Skala Pengukuran (skripsi tesis dan disertasi)

Perancangan skala perlu dilakukan peneliti jika penelitian yang dijalankan merupakan riset kuantitatif. Dalam pemberian skala, peneliti harus harus menggunakan angka sesuai jenis skala (Suryani, 2015). Berikut 2 jenis pembagian skala:

1. Skala Nominal

Skala nominal merupakan skala yang digunakan untuk memberi label, simbol, lambang atau nama suatu kategori. Skala ini memudahkan pengelompokan data menurut kategorinya, sehingga angka yang diberikan pada suatu kategori (misalnya 1, 2, 3 dan seterusnya) tidak memiliki makna matematis, seperti lebih besar, sama atau lebih kecil dari pada kategori lain. Perbedaan angka di sini menunjukkan perbedaan kategori (Suryani, 2015). Berikut contoh skala nominal untuk pertanyaan dalam kuesioner: Jenis kelamin Anda (silahkan beri tanda )  Laki-laki  Perempuan

2. Skala Likert

Skala ini pertama kali dikembangkan oleh Rensist Likert, seorang sosiolog dari University of Michigan melalui artikel ”A Technique for the Meaurement of Attitudes” yang dipublikasikan oleh the Archieves of Psychology pada tahun 1932. Bentuk awal slaka Likert adalah lima pilihan jawaban dari sangat tidak setuju sampai dengan tingkat sangat setuju yang merupakan sikap atau persepsi seseorang atas suatu kejadian atau pernyataan yang diberikan dalam instrumen/kuesioner. Dalam perkembangan terkini, skala Likert telah banyak dimodifikasi seperti skala titik (dengan menghilangkan pilihan jawaban netral), atau menggunakan skala 7 sampai 9 titik (Suryani, 2015).

Populasi dan Sampel (skripsi tesis dan disertasi)

Populasi adalah suatu keseluruhan pengamatan atau objek yang menjadi perhatian kita. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi perhatian kita. Populasi menggambarkan sesuatu yang sifatnya ideal atau teoritis, sedangkan sampel menggambarkan sesuatu yang sifatnya nyata atau empiris. Populasi dan sampel masing-masing mempunyai karakteristik atau ciri yang dapat diukur. Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Teknik sampling pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua yaitu probability sampling dan nonprobability sampling (Prasetyo dkk, 2005): a. Probability Sampling (Pemilihan secara acak) Probability Sampling adalah metode sampling yang setiap anggota populasinya memiliki peluang spesifik dan bukan nol untuk terpilih sebagai sampel. Peluang tersebut dapat sama dan dapat pula tidak sama besarnya dengan anggota populasi lainnya. Jenis-jenis probability sampling yaitu, (Prasetyo dkk, 2005): 1. Sampling acak sederhana Metode pangambilan sampel acak sederhana adalah metode yang digunakan untuk memilih sampel dari populasi sehingga setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama besar untuk diambil sebagai sampel. Ini berarti bahwa semua anggota populasi menjadi anggota dari kerangka sampel. 2. Sampling acak sistematis Metode pengambilan acak sistematis adalah metode untuk mengambil sampel secara sistematis dengan interval atau jarak tertentu dari suatu  kerangka sampel yang telah diurutkan. Dengan demikian tersedianya suatu populasi sasaran yang tersusun merupakan prasyarat penting bagidimungkinkannya pelaksanaan pengambilan sampel dengan metode acak sistematis. 3. Sampling acak stratifikasi Metode pengambilan acak stratifikasi adalah metode pengambilan sampel dengan cara membagi populasi kedalam kelompok-kelompok yang homogenyang disebut strata, kemudian sampel diambil secara acak dari tiap strata tersebut. 4. Sampling klaster atau cluster sampling Metode pengambilan sampel klaster adalah metode yang digunakan untuk memilih sampel yang berupa kelompok dari beberapa kelompok yaitu setiap kelompok terdiri atas beberapa unit yang lebih kecil atau element. Jumlah elemen dari masing-masing kelompok bisa sama maupun berbeda. b. Nonprobability Sampling (pemilihan tidak acak). Nonprobability Sampling setiap unsur dalam populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel dalam penarikan sampel probabilita, kesempatan yang mempunyai peranan besar sedangkan dalam penarikan sampel Nonprobability sampling, kesempatan yang mempunyai peranan besar, sedangkan dalam penarikan sampel Nonprobability sampling yang berperan adalah kemampuan atau pengetahuan peneliti terhadap populasi penelitiannya.

Jenis teknik sampling dari Nonprobability sampling dalam, (Prasetyo dkk, 2005) yaitu: 1. Accidental sampling atau kebetulan Pada pengambilan sampel dengan cara Accidental sampling, sampel diambil dari ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkannya, sampel dipilih karena sampel ada pada tempat dan waktu yang tepat. 2. Judgment sampling Sampel diambil berdasarkan kriteria-kriteria berupa suatu pertimbangan tertentu yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti.   3. Quota sampling Quota sampling adalah purposive sampling yang mengambil persentase yang mengambil persentase sampelnya sesuai dengan persentase jumlah dipopulasinya. Quota sampling sampelnya harus mempunyai karakteristik yang dimiliki oleh populasinya. 4. Snowball sampling Cara mengambil sampel dengan cara ini adalah mengumpulkan sampel dari responden yang berasal dari referensi suatu jaringan. 5. Sampel jenuh Sampel jenuh adalah teknik pengumpulan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan apabila jumlah populasi relatif kecil.

Sumber Data Primer (skripsi tesis dan disertasi)

Data primer merupakan data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti. Metode atau pendekatan yang dapat dilakukan dalam proses pengumpulan data bersifat primer ini dapat menggunakan angket atau kuesioner, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi dan sebagainya (Suryani, 2015). Instrumen pengumpulan data sendiri merupakan alat yang digunakan untuk pengumpan data, yaitu dapat berupa lembar cek list. Kuesioner (angket terbuka atau tertutup), pedoman wawancara, camera photo, video camera, buku catatan, dan lain sebagainya (Suryani, 2015).

1. Metode kuesioner

Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan tau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya metode kuesioner dapat dilakukan melalui tatap muka langsung, maupun melalui kuesioner surat (baik melalui surat dalam bentuk kertas maupun surat elektronik). Kuesioner yang diberikan secara langsung memiliki kelebihan, yaitu: a. Peneliti dapat secara langsung bertatap muka dengan responden sehingga tujuan penelitian dan kegunaan penelitian dapat disampaikan secara   langsung sehingga dapat meningkatkan mengurangi keraguan responden dan motivasi untuk menjawab secara jujur. b. Peneliti dapat memeriksa langsung kelengkapan isi dari kuesioner yang diberikan. c. Penyebaran kuesioner yang dilakukan secara serentak yang dilakukan oleh tim survei dapat mengumpulkan data dalam waktu yang singkat dan relatif murah dibandingkan metode wawancara. d. Peneliti dapat secara langsung memberikan penjelasan jika pernyataan atau pertanyaan yang tidak dipahami oleh responden

2. Metode observasi

Observasi merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar. Metode observasi digolongkan menjadi dua yaitu: a. Participant observation, yaitu peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data. b. Non-participant observation, yaitu penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati. Kelemahan metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa. 3. Wawancara Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung anta pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data, wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan. Wawancara terbagai menjadi wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur yaitu peneliti telah mengetahui pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, 23 kamera foto dan material lainnya yang dapat membantu kelancaran wawancara. Sedangkan wawancara secara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.

Pengumpulan Data (skripsi tesis dan disertasi)

Data digunakan untuk mengukur nilai satu atau lebih variabel dalam sampel atau populasi. Data merupakan cerminan dari suatu variabel menurut klasifikasinya seperti berdasarkan sifatnya, sumbernya, cara memperolehnya, dan waktu pengumpulannya (Suryani, 2015). 1. Data Menurut Jenisnya Data menurut jenisnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif (non-metric) seperti jenis kelamin, pendidikan, warna, suku dan sebagainya. Sedangkan kuantitatif (metric) adalah data berbentuk angka. 2. Data Menurut Sifatnya Data menurut sifatnya dikelompoknya menjadi dua yaitu data diskrit dan kontiniu. Data diskrit adalah data dalam bentuk bilangan bulat. Sedangkan data kontiniu adalah data yang mempunyai nilai yang terletak dalam seluruh interval. 3. Data Menurut Sumbernya Data menurut subernya dikelompokkan menjadi dua yaitu data internal dan data eksternal. Data internal adalah data yang menggambarkan keadaan atau kegiatan di dalam sebuah organisasi. Sedangkan data eksternal adalah data yang menggambarkan keadaan atau kegiatan di luar organisasi. 4. Data Menurut Cara Memperolehnya a. Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh organisasi atau perorangan langsung dari objeknya. Pengumpulan data tersebut dilakukan secara khusus untuk mengatasi masalah riset yang sedang diteliti. 21 b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain, biasanya sudah dalam bentuk publikasi. 5. Data Menurut Waktu Pengumpulannya Data menurut waktu pengumpulannya dikelompokkan menjadi tiga, yaitu crosss-section, time series dan data panel. Data cross-section adala data yang dikumpulkan pada suatu waktu tertentu yang dapat menggambarkan keadaan atau kegiatan pada waktu tertentu. Time series (data berskala) adalah daya yang dikumpulkan dalam waktu ke waktu untuk memberikan gambaran tentang perkembangan suatu kegiatan selama periode spesifik yang diamati. Data berskala sering kali disebut pula sebagai data historis. Sedangkan data panel adalah data gabungan time series dan cross section

.Uji Hipotesis PLS (skripsi tesis dan disertasi)

 

Untuk pengujian seluruh hipotesis maka digunakan metode Partial Least Square (PLS). Partial Least Square (PLS) merupakan metode analisis yang powerfull oleh karena tidak didasarkan banyak asumsi (Ghozali, 2014). Dengan metode PLS maka model yang diuji dapat mempergunakan asumsi: data tidak harus berdistribusi normal, skala pengukuran dapat berupa nominal, ordinal, interval maupun rasio, jumlah sampel tidak harus besar, indikator tidak harus dalam bentuk refleksif (dapat berupa indikator refleksif dan formatif) dan model tidak harus berdasarkan pada teori (Ghozali, 2014). Dengan uji t, yaitu untuk menguji signifikansi konstanta dan variabel independen yang terdapat dalam persamaan tersebut secara individu apakah berpengaruh terhadap nilai variabel dependen (Ghozali, 2014). Untuk pengujian ini dilakukan dengan melihat output dengan bantuan program aplikasi SmartPLS. Jika nilai T hitung < T tabel, maka Hipotesis nol ditolak, (koefisien regresi signifikan). Dalam pengujian hipotesis tingkat signifikansi yang digunakan adalah 95% ( = 0.05). Nilai T tabel dengan tingkat signifikansi 95% adalah 1.96. Model 19 persamaan struktural dalam penelitian ini akan diselesaikan dengan program SmartPLS 3.0

Model Struktural atau Inner Model (skripsi tesis dan disertasi)

Dalam menilai model struktural dengan PLS, dimulai dengan melihat nilai R-Square untuk setiap variabel laten endogen sebagai kekuatan prediksi dari model struktural. Perubahan nilai R-Square dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh substantive atau yang paling pokok. Nilai R-Square 0.67, 0.33, 0.19 dapat disimpulkan bahwa model dikatakan baik, moderate dan lemah (Ghozali, 2014)

Model Pengukuran atau Outer Model (skripsi tesis dan disertasi)

Dalam PLS model pengukuran atau outer model dengan indikator refleksif dievaluasi dengan convergent validity dan discriminat validity dari indikatornya serta composite reliability untuk blok indikator. Sedangkan indikator formatif dievaluasi berdasarkan pada substantive content-nya yaitu membandingkan besarnya relative weight dan melihat siginifikansi dari ukuran weight tersebut (Ghozali, 2014). Variabel laten yaitu variabel yang tidak dapat diukur langsung (harus dengan indikator atau kuesioner). Sedangkan indikator refleksif adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel laten. Jadi model indikator refleksif adalah 17 konstruk atau variabel laten diijelaskan oleh indikator atau arah hubungan dari konstruk ke indikator. Indikator-indikator mengukur hal yang sama tentang konstruk, sehingga antar indikator harus memiliki korelasi yang tinggi. Jika salah satu indikator dibuang, maka konstruk akan terpengaruh. Dalam model indikator formatif dipandang sebagai variabel yang mempengaruhi variabel laten. Jadi model indikator formatif yaitu indikator mempengaruhi konstruk atau hubungannya dari indikator ke konstruk, antar indikator diasumsikan tidak saling berkorelasi sehinga satu indikator dibuang tidak akan mempengaruhi konstruk (Ghozali, 2014). Pengujian outer model dilakukan dalam 4 tahap yaitu: 1. Convergent Validity Convergent validity dari model pengukuran dengan indikator refleksif dinilai berdasarkan korelasi antara item score atau component score dengan construct score yang dihitung dengan PLS. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0.70 dengan konstruk yang ingin diukur. Namun demikian untuk penelitian awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0.50 sampai dengan 0.60 dianggap cukup (Ghozali, 2014). 2. Discriminant Validity Discriminat validity dari model pengukuran dengan indikator refleksif dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya, maka hal itu menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran pada blok mereka lebih baik daripada ukuran pada blok lainnya (Ghozali, 2014). 3. Square root of Average Variance Extracted (AVE) Setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. Jika nilai akar AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik (Ghozali, 2014). 18 4. Compositre Reliability Penilaian yang biasa digunakan untuk menilai reliabilitas konstruk dan dinyatakan reliable jika nilai composite reliability dan cronbach alpha di atas 0.70 untuk penelitian bersifat konfirmasi dan 0.60-0.70 masih dapat diterima untuk penelitian yang bersifat exploratory atau penyelidikan (Ghozali, 2014).

Partial Least Square (PLS) (skripsi tesis dan disertasi)

Sebagai alternatif covariance based SEM, pendekatan covariance based atau component based dengan PLS orientasi analisis bergeser dari menguji model kausalitas atau teori ke covariance based predictive model. CBSEM lebih berorientasi pada model building yang dimaksudkan untuk menjelaskan covariance dari semua observed indikators, sedangkan tujuan PLS adalah prediksi. Variabel laten didefinisikan sebagai jumlah dari indikatornya. Algoritma PLS ingin mendapatkan the best weight estimate untuk setiap blok indikator dari setiap variabel laten. Hasil komponen skor untuk setiap variabel laten didasarkan pada estimated indicator weight yang memaksimumkan variance explained untuk variabel dependent atau laten, observe atau keduanya (Ghozali, 2014). Partial least square (PLS) merupakan metode analisis yang powerfull oleh karena tidak didasari banyak asumsi. Data tidak harus terdistribusi normal multivariate (indikator dengan skala kategori, ordinal, interval, sampai ratio dapat digunakan pada model yang sama), sampel tidak harus besar. Walapun PLS dapat juga digunakan untuk mengkonfirmasi teori, tetapi dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten. Oleh karena lebih menitik beratkan pada data dan dengan prosedur estimasi yang terbatas, maka mispersifikasi model tidak begitu berpengaruh terhadap estimasi parameter. Dibandingkan dengan CBSEM, component based SEM–PLS menghindari dua 15 masalah serius yaitu inadmisable solution dan factor indeterminacy (Ghozali, 2014). PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refletif dan indikator formatif dan hal ini tidak mungkin dijalankan dalam CBSEM karena akan terjadi unidentified model. Oleh karena algoritma dalam PLS menggunakan analisis series ordinary least square, maka identifikasi model bukan masalah dalam model rekursif dan juga tidak mengasumsikan bentuk distribusi tertentu dari pengukuran variabel. Lebih jauh efesiensi perhitungan algoritma mampu mengestimasi model yang besar dan komplek dengan ratusan variabel laten dan ribuan indikator (Ghozali, 2014). Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa jika model struktur dan model pengukuran yang dihipotesiskan benar dalam artian menjelaskan covariance semua indikator dan kondisi data serta sample size terpenuhi, maka covariance based SEM memberikan estimasi optimal dari parameter model. Ini ideal untuk konfirmasi model dan estimasi kebenaran parameter populasi. Namun demikian tergantung dari tujuan si peneliti dan pandangan epistemic dari data ke teori, properti data yang ada, tingkat pengetahuan teoritis dan pengembangan pengukuran, pendekatan PLS mungkin lebih cocok

Structural Equation Model (SEM) (skripsi tesis dan disertasi)

Structural Equation Model (SEM) adalah suatu teknik statistik yang mampu menganalisis variabel laten, variabel indikator dan kesalahan pengukuran secara langsung. Teknik ini dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang ada dalam penelitian. SEM digunakan bukan untuk merancang suatu teori, tetapi lebih ditujukan untuk memeriksa dan membenarkan suatu model. SEM terbagi atas 2 jenis varian, yaitu SEM covariance based dan SEM componenet based (Ghozali, 2014). SEM memiliki dua tujuan utama dalam analisisnya, tujuan yang pertama yaitu menentukan apakah model possible (masuk akal) atau fit, atau dengan kata lain menguji fit suatu model yaitu kesesuaian model dengan data empiris. Tujuan kedua yaitu menguji berbagai hipotesis yang telah dibangun sebelumnya. SEM memiliki 4 perbedaan dengan regresi biasa dan teknik multivariate lainnya yaitu: 1. SEM membutuhkan lebih dari sekedar perangkat statistik yang didasarkan atas regresi biasa dan analisis varian. 14 2. Regresi biasa, umumnya, menspesifikan hubungan kausal antara variabel-variabel teramati, sedangkan pada model variabel laten SEM, hubungan kausal terjadi di antara variabel-variabel tidak teramati atau variabel-varibel laten. 3. SEM selain memberikan informasi tentang hubungan kausal simultan di antara variabel-variabelnya, juga memberikan informasi tentang muatan faktor dan kesalahan-kesalahan pengukuran. 4. Estimasi terhadap multiple interrelated dependence relationships. pada SEM sebuah variabel bebas pada satu persamaan bisa menjadi variabel terikat pada persamaan lain.

Data yang diuji dalam PLS (skripsi tesis dan disertasi)

a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah item-item yang ada dalam kuesioner mampu mengukur peubah yang didapatkan dalam penelitian ini. (Ghozali, 2006). Maksudnya untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuesioner dilihat jika pertanyaan dalam kuesioner tersebut mampu mengungkapkan suatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

b. Uji Reabilitas

Instrumen dikatakan reliabel terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten meskipun diuji berkali-kali. Jika hasil dari Cronbach alpha > 0,60 maka data tersebut mempunyai keandalan yang tinggi. (Ghozali, 2006).

c. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dengan menggunakan metoode Partial Least Square (PLS). PLS merupakan metode alternatif analisis dengan Structural Equation Modeling (SEM) yang berbasis varians. Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan metode resampling Bootstrap. Statistik uji yang digunakan adalah statistic t atau uji t. Kriteria pengujian untuk variabel laten eksogen berpengaruh terhadap variabel laten endogen apabila t-hitung > t-tabel dengan nilai t-tabel sebesar 1.96 (pada taraf nyata 5%) untuk P Values < 0.05. P Values merupakan ukuran probabilitas kekuatan dan bukti unuttuk menolak atau menerima hipotesis. Semakin kecil nilai P maka akan semakin kuat bukti tersebut untuk menolak Hipotesis

Estimasi Pada PLS (skripsi tesis dan disertasi)

Langkah selanjutnya untuk mengestimasi setelah mengembangkan model adalah dengan menguji kriteria pada setiap indikator yang ada. Model jalur yang telah dikembangkan kemudian diuji dnega perhitungan algoritma yang telah tersedia di dalam program. Apabila ada indikator dengan loading factor dibawah 0.70 maka indikator tersebut perlu dikeluarkan atau dibuang dari model dan dilakukan estimasi ulang. Setelah semua indikator sudah memenuhi syarat maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji hubungan dengan menu Bootstrapping pada program di software Smart-PLS.Hasil output hubungan dan signifikansi setiap variabel akan muncul dan kemudian diidentifikasi. (Ghozali, 2006).

