneliti tidak berperan ganda sebagai peneliti maupun pelaku kegiatan. Peneliti berperan sebagai pengamat belaka atau tidak ikut serta sebagai aktor yang melibatkan diri dalam suatu kegiatan (Moleong. 2018). Dalam pengamatan yang dilakukan penulis tidak melebur dengan proses interaksi yang terjadi dalam komunitas Sablon Jogja namun mengamati dengan berperan serta secara terbatas, sesuai dengan kebutuhan.
- Wawancara
Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Pendekatan wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan wawancara dengan menggunakan petunjuk umum. Jenis wawancara ini mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dirumuskan, tidak perlu untuk ditanyakan secara berurutan (Moleong. 2018). Narasumber tersebut dianggap sebagai seseorang yang mengetahui kondisi perkembangan pengelolaan dana Desa Karangsari
- Dokumentasi
Dokumentasi dimaksudkan untuk memberikan bukti pendukung berupa catatan data-data primer yang dimiliki atau mendukung jika dimungkinkan dengan teknik dokumentasi.
Lokasi Penelitian (skripsi dan tesis)
Lokasi penelitian ini berada di dalam lingkup wilayah SMKN 1 Tanjungsari Kabupaten Gunung Kidul
Faktor-Faktor Yang Mendukung Implementasi Program (skripsi dan tesis)
Menurut Edward diyatakan bahwa suatu pendekatan dalam studi implementasi harus dimulai dengan pertanyaan apakah yang menjadi syarat dalam keberhasilan implementasi kebijakan dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan tersebut (Edward III dalam Wahab (2005). Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis implementasi kebijakan tentang konservasi energi adalah teori yang dikemukakan oleh George C. Edwards III. Dimana implementasi dapat dimulai dari kondisi abstrak dan sebuah pertanyaan tentang apakah syarat agar implementasi kebijakan dapat berhasil, menurut George C. Edwards III ada empat variabel dalam kebijakan publik yaitu Komunikasi (Communications), Sumber Daya (resources), sikap (dispositions atau attitudes) dan struktur birokrasi (bureucratic structure)
Ke empat faktor di atas harus dilaksanakan secara simultan karena antara satu dengan yang lainnya memiliki hubungan yang erat. Tujuan kita adalah meningkatkan pemahaman tentang implementasi kebijakan. Penyederhanaan pengertian dengan cara membreakdown (diturunkan) melalui eksplanasi implementasi kedalam komponen prinsip. Implementasi kebijakan adalah suatu proses dinamik yang mana meliputi interaksi banyak faktor. Sub kategori dari faktor-faktor mendasar ditampilkan sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap implementasi.
Faktor –faktor yang berpengaruh dalam implementasi menurut George C. Edwards III dalam Wahab (2005) sebagai berikut:
- Komunikasi
Implementasi akan berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan kebijakan dipahami oleh individu-individu yang bertanggungjawab dalam pencapaian tujuan kebijakan. Kejelasan ukuran dan tujuan kebijakan dengan demikian perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Konsistensi atau keseragaman dari ukuran dasar dan tujuan perlu dikomunikasikan sehingga implementors mengetahui secara tepat ukuran maupun tujuan kebijakan itu. Komunikasi dalam organisasi merupakan suatu proses yang amat kompleks dan rumit. Seseorang bisa menahannya hanya untuk kepentingan tertentu, atau menyebarluaskannya. Di samping itu sumber informasi yang berbeda juga akan melahirkan interpretasi yang berbeda pula. Agar implementasi berjalan efektif, siapa yang bertanggungjawab melaksanakan sebuah keputusan harus mengetahui apakah mereka dapat melakukannya. Sesungguhnya implementasi kebijakan harus diterima oleh semua personel dan harus mengerti secara jelas dan akurat mengenahi maksud dan tujuan kebijakan. Jika para aktor pembuat kebijakan telah melihat ketidakjelasan spesifikasi kebijakan sebenarnya mereka tidak mengerti apa sesunguhnya yang akan diarahkan. Para implemetor kebijakan bingung dengan apa yang akan mereka lakukan sehingga jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil yang optimal. Tidak cukupnya komunikasi kepada para implementor secara serius mempengaruhi implementasi kebijakan.
- Sumberdaya
Tidak menjadi masalah bagaimana jelas dan konsisten implementasi program dan bagaimana akuratnya komunikasi dikirim. Jika personel yang bertanggungjawab untuk melaksanakan program kekurangan sumberdaya dalam melakukan tugasnya. Komponen sumberdaya ini meliputi jumlah staf, keahlian dari para pelaksana, informasi yang relevan dan cukup untuk mengimplementasikan kebijakan dan pemenuhan sumber-sumber terkait dalam pelaksanaan program, adanya kewenangan yang menjamin bahwa program dapat diarahkan kepada sebagaimana yamg diharapkan, serta adanya fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan program seperti dana dan sarana prasarana.
Sumberdaya manusia yang tidak memadahi (jumlah dan kemampuan) berakibat tidak dapat dilaksanakannya program secara sempurna karena mereka tidak bisa melakukan pengawasan dengan baik. Jika jumlah staf pelaksana kebijakan terbatas maka hal yang harus dilakukan meningkatkan skill/kemampuan para pelaksana untuk melakukan program. Untuk itu perlu adanya manajemen SDM yang baik agar dapat meningkatkan kinerja program. Ketidakmampuan pelaksana program ini disebabkan karena kebijakan konservasi energi merupakan hal yang baru bagi mereka dimana dalam melaksanakan program ini membutuhkan kemampuan yang khusus, paling tidak mereka harus menguasai teknik-teknik kelistrikan.
Informasi merupakan sumberdaya penting bagi pelaksanaan kebijakan. Ada dua bentuk informasi yaitu informasi mengenahi bagaimana cara menyelesaikan kebijakan/program serta bagi pelaksana harus mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dan informasi tentang data pendukung kepetuhan kepada peraturan pemerintah dan undang-undang. Kenyataan dilapangan bahwa tingkat pusat tidak tahu kebutuhan yang diperlukan para pelaksana dilapangan. Kekurangan informasi/pengetahuan bagaimana melaksanakan kebijakan memiliki konsekuensi langsung seperti pelaksana tidak bertanggungjawab, atau pelaksana tidak ada di tempat kerja sehingga menimbulkan inefisien. Implementasi kebijakan membutuhkan kepatuhan organisasi dan individu terhadap peraturan pemerintah yang ada.
Sumberdaya lain yang juga penting adalah kewenangan untuk menentukan bagaimana program dilakukan, kewenangan untuk membelanjakan/mengatur keuangan, baik penyediaan uang, pengadaan staf, maupun pengadaan supervisor.
Fasilitas yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan/program harus terpenuhi seperti kantor, peralatan, serta dana yang mencukupi. Tanpa fasilitas ini mustahil program dapat berjalan.
- Disposisi atau Sikap
Salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas implementasi kebijakan adalah sikap implementor. Jika implemetor setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakan maka mereka akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan mereka berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi akan mengalami banyak masalah.
Ada tiga bentuk sikap/respon implementor terhadap kebijakan ; kesadaran pelaksana, petunjuk/arahan pelaksana untuk merespon program kearah penerimaan atau penolakan, dan intensitas dari respon tersebut. Para pelaksana mungkin memahami maksud dan sasaran program namun seringkali mengalami kegagalan dalam melaksanakan program secara tepat karena mereka menolak tujuan yang ada didalamnya sehingga secara sembunyi mengalihkan dan menghindari implementasi program. Disamping itu dukungan para pejabat pelaksana sangat dibutuhkan dalam mencapai sasaran program.
Dukungan dari pimpinan sangat mempengaruhi pelaksanaan program dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Wujud dari dukungan pimpinan ini adalah Menempatkan kebijakan menjadi prioritas program, penempatan pelaksana dengan orang-orang yang mendukung program, memperhatikan keseimbangan daerah, agama, suku, jenis kelamin dan karakteristik demografi yang lain. Disamping itu penyediaan dana yang cukup guna memberikan insentif bagi para pelaksana program agar mereka mendukung dan bekerja secara total dalam melaksanakan kebijakan/program.
- Struktur Birokrasi
Membahas badan pelaksana suatu kebijakan, tidak dapat dilepaskan dari struktur birokrasi. Struktur birokrasi adalah karakteristik, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebijakan. Van Horn dan Van Meter menunjukkan beberapa unsur yang mungkin berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam implementasi kebijakan, yaitu:
- Kompetensi dan ukuran staf suatu badan;
- Tingkat pengawasan hirarkhis terhadap keputusan-keputusan sub unit dan proses-proses dalam badan pelaksana;
- Sumber-sumber politik suatu organisasi (misalnya dukungan di antara anggota legislatif dan eksekutif);
- Vitalitas suatu organisasi;
- Tingkat komunikasi “terbuka”, yaitu jaringan kerja komunikasi horizontal maupun vertikal secara bebas serta tingkat kebebasan yang secara relatif tinggi dalam komunikasi dengan individu-individu di luar organisasi;
- Kaitan formal dan informal suatu badan dengan badan pembuat keputusan atau pelaksana keputusan.
Bila sumberdaya cukup untuk melaksanakan suatu kebijakan dan para implementor mengetahui apa yang harus dilakukan, implementasi masih gagal apabila struktur birokrasi yang ada menghalangi koordinasi yang diperlukan dalam melaksanakan kebijakan. Kebijakan yang komplek membutuhkan kerjasama banyak orang, serta pemborosan sumberdaya akan mempengaruhi hasil implementasi. Perubahan yang dilakukan tentunya akan mempengaruhi individu dan secara umum akan mempengaruhi sistem dalam birokrasi.
Teori lain untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program di kemukakan oleh Daniel A. Sabatier dan Paul A. Mazmanian. Daniel A. Sabatier dan Paul A. Mazmanian menyatakan bahwa : memahami yang senyatanya terjadi sesudah suatu program berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijakan, yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disyahkan pedoman-pedoman kebijakan negara, yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun akibat atau dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian (Wahab, 2005).
Program Sekolah Ramah Anak (skripsi dan tesis)
- Pengertian Sekolah Ramah Anak
Ramah dapat dimaknai baik hati dan menarik budi pekertinya atau manis tutur kata dan sikapnya. Jika hal ini dikaitkan dengan lembaga pendidikan, maka sekolah ramah anak dapat dimaknai sebagai sekolah yang menjunjung tinggi hak-hak anak sebagai pribadi yang harus dididik dengan perasaan dan budi pekerti yang baik. Prinsip dari sekolah ramah anak adalah menjadikan kepentingan dan kebutuhan siswa sebagai pertimbangan utama dalam menetapkan setiap keputusan dan tindakan yang diambil oleh pengelola dan penyelenggara pendidikan.
Dengan demikian, Sekolah Ramah Anak harus menghormati hak siswa ketika mengekspresikan pandangannya dalam segala hal khususnya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya, sehingga siswa merasa nyaman dan menyenangkan dalam proses belajar di sekolah. Selain itu, sekolah ramah anak harus menjamin kesempatan setiap siswa untuk menikmati haknya dalam pendidikan tanpa diskriminasi berdasarkan disabilitas, gender, suku bangsa, agama, jenis kecerdasan, dan latar belakang orang tua.
Sekolah ramah anak juga harus mempertimbangkan situasi sekolah yang aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya, lingkungan hidup, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak dan perlindungan siswa dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan tidak wajar lainnya, serta menjamin keikutsertaan siswa dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan siswa dalam menempuh pendidikan (Uray Iskandar, 2015). Oleh karena itu peneliti menyimpulkan bahwa sekolah ramah anak merupakan sekolah yang menjunjung tinggi hak-hak anak di sekolah. Hak-hak anak tersebut meliputi hak anak dalam memperoleh pendidikan, hak anak dalam memperoleh kenyamanan, keamanan, maupun kebebasan berekspresi.
- Standar Sekolah Ramah Anak
- Setiap siswa dapat menikmati haknya dalam pendidikan tanpa diskriminasi berdasarkan disabilitas, gender, suku bangsa, jenis kecerdasan, agama dan latar belakang orang tua.
- Setiap siswa memiliki kebebasan mengekspresikan pandangannya tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya.
- Memiliki kurikulum dan metode pembelajaran ramah bagi siswa (student centred teaching) dengan mengutamakan nilai-nilai kecintaan, kasih sayang, empatik, simpatik, keteladanan, tanggung jawab, dan rasa hormat pada siswa.
- Memiliki guru dan tenaga kependidikan yang mampu memfasilitasi bakat, minat, dan jenis kecerdasan siswa.
- Memiliki lingkungan dan infrastruktur sekolah yang aman, nyaman, bersahabat, sehat dan bersih, hijau, dengan konstruksi bangunan yang memenuhi SNI.
- Memiliki program kerja sekolah yang mempertimbangkan aspek pertumbuhan kepribadian siswa.
- Memiliki program kerja keselamatan siswa sejak dari rumah ke sekolah dan/ keselamatan di sekolah. h. Setiap warga sekolah memiliki kesadaran tinggi terhadap resiko bencana alam, bencana sosial, kekerasan (bullying) dan ancaman lainnya terhadap siswa.
- Tersedia organisasi kesiswaan yang berorientasi pada perkembangan dan karakter siswa.
- Tercipta kerja sama yang harmonis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
- Menjamin transparasi, akuntabilitas, partisipasi, keterbukaan informasi, dan penegakan aturan sekolah (Uray Iskandar, 2015).
Visi dan Misi Sekolah (skripsi dan tesis)
SMKN 1 Tanjungsari merupakan satu-satunya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Gunungkidul yang memiliki visi misi mengembangkan potensi bidang Agribisnis Perikanan dan Kemaritiman untuk mewujudkan ketahanan pangan serta mengoptimalkan sumber daya alam
Sejarah Singkat (skripsi dan tesis)
SMKN 1 Tanjungsari berlokasi di JL. Baron KM.19 Kemadang, Kemadang, Kec. Tanjungsari, Kab. Gunung Kidul Prov. D.I. Yogyakarta. Pada awal berdirinya, sekolah ini masih tergabung pada sebuah jurusan Nautika di SMK Negeri 2 Wonosari pada tahun 2001. Karena animo yang besar pada jurusan ini maka pada tahun 2003 dibukalah jurusan Teknika. Guna pengembangan jurusan ini maka sementara jurusankedua jurusan ini digabung pada sekolah baru yakni SMK Negeri 1 Tanjungsari pada tanggal 1 Januari 2005. Sekolah ini nantinya akan dikembangkan menjadi SMK Negeri 4 Wonosari guna mengelola potensi perikanan di sepanjang pantai selatan Gunungkidul.
Pada awal berdirinya SMK Negeri 1 Tanjungsari dipimpin oleh Bapak Sunarto, S.Pd. dari tahun 2005-2009. Lalu pada tahun 2009-sekarang dipimpin oleh Drs. Mustangid, M.Pd. Kini SMK Negeri 1 Tanjungsari telah membuka kampus 2 di gedung bekas P2AT Logandeng guna pengembagan ke arah SMK Negeri 4 Wonosari yang bergerak di bidang Agraris dan Maritim.
Metode Pengumpulan Data (skripsi dan tesis)
Teknik pengumpulan data diperlukan untuk mendapatkan data dan informasi yang berhubungan dengan topik pembahasan.
- Observasi
Teknik Observasi yang dilakukan adalah observasi tidak berpartisipasi, yaitu kegiatan pengumpulan data yang bersifat non verbal di mana peneliti tidak berperan ganda sebagai peneliti maupun pelaku kegiatan. Peneliti berperan sebagai pengamat belaka atau tidak ikut serta sebagai aktor yang melibatkan diri dalam suatu kegiatan (Moleong. 2018).
- Wawancara
Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Pendekatan wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan wawancara dengan menggunakan petunjuk umum. Jenis wawancara ini mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dirumuskan, tidak perlu untuk ditanyakan secara berurutan ((Moleong. 2018).
