Kelembagaan rantai pasok adalah hubungan manajemen atau sistem kerja yang
sistematis dan saling mendukung di antara beberapa lembaga kemitraan rantai pasok
suatu komoditas. Kelembagaan tersebut mencapai satu atau lebih tujuan yang
menguntungkan semua pihak yang ada di dalam dan di luar kelembagaan tersebut.
Komponen kelembagaan kemitraan rantai pasok mencakup pelaku dari seluruh rantai
pasok, mekanisme yang berlaku, pola interaksi antarpelaku, serta dampaknya bagi
pengembangan usaha suatu komoditas maupun bagi peningkatan kesejahteraan
pelaku pada rantai pasok tersebut (Marimin dan Maghfiroh, 2011).
Bentuk kelembagaan rantai pasok pertanian pada saat ini terdiri dari dua pola,
yaitu pola perdagangan umum dan pola kemitraan. Pola perdagangan umum
melibatkan berbagai pelaku tataniaga yang umum ditemukan di banyak lokasi, antara
lain petani baik secara individu ataupun kelompok dan pedagang. Pola kemitraan
rantai pasok adalah hubungan kerja diantara beberapa pelaku rantai pasok yang
menggunakan mekanisme perjanjian atau kontrak tertulis dalam jangka waktu
tertentu.
Menurut Marimin dan Magfiroh (2011), pola kemitraan rantai pasok pertanian
umum dilakukan oleh petani, antara lain kemitraan petani dengan KUD atau asosiasi
tani dan petani dengan manufaktur atau pengolah. Gambaran kesepakatan kemitraan
rantai pasok yang umumnya terjadi adalah antara petani secara individu dengan KUD
atau asosiasi tani, kemitraan juga terjadi antara manufaktur dengan distributor.
Distributor di sini selaku supplier untuk retail modern seperti supermarket, supplier
untuk konsumen institusional seperti hotel, restoran, rumah sakit, supplier untuk
konsumen luar negeri atau supplier untuk industri pengolahan.
Keberhasilan kelembagaan rantai pasok komoditas pertanian tergantung sejauh
mana pihak-pihak yang terlibat mampu menerapkan kunci sukses (key success factor)
yang melandasi setiap aktivitas di dalam kelembagaan tersebut. Menurut Marimin
dan Maghfiroh (2011) kunci sukses ini teridentifikasi melalui penelusuran yang detail
dari setiap aktivitas di dalam rantai pasokan. Kunci sukses tersebut adalah :
- Trust Building
Kepercayaan yang terbangun di antara anggota rantai pasokan mampu
mendukung kelancaraan aktivitas rantai pasokan, seperti kelancaran pada transaksi
penjualan, distribusi produk, dan distribusi informasi pasar. - Koordinasi dan Kerja sama
Koordinasi di antara anggota rantai pasokan sangat penting guna mewujudkan
rantai pasokan, ketepatan pasokan mulai dari produsen hingga retail dan tercapainya
tujuan rantai pasokan. - Kemudahan Akses Pembiayaan
Akses pembiayaan yang mudah disertai dengan bentuk administratif yang tidak
rumit akan memudahkan pihak-pihak di dalam rantai pasokan dalam
mengembangkan usahanya. Dengan mudahnya akses pembiayaan tersebut, maka
diharapkan pengembangan usaha di bidang agribinis ini dapat berkembang dengan
baik. - Dukungan Pemerintah
Peran pemerintah sebagai fasilitator, regulator, dan motivator sangat penting
dalam mewujudkan iklim usaha yang kondusif dan struktur rantai pasokan yang
mapan. Distribusi informasi pasar yang disediakan oleh pemerintah, kebijakan-
kebijakan yang mengatur rantai pasok komoditas pertanian, penyediaan infrastruktur
yang memadai, pendampingan dan pembiayaan oleh PPL serta pengadaan pameran
atau ekshibisi produk pertanian dapat meningkatkan daya saing rantai pasokannya
