Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Firmansyah (2018:27), dengan demikian seorang konsumen
dalam melakukan keputusan membeli terdapat beberapa pengukuran yaitu:

  1. Pengenalan Masalah (Problem Recoqnition)
    Proses pembelian oleh konsumen diawali sejak pembeli mengenali
    kebutuhan atau masalah. Kebutuhan tersebut dapat ditimbulkan oleh
    rangsangan internal atau eksternal.
  2. Pencari Informasi (Informasi Search)
    Setelah konsumen yang terangsang kebutuhannya, konsumen akan
    terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Orang lebih peka
    terhadap informasi produk.
  3. Evaluasi Alternatif (Alternative Evaluation)
    Setelah melakukan pencarian informasi sebanyak mungkin tentang banyak
    hal, selanjutnya konsumen harus melakukan penilaian tentang beberapa
    alternatif yang ada dan menentukan langkah selanjutnya.
  4. Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
    Setelah tahap-tahap dilakukan, sekarang saatnya bagi pembeli untuk
    menentukan pengambilan keputusan apakah jadi membeli atau tidak.
  5. Perilaku Pasca Pembelian (Post-Purchase Behavior)
    Pemasar harus memperhatikan konsumen setelah melakukan pembelian
    produk. Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami
    beberapa tingkat kepuasan atau tidak ada kepuasan. Ada kemungkinan
    bahwa pembeli memiliki ketidakpuasan setelah membeli.

Struktur Keputusan Pembelian


Menurut Firmansyah (2018:37), struktur keputusan membeli penting
karena sesudah menentukan kebutuhan dan mempunyai keinginan akan produk
tertentu, konsumen diharapkan untuk memunculkan keputusan untuk membeli.
Ada delapan struktur keputusan membeli yang mempengaruhi konsumen yaitu:

  1. Keputusan tentang jenis produk
    Dalam setiap pengambilan keputusan mengenai pembelian suatu produk,
    harus memperhatikan mana kebutuhan yang penting didahulukan dan
    jumlah uang yang dipunyai sesuai dengan pendapatan rumah tangga, juga
    menetapkan dan menggunakan berbagai kriteria evaluasi termasuk harga,
    merek, kualitas, dan lain-lain pada saat membuat keputusan pembelian.
    Penilaian kinerja setiap alternatif sebagai dasar dari evaluasi serta
    mengetahui dan memahami bagaimana situasi konsumen dalam
    menentukan pilihan dengan melihat berbagai aspek yang ada di dalamnya
    apa saja yang terkait hingga mempengaruhi tingkat pembelian.
  2. Keputusan tentang karakteristik produk
    Konsumen memutuskan untuk membeli produk dengan bentuk tertentu.
    Perusahaan harus menggunakan riset pemasaran untuk mengetahui
    kesukaan konsumen.
  3. Keputusan tentang merek
    Konsumen memutuskan merek yang akan diambil. Perusahaan harus
    mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. Misalnya,
    berdasarkan informasi yang dihimpun.
  4. Keputusan tentang penjualan
    Konsumen memutuskan dimana akan membeli, baik di toko, perusahaan,
    dan lain-lain. Hal paling mudah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
    penjualan dan mendapatkan keuntungan yang signifikan dari bisnis adalah
    dengan memperlebar target bisnis.
  5. Keputusan tentang jumlah produk
    Konsumen memutuskan jumlah produk yang akan dibeli. Perusahaan
    harus mempertimbangkan banyaknya produk tersedia untuk konsumen
    sesuai keinginan konsumen yang berbeda-beda. Konsumen dapat
    mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan
    dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari
    satu unit. Dalam hal ini, perusahaan harus mempersiapkan banyak produk
    sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli.
  6. Keputusan tentang waktu pembelian
    Konsumen memutuskan kapan harus membeli. Perusahaan harus
    mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam penentuan
    waktu pembelian, yang juga mempengaruhi perusahaan dalam mengatur
    waktu produksi, pemesanan, periklanan, dan sebagainya. Konsumen dapat
    mengambil keputusan tentang kapan harus melakukan pembelian. Oleh
    karena itu, perusahaan harus mengetahui faktor-faktor yang
    mempengaruhi keputusan konsumen dalam penentuan waktu pembelian.
  7. Keputusan tentang cara pembayaran
    Konsumen memutuskan mode pembelanjaan yang disukainya, perusahaan
    harus mengetahui hal ini yang akan mempengaruhi dalam penawaran
    pembayaran (diskon untuk tunai, kemudahan kredit, bunga rendah, dan
    lain-lain).
  8. Keputusan tentang pelayanan
    Salah satu cara utama suatu pemasar untuk dapat membedakan dengan
    perusahaan lain adalah dengan cara konsisten menyampaikan mutu
    pelayanan yang tinggi. Setiap pemasar harus sadar bahwa mutu pelayanan
    yang luar biasa dapat memberikan keunggulan bersaing

Pertimbangan Keputusan Pembelian


Menurut Firmansyah (2019:90), semakin penting dan beresiko suatu
produk yang akan dibeli, konsumen semakin mempertimbangkan berbagai merek
dan mencari berbagai informasi yang dibutuhkan yaitu:

  1. Complex Decision Making
    Complex decision making bisa terjadi, ketika konsumen melakukan
    pembelian produk yang membutuhkan berbagai pertimbangan sehubungan
    dengan pentingnya produk dan tingginya resiko bagi individu konsumen.
    Pada umumnya, konsumen akan mempertimbangkan berbagai merek dan
    mencari berbagai informasi yang dibutuhkan sebelum membeli rumah atau
    mobil, konsumen akan mempertimbangkan secara selektif setiap detail
    perbedaan dari masing-masing produk. Informasi ini penting bagi
    konsumen, supaya tidak terhadi ketidaknyamanan setelah pembelian.
  2. Limited Decision Making
    Limited decision making terjadi ketika konsumen melakukan keputusan
    untuk membeli suatu produk yang membutuhkan pertimbangan merek dan
    informasi, yang secara kontinyu menarik bagi konsumen atau konsumen
    sering mengkonsumsi atau menggunakan produk tersebut. Proses
    pembuatan keputusan terbatas ini membutuhkan lebih sedikit informasi
    daripada complex decision making.
  3. Brand Loyalty
    Brand loyalty menunjukkan sikap loyal terhadap merek tertentu dan
    berdampak pada pembelian secara konsisten sepanjang waktu. Konsumen
    yang loyal terhadap merek tertentu akan melakukan pembelian merek
    tersebut dalam jangka panjang, dan membutuhkan informasi yang relatif
    sedikit, karena sudah menjadi kebiasaannya untuk membeli produk dengan
    merek tersebut. Loyalitas konsumen terhadap merek tertentu ini
    disebabkan oleh rasa puas atau rasa keinginan dan kebutuhan yang
    terpenuhi terhadap merek tersebut secara berulang sehingga terbiasa.
  4. Inertia
    Ketika konsumen menggunakkan hirarki low involvement, konsumen
    membentuk keyakinan terhadap produk secara pasif dan membuat
    keputusan hanya dengan memproses sedikit informasi dan selanjutnya
    mengevaluasi merek setelah pembelian.
  5. Impulse Purchasing
    Tipe keputusan ini dikenal dengan keputusan pembelian tiba-tiba,
    dikatakan demikian karena konsumen tidak membutuhkan banyak
    pertimbangan untuk melakukan pembelian. Proses keputusan dapat
    dilakukan dengan cepat, tanpa harus menunggu pencarian informasi dan
    penilaian tertentu untuk memilih produk.

Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan pembelian


Menurut Firmansyah (2019:93), terdapat 5 faktor yang saling
mempengaruhi dalam keputusan pembelian yaitu:

  1. Rangsangan Pemasaran (Marketing Stimulation)
    Rangsangan pemasaran sepenuhnya dipengaruhi oleh usaha perusahaan
    dalam menarik keputusan pembelian konsumen. Dalam hal ini, perusahaan
    bisa melakukan rangsangan kepada konsumen melalui beberapa kegiatan,
    seperti memperkenalkan keunggulan produk yang akan dijual,
    memberikan diskon atau potongan harga terhadap produknya tersebut,
    memilih tempat atau lokasi penjualan yang cocok, serta melakukan
    berbagai langkah promosi melalui iklan atau promosi lainnya.
  2. Rangsangan Lain (Other Stimulation)
    Rangsangan lain yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan
    pembelian terhadap suatu produk, diantaranya adalah situasi ekonomi,
    perkembangan teknologi, pengaruh politik, dan pengaruh budaya yang
    dirasakan oleh konsumen secara langsung. Jika situasi ekonomi yang
    tengah dialami konsumen berbanding lurus dengan ketiga faktor lainnya,
    bukan mustahil keputusan pembelian akan segera diambil. Begitu pula
    sebaliknya, jika situasi berbanding terbalik, jangan harap akan muncul
    keputusan pembelian dari konsumen.
  3. Karakteristik Pembeli (Buyer Characteristics)
    Variabel terpenting dari model perilaku konsumen adalah karakteristik
    pembeli itu sendiri. Karakteristik itu meliputi, faktor budaya, faktor sosial,
    faktor pribadi, dan faktor psikologis. Faktor budaya ini nantinya akan
    melahirkan kelas sosial tertentu dalam pembelian produk, yaitu kelas
    sosial golongan atas, kelas sosial golongan menengah, dan kelas sosial
    golongan rendah. Sementara itu, faktor sosial yang mempengaruhi
    perilaku konsumen meliputi kelompok acuan, keluarga, dan peran serta
    status konsumen dalam masyarakat. Faktor pribadi yang mempengaruhi
    perilaku konsumen meliputi umur, pekerjaan, kondisi ekonomi, dan gaya
    hidup konsumen. Faktor psikologis meliputi motivasi, persepsi,
    pembelajaran, dan keyakinan serta sikap konsumen terhadap produk yang
    akan dibelinya.
  4. Proses Keputusan Membeli (Buying Decision Process)
    Proses keputusan membeli ini didapat setelah konsumen melakukan tahap
    pengenalan terhadap suatu produk, pencarian informasi lain, evaluasi
    keunggulan dan kelemahan produk, sampai terciptanya keputusan
    pembelian dan keputusan pasca pembelian. Jika semua tahapan ini bernilai
    positif, pemakaian terhadap suatu produk akan berlangsung secara
    kontinyu.
  5. Keputusan Pembelian (Buyer Decision)
    Variabel terakhir dari model perilaku konsumen adalah keputusan
    pembelian. Dalam hal ini, keputusan pembeli akan menghadirkan suatu
    keputusan terbaik menyangkut pilihan produk, pilihan merek, pilihan
    penyalur, waktu pembelian, dan jumlah produk yang akan dibeli

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Firmansyah (2018:27), Keputusan Pembelian merupakan
kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu dalam pemilihan alternatif
perilaku yang sesuai dari dua alternatif perilaku atau lebih dan dianggap sebagai
tindakan yang paling tepat dalam membeli dengan terlebih dahulu melalui tahapan
proses pengambilan keputusan.
Menurut Sawlani (2021:19), Keputusan Pembelian adalah salah satu tahap
dari keseluruhan proses mental dan kegiatan fisik lainnya yang terjadi dalam
proses pembelian pada suatu periode dan waktu tertentu serta pemenuhan
kebutuhan tertentu dengan kata lain serangkaian tahapan yang diambil oleh
seorang konsumen.
Menurut Morissan (2016:111), Keputusan Pembelian adalah tahap
selanjutnya setelah adanya niat atau keinginan membeli namun keputusan
pembelian tersebut tidak sama dengan pembelian yang sebenarnya. Adapun
menurut Tjiptono dan Diana (2019:47), Keputusan Pembelian merupakan respon
yang didapatkan lewat pembelajaran atas pengaruh dari lingkungan. Sedangkan
menurut Bancin (2019:22), Keputusan Pembelian merupakan suatu tindakan akhir
yang dilakukan konsumen sebagai bentuk jawab atas kebutuhan konsumen
melalui serangkaian proses evaluasi beberapa alternatif yang ada.

Indikator Harga Produk


Menurut Kotler dalam Fathorrahman (2021:219) ada empat
indikator harga produk, antara lain sebagai berikut.
1) Keterjangkauan harga, ialah perusahaan menetapkan harga yang
dapat dijangkau oleh para konsumen.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas, ialah ketika memilih antara dua
produk, konsumen cenderung memilih harga yang lebih tinggi
karena mereka menganggap perbedaan kualitas antara kedua produk
tersebut.
3) Daya saing harga, ialah konsumen umumnya membandingkan harga
dengan produk sejenis lainnya ketika akan membeli suatu produk,
sehingga harga yang lebih tinggi atau lebih rendah sangat
memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah keputusan pembelian
konsumen dipengaruhi oleh manfaat yang diperoleh dari produk
tersebut dibandingkan dengan nilai yang dibayarkan untuk
membelinya.
Adapun indikator harga produk menurut Lupiyoadi dalam Octavia
(2021:711), antara lain sebagai berikut.
1) Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah jika manfaat yang diperoleh
konsumen meningkat pada suatu level harga, maka nilai produk
tersebut juga akan meningkat. Sebaliknya, pada tingkat harga
tertentu, semakin besar manfaat yang dirasakan konsumen, maka
nilai barang atau jasa tersebut juga akan meningkat.
2) Keterjangkauan harga, ialah apabila harga suatu produk terlalu
tinggi, maka ada kemungkinan produk tersebut tidak dapat
dijangkau oleh segmen pasar tertentu atau bahkan dapat
menurunkan nilai produk di mata konsumen.
3) Daya saing harga, ialah strategi yang ditetapkan oleh perusahaan
dalam persaingan untuk memenangkan produk pesaing

Strategi Penetapan Harga


Penetapan harga mencakup dimensi strategis dan taktis. Menurut
Tjiptono dan Chandra (2020:427—443), ada enam opsi strategi yang
dapat dikategorikan menurut konteks spesifik, yaitu sebagai berikut.
1) Penetapan harga produk baru
Dalam menetapkan harga produk baru harus ditentukan
dengan hati-hati, karena memengaruhi potensi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup. Secara umum, ada dua strategi utama yang
dapat dipilih, antara lain:
a) Skimming pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang tinggi untuk produk baru. Biasanya setelah beberapa waktu
harga dikurangi dengan produk yang sama atau versi yang lebih
murah.
b) Penetration pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang relatif rendah pada awal siklus hidup produk untuk
mendapatkan pangsa pasar yang besar dan mencegah pesaing
memasuki pasar.
2) Penetapan harga produk yang sudah mapan
Terdapat tiga opsi yang dapat digunakan dalam strategi
penetapan harga produk yang telah ada di pasaran, antara lain:
a) Mempertahankan harga, yaitu strategi yang diterapkan dengan
maksud menjaga posisi pasar serta memperkuat citra positif di
mata konsumen dan masyarakat.
b) Menurunkan harga, yaitu strategi mengurangi harga yang
diterapkan untuk menghadapi dan memenangkan persaingan
dengan faktor pertimbangan pengaruh jangka panjang, pengaruh
kualitas, pengaruh terhadap produk lain, dan pengaruh terhadap
daya kerja finansial. Sehingga, konsumen yang selektif dalam
membeli produk tidak akan berpaling ke pesaing lainnya yang
lebih murah.
c) Menaikkan harga, yaitu strategi yang diterapkan untuk menjaga
profitabilitas pada saat inflasi, memanfaatkan perbedaan produk,
atau untuk membagi pasar yang dilayani.
3) Strategi fleksibilitas harga
Terdapat dua jenis strategi dalam fleksibilitas harga, antara
lain sebagai berikut.
a) Strategi harga tunggal, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang sama untuk konsumen yang membeli
produk dengan kualitas dan kuantitas yang sama dalam kondisi
yang sama.
b) Strategi harga fleksibel, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang berbeda untuk setiap konsumen yang
berbeda dengan kualitas produk yang sama.
4) Penetapan harga lini produk (price lining)
Strategi price lining dapat digunakan jika perusahaan
memasarkan lebih dari satu jenis atau lini produk. Harga produk lini
produk ini dapat bervariasi dan diatur pada tingkat harga yang
berbeda.
5) Leasing
Leasing yaitu sebuah perjanjian dimana pemilik suatu aset
(lessor) setuju untuk memberikan penggunaan aset tersebut kepada
pihak lain (lessee) untuk jangka waktu yang telah ditetapkan, dengan
imbalan yang telah disepakati. Ada dua jenis leasing, yaitu sebagai
berikut.

Metode Penetapan Harga


Menurut Tjiptono (2015:298—309) metode penetapan harga
terdiri dari empat kelompok, antara lain sebagai berikut.
1) Metode Penetapan Harga Berbasis Permintaan
Metode ini berfokus pada faktor-faktor yang memengaruhi
keinginan dan kebiasaan konsumen. Metode penetapan harga
berdasarkan permintaan memiliki beberapa metode penetapan harga
yang digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Skimming pricing, ialah menetapkan harga tinggi pada tahap
perkenalan produk baru, kemudian mengurangi harga saat
terjadi persaingan.
b) Penetration pricing, ialah meluncurkan produk baru dengan
harga yang rendah, dengan tujuan untuk mencapai penjualan
yang besar dalam waktu yang singkat.
c) Prestige pricing, ialah harga dianggap sebagai penunjuk tingkat
kualitas atau keistimewaan sebuah produk atau jasa oleh
konsumen.
d) Price lining, ialah apabila perusahaan menjual lebih dari satu
jenis produk, maka harga yang digunakan akan berbeda-beda
dan ditentukan pada level harga yang berbeda pula.
e) Odd-even pricing, ialah harga tersebut hampir mencapai jumlah
genap yang telah ditentukan.
f) Demand-backward pricing, ialah harga yang diperkirakan pada
tingkat harga yang tinggi bagi produk tertentu, menentukan
margin yang perlu dibayarkan kepada grosir atau pengcer,
sehingga harga jual akhir dapat ditetapkan.
g) Product bundle pricing, ialah cara pemasaran yang
menggabungkan dua atau lebih produk ke dalam satu paket
harga.
h) Optional product pricing, ialah strategi yang menggabungkan
penawaran produk aksesoris atau operasional sebagai pelengkap
dari produk utama yang ditawarkan.
i) Captive product pricing, ialah strategi yang digunakan perlu
dipadukan dengan produk utama untuk dapat berfungsi dengan
efektif.
j) By-product pricing, ialah dalam mencari pasar untuk produk
tambahan, orang-orang yang bersedia membayar apapun untuk
menutupi biaya penyimpangan dan pengiriman, sehingga
produk dapat ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif
dengan mengurangi biaya produk

