Fitur Dalam Nvivo

Untuk bekerja dengan NVivo, pertama dan terutama, peneliti harus membuat Proyek untuk menampung data atau mempelajari informasi. Setelah proyek dibuat, pad Proyek akan muncul (Gambar 2). Pad proyek NVivo memiliki dua menu utama: Peramban dokumen dan Peramban simpul. Dalam proyek apa pun di NVivo, peneliti dapat membuat dan menjelajahi dokumen dan simpul, saat data dijelajahi, ditautkan, dan dikodekan. Peramban dokumen dan simpul memiliki fitur Atribut, yang membantu peneliti merujuk karakteristik data seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, suku bangsa, dll.

Analisis Kualitatif

Penelitian kualitatif menghasilkan data berbasis teks yang sebagian besar tidak terstruktur. Data tekstual ini dapat berupa transkrip wawancara, catatan observasi, entri buku harian, atau catatan medis dan keperawatan. Dalam beberapa kasus, data kualitatif juga dapat mencakup tampilan gambar, klip audio atau video (misalnya rekaman audio dan visual pasien, film radiologi, dan video operasi), atau materi multimedia lainnya. Analisis data merupakan bagian dari penelitian kualitatif yang paling membedakannya dari metode penelitian kuantitatif. Ini bukan latihan teknis seperti dalam metode kuantitatif, tetapi lebih merupakan proses penalaran induktif, pemikiran, dan teori yang dinamis, intuitif, dan kreatif.5 Berbeda dengan penelitian kuantitatif, yang menggunakan metode statistik, penelitian kualitatif berfokus pada eksplorasi nilai, makna, keyakinan, pikiran, pengalaman, dan perasaan yang menjadi ciri khas fenomena yang diselidiki.6 Analisis data dalam penelitian kualitatif didefinisikan sebagai proses pencarian dan pengaturan sistematis transkrip wawancara, catatan observasi, atau materi non-tekstual lainnya yang dikumpulkan peneliti untuk meningkatkan pemahaman tentang fenomena tersebut.7 Proses analisis data kualitatif terutama melibatkan pengkodean atau pengkategorian data. Pada dasarnya, ini melibatkan pemahaman sejumlah besar data dengan mengurangi volume informasi mentah, diikuti dengan mengidentifikasi pola yang signifikan, dan akhirnya menarik makna dari data dan kemudian membangun rantai bukti yang logis.

Langkah Dalam Analisis NVivo

Bazeley [8] menyebutkan lima tugas penting yang memudahkan NVivo dalam menganalisis data kualitatif. Tugas-tugas tersebut meliputi:

  • Mengelola data: dengan mengatur sejumlah dokumen data yang membingungkan. Termasuk transkrip wawancara, survei, catatan observasi, dan dokumen yang dipublikasikan.
  • Mengelola ide: untuk memahami isu konseptual dan teoritis yang muncul selama penelitian.
  • Menanyakan data: dengan mengajukan beberapa pertanyaan tentang data dan memanfaatkan perangkat lunak untuk menjawab pertanyaan tersebut. “Hasil dari kueri disimpan untuk memungkinkan interogasi lebih lanjut sehingga kueri atau pencarian menjadi bagian dari proses penyelidikan yang sedang berlangsung” [8].
  • Membuat model secara visual: dengan membuat grafik untuk menunjukkan hubungan antara data konseptual dan teoritis.
  • Melaporkan: dengan memanfaatkan data yang dikumpulkan dan hasil yang ditemukan untuk merumuskan laporan transkrip tentang penelitian yang dilakukan.

Menggunakan NVivo dalam analisis data


Mengingat adanya inovasi dalam teknologi perangkat lunak, teknik elektronik pengkodean data secara bertahap semakin banyak digunakan untuk memperoleh ketelitian dalam menangani data tersebut. Selain itu, penggunaan komputer pada dasarnya “memastikan bahwa pengguna bekerja lebih metodis, lebih teliti, lebih penuh perhatian” [8]. Dengan demikian, peneliti kualitatif didorong untuk menggunakan alat ini sebanyak mungkin dalam pekerjaan mereka. NVivo, paket perangkat lunak Analisis Data Kualitatif (QDA) yang diproduksi oleh QSR International, memiliki banyak keunggulan dan dapat meningkatkan kualitas penelitian secara signifikan. Analisis data kualitatif menjadi lebih mudah dan menghasilkan hasil yang lebih profesional. Perangkat lunak ini memang mengurangi sejumlah besar tugas manual dan memberi peneliti lebih banyak waktu untuk menemukan kecenderungan, mengenali tema, dan menarik kesimpulan [9]. Selain itu, NVivo dianggap sebagai teknik yang ideal bagi para peneliti yang bekerja dalam tim karena memfasilitasi penggabungan pekerjaan individu untuk menghasilkan satu proyek bersama.

Analisis Data Kualitatif

Analisis data kualitatif adalah “proses untuk menata, menyusun, dan memaknai data yang terkumpul” [5]. Proses tersebut bukanlah tugas yang mudah. ​​Proses tersebut tidak teratur, sulit, dan memakan waktu, meskipun merupakan metode yang inovatif dan menarik. Analisis data kualitatif sebenarnya adalah proses untuk mencari hubungan antara kategori dan tema data dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap fenomena tersebut. Jadi, daripada bersikap ketat dan berbasis prosedur, peneliti dituntut untuk bersikap waspada, fleksibel, dan berinteraksi secara positif dengan data yang dikumpulkan [6]. Karena data kualitatif berbasis teks, landasan utama analisis data ini adalah proses pengkodean. Kode menurut [7] adalah “tag atau label untuk menetapkan unit makna pada informasi deskriptif atau inferensial yang dikumpulkan selama penelitian”. Kode sering kali melekat pada potongan kata, frasa, kalimat, atau seluruh paragraf. Pengkodean melibatkan pencarian kata atau frasa terkait yang disebutkan oleh narasumber atau dalam dokumen. Kata-kata atau frasa tersebut kemudian digabungkan untuk mewujudkan hubungan di antara keduanya. Secara konvensional, pengodean dilakukan dengan tangan, menggunakan pena berwarna untuk menyortir, kemudian memotong dan mengkategorikan data tersebut. Dalam beberapa kasus, peneliti akan memfotokopi setiap transkrip pada kertas berwarna berbeda (misalnya, narasumber 1 pada kertas merah, narasumber 2 pada kertas biru, dst.) dan kemudian frasa yang relevan dipotong dari naskah menggunakan gunting dan disusun menjadi beberapa tumpukan. Atau, peneliti dapat menggunakan fungsi penyorotan pada pengolah kata untuk menyorot teks yang diminatinya, sekali lagi dengan warna berbeda untuk setiap narasumber, kemudian menyatukannya dalam berkas elektronik [5], [7]. Tugas ini dalam sebagian besar kasus sebenarnya merupakan proses yang membingungkan, tidak jelas, dan memakan waktu.

Analisis Nvivo

Dalam penelitian ini menggunakan aplikasi Nvivo yang merupakan aplikasi yang dapat menjawab kebutuhan para peneliti kualitatif dan metodenya dapat menggunakan kualitatif dan kuantitatif dalam mengelola dan menganalisis data dengan efektif dan efisien. Nvivo juga dapat memperkuat validitas dan relibilitas penelitian kualitatif serta sangat powerfulluntuk melakukananalisis data digital maupun non digital. Dalam penelitian ini instrumen utama analisis adalah kualitatif dan Nvivo hanya untuk menyajikan data-data mentah yang telah terorganisir sesuai dengan kebutuhan peneliti. Melalui aplikasi Nvivo ini, peneliti dapat melakukan koding data secara manual atau otomatis, menentukan tema dan subtema berdasarkan data, membuat keterangan terhadap semua data demografis partisipan, melakukan analisis isi teks dengan Text Search Query, melakukan analisis hubungan, mengetahui dengan cepat kata-kata utama yang paling sering muncul dalam data melalui WordFrequency Query; dan juga mempresentasikan hasil analisis data dalam bentuk grafik, diagram perbandingan tema berdasarkan latar belakang partisipan, diagram pohon, memasukkan artikel referensi, catatan lapangan, serta anotasi bibliografi

Meta Analisis

Meta-Analysis adalah suatu metode statistik yang digunakan untuk menggabungkan dan menyintesis hasil dari beberapa penelitian independen tentang topik atau pertanyaan penelitian tertentu. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang lebih kuat dan terukur tentang efek atau hubungan antara variabel-variabel tertentu daripada yang dapat diberikan oleh satu penelitian individu. Proses Meta-analysis dimulai dengan pengidentifikasian dan seleksi studi-studi yang relevan, kemudian data dari masing-masing studidiekstraksi dengan cermat. Data ini kemudian disesuaikan ke dalam format yang seragam untuk memungkinkan perbandingan yang adil antara studi-studi. Sebelum melakukan analisis agregat, tingkat heterogenitas antara studi-studi juga dievaluasi. Selanjutnya, menggunakan model statistik khusus, hasil dari studi-studi yang berbeda digabungkan dengan mempertimbangkan ukuran sampel masing-masing studi. Hasil dari meta-analisis diinterpretasikan dengan mengevaluasi ukuran efek dan mengidentifikasi signifikansi statistik, memberikan kesimpulan tentang temuan keseluruhan. Dalam melakukan meta-analysis, penting juga untuk mempertimbangkan potensi bias atau kualitas studi yang dimasukkan dalam analisis. Metode ini telah menjadi alat yang berharga di berbagai disiplin ilmu, membantu menyediakan gambaran yang lebih luas dan lebih kuat tentang efek atau hubungan antara variabel-variabel tertentu daripada yang dapat diberikan oleh satu studi individu.

NVIvo

NVivo adalah perangkat lunak analisis kualitatif yang dirancang untuk membantu peneliti dalam mengelola, menganalisis, dan memahami data kualitatif dengan lebih efisien. Cara kerjaNVivo dapat dijelaskan sebagai berikut:Pertama, NVivo memungkinkan pengguna untuk mengimpor berbagai jenis data kualitatif, termasuk teks, audio, video, gambar, dan dokumen terstruktur lainnya ke dalam platformnya. Ini memungkinkan peneliti untuk menyatukan dan mengintegrasikan data dari berbagai sumber, menciptakan satu repositori sentral untuk analisis.Selanjutnya, NVivo menyediakan berbagai alat untuk memudahkan proses kodifikasi. Pengguna dapat membaca data dengan cermat, dan dengan bantuan alat kodifikasi, mereka dapat menentukan kategori atau kode yang relevan untuk setiap potongan data. Proses ini memungkinkan peneliti untuk mengorganisir dan memfilter data dengan lebih terstruktur, sehingga memudahkan analisis lebih lanjut.NVivo juga memungkinkan peneliti untuk membuat dan mengelola kategori atau tema. Kategori ini dapat menggambarkan konsep-konsep atau temuan yang muncul selama analisis. Dengan memanfaatkan kategori ini, peneliti dapat mengidentifikasi pola-pola, hubungan, dan tren dalam data mereka dengan lebih sistematis.Selain itu, NVivo menyediakan alat visualisasi yang kuat, seperti diagram dan grafik, yang memungkinkan peneliti untuk mempresentasikan temuan mereka dengan cara yang jelas dan meyakinkan. Ini mempermudah peneliti dalam berbagi temuan mereka dengan audiensyang lebih luas atau memasukkan hasil analisis ke dalam laporan penelitian.

NVivo


10, dimana tools ini telah diakui secara internasional untuk melakukan penelitian kualitatif.
Dalama NVivo, sumber data penelitian (internals), sumber data penelitian eksternal
(Externals), catatan-catatan peneliti selama pengumpulan data (memos), dan kerangka
matriks (framework matrices). Internal Sources dalam konteks ini merupakan semua sumber
data penelitian kualitatif yang dapat dimasukan kedalam NVivo, misalnya, rekaman-rekaman
wawancara, transkrip wawancara, catatan-catatan selama melakukan penelitian, foto-foto,
table data survey, isi website tertentu, data bases dan bahkan video-video(Bandur, 2016).

Tahapan Nvivo

Melalui tangkapan artikel berita yang ada dapat melihat dan memetakan informasi dari sebuah narasi. Beberapa tahapan-tahapan yang dapat dilakukan dengan memanfatkan platform NVivo seperti :ImportData: Data kualitatif dalam bentuk teks artikel media, audio, atau video diimpor ke dalam platformNVivo.Koding Data: Data dikodekan berdasarkan tema, pola, atau kategori tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.Eksplorasi dan Organisasi: Datadieksplorasi untuk mengidentifikasi pola-pola dan hubungan antar tema, serta diorganisasi dalam bentuk matriks atau diagram untuk mempermudah pemahaman.Analisis Mendalam: Melalui fitur pencarian dan query, peneliti dapat melakukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi hubungan dan pola-pola yang muncul dari data dengan koding yang sudah ditentukan.Visualisasi Data: NVivo memungkinkan visualisasi data dalam bentuk diagram, grafik,model konseptual, dan tabel nilai untuk memperjelas temuan analisis.Penarikan Kesimpulan: berdasarkan hasil analisis, peneliti dapat menarik kesimpulan yang relevan dengan tujuan penelitian. Pemetaan NVivo menjadi alat ukur baru untuk melihat dan mengambarkan hasil temuan berdasarkan narasi artikel media yang sering dibahas (Preko et al, 2022)

Langkah Dalam Nvivo

Beberapa tahapan –tahapan yang dapat dilakukan dengan memanfatkan platform NVivo seperti :•Import Data: Data kualitatif dalam bentuk teks artikel media, audio, atau video diimpor ke dalam platform NVivo.•Koding Data: Data dikodekan berdasarkan tema, pola, atau kategori tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.•Eksplorasi dan Organisasi: Data dieksplorasi untuk mengidentifikasi pola-pola dan hubungan antar tema, serta diorganisasi dalam bentuk matriks atau diagram untuk mempermudah pemahaman.•Analisis Mendalam: Melalui fitur pencarian dan query, peneliti dapat melakukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi hubungan dan pola-pola yang muncul dari data dengan koding yang sudah ditentukan.•Visualisasi Data: NVivo memungkinkan visualisasi data dalam bentuk diagram, grafik,, model konseptual, dan tabel nilai untuk memperjelas temuan analisis.Penarikan Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis, peneliti dapat menarik kesimpulan yang relevan dengan tujuan penelitian

Nvivo

Pendekatan kualitatif dengan alat bantu softwareNVivo merupakan perangkat lunak analisis data kualitatif yang digunakan dalam penelitian. NVivo membantu peneliti dalam menyimpan, mengatur, dan mengeksplorasi data dengan mudah, serta mengurangi risiko kerusakan data mentah.19NVivo memungkinkan pengguna untuk menyimpan teks, gambar, audio, dan video secaralangsung di dalam proyek, serta mengakses data multimedia tersebut langsung dari dalam platform NVivo. Melalui tangkapan artikel berita yang ada dapat melihat dan memetakan informasi dari sebuah narasi

Tahaoan Dalam Nvivo

Ada empat tahapan yang umum digunakan dalam pengolahan data dengan menggunakan softwareNVivo. Keempat tahapan tersebut dimulai dari tahapan input data internal dan input data eksternal. Data internal adalah filedata yang sudah ada di laptop dan untuk menginputnya ke softwareNVivo, tidak membutuhkan koneksi internet. Data eksternal adalah data yang bersumber dari internet dan jika ingin diinput ke softwareNVivo, membutuhkan koneksi internet. Proses input data eksternal membutuhkan bantuan fitur NCapture for NVivodi google chrome. Kedua, adalah tahapan codingdata penelitian, baik data berupa hasil wawancara, data berupa online news, data dari youtube, data dari artikel ilmiah online, data berupa majalah onlinedan sebagainya. Ketiga, tahapan visualisasi atau tahapan menampilkan gambar skema dari hasil codingyang telah dilakukan. Keempat, adalah tahapan pengambilan kesimpulan berdasarkan gambar visualisasi yang dihasilkan. Tahapan ini juga merupakan langkah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang sudah ditetapkan di bagian pendahuluan (Tambun & Sitorus, 2023). Selanjutnya, softwareini dikenal bukan hanya sekedar softwareuntuk penelitian kualitatif, tetapi juga bisa digunakan untuk penelitian mixed method(Hafidhah & Yandari, 2021). Kesimpulan ini dikemukakan karena NVivo memiliki banyak fitur dan fasilitas pengolahan data yang cukup lengkap dan kompleks. Fasilitas yang tersedia di softwareNVivo memungkinkan juga untuk mengolah data-data kuantitatif. Itu sebabnya disebut sebagai softwaremixed method

Nvivo

SoftwareNVivo adalah perangkat yang diperuntukkan untuk mengolah data-data penelitian kualitatif, baik hasil wawancara, majalah online, berita onlinedan sebagainya (Tambun & Sitorus, 2023). Softwareini sangat penting untuk dikuasai para peneliti. Untuk menguasai softwareini perlu latihan yang intensif dengan pendekatan praktek langsung. Renny (2023)menyatakan bahwa kegiatan pelatihan adalah salah satu opsi yang direkomendasikan untuk meningkatkan kinerja. Jika ingin meningkatkan kinerja, maka strategi yang bisa ditempuh salah satunya adalah menyelenggarakan pelatihan (Faris, 2020). Pelatihan softwareNVivo telah terbukti mampu meningkatkan kemandirian para peneliti dalam proses pengolahan data penelitian kualitatif (Sitorus et al., 2023). Skill pengolahan data dengan menggunakan softwareNVivo dapat mempercepat proses penyelesaian penelitian (Dalkin et al., 2021). Hasilnya akan menjadi lebih efektif dari segi hasil dan lebih efisien dari segi waktu (Tambun, 2022).

Langah Dalam Analisis NVivo

Beberapa tahapan – tahapan yang dapat dilakukan dengan memanfatkan platform NVivo seperti :  Import Data: Data kualitatif dalam bentuk teks artikel media, audio, atau video diimpor ke dalam platform NVivo.  Koding Data: Data dikodekan berdasarkan tema, pola, atau kategori tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.  Eksplorasi dan Organisasi: Data dieksplorasi untuk mengidentifikasi pola-pola dan hubungan antar tema, serta diorganisasi dalam bentuk matriks atau diagram untuk mempermudah pemahaman.  Analisis Mendalam: Melalui fitur pencarian dan query, peneliti dapat melakukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi hubungan dan pola-pola yang muncul dari data dengan koding yang sudah ditentukan.  Visualisasi Data: NVivo memungkinkan visualisasi data dalam bentuk diagram, grafik,, model konseptual, dan tabel nilai untuk memperjelas temuan analisis.  Penarikan Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis, peneliti dapat menarik kesimpulan yang relevan dengan tujuan penelitian.

NVivo

NVivo (QSR International, Citationn.d.a) adalah perangkat lunak yang dikembangkan oleh QSR International untuk analisis data kualitatif, seperti analisis konten dan analisis naratif. Perangkat lunak ini menyediakan ruang kerja bagi para peneliti untuk menyimpan, mengelola, mengajukan kueri, dan menganalisis data tidak terstruktur, termasuk teks, gambar, audio, video, dan jenis data lainnya. NVivo telah digunakan dalam banyak studi ilmu perpustakaan dan informasi, termasuk menggunakannya untuk menganalisis data wawancara (Wiley & Mischo, Citation2016), tugas siswa (Insua, Lantz, & Armstrong, Citation2018; Phillips & Zwicky, Citation2017), dan data survei (Gibbs, Boettcher, Hollingsworth, & Slania, Citation2012). NVivo memungkinkan pengguna untuk menyelesaikan beberapa fungsi analisis kualitatif pada platform, termasuk menyortir dan memfilter data mentah, menemukan dan membangun hubungan di antara data, menetapkan dan mendefinisikan tema dan kategori untuk data, memvisualisasikan hasil analisis data, dan membuat laporan.

Pengkodean Dalam Nvivo

Tahap pertama analisis dalam penelitian kualitatif adalah pengkodean kumpulan data. Pengkodean pada dasarnya berarti memberi label dan membuat kategori untuk bagian atau “potongan” data dalam kumpulan data. Bagi pustakawan, proses ini akan mirip dengan membuat label judul subjek untuk bagian data yang dapat membantu bergerak maju atau memunculkan tema-tema yang muncul di tahap kedua analisis. Salah satu manfaat menggunakan NVivo 12 Pro adalah telah mengembangkan beberapa opsi bagi pengguna untuk mengurutkan, memberi label, dan mengatur data berkode secara hierarkis melalui node dan melalui alat klasifikasi dan pemetaan. Node adalah nama yang digunakan NVivo untuk kode, dan ada dua jenis node: node tematik dan node kasus. Alat klasifikasi memungkinkan pengguna untuk membuat kategori data yang berasal dari satu sumber atau beberapa kasus yang memiliki atribut dan nilai data dan memungkinkan pengguna untuk memetakan data tematik ke data kasus. Alat pemetaan mencakup templat dan representasi visual bagi pengguna untuk berinteraksi dengan dan mengisi dengan data dan hubungan yang dibangun antara potongan data. Alat pengodean, klasifikasi, dan pemetaan ini meningkatkan organisasi tambahan pada data sehingga peneliti dapat meminta data untuk menganalisisnya, menarik kesimpulan, dan memverifikasi temuan di semua unit analisis.