- Kuesioner
Metode pengambilan data dilakukan dengan angket dalam bentuk skala Likert, dan dilengkapi dengan dokumentasi berupa informasi tambahan tentang kondisi tempat penelitian. Alasan penggunaan angket adalah (Hadi, 2010) subyek merupakan orang yang paling tahu tentang dirinya dan moralnya sendiri sehingga apa yang dinyatakan kepada peneliti adalah sesuatu yang benar dan dapat dipercaya.
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan (Sugiyono, 2010 ). Jawaban yang didapat dari pertanyaan yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Agar dapat dianalisis secara kuantitatif maka jawaban tersebut diberi skor sebagai berikut:
- 5 : Setuju
- 4 : Cukup setuju
- 3 : Kurang setuju
- 2 : Tidak setuju
- 1 : Sangat tidak setuju
- Dokumentasi
Dokumentasi dimaksudkan untuk memberikan bukti pendukung berupa catatan data-data primer yang dimiliki atau mendukung jika dimungkinkan dengan teknik dokumentasi. Peneliti mengumpulkan dokumen berupa foto dan rekaman (jika dimungkinkan/mendapat ijin dari informan) dari lokasi,
Populasi dan Sampel (skripsi dan tesis)
- Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2008) adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah mencakup seluruh pegawai baik non kependidikan maupun kependidikan pada SMK 1 Tanjung Sari Gunung Kidul yang berjumlah 50 orang.
- Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipandang mempunyai karakteristik yang mewakili karakteristik populasi. Dalam penelitian ini, sampel akan menjadi sumber data utama dalam pelaksanaan penelitian. Menurut Arikunto (2010) bahwa: “sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Sedangkan menurut Sugiyono (2008). “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.
Menurut Arikunto (2010 ) jika jumlah populasinya kurang dari 100 orang, maka jumlah sampelnya diambil secara keseluruhan, tetapi jika populasinya lebih besar dari 100 orang, maka bisa diambil 10-15% atau 20-25% dari jumlah populasinya. Dengan demikian metode penentuan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan sampling jenuh yaitu apabila semua anggota populasi sekaligus menjadi sampel. Istilah lain dari sampel jenuh adalah sensus.
Berdasarkan data pra penelitian diketahui bahwa jumlah tenaga kependidikan di SMK 1 Tanjung Sari sebanyak 34 orang sedangkan tenaga non kependidikan sebanyak 16 orang.
Keterikatan Kerja adalah (skripsi dan tesis)
perilaku karyawan yang mampu memanfaatkan diri saat bekerja dengan penuh penghayatan, gigih dalam menjalakan peran kerja dan mampu mengekspresikan dirinya baik dari kognitif, afektif dan psikomotor dalam bekerja. Dalam penelitian ini akan menggunakan aspek yaitu vigor, dedication, absorbtion
Definisi Operasional (skripsi dan tesis)
- Kepuasan Kerja adalah kepuasan kerja adalah pandangan masing-masing karyawan tentang pekerjaan yang dijalaninya saat ini, apakah pekerjaannya tersebut sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai dalam dirinya atau tidak. Dalam penelitian ini akan kepuasan kerja akan menggunakan aspek yaitu aspek psikologis, aspek fisik, aspek sosial dan aspek finansial.
Faktor Yang Mempengaruhi Keterikatan Kerja (skripsi dan tesis)
Menurut Saks (2006) faktor-faktor pendorong keterikatan karyawan, yaitu:
- Job Characteristics (Karakteristik Pekerjaan) yaitu kebermaknaan psikologis dapat dicapai dari karakteristik tugas yang menyediakan pekerjaan yang menantang, bervariasi, menggunakan keterampilan berbeda, serta karyawan memiliki kesempatan untuk membuat kontribusi dalam bekerja. Khan (dalam Saks 2016) menyatakan bahwa karakteristik pekerjaan yang tinggi menyebabkan individu bekerja dengan sunguh-sungguh sehingga karyawan menjadi terikat dengan pekerjaanya.
- Reward and Recognition (Penghargaan dan Pengakuan)
Menurut Maslach, dkk., (2011) kurangnya penghargaan dan pengakuan dapat menyebabkan kelelahan, pengakuan dan penghargaan merupakan hal yang penting untuk membentuk keterikatan. Ketika karyawan menerima penghargaan dan pengakuan dalam organisasinya, maka karyawan akan berkontribusi penuh serta merasa memiliki kewajiban yang tinggi dalam bekerja.
- Perceived Organizational and Supervisor Support (Persepsi Dukungan Organisasi dan Dukungan Atasan)
Pemahaman di atas mengacu organisasi dan atasan dapat menghargai kontribusi karyawan, serta organisasi dan atasan ada disaat karyawan membutuhkan. Jika karyawan telah mendapatkan dukungan dari organisasi dan atasan maka karyawan akan berkontribusi secara penuh ketika bekerja sehingga dapat membantu organisasi dalam mencapi tujuan (Rhoades, dkk., 2001). Hal ini sejalan dengan pendapat Kahn (dalam Saks, 2006) bahwa suatu anggota merasa aman dengan lingkungan kerja menunjukkan keterbukaan serta berani dalam mencoba hal-hal yang baru. Menurut Schaufeli dan Bakker (2012) menemukan bahwa dukungan dari rekan-rekan diprediksi dapat membentuk keterikatan pada karyawan.
- Distributive and Procedural Justice (Penyaluran Keadilan dan Prosedur) Menurut Colquiit, dkk., (2001) dalam penelitiannya tentang keadilan organisai bahwa persepsi keadilan berkaitan dengan hasil organisasi seperti kepuasan kerja dan komitmen. Kurangnya keadilan dapat menyebabkan kelelahan pada karyawan dan sementara persepsi positif dari keadilan dapat meningkatkan keterikatan pada karyawan (Maslach, dkk., 2001). Keadilan distributif berkaitan dengan persepsi seseorang tentang keadilan dari hasil keputusan. Selain itu keadilan prosedural mengacu pada keadilan yang dirasakan dari sarana dan proses yang digunakan untuk menentukan jumlah dan distribusi sumber daya manusia (Colquitt dan Rhoades dkk, 2001).
Menurut Bakker dan Schaufeli (2018), terdapat tiga faktor yang mempengruhi keterikatan karyawan yaitu:
- Job Resources merujuk pada aspek fisik, sosial, maupun organisasional dari pekerjaan yang mungkinkan individu untuk mengurangi tuntutan pekerjaan dan biaya psikologi maupun fisiologi yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut, mencapai target pekerjaan, menstimulusi pertumbuhan, dan perkembangan individu
- Salience of job resources faktor ini merujuk pada seberapa penting atau bergunanya sumber daya pekerjaan yang dimiliki oleh individu.
- Personal resousrces merujuk pada karakteristik yang dimiliki oleh karyawan seperti kepribadian, sifat, usia. Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan diatas, peneliti menyimpulkan faktor- faktor yang mempengaruhi keterikatan karyawan yaitu karakteristik pekerjaan, persepsi dukungan organisasi, persepsi dukungan pimpinan, reward dan pengakuan, keadilan prosedur, dan penyaluran keadilan, Job resource, Salience of job resoaurce, dan Personal resource merupakan faktor–faktor yang dapat mempengaruhi keterikatan karyawan.
Pengertian Keterikatan Kerja (skripsi dan tesis)
Menurut Scahaufeli, Salanva, Gonzalez-Roma, dan Bakker (2012), keterikatan kerja merupakan kegiatan penuh semangat bekerja yang ditandai dengan karakteristik semangat, dedikasi, dan juga absorbsi pada pekerjaan. Semangat mengacu pada energi, ketahanan dan usaha dalam melaksanakan pekerjaan. Dedikasi merujuk pada rasa bangga, antusias, dan rasa bermakna. Absorbsi mengacu pada keterlarutan yang ditandai dengan konsentrasi penuh dalam bekerja dan merasa bahwa waktu berjalan lebih cepat. Sedangkan menurut Robbins (2018), keterikatan kerja juga merupakan tingkat sejauh mana karyawan memihak pekerjaannya dan secara aktif berpartisipasi di dalamnya dan menganggap bahwa pekerjaan tersebut penting bagi dirinya. Karyawan dengan keterikatan kerja yang tinggi tidak akan mengeluh dengan beban kerja yang diberikan oleh perusahaan.
Schaufeli, dkk (2012) mendefinisikan keterikatan sebagai suatu hal yang positif, memuaskan, sikap pandang yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditandai oleh vigor, dedication, dan absoption. Sementara itu, Bakker, Schaufeli, Leiter dan Taris (2016) mengistilahkan keterikatan kerja yang dimiliki oleh karyawan sebagai work engagement, yaitu suatu keadaan efektif-motivasional yang positif tentang kesejahteraan terkait pekerjaan yang dimiliki ditandai dengan semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan penghayatan (absorption).
Menurut Abraham (2015) menyatakan bahwa keterikatan karyawan merupakan derajat kepuasan kerja pada individu serta hubungan emosional dengan kesuksesan individu yang menghasilkan produktivitas serta inovasi-inovasi baru dalam bekerja. Lebih lanjut menurut Gallup (dalam Abraham, 2015) bahwa karyawan yang memiliki keterikatan akan terlibat, berdedikasi pada peran kerja yang dilakukan, bertahan lebih lama dalam perusahaan, lebih produktif dan memberikan layanan yang lebih baik untuk perusahaan.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keterikatan karyawan merupakan perilaku karyawan yang mampu memanfaatkan diri saat bekerja dengan penuh penghayatan, gigih dalam menjalakan peran kerja dan mampu mengekspresikan dirinya baik dari kognitif, afektif dan psikomotor dalam bekerja
Aspek dalam Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Luthans (Kaswan, 2012) menyatakan aspek-aspek dalam kepuasan kerja, antara lain:
- Pekerjaan itu sendiri
Dalam hal ini pekerjaan memberikan tugas yang menarik, kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab. Jika karyawan merasa mampu untuk menerima tanggungjawab dari pekerjaan yang dibebankan dan karyawan juga merasa yakin bahwa pekerjaannya merupakan bakat dan keterampilannya maka karyawan akan sangat mudah untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan begitupun sebaliknya. Jika pekerjaan itu dirasa membuat karyawan merasa senang maka akan terasa mudah untuk menjalaninya.
- Gaji
Sejumlah upah atau gaji yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa dipandang sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam organisasi. Karyawan akan merasa senang jika upah yang diterima sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya dan merasa gaji yang diterima dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.
- Promosi
Kesempatan untuk maju didalam organisasi dilakukan dengan cara promosi. Dalam hal ini karyawan akan senang jika promosi dilakukan secara objektif dan kesempatan untuk meningkatkan karier di dalam organisasi sangat besar. Promosi ditempat kerja dilakukan dengan alasan untuk memotivasi karyawan agar selalu bekerja dengan baik supaya naik jabatan.
- Pengawasan
Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan perilaku. Apabila atasan dalam memberikan pengarahan dan mengambil keputusan sangat tegas dan objektif maka karyawan akan sangat puas. Atasan yang mengayomi dan mendukung prestasi bawahan akan sangat membuat karyawan merasa senang dan nyaman bekerja dengan atasan.
- Rekan Kerja
Tingkat dimana rekan kerja pandai secara teknis dan mendukung secara sosial. Rekan kerja sangat berpengaruh dalam kepuasan kerja karyawan. Jika setiap karyawan memiliki hubungan dan komunikasi yang baik, maka akan tercipta suasana kekeluargaan yang hangat dan situasi yang baik didalam organisasi. Setiap karyawan harus pandai menempatkan diri dan dapat memberikan dukungan kepada sesama rekan kerja dan lingkungan sekitar.
- Kondisi Kerja
Jika kondisi kerja bagus (misalnya bersih, rapih dan lingkungan menarik) maka karyawan akan lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dan sebaliknya. Lingkungan yang menarik dapat membuat suasana hati karyawan menjadi baik sehingga dapat memengaruhi hasil kerja karyawan. Kondisi kerja seperti fasilitas yang memadai juga turut membuat karyawan merasa puas
Jewell dan Siegall (dalam Prestawan, 2010) beberapa aspek dalam mengukur kepuasan kerja adalah:
- Aspek psikologis yaitu kepuasan kerja yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan meliputi minat terhadap pekerjaan, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.
- Aspek fisik yaitu berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja, pengaturan waktu istirahat, keadaan ruangan, suhu udara, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.
- Aspek sosial yaitu berhubungan dengan interaksi sosial, baik antar sesama karyawan dengan atasan maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya serta hubungan dengan anggota keluarga.
- Aspek finansial yaitu berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besar gaji, jaminan sosial, tunjangan, fasilitas dan promosi. Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kepuasan kerja terdiri dari aspek prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, promosi, pengembangan potensi individu. Selain itu aspek psikologis, aspek fisik, aspek sosial dan aspek finansial. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan aspek kepuasan kerja yang mengacu pada teori Herzberg (dalam Robbins & Judge, 2018) yaitu prestasi kerja, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, promosi, dan pengembangan potensi individu sebagai acuan untuk membuat alat ukur tentang kepuasan kerja karyawan karena aspek ini dipercaya sebagai sumber kepuasan kerja secara keseluruhan.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja pada karyawan menurut Robbins dan Judge (2018) ada empat faktor:
- Rekan kerja yang mendukung
Individu mendapat sesuatu yang lebih dari pada sekadar uang atau prestasi yang nyata dari pekerjaan. Untuk sebagian karyawan, kerja memenuhi kebutuhan interaksi sosial. Oleh karena itu, memiliki rekan-rekan kerja yang ramah dan mendukung mampu meningkatkan kepuasan kerja. Memiliki rekan kerja yang mendukung akan membuat karyawan merasa nyaman di tempat kerja. Lingkungan yang nyaman tersebut membuat karyawan tidak mudah stress dan tertekan sehingga mudah memperoleh kepuasan dalam bekerja.
- Penghargaan yang sesuai
Karyawan menginginkan sistem bayaran yang mereka rasa adil dan sesuai dengan harapan-harapan mereka. Ketika bayaran dianggap adil, sesuai dengan tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individual, dan standar bayaran masyarakat, kemungkinan akan tercipta kepuasan. Karyawan yang merasakan bahwa bayaran yang diterimanya sesuai dengan apa yang diharapkan dan dikerjakan maka akan menciptakan kepuasan dalam bekerja.
- Kondisi lingkungan kerja yang mendukung
Karyawan berhubungan dengan lingkungan kerja mereka untuk kenyamanan pribadi dan kemudahan melakukan pekerjaan yang baik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa karyawan lebih menyukai lingkungan fisik yang nyaman atau tidak berbahaya. Selain itu, sebagian besar karyawan lebih menyukai bekerja relatif dekat dengan rumah, mudah dijangkau dengan kendaraan dengan fasilitas yang relatif modern dan bersih, serta dengan peralatan yang memadai. Fasilitas yang memadai tersebut akan membantu karyawan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah sehingga akan memperoleh kepuasan dalam bekerja.
- Pekerjaan yang menantang
Pada umumnya, individu lebih menyukai pekerjaan yang memberi mereka peluang untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan serta memberi beragam tugas, kebebasan, dan umpan balik tentang seberapa baik kerja mereka. Karakteristik-karakteristik ini membuat kerja lebih menantang secara mental dan membuatnya tertarik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apabila karyawan tertarik dengan pekerjaannya maka akan menajdi motivasi untuk menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Hasil pekerjaan yang berkualitas akan membuat dirinya bangga dan puas dengan pekerjaannya.
Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kepuasan kerja terdiri dari aspek psikologis, aspek fisik, aspek sosial dan aspek finansial.
Pengertian Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Hasibuan (2013) berpendapat kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan membuat seseorang merasa menikmati dan mencintai pekerjaannya. Ketika karyawan dapat merasakan bahwa pekerjaan yang dilakukannya dirasa membuatnya bahagia, maka karyawan akan menjadi puas dan akan selalu menjalankan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, prestasi kerja dan kedisiplinan. Jika karyawan merasakan kepuasan didalam pekerjaannya, maka karyawan akan memiliki perilaku yang baik di dalam perusahaan sebab karyawan akan mematuhi segala peraturan perusahaan karena ia mencintai pekerjaannya. Kemudian karyawan akan menghasilkan produktivitas yang baik bagi perusahaan sebab karyawan ingin perusahaan tempat ia bekerja akan selalu berkembang. Karyawan juga akan memiliki kedisiplinan yang baik mengingat dengan perilaku disiplin yang baik, akan terciptanya perusahaan yang sukses.
