Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dalam Yuani (2019), dalam pelayanan
publik terdapat beberapa ciri-ciri kualitas layanan, diantaranya
adalah sebagai berikut :

  1. Ketepatan waktu dalam pelayanan
  2. Akurasi dalam pelayanan, yaitu tidak ada kesalahan dalam proses
    pelayanan
  3. Kemudahan dalam mendapatkan pelayanan, meliputi terdapat
    SDM yang memadai dan fasilitas yang mendukung, sehingga
    akses mudah dalam pelayanan
  4. Kesopanan dan keramahan
  5. Kenyamanan dalam mendapatkan pelayanan, meliputi
    ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, ketersediaan
    informasi yang lengkap
  6. Atribut pendukung, seperti fasilitas yang lengkap serta
    kebersihan ruangan

Dasar-dasar Pelayanan


Dalam melakukan serangkaian proses pelayanan publik,
tentunya penyedia jasa melakukan interaksi terhadap pihak penerima
jasa atau konsumen. Pihak penyedia jasa perlu memenuhi dasardasar pelayanan yang mencakup pengetahuan tentang dasar
pelayanan serta standar pelayanan yang diperoleh dari kegiatan
pelatihan bagi seluruh penyedia jasa publik. Menurut Kasmir (2017)
dalam (Yuani, 2019) berikut adalah dasar-dasar pelayanan
diantaranya adalah :

  1. Percaya diri dan bersikap ramah
  2. Berkata lembut dan mendengarkan pembicaraan
  3. Sopan santun
  4. Berkomunikasi secara baik dan benar
  5. Berpakaian rapi dan bersih

Unsur-unsur Pelayanan


Dalam serangkaian kegiatan pelayanan publik terdapat
beberapa unsur-unsur dalam kegiatan tersebut. Menurut Barata
(2007), terdapat empat unsur-unsur dalam pelayanan publik adalah
sebagai berikut :

  1. Penyedia layanan adalah pemilik sebuah layanan kepada
    pelanggan baik layanan berupa jasa atau service maupun
    penyediaan maupun penyerahan barang.
  2. Penerima layanan adalah individu maupun suatu kelompok yang
    menerima suatu layanan dari pihak penyedia
  3. Jenis layanan adalah suatu layanan yang diberikan kepada pihak
    konsumen, seperti jenis layanan jasa ataupun barang.
    13
  4. Kepuasan pelanggan merupakan unsur terpenting dalam
    pelayanan karena hal ini merujuk pada tujuan diadakannya
    pelayanan. Kepuasan pelanggan dapat mengacu pada tingkat
    kualitas layanan jasa maupun barang (Yuani, 2019).

Definisi Kepuasan Konsumen


Kepuasan Konsumen Menurut Tjiptono (2009:195), kepuasan atau
satisfaction berasal dari bahasa latin “statis” yang berarti cukup baik atau
memadai dan “facio” (melakukan atau membuat) sehingga secara sederhana
kepuasan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu
yang memadai. Sedangkan konsumen menurut Webster’s Dictionary dalam buku
Lupiyoadi (2013:211) mendefinisikan konsumen sebagai seorang individu atau
kelompok yang berulang kali datang ke tempat yang sama untuk memuaskan
keinginannya dengan memiliki suatu produk atau mendapatkan suatu jasa dan
memuaskan produk atau jasa tersebut.
Dalam menentukan tingkat kepuasan, seorang konsumen sering kali melihat
dari nilai lebih suatu produk dan kinerja pelayanan yang diterima dari suatu proses
pembelian produk atau jasa. Pencarian nilai oleh konsumen terhadap produk atau
jasa perusahaan kemudian menimbulkan teori yang disebut dengan nilai yang
diterima konsumen (customer value delivered), yaitu besarnya selisih nilai yang
diberikan oleh konsumen terhadap produk atau jasa perusahaan yang ditawarkan
kepadanya dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk
memperoleh produk atau jasa tersebut (Lupiyoadi, 2013:212).

Indikator Kepercayaan


Dalam penelitian ini kepercayaan dinilai berdasarkan berikut ini.
a. Kepercayaan terhadap layanan petugas
b. Kepercayaan terhadap fasilitas Hotel
c. Kepercayaan terhadap hotel
(Moorman et. al, 1992 dalam Gatot Yulianto dan Purwanto Waluyo, 2004:359).

Dimensi Kepercayaan


Menurut Mayer et al. (1995) faktor yang membentuk kepercayaan seseorang
terhadap yang lain ada tiga yaitu kemampuan (ability), kebaikan hati
(benevolence), dan integritas (integrity). Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:

  1. Kemampuan (Ability)
    Kemampuan mengacu pada kompetensi dan karakteristik penjual/ organisasi
    dalam mempengaruhi dan mengotorisasi wilayah yang spesifik. Dalam hal ini,
    bagaimana penjual mampu menyediakan, melayani, sampai mengamankan
    transaksi dari gangguan pihak lain. Artinya bahwa konsumen memperoleh
    jaminan kepuasan dan keamanan dari penjual dalam melakukan transaksi. Kim et
    al. (2003) menyatakan bahwa ability meliputi kompetensi, pengalaman,
    pengesahan institusional dan kemampuam dalam ilmu pengetahuan.
  2. Kebaikan hati (Benevolence)
    Kebaikan hati merupakan kemauan penjual dalam memberikan kepuasan yang
    saling menguntungkan antara dirinya dengan konsumen. Profit yang diperoleh
    penjual dapat dimaksimumkan, tetapi kepuasan konsumen juga tinggi. Penjual
    bukan semata-mata mengejar profit maksimum semata, melainkan juga memiliki
    perhatian yang besar dalam mewujudkan kepuasan konsumen. Menurut Kim et al.
    (2003), benevolence meliputi perhatian, empati, keyakinan, dan daya terima.
  3. Integritas (Integrity)
    Integritas berkaitan dengan bagaimana perilaku atau kebiasaan penjual dalam
    menjalankan bisnisnya. Informasi yang diberikan kepada konsumen apakah benar
    sesuai dengan fakta atau tidak. Kualitas produk yang dijual apakah dapat
    dipercaya atau tidak. Kim et al. (2003) mengemukakan bahwa integrity dapat
    dilihat dari sudut kewajaran (fairness), pemenuhan (fulfillment), kesetiaan
    (loyalty), keterus-terangan (honestly), keterkaitan (dependability), dan kehandalan
    (reliabilty).

Definisi Kepercayaan


Kepercayaan, Seperti yang dikutip Ishak dan Zhafitri (2011) menyatakan
kepercayaan adalah kesediaan untuk bergantung kepada pihak lain yang telah
dipercaya. Menurut Sunarto (2004) Kepercayaan konsumen adalah semua
pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat
konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya. Objek dapat berupa Pengaruh
Kepuasan dan Kepercayaan, produk, orang, perusahaan, dan segala sesuatu,
dimana seseorang memiliki kepercayaan dan sikap. Sedangkan Atribut adalah
karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek.
Sedangkan Manfaat (Benifits) adalah hasil positif yang diberikan atribut kepada
konsumen.
Para manajer harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap objek, atribut,
dan manfaat menunjukkan persepsi konsumen, dan karena itu, umumya
kepercayaan seorang konsumen berbeda dengan konsumen lainnya. Barnes
(2008:149) menyatakan bahwa ada beberapa elemen penting dari kepercayaan,
yaitu:
a) Kepercayaan merupakan perkembangan dan pengalaman dan tindakan masa
lalu.
b) Watak yang diharapkan dari partner, seperti dapat dipercaya dan dapat
diandalkan.
c) Kepercayaan melibatkan kesediaan untuk menempatkan diri dalam resiko.
d) Kepercayaan melibatkan perasaan aman dan yakin pada diri partner.

Definisi Fasilitas


Sebelum melakukan pembelian suatu barang atau jasa konsumen akan
dihadapkan pada suatu masalah pokok yaitu mengenai barang atau jasa apa yang
akan dibeli dimana melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan
mempergunakan barang- barang dan jasa ekonomis. Menurut Nirwana (2004:47)
fasilitas merupakan bagian dari variabel pemasaran jasa yang memiliki peranan
cukup penting, karena jasa yang disampaikan kepada pelanggan tidak jarang
sangat memerlukan fasilitas pendukung dalam penyampaiannya. Menurut Mudie
dan Cottam dalam Tjiptono (2004:46) unsur-unsur yang perlu dipertimbangkan
dalam menentukan fasilitas jasa adalah :

  1. Pertimbangan / Perencaan Spasial
    Aspek-aspek seperti simetri, proporsi, tekstur, warna, dan lain-lain
    dipertimbangkan, dikombinasikan, dan dikembangkan untuk memancing respon
    intelektual maupun emosional dari pemakai orang atau yang melihatnya.
  2. Perencanaan Ruangan
    Unsur ini mencakup perancangan inteior dan arsitektur, seperti penempatan
    perabotan dan perlengkapannya dalam ruangan, desain aliran sirkulasi dan lainlain.
  3. Perlengkapan / Perabotan
    Perlengkapan memiliki berbagai fungsi, diantaranya sebagai sarana pelindung
    barang-barang berharga berukuran kecil, sebagai barang pajangan, sebagai tanda
    penyambutan bagi para pelanggan, dan sebagai sesuatu yang menunjukkan status
    pemilik atau penggunanya.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (2008, p.30) Ada empat karakteristik jasa/ layanan yang
membedakannya dari barang yaitu:
1) Intangibility (tidak berwujud). Jasa berbeda dengan barang. Jika barang
merupakan suatu objek, alat, atau benda, maka jasa adalah suatu perbuatan,
kinerja, atau usaha. Konsep intangible pada jasa memiliki dua pengertian,
yaitu:
a) Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa
b) Sesuatu yang tidak dapat dengan mudah didefinisikan, diformulasikan,
atau dipahami secara rohani.

Perishability (tidak dapat disimpan). Jasa merupakan komoditas tidak tahan
lama dan tidak dapat disimpan, harus langsung dikonsumsi pada saat itu juga,
jika tidak jasa tersebut akan hilang begitu saja.

Inseparability (tidak terpisah antara produksi dan konsumsi). Barang
biasanya diproduksi, kemudian dijual lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa,
umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi
secara bersamaan.

Variability (outputnya tidak terstandar). Jasa bersifat sangat variabel yang
memiliki banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis, tergantung pada siapa,
kapan, dan dimana saja jasa tersebut dihasilkan. Para konsumen sangat peduli
akan variability yang tinggi dan seringkali mereka meminta pendapat kepada
orang lain sebelum memutuskan untuk memilih. Dalam hal ini, penyedia jasa
dapat melakukan dua tahap dalam pengendalian kualitas, yaitu:
a. Melakukan investasi dalam seleksi pelatihan personil yang baik .
b. Melakukan standarisasi proses pelaksana jasa.
Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menyiapkan suatu biro jasa yang
menggambarkan peristiwa dan proses jasa dalam suatu diagram alur, dengan
tujuan untuk mengetahui faktor- faktor potensial yang dapat menyebabkan
kegagalan dalam jasa tersebut.

Definisi Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang
diberikan mampu sesuai dengan ekspetasi pelanggan. Kualitas pelayanan bisa
diwujudkan melalui pemenuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan
penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan menurut Tjiptono
(2007:121).
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,
jasa, manusia, proses, lingkungan yang memenuhi melebihi harapan menurut
Fandy Tjiptono (2008). Menurut Freddy Rangkuti (2009), tingkat kualitas
pelayanan tidak dapat dinilai berdasarkan sudut pandang perusahaan tetapi harus
dipandang dari sudut pandang penilaian pelanggan. Karena itu, dalam
merumuskan strategi dan program pelayanan, perusahaan harus berorientasi
kepada kepentingan pelanggan dengan memperhatikan komponen kualitas
pelayanan.
Menurut Tjiptono (2011) kualitas jasa merupakan sesuatu yang dipersepsikan
oleh pelanggan. Pelanggan akan menilai kualitas sebuah jasa yang dirasakan
berdasarkan apa yang mereka deskripsikan dalam benak mereka. Pelanggan akan
beralih ke penyedia jasa lain yang lebih mampu memahami kebutuhan spesifik
pelanggan dan memberikan layanan yang lebih baik. Kualitas yang rendah akan
menimbulkan ketidakpuasan pada pelanggan, tidak hanya pelanggan yang makan
di restoran tersebut tapi juga berdampak pada orang lain. Karena pelanggan yang
kecewa akan bercerita paling sedikit kepada lima belas orang lainnya.
Dampaknya, calon pelanggan akan menjatuhkan pilihannya kepada pesaing
(Lupiyoadi dan Hamdani,2006)

Pengertian Pelayanan Publik


Definisi pelayanan menurut Kottler dalam Yuani (2019)
adalah suatu kegiatan yang terdapat keuntungan didalam suatu
kelompok tersebut dengan menyediakan kepuasan pelanggan dalam
bentuk jasa maupun produk secara fisik. Proses kegiatan ini terjadi
melalui interaksi secara langsung antar satu dengan lainnya.
Budiman Rusli didalam bukunya Lijan Poltak juga mengemukakan
bahwa pelayanan dapat diartikan sebagai pemberian jasa oleh
pemilik jasa kepada konsumen berupa hubungan interaksi,
kemudahan, kecepatan, kesopanan, dan ramah tamah yang
disampaikan melaui sikap saat memberikan pelayanan kepada
konsumen guna mencapai kepuasan konsumen (Yuani, 2019).
Gonroos dalam Ratminto (2005) juga menyampaikan
pendapatnya mengenai pelayanan bahwa hal tersebut merupakan
rangkaian kegiatan yang bersifat tersirat antara pemilik jasa dengan
konsumen dengna tujuan untuk memecahkan permasalahan yang
terjadi pada konsumen. Selain itu, pelayanan juga dapat berarti
sebagai pemenuhan ekspektasi konsumen dengan kecepatan,
kemudahan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi (Hamid,
2019).
Definisi pelayanan publik telah diatur dalam Undang- Undang
RI No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik bahwa :
“Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
dengan peraturan perundang- undangan bagi setiap warga
negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan
administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan
publik”

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parassuraman & Berry (2011:46) terdapat indikator
adanya kualitas penyelenggaraan pelayanan yang bertujuan untuk
mengetahui kualitas pelayanan yang dapat dirasakan secara nyata
oleh pihak penerima layanan. Hal ini tertuang pada lima dimensi
kualitas pelayanan adalah sebaga berikut:

  1. Tangible (Berwujud)
    Tingkat kualitas layanan dapat dilihat melalui saranan dan
    prasarana layanan secara fisik. Selain itu, juga dapat dilihat
    melalui kerapihan para staf penyedia layanan. Hal ini dapat
    menjadi tolak ukur dalam melihat apakah layanan ini memiliki
    kualitas yang baik atau buruk.
  2. Reliability (Keandalan)
    Indikator ini dapat menjadi acuan apakah layanan tersebut
    memiliki tingkat kualitas tinggi ataupun tidak, yakni dapat dilihat
    melalui kecermatan petugas, keandalan, dan keahlian petugas
    dalam melayani.
  3. Responsiveness (Ketanggapan)
    Ketanggapan merupakan salah satu indikator kualitas
    pelayanan tersebut baik atau buruk. Hal ini dapat dilihat dari
    kecakapan petugas dalam merespon sesuatu dan ketanggapan
    dalam menyelesaikan permasalahan.
  4. Assurance (Jaminan)
    Jaminan dalam pelayanan yang dimaksud yaitu petugas
    dapat memberikan kepercayaan, sehingga para konsumen merasa
    aman dan nyaman saat melakukan proses pelayanan. Jaminan
    dapat berupa jaminan ketepatan waktu, jaminan kepastian,
    keamanan, dan jaminan legalitas.
  5. Emphaty (Empati)
    Empati merupakan salah satu indikator yang menjadi tolak
    ukur dalam mengetahui kualitas layanan. Petugas bersikap rama,
    sopan santun, mengedepankan kepentingan publik, dan tidak
    berlaku diskriminatif memiliki layanan dengan kualitas yang baik
    (Mamopo, 2020).

Aspek-aspek Kualitas Pelayanan


Menurut Sinambela dalam Warni (2020) pada dasarnya,
pelayanan publik memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan
terhadap pihak penerima jasa. Maka dari itu, untuk memenuhi
harapan tersebut dibutuhkan nya kualitas pelayanan yang baik
dengan memenuhi aspek-aspek kualitas pelayanan sebagai berikut:

  1. Transparansi
    Pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa haruslah
    bersifat terbuka dalam infomasi terkait maupun pelayanan serta
    mudah dalam akses agar tidak mempersulit pihak penerima jasa.
  2. Akuntanbilitas
    Pelayanan harus sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang telah mengatur tentang pelayanan
  3. Partisipatif
    Pelayanan bersifat memenuhi kebutuhan masyarakat dan
    pemenuhan kepuasan serta dapat mendorong peran masyarakat
  4. Keseimbangan Hak dan Kewajiban
    Pelayanan harus mengedepankan aspek keadilan terhadap
    pihak penerima jasa
  5. Kesamaan Hak
    Pelayanan harus sama rata tidak memandang latar
    belakang, suku, ras, agama, dan status sosial masyarakat. Hal ini
    didasari karena setiap warga negara berhak mendapatkan kualitas
    pelayanan yang baik
  6. Kondisional
    Pelayanan bersifat sesuai dengan kondisi maupun
    kemampuan dari pihak penyedia maupun penerima jasas dengan
    tetap memperhatikan sifat efektif dan efisien.

Pengertian Kualitas


Menurut Goetsh dan Davis dalam Rahayu (2020) definisi dari
kualitas yaitu suatu kondisi barang, jasa, p roses yang memenuhi
harapan. Kualitas juga dapat berarti kesesuaian, kecocokan,
terhindar dari kecacatan, ataupun berkelanjutan, sehingga dapat
memenuhi ekspektasi konsumen (Rahayu, 2020). Menurut Tjiptono
dalam Yuani (2019) bahwa kualitas pelayanan dapat dilihat dari
persepsi dari para penerima jasa atas pelayanan jasa atapun barang
yang diberikan oleh pihak penyedia jasa, sebab persepsi ini dapat
menentukan kepuasan pihak konsumen sebagai penerima pelayanan.

Pengertian Pelayanan


Definisi pelayanan menurut Kotler dan Bloom dalam Fitri
(2023) merupakan suatu kegiatan atau aktivitas yang digerakkan
dalam suatu perkumpulan yang menawarkan suatu barang atau jasa
demi mencapai kepuasan terhadap konsumen. Sinambela dalam Fitri
(2023) juga mengemukakan bahwa pelayanan merupakan aktivitas
yang diselenggarakan oleh birokrasi pemerintah terhadap warganya
yang bertujuan untuk menawarkan suatu kepuasan dengan hasil yang
tidak selalu terikat pada produk ataupun sesuatu yang bersifat fisik.
Pelayanan publik menurut Pasalong (2010) dapat diartikan sebagai
bentuk pelayanan yang melayani kepentingan masyarakat yang
memiliki suatu utusan dalam organisasi tersebut yang sesuai dengan
tata cara yang telah diberlakukan. Jadi dapat diambil kesimpulan
definisi dari pelayanan publik merupakan suatu kegiatan yang
diselenggarakan oleh birokrasi pemerintah yang berfungsi untuk
melayani kepentingan masyarakat dalam bentuk keadministrasian.

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Irawan (2008) indikator kepuasan pelanggan yaitu :

  1. Perasaan puas (Dalam arti puas akan produk dan pelayanannya)
    Adalah ungkapan perasaan puas atau tidak puas dari pelanggan saat
    menerima pelayanan yang baik dan produk yang berkualitas dari
    perusahaan.
  2. Selalu membeli produk
    Adalah pelanggan akan tetap memakai dan terus membeli suatu
    produk apabila tercapainya harapan yang mereka inginkan.
  3. Akan merekomendasikan kepada orang lain
    Adalah pelanggan yang merasa puas setelah memakai suatu produk
    atau jasa akan menceritakannya kepada orang lain serta mampu
    menciptakan pelanggan baru bagi suatu perusahaan.
  4. Terpenuhinya harapan pelanggan setelah membeli produk
    Adalah sesuai atau tidaknya kualitas suatu produk atau jasa pasca

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan.


Menurut Tjiptono dan Chandra (2016:219) ada empat metode yang
digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan yaitu, sebagai berikut:

  1. Sistem Keluhan dan Saran
    Setiap organisasi yang berorientasi pada pelanggan (Costumer
    Oriented) perlu memberikan kesempatan yang luas kepada para
    pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan
    mereka. Media yang digunakan bisa berupa kotak saran yang
    diletakkan di tempat-tempat strategis (yang mudah di jangkau atau
    sering dilewati pelanggan), saluran telepon bebas pulsa dan lain-lain.
    Informasi-informasi ini dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi
    perusahaan dan memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan
    cepat untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul.
  2. Ghost Shopping
    Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
    pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk
    berperan atau bersikap sebagai pelanggan atau pembeli potensial
    produk perusahaan dan pesaing. Kemudian mereka melaporkan
    temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk
    perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam
    pembelian produk-produk tersebut. Selain itu, para ghost shopper juga
    dapat mengamati cara perusahaan dan pesaingnya melayani
    permintaan pelanggan, menjawab pertanyaan pelanggan dan
    menangani setiap keluhan.
  3. Lost Costumer Analysis
    Perusahaan sebaiknya menghubungi para pelanggan yang telah
    berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat
    memahami mengapa hal ini terjadi dan supaya dapat mengambil
    kebijakan perbaikan atau penyempurnaan selanjutnya.
  4. Survei Kepuasan Pelanggan
    Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan yang
    dilakukan dengan penelitian survei, baik survei melalui pos, telepon
    maupun wawancara pribadi. Melalui survei, perusahaan akan
    memperoleh tanggapan dan umpan balik (feed back) secara langsung
    dari pelanggan dan juga memberikan tanda (signal) positif bahwa
    perusahaan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan pelanggan.


