Pengertian Product Knowledge


Pengetahuan produk (product knowledge) merupakan kumpulan dari
berbagai deretan informasi mengenai produk, yang meliputi kategori produk,
merek, terminologi produk, atribut, fitur produk, harga dan kepercayaan mengenai
produk. Apabila pengusaha atau penjual dapat memahami tentang pengetahuan
produk yang baik dan benar maka penjual akan lebih mudah dalam melakukan
konfirmasi kepada konsumen untuk memastikan pembelian produk. Selain itu,
pengetahuan produk juga meliputi beberapa informasi yang diproses oleh
konsumen untuk memperoleh suatu produk. (Herdianto & F.Ronodirdjo, 2020)

Komponen-komponen Brand Knowledge


Dikutip dari artikel Konverzi (2023) adapun komponen-komponen dalam
brand knowledge, antara lain:
1) Kesadaran merek (brand awareness): Ini mengacu pada sejauh mana
konsumen mengenal dan mengingat merek anda. Kesadaran merek dapat
dibagi menjadi dua bagian: kesadaran merek yang tidak dibantu (tanpa
bantuan eksternal, seperti menyebutkan merek secara spontan) dan
kesadaran merek yang dibantu (dengan bantuan eksternal, seperti mengenali
merek dari daftar pilihan).
2) Asosiasi merek (brand associations): Ini mencakup hubungan atau atribut
yang dikaitkan dengan merek oleh konsumen. Asosiasi merek dapat berupa
karakteristik produk, manfaat, pengalaman, atau nilai-nilai yang dihubungkan
dengan merek tersebut. Asosiasi merek yang kuat dapat membentuk citra
merek yang positif di benak konsumen.
3) Citra merek (brand image): Ini merupakan gambaran atau persepsi yang
dimiliki konsumen tentang merek. Citra merek mencakup persepsi konsumen
terhadap kualitas, keandalan, gaya hidup, nilai-nilai merek, dan hubungan
emosional dengan merek tersebut.
4) Loyalitas merek (brand loyalty): Ini mengacu pada tingkat kesetiaan
konsumen terhadap merek. Loyalitas merek mencakup berbagai tingkatan,
mulai dari loyalitas merek yang lemah hingga loyalitas merek yang kuat.
Konsumen yang loyal cenderung memilih dan membeli produk merek tersebut
secara konsisten, bahkan ketika ada opsi lain yang tersedia. (Yansens, 2023)

Pengertian Brand Knowledge


Brand knowledge atau pengetahuan merek merupakan suatu bagian dari
merek. Menurut Kotler dan Philip (2012) merek merupakan nama, tanda, istilah,
simbol, serta desain dari produk yang bertujuan untuk mengetahui barang atau
jasa dari satu penjual ke penjual lainnya untuk membedakan mereka dari para
pesaing (Kotler & Philip, 2012). Sedangkan menurut Keller (Nindita Ariama Putri,
2021) mengemukakan bahwa, brand knowledge merupakan informasi seputar
merek dalam ingatan (memory) konsumen, beserta asosiasi-asosiasi yang
berhubungan dengan merek tersebut (Putri, 2021).
Berdasarkan dari pendapat-pendapat ahli diatas, dapat diketahui bahwa
brand knowledge merupakan pengukuran pengetahuan dan informasi bagi
konsumen atau pelanggan yang dihubungkan dengan suatu produk yang
dikonsumsi. Selain itu, pengetahuan merek (brand knowledge) mengacu pada
tingkat pemahaman dan kesadaran konsumen terhadap suatu merek. Ini
mencakup pengetahuan tentang produk atau layanan yang ditawarkan oleh merek
tersebut, nilai-nilai yang diwakili oleh merek, citra merek, dan pengalaman yang
terkait dengan merek tersebut. Pengetahuan merek juga mencakup pemahaman
tentang keunikan merek dalam perbandingan dengan pesaingnya, serta reputasi
dan kredibilitas merek di mata konsumen. Dengan kata lain, pengetahuan merek
mencakup semua informasi dan persepsi yang dimiliki konsumen tentang suatu
merek.

Strategi Promosi


Dalam upaya pengembangan bisnis, satu hal yang tidak boleh sampai
dilewatkan adalah membuat perencanaan pemasaran bisnis yang matang. Dalam
rencana bisnis yang matang dapat mengantarkan suatu usaha pada sebuah
keberhasilan dalam berbisnis. Strategi promosi adalah segala upaya terencana
yang dilakukan oleh sebuah bisnis dalam melakukan pemasaran suatu produk
agar produk tersebut dapat diminati oleh banyak pelanggan sehingga nantinya
terjadilah proses transaksi. Ekspektasi dan kepuasan pelanggan menjadi kunci.
Hal tersebut disebabkan oleh pola rencana ataupun strategi tertentu yang mampu
untuk menarik perhatian dan meningkatkan jumlah penjualan produk.
Dalam dunia bisnis di era modern seperti sekarang, merancang tahapan
strategi promosi adalah suatu langkah tepat dalam mempromosikan produk agar
dapat mendatangkan pelanggan. Strategi promosi mempunyai ciri khas atau
karakter khusus, hal tersebut yang menjadikannya berbeda dengan strategi
lainnya dalam bisnis. Karakter tersebut harus ada ketika seorang marketer
menerapkan strategi promosi dalam bisnis. Adapun karakter yang harus di lakukan
oleh marketer dalam mengaplikasikan strategi promosi antara lain:

Tujuan Promosi


Pada umumnya tujuan promosi adalah untuk mencapai berbagai hasil yang
diinginkan oleh perusahaan atau organisasi dalam konteks pemasaran dan
komunikasi. Tujuan promosi memberikan dampak kepada konsumen agar
keinginan dalam membeli produk atau jasa yang dihasilkan dapat terealisasikan.
Maka dari itu, harus diusahakan bagaimana mempengaruhi mindset konsumen
untuk melakukan kegiatan pembelian. (Sari dkk., 2022). Adapun tujuan dari
melakukan kegiatan promosi yang dilakukan oleh individu maupun organisasi,
antara lain:
1) Meningkatkan kesadaran, promosi bertujuan untuk membuat target pasar
menyadari keberadaan produk atau layanan tertentu.
2) Meningkatkan minat, setelah kesadaran tercapai, promosi berusaha untuk
menarik minat pelanggan potensial terhadap produk atau layanan tersebut.
3) Mendorong pembelian, tujuan utama promosi adalah untuk mendorong
pembelian produk atau layanan, baik melalui peningkatan keinginan
konsumen maupun melalui penawaran khusus atau diskon.
4) Membangun dan mempertahankan hubungan, promosi dapat digunakan
untuk membangun dan memelihara hubungan positif antara merek dan
pelanggan, yang dapat menghasilkan loyalitas jangka panjang.
5) Mengenalkan produk baru, jika ada produk atau layanan baru, promosi dapat
membantu dalam memperkenalkannya kepada pasar dan membangun minat
awal.
6) Meningkatkan citra merek, promosi juga dapat digunakan untuk meningkatkan
citra merek, baik dengan menekankan kualitas, nilai, atau nilai-nilai merek
yang diinginkan.
7) Meningkatkan penjualan dalam periode tertentu, promosi sering digunakan
untuk meningkatkan penjualan selama periode tertentu, seperti musim liburan
atau penjualan akhir tahun.

Jenis Promosi


Cara pemasaran yang beragam telah mampu menghasilkan bentuk dan juga
upaya dalam melakukan promosi yang sangat beragam. Umumnya, dalam
kegiatan promosi ini tersebut meliputi iklan, promosi konsumen, siaran pers, serta
masih banya kegiatan promosi lainnya. Philip Kotler dan Grey Amstrong
berpendapat bahwa promosi dapat dibagi menjadi lima jenis, yaitu advertising,
personal selling, sales promotion, public relation, dan direct marketing (Masyithoh
dkk., 2023).
Tapi pada umumnya, berbagai promosi yang sering dilihat dan ditemukan
saat ini adalah sebagai berikut:
1) Promosi secara fisik
Promosi yang dilakukan secara fisik dapat ditemui dengan mudah pada
event atau acara-acara tertentu, seperti konser, pameran, bazar, dan masih
banyak event lainnya. Kegiatan promosi tersebut pada umumnya dilakukan
dengan membuka booth agar dapat menawarkan atau mempromosikan produk
barang produk atau jasanya.
Jenis promosi ini mempunyai kelebihan serta kekurangan tersendiri.
Kelebihan dari promosi tersebut adalah memungkinkan pebisnis untuk
menjangkau serta melakukan interaksi satu sama lain yaitu calon konsumen dan
pembeli secara langsung. Sedangkan untuk kekurangan dari promosi fisik ialah
terbatasnya para calon konsumen yang bisa dijangkau. Pada umumnya, untuk
kegiatan promosi fisik ini biasanya diadakan pada lokasi khusus, seperti
perkantoran, kampus atau sekolah, mall, dan sebagainya. Sehingga, setiap orang
yang berada pada lokasi tersebut dapat terjangkau dengan mudah dan efektif.
2) Promosi melalui media tradisional
Jenis promosi ini, pada masanya memang sangat efektif untuk
meningkatkan penjualan, beberapa contohnya seperti media cetak, TV, radio,
billboard, iklan banner, dan lain sebagainya. Jenis promosi ini pun mempunyai
keuntungannya tersendiri daripada promosi fisik, yaitu dapat menjangkau lebih
banyak konsumen dalam periode waktu yang lama. Akan tetapi, jenis promosi
melalui media tradisional ini mempunyai kekurangan, yaitu harga yang dikeluarkan
untuk biaya promosi lumayan mahal, baik dari segi media maupun biaya promosi
itu sendiri.
3) Promosi melalui media digital
Perkembangan teknologi dan juga media informasi sekarang ini telah
mengubah cara memasarkan produk atau promosi produk. Beberapa promosi
yang dapat dilakukan secara digital diantaranya adalah jaringan website, mesin
pencari, media sosial, email, aplikasi, dan lain-lain. Setiap perusahaan atau
pengusaha yang sudah sadar akan teknologi, umumnya akan cenderung memilih
menggunakan internet sebagai media promosi bisnisnya. Selain biaya yang
dikeluarkan terbilang murah, promosi dengan menggunakan media digital juga
dapat menjangkau lebih banyak orang, dan proses promosinya pun lebih mudah
serta cepat.

Pengertian Promosi


Promosi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan
kesadaran merek, minat, dan pembelian produk, layanan, atau merek tertentu. Ini
melibatkan penggunaan berbagai strategi pemasaran dan komunikasi untuk
memperkenalkan, mempromosikan, dan memengaruhi target audiens agar
melakukan tindakan tertentu, seperti pembelian atau partisipasi dalam kegiatan
tertentu. Promosi dapat mencakup berbagai elemen, termasuk iklan, penjualan
langsung, promosi penjualan, pemasaran langsung, sponsor acara, publisitas,
konten pemasaran, dan aktivitas lainnya yang dirancang untuk memperkuat citra
merek dan mendorong konsumen untuk berinteraksi dengan merek atau produk
tersebut.
Menurut Sari (Marbun dkk 2022) promosi dipandang sebagai suatu informasi
untuk mempengaruhi individu maupun organisasi untuk melakukan pembelian
terhadap produk dan juga jasa (Marbun dkk., 2022). Sedangkan menurut Aisya
dan Riyadi (2020) promosi merupakan suatu komunikasi antara pembeli dan
penjual yang berawal dari informasi yang tepat serta bertujuan untuk merubah
sikap dan tingkah laku pembeli yang sebelumnya tidak mengetahui akan produk
atau jasa yang dipasarkan dan setelah melakukan promosi pembeli menjadi tahu
akan produk atau jasa tersebut, sehingga pembeli akan tetap mengingat dan tidak
asing lagi mengenai produk tersebut (Aisyah & Riyadi, 2020).

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan
pemasaran. Menurut Kotler dan Amstrong (2019), menyatakan bahwa pemasaran
merupakan analisis, perencanaan, pengendalian, serta penerapan atau
implementasi dari program-program yang telah dirancang guna menciptakan,
membangun, serta memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan sasaran
konsumen untuk memperoleh tujuan perusahaan. Sedangkan arti dari manajemen
ialah sebuah proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
penggerakan (actuating), serta pengawasan (controlling). (Yulianti dkk., 2019)
Maka dari itu, dapat diartikan bahwa manajemen pemasaran merupakan
sebagai analisis dari perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang
dirancang untuk menciptakan, membangun, serta mempertahankan pertukaran
yang menguntungkan dengan target pasar dengan maksud untuk mendapatkan
tujuan-tujuan organisasi.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)


Di Indonesia tumbuhnya BUMN pada masa kemerdekaan sebenarnya untuk
sebagian merupakan reaksi terhadap situasi kolonial. Dalam Undang-Undang
No.9 Tahun 1969 menyebutkan, BUMN merupakan seluruh bentuk usaha negara
yang seluruhnya atau sebagian modalnya dimiliki oleh Negara/Pemerintah dan
dipisahkan dari kekayaan negara.
Pengertian BUMN yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan di
atas masing-masing secara substantif memperlihatkan adanya reformasi. Apabila
sebelum adanya UU No.19 Tahun 1960, terdapat bermacam-macam bentuk
usaha negara, maka setelah ditetapkannya UU No.19 Tahun 1960 seluruh badan
usaha milik negara yang ada pada waktu itu diberi nama Perusahaan Negara.
(Nachrawi, 2021)
Adapun tugas-tugas BUMN sebagaimana dituangkan dalam Instruksi
Presiden No.5 Tahun 1988, yakni:
1) Mengadakan barang yang karena pertimbangan keamanan serta kerahasiaan
harus dikuasai oleh negara;
2) Didirikan atas pertimbangan guna melakukan kebijakan pemerintahan
tertentu dan atau strategis;
3) BUMN dibangun dengan tujuan untuk menjaga dan melindungi keselamatan
serta kesejahteraan masyarakat;
4) BUMN didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
sehingga harus dimiliki dan dikelola oleh pemerintah;
5) Usaha-usaha yang bersifat komersial layaknya yang dilakukan oleh swasta.

Tujuan Pemberdayaan UMKM


Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan hal
yang penting karena memiliki dampak yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi,
pembangunan sosial, dan pengentasan kemiskinan. Adapun tujuan dari
pemberdayaan UMKM, yang telah diatur dalam pasal 5 Undang-Undang UMKM,
yaitu:
1) Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang
dan berkeadilan;
2) Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri, dan;
3) Meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pembangunan
daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan
ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan. (Nurjaya., SE., 2022

Pengertian UMKM


Menurut UUD 1945 kemudian dikuatkan melalui TAP MPR NO. XVI/MPR-
RI/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi, Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah perlu diberdayakan sebagai bagian dari integral ekonomi
rakyat yang mempunyai kedudukan, peran, dan potensi strategis untuk mencapai
struktur perekonomian nasional yang makin seimbang, berkembang dan
berkeadilan. Kemudian, diciptakan pengertian UMKM melalui Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 1999 dan karena keadaan perkembangan yang semakin dinamis
kemudian dialihkan ke Undang-Undang Nomor 20 Pasal 1 Tahun 2008 tentang
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah maka pengertian UMKM adalah sebagai
berikut:
1) Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana yang
telah dirancang dalam Undang-Undang.
2) Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah
atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang.
3) Usaha menengah merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dimana dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai,
atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil maupun Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
4) Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan
usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih
besar dari usaha menengah, yang terdiri atas usaha nasional milik negara
atau swasta, usaha patungan, serta usaha asing yang melakukan kegiatan
ekonomi di Indonesia.

Tahapan Video Promosi


Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam membuat suatu video
promosi, antara lain :
1) Perencanaan: Tahap ini melibatkan identifikasi tujuan promosi, penentuan
target audiens, pembuatan konsep, dan penyusunan skenario atau naskah.
2) Pengumpulan materi: Ini termasuk pengambilan gambar atau rekaman video,
pengumpulan foto, dan pengumpulan elemen visual atau audio lainnya yang
diperlukan untuk pembuatan video promosi.
3) Produksi: Proses ini mencakup pengambilan gambar atau rekaman video
sesuai dengan skenario atau naskah yang telah disiapkan. Hal ini melibatkan
penggunaan kamera, peralatan pencahayaan, dan peralatan audio jika
diperlukan.
4) Editing: Tahap editing melibatkan pengeditan rekaman video, pengaturan
urutan gambar, penambahan efek visual atau audio, penambahan teks atau
grafis, dan penyuntingan lainnya untuk menciptakan narasi yang kuat dan
menarik.
5) Penyebaran: Setelah video selesai diedit, tahap selanjutnya adalah
menyebarluaskannya kepada audiens target. Ini bisa dilakukan melalui
berbagai platform seperti situs web, media sosial, televisi, atau acara promosi
lainnya.
6) Evaluasi: Tahap terakhir adalah evaluasi kinerja video promosi, yang
melibatkan pengukuran efektivitasnya dalam mencapai tujuan promosi yang
telah ditetapkan. Evaluasi ini dapat dilakukan melalui analisis data, umpan
balik dari audiens, dan pengamatan terhadap respons dan interaksi dengan
video tersebut.