2) Metode Penetapan Harga Berbasis Biaya
Metode ini mengutamakan faktor penawaran atau biaya
sebagai penentu harga utama. Harga ditentukan dengan cara
menambahkan biaya produksi dan pemasaran dengan jumlah
tertentu untuk menutupi biaya overhead serta memperoleh
keuntungan. Terdapat beberapa metode penetapan harga yang
mengacu pada biaya, antara lain sebagai berikut.
a) Standard markup pricing, ialah menetapkan harga dengan
menaikkan persentase biaya pada semua macam produk dalam
sebuah produk.
b) Cost plus percentage of cost pricing, ialah perusahaan
menaikkan persentase pada biaya produksi atau konstruksi.
c) Cost plus fixed fee pricing, ialah pemasok dan produsen akan
menerima penggantian biaya yang dikeluarkan, namun produsen
hanya akan menerima remunerasi sebagai keuntungan yang
sesuai dengan biaya proyek akhir yang disepakati.
d) Experience curve pricing, ialah biaya satuan barang dna jasa
akan turun sebesar 10%—30% ketika volume produksi dan
penjualan barang atau jasa mengalami peningkatan dua kali
lipat.
3) Metode Penetapan Harga Berbasis Laba
Metode ini menggunakan penyeimbangan antara pendapatan
dan biaya sebagai dasar penetapan harga, dengan tujuan untuk
mencapai target keuntungan tertentu dalam bentuk angka volume
laba atau persentase dari penjualan atau investasi. Metode penetapan
harga berbasis laba memiliki beberapa metode penetapan harga yang
digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Target profit pricing, ialah penetapan harga didasarkan pada
target keuntungan tahunan yang ditentukan secara spesifik.
b) Target return on sales pricing, ialah penetapan harga dilaukan
dengan menentukan tingkat harga tertentu yang mampu
memperoleh keuntungan pada persentase volume penjualan
tertentu.
c) Target return of investment (ROI) pricing, ialah penetapan harga
dilakukan berdasarkan target rasio antara keuntungan dan
investasi total perusahaan pada fasilitas produksi dan aset yang
menopang produk tertentu.
4) Metode Penetapan Harga Berbasis Persaingan
Metode penetapan harga ini berfokus pada persaingan. Dalam
metode ini, ada beberapa cara yang digunakan untuk menetapkan
harga, antara lain sebagai berikut.
a) Customary pricing, ialah harga ditetapkan berdasarkan faktor-
faktor yang termasuk budaya, saluran distribusi yang standar,
dan persaingan yang ada, yang merupakan cara penetapan harga
yang bergantung pada faktor-faktor eksternal.
b) Above, at, or below market pricing, ialah penetapan harga yang
lebih tinggi daripada harga pasar dilakukan dengan metode
above market pricing, penetapan harga yang mengikuti harga
pasar pesaing dilakukan dengan metode at market pricing,
sedangkan penetapan harga yang lebih rendah dari harga pasar
dilakukan dengan metode below market pricing, dan umumnya
harga ditentukan antara 8%—10% lebih murah dari harga
produk merek nasional pesaing.
c) Loss leader pricing, ialah meningkatkan penjualan produk dan
memikat konsumen untuk berkunjung ke toko, dengan cara
mempromosikan produk yang memiliki markup tinggi, sehingga
dapat menjadi daya tarik utama yang membuat konsumen
membeli produk lain yang tersedia.
d) Sealed bid pricing, ialah sistem yang melibatkan perantara
pembelian untuk memberikan penawaran harga

Peranan Harga


Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:417), ada tiga peran penting
yang dimiliki harga dalam perekonomian, antara lain sebagai berikut.
1) Bagi perekonomian, harga produk memiliki pengaruh terhadap
tingkat upah, sewa, laba, dan bunga. Selain itu, harga juga berperan
sebagai pengatur alokasi sumber daya dengan memengaruhi jenis
produk yang diproduksi dan siapa yang akan membeli produk
tersebut.
2) Bagi konsumen, dalam penjualan, konsumen cenderung sangat peka
terhadap faktor harga dan sering mempertimbangkan harga sebagai
pertimbangan utama dalam keputusan membeli sebuah produk.
3) Bagi perusahaan, harga memiliki dampak pada pendapatan dan
keuntungan bersih yang diperoleh oleh suatu perusahaan.
Perusahaan menghasilkan pendapatan dari produk dan jasa yang
dijual melalui harga yang ditetapkan

Tujuan Penetapan Harga Produk


Menurut Tjiptono (2015:291—293), pada prinsipnya ada
beberapa jenis tujuan dalam menetapkan harga, antara lain sebagai
berikut.
1) Tujuan berorientasi pada laba
Menurut asumsi teori ekonomi klasik, setiap perusahaan akan
selalu memilih harga untuk menghasilkan keuntungan paling
maksimal. Namun, di era persaingan global yang semakin ketat dan
banyak faktor yang memengaruhi daya saing perusahaan akan
menjadi sangat sulit untuk mencapai tujuan ini, karena jumlah
penjualan yang dapat dicapai pada tingkat harga tertentu akan sulit
diperkirakan dengan akurat.
2) Tujuan berorientasi pada volume
Pada tujuan ini, perusahaan menentukan harga sedemikian
rupa sehingga target penjualan, nilai penjualan, atau pangsa pasar
dapat tercapai.
3) Tujuan berorientasi pada citra
Perusahaan dapat membebankan harga tinggi untuk
membangun atau mempertahankan citra ternama, sementara harga
yang rendah dapat digunakan untuk membangun citra nilai.
4) Tujuan stabilisasi harga
Tujuan ini diterapkan dengan menetapkan harga untuk
menjaga hubungan yang stabil antara harga perusahaan dan harga
yang ditetapkan oleh pemimpin industri.
5) Tujuan-tujuan lainnya
Harga dapat ditetapkan dengan beberapa tujuan, seperti
menghindari pesaing, mempertahankan loyalitas konsumen,
mendukung penjualan kembali, memperoleh aliran kas yang cepat,
atau menghindari intervensi dari pemerintah

Harga Produk


Menurut Suhardi et al. (2022:54), harga merupakan ukuran
kepuasan seseorang berdasarkan besaran nilai yang diberikan terhadap
produk yang dibelinya.
Menurut Kotler dan Keller dalam Malonda et al. (2021:1200),
harga adalah jumlah uang yang perlu dikeluarkan oleh konsumen
sebagai pembayaran untuk memperoleh produk tersebut.
Menurut Weenas dan Hadi dalam Shalihah et al. (2021:87), harga
adalah nilai uang yang digunakan sebagai sarana pertukaran untuk
membeli suatu produk atau layanan, yang menjadi penentuan nilai
produk tersebut dalam pandangan konsumen.
Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:412), harga adalah jumlah
uang yang mencakup manfaat/kegunaan tertentu yang dibutuhkan untuk
menerima produk.
Menurut Abdurrahman (2015:109), harga merupakan suatu nilai
uang yang digunakan sebagai pertukaran untuk membeli produk dan
jasa.

Indikator Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Keller dalam Indriani et al. (2023:78—79)
ada lima indikator kualitas produk, antara lain sebagai berikut.
1) Daya tahan produk, ialah ukuran berapa lama suatu produk dapat
bertahan dengan baik sebelum perlu diganti atau rusak.
2) Keistimewaan produk, ialah pandangan konsumen mengenai fitur-
fitur atau kelebihan produk tersebut.
3) Kehandalan produk, ialah karakteristik fungsional dan produk utama
yang dibeli.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi, ialah seberapa jauh desain dan
kinerja memenuhi standar yang telah ditentukan.
5) Estetika produk, ialah kemampuan produk untuk menarik perhatian
panca indera

Tingkatan Produk


Menurut Limakrisna dan Purba (2019:76—77), terdapat tiga
tingkatan produk, antara lain sebagai berikut.
1) Produk inti (the core product), ialah produk inti dianggap sebagai
elemen sentral dari total produk, yang mencakup kebutuhan utama
yang dipenuhi, keinginan yang terpenuhi, serta masalah yang dapat
diatasi melalui penggunaan produk tersebut.
2) Produk sebenarnya (the actual product), ialah produk yang lebih
konkrit dan mencakup berbagai aspek seperti kualitas, fitur,
kemasan, gaya, desain, serta merek yang terkait. Dalam situasi yang
diinginkan, keputusan mengenai produk harus didasarkan pada
kebutuhan dan preferensi konsumen, serta mempertimbangkan
alternatif produk yang tersedia.
3) Produk tambahan (augmented product), ialah produk yang
mencakup fitur dan layanan yang memberikan nilai tambahan pada
transaksi yang melebihi harapan konsumen. Meskipun banyak
konsumen mungkin menganggapnya tidak penting, sebenarnya
dalam banyak situasi, hal tersebut dapat menjadi faktor penentu
yang membedakan antara pesaing

Kategori-kategori Produk


Menurut Limakrisna dan Purba (2019:88), orang-orang Indonesia
mengenal dua jenis makanan ringan yang umumnya dikonsumsi, yakni:
1) Makanan ringan basah, ialah makanan kecil basah yang biasanya
dipersiapkan oleh ibu rumah tangga untuk dikonsumsi oleh
keluarga. Dimana, setiap daerah di Indonesia memiliki makanan
kecil khas yang terkenal di daerah tersebut. Makanan kecil ini pun
dapat dibeli dari pedagang kaki lima, seperti pisang goreng,
singkong goreng, dan berbagai jenis lainnya.
2) Makanan ringan kering, ialah produk-produk yang biasanya terbuat
dari bahan tepung dan dijual dalam bentuk kemasan. Makanan
ringan kering ini dapat dibagi menjadi kategori, antara lain sebagai
berikut.
a) Makanan ringan kering tradisional, yaitu makanan ringan yang
biasanya dibuat di rumah dengan bentuk standar, dijual dalam
kemasan plastik transparan, dan hanya memiliki tiga rasa umum
seperti asin, manis, dan pedas.
b) Makanan ringan kering modern, yaitu makanan ringan yang
diproduksi dalam jumlah besar dan memiliki kemasan yang
modern, serta tersedia dalam kemasan tunggal

Pengertian Kualitas Produk


Menurut Suhardi et al. (2022:53), kualitas produk merupakan
kapasitas suatu produk dalam memenuhi kebutuhan dan harapan
konsumen.
Menurut Tjiptono dalam Okhtavia dan Setiawan (2022:360),
kualitas produk merupakan karakteristik unik yang dimiliki sebuah
produk, termasuk kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan tertentu,
dan mencakup karakteristik mendasar.

Indikator Inovasi Produk


Menurut Kotler dan Keller dalam Indriani et al. (2023:77—78)
ada enam indikator inovasi produk, yaitu sebagai berikut.
1) Produk baru bagi dunia, ialah produk baru yang menciptakan pasar
yang benar-benar baru, dimana pesaing belum pernah membuat
produk serupa, sehingga produk tersebut benar-benar baru untuk
membedakan produk baru ini dengan produk serupa.
2) Lini produk baru, ialah produk baru yang memungkinkan bisnis
memasuki pasar yang ada untuk pertama kalinya, dan lini produk
baru memengaruhi pilihan produk konsumen.
3) Tambahan pada lini produk yang telah ada, ialah produk baru yang
melengkapi atau menambah suatu lini produk bisnis yang sudah
mapan, sehingga produk menjadi lebih beragam dan menawarkan
banyak pilihan.
4) Perbaikan dan revisi produk yang telah ada, ialah cara untuk selalu
memperbaharui produk yang telah ada di pasaran. Produk yang
menawarkan kinerja atau nilai unggul dan menggantikan produk
yang sudah ada, menghasilkan produk baru dengan kinerja dan
kegunaan yang lebih baik.
5) Penentuan kembali, ialah produk yang sudah ada yang ditargetkan
atau dipasarkan ke pasar atau segmen pasar baru, yang diharapkan
dapat memperluas pemasaran dengan mendapatkan pangsa pasar
atau konsumen baru untuk meningkatkan penjualan.
6) Pengurangan biaya, ialah produk baru yang menawarkan produk
alternatif dengan kinerja atau manfaat serupa, tetapi dengan harga
yang lebih rendah atau terjangkau, yang bertujuan untuk
memengaruhi keputusan pembelian konsumen dan memengaruhi
pertumbuhan volume penjualan produk

Tipe-tipe Inovasi Produk


Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:350—352), terdapat enam
tipe inovasi produk yang dihasilkan dari pengembangan produk baru,
yaitu sebagai berikut.
1) Produk baru bagi dunia (new-to-the-world products), ialah produk
yang mewujudkan sebuah pasar baru dan menjadikan siklus hidup
yang baru.
2) Lini produk baru (new product line), ialah produk baru suatu
perusahaan yang telah diluncurkan oleh pasar yang sudah ada.
3) Perluasan lini (line extension), ialah sebuah produk baru yang
memungkinkan perusahaan menjangkau pasar lebih luas dengan
penawaran manfaat yang memiliki pembeda.
4) Penyempurnaan produk yang telah ada (improvements to existing
products), ialah sebuah produk yang umumnya didesain sebagai
pengganti produk yang telah ada sebelumnya.
5) Repositioning, ialah kemungkinan penawaran aplikasi baru dalam
pemenuhan kebutuhan baru dengan pengembangan teknis suatu
produk.
6) Pengurangan biaya (cost reductions), ialah pemberian kemampuan
kerja produk yang ada sesuai harga yang lebih rendah.

Jenis-jenis Inovasi Produk


Menurut Setiadi (2019:304—305), ada beberapa jenis inovasi
produk, yaitu sebagai berikut.
1) Inovasi berkelanjutan, yaitu mengubah produk yang telah ada dan
tidak menciptakan produk baru.
2) Inovasi berkelanjutan yang dinamis, yaitu penciptaan produk baru
atau perubahan produk yang telah ada, biasanya tidak mengubah
kebiasaan membeli dan penggunaan produk konsumen yang sudah
baik.
3) Inovasi terputus, yaitu produk yang benar-benar baru yang
memotivasi pembeli untuk mengubah perilaku konsumen mereka
secara signifikan

Inovasi Produk


Perkembangan selera konsumen yang semakin berubah-ubah,
menuntut sebuah bisnis agar selalu menciptakan inovasi produk untuk
mempertahankan dan meningkatkan daya saing sebuah bisnis di persaingan
pasar yang semakin ketat. Sebuah bisnis yang menawarkan inovasi produk
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen yang memberikan
keunggulan kompetitif dibandingkan pesaingnya akan menjadi daya tarik
konsumen untuk memutuskan membeli suatu produk.

Pengertian Inovasi Produk


Menurut Sudarmanto, dkk. (2022:52), inovasi produk adalah
strategi yang dijalankan oleh pengusaha untuk memperbaiki,
menyempurnakan, mengembangkan, dan melengkapi produk yang telah
diproduksi sebelumnya.
Menurut Prasetyo (2018:37), inovasi produk adalah sumber
inspirasi baru yang menarik, sehingga seseorang dapat secara sadar
mengajukan inovasi dengan tujuan pembangunan dan strategi yang
menarik.
Menurut Jauhari (2020:227), inovasi produk adalah promosi
keistimewaan produk yang dapat menjadikan produk lebih unggul
daripada pesaingnya, jika produk memiliki keunggulan, maka akan
menciptakan nilai tambah bagi konsumen.
Menurut Setiadi (2019:304), inovasi produk adalah konsep,
tindakan, atau objek yang memiliki perbedaan kualitatif dari bentuk
yang telah ada dalam hal keunggulan komparatif, kesesuaian,
kompleksitas, ketercobaan, dan visibilitas.
Menurut Setyabudi dan Suranto (2018:116), inovasi produk
merupakan tahap penciptaan ide untuk barang dan jasa, termasuk
melakukan perubahan atau penambahan beberapa fitur utama yang telah
ada.

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Keller dalam Octavia (2021:712), ada tiga
indikator keputusan pembelian, antara lain sebagai berikut.
1) Kebiasaan dalam membeli produk, yaitu kebiasaan yang umum
dilakukan oleh konsumen sebagai kecenderungan untuk membeli
produk.
2) Memberikan rekomendasi kepada orang lain, yaitu deskripsi
perilaku konsumen saat menawarkan rekomendasi, pilihan, atau
saran tentang suatu produk yang mereka yakini menawarkan nilai
uang dan kualitas yang baik untuk produk tersebut kepada orang
lain.
3) Melakukan pembelian ulang, yaitu tindakan yang mencerminkan
perilaku individu yang merasa puas dengan produk dan kemudian
memutuskan untuk membeli kembali produk tersebut karena
percaya bahwa produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen.
Adapun indikator keputusan pembelian menurut Schiffman dan
Kanuk dalam Maharani (2019:13), antara lain sebagai berikut.
1) Pemilihan produk, yaitu konsumen memilih apakah akan membeli
produk atau mengalokasikan uang untuk keperluan lain.
2) Pemilihan merek, yaitu saat akan membeli produk, konsumen perlu
memutuskan merek mana yang ingin dibeli karena setiap merek
memiliki perbedaan dan karakteristik masing-masing.
3) Pemilihan pemasok, yaitu dalam memutuskan pengecer mana yang
akan dituju, konsumen perlu membuat keputusan sendiri karena
preferensi setiap konsumen berbeda-beda.
4) Jumlah pembelian, yaitu keputusan mengenai jumlah produk yang
akan dibeli dapat diambil oleh konsumen.

Proses Keputusan Pembelian


Menurut Abdurrahman (2015:41—43), terdapat lima tahap dalam
proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen, antara lain
sebagai berikut.
1) Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian diawali ketika konsumen menyadari adanya
masalah atau kebutuhan yang harus dipenuhi baik dipicu oleh faktor
internal atau eksternal. Pelaku usaha perlu melakukan penelitian dan
memahami jenis kebutuhan yang memotivasi konsumen, serta
mengarahkan mereka pada produk atau jasa yang ditawarkan oleh
perusahaan.
2) Pencarian Informasi
Langkah kedua dalam proses pengambilan keputusan
pembelian adalah pencarian informasi, dimana konsumen mencari
informasi tambahan. Ada beberapa sumber informasi yang dapat
diakses oleh konsumen, antara lain sebagai berikut.
a) Sumber pribadi, meliputi keluarga, teman, tetangga, dan kolega.
b) Sumber komersial, meliputi iklan, wiraniaga, distributor,
kemasan, pajangan di toko.
c) Sumber publik, meliputi media massa, organisasi penentu
tingkatan konsumen.
d) Sumber pengalaman, meliputi penanganan, peninjauan, dan
pemakaian produk.
3) Evaluasi Alternatif
Evaluasi alternatif merupakan bagian dari proses pengambilan
keputusan pembelian oleh konsumen, dimana informasi digunankan
untuk mengevaluasi merek-merek alternatif yang tersedia dalam
beberapa pilihan yang dipertimbangkan.
4) Keputusan Pembelian
Bagi pemasar, keputusan pembelian merupakan salah satu
alternatif pilihan penting yang harus dipertimbangkan, dimana
keputusan ini merujuk pada keputusan konsumen untuk membeli
atau tidak membeli produk atau jasa tertentu.
5) Perilaku Pasca Pembelian
Setelah melakukan pembelian, konsumen akan melakukan
tindakan selanjutnya berdasarkan tingkat kepuasan atau
ketidakpuasan mereka yang ditentukan oleh perbandingan antara
harapan konsumen dan daya kerja produk atau jasa yang diterima

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Islamey dan Maskur (2023:767), keputusan pembelian
adalah proses pengambilan keputusan saat hendak melakukan
pembelian berdasarkan keinginan dan kebutuhan konsumen, dengan
tujuan konsumen merasa puas terhadap produk yang dibelinya.
Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Pramana dan Soebiantoro
(2023:988), keputusan pembelian adalah pilihan antara dua atau lebih
pilihan alternatif, dimana seseorang perlu memiliki berbagai pilihan
alternatif pada saat pengambilan keputusan.
Menurut Tjiptono dalam Sari dan Soebiantoro (2022:854),
keputusan pembelian merupakan upaya konsumen dalam mencari
informasi dan menilai kemampuan suatu produk atau merek untuk
memenuhi kebutuhan mereka.
Menurut Kotler dalam Shalihah et al. (2021:88), keputusan
pembelian merupakan tindakan dimana konsumen secara sungguh-
sungguh memilih untuk membeli dan mengkonsumsi barang atau jasa
tertentu dari beragam opsi alternatif yang tersedia.
Menurut Aini dan Andjarwati (2020:21), keputusan pembelian
merupakan suatu proses dimana konsumen menghadapi berbagai
pilihan, lalu membuat keputusan untuk membeli penawaran produk
tersebut.

Indikator Word of Mouth


Terdapat tiga indikator Word of Mouth, yang pertama adalah berbicara
mengenai pengalaman positif dan kualitas produk. Indikator kedua melibatkan
merekomendasikan kepada teman dan keluarga. Sedangkan indikator ketiga
terkait dengan usaha untuk membujuk teman dan mengajak keluarga untuk
melakukan sesuatu (Fakhrudin et al., 2021).