Menurut Irawan (2009) terdapat 5 (lima) faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan merasa puas apabila hasil evaluasi mereka
    menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
    Konsumen rasional selalu menuntut produk yang berkualitas pada
    setiap pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh produk
    tersebut. Dalam hal ini kualitas produk yang baik akan memberikan
    nilai tambah dibenak konsumen.
  2. Kualitas pelayanan
    Kualitas pelayanan di bidang jasa akan membuat pelanggan merasa
    puas apabila mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai
    dengan yang mereka harapkan. Pelanggan yang puas akan
    menunjukkan kemungkinan untuk kembali membeli produk atau jasa
    yang sama. Pelanggan yang puas cenderung akan memberikan
    persepsi terhadap produk atau jasa sebuah perusahaan.
  3. Emosional
    Pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
    orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk
    dengan merek tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan
    yang lebih tinggi. Kepuasan yang diperoleh bukan karena kualitas
    dari produk tetapi nilai sosial atau self-esteem yang membuat
    pelanggan menjadi puas terhadap merek tertentu.
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
    yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
    konsumennya. Elemen ini mempengaruhi konsumen dari segi biaya
    yang dikeluarkan, biasanya semakin mahal harga suatu produk atau
    jasa, maka pelanggan atau konsumen memiliki nilai ekspektasi yang
    lebih tinggi.
  5. Kemudahan
    Pelanggan akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman, dan
    efisien dalam mendapatkan produk atau pelayanan.

Pengertian Kepuasan


Kepuasan pelanggan dapat dirasakan setelah pelanggan membandingkan
pengalaman mereka dalam melakukan pembelian barang atau jasa dari
penjual atau penyedia barang atau jasa dengan harapan dari pembeli itu
sendiri. Harapan tersebut terbentuk melalui pengalaman pertama mereka
dalam membeli suatu barang atau jasa, komentar teman dan kenalan, serta
janji dan informasi pemasar dan pesaingnya. Pemasar yang ingin unggul
dalam persaingan tentu harus memperhatikan harapan pelanggan serta
kepuasan pelanggan.
Menurut Kotler dan Keller (2012:128) kepuasan pelanggan adalah
perasaan senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan kinerja
(hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan.
Menurut Lovelock dan Wirtz (2011:74) kepuasan merupakan penilaian
mengenai ciri atau keistimewaan produk atau jasa, atau produk itu sendiri,
yang menyediakan tingkat kesenangan konsumen berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan konsumsi konsumen.

Dimensi yang Mempengaruhi Nasabah Menggunakan Internet Banking


Awamleh dan Fernandes (2005) mengemukakan adanya 3 (tiga) dimensi
yang menyebabkan nasabah menggunakan internet banking yaitu:

  1. Kebebasan (Independence)
    Nasabah bank dapat berinteraksi dengan bank tanpa harus
    berhubungan langsung dengan karyawan bank. Hal ini sangat berguna
    untuk mengurangi kekeliruan dalam berkomunikasi.
  2. Kesenangan (Convenience)
    Kenyamanan pada sisi lain dapat menggambarkan kesenangan
    seseorang untuk menggunakan layanan ini. Nasabah dapat
    menggunakan jasa perbankan ini dimana saja dan kapan saja selama
    24 jam non-stop.
  3. Keamanan (Security)
    Keamanan mengukur persepsi nasabah mengenai keselamatan dan
    keandalan layanan perbankan ini. Dalam hal ini penyedia internet
    banking menjamin resiko yang lebih kecil dari pada harus datang
    langsung ke bank yang bersangkutan untuk melakukan transaksi.
    Masalah keamanan menjadi dimensi yang mempengaruhi nasabah
    menggunakan internet banking, dengan layanan internet banking akan
    meminimalisir resiko yang ditimbulkan dari pada langsung ke bank
    yang bersangkutan untuk melakukan transaksi. Namun, keamanan
    dalam melakukan transaksi pada internet banking bukanlah
    sepenuhnya tanggung jawab pihak bank. Nasabah pun dituntut
    berperan aktif menjaganya.

Manfaat Internet Banking


Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2015) internet banking memberikan
banyak manfaat baik bagi nasabah, bank dan otoritas.

  1. Bagi nasabah
    Internet banking memberikan kemudahan bertransaksi dalam hal
    waktu tempat, dan biaya. Nasabah tidak perlu mendatangi kantor
    bank untuk memperoleh informasi atau melakukan transaksi
    perbankan. Bahkan untuk beberapa produk e-banking nasabah dapat
    bertransaksi selama 24 jam dengan menggunakan laptop atau
    perangkat mobile seperti telepon seluler yang dapat dibawa kemana
    saja selama terhubung dengan jaringan internet atau SMS.
  2. Bagi Bank
    Bagi bank, internet banking meningkatkan pendapatan berbasis
    komisi (fee based income) dan mengurangi biaya operasional
    apabila dibandingkan dengan pelayanan transaksi melalui kantor
    cabang yang relatif besar untuk membayar karyawan, sewa gedung,
    pengamanan, listrik, dan lainnya.
  3. Bagi otoritas
    Bagi otoritas, perkembangan teknologi internet banking mendorong
    mewujudkan masyarakat less cash society. Less cash society adalah
    gaya hidup dengan menggunakan media transaksi atau uang
    elektronik dalam bertransaksi sehingga tidak perlu membawa uang
    fisik. Less cash society selain dapat meningkatkan sistem
    pembayaran yang cepat, aman, dan efisien, untuk mempercepat
    perputaran aktivitas ekonomi dan stabilitas sistem keuangan, juga
    dapat mencegah tindak pidana kriminal maupun tindak pidana
    pencucian uang

Cara kerja Internet Banking


Dalam menggunakan internet banking, nasabah harus memiliki user id,
password, media token atau One Time Password (OTP), dan jaringan
internet. User id, password, dan media token dapat diperoleh dengan
mendaftarkan diri ke bank. Saat menggunakan internet banking, nasabah
harus memastikan website yang diakses adalah website internet banking
milik bank, kemudian nasabah akan diminta untuk memasukkan user id
dan password pada halaman muka atau login.
Pada saat melakukan transaksi finansial, nasabah akan diminta untuk
memasukkan sandi OTP yang diperoleh dari media token atau SMS.
Setelah transaksi selesai, nasabah harus memastikan telah keluar/log out
dari halaman internet banking. Bank mengirimkan notifikasi melalui email sebagi bukti bahwa transaksi telah berhasil. Notifikasi e-mail ini
juga sebagai pengendalian agar nasabah mengetahui jika akun internet
banking-nya digunakan oleh orang lain (OJK, 2015).

Fitur Layanan Internet Banking


Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2015:11) fitur layanan internet banking
antara lain informasi umum rekening tabungan atau giro, rekening
deposito, kartu kredit, informasi mutasi rekening, transfer dana, baik
transfer antar rekening maupun antar bank, pembelian pulsa, pembelian
tiket, penempatan deposito, layanan informasi seperti suku bunga dan
kurs, dan pembayaran, misalnya pembayaran telepon, internet, kabel TV,
asuransi, listrik dan berbagai jenis pembayaran lainnya.

Pengertian Internet Banking


Menurut Herington & Weaven (2007) internet banking adalah bentuk elayanan di mana pelanggan dapat belajar langsung antara elektronik dan
layanan pelanggan dan hal ini secara signifikan dipengaruhi oleh kinerja
pelanggan.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Kualitas suatu produk ataupun jasa perlu ditentukan melalui dimensidimensinya. Berikut dimensi kualitas pelayanan menurut Tjiptono dan
Chandra (2011:198) yaitu terdapat 5 (lima) dimensi kualitas pelayanan
utama yang disusun sesuai urutan tingkat kepentingan relatifnya sebagai
berikut:

  1. Reliabilitas (Reliability)
    Pada komponen ini, berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk
    memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat
    kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu
    yang disepakati. Dalam unsur ini, pemasar dituntut untuk
    menyediakan produk atau jasa yang handal. Produk atau jasa jangan
    sampai mengalami kerusakan atau kegagalan. Dengan kata lain,
    produk atau jasa tersebut harus selalu baik. Para anggota perusahaan
    juga harus jujur dalam menyelesaikan masalah sehingga pelanggan
    tidak merasa ditipu. Selain itu, pemasar harus tepat janji bila
    menjanjikan sesuatu kepada pelanggan. Sekali lagi perlu diperhatikan
    bahwa janji bukan sekedar janji, namun janji harus ditepati. Oleh
    karena itu, time schedule perlu disusun dengan teliti.
  2. Daya Tanggap (Responsiveness)
    Berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk
    membantu para pelanggan dan merespon permintaan pelanggan, serta
    menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian
    memberikan jasa secara cepat. Para anggota perusahaan harus
    memperhatikan janji spesifik kepada pelanggan. Unsur lain yang juga
    penting dalam elemen cepat tanggap ini adalah anggota perusahaan
    selalu siap membantu pelanggan, apapun posisi seseorang di
    perusahaan hendaknya selalu memperhatikan pelanggan yang
    menghubungi perusahaan.
  3. Jaminan (Assurance)
    Jaminan yakni keyakinan yang meliputi perilaku para karyawan
    mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan
    dan perusahaan dapat menciptakan rasa aman bagi para
    pelanggannya. Pada saat persaingan sangat kompetitif, anggota
    perusahaan harus tampil lebih kompeten, artinya memiliki
    pengetahuan dan keahlian di bidang masing-masing. Faktor security,
    yaitu memberikan rasa aman dan terjamin kepada pelanggan
    merupakan hal yang penting. Pemasar diharapkan memperhatikan
    kredibilitas perusahaan dan bukan justru menipu pelanggan. Selain
    itu, anggota perusahaan harus bersikap ramah dengan menyapa
    pelanggan yang datang.
  4. Empati (Empathy)
    Empati berarti bahwa dimana perusahaan memberikan perhatian serta
    memahami masalah para pelanggan dan bertindak bagi kepentingan
    pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada pelanggan.
    Setiap anggota perusahaan hendaknya dapat mengelola waktu agar
    mudah dihubungi, baik melalui telepon ataupun bertemu langsung.
    Dering telepon usahakan maksimal tiga kali, lalu segera dijawab.
    Waktu yang dimiliki pelanggan sangat terbatas sehingga tidak
    mungkin menunggu terlalu lama. Usahakan untuk melakukan
    komunikasi individu agar hubungan dengan pelanggan lebih akrab.
    Anggota perusahaan juga harus memahami pelanggan. Dengan
    memahami pelanggan, bukan berarti anggota perusahaan merasa
    “kalah” dan harus “menyetujui” pendapat pelanggan, tetapi paling
    tidak mencoba untuk melakukan kompromi bukan melakukan
    perlawanan.

Pengertian Kualitas Pelayanan (Service Quality)


Menurut Pujawan (2010:97) kualitas pelayanan (service quality)
merupakan hasil persepsi dan perbandingan antara harapan pelanggan
dengan kinerja aktual pelayanan yang terdapat dua faktor utama yang
mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expected service (pengalaman yang
diharapkan) dan perceived service (pelayanan yang diterima).
Menurut Mauludin (2010:67) kualitas pelayanan adalah seberapa jauh
perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas langganan yang
mereka terima atau peroleh.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ada faktor utama
yang mempengaruhi kualitas pelayanan yaitu, jasa yang diharapkan dan
jasa yang dirasakan atau dipersepsikan. Apabila jasa yang dirasakan sesuai
dengan jasa yang diharapkan, maka kualitas pelayanan tersebut akan
dipersepsikan baik atau positif. Jika jasa yang dipersepsikan melebihi jasa
yang diharapkan, maka kualitas jasa di persepsikan sebagai kualitas ideal.
Demikian juga sebaliknya apabila jasa yang dipersepsikan lebih jelek
dibandingkan dengan jasa yang diharapkan maka kualitas jasa
dipersepsikan negatif atau buruk. Maka baik tidaknya kualitas pelayanan
tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan
pelanggannya secara konsisten (Toriq & Martoatmodjo, 2014).

Aspek-aspek Motivasi Kerja


Aspek-aspek dalam motivasi kerja menurut Sopiah (2008: 169-170) antara
lain:
a. Usaha
Karakteristik pertama dari motivasi kerja, yakni usaha, menunjuk kepada
kekuatan yang dimiliki seseorang untuk memunculkan perilaku kerja atau
jumlah yang ditunjukkan oleh seseorang dalam pekerjaannya. Tegasnya hal ini
melibatkan berbagai macam kegiatan atau upaya baik yang nyata maupun yang
kasat mata.
b. Kemauan keras
Karakteristik pokok motivasi kerja yang kedua menunjuk kepada tekad atau
kemauan keras yang ditunjukkan oleh seseorang ketika menerapkan usahanya
kepada tugas–tugas pekerjaannya. Dengan memiliki kemauan keras, maka
apabila segala usaha akan dilakukan mengalami kegagalan maka tidak akan
membuat orang tersebut patah arang untuk terus berusaha sampai tercapainya
tujuan.
c. Arah atau tujuan
Karakteristik motivasi kerja yang ketiga berkaitan dengan arah yang hendak
dituju oleh usaha dan kemauan keras yang dimiliki oleh seseorang.
Aspek-aspek motivasi kerja menurut Wood, dkk (2010: 78) antara lain:
a. Tingkatan (level) yaitu jumlah usaha yang dilakukan oleh individu,
b. Arah (direction) dapat diartikan sebagai usaha individu dalam mengarahkan
perilaku dengan mempertimbangkan perilaku apa yang akan dimunculkan
dengan melihat alternatif-alternatif yang ada,
c. Ketekunan (presistence) yaitu dengan melihat seberapa lama individu dapat
memunculkan perilaku tersebut.
Robbins dan Judge (2015: 127-128) menyatakan tiga aspek dalam motivasi
kerja diantaranya adalah:
a. Kekuatan (intensity) menggambarkan seberapa kerasnya seseorang dalam
berusaha,
b. Arahan (direction) memberikan hasil kinerja agar dapat disalurkan dalam suatu
arahan (direction) yang memberikan keuntungan bagi organisasi,
c. Ketekunan (persistence) mengukur berapa lama seseorang dapat
mempertahankan upayanya.

Pengertian Motivasi Kerja


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam Wardoyo, 2017: 47)
motivasi adalah dorongan-dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara
sadar maupun secara tidak sadar yang berfungsi untuk melakukan suatu tindakan
dengan tujuan tertentu. Menurut American Encyclopedia (dalam Hasibuan, 2007:
143) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu kecenderungan yang ada dalam
diri seseorang yang dapat membangkitkan topangan dan mengarahkan tindak-
tanduknya. Menurut Rue dan Byars (2005: 271) motivasi selalu membutuhkan
motif yang mengarah pada pencapaian tujuan, sehingga motivasi kerja adalah halhal yang berfungsi untuk mendorong perilaku seseorang, mengarahkan perilaku
tersebut ke arah tujuan tertentu, dan mengatur bagaimana perilaku ini
dipertahankan. Motivasi kerja adalah suatu keadaan di mana usaha dan kemauan
keras yang dimiliki oleh seseorang dapat diarahkan kepada pencapaian hasil–hasil
atau tujuan tertentu, hasil–hasil yang dimaksudkan disini dapat berupa
produktivas, kehadiran atau perilaku kerja kreatif lainnya. (Sopiah, 2008: 170).
Motivasi kerja menurut Sofyandi dan Garniwa (2007: 99) adalah suatu dorongan
untuk meningkatkan usaha seseorang dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi,
dalam batas-batas kemampuan yang dimiliki untuk memberikan suatu kepuasan
atas kebutuhan seseorang.
Moorhead dan Griffin (2013: 86), mengatakan bahwa motivasi kerja adalah
serangkaian kekuatan yang menyebabkan orang untuk terlibat dalam suatu
perilaku, bukan beberapa perilaku lainnya. Menurut Kertonegoro (dalam
Darodjat, 2015:188) berpendapat motivasi kerja merupakan kemauan yang
dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tingkat upaya yang tinggi untuk
mencapai tujuan organisasi, sepanjang upaya itu juga memenuhi kebutuhan
individunya. Motivasi kerja mengacu pada proses dimana usaha seorang
karyawan diberi energi atau dorongan, kemudian diarahkan, dan terus menerus
secara berkelanjutan menuju tercapainya suatu tujuan yang hendak dicapai.
(Robbins dan Coulter, 2010:109).

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kualitas Pelayanan


Faktor–faktor yang memengaruhi kualitas layanan agar dapat menyediakan
layanan yang melebihi standar menurut Utami (2006: 263-264) adalah:
a. Memberi informasi dan pelatihan; karyawan toko atau penyedia jasa harus
memahami barang dagangan yang ditawarkan, maupun kebutuhan pelanggan
sehingga dengan informasi ini karyawan dapat menjawab pertanyaan dan
menyarankan produk ke pelanggan.
b. Menyediakan dukungan emosional; layanan penyedia jasa harus mempunyai
pendukung untuk menyampaikan layanan yang diinginkan oleh pelanggan.
c. Meningkatkan komunikasi internal dan menyediakan pendukung; ketika
melayani pelanggan, karyawan sering harus mengatur konflik antara kebutuhan
pelanggan dan kebutuhan perusahaan. Ketika karyawan yang bertanggung
jawab diberi untuk menyediakan layanan diberi hak untuk membuat keputusan
penting, biasanya kualitas layanannya justru meningkat.
d. Menyediakan perangsang; beberapa ritel menggunakan perangsang, seperti
membayar komisi pengawas, memberikan komisi untuk target penjualan untuk
memotivasi karyawan, dan perangsang ini dapat memotivasi tingginya kualitas
layanan.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Gronroos (dalam Utami, 2006: 246) menyatakan bahwa kualitas
layanan terdiri dari dua dimensi, yaitu:
a. Dimensi kualitas teknis (techincal quality), yaitu apa saja yang diperoleh
konsumen,
b. Dimensi fungsional (functional quality), yaitu dengan cara bagaimana
konsumen memperoleh jasa.
Menurut Brady dan Cronin (dalam Utami, 2006: 252) menyatakan adanya
tiga dimensi utama sebagai alternatif dari dimensi kualitas layanan, yaitu:
a. Kualitas interaksi (interaction quality): kontak yang terjadi pada proses
penyampaian jasa dalam pertemuan antara penyedia jasa dengan konsumen,
dan hal tersebut merupakan kunci penentu dari evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap kualitas layanan.
b. Kualitas hasil (outcome quality): didefinisikan sebagai evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap hasil dari aktivitas layanan jasa yang diterimanya,
termasuk ketepatan waktu dalam pelayanan jasa.
c. Kualitas lingkungan (environment quality) terkait dengan seberapa jauh dan
seberapa besar fitur berwujud (tangible feature) dari proses penyampaian
layanan yang kemudian memainkan peran dalam mengembangkan persepsi
konsumen terhadap kualitas layanan jasa secara keseluruhan.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Pelayanan menurut Kasmir (2017: 47) adalah tindakan atau perbuatan
seseorang atau suatu organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan,
sesama karyawan, dan juga pimpinan. Pelayanan dan pemberian dukungan kepada
pelanggan menurut Armistead dan Clark (1999: 56-57) adalah kemampuan
karyawan dalam melaksanakan tugasnya yaitu memberikan layanan dan dukungan
dengan penuh komitmen serta kemampuan memecahkan masalah pada saat
pemberian layanan itu berlangsung. Rusydi (2017: 39) berpendapat bahwa
kualitas pelayanan adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan
terbaik yang bermutu dibandingkan dengan pesaingnya.
American National Standards Institute (ANSI) dan American Society for
Quality (ASQ) (dalam Haksever dkk, 2000: 330-331) berpendapat bahwa kualitas
adalah totalitas dari setiap fitur dan karakteristik dari suatu produk atau jasa yang
mengandalkan pada tiap-tiap kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan
konsumen. Kualitas layanan dapat dijelaskan sebagai konsepsi multidimensional
yang dibangun melalui evaluasi terhadap kosntruksi dari sejumlah atribut yang
terkait dengan jasa (Utami, 2006: 245). Lewis dan Booms (dalam Tjiptono 2017:
142) mengemukakan bahwa kualitas layanan bisa diartikan sebagai tolak ukur
seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi
atau harapan dari pelanggan.
Menurut Lovelock dan Wright (2002: 265-266) mengatakan bahwa persepsi
tentang kualitas didasarkan dalam waktu yang jangka panjang, evaluasi kognitif,
dan proses pemberian layanan. Manfaat dari kualitas layanan terakumulasi dari
waktu ke waktu atau dapat dikatakan dalam jangka panjang sehingga perusahaan
jasa harus mengidentifikasi upaya pemberian kualitas pelayanan yang tepat dan
melaksanakannya secara efektif. Garvin (dalam Lovelock dan Wirtz, 2004: 407)
mengidentifikasi perspektif mengenai kualitas dalam lima arti yang berbeda
sesuai dengan konteksnya, salah satu diantaranya adalah definisi dalam kacamata
konsumen, yang berarti kualitas diawali dengan sebuah jaminan bahwa kualitas
terletak dimata orang yang melihatnya. Perspektif ini cenderung bersifat
subjektif, karena berorientasi pada permintaan dan mengakui bahwa pelanggan
yang berbeda memiliki keinginan serta kebutuhan yang berbeda

Mengukur Kepuasan Pasien


Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur dan
memantau kepuasan pasien. Menurut Kotler dalam Tjiptono & Chandra (2014)
mengembangkan empat metode mengukur kepuasan pasien:
A. Sistem keluhan dan saran
Setiap Rumah Sakit yang berorientasi pasien perlu menyediakan
kesempatan dan akses yang mudah dan nyaman bagi para pasiennya guna
untuk menyampaikan kritik,saran,pendapat serta keluhan mereka.
B. Ghost Shopping
Cara memperoleh gambaran mengenai kepuasan pasien adalah dengan
mempekerjakan beberapa orang ghost shopper guna berpura pura sebagai
pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing. Mereka berinteraksi
dengan staf penyedia jasa dan menggunakan produk/jasa perusahaan.
C. Lost Costomer Analysis
Perusahaan menghubungi para pasien yang telah berhenti atau telah pindah
kerumah sakit lain.Kenapa hal itu terjadi agar dapat bisa mengambil
kebijakan perbaikan atau penyempurnaan selanjutnya.
D. Survei Kepuasan Pasien
Rumah Sakit akan memperoleh tanggapan dan balikan secara langsung dari
pasien dan juga memberikan kesan positif bahwa rumah sakit menaruh
perhatian terhadap para pasiennya. Pengukuran kepuasan pasien melalui
metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya:

Importance Performance Analysis
Responden diminta untuk menilai tingkat kepentingan berbagai atribut
relevan dan tingkat kinerja Rumah Sakit pada tiap atribut tersebut.

