Teori Motivasi Kerja


Menurut Hasibuan (2016) ada beberapa teori motivasi yang dikenal dan dapat diterapkan dalam
organisasi akan diuraikan sebagai berikut :

  1. Teori Dua Faktor Herzberg ini berdasarkan interview yang telah dilakukan oleh
    Herzberg. Penelitian yang dilakukan dengan menginterview sejumlah orang. Herzberg
    tiba pada suatu keyakinan bahwa dua kelompok faktor yang mempengaruhi perilaku
    adalah :
    a. Hygiene Factor
    Faktor ini berkaitan dengan konteks kerja dan arti suasanakerja bagi individu.
    Faktor-faktor higinis yang dimaksud adalah kondisi kerja, dasar pembayaran (gaji),
    kebijakan organisasi, hubungan antar personal, dan kualitas pengawasan.
    b. Satisfier Factor
    Merupakan faktor pemuas yang dimaksud berhubungan dengan isi kerja dan definisi
    bagaimana seseorang menikmati atau merasakan pekerjaannya. Faktor yang
    dimaksud adalah prestasi, pengakuan, tanggung jawab dan kesempatan untuk
    berkembang.
  2. Teori Motivasi Kebutuhan Maslow
    Maslow menyatakan bahwa manusia dimotivasi untuk memuaskan sejumlah kebutuhan
    yang melekat pada diri setiap manusia yang cenderung bersifat bawaan. Hipotesis
    Maslow mengatakan bahwa lima jenjang kebutuhan yang bersemayam dalam diri
    manusia terdiri dari :
    a. Fisiologis, antara lain kebutuhan akan sandang, pangan, papan dan kebutuhan
    jasmani lain.
    b. Keamanan, antara lain kebutuhan akan keselamatan dan perlindungan terhadap
    kerugian fisik dan emosional.
    c. Sosial, antara lain kasih sayang, rasa saling memiliki, diterima-baik, persahabatan.
    d. Penghargaan, antara lain mencakup faktor penghormatan diri seperti harga diri,
    otonomi, dan prestasi, serta faktor penghormatan diri luar seperti misalnya status,
    pengakuan dan perhatian.
    e. Aktualisasi Diri, merupakan dorongan untuk menjadi seseorang atau sesuai
    ambisinya yang mencakup pertumbuhan, pencapaian potensi, dan pemenuhan
    kebutuhan

Indikator Kinerja Karyawan


Menurut Dessler dalam Catherine Purnama dan Sesilya Kempa (2017) Kinerja karyawan dapat
diukur dengan menggunakan dimensi kinerja karyawan yang baik, yaitu:

Kemandirian
Kemandirian adalah sejauh mana pekerjaan yang dilakukan dengan pengawasan
maupun tanpa adanya pengawasan.

Kualitas kerja
Kualitas kerja merupakan akurasi, ketelitian dan bisa diterima atas pekerjaan yang
dilakukan.

Produktivitas
Produktivitas adalah kuantitas dan efisiensi kerja yang dihasilkan dalam periode
waktu tertentu.

Pengetahuan Pekerjaan
Pengetahuan pekerjaan adalah keterampilan dan informasi praktis atau teknis yang
digunakan pada pekerjaan.

Keandalan
Keandalan merupakan sejauh mana seseorang karyawan bisa diandalkan atas
penyelesaian dan tindak lanjut dalam tugas

Kehadiran
Kehadiran adalah sejauh mana karyawan tepat waktu, mengamati periode istirahat
atau makan yang ditentukan dan catatan kehadiran secara keseluruhan.

Faktor-Faktor Penilaian Kinerja


Alfian (2017) menjelaskan faktor-faktor penilaian adalah aspek-aspek yang diukur dalam
proses penilaian kinerja individu. Faktor penilaian tersebut terdiri diatas empat aspek, yakni
sebagai berikut:

  1. Hasil kerja
    Keberhasilan karyawan dalam pelaksaan kerja (output) biasanya terukur, seberapa
    besar yang telah dihasilkan, berapa jumlahnya dan berapa besar kenaikannya.
  2. Prilaku
    Aspek tindak tunduk karyawan dalam melaksanakan pekerjaan, pelayanan,
    kesopanan, sikap dan prilakunya baik terhadap sesama karyawan maupun kepada
    pelanggan.
  3. Atribut dan kompetensi
    Kemahiran dan penguasaan karyawan sesuai tuntutan jabatan, pengetahuan,
    kemitraan, dan keahlian.
  4. Kompraratif
    Membandingkan hasil kinerja karyawan dengan kinerja lainnya yang selevel dengan
    yang bersangkutan.
    Penilaian kinerja dapat disimpulkan penilaian tentang prestasi kerja karyawan dan dan
    penilaian kerja sangat penting bagi manajemen untuk digunakan dalam menjelaskan tujuan dan
    standar kerja. Dalam persaingan global, perusahaan menuntut kinerja yang tinggi. Seiring
    dengan itu, karyawan membutuhkan umpan balik atas kinerja mereka sebagai pedoman
    prilakunya dimasa mendatang.