Pengodean tematik di NVivo mudah dilakukan dengan memilih bagian teks dari dokumen sumber, seperti transkrip wawancara atau dari gambar atau jenis dokumen sumber lainnya, lalu menandainya dengan simpul. Simpul dapat dibuat di tempat atau sebelumnya. Pengguna NVivo dapat membuat simpul sebanyak yang mereka rasa perlu dan bahkan mengode ganda bagian teks atau gambar sesuai keinginan mereka. Pengodean warna juga tersedia di NVivo untuk kode. Artinya, pengguna dapat menetapkan warna ke kode tertentu lalu dapat melihat warna yang dikodekan untuk mengidentifikasi celah atau tema dengan warna tersebut. Satu-satunya aspek yang membatasi dari alat ini adalah tidak banyak warna yang dapat dipilih, jadi jika banyak warna yang dibutuhkan, pengguna harus selektif dalam menggunakannya. Dalam alat simpul, peneliti dapat mengembangkan kode induk dan kode anak. Seseorang juga dapat membuat struktur folder di alat nodes untuk memiliki folder untuk pengodean awal dan folder lain untuk pengodean akhir guna mengatur proses pengodean dengan cara yang bermakna.

Alat lain untuk mengkategorikan dan mulai menganalisis data di NVivo meliputi Sentiments dan Relationship Types. Sentiments memungkinkan pengguna untuk menandai data yang mereka anggap positif atau negatif, dengan cara yang bermakna bagi pengguna atau peneliti. Alat Relationship Types memungkinkan pengguna untuk menunjukkan jika hubungan antara dua titik atau bagian data dikaitkan dengan cara yang berbeda. Pengguna dapat menentukan apakah hubungan tersebut bersifat asosiatif secara umum atau searah atau dua arah. Kemampuan untuk memberi kode warna, menerapkan hubungan dan sentimen, serta mengatur data yang bermakna berdasarkan kode, kasus, dan klasifikasi benar-benar menggambarkan mengapa NVivo bermanfaat. Alat ini memungkinkan pengguna untuk melihat data mereka baik dalam tampilan global maupun dalam tampilan yang sangat terperinci yang mungkin tidak dapat diakses dengan mudah oleh peneliti yang tidak menggunakan NVivo.

NVivo

Perangkat lunak NVivo adalah program yang dibuat oleh QSR International. Versi pertama NVivo (1.0) dirilis pada tahun 1997. Saat ini, versi NVivo terbaru yang tersedia disebut “NVivo” dan dirilis pada Maret 2020. Versi yang diulas di sini adalah NVivo 12 Pro, yang dibuat pada tahun 2018 dan masih digunakan dan didukung oleh QSR International. Persyaratan sistem untuk menggunakan NVivo 12 Pro pada Microsoft Windows termasuk menggunakan versi Windows 8.1 atau yang lebih tinggi dengan dukungan 64-bit. Dalam sistem operasi Apple Mac (macOS), NVivo hanya dapat bekerja di macOS 10.13 atau yang lebih tinggi. Untuk lisensi individual, QSR memungkinkan pengguna mengunduh perangkat lunak NVivo pada dua perangkat terpisah. Jika peneliti akan mengimpor data ke NVivo dari program perangkat lunak analisis data lainnya, seperti SPSS atau Microsoft Excel, QSR International menyarankan agar program tersebut diunduh pada perangkat yang sama tempat NVivo diunduh.

Nvivo

NVivo adalah program CAQDAS. Program CAQDAS membantu peneliti kualitatif untuk mengumpulkan, mengatur, menganalisis, memvisualisasikan, dan melaporkan data mereka. Namun, program CAQDAS tidak menggantikan kebutuhan peneliti manusia; program ini membantu peneliti dengan menawarkan alat dan fitur untuk mengatur dan menyusun data yang dikumpulkan. Program CAQDAS lainnya termasuk Atlas.ti (Scientific Software Development GmbH), Dedoose (SocioCultural Research Consultants/UCLA), dan QDA Miner (Provalis Research), di antara beberapa lainnya [2]. Sasaran semua program CAQDAS, termasuk NVivo, adalah peneliti kualitatif, peneliti metode campuran, dan mahasiswa yang mempelajari pengumpulan, analisis, tampilan, dan pelaporan data penelitian kualitatif dan metode campuran.

Keabsahan Data

Pengujian validitas dan reliabilitas atau pengujian keabsahan data
dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas internal),
transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas) dan
confirmability (obyektifitas) (Sugiyono, 2015: 270).

  1. Cara pengujian kredibilitas dalam penelitian ini mengunakan cara
    triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari
    berbagai sumber dengan berbabai cara dan berbagai waktu.
    Triangulasi sumber dengan mengecek data yang telah diperoleh
    melalui berbagai sumber (atasan, teman dan bawahan), triangulasi
    teknik dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama
    dengan teknik yang berbeda (wawancara, observasi dan
    dokumentasi, sedangkan triangulasi waktu dengan cara melakukan
    pengecekan data dalam waktu atau situasi yang berbeda.
  2. Pengujian Transferability dalam penelitian kualitatif adalah derajat
    keterpakaian hasil penelitian untuk diterakan di situasi yang baru
    (tempat lain) dengan orang-orang yang baru.
  3. Pengujian Dependability dilakukan dengan melakukan audit
    terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh
    auditor yang independen, atau pembimbing untuk mengaudit
    keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian.
  4. Pengujian Konfirmability Penelitian dikatakan obyekif jika hasil
    penelitian telah disepakati banyak orang. Uji ini mirip dengan uji
    dependability sehingga bisa dilakukan secara bersamaan

NVivo

NVivo adalah sofware
analisa data kualitatif yang dikembangkan oleh Qualitative Solution and
Research (QSR) international. QSR sendiri adalah perusahaan pertama
yang mengembangkan software analisa data kualitatif. Nvivo berawal
dari kemunculan software NUD*IST (Nonnumeric Unstructured Data,
Index Searching, and theorizing) pada tahun 1981. Dalam penelitian ini,
peneliti memilih menggunakan NVivo 11 plus dalam analisa data.
Peneliti akan mengidentifikasi pola yang ada untuk bisa
menemukan jawaban dari rumusan masalah dengan melalui 3 tahapan
coding, yaitu open coding, axial coding, dan selective coding.

  1. Open Coding
    Open Coding adalah memberikan tanda (dengan garis, bawah,
    lingkaran atau penanda yang lain) pada kata-kata atau farsa yang
    dianggap mewakili suatu konsep penting dalam suatu gugus data.
    Koing terbuka ini merupakan proses rekapitulasi dan
    konseptualisasi data. Tahapan ini dimulai ketika peneliti
    memperoleh data dan nengujinya. Msaing-masing data diberi label.
    Gagasan yang sama diberi label yang sama.
  2. Axial Coding
    Axial Coding adalah langkah selanjutnya, yakni menetapkan
    beberapa tema / kategori yang mewadahi beberapa kode yang sudah
    dibuat dalam Open Coding.
  3. Selective Coding
    Selective Coding adalah pemilihan kategori inti yang
    menghubungkannya dengan kategori lain. Dalam koding selektif,
    seorang peneliti dapat menemukan intisari riset dan menggabungkan
    semua unsur dari teori yang muncul. Termasuk dalam kategori inti
    adalah gagasan-gagasan yang paling signifikan bagi informan.
  4. Matrix Coding Query
    Matrix Coding Query adalah proses sub yang ada ditahap
    analisa query di mana membantu peneliti dalam menjelajahi data
    dengan pendekatan yang fleksibel untuk memahami apa yang terjadi
    dalam data dengan perspektif yang lebih terfokus. Matrix coding
    Query digunakan oleh peneliti untuk menemukan pola-pola data
    tertentu dengan menemukan kombinasi simpul dan atribut dengan
    menampilkan hasilnya dalam sebuah tabel. Dalam tahap ini peneliti
    membuat membuat matrix coding Query untuk menemukan polapola tertentu.
  5. Word frecuency Query
    Word frequency Query adalah proses analisa data yang
    terdapat pada proses query. Proses analisa data Word Frequency
    Query digunakan untuk mengetahui kata atau konsep yang sering
    diucapkan dalam wawancara dengan narasumber. Dalam tahap ini
    peneliti menggunakan analisa ini untuk menjadikan pengingat oleh
    peneliti agar tidak ada isu penting yang terlewatkan dalam proses
    analisa dan pelaporan.
  6. Project Map
    Project Map data adalah tahap terakhir dari proses analisa data
    menggunakan NVivo. Proses ini adalah proses sub yang ada di
    Map. Map adalah alat visualisasi yang digunakan untuk
    mengekplorasi gagasan dan menampilakan koneksi antara data satu
    dengan yang lain. Sedangkan Project map adalah representasi grafis
    dari berbagai item yang telah dibuat dalam peelitian. Dalam tahap
    ini peneliti membuat peta analisa dari coding, case, dan data sumber
    terkait untuk menampilkan alur proses data dan hubungan tiap data
    yang telah dilakukan peneliti dari proses awal hingga akhir.
  7. Framework Matrices
    Framework matrices adalah proses analisa yang digunakan
    untuk membantu meringkas bahan sumber data penelitian. Proses
    analisa data ini digunakan untuk menjelaskan kerangka kerja yang
    dilakukan oleh peneliti dalam menggunakan analisa data NVivo.
    Dalam proses ini peneliti membuat representatif yang menjelaskan
    dari mana peneliti bisa menjawab setiap rumusan masalah yan ada
    dengan sumber data dari narasumber dan dokumen pendukung

NVivo

Analisis data yang digunakan oleh peneliti pada penelitian ini yaitu
menggunakan bantuan dari aplikasi software Nvivo 12 Pro. Penggunaan
aplikasi ini sangat membantu peneliti dalam menganalisis data-data yang
telah peneliti dapatkan melalui wawancara narasumber pada penelitian ini.
Penggunaan aplikasi Nvivo dapat memudahkan pengerjaan penelitian karena
didalamnya kita dapat dibantu dalam mengorganisasikan data, mengolah data,
menganalisis data, dan terakhir membuat pelaporan, hal ini karena seperti
yang kita ketahui bahwa data pada penelitian kualitatif cendurung banyak dan
berantakan atau tidak terstruktur. Fitur-fitur yang disediakan oleh aplikasi
Nvivo sangat banyak sekali, namun dalam menganalisis data hal yang paling
utama harus kita lakukan adalah dengan melakukan empat langkah yaitu
impor data, organisasi data, visualisasi data, dan yang terakhir mengekstrak
data.

NVivo

Software QSR NVivo menghitung koefisien Kappa dan persentase kesepakatan
secara individual untuk setiap kombinasi node dan sumber data, oleh karenya
diperlukan perhitungan rata-rata koefisien Kappa atau persentase kesepakatan di
beberapa sumber atau node agar mencerminkan reliabilitas penelitian kualitatif
secara keseluruhan. Output Coding Comparison Query dapat diekspor dari NVivo
sebagai spreadsheet sehingga dimungkinkan untuk melakukan perhitungan lebih
lanjut. Jika kita ingin menghitung rata-rata koefisien Kappa atau persentase
kesepakatan untuk satu node di beberapa sumber data, atau untuk beberapa sumber
data dan node, kita perlu mempertimbangkan bobot dari sumber data yang berbeda
dalam perhitungannya. Terdapat dua cara yang dapat dilakukan dalam pembobotan
dari masing-masing sumber data penelitian, yaitu pembobotan yang sama pada setiap
sumber data atau pembobotan yang berbeda pada setiap sumber data sesuai dengan
ukurannya. Selanjutnya, koefisien Kappa tersebut diinterpretasi dengan

NVivo

Analisis data ini dilakukan dengan bantuan software QSR NVivo 11. Bandur
(2016) menyatakan bahwa data penelitian kualitatif sangat kaya berasal dari berbagai
macam sumber dengan teknik pengumpulan data yang bervariasi yang dapat
dianalisis dalam software QSR NVivo 11. Untuk tujuan efisiensi dan efektivitas
penelitian peneliti disarankan untuk menggunakan digital recorder sehingga
langsung dapat dianalisis dengan software QSR NVivo 11, alat penelitian lain yang
disarankan adalah kamera digital atau video recorder (Bandur, 2016). Sumber data
yang dianalisis adalah sumber data penelitian internal (Internals), sumber data
peneltian eksternal (Eksternal), catatan-catatan peneliti selama penelitian (Memos)
dan kerangka matriks (framework matrices)

Nvivo

Alat bantu yang digunakan untuk menganalisis data kualitatif pada penulisan
ini yaitu menggunakan software NVivo 11 Plus. Nvivo pada mulanya dikembangkan
pada tahun 1981 oleh programer Tom Richards dengan nama Non-Numerical
Unstructured Data Indexing Searching and Theorizing (NUDIST). Sejak tahun 2002,
NUDIST diganti dengan Nvivo. “N adalah singkatan dari NUDIST dan Vivo diambil
dari in-vivoெ yang berarti melakukan koding berdasarkan data yang hidup (nyata)
dialami partisipan di lapangan. Penamaan Nvivo menunjukkan fungsi utama software
untuk melakukan koding data dengan efektif dan efisien. NVivo adalah sofware
analisa data kualitatif yang dikembangkan oleh Qualitative Solution and Research
(QSR) international. QSR sendiri adalah perusahaan pertama yang mengembangkan
software analisa data kualitatif. Nvivo berawal dari kemunculan software NUD*IST
(Nonnumeric Unstructured Data, Index Searching, and theorizing) pada tahun 1981
(Bazeley dan Jackson, 2007). Dalam penulisan ini, penulis memilih menggunakan
NVivo 11 plus dalam analisa data. Dengan demikian, kunci untuk mendapatkan
presentasi data dalam bentuk tabel, grafik, diagram, dan model bagi penulis kualitatif
yang menggunakan Nvivo ialah bagaimana melakukan koding terhadap sumber data
penulisan.
Pada Nvivo sumber data yang dianalisis dapat dibagi menjadi empat yaitu
pertama sumber data penulisan internal (internals), kedua sumber data penulisan
eksternal (eksternal), ketiga catatan-catatan penulisan selama pengumpulan data
(memos) dan terakhir keempat yaitu kerangka matriks (framework matrices). Internal
sources dalam konteks ini adalah semua sumber data penulisan kualitatif yang dapat
dimasukkan dalam Nvivo, misalnya rekaman, wawancara, transkrip wawancara,
catatan selama melakukan penulisan, foto, tabel data survei, isi website tertentu, data
bases dan video. External sources merupakan materi penulisan yang tidak dapat
dimasukkan secara langsung dalam Nvivo, misalnya buku referensi dari perpustakaan
atau jurnal versi cetak. Memos adalah sumber data penulisan berupa catatan penulis
selama melakukan penulisan. Framework matrices merupakan ringkasan hasil
observasi terhadap partisipan tertentu dan tema dalam proyek yang sudah dibuat
dalam tabel matriks (Bandur, 2016)
Selain itu, NVivo juga memastikan pengkodean yang mudah, efektif dan
efisien yang membuat pengambilan menjadi lebih mudah (Zamawe, 2015). Sehingga
dalam NVivo, semua sumber disimpan bersama di bawah satu atap, meskipun file
terletak di tempat yang berbeda dalam proyek yang sama, tautan yang dibuat
memudahkan pengambilan sementara dalam pengkodean manual. Pada NVivo
menurut (Neill, 2013) terdapat beberapa manfaat, seperti dapat membuat auditable
footprint, lebih eksplisit dan reflektif, serta meningkatkan transparansi

Data Kualitatif

(Irwanto, 2005) Data kualitatif mempunyai bentuk yang jelas, yaitu berupa: ’bahasa’ dan ’teks’. Walaupun demikian tidak dapat dipungkiri ada bentuk-bentuk ungkapan budaya dalam bentuk lainnya, seperti: gambar, simbol, dan praktek-praktek sosial. Data kualitatif tidak dapat direduksi menjadi angka-angka. Bahkan teks seringkali harus dimengerti darikeadaan-keadaan yang merupakan konteks dari data yang digambarkan tersebut. Penelitian kualitatif dikategorikan sebagai penelitian deduktif dan bersifat eksploratif–yaitu penelitian yang sedang mencari-cari, sehingga tidak bisa digunakan kaidah-kaidah statistik sebagai tolok

Model

Model dapat digunakan untuk menampilkan, mengeksplorasi, dan menjelaskan data proyek. Menciptakan sebuah model adalah untuk menunjukkan hubungan antara berbagai item dalam sebuah proyek, misalnya: menggunakannya untuk mendemonstrasikan teori yang sedang dibangun, isu permasalahan dalam sebuah kerja tim, atau bagaimana mendukung data dengan dugaan/hipotesa awal. Model yang diperoleh merupakan visualisasi dari konsep-konsep yang hubungannya dicari dan akan makin jelas setelah dianalisis

Nvivo

NVivo merupakan software analisis data kualitatif
yang dikembangkan oleh Qualitative Solution and
Research (QSR) international. QSR sendiri adalah
perusahaan pertama yang mengembangkan
software analisis data kualitatif. NVivo bermula
dari kemunculan software NUDIST (Nonnumeric Unstructured Data, Index Searching, and Theorizing) pada tahun 1981 (Bazeley, 2007). NUDIST awalnya diciptakan oleh seorang
programer bernama Tom Richards untuk membantu istrinya, Lyn Richards, yang berprofesi
sebagai sosiolog. Dalam tulisan ini, NVivo yang
dipakai adalah NVivo versi 8 yang dirilis pada
bulan Maret 2008

Fungsi N Vivo

Fungsi NVivo dalam penelitian kualitatif mencakup:

  • Manajemen data komprehensif: NVivo bisa mengimpor dan mengelola berbagai jenis data kualitatif seperti teks, video, audio, dan gambar dari berbagai sumber, seperti wawancara, grup diskusi, survei, dan media sosial.
  • Coding dan analisis tematik: aplikasi ini mendukung proses coding data, di mana analyst dapat menandai dan mengkategorikan data berdasarkan tema, konsep, atau istilah kunci. Hal ini membantu dalam identifikasi dan analisis pola dalam data.
  • Query dan pencarian lanjutan: NVivo dilengkapi dengan fitur query yang untuk melakukan pencarian lanjutan, serta filter data untuk menemukan informasi spesifik secara cepat dan akurat.
  • Visualisasi data: aplikasi ini menawarkan berbagai pilihan untuk visualisasi data seperti peta konsep, flow diagram, dan grafik, yang membantu memahami hubungan antar data dan menyajikan temuan penelitian secara lebih efektif.
  • Kolaborasi tim: NVivo mendukung kerja kolaboratif, memudahkan untuk bekerja pada projek yang sama dan berbagi data serta analisis secara real-time. Ini berguna dalam projek penelitian berskala besar atau multidisiplin.
  • Integrasi dengan tools lain: NVivo dapat terintegrasi dengan software statistik dan analisis data lainnya, memudahkan untuk menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif guna mendapatkan informasi yang lebih komprehensif

Nvivo

NVivo adalah software analisis data untuk menggali lebih dalam informasi dari data yang tidak terstruktur seperti wawancara, survei, media sosial, dan artikel. 

Software ini membantu mengorganisasi, menganalisis, dan menemukan insight tersembunyi dalam big data

Dengan NVivo, analyst dapat melakukan coding pada data, membangun koneksi antar data, dan menghasilkan visualisasi yang membantu memahami narasi atau pola yang muncul dari data. Fungsionalitas ini penting terutama dalam riset sosial, di mana banyak data berbentuk teks, video, audio, dan gambar.

Selain meningkatkan efisiensi dalam pengolahan data, NVivo juga meningkatkan kualitas analisis penelitian dengan menyediakan insight berbasis bukti serta data yang akurat.

Data Kualitatif

Metode penelitian kualitatif mulai dikenal pada tahun 1960 dimana pada saat itu penelitian sosial humaniora hingga peneliti yang merasa data mereka kurang utuh jika hanya menggunakan teknik pengumpulan dan analisis kualitatif. Jika sesuai dengan fokus kajian penelitian kualitatif mengkaji peristiwa, fenomena, atau pengalaman manusia untuk menjawab pertanyaan mengapa sesuatu terjadi, bagaimana terjadinya, dan apa penyebabnya (Bogdan & Biklen, 2007). Sehingga data yang diperoleh berdasarkan adanya peristiwa, fenomena, atau experience yang sudah ada dan terjadi dalam kurun waktu yang lama, diperhatikan terus menerus, pencacatan mandiri oleh peneliti, wawancara mendalam dengan narasumber ahli, kemudian didukung oleh dokumen sekunder. Nah dari sini kita tahu bahwa untuk menentukan responden saja, peneliti harus melakukan penelitian terdahulu lalu memilih responden dengan teknik purposif atau memilih siapa yang diangap paling mengetahui objek/kajian penelitian.

