Jenis – Jenis Pemasaran


Setelah di pahami alangkah baiknya pemahaman kita tentang pemasaran
(Marketing) tersebut dilengkapi dengan pemahaman fungsi_fungsi dari pemasaran
yang fundamental (dasar). Karna pemasaran itu sendiri meupakan aktifitas yang
kompleks dalam usaha untuk menyampaikan informasi produk atau layanan jasa,
penawaran dan negosiasi, penyaluran produk kepada konsumen, yang di lakukan oleh
suatu institusi atau badan usaha secara sistematis dan terencana, maka tentunya
terdapat fungsi – fungsi yang mendukung suatu konsep dalam pemasaran. Adapun
fungsi – fungsi pemasaran adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi Pertukaran (Exchange)
    Produk yang telah di hasilkan oleh produsen haruslah terjual sekurang
  • kurangnya satu kali dalam proses pemasaran. Dalam fungsi pemasaran akan
    melibatkan beberapa kegitan yang meliputi pengangkutan dan pengalihan hak
    milik dari satu pihak kepada pihak lain yang ada di dalam sistem pemasaran
    tersebut.Dalam fungsi pertukaran, terdapat dua fungsi lain yang mendukung
    fungsi pertukaran, fungsinya :
    Fungsi Penjualan
    Esensi dari fungsi penjualan adalah mempertemukan penjual dan
    pembeli (permintaan dan penawaran) baik itu secara langsung maupun tidak
    langsung dengan melaui perantara seperti para agen, sales, dan
    lainsebagainya.Adapun fungsi tambahan dalam esensi fungsi penjualan adalah
    sebagai berikut:
  • Perencanaan dan pengembangan produk.
  • Mencari kontak (membuat kontak dengan para pembeli).
  • Menciptakan permintaan (Mendorong para pembeli membeli produk).
  • Melakukan negosiasi (Syarat serta kondisi penjualan harus
    dirundingkan).
  • Melakukan kontak (persetujuan akhir penjualan).
    Fungsi Pembelian
    Esensi dari fungsi pembelian yaitu seluruh aktifitas atau hal
    yang penting untuk di perhatikan dalam rangka mendapatkan produk
    atau layanan jasa yang sesuai dengan kriteria baik itu kualitas maupun
    kuantitas seperti yang di inginkan konsumen.Kemudian mengusahakan
    produk yang sesuai kriteria tersebut siap dipergunakan pada waktu,
    kondisi, dan tempat tertentu dengan harga yang kompetitif. Selain itu,
    terdapat fungsi tambahan yang mendukung fungsi pembelian, yaitu :
  • Perencanaan (Menentukan kritenia produk atau jasa)
  • Mencari kontak (Mencari penjual produk sesuai kriteria)
  • Assembling (Pengumpulan produk – produk)
  • Negosiasi (Syarat serta kondisi pembelian harus dirundingkan)
  • Kontak (kontrak jual beli dan perpindahan hak milik

Manfaat Pemasaran


Form, Place, Time, Informasi and Utility
Keempat tujuan diatas dapat tercapai apabila pemasaran memberikan konstribusi atau
manfaat. Agar keempat tujuan diatas tercapai, pemasaran harus memberikan manfaat
seperti dibawah ini:

  1. Kegunaan bentuk (form utility)
    Pada intinya, pemasaran bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
    individu, dan organisasi dengan cara menciptakan dan mempertukarkan nilai
    satu sama lain. Contohnya: kayu menjadi meja. Pemasaran mendorong
    terjadinya perubahan bentuk dari bahan baku maupun komponen menjadi
    barang jadi.
  2. Kegunaan tempat (place utility)
    Kegunaan ini diperoleh konsumen karena dengan pemasaran, produk dibuat
    pada tempat yang dapat didatangi.
  3. Kegunaan waktu (time utility)
    Ini berkaitan bahwa dengan kenyatan bahwa konsumen dapat memperoleh
    produk pada saat yang diinginkan.
  4. Kegunaan informasi (informasi utlity)
    Pemasaran melakukan promosi untuk menginformasikan produk kepada
    konsumen, membujuk konsumen agar membeli dan mengingatkan konsumen
    agar tidak melupakan produknya.Dalam tugas menginformasikan tersebut,
    konsumen memperoleh manfaat berupa pengetahuan mengenai produk
    maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan produk. Contohnya: iklan susu
    anlen. Dalam iklan tersebut disebutkan bahwa tulang akan semakin kropos
    sejalan dengan bertambahnya usia. Dari iklan tersebut diperoleh dua
    informasi, yakni efek negatif yang terjadi pada tulang bersamaan dengan
    semakin bertambahnya usia dan sesuatu yang dapat mencegah efek negatif
    tersebut.
  5. Kegunaan kepemilikan(possession utility)
    Kegunaan ini terjadi pada saat konsumen membeli produk dan kepemilikan
    dialihkan dari penjual kepada konsumen.

Pengertian Pemasaran


Marketing berasal dari kata market yang berarti pasar. Pasar adalah tempat
orang melakukan pertukaran, dikarenakan adanya demand yang didukung dengan
daya beli, dan juga adanya needs and wants yang berbeda-beda. Marketing berarti
memasarkan, yaitu upaya seorang manusia dalam mendapatkan apa yang diinginkan
oleh orang lain.
Pemasaran (Marketing) merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi
perusahaan, dimana marketing bukan hanya prinsip mengenai untuk menjual saja,
tetapi bagaimana memberikan kepuasan kepada konsumen agar mendatangkan
keuntung bagi perusahaan. Dalam konteks perusahaan, marketing secara hanafiah
dapat diartikan sebagai upaya perusahaan dalam mendapatkan keuntungan, kepuasan
konsumen, atau loyalitas konsumen dengan cara memberikan apa yang diinginkan
oleh konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2016:27) Pemasaran adalah kegiatan mengatur
lembaga, dan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan
bertukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat
pada umumnya.
Menurut American Marketing Society dalam buku Kotler dan Keller (2016:27)
Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa
yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan freering, dan
bebas bertukar produk dan jasa dari nilai dengan lain

Dimensi Keberhasilan Usaha


Samir (2005: 33) dalam (Nugraha, 2013) mengemukakan bahwa
indikator dalam mengukur keberhasilan usaha atau kinerja organisasi,
yaitu sebagai berikut :

  1. Produktivitas, yang diukur melalui perubahan output kepada
    perubahan di semua faktor input (modal dan tenaga kerja).
  2. Perubahan di tingkat kepegawaian (output, teknologi, cadangan
    modal, mekanisme penyesuaian, dan pengaruh terhadap perubahan
    status).
  3. Rasio finansial (mengurangi biaya pegawai dan meningkatkan nilai
    tambah pegawai).
    Beberapa indikator dalam menentukan keberhasilan usaha
    menurut Henry Faizal Noor (2007: 397) dalam (Nugraha, 2013) adalah
    sebagai berikut :
  4. (Laba/Profitability) Laba merupakan tujuan utama dari bisnis.
    Laba usaha adalah selisih antara pendapatan dengan biaya.
  5. Produktivitas dan Efisiensi Besar kecilnya produktivitas suatu
    usaha akan menentukan besar kecilnya produksi. Hal ini akan
    mempengaruhi besar kecilnya penjualan dan pada akhirnya
    menentukan besar kecilnya pendapatan, sehingga mempengaruhi
    besar kecilnya laba yang diperoleh

Faktor faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha


Menurut Suryana (2014: 67) Keberhasilan seorang wirausaha
ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:

  1. Kemampuan dan kemauan.
    Orang yang tidak memiliki kemampuan tetapi banyak kemauan
    dan orang yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki
    kemampuan, keduanya tidak akan menjadi wirausaha yang sukses.
  2. Tekad yang kuat dan kerja keras.
    Orang yang tidak memiliki tekad yang kuat, tetapi mau bekerja
    keras dan orang yang suka bekerja keras tetapi tidak memiliki
    tekad yang kuat, keduanya tidak akan menjadi wirausaha yang
    sukses.
  3. Mengenal peluang yang ada dan berusaha meraihnya ketika ada
    kesempatan

Keberhasilan Usaha


Hendro (2013) mengatakan bahwa enterpreneur yang sukses
merupakan entrepreneur yang bisa bertahan dalam keterbatasanya,
memanfaatkan serta menaikan kemampuan untuk memasarkan (tak
hanya menjual) peluang tersebut dengan baik serta terus menciptakan
reputasi yang membuat perusahaan itu berkembang

Mulut ke Mulut (Word of Mouth)


Mulut ke Mulut (Word of Mouth) Menurut Wulandari, et.al
dalam Atmariani Artanti, Hendri Hermawan Adinugraha (2021),
menyatakan bahwa pemasaran dari mulut ke mulut atau Word Of
Mouth (WOM) merupakan usaha strategi pemasaran dari konsumen
untuk mempromosikan, merekomendasikan produk, membicarakan
produk, dan menjual produk/jasa yang telah kita coba kepada
konsumen lainnya. Hal tersebut dilakukan karena membuat masyarakat
menjadi penasaran terhadap produk atau jasa yang direkomendasikan.
Semakin kita membicarakan produk atau jasa tersebut semakin
meningkat rasa ingin tahunya. Jadi masyarakat menjadi ketagihan dan
pembelian yang berulang akan terjadi terus menerus

Kualitas Pelayanan


Dengan adanya perkembangan akan membuat persaingan
perusahaan semakin ketat, dan adapula cara buat mampu
mempertahankan dan menerima sebuah pelanggan. menggunakan
memenangkan persaingan usaha yang ketat maka produk sebab
pelayanan yang berkualitas. berdasarkan Tjiptono (2016: 59), kualitas
pelayanan yaitu adanya sebuah tingkatan yang baik dan sahih supaya
bisa mencapai keunggulan buat mampu memenuhi atau kebutuhan
konsumen. Berdasarkan Parasuraman (2011: 198), kualitas pelayanan
mempunyai 5 aspek primer, sebagai berikut :

  1. Reabilitas (reliability)
    Hal ini mengacu pada kemampuan perusahaan buat menyediakan
    layanan yang akurat sejak awal serta menyampaikan layanan sesuai
    dengan waktu Yang disepakati.
  2. Daya tanggap (Responsiveness)
    Ini mengacu pada kemauan dan kemampuan karyawan buat
    membantu pelanggan serta menanggapi permintaan mereka, akan
    memberi tahu waktu layanan tersedia, dan lalu akan segera
    menyampaikan layanan.
  3. Jaminan sikap (Assurance)
    Perilaku yang dapat meningkatkan agama konsumen terhadap
    perusahaan serta perusahaan dapat membentuk rasa safety bagi
    konsumen. Keamanan pula berarti bahwa karyawan selalu sopan
    dan memiliki mampu adanya pelayanan yang berkualitas supaya
    pelanggan tertarik untuk membeli pengetahuan dan keterampilan
    yang diharapkan untuk menanggapi pertanyaan dan kekhawatiran
    pelanggan.
  4. Empati (Empathy)
    Bahwa perusahaan memahami persoalan pelanggan, bertindak buat
    kepentingan konsumen, merawat konsumen secara pribadi, dan
    mempunyai jam kerja yang nyaman.
  5. Bukti Fisik (Tangible)
    Daya tarik alat-alat fisik, peralatan perusahaan dan material yang
    bersih, dan penampilan karyawan yang terpelihara dengan baik.
    berdasarkan kelima aspek kualitas layanan tersebut, ini bisa
    disimpulkan bahwa bisa dipergunakan buat mengukur serta tahu
    kepuasan pelanggan sesuai 5 aspek kualitas layanan serta, sebagai
    hasilnya, buat menaikkan kualitas layanan bagi pelanggan pertama
    kali dan mereka yang berulang kali memakai layanan ini.

Faktor yang Mempengaruhi Pemasaran Langsung


Beberapa faktor yang mempengaruhi dalam menerapkan strategi
pemasaran langsung yaitu :

  1. Cara Pemasaran Produk
    Cara pemasaran produk akan mempengaruhi keberhasilan dari
    pemasaran langsung itu sendiri. Cara yang digunakan seperti tatap
    muka dengan pelanggan, menggunakan suara (telemarketing), direct
    mail, memanfaatkan platform media sosial dan e-commerce
    menentukan keberhasilan pemasaran yang dilakukan
  2. Pemilihan sasaran Market
    Penjual wajib mempunyai sasaran market yang kentara agar
    pemasaran langsung yang dilakukan bisa berhasil. memiliki target
    market yang kentara dan spesifik akan membuat penjual lebih mudah
    dalam membentuk konsep promosi dan marketing plan produknya.
  3. Produk Harus “Dekat” dengan Target Market
    Dalam pemasaran langsung, produk juga harus mudah diingat dan
    ditemukan oleh target market. Penjual harus membuat kampanye
    yang unik, desain yang sulit dilupakan dan mempersiapkan jalur
    distribusi yang cepat dalam penjualan produk ke pelanggan.
  4. Cara Penyampaian Informasi
    Cara penyampaian informasi juga ialah faktor yang sangat krusial
    pada pemasaran eksklusif. isu yang disampaikan pada pelanggan
    harus jelas, terukur tetapi tidak berlebihan. dalam melakukan
    pemasaran, penjual harus menguasai produk yang dijual dan
    menggunakan kalimat yang bisa menarik perhatian pelanggan

Bauran Pemasaran


Suatu perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya harus efisien
menjalankan konsep pemasaran agar keuntugan yang diharapkan dapat
terealisasi dengan baik. Ini mengindikasikan bahwa aktivitas pemasaran
pada perusahaan harus dikoordinasi serta dikelola dengan cara yang
labih baik.
Bauran pemasaran sering dilakukan oleh pengusaha untuk
menentukan seni manajemen Harga, promosi yang dibuat semenarik
mungkin dengan memanfaatkan teknologi masa sekarang buat memikat
pelanggan sehingga pelanggan merasa tertarik untuk membeli atau
memakai jasa yang telah ditawarkan oleh pengusaha. Dengan demikian
pengusaha mendapatkan pelanggan dan untung yang diharapkan untukt
mengembangkan usahanya.berdasarkan Kotler serta Armstrong
(2012:75), Bauran pemasaran ialah perpaduan alat taktis, yang terkendali
(produk, harga, tempat, dan kenaikan pangkat) yang dipadukan
perusahaan untuk membentuk respon yang diinginkannya di pasar
sasaran.
Menurut Sofjan Assauri (2013:12), bauran pemasaran (Marketing
Mix) yaitu sebuah kegiatan atau serangkain variabel untuk membentuk
dari inti sebuah sistem pemasaran, dan juga bisa dikendalikan untuk
mempengaruhi reaksi seorang konsumen atau pembeli.
Menurut Kotler dan Amstrong (2016) mendifinisikan bauran
pemasaran ialah “Marketingmix is the set of tactical marketing tools that
the firm blends to produce the response it wants in the sasaran market”.
(Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran taktis yang dapat
dipadukan untuk menghasilkan respon yang diinginkan dalam pasar
sasaran).
Bauran pemasaran menurut Kotler dan Armstrong (2014) dibagi
menjadi beberapa veriabel yang sesuai dengan unsur-unsur dan
pengertiannya masing-masing, digolongkan menjadi 4 yaitu :

  1. Produk (Product)
  2. Harga (Price)
  3. Promosi (Promotation)
  4. Tempat (Place)
  5. Partisipan (people)
  6. Proses (Process)
  7. Bukti Fisik (Physical Evidence)

Pengaruh bauran Pemasaran Jasa Terhadap Keputusan Pembelian


Pengaruh bauran pemasaran jasa terhadap keputusan pembelian konsumen
yang didefinisikan Menurut Basu Swastha (2008:78), Marketing mix adalah
kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem
pemasaran perusahaan, yakni : produk, struktur harga, kegiatan promosi, dan
sistem distribusi.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:75), Bauran pemasaran merupakan
seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus
mencapai tujuan perusahaannya di pasar sasaran.
Zeithaml (2006:29) yang dialihbahasakan oleh M. Yazid menyatakan
keterkaitan elemen-elemen bauran pemasaran dengan keputusan pembelian
sebagai berikut :
Elemen-elemen bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, tempat, promosi,
bukti fisik, dan proses merupakan elemen-elemen yang dapat dikontrol oleh
perusahaan, yang ditujukan untuk memuaskan keinginan dan berkomunikasi
dengan pelanggan. Dengan begitu, elemen –elemen bauran pemasatan tersebut akan
mempengaruhi bagaimana pelanggan mengambil tindakan untuk memenuhi
keinginan melalui tahapan dalam proses pembuatan keputusan.
Selanjutnya bauran pemasaran dalam kaitannya dengan keputusan
konsumen yang akhirnya berpengaruh terhadap penjualan menurut Basu Swastha
dan Ibnu Sukotjo (2002:183) sebagai berikut :
“Bahwa penjualan merupakan fungsi yang paling penting dalam pemasaran karena
menjadi tulang punggung kegiatan untuk mencapai pasar yang dituju. Fungsi
penjualan merupakan sumber pendapatan yang diperlukan untuk menutupi ongkos-
ongkos dengan harapan untuk mendapatkan laba. Jika barang-barang diproduksi
atau dibeli untuk dijual, maka harus diusahakan sejauh mungkin agara barang
tersebut dapat terjual. Oleh karena itu perlu adanya berbagai macam cara untuk
memajukan penjualan, dianataranya dengan mengatur bauran pemasaran”.

Keputusan Pembelian


Konsumen mempunyai arti yang sangat penting bagi perusahaan karena
kelangsungan hidup suatu perusahaan ditentukan oleh konsumen. Apabila sebuah
perusahaan memiliki jumlah konsumen yang melakukan pembelian memiliki nilai
yang besar maka kemajuan perusahaan tersebut akan semakin pesat. Beberapa hal
yang diperhatikan atau dipelajari apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli,
bagaimana mereka membeli, kapan mereka membeli, dimana mereka membeli dan
seberapa sering mereka membeli.
Proses keputusan konsumen bukanlah berakhir dengan pembelian, namun
berlanjut hingga pembelian tersebut menjadi pengalaman bagi konsumen dalam
menggunakan produk yang dibeli tersebut. Pengalaman itu akan menjadi bahan
pertimbangan untuk pengambilan keputusan pembelian di masa depan (Ma’ruf,
2005:14).