Tujuan Penilaian Kinerja


Menurut Werther dan Davis dalam Donni Juni Priansa (2014) tujuan dari penilaian kinerja
adalah:

  1. Peningkatan Kinerja (Performance Improvement)
    Hasil penilaian kinerja memungkinkan manajer dan pagawai untuk mengambil
    tindakan yang berhubungan dengan peningkatan kinerja.
  2. Penyesuaian kompensasi (Compensation Adjustment)
    Hasil penilaian kinerja membantu para pengambil keputusan untuk menentukan
    siapa saja yang berhak menerima kenaikan gaji atau sebaliknya.
  3. Keputusan Penempatan (Placement Decision)
    Hasil penilaian kinerja memberikan masukan tentang promosi, transfer dan demosi
    bagi pegawai.
  4. Kebutuhan Pengembangan dan Pelatihan (Training and Development needs)
    Hasil penelitian kinerja membatu untuk mengevaluasi kebutuhan pelatihan dna
    pengembangan bagi pegawai agar kinerja mereka lebih optimal.
  5. Perencanaan dan Pengembangan Karir (Career Planning and Development)
    Hasil penelitian kinerja memandu untuk menentukan jenis karir dan potensi karir
    yang dapat dicapai.
  6. Prosedur Perekrutan (Process Deficiencies)
    Hasil penelitian kinerja mempengaruhi prosedur perekrutan pegawai yang berlaku
    didalam organisasi.
  7. Kesalahan Desain Pekerjaan dan Ketidakakuratan Informasi (Information
    Inacuracies and Job-Design errors)
    Hasil penilaian kinerja membantu dalam menjelaskan apasaja kesalahan yang telah
    terjadi dalam manajemen SDM terutama dibidang informasi kepegawaian, desain
    jabatan derta informasi SDM lainnya.

Penilaian Kinerja


Menurut Marwansyah (2016) penilaian kinerja adalah sistem formal untuk memeriksa atau
mengkaji dan mengevaluasi kinerja seseorang atau kelompok. Menurut Handoko (2014)
“penilaian kinerja adalah proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai
prestasi kerja karyawan”.
Dilakukannya penilaian kinerja ini berdasarkan pada beberapa alasan yaitu :

  1. Manajemen perlu mengetahui keberhasilan atau kemampuan karyawan dalam
    menjalankan fungsinya sebagai alat evaluasi dan perbaikan untuk pekerjaan masa
    depan.
  2. Manajemen perlu memastikan bahwa karyawan atau pegawai telah bekerja dengan
    benar sesuai rencana, aturan dan prosedur yang berlaku.
  3. Manajemen memberikan sinyal kepada karyawan atau pegawai bahwa setiap proses
    dan atau hasil yang dicapai akan dinilai serta memiliki nilai.

Pengertian Kinerja Karyawan


Kinerja karyawan yang tinggi merupakan salah satu syarat dalam pencapaian tujuan
perusahaan. Pencapaian tujuan perusahaan diperoleh dari upaya perusahaan dalam mengelola
sumber daya manusia yang berpotensi agar dapat meningkatkan hasil kerjanya. Pengelolaan
sumber daya manusia dalam perusahaan tercermin dari kinerja karyawan yang dihasilkan dan
dari pencapaian tujuan perusahaan sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik. Kinerja
yang baik adalah kinerja yang optimal, yaitu kinerja yang sesuai standar organisasi dan
mendukung tercapainya tujuan organisasi. Organisasi yang baik adalah organisasi yang
berusaha meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya, karena hal tersebut merupakan
faktor kunci untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Mangkunegara (2013) Sedangkan Sunaryo (2016) berpendapat bahwa kinerja pada dasarnya
adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan. Kinerja karyawan adalah yang
mempengaruhi seberapa banyak mereka memberikan kontribusi kepada organisasi yang antara
lain termasuk kuantitas output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran ditempat kerja
dan sikap kooperatif. Kemudian menurut Hasibuan (2016) mengatakan kinerja adalah suatu
hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan
kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Arphan
(2018) juga berpendapat bahwa Kinerja atau performance merupakan gambaran mengenai
tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan
sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis suatu
organisasi.

Hubungan Kepuasan Kerja dengan Kinerja Karyawan


Kepuasan kerja merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kinerja
karyawan. Kepuasan kerja berbeda-beda bagi setiap karyawan. Karyawan yang
merasa puas dalam bekerja cenderung akan dapat bekerja secara maksimal di
dalam perusahaan. Hal ini karena karyawan tidak merasa terpaksa saat bekerja
dan merasakan senang dalam bekerja. Dampak positif dari kepuasan kerja tersebut
yakni kinerja karyawan yang akan meningkat.

Hubungan Kompensasi dengan Kinerja Karyawan


Jika kompensasi dirancang dengan baik untuk mencapai tujuan bersama dan
membuat karyawan senang dengan hasil kerja mereka maka kompensasi dapat
meningkatkan kinerja karyawan. Organisasi harus mempertimbangkan
kompensasi yang adil dan rasional. Pemberian sistem reward untuk karyawan
yang dapat menghasilkan produksi paling tinggi dibanding karyawan lainnya juga
merupakan salah satu bentuk kompensasi yang diberikan perusahaan guna
meningkatkan kinerja karyawan. Selain itu adanya tunjangan dan fasilitas juga
merupakan upaya perusahaan guna meningkatkan kinerja. Hal ini diharapkan
karyawan dapat lebih giat dan bersemangat dalam bekerja sehingga hasil produksi
yang dihasilkan dapat meningkat.

Hubungan Motivasi dengan Kinerja Karyawan


Karyawan yang memiliki motivasi keja yang tinggi juga akan meningkatkan
kinerja. Begitu pula sebaliknya karyawan yang memiliki motivasi yang rendah
cenderung mengalami penurunan kinerja.Motivasi karyawan yang tinggi akan
menciptakan sebuah komitmen terhadap apa yang menjadi tanggungjawab dalam
menyelesaikan setiap pekerjaan (Nurwadi et al., 2023). Hal tersebut karena
karyawan tidak terpaksa saat menjalankan pekerjaannya sehingga mereka
cenderung serius dalam bekerja. Saat karyawan serius dan berkomitmen dalam
bekerjaannya cenderung akan dapat meningkatkan kinerja sehingga akan
mencapai hasil yang maksimal dalam pekerjaannya.