Spesifikasi dan EValuasi Model (skripsi tesis dan disertasi)

Model Analisis jalur semua variabael laten dalam PLS terdiri dari tiga set hubungan yaitu Outer Model yang menspesifikasi hubungan variabel laten dengan indikator lainnya yang merupakan nilai kasus dari variabel laten yang dapat diestimasi, Inner Model yang menspesfikasi hubungan antar variabel laten. a. Evaluasi Goodness-of-fit Outer Model Goodness of fit Outer model refleksif meliputi convergent validity, discriminant validity, dan composite reliability. Sedangkan untuk Outer model formatif dievaluasi dengan signifikansi dari pembobotan (weight). Goodness of fit Outer model refleksif adalah sebagai berikut:

1. Convergent Validity Convergent Validity mengukur besarnya korelasi antara konstrak dengan variabel laten. Dalam evaluasi Convergent Validity dari pemeriksaan individual item Realibility dapat dilihat dari nilai Standardized loading factor. Standardized loading factor menggambarkan besarnya korelasi antara setiap item pengukuran (indicator) dengan konstraknya. Nilai loading factor diatas 0,7 dapat dikatakan ideal artinya bahwa indicator tersebut dikatakan valid sebagai indicator yang mengukur konstak. Meskipun demikian, nilai Standardized loading factor diatas 0,5 dapat diterima, sedangkan nilai Standardized loading factor dibawah 0,5 dapat dikeluarkan dari model. (Chin & Marcolin, 1996). 2. Discriminant Validity Discriminant validity dari model reflektif dievaluasi melalui cross loading, kemudian membandingkan nilai AVE dengan kuadrat nilai kolerasi antar konstrak (atau membandingkan square root average variance extracted (akar AVE) dengan korelasi antar kontrak). Ukuran cross loading adalah membandingkan korelasi indicator dengan kontraknya dan kontrak dari blok lainnya. Bila kolerasi antara indikator dengan kontraknya lebih tinggi dari kolerasi dengan kontrak blok lainnya, hal ini menunjukkan kontrak tersebut memprediksi ukuran pada blok mereka dengan lebih baik dari blok lainnya. Ukuran discriminant validity lainnya adalah bahwa nilai akar AVE harus lebih tinggi daripada kolerasi antara kontrak dengan kontrak lainnya atau nilai AVE lebih tinggi dari kuadrat kolerasi antar kontrak merupakan pengukuran indikator dengan variabel latennya. Fornell dan Lacrker (1981) menyatakan ukuran AVE ini dapat juga digunakan untuk mengukur reliabitilas component score variable 20 laten dan hasilnya lebih konservatif dibandingkan dengan composite reliability. (Sofyan & Kurniawan, 2011)

3. Composite Reliability Composite reliability lebih baik dalam mengukur internal consistency dibandingkan cornbach’s alpha dalam model SEM dikarenakan composite reliability tidak mengasumsikan kesamaan boot dari setiap indikator. Cronbach’s alpha cenderung menaksir lebih rendah contruct reliability dibandingkan composite reliability. Interpretasi composite reliability sama dengan cronbach’s alpha. Nilai batas 0,7 keatas berarti dapat diterima dan diatas 0,8 dan 0,9 berarti sangat memuaskan. (Sofyan & Kurniawan, 2011)

b. Evaluasi Goodness-of-fit Inner model Goodness of Fit inner model diukur menggunakan R-square variabel laten dependen dengan interpretasi yang sama dengan regresi. Hasil R-square 0.67 dapat diindikasikan baik, 0,33 dapat diindikasikan sebagai moderat, dan 0.19 sebagai hasil yang lemah. Q- 21 Square predictive relevance untuk model struktural, megukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-square > 0 menunjukkan model memiliki predictive relevance; sebaliknya jika nilai Q-Square ≤ 0 menunjukkan model kurang memiliki predictive relevance

Di mana 𝑅1², 𝑅2² … 𝑅𝑝² adalah R-square variabel endogen dalam model persamaan. Besaran 𝑄 2 memiliki nilai dengan rentang 0 < 𝑄 2 < 1, dimana semakin mendekati 1 berarti model semakin baik. Besaran 𝑄 2 ini setara dengan koefisien determinasi total pada analisis jalur (path analysis)

Analisa model struktutal Partial Least Square (PLS) (skripsi tesis dan disertasi)

 

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan software SmartPLS. Partial Least Square dapat digunakan untuk memprediksi ada atau tidaknya hubungan yang terjadi antara variabel laten satu dengan variabel laten lainnya dengan situasi kompleksitas yang tinggi dan dukungan teori yang rendah. (Ghozali, 2006). Penelitian ini menggunakan metode Partial Least Square dengan alasan karena penelitian ini 18 menggunakan hasil dari jawaban kuesioner sebagai sumber data. Teknik analisis yang digunakan ini berguna untuk mengetahui pengaruh retail service quality dengan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Berikut adalah pemaparan prosedur yang dipakai dalam metode PLS secara umum. (Ghozali, 2006)

Identifikasi Indikator pada SEM-Partial Least Square (SEM-PLS) (skripsi tesis dan disertasi)

SmartPLS bertujuan untuk memprediksi suatu model dan mengkonfirmasi teori yang telah ada, tetapi bisa juga digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar peubah atau variabel laten. Model analisis jalur semua variabel laten dalam smartPLS terdiri dari tiga set hubungan: a. Inner model yang menspesifikasi hubungan antar variabl laten (structural model). Inner model menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan substantive theory. b. Outer model yang menspesifikasi hubungan antara variabel laten dengan indikator atau variabel manifestnya (measurment model). Outer model juga mendefinisikan bagaimana setiap blok indikator berhubungan dengan variabel latennya. 17 c. Weight relation di mana nilai kasus dari variabel laten dapat diestimasi. Tanpa kehilangan generalisasi, dapat diasumsikan bahwa variabel laten dan indikator atau manifest variabel diskala zero means dan unit variance sehingga parameter lokasi dapat dihilangkan dalam model. Pengolahan dalam penelitian ini menggunakan model Structural Equation Model (SEM) dengan smartPLS. Hubungan kausalitas model SEM ini untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui diagram path. Ada beberapa hal yang membedakan analisis PLS dengan model analisis SEM yang lain: a. Data tidak harus berdistribusi normal. b. Dapat digunakan sampel kecil. Minimal sampel>30 dapat digunakan. c. PLS selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan teori, dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten. d. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator reflektif dan formatif. e. PLS mampu mengestimasi model yang besar dan kompleks dengan ratusan variabel laten dan ribuan indicator. (Sanjiwani & Jayanegara, 2015).

Partial Least Square (PLS) (skripsi tesis dan disertasi)

Menurut Ghozali (2006), Partial Least Square (PLS) merupakan orientasi model persamaan struktural yang digunakan untuk menguji teori atau untuk mengembangkan teori (tujuan prediksi). (Ghozali, 2006). PLS ini adalah pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan Structur Equation Modelling (SEM) berbasis kovarian (mengukur besarnya hubungan antara dua variabel) menjadi berbasis varian (ukuran korelasi antara dua variabel acak yang sama). PLS ini sering diterapkan karena tiga alasan yaitu diatribusi data, ukuran sampel, dan penggunaan indikator formatif. Dinyatakan oleh Wold dalam Ghozali (2006), metode ini merupakan metode yang sangat kuat, karena tidak didasarkan oleh banyak asumsi, data tidak harus terdistribusi dengan normal multivariate (indikator dengan skala kategori sampai rasio dapat digunakan pada model yang sama) dan untuk bahan sampel tidak harus besar dengan minimal sampel 30-50 sudah dapat diaplikasikan dan sudah layak untuk dijadikan sampel penelitian. (Ghozali, 2006). Sedangkan, menurut Wold dalam Hoyle (1999), PLS merupakan metode analisis yang “powerfull” karena dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar. (Ghozali, 2006). Walaupun PLS dapat juga digunakan untuk mengkonfirmasi teori, tetapi dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara variabel laten. Selain dapat digunakan untuk mengeksplorasi hubungan antar variabel dengan landasan teori lemah atau belum ada, PLS juga dapat digunakan untuk pengujian hipotesis. PLS merupakan pendekatan yang lebih tepat untuk tujuan prediksi. Konstrak terbagi menjadi 16 dua, yaitu konstrak eksogen dan konstrak endogen. Konstrak eksogen merupakan konstrak penyebab, konstrak yang tidak dipengaruhi oleh konstrak lainnya. Konstrak eksogen memberikan efek kepada konstrak lainnya, sedanhkan konstrak endogen merupakan konstrak yang dijelaskan oleh konstrak eksogen. Konstrak endogen adalah efek dari konsrrak eksogen. (Yamin dan Kurniawan, 2010)

Analisis N Vivo

Pada Nvivo sumber data yang dianalisis dapat dibagi menjadi empat yaitu pertama sumber data penulisan internal (internals), kedua sumber data penulisan eksternal (eksternal), ketiga catatan-catatan penulisan selama pengumpulan data (memos) dan terakhir keempat yaitu kerangka matriks (framework matrices). Internal sources dalam konteks ini adalah semua sumber data penulisan kualitatif yang dapat dimasukkan dalam Nvivo, misalnya rekaman, wawancara, transkrip wawancara, catatan selama melakukan penulisan, foto, tabel data survei, isi website tertentu, data bases dan video. External sources merupakan materi penulisan yang tidak dapat dimasukkan secara langsung dalam Nvivo, misalnya buku referensi dari perpustakaan atau jurnal versi cetak. Memos adalah sumber data penulisan berupa catatan penulis selama melakukan penulisan. Framework matrices merupakan ringkasan hasil observasi terhadap partisipan tertentu dan tema dalam proyek yang sudah dibuat dalam tabel matriks (Bandur, 2016) ϰϬ Selain itu, NVivo juga memastikan pengkodean yang mudah, efektif dan efisien yang membuat pengambilan menjadi lebih mudah (Zamawe, 2015). Sehingga dalam NVivo, semua sumber disimpan bersama di bawah satu atap, meskipun file terletak di tempat yang berbeda dalam proyek yang sama, tautan yang dibuat memudahkan pengambilan sementara dalam pengkodean manual. Pada NVivo menurut (Neill, 2013) terdapat beberapa manfaat, seperti dapat membuat auditable footprint, lebih eksplisit dan reflektif, serta meningkatkan transparansi.

Sejarah N Vivo

Nvivo pada mulanya dikembangkan pada tahun 1981 oleh programer Tom Richards dengan nama Non-Numerical Unstructured Data Indexing Searching and Theorizing (NUDIST). Sejak tahun 2002, NUDIST diganti dengan Nvivo. “N adalah singkatan dari NUDIST dan Vivo diambil dari in-vivoெ yang berarti melakukan koding berdasarkan data yang hidup (nyata) dialami partisipan di lapangan. Penamaan Nvivo menunjukkan fungsi utama software untuk melakukan koding data dengan efektif dan efisien. NVivo adalah sofware analisa data kualitatif yang dikembangkan oleh Qualitative Solution and Research ϯϵ (QSR) international. QSR sendiri adalah perusahaan pertama yang mengembangkan software analisa data kualitatif. Nvivo berawal dari kemunculan software NUD*IST (Nonnumeric Unstructured Data, Index Searching, and theorizing) pada tahun 1981 (Bazeley dan Jackson, 2007). Dalam penulisan ini, penulis memilih menggunakan NVivo 11 plus dalam analisa data. Dengan demikian, kunci untuk mendapatkan presentasi data dalam bentuk tabel, grafik, diagram, dan model bagi penulis kualitatif yang menggunakan Nvivo ialah bagaimana melakukan koding terhadap sumber data penulisan.

Definisi Metode Penelitian Sosial

Definisi teknik penelitian sosial adalah sebuah teknik penelitian yang dipergunakan oleh para peneliti untuk mendapatkan informasi atau fakta dalam rangka menemukan solusi atas setiap permasalahan yang telah terjadi berdasarkan metoda sistematis dan ilmiah.

Metode penelitian dimulai dari menentukan objek yang akan diriset. Untuk teknik riset sosial maka yang diteliti adalah objek sosial. Kemudian mencari data-data terhadap objek sosial tersebut. Dilanjutkan dengan mengolah data sampai didapatkan sebuah kesimpulan.

Metode riset sosial bukan hal asing lagi bagi mereka yang menempuh pendidikan tinggi dalam bidang kuliah ilmu sosial atau mahasiswa jurusan sosial. Seperti fakultas sosiologi atau budaya. Para mahasiswa akan terbiasa melakukan penelitian sosial yang dibukukan dalam bentuk makalah, skripsi maupun laporan.

Teknik penelitian ini merupakan hal wajib yang digunakan untuk meneliti sebuah fenomena sosial. Banyak permasalahan sosial yang bisa diselesaikan dengan baik setelah menggunakan teknik penelitian sosial. Dari mulai kenakalan kalangan pelajar SMP, SMA dan Mahasiswa sudah dibiasakan dalam melakukan penelitian.

Reliabilitas dan Validitas (skripsi dan tesis)

Menurut Jogiyanto (2008), pengukuran konsep senyatanya berhubungan dengan validitas (seberapa aktual dapat dikatakan valid) dan pengukuran seakuratnya berhubungan dengan reliabilitas (seberapa akurat dapat diandalkan). Perbedaan konsep reliabilitas dan validitas dalam mengukur suatu instrumen penelitian khususnya kuesioner akan dijelaskan pada sub bab di bawah ini.
1. Reliabilitas
Reliabilitas adalah tingkat seberapa besar suatu pengukur mengukur dengan stabil dan konsisten. Besarnya tingkat reliabilitas ditunjukkan oleh nilai koefisien reliabilitas. Koefisien reliabilitas dapat digunakan untuk mengukur macammacam reliabilitas yang terdiri dari 4 jenis yakni reliabilitas antar-penilai (interrater reliability), reliabilitas tes-tes ulang (test-retest reliability), reliabilitas bentukparalel (parallel-form reliability), dan reliabilitas konsistensi internal (internal 21 consistency reliability). Pada penelitian ini koefisien reliabilitas yang digunakan adalah reliabilitas konsistensi internal. Reliabilitas ini mengukur seberapa konsisten item-item yang berbeda merefleksikan suatu faktor yang sama akan memberikan hasil yang sama. Salah satu cara menghitung reliabilitas ini adalah dengan menggunakan rumus Cronbach’s coefficient alpha. Rumus ini dapat digunakan apabila variansi dan kovariansi dari item-item tidak sama atau berbeda

 2. Validitas
 Validitas menunjukkan bahwa suatu pengujian benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas dapat berupa validitas eksternal dan validitas eksternal. a. Validitas eksternal Validitas eksternal menunjukkan bahwa hasil dari suatu penelitian adalah valid yang dapat digeneralisasi ke semua obyek, situasi dan waktu yang berbeda. Validitas eksternal ini banyak berhubungan dengan pemilihan sampel. b. Validitas internal Validitas internal menunjukkan kemampuan dari instrumen riset mengukur apa yang seharusnya diukur dari suatu konsep. Validitas internal menjawab pertanyaan apakah riset sudah menggunakan konsep yang seharusnya (aktual). Validitas internal dapat dikelompokkan menjadi 3 yakni validitas isi (content validity), validitas berhubungan dengan kriteria (criterion-related validity), dan validitas konstruk (construct validity). Pengujian validitas data pada penelitian ini dibatasi hanya untuk validitas internal saja karena data sekunder yang diperoleh hanya berasal dari satu perusahaan. Oleh karena itu, besar kemungkinan bahwa data tersebut tidak dapat digeneralisasikan ke semua obyek. Secara eksplisit dapat dikatakan bahwa model hasil penelitian ini lebih valid digunakan untuk PT X, walaupun tidak 22 menutup kemungkinan dapat digunakan pula sebagai referensi tambahan untuk model employee engagement secara umum. Pada penelitian kali ini, uji validitas internal yang digunakan adalah uji validitas konstruk dengan melihat nilai Spearman’s correlation antar indikator. Koefisien Spearman’s correlation merupakan pengukuran statistik dari kekuatan hubungan monotonic sepasang data. Pertimbangan menggunakan Spearman’s correlation dibandingkan dengan Pearson’s correlation dikarenakan data yang digunakan tidak memenuhi asumsi Pearson’s correlation yakni tipe data yang berupa interval atau rasio, memiliki hubungan linear, dan terdistribusi normal bivariat. Berbeda dengan Pearson’s correlation, asumsi yang harus dipenuhi oleh Spearman’s correlation adalah data dapat berupa interval, ratio, atau ordinal. Selain itu, hubungan antar sepasang data yang harus terjadi adalah monotonic function dan tidak perlu memenuhi asumsi normalitas data. Oleh karena itu koefisien Spearman’s correlation ini disebut sebagai statistik nonparametrik. Telah disebutkan sebelumnya bahwa asumsi yang harus dipenuhi apabila ingin menggunakan Spearman’s correlation adalah hubungan antar sepasang data yang terjadi harus monotonic. Sebuah fungsi monotonic adalah sebuah fungsi yang terjadi apabila variabel independen meningkat maka variabel dependen tidak akan meningkat atau menurun nilainya.

Model Struktural (Inner Model) (skripsi dan tesis)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa perhatian atau titik berat utama dari analisis PLS-SEM adalah pada variansi yang mampu dijelaskan oleh model seperti pada penentuan signifikansi dari seluruh estimasi jalur. Secara spesifik, kekuatan dan kesesuaian prediktif dari suatu model struktural ditentukan oleh nilai R2 (R-square) variabel laten endogen. Perubahan nilai pada R2 dapat ditinjau untuk melihat apakah efek dari sebuah variabel laten eksogen terhadap sebuah variabel laten endogen memiliki dampak yang nyata atau tidak.

dimana dan adalah R2 yang tertera pada variabel laten endogen saat variabel laten eksogen digunakan atau dikeluarkan dari persamaan struktural secara bersamaan. Perhitungan kesesuaian prediktif tidak cukup hanya dilihat dari nilai R2 saja. Teknik penggunaan sampel kembali (blindfolding) yang diciptakan oleh Stone (1974) dan Geisser (1975) menghasilkan Q2 yang merepresentasikan hasil pengukuran dari seberapa baik variabel terukur direkonstruksi oleh model dan estimasi parameternya
Secara singkat, prosedur dari blindfolding ini adalah mengambil sebuah blok dari sejumlah N responden (case) dan K indikator serta pengambilan porsi dari N oleh K titik data. Dengan menggunakan omission distance D, titik pertama (responden 1 indikator 1) dihilangkan dan lalu setiap titik data D lainnya yang dipindah antar kolom dan baris dihilangkan sampai tercapai akhir dari matriks data. Dengan titik data yang tersisa, estimasi diperoleh dengan cara menangani missing values 20 lewat penghapusan berpasangan (pairwise deletion), substitusi rata-rata (mean substitution), atau dengan prosedur imputasi lain. Jumlah dari kuadrat prediksi kesalahan (E) dihitung saat titik data yang dihilangkan diprediksi. Jumlah kuadrat kesalahan menggunakan rata-rata untuk prediksi (O) juga turut dihitung. Titik data yang dihilangkan dikembalikan dan kemudian berlanjut ke titik data selanjutnya pada matriks data (responden 1 indikator 2) sesuai dengan titik permulaan untuk baris baru dari penghilangan. E dan O yang baru dihitung. Proses ini berlanjut sampai set D dari E dan O diperoleh. Selain Q2 ada pula perhitungan kesesuaian spesifikasi model yang diistilahkan sebagai indeks Goodness of Fit (GoF). Pada PLS-SEM sendiri, GoF berperan sebagai ukuran performansi baik untuk model pengukuran (outer model) dan model struktural (inner model) dengan fokus pada prediksi keseluruhan performansi model
Tenenhaus et al. (2005) mendefinisikan GoF sebagai akar dari perkalian antara rata-rata communality index dan rata-rata R2 . Communality index untuk sebuah variabel laten didefinisikan sebagai jumlah dari muatan kuadrat variabel laten tersebut, dengan masing-masing muatan berasosiasi dengan sebuah indikator, dibagi dengan jumlah indikatornya.

Model Pengukuran (Outer Model) (skripsi dan tesis)

Pengukuran outer model berfokus pada pengukuran antara variabel laten dengan indikatornya. Pengukuran ini bertujuan untuk memeriksa kesesuaian indikator dalam operasionalisasi variabel laten. Aspek pengukuran outer model terdiri dari validitas diskriminan, reliabilitas, dan validitas konvergen. Menurut Chin (1998), ada dua jenis informasi PLS-SEM umum yang merepresentasikan pengukuran validitas diskriminan yakni nilai average variance extracted (AVE) masing-masing variabel laten dan korelasi antar variabel laten dengan menggunakan akar dari average variance extracted (AVE). AVE diciptakan oleh Fornell dan Larcker (1981) dengan tujuan untuk mengukur jumlah variansi (variance) yang variabel laten peroleh dari indikatornya relatif terhadap jumlah kesalahan pengukuran. AVE hanya berlaku untuk model pengukuran reflektif (Mode A)

Apabila suatu model sudah memenuhi syarat validitas diskriminan, maka pengukuran terhadap relibilitas dapat dilakukan. Parameter untuk pengukuran reliabilitas variabel laten terdiri dari composite reliability dan Cronbach’s alpha. Composite reliability diformulasikan oleh Werts, Linn, dan Jöreskog (1974) adalah sebuah pengukuran konsistensi internal
dimana , , dan secara berturut-turut adalah beban faktor (factor loading), variansi faktor (factor variance), dan variansi kesalahan pengukuran (error variance). Sebagai perbandingan terhadap Cronbach’s alpha, saat alpha cenderung untuk berperan sebagai estimator reliabilitas batas bawah maka composite reliability merupakan pengukuran yang lebih dekat pada asumsi keakuratan estimasi para

Model pada PLS-SEM (skripsi dan tesis)

Analisis pada PLS-SEM biasanya terdiri dari dua sub model yakni model pengukuran (measurement model) atau sering disebut outer model dan model struktural (structural model) atau sering disebut inner model. Model pengukuran menunjukkan bagaimana variabel terukur merepresentasikan variabel laten untuk diukur. Model struktural menunjukkan kekuatan estimasi antar variabel laten. Variabel laten yang dibentuk dalam PLS-SEM, indikatornya dapat berbentuk reflektif maupun formatif (Ghozali, 2015). Indikator reflektif atau sering disebut dengan Mode A merupakan indikator yang bersifat manifestasi atau perwujudan dari variabel latennya. Untuk indikator formatif atau sering disebut dengan Mode B memiliki karakteristik bahwa perubahan dalam indikator akan menyebabkan perubahan pada variabel laten (Sholihin, 2013; Ghozali, 2015)

Partial Least Square – Structural Equation Modeling (PLS-SEM) (skripsi dan tesis)

Partial Least Squares (PLS) merupakan jenis SEM berbasis variance yang diciptakan untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh SEM berbasis covariance (Ghozali, 2015). Covariance Based SEM (CB-SEM) berfokus pada estimasi dari satu set parameter sebuah model agar matriks covariance teoritis tersirat oleh sistem persamaan struktural sehingga menjadi semirip mungkin dengan matriks covariance empiris yang terukur dalam suatu sampel (Reinartz et 16 al., 2009). Seperti yang diketahui bahwa penggunaan Covariance Based SEM (CB-SEM) yang diwakili oleh software seperti AMOS, EQS, LISREL, dan Mplus menuntut sampel dalam jumlah besar, data harus memenuhi berbagai asumsi parametrik, indikator variabel laten harus berbentuk reflektif, skala pengukuran harus continuous serta adanya dukungan teori yang kuat seringkali membuat peneliti kesulitan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut (Ghozali, 2015). Partial Least Squares merupakan metode analisis yang powerful dan sering disebut juga sebagai soft modeling karena meniadakan asumsi-asumsi regresi OLS (Ordinary Least Squares), seperti data harus terdistribusi normal secara multivariat dan tidak adanya problem multikolinieritas antar variabel eksogen (Wold, 1985). PLS tidak bekerja terhadap variabel laten akan tetapi lebih kepada blok variabel, dan estimasi parameter model bertujuan untuk maksimasi variansi terjelaskan (variance explained) untuk seluruh variabel laten endogen pada model melalui serangkaian regresi OLS (Reinartz et al., 2009). Tujuan CB-SEM adalah untuk menjelaskan hubungan (covariance) dari semua indikator variabel laten, sedangkan tujuan PLS adalah prediksi (Ghozali, 2015). Oleh karena PLS lebih menitikberatkan pada data dengan prosedur estimasi yang terbatas, maka persoalan misspecification model tidak terlalu berpengaruh terhadap estimasi parameter

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Menurut Hair et al. (2010), Structural Equation Modeling (SEM) adalah salah satu bagian dari model statistik yang menjelaskan hubungan antara beberapa variabel. SEM memeriksa struktur dari hubungan interelasi yang diekspresikan melalui serangkaian rumus layaknya rumus yang ada di regresi linear berganda. Rumus ini akan menggambarkan semua hubungan di antara faktor (variabel laten) yang terlibat dalam suatu analisis. Variabel laten direpresentasikan oleh serangkaian variabel terukur (manifest/indikator). Penggunaan variabel laten dalam model SEM didasarkan atas beberapa manfaat yang diperoleh dengan mengukur secara tidak langsung konsistensi antara variabel terukur. Manfaat pertama adalah berkurangnya kesalahan dalam pengukuran konsep yang didapat apabila merepresentasikan suatu konsep teoritis dengan menggunakan variabel terukur. Kedua, penggunaan variabel laten meningkatkan estimasi statistik dari hubungan antar konsep melalui pengukuran error dari konsep yang dianalisis. Variabel laten dalam SEM terbagi menjadi dua yakni variabel laten eksogen dan variabel laten endogen. Istilah variabel laten eksogen dan variabel laten endogen ini sama seperti halnya variabel dependen dan variabel independen pada regresi linear berganda. Variabel laten eksogen adalah serangkaian variabel independen dalam model SEM. Variabel laten eksogen ditentukan oleh variabel laten di luar model yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel laten di dalam model. Variabel laten endogen merupakan serangkaian variabel dependen dalam model SEM. Variabel laten endogen ini merupakan variabel yang dapat dijelaskan oleh variabel lain di dalam model

Kondisi Perusahaan (skripsi dan tesis)

Selain motivasi beserta faktor pendukungnya, kondisi perusahaan juga turut diidentifikasi pengaruhnya terhadap employee engagement. Perusahaan harus memenuhi aspek-aspek dari kebutuhan dasar bekerja karyawan berupa keselamatan, keamanan, infrastruktur lingkungan kerja, dan reputasi apabila ingin mewujudkan employee engagement yang stabil. Hal ini dikarenakan menurut AON Hewittt (2013) suatu hal yang tidak mungkin jika ingin mendapatkan karyawan yang terikat akan tetapi budaya, kondisi, serta reputasi perusahaan masih memiliki citra yang negatif.