Directly Reported Satisfaction
Pengukuran dilakukan menggunakan item-item spesifik yang
menanyakan langsung tingkat kepuasan yang dirasakan pasien.

Derived Satisfaction
Pertanyaan yang diajukan mengarah pada 2 hal utama,yaitu tingkat
harapan atau ekspektasi pasien terhadap kinerja produk atau perusahaan
pada atribut relevan.dan persepsi pelanggan terhadap kinerja actual
produk atau perusahaan bersangkutan (perceived performance).

Problem Analysis
Responden diminta mengungkapkan masalah – masalah yang mereka
hadapi berkaitan dengan produk atau jasa perusahaan dan saran
perbaikan. Kemudian Rumah Sakit melakukan analisi konten terhadap
semua permasalahan dan saran perbaikan untuk mengedintifikasi
bidang yang utama membutuhkan perhatian atau tindakan yang
dilakukan selanjutnya.

Teori Kepuasan Pasien


Menurut Tjiptono dan Chandra (2014) teori mengenai kepuasan pasien
terbagi atas 3 kategori yang dijabarkan menjadi beberapa bagian .Berikut desain
teori kepuasan pasien:
A. Cognitive Dissonance Theory
Teori ini menyangkut kenyamanan pribadi terhadap jasa yang mereka
terima. Perasaan yang tidak sesuai terhadap hasil kinerja dari jasa yang telah
mereka beli dan sangat jauh berbeda dengan ekspektasi yang mereka gantungkan dari suatu jasa. Hal- hal yang perlu diperhatikan mengenai
harapan pasien sebelum melakukan pembelian yaitu:

  1. Nilai pertama yang pertama kali diharapkan oleh pasien atas biaya yang
    telah mereka keluarkan untuk suatau produk atau jasa yang ditawarkan
    oleh rumah sakit.
  2. Hasil kerja optimal yang diinginkan oleh pasien.
  3. Tingkat kinerja yang paling diharapkan oleh pasien .(digunakan untuk
    mengukur kepuasan pasien).
  4. Tingkat paling rendah yang dapat dimaklumi oleh Rumah Sakit
    mengenai suatu jasa atau kelemahan yang tidak menjadi pertimbangan
    bagi pasien dalam melakukan perawatan dirumah sakit.
    B. Contrast Theory
    Tahap ini pasien akan sangat memberikan perbedaan dari suatu jasa yang
    mereka terima dengan hasil kinerja dari suatu jasa. Apabila jasa yang
    mereka terima melebihi ekspektasi maka mereka akan sangat puas.
    C. Assimilation Contrast Theory
    Teori ini melihat ekspektasi konsumen (pasien) terhadap jasa yang
    ditawarkan.Teori ini gabungan teori Cognitive Theory and Contrast Theory.
    D. Adaption Level Theory
    Teori ini menjelaskan pasien yang melakukan perawatan dirumah sakit
    berdasarkan dari hal hal yang diadopsinya.Teori ini melihat pengaruh positif
    dan negative pada tingkat evaluasi akhir dari suatu produk.
    E. Opponent Process Theory
    Teori ini menjelaskan alasan pasien yang pada dasarnya sangat puas dengan
    Suatu produk atau jasa dan tidak puas dengat suatu produk tersebut.
    F. Equity Product
    Teori ini menganilis pertukaran antara hasil antara input dan output.
    G. Consumen Surplus
    Teori ini melihat suatu perbandingan harga,dikatan surplus konsumen
    apabila adanya kepuasan yang dirasakan oleh pasien yang bersangkutan.
    H. Utility Theory
    Teori ini berfikus pada alasan pasien membuat keputusan dalam melakukan
    pembelian dengan berdasarkan referensi dan penilaian terhadap suatu jasa.
    I. Alienation
    Teori ini menjelaskan ketidak puasan pasien dari sisi tidak efektif pasar
    terhadap perasaan kecewa yang dirasakan oleh pasien.
    J. Comunication Effect Theory
    Teori ini menjelaskan bahwa perasaan puas dan tidak puas pelanggan,
    adalah evaluasi akhir dari pelanggan terhadap perubahan komunikasi.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Ada beberapa hal penting dalam kualitas yang perlu dipahami karena
kualitas pelayanan suatu bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat pelayanan
yang dipersepsikan dengan tingkat pelayanan yang diharapkan. Oleh karena itu,
ditinjau dari sudut pandang konsumen terdapat lima dimensi kualitas pelayanan
menurut Tjiptono dan Chandra (2014) adalah sebagai berikut :
A. Bukti Fisik (tangibles)
Meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan, dan sarana
komunikasi. Bukti fisik (tangible) merupakan meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi. Hal ini bisa berarti
penampilan fasilitas fisik, seperti gedung dan ruangan front office,
tersedianya tempat parkir, kebersihan, kerapian dan kenyamanan ruangan,
kelengkapan peralatan komunikasi, dan penampilan karyawan. Prasarana
yang berkaitan dengan layanan konsumen juga harus diperhatikan oleh
manajemen perusahaan. Gedung yang megah dengan fasilitas pendingin
(AC), alat telekomunikasi yang canggih atau perabot kantor yang
berkualitas, dan lain-lain menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih
suatu produk atau jasa. Merupakan seberapa baik penampilan dan
kemampuan sarana dan prasarana fisik harus dapat diandalkan. Penampilan
fisik pelayanan, kayawan, dan komunikasi akan memberikan warna dalam
pelayanan pelanggan. Tingkat kelengkapan peralatan atau teknologi yang
digunakan akan berpengaruh pada pelayanan pelanggan. Karyawan adalah
sosok yang memberikan perhatian terkait dengan sikap, penampilan dan
bagaimana mereka menyampaikan kesan pelayanan. Dalam hal ini sejauh
mana perusahaan memfasilitasi sarana komunikasi sebagai upaya untuk
memberikan kemudahan dalam pelayanan adalah hal yang tidak
terpisahkan. Contohnya: fasilitas reparasi, seragam karyawan, kelengkapan
peralatan, dan ruang tunggu yang representative.
B. Kehandalan (reliability)
Merupakan suatu kemampuan dalam memenuhi janji (tepat waktu,
konsisten, kecepatan dalam pelayanan). Pemenuhan janji dalam pelayanan
akan terkait dan mencerminkan kredibilitas perusahaan dalam pelayanan.
Tingkat kompentensi perusahaan juga dapat dilihat dari sini, sejauh mana
tingkat kemampuan perusahaan dapat ditunjukkan. Keandalan berkaitan
dengan probabilitas atau kemungkinan suatu produk melaksanakan
fungsinya secara berhasil dalam periode waktu tertentu dibawah kondisi
tertentu dengan demikian keandalan merupakan karakteristik yang
merefleksikan kemungkinan atau probabilitas tingkat keberhasilan.
Kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat,
dan memuaskan. Kehandalan (reliability) merupakan kemampuan
memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan
memuaskan. Hal ini berarti perusahaan memberikan jasanya secara tepat
semenjak saat pertama (right the first time). Selain itu juga berarti bahwa
perusahaan yang bersangkutan memenuhi janjinya, misalnya
menyampaikan jasanya sesuai dengan jadwal yang disepakati. Dalam unsur
ini, pemasar dituntut untuk menyediakan produk/ jasa yang handal. Produk/
jasa jangan sampai mengalami kerusakan/ kegagalan. Dengan kata lain,
produk/ jasa tersebut harus selalu baik. Para anggota perusahaan juga harus
jujur dalam menyelesaikan masalah sehingga konsumen tidak merasa
ditipu. Selain itu, pemasar harus tepat janji bila menjanjikan sesuatu kepada
konsumen. Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa janji bukan sekedar janji,
namun janji harus ditepati. Maka, time schedule perlu disusun dengan teliti.
Contohnya: dokter mampu mendiagnosis penyakit pasien dengan akurat.
C. Daya Tanggap (responsiveness)
Merupakan suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan
pelayanan yang cepat kepada pelanggan. Pada pelayanan, kemampuan
untuk segera mengatasi kegagalan secara profesional dapat memberikan
persepsi yang positif terhadap kualitas pelayanan. Adapun bentuk
kepedulian tersebut dapat dilakukan baik melalui pencapaian informasi atau
penjelasan-penjelasan ataupun melalui tindakan yang dapat dirasakan
manfaatnya oleh pelanggan.Keinginan dan kesediaan para karyawan untuk
membantu para pelanggan dan memberikan layanan dengan tanggap. Daya
tanggap (responsiveness) merupakan keinginan para staf untuk membantu
para konsumen dan memberikan pelayanan dengan tanggap. Daya tanggap
dapat berarti respon atau kesigapan karyawan dalam membantu konsumen
dan memberikan pelayanan yang cepat dan, yang meliputi kesigapan
karyawan dalam melayani konsumen, kecepatan karyawan dalam
menangani transaksi, dan penanganan. Para anggota perusahaan harus
memperhatikan janji spesifik kepada konsumen. Unsur lain yang juga
penting dalam elemen cepat tanggap ini adalah anggota perusahaan selalu
siap membantu konsumen. Apa pun posisi seseorang di perusahaan
hendaknya selalu memperhatikan konsumen yang menghubungi
perusahaan. Misal: sistem reservasi dan penanganan bagasi maskapai
penerbangan yang cepat.
D. Jaminan (assurance)
Jaminan merupakan mencakup pengetahuan, slill, kesopanan, dan
sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya, risiko atau
keragu-raguan. Pada saat persaingan sangat kompetitif, anggota perusahaan
harus tampil lebih kompeten, artinya memiliki pengetahuan dan keahlian di
bidang masing-masing. menangani pemasangan dan layanan purna jual.
Faktor security, yaitu memberikan rasa aman dan terjamin kepada
konsumen merupakan hal yang penting pula. Jaminan merupakan
pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan melaksanakan
tugas secara spontan yang dapat menjamin kerja yang baik, sehingga
menimbulkan kepercayaan dan keyakinan pelanggan. Tingkat pengetahuan
mereka akan menunjukkan tingkat kepercayaan bagi pelanggan, sikap
ramah, sopan bersahabat adalah menunjukkan adanya perhatian pada
pelanggan juga mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan sifat
dapat dipercaya yang dimiliki para karyawan, bebas dari bahaya fisik, risiko
atau keragu-raguan.
E. Empati (emphaty)
Empati (empathy) merupakan kemudahan dalam melakukan
hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami
kebutuhan para konsumen. Setiap anggota perusahaan hendaknya dapat
mengelola waktu agar mudah dihubungi, baik melalui telepon ataupun
bertemu langsung. Kemudahan dalam menjalin hubungan, komunikasi yang
efektif, perhatian personal, dan pemahaman atas kebutuhan individual para
pelanggan. Tingkat kepedulian dan perhatian perusahaan pada
pelanggannya secara individual akan sangat didambakan oleh pelanggan.
Persoalan dan masalah dapat muncul dan sejauh mana tingkat kepedulian
untuk menyelesaikan masalah, mengerti kemauan dan kebutuhan pelanggan
dapat diaktualisasikan. Kepedulian terhadap masalah yang dihadapi
pelanggan, mendengarkan serta berkomunikasi secara individual,
kesemuanya itu akan menunjukkan sejauh mana tingkat pelayanan yang
diberikan. Contohnya: seorang dokter mengenal pasiennya dengan baik,
mengingat masalah (penyakit, keluhan, dan sejenisnya) sebelumnya, dan
bersikap sabar serta menjadi pendengar yang baik. adalah memberikan
jaminan yang bersifat individual atau pribadi kepada pelanggan dan
berupaya untuk memahami keinginan pelanggan.

Perspektif Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dan Chandra (2014), perspektif kualitas jasa
diklasifikasikan dalam lima kelompok:

  1. Pendekatan transendental (transcendental approach) Dalam pendekatan ini
    kualitas dipandang sebagai keunggulan bawaan (innate excellence), dimana
    kualitas dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit didefenisikan dan di
    operasionalisasikan.
  2. Pendekatan berbasis produk (product-based approach) Pendekatan ini
    menganggap kualitas merupakan karakteristik atau atribut yang dapat
    dikuantitatifkan dan dapat diukur.
  3. Pendekatan berbasis pengguna (user-based approach) Pendekatan ini
    didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang
    memandangnya sehingga produk yang paling memuaskan menjadi
    preferensi seseorang, misalnya kualitas yang dirasakan ( perceived quality)
    merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.
  4. Pendekatan berbasis manufaktur (manufacturing-based approach)
    Perspektif ini bersifat berdasarkan pasokan (supply-based) dan secara
    khusus memperhatikan praktik-praktik perekayasaan dan kemanufakturan,
    serta mendefenisikan kualitas sebagai kesesuaian atau kesamaan dengan
    persyaratan (conformance to requirements). Penentu kualitas dalam
    pendekatan ini adalah standar-standar yang ditetapkan perusahaan, bukan
    oleh konsumen pengguna.
  5. Pendekatan berbasis nilai (value-based approach) Kualitas dalam perspektif
    ini bersifat relatif sehingga produk yang paling bernilai adalah barang atau
    jasa yang paling tepat di beli (best-buy)

Pengertian Kualitas Pelayanan Kesehatan


Menurut Abdullah dan Tantri (2012) Kualitas pelayanan adalah keseluruhan
ciri dan karakteristik suatu barang atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya
untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun disiratkan.
Menurut Rahma, et al (2012) Kualitas pelayanan adalah pengalaman yang
dirasakan oleh konsumen terhadap produk yang telah diterimanya. Pengalaman ini
merupakan perasaan senang atau tidak senang terhadap suatu produk yang nantinya
akan berdampak kepada rasa puas atau tidak puas dari diri konsumen.
Kualitas pelayanan memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan
pelanggan. Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin
ikatan yang kuat dengan perusahaan. Parasuraman mendefenisikan kualitas
pelayanan sebagai tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas
tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Lubis (2016) memperluas model sesuai dengan pasien rawat inap perspektif
kualitas layanan rumah sakit di Indonesia. Studi sebelumnya dikategorikan kualitas
layanan berdasarkan 10 aspek, yaitu pendidikan pasien layanan, staf
profesionalisme, aspek makanan, jaminan, responsif dan layanan kenyamanan,
empati, kebersihan, staf terdidik, orang-orang mendapatkan layanan, dan layanan
yang dapat diandalkan.

Mengukur Kualitas Pelayanan


Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan, diantaranya adalah dengan melakukan evaluasi dan perbaikan

  • perbaikan yang dilakukan secara berkala. Beberapa cara yang dapat
    dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah sebagai berikut:
    a. Mendapatkan umpan balik dari pelanggan
    Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan feedback dari
    pelanggan, diantaranya seperti mengadakan survei kepada pelanggan,
    dan follow up kepada pelanggan setelah memberikan pelayanan, cara
    ini dapat dilakukan melalui email. Cara lainnya adalah uji coba
    produk kepada pelanggan, aktif di sosial media, memberikan diskon
    atau benefit lain kepada pelanggan atas penghargaan masukan yang
    telah diberikan, serta memanfaatkan teknologi untuk memantau
    perkembangan usaha seperti melalui website, google analytics, dan
    lain sebagainya.
    b. Melakukan evaluasi
    Cara-cara yang dapat dilakukan untuk melakukan evaluasi
    diantaranya adalah melalui survei dengan cara berfokus pada hal-hal
    yang paling penting untuk diketahui. Survei dapat dilakukan untuk
    mengetahui rasa empati atau kepedulian kepada pelanggan,
    mengukur tingkat kemampuan suatu perusahaan terkait kehandalan
    dan cepat tanggap, serta mengetahui pelayanan dan kualitas produk
    berdasarkan pengalaman konsumen secara langsung seperti fungsi
    produk, tingkat kebersihan, penampilan karyawan, dan lain
    sebagainya.
    c. Memperbaiki pelayanan
    Memperbaiki kualitas pelayanan dapat dilakukan dengan cara
    memberikan standar pelayanan perusahaan yang jelas kepada
    karyawan, melatih karyawan agar menjadi seseorang yang
    bertanggung jawab, cepat tanggap, dan memiliki etos kerja yang
    tinggi. Jika memungkinkan, dapat dengan memberikan bonus kepada
    karyawan yang berprestasi. Selain itu, memberikan kemudahan
    kepada pelanggan dalam menyampaikan masukannya adalah hal yang
    perlu untuk dilakukan. Namun akan lebih baik apabila semua usaha
    perbaikan kualitas pelayanan perusahaan ini agar dilakukan secara
    berkelanjutan (Nurdin, 2019)

Dimensi Kualitas Pelayanan


Pelayanan memainkan peran yang sangat penting karena merupakan
aktivitas pendukung dalam kegiatan pemasaran. Kualitas pelayanan
merupakan perbedaan antara kenyataan dengan harapan konsumen atas
pelayanan yang mereka terima. David Garvin mendefinisikan delapan
dimensi mutu yang dapat digunakan pada tingkat strategis untuk
menganalisa karakteristik mutu. Delapan dimensi Garvin’s ini sebagai
berikut:
a. Perfrmance (kinerja) merupakan karakteristik utama dari produk.
b. Features (gambaran) merupakan aspek kinerja kedua.
c. Reliability (kehandalan) merupakan kemungkinan keberhasilan
kinerja digambarkan dalam fungsi yang lebih spesifik selama periode
dan kondisi tertentu.
d. Conformance (kesesuaian) adalah tingkat karakteristik desain dan
pemberian produk sesuai dengan standar yang ada.
e. Durability (daya tahan) merupakan suatu alat ukur masa produk atau
daya tahan dari suatu produk sebelum menjadi rusak, sangat erat
kaitannya dengan reliability (kehandalan) dan service ability
(kemampuan pelayanan).
f. Service Ability (kemauan pelayanan) yaitu kecepatan, keramahan
persaingan dan kemudahan untuk memperbaiki.
g. Aesthetic (keindahan) adalah bagaimana produk tersebut terlihat,
dirasakan atau dicium yang lebih banyak bersifat individual dan
sangat subyektif.
h. Perceived Quality (pengamatan mutu) pelanggan tidak selalu
mempunyai informasi yang lengkap mengenai produk atau layanan
sehingga pengukuran secara tidak langsung terhadap mutu hanya
berdasarkan pada perbandingan produk.

Indikator Kualitas Pelayanan


Untuk menilai atau mengukur kualitas suatu pelayanan, antara lain :
a. Berwujud (tangible)
Dimensi berwujud dapat diukur dari penampilan fasilitas fisik,
peralatan, personil dan media komunikasi seperti perlengkapan
pegawai dan sarana komunikasi, kenyamanan tempat melakukan
pelayanan, kemudahan dalam proses pelayanan, dan penggunaan alat
bantu dalam pelayanan kesehatan.
b. Daya tanggap (responsiveness)
Dimensi daya tanggap diartikan sebagai kemauan dan kemampuan
untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan/jasa secara
tanggap dengan cara cepat, tepat dan cermat serta menerima semua
keluhan pasien.
c. Kehandalan (reliability)
Dimensi kehandalan diartikan sebagai kemauan dan kemampuan
untuk melaksanakan dan memenuhi pelayanan/jasa yang dijanjikan
secara tepat dan terpercaya.
d. Asuransi/keyakinan (assurance/confidence)
Dimensi keyakinan diartikan sebagai pengetahuan dan kesopanan para
karyawan serta kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan
dan keyakinan serta menerima kerahasiaan.
e. Empati (empathy)
Dimensi empati diartikan sebagai syarat untuk peduli dan memberikan
perhatian oleh perusahaan kepada para pelanggan atau pengguna jasa
seperti mendahulukan kepentingan pelanggan, tidak adanya
mendiskriminatif (membeda-bedakan) dalam memberikan pelayanan
kepada pelanggan yang satu dengan pelanggan lainnya, melayani
pelanggan dengan ramah dan sopan santun, dan petugas melayani dan
menghargai setiap pelanggan.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kualitas Pelayanan


Pelayanan yang baik pada akhirnya akan mampu memberikan
kepuasan kepada masyarakat. Pelayanan yang optimal pada akhirnya
juga akan mampu meningkatkan image organisasi sehingga citra
organisasi dimata masyarakat terus meningkat. Adanya citra organisasi
yang baik, maka segala yang dilakukan oleh organisasi akan dianggap
baik pula. faktor utama yang mempengaruhi pelayanan adalah sumber
daya manusia. Artinya peran manusia (karyawan) yang melayani
masyarakat merupakan faktor utama karena hanya dengan manusialah
pelanggan dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka.
Kualitas pelayanan dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal.
Masing-masing bagian tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
cukup penting yaitu sebagai berikut :
a. Faktor internal
Faktor yang memengaruhi kualitas pelayanan internal (interaksi
pegawai organisasi), pola manajemen umum organisasi, penyediaan
fasilitas pendukung, pengembangan sumber daya manusia, iklim
kerja dan keselarasan hubungan kerja, serta pola insentif.
b. Faktor eksternal
Faktor yang memengaruhi kualitas pelayanan eksternal (pelanggan
eksternal), yaitu pola pelayanan dan tata cara penyediaan layanan,
pola layanan dalam penyampaian jasa.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk
meningkatkan kualitas pelayanan banyak faktor yang memengaruhi
antara lain sumber daya manusia, kesadaran, aturan, organisasi,
keterampilan dan kemampuan, sarana pelayanan, serta pengalaman
pelanggan. Selain itu faktor internal dan eksternal juga menjadi penting
dan berpengaruh dalam mewujudkan pelayanan yang berkualitas bagi
setiap pengguna.