Hubungan Kompensasi dengan Kepuasan Kerja


Talashina & Ngatno (2020) juga berpendapat bahwa kompensasi dapat
mempengaruhi kepuasan kerja. Jika kompensasi yang diberikan oleh perusahaan
terhadap karyawan dirasa cukup dan terpenuhi kebutuhannya maka karyawan
akan merasa puas dalam bekerja. Untuk mencapai kebutuhan karyawan terpenuhi
maka kompensasi yang berikan oleh perusahaan biasanya tidak hanya berupa gaji
pokok akan tetapi beberapa perusahaan memberikan tunjangan baik tunjangan
kesehatan maupun tunjangan pensiun.

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Rahayu & Rushadiyati (2021) menyatakan bahwa ada beberapa
indikator dari kepuasan kerja,yaitu:

  1. Gaji, yaitu jumlah bayaran yang diterima seseorang akibat dari pelaksanaan
    keja apakah sesuai dengan kebutuhan dan dirasakan adil,
  2. Pekerjaan itu sendiri, yaitu isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah
    memiliki elemen yang memuaskan,
  3. Rekan kerja, yaitu teman-teman kepada siapa seseorang senantiasa
    berinteraksi dalam pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan
    kerjanya sangat menyenagkan atau tidak menyenangkan,
  4. Atasan, yaitu seseorang senantiasa memberi perintah atau petunjuk dalam
    pelaksanaan kerja. Cara-cara kerja atasan dapat tidak menyenagkan bagi
    seseorang atau menyenangkan dan hal ini dapat mempengaruhi kepuasan
    kerja,
  5. Promosi, yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan
    jabatan, seseorang dapat merasakan adanya kemungkinan besar untuk naik
    jabatan atau tidak. Ini juga dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja
    seseorang, dan
  6. Lingkungan kerja yang, yaitu lingkungan fisik dan psikologis

Pengaruh Kepuasan Kerja


Menurut Nisa, & Ainun (2021) kepuasan kerja memiliki pengaruh sebagai
berikut:

  1. Terhadap produktifitas
    Produktifitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan kerja hanya
    jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa apa yang telah dicapai perusahaan
    sesuai dengan apa yang mereka terima yaitu adil dan wajar serta diasosiasikan
    dengan performa kerja yang unggul.
  2. Ketidakhadiran
    Ketidakhadiran sifatnya lebih spontan dan kurang mencerminkan
    ketidakpuasan.
  3. Keluarnya pekerja
    Berhenti atau keluarnya karyawan dari pekerjaannya mempunyai akibat
    ekonomis yang besar, maka besar kemungkinan behubungan dengan
    ketidakpuasan kerja.
  4. Respon terhadap ketidakpuasan kerja
    a. Keluar (Exit) yaitu meninggalkan pekerjaan termasuk mencari pekerjaan lain.
    b. Menyuarakan (Voice) yaitu memberikan saran dan perbaikan dan
    mendiskusikan.
    c. masalah dengan atasan untuk memperbaiki kondisi.
    d. Mengabaikan (Neglect) yaitu sikap dengan membiarkan keadaan menjadi
    lebih
    e. buruk seperti sering absen atau semakin sering membuat kesalahan.
    f. Kesetiaan (loyalty) yaitu menunggu secara pasif sama kondisi menjadi lebih
    baik termasuk membela perusahaan terhadap kritik dari luar

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor
tersebut berperan memberikan kepuasan kerja karyawan tergantung oleh individu
masing – masing karyawan. Menurut Glimer dalam Sutrisno (2019:77-78) dalam
(Nisa, & Ainun, 2021) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah:

  1. Kesempatan untuk maju.
    Dalam hal ini kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan
    kemampuan selama bekerja.
  2. Keamanan kerja.
    Faktor ini disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan.
    Keadaan yang aman sangat memengaruhi perasaan karyawan selama bekerja.
  3. Gaji.
    Lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang
    mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang
    diperolehnya.
  4. Perusahaan dan manajemen.
    Perusahaan dan manajemen yang baik adalah mampu memberikan situasi dan
    kondisi kerja yang stabil. Faktor ini menentukan kepuasan kerja karyawan.
  5. Pengawasan.
    Sekaligus atasanya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan turn
    over.
  6. Faktor instrinsik dari pekerjaan.
    Atribut yang ada dalam pekerjaan mensyaratkan keterampilan tertentu. Sukar
    dan mudahnya serta kebanggan akan tugas dapat meningkatkan atau
    mengurangi kepuasan.
  7. Kondisi kerja.
    Termasuk di sini kondisi tempat, ventilasi, penyiaran, kantin, dan tempat
    parker.
  8. Aspek sosial dalam pekerjaan.
    Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai
    faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.
  9. Komunikasi
    Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak
    dipakai alas an untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan
    pihak atasan untuk mau mendengar, memahami, dan mengakui pendapat
    ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas
    terhadap kerja.
  10. Fasilitas.
    Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar
    suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.

Teori-Teori Kepuasan Kerja


Menurut Wexley dan Yulk dalam (Nabila, 2020), pada dasarnya teori tentang
kepuasan kerja dikenal ada tiga,yaitu discrepancy theory, equity theory dan two
factor teory. Berikut merupakan penjelasannya:

  1. Discrepancy theory
    Discrepancy theory yang dipelopori oleh Porter menjelaskan bahwa
    kepuasan kerja seseorang diukur dengan menghitung selisih apa yang
    seharusnya diinginkan dengan kenyataan yang dirasakan.
  2. Equity theory
    Dalam equity theory, kepuasan kerja seseorang bergantung apakah ia
    merasakan keadilan atau tidak atas situasi. Perasaan keadilan atau
    ketidakadilan atas suatu situasi diperoleh dengan membandingkan dirinya
    dengan orang lain yang sekelas, sekantor maupun di tempat lain.
  3. Two factor teory
    Menurut two factor theory, kepuasan kerja itu merupakan dua hal yang
    berbeda, artinya kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu bukan
    merupakan suatu variable kontinyu