Pengertian Word of Mouth


Word of Mouth merupakan komunikasi yang terjadi melalui perkataan atau
saran dari orang ke orang mengenai pandangan atau penilaian terhadap suatu
produk atau layanan. Komunikasi ini dapat terjadi baik secara personal maupun
dalam kelompok, dengan tujuan memberikan informasi secara pribadi mengenai
suatu produk atau layanan (Fakhrudin et al., 2021). Word of Mouth merupakan
bentuk komunikasi antara individu, di mana informasi mengenai suatu produk,
layanan, atau merek disampaikan dari satu orang ke orang lain. Dalam proses ini,
pesan yang disampaikan penerima pesan bersifat non-komersil (Suarmaja et al.,
2023). Word of Mouth adalah suatu aktivitas pemasaran yang memiliki potensi
untuk mendorong individu konsumen agar berbicara, mempromosikan,
merekomendasikan, dan bahkan menjual produk atau merek perusahaan kepada
calon pelanggan lainnya (Wibowo et al., 2022)

Indikator Brand Image


Indikator brand image melibatkan tiga aspek utama. Pertama, citra
perusahaan mencakup pandangan konsumen terhadap perusahaan, termasuk
popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan, dan pemakai produk (Syahrazad
and Hanifa, 2019). Kedua, citra produk mengevaluasi persepsi konsumen terhadap
barang atau jasa, melibatkan atribut produk, manfaat bagi konsumen, dan jaminan
produk (Arianty and Andira, 2021). Ketiga, citra pemakai mencakup persepsi
yang dihasilkan oleh konsumen terhadap pemakaian barang atau jasa, melibatkan
identitas pemakai dan status sosialnya (Liyono, 2022). Ketiga aspek ini menjadi
indikator penting dalam membentuk citra merek dan memengaruhi persepsi
konsumen terhadap produk atau layanan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan
(Dairina and Sanjaya, 2022)

Indikator Brand Ambassador


Indikator yang digunakan untuk menilai variabel brand ambassador
mencakup transference, congruence, kredibilitas, daya tarik, dan power (Amalia
and Riva’i, 2022). Transference (keterbukaan) adalah saat seorang selebriti
mendukung merek yang terkait dengan profesi mereka, dan produk yang
dipromosikan dapat diterima oleh konsumen (Muthia and Kusumahadi, 2023).
Congruence (kesesuaian) merupakan konsep kunci dalam peran brand
ambassador yang memastikan keselarasan antara merek dan selebriti, sehingga
produk yang diiklankan dapat meningkatkan kepercayaan dan ketergantungan
konsumen (Wardani and Istiyanto, 2022). Kredibilitas menunjukkan sejauh mana
konsumen melihat bahwa selebriti tersebut memiliki pengetahuan, keterampilan,
atau pengalaman yang relevan, sehingga dianggap dapat dipercaya untuk
memberikan informasi objektif (Siahaan et al., 2022). Daya Tarik merupakan
aspek nonfisik penampilan selebriti yang mendukung citra produk melalui
kecerdasan, sifat kepribadian, gaya hidup, atau kebugaran tubuh (Rusli et al.,
2020). Power (pengaruh) adalah daya tarik kharismatik yang dipancarkan oleh
selebriti untuk mempengaruhi konsumen, mendorong mereka untuk membeli atau
menggunakan produk yang dipromosikan (Muthia and Kusumahadi, 2023).

Pengertian Brand Ambassador


Brand ambassador adalah seseorang yang dipilih oleh suatu merek atau
perusahaan untuk mewakili dan mempromosikan produk atau layanan mereka
(Iswanto, 2021). Brand ambassador adalah individu yang memberikan dukungan
kepada suatu merek dan seringkali berasal dari kalangan tokoh masyarakat yang
terkenal (Rani and Widyasari, 2022). Brand ambassador sering kali dapat
dianggap sebagai bintang iklan atau pendukung iklan yang aktif mendukung dan
mempromosikan produk atau layanan suatu merek (Probosini et al., 2021).
Seorang selebriti atau influencer media sosial yang menjadi brand ambassador
dapat memberikan pengaruh positif terhadap persepsi konsumen terhadap suatu
produk atau merek (Lailiya, 2020). Berdasarkan definisi tersebut, dapat
disimpulkan bahwa Brand Ambassador merupakan strategi perusahaan untuk
memengaruhi konsumen dengan melibatkan selebriti sebagai endorser dalam
mempromosikan citra produk, dengan tujuan meningkatkan tingkat pembelian
oleh konsumen terhadap suatu produk (Fasha et al., 2022).

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian adalah faktor-faktor atau tanda-tanda yang
memberikan petunjuk atau informasi terkait dengan pengambilan keputusan
pembelian oleh konsumen (Anim and Indiani, 2020). Ada 4 indikator yang dapat
memengaruhi keputusan pembelian. Pertama, kemantapan produk menjadi faktor
kunci, di mana keputusan pembelian dipengaruhi oleh tingkat keyakinan dan
kepercayaan konsumen terhadap stabilitas dan kualitas produk (Maryati and
Khoiri, 2022). Kedua, kebiasaan pembelian konsumen dapat menjadi indikator
yang signifikan, karena konsumen cenderung memilih produk atau merek tertentu
secara teratur berdasarkan pengalaman positif sebelumnya (Camelia and Hartono,
2021). Ketiga, pengaruh dari rekomendasi orang lain, termasuk teman, keluarga,
atau ulasan online, sering menjadi faktor kuat dalam pengambilan keputusan
pembelian (Romadon et al., 2023). Terakhir, tindakan pembelian ulang oleh
konsumen dapat mencerminkan tingkat kepuasan dan kepercayaan terhadap
produk, menjadi indikator bahwa konsumen memilih kembali produk yang sama
berdasarkan pengalaman positif sebelumnya (Misnawati and Sumarni, 2020).
Pemahaman terhadap indikator-indikator ini dapat membantu perusahaan dalam
merancang strategi pemasaran yang lebih efektif untuk memenuhi harapan dan
kebutuhan konsumen

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang
meliputi:
a. Brand Ambassador
Brand ambassador adalah individu yang ditunjuk oleh perusahaan untuk
mempromosikan produknya. Iklan yang disampaikan oleh sumber yang menarik,
seperti selebriti yang populer, akan mendapatkan perhatian besar dan mudah
diingat oleh masyarakat. Personality seorang brand ambassador dapat
mempengaruhi personality dari sebuah brand. Dengan demikian, citra positif dari
brand ambassador dapat meningkatkan citra merek dan menarik konsumen untuk
membeli produk tersebut (Liya et al., 2021).
b. Brand Image
Brand image adalah persepsi konsumen terhadap suatu merek, yang dapat
memengaruhi keputusan pembelian mereka. Konsumen dengan citra positif
terhadap suatu merek lebih cenderung melakukan pembelian pada produk
tersebut. Citra merek yang baik memberikan kepercayaan kepada konsumen
mengenai kualitas produk dan layanan yang ditawarkan (Liya et al., 2021).
c. Word of Mouth
Word of mouth adalah komunikasi informal yang terjadi antara konsumen
mengenai pengalaman mereka dengan suatu produk. Strategi promosi yang
menggunakan konsumen yang puas untuk meningkatkan kesadaran produk
dikenal sebagai Word of Mouth. Word of Mouth dianggap lebih terpercaya
dibandingkan informasi dari iklan, karena informasi tersebut berasal dari orang
yang dikenal dan dipercaya, seperti teman atau keluarga. Kemudahan dalam
melakukan WOM tanpa disadari dapat meningkatkan nilai suatu produk di mata
konsumen lainnya, sehingga mempengaruhi keputusan pembelian mereka (Liya et
al., 2021).

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan proses di mana konsumen memilih dan
membeli produk atau layanan tertentu dari berbagai pilihan yang tersedia (Sari,
2020). Menurut Kotler and Armstrong (2018), keputusan pembelian merupakan
keputusan konsumen tentang merek mana yang akan dibeli dari berbagai pilihan
yang tersedia di pasaran. Proses pengambilan keputusan konsumen yang rumit
seringkali melibatkan beberapa tahap dan keputusan yang saling terkait (Kotler
and Armstrong, 2018). Menurut Firmansyah (2019), keputusan pembelian adalah
langkah-langkah pemecahan masalah yang diambil oleh individu saat memilih
tindakan yang paling sesuai dari dua atau lebih alternatif perilaku. Proses ini
dianggap sebagai langkah yang paling tepat dalam melakukan pembelian,
melibatkan tahapan proses pengambilan keputusan sebelumnya (Firmansyah,
2019). Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh bagaimana suatu proses
pengambilan keputusan pembelian tersebut dilaksanakan (Tanady and Fuad,
2020). Sementara menurut Yusuf (2021), keputusan pembelian merupakan
evaluasi pilihan-pilihan yang dilakukan individu untuk memilih produk tertentu
dari berbagai opsi (Yusuf, 2021).
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa keputusan pembelian merupakan suatu proses pengambilan
keputusan oleh konsumen untuk memanfaatkan barang atau jasa. Proses ini
melibatkan pertimbangan mengenai pilihan produk atau jasa yang akan dibeli,
evaluasi terhadap kualitasnya, penentuan jumlah yang dibutuhkan, serta cara atau
metode pembelian yang akan digunakan (Maryati and Khoiri, 2022)

Kekuatan Asosiasi Merek


Ketika konsumen telah menggunakan suatu produk, maka
konsumen akan mengingat kesan yang dirasakannya dari produk
tersebut. Terlebih lagi ketika konsumen tersebut telah merasakan
manfaat yang diambilnya setelah menggunakan produk tersebut
maka asosiasi yang baik terhadap produk tersebut akan semakin
kuat. Reputasi inilah yang dibangun melalui citra merek.
Reputasi yang baik tidak hanya diambil dari segi manfaatnya saja
melainkan juga efek yang ditimbulkan setelah menggunakan
produk tersebut. Seperti halnya ketika konsumen menggunakan
produk kosmetik Wardah maka selain ekspresi cantik yang
dirasakannya juga rasa aman karena telah mengkonsumsi produk
dengan label hala

Ciri-ciri Citra Merek


Merek merupakan hal penting bagi sebuah perusahaan.Karena dengan
merek yang bernilai positif, para konsumen dapat menyimpan informasi yang unik
didalam memori mereka sehingga ketika disebutkan sebuah kategori produk,
muncul merek tertentu untuk di recall dalam kognisi individu.Merek juga menjadi
pembeda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya.
Menurut sebuah biro riset (dalam Ningsih, 2009, hal. 28) terdapat
beberapa ciri dari citra merek yang terdiri dari tiga komponen, yakni:
1) Brand Association
Merupakan tindakan dari konsumen untuk membuat asosiasi tentang
merek tertentu berdasarkan informasi atau pengetahuan mereka, baik
pengetahuan yang sifatnya faktual maupun berdasar pada pengalaman
dan emosi.
2) Brand Value
Merupakan tindakan konsumen dalam memilih merek.Tindakan
konsumen tersebut lebih mengarah pada alasan persepsi mereka
terhadap karakteristik merek dengan menghubungkannya dengan nilai-
nilai yang diyakini mereka.
3) Brand Positioning
Merupakan persepsi konsumen tentang kualitas merek, dimana mereka
akan menggunakannya pada saat memilih berbagai alternatif pilihan
yang ada

Pengertian Citra Merek


Citra Merek dapat didefinisikan sebagai persepsi tentang merek yang
dihubungkan dengan informasi terhadap merek tersebut dan melekat dalam
ingatan konsumen (Rangkuti, 2000, hal. 90). Selain itu, citra merek dapat
diartikan sebagai nilai simbolis yang berhubungan dengan merek tersebut.
Pengertian lain menyebutkan bahwa citra merek diartikan sebagai
sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk di benak konsumen (Rangkuti, 2004,
hal. 43 ).

Pengertian Merek


Merek adalah sebuah nama, istilah, tanda, symbol, atau rancangan atau
bahkan kombinasi dari kesemuanya, yang bertujuan untuk menyebutkan barang
atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan membedakannya dari para
pesaingnya (Kotler, 1999, hal. 194).
Menurut perspektif pemasaran, merek adalah symbol manifestasi dari
seluruh informasi yang berkaitan dengan suatu produk atau jasa. Merek juga
merupakan bentuk visualisasi yang ingin ditanamkan perusahaan pada benak
konsumen. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari peluncuran sebuah merek
adalah menjadikannya identitas perusahaan dan membedakannya dengan produk
perusahaan lain, merek juga dapat digunakan sebagai alat promosi yang dapat
menjadi daya tarik sebuah produk, membina citra kepada konsumen dengan
memberikan keyakinan, dan jaminan kualitas, selain itu merek juga dapat
digunakan untuk mengendalikan pasar (Widiana & Bonar, 2010 hal. 43).
Istilah brand berasal dari kata brandr yang berarti “to brand”, yaitu
aktivitas yang sering dilakukan para peternak sapi Amerika dengan memberi
tanda pada ternak-terak mereka untuk memudahkan identifikasi kepemilikan
sebelum dijual ke pasar (Sadat, 2009, hal. 18).
Menurut UU Merek No. 15 Tahun 2001 pasal 1 ayat 1 (dalam Tjiptono,
2005, hal. 2), merek adalah:
“tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka,
susunan warna, atau kombinasi dan unsur-unsur tersebut yang memiliki
dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa”.
Merek juga dapat diartikan sebagai nama atau simbol yang dihubungkan
dengan suatu produk atau jasa dan menimbulkan arti psikologis (Susanto dan
Wijarnako, 2004, hal. 5). Merek berperan sebagai sarana bagi perusahaan untuk
membina dan mengembangkan loyalitas konsumen. Merek yang kuat akan
memberikan nilai positif dari produk yang dihasilkan, selain itu juga dapat
menghalang pesaing untuk masuk ke pasar sasaran perusahaan

Pengertian Citra


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiamenyebutkan bahwa citra adalah
gambaran yang dimiliki banyak orang mengenai pribadi, perusahaan, organisasi
atau produk (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989, hal. 169).
Disisi lain, citra diartikan sebagai persepsi total mengenai suatu obyek
yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai member (Assel, 1992,
hal. 65).
Pride dan Ferrell mengemukakan bahwa untuk menarik minat konsumen
maka sebuah iklan pada promosi suatu produk harus memperhitungkan suatu
image atau citra yakni gambaran fungsional dan gambaran psikologis dalam
benak manusia (Pride dan Ferrell, 1989, hal. 156)

Definisi Pengambilan Keputusan


Pilihan-pilihan produk dan jasa konsumen terus berubah. Hal ini
disebabkan dengan semakin pesatnya jenis produk dan jasa yang dihasilkan oleh
suatu perusahaan. Selain itu, perusahaan yang ingin berkembang dan menarik
pelanggan sebanyak-banyaknya, perlu mempunyai pengetahuan yang mendalam
tentang perilaku konsumen agar dapat mendefinisikan pasar yang baik dan
mengikuti perubahan yang konsisten terus-menerus serta merancang bauran
pemasaran yang tepat.
Dalam memahami tentang perilaku konsumen, terdapat apa yang disebut
dengan pengambilan keputusan konsumen. Keputusan adalah membuat pilihan
diantara dua alternatif atau lebih. Keputusan juga dapat diartikan sebagai hasil
dari pemecahan masalah, namun dalam prosesnya harus didasari oleh logika dan
pertimbangan, penetapan alternatif terbaik, serta mendekati dari tujuan yang telah
dibuat sebelumnya (Soenhadji, hal. 2).
Menurut Kotler (dalam Yulaifah, 2011, hal. 23) keputusan adalah sebuah
proses pendekatan dalam upaya menyelesaikan masalah yang terdiri dari tahapan-
tahapan berikut; pencarian informasi, penilaian beberapa alternatif, merumuskan
keputusan membeli dan perilaku setelah membeli yang dilalui konsumen.
Sedangkan pengertian dari pengambilan keputusan didefinisikan sebagai suatu
respon terhadap suatu masalah, dimana masalah merupakan kesenjangan antara
keadaan yang terjadi dengan keadaan yang diinginkan (Robbins, 1996, hal. 134)

Source Characteristics


Komunikasi yang efektif dipengaruhi oleh bagaimana karakteristik
komunikator tersebut, yaitu bagaimana pesan dapat diterima oleh penerima dan
dapat mempersuasi penerima. Tiga faktor dari komunikator sebagai karakteristik
sumber menurut Kelman (2012) adalah source credibility, source attractiveness,
dan source power.

  1. Source Credibility
    Source Credibility dapat tercipta apabila sumber tersebut memiliki
    pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang relevan terhadap suatu
    bidang yang berhubungan dengan pesan yang diinformasikan. Sehingga
    sumber dapat memberikan pendapat yang bersifat obyektif atau dapat
    dipercaya
  2. Source Attractiveness Daya tarik seorang komunikator dikaitkan
    dengan tingkah laku seseorang, bagaimana individu tersebut dapat
    meyakinkan atau mempersuasi pihak penerima.
  3. Source Power Sumber atau komunikator memiliki kekuatan atau
    kekuasaan dalam hal mempengaruhi penerima. Kekuatan yang dimiliki
    tersebut untuk menghukum atau sebaliknya, memberikan penghargaan
    kepada penerimanya.

Electronic Word of Mouth


Hermawan (2012:211) Electronic word of mouth merupakan fenomena
yang terjadi pada saat seorang konsumen menggunakan teknologi internet atau
www (world wide web) untuk berkomunikasi dengan orang lain ketika mencari
pendapat atau opini mengenai merek tertentu dari produk atau jasa serta perusahaan
(Manzoor, 2010). eWOM dapat berupa pendapat atau opini negatif serta positif dari
seseorang yang telah menggunakan produk atau jasa untuk mengetahui bagaimana
kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut melalui jejaring sosial, blog, situs
web, dan aplikasi.

Pemasaran Online dan Media Sosial


Online and social media marketing menurut Kotler dan Keller (2016:26)
adalah “online activites and programs designes to engage customers or prospects
and directly or indirectly raise awareness, improve image, or elicit sales of
products and services”. Media sosial merupakan suatu aktivitas komunikasi
pemasaran yang menggunakan media elektronik (online) dalam menarik konsumen
atau perusahaan dalam berbagai bentuk (gambar, tulisan, dll) untuk meningkatkan
kesadaran, citra perusahaan, dan untuk meningkatkan penjualan.
Pengguna internet semakin bertambah dari tahun ke tahun sehingga
perusahaan membuat strategi pemasaran baru yang efektif dan efisien yaitu
pemasaran dengan media internet. Menurut Hermawan (2012) pemasaran internet
juga dapat disebut sebagai pemasaran-I, web marketing, online marketing, e-
marketing, e-commerce yaitu pemasaran produk atau jasa melalui internet. Model
pemasaran via internet tersebut terdiri dari tiga kategori adalah e-commerce,
pemasaran internet lokal dan pendekatan orang per orang (one-one approach).
Hermawan (2012:211). Agar menemukan produk yang dibutuhkan, pengguna
melakukan pencarian dengan browsing internet untuk mencari sesuatu informasi
seperti, produk dan penawaran tertentu atau hal lainnya. Dengan menggunakan kata
yang dimasukkan, pengguna langsung mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Indikator Minat Beli


Menurut Schiffman dan Kanuk (2014:201) Menyatakan bahwa minat
merupakan salah satu aspek psikologis yang memiliki pengaruh cukup besar
terhadap sikap dan perilaku seorang konsumen dalam membeli suatu merek, atau
mengambil sebuah tindakan yang berhubungan dengan pembelian. Seorang
konsumen tidak dengan sendirinya memiliki keputusan dalam pembelian barang
atau jasa, terlebih dahulu konsumen mencari informasi dari orang terdekat atau
orang yang benar benar di percaya untuk membantunya dalam mengambil sebuah
tindakan yang berhubungan dengan pembelian.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2014:201) terdapat beberapa indikator yang
mempengaruhi minat beli, berikut 5 indikator minat beli :

  1. Memiliki keinginan untuk mencari informasi tentang produk.
    Menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi
    mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk
    mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
  2. Melakukan pertimbangan untuk membeli.
    Mengggambarkan perilaku seseorang yang memiliki Hasrat untuk
    mempertimbangkan biaya dan waktu. Biasanya konsumen mendalami tentang
    kelebihan produk, maka pada tahap ini konsumen akan memiliki keinginan
    dan hasrat untuk membeli produk tersebut.
  3. Memiliki keinginan untuk mencoba.
    Menggambarkan perilaku seseorang yang tertarik untuk mencoba dan ingin
    mengetahui tentang produk. Biasanya konsumen ingin memiliki produk
    setelah mengetahui informasi tentang produk maka konsumen akan tertarik
    untuk membeli dan memiliki produk
  4. Memiliki rasa ingin tahu terhadap produk.
    Menggambarkan perilaku seseorang konsumen yang memiliki minat
    terhadap produk sebelum menggunakan produk tersebut. Biasanya
    konsumen tertarik dengan produk tersebut maka pada tahap ini akan timbul
    rasa ketertarikan terhadap produk.
  5. Ingin memiliki produk.
    Menggambarkan perilaku seseorang konsumen yang memiliki minat
    terhadap suatu produk barang atau jasa. Biasanya konsumen yang
    cenderung memiliki minat terhadap suatu barang atau jasa akan bersedia
    untuk membeli produk tersebut

Minat Beli


Menurut Kotler dan Keller (2016:181) minat beli adalah seberapa besar
kemungkinan konsumen membeli suatu merek dan jasa atau seberapa besar
kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya. Bila
manfaat yang lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk mendapatkannya maka
dorongan untuk membeli semakin tinggi.
Menurut Kotler dan Amstrong (2014:106) Minat beli adalah sesuatu yang
timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya, lalu muncul
keinginan untuk membeli dan memilikinya. Minat beli menciptakan suatu motivasi
yang akan terus terekam dalam pikirandan menjadi suatu keinginan yang sangat
kuat yang pada akhirnya ketikaakanmemenuhi kebutuhannya mereka akan
merealisasikan apa yang ada dalam pikiraannya. bahwa motivasi sebagai kekuatan
dorongan dari dalam diri individu yang memaksa mereka untuk melakukan
tindakan. Jika seseorang mempunyai motivasi yang tinggi terhadap obyek tertentu,
maka dia akan terdorong untuk berperilaku menguasai produk tersebut. Sebaliknya
jika motivasinya rendah, maka dia akan mencoba untuk menghindari obyek yang
bersangkutan.

