Pengertian stres


Stres kerja adalah suatu kondisi dimana terdapat satu atau
beberapa faktor di tempat kerja yang berinteraksi dengan pekerja
sehingga mengganggu kondisi fisiologis, dan perilaku (Dessler, 2020).
Menurut (Lestari & Mujiati, 2021) stres adalah konsekuensi setiap
tindakan dan situasi lingkungan yang menimbulkan tuntunan
psikologis dan fisik yang berlebihan pada seseorang. Menurut (Monica
& Putra, 2021) stres kerja merupakan suatu keadaan yang
mempengaruhi turnover intention, dimana kondisi kerja menyimpang
dengan kondisi psikologis individu. Maslach (2019) menyoroti bahwa
tingkat stres kerja yang tinggi, khususnya terkait dengan beban kerja
yang berlebihan, konflik peran, dan kurangnya dukungan sosial di
lingkungan kerja, dapat menyebabkan tingkat kelelahan emosional dan
kebakaran yang tinggi pada karyawan. Dalam kondisi ini, karyawan
cenderung merasa terbakar dan tidak puas dengan pekerjaan mereka.
Dapat disimpulkan bahwa stres kerja memiliki dampak signifikan
terhadap kesejahteraan psikologis karyawan dan niat mereka untuk
berpindah kerja. Tingkat stres kerja yang tinggi dapat menyebabkan
ketidakpuasan kerja dan burnout, yang pada akhirnya meningkatkan
turnover intention karyawan. Oleh karena itu, penting bagi organisasi
untuk mengelola dan mengurangi faktor-faktor penyebab stres di
tempat kerja guna meningkatkan kesejahteraan dan retensi karyawan

Dimensi dan Indikator Kepuasan Kerja


Dimensi dan Indikator kepuasan kerja menurut Mangkunegara (2021)
meliput:

  1. Pekerjaan itu sendiri
    Pekerjaan menjadi sumber kepuasan di dalam bekerja, dimana
    sebuah pekerjaan memberikan tugas yang menarik, menyediakan
    kesempatan untuk belajar, tugas yang sesuai dengan keahlian
    pegawai, kesempatan untuk menerima tanggung jawab dan
    kemajuan untuk pegawai. Kebebasan tersebut membuat
    kesenangan dan kepuasan kerja pegawai dapat tercipta. Pada
    dimensi ini indikator berupa
    a) Pekerjaan yang menarik
    b) Kesempatan untuk belajar
  2. Imbalan/gaji
    Imbalan yang diterima oleh pegawai merupakan faktor
    penentu yang paling penting bagi kepuasan pegawai. Sejumlah
    uang yang diterima pegawai menjadi penilaian kepuasan, dimana
    hal ini dipandang sebagai hal yang dianggap layak dan pantas.
    15
    Pada dimensi ini indikator berupa rasa keadilan yang diberikan
    instansi sesuai beban pekerjaan.
  3. Kesempatan/Promosi
    Terbukanya memperoleh kenaikan jabatan membuat pegawai
    mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dan
    memperluas keahlian menjadi dasar penting untuk kemajuan dalam
    instansi sehingga menciptakan kepuasan. Pada dimensi ini
    indikator berupa
    a) Mempunyai peluang untuk mendapatkan promosi
    b) Adanya rasa keadilan guna memperoleh promosi
    c) Memiliki peluang untuk memperluas keahliannya.
  4. Pengawas
    Dilihat dari kemampuan atasan guna memberikan dukungan
    dan bantuan teknis, atasan yang mempunyai hubungan baik dengan
    bawahan serta bisa memahami kepentingan bawahannya dan
    memberikan dampak positif terhadap bawahan maka akan
    menimbulkan kepuasan kerja para pegawai. Pada dimensi ini
    indikator
    a) Berupa atasan mampu memberikan keadilan di dalam
    penugasan.
    b) Atasan dapat memberikan penugasan berdasarkan kompetensi.
    c) Atasan mampu memberi keadilan dalam pengambilan
    keputusan mengenai pekerjaan.
  5. Rekan kerja
    Rekan kerja yang mendukung merupakan sumber kepuasan
    kerja tersendiri bagi seorang pegawai. Bagi seorang pegawai
    bekerja juga merupakan mengisi akan kebutuhan interaksi sosial.
    Selain itu kelompok kerja, terutama tim yang kompak bertindak
    sebagai sumber dukungan, nasihat, kenyamanan, dan bantuan pada
    individu akan memberikan kepuasan yang meningkat bagi
    pegawai, pada dimensi ini indikator berupa :
    a) Rekan kerja yang menyenangkan
    16
    b) Rekan kerja yang kompeten

Faktor-Faktor kepuasan kerja
Menurut Hidayati & Trisnawati (2022) ada beberapa faktor kepuasan
kerja yaitu:

  1. Faktor Motivasi: prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri,
    tanggung jawab, kemajuan dan pertumbuhan
  2. Faktor Higienis: kebijakan administrasi perusahaan, penyeliaan,
    hubungan dengan penyelia, kondisi kerja, gaji, hubungan dengan
    rekan kerja, hubungan dengan bawahan, status dan keamanan

Pengertian Kepuasan Kerja


Menurut Yuda & Ardana (2021) kepuasan kerja didefinisikan
sebagai perasaan senang atau emosi positif yang didapat seorang dari
pengalaman kerja yang berkenaan dengan individu bukan kelompok.
Menurut Feizal (2021) suatu sikap karyawan yang berhubungan dengan
situasi kerja, kerjasama antar karyawan, imbalan yang diterima dalam
kerja, dan hal-hal yang menyangkut fisik dan psikologis. Menurut
Yulianti & Mesta (2021) kepuasan kerja merupakan evaluasi yang
menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak
senang, puas atau tidak puas dalam bekerja. Menurut Monica & Putra
(2021) mengidentifikasi bahwa kepuasan kerja adalah suatu respon
yang efektif oleh individu-individu, yang dihasilkan dari penilaian
pekerjaan mereka saat ini. Menurut Putri & Prasetio (2021) kepuasan
kerja adalah suatu perasaan positif tentang pekerjaan, yang dihasilkan
dari suatu evaluasi pada karakteristik-karakteristiknya. Menurut
(Arnanta & Utama, 2021). Dalam penelitiannya, Judge (2019) telah
menyoroti pentingnya kepuasan kerja sebagai prediktor penting dari
niat berpindah karyawan. Studi-studinya telah menunjukkan bahwa
kepuasan kerja yang tinggi secara konsisten terkait dengan tingkat
turnover intention yang lebih rendah, sedangkan kepuasan kerja yang
rendah sering kali memicu keinginan untuk meninggalkan pekerjaan
atau organisasi tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan kerja merupakan faktor kunci dalam menentukan niat
berpindah karyawan. Kepuasan kerja yang tinggi dapat mengurangi
turnover intention, sedangkan kepuasan kerja yang rendah dapat
meningkatkan keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya

Dimensi dan Indikator Turnover intention


Menurut Fathoni (2019) Menjelaskan mengenai dimensi yang
mempengaruhi beban kerja, antara lain yaitu:

  1. Dimensi eksternal yang terbagi atas tugas yang diberikan,
    kompleksitas pekerjaan, waktu kerja dan istirahat
  2. Dimensi internal yang terbagi atas motivasi, persepsi, keinginan
    dan kepuasan
    Sedangkan Indikator turnover intention menurut Fathoni (2019)
    diantaranya adalah:
  3. Pikiran untuk keluar
  4. Keinginan untuk mencari pekerjaan lain
  5. Adanya keinginan untuk meninggalkan organisasi

Faktor-faktor Turnover intention


Berbagai faktor turnover intention antara lain adalah tingginya stres
kerja dalam perusahaan, rendahnya kepuasan yang dirasakan
karyawan serta kurangnya komitmen pada diri karyawan untuk
memberikan semua kemampuannya bagi kemajuan perusahaan
Arnanta & Utama (2021). Menurut Husein (2019) keinginan untuk
keluar dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

  1. Organisasi
    Faktor organisasi yang dapat menyebabkan keinginan
    karyawan untuk keluar antara lain berupa upah atau gaji,
    lingkungan kerja, beban kerja, stres kerja, promosi jabatan, dan jam
    kerja yang tidak fleksibel.
    2.Individu
    Faktor individu yang dapat menyebabkan keinginan karyawan
    untuk keluar antara lain berupa pendidikan, umur, kepuasan Kerja
    dan status perkawinan.
    c. Indikasi Terjadinya Turnover intention
    Menurut Husein (2019) turnover intention ditandai oleh berbagai
    hal yang menyangkut perilaku karyawan. Indikasi-indikasi tersebut
    meliputi:
  2. Tingginya Tingkat Absensi
    Karyawan yang memiliki turnover intention biasanya
    cenderung meningkatkan absensinya, hal itu terjadi karena dalam
    fase tersebut tingkat tanggung jawab karyawan sudah sangat
    berkurang dibandingkan sebelumnya.
  3. Malas Bekerja
    Karyawan yang memiliki turnover intention akan lebih malas
    bekerja karena orientasi karyawan ini adalah bekerja di tempat lain
    yang dipandang mampu memenuhi keinginan karyawan tersebut.
  4. Peningkatan terhadap Pelanggaran Tata Tertib Kerja
    Berbagai pelanggaran tata tertib dalam lingkungan kerja sering
    dilakukan karyawan yang memiliki turnover intention. Karyawan
    lebih sering meninggalkan tempat kerja ketika jam kerja
    berlangsung, maupun berbagai bentuk pelanggaran lainnya.
  5. Peningkatan Protes terhadap Atasan
    Karyawan yang memiliki turnover intention lebih sering
    melakukan protes terhadap kebijakan-kebijakan perusahaan kepada
    atasan

Pengertian Turnover intention


Turnover intention adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan keinginan atau niat seorang karyawan untuk
meninggalkan pekerjaannya saat ini dan mencari pekerjaan di tempat
lain. Turnover intention sering diukur dalam penelitian manajemen
sumber daya manusia karena dapat menjadi indikator penting dari
perilaku karyawan yang sebenarnya, yaitu pengunduran diri atau
berpindah pekerjaan. Turnover intention yang tinggi mengindikasikan
bahwa karyawan tidak betah bekerja di perusahaan tersebut. Jika
dilihat dari segi ekonomi tentu perusahaan akan mengeluarkan cost
yang cukup besar karena perusahaan sering melakukan recruitment,
pelatihan yang memerlukan biaya yang sangat tinggi. Menurut
Handoyo (2021), turnover intention adalah proses dimana karyawan
meninggalkan organisasi dan harus digantikan. Menurut Rivai (2019)
turnover intention merupakan keinginan karyawan untuk berhenti kerja
dari perusahaan secara sukarela atau pindah dari satu tempat ke tempat
kerja yang lain menurut pilihannya sendiri. Siregar (2021)
mendefinisikan turnover intention adalah kecenderungan atau niat
karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaanya secara sukarela
menurut pilihannya sendiri. Ronald dan Milkha (2021) mengemukakan
turnover intention (keinginan berpindah kerja) merupakan
kecenderungan atau intensitas individu untuk meninggalkan organisasi
dengan berbagai alasan dan diantaranya untuk mendapatkan pekerjaan
yang lebih baik. Menurut Arnanta & Utama (2021). turnover intention
adalah kadar atau intensitas dari keinginan untuk keluar dari
perusahaan, banyak alasan yang menyebabkan timbulnya turnover

Pengaruh Kepuasan Kerja Karyawan terhadap Komitmen Organisasi


Robbins & Judge (2012) mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah suatu sikap umum
terhadap pekerjaan seseorang sebagai perbedaan antara banyaknya ganjaran yang diterima
pekerja dan banyaknya yang diyakini yang seharusnya diterima
Kreitner and Kinicki (2003) menyatakan bahwa terdapat hubungan kuat dan signifikan
antara kepuasan kerja dan komitmen organisasi. Komitmen merupakan suatu kondisi
dimana anggota organisasi memberikan kemampuan dan kesetiaanya pada organisasi
dalam mencapai tujuannya sebagai imbalan atas kepuasan yang diperolehnyaa. karyawan
yang puas lebih berkomitmen dan setia karena secara psikis mereka merasa lebih
diperhatikan oleh perusahaan

Pengaruh Kepuasan Kerja Karyawan terhadap Turnover Intention


Kepuasan kerja adalah menyenangkan atau tidaknya pekerjaan orang tersebut.
Karyawan yang merasa terpuaskan dengan pekerjaannya cenderung untuk bertahan dalam
perusahaan. Sedangkan individu yang merasa kurang terpuaskan dengan pekerjaannya
akan memilih keluar dari organisasi. Kepuasan kerja yang dirasakan dapat mempengaruhi
pemikiran seseorang untuk keluar. Evaluasi terhadap berbagai alternatif pekerjaan, pada
akhirnya akan mewujudkan terjadinya turnover karena individu yang memilih keluar
organisasi akan mengharapkan hasil yang lebih memuaskan di tempat lain. Pekerja yang
tidak terpuaskan dengan pekerjaannya cenderung untuk melakukan cara yang dapat
mengganggu kinerja organisasi: turnover yang tinggi, tingkat absensi yang tinggi,
kelambanan dalam bekerja, keluhan atau bahkan mogok kerja

Indikator Kepuasan Kerja


Luthans (dalam Novita dkk 2016) mengungkapkan terdapat sejumlah indikator
kepuasan kerja, yaitu:

  1. Kepuasan Terhadap Pekerjaannya Sendiri
    Setiap jenis pekerjaan yang dilaksanakan oleh seorang karyawan tentunya
    akan menghasilkan motivasi dan prestasi kerja yang merupakan bagian dari
    kepuasan kerja karyawan. Seorang karyawan akan merasa puas akan pekerjaan
    yang dijalaninya apabila memenuhi hal berikut:
  • Pekerjaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang penting dan memiliki
    manfaat
  • Karyawan menyadari betul tugas dan tanggung jawabnya atas hasil dari
    pekerjaan yang telah dilakukan.
  • Karyawan mampu memastikan bahwa hasil kerjanya tersebut mampu
    mencapai nilai kepuasan.
  1. Kepuasan Terhadap Pemberian Gaji
    Kepuasan terhadap pemberian gaji ini tidak hanya mencakup nominal
    gaji yang didapatkan akan tetapi lebih kepada kepuasan seorang karyawan
    pada kebijakan administrasi penggajian, adanya berbagagai macam tunjangan,
    serta kepuasan terhadap tingkat kenaikan gaji.
  2. Kepuasan Terhadap Promosi
    Promosi merupakan salah satu jenis penghargaan yang mampu
    memberikan kepuasan kerja pada karyawan. Promosi bisa dianggap sebagai
    bentuk imbalan yang diberikan oleh perusahaan terhadap prestasi kerja yang
    dihasilkan oleh karyawan tersebut.
  3. Kepuasan Terhadap Atasan
    Indikator lain yang memengaruhi kepuasan kerja karyawan adalah
    kepuasan terhadap atasan. Kepuasan terhadap gaya kepemimpinan atasan ini
    ternyata memberikan pengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan. Terdapat
    berbagai macam tipe gaya kepemimpinan atasan yang memengaruhi kepuasan
    kerja diantaranya atasan yang berorientasi terhadap kinerja karyawan dan
    atasan yang mengutamakan partisipasi karyawannya.
  4. Kepuasan Terhadap Rekan Kerja
    Rekan kerja merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kepuasan
    kerja karyawan. Komunikasi yang berjalan dengan baik antar sesama
    karyawan mampu meningkatkan kepuasan kerja dalam diri seorang karyawan,
    apalagi jika rekan kerjanya tersebut memiliki kesamaan dalam bersikap
    sehingga akan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan
    membentuk tali persahabatan antar karyawan. Perasaan senang dan rasa
    persahabatan yang timbul tersebut sangat berkaitan dengan kepuasan kerja
    karyawan.
    Menurut Gibson (dalam Marshellino, 2015) kepuasan kerja adalah sikap yang
    dimiliki para karyawan mengenai berbagai aspek pekerjaannya. Kepuasan kerja dapat
    diukur melalui lima dimensi penting, di antaranya :
  5. Upah: upah yang diterima wakar/sesuai
  6. Pekerjaan : pekerjaan dianggap menantang, memberikan kesempatan untuk
    berkembang
  7. Promosi : adanya kesempatan untuk maju
  8. Penyelia : atasannya yang perhatian terhadap karyawannya.
  9. Rekan kerja : rekan kerja yang bersahabat dan dapat memberikan dukungan

Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja


Menurut pendapat Gilmer (1966) dalam Moch. As’ad (2004: 114 ) faktor – faktor
yang mempengaruhi kepuasan kerja sebagai berikut :

  1. Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk
    memperoleh kesempatan peningkatan pengalaman dan kemampuan kerja selama
    bekerja.
  2. Keamanan kerja. Faktor ini sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik
    karyawan pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengarugi perasaan
    kerja karyawan selama bekerja.
  3. Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang yang
    mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang di perolehnya.
  4. Manajemen kerja. Manajemen kerja yang baik adalah yang memberikan situasi dan
    kondisi kerja yang stabil, sehingga karyawan dapat bekerja dengan nyaman.
  5. Kondisi kerja. Dalam hal ini adalah tempat kerja, ventilasi, penyinaran, kantin, dan
    tempat parkir.
  6. Pengawasan (Supervisi). Bagi Karyawan, Supervisor dianggap sebagai figur ayah
    dan sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan
    turntover.
  7. Faktor intrinsik dari pekerjaan. Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan
    ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan
    meningkatkan atau mengurangi kepuasan.
  8. Komunikasi. Komunikasi yang lancar antara karyawan dengan pimpinan banyak
    dipakai untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak
    pimpinan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat atau prestasi
    karyawannya sangat berperan dalam menimbukan kepuasan kerja.
  9. Aspek sosial dalam pekerjaan. Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan
    tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.
  10. Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan
    standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
    Ada dua faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu faktor yang ada pada diri
    karyawan dan faktor pekerjaannya. (Mangkunegara, dalam Nova 2018).
    a. Faktor Karyawan. Kecerdasan (IQ), kecakapan khusus, umur, jenis kelamin,
    kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja, kepribadian,
    emosi, cara berpikir, persepsi dan sikap kerja. Setiap pekerja yang
    berkembang dalam lingkungan yang memberikan tantangan konstan, perlu
    adanya sesuatu yang membuat karyawan terus menerus berpikir dan
    menggunakan kekuatan pikiran, keterampilan, pendidikan dan keahliannya
    untuk mencapai solusi. Sebuah pekerjaan yang tidak monoton dan
    memberikan lingkungan yang menantang, memungkinkan karyawan untuk
    membuktikan dirinya mengarah pada kepuasan kerja yang lebih besar.
    b. Faktor Pekerjaan. Jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat (golongan),
    kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan promosi
    jabatan, interaksi sosial dan hubungan
    kerja. Banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan

Pengertian Kepuasan Kerja


Mangkunegara (2004) menyatakan bahwa kepuasan akan timbul bila kebutuhan
terpenuhi. Kebutuhan tersebut bertingkat mulai dari tingkatan terendah sampai teritnggi.
Handoko (2016) menyebutkan bahwa kepuasan kerja merupakan keadaan
emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para karyawan
memandang pekerjaan mereka.
Sutanto dan Carin (2013:76), mendefinisikan bahwa kepuasan kerja adalah sebagai
apa yang membuat orang-orang menginginkan dan menyenangi pekerjaan karena mereka
merasa bahagia dalam melakukan pekerjaannya.
Robbins and Judge (2011:110) menyatakan bahwa “Kepuasan kerja adalah sikap
positif pegawai terhadap pekerjaannya”. Berdasarkan teori di atas kepuasan kerja
karyawan adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Dimana
para karyawan merasa senang, nyaman, puas atas pekerjaan nya dan merasa kebutuhan
nya terpenuhi oleh perusahaan seperti upah, pujian, promosi jabatan. Seseorang dengan
kepuasan kerja yang tinggi menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan itu, sebaliknya
seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap yang negatif
terhadap pekerjaan itu.
Teori kepuasan kerja mencoba mengungkapkan apa yang membuat sebagian orang
lebih puas terhadap suatu pekerjaan daripada beberapa lainnya. Teori ini juga mencari
landasan tentang proses perasaan orang terhadap kepuasan kerja. Teori tentang kepuasan
kerja menurut Rivai (2011: 475) adalah:
a. Teori ketidaksesuaian (discrepancy theory)
Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara
susuatu yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan. Sehingga apabila
kepuasannya diperoleh melebihi dari yang diinginkan, maka orang akan menjadi
lebih puas lagi, sehingga terdapat discrepancy, tetapi merupakan discrepancy yang
positif. Kepuasan kerja seseorang tergantung pada selisih antara sesuatu yang
dianggap akan didapatkan dengan apa yang dicapai.
b. Teori keadilan (equity theory)
Teori ini mengemukakan bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas,
tergantung pada ada atau tidaknya keadilan dalam suatu situasi, khususnya situasi
kerja. Menurut teori ini komponen utama dalam teori keadilan adalah input, hasil,
keadilan dan ketidakadilan. Input adalah faktor bernilai bagi karyawan yang
dianggap mendukung pekerjaannya, seperti pendidikan, pengalaman, kecakapan,
jumlah tugas dan peralatan atau perlengkapan yang dipergunakan untuk
melaksanakan pekerjaannya. Hasilnya adalah sesuatu yang dianggap bernilai oleh
seorang karyawan yang diperoleh dari pekerjaannya, seperti: upah/gaji, keuntungan
sampingan, simbol, status, penghargaan dan kesempatan untuk berhasil atau
aktualisasi diri. Sedangkan orang selalu membandingkan dapat berupa seseorang di
perusahaan yang sama, atau ditempat lain atau bisa pula dengan dirinya di masa lalu.
c. Teori dua faktor (two factor theory)
Kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja itu merupakan hal yang berbeda.
Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu bukan suatu variabel yang
kontinu. Teori ini merumuskan karakteristik pekerjaan menjadi dua kelompok yaitu
satisfiers atau dissatisfiers. Satisfiers ialah faktor-faktor atau situasi yang dibutuhkan
sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari: pekerjaan yang menarik, penuh
tantangan, ada kesempatan untuk berprestasi, kesempatan memperoleh penghargaan
dan promosi. Terpenuhinya faktor tersebut akan menimbulkan kepuasan, namun
tidak terpenuhinya faktor ini tidak selalu mengakibatkan ketidakpuasan.
Dissatisfiers (hygiene factors) adalah faktor-faktor yang menjadi sumber
ketidakpuasan, yang terdiri dari: gaji/upah, pengawasan, hubungan antar pribadi,
kondisi kerja dan status. Faktor ini diperlukan untuk memenuhi dorongan biologis
serta kebutuhan dasar karyawan. Jika tidak terpenuhi faktor ini, karyawan tidak akan
puas. Namun, jika besarnya faktor ini memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
karyawan tidak akan kecewa meskipun belum terpuaskan. Dalam suatu pekerjaan
karyawan cenderung lebih menyukai pekerjaan- pekerjaan yang memberi mereka
kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dalam
menawarkan beragam tugas, kebebasan, dan umpan balik mengenai betapa baik
mereka bekerja

