Upaya dalam memenuhi kepuasan pelanggan, perusahaan dituntut
untuk mengetahui perubahan kebutuhan dan keinginan pelanggan yang
hampir setiap saat berubah. Pembeli akan bergerak setelah membentuk
persepsi terhadap nilai penawaran, kepuasan sesudah pembelian tergantung
dari kinerja penawaran dibandingkan dengan harapannya. Kepuasan
pelanggan dapat dirasakan setelah pelanggan membandingkan pengalaman
mereka dalam melakukan pembelian barang/jasa dari penjual atau penyedia
barang/jasa dengan harapan dari pembeli itu sendiri. Harapan tersebut
terbentuk melalui pengalaman pertama mereka dalam membeli suatu
barang/jasa atas informasi pemasar dan pesaingnya. Pemasar yang ingin
berhasil dalam persaingan tentu harus memperhatikan apa yang diinginkan
pelanggan serta kepuasan pelanggannya.
Menurut Richard Oliver dalam Zeithaml., dkk (2018) kepuasan
pelanggan adalah respon pemenuhan dari pelanggan terhadap suatu produk
atau layanan itu sendiri yang telah memenuhi kebutuhan dan harapan
pelanggan.
Sedangkan menurut Pasuraman, Zeithaml, dan berry mengemukakan
kepuasan pelanggan adalah perasaan pelanggan terhadap jenis pelayanan
yang didapatkannya Firmansyah (2018).
Menurut Tjiptono, F (2016:200) kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara
persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapan-harapanya
Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran atau marketing mix memiliki peranan penting dalam
pemasaran yang dapat menghubungi konsumen untuk membeli produk atau jasa
yang ditawarkan. Bauran pemasaran juga menentukan keberhasilan perusahaan
dalam mengejar keuntungan (profit).
Definisi bauran pemasaran menurut Alma Buchari (2016:205), merupakan
strategi mencampuri kegiatan-kegiatan pemasaran, agar dicari kombinasi
maksimal sehingga mendatangkan hasil yang memuaskan.
Kemudian menurut Setyabudi and Suranto (2018:59), bauran pemasaran
adalah memiliki peranan pentinng yang dapat mempengaruhi konsumen sehingga
membeli suatu produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.
Berbeda halnya menurut Kotler dan Keller dalam Marketing Management
(2016:47), mendefinisikan bauran pemasaran sebagai seperangkat alat pemasaran
perusahaan menggunakan untuk mengejar tujuan pemasarannya dipasar sasaran.
Berikut adalah bauran pemasaran untuk produk menggunakan 4P menurut
Kotler dan Keller dalam Marketing Management (2016:47):
- Produk (product) suatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
mendapatkan perhatian, agar produk yang dijual mau dibeli, digunakan
atau dikonsumsi yang dapat memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan
dari konsumen. - Harga (price) sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat
dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya
ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua
pembeli. - Tempat (place) tempat diasosiasikan sebagai saluran distribusi yang
ditujukan untuk mencapai target konsumen. Sistem distribusi ini
mencakup lokasi, transportasi, pergudangan, dan sebagainya. - Promosi (promotion) sebagai salah satu cara pemasaran untuk
mengkomunikasikan dan menjual suatu produk kepada konsumen yang
berpotensi.
Pemasaran
Di dalam dunia usaha, salah satu kegiatan yang harus dilakukan yaitu
pemasaran. Ketika berbicara tentang pemasaran pasti membutuhkan manajemen
agar kegiatan pemasaran bisa berjalan dengan lancar dan tepat sasaran.
Manajemen merupakan suatu proses mengelola atau mengatur suatu kegiatan
untuk mencapai tujuan tertentu melalui sekelompok orang yang dapat
mendatangkan hasil. Manajemen pemasaran termasuk upaya untuk
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan karena berhubungan langsung
dengan konsumen sebagai pemakai produk. Dalam era persaingan yang semakin
ketat pelaku usaha harus pandai dalam memilih strategi pemasaran yang
digunakan. Untuk lebih jelasnya berikut akan dijelaskan beberapa pengertian
manajemen yang dikemukakan para ahli.
Menurut Dayle dalam Sudaryono (2016:41), pemasaran adalah proses
manajemen yang berupaya memaksimumkan laba (retuns) bagi pemegang saham
dengan jalan menjalin relasi dengan pelanggan utama (valued customers) dan
menciptakan keunggulan kompetitif.
Berbeda halnya menurut Hasan (2014:1) menyatakan bahwa “pemasaran
merupakan sebuah konsep ilmu dalam strategi bisnis yang bertujuan untuk
mencapai kepuasan berkelanjutan bagi stakeholder (pelanggan, karyawan dan
pemegang saham)”.
Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran terjadi ketika sebuah perusahaan dapat membuat
sebuah pertukaran pikiran tentang cara untuk menciptakan suatu tujuan pemasaran
produk untuk mencapai respons yang diinginkan pihak lain. Manajemen
pemasaran bertujuan untuk memenuhi keinginan konsumen, karenanya kita
memandang manajemen pemasaran (marketing management) sebagai seni dan
ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan
pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengomunikasikan nilai
pelanggan yang unggul.
Definisi manajemen pemasaran menurut Suparyanto & Rosad (2015:1)
adalah: “Manajemen pemasaran merupakan kegiatan penganalisisan, perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian program – program yang dibuat untuk membentuk,
membangun, dan memelihara keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar
guna mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang”.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2016:27) mengatakan bahwa:
“Marketing management as the art and science of choosing target markets and
getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and
communicating superior customer value”.
Hubungan antara nilai yang dirasakan terhadap niat beli
(Graciola et al., 2020:3) Niat membeli adalah hasil dari pengalaman
pembelian pelanggan. Niat membeli , oleh karena itu, merupakan salah satu
indikator persepsi pelanggan terhadap sebuah toko. Studi yang dikembangkan
(Cronin et al dalam Graciola 2020:3)telah menggambarkan nilai yang dirasakan
sebagai pengaruh pada niat beli pelanggan. Nilai yang dirasakan telah disajikan
sebagai perantara dalam proses kognitif dengan hubungan mediasi. Dengan
demikian, dalam penelitian ini, nilai yang dirasakan juga meminkan peran mediasi
dalam niat beli. Atribut gambar toko membantu meningkatkan nilai yang
dirasakan, yang mempengaruhi niat beli
Hubungan antara aktivitas pemasaran media sosial terhadap niat beli
(Ibrahim, Aljarah and Ababneh, 2020:7) Perkembangan teoritis untuk niat
beli didasarkan pada teori niat perilaku. Dua teori telah menginformasikan peneliti
awal tentang bagaimana membuat konsep niat beli. Pertama , teori tindakan
beralasan (TRA) yang mendalilkan bahwa niat perilaku mengarah pada perilaku
yang sebenarnya (Fishbein and Azjen, 1975 dalam Blend Ibrahim 2020:7).
Aktivitas pemasaran media sosial bertujuan untuk meningkatkan kekuatan
hubungan dengan pelanggan yang mengarah pada sikap positif terhadap suatu
perusahaan atau merek, sehingga merangsang niat untuk membeli. Untuk alasan
ini, aktivitas pemasaran media sosial dikreditkan dengan efek positif pada niat
beli. Niat beli mempertimbangkan apakah konsumen mengembangkan niat atau
minat membeli produk atau jasa tertentu dengan menggunakan transaksi online.
Aktivitas pemasaran media sosial bertujuan untuk meningkatkan kekuatan
hubungan dengan pelanggan mengarah pada sikap positif terhadap perusahaan /
merek, sehingga merangsang niat untuk membeli. Untuk alasan ini, aktivitas
pemasaran media sosial memiliki pengaruh positif terhadap niat beli. Aktivitas
pemasaran media sosial bertujuan untuk meningkatkan kekuatan hubungan
dengan pelanggan yang mengarah pada sikap positif terhadap suatu perusahan
atau merek , sehingga merangsang niat membeli.
Hubungan antara aktivitas pemasaran media sosial dengan nilai yangdirasakan
(Chen and Lin, 2019:25) Manfaat dari komunitas ini termasuk
menyampaikan informasi pemasaran serta layanan pelanggan, mengeksplorasi
permintaan dan mengelola komunitas. Kegiatan tersebut dapat meningkatkan
kepuasan pelanggan dan meningkatkan hak konsumen. (Verhagen et al., 2011
dalam Chen 2019:25) menemukan bahwa ketika bertransaksi secara online ,
pelanggan akan memiliki kepuasan yang lebih tinggi terhadap website jika
memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan. Studi ini menegaskan bahwa
aktivitas pemasaran media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
nilai yang dirasakan yang pada gilirannya mempengaruhi kepuasan
Hubungan Antara Pemasaran Media Sosial Dengan Kepuasan
(Chen and Lin, 2019:25) Menurut teori identitas sosial , pada tingkat
kelompok orang dapat memiliki identitas sosial yang berbeda berdasarkan
perbandingan sosial atau kategorisasi diri dan mendefinisikan diri mereka sebagai
anggota kategori atau kelompok ini. Dari perspektif pelanggan, semakin tinggi
identifikasi dengan suatu merek semakin besar kemungkinan konsumen merasa
puas dengan produk tersebut. Studi yang ada divalidasi secara empiris fakta
bahwa nilai yang dirasakan dipenagruhi oleh tingkat identifikasi merek. (Chen
and Lin 2019:25) menyatakan bahwa ada dampak positif dari persepsi
interaktivitas situs web pada nilai yang dirasakan pelangan. Oleh karena itu,
penelitian ini diusulkan
Niat beli
Niat beli adalah kecenderungan subjektif dari konsumen untuk membeli
produk(Zhu et al., 2020:6). Niat beli mencerminkan probabilitas bahwa pelanggan
akan membeli produk tertentu (Grewal et al dalam Blend ibrahim:7). Keputusan
seperti itu diambil mengenai evaluasi keseluruhan dari pembelian (Dodds, 1995 et
al dalam Blen Ibrahm 2020 :7). Secara praktis , ini adalah kombinasi dari minat
konsumen dan kemungkinan pembelian produk (Kim and Ko, 2010 et al dalam
Blend Ibrahim 2020:7)
Aktivitas pemasaran media sosial
Media sosial didefinisikan sebagai aplikasi online yang dibangun atas
dasar ideologis dan teknis Web 2.0 yang memugkinkan komunikasi antar
pengguna sosial media ( Kaplan dan Haenlein, 2010 dalam (Ibrahim et al.,
2020:1). Untuk aktivitas pemasaran media sosial sendiri didefinisikan sebagai
kegiatan sebuah merek untuk mempromosikan barang atau jasa yang mereka jual
untuk menarik para konsumen untuk membeli. Komunikasi media sosial datang
dalam berbagai bentuk dan jenis seperti platform jejaring sosial ( misalnya
facebook, instagram dan youtube) komunikasi media mempengaruhi bisnis dan
individu.
Persepsi Resiko
Menurut Dowling (1986) dalam Beneke et al (2013) menyatakan pendapat
bahwa persepsi resiko sebagai ketidakpastian dari kinerja dari pengalaman
konsumen ketika melakukan keputusan pembelian. Menurut Ryan et al (1976)
dalam Chen (2012) berpendapat bahwa persepsi resiko merupakan nilai evaluasi
subjektif yang dilakukan oleh konsumen yang berhubungan dengan konsekuensi
yang terjadi ketika pengambilan keputusan yang salah.
Menurut Aaker (1996) dalam Chen et al (2012) persepsi resiko merupakan
sebuah kombinasi dari konsekuensi negatif dan ketidakpastian, nilai dari persepsi
resiko kan berdampak pada keputusan pembelian konsumen.
Persepsi Nilai
Menurut Chen dan Chang (2012) dalam Kwok et al (2015) berpendapat
bahwa persepsi nilai konsumen merupakan penilaian konsumen secara
keseluruhan mengenai manfaat dari suatu produk dan jasa antara apa yang
diterima dan apa yang diberikan berdasarkan pada keinginan konsumen hijau.
Menurut hasil studi yang dilakukan oleh Kwok (2015) ketika persepsi nilai yang
dimiliki produk tinggi, konsumen lebih memungkinkan untuk mengandalkan dan
percaya terhadap kelengkapan produk tersebut
Niat Beli
Menurut Haery et al (2013) menyatakan bahwa konsumen membeli
barang dan jasa ramah lingkungan menganggap bahwa dirinya memberikan
dampak positif pada lingkungan. Perilaku niat beli hijau termasuk mencoba untuk
melakukan penghematan mengkonsumsi energi dan menghindari membeli produk
dengan kemasan yang tidak cocok.
Niat beli individu terkait dengan perilaku, dan dapat diklasifikasikan
sebagai komponen kognitif perilaku individu tentang bagaimana individu
berkeinginan untuk membeli produk secara spesifik (Ling et al, 2010). Menurut
Salisbury et al (2001) dalam Ling et at (2010) niat beli individu dapat digunakan
untuk menentukan kekuatan niat individu dalam melakukan pembelian secara
spesifik
Pemasaran
Bagi sebuah perusahaan, pemasaran menjadi salah satu elemen penting
untuk dapat mencapai suatu tujuan perusahaan. Pemasaran merupakan hal pokok
bagi perusahaan yang dilakukan sebelum proses produksi sampai pada saat
produk berada di pasaran. Menurut Jurnal Dit. Jend. Perdagangan Luar Negri
(1995) dalam Tresnati (2002), pemasaran hijau adalah pemasaran yang ditujukan
untuk melayani kebutuhan konsumen akhir, baik individu maupun lembaga yang
memiliki kepedulian terhadap lingkungan dengan mempertimbangkan tuntutan
yang diajukan konsumen hijau.
Menurut Zhang dan Zhang (1999), seperti yang dikutip oleh Karlina
(2009) mendefinisikan pemasaran dalam dua kategori. Kategori yang pertama
yaitu “pemasaran hijau” dalam arti sempit adalah cara khusus pemasaran yang
dibangun atas dasar pemasaran konvensional dan penargetan produk hijau.
Kategori yang kedua dalam arti luas, “pemasaran hijau” yaitu mencakup seluruh
rangkaian ide-ide, metode, dan proses dari tujuan pemasaran perusahaan.
Menurut Jain dan Kaur (2004) dalam Chen et al (2012) pemasaran hijau
sudah semakin berkembang luas untuk memuaskan kebutuhan hijau pada area
pemasaran. Pemasaran hijau merupakan sebuah proses yang didalamnya termasuk
keseluruhan aktivitas pemasaran yang berkembang cepat dan mempertahankan
sikap dan perilaku kepedulian lingkungan konsumen.
Menurut Polonsky (2010) dalam Wu et al (2014) mendefinisikan
pemasaran hijau sebagai seluruh aktivitas yang dirancang oleh perusahaan dalam
rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen dengan dampak yang
minimal terhadap lingkungan. Kesadaran konsumen akan pemasaran ramah
lingkungan (green marketing) artinya konsumen sadar bahwa pemasaran ramah
lingkungan mencakup keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan pada
saat melakukan promosi produk manufaktur dan jasa yang memiliki dampak
positif terhadap lingkungan atau alternatif mengurangi dampak negatif pada
lingkungan (Wu et al, 2014)
Purchase Intentions (Minat Beli)
Tujuan dari sebuah perusahaan menciptakan dan memasarkan
produk salah satunya adalah menarik minat beli konsumen. Karena
pembelian biasanya diawali dari ketertarikan atau minat beli akan suatu
produk. Berbagai cara dilakukan oleh penjual ataupun produsen untuk
menarik minat beli konsumen guna meningkatkan penjualan dan meraih
keuntungan yang maksimal. Memahami kebutuhan dan keinginan
pelanggan bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan mudah oleh penjual
atau produsen. Oleh karena itu penjual perlu memahami berbagai faktor
yang menjadi daya tarik konsumen dalam pembelian.