Ruang Lingkup Pelayanan Kesehatan


a. Tingkat pertama (primary health service)
Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan
yang bersifat pokok dan dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat
serta memiliki nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
b. Tingkat kedua (secondary health service)
Pelayanan kesehatan tingkat kedua yaitu pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan bagi masyarakat yang memerlukan perawatan oleh tenaga
spesialis yang dilaksanakan di rumah sakit.
c. Tingkat ketiga (tertiary health service)
Pelayanan kesehatan tingkat ketiga merupakan pelayanan yang
memerlukan tenaga ahli atau sub spesialis dan sebagai pelayanan
rujukan (Bramantoro, 2017).
Pada peraturan menteri kesehatan No. 71 Tahun 2013 mengenai JKN
terdapat pembagian tingkatan pelayanan kesehatan yaitu pelayanan rawat
jalan, rawat inap dan rujukan.
a. Rawat jalan
Rawat jalan adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat
nonspesialistik yang dilaksanakan pada fasilitas kesehatan tingkat
pertama untuk keperluan observasi, diagnosis, pengobatan, dan
pelayanan kesehatan lainnya.
b. Rawat inap
Rawat inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat
nonspesialistik dan dilaksanakan pada fasilitas kesehatan tingkat
pertama untuk keperluan observasi, diagnosis, pengobatan, dan
pelayanan kesehatan lainnya, dimana pasien dan anggota keluarganya
dirawat inap paling singkat 1 (satu) hari.
c. Rujukan
Pelayanan kesehatan rujukan adalah upaya pelayanan kesehatan
perorangan yang bersifat spesialistik atau subspesialistik yang
meliputi rawat jalan tingkat lanjut, rawat inap tingkat lanjut dan rawat
inap diruang perawatan khusus (Bramantoro, 2017)

Definisi Kualitas Pelayanan Kesehatan


Pelayanan kesehatan adalah segala kegiatan yang dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menghasilkan
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan atau dituntut oleh masyarakat untuk
mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya. Pelayanan kesehatan
merupakan suatu fasilitas atau wadah yang difasilitasi oleh Pemerintah
Daerah untuk memperoleh pelayanan kesehatan (Gurning, 2018).
Kualitas sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan (Nurdin, 2019). Kualitas pelayanan/jasa adalah
kelebihan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan. Dalam artian bila suatu layanan atau
jasa yang diterima (perceived service) sesuai dengan yang diharapkan,
maka dapat dipersepsikan bahwa kualitas pelayanan/jasa tersebut baik dan
memuaska serta ideal. Begitupun sebaliknya, apabila pelayanan/jasa yang
diterima lebih rendah dari pada yang diharapkan, maka kualitas
pelayanan/jasa akan dipersepsikan buruk (Nurdin, 2019).

Mengukur Loyalitas


Menurut Kottler & Keller (2018), loyalitas pelanggan dapat diukur
dengan tiga hal, yaitu:
a. Say positive things
Adalah mengatakan hal yang positif tentang produk/pelayanan.
b. Recommended friends
Adalah merekomendasikan produk/pelayanan yang telah digunakan.
c. Continue purchasing
Adalah pembelian/jasa yang dilakukan secara terus menerus
terhadap produk yang telah dikonsumsi atau digunakan.

Pentingnya Loyalitas


Griffin (2023) mengemukakan keuntungan-keuntungan yang akan
diperoleh perusahaan apabila memiliki pelanggan yang loyal antara lain :
a. Dapat mengurangi biaya pemasaran (karena biaya untuk menarik
pelangganyang baru lebih mahal).
b. Dapat mengurangi biaya transaksi (seperti biaya negosiasi kontrak,
pemrosesan pesanan, dll).
c. Dapat mengurangi biaya turn over pelanggan (karena pergantian
pelangganyang lebih sedikit).
d. Dapat meningkatkan penjualan silang yang akan memperbesar
pasar perusahaan.
e. Mendorong word of mouth yang lebih positif, dengan asumsi bahwa
pelanggan yang loyal juga berarti mereka yang merasa puas.
f. Mengurangi biaya kegagalan (seperti biaya pergantian, dll).

Dimensi Loyalitas


Dalam Suhartono (2020), dimensi loyalitas dapat dibagi menjadi dua
bagian, yaitu:
a. Dimensi perilaku (Behavioral dimension)
Dimensi perilaku adalah aspek dari perilaku konsumen (seperti
pembelian ulang) yang ditunjukkan pada suatu barang atau jasa
dalam kurun waktu tertentu. Pembelian ulang oleh konsumen
merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi produsen, tapi harus
diketahui bahwa pembelian ulang belum tentu menunjukkan kepuan
pelanggan melainkan tidak adanya alternative lain selain
pembelian ulang, harus dilihat juga sikap positif pelanggan terhadap
produk atau service provider-nya.
b. Dimensi sikap (Attidunal dimension)
Sikap merupakan niat dan preferensi konsumen untuk membeli suatu
jasa atau produk tertentu. Niat untuk membeli atau niat untuk
merekomendasikan dan preferensi pada suatu perusahaan jasa
merupakan faktor penting dalam menentukan bisnis dimasa yang
akan datang. Semakin besar niat konsumen untuk membeli ulang dan
merekomendasikan suatu perusahaan jasa memberikan suatu indikasi
bahwa perusahaan itu memiliki masa depan yang cerah.
Menggambarkan juga, bagaimana keadaan konsumennya yang
memiliki tingkat loyalitas pelanggan yang tinggi.

Indikator Loyalitas Pasien


Di dalam indikator loyalitas pelanggan menurut Baloglu (2022) adalah:
a. Kepercayaan (trust)
Aspek ini merupakan tanggapan kepercayaan pelanggan terhadap
perusahaan. Berbicara masalah kepercayaan dalam pandangan islam
telah disebutkan mengenai kepercayaan.
b. Komitmen psikologi (psychological commitment)
Aspek ini merupakan komitmen psikologi pasien terhadap
perusahaan.
c. Perubahan biaya (switching cost)
Aspek ini merupakan tanggapan pelanggan tentang beban yang
diterima ketika terjadi perubahan.
d. Perilaku publisitas (word of mouth)
Aspek ini merupakan perilaku publisitas yang dilakukan oleh
pelanggan terhadap perusahaan.
e. Kerjasama (cooperation)
Aspek ini merupakan perilaku pelanggan yang menunjukkan sikap
dapat bekerja sama dengan perusahaan

Faktor-faktor yang Memengaruhi Loyalitas


Menurut Zhou et al. (2017), terdapat 7 faktor yang berpengaruh
signifikan terhadap loyalitas pasien pada penyedia layanan kesehatan,
yaitu:
a. Kepuasan pasien (satisfaction patient)
Loyalitas pasien terbukti menjadi hasil langsung dari kepuasan
pasien. Penelitian Sari (2021) menemukan kepuasan pasien memiliki
pengaruh positif dan lebih dominan mempengaruhi loyalitas pasien.
Sama halnya dengan Azizah (2022), kepuasan secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pasien.
b. Nilai yang dirasakan (perceived value)
Nilai yang dirasakan adalah perbandingan antara total manfaat yang
dirasakan dan total pengorbanan yang dirasakan (Zhou et al., 2017).
c. Kepercayaan (trust)
Tiga studi menegaskan kepercayaan sebagai faktor dalam
menentukan loyalitas pasien. Purba et al. (2021), Hutabarat (2018)
menemukan bahwa kepercayaan memiliki pengaruh secara
signifikan terhadap kepuasan dan loyalitas pasien. Penelitian Huang
et al. (2021) menganalisis pengaruh kepercayaan pada loyalitas
pasien melalui komitmen. Hasil penelitiannya menunjukan ketika
pasien memiliki kepercayaan yang lebih besar, mereka cenderung
menganggap layanan medis berharga, mereka kemudian bersedia
mempertahankan komitmen hubungan jangka panjang dan
meningkatkan loyalitas pasien.
d. Kualitas pelayanan (service quality)
Kepuasan, nilai, kepercayaan dan komitmen adalah mediator
hubungan kualitas layanan dan loyalitas (Zhou et al., 2017).
Lestariningsih et al. (2018) menemukan bahwa kualitas pelayanan
memiliki pengaruh terhadap kepuasan pasien, kemudian kepuasan
pasien berpengaruh terhadap kepercayaan, dan kepercayaan
berpengaruh terhadap loyalitas pasien.
e. Komitmen (commitment)
Loyalitas pasien juga dipengaruhi oleh komitmen hubungan (Zhou et
al., 2017). Komitmen pasien terhadap hubungan pasien dan penyedia
layanan kesehatan menunjukkan bahwa mereka menghargai
hubungan tersebut dan bersedia mempertahankan hubungan yang
stabil dan jangka panjang dengan penyedia layanan kesehatan
(Huang et al. 2021). Patawayati et al. (2013) mengemukakan bahwa
komitmen pasien memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap
loyalitas.
f. Citra (brand image)
Citra adalah aset tidak berwujud (intangible assets) yang berharga
dari sebuah perusahaan (Prasetyo, 2017). Penelitian Sibarani & Riani
(2017) yang dilakukan di Rumah Sakit Prof. Dr. R. Soeharso
Surakarta menunjukan bahwa citra rumah sakit memiliki hubungan
yang positif terhadap loyalitas pasien, tidak hanya meningkatkan
loyalitas pasien saja, tetapi juga citra rumah sakit berpengaruh pada
kepuasan pasien.
g. Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Bekerja sesuai dengan tugas-tugas yang ada dalam job
description disebut in role behavior, sedangkan melakukan
pekerjaan yang tidak terbatas pada tugas yang terdapat dalam job
description disebut extra role behavior atau disebut dengan
Organizational Citizenship Behavior (OCB) (Safaat, 2018).

Jenis-Jenis Loyalitas


Jenis-jenis loyalitas pelanggan menurut Griffin (2019) yaitu:
a. No loyalty (tidak ada kesetiaan)
Untuk berbagai alasan yang berbeda, ada beberapa pelanggan yang
tidak mengembangkan suatu kesetiaan terhadap produk atau jasa
tertentu. Pada dasarnya suatu usaha harus menghindari kelompok no
loyality ini untuk dijadikan target pasar karena mereka tidak akan
pernah menjadi pelanggan yang setia.
b. Inertia loyality (kesetiaan yang tidak aktif)
Suatu tingkat keterikatan yang rendah dengan pembelian ulang yang
tinggi akan mewujudkan suatu inertia loyality. Pelanggan yang
memiliki sikap ini biasanya membeli berdasarkan kebiasaan. Dasar
yang digunakan untuk pembelian produk atau jasa biasanya karena
sudah terbiasa memakainya atau karena faktor kemudahan
situasional.
c. Latent loyality (kesetiaan tersembunyi)
Bagi pelanggan yang memiliki sikap latent loyality, pembelian ulang
banyak dipengaruhi oleh faktor situasional daripada faktor sikapnya
d. Premium loyality (kesetiaan premium)
Merupakan jenis kesetiaan yang terjadi bilamana suatu tingkat
keterikatan yang tinggi berjalan selaras dengan aktivitas pembelian
kembali. Kesetiaan jenis inilah yang sangat diharapkan dari setiap
pelanggan dari setiap usaha

Definisi Loyalitas


Loyalitas berasal dari kata loyal yang berarti setia. Loyalitas pada
dasarnya merupakan kesetiaan, pengabdian dan kepercayaan yang
diberikan atau ditujukan kepada seseorang atau lembaga, yang di
dalamnya terdapat rasa cinta dan tanggung jawab untuk berusaha
memberikan pelayanan dan perilaku yang terbaik (Husni, 2018). Menurut
Kotler & Keller (2016 dalam Curatman et al., 2020), loyalitas adalah
komitmen yang dipegang secara mendalam untuk terus menggunakan
atau mendukung produk atau jasa yang disukai di masa depan bahkan
ketika pengaruh situasional dan usaha pemasaran berpotensi
menyebabkan pelanggan beralih. Loyalitas pelanggan merupakan
manifestasi dari kepuasan pelanggan dalam menggunakan fasilitas dan
jasa pelayanan yang ditawarkan oleh pihak perusahaan, dan tetap
menjadi konsumen dari perusahaan tersebut (Hermanto, 2019).

    Tingkat Kepuasan Masyarakat


    Kepuasan masyarakat adalah hasil pengukuran yang diterima
    langsung oleh masyarakat terhadap pelayanan yang diperoleh
    pegawai pelayanan. Kepuasan masyarakat terhadap organisasi publik
    sangat penting karena adanya hubungan kepercayaan masyarakat.
    Kepercayaan masyarakat akansemakin tinggi apabila masyarakat
    mendapatkan pelayanan yang baik dan merasa terpuaskan akan
    pelayanan tersebut.
    KEPMENPAN Nomor 63 tahun 2003 tentang Pedoman Umum
    Penyelenggaraan Pelayanan Publik menyebutkan bahwa, “Ukuran
    keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat
    kepuasan penerima pelayanan. Kepuasan pelayanan dicapai apabila
    penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang
    dibutuhkan dan diharapkan”. Oleh karena itu, setiap penyelenggara
    pelayanan secara berkala melakukan survei Indeks Kepuasan
    Masyarakat.
    Kepuasan pelanggan dapat diukur menggunakan berbagai
    metode pengukuran. Secara sederhana mengemukakan empat
    metode yang dapat mengukur kepuasan pelanggan, yaitu sebagai
    berikut:
    a. Sistem Keluhan dan Saran Setiap perusahaan yang berorientasi
    kepada pelanggan (customer-oriented) perlu memberikan
    kesempatan seluas- luasnya bagi para pelanggannya untuk
    menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan. Media yang bisa
    digunakan adalah kotak saran, kartu komentar, saluran telepon
    khusus (customer hot lines), dan lain-lain.
    b. Survai Kepuasan Pelanggan Melalui survei, perusahaan akan
    memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari
    pelanggan dan sekaligus juga memberikan tanda (signal) positif
    bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap pelanggannya.

    Pengertian Kepuasan Masyarakat


    Kepuasan masyarakat dapat ditunjukkan melalui sikap
    masyarakat setelah mengonsumsi produk yang didapatkan. Kepuasan
    pelanggan akan terlihat dari seberapa baik produk yang didapatkan
    dan dirasakan. Semakin baik kualitas produk yang didapatkan, maka
    kepuasan pelanggan akan semakin baik.
    Kata kepuasan berasal dari bahasa Latin “satis” yang berarti
    cukup baik, memadai, dan “factio” yang berarti melakukan atau
    membuat. Kepuasan bisa diartikan sebagai “upaya pemenuhan
    sesuatu” atau “membuat sesuatu memadai”.
    Berikut pengertian Kepuasan pelanggan menurut beberapa ahli,
    meliputi: Kepuasan masyarakat adalah tingkat perasaan konsumen
    setelah membandingkan antara apa yang diterima dan harapannya
    Umar (2015:65). Seorang konsumen, jika merasa puas dengan nilai
    yang diberikan oleh produk atau jasa, sangat besar kemungkinannya
    menjadi pelanggan dalam waktu yang lama. hubungan antara
    pelanggan dengan instansi menjadi harmonis, memberikan dasar
    yang baik bagi pembeli (pemakaian) ulang, terciptanya loyalitas dari
    pelanggan serta terbentuknya rekomendasi dari mulut ke mulut yang
    kesemuanya menguntungkan perusahaan

    Manfaat Kepuasan


    Menurut Tjiptono (2012:310-311), kepuasan pelanggan telah
    menjelma menjadi kewajiban bagi setiap organisasi bisnis, peneliti
    pemasaran, eksekutif bisnis, bahkan politisi. Kualitas jasa yang unggul
    dan konsisten dapat menumbuhkan kepuasan konsumen dan akan
    memberikan berbagai manfaat seperti:

    1. Berdampak positif pada loyalitas pelanggan.
    2. Berpotensi menjadi sumber pendapatan masa depan (terutama
      melalui pembelian ulang, cross-selling, dan up-selling).
    3. Menekan biaya transaksi pelanggan di masa depan (terutama biayabiaya komunikasi pemasaran, penjualan, dam layanan pelanggan).
    4. Menekan volatilitas dan risiko berkenaan dengan prediksi aliran kas
      masa depan.
    5. Meningkatkan toleransi harga (terutama kesediaan pelanggan untuk
      membayar harga premium dan pelanggan cenderung tidak mudah
      tergoda untuk beralih pemasok).
    6. Rekomendasi gethok tular positif.
    7. Pelanggan cenderung lebih reseptif terhadap product-line (saluran
      produk), extensions (ekstansi), brand extensions (merek ekstansi),
      dan new add-on services (tambahan layanan baru) yang ditawarkan
      perusahaan.
    8. Meningkatkan bargaining power (daya tawar) relatif perusahaan
      terhadap jaringan pemasok, mitra bisnis, dan saluran distribusi

    Metode Pengukuran Kepuasan


    Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan setiap perusahaan
    untuk mengukur dan memantau kepuasan pelanggannya dan
    pelanggan perusahaan pesaing. Kotler (2002:42), mengemukakan 4
    metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu:

    1. Sistem keluhan dan saran.
      Sebuah perusahaan yang berfokus pada pelanggan mempermudah
      pelanggannya untuk memberikan saran, pendapat dan keluhan
      mereka. Media yang digunakan meliputi kotak saran yang
      diletakkan di tempat-tempat strategis, menyediakan kartu
      komentar, saluran telepon khusus dan sebagainya. Tetapi karena
      metode ini cenderung pasif, maka sulit mendapatkan gambaran
      lengkap mengenai kepuasan dan tidak kepuasan pelanggan. Tidak
      semua pelanggan yang tidak puas lantas akan menyampaikan
      keluhannya. Bisa saja mereka langsung beralih ke perusahaan lain
      dan tidak akan menjadi pelanggan perusahaan tersebut lagi.
    2. Survei kepuasan pelanggan
      Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan di
      lakukan dengan menggunakan metode survei baik melalui pos,
      telepon maupun wawancara pribadi. Pengukuran kepuasan
      pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai
      cara, diantaranya:
      a. Directly Reported Satisfaction
      Pengukuran dilakukan secara langsung melalui pertanyaan.
      b. Derived Dissatisfaction
      Pertanyaan yang di ajukan menyangkut 2 hal utama, yaitu
      besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan
      besarnya kinerja yang telah mereka rasakan atau terima.
    3. Problem Analysis
      Pelanggan yang dijadikan responden, diminta untuk
      mengungkapkan 2 hal pokok yaitu: masalah-masalah yang mereka
      hadapi berkaitan dengan penawaran dari menajemen perusahaan
      dan saran-saran untuk melakukan perbaikan.
    4. Importance-Performance Analysis
      Dalam teknik ini responden diminta meranking berbagai elemen
      dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen
      tersebut. Selain itu juga, responden diminta merangking seberapa
      baik kinerja perusahaan dalam masing-masing elemen tersebut.

    Konsep Kepuasan


    Persaingan yang semakin ketat, di mana semakin banyak
    produsen yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan
    konsumen, menyebabkan setiap perusahaan harus menempatkan
    orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama. Kepuasan
    pelanggan merupakan suatu tingkatan dimana kebutuhan, keinginan,
    dan harapan dari pelanggan dapat terpenuhi yang mengakibatkan
    terjadinya pembelian ulang atau kesetiaan yang berlanjut. Faktor yang
    paling penting untuk menciptakan kepuasan konsumen adalah kinerja
    dan kualitas dari layanan yang diberikan oleh organisasi.
    Kualitas berkaitan erat dengan kepuasan pelanggan. Kualitas
    memberikan dorongan khusus bagi para pelanggan untuk menjalin
    ikatan relasi saling menguntungkan dalam jangka panjang dengan
    persahaan. Menurut Gaspersz dalam Nasution (2005:50), adapun
    faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan pelanggan
    adalah sebagai berikut:

    1. Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang
      dirasakan pelanggan ketika pelanggan sedang mencoba
      melakukan transaksi dengan produsen atau pemasok produk
      (perusahaan). Jika pada saat itu kebutuhan dan keinginannya
      besar, harapan atau ekspektasi pelanggan akan tinggi, demikian
      pula sebaliknya.
    2. Pengalaman masa lalu ketika mengkonsumsi produk dari
      perusahaan maupun pesaing-pesaingnya.
    3. Pengalaman dari teman-teman, dimana mereka akan menceritakan
      kualitas produk yang akan dibeli oleh pelanggan itu. Hal ini jelas
      mempengaruhi persepsi pelanggan terutama pada produk-produk
      yang dirasakan berisiko tinggi.
    4. Komunikasi melalui iklan dan pemasaran juga mempengaruhi
      persepsi pelanggan.