Indikator Komitmen Organisasi


Adapun indikator komitmen organisasi pada penelitian ini diambil menurut
pandangan Setiyanto and Selvi (2018) yaitu:
1) Affective commitment (Komitmen efektif), merupakan perasaan emosional untuk
organisasi dan keyakinan dalam nilai-nilainya. Berkaitan dengan hubungan
emosional anggota terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi, dan
keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi. Ketika seorang karyawan
memiliki affective commitment yang tinggi, maka akan tetap bertahan dalam
sebuhan organisasi karena ia memang menginginkan itu.
2) Continuance commitment (Komitmen kelanjutan), adalah nilai ekonomi yang dirasa
dari bertahan dalam suatu organisasi bila dibandingkan dengan meninggalkan
organisasi tersebut. Pada indikator ini anggota organisasi memiliki kesadaran
bahwa ia akan mengalami kerugikan jika meninggalkan organisasi. Seorang
karyawan dengan continuance commitment yang tnggi akan terus bertahan dalam
organisasi karena karyawan tersebut memiliki kebutuhan untuk menjadi anggota
organisasi.
3) Normative commitment (Komitmen normatif), yakni kewajiban untuk bertahan
dalam organisasi untuk alasan-alasan moral atau etis. Karyawan dengan normative
commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota organisasi karena merasa
dirinya harus berada dalam organisasi tersebut. Individu dengan normative
commitment yang tinggi akan tetap bertahan dalam organisasi karena merasa
adanya suatu kewajiban atau tugas

Pengertian Komitmen Organisasi


Komitmen organisasi Robbins& Judge (2015) Menyatakan bahwa komitmen
organisasi adalah suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak terhadap tujuan-
tujuan organisasi serta memiliki keinginan untuk mempertahankan keanggotaanya
dalam organisasi tersebut. Kemudian menurut Sunuharjo et al.,(2016) Sebagai sikap,
Komitmen organisasi paling sering didefinisikan sebagai keinginan kuat untuk tetap
sebagai anggota tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dengan kata lain,
ini merupakan sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses
berkelanjutan dimana anggota organisasi mengekspesikan perhatianya terhadap
organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan

Indikator Turnover Intention


Menurut Hartono (2017) berikut merupakan indikator ataupun indikasi-indikasi
terjadinya turnover intention :

  1. Absensi yang meningkat
    Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja, biasanya ditandai
    dengan absensi yang semakin meningkat. Tingkat tanggung jawab karyawan dalam
    fase ini sangat kurang dibandingkan dengan sebelumnya.
  2. Mulai malas bekerja
    Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja, akan lebih malas bekerja
    karena orientasi karyawan ini adalah bekerja di tempat lainnya yang dipandang lebih
    mampu memebuhi semua keinginan karyawan yang bersangkutan.
  3. Peningkatan terhadap pelanggaran tata tertib kerja
    Berbagai pelanggaran terhadap tata tertib dalam lingkungan pekerjaan sering
    dilakukan karyawan yang akan melakukan turnover. Karyawan lebih sering
    meninggalkan tempat kerja Ketika jam-jam kerja berlangsung maupun berbagai
    bentuk pelanggaran lainnya.
  4. Peningkatan protes terhadap atasan
    Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja, lebih sering melakukan
    protes terhadap kebijakan-kebijakan Perusahaan kepada atasan. Materi protes yang
    ditekankan biasanya berhubungan dengan balas jasa atau aturan yang tidak sependapat
    dengan keinginan karyawan.
    Niat karyawan untuk meninggalkan organisasi (Turnover Intention) Oleh Harnoto
    (2016) dapat diukur dengan lima indikator:
  5. Absensi Meningkat
    Tingkat absensi karyawan yang memiliki niat untuk melakukan pindah kerja
    ditadai dengan tingkat absensi yang meningkat.
  6. Mulai malas dalam bekerja.
    Karyawan mulai malas melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab dan
    mulai membandingkan dengan dengan pekerjaan lain.
  7. Peningkatan terhadap pelanggaran tata tertib kerja.
    Terjadi pelanggaran Peraturan perusahaan yang telah menjadi standart
    opretional prosedure perusahaan.
  8. Peningkatan protes terhadap atasan.
    Karyawan yang memiliki niat untuk pindah menjadi sestif terhadap kebijakan
    pimpinan, apa lagi hal ini berkaitan dengan balas jasa yang diberikan oleh
    perusahaan.
  9. Perilaku positif yang sangat berbeda dari biasanya.
    Indikasi terjadinya turnover intention dapat juga dipediksi melalui prilaku
    positif karyawan. Karyawan menjadi giat dalam menjalankan pekerjaannya justru
    menujukan karyawan akan melakukan turnover.
    Indikator yang dipergunakan untuk mengetahui intensi turnover dikembangkan dari
    hasil penelitian Chen & Francesco (Yuliana, 2017) yang meliputi:
  10. Pikiran untuk keluar
  11. Keinginan untuk mencari lowongan pekerjaan lain
  12. Adanya keinginan untuk meninggalkan organisasi dalam beberapa bulan
    mendatang

Faktor-Faktor Turnover Intention Karyawan


Menurut Mobley et al (1978) menyebutkan beberapa faktor yang menjadi penyebab
keinginan pindah kerja (Turnover Intention) adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik Individu
    Organisasi adalah wadah yang memiliki tujuan yang ditentukan secara bersama
    oleh orang-orang yang terlibat didalamnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka
    diperlukan adanya interaksi yang berkesinambungan dari unsur- unsur organisasi.
    Karakter individu yang mempengaruhi keinginan pindah kerja antara lain seperti
    umur, pendidikan, status perkawinan.
  2. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja dapat meliputi lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan
    fisik meliputi keadaan suhu, cuaca, kontruksi, bangunan, dan lokasi pekerjaan.
    Sedangkan lingkungan sosial meliputi sosial budaya di lingkungan kerjanya, dan
    kualitas kehidupan kerjanya.
  3. Kepuasan Kerja
    Pada tingkat individual, kepuasan merupakan variabel psikologi yang paling
    sering diteliti dalam suatu model intention to leave. Aspek kepuasan yang ditemukan
    berhubungan dengan keinginan individu untuk meninggalkan organisasi meliputi
    kepuasan akan gaji dan promosi, kepuasan atas supervisor yang diterima, kepuasan
    dengan rekan kerja dan kepuasan akan pekerjaan dan isi kerja.
  4. Komitmen organisasi
    Perkembangan selanjutnya dalam studi intention to leave memasukkan konstruk
    komitmen organisasional sebagai konsep yang turut menjelaskan proses tersebut
    sebagai bentuk perilaku, komitmen organisasional dapat dibedakan dari kepuasan
    kerja. Komitmen mengacu pada respon emosional (affective) individu kepada
    keseluruhan organisasi, sedangkan kepuasan mengarah pada respon emosional atas
    aspek khusus dari pekerjaan.
    Menurut Siagian (Nabilla, 2016) berbagai faktor yang mempengaruhi keinginan
    karyawan untuk meninggalkan organisasi (turnover intention) antara lain adalah
    tingginya stres kerja dalam perusahaan, rendahnya kepuasan yang dirasakan
    karyawan serta kurangnya komitmen pada diri karyawan untuk memberikan semua
    kemampuannya bagi kemajuan perusahaan

Pengertian Turnover Intention


Siregar (2006:214) Turnover Intention adalah kecenderungan atau niat karyawan
untuk berhenti bekerja dari pekerjaanya secara sukarela menurut pilihannya sendiri.
Ronald dan Milkha (2014:5) mengemukakan “Turnover Intention (keinginan berpindah
kerja) merupakan kecenderungan atau intensitas individu untuk meninggalkan organisasi
dengan berbagai alasan dan diantaranya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik”.
Abdillah (2012) Turnover intention merupakan suatu keadaan dimana karyawan
memiliki niat untuk mencari pekerjaan lain sebagai alternatif di organisasi yang berbeda.
Astiko et al (2012) Turnover dapat berupa pengunduran diri, perpindahan keluar unit
organisasi, pemberhentian atau kematian anggota organisasi. Menurut Zeffane (Taufan,
2014), arti intention niat atau keinginan yaitu timbul pada individu untuk melakukan
sesuatu. Sementara turnover adalah berhentinya seseorang karyawan dari tempatnya
bekerja secara sukarela, dapat didefinisikan bahwa turnover intention adalah
kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaannya secara
sukarela menurut pilihannya sendiri.
Selanjutnya dalam penelitian Risambessy (2009), turnover dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Voluntary turnover adalah karyawan yang meninggalkan perusahaan karena alasan
    sukarela. Voluntary turnover dapat dibedakan menjadi dua, yaitu avoidable turnover
    (yang dapat dihindari) dan unavoidable turnover (yang tidak dapat dihindari).
    Avoidable turnover disebabkan oleh upah yang lebih baik di tempat lain, kondisi kerja
    yang lebih baik di organisasi lain, masalah dengan kepemimpinan/administrasi yang
    ada, serta adanya organisasi lain yang lebih baik. Sedangkan unavoidable turnover
    disebabkan oleh pindah kerja ke daerah lain karena mengikuti pasangan, perubahan
    arah karir individu, harus tinggal di rumah untuk menjaga pasangan atau anak, dan
    kehamilan.
  2. Involuntary turnover adalah karyawan yang meninggalkan perusahaan karena
    terpaksa. Involuntary turnover diakibatkan oleh tindakan pendisiplinan yang
    dilakukan oleh perusahaan atau karena lay off.

Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja


Faktor-faktor yang memberikan kepuasan menurut Blum (1956)
dalam As’ad (1999) adalah:,yaitu :

  1. Faktor individual, meliputi umur, kesehatan, watak, dan harapan;
  2. Faktor sosial, meliputi hubungan kekeluargaan, pandangan
    masyarakat, kesempatan bereaksi, kegiatan perserikatan pekerja,
    kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan;
  3. Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah, pengawasan,
    ketentraman kerja, kondisi kerja, dan kesempatan untuk maju.
    Ada dua faktor yang mempengaruhui kepuasan kerja, yaitu faktor
    yang ada pada diri pegawai dan faktor pekerjaannya (Mangkunegara,
    2009:120).
  4. Faktor pegawai, yaitu kecerdasan (IQ), kecerdasan khusus, umur,
    jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa
    kerja, kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi, dan sikap kerja.
  5. Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat
    (golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial,
    kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah (Sutrisno, 2009:
    82-84):
  6. Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini, ada tidaknya kesempatan
    untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama
    kerja.
  7. Keamanan kerja. Faktor ini disebut sebagai penunjang kepuasan
    kerja, baik bagi karyawan. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi
    perasaan karyawan selama kerja.
  8. Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang
    orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang
    yang diperolehnya.
  9. Perusahaan dan manajemen. Perusahaan dan manajemen yang baik
    adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil.
  10. Pengawasan. Sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat
    berakibat absensi dan turnover.
  11. Faktor Intrinsik dari pekerjaan. Atribut yang ada dalam pekerjaan
    mensyaratkan keterampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta
    kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan atau mengurangi
    kepuasan.
  12. Kondisi kerja. Termasuk di sini kondisi kerja tempat, ventilasi,
    penyiaran, kantin dan tempat parkir.
  13. Aspek sosial dalam pekerjaan. Merupakan salah satu sikap yang sulit
    digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas
    atau tidak puas dalam bekerja.
  14. Komunikasi. Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak
    manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam
    hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar,
    memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya
    sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
  15. Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan
    merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan
    menimbulkan rasa puas

Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan
atau tidak menyenangkan para karyawan dalam memandang pekerjaan
mereka. Kepuasan kerja didefinisikan sebagai perasaan senang atau
emosi positif yang didapat seseorang dari pengalaman kerja yang
berkenaan dengan individu, bukan kelompok (Andini, 2006 dalam
Dwihana & Ardhana, 2017). Kepuasan kerja dapat ditunjukkan melalui
kenyamanan lingkungan kerja, dukungan rekan kerja, system kompensasi
yang adil berdasarkan kesesuaian beban kerja, kualitas supervise dan
kesempatan promosi. Kepuasan kerja yang tinggi mengimplikasikan
bahwa karyawan senang dan nyaman kepada lingkungan organisasi serta
jerih payah yang sesuai dari hasil kerjanya (Aziri, 2011).
Karyawan dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi cenderung
memiliki kesehatan fisik yang lebih baik, lebih cepat mempelajari tugas
yang berhubungan dengan pekerjaan baru, sedikit memiliki catatan
kecelakaan kerja, sedikit keluhan dan mampu mengelola tingkat stress
kerja dengan baik (Luthans, 2006)

Indikator pengukuran Turnover Intention


Indikator pengukuran menurut (Mobley, Honer, & Hollingsworth,
1978) terdiri atas :
a. Pemikiran untuk keluar (Thinking of quiting) :
Mencerminkan individu untuk berpikir keluar dari pekerjaan atau
tetap berada di lingkungan pekerjaaan. Diawali dengan ketidak puasan
kerja yang dirasakan oleh karyawan, kemudian karyawan berpikir
untuk keluar dari tempat bekerjanya saat ini.
b. Pencarian alternatif pekerjaan (Intention to search for alternative) :
Mencerminkan individu berkeinginan untuk mencari pekerjaan untuk
organisasi lain. Jika karyawan sudah mulai sering berfikir untuk keluar
dari pekerjaannya, karyawan tersebut akan mencoba mencari pekerjaan
diluar perusahaannya yang dirasa lebih baik.
c. Niat untuk keluar (Intention to Quit):
Mencerminkan individu yang berniat keluar. Karyawan berniat keluar
apabila telah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan nantinya
akan diakhiri dengan keputusan karyawan tersebut untuk tetap
tinggal atau keluar dari pekerjaannya

Faktor – faktor penyebab Turnover Intention


Menurut Mobley (2000), keinginan untuk mengakhiri tugas atau
meninggalkan organisasi berhubungan dengan kepuasan kerja. Kepuasan
kerja yang dirasakan dapat mempengaruhi pemikiran seseorang untuk
keluar. Job stressors dan kurangnya kepuasan kerja merupakan salah satu
faktor yang dapat menimbulkan keinginan seseorang untuk meninggalkan
pekerjaan mereka. Oleh karena itu, menurut (Maertz dan Campion 1998),
proses identifikasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi niat untuk
pindah (turnover intention) menjadi suatu hal yang penting untuk
dipertimbangkan dan menjadi sesuatu yang efektif untuk menurunkan
angka turnover yang sebenarnya. Menurut (Harnoto, 2002), Turnover
Intention ditandai oleh berbagai hal yang menyangkut perilaku karyawan.
Indikasi-indikasi tersebut meliputi :

Tingginya Tingkat Absensi
Karyawan yang memiliki turnover intention biasanya cenderung
meningkatkan absensinya, hal itu terjadi karena dalam fase tersebut
tingkat tanggung jawab karyawan sudah sangat berkurang
dibandingkan sebelumnya.

  1. Malas Bekerja
    Karyawan yang memiliki turnover intention akan lebih malas bekerja
    karena orientasi karyawan ini adalah bekerja di tempat lain yang
    dipandang mampu memenuhi keinginan karyawan tersebut.
  2. Pelanggaran Tata Tertib Kerja
    Berbagai pelanggaran tata tertib dalam lingkungan kerja sering
    dilakukan karyawan yang memiliki turnover intention. Karyawan lebih
    sering meninggalkan tempat kerja ketika jam kerja berlangsung,
    maupun berbagai bentuk pelanggalan lainnya.
  3. Peningkatan Protes Terhadap Atasan
    Karyawan yang memiliki turnover intention, lebih sering melakukan
    protes terhadap kebijakan-kebijakan perusahaan kepada atasan. Materi
    protes yang ditekankan biasanya berhubungan dengan balas jasa atau
    aturan lain yang tidak sependapat dengan keinginan karyawan.
  4. Perilaku Yang Berubah
    Biasanya hal ini berlaku untuk pegawai yang mempunyai karakteristik
    positif. Pegawai ini mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap
    tugas yang dibebankan, dan jika perilaku positif pegawai ini meningkat
    jauh dan berbeda dari biasanya justru menunjukkan pegawai ini akan
    melakukan turnover

Pengertian Turnover Intention


(Siregar, 2006) Mendefinisikan turnover intention adalah
kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti bekerja dari
pekerjaanya secara sukarela menurut pilihannya sendiri. Menurut
(Harninda & Harnoto, 2009), turnover intentions pada dasarnya adalah
sama dengan keinginan berpindah karyawan dari satu tempat kerja ke
tempat kerja lainnya. Menurut (Harnoto, 2002),, Turnover Intention
adalah kadar atau intensitas dari keinginan untuk keluar dari perusahaan,
banyak alasan yang menyebabkan timbulnya Turnover Intention ini dan
diantaranya adalah keinginan untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik.
Susiani (2014) mengungkapkan bahwa tingkat turnover intention
yang terjadi dalam organisasi mengarah pada kenyataan akhir yang
berupa keluarnya karyawan pada saat tertentu

Indikator Stress Kerja


Adapun indikator stress kerja yaitu sebagai berikut (8):
a) Fisiologis
Aspek ini mencakup reaksi tubuh terhadap stres seperti
gangguan metabolisme, peningkatan tekanan darah, sakit kepala,
dan kelelahan fisik karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan
dengan cepat.
b) Psikologis
Hal ini berkaitan dengan tekanan mental dan emosional,
misalnya perasaan tegang, cemas, mudah marah, bosan, dan
penundaan pekerjaan yang membuat individu sulit mengembangkan
kemampuan diri.
c) Perilaku
Tekanan ini meliputi perubahan perilaku seperti penurunan
dalam produktivitas, ketidakhadiran, kesulitan berkonsentrasi, dan
bisa muncul perilaku negatif seperti meningkatnya merokok dan
konsumsi alkohol.

Faktor-faktor yang mempengaruhi stress kerja


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi stress kerja
yaitu :
a) Faktor Pekerjaan
Berbagai faktor seperti beban kerja yang berlebihan dalam
waktu yang terbatas, ketidakjelasan mengenai peran dan tanggung
jawab, adanya konflik peran yang tidak sesuai dengan kemampuan
individu, serta kurangnya kendali atas pekerjaan yang dijalankan
dapat menyebabkan tekanan yang signifikan bagi karyawan. Selain
itu, hubungan yang kurang harmonis dengan rekan kerja atau atasan,
lingkungan kerja yang tidak kondusif, dan ketidakpastian terkait
jalur karir juga turut berkontribusi dalam meningkatnya tingkat
stres. Kondisi-kondisi tersebut tidak hanya mempengaruhi
kesejahteraan mental karyawan, tetapi juga dapat menghambat
produktivitas dan kualitas hasil kerja secara keseluruhan.
b) Faktor Individu
Masalah pribadi maupun keluarga yang mengalihkan
perhatian dan mengganggu fokus saat bekerja, ditambah dengan
kesulitan dalam mengelola emosi secara efektif, dapat memicu stres
yang berdampak negatif pada kinerja serta kesejahteraan mental
karyawan di tempat kerja. Hal ini tidak hanya menurunkan
produktivitas, tetapi juga dapat menghambat kemampuan karyawan
untuk beradaptasi dan mempertahankan keterlibatan dalam tugas-
tugas mereka.
c) Faktor Lingkungan Hidup
Kurangnya dukungan yang memadai dari atasan, rekan
kerja, maupun organisasi, ditambah dengan adanya persaingan yang
tidak sehat antar sesama karyawan, dapat menciptakan lingkungan
kerja yang kurang kondusif dan menimbulkan tekanan psikologis.
Situasi seperti ini sering kali menyebabkan karyawan merasa
terisolasi, kurang termotivasi, serta mengalami stres yang
berdampak negatif pada produktivitas dan kesejahteraan mereka
secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk
membangun budaya kerja yang suportif dan kompetitif secara sehat
guna menjaga kenyamanan dan semangat kerja karyawan

Stress Kerja


Stress adalah reaksi yang muncul ketika seseorang mengalami
tekanan yang berlebihan akibat tuntutan, hambatan, atau peluang yang
terlalu banyak (8). Para ahli juga menyatakan bahwa stres kerja merupakan
kondisi emosional yang timbul karena ketidaksesuaian antara beban kerja
dan kemampuan individu dalam menghadapinya. Stres ini dipengaruhi oleh
perbedaan pribadi serta proses psikologis yang terjadi akibat situasi atau
peristiwa yang memberikan tekanan psikologis atau fisik secara berlebihan
(16).
Hubungan antara stres kerja dan kinerja karyawan mengikuti pola
kurva U terbalik, di mana tingkat stres moderat justru bersifat adaptif. Pada
level tersebut, stres dapat memperkuat konsentrasi, dorongan kerja,
vitalitas, serta keterlibatan karyawan (work engagement). Sebaliknya, stres
rendah sering kali menimbulkan kebosanan yang menurunkan motivasi,
sedangkan stres ekstrem memicu beban psikologis, kelelahan emosional,
dan penurunan keterlibatan (8). Teori kurva U terbalik ini menyoroti bahwa
stres optimal berpotensi memacu keterlibatan kerja secara efektif. Oleh
karena itu, organisasi disarankan untuk mengatur beban tugas dan tuntutan
kerja agar karyawan berada pada zona tantangan yang seimbang, sehingga
memaksimalkan tingkat keterlibatan kerja. Kesimpulannya, stres kerja
dapat dipahami sebagai kondisi ketegangan atau tekanan yang dialami
seseorang akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan
kemampuan atau sumber daya yang dimiliki, hingga berdampak pada
emosi, proses berpikir, kesehatan fisik, serta kinerja karyawan di lingkungan
kerja.