Tinjauan Pustaka

Tinjauan  pustaka  dan penulisan literatur  menjadi  dasar  dari  setiap  penelitian  dan penulisan  akademis,  dan  hal  itu  merupakan  tahapanpenting dansangat  diperlukan untuk  setiap  pekerjaan  penelitian  akademik.  Namun,  proses  penulisan  sebuah  tinjauan pustaka  yang  sistematis  telah  menjadi  permasalahan  kompleks,  dan  membosankan, terutama    bagi    para    peneliti    pemula    dan    mahasiswa    yang    belum    atau    tidak berpengalaman.  Kesulitan  dalam  memahami,  mengkaji,  dan  menulis  literatur  terutama berasal   dari   kegagalan   sejak   awal   untuk   secara   jelas   mengidentifikasi   apa   yang diinginkan  oleh  pengulas  dan  bagaimana  cara  mencarinya  dengan  cara  yang  sistematis dan komprehensif.  Meninjau  dan  menulis  literatur  akademik  adalah  tugas  yang  sangat besar,  untuk  itu  seorang  peneliti  harus  fokus  pada  tujuan  spesifik  serta  penyediaan referensi yang memadai dan relevan. Dengan pemahaman yang tepat, penulisan sebuah literatur  reviewdapat  dikuasai  dan  dilakukan  dengan  mudah.

Tinjauan  literatur

Tinjauan  literatur  adalah  fitur  umum  dari  semua  produk  penelitian,  terlepas  dari disiplin  atau  subjeknya.  Sebuah  tinjauan  literatur  menjadi  dasar  untuk  semua  jenis penelitian  atau  pekerjaan  yang  dipelajari.  Namun,  terkadang  proses  tinjauan  tersebut biasanya  diabaikan  sebagai  bentuk  analisis  kualitatif.  Proses  yang  dilakukan  dalam membangun  argumen  dari  sebuah  literatur  mirip  dengan  proses  yang  terlibat  dalam menganalisis  data  kualitatif.  Proses  tersebut  meliputi:  membaca  dan  merefleksikan, berinteraksi  dengan  literatur/data  dan  mengomentarinya,  mengidentifikasi  tema  kunci dan  melakukan  pengkodean;  mengekstrak  dari  kutipan  untuk  digunakan  saat  menulis; menghubungkan ide-ide serupa dari berbagai artikel, mengidentifikasi kontradiksi dalam argumen,   membandingkan   perbedaan   dalam   artikel,   membangun   argumen/analisis sendiri dengan tautan ke bukti pendukung dalam data/literatur (Pautasso, 2013).Para peneliti telah mengembangkan berbagai strategi untuk menangani jumlah bahan yang dihasilkan oleh tinjauan literatur. Di masa lalu, sistem indeks digunakan sebagai alat tetapi  dalam  beberapa  tahun  terakhir,  perangkat  lunak  bibliografi  telah  muncul  sebagai alat  yang  disukai  untuk  mengatur  dan  membuat  sebuah literatur  review.  Paket  seperti EndNote, Reference  manager, Mendeley,dll.  Penggunaan  alat  dalam  dalam  mengolah sebuah    referensi    tentunya    sangatlah    membantu.    Hal    ini    memungkinkan    untuk mengunduh abstrak dalam beberapa atau seluruh artikel untuk dimasukkan dalam basis data   bibliografi.   Perangkat   lunak   tersebut   menawarkan   cara   yang   fleksibel   untuk mencari  dan  mengurutkan  referensi(Machi&  McEvoy,  2008).  Mereka  memiliki  tautan langsung dengan paket pengolah kata, membuatnya mudah untuk memasukkan kutipan yang   benar  pada  suatu  titik  dalam  teks.  Mereka  juga  memiliki  kemampuan  untuk menghasilkan  bibliografi  dalam  gaya  yang  sesuai   untuk  berbagai  jurnal.  Selain  itu, dimungkinkan pula untuk berkomentar dan merenungkan sebuah artikel, mengkodekannya  dengan  kata-kata  kunci  tertentu  dll.  Namun,  paket-paket  ini  tidak dirancang  untuk  analisis  data,  sehingga  proses  ini  dapat  dilakukan  hanya  dengan  cara yang  terbatas.  Paket  analisis  perangkat  lunak  khusus  diperlukan  untuk  mendukung proses analisis yang terlibat dalam tinjauan literatur.Paket  perangkat  lunak  seperti Atlas.ti,  N4 Classic,  N5, NVivo, WinMaxdll.  Dapat digunakan   untuk   mendukung   proses   analisis   yang   terlibat   dalam   tinjauan   literatur (Edwards-Jones,   2014).   Mereka   tidak   mengganti   perangkat   lunak   bibliografi   yang disebutkan  di  atas,  karena  mereka  tidak  memiliki  alat  bibliografi  yang  dimiliki  paket-paket  tersebut.  Tetapi  alat  analitis  mereka  dapat  digunakan  sebagai  tambahan  alat

Analisis NVivo

Visualisasi Hierarki ChartPemetaan Hierarki Chart menggunakan alat bantu Nvivo 14 mempunyai fungsi untuk melihat dan menggambarkan secara menyeluruh analisis SWOT berdasarkan sumber berita yang telah ditentukan dapat melalui diagram ataupun tabel (Nurul Izza & Mi’raj, 2023)

Visualisasi Word Cloud Pemetaan comparison topik media mempunyai fungsi untuk melihat dan menggambarkan perbandingan hubungan antara beberapa medua dengan topik yang telah ditentukan (Izza & Rusydiana, 2023)

Visualisasi World Frequency Results Word Frequency Results berguna untuk memetakan kata-kata yang sering muncul dan dibahas pada media (Plard & Martineau, 2021).Gambar 6. World Frequency Results

Visualisasi Correlation World Frequency Results Correlation World Frequency Results mempunyai fungsi yaitu untuk menggambarkan hubungan secara menyeluruh atara satu topik dengan topik lainnya (Allsop et al., 2022)

Nvivo

Pendekatan kualitatif dengan alat bantu software NVivo merupakan perangkat lunak analisis data kualitatif yang digunakan dalam penelitian. NVivo membantu peneliti dalam menyimpan, mengatur, dan mengeksplorasi data dengan mudah, serta mengurangi risiko kerusakan data mentah. NVivo memungkinkan pengguna untuk menyimpan teks, gambar, audio, dan video secara langsung di dalam proyek, serta mengakses data multimedia tersebut langsung dari dalam platform NVivo. Melalui tangkapan artikel berita yang ada dapat melihat dan memetakan informasi dari sebuah narasi.Beberapa tahapan – tahapan yang dapat dilakukan dengan memanfatkan platform NVivo seperti :•Import Data: Data kualitatif dalam bentuk teks artikel media, audio, atau video diimpor ke dalam platform NVivo.•Koding Data: Data dikodekan berdasarkan tema, pola, atau kategori tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.•Eksplorasi dan Organisasi: Data dieksplorasi untuk mengidentifikasi pola-pola dan hubungan antar tema, serta diorganisasi dalam bentuk matriks atau diagram untuk mempermudah pemahaman.•Analisis Mendalam: Melalui fitur pencarian dan query, peneliti dapat melakukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi hubungan dan pola-pola yang muncul dari data dengan koding yang sudah ditentukan.isualisasi Data: NVivo memungkinkan visualisasi data dalam bentuk diagram, grafik,, model konseptual, dan tabel nilai untuk memperjelas temuan analisis.Penarikan Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis, peneliti dapat menarik kesimpulan yang relevan dengan tujuan penelitian. Pemetaan NVivo menjadi alat ukur baru untuk melihat dan mengambarkan hasil temuan berdasarkan narasi artikel media yang sering dibahas (Soehardi et al., 2021

Whistleblowing


Hoffman and Robert (2008) whistleblowing didefinisikan sebagai suatu
pengungkapan oleh karyawan mengenai suatu informasi yang diyakini
mengandung pelanggaran hukum, peraturan, pedoman praktis atau pernyataan
professional, atau berkaitan dengan kesalahan prosedur, korupsi, penyalahgunaan
wewenang, atau membahayakan publik dan keselamatan tempat kerja.
Whistleblowing merupakan tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok
untuk membocorkan kecurangan yang terjadi baik oleh instansi maupun individu.
Whistleblowing dapat digambarkan sebagai suatu proses yang melibatkan faktor
pribadi dan faktor sosial organisasional.
Whistleblowing akan muncul saat terjadi konflik antara loyalitas
karyawan dan perlindungan kepentingan public. Elias (2008) menambahkan
bahwa whistleblowing dapat terjadi dari dalam (internal) maupun luar (eksternal).
Internal whistleblowing terjadi ketika seorang karyawan mengetahui
kecurangan yang dilakukan karyawan lainnya kemudian melaporkan kecurangan
tersebut kepada atasannya. Sedangkan eksternal whistleblowing terjadi ketika
seorang karyawan mengetahui kecurangan yang dilakukan perusahaan lalu
memberitahukannya kepada masyarakat karena kecurangan itu akan merugikan
masyarakat.
De George (1986) dalam Hoffman and Robert (2008) menetapkan tiga
kriteria atas whistleblowing yang adil. Pertama organisasi yang dapat
menyebabkan bahaya kepada para pekerjanya atau kepada kepentingan publik
yang luas. Kedua, kesalahan harus dilaporkan pertama kali kepada pihak internal
yang memiliki kekuasaan lebih tinggi, dan ketiga, apabila penyimpangan telah
dilaporkan kepada pihak internal yang berwenang namun tidak mendapat hasil,
dan bahkan penyimpangan terus berjalan, maka pelaporan penyimpangan kepada
pihak eksternal dapat disebut sebagai tindakan kewarganegaraan yang baik.
Lewis (2005) mengatakan bahwa whistleblowing dapat dipandang
sebagai bagian dari strategi untuk menjaga dan meningkatkan kualitas. Dari
pandangan pemberi kerja, pekerja yang pertama kali melapor kepada menajernya
atas pelanggaran yang terjadi dapat member kesempatan perusahaan untuk
memperbaiki masalah tersebut sebelum berkembang semakin rumit.
Whistleblowers seharusnya memiliki kinerja yang baik, beredukasi tinggi,
berkedudukan sebagai pengawas, dan moral reasoning yang lebih tinggi
dibandingkan seorang pengawas fraud yang tidak aktif (Elias, 2008). Namun
pengungkapan pelanggaran pada umumnya menimbulkan konskuensi yang tidak
diinginkan oleh pengungkap pelanggaran tersebut, seperti kehilangan pekerjaan,
ancaman balas dendam, dan isolasi dalam bekerja.
15
Malik (2010) menggunakan dua aspek dari whistleblowing yaitu tentang
pandangan mengenai persepsi whistleblowing dan whistleblowing intention.
Robbins (2003: 97) mendeskripsikan persepsi sebagai sebuah proses yang
ditempuh oleh seorang individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesankesan
yang ditangkap oleh indera sehingga memberikan makna bagi lingkungan
mereka, sehingga persepsi whistleblowing diartikan sebagai sebuah proses untuk
menentukan apakah whistleblowing akan memberikan dampak yang baik atau
buruk bagi individu itu sendiri maupun lingkungan.
Persepsi whistleblowing dapat diukur dengan tingkat keseriusan tindakan
dinilai dengan mempertimbangkan besarnya pelanggaran sosial yang dilakukan
pada masing-masing kasus. Tingkat tanggung jawab untuk melaporkan
pelanggaran dinilai dengan mempertimbangkan apakah pelaporan tindakan yang
diragukan tersebut merupakan suatu tugas karyawan sebagai bagian dari
perusahaan ataukah justru kewajiban pribadi (Malik, 2010).
Malik (2010) menjelaskan bahwa whistleblowing intention merupakan
keinginan untuk melakukan whistleblowing merupakan salah satu bentuk dari
keseriusan dalam suatu situasi, tanggung jawab untuk melaporkan pelanggaran
dan dampak negatif yang akan diterima sebagai akibat pelaporan tersebut.
Keinginan untuk melaporkan suatu pelanggaran dinilai dengan mengasumsikan
responden sebagai karyawan yang menyadari adanya tindakan-tindakan yang
mencurigakan dalam kasus-kasus tersebut.

Analisis Data Kualitatif

Dalam analisis data kualitatif, terdapat tiga tahapan kegiatan yang perlu dilakukan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.[1] Dengan dasar pandangan tersebut, maka analisis data yang akan dijalankan akan mengikuti urutan langkah-langkah berikut:

  1. Reduksi Data

Tahap reduksi data dalam analisis data kualitatif merupakan proses merangkum dan memilih hal-hal pokok dari data yang telah dikumpulkan. Selain itu, tahap ini juga melibatkan fokus pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola, dan membuang informasi yang dianggap tidak relevan atau tidak perlu. Tujuan dari tahap reduksi data ini adalah untuk memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan peneliti dalam melakukan pengumpulan data selanjutnya, serta membantu dalam mengidentifikasi tema-tema utama yang akan dijadikan landasan dalam tahap analisis selanjutnya.

  • Penyajian Data

Tahap penyajian data dalam analisis data kualitatif meliputi proses pengklarifikasiakan dan identifikasi data, yang mencakup menuliskan kumpulan data yang telah diorganisir dan dikategorikan berdasarkan indikator yang relevan. Dalam tahap ini, peneliti juga dapat menggunakan tabel, grafik, atau diagram lainnya untuk memvisualisasikan data secara lebih jelas. Tujuan dari tahap penyajian data ini adalah untuk memudahkan peneliti dalam memahami data yang telah dihasilkan dan mempermudah proses analisis data selanjutnya.

  • Menarik Kesimpulan

Tahap penarikan kesimpulan dalam analisis data kualitatif merupakan kegiatan yang melibatkan pemberian makna dan memberikan penjelasan terhadap hasil penyajian data yang telah diperoleh dari analisis data. Tahap ini melibatkan identifikasi temuan, mengintegrasikan data, dan menyusun temuan menjadi sebuah kesimpulan atau hasil akhir dari penelitian. Proses penarikan kesimpulan ini harus didukung oleh argumentasi yang kuat dan didasarkan pada hasil analisis data yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menghasilkan pemahaman yang lebih dalam tentang topik yang diteliti dan memberikan sumbangan terhadap pemahaman kita tentang dunia yang kita tinggali.


Systematic Literature Review

SLR dapat memberikan penulis gambaran umum tentang domain penelitian dalam satu makalah (Rosado-Serrano et al., 2018; Keupp & Gassmann, 2009; Paul et al., 2017). Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah dan sangat informatif untuk mengumpulkan, meninjau, dan mensintesis temuan penelitian secara sistematis tentang topik tertentu (Paul et al., 2021) untuk menentukan apa yang diketahui –dan apa yang tidak diketahui—di domain tersebut (Card, 2015). SLR memungkinkan pembaca untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang literatur dan juga membantu mereka mengidentifikasi kesenjangan penelitian di bidang tersebut (Paul & Criado, 2020). Dengan cara ini, SLR dapat dilihat sebagai platform untuk kemajuan pengetahuan (Palmatier et al., 2018). Berbeda dengan SLR tradisional, meta-analisis mengambil pendekatan objektif untuk mensintesiskan studi secara kuantitatif dalam domain penelitian, sedangkan SLR tradisional bersifat kualitatif dan subjektif (Card, 2015). Meta-analisis statistik menilai ketahanan temuan dalam suatu area dan mengidentifikasi serta menyelesaikan temuan yang bertentangan dalam penelitian sebelumnya untuk memberikan kejelasan lebih lanjut tentang topik tersebut bagi para akademisi dan praktisi (Grewal et al., 2018). Keuntungan meta-analisis, dibandingkan dengan studi tunggal dengan ukuran sampel kecil, adalah kekuatannya yang lebih tinggi (yaitu, ukuran sampel gabungan dari studi individual) (Cooper, 2015), yang memungkinkan meta-analis mengkarakterisasi hubungan antara variabel dalam suatu domain secara lebih meyakinkan, dan variabel yang memoderasi hubungan ini (Littell et al., 2008). Meskipun metaanalisis diperkenalkan pada tahun 1970-an sebagai metode untuk mensintesis penelitian sebelumnya, penerimaannya sebagai alat untuk memajukan pengembangan pengetahuan di kalangan peneliti di bidang bisnis dan manajemen relatif baru (Aguinis, Dalton, dkk., 2011).

Metaanalisis mengikuti prosedur yang sangat teknis dan canggih untuk mengumpulkan, menggabungkan, dan menganalisis penelitian empiris (Siddaway dkk., 2019). Pendekatan yang ketat ini menjamin validitas dan keandalan metode, sementara pada saat yang sama mengaburkan teknik bagi para peneliti dan praktisi yang dapat memperoleh manfaat dari melakukan metaanalisis. Mengingat hal ini, tujuan utama naskah ini adalah untuk merinci praktik dan kemajuan terkini dalam penelitian metaanalisis dan untuk membandingkan teknik tersebut dengan SLR tradisional. Kami menghindari jargon teknis untuk meningkatkan aksesibilitas penelitian kami di kalangan pembaca yang tidak memiliki pengetahuan statistik tingkat lanjut. Selain itu, alih-alih berfokus secara eksklusif pada pengumpulan dan analisis data, kami membahas seluruh proses metaanalisis termasuk definisi pertanyaan, pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil. Terakhir, kami akan memperkenalkan kemajuan terkini dalam teknik meta-analitik untuk menunjukkan perkembangan yang sedang berlangsung.

Model-Model Statistik Meta-Analisis


Pengolahan data dengan analisis statistik merupakan salah satu kunci dari
meta-analisis. Terdapat dua kategori model-model statistik dalam meta-analisis,
yaitu model statistik yang hanya m encakup studi efek dan model statistik yang
mencakup studi efek yang disertai tambahan informasi dan analisis. Sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh (Styfanda, 2015), menjelaskan bahwa studi
efek terbagi atas dua model yaitu fixed effect models (fem) adalah pendugaan
parameter regresi panel dengan menggunakan teknik penambahan variabel dummy
sehingga metode ini sering kali disebut dengan least square dummy model
sedangkan random effect models (rem) adalah pendugaan parameternya dilakukan
menggunakan generalized least square Jika matriks Ω diketahui. Disamping itu
dalam penelitian Manapiah pada tahun (2019) menjelaskan bahwa studi efek yang
disertai dengan infrmasi dan analisis tambahan yaitu dengan menilai quality effect
model. Quallity effect model yaitu suatu perhitungan statistik untuk melakukan
penyesuaian terhadap keanekaragaman antar studi yang dilakukan pengolahan
pada meta analisis dengan pertimbangan varians dan kualitas studi-studi tersebut
(Manapiah, 2019)

Instrumen penelitian

Arikunto (2019) mengemukakan bahwa Instrumen penelitian ialah alat atau fasilitas yang di pakai oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya menjadi lebih mudah dan hasilnya menjadi lebih baik lebih cermat lebih lengkap dan sistematis sehingga mudah untuk diolah. Instrumen penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa angket atau kuisioner Sedangkan  Sugiyono (2019) menyatakan bahwa “Instrumen penelitian adalah suatu alat pengumpul data yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati”.  Dengan demikian, penggunaan instrumen penelitian ialah untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah, fenomena alam maupun sosial.  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan data yang akurat yaitu dengan menggunakan skala.  

Job crafting

Menurut (Kim et al., 2019:02) job crafting adalah sebagai proses anggota
organisasi yang menjadikan pekerjaan menjadi lebih bermakna dengan menjadikan
tugas pekerjaan secara otonomi dan proaktif.
Menurut Wrzesniewski (2000) dalam Miraglia (2017:03) Job crafting
adalah perilaku aktif yang dilakukan karyawan untuk menjadikan tuntutan
pekerjaan dan juga sumber daya pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dan juga
keterampilan mereka.Menurut Hetlan et al., (2018:747) Job crafting adalah
Perilaku kerja aktif yang membutuhkan perubahan untuk membentuk pekerjaan
agar tetap menantang dan memotivasi.
Menurut Kim et al., (2019:06) Job crafting, dapat diukur melalui indikator,
sebagai berikut:
1. Congnitive crafting sebagai proses dalam pengubahan batas presepsi
seseorang mengenai penafsiran ulang dan juga makna pekerjaan setiap
seseorang.
2. Relation Crafting sebagai upaya meningkatkan dan merubah hubungan
antara bisnis dengan merubah frekuensi ataupun pada kualitas interaksi
di anggota organisasi tempat kerja.
3. Task Crafting sebagai pengubahan tugas dalam kewajiban yang
ditentukan sebelumnya.