Jenis Video Promosi


Adapun jenis-jenis video promosi, dalam pembuatan video promosi terdapat
5 jenis video promosi yang dapat dibuat oleh suatu perusahaan, yaitu:
1) Video profil
Video profil adalah media yang sangat efektif yang digunakan untuk
mempromosikan daerah, produk, dan mempromosikan suatu perusahaan tertentu.
Video profil atau istilah lainnya company profil merupakan solusi kreatif dan inovatif
untuk berbagai keperluan, terutama untuk kebutuhan dalam mempromosikan.
Selain itu, video profil merupakan sebuah rekaman yang ditampilkan di media
audio dalam wujud visual lainnya, yang dimana digunakan untuk isi dari profil suatu
instansi, daerah sampai dengan objek wisata. (Permana dkk., 2017)
Jadi, pada dasarnya video profil tersebut merupakan jenis video promosi
yang dirancang untuk memperkenalkan dan mempresentasikan sebuah
perusahaan, merek, atau individu kepada para audience. Biasanya video profil
dimasukkan elemen-elemen seperti, sejarah perusahaan atau merek, visi dan
misi, nilai dan budaya perusahaan, produk atau layanan dan lain sebagainya.
2) Video demo atau tutorial
Video demo atau tutorial adalah jenis video promosi yang dirancang untuk
menunjukkan kepada pemirsa cara menggunakan produk atau layanan secara
praktis atau memberikan panduan langkah demi langkah tentang suatu topik
tertentu. Tujuan utama dari video demo atau tutorial adalah untuk memberikan
pemahaman yang jelas dan praktis kepada pemirsa tentang bagaimana produk
atau layanan dapat digunakan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Video edukasi
Video edukasi adalah jenis video yang dirancang untuk menyampaikan
informasi, pengetahuan, atau keterampilan kepada pemirsa dengan tujuan
mendidik atau memberikan pemahaman yang lebih baik tentang suatu topik
tertentu. Tujuan utama dari video edukasi adalah untuk mengajarkan sesuatu
kepada pemirsa, baik itu konsep abstrak, keterampilan praktis, atau informasi
fakta.
Maka dari itu, video edukasi merupakan jenis video yang sangat efektif
untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada pemirsa dalam format
yang menarik dan mudah dicerna.
4) Video testimoni
Video testimoni adalah bentuk testimonial yang disampaikan melalui video.
Pada umumnya, video testimoni menampilkan seseorang yang memberikan
kesaksian atau pengalaman pribadi mereka tentang produk, layanan, atau
pengalaman tertentu. Video testimoni bisa menjadi alat pemasaran yang sangat
efektif karena memungkinkan potensi pelanggan untuk melihat dan mendengar
pengalaman positif secara langsung dari orang lain. Hal ini dapat meningkatkan
kepercayaan dan meyakinkan calon pelanggan lebih dari sekadar tulisan testimoni
atau ulasan tertulis. Video testimoni juga bisa memberikan konteks dan emosi
tambahan yang sulit ditangkap dalam bentuk tulisan.
5) Video event
Video event adalah rekaman visual dari sebuah acara atau kejadian yang
direkam menggunakan kamera atau perangkat perekam lainnya. Video event
biasanya mencakup berbagai jenis acara, mulai dari konser, konferensi, presentasi
bisnis, pernikahan, pertunjukan teater, hingga acara olahraga. Tujuan utama dari
video event adalah untuk merekam dan mengabadikan momen-momen penting
atau menarik dari suatu acara agar dapat ditonton kembali oleh orang yang tidak
dapat menghadiri acara tersebut secara langsung. Video juga dapat digunakan
untuk dokumentasi, promosi, atau keperluan arsip. (Koen Cinema Indonesia,
2023)

Pengertian Video Promosi


Video promosi adalah jenis konten video yang diciptakan dengan tujuan
khusus untuk mempromosikan atau memasarkan produk, layanan, atau merek
tertentu kepada audiens target. Biasanya, video promosi dirancang untuk menarik
perhatian, menyampaikan pesan pemasaran yang jelas, dan mempengaruhi
penonton untuk mengambil tindakan tertentu, seperti pembelian produk atau
layanan yang dipromosikan. Tujuan utama dari video promosi adalah untuk
meningkatkan kesadaran merek, mempengaruhi persepsi konsumen, dan
mendorong.
Dikutip dari artikel, menurut Degey (2016) video promosi adalah video yang
digunakan untuk mempromosikan sesuatu. Ciri dari video promosi yaitu dapat
mempromosikan sesuatu secara lebih rinci dengan kapasitas durasi yang lebih
panjang dibandingkan dengan video iklan lainnya, dikarenakan tahapan
pengambilan gambar untuk video promosi tersebut harus dilakukan secara terus
menerus dari objek yang ingin dipromosikan agar hasil dari video promosi tersebut
lebih jelas dan detail yang mencakup seluruh objek tersebut. Dengan membuat
video promosi yang baik pastinya akan dapat meningkatkan citra perusahaan itu
sendiri, dapat meningkatkan nama brand di depan para calon konsumen atau
target (audience) (Arsyad, 2020)

Direct Marketing


Pemasaran selalu menjadi hal yang penting di dalam dunia bisnis. Salah
satunya ialah direct marketing. Keuntungan yang diperoleh adalah semakin
mendekatkan dengan para calon konsumen. Menurut Direct Marketing Association
pemasaran langsung merupakan suatu sistem interaktif yang menggunakan satu
atau lebih media periklanan untuk menciptakan suatu respons yang dapat diukur
dan/atau transaksi pada segala lokasi (Shimp, 2019). Sedangkan menurut Kotler
dan Amstrong (Helmin dan Siregar, 2022), pemasaran langsung atau dikenal juga
dengan sebutan direct marketing merupakan bentuk pemasaran yang melibatkan
komunikasi langsung dengan konsumen dengan tujuan untuk membujuk para
calon konsumen dalam melakukan pembelian (T. & Siregar, 2022)
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pemasaran langsung
(direct marketing) merupakan sistem penjualan yang dilakukan oleh suatu
perusahaan atau organisasi dalam melakukan komunikasi secara langsung
dengan target konsumen untuk memperoleh respons ataupun transaksi.
Pengusaha atau penjual melakukan pendekatan langsung kepada pelanggan
dengan produk atau jasa yang ditawarkannya. Walaupun pemasarannnya
langsung ditujukan kepada calon konsumen, antara penjual dan konsumen
sebenarnya tidak harus bertatap muka. Saluran pemasaran secara langsung ini
dapat dilakukan melalui email, telepon, media sosial, dan lain sebagainya.
Menurut Tjiptono, Chandra, & Adriana (2017), pemasaran langsung atau
direct marketing dapat dibedakan menjadi 3 indikator, antara lain :
1) Pemasaran sasaran adalah mengacu pada kemampuan perusahaan untuk
mengidentifikasi dan memilih audiens yang tepat untuk pesan pemasaran
mereka. Ini melibatkan segmentasi pasar yang cermat dan pemilihan target
pasar yang sesuai dengan karakteristik demografis, psikografis, atau perilaku
yang relevan. Dengan memahami siapa target pasar mereka, perusahaan
dapat menyesuaikan pesan pemasaran mereka dengan lebih efektif,
meningkatkan relevansi dan respons dari audiens.
2) Akses Informasi adalah merujuk pada kemampuan perusahaan untuk
mengumpulkan, menyimpan, dan mengelola data pelanggan atau prospek
secara efisien. Ini mencakup penggunaan basis data pelanggan yang
terorganisir dengan baik, teknologi informasi, dan alat analisis data untuk
mendapatkan wawasan yang mendalam tentang perilaku konsumen dan
preferensi mereka. Dengan memiliki akses yang baik terhadap informasi
pelanggan, perusahaan dapat menyesuaikan pesan pemasaran mereka
dengan lebih baik dan memberikan pengalaman yang lebih personal kepada
konsumen.
3) Kreativitas dalam pemasaran langsung adalah mengacu pada kemampuan
perusahaan untuk mengembangkan pesan pemasaran yang unik, menarik,
dan berkesan untuk menarik perhatian audiens target mereka. Ini melibatkan
penggunaan ide-ide kreatif, desain visual yang menarik, narasi yang
menggugah emosi, dan strategi kreatif lainnya untuk membuat pesan
pemasaran menjadi lebih menonjol di antara persaingan. Dengan kreativitas
yang tepat, perusahaan dapat meningkatkan daya tarik kampanye pemasaran
langsung mereka dan menghasilkan respons yang lebih positif dari konsumen

Kelebihan Digital Marketing


Di era digital sekarang ini, digital marketing banyak digunakan oleh beberapa
industri atau perusahaan sebagai strategi dalam melakukan bisnis mereka. Hal
tersebut membuktikan banyak kelebihan dan manfaat yang diperoleh oleh
perusahaan dalam menerapkan digital marketing, antara lain:
1) Kecepatan Publikasi
Strategi pemasaran yang menggunakan digital marketing dapat dilakukan
dengan sangat cepat, dapat tersebar serta terpublikasi hanya dalam beberapa
menit. Sehingga hal tersebut memungkinkan perusahaan untuk merespons tren
pasar atau perubahan industri dengan lebih cepat, dan juga memberikan
fleksibilitas untuk menguji dan mengoptimalkan strategi pemasaran dalam waktu
yang tepat dan real time.
2) Kemudahan Mengevaluasi
Strategi pemasaran dengan menggunakan digital marketing, dapat secara
langsung diketahui hasilnya, layaknya berapa banyak orang yang telah melihat
produk tersebut, berapa durasi iklan yang ditonton, selain itu, dapat diketahui juga
berapa jumlah persenan pada penjualan dari setiap iklan. Setelah mengetahui
informasi tersebut, maka dapat dilakukan evaluasi iklan mana yang menarik dan
tidak tertarik di mata pelanggan, sehingga dapat dikonversi untuk periode
selanjutnya.
3) Jangkauan Luas
Melakukan strategi digital marketing dapat menyebarkan produk secara luas
ke seluruh dunia hanya dengan beberapa langkah memanfaatkan peluang
internet.
4) Murah dan Efektif
Digital marketing tentunya meminimalisir pengeluaran dan juga efektif,
dikarenakan biaya anggaran yang dikeluarkan bisa sampai 40% menurut
Gartner’s.
5) Membangun Nama Brand
Strategi digital marketing merujuk pada proses memperkuat kesadaran,
persepsi, dan reputasi merek di kalangan konsumen melalui berbagai saluran
digital. Ini melibatkan pembangunan citra merek yang kuat, konsisten, dan
terpercaya di mata konsumen. Aktivitas ini mencakup pembuatan konten yang
relevan dan menarik, interaksi yang positif dengan audiens melalui media sosial
dan platform online lainnya, serta memastikan konsistensi merek di seluruh
saluran digital. Membangun nama merek yang kuat melalui digital marketing
membantu meningkatkan loyalitas konsumen, membedakan merek dari pesaing,
dan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. (Indah Nur Agustina, S.Par.
dkk., 2023)

Tujuan Digital Marketing


Dikutip dari Kreativ dalam buku ajar digital marketing (2023) ditemukan
bahwa, sebanyak 46% dari total pengeluaran iklan global di pada tahun 2021
dialokasikan untuk digital marketing. Beberapa pelanggan yang mengambil
keputusan untuk membeli produk atau jasa setelah pelanggan tersebut melihat
konten video pemasaran. Digital Marketing memiliki tujuan untuk menarik para
calon konsumen serta menarik konsumen dengan lebih cepat, dan juga
meningkatkan penjualan produk dari sebuah brand pada waktu yang bersamaan,
dan mengembangkan brand awareness perusahaan. (Indah Nur Agustina, S.Par.
dkk., 2023). Adapun tujuan dari digital marketing, antara lain:
1) Meningkatkan kesadaran, memperluas jangkauan merek dan produk agar
lebih dikenal oleh target pasar melalui berbagai saluran digital seperti situs
web, media sosial, dan mesin pencari.
2) Peningkatan keterlibatan, mendorong interaksi yang lebih aktif antara merek
dan konsumen melalui konten yang relevan, menarik, dan berdaya ungkit.
3) Generasi prospek, mengumpulkan prospek atau leads yang berpotensi
menjadi pelanggan melalui formulir kontak, pendaftaran email, atau tindakan
lainnya.
4) Konversi penjualan, mengubah prospek menjadi pelanggan yang sebenarnya
dengan menawarkan penawaran yang menarik, mengarahkan mereka ke
halaman pembelian, dan menyediakan pengalaman yang nyaman dan
terpercaya.
5) Meningkatkan retensi pelanggan, yang diman membangun hubungan yang
kuat dengan pelanggan yang ada melalui komunikasi berkelanjutan,
memberikan nilai tambah, dan memenuhi kebutuhan mereka.
6) Analisis dan optimalisasi, menggunakan data dan analisis untuk memahami
kinerja kampanye, mengidentifikasi tren, dan mengoptimalkan strategi
marketing untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan

Pengertian Digital Marketing


Digital marketing merupakan praktik pemasaran yang menggunakan
berbagai platform dan kanal digital untuk mempromosikan produk, layanan, atau
merek. Ini melibatkan penggunaan internet dan teknologi digital lainnya seperti
smartphone, komputer, dan media sosial untuk mencapai target audiens. Menurut
Jerry Maytanius (Aridi & Agustina 2023) digital marketing merupakan suatu strategi
pemasaran yang menggunakan media digital dan platform online sebagai upaya
dalam mempromosikan produk, layanan, maupun merek dari sebuah instansi
tersebut (Maytanius dkk., 2023). Salah satu keutamaan dari digital marketing
adalah mampu untuk menjangkau masyarakat luas dengan biaya yang lebih
rendah dibandingkan dengan menggunakan metode pemasaran tradisional
seperti iklan cetak dan sejenisnya (Santi, 2020).
Menurut Farizki (Pangestika dkk, 2020) digital marketing merupakan suatu
kegiatan pemasaran dalam mempromosikan sebuah brand atau produk
menggunakan media digital seperti internet dan media sosial. Tujuan dari digital
marketing untuk menarik para konsumen secara cepat. Seperti yang diketahui,
banyaknya pengguna teknologi yang mencakup seluruh masyarakat mulai dari
generasi milenial hingga generasi Z, sehingga tidak heran kegiatan pemasaran
menggunakan digital menjadi pilihan utama bagi perusahaan atau industri di dunia.
(Farizki dkk., 2020)

Pengaruh Digital Marketing terhadap KeputusanPembelian


Menurut Chaffey, 2000 yang dikutip oleh Pradiani, 2018 e-
marketing merupakan pengembangan dari marketing
tradisional dimana marketing tradisional adalah suatu proses
pemasaran melalui media komunikasi offline seperti melalui
penyebaran brosur, iklan di televisi dan radio, dan lain
sebagainya. Setelah maraknya internet dan kemudahan
komunikasi yang ditawarkannya, maka penerapan marketing
pada perusahaan mulai mengadopsi media internet, yang
kemudian disebut sebagai e-marketing.
Menurut Philip Kotler, 2012 yang dikutip oleh Saputri,
2016 keputusan pembelian dipengaruhi oleh psikologis dasar
yang yang berperan penting dalam memahami bagaimana
konsumen membuat keputusan pembelian mereka. Setiap
orang yang ingin melakukan pembelian biasanya akan
memilih-milih terlebih dahulu apa yang baik dan sesuai dengan
keinginan sebelum memutuskan apa yang akan mereka beli

Pengertian keputusan pembelian


Keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah
menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk,
serta mengkonsumsinya. Keputusan pembelian antara satu
konsumen dengan yang lainnya berbeda-beda, karena
kebutuhan dan selera konsumen yang berbeda, menurut
Schiffman dan Kanuk, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011 keputusan pembelian adalah perilaku yang diperlihatkan
konsumen dalam mencari, memberi, menggunakan,
mengevaluasi dan menghabiskan suatu produk dan jasa yang
diharapkan dapat memuaskan kebutuhannya. Menurut Kotler
dan Amstrong, 2008:179 yang dikutip oleh Mandey, 2013
keputusan pembelian adalah proses keputusan pembeli tentang
merek mana yang dibeli. Pada umumnya, keputusan pembelian
konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi 2
faktor bisa berada antara niat dan keputusan pembelian.
Konsumen dalam keputusan pembelian dipengaruhi oleh
perilaku konsumen, pola perilaku konsumen antara satu
dengan yang lainnya saling berkaitan, seperti produk kemudian
harga dan juga promosi. Sebelum memutuskan untuk membeli
konsumen akan memastikan produk apa yang akan dibeli
kemudian memilih produknya melihat kualitas dan
kegunaannya terlebih dahulu kemudian konsumen akan
melihat harga dari produk yang telah ia pilih. Promosi juga
mempengaruhi keputusan pembelian, konsumen tidak akan
tahu produk yang baik serta harga yang murah jika tidak ada
promosi dari penjual

Manfaat influencer marketing


Menurut Ellora (2019), berdasarkan jumlah followers secara
umum jenis influencer dibagi menjadi 4, yaitu :

  1. Nano influencer
    Nano influencer adalah influencer yang memiliki jumlah
    followers 500 hingga 1.000. Meskipun jumlah
    followersnya paling sedikit di kategori influencer, namun
    tetap memiliki pengaruh yang kuat karena lebih mengenal
    hampir seluruh followersnya secara langsung
  2. Micro influencer
    Micro influencer adalah influencer yang memiliki jumlah
    followers antara 1.000 hingga 100.000. Micro influencer
    biasanya dikenal karena suatu bidang secara spesifik.
    Misalnya beauty blogger, parenting blogger, food
    blogger, dan masih banyak lagi.
  3. Macro influencer
    Macro influencer berada satu tingkat diatas micro
    influencer, mereka memiliki followers diatas 100.000
    hingga 1.000.000. Influencer jenis ini paling banyak
    ditemukan dan kerap dianggap paling ideal bagi brand.
    Macro influencer juga memproduksi konten yang lebih
    berkualitas, karena content creator adalah pekerjaan
    utamanya.
  4. Mega influencer
    Mega influencer atau biasa disebut dengan premium
    influencer atau celebrity influencer, mereka memilliki
    followers lebih dari 1 juta. Influencer jenis ini
    dikategorikan sebagai jenis influencer tertinggi karena
    biasanya berasal dari kalangan artis, youtuber, atau
    selebgram yang memiliki lebih dari 1 juta followers

Pengertian Influencer Marketing


Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin
pesat, dunia bisnis dituntut untuk selalu memperbarui strategi
pemasarannya agar lebih inovatif dalam menciptakan produk
hingga melakukan promosinya. Saat ini strategi pemasaran
yang sedang banyak digunakan adalah metode pemasaran yang
menggunakan influencer sebagai medianya. Para influencer
adalah mereka yang dipercaya dan digemari oleh sebagian
masyarakat, apapun yang dipakai dan dilakukan akan selalu
menjadi sorotan bagi orang banyak. Seorang influencer dapat
menciptakan citra merek produk yang lebih baik dan dengan
biaya yang lebih murah dibandingkan menggunakan brand
endorser artis atau figur publik yang sudah berada kalangan
artis papan atas. Seorang influencer secara umum biasanya
dipilih berdasarkan kemampuan, keahlian, tingkat popularitas,
maupun reputasi yang dimilikinya (Hariyanti & Wirapraja,
2018). Kepribadian generasi milenial yang dekat dengan dunia
internet, lebih menyukai pendekatan secara online berupa User
Generated Content (UGC) yang dibuat oleh perseorangan.
Mereka menggunakan media sosial untuk mendapatkan
informasi dan melakukan pengambilan keputusan dalam
pembelian produk berdasarkan review atau testimoni dari
orang yang sudah membeli atau menggunakan produk tersebut
(Arini, Angga, & Putra, 2019). Oleh sebab itu menggunakan
influencer sebagai media promosi merupakan hal yang efektif
karena masing-masing influencer memiliki cara yang berbeda
dalam melakukan promosi produk secara soft selling, hal ini
diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan massa dan
meningkatkan brand awareness.
Indikator influencer marketing menurut Hovland, Janis dan
Kelly, 1953 yang dikutip oleh Sugiharto & Ramadhana, 2018
“kredibilitas disusun menyimpulkan dari pembahasan-
pembahasan sebelumnya bahwa itu memiliki 3 komponen
yaitu trustworthiness, expertise, dan attractiveness”.

  1. Trustworthiness
    Menurut Shimp (2007), trustworthiness mengarah pada
    kemampuan sumber yang dilihat memiliki kejujuran,
    integritas dan dapat dipercaya. Influencer yang dipercaya
    dapat mempengaruhi audience meskipun memiliki
    kemampuan yang biasa-biasa saja
  2. Expertise
    Menurut Shimp (2007), expertise mengarah pada
    pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang dimiliki oleh
    seorang influencer yang dapat dikaitkan dengan merek
    yang sedang di iklan-kan
  3. Attractiveness
    Attractiveness menurut Shimp (2007), yaitu mengarah
    kepada diri yang menurut audience dianggap memiliki
    daya tarik fisik yang menarik. Menurut Mowen dan Minor
    (2002), karakteristik influencer harus sesuai dengan
    produk yang mereka bawakan. Jika audience merasa
    tertarik dengan influencer, hal tersebut dapat mempersuasi
    dengan mudah melalui ketertarikan dari inflluencer
    tersebut.