    Kepuasan


    Kepuasan (Satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa
    seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja atau hasil
    produk yang dipikirkan terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan.
    Jika kinerja berada dibawah harapan maka pelanggan tidak puas. Jika
    kinerja memenuhi harapan maka pelanggan puas. Jika kinerja melebihi
    harapan maka pelanggan amat puas atau senang (Kotler, 2006:177).

    Standar Pelayanan Publik


    Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar
    pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi
    penerima layanan. Standar pelayanan merupakan ukuran yang
    dilakukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati
    oleh pemberi dan atau penerima pelayanan. Berdasarkan Peraturan
    Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
    Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pedoman Standar
    Pelayanan, sebagaimana di atur dalam Undang-Undang Nomor 25
    Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menyatakan komponen standar
    pelayanan sekurang-kurangnya meliputi:
    a. Persyaratan;
    b. Sistem, mekanisme, dan prosedur;
    c. Jangka waktu peneyelesaian;
    d. Biaya/tarif;
    e. Produk pelayanan;
    f. Penanganan pengaduan, saran, dan masukan (Fanar, 2009: 56).
    Penyelenggaraan pelayanan publik tidak bisa dilepaskan dari
    standar pelayanannya. Standar inilah yang kemudian menjadi tolak ukur
    pelayanan yang berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan
    publik. Pedoman ini akan berfungsi sebagai acuan pelaksana dan
    pengguna pelayanan dalam memenuhi dan memperoleh hak serta
    kebutuhan dasarnya.

    Jenis Pelayanan Publik


    Menurut Batinggi (2010) ada tiga jenis layanan yang bisa
    dilakukan oleh siapapun, yaitu:

    1. Layanan dengan Lisan
      Layanan dengan lisan dilakukan oleh petugas-petugas di bidang
      Hubungan Masyarakat (HUMAS), bidang layanan informasi, dan
      bidang-bidang lain yang tugasnya memberikan penjelasan atau
      keterangan kepada siapapun yang memerlukan.
      Agar supaya layanan lisan berhasil sesuai dengan yang diharapkan,
      ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pelaku layanan yaitu:
      a) Memahami masalah-masalah yang temasuk ke dalam bidang
      tugasnya.
      b) Mampu memberikan penjelasan apa yang diperlukan dengan
      lancar, singkat tetapi cukup jelas sehingga memuaskan bagi
      mereka yang memperoleh kejelasan mengenai sesuatu.
      c) Bertingkah laku sopan dan ramah.
    2. Layanan Melalui Tulisan
      Layanan melalui tulisan merupakan bentuk layanan yang paling
      menonjol dalam melaksanakan tugas. Layanan tulisan ini terdiri
      dari 2 (dua) golongan yaitu, berupa petunjuk informasi yang
      ditujukan kepada orang-orang yang berkepentingan, agar
      memudahkan mereka dalam berurusan dengan instansi atau
      lembaga pemerintah. Kedua, layanan berupa reaksi tertulis atau
      permohonan laporan, pemberian/penyerahan, pemberitahuan dan
      sebagainya. Adapun kegunaannya yaitu:
      a) Memudahkan bagi semua pihak yang berkepentingan.
      b) Menghindari orang yang banyak bertanya kepada petugas.
      c) Mamperlancar urusan dan menghemat waktu bagi kedua pihak.
      d) Menuntun orang ke arah yang tepat.
    3. Layanan dengan Perbuatan
      Pada umumnya layanan dalam bentuk perbuatan dilakukan oleh
      petugas-petugas yang memiliki faktor keahlian dan keterampilan.
      Dalam kenyataan sehari-sehari layanan ini memang tidak terhindar
      dari layanan lisan jadi antara layanan perbuatan dan lisan sering
      digabung. Hal ini disebabkan karena hubungan pelayanan secara
      umum banyak dilakukan secara lisan kecuali khusus melalui
      hubungan tulis yang disebabkan oleh faktor jarak.
      Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012, secara garis
      besar ruang lingkup pelayanan publik dapat dikelompokkan menjadi
      tiga, yaitu:
    4. Pelayanan administratif
      Jenis pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen
      resmi yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status
      kewarganegaraan, sertifikat kompetensi, kepemilikan atau
      penguasaan terhadap suatu barang dan sebagainya.
    5. Kelompok pelayanan barang
      Jenis pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jenis barang
      yang digunakan oleh publik.
    6. Kelompok pelayanan jasa
      Jenis pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang
      dibutuhkan oleh publik, misalnya pendidikan, pemeliharaan
      kesehatan, penyelenggaraan transportasi, pos dan sebagainya.

    Dimensi Kualitas Pelayanan


    Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) dalam Tjiptono
    (2017) terdapat lima indikator pokok dari kualitas layanan, yaitu:

    1. Reliabilitas (Reliability)
      Kemampuan melaksanakan layanan yang dijanjikan secara
      meyakinkan dan akurat.
    2. Daya Tanggap (Responsiveness)
      Kesediaan membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan
      cepat.
    3. Jaminan (Assurance)
      Pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka
      dalam menumbuhkan rasa percaya dan keyakinan.
    4. Empati (Empathy)
      Kesediaan memberikan perhatian yang mendalam dan khusus
      kepada masing-masing pelanggan.
    5. Bukti Fisik (Tangible)
      Penampilan fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan dan bahan
      komunikasi.
      D. Pelayanan Publik
      Menurut Sinambela (2006:5), istilah publik berasal dari bahas
      Inggris public yang berarti umum, masyarakat, negara. Kata public
      sebenarnya sudah diterima menjadi Bahasa Indonesia Baku menjadi
      ”publik” yang berarti umum, orang banyak dan ramai.

    Karakteristik Kualitas Pelayanan


    Menurut Tjiptono (2000) menyebutkan karakteristik pokok pada jasa
    sebagai berikut:

    1. Intangibility
      Jasa berbeda dengan barang. Jasa bersifat intangible, artinya tidak
      dapat dilihat, dirasa, diraba, dicium, atau didengar sebelum dibeli.
      Konsep intangible ini sendiri memiliki dua pengertian yaitu:
      a. Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa.
      b. Sesuatu yang tidak mudah didefinisikan, diformulasikan, atau
      dipahami secara rohaniah.
    2. Inseparability
      Jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan dari produk yang
      telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut juga inseparability (tidak
      dapat dipisahkan) mengingat pada umumnya jasa dihasilkan dan
      dikonsumsi secara bersamaan. Dalam hubungan penyedia jasa dan
      pelanggan ini, efektivitas individu yang menyampaikan jasa
      merupakan unsur penting.
    3. Variability
      Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan nonstandardized output, artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada
      siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut dihasilkan.
    4. Perishability
      Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan.
      Dengan demikian apabila suatu jasa tidak digunakan, maka jasa
      tersebut akan berlalu begitu saja.

    Kualitas Pelayanan


    Menurut Goetsch and Davis (1994) dalam Tjiptono dan Chandra
    (2016) bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang memiliki
    hubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses dan
    lingkungan yang dapat memenuhi harapan pelanggan. Di dalam kualitas
    terdapat konsep yang dimiliki seperti kualitas desain dan kualitas
    kesesuaian. Kualitas desain merupakan suatu fungsi spesifikasi produk
    sedangkan kualitas kesesuaian merupakan suatu ukuran seberapa besar
    tingkat kesesuaian antara sebuah produk dan jasa dengan persyaratan
    yang sudah ditetapkan.
    Menurut Kotler and Keller (2016) mengatakan, kualitas pelayanan
    juga dapat diartikan sebagai keseluruhan ciri dan karakteristik sifat suatu
    produk atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya untuk
    memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat, sedangkan layanan
    dapat diartikan sebagai tindakan atau kinerja yang dapat ditawarkan satu
    pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
    mengakibatkan kepemilikan sesuatu.

    Kepuasan Pelanggan


    Kepuasan, kata ‘kepuasan atau satisfaction’ berasal dari bahasa latin “satis”
    (artinya cukup baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat) secara
    sederhana kepuasan dapat diartikan sebagai ‘upaya pemenuhan sesuatu’ atau
    ‘membuat sesuatu memadai’. Pelanggan menurut (Melfa, 2013) secara tradisional
    pelanggan diartikan orang yang membeli dan menggunakan produk. Dalam
    perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelanggan adalah orang yang menggunakan
    jasa pelayanan.
    Menurut (Kotler, 2017) mengungkapkan kepuasan adalah perasaan senang atau
    kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang
    dipikirakan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan jika kinerja memenuhi
    harapan, pelanggan puas, jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas.
    Bahwa kepuasan pelanggan adalah situasi kognitif pembeli berkenaan dengan
    kesepadananan atau ketidaksepadanaan antara hasil yang didapatkan dibandingkan
    dengan pengorbanan yang dilakukan. Westbrook dan Reilly berpendapat bahwa
    kepuasan pelanggan adalah respon emosional terhadap pengalaman-pengalaman
    berkaitan dengan produk atau jasa tertentu yang dibeli atau bahkan pola perilaku
    (seperti perilaku berbelanja dan perilaku pembeli), serta pasar secara keseluruhan.
    Respon emosional dipicu oleh proses evaluasi kognitif yang membandingkan
    presepsi (atau keyakinan) terhadap obyek, tindakan atau kondisi tertentu dengan
    nilai-nilai (atau kebutuhan, keinginan dan hasrat) individual.
    Menurut (Daryanto, 2019) menyatakan kepuasan konsumen adalah suatu
    penilaian emosional dari konsumen setelah konsumen menggunakan produk dimana
    harapan dan kebutuhan konsumen yang menggunakan nya terpenuhi. Kepuasan
    konsumen adalah suatu penilaian emosional dari konsumen setelah konsumen
    menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan konsumen yang menggunakan
    terpenuhi. Menurut (Kotler, 2017) ada 4 cara mengukur kepuasan pelanggan :

    1. Complaint and suggestion system (sistem keluhan dan saran).
      Banyak perusahaan membuka kotak saran dan menerima keluhan yang dialami oleh
      langganan .ada juga perusahaan yang memberi amplop yang telah ditulis alamat
      perusahaan untuk digunakan menyampaikan pesan,saran, keluhan serta kritik . saran
      tersebut dapat juga disampaikan melalui kartu komentar,customer hot line,telepon
      bebas pulsa.informasi ini dapat memberikan ide dan masukan kepada perusahaan
      yang memungkinkan perusahaan mengantisipasi dan cepat tanggap terhadap kritik
      dan saran tersebut.
    2. Customer satisfaction surveys (survey kepuasan pelanggan ).
      Dalam hal ini perusahaan melakukan survey untuk mendeteksi komentar pelanggan
      survey ini dapat dilakukan melalui pos,telepon,atau wawancara pribadi atau
      pelanggan diminta mengisi angket.
    3. Ghost shopping ( pembeli bayangan )
      Dalam ini perusahaan menyuruh orang tertentu sebagai pembeli ke perusahaan lain
      atau ke perusahaan nya sendiri. Pembeli misteri ini melaporkan keunggulan dan
      kelemahan yang melayaninya. Juga dilaporkan segala sesuatu yang bermanfaat
      sebagai bahan pengambil keputusan oleh manajemen. Bukan saja orang lain yang
      disewa untuk menjadi pembeli bayangan tetapi juga manajer sendiri harus turun
      tangan ke lapangan, belanja ketoko saingan dimana ia tidak dikenal. Pengalaman
      manajer ini sangat penting karna data dan informasi yang diperoleh langsung ia
      alami sendiri.
    4. Lost customer analiysis (analisa pelanggan yang lari)
      Langganan yang hilang,dicoba dihubungi,nereka diminta untuk mengungkapkan
      mengapa mereka berhenti,pindah ke perusahaan lain,adakah sesuatu masalah yang
      terjadi yang tidak bisa di atasi atau terlambat di atasi.dari kontak semacam ini akan
      diperoleh informasi dan akan memperbaiki kinerja perusahaan sendiri agar tidak ada
      lagi langganan yang lari dengan cara meningkatkan kepuasan mereka.
      Indikator kepuasan konsumen menurut (Tjiptono, 2019) :
    5. Kepuasan pelanggan keseluruhan
    6. Dimensi kepuasan pelanggan
    7. Konfirmasi harapan
    8. Niat beli ulang
    9. Kesediaan untuk merekomendasikan

    Kualitas Pelayanan


    Sudah menjadi keharusan perusahaan melakukan kualitas Kualitas Pelayanan
    yang terbaik supaya mampu bertahan dan tetap menjadi kepercayaan pelanggan.
    Terciptanya Kepuasan Pelanggan dapat memberikan manfaat diantaranya hubungan
    antara Perusahaan dan Pelanggan menjadi harmonis, Pelanggan akan melakukan
    pembelian ulang hingga terciptanya loyalitas Pelanggan, dan membentuk suatu
    rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth) yang menguntungkan Perusahaan.
    Menurut Arianto kualitas Kualitas Pelayanan dapat diartikan sebagai berfokus pada
    memenuhi kebutuhan dan persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi
    harapan pelanggan. Kualitas Pelayanan berlaku untuk semua jenis layanan yang
    disediakan oleh perusahaan saat klien berada di Perusahaan (Arianto, 2018).
    Kualitas Pelayanan merupakan komponen penting yang harus diperhatikan dalam
    memberikan Kualitas Pelayanan prima. Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan titik
    sentral bagi perusahaan karena mempengaruhi kepuasan konsumen dan kepuasan
    konsumen akan muncul apabila kualitas Kualitas Pelayanan yang diberikan dengan
    baik (Raintung et al., 2021). Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan
    bahwa Kualitas Pelayanan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak
    perusahaan berupa hal yang tidak berwujud namun dapat dirasakan oleh konsumen.
    Pengukuran Kualitas Pelayanan dapat dilihat dari terhadap suatu layanan yang telah
    diterima oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan harapannya.

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


    Beberapa riset telah dilakukan dalam menentukan kepuasan pelanggan,
    meskipun ini bukanlah suatu pekerjaan mudah, namun perusahaan harus
    melakukannya agar costumer selalu merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan.
    Menurut McCarthy & Perreault, Jr yang dikutip dari Amatullah (2017) prilaku untuk
    mengukur kepuasan costumer merupakan hal yang sulit, dikarena ketergantungan pada
    tingkat aspirasi dan harapan yang ada.
    Kepuasan Pelanggan berhubungan dengan beberapa faktor yang yang
    mendukung terhadap kepuasan pelanggan, Tjiptono mengatakan bahwa faktor yang
    mempengaruhi kepuasan pelanggan di bagi menjadi dua yaitu faktor internal dan
    eksternal. Faktor internal adalah suatu faktor yang dikendalikan perusahaan, seperti
    sopan santun karyawan, kedisplinan dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal yang
    terdapat diluar kendali dari perusahaan tersebut, seperti iklim, gangguan dilapangan,
    dan masalah pribadi dengan pelanggan. dapat dikatakan bila terjadi hal terkait dengan
    ketidakpuasan, ada beberapa hal yang mungkin akan dilakukan costumer, yaitu:
    a) Tidak melakukan sesuatu, costumer yang tidak puas diam dan tidak melakukan
    apapun, tetapi mereka langsung tidak ingin menggunakan peroduk atau jasa dari
    perusahaan tersebut
    b) Beberapa faktor yang membuat costumer melakukan complain atau tidak, yaitu:

    1. Tingkat kepentingan konsumsi yang dilakukan.
    2. Tingkatan rasa ketidakpuasan pelanggan.
    3. Manfaat yang didapatkan.
    4. Pengetahuan dan pengalaman.
    5. Sikap costumer terhadap keluhan.
    6. Tingkat kesulitan dalam mendapatkan ganti rugi atau kompensasi.
    7. Peluang keberhasilan dalam melakukan suatu complain terhadap perusahaan.
      Terkait dengan hal tersebut, kepuasan pelanggan juga dipengaruhi oleh suatu
      tingkat pelayanan. Menurut Moenir pelayanan dapat dikatakan memuaskan jika orang
      atau sekelompok orang yang dilayani dengan baik, terdapat 4 faktor, yaitu:
      a) Prilaku yang sopan.
      b) Cara penyampaian sesuatu yang berhubungan dengan apa yang harusnya
      diterima oleh yang bersangkutan.
      c) Waktu penyampaian yang tepat dan cepat.
      d) Keramahan.

    KEPUASAN PELANGGAN


    Kepuasan pelanggan faktor kunci dalam berbagai kegiatan usaha atau bisnis.
    Kepuasan pelanggan adalah suatu tanggapan konsumen terhadap evaluasi kinerja yang
    dirasakan antara harapan yang sebelumnya dengan kinerja produk yang mereka
    dirasakan. Dengan terpuaskannya keinginan dan kebutuhan dari costumer, maka hal
    tersebut memiliki efek yang positif bagi perusahaan. Apabila costumer merasa puas
    terhadap suatu produk tentunya costumer tersebut akan selalu menggunakan atau
    mengkonsumsi produk tersebut secara rutin. Dengan begitu suatu produk dari
    perusahaan dapat dinyatakan laku dalam pasar, sehingga perusahaan mendapatkan
    keuntungan dan pada akhirnya perusahaan akan tetap survive atau bertahan dan
    berkembang.
    Menurut Willie mengartikan bahwa kepuasan pelanggan sebagai “Suatu bentuk
    emosional dalam evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa”.
    Sebagai bentuk dari pengalaman yang dirasakan oleh pelanggan setelah mengkonsumsi
    suatu produk atau jasa.
    Sedangkan menurut Gerso Ricard menyatakan bahwa “Kepuasan pelanggan
    adalah suatu persepsi yang dibuat oleh pelanggan melalui harapannya yang telah
    terpenuhi atau terlampaui.
    Schemerhorn berpendapat bahwa pada dasarnya tujuan dari perusahaan yaitu
    melakukan produksi barang atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pelanggannya.
    Definisi kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan secara tradisional yaitu selisih antara
    harapan (expectations) dan kinerja yang dirasakan (perceived performance).
    Pengertian ini memiliki dasar pada “disconfirmation paradigm” dari Oliver), yang
    mengatakan bahwa kepuasan pelanggan disebabkan oleh dua variabel kognitif yaitu
    harapan sebelum pembelian (pre-purchase expectations) yaitu keyakinan tentang hasil
    yang diantisipasi dari suatu produk atau jasa dan “disconfirmation” yaitu perbedaan
    antara harapan sebelum pembelian dan persepsi setelah pembelian (post-purchase
    perception).

    Cara Mengukur Kualitas Pelayanan


    Terdapat beberapa cara dalam meningkatkan suatu pelayanan, salah satunya
    dengan melakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan yang dilakukan secara terusmenerus. Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
    adalah sebagai berikut (Puung, 2015) :
    a) Mendapatkan feed back yang dari costumer
    Feed back yang positif dari costumer adalah suatu nilai plus bagi perusahaan dan
    sebagai bukti pelayanan yang diberikan perusahaan telah sesuai dengan
    ekspektasi costumer
    b) Evaluasi perusahaan
    Evaluasi yang dilakukan perusahaan diantaranya yaitu melakukan survei
    berfokus dengan hal-hal yang paling penting untuk diketahui. Survei dilakukan
    guna mengetahui kepedulian kepada costumer, mengukur tingkat kemampuan
    suatu perusahaan terkait keandalan dan daya tanggap, serta mengetahui kualitas
    produk berdasarkan pengalaman konsumen secara langsung.
    c) Perbaikan pelayanan perusahaan
    Perbaikaan kualitas pelayanan dilakukan dengan cara memberikan standar
    pelayanan perusahaan yang jelas kepada karyawan perusahaan tersebut,
    memberikan pelatihan kepada karyawan agar menjadi seseorang yang
    bertanggung jawab, loyal, dan memiliki etos kerja yang tinggi. Kemungkinan
    yang diperoleh dengan memberikan bonus kepada karyawan yang berprestasi.
    Selain itu, kemudahan kepada costumer dalam memeberikan masukannya adalah
    hal yang perlu untuk dilakukan. Lebih baik jika semua usaha perbaikan kualitas
    pelayanan perusahaan ini agar dilakukan secara berkelanjutan.

    Kualitas Pelayanan Menurut Harapan Pelanggan


    Menurut Mardiana (2017), tingkatan suatu kualitas pelayanan yang diharapkan
    oleh costumer dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
    a) Desired service
    Tingkatan ini adalah suatu harapan costumer terkait pelayanan yang diinginkan,
    seperti kepercayaan costumer tentang pelayanan yang diterima dan dirasakan.
    b) Adequate service
    Tingkatan ini adalah ketika costumer menerima dan merasakan pelayanan yang
    berkaitan berkaitan dengan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi
    permintaan pelayanan tersebut.