Indikator Word Of Mouth

Indikator word of mouth menurut Widyastuti dan Erfan, yaitu11:
a. Memberikan rekomendasi yang baik tentang perusahaan
b. Merekomendasikan perusahan kepada teman dan kolagen c. Merekomendasikan kepada teman yang membutuhkan perusahaan yang
serupa
Munurut Yulius, indikator word of mouth, yaitu:
a. Bersedia merekomendasikan kepada orang lain
b. Menceritakan hal baik kepada orang lain
c. Bersedia merekomendasikan pada media berbayar.
Sedangkan menurut Word Of Mouth Marketing Association (WOMMA)
dalam Mangara indikator word of mouth merupakan usaha pemasaran yang
dapat memicu konsumen untuk sebagai berikut12:
a. Membicarakan
Konsumen bisa terlibat dengan suatu produk tertentu dan maksud
membicarakan mengenai produk tersebut dengan orang lain, sehingga terjadi
proses komuniaksi word of mouth
b. Mempromosikan
Konsumen menceritakan produk yang pernah dikonsumsinya tanpa sadar ia
mempromosikan produk kepada orang lain
c. Merekomendasikan
Konsumen bisa merekomendasikan suatu produk yang pernah dibeli kepada
orang lain.

  Aspek-aspek konsep diri (skripsi, tesis, dan disertasi)

Menurut Calhoun dan Acocella (dalam Andromeda, Pamungkas dan
Mabruri, 2018: 1), menyatakan bahwa konsep diri terdiri beberapa aspek yang
meliputi:
a. Pemahaman
Pemahaman individu terhadap kelebihan serta kekurangan yang
dimilikinya. Pemahaman tersebut juga berkaitan dengan apa yang
diketahui mengenai diri, termasuk dalam hal ini jenis kelamin, suku
bangsa, pekerjaan, usia, dan sebagainya. Individu saling memberikan
julukan tertentu pada dirinya.
b. Penghargaan
Pandangan tentang diri tidak terlepas dari kemungkinan menjadi apa di
masa mendatang. Penghargaan dapat dikatakan diri ideal. Setiap harapan
dapat membangkitkan kekuatan yang mendorong untuk mencapai harapan
tersebut di masa depan.
c. Penilaian
Penilaian mencakup unsur evaluasi, seberapa besar individu menyukai diri
sendiri. Semakin besar ketidak-sesuaian antara gambaran tentang diri yang
ideal dan yang aktual maka akan semakin rendah harga diri individu.
Sebaliknya, orang yang punya harga diri tinggi akan menyukai siapa
dirinya, apa yang dikerjakannya dan sebagainya. Dapat dikatakan dalam
hal ini bahwa dimensi penilaian merupakan komponen pembentukan
konsep diri yang cukup signifikan.
Menurut Fitts (dalam Herlan, dkk, 2012: 12), ada empat aspek konsep diri
yang harus terintegrasi dalam dirinya, yaitu:
a. Aspek konsep diri kritis, jika ingin memiliki rasa mampu yang
realistis,individu harus terbuka terhadap kelemahan diri, harus bersedia
menerima umpan balik dari orang lain sebagai suatu kritik yang
membangun, bukan sebagai kritik yang bertujuan untuk menjatuhkan.
b. Aspek harga diri adalah komponen penting dan domain dalam konsep diri
individu.
c. Aspek integrase diri, menunjuk pada kemampuan individu dalam
membuat kesesuaian antara penilaian dan kenyataan yang ada.
d. Aspek keyakinan diri, menggambarkan sejauhmana keyakinana individu
dalam menilai diri sendiri.
Menurut Song dan Hattie (Thalib, 2010: 123), menyatakan bahwa aspekaspek konsep diri dibagi menjadi konsep diri akademis dan konsep diri nonakademis. Konsep diri non akademis dibedakan menjadi dua yaitu konsep diri
social dan penampilan diri. Jadi pada dasarnya konsep diri mencakup aspek
konsep diri akademis, konsep diri sosial, dan penampilan diri.

Loyalitas Pelanggan (skripsi, tesis, disertasi)

Loyalitas pelanggan sangat penting artinya bagi perusahaan yang ingin
menjaga kelangsungan hidup maupun keberhasilan usahanya (Samsudin, 2018).
Menurut Samsudin (2018) Pelanggan adalah seseorang yang menjadi terbiasa
untuk membeli dari produsen atau penyedia jasa layanan. Kebiasaan itu terbentuk
melalui pembelian dan interaksi yang sering selama periode waktu tertentu. Tanpa
adanya sejarah perjalanan hubungan yang kuat dan pembelian berulang,
konsumen tersebut bukanlah pelanggan, atau lebih mudah disebut pembeli.
Pelanggan sejati tumbuh seiring dengan waktu. Loyalitas pelanggan sangat
diperlukan di dalam keberlangsungan suatu perusahaan, dimana citra,
kepercayaan, reputasi perusahaan yang baik merupakan faktor penting dalam
terciptanya loyalitas pelanggan. Pelanggan disebut sebagai aset perusahaan, yakni
pihak yang membiayai perusahaan. Loyalitas dari pelanggan terhadap
perusahaannya mutlak dipertahankan demi terciptanya hubungan yang saling
menguntungkan di antara kedua belah pihak. Sehingga perusahaan harus selalu
fokus kepada pelanggan, untuk memenuhi harapan, keinginan dan kebutuhan serta
menghargai mereka sehingga dapat menjalin hubungan sampai ke tingkat
emosional di antara pelanggan dengan perusahaan.
Menurut Al dan Yuniati (2016) Loyalitas pelanggan merupakan salah satu
kunci keberhasilan eksistensi perusahaan. Banyaknya pelanggan yang loyal
terhadap perusahaan tentu akan berimbas dan berkontribusi positif terhadap
keberlangsungan dan kemajuan perusahaan. Loyalitas pelanggan sering diartikan
dengan perilaku konsumen yang sering melakukan pembelian berulang, padahal
kontribusi dari pelanggan yang loyal tidak hanya sebatas itu, tetapi bisa lebih luas
cakupannya dan kadang bisa lebih berkontribusi, yaitu kesetiaan pelanggan
terhadap merek dan rekomendasi yang diberikan pelanggan kepada orang lain
yang nantinya bisa menjadi pelanggan potensial perusahaan ( Al & Yuniati, 2016).
Menurut Kotler dan Keller (2008) membangun loyalitas dengan menciptakan
hubungan yang kuat dan erat dengan pelanggan adalah mimpi semua pemasar dan
hal ini menjadi kunci keberhasilan pemasaran jangka panjang.
Beberapa uraian di atas dapat disimpulkan loyalitas pelanggan merupakan
kesetiaan seseorang atas suatu produk, baik barang maupun jasa dimana
pembelian tersebut selang selama periode tertentu dengan secara teratur dan
adanya sikap yang baik untu merekomondasikan produk tersebut ke orang lain.

Metode penelitian Kualitatif (skripsi, tesis, disertasi)

Metode penelitian kualitatif disebut metode baru, karena popularitasnya baru-baru ini, itu disebut metode postpositivistik karena didasarkan pada filosofi pospositivistisme. Metode ini juga disebut sebagai metode artistik, karena proses penelitian lebih artistik (kurang berpola), dan disebut metode interpretatif karena hasil penelitian lebih mementingkan interpretasi data yang ditemukan di lapangan. Pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan bola salju, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif / kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna generalisasi (Sugiono, 2015[3]).

Metode penelitian Kuantitatif (skripsi, tesis, disertasi)

Metode kuantitatif juga bisa disebut metode tradisional, ini karena metode ini telah digunakan cukup lama sehingga telah ditransmisikan sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut metode positivistik karena didasarkan pada filsafat positivisme. Metode ini adalah metode ilmiah karena telah memenuhi prinsip-prinsip ilmiah yang konkret / empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka dan analisis menggunakan statistik. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode yang digunakan untuk memeriksa populasi atau sampel tertentu, pengambilan sampel secara teknis umumnya dilakukan secara acak, pengumpulan data umumnya menggunakan instrumen penelitian, analisis data kuantitatif / statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiono, 2015[3]).

Alasan Menggunakan Nvivo (skripsi, tesis, disertasi)

 

  1. Membantu analisis dan mengurutkan data berupa teks, gambar, video, atau audio yang tidak berurutan (tidak terstruktur).
  1. Dapat melakukan pemutaran file berupa video maupun audio, sehingga data wawancara dari penelitian dapat secara mudah ditranskripsikan melalui NVIVO.
  1. Memiliki kemampuan untuk mengambil data dari media sosial seperti Twitter, Facebook dan LinkedIn dengan menggunakan plug-in pada browser NCapture.
  1. Kemampuan untuk menyaring catatan dan hasil tangkapan data dari Evernote. Data ini biasanya didapat dari hasil penelitian lapangan.
  1. Kemampuan untuk menyaring atau impor data berupa kutipan dari Zotero, EndNote dan Mendeley atau software manajemen bibliografi yang lainnya. Data ini biasanya diambil dari hasil penelitian pustaka.
  1. Membantu memisahkan data yang sumbernya berasal dari peneliti, informa dan secondary sources atau sumber data pendukung penelitian seperti buku, jurnal, artikel, dokumen sejarah, berita online, isi website, catatan lapangan, memos, bibliografi, prosiding konferensi, hingga jurnal harian miliki peneliti yang telah tersimpan di dalam NVIVO.
  1. Mempresentasikan hasil dari analisis data dalam tampilan model diagram serta grafik.
  1. Mampu menunjukkan kredibilitas, keabsahan dan subjektifitas atas data penelitian yang menggunakan metode kualitatif.
  1. Antarmuka pengguna (windows) dan analisis data berupa teks tersedia dalam beberapa bahasa yakni  Perancis, Inggris, Jerman, Jepang, Cina (sederhana) dan Portugis. Selain itu, NVIVO for Mac tersedia juga dalam bahasa Perancis, Inggris, Spanyol, Jepang dan Jerman

Pengolahan Data Kualitatif (skripsi, tesis, disertasi)

1. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisis. Ia merupakan bagian dari analisis. Pilihan-pilihan peneliti tentang bagian data mana yang dikode, mana yang dibuang, pola-pola mana yang meringkas sejumlah bagian yang tersebar, cerita-cerita apa yang sedang berkembang, semuanya itu merupakan pilihan-pilihan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

2. Penyajian Data / Display Data

Menurut Miles dan Huberman, alur terpenting yang kedua dari kegiatan analisis adalah penyajian data. “penyajian” maksudnya sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian yang paling sering digunakan pada data kualitatif pada masa yang lalu adalah bentuk teks naratif. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti yakin bahwapenyajian-penyajian yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. Bentuk penyajian data kualitatif berupa teks naratif (berbentuk catatan lapangan), matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih, dengan demikian seorang penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi, dan menentukan apakah menarik kesimpulan yang benar ataukah terus melangkah melakukan analisis yang menurut saran yang dikiaskan oleh penyaji sebagai sesuatu yang mungkin berguna.

3. Penarikan Kesimpulan / Verifikasi

Dari permulaan pengumpulan data, peneliti mulai mencari makna dari data-data yang diperoleh di lapangan, mencatat keteraturan atau pola penjelasan dan konfigurasi yang mungkin ada. Setiap kesimpulan yang ditetatpkan terus-menerus di verifikasi hingga diperoleh kesimpulan yang valid.  Telah dikemukakan tiga hal utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan / verifikasi sebagai sesuatu yang jalinmenjalin pada saat sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar, untuk membangun wawasan umum yang disebut “analisis”

Penelitian kualitatif (skripsi, tesis, disertasi)

Penelitian kualitatif didefinisikan sebagai kegiatan terencana untuk
menangkap praktik penafsiran responden dan informan terhadap dunia. Perlu
disadari bahwa orang bertindak sejalan dengan tafsirnya terhadap benda,
fenomena, atau masalah yang dihadapinya. Fakta dan kenyataan yang ada
belumlah dapat kita percaya, melainkan berguna hanya sejauh tafsir seseorang
yang menggunakannya. Istilah kualitatif menunjukkan penekanan terhadap
proses-proses dan makna-makna yang tidak diuji atau diukur dari segi
kuantitas, intensitas, atau frekuensi.
Penelitian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang
ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, ktivitas social, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara
individual maupun kelompok.53
Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif yang
bertolak dari pandangan positivisme. Penelitian kualitatif berangkat dari
filasafat konstruktivisme, yang memandang kenyataan itu berdimensi jamak,
interaktif, dan menuntut interpretasi berdasarkan pengalaman sosial. Menurut
MC Millan dan Schumacker (2001) dalam buku karya Ariesto Hadi Sutopo &
Adrianus Arief “ Reality is multilayer, interactive and a shared social
experience interpretation by individuals”. Peneliti kualitatif memandang
kenyataan sebagai konstruksi sosial, individu atau kelompok menarik atau
member makna kepada suatu kenyataan dengan mengkonstruksinya. Dengan
perkataan lain, persepsi seseorang adalah apa yang ia yakini bahwa “nyata”
baginya, dan terhadap hal itulah tindakan, pemikiran, dan perasaannya
diarahkan.
Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yaitu pertama
menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan kedua
menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). Kebanyakan
penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan eksplanatori. Beberapa penelitian
memberikan deskripsi tentang situasi yang kompleks, dan arah bagi penelitian
selanjutnya. Penelitian lain memberikan eksplanasi (kejelasan) tentanghubungan antara peristiwa dengan makna terutama menurut partisipasi
partisipan.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif
kualitatif, berupa kata-kata lisan atau tulisan tentang tingkah laku manusia
yang dapat diamati. Data kualitatif itu berwujud uraian terperinci, kutipan
langsung, dan dokumentasi kasus. Data kualitatif adalah tangkapan atas
perkataan subjek penelitian dalam bahasanya sendiri. Pengalaman orang
diterangkan secara mendalam, menurut makna kehidupan, pengalaman, dan
interaksi sosial dari subjek penelitian sendiri. 56 Disini peneliti melakukan
penelitian dengan terjun langsung ke lapangan, mendeskripsikan dan
mengkonstruksi realitas yang ada dan melakukan pendekatan terhadap sumber
informasi, sehingga diharapkan data yang didapatkan akan lebih akurat dan
maksimal

Software Nvivo (skripsi, tesis, disertasi)

Software NVivo 11 merupakan sebuah perangkat lunak Qualitative Data Analysis (QDA) yang diproduksi oleh QSR international. Software NVivo 11 di desain dengan berbagai macam set fitur inti dan digunakan untuk mengerjakan sebuah proyek-proyek penelitian kualitatif dengan sumber berbasis teks (QSR Internasional, 2015: 6). Software NVivo 11 pertama kali dikembangkan oleh Tom Richards pada tahun 1999, yang mencangkup analisis perinci dan pemodelan kualitatif. Software NVivo 11 dirancang untuk penelitian kualitatif yang bekerja dengan data teks dan multimedia untuk skala kecil maupun besar. Software NVivo 11 paling sering digunakan pada bidang pendidikan, pemerintahan, sosial sains, psikologi, pemasaran dan lain sebagainya. Melalui aplikasi NVivo, peneliti dapat mengatur dan menganalisis data berupa teks, melakukan coding data teks, menentukan tema dan sub tema berdasarkan data teks, serta membuat keterangan terhadap semua data demografis partisipan, melakukan analisis isi teks dengan teks search. Mengetahui dengan cepat kata-kata utama yang paling sering muncul dalam data word frequency querries, mempersentasikan hasil analisa data dalam bentuk grafik, diagram pohon, diagram-diagram perbandingan tema berdasarkan latar belakang partisipan (Bandur, 2016:2). Dengan adanya software NVivo 11 ini peneliti dapat membuat sebuah analisis atas dasar hasil pengkodean dan juga peneliti dapat mencari hubungan antara tema-tema yang satu dengan tema lainnya serta mengvisualisasikan hubungan-hubangan tersebut, seperti dengan mengvisualisasikan hubungan  asosiatif, one way (satu arah), dan hubungan simetrikal. Software NVivo 11 akan terus digunakan oleh peneliti hingga pada tahap akhir penelitian peneliti nantinya

Penelitian Bersifat Studi Kasus (skripsi, tesis, disertasi)

Agar lebih memfokuskan lagi pemahaman tentang makna dari penelitian kualitatif ini, peneliti memilih jenis penelitian yang bersifat studi kasus. Menurut Creswell (2014:14) studi kasus merupakan strategi penelitian yang di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat dan hati-hati suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. Kasus-kasus dalam strategi studi kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti mengumpulkan informasi secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulann data berdasarkan waktu yang telah ditentukan. Sedangkan menurut Yin (2018) studi kasus merupakan sebuah mode penyelidikan yang tidak jelas, dan tidak dapat dipahami dengan mudah selama bertahun-tahun. Serta adanya sebuah kesadaran praktik yang telah dilakukan dan dapat berubah-ubah. Definisi lain pun diungkapkan oleh Yin (2018:45) tentang studi kasus sebagai metode penelitian bahwa studi kasus adalah metode empiris yang menyelidiki fenomena kontemporer “kasus” secara mendalam dan dalam konteks dunia nyata, terutama ada batasan antara fenomena dan konteks yang kemungkinan tidak adanya kejelasan yang secara jelas. Studi kasus dapat mengatasi situasi yang secara teknis berbeda-beda, dimana banyaknya variabel yang menarik pada titik data tertentu. Sebagai hasil dari metode tersebut didapatkan manfaat pengembangan pernyataan yang proposisi secara teoritis dengan menggunakan panduan rancangan, pengumpulan data, dan pendekatan analisis data, serta bergantung pada berbagai sumber bukti yang jelas dengan data yang diperlukan, hal ini dimaksudkan agar data yang diperlukan dapat konvergen secara triagulasi

Penelitian Kualitatif (skripsi, tesis, disertasi)

Penelitian kualitatif dikatakan oleh Bandur, (2016:18) bahwa inti utama dari penelitian kualitatif ialah terdapat pada tujuan eksplorasi dan pemahaman data secara lebih mendalam. Data dalam konteks ini berkaitan dengan makna setiap ungkapan mengenai masalah-masalah penelitian yang disampaikan secara langsung oleh informan, terutama informan- informan tersebut merupakan kunci dari penelitian yang dilakukan. Penelitian kualitatif menurut Strauss dan Corbin 117 (2017) penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang hasil temuanya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Lebih lanjut dijelaskan oleh Oun dan Bach (2014) menurut mereka penelitian kualitatif merupakan metode untuk menguji dan menjawab pertanyaan tentang bagaimana, dimana, apa, kapan, dan mengapa seseorang bertindak dengan cara-cara tertentu pada permasalahan yang spesifik. Metode kualitatif dapat juga diartikan sebagai metode penelitian dalam mendiskripsikan fenomena berdasarkan sudut pandang para informan, menemukan realita yang beragam dan mengembangkan pemahaman secara holistik tentang sebuah fenomena dalam konteks tertentu (Hilal dan Alabri, 2013). Berdasarkan ungkapan dari Creswell, (2014:258) menjelaskan bahwa jenis penelitian kualitatif merupakan sebuah pendekatan penelitian yang lebih beragam dibandingkan dengan metode-metode kuantitatif. Penelitian kualitatif juga memiliki asumsi-asumsi filosofis, strategi-strategi penelitian dan metode-metode pengumpulan, analisis dan interpretasi data yang beragam

Visualisasi Hasil dalam NVivo (skripsi, tesis, disertasi)

Setelah seluruh langkah dalam analisis nodes, cases, dan relationship dilakukan, selanjutnya NVivo dapat memvisualisasikan seluruh hasil yang telah dilakukan dengan menggunakan project map dengan cara menggunakan comparative diagram. Menurut Bandur (2019) “Istilah project map sebenarnya mengacu pada tema-tema hasil koding sehingga kita dapat memvisualisasikan hasil koding”. Untuk hasil analisis di dalam penelitian ini, analisis data dengan menggunakan comparative diagram atau diagram perbandingan. Menurut Bandur (2019) “Nvivo 12 Plus for windows telah membantu peneliti untuk langsung menampilkan hasil analisis data melalui koding dengan diagram perbandingan”. Untuk prosedur analisis dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Klik Comparasion Diagram, lalu pilih Compare nodes. 2) Pilih tema-tema yang hendak dibandingkan, lalu klik OK. 3) Menampilkan hasil output NVivo

Relationship dalam NVivo dan Visualisasi Hasil Relationship (skripsi, tesis, disertasi)

Setelah menganalisis nodes dan cases, selanjutnya dari hasil kedua analisis tersebut adalah mencari hubungan atau relationship antar tema-tema yang telah dianalisis. Perlu dipahami bahwa kekuatan relationship antar tema-tema tersebut tidak dapat diukur tingkat signifikansinya, karena NVivo hanya memberikan gambaran relationship hasil analisis data kualitatif yang ada. Prosedur untuk mencari relationship menurut Bandur (2019) dapat ditempuh dengan langkahlangkah sebagai berikut: 1) Klik Create pada Navigation View, klik Relationship pada ribbon Create 2) Menampilkan lembar kerja baru. 3) Pilih From, klik Select, lalu pilih nodes/cases yang akan digunakan, lalu OK. 4) Pilih To, klik Select, lalu pilih nodes/cases yang akan digunakan, lalu OK. 5) Klik OK. 6) Menampilkan hasil output NVivo untuk Relationship

Nodes dalam NVivo dan Visualisasi Hasil Nodes (skripsi, tesis, disertasi)

Selain koding dalam melakukan analisis data dengan menggunakan NVivo juga perlu menganalisis nodes. Menurut Bandur (2019) untuk membuat klarifikasi nodes dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Pilih Nodes pada Navigation View. 2) Klik Create. 3) Kilk Node. 4) Menampilkan lembar kerja New Code. 5) Beri nama Code. 6) Deskripsikan code tersebut dengan penjelasan tentang tema tersebut. 7) Klik OK, sehingga muncul kode identifikasi tema baru dalam List View. 8) Ulangi prosedur untuk memberikan tema-tema baru yang di ambil.

