Andi Ilham (2006) memaparkan kriteria sukses Supply Chain Management
terdapat empat yaitu : sesuai dengan strategi bisnis, mampu memenuhi keinginan
konsumen, mampu memahami posisinya dalam jaringan, dan adaptif.
- Sesuai dengan Stretegi Bisnis
Banyak perusahaan gagal dalam Supply Chain Management (SCM), karena
memandang Supply Chain Management (SCM) sebagai masalah operasional saja
yang cukup ditangani oleh bagian logistik saja. Tanpa disadari bahwa dampak dari
Supply Chain Management (SCM) sangat strategis karena bisa langsung
mempengaruhi target strategis perusahaan.
Strategi bisnis biasanya dinyatakan dalam visi menjawab pertanyaan strategi
seperti : apa sasaran strategik organisasi, nilai apa yag diberikan ke konsumen, dan
apa keunikan perusahaan dibanding pesaing. Supply Chain Management (SCM) yang
sukses haruslah mendukung tercapainya visi tersebut, yang berarti pula Supply Chain
Management (SCM) haruslah dirancang mengikutinya. Visi sendiri ditetapkan setelah
mempertimbangkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi : kompetisi
isi perusahaan, kebijakan bisnis dan sasaran keuangan. Sedangkan faktor eksternal
meliputi ukuran pasar, peta persaingan, dan kebutuhan konsumen. Menurut Cohen
dan Roussel (2005), terdapat empat strategi Supply Chain Management (SCM) yang
utama yaitu biaya, inovasi, pelayanan, dan kualitas - Comparative Judgement
Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen
pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan kriteria di atasnya. Penilaian ini
merupakan inti dari Analytical Hierarchy Process (AHP), karena ia akan berpengaruh
dalam menetukan prioritas dari elemen-elemen yang ada sebagai dasar pengambilan
keputusan. Hasil dari penilaian ini disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan
matriks perbandingan berpasangan (pairwase comparison) - Synthesis of Priority
Dari setiap matriks pairwase comparison (perbandingan berpasangan)
kemudian dicari eigenvector dari setiap matriks perbandingan berpasangan untuk
mendapatkan local priority karena matriks perbandingan berpasangan terdapat pada
setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan sintesis di
antara local priority. Prosedur melakukan sintesis berdeda menurut hirarki.
Pengurutan elemen-elemen menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesis
dinamakan priority setting. Global priority adalah prioritas/bobot subkriteria maupun
alternatif terhadap tujuan hirarki secara keseluruhan/level tertinggi dalam hirarki.
Cara mendapatkan global priority ini dengan cara mengalikan local priority
subkriteria maupun alternatif dengan prioritas dari parent criterion (kriteria level di
atasnya) - Logical Conistency
Konsitensi memiliki dua makna. Pertama adalah objek-objek yang serupa dapat
dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Contohnya, anggur dan
kelereng dapat dikelompokkan sesuai dengan himpunan yang seragam jika “bulat”
merupakan kriterianya. Tetapi tidak dapat jika “rasa” sebagai kriterianya. Arti kedua
adalah menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkan pada
kriteria tertentu. Contohnya jika manis merupakan kriteria dan madu dinilai 5 kali
lebih manis dibanding gula, dan gula 2 kali lebih manis dibanding sirup, maka
seharusnya madu dinilai 10 kali lebih manis dibanding sirup. Jika madu dinilai 4 kali
manisnya dibanding sirup, maka penilaian tidak konsisten dan proses harus diulang
jika ingin memperoleh penilaian yang lebih tepat