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran artinya suatu usaha buat merencanakan,
mengimplementasikan (yang terdiri dari kegiatan mengorganisaikan,
mengarahkan, mengkoordinir) dan mengawasi atau mengendalikan
aktivitas pemasaran di suatu organisasi agar tercapai tujuan organisasi
secaraefesien serta efektif. Pada fungsi manajemen pemasaran ada
aktivitas menganalisis yaitu analisis yang dilakukan buat mengetahui
pasar serta lingkungan pemasarannya, menjadi akibatnya bisa diperoleh
seberapa besar peluang untuk merebut pasar serta seberapa besar
ancaman yang harus dihadapi.
Menurut Kotler dan Amstrong (dalam Priansa, 2017:4)
menjelaskan manajemen pemasaran yaitu suatu upaya manusia untuk
mencapai hasil pertukaran yang diinginkan dan membangun hubungan
yang erat dengan konsumen dengan cara yang menguntungkan bagi
perusahaan.
Definisi pemasaran menurut Kotler dan Keller (2016:27)
marketing is a social process by which individuals and groups obtain
what they need and want though creating, offering and freely
exchanging products abd service of value with others, artinya adalah
pemasaran merupakan sebuah proses kemasyarakatan dimana individu
dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan ingin
menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk
dan jasa yang bernilai dengan orang lain.
Menurut Anssauri (2013:12), Manajemen pemasaran artinya
aktivitas menganalisis, merencanakan, melaksanakan dan
mengendalikan program-program yang disusun dalam pembentukan,
pembangunan, serta pemeliharaan keuntungan dari pertukaran/ transaksi
melalui sasaran pasar dengan harapan buat mencapai tujuan organisasi
perusahaan di jangka panjang

Komponen Bauran Pemasaran


Adapun pengertian yang dijadikan indikator dari bauran pemasaran (4P)
menurut Basu Swastha dan Irawan (2005:449) adalah sebagai berikut:

  1. Produk
    Produk adalah suatu sifat yang komplek baik dapat diaraba
    maupun tidak dapat diraba, termasuk bungkus, warna, prestise
    perusahaan dan pngecer, pelayanan perusahaan dan pengecer,
    ynag diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginan atau
    kebutuhannya.
  2. Harga
    Harga adalah sejumlah uang (ditambah produk kalau mungkin)
    yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari
    produk berserta pelayanannya.
  3. Promosi
    Promosi adalah arus informasi persuai satu arah yang dibuat
    untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan
    yang menciptakan pertukaran dalm pemasaran.
  4. Tempat/distribusi
    Terdiri dari seperangkat lembaga yang digunakan untuk
    menyalurkan produk dan status kepemilikannya dari produsen ke
    konsumen.
    Menurut Fandy Tjiptono (2005:31) dalam Danang Sunyoto merumuskan
    bauran pemasaran jasa menjadi 8P (Product, Price, Promotion, Place, People,
    Process, dan Physical Evidence, Customer Service).
  5. Product
    Merupakan bentuk penawaran organisasi jasa yang ditujukan
    untuk mencapai tujuan melalui pemuasan kebutuhan dan
    keinginan pelanggan. Produk disini bisa berupa apa saja (baik
    yang berwujud fisik maupun tidak) yang dapat ditawarkan kepada
    pelanggan potensial untuk memenuhi kebutuhan dan keingina
    tertentu. Produk merupakan semua yang ditawarkan ke pasar
    untuk diperhatikan, diperoleh, dan digunakan atau dikonsumsi
    untuk dapat memnuhi kebutuhan dan keinginan yang berupa fisik,
    jasa, orang, organisasi dan ide)
  6. Price
    Bauran harga berkenaan dengan kebijakan strategis dan taktis
    seperti tingkat harga, struktur diskon, syarat pembayaran dan
    tingkat diskriminasi harga diantara berbagai kelompok pelanggan.
    Harga menggambarkan besarnya rupiah yang harus dikeluarkan
    seorang konsumen untuk memperoleh satu buah produk dan
    hendaknya harga akan dapat terjangkau oleh konsumen.
  7. Promotion
    Bauran promosi meliputi berbagai metode, yaitu iklan, promosi
    penjualan, penjualan tatap muka, dan hubungan masyarakat.
    Menggambarkan berbagai macam cara yang ditempuh
    perusahaan dalam rangka menjual produk ke konsumen.
  8. Place
    Merupakan keputusan distribusi menyangkut kemudahan akses
    terhadap jasa bagi para pelanggan. Tempat dimana produk
    tersedia dalam sejumlah saluran distribusi dan outlet yang
    memungkinkan konsumen dapat dengan mudah memperoleh
    suatu produk.
  9. People
    Bagi sebagian besar jasa, orang merupakan unsur vital dalam
    bauran pemasaran. Dalam industry jasa, setiap orang merupakan
    part-time marketer yang tindakan dan perilakunya memiliki
    dampak langsung pada output yang diterima pelanggan. Oleh
    sebab itu, setiap organisasi jasa (terutama yang tingkat kontaknya
    dengan pelanggan tinggi) harus secara jelas menentukan apa yang
    diharapkan dari setiap karyawan dalam interaksinya dengan
    pelanggan.
  10. Process
    Proses produksi atau operasi merupakan faktor penting bagi
    konsumen high-contact service, yang kerapkali juga berperan
    sebagai co-producer jasa bersangkutan. Pelanggan restoran
    misalnya, sangat terpengaruh oleh cara para staf melayani mereka
    dan lamanya menunggu selama proses produksi.
  11. Physical Evidence
    Karakteristik intangible pada jasa menyebabkan pelanggan
    potensial tidak bias menilai suatu jasa sebelum mengkonsumsinya.
    Salah satu unsur penting dalam bauran pemasaran adalah upaya
    mengurangi tingkat resiko tersebut dengan jalan menawarkan
    bukti fisik dan karakteristik jasa.
  12. Customer Service
    Makna layanan pelanggan berbeda antar organisasi. Dalam sector
    jasa, layanan pelanggan dapat diartikan sebagai kualitas total jasa
    yang dipersepsikan oleh pelanggan. Oleh sebab itu, tanggung
    jawab atas unsur bauran pemasaran ini tidak bias diisolasi haya
    pada departemen layanan pelanggan, tetai menjadi perhatian dan
    tanggung jawab semua personil produksi, bak yag dipekerjakan
    oleh organisasi jasa maupun oleh pemasok. Manajemen kualitas
    jasa yang ditawarkan kepada pelanggan berkaitan dengan
    kebijakan desain produk dan personalia.
    McCarthy dalam Kotler dan Keller (2009:24) mengklasifikasikan
    aktivitas – aktivitas ini sebagai sarana bauran pemasaran dari empat jenis yang luas
    yang disebutnya sebagai empat P dari pemasaran: produk (product), harga (price),
    tempat penjualan (place), dan promosi (promotion)

Pengertian Bauran Pemasaran


Bauran pemasaran merupakan suatu perangkat yang akan menentukan
tingkat keberhasilan pemasaran bagi perusahaan, dan semua ini di tunjukan untuk
memberikan kepuasan kepada segmen pasar atau konsumen yang dipilih. Pada
hakekatnya bauran pemasaran (marketing mix) adalah mengelola unsur-unsur
marketing mix supaya dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen
dengan tujuan dapat menghasilkan dan menjual produk dan jasa yang dapat
memberikan kepuasan pada pelanggan dan konsumen.
Kotler (2000:18) mendefinisikan bauran pemasaran adalah seperangkat
alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran di
dalam pasar sasaran. Bauran pemasaran merupakan variabel-variabel terkendali
yang dapat digunakan perusahaan untuk mempengaruhi konsumen dari segmen
pasar tertentu yang dituju perusahaan.
Basu Swastha dan Irawan (2005:78) mengatakan bahwa “Bauran
pemasaran (marketing mix) adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan
yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan, yakni produk, stuktur
harga, kegiatan promosi, dan sistem distribusi”

Pengertian Manajemen Pemasaran


Sebuah usaha akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh kegiatan
pemasaran yang tepat, namun kegiatan pemasaran tidak akan berjalan dengan baik
dan tepat apabila tidak didukung dengan adanya kegiatan manajemen pemasaran
yang baik dan tepat pula.
Philip Kotler dan Amstrong (2002:14) mengemukakan bahwa
“Manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian atas program yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan
mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran dengan
maksud untuk mencapai sasaran organisasi”.
Fandy Tjiptono (2002:16) mengungkapkan bahwa: Manajemen
pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi penentuan harga,
promosi dan distribusi barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran
dengan kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi.

Konsep dan Filosofi Pemasaran


Konsep pemasaran menurut Kotler dan Keller (2009:20) “Konsep
pemasaran beranggapan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi adalah
menjadi lebih efektif daripada pesaing dalam menciptakan, menghantarkan, dan
menkomunikasikan nilai pelanggan yang lebih baik kepada pasar sasaran yang
dipilih”.
Sedangkan konsep inti pemasaran menurut Kotler dan Amstrong
(2012:30) ada 5 (lima) konsep inti, yaitu:

  1. Kebutuhan, Keinginan, dan Permintaan (Needs, Wants and Demand)
    Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan manusia dan harus ada
    sehingga dapat menggerakkan manusia sebagai dasar (alasan) berusaha.
    Keinginan adalah hasrat untuk memperoleh pemuas kebutuhan yang spesifik
    akan kebutuhan. Permintaan adalah keinginan akan produk tertentu yang
    didukung kemampuan dan kesediaan untuk membayar dan membeli.
  2. Penawaran Pasar-Produk, Pelayanan, dan Pengalaman (Market Offerings-
    product, Services, and Experiences)
    Penawaran pasar merupakan beberapa kombinasi dari produk, pelayanan,
    informasi, atau pengalaman yang ditawarkan kepada pasar untuk memenuhi
    kebutuhan atau keinginan mereka.
  3. Nilai Pelanggan dan Kepuasan (Customer Value and Satisfaction)
    Nilai pelanggan dilihat sebagai kombinasi antara mutu, jasa, dan harga
    (quality, service, and price) yang mencerminkan manfaat dan biaya berwujud
    dan tak berwujud bagi kosumen. Kepuasan merupakan penilaian seseorang
    dari kinerja yang dirasakan dari produk dalam hubungan dengan harapannya.
  4. Pertukaran dan Hubungan (Exchanges and Relationships)
    Pertukaran adalah tindakan untuk memperoleh sebuah objek yang diinginkan
    dari sesesorang dengan menawarkan suatu sebagai imbalan. Pemasaran
    terdiri dari tindakan yang diambil untuk membangun dan memelihara
    hubungan transaksi dengan target pembeli, pemasok, dan penyalur yang
    melibatkan produk, pelayanan, ide, atau benda lainnya.
  5. Pasar (Market)
    Pasar merupakan kumpulan semua pembeli sebenarnya dan potensial yang
    memiliki kebutuhan atau keinginan akan produk atau jasa tertentu yang sama,
    yang bersedia dan mampu melaksanakan pertukaran untuk memuaskan
    kebutuhan dan keinginan tertentu.

Pengertian Manajemen Pemasaran


Pemasaran merupakan aktivitas penting bagi perusahaan dan merupakan
sistem keseluruhan dari kegiatan usaha. Pemasaran tidak hanya berorientasi pada
kegiatan menjual produk saja namun pemasaran memiliki tujuan yang lebih luas
yaitu untuk merencanakan produk, menentukan harga, mempromosikan, dan
menditribusikan barang atau jasa. Pemasaran merupakan ujung tombak
keberhasilan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui aktivitas penjualan
barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan.
Fandy Tjiptono (2002:7) memberikan definisi pemasaran adalah: “Suatu
proses sosial dan manajerial dimana individu atau kelompok mendapatkan apa yang
mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran
segala sesuatu yang bernilai dengan orang atau kelompok lain.
Philip Kotler (2008:5) mengungkapkan definisi pemasaran bahwa:
“Pemasaran adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial.
Memenuhi kebutuhan dengan cara mengutungkan”.
Djaslim Saladin (2007:1) mengungkapkan bahwa “Pemasaran adalah
suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan,
menentukan harga, promosi, dan mendistribusikan barang – barang yang dapat
memuaskan keinginan dan mencapai pasar serta tujuan perusahaan”.

Analytical Hierarchy Process (AHP)


Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat dijelaskan secara sederhana
sebagai cara mudah dan fleksibel untuk mengakomodasi kreativitas dalam
pendekatan untuk memecahkan masalah. Analytical Hierarchy Process (AHP)
adalah teori pengukuran umum untuk penemuan skala rasio, dari perbandingan
berpasangan diskrit dan kontinyu. AHP menggambarkan multifaktor atau masalah
membagi multi-kriteria komplek menjadi hierarki. Hirarki didefinisikan sebagai
respresentase masalah kompleks dalam berbagai hirarki di mana level pertama
adalah taget, diikuti oleh level faktor, standar, sub-standar, dll. Disempurnakan ke
level resort terakhir. Dengan hirarki, satu masalah adalah kompleks dapat dipecah
menjadi kelompok-kelompok kemudian disusun dalam bentuk berlapis sedemikian
rupa pertanyaan akan tampil lebih terstruktur dan sistematik (Putri & Surjasa,
2018).
Untuk membuat atau menjadwalkan proses hirarki, tidak ada program tujuan,
kriteria dan kegiatan yang harus masuk dalam hirarki tersebut tetap perlu
dikembangkan sesuai dengan kompleksitas masalah yang dihadapi. Buat ide, draf,
dan daftarkan semua konsep yang relevan dengan masalah terlepas dari hubungan
atau urutan, itu dapat diperoleh melalui penelitian literatur. Jika pengguna memiliki
pemahaman yang baik tentang masalahnya, maka datanya juga bisa diabaikan.

Atribut Indikator Kinerja SCOR


Kinerja rantai pasok diukur menurut atribut indikator kinerja model SCOR.
Atribut metrik kinerja SCOR mengukur kinerja interproses SCOR (jadwalkan,
pengadaan, pembuatan, pengiriman, dan pengembalian). Penggunaan pengukuran
model ini memiliki banyak keuntungan dibandingkan menggunakan metrik standar.
Kesulitan jika ada standar pengukuran membandingkan kinerja antar organisasi
(Supply Chain Council, 2008). Atribut ukuran kinerja antar proses dalam SCOR
yaitu reliability, responsiveness, flexibility, cost, asset. Berdasarkan model SCOR
yang dikeluarkan oleh Supply Chain Council (2008), definisi indikator kinerja
utama meliputi:

  1. Reliability
    a. Delivery perfoemance (Kinerja pengiriman), yaitu jumlah produk
    produk yang diterima tepat waktu.
    b. Inventory inaccurancy (Persediaan tidak diperbolehkan), yaitu
    penyimpangan antara besaran fisik persediaan dengan catatan atau
    dokumen yang ada di gudang.
    c. Defect rate, yaitu tingkat pengiriman bahan cacat yang dikembalikan
    vendor aspek responsif.
  2. Responsiveness
    a. Waktu siklus perencanaan (planning cycle time), yaitu waktu yang
    diperlukan untuk mengembangkan jadwal produksi.
    b. Source item responsiveness, yaitu waktu yang dibutuhkan vendor jika
    variasi material bertambah, maka dapat memenuhi kebutuhan
    perusahaan permintaan dari pesanan awal.
  3. Flexibility
    a. Minimum order quanitity (kuantitas pesanan minimum), yaitu unit
    terkecil yang dapat diselesaikan vendor dalam setiap pesanan waktu
    pemesanan.
    b. Make volume flexibility (membuat volume transaksi fleksibel), yaitu
    presentase kenaikan yang memuaskan produksi dalam jangka waktu
    tertentu.
  4. Cost
    a. Defect cost (biaya cacat) yaitu biaya untuk mengganti produk yang
    cacat.
    b. Machine maintenance cost (biaya perawatan mesin) yaitu biaya
    perawatan mesin industri.
  5. Asset
    a. Payment term (jangka waktu pembayaran), yaitu perbedaan waktu rata-
    rata antara permintaan materi dan waktu dibayarkan kepada vendor.
    b. Cosh-to-cash time yaitu, saat perusahaan mengeluarkan uang
    pengadaan materail sampai perusahaan menerima pembayaran
    konsumen

Struktur Model Supply Chain Operation Reference (SCOR)


Supply Chain menurut Council (2008) menggambarkan model SCOR terdiri
dari tiga tingkat (level) meliputi level atas, level konfigurasi, elemen proses dan
implementasinya di luar lingkup model SCOR tingkatan penerapan bervariasi dari
orang ke orang perusahaan.

  1. Level puncak (tipe proses)
    Level ini mendefinisikan ruang lingkup dan konten model pecahan
  2. Level konfigurasi (kategori proses)
    Level ini adalah konfigurasi penyediaan rantai perusahaan proses inti
  3. Tingkat elemen proses (deskripsi proses)
    Tingkat ini mendefinisikan kemampuan perusahaan dapat berhasil dalam
    persaingan pasar. Level ini meliputi yaitu mendefinisikan elemen proses,
    masukan dan keluaran informasi elemen proses, atribut dan definisi
    pengukuran kinerja proses, dan definisi praktik terbaik.
  4. Rencana (plan)
    Perencanaan dan manajemen permintaan/pasokan semacam
    a. Menyeimbangkan sumber daya dan kebutuhan serta
    membangun/komunikasikan rencana di seluruh rantai pasokan,
    termasuk pengambilan proses eksekusi untuk pembelian, pembuatan,
    dan pengiriman.
    b. Manajemen aturan bisnis, kinerja rantai pasokan, pengumpulan data,
    inventaris, aset modal, transportasi, konfigurasi perencanaan,
    persyaratan peraturan, dan kepatuhan dan risiko rantai pasokan.
    c. Menyelaraskan rencana unit rantai pasokan dengan rencana keuangan.
  5. Sumber (Source)
    Cakupan dari source meliputi yaitu persediaan produk pengadaan (sourcing
    stocked), make to order, dan enginerr to order. Deskripsi aktivitas di sumber
    antara lain:
    a. Mengatur pengiriman, penerimaan, inspeksi, dan transfer produk,
    otorisadi pembayaran vendor.
    b. Mengidentifikasi dan memilih sumber pasokan.
    c. Manajemen aturan bisnis, evaluasi kinerja vendor, dan pemeliharaan
    data.
    d. Manajemen persediaan, aset modal (barang modal), produk masuk,
    jaringan vendor, persyaratan impor dan ekspor, perjanjian vendor, dan
    risiko rantai pengadaan pasokan.
  6. Buat (Make)
    Proses mengubah produk menjadi produk jadi untuk direlisasikan permintaan
    yang direncanakan. Serta beberapa aktivitas meliputi:
    a. Mengatur proses produksi, pembuatan produk, perakitan hingga
    distribusi produk akan dikirim.
    b. Aturan tata kelola, kinerja, data, barang dalam proses, peralatan dan
    fasilitas, kepatuhan terhadap transportasi, jaringan produksi, produksi
    dan risiko rantai pasokan.
  7. Kirim (Delivery)
    Terkait dengan pergudangan, pengiriman, dan pemasangan produk yang
    ditebar. Kegiatan pengiriman meliputi:
    a. Memesan dan memproses pengiriman pelanggan untuk kutipan serta
    mempersiapkan opsi pengiriman dan transportasi pengiriman.
    b. Pengelolaan gudang.
    c. Saat produk diterima dan diperiksa serta dipasang di lokasi pelanggan
    membutuhkan.
  8. Kembali (Return)
    Pengembalian bahan baku dan menerima pengembalian produk jadi
    a. Langkah-langkah pengembalian semua produk cacat diidentifikasi dari
    sumber kondisi produk, disposisi produk, otorisasi permintaan
    pengembalian produk, timeline pengiriman produk dan produk cacat
    dikembalikan kemudian dikirim otorisasi pengembalian produk,
    penerimaan program pengembalian, penerimaan produk dan dikirim
    otorisasi pengembalian produk, penerimaan program pengembalian,
    penerimaan produk dan transfer produk cacat.
    b. Mengelola pengembalian aturan bisnis kinerja, pengumpulan data,
    inventaris pengembalian, barang modal, pengiriman, konfigurasi
    jaringan, persyaratan dan kepatuhan terhdapat peraturan, penghargaan
    risiko rantai pasok

Supply Chain Operation Reference (SCOR)


Merupakan Supply Chain Operation Reference (SCOR) yang dikembangkan
oleh sebuah lembaga profesional yaitu Supply Chain Council (SCC) di tahun 1996.
Model acuan berbasis proses yang sering digunakan dalam pengukuran kinerja
rantai pasok adalah model Supply Chain Operations Reference (SCOR). Model
SCOR terkenal karena mampu menghubungkan business processes, performance
metrics, standard practices, dan people skills ke dalam sebuah struktur terpadu.
Menurut Pujawan (2005), model menginterasikan tiga elemen utama manajemen
yakni:

  1. Bussiness process reengineering pada dasarnya adalah menangkap proses
    yang kompleks sekarang sedang terjadi (as is) dan mendefinisikan proses
    yang diperkukan (to be).
  2. Benchmarking adalah kegiatan menangkat data kinerja operasional dari
    perusahaan sejenisnya. Tujuan internal kemudian ditentukan berdasarkan
    faktor-faktor performa terbaik di kelasnya.
  3. Process measurement digunakan untuk mengukur, mengontol dan
    meningkatkan proses rantai pasokan.
    Pengukuran kinerja dapat diukur dengan pendekatan dalam metode Supply Chain
    Operation Reference (SCOR) untuk mengetahui performansi supply chain
    (Setiawan dkk., 2020).
    SCOR diperbarui secara berkala untuk mencerminkan perubahan dalam
    proses bisnis rantai pasokan. Model SCOR terdiri dari proses rantai pasokan
    standar, atribut, dan indikator kinerja standar, praktik standar, dan keterampilan
    kerja standar. Pembaruan SCOR disusun dalam matriks, kriteria kinerja (reliability,
    responsiveness, agility, cost, manajemen aset) dan proses (plan, source, make,
    delivery, return, enable). Terlepas dari kesederhanaannya, model SCOR telah
    terbukti kuat dan berguna sebagai alat deskriptif, menganalisis, dan meningkatkan
    rantai pasokan. Dimana kinerja proses perusahaan dapat diukur secara objektif
    berdasarkan data yang diperoleh sehingga bisa melakukan evaluasi kinerja
    (Yusrianafi dkk,. 2021)

Hubungan Antara Produk, Harga, Lokasi, Promosi secara bersama Terhadap Keputusan Pembelian


Bauran pemasaran merupakan alat yang meliputi produk, harga, lokasi,
promosi. Proses tersebut salah satu alat yang digunakan perusahaan untuk mencapai
tujuan penjualan. Keempat unsur tersebut tidak bisa dipisahkan, karena unsur-unsur
tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya. Semakin baik pengaruh yang
diberikan oleh keempat unsur bauran pemasaran tersebut, maka akan semakin
meningkatkan keinginan konsumen untuk memutuskan pembelian. Hal ini
dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Roki Priyanto (2015:67) bauran
pemasaran yang terdiri dari produk, harga, lokasi serta promosi berpengaruh positif
dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Hubungan Antara Harga Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut (Amirullah & Hardjanto, 2016:145), harga merupakan penentuan
dari suatu produk yang merupakan titik pertemuan dari produk yang ditawarkan
dengan permintaan akan produk yang dimaksud. Harga adalah jumlah uang yang
dibebankan untuk suatu produk dan jasa, atau jumlah nilai yang dipertukarkan
konsumen untuk memiliki manfaat dari produk dan jasa yang dibeli (Kotler &
Armstrong, 2017:119)

Hubungan Antara Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Keller (2016:562), produk dijadikan sebaga daya tarik
konsumen untuk memutuskan pembelian. Ketika konsumen akan memutuskan
suatu keputusan pembelian, produk merupakan pertimbangan paling utama, karena
produk merupakan tujuan utama bagi kosumen untuk memenuhi kebutuhannya.
Jika produk tersebut memberikan manfaat yang dibutuhkan konsumen, maka
kemungkinan besar konsumen akan mengambil keputusan untuk membeli produk
tersebut. Hal ini didukung dengan penelitian yang telah dilakukan Agustina dan
Parjono (2017:89) yang hasil penelitiannya menunjukkan bahwa produk
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

Indikator Minat Beli Ulang


Perilaku pembelian terjadi karena adanya keinginan untuk membeli
sebelum adanya keinginan untuk membeli. Salah satunya disebabkan oleh
perolehan pengakuan bahwa produk tersebut memiliki kualitas yang sangat baik
untuk dimiliki atau dikonsumsi. Menurut Hasan (2018:131), beberapa penjelasan
mengenai indikator dari minat beli, yakni:

  1. Minat transaksional, kebiasaan individu yang ingin membeli suatu produk.
  2. Minat referensial, kebiasaan individu yang menyarankan produk yang telah
    dikonsumsinya pada orang lain untuk ikut membeli dan mengkonsumsi produk
    tersebut.
  3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang
    memiliki preferensi utama terhadap produk. Preferensi ini hanya dapat diganti
    jika terjadi sesuatu pada produk yang mereka suka

Pengertian Minat Beli Ulang (Repurchase Intention)


Menurut Hasan (2018:131) menyatakan bahwa Minat beli ulang
(Repurchase Intention) adalah perilaku konsumen yang berkaitan dengan kepuasan
pelanggan yang sebelumnya telah membeli produk dari produsen. Jika konsumen
tidak puas, maka konsumen tidak akan melakukan pembelian kembali di masa
mendatang.
Menurut Tjiptono (2015:386) minat beli ulang adalah berbeda dengan
loyalitas, loyalitas mewakili komitmen psikologis individu terhadap erek atau
produk tertentu, dan minat beli ulang hanya pada kepuasan konsumen yang ingin
membeli kembali, yang menunjukkan bahwa mereka selalu ingin membeli produk
dengan merek yang sama.
Menurut Kotler dan Keller (2016:141), minat beli ulang merupakan salah
satu perilaku konsumen setelah pembelian, yang terdapat kepuasan atau
ketidakpuasan konsumen terhadap produk setelah pembelian, yang memiliki
pengaruh yang berbeda terhadap pembelian selanjutnya. Kemungkinan, perilaku
pembelian ulang selanjutnya akan menimbulkan rasa keyakinan yang lebih tinggi.