Kotler dan Keller (2009), purchase intention adalah sebuah
perilaku di mana konsumen mempunyai keinginan dalam membeli atau
memilih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam memilih,
menggunakan dan mengonsumsi atau menginginkan suatu produk.
Beberapa tahapan yang dilalui dalam proses memunculkan minat beli
konsumen ada tiga, yaitu:
a. Tahap Kognitif
Tahap kognitif adalah tahap yang terdiri dari kesadaran atau
pemahaman penerima pesan. Dalam tahap ini dalam pikiran penerima
pesan dapat dipengaruhi oleh pesan dalam iklan tersebut. Karena itu,
b. Tahap Afektif
Tahap afektif adalah tahap yang terdiri dari kesuksesan dan
kecenderungan penerima pesan akan produk yang di iklankan. Pada
tahap ini penerima pesan dipengaruhi alam emosinya. Sama halnya pada
tahap kognitif, terhadap afektif ini terfokus pada iklannya. Komponen
afektif meliputi sikap, evaluasi, perasaan tertentu pada produk yang
pesan-pesannya telah menyentuh konsumen.
c. Tahap Konatif
Tahap konatif merupakan tahap pembbelian oleh penerima pesan.
Tahap ini mengacu pada tindakan. Semua berakhir pada perubahan
tentang seberapa jauh efektivitas dari produk yang di iklankan, karena iu
tahapan ini berfokus pada produknya. Kepuasan maupun ketidakpuasan
konsumen terhadap suatu produk akan mempengaruhi tindakan
selanjutnya. Jika konsumen merasa puas akan suatu produk maka
kemungkinan untuk melakukan pembelian ulang terhadap suatu produk
atau jasa akan lebih tinggi.
Kotler & Keller (2009) menambahkan minat beli adalah perilaku
konsumen yang muncul sebagai respon terhadap objek yang
menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian. Adapun
minat membeli itu muncul melalui berbagai rangkaian proses, antara lain:
pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi informasi, dan
akhirnya akan timbul sebuah minat beli yang ada pada diri konsumen.
Word Of Mouth (Promosi Dari Mulut Ke Mulut)
Fungsi word of mouth adalah sebagai sarana komunikasi yang terjadi
secara disadari maupun tidak akan membentuk suatu penilaian konsumen
terhadap suatu produk / merek tertentu. Perusahaan harus dapat merangsang
terciptanya word of mouth yang positif sehingga mempengaruhi konsumen
dalam melakukan keputusan pembelian.
Menurut Kotler & Keller (2009) word of mouth marketing adalah
kegiatan pemasaran melalui perantara orang ke orang baik secara lisan,
tulisan, maupun alat komunikasi elektronik yang berhubungan dengan
pengalaman pembelian jasa atau pengalaman menggunakan produk atau
jasa.
Word of Mouth memiliki kekuatan besar yang berdampak pada
perilaku pembelian konsumen. Rekomendasi dari teman yang sudah
dipercaya, asosiasi, dan konsumen lain berpotensi untuk lebih dipercaya
dibandingkan dari sumber komersil, seperti iklan dan salespeople. Sebagian
besar, word of mouth terjadi secara alami, konsumen mulai dengan
membicarakan sebuah merek yang mereka gunakan kepada orang lain.
(Kotler & Amstrong, 2012).
Komunikasi dari mulut ke mulut mempunyai pengaruh yang sangat
kuat terhadap perilaku pembelian konsumen. Word of mouth disebabkan
oleh kebutuhan pengirim dan penerima informasi. Para penerima mungkin
menghendaki informasi dari mulut ke mulut karena mereka tidak percaya
kepada pesan penjualan. Atau mereka mencari informasi untuk mengurangi
kecemasan mereka mengenai pembelian beresiko
Brand Image (Citra merk)
Merk dagang (brand) menurut Assauri (2010), adalah nama,
istilah, tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur tersebut,
yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi (barang atau jasa) dari seorang
penjual atau kelompok penjual dan yang membedakannya dari produk.
Sedangkan brand image (citra merk) adalah cerminan sebuah produk yang
pertama kali dilihat sebelum pengambil keputusan untuk membeli ataupun
ketertarikan (minat) untuk membeli suatu produk.
Menurut Schiffman and Kanuk (2007) citra merk yang positif
berkaitan dengan kesetiaan konsumen, kepercayaan konsumen mengenai
nilai merk yang positif, dan kesadaran untuk mencari merk tersebut. Citra
merk yang positif juga membantu meningkatkan minat konsumen pada
promosi merk di masa yang akan datang, dan memperkuat posisi dalam
menghadapi berbagai kegiatan pemasaran pesaing.
Citra merk mencerminkan jati diri dari perusahaan didasarkan pada
apa yang dilihat atau dikira oleh masyarakat tentang perusahaan yang
bersangkutan. Bisa jadi satu perusahaan memiliki citra merk yang berbeda
dihadapan orang. Merek adalah kebutuhan strategis yang membantu
perusahaan untuk menciptakan nilai lebih bagi konsumen dan untuk
mengembangkan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Merek yang
sukses akan meningkatkan kepercayaan produk dan jasa pada konsumen
Price (Harga)
Harga merupakan salah satu unsur bauran pemasaran yang
seringkali dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi konsumen dalam
melakukan pembelian dan tidak bisa dikesampingkan oleh perusahaan.
Assauri (2010) harga merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang
menghasilkan penerimaan penjualan, sedangkan lainnya hanya unsur biaya
saja. Walaupun penetapan harga merupakan persoalan penting, masih
banyak perusahaan yang masih kurang sempurna dalam menangani
permasalahan penetapan harga tersebut. Sedangkan Tjiptono (2008) me
nambahkan harga merupakan unsur bauran pemasaran yang bersifat
fleksibel, artinya dapat diubah dengan cepat. Mungkin harga adalah elemen
termudah dalam program pemasaran untuk disesuaikan; fitur produk,
saluran, dan bahkan komunikasi membutuhkan lebih banyak waktu (Kotler
dan Keller, 2009).
Tujuan penetapan harga menurut Assauri (2010) adalah sebagai
berikut:
- Memperoleh laba yang maksimum salah satu tujuan yang paling lazim
dalam penetapan harga adalah memperoleh hasil laba jangka pendek
yang maksimum. - Mendapatkan share pasar tertentu, sebuah perusahaan dapat menetapkan
tingkat harga untuk mendapatkan atau meningkatkan share pasar,
meskipun mengurangi tingkat keuntungan pada masa itu. - Memerah pasar (market skimming). Prusahaan mengambil manfaat
memperoleh keuntungan dari bersedianya pembeli dengan harga yang
lebih tinggi dari pembeli yang lain karena barang yang ditawarkan
memberikan nilai yang lebih tinggi bagi mereka. - Mencapai tingkat hasil penjualan maksimum pada waktu itu. Perusahaan
menempatkan harga untuk memaksimumkan penerimaan penjualan pada
masa itu. - Mencapai keuntungan yang ditargetkan. Perusahaan menetapkan harga
tertentu untuk dapat mencapai tingkat laba yang berupa rate of return
yang memuaskan, - Mempromosikan produk. Perusahaan menetapkan harga khusus yang
rendah untuk mendorong penjualan bagi produknya, bukan semata-mata
berjuang mendapatkan untung yang besar
Ruang Lingkup Manajemen Pemasaran
Banyak pengertian yang diberikan mengenai Manajemen Pemasaran.
Salah satu pengertian menyatakan, bahwa manajemen pemasaran
merupakan kegiatan penganalisisan, perencanaan, pelaksanaan dan
pengendalian program-program yang dibuat untuk membentuk, membangun
dan memelihara, keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar guna
mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang.
batasan pengertian mengenai manajemen pemasaran seperi diatas, maka
akan tercakup ruang lingkup yang sangat luas. Secara singkat dapat
dinyatakan bahwa manajemen pemasaran mencakup seluruh filsafat,
konsep, tugas, dan proses manajemen pemasaran (Assauri, 2010
Pengertian Pemasaran
Pemasaran (marketing) adalah mengidentifikasi dan memenuhi
kebutuhan manusia dan sosial. Salah satu definisi yang baik dan singkat dari
pemasaran adalah memenuhi kebutuhan dengan cara yang menguntungkan
Kotler dan Keller, (2009). Sedangkan Assauri, (2010) menjelaskan
pemasaran yaitu kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan
memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
Menurut Kotler dan Keller, (2009) Tujuan pemasaran adalah
mengetahui dan memahami pelanggan dengan baik sehingga produk atau
jasa bisa sesuai dengan kebutuhannya sehingga terjual sendiri. Idealnya,
pemasaran harus menghasilkan seorang melanggan yang siap untuk
membeli.
Citra Merek
Dalam Wang dan Tsai (2014) menurut American Marketing
Association merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasi,
yang bertujuan untuk mengidentifikasi produk dan untuk membedakan
mereka dari suatu kompetisi.
Dalam Fianto (2014) menurut Hawkins, et al (2004) mengatakan
bahwa citra merek adalah persepsi dalam benak konsumen terhadap kesan
yang baik dari sebuah merek. Kotler & Keller (2012) berpendapat bahwa
suatu kesan yang baik dapat ditimbulkan oleh suatu merek ketika memiliki
keunggulan yang unik, reputasi yang baik, populer, dapat dipercaya dan
bersedia untuk memberikan pelayanan yang terbaik.
Dalam Upamannyu (2012) Hsieh, et al (2004) berpendapat bahwa
citra merek dapat membantu konsumen dalam mengenali kebutuhan dan
kepuasan mereka terhadap merek, juga membedakan merek dari pesaingnya
sehingga memotivasi pelanggan untuk membeli produk dengan merek yang
baik.
Dalam Dmour (2013) menurut Keller (2008) citra merek adalah
persepsi konsumen tentang merek yang tercermin dari asosiasi merek yang
muncul dalam pikiran konsumen. Jadi dapat disimpulkan bahwa citra merek
adalah suatu kepercayaan yang dianggap penting bagi konsumen dari suatu
produk yang begitu melekat dalam benak dan pikiran konsumen yang
menimbulkan adanya keyakinan dalam diri konsumen.
Faktor-faktor yang membentuk citra merek adalah:
- Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association)
Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan
konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai
bagian dari citra merek. - Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association)
Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses
terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, dimana konsumen
dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat
memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. - Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association)
Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi
alasan bagi konsumen untuk memilih merek tertentu.Keunikan
asosiasi merek dpat berdasarkan atribut produk, fungsi produk atau
citra yang dinikmati konsumen.
Niat Beli
Sebelum konsumen memutuskan untuk membeli dan menggunakan
barang atau jasa, pasti konsumen mengalami proses dalam keputusan membeli
produk tersebut. Proses pengambilan keputusan tersebut dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Baik faktor eksternal maupun faktor internal. Niat merupakan
salah satu faktor yang berasal dari dalam diri konsumen yang mempengaruhi
perilaku konsumen untuk melakukan pembelian pada suatu produk barang
maupun jasa.
Peter (2010) niat beli adalah rencana keputusan atau niat untuk
membeli produk tertentu atau merek. Peter menganggap bahwa niat beli dapat
juga diartikan sebagai niat perilaku yaitu sebuah rencana untuk melakukan
tindakan pembelian.
Dalam Tuu (2012) menurut Johnson, et al (2006) & Oliver (2009) niat
beli merupakan konsep penting dalam literatur pemasaran. Menurut
Evanschitzky, et al niat beli dianggap sebagai mediator antara kepuasan dan
loyalitas yang sebenarnya. Tsiotsou (2006) seorang manajer pemasaran
tertarik pada niat beli konsumen dalam rangka untuk meramalkan penjualan
produk dan jasa yang ada serta untuk membantu keputusan pemasaran yang
terkait dengan permintaan produk untuk produk-produk baru dan yang sudah
ada, segmentasi pasar dan strategi promosi. Schiffman & Kanuk (2000)
mendefinisikan niat beli sebagai kemungkinan bahwa pelanggan akan
membeli produk tertentu
Persepsi Harga
Schiffman (2007) mengemukakan pandangan konsumen terhadap
harga atau disebut dengan persepsi harga yaitu tinggi dan rendahnya harga
sebagai keadilan dimana hal ini memiliki pengaruh yang kuat pada dua hal
yaitu niat beli dan kepuasan pembelian. Schiffman (2007) mengatakan bahwa
persepsi ketidakadilan harga berpengaruh terhadap persepsi konsumen dari
nilai produk dan akhirnya mempengaruhi keinginan konsumen untuk
mengunjungi toko atau jasa layanan.
Dalam Wu dan Chen (2014) Zeithmal (1988) berpendapat bahwa
persepsi harga merupakan perasaan dalam diri konsumen dimana konsumen
memiliki pengetahuan mengenai harga produk. Jadi persepsi harga adalah
penilaian pribadi konsumen terhadap harga suatu produk apakah sesuai
dengan manfaat yang diterima konsumen. Petrick (2002) mengusulkan enam
indikator untuk mengukur persepsi harga konsumen yaitu pembelian yang
sangat baik, nilai yang setara, di atas nilai, harga yang wajar, ekonomi, dan
perdagangan yang baik.
Persepsi Kualitas
Schiffman (2007) mengatakan bahwa konsumen sering menilai
kualitas suatu produk atau jasa atas dasar berbagai petunjuk dari informasi
yang mereka terima atas suatu produk. Konsumen ingin percaya bahwa
mereka mendasarkan evaluasi kualitas produk pada hal-hal intrinsik atau yang
bersangkutan langsung dengan produk, karena hal tersebut memungkinkan
konsumen untuk membenarkan keputusan produk yang dipilih (baik positif
atau negatif) sebagai suatu pilihan produk yang rasional atau objektif.
Zeithaml (1996) mendefiniskan persepsi kualitas sebagai penilaian
konsumen tentang keunggulan suatu layanan secara keseluruhan. Penilaian ini
adalah penilaian yang didasarkan dengan beberapa dimensi pelayanan seperti
kehandalan dan kesanggupan suatu produk untuk memuaskan konsumen
yang ditandai oleh kombinasi fitur layanan, perilaku, atau tindakan.
Dalam Wu dan Chen (2014) menurut Tsiotsou (2006) persepsi kualitas
merupakan suatu sarana mengevaluasi persepsi konsumen terhadap kualitas
produk. Tsiotsou (2006) dan Zeithaml (1988) berpendapat bahwa persepsi
kualitas berarti mengevaluasi persepsi konsumen terhadap kualitas produk
yang mewakili keseluruhan penilaian konsumen pada keunggulan produk.
Zeithaml dan Bitner (2000) mengatakan bahwa persepsi kualitas dipengaruhi
oleh persepsi subjektif konsumen dan lingkungan konsumen. Jadi persepsi
kualitas adalah penilaian pribadi konsumen terhadap kualitas suatu produk
sebagai evaluasi atas manfaat yang diterima konsumen.