Setelah melakukan klarifikasi terhadap nodes. Selanjutnya, klasifikasi
nodes tersebut dilakukan analisis perbadingan (comparative analysis) dengan
menggunakan matrix coding. Prosedur matrix coding menurut Bandur (2019)
dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Klik Queries pada Navigation View, klik Query pada ribbon menu, lalu pilih
matrix coding.
2) Menampilkan lembar kerja baru.
3) pilih Node Classification, pilih atribut, lalu nilai atribut, lalu OK.
4) Menampilkan lembar kerja baru, lalu klik Add to List.
5) Selanjutnya pada label Columns, pilih Select untuk memasukan hasil koding
yang dianalisis.
6) Menampilkan lembar kerja baru, lalu pilih Nodes, pilih hasil koding yang
telah disimpan pada nodes yang akan digunakan, lalu klik yang akan
dianalisis, lalu klik OK.
7) Klik Add to List.
8) Pada label Node Matrix, pilih AND sehingga menghasilkan hasil sesuai node.
9) Klik Run.
10) Menampilkan hasil output NVivo
11) Hasil dapat berupa Chart Tools, Grouped Bar, dll

Koding dalam NVivo (skripsi, tesis, disertasi)

Dalam melakukan analisis data dengan menggunakan NVivo berkaitan dengan cara membuat koding menurut Bandur (2019) dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Pilih Source, lalu klik pada transkrip yang hendak dianalisis. 2) Klik kanan file transkrip yang dinalisis sehingga memperlihatkan lembar kerja baru. 3) Klik Next dan klik Auto code using source structure or style. 4) Pilih Paragraph Style, klik Next. 5) Pilih New Nodes agar hasil koding otomatis tersimpan dalam node baru, lalu pilih lokasi node baru tersebut, dan beri nama node baru tersebut, lalu klik Finish. 6) Hasil prosedur

Tahapan Analisis Dalam Nvivo (skripsi, tesis, disertasi)

Tahapan-tahapan analisis yang dilakukan oleh peneliti melalui software Nvivo, sebagai berikut: 1) Dari data yang dihasilkan lewat pengamatan yang berulang terus menerus dan berkesinambungan dan wawancara kemudian diketik dengan rapih sehingga mudah terbaca, dapat membantu peneliti dalam membuat deskripsi untuk menggambarkan masalah. Ini dilakukan dengan sistem pengkodean pada data mentah, dengan tujuan untuk dapat ditransformasikan secara sistematis dan digolong-golongkan sesuai dengan karakteristiknya yang terkait pada fokus penelitian. Identifikasi data yang dilakukan dengan model penggolongan tadi, diharapkan dapat menghampiri peneliti dalam memiliki wawasan untuk melakukan analisis untuk melakukan rekonstruksi. Selanjutnya akan mampu membuat katagori dan konsep, melakukan interpretasi, dan menjelaskan proporsi antar konsep yang dibentuk oleh hubungan yang terbina selama proses pengambilan data berlangsung. Analisa dan rekonstruksi data yang berulang kali dilakukan menghasilkan bangunan relasi sistem antar berbagai konsep yang berkaitan. 2) Setelah pembuatan kategori lewat penggolongan data pada tahap pertama, selanjutnya upaya analisa data bergerak pada menjelaskan secara tertulis agar tiap kategori tadi dapat dipahami sejalan dengan pencarian penggolongan data lain yang relevan. Menjadi sulit dalam melakukan pekerjaan pada tahap kedua ini, karena sering diganggu oleh pemikiran yang ada saat melakukan analisis saja, padahal kondisi pengambilan data sering diwarnai oleh atmosfir yang bervariasi. Untuk mengatasi hal itu rekaman audio visual dicermati kembali. Hal yang paling penting adalah membuka kembali field notes yang dibuat sesaat ketika tiap pengamatan selesai dilakukan. 3) Tahapan yang ketiga membuat tafsiran dengan menggambarkan perspektif peneliti dalam memberikan makna dari tiap pengelompokan data dan menjelaskan makna hubungan tiap unit.

TIngkat Kepercayaan Data Dalam Kualitatif (skripsi, tesis, disertasi)

1. Credibility

Tingkat credibility atau kredibilitas sangat berkaitan dengan persoalan seberapa jauh kebenaran hasil penelitian dapat dipercaya, artinya apakah data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara telah mengungkapkan hal-hal yang sesungguhnya dimiliki informan. Dalam kredibilitas terdapat beberapa cara yang dapat digunakan menurut (Sugiyono, 2013, hlm. 270) seperti perpanjang pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan membercheck. Dalam kredibilitas peneliti menggunakan triangulasi. Triangulasi diatikan sebagai pengecekan data dari berbagi sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu (Sugiyono, 2013, hlm. 273). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber (Sugiyono, 2013, hlm. 274).

2) Transferability

Transferability atau transferabilitas merupakan kriteria yang berhubungan dengan apa adanya nilai transfer dari hasil penelitian. Untuk pengujian nilai transfer terletak pada pengungkapan jawaban dari pertanyaan yang berkaitan dengan sejauh mana hasil penelitian ini dapat digunakan atau diaplikasikan dalam situasi lain.

3) Dependability

Dependability atau reliabilitas di dalam penelitian ini. Peneliti bertanggung jawab untuk menjelaskan perubahan yang terjadi dalam pengaturan dan bagaimana perubahan ini mempengaruhi cara penelitian mendekati penelitian. Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara terbuka atau wawancara tidak berstruktur hal ini diharapkan penulis dapat secara leluasa menggali data selengkap mungkin dan sedalam mungkin sehingga pemahaman peneliti terhadap fenomena yang ada sesuai dengan pemahaman para pelaku itu sendiri. Jadi peneliti langsung menanyakan permasalah aktivitas fisik kepada narasumber dengan menggunakan wawancara dan observasi. Menurut Sugiyono (2013, hlm. 277) untuk itu pengujian dependability dilakukan dengan cara audit terhadap keseluruhan penelitian.

4) Confirmability

Pengujian konfirmability dapat dikatan objektif bila hasil penelitian telah disepakati banyak orang. Hasil peneliti ini akan di publish keberbagi jurnal sehingga peneliti ini dapat memenuhi pengujian konfirmability. Selain itu peneliti juga agar dapat memenuhi konfirmability dengan melihat berbagai sumber sesuai dengan apa yang didapat di dalam penelitian ini, sehingga penelitian ini data lebih bermakna dan diakui. Kemudian untuk dapat memenuhi konfirmability yang berhubungan dengan triangulasi dengan menggunakan peneliti, peserta, dan pembimbing penelitian

Tingkat Kepercayaan Dalam Nvivo (skripsi, tesis, disertasi)

Tingkat kepercayaan suatu penelitian kualitatif dapat diukur dengan kriteria, yakni credibility, transferability, dependability, dan confirmability. Selain itu untuk lebih meyakinkan tingkat kepercayaan tersebut dengan menggunakan bantuan aplikasi Nvivo 12 Plus for windows. Validitas yang tinggi pula dapat tercapai dengan menggunakan NVivo karena tim penelitian dapat melakukan analisis dengan efektif di NVivo (Bandur, 2019). Lebih lanjut lagi, untuk membantu validitas penelitian kualitatif, NVivo memberi ruang seluas-luasnya untuk tim peneliti untuk bekerja dalam NVivo. Dengan demikian NVivo efektif untuk triangulasi data dan triangulasi peneliti NVivo (Bandur, 2019), sehingga dapat membantu kita dalam menghasilkan suatu penelitian kualitatif yang reliabel (Bandur, 2019).

Observasi (skripsi, tesis, disertasi)

Penggunaan teknik observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan langsung dan nonpartisipasi (incidental). Tujuan penggunaan teknik ini adalah untuk dapat memahami pola pengasuhan yang dilakukan di asrama. Spradley membagi partisipatif atau keterlibatan peneliti menjadi empat yaitu: pertama partisipatif pasif, dimana peneliti datang mengamati tetapi tidak ikut terlibat kegiatan yang diamati, kedua partisipatif moderat, dimana peneliti kadang ikut aktif terlibat kegiatan kadang tidak aktif, ketiga partisipatif aktif, dimana peneliti terlibat aktif dalam kegiatan yang diteliti, dan yang keempat partisipatif lengkap, dimana peneliti sepenuhnya terlibat sebagai orang dalam, sehingga tidak kelihatan sedang melakukan penelitian (Djaelani, 2013, hlm. 85).

Studi Kasus (skripsi, tesis, disertasi)

paparan Lincoln & Guba (Berliana, 2009, hlm. 165) dijelaskan bahwa:

• Studi kasus dapat ditulis dengan tujuan yang berbeda dalam pikiran, termasuk untuk mencatat (mencatat secara temporal dan berurutan, seperti dalam sejarah) untuk disajikan (seperti dalam deskripsi atau untuk memberikan pengalaman perwakilan), untuk mengajar (sebagai bahan pengajaran untuk siswa seperti sebagai studi kasus Harvad Law School, terutama ketika materi terbuka berakhir), dan untuk menguji (menggunakan kasus sebagai percobaan untuk teori dan hipotesis tertentu). Kasing tertentu dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

• Studi kasus dapat ditulis pada tingkat analitik yang berbeda, termasuk tingkat faktual belaka, tingkat interpretatif, dan tingkat evaluatif (menghakimi); setiap level mengandaikan yang pertama.

• Studi kasus akan, tergantung pada tujuan dan tingkat, menuntut tindakan yang berbeda dari penyelidik / penulis, mulai, misalnya, dari pencatatan sederhana untuk kronik faktual hingga pembobotan alternatif kompleks untuk tes evaluatif

. • Studi kasus akan, tergantung pada tujuan dan tingkat, menghasilkan produk yang berbeda, dari daftar sederhana untuk kronik faktual ke penilaian yang rumit untuk tes evaluatif.

Sistem Operator dalam NVivo (skripsi, tesis, disertasi)

sistem operator intersection (perpotongan/irisan coding), union (gabungan coding), difference (misal: coding motivasi yang bukan termasuk coding eksplorasi), dan Matrix intersection (perpotongan coding yang disajikan dalam bentuk matriks). Matrix intersection ini juga berfungsi sebagai salah satu cara untuk visualisasi data. Dengan matriks dan tabel ini dapat dilakukan deskripsi dari suatu ikhtisar dan juga dapat dilakukan analisa komparatif dengan cepat. Hal ini bisa ditunjukkan oleh tabel-tabel yang dihasilkan. Tabel dapat berisi kutipan dari kata-kata informan atau responden penelitian.

Sejarah Nvivo (skripsi, tesis, disertasi)

NVivo merupakan software analisis data kualitatif
yang dikembangkan oleh Qualitative Solution and
Research (QSR) international. QSR sendiri adalah
perusahaan pertama yang mengembangkan
software analisis data kualitatif. NVivo bermula
dari kemunculan software NUD*IST (Nonnumeric
Unstructured Data, Index Searching, and
Theorizing) pada tahun 1981 (Bazeley, 2007).
NUD*IST awalnya diciptakan oleh seorang
programer bernama Tom Richards untuk membantu istrinya, Lyn Richards, yang berprofesi
sebagai sosiolog. Dalam tulisan ini, NVivo yang
dipakai adalah NVivo versi 8 yang dirilis pada
bulan Maret 2008

Analisa model struktural Partial Least Square (PLS) (skripsi, tesis, disertasi)

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan software SmartPLS. Partial
Least Square dapat digunakan untuk memprediksi ada atau tidaknya hubungan yang
terjadi antara variabel laten satu dengan variabel laten lainnya dengan situasi
kompleksitas yang tinggi dan dukungan teori yang rendah. (Ghozali, 2006). Penelitian
ini menggunakan metode Partial Least Square dengan alasan karena penelitian ini
18
menggunakan hasil dari jawaban kuesioner sebagai sumber data. Teknik analisis yang
digunakan ini berguna untuk mengetahui pengaruh retail service quality dengan
kepuasan dan loyalitas pelanggan. Berikut adalah pemaparan prosedur yang dipakai
dalam metode PLS secara umum. (Ghozali, 2006)

PErbedaan PLS dengan Analisis SEM lainnya (skripsi, tesis, disertasi)

Pengolahan dalam penelitian ini menggunakan model Structural Equation
Model (SEM) dengan smartPLS.  Hubungan kausalitas model SEM ini untuk lebih
jelasnya dapat dilihat melalui diagram path. Ada beberapa hal yang membedakan
analisis PLS dengan model analisis SEM yang lain:
a. Data tidak harus berdistribusi normal.
b. Dapat digunakan sampel kecil. Minimal sampel>30 dapat digunakan.
c. PLS selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan teori, dapat juga
digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten.
d. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator
reflektif dan formatif.
e. PLS mampu mengestimasi model yang besar dan kompleks dengan ratusan
variabel laten dan ribuan indicator. (Sanjiwani & Jayanegara, 2015).

Identifikasi Indikator pada SEM-Partial Least Square (SEM-PLS) (skripsi, tesis, disertasi)

a. Indikator Variabel Physical Aspects (Aspek Fisik)
b. Indikator Variabel Reliability (Kehandalan)
c. Indikator Variabel Personal Interaction (Interaksi Pribadi)
d. Indikator Variabel Problem Solving (Pemecahan Masalah)
e. Indikator Variabel Policy (Kebijakan)
SmartPLS bertujuan untuk memprediksi suatu model dan mengkonfirmasi teori
yang telah ada, tetapi bisa juga digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan
antar peubah atau variabel laten. Model analisis jalur semua variabel laten dalam
smartPLS terdiri dari tiga set hubungan:
a. Inner model yang menspesifikasi hubungan antar variabl laten (structural
model). Inner model menggambarkan hubungan antar variabel laten
berdasarkan substantive theory.
b. Outer model yang menspesifikasi hubungan antara variabel laten dengan
indikator atau variabel manifestnya (measurment model). Outer model juga
mendefinisikan bagaimana setiap blok indikator berhubungan dengan variabel
latennya.
c. Weight relation di mana nilai kasus dari variabel laten dapat diestimasi. Tanpa
kehilangan generalisasi, dapat diasumsikan bahwa variabel laten dan indikator
atau manifest variabel diskala zero means dan unit variance sehingga parameter
lokasi dapat dihilangkan dalam model.

Pengertian SEM-PLS (skripsi, tesis, disertasi)

Menurut Ghozali (2006), Partial Least Square (PLS) merupakan orientasi model
persamaan struktural yang digunakan untuk menguji teori atau untuk mengembangkan
teori (tujuan prediksi). (Ghozali, 2006). PLS ini adalah pendekatan alternatif yang
bergeser dari pendekatan Structur Equation Modelling (SEM) berbasis kovarian
(mengukur besarnya hubungan antara dua variabel) menjadi berbasis varian (ukuran
korelasi antara dua variabel acak yang sama). PLS ini sering diterapkan karena tiga
alasan yaitu diatribusi data, ukuran sampel, dan penggunaan indikator formatif.
Dinyatakan oleh Wold dalam Ghozali (2006), metode ini merupakan metode yang
sangat kuat, karena tidak didasarkan oleh banyak asumsi, data tidak harus terdistribusi
dengan normal multivariate (indikator dengan skala kategori sampai rasio dapat
digunakan pada model yang sama) dan untuk bahan sampel tidak harus besar dengan
minimal sampel 30-50 sudah dapat diaplikasikan dan sudah layak untuk dijadikan
sampel penelitian. (Ghozali, 2006). Sedangkan, menurut Wold dalam Hoyle (1999), PLS
merupakan metode analisis yang “powerfull” karena dapat diterapkan pada semua skala
data, tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar. (Ghozali,
2006). Walaupun PLS dapat juga digunakan untuk mengkonfirmasi teori, tetapi dapat
juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara variabel laten.
Selain dapat digunakan untuk mengeksplorasi hubungan antar variabel dengan landasan
teori lemah atau belum ada, PLS juga dapat digunakan untuk pengujian hipotesis. PLS
merupakan pendekatan yang lebih tepat untuk tujuan prediksi. Konstrak terbagi menjadi
dua, yaitu konstrak eksogen dan konstrak endogen. Konstrak eksogen merupakan
konstrak penyebab, konstrak yang tidak dipengaruhi oleh konstrak lainnya. Konstrak
eksogen memberikan efek kepada konstrak lainnya, sedanhkan konstrak endogen
merupakan konstrak yang dijelaskan oleh konstrak eksogen. Konstrak endogen adalah
efek dari konsrrak eksogen. (Yamin dan Kurniawan, 2010

Pengujian Hipotesa Pada SEM (skripsi, tesis, disertasi)

Secara umum metode explanatory research adalah pendekatan metode yang
menggunakan PLS. Hal ini disebabkan pada metode ini terdapat pengujian Hipotesa.
Menguji hipotesis dapat dilihat dari nilai t-statistik dan nilai probabilitas. Untuk
pengujian hipotesis menggunakan nilai statistik maka untuk alpha 5% nilai t-statistik
yang digunakan adalah 1,96. Sehingga kriteria penerimaan/penolakan Hipotesa adalah
Ha diterima dan H0 di tolak ketika t-statistik > 1,96. Untuk menolak/menerima
Hipotesis menggunakan probabilitas maka Ha di terima jika nilai p < 0,05.

Analisa Model Struktural (skripsi, tesis, disertasi)

Analisa pada PLS dilakukan dengan tiga tahap:
1. Analisa outer model
2. Analisa inner model
3. Pengujian Hipotesa.
Analisa outer model dilakukan untuk memastikan bahwa measurement yang digunakan
layak untuk dijadikan pengukuran (valid dan reliabel). Analisa outer model dapat
dilihat dari beberapa indikator:
1. Convergent validity
2. Discriminant validity
3. Unidimensionality
Sedangkan analisa inner model/analisa struktural model dilakukan untuk memastikan
bahwa model struktural yang dibangun robust dan akurat. Evaluasi inner model dapat
dilihat dari beberapa indikator yang meliputi:
1. Koefisien determinasi (R2)
2. Predictive Relevance (

3. Goodness of Fit Index (GoF)
Untuk pengujian Hipotesa dilakukan dengan melihat nilai probabilitas nya dan tstatistik nya. Untuk nilai probabilitas, nilai p-value dengan alpha 5% adalah kurang dari
0,05. Nilai t-tabel untuk alpha 5% adalah 1,96. Sehingga kriteria penerimaan Hipotesa
adalah ketika t-statistik > t-tabel.

Program WarpPLS (skripsi, tesis, disertasi)

Program WarpPLS merupakan salah satu alat yang dikembangkan dalam
melakukan analisis SEM-PLS. WarpPLS dikembangkan Professor Ned Kock dari Texas
A & M International University pada tahun 2010 bersama ScriptWarp Systems di
Loredo, Texas, Amerika Serikat (Latan & Ghozali, 2012). Saat ini WarpPLS memiliki 5
versi dengan WarpPLS versi 5 sebagai program terbaru yang dapat diunduh secara
gratis di situs web Warp PLS di internet.
Beberapa keunggulan program WarpPLS, antara lain:
1. Memiliki kemampuan mengidentifikasi hubungan nonlinier dan linier antar
variabel laten sekaligus serta mampu mengoreksi nilai keofisien jalur.
2. Dapat memberikan ilustrasi hubungan nonlinier berupa scatterplots.
3. Dapat mengestimasi p value untuk koefisien jalur secara otomatis, tanpa
memperhitungkan nilai t.
4. Dapat memberikan beberapa indikator fit model secara otomatis yang berguna
untuk memilih model terbaik.
5. Dapat memberikan nilai effect size yaitu f-squared effect size secara langsung.
6. Dapat memberikan hasil full collinearity test dengan menampilkan nilai
Variance Inflatin Factor (VIF) yang berguna untuk memeriksa ada tidaknya
multikolineritas vertikal dan lateral.
7. Dapat memberikan estimated collinearity sebelum analisis SEM dilakukan yang
bergunan untuk meminimalkan masalah multikolinearitas antar variabel laten.
8. Dapat memberikan hasil nilai pengaruh tidak langsung (indirect effect),
pengaruh total (total effect) beserta p value, standard error dan effect size. Nilainilai tersebut berguna untuk mempermudah pengujian variabel pemediasi
(intervening).
9. Dapat menunjukkan nilai relevansi prediktif berupa nilai Q-squared. Q-squared
bergunan untuk menilai relevansi prediktif blok variabel laten prediktor terhadap
variabel laten kriterion.