Pengertian Kepuasan Kerja


Salah satu faktor yang dapat menurunkan atau meningkatkan kinerja
karyawan adalah kepuasan kerja. Kepuasan karyawan juga bagian penting dari
manajemen sumber daya manusia dalam sebuah organisasi. Kepuasan kerja
adalah sikap yang positif dari tenaga kerja meliputi perasaan dan tingkah laku
terhadap pekerjaannya melalui penilaian salah satu pekerjaan sebagai rasa
menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai penting pekerjaan (Afandi,
2018 : 74). Menurut Rasyid & Tanjung (2020) Kepuasan kerja merupakan sikap
(positif) tenaga kerja terhadap pekerjaannya, yang timbul berdasarkan penelitian
terhadap situasi kerja.
Sedangkan Handoko (2020) menjelaskan bahwa kepuasaan kerja
merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan
dengan mana karyawan memandang pekerjaan mereka.Menurut (Paparang et al.,
2021) Kepuasan seseorang antara satu dengan yang lainnya akan berbeda-beda.
Jadi, kepuasan itu bersifat individual. kepuasan kerja karyawan dapat dipengaruhi
oleh faktor yang memotivasi seperti, pengakuan, penghargaan, dan
pengembangan diri. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor kesehatan lingkungan
kerja sekitar seperti besarnya kompensasi, situasi kerja, dan hubungan antar
karyawan (Kadek et al., 2023).

Indikator Kompensasi


Kompensasi sangat penting untuk kebutuhan hidup, hal tersebut
menjadikan karyawan di semua jenis pekerjaan mencari kompensasi saat bekerja.
Kompensasi dapat mendorong karyawan untuk mendapatkan motivasi sehingga
karyawan merasa puas dalam bekerja dan kinerja karyawan pun dapat meningkat.
Ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai indikator kompensasi, menurut
(Heriyono, 2021) yaitu:

  1. Upah dan gaji
    Upah dan gaji merupakan hal yang berbeda. Upah merupakan basis bayaran
    yang kerap kali digunakan bagi pekerjaan-pekerjaan produksi dan
    pemeliharan atau untuk pekerja harian yang buka pegawai atau karyawan
    tetap. Pemberian upah biasanya bersifat harian, mingguan atau bulanan
    sesuai dengan kesepakatan antara pekerjaan dengan pemberi kerja. Gaji
    umunya berlaku untuk tarif bayaran mingguan, bulanan atau tahunan yang
    bersifat secara tetap.
  2. Insentif
    Insentif adalah tambahn kompensasi diatas atau diluar gaji atau upah yang
    diberikan oleh organisasi. Insentif biasanya diberikan oleh perusahaan atas
    dasar prestasi kerja karyawan atau produktivitas karyawan. Karyawan
    dengan prestasi atau produktivitas kerja yang baik maka akan mendapat
    insentif dari perusahaan.
  3. Tunjangan
    Tunjangan merupakan pembayaran atau jasa yang diberikan oleh perusahaan
    sebagai pelindung atau pelengkap gaji pokok. Contoh-contoh tunjangan
    adalah asuransi kesehatan dan jiwa, liburan yang ditanggung perusahaan,
    program pensiun dan tunjangan lainnya yang berkaitan dengan hubungan
    kepegawaian.
  4. Fasilitas
    Kompensasi yang berbentuk fasilitas diberikan oleh perusahaan untuk
    memperlancar dan mempermudah serta memotivasi karywan atau pegawai
    dalam bekerja. Contoh-contoh fasilitas adalah kenikmatan/fasilitas seperti
    mobil perusahaan, kegiatan klub, tempat parkir khusus, atau akses internet,
    seragam kerja dan sebagainya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kompensasi


Setiap organisasi dapat menggunakan manajemen kompensasi yang
berbeda untuk menangani struktur dan tingkat gaji yang dipengaruhi oleh faktor
internal dan eksternal.Sistem kompensasi harus diperiksa secara berkala untuk
memastikan bahwa kompensasi yang adil dan layak tetap bisa terwujud.
Menurut Sitorus (2021) faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan
kompensasi yaitu :

  1. Peraturan pemerintah
    Penentuan standar gaji minimal, pajak penghasilan, biaya transportasi dan
    sebagainya sangat mempengaruhi kebijakan kompensasi karyawan.
  2. Penawaran bersama antara perusahaan dan pegawai
    Kabijakan dalam menentukan kompensasi dapat dipengaruhi pula pada
    terjadinya tawar menawar mengenai besarnya upah yang harus diberikan oleh
    perusahaan kepada pegawainya. Hal ini terutama dilakukan oleh perusahaan
    dalam merekrut pegawai yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu yang
    dibutuhkan perusahaan.
  3. Standar dan biaya hidup pegawai
    Terpenuhinya kebutuhan dasar dan rasa aman pegawai akan memungkinkan
    pegawai dapat bekerja dengan penuh motivasi untuk mencapai tujuan
    perusahaan.
  4. Ukuran perbandingan upah
    Perbandingan tingkat upah pegawai perlu memperhatikan tingkat pendidikan,
    masa kerja dan ukuran perusahaan.
  5. Permintaan dan perusahaan
    Kondisi pasar saat ini perlu dijadikan bahan pertimbangan dalammenentukan
    tingkat upah pegawai.
  6. Kemampuan membayar
    Jangan sampai menentukan kebijakan kompensasi diluar batas kemampuan
    yang ada pada perusahaan.