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Philip & Kotler (2016:82) terdapat indikator keputusan pembelian,
yaitu:

  1. Tujuan dalam membeli sebuah produk
    Konsumen memutuskan untuk membeli produk berdasarkan dengan tujuannya.
  2. Pemrosesan informasi untuk sampai ke pemilihan merek
    Konsumen mencari informasi tentang bagaimana suatu produk akan dibeli
    selanjutnya, dan konsumen memutuskan produk mana yang akan dibeli.
  3. Kemantapan pada sebuah produk
    Konsumen membeli berdasarkan produk yang menurut mereka layak untuk
    dikonsumsi
  4. Memberikan rekomendasi kepada orang lain
    Konsumen merekomendasikan kepada orang lain mengenai
    produk yang sudah pernah di beli
  5. Melakukan pembelian ulang
    Konsumen akan kembali membeli suatu produk berdasarkan kepuasannya
    terhadap produk yang dibeli sebelumnya

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Schiffman dan Kanuk (2016:182), keputusan pembelian adalah
suatu proses dimana konsumen membeli pilihan yang berbeda dan memilih produk
berdasarkan pertimbangan tertentu.
Menurut Sunyoto (2015:128) mendefinisikan bahwa keputusan pembelian
sebagai keputusan tentang apa yang akan dibeli, kapan membeli, dimana membeli,
dan bagaimana cara membayarnya.
Menurut Kotler & Keller (2014:184), keputusan pembelian adalah
keputusan akhir yang dibuat oleh mereka yang membeli barang atau jasa untuk
konsumsi pribadi

Indikator Promosi


Menurut Elliott (2016:56) Indikator promosi adalah sebagai berikut:

  1. Menarik konsumen untuk membeli untuk pertama kalinya.
  2. Memberitahu konsumen agar tetap loyal terhadap produk yang dibeli dengan
    membeli kembali produk yang dijual.
  3. Mengingatkan konsumen perihal manfaat produk yang dijual.
  4. Mendorong pengecer untuk selalu menjaga dan memiliki stok barang.
  5. Mendorong pengecer untuk membeli stok barang lebih banyak.
  6. Membujuk pengecer untuk menawarkan barang dagangan yang menawarkan
    tempat khusus

Pengertian Promosi


Menurut Alma (2016:181), promosi adalah jenis komunikasi yang
menggambarkan produk dan jasa yang dijual dengan tujuan untuk menarik,
mengingat, dan membujuk calon konsumen.
Menurut Suryadi (2016:181) Promosi adalah rangkaian kegiatan untuk
menginformasikan, meyakinkan orang tentang suatu produk yang dijual agar
konsumen membeli dan mengkonsumsi produk tersebut.
Sedangkan menurut Indriyo Gitosudarmo dalam jurnal Manajemen
Strategis (2016:215), promosi adalah kegiatan usaha yang menjual produk yang
dijual dengan cara yang mudah bagi konsumen yang berusaha membeli dan
ditempatkan pada situasi tertentu. Perusahaan yang menjual produk akan menarik
perhatian pembeli untuk membeli produk tersebut.
Menurut Agus Hermawan dalam jurnal Komunikasi Pemasaran (2015:127)
menyatakan bahwa promosi adalah kegiatan pemasaran yang menunjukkan nilai
tambah dari suatu produk dalam jangka waktu tertenty dan membangkitkan minat
konsumen. Kegiatan promosi meliputi periklanan, penjualan tatap muka, dan
memasang iklan.
Menurut Basu Swasta dan Irawan, dalam kutipan Modern Marketing
Managemet, Edisi Keempat (2002:76), menyatakan bahwa promosi penjualan
seringkali secara tidak terduga dapat membangkitkan minat konsumen. Banyak
perusahaan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh program promosi.

Indikator Saluran Distribusi


Menurut Tjiptono (2015:92) pemilihan lokasi fosok memerlukan pertimbangan
cermat terhadap faktor-faktor berikut:

  1. Akses, lokasi yang dilalui mdah dijangkau oleh sarana transportasi umum.
  2. Visibilitas, yaitu lokasi atau tempat yang dapat dilihat dengan jelas dan jarak
    pandang normal.
  3. Tempat parkir yang luas, nyaman dan aman baik untuk kendaraan roda dua
    ataupun kendaraan roda empat.
  4. Ekspansi, tersedianya tempat yang cukup luas apabila ada perluasan di kemudian
    hari.
  5. Lingkungan, yaitu daerah sekitar mendukung untuk produk yang ditawarkan.
  6. Persaingan, yaitu lokasi yang pesaing.
  7. Peraturan pemerintah.

Pengertian Tempat (Place)


Tempat merupakan sebuah lokasi yang dilakukan perusahaan untuk
membuat produk yang akan dipasarkan ke konsumen (Lamb, Hair dan McDaniel,
2016:182)
Menurut Swastha (2016:182), tempat adalah dimana suatu usaha atau
kegiatan usaha itu dilakukan.
Namun pendapat lain yang di kemukakan oleh Michael J. Etzel dalam
Danang Sunyoto (2015:172), menyatakan bahwa saluran distribusi yang melakukan
segala kegiatan yang berkaitan dengan pendistribusian barang dan untuk dijual ke
konsumen

Pengertian Harga


Menurut Shinta dalam jurnal Pertiwi (2016:181), harga merupakan suatu
nilai yang dinyatakan dalam bentuk rupiah yang digunakan untuk pertukaran atau
transaksi yang harus dibayar konsumen untuk menerima barang ataupun jasa.
Harga merupakan jumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk
memperoleh produk (Kotler dan Armstrong, 2016:181)

Indikator Produk


Dalam penelitian yang dilakukan oleh Marwa (2016:86) indikator yang
digunakan pada produk yaitu:

  1. Kepercayaan produk, yaitu bagaimana suatu produk tersebut dapat memenuhi
    kebutuhan konsumen secara modern.
  2. Manfaat produk, yaitu seberapa berharga produk tersebut dibandingkan dengan
    pesaingnya.
  3. Manfaat suatu produk yang ditawarkan suatu perusahaan kepada konsumen
    yaitu bagaimana produk tersebut mengandung manfaat nilai tambah dari produk
    itu sendiri sehingga menarik minat beli konsumen.
  4. Kekuatan nama pada merek produk, yaitu bagaimana kekuatan merek
    perusahaan dimata masyarakat.
  5. Kualitas layanan yang menyertai produk, yaitu bagaimana kualitas layanan
    yang diberikan oleh perusahaan ketika konsumen menggunakan produk
    tersebut.

Pengertian Produk


Menurut Kotler (2014:259) produk merupakan segala sesuatu yang
ditawarkan oleh penjual untuk dikenali, dicari, diminta, atau dipakai sehingga
konsumen memenuhi keperluan dan kemauan konsumen.
Menurut Lupiyoadi (2017:106), menyatakan bahwa pelanggan sebenarnya
bukan membeli barang atau jasa, tetapi pelanggan membeli manfaat dan nilai dari
produk yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen.
Menurut M. Mursid (2006: 71), produk lebih bergantung pada aspek fisik
konsumen seperti masalah layanan, kepuasan pengguna, simbol status, aspek
artistik, dan masalah psikologis lainnya

Bauran Pemasaran


Menurut Kotler dan Armstrong (2016:75), bauran pemasaran merupakan
metode pemasaran yang terus digunakan perusahaan untuk memenuhi misinya di
pasar sasaran.
Menurut Buchari Alma (2017:205) bauran pemasaran merupakan rencana
yang digabungkan dengan kegiatan penjualan sedemikian rupa yang pada akhirnya
diperlukan kombinasi yang maksimal untuk menghasilkan produk yang diharapkan
konsumen meningkat.
Dari beberapa penjelasan para ahli diatas, maka peneliti menyimpulkan
bauran pemasaran yaitu konsep untuk mengembangkan strategi pemasaran dalam
suatu perusahaan guna mendapatkan target penjualan sehingga pemasarannya
memuaskan.
Bauran pemasaran memiliki rancangan yang terdiri dari 4P, yakni:

  1. Produk (Product), suatu barang yang ditawarkan perusahaan untuk menarik
    perhatian konsumen untuk membeli dan mengkonsumsi, dan dapat memenuhi
    kebutuhan konsumen.
  2. Harga (Price) jumlah nilai yang ditetapkan penjual untuk suatu barang yang
    akan di beli dan dibayar oleh konsumen.
  3. Tempat (Place) lokasi yang disediakan perusahaan untuk membuat suatu
    barang yang akan dijual.
  4. Promosi (Promotion), suatu aktivitas yang dilaksanakan perusahaan untuk
    memberitahu pelanggan sebuah informasi mengenai produk yang dijual.
    Upaya pengembangan strategi pemasaran perlu menghadirkan pelayanan
    dan kepuasan pelanggan yang efektif, karena keempat konsep di atas memiliki
    hubungan dan pengaruh antara satu konsep dengan konsep lainnya.

Pengertian Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran merupakan kegiatan yang direncanakan dan
dijalankan oleh perusahaan. Perencanaan membutuhkan strategi dan keahlian yang
tepat untuk menentukan rencana tersebut. Peran manajemen pemasaran dalam
sebuah perusahaan sangatlah penting, ini termasuk menyiapkan produk yang lebih
inovatif, dengan memilih pangsa pasar yang diharapkan perusaahan, dan
mempromosikan produk baru kepada pembeli yang potensial.
Menurut Kotler dan Keller (2017:6), manajemen pemasaran merupakan
pasar sasaran untuk menarik, mempertahankan, dan meningkatkan konsumen
dengan menciptakan dan memberikan kualitas penjualan yang baik.
Menurut Tjiptono (2016:63), manajemen pemasaran secara keseluruhan
yaitu cara perusahaan melakukan bisnis yang mempersiapkan, menentukan, dan
mendistribusikan produk, jasa, dan gagasan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar
sasaran.
Menurut Assauri (2018:12), manajemen pemasaran merupakan kegiatan
menciptakan, mempersiapkan, melaksanakan rencana yang dilakukan perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan

Pengaruh Brand Image terhadap Keputusan Pembelian


Brand image merupakan faktor pendamping yang dapat memengaruhi
keputusan pembelian. Menciptakan merek yang menarik dan positif adalah
salah satu tanggung jawab penting perusahaan. Merek adalah salah satu elemen
penting yang membedakan suatu perusahaan dari yang lain. Dalam Putri (2022)
brand Image dapat didefinisikan sebagai pemikiran khusus tentang produk yang
terkait dengan suatu merek serta bagaimana konsumen menggambarkan produk
tersebut. Hal ini merupakan perasaan dan pikiran pelanggan saat melihat atau
mendengar nama merek. Brand image dalam hasil penelitian yang dilakukan
memiliki dampak positif dan berpengaruh signifikan terhadap keputusan
pembelian kosmetik halal oleh mahasiswi. (Zukhrufani, A., & Zakiy, M., 2019).
Brand image diduga berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk
kosmetik Wardah. (Devandri et al, 2023)

Pengaruh Beauty Influencer terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Widiastuti et al. (2019) Beauty influencer atau yang sering disebut
sebagai Beauty Vlogger, aktif dalam menyebarkan informasi seputar riasan
wajah dan produk kecantikan melalui video tutorial atau ulasan yang menarik
dan informatif. Mereka menggunakan kemampuan presentasi yang hebat dan
visual yang menarik untuk memengaruhi para wanita agar tertarik untuk
mencoba produk kecantikan tersebut. Influencer berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan Ms Glow di Kabupaten Lamongan Dj, Y. R., &
Sustyorini, E. S., 2022). Menurut influencer memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian pembeli skincare Scarlett Whitening
(Anjani & Simamora, 2022

Indikator Brand Image


Pandangan terhadap suatu merek berkaitan dengan sikap dan pilihan pada
merek tersebut. Ketika konsumen memiliki persepsi yang baik terhadap suatu
cenderung untuk membeli atau memiliki niat untuk membeli produk tersebut.
Menurut Kristanti (2020), Identifikasi brand image didasarkan pada kriteria-
kriteria berikut ini:
a) Brand image berkaitan dengan produk sehingga pembeli dengan mudah
mengidentifikasi dan membedakan.
b) Ciri khas merek menciptakan identitas unik bagi merek yang
mencerminkan karakteristik tertentu sehingga konsumen dapat dengan
cepat membedakannya.
c) Sikap merek dan perilaku terkait dengan bagaimana merek berhubungan
dan berinteraksi dengan pelanggan untuk menawarkan kelebihan dan
nilai yang dimiliki produknya.
d) Asosiasi merek mencakup elemen-elemen tertentu yang selalu
terhubung dengan merek tertentu.
e) Keunggulan merek serta manfaatnya terkait nilai yang diberikan merek
kepada pelanggan.
Indikator brand image menurut Kristanti (2020) pada penelitian ini
menggunakan tiga dari lima indikator yang ada.

Manfaat Brand Image


Pemberian merek yang tepat akan memberikan manfaat terhadap pembeli,
penjual, dan masyarakat (Bancin, 2021).
a) Manfaat terhadap pembeli yang melakukan pembelian produk dengan
merek yang sama, diyakini bahwa merek tersebut memiliki kualitas
terbaik, sehingga pembeli akan selalu membeli produk dengan merek
tersebut.
b) Manfaat terhadap penjual dengan terciptanya citra merek yang positif di
dalam suatu produk membuat produk tersebut memiliki keistimewaan
(ciri khas) yang tidak mudah ditiru oleh kompetitor.
c) Pemberian merek memiliki keuntungan bagi masyarakat karena dapat
meningkatkan efisiensi penjualan dengan menyediakan informasi
tentang produk yang ditawarkan

Pengertian Brand Image


Brand Image merupakan anggapan yang muncul dari seorang pelanggan
terhadap merek tertentu melalui informasi berupa iklan atau rekomendasi dari
orang lain (Prihani & Manurung, 2021). Menurut Wildan & Albari, 2023
Brand image adalah semua informasi yang terkait dengan produk yang
dirasakan oleh konsumen secara pribadi saat menggunakan produk, serta
pandangan mereka terhadap perusahaan yang memiliki merek tersebut
(Devandri et al., 2023). Berdasarkan pendapat para ahli, brand image
merupakan pandangan atau impresi yang tertanam di pikiran seseorang
terhadap suatu merek. Hal ini merupakan keputusan yang dapat berpengaruh
terhadap keputusan pembelian

Tujuan Influencer


Pada umumnya, klasifikasi didasarkan pada 3 tujuan utama, yaitu:
a) To Inform (Menginformasikan)
Seorang influencer bertujuan sebagai menyampaikan informasi kepada
orang lain. Membantu audiensi untuk mendapatkan pengetahuan yang
belum mereka dapat sebelumnya.
b) To Persuade (Membujuk)
Influencer berfungsi untuk mengajak dan mempengaruhi orang lain.
Saat seorang influencer mencoba meyakinkan, mereka akan berupaya
untuk membuat audiensi menerima pandangannya atau meminta untuk
menerima perasaan dan perilakunya.
c) To Entertain (Menghibur)
Tujuan utama terakhir dari seorang influencer adalah memberikan
hiburan kepada para pengikutnya. Konten informasi serta periklanan
yang dapat mempengaruhi untuk ditujukan pada hasil akhir dari proses
beriklan, sementara hiburan berfokus pada kesempatan untuk menarik
perhatian penonton dengan presentasinya sebagai bentuk penyampaian
isi dari iklan tersebut.

Pengertian Social Media Marketing


Menurut Pratiwi (2022) Social media marketing memiliki kemampuan
untuk memengaruhi keputusan pembelian dengan tampilan konten yang
menarik seperti video, foto atau gambar, dan caption tulisan yang mampu
mendorong konsumen untuk memiliki produk yang dijajakan melalui media
sosial. Social media marketing pendekatan pemasaran yang dikembangkan
untuk memperkenalkan atau meningkatkan brand image, menciptakan brand
awareness, dan meningkatkan penjualan produk kepada konsumen melalui
platform media sosial. Menurut perusahaan, penggunaan social media dalam
pemasaran memberikan manfaat yang signifikan. Pemasaran melalui media
sosial dianggap efektif dan efisien dalam memperkenalkan merek dan
mengubah preferensi konsumen dalam pengambilan keputusan

Indikator Keputusan Pembelian


Berdasarkan yang disampaikan Thomas (2013) indikator-indikator
seseorang dalam keputusan pembelian (N. R. Yunita et al., 2019):
a) Sesuai Kebutuhan
Ketika pemasar berhasil merangsang kesadaran pembeli terhadap
masalah atau kebutuhan tertentu. Hal ini membuat pembeli mulai
menyadari kebutuhan atau masalah yang mereka hadapi.
b) Mempunyai manfaat
Kondisi di mana pertimbangan mengenai kebutuhan pembeli menjadi
faktor utama. Sampai akhirnya membuat keputusan apakah akan
membeli barang tersebut.
c) Ketepatan dalam membeli produk
Saat pelanggan yakin akan membuat keputusan pembelian, mereka akan
menerima produk sesuai dengan keinginan mereka.
d) Pembelian berulang
Saat pelanggan yakin bahwa keunggulan merek sesuai dengan harapan,
bahkan dapat lebih tinggi atau melewati harapan, hal ini akan
berdampak pada sikap atau perilaku pembelian di masa depan.
Indikator keputusan pembelian menurut Thomas (2013) pada penelitian ini
menggunakan empat dari empat indikator yang ada

Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Amstrong, konsumen melewati lima langkah dalam
proses pengambilan keputusan pembelian (Harinie, 2023), yaitu:
a) Pengenalan Masalah
Sebuah proses perolehan dilakukan saat pembeli menyadari adanya
masalah atau kebutuhan, yang mungkin dipicu oleh dorongan internal
atau eksternal.
b) Pencarian Informasi
Pencarian informasi bisa dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu
heightened attention dan active information search. Tingkat heightened
attention adalah tingkat di mana konsumen secara lebih mudah
menerima informasi mengenai produk. Active information search
adalah tingkat ketika konsumen secara aktif menemukan informasi
dengan membaca bahan bacaan, menghubungi teman, menggunakan
internet, dan mengunjungi toko untuk mendapatkan pemahaman yang
lebih mendalam tentang produk.
c) Evaluasi Alternatif
Evaluasi alternatif merupakan komponen tentang pelanggan
membandingkan produk yang berbeda dan akhirnya membuat
keputusan tentang pilihan yang akan diambil.
d) Keputusan pembelian
Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, konsumen pada akhirnya
perlu mengambil keputusan apakah akan melakukan pembelian atau
tidak.
e) Perilaku Pasca Pembelian
Semua hal yang memengaruhi perilaku dan langkah-langkah dalam
proses pembelian terjadi sebelum atau pada saat pembelian dilakukan.
Meskipun demikian, evaluasi perasaan konsumen pasca pembelian juga
berpotensi mempengaruhi pembelian ulang dan testimoni pelanggan
terhadap produk atau merek kepada orang lain.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Nandasari & Suyanto (2021) menyatakan terdapat tiga elemen yang
memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Tiga faktor yang memainkan
peran dalam menentukan pilihan konsumen dalam memperoleh barang atau jasa
adalah:
a) Keputusan pembelian barang atau jasa oleh konsumen individual
dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yang mencakup kebutuhan,
persepsi, sikap, lokasi geografis, gaya hidup, dan karakteristik
kepribadian individu.
b) Ketika konsumen melakukan pembelian barang atau jasa, aspek
lingkungan menjadi faktor penting yang memainkan peran dalam
banyak pertimbangan, seperti tindakan meniru teman atau karena
tetangga sudah membeli sebelumnya. Oleh karena itu, interaksi sosial
konsumen dalam memilih barang atau jasa dipengaruhi oleh faktor-
faktor lingkungan sekitarnya.
c) Penerapan strategi pemasaran ini merujuk pada rangsangan pemasaran
yang diatur oleh pemasar atau pelaku bisnis.