Faktor-Fakor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Buchari Alma (2016:96) bahwa keputusan pembelian dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu ekonomi keuangan, teknologi, politik, budaya, produk,
harga, lokasi, promosi, physical evidence, people, process, sehingga akan
membentuk kepada keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen.

  1. Ekonomi Keuangan
    Keadaan ekonomi seseorang adalah terdiri dari pendapatan yang dapat
    dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya dan polanya)tabungan dan hartanya,
    kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap mengeluarkan lawan
    menabung.
  2. Teknologi
    Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang
    yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
  3. Politik
    Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan
    kebijakan publik.
  4. Budaya
    Budaya merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan dan
    perilaku seseorang. Bila makhluk-makhluk lainnya bertindak berdasarkan
    naluri, maka perilaku manusia umumnya dipelajari. Dalam naluri manusia
    tentunya akan memutuskan membeli produk yang memiliki kualitas yang
    berarti faktor kualitas produk merupakan salah satu unsur dalam Faktor
    Kebudayaan
  5. Produk
    Kombinasi antara barang dan jasa dari perusahaan yabg dapat ditawarkan
    kepada pasar sasaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan terentu yang
    diharapkan untuk dapat diterima dengan baik oleh pasar.
  6. Price
    Jumlah uang atau kewajiban yangharusdibayarkan oleh konsumen untuk
    mendapatkan suatu produk atau jasa yang diinginkan oleh konsumen. Harga
    dapat menjadikan pertimbangan bagi konsumen untuk membeli suatu produk
    atau layanan.
  7. Place
    Meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk yang tersedia dan dapat
    dijangkau konsumen.
  8. Promotion
    Kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan
    manfaat produk, membujuk konsumen dengan berbagai cara agar konsumen
    tertarik untuk membelinya dan dapat loyal terhadap produk yang telah
    dipasarkan.
  9. Physical evidence
    Physical evidence atau bukti fisik merupakan suatu hal yang mempengaruhi
    kepuasan konsumen untuk membeli dan menggunakan barang atau jasa yang
    ditawarkan.
  10. People
    People adalah orang yang memainkan peranan dalam memberikan pelayanan,
    termasuk orang-orang yang berinteraksi langsung dengan pelanggan.
  11. Process
    Proses adalah metode, prosedur ataupun urutan kegiatan aktivitas yang saling
    terkait dalam rangka menyampaikan layanan atau jasa kepada pelanggannya.

Indikator Keputusan Pembelian


Kotler dan Keller (2016:188) mengemukakan keputusan pembelian
memiliki dimensi sebagai berikut :

  1. Pilihan Produk
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau
    menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini perusahaan
    harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli
    serta alternatif lain yang mereka pertimbangkan.
  2. Pilihan Merek
    Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek nama yang akan dibeli
    setiap merk memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus
    mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
  3. Pilihan Saluran Pembelian
    Konsumen mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
    dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur
    bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persedian
    barang yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, keluasan tempat dan lain-
    lain.
  4. Pilihan Waktu Pembelian
    Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda
    misalnya ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua minggu
    sekali dan lain sebagainya.
  5. Jumlah pembelian
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang
    akan dibelanjakan pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih
    dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk
    sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda.

Keputusan Pembelian


Kotler dan Keller (2016:102) menjelaskan bahwa “Pada tahap evaluasi,
konsumen membentuk preferensi di antara merek dalam pilihan dan mungkin juga
membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai.” Menurut Kotler dan
Keller (2016:198) keputusan pembelian merupakan “in the evalution stage, the
consumer forms preferences among the brands in the choice and may also form an
intention to buy the most preferred brand”. Pernyataaan diatas dapat diartikan
bahwa dalam tahap evalusi konsumen membentuk preferensi merek dalam
pemilihan dan mungkin juga membentuk niat untuk membeli merek yang paling
disukai.
Menurut Kotler dan Armstrong (2014:129) “keputusan pembelian merupakan
proses keputusan dimana konsumen benar-benar memutuskan untuk membeli salah
satu produk diantara berbagai macam alternatif pilihan”Keputusan pembelian
merupakan sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari
informasi mengenai produk atau merek tertentu dan mengevaluasi seberapa baik
masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian
mengarah kepada keputusan pembelian (Tjiptono, 2014:21)

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen


Menurut Kotler dan Armstrong (2014:135) Memahami konsumen sasaran
dan tipe dari proses keputusan yang akan mereka lalui merupakan tugas penting
bagi seorang pemasar. Disamping itu, pemasar juga perlu mengenal pelaku-pelaku
lain yang mempengaruhi keputusan membeli, memahami tingkah pembeli pada
setiap tahap pembelian dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku mereka.
Jika pemasar tidak mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi, maka akan
kesulitan bagi pemasar untuk mengetahui tingkah laku perilaku konsumen.
mengatakan bahwa: “perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor
budaya, sosial, pribadi, dan psikologis”. Berikut faktor yang mempengaruhi
perilaku konsumen:

  1. Faktor budaya
    Kebudayaan merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling
    mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari lembaga-
    lembaga penting lainnya. Faktor kebudayaan memberikan pengaruh paling luas dan
    dalam pada tingkah laku konsumen. Faktor Kebudayaan, terdiri dari : Budaya, Sub
    budaya, Kelas sosial
    a) Budaya
    Seseorang menciptakan kumpulan nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari
    keluarganya serta lembaga-lembaga penting lainnya.
    b) Sub-budaya
    Sub-budaya terdiri dari kebangsaan agama, kelompok, ras dan daerah geografis.
    Sub-budaya ini terbagi dari beberapa jenis yang dibagi untuk mempengaruhi
    perilaku konsumen untuk memudahkan perusahaan dalam melihat perilaku
    konsumen.
    c) Kelas sosial
    Stratifikasi kadang-kadang terbentuk sistem kasta dimana anggota kasta yang
    berbeda dibesarkan dalam peran tertentu dan tidak dapat mengubah keanggotaan
    kasta mereka.
  2. Faktor sosial
    Kelas sosial merupakan pembagian masyarakat yang relatif homogen dan
    permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai,
    minat, dan perilaku yang serupa. Faktor Sosial, terdiri dari : Kelompok, Keluarga,
    Peran dan status
    a) Kelompok referensi
    Seseorang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung (tatap
    muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Kelompok
    merupakan pengaruh yang paling besar bagi setiap konsumen.
    b) Keluarga
    Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dan
    masyarakat dan ia telah menjadi objek penelitian yang luas.
    c) Peran dan status
    Seseorang berpartisipasi kedalam banyak kelompok sepanjang hidup keluarga,
    klub dan organisasi.
  3. Faktor Pribadi
    Faktor pribadi didefinisikan sebagai karakteristik psikologis seseorang yang
    berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatifkonsisten dan
    bertahan lama terhadap lingkungan Faktor Pribadi, terdiri dari : Usia dan tahap
    siklus hidup, Pekerjaan dan lingkungan, Gaya hidup, Kepribadian dan Konsep Diri.
    a) Usia dan tahap siklus hidup
    Setiap orang membeli barang-barang yang berbeda pada tingkat usia terntentu dan
    tingkat manusia terhadap pakaian, peralatan, yang juga berhubungan dengan
    manusia. Tentunya untuk setiap kebutuhan setiap orang berbeda-beda baik itu
    anak kecil, remaja, dan orang dewasa.
    b) Pekerjaan dan lingkungan
    Ekonomi Pekerjaan seseorang juga mempengaruhi pola konsumsinya. Seseorang
    direkrut perusahaaan akan mempunyai pola konsumsi yang berbeda dengan
    seorang yang berprofesi debagai dokter dan lain sebagainya.
    c) Gaya hidup
    Merupakan pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam aktivitas
    minat dan opini. Gaya hidup merupakan kebiasaan seseorang atau keluarga yang
    sering dilakukan rutin.
    d) Kepribadian dan Konsep diri
    Kepribadian diartikan sebagai karakteristik psikologi seseorang yang berbeda
    dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan
    bertahan lama terhadap lingkungannya.
  4. Faktor Psikologis
    Faktor psikologis sebagai bagian dari pengaruh lingkungan dimana ia
    tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh dimasa
    lampau atau antisipasinya pada waktu yang akan datang. Faktor Psikologis, terdiri
    dari : Motivasi, Persepsi, Pembelajaran, Keyakinan dan sikap.
    a) Motivasi
    Motivasi adalah kebutuhan yang mendorong seseorang untuk bertindak. Motivasi
    bisa muncul dari dalam maupun dari luar.
    b) Persepsi
    Persepsi merupakan proses yang digunakan oleh individu untuk memilih,
    mengorganisasikan, dan menginterpretasikan masukan-masukan guna
    menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.
    c) Pembelajaran
    Meliputi perubahan seseorang yang timbul berdasarkan pengalaman
    dipenengaruhi oleh lingkungan tertentu.
    d) Keyakinan dan sikap
    Keyakinanmerupakan gambaran pemikiran yang dianut seseorang tentang suatu
    hal. Keyakinan dapat berdasarkan pengetahuan dan kepercayaan.
    Perilaku pembelian seseorang dapat dikatakan sesuatu yang unik, karena
    preferensi dan sikap terhadap objek setiap orang berbeda. Selain itu konsumen
    berasal dari beberapa segmen, sehingga apa yang diinginkan dan dibutuhkan juga
    berbeda. Beberapa segmen konsumen sangat mempengaruhi proses keputusan
    pembelian. Keputusan seorang konsumen dipengaruhi oleh ciri-ciri
    kepribadiannya, termasuk usia, pekerjaan, keadaan ekonomi. Perilaku konsumen
    akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelia

Perilaku Konsumen


Kotler dan Keller (2016:179), perilaku konsumen yaitu sebagai studi
tentang bagaimana tindakan individu, organisasi, dan kelompok dalam membeli,
memilih dan menggunakan ide, produk maupun jasa dalam memuaskan kebutuhan
dan keinginan pelanggan. Konsep pendekatan perilaku konsumen mengajarkan
agar pemasar cenderung memiliki orientasi lebih kepada pelanggan dan bukan
hanya sekedar menjual apa yang diproduksi perusahaan. Perilaku konsumen
merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan
pembelian. Ketika memutuskan akan membeli suatu barang atau produk, konsumen
selalu memikirkan terlebih dahulu barang yang akan dibeli. Mulai dari harga,
kualitas, fungsi atau kegunaan barang tersebut, dan lain sebagainya. Kegiatan
memikirkan, mempertimbangkan, dan mempertanyakan barang sebelum membeli
merupakan atau termasuk ke dalam perilaku konsumen. Fokus dari perilaku
konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan
sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang. Berikut
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2016:181) Perilaku konsumen menggambarkan
suatu proses yang berkesinambungan, dimulai dari ketika konsumen belum
melakukan pembelian, saat melakukan pembelian, dan setelah pembelian terjadi
sehingga hubungan antara satu tahap dengan tahapan lainnya menggambarkan
pendekatan proses pembuatan keputusan oleh konsumen. Assael (2014:31)
mengungkapkan bahwa ketika konsumen membuat suatu keputusan, maka mereka
juga akan melakukan evaluasi pasca pembelian berupa feedback yang dapat
dimanfaatkan para pemasar sebagai dasar penyusunan strategi pemasaran. Seluruh
aktivitas tersebut dipelajari oleh para pemasar untuk mengetahui alasan pelanggan
memilih salah satu merek diantara sejumlah alternatif merek serupa yang ada di
pasaran. Dengan demikian, informasi yang dikumpulkan tersebut akan membantu
manajemen dalam memformulasikan kembali strategi pemasaran yang lebih
mendekati kebutuhan pelanggannya (Schiffman dan Kanuk, 2014:6).

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran menurut Kotler dan Keller (2016:27) merupakan seni
dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan
pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan dan mengkomunikasikan nilai
pelanggan yang umum, kemudian manajemen pemasaran mengatur semua
keinginan pemasaran. Karna hal ini lah manajemen pemasaran sangat penting bagi
perusahaan.
Manajemen pemasaran merupakan penganalisaan, perencanaan,
pelaksanaaan, dan pengendalian program-program yang dibuat untuk membentuk,
membangun memelihara keuntungan dari pertukaran melalui sasaran guna
mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang (Assauri, 2011:28)
Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan
penentuan harga, promosi dan distribusi barang, jasa dan gagasan untuk
menciptakan pertukaraan sesuatu yang bernilai dengan kelompok sasaran
memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi (Tjiptono, 2011:2).

Pemasaran


Marketing is a sociental process by which individuals and groups obtain what
they need and want through creating, offering, and freering, and freely exchanging
products and services of value with others. Pemasaran merupakan kegiatan
mengatur lembaga, dan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan,
menyampaiakan dan bertukar penawaran nilai bagi pelanggan, klien, mitra dan
masyarakat pada umumnya Kotler dan Keller (2016:27).
Menurut AMA (America Marketing Association) yang dikutip oleh Kotler
dan Keller (2016:27) marketing is the activity set of institution and processes for
creating, communicating, delivering, and exchanging offerings that value for
customers, clients, partners, and society at large. Dari defenisi tersebut dapat
diartikan bahwa pemasaran adalah kegiatan, mengatur lembaga, dan proses untuk
menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan bertukar penawaran yang
bernilai bagi pelanggan, klien, mitra dan masyarakat pada umumnya

Indikator Kualitas Pelayanan


Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani
dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) adalah sebagai berikut :
a. Reliability (kehandalan)
Kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat diandalkan
dan akurat.
b. Responsiveness (daya tanggap)
Kesediaan untuk membantu pelanggan dan memberikan
layanan yang cepat.
c. Assurances (jaminan)
Pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga konsumen yakin dan
percaya.
d. Empati
Perhatian individual terhadap pelanggan
e. Tangibles (bukti fisik)
Penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Fandy Tjiptono (2017:180) mendefinisikan
kualitas pelayanan atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa
bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan
ekspetasi pelanggan. Kualitas pelayanan adalah seberapa baik
suatu organisasi atau perusahaan mampu merespon kebutuhan
pelanggan. Kualitas pelayanan dapat diukur dengan waktu respon
kecepatan pelayanan, jaminan pelayanan dan tingkat kepuasan
pelanggan. Menurut Parasuraman dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa kualitas
pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan
persepsi pelanggan dengan kualitas pelayanan pelanggan yang
diharapkan. Kualitas pelayanan dapat diketahui dengan cara
membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang
mereka terima dengan pelayanan sesungguhnya yang mereka
harapkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan.
Jika jasa yang diterima sesuai dengan apa yang diharapkan maka
kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa
yang diterima melebihi harapan konsumen, maka kualitas
pelayanan dipersepsikan sangat baik dan berkualitas. Sebaliknya
jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan,
maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk dan berakibat pada
citra toko. Menurut Arianto (2018:83) kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai berfokus pada memenuhi kebutuhan dan
persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi harapan
pelanggan. Kualitas pelayanan merupakan titik sentral bagi
perusahaan karena mempengaruhi kepuasan konsumen dan
kepuasan konsumen akan muncul apabila kualitas Kualitas
Pelayanan yang diberikan dengan baik. Berdasarkan pendapat
para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kualitas
pelayanan adalah persepsi konsumen tentang seberapa baik
pelayanan yang diterima terutama dalam memenuhi kebutuhan
konsumen