Indikator Resiliensi


Adapun indikator resiliensi yaitu sebagai berikut (17) :
a) Efisikasi Diri (self-efficacy)
Efikasi diri merupakan kepercayaan yang dimiliki seseorang
terhadap kemampuannya sendiri dalam mengelola dan
melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk
menyelesaikan suatu tugas secara efektif. Keyakinan ini mencakup
rasa percaya bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan,
mengatasi hambatan, serta mencapai hasil melalui usaha dan
keterampilan yang dimilikinya. Tingkat efikasi diri yang tinggi,
individu cenderung lebih termotivasi, gigih, dan percaya diri dalam
menghadapi berbagai situasi, sehingga peluang keberhasilan dalam
mencapai tujuan pun semakin besar. Sebaliknya, rendahnya efikasi
diri dapat menghambat seseorang untuk berusaha maksimal dan
menghadapi kesulitan dengan rasa takut atau ragu. Membangun
efikasi diri menjadi aspek penting dalam pengembangan potensi diri
dan pencapaian prestasi.
b) Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu
untuk mengenali dan memahami perasaan diri sendiri serta orang
lain di sekitarnya. Hal ini mencakup kesadaran akan berbagai jenis
emosi yang muncul dalam berbagai situasi, baik positif maupun
negatif. Kecerdasan emosional seseorang dapat mengelola dan
mengarahkan emosinya secara efektif sehingga mampu membuat
keputusan yang bijaksana dan bertindak secara tepat sesuai konteks.
Selain itu, kemampuan ini juga membantu dalam membangun
hubungan interpersonal yang harmonis, meningkatkan empati, serta
mengatasi tekanan atau konflik dengan cara yang konstruktif. Secara
keseluruhan, kecerdasan emosional menjadi modal penting bagi
seseorang untuk menjalani kehidupan sosial dan profesional dengan
lebih sukses dan seimbang.
c) Optimisme
Optimisme merupakan keyakinan seseorang bahwa segala
hal akan berkembang ke arah yang lebih baik. Sikap ini membuat
individu cenderung memandang segala situasi dari sudut pandang
positif, meskipun sedang menghadapi hambatan atau kesulitan.
Sikap optimis seseorang dapat mempertahankan harapan dan
semangatnya, sehingga tetap terdorong untuk meraih tujuan yang
diinginkan. Selain itu, optimisme memudahkan seseorang untuk
bangkit dari kegagalan, karena ia percaya bahwa setiap tantangan
pasti ada jalan keluarnya dan masa depan yang lebih cerah akan
datang. Sikap optimis tidak hanya memberi manfaat bagi diri
sendiri, tetapi juga mampu menyebarkan aura positif kepada orang-
orang di sekitarnya.
d) Dukungan sosial
Dukungan sosial merupakan kehadiran, kesediaan, dan
perhatian dari orang lain yang dapat dipercaya, menghormati, serta
menyayangi seseorang. Bentuk dukungan ini bisa datang dari
keluarga, sahabat, rekan kerja, atau lingkungan sekitar yang
memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi individu. Adanya
dukungan sosial seseorang tidak merasa sendiri saat menghadapi
berbagai masalah dalam hidup, sehingga dapat meningkatkan rasa
percaya diri serta kesejahteraan emosionalnya. Selain itu, dukungan
sosial memiliki peran penting dalam membantu individu mengelola
stres, mempercepat proses pemulihan dari kesulitan, dan
memberikan dorongan untuk terus maju. Kehadiran orang-orang
yang peduli dan siap memberikan bantuan saat dibutuhkan menjadi
sumber kekuatan yang sangat berharga dalam kehidupan setiap
orang

Resiliensi


Resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan
bangkit kembali setelah mengalami kesulitan, tekanan, atau perubahan yang
tidak terduga. Secara umum, resiliensi mencakup kemampuan individu atau
organisasi dalam menghadapi tantangan, mengelola risiko, dan
menggunakan situasi sulit sebagai kesempatan untuk berkembang (16).
Resiliensi merupakan salah satu dari komponen dalam Psycological Capital
(PsyCap) dengan komponen lainnya yakni hope, efficacy, dan optimism.
Teori ini menekankan bahwa resiliensi bersifat state-like, yang artinya hal
tersebut dapat dikembangkan melalui pengalaman, pelatihan, dan dukungan
lingkungan, sehingga bukan hanya sekedar sifat bawaan individu,
melainkan juga merupkan kapasitas psikologis yang bisa ditingkatkan untuk
mendukung kinerja dan kesejahteraan individu tersebu

Indikator Work Engagement


Terdapat beberapa indikator work engagement diantaranya (1):
a) Vigor (semangat)
Merupakan tenaga dan ketahanan mental yang kuat saat
bekerja, termasuk keberanian untuk berusaha maksimal dalam
menyelesaikan tugas, ketekunan menghadapi tantangan, serta
kemauan untuk memberikan usaha terbaik. Dengan kombinasi
tersebut, seseorang mampu terus maju meskipun menghadapi
kesulitan, sehingga hasil kerja yang optimal dapat tercapai secara
berkelanjutan.
b) Dedication (dedikasi)
Merupakan keterlibatan yang kuat dalam pekerjaan, dengan
perasaan bahwa pekerjaan itu berarti, penuh semangat, bangga,
terinspirasi, dan siap menghadapi tantangan. Hal ini membuat
karyawan merasa pekerjaannya penting dan merasa bangga terhadap
pekerjaannya, sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik
dengan penuh dedikasi.
c) Absorption (penyerapan)
Kondisi di mana karyawan sangat fokus pada pekerjaannya
hingga waktu terasa berjalan cepat dan mereka sulit untuk berhenti
atau melepaskan diri dari pekerjaan tersebut. Tingkat keterlibatan
yang tinggi ini membuat seseorang merasa sangat terhubung dengan
pekerjaannya, sehingga batas antara waktu kerja dan waktu istirahat
menjadi kabur

Work Engagement


Work engagement atau keterlibatan kerja adalah kondisi psikologis
di mana karyawan merasa bersemangat, berdedikasi, dan terlibat
sepenuhnya dalam pekerjaannya (8). Work engagement adalah kondisi saat
karyawan merasa pekerjaannya adalah bagian dari dirinya, dan ia
menganggap hasil kerjanya penting, baik untuk dirinya sendiri maupun
untuk organisasi (14), (15). Work engagement adalah kondisi ketika
karyawan terikat dan terlibat dalam pekerjaannya secara fisik, emosional,
dan pikiran. Hal ini ditunjukkan melalui semangat, dedikasi, dan
keterlibatan penuh, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang optimal

Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kepuasan Kerja


Menurut (Darmadi, 2017) mengemukakan kecerdasan emosional yaitu
skill umum yang dimiliki seseorang dalam hal problem solving(pemecahan
masalah) di hidupnya sehari-hari. Penerapan kecerdasan emosional yang baik
merupakan kunci yang membuat seseorang menjadi pandai dalam
menggunakan emosinya. Kecerdasan emosional yang dapat diaplikasikan
dengan baik maka dapat menyebabkan seseorang bisa meraih tingkat
kepuasan kerja yang maksimal.
(Fonna Mahdani, 2017) menyatakan Kecerdasan emosional sangat
diperlukan dalam suatu organisasi perusahaan. Karena kecerdasan emosional
seseorang dapat menyumbang kepada tingkat kepuasan kerja seseorang
karyawan dan diperkirakan dapat menjadi pemicu kinerja karyawan. Virk
(2011) dalam Ni Luh Putu Nurrangsih (2015) dalam penelitiannya
menunjukkan hasil bahwa emosi memainkan peran penting dalam kepuasan
kerja, manajer yang memilki kecerdasan emosional tinggi lebih puas dengan
pekerjaan mereka daripada manajer yang memiliki kecerdasan emosional
yang rendah

Pengaruh Resiliensi terhadap Kepuasan Kerja


Luthans et al. (2007) menyatakan bahwa strategi peningkatan resiliensi secara
proaktif dan reaktif di tempat kerja dapat berkontribusi terhadap kepuasan
hidup sehingga resiliensi karyawan memengaruhi kebahagiaan individu di
tempat kerja. Memerluas argumen tersebut, Prayag et al. (2019),
mengungkapkan resiliensi pada diri seseorang dapat memberikan pengaruh
positif terhadap kepuasan hidup pemilik atau manajer bisnis. Sejalan dengan
itu resiliensi juga ditemukan untuk memprediksi kepuasan hidup karena dapat
bekerja sebagai perisai seseorang dalam menghadapi berbagai kesulitan
(Langer, 2004)
Resiliensi karyawan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. (Athota,
V. S., Budhwar, P., & Malik, A., 2020) dalam penelitiannya pada karyawan
di Australia dan India terdapat pengaruh positif dan signifikan antara
resiliensi dengan kinerja karyawan. Diperkuat oleh penelitian ( (Walpita, Y.
N, 2020)) bahwa jika resiliensi tinggi, maka kinerja karyawan cenderung
semakin tinggi. Karena tingginya tingkat resiliensi bisa menurunkan dampak
negative di dalam pekerjaan. (Li, P. P, 2020) menemukan bahwa resiliensi
berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja

Indikator Kecerdasan Emosional


Indikator Kecerdasan Emosional menurut (Goleman, 2019) antara lain :

  1. Mengenali emosi diri
    Mengenali emosi diri merupakan mengenali perasaan sewaktu perasaan itu
    terjadi dan merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan
    memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi
    wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan mencermati
    perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan
    perasaan (Goleman, 2019)
  2. Mengelola emosi
    Mengelola emosi merupakan menangani perasaan agar perasaan dapat
    terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran
    diri. Orang-orang yang buruk dalam ketrampilan ini akan terus-menerus
    bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat
    bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan
    dalam kehidupan (Goleman, 2019)
  3. Memotivasi diri
    Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat
    penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri
    sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri
    emosional dapat menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan
    dorongan hati yang menjadi landasan dalam berbagai bidang (Goleman,
    2019)
  4. Mengenali emosi orang lain
    Empati merupakan kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri
    emosional, merupakan ketrampilan bergaul. Orang yang berempatik lebih
    mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang
    mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki oleh orang lain
    (Goleman, 2019)
  5. Membina hubungan
    Seni membina hubungan, sebagian besar merupakan kertampilan
    mengelola emosi orang lain. Membina hubungan merupakan ketrampilan
    yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar
    pribadi. Orang-orang yang hebat dalam ketrampilan ini akan sukses dalam
    bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang
    lain (Goleman, 2019)

Faktor-faktor Yang mempengaruhi Kecerdasan Emosional


Kecerdasan emosi tidak didapatkan begitu saja, tetapi diperoleh melalui
proses pembelajaran. Terdapat beberapa faktor yang dapat membentuk kecerdasan
emosi seseorang, yakni (Goleman, 2019):

  1. Lingkungan Keluarga
    Lingkungan keluarga merupakan sekolah pertama untuk mempelajari
    emosi. Pembelajaran emosi dimulai saat bayi dan terus berlanjut
    sepanjang kehidupan. Keluarga adalah subjek pertama kali yang
    diamati anak, bagaimana cara berinteraksi dengan anak dan
    menyalurkan emosi kepada anak. Kecerdasan emosi dapat diajarkan
    kepada anak saat masih bayi dengan cara memberikan contoh-contoh
    ekspresi, karena anak sangat peka terhadap transmisi emosi yang paling
    halus sekalipun. Kehidupan emosi yang dipupuk sejak dini oleh
    keluarga sangat berdampak bagi anak di kemudian hari, sebagai contoh:
    anak dapat mengenali, mengelola dan memanfaatkan perasaan-
    perasaan, berempati, tanggung jawab, dan lain sebagainya. Kemampuan
    tersebut dapat membantu anak lebih mudah menangani dan menghadapi
    permasalahan. Sehingga anak tidak memiliki banyak masalah tingkah
    laku yang negative (Goleman, 2015)
  2. Lingkungan Sosial
    Penyesuaian dengan tuntutan orang lain membutuhkan sedikit
    ketenangan dalam diri seseorang. Tanda kemampuan mengelola emosi
    muncul kira-kira pada periode anak-anak dalam aktivitas bermain
    peran. Bermain peran memunculkan rasa empati, contohnya: anak dapat
    menghibur temannya yang menangis. Permainan peran dapat membuat
    anak memerankan dirinya sebagai individu lain dengan emosi yang
    menyertainya sehingga anak akan mulai belajar mengerti keadaan orang
    lain. Jadi, menangani emosi orang lain termasuk seni yang mantap
    untuk menjalin hubungan sehingga membutuhkan keterampilan emosi.
    Dengan landasan ini keterampilan berhubungan dengan orang lain
    menjadi lebih matang (Goleman, 2015)

Pengertian Kecerdasan Emosional


Menurut (Goleman, 2019) emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk
bertindak dan rencana seketika untuk mengatasi suatu masalah. Akar kata emosi
adalah movere yang artinya menggerakkan, bergerak, menyiratkan bahwa
kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. (Goleman, 2015:
410) mengelompokkan emosi dalam golongan-golongan besar yaitu:

  1. Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa
    pahit, berang, tersinggung, bermusuhan dan barang kali yang paling
    hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis
  2. Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri,
    kesepian, ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis, depresi berat
  3. Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali,
    waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, sebagio patologi fobia dan panik.
  4. Kenikmatan: bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur,
    bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa
    terpenuhi, kegirangan luar biasa senang sekali dan batas ujungnya.
  5. Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,
    bakti, hormat, kemesraan, kasih
  6. Terkejut: terkesiap, terkejut, takjub, terpana
  7. Jengkel: hina, jijik, muak, mual, tidak suka, mau muntah
  8. Malu: malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib dan hati hancur lebur
    Kecerdasan emosi merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan sendiri
    dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan
    mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang
    lain (Goleman, 2015)
    Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan
    emosi adalah kemampuan individu dalam mengelola emosi meliputi kemampuan
    mengendalikan dorongan diri dan keinginan, mengontrol sikap dan perilaku.
    Sehingga individu dapat diterima di lingkungan sosial dan dapat mengenali
    perasaan orang lain

Indikator resiliensi


Menurut Bernad (2014), indikator resiliensi yaitu sebagai berikut.:

  1. Kemampuan sosial, individu memiliki rasa humor, adanya perasaan
    peduli, memiliki kemampuan komunikasi, dan fleksibilitas serta
    perilaku yang positif.
  2. Kemampuan memecahkan masalah, didalamnya mencangkup
    kemampuan individu berfikir secara abstrak dan reflektif, mampu
    menemukan solusi alternatif yang melibatkan aspek kognitif dan sosial.
  3. Kemandirian yang meliputi kesehatan yang baik, sejahtera dan bebas
    melakukan tindakan yang dianggap benar.
  4. Memahami tujuan, yaitu individu memiliki usaha untuk mencapai
    kesuksesan, adanya motivasi untuk berprestasi, dan memiliki antisipasi
    terhadap kemungkinan terburuk yang terjadi di kemudian hari.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Resiliensi


Menurut (Resnick B, 2021), terdapat empat faktor yang mempengaruhi
resiliensi dalam individu :

  1. Self-Esteem
    Self esteem adalah suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang
    diungkapkan dalam sikap positif dan negatif. Self esteem berkaitan
    dengan bagaimana orang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi
    perilaku dalam kehidupan sehari-hari (Tambunan, 2001). Memiliki self
    esteem yang baik pada masa individu dapat membantu myang
    enghadapi kesengsaraan hidup karena dapat menilai sesuatu hal dari sisi
    yang lebih positif.
  2. Dukungan Sosial (social support)
    (Poegoeh, D. P., & Hamidah, 2018) mengungkapkan bahwa dukungan
    sosial adalah pertolongan yang diperoleh seseorang dari interaksinya
    dengan orang lain dimana bantuan tersebut dapat menaikkan perasaan
    positif sehingga akan berdampak pada kesejahteraan individu secara
    umum. Seseorang yang mengalami kesulitan dan kesengsaraan akan
    meningkatkan resiliensi dalam dirinya ketika pelaku sosial yang ada di
    sekelilingnya memberikan dukungan terhadap penyelesaian masalah
    atau proses bangkit kembali yang dilakukan oleh individu tersebut
    karena adanya pertolongan dan bantuan dari orang lain.
  3. Spiritualitas
    Salah satu faktor yang dapat meningkatkan resiliensi pada individu
    adalah ketabahan atau ketangguhan dan keberagaman serta spiritualitas.
    Dalam hal ini pandangan spiritual pada individu percaya bahwa Tuhan
    adalah penolong dalam setiap kesengsaraan yang tengah dialaminya,
    tidak hanya manusia yang mampu menyelesaikan segala kesengsaraan
    yang ada, dan dalam proses ini individu percaya bahwa Tuhan adalah
    penolong setiap hambanya..
  4. Emosi Positif
    Emosi positif juga merupakan faktor penting dalam pembentukan
    resiliensi individu. Emosi positif sangat dibutuhkan ketika menghadapi
    suatu situasi yang krisis dan dengan emosi positif dapat mengurangi
    stres secara lebih efektif. Individu yang memiliki rasa syukur mampu
    mengendalikan emosi negatif dalam menghadapi segala permasalahan
    di dalam kehidupan

Pengertian Resieliensi


Menurut (Herman, 2019)resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk
pulih atau menyusaikan diri dari kemalangan. Resiliensi menurut (Helmi,
A., & Utami, C, 2017) merupakan kapasitas manusia untuk menghadapi
dan mengatasi kesulitan dalam kehidupan. Menurut (Unggar, 2018)), juga
mengartikan bahwa resiliensi sebagai kemampuan individu untuk
mengatasi kesulitan dan melanjutkan tugas perkembangan seperti semula.
Hal tersebut berarti bahwa individu yang resilien mampu secara cepat
kembali pada kondisi sebelum terjadi trauma, stres atau kejadian yang
menekan..
(Cutuli, J. J., & Masten, A. S, 2019) menjelaskan bahwa resiliensi tidak
dapat dilihat sebagai sifat tunggal karena banyak interaksi yang terlibat
didalamnya. Resiliensi muncul dari banyak sumber dan proses yang
akhirnya membentuk hidup positif. (Herbert, HS., Manjula, M., & Philip,
M., 2019) mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan untuk bertahan
dengan sukses dalam menghadapi situasi yang mengancam dan
menantang.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa resiliensi
adalah kemampuan yang ada di dalam diri karyawan PT.FIF Jombang
untuk mengatasi kesulitan dan tantangan dalam kehidupannya dan mampu
untuk beradaptasi dari kondisi tersebut

Resiliensi


Secara etimologis, kata “resiliensi” berasal dari bahasa latin “re-silere”
yang berarti sebuah kapasitas untuk pulih atau bangkit kembali ( ( Masten,
A.S., & Gewirtz, 2019). Menurut (Bonanno, 2018) resiliensi merupakan
kapasitas manusia untuk tetap memelihara fungsi psikologis dan fisik agar
tetap seimbang dan normal dalam menghadapi segala sesuatu yang tidak
seimbang dan normal dalam menghadapi segala sesuatu yang tidak
menguntungkan dan mengancam jiwa. Resiliensi juga sebagai kemampuan
individu untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap kejadian yang berat
atau masalah yang terjadi dalam kehidupan ( (Reivich, 2019)

Indikator Kepuasan Kerja


Beberapa indikator dari kepuasan kerja menurut Beberapa indikator dari
kepuasan kerja menurut (Luthans, 2019), menyatakan ada 5 indikator
kepuasan kerja yaitu :

  1. Pekerjaan Itu Sendiri
    Kepuasan ini tercapai bilamana pekerjaan seorang karyawan sesuai
    dengan minat dan kemampuan karyawan itu sendiri.
  2. Gaji
    Di mana karyawan merasa gaji atau upah yang diterimanya sesuai
    dengan beban kerjanya dan seimbang dengan karyawan lain yang
    bekerja di organisasi itu.
  3. Kesempatan Promosi.
    Kesempatan untuk meningkatkan posisi jabatan pada struktur
    organisasi.
  4. Supervisi
    Aktivitas yang dilakukan untuk menjelaskan dan memastikan
    karyawan bahwa hasil standar kerja sesuai dengan perusahaan.
  5. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja dengan kondisi bersih karyawan bersemangat untuk
    melakukan pekerjaan dan lingkungan kerja yang kotor karyawan lebih
    sulit menyelesaiakan pekerjaannya

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan kerja


Menurut Umam, (2010: 56) adalah sebagai berikut:

  1. Gaji, jika gaji dipersepsikan adil, maka akan timbul suatu kepuasan
    dalam bekerja
  2. Kondisi kerja yang menunjang, meliputi resiliansi, kondisi di mana
    karyawan dapat bekerja dengan nyaman, jika kebutuhan-kebutuhan
    fisik dapat terpenuhi maka akan memuaskan para karyawan
  3. Hubungan kerja (rekan kerja dan atasan), kondisi di mana antar
    individu merasakan hubungan yang baik dengan rekan kerja maupun
    atasan, dalam kondisi tersebut maka karyawan akan termotivasi dan
    akan mengarah kepada kepuasan kerja
    Menurut Mangkunegara (2019) ada dua faktor yang bisa mempengaruhi
    kepuasan kerja, yaitu:
  4. Faktor Karyawan Meliputi kecerdasan (IQ) kecerdasan Emosional,
    umur, jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa
    kerja, kepribadian, emosi, cara berfikir, persepsi, resiliensi dan sikap
    kerja
  5. Faktor Pekerjaan Meliputi jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat
    atau golongan, kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial,
    kesempatan promosi jabatan, interaksi sosial dan hubungan kerja.