Kompensasi (skripsi dan tesis)

Kompensasi dalam penelitian yang dilakukan Hewitt (2013) pada report berjudul “2013 Trends in Global Employee Engagement”, teridentifikasi sebagai salah satu faktor utama yang memengaruhi employee engagement. Kompensasi menduduki peringkat ketiga pada tahun 2012 sebagai top engagement driver. Menurut Nobile (1996), kompensasi adalah syarat dan ketentuan dari kegiatan memperkerjakan orang lain secara berbayar, dilindungi secara tegas oleh hukum federal, negara, dan diskriminasi lokal. Employee benefits berupa jaminan kesehatan, asuransi jiwa, cacat jangka panjang, dan rencana pensiun merupakan bagian dari kompensasi karyawan (Nobile, 1996). Selain benefit, kompensasi tentunya juga mencakup hal paling utama yang menjadi hak dari karyawan yakni gaji, tunjangan, dan bonus yang harus dibayarkan kepada karyawan (Nobile, 1996). Pemilihan kompensasi sebagai faktor dalam perancangan model employee engagement didasari oleh hasil Engagement Driver Analysis terhadap data ESI 13 Survey tahun 2014 dan 2015 menunjukan bahwa kompensasi selalu menempati area perbaikan. Dengan melakukan analisis SEM untuk perancangan model employee engagement PT X, maka penegasan terhadap kepentingan kompensasi dalam hubungannya dengan employee engagement dapat diperoleh. Didukung oleh penelitian yang dilakukan Aisha et al. (2013), analisis efek dari kemampuan bekerja, kondisi pekerjaan, motivasi, dan insentif (kompensasi) terhadap performansi karyawan menunjukan bahwa kondisi pekerjaan, motivasi, dan insentif (kompensasi) berpengaruh signifikan terhadap performansi karyawan. Antara employee engagement dan performansi karyawan diketahui bahwa, employee engagement memiliki korelasi positif dengan performansi karyawan (Lutfiyanti, 2012)

Motivasi (skripsi dan tesis)

Faktor motivasi sejak penyelenggaraan ESI Survey pada tahun 2014 selalu menempati posisi tiga faktor dengan rating tertinggi. Hal ini menunjukan bahwa motivasi karyawan PT X memiliki performa yang cukup baik. Selain melihat dari skor terhadap faktor motivasi itu sendiri, hasil dari Engagement Driver Analysis juga menunjukan bahwa faktor motivasi ini menjadi faktor yang memiliki dampak krusial bagi perusahaan. Menurut Bartol dan Martin (1998), motivasi didefinisikan sebagai suatu kekuatan yang memberikan energi dan arah kepada perilaku manusia serta mendasari kecenderungan manusia untuk mempertahankan perilaku tersebut. Dengan motivasi yang muncul pada diri setiap karyawan, maka karyawan akan selalu bersemangat untuk mencapai tujuan yang diniatkan. Hal tersebut ditunjukkan oleh penelitian Hay Consulting (2010) bahwa pertumbuhan pendapatan karyawan Arab Saudi yang termotivasi dalam bekerja  lebih besar dibandingkan dengan karyawan lain yang tidak termotivasi dalam bekerja. Telah disebutkan sebelumnya bahwa motivasi ditetapkan sebagai variabel mediasi (penengah) dalam model employee engagement yang dirancang untuk PT X. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi motivasi, penulis melakukan studi literatur terhadap teori-teori motivasi. Ditemukan 9 faktor yang digunakan oleh Labor Relations Institute of New York dalam mengadakan 11 survey pertama terhadap motivasi (Hersey dan Blanchard, 1969). Kesembilan faktor tersebut adalah: i. Apresiasi penuh terhadap pekerjaan yang diselesaikan ii. Pekerjaan yang menarik iii. Perasaan memiliki terhadap suatu hal iv. Kondisi pekerjaan yang baik v. Upah yang baik vi. Bantuan simpatik terhadap permasalahan pribadi vii. Loyalitas perusahaan terhadap karyawan viii. Promosi dan pertumbuhan di perusahaan ix. Keamanan pekerjaan Dari kesembilan faktor tersebut, penulis mengambil 4 faktor dari Hersey dan Blanchard (1969) yang akan dianalisis hubungannya terhadap motivasi di PT X. Keempat faktor tersebut adalah: a. Kompensasi Kompensasi merepresentasikan faktor upah yang baik meskipun cakupan kompensasi bukan hanya sekedar upah saja, namun juga meliputi benefit ataupun tunjangan untuk karyawan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa gaji (kompensasi) memiliki dampak yang besar terhadap motivasi. Penelitian yang dilakukan oleh Islam dan Ismail (2008) menunjukan bahwa gaji menduduki peringkat pertama untuk faktor yang paling memengaruhi motivasi di Malaysia. b. Pimpinan Pemilihan faktor pimpinan ini digunakan sebagai representasi dari apresiasi penuh terhadap pekerjaan yang diselesaikan. Peran pimpinan menjadi sangat penting karena pimpinan memiliki pengaruh langsung dalam menciptakan suasana kerja yang positif, produktif, dan efektif di tengah-tengah karyawan. Secara langsung maupun tidak, perilaku pimpinan di suatu perusahaan dapat memengaruhi motivasi karyawannya. Jika seorang pimpinan jeli dan rutin dalam mengapresiasi hasil pekerjaan karyawannya, maka bukan tidak mungkin bahwa level motivasi di perusahaan tersebut akan selalu terjaga performanya. c. Kesempatan karir Faktor kesempatan karir dipilih sebagai wujud dari representasi promosi dan pertumbuhan di perusahaan. Aktivitas promosi jabatan menjadi ajang aktualisasi diri yang dapat meningkatkan motivasi. Dengan meningkatnya jabatan pekerjaan seseorang serta kesempatan karir yang terbuka luas dan adil, maka 12 karyawan akan termotivasi untuk menunjukan kinerja terbaiknya bagi perusahaan. d. Rekan kerja Faktor rekan kerja ini merepresentasikan bantuan simpatik terhadap permasalahan pribadi. Apabila suasana yang tercipta diantara rekan kerja terjalin dengan baik maka rasa sosial yang timbul dapat memengaruhi motivasi karyawan. Teman atau rekan kerja menjadi penting karena dalam suatu perusahaan tidaklah mungkin karyawan bekerja seorang diri. Dengan suasana positif yang tercipta dalam suatu tim kerja, maka motivasi karyawan untuk bekerja dan berkontribusi bagi perusahaan dapat tercipta. Teori lain tentang motivasi dinyatakan oleh Herzberg et al. (1993) yang mengategorikan motivasi menjadi dua yakni motivators (motivasi internal) dan hygiene (motivasi eksternal). Faktor hygiene seperti lingkungan kerja, gaji, benefit, dan kebijakan perusahaan diindikasikan memengaruhi motivasi eksternal karyawan (Herzberg et al., 1993). Ketidakpuasan kerja karyawan dapat terjadi apabila faktor hygiene ini tidak dipenuhi perusahaan (Herzberg et al., 1968). Faktor motivators seperti pekerjaan yang menarik dan menantang serta tanggung jawab yang lebih besar, dapat berdampak pada meningkatnya motivasi internal karyawan (Herzberg et al., 1968).

Employee Engagement (Keterikatan Karyawan) (skripsi dan tesis)

Studi tentang employee engagement menjadi populer di kalangan praktisi karena banyaknya jurnal-jurnal yang diterbitkan mengacu pada ilmu praktis untuk perusahaan. Namun faktanya, studi empiris terhadap employee engagement juga telah banyak dilakukan oleh para peneliti akademis (Saks, 2006). Awal perkembangan studi literatur employee engagement dalam lingkup akademik, dituliskan oleh Khan (1990) yang mendefinisikan employee engagement sebagai perilaku karyawan yang mengekspresikan kesungguhan bekerja mereka baik secara fisik, kognitif, maupun afektif. Penelitian tentang employee engagement menjadi penting karena employee engagement memiliki hubungan statistik dengan produktivitas, profitabilitas, retensi karyawan, keamanan, dan kepuasan konsumen (Buckingham dan Coffman, 1999). Institute of Employment Studies menyatakan bahwa employee engagement merupakan hasil dari hubungan dua arah antara perusahaan dan karyawan, dengan kedua belah pihak harus bersama-sama mewujudkannya (Markos et al., 2010). Saat ini, banyak perusahaan konsultan yang menaruh fokus besar terhadap employee engagement dikarenakan dampaknya yang cukup besar bagi pertumbuhan perusahaan. Sebut saja Gallup’s Buckingham dan Coffman (1999) yang mengakui bahwa karyawan yang terikat pada suatu perusahaan akan memengaruhi loyalitas konsumen. Gallup’s Buckingham dan Coffman (1999) juga menyatakan bahwa orang yang tepat, di posisi yang tepat, dengan manager yang tepat akan menciptakan employee engagement di suatu perusahaan. Selain Gallup Organization yang mengukur employee engagement menggunakan Q12 indeks nya, Hewitt (2004) juga mengukur employee engagement dengan menggunakan 18 drivers dan mendefinisikan employee engagement sebagai suatu sikap karyawan yang secara emosional dan intelektual berkomitmen penuh terhadap organisasi tempatnya bekerja dan diukur melalui 3 perilaku keluaran yakni say, stay, dan strive. Studi terkini yang dilakukan oleh AON Hewitt (2015) adalah diperbaharuinya drivers untuk mengukur level employee engagement suatu perusahaan. Terdapat 23 drivers yang digunakan oleh AON Hewitt (2015) dengan klasifikasi indikator drivers yang ditetapkan adalah sebagai berikut: a. Praktik Perusahaan i. Komunikasi ii. Customer focus 9 iii. Keberagaman dan inklusi iv. Penyediaan infrastruktur v. Pembekalan dan staffing b. Kebutuhan dasar i. Manfaat (benefit) ii. Keamanan pekerjaan iii. Keselamatan iv. Lingkungan kerja v. Keseimbangan kerja dan pola hidup c. Citra Perusahaan i. Reputasi perusahaan ii. Employee Value Proposition (EVP) iii. Corporate Social Responsibility (CSR) d. Kepemimpinan i. Kepemimpinan atasan/senior ii. Kepemimpinan birokratis (Bureaucratic Leadership) e. Prestasi i. Kesempatan karir ii. Pembelajaran dan pengembangan iii. Manajemen performansi iv. Manajemen SDM v. Penghargaan dan pengakuan diri f. Pekerjaan i. Kolaborasi ii. Pemberdayaan/otonomi iii. Tugas pekerjaan AON Hewitt (2015) mendefinisikan perilaku keluaran (behavioral outcomes) dari employee engagement menjadi tiga yakni: a. Say Perilaku say ini mengindikasikan bahwa karyawan akan berbicara positif tentang perusahaannya kepada rekan kerja, job seeker atau pencari lowongan kerja, dan konsumen. b. Stay Perilaku stay ini mengindikasikan bahwa karyawan memiliki intensi kuat untuk menjadi bagian dari perusahaan. Seorang karyawan yang sudah memiliki 10 perilaku stay ini akan cenderung setia untuk bertahan dan tidak akan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. c. Strive Perilaku strive mengindikasikan bahwa karyawan cukup termotivasi dan selalu memberikan usaha lebih untuk mencapai kesuksesan karir dan perusahaan mereka. Antara kepuasan karyawan dengan employee engagement merupakan dua hal yang sangat berbeda. Menurut Fernandez (2007), tidak cukup bagi seorang manager hanya mengandalkan indikator kepuasan karyawan untuk mengetahui dampaknya terhadap pertumbuhan perusahaan. Berangkat dari alasan tersebut, employee engagement hadir dan menjadi suatu konsep yang penting bagi perusahaan (Fernandez, 2007). Employee engagement adalah sebuah komitmen dan ketertarikan karyawan untuk memberikan usaha terbaik dalam rangka membantu perusahaan meraih kesuksesannya (Macey dan Schneider, 2008).

Kompensasi (skripsi dan tesis)

Karyawan yang bekerja dalam sebuah organisasi pasti membutuhkan kompensasi atau imbalan yang cukup dan adil, malah kalau bisa cukup kompetitif di banding dengan organisasi atau perusahaan lain. Sistem kompensasi yang baik akan sangat mempengaruhi semangat kerja dan produktivitas dari seseorang. Suatu sistem kompensasi yang baik perlu didukung oleh metode secara rasional yang dapat menciptakan seseorang digaji atau diberi kompensasi sesuai tuntunan pekerjaannya. Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan (Hasibuan, 2017). Kompensasi dibedakan menjadi dua, yaitu: Kompensasi langsung yaitu berupa gaji, upah dan insentif; dan kompensasi tidak langsung berupa asuransi, tunjangan, cuti, penghargaan. Istilah kompensasi mengacu kepada semua bentuk balas jasa uang dan semua barang atau komoditas yang digunakan sebagai balas jasa kepada karyawan (Daft, 2010). Menurut Pangabean (2012) kompensasi adalah setiap bentuk penghargaan yang diberikan karyawan sebagai balas jasa atas kontribusi yang mereka berikan kepada organisasi

Kinerja (skripsi dan tesis)

Secara garis besar, kinerja dapat dipahami sebagai hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, guna mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum, dan sesuai dengan moral maupun etika. Kinerja menurut As’ad (2004) Kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. Ukuran yang dilakukan oleh perusahaan memiliki kriteria dan periode tersendiri dalam menilai hasil kinerja karyawannya. Mangkunegara (2009) menyatakan bahwa kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli tersebut dapat dikatakan bahwa kinerja seseorang (individu) memiliki kaitan erat dengan produktivitas organisasi/perusahaan (Corporate Performance). Dengan kata lain kinerja yang baik dari karyawan akan memiliki dampak yang cukup besar pada produktivitas perusahaan. Seorang karyawan yang memiliki kemampuan Skill yang baik akan berusaha bekerja dengan kemampuan optimal ketika ia memiliki sebuah dorongan kerja yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari dalam perusahaan. Dorongan kerja yang berasal dari dalam misalnya skill yang dimiliki karyawan tersebut sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Sedangan dorongaan yang berasal dari perusahaan berupa gaji yang tinggi, lingkungan kerja yang nyaman dan juga penghargaan yang diberikan perusahaan terhadap karyawan tersebut. Ketika sekelompok karyawan memiliki kinerja yang baik, maka dampaknya dapat dilihat pada produktivitas perusahaan, yakni berupa pencapaian tujuan-tujuan perusahaan sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki.

Model-model dalam SPSS yang secara umum digunakan untuk melakukan analisis reliabilitas (skripsi dan tesis)

Model-model dalam SPSS yang secara umum digunakan untuk melakukan analisis reliabilitas antara lain: 1. Alpha (Cronbach) Merupakan model dengan konsestensi internal yang berdasarkan pada kolerasi rata-rata antar variabel internal. 2. Split half Model ini memecah skala menjadi 2 bagian dan memeriksa korelasi antar bagian. 3. Guttman Model ini berdasarkan pada perhitungan nilai batas baah guttman untuk nilai reliabilitas yang sebenarnya. 4. Parallel Model ini berdasarkan atas asumsi yang menyatakan bahwa semua variable memiliki variansi dan error variansi yang sama pada semua replikasi. 5. Strict parallel Model ini membuat asumsi yang sama dengan model parallel dan juga mengasumsikan bahwa nilai rata-rata sama pada semua variable.

Pengujian Hipotesis untuk SEM (skripsi dan tesis)

Pengujian hipotesis (β dan γ) dilakukan dengan metode resampling bootstrap yang dikembangkan oleh Geisser dan Stone. Statistik uji yang digunakan adalah statistik t atau uji t, dengan hipotesis statistik sebagai berikut: 1. Hipotesis statistik untuk outer model: i. H0 : λi = 0 lawan ii. H1 : λi ≠ 0 2. Hipotesis statistik untuk inner model: variabel laten eksogen terhadap endogen: i. H0 : γi = 0 lawan ii. H1 : γi ≠ 0 3. Penerapan metode resampling, memungkinkan berlakunya data terdistribusi bebas (distribution free), tidak memerlukan asumsi distribusi normal, serta tidak memerlukan sampel yang besar (sampel minimum 30). Pengujian dilakukan dengan t-test, bilamana diperoleh p-value ≤ 0,1 (alpha 10%), maka disimpulkan signifikan, dan sebaliknya. Bilamana  hasil pengujian hipotesis pada outer model signifikan, hal ini menunjukkan bahwa indikator dipandang dapat digunakan sebagai instrumen pengukur variabel laten. Sedangkan bilamana hasil pengujian pada inner model adalah signifikan maka dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna variabel laten terhadap variabel laten lainnya

Goodness of fit (skripsi dan tesis)

Model pengukuran atau outer model dengan indikator refleksif dievaluasi dengan composite reliability. Model struktural atau inner model dievaluasi dengan melihat presentase varian yang dijelaskan yaitu dengan melihat R² untuk variabel laten dependen dengan menggunakan ukuran Stone-Geisser Q Square test dan juga melihat besarannya koefisien jalur strukturalnya. Stabilitas dari estimasi ini dievaluasi dengan menggunakan uji t-statistik yang didapat lewat prosedur bootstrapping. 1. Model pengukuran (Outer Model) Bilamana indikator refleksif, maka diperlukan evaluasi berupa kalibrasi instrument, yaitu dengan pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrument. Oleh karena itu, penerapan partial least square pada data indeks kepuasan pelanggan pada prinsipnya adalah suatu kegiatan yaitu pelaksanaan uji validitas dan reliabilitas. Dengan kata lain, partial least square dapat digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Goodness of fit Outer model refleksif meliputi convergent validity, discriminant validity, dan composite reliability. Sedangkan untuk Outer model formatif dievaluasi dengan signifikansi dari pembobotan (weight). a. Goodness of fit Outer model refleksif adalah sebagai berikut 1. Convergent validity Uji Validitas yang dimaksud adalah pengujian terhadap indikator dalam variabel laten untuk memastikan bahwa indikator yang digunakan dalam penelitian ini benar-benar mampu dipahami dengan baik oleh responden sehingga  responden tidak mengalami kesalahpahaman terhadap indikator yang digunakan. 2. Discriminant validity Pengukuran indikator refleksif berdasarkan cross loading dengan variabel latennya. Bilamana nilai cross loading setiap indikator pada variabel bersangkutan lebih besar dibandingkan dengan cross loading pada variabel laten lainnya maka dikatakan valid. Metode lain dengan membandingkan nilai square root of average variance extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antar konstruk lainnya dalam model. Jika AVE konstruk lebih besar dari korelasi dengan seluruh konstruklainnya maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik. 3. Composite reliability Composite reliability adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya untuk diandalkan. Bila suatu alat dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten maka alat tersebut reliabel. Dengan kata lain, reliabilitas menunjukkan suatu konsistensi alat pengukur dalam gejala yang sama. Nilai reliabilitas komposit (pc) dari peubah laten adalah nilai yang mengukur kestabilan dan kekonsistenan dari pengukuran reliabilitas gabungan. 30 Dari perhitungan pc nilai yang baik adalah ≥ 0.7 walaupun bukan merupakan standar absolut. Dalam composite reliability, outer model dan inner model dievaluasi ❖ Outer model : Outer model formatif dievaluasi berdasarkan pada substantive content-nya yaitu dengan melihat signifikansi dari pembobotan (weight). ❖ Inner model : Model struktural (Inner model) dievaluasi dengan melihat persentase varians yang dijelaskan yaitu dengan melihat R2 untuk konstruk laten dependen dengan menggunakan ukuran Stone- Geisser Q Square test dan juga melihat besarnya koefisien jalur strukturalnya. Goodness of fit model diukur menggunakan Rsquare variabel laten dependen dengan interpretasi yang sama dengan regresi; Q-square predictive relevance untuk model struktural, mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-square > 0 menunjukkan mode memiliki predictive relevance; sebaliknya jika nilai Qsquare ≤ 0 menunjukkan model kurang memiliki predictive relevance

. Langkah-langkah PLS (skripsi dan tesis)

Merancang inner model
Merancang model struktural (Inner model ) yaitu merancang
hubungan antar variabel laten pada PLS dengan didasarkan pada
rumusan masalah atau hipotesis penelitian.
b. Merancang outer model
Merancang model pengukuran (Outer Model) yaitu merancang
hubungan variabel laten dengan indikatornya. Dalam penelitian ini,
indikator tiap-tiap variabel laten bersifat refleksif.
❖ Pada SEM semua bersifat refleksif, model pengukuran tidak
penting
❖ Pada PLS perancangan outer model sangat penting: refleksif
atau formatif
❖ Dasar: teori, penelitian empiris sebelumnya, atau rasiona

Evaluasi PLS (skripsi dan tesis)

Oleh karena PLS tidak mengasumsikan adanya distribusi tertentu untuk estimasi parameter, maka teknik parametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan (Chin,1995). Model evaluasi PLS berdasarkan pada pengukuran prediksi yang mempunyai sifat nonparametrik. Model pengukuran atau outer model dengan indicator refleksif dievaluasi dengan corvengent dan discriminant validity dari indikatornya dan composite reliability untuk block indicator. Sedangkan outer model dengan formatif indicator dievaluasi berdasarkan pada substantive contentnya yaitu dengan membandingkan besarnya relative weight dan melihat signifikansi dari ukuran weight tersebut (Chin,1998). Model structural atau inner model dievaluasi dengan melihat persentase variance yang dijelaskan yaitu dengan melihat nilai R2 untuk konstruk laten dependen dengan menggunakan ukuran stone-Geisser Q Squares test (Stone,1974; Geisser,1975) dan juga melihat besarnya koefisien jalur strukturnya. Stabilitas dari estimasi ini dievaluasi dengan menggunakan uji t-statistik yang didapat lewat prosedur boostraping.