Robbins (dalam Diasmoro, 2017) mendefinisikan kepuasan kerja adalah sikap positif yang dirasakan oleh seseorang terhadap hasil yang dikerjakannya. Kepuasan kerja tidak hanya didapat dari seorang karyawan yang dapat memenuhi tugas tugas dari pekerjaannya. Akan tetapi hubungan yang baik dengan sesama rekan kerja, pemimpin, dapat mematuhi peraturan dan berada di kondisi lingkungan yang baik dapat menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. rekan kerja, pemimpin dan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi bagaimana kepuasan pekerjaan karyawan, sebab jika karyawan memiliki masalah dengan atasan dan sesama rekan kerja maka akan tercipta perasaan benci dan perasaan tidak nyaman didalam bekerja.
Locke (dalam Kaswan, 2012) menjelaskan kepuasan kerja adalah suatu kondisi emosional yang dialami oleh seseorang akibat dari pengalaman kerjanya, akibatnya seseorang memiliki perasaan positif ataupun negative terhadap pekerjaannya. Setiap karyawan memiliki pengalaman-pengalaman yang berbeda ketika memasuki dunia kerja. Karyawan akan bisa menilai bagaimana pekerjaan yang dilakukannya apakah pekerjaan itu membuatnya bahagia atau pekerjaannya membuat karyawan merasa ada yang kurang. Setiap karyawan memiliki kebutuhan-kebutuhan dan konsep diri masing-masing sehingga persepsi seseorang tentang pekerjaannya akan berbeda, apakah menyenangkan dan menguntungkan ataupun justru sebaliknya.
Berdasarkan dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah pandangan masing-masing karyawan tentang pekerjaan yang dijalaninya saat ini, apakah pekerjaannya tersebut sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai dalam dirinya atau tidak
Latar Belakang Masalah (skripsi dan tesis)
Sumber daya manusia adalah kekayaan utama bagi sebuah organisasi. Sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan dari suatu perusahaan dalam merencanakan, melaksanakan serta mengendalikan berbagai macam kegiatan yang ada didalam perusahaan (Ramdhani & Sawitri, 2017). Hal tersebut membuat karyawan dilihat sebagai sumber yang sangat berpotensi untuk mengembangkan dan memajukan sebuah organisasi serta diharapkan mampu mengikuti persaingan secara global dalam dunia bisnis yang semakin ketat. Menurut Bakker dan Schaufeli (2018) organisasi yang modern saat ini mengharapkan karyawannya untuk menjadi proaktif dan menunjukkan inisiatif, memiliki tanggung jawab untuk pengembangan professional diri, serta harus berkomitmen untuk kualitas kinerja dengan standar yang tinggi. Oleh sebab itu, suatu organisasi tentunya membutuhkan karyawan yang energik dan berdedikasi pada pekerjaan mereka, yaitu dengan adanya rasa keterikatan yang baik dengan pekerjaannya.
Schaufeli, Salanova, Gonzalez-Roma, dan Bakker (2012) menyatakan keterikatan kerja merupakan sesuatu yang memuaskan dan ditandai dengan kondisi mental yang positif serta di deskripsikan menjadi tiga dimensi yaitu semangat (vigor), dedikasi (dedication) dan penyerapan terhadap pekerjaan (absorption). Karyawan yang terikat dengan pekerjaannya akan mampu berusaha lebih dalam untuk bekerja dan memiliki loyalitas terhadap perusahaan. Keterikatan kerja akan membuat seseorang merasa bermakna dan menyatu di dalam sebuah organisasi, yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja didalam perusahaan. (Mujiasih & Ratnaningsih, 2012). Tingkat keterikatan yang tinggi pada karyawan dapat menguntungkan pihak perusahaan, diantaranya dapat mempertahankan dan meningkatkan produktivitas karyawan, membantu mempertahankan karyawan terbaik dan membantu pencapaian target perusahaan (Bakker dan Schaufeli, 2018). Karyawan yang merasa terikat dengan pekerjaannya akan menunjukkan hasrat yang nyata mengenai pekerjaannya dan akan bekerja dengan penuh antusias. Selain itu, karyawan juga menikmati pekerjaan yang dilakukannya dan berkeinginan untuk dapat memberikan segala bantuan dan ide-ide untuk bisa mensukseskan perusahaan tempat karyawan bekerja (Robertson dalam Ramdhani & Sawitri, 2017).
Hasil pengamatan pra penelitian menunjukkan bahwa beberapa karyawan non kependidikan maupun kependidikan merasa bahwa kompensasi yang diberikan oleh sekolah kurang. Hal ini menyebabkan karyawan non kependidikan maupun kependidikan merasa tidak bahagia dan mengalami perasaan yang negatif di tempat kerja, sehingga akan mempengaruhi rekan kerjanya melalui emosi yang negatif dan cenderung mengalami kelelahan.
Berdasarkan pengamatan tersebut dikteahui bahwa faktor kuat yang memengaruhi keterikatan kerja adalah kepuasan kerja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keterikatan kerja karyawan (Sara Elvani, 2019; Made dkk, 2019: Herio dkk, 2020). Pengaruh antara kepuasan kerja terhadap keterikatan kerja dapat dijelaskan melalui Teori pertukaran sosial. Dalam teori tersebut dijelaskan adanya hubungan timbal balik antara karyawan dan organisasi atau perusahaan tempatnya bekerja terkait dengan pemberian sumberdaya secara timbal balik, dimana Saks menyatakan bahwa karyawan akan mengembangkan keterikatan terhadap pekerjaannya dengan tingkat yang sebanding dengan sumber daya yang ia terima dari perusahaan. Teori pertukaran sosial juga menjelaskan bahwa ketika seorang karyawan merasa bahwa dirinya mendapatkan perlakuan adil dari perusahaan maka karyawan tersebut juga akan memberikan perlakuan yang baik terhadap perusahaan dengan meningkatkan kinerjanya yang mengarah kepada timbulnya rasa keterikatan (Law, 2015).
Pengertian kepuasan kerja mengacu pada seberapa puas karyawan terhadap pekerjaan, pencapaian, dan tanggung jawabnya yang berkaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan konten pekerjaan (job content) (Chang dan Chang, 2017). Hedge dan Borman (2012) menjelaskan bahwa kepuasan kerja dibentuk dari kumpulan pengalaman karyawan terkait dengan sifat pekerjaan (nature of job), renumerasi, level stress, lingkungan kerja, rekan kerja, atasan kerja, dan beban kerja
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada halaman sebelumnya, maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan mengangkat judul “Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Keterikatan Kerja Pada SMK N 1 Tanjungsari Gunung Kidul”
Jumlah Tenaga Pendidik (skripsi dan tesis)
Secara keseluruhan tenaga pendidik yang ada di SMKN 1 Tanjungsari adalah 34 orang dengan status PNS sebanyak 29 orang dan 5 orang dengan status tenaga honorer. Sebanyak 20 orang guru berjenis kelamin laki-laki dan 14 orang berjenis kelamin perempuan.
Visi dan Misi Sekolah (skripsi dan tesis)
SMKN 1 Tanjungsari merupakan satu-satunya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Gunungkidul yang memiliki visi misi mengembangkan potensi bidang Agribisnis Perikanan dan Kemaritiman untuk mewujudkan ketahanan pangan serta mengoptimalkan sumber daya alam
Sejarah Singkat (skripsi dan tesis)
SMKN 1 Tanjungsari berlokasi di JL. Baron KM.19 Kemadang, Kemadang, Kec. Tanjungsari, Kab. Gunung Kidul Prov. D.I. Yogyakarta. Pada awal berdirinya, sekolah ini masih tergabung pada sebuah jurusan Nautika di SMK Negeri 2 Wonosari pada tahun 2001. Karena animo yang besar pada jurusan ini maka pada tahun 2003 dibukalah jurusan Teknika. Guna pengembangan jurusan ini maka sementara jurusankedua jurusan ini digabung pada sekolah baru yakni SMK Negeri 1 Tanjungsari pada tanggal 1 Januari 2005. Sekolah ini nantinya akan dikembangkan menjadi SMK Negeri 4 Wonosari guna mengelola potensi perikanan di sepanjang pantai selatan Gunungkidul.
Pada awal berdirinya SMK Negeri 1 Tanjungsari dipimpin oleh Bapak Sunarto, S.Pd. dari tahun 2005-2009. Lalu pada tahun 2009-sekarang dipimpin oleh Drs. Mustangid, M.Pd. Kini SMK Negeri 1 Tanjungsari telah membuka kampus 2 di gedung bekas P2AT Logandeng guna pengembagan ke arah SMK Negeri 4 Wonosari yang bergerak di bidang Agraris dan Maritim.
Faktor Yang Mempengaruhi Keterikatan Kerja (skripsi dan tesis)
Menurut Saks (2006) faktor-faktor pendorong keterikatan karyawan, yaitu:
- Job Characteristics (Karakteristik Pekerjaan) yaitu kebermaknaan psikologis dapat dicapai dari karakteristik tugas yang menyediakan pekerjaan yang menantang, bervariasi, menggunakan keterampilan berbeda, serta karyawan memiliki kesempatan untuk membuat kontribusi dalam bekerja. Khan (dalam Saks 2016) menyatakan bahwa karakteristik pekerjaan yang tinggi menyebabkan individu bekerja dengan sunguh-sungguh sehingga karyawan menjadi terikat dengan pekerjaanya.
- Reward and Recognition (Penghargaan dan Pengakuan)
Menurut Maslach, dkk., (2011) kurangnya penghargaan dan pengakuan dapat menyebabkan kelelahan, pengakuan dan penghargaan merupakan hal yang penting untuk membentuk keterikatan. Ketika karyawan menerima penghargaan dan pengakuan dalam organisasinya, maka karyawan akan berkontribusi penuh serta merasa memiliki kewajiban yang tinggi dalam bekerja.
- Perceived Organizational and Supervisor Support (Persepsi Dukungan Organisasi dan Dukungan Atasan)
Pemahaman di atas mengacu organisasi dan atasan dapat menghargai kontribusi karyawan, serta organisasi dan atasan ada disaat karyawan membutuhkan. Jika karyawan telah mendapatkan dukungan dari organisasi dan atasan maka karyawan akan berkontribusi secara penuh ketika bekerja sehingga dapat membantu organisasi dalam mencapi tujuan (Rhoades, dkk., 2001). Hal ini sejalan dengan pendapat Kahn (dalam Saks, 2006) bahwa suatu anggota merasa aman dengan lingkungan kerja menunjukkan keterbukaan serta berani dalam mencoba hal-hal yang baru. Menurut Schaufeli dan Bakker (2012) menemukan bahwa dukungan dari rekan-rekan diprediksi dapat membentuk keterikatan pada karyawan.
- Distributive and Procedural Justice (Penyaluran Keadilan dan Prosedur) Menurut Colquiit, dkk., (2001) dalam penelitiannya tentang keadilan organisai bahwa persepsi keadilan berkaitan dengan hasil organisasi seperti kepuasan kerja dan komitmen. Kurangnya keadilan dapat menyebabkan kelelahan pada karyawan dan sementara persepsi positif dari keadilan dapat meningkatkan keterikatan pada karyawan (Maslach, dkk., 2001). Keadilan distributif berkaitan dengan persepsi seseorang tentang keadilan dari hasil keputusan. Selain itu keadilan prosedural mengacu pada keadilan yang dirasakan dari sarana dan proses yang digunakan untuk menentukan jumlah dan distribusi sumber daya manusia (Colquitt dan Rhoades dkk, 2001).
Menurut Bakker dan Schaufeli (2018), terdapat tiga faktor yang mempengruhi keterikatan karyawan yaitu:
- Job Resources merujuk pada aspek fisik, sosial, maupun organisasional dari pekerjaan yang mungkinkan individu untuk mengurangi tuntutan pekerjaan dan biaya psikologi maupun fisiologi yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut, mencapai target pekerjaan, menstimulusi pertumbuhan, dan perkembangan individu
- Salience of job resources faktor ini merujuk pada seberapa penting atau bergunanya sumber daya pekerjaan yang dimiliki oleh individu.
- Personal resousrces merujuk pada karakteristik yang dimiliki oleh karyawan seperti kepribadian, sifat, usia. Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan diatas, peneliti menyimpulkan faktor- faktor yang mempengaruhi keterikatan karyawan yaitu karakteristik pekerjaan, persepsi dukungan organisasi, persepsi dukungan pimpinan, reward dan pengakuan, keadilan prosedur, dan penyaluran keadilan, Job resource, Salience of job resoaurce, dan Personal resource merupakan faktor–faktor yang dapat mempengaruhi keterikatan karyawan.
Aspek dalam Keterikatan Kerja (skripsi dan tesis)
Menurut Schaufeli, dkk., (2012), aspek dari keterikatan karyawan terdiri dari tiga yaitu:
- Vigor merupakan aspek yang ditandai dengan tingginya tingkat kekuatan dan resiliensi mental dalam bekerja, keinginan untuk berusaha dengan sungguhsungguh dalam bekerja dan gigih dalam menghadapi kesulitan.
- Dedication merupakan aspek yang ditandai dengan perasaan yang penuh makna, antusias, inspirasi, bangga dan merasa tertantang dalam bekerja. Karyawan yang memiliki skor dedication yang tinggi secara kuat akan mengidentifikasi pekerjaan yang dilakukan sebagai pengalaman berharga, menginspirasi dan menantang dalam bekerja. Sedangkan skor yang rendah pada dedication berarti tidak mengidentifikasi diri karyawan dengan pekerjaannya karena karyawan tidak memiliki pengalaman bermakna, menginspirasi atau menantang, terlebih lagi karyawan merasa tidak antusias dan bangga terhadap pekerjaan yang dilakukan.
- Absorption merupakan aspek yang ditandai dengan adanya konsentrasi dan minat yang mendalam, tenggelam dalam pekerjaan, waktu terasa berlalu begitu cepat dan individu sulit melepaskan diri dari pekerjaan sehingga melupakan segala sesuatu disekitarnya. Orang-orang yang memiliki skor tinggi pada absorption biasanya merasa senang, perhatiannya tersita oleh pekerjaan, dan memiliki kesulitan untuk memisahkan diri dari pekerjaan. Akibatnya, yang ada di sekitarnya terlupakan. Sebaliknya karyawan dengan skor absorption yang rendah merasa tidak tertarik dengan pekerjaan yang dilakukan.
Menurut Macey dan Schneider (2018) aspek-aspek dari keterikatan karyawan yaitu:
- Trait engagement yaitu pandangan positif mengenai kehidupan dan pekerjaan. Meliputi kepribadian yang proaktif, kepribadian yang dinamis, mempunyai sifat dan afeksi yang positif, dan mempunyai sifat yang berhati– hati.
- State engagement yaitu perasaan yang meliputi kepuasan (afektif), keterikatan, komitmen, dan pemberdayaan.
- Behavioral engagement yaitu perilaku melebihi tugas yang dibebankan atau disebut perilaku peran ekstra. Meliputi perilaku sukarela, perilaku proaktif atau inisiatif personal, ekspansi peran, dan adaptif.
Berdasarkan dua pendapat yang telah dikemukakan maka peneliti memilih aspek keterikatan karyawan dari Schaufeli, dkk., (2012) yaitu vigor, dedication, absorbtion dalam membuat alat ukur dikarenakan beberapa penelitian banyak menggunakan aspek ini dan aspek ini lebih sesuai dengan kondisi penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
Aspek dalam Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Luthans (Kaswan, 2012) menyatakan aspek-aspek dalam kepuasan kerja, antara lain:
- Pekerjaan itu sendiri
Dalam hal ini pekerjaan memberikan tugas yang menarik, kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab. Jika karyawan merasa mampu untuk menerima tanggungjawab dari pekerjaan yang dibebankan dan karyawan juga merasa yakin bahwa pekerjaannya merupakan bakat dan keterampilannya maka karyawan akan sangat mudah untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan begitupun sebaliknya. Jika pekerjaan itu dirasa membuat karyawan merasa senang maka akan terasa mudah untuk menjalaninya.