Tahapan Analisis SEM-PLS (skripsi, tesis, disertasi)

Tahapan analisis SEM-PLS perlu melalui lima proses tahapan yang saling
berkaitan. Setiap tahapan berpengaruh terhadap proses selanjutnya. Berikut tahapan dalam analisis SEM-PLS:
1. Konseptualisasi Model
Tahap awal yang perlu dilakukan adalah mendefinisikan secara konseptual
konstruk-kontruk yang akan diteliti beserta dimensionalitas dan arah hubungan.
Selain itu perlu menentukan penggunaan antara indikator formatif atau reflektif.
2. Algoritma Metode Analisis
Pogram WarpPLS setidaknya menyediakan empat pilihan algoritma analisis.
Warp 3 PLS Regression umum dipakai karena menyediakan hasil terlengkap
dengan model s-curve dan u-curve. Warp 2 PLS Regression menghasilkan dua
u-curve. Algoritma PLS Regression dan Robust Path Analysis merupakan
metode standar yang tidak menghasilkan s-curve dan u-curve.
3. Metode Resampling
Metode resampling atau penyampelan kembali adalah sebuah pendekatan dalam
menguji model teoritis dengan cara mengolah beberapa subsampel dari sampel
orisinil kemudian mengestimasi model untuk setiap subsampel. Hasil estimasi
dari setiap subsample lalu digabungkan (menggunakan rata-rata) hingga dapat
diperoleh nilai signifikansi statistik (nilai t dan p). Metode resampling
merupakan pendekatan nonparametrik yang tepat untuk analisis SEM-PLS guna
memperoleh nilai signifikansi statistik tanpa harus memenuhi asumsi-asumsi
yang ketat (Sholihin & Ratmono, 2013).
Program WarpPLS menyediakan empat pilihan metode resampling, yaitu
Bootstrapping, Jackknifing, Blinfolding dan Stable. Stable adalah default tanpa
menggunakan resampling. Bootstrapping menggunakan algoritma yang
menciptakan jumlah subsampel (resample) dengan mengambil sampel kemudian
menggantinya (resampling with replacement). Jackknifing bekerja dengan cara
menciptakan jumlah resample yang sama dengan ukuran orisinil dan di setiap
resample terdapat satu baris yang dibuang. Sehingga ukuran sampel setiap
resample sama dengan sampel awal dikurangi satu. Blinfolding bekerja dnegan
cara menciptakan jumlah resample dimana resample mempunyai jumlah tertentu
dengan rata-rata kolom terkait.
Jackknifing merupakan pilihan yang baik untuk mengatasi masalah adanya
outlier dan tetap mengahsilkan koefisien dan nilai p yang reliabel pada peneltian
dengan sampel kurang dari 100. Bootstrapping merupakan pilihan yang baik
dengan sampel di atas 100. Sedangkan blindfolding mempunyai karakter
diantara jackknifing dan bootstrapping. Jumlah resample yang disarankan adalah
100 atau lebih untuk menghasilkan nilai p yang reliabel.
4. Menggambar Diagram Jalur pada Program
5. Evaluasi Model
Evaluasi model merupakan proses menguji ketepatan indikator-indikator pada
masing-masing konstruk (outer model atau analisis model pengukuran) dan
menguji hubungan antar veriabel laten (inner model atau analisis model
struktural).
Analisis model pengukuran menguji multikolinearitas, reliabilitas, validitas
konvergen dan validitas diskriminan.
Uji multikolinearitas adalah uji ada tidaknya kolineraitas vertical dan lateral, uji
multikolinearitas perlu dilakukan guna menghindari misleading result atau
distorsi data. Multikolinearitas adalah kondisi terdapatnya hubungan linier atau
korelasi yang tinggi antara masing-masing variabel independen dalam model
regresi. Multikolinearitas biasanya terjadi ketika sebagian besar variabel yang
digunakan saling terkait dalam suatu model regresi. Oleh karena itu masalah
multikolinearitas tidak terjadi pada regresi linier sederhana yang hanya
melibatkan satu variabel independen. Pada analisisi SEM-PLS, nilai Average
Variance Inflation Factor (AVIF) dan Average full collinearity VIF (AFVIF)
kurang dari 3,3 menujuukan model bebas dari masalah multikolinearitas vertikal
dan lateral (Kock, 2015). Kolinearitas vertikal adalah kolinearitas antar variabel
laten prediktor, sedangkan kolinearitas lateral adalah kolinearitas antara variabel
laten prediktor dan kriterion.
Suatu data dapat dikatakan baik dan tepat dalam mengukur suatu ukuran atau
variabel apabila data memiliki kesahihan ukuran (validity of measure) dan
keandalan ukuran (reliability of measure). Uji reliabilitas merupakan derajar
sejauhmana ukuran menciptakan resopons yang sama sepanjang waktu dan
lintas situasi. Satu pengukuran adalah reliabel jika pengukuran tidak berubah
bila konsep yang diukur kembali konstan (Silalahi, 2009). Pada analisis SEMPLS reliabilitas data diuji menggunakan nilai Cronbach’s Alpha (dengan sayarat
> 0,7) dan Composite Reliability (dengan syarat > 0,7) (Kock, 2015). Model
dengan variabel laten formatif tidak memerlukan uji reliabilitas konstruk,
cronbach’s alpha dan nilai AVE (Latan & Ghozali, 2012).
Validitas atau kesahihan berkaitan dengan ketepatan alat pengukur suatu data.
Validitas adalah sejauh mana perbedaan skor dalam suatu instrumen atautau
kuisioner mencerminkan kebenaran perbedaan antara individu sampel (Silalahi,
30
2009). Validitas dibagi menjadi dua, yaitu validitas internal dan eksternal. Uji
validitas yang dilakukan dalam SEM adalah validitas internal. Validitas internal
menunjukkan kemampuan dari instrument penelitian untuk mengukur apa yang
seharusnya diukur dari suatu konsep (Latan & Ghozali, 2012). Validitas
diskriminan diuji melalui nilai cross loading (dengan syarat >0,7) dan
perbandingan nilai akar kuadrat Average Variance Extracted (AVE) dengan
nilai korelasi antar konstruk laten (dengan syarat akar kuadrat AVE > korelasi
antar knstruk laten).
Sedangkan validitas konvergen diuji melalui nilai loading factor (dengan syarat
> 0,7) dan nilai AVE (dengan syarat > 0,5).
Anlisis model struktural merupakan evalusi hubungan antar variabel laten dalam
model persamaan. Analisis model pengukuran dilakukan dengan menguji nilai
Relevansi prediktif, Effect sizes atau ukuran efek, dan Koefisien jalur beserta p
value.
Relevansi prediktif menunjukkan hubungan antara variabel criterion dan
prediktif. Relevansi prediktif ditunjukkan oleh koefisien Q-squared atau yang
juga dikenal sebagai Stone-Geisser Q-squared. Relevansi prediktif yang relevan
memiliki estimasi koefisien Q-squared lebih besar dari nol ( > 0).
Hasil estimasi effect size menunjukkan kekuatan hubungan atau kontribusi antar
variabel eksogen terhadap variabel endogen (Abdillah & Hartono, 2015).
Sedangkan koefisien jalur menunjukkan sifat hubungan. Nilai koefisien jalur
positif menadakan semakin tinggi nilai variabel prediktif diikuti peningkatan
nilai variabel kriterionnya. Dan sebaliknya. Hubungan yang signifikan
ditunjukkan dengan p value kurang dari 0,05. Jika koefisien jalur lebih besar
dari 0,5, hubungan dianggap tidak signifikan

Teori struktural Dalam SEM PLS (skripsi, tesis, disertasi)

Teori yang menjelaskan hubungan setiap variabel laten yang saling terkait
disebut dengan teori struktural. Penentuan urutan dari variabel latennya
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman peneliti. Apabila variabel laten
hanya berfungsi selaku variabel independen maka, variabel itu disebut selaku
variabel laten eksogen, dan sebaliknya apabila variabel laten hanya berfungsi
selaku variabel dependen, maka variabel itu disebut selaku variabel laten
endogen

Teori pengukuran dalam SEM-PLS (skripsi, tesis, disertasi)

Teori pengukuran merupakan teori yang menjelaskan bagaimana konstruk
diukur. Terdapat dua cara dalam pengukuran konstruk yaitu, formatif dan
reflektif.
a. Pengukuran formatif
Suatu indikator yang membentuk, menciptakan, atau mempengaruhi suatu
konstruk merupakan pengukuran formatif. Setiap indikator tidak
mempengaruhi satu sama lain maka, apabila suatu indikator dieliminasi
tidak akan mengubah peranan indikator lainnya. Perubahan konsepsi dari
konstruk dapat mengalami perubahan akibat dari mengeliminasi satu
indikator. Pengukuran formatif ditampilkan dengan anak panah yang
menunjuk dari indikator ke konstruk seperti halnya pada Gambar 2.2.
b. Pengukuran reflektif
Indikator merupakan dampak dari suatu konstruk merupakan pengukuran
reflektif. Indikator yang sama dan berkaitan dengan konstruk harus
memiliki variansi bersama atau kovarians maka, perubahan satu indikator
mempengaruhi peranan indikator lainnya. Ketika satu indikator dieliminasi
maka, konsepsi dari konstruk tidak akan berubah. Pengukuran reflektif
ditampilkan dengan arah panah menunjuk ke indikator dari konstruk

Elemen Dalam PLS-SEM

Dalam suatu diagram jalur PLS-SEM terdiri atas dua elemen, yaitu:
1. Model struktural atau inner model
Elemen ini ditampilkan dalam bentuk oval yang mewakili konstruk dan
dihubungkan antar konstruk dengan panah . Model struktural ditampilkan
dalam Gambar 2.2.
2. Model pengukuran atau outer model
Elemen ini ditampilkan dalam bentuk persegi panjang yang mewakili variabel
indikator dan dihubungkan antar konstruk dengan panah. Contoh dari model
pengukuran ditunjukkan pada Gambar 2.2. Model pengukuran terbagi menjadi
dua berdasarkan sifat variabel latennya yaitu, model pengukuran dengan
variabel eksogen dan model pengukuran dengan variabel endogen.
Selain kedua elemen yang disebut di atas, berikut istilah yang perlu dipahami dalam
suatu diagram jalur PLS-SEM:
1. Konstruk atau Variabel laten
Variabel dengan pengukuran tidak langsung dan abstrak disebut konstruk.
Digambarkan dengan bentuk oval seperti Y1-4 pada Gambar 2.2.
2. Indikator atau variabel manifes
Manifestasi yang telah disepakati dan dapat diukur secara langsung disebut
sebagai indikator berisi data yang akan diolah. Pada Gambar 2.2. indikator
ditunjukkan sebagai X1-10.
3. Panah berkepala tunggal
Suatu hubungan terarah ditampilkan dalam bentuk panah berkepala tunggal.
Hubungan tersebut dianggap bersifat prediktif. Apabila hubungan tersebut
didukung dengan dasar teoritis yang kuat maka, diartikan sebagai hubungan
kausal.
4. Measurement and Structural Error
Dalam suatu pengukuran PLS-SEM dapat terjadi kesalahan pengukuran
sehingga, model pengukuran memasukkan kesalahan pengukuran atau
measurement error untuk mewakili variansi yang dijelaskan dalam suatu
model jalur yang diperkirakan. Pada Gambar 2.2. kesalahan pengukuran
ditunjukkan sebagai e7
, e8
, dan e9
. Selain kesalahan pengukuran, terdapat juga
kesalahan struktural yang dikaitkan dengan variabel laten endogen yaitu, Z3
dan Z4 pada Gambar 2.2. Kesalahan strutural atau structural error dapat terjadi
karena prediksi konstruk dependen secara tidak sempurna. Konstruk dependen
lainnya hanya dijelaskan oleh konstruk independen dalam suatu model
struktural yang tidak memiliki kesalahan. Suatu hubungan antara konstruk dan
indikator yang tidak memiliki kesalahan karena dianggap konstruk dan
indikator setara disebut dengan konstruk item tunggal

Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM) (skripsi, tesis, disertasi)

Dalam memahami data dan hubungan antar data, pada awalnya penelitian
menggunakan analisis bivariat dan analisis univariat. Analisis univariat adalah
suatu analisis yang melibatkan satu variabel, sedangkan analisis bivariat melibatkan
dua variabel yang diduga berkorelasi dalam analisisnya. Seiring berkembangnya
waktu, penelitian dilakukan dengan analisis multivariat yang melibatkan lebih dari
dua variabel sebagai penerapan metode statistik (Hair, et al., 2017).
Pendekatan berbasis regresi sering digunakan dalam penelitian dengan analisis
mulitivariat. Hal tersebut sering disebut sebagai teknik generasi pertama. Seiring
berkembangnya waktu, digunakan teknik generasi kedua yang disebut dengan
pemodelan persamaan struktural atau biasa dikenal dengan Structural Equation
Modeling (SEM). Penelitian yang dilakukan dapat melibatkan variabel yang tidak
dapat diamati dan diukur secara tidak langsung dengan SEM. Terdapat dua jenis
analisis SEM yaitu, Partial Least Square SEM (PLS-SEM) dan Covariance-Based
SEM (CB-SEM) (Hair, et al., 2017).

Regresi Komponen Utama (skripsi, tesis, disertasi)

Regresi komponen utama merupakan metode yang cukup baik untuk memperoleh koefisien
penduga pada persamaan regresi yang mempunyai masalah multikolinearitas. Variabel bebas
pada regresi komponen utama berupa hasil kombinasi linear dari variabel asal Z, yang disebut
sebagai komponen utama. Koefisien penduga dari metode ini diperoleh melalui penyusutan
dimensi komponen utama, dimana subset komponen utama yang dipilih harus tetap
mempertahankan keragaman yang sebesar-besarnya. Dimana Z adalah hasil normal baku dari
variabel X. Adapun hasil normal baku yang dimaksud adalah dengan mengurangkan setiap
variabel bebas asal Xj dengan rata-rata dan dibagi dengan simpangan baku

Model Struktural (Inner Model) sebagai Uji Hipotesis

Model struktural ini menunjukkan bagaimana konstruk berhubungan satu sama lain berdasarkan teori-teori yang sudah dikembangkan sebelumnya atau berdasarkan pada teori yang cukup mapan.
Model struktual akan menggambarkan hubungan-hubungan yang ada diantara konstruk atau variabel laten. Dalam SEM-PLS kehandalan dari sifat hubungan yang dianalisis dapat
mengestimasi hubungan yang non-linier dibandingkan dengan metode lain yang hanya sebatas hubungan linier. Pengujian model struktural atau hipotesis dengan menggunakan metode SEM-PLS dilakukan dengan bantuan alat analisis Warp PLS 6.0.
Untuk mengestimasi lebih lanjut model struktural, peneliti mengacu pada beberapa penilaian-penilaian, yakni: koefisien jalur (β) dan p-value, nilai koefisien determinasi (Adjusted R-Squared), relevansi prediktif (Q-Squared), Effect size untuk masing-masing jalur, eksplorasi mekanisme mediasi dengan menggunakan (Baron & Kenny, 1986) serta Variance Extracted For (VAF) dari (Hair dkk, 2013), dan . Adapun estimasi penilaian yang diacu, sebagai berikut:
1. Koefisien jalur (β) dan p-value
Pengujian hipotesis dilakukan dengan melihat nilai koefisien jalur (β) dan nilai signifikansi (p-value). Jika nilai koefisien jalur bernilai positif hal ini menandakan variabel eksogen berhubungan positif terhadap variabel endogennya, sedangkan jika nilai koefisien jalur bersifat negatif maka variabel eksogen berhubungan negatif dengan variabel endogennya. Untuk mengetahui apakah sautu hubungan itu signifikan maka melihat dari nilai P-value yang menunjukkan apakah hipotesis terdukung atau tidak. Hipotesis terdukung apabila nilai P-value <0.1 (signifikan pada tingkat 10%), P-value <0.05 (signifikan pada tingkat 5%), P-value <0.01 (signifikan pada tingkat 1%) (Hair dkk, 2014).
2. Nilai koefisien determinasi (Adjusted r-squared)
Nilai koefisien determinasi menggambarkan seberapa besar keseluruhan variabel laten eksogen dapat memengaruhi variabel laten endogen. Kock (2018) menjelaskan jika koefisien determinasi bernilai 0,75; 0,50 dan 0,25 maka variabel laten endogen dalam model struktural dapat diinterpretasikan secara berturut-turut sebagai kuat, moderat dan lemah.
3. Relevansi prediktif (Q-Squared)
Relevansi prediktif digunakan untuk penilaian validitas prediktif atau relevansi dari sekumpulan variabel laten prediktor pada variabel kriterion (Sholihin & Ratmono, 2013). Model dengan validitas prediktif harus mempunyai nilai Q-Squared lebih besar dari nol, hal ini mengindikasikan bahwa variabel laten
eksogen mempunyai relevansi prediktif pada variabel laten endogen yang dipengaruhi kriterion (Sholihin & Ratmono, 2013).
4. Effect Size untuk koefisien jalur
Effect size dihitung sebagai nilai absolut kontribusi individual setiap variabel laten prediktor pada nilai R-squared variabel laten kriterion. Kock (2018); Hair dkk, (2014) mengelompokkan Effect size kedalam tiga kategori yaitu lemah dengan spesifikasi nilai (0,2) selanjutnya medium dengan nilai (0,15) dan kategori kuat dengaan nilai (0,35). Nilai Effect size di bawah 0,02 dapat diartikan bahwa pengaruh variabel laten prediktor sangat lemah dari pandangan praktis (Practical point of view) meskipun variabel tersebut mempunyai nilai p yang signifikan (Sholihin & Ratmono 2013).

Model pengukuran (Outer Model) (skripsi, tesis, disertasi)

Dalam sebuah model pengukuran yang lengkap terdiri atas hubungan pengukuran antara indikator dan konstruk, hubungan korelasional diantara konstruk dan istilah Error untuk tiap indikator. Model pengukuran merupakan pengukuran dengan model reflektif, karena yang diukur adalah indikator-indikator penelitian. Indikator-indikator setiap variabel merefleksikan variabel laten yang diukur. Model pengukuran dalam SEM-PLS berkenaan dengan pemerikasaan seberapa valid dan reliabel instrumen penelitian, dalam hal ini SEM-PLS menggunakan pendekatan dengan istilah Outer Model untuk pengukuran variabelnya. SEM-PLS tidak digunakan untuk menghasilkan suatu model, namun untuk mengonfirmasi suatu model atau teori. Hubungan sebab-akibat diantara variabel tidak ditentukan oleh SEM, namun di bangun oleh teori (Hair, dkk 2014). Pengujian model pengukuran (Outer Model), diantaranya sebagai berikut:
1) Uji Validitas
Validitas konstruk mengukur sampai seberapa jauh ukran indikator mampu merefleksikan konstruk laten teoritisnya (Cooper & Schindler, 2014). Uji validitas dapat dilakukan dengan mengacu pada konsep-konsep pengukuran yang digunakan dalam penelitian lain atau penelitian sebelumnya. Pengujian seperti validitas ini memberikan bukti bahwa butir-
butir pengukuran yang digunakan memenuhi kriteria validitas konstruk dalam artian dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.
Uji validitas ini bagaimana pun juga, sangat penting dilakukan untuk memastikan apakah pernyataan yang digunakan didalam kuesioner benar-benar mampu mengukur objek yang diteliti, setelah indikator yang digunakan dinyatakan valid, maka kuesioner layak untuk disebarkan ke responden. Adapun uji validitas yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari dua pengujian yakni validitas wajah dan validitas konstruk, Selanjutnya Hair dkk, (2014) membagi validitas konstruk menjadi dua kelompok yaitu validitas konvergen dan diskriminan.
Validitas konvergen merupakan tipe dari validitas alat ukur yang menggunakan banyak indikator yang didasarkan pada logika bahwa indikator-indikator yang ada di dalam satu konstruk yang sama akan memiliki pergerakan yang mirip dan mengelompok (Neuman, 2016).
Konvergen konstruk dikatakan valid apabila nilai standard dari Loading sekurang-kurangnya antara 0.4 dan lebih baik jika ≥ 0,7. Indikator dengan nilai Loading antara ≥ 0,4 – ≤ 0,7 harus tetap dipertimbangkan untuk diperhatikan, akan tetapi indikator tersebut diperbolehkan dihapus jika penghapusan indikator dapat meningkatkan nilai perhitungan dari Average Variance Extracted (AVE) dan Composite reliability (CR). Syarat terpenuhinya validitas konvergen selanjutnya adalah
nilai p signifikan pada setiap indikatornya harus ≤ 0,05. Validitas konvergen juga dapat dinyatakan terpenuhi apabila nilai loading ke konstruk lain (Cross-loadings) bernilai lebih rendah dari pada ke konstruknya sendiri (Hair dkk, 2014).
Validitas diskriminan, uji ini didasarkan pada pemikiran logika bahwa indikator dari suatu konstruk berbeda (Driverge) dengan konstruk lain. Pengujian dapat dilakukan dengan melihat nilai Cross loading dari masing-masing konstruk. Nilai Cross loading menunjukkan besarnya korelasi antara setiap konstruk dengan indikatornya dan indikator dari konstruk blok lainnya. Sebuah konstruk mempunyai validitas diskriminan apabila indikator konstruk tersebut mempunyai nilai Loading paling tinggi pada kelompok konstruknya sendiri (Hair, dkk 2014). Evaluasi selanjutnya, yaitu dengan membandingkan nilai akar AVE dengan korelasi antar konstruk, pengujian ini juga sering disebut Fornell-Lacker Criterion. Konstruk akan dikatakan memenuhi validitas diskriminan ketika nilai dari akar kuadrat AVE konstruk lebih besar dari nilai korelasi terbesar antar konstruk tersebut dengan konstruk lainnya.
2) Uji reliabilitas
Reliabilitas suatu pengukuran mencerminkan apakah suatu pengukuran dapat terbebas dari kesalahn, sehingga memberikan hasil pengukuran yang konsisten pada kondisi yang berbeda-beda dari masing-masing butir dalam instrumen. Reliabilitas juga dapat diartikan sebagai keandalan atau konsistensi yang menunjukkan bahwa pengukuran
atribut yang sama diulang akan memberikan hasil kondisi yang identik atau sangat mirip (Neuman, 2016). Reliabilitas juga menekankan pada tingkat akurasi dan presisi dari prosedur pengukuran (Cooper & Schindler, 2014). Dalam hal ini, reliabilitas instrumen diukur dengan Composite Reliability dan Cronbach Alpha, yang mencerminkan konsistensi internal alat ukur (Hair, dkk 2014; Hair, dkk 2013) aturan yang umum dipakai adalah bahwa Composite Reliability ≥ 0.7 dan dengan Cronbach’s alpha ≥ 0.70. Meskipun demikian, sejumlah penulis lain mengatakan bahwa angka Cronbach’s alpha ≥ 0.60 masih dapat diterima (Hair, dkk 2014). Menurut Chin (2010); Kock (2018) menyatakan bahwa Cronbach’s alpha cenderung meng-underestimate dalam pengukuran reliabilitas dan dianggap terlalu sensitif terhadap jumlah indikator yang digunakan, sedangkan Composite reliability dapat dikatakan sebagai Closer approximation dengan asumsi estimasi parameter lebih akurat.