Penduga PLS (skripsi dan tesis)

Prosedur penduga PLS melalui dua tahapan yang mendasar. Tahap pertama menggunakan pendugaan iterative dan didapat peubahpeubah laten sebagai kombinasi linier dari sekelompok peubah-peubah penjelasnya. Tahap kedua menggunakan pendugaan noniteratif untuk koefisien model structural dari model pengukuran (Gefen,2000). Pendugaan peubah laten yang telah terdefinisi digunakan untuk menghitung pembobot dan koefisien-koedisien model structural yang diperoleh dengan cara menerapkan metode kuadrat terkecil. Koefisien lintas model structural diperoleh dengan meregresikan setiap hubunganhubungan secara parsial. Inti prosedur PLS menentukan pembobot yang digunakan untuk menduga peubah laten. Pembobot didapat dari hasil regresi dengan metode kuadrat terkecil terhadap peubah penjelas pada setiap blok. Penduga pembobotan dalam masalah ini adalah outward mode yang dapat dihitung berdasarkan regresi sederhana. Outward mode sebenarnya pendugaan pembobotan untuk peubah penjelas refleksif, yaitu peubah penjelas yang diasumsikan sebagai cerminan dari peubah laten (Chin,1998)

Cara Kerja PLS (skripsi dan tesis)

Estimasi parameter yang didapat dengan PLS dapat dikategorikan menjadi tiga. Kategori pertama yaitu weight estimate yang digunakan untuk menciptakan skor atau nilai variabel laten. Kedua mencerminkan estimasi jalur (path estimate) yang menghubungkan variabel laten dan antar variabel laten dan indikatornya (loading), ketiga berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta regresi) untuk indikator dan variabel laten. Untuk memperoleh ketiga estimasi ini, PLS menggunakan proses iterasi tiga tahap dan setiap tahap iterasi menghasilkan estimasi. Tahap pertama menghasilkan weight estimate, tahap kedua menghasilkan estimasi untuk inner model dan outer model, tahap ketiga menghasilkan estimasi means dan lokasi(konstanta).  Selama iterasi berlangsung inner model estimate digunakan untuk mendapatkan outside approximation weigth, sementara itu outer model estimate digunakan untuk mendapatkan inside approximation weight. Prosedur iterasi ini akan berhenti ketika persentase perubahan setiap outside approximation weight relatif terhadap proses iterasi sebelumnya kurang dari 0,01

Model formatif (skripsi dan tesis)

Model formatif dipandang secara matematis indikator seolah-olah sebagai variabel yang mempengaruhi variabel laten, jika salah satu indikator meningkat, tidak harus diikuti oleh peningkatan indikator lainnya dalam satu konstruk, tapi jelas akan meningkatkan variabel latennya

Ciri-ciri model indikator formatif adalah: a. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator ke variabel laten  b. Antar indikator diasumsikan tidak berkorelasi c. Menghilangkan satu indikator berakibat merubah makna variabel d. Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat variabel.

indikator formatif (skripsi dan tesis)

Di dalam PLS variabel laten bisa berupa hasil pencerminan indikatornya, diistilahkan dengan indikator refleksif (reflesive indicator). Di samping itu, variabel yang dipengaruhi oleh indikatornya, diistilahkan dengan indikator formatif (formative indicator).

 1. Model refleksif dipandang secara matematis indikator seolah-olah sebagai variabel yang dipengaruhi oleh variabel laten. Hal ini mengakibatkan bila terjadi perubahan dari satu indikator akan berakibat pada perubahan pada indikator lainnya dengan arah yang sama.Ciri-ciri model indikator reflektif adalah:
 ❖ Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari variabel laten (Y) ke indicator (X1, X2, X3, X4) 20
❖ Antar indikator diharapkan saling berkorelasi (memiliki internal consitency reliability)
❖ Menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna dan arti variabel laten.
❖ Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indikator

Pengertian Partial Least Square (skripsi dan tesis)

Partial Least Square (PLS) merupakan sebuah metode untuk mengkonstruksi model-model yang dapat diramalkan ketika faktorfaktor terlalu banyak. PLS dikembangkan pertama kali oleh Wold sebagai metode umum untuk mengestimasi path model yang menggunakan variabel laten dengan mutiple indikator. PLS juga merupakan factor indeterminacy metode analisis yang powerful karena tidak mengasumsikan data harus dengan pengukuran skala tertentu, jumlah sampel kecil. Awalnya Partial least Square berasal dari ilmu sosial (khususnya ekonomi, Herman Wold, 1996). Model ini dikembangkan 17 sebagai alternatif untuk situasi dimana dasar teori pada perancangan model lemah atau indikator yang tersedia tidak memenuhi model pengukuran refleksif. PLS selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk membangun hubungan yang belum ada landasan terorinya atau untuk pengujian proposisi. Selain PLS, metode lain yang dapat digunakan adalah SEM (Structur Equation Modelling) tetapi dengan jumlah sampel SEM dengan menggunakan diagram jalur memiliki beberapa ciri, diantaranya adalah:
 a. Model struktural memenuhi sifat model rekursif.
 b. Variabel laten, ada yang model pengukurannya bersifat formatif (sosial keluarga, ekonomi keluarga, kesejahteraan keluarga).
Dalam model formatif, indikator dipandang sebagai variabel yang mempengaruhi variabel laten menurut Bollen dan Lennox (1991). dan ada yang bersifat refleksif (motivasi kerja). Dalam model refleksif indikator atau manifest dipandang sebagai variabel yang dipengaruhi oleh variabel laten, sehingga perubahan dalam satu indikatornya akan berakibat pada perubahan indikator lainnya dengan arah yang sama. Structur Equation Model (SEM) adalah salah satu bidang kajian statistik yang dapat menguji sebuah rangkaian hubungan yang relatif sulit terukur secara bersamaan. SEM terdiri dari model structural dan model pengukuran sedangkan regresi merupakan suatu analisis yang bertujuan untuk menentukan model yang cocok untuk pasangan data. Berdasarkan ciri ke (2), maka penerapan SEM tidak bisa digunakan, mengingat SEM hanya bisa digunakan pada model struktural yang variabel latennya memiliki indikator bersifat refleksif. SEM berbasis covariance based, adapun perbedaan antara covariance based SEM 18 dengan component based PLS adalah dalam penggunaan model persamaan struktural untuk menguji teori atau pengembangan teori untuk tujuan prediksi oleh Ghozali ( 2008 : 5) . Pada situasi dimana penelitian mempunyai dasar teori yang kuat dan pengujian teori atau pengembangan teori sebagai tujuan utama riset, maka metode dengan covariance based (Generalized Least Squares) lebih sesuai. Namun demikian adanya indeterminacy dari estimasi factor score maka akan kehilangan ketepatan prediksi dari pengujian teori tersebut. Untuk tujuan prediksi, pendekatan PLS lebih cocok. Karena pendekatan untuk mengestimasi variabel laten dianggap sebagai kombinasi linier dari indikator maka menghindarkan masalah indeterminacy dan memberikan definisi yang pasti dari komponen skor. Bilamana model struktural yang akan dianalisis memenuhi model rekursif dan variabel laten memiliki indikator yang bersifat formatif, refleksif atau campuran, maka yang tepat diterapkan adalah PLS. PLS merupakan pendekatan yang lebih tepat untuk tujuan prediksi, hal ini terutama pada kondisi dimana indikator bersifat formatif. Dengan variabel laten berupa kombinasi linier dari indikatornya, maka prediksi nilai dari variabel laten dapat dengan mudah diperoleh, sehingga prediksi terhadap variabel laten yang dipengaruhinya juga dapat dengan mudah dilakukan (Ghozali 2008). Sedangkan SEM kurang cocok untuk tujuan prediksi karena indikatornya bersifat refleksif, sehingga perubahan nilai dari suatu indikator sangat sulit untuk mengetahui perubahan nilai dari variabel laten, sehingga pelaksanaan prediksi sulit dilakukan. Oleh karena itu dalam penelitian ini digunakan metode PLS.

Lingkungan kerja dan Peralatan (skripsi dan tesis)

Produktivitas dan mutu kerja karyawan dipengaruhi faktorfaktor yang terkait dengan lingkungan kerja; antara lain beban kerja berlebihan yang tidak dapat diperkirakan, perubahan-perubahan di akhir waktu yang dirancang, kurangnya peralatan yang sempurna, dan tidak efisiennya alir kerja (Sjafri Mangkuprawira, 2008). Dengan demikian, penting untuk menjamin bahwa kerja itu dirancang untuk mencapai produktivitas dan mutu maksimum. Yang dimaksud lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan (Nitisemito, 1982). Menurut Mardiana (2005) “Lingkungan kerja adalah lingkungan dimana pegawai melakukan pekerjaannya sehari-hari”. Lingkungan kerja yang kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk dapat berkerja optimal. Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosi pegawai. Jika pegawai menyenangi lingkungan kerja dimana dia bekerja, maka pegawai tersebut akan betah di tempat kerjanya untuk melakukan aktivitas sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif dan optimis prestasi kerja pegawai juga tinggi. Beberapa strategi untuk merancang lingkungan kerja dalam memenuhi tujuan organisasi yaitu tercapainya mutu dan produktivitas tinggi. Strategi dimaksud antara lain; rancangan tempat kerja atau ergonomik, komputerisasi dan mesin otomatik, dan rancangan pekerjaan ( pengayaan, perluasan, dan rotasi pekerjaan). 16 Sistem kerja terbaik yaitu yang memiliki efisiensi dan produktivitas yang tinggi. Sistem kerja itu sendiri terdiri dari 4 komponen yaitu manusia, bahan, perlengkapan dan peralatan seperti mesin dan perkakas pembantu, lingkungan kerja seperti ruangan dengan udaranya dan keadaan-keadaan pekerjaan-pekerjaan lain disekelilingnya. Artinya komponen itulah yang mempengaruhi efisiensi produktifitas kerja (La Ode Ahmad Safar Tosungku). Banyak hal-hal yang telah dilakukan manusia dalam usahanya untuk meningkatkan produktivitas kerja termasuk salah satunya adalah peralatan (Wignjosoebroto, 2000). Peralatan adalah benda yang dibuat manusia untuk memudahkan pekerjaannya. Kemajuan teknologi akhirnya banyak mengakibatkan bergesernya tenaga manusia untuk kemudian digantikan dengan mesin atau peralatan produksi lainnya. Pengaruh pertumbuhan produktivitas dari peralatan yang dipilih secara baik adalah benar-benar penting (Sinungan, 2009).

Pengaruh Reward System (Insentif) Terhadap Kinerja (skripsi dan tesis)

Menurut Sarwoto (1985), dalam bukunya Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen mengatakan insentif sebagai suatu sarana motivasi dapat diberi batasan perangsang ataupun pendorong yang diberikan dengan sengaja kepada para pekerja agar dalam diri mereka timbul semangat yang lebih besar untuk berprestasi bagi organisasi. Menurut Nitisemito (1996),” insentif adalah penghasilan tambahan yang akan diberikan kepada para karyawan yang dapat memberikan prestasi sesuai dengan yang telah ditetapkan”. Dari kedua uraian tentang insentif di atas maka dapat dikatakan bahwa insentif memiliki pengaruh terhadap kinerja. Insentif diberikan dengan maksud untuk memberikan daya perangsang kepada para karyawan atau para pekerja supaya lebih bersemangat dan bergairah dalam melakukan pekerjaan atau untuk berkembang lebih maju yang pada akhirnya juga berpengaruh kepada kinerja karyawan. Pada dasarnya pemberian insentif bukanlah hak tetapi penghormatan terhadap pegawai yang telah menunjukan kemampuannya dan prestasi kerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya hal ini dimaksudkan untuk memotivasi kerja. Para ahli manajemen berpendapat bahwa produktivitas karyawan akan meningkat apabila kepada mereka diberikan insentif, disamping itujuga manajer harus memberikan petunjuk-petunjuk dan pengarahanpengarahan cara bekerja yang baik kepada karyawan, hal ini penting sebab tanpa petunjuk serta arahan yang jelas mereka akan bekerja tanpa arah sehingga kerja karyawan tidak akan nampak walaupun perusahaan telah memberikan insentif. Tujuan insentif adalah untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga kerja karyawan bergairah berkerja dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan dengan menawarkan perangsang finansial dan melebihi upah dasar. Selain untuk meningkatkan motivasi kerja insentif bertujuan untuk menigkatkan produktivitas kerja dalam   melaksanakan tugasnya, karena itu pemberian insentif harus dalaksanakan tepat pada waktunya, agar dapat mendorong setiap karyawan untuk bekerja secara lebih baik dari keadaan sebelumnya dan meningkatkan produktivitasnya

Tantangan dalam Menerapkan Reward System (skripsi dan tesis)

Menurut Veithzal Rivai (2009), tantangan yang dihadapi organisasi dalam menerapkan reward system (sistem kompensasi) adalah : a) Perilaku yang tidak etis. Karena ada tekanan untuk berprestasi, insentif dapat mendorong karyawan untuk berbohong, menutupnutupi informasi negatif, menjatuhkan rekan sendiri hanya agar telihat lebih baik. b) Efek negatif dari semangat bekerjasama. Karyawan dapat menahan informasi bilamana mereka merasa bahwa apabila informasi tersebut disampaikan kepada rekannya, hal tersebut akan membuat rekan kerjanya berprestasi. c) Kesulitan dalam penilaian kinerja. Pada level karyawan, atasan yang menilai harus berusaha memilah kinerja individu dan kontribusi kelompok dan menghindari penilaian berdasarkan bias personalitas (misalnya menilai terlalu lunak atau terlalu keras). d) Ketidakpuasan pekerjaan dan stress. Sistem kompensasi dapat meningkatkan produktifitas namun menurunkan tingkat kepuasan kerja. Semakin pembayaran insentif dikaitkan dengan kinerja, semakin banyak unit / kelompok yang tidak kompak dan semakin karyawan tidak bahagia. Hal tersebut terjadi karena masing-masing kelompok menonjolkan diri dan menjatuhkan kelompok kerja lainnya. e) Potensi penurunan dorongan intrinsik. Reward system dapat mendorong karyawan untuk melakukan apa saja untuk mendapatkan insentif uang dan dalam prosesnya merusak bakat dan kreatifitasnya, sehingga karyawan yang tadinya bekerja dan membantu perusahaan tanpa terkait uang, akan menolak melakukan pekerjaan bila tidak ada imbalan uang.

Tujuan Reward System (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya tujuan reward system dapat dipandang dari tujuan utama secara umum dan tujuan perusahaan. Tujuan utama dari sistem penghargaan ini adalah memberikan tanggung jawab dan dorongan kepada karyawan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil kerjanya. Sedangkan tujuan perusahaan yang memberikan sistem penghargaan ini adalah sebagai strategi untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi perusahaan dalam menghadapi persaingan yang ketat. Selain itu, tujuan lain dari diadakannya reward system ini adalah : a) Menghilangkan munculnya ketidakpuasan karyawan. b) Dapat menumbuhkan loyalitas. c) Merangsang peningkatan produktifitas karyawan. d) Merangsang karyawan untuk bekerja dengan penuh motivasi

Defenisi Reward (skripsi dan tesis)

System Reward dapat menarik perhatian karyawan dan memberi informasi atau mengingatkan mereka akan pentingnya sesuatu yang diberi reward dibandingkan dengan yang lain, reward juga meningkatkan motivasi karyawan terhadap ukuran kinerja, sehingga membantu karyawan bagaimana mereka mengalokasikan waktu dan usaha mereka. Reward berbasis kinerja mendorong karyawan mengubah kecenderungan mereka dari semangat untuk memenuhi kepentingan diri sendiri ke semangat untuk memenuhi tujuan organisasi. Reward berbasis kinerja memberi dua manfaat yakni memberi informasi dan memberikan motivasi (Mulyadi dan Johny, 1998). Reward adalah semua bentuk return baik finansial maupun nonfinansial yang diterima karyawan karena jasa yang disumbangkan ke perusahaan. Reward dapat berupa finansial yaitu berbentuk gaji, upah, bonus, komisi, asuransi karyawan, bantuan sosial karyawan, tunjangan libur atau cuti tetap dibayar dan sebagainya, maupun bentuk non finansial seperti tugas yang menarik, tantangan tugas, tanggung jawab tugas, peluang, pengakuan, pencapaian tujuan, serta lingkungan pekerjaan yang menarik (Schuler dan Huber, 1993). Reward merupakan salah sat strategi manajemen sumber daya manusia untuk menciptakan keselarasan kerja antar staf dengan pimpinan perusahaan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang sudah ditetapkan (Walker, 1992). Program reward sangat penting untuk mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh, karena reward dapat 12 meningkatkan maupun menurunkan prestasi kerja, kepuasan kerja maupun motivasi karyawan (Handoko , 1997). Simamora (2001) menyatakan bahwa terminologi-terminologi dalam kompensasi adalah sebagai berikut : a) Upah dan gaji. Upah biasanya berhubungan dengan tarif gaji perjam yang kerap digunakan bagi pekerja-pekerja produksi dan pemeliharaan. Sedangkan gaji pada umumnya berlaku untuk tarif bayaran mingguan, bulanan, atau tahunan terlepas dari lamanya jam kerja yang kerap digunakan bagi karyawan-karyawan manajemen dan staf profesional. b) Insentif. Insentif adalah tambahan-tambahan kompensasi diatas atau diluar gaji atau upah yang diberikan oleh organisasi. Tujuan utama program insentif adalah mendorong peningkatan produktifitas karyawan dan efisiensi biaya

Manfaat SOP (skripsi dan tesis)

Jika SOP dijalankan dengan benar maka perusahaan akan mendapat banyak manfaat dari penerapan SOP tersebut, adapun manfaat dari SOP adalah sebagai berikut: a) Memberikan penjelasan tentang prosedur kegiatan secara detail dan terinci dengan jelas dan sebagai dokumentasi aktivitas proses bisnis perusahaan. b) Meminimalisasi variasi dan kesalahan dalam suatu prosedur operasional kerja. c) Mempermudah dan menghemat waktu dan tenaga dalam program training karyawan. d) Menyamaratakan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh semua pihak. e) Membantu dalam melakukan evaluasi dan penilaian terhadap setiap proses operasional dalam perusahaan. f) Membantu mengendalikan dan mengantisipasi apabila terdapat suatu perubahan kebijakan.   g) Mempertahankan kualitas perusahaan melalui konsistensi kerja karena perusahaan telah memilki sistem kerja yang sudah jelas dan terstruktur secara sistematis

Tujuan dari Penerapan SOP (skripsi dan tesis)

Tujuan dari penerapan SOP di tempat kerja adalah sebagai berikut : a) Tujuan umum Agar berbagai proses kerja rutin terlaksana dengan efisien, efektif, konsisten/uniform dan aman, dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan melalui pemenuhan standar yang berlaku. b) Tujuan khusus 1. Untuk menjaga konsistensi tingkat penampilan kinerja atau kondisi tertentu dan kemanan petugas dan lingkungan, dalam melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan tertentu. 2. Sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan tertentu bagi sesama pekerja, dan supervisor. 3. Untuk menghindari kegagalan atau kesalahan (dengan demikian menghindari dan mengurangi konflik), keraguan, duplikasi serta pemborosan dalam proses pelaksanaan kegiatan. 4. Merupakan parameter untuk menilai mutu pelayanan. 10 5. Untuk lebih menjamin penggunaan tenaga dan sumber daya secara efisien dan efektif . 6. Untuk menjelaskan alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas yang terkait. 7. Sebagai dokumen yang akan menjelaskan dan menilai pelaksanaan proses kerja bila terjadi suatu kesalahan atau dugaan malpraktek dan kesalahan administratif lainnya, sehingga sifatnya melindungi rumah sakit dan petugas. 8. Sebagai dokumen yang digunakan untuk pelatihan. 9. Sebagai dokumen sejarah bila telah di buat revisi SOP yang baru.