    Dimensi Kualitas Pelayanan


    Menurut Garvin yang dikutip oleh Tjiptono (2012) Kualitas pelayanan memiliki
    beberapa dimensi. Unsur-unsur kualitas pelayanan merupakan hasil dari temuan
    peneliti-peneliti kualitas pelayanan. Dimensi ini dibentuk untuk dapat mengukur
    kualitas pelayanan dengan menggunakan suatu kuisioner. Teknik servqual dapat
    mengetahui seberapa besar jarak selisih harapan pelanggan dengan ekspektasi dari
    pelanggan terhadap pelayanan yang diterima serta dirasakanya. Servqual memiliki 5
    dimensi (Nokta, 2018), diantaranya :
    a) Tangiables
    Tangibles adalah bentuk nyata kemampuan suatu perusahaan untuk memberikan
    yang terbaik bagi pelanggan. Termasuk dari sisi fisik display bangunan, fasilitas,
    perlengkapan teknologi, hingga penampilan karyawan.
    b) Reliability
    Reliability adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memberikan pelayanan
    yang sesuai dengan ekspektasi dari harapan konsumen meliputi kecepatan,
    ketepatan waktu dan lain sebagainya.
    c) Responsiveness
    Responsiveness adalah daya tanggap dalam memberikan suatu pelayanan yang
    cepat serta diiringi dengan cara penyampaian yang jelas.
    d) Assurance
    Assurance adalah suatu jaminan dan kepastian yang diberikan oleh perusahaan
    termasuk sikap sopan santun karyawan, komunikasi yang baik, dan pengetahuan
    yang dimiliki, sehingga mampu menumbuhkan rasa percaya pelanggan.
    e) Empathy
    Empathy adalah memberikan suatu perhatian yang tulus dan bersifat personal
    kepada pelanggan, dalam hal ini dilakukan untuk mengetahui keinginan
    konsumen secara akurat dan spesifik

    Definisi Kualitas Pelayanan


    Terdapat beberapa definisi dari kualitas pelayanan yang diutaran oleh beberapa
    ahli. Definisi -definisi tersebut yaitu :
    a) Kualitas pelayanan menurut Saleh
    Menurut Saleh (2010), kualitas pelayanan adalah suatu hasil yang harus
    diperoleh dan dilakukan dengan suatu tindakan. tetapi tindakan tersebut harus
    memiliki kesan yang baik dan dapat dirasakan serta diingat. Efeknya yaitu
    konsumen dapat lebih aktif dalam suatu pelayanan produk dan jasa perusahaan.
    b) Kualitas Pelayanan menurut Fandy Tjiptono
    Menurut Tjiptono (2012) kualitas pelayanan yaitu suatu kondisi yang dinamis
    berkaitan erat dengan produk atau jasa serta sumber daya manusia dan
    lingkungan yang setidaknya diterima atau dapat melebihi kualitas pelayanan
    yang diharapkan. Menurut Tjiptono (2012), arti dari kualitas pelayanan adalah
    suatu upaya pemenuhan kebutuhan costumer yang dilakukan dengan keinginan
    serta ketepatan cara penyampaiannya sehingga dapat memenuhi harapan dari
    kepuasan pelanggan tersebut. Dalam kualitas pelayanan dapat dikatakan baik,
    jika terdapat beberapa kategori pelayanan, antara lain:

    • Kesesuaian waktu dalam pelayanan, termasuk didalamnya waiting time
      selama transaksi maupun proses pembayaran.
    • Akurasi dalam pelayanan, yaitu menekan kesalahan dalam bentuk
      pelayanan maupun transaksi.
    • prilaku ketika memberikan pelayanan.
    • Kemudahan mendapatkan suatu pelayanan, seperti ketersediaan SDM
      untuk melayani konsumen, serta fasilitas pendukung dalam mencari
      ketersediaan suatu produk.
    • Kenyaman konsumen, yaitu seperti tata letak, parkir, ruang tunggu yang
      nyaman, kebersihan, layanan informasi, dan lain sebagainya.
      c) Kualitas pelayanan menurut Gronroos
      Menurut Gronroos yang dikutip dari Sirine Hani (2017), suatu kualitas pelayanan
      yaitu tindakan yang ditawarkan seseorang kepada orang lain. Tindakan ini berupa
      tidak tetapi dapat dirasakan. Intinya pelayanan merupakan suatu tindakan yang
      dilakukan oleh penjual kepada pembeli / pelanggan untuk memenuhi kebutuhan
      dan keinginannya. Tindakan memiliki tujuan agar tercapainya kepuasan
      pelanggan.

    KUALITAS PELAYANAN


    Kualitas pelayanan dapat dibedakan ke dalam dua kategori yaitu jenis kualitas
    pelayanan yang baik dan kualitas pelayanan yang buruk. Kualitas pelayanan bukanlah
    suatu hal yang kaku, melainkan bersifat fleksibel dan dapat dirubah. Perubahan –
    perubahan ini ditentukan dalam peningkatan kualitas pelayanan agar semakin lebih
    baik lagi dan dapat dipertahanlan. Dalam proses perubahan-perubahan suatu kualitas
    pelayanan tersebut diperlukan beberapa hal dalam prosesnya. Seperti observasi kepada
    pelanggan, yang terdiri berupa masukan, pendapat maupun feedback tentang
    pelayanan yang telah diberikan dan diterima pelanggan.
    Kualitas pelayanan dapat diasumsikan sebagai suatu tingkatan kepuasan
    pelanggan. Sedangkan tingkat kepuasan pelangg dapat diperoleh dari perbandingan
    atas jenis pelayanan yang diterima oleh konsumen tersebut dengan jenis pelayanan
    yang diharapkan. Jenis kualitas pelayanan dikatakan baik yaitu pelayanan yang
    memuaskan dan sesuai dengan ekspektasi pelayanan yang diharapkan oleh konsumen.
    Sedangkan jenis kualitas pelayanan yang buruk yaitu suatu pelayanan yang berada jauh
    dibawah ekspekstasi pelayanan yang diharapkan oleh konsumen.
    Kualitas pelayanan menjadi factor penting karena akan berdampak langsung
    terhadap citra/pandangan terhadap perusahaan. Kualitas pelayanan yang baik akan
    menjadi sebuah nilai plus bagi perusahaan. Jika suatu perusahaan memiliki nilai positif
    di mata konsumen, maka konsumen tersebut akan bersedia memberikan feedback yang
    baik, serta bukan tidak mungkin akan menjadi pelanggan tetap atau repeat buyer. Maka
    dari itu, sangat penting untuk memperbaiki aspek-aspek kepuasan pelanggan yang
    berhubungan dengan kualitas pelayanan yang diberikan. Jenis-jenis pelayanan yang
    yang dapat diberikan seperti kemudahan dalam orderan, kecepatan pelayanan,
    kemampuan, dan atitude yang ditunjukkan melalui sikap dan prilaku langsung kepada
    konsumen. (Puung Florensia 2016)

    Indikator Loyalitas Kerja


    Menurut (Witari & Heryenzus, 2019) terdapat indikator loyalitas
    karyawan sebagai berikut :

    1. Mampu bertahan dalam organisasi
    2. Mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan
      organisasi
    3. Bersedia untuk kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan
    4. Mempromosikan perusahaan kepada pelanggan dan masyarakat
      umum
    5. Mau bekerja sama dan membantu rekan kerja sesamanya

    Loyalitas


    Menurut (Agmasari & Septyarini, 2023) loyalitas karyawan
    merupakan bagian penting dalam perusahaan karena apabila karyawan
    loyal terhadap perusahaan operasional perusahaan akan lebih stabil dan
    begitupun sebaliknya apabila loyalitas karyawan pada perusahaan rendah,
    banyak karyawan yang akan mengundurkan diri sehingga kegiatan
    operasional perusahaan akan terhambat. (Riyanti, 2017), mengatakan
    bahwa loyalitas kerja karyawan adalah tekad dan kemampuan untuk
    mengikuti dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, tekad dan
    kemampuan yang harus ditunjukkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari,
    dan dalam pelaksanaan tugas. Pendapat ini dimaknai bahwa loyalitas
    karyawan terhadap pekerjaan timbul secara internal serta loyalitas
    terhadap perusahaan tempatnya bekerja karena tanggung jawab dan
    kemampuannya.
    (Kadarwati, 2017), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan
    terhadap pekerjaan adalah aktivitas fisik, psikologis, dan sosial yang
    menyababkan individu memilih sikap untuk mengikuti aturan tekad untuk
    melakukan dan mempraktikkan sesuatu yang dipahami sebagai sesuatu
    yang bermakna, penuh pengetahuan dan tanggung jawab serta persepsi
    pribadi terhadap upaya pencapaian tujuan organisasi pemerintahan
    berdasarkan keahliannya untuk meningkatkan efektivitas organisasi
    pemerintahan dan disertai dengan dedikasi yang konsisten dan kuat.
    Sedangkan (Suhendi, 2017), mengatakan loyalitas kerja karyawan
    ditunjukkan dengan adanya komitmen karyawan terhadap perusahaan,
    komitmen organisasi dapat dibentuk oleh beberapa faktor baik dari
    organisasi maupun individu

    Hubungan Loyalitas Dengan Tingkat Kedisiplinan Kerja


    Loyalitas adalah sikap kesetiaan, pengabdian dan kepercayaan karyawan
    terhadap organisasi atau perusahaan sehingga organisasi atau perusahaan dapat
    mencapai tujuan-tujuannya, adanya fasilitas-fasilitas kerja, tunjangan
    kesejahteraan, suasana kerja upah yang diterima, karakteristik pribadi individu
    atau karyawan, karakteristik pekerjaan, karakteristik desain perusahaan dan
    pengalaman yang diperoleh selama karyawan menekuni pekerjaan itu dan aspekaspek yang mempengaruhi loyalitas kerja adalah peraturan, tanggung jawab, sikap
    kerja, pengabdian, kejujuran.
    Disiplin kerja adalah sikap, tingkah laku atau perbuatan pada karyawan
    untuk melakukan aktifitas-aktifitas kerja yang sesuai dengan pola-pola tertentu,
    keputusan-keputusan peraturan dan norma-norma yang telah ditetapkan serta
    disetujui bersama baik secara lisan maupun tertulis antara karyawan dengan
    perusahaan tempat kerjanya, serta sanggup menerima sanksi-sanksi bila
    melanggar aturan, tugas dan wewenang yang diberikan.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kerja adalah faktor-faktor dari
    luar individu yaitu kepemimpinan, peranan yang berlaku di lingkungan kerja serta
    faktor dari dalam yaitu moral atau semangat dan kesadaran dari karyawan akan
    pentingnya disiplin kerja, disiplin karena kepatuhan akan komitmen yang ada, dan
    kepatuhan yang didasarkan pada identifikasi, sedangkan aspek-aspek yang
    mempengaruhi disiplin kerja adalah keteraturan waktu bekerja (jam masuk kerja,
    pulang kerja dan istirahat), cara berpakaian dan tingkah laku dalam bekerja,
    menggunakan bahan dan perlengkapan kerja dengan baik-baik, kepatuhan
    terhadap peraturan, bekerja dengan motivasi tinggi, mentaati instruksi kerja, dan
    mengikuti cara kerja yang ditentukan oleh organisasi/perusahaan.
    Poerwopoespito (2004) menyatakan bahwa mempunyai loyalitas kepada
    pekerjaan tercermin pada sikap karyawan yang mencurahkan kemampuan dan
    keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, jujur dan
    disiplin dalam bekerja dalam mencapai hasil kerja yang tinggi.

    Aspek-Aspek Kedisiplinan Kerja


    Saydam (2000), menyatakan bahwa aspek – aspek kedisiplinan kerja
    meliputi;
    a. Aspek keteraturan jam masuk, pulang kerja dan istirahat
    b. Aspek cara berpakaian, dan bertingkah laku dalam pekerjaan
    c. Aspek cara kerja
    d. Aspek keteraturan terhadap apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh
    para karyawan selama dalam perusahaan.
    Aspek-aspek pengukuran disiplin kerja oleh Natsir (Astuti, 1997) yaitu:
    a. Aspek keteraturan dan ketepatan waktu kerja yaitu datang dan pulang kerja
    dengan teratur dan tepat waktu.
    b. Aspek penggunaan pakaian kerja yaitu berpakaian rapi dan lengkap ditempat
    kerja.
    c. Aspek penggunaan bahan dan alat perlengkapan kerja yaitu menggunakan
    alat bahan dan alat perlengkapan dengan hati-hati.
    d. Aspek penggunaan waktu kerja, yaitu menggunakan waktu kerja yang
    sepenuhnya dan seefisien mungkin.
    e. Aspek cara kerja yaitu mengikuti cara kerja seperti yang telah ditentukan oleh
    perusahaan.
    f. Aspek kepatuhan terhadap peraturan kerja yaitu tidak melakukan hal-hal yang
    telah menjadi larangan perusahaan

    Aspek-Aspek Kedisiplinan Kerja
    Saydam (2000), menyatakan bahwa aspek – aspek kedisiplinan kerja
    meliputi;
    a. Aspek keteraturan jam masuk, pulang kerja dan istirahat
    b. Aspek cara berpakaian, dan bertingkah laku dalam pekerjaan
    c. Aspek cara kerja
    d. Aspek keteraturan terhadap apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh
    para karyawan selama dalam perusahaan.
    Aspek-aspek pengukuran disiplin kerja oleh Natsir (Astuti, 1997) yaitu:
    a. Aspek keteraturan dan ketepatan waktu kerja yaitu datang dan pulang kerja
    dengan teratur dan tepat waktu.
    b. Aspek penggunaan pakaian kerja yaitu berpakaian rapi dan lengkap ditempat
    kerja.
    c. Aspek penggunaan bahan dan alat perlengkapan kerja yaitu menggunakan
    alat bahan dan alat perlengkapan dengan hati-hati.
    d. Aspek penggunaan waktu kerja, yaitu menggunakan waktu kerja yang
    sepenuhnya dan seefisien mungkin.
    e. Aspek cara kerja yaitu mengikuti cara kerja seperti yang telah ditentukan oleh
    perusahaan.
    f. Aspek kepatuhan terhadap peraturan kerja yaitu tidak melakukan hal-hal yang
    telah menjadi larangan perusahaan

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kedisiplinan Kerja


    Brigham (1994), menyatakan bahwa disiplin kerja merupakan suatu sikap
    dan perilaku, dimana pembentukan perilaku jika dilihat dari formula Kurt Lewin
    yaitu interaksi antara faktor kepribadian dan faktor lingkungan (situasional):
    a. Faktor Kepribadian
    Faktor yang penting dalam diri kepribadian seseorang adalah sistem
    nilai yang dianut, sistem nilai dalam hal ini yang berkaitan langsung dengan
    disiplin. Nilai-nilai yang menjunjung disiplin yang diajarkan atau ditanamkan
    orang tua, guru, dan masyarakat akan digunakan sebagai kerangka acuan bagi
    penerapan disiplin di tempat kerja. Sistem nilai akan terlihat dari sikap
    seseorang, dan sikap diharapkan akan tercermin dalam perilaku. Perubahan
    sikap ke dalam perilaku terdapat 3 tingkatan menurut Kelman (Brigham,
    1994) :

    1. Disiplin karena kepatuhan akan komitmen yang ada
      Disiplin kerja dalam tingkat ini dilakukan semata-mata untuk
      mendapatkan reaksi positif dari pimpinan atau atasan yang memiliki
      wewenang. Sebaliknya, jika pengawas tidak ada di tempat maka disiplin
      kerja tidak tampak, contoh pengendara sepeda motor hanya memakai
      helm jika ada polisi. Karyawan tidak akan mengambil sisa bahan
      produksi jika ada mandor. Jika tidak ada mandor, sisa bahan akan lenyap.
    2. Disiplin karena identifikasi
      Kepatuhan yang didasarkan pada identifikasi adalah adanya perasaan
      kegaguman atau penghargaan pada pimpinan. Pemimpin yang
      kharismatik adalah figur yang dihormati, dihargai, dan sebagai pusat
      identifikasi. Karyawan yang menunjukan disiplin terhadap aturan-aturan
      organisasi bukan disebabkan menghormati aturan tersebut tetapi lebih
      disebabkan keseganan pada atasan. Penghormatan dan penghargaan
      karyawan pada atasan dapat disebabkan karena kualitas profesional yang
      tinggi di bidangnya. Jika pusat identifikasi ini tidak ada maka disiplin
      kerja akan menurun, sehingga pelanggaran meningkat frekuensinya
    3. Disiplin karena internalisasi
      Disiplin kerja dalam tingkat ini terjadi karena karyawan mempunyai
      sistem nilai pribadi yang menjujung tinggi nilai-nilai kedisiplinan. Dalam
      taraf ini, orang dikategorikan telah mempunyai disiplin diri. Misalnya;
      walaupun dalam situasi yang sepi di tengah malam hari ketika ada lampu
      merah menyala, si sopir tetap berhenti. Walaupun tergeletak uang di atas
      meja dan si majikan sedang pergi, si pembantu tidak mengambil uang.
      b. Faktor Lingkungan
      Disiplin kerja yang tinggi tidak muncul begitu saja tetapi merupakan
      suatu proses belajar yang terus-menerus. Agar proses pembelajaran dapat
      berjalan efektif, maka pemimpin yang merupakan agen pengubah perlu
      memperhatikan prinsip-prinsip konsisten, adil, dan bersikap positif dalam
      membuat suatu komitmen perturan dalam organisasi atau perusahaan.

    Pengertian Kedisiplinan Kerja


    Moekijat (1985) berpendapat bahwa disiplin adalah latihan atau
    pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Sementara
    disiplin menurut Hurlock (1993), disiplin merupakan suatu proses latihan atau
    belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan.
    Disiplin kerja adalah sikap pribadi karyawan dalam hal ketertiban dan
    keteraturan diri yang dimiliki oleh karyawan dalam bekerja di perusahaan tanpa
    ada pelanggaran-pelanggaran yang merugikan dirinya, orang lain, atau
    lingkungannya (Aritonang, 2005) sementara menurut Soedjono (Farida, 2002)
    mengemukakan bahwa dalam pembicaraan sehari-hari disiplin biasanya dikaitkan
    dengan keadaan tertib, artinya sesuatu keadaan dimana perilaku seseorang
    mengikuti pola-pola tertentu yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
    Atmosudirjo (Farida, 2002) mengatakan bahwa disiplin kerja adalah
    ketaatan pada lembaga beserta aturan-aturannya dengan kesadaran bahwa dengan
    ketaatan semacam itu maka tujuan perusahan akan dicapai. Pengertian ketaatan
    dalam disiplin ini adalah pengendalian diri yang sifatnya sadar dan rasional, sama
    sekali tidak ada emosi di dalamnya. Disiplin berarti menunjukan suatu kondisi
    atau sikap hormat yang ada pada diri karyawan pada peraturan dan ketetapan
    perusahaan.
    Disiplin kerja menurut Semito (Aridhiana, 1999) diartikan sebagai suatu
    sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan baik yang tertulis
    maupun yang tidak tertulis. Fayol (Manullang, 2002) berpendapat bahwa disiplin
    berarti melakukan apa yang sudah disetujui bersama antara pimpinan dan para
    pekerja baik persetujuan tertulis, lisan maupun berupa peraturan-peraturan atau
    kebiasaan-kebiasaan. Sinungan (Amriyani, 2004) berpendapat bahwa disiplin
    adalah suatu sikap yang sesuai dengan peraturan dari perusahaan, baik yang
    tertulis maupun tidak.

    Aspek-Aspek Loyalitas Kerja


    Aspek-aspek loyalitas kerja yang terdapat pada individu dikemukakan oleh
    Siswanto (Nitisemito, 2002) yang menitik beratkan pada pelaksanaan kerja yang
    dilakukan karyawan antara lain:
    a. Taat pada peraturan
    Karyawan mempunyai tekat dan kesanggupan untuk menaati segala
    peraturan, perintah dari perusahaan dan tidak melanggar larangan
    yang telah ditentukan baik secara tertulis maupun tidak tertulis.
    Peningkatan ketaatan tenaga kerja merupakan prioritas utama dalam
    pembinaan tenaga kerja dalam rangka peningkatan loyalitas kerja pada
    perusahaan.
    b. Tanggung jawab
    Karakteristik pekerjaan dan prioritas tugasnya mempunyai
    konsekuensi yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan
    dalam melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya dan kesadaran
    setiap resiko melaksanakan tugas akan memberikan pengertian
    tentang keberanian dan kesediaan menanggung rasa tanggung jawab
    ini akan melahirkan loyalitas kerja. Dengan kata lain bahwa karyawan
    yang mempunyai loyalitas yang tinggi, maka karyawan tersebut
    mempunyai tanggung jawab yang lebih baik.
    c. Sikap kerja
    Sikap mempunyai sisi mental yang mempengaruhi individu dalam
    memberikan reaksi terhadap stimulus mengenai dirinya diperoleh dari
    pengalaman dapat merespon stimulus tidaklah sama. Ada yang
    merespon secara positif dan ada yang merespon secara negatif

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja


    Loyalitas kerja akan tercipta apabila karyawan merasa tercukupi dalam
    memenuhi kebutuhan hidup dari pekerjaannya, sehingga mereka betah bekerja
    dalam suatu perusahaan. Yuliandri (2010) menegaskan bahwa faktor-faktor yang
    mempengaruhi loyalitas karyawan adalah adanya fasilitas-fasilitas kerja, tinjauan
    kesejahteraan, suasana kerja serta upah yang diterima dari perusahaan.
    Selanjutnya Steers dan Porter (1983) menyatakan bahwa timbulnya
    loyalitas kerja dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu:
    a. Karakteristik pribadi, meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat
    pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan beberapa sifat kepribadian.
    b. Karakteristik pekerjaan, berupa tantangan kerja, job stress, kesempatan
    berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi tugas, umpan balik
    tugas dan kecocokan tugas.
    c. Karakteristik desain perusahaan, menyangkut pada intern perusahaan
    itu yang dapat dilihat dari desentralisasi, tingkat formalisasi, tingkat
    keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, paling tidak telah
    menunjukkan berbagai tingkat asosiasi dengan tanggung jawab
    perusahaan, ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol
    perusahaan.
    d. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan, meliputi sikap positif
    terhadap perusahaan, rasa percaya pada sikap positif terhadap
    perusahaan, rasa aman

    Pengertian Loyalitas Kerja


    Menurut Poerwadarminta (2002), loyalitas dapat diartikan dengan
    kesetiaan, pengabdian dan kepercayaan yang diberikan atau ditujukan kepada
    seseorang atau lembaga, yang didalamnya terdapat rasa cinta dan tanggung jawab
    untuk berusaha memberikan pelayanan dan perilaku yang terbaik. Steers & Porter
    (Nitisemito, 2002) berpendapat bahwa: Pertama, loyalitas kepada perusahaan
    sebagai sikap, yaitu sejauh mana seseorang karyawan mengidentifikasikan tempat
    kerjanya yang ditunjukan dengan keinginan untuk bekerja dan berusaha sebaikbaiknya dan kedua, loyalitas terhadap perusahaan sebagai perilaku, yaitu proses
    dimana seseorang karyawan mengambil keputusan pasti untuk tidak keluar dari
    perusahaan apabila tidak membuat kesalahan yang ekstrim.
    Dalam melaksanakan kegiatan kerja karyawan tidak akan terlepas dari
    loyalitas dan sikap kerja, sehingga dengan demikian karyawan tersebut akan
    selalu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Karyawan merasakan adanya
    kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan. Hasibuan (2001),
    mengemukakan bahwa loyalitas kerja atau kesetiaan merupakan salah satu unsur
    yang digunakan dalam penilaian karyawan yang mencakup kesetiaan terhadap
    pekerjaannya, jabatannya dan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh
    kesediaan karyawan menjaga dan membela organisasi di dalam maupun di luar
    pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggungjawab.