Dalam penelitian ini, persepsi kualitas diukur dengan menggunakan
empat indikator Petrick (2002) dalam Wu dan Chen (2014) yaitu konsistensi,
reliabilitas, kehandalan, dan keunggulan
Persepsi Nilai
Dalam Wu dan Chen (2014) Zeithaml (1996) mengatakan bahwa
selain menilai produk dan jasa berdasarkan kualitas dan kepuasan, pelanggan
juga mengevaluasi produk sesuai dengan nilai yang dirasakan. Nilai sendiri
memiliki pengertian yang berbeda-beda bagi setiap individu. Zeithaml (1996)
sendiri mengartikan nilai sebagai penilaian keseluruhan konsumen dari
kegunaan suatu produk berdasarkan persepsi tentang apa yang diterima
konsumen dan apa yang diberikan. Sebuah nilai berkaitan erat dengan
persepsi pelanggan dari manfaat yang dirasakan dibandingakn dengan biaya,
waktu dan usaha yang diberikan oleh konsumen untuk menikmati suatu
produk.
Dalam Wu dan Chen (2014) menurut Zeithaml (1988) persepsi nilai
atau nilai yang dirasakan konsumen adalah evaluasi secara keseluruhan dari
produk berdasarkan keuntungan yang diterima dan apa yang dibayar. Sheth, et
al (1991) mengusulkan lima jenis persepsi nilai, yaitu nilai fungsional, nilai
sosial, nilai emosional, nilai epistemik, dan nilai bersyarat. Zeithaml (1988)
persepsi nilai didefinisikan sebagai penilaian keseluruhan konsumen terhadap
produk atau layanan utilitas, berdasarkan berbagai macam manfaat dan
pengorbanan. Jadi persepsi nilai menjadi salah satu tolak ukur evaluasi baik
atau tidaknya suatu produk di pandangan dimasyarakat.
Kaufman (1998) dalam Wu dan Chen (2014) menganggap bahwa nilai
yang dirasakan dapat digunakan untuk menemukan keinginan, permintaan,
dan nilai tukar pelanggan untuk barang atau jasa ketika memutuskan apakah
akan membeli atau tidak.
Zeithaml (1996) mengemukakan empat arti dari nilai yang dirasakan
atau persepsi nilai, yaitu
a. Nilai adalah harga yang rendah
Beberapa konsumen menyamakan nilai dengan harga barang yang
rendah, yang menunjukkan bahwa apa yang harus diserahkan
konsumen dalam artian uang yang dibayarkan yang paling utama
dalam persepsi mereka tentang nilai.
b. Nilai adalah apa pun yang diinginkan ada dalam produk atau jasa
oleh konsumen
Daripada berfokus pada harga produk yang rendah, beberapa
konsumen lebih menekankan pada manfaat yang mereka terima
dari layanan atau produk sebagai komponen yang paling penting
dari nilai. Dalam pengertian ini harga menjadi hal yang tidak
terlalu penting bagi beberapa konsumen daripada kualitas atau fitur
yang sesuai dengan apa yang diinginkan.
c. Nilai adalah kualitas yang didapatkan konsumen sesuai dengan
harga yang dibayarkan
Konsumen lain melihat nilai sebagai petukaran antara uang yang
konsumen bayarkan dengan dan kualitas yang diterima oleh
konsumen.
d. Nilai adalah apa yang konsumen dapatkan dari usaha yang
konsumen berikan
Akhirnya, beberapa konsumen mempertimbangkan bahwa nilai
adalah semua manfaat yang mereka terima serta komponen
pengorbanan yaitu uang, waktu dan tenaga yang harus diberikan
untuk mendapatkan sebuah produk
Teori Perilaku Konsumen
Jika membahas pemasaran lebih dalam maka akan ditemui
pembahasan atau topik menarik yaitu mengenai perilaku konsumen.
Peter (2010) perilaku konsumen didefiniskan sebagai interaksi dinamis
yang mempengaruhi dan sebagai pengetahuan, perilaku dan
lingkungan dimana manusia melakukan aspek pertukaran kehidupan
mereka. Dengan kata lain, perilaku konsumen melibatkan pengalaman
dalam berpikir, perasaan dan tindakan yang mereka lakukan dalam
proses konsumsi. Peter (2010) membagi definisi perilaku konsumen
menjadi tiga, yaitu
a. Perilaku konsumen sebagai dinamika
Perilaku konsumen dikatakan dinamis karena pemikiran,
perasaan dan tindakan dari konsumen sebagai individu, sasaran
kelompok konsumen, dan masyarakat pada umumnya yang
terus mengalami perubahan.
b. Perilaku konsumen melibatkan interaksi
Perilaku konsumen melibatkan interaksi antara pemikiran,
perasaan, tindakan dan lingkungan.
c. Perilaku konsumen melibatkan pertukaran
Perilaku konsumen melibatkan terjadinya pertukaran antara
manusia. Dengan kata lain, orang memberikan sesuatu yang
berharga kepada orang lain dan menerima sesuatu sebagai
imbalan.
Perilaku konsumen menurut Kotler (2009) adalah studi tentang
bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan dan bagaimana suatu produk, idea dan pengalaman
dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Perilaku konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor menurut Kotler
(2009) yaitu:
a. Faktor Budaya
Budaya merupakan determinasi dasar atas keinginan dan perilaku
seseorang. Seorang anak yang tumbuh di satu Negara dengan
Negara lain akan memiliki perilaku dan nilai-nilai yang berbeda.
b. Faktor Sosial
Faktor sosial yang berada di lingkungan seorang individu akan
memperngaruhi bagaimana individu berperilaku dan bertindak.
Faktor sosial dipengaruhi oleh keluarga sebagai kelompok dasar
diikuti dengan kelompok referensi serta peran dan status.
c. Faktor Pribadi
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi
yaitu usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan keadaan ekonomi
serta kepribadian dan konsep diri
Hubungan Citra Merek Terhadap Niat Pembelian
Menurut Schiffman (2019) Citra Merek adalah persepsi, di benak
konsumen, tentang produk dan merek yang berasal dari citra dan simbolis nilai
manfaat konsumen yang diklaim oleh produk ini mereka berikan. Merek terdiri dari
persepsi sadar dan bawah sadar dan itu hanya ada dibenak pelanggan, hal itu yang
mendorong perilaku konsumen. Citra Merek suatu produk adalah daya tarik bagi
konsumen dan sebagai alat meningkatkan daya saing. Apabila citra merek suatu
produk positif, maka konsumen akan tertarik atau memiliki niat pembelian terhadap
produk tersebut sesuai dengan kebutuhannya.
Hubungan Duta Merek Terhadap Niat Pembelian
Menurut Kertamukti (2015) Duta merek adalah individu yang terkenal oleh
publik atas prestasinya selain daripada produk yang didukungnya. Menurut Kotler
dan Keller (2016:468) niat beli adalah seberapa besar kemungkinan pelanggan
membeli suatu merek dan jasa atau seberapa besar kemungkinan pelanggan akan
berpindah dari satu merek ke merek lain. Duta merek menjadi identitas atau ikon
budaya sebuah merek, yang digunakan sebagai alat pemasaran untuk mewakili
suatu produk. Jika perusahaan ingin memperoleh keuntungan dengan baik melalui
pemasarannya, maka wajib memperhatikan duta merek yang mereka pilih. Semakin
baik citra dan popularitas duta merek maka semakin meningkatkan pembelian.
Dapat disimpulkan bahwa daya tarik duta merek merupakan upaya yang dilakukan
perusahaan untuk mempengaruhi konsumen dengan memanfaatkan popularitas
brand ambassador untuk menggambarkan dan menjelaskan kepada konsumen, dan
diharapkan dapat meningkatkan niat pembelian konsumen.
Teori Pemasaran
Pemasaran merupakan suatu istilah yang sudah tidak asing bagi
masyarakat dan segala aktivitas di dalamnya yang mempengaruhi kehidupan
masyarakat. Banyak yang mengartikan pemasaran sebagai suatu aktivitas
menjual, mendistribusikan dan membeli suatu barang atau jasa dari produsen
kepada konsumen. Pengertian tersebut tidak salah, namun sebenarnya
pemasaran memiliki pengertian menurut beberapa ahli. AMA (American
Marketing Association) (2004) dalam Tjiptono (2012) mendefinisikan
pemasaran sebagai fungsi organisasi dan serangkaian proses menciptakan,
mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai bagi para pelanggan, serta
mengelola relasi pelanggan sedemikian rupa sehingga memberikan manfaat
bagi organisasi dan para stakeholder-nya. Dalam Tjiptono (2012) pengertian
pemasaran mengalami perubahan hingga akhirnya disempurnakan oleh AMA
(American Marketing Association) (2007) pemasaran adalah aktivitas,
serangkaian institusi dan proses menciptakan, mengkomunikasikan,
menyampaikan dan mempertukarkan tawaran (offerings) yang bernilai bagi
pelanggan, klien, mitra dan masyrakat umum. Sedangkan menurut Venkatsh
dan Penaloza (2006) pemasaran adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan
perusahaan untuk menstimulasi permintaan atas produk atau jasanya dan
memastikan bahwa produk dijual dan disampaikan kepada para pelanggan.
Menurut Meldrum (2000) pemasaran adalah proses bisnis yang berusaha
menyelaraskan antara sumber daya manusia, finansial dan fisik organisasi
dengan kebutuhan dan keinginan para pelanggannya dalam konteks strategi
kompetitif organisasi
Indikator Niat Pembelian
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010:470), indikator niat beli adalah
sebagai berikut :
1) Tertarik mencari informasi mengenai produk atau jasa.
Pelanggan yang merasa tertarik untuk membeli produk atau jasa akan
terdorong untuk mencari informasi lebih banyak mengenai produk atau
jasa tersebut.
2) Mempertimbangkan untuk membeli.
Melalui pengumpulan informasi, pelanggan mempelajari merek yang
ada di pasar beserta fitur merek tersebut. Lalu pelanggan mulai
melakukan evaluasi terhadap pilihan yang tersedia dan
mempertimbangkan untuk membeli produk atau jasa.
3) Tertarik untuk mencoba.
Setelah memenuhi kedua indikator di atas, rasa ketertarikan untuk
mencoba akan timbul saat pelanggan selesai mengevaluasi produk atau
jasa yang ada. Evaluasi ini dinilai sebagai proses yang berorientasi
kognitif.
4) Ingin mengetahui produk atau jasa.
Setelah muncul keinginan untuk mencoba produk atau jasa, pelanggan
akan memiliki keinginan untuk mengetahui produk atau jasa. Pelanggan
akan memandang produk atau jasa sebagai sekumpulan atribut dengan
kemampuan yang berbeda dengan manfaat yang berbeda pula untuk
memuaskan kebutuhan serta keinginan pelanggan.
5) Ingin memiliki produk atau jasa.
Pelanggan akan memberikan perhatian yang besar pada produk atau jasa
dengan atribut yang dicarinya. Pada akhirnya, pelanggan akan
mengambil sikap atau keputusan preferensi terhadap suatu produk atau
jasa melalui evaluasi atribut dan menimbulkan niat untuk membeli atau
memiliki produk atau jasa yang disukainya.
Dimensi Niat Pembelian
Menurut Ferdinand (2006:129) dalam Roisah, niat beli dapat diidentifikasi
melalui indikator-indikator sebagai berikut :
1) Niat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
produk.
2) Niat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
produk kepada orang lain.
3) Niat preferensial, yaitu niat yang menggambarkan perilaku seseorang
yang memiliki prefrensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini
hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk prefrensinya.
4) Niat eksploratif, niat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu
mencari informasi mengenai produk yang diniatinya dan mencari
informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut
Pengertian Niat Pembelian
Niat pembelian adalah perilaku konsumen yang muncul sebagai respon
terhadap objek yang menunjukkan keinginan seseorang untuk melakukan
pembelian. Menurut Kotler dan Keller (2016:468) niat beli adalah seberapa besar
kemungkinan pelanggan membeli suatu merek dan jasa atau seberapa besar
kemungkinan pelanggan akan berpindah dari satu merek ke merek lain. Menurut
Schiffman dan kanuk dalam Rosdiana dan Haris (2018) niat beli konsumen
merupakan segi psikologis yang memberikan pengaruh lumayan signifikan pada
perilaku dalam bersikap, penilaian konsumen pada produknya yang bergantung
kepada wawasan terkait informasi perihal fungsi suatu produknya. Niat beli ini
menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu
keinginan yang sangat kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus
memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya
itu.
Dimensi Citra Merek
Menurut Wardhana (2022: 109) citra merek dapat diukur dengan:
1) Pengenalan (Recognition) yaitu proses, cara, perbuatan dalam mengenali
suatu merek oleh konsumen baik melalui logo,tagline, desain produk,
kemasan, dan hal lainnya sebagai identitas dari merek tersebut.
2) Reputasi (Reputation) yaitu status suatu merek yang cukup tinggi karena
lebih memiliki track record yang baik.
3) Daya Tarik (Affinity) yaitu hubungan emosional yang timbul antara sebuah
merek dengan konsumennya untuk menyukai suatu produk.
4) Domain yaitu diferensiasi produk yang menyangkut seberapa besar cakupan
dari produk dengan merek tertentu.
c. Indikator Citra Merek
Menurut Wardhana (2022:109) pengukuran brand image mempunyai
indikator sebagai berikut:
1) Kekuatan (Strengthness)
keunggulan dan kelebihan fisik yang dimiliki merek dan tidak dapat
ditemukan pada merek lain. Keunggulan dan kelebihan merek ini mengarah
pada atribut fisik sehingga merek terlihat berbeda dengan merek lain.
Seperti: fisik produk, harga produk, dan penampilan lain yang mendukung
produk tersebut.
2) Kesukaan (Favorable)
Kemampuan merek yang mudah diingat dan diucapkan konsumen. Merek
harus memperhatikan keinginan dan kebutuhan konsumen sehingga
membuat konsumen percaya bahwa manfaat yang diberikan oleh suatu
merek dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta keinginan
konsumen dan dapat menimbulkan sikap yang positif terhadap merek.
3) Keunikan (Uniqueness)
Kesan unik atau ciri khas produk dari sebuah merek yang tercipta dari
atribut produk sehingga mampu menarik dan mendorong konsumen untuk
mengetahui lebih lanjut tentang merek.
Pengertian Citra Merek
Menurut Schiffman (2019) Citra Merek adalah persepsi, di benak konsumen,
tentang produk dan merek yang berasal dari citra dan simbolis nilai manfaat konsumen
yang diklaim oleh produk ini mereka berikan. Menurut Firmansyah (2019:60), citra
merek didefinisikan sebagai suatu persepsi yang muncul di benak konsumen ketika
mengingat suatu merek dari produk tertentu. Dari kedua definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa citra merek adalah persepsi khusus yang ada dibenak konsumen
mengenai merek tertentu.
Manfaat Duta Merek
Menurut Lea Greenwood dalam Chintia (2018), terdapat empat manfaat
utama dari penggunaan selebriti sebagai brand ambassador, yaitu :
1) Liputan pers yang positif
2) Mengubah persepsi konsumen tentang suatu merek
3) Menarik konsumen baru
4) Memperbaharui kampanye yang ada
Peran Duta Merek
Menurut Royan dalam buku Firmansyah (2019:140) penggunaan selebriti
sebagai duta merek memiliki peranan sebagai berikut :
1) Memberi kesaksian (Testimonial)
2) Memberi dorongan dan penguatan (Endorsement)
3) Menjadi pemeran dalam iklan yang diwakilinya
4) Menjadi sebagai juru bicara perusahaan
Indikator Duta Merek
Menurut Kertamukti (2015:70) terdapat beberapa indikator duta merek yang
dikenal VisCAP, yaitu:
1) Kepopuleran (Visibility) adalah popularitas yang melekat pada selebriti
yang mewakili produk tersebut.
