Green Supply Chain Management (GSCM) merupakan perluasan dari supply
chain tradisional dengan melibatkan kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi
dampak terhadap lingkungan hidup dari keseluruhan siklus produk, termasuk
diantaranya green design, pengurangan pengunaan sumber daya dan material
berbahaya serta daur ulang. GSCM menuntut banyak perusahaan untuk terus
menerus memperbaiki kinerja produksi perusahaannya dengan memenuhi
peraturan lingkungan. Bukan hanya itu, GSCM juga mewajibkan pembelian dari
pemasok memiliki sertifikat ISO-14000 atau yang memiliki komitmen eco-
efficiency (Qorri, 2018). GSCM memiliki tiga ruang lingkup yang penting dalam
teori teknologi modern dan juga penting bagi manajemen lingkungan serta
keberlangsungan secara umum. Pertama, penyertaan bagi manajemen lingkungan
dalam rantai manajemen yang terintegrasi. Kedua, integrasi dari inovasi teknologi
yang hasilnya bermanfaat bagi lingkungan melalui supply chain industri dengan
tujuan akhir yaitu penguatan kapasitas tata kelola lingkungan (Djunaidi, dkk.,
2018).
Green Supply Chain Management (GSCM) juga dipercaya dapat
mengurangi dampak negatif dari polusi tanah, polusi air dan polusi udara serta
limbah yang sisa energi, bahan hingga produk dari aktivitas industri (GAPKI,
2020). Penerapan GSCM juga dapat meningkatkan efisiensi industri dalam rantai
pasokan. Penerapkan GSCM yang berorientasi pada lingkungan, maka dapat
diketahui indikator – indikator performansi dari lingkungan, sehingga dapat
dilakukan tindakan perbaikan ataupun pencegahan. Perusahaan yang akan
menerapkan GSCM dan dapat mengidentifikasi bahwa GSCM dapat memberkan
hasil sehingga meningkatkan keuntungan finansial dan operasional (Heriyanto,
dkk., 2017).
Penerapakan konsep GSCM yang mengintegrasikan input yang ramah
lingkungan serta mendapatkan output yang dapat digunakan kembali pada akhir
siklus dan menciptakan supply chain yang berkelanjutan. Selain itu, GSCM juga
menjanjikan efisiensi antara rekan bisnis dan perusahaan korporat, membantu
meningkatkan performansi lingkungan, meminimasi limbah dan menghemat biaya
yang muncul (Siahaan, 2016).