Definisi SOP (skripsi dan tesis)

Standard Operating Procedure (SOP) adalah dokumen tertulis yang memuat prosedur kerja secara rinci, tahap demi tahap dan sistematis. SOP memuat serangkaian instruksi secara tertulis tentang kegiatan rutin atau berulang-ulang yang dilakukan oleh sebuah organisasi. Untuk itu SOP juga dilengkapi dengan referensi, lampiran, formulir, diagram dan alur kerja (flow chart). SOP sering juga disebut sebagai manual SOP yang digunakan sebagai pedoman untuk mengarahkan dan mengevaluasi suatu pekerjaan Implementasi SOP yang baik, akan menunjukkan konsistensi hasil kinerja, hasil produk dan proses pelayanan yang kesemuanya mengacu pada kemudahan karyawan dan kepuasan pelanggan.

Pelatihan (skripsi dan tesis)

Salah satu upaya strategis yang sangat menentukan untuk meningkatkan keberadaan dan kemampuan pegawai/karyawan adalah pelatihan. Pelatihan merupakan suatu keharusan dari suatu organisasi dan keharusan di segala bidang, karena semakin terdidik dan terlatihnya serta tingginya motivasi maka semakin tinggi pula produktivitas kerja. Pelatihan karyawan merupakan factor yang penting karena merupakan bentuk investasi perusahaan. Cara untuk pengembangan karyawan dengan pelatihan adalah untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu meningkatkan kinerja karyawan. Karyawan merupakan sumber daya yang penting bagi perusahaan, karena tujuan perusahaan dicapai melaui mereka dengan alat-alat lain atau fasilitas-fasilitas lain yang mereka jalankan. Tujuan tersebut akan tercapai atau produktivitas akan meningkat jika tenaga yang melaksanakannya adalah tenaga yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan untuk menjalankan serta menyelesaikan tugas-tugasnya. Oleh karena itu, masalah pelatihan tenaga kerja tidak dapat diabaikan, karena bila perusahaan tidak memperhatikan masalah pelatihan ini, maka hampir dapat dipastikan bahwa perusahaan akan tersendat-sendat dan mengalami kesulitan dalam usahanya melaksanakan tugatugas yang berkaitan langsung dengan perusahaan. 7 Selanjutnya Gomes (2003), menyatakan bahwa: Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki kinerja pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya atau suatu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaannya. Hal tersebut memberikan arti bahwa pelatihan merupakan suatu yang penting untuk diberikan kepada sumber daya manusia yang ada dalam sebuah organisasi guna menciptakan kinerja yang baik, sehingga dapat mencapai sasaran-sasaran serta kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan sebelumnya oleh organisasi tersebut. Menurut Moekijat (1981) pelatihan didefinisikan sebagai “proses untuk membawa karyawan-karyawan untuk memperoleh kemajuan dalam pekerjaan mereka yang sekarang atau yang akan datang, melaui pengembangan kebiasaan, pikiran, tindakan, kecakapan, pengetahuan dan sikap.” Sedangkan tujuan pelatihan menurut Moekijat (2003) antara lain: 1. Untuk mengembangkan keahlian sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif. 2. Untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional. 3. Untuk mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerjasama dengan teman-teman pegawai dan pimpinan. Terlaksananya tujuan-tujuan tertentu dari pelatihan memerlukan dukungan sepenuhnya dari penyelenggara serta unit para peserta itu sendiri. Mereka harus mempunyai kelayakan bahwa pendidikan dan latihan itu berguna bagi mereka sehingga mereka mau memanfaatkan kesempatan tertentu dengan baik. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Sayler dan Strauss (1977) “Efisiensi suatu organisasi bergantung langsung pada sejauh mana karyawan itu dilatih”. Sedangkan Carrell dan Kuzmitz (1982) mendefinisikan pelatihan sebagai “proses sistematis dimana karyawan mempelajari pengetahuan (knowledge), 8 keterampilan (skill), kemampuan (ability) atau perilaku terhadap tujuan pribadi dan organisasi”. Berdasarkan pengertian-pengertian itu maka pelatihan merupakan suatu proses dimana peserta pelatihan mengalami pengembangan melalui pengetahuan, keahlian, dan kemampuan peserta pelatihan untuk dapat memenuhi standar tertentu sesuai dengan tujuan perusahaan. Selain itu pengetahuan, keahlian, dan kemampuan dapat menyediakan informasi bagi manajer untuk menentukan tugas dan tanggung jawab yang harus ada dalam program pelatihan. Beberapa pengertian yang dapat dijabarkan mengenai pengetahuan, keahlian/ketrampilan, dan kemampuan antara lain : a) Pengetahuan (knowledge) : “merupakan struktur organisasi pengetahuan yang biasanya merupakan suatu fakta prosedur dimana jika dilakukan akan memenuhi kinerja yang mungkin” (Gordon, 1994). Pengertian lain menurut Nadler (1986) bahwa “pengetahuan merupakan proses belajar manusia mengenai kebenaran atau jalan yang benar atau secara mudahnya yaitu mengetahui apa yang harus diketahui adalah untuk dilakukan”. Sedangkan menurut Glynn (1995) menjelaskan pengetahuan yaitu “pengertian yang jelas mengenai spesifikasi detil tertentu mengenai permintaan dalam pekerjaan, pangsa pasar, pesaing dan perbedaan para pelanggan.” b) Keterampilan (skill) : “kemampuan untuk mengoperasikan pekerjaan dengan mudah dan efektif/cermat. Pengertian ini biasanya cenderung pada aktivitas psikomotor” (Gordon, 1994). Selain itu pengertian menurut Nadler (1986) yaitu : “ketrampilan merupakan kegiatan yang memerlukan praktek atau dapat diartikan sebagai implikasi dari aktivitas”. c) Kemampuan (ability) : “merupakan kemampuan kognitif yang penting untuk melakukan fungsi- fungsi pekerjaan” (Gordon 1994). Sedangkan bagi Ivancevich, kemampuan adalah “sesuatu yang membuat seseorang mampu atau dapat melakukan pekerjaan secara mental maupun fisik”.

Manfaat Pengukuran Produktivitas (skripsi dan tesis)

Manfaat pengukuran produktivitas dalam suatu perusahaan (Vincent Gaspersz, 2000) antara lain : a) Perusahaan dapat menilai efisiensi konversi sumber dayanya agar dapat meningkatkan produktivitas melalui efisiensi penggunaan sumbersumber daya itu. b) Perencanaan sumber-sumber daya akan menjadi lebih efektif dan efisien melalui pengukuran produktivitas baik dalam perencanaan jangka panjang maupun jangka pendek.  c) Tujuan ekonomis dan non ekonomis dari perusahaan dapat diorganisasikan kembali dengan cara memberikan prioritas tertentu yang dipandang dari sudut produktivitas. d) Perencanaan target tingkat produktivitas di masa mendatang dapat dimodifikasi kembali berdasarkan informasi pengukuran tingkat produktivitas sekarang. e) Strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dapat ditetapkan berdasarkan tingkat produktivitas (Produktivitas gap) yang ada diantara tingkat produktivitas yang direncanakan (Productivity Ekspectasi) dan tingkat produktivitas yang diukur (Productivity Actual). Dalam hal ini pengukuran produktivitas akan memberikan informasi dalam mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi, sehingga tindakan korektif dapat diambil. f) Pengukuran produktivitas perusahaan akan menjadi informasi yang bermanfaat dalam membandingkan tingkat produktivitas diantara organisasi perusahaan dalam industri sejenis serta bermanfaat pula untuk informasi produktivitas industri pada skala nasional maupun global. g) Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat menjadi informasi yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan perusahaan itu. h) Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan-tindakan kompetitif berupa upaya-upaya peningkatan produktivitas terusmenerus (Continous Productivity Improvement). i) Pengukuran produktivitas terus-menerus akan memberikan informasi yang bermanfaat untuk menentukan dan mengevaluasi kecedrungan perkembangan produktivitas perusahaan dari waktu ke waktu. j) Pengukuran produktivitas akan memberikan informasi yang bermanfaat dalam mengevaluasi perkembangan dan efektivitas dari perbaikan terus-menerus yang dilakukan dalam perusahaan itu.  k) Pengukuran produktivitas akan memberikan motivasi kepada orangorang untuk secara terus-menerus melakukan perbaikan dan juga akan meningkatkan kepuasan kerja. Orang-orang akan lebih memberikan perhatian kepada pengukuran produktivitas apabila dampak dari perbaikan produktivitas itu terlihat jes dan dirasakan langsung oleh manusia. l) Aktivitas perundingan bisnis (kegiatan tawar-menawar) secara kolektif dapat diselesaikan secara rasional, apabila telah tersedia ukuran-ukuran produktivitas

Produktivitas (skripsi dan tesis)

Produktivitas diterangkan oleh Ir. Linda Theresia MT (2004) bahwa definisi- definisi produktivitas yang telah berkembang dan dibentuk oleh para pakar di negara-negara dan badan-badan Internasional antara lain: a) Menurut Marvin E Mundel, yang dipublisir oleh The Asian Productivity Organization (APO) produktivitas didefinisikan sebagai berikut : Produktivitas adalah rasio keluaran yang menghasilkan untuk penggunaan di luar organisasi, yang memperbolehkan untuk berbagai macam produk dibagi oleh sumber-sumber yang digunakan, semuanya dibagi oleh suatu rasio yang sama dari periode dasar”. b) Menurut Paul Mali definisi produktivitas adalah sebagai berikut : “Produktivitas adalah ukuran yang menyatakan seberapa hemat sumber daya yang digunakan di dalam organisasi untuk memperoleh sekumpulan hasil”. c) Dewan Produktivitas Nasional mendefinisikan produktivitas dalam beberapa segi, yaitu : Secara fisiologi / psikologis. 1. Produktivitas merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. 2. Secara ekonomis. 2 Produktivitas merupakan usahan memperoleh hasil (output) sebesar-besarnya dengan pengorbanan sumber daya (input) yang sekecil-kecilnya. 3. Secara teknis. Produktivitas diformulasikan sebagai rasio output terhadap input. d) International Labour Organization ( ILO ) mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: “Produktivitas merupakan hasil integrasi empat elemen utama, yaitu tanah (bangunan), modal, tenaga kerja, dan organisasi”. e) European Productivity Agency (EPA) mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: “Produktivitas merupakan derajat pemanfaatan secara efektif dari setiap bagian elemen produktivitas”. f) Vinay Goel dalam Toward Higher Productivity mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: “Produktivitas merupakan hubungan antara keluaran yang dihasilkan dan masukan yang diolah pada satu waktu tertentu”. g) Peter F. Drucker mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: “Produktivitas adalah keseimbangan antara seluruh faktor-faktor produksi yang memberikan keluaran yang lebih banyak melalui penggunaan sumber daya yang lebih sedikit”. h) Everet E. Adam, James C Hersahauer dan William A. Ruch mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: “Produktivitas adalah perubahan produk yang dihasilkan oleh sumber-sumber yang digunakan”. i) David J. Sumanth mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: “Total produktivitas adalah perbandingan antara output tangible dengan input tangible”. j) Fabricant mendefinisikan produktivitas sebagai berikut “Produktivitas adalah perbandingan output dengan input”. 3 k) Menurut Siegel produktivitas adalah : “Produktivitas berkenaan dengan sekumpulan perbandingan antara output dengan input”. l) Doktrin pada Konfrensi Osio 1984, mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: “Produktivitas adalah suatu konsep yang menyeluruh (universal) yang bertujuan untuk menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak manusia, dengan menggunakan sumbersumber riil yang makin sedikit”. m) Menurut Davis produktivitas adalah: “Produktivitas adalah perubahan produk yang dihasilkan oleh sumber-sumber yang digunakan”. Dari definisi-definisi di atas secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan. Dengan bertambah banyaknya bengkel – bengkel yang beroperasi di Gresik menyebabkan setiap bengkel harus memiliki cara untuk mempertahankan pelanggannya agar tidak berpindah ke bengkel lain. Melihat hal tersebut, maka bengkel perlu meningkatkan produktivitasnya. Secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan. Faktor utama dari suatu produktivitas adalah terletak pada sumber daya manusianya. Sumber daya manusia menempati posisi yang amat strategis dalam mewujudkan tersedianya barang dan jasa (Sinungan, 2009). Produktivitas tenaga kerja/teknisi ditunjukkan sebagai rasio dari jumlah output yang dihasilkan per total tenaga kerja dan jam pekerjaan(man – hours), yaitu jam kerja yang dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut (Wignjosoebroto, 2000).

Pengertian PLS (skripsi dan tesis)

PLS adalah analisis SEM berbasis varian yang secara simultan dapat
melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian model struktural.
Model pengukuran digunakan untuk uji validitas dan reliabitas, sedangkan model
struktural digunakan untuk uji kausalitas (pengujian hipotesis dengan model
prediksi). Perbedaan mendasar PLS yang merupakan SEM berbasis varian dengan
LISREL atau AMOS yang berbasis kovarian adalah tujuan penggunaannya. SEM
berbasis kovarian bertujuan untuk mengestimasi model untuk pengujian atau
konfirmasi teori, sedangkan SEM varian bertujuan untuk memprediksi model
untuk pengembangan teori. Karena itu, PLS merupakan alat prediksi kausalitas
yang digunakan untuk pengembangan teori (Jogiyanto & Abdillah, 2009).

Partial Least Square (skripsi dan tesis)

Partial Least Square (PLS) menghubungkan informasi yang ada dalam
dua variabel. Pertama kali dikembangkan pada akhir 1960-an sampai 1980-an
oleh ekonom, Herman Wold. Namun, awal pengembangan utamanya adalah
ekonometrika yang diprakarsai oleh anak laki-laki Herman Wold, Herman Svante,
dan evaluasi sensorik (Abdi & Williams, 2013).
Pendekatan asli Herman Wold adalah pengembangan algoritma least
square yang disebut NIPALS, digunakan untuk memperkirakan parameter dalam
model analisis jalur. Perdekatan pertama ini menghasilkan PLS Path Modeling
(PLS-PM) yang masih digunakan sampai sekarang dan sebagai alternatif dari
pemodelan persamaan struktural berbasis kovarian. Dari sudut pandang analisis
deskriptif multivariat, sebagian besar perkembangan awal PLS berkaitan dengan
penentuan pendekatan variabel laten terhadap analisis indikator-indikatornya yang
menggambarkan satu rangkaian pengamatan. Variabel laten adalah variabel baru
yang diperoleh sebagai kombinasi linier dari variabel asli (indikator). Jika
tujuannya yaitu mencari informasi bersama antara dua variabel, maka teknik yang
digunakan adalah PLS Correlation (PLSC). Terdapat dua variabel laten dan
memiliki kovarian yang maksimal. Jika tujuannya adalah memprediksi suatu
variabel berdasarkan variabel lain maka teknik yang digunakalan adalah PLS
Regression (PLSR) (Abdi & Williams, 2013).

Kesalahan-Kesalahan dalam SEM (skripsi dan tesis)

1. Kesalahan Struktural
Pada umumnya penggunaan SEM tidak berharap bahwa variabel bebas
dapat diprediksi secara sempurna dengan variabel terikat, sehingga dalam suatu
model biasanya ditambahkan komponen kesalahan struktural. Kesalahan
struktural ini diberi label dengan huruf Yunani 𝜁 (“zeta”). Untuk memperoleh
estimasi parameter yang konsisten, kesalahan struktural ini diasumsikan tidak
berkorelasi dengan variabel-variabel eksogen dari model. Meskipun demikian,
kesalahan struktural bisa dimodelkan berkorelasi dengan kesalahan struktural
yang lain (Wijanto, 2008).
2. Kesalahan Pengukuran
Kesalahan-kesalahan pengukuran disebabkan oleh variabel-variabel
manifes yang tidak dapat secara sempurna dalam memprediksi variabel laten.
Komponen kesalahan pengukuran yang terkait dengan variabel manifes (variabel
manifes yang terkait dengan variabel laten eksogen) diberi label 𝛿 (“delta”),
sementara komponen kesalahan pengukuran yang terkait dengan variabel dengan
variabel (variabel manifes yang terkait dengan variabel laten endogen) diberi label
𝜀 (“epsilon”) (Sarjono & Julianita, 2015).

Model-model pada SEM (skripsi dan tesis)

Model umum persamaan struktural dan pengukuran dalam SEM secara
matematis dituliskan menurut Timm (2002) adalah sebagai berikut:
1. Model Struktural
Model Struktural atau inner model adalah model yang menggambarkan
hubungan antarvariabel laten eksogen dan atau variabel laten endogen.
2. Model Pengukuran
Model Pengukuran atau outer model adalah model yang menggambarkan
hubungan antara variabel laten dengan variabel manifes atau indikatornya.
Confirmatory Factor Analysis (CFA) merupakan metode yang digunakan untuk
menguji model pengukuran yang menggambarkan hubungan antara variabel laten
dengan indikator-indikatornya

Istilah dan Notasi dalam SEM (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa istilah dan notasi yang sering digunakan pada SEM,
penjelasan singkat mengenai istilah-istilah dalam SEM menurut Ghozali (2011)
adalah sebagai berikut:
a. variabel laten atau construct atau unobserved variables merupakan variabel
yang tidak dapat diukur melalui pengamatan secara langsung, akan tetapi
memerlukan beberapa indikator untuk dapat mengukurnya,
b. indikator atau manifest variables atau observed variable adalah variabel yang
dapat diukur dan diamati secara langsung, variabel indikator digunakan untuk
mengukur suatu variabel laten,
c. variabel laten eksogen adalah variabel laten yang tidak dipengaruhi variabel
laten lain (independent variable), ditunjukkan dengan tidak ada tanda panah
variabel leten lainya yang mengarah pada variabel tersebut,
d. variabel laten endogen adalah variabel laten yang dipengaruhi oleh variabel
laten lainnya (dependent variable) dalam suatu model penelitian, ditunjukkan
dengan adanya tanda panah variabel leten lainya yang mengarah pada variabel
tersebut,
e. model struktural atau disebut juga dengan inner model adalah model yang
menggambarkan hubungan-hubungan antara variabel laten yang serupa dengan
sebuah persamaan regresi linier diantara variabel laten tersebut,
f. model pengukuran (measurement model) atau outer model adalah model yang
menggambarkan hubungan-hubungan antara variabel indikator dengan variabel
laten,g. loading factor dinotasikan dengan simbol  (“lambda”) adalah nilai yang
menyatakan hubungan-hubungan antara variabel laten dengan indikatornya dan
memiliki nilai diantara -1 sampai dengan 1,
h. indikator reflektif adalah indikator yang menjelaskan bahwa variabel laten
merupakan pencerminan dari indikator-indikatornya, dan
i. indikator formatif adalah indikator yang menjelaskan bahwa variabel laten
dibentuk atau disusun oleh indikatornya. Sehingga seolah-olah variabel laten
dipengaruhi oleh indikator-indikatornya. Pada indikator formatif galat
pengukuran berada pada tingkat variabel laten dan dinotasikan oleh  (“zeta”).

Structural Equation Modeling (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan teknik analisis
multivariat yang dikembangkan guna menutupi keterbatasan yang dimiliki oleh
model-model analisis sebelumnya yang telah digunakan secara luas dalam
penelitian statistik. Model-model yang dimaksud di antaranya adalah analisis
regresi, analisis jalur dan analisis faktor konfirmatori (Hox & Bechger, 1998).
SEM merupakan salah satu analisis multivariat yang dapat menganalisis
hubungan antarvariabel secara lebih kompleks teknik ini memungkinkan peneliti
untuk menguji hubungan di antara variabel laten dengan variabel manifes (model
pengukuran), hubungan antara variabel laten yang satu dengan variabel laten yang
lain (model struktural), serta memaparkan kesalahan pengukuran. Variabel laten
merupakan variabel yang tidak dapat diukur secara langsung dan memerlukan
beberapa indikator sebagai proksi (Ghozali & Fuad, 2008), sedangkan variabel
manifes merupakan indikator yang digunakan dalam pengukuran tersebut.

Korelasi (skripsi dan tesis)

Analisis hubungan (korelasi) adalah suatu bentuk analisis data dalam
penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan atau bentuk arah hubungan
di antara dua variabel dan besarnya pengaruh yang disebabkan oleh variabel yang
satu (variabel bebas) terhadap variabel lainnya (variabel terikat). Koefisien
korelasi merupakan angka yang menunjukkan tinggi atau rendahnya hubungan
antara dua variabel. Besarnya koefisien korelasi berkisar antara −1 dan 1.
Semakin mendekati +1, koefisien korelasi menunjukkan adanya hubungan positif
dan kuat. Koefisien korelasi yang mendekati -1 menunjukkan hubungan yang
negatif dan kuat. Jika koefisien korelasi mendekati 0, memberikan indikasi bahwa
kedua variabel tidak memiliki hubungan (Setia, 2009).