Indikator Store Atmosphere


Indikatore store atmsophere menurut Berman dan Evan
(2014:545) sebagai berikut :
a. Store Exterior (bagian depan toko)
Bagian depan toko mencerminkan kemantapan dan kekokohan
spirit perusahaan dan sifat kegiatan yang ada di dalamnya serta
dapat menciptakan kepercayaan goodwill bagi konsumen store
exterior berfungsi sebagai identifikasi atau tanda pengenal
sehingga dinyatakan sebagai lambang. Elemen-elemen store
exterior terdiri dari :
1) Bagian depan toko meliputi pintu masuk dan konstruksi
gedung. Store front harus menciptakan keunikan,
kemantapan, kekokohan atau hal lain yang berkaitan dengan
citra toko.
2) Papan nama (Marque) adalah suatu tanda yang digunakan
untuk memajang nama atau logo suatu toko. Marque dapat
dibuat dengan teknik pewarnaan, penulisan huruf atau
penggunaan lampu neon dan dapat terdiri dari nama atau
logo saja atau dapat dikombinasikan dengan slogan dan
informasi lainnya supaya lebih efektif, marquee harus
diletakan diluar terlihat berbeda dan lebih menarik.
3) Pintu masuk harus direncanakan sebaik mungkin, sehingga
dapat mengundang konsumen untuk masuk melihat ke
dalam toko.
b. General Interior (bagian dalam toko)
Menyangkut banyak hal yang harus dirancang untuk
memaksimalkan visual merchandising seperti iklan dapat
menarik pembeli untuk datang ke toko, tetapi yang paling
berpengaruh untuk membuat penjualan setelah pembelian
ketika berada di toko adalah display. Elemen-elemen general
interior terdiri dari :
1) Layout yaitu berkaitan dengan penentuan jenis lantai
(keramik, karpet), desain, warna lantai penting karena
konsumen dapat mengembangkan persepsi mereka
berdasarkan apa yang mereka lihat.
2) Lighting yaitu warna dan tata cahaya dapat memberikan
image pada pelanggan. Warna yang cerah akan
memberikan image berbeda dengan warna lembut dan
kurang terang. Tata cahaya yang baik mempunyai kualitas
dan warna yang dapat membentuk produk-produk yang
ditawarkan lebih menarik.
3) Fixtures yaitu memilih peralatan penunjang dan cara
penyusunan barang harus dilakukan dengan baik agar
mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan dan
harapan konsumen.
4) Temperature yaitu suhu udara dalam ruangan harus diatur
sebaik mungkin jangan terlalu panas atau dingin jika
terdapat ruangan yang tertutup. Image toko juga
dipengaruhi dengan penggunaan AC, kipas angin dan
jendela terbuka.
5) Distance yaitu rak barang yang harus diatur sedemikian
rupa agar cukup lebar dan membuat konsumen lebih
mudah dan nyaman pada saat berada di toko.
6) Dead areas merupakan ruangan di dalam toko dimana
display yang normal tidak bisa diterapkan karena akan
terasa janggal misalnya pintu masuk, toilet dan sudut
ruangan. Pengelola harus dapat menerapkan barang-
barang pajangan biasa untuk memperindah dan
memberikan kesan menarik.
7) Personal yaitu berkaitan dengan karyawan yang ramah,
sopan, berpenampilan menarik dan mengetahui
pengetahuan yang cukup mengenai produk yang dijual.
8) Merchandise yaitu barang dagangan yang dijual pengecer
juga mempengaruhi citra toko. Pengelola toko harus
memutuskan mengenai variasi, warna, ukuran, kualitas,
lebar dan kedalaman produk yang akan dijual.
9) Cashier yaitu pengelola harus memutuskan dua hal yang
berkenaan dengan kasir. Pertama penentuan jumlah kasir
yang memadai agar konsumen tidak terlalu lama antri atau
menunggu proses pembayaran. Kedua adalah penentuan
lokasi kasir, kasir harus ditempatkan di lokasi yang
strategis dan sedapat mungkin menghindari kemacetan
antrian antara konsumen yang keluar masuk toko.
10) Technology / modernization yaitu pengelola toko harus
melayani konsumen secanggih mungkin seperti dalam
proses pembayaran dibuat secanggih dan cepat baik
pembayaran secara tunai atau pembayaran kredit dan
debet.
11) Cleanliness yaitu kebersihan dapat menjadi pertimbangan
utama bagi konsumen dalam mengunjungi toko. Pengelola
toko harus mempunyai rencana yang baik dalam
pemeliharaan kebersihan toko walaupun exterior dan
interior baik bila tidak dirawat kebersihannya akan
menimbulkan penilaian negatif dari konsumen.
c. Store layout (tata letak)
Rencana untuk menentukan lokasi tertentu dan pengaturan dari
jalan atau gang di dalam toko yang cukup lebar sehingga
memudahkan konsumen untuk melakukan aktifitas di
dalamnya.
d. Interior display (papan pengumuman)
Merupakan tanda yang digunakan untuk memberikan
informasi kepada konsumen untuk mempengaruhi suasana
lingkungan toko, yang termasuk interior display

Pengertian Store Atmosphere


Store atmosphere atau suasana toko merupakan suasana
terencana yang sesuai dengan sasaran pasar sehingga
memungkinkan dapat menarik minat konsumen untuk
berkunjung. Menurut Utami (2017:322) mendefinisikan store
atmosphere sebagai karakteristik fisik toko seperti pencahayaan,
warna, temperatur, musik dan aroma sehingga menciptakan
kenyamanan pada konsumen. Suasana toko atau store atmosphere
adalah perasaan atau kejiwaan pada seseorang pada saat
memasuki toko (Alma, 2018:60). Store atmosphere dapat
digambarkan sebagai perubahan terhadap perencanaan lingkungan
pembelian yang menghasilkan efek emosional khusus yang dapat
menyebabkan konsumen melakukan tindakan pembelian.
M.Ma’ruf Amin (2014:204) store atmosphere adalah suasana
dalam toko yang menciptakan perasaan tertentu dalam diri
pelanggan yang ditimbulkan dari penggunaan unsur-unsur desain
interior seperti pencahayaan, tata suara, sistem pengaturan udara
dan pelayanan Bagi sebuah toko penting untuk menonjolkan
tampilan fisik, store atmosphere berguna untuk membangun citra
dan menarik minat pembeli. Store atmosphere meliputi berbagai
tampilan seperti interior, exsterior, tata letak, lalu lintas internal
toko, kenyamanan, udara, seragam, fasilitas, keunikan desain,
panjang barang dan sebagainya yang menimbulkan daya tarik
konsumen sehingga konsumen nyaman dan membangkitkan
keinginan untuk membeli (Berman dan Evan yang dialih
bahasakan Lina Salim 2014:528). Berdasarkan pendapat para ahli
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa store atmosphere adalah
suasana yang dapat dirasakan konsumen ketika berada di dalam
toko.

Indikator Keragaman Produk


Menurut Philip Kotler (2012:347) adalah tersedianya jenis semua
produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau dikonsumsi
oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen jenis atau
variasi menu yang ditawarkan.
Adapun indikatornya adalah :

  1. Produk yang tersedia mempunyai berbagai varian
  2. Terdapat menu yang beragam
  3. Kualitas produk yang dijual memenuhi selera konsumen.

Dimensi Keragaman Produk


Menurut Kotler dan Keller (2011) terdapat empat dimensi
keragaman produk sebagai berikut :
a. Lebar
Semakin banyak bauran produk yang disajikan mengacu pada
banyaknya lini produk yang berbeda di setiap perusahaan.
b. Kedalaman
Suatu bauran mengacu pada jumlah seluruh barang dalam
bauran tersebut.
c. Keluasan
Suatu bauran produk mengacu pada berapa banyak jenis yang
ditawarkan masing-masing produk dalam lini tersebut.
d. Konsistensi
Bauran produk mengacu pada seberapa erat hubungan berbagai
lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi atau yang lainnya

Pengertian Keragaman Produk


Keragaman produk adalah kumpulan semua produk dan
barang yang ditawarkan oleh penjual. Keragaman produk adalah
macam-macam produk dalam artian kelengkapan produk dan
menu yang dapat dilihat dari segi rasa, kualitas serta ketersediaan
produk pada setiap toko tersebut (Aerianto, 2017). Menurut
Kotler (2012:347) kelengkapan produk adalah tersedianya semua
jenis produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau
dikonsumsi oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen.
Keragaman produk diartikan sebagai suatu usaha
penganekaragaman produk yang dihasilkan oleh perusahaan
untuk digunakan konsumen dalam memuaskan kebutuhannya.
Keragaman produk dan cara penyajian yang berbeda juga dapat
menarik konsumen dan mempertahankan eksistensi pada sebuah
perusahaan. Semua hal dilakukan perusahaan agar terjadi
peningkatan keputusan pembelian.
Keragaman merupakan faktor penting untuk pertimbangan
konsumen dalam memilih alternatif produk yang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan mereka. Keragaman produk dapat
berjalan apabila perusahaan terus berinovatif dalam menciptakan
produk baru atau variasi produk yang dihasilkan untuk
memuaskan konsumen. Konsumen akan semakin senang jika
suatu restoran atau toko menyajikan beragam produk dimana di
dalamnya terdapat produk dan menu yang di display secara
lengkap Hubungan antara keragaman produk dan perilaku
konsumen itu sendiri yang merupakan sebuah proses dalam
pengambilan keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Keller
(2016:26) bahwa keragaman produk adalah strategi yang
membuat produk berbeda dengan competitor bahkan dapat
melebihinya sehingga mendapat hasil yang dinilai oleh konsumen
dan nilai yang diharapkan dapat memengaruhi pilihan dan
kebutuhan konsumen. Hal ini sejalan dengan teori dari (Utami,
2010) bahwa toko yang tidak dapat menyediakan kebutuhan
produk yang dicari oleh konsumen akan mengakibatkan
kurangnya kesetiaan konsumen dan berdampak kerugian pada
toko. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa keragaman produk adalah suatu cara yang
dilakukan perusahaan dan pebisnis melalui penawaran produk
yang beragam dan memiliki varian berbeda-beda sehingga
konsumen akan merasa senang dalam memilih produk yang
diinginkan sesuai dengan selera konsumen

Indikator Brand Image


Adapun indikator brand image menurut Kotler dan Keller
(2016:347) sebagai berikut :
a. Keunggulan asosiasi merek
Keunggulan asosiasi merek, salah satu faktor pembentuk brand
image adalah keunggulan produk, dimana produk tersebut
unggul dalam persaingan.
b. Kekuatan asosiasi merek
Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa kualitas tinggi.
Kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik
merek untuk mensosialisasikan kepribadian tersebut dalam
bentuk iklan ataupun bentuk kegiatan promosi lainnya agar
mampu menjadi penghubung antara produk dan merek dengan
pelanggan sehingga merek tersebut lebih mudah dikenal dan
tetap eksis ditengah maraknya persaingan. Membangun
popularitas merek yang terkenal bukan hal mudah akan tetapi
popularitas adalah salah satu kunci yang dapat membentuk
brand image kepada pelanggan.
c. Keunikan asosiasi merek
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan-keunikan yang
dimiliki oleh merek produk tertentu untuk menarik perhatian
konsumen

Indikator Brand Image


Adapun indikator brand image menurut Kotler dan Keller
(2016:347) sebagai berikut :
a. Keunggulan asosiasi merek
Keunggulan asosiasi merek, salah satu faktor pembentuk brand
image adalah keunggulan produk, dimana produk tersebut
unggul dalam persaingan.
b. Kekuatan asosiasi merek
Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa kualitas tinggi.
Kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik
merek untuk mensosialisasikan kepribadian tersebut dalam
bentuk iklan ataupun bentuk kegiatan promosi lainnya agar
mampu menjadi penghubung antara produk dan merek dengan
pelanggan sehingga merek tersebut lebih mudah dikenal dan
tetap eksis ditengah maraknya persaingan. Membangun
popularitas merek yang terkenal bukan hal mudah akan tetapi
popularitas adalah salah satu kunci yang dapat membentuk
brand image kepada pelanggan.
c. Keunikan asosiasi merek
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan-keunikan yang
dimiliki oleh merek produk tertentu untuk menarik perhatian
konsumen

Pengertian Brand Image


Brand image merupakan persepsi dan keyakinan
konsumen yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam
memori atau benak konsumen terhadap suatu merek tertentu.
Asosiasi tersebut secara sederhana muncul dalam bentuk
pemikiran yang dikaitkan dengan suatu merek. Menurut Sotjan
(2015:204) mendefinisikan bahwa merek adalah nama, istilah,
tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur
tersebut yang bermaksud untuk mengidentifikasikan barang atau
jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual sehingga
konsumen mengenal merek yang berbeda dari produk pesaingnya.
Brand image sebagai suatu nama atau simbol yang
mempresentasikan atas apa yang dilakukan perusahaan untuk
menyampaikan jenis usahanya kepada konsumen (Kotler dan
Keller, 2016). Citra merek dapat mendeskripsikan berbagai
informasi yang diterima oleh konsumen. Informasi citra terdapat
dari logo atau simbol yang digunakan oleh penjual untuk
mewakili produknya. Fungsi simbol dan logo bukan semata-mata
hanya sebagai pembeda dari pesaing sejenis namun juga
merefleksikan mutu dan visi misi perusahaan tersebut. Brand
image yang dibangun dapat menjadi identitas cerminan dari visi,
keunggulan, standart kualitas, pelayanan dan komitmen dari
pelaku usaha atau pemilik. Berdasarkan pendapat para ahli diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa brand image adalah representasi
dari keselurahan presepsi terhadap merek yang dibentuk dari
informasi logo atau simbol suatu bisnis.

Faktor yang Mempengaruhi Brand Image


Menurut Alifian B (2012:26) mengemukakan faktor-faktor
terbentuknya citra merek antara lain :
a. Keunggulan produk
Produk yang unggul dapat dikatakan mampu bersaing dengan
lainnya. Keunggulan kualitas memiliki arti model dan
kenyamanan bagi pengguna produk dan ciri khas itu yang
menyebabkan suatu produk punya daya tarik tersendiri untuk
tiap konsumen.
b. Kekuatan asosiasi merek
Kekuatan asosiasi merek merupakan pengolahan informasi
yang diterima oleh konsumen. Ketika seorang konsumen
secara aktif menguraikan informasi suatu produk atau jasa
maka akan tercipta asosiasi yang semakin kuat pada ingatan
konsumen. Asosiasi merek pada benak konsumen tergantung
bagaimana suatu merek tersebut dapat dipertimbangkan.
c. Keunikan merek
Salah satu faktor terbentuknya brand image adalah keunikan
merek. Keunikan merek adalah bagian dari asosiasi terhadap
suatu merek yang mau tidak mau harus terbagi dengan merek
lainnya sehingga masing-masing produk harus memiliki
keunggulan untuk bersaing yang menjadi dasar alasan
konsumen memilih suatu merek tertentu. Dengan
memposisikan merek lebih mengacu pada pengalaman atau
keuntungan diri dari image produk tersebut.

    Dimensi Pembentuk Brand Image


    Menurut Widyaningsih dalam Cendana (2017) bahwa terdapat
    dimensi-dimensi utama yang mempengaruhi terbentuknya citra
    sebuah merek adalah sebagai berikut :
    a. Identitas merek (Brand Identity)
    Identitas merek berkaitan dengan identitas fisik pada produk
    sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakan
    dengan merek produk lain seperti adanya logo, warna,
    kemasan dan identitas perusahaan lainnya.
    b. Personalitas merek (Brand Personality)
    Personalitas merek adalah karakter khas sebuah merek yang
    membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya
    manusia sehingga konsumen dengan mudah membedakan
    merek lain dalam kategori yang sama .
    c. Asosiasi merek (Brand Association)
    Asosiasi merek adalah hal-hal spesifik yang selalu dikaitkan
    dengan suatu merek dapat berupa penawaran unik suatu
    produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam
    hal sponsorship atau kegiatan sosial, isu-isu yang kuat
    berkaitan dengan merek tersebut.
    d. Sikap dan perilaku merek (brand attitude and behavior)
    Sikap dan perilaku merek adalah sikap atau perilaku
    komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam
    menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya. Brand
    attitude and behavior mencakup sikap dan perilaku
    komunikasi, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek
    saat berhubungan dengan konsumen, termasuk perilaku
    karyawan dan pemilik merek.
    e. Manfaat dan keunggulan merek (Brand Benefit and
    Competence)
    Manfaat dan keunggulan merek merupakan nilai-nilai dan
    keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada
    konsumen agar merasakan manfaat karena kebutuhan,
    keinginan dan harapannya terwujud melalui penawaran
    tersebut

    Indikator Keputusan Pembelian


    Indikator keputusan pembelian menurut Kotler (2018:70) adalah
    sebagai berikut :
    a. Kemantapan pada sebuah produk
    Keputusan konsumen dalam melakukan suatu pembelian, pasti
    memilih salah satu dari beberapa alternatif. Pilihan alternatif
    tersebut didasari pada kualitas, mutu, harga yang terjangkau
    serta faktor-faktor lain yang memantapkan keinginan
    konsumen untuk membeli produk tersebut berdasarkan harapan
    dan kebutuhannya.
    b. Kebiasaan dalam membeli produk
    Kebiasaan konsumen dalam membeli suatu produk dapat
    berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Konsumen merasa
    produk yang dibelinya sudah melekat di benak hati mereka
    karena sudah merasakan manfaat dari produk tersebut sehingga
    enggan untuk mencoba produk baru. Hal tersebut membuat
    konsumen cenderung memilih produk yang sudah biasa
    digunakan.
    c. Memberikan rekomendasi kepada orang lain
    Apabila konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai dari
    produk yang dibeli, maka mereka pasti merekomendasikan
    produk tersebut ke orang lain supaya merasakan bahwa produk
    yang dibelinya benar-benar sangat bagus dan lebih baik dari
    produk lain

    Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Menurut Kotler (2015), sikap konsumen dalam membeli sesuatu
    dipengaruhi oleh beberapa faktor :
    a. Faktor budaya
    Budaya merupakan penentu paling dasar dari keinginan dan
    perilaku seseorang. Pemasaran lintas budaya muncul dari riset
    pemasaran yang cermat bahwa relung etnis dan demografi
    yang berbeda tidak selalu menanggapi secara baik terhadap
    iklan pasar massal.
    b. Faktor sosial
    Dalam faktor sosial, perilaku konsumen dipengaruhi oleh
    kelompok acuan, keluarga, peran dan status sosial sebagai
    berikut :
    1) Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang
    memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap
    sikap atau perilaku seseorang. Kelompok yang berpengaruh
    langsung yaitu kelompok keanggotan seperti keluarga,
    teman, tetangga dsb. Pada kelompok tidak langsung seperti
    keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan yang
    interaksinya tidak rutin.
    2) Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen paling
    penting dalam masyarakat karena menjadi acuan primer dan
    dominan yang paling berpengaruh. Orientasi keluarga
    terdiri dari orang tua dan saudara kandung yang
    mendapatkan orientasi atas agama, politik, ekonomi, ambisi
    pribadi serta cinta. Pengaruh yang lebih langsung terhadap
    perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi
    yaitu pasangan dan anak seseorang.
    3) Peran dan status sosial
    Seseorang berpartisipasi dalam banyak kelompok, keluarga,
    organisasi dan lainnya. Posisi seseorang dalam masing-
    masing kelompok dapat didefinisikan dalam peran dan
    status. Peran terdiri dari kegiatan yang dilakukan sesuai
    dengan tugas serta tanggung jawabnya yang berada di
    lingkungan sekitarnya. Masing-masing peran membawa
    status yang mencerminkan nilai umum yang diberikan
    kepada masyarakat.
    c. Faktor pribadi
    Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi.
    Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus dalam
    hidup misalnya pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan
    konsep diri serta nilai dan gaya hidup pembeli.
    d. Faktor psikologis
    Satu perangkat proses psikologis berkombinasi dengan
    karakteristik konsumen tertentu untuk menghasilkan proses
    keputusan pembelian. Tugas pemasar adalah memahami apa
    yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara datangnya
    rangsangan pemasaran luar dan keputusan pembelian akhir.