Pengaruh Brand Image terhadap Keputusan Pembelian


Menurut P. Kotler & Keller, 2009 yang dikutip oleh Musay,
2013 citra merek adalah presepsi dan keyakinan yang dipegang
oleh konsumen, seperti yang dicerminkan asosiasi yang
tertanam dalam ingatan pelanggan, yang selalu diingat pertama
kali saat mendengar slogan dan tertanam dibenak
konsumennya, kemudian menurut Tjiptono & Fandy (2015),
citra merek adalah deskripsi asosiasi dan keyakinan konsumen
terhadap merek tertentu. Citra merek (brand image) adalah
pengamatan dan kepercayaan yang digenggam konsumen,
seperti yang dicerminkan di asosiasi atau di ingatan konsumen.
Menurut Ferrinadewi, 2008:166 yang dikutip oleh Musay,
2013 brand image merupakan konsep yang diciptakan oleh
konsumen karena alasan subyektif dan emosi pribadinya.
Berbagai upaya dilakukan perusahaan dalam rangka
mempertahankan brand image yang mereka miliki diantaranya
inovasi teknologi keunggulan yang dimiliki produk tersebut,
penetapan harga yang bersaing, dan promosi yang tepat
sasaran. Semakin baik brand image produk yang dijual, maka
semakin tinggi keputusan pembelian oleh konsumen
(Francisco, 2013)
Kesimpulannya, brand image (citra merek) merupakan
gambaran atau kesan yang ditimbulkan oleh suatu merek
dalam benak pelanggan. Penempatan citra merek dibenak
konsumen harus dilakukan secara terus-menerus agar citra
merek yang tercipta tetap kuat dan dapat diterima secara
positif. Ketika sebuah merek memiliki citra yang kuat dan
positif di benak konsumen maka merek tersebut akan selalu
diingat dan kemungkinan konsumen untuk membeli merek
yang bersangkutan sangat besar (P.musay, 2013)

Teori Brand Image


Menurut Kertajaya, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011, menyatakan ada beberapa faktor yang membentuk citra
merek yaitu :

  1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk
    barang yang ditawarkan oleh produsen dengan merek
    tertentu
  2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan
    pendapat dan kesepakatan yang di bentuk oleh masyarakat
    tentang suatu produk yang dikonsumsi
  3. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari
    suatu produk yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen
  4. Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam
    melayani konsumennya
  5. Resiko, berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh
    konsumen
  6. Harga, dalam hal ini yang dikeluarkan konsumen untuk
    mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi
    citra berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
    sedikitnya jumlah uang jangka panjang
  7. Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa
    pelanggan, kesempatan dan informasi yang berkaitan
    dengan suatu merek dari produk tertentu
    Menurut Rahman, 2010:179 yang dikutip oleh Kurniati,
    2012, pengukuran terhadap merek mempunyai enam tingkat
    pengertian, yaitu :
  8. Atribut : Merek mengingatkan pada atribut tertentu dari
    sebuah produk, baik dari program purna jualnya,
    pelayanan, maupun kelebihannya dan perusahaan
    menggunakan atribut tersebut sebagai materi iklan mereka
  9. Manfaat : Pelanggan tentu tidak membeli sebatas atribut
    dari suatu produk melainkan manfaatnya
  10. Nilai : Merek mewakili nilai dari produknya. Jam tangan
    merek Rolex, misalnya yang memberikan nilai tinggi bagi
    penggunanya
  11. Budaya : Merek mewakili budaya tertentu
  12. Kepribadian : Merek layaknya seseorang yang
    merefleksikan sebuah kepribadian tertentu
  13. Pemakai : Merek menunjukkan jenis konsumen yang
    membeli atau menggunakan suatu produk tersebut.

Pengertian Brand Image


Brand Image merupakan representasi dari keseluruhan
persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu konsumen terhadap merek itu. Ketika
konsumen memutuskan untuk membeli suatu produk
sebenarnya mereka memiliki alasan-alasan tertentu dalam
memilih sebuah produk, misalnya merasa puas dengan kualitas
dan pelayanan yang ditawarkan produk tersebut. Ada pula
konsumen yang membeli barang berdasarkan kebutuhan akan
suatu barang dan tidak sedikit konsumen yang membeli suatu
produk secara spontanitas, maksudnya konsumen membeli
produk tersebut tanpa ada rencana untuk membeli sebelumnya
atau tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan khusus ketika
memutuskan untuk membeli (Musay, 2013). Berbagai upaya
dilakukan perusahaan dalam rangka mempertahankan brand
image yang mereka miliki diantaranya inovasi teknologi
keunggulan yang dimiliki produk tersebut, penetapan harga
yang bersaing, dan promosi yang tepat sasaran. Semakin baik
brand image produk yang dijual, maka semakin tinggi
keputusan pembelian oleh konsumen (Francisco, 2013).
Pengertian brand image menurut para ahli :

  • Menurut Tjiptono, 2015:49 yang dikutip oleh Venessa &
    Arifin, 2015 Citra merek adalah deskripsi asosiasi dan
    keyakinan konsumen terhadap merek tertentu
  • Menurut Kertajaya, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
    2011, mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksud
    dengan citra merek adalah gebyar dari seluruh asosiasi yang
    terkait pada suatu merek yang sudah ada di benak
    konsumen

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Digital Marketing


Menurut Strauss dan Frost, 2009 yang dikutip oleh Hendrawan
dkk, 2019, ada tujuh tahap yang perlu diperhatikan dalam
perancangan e-marketing yaitu :

  1. Situation Analysis (Analisis Situasi)
    Tahap pertama merupakan awal dari konsep bisnis
    dengan melakukkan analisis kekuatan, peluang, kelemahan
    serta ancaman bagi perusahaan. Dalam bagian ini, analisis
    situasi yang digunakan adalah analisis SWOT. Menurut
    Rangkuti (2004), analisis SWOT adalah indentifikasi
    berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi
    perusahaan. Analisis ini disarankan pada logika yang dapat
    memaksimalkan Kekuatan (Strengths), dan Peluang
    (Opportunities), namun secara strategi selalu berkaitan
    dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan
    perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategi
    (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategi
    perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman)
    dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut Analisis
    Situasi. Analisis SWOT membandingkan antara faktor
    internal Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weakness)
    dengan faktor eksternal Peluang (Opportunities) dan
    Ancaman (Threats) yang dihadapi di dunia bisnis.
  2. E-Marketing Strategic Planning (Strategi Perencanaan E-
    Marketing)
    Dalam tahap ini terdapat metodologi tujuh langkah
    sederhana yang membantu dalam mengevaluasi dan
    menganalisis peluang pasar (Market Opportunity
    Analysis/MOA), yaitu : Mengidentifikasi kebutuhan
    pelanggan yang belum terpenuhi mengidentifikasi
    pelanggan tertentu yang akan dituju oleh perusahaan.
    Menilai keuntungan yang berkaitan dengan kompetisi
    menilai sumber daya perusahaan untuk memberikan
    penawaran menilai kesiapan pasar akan teknologi.
    Menentukan peluang secara konkret. Menilai peluang daya
    tarik bagi pelanggan. Strategi perencanaan e-marketing
    meliputi segmentation, targeting, differentiation, dan
    positioning.
  3. Objectives (Tujuan)
    Tujuan dalam e-marketing mencakup aspek tugas,
    kuantitas, dan waktu. Tugas (apa yang akan dicapai).
    Kuantitas yang terukur (seberapa banyak). Time Frame
    (kapan). Sebagian besar e-marketing bertujuan untuk
    mencapai berbagai tujuan seperti berikut: Meningkatkan
    pangsa pasar. Meningkatkan jumlah komentar pada sebuah
    blog atau website. Meningkatkan pendapatan penjualan.
    Mengurangi biaya (misalnya biaya distribusi atau promosi).
    Mencapai tujuan merek (seperti meningkatkan kesadaran
    merek). Meningkatkan ukuran database. Mencapai tujuan
    Customer Relationship Management (CRM) (seperti
    meningkatkkan kepuasan pelanggan, frekuensi pembelian,
    atau tingkat referensi pelanggan). Memperbaiki manajemen
    rantai suplai (seperti dengan meningkatkan koordinasi
    anggota, menambahkan mitra atau mengoptimalkan tingkat
    persediaan).
  4. E-marketing strategy (Strategi e-marketing)
    Strategi e-marketing mencakup strategi mengenai 4P dan
    hubungan manajemen (relationship management) untuk
    mencapai tujuan rencana mengenai Product (Produk), Price
    (Harga), Place (Saluran Distribusi), dan Promotion
    (Promosi)
  5. Implementation Plan (Rencana Pelaksanaan)
    Pada tahap ini perusahaan memutuskan bagaimana untuk
    mencapai tujuan melalui strategi yang efektif dan kreatif.
    Pemasar memilih bauran pemasaran (4P), strategi
    manajemen dan strategi lain untuk mencapai tujuan rencana
    dan kemudian menyusun rencana pelaksanaan
    (Implementation Plan). Perusahaan juga memeriksa untuk
    memastikan organisasi pemasaran yang tepat di tempat
    pelaksanaan (staf, struktur departemen, penyedia layanan
    aplikasi, dan lain-lain di luar perusahaan). Internet telah
    mengubah tempat pertukaran dari marketplace (seperti,
    interaksi face-to-face) menjadi marketspace (seperti,
    interaksi screen-to-face). Perbedaan utama adalah bahwa
    sifat hubungan pertukaran sekarang ditengahi oleh interface
    teknologi. Dengan perpindahan dari hubungan antar muka
    people-mediated menjadi technology-mediated, terdapat
    sejumlah pertimbangan perancangan interface yang
    dihadapi. Menurut Rayport dan J.Jaworski (2003), ada
    berbagai elemen dalam mendesain sebuah situs web, yaitu
    context (konteks dari situs mencerminkan nilai keindahan
    dan kegunaan dari situs tersebut), content (konten
    merupakan semua objek digital yang terdapat dalam sebuah
    web baik dalam bentuk audio, video, image ataupun text),
    community (kommunitas merupakan ikatan hubungan yang
    terjadi antara sesame pengunjung atau pelanggan dari
    sebuah website karena adanya kesamaan minat atau hobi),
    customization (kustomisasi merupakan kemampuan situs
    untuk memodifikasi dirinya sesuai dengan keinginan
    penggunanya), communication (komunikasi antara
    perusahaan dengan pelanggan, terdiri dari Broadcast
    Dimension, Interactive Dimension, dan Hybrid Dimension),
    connection (kemampuan sebuah website untuk berpindah
    dari sebuah webpage ke webpage lainnya ataupun website
    lainnya dengan onclick baik pada text, images maupun
    toolbars yang lain), dan commerce (commerce merupakan
    fitur dari customer interface yang mendukung berbagai
    aspek dari transaksi perdagangan dan memiliki dimensi
    seperti registration, shopping cart, security, credit card
    approval, one click shopping, order through affiliates,
    configuration technology, order tracking, delivery option)
  6. Budget (Anggaran)
    Kunci dari perencanaan strategis adalah untuk
    mengidentifikasi hasil yang diharapkan dari suatu investasi.
    Selama pelaksanaan rencana, pemasar akan terus memantau
    pendapatan aktual dan biaya untuk melihat hasil yang telah
    dicapai. Internet merupakan salah satu tools yang dapat
    digunakan untuk memantau hasil karena catatan teknologi
    pengunjung setiap klik. Untuk mendapatkan informasi
    anggaran yang dapat dipertanggungjawabkan, perlu dibuat
    perhitungan tentang revenue forecast (perkiraan
    pendapatan), intangible benefits (manfaat tidak berwujud),
    cost savings (penghematan biaya), dan e-marketing costs
    (biaya e-marketing)
  7. Evaluation Plan (Rencana Evaluasi)
    Perencanaan e-marketing dilaksanakan, keberhasilannya
    tergantung pada evaluasi yang terus menerus. Jenis evaluasi
    ini tergantung pada tujuan rencana. Untuk menentukan hasil
    pemasarannya, perusahaan dapat menggunakan balanced
    scorecard untuk mengukur kesuksesan dari program
    internet marketing dan apakah program internet marketing
    tersebut cocok sesuai dengan objektif dari perusahaan

Manfaat Digital Marketing


Pada 2018 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah
mencapai 171,17 juta jiwa. Angka ini setara dengan 64,8% dari
total penduduk Indonesia 264,16 juta jiwa. Jika dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, terdapat pertambahan pengguna
internet di Indonesia mencapai 27,92 juta orang atau tumbuh
10,12% hal ini terbukti dari data hasil survei penetrasi dan
perilaku pengguna internet yang dirilis oleh APJII (Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada Mei 2019.
Sedangkan hasil survei untuk media sosial yang paling sering
dikunjungi oleh masyarakat Indonesia adalah 50,7%
menggunakan media sosial Facebook, 17,8% menggunakan
Instagram, 15,1% menggunakan Youtube, 1,7% menggunakan
Twitter, dan 0,4% menggunakan LinkedIn (Franedya, 2019)

Tahap Keputusan Berkunjung


Menurut Kotler dan Keller (2012) proses keputusan pembelian dan
keputusan berkunjung meliputi lima tahapan, yaitu :

  1. Problem Recognition (Pengenalan Masalah)
    Proses pembelian dimulai saat pembeli menyadari suatu masalah atau
    kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal atau pun internal. Pemasar
    perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu dengan
    mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen. Kemudian mereka dapat
    mengembangkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen.
  2. Information Search (Pencarian Informasi)
    Setelah mengenal kebutuhan yang dihadapinya, konsumen akan mencari
    informasi lebih lanjut atau tidak. Ketika konsumen mengumpulkan informasi,
    hanya bebrapa pilihan yang ,menjadi kuat. Jika kebutuhan itu sangat penting
    bagi konsuemen maka pencarian informasi akan lebih mendalam, salah satu
    cara konsumen yaitu mendapatkan informasi dari berbagai pihak. Informasi-
    informasi yang didapatkan konsumen dibagi menjadi empat kelompok sumber
    informasi diantaranya :
    a. Pribadi : keluarga, teman, tetangga
    b. Komersial : iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, tampilan.
    c. Publik : media masa, organisasi pemeringkat, konsumen.
    d. Pengalaman : penanganan, pemeriksaan, penggunaan produk.
    Jumlah dan pengaruh relatif dari sumber-sumber informasi tergantung pada
    jenis produk dan karakteristik pembeli.Secara umum konsumen menerima
    informasi tentang suatu produk dari sumber komersial, yaitu sumber yang
    didominasi pemasar. Namun sumber informasi yang paling efektif didominasi
    dari sumber pribadi.Setiap sumber informasi menjalankan fungsi yang berbeda
    dalam memengaruhi keputusan pembelian.Yang menjadi pusat perhatian
    pemasaran adalah sumber informasi pokok yang diperhatikan konsumen.
  3. Evaluation Alternative (Evaluasi Alternatif )
    Setelah melalui tahapan pencarian informasi, konsumen akan menghadapi
    sejumlah merek yang dapat dipilih, pemilihan alternatif ini melalui beberapa
    proses tertentu, yaitu :
    a. Konsumen akan mempertimbangkan berbagai sifat produk
    b. Pemasar harus mempertimbangkan kegunaan ciri-ciri suatu produk
    c. Konsumen biasnaya membangun seperangkat kepercayaan merek sesuai
    dengan ciri-cirinya
    d. Konsumen diasumsikan memiliki sejumlah fungsi kegunaan setiaap cirri
    yang menggambarkan bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan dari
    suatu produk yang bervariasi pada tingkat yang berbeda untuk masing-
    masing ciri
    e. Terbentuknya sikap konsumen terhadap beberapa merek melalui prosedur
    f. Penilaian konsumen ternyata menerapkan prosedur penilaian yang berbeda
    untuk membuat suatu pilihan diantara sekian banyak ciri-ciri objek
    g. Purchase Decision (Keputusan Pembelian)
    Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk prefensi antar merek dalam
    kumpulan pilihan. Konsumen membentuk suatu minat terhadap merek yang
    paling dsukai. Dalam melaksanakan pembelian, konsumen dapat membentuk
    lima sub keputusan : merek, penyalur, kuantitas waktu, dan metode pembayaran.
    Cara sikap orang lain mengurangi altenatif yang disukai akan bergantung pada
    dua hal yaitu intensitan negatif orang lain pada alternatif yang disukai
    konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Minat
    beli berada pada posisi setelah konsumen melakukan evaluasi alternatf sebelum
    melakukan keputusan pembelian. Pertimbangan alternatif konsumen untuk
    menyelesaikan masalah dalam memilih sebuah merek mana yang menjadi
    pilihan konsumen untuk mengatasi masalahnya terdapat beberapa macam
    alternatif pilihaan yang dibedakan berdasarkan beberapa klasifikasi yaitu: kelas
    produk, bentuk produk, merek atau model yang ingin konsumen beli. Adapun
    klasifikasi lainnya yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memutuskan
    pilihan membeli yaitu : meteode dalam pembayaran (kas, cek, atau kredit) yang
    dikunjunginya, dan waktu yang dikunjunginya harian atau bulanan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Berkunjung


Menurut Wahyuni et al., (2022) menyatakan bahwa ada lima faktor yang
menentukan seseorang untuk membeli jasa atau mengunjungi objek wisata, yaitu :

  1. Lokasi, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang lokasi yang
    benar-benar strategis dan tidak membutuhkan terlalu banyak waktu, tenaga dan
    biaya sehingga lokasi ini dapat mendukung yang lain.
  2. Fasilitas, fungsinya adalah memenuhi kebutuhan wisatawan selama tinggal
    untuk sementara waktu di destinasi wisata yang dikunjungi. Sehingga apabila
    suatu destinasi memiliki fasilitas yang lengkap maka akan mempengaruhi
    konsumen untuk berkunjung.
  3. Citra/image, menggambarkan kepada seseorang terhadap suatu destinasi yang
    mengandung kenyakinan, kesan dan persepsi. Citra yang terbentuk di pasar
    merupakan kombinasi antara berbagai faktor yang ada pada destinasi yang
    bersangkutan (seperti cuaca, pemandanan alam, keamanan, kesehatan dan
    sanitasi, keramah tamahan, dan lain-lain) dan informasi yang diterima oleh
    calon wisatawan dari berbagai sumber dipihak lain, atau fantasinya sendiri,
    walaupun tidak nyata, sangat penting di dalam mempengaruhi keputusan calon
    wisatawan.
  4. Harga/tarif, akan mempengaruhi seorang konsumen untuk mengambil
    keputusan dalam berkunjung ke suatu destinasi. Harga yang tinggi pada suatu
    daerah tujuan wisata akan memberikan imbas/timbal balik pada pengunjung
    begitu pula sebaliknya.
  5. Pelayanan, yang diberikan pada saat memilih sampai terjadinya transaksi
    pembelian sangatlah berpengaruh terhadap jadi tidaknya pembelian yang
    dilakukan oleh konsumen. Oleh karena itu, suatu destinasi akan memiliki
    banyak pengunjung apabila memberikan pelayanan yang terbaik bagi
    pengunjungnya.