Definisi Kinerja Karyawan


Menurut (Viswesvaran & Ones, 2000), kinerja karyawan
merupakan suatu tindakan, perilaku, dan hasil yang bisa diukur
sesuai dengan apa yang telah dikerjakan karyawan untuk mencapai
tujuan perusahaan. Kinerja dapat pula diartikan sebagai kesuksesan
individu dalam melakukan pekerjaannya. Ukuran kesuksesan
masing-masing karyawan bergantung pada fungsi dari
pekerjaannya yang spesifik dalam bentuk aktivitas selama kurun
waktu tertentu. Dengan kata lain, ukuran kesuksesan kinerja
tersebut didasarkan pada ukuran yang berlaku dan disesuaikan
dengan jenis pekerjaannya (Umam, 2012).
Menurut (Edison, Anwar, & Khomariyah, 2016), kinerja
adalah hasil dari suatu proses yang mengacu dan diukur selama
periode waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika ada kinerja yang tidak
efektif pada setiap tingkatan harus dipandang sebagai suatu isyarat
bagi manajemen untuk melakukan koreksi terhadap setiap elemen
perusahaan.
Menurut (Mathis & Jackson, 2006), kinerja merupakan
suatu hal yang sudah dilaksanakan ataupun yang tidak
dilaksanakan oleh karyawan.
Berdasarkan paparan dari pendapat-pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa kinerja adalah perilaku nyata yang ditunjukkan
individu sebagai hasil dari kerja keras sesuai dengan perannya
dalam perusahaan

Dimensi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja dapat diukur dengan dimensi-dimensi kepuasan menurut Indeks
Deskriptif Jabatan (Job Descriptive Index). Menurut Smith (dalam Luthans, 2014) dimensi-
dimensi tersebut antara lain:
a. Atasan
1) Kesetiaan
2) Rasa keadilan,
b. Promosi
1) Peluang
2) Rasa keadilan mendapatkan promosi,
c. Benefit
1) Asuransi,
2) Fasilitas,
d. Contingen Reward
1) Rasa hormat,
2) Apresiasi,
e. Operating Procedure
1) Aturan,
2) Procedur

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja tidak semata-mata timbul dengan sendirinya. Kepuasan kerja timbul
karena adanya beberapa faktor yang mendorong karyawan merasa puas atas pekerjaannya.
Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mendorong timbulnya kepuasan kerja dalam diri
karyawan menurut (Abdus, 2014)
a. Faktor instrinsik
Merupakan faktor yang berasal dari diri karyawan dan dibawa oleh setiap karyawan
sejak mulai bekerja di mana dia bekerja.
b. Faktor ekstrinsik
Menyangkut hal-hal yang berada dari luar karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan
kerja, sistem penggajian dan interaksinya dengan karyawan lain.
Sementara itu Robbins memiliki pendapat lain mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja. Berikut ini merupakan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja menurut Robbins (2016):
a. Pekerjaan yang Menantang
Menurut Robbins (2016:36), Pekerjaan yang menantang adalah pekerjaan yang
memberikan kesempatan untuk menggunakan kemampuan, ketrampilan dan
menawarkan satu varietas tugas, umpan balik dan kebebasan tentang seberapa baiknya
melakukan pekerjaan yang secara praktek sangat menantang.
b. Ganjaran yang Pantas
Imbalan yang pantas, dan atau imbalan yang layak adalah merupakan keinginan
karyawan akan kebijakan promosi dan sistem upah yang mereka pandangan sebagai adil
dan segaris dengan pengharapan mereka. Bila upah dilihat sebagai adil yang didasarkan
pada tuntutan pekerjaan, tingkat ketrampilan individu, dan standar pengupahan
komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. Serupa pula karyawan
berusaha mendapatkan praktik promosi yang adil, karenaa promosi memberikan
kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, status sosial dan tanggung jawab yang
ditingkatkan. Oleh karenaa itu individu-individu yang berpandangan bahwa
keberagaman promosi dibuat dalam cara yang adil (Robbins, 2015:35).
c. Kondisi Kerja yang Mensupport
Menurut Robbins (2002:36), Kondisi kerja ini disampaikan bahwa para karyawan
memperhatikan lingkungan kerja mereka yang memperhatikan kenyamanan pribadi
maupun kemudahan untuk dapat bekerja dengan baik. pembelajaran menunjukkan
bahwa karyawan sangat peduli pada lingkungan fisik yang tidak berbahaya atau yang
nyaman. Selain itu kebanyakan karyawan lebih suka bekerja tidak jauh dari rumah,
dalam fasilitas yang bersih dan relatif modern, dan dengan alat dan perlengkapan yang
memadai. Kondisi kerja ini adalah berdasarkan lingkungan fisik dan non-fisik, yang
merupakan faktor penting dalam memberikan kepuasan kerja karyawan. Kondisi
lingkungan fisik: dingin, berdebu, panas, bising, dan lain-lain. Termasuk di sini adalah
kondisi tempat, penyinaran, ventilasi, kantin, dan tempat parkir.Sedangkan lingkungan
non-fisik diantaranya adalah lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
d. Rekan Kerja yang Mendukung
Menurut Robbins (2016:36): “Dari kerja orang mendapatkan hasil lebih dari sekadar
uang atau prestasi yang berwujud. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi
kebutuhan akan interaksi sosial”. Oleh karenaa itu tidak heran setiap orang memiliki
rekan kerja yang supportif dan bersahabat dapat meningkatkan kepuasan kerja. Perilaku
dari pimpinan juga merupakan faktor utama pada kepuasan kerja. Studi-studi umumnya
memberikan manfaat bahwa kepuasan karyawan ditingkatkan bila penyedia langsung
akan dapat memahami dan secara bersahabat, memberikan pujian atas kinerja hasil kerja
yang baik, mendengarkan keluh kesah karyawan dan menunjukkan minat pribadi
terhadap mereka. Kepuasan kerja karyawan akan dapat tercapai bilamana pimpinan
langsung dapat memahami, bersahabat dan memberikan pujian atas kinerja karyawan
yang baik, mendengarkan pendapat karyawan, dan menunjukkan minat pribadi terhadap
mereka. Rekan sekerja yang mendukung mengandung arti bahwa seseorang
mendapatkan lebih dari pada sekedar prestasi dan uang yang berwujud dari dalam kerja,
tetapi kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial, sehingga berharap penting
bagi mereka untuk memiliki rekan kerja yang sama smaa mendukung dan dapat bekerja
dengan baik. Dalam hal ini Luthans (2014:152) menambahkan bahwa selain pengaruh
teman sekerja, juga pengaruh atasan pada kepuasan kerja, seperti perhatian pimpinan
akan tingkat kesejahteraan pegawai/karyawan, bimbingan dan bantuan untuk melakukan
pekerjaan, komunikatif, serta mau melibatkan diri dalam pekerjaan akan menimbulkan
kepuasan kerja

Teori-Teori Kepuasan Kerja


Curphy dkk (2012) menyatakan bahwa teori tentang kepuasan kerja dapat
dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam teori, yaitu:
a. Teori Afektivitas
Mengacu pada kecendrungan seseorang untuk bereaksi terhadap rangasangan dalam
sikap emosi yang konsisten. Orang-orang dengan kecenderungan negatif secara tetap
bereaksi terhadap perubahan, peristiwa dalam sikap negatif sehingga tidak bahagia.
Sedangkan afektivitas positif secara konsisten bereaksi terhadap perubahan dengan sikap
positif.
b. Equity Theory (Teori Keseimbangan)
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Adam (1963). Prinsip teori ini adalah orang
akan merasakan puas atau tidak, tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan
(equity) atau tidak dalam situasi, diperoleh dengan cara membandingkan dirinya dengan
orang lain yang sekelas, sekantor maupun di tempat lain.
c. Two Factor Theory (Teori Dua Faktor) dari Herzberg
Teori ini menyatakan ada dua faktor yang dapat memberikan kepuasan dalam bekerja.
Kedua faktor tersebut adalah :
1) Sesuatu yang akan memotivasi (motivator)
Faktor ini antara lain faktor prestasi, penghargaan dan pengakuan, faktor tanggung
jawab, faktor memperoleh perkembangan dan kemajuan dalam bekerja khususnya
faktor pekerjaan atau promosi.
2) Kebutuhan kesehatan lingkungan kerja (hygiene factors)
Faktor ini dapat berbentuk upah/gaji, kondisi kerja, hubungan antara pekerja,
kebijaksanaan dan proses administrasi perusahaan

Pengertian Kepuasan Kerja


Suatu efektifitas atau respon emosional terhadap aspek pekerjaan. Kepuasan kerja
merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaan yang didasarkan atas aspek-aspek
pekerjaan. Kepuasan kerja merupakan masalah yang cukup menarik dan penting, baik bagi
individu sebagai pekerja maupun bagi perusahaan. Seorang manajer perlu menciptakan
lingkungan kerja yang dapat memenuhi kebutuhan atau motif pekerjaannya, guna terciptanya
tujuan organisasi sebagaimana yang diharapkan. Berikut ini terdapat beberapa pendapat ahli
tentang pengertian kepuasan kerja, yaitu:
Menurut Robbins dan Judge (2015: 78) kepuasan kerja merupakan “sikap umum
pada kegiatan personal yang menunjukkan bentuk suatu perbedaan antara jumlah
penghargaan yang diterima oleh pekerja serta jumlah yang mereka yakini seharusnya
mereka terima”. Kepuasan kerja merupakan respon afektif atau emosional terhadap berbagai
segi atau aspek pekerjaan seseorang sehingga kepuasan kerja bukan merupakan konsep
tunggal. Seseorang bisa dikatakan relatif puas dengan beberapa bidang pekerjaan dan kurang
puas dengan satu atau lebih aspek lainnya (Hasibuan, 2016:202).
Kepuasan Kerja merupakan indikasi sikap (positif) yang terjadi pada tenaga kerja
manusia terhadap hasil pekerjaan yang timbul berdasarkan penilaian terhadap proses situasi
kerja. Penilaian sedini mungkin dapat dilaksanakan terhadap salah satu rutinitas kerja,
penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam meraih nilai penting dalam pekerjaan.
Karyawan yang puas lebih mencintai situasi kerjanya daripada kurang menyukainya.
Perasaan yang berhubungan dengan puas dan ketidak puasan kerja cenderung mencerminkan
penilaian dari tenaga kerja tentang pengalaman kerja pada waktu sekarang dan masa lalu
daripada harapan untuk masa depan. Sehingga dapat disimpulkan terdapat dua pola kerja
penting dalam kepuasan kinerja yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-Kebutuhan dasar
(Robbins & Judge, 2015:46).
Definisi lain dikemukakan oleh Kinicki dan Fugate (2012) yang menyatakan bahwa
kepuasan kerja merupakan rangkaian tanggapan afektif atau emosi terhadap berbagai bentuk
kerja seseorang. Pengertian ini menyatakan bahwa kepuasan kerja bukanlah konsep tunggal.
Tepatnya orang sangat bisa relatif puas pada satu atau beberapa aspek pekerjaannya tetapi
mungkin tidak puas dengan satu kegiatan atau bidang lain dari pekerjaannya. Sedangkan
menurut Suparyadi (2015) kepuasan kerja dapat digolongkan pada suatu sikap positif suatu
bentuk pekerjaan dimana sesuai hasil atau jerih payah yang diterimanya.
Menurut Herman (dalam Yanuardini, 2014) kepuasan kerja berbentuk pada sikap
umum seseorang dalam menghadapi pekerjaannya personal yang tinggi kepuasan kerjanya
memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya, sedangkan seseorang yang tidak memperoleh
kepuasan didalam pekerjaannya memiliki sikap yang negatif terhadap pekerjaannya

Faktor Loyalitas Kerja


Steers & Porter (dalam Sari dan Widyastuti, 2008) menyatakan bahwa terciptanya
loyalitas pada kerja dipengaruhi oleh :
a. karakteristik pribadi meliputi masa kerja, usia, jenis kelamin, ras, prestasi yang dimiliki,
tingkat pendidikan dan sifat kepribadian
b. Karakteristik pekerjaan meliputi job enrichment, stress kerja, tantangan kerja,
kesempatan untuk berinteraksi sosial, identifikasi tugas, kecocokan tugas, dan umpan
balik tugas
c. Karakteristik desain perusahaan/organisasi yang dapat dilihat dari sentralisasi, tingkat
keikutsertaan dalam proses pengambilan keputusan, tingkat formalitas, paling tidak bisa
selalu menunjukkan berbagai tingkat asosiasi disertai tanggung jawab perusahaan;
d. Pengalaman kerja yang pernah diperoleh dalam perusahaan dan organisasi yaitu
internalisasi individu kepada perusahaan setelah menjalankan pekerjaan

Aspek Loyalitas Kerja.


Steers dan Porter (1983) menjeaskan beberapa aspek loyalitas yaitu motivasi yang
kuat, motivasi untuk bekerja semaksimalnya dan memiliki keyakinan yang pasti terhadap
nilai-nilai perusahaan. Sedangkan (Nitisemito, 2015 ) menekankan aspek loyalitas pada
aktivitas kerja karyawan antara lain: mentaati peraturan, menunjukkan sikat kerja yang
bertanggung jawab. Sekap mentaati peraturan ditunjukkan dengan mempunyai tekad dan
kesediaan untuk mematuhi segala peraturan, perintah perusahaan serta tidak melanggar
larangan yang ditetapkan baik secara lisan dan tertulis. Tanggung jawab yang dicirikan
dengan kesediaan karyawan dalam melakukan pekerjaan dengan hasil terbaik dan kesadaran
terhadap resiko dalam mengemban tugas akan memberikan pemahaman tentang kesediaan
dan keberanian merasa mendapat tanggung jawab akan menciptakan loyalitas kerja. Aspek
loyalitas menurut Kurniawan (2015) adalah : a) Taat dan patuh, b) tanggung jawab, c)
pengabdian, d) kejujuran. Taat adalah kesanggupan seorang karyawan untuk mematuhi
segala peraturan perusahaan yang berlaku dan mematuhi perintah atasan, serta bersedia tidak
melanggar aturan yang ditetapkan. Tanggung jawab ditandai dengan kesediaan seorang
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan sampai selesai dengan hasil yang baik, tepat waktu
serta berani menanggung resiko terhadap keputusan yang dibuat atau tindakan yang diambil.
Pengabdian, yaitu sumbangsih ide dan tenaga kepada perusahaan dengan penuh keikhlasan
dan kejujuran, adanya keserasian antara yang diucapkan dengan kenyataan. Dari keterangan
diatas dapat diartikan bahwa loyalitas kerja merupakan kesetiaaan karyawan terhadap
perusahaan. Seseorang karyawan dengan loyalitas kerja yang tinggi akan memiliki motivasi
yang tinggi untuk tetap menjadi berada di perusahaan, motivai yang tinggi untuk
mengembangkan perusahaan, mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan.

Indikator Loyalitas Kerja


Adapun ciri-ciri karyawan yang mempunyai loyalitas tinggi pada perusahaan, antara
lain adalah:
a. siap bekerja berdedikasi tinggi
b. bangga terhadap kinerja perusahaan,
c. merasa terinspirasi
d. siap mengorbankan kepentingan pribadi
e. merasa ada kesesuaian nilai dengan perusahaan.
Kurniawan (2015) mengutarakan beberapa indikator loyalitas kerja antara lain:
a. patuh terhadap peraturan seperti, mematuhi segala undang-unadang dan peraturan yang
berlaku, kerja yang diberikan pimpinan yang berwenang, selalu mematuhi jam kerja
yang sudah ditetapkan
b. mempunyai tanggung jawab mampu menyelesaikan tugas secara tepat waktu dan dengan
hasil yang baik, selalu memelihara barang-barang perusahaan dengan sebaik-baiknya,
mengutamakan kepentingan perusahaan dari kepentingan pribadi, tidak pernah
menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuatnya.
c. menyumbangkan pemikiran dan tenaga secara ikhlas kepada perusahaan
d. jujur, antara lain selalu melaksanakan tugas secara ihlas tanpa merasa dipaksa, tidak
menyalah gunakan wewenang yang dipercayakan padanya dan melaporkan hasil
kerjanya kepada pimpinan secara apa adanya

Pengertian Loyalitas Kerja


Loyalitas kerja didefiniskan oleh Sudimin (2003) sebagai kesediaan karyawan untuk
turut berpartisipasi mencapai tujuan perusahaan dengan dengan mempergunakan semua
kemampuan, keterampilan, pikiran, waktu dan menjaga data nama perusahaan untuk tidak
melakukan kegiatan yang mengakibatkan perusahaan rugi. Loyalitas dirumuskan oleh
Sudimin (2003) sebagai jasa bakti kita kepada seseorang dan tidak menjadi pengkhianat
ketika dibutuhkann. Robbins (2015) mengutarkan bahwa loyalitas adalah kerelaan untuk
memproteksi serta menyelamatkan perasan dan fisik seseorang. Siswanto (2005)
mengartikan loyalitas sebagai suatu tekad dan kesediaan mematuhi, melakukan, dan
mendistribusi perintah yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran.
Agustian (2009) mendefinisikan loyalitas sebagai kesetiaan terhadap prinsip yang diyakini.
Loyalitas karyawan didefiniskan sebagai sikap emosional yang menggembirakan dan
menyukai pekerjaannya (Dessler, 2015. Pada dasarnya loyalitas berarti sebagai kesetiaan
terhadap seseorang pada suatu hal bisa berupa kesetian fisik maupun non fisik seperti
perhatian dan pikiran. Untuk bisa sukses dalam mencapai tujuan perusahan maka perusahaan
mutlak memerlukan karyawan dengan loyalitas tinggi. Hasibuan (2016) berpendapat bahwa
karyawan menunjukkan loyalitas dengan keikhlasan karyawan untuk membela dan menjaga
perusahaan tempat bekerja dari gangguan orang yang ingin menjatuhkan perusahaan.
Pendapat serupa diutarakan oleh Poerwadarminta (2002) loyalitas merupakan kepercayaan,
pengabdian dan kesetiaan yang dipersembahkan kepada seseorang atau instansi, dimana
didalamnya ada tanggung jawab dan cinta serta berperilaku dan memberikan pelayanan
terbaik. Nitisemito (2015) mengutarakan, loyalitas terhadap perusahaan adalah sikap yaitu
seberapa jauh seseorang karyawan mengidentifikasikan perusahaan tempat dimana dia
bekerja dengan menunjukkan keinginan bekerja dan berusaha yang terbaik dan loyalitas yang
diberikan untuk perusahaan merupakan perilaku, yaitu suatu keputusan seseorang untuk tetap
tinggal di perusahaan. Robbins (2006) berpendapat bahwa loyalitas berhubungan dengan
tingkat kepercayaan yaitu suatu keinginan untuk menyelamatkan dan melindungi seseorang.
Apabila loyalitas dan kepercayaan terhadap organisasi dimiliki oleh seseorang, maka orang
tersebut rela berkorban dan berjasa dengan hal apa yang diyakininya. Dengan demikian,
loyalitas mempunyai korelasi positif terhadap tingkat kepuasan, semakin tinggi level
kepercayaan karyawan kepada perusahaan, maka level loyalitas karyawan terhadap
perusahaan juga semakin tinggi. Purwopoespito (2014), mengutarakan loyalitas yang terjadi
pada pekerjaan dicerminkan oleh sikap karyawan yang mendedikasikan keahliannya,
melakukan pekerjaan dengan tanggung jawab, jujur dan disiplin dalam bekerja. Loyalitas
kerja para karyawan terhadap perusahaan akan dapat menciptakan rasa tanggung jawab dan
menimbulkan semangat dan motivasi kerja (Nitisemito, 2015). Agar dapat menciptakan
loyaIitas karyawan terhadap perusahaan maka perusahaan harus berusaha agar karyawan
merasa ikut memiliki perusaan. Dengan perasaan ikut memiliki perusahaan maka karyawan
akan juga ikut merasakan perkembangan perusahaan. Berdasarkan definisi yang diutarakan
oleh para ahli diatas, dapat diambil kesimpulkan bahwa loyalitas kerja adalah merupakan
kesetiaaan karyawan terhadap perusahaan yang ditunjukkan melalui keinginan yang kuat
untuk tetap berada dalam perusahaan dan bekerja dengan baik untuk kemajuan perusahaan
tersebut serta rela berkorban dan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Runtu (2014) Loyalitas hanya mungkin bisa dianggap sebagai bentuk yg
terjadi dengan sendirinya apabila seorang karyawan bergabung. Pada saat organisasi
menginginkan salah satu karyawan yang loyal, organisasi harus mengupayakan supaya
berubah kepada tingkatan lebih tinggi. Dengan apa yang terjadi karyawan tersebut sungguh
senang akan merasa “suka-duka” organisasi. Oleh karena itu loyalitas meliputi kesediaan
tetap harus bertahan, memiliki bentuk produktivitas standard. Loyalitas jangan diartikan
sebagai sesuatu yang terjadi dengan sendirinya ketika seorang karyawan bergabung di dalam
organisasi. Karyawan yang memiliki loyalitas yang rendah karena sifat karakternya,
kekecewaan pada karyawan, dan sikap dari atasan, serta perasaan secara negatif, seperti
meninggalkan organisasi, organisasi lain sangat menguntungkan, tidak dapat mendapat
manfaat, dan menyesali bergabung pada suatu organisasi.