Tujuan Kompensasi


Kompensasi yang diberikan kepada karyawan harus sesuai dengan prestasi
yang diraih karyawan guna untuk memotivasi agar semangat dalam bekerja. Ini
dilakukan agar karyawan merasa dihargai dan tetap bertanggung jawab dan
melakukan pekerjaan dengan baik. Penghargaan memastikan bahwa karyawan
mencurahkan upaya mereka untuk mencapai tujuan organisasi. Suatu organisasi
harus terus berkembang dengan karyawan yang profesional dan setia.
Berikut menurut (Rahmawati, 2019) adapun tujuan pemberian
kompensasi antara lain adalah:
1 Ikatan Kerja Sama
Dengan pemberian kompensasi terjalinlah ikatan kerja sama formal antara
direktur dengan karyawan. Karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya
dengan baik, sedangkan pengusaha/majikan wajib membayar kompensasi
sesuai dengan perjanjian yang dispakati.

  1. Kepuasan Kerja
    Karyawan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan pemberian
    kompensasi.
  2. Pengadaan Efektif
    Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar, pengadaan karyawan yang
    qualified untuk perusahaan akan lebih mudah. Perusahaan akan dengan
    mudah merangkul atau memperoleh karyawan yang berkualitas.
  3. Motivasi
    Jika balas jasa yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi
    bawahannya. Sesuai dengan tujuan utama karyawan bekerja sebagai alat
    pemenuhan kebutuhan hidupnya.
  4. Disiplin
    Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan
    semakin baik. Mereka akan menyadari serta mentaati peraturan-peraturan
    yang berlaku, karena tidak mau diberhentikan oleh perusahaan.

Jenis-Jenis Kompensasi


Menurut Sitorus (2021) ada dua bentuk kompensasi karyawan baik berbentuk
langsung maupun tidak langsung yaitu sebagai berikut:

  1. Upah atau Gaji
    Upah adalah pembayaran berupa uang untuk pelayanan kerja atau biasanya
    dibayar kepada pegawai secara per jam, per hari dan per setengah hari.
    Sedangkan gaji merupakan uang yang dibayar kepada pegawai atas jasa
    pelayanannya yang diberikan secara bulanan.
  2. Benefit (Keuntungan) Dan Pelayanan
    Benefit adalah nilai keuangan (moneter) langsung untuk pegawai yang secara
    cepat dapat ditentukan. Sedangkan pelayanan adalah penilaian keuangan
    (moneter) langsung untuk pegawai yang tidak dapat secara mudah ditentukan

Pengertian Kompensasi


Manusia bekerja juga ingin memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. untuk itulah seorang karyawan mulai menghargai kerja keras serta
semakin menunjukkan loyalitas terhadap perusahaan serta sebab itulah perusahaan
memberikan penghargaan terhadap prestasi kerja karyawan yaitu dengan jalan
memberikan kompensasi. Program kompensasi merupakan cerminan upaya
perusahaan untuk memepertahankan karyawannya. Menurut Rahmawati (2019)
kompensasi merupakan suatu bagian dari reward atau penghargaan yang hanya
berhubungan dengan bagian ekonomi, akan tetapi setelah adanya keyakinan
bahwasannya perilaku individual terdapat pengaruh dari sistem spektrum yang
lebih luas maka kompensasi tidak terlepas dari adanya reward yang disediakan
oleh organisasi.
Kompensasi merupakan komponen utama dalam kehidupan karyawan.Hal
ini ditunjukkan oleh fakta bahwa kompensasi memberikan gambaran tentang
status sosial karyawan, dan tingkat penghasilan sangat berpengaruh pada standar
kehidupan seseorang. Menurut Sitorus (2021) kompensasi merupakan balas jasa
yang di bayar untuk jasa pegawai, pekerja, jam-jaman atau pegawai-pegawai yang
tidak bersifat melakukan pengawasan dan tata usaha. Kompensasi merupakan
komponen utama dalam kehidupan karyawan.Hal ini ditunjukkan oleh fakta
bahwa kompensasi memberikan gambaran tentang status sosial karyawan, dan
tingkat penghasilan sangat berpengaruh pada standar kehidupan seseorang.
Pengertian lainnya yakni oleh Menurut Heryanto (2020) Kompensasi
adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak
langsung yang diterima karyawan sebagai immbalan atas jasa yang diberikan
kepada perusahaan. Menurut Heriyono (2021) kompensasi adalah penghargaan
atau imbalan langsung maupun tidak langsung, financial maupun non financial,
yang adil dan layak kepada karyawan, sebagai balasan atau kontribusi/jasanya
terhadap pencapaian tujuan perusahaan. Di dukung pengertian dari Herlina
(2023)kompensasi merupakan pemberian penghargaan baik finansial maupun non
finansial yang diterima oleh pegawai sebagai imbalan atas jasanya yang diberikan
kepada organisasi, dan juga digunakan sebagai motivator atau perangsang oleh
organisasi dalam meningkatkan prestasi kerja.

Indikator Motivasi


Menurut Maslow (2008) indikator motivasi alah sebagai berikut:

  1. Kebutuhan Fisiologis, merupakan hirarki kebutuhan manusia yang paling
    dasar yang merupakan kebutuhan utama seperti makan, minum, perumahan,
    oksigen, tidur dan sebagainya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan ini
    merangsang seseorang berperilaku atau bekerja giat.
  2. Kebutuhan Rasa Aman, yakni meliputi keamanan akan perlindungan dari
    bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya dan
    jaminan akan hari tuanya ketika mereka tidak bekerja lagi.
  3. Kebutuhan Sosial, yaitu kebutuhan untuk saling menyayangi, mengasihi,
    persahabatan dan saling menerima satu sama lain.
  4. Kebutuhan Penghargaan, kebutuhan ini meliputi faktor internal misalnya rasa
    dihargai, mandiri, dan pencapaian dalam hidup adapun faktor eksternal
    misalnya kebutuhan diakui, dihormati, memiliki status jelas, dan diperhatikan.
  5. Kebutuhan Aktualisasi Diri, yaitu berkaitan dorongan yang mampu
    membentuk seseorang untuk menjadi yang diinginkan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi.