Definisi Keputusan Berkunjung


Keputusan berkunjung adalah suatu tahap dimana konsumen telah
memiliki pilihan dan siap untuk melakukan pembelian atau pertukaran antara
uang dan janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu
barang atau jasa (Kotler, 2012). Sedangkan menurut Tina Rahmadayanti &
Kholid Murtadlo, (2020) keputusan berkunjung adalah suatu keputusan yang
diambil oleh seseorang yang akan melakukan perjalanan ke suatu tempat wisata
tertentu untuk berlibur. Keputusan pengunjung untuk memilih objek wisata yang
dipilih pada dasarnya merupakan salah satu bentuk pengambilan keputusan.
Kristiutami, (2015) menyatakan bahwa keputusan berkunjung wisatawan sama
dengan keputusan pembelian. Keputusan berkunjung merupakan sebuah proses
dimana seseorang pengunjung melakukan penilaian dan memilih satu alternatif
yang diperlukan berdasarkan pertimbangan tertentu. Proses pengambilan
keputusan sangatlah penting karena dalam melakukan perjalanan wisata seorang
pengunjung terlebih dahulu menyiapkan mental, jarak tempuh berapa lama, ke
tempat wisata mana dan lain-lain. Keputusan berkunjung merupakan tahapan atau
proses yang dipengaruhi oleh motivasi, preferensi, informasi, dan kondisi
lingkungan dimana seseorang memiliki pilihan dan melakukan penilaian dengan
berbagai pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam melakukan perjalanan
atau kunjungan ke suatu tempat tertentu

Aspek Digital Marketing


Aspek digital marketing yang harus diketahui dan dipersiapkan dalam
menjalankan sebuah usaha menurut Karni Fadhillah (2020) sebagai berikut :

  1. Menetukan Target Market
    Menentukan kriteria target market bisnis merupakan hal penting dilakukan
    sebelum terjun ke dunia bisnis. Dari menentukan spesifikasi target pasar
    nantinya akan memudahkan untuk menjalankan strategi pemasaran
    menggunakan iklan digital ataupun cara penyampaian konten melalui sosial
    media.
  2. Branding
    Branding merupakan sebuah cara yang dilakukan untuk membuat sebuah bisnis
    atau usaha dikenal oleh banyak orang. Hal ini bisa diwujudkan melalui
    penggunaan iklan (baik secara digital maupun konvensional), melalui word of
    mouth (ulut ke mulut), mengikuti sebuah event, menjadi sponsor sebuah acara,
    menciptakan logo yang ikonik, membuat nama brand yang mudah diingat, dan
    masih banyak lagi.
  3. Iklan
    Aspek pemasaran yang tak kalah penting adalah ads atau iklan. Iklan dalam
    promosi digital dapat dibuat spesifik mungkin dengan menargetkan kriteria
    konsumen tertentu. Melalui penargetan iklan yang spesifik iklan akan tayang
    pada orang-orang dengan kriteria yang diinginkan. Dengan demikian
    perusahaan dapat menghemat biaya dalam metode pemasaran yang digunakan.
    Hal ini tidak seperti pemasaran konvensional dimana jangkauan atau target
    market tidak bisa dibuat spesifik
    12
  4. Berkomunikasi dengan Konsumen
    Dalam menjalin hubungan dengan konsumen pastikan bahwa cara
    berkomunikasi yang digunakan sesuai dengan kriteria target market yang
    sebelumnya sudah ditentukan. Cara berkomunikasi yang tepat dan baik akan
    membangun hubungan di antara suatu brand dengan konsumennya. Hal ini
    berperan dalam meningkatkan kredibilitas serta kepuasan pelanggan terhadap
    pelayanan brand bisnis.
  5. Konsistensi
    Konsistensi merupakan kunci utama dalam memasarkan sebuah usaha atau
    bisnis. Untuk memaksimalkan peluang dalam bersaing dengan kompetitor lain,
    membuat sebuah konten media sosial atau iklan digital harus secara konsisten.
    Mempertahankan setiap kualitas konten hingga seluruh informasi yang akan
    diberikan tersampaikan pada konsumen. Informasi yang diberikan pun harus
    sesuai kebenarannya sebab, hal ini dapat mempengaruhi kredibilitas bisnis atau
    usaha di mata konsumen

Jenis-jenis Digital Marketing


Menurut Andy et al., (2020) terdapat beebrapa jenis digital marketing
sebagai berikut :

  1. Website
    Salah satu jenis dari digital marketing yaitu website. Saat ini banyak produk atau
    jasa yang sudah menggunakan website sebagai sarana promosi dam memasarkan
    produknya di era digital. Selain sebagai sarana promosi dan memasarkan produk,
    mealui website konsumen dapat mencari dan melihat review tentang produk atau
    jasa yang dicari.
  2. Sosial Media Marketing
    Sosial media marketing adalah pemasaran menggunakan situs media sosial untuk
    meningkatkan visibilitas di internet dan untuk mempromosikan produk dan jasa.
    Melalui media sosial bisa menjadi jembatan untuk bertukar ide, pengetahuan,
    informasi, bahkan komunikasi antar pengguna.
  3. Search Engine atau Mesin Pencarian
    Search Engine atau Mesin Pencarian adalah jenis website yang khusus untuk
    mengumpulkan daftar website yang bisa ditemukan di internet dalam data base
    yang kemudian menampilkan daftar indeks ini berdasarkan kata kunci atau
    keyword yang dicari oleh pengguna. Search Engine terbagi menjadi 2 yaitu SEO
    (Search Engine Optimization) dan SEM (Search Engine Marketing)
    a. SEM (Optimasi Mesin Pemasaran) : bekerja dengan cara meningkatkan
    visitabily dengan menggunakan periklanan dan optimasi dengan timbal balik
    berupa biaya. SEM memudahkan dalam mengupayakan website bisa muncul
    dihalaman pertama Google.
    b. SEO (Optimasi Mesin Pencari) : merupakan upaya menaikkan website
    dihalaman pertama Google dengan startegi atau peletakkan kata kunci artikel
    atau suatu konten

Kelebihan dan Kekurangan Digital Marketing


Dalam pengaplikasiannya digital marketing memiliki kelebihan dan
kekurangan. Menurut Andy et al., (2020) kelebihan dan kekurangan digital
marketing sebagai berikut :
a. Kelebihan menggunakan Digital Marketing

  1. Efisiensi biaya dan waktu : pemasaran digital memiliki biaya yang lebih rendah
    dibandingkan dengan pemasaran tradisional. Selain itu, pemasaran digital akan
    mendapatkan jangkauan pasar yang lebih luas dan lebih besar tanpa harus
    membuang banyak waktu untuk melakukan promosi.
  2. Interaktif : pengguna online dapat memilik kapan untuk memulai
    pemasarannya, dengan siapa, dimana saja, dan berapa lama nya tidak terbatas
    oleh waktu.
  3. Konten menarik : pemasaran digital menawarkan banyak konten menarik,
    praktis, dan tidak terbatas.
  4. Mudah diukur : teknologi digital memungkinkan pengukuran. Pemilik usaha
    dapat mengetahui seberapa jauh konten yang dibuat dan dapat berdampak pada
    penjualan.
  5. Audiens tak terbatas : kunjungan pada platform online yang dimiliki tidak
    terbatas, siapapun dapat melihat web, media sosial, atau akun lainnya.
    b. Kekurangan menggunakan Digital Marketing
  6. Koneksi internet : promosi online dapat terhambat salah satunya karena
    koneksi internet yang lambat, audiens akan sulit untuk mengakses konten yang
    telah di upload.
  7. Tantangan privasi dan keamanan : pengumpulan dan penggunaan data pribadi
    dapat menimbulkan masalah privasi dan keamanan yang perlu dikelola hati-
    hati.
  8. Kurangnya kepercayaan : kurangnya kepercayaan pengguna karena banyaknya
    iklan yang dimanipulasi sehingga mengarah pada penipuan

Manfaat Digital Marketing dan Dampak Digital Marketing


Menurut Andy et al., (2020) digital marketing memiliki beberapa manfaat
bagi perusahaan untuk meningkatkan pemasaran produk, jasa, atau tempat sebagai
berikut :

  1. Meningkatkan penjualan, jangkauan konsumen dan target pasar yang luas akan
    membuat produk, jasa, atau tempat semakin dikenal oleh banyak orang.
  2. Lebih dekat dengan konsumen, komunikasi melalui media digital akan
    membuat konsumen menjadi lebih dekat. Dengan memberikan pelayanan
    terbaik konsumen akan merasa nyaman dan menjadi pelanggan setia.
  3. Meningkatkan pendapatan, dengan berkembangnya jaringan konsumen yang
    dimiliki, maka pendapatan juga akan ikut bertambah. Pendapatan yang
    meningkat juga bisa mendorong pertambahan profit perusahaan.
    Digital Marketing memiliki dampak signifikan dalam membentuk persepsi dan
    mempengaruhi keputusan pengunjung untung berkunjung. Berikut beberapa
    dampak dari digital marketing, yaitu :
  4. Membangun Kesadaran Merek
    Dengan berbagai saluran digital seperti media sosial perusahaan dapat
    membangun kesadaran merek secara efektif. Kesadaran merek yang tinggi
    dapat membentuk persepsi positif terhadap usaha yang dijalankan dan
    meningkatkan kemungkinan bahwa orang tersebut akan mengunjungi situs web
    atau tempat usaha tersebut.
  5. Testimoni atau Review Online
    Ulasan atau review online akan memainkan peran penting dalam membentuk
    persepsi seseorang. Ulasan positif yang baik dan terdapat bukti yang akurat
    tentang kualitas dan kepuasan pelanggan yang dapat mempengaruhi keputusan
    pengunjung untuk mengunjungi.
  6. Interaksi melalui Media Sosial
    Interaksi melalui media sosial dapat membentuk persepsi pelanggan tentang
    keaslian, nilai merek, dan sebagainya. Respon positif dan interaksi langsung
    dapat menciptakan ikatan emosional dengan pelanggan yang akan mendorong
    mereka untuk mengunjungi situs web atau tempat usaha.
  7. Kampanye Iklan Berbayar
    Kampanye iklan berbayar dapat memberikan hasil cepat dan membentuk
    persepsi bahwa bisnis tersebut memiliki tawaran menarik. Iklan yang
    ditargetkan secara tepat dapat memotivasi pengunjung untuk mengklik iklan
    dan mengunjungi situs web.
  8. Personalisasi melalui Email Marketing
    Melalui email marketing yang personal dan disesuaikan, bisnis dapat
    membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan. Personalisasi pesan
    dapat membentuk persepsi bahwa bisnis peduli dan memahami kebutuhan
    individual pelanggan

Indikator Digital Marketing


Digital marketing memiliki beberapa indikator menurut Viedy E, Samadi L
(2022), yaitu :

  1. Accessibility (aksessibilitas), kemampuan pengguna untuk mengakses
    informasi dan layanan yang disediakan secara online dan periklanan.
  2. Interactivity (interaktivitas), tingkat komunikasi dua arah yang mengacu pada
    kemampuan timbal balik komunikasi antara pengiklan dan konsumen, dan
    menanggapi input yang akan diterima.
  3. Entertainment (hiburan), kemampuan beriklan untuk memberi kesenangan
    atau hiburan kepada konsumen.
  4. Credibility (kepercayaan), tingkat kepercayaan konsumen pada iklan yang
    muncul atau sejauh mana iklan memberikan informasi tentang mereka dapat
    dipercaya, tidak memihak, kompeten, kredibel, dan spesifik.
  5. Informativeness (informatif), kemampuan iklan untuk menyuplai informasi
    kepada konsumen, serta memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai
    sebuah produk sehingga bisa memberikan keuntungan ekonomis

Definisi Digital Marketing


Kini banyak perusahaan yang menggunakan teknologi modern untuk
mempromosikan usaha atau bisnis mereka. Hal ini juga dimanfaatkan oleh
industri pariwisata di Jawa Timur Park 3 yang menggunakan startegi digital
marketing untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Digital marketing
merupakan penggunaan berbagai platform atau media online seperti media sosial,
email dan berbagai platform online lainnya untuk mempromosikan, memasarkan,
dan mengkomunikasikan produk dan layanan. Tujuan utama dari digital
marketing adalah untuk meningkatkan keputusan berkunjung, meningkatkan
kesadaran merek, meningkatkan penjualan, dan menarik perhatian calon
pelanggan. Digital marketing memiliki definisi yang sangat luas dengan berbagai
konsep juga sistem penerapan yang berbeda-beda menurut Chaffey (2011) digital
marketing adalah pemasaran digital adalah suatu bentuk usaha perusahaan dalam
memasarkan produk dan jasanya ke dalam teknologi digital secara online guna
mendapatkan pasar secara global dan spesifik.
Strategi digital marketing akan terus berkembang seiring berkembangnya
teknologi dan seiring berjalannya waktu, perusahaan akan terus memperbarui
strateginya untuk tetap bertahan di pasar yang dinamis ini. Digital marketing
bukan hanya tentang periklanan, tetapi juga tentang berinteraksi dengan calon
pelanggan dan membangun hubungan jangka panjang. Digital marketing memiliki
peran penting dalam dunia bisnis modern dan memainkan peran inti dalam
menarik perhatian pengunjung ke platform online atau situs web.
Menurut Andy et al., (2020) ada beberapa alasan mengapa digital marketing
penting , yaitu :

Biaya yang lebih efisien, melalui digital marketing perusahaan dapat
menghemat anggaran dan memaksimalkan hasil keuangan perusahaan karena,
semua aktivitas pemasaran dilakukan secara online

Targeting yang lebih efisien, digital marketing dapat memudahkan untuk
mengetahui apa yang diinginkan pelanggan, apa yang disukai dan apa yang
tidak disukai

Mencapai audiens yang lebih luas, melalui digital marketing perusahaan
dapat terhubung dengan orang dari seluruh penjuru dunia sehingga, akan
memperluas pelanggan potensial

Indikator Produk Inovasi


1) Pembaharuan Jenis Produk (Varian Produk)
Suatu sarana untuk membedakan produk satu dengan yang lainnya atau
membedakan produk yang dimiliki dengan produk pesaing. Sebagai
contoh menu makanan restaurant yang menyajikan makanan yang
serupa tetapi masing-masing restaurant pasti memberi variasi makanan
yang berbeda di hidangannya.
2) Kualitas Produk
Keunggulan suatu produk terhadap fungsinya masing-masing yang
meliputi daya tahan, ketelitian, kekuatan, kehandalan serta rasa yang
dipertahankan.
3) Gaya dan Desain Produk
Gaya dan desain produk merupakan suatu penampilan dari sebuah
produk, sebagai contoh desain produk untuk melakukan promosi dengan
menggunakan fitur desain promosi guna menarik konsumen untuk
membelinya.

Tujuan Produk Inovasi


Tujuan dari produk inovasi yaitu untuk mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan agar tidak kalah saing dengan perusahaan
lain. Selain itu dengan terus berkembangnya teknologi yang mengharuskan
perusahaan terus mengembangkan inovasi terhadap produknya agar bisa
menyesuaikan kebutuhan dan selera konsumen serta siklus hidup produk
yang tidak bertahan lama yang membuat persaingan domestik dan luar
negeri semakin ketat. Produk yang ditawarkan pun harus unik dan beragam
dengan menunjukan kualitas keunggulan dari masing-masing produk yang
ditawarkan demi memenuhi kebutuhan serta selera konsumennya.
Menurut Tjiptono (2018:439), tujuan yang ingin dicapai dari
penciptaan produk baru diantaranya adalah:
1) Untuk memenuhi kebutuhan baru dan memperkuat reputasi
perusahaan sebagai innovator, yaitu dengan menawarkan produk
yang lebih baru dari pada yang telah ada (strategi ofensif).
2) Untuk mempertahankan daya saing terhadap yang ada, yaitu
dengan menawarkan produk yang dapat memberikan jenis
kepuasan yang baru. Bentuknya dapat berupa tambahan terhadap
lini produk yang sudah ada ataupun revisi terhadap produk yang
telah ada (strategidefensif).

Proses Pegembangan Produk Inovasi


Menurut Kotler (2017:10) proses pengembangan produk baru dapat
dibagi menjadi delapan proses, yaitu:
1) Proses Penciptaan Gagasan (Idea Generation)
Proses penciptaan gagasan bertujuan mendapatkan sebanyak
mungkin gagasan. Sumber gagasan tersebut dapat diperoleh dari
pelanggan, ilmua, pesaing, salesman perusahaan, distributor,
maupun pihak manajemen puncak. Pada tahap ini manajemen
puncak perlu menetapkan dan menegaskan kelompok produk apa
dan pasar mana yang akan diteliti. Maka harus jelas dulu
sebelumnya mengenai sasaran produk baru dan seberapa besar
upaya yang diperlukan untuk mengembangkan produk tersebut.
2) Proses Penyaringan Gagasan (Idea Screening)
Kesalahan penyaringan gagasan ini bertujuan pokok meneliti dan
membuang gagasan yang tidak baik sedini mungkin. Dua jenis
kesalahan yang harus dihindarkan dalam tahap ini adalah:
a) Kesalahan membuang (Drop error)
Jenis kesalahan ini terjadi bila perusahaan ternyata
membuang gagasan yang sebenarnya bagus.
b) Kesalahan jalan terus (Go error)
Jenis kesalahan ini terjadi bila perusahaan ternyata
meloloskan gagasan yang tidak bagus ke tahap
pengembangan dan akhirnya ke tahap komersial.
3) Proses Pengembangan dan Pengujian Konsep (Concept
Development and Testing)
Setelah melewati tahap penyaringan gagasan mengenai produk
tertentu yang bisa dijual ke pasar, lalu dikembangkan menjadi
beberapa konsep produk. Konsep produk yang telah ditemukan
masih perlu penempatan yang jelas sehingga pemisahan bisa
menyadari pada tingkat persaingan maka ia bersaing. Selanjutnya
pengujian atas konsep dilakukan pada sekelompok konsumen yaitu
konsumen diberikan uraian terperinci masing-masing konsep dan
diminta menjawab pertanyaan mengenai konsep tadi. Berdasarkan
jawaban responden tadi lalu diambil sebagai sampel sehingga
produsen dapat menilai konsep mana yang paling memikat dan
cukup kuat.
4) Proses pengembangan strategi pemasaran (Marketing Strategy
Development)
Pada tahap ini manajer produk, baru menyusun suatu konsep
permulaan strategi pemasaran untuk memperkenalkan produk di
pasar nanti. Strategi ini mencakup tiga bagian pokok, yaitu:
a) Rencana penempatan produk tersebut, hasil penjualan,
pangsa pasar serta sasaran keuntungan selama beberapa
tahun yang akan datang.
b) Perincian harga produk, saluran distribusi dan anggaran
pemasaran selama tahun pertama.
c) Sasaran jangka panjang dalam penjualan, keuntungan dan
strategi bauran pemasaran.
5) Proses Analisis Bisnis (Business Analysis)
Pada tahap ini manajer perusahaan harus memperkirakan jumlah
penjualan, jumlah penjualan perdana, jumlah penjualan pengganti,
jumlah penjualan ulang, serta biaya dan laba.
6) Proses Pengembangan Produk (Product Development)
Apabila dari segi bisnis sudah dinyatakan layak untuk diteruskan,
maka pada tahap ini konsep produk masuk ke tahap perekayasaan
untuk dikembangkan secara fisik di bagian produksi. Beberapa versi
fisik dari konsep produk akan di kembangkan oleh bagian R&D
dimana dalam proses itu diharapkan akan terbentuk prototype yang
memenuhi persyaratan.
7) Proses pengujian pasar (Market Testing)
Sasaran pokok dari pengujian pasar adalah pengkajian atas
tanggapan-tanggapan konsumen dan penyalur terhadap masalah-
masalah perlakuan, penggunaan dan pembelian produk senyatanya
senta pengkajian atas seberapa luas pasar sesungguhnya. Seberapa
luas pasar yang harus diadakan akan tergantung pada dua segi yaitu
biaya dan resiko penanaman modal disatu pihak adalah keterbatasan
waktu dan biaya penelitian.
8) Proses Komersialisasi (Commercialization)
Melalui tahap pengujian pasar, diharapkan dapat diperoleh
informasi yang cukup untuk keputusan berikutnya, yaitu produk
dipasarkan secara masal atau produk dibatalkan. Bila keputusan
yang diambil adalah meneruskan ke tahap komersialisasi, maka
perusahaan memerlukan penanaman modal dan biaya pemasaran
yang besar. Selain itu perusahaan juga harus memperhatikan faktor-
faktor seperti kapan waktu yang tepat untuk memasuki pasar,
dimana produk baru akan dipasarkan, pemasaran pasar yang
terencana dan prospek pasar sasaran

Pengertian Produk Inovasi


Pada era perdagangan bebas dan persaingan global ini, membuat
perusahaan harus siap dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin
ketat. Persaingan yang lebih ketat serta luas serta pandangan perilaku
konsumen yang semakin kritis dalam memilih serta menentukan suatu
produk yang membuat perusahaan harus lebih kreatif dan inovatif dalam
membuat dan menghasilkan suatu produk yang berkualitas serta lebih baik
dari produk pesaing. Inovasi dapat meningkatkan nilai tambah produk, serta
dengan adanya inovasi akan dapat menciptakan ide baru serta memunculkan
produk baru yang dapat memberikan manfaat serta solusi yang baik bagi
permasalahan yang dihadapi konsumen.
Menurut Myers &Marquis (dalam Kotler,2016:454, Produk inovasi
merupakan hasil dari berbagai macam proses yang digabungkan dan saling
mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Serta cara untuk
menciptakan produk baru yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Inovasi adalah suatu ide, praktik, atau objek yang
dipahami oleh setiap individu atau pengguna lainnya sebagai sesuatu yang
baru. Proses pengambilan keputusan untuk inovasi pada prinsipnya studi
dan sebuah aktivitas pemrosesan informasi dimana setiap individu dapat
termotivasi guna untuk mengurangi ketidakpastian mengenai keuntungan
dan kerugian dari inovasi (Sumarwan,2010).
Inovasi berujung pada menciptakan introduksi produk baru. Tipe
produk baru ini berkaitan dengan strategik apa yang ingin dicapai oleh
perusahaan tersebut. Dari produk lama yang telah mencapai titik jenuh
dipasaran, diperlukan sebuah inovasi untuk mengganti produk lama
tersebut. Penggantian ini dapat berupa produk pengganti yang secara total
baru atau dengan perkembangan produk lama yang lebih modern, sehingga
dapat terus meningkatkan keinginan pelanggan dalam keputusan pembelian
produk tersebut (Siswanto et al., 2018).
Menurut Stanton (2016:222) adalah: “A product is
asset of tangible and intangible attributes, including packaging, color, price
quality and brand plus the services and reputation of the seller”. Artinya
suatu produk adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak
nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk
ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya

Indikator Digital Marketing


Menurut Ryan and Jones (2009:32-33), indikator digital marketing
saling terhubung dengan bauran pemasaran (4p) terutama promosi, berikut
beberapa indikator digital marketing:
1) Website
Website adalah penghubung dengan dunia digital secara
keseluruhan dan mungkin bagian bagian yang paling penting dalam
keseluruhan strategi pemasaran digital, dimana kegiatan online akan
terarah langsung ke calon konsumen.
2) Optimal Mesin Pencari (SEO)
SEO merupakan proses pengaturan konten atau bagian penting dari
website yang dapat membantu konsumen agar lebih mudah juga
menyuguhkan konten agar dengan mudah ditemukan oleh mesin
pencari dan selain itu untuk melakukan pencaharian konten dengan
lebih spesifik.
3) Hubungan masyarakat online (Online PR)
Online PR merupakan saluran berbasis online untuk membentuk
presepsi yang positif terhadap merek yang bertujuan untuk
menempatkan perusahaan atau organisasi dalam bidang tertentu
untuk memiliki kewenangan yang besar.
4) Sosial Network
Jejaring Sosial merupakan kesempatan yang besar dalam
pemasaran, tetapi jejaring sosial belum dapat menawarkan adanya
metode periklanan atau dasar informasi yang didapat dari situs
jejaring sosial, kepada kelompok yang berskala kecil di masyarakat.
5) Manajemen hubungan pelanggan
Digunakan untuk tujuan menjaga konsumen yang sudah ada dan
membangun kerjasama yang saling menguntungkan dengan mereka

Hal-hal Yang Mempengaruhi Digital Marketing


Digital marketing digunakan untuk memperluas pemasaran dari cara
konvensional menjadi serba digital untuk dijangkau konsumen secara tepat
waktu dan fleksibel. Adapun hal-hal yang dapat mempengaruhi digital
marketing yaitu:
1) Search Engine Marketing
Search Engine Marketing merupakan metode pemasaran digital
yang menggunakan iklan berbayar untuk mendapatkan
jangkauan yang lebih luas ataupun traffic ke website agar
masyarakat luas dapat melihat serta mengaksesnya dengan
mudah sehingga para pelaku bisnis bisa mengembangkan
usahanya lebih besar lagi dengan menggunakan media digital
ini.
2) E-mail Marketing
E-mail marketing suatu bentuk digital marketing yang
memanfaatkan media email dalam proses promosi produk
maupun jasa, yang ditujukan kepada calon konsumen ataupun
konsuemn yang sebelumnya pernah membeli suatu produk/jasa
pada suatu perusahaan. Digital marketing melalu email
marketing ini bertujuan untuk membangun relasi serta koneksi
dengan konsumen agar selalu mengetahui update penawaran
terbaru yang dipromosikan oleh perusahaan.
3) Social Media Marketing
Menurut Gunelius (2011 dalam Ratana, 2018) social media
marketing merupakan bentuk pemasaran langsung maupun tidak
langsung untuk membangun kesadaran, pengenalan merek,
peningkatan kembali, dan penindakan terhadap merek, bisnis,
produk yang dikemas dengan alat-alat disitus jejaring sosial.
Media sosial membantu pelaku usaha dalam mencari konsumen
dan membangun hubungan yang lebih personal.

Pengertian Digital Marketing


Teknologi digital dan media sosial sudah menjadi trend tersendiri,
masyarakat luas dapat melihat semua unggahan semua jenis produk melalui
media sosial dan dapat sekali dimanfaatkan sebagai peluang bisnis memalui
digital marketing yang mana dapat diakses secra realtime dan tidak terbatas
wilayah, jadi semua orang bisa melihatnya inilah yang menjadi strategi para
pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya agar tetap bertahan bahkan
berkembang pesat. Menurut data dari Google, Temase, Bain & Company,
menunjukan besarnya peningkatan ekonomi digital pada tahun 2020
(Eka,2020). Adanya perubahan pola perilaku sosial dan belanja pada
masyarakat dengan masuknya digitalisasi membuat semua hal berubah
menjadi online (Eka,2020).
Definisi digital marketing menurut American marketing association
(AMA) adalah sebuah institusi, aktivitas, dan proses yang difasilitasi oleh
teknologi berbasis digital dalam menciptakan, mengomunikasikan, dan
menyampaikan nilai-nilai kepada konsumen dan pihak yang berkepentingan
lainnya (Kannan & Hongshuang,2016).
Menurut Chaffey dan Chadwick (2016:11) “Digital marketing is the
application of the internet and related digital technologies in conjunction
with traditional communications to achieves marketing objectives”. Artinya
yaitu merupakan aplikasi dari internet dan berhubungan dengan teknologi
digital marketing dimana didalamnya berhubungan dengan komunikasi
tradisional untuk mencapai tujuan pemasaran. Penggunaan internet dan
penggunaan teknologi interaktif lain untuk membuat dan menghubungkan
informasi antara perusahaan dan konsumen yang berupa website, serch
egine marketing, viral marketing, affiliate marketing, email marketing
(Malik,2017).
Dengan adanya internet dan media sosial yang digunakan
masyarakat dalam berinteraksi sosial maupun berbelanja maka digital
marketing pun menjadi ramai. Hal ini sama saja dengan word of mouth
namun bedanya ini dilakukan dengan versi digital yang mana bisa
menjangkau lebih jauh dalam menarik pelanggan. Hal ini pula yang menjadi
pilihan para masyarakat dalam melakukan keputusan apa yang akan diambil
dalam membeli sebuah produk yang dipilihnya. Dengan digital marketing
dapat pula membantu penjual dalam menciptakan produk yang mempunyai
kualitas, pelayanan, serta memberikan feedback yang lebih baik bagi
konsumen (Abdu,2018). Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan digital
marketing merupakan sarana dalam membantu proses penjualan agar lebih
bisa menjangkau konsumen dari berbagai wilayah untuk melakukan
pembelian secara digital

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Armstrong
(2021) dalam buku Wibowo dan Priansa (2017:300) menjelaskan bahwa
keputusan konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk terdiri dari
beberapa indikator yaitu:
1) Pilihan Produk
Konsumen mempunyai beberapa pilihan alternatif yang mana dapat
diambil keputusan untuk membeli produk tersebut dan
membayarnya atau memakai uangnya untuk keperluan yang lain.
2) Pilihan Merek
Pilihan merek yang begitu beragam membuat konsumen harus
menentukan keputusan apa yang akan diambil mengenai pilihan
merek tersebut yang nantinya akan dibeli.
3) Pilihan Penyalur
Penyalur yang menjual barang/jasa juga menjadikan sebuah pilihan
terhadap konsumen dalam mengambil keputusan dimana konsumen
akan membeli barang/jasa tersebut.
4) Waktu Pembelian
Konsumen dapat menentukan keputusan kapan waktu yang tepat
harus melakukan pembelian.
5) Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan mengenai seberapa banyak
jumlah produk yang akan dibelinya pada suatu saat, jumlah
pembelian mungkin saja lebih dari satu

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Adapun faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian menurut
Amalina Hudani (2020:100) :
1) Faktor Sosial
Faktor sosial dapat mempengaruhi keputusan pembelian produk
makanan yang dijual di restaurant teras dara and lounge dimana itu
tergantung dari pengaruh kelompok sosial bagi seseorang.
Konsumen akan datang dan mengkonsumsi makanan tersebut sesuai
dengan keinginannya serta statusnya dalam kelompok sosialnya.
Faktor sosial tersebut bisa saja dari keluarga, teman, organisasi,
maupun masyarakat lain yang memberikan pengaruh terhadap
perilaku pembelian.
2) Faktor Pribadi
Faktor pribadi ini meliputi pekerjaan, keadaan perekonomian, usia
dan siklus hidup pembeli, dan gaya hidup. Dari sinilah banyak sekali
karakteristik yang berpengaruh langsung terhadap perilaku
konsumen dalam proses pembelian, serta sebagai pemasar wajib
menjalin hubungan jangka panjang serta baik dengan pelanggan.
Agar pelanggan tertarik maka harus diimbangi dengan strategi
pemasaran yang tepat dengan memperhatikan fenomena-fenomena
perubahan yang berlaku pada konsumen guna mendapatkan dan
mempertahankan nilai perusahaan di mata pelanggan.
3) Faktor Budaya
Faktor budaya menjadi hal utama yang memberikan pengaruh secara
luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Kebudayaan
(culture) merupakan faktor yang paling mendasar dalam keinginan
dan perilaku manusia. Setiap budaya terdiri dari subkultur yang
lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih
spesifik bagi anggotanya. Subkultur meliputi kebangsaan, agama,
ras dan wilayah geografis. Peran lainnya adalah kelas sosial, kelas
sosial adalah pembagian atau kelompok yang relatif homogen dan
tetap dalam masyarakat yang terstruktur secara hierarkis dan yang
anggotanya memiliki nilai, minat, dan perilaku yang sama. (Thamrin
Abdullah, 2012).
Norma budaya didasarkan pada nilai, kepercayaan, dan sikap
anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempengaruhi
perilaku pembelian, misalnya, orang memperhatikan kesehatanya
maka akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan
berbahaya bagi kesehatan.

Tahap-tahap Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2012) dalam buku Wibowo
(2017:312) dan Priansa, terdapat tahap-tahap proses keputusan pembelian
yang terdiri dari :
1) Pengenalan Masalah
Keputusan pembelian diawali dengan adanya keinginan serta
kebutahan konsumen yang belum terpenuhi dan tersalurkan, dalam
hal ini konsumen pun menyadari terdapat perbadaan antara keadaan
yang diinginkan dengan yang sebenarnya diperlukan.
2) Pencarian Informasi
Setelah konsumen menyadari akan adanya kebutuhan terhadap suatu
produk tertentu maka konsumen akan mencari informasi tentang
produk tersebut baik melalui logika pengetahuan maupun informasi
yang didapatkan dari luar.
3) Evaluasi Alternatif
Setelah informasi diperoleh maka konsumen akan melakukan
evaluasi mengenai produk tersebut melalui berbagai alternatif
pilihan dalam memenuhi suatu kebutuhan yang diperlukakan.
4) Keputusan Pembelian
Apabila tidak ada faktor lain yang mempengaruhi hasil pemilihan
evaluasi maka pilihan yang telah ditentukan menjadi sebuah
keputusan yang diambil dan ditetapkan, maka pembelian yang
aktual adalah hasil akhir dari sebuah pencarian serta evaluasi yang
telah dilakukan.
5) Evaluasi Pasca Pembelian
Merupakan perilaku konsumen yang merasa puas atau tidak puas
dengan produk yang dibeli. Jika konsumen merasa puas maka akan
melakukan pembelian kembali akan tetapi jika konsumen merasa
tidak puas dengan produk yang dibeli mereka akan meniggalkan,
menolaknya, bahkan menggembalikan produk tersebut dikemudian
hari.
6) Waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia akan
melakukan pembelian dengan disertai ketersediaan uang yang
cukup.
7) Cara Pembayaran
Konsumen bebas melakukan pembayaran bisa melalui tunai/cash
ataupun debit atau bahkan melalui cicilan/kredit

Pengertian Keputusan Pembelian


Dalam proses pengambilan keputusan diawali karena adanya
kebutuhan yang harus dipenuhi, yang mana kebutuhan ini terkait dengan
beberapa pilihan alternatif sehingga perlu adanya evaluasi yang bertujuan
untuk memperoleh keputusan dalam memilih alternatif yang terbaik untuk
kebutuhan konsumen.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010) dalam jurnal Harjati dan
Lusia (2014) keputusan merupakan suatu hal yang dihadapkan pada dua
pilihan alternatif atau lebih. Contohnya yaitu jika seseorang dihadapkan
oleh suatu keinginan atau kebutuhan akan suatu produk maka orang tersebut
mempunyai dua pilihan antara membelinya atau tidak, maka orang tersebut
sedang dihadapkan dengan posisi dalam pengambilan keputusan.
Pada tahap evaluasi, konsumen membuat preferensi mengenai
berbagai pilihan merek suatu barang ataupun jasa, dimana diantara berbagai
merek tersebut terdapat pilihan yang nantinya membentuk suatu keputusan
merek produk barang/jasa apa yang dibeli dan disukai (Kotler dan Keller
Lane,2018).
Adapun menurut Suryani (2012:17) keputusan pembelian adalah
proses konsumen dalam memilih atau menentukan keputusan dalam
membeli produk atau jasa. Ketertarikan konsumen untuk membeli atau
mengambil tindakan terhadap suatu barang yang berhubungan dengan
keputusan yang akan diambil serta diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian.
Menurut Setiadi (2010:384), mengatakan: Perilaku membeli
mengandung makna yakni kegiatan- kegiatan individu secara langsung
terlibat dalam pertukaran uang dengan barang dan jasa serta dalam proses
pengambilan keputusan yang menentukan kegiatan tersebut. Menurut
Kotler dan Keller (2012:170), yang mengatakan bahwa: “Keputusan
pembelian adalah tahap awal dalam proses pengembalian keputusan
pembelian dimana konsumen benar-benar memilih suatu produk untuk
dibeli. Keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau
menghindari keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh resiko yang
dirasakan”.

Pengaruh Perspesi Harga terhadap Keputusan Pembelian


Menurut hasil penelitian Santri (2016) menyatakan bahwa Harga
berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Demikian pula menurut
hasil penelitian Errie Margery, Alfonsius, Wan Suryani (2019) menyatakan
bahwa Harga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Keputusan
Pembelian. Dengan adanya Harga yang sesuai maka konsumen akan
memutuskan membeli yang ditawarkan perusahaan.

Pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian


Menurut hasil penelitian Siska Farenzia, Raymond (2020), menyatakan
bahwa terdapat pengaruh positif dan tidak signifikan antara Citra Merek dengan
Keputusan Pembelian. Sedangkan, menurut hasil penelitian Nurul Huda (2020)
menyatakan bahwa Citra Merek secara simultan berpengaruh terhadap Keputusan
Pembelian. Hal ini berarti semakin baik citra merek dapat meningkatkan
Keputusan Pembelian.

Tipe Perilaku Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2018:174) terdapat 4 tipe perilaku Keputusan
Pembelian, yaitu :

  1. Complex Buying Behavior
    Ini merupakan perilaku pembelian konsumen dalam situasi dimana
    adanya keterlibatan konsumen yang sangat tinggi dalam pembelian dan
    melihat adanya perbedaaan yang signifikan dirasakan diantara merek-
    merek.
  2. Dissonance Reducing Buying Behavior
    Ini adalah perilaku pembelian konsumen dalam situasi dimana
    konsumen sangat terlibat dalam pembelian yang mahal, jarang atau
    berisiko , tetapi hanya melihat sedikit perbedaan antara merek-merek.
  3. Habitual Buying Behavior
    Perilaku pembelian dimana terjadi dibawah kondisi keterlibatan
    konsumen rendah dan sedikit perbedaan merek yg signifikan
  4. Variety Seeking Buying Behavior
    Merupakan perilaku konsumen yang ditandai dengan keterlibatan
    konsumen yang rendah tetapi merasakan perbedaan merek yang
    signifkan.

Peranan dalam Proses Keputusan Pembelian


Menurut Tjiptono (2019:152) ada berbagai macam peranan dalam proses
keputusan pembelian :
(1) Pemakai (users), yaitu mereka yang akan menggunakan barang atau
jasa yang dibeli.
(2) Influencers, ini adalah orang-orang yang mempengaruhi keputusan
pembelian. Mereka sering membantu dalam menentukan spesifikasi
produk dan juga menyediakan informasi untuk mengevaluasi
alternative-alternatif yang ada.
(3) Pembuat Keputusan (deciders), yakni orang-orang yang memutuskan
persyaratan produk dan / atau pemasok.
(4) Pemberi Persetujuan (approvers), merupakan orang-orang yang
mengesahkan tindakan yang diusulkan oleh pembuat keputusan atau
pembeli.
(5) Pembeli (buyers), yaitu mereka yang mempunyai wewenang resmi
untuk memilih pemasok dan menyusun syarat-syarat pembelian.
Pembeli dapat membantu menentukan spesifikasi produk, tetapi
mereka memainkan peranan yang utama dalam memilih pemasok dan
bernegosiasi.
(6) Gatekeeper, yaitu mereka yang mengendalikan aliran informasi kepada
pihak-pihak lain. Sebagai contoh yakni agen pembelian berwenang
untuk mencegah wiraniaga berhubungan langsung dengan pemakai
atau pembuat keputusan.