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah komponen dari langkah-langkah dimana
konsumen mengambil proses tentang pembelian suatu merek. Hal ini sebagai
metode atau langkah yang harus dilalui oleh konsumen sebelum akhirnya
melakukan pembelian. Saat memulai proses pembelian, konsumen harus
membuat pilihan dari beberapa opsi yang tersedia. Dalam fase ini, konsumen
mengambil langkah-langkah untuk menentukan apakah akan membeli produk
berdasarkan opsi yang telah mereka kenali. (Kotler et al., 2022) mendefinisikan
keputusan pembelian merupakan proses evaluasi di mana pelanggan
menghasilkan preferensi di antara berbagai merek yang tersedia dan memilih
untuk dibeli.

Bauran Pemasaran


Untuk memahami elemen-elemen utama, pemasar dapat menetapkan
bauran pemasaran, yaitu faktor-faktor yang dapat dikendalikan oleh perusahaan
dan digunakan secara bersama-sama untuk memuaskan target pasar. Sebagai
mana disampaikan (Fakrudin et al., 2022), sebagai berikut:
a) Produk (Product)
Dalam strategi pemasaran, peran produk atau jasa memiliki kepentingan
yang sama dengan faktor promosi, produksi serta nilai jual.
Produk merupakan komponen penting dari strategi pemasaran, sehingga
barang memiliki peran yang sangat vital dalam strategi pemasaran.
Sebelum merumuskan strategi pemasaran yang lain, kita harus terlebih
dahulu menentukan jenis produk yang akan diproduksi dan dipasarkan.
Produk adalah hasil dari aktivitas produksi dan diperdagangkan oleh
suatu entitas bisnis.
b) Harga (Price)
Harga diartikan sebagai total nilai yang dikeluarkan seseorang untuk
membeli suatu produk tertentu, dan bisa ditetapkan dengan berunding
antara pihak pembeli dan penjual, atau dengan menetapkan harga tetap
untuk semua pembeli, transaksi dapat diselesaikan..
c) Distribusi (Place)
Saluran distribusi terdiri dari sejumlah lembaga yang bekerja sama
untuk memasok produk kepada konsumen atau pengguna industri.
Dalam hal kebijakan distribusi, perlu ditetapkan desain saluran yang
tepat.
d) Promosi (Promotion)
Promosi mengacu pada seluruh aktivitas yang dilakukan perusahaan
manufaktur untuk meningkatkan kualitas produk mereka dan membujuk
konsumen agar membelinya

Fungsi Pemasaran


Adapun fungsi untuk pemasaran yang menurut (Zainurossalamia, 2020)
adalah:
a) Pembelian (Buying)
Pembelian adalah kemampuan untuk melacak aktivitas, mencari dan
menyimpan barang-barang yang diperlukan dalam stok untuk
memastikan kebutuhan pelanggan terpenuhi. Pada dasarnya, fungsi ini
melibatkan mencari penjual dan merupakan bagian dari proses
penjualan. Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk memahami
aktivitas apa yang cenderung mengarahkan orang untuk melakukan
pembelian.
b) Penjualan (Selling)
Penjualan merupakan aktivitas yang dilakukan untuk menarik minat
pembeli potensial terhadap produk yang ditawarkan dengan tujuan
untuk mendapatkan keuntungan. Melakukan penjualan adalah kebalikan
dari melakukan pembelian. Membeli tidak dapat dilakukan tanpa
menjual, dan begitu juga sebaliknya.
c) Transportasi
Transportasi ialah perjalanan atau pengiriman barang dari satu lokasi ke
tempat lain.
d) Penyimpanan
Fungsi penyimpanan produk yang dibeli dalam persediaan adalah untuk
menghindari risiko kerusakan.
e) Informasi Pasar
Fungsi ini memberikan informasi mengenai kondisi umum perdagangan
produk, harga yang diinginkan konsumen, dan kondisi pasar secara
umum.

Pengertian Manajemen Pemasaran


Menurut Philip Kotler et al. (2022) “Manajemen pemasaran adalah
kombinasi antara keahlian dan pengetahuan dalam menentukan target pasar
untuk memperoleh, mempertahankan, serta meningkatkan jumlah konsumen
melalui pengembangan, implementasi, dan komunikasi nilai yang unggul
kepada konsumen”. Dalam pengertian lainnya sebagaimana yang disampaikan
oleh Yulianti et al. (2019) Manajemen Pemasaran melibatkan penelitian,
perencanaan, implementasi, dan pengawasan strategi manajemen pemasaran
yang bertujuan untuk memperkuat, memperluas, dan mempertahankan
hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak dan pasar yang
menjadi target guna mencapai misi perusahaan. Manajemen pemasaran dapat
dijelaskan sebagai bentuk untuk menganalisis, merencanakan, melaksanakan,
dan mengawasi konsep, produk, dan layanan dengan tujuan untuk memberikan
informasi dan menjaga hubungan yang efektif dan efisien dengan konsumen.

Pengertian Pemasaran


Pemasaran ini dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan jual dan beli yang
dilakukan oleh perorangan maupun kelompok demi memenuhi kebutuhan,
kepuasan serta tujuan dari konsumen. Pemasaran mencakup semua departemen
yang berhubungan dengan pemasaran untuk menarik dan mempertahankan
konsumen. Menurut (Kotler et al., 2022) Asosiasi Pemasaran Amerika
memberikan suatu definisi resmi yang menyatakan bahwa “Pemasaran
melibatkan aktivitas, entitas, serta langkah-langkah untuk menciptakan,
mengomunikasikan, dan menyalurkan penawaran yang bernilai kepada
konsumen dan pemangku kepentingan lainnya”. Menurut (Zainurossalamia,
2020) Pemasaran adalah satu dari kegiatan utama yang dilakukan oleh
pengusaha untuk menjaga keberlangsungan bisnis mereka, meningkatkan
perusahaan, dan mencari keuntungan maksimal. Oleh sebab itu, peran
pemasaran begitu penting dalam pengembangan strateg

Indikator Harga


Sebagai salah satu elemen bauran pemasaran, harga memiliki suatu
ukuran yang dapat mencirikan karakteristik harga tersebut. Indikator harga
yang dapat mencirikan suatu harga dikembangkan lagi oleh Kotler dan
Armstrong yang diterjemahkan oleh Bob Sabran (2014:52), menjelaskan ada
empat ukuran yang mencirikan harga yaitu keterjangkauan harga, kesesuaian
harga dengan kualitas produk, kesesuaian harga dengan manfaat, dan harga
sesuai dengan kemampuan atau daya saing harga. Empat ukuran harga yaitu
sebagai berikut :
a. Keterjangkauan harga
Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek harganya juga
berbeda dari yang termurah sampai termahal.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang
sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka
melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi orang
cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
c. Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang
dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk
mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil
dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa
produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk
melakukan pembelian ulang.
d. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
lainnya, dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat
dipertimbangkan. Berdasarkan pendapat diatas mengenai dimensi suatu
harga, maka dimensi harga ini merupakan bagian atau sub yang terdapat
dalam suatu harga yang dapat dijadikan suatu ukuran atau pertimbangan
dalam penetapan harga produk maupun jasa.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga


Dalam menentukan penetapan harga suatu perusahaan diperlukan suatu
penganalisaan yang tepat dan tajam kedepannya. Hal ini dikarenakan dalam
suatu penetapan harga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi penetapan harga. Bagi suatu perusahaan yang menetapkan
harga tidak harus memperhatikan harga pokok produk dan target keuntungan,
tetapi juga harus memperhatikan faktor-faktor lain. Menurut Tjiptono, F
(2013:146), menjelaskan ada dua faktor utama yang perlu dipertimbangkan
dalam menetapkan harga, yaitu faktor internal dan eksternal perusahaan.
Adapun yang termasuk kedalam faktor lingkungan internal perusahaan
adalah :
a. Tujuan pemasaran perusahaan
Faktor utama yang menentukan dalam penetapan harga adalah tujuan
pemasaran perusahaan. Tujuan tersebut bisa berupa maksimalisasi laba,
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, meraih pangsa pasar,
menciptakan kepemimpinan dalam hal kualitas, mengatasi persaingan, dan
melaksanakan tanggung jawab social dan lain-lain.
b. Strategi bauran pemasaran
Harga hanyalah salah satu komponen dari bauran pemasaran (marketing
mix). Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang sinergis dan saling
mendukung dengan bauran pemasaran lainnya

Metode Penetapan Harga


Metode penetapan harga secara garis besar dapat dikelompokan
menjadi empat kategori utama, yaitu metode penetapan harga berbasis
permintaan, berbasis biaya, berbasis laba, dan berbasis persaingan. Menurut
Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2014:77) yang
menjelaskan metode metode penetapan harga sebagai berikut :
a. Metode penetapan harga berbasis permintaan adalah suatu metode yang
menekankan pada faktor-faktor yang mempengaruhi selera dan referensi
pelanggan dari faktor-faktor seperti biaya, laba, dan persaingan.
Permintaan pelanggan sendiri didasarkan pada berbagai pertimbangan,
diantaranya yaitu :
1) Kemampuan para pelanggan untuk membeli (daya beli).
2) Kemauan pelanggan untuk membeli.
3) Suatu produk dalam gaya hidup pelanggan, yakni menyangkut apakah
produk tersebut merupakan simbol status atau hanya produk yang
digunakan sehari-hari.
4) Manfaat yang dapat diberikan produk tersebut pada pelanggan.
5) Harga produk-produk substitusi.
6) Pasar potensial bagi produk tersebut.
7) Perilaku konsumen secara umum.
b. Metode penetapan harga berbasis biaya faktor penentu harga dalam
metode ini yang utama adalah aspek penawaran atau biaya bukan aspek
permintaan. Harga ditentukan berdasarkan biaya produksi dan pemasaran
yang ditambah dengan jumlah tertentu sehingga dapat menutupi biaya-
biaya langsung, biaya overhead dan laba.
c. Metode penetapan harga berbasis laba metode ini berusaha
menyeimbangkan pendapatan dan biaya dalam penetapan harganya. Upaya
ini dapat dilakukan atas dasar target volume laba spesifik atau dinyatakan
dalam bentuk presentase terhadap penjualan atau investasi.
d. Metode penetapan harga berbasis persaingan selain berdasarkan pada
pertimbangan biaya, permintaan atau laba, harga juga dapat ditetapkan atas
dasar persaingan, yaitu apa yang dilakukan pesaing. Metode penetapan
harga berbasis persaingan terdiri dari customary pricing; above at, or
below market pricing; loss leader pricing dan sealed bid

Tujuan Penetapan Harga


Tujuan penetapan harga bisa mendukung strategi pemasaran yang
berorientasi pada permintaan primer apabila perusahaan meyakini bahwa
harga yang lebih murah dapat meningkatkan jumlah pemakai, tingkat
pemakaian atau pembelian ulang dalam bentuk atau kategori produk tertentu.
Tujuan penetapan harga menurut Suparyanto dan Rosad (2015:142), terdapat
beberapa tujuan ditetapkannya harga suatu produk, antara lain:
a. Mencapai keuntungan-keuntungan merupakan hasil perkalian antara omset
dan harga jual lalu dikurangi harga pokok produksi, biaya pemasaran, dan
biaya distribusi. Dengan demikian harga menjadi salah satu indikator
untuk mencapai tingkat keuntungan tertentu.
b. Mencapai tingkat penjualan perusahaan dapat menetapkan harga tertentu,
misalnya dengan harga jual rendah diharapkan mencapai tingkat penjualan
yang tinggi.
c. Mencapai pangsa pasar pangsa pasar merupakan jumlah pelanggan potensi
yang dimiliki oleh perusahaan. Harga dapat dijadikan sebagai strategi
untuk mencapai pangsa pasar yang tinggi. Jika perusahaan menetapkan
harga jual yang paling rendah dibandingkan dengan semua harga produk
pesaing, maka diharapkan dapat mencapai omset yang besar.
d. Menciptakan good image konsumen tidak menutup kemungkinan
memberikan penilaian baik terhadap produk perusahaan. Pada saat
perusahaan menetapkan harga produk yang tinggi secara tidak langsung
memberikan informasi bahwa produk tersebut memiliki kualitas yang
tinggi pula.
e. Mengurangi persediaan produk pada saat persediaan produk tertentu masih
menumpuk digudang padahal sudah mendekati waktu kadaluarsa, maka
perusahaan dapat menjualnya dengan harga lebih rendah supaya jumlah
persediaan tersebut dapat dikurangi dan perusahaan masih memperoleh
pendapatan.
f. Menjadi strategi bersaing pada umumnya konsumen lebih menyukai
produk dengan harga murah.

Penetapan Harga


Penetapan harga merupakan pemilihan yang dilakukan perusahaan
terhadap tingkat harga umum yang berlaku untuk suatu produk maupun jasa,
relatif terhadap tingkat harga para pesaing. Penetapan harga memiliki peran
strategik yang krusial dalam menunjang implementasi strategi pemasaran.
Menurut Indriyo (2014:268), penetapan harga merupakan harga produk yang
ditetapkan oleh perusahaan berdasarkan tiga dasar pandangan yang meliputi:
a. Biaya penetapan harga yang dilandaskan atas dasar biaya adalah harga
jual produk atas dasar biaya produksinya dan kemudian ditambah
dengan margin keuntungan yang diinginkan.
b. Konsumen penetapan harga yang dilandaskan atas dasar konsumen
yaitu harga ditetapkan atas dasar selera konsumen. Apabila selera
konsumen atau permintaan konsumen menghendaki rendah sebaiknya
harga.
c. Persaingan penetapan harga harga menurut kebutuhan perusahaan yaitu
berdasarkan persaingannya dengan perusahaan lain yang sejenis dan
merupakan pesaing- pesaingnya. Dalam situasi tertentu, sering terjadi
perusahaan harus menetapkan harga jualnya jauh di bawah harga
produksinya

Peran Harga


Harga memiliki dua peran penting terhadap konsumen. Pertama, harga
berperan sebagai sinyal kualitas produk dan yang kedua harga merupakan
suatu bentuk pengorbanan moneter yang harus dilakukan oleh konsumen
untuk memperoleh barang atau jasa tersebut Teas dan Agarwal (2015).
Pengaruh harga yang mengena sebagai berkenaan dengan kenyataan bahwa
isyarat harga (murah atau mahal dan atau tinggi atau rendah) ada pada semua
konsumen jumlah pengeluaran ekonomis yang harus dikorbankan untuk
terlibat dalam suatu transaksi pembelian. Selain itu harga adalah salah satu
faktor penting bahwa konsumen dalam mengambil keputusan untuk
melakukan transaksi atau tidak.
Menurut Tjiptono, F (2013:291), Secara garis besar peranan harga dapat
dijabarkan sebagai berikut:
a. Harga yang dipilih berpengaruh langsung terhadap tingkat permintaan dan
menentukan tingkat aktifitas. Harga yang terlampau mahal atau sebaliknya
terlalu murah berpotensi menghambat pengembangan produk. Oleh karena
itu, pengukuran sensitivitas harga amat penting dilakukan.
b. Harga jual secara langsung menentukan profitabilitas operasi.
c. Strategi penetapan harga harus selaras dengan komponen bauran
pemasaran lainnya. Harga harus dapat menutup biaya pengembangan ,
promosi, dan distribusi produk.
d. Berkurangnya daya beli di sejumlah kawasan dunia berdampak pada
semakin tingginya sensivitas harga, yang pada gilirannya memperkuat
peranan harga sebagai instrumen pendorong penjualan dan pangsa pasar.

Definisi Harga


Harga merupakan komponen penting dalam suatu pemasaran, dan harga
menjadi nilai ekonomis dari produk yang akan dijual. Sehingga harga yang
diberikan konsumen harus sebanding dengan apa yang didapatkan. Pengertian
harga menurut Indriyo Gitosudarmo (2014:271) harga merupakan ukuran
terhadap besar kecilnya nilai kepuasan seseorang terhadap produk yang
dibelinya.
Zakaria dan Astuti (2013:3) menjelaskan bahwa harga adalah sejumlah
uang yang dibutuhkan untuk mendapat sejumlah kombinasi dari barang
beserta pelayannya.
Lenzun et al., (2014:1239) menjelaskan bahwa harga adalah pernyataan
nilai dari suatu produk yang merupakan elemen bauran pemasaran yang
paling fleksibel.
Menurut Manus dan Lumanauw (2015:697) menyatakan harga
mempunyai peranan penting dalam proses pengambilan keputusan yaitu
peranan alokasi dari harga adalah membantu para pembeli untuk memperoleh
produk atau jasa dengan manfaat terbaik berdasarkan kekuatan daya belinya

Indikator Kualitas Produk


Menurut David Garvin yang dikutip kembali oleh Tjiptono, F
(2016:134) bahwa kualitas produk memiliki delapan dimensi, yaitu:
a. Kinerja, merupakan karakteristik operasi pokok dari produk inti (core
product) yang telah dibeli. Contohnya: kecepatan, kemudahan, dan
kenyamanan dalam penggunaan.
b. Fitur, yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap yang dimiliki suatu
produk sebagai daya tarik tersendiri. Contoh: layanan sekunder.
c. Kehandalan, adalah dimensi kualitas yang berhubungan dengan
kemungkinan sebuah produk dapat bekerja secara memuaskan pada
waktu dan kondisi tertentu. Contoh: kualitas jaringan sinyal pada cuaca
tertentu.
d. Kesesuaian dengan spesifikasi, adalah sejauh mana kinerja dan kualitas
memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Contoh:
standar karakteristik operasional.
e. Daya Tahan, daya tahan berkaitan dengan waktu penggunaan, yaitu
berapa lama produk tersebut dapat digunakan. Contoh waktu expired.
f. Kemampuan pelayanan, meliputi kecepatan, ketepatan, kompetensi,
kenyamanan, ketelitian, kemudahan direparasi, serta penanganan
keluhan dari konsumen secara memuaskan.
g. Estetika/Keindahan, daya tarik produk terhadap panca indera.
Contohnya: keindahan desain, keunikan, dan kombinasi.
Menurut Gregorius Chandra dalam Tuju dan Loindong (2018:1800),
dimensi kualitas produk terdiri dari:
a. Fitur (features)
Karakteristik pelengkap khusus yang bisa menambah pengalaman
pengguna produk, contohnya pemberian minuman gratis.
b. Kehandalan (reliabilitas)
Probabilitas terjadinya kegagalan atau kerusakan produk pada periode
waktu tertentu. Makin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan, makin
handal produk bersangkutan.
c. Konfirmasi (conformance)
Tingkat kesesuaian produk pada standar yang telah ditetapkan,
contohnya ketepatan waktu dalam berjanji kepada para pelanggan.
d. Daya tahan (durability)
Jumlah pemakaian produk sebelum produk berkaitan tersebut harus
diganti. Semakin besar frekuensi penggunaan normal yang
dimungkinkan, semakin besar juga daya tahan produk.
e. Estetika (aesthetics)
Berkaitan dengan penampilan produk yang bisa dinilai dengan panca
indra (rasa, bau, suara, dst).
f. Presepsi terhadap kualitas (perceived quality)
Kualitas yang dinilai berdasarkan reputasi penjual, misal BMW, SONY,
dll