- Gaji
Sejumlah upah atau gaji yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa dipandang sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam organisasi. Karyawan akan merasa senang jika upah yang diterima sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya dan merasa gaji yang diterima dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.
- Promosi
Kesempatan untuk maju didalam organisasi dilakukan dengan cara promosi. Dalam hal ini karyawan akan senang jika promosi dilakukan secara objektif dan kesempatan untuk meningkatkan karier di dalam organisasi sangat besar. Promosi ditempat kerja dilakukan dengan alasan untuk memotivasi karyawan agar selalu bekerja dengan baik supaya naik jabatan.
- Pengawasan
Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan perilaku. Apabila atasan dalam memberikan pengarahan dan mengambil keputusan sangat tegas dan objektif maka karyawan akan sangat puas. Atasan yang mengayomi dan mendukung prestasi bawahan akan sangat membuat karyawan merasa senang dan nyaman bekerja dengan atasan.
- Rekan Kerja
Tingkat dimana rekan kerja pandai secara teknis dan mendukung secara sosial. Rekan kerja sangat berpengaruh dalam kepuasan kerja karyawan. Jika setiap karyawan memiliki hubungan dan komunikasi yang baik, maka akan tercipta suasana kekeluargaan yang hangat dan situasi yang baik didalam organisasi. Setiap karyawan harus pandai menempatkan diri dan dapat memberikan dukungan kepada sesama rekan kerja dan lingkungan sekitar.
- Kondisi Kerja
Jika kondisi kerja bagus (misalnya bersih, rapih dan lingkungan menarik) maka karyawan akan lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dan sebaliknya. Lingkungan yang menarik dapat membuat suasana hati karyawan menjadi baik sehingga dapat memengaruhi hasil kerja karyawan. Kondisi kerja seperti fasilitas yang memadai juga turut membuat karyawan merasa puas
Jewell dan Siegall (dalam Prestawan, 2010) beberapa aspek dalam mengukur kepuasan kerja adalah:
- Aspek psikologis yaitu kepuasan kerja yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan meliputi minat terhadap pekerjaan, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.
- Aspek fisik yaitu berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja, pengaturan waktu istirahat, keadaan ruangan, suhu udara, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.
- Aspek sosial yaitu berhubungan dengan interaksi sosial, baik antar sesama karyawan dengan atasan maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya serta hubungan dengan anggota keluarga.
- Aspek finansial yaitu berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besar gaji, jaminan sosial, tunjangan, fasilitas dan promosi. Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kepuasan kerja terdiri dari aspek prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, promosi, pengembangan potensi individu. Selain itu aspek psikologis, aspek fisik, aspek sosial dan aspek finansial. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan aspek kepuasan kerja yang mengacu pada teori Herzberg (dalam Robbins & Judge, 2018) yaitu prestasi kerja, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, promosi, dan pengembangan potensi individu sebagai acuan untuk membuat alat ukur tentang kepuasan kerja karyawan karena aspek ini dipercaya sebagai sumber kepuasan kerja secara keseluruhan.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja pada karyawan menurut Robbins dan Judge (2018) ada empat faktor:
- Rekan kerja yang mendukung
Individu mendapat sesuatu yang lebih dari pada sekadar uang atau prestasi yang nyata dari pekerjaan. Untuk sebagian karyawan, kerja memenuhi kebutuhan interaksi sosial. Oleh karena itu, memiliki rekan-rekan kerja yang ramah dan mendukung mampu meningkatkan kepuasan kerja. Memiliki rekan kerja yang mendukung akan membuat karyawan merasa nyaman di tempat kerja. Lingkungan yang nyaman tersebut membuat karyawan tidak mudah stress dan tertekan sehingga mudah memperoleh kepuasan dalam bekerja.
- Penghargaan yang sesuai
Karyawan menginginkan sistem bayaran yang mereka rasa adil dan sesuai dengan harapan-harapan mereka. Ketika bayaran dianggap adil, sesuai dengan tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individual, dan standar bayaran masyarakat, kemungkinan akan tercipta kepuasan. Karyawan yang merasakan bahwa bayaran yang diterimanya sesuai dengan apa yang diharapkan dan dikerjakan maka akan menciptakan kepuasan dalam bekerja.
- Kondisi lingkungan kerja yang mendukung
Karyawan berhubungan dengan lingkungan kerja mereka untuk kenyamanan pribadi dan kemudahan melakukan pekerjaan yang baik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa karyawan lebih menyukai lingkungan fisik yang nyaman atau tidak berbahaya. Selain itu, sebagian besar karyawan lebih menyukai bekerja relatif dekat dengan rumah, mudah dijangkau dengan kendaraan dengan fasilitas yang relatif modern dan bersih, serta dengan peralatan yang memadai. Fasilitas yang memadai tersebut akan membantu karyawan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah sehingga akan memperoleh kepuasan dalam bekerja.
- Pekerjaan yang menantang
Pada umumnya, individu lebih menyukai pekerjaan yang memberi mereka peluang untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan serta memberi beragam tugas, kebebasan, dan umpan balik tentang seberapa baik kerja mereka. Karakteristik-karakteristik ini membuat kerja lebih menantang secara mental dan membuatnya tertarik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apabila karyawan tertarik dengan pekerjaannya maka akan menajdi motivasi untuk menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Hasil pekerjaan yang berkualitas akan membuat dirinya bangga dan puas dengan pekerjaannya.
Pengertian Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Hasibuan (2013) berpendapat kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan membuat seseorang merasa menikmati dan mencintai pekerjaannya. Ketika karyawan dapat merasakan bahwa pekerjaan yang dilakukannya dirasa membuatnya bahagia, maka karyawan akan menjadi puas dan akan selalu menjalankan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, prestasi kerja dan kedisiplinan. Jika karyawan merasakan kepuasan didalam pekerjaannya, maka karyawan akan memiliki perilaku yang baik di dalam perusahaan sebab karyawan akan mematuhi segala peraturan perusahaan karena ia mencintai pekerjaannya. Kemudian karyawan akan menghasilkan produktivitas yang baik bagi perusahaan sebab karyawan ingin perusahaan tempat ia bekerja akan selalu berkembang. Karyawan juga akan memiliki kedisiplinan yang baik mengingat dengan perilaku disiplin yang baik, akan terciptanya perusahaan yang sukses.
Robbins (dalam Diasmoro, 2017) mendefinisikan kepuasan kerja adalah sikap positif yang dirasakan oleh seseorang terhadap hasil yang dikerjakannya. Kepuasan kerja tidak hanya didapat dari seorang karyawan yang dapat memenuhi tugas tugas dari pekerjaannya. Akan tetapi hubungan yang baik dengan sesama rekan kerja, pemimpin, dapat mematuhi peraturan dan berada di kondisi lingkungan yang baik dapat menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja. rekan kerja, pemimpin dan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi bagaimana kepuasan pekerjaan karyawan, sebab jika karyawan memiliki masalah dengan atasan dan sesama rekan kerja maka akan tercipta perasaan benci dan perasaan tidak nyaman didalam bekerja.
Locke (dalam Kaswan, 2012) menjelaskan kepuasan kerja adalah suatu kondisi emosional yang dialami oleh seseorang akibat dari pengalaman kerjanya, akibatnya seseorang memiliki perasaan positif ataupun negative terhadap pekerjaannya. Setiap karyawan memiliki pengalaman-pengalaman yang berbeda ketika memasuki dunia kerja. Karyawan akan bisa menilai bagaimana pekerjaan yang dilakukannya apakah pekerjaan itu membuatnya bahagia atau pekerjaannya membuat karyawan merasa ada yang kurang. Setiap karyawan memiliki kebutuhan-kebutuhan dan konsep diri masing-masing sehingga persepsi seseorang tentang pekerjaannya akan berbeda, apakah menyenangkan dan menguntungkan ataupun justru sebaliknya.
Definisi Operasional (skripsi dan tesis)
1. Alokasi Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar Desa untuk mendanai kebutuhan Desa dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan serta pelayanan masyarakat.
2. Efektivitas lebih menekankan pada aspek tujuan dan suatu organisasi, jadi jika suatu organisasi telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka dapat dikatakan telah mencapai efektifitas. Tingkat efektivitas dapat diukur dengan membandingkan antara rencana atau target yang telah ditentukan dengan hasil yang dicapai, maka usaha atau hasil pekerjaan tersebut itulah yang dikatakan efektif, namun jika usaha atau hasil pekerjaan yang dilakukan tidak tercapai sesuai dengan apa yang direncanakan, maka hal itu dikatakan tidak efektif.
Definisi Konsep (skripsi dan tesis)
Alokasi ADD untuk BLT memerlukan cara yang tepat sehingga tidak hanya mendorong pada implementatif pengelolaan yang sesuai kebutuhan namun juga meningkatkan partisipasi masyarakat, yang akhirnya mendorong akuntabilitas, transparansi dan responsivitas pemerintah local. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti mencoba mengangkat mengenai bagaiaman efektivitas upaya yang dilakukana oleh pemerintah desa dalam melakukan menyalurkan dana desa sebagai BLT di Kelurahan Sawahan Kapanewon Ponjong Kabupaten Gunung Kidul.
Pengertian Desa (skripsi dan tesis)
Menurut Landis dalam (Syachbrani, 2012) Desa adalah suatu wilayah yang jumlah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri: pergaulan hidup yang saling kenal-mengenal antar penduduk; pertalian perasaan yang sama tentang suatu kesukaan dan kebiasaan; kegiatan ekonomi yang pada umumnya agraris dan masih dipengaruhi oleh alam sekitar, seperti iklim dan keadaan serta kekayaan alam. Menurut Soetardjo dalam Thomas (2013) Desa dapat dipahami sebagai suatu daerah kesatuan hukum dimana bertempat tinggal di suatu masyarakat yang berkuasa (memiliki wewenang) mengadakan pemerintahan sendiri. Pengertian ini menekankan adanya otonomi untuk membangun tata kehidupan desa bagi kepentingan penduduk. Dalam pengertian ini terdapat kesan yang kuat, bahwa kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa hanya dapat diketahui dan disediakan oleh masyarakat desa dan bukan pihak luar.
Sedangkan menurut hukum UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang dimaksud dengan desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Desa adalah kepala desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Desa. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) merupakan lembaga perwujudan dalam demokrasi penyelenggaraan pemerintah desa. Anggota BPD ialah wakil dari penduduk desa bersangkutan berdasarkan keterwakilan wilayah. Anggota BPD terdiri dari ketua RW, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama atau tokoh masyarakat lainnya.
Perencanaan, Pelaksanaan, Pertanggungjawaban, dan Pengawasan Alokasi Dana Desa (ADD) (skripsi dan tesis)
Perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban, dan pengawasan ADD berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 113 Tahun 2014 pasal 20, 24, 38, dan 44 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
1. Perencanaan ADD
a. Sekretaris Desa menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa berdasarkan RKPDesa tahun berkenaan.
b. Sekretaris Desa menyampaikan rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa kepada Kepala Desa.
c. Rancangan peraturan Desa tentang APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Kepala Desa kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk dibahas dan disepakati bersama.
d. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa disepakati bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling lambat bulan Oktober tahun berjalan.
2. Pelaksanaan ADD
a. Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan kewenangan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa.
b. Khusus bagi desa yang belum memiliki pelayanan perbankan di wilayahnya maka pengaturannya ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
c. Semua penerimaan dan pengeluaran desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah.
3. Pertanggungjawaban ADD
a. Kepala Desa menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa kepada Bupati/Walikota setiap akhir tahun anggaran.
b. 2. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
c. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Desa.
d. Peraturan Desa tentang laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilampiri:
e. format Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa Tahun Anggaran berkenaan;
f. format Laporan Kekayaan Milik Desa per 31 Desember Tahun Anggaran berkenaan; dan
g. format Laporan Program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang masuk ke desa.
4. Pengawasan ADD
a. Pemerintah Provinsi wajib membina dan mengawasi pemberian dan penyaluran Dana Desa, Alokasi Dana Desa, dan Bagi Hasil Pajak dan Restribusi Daerah dari Kabupaten/Kota kepada Desa.
b. Pemerintah Kabupaten/Kota wajib membina dan mengawasi pelaksanaan pengelolaan keuangan desa.
Alokasi Dana Desa (skripsi dan tesis)
Alokasi dana desa (ADD) merupakan salah satu pendapatan desa yang berasal dari bantuan langsung pemerintah sebagai wujud pemerataan. Berbagai peraturan dalam sistem undang-undang memberikan pengertian mengenai alokasi dana desa. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa pada Pasal 18 bahwa Alokasi Dana Desa berasal dari APBD Kabupaten/Kota yang bersumber dari bagian Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10 % (sepuluh persen). Sedangkan berdasarkan Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pengelolaan Alokasi Dana Desa yang selanjutnya disingkat ADD adalah dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus.
Dengan demikian pengertian dari Alokasi Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar Desa untuk mendanai kebutuhan Desa dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan serta pelayanan masyarakat
Penggunaan ADD dalam Peraturan Dalam Pasal 4 Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pengelolaan Alokasi Dana Desa disebutkan bahwa :
- ADD dipergunakan untuk membiayai kegiatan bidang penyelenggaraan pemerintahan desa, bidang pembangunan desa, bidang pemberdayaan masyarakat, dan bidang kemasyarakatan.
- Kegiatan bidang penyelenggaraan pemerintahan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain untuk :
- penghasilan tetap kepala desa dan perangkat desa;
- biaya operasional pemerintah desa
- operasional dan tunjangan anggota BPD; d. biaya penyelenggaraan Musyawarah Desa;
- biaya penyusunan Peraturan Desa;
- biaya penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LPPD, LKPPD, dan IPPD);
- kegiatan pengisian perangkat desa;
- kegiatan pemilihan kepala desa;
- pembinaan Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) desa;
- pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas);
- peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa;
- optimalisasi pelaksanaan pelayanan satu pintu;
- peningkatan kualitas pengelolaan arsip desa; dan
- penghargaan untuk kepala desa dan/atau perangkat desa yang diberhentikan dengan hormat.
Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten kepada desa harus disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia (Solekhan, 2012). Oleh karena itu terdapat anggaran sebagai modal pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat yang dikenal dengan Alokasi Dana Desa. Terkait dengan ADD (Alokasi Dana Desa) sebenarnya merupakan lanjutan dari program bantuan desa sejak tahun 1969 yang disediakan oleh pemerintah pusat dalam bentuk inpres pembangunan desa. Namun sejak diberlakukan otonomi daerah ADD kemudian dialokasikan melalui APBDes (Solekhan, 2012). Oleh karena itu pemerintah kabupaten wajib memberikan kepercayaan kepada pemerintah desa sebagai desa otonom untuk mengelola anggaran suatu kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Keuangan desa adalah hak dan kewajiban desa dalam rangka penyelengaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa tersebut, sehingga perlu dikelola dalam suatu sistem pengelolaan keuangan desa (Solekhan, 2012). Dalam pengelolaan keuangan desa diperlukan suatu standart pengaturan yang dimulai dari aspek perencanaan, dan penganggaran maupun aspek pelaksanaan, penatausahaan, dan keuangan desa. Tahap-tahap pengelolaan ADD (Solekhan, 2012) meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan.