Kualitas kesesuaian model dan nilai p (GOF, Multikolieniritas, dan R-Squared) (skripsi, tesis, disertasi)

Untuk menguji apakah data sudah sesuai dengan model dapat dilihat dari hasil Output General Result pada alat analisis WarpPLS 6.0. model jika sesuai atau didukung dengan data (Fit), dapat disimpulkan bahwa model dapat merepresentasikan dengan baik fenomena yang terjadi atau basis konsep toeri yang telah dibangun. Berikut ini evaluasi dari hasil pengujian yang dapat mengkonfirmasi hal tersebut (Kock, 2018):
1) Melihat output nilai untuk ketiga indikator fit yaitu Average Path Coefficient (APC), Average R-squared (ARS) dan Average adjusted R-squared (AARS). Model dikatakan terpenuhi jika nilai P untuk APC, ARS dan AARS ≤ 0,05.
2) Melihat output nilai Average variance inflation factor (AVIF) dan Average full collinearity VIF (AFVIF) sebagai indikator multikolinearitas harus < 5 dan idealnya ≤ 3,3 masih bisa diterima dengan artian bahwa tidak terdapat kolinieritas vertikal maupun lateral.
3) Melihat nilai Tenenhaus GoF (GoF) memiliki nilai lemah yakni ≥ 0,1 selanjutnya medium memiliki nilai ≥ 0,25 dan kuat memiliki nilai ≥ 0,36.
Interprestasi dan kualitas dari model fit ini tergantung dari tujuan analisis SEM, jika tujuannya hanya menguji hipotesis hubungan antarvariabel laten (Strictly confirmatory) maka indikator model fit menjadi kurang penting. Namun jika tujuannya menentukan model terbaik dari beberapa model yang berbeda (Competing models) maka indeks fit menjadi sangat penting (Kock, 2018). Bagaimana pun juga, jika ingin
membandingkan model terbaik (Competing models), maka urutan indikatornya mulai dari yang terpenting ialah: (1) ARS, (2) AVIF, (3) APC (Kock, 2011).

Identifikasi Outliers dan Missing Value Pada SEM (skripsi, tesis, disertasi)

Outliers adalah hasil-hasil observasi yang menunjukkan nilai-nilai esktrim dalam distribusinya. Outlier terjadi karena adanya kombinasi unik dan nilai-nilai yang dihasilkan dari observasi tersebut sangat berbeda dari observasi-observasi lainnya (Hair dkk, 2014). Menurut Hair dkk, (2014) untuk sampel besar (≥80 observasi), pedoman evaluasi Outliers adalah bahwa nilai ambang batas dari Z-score berada pada rentang ± 3 – 4 dan jika sampel ≤ 80 observasi pedoman evaluasi Outliers adalah nilai ambang batas dari Z-score berada pada rentang ± 2,5 atau lebih besar. Akan tetapi Kock (2018) dalam alat analisisnya (WARP PLS 6.0) menggunakan ambang batas Z-score pada rentang ± 4 atau lebih dianggap sebagai Outliers. Bagaimana pun juga apabila terdapat Outliers baik univariat maupun multivariat, maka observasi-observasi yang bersangkutan harus dikeluarkan dari analisis selanjutnya. Setelah melakukan evaluasi Outliers maka asumsi selanjutnya adalah identifikasi data yang missing value. Menurut (Hair dkk, 2014) pada SEM-PLS aturan baku yang diberikan untuk batas toleransi data Missing Value adalah maksimum 5% dari jumlah per indikator.

Jenis Analisis SEM (skripsi, tesis, disertasi)

Pada perkembangannya SEM dibagi dalam 2 (dua) jenis, yaitu: Covariance –based SEM (CB-SEM) dan Variance-based SEM atau Partial Least Squares (SEM-PLS). Menurut Hair, Hult, Ringle, dan Sarstedt (2014), terdapat beberapa alasan dalam penelitian yang menggunakan jenis SEM-PLS sebagai metode pemilihan analisis data yang tepat, yaitu:
1. Metode SEM-PLS akan sangat membantu bagi penelitian yang sifatnya ingin mencari hubungan eksploratoris dalam situasi yang belum berkembang (Less developed)dan perluasan teori yang sudah ada.
2. SEM-PLS mempunyai prasyarat jumlah sampel yang lebih longgar dari SEM-CB yaitu hanya 10 kali dari jumlah jalur
dalam model penelitian. Selain itu SEM-PLS dapat mencapai stastistical power yang cukup tinggi dengan jumlah sampel yang relatif kecil (35-50 objek). Walaupun dengan data yang besar CB-SEM dan SEM-PLS hasilnya relatif sama.

karakteristik dari SEM (skripsi, tesis, disertasi)

Adapun karakteristik dari SEM sebagai berikut (Hair dkk, 2014) :
a. Dapat mengestimasi hubungan timbal balik antar variabel atau manifest.
b. Kemampuannya untuk menjelaskan hubungan dari variabel yang abstrak (laten).
c. Dapat mengestimasi nilai error dari masing-masing manifest dan variabel latennya.
d. Model dalam SEM adalah representasi dari basis konsep teori.

Pengertian SEM (skripsi, tesis, disertasi)

Metode SEM ini merupakan salah satu jenis analisis multivariat dalam ilmu sosial
yang mencakup Multiple Regression dan analisis jalur dengan Path Analysis (factor loading) yang menjelaskan hubungan variabel laten dan manifestnya dalam sebuah model yang rumit, yang dapat diestimasi/diuji secara bersamaan (simlutan) (Kock, 2018;Hair,Black, & Anderson, 2014)

Pengaruh Religiusitas terhadap minat perilaku (Behavior intention) (skripsi, tesis, disertasi)

Okumus dan Genc (2013) menemukan bahwa faktor religiusitas merupakan faktor utama yang menjadi pertimbangan nasabah ketika memilih bank syariah di Turki. Faktor kedua yang menjadi pertimbangan adalah bank tersebut interest-free atau bebas dari bunga. Bahkan keuntungan menajdi pertimbangan paling akhir ketika memilih bank syariah. Berbagai penelitian lainnya juga menyimpulkan bahwa agama merupakan motivasi utama dan faktor signifikan bagi nasabah muslim telah dilakukan oleh okumus (2005), Hassan (2007), dan Muhlis (2011).

Pengaruh sosial terhadap sikap (attitude) dan minat perilaku (behavior intention) (skripsi, tesis, disertasi)

Pengaruh sosial yang dicetuskan oleh Kelman‟s (1958) yang disebut pendekatan psikologi (Psychological Attachment/PA) yang berisi proses pengaruh sosial terhadap minat perilaku dan sikap. Kelman (1958) membedakan 3 proses pengaruh sosial yang mempengaruhi individu yaitu: internalisasi (internalization), identifikasi (identification), dan kepatuhan (Compliance). Pengaruh sosial mempunyai suatu peran penting dalam menentukan perilaku pengguna terhadap penerimaan dan penggunaan TI baru (Malhotra & Galletta, 1999). PA secara langsung tidak mempunyai pengaruh terhadap minat perilaku. Namun secara tidak langsung pengaruh sosial berpengaruh terhadap minat perilaku dan sikap, dalam kaitannya dengan internalisasi dan identifikasi.

Pengaruh sikap (attitude) terhadap minat perilaku (behavior intention) (skripsi, tesis, disertasi)

Sikap (attitude) merupakan cerminan dari perasaan suka atau tidak suka untuk menggunakan suatu sistem informasi teknologi (Taylor & Todd, 1995). Sikap juga merupakan perasaan positif atau negatif dari seseorang jika harus melakukan perilaku yang akan ditentukan (Davis, 1989). Sikap (attitude) didefinisikan juga sebagai perasaan emosional, evaluasi, dan kecenderungan tindakan
yang menguntungkan ataupun tidak menguntungkan dari seseorang terhadap suatu objek/layanan (Rangkuti, 2013).
Baraghani (2008) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sikap (attitude) dan Minat perilaku (Behavior intention). Andrew Gunawan (2014) juga menunjukkan bahwa sikap berpengaruh positif secara langsung dengan minat untuk menggunakan mobile banking

Pengaruh persepsi kemudahan penggunaan (Perceived Ease of Use) terhadap persepsi manfaat (Perceived Usefulness) dan sikap (Attitude Towars Using) (skripsi, tesis, disertasi)

Persepsi kemudahan penggunaan (Perceived Ease of Use) merupakan suatu tingkat kepercayaan seseorang bahwa TI dapat dengan mudah dipahami. Dimana konsep ini mencakup kejelasan tujuan penggunaan TI dan kemudahan penggunaan sistem untuk tujuan sesuai dengan keinginan pengguna (Davis, 1989). Beberapa indikator persepsi kemudahan penggunaan, antara lain ialah: mudah untuk dipelajari (ease to learn), mudah untuk digunakana (easy to use), jelas dan mudah dipahami (clear and understandable) dan menambah keterampilan para pengguna (become skillful).
Berdasarkan uraian di atas, penerimaan suatu TI dipengaruhi oleh persepsi kemudahan penggunaan TI tersebut. Hal ini disebabkan karena pengguna atau nasabah akan bersikap terbuka
terhadap sesuatu yang sesuai dengan apa yang dapat dipahami dengan mudah. Di sampimg itu, TI yang dikatakan mudah digunakan oleh pengguna, maka TI tersebut juga akan dianggap bermanfaat bagi penggunanya, sehingga tingkat kemudahan penggunaan dapat mempengaruhi persepsi manfaat.
Dan persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) memiliki hubungan signifikan terhadap sikap (attitude) (Davis, 1989). Told dan Taylor (1995) juga menemukan bahwa ada hubungan positif antara persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) terhadap sikap (attitude).

Pengaruh persepsi manfaat (perceived usefulness) terhadap sikap (attitude toward using) (skripsi, tesis, disertasi)

Persepsi manfaat (perceived usefulness) didefinisikan sebagai suatu tingkat kepercayaan seseorang bahwa penggunaan suatu teknologi informasi (TI) tertentu akan meningkatkan prestasi kerja orang tesebut. Dengan kata lain, sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa penggunaan suatu teknologi adalah penting karena akan meningkatkan kinerjanya dan produktivitasnya dalam bekerja. Bila suau teknologi dianggap memiliki manfaat maka suatu teknologi akan digunakan dan sebaliknya bila diangggap tidak memberikan manfaat maka akan ditinggalkan (Davis, 1989).
Todd dan Taylor (1995) menemukan bahwa ada hubungan signifikan antara persepsi manfaat (perceived usefulness) dengan sikap (attitude) untuk menggunakan suatu sistem informasi
teknologi. Sikap (attitude) memainkan peranan penting dalam pengadopsian teknologi komputer (Davis, dkk 1989). Nugraha (2009) menunjukkan bahwa persepsi manfaat (perceived usefulness) memiliki pengaruh yang positif terhadap sikap (attitude).

Mobile Banking (skripsi, tesis, disertasi)

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.19/POJK/03/2014 (2014) disampaikan bahwa Mobile banking adalah layanan perbankan yang dapat diakses langsung melalui
ponsel seperti SMS banking, namun memiliki tingkat kecanggihan yang lebih tinggi. Beberapa Bank bekerja sama dengan operator seluler, sehingga dalam SIM Card (kartu chips seluler) Global for Mobile communication (GSM) sudah dipasangkan program khusus untuk bisa melakukan transaksi perbankan. Dengan adanya mobile banking ini maka proses transaksi konsumen akan lebih mudah dibandingkan dengan SMS Banking karena konsumen tidak perlu menghafal format pesan SMS yang akan dikirimkan ke Bank dan nomor tujuannya. Adapun beberapa jenis transaksi mobile banking, antara lain:
a. Transfer dana
b. Informasi saldo
c. Mutasi rekening
d. Informasi nilai tukar
e. Pembayaran (kartu kredit, PLN, telepon, handphone, listrik, dan asuransi);
f. Pembelian (pulsa isi ulang).
Mobile banking merupakan salah satu hasil pengembangan teknologi mobile yang digunakan dalam domain komersial (Amanullah, 2004). Mobile banking ini mengombinasikan teknologi informasi dan aplikasi bisnis secara bersama. Dengan mobile banking, nasabah dapat menggunakannya untuk mendapatkan layanan perbankan 24 jam sehari tanpa harus mendatangi kantor cabang bank untuk transksi personal.
Mobile banking juga sebagai salah satu sebuah fasilitas dari bank dalam era digitalisasi dan komunikasi. Layanan yang terdapat
pada mobile banking umumnya meliputi pembayarannya. transfer, history, dan lain sebagainya. Dengan adanya layanan mobile banking nasabah dapat lebih mudah menjalankan aktivitas perbankannya tanpa batasan ruang dan waktu (Kurniawati, wahyu, & Alfi, 2017).
Mobile banking adalah sebuah layanan yang disediakan oleh bank untuk melakukan berbagai transaksi perbankan melalui berbagai fitur yang ada pada ponsel pintar (smartphone). Mobile banking juga merupakan pengembangan dari fitur M-banking yang mungkin juga sudah tidak asing. Perbedaannya adalah aplikasi M-banking menempel pada simcard, sedangkan aplikasi mobile banking justru ter-install pada ponsel. Perubahan yang lebih menarik dan user friendly (Fransiska, 2018).
Adapun fiture mobile banking dapat diakses melalui tiga cara yaitu, sebagai berikut:
1. Menggunakan aplikasi dengan cara mengunduh aplikasi layanan mobile banking di app-store yang tersedia pada smartphone.
2. Mengakses melalui menu provider. Namun tidak semua provider memiliki layanan mobile banking ini, hanya ada beberapa provider yang menyediakan layanan mobile banking. Salah satu contohnya adalah mobile banking BCA yang dapat diakses melalui provider Indosat, XL, dan Telkomsel.
3. Beberapa mobile banking terhubung dengan internet banking, sehingga untuk dapat melakukan aktivitasi harus terlebih dahulu mengaktivasi akun di internet banking.
Transaksi mobile banking dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Keuntungan yang diperoleh nasabah selain menghemat waktu, nasabah juga dapat mengontrol rekening mereka dan melakukan transaksi perbankan hanya dengan menggunakan ponsel. Jasa mobile banking memiliki produk seperti sms-banking, mobile phone dan sebagainya.

Definisi Teknologi Informasi (skripsi, tesis, disertasi)

Teknologi informasi (TI) didefinisikan sebagai suatu teknologi yang menghasilkan, memanipulasi, menyimpan, mengomunikasikan atau menyampaikan informasi (M.Suyanto, 2005). TI selain sebagai teknologi informasi komputer (hardware dan software) untuk pemrosesan dan penyimpan informasi, juga berguna sebagai teknologi komunikasi untuk penyebaran informasi. Teknologi komputer digunakan untuk menerima input, menjalankan proses, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan menginginkan output serta membantu pengendalian sistem secara keseluruhan. TI juga digunakan untuk menghasilkan output yang berguna bagi pemakai, dapat dikomunikasikan dengan pemakai lain ke dalam maupun ke luar organisasi melalui jaringan. Local Area Network (LAN), Wide Area Network (WAN) maupun internet, sebagai teknologi komputer dan komunikasi (Abdul, 2004).

Technology Acceptance Model (TAM) (skripsi, tesis, disertasi)