Menurut Swaminathan Dewi (2015) mengatakan bahwa motivasi kerja seseorang
dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:

  1. Faktor Internal
    Yaitu motivasi seseorang dipengaruhi oleh dalam diri seseorang, misalnya
    jika seorang karyawan yang ingin mendapatkan nilai yang memuaskan dalam
    penilaian kinerja akan mengarahkan keyakinan dan perilakunya sedemikian
    rupa sehingga memenuhi syarat dari penilaian kinerja yang telah ditentukan.
    Hal ini akan berhubungan dengan aspek-aspek atau kekuatan yang ada dalam
    diri seseorang untuk mencapai sebuah tujuan, misalnya aspek efikasi diri.
    Self-efficacy merupakan kepercayaan seseorang terhadap keyakinan diri dan
    kemampuannya dalam melakukan suatu pekerjaan, sehingga memperoleh
    suatu keberhasilan.
  2. Faktor Eksternal
    Yaitu faktor yang berasal dari luar individu seperti faktor kenaikan pangkat,
    penghargaan, gaji, keadaan kerja, kebijakan perusahaan, serta pekerjaan yang
    mengandung tanggung jawab. Karyawan akan termotivasi apabila ada
    dukungan dari manajemen serta lingkungan kerja yang kondusif yang pada
    gilirannya berdampak pada kepuasan kerja.

Tujuan Motivasi Kerja


Tujuan motivasi menurut Sulastri et al., (2021) yaitu sebagai berikut:

  1. Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan
  2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawa
  3. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
  4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan
  5. Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan
  6. Mengefektifkan pengadaan karyawan
  7. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
  8. Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan
  9. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
  10. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas – tugasnya.
    Sedangkan menurut Amalia Yunia Rahmawati (2020) tujuan motivasi yakni
    sebagai berikut:
  11. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan.
  12. Meningkatkan kinerja karyawan.
  13. Meningkatkan kedisiplinan karyawan.
  14. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
  15. Meningkatkan loyalitas, kreativitas dan partisipasi karyawan.
  16. Mempertinggi rasa tangung jawab karyawan terhadap tugas pekerjaan.
  17. Mengefektifkan pengadaan karyawaan.
  18. Meningkatkan efesiensi pengunaan alat-alat dan bahan baku

Teori Motivasi


Teori motivasi dibagi menjadi tiga pendekatan utama yakni antaranya
adalah teori motivator dari Herzberg, teori dari David Mc Clelland, dan teori
hierki dari Maslow. Teori tersebut dikembangkan oleh para ahli mengacu pada
faktor-faktor kepuasan dan kebutuhan individu sehingga mereka mau melakukan
aktivitasnya, jadi mengacu pada diri seseorang. Berikut adalah penjelasan dari
teori-teori tersebut menurut (S. F. Kurniawan, 2021)
a. Teori Frederick Herzberg
Frederick Herzberg menjelaskan tentang teori mengenai dua faktor yang
berpengaruh pada motivasi karyawan terhadap pekerjaan yang dilakukannya.
Kedua faktor tersebut yaitu :

Kebutuhan Aktualisasi Diri (self-actualization) Tingkat kebutuhan yang
paling tinggi karena seseorang akan bertindak bukan karena dorongan orang
lain, tetapi atas kesadaran dan keinginan diri sendiri.

Faktor Motivator, yang meliputi : pencapaian, pengakuan, pekerjaan itu
sendiri, tanggungjawab, serta pengembangan.

Faktor Hygiene, yang meliputi : kebijakan dan administrasi perusahaan,
supervisi teknis, supervisi interpersonal, kondisi kerja, dan kompensasi.
b. Teori David Mc Clelland
David Mc Clelland mengemukakan adanya tiga macam kebutuhan, yaitu
sebagai berikut:

Need for Achievement, yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan
refleksi dan dorongan akan tanggung jawab untuk menemukan pemecahan
masalah.

Need for Affiliation, yaitu kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan
dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain,
tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.

Need for Power, yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan refleksi
dan dorongan untuk mencapai otoritas untuk memiliki pengaruh terhadap
orang lain.
c. Teori Maslow
Teori Abraham Maslow mengatakan bahwa ada lima kebutuhan dalam
memotivasi seseorang, yaitu:

Kebutuhan Fisiologis (physiological) Meliputi kebutuhan fisik dan upaya
untuk bertahan hidup, seperti makan, minum, dan lain-lain.

Kebutuhan Rasa Aman (safety) Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan
dari bahaya fisik dan emosional.

Kebutuhan Sosial (affiliation) Kebutuhan untuk hidup bersama orang lain
seperti kasih sayang, penerimaan, dan lain-lain.

Kebutuhan Penghargaan (esteem) Kebutuhan akan adanya penghargaan diri
dan penghargaan dari lingkungan, baik faktor internal yaitu otonom dan
prestasi, faktor eksternal yaitu pengakuan dan perhatian.