Langkah-langkah PLS SEM (skripsi dan tesis)

 a. Langkah 1: Setiap variabel laten disusun didasarkan dengan jumlah berbobot semua variabel manifestnya masing-masing.
b. Langkah 2: Setiap variabel laten diestimasi dengan menggunakan jumlah berbobot setiap variabel laten yang berdekatan dengan variabel laten tersebut.
c. Langkah 3: untuk inisialisasi semua bobot adalah 1 ( satu ). Kemudian bobot tersebut dihitung ulang dengan didasarkan pada nilai-nilai variabel laten yang diperoleh pada langkah kedua.
 d. Langkah 4: pengaturan vektor bobot luar dalam suatu matriks bobot luar untuk membuat estimasi nilai-nilai faktor (variabel laten) dengan didasarkan pada variabel-variabel maifesi. Vektor adalah seperangkat variabel yang dapat diwakili dengan menggunakan indeks. Suatu vektor dapat berupa variabel numerik atau string dan variabel tersebut dapat bersifat tetap atau sementara.
e. Langkah 5: jika perubahan relatif semua bobot dari suatu iterasi ke iterasi berikutnya menjadi lebih kecil dibandingkan dengan toleransi yang sudah didefinisikan sebelumnya; maka 5 estimasi nilai-nilai faktor yang dilakukan pada langkah ke empat sudah dianggap final. Jika belum, maka langkah diulangi lagi ke langkah dua

PLS-SEM (skripsi dan tesis)

Beberapa hal penting yang melandasi SEM menurut Monecke & Leisch (2012) menggunakan PLS diantaranya : SEM menggunakan PLS terdiri tiga komponen, yaitu model struktural, model pengukuran dan skema pembobotan. Bagian ketiga ini merupakan ciri khusus SEM dengan PLS dan tidak ada pada SEM yang berbasis kovarian. 1. SEM menggunakan PLS hanya mengijinkan model hubungan antar variabel yang recursif (sarah) saja. Hal ini sama dengan model analisis jalur (path analysis) 10 tidak sama dengan SEM yang berbasis kovarian yang mengijinkan juga terjadinya hubungan non-recursif (timbal-balik). 2. Pada model struktural, yang disebut juga sebagai model bagian dalam, semua variable laten dihubungkan satu dengan yang lain dengan didasarkan pada teori subtansi. Variable laten dibagi menjadi dua, yaitu eksogenous dan endogenous. Variaabel laten eksogenous adalah variable penyebab atau variable tanpa di dahului oleh variabel lainnya dengan tanda anak panah menuju ke variabel lainnya (variable laten endorgenous).

Partial Least Square (PLS) (skripsi dan tesis)

Partial Least Square (PLS) dikembangkan sebagai alternatif CBSEM. Secara filosofis, perbedaan antara CBSEM dan PLS menurut Wold dalam Ghozali (2012) adalah orientasi model persamaan struktural yang digunakan untuk menguji teori atau untuk mengembangkan teori (tujuan prediksi). Pendekatan untuk mengestimasi variabel laten dianggap sebagai kombinasi linear dari indikator sehingga menghindarkan masalah indeterminacy dan memberikan definisi yang pasti dari komponen skor Ghozali (2012). Menurut Jogiyanto dan Abdillah (2010) PLS adalah analisis persamaan struktural (SEM) berbasis varian yang secara simultan dapat melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian model struktural. Model pengukuran digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas, sedangkan model struktural digunakan untuk uji kausalitas (Pengujian hipotesis dengan model prediksi). Perbedaan mendasar PLS yang merupakan SEM berbasis varian dengan LISREL atau AMOS yang berbasis kovarian adalah tujuan penggunaannya. SEM berbasis konvarian bertujuan untuk mengestimasi model untuk pengujian atau konfirmasi teori, sedangkan SEM varian bertujuan untuk memprediksi 9 model untuk pengembangan teori, karena itu, PLS merupakan alat prediksi kausalitas yang digunakan untuk pengembangan teori. Ada beberapa hal yang membedakan analisis PLS dengan model analisis SEM yang lain: 1. Data tidak harus berdistribusi normal multivariate 2. Dapat digunakan sampe kecil. Minimal sampel > 30 dapat digunakan. 3. PLS selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan teori, dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten. 4. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang di bentuk dengan indikator reflektif dan formatif Ada beberapa program komputer untuk mengestimasi model pada model persamaan struktural yaitu program Smartpls, LISREL, AMOS, EQS, SAS PRODUCCALIS, dan STATISTICA SEPATH

Permodelan Dalam PLS (skripsi dan tesis)

Dalam PLS Path Modeling terdapat dua model yaitu outer dan inner model. Kriteria uji dilakukan pada kedua model tersebut (Sanjiwani, 2015). a) Outer Model (Model Measurement) Model ini menspesifikasi hubungan antar variabel laten dengan indikatorindikatornya. Outer model juga mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya. Uji yang dilakukan pada outer model: Convergent Validity, Discriminant Validity, Composite Reliability, Average Variance Extracted (AVE), dan Cronbach Alpha. Uji yang dilakukan di atas merupakan uji pada outer model untuk indikator reflektif. Untuk indikator formatif dilakukan pengujian yang berbeda. Uji untuk indikator formatif yaitu Significance of weights dan multicolliniearity. Masih ada dua uji untuk indikator formatif yaitu nomological dan external validity. Dalam outer model terdapat dua tipe indikator yaitu indikator reflektif dan formatif. b) Inner Model (Model Structural) Uji pada model struktural dilakukan untuk menguji hubungan antara konstruk laten. Ada beberapa uji untuk model struktural yaitu: R Square pada konstruk endogen, Estimate for Path Coefficients, Effect Size (f square), Prediction relevance (Q square) atau dikenal dengan Stone-Geisser’s.

Partial Least Square (PLS) (skripsi dan tesis)

Partial Least Square (PLS) dikembangkan pertama kali oleh Herman Wold pada tahun 1982. Ada beberapa metode yang dikembangkan berkaitan dengan PLS yaitu model PLS Regression (PLS-R) dan PLS Path Modeling (PLS- PM). PLS Path Modeling dikembangkan sebagai alternatif pemodelan persamaan struktural (SEM) yang dasar teorinya lemah. PLS-PM berbasis varian berbeda dengan metode SEM dengan software AMOS, Lisrel, EQS menggunakan basis kovarian. Ada beberapa hal yang membedakan analisis PLS dengan model analisis SEM yang lain (Sanjiwani, 2015): 1. Data tidak harus berdistribusi normal. 2. Dapat digunakan sampel kecil. Minimal sampel>30 dapat digunakan. 3. PLS selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan teori, dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten. 4. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator reflektif dan formatif. 5. PLS mampu mengestimasi model yang besar dan kompleks dengan ratusan variabel laten dan ribuan indikator

Model Indikator Formatif (skripsi dan tesis)

Konstruk dengan indikator formatif mempunyai karakteristik berupa komposit, seperti
yang digunakan dalam literatur ekonomi yaitu index of sustainable economics welfare,
the human development index, dan the quality of life index. Asal usul model formatif
dapat ditelusuri kembali pada “operational definition”, dan berdasarkan definisi
operasional, maka dapat dinyatakan tepat menggunakan model formatif atau reflesif.
Jika η menggambarkan suatu variabel laten dan x adalah indikator, maka: η= x
Oleh karena itu, pada model formatif variabel komposit seolah-olah dipengaruhi
(ditentukan) oleh indikatornya. Jadi arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator
ke variabel laten.
Ciri-ciri model indikator formatif adalah:
1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator ke konstruk
2. Antar indikator diasumsikan tidak berkorelasi (tidak diperlukan uji konsistensi
internal atau Alpha Cronbach)
3. Menghilangkan satu indikator berakibat merubah makna dari konstruk
4. Kesalahan pengukuran diletakkan pada tingkat konstruk (zeta)

Model Indikator Refleksif (skripsi dan tesis)

Model indikator refleksif dikembangkan berdasarkan pada classical test theory yang mengasumsikan bahwa variasi skor pengukuran konstruk merupakan fungsi dari true score ditambah error. Ciri-ciri model indikator reflektif adalah: 1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari konstruk ke indikator 2. Antar indikator diarapkan saling berkorelasi (memiliki internal consitency reliability) 3. Menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna dan arti konstruk 4. Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indikator

SEM (Structural Equation Modeling) (skripsi dan tesis)

SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik statistik yang
mampu menganalisis pola hubungan antara
konstruk laten dan indikatornya,
konstruk laten yang satu dengan lainny
a, serta kesalahan pengukuran secara
langsung. SEM memungkinkan dilakukannya anal
isis di antara be berapa variabel
dependen dan independen secara langsung (Hair et al, 2006).
Teknik analisis data menggunakan
Structural Equation Modeling
(SEM),dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang
ada dalam penelitian
SEM adalah merupakan sekumpulan teknik-teknik statistik yang
memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan secara simultan. Hubungan
itu dibangun antara satu atau beberapa variabel independen (Santoso, 2011).
Yamin (2009) mengemukakan bahwa di dalam SEM peneliti dapat
melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pe
meriksaan validitas dan reliabilitas
instrumen (setara dengan analisis fakt
or konfirmatori), pengujian model hubungan
antar variabel laten (setara dengan analisis
path
), dan mendapatkan model yang
bermanfaat untuk prediksi (setara dengan mo
del struktural atau analisis regresi).
Alasan yang mendasari digunakannya SEM adalah (1) SEM mempunyai
kemampuan untuk mengestimasi hubungan antar variabel yang bersifat
multiple
relationship.
Hubungan ini dibentuk dalam model struktural (hubungan antara
konstruk dependen dan independen). (2) SEM mempunyai kemampuan untuk
menggambarkan pola hubungan antara konstr
uk laten dan variabel manifes atau
variabel indikator.
Berikut istilah – istilah dalam SEM
1. Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas,
perantara dan tergantung. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan
anak panah. Anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebab-akibat antara
variabel-variabel eksogen atau perantara dengan satu variabel tergantung atau
lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan-kesalahan (variabel error)
dengan semua variabel endogen masing-masing. Anak panah ganda
menunjukkan korelasi antara pasangan variabel-variabel eksogen.
2. Model sebab akibat (causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (
pathanalysis) , yang menyusun hipotesis hubungan sebab akibat (causal
relationships ) diantara variabel- variabel dan menguji model-model sebab
akibat (causal models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifes (indikator),
variabel-variabel laten atau keduanya.
3. Variabel eksogen dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak
ada penyebab – penyebab eksplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel eksogen dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah berkepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut.
4. Variabel endogen ialah variabel yang mempunyai anak panah-anak panah
menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk didalamnya
mencakup semua variabel perantara dan tergantung.
5. Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung
kecuali diukur dengan satu atau lebih variabel manifes.
6. Variabel manifes adalah variabel yang digunakan untuk menjelaskan atau
mengukur sebuah variabel laten. Dalam satu variabel laten terdiri dari beberapa
variabel manifes.
13
7. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut “beta” yang
menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel
tergantung dalam suatu model jalur tertentu.
8. Analisis faktor penegasan (
confirmatory factor analysis)
, suatu teknik
kelanjutan dari analisis faktor dima
na dilakukan pengujian hipotesis-hipotesis
struktur
factor loadings
dan interkorelasinya.
Analisis jalur (
path analysis
) adalah suatu bentuk terapan dari analisis
multiregresi (Kerlinger, 2003). Metode
path analysis
adalah suatu metode yang
mengkaji pengaruh (efek) langsung maupun tidak langsung dari variabel-variabel
yang dihipotesiskan sebagai akibat pengaruh perlakuan terhadap variabel tersebut.
Teknik ini digunakan untuk menguji hubungan kausal yang diduga masuk akal
(
plausibility
) antara satu variabel dengan variabel lain di dalam kondisi
noneksperimental (Muhidin, 2009).
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau
objek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek
dengan objek yang lain (Sugiyono, 2006). Variabel juga dapat merupakan atribut
dari bidang keilmuan atau kegiatan
tertentu. Dalam model kausal, harus
dibedakan antara variabel eksogen dan endogen. Variabel eksogen adalah variabel
yang variabilitasnya diasumsikan ditentukan oleh sebab-sebab yang berada di luar
model. Sedangkan variabel endogen adalah variabel yang variasinya dapat
diterangkan oleh variabel eksogen dan endogen yang berada di dalam sistem.
Variabel endogen diperlakukan sebagai variabel terikat dalam suatu himpunan
variabel tertentu mungkin juga dikonsepsikan sebagai variabel bebas dalam
hubungannya dengan variabel yang lain.
14
Validitas berasal dari kata “
validity
” yang mempunyai arti ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam me
lakukan fungsi ukurnya (Burhan dkk, 2002:
316). Validitas alat ukur merupakan suatu mekanisme kontrol dalam metode
penelitian survei. Suatu
instrument
pengukuran dikatakan valid jika
instrument
dapat mengukur sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur. Jadi validitas dapat
menentukan apakah
instrument
yang digunakan dalam penelitian mencapai taraf
kesahihan atau tidak.
Uji reliabilitas untuk mengetahui apakah instrumen memiliki indeks
kepercayaan yang baik jika diujikan berulang. Suatu instrument pengukuran
dikatakan reliable jika pengukurannya konsiste
n dan akurat. Jadi uji reliabilitas
dilakukan dengan tujuan mengetahui konsistensi dari instrument sebagai alat ukur,
sehingga hasil pengukuran dapat dipercaya.
Metode
Partial Least Square
(PLS) merupakan metode analisis yang
powerful
karena dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan
banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar (Imam Ghozali,2008).
Partial
least square
juga dikembangkan untuk perancangan model statistik yang
mempunyai model lemah atau indikator yang tersedia memenuhi model
pengukuran refleksif, formatif dan rekursif (gabungan). Di dalam PLS variabel
laten bisa berupa hasil pencerminan indikatornya, diistilahkan dengan indikator
refleksif
(reflesive indicator)
. Di samping itu, variabel yang dipengaruhi oleh
indikatornya, diistilahkan dengan indikator formatif
(formative indicator)
.
Model refleksif dipandang secara mate
matis indikator seolah-olah sebagai
variabel yang dipengaruhi oleh variabel la
ten. Hal ini mengakibatkan bila terjadi
15
perubahan dari satu indikator akan be
rakibat pada perubahan pada indikator
lainnya dengan arah yang sama.

Structural Equation Modelling (SEM) dan Partial Least Squares (PLS) (skripsi dan tesis)

 

SEM merupakan suatu teknik pemodelan statistika yang mampu menganalisi hubungan antar peubah laten, peubah indikator dan kesalahan pengukuran secara langsung. Di samping hubungan kausal searah, metode SEM

juga memungkinkan untuk melakukan analisis hubungan dua arah (Ghozali, dkk. 2005). Peubah laten adalah peubah yang tidak dapat diobservasi, sehingga tidak dapat diukur secara langsung. Pengamatan pada peubah laten melalui efek pada peubah-peubah terobservasi. Peubah terobservasi adalah indikator-indikator yang dapat diukur (Ghozali, et al. 2005). Ghozali (2008) memaparkan bahwa SEM dikembangkan berdasarkan 2 (dua) kelompok yaitu SEM berbasis covariance (CBSEM) dan SEM berbasis varian/Partial Least Squares (PLS). Perbedaan utama CBSEM dan PLS adalah pada CBSEM model yang dianalisis harus dikembangkan berdasarkan pada teori yang kuat dan bertujuan untuk mengkonfirmasi model dengan data empirisnya. Sedangkan PLS lebih menitikberatkan pada model prediksi sehingga dukungan teori yang kuat tidak begitu menjadi hal terpenting (Ghozali, 2008). CBSEM bertujuan memberikan pernyataan tentang hubungan kausalitas atau memberikan deskripsi mekanisme hubungan kausalitas (sebab-akibat). Sedangkan PLS memiliki tujuan untuk mencari hubungan linear prediktif antar peubah (Ghozali, 2008). Wold (1985) dalam Ghozali (2008) menyatakan bahwa PLS merupakan metode analisis yang powerfull, data tidak harus berdistribusi normal multivariate (indikator dengan skala kategori ordinal, interval sampai ratio dapat digunakan pada model yang sama), dan sampel tidak harus besar. PLS dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori dan juga untuk menjelaskan ada atau tidak adanya hubungan antar peubah laten. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif. Menurut Chin (1998) dalam Ghozali (2008) menyatakan bahwa karena PLS tidak mengasumsikan adanya distribusi tertentu untuk estimasi parameter, maka teknik parametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan. Model evaluasi PLS berdasarkan pada pengukutan prediksi yang mempunyai sifat non parametrik. PLS tidak hanya dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori, namun dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara peubah laten. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif dan hal ini tidak mungkin dijalankan dalam SEM karena akan terjadi unidentified model.

Metode Bootstrapping (skripsi dan tesis)

Metode bootstrap telah dikembangkan oleh Efron (1979)
sebagai alat untuk membantu mengurangi ketidak andalan
yang berhubungan dengan kesalahan penggunaan distribusi
normal dan penggunaannya. Pada bootstrap dibuat pseudo
data (data bayangan) menggunakan informasi dan sifat-sifat
dari data asli, sehingga data bayangan memiliki karakteristik
yang mirip dengan data asli [9].
Pada metode bootstrap dilakukan pengambilan sampel
dengan pengembalian dari sampel data (resampling with
replacement) [10]

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan metode analisis multivariat yang dapat digunakan untuk menggambarkan keterkaitan hubungan linier secara simultan antara variabel pengamatan (indikator) dan variabel yang tidak dapat diukur secara langsung (variabel laten). Variabel laten merupakan variabel tak teramati (unobserved) atau tak dapat diukur (unmeasured) secara langsung, melainkan harus diukur melalui beberapa indikator. Terdapat dua tipe variabel laten dalam SEM yaitu endogen () dan eksogen (ξ)

Profesionalisme (skripsi dan tesis)

Profesionalisme dapat dijadikan sebuah elemen motivasi yang
memberikan sumbangan terhadap prestasi kerja atau kinerja dengan
ketrampilan yang tinggi.Sikap profesionalisme dibutuhkan dalam
menghasilkan kualitas pekerjaan yang sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan
semakin berkualitas pekerjaan seorang pegawai, kinerjanya semakin
cemerlang. Semakin baik kinerjanya, masyarakat dan pihakpihak terkait
akan semakin percaya.
Profesional adalah tingkat penguasaan dan pelaksanaan terhadap
knowledge, skill, dan character. Seorang yang profesional akan
mempunyai tingkat tertentu pada ketiga bidang tersebut menurut Bernardi
(dalam prasetyoningrum : 2010). Perilaku profesional diperlukan bagi
semua profesi, agar profesi yang telah menjadi pilihannya mendapat
kepercayaan dari masyarakat menurut Bonner and Lewis (dalam
prasetyoningrum : 2010).
Profesionalisme sebagai sikap dan perilaku seseorang dalam
melakukan profesi tertentu. Seorang yang profesional, di samping
mempunyai keahlian dan kecakapan teknis, harus mempunyai kesungguhan
dan ketelitian bekerja, mengejar kepuasan orang lain, keberanian
menanggung risiko, ketekunan dan ketabahan hati, integritas tinggi,
konsistensi dan kesatuan pikiran, kata dan perbuatan menurut Christian
(dalam prasetyoningrum : 2010).
Hall (dalam prasetyoningrum : 2010). Menyatakan bahwa ada lima
dimensi profesionalisme seseoang, yaitu :
1. Afiliasi komunitas (Community affiliation)
2. Kebutuhan untuk mandiri (Autonomy demand)
3. Keyakinan terhadap peraturan sendiri / profesi (Belief selfregulation)
4. Dedikasi pada profesi (Dedication)
5. Dan kewajiban sosial (Social obligation)
Karyawan yang memiliki profesionalisme tinggi diharapkan dapat
memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencapaian tujuan
organisasi. Secara khusus, peningkatan profesionalisme diharapkan dapat
memberikan dampak bagi peningkatan kinerja dan kepuasan bagi
karyawan, ini merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap
karyawan yang bekerja dalam suatu organisasi. Dengan demikian
peningkatan profesionalisme akan dapat membantu menyelaraskan
pencapaian tujuan organisasi dan tujuan personal. Menurut Sagie, Krausz.
dkk (dalam Prasetyoningrum : 2010). Yang menyatakan bahwa
Profesionalisme berhubungan positif terhadap kinerja karyawan.
Menurut Lui et al (dalam Prasetyoningrum : 2010). Merumuskan
definisi – definisi yang masih ada tentang profesionalisme dalam literatur
manajemen adalah ambisius. Mengadopsi sebuah perspektif sosialisasi,
melihat profesionalisme sebagai nilai – nilai, tujuan dan norma – norma
yang dipelajari dalam sosialisasi profesionalisme.