Dana Desa (skripsi dan tesis)
Menurut UU No. 6 Tahun 2014 dana Desa adalah dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan, pembangunan , pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Alokasi Dana Desa adalah dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus. ADD sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah setelah dikurangi dana alokasi khusus. Secara terperinci, pengalokasian ADD dalam APBDes wajib memperhatikan peruntukannya dengan persentase anggaran :
- Paling sedikit 70% (tujuh puluh perseratus) dari jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk mendanai penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa,
- Paling banyak 30% (tiga puluh perseratus) dari jumlah anggaran belanja desa yang digunakan untuk penghasilan tetap dan tunjangan kepala desa dan perangkat desa, operasional Pemerintah Desa, tunjangan dan operasioanal Badan Permusyawaratan Desa, dan insentif rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW).
Tujuan Alokasi Dana Desa adalah:
- Meningkatkan penyelenggaraan pemerintah desa dalam pelaksanaan pembangunan dan kemasyarakatan sesuai dengan kewenangannya;
- Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan secara partisipastif sesuai dengan potensi desa;
- Meningkatnya pemerataan pendapatan, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat desa;
- Mendorong peningkatan swadaya gotong royong.
Menurut Syachbrani (2012) Alokasi Dana Desa (ADD) adalah bagian keuangan desa yang diperoleh dari bagi Hasil Pajak Daerah dan bagian dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh kabupaten. ADD dalam APBD kabupaten/kota dianggarkan pada bagian pemerintah desa, dimana mekanisme pencairannya dilakukan secara bertahap atau disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi pemerintah daerah. Adapun tujuan dari alokasi dana ini adalah sebagai berikut:
- Penanggulangan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan .
- Peningkatan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat desa dan pemberdayaan masyarakat.
- Peningkatan infrastruktur pedesaan.
- Peningkatan pendalaman nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam rangka mewujudkan peningkatan sosial.
- Meningkatkan pendapatan desa melalui BUMDesa. Alokasi Dana Desa dalam APBD Kabupaten/Kota dianggarkan pada bagian pemerintah desa.
Pemerintah desa membuka rekening pada bank yang ditunjuk berdasarkan keputusan kepala desa. Kepala desa mengajukan permohonan penyaluran ADD kepada bupati setelah dilakukan verifikasi oleh tim pendamping kecamatan. Bagian pemerintahan desa pada setda Kabupaten/Kota akan meneruskan berkas permohonan berikut lampirannya kepada bagian keuangan setda kabupaten/Kota atau kepala badan pengelola keuangan daerah (BPKD) atau kepala badan pengelola keuangan dan kekayaan aset daerah (BPKKAD). Kepala bagian keuangan setda atau kepala BPKD atau kepala BPKKAD akan menyalurkan ADD langsung dari kas daerah ke rekening desa. Mekanisme pencairan ADD dalam APBDesa dilakukan secara bertahap atau disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi daerah Kabupaten/Kota (Nurcholis, 2011).
Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) (skripsi dan tesis)
Menurut Wynandin Imawan (2008:8) Program Bantuan Langsung Tunai merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan Pemerintah Indonesia dari sekian banyak program penanggulangan kemiskinan yang terbagi menjadi tiga klaster. Program Bantuan Langsung Tunai masuk dalam klaster I, yaitu Program Bantuan dan Perlindungan Sosial. Termasuk dalam klaster I adalah Program Beras Miskin (Raskin), Program Keluarga Harapan (PKH), Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan Program Bea Siswa. Menurut Wynandin Imawan (2008:9) selain melaksanakan klaster I, Pemerintah Indonesia juga melaksanakan program pengentasan kemiskinan lainnya yang termasuk dalam klaster II yaitu Program Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).
Termasuk dalam klaster II ini adalah PNPM Pedesaan (PPK), PNPM Perkotaan (P2KP), PNPM Infrastruktur Pedesaan (PPIP), PNPM Kelautan (PEMP), dan PNPM Agribisnis (PUAP). Pelaksanaan klaster III yaitu Program Pemberdayaan Usaha Menengah Kecil (UMK), termasuk di dalamnya Program Kredit UMKM, dan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Program bantuan langsung tunai (BLT) merupakan sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang memiliki tujuan dan alasan tertentu.
Program tersebut muncul sebagai manifestasi adanya tindakan dari pemerintah yang berisikan nilai-nilai tertentu, yang ditujukan untuk memecahkan persoalan publik dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia . Persoalan publik yang dimaksud adalah persoalan kemiskinan. Secara umum kemiskinan adalah bilamana masyarakat berada pada suatu kondisi yang serba terbatas, baik dalam aksesibilitas pada faktor produksi, peluang/kesempatan berusaha, pendidikan, fasilitas hidup lainnya.
Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dilatar belakangi upaya mempertahankan tingkat konsumsi Rumah Tangga Sasaran (RTS) sebagai akibat adanya pandemic yang berdampak akan perekonomian masyarakat terutama masyarakat miskin yng terkena dampak. Tujuan BLT adalah :
1. Membantu masyarakat miskin agar tetap dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.
2. Mencegah penurunan taraf kesejahteraan masyarakat miskin akibat kesulitan ekonomi.
3. Meningkatkan tanggung jawab sosial bersama.
Tentunya peran pemerintah sangat diperlukan dalam suatu perekonomian . Peran yang diharapkan adalah sebuah peran positif yang berupa kewajiban moral untuk membantu mewujudkan kesejahteraan semua orang dengan menjamin keseimbangan antara kepentingan privat dan sosial; memelihara roda perekonomian pada jalur yang benar.
Dana desa sebesar yang dialihkan menjadi BLT itu sekitar 31 persen dari total Rp72 Triliun, yaitu sebesar Rp22,4 triliun. Program BLT bagi 12,3 juta kepala keluarga (KK) yang terdampak Covid-19 yang diserahkan oleh Kepala Desa dan Perangkat Desa. Masing-masing akan mendapatkan Rp600 ribu selama tiga bulan, yaitu April, Mei dan Juni hingga total menjadi Rp1,8 juta. alokasi pemberian BLT itu dibagi dalam tiga tingkatan dengan merujuk pada besaran Dana Desa.
1. Desa yang miliki Dana Desa kurang Rp800 juta, BLT dialokasikan 25 persen;
2. Desa yang miliki Dana Desa Rp800 juta – Rp1,2 Miliar, BLT dialokasikan 30 persen;
2. Desa yang miliki Dana Desa diatas Rp1,2 Miliar, BLT dialokasikan 35 persen. (https://setkab.go.id/)
Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)
Menurut Rumanti (2002), di dalam berkomunikasi ini ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan yaitu:
a. Teknik komunikasi
Siapapun akan mengalami kesulitan apabila kurang adanya kecakapan
berkomunikasi. Sehingga hasilnya kurang efektif. Bila menyadari adanya
betapa pentingnya arti komunikasi bagi perkembangan dirinya, tugasnya,
maupun tempat ia bekerja, maka perlu mempelajari teknik berkomunikasi,
terbuka mau melatih diri dengan tekun, serta tidak takut resiko.
b. Etika pergaulan
Sikap kurang tepat karena bergaul dan terlalu egois, maka perlu
memperdalam hubungan kemanusaiaan, mau tahu dan mengerti orang lain.
c. Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang akan mengakibatkan adanya jarak dalam
pergaulan karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Disini perlu adanya
kesadaran untuk meningkatkan dirinya dengan berbagai cara, banyak
membaca, mendengarkan dengan serius untuk mendapatkan pengalaman,
juga mengikuti penataran-penataran semacam itu.
d. Pemahaman terhadap sistem sosial
Bila kurang memahami sistem sosial, maka akan kurang menangkap
pembicaraan, kurang memperhatikan adanya kurang perbedaan kebiasaan,
tradisi, budaya setempat, bahasa dan sebagainya dalam kehidupan.
Lingkungan ikut mempengaruhi seluruh kehidupan, Sehingga penting dan
perlu mempelajari kebiasaan, budaya dan tradisi ditempat tersebut. Kalau
tidak, hal tersebut akan menghambat komunikasi.
e. Prasangka
Adanya rasa curiga, prasangka, tidak percaya yang mendasar, dapat terjadi
dilingkungan yang kurang terpelajari karena kurang luasnya pandangan.
Untuk mengatasinya perlu meningkatkan saling adanya pengertian yang
jelas, memberi kejelasan dengan sabar dan kurang memperhatikan ketepatan
informasi yang diberikan disini sedikit demi sedikit memberi kesadaran
pentingnya saling mempercayai, saling ada pengertian serta hormat
menghormati demi kepentingan semua pribadi.
Anderson (dalam Rumanti, 2002) menambahkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi komunikasi adalah sebagai berikut:
a. Sumber dan penerimaan pesan
Pada sumber dan penerimaan pesan ini meliputi pengetahuan, gagasan
pikiran dan pengalaman, sikap keyakinan dan tujuan, kebutuhan, keinginan
dan nilai-nilai, kepentingan, keanggotaan dan perasaan dalam kelompok,
kecakapan dalam berkomunikasi serta pencapai terhadap unsur-unsur lain.
b. Saluran
Saluran ini meliputi karakteristik saluran atau media yang digunakan dan
seberapa besar jumlah publiknya, yakni publik sasaran dan publik massa.
c. Pesan
Dalam pesan ini yang tercakup adalah gagasan dan isi pesan, susunan pesan,
bahasa dan gaya, juga cara penyampaian secara lisan, dan lain-lain.
Pengertian Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)
Menurut kamus besar bahasa indonesia, interpersonal adalah hubungan antar
pribadi. Komunikasi interpersonal disebut juga komunikasi antar pribadi, yang berarti
komunikasi yang berlangsung antara dua orang. Komunikasi ini dianggap sebagai
yang paling ampuh dalam kegiatan mengubah sikap jika dibandingkan dengan bentuk
komunikasi yang lain, alasannya karena komunikasi ini berlangsung secara tatap
muka, atau interaksi secara langsung sehingga jika akan merujuk pada konsep
feedback, maka feedback akan langsung terjadi (Timothius, 2012).
Menurut Effendy (dalam Timotihus, 2012), komunikasi interpersonal adalah
komunikasi yang berlangsung pada umumnya antara dua orang secara dialogis.
Sarwono (dalam Hutagalung, 2014) komunikasi interpersonal merupakan hal yang
membentuk hubungan antar pribadi, dimana ada pihak yang menyampaikan pesan
atau transmitter dan ada yang menerima pesan atau receiver. Sedangkan menurut
rogers komunikasi interpersonal adalah komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi
dalam interaksi tatap muka antar beberapa pribadi dan senada dengan pendapat itu,
Pace mengatakan bahwa komunikasi antar pribadi adalah komunikasi tatap muka
antara dua orang atau lebih (dalam Deddy, 2007).
Purwanto (dalam Sunyoto, 2013) menjelaskan bahwa komunikasi
interpersonal adalah komunikasi yang melibatkan dua orang atau lebih dalam dialog
yang terbuka, jujur dan hangat, keduanya menganggap sebagai teman bicara yang
setara, saling menghargai sebagai pribadi sehingga tidak akan terjadi yang satu
mendikte yang lain.
Jenis komunikasi ini dianggap paling efektif untuk mengubah sikap pendapat,
atau perilaku berhubung prosesnya yang dialogis, sifat dialogis itu ditunjukkan
melalui komunikasi lisan dalam percakapan yang menampilkan arus balik yang
langsung. Jadi komunikator mengetahui tanggapan komunikan pada saat itu juga,
komunikator mengetahui dengan pasti apakah pesan-pesan yang dia kirimkan itu
diterima atau ditolak, berdampak posotif atau negatif. Jika tidak diterima maka
komunikator akan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada komunikator untuk
bertanya.
Aspek- Aspek Stres Kerja (skripsi dan tesis)
Stres kerja dikategorikan dalam beberapa aspek-aspek stres kerja oleh
Beehr dan Newman (dalam Rahardja, 2007) meliputi:
a. Aspek fisiologis bahwa stres kerja sering ditunjukkan pada simptoms
fisiologis. Penelitian dan fakta oleh ahli-ahli kesehatan dan kedokteran
menunjukkan bahwa stres kerja dapat mengubah metabolisme tubuh,
menaikkan detak jantung, mengubah cara bernafas, menyebabkan sakit
kepala, dan serangan jantung. Beberapa yang teridentifikasi sebagai
simptoms fisiologis adalah meningkatnya detak jantung, tekanan darah,dan
risiko potensial terkena gangguan kardiovaskuler, mudah lelah fisik, kepala
pusing, sakit kepala, ketegangan otot, gangguan pernapasan, termasuk akibat
dari sering marah, sulit tidur, gangguan tidur, sering berkeringat, telapak
tangan berkeringat.
b. Aspek psikologis, stres kerja dan gangguan gangguan psikologis adalah
hubungan yang erat dalam kondisi kerja. Simptoms yang terjadi pada
aspek psikologis akibat dari stres adalah kecemasan, ketegangan, mudah
marah, sensitif dan jengkel, kebingungan, gelisah, depresi, mengalami
ketertekanan perasaan, kebosanan, tidak puas terhadap pekerjaan,
menurunnya fungsi intelektual, kehilangan konsentrasi, hilangnya
kreativitas, tidak bergairah untuk bekerja, merasa tidak berdaya, merasa
gagal, mudah lupa, rasa percaya diri menurun.
c. Aspek tingkah laku (behavioral). Pada aspek ini stres kerja pada
karyawan ditunjukkan melalui tingkah laku mereka. Beberapa symptoms
perilaku pada aspek tingkah laku adalah penundaan, menghindari pekerjaan,
absensi, menurunnya performansi dan produktivitas, makan secara
berlebihan/hilangnya nafsu makan, tindakan berlebihan, menurunnya
hubungan dengan teman dan keluarga, tidak berminat berhubungan dengan
orang lain.
Cox (dalam Gibson, dkk, 1997) juga mengemukakan situasi yang menekan
pada pekerja dapat menimbulkan respons pada subjek, perilaku, kognitif, fisiologis
maupun organisasi, yaitu:
a. Respons pada subjek, meliputi kecemasan, agresif, acuh, kebosanan, depresi,
keletihan, frustrasi, kehilangan kesabaran, rendah diri, gugup, dan merasa
kesepian.
b. Respons pada perilaku, meliputi kecenderungan mendapat kecelakaan,
alkoholik, penyalahgunaan obat-obatan, emosi yang tiba-tiba meledak,
makan berlebihan, merokok berlebihan, perilaku yang mengikuti kata hati,
dan tertawa gugup.
c. Respons pada kognitif, meliputi ketidakmampuan mengambil keputusan
yang jelas, konsentrasi yang buruk, rentang perhatian yang pendek, sangat
peka tehadap kritik,dan rintangan mental.
d. Respons pada fisiologis, misalnya meningkatnya kadar gula,
meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah, kekeringan di mulut,
Pengertian Stres Kerja (skripsi dan tesis)
Gibson, dkk (1997) menyatakan stres adalah kata yang berasal dari Bahasa
Latin, yaitu‘stringere’, yang memiliki arti keluar dari kesukaan (draw tight). Definisi
ini menjelaskan sebuah kondisi susah atau penderitaan yang menunjukkan paksaan,
tekanan, ketegangan atau usaha yang kuat, diutamakan ditunjukkan pada individual,
organ individual atau kekuatan mental seseorang. Stres juga didefinisikan sebagai
interaksi antara stimulus dan respons. Stres sebagai stimulus adalah kekuatan atau
dorongan terhadap individu yang menimbulkan reaksi ketegangan atau menimbulkan
perubahan-perubahan fisik individu.
Stres sebagai respons yaitu respons individu baik respons yang bersifat
fisiologik, psikologik terhadap stresor yang berasal dari lingkungan (Gibson,dkk,
1997). Sehingga Gibson, dkk (1997) merumuskan definisi kerja mengenai stres dan
mendefinisikan stres sebagai suatu tanggapan adaptif ditengahi oleh perbedaan
individual dan/atau proses psikologis, yaitu suatu konsekuensi dari setiap kegiatan
(lingkungan), situasi, atau kejadian eksternal yang membebani tuntutan psikologis
atau fisik yang berlebihan pada seseorang.
Stres adalah suatu respon adaptif, melalui karakteristik individu dan atau proses
psikologis secara langsung terhadap tindakan, situasi dan kejadian eksternal yang
menimbulkan tuntutan khusus baik fisik maupun psikologis individu yang
bersangkutan. Pendapat lain mengatakan bahwa stress adalah tanggapan yang
menyeluruh dari tubuh terhadap tuntutan yang datang kepadanya (Nasution, 2000).
