Menurut Jogiyanto (2008), pengukuran konsep senyatanya berhubungan dengan validitas (seberapa aktual dapat dikatakan valid) dan pengukuran seakuratnya berhubungan dengan reliabilitas (seberapa akurat dapat diandalkan). Perbedaan konsep reliabilitas dan validitas dalam mengukur suatu instrumen penelitian khususnya kuesioner akan dijelaskan pada sub bab di bawah ini.
1. Reliabilitas
Reliabilitas adalah tingkat seberapa besar suatu pengukur mengukur dengan stabil dan konsisten. Besarnya tingkat reliabilitas ditunjukkan oleh nilai koefisien reliabilitas. Koefisien reliabilitas dapat digunakan untuk mengukur macammacam reliabilitas yang terdiri dari 4 jenis yakni reliabilitas antar-penilai (interrater reliability), reliabilitas tes-tes ulang (test-retest reliability), reliabilitas bentukparalel (parallel-form reliability), dan reliabilitas konsistensi internal (internal 21 consistency reliability). Pada penelitian ini koefisien reliabilitas yang digunakan adalah reliabilitas konsistensi internal. Reliabilitas ini mengukur seberapa konsisten item-item yang berbeda merefleksikan suatu faktor yang sama akan memberikan hasil yang sama. Salah satu cara menghitung reliabilitas ini adalah dengan menggunakan rumus Cronbach’s coefficient alpha. Rumus ini dapat digunakan apabila variansi dan kovariansi dari item-item tidak sama atau berbeda
2. Validitas
Validitas menunjukkan bahwa suatu pengujian benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas dapat berupa validitas eksternal dan validitas eksternal. a. Validitas eksternal Validitas eksternal menunjukkan bahwa hasil dari suatu penelitian adalah valid yang dapat digeneralisasi ke semua obyek, situasi dan waktu yang berbeda. Validitas eksternal ini banyak berhubungan dengan pemilihan sampel. b. Validitas internal Validitas internal menunjukkan kemampuan dari instrumen riset mengukur apa yang seharusnya diukur dari suatu konsep. Validitas internal menjawab pertanyaan apakah riset sudah menggunakan konsep yang seharusnya (aktual). Validitas internal dapat dikelompokkan menjadi 3 yakni validitas isi (content validity), validitas berhubungan dengan kriteria (criterion-related validity), dan validitas konstruk (construct validity). Pengujian validitas data pada penelitian ini dibatasi hanya untuk validitas internal saja karena data sekunder yang diperoleh hanya berasal dari satu perusahaan. Oleh karena itu, besar kemungkinan bahwa data tersebut tidak dapat digeneralisasikan ke semua obyek. Secara eksplisit dapat dikatakan bahwa model hasil penelitian ini lebih valid digunakan untuk PT X, walaupun tidak 22 menutup kemungkinan dapat digunakan pula sebagai referensi tambahan untuk model employee engagement secara umum. Pada penelitian kali ini, uji validitas internal yang digunakan adalah uji validitas konstruk dengan melihat nilai Spearman’s correlation antar indikator. Koefisien Spearman’s correlation merupakan pengukuran statistik dari kekuatan hubungan monotonic sepasang data. Pertimbangan menggunakan Spearman’s correlation dibandingkan dengan Pearson’s correlation dikarenakan data yang digunakan tidak memenuhi asumsi Pearson’s correlation yakni tipe data yang berupa interval atau rasio, memiliki hubungan linear, dan terdistribusi normal bivariat. Berbeda dengan Pearson’s correlation, asumsi yang harus dipenuhi oleh Spearman’s correlation adalah data dapat berupa interval, ratio, atau ordinal. Selain itu, hubungan antar sepasang data yang harus terjadi adalah monotonic function dan tidak perlu memenuhi asumsi normalitas data. Oleh karena itu koefisien Spearman’s correlation ini disebut sebagai statistik nonparametrik. Telah disebutkan sebelumnya bahwa asumsi yang harus dipenuhi apabila ingin menggunakan Spearman’s correlation adalah hubungan antar sepasang data yang terjadi harus monotonic. Sebuah fungsi monotonic adalah sebuah fungsi yang terjadi apabila variabel independen meningkat maka variabel dependen tidak akan meningkat atau menurun nilainya.