Definisi Kualitas Produk


Produk merupakan inti dari sebuah kegiatan pemasaran karena produk
merupakan output atau hasil dari salah satu kegiatan atau aktivitas perusahaan
yang dapat ditawarkan ke pasar sasaran untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Pada dasarnya dalam membeli suatu produk, seorang
konsumen tidak hanya membeli produk, akan tetapi konsumen juga membeli
manfaat atau keunggulan yang dapat diperoleh dari produk yang dibelinya.
Oleh karena itu, suatu produk harus memiliki keunggulan dari produk-produk
yang lain, salah satunya dari segi kualitas produk yang ditawarkan. Kualitas
produk merupakan salah satu kunci persaingan diantara pelaku usaha yang
ditawarkan kepada konsumen.
Kualitas produk menurut Tjiptono, F (2016:105) menyatakan bahwa,
“Definisi konvensional dari kualitas adalah sebagai gambaran langsung dari
suatu produk seperti performasi, keandalan, mudah dalam penggunaan
estetika dan sebagainya. Dalam definisi stratejik, kualitas adalah segala
sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan
(meeting the needs of customer)”.
Kualitas Produk Menurut Wibowo (2014:113), kualitas didefinisikan
sebagai memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Berdasarkan Heizer dan
Render dalam (Wibowo 2014:113), mendefinisikan kualitas sebagai
kemampuan produk atau jasa memenuhi kebutuhan pelanggan.
Menurut Kotler and Armstrong dalam Putro et al., (2014:3) menyatakan
kualitas produk sebagai “the ability of a product to perform its functions. Its
includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of
operation and repair, and other valued attributes” yang artinya kualitas
produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk menjalankan
fungsinya, termasuk keseluruhan produk, keandalan, ketepatan, kemudahan
pengoperasian dan perbaikan, dan atribut bernilai lainnya

Produk


Produk merupakan elemen dasar dan penting dari bauran pemasaran
karena dengan produk perusahaan dapat menetapkan harga yang sesuai,
mendistribusikan produk mereka, dan menentukan komunikasi secara tepat
untuk pasar sasaran. Produk diciptakan dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen. Banyak orang menganggap produk
adalah suatu penawaran nyata, tetapi produk bisa lebih dari itu. Definisi produk menurut Alma Buchari (2013:139) yaitu “Produk
adalah seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak berwujud, termasuk
di dalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik, nama baik toko yang
menjual (pengecer), dan pelayanan pabrik.
Menurut Tjiptono, F (2016:231) “produk merupakan segala sesuatu
yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau
keinginan pasar bersangkutan”. Berdasarkan perspektif konsumen, produk
adalah segala sesuatu yang diterima pelanggan dari sebuah pertukaran dengan
pemasar. serta pelayanan pengecer, yang diterima oleh pembeli guna
memuaskan keinginannya”.
Pendapat lain menurut Kotler dan Keller (2016:389) yang menyatakan
bahwa “A product is anything that can be offered to a market to satisfy a
want or need, including physical goods, ser vices, experiences, events,
persons, places, properties, organizations, information, and ideas”.
Lain halnya menurut Kotler dan Armstrong (2018:244) menyatakan
bahwa “A product as anything that can be offered to a market for attention,
acquisition, use, or consumption that might satisfy a want or need”.

Indikator Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan dapat dilihat dari seberapa besar keinginan
pelanggan terhadap apa yang mereka dapatkan dari jasa atau pelayanan jasa
tersebut sesuai dengan kinerja yang mereka dapatkan. Indikator untuk
mengukur kepuasan pelanggan, menurut Indrasari (2019:92) adalah:
a. Kesesuaian harapan
kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi disimpulkan berdasarkan
kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan
kinerja perusahaan yang sebenarnya.
b. Minat berkunjung kembali
Menunjukkan kepuasan fasilitas yang diukur dari perasaan puas
pelanggan terhadap fasilitas yang telah diberikan dan disediakan oleh
pihak perusahaan.
c. Kesediaan merekomendasikan
kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan apakah pelanggan
akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut kepada orang lain
seperti, keluarga, teman, dan lainnya.
Menurut Hawkins dan Lonney dikutip dalam Tjiptono, F (2016:101)
indikator kepuasan pelanggan terdiri dari :
a. Kesesuaian harapan
merupakan tingkat kesesuaian antara kinerja jasa yang diharapkan oleh
konsumen dengan yang dirasakan oleh konsumen.
b. Minat berkunjung kembali
Merupakan kesediaan konsumen untuk berkunjung kembali atau
melakukan pemakaian ulang terhadap jasa terkait.
c. Kesediaan merekomendasikan
merupakan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan jasa yang
telah dirasakan kepada teman atau keluarga.
Menurut Kotler & Keller (2016:140) indikator kepuasan pelanggan
terdiri dari :
a. Kesesuaian harapan
Merupakan tingkat kesesuaian antara kinerja produk yang diharapkan
oleh pelanggan, meliputi :
1). Produk yang diperoleh sesuai atau melebihi dengan yang
diharapkan.
2). Pelayanan oleh karyawan yang diperoleh sesuai atau melebihi
dengan yang diharapkan.
3). Fasilitas penunjang yang didapat sesuai atau melebihi dengan yang
diharapkan.
b. Minat berkunjung kembali
Merupakan kesedian pelanggan untuk berkunjung kembali atau
melakukan pembelian ulang terhadap produk terkait, meliputi:
1). Berminat untuk berkunjung kembali karena pelayanan yang
diberikan oleh karyawan memuaskan.
2). Berminat untuk berkunjung kembali karena manfaat yang diperoleh
setelah mengkonsumsi produk.
3). Berniat untuk berkunjung kembali karena fasilitas penunjang yang
disediakan memadai.
c. Kesediaan merekomendasikan
Merupakan kesediaan pelanggan untuk merekomendasikan produk
yang telah dirasakan kepada teman atau keluarga, meliputi :
1). Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk yang
ditawarkan karena pelayanan yang memuaskan.
2). Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk atau jasa
yang ditawarkan karena fasilitas penunjang yang disediakan memadai.
3). Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk yang
ditawarkan karena nilai atau manfaat yang didapat setelah
mengkonsumsi sebuah produk jasa

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Menurut Zeithaml dan Bitner dalam Firmansyah (2018) faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan pelanggan sebagai berikut:
a. Kualitas pelayanan atau jasa, yaitu pelanggan akan merasa puas jika
mereka mendapatkan pelayanan yang baik dan sesuai dengan harapan.
b. Kualitas produk, yaitu pelanggan akan merasa puas jika produk yang
mereka gunakan berkualitas.
c. Harga, yaitu harga yang relatif murah dan produk yang memiliki
kualitas yang sama akan memberikan nilai yang lebih tinggi pada
pelanggan.
d. Faktor situasi, yaitu keadaan yang dialami pelanggan.
e. Faktor pribadi dari pelanggan, yaitu karakteristik yang sesuai dengan
kebutuhan pribadi.

Elemen-Elemen Kepuasan Pelanggan


Menurut Donni juni priansa (2017: p,210) lima elemen yang
menyangkut kepuasan konsumen adalah sebagai berikut:
a. Harapan (expectations) harapan konsumen terhadap suatu barang atau
jasa yang disusun sebelum pembelian barang atau jasa tersebut. Ketika
tahapan pembelian dilakukan, konsumen berharap barang atau jasa
yang diterima sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka.
Jika sesuai dengan harapan konsumen maka ia akan merasa puas.
b. Kinerja (performance) pengalaman konsumen terhadap kinerja aktual
barang atau jasa ketika digunakan tanpa dipengaruhi oleh harapan
mereka. Ketika kinerja aktual barang atau jasa berhasil maka konsumen
akan merasa puas.
c. Perbandingan (comparison) hal ini dilakukan dengan membandingkan
harapan kinerja barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi
kinerja aktual barang atau jasa tersebut. Konsumen akan merasa puas
ketika harapan sebelum pembelian sesuai atau melebihi persepsi mereka
terhadap kinerja actual produk.
d. Pengalaman (experience) parapan konsumen dipengaruhi oleh
pengalaman mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa
yang berbeda dari orang lain.
e. Konfirmasi (confirmation) dan Diskonfirmasi (disconfirmation)
konfirmasi atau terkonfirmasi terjadi jika harapan sesuai dengan kinerja
aktual produk. Sebaliknya diskonfirmasi atau tidak terkonfirmasi terjadi
ketika harapan lebih tinggi atau lebih rendah dari kinerja aktual produk.
Konsumen akan merasa puas ketika terjadi
confirmation/disconfirmation.

Faktor-Faktor Pendorong Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan terdapat faktor-faktor yang dapat mendorong
kepuasan pelanggan. Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mendorong
kepuasan pelanggan menurut para ahli. Menurut Irawan (2015:37), adalah :
a. Kualitas produk. Pelanggan akan puas kalau membeli dan
menggunakan suatu produk yang ternyata kualitasnya baik. Kualitas
produk ini adalah dimensi yang global dan kualitas paling tidak ada
terdapat 6 elemen, yaitu performance, durability, feature, reliability,
consistency, dan design.
b. Harga. Bagi pelanggan yang sensintif harga, biasanya harga murah
adalah sumber kepuasan yang penting karena mereka akan
mendapatkan value of money yang tinggi. Komponen harga ini relatif
tidak penting bagi mereka yang tidak sensitif terhadap harga.
c. Service quality. Service quality sangat tergantung pada tiga hal, yaitu
sistem, teknologi dan manusia. Faktor manusia memegang kontribusi
sekitar 70 %. Pembentukan attitude dan perilaku konsumen yang
seiring dengan keinginan perusahaan, bukanlah pekerjaan mudah.
Pembenahan harus dilakukan mulai dari proses perekrutan, training,
budaya kerja dst yang hasilnya baru terlihat setelah 3 tahun.
Dipersepsikan baik dan memuaskan, jika jasa yang diterima melampaui
harapan konsumen, maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan
berkualitas.
d. Emotional factor. Pelanggan akan merasa puas (bangga) karena adanya
emotional value yang diberikan oleh brand dari produk tersebut.
e. Biaya dan kemudahan. Pelanggan akan semakin merasa puas apabila
proses yang diberikan perusahaan relative mudah, nyaman dan efisien
dalam mendapatkan produk atau pelayanan.

Definisi kepuasan pelanggan


Upaya dalam memenuhi kepuasan pelanggan, perusahaan dituntut
untuk mengetahui perubahan kebutuhan dan keinginan pelanggan yang
hampir setiap saat berubah. Pembeli akan bergerak setelah membentuk
persepsi terhadap nilai penawaran, kepuasan sesudah pembelian tergantung
dari kinerja penawaran dibandingkan dengan harapannya. Kepuasan
pelanggan dapat dirasakan setelah pelanggan membandingkan pengalaman
mereka dalam melakukan pembelian barang/jasa dari penjual atau penyedia
barang/jasa dengan harapan dari pembeli itu sendiri. Harapan tersebut
terbentuk melalui pengalaman pertama mereka dalam membeli suatu
barang/jasa atas informasi pemasar dan pesaingnya. Pemasar yang ingin
berhasil dalam persaingan tentu harus memperhatikan apa yang diinginkan
pelanggan serta kepuasan pelanggannya.
Menurut Richard Oliver dalam Zeithaml., dkk (2018) kepuasan
pelanggan adalah respon pemenuhan dari pelanggan terhadap suatu produk
atau layanan itu sendiri yang telah memenuhi kebutuhan dan harapan
pelanggan.
Sedangkan menurut Pasuraman, Zeithaml, dan berry mengemukakan
kepuasan pelanggan adalah perasaan pelanggan terhadap jenis pelayanan
yang didapatkannya Firmansyah (2018).
Menurut Tjiptono, F (2016:200) kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara
persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapan-harapanya.

Bauran Pemasaran


Bauran pemasaran atau marketing mix memiliki peranan penting dalam
pemasaran yang dapat menghubungi konsumen untuk membeli produk atau jasa
yang ditawarkan. Bauran pemasaran juga menentukan keberhasilan perusahaan
dalam mengejar keuntungan (profit).
Definisi bauran pemasaran menurut Alma Buchari (2016:205), merupakan
strategi mencampuri kegiatan-kegiatan pemasaran, agar dicari kombinasi
maksimal sehingga mendatangkan hasil yang memuaskan.
Kemudian menurut Setyabudi and Suranto (2018:59), bauran pemasaran
adalah memiliki peranan pentinng yang dapat mempengaruhi konsumen sehingga
membeli suatu produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.
Berbeda halnya menurut Kotler dan Keller dalam Marketing Management
(2016:47), mendefinisikan bauran pemasaran sebagai seperangkat alat pemasaran
perusahaan menggunakan untuk mengejar tujuan pemasarannya dipasar sasaran.
Berikut adalah bauran pemasaran untuk produk menggunakan 4P menurut
Kotler dan Keller dalam Marketing Management (2016:47):

  1. Produk (product) suatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
    mendapatkan perhatian, agar produk yang dijual mau dibeli, digunakan
    atau dikonsumsi yang dapat memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan
    dari konsumen.
  2. Harga (price) sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat
    dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya
    ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar menawar, atau
    ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua
    pembeli.
  3. Tempat (place) tempat diasosiasikan sebagai saluran distribusi yang
    ditujukan untuk mencapai target konsumen. Sistem distribusi ini
    mencakup lokasi, transportasi, pergudangan, dan sebagainya.
  4. Promosi (promotion) sebagai salah satu cara pemasaran untuk
    mengkomunikasikan dan menjual suatu produk kepada konsumen yang
    berpotensi.
    Beda halnya dengan unsur-unsur bauran pemasaran jasa yang dijelaskan
    oleh Rambat Lupiyoadi (2014:92) yaitu:
  5. Produk (product)
    Keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan sejumlah nilai
    kepada konsumen.
  6. Harga (price)
    Sejumlah pengorbanan yang harus dibayar oleh pelanggan untuk
    memperoleh produk atau jasa.
  7. Tempat atau saluran distribusi (place)
    Hubungan dengan dimana perusahaan melakukan operasi atau
    kegiatannya.
  8. Promosi (promotion)
    Kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan manfaat
    produk dan sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan
    pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan kebutuhan.
  9. Orang (people)
    Orang-orang yang terlibat langsung dan saling mempengaruhi dalam
    proses pertukaran dari produk jasa.
  10. Proses (process)
    Gabungan semua aktivitas, terdiri dari prosedur, jadwal pekerjaan,
    mekanisme dan hal lain dimana jasa dihasilkan dan disampaikan kepada
    konsumen.
  11. Bukti atau lingkungan fisik perusahaan (physical evidence)
    Tempat jasa diciptakan, tempat penyedia jasa dan konsumen berinteraksi,
    ditambah unsur berwujud apapun yang digunakan untuk
    mengkomunikasikan atau mendukung peranan jasa tersebut.

Pemasaran


Di dalam dunia usaha, salah satu kegiatan yang harus dilakukan yaitu
pemasaran. Ketika berbicara tentang pemasaran pasti membutuhkan manajemen
agar kegiatan pemasaran bisa berjalan dengan lancar dan tepat sasaran.
Manajemen merupakan suatu proses mengelola atau mengatur suatu kegiatan
untuk mencapai tujuan tertentu melalui sekelompok orang yang dapat
mendatangkan hasil. Manajemen pemasaran termasuk upaya untuk
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan karena berhubungan langsung
dengan konsumen sebagai pemakai produk. Dalam era persaingan yang semakin
ketat pelaku usaha harus pandai dalam memilih strategi pemasaran yang
digunakan. Untuk lebih jelasnya berikut akan dijelaskan beberapa pengertian
manajemen yang dikemukakan para ahli.
Menurut Dayle dalam Sudaryono (2016:41), pemasaran adalah proses
manajemen yang berupaya memaksimumkan laba (retuns) bagi pemegang saham
dengan jalan menjalin relasi dengan pelanggan utama (valued customers) dan
menciptakan keunggulan kompetitif.
Berbeda halnya menurut Hasan (2014:1) menyatakan bahwa “pemasaran
merupakan sebuah konsep ilmu dalam strategi bisnis yang bertujuan untuk
mencapai kepuasan berkelanjutan bagi stakeholder (pelanggan, karyawan dan
pemegang saham)”.

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran terjadi ketika sebuah perusahaan dapat membuat
sebuah pertukaran pikiran tentang cara untuk menciptakan suatu tujuan pemasaran
produk untuk mencapai respons yang diinginkan pihak lain. Manajemen
pemasaran bertujuan untuk memenuhi keinginan konsumen, karenanya kita
memandang manajemen pemasaran (marketing management) sebagai seni dan
ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan
pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengomunikasikan nilai
pelanggan yang unggul.
Definisi manajemen pemasaran menurut Suparyanto & Rosad (2015:1)
adalah: “Manajemen pemasaran merupakan kegiatan penganalisisan, perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian program – program yang dibuat untuk membentuk,
membangun, dan memelihara keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar
guna mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang”.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2016:27) mengatakan bahwa:
“Marketing management as the art and science of choosing target markets and
getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and
communicating superior customer value”.

Green SCOR


Model Green SCOR merupakan pengembangan berdasarkan model yang
sudah ada sebelumnya yaitu model SCOR. Model ini dimodifikasi dari model
SCOR yang menambahkan aspek lingkungan ke dalam rantai pasok sehingga
model ini dijadikan alat untuk mengelola dampak lingkungan dari suatu rantai
pasok. Model SCOR merupakan model yang tercipta dari proses operasi supply
chain, Model SCOR juga mengintegrasikan tiga unsur utama manajemen, yaitu,
Business process Reengineering(BPR), Benchmarking, dan Best Practice Analysis
(BPA) kedalam kerangka lintas fungsi supply chain (Dheeraj & Vishal, 2012).
Terdapat 5 komponen utama dalam model Green SCOR yang digunakan dalam
penelitian ini, diantaranya (Kusrini, dkk., 2019):
a. Plan merupakan segala aktivitas yang berkaitan dengan produksi. Proses
plan melibatkan berbagai pihak. Plan yang digunakan yaitu terkait dengan
penggunaan sumber daya seperti air dan energi listrik pada setiap proses
produksinya.
b. Source merupakan kegiatan yang meliputi pengadaan bahan baku dan bahan
lain yang dibutuhkan dalam proses bisnis dan akan berkaitan dengan
pemasok.
c. Make merupakan kegiatan yang meliputi pemberian nilai tambah produk
yang ditawarkan kepada konsumen.
d. Delivery merupakan kegiatan yang meliputi proses pendistribusian produk
atau jasa yang ditawarkan kepada pelanggan.
e. Return merupakan kegiatan yang meliputi proses pengembalian produk baik
dengan kondisi apapun sebagai upaya meningkatkan produk .
f. Enable merupakan proses yang mendukung realisasi dan tata kelola
perencanaan dan pelaksanaan proses rantai pasokan.

Green Supply Chain Management (GSCM)


Green Supply Chain Management (GSCM) merupakan perluasan dari supply
chain tradisional dengan melibatkan kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi
dampak terhadap lingkungan hidup dari keseluruhan siklus produk, termasuk
diantaranya green design, pengurangan pengunaan sumber daya dan material
berbahaya serta daur ulang. GSCM menuntut banyak perusahaan untuk terus
menerus memperbaiki kinerja produksi perusahaannya dengan memenuhi
peraturan lingkungan. Bukan hanya itu, GSCM juga mewajibkan pembelian dari
pemasok memiliki sertifikat ISO-14000 atau yang memiliki komitmen eco-
efficiency (Qorri, 2018). GSCM memiliki tiga ruang lingkup yang penting dalam
teori teknologi modern dan juga penting bagi manajemen lingkungan serta
keberlangsungan secara umum. Pertama, penyertaan bagi manajemen lingkungan
dalam rantai manajemen yang terintegrasi. Kedua, integrasi dari inovasi teknologi
yang hasilnya bermanfaat bagi lingkungan melalui supply chain industri dengan
tujuan akhir yaitu penguatan kapasitas tata kelola lingkungan (Djunaidi, dkk.,
2018).
Green Supply Chain Management (GSCM) juga dipercaya dapat
mengurangi dampak negatif dari polusi tanah, polusi air dan polusi udara serta
limbah yang sisa energi, bahan hingga produk dari aktivitas industri (GAPKI,
2020). Penerapan GSCM juga dapat meningkatkan efisiensi industri dalam rantai
pasokan. Penerapkan GSCM yang berorientasi pada lingkungan, maka dapat
diketahui indikator – indikator performansi dari lingkungan, sehingga dapat
dilakukan tindakan perbaikan ataupun pencegahan. Perusahaan yang akan
menerapkan GSCM dan dapat mengidentifikasi bahwa GSCM dapat memberkan
hasil sehingga meningkatkan keuntungan finansial dan operasional (Heriyanto,
dkk., 2017).
Penerapakan konsep GSCM yang mengintegrasikan input yang ramah
lingkungan serta mendapatkan output yang dapat digunakan kembali pada akhir
siklus dan menciptakan supply chain yang berkelanjutan. Selain itu, GSCM juga
menjanjikan efisiensi antara rekan bisnis dan perusahaan korporat, membantu
meningkatkan performansi lingkungan, meminimasi limbah dan menghemat biaya
yang muncul (Siahaan, 2016).

Extended supply chain


Tingkat kompleksitas kegiatan supply chain yang terus meningkat sehingga
mengalami pengembangan. Tujuan dari pengembangan tersebut untuk
memberikan pertimbangan lingkungan pada seluruh kegiatan terkait proses
pengambilan bahan baku hingga proses pembuangan. Pada awalnya, perusahaan
memisahkan kinerja lingkungan dari kinerja operasional. Tetapi, seiring dengan
pengembangan maka pandangan terhadap lingkungan dianggap penting.
Perusahaan yang mengintegrasikan lingkungan berpotensi mendapat manfaat.
Secara spesifik manajemen lingkungan yang efektif akan menghindarkan biaya-
biaya sebagaiberikut (Mustaniroh, dkk., 2019).
a. Menghindarkan biaya pengadaan bahan yang berpotensi berbahaya serta
menyebabkan hubungan antara biaya internal dengan pencemaran
lingkungan.
b. Menghindarikan peningkatan biaya penyimpanan, pengaturan dan proses
pengolahan limbah terutama pada pengolahan limbah yang memiliki biaya
yang besar.
c. Menghindarkan biaya akibat penolakan pasar terhadap produk berbahaya
terhadap lingkungan.
d. Menghindarkan biaya akibat sikap pertentangan masyarakat dan peraturan
terhadap perusahan yang berbahaya bagi lingkungan.
e. Mereduksi risiko lingkungan dan kesehatan.

Direct supply chain


Direct supply chain atau rantai pasok langsung pada umumnya terdiri dari
sebuah perusahaan, pemasok, dan pelanggan yang terlbita dalam aliran hulu adan
hilir dari produk, jasa, keuangan, serta informasi. Pada awalnya, desain dari
supply chain terfokus pada pengoptimalan pengadaan bahan baku dari pemasok
dan pengiriman produk ke end-customer (Beamon, 1998):
a. Penjadwalan proses produksi dan ditribusi.
b. Tingkat persediaan, menentuntukan jumlah dan lokasi dari setiap
bahanbaku, sub-assembly, dan gudang final assembly.
c. jumlah tingkatan, yaitu penentuan jumlah tingkatan (Number of stages
atau eselon) yang membentuk supply chain.
d. Pusat distribusi, penentuan distribusi yang mana yang akan melayani
pelanggan.
e. Hubungan pembeli-supplier, yaitu penentuan dan pengembangan aspek
kritis antara pembeli-supplier.
f. Tahap spesifikasi pada diferensiasi produk, yaitu penentuan tahap
prosesproduk manufaktur yang telah dilakukan diferensiasi (spesialis).
g. Jumlah tipe produk yang telah disimpan, yaitu penentuan jumlah jenis
produkyang akan disimpan sebagai finished good inventory.

Supply Chain Management


Supply Chain (rantai pasok) merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari
jaringan – jaringan perusahaan (supplier, distributor, toko atau ritel) yang saling
berhubungan dengan aliran atau proses guna menciptakan dan mengantarkan
suatu produk ke konsumen akhir. Proses Supply Chain Management (SCM) yaitu
proses saat produk masih berbahan mentah, produk setengah jadi dan produk jadi
dan diubah serta dijual melalui berbagai fasilitas yang berhubungan dengan rantai
sepanjang arus produk dan material. Sehingga dapat disimpulkan bahwa supply
chain merupakan suatu pendekatan pada perusahaan yang melibatkan seluruh
kegiatan dari hulu ke hilir untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang di dalamnya
memiliki aliran dan transformasi suatu barang yang dimulai dari bahan baku hingga
ke pelanggan akhir dan serta terdapat aliran informasi dan uang (Nyoman, 2005).
Tujuan SCM yaitu dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan dari
pelanggan, memastikan persediaan produk, hingga mendapatkan keuntungan.
Selain itu dengan adanya SCM juga dapat mengendalikan aliran informasi yang
berkaitan dengan produk dan modal, agar tetap dapat bersaing secara kompetitif
(Hartati, 2018). SCM bukan hanya berfokus terhadap pengelolaan secara internal,
tetapi juga berfokus secara eksternal perusahaan yang berhubungan dengan
perusahaan partner. Supply chain management juga memiliki manfaat bagi suatu
industri atau organisasi. Manfaat SCM yaitu, dapat mengendalikan inventory,
menjamin kelancaran dari aliran barang dari pemasok hingga ke konsumen, kualitas
terjamin dan dapat memperbanyak supplier atau partnership (Sutawijaya, 2016).
Pada proses supply chain yang sempurna akan berfokus pada proses bisnis
yangberhubung dengan tujuan yang operasional. Manajemen rantai pasokan yang
lengkap memerlukan ratusan proses untuk diimplementasikan dengan secara
struktur, sehinggafokus dari proses bisnis yang kecil dapat memberikan manfaat
operasional dan finansial yang besar. Kemampuan proses bisnis mencakup proses
cross-functional, proses extended atau interenterprise, penggunaan dari optimasi
pengambilan keputusan, penggunaan pengambilan keputusan dan penggunaan dari
manajemen resiko. Berdasarkan tingkat kompleksitasitasnya, supply chain
dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu, direct supply chain, extended supply chain
dan ultimate supply chain (Febrianti, dkk., 2018).

Langkah dan Prosedur Metode Analytical Hierarcy Process (AHP)


Untuk memecahkan suatu maslah dengan menggunakan metode Analytical
Hierarchy Process (AHP) diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Mendefinisikan permasalahan dan menetukan tujuan.
  2. Menyusun masalah kedalam satu struktur hierarki sehingga permasalahan yang
    kompleks dapat ditinjau dari sisi yang detail dan terstruktur.
  3. Menyusun prioritas untuk tiap elemen masalah
  4. Melakukan pengujian konsistensi terhadap perbandingan antar elemen yang
    didapatkan pada tiap tingkat hirarki

Tahapan Metode Analytical Hierarcy Process (AHP)


Menurut Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani (1998), metode Analytical
Hierarchy Process (AHP) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan
    Dalam tahap ini terlebih dahulu menentukan masalah yang akan dipecahkan
    secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada kemudian tentukan
    solusi yang mungkin cocok bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin
    berjumlah lebih dari satu. Solusi tersebut nantinya dikembangkan lebih lanjut dalam
    tahap berikutnya.
  2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan utama
    Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun level hirarki
    yang berada dibawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk menilai alternatif
    yang diberikan dan menentukan alternatif tersebut. Tiap kriteria mempunyai
    intensitas yang berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika mungkin
    diperlukan).
  3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi
    relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat
    diatasnya.
    Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk
    kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan
    semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas
    secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks
    mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi.
    Perbandingan dilakukan berdasarkan judgement dari pengambil keputusan dengan
    menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk
    memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling
    atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang
    akan dibandingkan misalnya A1, A2, A3, A4, A5, An.
  4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian
    seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen
    kriteria yang dibandingkan

Kriteria Sukses Supply Chain Management (SCM)


Andi Ilham (2006) memaparkan kriteria sukses Supply Chain Management
terdapat empat yaitu : sesuai dengan strategi bisnis, mampu memenuhi keinginan
konsumen, mampu memahami posisinya dalam jaringan, dan adaptif.

  1. Sesuai dengan Stretegi Bisnis
    Banyak perusahaan gagal dalam Supply Chain Management (SCM), karena
    memandang Supply Chain Management (SCM) sebagai masalah operasional saja
    yang cukup ditangani oleh bagian logistik saja. Tanpa disadari bahwa dampak dari
    Supply Chain Management (SCM) sangat strategis karena bisa langsung
    mempengaruhi target strategis perusahaan.
    Strategi bisnis biasanya dinyatakan dalam visi menjawab pertanyaan strategi
    seperti : apa sasaran strategik organisasi, nilai apa yag diberikan ke konsumen, dan
    apa keunikan perusahaan dibanding pesaing. Supply Chain Management (SCM) yang
    sukses haruslah mendukung tercapainya visi tersebut, yang berarti pula Supply Chain
    Management (SCM) haruslah dirancang mengikutinya. Visi sendiri ditetapkan setelah
    mempertimbangkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi : kompetisi
    isi perusahaan, kebijakan bisnis dan sasaran keuangan. Sedangkan faktor eksternal
    meliputi ukuran pasar, peta persaingan, dan kebutuhan konsumen. Menurut Cohen
    dan Roussel (2005), terdapat empat strategi Supply Chain Management (SCM) yang
    utama yaitu biaya, inovasi, pelayanan, dan kualitas
  2. Comparative Judgement
    Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen
    pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan kriteria di atasnya. Penilaian ini
    merupakan inti dari Analytical Hierarchy Process (AHP), karena ia akan berpengaruh
    dalam menetukan prioritas dari elemen-elemen yang ada sebagai dasar pengambilan
    keputusan. Hasil dari penilaian ini disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan
    matriks perbandingan berpasangan (pairwase comparison)
  3. Synthesis of Priority
    Dari setiap matriks pairwase comparison (perbandingan berpasangan)
    kemudian dicari eigenvector dari setiap matriks perbandingan berpasangan untuk
    mendapatkan local priority karena matriks perbandingan berpasangan terdapat pada
    setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan sintesis di
    antara local priority. Prosedur melakukan sintesis berdeda menurut hirarki.
    Pengurutan elemen-elemen menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesis
    dinamakan priority setting. Global priority adalah prioritas/bobot subkriteria maupun
    alternatif terhadap tujuan hirarki secara keseluruhan/level tertinggi dalam hirarki.
    Cara mendapatkan global priority ini dengan cara mengalikan local priority
    subkriteria maupun alternatif dengan prioritas dari parent criterion (kriteria level di
    atasnya)
  4. Logical Conistency
    Konsitensi memiliki dua makna. Pertama adalah objek-objek yang serupa dapat
    dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Contohnya, anggur dan
    kelereng dapat dikelompokkan sesuai dengan himpunan yang seragam jika “bulat”
    merupakan kriterianya. Tetapi tidak dapat jika “rasa” sebagai kriterianya. Arti kedua
    adalah menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkan pada
    kriteria tertentu. Contohnya jika manis merupakan kriteria dan madu dinilai 5 kali
    lebih manis dibanding gula, dan gula 2 kali lebih manis dibanding sirup, maka
    seharusnya madu dinilai 10 kali lebih manis dibanding sirup. Jika madu dinilai 4 kali
    manisnya dibanding sirup, maka penilaian tidak konsisten dan proses harus diulang
    jika ingin memperoleh penilaian yang lebih tepat

Aktivitas / fungsi Supply Chain Management (SCM)


Supply Chain Management (SCM) ialah pendekatan antar-fungsi (cross
functional) untuk mengatur pergerakan material mentah kedalam sebuah organisasi
dan pergerakan dari barang jadi keluar organisasi menuju konsumen akhir (Pujawan,
2005). Sebagaimana korporasi lebih lebih fokus dalam kompetensi inti dan lebih
fleksibel, mereka harus mengurangi kepemilikan mereka atas sumber material mentah
dan kanal distribusi. Fungsi ini meningkat menjadi kekurangan sumber ke perusahaan
lain yang terlibat dalam memuaskan permintaan konsumen, sementara mengurangi
kontrol manajemen dari logistik harian. Pengendalian lebih sedikit dan partner rantai
suplai menuju ke pembuatan konsep rantai suplai. Tujuan dari Supply Chain
Management (SCM) ialah meningkatkan kepercayaan dan kolaborasi diantara
rekanan rantai suplai, dan meningkatkan inventaris dalam kejelasannya dan
meningkatkan percepatan inventori.
Secara garis besar, fungsi menejemen ini bisa dibagi tiga, yaitu distribusi,
jejaring dan perencanaan kapasitas, dan pengembangan rantai suplai. Beberapa model
telah diajukan untuk memamhami aktivitas yang dibutuhkan untuk mengatur
penggunaan material di organisasi dan batasan fungsional. skor adalah model Supply
Chain Management (SCM) yang dipromosikan oleh majelis Supply Chain
Management (SCM). Model lain adalah Supply Chain Management (SCM) yang
diajukan oleh Global Cupply Chain Forum (GSCF). Aktivitas suplai rantai bisa
dikelompokkan ke tingkat strategi, taktis dan operasional.

  1. Startegi Supply Chain Management (SCM)
    a. Optimalisasi jaringan strategis, termasuk jumlah, lokasi, dan ukuran gudang,
    pusat distribusi dan fasilitas.
    b. Rakanan strategis dengan pemasok suplai, distributor, dan pelanggan,
    membuat jalur komunikasi untuk informasi amat penting dan peningkatan
    operasional seperti cross doking, pengapalan langsung, dan logistik orang
    ketiga.
    c. Rancangan produk yang terkoordinasi, jadi produk yang baru ada bisa
    diintregasikan secara optimal ke rantai suplai, manajemen muatan.
    d. Rancangan produk yang terkoordinasi, jadi produk yang baru ada bisa
    diintregasikan secara optimal ke rantai suplai, manajemen rantai.
    e. Keputusan dimana membuat dan apa yang dibuat atau beli.
    f. Menghubungkan strategi organisasi secara keseluruhan dengan strategi
    pasokan/suplai.
  2. Taktis
    a. Kontrak pengadaan dan keputusan pengeluaran lainnya.
    b. Pengambilan keputuan produksi, termasuk pengontrakan, lokasi dan
    kualitas.
    c. Pengambilan keputusan inventaris, termasuk jumlah, lokasi, penjadwalan,
    dan definisi proses perencanaan
    d. Benchmarking atau pencarian jalan terbaik atas semua operasi melawan
    kompetitor dan implementasi dari cara terbaik di seluruh perusahaan
    e. Gaji berdasarkan pencapaian
  3. Operasional
    a. Produksi harian dan perencaan distribusi, termasuk semua hal di rantai suplai
    b. Perencanaan produksi untuk setiap fasilitas manufaktur di rantai suplai
    (menit ke menit)
    c. Perencanaan permintaan dan prediksi, mengkoordinasikan prediksi
    permintaan dari semua konsumen dan membagi prediksi dengan semua
    pemasok
    d. Perencanaan pengadaan termasuk yang ada sekarang dan prediksi
    permintaan, dalam kolaborasi dengan semua pemasok
    e. Operasi inbound, termasuk konsumsi material dan aliran barang jadi
    (finished goods)
    f. Operasi outbond, termasuk semua aktivitas pemenuhan dan transportasi ke
    pelanggan
    g. Pemastian perintah, penghitungan ke semua hal yang berhubungan dengan
    rantai suplai, termasuk semua pemasok, fasilitas manufaktur, pusat
    distribusi, dan pelanggan lain
  4. Strukturisasi
    Jika dilihat lebih dekat pada apa yang terjadi di dalam kenyataannya,
    istilah rantai pasokan mewakili sebuah serial sederhana dari hubungan antara
    komoditas dasar dan produk akhir. Produk akhir membutuhkan material
    tambahan kedalam proses manukfaktur

Keuntungan Supply Chain Management (SCM)


Berdasarkan pendapat Indrajit dan Djokopurwanto (2002), menyatakan bahwa
ada beberapa keuntungan Supply Chain Management (SCM), antara lain :

  1. Mengurangi inventory dengan berbagai cara
    Inventory merupakan bagian paling besar dari asal perusahaan yang berkisar
    antara 30% – 40%. Sedangkan biaya penyimpanan barang (inventory carrying cost)
    berkisar 20% – 40% dari nilai barang yang disimpan. Oleh karena itu, usaha dan cara
    harus dikembangkan untuk menekan penimbunan barang dalam gudang agar biaya
    dapat ditekan menjadi sedikit mungkin.
  2. Menjamin kelancaran penyediaan barang
    Kelancaran barang yang perlu dijamin adalah mulai dari barang asli (pabrik
    pembuat), supplier, perusahaan sendiri, wholesaler, retailer, sampai kepada final
    customer. Jadi, rangkaian perjalanan dari bahan baku sampai menjadi barang jadi dan
    diterima oleh pemakai atau pelanggan merupakan suatu mata rantai yang panjang
    yang perlu dikelola dengan baik.
  3. Menjamin mutu
    Mutu barang jadi (finished product) ditentukan tidak hanya proses produksi
    barang tersebut, tetapi juga oleh mutu dan bahan mentahnya dan mutu keamanan
    dalam pengirimannya. Jaminan mutu juga merupakan serangkaian mata rantai
    panjang yang harus dikelola dengan baik

Permasalahan Supply Chain Management (SCM)


Menurut Turban, Rainer, Porter (2004) Supply Chain Management harus
memasukkan problem di bawah :

  1. Distribusi konfigurasi jaringan : jumlah dan lokasi supplier, fasilitas, produksi,
    pusat distribusi (distribution centre/D.C), gudang dan pelanggan.
  2. Startegi diatribusi : sentralisasi atau desentralisasi, pengapalan langsung, berlabuh
    silang, strategi menarik atau mendorong, logistik orang ketiga.
  3. Informasi : sistem terintregasi dan proses melalui rantai suplai untuk membagi
    informasi berharga, termasuk permintaan, perkiraan, inventaris dan transportasi.
  4. Manajemen Inventaris : kuantitas dan lokasi dari inventaris termasuk barang
    mentah, proses kerja, dan barang jadi.
  5. Aliran dana : Mengatur syarat pembayaran dan metodologi untuk menukar dana
    melewati entintas di dalam rantai suplai.
    Eksekusi rantai suplai ialah mengatur dari koordinasi pergerakan material,
    informasi dan dana diantara rantai suplai tersebut. Alurnya sendiri dua arah

Komponen Supply Chain Management (SCM)


Menurut Turban et al. (2004), terdapat 3 (tiga) macam komponen Supply Chain
Management (SCM), yaitu :

  1. Rantai Suplai Hulu/Upstream supply chain
    Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan
    manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler,
    atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada para penyalur mereka (para penyalur
    second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua
    jalan dari asal material ( contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam
    upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.
  2. Manajemen Internal Suplai Rantai (Internal Supply Chain Management)
    Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke
    gudang yang digunakan dalam menstrarformasikan masukan dari para penyalur ke
    dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam
    organisasi. Perhatian yang utama dalam rantai supplai internal adalah manajemen
    produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.
  3. Segmen Rantai Suplai Hilir/ Downstream Supply Chain Management
    Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang
    melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply
    chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-
    service.

Tujuan Supply Chain Management (SCM)


Render dan Heizer (2010), menyatakan bahwa tujuan dari manajemen rantai
pasokan adalah membangun sebuah rantai pemasok yang memusatkan perhatian
untuk memaksimalkan nilai bagi perusahaan. Chopra dan Meindl (2004), berpendapat
bahwa tujuan dari Supply Chain Management (SCM) adalah untuk memaksimalkan
nilai keseluruhan yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan
pelanggan. Di sisi lain, tujuannya adalah untuk meminimalkan biaya keseluruhan
(biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya bahan baku, biaya transportasi, dan
lain-lain).
Sedangkan menurut Miranda (2001), mengungkapkan bahwa tujuan dari Supply
Chain Management (SCM) adalah memaksimalkan persaingan dan keuntungan
perusahan beserta seluruh anggotanya, termasuk pelanggannya

Supply Chain Management (SCM)


Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) adalah integrasi
aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi
dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan. Seluruh aktivitas ini mencakup
aktivitas pembelian dan pengalihdayaan (outsorching), ditambah fungsi lain yang
penting bagi hubungan antara pemasok dengan distributor (Barry Render dan Jay
Heizer, 2010).
Supply Chain Management (SCM) adalah sebuah “proses paying” dimana
produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah
supply chain (rantai pasokan) merujuk pada jaringan yang rumit dari hubungan yang
mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber
produksi dalam menyampaikan kepada konsumen (Kalaikota, 2000).
Supply Chain Management (SCM) merupakan suatu metode atau pendekatan
integrative untuk mengelola aliran produk, informasi dan uang secara terintegrasi
yang melibatkan pihak-pihak mulai dari hulu ke hilir yang terdiri dari supplier,
pabrik, jaringan distribusi maupun jasa-jasa logistik (I Nyoman Pujawan, 2005).
Christina Widya Utami (2006), menyatakan bahwa Supply Chain Management
(SCM), merupakan proses penyatuan bisnis dari pengguna akhir melalui para
penyalur asli yang menyediakan produk , jasa pelayanan, dan informasi untuk
menambah nilai pelanggan.
Supply Chain Management (SCM) adalah sebuah supply chain terdiri dari
perlibatan setiap mata rantai persediaan, baik itu secara langsung maupun tidak
langsung untuk memenuhi permintaan pelanggan (Copra dan Meidhl, 2004).
Yolanda M Siagian (2005) mengemukakan bahwa Supply Chain Management
(SCM) adalah interaksi antar fungsi pemasaran, produksi pada suatu perusahaan.
Memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan pelayanan dan penurunan biaya
dapat dilakukan melalui koordinasi dan kerjasama antara pengadaan bahan baku dan
pendistribusiannya.
Supply Chain Management (SCM) adalah koordinasi dari bahan, informasi dan
arus keuangan anatara perusahaan yang berpartisipasi. Supplay Chain Management
(SCM) bisa juga berarti seluruh jenis kegiatan komoditas dasar hingga penjualan
produk akhir ke konsumen untuk mendaur ulang produk yang sudah dipakai.

  1. Arus material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen
    melalui rantai, sama halnya dengan arus balik dari retur produk, layanan, daur
    ulang dan pembuangan.
  2. Arus informasi meliputi ramalan permintaan, transmisi pesanan dan laporan status
    pesanan, arus ini berjalan dua arah antara konsumen akhir dan penyedia material
    mentah.
  3. Arus keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat-syarat kredit, jadwal
    pembayaran dalam penetapan kepemilikan dan pengiriman (Kalaikota, 2000).
    Supply Chain Management (SCM) dipopulerkan pertama kali pada tahun 1982
    sebagai pendekatan manajemen persediaan yang menekankan pada pasokan bahan
    baku. Pada tahun 1990-an, isu manajemen rantai pasok telah menjadi agenda para
    manajemen senior sebagai kebijakan strategis perusahaan. Para manajer senior
    menyadari bahwa keunggulan daya saing perlu didukung oleh aliran barang dari hulu
    dalam hal ini pemasok hingga hilir dalam hal ini pengguna akhir secara efisien dan
    efektif. Tentunya secara bersamaan akan mengalir pula informasi (Setiawan., 2009).

Tantangan dalam Mengelola Supply Chain


Menurut I Nyoman Pujawan (2005) terdapat dua tantangan terbesar dalam
mengelola supply chain, yakni :
a. Tantangan 1 : Kompleksitas struktur supply chain
Kompleksitas dapat melibatkan internal perusahaan maupun eksternal
perusahaan. Pada interal perusahaan misalkan, antara bagian marketing dengan
produksi, marketing seringkali mambuat kesepakatan dengan pelanggan tanpa
melakukan pengecekan secara baik mengenai kemampuan produksi sehingga terjadi
perubahan jadwal produksi secara mendadak, disisi lain bagian produksi sering
merasa resistant terhadap adanya perubahan jadwal secara dadakan.
b. Tantangan 2 : Ketidakpastian
Ketidakpastian menimbulakn ketidakpercayadirian terhadap rencana yang
dibuat. Sebagai akibatnya, perusahaan sering menciptakan pengaman di sepanjang
supply chain. Pengaman ini bisa berupa safety stock, safety time, atau kapasitas
produksi maupun transportasi.
Sumber ketidak pasatian yaitu :

  1. Ketidak pastian pembeli
  2. Ketidak pastian dari supplier yaitu terkait dengan pengiriman, harga, kualitas
    maupun kuantitas.
  3. Ketidak pastian internal yang bisa disebabkan oleh kerusakan mesin, kinerja mesin
    yang tidak sempurna, tenaga kerja serta waktu maupun kualitas produksi

Kelembagaan Supply Chain


Kelembagaan rantai pasok adalah hubungan manajemen atau sistem kerja yang
sistematis dan saling mendukung di antara beberapa lembaga kemitraan rantai pasok
suatu komoditas. Kelembagaan tersebut mencapai satu atau lebih tujuan yang
menguntungkan semua pihak yang ada di dalam dan di luar kelembagaan tersebut.
Komponen kelembagaan kemitraan rantai pasok mencakup pelaku dari seluruh rantai
pasok, mekanisme yang berlaku, pola interaksi antarpelaku, serta dampaknya bagi
pengembangan usaha suatu komoditas maupun bagi peningkatan kesejahteraan
pelaku pada rantai pasok tersebut (Marimin dan Maghfiroh, 2011).
Bentuk kelembagaan rantai pasok pertanian pada saat ini terdiri dari dua pola,
yaitu pola perdagangan umum dan pola kemitraan. Pola perdagangan umum
melibatkan berbagai pelaku tataniaga yang umum ditemukan di banyak lokasi, antara
lain petani baik secara individu ataupun kelompok dan pedagang. Pola kemitraan
rantai pasok adalah hubungan kerja diantara beberapa pelaku rantai pasok yang
menggunakan mekanisme perjanjian atau kontrak tertulis dalam jangka waktu
tertentu.
Menurut Marimin dan Magfiroh (2011), pola kemitraan rantai pasok pertanian
umum dilakukan oleh petani, antara lain kemitraan petani dengan KUD atau asosiasi
tani dan petani dengan manufaktur atau pengolah. Gambaran kesepakatan kemitraan
rantai pasok yang umumnya terjadi adalah antara petani secara individu dengan KUD
atau asosiasi tani, kemitraan juga terjadi antara manufaktur dengan distributor.
Distributor di sini selaku supplier untuk retail modern seperti supermarket, supplier
untuk konsumen institusional seperti hotel, restoran, rumah sakit, supplier untuk
konsumen luar negeri atau supplier untuk industri pengolahan.
Keberhasilan kelembagaan rantai pasok komoditas pertanian tergantung sejauh
mana pihak-pihak yang terlibat mampu menerapkan kunci sukses (key success factor)
yang melandasi setiap aktivitas di dalam kelembagaan tersebut. Menurut Marimin
dan Maghfiroh (2011) kunci sukses ini teridentifikasi melalui penelusuran yang detail
dari setiap aktivitas di dalam rantai pasokan. Kunci sukses tersebut adalah :

  1. Trust Building
    Kepercayaan yang terbangun di antara anggota rantai pasokan mampu
    mendukung kelancaraan aktivitas rantai pasokan, seperti kelancaran pada transaksi
    penjualan, distribusi produk, dan distribusi informasi pasar.
  2. Koordinasi dan Kerja sama
    Koordinasi di antara anggota rantai pasokan sangat penting guna mewujudkan
    rantai pasokan, ketepatan pasokan mulai dari produsen hingga retail dan tercapainya
    tujuan rantai pasokan.
  3. Kemudahan Akses Pembiayaan
    Akses pembiayaan yang mudah disertai dengan bentuk administratif yang tidak
    rumit akan memudahkan pihak-pihak di dalam rantai pasokan dalam
    mengembangkan usahanya. Dengan mudahnya akses pembiayaan tersebut, maka
    diharapkan pengembangan usaha di bidang agribinis ini dapat berkembang dengan
    baik.
  4. Dukungan Pemerintah
    Peran pemerintah sebagai fasilitator, regulator, dan motivator sangat penting
    dalam mewujudkan iklim usaha yang kondusif dan struktur rantai pasokan yang
    mapan. Distribusi informasi pasar yang disediakan oleh pemerintah, kebijakan-
    kebijakan yang mengatur rantai pasok komoditas pertanian, penyediaan infrastruktur
    yang memadai, pendampingan dan pembiayaan oleh PPL serta pengadaan pameran
    atau ekshibisi produk pertanian dapat meningkatkan daya saing rantai pasokannya

Mekanisme Supply Chain


Pada hakikatnya, mekanime rantai pasok produk pertanian secara alami
dibentuk oleh para pelaku rantai pasok itu sendiri. Pada negara berkembang seperti
Indonesia, mekanisme rantai pasok produk pertanian dicirikan dengan lemahnya
produk pertanian dan komposisi pasar. Adanya kelemahan-kelemahan produk
pertanian, misalnya mudah rusak, musiman, jumlah yang banyak dengan nilai yang
relatif kecil, tidak seragam, dan lain-lain akan mempengaruhi mekanisme pemasaran,
seringkali menyebabkan fluktuasi harga yang akan merugikan pihak petani selaku
produsen (Marimin dan Maghfiroh, 2011).
Mekanisme rantai pasok produk pertanian dapat bersifat tradisional ataupun
modern. Mekanisme tradisional adalah petani menjual produknya langsung ke pasar
atau lewat tengkulak, dan tengkulak yang akan menjualnya ke pasar tradisional dan
pasar swalayan. Pada rantai pasok modern, petani sebagai produsen dan pemasok
pertama produk pertanian membentuk kemitraan berdasarkan perjanjian atau kontrak
antara petani dan mitra berdampak baik untuk keduanya. Petani mendapatkan
kepastian pembelian hasil panennya dengan harga yang telah disepakati, dan mitra
mendapatkan produk pertanian yang memiliki spesifikasi mutu yang telah disepakati
juga. Mekanisme ini tidak hanya memacu petani untuk terus meningkatkan mutu
hasil pertaniannya, tapi juga memacu pelaku rantai pasok yang lain seperti
manufaktur, distributor, dan retail untuk menjamin kualitas produk yang diinginkan
oleh pasar, sehingga produk dapat diterima oleh konsumen lokal maupun
mancanegara (Marimin dan Maghfiroh, 2011).

Supply Chain


Menurut Pujawan (2005:2) supply chain adalah suatu jaringan perusahaan
(supplier, pabrik, distributor, took atau ritel, serta perusahaan pendukung seperti
penyedia jasa logistik) yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan
menghantarkan suatu produk ke tangan konsumen. Pada supply chain biasanya
terdapat tiga macam yaitu aliran barang yang mengalir dari hulu atau upstream
menuju ke hilir atau yang disebut downstream. Contohnya adalah bahan baku yang
dikirim kepada distributor, kepengecer dan akhirmya ke konsumen akhir. Aliran
kedua yaitu aliran uang dari hilir ke hulu. Aliran ketiga yaitu aliran informasi yang
terjadi dari hilir ke hulu atau dari hulu atau dari hulu ke hilir

Fungsi-Fungsi Manajemen


Proses kegiatan-kegiatan manejemen tersebut terdiri dari :

  1. Perencanaan (Planning)
    Para manajer memikirkan kegiatan-kegiatan mereka sebelum dilaksanakan.
    Berbagai kegiatan ini biasanya pada berbagai metode, rencana atau logika, bukan
    hanya atas dasar dugaan atau firasat.
  2. Pengorganisasian (Organizing)
    Para manajer mengkoordinasikan sumber daya, sumber daya manusia dan
    material organisasi. Semakin terkoordinasi dan terintegrasi kerja organisasi, semakin
    efektif pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Pengkoordinasian merupakan bagian
    vital pekerjaan manajer.
  3. Pengarahan (Directing)
    Para manajer mengarahkan, memimpin dan mempengaruhi bawahan. Manajer
    tidak melakukan semua kegiatan sendiri, tetapi menyelesaikan tugas-tugas melalui
    orang-orang lain. Mereka juga tidak sekedar memberikan perintah, tetapi
    menciptakan iklim yang dapat membantu para bawahan melakukan pekerjaan secara
    paling baik.
  4. Pengawasan (Controlling)
    Para manajer berupaya untuk menjamin bahwa organisasi bergerak kearah
    tujuan-tujuannya. Bila beberapa bagian organisasi ada pada jalur yang salah, manajer
    harus membetulkannya.
    Semua fungsi-fungsi ini dilakukan pada semua fungsi-fungsi operasi yang ada
    dalam perusahaan, seperti fungsi produksi, pemasaran, keuangan dan tentunya
    personalia agar keseluruhan fungsi tersebut dapat berjalan dengan efektif dan efisien
    dalam pencapaian tujuan perusahaan.
    Dari definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
    a. Manajemen merupakan perpaduan antara ilmu dan seni.
    b. Manajemen merupakan proses yang sistematis, terkoordinasi, kooperatif, dan
    terintegrasi dalam memanfaatkan unsur-unsurnya (men, money, methods,
    materials, machines and market, yang disingkat 6M).
    c. Manajemen terdiri dari beberapa fungsi, yaitu perencanaan (planning),
    pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengendalian
    (controlling).
    d. Manajemen hanya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan

Pengertian Manajemen


Manajemen bukan merupakan istilah asing pada masa sekarang. Istilah
manajemen berasal dari Bahasa Inggris yaitu “To Manage” yang berarti memimpin
atau mengelola suatu aktivitas sekelompok manusia untuk mencapai sasaran yang
sebenarnya sudah ditetapkan secara menyeluruh. Oleh karena itu bila dilihat dari segi
perusahaan, sukses atau tidaknya suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya, sangat
tergantung kepada pelaksanaan dan pengelolaan manajemen perusahaan tersebut.
Manajemen hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Manajemen yang baik akan memudahkan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan,
dan masyarakat. Dengan manajemen diharapkan unsur-unsur manajemen akan dapat
ditingkatkan.
Terdapat banyak pengertian mengenai manajemen seperti yang ditulis oleh
beberapa ahli manajemen, dimana didalamnya memberikan rincian yang berbeda,
tetapi pada dasarnya memiliki kesimpulan yang serupa.
Menurut James A.F. Stoner dalam buku Handoko (2009 : 8) :
“Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber
daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang
telah ditetapkan”.
Menurut Marry Parker Follet dalam buku Handoko (2009 : 8) :
“Manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain”.
Menurut Hasibuan (2007 : 2) :
“Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumberdaya
manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai
tujuan tertentu”.
Sedangkan menurut Bernardine R. Wirjana (2007:11) definisi manajemen
sebagai berikut :
“Manajemen adalah suatu proses dimana orang-orang yang bertanggung jawab
dalam suatu organisasi, menyelesaikan tugas-tugas melalui upaya-upaya orang
lain dalam kegiatan kelompok”

Tipe-Tipe Strategi


Pada dasarnya akan memiliki tiga pokok bahasan, yaitu: (1) Strategi Generik
Porter, (2) Strategi Generik Glueck, (3) Strategi Utama.
1.Strategi Generik Porter
Dalam analisanya tentang strategi bersaing (competitive strategy atau disebut
juga Porter’s Five Forces) suatu perusahaan, Michael A. Porter mengintrodusir 3
jenis strategi generik, yaitu: Keunggulan Biaya (Cost Leadership), Pembedaan
Produk (Differentiation), dan Focus.
a. Strategi Biaya Rendah (cost leadership)
Strategi Biaya Rendah (cost leadership) menekankan pada upaya
memproduksi produk standar (sama dalam segala aspek) dengan biaya per unit
yang sangat rendah. Untuk dapat menjalankan strategi biaya rendah, sebuah
perusahaan harus mampu memenuhi persyaratan di dua bidang, yaitu: sumber
daya (resources) dan organisasi. Strategi ini hanya mungkin dijalankan jika
dimiliki beberapa keunggulan di bidang sumber daya perusahaan, yaitu: kuat akan
modal, trampil pada rekayasa proses (process engineering), pengawasan yang
ketat, mudah diproduksi, serta biaya distribusi dan promosi rendah. Sedangkan
dari bidang organisasi, perusahaan harus memiliki: kemampuan mengendalikan
biaya dengan ketat, informasi pengendalian yang baik, insentif berdasarkan target
(alokasi insentif berbasis hasil). (Umar, 1999).
b. Strategi Pembedaan Produk (differentiation)
Secara umum, terdapat dua bidang syarat yang harus dipenuhi ketika
perusahaan memutuskan untuk memanfaatkan strategi ini, yaitu: bidang sumber
daya (resources) dan bidang organisasi. Dari sisi sumber daya perusahaan, maka
untuk menerapkan strategi ini dibutuhkan kekuatan-kekuatan yang tinggi dalam
hal: pemasaran produk, kreativitas dan bakat, perekayasaan produk (product
engineering), riset pasar, reputasi perusahaan, distribusi, dan ketrampilan kerja.
Sedangkan dari sisi organisasi, perusahaan harus kuat dan mampu untuk
melakukan: koordinasi antar fungsi manajemen yang terkait, merekrut tenaga
yang berkemampuan tinggi, dan mengukur insentif yang subyektif di samping
yang obyektif. (Umar, 1999).
c. Strategi Fokus (focus)
Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya besaran pasar yang cukup
(market size), terdapat potensi pertumbuhan yang baik, dan tidak terlalu
diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai keberhasilannya (pesaing tidak
tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut). Strategi ini akan menjadi lebih
efektif jika konsumen membutuhkan suatu kekhasan tertentu yang tidak diminati
oleh perusahaan pesaing. Biasanya perusahaan yang bergerak dengan strategi ini
lebih berkonsentrasi pada suatu kelompok pasar tertentu (niche market), wilayah
geografis tertentu, atau produk barang atau jasa tertentu dengan kemampuan
memenuhi kebutuhan konsumen secara baik.
2.Strategi Generik Glueck
a. Strategi Stabilitas (stability)
Pada prinsipnya, strategi ini menekankan pada tidak bertambahnya produk,
pasar dan fungsi-fungsi perusahaan karena berusaha untuk meningkatkan efisiensi
di segala bidang dalam rangka meningkatkan kinerja dan keuntungan. Strategi ini
relatif rendah resiko dan biasanya dilakukan untuk produk yang tengah berada
pada posisi matang/dewasa (maturity).
b. Strategi Ekspansi (expansion)
Strategi ekspansi menekankan pada penambahan atau perluasan produk, pasar
dan fungsi dalam perusahaan sehingga aktivitas perusahaan meningkat. Tetapi
selain keuntungan yang ingin diraih lebih besar, strategi ini juga mengandung
resiko kegagalan yang tidak kecil.
c. Strategi Penciutan (retrenchment)
Strategi penciutan dimaksudkan untuk melakukan pengurangan atas pasar
maupun fungsi-fungsi dalam perusahaan yang memiliki aliran keuangan (cash-
flow) negatif. Biasanya strategi ini diterapkan pada perusahaan yang berada pada
tahap menurun (decline).
d.Strategi Kombinasi (combination)
Oleh karena berbagai perubahan eksternal seringkali hadir secara tidak
seragam (dan bahkan terkadang sulit diduga) terhadap berbagai lini produk
(product line) yang dihasilkan suatu perusahaan seperti daur hidup produk
(product life cycle) yang tidak seragam, maka perusahaan tersebut dapat saja
melakukan kombinasi atas ketiga jenis strategi di atas secara bersama.
3.Strategi Utama
Secara garis besar, terdapat 4 kelompok strategi utama dengan 14 tipe
turunannya. Keempatbelas tipe strategi tersebut adalah sebagai berikut:
1.Integration Strategies
a.Forward Integration
Integrasi ke hilir melibatkan upaya untuk memperoleh kepemilikan (saham
perusahaan) lebih besar atau meningkatkan kontrol terhadap para distributor dan
peritel. Salah satu bentuk/cara efektif untuk melakukan strategi ini adalah
waralaba (franchising). Begitu banyak perusahaan berminat di bidang ini sebagai
upaya untuk mendistribusikan produknya (barang maupun jasa). Salah satu alasan
terbesar hadirnya bentuk waralaba ini adalah realita bahwa model ini sebetulnya
merupakan upaya untuk membagi biaya dan peluang kepada banyak pihak.
b.Backward Integration
Integrasi ke hulu merupakan suatu strategi yang mengupayakan kepemilikan
atau meningkatkan kontrol terhadap perusahaan pemasok. Hal ini dibutuhkan
karena baik produsen maupun peritel selalu membeli bahan baku dari perusahaan
pemasok. Strategi ini menjadi menarik terutama ketika perusahaan pemasok yang
saat ini ada ternyata tidak dapat diandalkan (unreliable), terlalu mahal, atau tidak
dapat memenuhi kebutuhan perusahaan. Langkah ini dapat disebut sebagai upaya
“mengamankan” jalur pasokan perusahaan terhadap kebutuhan dalam rangka
proses produksinya.
c.Horizontal Integration
Strategi integrasi ke samping merupakan strategi yang dilakukan dalam
bentuk membeli atau meningkatkan kontrol terhadap perusahaan pesaing. Salah
satu kecenderungan paling signifikan dalam kompetisi perusahaan saat ini adalah
meningkatnya upaya untuk melakukan integrasi ke samping sebagai suatu strategi
pertumbuhan. Merjer, akusisi, dan pengambilalihan perusahaan yang sedang
bersaing memberikan peluang terjadinya skala ekonomi (economies of scale) serta
mendorong terjadinya transfer sumber daya dan kompetensi perusahaan. Dalam
artikelnya, Kenneth Davidson (Davidson, 1987) mengungkap bahwa merjer di
antara perusahaan yang tidak bergerak di bidang yang sama merupakan suatu
kesalahan. Tetapi merjer yang terjadi pada perusahaan yang sedang bersaing
langsung (direct competitors) memberikan peluang yang besar untuk menyatukan
potensi agar menjadi lebih efektif, efisien, dan kompetitif.
2.Intensive Strategies
Kelompok strategi ini disebut sebagai intensive strategies, karena
mensyaratkan berbagai upaya yang intensif untuk meningkatkan posisi kompetitif
perusahaan dengan produk yang ada. Kelompok strategi ini meliputi tiga strategi,
yaitu:
a. Market Penetration
Strategi penetrasi pasar berusaha untuk meningkatkan pangsa pasar untuk
produk atau layanan yang ada saat ini di dalam pasar yang ada saat ini melalui
upaya-upaya pemasaran yang lebih besar. Strategi ini umum diterapkan baik
sendiri maupun sebagai kombinasi dengan strategi lainnya. Termasuk di dalam
penetrasi pasar adalah meningkatan jumlah tenaga penjualan, peningkatan
pembelanjaan iklan, penawaran barang-barang promosi secara ekstensif (besar-
besaran), atau peningkatan upaya-upaya publisitas.
b. Market Development
Pengembangan pasar melibatkan upaya-upaya untuk mengenalkan produk
atau layanan yang ada saat ini kepada berbagai wilayah geografis baru.
Globalisasi dan iklim perkembangan pasar internasional semakin kondusif untuk
strategi ini. Hal ini dibutuhkan karena tidak jarang persaingan yang demikian
ketat pada suatu pasar tertentu menyebabkan pengalihan perhatian kepada pasar
yang baru merupakan solusi agar perusahaan tidak tersingkir dari arena bisnisnya.
c. Product Development
Pengembangan produk yang berusaha meningkatkan penjualan melalui
perbaikan atau modifikasi produk atau layanan yang ada saat ini. Biasanya strategi
pengembangan produk tercermin pada biaya penelitan dan pengembangan
(Research and Development) yang besar.
14

  1. Diversification Strategies
    Dari waktu ke waktu semakin sedikit perusahaan yang melakukan
    diversifikasi usaha, justru karena kompleksitas persoalan yang dimunculkan oleh
    strategi ini. Suatu kelompok usaha yang bergerak pada sektor yang beragam
    tentunya sangatlah sulit dikelola. Pada dekade 1960-an dan 1970-an, strategi
    diversifikasi menjadi populer karena setiap perusahaan berusaha semaksimal
    mungkin agar tidak tergantung hanya pada satu jenis usaha saja. Tetapi konsep
    pemikiran tersebut mulai surut sejak dekade 1980-an. Pada prinsipnya
    kecenderungan baru tersebut dimotori oleh keinginan untuk menjadi lebih baik
    dan tidak bergerak terlalu jauh dari basis kompetensi utama (core competence)
    setiap perusahaan.
    a. Concentric Diversification
    Diversifikasi terkonsentrasi merupakan suatu strategi yang menghasilkan
    produk atau layanan baru tetapi berhubungan/terkait dengan yang telah ada.
    b. Horizontal Diversification
    Jika suatu perusahaan menerapkan strategi yang menambah produk atau
    layanan baru yang tidak berhubungan/terkait dengan yang telah ada, tetapi
    ditujukan kepada pasar/ konsumen yang telah ada disebut sebagai diversifikasi
    horizontal.
    c. Conglomerate Diversification
    Ketika suatu perusahaan menambah suatu produk atau layanan baru yang
    tidak terkait/ berhubungan dengan yang sekarang ada, maka strategi tersebut
    disebut sebagai diversifikasi konglomerat. Pada beberapa kasus terjadi bahwa
    strategi ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan melalui
    aktivitas memecah perusahaan yang telah dibeli atau menjual kembali salah satu
    atau lebih devisinya.
    15
  2. Defensive Strategies
    Pada prinsipnya, strategi defensif ditujukan untuk mempertahankan eksistensi
    perusahaan dari semakin ketatnya persaingan bisnis dan berbagai ketidakpastian
    eksternal yang sulit (terkadang tidak mungkin) dikontrol dan diprediksi. Strategi
    defensif seringpula dikenal sebagai survival strategy, yang cenderung terjadi
    dalam suasana krisis ekonomi.
    a. Joint Venture
    Joint Venture, biasa disingkat JV, merupakan strategi yang sangat populer.
    Strategi ini muncul ketika dua atau lebih perusahaan membentuk suatu kerjasama
    atau konsorsium dalam rangka memanfaatkan peluang yang ada secara bersama-
    sama. Strategi ini masuk dalam kategori strategi defensif karena perusahaan yang
    melakukan JV tidak berminat untuk bekerja/ mengambil resiko sendiri. Tidak
    jarang, pihak-pihak yang bermaksud melakukan kerjasama tersebut membentuk
    suatu perusahaan baru dengan tujuan menjalankan kerjasama yang dimaksud. JV
    bisa terjadi dalam berbagai bentuk seperti R&D, jaringan dan sistem distribusi,
    kesepakatan linsensi, kesepakatan produksi, juga upaya untuk mengajukan
    penawaran bersama agar dapat memenangkan suatu tender.
    b. Retrenchment
    Strategi penciutan dilakukan ketika organisasi mengelompok kembali
    melalui reduksi biaya dan aset dalam upaya membalikkan proses penurunan
    penjualan dan laba perusahaan. Strategi ini terkadang dikenal sebagai strategi
    turnaround atau reorganizational. Tujuan dari strategi ini adalah untuk
    memperkokoh keunggulan yang membedakan (distinctive competences) yang
    dimiliki perusahaan. Pada masa strategi ini dijalankan, operasi perusahaan
    berjalan dengan sumber daya (terutama dana) yang terbatas dan akan berada pada
    kondisi penuh tekanan dari berbagai pihak seperti pemilik saham, pegawai, dan
    media.
    16
    c. Divestiture
    Menjual sebuah divisi usaha atau bagian dari organisasi perusahaan disebut
    sebagai strategi divestasi. Seringkali strategi divestasi dilakukan dalam rangka
    memperoleh dana segar bagi kepentingan investasi atau akuisisi strategik lebih
    lanjut atau di bidang lain yang lebih prospektif. Divestasi bisa pula merupakan
    bagian dari keseluruhan strategi penciutan untuk membersihkan/menyingkirkan
    berbagai bisnis yang tidak menguntungkan, yang membutuhkan terlalu banyak
    modal, atau bagian yang tidak sepenuhnya sesuai dengan aktivitas perusahaan.
    d. Liquidation
    Strategi likuidasi dapat diidentifikasi ketika perusahaan melakukan penjualan
    seluruh asetnya secara bagian per bagian untuk menghasilkan dana tunai.
    Likuidasi biasanya dipahami sebagai pengakuan atas kekalahan dan cenderung
    secara emosional sulit dijalani. Namun demikian, bisa dimengerti bahwa lebih
    baik menghentikan operasi daripada mengalami kerugian yang lebih besar.
    e. Combination
    Strategi kombinasi adalah perpaduan antara dua atau lebih strategi yang
    dijalankan secara simultan. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa strategi
    kombinasi harus dioperasikan secara sangat hati-hati karena jika terlalu dalam
    dalam membawa resiko yang lebih besar. Tidak ada perusahaan yang dapat
    menerapkan semua strategi secara bersamaan meskipun semuanya ditujukan
    utnuk memberikan keuntungan pada perusahaan. Dalam suatu perusahaan yang
    sangat terdiversifikasi, strategi kombinasi seringkali diterapkan ketika divisi-divisi
    yang ada menerapkan strategi berbeda. Demikian juga perusahaan yang sedang
    berusaha untuk mempertahankan operasinya (struggle for survival) biasanya
    menerapkan strategi kombinasi dari beberapa strategi defensif secara simultan

Manajemen Strategi


Manajemen strategis adalah seni dan ilmu untuk pembuatan (formulating),
penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan–keputusan
strategis antar fungsi yang memungkinkan sebuah perusahaan mencapai tujuan di
masa yang akan datang (Umar, 2001:7). Namun untuk saat ini konsep strategi
mengalami perkembangan, menurut (Andrew dan Chaffe diacu dalam (Umar
2001:9) strategi merupakan kekuatan motivasi untuk stakeholder baik secara
langsung maupun tidak langsung menerima keuntungan atau biaya yang
ditimbulkan oleh semua tindakan yang dilakukan. Proses manajemen strategis
berusaha mengorganisasikan informasi kuantitatif dengan cara yang
memungkinkan keputusan efektif diambil dalam kondisi tidak menentu.
Menurut David (2009:5), manajemen strategis merupakan seni dan
pengetahuan untuk menformulasikan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi
keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuannya.
Manajemen strategis akan membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan
peluang di masa yang akan datang, sehingga memungkinkan organisasi untuk
dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah. Selain itu, manajemen strategis
juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan,
sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategis
mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak
menggunakan sistem ini.
Menurut Aviantoro (2009) Manajemen Strategi sebagai suatu kerangka
kerja (Frame Work) Untuk menyelesaikan setiap masalah strategis didalam
perusahaan, terutama yang berkaitan dengan persaingan, maka para manajer
diajak untuk berpikir lebih banyak alternative yang dibangun dari suatu analisa
yang lebih teliti akan lebih menjajnjikan suatu hasil yang menguntungkan.
Ada beberapa manfaat yang diperoleh organisasi jika mereka menerapkan
manajemen Strategik, yaitu:
a.Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.
b.Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.
c.Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif.
d.Mengidentifikasi keunggulan komparatif suatu organisasi dalam lingkugan
yang semakin beresiko.
e.Aktivitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan
untuk mencegah munculnya masalah dimasa datang.
f.Keterlibatan karyawan dalam pembuatan strategi akan lebih memotivasi
mereka pada tahap pelaksanaannya.
g.Aktivitas yang tumpang tindih akan dikurangi.
h.keengganan untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi

Fungsi Supply Chain Dalam Bisnis


Adapun fungsi dari Supply Chain dalam sebagai berikut:
a.Perencanaan (Planning), Fungsi ini bermakna pembuatan rangkaian rencana
demi meraih tujuan dari suatu perusahaan.
b.Pengaturan (Organize), Artinya perusahaan harus mengorganisasi hal-hal
teknis dan nonteknis untuk mencapai tujuan.
c.Sumber daya manusia (Staff), Perusahaan memerlukan staf atau tenaga
kerja untuk menjalankan rencana yang sudah dibuat. Dengan begitu tujuan
perusahaan akan tercapai.
d.Instruksi (Directing), Perusahaan menghadirkan pedoman atau instruksi
yang ditaati oleh semua staf yang berperan mewujudkan rencana atau tujuan suatu
bisnis.
e.Pengawasan (Controlling), Fungsi pengawasan untuk memastikan bahwa
standar operasional dan instruksi yang diberikan selaras dengan tujuan dan
rencana perusahaan. Harapannya proses produksi berlangsung secara maksimal.

Generic Supply Chain (Rantai Pasokan Generik)


Rantai pasokan generik dimulai dengan pengadaan dan ekstraksi bahan
mentah. Bahan baku tersebut kemudian dibawa oleh penyedia logistik ke pemasok
yang bertindak sebagai pedagang grosir. Bahan-bahan tersebut dibawa ke
produsen, atau mungkin ke berbagai produsen yang menyempurnakan dan
memprosesnya menjadi produk jadi.
Setelah itu, ia pergi ke distributor yang menjual produk jadi, yang selanjutnya
dikirim ke pengecer. Pengecer menjual produk di toko kepada konsumen. Begitu
konsumen membelinya, ini menyelesaikan siklus, tetapi permintaanlah yang
kemudian kembali dan mendorong produksi lebih banyak bahan mentah, dan
siklus itu terus berlanjut.

Fungsi Supply Chain Dalam Bisnis


Adapun fungsi dari Supply Chain dalam sebagai berikut:
a.Perencanaan (Planning), Fungsi ini bermakna pembuatan rangkaian rencana
demi meraih tujuan dari suatu perusahaan.
b.Pengaturan (Organize), Artinya perusahaan harus mengorganisasi hal-hal
teknis dan nonteknis untuk mencapai tujuan.
c.Sumber daya manusia (Staff), Perusahaan memerlukan staf atau tenaga
kerja untuk menjalankan rencana yang sudah dibuat. Dengan begitu tujuan
perusahaan akan tercapai.
d.Instruksi (Directing), Perusahaan menghadirkan pedoman atau instruksi
yang ditaati oleh semua staf yang berperan mewujudkan rencana atau tujuan suatu
bisnis.
e.Pengawasan (Controlling), Fungsi pengawasan untuk memastikan bahwa
standar operasional dan instruksi yang diberikan selaras dengan tujuan dan
rencana perusahaan. Harapannya proses produksi berlangsung secara maksimal.

Supply chain


Rantai pasokan adalah rangkaian aliran bahan dan informasi yang terjadi di
dalam perusahaan dari pemasok bahan baku hingga konsumen dari produk akhir.
Ini adalah konsep yang menghubungkan perusahaan ke pemasok mereka, serta
memiliki di antara aktivitasnya pengendalian logistik aktivitas dan tanggung
jawab menganalisis pembelian. Rantai pasokan merupakan salah satu bidang
dengan investasi terbesar di perusahaan yang sukses karena telah menjadi alat
strategis dengan karakter multidisiplin dan transversal yang mempengaruhi semua
tingkatan strategis perusahaan. Ini mempengaruhi sektor dan pasar di mana
perusahaan akan bersaing, ditentukan oleh strategi perusahaan, bagaimana ia akan
bersaing, ditentukan oleh strategi bersaing dan tentu saja setiap area yang
terpengaruh dalam perusahaan, ditentukan oleh strategi fungsional (Porter, M.
2006)
Menurut Lambert & Cooper (1998) mendefenisikan rantai pasok sebagai
integrasi bisnis proses utama dari pengguna akhir melalui pemasok asli yang
menyediakan produk, layanan dan informasi yang menambah nilai bagi pelanggan
dan pemangku kepentingan lainnya. Defenisi ini juga dan sekaligus digunakan
oleh Global Supply Chain Forum (GSCF) pada tahun 2000. Dalam pemahaman
yang secara sederhana, rantai pasok merupakan rangkaian aliran barang/fisik,
informasi dan proses yang digunakan untuk mengirim produk atau jasa dari lokasi
sumber (pemasok) ke lokasi tujuan (pelanggan atau pembeli).
Rantai pasokan adalah seluruh sistem memproduksi dan memberikan produk
atau layanan, dari tahap awal sumber bahan baku hingga pengiriman akhir produk
atau layanan kepada pengguna akhir. Rantai pasokan menjabarkan semua aspek
dari proses produksi, termasuk kegiatan yang terlibat pada setiap tahap, informasi
yang sedang dikomunikasikan, sumber daya alam yang diubah menjadi bahan
yang berguna, sumber daya manusia, dan komponen lain yang masuk ke produk
atau layanan jadi. Supply chain adalah kunci dari perbaikan di galangan kapal
(Pena. dkk, 2019)
Memetakan rantai pasokan adalah salah satu langkah penting dalam analisis
eksternal dalam proses perencanaan strategis. Pentingnya meletakkan rantai
pasokan dengan jelas adalah membantu perusahaan mendefinisikan pasarnya
sendiri dan memutuskan di mana ia ingin berada di masa depan. Dalam
mengembangkan strategi tingkat perusahaan, perusahaan sering perlu membuat
keputusan apakah akan mengoperasikan satu lini bisnis atau masuk ke industri
terkait atau yang tidak terkait lainnya

Tahapan Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Green Supply Chain


Tahapan perancangan sistem pengukuran kinerja Green Supply Chain pada penelitian ini
adalah sebagai berikut :

  1. Tahap Penentuan Tujuan Strategis
    Tahap pertama dalam merancang sistem pengukuran kinerja Green Supply Chain adalah
    menentukan tujuan strategis. Tujuan strategis ditentukan berdasarkan atribut kinerja green SCOR
    (reliability, responsiveness, flexibility, cost, asset) yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan.
  2. Tahap Penentuan Key Performance Indicator (KPI)
    Setelah menentukan tujuan strategis tahap selanjutnya adalah menentukan indikator-
    indikator yang berpengaruh pada kinerja Supply Chain dimana indikator-indikator tersebut
    ditentukan berdasarkan tujuan strategis yang sudah ditentukan sebelumnya.
  3. Tahap Verifikasi KPI
    Tahap ketiga dalam perancangan sistem pengukuran kinerja Green Supply Chain adalah
    verifikasi KPI yang sudah ditentukan sebelumnya. Jika indikator-indikator tersebut sudah sesuai
    dengan perusahaan maka indikator tersebut bisa digunakan dalam perancangan sistem
    pengukuran kinerja green supply chain, jika tidak sesuai maka indikator tersebut dihapus dan
    kembali ketahap 2.
  4. Tahap Pembobotan KPI dengan Metode AHP
    Tahap terakhir dalam perancangan sistem pengukuran kinerja adalah pembobotan KPI
    yang sudah ditetapkan pada tahap sebelumnya. Pembobotan ini dilakukan dengan menggunakan
    metode AHP dengan menggunakan software expert choice.

Komponen Utama dalam Model Green SCOR


Menurut Ulfa (2018), terdapat 5 komponen utama dalam model Green SCOR yang
digunakan dalam penelitian ini, diantaranya :

  1. Plan, merupakan tahapan awal yang dilakukan di dalam seluruh rangkaian rantai pasok.
    Dalam model Green SCOR termasuk didalamnya perencanaan untuk meminimalkan
    konsumsi energi, penanganan dan penyimpanan bahan berbahaya, pembuangan limbah biasa
    dan berbahaya.
  2. Source, berfokus pada proses pengadaan bahan baku. Termasuk didalamnya pemilihan
    pemasok yang ramah lingkungan, packaging yang ramah lingkungan, bahan lolos quality
    control.
  3. Make, proses pembuatan produk dengan mempertimbangkan efeknya terhadap lingkungan.
    Indikatornya adalah produk berkualitas, bebas zat berbahaya, lebih cepat dari target dan
    efisien bahan.
  4. Deliver, merupakan proses untuk memenuhi permintaan pelanggan, meliputi pengelolaan
    pesanan, transportasi dan distribusi. Untuk deliver indikatornya adalah pengiriman di atas
    target, distribusi skala besar dan desain kemasan fleksibel.
  5. Return, merupakan kegiatan pengembalian produk karena berbagai alasan. Indikator dari
    return adalah memperbaharui produk dan minim pengembalian.
  6. Enable, proses yang memungkinkan untuk mendukung realisasi dan tata kelola perencanaan
    dan pelaksanaan proses rantai pasokan

Pengertian Model Green SCOR


Model Supply Chain Operation Reference (SCOR) dikembangkan oleh kelompok
perusahaan yang bergabung dalam Supply Chain Council (SCC). SCOR merupakan kerangka
untuk menggambarkan aktivitas bisnis antar komponen rantai pasok mulai dari suppliers sampai
ke customer. Konsep ini mengintegrasikan antara tiga elemen pokok dalam manajemen yaitu
business process reengineering, benchmarking, dan process measurement ke dalam kerangka
fungsi dalam supply chain (Ulfah, 2018).
Model Green SCOR merupakan hasil pengembangan dari model SCOR yang telah ada.
Model Green SCOR ini menambahkan beberapa pertimbangan yang terkait dengan lingkungan
didalamnya. Dengan begitu model ini dijadikan alat untuk mengelola dampak lingkungan dari
suatu rantai pasok. Tujuannya untuk menciptakan suatu analisis yang nantinya memberikan
gambaran akan hubungan dari fungsi rantai pasokan dengan aspek lingkungan agar tercipta
peningkatan kinerja manajemen diantara keduanya (Taylor, 2003)
Kesadaran akan pentingnya peran dari semua pihak untuk menciptakan produk yang
murah, berkualitas dan cepat inilah yang awalnya melahirkan sebuah konsep baru di tahun 1990-
an yaitu mengenai Supply chain. Menurut Harrison (2008) Supply chain adalah jaringan mitra
yang secara kolektif mengubah komoditas dasar (dihulu) kedalam produk jadi (dihilir) yang
bernilai bagi pelanggan akhir dan yang mengelola kembali dimasing-masing tahap.
Menurut Pujawan (2010) Supply chain merupakan jaringan perusahaan-perusahaan yang
secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan
pemakai akhir