Dalam kaitan dalam pekerjaannya, Smet (1994) secara spesifik menjelaskan
bahwa stress kerja sebagai suatu kondisi yang disebabkan oleh transaksi antara
individu dengan lingkungan kerja sehingga menimbulkan persepsi jarak antara
tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber daya sistem biologis, psikologis dan
sosial. Beehr dan Newman dalam Dhania (2010) yang mendefinisikan stres kerja
sebagai tuntutan pekerjaan yang berlebihan melebihi kemampuan pekerja meliputi
interaksi antara kondisi pekerjaan dengan sikap individu yang mengubah kondisi
normal dan fungsi psikologis pekerja sehingga menyebabkan orang merasa sakit,
tidak nyaman atau tegang karena pekerjaan, tempat kerja atau situasi kerja yang
tertentu.
Stres kerja oleh Handoko (2008) didefinisikan sebagai interaksi antara
seseorang dan situasi lingkungan atau stresor yang mengancam atau menantang
sehingga menimbulkan reaksi pada fisiologis maupun psikologis pekerja. Kemudian
Rice (dalam Dhania, 2010) mempunyai definisi senada mengenai stres kerja
menambahkan bahwa stres kerja yang terjadi pada individu meliputi gangguan
psikologis, fisiologis, perilaku, dan gangguan pada organisasi.
Stres kerja adalah suatu respon adaptif, dihubungkan oleh karakteristik dan
atau proses psikologi individu yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap
tindakan eksternal, situasi atau peristiwa yang menempatkan tuntutan psikologis
dan atau fisik khusus pada seseorang (Sunyoto, 2013). Selanjutnya Robbins
(2001) menyatakan stres sebagai suatu keadaan ketegangan fisik atau mental
atau kondisi yang menyebabkan ketegangan.
Stres timbul sebagai dampak dari hubungan antara individu dengan
lingkungannya yang dinilai oleh individu sebagai sesuatu yang mengganggu atau
melebihi kapasitas dan membahayakan kelangsungan hidupnya (Folkman dalam
Handoko, 2008). Rice (dalam Dhania, 2010), penulis buku Stres and Health,
seseorang dapat dikategorikan mengalami stres kerja jika stres yang dialami
melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat individu bekerja, namun
penyebabnya tidak hanya di dalam perusahaan karena masalah rumah tangga yang
terbawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa ke rumah dapat juga
menjadi stres kerja.
Gibson (1997) mendefinisikan stres kerja sebagai reaksi seseorang terhadap
tekanan yang berlebihan atau tuntutan di tempat kerja yang bersifat merugikan.
Wilford dalam Dhania (2010) mengatakan bahwa stres kerja terjadi bila terdapat
penyimpangan dari kondisi-kondisi optimum yang tidak dapat dengan mudah
diperbaiki sehingga mengakibatkan suatu ketidakseimbangan antara tuntutan kerja
dan kemampuan pekerjaannya.
Robbins (2001) membagi tiga kategori potensi penyebab stres (stresor) yaitu
lingkungan, organisasi dan individu. Ketidakpastian lingkungan mempengaruhi
dalam perancangan struktur organisasi. Ketidakpastian itu juga mempengaruhi
tingkat stres di kalangan para karyawan dalam suatu organisasi. Lebih lanjut Robbins
(2001) berpendapat bahwa struktur organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam
organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan dimana keputusan diambil. Aturan yang
berlebihan dan kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan yang berdampak
pada karyawan merupakan potensi sumber stres.
Lebih lanjut Thoits (dalam Rahardja, 2007) mengemukakan bahwa persaingan
(alienation) mempunyai hubungan positif dengan stres kerja. Kelebihan beban kerja
(work overload) baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif mempunyai hubungan
empiris dengan fisiologi, psikologi dan stres (Rahardja, 2007). Sunyoto (2013) juga
menambahkan bahwa tidak ada aspek tunggal dari stimulus lingkungan yang dapat
mengakibatkan stres, tetapi semua itu tergabung dalam suatu susunan total yang
mengancam keseimbangan individu.
Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur dan memantau kepuasan pelanggan (Kotler dan Keller, 2006) mengemukakan 4 metode untuk mengukur kepuasan pelanggan yaitu :
- Sistem keluhan dan saran
Setiap perusahaan berorientasi pada pelanggan (customer oriented) perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pelanggan untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan mereka.
Media yang dapat digunakan seperti kotak saran atau kartu komentar, dan lain-lain. Metode ini dapat memberikan ide-ide dan masukan baru bagi perusahaan.
- Survei kepuasan pelanggan
Banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan dengan menggunakan survei, baik melalui pos, telepon, dan wawancara pribadi. Melalui survei perusahaan memperoleh tanggapan langsung dari pelanggan dan juga memberikan tanda positif bahwa perusahaan memberikan perhatian kepada pelanggannya. Metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
- Directly reported satisfaction
Pengukuran dapat dilakukan secara langsung melalui pertanyaan kepada pelanggan dengan ungkapan sangat tidak puas, kurang puas, cukup puas, dan sangat puas.
- Derived dissatisfaction
Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka mengharapkan suatu atribut tertentu dan seberapa besar yang mereka rasakan.
- Problem analysis
Responden diminta menuliskan masalah-masalah yang mereka hadapi yang berkaitan dengan penawaran dari perusahaan dan diminta untuk menuliskan perbaikan-perbaikan yang mereka sarankan.
- Importance-performance analysis
Responden diminta untuk merangking elemen atau atribut penawaran berdasarkan derajat kepentingan setiap elemen dan seberapa baik tingkat kinerja perusahaan pada masing-masing elemen.
- Ghost shopping
Metode ini dilakukan dengan mengirimkan seseorang untuk berperan sebagai pelanggan atau pembeli potensial produk perusahaan dan pesaing. Kemudian menyampaikan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan pesaing berdasarkan pengalaman mereka. Selain itu juga mengamati cara penanganan berbagai keluhan pelanggan oleh perusahaan pesaing.
- Lost customer analysis
Metode ini dilakukan perusahaan dengan cara menghubungi pelanggan yang berhenti membeli atau bepindah pemasok. Melalui kegiatan tersebut perusahaan akan memperoleh informasi penyebab terjadinya hal itu. Informasi itu bermanfaat bagi perusahaan untuk mengambil kebijakan.
Indeks Kepuasan Masyarakat Pelayanan Publik (skripsi dan tesis)
Pelayanan public adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan public sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan (Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur negara Nomor 63 tahun 2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). Penyelenggara pelayanan public adalah unit kerja pada instansi pemerintah yang secara langsung memberikan pelayanan kepada penerima pelayanan public (masyarakat).
Hakekat pelayanan public adalah pemberian pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat. Pelayanan prima merupakan terjemahan dari istilah “Excellent Service” yang berarti pelayanan yang sangat baik atau pelayanan terbaik. Disebut terbaik karena sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku atau dimiliki oleh instansi yang memberikan pelayanan. Pelayanan disebut sangat baik atau terbaik atau akan menjadi prima, manakala mampu memuaskan pihak yang dilayani. Jadi pelayanan prima dalam hal ini sesuai dengan harapan pelanggan (Sutopo , 2003:10).
Sugiarto (2002) menyatakan bahwa pelayanan prima adalah kemampuan maksimal seseorang dalam berhubungan dengan orang lain dalam hal pelayanan untuk memenuhi kebutuhan konsumen sehingga tercapai kepuasan. Pelayanan prima dilakukan untuk memfasilitasi kemudahan pemenuhan kebutuhan agar konsumen loyal terhadap organisasi/perusahaan (Barata, 2006). Dengan demikian pelayanan prima di Aparatur Desa Bimomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman dapat diartikan sebagai pelayanan yang diberikan kepada pelanggan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan sehingga pelanggan dapat memperoleh kepuasan dan memiliki kepercayaan pada Aparatur Desa Bimomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman.
Berdasarkan prinsip pelayan sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Men.PAN Nomor : 63/KEP/M.PAN/7/2003, tentang Pelayanan Publik yang kemudian dikembangkan menjadi 14 unsur yang “relevan, valid dan reliable “, sebagai unsur minimal yang harus ada untuk dasar pengukuran indeks kepuasan masyarakat adalah sebagai berikut :
- Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan
- Persyaratan Pelayanan, yaitu persyaratan teknis & administratif yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai jenis pelayanannya;
- Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan & kepastian petugas yang memberikan pelayanan (nama, jabatan, kewenangan & tanggung jawabnya);
- Kedisiplinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku;
- Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang & tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan & penyelesaian pelayanan;
- Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian & keterampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan/menyelesaikan pelayanan pada masyarakat;
- Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan;
- Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani;
- Kesopanan & keramahan petugas, yaitu sikap & perilaku petugas dalam memberikan pelayanan pada masyarakat secara sopan & ramah serta saling menghargai & menghormati;
- Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit pelayanan;
- Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan;
- Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan;
- Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarpras pelayanan yang bersih, rapi & teratur sehingga dapat memberi rasa nyaman pada penerima pelayanan;
- Keamanan Pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit penyelenggara pelayanan ataupun sarana yang digunakan, sehingga masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko‑resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan
Analisis Importance dan Performance Matrix (Analisis Cartesius) (skripsi dan tesis)
Konsep ini sebenarnya berasal dari konsep SERVQUAL. Intinya, sebagaimana disarankan oleh Parasuraman bahwa tingkat kepentingan pelanggan (customer expectation) merupakan ukuran apa yang seharusnya dikerjakan oleh perusahaan agar menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas tinggi. Dari berbagai persepsi tingkat kepentingan pelanggan, dapat dirumuskan tingkat kepentingan yang dominan. Diharapkan dengan memakai konsep tingkat kepentingan dapat menangkap persepsi yang lebih jelas mengenai pentingnya variable tersebut dimata pelanggan kemudian diakitkan dengan pentingnya variable tersebut dengan kenyataan yang dirasakan pelanggan importance = kepentingan; performance = kinerja
Matrik ini terdiri dari 4 kuadran: Kuadran pertama terletak disebelah kiri atas, kuadran kedua disebelah kanan atas, kuadran ketiga disebelah kiri bawah, dan kuadran keempat di sebelah kanan bawah.
Strategi yang dapat dilakukan berkenaan dengan posisi masing-masing variable pada keempat kuadran tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Kuadran 1 (attributes to improve)
Ini adalah wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap penting oleh pelanggan tetapi pada kenyataannya faktor-faktor ini belum sesuai seperti apa yang ia harapkan (tingkat kepuasan yang diperoleh masih rendah). Variabel-variabel yang masuk dalam kuadran ini harus ditingkatkan. Caranya adalah perusahaan melakukan perbaikan secara terus menerus sehingga performance variabel yang ada dalam kuadran ini akan meningkat.
- Kuadran 2 (maintain performance)
Ini adalah wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap penting oleh pelanggan dan faktor-faktor yang dianggap oleh pelanggan sudah sesuai dengan yang dirasakan sehingga tingkat kepuasannya relatif tinggi. Variabel-variabel yang masuk dalam kuadran ini harus tetap dipertahankan karena semua variabel ini menjadikan produk/jasa tersebut unggul di mata pelanggan.
- Kuadran 3 (low priority)
Ini adalah wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap kurang penting oleh pelanggan pada kenyataannya kinerja kurang istimewa. Peningkatan yang masuk dalam kuadran ini dapat dipertimbangkan kembali karena pengaruhnya terhadap manfaat yang dirasakan oleh pelanggan sangat kecil.
- Kuadran 4 (main priority)
Ini adalah wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap kurang penting oleh pelanggan dan dirasakan terlalu berlebihan. Variabel-variabel yang masuk dalam kuadran ini dapat dikurangi agar perusahaan dapat menghemat biaya.
Tingkat Kepentingan Pelanggan (skripsi dan tesis)
Tingkat kepentingan pelanggan didefinisikan sebagai keyakinan pelanggan, sebelum mencoba atau membeli suatu produk atau jasa, yang akan dijadikan standar acuan dalam menilai kinerja produk jasa.
Menurut Parasuraman dalam Tjiptono (2002) terdapat dua tingkatan kepentingan konsumen yaiut : adequate service dan desired service. Adequate service adalah tingkat kinerja minimal yang masih dapat diterima berdasarkan perkiraan jasa yang mungkin akan diterima dan tergantung pada alternatif yang tersedia. Sedangkan desired service adalah tingkat kinerja yang diharapkan pelanggan akan diterimanya, yang merupakan gabungan dari kepercayaan pelanggan mengenai apa yang dapat dan harus diterimanya.
Desired service dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
- Keinginan dilayani dengan baik dan benar
Pelanggan berharap dilayani dengan baik karena ia melihat pelanggan lain dengan baik serta dilayani dengan benar, dimana pelayanan yang benar tergantung pada falsafah individu yang bersangkutan.
- Kebutuhan perorangan
Pelayanan yang diharapkan pelanggan karena kebutuhan pelayan tersebut bersifat mendasar dan terkait dengan kesejahteraan pelanggan.
- Janji secara langsung
Pelayanan yang diharapkan pelanggan karena pelanggan dijanjikan mendapatkan pelayanan seperti itu oleh pemberi jasa.
- Janji secara tidak langsung
Pelayanan yang diharapkan pelanggan karena pelanggan memperoleh petunjuk yang berkaitan dengan pelayanan tersebut sehingga ia menarik kesimpulan tentang pelayanan seperti apa yang seharusnya diberikan, petunjuk tersebut meliputi harga serta peralatan pendukung pelayanan.
- Konsumsi mulut ke mulut
Pelayanan yang diharapkan pelanggan karena pelanggan menerima informasi atau pernyataan yang disampaikan oleh pihak lain pemberi jasa.
- Pengalaman masa lalu
Pelayanan yang diharapkan oleh pelanggan karena ia telah memiliki pengalaman yang meliputi hak-hak yang telah diketahui.
Adequate service dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
- Keadaan darurat
Pelayanan minimal yang harus diterima oleh pelanggan karena pelanggan membutuhkan pelayan tersebut untuk sementara waktu.
- Ketersediaan alternatif
Pelayanan minimal yang diharapkan oleh pelanggan yang muncul dari persepsi pelanggan atas tingkat pelayanan perusahaan lain yang sejenis.
- Derajat keterlibatan pelanggan
Pelayanan yang minimal diterima pelanggan karena pelanggan terlibat di dalam penyediaan jasa tersebut.
- Faktor-faktor yang bergantung situasi
Pelayanan minimal yang masih dapat diterima oleh pelanggan karena adanya peristiwa yang dapat mempengaruhi kinerja jasa yang berada di luar kendali penyedia jasa.
- Pelayanan yang diperkirakan
Pelayanan minimal yang masih dapat diterima pelanggan karena pelanggan telah memperkirakan akan mendapat pelayanan seminimal itu
Pengertian Kualitas Pelayanan (skripsi dan tesis)
Kualitas memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan. Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelangan untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta kebutuhan mereka.
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. (Fandy Tjiptono, 2000 : 59).
Definisi kualitas pelayanan berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Adapun konsep kualitas berdasarkan produk jasa atau service menurut Zeithmal dan Bitner dalam (Fandy Tjiptono, 2000 : 70) adalah :
- Realibility (keandalan), berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati.
- Responsiveness (Daya tanggap), berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan merespons permintaan mereka, serta menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian memberikan jas secara cepat.
- Assurance (jaminan), yakni perilaku para karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan dapat menciptakan rasa aman bagi para pelangganya. Jaminan juga berarti bahwa para karyawan selalu besikap sopan dan menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani setiap pertanyaan atau masalah pelanggan.
- Empaty (perhatian), berarti perusahaan memahami masalah para pelanggannya dan bertindak demi kepentingan pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada para pelanggan dan memiliki jam operasi yang nyaman.
- Tangibels (bukti langsung), berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan, dan material yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan.