    Lingkungan kerja mempengaruhi loyalitas karyawan


    Lingkungan kerja berdampak positif bagi tingkat loyalitas karyawan sebab
    jika lingkungan kerja mempunyai sarana yang mencukupi bagi karyawan artinya
    tingkat loyalitas karyawan bisa naik (Kurniati, 2022). Selain itu, merujuk pada
    kajian Larastrini & Adnyani (2019), lingkungan kerja mempunyai relasi positif bagi
    loyalitas karyawan, sebab makin baik lingkungan kerja internal maka semakin
    tinggi pula tingkat loyalitas karyawan. Lingkungan kerja berpengaruh positif bagi
    loyalitas sebab makin baik lingkungan kerja karyawan artinya karyawan tersebut
    akan makin loyal (Putra & Sriathi, 2018). Merujuk pada kajian Asriandi dkk (2018),
    lingkungan kerja bisa berdampak pada loyalitas karyawan sebab makin nyaman
    perasaan seorang karyawan terhadap lingkungan kerja artinya akan makin loyal
    karyawan tersebut. Lingkungan kerja berdampak pada loyalitas kerja karyawan,
    sebab badan usaha berusaha untuk memastikan lingkungan kerja yang menunjang
    dimana karyawan merasa nyaman dan menimbulkan loyalitas (Giovanni & Ie,
    2022). Terdapat segelintir aspek di lingkungan kerja yang berdampak pada loyalitas
    karyawan. Khususnya lingkungan yang tepat serta sesuai, contohnya suhu tempat
    kerja yang normal, pencahayaan yang nyaman, serta kondisi dan situasi yang tidak
    berisik sehingga memungkinkan karyawan untuk bersantai selama bekerja (Sari &
    Karnadi, 2019).

    Beban kerja mempengaruhi loyalitas karyawan


    Melalui kajian Fajarullaili (2018) menerangkan jika beban kerja berdampak
    positif bagi loyalitas karyawan sebab makin banyak beban kerja yang didapat maka
    makin tinggi juga loyalitasnya. Ini dikarenakan karyawan tidak suka menganggur
    sebab dapat memunculkan kebosanan. Serta merujuk pada kajian Coker dkk (2018),
    beban kerja berdampak positif bagi loyalitas, sebab mereka menjelaskan bahwa
    beban kerja yang selaras dengan keterampilan dapat mendorong karyawan yang
    loyal. Melalui penelitiannya Syahbani (2020) dijelaskan bahwa tugas yang belum
    tuntas adalah kewajiban karyawan. Selain itu, keadaan beban kerja yang tidak
    selaras dengan keahliannya bisa membuat karyawan sakit, yang dapat membuat
    karyawan merasa kesehatannya terganggu, jadi bisa berdampak bagi loyalitas. Ada
    relasi yang besar pada beban kerja dengan loyalitas karyawan, karena beban kerja
    yang berlebihan berdampak pad kepuasan kerja serta performa karyawan, dan
    selanjutnya loyalitas karyawan (Eristaria et al., 2020). Jika karyawan dituntut untuk
    menyelesaikan aktivitas mental serta fisik melalui jangka waktu tertentu, maka
    persepsi terkait beban kerja akan berpengaruh positif terhadap loyalitas terkait
    unsur pekerjaan dan atribut peran (Lumban, 2021). Merujuk pada kajian Kurniati
    (2022), beban kerja berdampak positif bagi loyalitas karyawan. Loyalitas karyawan
    meningkat jika beban kerja berupa jam kerja yang optimal. Beban kerja
    mempengaruhi loyalitas karyawan. Hal ini tercermin dari untuk meningkatkan
    loyalitas karyawan di perusahaan, dengan beban kerja yang tidak boleh terlalu
    tinggi (Suryaningsih & Anwar, 2023).

    Indikator Lingkungan Kerja


    Menurut penelitian Hasi et al., (2020) terdapat beberapa indikator
    dalam lingkungan kerja yaitu:
    a) Sarana serta Prasarana
    b) Sirkulasi Udara
    c) Penerangan Tempat Kerja
    d) Interaksi Karyawan
    e) Kondisi Tempat Kerja

    Lingkungan Kerja


    Pada kajian Thomas Stefanus Kaihatu dkk (2015), lingkungan kerja mengacu
    pada peralatan serta fasilitas yang terdapat di lingkungan tempat karyawan bekerja
    dan bisa mempengaruhi kinerja kerjanya. Untuk meraih capaian organisasi,
    organisasi harus mampu mencetak lingkungan kerja yang positif serta nyaman,
    entah fisik atau non fisik. Aspek internal serta eksternal yang terdapat di lokasi kerja
    karyawan adalah faktor fisik, contohnya kursi, meja kerja, serta perlengkapan
    lainnya yang bisa berdampak pada kegiatan kerja karyawan ini (Riani & Putra,
    2017).
    Pendapat berbeda diungkapkan Rahayu & Rushadiyati (2021) yang juga
    memiliki gagasan jika lingkungan kerja yang mendukung dapat membentuk rasa
    aman serta tenang bagi karyawan, jadi mereka bisa bekerja dengan maksimal.
    Lingkungan kerja juga berdampak pada cara karyawan melaksanakan tugasnya.
    Saat karyawan puas terjadap lingkungan kerjanya, pekerjaan jadi lebih
    menyenangkan. Di sisi lain, kajian Siahaan & Bahri (2019) menemukan bahwa
    lingkungan kerja di organisasi memiliki pengaruh langsung serta tidak langsung,
    serta lingkungan kerja yang tidak mendukung bisa mengurangi produktivitas
    karyawan, dan hal ini sangat penting bagi karyawan yang bekerja di sana

    Indikator Beban Kerja


    Merujuk pada Arfani & Luturlean (2018) berpendapat terdapat beberapa
    parameter untuk beban kerja, antara lain:
    1) Beban waktu
    Menunjukkan berapa lama waktu yang diperlukan guna menyiapkan,
    menjalankan, serta mengawasi suatu tugas atau pekerjaan.
    2) Beban usaha mental
    Menunjukkan usaha mental yang besar saat menjalankan tugas.
    3) Beban Tekanan Psikologis (psychological stress load)
    Hal ini melibatkan risiko professional, kebingungan, dan frustasi
    pada tingkat tertentu.

    Beban Kerja


    Dengan kata lain beban kerja merupakan suatu pekerjaan maupun
    kewajiban yang dibagikan untuk seorang pekerja serta wajib dituntaskan pada
    jangka waktu khusus. Pekerjaan yang menuntut fisik dan mental pada sebuah
    perusahaan bisa berdampak pada kondisi emosi pekerja baik di dalam maupun di
    luar tempat kerja. Setiap perusahaan menginginkan pencapaian dari setiap
    karyawan yang bekerja di dalamnya, karena percaya hal itu akan membantu
    perusahaan lebih mudah mencapai tujuan perusahaan. Beban kerja yang tinggi
    dapat menimbulkan stres, yang disebabkan oleh tuntutan terlalu tinggi (Sulastri,
    2020). Oleh karena itu, kelangsungan dalam suatu perusahaan sangat dipengaruhi
    oleh kinerja karyawan, dan untuk memiliki karyawan dengan kinerja yang baik dan
    maksimal maka perlu diperhatikan sumber daya manusianya. Dalam setiap jenis
    pekerjaan pasti memiliki kesulitan masing-masing dan diri manusia dirancang agar
    dapat melakukan aktivitas kerja sehari-hari.
    Dari segi ergonomi, beban kerja yang dibebankan badan usaha terhadap
    karyawannya wajib seimbang serta selaras dengan pemahaman serta kemahiran
    fisik karyawannya (Mahawati, E., 2021). Selain itu, loyalitas karyawan meningkat
    ketika beban kerja sesuai serta terkait dengan kinerja (Coker et al., 2018). Memang
    beban kerja berlebih dapat memberikan dampak yang tidak baik bagi karyawan,
    namun beban kerja yang rendah ternyata juga memiliki dampak negatifnya.
    Munculnya rasa bosan dalam bekerja yang menyebabkan seorang karyawan bisa
    menjadi tidak produktif dan dapat menyebabkan munculnya rasa jenuh pada diri
    karyawan sehinggal dapat menyebabkan stress (Jabatan et al., 2020)

    Indikator Loyalitas Karyawan


    Terdapat beberapa indikator oleh Rivai, A. dan Nugrahini, (2022)
    berikut diantaranya:
    a) Taat Pada Peraturan
    Loyalitas menaati peraturan muncul dari persepsi pekerja bahwa
    peraturan diberlakunya semata-mata untuk memperlancar alur kerja dan
    karyawan tidak merasa terpaksa melakukannya.
    b) Tanggung Jawab
    Karyawan yang bertanggung jawab melakukan pekerjaannya
    dengan antusias dan mengembangkan keterampilan yang berguna dalam
    pekerjaannya.
    c) Kemauan Untuk Bekerjasama
    Seseorang yang memiliki sikap loyal, tidak segan-segan untuk
    bekerjasama dengan rekan kerja dalam tim, karena hal ini bisa meraih
    capaian yang sekiranya tidak sanggup diraih sendiri.
    d) Hubungan Antar Individu
    Karyawan yang memiliki sikap loyal memiliki relasi pribadi
    yang baik dengan pegawai lain maupun pimpinannya.
    e) Kesukaan Terhadap Pekerjaan
    Seorang pekerja pasti pernah merasa jenuh atau penat dalam
    bekerja. Oleh karena itu, jika karyawan memiliki loyalitas yang tinggi,
    masalah tersebut pasti akan teratasi.

    Loyalitas Karyawan


    Loyalitas karyawan mengacu pada suatu sikap atau perasaan setia
    seseorang terhadap pekerjaannya, perusahaan atau organisasi (Bisnis et al.,
    2018). Loyalitas karyawan dalam perusahaan tercermin dengan sikap bersedia
    untuk mendukung, mempertahankan, dan tetap setia meskipun dihadapkan pada
    tekanan atau godaan untuk berpindah atau meninggalkan perusahaan. Selain itu,
    karyawan juga akan berupaya memberikan kontribusi yang positif terhadap
    tugas yang diberikan oleh perusahaan.
    Menurut Astiti et al., (2019) menyatakan loyalitas pada karyawan dalam
    perusahaan ditimbulkan atas rasa puas bekerja yang telah dilalui karyawan dan
    berkaitan erat dengan kinerja dari sumber daya manusia. Karyawan dengan
    sikap loyalitas cenderung rela berkorban demi perusahaan, pengorbanan yang
    diberikan yaitu berupa memberikan waktu dan tenaga lebih serta beban pikiran
    yang membludak, akan tetapi karyawan tidak menuntut kompensasi atas
    kontribusi yang telah diberikan.
    Putra & Sriathi (2018) mengatakan bahwa loyalitas karyawan
    memberikan pengaruh besar bagi badan usaha, karena apabila karyawan setia
    pada badan usaha, artinya akan meningkatkan kinerja dan operasional
    perusahaan juga akan lebih stabil. Salah satu cara untuk mengetahui suatu
    karyawan loyal atau tidak pada perusahaan dapat dilihat dari indikator loyalitas
    itu sendiri. Loyalitas yaitu mencakup “Menaati peraturan, kemampuan
    melaksanakan tugas, kemauan untuk bekerjasama, sikap kerja dan rasa
    memiliki”.
    Menurut Nursiti & Fedrick (2018), loyalitas merupakan suatu hubungan
    ketertarikan antara karyawan dengan perusahaan sehingga secara sadar menaati
    aturan, melakukan pekerjaan sebaik mungkin dengan waktu yang tepat dan
    bersikap jujur. Namun sebaliknya karyawan dengan loyalitas rendah cenderung
    sering mangkir kerja, absen dan bahkan dengan mudah pindah ke perusahaan
    lain jika fasilitas yang ditawarkan lebih memadai (Nasution, 2019). Dengan
    demikian, hubungan antara karyawan dengan perusahaan dapat dijelaskan
    sebagai hubungan yang saling
    memberikan manfaat, misalnya, dalam perusahaan membutuhkan karyawan
    dan begitupun sebaliknya

    Manajemen Sumber Daya Manusia


    Manajemen SDM adalah prosedur penyiapan, pengorganisasian, serta
    pengawasan SDM pada sebuah badan usaha. Handoko (2020:1)
    mengartikan manajemen SDM menjadi seleksi, perolehan, pengembangan,
    serta penjagaan kualitas SDM guna meraih capaian organisasi.
    Menurut Hadi et al., (2022) manajemen SDM mempunyai empat
    capaian, yakni:

    1. Pengakuan terhadap kehadiran manajemen SDM (HRDM) serta
      partisipasinya bagi teraihnya tujuan organisasi, yaitu manajemen sumber
      daya manusia (HRDM) dan efektivitas perusahaan.
    2. Tujuan fungsional, yakni menjaga suatu departemen pada taraf yang
      mencukupi keperluan perusahaan. Apabila standar pengelolaan SDM nya
      rendah, maka nilai SDM nya akan hilang.
    3. Sasaran Sosial: Respons etis serta sosial atas keperluan serta hambatan
      masyarakat lewat cara-cara meminimalisir pengaruh negatif atas organisasi.
      Maka dari itu, SDM merupakan satu faktor esensial bagi
      keberhasilan sebuah perusahaan. Badan usaha wajib melaksanakan usaha
      penguatan keahlian SDM guna mendorong performa organisasi.

    Hubungan Iklim Organisasi dengan Loyalitas Kerja


    Loyalitas kerja merupakan perhatian utama bagi tiap organisasi.
    Untuk dapat berkembang dan bersaing dengan intitusi satu dengan yang
    lainnya dalam kondisi ketatnya persaingan, sebuah intitusi harus
    mengembangkan salah satu faktor penting seperti loyalitas karyawan.
    Adanya loyalitas karyawan dapat menentukan efektivitas dan efisiensi
    organsasi. Karyawan dengan loyalitas yang tinggi akan memberikan
    pengaruh positif pada institusi salah satu diantaranya dapat mempelancar
    jalannya operasional institusi dan mengurangi masalah turn over
    karyawan yang dapat memunculkan masalah pada SDM (Oei, 2010).
    Tingkat perpindahan karyawan yang tinggi akan dapat merugikan pihak
    perusahaan karena dapat menurunkan produktivitas kerja dan dapat
    mempengaruhi secara langsung kelangsungan hidup organisasi.
    Dalam sebuah organisasi, loyalitas karyawan tidak dapat terbentuk
    begitu saja. Singkatnya karyawan menganggap bahwa loyalitas mereka
    terhadap organisasi itu juga selaras dengan loyalitas organisasi kepada
    mereka. Kepuasan karyawan yang meningkat mengarah ke tingkat
    loyalitas karyawan yang lebih tinggi (Jun, dkk., 2006). Memenuhi
    kebutuhan tiap para karyawan juga akan berdampak signifikan pada
    keloyalitasan para karyawan tersebut (Chaerudin, dkk., 2020). Sebaliknya,
    loyalitas yang rendah akan membuat permasalahan timbul dimana-mana.
    Loyalitas karyawan yang rendah akan mempengaruhi rendahnya
    produktivitas kerja, tingkat absensi yang tinggi, pemogokan kerja, tingkat
    perpindahan karyawan yang tinggi dan masih banyak lagi (Chaerudin,
    dkk., 2020).
    Karyawan merupakan hal penting pada sebuah perusahaan atau
    bahkan institusi tertentu. Menurut Hameed & Waheed (Sugianingrat, dkk.,
    2021) karyawan merupakan pemeran utama dalam melaksanakan tugastugas perusahaan dan menjadi elemen kunci dari organisasi, sehingga
    keberhasilan atau kegagalan organisasi bergantung pada kinerja
    karyawan. Artinya perasaan, pikiran bahkan tingkah laku seorang
    karyawan dapat mempengaruhi keberlangsungan sebuah perusahaan atau
    bahkan institusi. Sebaliknya, keadaan dari sebuah institusi juga akan
    mempengaruhi perasaan, pikiran atau bahkan tingkah laku karyawan. Apa
    yang dirasakan akan membentuk persepsi karyawan mengenai lingkungan
    kerjanya. Kualitas lingkungan yang terjadi pada organisasi, akan dapat
    dirasakan langsung oleh karyawan hingga dampaknya akan
    mempengaruhi tingkah laku atau sikap dari karyawan (Yosep, 2020).
    Lingkungan kerja setara dengan iklim organisasi (Tasnim, dkk., 2020).
    Iklim organisasi yang kondusif dapat membuat suasana kerja
    menjadi nyaman, suasana kerja yang nyaman akan mendorong hubungan
    kerja saling mendukung.

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Iklim Organisasi


    Higgins (Silviani, 2020) mengemukakan beberapa faktor yang
    mempengaruhi Iklim organisasi, diantaranya yaitu:

    1. Manajer atau Pimpinan.
      Pada dasarnya setiap tindakan yang diambil oleh pimpinan atau
      manajer mempengaruhi iklim dalam beberapa hal. Seperti
      aturan-aturan, kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur
      organisasi terutama masalah-masalah yang berhubungan
      dengan masalah personalia, distribusi imbalan, gaya
      komunikasi, cara-cara yang digunakan untuk memotivasi,
      teknik-teknik dan tindakan pendisplinan, interaksi antara
      manajemen dan kelompok, interaksi antar kelompok, perhatian
      pada permasalahan yang dimiliki anggota dari waktu-ke waktu,
      serta kebutuhan akan kepuasan dan kesejahteraan anggota.
    2. Tingkah laku karyawan.
      Tingkah laku karyawan mempengaruhi iklim melalui kepribadian
      mereka, terutama kebutuhan mereka dan tindakan-tindakan
      yang mereka lakukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut.
      Komunikasi anggota memainkan bagian penting dalam
      membentuk iklim. Cara seseorang berkomunikasi menentukan
      tingkat suksesnya atau gagalnya hubungan antar manusia.
    3. Tingkah laku kelompok kerja.
      Terdapat kebutuhan tertentu pada banyak orang dalam
      hubungan persahabatan, suatu kebutuhan yang seringkali
      dipuaskan oleh kelompok dalam organisasi. Kelompokkelompok berkembang dalam organisasi dengan dua cara, yaitu
      secara formal, utamanya pada kelompok kerja; dan informal,
      sebagai kelompok persahabatan atau kesamaan umat.
    4. Faktor eksternal organisasi.
      Sejumlah faktor eksternal organisasi mempengaruhi iklim pada
      organisasi tersebut. Keadaan ekonomi adalah faktor utama
      yang mempengaruhi iklim. Contohnya dalam perekonomian
      dengan inflasi yang tinggi, organisasi berada dalam tekanan
      untuk memberikan peningkatan keuntungan sekurangkurangnya sama dengan tingkat inflasi. Seandainya pemerintah
      telah menetapkan aturan tentang pemberian upah dan harga
      yang dapat membatasi peningkatan keuntungan, karyawan
      mungkin tidak senang dan bisa keluar untuk mendapatkan
      pekerjaan pada organisasi lain.

