Faktor motivasi sejak penyelenggaraan ESI Survey pada tahun 2014 selalu menempati posisi tiga faktor dengan rating tertinggi. Hal ini menunjukan bahwa motivasi karyawan PT X memiliki performa yang cukup baik. Selain melihat dari skor terhadap faktor motivasi itu sendiri, hasil dari Engagement Driver Analysis juga menunjukan bahwa faktor motivasi ini menjadi faktor yang memiliki dampak krusial bagi perusahaan. Menurut Bartol dan Martin (1998), motivasi didefinisikan sebagai suatu kekuatan yang memberikan energi dan arah kepada perilaku manusia serta mendasari kecenderungan manusia untuk mempertahankan perilaku tersebut. Dengan motivasi yang muncul pada diri setiap karyawan, maka karyawan akan selalu bersemangat untuk mencapai tujuan yang diniatkan. Hal tersebut ditunjukkan oleh penelitian Hay Consulting (2010) bahwa pertumbuhan pendapatan karyawan Arab Saudi yang termotivasi dalam bekerja lebih besar dibandingkan dengan karyawan lain yang tidak termotivasi dalam bekerja. Telah disebutkan sebelumnya bahwa motivasi ditetapkan sebagai variabel mediasi (penengah) dalam model employee engagement yang dirancang untuk PT X. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi motivasi, penulis melakukan studi literatur terhadap teori-teori motivasi. Ditemukan 9 faktor yang digunakan oleh Labor Relations Institute of New York dalam mengadakan 11 survey pertama terhadap motivasi (Hersey dan Blanchard, 1969). Kesembilan faktor tersebut adalah: i. Apresiasi penuh terhadap pekerjaan yang diselesaikan ii. Pekerjaan yang menarik iii. Perasaan memiliki terhadap suatu hal iv. Kondisi pekerjaan yang baik v. Upah yang baik vi. Bantuan simpatik terhadap permasalahan pribadi vii. Loyalitas perusahaan terhadap karyawan viii. Promosi dan pertumbuhan di perusahaan ix. Keamanan pekerjaan Dari kesembilan faktor tersebut, penulis mengambil 4 faktor dari Hersey dan Blanchard (1969) yang akan dianalisis hubungannya terhadap motivasi di PT X. Keempat faktor tersebut adalah: a. Kompensasi Kompensasi merepresentasikan faktor upah yang baik meskipun cakupan kompensasi bukan hanya sekedar upah saja, namun juga meliputi benefit ataupun tunjangan untuk karyawan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa gaji (kompensasi) memiliki dampak yang besar terhadap motivasi. Penelitian yang dilakukan oleh Islam dan Ismail (2008) menunjukan bahwa gaji menduduki peringkat pertama untuk faktor yang paling memengaruhi motivasi di Malaysia. b. Pimpinan Pemilihan faktor pimpinan ini digunakan sebagai representasi dari apresiasi penuh terhadap pekerjaan yang diselesaikan. Peran pimpinan menjadi sangat penting karena pimpinan memiliki pengaruh langsung dalam menciptakan suasana kerja yang positif, produktif, dan efektif di tengah-tengah karyawan. Secara langsung maupun tidak, perilaku pimpinan di suatu perusahaan dapat memengaruhi motivasi karyawannya. Jika seorang pimpinan jeli dan rutin dalam mengapresiasi hasil pekerjaan karyawannya, maka bukan tidak mungkin bahwa level motivasi di perusahaan tersebut akan selalu terjaga performanya. c. Kesempatan karir Faktor kesempatan karir dipilih sebagai wujud dari representasi promosi dan pertumbuhan di perusahaan. Aktivitas promosi jabatan menjadi ajang aktualisasi diri yang dapat meningkatkan motivasi. Dengan meningkatnya jabatan pekerjaan seseorang serta kesempatan karir yang terbuka luas dan adil, maka 12 karyawan akan termotivasi untuk menunjukan kinerja terbaiknya bagi perusahaan. d. Rekan kerja Faktor rekan kerja ini merepresentasikan bantuan simpatik terhadap permasalahan pribadi. Apabila suasana yang tercipta diantara rekan kerja terjalin dengan baik maka rasa sosial yang timbul dapat memengaruhi motivasi karyawan. Teman atau rekan kerja menjadi penting karena dalam suatu perusahaan tidaklah mungkin karyawan bekerja seorang diri. Dengan suasana positif yang tercipta dalam suatu tim kerja, maka motivasi karyawan untuk bekerja dan berkontribusi bagi perusahaan dapat tercipta. Teori lain tentang motivasi dinyatakan oleh Herzberg et al. (1993) yang mengategorikan motivasi menjadi dua yakni motivators (motivasi internal) dan hygiene (motivasi eksternal). Faktor hygiene seperti lingkungan kerja, gaji, benefit, dan kebijakan perusahaan diindikasikan memengaruhi motivasi eksternal karyawan (Herzberg et al., 1993). Ketidakpuasan kerja karyawan dapat terjadi apabila faktor hygiene ini tidak dipenuhi perusahaan (Herzberg et al., 1968). Faktor motivators seperti pekerjaan yang menarik dan menantang serta tanggung jawab yang lebih besar, dapat berdampak pada meningkatnya motivasi internal karyawan (Herzberg et al., 1968).