Pengertian Keputusan Pembelian


Kotler dan Armstrong (2018:177) mendefinisikan Keputusan Pembelian
adalah keputusan pembeli mengenai merek apa yang ingin dibeli.
Sedangkan, Kotler dan Keller (2016:198) berpendapat bahwa Keputusan
Pembelian adalah bentuk pemilihan dan minat untuk membeli merek yang paling
disukai diantara sejumlah merek yang berbeda

Strategi Penetapan Harga


Ada beberapa strategei penetapan harga menurut Kotler dan Armstrong
(2018:309), yaitu:
1.Customer Value Based Pricing
Strategi ini menggunakan persepsi nilai pelanggan yang dijadikan
kunci utama untuk menetapkan suatu harga produk atau jasa, ini artinya
dimana perusahaan lebih mementingkan persepsi pelanggan
dibandingkan biaya penjual.
2.Cost Based Pricing
Ini merupakan strategi penetapan harga yang berdasarkan biaya
produksi, biaya distribusi, biaya penjualan atau jasa, serta tingkat
pengembalian dari usaha dan resiko perusahaan.
3.Competition Based Pricing
Yaitu penetapan harga yang berdasarkan strategi pesaing, biaya,
harga, dan penawaran pasar

Dimensi Harga


Di adaptasi dari penelitian Amilia dan Asmara (2017), menjelaskan terdapat
empat indikator Harga yaitu sebagai berikut :
(1) Keterjangkaun Harga
Harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan dapat dijangkau oleh
konsumen, sehingga para konsumen dapat membeli produk yang di
produksi oleh perusahaan.
(2) Kesesuaian Harga dengan kualitas produk.
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen.
Orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi
orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
(3) Kesesuaian Harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang
dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk
mendapatkannya. Hal tersebut berlaku sebaliknya jika konsumen
merasakan manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka
konsumen tersebut akan beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan
konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang.
(4) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan
produk lainnya, dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat
dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebu

Pengertian Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2018:308), Harga adalah sejumlah uang yang
dibebankan untuk sebuah produk atau jasa, atau sejumlah nilai yang konsumen
tukarkan untuk memperoleh manfaat atau kepemilikan atau penggunaan atas sebuah
produk atau jasa.
Tjiptono (2019:290) berpendapat bahwa harga adalah satu-satunya unsur
bauran pemasaran yang mendatangkan pemasukan atau pendapatan bagi
perusahaan

Pendukung Citra Merek


Menurut Nurul Huda (2020), terdapat 3 variabel pendukung Citra Merek,
antara lain yaitu:

  1. Citra Pembuat (Corporate Image)
    Citra pembuat adalah sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
    konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa
    dimana indikatornya meliputi nama besar perusahaan itu sendiri.
  2. Citra Pemakai (User Image)
    Citra Pemakai merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
    konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau
    jasa, yang dimana indikatornya adalah gaya, gaul, percaya diri dan
    mewah.
  3. Citra Produk (Product Image)
    Citra Produk yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
    konsumen terhadap suatu produk

Pengertian Citra Merek


Menurut Kotler dan Keller (2016:32) Citra Merek adalah penawaran dari
sumber yang diketahui dalam benak masyarakat dan membentuk citranya sendiri.
Citra Merek adalah Sekumpulan keyakinan, ide, kesan, dan persepsi dari
seorang, suatu komunitas, atau masyarakat tentang suatu brand. (Huda, 2020).
Berdasarkan deskripsi di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa, Citra
Merek adalah penawaran dari sumber yang diketahui yang dimana berisi
sekumpulan ide, kesan, dan persepsi konsumen terhadap suatu merek.
b. Dimensi Citra Merek
Menurut Wijaya (2013) dimensi-dimensi utama membentuk citra sebuah
merek tertuang dalam berikut ini:
(1) Brand Identity (Identitas Merek)
Brand Identity merupakan identitas fisik yang berkaitan dengan
merek atau produk tersebut sehingga konsumen mudah mengenali dan
membedakannya dengan merek atau produk lain, seperti logo, warna,
kemasan, lokasi, identitas perusahaan yang memayungi, slogan, dan
lain-lain.
(2) Brand Personality (Personalitas Merek).
Brand Personality adalah karakter khas sebuah merek yang
membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya manusia,
sehingga khalayak konsumen dengan mudah membedakannya dengan
merek lain dalam kategori yang sama, misalnya karakter tegas, kaku,
berwibawa, nigrat, atau murah senyum, hangat, penyayang, berjiwa
sosial, atau dinamis, kreatif, independen, dan sebagainya.
(3) Brand Association (Asosiasi Merek).
Brand Association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau selalu
dikaitkan dengan suatu merek, bisa muncul dari penawaran unik suatu
produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam hal
sponsorship atau kegiatan social resposibility, isu-isu yang sangat kuat
berkaitan dengan merek tersebut, ataupun orang, simbol-simbol dan
makna tertentu yang sangat kuat melekat pada suatu merek.
(4) Brand Attitude and Behavior (Sikap dan Perilaku Merek).
Brand Attitude and Behavior adalah sikap atau perilaku
komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam menawarkan
benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya. Attitude and behavior
mencakup sikap dan perilaku konsumen, aktivitas dan atribut yang
melekat pada merek saat berhubungan dengan khalayak konsumen,
termasuk perilaku karyawan dan pemilik merek.
(5) Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek).
Brand Benefit and Competence merupakan nilai-nilai dan
keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada konsumen
yang membuat pelanggan dapat merasakan manfaat karena kebutuhan,
keinginan, mimpi, dan obsesinya terwujudkan oleh apa yang
ditawarkan tersebut

Strategi Nama Merek


Kotler dan Armstrong (2018:267), terdapat enam strategi nama merek, yaitu:
(1) Harus menunjukkan sesuatu mengenai manfaat dan kualitas produk.
(2) Harus mudah diucapkan, dikenali, dan diinget.
(3) Nama dari sebuah merek harus berbeda.
(4) Harus bisa untuk diperpanjang.
(5) Harus mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
(6) Harus mampu melakukan registrasi dan perlindungan hukum.

anfaat Merek

M
Manfaat merek Menurut Tjiptono (2019:190) yaitu:
(1) Bagi Perusahaan merek berperan penting sebagai sarana identifikasi produk
dan perusahaan, sebagai bentuk proteksi hukum, signal jaminan kualitas,
menciptakan asosiasi dan makna unik (diferensiasi), sarana keunggulan
kompetitif, dan sumber financial returns.
(2) Bagi Konsumen merek berperan sebagai identifikasi sumber produk,
penetapan tanggung jawab pada produsen atau distributor spesifik,
pengurang resiko, penekan biaya pencarian internal dan eksternal, janji atau
ikatan khusus dengan produsen, alat simbolis yang memproyeksikan citra
diri, dan signal kualitas

Pengertian Merek


Menurut Kotler dan Armstrong (2018:250) merek adalah nama, istilah, tanda,
simbol, atau gambaran, atau kombinasi dari semuanya, yang mengidentifikasi
produk atau layanan dari satu penjual atau kelompok penjual yang membedakan
mereka dari para pesaing.
Pengertian merek yang dikutip dari Tjiptono (2019:215) merek merupakan
aset intangible yang sangat berharga bagi setiap perusahaan. Merek terdiri atas
berbagai elemen, seperti nama merek, simbol, slogan, desain, grafis, nilai simbolis,
ikatan khusus, kepribadian, citra diri, dan seterusnya

Hubungan Variabel Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Amstrong (2008) dalam penelitian (Rusniawan &
Santoso, 2021) dalam (Rusniawan & Santoso, 2021)mendefinisikan bahwa kualitas
produk merupakan Kumpulan karakteristik produk dan layanan yang dapat
memenuhi persyaratan keberlanjutan, keandalan, akurasi, kemudahan pemeliharaan
dan produk lainya. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Andreas
Natanael Rusniawan dan Thumas Santoso (2021) yang menyatakan bahwa kualitas
produk berpengaruh positif dan signifikan. Kemudian pada penelitian yang
dilakukan Niditya Putri Hayuningtyas (2023) menyatakan bahwa kualitas produk
berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian, dan pada penelitian
Safarudhin Baihaky, Ahmad Nizar Yogatama, dan Rita Indah Mustikowati (2022)
menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh positif terhadap keputusan
pembelian.

Hubungan variabel persepsi harga terhadap keputusan pembelian.


Menurut Peter dan Olson (2010)dalam penelitian yang dilakukan oleh (Nanda
& Keni, 2022) Mendefisisikan persepsi harga sebagai pemahaman konsumen
mengenai informasi harga dan seberapa harga tersebut memiliki nilai yang sesuai
dengan manfaat serta fungsi sebuah produk. Peryataan terdebut di dukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Isni Arifatul laili, (2020) bahwa persepsi harga
memiliki hubungan kuat terhadap keputusan pembelian

Promosi.


Promosi adalah serangkaian tindakan atau strategi yang digunakan oleh
perusahaan atau individu untuk meningkatkan pengetahuan, minat, dan permintaan
terhadap produk atau layanan mereka. Dengan demikian, promosi adalah salah satu
elemen penting dalam upaya pemasaran untuk mencapai tujuan penjualan dan
keberhasilan bisnis. Menurut Kotler dan keller (2016) dalam penelitian yang
dilakukan (Wibowo & Rahayu, 2021) menyatakan bahwa promosi merupakan
aktivitas membujuk pelanggan sasaran pembelian dengan mengkomunikasikan
keunggulan produk yang di tawarkan sehingga menarik konsumen untuk melakukan
keputusan pembelian.
Menurut Tjiptono (2001) dalam (Radji & Kasim, 2020) menyatakan bahwa
pada hakikatnya promosi adalah komunikasi pemasaran. Komunikasi pemasaran
adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi,
membujuk dan mengingatkan pasar sasaran atas Perusahaan dan produknya agar
bersedia, menerima, dan loyal pada produk yang ditawarkan Perusahaan. Dalam
bauran pemasaran promosi merupakan merupakan variabel penting untuk
dilaksanakan suatu Perusahaan dalam promosi produk dan jasanya.
Indikator variabel promosi menurut Lupiyoadi dan Hamdani (2006) pada penelitian
(Kurniawan et al., 2023) menyebutkan indikator variabel promosi sebagai Berikut:

  1. Periklanan.
  2. Penjualan Personal.
  3. Promosi Penjualan.
  4. Publisitas dan Humas.
  5. Informasi dari mulut ke mulut.
  6. Pemasaran Langsung

Kualitas Produk.


Kualitas produk adalah ukuran keseluruhan dari keunggulan dan
karakteristik suatu produk yang memengaruhi sejauh mana produk tersebut
memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan. Kualitas produk juga dapat diartikan
sebagai Kumpulan karakteristik dari barang dan jasa yang mempunyai kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan yang merupakan suatu pengertian dari gabungan daya
tahan, kehandalan, ketepatan, kemudahan pemeliharaan serta atribut lainnya dari
suatu produk. Menurut Kotler dan Amstrong (2008) dalam penelitian (Rusniawan
& Santoso, 2021) mendefinisikan bahwa kualitas produk merupakan Kumpulan
karakteristik produk dan layanan yang dapat memenuhi persyaratan keberlanjutan,
keandalan, akurasi, kemudahan pemeliharaan dan produk lainya. Sedangkan
menurut Kotler dan Amstrong (2013) dalam penelitian yang dilakukan oleh (Amalia
& Maskur, 2023) Menyatakan arti dari kualitas produk adalah kemampuan sebuah
produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas,
reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut
produk lainnya. Kualitas produk adalah kemampuan suatu perusahaan untuk
memberikan identitas atau ciri pada setiap produknya sehingga konsumen dapat
mengenali suatu produk tersebut.
Menurut Fandy Tjiptono dan Gregorius Chandra (2012), untuk mengukur kualitas
produk terdapat indikator yang dapat dilihat yaitu sebagai Berikut:

  1. Warna.
  2. Penampilan.
  3. Porsi.
  4. Bentuk.
  5. Tekstur.
  6. Aroma

Persepsi Harga.


Persepsi harga merupakan cara konsumen melihat, menilai, dan memahami
harga suatu produk atau layanan. Ini adalah pandangan atau penilaian subjektif
konsumen tentang apakah harga suatu produk atau layanan sesuai dengan nilai yang
mereka harapkan atau apakah harga tersebut terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Menurut Cockril dan Goode (2010:368) dalam (Amalia & Maskur, 2023) yang
menyatakan bahwa persepsi harga merupakan faktor psikologis dari berbagai segi
yang mempunyai pengaruh penting dalam reaksi konsumen kepada harga. informasi
harga dipaham oleh konsumen dan dibuat bermakna oleh mereka. Berhubungan
dengan informasi harga, konsumen bisa membandingkan antara harga yang
dinyatakan dengan sebuah harga atau kisaran harga yang mereka bayangkan atas
produk tersebut.
Sedangkan menurut Peter dan Olson (2010) dalam penelitian yang
dilakukan oleh (Nanda & Keni, 2022) Mendefinisikan persepsi harga sebagai
pemahaman konsumen mengenai informasi harga dan seberapa harga tersebut
memiliki nilai yang sesuai dengan manfaat serta fungsi sebuah produk. Persepsi
harga memberikan informas mengenai harga serta pandangan konsumen mengenai
harga baik dari tingkat harganya, keterjangkauan harga tersebut dan kesesuaian
harga tersebut terhadap manfaat yang di berikan sebuah produk atau jasa sehingga
harga tersebut menjadi pertimbangan bagi konsumen dalam melakukan pembelian
sebuah produk barang atau jasa.
Indikator persepsi harga menurut Suparyanto dan Rosad (2015) dalam penelitian
(Suryajaya & Sienatra, 2021) sebagai Berikut:

  1. Keterjangkauan harga produk.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitasmya.
  3. Daya saing harga.
  4. Keseuaian harga dengan manfaatnya

Keputusan Pembelian.


Keputusan pembelian merujuk kepada proses di mana seorang individu atau
organisasi memilih untuk membeli produk atau jasa dari berbagai pilihan yang
tersedia. Ini melibatkan serangkaian langkah dan pertimbangan yang dilakukan
sebelum akhirnya membuat keputusan untuk melakukan pembelian.
Menurut (Kurniawan et al., 2023) mengatakan keputusan pembelian adalah
sebuah tahapan pengambilan keputusan untuk menentukan apakan akan melakukan
pembelian atau tidak terhadap bayang yang di butuhkan atau diinginkan. Keputusan
pembelian merupakan sebuah proses evaluasi terhadap dua atau lebih objek untuk
kemudian dilakukan pembelian terhadap salah satunya. Sehingga Keputusan
pembelian adalah tahap kritis dalam proses pengambilan keputusan konsumen di
mana individu memilih apakah akan membeli suatu produk atau layanan setelah
mempertimbangkan berbagai faktor dan opsi yang tersedia.
Menurut Fandy Tjiptono.(2012) dalam (Cesariana et al., 2022) mengatakan
bahwa keputusan pembelian merupakan suatu proses dimana konsumen memahami
permasalahan mencari informasi ataupun merk tertentu dari suatu produk kemudian
mengevaluasi seberapa baik tiap alternatif tersebut dapat menyelesaikan
masalahnya yang setelah itu menuju kepada keputusan pembelian. Secara singkat
Keputusan pembelian adalah proses di mana konsumen mengidentifikasi masalah,
mencari informasi, mengevaluasi berbagai alternatif, dan akhirnya memutuskan
untuk membeli produk atau layanan yang dianggap paling sesuai untuk
memecahkan masalah tersebut.
Sedangkan menurut Kotler & Amstrong (2014), dalam penelitian (Darmansah
& Yosepha, 2020) keputusan pembelian adalah tahapan dalam proses pengambilan
keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli. Sebelum benar-benar
membeli konsumen akan melewati beberapa tahapan proses pembelian.
Pengambilan keputusan merupakan kegiatan individu yang terlibat langsung dalam
proses pembelian barang yang ditawarkan oleh Perusahaan.
Keputusan pembelian menurut Kotler & Amstrong (2018) dalam (Mayasari,
2023) ada dua faktor yang dapat mempengaruhi keputusan untuk melakukan
pembelian. Sikap orang lain terhadap merek yang dicari sangat berpengaruh, serta
situasi yang tidak terduga dapat berperan dalam keputusan akhir. Pilihan merek
dapat dilakukan oleh individu Ketika mereka memutuskan melakukan pembelian.
Keputusan seseorang bisa berpengaruh oleh fakto-faktor seperti sikap dan situasi
yang tak terduga.
Dalam Keputusan Pembelian terdapat 3 (tiga) faktor yang mempengarui
timbulnya keputusan pembelian, yaitu:
a) Sikap orang lain, keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh keluarga,
tetangga, teman maupun orang kepercayaan.
b) Situasi tak terduga, keputusan pembelian juga dapa di pengaruhi oleh
persepsi harga, pendapatan dan manfaat yang diharapkan setelah
melakukan pembelian suatu produk.
c) Faktor yang dapat diduga, merupakan faktor situasional yaitu dimana
situasi konsumen yang bersifat sementara dalam aktivitas berbelanja
yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu

Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Keputusan Pembelian


Menurut Fandy Tjiptono (2017:180) mendefinisikan kualitas
pelayanan atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat
layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspetasi pelanggan.
Persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan yang tersedia baik atau
tidaknya tergantung keinginan dan kesesuaian kualitas pelayanan yang
diperolehnya. Perusahaan menganggap konsumen sebagai raja yang harus
dilayani dengan baik, mengingat bahwa konsumen akan mendatangkan
keuntungan bagi perusahaan agar tetap bertahan. Kualitas pelayanan yang
baik merupakan pelayanan yang dapat memenuhi harapan pelanggan
sehingga menciptakan kepuasan konsumen terutama dalam hal bukti
langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati. Semakin bagus
layanan yang diberikan kepada konsumen dapat menjadi tolak ukur
terhadap keputusan pembelian. Hasil penelitian yang dilakukan oleh RA
Nur Amalina (2015) menunjukan bahwa kualitas pelayanan terdapat
pengaruh positif yang siginifikan terhadap keputusan pembelian. Selain
itu, sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Sofyan
(2021) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian.

Hubungan Store Atmosphere dengan Keputusan Pembelian


Menurut Utami (2017:322) mendefinisikan store atmosphere
sebagai karakteristik fisik toko seperti pencahayaan, warna, temperatur,
musik dan aroma sehingga menciptakan kenyamanan pada konsumen.
Dengan suasana toko yang sengaja dibuat oleh pebisnis berusaha untuk
mengkomunikasikan informasi yang terkait layanan, harga dan
ketersediaan barang dagangan (Utami, 2017:322). Store atmosphere yang
unik dan nyaman mampu menarik perhatian konsumen untuk berkunjung
pada sebuah toko atau tempat makan. Store atmosphere tidak hanya dapat
menciptakan suasana lingkungan yang menyenangkan saja, tetapi juga
dapat memberikan nilai tambah terhadap produk yang dijual serta
mendapatkan first impression konsumen yang akan memberikan dampak
positif sehingga terjadinya komunikasi lanjutan pada konsumen untuk
menjadi rekomendasi dalam pemilihan konsumen pada keputusan
pembelian. Membuat konsumen merasa nyaman saat berada dalam toko
atau tempat makan sangat memicu dan memikat konsumen untuk
melakukan keputusan pembelian.

Hubungan Keragaman Produk dengan Keputusan Pembelian


Keragaman produk adalah macam-macam produk dalam artian
kelengkapan produk dan menu yang dapat dilihat dari segi rasa, ukuran,
kualitas serta ketersediaan produk pada setiap toko (Aerianto, 2017). Jika
toko menyediakan produk yang beranekaragam maka akan memudahkan
pebisnis dalam menarik konsumen untuk berkunjung pada sebuah toko.
Semakin banyak pillihan produk yang ditawarkan, maka memudahkan
konsumen untuk memilih berbagai alternatif pilihan produk yang sesuai
dengan keinginannya sehingga konsumen memiliki kesempatan untuk
membandingkan, membedakan dan memilih diantara beberapa alternatif
sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli suatu produk. Agustina
(2017) menyatakan semakin beragam produknya, konsumen akan semakin
puas dalam memilih produk. Keberagaman produk yang tersedia akan
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen

Hubungan Brand Image dengan Keputusan Pembelian


Menurut Sotjan (2015:204) mendefinisikan merek adalah nama, istilah,
tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur tersebut yang
bermaksud untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang
penjual atau kelompok penjual sehingga konsumen mengenal merek yang
berbeda dari produk pesaingnya. Dengan kata lain, konsumen memandang
brand image menjadi bagian terpenting dari suatu produk karena brand
image mencerminkan tentang suatu produk yang jual. Apabila konsumen
tidak memiliki pengalaman pada suatu produk, maka cenderung untuk
mempercayai merek yang paling disukai atau yang sudah terkenal. Pada
dasarnya konsumen akan menentukan pilihannya untuk membeli produk
yang mempunyai citra yang baik. Semakin baik sebuah brand image suatu
produk, maka berdampak besar terhadap keputusan pembelian. Citra
merek yang positif menunjukan adanya kepercayaan dan kesetiaan
konsumen pada merek produk tersebut. Sebaliknya jika citra merek suatu
produk dinilai negatif, konsumen justru akan mempertimbangkan banyak
hal ketika akan membeli.