Indikator Komunikasi Organisasi


Baik buruknya komunikasi organisasi dapat diukur dengan indikator dalam
komunikasi pada organisasi yang dikemukakan beberapa ahli seperti Suliyem (2016):
a. Kenyataan pesan yang disampaikan sesama individu
b. Kesamaan pemahaman makna berasal pada pesan diantara anggota semua organisasi
c. Adanya umpan balik antara anggota organisasi
Sedangkan Purwanto (2011) mengemukakan bahwa dimensi dan indikator dari
komitmen organisasi antara lain yaitu:
a. Dimensi Vertikal
1) Komunikasi yang berasal dari atas ke bawah. Indikatornya yaitu perintah, prosedur,
teguran dan pujian.
2) Komunikasi yang berasal dari bawah ke atas. Indikatornya yaitu saran dan laporan
pekerjaan.
b. Dimensi Horizontal
Indikatornya yaitu informasi, koordinasi tugas dengan bagian yang sama dan rapat.
c. Dimensi Diagonal
Indikatornya yaitu informasi diterima dengan cepat, hubungan antar divisi dan
koordinasi dengan bagian lain.

Komponen Komunikasi Organisasi


Menurut Muhammad (2014:17), Secara teknis dapat dilakukan bahwa komunikasi
organisasi melibatkan :
a. Pengirim pesan atau komunikator
adalah individu mengirim pesan. Pesan atau informasi akan diberikan berasal dari otak
pengirim pesan. Oleh karena itu proses sebelum pengirim mengirimkan pesan, pengirim
harus menciptakan pesan yang akan dikirimkannya.
b. Pesan
adalah informasi yang dapat dikirimkan pada komunikan. Pesan dapat berupa pesan
verbal atau non verbal. Pesan verbal itu bisa lisan dan juga bisa tulisan, sedangkan pesan
non verbal bisa berupa gerak tubuh, nada suara, ekspresi muka dan lain lain.
c. Saluran
adalah jalan yang dilalui pesan dari komunikator dengan komunikan. Channel yang
biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya serta suara yang bisa kita lihat dan
dengar, akan tetapi alat yang digunakan itu berbeda-beda.
d. Penerima pesan atau komunikan
adalah yang menganalisis serta menginterpretasikan pesan yang di terimanya.
e. Balikan (Feedback)
adalah respon terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan
atau komunikator. Dengan diberikannya reaksi ini kepada komunikator, komunikator
akan dapat mengetahui apakah pesan yang disampaikan dilaksanakan bersama selaras
dengan kesamaan yang disebut dengan komunikator

Arah dan Tujuan Komunikasi Organisasi


Menurut Robbins (2016:7) arah komunikasi terdiri dari:
a. Komunkasi dari atas ke bawah
Bentuk pembicaraan yang di dapati dari satu tingkatan pada suatu perkumpulan
organisasi ke tingkatan lebih rendah disebut komunikasi ke bawah. Komunikasi inilah
yang diberikan oleh pemimpin kelompok, manajer dalam menetapkan suatu tujuan,
menyampaikan bentuk instruksi, menginformasikan kebijakan dan prosedur kepada
karyawan, menunjukkan persoalan yang membutuhkan perhatian dan menawarkan
umpan balik mengenai kinerja.
b. Komunkasi dari bawah menuju atas
Komunikasi ke atas dapat mengalir menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi pada
salah satu kelompok dan organisasi. Komunikasi dapat dilakukan untuk membuat
peranan penting kepada orang–orang yang memegang kekuasaan, member mereka
informasi mengenai proses pencapaian tujuan, dan menyampaikan masalah–masalah
terkait.
c. Komunkasi lateral
Komunikasi terjadi antara anggota berdasar pada kelompok kerja seperjuangan, antara
anggota dari lingkungan perusahaan pada tingkatan yang sama, sesama manajer pada
tatanan yang sama atau diantara individu–individu yang setara secara horizontal.
Menurut Wahjono (2015:218), komunikasi organisasi menjalanan empat fungsi
yaitu:
a. Fungsi kendali (kontrol/pengawasan)
Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku pada kelompok pekerja supaya
mereka mematuhi total aturan dan hierarki yang diberikan wewenang dalam organisasi.
b. Fungsi motivasi
Dengan komunikasi dapat menjelaskan pada anggota apa yang harus dikerjakan dan
bagimana dapat bekerja lebih baik.
c. Fungsi pengungkapan emosi
Dengan komunikasi anggota dapat mengexpresikan ketidak puasan atau rasa puas tidak
terhingga yang mereka rasakan.
d. Fungsi informasi
Dengan komunikasi semua keputusan dapat diambil dan dapat diteruskan pada semua
anggota orgnisasi.
Sementara Menurut Bungin (2013) fungsi komunikasi dikatakan menjadi 4 dalam
organisasi yaitu fungsi informatif, regulatif, persuasif, serta integratif dijelaskan sebagai
berikut:
a. Informasi dalam sebuah organisasi sangat dibutuhkann dalam mengerjakan pekerjaan
tepat, baik dari pimpinan yang memberi informasi, maupun bawahan yang
membutuhkan informasi. Informasi juga dibutuhkann dalam mengatasi konflik, sebagai
contoh menghindari miscommunication atau misunderstanding, dan bisa untuk
menetapka suatu kebijakan.
b. Regulatif merupakan bentuk aturan yang berlaku dalam sebuah bentuk menejerial. Ada
2 regulatif pada suatu organisasi. Pertama, pimpinan organisasi memiliki kuasa memberi
perintah, intruksi kerja, membuat standar operation dalam bekerja. Kedua, anggota atau
bawahan membutuhkan bentuk peraturan dan wajib dipatuhi. Berikut harus diketahui
dan di pahami bawahan untuk menjalankan perintah atasan:
1) Kejelasan atasan menyampaikan perintah
2) Ketegasan atasan memberikan sanksi
3) Mewujudkan kepercayaan anggota atau bawahan kepada atasan,
4) Pesan yang disampaikan pada bawahan secara jelas dan benar.
c. Persuasif atau ajakan, untuk kesejahteraan organisasi biasanya pimpinan lebih memilih
untuk mengajak daripada memerintah anggota.
d. Integratif atau saluran dalam organisasi dibutuhkan oleh anggota. Ada 2 saluran, yaitu
saluran komunikasi formal seperti penerbitan bidang khusus pada organisasi tersebut
(newsletter, bulletin) dan laporan mengenai kemajuan organisasi juga komunikasi
informal, seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan
olahraga, dan kegiatan darmawisata. Maka pada pelaksanaan ini dapat menimbulkan
kontribusi dengan baik bagi anggota dalam kelompok sebuah organisasi

Definisi Komunikasi Organisasi
Komunikasi dalam organisasi memegang peranan sangat penting dalam menunjang
aktivitas organisasi. Setiap fungsi SDM selalui disertai dengsn komunikasi, serta dimulai
proses seleksi, interview sampai pemecatan pekerja semuanya membutuhkan komunikasi.
Komunikasi organisasi merupakan hal yang penting di dalam kehidupan berorganisasi
sehingga diperlukan beberapa pemahaman mengenai komunikasi organisasi.
Kata komunikasi (dengan kata Inggris “communication”) secara etimologi atau
menurut asalnya didapat kata bahasa latin communicare dan ini berasal pada kata communis.
Kata communis memiliki makna “berbagi” atau “menjadi hak bersama”, yaitu suatu
keinginan kerja yang bertujuan untuk memperoleh kebersamaan dan keberagaman makna.
(Hubeis dkk, 2012:4). Komunikasi adalah rangkaian penyampaian melalui pesan oleh
sesorang kepada semua orang untuk memberitahu serta untuk dapat selalu mengubah pada
sikap, gagasan, atau tingkah laku, baik secara langsung (lisan) maupun tidak (dapat
dilakukan pada media). (Hubeis dkk, 2012:5).
Sementara Waynespaces dan Faules menyebutkan bahwa definisi fungsional pada
komunikasi dalam organisasi sebagai petunjuk dan penafsiran didalam pesan diantara unit
bagian komunikasi apa merupakan bagian salah satu pada suatu organisasi tertentu (Ruliana,
2016:25). Depari (dalam Triana, Utami, & Ruhana, 2016) menyatakan bahwa komunikasi
adalah suata proses pada penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang diberikan dengan
lambang tertentu dapat mengandung arti dilakukan oleh penyampain melalui pesan untuk
diberikan kepada siapa penerima isi pesan. Muhammad (2014:4) dapat mengemukakan
apapun bahwa ada dalam di kaitannya dengan komunikasi pada organisasi, komunikasi
adalah bentuk pertukaran pada pesan verbal serta non verbal dari pengirim dan penerima
untuk mengubah pola tingkah pada perilaku. Perubahan tingkah laku pada pengertian yang
lebar yaitu pergantian yang akan terjadi pada dalam diri suatu individu didalam aspek
kognitif, efektif atau psikomotor. Menurut Purwanto (2011:4) komunikasi pada organisasi
merupakan suatu rangkaian pertukaran pada informasi pada individu melewati suatu cara
atau sistem yang biasa (wajar) baik bersama tanda, sinyal, maupun perilaku dan tindakan.
Robbins dan Jugde (2015:47) mengatakan bahwa, “organizational commitment is deefined as
a state in which an employee identifies with a particular organizatioon, its goals and wishes
to maintain membership in the organization.” Komitmen dalam organisasi dikelompokkan
untuk keadaan di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan organisasi, tujuan
organisasi dan keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Selanjutnya
menurut Davis & Newstroom (dalam Suliyem, 2016) mengemukakan bahwa,
“organizational commitment, organizational degree to which an employee identifiies with the
organization and wants to continue actively participating in it. Komitmen organisasi adalah
tingkatan dalam organisasi di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan
organisasi dan melanjutkan keaktifan untuk berpartisipasi di dalam organisasi. Seperti gaya
magnet yang kuat menarik satu objek logam lain, itu adalah ukuran dari kesediaan karyawan
untuk tetap berada dalam organisasi demi masa depan. Adanya misi dan tujuan dari
seseorang dengan keinginan yang tinggi untuk berusaha mencapai prestasi dan niat untuk
terus bekerja pada organisasi.
Menurut Golddhaber (1986) mengetahui proses penciptaan untuk saling bertukar
pesan pada salah satu jaringan pada hubungan dimana tergantung pada yang lain guna
memberikan manfaat sekitar lingkungan yang kurang jelas atau yang selalu dapat berubah.
Pengertian ini mengandung proses beberapa salah konsep sebagai dari berikut :
a. Proses
adalah sistem kerja yang sangat terbuka serta dinamis yang secara tidak langsung.
Karenaa bentuk kegiatan yang diulang-ulang dan tidak terkontrol tersebut maka dapat
dinyatakan sebagai suatu proses.
b. Pesan
adalah rangkaian simbol dimana mengandung pengertian mengenai objek manusia,
kejanggalan kerja yang diberikan terhadap interaksi bersama dengan kelompok lain.
Pesan dalam suatu organisasi dilihat menurut jenis klasifikasi yang berhubungan
langsung dengan kata bahasa, penerima yang dikehendaki, metode difusi, dan arus untuk
tujuan berbagai beberapa pesan. Jenis pesan pada bahasa dibedakan menjadi 2 (dua)
kelompok yaitu verbal dan non verbal, dalam suatu organisasi adalah surat, memo,
percakapan, dan pidato. Sedangkan pesan non verbal pada suatu organisasi dapat berupa
bahasa gerak seluruh bagian tubuh.
c. Jaringan
Bentuk organisasi terbentuk dari satu seri manusia yang setiap person menduduki posisi
atau peranan penting pada suatu di dalam organisasi. Ciptaan serta pertukaran suatu
pesan dari seseoang terjadi melampaui suatu jalur jalan kecil yang disebut jaringan
komunikasi. Suatu kelompok komunikasi ini dapat mencukupi dengan lebih dari satu
orang, beberapa orang atau keseluruhan dalam organisasi. Luas dari system jaringan
komunikasi ini dijalankan oleh beberapa faktor arah & arus pesan, isi pesan, dan
hubungan peranan, serta lain-lain.
d. Keadaan dimana selalu membutuhkan
Hal ini dapat berubah sifat yang berada pada kelompok yang merupakan bentuk sistem
yang terbuka. Bila mengalami gangguan dapat berpengaruh divisi yang lainnya dan akan
terjadi juga kepada semua sistem organisasi.
e. Hubungan
Karena organisasi adalah bagian dari suatu sistem terbuka, sistem pada suatu kehidupan
sosial yang untuk memanfaatkan bagian-bagian dimana terletak pada individu yang ada
dalam organisasi. Oleh karenaa itu hubungan individu dalam organisasi yang menitik
beratkan pada tingkah laku komunikasi dari seseorang yang terlibat suatu hubunngan
perlu untuk dipelajari.
f. Lingkungan
Lingkungan adalah bentuk totalitas secara fisik dan faktor sosial yang diperhitungkan
dalam pembuatan dalam keputusan individu berada pada suatu sistematik. Yang menjadi
bagian dalam lingkungan internal adalah personal, staf, golongan fungsional dari
organisasi, dan juga bagian lainnya seperti tujuan, produk, serta lainnya. Organisasi
sebagai program terbuka yang mana harus berhubungan pada lingkungan eksternal
seperti: teknologi, ekonomi, dan faktor sosial. Karena faktor yang berada pada
lingkungan tidak tetap maka organisasi memerlukan sistem informasi baru guna
mengatasi perubahan pada lingkungan dengan menciptakan serta melakukan penukaran
pesan baik secara internal dan eksternal.
g. Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang
diharapkan. Ketentuan tidak pasti dalam organisasi didapatkan daripada informasi
sesungguhnya yang dimanfaatkan dan dihadapkan pada lingkungan yang bersangkutan.
Dapat dinyatakan ketidakpastian dapat disebabkan karena terlalu sedikitnya informasi
yang didapatkan dan sangat berlebih atau banyak informasi yang diberikan untuk
diterima.
Menurut Redding and Saborn dalam Safari dkk. (2019) “komunikasi organisasi
adalah pengiriman serta penerimaan pada informasi dalam kelompok sangat kompleks.
Komunikasi organisasi ini antara lain, hubungan antar manusia, komunikasi yang berasal
dimana atasan kepada bawahan, seperti : komunikasi dari asal bawahan kepada atasan,
komunikasi bersama sesama rekan kerja, keterampilan berkomunikasi dan berbicara
mendengarkan serta menulis”. Menurut Katz & Kahn dalam Safari dkk. (2019) “Bahwa
komunikasi organisasi merupakan bentuk arus informasi, pertukaran dari informasi dan
pemindahan arti dalam suatu organisasi”
Berdasarkan definisi komunikasi organisasi menurut para ahli di atas, dapat
diartikan bahwa komunikasi organisasi adalah proses di mana karyawan atau anggota
organisasi bertukar informasi di lingkungan perusahaan atau organisasi

Faktor Akibat atau Dampak Persepsi Dukungan Organisasi


Menurut Rhoades & Eisenberger (2002) persepsi pada dukungan kelompok kerja
memiliki beberapa akibat yang meliputi:
a. Komitmen organisasi
Berdasar norma komunikasi searah, persepsi suatu dukungan di dalam organisasi akan
menciptakan kewajiban untuk memperhatikan kesejahteraan organisasi. Kewajiban
kondisi tersebut akan menaikkan komitmen efektif pekerja terhadap organisasi.
b. Efek terkait pekerjaan
Persepsi dukungan organisasi mempengaruhi reaksi afektif karyawan terhadap
pekerjaannya, termasuk kepuasan kerja dan suasana hati yang positif. Kepuasan kerja
berdampak pada sikap keseluruhan karyawan terhadap pekerjaannya. Persepsi untuk
dukungan organisasi dapat berperan aktif terhadap kepuasan kinerja dengan
meningkatkan harapan penghargaan atas jerih payah, dan memperlihatkan peluang
bantuan bila dibutuhkann. Suasana jiwa yang sehat berbeda dengan kepuasan kerja
karena mendukung keadaan tidak stabil seseorang tidak menggunakan objek tertentu.
Persepsi terhadap dukungan organisasi dapat berkontribusi pada perasaan hati,
kompetensi diri dan kelayakan karyawan sehingga meningkatkan suasana hati yang
positif.

  1. Job Involvment (Keterlibatan Kerja)
    Keikut campuran kerja menuju pada identifikasi dan tertuju pada aktifitas harian yang
    dilakukan oleh orang tertentu. Kompetensi yang di terima karyawan sangat bergantung
    dengan keinginan. Dengan menitik beratkan tingakt kompetensi karyawan, persepsi yang
    terjadi pada dukungan organisasi bisa meningkatkan pada minat karyawan dalam
    kegiatan kerja yang dilakukan.
  2. Kinerja
    Persepsi pada dukungan organisasi yang dapat meningkatkan standar kinerja karyawan
    dengan tindakan yang melampaui pada tanggung jawab yang sudah ditentukan sehingga
    dapat memberi keuntungan organisasi. Tindakan tersebut berupa saling membantu
    sesama teman kerja, melakukan tindakan yang dapat melindungi organisasi dari berbagai
    resiko, berbagi ilmu dan ketrampilan yang memiliki manfaat bagi organisasi.

Dimensi Persepsi Dukungan Dalam Organisasi
Menurut Robbins & Judge (2016) terdapat beberapa tingkatan persepsi dukungan
organisasi yaitu meliputi:
a. Penghargaan
Penghargaan finansial baik yang berwujud gaji, upah, insentif, atau tunjangan sudah
amat popular. Namun penghargaan nonfinansial, seperti pujian, penerimaan, pengakuan
atau yang lainnya tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan kinerja karyawan.
Sebuah survey yang meminta karyawan memberikan nilai terhadap berbagai
penghargaan menemukan bahwa penghargaaan nonfinansial ada pada peringkat yang
lebih tinggi daripada penghargaan finansial (Luthans, 2011). Pengakuan dapat dijadikan
satu motivator yang ampuh. Tindakan pengakuan dapat berupa promosi, penempatan
pada proyek yang bergengsi, perluasan pekerjaan untuk memberinya lingkup pekerjaan
yang lebih menarik dan menguntungkan, dan berbagai simbol status dan kebanggaan.
b. Kepedulian
Kepedulian ialah bentuk perhatian pemimpin terhadap orang lain, khususnya anggota
tim dengan memberi sumbangan dalam bentuk materi, gagasan/pemikiran, waktu,
dan/atau, keahlian/keterampilan. Menurut Kaswan (2015) kepedulian menyiratkan
tentang banyak hal, yaitu empati dan mengutamakan orang lain.
c. Kesejahteraan
Kesejahteraan (well-being) juga dikenal dengan kesejahteraan subjektif atau emosi, atau
kebahagiaan. Pengertian lain kesejahteraan dikaitan dengan tujuan hidup yang
bermakna.
Sementara Rhoades & Eisenberger (2002) dalam Mujiasih (2015), persepsi dalam
dukungan pada organisasi memiliki aspek sebagai berikut:
a. Penghargaan pada kontribusi karyawan
Penghargaan perusahaan terhadap kontribusi atau usaha yang dilaksanakan oleh
karyawan berpedoman pada pengakuan dan perhatian, gaji dan promosi, serta akses
informasi atau bentuk lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya dengan
baik.
b. Perhatian atau bertanggung jawab terhadap besar kesejahteraan pada karyawan
Perhatian organisasi bisa berupa memperhatikan kesejahteraan karyawan, mendengarkan
pendapat atau keluh kesah kebutuhan karyawan untuk memperhatikan pekerjaan
karyawan.
Sedangkan indikator persepsi dukungan organisasi menurut Rhoades & Eisenberger
(2002:699) dalam Tjandra dkk (2018), yaitu:
a.Organisasi menghargai pada kontribusi karyawan.
b. Organisasi menghargai besar usaha lebih yang diberikan karyawan
c. Organisasi akan memperhatikan terhadap segala sebab akibat dari karyawan.
d. Organisasi sangat peduli terhadap kesejahteraan karyawan.
e. Organisasi akan menginformasikan pekerja apabila tidak melaksanakan pekerjaan dengan
baik.
f. Organisasi akan peduli anisasi menunjukan perhatian yang sangat besar terhadap
karyawan.
g. Organisasi akan mengapresiasi keberhasilan karyawan saat bekerja.