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian adalah suatu kegiatan yang secara
    langsung terlibat dalam memperoleh produk dan jasa yang
    ditawarkan oleh penjual. Menurut Kotler dan Armstrong (2015)
    keputusan pembelian adalah membeli merek yang paling disukai,
    tetapi dua faktor dapat berada antara niat pembelian dan
    keputusan pembelian. Menurut Sunyoto (2013:87) menyatakan
    bahwa keputusan pembelian merupakan satu tindakan konsumen
    membentuk preferensi diantara alternatif-alternatif merek barang.
    Keputusan tersebut mendorong bagaimana konsumen melakukan
    pilihan diantara dua atau lebih alternatif terhadap pembelian suatu
    produk sesuai dengan kebutuhannya. Keputusan untuk membeli
    mengarah pada pelanggan bagaimana proses dalam pengambilan
    keputusan.
    Sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk,
    seorang konsumen pada dasarnya melakukan proses pengambilan
    keputusan terlebih dahulu. Proses pengambilan keputusan
    menuagustarut Agusta (2020:12) merupakan tahapan konsumen
    dalam memutuskan suatu produk tertentu yang menurutnya sudah
    paling baik dari berbagai alternatif yang dianggap sesuai dengan
    kebutuhan dan kepentingan yang dimiliki melalui pilihan yang
    tepat serta menguntungkan. Proses pengambilan keputusan yang
    rumit sering melibatkan beberapa keputusan seperti adanya
    pilihan alternatif dua atau lebih yang membentuk niat membeli
    produk yang paling disukai untuk mengkolaborasi, menunda dan
    menghindar sangat dipengaruhi oleh resiko yang dirasakan.
    Pengambilan keputusan oleh konsumen dalam melakukan
    pembelian suatu produk diawali adanya kesadaran atas
    pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Setelah konsumen
    menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan tersebut maka perlu
    tindak lanjuti untuk memenuhinya. Menurut Kotler dan Amstrong
    (2016:177) keputusan pembelian adalah perilaku konsumen
    tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih,
    membeli, menggunakan barang , jasa, ide atau pengalaman untuk
    memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan mengetahui
    informasi ataupun merek produk tersebut dan melakukan evaluasi
    sehingga dapat memecahkan masalah dan mengarah pada
    keputusan pembelian. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat
    ditarik kesimpulan bahwa keputusan pembelian adalah suatu
    keputusan final yang dimiliki seorang konsumen untuk membeli
    suatu barang atau jasa dengan berbagai pertimbangan-
    pertimbangan tertentu

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian yaitu sikap konsumen dalam membeli sebuah
    produk. Menurut Kotler dan Amstrong (2013:20) menyatakan bahwasanya
    keputusan pembelian yaitu sebuah tahapan dalam pengambilan keputusan
    pembelian dimana konsumen melakukan kegiatan pembelian yang
    sesungguhnya. Menurut Peter dan James dalam Foster (2016)
    mengemukakan bahwa keputusan pembelian yaitu tahapan konsumen
    dalam membuat keputusan untuk membeli beragam produk dan merek yang
    dimulai dengan pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi
    informasi, melakukan pembelian dan kemudian mengevaluasi keputusan
    pasca pembelian. Menurut Kotler dan Amstrong (2016:177)
    mengemukakan bahwasanya keputusan pembelian yaitu komponen dari
    perilaku konsumen, yang mana perilaku konsumen merupakan studi
    mengenai seperti apa seseorang maupun kelompok dalam menentukan,
    membeli, mengkonsumsi, serta seperti apa produk, ide atau pengalaman
    untuk memuaskan kebutuhan konsumen

    Indikator Word Of Mouth


    Menurut Lupiyoadi (2013:60) mengemukakan 3 indikator Word Of
    Mouth, yaitu :
    1) Konsumen memperoleh informasi tentang perusahaan
    2) Memperoleh motivasi dari orang lain
    3) Memperoleh rekomendasi dari orang lain

    Jenis – Jenis Word Of Mouth


    Menurut Hughes (2015:31) membagi 2 jenis komunikasi Word Of
    Mouth, yakni :
    1) Word Of Mouth positif
    Tahapan menyalurkan informasi dari mulut ke mulut oleh antar
    perseorangan menurut pengalaman positif yang diperoleh dari suatu
    barang, jasa, ataupun perusahaan.
    2) Word Of Mouth negatif
    Tahapan penyampaian informasi dari mulut ke mulut antar individu
    menurut pengalaman buruk yang dirasakan dari suatu barang, jasa,
    ataupun perusahaan.

    Pengertian Word Of Mouth


    Komunikasi dari mulut ke mulut atau yang sering kita kenal dengan
    Word Of Mouth (WOM) merujuk pada pertukaran pesan, persepsi, respon,
    dan ide-ide antar konsumen. Pada hakikatnya, Word Of Mouth yaitu
    informasi yang berkaitan dengan produk dari suatu perusahaan, ataupun
    mengenai perusahaan itu sendiri, dalam wujud tanggapan perihal
    kemampuan produk, kredibilitas, kesupelan, kecepatan dalam pelayanan
    dan lain-lain yang dirasakan oleh seseorang dan diinformasikan kepada
    orang lain.
    Menurut Kotler dan Amstrong (dalam Hutami Permita, 2014:35)
    Word of Mouth yaitu komunikasi personal mengenai sebuah barang atau
    jasa antara konsumen sasaran dengan kerabat, rekannya, anggota
    keluarganya, serta masyarakat disekitarnya. Menurut Zeithaml, et al (dalam
    Tjiptono dan Chandra, 2011) mendefinisikan Word Of Mouth sebagai suatu
    penjelasan baik dengan perseorangan maupun bukan perseorangan yang
    dikemukakan seseorang (bukan penyedia jasa) kepada orang lain. Menurut
    Sumardy dkk (2011:68) mendefinisikan Word Of Mouth sebagai tindakan
    pemberian informasi dari seorang konsumen terhadap orang lain. Sebelum
    melakukan pembelian, seorang konsumen akan menanyakan tentang
    kualitas yang dimiliki suatu produk yang hendak dibelinya kepada orang
    lain.

    Indikator Brand Image


    Menurut Simamora (2011:33) mengemukakan 3 indikator brand
    image atau citra merek, yakni :
    1) Citra pembuat (Corporate Image)
    Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
    pelanggan pada perusahaan yang menghasilkan produk.
    2) Citra pemakai (User Image)
    Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
    pelanggan pada pihak yang mengkonsumsi produk tersebut.
    3) Citra produk (Product Image)
    Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
    pelanggan yang berkaitan dengan produk.
    Menurut Kotler dan Keller (2015:97) mengemukakan lima indikator brand
    image, yaitu :
    1) Brand Identify (Identitas Merek)
    Berkaitan dengan merek atau produk (simbol, warna, packaging,
    tempat, identitas perusahaan, motto, dan lain sebagainya) sehingga
    memudahkan konsumen dalam mengenal dan membedakannya dengan
    produk pesaing.
    2) Brand Personality (Personalitas Merek)
    Berkaitan dengan ciri khas dari suatu merek yang membangun karakter
    khusus seperti halnya manusia, seperti karakter tegas, wibawa, kaku,
    hangat, dinamis, kreatif, murah senyum, independen, penyayang,
    berjiwa sosial, dan lain-lain.
    3) Brand Association (Asosiasi Merek)
    Yaitu perihal spesifik yang layak atau selalu dihubungkan dengan
    merek tertentu dapat berupa penawaran menarik, kegiatan rutin dan
    konsisten (seperti sponsorship, CSR, isu-isu yang sangat kuat terkait
    merek, person, simbol-simbol, dan maksud tertentu yang sangat melekat
    kuat pada produk.
    4) Brand Attitude and Behavior (Sikap dan Perilaku Merek)
    Yaitu sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi merek kepada
    konsumen dalam menawarkan manfaat-manfaat dan nilai yang
    dimilikinya. Sikap dan perilaku ini meliputi sikap dan perilaku
    konsumen, kegiatan dan atribut yang melekat pada merek ketika
    berinteraksi dengan para konsumennya.
    5) Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek)
    Yaitu nilai-nilai serta kelebihan khusus yang dihasilkan merek tertentu
    kepada konsumen yang membuat konsumen bisa menikmati manfaat
    karena kebutuhan, keinginan, harapan, dan keinginannya terealisasi
    berkat penawaran tersebut.

    Pengertian Brand Image


    Menurut Fandy Tjiptono (2015:105) mengemukakan bahwa Image
    atau citra sebagai penjelasan mengenai asosiasi serta kepercayaan
    konsumen mengenai suatu merek, sementara asosiasi yaitu sifat yang
    melekat pada merek dan mempunyai tingkat kekuatan tertentu.
    Brand image atau yang sering dikenal dengan citra merek adalah
    hasil penilaian maupun pandangan baik buruknya suatu merek oleh
    konsumen. Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:328) menjelaskan
    bahwasanya citra merek merupakan sekumpulan asosiasi khusus yang
    hendak diwujudkan dan dijaga oleh penyedia jasa. Asosiasi tersebut
    mengungkapkan merek yang sebenarnya dan apa yang pemasar janjikan
    pada konsumennya. Menurut Levy dan Weitz (2012:93) mendefinisikan
    citra merek (brand image) sebagai sekumpulan kepercayaan, ide, dan
    persepsi yang dimiliki seseorang pada merek tertentu yang bisa
    mempengaruhi keputusan pembelian seseorang. Menurut Shafiee, dkk
    (2014:364) brand image atau citra merek merupakan sekumpulan persepsi
    mengenai merek yang tergambar dari asosiasi merek yang terdapat pada
    memori konsumen

    Tujuan dan Manfaat Merek


    Suatu perusahaan dalam menghasilkan suatu barang ataupun jasa
    tentunya diberi merek sebagai tanda pengenal. Dan pemberian merek ini
    tentunya memiliki manfaat dan tujuan.
    Menurut Sopiah dan Sangadji (2016:71) tujuan pemberian merek
    adalah sebagai berikut :
    1) Pengusaha memberikan jaminan kepada konsumen jika barang atau jasa
    yang dibelinya benar-benar dari perusahaannya.
    2) Perusahaan memberikan jaminan kualitas barang atau jasa yang
    ditawarkannya
    3) Perusahaan memberikan nama pada merek setiap barang atau jasa yang
    diproduksinya agar mudah diingat dan diucapkan oleh konsumennya.
    Sehingga ketika membeli produk tersebut, konsumen cukup
    mengucapkan nama mereknya saja.
    4) Meningkatkan ekuitas merek. Sehingga mendapatkan keuntungan yang
    maksimal dan menawarkan kemudahan dalam menjaga loyalitas
    konsumennya.
    5) Memberikan motivasi dalam saluran distribusi. Sebuah produk yang
    memiliki merek terkenal akan laku lebih cepat, penyalurannya mudah,
    dan mudah dalam pengendaliannya

    Pengertian Merek


    Pada hakikatnya, seorang pengusaha dalam memasarkan barang/jasa
    yang diproduksinya selalu memberikan tanda, simbol, gambar, atau kalimat
    tertentu pada produknya. Pemberian tanda ini dimaksudkan agar dapat
    dibedakan dengan barang/jasa yang dihasilkan oleh pesaing. Tanda tersebut
    dikenal dengan sebutan “merek”. Merek yaitu sebuah nama maupun
    lambang yang mampu menciptakan identitas sebuah produk dalam wujud
    kata-kata, gambar, maupun gabungan keduanya.
    Menurut Manorek (2016:663) menyatakan bahwasanya merek yaitu
    nama, istilah, tanda, simbol, maupun gabungan dari mereka yang bertujuan
    untuk membedakan produk dari suatu perusahaan dengan perusahaan
    lainnya. Menurut Hui Wang dan Fen Tsai (2014:29) mendefinisikan merek
    sebagai ilustrasi maupun karakter yang dihasilkan oleh advertensi,
    packaging, branding, dan program pemasaran yang lain. Menurut Buchari
    Alma (2014:130) menyatakan bahwasanya merek merupakan sebuah nama
    maupun lambang yang menghasilkan identitas sebuah produk tertentu, yang
    terdiri dari tulisan, gambar, maupun gabungan diantaranya

    Indikator Persepsi Kualitas Pelayanan


    Menurut Kotler (dalam Fandy Tjiptono, 2016:284) menyebutkan lima
    indikator kualitas pelayanan, yaitu :
    1) Keandalan (Reliability)
    Adalah kinerja perusahaaan dalam menyajikan pelayanan yang sepadan
    seperti yang dijanjikan, tepat waktu, mampu dipercaya, serta tanpa
    membuat kekeliruan.
    2) Daya Tanggap (Responssiveness)
    Yaitu kesanggupan karyawan dalam membantu memberikan pelayanan
    yang dibutuhkan oleh para konsumennya
    3) Jaminan atau Kepastian (Assurance)
    Yaitu kemampuan karyawan yang dapat menimbulkan keyakinan bagi
    para konsumennya serta kemampuan perusahaan dalam menciptakan
    rasa aman bagi konsumennya.
    4) Empati (Empathy)
    Berkaitan dengan sikap karyawan atau perusahaan dalam memahami
    setiap permasalahan yang dihadapi oleh konsumennya.
    5) Bukti fisik (Tangibles)
    Berhubungan dengan penyediaan sarana dan prasarana oleh perusahaan
    serta performa karyawan dalam perusahaan tersebut

    Pengertian Persepsi Kualitas Pelayanan


    Kualitas merupakan tingkat baik buruknya suatu produk. Menurut
    Kotler dan Keller (2016) menjelaskan kualitas sebagai ciri serta
    karakteristik yang menyeluruh mengenai suatu produk yang mendorong
    kemampuan guna memuaskan kebutuhan. Definisinya berfokus pada
    pelanggan.
    Ketika seorang konsumen memilih barang atau jasa yang akan
    dibeli, tentunya banyak sekali faktor yang dipertimbangkan, salah satunya
    kualitas pelayanan. Menurut Parasuraman (dalam Lupiyoadi, 2014:216)
    mendeskripsikan kualitas pelayanan dengan sejauh mana selisih antara
    ekspektasi dengan pelayanan yang konsumen terima sebenarnya. Menurut
    Tjiptono (2016) Kualitas pelayanan yaitu kondisi dinamis yang berkaitan
    dengan produk, SDM, prosedur, dan lingkungan yang sesuai atau bahkan
    melampaui apa yang diharapkan oleh konsumen. Dengan kata lain, kualitas
    pelayanan dideskripsikan dengan tindakan memuaskan kebutuhan dan
    keinginan pelanggan dan juga kecermatan penyalurannya agar selaras
    dengan ekspekstasi pelanggan.
    Setiap orang dalam mempersepsikan suatu barang atau jasa
    berbeda-beda. Sehingga persepsi bersifat subyektif. Persepsi yang timbul
    pada diri seseorang dipengaruhi pikiran serta lingkungan sekelilingnya.
    Menurut Zeithaml (dalam Markovic dan Jankovic, 2013) persepsi kualitas
    pelayanan yaitu evaluasi atau pendapat pelanggan berkaitan dengan
    keunggulan keseluruhan dari pelayanan. Persepsi kualitas pelayanan yaitu
    perbandingan antara ekspektasi konsumen mengenai suatu pelayanan
    dengan pelayanan yang konsumen rasakan sesungguhnya. Jika pelayanan
    yang dipersepsikan ternyata sama dengan pelayanan yang diekspektasikan,
    maka kualitas pelayanan tersebut dipersepsikan positif. Apabila pelayanan
    yang dipersepsikan melampaui pelayanan yang diekspektasikan maka
    kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas yang sempurna. Namun,
    apabila pelayanan yang dipersepsikan lebih buruk daripada pelayanan yang
    diekspektasikan maka kualitas pelayanan tersebut dipersepsikan negatif.
    Sehingga baik buruknya suatu kualitas pelayanan ditentukan oleh kinerja
    perusahaan dalam memenuhi setiap harapan konsumennya.

    Persepsi


    Menurut Pride dan Ferrel (dalam Fadila, 2013:45) persepsi
    merupakan tahapan dalam penentuan, pengelompokan, dan
    penginterpretasian input informasi, sensasi yang ditangkap alat indera
    manusia guna menghasilkan makna. Menurut Rakhmat Jalaludin (dalam
    Natalia, 2012:3) mengemukakan bahwa persepsi merupakan pengalaman
    mengenai obyek, kejadian yang didapatkan dengan menarik kesimpulan
    informasi serta memahami pesan. Tahapan persepsi tidak sekedar tahapan
    psikologi saja, namun dimulai melalui tahap fisiologi yang disebut dengan
    sensasi.
    Beberapa hal yang mampu membentuk persepsi seseorang:
    1) Karakter rangsangan.
    2) Keterkaitan rangsangan pada sekitarnya.
    3) Keadaan dalam diri individu.

    Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen


    Ada beragam faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam
    melakukan pembelian. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:159-173)
    terkandung empat faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam
    pembelian suatu produk. Faktor-faktor tersebut yaitu sebagai berikut :
    1) Faktor Kebudayaan
    a) Budaya
    Budaya adalah penyebab mendasar keinginan dan perilaku seseorang.
    b) Sub-Budaya
    Termasuk kwarganegaraan, keyakinan, kelompok rasial, dan daerah
    geografis. Aneka sub-budaya menghasilkan kelompok pasar yang
    penting, dan penyedia jasa biasanya mendesain produk dan strategi
    pemasaran yang diselaraskan dengan kebutuhan konsumennya.
    c) Kelas Sosial
    Kelas sosial tidak hanya diukur oleh satu aspek saja, seperti
    penghasilan, namun diukur sebagai perpaduan dari mata pencaharian,
    penghasilan, pendidikan, aset, dan lain – lain.
    2) Faktor Sosial
    Faktor sosial yang mempengaruhi perilaku pembelian antara lain:
    a) Kelompok Acuan (Reference Group)
    Yaitu seluruh kelompok yang mempunyai dampak langsung langsung
    maupun tidak langsung terhadap perilaku pembelian individu.
    b) Keluarga (Family)
    Keluarga yaitu sistem pembelian konsumen yang sangat utama dalam
    masyarakat dan anggota keluarga memerankan kelompok acuan
    pokok yang sangat berpengaruh. Terdapat dua keluarga dalam
    kehidupan konsumen, yakni: keluarga orientasi (family of orientation)
    mencakup orang tua dan saudara kandung, keluarga prokreasi (family
    of procreation) mencakup suami / istri dan anak.
    c) Peran Sosial dan Status (Roles and Status)
    Seseorang berperan serta pada berbagai kelompok, keluarga, dan
    organisasi. Kelompok senantiasa sebagai sumber informasi utama
    dalam berkontribusi menjelaskan norma perilaku. Kita bisa
    menentukan kedudukan seorang individu pada setiap kelompok
    dimana ia menjadi anggota menurut peran dan status.
    3) Faktor Pribadi
    Mencakup umur dan tahapan pada siklus hidup konsumen, mata
    pencaharian dan kondisi ekonomi, perangai dan konsep diri, serta gaya
    hidup dan nilai.
    4) Faktor Psikologis
    Faktor ini mencakup motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan, serta
    perilaku

    Pengertian Perilaku Konsumen


    Perilaku konsumen akan menimbulkan terciptanya keputusan
    konsumen untuk melakukan pembelian. Mengetahui perilaku seorang
    konsumen amatlah sulit, pemasar harus pandai dalam memahami
    mempelajari persepsi, selera, dan perilakunya saat berbelanja. Perilaku
    konsumen yaitu kegiatan langsung dalam memperoleh dan mengkonsumsi
    produk, termasuk tahapan pengambilan keputusan yang memulai serta
    menetapkan tindakan-tindakan tersebut.
    Menurut Peter dan Olson (2014:3) mengemukakan jika perilaku
    konsumen merupakan dinamika hubungan antara pengaruh dan kesadaran,
    perilaku dan lingkungan dimana seseorang menjalankan pertukaran unsur –
    unsur kehidupan.
    Menurut Harman Malau (2017:217) menjelaskan jika perilaku
    konsumen adalah sikap mengenai perseorangan, golongan atau lembaga
    dan tahapan yang mereka lalui guna menentukan, mengamankan, dan
    mengkonsumsi produk, pengalaman atau ide untuk kepuasan.
    Menurut Kotler dan Amstrong (2018:158) mengemukakan
    bahwasanya “consumer buyer behavior refers to the buying behavior of
    final consumers individuals and households that buy goods and services for
    personal comsumption”. Yang berarti perilaku pembelian konsumen
    berpedoman pada perilaku pembelian akhir konsumen, baik perseorangan
    ataupun rumah tangga yang berbelanja produk untuk kepentingan pribadi.