TAM merupakan model yang diperkenalkan oleh Fred Davis pada tahun 1986 dengan disertasinya yang berjudul “A Technology Acceptance Model for Empirically Testing New End-User Information System: Theory and Results” di Sloan School of Management, Massachusetts Institute of Technology. Disertasi ini
selanjutnya dipublikasikan dalam karya ilmiah yang berjudul “Perceived Usefulness, Percieved Ease of Use, and User Acceptance of Information Technology” pada tahun 1989 (Davis, dkk 1989).
Dalam memformulasikan TAM, Davis menggunakan TRA sebagai grand theory-nya, namun tidak mengakomodasi semua komponen TRA. Davis hanya memanfaatkan komponen „attitude‟ saja, sedangkan normative belief dan subjective norms tidak digunakannya (Davis, dkk 1989) Model davis diadopsi dari model TRA ini berasumsi bahwa sesorang mengadopsi suatu teknologi pada umumnya ditentukan oleh proses kognitif dan bertujuan untuk memaksimalkan kegunaan teknologi itu sendiri. Dengan kata lain, kunci utama penerimaan teknologi informasi oleh penggunanya adalah evaluasi kegunaan
teknologi tersebut. Selanjutnya Davis merusmuskan dua variabel utama dalam TAM, yaitu persepsi manfaat (peceived usefulness) dan persepsi kemudahan pengguna (percieved ease of use). Kedua variabel ini dapat menjelaskan aspek perilaku (behavior aspect) pengguna (Davis, dkk 1989). Dengan demikian, model TAM dapat menjelaskan bahwa persepsi pengguna akan menentukkan sikapnya dalam kemanfaatan penguna TI. Model ini secara lebih jelas menggambarkan bahwa penerimaan dan pengguna TI dipengaruhi oleh persepsi manfaat dan persepsi kemudahan pengguna. Di samping itu, Davis juga memberikan kerangka dasar untuk menelusur pengaruh faktor eksternal terhadap kedua variabel tersebut.
Perceived usefulness didefinisikan sebagai “the degree to which a person believe that using a particular system would enhance his or her job performance” (Davis, 1989). Definisi ini menggambarkan bahwa persepsi manfaat adalah suatu tingkat kepercayaan seseorang bahwa penggunaan suatu teknologi tertentu akan meningkatkan prestasi kerja orang tersebut. Konsep ini menggambarkan manfaat sistem bagi pemakainya yang berkaitan dengan produktivitas, kinerja tugas, efektivitas, pentingnya suatu tugas dan usefulness (Rini, 2007).
Indikator kemanfaatan tersebut, diantaranya adalah pekerjaan lebih mudah (makes job easier), bermanfaat (useful), meningkatkan produktivitas (increase productivity), mendorong efektivitas (enchance effectiveness) meningkatkan kinerja pekerjaan (improve job performance) (Davis, 1989).
Dengan definisi dan indikator-indikator di atas dapat diartikan bahwa kemanfaatan dari penggunaan TI dapat meningkatkan kinerja dan prestasi orang yang menggunakannya. Kemanfaatan dalam TI merupakan manfaat yang diperoleh atau diharapkan oleh para penguna dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Karenanya, tingkat kemafaatan TI mempengaruhi sikap para pengguna dalam mengadopsi teknolog tersebut.
Sementara itu, persepsi kemudahan pengguna (perceived ease of use) didefinisikan sebagai “the degree to which a person believe that using a particular system would be free of effort” (Davis, 1989). Definisi ini menggambarkan bahwa persepsi kemudahan penggunaan adalah suatu tingkat kepercayaan seseorang bahwa TI dapat dengan mudah dipahami. Konsep ini mencakup kejelasan tujuan penggunaan TI dan kemudahan penggunaan sistem untuk tujuan sesuai dengan keinginan pengguna (Rini, 2007).
Intensitas penggunaan dan interaksi antara pengguna dengan teknologi menunjukkan kemudahan penggunaan (Fahmi, 2004). Suatu teknologi yang sering digunakan menunjukkan bahwa teknologi tersebut lebih dikenal, lebih mudah dioperasikan dan lebih mudah digunakan. Kemudahan penggunaan akan mengurangi usaha (baik waktu dan tenaga) pada pengguna dalam mempelajari seluk beluk bertransaksi melalui teknologi. Kemudahan penggunaan juga memberikan indikasi bahwa para pengguna teknologi bekerja lebih mudah dibandingkan dengan yang bekerja tanpa menggunakan teknologi tersebut. Beberapa indikator persepsi kemudahan pengguna, antara lain meliputi mudah untuk dipelajari
(ease to learn), mudah untuk digunakan (easy to use), jelas dan mudah dipahami (clear and understandable) dan menambah keterampilan para pengguna (become skillful) (Davis, 1989). Dengan demikian, bila jasa yang diberikan teknologi dipersepsikan mudah digunakan oleh para pengguna, maka akan mendorong para pengguna (nasabah) untuk menerima dan atau menggunakan teknologi tersebut.
Sementara itu, variabel lain yang terdapat dalam model TAM adalah attitude toward use, behavioral intention dan actual use. Attitude toward use adalah sikap terhadap penggunaan sistem yang berbentuk penerimaan atau penolakkan sebagai dampak bila seseorang menggunakan suatu TI dalam pekerjaannya (Van der Heijden, dkk 2007).
Behavioral intention adalah kecenderungan perilaku untuk tetap menggunakan suatu TI. Beberapa indikator behavioral intention adalah intend to use in the future, dan use on a regular basis dan recommend others to use (Reid & Levy, 2008). Sedangkan actual use adalah kondisi nyata penggunaan suatu TI. Dimensi yang dikonsepkan dalam actual use adalah system usage (penggunaan sistem), yang meliputi frekuensi dan durasi waktu penggunaan sistem (Malhotra & Galleta, 1999). Actual Use ini dapat juga diukur dengan menggunakan konsep end user computing satisfaction (kepuasaan pengguna akhir). Menurut skala pengukuran dari Doll dan Torkzadeh, yang meliputi accuracy (keakuratan), content (isi), format (format), ease of use (
kemudahan penggunaan) dan timeliness (ketepatan waktu) (Liu & Yi 2008).
Semenjak diusulkannya oleh Davis, model TAM telah berkembang dengan berbagai macam model, seperti Docomposed Theory of Planned Behavior (DTPB) dan Technology Acceptance Model 2 (TAM2). Disamping memperluas perspektifnya dengan paradigma toritis yang berbeda dari psikolohi, sosiologi, marketing, dan lain-lain, model Davis juga telah diaplikasikan dalam berbagai sistem informasi, seperti email, internet, sistem akuntansi, sistem pengambilan keputusan dan sistem keahlian dalam berbagai macam konteks yang berbeda, seperti untuk sekolah, pabrik, rumah sakit, militer dan pemerintahan (Sung-Hee Park, 2007).
Model TAM merupakan salah satu model yang paling populer dan banyak digunakan dalam penelitian TI, serta memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan diantaranya; (a) TAM merupakan model perilaku yang bermanfaat untuk menjawab kegagalan penerapan sistem TI karena tidak adanya minat para pengguna untuk menggunakannya, (b) TAM dibangun dengan dasar teori yang kuat, (c) TAM telah diuji dengan banyak penelitian dan sebagian besar hasilnya mendukung dan menyimpulkan bahwa TAM merupakan model yang baik, dan (d) Model TAM merupakan model parsimoni yaitu model sederhana dan valid. Sedangkan kelemahan dari TAM yaitu: (a) TAM hanya memberikan informasi atau hasil yang sangat umum tentang minat dan perilaku pengguna dalam menerima TI, (b) TAM tidak memiliki kontrol perilaku, (c) Penelitian TAM umumnya hanya
menggunakan sebuah sistem TI, (d) model TAM secara umumu kurang dapat menjelaskan sepenuhnya hubungan antar variabel di dalam model, (e) model TAM tidak mempertimbangkan perbedaan kultur. (Adrianto, dkk 2008)

Theory of Planned Behavior (TPB) (skripsi, tesis, disertasi)

TPB merupakan pengembangan lebih lanjut dari model TRA. Ajzen menambahkan konstruk yang belum ada dalam TRA, yaitu kontrol perilaku yang dipersepsi (perceived behavior control). Dalam upaya memahami keterbatasan yang dimiliki individu dalam rangka melakukan perilaku tertentu sehingga konstruk ini ditambahkan. Teori Asumsi dasar dari TPB adalah banyak perilaku
yang tidak semuanya dibawah kontrol penuh individu, sehingga perlu ditambah konsep perceived behavior control. Teori ini mengasumsikan bahwa perceived behavior control mempunyai implikasi motivasional terhadap minat perilaku, selain itu adanya kemungkinan hubungan langsung antara perceived behavior control dengan perilaku. Konstruk ini merefleksikan persepsi dan konstruk-konstruk internal dan eksternal dari perilaku (Jose Mauro, dkk 2007).

Theory of Reasoned Action (TRA) (skripsi, tesis, disertasi)

TRA pertama kali dicetuskan oleh Fishbein dan Ajzen pada tahun 1975. Sebenarnya teori ini berasal dari salah satu model perilaku psikologi sosial. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku (behavior) seseorang ini dilakukan karena sesorang memiliki minat atau keinginan untuk melakukannya (behavior intention) atau
dengan kata lain minat perilaku akan menentukan perilakunya. (Davis, 1989).
TRA mengusulkan bahwa minat perilaku adalah suatu fungsi dari sikap (attitude) dan norma-norma subjektif (subjective norms). Dalam upaya mengungkapkan pengaruh sikap (attitude) dan norma-norma subjektif (subjective norms) terhadap minat perilaku, Fishbein dan Ajzen melengkapi model TRA ini dengan keyakinan (beliefs). Sikap berasal dari keyakinan terhadap perilaku (behavior beliefs), sedangkan norma subjektif berasal dari keyakinan normatif (normative beliefs) (Davis, dkk 1989).

Karakteristik Religiusitas (skripsi, tesis, disertasi)

Adapun karakteristik dari religiusitas ialah sebagai berikut:
a. Niat ibadah
Niat merupakan pendorong utama manusia untuk beramal, sedangkan ibadah ialah tujuan manusia beramal (Baharuddin, 2007). Ibadah didefinisikan sebagai perkataan dan perbuatan yang disenangi dan diridhoi Allah swt, baik yang bersifat lahir maupun batin. Ibadah yang bersifat lahir seperti pengamalan rukun Islam, berbicara benar dan jujur, menunaikan amanah, silaturahmi, dan sebagainya. Ibadah yang bersifat batin, seperti ikhlas, sabar, tawakkal, dan perbuatan-perbuatan batin lainnya yang diridhoi Allah. Perbuatan ataupun perilaku yang sifatnya duniawi belaka, seperti bisnis, olahraga, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya, dapat berubah menjadi bernilai ibadah dengan syarat didasari oleh niat atau motivasi ibadah (Ahmad, 2004) kesimpulan bahwa perilaku manusia yang didasari dengan niat beribadah kepada Allah swt merupakan salah satu karakteristik penting dari motivasi agama yang dirumuskan dari penjabaran aqidah.
b. Ibadah sebagai Tujuan dalam Berperilaku
Dalam Q.S az-Zāriyāt (51):56 disebutkan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk mengemban tugas beribadah. Beribadah merupakan salah satu tugas manusia (Baharuddin, 2007). Dalam melaksanakan ibadah, maka setiap perbuatan manusia dimotivasi dengan tujuan beribadah kepada Allah, baik dalam perbuatan yang bertujuan untuk kepentingan akhirat, seperti sholat, puasa, zakat maupun perbuatan yang bersifat duniawi, seperti melakukan bisnis, olahraga, membeli barang untuk memenuhi kebutuhan, dan sebagainya. Perilaku manusia yang mana dalam ajaran Islam bertujuan untuk beribadah, meskipun perilaku atau perbuatan itu bersifat duniawi, maka akan bernilai ibadah. Dengan adanya uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ibadah merupakan tujuan manusia dalam berprilaku atau berbuat, baik itu dalam perbuatan yang bertujuan untuk kepentingan akhirat ataupun duniawi. Sehingga, ibadah merupakan salah satu karakteristik penting dari motivasi agama.
c. Melakukan aktivitas sesuai dengan ajaran Islam
Ibadah merupakan tujuan manusia dalam berprilaku, sebagaimana dikemukakan di atas. Manusia membutuhkan suatu pedoman tentang kebenaran dalam hidup yaitu agama. Seorang Muslim yakin bahwa Islam adalah satu-satunya agama benar
dan diridhoi Allah swt. Islam telah mencakup seluruh ajaran kehidupan secara komprehensif (Munrokhim, dkk 2008). Dengan demikian, setiap aktivitas manusia, baik ibadah maupun mu‟amalah dilakukan sesuai dengan ajaran agama Islam. Dengan adanya uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap perbuatan manusia, baik ibadah maupun mu‟amalah yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam merupakan salah satu karakteristik dari motivasi agama yang dirumuskan dari penjabaran konsep syari‟ah (ibadah dan mu‟amalah).
d. Memperoleh Kesejahteraan di Dunia dan Akhirat (Falāh)
Setiap manusia pada dasarnya selalu menginginkan kehidupannya di dunia dalam keadaan bahagia, baik secara mateial maupun spiritual. Kebahagian di dunia dan akhirat (falāh) dapat terwujud apabila terpenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia secara seimbang. Islam mendefinisikan kesejahteraan didunia dan akhirat dengan istilah “falāh” yaitu kesejahteraan holistik dan seimbang antara dimensi material-spiritual, individual-sosial dan kesejahteraan di dunia dan akhirat (Munrokhim, dkk: 2008). Oleh karena itu, manusia harus dapat menyeimbangkan terpenuhinya kebutuhan material dan spiritual agar dapat mencapai kesejahteraan di dunia dan akhirat (falāh). Sehingga dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa perilaku manusia yang didasari dengan tujuan untuk memperoleh kesejahteraan, baik di dunia dan akhirat merupakan
salah satu karakteristik dari motivasi agama yang dirumuskan dari penjabaran konsep mu‟amalah.
e. Mempertimbangkan Aspek Maslahah dalam Mengkonsumsi Barang dan Jasa.
Pada dasarnya perilaku manusia bertujuan untuk memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat (falāh) sebagaimana dikemukakan diatas. Manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, sehingga dengan tercukupinya kebutuhan manusia akan memberikan dampak yang disebut dengan maslahah. Oleh karena itu dalam melakukan suatu aktivitas mu‟amalah, seseorang konsumen muslin cenderung untuk memilih barang dan jasa yang memberkan maslahah maksimum, bukan mendapatkan utility (Munrokhim, dkk: 2008). Perilaku ekonomi konsumen Muslim akan mempertimbangkan aspek maslahah dan menghindari kemudaratan dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa tertentu, di karenakan mereka memprioritaskan pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi tingkat kemaslahatannya. Dengan adanya uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku ekonomi konsumen Muslim yang mempertimbangkan aspek kemaslahatan dan menghindari kemudaratan dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa merupakan salah satu karakteristk dari motivasi agama yang dirumuskan dari penjabaran konsep mu‟amalah.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Religiusitas (skripsi, tesis, disertasi)

Thouless (1995) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan adalah sebagai berikut:
1) Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan sosial.
Faktor ini mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan keagamaan itu, termasuk pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi sosial, tekanan dari lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan itu.
2) Faktor pengalaman
Berkaitan dengan berbagai jenis pengalaman yang membentuk sikap keagamaan. Terutama pengalaman
mengenai keindahan, konflik moral dan pengalaman emosional keagamaan. Faktor ini umumnya berupa pengalaman spiritual yang secara cepat dapat mempengaruhi perilaku individu.
3) Faktor kehidupan
Kebutuhan-kebutuhan ini secara garis besar dapat menjadi empat, yaitu: (a) kebutuhan akan keamanan atau keselamatan, (b) kebutuhan akan cinta kasih, (c) kebutuhan untuk memperoleh harga diri, dan (d) kebutuhan yang timbul karena adanya ancaman kematian.
4) Faktor intelektual
Berkaitan dengan berbagai proses penalaran verbal atau rasionalisasi.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, setiap individu memiliki tingkat religiusitas yang berbeda-beda dan tingkat religiusitasnya dapat dipengaruhi dari dua macam faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Pengaruh faktor internal yang dapat mempengaruhi religiusitas seperti adanya pengalaman-pengalaman emosional keagamaan, kebutuhan individu yang mendesak untuk dipenuhi seperti kebutuhan akan rasa aman, harga diri, cinta kasih, dan sebagainya. Sedangkan pengaruh eksternalnya seperti pendidikan formal, pendidikan agama dalam keluarga, tradisi-tradisi sosial yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, dan tekanan-tekanan sosial dalam kehidupan individu.

Dimensi Religiusitas (skripsi, tesis, disertasi)

Dimensi dalam religiusitas menurut Stark dan Glock dalam Ancok (1996), religiusitas mempunyai lima dimensi yang terdiri dari:
(a). Dimensi Ritual (Syari‟ah): Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
(b).Dimensi ideologis (aqidah): Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana
para penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya diantara agama-agama, tetapi seringkali juga diantara tradisi-tradisi dalam agama yang sama.
(c). Dimensi Intelektual (ilmu): Dimensi ini merupakan dimensi yang menerangkan seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran-ajaran agamanya, terutama yang ada di dalam kitab suci manapun yang lainnya. Paling tidak seseorang yang beragama harus mengetahui hal-hal pokok mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi ini dalam Islam meliputi pengetahuan tentang isi Al-Qur‟an, pokok-pokok ajaran yang harus diimani dan dilaksanakan, hukum-hukum Islam dan pemahaman terhadap kaidah-kaidah keilmuan dalam Islam.
(d). Dimensi pengalaman atau penghayatan (experiential): Dimensi pengalaman disejajarkan dengan akhlak. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan supernatural. Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang
dialami seseorang atau masyarakat yang melihat komunikasi, walaupun kecil, dalam suatu esensi ketuhanan, yaitu dengan Tuhan, kenyataan terakhir dengan otoritas transidental.
(e). Dimensi konsekuensi (pengamalan): Dimensi konsekuesni yaitu dimensi yang mengidentifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengamalan, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Walaupun agama banyak menggariskan bagaimana pemeluknya seharusnya berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehai-hari, tidak sepenuhnya jelas sebatas mana konsekuensi-konsekuensi agama merupakan bagian dari komitmen atau semata-mata berasal dari agama.

Pengertian Religiusitas (skripsi, tesis, disertasi)

Religiusitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai intensitas keberagamaan, dimana dalam hal ini pengertian intensitas adalah ukuran atau tingkat. Religiusitas didefinisikan sebagai keyakinan atau kekuatan hubungan seseoraang terhadap agamanya (King, 1996). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa religiusitas adalah tingginya keyakinan seseorang. Religiusitas juga merupakan hubungan pribadi dengan pribadi ilahi Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang (Tuhan) (Suhardiyanto, 2001). Suatu aktifitas beragama yang erat berkaitan dengan religiusitas, bukan hanya terjadi ketika melakukan ritual (ibadah) tetapi juga aktivitas lain yang didorong kekuatan batin. Religiusitas merupakan integrasi secara komplek antara pengetahuan agama, perasaan serta tindakan keagamaan dalam diri eseorang. (Jalaludin, 2001).
Religiusitas dapat diwujudkan dalam berbagai kehidupan manusia. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan ibadah, tapi juga melakukan aktivitas lain yang di doreong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tak tampak dan dapat dilihat mata tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang . Karena itu, keberagaman seseorang akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi. Dengan demikian, agama adalah pengertian sistem yang berdimensi banyak. Agama merupakan sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlambangkan, yang semuanya itu berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi (Ancok & Suroso : 2011).

Pengaruh Sosial (skripsi, tesis, disertasi)

Pengaruh sosial didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang individual mempersepsikan kepentingan yang dipercaya oleh orang-orang lain yang akan mempengaruhinya menggunakan sistem yang baru. Pengaruh sosial juga merupakan sekelompok orang yang mampu mempengaruhi perilaku individu dalam melakukan suatu tindakan berdasarkan kebiasaan (Hair & Daniel, 2001).
Adapun pengaruh sosial terdiri dari kelompok referensi, keluarga, peran dan status.
a. Kelompok referensi
Kelompok referensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau perilaku konsumen. Kelompok referensi adalah kelompok yang melibatkan satu atau lebih orang yang dijadikan sebagai dasa pembanding atau titik referensi dalam membentuk tanggapan efeksi dan kognisi serta menyatakan
perilaku seseorang. Kelompok referensi dapat berasal dari kelas sosial, sub-budaya, atau bahkan budaya yang sama atau berbeda (Paul & Jerry, 2000).
Kelompok referensi mempengaruhi pembelian seseorang melalui nasihat dan informasi yang diberikan dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen dalam tingkah laku. Anggota-anggota kelompok referensi sering menjadi penyebar selera, hobi, oleh karena itu konsumen sering mengamati kelompok tersebut baik fisik ataupun mental. Anggota kelompok referensi diantaranya adalah keluarga, teman, saudara, orang tua, perkumpulan anak muda, dan sebagainya.
b. Keluarga
Keluarga adalah kelompok orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang berhubungan melalui darah, perkawinan, adopsi, dan tinggal bersama. Keluarga juga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keluarga juga dapat menjadi kelompok acuan yang paling berpengaruh pada diri seorang konsumen (Philip & Kevine, 2009). Setiap anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam memutuskan pembelian dan konsumsi suatu produk. Suatu keluarga di dalam setiap anggotanya memiliki peran dalam pengambilan keputusan. Ada yang menjadi inisiator, pemberi pengaruh, penyaring informasi, dan pengambilan keputusan.
Sehingga, keluarga dapat didefinisikan sebagai suatu unit masyarakat terkecil yang perilakunya sangat mempengaruhi dan menetukan dalam keputusan pembelian.
c. Peran dan status
Seorang konsumen akan menjadi anggota dalam berbagai kumpulan di sepanjang hidupnya. Posisinya dalam setiap kelompok dapat ditentukan dalam bentuk peran dan status. Peran terdiri dari aktivitas yang diharapkan untuk dilakukan seseorang menurut orang-orang sekitarnya (Philip & Kevine, 2009). Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Seorang konsumen akan cenderung memilih produk yang menunjukkan statusnya dalam masyarakat.

Technology Acceptance Model (TAM) (skripsi, tesis, disertasi)

Model yang disebut sebagai Technology Acceptance Model (TAM) adalah model
sistem informasi yang menunjukkan bagaimana pengguna menerima dan menggunakan
teknologi, model ini menunjukkan bahwa ketika pengguna disajikan dengan teknologi
baru, sejumlah faktor mempengaruhi keputusan mereka tentang bagaimana dan kapan
mereka akan menggunakannya terutama pada Perceived Usefulness dan Perceived easy
of use serta sikap merka terhadap penggunaan sistem informasi yang baru (Fiyah et al.,
2019).
TAM mendasarkan diri pada Theory of Reasoned Action (TRA) yang
dikemukakan Ajzen dan Fisbein (1980). TRA menjelaskan adanya reaksi dan persepsi
penggunaan Teknologi Informasi (TI) yang pada akhirnya akan mempengaruhi sikapnya
dalam penerimaan terhadap teknologi tersebut, tujuan utama TAM adalah memberikan
penjelasan tentang penentuan penerimaan komputer secara umum, memberikan
penjelasan tentang perilaku atau sikap pengguna dalam suatu populasi (Sayekti &
Putarta, 2016).
Menurut Aziz et al (2013) dalam Hunaifi (2018) Model penerimaan teknologi
(Teknology Acceptance Model) merupakan suatu model penerimaan sistem teknologi
informasi yang akan digunakan oleh pemakai. Model TRA dapat diterapkan karena
keputusan yang dilakukan oleh individu untuk menerima suatu teknologi sistem
informasi merupakan tindakan sadar yang dapat dijelaskan dan diprediksi oleh minat
perilakunya.
TAM menambahkan dua konstruk utama ke dalam mode TRA, dua konstruk
utama ini adalah kegunaan persepsian (perceived usefulnes) dan kemudahan penggunaan
persepsian (perceived ease of use). TAM berargumentasi bahwa penerimaan individu
terhadap teknologi informasi ditentukan oleh dua konstruk tersebut. Kegunaan
persepsian (perceived usefulnes) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease
of use) keduanya mempunyai pengaruh ke minat perilaku (behavioral intention).
Pemakai teknologi akan mempunyai minat menggunakan teknologi (minat perilaku) jika
merasa sistem teknologi bermanfaat dan mudah digunakan.