Definisi Persepsi Dukungan Organisasi


Disebut kontribusi yang diberikan oleh individu kemudian mendapatkan perhatian
dan kepedulian dari organisasi tentang kesejahteraan mereka. Teori ini mengartikan mereka
percaya bahwa organisasi akan memberikan perhatian dan kesejahteraan yang layak sesuai
dengan kontribusi kinerja yang dilakukan (Eisenberger dkk., 1986). Kemudian, Robbins
(2016) mengatakan Persepsi pada dukungan organisasi adalah merupakan tingkat sejauh
mana individu memiliki keyakinan bahwa kelompok usaha menghargai kontribusi mereka
yang kemudian peduli terhadap tingkat kesejahteraan mereka.
Dalam lingkungan interaksi sosial melibatkan begitu banyak hal seperti interaksi
sesama individu dan kelompok kemudian kelompok dengan kelompok sampai pada individu
dengan organisasi. Sehingga, teori persepsi dukungan organisasi mempelajari interaksi antara
individu dengan organisasi/instansinya. Bagaimana organisasi dalam memahami dan
memperlakukan mereka.
Sementara menurut Ningrum (2013), persepsi dukungan organisasi ialah persepsi
anggota mengenai seberapa jauh organisasi akan memberikan dukungan terhadap pegawai
dan sejauh mana menghadapi tingkat untuk kesiapan dalam organisasi guna akan bermanfaat
jika menggunakan bantuan pada saat akan dibutuhkan

Hubungan Pengaruh Reward Terhadap Produktivitas Kerja


Reward merupakan faktor penting bagi motivasi karyawan. Reward
disebut juga sebagai imbalan intrinsik yaitu imbalan yang merupakan bagian dari
pekerjaan itu sendiri, imbalan tersebut mencakup rasa penyelesaian, otonomi
dan pertumbuhan, maksutnya semangat untuk memulai atau menyelesaikan
suatu proyek pekerjaan merupakan hal penting bagi motivasi karyawan
irmayanti (2013), karena dengan adanya reward yang diberikan kepada
karyawan maka akan memotivasi karyawan lebih semangat dan giat dalam
bekerja sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh solikah, setyowati, dan
sanosra (2016) yang diperoleh hasil bahwa reward berpengaruh positif dan
signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan

Hubungan Pengaruh Pengalama Kerja Terhadap Produktivitas Kerja


Pengalaman Kerja sangat penting untuk melihat keterampilan karyawan,
karena semakin lama pengalaman kerja pada karyawan maka akan semakin
tinggi pula tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan
sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Seperti yang di
ungkapkan (fagbenle, 2012) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi produktivitas karyawan adalah berasal dari diri karyawan sendiri
atau human factor, salah satunya adalah pengalaman kerja. Hal ini didukung
dengan penelitian yang dilakukan oleh sulaeman (2015) yang diperoleh hasil
bahwa pengalaman kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
produktivitas kerja karyawan

Hubungan Pengaruh Dukungan Organisasi Terhadap Produktivitas Kerja


Dukungan organisasi merupakan salah satu elemen yang
mempengaruhi perilaku karyawan. Karena dukungan positif dari pimpinan dan
segenap karyawan akan menciptakan situasi kerja yang kondusif. Dukungan
organisasi mengacu pada presepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi
menilai kontribusi dan peduli pada kesejahteraan karyawannya Putra dan
Moeins (2019). Apabila karyawan menganggap dukungan organisasi yang
diterimanya tinggi, maka karyawan akan menyatukan keanggotaan sebagai
anggota organisasi di dalam diri mereka dan mereka akan mengembangkan
hubungan dan presepsi yang lebih positif terhadap organisasi tersebut,
sehingga produktivitas karyawan akan meningkat. Hal ini didukung dengan
penelitian yang dilakukan oleh Mujiasih (2015) yang diperoleh hasil bahwa
dukungan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas
kerja karyawan

Indikator Produktivitas Kerja Karyawan


Menurut Sutrisno (2014) untuk mengukur produktivitas kerja
diperlukan suatu indicator, sebagai berikut :
1) Kemampuan
Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Kemampuan karyawan
sangat bergantung pada ketrampilan yang dimiliki serta profesionalisme
mereka dalam bekerja dan menyelesaikan tugas – tugas yang diembannya.
2) Meningkatkan hasil yang dicapai
Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan salah
satu yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang
menikmati hasil pekerjaan tersebut. Jadi, upaya untuk memnfaatkan
produktivitas kerja bagi masing – masing yang terlibat dalam suatu
pekerjaan.
3) Semangat kerja
Semangat kerja merupakan upaya untuk lebih baik dari hari kemarin.
Indikator ini dapat dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapai dalam satu
hari kemudian dibandingkan dengan hari sebelumnya.
4) Membangun diri
Selalu mengembangkan diri untuk meningkatkan kemampuan kerja.
Pengembangan diri dapat dilakukan dengan melihat tantangan dan harapan
dengan apa yang akan dihadapi. Karenan semakin kuat tantangannya,
pengembangan diri mutlak dilakukan.
5) Mutu
Mutu merupakan hasil pekerjaan yang dapat menunjukkan kualitas kerja
seorang pegawai. Jadi, meningkatkan mutu bertujuan untuk memberikan
hasil terbaik yang akan sangat berguna bagi perusahaan dan pada dirinya
sendiri.
6) Efisiensi
Perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya
yang digunakan. Masukan dan keluaran merupakan aspek produktivitas
yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi karyawan

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja


Faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja menurut Mulyadi
(2015) adalah :
1) Pelatihan dan pendidikan karyawan
Dengan adanya program pelatihan dan pendidikan kerja pada karyawan
akan meningkatkan ketrampilan pada karyawan sehingga dapat
menggunakan peralatan yang disediakan perusahaan untuk melaksanakan
pekerjaannya. Setelah karyawan mendapatkan pelatihan dan pendidikan
yang tepat akan dapat melakukan perkerjaannya dengan benar dan
memperkecil kesalahan di masa lalu. Oleh sebab itu, pelatihan dan
pendidikan sebagai dasar pengetahuan kepada karyawan.
2) Hubungan industrial
Hubungan industrial adalah hubungan antara pimpinan atau wakil dari
perusahaan dan wakil pekerja atau serikat pekerja bila sudah mengenai
pekerjaan dan pribadi antara atasan dan bawahan yang dilakukan sehari –
hari. Hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan, antara sesame
karyawan, dan sesame atasan akan meningkatkan produktivitas kerja. Oleh
sebab itu, karyawan harus diperlakukan dengan baik, dengan demikian
sikap karyawan akan baik pula dalam menjalankan proses produksi,
sehingga akan berpengaruh pada tingkat produktivitas kerja.
3) Sikap mental dan kemampuan fisik karyawan
Kondisi sikap dan mentall semua karyawan akan menjadi hal yang sangat
penting bagi perusahaan atau organisasi, karena kondisi sikap dan fisik
karyawan sangat erat hubungannya dengan produktivitas kerja karyawan

Pengertian Produktifitas


Menurut Sutrisno (2014) produktivitas adalah ukuran efisiensi
produktif suatu perbandingan antara hasil keluaran dan masukan. Masukan
dalam hal ini sering dibatasi tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam
kesatuan fisik, bentuk dan nilai.
Menurut Kusrianto (Sutrisno, 2014) menyatakan bahwa produktivitas
adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran satu tenaga kerja
per satuan waktu. Yang dimaksud peran serta tenaga kerja disini adalah
penggunaan sumber daya manusia serta efektif dan efisien.
Berdasarkan kedua uraian pendapat tersebut maka dapat disimpulkan
produktivitas adalah perbandingan antara jumlah yang dihasilkan selama
produksi dan jumlah setiap sumber yang dipergunakan selama produksi

Faktor-faktor yang mempengaruhi Reward


Menurut Rivai (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi reward terbagi
menjadi dua yaitu, lingkungan eksternal dan internal. Lingkungan eksternal
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi reward dan berasal dari luar
perusahaan, seperti pasar tenaga kerja, kondisi ekonomi, peraturan pemerintah,
dan serikat pekerja, sedangkan untuk lingkungan internal berkaitan dengan hal-
hal didalam perusahaan yang turut memengaruhi reward tersebut.
1) Pasar tenaga kerja
Pasar tenaga kerja mempengaruhi pemberian reward dalam dua cara, yang
pertama tingkat persaingan tenaga kerja sebagian menentukan batas rendah
atau floor tingkat pembayaran. Tingkat pembayaran suatu perusahaan yang
terlalu rendah, tenaga kerja yang memenuhi syarat tidak akan bersedia
bekerja diperusahaan itu. Kedua, pada saat yang sama, mereka menekan
pengusaha untuk mencari alternatif, seperti penyediaan tenaga kerja asing,
yang harganya mungkin lebih rendah, atau teknologi yang mengurangi
kebutuhan tenaga kerja.
2) Kondisi ekonomi
Salah satu aspek yang juga mempengaruhi reward sebagai salah satu faktor
eksternal adalah kondisi-kondisi ekonomi industri, terutama derajat tingkat
persaingan, yang mempengaruhi kesanggupan untuk membayar perusahaan
itu dengan gaji tinggi.
3) Peraturan pemerintah
Pemerintah secara langsung mempengaruhi tingkat reward melalui
pengendalian upah dan petunjuk yang melarang peningkatan dalam reward
untuk para pekerja tertentu pada waktu tertentu, dan hukum yang menetapkan
tingkat tarif upah minimum, gaji, pengaturan jam kerja dan mencegah
diskriminasi. Pemerintah juga melarang perusahaan mempekerjakan pekerja
anak-anak dibawah umur (yang telah ditetapkan).
4) Serikat pekerja
Pengaruh eksternal penting lain pada suatu program reward kerja adalah
serikat kerja. Kehadiran serikat pekerja diperusahaan sektor swasta
diperkirakan meningkat upah 10 sampai 15 persen dan menaikkan tunjangan
sekitar 20 sampai 30 persen. Perbedaan upah antara perusahaan yang
mempunyai serikat pekerja dengan yang tidak mempunyai serikat pekerja
tampak paling besar selama periode resesi dan paling kecil selama periode
inflasi.
5) Anggaran tenaga kerja
Anggaran tenaga kerja secara normal identik dengan jumlah uang yang
tersedia untuk reward karyawan tahunan. Tiap-tiap unit perusahaan
dipengaruhi oleh ukuran anggaran tenaga kerja. Suatu anggaran perusahaan
tidak secara normal menyatakan secara tepat jumlah uang yang dialokasikan
ke masing-masing karyawan melainkan berapa banyak yang tersedia untuk
unit atau divisi.
6) Siapa yang membuat keputusan reward
Kita lebih mengetahui siapa yang membuat keputusan reward dibanding
sekitar beberapa faktor lain, tetapi masalah ini bukan suatu hal sederhana.
Keputusan atas berapa banyak yang harus dibayar, sistem apa yang dipakai,
manfaat apa untuk ditawarkan, dan sebagainya, dipengaruhi dari bagian atas
hingga dibawah perusahaan

Tujuan Penghargaan/Reward


Menurut Sedarmayanti (2017) tujuan diberikannya reward oleh
perusahaan kepada karyawannya adalah sebagai berikut:
1) Menarik SDM
Hendaknya setiap penghargaan kepada pegawai dapat menimbulkan
ketertarikan/hasrat bagi pegawai untuk memperolehnya.
2) Memotivasi SDM
Penghargaan pegawai harus memotivasi pegawai untuk dapat bekerja lebih
baik, lebih bersemangat dan lebih berkinerja tinggi.
3) Mengembangkan SDM
Penghargaan pegawai hendaknya dapat memberi peluang kepada pegawai
untuk berkembang, berkekmbang kemampuan dan wawasannya, berkembang
kariernya dan berkembang pendapatannya.
4) Memuaskan SDM
Hendaknya setiap penghargaan dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi
pegawai yang memperolehnya.
5) Memelihara SDM
Penghargaan pegawai hendaknya dapat mempertahankan keberadaan
pegawai pada organisasi tertentu sehingga tingkat turn over atau keluar dari
organisasi rendah

Sistem Penghargaan/Reward dari Perusahaan untuk Karyawan


Menurut Sedarmayanti (2017) membagi reward ke dalam beberapa
bentuk, yaitu sebagai berikut:
1) Keadilan
Model penghargaan organisasi dengan memberikan penghargaan kepada
pegawai sesuai proporsi
2) Kesamaan
Model penghargaan organisasi dengan memberi penghargaan yang sama
tanpa memandang kontribusi dan masing-masing individu
3) Kebutuhan
Model penghargaan organisasi dengan mendasarkan kebutuhan pegawai
daripada kontribusinya

Dimensi Penghargaan/Reward


Rewards dalam penelitian ini akan diukur menggunakan dimensi yang
digunakan oleh Karami et al (2013) dengan dimensi rewards sebagai berikut:
1) Financial Rewards
Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
uang atau finansial seperti gaji, bonus dan tunjangan.
2) Inherent Rewards
Adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk kebanggaan
dan rasa empati dari pihak perusahaan.
3) Non-Financial Rewards
Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
bukan uang seperti wewenang, apresiasi dan penunjukan pegawai sebagai
perwakilan perusahaan

Pengertian Reward


Menurut Fahmi (2016) reward merupakan bentuk pemberian balas jasa
yang diberikan kepada seseorang karyawan atas prestasi pekerjaan yang
dilakukan, baik berbentuk finansial maupun non finansial.
Menurut Siagian (2015) reward adalah pekerjaan itu sendiri, upah,
peluang promosi, pengawasan, dan rekan kerja. reward juga merupakan usaha
atau cara untuk menumbuhkan pengakuan atau perasaan diterima didalam
organisasi, yang meliputi non finansial dan finansial.
Menurut Satrohadiwirya (2010) yang mengatakan penghargaan
merupakan imbalan balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada para
tenaga kerja, karena tenaga kerja tersebut telah memberikan sumbangan tenaga
dan pikiran demi kemajuan perusahaan guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Berdasarkan definisi para ahli diatas, reward adalah ganjaran, hadiah, atau
imbalan. Dalam konsep manajamen reward merupakan salah satu alat untuk
meningkatkan motivasi para pegawai, metode ini bisa juga mengasosiasikan
perbuatan dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang dan
biasanya akan membuat mereka melakukan suatu perbuatan yang berulang-
ulang, selain motivasi reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi
usahanya untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi yang telah dapat
dicapainya. Maka dapat disimpulkan bahwa reward adalah segala imbalan balas
jasa yang diberikan oleh perusahaan atas kontribusi karyawan

Jenis-jenis motivasi

  1. Motivasi Positif (Insentif Positif)
    Maksudnya manajer memotivasi (merangsang) karyawan dengan memberikan
    hadiah (reward) kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar atau
    proses untuk mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita
    inginkan dengan memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah
    (reward.
  2. Motivasi Negatif (Insentif Negatif)
    Maksudnya manajer memotivasi karyawan dengan standar mereka akan
    mendapatkan hukuman atau proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau
    melakukan sesuatu yang kita inginkan tetapi teknik dasar yang digunakan
    adalah lewat kekuatan ketakutan

Motivasi


Menurut Hamzah Uno (2016) motivasi adalah dorongan dasar yang
menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
yang menggerakkan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan
dorongan dalam dirinya.
Menurut Hasibuan (2013) motivasi berasal dari kata latin movereyang berarti
dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation)dalam manajemen hanya
ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi
mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar
mau bekerja sama secara produktif sehingga tercapai tujuan yang ditentukan.
Menurut Gibson (2013) motivasi kerja adalah kekuatan yang mendorong
seseorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku karyawan.
Menurut Farida & Hartono (2016) motivasi merupakan daya penggerak yang
menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja
efektif dan terintegrasi dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan,
untuk mencapai kepuasan itu sendiri dibutuhkan alat motivasi atau daya penggerak
yang diberikan kepada karyawan salah satunya yaitu penghargaan (reward). Farida
& Hartono (2016) Menyatakan alat-alat motivasi (daya perangsang) yang diberikan
kepada karyawan dapat berupa :
1) Material incentive adalah motivasi yang bersifat materiil sebagai imbalan
prestasi yang diberikan kepada karyawan. Yang termasuk material incentive
adalah yang berbentuk uang dan barang-barang.
2) Nonmaterial incentive adalah motivasi yang tidak berbentuk materi. Yang
termasuk nonmaterial incentive adalah penempatan yang tepat, pekerjaan yang
terjamin, piagam penghargaan, bintang jasa, perlakuan yang wajar, dan
sejenisnya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengalaman Kerja


Menurut Ismanto & Nano (2011) Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pengalaman tidaknya seorang karyawan sebagai indikator
pengalaman kerja, yaitu lama waktu atau masa kerja, tingkat pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki, dan penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.
1) Lama kerja atau masa kerja
Suatu ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh
seseorang karyawan dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan, dan telah
melaksanakan dengan baik.
2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
Suatu pengetahuan menunjuk pada konsep, prinsip, prosedur,
kebijakan, atau informasi lain yang dibutuhkan karyawan, pengetahuan juga
mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada
tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada
kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu
tugas atau pekerjaan.
3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
Tingkat penguasaan seorang karyawan dalam melaksanakan aspek-
aspek teknis peralatan dan teknik pekerjaan.
4) Jenis pekerjaan
Semakin banyak jenis tugas yang dilaksanakan seorang karyawan maka
umumnya orang tersebut akan memperoleh hasil pelaksanaan tugas yang
lebih baik

Pengukuran Pengalaman kerja


Pengalaman kerja tidak hanya dari lamanya bekerja karyawan pada bidang
pekerjaan tertentu saja, akan tetapi dapat dilihat dari keterampilan, keahlian,
kemampuan, yang dimiliki oleh pekerja tersebut. Lamanya seseorang bekerja
pada pekerjaan yang sama atau sejenis akan mengakibatkan lebih tahu dan
terampil dalam melaksanakan pekerjannya (Hardiansah 2014).
1) Gerakan yang mantap dan lancar
Setiap karyawan yang sudah berpengalaman akan melakukan gerakan
yang mantap dan bekerja tanpa disertai keragunan.
2) Gerakan berirama
Gerakan berirama merupakan terciptanya dari kebiasaan dalam
melakukan pekerjaan sehari-hari.
3) Lebih cepat menanggapi tanda-tanda
Merupakan tanda-tanda seperti akan terjadinya kecelakaan kerja. Dapat
mengetahui atau timbul kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya. Karena
didukung oleh pengalaman dapat mengetahui akan terjadinya kesulitan dan
siap menghadapinya.
4) Bekerja dengan tenang.
Seorang karyawan yang berpengalaman akan memiliki rasa percaya
diri yang cukup besa

Pengertian Pengalaman Kerja


Menurut Marwansyah (2014) pengalaman kerja adalah suatu pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dimiliki pegawai untuk mengemban
tanggungjawab dari pekerjaan sebelumnya, indikator dari pengalaman kerja
adalah : pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan tanggungjawab.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman kerja
merupakan suatu kemampuan yang dimiliki karyawan yang didapatkan dari
lamanya masa kerja karyawan tersebut.
Menurut Ismanto (2011) pengalaman kerja merupakan proses
pembentukan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena
keterlibatan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Organisasi


Menurut Eisenberger dalam Baliarti (2016), organizationalsupport
dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki oleh individu, serta pengamatan
mengenai keseharian organisasi dalam memperlakukan seseorang. Dalam hal ini
sikap organisasi terhadap ide-ide yang dilontarkan oleh pegawai, respon
terhadap pegawai yang mengalami masalah serta perhatian perusahaan terhadap
kesejahteraan dan kesehatan pegawai merupakan tiga aspek yang menjadi
perhatian utama dari pegawai. Ketiga aspek yang menjadi perhatian utama dari
pegawai yaitu:
1) Sikap Organisasi Terhadap Ide-Ide Pegawai
Organizational support dipengaruhi oleh sikap organisasi terhadap ide-
ide yangdilontarkan oleh pegawai. Bila organisasi melihat ide dari pegawai
sebagai sumbangan yang konstruktif, yang mungkin saja dapat diwujudkan
melalui perencanaan yang matang, maka individu yang bekerja ditempat
tersebut memiliki persepsi yang positif akan dukungan organisasi terhadap
diri mereka. Sebaliknya, dukungan organisasi akan menjadi negatif bila
perusahaan selalu menolak ide dari pegawai dan segala sesuatu merupakan
keputusan dari pimpinan puncak.
2) Respon Terhadap Pegawai
Menghadapi Masalah Organizational support juga dipengaruhi oleh
respon terhadap pegawai yangmenghadapi masalah. Bila organisasi
cenderung untuk berdiam diri dan tidak memperlihatkan usaha untuk
membantu individu yang terlibat masalah, maka pegawai akan melihat bahwa
tidak ada dukungan yang diberikan organisasi terhadap pegawai.
3) Respon Terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Pegawai
Perhatian organisasi akan kesejahteraan pegawai juga mempengaruhi
tingkat organizational support pegawai. Pegawai yang melihat bahwa
organisasiberusaha keras untuk meningkatkan kesejahteraan individu yang
bekerja didalamnya, akan melihat hal ini sebagai suatu hal yang positif.
Pegawai melihat bahwa organisasi memberikan dukungan agar setiap orang
dapat bekerja secara optimal demi tercapainya tujuan bersama. Pada dasarnya
organizational support merupakan suatu persepsi pegawai bahwa dirinya
dihargai dan diperhatikan oleh organisasi atau perusahaan tempatnya bekerja.
Bila organisasi memperhatikan dan menghargai upaya yang dilakukan oleh
individu untuk mencapai tujuan perusahaan maka individu akan
mempersepsikan bahwa organisasimemberikan dukungan terhadap mereka

Dampak dari Adanya Dukungan Organisasi


Berbagai penelitian menunjukan bahwa organizational support
mempunyai dampak baik bagi individu maupun organisasi. Dampak tersebut
menurut Indriana (2016), antara lain:
1) Komitmen organisasi
Pegawai yang mempersepsikan tingkat organizational support yang
tinggi melahirkan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaannya.
Pegawai merasa organisasi berkomitmen terhadap dirinya. Sebagai
balasannya, pegawai pun berkomitmen terhadap organisasi.
2) Kesiapan untuk berubah
Organisasi yang peduli dengan kemajuan yang dicapai oleh para
pegawai membuat pegawai memiliki tanggung jawab terhadap tujuan
organisasi. Ketika organisasi ingin menjadi lebih baik, pegawai siap
mendukungnya.
3) Intensitas meninggalkan organisasi
Pegawai yang memprersepsikan dukungan tinggi dari organisasi akan
membuat pegawai betah bersama organisasi. Pegawai cenderung tidak ingin
meninggalkan organisasi.
4) Organizational citizen behavior
Organizational support yang tinggi membuat pegawai percaya pada
organisasi. Dengan kepercayaan tersebut, pegawai mau melakukan pekerjaan
yang bukan tanggung jawab mereka dengan sukarela.
5) Kepuasan kerja
Organizational support mempunyai pengaruh terhadap job satisfaction
pegawai. Pegawai yang merasa adanya organizational support yang tinggi
cenderung puas terhadap gaji, rekan kerja, atasan dan promosi