Indikator Kualitas Pelayanan


Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani
dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) adalah sebagai berikut :
a. Reliability (kehandalan)
Kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat diandalkan
dan akurat.
b. Responsiveness (daya tanggap)
Kesediaan untuk membantu pelanggan dan memberikan
layanan yang cepat.
c. Assurances (jaminan)
Pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga konsumen yakin dan
percaya.
d. Empati
Perhatian individual terhadap pelanggan
e. Tangibles (bukti fisik)
Penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Fandy Tjiptono (2017:180) mendefinisikan
kualitas pelayanan atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa
bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan
ekspetasi pelanggan. Kualitas pelayanan adalah seberapa baik
suatu organisasi atau perusahaan mampu merespon kebutuhan
pelanggan. Kualitas pelayanan dapat diukur dengan waktu respon
kecepatan pelayanan, jaminan pelayanan dan tingkat kepuasan
pelanggan. Menurut Parasuraman dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa kualitas
pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan
persepsi pelanggan dengan kualitas pelayanan pelanggan yang
diharapkan. Kualitas pelayanan dapat diketahui dengan cara
membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang
mereka terima dengan pelayanan sesungguhnya yang mereka
harapkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan.
Jika jasa yang diterima sesuai dengan apa yang diharapkan maka
kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa
yang diterima melebihi harapan konsumen, maka kualitas
pelayanan dipersepsikan sangat baik dan berkualitas. Sebaliknya
jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan,
maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk dan berakibat pada
citra toko. Menurut Arianto (2018:83) kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai berfokus pada memenuhi kebutuhan dan
persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi harapan
pelanggan. Kualitas pelayanan merupakan titik sentral bagi
perusahaan karena mempengaruhi kepuasan konsumen dan
kepuasan konsumen akan muncul apabila kualitas Kualitas
Pelayanan yang diberikan dengan baik. Berdasarkan pendapat
para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kualitas
pelayanan adalah persepsi konsumen tentang seberapa baik
pelayanan yang diterima terutama dalam memenuhi kebutuhan
konsumen

Indikator Store Atmosphere


Indikatore store atmsophere menurut Berman dan Evan
(2014:545) sebagai berikut :
a. Store Exterior (bagian depan toko)
Bagian depan toko mencerminkan kemantapan dan kekokohan
spirit perusahaan dan sifat kegiatan yang ada di dalamnya serta
dapat menciptakan kepercayaan goodwill bagi konsumen store
exterior berfungsi sebagai identifikasi atau tanda pengenal
sehingga dinyatakan sebagai lambang. Elemen-elemen store
exterior terdiri dari :
1) Bagian depan toko meliputi pintu masuk dan konstruksi
gedung. Store front harus menciptakan keunikan,
kemantapan, kekokohan atau hal lain yang berkaitan dengan
citra toko.
2) Papan nama (Marque) adalah suatu tanda yang digunakan
untuk memajang nama atau logo suatu toko. Marque dapat
dibuat dengan teknik pewarnaan, penulisan huruf atau
penggunaan lampu neon dan dapat terdiri dari nama atau
logo saja atau dapat dikombinasikan dengan slogan dan
informasi lainnya supaya lebih efektif, marquee harus
diletakan diluar terlihat berbeda dan lebih menarik.
3) Pintu masuk harus direncanakan sebaik mungkin, sehingga
dapat mengundang konsumen untuk masuk melihat ke
dalam toko

Pengertian Store Atmosphere


Store atmosphere atau suasana toko merupakan suasana
terencana yang sesuai dengan sasaran pasar sehingga
memungkinkan dapat menarik minat konsumen untuk
berkunjung. Menurut Utami (2017:322) mendefinisikan store
atmosphere sebagai karakteristik fisik toko seperti pencahayaan,
warna, temperatur, musik dan aroma sehingga menciptakan
kenyamanan pada konsumen. Suasana toko atau store atmosphere
adalah perasaan atau kejiwaan pada seseorang pada saat
memasuki toko (Alma, 2018:60). Store atmosphere dapat
digambarkan sebagai perubahan terhadap perencanaan lingkungan
pembelian yang menghasilkan efek emosional khusus yang dapat
menyebabkan konsumen melakukan tindakan pembelian.
M.Ma’ruf Amin (2014:204) store atmosphere adalah suasana
dalam toko yang menciptakan perasaan tertentu dalam diri
pelanggan yang ditimbulkan dari penggunaan unsur-unsur desain
interior seperti pencahayaan, tata suara, sistem pengaturan udara
dan pelayanan Bagi sebuah toko penting untuk menonjolkan
tampilan fisik, store atmosphere berguna untuk membangun citra
dan menarik minat pembeli. Store atmosphere meliputi berbagai
tampilan seperti interior, exsterior, tata letak, lalu lintas internal
toko, kenyamanan, udara, seragam, fasilitas, keunikan desain,
panjang barang dan sebagainya yang menimbulkan daya tarik
konsumen sehingga konsumen nyaman dan membangkitkan
keinginan untuk membeli (Berman dan Evan yang dialih
bahasakan Lina Salim 2014:528). Berdasarkan pendapat para ahli
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa store atmosphere adalah
suasana yang dapat dirasakan konsumen ketika berada di dalam
toko.

Indikator Keragaman Produk


Menurut Philip Kotler (2012:347) adalah tersedianya jenis semua
produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau dikonsumsi
oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen jenis atau
variasi menu yang ditawarkan.
Adapun indikatornya adalah :

  1. Produk yang tersedia mempunyai berbagai varian
  2. Terdapat menu yang beragam
  3. Kualitas produk yang dijual memenuhi selera konsumen.

Dimensi Keragaman Produk


Menurut Kotler dan Keller (2011) terdapat empat dimensi
keragaman produk sebagai berikut :
a. Lebar
Semakin banyak bauran produk yang disajikan mengacu pada
banyaknya lini produk yang berbeda di setiap perusahaan.
b. Kedalaman
Suatu bauran mengacu pada jumlah seluruh barang dalam
bauran tersebut.
c. Keluasan
Suatu bauran produk mengacu pada berapa banyak jenis yang
ditawarkan masing-masing produk dalam lini tersebut.
d. Konsistensi
Bauran produk mengacu pada seberapa erat hubungan berbagai
lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi atau yang lainnya

Pengertian Keragaman Produk


Keragaman produk adalah kumpulan semua produk dan
barang yang ditawarkan oleh penjual. Keragaman produk adalah
macam-macam produk dalam artian kelengkapan produk dan
menu yang dapat dilihat dari segi rasa, kualitas serta ketersediaan
produk pada setiap toko tersebut (Aerianto, 2017). Menurut
Kotler (2012:347) kelengkapan produk adalah tersedianya semua
jenis produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau
dikonsumsi oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen.
Keragaman produk diartikan sebagai suatu usaha
penganekaragaman produk yang dihasilkan oleh perusahaan
untuk digunakan konsumen dalam memuaskan kebutuhannya.
Keragaman produk dan cara penyajian yang berbeda juga dapat
menarik konsumen dan mempertahankan eksistensi pada sebuah
perusahaan. Semua hal dilakukan perusahaan agar terjadi
peningkatan keputusan pembelian.
Keragaman merupakan faktor penting untuk pertimbangan
konsumen dalam memilih alternatif produk yang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan mereka. Keragaman produk dapat
berjalan apabila perusahaan terus berinovatif dalam menciptakan
produk baru atau variasi produk yang dihasilkan untuk
memuaskan konsumen. Konsumen akan semakin senang jika
suatu restoran atau toko menyajikan beragam produk dimana di
dalamnya terdapat produk dan menu yang di display secara
lengkap Hubungan antara keragaman produk dan perilaku
konsumen itu sendiri yang merupakan sebuah proses dalam
pengambilan keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Keller
(2016:26) bahwa keragaman produk adalah strategi yang
membuat produk berbeda dengan competitor bahkan dapat
melebihinya sehingga mendapat hasil yang dinilai oleh konsumen
dan nilai yang diharapkan dapat memengaruhi pilihan dan
kebutuhan konsumen. Hal ini sejalan dengan teori dari (Utami,
2010) bahwa toko yang tidak dapat menyediakan kebutuhan
produk yang dicari oleh konsumen akan mengakibatkan
kurangnya kesetiaan konsumen dan berdampak kerugian pada
toko.

Indikator Brand Image


Adapun indikator brand image menurut Kotler dan Keller
(2016:347) sebagai berikut :
a. Keunggulan asosiasi merek
Keunggulan asosiasi merek, salah satu faktor pembentuk brand
image adalah keunggulan produk, dimana produk tersebut
unggul dalam persaingan.
b. Kekuatan asosiasi merek
Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa kualitas tinggi.
Kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik
merek untuk mensosialisasikan kepribadian tersebut dalam
bentuk iklan ataupun bentuk kegiatan promosi lainnya agar
mampu menjadi penghubung antara produk dan merek dengan
pelanggan sehingga merek tersebut lebih mudah dikenal dan
tetap eksis ditengah maraknya persaingan. Membangun
popularitas merek yang terkenal bukan hal mudah akan tetapi
popularitas adalah salah satu kunci yang dapat membentuk
brand image kepada pelanggan.
c. Keunikan asosiasi merek
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan-keunikan yang
dimiliki oleh merek produk tertentu untuk menarik perhatian
konsumen.

Dimensi Pembentuk Brand Image


Menurut Widyaningsih dalam Cendana (2017) bahwa terdapat
dimensi-dimensi utama yang mempengaruhi terbentuknya citra
sebuah merek adalah sebagai berikut :
a. Identitas merek (Brand Identity)
Identitas merek berkaitan dengan identitas fisik pada produk
sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakan
dengan merek produk lain seperti adanya logo, warna,
kemasan dan identitas perusahaan lainnya.
b. Personalitas merek (Brand Personality)
Personalitas merek adalah karakter khas sebuah merek yang
membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya
manusia sehingga konsumen dengan mudah membedakan
merek lain dalam kategori yang sama .
c. Asosiasi merek (Brand Association)
Asosiasi merek adalah hal-hal spesifik yang selalu dikaitkan
dengan suatu merek dapat berupa penawaran unik suatu
produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam
hal sponsorship atau kegiatan sosial, isu-isu yang kuat
berkaitan dengan merek tersebut.
d. Sikap dan perilaku merek (brand attitude and behavior)
Sikap dan perilaku merek adalah sikap atau perilaku
komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam
menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya. Brand
attitude and behavior mencakup sikap dan perilaku
komunikasi, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek
saat berhubungan dengan konsumen, termasuk perilaku
karyawan dan pemilik merek.
e. Manfaat dan keunggulan merek (Brand Benefit and
Competence)
Manfaat dan keunggulan merek merupakan nilai-nilai dan
keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada
konsumen agar merasakan manfaat karena kebutuhan,
keinginan dan harapannya terwujud melalui penawaran
tersebut

Faktor yang Mempengaruhi Brand Image


Menurut Alifian B (2012:26) mengemukakan faktor-faktor
terbentuknya citra merek antara lain :
a. Keunggulan produk
Produk yang unggul dapat dikatakan mampu bersaing dengan
lainnya. Keunggulan kualitas memiliki arti model dan
kenyamanan bagi pengguna produk dan ciri khas itu yang
menyebabkan suatu produk punya daya tarik tersendiri untuk
tiap konsumen.
b. Kekuatan asosiasi merek
Kekuatan asosiasi merek merupakan pengolahan informasi
yang diterima oleh konsumen. Ketika seorang konsumen
secara aktif menguraikan informasi suatu produk atau jasa
maka akan tercipta asosiasi yang semakin kuat pada ingatan
konsumen. Asosiasi merek pada benak konsumen tergantung
bagaimana suatu merek tersebut dapat dipertimbangkan.
c. Keunikan merek
Salah satu faktor terbentuknya brand image adalah keunikan
merek. Keunikan merek adalah bagian dari asosiasi terhadap
suatu merek yang mau tidak mau harus terbagi dengan merek
lainnya sehingga masing-masing produk harus memiliki
keunggulan untuk bersaing yang menjadi dasar alasan
konsumen memilih suatu merek tertentu. Dengan
memposisikan merek lebih mengacu pada pengalaman atau
keuntungan diri dari image produk tersebut.

Pengertian Brand Image


Brand image merupakan persepsi dan keyakinan
konsumen yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam
memori atau benak konsumen terhadap suatu merek tertentu.
Asosiasi tersebut secara sederhana muncul dalam bentuk
pemikiran yang dikaitkan dengan suatu merek. Menurut Sotjan
(2015:204) mendefinisikan bahwa merek adalah nama, istilah,
tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur
tersebut yang bermaksud untuk mengidentifikasikan barang atau
jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual sehingga
konsumen mengenal merek yang berbeda dari produk pesaingnya.
Brand image sebagai suatu nama atau simbol yang
mempresentasikan atas apa yang dilakukan perusahaan untuk
menyampaikan jenis usahanya kepada konsumen (Kotler dan
Keller, 2016). Citra merek dapat mendeskripsikan berbagai
informasi yang diterima oleh konsumen. Informasi citra terdapat
dari logo atau simbol yang digunakan oleh penjual untuk
mewakili produknya. Fungsi simbol dan logo bukan semata-mata
hanya sebagai pembeda dari pesaing sejenis namun juga
merefleksikan mutu dan visi misi perusahaan tersebut. Brand
image yang dibangun dapat menjadi identitas cerminan dari visi,
keunggulan, standart kualitas, pelayanan dan komitmen dari
pelaku usaha atau pemilik. Berdasarkan pendapat para ahli diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa brand image adalah representasi
dari keselurahan presepsi terhadap merek yang dibentuk dari
informasi logo atau simbol suatu bisnis

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler (2018:70) adalah
sebagai berikut :
a. Kemantapan pada sebuah produk
Keputusan konsumen dalam melakukan suatu pembelian, pasti
memilih salah satu dari beberapa alternatif. Pilihan alternatif
tersebut didasari pada kualitas, mutu, harga yang terjangkau
serta faktor-faktor lain yang memantapkan keinginan
konsumen untuk membeli produk tersebut berdasarkan harapan
dan kebutuhannya.
b. Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan konsumen dalam membeli suatu produk dapat
berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Konsumen merasa
produk yang dibelinya sudah melekat di benak hati mereka
karena sudah merasakan manfaat dari produk tersebut sehingga
enggan untuk mencoba produk baru. Hal tersebut membuat
konsumen cenderung memilih produk yang sudah biasa
digunakan.
c. Memberikan rekomendasi kepada orang lain
Apabila konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai dari
produk yang dibeli, maka mereka pasti merekomendasikan
produk tersebut ke orang lain supaya merasakan bahwa produk
yang dibelinya benar-benar sangat bagus dan lebih baik dari
produk lain

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Kotler (2015), sikap konsumen dalam membeli sesuatu
dipengaruhi oleh beberapa faktor :
a. Faktor budaya
Budaya merupakan penentu paling dasar dari keinginan dan
perilaku seseorang. Pemasaran lintas budaya muncul dari riset
pemasaran yang cermat bahwa relung etnis dan demografi
yang berbeda tidak selalu menanggapi secara baik terhadap
iklan pasar massal.
b. Faktor sosial
Dalam faktor sosial, perilaku konsumen dipengaruhi oleh
kelompok acuan, keluarga, peran dan status sosial sebagai
berikut :
1) Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang
memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap
sikap atau perilaku seseorang. Kelompok yang berpengaruh
langsung yaitu kelompok keanggotan seperti keluarga,
teman, tetangga dsb. Pada kelompok tidak langsung seperti
keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan yang
interaksinya tidak rutin.
2) Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen paling
penting dalam masyarakat karena menjadi acuan primer dan
dominan yang paling berpengaruh. Orientasi keluarga
terdiri dari orang tua dan saudara kandung yang
mendapatkan orientasi atas agama, politik, ekonomi, ambisi
pribadi serta cinta. Pengaruh yang lebih langsung terhadap
perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi
yaitu pasangan dan anak seseorang.
3) Peran dan status sosial
Seseorang berpartisipasi dalam banyak kelompok, keluarga,
organisasi dan lainnya. Posisi seseorang dalam masing-
masing kelompok dapat didefinisikan dalam peran dan
status. Peran terdiri dari kegiatan yang dilakukan sesuai
dengan tugas serta tanggung jawabnya yang berada di
lingkungan sekitarnya. Masing-masing peran membawa
status yang mencerminkan nilai umum yang diberikan
kepada masyarakat.
c. Faktor pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi.
Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus dalam
hidup misalnya pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan
konsep diri serta nilai dan gaya hidup pembeli.
d. Faktor psikologis
Satu perangkat proses psikologis berkombinasi dengan
karakteristik konsumen tertentu untuk menghasilkan proses
keputusan pembelian. Tugas pemasar adalah memahami apa
yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara datangnya
rangsangan pemasaran luar dan keputusan pembelian akhir

Proses Keputusan Pembelian


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku
konsumen dan pemahaman tentang cara konsumen melakukan
keputusan pembelian. Menurut Kotler (2017) ada lima tahap
proses yang dilalui konsumen dalam mengambil keputusan
pembelian :
a. Pengenalan masalah
Tahap pertama proses pengambilan keputusan dimulai saat
pembeli menyadari terhadap adanya suatu masalah atau
kebutuhan. Pembeli merasakan timbulnya perbedaan antara
nyata dan yang diinginkan. Kebutuhan ini disebabkan karena
adanya rangsangan internal maupun eksternal.
b. Pencarian informasi
Tahap kedua proses pengambilan keputusan yaitu dimana
seorang konsumen yang terdorong kebutuhannya mungkin,
atau mungkin juga tidak, mencari informasi lebih lanjut. Jika
dorongan konsumen kuat dan produk itu berada di dekatnya,
mungkin konsumen akan langsung membelinya. Apabila tidak,
kebutuhan ini hanya menjadi ingatan saja.
c. Evaluasi alternatif
Tahap ketiga proses pengambilan keputusan yaitu konsumen
memproses informasi tentang pilihan merek yang berpengaruh
pada keputusan pembelian terakhir. Jika dilihat dari sisi bahwa
konsumen mempunyai kebutuhan pasti konsumen tersebut
akan mencari manfaat tertentu dan melihat atribut produk.
Konsumen memberikan bobot yang berbeda untuk setiap
atribut produk sesuai dengan kepentingannya.
d. Keputusan pembelian
Tahap keempat proses pengambilan keputusan yaitu biasanya
konsumen memilih merek yang paling disukai akan tetapi ada
juga faktor yang mempengaruhi seperti sikap orang lain dan
faktor-faktor keadaan yang tidak terduga.
e. Perilaku pasca pembelian
Tahap kelima dalam proses pengambilan keputusan yaitu
dimana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah
membeli dan menggunakan suatu produk berdasarkan
kepuasan dan ketidakpuasan yang mereka rasakan

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah suatu kegiatan yang secara
langsung terlibat dalam memperoleh produk dan jasa yang
ditawarkan oleh penjual. Menurut Kotler dan Armstrong (2015)
keputusan pembelian adalah membeli merek yang paling disukai,
tetapi dua faktor dapat berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian. Menurut Sunyoto (2013:87) menyatakan
bahwa keputusan pembelian merupakan satu tindakan konsumen
membentuk preferensi diantara alternatif-alternatif merek barang.
Keputusan tersebut mendorong bagaimana konsumen melakukan
pilihan diantara dua atau lebih alternatif terhadap pembelian suatu
produk sesuai dengan kebutuhannya. Keputusan untuk membeli
mengarah pada pelanggan bagaimana proses dalam pengambilan
keputusan.
Sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk,
seorang konsumen pada dasarnya melakukan proses pengambilan
keputusan terlebih dahulu. Proses pengambilan keputusan
menuagustarut Agusta (2020:12) merupakan tahapan konsumen
dalam memutuskan suatu produk tertentu yang menurutnya sudah
paling baik dari berbagai alternatif yang dianggap sesuai dengan
kebutuhan dan kepentingan yang dimiliki melalui pilihan yang
tepat serta menguntungkan. Proses pengambilan keputusan yang
rumit sering melibatkan beberapa keputusan seperti adanya
pilihan alternatif dua atau lebih yang membentuk niat membeli
produk yang paling disukai untuk mengkolaborasi, menunda dan
menghindar sangat dipengaruhi oleh resiko yang dirasakan.
Pengambilan keputusan oleh konsumen dalam melakukan
pembelian suatu produk diawali adanya kesadaran atas
pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Setelah konsumen
menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan tersebut maka perlu
tindak lanjuti untuk memenuhinya. Menurut Kotler dan Amstrong
(2016:177) keputusan pembelian adalah perilaku konsumen
tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih,
membeli, menggunakan barang , jasa, ide atau pengalaman untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan mengetahui
informasi ataupun merek produk tersebut dan melakukan evaluasi
sehingga dapat memecahkan masalah dan mengarah pada
keputusan pembelian. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa keputusan pembelian adalah suatu
keputusan final yang dimiliki seorang konsumen untuk membeli
suatu barang atau jasa dengan berbagai pertimbangan-
pertimbangan tertentu

Karakteristik Promosi


Kotler yang dikutip oleh Benyamin Molan (2005:266), yaitu :

  1. Komunikasi : Promosi penjualan menarik perhatian dan biasanya
    memberikan informasi yang dapat mengarahkan konsumen pada
    produk.
  2. Intensif : Promosi penjualan menggabungkan sejumlah
    kebebasan, dorongan, atau kontribusi yang member nilai bagi
    konsumen.
  3. Ajakan : Promosi penjualan merupakan ajakan untuk melakukan
    transaksi pembelian sekarang.