    Bauran Pemasaran


    Bauran pemasaran atau sering disebut sebagai marketing mix yaitu
    suatu hal yang harus diperhatikan oleh pemasar. Karena marketing mix
    memiliki peranan yang penting dalam melayani pasar sasaran secara tepat.
    Dibawah ini terdapat berbagai pengertian bauran pemasaran (Marketing mix)
    menurut beberapa ahli, diantaranya :
    a. Menurut Lupiyoadi (2014:92) menyatakan bahwa bauran pemasaran yaitu
    instrumen atau cara bagi penjual yang berupa beragam komponen suatu
    strategi pemasaran yang harus diperhitungkan supaya penerapan strategi
    pemasaran serta penetapan posisi yang ditentukan bisa terlaksana dengan
    baik.
    b. Menurut Buchari Alma (2014:205) mendefinisikan bauran pemasaran
    sebagai langkah dalam mengkombinasikan aktivitas pemasaran, agar
    diperoleh perpaduan maksimal hingga mampu membuahkan hasil yang baik
    yang berupa 4P yakni Product, Price, Place, dan Promotion.
    c. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:78) memperkuat definisi bauran
    pemasaran sebagai “Marketing mix is the set of tactical marketing tools
    that the firm blends to produce the response it wants in the target market”.
    Definisi tersebut menjelaskan bahwasanya bauran pemasaran merupakan
    sekumpulan alat pemasaran yang dipakai oleh perusahaan untuk
    memperoleh tanggapan dari pasar sasaran yang diinginkan

    Manajemen Pemasaran


    Kesuksesan suatu kegiatan pemasaran dalam sebuah Perusahaan
    terwujud berkat adanya manajemen pemasaran yang baik. Dalam memajukan
    suatu perusahaan, manajemen pemasaranlah yang dijadikan sebagai dasar
    dalam setiap bertindak. Karena tanpa adanya manajemen pemasaran yang baik
    nihil suatu perusahaan mampu mencapai kesuksesannya. Perusahaan
    membutuhkan beragam upaya guna mampu mengelola program
    pemasarannya agar selaras dengan misi perusahaan yang sudah ditetapkan
    sebelumnya, dalam hal ini pengelolaan yang dibutuhkan perusahaan yaitu
    manajemen pemasaran.
    a. Menurut Buchari Alma (2014:289) menyatakan jika manajemen pemasaran
    merupakan aktivitas mengkaji, merencanakan, menerapkan dan mengontrol
    berbagai aktivitas dengan tujuan meraih hasil pemasaran seperti dengan
    tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya.
    b. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:34) manajemen pemasaran
    didefinisikan sebagai “the art and science of choosing target markets and
    building profitable relationships with them”. Yang berarti manajemen
    pemasaran sebagai suatu seni dan ilmu dalam menentukan target pasar serta
    menciptakan relasi yang baik dengan pasar sasaran.
    c. Menurut Kotler dan Keller (2016:26) definisi menajemen pemasaran yaitu
    “Marketing management as the art science of choosing target markets and
    getting, keeping, and growing customers through creating delivering, and
    communicating superior customer value”. Yang berarti manajemen
    pemasaran sebagai suatu seni dan ilmu dalam menentukan target pasar,
    mendapatkan, mengendalikan, serta mengembangkan konsumen dengan
    cara menghasilkan, menyalurkan, serta menyebarluaskan nilai tambah
    kepada konsumen

    Pemasaran


    Pemasaran berasal dari kata pasar yang artinya market. Sehingga
    istilah pemasaran sering dikenal dengan marketing. Berikut ini beberapa
    definisi marketing dari berbagai sumber, yaitu :
    a. Menurut Hasan (2014:1) mengemukakan jika pemasaran adalah suatu teori
    ilmu pada strategi bisnis guna memperoleh kepuasan berkelanjutan untuk
    stakeholder (pelanggan).
    b. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:29) menjabarkan pemasaran sebagai
    “marketing as the process by which companies engage customers, build
    strong customer relationships in order to capture value from customers in
    return”. Pengertian ini menjelaskan jika pemasaran merupakan suatu
    tahapan bagi perusahaan dalam menghasilkan nilai untuk konsumen serta
    menciptakan relasi yang erat dengan konsumen yang berguna untuk
    mengetahui nilai dari konsumen sebagai balasannya.
    c. Menurut Kotler dan Keller (2016:26) mengemukakan jika “marketing is the
    activity, set of institutions, and processes for creating, communicating,
    delivering, and exchanging offering that have value for customers, clients,
    partners, and society at large”. Pengertian diatas menjelaskan jika
    pemasaran adalah aktifitas yang melibatkan serangkaian institusi untuk
    menjalankan tahapan guna menghasilkan, mengkomunikasikan,
    menyampaikan, dan pertukaran nilai untuk konsumen, klien, mitra, serta
    masyarakat pada umumnya

    Push Digital Marketing


    Menurut (Kotler 2005) dalam (Rauf, Manullang, and
    Ardiansyah PS 2021) Marketing (pemasaran) adalah proses sosial
    antara individu atau kelompok dengan menciptakan penawaran
    secara bebas bertukar produk dan jasa yang bernilai dengan pihak
    lain. Marketing (pemasaran) secara signifikan dapat mempengaruhi
    kepercayaan konsumen tentang kinerja produk yang akhirnya dapat
    menentukan kemungkinan mereka membeli. Tujuan utama dari
    pemasaran adalah untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan
    pelanggan untuk mencapai tujuan perusahaan seperti peningkatan
    penjualan, pangsa pasar, dan keuntungan.
    Kemudian konsep pemasaran diatas diadopsi menjadi
    Digital Marketing, Menurut (Wsi 2013) dalam (Rauf, Manullang,
    and Ardiansyah PS 2021) Digital Marketing adalah suatu cara
    inovatif yang menggunakan database dan menjangkau konsumen
    secara individu, hemat biaya dan lebih tepat waktu. Sedangkan
    menurut (Todor 2016) Digital Marketing adalah istilah umum
    pemasaran yang ditargetkan, terukur dan interaktif menggunakan
    teknologi digital untuk menjangkau dan mengubah prospek
    menjadi pelanggan dan mempertahankannya, tujuan utamanya
    adalah mempromosikan merek, membentuk preferensi dan
    meningkatkan penjualan melalui berbagai teknik digital marketing.
    Kemudian Digital Marketing berkembang menjadi Push
    Digital Marketing, yaitu pemasaran Dimana perusahaan atau
    merek secara proaktif mendorong produk atau layanan mereka
    kepada audiens melalui berbagai saluran digital, yang bertujuan
    untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong mereka untuk
    berinteraksi dengan produk atau layanan yang ditawarkan (Rauf,
    Manullang, and Ardiansyah PS 2021). Push Digital Marketing
    mempunyai indikator :

    1. Tiktok Ads
      TikTok Ads adalah platform periklanan yang ditawarkan oleh
      TikTok, platform media sosial berbasis video yang sangat
      populer di kalangan pengguna muda. TikTok Ads
      memungkinkan perusahaan dan pemasar untuk membuat dan
      menayangkan iklan video yang ditargetkan kepada audiens
      yang spesifik di TikTok.
    2. Meta Ads
      Meta Ads mengacu pada platform periklanan yang disediakan
      oleh Meta Platforms, Inc. Sebelumnya dikenal sebagai
      Facebook Ads, platform ini memungkinkan pemasar untuk
      membuat dan menayangkan iklan di berbagai layanan yang
      dimiliki oleh Meta, termasuk Facebook, Instagram,
      WhatsApp, dan Messenger.
    3. Google Ads
      Google Ads adalah platform periklanan online yang
      disediakan oleh Google, yang memungkinkan pengiklan untuk
      membuat dan menayangkan iklan mereka di berbagai layanan
      Google, termasuk mesin pencari Google, situs web mitra
      Google, aplikasi seluler, dan platform media sosial seperti
      YouTube

    Indikator Keputusan Pembelian


    Menurut (Kotler, P. & Keller) dalam (Cesariana, Juliansyah, and
    Fitriyani 2022) indikator yang digunakan untuk mengukur
    keputusan pembelian adalah sebagai berikut:

    1. Pengenalan masalah
      Tahap dimana konsumen mengenali sebagai merek yang tepat
      untuk memenuhi kebutuhannya.
    2. Pencarian informasi
      Informasi mengenai merek melalui berbagai media mendukung
      konsumen untuk mengetahui kelebihan suatu merek.
    3. Evaluasi alternatif
      Merupakan merek yang paling sesuai dibandingkan merek
      alternatif yang lainnya.
    4. Keputusan pembelian
      Keyakinan konsumen dalam pengambilan keputusan terhadap
      merek.
    5. Perilaku setelah pembelian
      Adanya persepsi positif dari konsumen setelah menggunakan
      produk dengan merek yang dibeli

    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Menurut Soffian sebagai berikut :

    1. Produk
      Produk adalah suatu sifat yang kompleks baik dapat diraba
      maupun tidak dapat diraba, termasuk kemasan, warna, harga,
      prestise perusahaan dan pengecer yang diterima oleh pembeli
      untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya. Produk dapat
      memberikan rangsangan pada konsumensehingga dapat
      membangkitkan selera atau minat untuk membeli. Jika suatu
      produk mempunyai kualitas yang bagus maka banyak
      konsumen yang akan memutuskan untuk membeli produk
      tersebut. Oleh karena itu jika perusahaan menginginkan
      produknya terjual dalam jumlah besar sehingga mendapatkan
      keuntungan yang besar, maka harus meningkatkan kualitas
      produknya.
    2. Harga (price)
      Harga diartikan sebagai ekspresi dari sebuah nilai, dimana nilai
      tersebut menyangkut keinginan dan kualitas produk, citra yang
      dibentuk melalui iklan dan promosi, ketersediaan produk
      melalui jaringan distribusi dan layanan yang menyertainya.
      Dalam kebijakan harga, manajemen harus menentukan harga
      dasar dari produknya, kemudian menentukan kebijakan
      menyangkut potongan.
    3. Promosi (promotion)
      Promosi adalah arus informasi yang dibuat untuk mengarahkan
      seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan
      pertukaran dalam pemasaran. Kegiatan-kegiatan yang termasuk
      dalam promosi antara lain periklanan, personal selling, promosi
      penjualandan publikasi. Dengan adanya promosi, konsumen
      mendapatkan barang yang diinginkannya.
    4. Tempat (place)
      Adalah kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan
      mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen
      kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan
      yang diperlukan. Tempat juga menjadi pertimbangan konsumen
      dalam pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk.
      Jika konsumen menilai tempat suatu produk baik maka
      kemungkinan besar konsumen akan menjatuhkan pilihannya
      pada produk tersebut dan membelinya.
    5. Lokasi Penjual yang strategis
      Dari segi lokasi ini, pembeli akan memilih lokasi yang benar-
      benar strategis dantidak membutuhkan terlalu banyak waktu,
      tenaga, dan biaya seperti: mudah dijangkau, dekat dengan
      fasilitas-fasilitas umum, atau mungkin dekat denganjalan raya,
      sehingga lokasi ini dapat mendukung yang lain.
    6. Pelayanan yang baik
      Bagi konsumen yang ingin membeli suatu produk, pelayanan
      yang diberikanpada saat memilih sampai terjadinya transaksi
      pembelian sangatlah berpengaruhterhadap jadi tidaknya
      pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Pelayanan yang
      kurang baik akan menimbulkan rasa tidak puas yang dirasakan
      olehkonsumen yang selanjutnya akan mempengaruhi tingkat
      penjualan pada waktuselanjutnya.
    7. Kemampuan tenaga penjualnya
      Dalam suatu kegiatan usaha (penjualan), tidak terlepas dari
      tenaga kerja baiktenaga kerja mesin maupun tenaga kerja
      manusia.Tenaga kerja merupakan faktorutama dalam
      perusahaan sehingga diperlukan sejumlah tenaga kerja
      yangberkemampuan dan mempunyai keterampilan tertentu
      yang sesuai dengankebutuhan perusahaan untuk mendukung
      kegiatan dalam pemasaran

    Tujuan Keputusan Pembelian


    1) Memenuhi kebutuhan dasar
    Tujuan utama pembelian yaitu memenuhi kebutuhan dasar
    manusia seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal untuk
    memastikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka.
    2) Memenuhi kebutuhan fungsional
    Yaitu memenuhi kebutuhan seperti alat-alat yang dibutuhkan
    untuk pekejaan, hobi dan Pendidikan tertentu.
    3) Memenuhi kebutuhan emosional
    Banyak keputusan pembelian didasari oleh kebutuhan
    emosional seperti keinginan untuk merasa bahagia, percaya diri
    atau diterima orang lain. Seperti membeli barang mewah,
    hiburan atau barang-barang untuk meningkatkan citra diri.
    4) Memenuhi kebutuhan social
    Orang sering membeli produk atau jasa untuk memenuhi
    kebutuhan sosial, seperti keinginan untuk berinteraksi dengan
    orang lain atau mempererat hubungan social, contohnya adalah
    membeli tiket ke acara sosial atau makan malam bersama
    teman-teman.
    5) Keamanan dan perlindungan
    Pembelian asuransi, sistem keamanan, atau produk yang
    meningkatkan keamanan fisik atau finansial juga merupakan
    tujuan pembelian yang penting bagi banyak orang.
    6) Pemenuhan kebutuhan masa depan
    Pembelian investasi seperti rumah, kendaraan, atau investasi
    keuangan juga dapat menjadi tujuan pembelian untuk tujuan
    masa depan, seperti pensiun atau investasi jangka panjang.

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian merupakan sikap seseorang untuk
    membeli atau menggunakan suatu produk baik berupa barang atau
    jasa yang telah diyakini akan memuaskan dirinya dan kesediaan
    menanggung risiko yang mungkin ditimbulkannya. Konsumen
    mengambil keputusan pembelian setiap hari. Pemasar perlu
    mengatahui apa yang menjadi bahan pertimbangan konsumen dalam
    keputusan pembelian. Suatu proses penilaian dan pemilihan dari
    berbagai alternative sesuai dengan kepentingan-kepentingan
    tertentu dengan menetapkan suatu pilihan yang dianggap paling
    menguntungkan.
    Keputusan pembelian adalah tahap dalam proses
    pengambilan keputusan pembelian di masa konsumen benar-benar
    membeli. Pengambilan keuptusan merupakan suatu individu yang
    secara langsung terlihat dalam pendatan dan mempergunakan
    barang yang ditawarkan, Keputusan pembelian merupakan
    serangkaian proses yang berawal darikonsumen mengenal
    masalahnya, mencari informasi tentang produk atau merektertentu
    danmengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa baik masing-
    masingalternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang
    kemudian serangkaian proses tersebut mengarah kepada keputusan
    pembelian (Abi 2020).

    Hubungan Gaya Hidup Konsumen dengan Keputusan Pembelian


    Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat yang
    lainnya. Gaya hidup merupakan tindakan yang dilakukan seseorang untuk
    mendapatkan dan memakai suatu barang atau jasa dan termasuk proses keputusan
    yang mendahului serta menentukan tindakan yang dilakukannya.
    Dalam penelitian yang dilakukan Abdilla dan Agus (2020) gaya hidup yang
    diekspresikan dengan aktivitas, minat dan opini seseorang menyatakan gaya hidup
    memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian
    smartphone. Serta penelitian yang dilakukan Badjamal (2019) menyimpulkan
    dalam penelitiannya bahwa gaya hidup memiliki hubangan dan berpengaruh
    terhadap keputusan pembelian handphone merek Samsung

    Hubungan Motivasi Konsumen dengan keputusan Pembelian


    Terdapat hubungan yang saling berkaitan antara motivasi dengan faktor-
    faktor kebudayaann, sosial dan pribadi. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi
    motivasi pembeli dalam melakukan suatu tindakan untuk mencapai kepuasan.
    Tiap tindakan yang dilakukan seseorang didorong oleh suatu kekuatan dalam diri
    orang tersebut.
    Motivasi muncul karena kebutuhan yang dirasakan konsumen. Dan
    kebutuhan muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan antara yang
    dirasakannya dengan apa yang seharusnya terjadi. Maka konsumen terdorong
    untuk melakukan suatu tindakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut
    hasil dari suatu penelitian, terdapat pengaruh yang sangat nyata antara motivasi
    konsumen terhadap keputusan pembelian handphone Android (Syahril, 2017)

    Hubungan Persepsi Kualitas dengan Keputusan Pemebelian


    Persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat berbeda-beda, disebabkan
    karena adanya berbagai stimulus yang mucul dan dirasakannya. Dan pada
    dasarnya persepsi akan berhubungan dengan perilaku seseorang dalam mengambil
    suatu keputusan. Persepsi kualitas sebuah merek dapat menjadi bahan
    pertimbangan dalam memutuskan merek mana yang akan dipilih dan
    mendorongnya untuk melakukan keputusan pembelian serta menciptakan loyalitas
    terhadap produk tersebut.
    Dalam Saputra et al (2019) disimpulkan terdapat pengaruh positif dan
    signifikan dari persepsi kualitas terhadap keputusan pembelian smartphone.
    Mengingat persepsi konsumen dapat diramalkan maka jika persepsi kualitasnya
    negatif, produk tidak akan disukai dan bertahan lama dalam pasar. Sebaliknya,
    jika persepsi kualitas pelanggan postif maka produk akan disukai

    Dimensi Gaya Hidup


    Gaya hidup pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang mencerminkan
    masalah apa yang sebenarnya yang ada di dalam alam pikir pelanggan yang
    cenderung berbair dengan berbagai hal yan terkait dengan masalah emosi dan
    psikologis konsumen.
    Menurut Setiadi (2015:81) gaya hidup akan berkembang pada masing-
    masing dimensi AIO (Activities, Interest, and Opinion), dan didefinisikan sebagai
    berikut:

    1. Aktivitas (Activities), adalah tindakan nyata. Aktivitas ini dapat berupa
      kerja, hobi, kegiatan sosial, hiburan, anggota klub, masyarakat, belanja dan
      olahraga. Aktivitas (kegiatan) konsumen merupakan karakteristik konsumen
      dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan adanya aktivitas konsumen,
      perusahaan dapat mengetahui kegiatan apa saja yang dapat dilakukan oleh
      pasar sasarannya, sehingga mempermudah perusahaan untuk menciptakan
      strategi-strategi dari informasi yang didapatkan tesebut. Dengan kata lain,
      perusahaan dapat menghasilkan produk yang dapat menunjang aktivitas
      keseharian serta gaya hidup yang dimiliki konsumen.
    2. Ketertarikan (Interest), adalah tindakan kegairahan yang menyertai
      perhatian khusus maupun terus menerus. Minat atau ketertarikan setiap
      manusia berbeda-beda. Adakalanya manusia tertarik pada makanan,
      adakalanya manusia tertarik pada mode pakaian, dan sebagainya. Minat
      merupakan faktor pribadi konsumen dalam mempengaruhi proses
      pengambilan keputusan. Setiap perusahaan dituntut untuk selalu memahami
      minat dan hasrat para pelanggannya. Dengan memahami minat
      pelanggannya, dapat memudahkan perusahaan untuk menciptakan konsep
      pemasar guna mempengaruhi proses pembelian pada pasar sasarannya.
      Sehingga konsumen akan menyukai produk yang ditawarkan.
    3. Pendapat (Opinion), adalah jawaban lisan atau tertulis yang akan orang
      berikan sebagai respon terhadap suatu situasi. Opini digunakan untuk
      mendeskripsikan penafsiran, harapan dan evaluasi seperti kepercayaan
      mengenai maksud orang lain, antisipasi sehubungan dengan peristiwa masa
      datang. Seperti konsumen memiliki pendapat bahwa produk yang digunakan
      dapat memberikan manfaat untuknya di jaman sekarang ini

    Klasifikasi Gaya Hidup


    VALS (Value and Lifestyle) merupakan suatu program yang dikembangkan
    untuk mengukur gaya hidup, dan mengidentifikasikan delapan kelompok
    konsumen pada suatu masyarakat (Setiadi, 2015:86):

    1. Actualizer: seseorang yang mempunyai pendapatan tinggi dan harga diri
      yang tinggi. Mereka mempunyai rentang minat yang luas pada berbagai
      bidang dan terbuka pada perubahan. Mereka membeli produk untuk
      mencapai yang terbaik dalam hidup.
    2. Fulfilleds: seseorang yang berpendapatan tinggi , dewasa, bertanggung
      jawab, berpendidikan tinggi dalam bidang profesional. Termasuk dalam
      konsumen yang praktis dan berorientasi pada nilai.
    3. Believers: agak kurang kaya, dan lebih tradisonal disbanding fulfilleds.
      Kehidupan mereka terpusat pada keluarga, agama, masyarakat dan bangsa.
    4. Achiever: banyak kerja kurang rekreasi, fokus karier dan keluarga,
      menghindari perubahan, dan konservatif dalam politik.
    5. Striver: seseorang dengan nilai-nilai yang serupa dengan achiever namun
      sumber daya ekonomi, sosial dan psikologinya lebih sedikit.
    6. Struggeler: orang yang berpenghasilan paling rendah dan terlalu sedikit
      sumber dayanya untuk dimasukkan ke dalam orientasi konsumen manapun
      dengan keterbatasannnya, mereka cenderung menjadi konsumen yang loyal
      pada merek.
    7. Experiencer: konsumen yang berkeinginan besar dalam menyukai hal-hal
      baru.
    8. Maker: orang yang suka mempengaruhi lingkungan mereka dengan cara
      yang praktis