2) Kredibilitas (Credibility) adalah keahlian dan kepercayaan yang
diberikan kepada duta merek.
3) Daya tarik (Attraction) mencangkup tiga hal, similary (kesamaan),
familiarity (keakraban), liking (kesukaan).
4) Kekuatan (Power) adalah tingkat kekuatan selebriti tersebut untuk
membujuk para konsumen dalam membeli produk yang dilakuka
Elemen – Elemen Marketing Mix
Berikut yang dapat diringkas menjadi empat elemen stategi menurut Musfar (2020):
1) Product adalah barang yang dibuat atau diproduksi untuk memenuhi kebutuhan
sekelompok orang tertentu. Produk ini tidak berwujud atau berwujud karena
bisa dalam bentuk jasa atau barang. Pemasar harus menciptakan produk yang
tepat untuk meningkatkan kedalaman lini produk yaitu nama merek, desain
produk, kemasan produk, kualitas produk.
2) Price adalah jumlah yang harus dibayar pelanggan untuk menikmati produk.
Harga selalu membantu membentuk persepsi produk dimata konsumen.
Akibatnya harga yang terlalu tinggi akan membuat biaya lebih besar daripada
manfaat dimata pelanggan. Terdapat 3 strategi penetapan harga utama yaitu
harga penetrasi pasar, pasar menggelapkan harga, harga netral.
3) Place atau Distribution mencakup aktivitas bisnis yang membuat produk
tersedia bagi pelanggan sasaran. Perusahaan harus memposisikan dan
mendistribusikan produk ditempat yang mudah diakses oleh pembeli potensial.
Secara umum ada 3 strategi distribusi yaitu distribusi intensif, distribusi
eksklusif, distribusi selektif.
4) Promotion adalah kegiatan mempromosikan keunggulan suatu produk dan
meyakinkan pelanggan sasaran untuk membelinya. Promosi merupakan
komponen pemasaran yang dapat meningkatkan brand recognition dan
penjualan. Terdapat 6 elemen promosi yaitu periklanan, promosi penjualan,
hubungan masyarakat, publisitas, acara sponsor, penjualan langsung
Pengertian Marketing Mix
Menurut Kotler & Armstrong (2018:29) marketing mix atau bauran pemasaran
adalah seperangkat alat pemasaran yang bekerja sama untuk melibatkan pelanggan,
memuaskan kebutuhan pelanggan, dan membangun hubungan pelanggan. Terdapat
komponen bauran pemasaran yang mencangkup 4 elemen yaitu product, price,
promotion dan place.
Jenis – Jenis Pemasaran
Setelah di pahami alangkah baiknya pemahaman kita tentang pemasaran
(Marketing) tersebut dilengkapi dengan pemahaman fungsi_fungsi dari pemasaran
yang fundamental (dasar). Karna pemasaran itu sendiri meupakan aktifitas yang
kompleks dalam usaha untuk menyampaikan informasi produk atau layanan jasa,
penawaran dan negosiasi, penyaluran produk kepada konsumen, yang di lakukan oleh
suatu institusi atau badan usaha secara sistematis dan terencana, maka tentunya
terdapat fungsi – fungsi yang mendukung suatu konsep dalam pemasaran. Adapun
fungsi – fungsi pemasaran adalah sebagai berikut:
- Fungsi Pertukaran (Exchange)
Produk yang telah di hasilkan oleh produsen haruslah terjual sekurang
- kurangnya satu kali dalam proses pemasaran. Dalam fungsi pemasaran akan
melibatkan beberapa kegitan yang meliputi pengangkutan dan pengalihan hak
milik dari satu pihak kepada pihak lain yang ada di dalam sistem pemasaran
tersebut.Dalam fungsi pertukaran, terdapat dua fungsi lain yang mendukung
fungsi pertukaran, fungsinya :
Fungsi Penjualan
Esensi dari fungsi penjualan adalah mempertemukan penjual dan
pembeli (permintaan dan penawaran) baik itu secara langsung maupun tidak
langsung dengan melaui perantara seperti para agen, sales, dan
lainsebagainya.Adapun fungsi tambahan dalam esensi fungsi penjualan adalah
sebagai berikut: - Perencanaan dan pengembangan produk.
- Mencari kontak (membuat kontak dengan para pembeli).
- Menciptakan permintaan (Mendorong para pembeli membeli produk).
- Melakukan negosiasi (Syarat serta kondisi penjualan harus
dirundingkan). - Melakukan kontak (persetujuan akhir penjualan).
Fungsi Pembelian
Esensi dari fungsi pembelian yaitu seluruh aktifitas atau hal
yang penting untuk di perhatikan dalam rangka mendapatkan produk
atau layanan jasa yang sesuai dengan kriteria baik itu kualitas maupun
kuantitas seperti yang di inginkan konsumen.Kemudian mengusahakan
produk yang sesuai kriteria tersebut siap dipergunakan pada waktu,
kondisi, dan tempat tertentu dengan harga yang kompetitif. Selain itu,
terdapat fungsi tambahan yang mendukung fungsi pembelian, yaitu : - Perencanaan (Menentukan kritenia produk atau jasa)
- Mencari kontak (Mencari penjual produk sesuai kriteria)
- Assembling (Pengumpulan produk – produk)
- Negosiasi (Syarat serta kondisi pembelian harus dirundingkan)
- Kontak (kontrak jual beli dan perpindahan hak milik
- Fungsi Penyimpanan dan Pendistribusian (Storage and Distribution)
Penyimpanan dan pendistribusian merupakan fungsi pemasaran yang
kedua, dimana produk – produk yang telah di hasilkan oleh produsen perlu
untuk di simpan dalam waktu tertentu dan kemudian di distribusikan kepada
para agen – agen atau bahkan langsung kepada para konsumen, sehingga
waktu dan tempat merupakan hal penting untuk lebih di perhatikan. Fungsi
yang kedua ini meliputi :
- Pemrosesan (Produk di proses (pengolahan dan pengemasan) untuk
siap di jual kepada konsumen) - Penyimpanan atau Penggudangan ( Menyimpan produk yang telah jadi
sampai pada saat siap untuk di salurkan kepada konsumen - Penganggkutan dan Distribusi (Pemindahan produk dari produsen
kepada agen – agen atau langsung ke konsumen akhir)
- Fungsi Perantara (Intermediaries)
Fungsi perantara merupakan fungsi pemasaran yang ketiga, dimana
devisi pemasaran memiliki peran penting dalam penyampaian infromasi
produk dari produsen kepada konsumen hingga pada proses transaksi
pembelian produk berhasil dilakukan oleh konsumen yang tentunya selalu
memperhatikan nilai atau tingkat kepuasan konsumen sehingga dilain waktu
konsumen akan membeli produk itu kembali dan menggunakannya secara
terus menerus. terdapat fungsi tambahan yang mendukung fungsi perantara,
yaitu:
- Informasi pasar (informasi mengenai harga dan sumber-sumber
penawaran) - Penanggungan risiko (Pengusaha menanggung risiko sepanjang
saluran pemasaran) - Standardisasi dan grading (Menentukan standar produk dan
klasifikasi produk) - Pembiayaan (Pemasaran modern memerlukan modal (uang), kredit,
dan lain sebagai
Manfaat Pemasaran
Form, Place, Time, Informasi and Utility
Keempat tujuan diatas dapat tercapai apabila pemasaran memberikan konstribusi atau
manfaat. Agar keempat tujuan diatas tercapai, pemasaran harus memberikan manfaat
seperti dibawah ini:
- Kegunaan bentuk (form utility)
Pada intinya, pemasaran bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
individu, dan organisasi dengan cara menciptakan dan mempertukarkan nilai
satu sama lain. Contohnya: kayu menjadi meja. Pemasaran mendorong
terjadinya perubahan bentuk dari bahan baku maupun komponen menjadi
barang jadi. - Kegunaan tempat (place utility)
Kegunaan ini diperoleh konsumen karena dengan pemasaran, produk dibuat
pada tempat yang dapat didatangi. - Kegunaan waktu (time utility)
Ini berkaitan bahwa dengan kenyatan bahwa konsumen dapat memperoleh
produk pada saat yang diinginkan. - Kegunaan informasi (informasi utlity)
Pemasaran melakukan promosi untuk menginformasikan produk kepada
konsumen, membujuk konsumen agar membeli dan mengingatkan konsumen
agar tidak melupakan produknya.Dalam tugas menginformasikan tersebut,
konsumen memperoleh manfaat berupa pengetahuan mengenai produk
maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan produk. Contohnya: iklan susu
anlen. Dalam iklan tersebut disebutkan bahwa tulang akan semakin kropos
sejalan dengan bertambahnya usia. Dari iklan tersebut diperoleh dua
informasi, yakni efek negatif yang terjadi pada tulang bersamaan dengan
semakin bertambahnya usia dan sesuatu yang dapat mencegah efek negatif
tersebut. - Kegunaan kepemilikan(possession utility)
Kegunaan ini terjadi pada saat konsumen membeli produk dan kepemilikan
dialihkan dari penjual kepada konsumen.
Tujuan Pemasaran
Ada beberapa tujuan dari pemasaran lainnya ,dianatarannya sebagai berikut :
1.) Memberi informasi (promosi), promosi adalah upaya untuk memberitahukan atau
menawarkan produk atau jasa dengan tujuan menarik klien konsumen untuk
membeli atau mengkonsumsinya. Dan dengan adanya promosi produsen atau
distributor mengharapkan kenaikan pada angka pernjualan tersebut.
2.) Menciptakan pembelian.
3.) Menciptakan pembelian ulang, jika suatu konsumen puas maka akan tercipta
pembelian ulang yang yang akan menjadikan konsumen sebagai pelanggan setia.
4.) Menciptakan tenaga kerja tidak langsung, dalam memasarkan harga atau jasa
secara tidak langsung pun akan tercipta tenaga kerja.
5.) Menciptakan produk megabrand, produk yang sudah memiliki pelanggan setia
akan menciptakan megabrand sehingga tidak mungkin produk tidak dilirik oleh
konsumen
Pengertian Pemasaran
Marketing berasal dari kata market yang berarti pasar. Pasar adalah tempat
orang melakukan pertukaran, dikarenakan adanya demand yang didukung dengan
daya beli, dan juga adanya needs and wants yang berbeda-beda. Marketing berarti
memasarkan, yaitu upaya seorang manusia dalam mendapatkan apa yang diinginkan
oleh orang lain.
Pemasaran (Marketing) merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi
perusahaan, dimana marketing bukan hanya prinsip mengenai untuk menjual saja,
tetapi bagaimana memberikan kepuasan kepada konsumen agar mendatangkan
keuntung bagi perusahaan. Dalam konteks perusahaan, marketing secara hanafiah
dapat diartikan sebagai upaya perusahaan dalam mendapatkan keuntungan, kepuasan
konsumen, atau loyalitas konsumen dengan cara memberikan apa yang diinginkan
oleh konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2016:27) Pemasaran adalah kegiatan mengatur
lembaga, dan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan
bertukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat
pada umumnya.
Menurut American Marketing Society dalam buku Kotler dan Keller (2016:27)
Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa
yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan freering, dan
bebas bertukar produk dan jasa dari nilai dengan lain.
Definisi yang menunjukan bahwa manajemen pemasaran adalah segala
sesuatu yang perlu ada perencanaan terlebih dahulu agar segala sesuatu sesuai dengan
apa yang diinginkan oleh konsumen yang kemudian akan menimbulkan suatu
pemasaran. Manajemen pemasaran juga sebagai seni dan ilmu dalam memilih target
pasar dan mendapatkan,menjaga,dan tumbuh pelanggan yang unggul. Definisi
marketing yakni suatu perpaduan dimana kegiatan – kegiatan yang saling
berhubungan untuk bisa mengetahui apa yang dibutuhhkan oleh suatu konsumen
hingga perusahaan bisa mengembangkan produk,harga, pelayanan dan melakukan
promosi agar kebutuhan suatu konsumen bisa terpenuhi serta perusahaan
mendapatkan sebuah keuntungan dalam perusahaan
Minat Beli
Minat beli merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek
atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang di ukur dengan
tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.Menurut Kotler & Keller
(2008: 160) yang dialih bahasakan oleh Molan.Pembelian produk baru selalu dimulai
dengan kemauan untuk melakukan pembelian pertama kali dengan niat mencoba
produk tersebut.
Sedangkan menurut Schiffman & Kanuk (2008:228) yang dialih bahasakan
oleh Zoelkifli menjelaskan Minat beli merupakan modek sikap kemungkinan atau
kecenderungan bahwa individu akan melakukan tindakan khusus atau perilaku
terhadap objek yang berhubungan dengan pembelian.
Fishbein memodifikasi dan menambahkan model sikap multiatribut untuk
menghungbungkan kepercayaan dan sikap konsumen dengan intensi perilaku
mereka.Model tersebut dinamakan teori aksi beralasan (theory of reasoned action)
model tersebut mengasumsikan bahwa konsumen secara sadar mempertimbangkan
konsekuensi perilaku alternatif dan memilih salah satu perilaku berdasarkan
konsekuensi yang paling diharapkan.
Menurut Kotler & Keller (2009: 178) 178) yang dialih bahasakan oleh Molan
Dalam Model AIDA ada beberapa tahap yang harus dilewati oleh seorang calon
konsumen dalam proses pembelian yaitu:
- Tahap Perhatian (Attention), perusahaan melakukan usaha pemasaran
untuk mengkomunikasikan produknya agar dapat mendapatkan perhatian
konsumen dan menyadari akan keberadaan suatu produk. - Tahap Minat (Interest), dimana konsumen tertarik dengan produk yang
ditawarkan perusahaan. Perasaan ini muncul setelah konsumen
mendapatkan informasi yang lebih terperinci mengenai suatu produk. - Tahap keinginan (Desire), konsumen belajar, berfikir, dan berdiskusi
sehingga menimbulkan hasrat yang kuat untuk mencoba dan membeli
produk. - Tahap tindakan (Action), terjadi bila keinginan konsumen kuat, maka
mereka akan melakukan pengambilan keputusan yang positif atas
penawaqran perusahaan. Pada tahap ini konsumen telah mewujudkan
hasrat untuk membeli produk
Perilaku Konsumen
Konsumen sebagai stakeholder suatu perusahaan yang harus diperhatikan,
mempunyai perilaku dan persepsiyang berbeda-beda. Konsumen dapat menentukan
kelangsungan hidup suatu perusahaan, karena itu perusahaan harus dapat mengambil
hati dan membantu image baik dimata konsumen.
Perilaku (behavior) mengacu kepada aksi fisik konsumen secara langsung
dapat diamati dan diukur oleh pihak lain. Hal ini juga disebut sebagai perilaku
terbuka (overt behavior) untuk membedakan atara aktivitas mental, seperti berpikir
yang tidak dapat diamati secara langsung.
Peter & Olson (2013:6) yang terjemahkan oleh Diah Tantri, American
Marketing Association mendefinisikan Perilaku Konsumen (Consumer bahavior)
sebagai dinamika interaksi antara pengaruh dan kesadaran, perilaku dan lingkungan
dimana manusia melakukan pertukaran aspek-aspek kehidupan.
Dengan kata lain prilaku konsumen melibatkan pemikiran dan perasaan yang
mereka alami serta tindakan yang mereka lakukan dalam proses konsumsi. Hal ini
juga mencakup segala hal pada lingkungan yang memengaruhi pemikiran, perasaan,
dan tindakan tersebut.Hal ini termaksud komentar konsumen lainnya, iklan, informasi
harga, pengepakan, penampilan produk, blogs, dan lainnya.
