Employee Engagement (Keterikatan Karyawan) (skripsi dan tesis)

Studi tentang employee engagement menjadi populer di kalangan praktisi karena banyaknya jurnal-jurnal yang diterbitkan mengacu pada ilmu praktis untuk perusahaan. Namun faktanya, studi empiris terhadap employee engagement juga telah banyak dilakukan oleh para peneliti akademis (Saks, 2006). Awal perkembangan studi literatur employee engagement dalam lingkup akademik, dituliskan oleh Khan (1990) yang mendefinisikan employee engagement sebagai perilaku karyawan yang mengekspresikan kesungguhan bekerja mereka baik secara fisik, kognitif, maupun afektif. Penelitian tentang employee engagement menjadi penting karena employee engagement memiliki hubungan statistik dengan produktivitas, profitabilitas, retensi karyawan, keamanan, dan kepuasan konsumen (Buckingham dan Coffman, 1999). Institute of Employment Studies menyatakan bahwa employee engagement merupakan hasil dari hubungan dua arah antara perusahaan dan karyawan, dengan kedua belah pihak harus bersama-sama mewujudkannya (Markos et al., 2010). Saat ini, banyak perusahaan konsultan yang menaruh fokus besar terhadap employee engagement dikarenakan dampaknya yang cukup besar bagi pertumbuhan perusahaan. Sebut saja Gallup’s Buckingham dan Coffman (1999) yang mengakui bahwa karyawan yang terikat pada suatu perusahaan akan memengaruhi loyalitas konsumen. Gallup’s Buckingham dan Coffman (1999) juga menyatakan bahwa orang yang tepat, di posisi yang tepat, dengan manager yang tepat akan menciptakan employee engagement di suatu perusahaan. Selain Gallup Organization yang mengukur employee engagement menggunakan Q12 indeks nya, Hewitt (2004) juga mengukur employee engagement dengan menggunakan 18 drivers dan mendefinisikan employee engagement sebagai suatu sikap karyawan yang secara emosional dan intelektual berkomitmen penuh terhadap organisasi tempatnya bekerja dan diukur melalui 3 perilaku keluaran yakni say, stay, dan strive. Studi terkini yang dilakukan oleh AON Hewitt (2015) adalah diperbaharuinya drivers untuk mengukur level employee engagement suatu perusahaan. Terdapat 23 drivers yang digunakan oleh AON Hewitt (2015) dengan klasifikasi indikator drivers yang ditetapkan adalah sebagai berikut: a. Praktik Perusahaan i. Komunikasi ii. Customer focus 9 iii. Keberagaman dan inklusi iv. Penyediaan infrastruktur v. Pembekalan dan staffing b. Kebutuhan dasar i. Manfaat (benefit) ii. Keamanan pekerjaan iii. Keselamatan iv. Lingkungan kerja v. Keseimbangan kerja dan pola hidup c. Citra Perusahaan i. Reputasi perusahaan ii. Employee Value Proposition (EVP) iii. Corporate Social Responsibility (CSR) d. Kepemimpinan i. Kepemimpinan atasan/senior ii. Kepemimpinan birokratis (Bureaucratic Leadership) e. Prestasi i. Kesempatan karir ii. Pembelajaran dan pengembangan iii. Manajemen performansi iv. Manajemen SDM v. Penghargaan dan pengakuan diri f. Pekerjaan i. Kolaborasi ii. Pemberdayaan/otonomi iii. Tugas pekerjaan AON Hewitt (2015) mendefinisikan perilaku keluaran (behavioral outcomes) dari employee engagement menjadi tiga yakni: a. Say Perilaku say ini mengindikasikan bahwa karyawan akan berbicara positif tentang perusahaannya kepada rekan kerja, job seeker atau pencari lowongan kerja, dan konsumen. b. Stay Perilaku stay ini mengindikasikan bahwa karyawan memiliki intensi kuat untuk menjadi bagian dari perusahaan. Seorang karyawan yang sudah memiliki 10 perilaku stay ini akan cenderung setia untuk bertahan dan tidak akan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. c. Strive Perilaku strive mengindikasikan bahwa karyawan cukup termotivasi dan selalu memberikan usaha lebih untuk mencapai kesuksesan karir dan perusahaan mereka. Antara kepuasan karyawan dengan employee engagement merupakan dua hal yang sangat berbeda. Menurut Fernandez (2007), tidak cukup bagi seorang manager hanya mengandalkan indikator kepuasan karyawan untuk mengetahui dampaknya terhadap pertumbuhan perusahaan. Berangkat dari alasan tersebut, employee engagement hadir dan menjadi suatu konsep yang penting bagi perusahaan (Fernandez, 2007). Employee engagement adalah sebuah komitmen dan ketertarikan karyawan untuk memberikan usaha terbaik dalam rangka membantu perusahaan meraih kesuksesannya (Macey dan Schneider, 2008).