Lingkungan Kerja (skripsi dan tesis)

Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan atau instansi perlu
diperhatikan, hal ini disebabkan karena lingkungan kerja mempunyai
pengaruh langsung terhadap para pegawai. Lingkungan keja daripada para
pegawai akan mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap jalannya
operasi suatu pekerjaan di perusahaan atau instansi, Lingkungan kerja ini
yang akan mempengaruhi para pegawai, sehingga dengan demikian baik
langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi produktivitas
perusahaan atau instansi. Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila
manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan
nyaman. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka
waktu yang lama. Lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut
tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung
diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien. Lingkungan kerja yang
baik dan memuaskan para pegawai tentu akan meningkatkan produktivitas
kerja daripada pegawai. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak baik akan
menurunkan produktivitas kerja daripada pegawai.
Menurut Alex S. Nitisemito (dalam mandasari : 2015) Lingkungan
kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat
mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan
Secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua, yaitu
Lingkungan Kerja Fisik (temparatur, kelembaban, sirkulasi udara,
pencahayaan, kebisingan, getaran mekanik, bau tidak sedap, warna) dan
Lingkungan Kerja Non Fisik (keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan
hubungan kerja)
Menurut Darvis (dalam Permansari : 2013). Lingkungan kerja
dalam suatu organisasi mempunyai arti penting bagi individu yang bekerja
di dalamnya, karena lingkungan ini akan mempengaruhi secara langsung
maupun tidak langsung manusia yang ada di dalamnya. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
disekitar para pekerjaan dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas tugas yang dibebankan Menurut Alex S. Niti Semito
(dalam Hidayat dan Taufiq : 2012).
Menurut Darvis (dalam Permansari : 2013). Tiga faktor utama yang
menentukan lingkungan akan mempengaruhi secara langsung maupun
tidak langsung manusia yang ada di dalamnya adalah :
1. Ada bukti yang menunjukan bahwa tugas dapat diselesaikan dengan
lebih baik pada lingkungan kerja organisasi yang baik.
2. Ada bukti bahwa manager dapat mempengaruhi lingkungan kerja
dalam organisasi atau unit kerja yang dipimpin.
3. Kecocokan antara individu dengan organisasi mempunyai peranan
yang sangat penting dalam mencapai prestasi dan kepuasan individu
itu sendiri dalam organisasi.
Indikator – indikator lingkungan kerja oleh Arikunto (dalam
Hidayat dan Taufiq : 2012) yaitu sebagai berikut:
1. Penerangan
2. Warna ruangan
3. Suasana
4. Udara
5. Tata ruang kantor

Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Menurut Ruky (dalam Mandasari : 2015). Kinerja merupakan suatu
bentuk usaha kegiatan atau program yang diprakarsai dan dilaksanakan
oleh pimpinan organisasi atau perusahaan untuk mengarahkan dan
mengendalikan prestasi karyawan. Sedangkan menurut Mangkunegara
(dalam Mandasari : 2015). Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas
dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawan yang diberikan kepadanya.
Kinerja karyawan sering diartikan sebagai pencapaian tugas,
dimana karyawan dalam bekerja harus sesuai dengan program kerja
organisasi untuk menunjukkan tingkat kinerja organisasi dalam mencapai
visi, misi, dan tujuan organisasi. Kinerja seseorang merupakan ukuran
sejauh mana keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas pekerjaannya.
Kinerja karyawan merupakan suatu tindakan yang dilakukan karyawan
dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan menurut ,
Handoko (dalam Wirawan, Bagia. dkk : 2016).
Mathis dan Jackson (dalam Mandasari 2015) menjelaskan ada tiga
faktor utama yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah :
1. Kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan tersebut.
2. Tingkat usaha yang dicurahkan.
3. Dan dukungan organisasi yang diterimanya.
Menurut Hasibuan (dalam Hidayat dan Taufiq : 2012) menyatakan
bahwa prestasi kerja atau kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
yang didasarkan kecakapan, pengalaman dan kesungguhan. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa prestasi kerja atau kinerja ini merupakan gabungan
dari tiga faktor penting yaitu:
1. Kemampuan dan minat seorang karyawan.
2. Kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas.
3. Peran serta tingkat motivasi seorang karyawan.
Menurut Malthis dan Jackson (dalam Mandasari : 2015) Kinerja
Karyawan dapat diukur melalui beberapa indicator yaitu :
1. Kualitas kerja.
2. Kuantitas kerja.
3. Ketepatan waktu.
Suyadi Prawirosentono (dalam Wirawan, Bagia. Dkk : 2016),
kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam satu organisasi, sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi
yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hokum dan sesuai dengan
moral dan etika. Menurut Rivai (dalam Wirawan, Bagia. dkk : 2016)
Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan untuk
menyelesaikan tugas atau pekerjaan seseorang sepatutnya memiliki derajat
kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.

Hubungan antara pelatihan, kemampuan, dan kinerja (skripsi dan tesis)

Mangkunegara (2005:52) mengemukakan mengenai hubungan
pelatihan, kemampuan, dan kinerja; “Pelatihan merupakan penciptaan
suatu lingkungan dimana para pekerja dapat memperoleh atau
mengubah sikap, kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang
berkaitan dengan pekerjaan tertentu yang bertujuan untuk
meningkatkan kinerja karyawan”.
Pada hubungan antara variabel-variabel di atas dapat diartikan
bahwa pelatihan ini banyak memiliki pengaruh dalam peningkatan
kinerja, dan bagaimana kemampuan sebagai pendukung dalam
pengadaan pelatihan yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi
yang dimiliki guna tercapainya target produksi yang dibebankan
kepada karyawan.

Hubungan Kemampuan dengan Kinerja (skripsi dan tesis)

Masalah kinerja tidak dapat dipisahkan dari kemampuan kerja
karyawan. Mangkunegara (2007:67) mengatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi pencapaian kerja adalah faktor kemampuan (ability)
dan motivasi (motivation). Perusahaan memerlukan karyawan yang
memiliki kemampuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan
agar mampu meningkatkan kinerja. Melalui peningkatan kemampuan
kerja, maka kinerja karyawan akan ikut meningkat. Hal ini didukung
dengan hasil penelitian yang dilakukan Kusuma dkk (2015) dengan
hasil kemampuan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

Hubungan Pelatihan dengan Kemampuan (skripsi dan tesis)

Mathis dan Jackson (2006:301) mendefinisikan Pelatihan
(training) sebagai proses di mana seseorang mendapatkan kapabilitas
untuk membantu pencapaian tujuan organisasional. Menurut
Widyasari dkk (2015) menemukan bahwa pelatihan (Metode,
instruktur, dan materi pelatiha) berpengaruh signifikan terhadap
kemampuan. Artinya, pelatihan sangat penting dilakukan sehingga
karyawan dapat meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan
keterampilan dalam mengerjakan suatu pekerjaan tertentu sesuai
dengan standar atau kebutuhan organisasi.

Hubungan Pelatihan dengan Kinerja (skripsi dan tesis)

Menurut Rivai dan Sagala (2010:211) mendefinisikan pelatihan
sebagai suatu kegiatan dalam meningkatkan kinerja saat ini dan
kinerja di masa yang akan datang. Artinya, pelatihan (training)
merupakan salah satu peran penting dalam peningkatan kinerja
karyawan. Pelatihan dilakukan sebagai solusi dari permasalahan
kinerja karyawan. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang
dilakukan Widyasari dkk (2015) dengan hasil penelitian pelatihan
yang meliputi metode, instruktur, dan materi berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan

Metode Pelatihan (skripsi dan tesis)

Metode pelatihan yang digunakan harus sesuai dengan jenis
pelatihan yang akan dilaksanakan perusahaan. Rivai dan Sagala
(2010:226) membedakan metode pelatihan menjadi dua, yaitu :
1) On the job training, yaitu metode pelatihan dengan memberikan
petunjuk mengenai pekerjaan secara langsung pada saat bekerja
untuk melatih karyawan bagaimana melaksanakan pekerjaan
mereka sekarang. Contoh metode ini adalah instruksi, rotasi,
magang.
2) Off the job training, yaitu metode yang dilakukan diluar jam kerja.
Contoh metode ini adalah ceramah,video, studi kasus, simulasi,
dan studi mandiri.
d. Indikator Pelatihan
Adapun indikator pelatihan menururt Rivai (2005:240) yaitu
sebagai berikut:
1) Materi pelatihan
Dengan mengetahui kebutuhan akan pelatihan, langkah
pertama yang dapat ditentukan yaitu mengenai materi yang harus
diberikan misalnya kelengkapan materi pelatihan.
2) Metode pelatihan
Sesuai dengan materi pelatihan yang diberikan, maka dapat
ditentukan metode atau cara penyajian yang paling tepat.
Penentuan atau pemilihan metode pelatihan disesuaikan dengan
materi yang akan disajikan.
3) Instruktur
Pelatih harus mempunyai keahlian dan kemampuan untuk
mentransformasikan keahlian tersebut pada peserta pelatihan.
4) Peserta pelatihan
Agar program pelatihan dapat mencapai sasaran yang
diinginkan hendaknya para peserta yang dipilih secara mental
telah dipersiapkan untuk mengikuti program tersebut. Peserta
yang dipilih juga harus memiliki motivasi yang tinggi dalam
mengikuti pelatihan.
5) Sarana pelatihan.
Sarana pendukung evaluasi pelatihan dimaksudkan untuk
mengukur kelebihan suatu program, kelengkapan peralatan, dan
kondisi lingkungan yang merupakan umpan balik untuk menilai
atau menghasilkan output yang sesuai.

Pengertian Pelatihan (skripsi dan tesis)

Pelatihan (training) menurut Mathis dan Jackson (2006:301)
yaitu proses di mana seseorang mendapatkan kapabilitas untuk
membantu pencapaian tujuan organisasional. Rivai dan Sagala
(2010:212) mendefinisikan pelatihan sebagai suatu kegiatan dalam
meningkatkan kinerja saat ini dan kinerja di masa yang akan datang.
Pelatihan memiliki peran dalam membantu karyawan mendapatkan
keahlian dan kemampuan tertentu sehingga berhasil dalam
melaksanakan pekerjaannya.

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kerja adalah
faktor kemampuan (ability) dan motivasi (motivation)
(Mangkunegara,2007:67). Keith Davis (1964:484) dalam
Mangkunegara (2007:67) merumuskan faktor–faktor yang
mempengaruhi pencapaian kerja sebagai berikut :
Human Performance = Ability + Motivation
Motivation = Attitude + Situation
Ability = Knowledge + Skill
1) Faktor kemampuan : secara psikologis kemampuan (ability)
karyawan terdiri dari potensi (IQ) dan kemampuan reality
(knowledge + skill). Artinya, karyawan dengan IQ di atas rata –
rata (IQ 110 – 120) dengan pendidikan memadai untuk
jabatannya dan terampil dalam mengerjakan tugas sehari–hari,
maka karyawan tersebut akan lebih mudah untuk mencapai
kinerja yang diharapkan. Para karyawan perlu ditempatkan pada
pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man in the
right place, the right man on the right job).
2) Faktor motivasi : motivasi terbentuk dari sikap (attitude)
karyawan dalam menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi
merupakan kondisi yang menggerakkan karyawan yang terarah
untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Simamora dalam Mangkunegara (2005:14)
mengatakan bahwa kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :
1) Fakor individual yang terdiri dari :
a) Kemampuan dan keahlian
b) Latar belakang
c) Demografi
2) Faktor psikologis yang terdiri dari :
a) Persepsi
b) Attitude
c) Personality
d) Pembelajaran
e) Motivasi
3) Faktor organisasi yang terdiri dari :
a) Sumber daya
b) Kepemimpinan
c) Penghargaan
d) Struktur
e) Job design
2. Kemampuan
a. Pengertian kemampuan
Menurut Robbins dan Judge (2008:57) kemampuan (ability)
merupakan suatu kapasitas yang dimiliki setiap individu untuk
mengerjakan tugas dalam suatu pekerjaan tertentu. Kemampuan
individu pada hakekatnya dibagi menjadi dua faktor yaitu kemampuan
intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual, yaitu
kemampuan yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan mental.
Kemampuan fisik, yaitu kemampuan yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan,
dan keterampilan yang sempurna.
Kemampuan merupakan faktor penentu keberhasilan
departemen personalia dalam mempertahankan sumber daya manusia
yang efektif (Handoko, 2001:117). Berdasarkan pedapat di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa kemampuan merupakan potensi yang
dimiliki seseorang dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan
Menurut Abdullah (2014:59) terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kompetensi (kemampuan) seseorang, yaitu :
1) Keyakinan dan nilai–nilai
2) Keterampilan
3) Pengalaman
4) Karakteristik kepribadian
5) Motivasi
6) Emosional
7) Intelektual
8) Budaya organisasi
c. Klasifikasi Kemampuan Kerja
Menurut Fitz dalam Swasto (2000:80) mengemukakan bahwa
kemampuan kerja dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Kemampuan pengetahuan, yaitu suatu pemahaman secara luas
mencakup segala hal yang pernah diketahui berkaitan dengan
tugas–tugas individu dalam organisasi.
2) Kemampuan keterampilan, yaitu kemampuan terkait teknik
pelaksanaan kerja tertentu yang berkaitan dengan tugas individu
dalam organisasi.
3) Kemampuan sikap, yaitu kemampuan yang mempunyai pengaruh
tertentu terhadap tanggapan seseorang kepada orang lain, objek
dan situasi yang berhubungan dengan orang tersebut.

Indikator Kinerja (skripsi dan tesis)

Indikator – indikator kinerja menurut Mangkunegara (2007:75)
yaitu :
1) Kuantitas kerja, yaitu seberapa lama karyawan menyelesaikan
tugas dalam setiap harinya. Kuantitas kerja dapat dilihat dari
kecepatan dalam menyelesaikan kerja ekstra.
2) Kualitas kerja, yaitu seberapa baik seorang karyawan
mengerjakan apa yang harusnya dikerjakan. Dalam hal ini
menyangkut ketepatan, ketelitian, keterampilan, dan kebersihan.
3) Tanggung jawab, yaitu kesadaran karyawan dalam melaksanakan
pekerjaan seperti mengikuti instruksi, inisiatif, hati –hati, dan
kerajinan.
4) Sikap karyawan, dalam hal ini sikap terhadap perusahaan,
pekerjaan, dan kerjasama dengan karyawan lain.

Pengertian Kinerja (skripsi dan tesis)

Mangkunegara (2007:67) mendefinisikan kinerja karyawan
sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seorang karyawan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab
yang diberikan perusahaan kepadanya. Robbins (2008)
mendefinisikan kinerja sebagi ukuran dari hasil yang dicapai
karyawan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan kriteria tertentu
yang disetujui bersama.
Unjuk kerja merupakan hasil kerja yang dihasilkan oleh
karyawan atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai perannya di
dalam organisasi (Hariandja, 2009:195). Berdasarkan pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan suatu hasil yang didapat
karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan perusahaan.

Motivasi Belajar (skripsi dan tesis)

Melakukan perbuatan mengajar secara relative tidak semudah melakukan
kebiasaan yang rutin dilakukan. Oleh karena itu diperlukan adanya sesuatu yang
mendorong kegiatan agar semua tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Hal tersebut
adalah adanya motivasi. Menurut (Oemar Hamalik,2009 ) motivasi dipandang sebagai
suatu proses.
Menurut Mc Donald yang di kutip oleh( Oemar Hamalik,2009) “Motivation is
an energy charge within the person characterized by affective arousal and anticipatory
goal reaction”, yang dapat diartikan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energy
dalam diri ( pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi
untuk mencapai tujuan.Sedangkan menurut winkel motivasi adalah motif yang sudah
menjadi aktif pada saat – saat melakukan percobaan, sedangkan motif sudah ada dalam
diri seseorang jauh sebelum orang itu melalkukan suatu perbuatan. Menurut (
Nasution,2000) motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu.

Kondisi Sosial Ekonomi (skripsi dan tesis)

Keadaan sosial ekonomi setiap orang itu berbeda-beda dan bertingkat, ada yang
keadaan sosial ekonominya tinggi, sedang, dan rendah.
Sosial ekonomi menurut (Abdulsyani,1994) adalah kedudukan atau posisi
seseorang dalam kelompok manusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi,
pendapatan, tingkat pendidikan, jenis rumah tinggal, dan jabatan dalam organisasi,
berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan pengertian keadaan sosial
ekonomi dalam penelitian ini adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat
berkaitan dengan tingkat pendidikan, tingkat pendapatan pemilikan kekayaan atau
fasilitas serta jenis tempat tinggal.

Prestasi Belajar (skripsi dan tesis)

(Santrock,2004) mendefinisikan belajar sebagai “a relatively permanent
influence on behavior, knowledge, and thinking skills, which comes about through
experience.” Pendapat yang sama dikemukakan oleh Woolfolk (2007:206) yang
menyatakan bahwa “learning occurs when experience causes a relatively permanent
change in an individual’s knowledge or behavior.” Kedua pengertian tersebut samasama menyatakan bahwa seseorang dikatakan telah belajar jika terjadi perubahan yang
sifatnya relatif tetap dalam pengetahuan dan tingkah lakunya, yang diperoleh melalui
pengalaman.
Belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental/psikis,
yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan
sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap.
Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. Perolehan perubahan itu
dapat berupa suatu hasil yang baru atau pula penyempurnaan terhadap hasil yang telah
diperoleh (Winkel, 2004).
Prestasi belajar pada hakekatnya merupakan hasil yang telah dicapai seseorang
setelah melakukan usaha belajar. Pada umumnya semakin baik usaha belajar, maka
akan semakin baik pula prestasi yang akan dicapai. Menurut (Sardiman, 2001) “prestasi
belajar adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor
yang mempengaruhi, baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar”,
sedangkan menurut (Tu’u, 2004) “prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau
keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang lazimnya ditunjukkan
dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru”.
Keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu tingkat kecerdasan yang baik, pelajaran sesuai dengan bakat yang dimiliki,
ada minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran, motivasi yang baik dalam
belajar, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran yang dikembangkan guru.
Suasana keluarga yang mendorong anak untuk maju, lingkungan sekolah yang tertib,
Analisis Jalur (Path Analysis) Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi dan Motivasi Belajar
teratur, dan disiplin merupakan pendorong dalam proses pencapaian prestasi belajar
(Tulus Tu`u, 2004).
Slameto (2010:54) mengemukakan bahwa faktor-faktor tersebut dapat
dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu:
1. Faktor-faktor intern
a. Faktor jasmaniah, meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.
b. Faktor psikologis, meliputi faktor intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi,
kematangan, dan kesiapan.
c. Faktor kelelahan, meliputi kelelahan jasmanin dan kelelahan rohani.
2. Faktor-faktor ekstern
a. Faktor keluarga, meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar
belakang kebudayaan.
b. Faktor sekolah, meliputi metode mengajar, relasi guru dengan siswa, relasi siswa
dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, keadaan gedung,
metode belajar, dan tugas rumah.
c. Faktor masyarakat, meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

Komponen Indeks Pembangunan Manusia (skripsi dan tesis)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks (HDI)
merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan
manusia yang dianggap, sangat mendasar, yaitu angka harapan hidup, tingkat
pendidikan, standar hidup layak.
1. Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun
yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup. Penghitungan angka
harapan hidup melalui pendekatan tak langsung (inderect estimation). Jenis
data yang digunakan adalah Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih
Hidup (AMH).
2. Tingkat Pendidikan
Salah satu komponen pembentuk IPM adalah dari dimensi pengetahuan yang
diukur melalui tingkat pendidikan. Dalam hal ini, indikator yang digunakan
adalah rata-rata lama sekolah (means years of schooling) dan angka melek
huruf.
3. Standar Hidup Layak
Dimensi lain dari ukuran kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak.
Dalam cakupan lebih luas, standar hidup layak menggambarkan tingkat
kesejahteraan yang dinikmati oleh penduduk sebagai dampak semakin
membaiknya ekonomi. .

Konsep Pembangunan Manusia (skripsi dan tesis)

Mengutip isi Human Development Report (HDR) pertama tahun 1990, pembangunan manusia
adalah suatu proses untuk memperbanyak pilihan-pilihan yang dimiliki oleh manusia. Diantara
banyak pilihan tersebut, pilihan yang terpenting adalah untuk berumur panjang dan sehat, untuk
berilmu pengetahuan, dan untuk mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar
dapat hidup secara layak.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis
sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui
pendekatan empat dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat;
pengetahuan, ketenagakerjaan dan kehidupan yang layak. Keempat dimensi tersebut memiliki
pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi kesehatan,
digunakan angka harapan hidup waktu lahir. Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan
digunakan gabungan indikator angka melek huruf. Lalu untuk mengukur ketenagakerjaan
digunakan jumlah tenaga kerja. Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan
indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari
rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian
pembangunan untuk hidup layak.
Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan manusia, empat hal pokok
yang perlu diperhatikan adalah produktivitas, pemerataan, kesinambungan,
pemberdayaan (UNDP, 1995: 12). Secara ringkas empat hal pokok tersebut
mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Produktivitas
Penduduk harus dimampukan untuk menigkatkan produktivitas dan untuk
berpatisipasi penuh dalam proses penciptaan pendapatan dan pekerjaan
nafkah. Pembangunan ekonomi, yang dengan demikian merupakan himpunan
bagian dari model pembangunan manusia.
2. Pemerataan
Penduduk harus memiliki kesempatan atau peluang yang sama untuk
mendapatkan akses terhadap semua sumber daya ekonomi dan sosial.
3. Kesinambungan
Akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial harus dipastikan tidak hanya
untuk generasi-generasi yang akan datang. Semua sumber daya fisik,
manusia, dan lingkungan harus selalu diperharui (replenished).
4. Pemberdayaan
Peduduk harus berpartisipasi penuh dalam keputusan dan proses yang akan
menentukan bentuk atau arah kehidupan mereka, serta untuk berpatisipasi dan
mengambil manfaat dari proses pembangunan, karenanya pembangunan
harus penduduk, bukan hanya untuk mereka.

Konsep dan Istilah Dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Dalam analisis jalur dikenal beberapa konsep dan istilah dasar, yaitu:
a. Model jalur adalah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas; perantara
dan tergantung.
b. Jalur penyebab untuk suatu variabel yang diberikan.
c. Variabel exogenous adalah semua variabel yang tidak ada penyebab eksplisitnya atau
dalam diagram tidak ada anak panah yang menuju kearahnya, selain pada bagian
kesalahan pengukuran.
d. Variabel endogenous adalah variabel yang mempunyai anak panah menuju kearah
variabael tersebut.
e. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut ‘beta’ yang menunjukkan
pengaruh dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung dalam suatu model jalur
tertentu.
f. Variabel-variabel exogenous yang dikorelasikan.
g. Koefisien-koefisien jalur dapat digunakan untuk mengurai korelasi-korelasi dalam suatu
model kedalam pengaruh langsung dan tidak langsungyang berhubungan dengan jalur
langsung dan tidak langsung yang direfleksikan dengan anak panah dalamsuatu model
tertentu.
h. Model recursive. Model penyebab yang mempunyai satu arah.
i. Model non-recursive. Model penyebab dengan disertai arah yang memblik (feed back
loop) atau adanya pengaruh sebab-akibat (reciprocal)
j. Direct effect. Pengaruh langsung yang dapat dilihat dari koefisien jalur dari suatu variabel
ke variabel lainnya.
k. Indirect effect. Urutan jalur melalui satu lebih variabel perantara.

Manfaat Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Manfaat model analisis jalur adalah untuk:
a. Penjelasan atau explanation terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang
diteliti.
b. Prediksi nilai variabel endogen berdasarkan nilai variabel eksogen.
c. Faktor dominan yaitu penentu variabel eksogen mana yang berpengaruh dominan
terhadap variabel endogen, juga untuk mekanisme pengaruh jalur-jalur variabel eksogen
terhadap variabel endogen.
d. Pengujian teori menggunakan teori trimming baik untuk uji reliabilitas konsep yang
sudah ada ataupun uji pengembangan konsep baru.