    Aspek-Aspek Iklim Organisasi


    Menurut Patterson (Kusumaputri, 2018) menjelaskan terdapat
    beberapa aspek dalam iklim organisasi diantaranya yaitu:

    1. Struktur
      Hal ini mengacu pada bagaimana karyawan merasakan batasanbatasan organisasi dan aturan-aturannya.
    2. Tanggung Jawab
      Aspek ini concern dengan bagaimana anggota merasa mampu
      membuat keputusan tanpa harus meminta konfirmasi dengan
      atasan langsung. Kondisi ini melibatkan pengetahuan mengenai
      peran seseorang dan memastikan setiap pekerjaan dapat
      dikerjakan.
    3. Imbalan
      Aspek ini berfokus pada bagaimana anggota memahami
      penghargaan untuk apa yang telah mereka kerjakan.
    4. Resiko
      Aspek ini menggambarkan risiko atau tantangan yang dikaitkan
      dengan pekerjaan tertentu.
    5. Kehangatan
      Fokus pada aspek ini adalah perasaan keakraban antara satu
      karyawan dengan karyawan lainnya dalam kelompok maupun
      organisasi secara keseluruhan.
    6. Dukungan
      Tujuannya adalah untuk mengukur bagaimana pemahaman
      pada kesediaan pengelola dan kolega untuk saling memberikan
      dukungan dan bantuan pada kesulitan yang dihadapi.
    7. Konflik
      Hal ini mempresentasikan keberadaan pengelola dan karyawan
      untuk terbuka mendiskusikan permasalahan-permasalahan dari
      pada mengabaikan permasalahan.
    8. Identitas
      Aspek identitas mengukur sejauh mana anggota merasa bernilai
      dalam kelompok sebagai bagian organisasi.
      Miner (Sahir, dkk., 2019) juga mengemukakan mengenai aspek
      iklim organisasi yaitu:
    9. Iklim organisasi berkaitan dengan unit yang besar mengandung
      ciri karakteristik tertentu.
    10. Iklim organisasi lebih mendeskripsikan suatu unit organisasi dari
      pada menilainya.
    11. Iklim organisasi berasal dari praktik organisasi.
    12. Iklim organisasi memengaruhi perilaku dan sikap anggotanya

    Definisi Iklim Organisasi


    Iklim organisasi adalah persepsi individu yang diartikan setiap
    karyawan dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai iklim
    organisasinya (Rusmana, 2019). Perbedaan persepsi ini dapat terlihat pula
    pada karyawan dari tiap-tiap generasi yang berbeda. Kemudian menurut
    Patterson (Kusumaputri, 2018) iklim organisasi diartikan sebagai suatu
    lingkungan sosial yang secara umum mengambarkan sejumlah aspek
    tertentu. Lanjut, Iklim Organisasi sering disebut sebagai lingkungan
    manusia, dimana pekerja dalam suatu organisasi melakukan kegiatannya
    (Murfat, 2021). Hal ini dapat menunjuk kepada suatu bagian dari
    organisasi, cabang atau bahkan keseluruhan organisasi itu sendiri. Iklim
    organisasi juga diartikan sebagai serangkaian sifat lingkungan kerja yang
    dinilai langsung atau tidak langsung oleh karyawan yang menjadi
    kekuatan utama dalam memengaruhi perilaku karyawan (Sagala, 2016).
    Sejalan dengan itu, menurut Ashforth (Idulfilastri, 2019) mengatakan
    bahwa iklim organisasi menggambarkan persepsi karyawan mengenai
    aspek-aspek dari lingkungan pekerjaan secara psikologis. Sebagian adalah
    hasil dari perilaku-perilaku yang dihargai, didukung dan kemudian
    diharapkan oleh organisasi.
    Adapun pendapat ahli lain menurut Steers (Sahir, dkk., 2020) iklim
    organisasi adalah sifat atau ciri yang terdapat dalam lingkungan kerja dan
    timbul karena kegiatan organisasi, yang dilakukan secara sadar atau tidak,
    yang memengaruhi aktivitas organisasi. Lanjut, menurut Scheneider
    (Idulfilastri, 2019) menyatakan bahwa Iklim organisasi adalah kumpulan
    dari persepsi karyawan terhadap kebijakan-kebijakan, praktikpraktik/kebiasaan-kebiasaan, serta tindakan-tindakan yang diperhatikan,
    didukung, dan diberikan penghargaan di sebuah lingkungan kerja.
    Menurut Hoy & Miskel (Sagala, 2016) mengatakan bahwa iklim organisasi
    adalah suatu kualitas masukan yang relatif dari lingkungan organisasi
    yang merupakan pengalaman yang dialami anggota organisasi
    memengaruhi tingkah laku mereka merefleksikan nilai-nilai dan sistem
    keyakinan pada organisasi.
    Menurut Hillrieger & Slocum (Silviani, 2020) iklim organisasi
    merupakan suatu set atribut organisasi dan subsistemnya yang dapat
    dirasakan oleh anggota organisasi yang mungkin disebabkan oleh anggota
    organisasi, yang mungkin disebabkan oleh cara-cara organisasi terhadap
    anggota dan lingkungannya. Menurut Hellreigel (Murfat, 2021)
    mendefinisikan iklim organisasi sebagai “suatu perangkat atribut yang
    dapat diamati, tentang kondisi organisasi dan sub sistemnya, yang berasal
    dari bagaimana organisasi dan atau sub sistemnya, bersikap terhadap
    anggota dan lingkungannya. Lebih lanjut menurut Davis (Sahir, dkk.,
    2020) menyatakan iklim organisasi adalah lingkungan manusia yang di
    dalamnya terdapat anggota organisasi yang melakukan pekerjaannya.

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja


    Steers & Porter (Umar, 2019) menjelaskan 4 faktor yang
    mempengaruhi loyalitas diantaranya yaitu:

    1. Karakteristik Pribadi
      Meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
      prestasi yang dimiliki, ras, dan beberapa sifat kepribadian.
    2. Karakteristik Pekerjaan
      Berupa tantangan kerja, job stress, kesempatan berinteraksi
      sosial, job enrichment, identifikasi tugas, umpan balik, dan
      kecocokan tugas.
    3. Karakteristik Desain Perusahaan/Institusi
      Menyangkut pada intern perusahaan itu yang dapat dilihat dari
      desentralisasi, tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam
      pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukkan
      berbagai tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan,
      ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan.
    4. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan
      Meliputi sikap positif terhadap perusahaan, rasa percaya pada
      sikap positif terhadap perusahaan, rasa aman.

    Aspek-Aspek Loyalitas Kerja


    Chaerudin (2020) menjelaskan beberapa aspek yang dapat
    digunakan untuk mengukur loyalitas seorang karyawan diantaranya yaitu:

    1. Taat pada peraturan.
      Seorang karyawan yang loyal akan selalu taat pada peraturan.
      Ketaatan ini timbul dari kesadaran karyawan jika peraturan
      yang dibuat oleh perusahaan semata-mata disusun untuk
      memperlancar jalannya pelaksanaan kerja perusahaan.
      Kesadaran ini membuat karyawan akan bersikap taat tanpa
      merasa terpaksa atau takut terhadap sanksi yang diterima
      apabila melanggar peraturan tersebut.
    2. Tanggung jawab pada organisasi.
      Ketika seorang karyawan memiliki sikap sesuai dengan
      pengertian loyalitas, maka secara otomatis karyawan akan
      memiliki tanggung jawab yang besar terhadap organisasi di
      tempat ia bekerja. Karyawan akan berhati-hati dalam
      mengerjakan tugas-tugasnya, namun sekaligus berani untuk
      mengembangkan berbagai inovasi demi kepentingan
      perusahaan.
    3. Kemauan untuk bekerja sama.
      Karyawan tidak segan untuk bekerja sama dengan karyawan
      lain dalam satu kelompok yang memungkinkan seorang
      karyawan mampu mewujudkan impian institusi di tempat ia
      bekerja untuk dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin
      hanya akan dicapai oleh seorang karyawan secara individual.
    4. Rasa memiliki
      Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan
      akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga
      dan bertanggung jawab terhadap instansi sehingga pada
      akhirnya akan menimbulkan sikap sesuai dengan pengertian
      loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.
    5. Hubungan antar pribadi.
      Karyawan yang memiliki loyalitas yang tinggi akan mempunyai
      hubungan antar pribadi yang baik terhadap karyawan lain dan
      juga terhadap atasannya. Hubungan antar pribadi ini meliputi
      hubungan sosial dalam pergaulan sehari-hari, baik
      menyangkut hubungan kerja maupun kehidupan pribadi.
    6. Mencintai pekerjaan/kesukaan terhadap tugas.
      Cinta adalah salah satu bentuk loyalitas. Cinta pada pekerjaan
      berarti memiliki loyalitas tinggi pada pekerjaan. Seorang
      karyawan yang memiliki sikap yang sesuai dengan definisi
      loyalitas akan mampu menyelesaikan pekerjaan dan
      menghadapi permasalahan dengan bijaksana. Hal ini hanya
      dapat dilakukan bila seorang karyawan mencintai
      pekerjaannya.

    Definisi Loyalitas Kerja


    Menurut Meyer & Herscovits (Oei, 2010) Loyalitas merupakan
    kondisi psikologis yang mengikat karyawan dan perusahaannya. Artinya
    kondisi psikologis inilah yang akan membuat karyawan merasa menjadi
    bagian dari sebuah organisasi. Loyalitas disini bukan hanya sebatas
    bagaimana anggota tetap tinggal, tetapi juga rasa menjadi bagian dari
    sebuah organisasi sehingga karyawan tersebut dapat mengoptimalkan
    kerjanya. Kemudian loyalitas juga dapat diartikan sebagai tekad dan
    kesanggupan seseorang untuk taat, melaksanakan, dan mengamalkan
    sesuatu dengan disertai penuh kesadaran dan tanggung jawab
    (Chaerudin, dkk., 2020). Lalu menurut Iskandar & Yuhansyah (2018)
    mengatakan bahwa loyalitas merupakan kesetiaan seorang karyawan
    terhadap suatu instansi tempat ia bekerja. Meliputi kesetiaan pada
    jabatan, pekerjaan dan organisasi. Seorang karyawan harus selalu setia
    membela kepentingan instansi dalam kondisi apapun. Karena loyalitas
    terhadap instansi dianggap memiliki nilai utama.
    Menurut Bambang (2014) loyalitas diartikan sebagai kesetiaan
    dimana seseorang hanya ingin bekerja pada suatu perusahaan sampai
    pensiun karena yakin perusahaan atau instansi tempat bekerja
    memperhatikan karier dan kesejahteraannya. Serupa dengan Chairina
    (2019) mengartikan loyalitas sebagai kesetiaan dimana dicerminkan dari
    kesediaan karyawan untuk menjaga dan membela organisasi di dalam
    maupun diluar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggung
    jawab.
    Umar (2019) secara tradisional, loyalitas dipahami sebagai sesuatu
    yang tercipta dengan sendirinya. Ketika seseorang bergabung dengan
    sebuah instansi maka dengan sendirinya dia akan bersikap loyal, bertahan
    dalam organisasi dan melakukan yang terbaik untuk organisasi. Di lain
    pihak, organisasi diasumsikan akan selalu memperhatikan perkembangan
    karyawan, memberikan yang dibutuhkan. Lalu menurut Octavia (2019)
    loyalitas kerja diartikan sebagai landasan dan haluan berperilaku kerja
    dalam bentuk kesediaan untuk mengikuti dan mentaati hal-hal yang
    menjadi keharusannya. Menurut Walker (dalam Umar, 2019) loyalitas
    diartikan sebagai lanjuran dari karyawan yang puas untuk menjadi
    loyal ketika mereka melihat organisasi menawarkan peluang untuk belajar,
    bertumbuh dan pada saat yang sama menyediakan jalur karier yang
    sudah jelas dan dapat mereka raih.

    Kepuasan Pelanggan


    Menurut Peter Olson (2014), konsumen yang merasa puas dengan
    produk, jasa, atau merek kemungkinan besar akan membelinya dan
    memberitahukannya kepada yang lain perihal pengalaman-pengalaman
    menyenangkan yang dirasakannya dengan produk, jasa, atau merek
    tersebut.Menurut Howard & Sheth (1969) dalam Tjiptono (2014), kepuasan
    pelanggan adalah situasi kognitif pembeli berkenaan dengan kesepadanan
    atau ketidaksepadanan antara hasil yang didapatkan dibandingkan dengan
    pengorbanan yang dilakukan.
    Westbrook & Reilly (1983) dalam Tjiptono (2014), berpendapat
    bahwa kepuasan pelanggan adalah respon emosional terhadap pengalamanpengalaman berkaitan dengan produk, jasa tertentu yang dibeli, gerai ritel,
    atau bahkan pola perilaku (seperti perilaku berbelanja dan perilaku pembeli),
    serta pasar secara keseluruhan. Respon emosional dipicu oleh proses evaluasi
    kognitif yang membandingkan persepsi (atau keyakinan) terhadap obyek,
    tindakan atau kondisi tertentu dengan nilai-nilai (atau kebutuhan, keinginan
    dan hasrat) individual.
    Pada prinsipnya, definisi kepuasan pelanggan dapat diklasifikasikan
    ke dalam lima kategori pokok yaitu (Hunt 1991 dalam Tjiptono 2014):
    a. Normative deficit definition
    Perbandingan antara hasil (outcome) aktual dengan hasil yang secara
    kultural dapat diterima.
    b. Equity definition
    Perbandingan perolehan /keuntungan yang didapatkan dari pertukaran
    sosial-bila perolehan tersebut tidak sama, maka pihak yang dirugikan
    akan tidak puas.
    c. Normative standard definition
    Perbandingan antara hasil aktual dengan ekspektasi standar pelanggan
    (yang dibentuk dari pengalaman dan keyakinan mengenai tingkat
    kinerja yang seharusnya ia terima dari merek tertentu).
    d. Procedural fairness definition
    Kepuasan merupakan fungsi dari keyakinan/persepsi konsumen bahwa
    ia telah diperlakukan secara adil.
    e. Atributional definition
    Kepuasan tidak hanya ditentukan oleh ada tidaknya diskomfirmasi
    harapan, namun juga oleh sumber penyebab diskomfirmasi.

    Citra Perusahaan


    Citra perusahaan tidak dapat di buat hanya dalam semalam,
    sebaliknya citra perusahaan harus dibangun oleh perusahaan tersebut guna
    memberikan kesan dan persepsi positif bagi konsumen. Citra merupakan
    seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap
    suatu objek (Kotler & Keller 2012). Citra adalah kesan yang diperoleh
    seseorang berdasarkan pengetahuan dan pengertiannya tentang fakta-fakta
    atau kenyataan (Soemirat & Ardianto 2010).
    Citra perusahaan adalah persepsi sesorang mengenai suatu citra
    organisasi dan persepsi-persepsi ini diciptakan melalui seluruh indera:
    penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, citra rasa dan perasaan yang
    dialami melaui penggunaan produk, pelayanan konsumen, lingkungan
    komersial dan komunikasi perusahaan, itu merupakan hasil dari setiap
    perusahaan yang dilakukan atau tidak dilakukan (Kotler 2006). Sedangkan
    menurut Gregory (2011), citra perusahaan merupakan kombinasi dampak
    terhadap observer dari semua komponen-komponen verbal maupun visual
    perusahaan baik yang direncanakan ataupun tidak atau dari pengaruh
    eksternal lainnya.
    Elemen-elemen citra perusahaan menurut Kotler dan Keller (2012) :
    a. Kepribadian
    Keseluruhan karakteristik yang dipahami publik sasaran seperti
    perusahaan yang dapat dipercaya, perusahaan yang mempunyai
    tanggung jawab.
    b. Reputasi
    Hak yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini publik sasaran
    berdasarkan pengalaman sendiri maupun pihak lain seperti kinerja
    keamanan transaksi sebuah bank.
    c. Nilai
    Nilai-nilai yang dimiliki suatu perusahaan dengan kata lain budaya
    perusahaan seperti sikap manajemen yang peduli terhadap pelanggan,
    karyawan yang cepat tanggap terhadap permintaan maupun keluhan
    pelanggan.
    d. Identitas Perusahaan
    Komponen-komponen yang mempermudah pengenalan publik sasaran
    terhadap perusahaan seperti logo, warna dan slogan.

    Loyalitas Pelanggan


    Loyalitas diartikan sebagai sebuah kesetiaan yang diambil tanpa
    adanya paksaan dan timbul dari kesadaran diri sendiri.Menurut Sheth &
    Mittal (2004) dalam Tjiptono (2014), loyalitas pelanggan adalah komitmen
    pelanggan terhadap suatu merek, toko, atau pemasok berdasarkan sikap yang
    sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten.Menurut
    Griffin (2005), terdapat empat jenis loyalitas yang muncul bila keterikatan
    rendah dan tinggi diklasifikasi-silang dengan pola pembelian ulang, yang
    rendah dan tinggi.
    Adapun jenis-jenis loyalitas konsumen yaitu (Griffin, 2005):
    a. Tanpa loyalitas
    Untuk berbagai alasan tertentu, ada beberapa konsumen yang
    tidak mengembangkan loyalitas atau kesetiaan kepada suatu produk
    maupun jasa tertentu. Tingkat keterikatan yang rendah dengan tingkat
    pembelian ulang yang rendah menunjukkan absennya suatu kesetiaan.
    Pada dasarnya, suatu usaha harus menghindari kelompok no loyalty ini
    untuk dijadikan target pasar, karena mereka tidak akan menjadi
    konsumen yang setia.
    b. Loyalitas yang lemah (Inertia Loyalty)
    Inertia loyality merupakan sebuah jenis loyalitas konsumen
    yang dimana adanya keterikatan yang rendah dengan pembelian ulang
    yang tinggi. Konsumen yang membeli berdasarkan kebiasaan ini
    biasanya membeli berdasarkan kebiasaan.
    c. Loyalitas tersembunyi (Laten Loyality)
    Jenis loyalitas tersembunyi merupakan sebuah kesetiaan atau
    keterikatan yang relatif tinggi yang disertai dengan tingkat pembelian
    ulang yang rendah. Konsumen yang mempunyai sikap laten loyalty
    pembelian ulang juga didasarkan pada pengaruh faktor situasional
    daripada sikapnya.
    d. Loyalitas Premium (Premium Loyalty)
    Loyalitas ini merupakan yang terjadi bila suatu tingkat
    ketertarikan tinggi yang berjalan selaras dengan aktivitas pembelian
    kembali. Contoh jenis ini adalah rasa bangga yang muncul ketika
    konsumen menemukan dan menggunakan produk atau jasa tersebut dan
    dengan senang hati membagi pengetahuan dan merekomendasikannya
    kepada teman, keluarga maupun orang lain

    Aspek-aspek Kepuasan Kerja


    Menurut Locke (dalam Sari, 2019:123) mengungkapkan bahwa terdapat
    beberapa aspek kepuasan kerja yaitu :
    a. Isi pekerjaan, mencakup yang melibatkan keterampilan, dan kemampuan
    yang sesuai kualifikasi pekerjaan, variasi pekerjaan, kuantitas dan kualitas
    pekerjaan, tingkat kesulitan, serta tanggung jawab individu dalam
    mengerjakan pekerjaan tersebut.
    b. Imbalan, mencakup sejauh mana imbalan yang diterima karyawan sesuai
    dengan usaha yang telah dilakukan dalam bekerja. Imbalan yang dimaksud
    dapat berupa gaji, insentif, dan tunjangan. Karyawan menghendaki sistem
    imbalan yang adil.
    c. Promosi jabatan, mencakup kesempatan memperoleh promosi jabatan yang
    lebih tinggi. Selain memperoleh kesempatan promosi, aspek ini juga
    mencakup keadilan dalam promosi jabatan.
    d. Kondisi kerja, mencakup kepuasan terhadap kondisi lingkungan pekerjaan
    seperti, tempat kerja, ruangan kerja, dan fasilitas perusahaan.
    e. Rekan kerja, mencakup kepuasan hubungan atau interaksi karyawan
    dengan karyawan lain baik yang setara tingkatannya, bawahan, atau
    atasannya. Hubungan atau interaksi yang hangat atau harmonis akan bisa
    menciptakan kepuasan kerja karyawan.
    f. Pengawas, mencakup kepuasan terhadap pengawasan yang dilakukan oleh
    atasannya.

    Pengertian Kepuasan Kerja


    Menurut Robbins dan Judge (dalam Sukma & Puspitadewi, 2022:36)
    menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan positif seseorang terhadap
    pekerjaan yang merupakan hasil dari evaluasi dari karakteristik pekerjaan tersebut.
    Pendapat lain mendefinisikan mengenai kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi
    karyawan tentang seberapa baik pekerjaan menyediakan hal yang dinilai sebagai
    sesuatu yang penting. (dalam Sukma & Puspitadewi, 2022:36).
    Menurut Kuswadi (dalam Sari, 2019:121), kepuasan karyawan dapat
    membantu dalam memaksimalkan keuntungan perusahaan melalui empat cara yaitu
    karyawan yang puas cenderung bekerja dengan kualitas yang lebih tinggi, karyawan
    yang puas cenderung bekerja dengan lebih produktif, karyawan yang puas
    cenderung bekerja bertahan lebih lama dalam perusahaan, karyawan yang puas
    cenderung bekerja dapat menciptakan pelanggan yang puas.
    Menurut Robbins (dalam Paendong, Sentosa & Sarpan, 2019:38)
    mendefinisikan kepuasan kerja adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap
    pekerjaannya, selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan
    banyaknya yang mereka yakini dibandingkan yang seharusnya mereka terima.

    Faktor-faktor Loyalitas Kerja


    Menurut Steers & Porter (dalam Sunyianto, 2019:5) menyatakan bahwa
    timbulnya loyalitas kerja dipengaruhi oleh :
    a. Karakteristik Pribadi, meliputi : usia, masa kerja, prestasi kerja, tingkat
    pendidikan, jenis kelamin, ras dan sifat kepribadian.
    b. Karakteristik pekerjaan, meliputi : tantangan kerja, stres kerja, kepuasan
    kerja, kesempatan untuk berinteraksi sosial, identifikasi tugas, umpan balik
    tugas dan kecocokan tugas.
    c. Karakteristik bentuk perusahaan/organisasi, yang dapat dilihat dari
    sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
    keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi dengan
    tanggung jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun fungsi
    kontrol perusahaan.
    d. Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan/organisasi,yaitu internalisasi
    individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan pekerjaan meliputi
    sikap positif terhadap perusahaan, rasa percaya terhadap perusahaan
    sehingga menimbulkan rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi