Mekanisme Supply Chain


Pada hakikatnya, mekanime rantai pasok produk pertanian secara alami
dibentuk oleh para pelaku rantai pasok itu sendiri. Pada negara berkembang seperti
Indonesia, mekanisme rantai pasok produk pertanian dicirikan dengan lemahnya
produk pertanian dan komposisi pasar. Adanya kelemahan-kelemahan produk
pertanian, misalnya mudah rusak, musiman, jumlah yang banyak dengan nilai yang
relatif kecil, tidak seragam, dan lain-lain akan mempengaruhi mekanisme pemasaran,
seringkali menyebabkan fluktuasi harga yang akan merugikan pihak petani selaku
produsen (Marimin dan Maghfiroh, 2011).
Mekanisme rantai pasok produk pertanian dapat bersifat tradisional ataupun
modern. Mekanisme tradisional adalah petani menjual produknya langsung ke pasar
atau lewat tengkulak, dan tengkulak yang akan menjualnya ke pasar tradisional dan
pasar swalayan. Pada rantai pasok modern, petani sebagai produsen dan pemasok
pertama produk pertanian membentuk kemitraan berdasarkan perjanjian atau kontrak
antara petani dan mitra berdampak baik untuk keduanya. Petani mendapatkan
kepastian pembelian hasil panennya dengan harga yang telah disepakati, dan mitra
mendapatkan produk pertanian yang memiliki spesifikasi mutu yang telah disepakati
juga. Mekanisme ini tidak hanya memacu petani untuk terus meningkatkan mutu
hasil pertaniannya, tapi juga memacu pelaku rantai pasok yang lain seperti
manufaktur, distributor, dan retail untuk menjamin kualitas produk yang diinginkan
oleh pasar, sehingga produk dapat diterima oleh konsumen lokal maupun
mancanegara (Marimin dan Maghfiroh, 2011).