Karakteristik Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Merujuk pendapat yang dikemukakan oleh Land, Ching, Heise, Maruyama, Schumaker, dan
Lomax, Joreskog ( dalam Kusnendi, 2008 : 147 – 148 ). Karakteristik analisis jalur adalah
metode analisis data multivariate dependesi yang digunakan untuk menguji hipotesis
hubungan asimetris yang dibangun atas dasar kajian teori tertentu, dengan tujuan untuk
mengetahui pengaruh langsung atau tuidak langsung seperangkat variabel penyebab terhadap
variabel akibat.
Menguji hipotesis hubungan asimetris yang dibangun atas kajian teori tertentu artinya
yang diuji adalah model yang menjelaskan hubungan kausual antar variabel yang dibangun
atas kajian teori-teori tertentu. Hubungan kausual tersebut secara eksplisit dirumuskan dalam
bentuk hipotesis, baik positif maupun negati

Pengertian Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur dikembangkan pada tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu oleh
Sewall Wright (Joreskog dan Sorbom, 1996; Johnson dan Wichern, 1992). Analisis
merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interprestasi akibat yang
ditimbulkannya. Analisis jalur memiliki kedekatan dengan regresi berganda, sehingga regresi
berganda adalah bentuk khusus analisis jalur. Teknik ini dikenal sebagai model sebab-akibat.
“Analisis jalur ialah salah satu teknik untuk menganalisis hubungan sebab-akibat yang terjadi
pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantung tidak hanya
secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung” (Robert D. Rutherford, 1993). Defenisi
lain mengatakan “Analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda
dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingakat kepentingan dan signifikasi hubungan
sebab-akibat hipotetikal dalam perangkat variabel” (Paul Webley, 1997). Pengertian lain
mengatakan “Analisi jalur adalah model perluasan regresi yang digunakan untuk menguji
keselaran matriks korelasi dengan dua atau lebih model hubunga sebab-akibat yang
dindingkan oleh peneliti (David Garson, 2003).
Model analisis jalur digunakan untuk menganaisis palo hubungsn antar variabel dengan
tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung seperangkat variabel bebas
(exogen) terhadap variabel terikat ( endogen). Oleh sebab itu, rumusan masalah penelitian
dalam kerangka analisis jalur adalah:
a. Apakah variabel eksogen (X1, X2, X3,….., Xn) berpengaruh terhadap variabel
endogen.
b. Berapa besar pengaruh kausal langsung, kausal tidak langsung, kausal total
maupum stimulan seperangkat variabel eksogen (X1, X2, X3,….., Xn) terhadap
variabel endogen.

Indonesian Family Life Survey (IFLS) (skripsi dan tesis)

Indonesia Family Live Survey (IFLS) atau Survei Aspek Kehidupan Rumah
Tangga Indonesia (SAKERTI) adalah survei rumah tangga, komunitas dan fasilitas
yang dilakukan di negara berkembang oleh RAND (Research ANd Development),
bekerja sama dengan lembaga penelitian di masing–masing survei. Selain di
Indonesia survei ini juga dilakukan dibeberapa Negara berkembang lainnya seperti
Malaysia (1976-1977, 1988-1989), Guatemala (1995) dan Bangladesh (1996).
IFLS merupakan survei longitudinal rumah tangga Indonesia dan merupakan survei
paling komprehensif yang pernah dilakukan di Indonesia. Survei ini adalah studi
panel rumah tangga, individu dan fasilitas umum yang berlangsung secara
terintegrasi lima gelombang semenjak tahun 1993 di 24 provinsi di Indonesia yaitu
provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bangka
Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, seluruh provinsi di Jawa, Bali, NTB, seluruh
provinsi di Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. IFLS gelombang 5
dilakukan pada akhir 2014 dengan jumlah 15.900 rumah tangga dan 709 komunitas
dengan jumlah individu dalam rumah tangga sebanyak 50.000 individu yang
merupakan kolaborasi dari RAND dan Survey METER (Strauss, Witoelar, &
Bondan, 2016: 4).
Sampel awal dari rumah tangga dan masyarakat dimulai pada tahun 1993
(IFLS-1) sebagai baseline di 13 provinsi Indonesia mencakup 321 area pencacahan
(enumeration areas) dengan 7200 rumah tangga dan 16.300 individu. Sampel IFLS
mencapai 83% dari jumlah populasi pada tahun 1993. Kemudian kembali di survei
pada akhir 1997 (IFLS-2) dengan persentase responden yang dapat dihubungi
mencapai 94,4%, sampel mencapai 7.600 rumah tangga dan 25.000 individu. Pada
tahun 1998, 25% dari sampel atau sekitar 2000 rumah tangga kembali di survei
pada akhir 1998 (IFLS2+1998). Namun data tersebut tidak di publikasikan untuk
umum. RAND melakukan survei IFLS2+1998 setahun setelah IFLS-2 bertujuan
untuk melihat dampak krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada kurun waktu
1997 sampai 1998. Tahun 2000 kembali dilakukan survei (IFLS-3) dengan
persentase responden yang dapat dihubungi mencapai 95.3% dengan sampel 10.400
rumah tangga dan 31.000 individu. Persentase responden yang dapat dihubungi
kembali dengan nilai tinggi juga dapat dipertahankan pada IFLS-4 tahun 2007
dengan jumlah 13.500 rumah tangga dan 43.000 individu yang diwawancarai.
Jumlah peningkatan sampel menjadi 15.900 rumah tangga dan 50.000 individu
diwawancarai pada IFLS-5 tahun 2014. Persentase responden yang dapat dihubungi
mencapai 90,5% dari IFLS 1, 2, 3 dan 4. Serta 92% responden yang dapat dihubungi
dari rumah tangga asli pada IFLS-1 (Strauss, Witoelar, & Bondan, 2016: 50).
Pada tahun 2012, RAND bersama Survey METER meluncurkan IFLS-East
untuk melihat kondisi provinsi-provinsi Indonesia bagian timur. Survei
mengumpulkan data di tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat dimana
mereka tinggal serta kesehatan dan fasilitas pendidikan pada komunitas tersebut.
Survei ini dilakukan pada sekitar 10.000 individu dan 2.500 rumah tangga di
komunitas (wilayah pencacahan) yang tersebar di tujuh provinsi di Indonesia
bagian timur yaitu Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara,
Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (Sikoki et al, 2013: 1).

Dekomposisi Hubungan Antar Variabel (skripsi dan tesis)

Model dekomposisi adalah model yang menekankan pada pengaruh yang
bersifat kausalitas antar variabel, baik pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung dalam kerangka analisis jalur. Model dekomposisi pengaruh kausal antar variabel dibedakan menjadi tiga sebagai berikut (Alwin & Hauser, 1975: 38-39):
a. Pengaruh Langsung (Direct Effect)
Pengaruh langsung adalah pengaruh dari variabel X ke variabel Y langsung
tanpa melalui variabel lain. Sebagai contoh pada Gambar 2.1 pengaruh
langsung dari 𝑋1 ke 𝑋3 ditunjukan oleh 𝜌31
b. Pengaruh Tidak Langsung ( Indirect Effect)
Pengaruh tak langsung terjadi jika variabel eksogen mempengaruhi variabel
endogen melalui variabel ketiga. Sebagai contoh pada Gambar 2.1 pengaruh
tak langsung dari 𝑋1 ke 𝑋5 ditunjukan oleh anak panah satu arah dari 𝑋1 ke 𝑋3
dan 𝑋3 ke 𝑋5. Pengaruh tak langsung dari 𝑋1 ke 𝑋5 dapat dituliskan 𝜌31 × 𝜌53.
c. Pengaruh Total (Total Effect)
Pengaruh total adalah jumlah dari pengaruh langsung dan pengaruh tidak
langsung. Contoh dari Gambar 2.1 di atas adalah pengaruh total dari 𝑋3 ke
𝑋5 adalah 𝜌53 sama dengan pengaruh langsung dari 𝑋3 ke 𝑋5 karena tidak
mempunyai pengaruh tidak langsung melalui variabel lain.
5. Langkah-Langkah Analisis Jalur
Menurut Hair et al. (1998: 654-655), dalam analisis jalur diperlukan langkahlangkah tertentu yang harus dilakukan. Langkah-langkah tersebut adalah
22
a. Pengembangan Model Berbasis Teori
Langkah pertama dalam pengembangan model adalah pencarian atau
pengembangan sebuah model yang mempunyai justifikasi teoritis yang kuat.
Model yang dirancang merupakan model-model yang bisa dinyatakan ke dalam
bentuk persamaan dan mengandung hubungan kausal di dalamnya. Mengingat
bahwa model tersebut dikembangkan untuk menjawab permasalahan
penelitian yang berbasis pada teori dan konsep, maka dinamakan model
hipotik.
b. Konversi Diagram Jalur Kedalam Persamaan Struktural
Setelah model teoritis dibangun maka langkah selanjutnya adalah
mengembangkan model tersebut dalam diagram jalur. Diagram jalur tersebut
dapat mempermudah melihat hubungan-hubungan kausalitas yang ingin diuji.
Setelah dituangkan dalam diagram jalur maka dikonversi ke dalam persamaan
struktural.
c. Pengujian model
Pengujian pada model dilakukan untuk melihat apakah model yang
terbentuk sudah cukup signifikan. Alat uji paling fundamental untuk mengukur
kesesuaian model adalah χ2
. Namun, uji χ2
lebih sensitif terhadap ukuran
sampel yang besar. Oleh karena itu Hu dan Bentler (1999) merekomendasikan
Comparative Fit Index (CFI) untuk mengevaluasi kecocokan model relatif
terhadap model dasar lainnya. Semakin besar nilai CFI maka model semakin
baik, dengan maksimal nilai 1.
𝐶𝐹𝐼 = 1 −
max[𝑇𝑇 − 𝑑𝑓𝑇]
max[(𝑇𝑇 − 𝑑𝑓𝑇) , (𝑇𝐵 − 𝑑𝑓𝐵),0]
23
dengan,
𝑇𝑇 : statistik 𝑇 untuk model target
𝑑𝑓𝑇 : 𝑑𝑓 untuk model target
𝑇𝐵 : statistik 𝑇 untuk model target awal
𝑑𝑓𝐵 : 𝑑𝑓 untuk model target awal
Dengan ukuran sampel ≥ 250 nilai CFI yang disarankan adalah ≥ 0.96
(Yu, 2002: 40). Pada data kategorik, Yu dan Muthén (2002)
merekomendasikan Weighted Root Mean Square (WRMR), bukan
Standardized Root Mean Square Residual (SRMR).
d. Interprestasi Hasil Komputasi
Langkah terakhir adalah menginterpretasikan model. Apabila rangkaian
dari analisis jalur telah dilakukan maka dapat dimanfaatkan sebagai
1) Prediksi nilai variabel endogen berdasarkan nilai variabel eksogen
2) Penjelasan terhadap fenomena atau permasalahan yang dipelajari atau
diteliti

Diagram Jalur (skripsi dan tesis)

Model diagram yang biasanya digunakan untuk mengetahui hubunganhubungan kausalitas antar variabel yang diteliti biasanya menggunakan diagram jalur (path diagram). Salah satu komponen yang penting dalam analisis jalur yaitu diagram jalur. Diagram jalur digunakan untuk mengetahui hubungan kausalitas antar variabel ke dalam bentuk gambar sehingga mudah untuk dibaca. Sebagai ilustrasi misal ada variabel 𝑋1, 𝑋2,𝑋3, 𝑋4 dan 𝑋5 dan digambarka  Variabel endogen adalah 𝑋3, 𝑋4 dan 𝑋5 dan variabel eksogen adalah 𝑋1 dan 𝑋2 sedangkan kurva dan anak panah yang menghubungkan variabel 𝑋1 dan 𝑋2 mengindikasikan hubungan korelasional di antara variabel tersebut. Karena variabel eksogen 𝑋1 dan 𝑋2merupakan penyebab maka variabel ini tidak memiliki error. Sebaliknya variabel endogen yang merupakan akibat memiliki error berturut-turut 𝜀1, 𝜀2, 𝜀3

Definisi Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur atau path analysis dikembangkan pertama kali oleh Sewall Wright pada tahun 1934. Bohrnstedt mengartikan analisis jalur sebagai “a technique for estimating the effect’s a set of independent variabels has on a  dependent variabel from a set of observed correlations, given a set of hypothesized causal asymetric relatin among the variabels”. Analisis jalur merupakan bagian dari model regresi yang dapat digunakan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lainnya. Terdapat dua jenis variabel yang digunakan dalam analisis jalur ini, yaitu variabel independen atau yang dikenal dengan nama variabel eksogen yang disimbolkan dengan huruf 𝑋1,𝑋2, … , 𝑋𝑚 dan variabel dependen atau variabel endogen yang disimbolkan dengan huruf 𝑌1, 𝑌2, … , 𝑌𝑚. Sedangkan tujuan analisis jalur yaitu A method of measuring the direct effect influence along each separate path in such a system and thus of finding the degree to which variation of a given effect is determined by each particular cause. The method depend on the combination of knowledge of the degree of correlation among the variables in a system with such knowledge as many possessed of the casual relations (Maruyama, 1998: 16)

Model Regresi (skripsi dan tesis)

Model regresi menspesifikasikan hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen, sehingga salah satu variabel dapat diduga dengan variabel
lainnya. Model regresi merupakan suatu cara untuk melihat kecenderungan
berubahnya variabel dependen. Model regresi dasar yang melibatkan satu variabel
independen disebut dengan model regresi sederhana.. Model regresi sederhana
dapat ditulis sebagai berikut
𝑌𝑖 = 𝛽0 + 𝛽1𝑋𝑖 + 𝜀𝑖
dengan,
𝑌𝑖
: nilai variabel dependen pada observasi ke-𝑖
𝛽0, 𝛽1 : parameter koefisien regresi
𝑋𝑖
: nilai variabel independen pada observasi ke-𝑖
12
𝜀𝑖
: error pada observasi ke-𝑖 dengan E(𝜀𝑖
)=0, 𝑉𝑎𝑟(𝜀𝑖) = 𝜎
2 dan 𝜀𝑗
tidak berkorelasi sehingga 𝐶𝑜𝑣(𝜀𝑖
, 𝜀𝑗) = 0 untuk semua nilai 𝑖 dan
𝑗, 𝑖 ≠ 𝑗.
Model regresi sederhana dapat diperluas menjadi model regresi berganda.
Model regresi ganda adalah model regresi yang menggunakan lebih dari satu
variabel independen yang disusun dalam satu persamaan. Model regresi ganda
dapat ditulis
𝑌𝑖 = 𝛽0 + 𝛽1𝑋1𝑖 + ⋯ + 𝛽𝑘𝑋𝑘𝑖 + 𝜀𝑖 (2.1)
dengan,
𝑌𝑖
: nilai variabel dependen pada observasi ke-𝑖
𝛽0, 𝛽1…𝛽𝑘: parameter koefisien regresi
𝑋𝑘𝑖 : nilai variabel independen ke-𝑘 pada observasi ke-𝑖
𝜀𝑖
: error pada observasi ke-𝑖 dengan E(𝜀𝑖
)=0, 𝑉𝑎𝑟(𝜀𝑖) = 𝜎
2 dan 𝜀𝑗
tidak berkorelasi sehingga 𝐶𝑜𝑣(𝜀𝑖
, 𝜀𝑗) = 0 untuk semua nilai 𝑖 dan
𝑗, 𝑖 ≠ 𝑗.
Analisis regresi tidak hanya digunakan untuk data kuantitatif saja, tetapi juga
bisa digunakan untuk data kualitatif. Penggunaan variabel dummy dapat dilakukan
untuk analisis regresi dengan data kualitatif. Jika terdapat 𝑘 variabel maka terdapat
𝑘 − 1 variabel dummy (𝐷𝑖
, 𝑖 = 1,2, … , 𝑘) (Hayes & Preacher, 2014: 456).

Analisis Multivariat (skripsi dan tesis)

Analisis statistika multivariat merupakan analisis statistika yang digunakan untuk menguji hubungan antar variabel secara bersamaan. Apabila hasil pengamatan tersebut merupakan kumpulan beberapa variabel acak yang saling berkorelasi maka analisis semacam ini akan diperlukan untuk mengamati gejala yang mungkin terjadi dari data hasil pengukuran tersebut. Oleh karena itu, analisis tersebut dinamakan analisis multivariat (Johnson & Wichern, 2007: 1). Analisis statistika multivariat muncul sebagai jawaban atas kekurangan dari analisis statistika univariat pada pengamatan yang merupakan kumpulan dari beberapa variabel acak. Apabila dianalisis dengan univariat maka hasil yang diperoleh mungkin menyesatkan. Hal ini karena analisis univariat melakukan uji terhadap masing-masing variabel acak secara terpisah dan tidak memperhitungkan kemungkinan adanya korelasi antara beberapa variabel acak. Analisis multivariat melibatkan data hasil pengukuran secara bersamaan, sehingga sebagian besar teknik analisis multivariat ini mensyaratkan operasi matriks dalam setiap perhitungannya

Model Persamaan Struktural (skripsi dan tesis)

Persamaan struktural atau juga disebut model struktural yaitu apabila setiap variabel endogen (endogenous) secara unik keadaannya ditentukan oleh seperangkat variabel eksogen (exogenous). Selanjutnya gambar meragakan struktur hubungan kausal antar variabel disebut diagram jalur. Jadi, persamaan ini Y=F(X1; X2; X3) dan Z=F(X1; X3;Y) merupakan persamaan struktural karena setiap persamaan menjelaskan hubungan kausal yaitu variabel eksogen X1, X2, dan X3 terhadap variabel endogen Y dan Z

Persamaan model struktural untuk diagram jalur, yaitu: Jadi, secara sistematik analisis jalur mengikuti pola model struktural, sehingga langkah awal untuk mengerjakan atau penerapan model analisis jalur yaitu dengan merumuskan persamaan struktural dan diagram jalur yang berdasarkan kajian teori tertentu yang telah diuraikan.

Model Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Sebelum menghitung koefisien jalur yang didasarkan pada koefisien regresi, diagram jalur terlebih dahulu dibuatkan dengan lengkap. Adapun model diagram jalur dan persamaan struktural yang paling sederhana sampai dengan yang lebih rumit di antaranya:
 1. Model Regresi Berganda Model ini merupakan pengembangan regresi berganda dengan menggunakan dua variabel exogenous, yaitu X1 dan X2 dengan satu variabel endogenous Y.

2. Model Mediasi Model mediasi atau perantara di mana variabel Y memodifikasi pengaruh variabel X terhadap variabel Z
3. Model Kombinasi Model ini merupakan kombinasi model regresi berganda dan model mediasi, yaitu variabel X berpengaruh terhadap variabel Z secara langsung dan secara tidak langsung mempengaruhi variabel Z melalui variabel Y
4. Model Kompleks Model ini merupakan model yang lebih kompleks, yaitu variabel X1 secara langsung mempengaruhi variabel Y2 dan melalui variabel X2 secara tidak langsung mempengaruhi Y2, sementara variabel Y2 juga dipengaruhi oleh variabel Y
5. Model Rekursif dan Model Non RekursifDari sisi pandang arah sebab-akibat, ada dua tipe model jalur, yaitu rekursif dan non rekursif. Model tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: – Anak panah menuju satu arah, yaitu dari 1 ke 2, 3, dan 4; dari 2 ke 3 dan dari 3 menuju ke 4. Tidak ada arah yang terbalik, misalnya dari 4 ke 1. – Hanya terdapat satu variabel exogenous, yaitu 1 dan tiga variabel endogenous, yaitu 2, 3, dan 4. Masing-masing variabel endogenous diterangkan oleh variabel 1 dan error (e1, e2, e3). – Satu variabel endogenous dapat menjadi penyebab variabel endogenous lainnya, tetapi bukan ke variabel exogenous. Model non rekursif terjadi jika anak panah tidak searah atau terjadi arah yang terbalik (looping), misalnya dari 4 ke 3 atau dari 3 ke 1 dan 2, atau bersifat sebabakibat (reciprocal cause). Ada tiga tipe model dalam model rekursif dan non rekursif, yaitu:
a). Model persamaan satu jalur
b). Model persamaan dua jalur
c). Model persamaan tiga jalur

Beberapa Istilah dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Model jalur adalah ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas, perantara dan terikat. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan anak panah. Anak panah-anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebabakibat antara variabel-variabel bebas (exogenous) atau perantara dengan satu variabel dengan variabel terikat atau lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan (variable residue) dengan semua variabel terikat (endogenous) masingmasing. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan variabelvariabel exogeneus. Variabel exogenous dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak ada penyebab-penyebab eksplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel exogenous dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah dengan kepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut. Variabel endogenous ialah variabel yang mempunyai anak-anak panah menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk di dalamnya ialah mencakup semua variabel perantara dan terikat. Variabel perantara endogenous   mempunyai anak panah yang menuju ke arahnya dan dari arah variabel tersebut dalam suatu model diagram jalur. Adapun variabel tergantung hanya mempunyai anak panah yang menuju ke arahnya. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut „beta‟ yang menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel terikat dalam suatu model jalur tertentu. Oleh karena itu, jika suatu model mempunyai dua atau lebih variabel-variabel penyebab, maka koefisien-koefisien jalurnya merupakan koefisien-koefisien regresi parsial yang mengukur besarnya pengaruh satu variabel terhadap variabel lain dalam suatu model jalur tertentu yang mengontrol dua variabel lain sebelumnya dengan menggunakan data yang sudah distandarkan atau matriks korelasi sebagai masukan. Jenis pengaruh dalam analisis jalur yaitu Direct Effect (DE) dan Indirect Effect (IE). Direct Effect (DE) adalah pengaruh langsung yang dapat dilihat dari koefisien dari satu variabel ke variabel lainnya, dan Indirect Effect (IE) adalah urutan jalur melalui satu atau lebih variabel perantara

Manfaat Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Manfaat model analisis jalur di antaranya adalah: 1. Untuk penjelasan terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang diteliti.   2. Prediksi nilai variabel terikat (Y) berdasarkan nilai variabel bebas (X), dan prediksi dengan analisis jalur ini bersifat kualitatif. 3. Faktor dominan terhadap variabel terikat (Y) dapat digunakan untuk menelusuri mekanisme pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel (Y). 4. Pengujian model mengggunakan teori trimming baik untuk uji reliabilitas konsep yang sudah ada ataupun uji pengembangan konsep baru