Pengertian Dukungan Organisasi


Menurut Eisenberger dalam mangundjaya (2016) Teori dukungan
organisasi menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan emosional dan
menilai keuntungan dari peningkatan usaha dalam bekerja, karyawan
membentuk persepsi umum mengenai sejauhmana organisasi menghargai
kontribusinya dan peduli terhadap kesejahteraannya (persepsi dukungan
organisasi).
Bersamaan dengan itu menurut Erdogan dan Enders (2016) dukungan
oganisasi merupakan derajat kepercayaan individu terhadap organisasi bahwa
organisasi peduli kepadanya, menilai setiap masukan yang diberikan, dan
menyediakan pertolongan dan bantuan untuknya. Sugiyono (2015)
mendeskripsikan dukungan organisasi didefiniskan sebagai seberapa banyak
organisasi menilai kontribusi pegawai dan peduli terhadapnya.
Menurut Danish, Ramzan dan Ahmad (2013), Dukungan organisasi
merupakan ekspektasi pegawai bahwa organisasi menghargai kontribusi dan
pekerjaan yang pegawai lakukan dengan sebaiknya.
Menurut Robbins (2015) dukungan organisasi adalah dimana organisasi
menghadapi suatu lingkungan yang dinamis dan berubah agar organisasi
menyesesuaikan diri

Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia menurut Hasibuan
(2015), yaitu terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengendalian, pengadaan, pengembangan kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan, kedisiplinan dan pemberhentian. Menurut Flippo dalam
Yuniarsih dan Suwanto (2014), fungsi manajemen sumber daya manusia terdiri
dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi dan pemutusan hubungan
kerja. Menurut Harris, Yuniarsih, dan Suwanto (2014), fungsi manajemen
sumber daya manusia terdiri dari perencanaan, penempatan, pengevaluasian,
kompensasi, pengembangan dan mengatur hubungan yang efektif antar tenaga
kerja. Menurut Hasibuan (2015), fungsi manajemen sumber daya manusia
adalah sebagai berikut:
1) Perencanaan
Perencanaan (human resources planning) adalah merencanakan tenaga
kerja secara efektif dan efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan
dalam membantu mewujudkan tujuan perusahaan.
2) Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua
karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
wewenang, integrasi, dan koordinasi dalam bagan organisasi
(organization chart).
3) Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan,
agar mau bekerja sama dengan bekerja efektif dan efisien dalam mebantu
tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
4) Pengendalian
Pengendalian (controlling) adalah kegiatan mengendalikan semua
karyawan, agar menaati peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja
sesuai dengan rencana.
5) Pengadaan.
Pengadaan (procurement) adalah proses penarikan, seleksi,
penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang
sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
6) Pengembangan
Pengembangan (development) adalah proses peningkatan keterampilan
teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui Pendidikan dan
pelatihan.
7) Kompensasi
Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas jasa langsung
(direct) dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan
sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan.
8) Pengintegrasian
Pengintegrasian (integration) adalah kegiatan untuk mempersatukan
kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar terciptanya kerja
sama yang serasi dan saling menguntungkan.
9) Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau
meningkatkan kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan, agar mereka
tetap mau bekerja sama sampai pension.
10) Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan kunci
terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit terwujudnya
tujuan perusahaan yang maksimal.
11) Pemberhentian
Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang
dari suatu perusahaan. pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pension, dan
sebab-sebab lainnya

Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia


Peran manajemen Sumber Daya Manusia dalam menjalankan aspek
Sumber Daya Manusia, harus dikelola dengan baik sehingga kebijakan dan
praktik dapat berjalan sesuai dengan rencana yang diinginkan perusahaan,
menurut Rivai (2015) peran manajemen SDM antara lain:
1) Melakukan analisis jabatan (menetapkan karakteristik pekerjaan masing-
masing SDM)
2) Merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan merekrut calon pekerja
3) Menyeleksi calon pekerja
4) Memberikan pengenalan dan penempatan pada karyawan baru
5) Menetapkan upah, gaji, dan cara memberikan kompensasi
6) Memberikan intensif dan kesejahteraan
7) Melakukan evaluasi kinerja
8) Mengkomunikasikan, memberikan penyuluhan, menegakkan disiplin kerja
9) Memberikan pendidikan, pelatihan dan pengembangan
10) Membangun komitmen kerja
11) Memberikan keselamatan kerja
12) Memberikan jaminan kesehatan
13) Menyelesaikan perselisihan perburuhan
14) Menyelesaikan keluhan dan relationship karyawan

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Farida (2017) Manajemen sumber daya manusia adalah
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dari kegiatan
pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi dan pemeliharaan sumber
daya manusia dengan maksud untuk membantu pencapaian tujuan perusahaan,
individu dan masyarakat. Menurut Irianto dalam Herawati (2014) manajemen
sumber daya manusia merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga
organisasi sebagai sumber daya manusia yang sangat penting dalam memberi
kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi, dan penggunaan beberapa fungsi dan
kegiatan untuk memastikan bahwa SDM tersebut digunakan secara efektif dan
adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat. Menurut Hasibuan
(2014), “manajemen sumber daya manusia adalah ilmu & seni mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.”
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya
manusia merupakan kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, dan
pemeliharaan serta penggunaan Sumber Daya manusia untuk mencapai tujuan
baik bagi industri atau perusahaan

Manajemen


Manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang
diinginkan oleh sebuah industri atau perusahaan. Manajemen juga sebagai ilmu
pengetahuan yang bersifat universal serta mempergunakan kerangka ilmu
pengetahuan yang sistematis.
Menurut Farida (2017) mengemukakan bahwa “manajemen adalah seni
dan ilmu dalam perencanaan, pengoorganisasian/organisasian, pengarahan, dan
pengawasan daripada sumber daya manusia untuk mencapai tujua yang telah
ditetapkan.
Menurut Hasibuan (2016) mengemukakan bahwa “manajemen merupakan
ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu”.
Pengertian Manajemen menurut Robbins, Coulter (2012) mengemukakan
“Manajemen melibatkan suatu koordinasi dan mengawasi aktivitas kerja lainnya
sehingga kegiatan mereka selesai dengan efektif dan efisien. Arti dari efisien
sendiri adalah mendapatkan hasil output terbanyak dari input yang seminimal
mungkin, sedangkan arti dari efektif adalah “melakukan hal yang benar”, yaitu
melakukan sebuah pekerjaan yang dapat membantu organisasi mencapai
tujuannya”.
Berdasarkan semua paparan di atas, dapat di pahami dan dapat
disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang
proses mengatur sumber daya manusia dan sumber daya lainnya guna mencapai
tujuan industri atau perusahaan secara efektif dan efisien

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kerja Inovatif


Munculnya sikap inovatif pada perilaku karyawan didukung beberapa
penunjang. Nijenhuis (2015) mengemukakan faktor eksternal maupun faktor
internal diperkirakan mampu meingkatkan timbulnya perilaku kerja inovatif
pada seorang pekerja.
a. Faktor eksternal
1) Tekanan berkompetitif
Tekanan untuk bersaing atau berkompetisi yang semakin tinggi dapat
menjadi faktor pendorong bagi pekerja untuk bekerja dengan lebih baik, hal
tersebut berimbas secara positif dalam memunculkan sikap inovatif pada
perilaku pekerja.
2) Tekanan sosial – politik
Suatu usaha yang disokong oleh pemerintah diharuskan untuk
menyajikan hasil kerja yang memuaskan secara terus menerus jika igin terus
mendapatkan sokongan tersebut, sehingga seluruh lapisan dalam suatu usaha
harus terus melakukan inovasidalam upaya memberi hasil yang baik pada
pekerjaannya.
b. Faktor Internal
1) Hubungan dengan atasan
Pekerja yang dapat menjalin hubungan baik dengan atasannya lebih
mampu meyakinkan bahwa sikap inovatif yang mereka miliki dapat
menghasilkan keuntungan kinerja, hal tersebut dikarenakan adanya
kepercayaan dan rasa hormat yang lebih.
2) Hubungan dengan rekan kerja
Pekerja yang dapat menjalin hubungan baik dengan rekan kerja akan
membantu mereka dalam menerapkan gagasan baru yang mereka miliki. Hal
tersebut dapat menambah idea generation pada organisasi.
Berdasarkan penelitan Hammon et al. (2011), 4 faktor utama yang
mempengaruhi perilaku kerja inovatif adalah sebagai berikut:
a. Individual Differences
Seorang individu tentu saja mempunyai kondisi yang tidak sama satu sama
lain dari sisi keingintahuan, kecerdasan, imajinasi, hingga kepekaan terhadap
sebuah seni.
b. Motivation
Motivasi mengacu pada keterlibatan pekerja dalam mengerjakan suatu tugas
disebut sebagai motivasi intrinsik, sedangkan motivasi yang mengacu adanya
rewards disebut sebagai motivasi ektrinsik.
c. Job Characteristic
Karakteristik pekerjaan dalam hal ini yang lebih sering dikenal, antara lain
role requirements, job autonomy, job complexity, dan time pressure,. Adapun
dalam kaitannya sebuah pekerjaan yang lebih kompleks, maka akan banyak
inovasi yang dilakukan oleh individu dengan fokus terhadap aspek pekerjaan
mereka secara bersamaan.
d. Job Contextual
Secara umum, ada faktor kontekstual yang dapat memengaruhi kinerja
inovatif. Dalam hal ini, pengaruhnya tentu saja berdampak pada motivasi
intrinsik pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Faktor konstektual dapat
berhubungan dengan dukungan sumber daya organisasi, kreativitas, dan
kepemimpinan transformasiona

Indikator Perilaku Kerja Inovatif


Janssen (2000) menyatakan dalam hal ini sebuah dimensi tentang perilaku
kerja inovatif yang diukur dengan indikator antara lain:
a. Penciptaan sebuah ide baru dalam rangka penyelesaian masalah
b. Pencarian metode kerja, baik itu teknik, maupun instrumen baru.
c. Penghasiilan sebuah solusi dalam penyelesaian masalah.
d. Pemobilisasian dalam sebuah dukungan ke dalam ide inovasi.
e. Sebuah upaya dalam menyetujui gagasan inovatif.
f. Pembuatan anggota organisasi antusias yang sejalan dengan gagasan yang
inovatif.
g. Pengubahan sebuah ide inovatif untuk menjadi aplikasi yang memiliki
kegunaan tertentu.
h. Penjabaran ide inovatif dalam sebuah lingkungan secara sistematis.
Sedangkan Jong & Hartog (2010) menjabarkan generalisasi ide yang
merupakan dimensi perilaku kerja inovatif dapat dilihat juga dalam penjelasan
di bawah ini, seperti:
a. Pembuatan gagasan baru dalam sebuah isu yang rumit.
b. Pencarian sebuah cara, baik itu secara teknis atau instrumen baru.
Kemudian ide promosi yang juga merrupakan dimensi perilaku kerja
inovatif dijelaskan dalam beberapa hal, seperti:
a. Pembuatan anggota organisasi paling antusias untuk ide inovatif.
b. Melakukan generalisasi terhadap sebuah solusi murni agar masalah bisa
teratasi.
c. Pemobilisasian sebuah dukungan terhadap ide yang inovatif.
d. Kejelasan sebuah persetujuan untuk pengembangan ide yang inovatif.
Selanjutnya, penerapan ide yang merupakan dimensi perilaku kerja inovatif
dapat dilihat serta diukur dalam penjelasan di bawah ini:
a. Melakukan transfer baik itu ide inovatif ke dalam penerapan yang berguna.
b. Pengenalan sebuah ide inovatif ke lingkungan kerja secara sistematis.
c. Pengevaluasian sebuah kegunaan ide inovatif itu sendir

Dimensi Perilaku Kerja Inovatif


Dalam penelitiannya, Janssen (2002) menjelaskan mengenai penjabaran
dimensi perilaku kerja inovatif oleh Scott & Bruce (1994) seperti berikut ini:
a. Idea Generation
Idea generation merupakan sebuah langkah dari seseorang di dalam
pekerjaan untuk menerapkan gagasannya dengan tujuan untuk memecahkan
problematika yang muncul pada pekerjaan.
b. Idea Implementation
Idea implementation merupakan proses individu yang berpartisipasi dalam
kegiatan sosial untuk membangun hubungan dengan latar belakang sebagai
pendukung yang diperlukan. (Galbraith dan Kanter, 1988 dalam Jassen, 2000).
c. Idea Realization
Idea realization adalah penerapan sebuah ide dalam proses individu yang
ada dalam peran kerja, kelompok, atau organisasi.
Sedangkan Jong & Hartog (2008), menjabarkan adanya dimensi pada
perilaku kerja inovatif sebagai berikut:
a. Idea Exploration
Idea exploration juga disebut eksplorasi ide adalah sebuah cara dalam
meningkatkan suatu layanan, produk, ataupun proses. Adapun untuk
menyelesaikan pada tahap ini bisa dicoba dalam melakukan sebuah pemikiran
dalam bentuk penyelesaian sebuah tahap.
b. Idea Generation
Idea generation berkaitan dengan suatu kegiatan untuk menjelaskan situasi
pasar yang baru, dimulai dari peningkatan kinerja yang sedang berlangsung
kemudian pengidentifikasian dalam pencarian pemecahan masalah.
c. Idea Championing
Idea championing atau biasa disebut juga dalam perjuangan terhadap
sebuah gagasan ide, dalam hal ini suatu usaha digunakan untuk mencari
dukungan dan membangun koalisi. Hal ini biasanya dilakukan dengan sebuah
ekspresi antusiasme dan kepercayaan diri terhadap keberhasilan akan sebuah
inovasi. Sebuah usaha yang gigih diperlukan keterlibatan sosok yang hebat
dalam suatu ide.
d. Idea Implementation
Idea implementation yang dalam hal ini biasa disebut juga implementasi
gagasan ide adalah pengimplementasian sebuah ide ke dalam proses dan
perilaku kerja rutin. Hal ini biasa juga dilihat dalam pengembangan produk
baru melalui tahap pengujian adau pemodifikasian

Pengertian Perilaku Kerja Inovatif


Perilaku kerja inovatif digambarkan dengan suatu proses menciptakan dan
menerapkan gagasan baru dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pada
sebuah usaha (Janssen, 2000). Scott & Bruce (1994) menyebut perilaku kerja
inovatif sebagai upaya pada seseorang dalam menerapkan gagasan barunya di
dalam pekerjaan dengan tujuan mencari keuntungan. Jong & Hartog (2008)
mendiskripsikan perilaku kerja inovatif sebagai sebuah tindakan seseorang
yang mempunyai tujuan untuk dapat mengenalkan ide atau gagasannya dalam
pembuatan sebuah produk baru

Prinsip Inovasi


Inovasi menurut Kuratko & Hodgetts (2017) mengacu pada berbagai prinsip
sebagai berikut:
a. Be action oriented, dimana individu yang berinovasi harus dapat selalu
membuat gagasan dan peluang baru.
b. Menciptakan produk yang dapat diterima khalayak dengan membuatnya
secara sederhana, sehingga cara kerja inovasi dapat dipahami dengan
mudah.
c. Inovator harus memulai dari yang kecil dan dapat mengembangkan dengan
idenya sehingga perencanaan dan perluasan dapat tumbuh dengan cara dan
waktu yang tepat.
d. Inovator dituntut untuk bersikeras pada tujuannya untuk menggapai
kesuksesan.
e. Test, try, and revise, dimana inovator harus melakukan proses uji coba
hingga pembetulan untuk dapat melihat kekurangan pada produk yang
dirancang.
f. Inovator harus dapat berkaca dari kesalahan yang lalu karena kegagalan
dapat menjadi pedoman dalam menciptakan sebuah inovasi

Jenis-Jenis Inovasi


Berikut ini adalah jenis-jenis dari inovasi berdasarkan Susanto & Putra
(2010):
a. Inovasi meliputi pembuatan produk baru.
b. Inovasi meliputi proses dari pembuatan produk hingga proses pengiriman
produk.
c. Inovasi pada supply chain, dimana inovasi dapat mengalihkan produk baik
dari input dan output.
d. Inovasi pemasaran, dimana hasil terlihat dengan adanya metode baru pada
pemasaran, tambahan pada desain produk, perubahan kemasan, perubahan
harga, dan sebagainya

Tujuan Inovasi


Secara umum, tujuan dari dilakukannya inovasi adalah untuk membuat
kondisi sebuah usaha agar dapat berkembang dengan pesat. Makmur & Thahier
(2015) menyebutkan bahwa terapat beberapa perspektif pada tujuan dari
inovasi:
a. Perspektif anggaran, dimana mencari cara untuk berinovasi dengan
menggunakan anggaran yang relatif kecil namun dapat menghasilkan jumlah
besar.
b. Perspektif pelanggan, dimana semua kalangan di dalam sebuah usaha
melakukan inovasi untuk mendapatkan konsumen sebanyak mungkin dan
dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin.
c. Perspektif pengolahan bisnis internal, dimana setiap bagian dalam sebuah
usaha dapat berinovasi dalam tujuan menciptakan kondisi yang mendukung.
d. Perspektif pertumbuhan, dimana inovasi dilakukan untuk perluasan bidang
usaha

Pengertian Inovasi


Van de Ven (1986) menyebut inovasi sebagai pengembangan dan penerapan
ide-ide baru oleh masing-masing orang pada sebuah organisasi. Ide-ide baru
tersebut dapat berupa pengumpulan gagasan yang telah ada yang bertujuan
untuk dapat menghadapi tantangan yang ada. Van de Ven (1986) menyebutkan
bahwa masing-masing orang dalam organisasi berkesempatan untuk memegang
peran dalam mengembangkan gagasannya. Oleh karena itu, inovasi dapat
disebut sebagai langkah dalam menemukan dan menerapkan suatu hal yang
baru pada situasi yang baru.
Dalam penelitian Scott dan Bruce (1994) disebutkan bahwa perilaku kerja
inovatif berasal dari perilaku inovatif individu yang merupakan inovasi tingkat
awal pada individu.
Trott (2008) menyebut inovasi memegang peran penting pada sebuah usaha
karena inovasi menyokong keberlangsungan hidup sebuah usaha sehingga
inovasi disebut sebagai pusat aktivitas pada sebuah usaha yang meliputi dari
pembentukan sebuah ide, hingga proses pemasaran produk yang melalui
pengembangan serta proses pembuatannya.
Sedangkan Drucker (2012) menyebutkan bahwa inovasi merupakan sebuah
alat bagi sebuah usaha karena dengan adanya perubahan atau inovasi yang
terjadi pada sebuah usaha, maka aka nada kesmepatan bagi sebuah usaa untuk
menjalankan sebuat usaha baru atau berbeda

Indikator Job Satisfaction


Dalam penelitian (Nurhandayani, 2022) menyatakan bahwa indikator dari
kepuasan kerja, yaitu:
a. Gaji
Besaran kompensasi yang diterima oleh karyawan untuk pekerjaan yang
dilakukan. Gaji merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi
kepuasan kerja, karena karyawan biasanya merasa dihargai apabila mereka
menerima gaji yang sesuai dengan upaya dan kinerja mereka.
b. Pekerjaan itu sendiri
Kepuasan yang berasal dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan yang
menarik, menantang, dan sesuai dengan minat atau keahlian seseorang dapat
meningkatkan kepuasan kerja. Sebaliknya, pekerjaan yang monoton atau
tidak sesuai dengan minat bisa menurunkan tingkat kepuasan.
c. Rekan Kerja
Hubungan dan interaksi yang terjalin dengan sesama karyawan juga menjadi
faktor penting dalam kepuasan kerja. Lingkungan kerja yang mendukung,
dengan rekan kerja yang kooperatif dan baik, dapat meningkatkan kepuasan
serta meningkatkan semangat kerja.
d. Atasan
Gaya kepemimpinan atasan dan hubungan interpersonal antara atasan dan
bawahan dapat memengaruhi kepuasan kerja. Atasan yang memberi
dukungan, memberikan umpan balik konstruktif, dan menciptakan
lingkungan kerja yang positif akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
e. Promosi
Kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan promosi atau kenaikan
pangkat merupakan faktor yang berpengaruh dalam kepuasan kerja.
Karyawan cenderung merasa lebih puas jika mereka memiliki peluang untuk
maju dalam karier dan mendapatkan pengakuan atas kinerja mereka.
f. Lingkungan Kerja
Lingkungan fisik dan psikologis tempat kerja juga memainkan peran dalam
kepuasan kerja. Lingkungan yang aman, nyaman, bersih, serta memiliki
fasilitas yang memadai dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan kerja
karyawan

Faktor-Faktor Job Satisfaction


Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kepuasan kerja yaitu (Tiong,
2023: 99):
a. Kesempatan untuk maju
Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan bagi karyawan untuk memperoleh
pengalaman dan peningkatan kemampuan selama bekerja.
b. Keamanan kerja
Sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria
maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan
karyawan selama bekerja.
c. Gaji
Faktor ini lebih banyak ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan
kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang akan diperoleh.
d. Perusahaan dan manajemen
Perusahaan dan manajemen yang baik adalah faktor yang mampu
memberikan situasi dan kondisi yang stabil. Faktor ini yang menengtukan
kepuasan kerja karyawan.
e. Pengawasan (supervisi)
Bagi karyawan supervisor dianggap sebagai figure ayah dan sekaligus atasan.
Supervisi yang buruk berakibat absensi dan turnover.
f. Faktor intrinsik dari pekerjaan
Dimana atribut yang ada pada pekerjaan masyarakat keterampilan tertengtu.
Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan atau
mengurangi kepuasan.
g. Kondisi kerja
Faktor ini termasuk dalam kondisi kerja, ventilasi penyinaran, kantin dan
tempat parker.
h. Aspek sosial dalam pekerjaan
Merupakan salah satu sikap yang digambarkan tetapi dipandang sebagai
faktor yang menunjang kepuasan atau ketidakpuasaan dalam pekerjaan.
i. Komunikasi
Komunikasi yang lancar antara karyawan dan pihak manajemen banyak
dipakai sebagai alasan untuk menyukai jabatannya, dalam hal ini adanya
kesediaan piha atasan untuk mau mendengar, memahami, dan mengakui
pendapat ataupun prestasi karyawan. Keadaan ini akan sangat berperan dalam
menimbulkan rasa puas terhadap pekerjaan.
j. Fasilitas
Faktor ini seperti hal nya perusahaan memberikan fasilitas rumah sakit, cuti,
dana pension merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi
akan menimbulkan rasa puas