Pengertian Layanan (skripsi dan tesis)
Layanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dapat dikaitkan pada salah satu produk fisik (Kotler, 1997 : 85).
- Pengertian Kualitas
Seperti yang kita ketahui, para eksekutif masa kini emmandang tugas dengan meningkatkan kualitas produk dan pelayanan sebagai prioritas utama. Keberhasilan banyak perusahaan disebabkan oleh kualitas produk yang luar biasa. Kebanyakan pelanggan tidak lagi bersedia menerima atau mentoleransi kinerja kualitas yang biasa saja. Jika para perusahaan ingin bertahan dalam persaingan, apalagi memperoleh laba, mereka tidak punya pilihan lain kecuali menjalankan manajemen kualitas total.
Kualitas membutuhkan komitmen yang menyeluruh. Kualitas hanya dapat diberikan oleh perusahaan-perusahan yang semua karyawannya mempunyai komitmen terhadap kualitas dan mempunyai motivasi serta terlatih untuk memberikan kualitas.
Kualitas adalah keseluruhan ciri serta sifat dari suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersirat. (Kotler, 1997 : 49).
Ini merupakan definisi kualitas yang berpusat pada pelangan. Kualitas barang dan jasa ditentukan oleh pelanggan, sehingga kepuasan pelanggan dapat dicapai apabila perusahaan memberikan kualitas yang baik.
(skripsi dan tesis)
- Tinjauan Umum DPRD
DPR adalah salah satu lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan lembaga perwakilan rakyat yang pemilihannya sebagaimana Pasal 19 ayat (1) UUD 1945 dilakukan melalui pemilihan umum. Berdasarkan Pasal 67 Undang-Undang nomor 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD. anggota DPR terdiri dari anggota partai politik (parpol). Pada masa awal kemerdekaan, lembaga-lembaga negara yang diamanatkan UUD 1945 belum dibentuk dengan demikian sesuai dengan Pasal 4 Aturan Peralihan dalam UUD 1945 dibentuklah KNIP. Komite ini merupakan cikal bakal badan legislatif di Indonesia. Legislatif merupakan badan atau lembaga yang memiliki wewenang untuk membuat Undang-Undang (Marwan dan Jimmy, 2019),
Hal ini sesuai dengan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 bahwa DPR memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang. “Namun pembahasan sebuah RUU harus dilakukan secara bersama-sama dengan pemerintah, sebagaimana dinyatakan pada Pasal 20 ayat (2)”. Berdasarkan ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966 yang kemudian dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 sebagaimana telah dicabut dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, DPR memulai kerjanya di masa orde baru dan pada masa reformasi sampai sekarang. Dalam konsep trias politika, DPR berperan sebagai lembaga legislatif yang berfungsi untuk membuat undang-undang dan mengawasi jalannya pelaksanaan undang-undang yang dilakukan pemerintah sebagai lembaga eksekutif.
Fungsi pengawasan dapat dikatakan telah berjalan dengan baik apabila DPR dapat melakukan tindakan kritis atas kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat. Sementara itu, fungsi legislasi dapat dikatakan berjalan dengan baik apabila produk hukum yang dikeluarkan oleh DPR dapat memenuhi aspirasi dan kepentingan seluruh rakyat. Anggota DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil pemilu. DPR berkedudukan di tingkat pusat, sedangkan yang berada di tingkat provinsi disebut DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut DPRD kabupaten/kota.
Berdasarkan undang-undang Pemilu Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD juncto Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR DPR DPD dan DPRD ditetapkan sebagai berikut:
- Jumlah anggota DPR sebanyak 560 orang;
- Jumlah anggota DPRD provinsi sekurang-kurangnya 35 orang dan sebanyakbanyak 100 orang;
- Jumlah anggota DPRD kabupaten/kota sedikitnya 20 orang dan sebanyakbanyaknya 50 orang.
Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPR berdomisili di ibukota negara. Masa jabatan anggota DPR adalah lima tahun dan berakhir pada saat anggota DPR yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung (MA) dalam sidang paripurna DPR
Peran Legislasi DPRD (skripsi dan tesis)
Legislasi merupakan perancangan atau pembentukan undang-undang. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan di dalam ketentuan Pasal 1 dijelaskan bahwa Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang mencakup tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU/2012 secara umum berkaitan dengan optimalisasi peran Dewan Perwakilan Daerah dalam bidang legislasi (Furkon, 2012).
Mahkamah Konstitusi mengabulkan permintaan pengujian beberapa pasal yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Daerah terhadap UndangUndang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Kedua undang-undang tersebut mengatur secara rinci peran legislasi Dewan Perwakilan Daerah sekaligus yang mereduksi Dewan Perwakilan Daerah sebagai lembaga di bawah Dewan Perwakilan Rakyat dan di bawah Presiden dalam proses legislasi. Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU/2012 dapat disimpulkan bahwa peran Dewan Perwakilan Daerah dalam bidang legislasi terdiri atas tiga bagian, yakni pertama, peran Dewan Perwakilan Daerah dalam menyusun program legislasi nasional (Prolegnas), kedua, peran Dewan Perwakilan Daerah dalam mengajukan rancangan undang-undang, ketiga, peran Dewan Perwakilan Daerah dalam membahas rancangan undang-undang (Marwan dan Jimmy, 2019)
Tiga peran tersebut dijabarkan lagi ke dalam bagian-bagian yang lebih spesifik. Peran Dewan Perwakilan Daerah dalam menyusun program legislasi nasional (Prolegnas) terdiri atas penyusunan program legislasi nasional dan penetapan program legislasi nasional. Peran Dewan Perwakilan Daerah dalam mengajukan rancangan undang-undang terdiri atas penyusunan rancangan undang-undang, penyampaian rancangan undang-undang dari Dewan Perwakilan Daerah, penyampaian rancangan undang-undang dari Dewan Perwakilan Rakyat, dan penyampaian rancangan undang-undang dari Presiden. Peran Dewan Perwakilan Daerah dalam membahas rancangan undang-undang terdiri atas pembahasan undang-undang, penarikan undang undang, pembahasan rancangan undang-undang pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) dan penyebarluasan program legislasi nasional dan rancangan undang-undang (Furkon, 2012)..
Menurut Rosseau dalam Abu Daud Busroh (2015) bahwa Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU/2012, Dewan Perwakilan Daerah dilibatkan secara penuh dan berbeda dengan keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah sebelum putusan Mahkamah Konstitusi 92/PUU/2012 dikeluarkan. Peran legislasi Dewan Perwakilan Daerah secara rinci dan komprehensif akan dijelaskan di bagian sub pokok pembahasan. Namun, secara umum proses legislasi yang melibatkan Dewan Perwakilan Daerah menyangkut beberapa pokok penting, sebagai berikut:
- Peran Dewan Perwakilan Daerah dalam Penyusunan Program Legislasi Nasional;
- Peran Dewan Perwakilan Daerah dalam Pengajuan Rancangan Undang-Undang;
- Peran Dewan Perwakilan Daerah dalam Pembahasan Rancangan Undang-Undang;
- Peran Dewan Perwakilan Daerah dalam Penyebarluasan Program Legislasi Nasional dan Rancangan Undang-Undang;
- Peran Dewan Perwakilan Daerah dalam Pembahasan Rancangan Undang-Undang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang; dan
- Pembahasan Rancangan Undang-Undang secara Tripartit (bukan fraksi tetapi secara kelembagaan)
Donnelly, et al. (dalam Munaf, 2016) mengelompokkan pengawasan menjadi 3 Tipe pengawasan yaitu :
- Pengawasan Pendahuluan (preliminary control).
Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan Pendahuluan menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan Pendahuluan mencakup semua upaya manajerial guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan. Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada organisasi-organisasi. Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan.
Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di masa depan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan merupakan pedoman-pedoman yang baik untuktindakan masa mendatang.
- Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control/interim control)
Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah dicapai. Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka.
- Pengawasan Feed Back (feed back control/post control)
Pengawasan Feed Back yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar. Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu. Tindakan korektif ditujukan ke arah proses pembelian sumber daya atau operasi-operasi aktual. Sifat kas dari metode-metode pengawasan feed back (umpan balik) adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historikal, sebagai landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang.
Pengertian Peran (skripsi dan tesis)
Definisi tentang peran bisa diperoleh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1051) yang mengartikannya sebagai perangkat tingkah laku yang dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat. Peranan berarti tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Kata peran mempunyai makna sama dengan beberapa kata lain seperti fungsi dan wewenang. Fungsi diartikan sebagai jabatan atau pekerjaan yang dilakukan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:400). Fungsi dalam bahasa Belanda functie. Functie diartikan sebagai jabatan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1560) mengartikan wewenang sebagai hak dan kekuasaan untuk bertindak.
Dalam pernyataan lain disebutkan bahwa Peranan (role) merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka hal itu berarti dia menjalankan suatu peran. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya. Setiap orang mempunyai macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya. Hal itu sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatankesempatan apa yang diberikan masyarakat kepadanya (Soerjono, 2013).
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa peran adalah suatu perilaku atau tindakan yang diharapkan oleh sekelompok orang dan/atau lingkungan untuk dilakukan oleh seseorang individu, kelompok, organisasi, badan atau lembaga yang karena status atau kedudukan yang dimiliki akan memberikan pengaruh pada sekelompok orang dan/atau lingkungan tersebut.
Aspek Dalam Leader Member Exchange (skripsi dan tesis)
Leader Member Exchange sendiri pada dasarnya memiliki beberapa dimensi di dalamnya. Liden dan Maslyn (1998) membagi Leader Member Exchange menjadi empat dimensi, antara lain :
- Affect ( Afeksi )
Affect mengacu pada keakraban antara satu individu dengan individu lainnya. Keakraban ini sendiri tidak memandang status sosial. Interaksi dapat terbentuk oleh hubungan karyawan dengan pimpinan, pimpinan dengan pimpinan maupun karyawan dengan karyawan. Liden dan Maslyn (1998, p. 46) menambahkan bahwa aspek afeksi dapat menjadi unsur paling dominan maupun tidaknya dapat bergantung kepada jenis hubungan yang ada di tempat kerja. Waktu yang diperlukan oleh pemimpin dengan bawahan untuk menjalin hubungan cenderung berbeda dari satu dengan yang lainnya, ada yang bisa menjalin hubungan baik dalam waktu yang singkat, namun ada juga yang tidak. Hubungan saling menyukai antara pimpinan dan karyawan sendiri sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan LMX.
- Contribution (Kontribusi)
Kontribusi mengacu pada persepsi bahwa tindakan orang lain juga berhubungan tiap individu di perusahaan. Liden dan Maslyn (1998) menyatakan bahwa dimensi kontribusi adalah persepsi tentang kegiatan yang berorientasi pada tugas di tingkat tertentu antara pemimpin dan karyawan untuk mencapai tujuan bersama. Level kontribusi dari seseorang dapat dilihat dari seberapa banyak pekerjaan dan informasi yang didapat. Adanya kualitas kontribusi yang tinggi menyebabkan karyawan rela berkorban demi pemimpin, rekan kerja dan perusahaan. Semakin tingginya level kontribusi karyawan maka kualitas hubungan LMX juga semakin baik.
- Loyalty (Loyalitas)
Loyalty adalah kesetiaan dan dukungan yang diberikan pada individu lain, baik itu karyawan maupun pemimpin. Liden dan Maslyn (2018) menyatakan bahwa loyalitas adalah bagaimana pemimpin maupun karyawan saling mendukung aksi dan karakter satu sama lainnya dalam segala situasi. Pemimpin akan lebih menyukai untuk memberikan tugas kepada karyawan loyal sebagaimana dikutip dari pernyataan Liden, Graen, Scandura (1986) dalam Liden dan Maslyn (1998, p.46). Loyalitas karyawan maupun pemimpin di sebuah perusahaan sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan LMX yang nantinya berdampak terhadap kinerja perusahaan.
- Professional Respect (Respek / Hormat)
Professional respect mengacu pada rasa hormat atau kagum pada pekerjaan yang dilakukan orang lain. Rasa kagum dapat didasarkan berbagai hal seperti keinginan untuk bisa menjadi orang tersebut atau karena pencapaian yang dicapai oleh orang yang dikagumi. Rasa kagum seseorang karyawan dapat disebabkan karena reputasi yang dimiliki oleh pemimpinnya.
Liden dan Maslyn (2018) menyatakan bahwa reputasi dapat terbentuk melalui data sejarah mengenai seorang pribadi seperti pengalaman pribadi, komentar yang didapat melalui perseorangan maupun dari luar organisasi dan penghargaan yang diberikan terhadapnya. Karyawan yang menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap performa maupun interaksi dari pemimpin diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai baik tersebut dalam kesehariannya bekerja. Seorang karyawan yang mampu menerapkan sesuai dengan yang dilakukan oleh pemimpin dapat mewujudkan transisi yang baik di dalam organisasi
Menurut Graen dan Uhl-Bien (1995) terdapat tiga indikator leader member exchange, yaitu :
- Respect, Hubungan antar atasan dan bawahan tidak dapat terbentuk tanpa adanya saling menghormati (respect) terhadap kemampuan orang lain.
- Trust, tanpa adanya rasa percaya yang timbal balik, hubungan antara atasan dengan bawahan akan sulit terbentuk.
- Obligation, pengaruh kewajiban akan berkembang menjadi suatu hubungan kerja antara atasan dengan bawahan.
Dalam penelitian ini akan menggunakan aspek leader member exchange yang diuraikan oleh Liden dan Maslyn (1998) yaitu meliputi Afeksi, Kontribusi, Loyalitas, Respek / Hormat
Pengertian Leader Member Exchange (skripsi dan tesis)
Pengertian leader member exchange (LMX) sebagaimana pendapat Morrow, (2015) bahwa leader member exchange merupakan peningkatan kualitas hubungan antara supervisi dengan karyawan akan mampu meningkatkan kerja keduanya. Realitasnya, hubungan antara karyawan dan supervisi dapat dikelompokkan pada dua hubungan yaitu hubungan yang baik dan hubungan yang buruk. Hubungan yang baik akan menciptakan kepercayaan karyawan, sikap positif, dan loyalitas, namun hubungan yang buruk berpengaruh sebaliknya.”
Pengertian leader member exchange menurut Organ (2018) bahwa “perilaku karyawan terhadap perusahaan mempunyai peran penting terhadap keberhasilan sebuah organisasi. Perlakuan yang baik terhadap karyawan akan mampu menciptakan perasaan suka rela pada diri karyawan untuk bisa berkorban bagi perusahaan. Selain itu, melalui perlakuan khusus yang positif akan mampu meningkatkan kontribusi karyawan pada perusahaan dimana karyawan bekerja.”
Ivancevich, et al (2006) bahwa leader member exchange (LMX) adalah pendekatan yang mengenali tidak adanya konsisten perilaku atasan kepada seluruh bawahannya. Atasan membina ikatan dan hubungan pribadi terhadap masing – masing bawahannya. Yulk (2018) menjelaskan bagaimana atasan dan bawahan mengembangkan hubungan saling mempengaruhi satu sama lain dan menegoisasikan peran bawahan dalam satu organisasi. LMX tidak hanya melihat perilaku atasannya saja tetapi menekankan pada kualitas hubungan antara atasan dan bawahan.
Robbins dan Judge (2018) membagi bawahan dalam dua kategori in – group members dan out – group members, yaitu :
- In – group members
Atasan berpendapat bahwa bawahan yang ada pada kategori ini adalah bawahan yang dapat diandalkan dalam berpartisipasi dan memberikan usaha yang lebih dari yang ditetapkan di gambaran pekerjaan (job description). Atasan akan memperlakukan bawahan dalam kategori ini sebagai bawahan yang memperoleh penilaian kerja yang lebih tinggi, pergantian yang lebih rendah, dan kepuasan kerja yang lebih baik karena hubungan ini memiliki kualitas hubungan yang tinggi.
