Supply Chain Operation Reference (SCOR)


Merupakan Supply Chain Operation Reference (SCOR) yang dikembangkan
oleh sebuah lembaga profesional yaitu Supply Chain Council (SCC) di tahun 1996.
Model acuan berbasis proses yang sering digunakan dalam pengukuran kinerja
rantai pasok adalah model Supply Chain Operations Reference (SCOR). Model
SCOR terkenal karena mampu menghubungkan business processes, performance
metrics, standard practices, dan people skills ke dalam sebuah struktur terpadu.
Menurut Pujawan (2005), model menginterasikan tiga elemen utama manajemen
yakni:

  1. Bussiness process reengineering pada dasarnya adalah menangkap proses
    yang kompleks sekarang sedang terjadi (as is) dan mendefinisikan proses
    yang diperkukan (to be).
  2. Benchmarking adalah kegiatan menangkat data kinerja operasional dari
    perusahaan sejenisnya. Tujuan internal kemudian ditentukan berdasarkan
    faktor-faktor performa terbaik di kelasnya.
  3. Process measurement digunakan untuk mengukur, mengontol dan
    meningkatkan proses rantai pasokan.
    Pengukuran kinerja dapat diukur dengan pendekatan dalam metode Supply Chain
    Operation Reference (SCOR) untuk mengetahui performansi supply chain
    (Setiawan dkk., 2020).
    SCOR diperbarui secara berkala untuk mencerminkan perubahan dalam
    proses bisnis rantai pasokan. Model SCOR terdiri dari proses rantai pasokan
    standar, atribut, dan indikator kinerja standar, praktik standar, dan keterampilan
    kerja standar. Pembaruan SCOR disusun dalam matriks, kriteria kinerja (reliability,
    responsiveness, agility, cost, manajemen aset) dan proses (plan, source, make,
    delivery, return, enable). Terlepas dari kesederhanaannya, model SCOR telah
    terbukti kuat dan berguna sebagai alat deskriptif, menganalisis, dan meningkatkan
    rantai pasokan. Dimana kinerja proses perusahaan dapat diukur secara objektif
    berdasarkan data yang diperoleh sehingga bisa melakukan evaluasi kinerja
    (Yusrianafi dkk,. 2021)