Teori Job Satisfaction


Ada lima teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja (Indrasari, 2017:42),
yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Teori pemenuhan kebutuhan
    Teori ini berargumen bahwa kepuasan kerja diukur melalui penghargaan yang
    diterima oleh karyawan atau tingkat kebutuhan yang berhasil dipenuhi.
    Karyawan akan merasa puas jika mereka mendapatkan apa yang mereka
    butuhkan. Semakin banyak kebutuhan yang terpenuhi, semakin tinggi
    kepuasan yang dirasakan oleh karyawan, dan sebaliknya. Terdapat hubungan
    positif yang langsung antara kepuasan kerja dan pemenuhan kebutuhan yang
    diharapkan.
  2. Teori equity
    Teori ini menjelaskan bahwa kepuasan seseorang bergantung pada persepsi
    keadilan yang dirasakannya. Rasa keadilan atau ketidakadilan ini muncul dari
    perbandingan diri dengan orang lain yang berada dalam posisi yang sama,
    baik di lingkungan kerja maupun di tempat lain. Teori ini membagi konsep
    equity menjadi tiga kompon utama:
    a. Input, yang mencakup segala sesuatu yang dianggap berharga oleh
    pegawai sebagai kontribusi untuk pekerjaannya, seperti pendidikan,
    pelatihan, dan alat kerja.
    b. Out comes, yang merujuk pada segala hal yang dianggap berharga oleh
    pegawai sebagai hasil dari pekerjaannya, termasuk gaji, status, dan
    pengakuan atas prestasi.
    c. Comparisons person, yaitu perbandingan antara input dan out comes yang
    diterima. Menurut teori ini, kepuasan atau ketidakpuasan pegawai
    ditentukan oleh perbandingan antara input-output dirinya dan input-output
    pegawai lain. Jika perbandingan tersebut menunjukkan keadilan, maka
    pegawai akan merasa puas, sebaliknya jika tidak, maka ketidakpuasan
    akan muncul
  3. Teori Ketidaksesuaian
    Teori ini menjelaskan bahwa untuk menilai kepuasan kerja individu, perlu
    dilakukan analisis terhadap perbedaan antara harapan yang dimiliki terhadap
    pekerjaan dan realitas yang dialaminya. Tingkat kepuasan kerja seseorang
    dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara harapan, kebutuhan, atau nilai-nilai
    yang diinginkan dengan apa yang dirasakan atau dicapai melalui pekerjaan
    tersebut. Oleh karena itu, sikap karyawan terhadap pekerjaannya sangat
    dipengaruhi oleh perbedaan yang mereka rasakan.
  4. Teori motivasi dua faktor
    Teori ini menyatakan bahwa terdapat dua kategori yang mempengaruhi
    tingkat kepuasan dan ketidakpuasan pegawai, yaitu:
    a. Faktor pemeliharaan atau faktor ketidakpuasan, yang meliputi elemen-
    elemen yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk mencapai
    kenyamanan fisik, seperti gaji, kualitas supervisi, kebijakan organisasi,
    serta hubungan interpersonal di antara rekan kerja, atasan, dan bawahan,
    serta aspek keamanan kerja, status, dan kondisi kerja.
    b. Faktor motivator atau faktor kepuasan, yang berfokus pada kebutuhan
    psikologis pegawai. Faktor ini berkaitan dengan pengharg aan terhadap
    individu yang berhubungan langsung dengan pekerjaan, seperti prestasi,
    pengakuan, dan karakteristik pekerjaan itu sendiri.
  5. Teori kelompok acuan sosial
    Teori ini memiliki kesamaan dengan teori pemenuhan kebutuhan, tetapi
    perbedaannya terletak pada fakta bahwa harapan, keinginan, dan kepentingan
    berasal dari individu dalam konteks kelompok, bukan sebagai individu yang
    terpisah. Teori ini menyatakan bahwa jika pekerjaan sejalan dengan
    kepentingan, harapan, dan tuntutan individu dalam kelompok, maka individu
    tersebut akan merasakan kepuasan dalam pekerjaannya. Namun, dalam
    praktiknya, individu tidak selalu mengikuti keputusan kelompok dan
    terkadang menunjukkan sikap independen

Pengertian Job Satisfaction


Kepuasan kerja pada dasarnya berkaitan dengan perilaku seseorang dalam
bekerja, di mana seorang karyawan akan merasa nyaman dan memiliki loyalitas
tinggi terhadap perusahaan apabila ia mendapatkan kepuasan kerja yang sesuai
dengan harapannya (Yuliani, 2023: 136). “Job satisfaction may be as pleasurable
as positive emotional state resulting from the appraisal of one’s job or job
experiences, state resulting from the appraisal of one’s job or job experiences”.
Kepuasan kerja dapat diartikan sebagai suatu kondisi positif yang dirasakan oleh
seseorang setelah menilai pekerjaan atau pengalaman yang mereka jalani. Hal ini
tercipta ketika individu merasa bahwa pekerjaan yang dilakukannya memenuhi
harapan dan kebutuhan mereka, baik dalam hal tantangan, penghargaan, maupun
keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.“The appraisal of one s job
as attaining or allowing the attainment of one’s important job value, providing these
value are congruent with or help full fit one’s basic needs” hal ini menunjukan
bahwa seseorang akan merasa puas dengan pekerjaannya jika pekerjaan itu tidak
hanya memberikan apa yang mereka nilai penting, tetapi juga jika pekerjaan
tersebut dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti kebutuhan emosional,
finansial, atau kebutuhan akan tantangan dan penghargaan dalam pekerjaan.
(Indrasari, 2017:38).
Kepuasan kerja merupakan perasaan positif atau negatif yang dirasakan oleh
seorang pegawai terkait pekerjaannya maupun kondisi pribadinya. Perasaan yang
berkaitan dengan pekerjaan mencakup aspek seperti upaya yang dikeluarkan,
peluang pengembangan karir, hubungan antar rekan kerja, penempatan posisi, dan
struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan kondisi
pribadi mencakup usia, kesehatan, kemampuan, serta tingkat pendidikan (Setiono
& Sustiyatik, 2019: 173). Kepuasan kerja adalah respons emosional positif atau
negatif yang dirasakan individu terhadap pekerjaan yang mereka lakukan, yang
pada akhirnya memengaruhi tindakan mereka dalam menyelesaikan tugas guna
mencapai tujuan perusahaan (Rony & Yulisyahyanti, 2022). Kepuasan kerja adalah
sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaanya. Sikap ini
dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja (Ernanto &
Indriyaningrum, 2023).
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan job satisfaction atau kepuasan kerja merupakan sikap positif yang
dirasakan oleh karyawan melalui penilaian terhadap berbagai aspek yang dianggap
baik dalam pekerjaan dan kondisi diri mereka. Kepuasan kerja mencakup perasaan
senang atau tidak senang yang dialami individu sehubungan dengan pekerjaan yang
dijalani

Indikator Burnout


Indikator-indikator burnout meliputi empat hal utama (Rosada, 2023), yaitu:
a. Kelelahan Fisik
Merujuk pada kondisi tubuh yang sangat lelah atau letih akibat beban kerja
yang berlebihan, kurang tidur, atau terlalu banyak waktu yang dihabiskan
untuk pekerjaan. Kelelahan fisik ini dapat mengurangi energi dan
mempengaruhi kinerja secara keseluruhan.
b. Kelelahan Mental
Ini berkaitan dengan keletihan yang dirasakan pada tingkat kognitif atau
pemikiran. Individu yang mengalami kelelahan mental mungkin merasa sulit
untuk berkonsentrasi, memproses informasi, atau membuat keputusan. Ini
terjadi akibat stres yang berkepanjangan atau tuntutan kognitif yang berat di
tempat kerja.
c. Kelelahan Emosional
Ini mengacu pada perasaan kewalahan secara emosional, seperti merasa
kosong, tidak termotivasi, atau kehilangan semangat dalam menjalani
pekerjaan. Kelelahan emosional sering kali diiringi dengan perasaan tidak
dapat mengatasi tuntutan pekerjaan atau hubungan interpersonal yang ada di
tempat kerja.
d. Penghargaan Diri yang Rendah
Individu yang mengalami burnout sering merasa bahwa mereka tidak
dihargai atau diakui atas pekerjaan yang mereka lakukan. Ini bisa
menurunkan rasa percaya diri mereka dan mengurangi motivasi untuk bekerja
lebih keras, yang semakin memperburuk kondisi burnout.

Dampak Burnout


Adapun dampak dari burnout adalah sebagai berikut (Hibah, 2023:10):
a. Burnout is Lost Energy
Pekerja yang mengalami kelelahan mental akan merasakan stres, merasa
tertekan, dan kehabisan energi. Mereka juga akan mengalami kesulitan dalam
tidur serta cenderung menjauh dari lingkungan sekitar. Kondisi ini akan
berdampak negatif pada kinerja mereka. Selain itu, produktivitas dalam
pekerjaan juga akan semakin menurun.
b. Burnout is Lost Enthusiasm
Keinginan untuk beraktivitas dalam pekerjaan semakin menurun, menjadikan
segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan terasa kurang menyenangkan.
Kreativitas dan minat terhadap pekerjaan juga semakin berkurang, sehingga
hasil yang dicapai menjadi sangat terbatas.
c. Burnout is Lost Confidence
Tanpa adanya energi dan partisipasi aktif dalam pekerjaan, kinerja pekerja
akan terhambat. Hal ini dapat menyebabkan pekerja merasa semakin tidak
efektif dan meragukan kemampuan diri mereka. Dampak dari kondisi ini akan
berpengaruh pada hasil pekerjaan secara keseluruhan. Ambiguitas peran,
motivasi intrinsik, dan konflik peran merupakan faktor yang berkontribusi
terhadap kelelahan kerja, yang memiliki hubungan dengan komitmen
organisasi, kepuasan kerja, kinerja tenaga penjual, serta keinginan untuk
berpindah

Faktor-faktor penyebab Burnout


Burnout umumnya terjadi akibat adanya ketidaksesuaian atau
ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan atau sumber
daya yang dimiliki oleh pekerja. Ketika individu merasa pekerjaan yang dilakukan
tidak sesuai dengan keterampilan, minat, atau nilai-nilai pribadinya, hal ini dapat
menyebabkan stres yang berkepanjangan. Ketidaksesuaian tersebut akan
mengganggu kesejahteraan fisik dan mental, serta menurunkan motivasi dan kinerja
kerja secara signifikan. Dengan kata lain, semakin besar perbedaan antara individu
dengan pekerjaannya, semakin besar kemungkinan terjadinya burnout yang dapat
mempengaruhi efektivitas dan produktivitas kerja. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi munculnya burnout (Alam, 2022:50), yaitu:
a. Work Overloaded
Work Overloaded dapat terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara pekerja dan
tugas yang diberikan. Pekerja sering kali dibebani dengan terlalu banyak
pekerjaan dalam waktu yang terbatas. Kondisi ini muncul karena pekerjaan
yang harus diselesaikan melebihi kapasitas kemampuan manusia yang
memiliki batasan. Akibatnya, kualitas kerja dapat menurun, hubungan antar
rekan kerja menjadi kurang sehat, kreativitas berkurang, dan risiko burnout
meningkat.
b. Lack of Work Control
Setiap orang memiliki keinginan untuk mendapatkan kesempatan dalam
membuat pilihan dan keputusan, serta memanfaatkan kemampuan berpikir
menyelesaikan masalah untuk mencapai prestasi. Namun, aturan yang ada
kadang-kadang membatasi inovasi pekerja, sehingga mereka merasa kurang
memiliki tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai akibat pengawasan
yang terlalu ketat dari atasan.
c. Rewarded for Work
Minimnya penghargaan di tempat kerja dapat menyebabkan karyawan merasa
tidak dihargai. Penghargaan tidak hanya diukur dari bonus finansial, tetapi
juga dari hubungan yang harmonis antara rekan kerja dan antara karyawan
dengan atasan. Penghargaan yang diberikan dapat meningkatkan perasaan
positif karyawan, yang merupakan indikator penting bahwa mereka telah
melaksanakan tugas dengan baik
d. Breakdown in Community
Karyawan yang tidak merasakan rasa memiliki terhadap komunitas di tempat
kerja cenderung mengalami kurangnya keterikatan positif. Seseorang akan
memberikan performa terbaiknya ketika merasa nyaman dan bahagia, yang
terbangun melalui saling menghargai. Namun, seringkali lingkungan kerja
justru menciptakan situasi yang berlawanan. Terdapat kesenjangan baik di
antara rekan kerja maupun dengan atasan, di mana masing-masing lebih fokus
pada diri sendiri dan kurang memiliki waktu berkualitas bersama.
e. Treated Fairly
Perasaan tidak diperlakukan secara adil merupakan salah satu faktor yang
dapat menyebabkan burnout. Keadilan melibatkan penghargaan terhadap
perbedaan dan saling menghormati. Rasa saling menghargai ini akan
memperkuat keterikatan dengan komunitas di tempat kerja. Tanpa adanya
keadilan, pekerja akan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan
kerjanya. Ketidakadilan sering kali muncul dalam konteks promosi atau
ketika pekerja disalahkan atas kesalahan yang tidak mereka buat

Pengertian Burnout


Burnout adalah sindrom yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental
yang intens, yang mencakup perkembangan konsep diri yang negatif, penurunan
kemampuan untuk berkonsentrasi, serta munculnya perilaku kerja yang buruk.
Burnout juga dikatakan sebagai kelelahan yang muncul akibat seseorang bekerja
dengan sangat intens tanpa memperhatikan kebutuhan pribadi mereka (Alam,
2022:42). Burnout merupakan kondisi kelelahan atau kejenuhan yang dialami oleh
seseorang dalam dunia kerja, yang umumnya disebabkan oleh beban kerja yang
berlebihan atau lingkungan kerja yang kurang mendukung. Ketika seseorang
mengalami burnout dalam tingkat yang tinggi, ia cenderung menarik diri
dari pekerjaannya (Amalia, 2021: 4-5).
Burnout merupakan suatu perasaan overload dari kelelahan fisik dan mental
yang merupakan akumulasi dari stres sehari-hari. Burnout juga mengakibatkan
produktivitas dan efekti vitas yang rendah bagi organisasi. Uraian di atas
menunjukkan bahwa burnout memiliki dampak negatif baik bagi individu maupun
organisasi (Natalia, 2016). Kemudian burnout juga dikatakan suatu sindrom karena
adanya tekanan kerja yang menyebabkan seseorang menjadi merasa letih, kelelahan
mental dan emosional, serta perasaan tidak berdaya, yang disebabkan oleh stres
akibat pekerjaan yang terlalu berat (Rosada, 2023).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa burnout adalah suatu
sindrom psikologis yang timbul akibat kelelahan yang sangat berat, baik fisik,
mental, maupun emosional, yang mengakibatkan gangguan pada individu dan
penurunan dalam pencapaian prestasi pribadi

Burnout


Dalam lingkungan profesional, seringkali tuntutan beban kerja yang tinggi
dapat menyebabkan karyawan menghadapi konflik peran yang mengganggu
kemampuan mereka untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaan dengan baik.
Konflik ini sering kali menyebabkan kesulitan dalam mencapai kepuasan kerja,
karena karyawan merasa tertekan oleh berbagai tuntutan yang tidak sejalan atau
bertentangan satu sama lain. Salah satu tantangan terbesar di bidang Sumber Daya
Manusia (SDM) adalah bagaimana mengurangi risiko burnout atau kelelahan akibat
pekerjaan

Indikator Innovative Behavior


Indikator dalam perilaku inovatif ada empat bagian (Puji Astuti et al., 2019)
sebagai berikut:
a. Pencarian Ide
Kemampuan mencari tahu teknologi baru, proses, teknik dan ide-ide baru.
Pencarian ide merupakan langkah pertama dalamkel proses inovasi, dimana
kreativitas dan kemampuan untuk berfikir out of the box sangat dibutuhkan
untuk menemukan solusi baru atau peluang yang belum dieksplorasi.
b. Pengembangan Ide
Kemampuan untuk mengembangkan, memperbaiki dan menghasilkan ide-ide
kreatif. Pada tahap ini, ide-ide tersebut dievaluasi, disempurnakan, dan
dipersiapkan untuk diterapkan. Proses ini memerlukan analisis mendalam dan
pengolahan informasi yang baik untuk menciptakan solusi yang lebih matang.
c. Implementasi Ide
Tahap ini melibatkan kemampuan untuk menerapakan ide yang telah
dikembangkan menjadi tindakan nyata dalam organisasi. Implementasi
meliputi proses perencanaan, pengorganisasian sumber daya, dan penerapan
solusi inovatif kedalam sistem kerja atau produk yang lebih nyata.
d. Pengambilan Risiko
Inovasi sering kali melibatkan ketidakpastian dan kemungkinan kegagalan.
Kemampuan untuk mengambil resiko mencerminkan kesiapan untuk
mencoba hal baru meskipun belum tentu terjamin keberhasilannya.

Aspek Innovative Behavior


Perilaku innovative behavior memiliki 5 aspek penting yang harus
diperhatikan (Laily & Wahyuni, 2018:45) yaitu sebagai berikut:
a. Opportunity Exploration
Aspek ini mengacu pada proses mempelajari dan mengetahui lebih banyak
tentang oeluang untuk berinvasi dan mengembangkan ide-ide baru. Ini
melibatkan analisis dan identifikasi potensi peluang yang dapat dimanfaatkan
untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kinerja, dengan langkah-
langkah seperti mengidentifikasi kebutuhan masalah, mengumpulkan
informasi. Menganalisis data, mengidentifikasi peluang, dan
mengembangkan strategi untuk memanfaatkan peluang yang telah
diidentifikasi.
b. Generativy
Aspek ini mengacu pada kemampuan untuk memunculkan konsep-konsep
baru dan inovatif untuk tujuan pengembangan. Ini melibatkan proses kreatif
yang memungkinkan individu atau tim untuk menghasilkan ide-ide baru,
memecahkan masalah, dan mengembangkan solusi yang lebih baik. Dengan
demikian, generativy meminkan peran penting dalam mendorong inovasi dan
kemajuan dalam berbagai bidang.
c. Formative Investigation
Aspek ini mengacu pada proses pemberian perhatian untuk menyempurnakan
ide, solusi, dan opini, dengan melakukan peninjauan dan evaluasi sistematis.
Dalam proses ini, ide-ide yang telah dihasilkan dievaluasi dan disempurnakan
untuk memastikan bahwa mereka efektif, efisien, dan sesuai dengan
kebutuhan. Dengan demikian, aspek ini memainkan peran penting dalam
meningkatkan kualitas dan keefektifan Solusi yang dihasilkan.
d. Championing
Aspek ini mengacu pada adanya praktek-praktek usaha untuk merealisasikan
ide ide. Dengan kata lain dalam aspek ini, mengambil langkah-langkah nyata
untuk membuat ide-ide menjadi kenyataan, dengan mempromosikan,
mendukung, dan mengdvokasi mereka agar dapat dimplementasikan dan
mencapai hasil yang diinginkan.
e. Application
Aspek ini mengacu pada mencoba untuk mengembangkan, menguji coba, dan
mengkomersialisasikan ide-ide inovatif. Dalam tahap ini ide-ide yang telah
dihasilkan dan disempurnakan kemudian diimplementasikan dalam bentuk
nyata, diuji coba untuk memastikan keefektifanya, dan dipasrkan untuk
mencapai kesuksesan komersial.

Faktor-Faktor Innovative Behavior


Terdapat dua faktor utama yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku
inovatif, yaitu faktor internal dan eksternal (Nardo et al., 2022:13).

  1. Faktor Internal
    a. Tipe Kepribadian
    Individu dengan tipe kepribadian yang berani mengambil risiko cenderung
    lebih mampu mengembangkan dan melaksanakan perilaku inovatif.
    b. Gaya Pemecahan Masalah
    Karyawan yang memiliki gaya pemecahan masalah yang intuitif dapat
    mengasilkan ide-ide baru, yang pada gilirannya akan menciptakan solusi
    inovatif.
  2. Faktor Eksternal
    a. Kepemimpinan
    Hubungan yang baik antara karyawan dan pemimpin dapat mendorong
    munculnya perilaku inovatif. Karyawan yang merasa dihargai dan didorong
    oleh pemimpin yang memberikan harapan tinggi akan lebih cenderung
    menunjukan perilaku inovatif.
    b. Dukungan untuk berinovasi
    Dukungan dari orang-orang di sekitar individu, termasuk rekan kerja dan pihak
    dalam organisasi, sangat penting untuk menciptakan suasana yang mendukung
    perilaku inovatif.
    c. Tuntutan Pekerjaan
    Tingginya tuntutan pekerjaan dapat menjadi pemicu bagi karuawan untuk
    meningkatkan kreativitas dan menghasilkan ide-ide inovatif. Tuntutan ini
    menjadi dorongan bagi karyawan untuk menunjukan perilaku inovatif.
    d. Iklim Psikologis
    Iklim psikologis mengacu pada bagaimana karyawan memandang dan menilai
    lingkungan organisasi mereka, yang dapat mepengaruhi kemampuan mereka
    untuk berinovasi