Tujuan Promosi


Tujuan dari promosi penjualan menurut Buchori Alma (2004:188),
ialah :

  1. Menarik para pembeli baru.
  2. Memberi hadiah/ penghargaan kepada konsumen-konsumen/
    pelanggan lama.
  3. Meningkatkan daya pembelian ulang dari konsumen lama.
  4. Menghindarkan konsumen lari ke merek lain.
  5. Mempopulerkan merek.
  6. Meningkatkan volume penjualan jangka pendek dalam rangka
    memperluas “ market share “ jangka panjang

Bauran Promosi


Promosi pada dasarnya memiliki bentuk yang sama tapi bentu
tersebut memiliki tugas khusus. Beberapa tugas khusus atau yang
disebut dengan bauran promosi menurut J.Paul Peter dan James
H. Donnelly ( 2007 : 111 ), adalah :

  1. Penjualan tatap muka ( Personal Selling )
    Penjualan tatap muka adalah komunikasi langsung antara penjual
    untuk memberikan informasi suatu produk kepada calon pembeli
    potensial dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap produk
    sehingga mereka kemudian akan mencoba dan membelinya.
  2. Periklanan ( Advertising )
    Periklanan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang
    atau jasa secara non personal oleh suatu sponsor tertentu yang
    memerlukan pembayaran.
  3. Promosi penjualan ( Sales Promotion )
    Promosi penjualan adalah aktivitas bentuk persuasi langsung
    melalui penggunaan berbagai insentif yang dapat diatur untuk
    merangsang pembelian produk.
  4. Hubungan masyarakat ( Public Relation )
    Hubungan masyarakat adalah upaya komuniaksi menyeluruh dari
    suatu perusahaan untuk mempengaruhi persepsi, opini, keyakinan, dan
    sikap berbagai kelompok terhadap perusahaan tersebut.
  5. Pemasaran langsung ( Direct Marketing )
    Pemasaran langsung adalah sistem pemasaran yang bersifat
    interaktif, yang memanfaatkan satu atau beberapa media iklan untuk
    menimbulkan respon yang terukur dan transaksi di sembarang tempat

Pengertian Promosi


Menurut Kotler dan Keller (2009 :510) menyatakan bahwa
promosi adalah berbagai cara untuk menginformasikan, membujuk,
dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung
tentang suatu produk atau brand yang dijual. Menurut Tjiptono (2008:
219)pada hakikatnyapromosi adalah suatu bentuk komunikasi
pemasaran. Yang dimaksud dengan komunikasi pemasaran adalah
aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,
mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas
perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan
loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.
Selain itu Bilson Simamora (2003: 210) juga menjelaskan tentang
promosi penjualan identik dengan insentif, seperti diskon, hadiah,
undian, dan lain – lain. Daya tariknya tergantung pada insentif yang
ditawarkan. kedua, seberapa besar nilai tersebut. Ketiga seberapa besar
peluang untuk memperoleh insentif itu. Khusus yang ketiga, ini
berlaku untuk insentif yang sifatnya undian. Buchari Alma (2009: 179)
menjelaskan tentang promosi yaitu sejenis komunikasi yang memberi
penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2012: 52) didalam variabel harga
ada beberapa unsur kegiatan utama harga yang meliputi tingkatan harga,
diskon, potongan harga dan periode pembayaran. Menurut Kotler dan
Armstrong (2012: 278) ada empat idikator yang mencirikan harga yaitu
keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, daya
saing harga, kesesuaian harga dengan manfaat.

Pengertian Harga


Harga wajib ditentukan dalam suatu usaha, karena harga
merupakan nilai dari barang yang dijual. Harga menurut Philip Kontler
dan Gary Armstrong (2006:345) adalah jumlah semua nilai yang diberikan
oleh pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau
menggunakan suatu produk atau jasa. Harga adalah nilai suatu barang
yang di nyatakan dengan uang Alma (2004: 169). Swasta dan sukotjo
(2007:211) mendefinisikan harga adalah sejumlah uang (di tambah
beberapa barang kalau mungkin) yang di butuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya. Menurut definisi
dari para ahli diatas daopat disimpulkan bahwa harga adalah nilai suatu
barang yang dinyatakan dengan uang untuk mendapatkan suatu produk.

Tujuan Penetapan Harga

Menurut Lamarto (2006: 314) tujuan kebijakan penentuan harga
yaitu:
a. Berorientasi pada laba

  1. Mencapai target laba investasi atau laba penjualan bersih, Penetapan
    harga produk pada perusahaan atau produsen bertujuan untuk
    mencapai sasaran pencapaian prosentase tertentu untuk pengembalian
    laba penjualan bersih.
  2. Memaksimalkan laba, Sasaran dari kebijakan penetapan harga adalah
    untuk menghasilkan atau memperoleh uang sebanyak-banyaknya.
    b. Berorientasi pada penjualan
  3. Meningkatkan volume penjualan, Sasaran dari penetapan harga
    adalah dengan adanya prosentase peningkatan volume penjualan
    selama periode tertentu. Disatu pihak, sasaran perusahaan atau
    produsen bisa meningkatkan volume penjualan tetapi dengan tetap
    mempertahankan tingkat laba yang diperolehnya. Namun disegi lain,
    manajemen bisa memutuskan dan meningkatkan volume
    penjualannya melalui strategi penetapan harga yang agresif dengan
    kerugian. Dalam hal ini manajemen bisa mutskan bahwa peningkatan
    volume penjualan dapat memberikan posisi didalam pasar.
  4. Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar, Pangsa pasar
    merupakan indicator kondisi perusahaan yang lebih baik
    dibandingkan dengan target laba investasi, artinya sasaran penetapan
    harga yang lebih baik. Hal tersebut dapat terjadi terutama waktu pasar
    total sedang berkembang dan perusahaan atau produsen dapat
    memperoleh laba yang diharapkan. Namun jika manajemen tidak
    mengetahui atau memahami jika pasar sedang berkembang, maka
    akibatnya pangsa pasar perusahaan atau produsen dapat mengalami
    kemunduran.
  5. Berorientasi pada status quo
    a. Menstabilkan harga, Strabilitas harga sering menjadi sasara-
    sasaran industri yang mempunyai pimipinan harga.
    b. Menangkal persaingan, Perusahaan atau produsen secara sadar
    memberikan harga pada produknya untuk memenangkan
    persaingan. Walaupun perusahaa atau produsen tersebut sudah
    besar, namun hanya mempunyai pernanan yang kecil dalam
    menentukan harga pasar.

Tingkatan Produk


Menurut Philip Kotler (2009: 4) ada 5 tingkatan produk, yaitu core
benefit, basic product, expected product, augmented product dan
Potential product. Penjelasan tentang kelima produk adalah :

  1. Pada tingkat dasar adalah manfaat inti (core benefit): layanan atau
    manfaat yang benar-benar di beli pelanggan.
  2. Pada tingkat kedua, pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi
    produk dasar (basic product).
  3. Pada tingkat ketiga, pemasar mempersiapkan produk yang di
    harapkan (expeted product), sekelompok atribut dan kondisi
    biasanya di harapkan pembeli ketika mereka membeli produk ini.
  4. Pada tingkat keempat, pemasar menyiapkan produk tambahan
    (augmented product) yang melebihi harapan pelanggan.
  5. Tingkat kelima adalah produk potensial (potential product), yang
    mencakup semua kemungkinan tambahan dan informasi yang
    mungkin di alami sebuah produk atau penawaran di masa
    depan.Ini adalah tempat di mana perusahaan mencari cara baru
    untuk memuaskan pelanggan dan membedakan penawaran
    mereka.

Karakteristik Produk


Menurut (Kotler dan Armstrong 2009:214) beberapa atribut yang
menyertai dan melengkapi produk (karakteristik dari atribut produk
adalah:
1) Merek (Branding)
Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan,
atau kombinasi dari semua ini yang mana dimaksudkan untuk
mengidentifikasi produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan
membedakannya dari produk pesaing. Pemberian merek merupakan
masalah pokok dalam strategi produk. Nama merek yang baik dapat
menambah keberhasilan yang besar pada produk. 2) Pengemasan (Packing)
Pengemasan (packing) adalah suatu kegiatan merancang dan
membuat wadah atau pembungkus dari suatu produk.
3) Kualitas Produk (Product Quality)
Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu
produk untuk melaksanakan fungsinya yang mana meliputi daya tahan
keandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut
bernilai lainnya. Untuk meningkatkan kualitas dari produk, maka
perusahaan dapat menerapkan program “Total Quality Manajemen
(TQM)”. Pengertian dari Total Quality Management sendiri ialah
sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan
(customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali
(right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous
improvement) dan memotivasi karyawan. Selain mengurangi
kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk
meningkatkan nilai konsumen.

Pengertian Produk


Produkadalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar un
tuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang
dapat memuaskan keinginan atau kebutuhanKotler &Armstrong,
(2001: 346). Philip Kotler (2000:394) dalam Buchori Alma (2009:139)
Jadi produk itu bukan hanya berbentuk sesuatu yang berwujud saja
seperti makanan, pakaian, dan sebagainya. Akan tetapi sesuatu yang
tidak berwujud seperti pelayanan jasa. Semua diperuntukan bagi
pemuasan kebutuhan dan keinginan (need and wonts) dari konsumen.
Produk yang baik adalah produk yang berkualitas, Philip Kotler (2009:
2) menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemapuan sebuah produk
dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan
durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoprasian dan
reparasi produk juga atribut produk lainnya. Deskripsi produk menurut
bagan marketing mix yaitu ragam, kualitas, desain, fitur, nama, merek,
kemasan dan layanan

MACAM – MACAM KEPUTUSAN PEMBELIAN


Menurut pendapat Howard dalam (Basu Swastha dan Irawan 2005:
117) menyatakan bahwa pembelian konsumen dapat ditinjau sebagai
kegiatan penyelesaian suatu masalah, dan terdapat tiga macam situasi.
Situasi tersebut adalah:
a. Perilaku responsi rutin. Salah satu jenis perilaku pembelian yang paling
sederhana terdapat dalam suatu pembelian yang berharga murah dan
sering dilakukan. Dalam hal ini konsumen ketika melakukan pembelian
sudah memahami merek-merek atribunya.
b. Penyelesaian masalah terbatas. Pebelian akan lebih kompleks apabila
konsumen tidak megetahui sebuah merek yang sejenis dengan produk
yang disukainya, sehingga membutuhkan informasi lebih banyak lagi
sebelum memutuskan pembelian.
c. Penyelesaian masalah ekstensif. Pembelian akan menjadi kompleks
apabila konsumen menjumpai jenis produk yang kurang dipahami
mengenai detail produknya dan kriteria penggunaannya. Dalam hal ini
konsumen sama sekali tidak memiliki informasi yang cukup terhadap
produk tersebut

PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN


Keputusan pembelian pada hakikatnya merupakan hak yang
sepenuhnya dimiliki oleh konsumen. Namun tidak semua konsumen
mempunyai pilihan yang tepat dalam memilih kebutuhan mereka,
sehingga akhirnya mereka menyesal. Maka dari itu konsumen harus
memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal sebelum
melakukan pembelian, supaya tidak menyesal. Pengambilan
keputusan juga harus mempertimbangkan beberapa faktor

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pengambilan
keputusan pembelian menurut (Setiadi 2010: 10) antara lain:
a. Faktor –faktor budaya

  1. Kebudayaan, kebudayaan merupakan faktor penentu paling utama
    dari keinginan dan perilaku seseorang. Seorang anak yang sedang
    tumbuh mendapatkan seperangkat nilai-nilai, persepsi, preferensi dan
    perilaku melalui suatu proses sosialisasi yang melibatkan keluarga
    dan lembaga lembaga sosial penting lainnya.
  2. Subbudaya, subbudaya dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:
    kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, dan
    area geografis.
  3. Kelas sosial, kelas-kelas sosial adalah kelompok yang relatif
    homogen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun
    secara hirarki dan yang keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan
    perilaku yang serupa.
    b. Faktor-faktor sosial
  4. Kelompok referensi, kelompok referensi ini terdiri dari seluruh
    kelompok yang dapat memberi pengaruh secara langsung ataupun
    tidak langsung terhadap perilaku seseorang. Beberapa diantaranya
    adalah kelompok primer, dengan adanya interaksi yang cukup
    berkesinambungan yang meliputi, keluarga, teman, tetangga,
    kelompok sejawat. Kelompok sekunder, cenderung lebih resmi dan
    interaksi yang terjadi tidak berkesinambungan.
  5. Keluarga, keluarga merupakan salah satu lembaga pendidikan
    informal yang dimana seseorang bisa mendapatkan pandangan
    tentang agama, politik, ekonomi, dan nilai atau harga diri serta cinta.
  6. Peran dan Status, Seseorang umumnya berpartisipasi dalam
    kelompok selama hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi
    seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran
    dan status.
    c. Faktor Pribadi
  7. Umur dan tahapan dalam siklus hidup, konsumen membeli atau
    mengkonsumsi sebuah produk yang berbeda-beda sepanjang
    hidupnya dimana setiap kegiatan konsumsi dipengaruhi oleh siklus
    hidup konsumen.
  8. Pekerjaan, pekerjaan seorang konsumen dapat mempengaruhi pola
    konsumsi konsumen tersebut. semakin tinggi jabatan atau pekerjaan
    seorang konsumen tersebut maka semakin tinggi tingkat konsumsi
    yang dilakukan.
  9. Keadaan ekonomi, selain pekerjaan konsumen keadaan ekonomi
    juga merupakan salah satu hal yang diperhatikan ketika akan
    melakukan keputusan pembelian terhadap suatu produk. Hal yang
    diperhatikan dalam keadaan ekonomi dilihat berdasarkan besaran
    penghasilan yang dimiliki konsumen tersebut, jumlah tabungan,
    utang dan sikap terhadap atau menabung.
  10. Gaya hidup, gaya hidup merupakan sebuah pola hidup seseorang
    konsumen yang terlihat melalui aktivitasnya yang terbentuk melalui
    sebuah kelas sosial dan pekerjaan. Tetapi kelas sosial dan pekerjaan
    yang sama tidak menjamin munculnya sebuah gaya hidup yang sama
    antara berberapa atau banyak konsumen.
  11. Kepribadian dan konsep diri,setiap konsumen mempunyai berbagai
    macam karakteristik kepribadaian yang berbeda antara satu dengan
    yang lainnya yang dapat mempengaruhi aktivitas kegiatan
    pembelian. Kepribadian merupakan suatu hal yang sangat berguna
    dalam menganalisis pilihan merek konsumen. Hal tersebut
    disebabkan karena beberapa kalangan konsumen akan memilih
    merek yang cock dengan kepribadian dan konsep dirinya.
    d. Faktor- faktor psikologis
  12. Motivasi, setiap konsumen memiliki banyak kebutuhan pada waktu-
    waktu tertentu. Terdapat kebutuhan yang muncul dari tekanan
    biologis seperti lapar, haus dan rasa tidak nyaman. Beberapa
    kebutuhan bersifat biogenic, kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan
    fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, haus, resah tidak nyaman.
    Adapaun kebutuhan lain bersifat psiko genik, yaitu kebutuhan yang
    timbul dari keadaan fisiologis tertentu, seperti kebutuhan untuk
    diakui, kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
  13. Persepsi, Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang
    memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk
    menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. persepsi
    ksetiap konsumen terhadap merek atau produk berbeda-beda antara
    satu dengan yang lainnya.
  14. Proses belajar , Proses belajar menjelaskan perubahan perilaku
    seseorang yang timbul dari pengalaman. Pembelajaran dihasilkan
    melalui perpaduan kerja antara pendorong, rangsangan, isyarat
    bertindak, tanggapan dan penguatan. Pemasar dapat membangun
    permintaan konsumen atas suatu produk dengan mengaitkan pada
    dorongan yang kuat, menggunakan tindakan atau semacamnya yang
    memberikan motivasi dan memberikan penguatan positif karena pada
    dasarnya konsumen akan melakukan pemilihan alternative pada satu
    merek.
  15. Kepercayaan dan sikap, kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif
    yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Keyakinan konsumen
    terhadapsuatu produk atau merek akan mempengaruhi keputusan
    pembelian mereka.
  16. INDIKATOR
    Menurut (Schiffman & Kanuk 2008:506) Indikator keputusan
    pembelian ada tiga yaitu: Pembelian percobaan (Trial Purchase),
    Pembelian Ulangan (Repeat Order) dan Pembelian komitmen jangka
    panjang (Long-term Purchase)

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah
menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk, serta
mengkonsumsinya (Suharno, 2010: 96). Keputusan pembelian antara
satu konsumen dengan yang lainnya berbeda – beda, karena kebutuhan
dan selera konsumen yang berbeda, menurut (Schifman dan Kanuk,
2008: 485 ) keputusan pembelian adalah seleksi terhadap dua pilihan
alternatif atau lebih. Konsumen sebelum memutuskan untuk membeli
suatu produk pasti memiliki alternatif untuk menjadi pertimbangan.
(Menurut kotler dan Armstrong, 2008:181) keputusan pembelian
adalah membeli merek yang paling disukai dari berbagai alternatif
yang ada, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian.
Konsumen dalam keputusan pembelian dipengaruhi oleh perilaku
konsumen, pola perilaku konsumen antara satu dengan yang lainnya
saling berkaitan, seperti produk kemudian harga dan juga promosi.
Sebelum memutuskan untuk membeli konsumen akan memastikan
produk apa yang akan dibeli kemudian memilih produknya melihat
kualitas dan kegunaannya terlebih dahulu kemudian konsumen akan
melihat harga dari produk yang telah ia pilih. Promosi juga
mempengaruhi keputusan pembelian, konsumen tidak akan tahu
produk yang baik serta harga yang murah jika tidak ada promosi dari
penjual.

    Dimensi Kualitas Produk


    Dimensi kualitas produk menurut Tjiptono (2001, 25) :

    1. Performance (kinerja), karakteristik operasi pokok dari produk inti (Core
      Product) yang dibeli, misalnya kecepatan, konsumsi bahan bakar, jumlah
      penumpang yang dapa diangkut, kemudahan dan kenyamanan dalam
      mengemudi dan sebagainya.
    2. Keistimewaan tambahan (Features)
      Yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap, misalnya kelengkapan interior
      dan eksterior seperti Dash Board, AC, Sound System, Door Lock
      System,Power Steering, dan sebagainya.
    3. Keandalan (Reliability)
      Kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai,
      misalnya mobil tidak seing ngadat.
    4. Kesesuaian dengan spesifikasi
      Sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar – standar
      yang telah ditetapkan sebelumnya.
    5. Daya tahan
      Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.
      Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis penggunaan.
    6. Estetika
      Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera. Misalnya bentuk fisik mobil
      yang menarik, model atau desain yang artistic, warna, dan sebagainya