    Gaya Hidup


    Dalam Widjaja (2013:39) menyatakan lifestyle (gaya hidup) merupakan
    bagian dari customer behavior dan didefinisikan sebagai perilaku individu yang
    diwujudkan dalam bentuk aktivitas, minat dan pandangan individu untuk
    mengaktualisasikan kepribadiannya karena pengaruh interaksi dengan
    lingkungannya.
    Gaya hidup merupakan bagian dari perilaku konsumen yang dapat
    mempengaruhi tindakan konsumen dalam melakukan pembelian. Gaya hidup
    adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat,
    dan opininya (Kotler dan Keller, 2012:192).
    Dan secara luas Setiadi (2015:80) mendefinisikan gaya hidup sebagai cara
    hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana seseorang menghabiskan waktu
    mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya
    (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga
    dunia di sekitarnya (pendapat). Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda
    dengan masyarakat yang lainnya. Bahkan dari masa ke masa gaya hidup suatu
    individu dan kelompok masyarakat tertentu akan bergerak dinamis. Namun
    demikian, gaya hidup tidak cepat berubah sehingga pada kurun waktu tertentu
    gaya hidup relatif permanen.
    Konsumen termotivasi dalam melekukan pembelian karena unsur dan
    dorongan kebutuhan yang muncul karena lifestyle. Terdapat empat kategori yang
    menjadi motif dalam proses pembelian oleh konsumen karena lifestyle (Widjaja,
    2013:43), yaitu:

    1. Utilitarian purchase (pembelian produk bermanfaat)
      Konsumen membelanjakan produk ini, dalam kondisi tidak sangat menesak
      membutuhkan, tetapi memberikan keyakinan bahwa produk/jasa yang
      dibelinya akan meningkatkan kehidupan yang lebih baik atau lebih mudah.
    2. Indulgences (kesukaan/memanjakan diri)
      Individu mencoba untuk hidup menikmati sedikit kemewahan tanpa banyak
      menambah pengorbanan dari pengeluarannya. Gratifikasi dari prodk/jasa ini
      terletak pada faktor emosional. Contoh: lotions and potions to pamper
      yourself in the bath, costume jewelry, entertainment products, berlibur dan
      ke salon atau spa.
    3. Lifestyle luxuries (gaya hidup mewah)
      Lifestyle luxuries menawarkan manfaat dan kegunaan bagi konsumen
      berupa penngkatan prestige, image, dan superior quality dari suatu merek.
      Dalam hal ini, peranan merek menjadi gratifikasi konsumen untuk membeli
      produk atau jasa.
    4. Aspirational luxuries (hasrat kemewahan)
      Seiring dengan indulgences, aspirational luxuries akan memuaskan
      konsumen dari aspek kebutuhan emosionalnya. Melalui pembelian,
      konsumen dapat mengekspresikan dirinya, sistem nilai, minat dan hasratnya.
      Kepuasan muncul dari emosi lebih besar daripada kepuasan pemenuhan
      kebutuhan praktis atau fungsional.

    Teori Motivasi Maslow


    Menurut Maslow dalam Setiadi (2015:39) tingkat kebutuhan yang paling
    rendah ialah kebutuhan fisiologis dan tingkat yang tertinggi ialah kebutuhan akan
    perwujudan diri (self-astualization needs). Kebutuhan tersebut didefinisikan
    sebagai berikut:

    1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), merupakan kebutuhan
      mempertahankan hidup dan bukti yang nyata akan tampak dalam
      pemenuhannya atas sandang, pangan dan papan. Dan konsumen membeli
      suatu produk agar dapat memenuhi kebutuhan.
    2. Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan (Safety and Security Needs), dapat
      terlihat pada kebutuhan akan kebebasan dari ancaman, yakni aman dari
      ancaman kejadian atau lingkungan. Seperti konsumen membeli suatu
      produk karena produk tersebut dapat menghadirkan rasa aman baginya.
      Misalnya dalam hal pembelian ponsel, ponsel dapat mempermudah
      konsumen saat dalam waktu genting atau keadaan darurat.
    3. Kebutuhan Sosial (Social Needs), merupakan kebutuhan yang paling
      penting untuk diperhatikan segera setelah kebutuhan rasa aman dan
      kebutuhan psikologis sudah terpenuhi. Seperti produk yang digunakan
      konsumen dapat membantu ataupun meningkatkan kebutuhan sosialnya.
    4. Kebutuhan Harga Diri (Esteem Needs), lebih bersifat egoistik dan berkaitan
      erat dengan status seseorang. Semakin tinggi status seseorang maka akan
      semakin tinggi pula kebutuhannya akan suatu pengakuan, penghormatan,
      prestise dan lain-lain. Seperti produk yang digunakan dapat
      menggambarkan citra diri konsumen.
    5. Kebutuhan Perwujudan Diri (Self-Actualization Needs), merupakan
      kebutuhan tertinggi. Yaitu kebutuhan untuk memenuhi diri sendiri dengan
      memaksimumkan penggunaan kemampuan, keahlian dan potensi. Motivasi
      yang ada pada diri konsumen akan mewujudkan suatu tingkah laku yang
      diarahkan pada tujuan yang mencapai sasaran kepuasan. Dengan kata lain,
      produk yang digunakan konsumen dapat menjadi alat dalam aktualisasi diri.

    Dinamika Proses Motivasi


    Menurut Rossanty (2018:100) proses motivasi: perusahaan harus bisa
    menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian konsumen
    dimotivasi kearah itu. Mengetahui kepentingan, perusahaan harus bisa mengetahui
    keinginan konsumen tidak hanya dilihat dari kepentingan perusahaan semata.
    Komunikasi efektif, melakukan komunikasi dengan baik terhadap
    konsumen agar konsumen dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan
    apa yang bisa mereka dapatkan. Proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan
    perusahaan dan tujuan kepentingan konsumen. Tujuan perusahaan adalah untuk
    mencari laba serta perluasan pasar. Tujuan individu konsumen adalah pemenuhan
    kebutuhan dan kepuasan. Kedua kepentingan di atas harus disatukan dan untuk itu
    penting adanya penyesuaian motivasi. Perusahaan memberikan fasilitas agar
    konsumen mudah mendapatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

    Motivasi Konsumen


    Menurut Kayode (2014:52) the reason behind purchases made on particular
    goods or services is reffered to as buying motive. It is the driving force behind
    buying behavior; it may be based on physiological wants or psychological wants.
    Yang berarti alasan dibalik pembelian yang dilakukan pada barang atau jasa
    tertentu disebut sebagai motif pembelian. Ini adalah kekuatan pendorong dibalik
    perilaku pembelian; mungkin didasarkan pada keinginan fisiologis atau keinginan
    psikologis.
    Dalam Kamugisha (2017:57) motivations: customers have ‘drives’ that
    make them buy certain product. Artinya motivasi: konsumen memiliki ‘dorongan’
    yang membuat mereka membeli produk tertentu. Motivasi dapat digambarkan
    sebagai kekuatan pendorong dalam individu yang mendorong mereka untuk
    mengambil tindakan. Kekuatan pendorong dihasilkan oleh tegangan. Ketegangan
    muncul karena kebutuhan yang tidak terpenuhi. Manusia sebagai individu
    berusaha (baik secara sadar maupun tidak sadar) untuk mengurangi tegangan ini
    melalui perilaku pembelian yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dan
    membebaskan mereka dari tekanan yang dirasakan.
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah kecenderungan
    yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar melakukan tindakan
    dengan tujuan tertentu; usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok
    yang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.
    Menurut Setiadi (2015:27) motivasi konsumen adalah keadaan di dalam
    pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan
    guna mencapai suatu tujuan. Dengan adanya motivasi pada diri seseorang akan
    menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk mencapai
    sasaran kepuasan. Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi muncul karena
    kebutuhan yang dirasakan konsumen. Kebutuhan sendiri muncul karena
    ketidaknyamanan antara yang seharusnya dirasakan dengan yang sebenarnya
    dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan tersebut mendorong seseorang untuk
    melakukan tindakan memenuhi kebutuhan tersebut.

    Dimensi Persepsi Kualitas


    Kotler dan Keller (2012:9) menyatakan terdapat enam dimensi yang perlu
    diperhatikan dalam persepsi kualitas suatu produk, yaitu:

    1. Mutu kinerja (performance), dimensi yang paling basic dan berhubungan
      dengan fungsi utama dari suatu produk. Seperti konsumen dapat
      menemukan kemudahan dalam pengoperasian suatu produk.
    2. Keandalan (reliability), adalah ukuran kemungkinan suatu produk tidak
      akan rusak atau gagal dalam suatu periode tertentu. Seperti konsumen
      menganggap produk yang dipilihnya mempunyai kualitas yang membuatnya
      lebih handal dari produk lain.
    3. Keistimewaan (feature), sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan
      berbagai keistimewaan, yakni karakteristik yang melengkapi fungsi dasar
      produk. Dengan kata lain, produk memiliki karakteristik yang membuatnya
      istimewa dari produk lain.
    4. Daya tahan (durability), daya tahan atau keawetan menunjukkan suatu
      pengukuran terhadap siklus produk dalam kondisi normal dan/ atau berat
      baik secara teknis maupun waktu. Produk memiliki daya tahan yang lama
      sehingga dipilih oleh konsumen.
    5. Mutu kesesuaian (conformance quality), dimensi ini menunjukkan seberapa
      jauh suatu produk dapat menyamai standar atau spesifikasi tertentu.
    6. Gaya (style), dimensi ini banyak menawarkan aspek emosional dalam
      mempengaruhi kepuasan pelanggan. Dan juga dapat menggambarkan
      penampilaan serta perasaan yang ditimbulkan oleh produk bagi konsumen.

    Persepsi Kualitas


    Menurut Kartajaya (2010:73)) persepsi kualitas merupakan dimensi ekuitas
    merek. Konsumen akan memiliki persepsi baik atau buruk terhadap kualitas suatu
    produk, dan akan cenderung memberikan respon positif ataupun negatif terhadap
    produk. Semakin positif persepsi konsumen terhadap suatu produk maka akan
    semakin baik pula persepsinya pada merek produk itu sendiri.
    Menurut Tjiptono (2011:97) persepsi kualitas merupakan penilaian
    konsumen terhadap keunnggulan atau superioritas produk secara keseluruhan.
    Oleh karena itu, persepsi kualitas didasarkan pada evaluasi subyektif konsumen
    terhadap kualitas produk.
    Seorang konsumen dalam memilih suatu produk akan sangat dipengaruhi
    oleh penilaian kualitas produk tersebut. Persepsi kualitas menjadi hal yang hampir
    selalu dipertimbangkan oleh konsumen dalam membuat suatu keputusan
    pembelian. Karena untuk mendapatkan manfaat yang diinginkin dari suatu
    produk, persepsi kualitas merupakan salah satu hal yang penting untuk
    dipertimbangkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persepsi kualitas
    adalah penilaian konsumen terhadap keunggulan yang dimiliki suatu produk
    secara keseluruhan

    Proses Persepsi


    Setiadi (2015:102) menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses yang
    terdiri darri seleksi, organisasi dan interpretasi terhadap stimulus. Proses persepsi
    terdiri dari:

    1. Seleksi Perseptual, terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih
      stimulus berdasarkan pada psychological set yang dimiliki. Psychological
      set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum
      seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian
      dari konsumen. Oleh karena itu, dua proses yang termasuk ke dalam definisi
      seleksi adalah:
      a. Perhatian (attention)
      b. Persepsi selektif (selectif perception)
    2. Organisasi Persepsi, berarti bahwa konsumen mengelompokkan informasi
      dari berbagai sumber ke dalam pengertian yang menyeluruh untuk
      memahami lebih baik dan bertindak atas pemahaman itu. Prinsip dasar dari
      organisasi persepsi ialah penyatuan yang berarti bahwa berbagai stimulus
      akan dirasakan sebagai suatu yang dikelompokkan secara menyeluruh.
      Pengorganisasian seperti itu memudahkan untuk memproses informasi dan
      memberikan pengertian yang terintegrasi terhadap stimulus.
    3. Interpretasi Persepstual
      Proses terakhir pada persepsi ialah memberikan interpretasi atas stimulus
      yang diterima oleh konsumen. Setiap stimulus yang menarik perhatian
      konsumen baik disadari atau tidak disadari, akan diinterpretasikan oleh
      konsumen. Dalam proses interpretasi konsumen membuka kembali berbagai
      informasi dalam memori yang telah tersimpan dalam waktu yang lama (long
      term memory) yang berhubungan dengan stimulus yang diterima. Informasi
      dalam long term memory akan membentuk konsumen untuk
      menginterpretasikan stimulus. Interpretasi ini didasarkan pengalaman
      penggunaan pada masa lalu, dan pengalaman itu tersimpan dalam memori
      jangka panjang konsumen

    Persepsi Konsumen


    Hampir semua kejadian di dunia saat ini penuh dengan rangsangan. Suatu
    rangsangan (stimulus) adalah sebuah unit input yang merangsang satu atau lebih
    dari (lima) pancaindra: penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan dan pendengaran.
    Oleh karena itu mereka menggunakan keterbukaan yang selektif (selectif
    exposure) untuk menentukan mana rangsangan yang harus diperhatikan dan mana
    yang harus diabaikan (Setiadi, 2015:91).
    Dalam Rossanty et al (2018:84) dijelaskan persepsi merupakan suatu proses
    yang timbul akibat adanya sensasi, di mana sensasi adalah aktivitas merasakan
    atau penyebab keadaan emosi yang menggembirakan. Sensasi juga dapat
    didefinisikan sebagai tanggap yang cepat dari indra penerima terhadap stimuli
    dasar seperti cahaya, warna, dan suara. Dengan adanya itu semua, persepsi akan
    timbul.
    Persepsi merupakan salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi
    bagaimana seseorang memutuskan untuk membeli dan menggunakan suatu
    produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Persepsi yang dibentuk seseorang
    dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya (Setiadi, 2015:92).
    Maka dapat dikatakan persepsi merupakan sebagai cara seseorang
    memandang dunia di sekitarnya. Persepsi adalah semua yang berhubungan dengan
    pemahaman subjektif konsumen. Dan konsumen akan bertindak dan bereaksi atas
    dasar persepsi yang dimilikinya

    Proses Pengambilan Keputusan Pembelian


    Kotler dan Keller dalam Firmansyah (2018:35) menjelaskan bahwa proses
    pengambilan keputusan merupakan proses psikologis dasar yang memainkan
    peranan penting dalam memahami bagaimana konsumen secara aktual mengambil
    keputusan pembelian. Sebelum membuat suatu keputusan membeli suatu produk
    atau jasa, seorang konsumen akan mencari dan mengumpilkan informasi-
    informasi sebagai bahan penilaian dan pertimbangan terhadap produk yang akan
    dibelinya. Terdapat tahapan proses dalam keputusan pembelian (Kotler dan
    Amstrong, 2014:176), yaitu:

    1. Pengenalan Masalah
      Proses membeli diawali dengan pengenalan masalah atau kebutuhan
      pembelinya dari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan
      keadaan yang diinginkan. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan
      dari dalam diri pembeli ataupun dari luar. Sebagai contoh kebutuhan normal
      seseorang, yaitu rasa haus dan lapar yang meningkat hingga suatu tingkat
      tertentu dan berubah menjadi dorongan. Atau suatu kebutuhan yang timbul
      karena rangsangan dari luar, yaitu seseorang yang melewati suatu took roti
      dan melihat roti yang baru selesai dibakar dapat merangsang rasa laparnya.
    2. Pencarian Informasi
      Seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong untuk
      mencari informasi lebih banyak. Seberapa jauh seseorang mencari informasi
      bergantung pada kuat lemahnya dorongan kebutuhan. Proses mencari
      informasi secara aktif di mana ia mencari bahan-bahan bacaan, menelpon
      teman-temannya, dan melakukan kegiatan untuk mempelajari yang lain.
      Umumnya jumlah aktivitas pencarian konsumen akan meningkat bersamaan
      dengan konsumen berpindah dari situasi pemecahan masalah yang terbatas
      ke pemecahan masalah yang ekstensif. Sumber informasi utama dimana
      konsumen mendapatkan informasi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
      a. Pribadi: keluarga, teman, tetangga dan rekan.
      b. Komersial: iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, dan tampilan.
      c. Publik: media masa dan organisasi penilai konsumen.
      d. Eksperimental: penanganan, pemeriksaan dan penggunaan produk.
    3. Evaluasi Alternatif
      Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan. Kebanyakan model dari
      proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka
      memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk
      terutama berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional.
      Konsumen mungkin mengembangkan seperangkat kepercayaan merek
      tentang di mana setiap merek berada pada ciri masing-masing. Kepercayan
      merek menimbulkan citra merek. Produsen harus berusaha memahami cara
      konsumen mengenal informasi yang di perolehnya dan sampai pada sikap
      tertentu mengenai produk, merek dan keputusan untuk membeli.
    4. Keputusan Pembelian
      Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap merek-
      merek yang terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen mungkin akan
      membentuk tujuan membeli merek yang paling disukai. Terdapat dua faktor
      yang bisa muncul diantara niat untuk membeli dan keputusan pembelian
      yang mungkin mengubah niat tersebut. Faktor pertama adalah sikap orang
      lain; faktor kedua adalah situasi yang tidak diharapkan. Jadi, pilihan dan niat
      untuk membeli tidak selalu menghasilkan pilihan pembelian yang aktual.
    5. Perilaku Pasca Pembelian
      Sesudah pembelian terhadap suatu produk dilakukan, konsumen akan
      mengalami tingkat kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Konsumen akan
      terlibat dalam tindakan sesudah pembelian dan penggunaan produk yang
      akan menarik minat pemasar. Apabila produk tidak memberikan kepuasan
      yang diharapkan, maka konsumen akan merubah sikapnya terhadap merek
      produk tersebut menjadi negatif dan bahkan mungkin akan menolak dari
      daftar pilihan. Sebaliknya, maka keinginan untuk membeli ulang merek
      produk tersebut cenderung menjadi lebih kuat

    Tipe Perilaku Keputusan Pembelian


    Kotler dan Keller (2013:23), membedakan 4 (empat) tipe perilaku
    pembelian konsumen berdasarkan pada tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat
    perbedaan diantara merek, yaitu:

    1. Perilaku pembelian yang rumit
      Perilaku konsumen yang rumit membutuhkan keterlibatan yang tinggi
      dalam pembelian, dengan berusaha menyadari perbedaan-perbedaan yang
      jelas diantara merek-merek yang ada.
    2. Perilaku membeli berdasarkan kebiasaan
      Dalam tahap ini, konsumen membeli suatu produk berdasarkan kebiasaan
      bukan berdasarkan kesetiaan terhadap suatu merek. Konsumen memilih
      produk secara berulang bukan karena merek produk, tetapi karena mereka
      sudah mengenal produk tersebut.
    3. Perilaku pembelian yang mencari keragaman
      Perilaku ini memiliki keterlibatan yang rendah, tetapi masih terdapat
      perbedaan merek yang jelas. Konsumen berperilaku dengan tujuan mencari
      keragaman bukan kepuasan terhadap produk.
    4. Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan
      Terkadang konsumen sangat terlibat dalam pembelian, namun mereka hanya
      melihat sedikit perbedaan antar merek. Dalam perilaku ini, setelah
      pembelian konsumen mungkin akan mengalami ketidaknyamanan karena
      merasakan adanya fitur yang tidak mengenakkan atau mendengar kabar
      yang membuatnya tertarik mengenai merek lain dan akan siaga terhadap
      informasi yang mendukung keputusannya.