Perilaku konsumen yang bersifat dinamis, dan melibatkan interaksi dan
pertukaran sangat penting untuk dikenali
Event and Experice
Menurut Kotler dan Keller (2009:586) yang dialih bahasakan oleh Molan,
mengungkapkan “event/experiences is a company sponsored activities and programs
designed to create daily or special brand-related interaction. Event adalah
merancang acara tertentu lebih di kenal dengan peristiwa khusus yang dipilih dalam
jangka waktu, tempat dan objek tertentu yang bersifat khusus dan mepengaruhi
publik.
Pemasaran Intreraktif (Interactive Marketing)
Interactive marketing merupakan alat yang digunakan untuk melakukan
promosi.Internet sebagai jaringan komputer global tertentu terbukti dapat
mempermudah untuk berkomunikasi serta memperoleh informasi yang dibutuhkan
dengan cepat dan akurat.
Menurut Kotler dan Keller (2009 : 4723) yang dialih bahasakan oleh Molan,
interactive marketing merupakan kegiatan yang bersifat online dan program untuk
mempengaruhi konsumen secara langsung maupun tidak langsung membangun citra
atau menjual produk atau jasa.
Bauran Promosi
Bauran promosi (promotion mix) juga disebut bauran komunikasi pemasaran
(marketing communication mix) perusahaan merupakan paduan spesifik iklan
promosi penjualan untuk mengkomunikasikan nilai pelanggan secara persuatif dan
membangun hubungan pelanggan. Menurut Kotler dan Amstrong (2010:174) dialih
bahasakan oleh Bob Sabran, bauran promosi terdiri atas delapan unsur atau metode
bauran promosi diuraikan sebagai berikut:
- Periklanan (Advertising)
Semua bentuk terbayar presentasi non pribadi dan promosiide, barang,
atau jasa dengan sponsor tertentu. - Promosi Penjualan (Sales Promotion)
Insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian ataupenjualan produk
atau jasa. - Hubungan Masyarakat (Public Relations)
Membangun hubungan baik dengan berbagai kalanganuntuk mendapatkan
publisitas yang diinginkan, membangun citra perusahaan yang baik, dan
menanganin atau mengahadapi rumor, berita, dan kejadian tidak
menyenangkan. - Penjualan Personal (Personal Selling)
Presentasi pribadi oleh wiraniaga perusahaan untuk tujuan mengahasilkan
penjualan dan membangun hubungan pelanggan. - Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
Hubungan langsung dengan konsumen individual yang ditargerkan secara
cermat untuk memperoleh respon segera dan membangun hubungan
pelanggan yang langgeng-penggunaan surat langsung, telepon, televisi
respon langsung, e-mail, internet, dan sarana lain untuk berkomunikasi
secara langsung dengan konsumen tertentu. - Acara dan Pengalaman ( Event & Experiece)
Kegiatan dan program yang disponsori perusahaan untuk dirancang untuk
menciptakan interaksi harian atau interaksi yang berhubungan dengan merek
tertentu. - Pemasaran Intreraktif ( Interactive Marketing)
Kegiatan dan Program online yang dirancang untuk melibatkan pelanggan
atau prospek dan secara langsung atau tidak langsung meningkatkan
kesadaran, memperbaiki citra, atau menciptakan penjualan produk dan jasa. - Pemasaran dari Mulut ke Mulut (Mouth of Mouth)
Komunikasi lisan, tertulis, dan elektronik antara masyarakat yang
berhubungan dengan keunggulan atau pengalaman membeli atau
menggunakan produk atau jasa
Promosi
Saat melakukan aktivitas promosi, perusahaan tentunya tidak akan
berorientasi untuk mendapatkan keuntungan secara langsung, kebanyakan justru
harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu untuk membiayai
aktivitas promosinya, namun dalam jangka panjang diharapkan penjualanya dari
barang yang dipromosikan dapat meningkatkan seiring dengan sadarnya konsumen
terhadap benefit produk tersebut. Menurut Utami (2008:31) Promosi adalah penjualan
terorganisasi yang memberikan konsumen sebuah insentif untuk membeli produk
tertentu, saat melakukan hal-hal yang akan dipelajari dalam pengenalan pada
promosi. Saat melakukan promosi dengan memberikan insentif untuk produk tertentu
diperlukan tujuan awaal saat melakukan promosi adalah menarik minat konsumen.
Dengan adanya minat konsumen maka akan lebih mudah menjalankan tujuan
selanjutnya. Menurut Hurriyati (2008:58) Promosi merupakan salah satu faktor
penentu keberhasilan suatu program pemasaran. Betapapun berkualitasnya suatu
produk bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk
tersebut akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan pernah percaya
membelinya.
Tujuan Promosi Menurut Hurriyati (2008:58) Tujuan utama dari promosi
adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta meningkatkan
pelanggan sasaran tentang perusahaan dari bauran pemasaran. Secara rinci tujuan
promosi tersebut dapat dijabarkan sebgai berikut:
a. Menginformasikan (informing)
Dapat berupa menginformasikan pasar mengenai keberadaan suatu produk
baru, memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk,
menyampaikan perubahan harga kepada pasar, menjelaskan cara kerja suatu
produk, menginformasikan jasa-jasa yang disediakan oleh perusahaan,
meluruskan kesan yang keliuru, mengurangin kekuatan atau kekhawatiran
pembeli, dan membangun citra perusahaan.
b. Membujuk Pelanggan Sasaran (persuading)
Untuk membentuk pilihan merek, mengalihkan pilihan ke merek tersebut,
mengubah persepsi pelanggan terhadap atribut produk, mendorong pembeli untuk
belanja saat itu juga dan mendorong pembeli untuk menerima kunjungan
wiraniaga (salesmen)
c. Mengingat (reminding)
Dapat terdiri atas mengingat pembeli bahwa produk yang bersangkutan
dibutuhkan dalam waktu dekat, mengingat pembeli akan tempat-tempat yang
menjual produk perusahaan, membuat pembeli tetap ingat walaupun tidak ada
kampanye iklan, dan menjaga agar ingatan pertama pembeli jauh pada produk
perusahaan. Meskipun secara umum bentuk-bentuk promosi memiliki fungsi yang
sama tetapi bentuk-bentuk tersebut dapat dibedakan berdasarkan tugas-tugas
khusunya. Beberapa tugas khusus itu sering disebut bauran promosi.
Pemilihan saluran distribusi
Pemilihan saluran distribusi secara tepat memang harus dilakukan sejak
rencana untuk mendapatkan hasil yang akurat, biasanya para pemasar akan
melakukan survey ataupun riset terlebih dahulu. Beberapa bulan pertimbangan
yang bias dijadikan acuan untuk pemilihan saluran distribusi ini misalnya sifat
pembeli, sifat produk, sifat perantara, sifat pesaing dan lain sebagainya
Sifat pembeli merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
keputusan produsen dalam memilih saluran distribusi yang dipakai.Sifat-sifat
tersebut bisa berupa perilaku para konsumen dalam mendapatkan produk,
bagaimana kebiasaan belanjanya, frekuensipembelian, letak geografisnya, dan
lain-lain. Dari sifat pembeli yang berbeda tentu perusahaan akan mementukan
saluran distribusi yang berbeda.
Cara distribusi yang dilakukan kompetitor juga bisa dijadikan
pertimbangan oleh perusahaan dalam melakukan distribusi produknya.Hal ini
terkait dengan kompetisi produk agar lebih cepat dan tepat sasaran dibanding
dengan pesaing yang ada. Jika produk yang akan dipasarkan adalah produk
baru, maka harus dapat memunculkan strategi-strategi khusus agar dapat
menrik perhatian cari calon konsumen
Promotion
Promosi adalah kegiatan mengkomunikasikan informasi dari penjual
kepada konsumen atau pihak lain dalam saluran penjualan untuk mempengaruhi
sikap dan perilaku. Melalui periklanan suatu perusahaan mengarahkan
komunikasi persuasive pada pembeli sasaran dan masyarakat melalui media-
media yang disebut dengan media massa seperti Koran, majalah, tabloid, radio,
televise dan direct mail.
Adapun alat – alat yang dapat dipergunakan untuk mempromosikan
produknya. Pengusaha dapat memilih beberapa cara, antara lain :
A. Advertensi
Merupakan alat utama bagi pengusaha untuk mempengaruhi
konsumennya. Advertensi dapat dilakukan oleh pengusaha melalui surat
kabar, televisi, radio, majalah, ataupun dalam bentuk poster – poster yang
dipasang dipinggir jalan atau tempat – tempat strategis. Dengan membaca
advertensi tersebut diharapkan para konsumen atau calon konsumen akan
terpengaruh lalu tertarik untuk membeli produk atau menggunakan jasa yang
diadvertensikan.
B. Promosi Penjualan
Kegiatan pemasaran yang mendorong pembelian konsumen dan efektifitas
pengecer. Kegiatan–kegiatan tersebut antara lain pertunjukan, peragaan, dan
pameran.
C. Personal Selling
Merupakan kegiatan perusahaan untuk melakukan kontak langsung
dengan para calon konsumennya. Degan kontak ini diharapkan akan terjadi
hubungan atau interaksi yang positif antara pengusaha dan calon
konsumennya.
D. Publisitas
Seperti halnya iklan, publisitas menggambarkan komunikasi massa,
namun juga tidak seperti iklan, perusahaan sponsor tidak mengeluarkan biaya
untuk ruang dan waktu beriklan. Publisitas biasanya dilakukan dalam bentuk
berita atau komentar editorial mengenai produk atau jasa yang ditawarkan
oleh perusahaan.
- Place
Salah satu elemen Tempat (place) yang masuk dalam 7P Marketing mix
bukan hanya diartikan sebagai tempat dimana usaha dijalankan, namun lebih
luas lagi dimana “place”tersebut merupakan segala kegiatan penyaluran
produk berupa barang ataupun jasa dari produsen ke konsumen (distribusi)
Tujuan Penetapan Harga
Menjalankan sebuah bisnis tidak akan terlepas dari permasalahan
harga. Harga memegang peranan penting dalam terjadinya kesepakatan
jual-beli dari produsen ke tangan konsumen. Melalui penetapan harga,
akan terlihat posisi kelayakan produk dari nilai ekonomisnya. Karena
permasalahan ini, perusahaan biasanyan mengadakan penetapan harga
yang disepakati sebelum barang beredar di pasaran.
Tujuan dari penetapan suatu harga adalah untuk mencapai target
perusahaan, mendapatkan laba dari penjualan, meningkatkan serta
mengembangkan produksi produk, serta meluaskan target
pemasaran.Penetapan harga suatu produk atau jasa tergantung dari tujuan
perusahaan atau penjual yang memasarkan produk tersebut.
Penetapan harga memiliki tujuan yaitu:
- Mencapai Penghasilan atas Investasi
Biasanya besar keuntungan dari suatu investasi telah ditetapkan
persentasenya dan untuk mencapainya diperlukan penetapan harga tertentu
dari barang yang dihasilkannya. - Kestabilan Harga
Hal ini biasanya dilakukan untuk perusahaan yang kebetulan
memegang kendali atas harga.Usaha pengendalian harga diarahkan
terutama untuk mencegah terjadinya perang harga, khususnya bila
menghadapi permintaan yang sedang menurun. - Mempertahankan atau Meningkatkan Bagian dalam Pasar
Apabila perusahaan telah mendapatkan pangsa pasar yang luas,
merkea harus berusaha mempertahankannya atau justru
mengembangkannya.Untuk itu kebijaksanaan dalam penetapan harga
jangan sampai merugikan bisnis. - Menghadapi atau Mencegah Persaingan.
Apabila perusahaan baru mencoba-coba memasuki pasar dengan
tujuan mengetahui pada harga berapa mereka akan menetapkan penjualan.
Ini artinya, perusahaan belum memiliki tujuan dalam menetapkan harga
coba-coba tersebut. - Penetapan Harga untuk Memaksimalkan Laba
Tujuan ini biasanya menjadi acuan setiap bisnis untuk bertahan
hidup, karena setiap bisnis memerlukan laba.
Aspek – aspek Produk
Produk Inti ( Core Product )
Merupakan manfaat inti yang ditampilkan suatu produk kepada
konsumen dalam memenuhi kebutuhan serta keinginannya
Produk yang Diperluas ( Augmented Product )
Merupakan produk yang diperluas mencakup berbagai tambahan
manfaat yang diminati oleh konsumen dari produk yang inti yang
dibelinya.
Produk Formal
Merupakan produk penampilan atau perwujudan dari produk inti
maupun perluasan produknya.
- Price
Harga merupakan pengorbanan ekonomis yang dilakukan pelanggan
untuk memperoleh produk atau jasa.
Product
Produk merupakan elemen penting dalam sebuah program
pemasaran.Strategi produk dapat mempengaruhi strategi pemasaran
lainnya.Pembelian sebuah produk bukan hanya sekedar untuk memiliki produk
tersebut tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
konsumen.Didalam strategi bauran pemasaran, strategi produk merupakan unsur
yang paling penting, karena dapat mempengaruhi strategi pemasaran lainnya.
Pemilihan jenis produk yang akan dihasilkan akan menentukan kegiatan promosi
yang dibutuhkan, serta penentuan harga dan cara penyalurannya.
Tahapan Dalam Pembuatan Produk, yaitu:
Perencanaan Produk
Mencakup semua kegiatan produsen dan penyalur untuk
menentukan susunan produk linenya.
Pengembangan Produk
Mencakup kegiatan teknis tentang penelitian, pembuatan, dan
pendesainan produk.
Perdagangan
Mencakup semua kegiatan perencanaan dari produsen ke penyalur
untuk menyesuaikan produknya dengan permintaan pasar.
Konsep Pemasaran
Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan
akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan
falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep pemasaran
tersebut dibuat dengan menggunakan tiga faktor dasar yaitu:
- Saluran perencanaan dan kegiatan perusahaan harus berorientasi pada
konsumen/pasar. - Volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan perusahaan, dan
bukannya volume untuk kepentingan volume itu sendiri. - Seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan harus dikoordinasikan dan
diintegrasikan secara organisasi.
Menurut Kotler dan Keller (2009:19) konsep pemasaran menegaskan bahwa
kunci untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan adalah perusahaan tersebut
harus menjadi lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam menciptakan,
menyerahkan, dan mengomunikasikan nilai pelanggan kepada pasar sasaran yang
terpilih. Bagian pemasaran pada suatu perusahaan memegang peranan yang sangat
penting dalam rangka mencapai besarnya volume penjualan, karena dengan
tercapainya sejumlah volume penjualan yang diinginkan berarti kinerja bagian
pemasaran dalam memperkenalkan produk telah berjalan dengan benar. Penjualan
dan pemasaran sering dianggap sama tetapi sebenarnyaberbeda
Konsep Pemasaran
Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan
akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan
falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep pemasaran
tersebut dibuat dengan menggunakan tiga faktor dasar yaitu:
- Saluran perencanaan dan kegiatan perusahaan harus berorientasi pada
konsumen/pasar. - Volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan perusahaan, dan
bukannya volume untuk kepentingan volume itu sendiri. - Seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan harus dikoordinasikan dan
diintegrasikan secara organisasi.
Menurut Kotler dan Keller (2009:19) konsep pemasaran menegaskan bahwa
kunci untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan adalah perusahaan tersebut
harus menjadi lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam menciptakan,
menyerahkan, dan mengomunikasikan nilai pelanggan kepada pasar sasaran yang
terpilih. Bagian pemasaran pada suatu perusahaan memegang peranan yang sangat
penting dalam rangka mencapai besarnya volume penjualan, karena dengan
tercapainya sejumlah volume penjualan yang diinginkan berarti kinerja bagian
pemasaran dalam memperkenalkan produk telah berjalan dengan benar. Penjualan
dan pemasaran sering dianggap sama tetapi sebenarnyaberbeda
Konsep Strategi Pemasaran
Banyak ahli marketing mengatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah kunci
utama dari konsep pemasaran dan marketing strategy. Dengan kata lain, setiap
perusahaan memiliki cara tersendiri dalam melakukan proses marketing, sesuai
karakteristik dan kesanggupan masing-masing.
Pada dasarnya tujuan akhir dari marketing itu tetap akan bermuara pada
tercapainya kepuasan konsumen. Berikut ini adalah 5 Konsep Strategi Pemasaran:
- Segmentasi Pasar
Setiap konsumen pasti memiliki kebutuhan dan kebiasaan yang
berbeda.Perusahaan harus melakukan klasifikasi pasar yang sifatnya heterogen
menjadi satua-satuan pasar yang bersifat homogen. - Market Positioning
Tidak ada perusahaan yang bisa menguasai seluruh pasar.Itulah
alasannya mengapa perusahaan harus punya pola spesifik untuk mendapatkan
posisi kuat dalam pasar, yaitu memilih segmen yang paling menguntungkan. - Market Entry Strategy
Ini adalah strategi perusahaan untuk bisa masuk pada segmen pasar
tertentu. Bebebrapa cara yang sering dilakukan adalah:
Membeli Perusahaan Lain
Internal Development
Kerjasama Dengan Perusahaan Lain - Marketing Mix Strategy
Marketing Mixadalah kumpulan dari beberapa variabel yang telah
digunakan perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen. Beberapa
variabel tersebut diantaranya;
Product
Price
Place
Promotion
Participant
Process
People Physical Evidence
Tujuan Strategi Pemasaran
Secara umum, setidaknya ada 4 tujuan strategi pemasaran, diantaranya
adalah:
Untuk meningkatkan kualitas koordinasi antar individu dalam tim
pemasaran
Sebagai alat ukur hasil pemasaran berdasarkan standar prestasi yang telah
ditentukan
Sebagai dasar logis dalam mengambil keputusan pemasaran
Untuk meningkatkan kemampuan dalam beradaptasi bila terjadi perubahan
dalam pemasaran
Fungsi Strategi Pemasaran
Secara garis besar ada 4 fungsi strategi pemasaran, diantaranya:
- Meningkatkan Motivasi untuk Melihat Masa Depan
Strategi pemasaran berupaya untuk memotivasi manajemen perusahaan
agar berpikir dan melihat masa depan dengan cara yang berbeda. Hal ini
sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan perusahaan di masa
mendatang.
Penting bagi perusahaan untuk mengikuti ritme pasar, namun terkadang
perusahaan juga harus memiliki gebrakan dengan sesuatu yang baru. - Koordinasi Pemasaran yang Lebih Efektif
Setiap perusahaan pasti memiliki strategi pemasarannya sendiri. Strategi
pemasaran ini berfungsi untuk mengatur arah jalannya perusahaan sehingga
membentuk tim koordinasi yang lebih efektif dan tepat sasaran. - Merumuskan Tujuan Perusahaan
Para pelaku usaha tentunya ingin melihat dengan jelas apa tujuan
perusahaan mereka. Dengan adanya strategi pemasaran maka pelaku usaha
akan terbantu untuk membuat detail tujuan yang akan dicapai, baik jangka
pendek maupun jangka panjang. - Pengawasan Kegiatan Pemasaran
Dengan adanya strategi pemasaran maka perusahaan akan memiliki
standar prestasi kerja para anggotanya. Dengan begitu, pengawasan kegiatan
para anggota akan lebih mudah dipantau untuk mendapatkan mutu dan
kualitas kerja yang efektif
Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran menurut (Kotler and Amstrong, 2012:72) adalah logika
pemasaran dimana perusahaan berharap dapat menciptakan nilai bagi customer dan
dapat mencapai hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan.
Strategi pemasaran adalah rencana yang menjabarkan ekspektasi perusahaan
akan dampak dari berbagai aktivitas atau program pemasaran terhadap permintaan
produk atau lini produknya di pasar sasaran tertentu. Perusahaan bisa menggunakan
dua atau lebih program pemasaran secara bersamaan, sebab setiap jenis program
seperti periklanan, promosi penjualan, personal selling, layanan pelanggan, atau
pengembangan produk memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap permintaan.
Oleh sebab itu, dibutuhkan mekanisme yang dapat mengkoordinasikan program-
program pemasaran agar program-program itu sejalan dan terintegrasi dengan
sinergistik. Mekanisme ini disebut sebagai strategi pemasaran.
Strategi Pemasaran
Pengertian strategi pemasaran adalah upaya memasarkan suatu produk, baik
itu barang atau jasa, dengan menggunakan pola rencana dan taktik tertentu sehingga
jumlah penjualan menjadi lebih tinggi.Pengertian strategi pemasaran juga dapat
diartikan sebagai rangkaian upaya yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka
mencapai tujuan tertentu, karena potensi untuk menjual proposisi terbatas pada
jumlah orang yang mengetahui hal tersebut.
Strategi Pemasaran punya peranan penting dalam sebuah perusahaan atau
bisnis karena berfungsi untuk menentukan nilai ekonomi perusahaan, baik itu harga
barang maupun jasa. Ada tiga faktor penentu nilai harga barang dan jasa, yaitu:
Produksi
Pemasaran
Konsumsi
Manajemen Pemasaran
Manajemen Pemasaran mengatur semua keinginan pemasaran, karena itu
manajemen pemasaran sangat penting bagi perusahaan. Manajemen Pemasaran
menurut Kotler dan Keller (2011:6) dalam buku manajemen pemasaran edisi 13
adalah Manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan
meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan,
menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang umum.
Menurut Daryanto (2011:6), mendefinisikan manajemen pemasaran adalah
analisis, perencanaan, implementasi dan pengendalian program yang dirancang untuk
menciptakan, membagun, dan mempertahankan pertukaran yang mengguntungkan
dengan target pembeli untuk mencapai sasaran organisasi.
Manajemen Pemasaran menurut Tjiptono (2011:2) merupakan sistem total
aktivitas bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menetapkan harga, dan
mendistribusikan produk , jasa dan gagasan yang mampu memuaskan keinginan
pasar sasaran dalam rangka mencapai tujuan organisasional
Pengertian Pemasaran
Pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang perlu dilakukan oleh
perusahaan baik itu perusahaan barang atau jasa dalam upaya untuk mempertahankan
kelangsungan hidup usahanya.Hal tersebut disebabkan karena pemasaran merupakan
salah satu kegiatan perusahaan, di mana secara langsung berhubungan dengan
konsumen.Maka kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai kegiatan manusia yang
berlangsung dalam kaitannya dengan pasar.
Menurut Kotler dan Keller (2011:5) dalam buku Marketing Management
edisi 13 pengertian manajemen pemasaran adalah
“Mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial”
Sedangkan menurut Maynard dan Beckam yang dikutip oleh (Alma 2011:1)
dalam buku Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa adalah :
“Marketing embrace and business activities involved in the flow of goods
and services from physical production and consumption”
Indikator-indikator Niat Beli Ulang
Menurut Hasan (2018:131) menyatakan bahwa niat beli ulang (repurchase
intention) dapat diidentifikasi melalui dimensi yaitu sebagai berikut:
- Niat transaksional yaitu kecenderungan seseorang yang selalu
berkeinginan untuk membeli ulang produk. - Niat refrensial yaitu kecenderungan seseorang untuk menggambarkan
atau merekomendasikan produk kepada orang lain. - Niat preferensial yaitu niat yang menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu memiliki pilihan utama pada produk, apabila terjadi sesuatu
dengan produk yang telah dikonsumsi
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia dapat didefinisikan “sebagai suatu
kebijakan dan praktik yang dibutuhkan seseorang yang menjalankan aspek
“orang” atau sumber daya manusia dari posisi seorang manajemen, meliputi
perekrutan, penyaringan, pelatihan, pengimbalan, dan penilaian (Sutrisno,
2017:5).” Berdasarkan beberapa pemaparan dapat disimpulkan bahwa manajemen
sumber daya manusia merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pimpinan
terhadap sumber daya manusia untuk dapat memaksimalkan sumber daya manusia
yang dimiliki oleh organsiasi, sehingga tercapai tujuan-tujuan yang telah
ditentukan oleh organisasi.
Manajemen dan Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen merupakan suatu kunci keberhasilan perusahaan atau instansi
untuk mencapai visi yang ingin dicapai dalam suatu kurun waktu tertentu, istilah
manajemen berasal dari kata “to manage” yang berarti mengurus, mengatur,
melaksanakan, dan mengelola. Manajemen adalah seni untuk menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain. Handoko (2017:8) menjelaskan bahwa “manajemen
mampu mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain
untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan.”
Menurut (Mamduh Hanafi, 2015) Manajemen adalah proses
merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan untuk
mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien dengan menggunakan
sumber daya organisasi.
Menurut Hasibuan (2018:1) menjelaskan bahwa “manajemen adalah ilmu
dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber lainnya
secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.” Sedangkan
Menurut Nawawi (2017:42) mengemukakan definisi manajemen sumber daya
manusia merupakan “proses mendayagunakan manusia sebagai tenaga kerja
secara manusiawi, agar potensi fisik dan psikis yang dimilikinya berfungsi
maksimal bagi pencapaian tujuan organisasi (perusahaan).
Jenis-jenis Word of Mouth
Word of mouth atau mulut ke mulut terdiri 2 jenis menurut Sernovitz (2012:5-
6) sebagai berikut:
- Organic word of mouth adalah pembicaraan yang bersemi secara alami
dari kualitas positif dari perusahaan. - Amplified word of mouth adalah pembicaraan yang mulai oleh kampanye
yang disengajakan untuk membuat orang-orang berbicara.
Dalam bahasa komunikasi word of mouth terdapat 4 hal yang dapat
membentuk produk atau brand menurut Sernovitz (2012:8-11). - Be interesting, karena sesuatu yang menarik akan lebih banyak disukai oleh
konsumen. Walaupun perusahaan atau pelaku usaha menciptakan produk sejenis,
namun harus memiliki karakteristik tersendiri atau berbeda agar menarik
diperbincangkan diantara konsumen. - Make people happy, produk atau brand yang hendak dipasarkan harus
memperhatikan kenyamanan dari konsumennya juga sehingga konsumen mendapat
pengalaman terbaik saat menggunakan produk atau brand. - Earn trust and respect, pelaku bisnis atau perusahaan perlu mendapatkan
kepercayaan dan rasa hormat dari konsumen. Tanpa adanya kepercayaan tersebut,
maka orang enggan untuk merekomendasikan suatu produk atau brand tersebut
kepada orang yang mereka kenal. - Make it easy, pelaku bisnis perlu untuk membuat produk atau brand yang
mudah dibicarakan oleh konsumen.
Pengertian Word Of Mouth
Word of mouth (WOM) adalah tindakan penyediaan informasi oleh
konsumen kepada para konsumen (Sumardy dan Silviana, 2011:67). Sedangkan
menurut Tatik Suryani (2013:169) Word of Mouth adalah komunikasi dari mulut ke
mulut oleh orang lain mengenai suatu produk. Menurut Kotler dan Keller
(2012:500) pemasaran dari mulut ke mulut dapat diartikan sebagai pengalaman
membeli atau menggunakan produk atau jasa.
Indikator – indikator Fasilitas
Indikator fasilitas ada 3 menurut Tjiptono (2011:184) yaitu:
a. Perencanaan Spasial
Aspek seperti proporsi, kenyamanan dan lain lain dipertimbangkan,
dikombinasikan dan dikembangan untuk memancing respon maupun emosional
dari orang yang melihatnya.
b. Perencanaan Ruangan
Unsur ini mencakup dengan interior dan arsitektur, seperti perlengkapan
dalam ruangan coffee shop , desain dan aliran sirkulasi dll.
c. Perlengkapan atau Perabot
Perlengkapan atau perabot berfungsi sebagai sarana yang memberikan
kenyamanan.
d. Unsur lainnya seperti: wifi, toilet, tempat parkir, dan lokasi.
Pengertian Fasilitas
Fasilitas merupakan tempat yang penting dalam usaha untuk memenuhi
kebutuhan konsumen dalam meningkatkan kepuasan sehingga konsumen merasa
nyaman. Menurut Kotler (2012:31) fasilitas adalah segala sesuatu yang bersifat
peralatan fisik dan disediakan oleh pihak penjual jasa untuk mendukung kenyaman
konsumen. Fasilitas juga dapat mempengaruhi pandangan konsumen.
Menurut Yuriansyah (2013:14), fasilitas yang sesuai harapan konsumen
akan menarik perhatian konsumen untuk datang dan membuat perusahaan dapat
memenangkan persaingan bisnis. Fasilitas merupakan sumber daya fisik yang harus
ada sebelum suatu jasa ditawarkan kepada para konsumen (Tjiptono, 2016:16).
Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap fasilitas menurut Tjiptono (dalam
Toriq & Martoatmodjo, 2014) sebagai berikut:
a. Sifat dan tujuan organisasi
b. Kebutuhan akan ruang atau tempat
c. Fleksibiltas
d. Faktor estetis
e. Masyarakat dan lingkungan sekitar
f. Biaya kontruksi dan operasi
Hubungan Antara Kualitas Produk dan Minat Beli Ulang melaluiKepuasan Konsumen.
Kepuasan yang dirasakan oleh konsumen biasanya tergantung dari kualitas
produk yang dimiliki, sehingga hal tersebut merupakan bagian penting dalam
memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen. Kualitas produk dapat
berpengaruh terhadap minat beli ulang apabila konsumen merasa puas dengan
produk tersebut. Pernyataan itu didukung oleh penelitian yang dilakukan Putri dan
Astuti (2017) dengan judul “faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
konsumen serta dampaknya terhadap minat beli ulang konsumen”, bahwa hasil
penelitiannya adalah kepuasan konsumen mampu menjadi variabel intervening
atau penghubung antara kualitas produk, kualitas layanan, dan nilai pelanggan
terhadap minat beli ulang. Hasil lain dari penelitian (Palma & Andjarwati (2016)
dengan judul “pengaruh kualitas produk, kemudahan dan harga terhadap niat beli
ulang dengan kepuasan sebagai variabel intervening”, bahwa hasil penelitiannya
adalah kualitas produk tidak berpengaruh secara langsung terhadap niat beli ulang
dan melalui kepuasan pelanggan, akan tetapi pada uji mediasi terbukti secara
penuh atau dapat dikatakan full mediasi
Hubungan Kepuasan Konsumen dengan Minat Beli Ulang.
Kepuasan konsumen dalam bisnis dianggap sebagai salah satu dimensi
kinerja pasar karena peningkatannya berpotensi pada pertumbuhan penjualan
jangka pendek maupun jangka panjang, serta pangsa pasar sebagai hasil
pembelian ulang (Tjiptono, Chandra, & Adriana, 2008). Minat beli ulang dapat
terjadi karena adanya kepuasan yang dirasakan oleh konsumen dalam
menkonsumsi produk yang telah dibeli. Pernyataan tersebut didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Saputri dan Astuti (2017) dengan judul “faktor-
faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen serta dampaknya terhadap minat
beli ulang konsumen”, bahwa hasil penelitiannya adalah kepuasan konsumen
berpengaruh signifikan dan positif terhadap minat beli ulang. Hasil lain dari
penelitian Hidayah dan Anjarwati (2018) bahwa kepuasan konsumen memiliki
efek positif terhadap minat beli ulang.
Hubungan Kualitas Produk dengan Kepuasan Konsumen.
Beberapa studi mengenai kualitas produk telah mempelajari tentang
pengaruh variabel kualitas produk terhadap variabel kepuasan konsumen.
Tjiptono, Chandra, dan Adriana (2008) menyatakan bahwa kualitas produk yang
dirasakan pelanggan akan menentukan persepsi pelanggan terhadap kinerja, yang
akan berdampak pada kepuasan konsumen. Konsumen akan merasa puas jika
kualitas produk yang dimiliki sesuai dengan apa yang diharapkan. Pernyataan
tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Astuti (2017)
dengan judul “faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen serta
dampaknya terhadap minat beli ulang konsumen”, bahwa hasil penelitiannya
adalah kualitas produk berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepuasan
konsumen. Hasil lain dari penelitian Bahar dan Sjaharuddin (2015) bahwa
kualitas produk memiliki pengaruh terhadap kepuasan konsumen
Hubungan Kualitas Produk dengan Minat Beli Ulang.
Kualitas produk adalah suatu hal yang dimiliki oleh produk tersebut sesuai
dengan apa yang diinformasikan oleh pemasar. Kualitas dapat berpengaruh secara
langsung maupun tidak langsung terhadap minat beli ulang. Pernyataan tersebut
sesuai dengan penelitian dari Dewi & Andjarwati (2018) dengan judul “pengaruh
kualitas produk dan harga terhadap niat beli ulang dengan kepuasan sebagai
variabel intervening (studi pada pelanggan jilbab rabbani di Surabaya Timur)”,
bahwa hasil penelitiannya terdapat pengaruh positif antara variabel kualitas
produk terhadap variabel niat beli ulang studi pada pelanggan jilbab rabbani. Hasil
lain dari penelitian Sari, Yulisetiarini, & Sudaryanto (2016) dengan judul
“pengaruh harga dan kualitas pelayanan serta kualitas produk terhadap minat beli
ulang dan kepuasan pelanggan online shopping pada mahasiswa Universitas
Abdurachman Saleh Situbondo” bahwa kualitas produk tidak berpengaruh
langsung pada minat beli ulang.
Kepuasan Konsumen
Menurut Kotler & Armstrong (2012) kepuasan didefinisikan sebagai
perasaan senang atau kecewa seseorang dari membandingkan kinerja produk yang
dirasakan dalam hubungan dan harapannya. Kepuasan konsumen adalah persepsi
individu terhadap performansi suatu produk atau jasa di kaitkan dengan harapan
konsumen tersebut (Schiffman & Kanuk, 2012). Sedangkan menurut Kotler &
Armstrong (2012) kepuasan pelanggan adalah hasil yang dirasakan oleh pembeli
yang mengalami kinerja sebuah sebuah usaha yang sesuai dengan harapannya.
Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kepuasan
konsumen adalah sebuah perasaan yang dihasilkan dari rasa senang atas harapan
pada produk yang telah dibeli dan dikonsumsi. Konsumen yang puas cenderung
tetap loyal lebih lama, membeli lebih banyak, kurang peka terhadap perubahan
harga dan pembicaraannya menguntungkan sebuah usaha. Dalam rangka
menciptakan kepuasan pelanggan, pelayanan dan produk yang ditawarkan oleh
sebuah usaha harus berkualitas.
Adapun indikator dari kepuasan konsumen menurut Wilkie (2008)
diantaranya :
a. Kepuasan atas harapan konsumen
b. Perilaku tidak komplain
c. Ekpresi senang setelah menggunakan produk
Kualitas Produk
Menurut American Society for Quality Control dalam (Kotler &
Keller (2009) bahwa kualitas adalah jumlah dari karakteristik dan
karakteristik dari suatu produk atau layanan, tergantung pada
kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan eksplisit atau tersirat.
Kualitas yang dimaksud yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
konsumen. Kualitas produk didefinisikan sebagai evaluasi menyeluruh
pelanggan atas kebaikan kinerja barang atau jasa (Mowen & Minor,
2002). Perusahaan harus memiliki kualitas yang baik atau sesuai
dengan harga yang ditawarkan ketika menjual produk maupun jasa di
dalam menjalankan suatu bisnis.
Terdapat beberapa dimensi kualitas produk menurut Mullins dkk
(2005), yaitu :
- Daya tahan (durability), yaitu lama atau umur produk yang
bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. - Estetika (aesthetics), yaitu berhubungan dengan bagaimana
penampilan produk bisa dilihat dari fisik, rasa, bau, dan bentuk
dari produk. - Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to spesification),
yaitu sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk
memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak
ditemukannya cacat pada produk. - Kesan kualitas (perceived quality), yaitu hasil dari penggunaan
pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena
terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau
kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan
Produk
Pengertian produk menurut Kotler & Keller (2009) adalah
segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan
perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan
keinginan atau kebutuhan konsumen. Sedangkan menurut Daryanto
(2013) bahwa produk adalah kombinasi barang dan jasa yang
ditawarkan oleh perusahaan kepada pasar sasaran, meliputi keragaman
produk, mutu , rancangan, sifat, merek, kemasan, ukuran, pelayanan,
jaminan dan manfaat.
Minat Beli Ulang
Minat beli ulang merupakan bagian dari perilaku pembelian
konsumen di mana kesesuaian antara performa dari produk atau jasa yang
ditawarkan perusahaan menghasilkan minat konsumen untuk
mengkonsumsinya lagi di masa akan datang. Hal ini didukung oleh
pernyataan Anoraga (2000) bahwa minat beli ulang merupakan minat
pembelian yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang telah
dilakukan di masa lalu. Selain itu terdapat pendapat lain bahwa minat beli
ulang merupakan pembelian suatu produk yang sama yang mana sudah
pernah dilakukan sebelumnya oleh konsumen tersebut, dan terus membeli
lagi untuk kedua dan ketiga kalinya (Swastha & T, 2008). Sedangkan
menurut Kotler & Keller (2009) minat pembelian kembali adalah
kecenderungan konsumen untuk mengambil tindakan sebelum keputusan
pembelian aktual. Jadi dapat disimpulkan pengertian minat beli ulang
menurut beberapa ahli diatas yaitu suatu sikap konsumen dalam hal untuk
melakukan sebuah inisiatif untuk membeli produk yang sama untuk kedua
kalinya bahkan seterusnya.
Berikut adalah indikator minat beli ulang menurut Ferdinand
(2002) yaitu:
- Minat transaksional yaitu kecenderungan seseorang untuk selalu
membeli ulang produk yang telah dikonsumsinya. - Minat referensial yaitu kecenderungan seseorang untuk
mereferensikan produk yang sudah dibelinya, agar juga dibeli oleh
orang lain, dengan referensi pengalaman konsumsinya. - Minat preferensial yaitu minat yang menggambarkan perilaku
seseorang yang selalu memiliki preferensi utama pada produk yang
telah dikonsumsi. Preferensi ini hanya dapat diganti bila terjadi
sesuatu dengan produk preferensinya. - Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya
dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari
produk yang dilanggananinya.
Pengaruh job crafting terhadap kinerja pekerjaan
Times (2013) dalamMiraglia (2017:11) menjelaskan bahwa Job crafting
adalah aktivitas yang dilakukan karyawan dimana karyawan dapat menciptakan
lingkungan kerja, baik secara struktural maupun sosial, dengan cara memperluas
sumber daya serta membantu karyawan dalam mengejar tujuanya. Adapun kinerja
pekerjaan adalah upaya karyawan untuk menangani tuntutan pekerjaan yang lebih
menantang dan juga mampu memotivasi dalam penjapaian tujuan Times (2013)
dalam Miraglia (2017:11).
Bukti empiris menurut Times (2013) dalamMiraglia (2017:11) menunjukan
bahwa job crafting mempengaruhi kinerja pekerjaan secara signifikan positif.
Dapat diartikan bahwa apabila karyawan dapat memperluas sumber daya pekerjaan
dan juga membuat sebuah pekerjaan lebih bermakna secara otonomi dan juga
proaktif maka akan meningkatkan motivasi dalam pencapaian tujuan dan juga hasil
yang sesuai dengan tujuan organisasi.
Bukti empiris menurut Times (2013) dalam (Miraglia 2017:11) menunjukan
bahwa job crafting dan kinerja pekerjaan secara signifikan positif, apabila
karyawan dapat memperluas sumber daya pekerjaan dan juga membuat sebuah
pekerjaan lebih bermakna secara otonomi dan juga proaktif maka akan
meningkatkan motivasi dalam pencapaian tujuan dan juga hasil yang sesuai dengan
tujuan organisasi
Minat Beli
Minat merupakan salah satu aspek psikologis yang memiliki
pengaruh cukup besar terhadap sikap perilaku (Schiffman L. &., 2008).
Menurut Kotler (2012) minat beli adalah konsumen bersemangat untuk
perilaku konsumen beli atau pilih produk berdasarkan pengalaman pilih,
gunakan, dan konsumsi bahkan ingin sebuah produk.
Kualitas Pelayanan Terhadap Niat Pembelian Ulang
Perusahaan harus menciptakan kualitas pelayanan terbaik yang
diinginkan oleh pelanggan agar nantinya dapat menimbulkan kepuasan
dan mendorong niat pembelian ulang. Niat pembelian kembali dipengaruhi
secara positif dan signifikan oleh kualitas pelayanan (Rizqulloh, 2015)
oleh (Adixio dan Saleh,2013)Menurut Aryadhe dan Rastini (2016), niat
pelanggan untuk membeli kembali berkorelasi dengan kualitas pelayanan
Kepuasan Pelanggan Terhadap Niat Pembelian Ulang
Perusahaan yang telah berhasil membuat pelanggannya merasa puas
dengan kualitas pelayanan yang diberikan, mengakibatkan kualitas
pelayanan yang baik tersebut akan memberikan dorongan niat pula kepada
pelanggan untuk melakukan pembelian ulang (repurchase) di layanan jasa
tersebut. Adixio dan Saleh (2013) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
yang dimediasi oleh kualitas pelayanan memiliki dampak positif yang
signifikan terhadap niat beli ulang
Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan
Kualitas pelayanan dibangun atas adanya perbandingan dua faktor
utama yaitu pelayanan ril yang mereka terima dengan pelayanan yang
sesungguhnya diharapkan atau diinginkan (Kotler,2012). Jika pelayanan
yang diterima melebihi apa yang harapkan oleh pelanggan maka kualitas
jasa dipersepsikan sebagai kualitas pelayanan ideal, jika tidak maka
kualitas pelayanan dipersepsikan negative atau buruk. Dalam penelitian
oleh Adixio dan Saleh (2013) menyatakan bahwasanya terdapat pengaruh
signfikan positif kualitas pelayanan terhadap niat pembelian ulang melalui
kepuasan pelanggan
Indikator Niat Pembelian Ulang
Menurut (Goh, 2016) terdapat 4 indikator dari niat pembelian ulang:
- Niat transaksional
ialah kecenderungan konsumen untuk selalu membeli ulang
produk yang telah dikonsumsinya. Hal ini didasarkan pengalaman
konsumen sebelumnya dengan produk. - Niat referensial
ialah kesediaan konsumen untuk merekomendasikan produk
yang telah dikonsumsinya kepada kerabat, sanak saudara, rekan
bisnis, ataupun orang lain disekitarnya - Niat preferensial
ialah perilaku konsumen yang menjadikan produk yang telah
dikonsumsinya sebagai pilihan utama. Berlandaskan kepercayaan
terhadap perusahaan, konsumen memilih produk salah satu
perusahaan dibandingkan perusahaan sejenis - Niat eksploratif
ialah keinginan konsumen untuk selalu mencari informasi
mengenai produk yang diminatinya
Faktor Niat Pembelian Ulang
Menurut Nurhayati (2016) mengatakan bahwasannya terdapat faktor faktor
dalam niat pembelian ulang:
- Kepuasan konsumen, Ketika konsumen dapat dipuaskan akan
mengakibatkan citra perusahaan bertambah, biaya yang berkurang untuk
mengiklankan guna mencari pelanggan, mengurangi failure cost,
keuntungan meningkat dan mengurangi percobaan pembelian serta
peningkatan niat pembelian ulang - Preferensi merek, ialah keputusan konsumen untuk memilih suatu produk
diantara beberapa produk sejenis, dan dinilai berdasarkan pilihan
pertamanya menggunakan merek tertentu - Pengalaman pelanggan, pengalaman pelanggan Ketika menggunakan
produk pada waktu yang lalu mengakibatkan pelanggan berpengalaman
yang berdampak positif ataupun negative yang nantinya akan berimbas
pada niat pembelian Kembali - Harga ialah suatu hal yang dapat pula diperbandingkan antar produk atau
antar penyedia jasa yang pengaruhnya akan mengakibatkan pelanggan
untuk melakukan pembelian ulang, perbandingan yang dilakukan
dilakukan melihat kesesuaiannya dengan kualitas produk yang diberikan
Pengertian Niat Pembelian Ulang
Niat pembelian ulang ialah Tindakan dari konsumen untuk mau
membeli atau tidak terhadap produk (Kotler, 2013). Menurut (trisnawati et al.
2012) niat pembelian ulang (repurchase intention) adalah perilaku yang muncul
sebagai respon terhadap objek. Niat pembelian ulang merupakan minat
pembelian yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang telah dilakukan
dimasa lalu (Faradisa, 2016)
Indikator Kepuasan Pelanggan
Menurut Tjiptono dan indrasari (2019:92) terdapat 3 indikator kepuasan
pelanggan:
- Kesesuaian Harapan.Kesesuaian harapan merupakan tingkat kesesuaian
antara kinerja produk yang diharapkan oleh konsumen dengan yang
dirasakan oleh konsumen - Minat berkunjung Kembali atau membeli kembali. Merupakan kesediaan
pelanggan untuk Kembali mengunjungi tempat - Kesediaan merekomendasikan ialah kemauan dari pelanggan untuk
merekomendasikan dan mengenalkan produk kepada kerabat, keluarga
teman
Dimensi Kepuasan Pelanggan
Dalam mempertahankan pelanggan dan kepuasan nya ada 2 dimensi
yang penting guna mengukur kepuasan pelanggan (Tjiptono, 2015) yaitu
sebagai berikut:
- Kinerja adalah hasil nyata dari sebuah pelayanan yang diberikan oleh
perusahaan terhadap konsumen - Harapan adalah perkiraan atau keyakinan pelanggan mengenai apa yang
diterimanya
Pengertian Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler dan Keller (2012:150) kepuasan adalah sebuah
perasaan senang atau perasaan kecewa seseorang yang timbul karena terdapat
perbedaan antara kinerja yang dipersepsikan pada hasil atau produk terhadap
ekspektasi mereka. Kepuasan pelanggan menurut (Sangadji, 2013) ialah
perasaan kecewa serta senang setiap individu dalam perumpamaan antara
kesan yang diberikan konsumen tentang tingkatan kinerja produk dan jasa ril
atau nyata dengan kinerja sesuai ekspektasi. Keadaan saat konsumen sadar
akan kebutuhan serta keingannya dengan apa yang diharapkan dapat terwujud
dengan baik (Tjiptono, 2012:301)
Indikator Nilai yang Dirasakan
Menurut (Mencarelli & Riviere,2014) pengukuran nilai yang diraskan
yang paling efektif untuk dilakukan ialah B2C adalah pendekatan analytical
multidimensional conceptualization of value. Dikatakan demikian dikarenakan
sebuah nilai dapat diukur secara mendalam dari berbagai macam sumber
penilaian karena perubahan nilai yang dirasakan oleh konsumen seiring waktu
Menurut Sweeney & Soutar dalam Tjiptono (2011:36) terdapat 4 aspek dalam
indikator nilai yang dirasakan, yaitu:
- Nilai emosional (Emosional value)
Ialah aspek yang berasal dari perasaan atau emosi positif yang berasal
dari mengonsumsi produk tertentu. Dengan asumsi pada posisi ini
konsumen mengevaluasi beberapa alternatif pilihan dan menggunakan
keterkaitan emosionalnya untuk memilih merek yang di tuju - Nilai sosial (Sosial value)
Ialah kemampuan produk untuk meningkatkan konsep diri sosial
konsumen yang menekankan pada kontak sosial konsumen dengan
seluruh karyawan. Penggunaan produk dan layanan yang dibagikan
dengan orang lain akan meningkatbesarnya penggunaan produk atau
layanan yang dibagi dengan orang lain akan meningkatkan citra diri
perusahaan di antara individu dan sosial dukungan pada pentingnya
reputasi sosial dalam bentuk harga akan memengaruhi - Nilai Kualitas (Quality/performance value)
Ialah indikator yang diperoleh terhadap kinerja yang diaharapkan dari
suatu produk atau jasa. Digambarkan dengan niali secara keseluruhan
pelayanan dan kualitas produk itu sendiri - Nilai harga (Price value)
Ialah indikator yang didapatkan dari persepsi terhadap kinerja yang
diharapkan dari nilai harga suatu produk atau jasa dibandingkan dengan
porsi, pelayanan, maupun tempat yang disediakan
Pengertian Nilai yang Dirasakan
Menurut Sugiarti dalam (Prasive dan Razak, 2018) menyatakan
bahwa nilai yang dirasakan merupakan manfaat barang atau jasa yang
dirasakan oleh pelanggan dibandingkan dengan apa yang pelanggan telah
khususkan Untuk mendapatkan barang atau jasa. Sedangkan nilai yang
dirasakan sendiri ialah nilai yang dirasakan selama dan/atau sesudah
penggunaan dari suatu produk (Riviere & Mencarelli, 2012)
Menurut Zeithaml dalam (Gerry et al,2013) Nilai yang dirasakan
(perceived value) ialah keseluruhan penilaian pelanggan terhadap kegunaan
suatu produk. Yang dapat dijelaskan dalam empat bagian yang berbeda, yaitu:
nilai sebagai harga yang rendah (value as low price), nilai dengan segala
keinginan konsumen akan suatu produk (value as whatever the consumer wants
in a product), 3) nilai merupakan kualitas yang didapatkan dari sejumlah harga
yang telah dibayarkan (value as the quality get from the price the customer
pay), dan 4) nilai yang dianggap sebagai apa yang didapatkan untuk apa yang
telah di berikan (value as what it get for what is give)
Indikator Kualitas Pelayanan
Parasuraman et al dalam Tjiptono (2016:198) mengemukakan bahwa
terdapat 5 indikator dalam kualitas pelayanan yaitu: tangible (berwujud)
reliability (keandalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (jaminan),
serta empathy (empati)
- Berwujud (tangible)
Berkaitan dengan kemampuan perusahaan menampilkan fasilitas fisik
serta material yang digunakan oleh pegawainya dan sarana komunikasinya - Keandalan (Reliability)
Karyawan memiliki kemampuan memberikan layanan yang
dijanjikan dengan segera akurat dan memuaskan. Dengan
mempertimbangkan konsistensi waktu dan kesesuaian dengan harapan
pelanggan - Ketanggapan (responsiveness)
Ketanggapan atau daya tanggap merupakan kemampuan serta
kesediaan pegawai dalam membantu pelanggannya dengan menggunakan
jasa. Tanggap dalam memberikan respon dan informasi dan kesiapan
dalam menghadapi permintaan pelanggan - Jaminan (assurance)
Mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan sifat dapat
dipercaya yang dimiliki pegawai sehingga bebas dari bahaya resiko atau
keraguan yaitu mengenai pengetahuan atau cara menanggapi ertanyaan
atau keluhan dari pelanggan - Empati (empathy)
Meliputi kemudahan dalam menjalin hubungan atau relasi dengan
pelanggan, meliputi komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan
pemahaman individual pelanggan, perusahaan paham dengan
permasalahan yang dihadapi pelannggan serta melakukan tindakan untuk
kepentingan pelanggannyademi kenyamanan
Proses Manajemen Pemasaran
Proses manajemen pemasaran meliputi analisis peluang pasar, meneliti
dan memilih pasar, mengembangkan strategi pasar, perencanaan taktik strategi
pemasaran, serta pengendalian upaya pemasaran, yang dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a) Analisis peluang pasar
b) Meneliti dan memilih pasar sasaran, dengan membagi atas segmen
pasar utama, pengevaluasian segmen pasar dan memilih pasar
berdasarkan segmen tertentu lalu menempatkannya atau positioning,
dengan mempertimbangkan pesaing berkaitan dengan konsumen
c) Perencanaan taktik strategi pemasaran, dengan mengedepankan logika
pemasar dengan pengambilan keputusan berdasar biaya pemasaran,
bauran pemasaran, dan lokasi tempat pemasaran. Dengan pertimbangan
biaya yang perlu dikeluarkan dan alokasi dana. setelah produk sampai
dipasaran sesuai dengan strategi awal pemasaran maka perlu dilakukan
kembali mengkajian akan strategi pemasaran berdasarkan peranan
perusahaan, dan konsisi pasar
d) Perencanaan program pemasaran, programpemasaran dilakukan
dengan melihat variabel yang ditawarkan mulai dari produk, meliputi
ciri produk, wujud, kemasan, merek hingga kebijakan pelayanan.
Dilanjutkan dengan harga, berkaitan dengan nilai uang yang harus
dikeluarkan pelanggan dalam membeli prosuk atau jasa, dan yang
ketiga ialah variabel tempat, perusahaan perlu untuk menetapkan
bentuk atau tipe produk harus ditempatkan di bentuk tempat pemasaran
seperti apa contohnya eceran, gosir, dan sebagainya. Serta perlu
mempertimbangkan promosi.
e) Mengorganisasi, melaksanakan dan mengendalikan usaha, perencanaan
suatu usaha baru berarti Ketika sudah terjadi eksekusi atau pelaksanaan
usaha, oleh karenanya perusahaan perlu mempersiapkan standar dan
menganalisis secara berkaa berkaitan dengan strategi yang dijalankan
mulai dari pelaksanaan hingga purna jual, dengan analisis nyata
berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan. Serta elakukan
evaluasi dengan peningkatan berkaitan dengan persoalan yang
dihadapi, semisal dengan meningkatkan efektivitas dan produktivitas
melalui pelatihan, pengarahan dan pemindahan personalia. Serta perlu
melakukan pengecekan secara berkala berkaitan dengan profitabilitas
perusahaan,
Tujuan Manajemen Pemasaran
Indrasari (2019:1012) tujuan manajemen pemasaran meliputi
menciptakan permintaan atau demand, kepuasan pelanggan pangsa pasar atau
market share, peningkatan keuntungan, citra baik, menciptakan konsumen
baru, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Menciptakan permintaan atau demand, melalui berbagai perencanaan
degan mengetahui preferensi dan selera konsumen terhadap barang atau
jasa yang diprosuksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
b) Kepuasan pelanggan, pengembangan dan prndistribusisan produk dan
layanan yang memenuhi ekspektasi dengan memberikan penilaian yang
baik dengan imbas kepada rekomendasi kepada orang terdekatnya dan
khalayak diakibatkan rasa percaya kepada produk atau biasa disebut
dengan referral marketing
c) Pangsa pasar diperuntukan untuk meningkatkan rasio penjualan dan
total penjualan dengan jangkauan pasar yang lebih luas melalui
berbagai inovasi dan kegiatan promosi penjualan
d) Peningkatan keuntungan, melalui perolehan hasil penjualan produk
ataupun jasa sesuai dengan produksi yang dihasilkan
e) Citra baik, atau image di mata pelanggan dalam memandang produk
kearah positif diakibatkan oleh pengalaman pribadi maupun brand
image yang dibentuk pasaran terhadap produk yang dijual.
f) Menciptakan konsumen baru, jangkauan pasar yang lebih luas
menimbulkan semakin dikenalnya produk di pasaran, dengan
mengeksplorasi kebutuhan konsumen lebih luas lagi
Pengertian Manajemen Pemasaran
Assauri (2013:12), Manajemen pemasaran ialah aktivitas penjabaran,
pelaksanaan dan penerapan rencana yang dilakukan guna menciptakan,
Menyusun dan menjaga keuntungan dari pertukaran untuk mencapai misi
perusahaan sebagai tujuan jangka Panjang.
Suparyanto & Rosad (2015:1) mengemukakan bahwasanya
manajemen pemasaran ialah proses menganalisis, merencanakan, mengatur,
dan mengelola program program yang mencakup pengonsepan, penetapan
harga, promosi serta distribusi produk dan jasa guna memelihara pertukaran
yang menguntungkan dengan pasar sasaran untuk mencapai tujuan.
Menurut Kotler dan Keller (2017:6), Manajemen Pemasaran ialah
pasar sasaran untuk menarik, mempertahankan, dan meningkatkan konsumen
dengan menciptakan serta memberrikan kualitas penjualan yang baik
Fungsi Pemasaran
Pemasaran merupakan hal yang dilakukan dalam bisnis dengan fungsi
pemasaran terbagi atas tiga fungsi dasar yaitu fungsi transaksi,meliputi:
pembelian dan penjualan: fungsi supply meliputi: pengangkutan,
penggudangan atau penyimpanan; dan fungsi penunjang meliputi: penjagaan,
standarisasi dan grading, financing, penanggulangan resiko dan informasi
(Shultz dalam Assauri 2013:19),yang dapat dijelaskan lebih lanjut:
a. Buying atau pembelian ialah fungsi dengan aktifitas mencari serta
mengumpulkan barang guna memenuhi kebutuhan produksi atau
konsumen.
b. Selling ialah aktifitas yang dilakukan dengan mencari calon pembeli
untuk melakukan pembelian dengan harapan mendapatkan
keuntungan.
c. Transport, ialah kegiatan pendistribusian dengan memindahkan
barang dari satu tempat ke tempat lain
d. Stock atau penyimpanan berfungsi untuk persediaan produksi atau
penggudangan dengan mengurangi resiko kerusakan maupun resiko
lainnya
e. Informasi pasar, dengan memberikan penawaran akan produk dengan
memberikan informasi perihal harga, kualitas dan lain sebagainya
kepada konsumen berhubungan dengan data atau fakta yang
merupakan hasil Analisa yang berkaitan dengan kebutuhan dalam
mengambil keputusan pembelian
Tujuan Pemasaran
Tjiptono (2015:20) tujuan dari pemasaran ialah menjalin dan
mengembangkan hubungan dengan pelanggan dalam jangka waktu yang
panjang guna terpenuhinya masing masing pihak. Tujuan pemasaran dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a. Mencari keseimbangan pasar, dengan terjalinnya hubungan antara
pembeli dengan penjual, distribusi barang dari daerah penghasil ke
daerah pemukiman, lalu dari pemilik barang kepada calon pembeli.
b. Memberikan kepuasan kepada konsumen, dengan tujuan bukan untuk
mencari laba atau komersial melainkan membentuk kepercayaan
berdasarkan kepuasan dengan melibatkan Lembaga produsen
c. Tujuan akhir dari adanya pemasaran ialah menciptakan pembelian,
dalam membantu organisasi dalam mencapai tujuannya, serta
mendapatkan dana yang memadai untuk melakukan kegiatan sosial
atau pelayanan publik
Pengertian Pemasaran
Pemasaran ialah proses dalam masyarakat baik individu ataupun
kelompok mendapatkan sesuai kebutuhan serta keinginan dengan
menciptakan, menawarkan serta dengan bebas menukar produk serta jasa yang
nilainya satu dengan lainnya.“the iAmerican iMarketing iassociation
ioffersitheifollowingiformalidefinitioni:imarketingiisitheiactivityisetiofiinstitut
ion,iandiprocessesiforicreatingicommunicating,idelivering,iandiexchangingi
offeringithatihaveivalueiforicustomers,iclient,ipartners,andisocietyiatilarge”i
KotleridaniKelleri(2016:124-135)
Lebih lanjut dipaparkan “Marketing is the process by which businesses
create value for their customers and build strong relationships with them in
order to get value back from them.”. Maksudnya yakni suatu proses yang
dilakukan perusahaan dalam memberikan nilai untuk pelanggannya serta
mengkonstruksi korelasi yang kuat terhadap pelanggannya supaya
memperoleh value dari konsumennya yang dinilai sebagai suatu imbalannya.
(Kotler & Armstrong, 2017:124-135)
Menurut Laksana (2019:1), Pemasaran ialah bertemunya penjual dan
pembeli untuk melakukan kegiatan transaksi produk barang atau jasa. Sehingga
pengertian pasar bukan lagi merujuk kepada suatu tempat tapi lebih kepada
aktifitas atau kegiatan bertemunya penjual dan pembeli dalam menawarkan
suatu produk kepada konsumen.
Menurut Tjiptono dan Diana (2020:3), Pemasaran ialah proses
menciptakan, mendistribusikan, mempromosikan, dan menetapkan harga
barang, jasa dan gagasan untuk memfasilitasi relasi pertukaran yang
memuaskan dengan para konsumen dan untuk membangun serta
mempertahankan relasi yang positif dengan para pemangku kepentingan dalam
lingkungan yang dinamis
Hubungan Harga Dengan Niat Pembelian Ulang
Dalam pembelian konsumen sangat memperhatikan harga, terutama dalam
pembelanjaan online karena konsumen akan dimudahkan dalam proses
memandingkan harga dari setiap toko online dalam suatu marketplace. Sehingga
jika konsumen sudah menemukan harga marketplacedengan harga produk atau
jasa yang berkualitas bagus, maka konsumen akan melakukan pembelian ulang
pada marketplace tersebut. Penelitian (Wardani, Paramita, & Minarsih, 2016)
menyatakan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara harga produk atau
jasa dengan niat pembelian online.
Hubungan Kepercayaan Dengan Niat Pembelian Ulang
Dalam pembelian online transaksi jual beli dilakukan secara online tanpa
adanya tatap muka antara produsen dan konsumen, oleh karena itu kepercayaan
merupakan factor yang sangat penting dalam belanja online. Karena dengan
adanya kepercayaan konsumen terutama setelah melakukan pembelian
sebelumnya dan puas, maka konsumen akan berniat untuk melakukan pembelian
ulang pada marketplace tersebut.Penelitian (Adinata, 2015) menyatakan bahwa
adanya pengaruh yang signifikan antara kepercayan konsumen dengan niat
pembelian ulang. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dapat dinyatakan
bahwa kepercayaan konsumen berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian
ulang