- Out – group members
Atasan berpendapat bahwa bawahan dalam kategori ini adalah bawahan yang melaksanakan tugas – tugasnya sesuai dengan gambaran pekerjaan formal mereka saja. Atasan akan memperlakukan bawahan dalam kategori ini sebagai bawahan yang memperoleh lebih sedikit waktu, lebih sedikit penghargaan darinya dan mendapatkan sedikit dukungan dari atasan karena hubungan ini memiliki kualitas hubungan
Dari berbagai pendapat para ahli dapat diambil kesimpulan bahwa LMX merupakan hubungan timbal balik yang melibatkan komunikasi antara pemimpin dan karyawan melalui keakraban antar satu dan lainnya, berkontribusi untuk sesama, saling setia dan mempunyai rasa hormat antar individu.yang rendah.
Aspek Dalam Kepemilikan Psikologikal (skripsi dan tesis)
Avey et al. (2009) mengembangkan instrumen kepemilikan psikologikal yang sebelumnya telah didefinisikan oleh Pierce et al. (2003) yaitu efikasi diri (self efficacy), identitas diri (self identity) dan memiliki tempat (having a place/belonging), dan dua tambahan yang diusulkan mereka, yaitu teritorial (territoriality) dan akuntabilitas (accountability).
- Efikasi diri (self efficacy) menunjukkan bahwa penting bagi individu untuk mampu mengontrol atau mengendalikan sesuatu. Kemungkinan untuk memiliki kontrol, mampu untuk melakukan sesuatu terkait dengan lingkungan sekitar, dan mampu untuk memengaruhi hasil tindakan yang diinginkan Pierce et al. (2001); Avey et al. (2009)
- Identitas diri (self identity) persepsi indvidu tentang kesatuan dengan atau kepemilikan terhadap target (misal, organisasi) menjelaskan bahwa orang menggunakan kepemilikan untuk tujuan menunjukkan dan mengekspresikan identitas diri mereka, termasuk menjadi memahami diri sendiri, mengekspresikan diri kepada orang lain, dan menjaga eksistensi diri
- Memiliki tempat (having a place/ belongingness) tingkat sejauh mana individu merasa “at home” dalam organisasi (Porteous, 1976) atau perasaan keterlibatan individu dengan target (misal, organisasil) sehingga individu merasa menjadi bagian tidak terabaikan dan utuh dari target (misal, organisasi tersebut) menunjukkan kebutuhan untuk memiliki sebuah wilayah tertentu, “kebutuhan untuk memiliki sebuah rumah” (untuk dihuni atau didiami)
- Akuntabilitas (accountability) menunjukkan kecenderungan individu untuk bertanggung jawab mempertahankan individu dan organisasi yang dapat bertanggung jawab terhadap objek kepemilikannya Avey et al. (2009)
- Teritorial (territoriality) ekspresi perilaku individu tentang perasaan kepemilikannya terhadap objek fisik atau sosial menunjukkan bahwa motif kepemilikan psikologikal dapat muncul pada anggota organisasi yang ingin mendapatkan dan berkuasa atas sesuatu baik yang nyata (tangible), seperti tempat dan kepemilikan fisik; sesuatu yang tidak nyata (intangible), seperti ide, peran, dan tanggung jawab; dan atau entitas sosial, seperti orang dan kelompok
Dalam penelitian ini akan pengukuran yang di dasarkan pada aspek sesuai dengan pernyataan Avey et al. (2009) yaitu efikasi diri (self efficacy), identitas diri (self identity) dan memiliki tempat (having a place/belonging), dan dua tambahan yang diusulkan mereka, yaitu teritorial (territoriality) dan akuntabilitas (accountability).
Pengertian Kepemilikan Psikologikal (skripsi dan tesis)
Pada awalnya, kepemilikan psikologikal dikembangkan dari pengalaman psikologis individu ketika mengembangkan rasa possesif (memiliki) akan suatu target (Van, Dyne, & Pierce, 2004). Menurut Pierce, Kostova, dan Dirks (2002) bahwa kepemilikan psikologikal sebagai keadaan dimana seseorang merasa seolah-olah target kepemilikan atau bagian dari target tersebut adalah milik mereka “milik mereka”. Psychological ownership mengacu pada hubungan antara individu dan objek di mana objek itu dialami sebagai terhubung dengan diri sendiri (Wilpert, 1991), atau menjadi bagian dari “diperpanjang diri” (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002).
Dalam suatu kepemilikan tersebut kemudian muncul rasa tanggung jawab. Tanggung jawab yang muncul, pada kepemilikan psikologikal muncul dari individu itu sendiri untuk bertanggung jawab dan mengakui suatu objek yang bukan miliknya sebagai miliknya.
Khususnya dalam suatu organisasi, kepemilkan psikologikal merujuk pada sebuah variabel yang merepresentasikan keterikatan karyawan secara psikologikal terhadap organisasi, terutama dalam bentuk rasa memiliki (my, ours, mine) terhadap organisasi (Reni, 2012).
Jadi, kepemilikan psikologikal adalah perasaan memiliki oleh seseorang terhadap organisasi tempat karyawan bekerja yang ditunjukkan dengan munculnya rasa tanggung untuk ikut menjaga, mengembangkan dan merawat organisasi tempat karyawan bekerja
Aspek Dalam Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Herzberg (dalam Robbins & Judge, 2018) mengemukakan beberapa aspek kepuasan kerja antara lain:
- Prestasi kerja
Keberhasilan karyawan menyelesaikan tugas serta mencapai prestasi yang tinggi. Hal ini berkaitan dengan karyawan dalam menghasilkan output yang lebih baik bagi perusahaan, berkualitas, dan tepat waktu.
- Pengakuan
Besar kecilnya penghormatan atau pengakuan dari atasan yang diberikan kepada karyawan atas kinerjanya. Hal ini berkaitan dengan ada atau tidaknya kemampuan atasan untuk mendengar, memahami, dan mengakui pendapat atas hasil pekerjaan karyawan.
- Pekerjaan itu sendiri
Besar kecilnya tantangan yang dirasakan oleh karyawan, minat terhadap pekerjaan, perhatian terhadap keselamatan kerja, variasi di dalam pekerjaan, pengaturan waktu kerja, dan rasa memiliki terhadap organisasi.
- Tanggung jawab
Besar kecilnya beban dan tanggung jawab yang diemban atau dimiliki karyawan terhadap tugasnya. Karyawan yang diberikan tanggungjawab yang sesuai dengan kemampuannya membuat karyawan merasa dipercaya.
- Promosi
Kesempatan untuk maju atau memperoleh peningkatan jabatan dalam karir selama bekerja. Adanya kesempatan yang sama yang diliki oleh seluruh karyawan untuk dapat memperoleh peningkatan jabatan.
- Pengembangan potensi individu
Ada atau tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengembangan diri atau peningkatan kemampuan karyawan selama bekerja. Berkaitan dengan ada atau tidaknya pelatihan maupun kegiatan yang diberikan oleh pihak perusahaan untuk meningkatkan pengetahuan maupun pengalaman karyawan.
Jewell dan Siegall (dalam Prestawan, 2010) beberapa aspek dalam mengukur kepuasan kerja adalah:
- Aspek psikologis yaitu kepuasan kerja yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan meliputi minat terhadap pekerjaan, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.
- Aspek fisik yaitu berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja, pengaturan waktu istirahat, keadaan ruangan, suhu udara, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.
- Aspek sosial yaitu berhubungan dengan interaksi sosial, baik antar sesama karyawan dengan atasan maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya serta hubungan dengan anggota keluarga.
- Aspek finansial yaitu berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besar gaji, jaminan sosial, tunjangan, fasilitas dan promosi.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan aspek kepuasan kerja yang mengacu pada teori Herzberg (dalam Robbins & Judge, 2018) yaitu prestasi kerja, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, promosi, dan pengembangan potensi individu sebagai acuan untuk membuat alat ukur tentang kepuasan kerja karyawan karena aspek ini dipercaya sebagai sumber kepuasan kerja secara keseluruhan.
Pengertian Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Robbins & Judge (2011) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai perasaan positif pada suatu pekerjaan, yang merupakan dampak/hasil evaluasi dari berbagai aspek pekerjaan tersebut. Hal yang senada diungkapkan oleh Koesmono (2015), bahwa kepuasan kerja merupakan penilaian, perasaan atau sikap seseorang atau karyawan terhadap pekerjaannya dan berhubungan dengan lingkungan kerja, jenis pekerjaan, kompensasi, hubungan antar teman kerja, hubungan sosial ditempat kerja dan sebagainya (Ruvendi, 2015).
Secara sederhana, kepuasan kerja diartikan sebagai persaan seseorang terhadap pekerjaan (As’ad, 2018). Sifat dari kepuasan kerja itu sendiri sangat individual, yang berarti pandangan tentang perasaan puas antara seorang individu dengan individu lain akan sangat berbeda. Hal ini dikarenakan setiap individu adalah makhluk unik yang berbeda satu dengan lainnya sehinga sistem nilai yang dianut untuk mengukur kepuasan kerja yang dimiliki setiap individu akan berbeda pula. Pada umumnya, cara untuk mengukur kepuasan kerja adalah dengan melihat seberapa banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan seseorang. Semakin banyak aspek yang telah terpenui maka semakin tinggi tingkat kepuasan kerja yang dimiliki orang tersebut.
Richard et al., (2012) menegaskan bahwa kepuasan kerja berhubungan dengan perasaan atau sikap seseorang mengenai pekerjaan itu sendiri, gaji, kesempatan promosi atau pendidikan, pengawasan, rekan kerja, beban kerja dan lain-lain. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan sikap tersebut adalah segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan seperti pengawasan supervise, gaji, kondisi kerja, pengalaman terhadap kecakapan, penilaian kerja yang adil dan tidak merugikan, hubungan sosial di dalam pekerjaan yang baik, penyelesaian yang cepat terhadap keluhan dan perlakuan yang baik dari pimpinan terhadap pegawai.
Menurut Mathis dan Jackson (2016) kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang positif yang merupakan hasil dari evaluasi pengalaman kerja seseorang. Wagner dan Hollenbeck (2009) mengemukakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan senang atau pernyataan emosi yang positif dari hasil pemenuhan suatu pekerjaan atau pengalaman-pengalaman pekerjaan. Sedangkan menurut Wilsom (2012) menyatakan bahwa dengan kepuasan kerja seorang pegawai dapat merasakan pekerjaannya apakah menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dikerjakan
Dari penjelasan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap umum yang dimiliki karyawan terhadap pekerjaannya. Karyawan dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi akan menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaannya, sedangkan karyawan yang tidak puas terhadap pekerjaannya cenderung menunjukkan sikap negatif terhadap pekerjaannya.
Masyarakat Petani Miskin (skripsi dan tesis)
Secara umum, petani didefinisikan sebagai orang yang bekerja di sektor pertanian dan sebagian besar penghasilannya berasal dari sektor pertanian. Dalam batasan statistik orang yang bekerja disektor pertanian minimal satu jam seminggu, dapat disebut sebagai petani. Selain itu orang yang tinggal di pedesaan dan secara psikologis menjadi petani, sering pula disebut sebagai petani (Husainassadi,2008).
Petani pedesaan di Jawa menurut lapisan sosial termasuk golongan wong cilik diantara mereka sendiri juga terbagi-bagi secara berlapis. Lapisan tertinggi dalam desa adalah wong baku. Lapisan ini terdiri dari keturunan orang-orang yang dulu pertama-tama datang dan menetap di desa. Mereka ini memiliki sawah, rumah dengan tanah perkarangannya. Lapisan kedua dalam rangka sistem pelapisan sosial di pedesaan adalah kuli gandok atau lindung. Mereka adalah laki-laki yang sudah menikah akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri, sehingga terpaksa menetap dirumah mertuanya. Namun begitu, tidaklah berarti mereka ini tidak mempunyai tanah-tanah pertanian. Biasanya mereka mendapatkan tanah pertanian yang diperoleh dari warisan atau pembelian (Masri dan Penny, 1980).
Lapisan ketiga ialah lapisan joko dan sinoman atau bujangan. Mereka semuanya belum menikah dan masih tinggal bersama-sama dengan orang tuanya sendiri atau ngenger di rumah orang lain. Golongan bujangan ini bisa mendapatkan atau memiliki tanah-tanah pertanian, rumah, dan perkarangnnya dari pembagian warisan atau pembelian. Sistem pengolongan-penggolongan di atas tersebut selanjutnya menimbulkan hak dan kewajiban yang berbeda-beda dari keluarga-keluarga atau anggota-anggota tiap-tiap ketiga lapisan itu (Masri dan Penny, 1980).
Pada masa sekarang, petani miskin merupakan dikaitkan dengan kepemilikan lahan, akses terhadap teknologi pengelolaan pertanian dan pengetahuan. Menurut Soekartawi (1988), petani miskin dicirikan karakteristik sebagai berikut:
- Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari 240 kg per tahun atau 20 Kg per bulan
- Petani yang memiliki lahan sempit, yaitu lebih kecil dari 0,25 ha di lahan sawah di Jawa atau 0,5 Ha di luar Jawa. Bila petani tersebut juga mempunyai lahan tegal maka luasnya 0,5 Ha di Jawa atau 100 Ha di luar Jawa
- Petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas
- Petani yang memiliki pengetahuan yang terbatas.
Faktor Penyebab Kemiskinan (skripsi dan tesis)
Menurut Hadiwigeno dan Pakpahan (Prisma 1993), kemiskinan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sumber daya alam, teknologi dan unsur pendukungnya, sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta kelembagaan. Selanjutnya, menurut Sayogyo dalam Singarimbun (1978), bahwa ada dua penyebab utama kemiskinan pedesaan di Indonesia yaitu adanya kegagalan pasar dan politik. Kegagalan pasar timbul karena: (l) daya beli penduduk pedesaan sangat rendah, upah dan pendapatan sangat kecil sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar; (2) terbatasnya kesempatan dan peluang berusaha di pedesaan; (3) keadaan prasarana yang tidak memadai untuk pengembangan produksi; (4) pola penguasaan tanah sebagai alat produksi vital keadaannya timpang; (5) hambatan dalam pemasaran. Sedangkan kegagalan politik akibat struktur dan institusi ekonomi politik yang ada pada tingkat supra lokal (desa) mengalami distorsi dalam mempresentasikan kepentingan masyarakat desa (Khomsan et al, 2015
Dalam pernyataan (Cox, 2004) disebutkan bahwa Penyebab kemiskinan bersifat kompleks dan terbagi dalam beberapa dimensi peneyebab kemiskinan yaitu :
- Kemiskinan yang diakibatkan oleh globalisasi.
Globalisasi melahirkan negara pemenang dan negara kalah. Pemenang umumnya adalah Negara-negara maju, sedangkan negara-negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat globalisasi. Karena negara-negara berkembang terpinggirkan maka jumlah kemiskinan di negara-negara berkembang jauh lebih besar dibandingkan negara-negara maju.
- Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan.
Pola pembangunan yang diterapkan telah melahirkan beberapa bentuk kemiskinan, seperti kemiskinan perdesaan, adalah kondisi wilayah desa yang mengalami kemiskinan akibat proses pembangunan yang meminggirkan wilayah perdesaan; kemiskinan perkotaan, yaitu kondisi kemiskinan yang disebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan ekonomi, dimana tidak semua kelompok memperoleh keuntungan
- Kemiskinan sosial,
dimensi ketiga ini melihat pada kondisi sosial masyarakat yang tidak menguntungkan beberapa kelompok dalam masyarakat. Misalnya kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak dan kelompok minoritas merupakan kemiskinan yang diakibatkan kondisi sosial yang tidak menguntungkan kelompok tersebut. Kondisi sosial yang dimaksud misalnya bias gender, diskriminasi, atau eksploitasi ekonomi
- Kemiskinan konsekuensial.
Dimensi keempat ini menekankan faktor-faktor eksternal yang menyebabkan kemiskinan. Faktor-faktor yang dimaksud adalah konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan tingginya jumlah penduduk. Faktor-faktor tersebut lah yang menyebabkan munculnya kemiskinan dalam masyarakat.