Pengertian Motivasi


Keberhasilan pengelolaan perusahaan bisnis sangat dipengaruhi oleh
efektivitas kegiatan pendayagunaan sumber daya manusia. dalam hal ini, seorang
manajer wajib memiliki teknik yang dapat memelihara prestasi serta kepuasan
kerja, antara lain dengan menyampaikan motivasi pada karyawan agar dapat
melaksanakan tugas dengan ketentuan yang berlaku. Menurut Rahmawati
(2020)motivasi berasal dari bahasa latin Movere, yang memiliki arti gerak atau
dorongan untuk bergerak. Motivasi bisa diartikkan dengan memberikan tenaga
dorong sehingga sesuatu yang dimotivasi tersebut dapat bergerak.
Sedangkan Handoko (2020) mendefinisikan motivasi sebagai kegiatan
yang mengakibatkan, menyalurkan, dan memelihara perilaku manusia. Motivasi
merupakan hal penting untuk manajer, karena manajer perlu bekerja dengan orang
lain. Yulia et al., (2022) menjelaskan bahwa motivasi berarti dorongan atau
pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar
seseorang mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya
upayanya untuk mencapai kepuasan. Pengertian lainnya yakni oleh Anintyas &
Setia Tjahyanti (2023) berpendapat bahwa motivasi sebagai hasrat dalam
membakat yang disebabkan oleh kebutuhan, keinginan, dan kemauan yang
mendorong seorang individu untuk menggunakan energi fisik dan mentalnya demi
tercapainya tujuan-tujuan yang diinginkan.
Selanjutnya Rifa’i & Rosalia Sela (2021) menjelaskan mengenai motivasi
adalah pemberian daya seseorang yang menciptakan kegairahan seseorang agar
mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya
upayanya untuk mencapai kepuasan. Sedangkan menurut Edwin B Flippo,
motivasi adalah suatu keahlian, dalam mengarahkan karyawan dan organisasi agar
mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan para karyawan dan tujuan
organisasi sekaligus tercapai (Siswadhi et al., 2022). Khoiriyah (2022)
menyebutkan bahwa motivasi kerja merupakan dorongan dari perusahaan untuk
meningkatkan kinerja dan memenuhi kebutuhan karyawan, yang juga diartikan
sebagai suatu stimulus penggerak yang menciptakan semangat kerja, kerja
kelompok, efektif dan terpadu untuk mencapai impian kerja.

Indikator Penilaian Kinerja


Menurut Dewi (2019) indikator kinerja adalah alat untuk mengukur sajauh
mana pencapain kinerja karyawan. Berikut beberapa indikator untuk mengukur
kinerja karyawan adalah:

  1. Kualitas Kerja
    Kualitas kerja karyawan dapat diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
    pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan
    dan kemampuan karyawan.
  2. Kuantitas
    Kuantitas merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah jumlah
    unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
  3. Ketepatan Waktu
    Ketepatan waktu merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu
    yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta
    memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
  4. Efektifitas
    Efektifitas disini merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi
    (tenaga, uang, teknologi dan bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud
    menaikan hasil dari setiap unit dalam penggunakan sumber daya.
  5. Kemandirian.
    Kemandirian merupakan tingkat seseorang yang nantinya akan dapat
    menjalankan fungsi kerjanya tanpa menerima bantuan, bimbingan dari atau
    pengawas

Tujuan Penilaian Kinerja


Menurut Ariesta Heksarini (2021) tujuan penilaian kinerja pada dasarnya
meliputi:

  1. Menemukan kinerja karyawan selama ini.
  2. Memberikan keuntungan yang tepat, misalnya memberikan gaji periodik, gaji
    pokok dan intensif.
  3. Pengembangan SDM yang masih dapat dibedakan menjadi:
    a. Mutasi atau transmisi, rotasi kerja.
    b. Peningkatan promosi dan posisi.
    c. Pelatihan.
  4. Tingkatkan motivasi dan etos pekerjaan.
  5. Sebagai salah satu sumber SDM, karir, dan keputusan perencanaan yang
    sukses.
  6. Sebagai alat untuk mendukung dan mendorong karyawan dalam mengambil
    inisiatif untuk mempertahankan tingkat kinerja dan meningkatkan kinerja.
    Sedangkan Ariesta Heksarini (2021) menjelaskan ada beberapa hal lain yang
    menjadi tujuan evaluasi kinerja adalah sebagai berikut:
  7. Sebagai dasar pengambilan keputusan.
  8. Sebagai dasar untuk prediksi kinerja dan korelasinya dengan hasil tes,
    termasuk hasil evaluasi kinerja.
  9. Memberikan umpan balik kepada karyawan untuk memungkinkan evaluasi
    kinerja dapat dijadikan sebagai sarana untuk pengembangan diri dan
    pengembangan karir bagi karyawan.
  10. Jika perusahaan dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan lapangan
    kerja, maka evaluasi kinerja dapat membantu dalam menentukan tujuan
    program pelatihan.
  11. Jika perusahaan dapat secara akurat menilai kinerja karyawan, maka evaluasi
    kinerja dapat membantu mendiagnosis masalah di organisasi atau perusahaan.

Penilaian Kinerja


Menurut Yelvita (2022) penilaian kinerja merupakan proses pengamatan
(observasi) terhadap pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan oleh seorang
karyawan, hasil pengamatan tersebut dilakukan sebagai bentuk penilaian yang
berguna untuk menetapkan sebuah kesimpulan mengenai keberhasilan atau
kegagalan seseorang dalam bekerja. Sedangkan pengertian lainnya oleh Hartini et
al., (2021) mengenai penilaian kinerja adalah proses mengevaluasi seberapa baik
karyawan melakukan pekerjaan mereka jika dibandingkan dengan seperangkat
standar yang ditentukan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja


Menurut pendapat William Stern dalam Rahayu et al., (2022) Faktor-Faktor
yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan
faktor motivasi (motivation).

  1. Faktor Kemampuan (Ability).
    Secara psikologis, kemampuan terdiri dari kemampuan potensial (IQ) dan
    kemampuan aktual (pengetahuan + keterampilan). Artinya, pemimpin dan
    karyawan yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120), terutama tinggi, IQ
    sangat tinggi, berbakat dan jenius, dilatih secara penuh untuk menduduki
    jabatan dan memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan sehari-hari akan
    memudahkan mencapai kinerja maksimal.
  2. Faktor Motivasi (Motivation).
    Motivasi diartikan suatu sikap (attitude) pimpinan dan pegawai terhadap
    situasi kerja (situation) di lingkungan organisasinya. Mereka yang bersikap
    positif (pro) terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja tinggi
    dan sebaliknya jika mereka bersikap negatif (kontra) terhadap situasi kerjanya
    akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksud
    mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan
    pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja.

Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai


Menurut widodo (2015) motivasi adalah kekuatan yang ada dalam seseorang,
yang mendorong perilakunya untuk melakukan tindakan. Suatu motivasi individu
dapat timbul dari dalam diri individu (motivasi instrinsik) dan dapat timbul dari
luar diri individu (motivasi ekstrinsik), keduanya mempunyai pengaruh terhadap
perilaku dan prestasi kerja (kinerja menunjukkan bawah semakin kuat motivasi
kerja), maka kinerja pegawai akan semakin tinggi. Hal ini membawa peningkatan
motivasi pegawai yang akan memberikan peningkatan yang sangat berarti untuk
meningkatkan kinerja pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya.

Pengertian Kinerja


Suatu Perusahaan pastinya menginginkan karyawan yang berkualitas. Hal
tersebut dapat dicapai jika perusahaan memperhatikan beberapa hal yang
berkaitan dengan kinerja karyawannya. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat
dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai
wewenang dan tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan organisasi yang
bersangkutan dengan cara yang sah,tidak melanggar hukum dan bermoral atau
etika (Pranata, 2020).
Sedangkan menurut Arisanti et al., (2019) Kinerja karyawan juga dapat
diartikan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh karyawan
untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya (Mangkunegara, 2017). Almaududi et al., (2021) mengartikan bahwa
kinerja adalah suatu hasil yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugastugas yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu
menurut standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya .
Pendapat lainnya mengenai pengertian kinerja yakni oleh Kurnia & Sitorus
(2022)Kinerja pegawai merupakan keseluruhan kemampuanseseorang dalam
bekerja secara optimal untuk mencapai tujuan kerja danberbagai tujuan tercipta
dengan pengorbanan yang lebih kecildibandingkan dengan hasil yang dicapai.
Begitu juga menurut Setyorini et al., (2021) mengemukakan bahwa “ kinerja
merupakan catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi pegawai tertentu atau
kegiatan yang dilakukan selama priode waktu tertentu. Sedangkan kinerja suatu
jabatan secara keseluruhan sama dengan jumlah (ratarata) dari kinerja fungsi
pegawai atau kegiatan yang dilakukan.

Pengaruh Kompetensi, Lingkungan Kerja dan Motivasi TerhadapKinerja Pegawai


Kompetensi merupakan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi
kinerja. Kompetensi diperlukan untuk membantu organisasi untuk menciptakan
budaya kinerja tinggi. Banyaknya kompetensi yang digunakan oleh sumber daya
manusia akan meningkatkan kinerja (Wibowo, 2012). Lingkungan kerja merupakan
suasana dimana pegawai melalukan aktivitas setiap harinya. Lingkungan kerja
yang kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan pegawai untuk dapat
bekerja optimal (Danang, 2012). Jika pegawai menyenangi lingkungannya maka
pegawai tersebut akan betaah di tempat kerjanya dan melakukan aktivitasnya,
sehingga waktu kerja dapat dipergunakan secara efektif. Menurut widodo (2015)
motivasi adalah kekuatan yang ada dalam seseorang, yang mendorong
perilakunya untuk melakukan tindakan. Besarnya intensitas kekuatan dari dalam
diri seseorang untuk melakukan suatu tugas atau mencapai sasaran
memperlihatkan sejauh mana tingkat kinerja pegawainya.

Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai


Menurut Winardi (2010), lingkungan kerja merupakan suatu alat ukur yang
akan berpengaruh terhadap kinerja pegawai, jika lingkungan kerja yang ada pada
perusahaan tersebut itu baik. Maka lingkungan kerja yang menyenangkan bagi
pegawai melalui peningkatan hubungan yang harmonis dengan atasan, rekan
kerja, maupun bawahan, serta didukung oleh sarana yang memadai di tempat kerja
akan membawa dampak yang positif bagi pegawai sehingga kinerja pegawai dapat
meningkat.

Pengaruh Kompetensi Terhadap Kinerja Pegawai


Menurut Wibowo (2010), mengatakan bawah kompetensi adalah suatu
kemampuan untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas yang diberikan
seperti keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang
dituntut oleh pekerjaan tersebut. Kemampuan atau potensi yang mereka miliki
mempengaruhi kinerja dalam bekerja, karena dalam konteks di lapangan pegawai harus memiliki potensi yang tinggi

Indikator Motivasi


Menurut Hasibuan (2017) indikador motivasi adalah sebagai berikut;

Kebutuhan akan kekuasaan, yaitu dorongan yang dapat mengendalikan
suatu keadaan. Dalam hal ini ada kecenderungan untuk mengambil resiko
dan menghancurkan rintangan yang terjadi.

Kebutuhan akan berprestasi, yaitu suatu keinginan untuk
mengatasi/mengalahkan suatu tantangan, untuk kemajuan dan
pertumbuhan.

Kebutuhan akan afiliasi, yaitu dorongan untuk melakukan hubungan
dengan orang lain.

Kebutuhan akan kompetensi, yaitu dorongan untuk melakukan pekerjaan
yang bermutu.

Tujuan Motivasi


Menurut Kadarisman (2012) pada hakikatnya tujuan pemberian motivasi
kerja kepada karyawan adalah untuk:
a. Mengubah perilaku karyawan sesuai dengan keinginan perusahaan
b. Meningkatkan gairah dan semangat kerja
c. Meningkatkan prestasi kerja
d. Meningkatkan rasa tanggung jawab
e. Meningkatkan produktivatas dan efisien
f. Menumbuhkan loyalitas karyawan pada perusahaan

Jenis-Jenis Motivasi


Motivasi kerja terbagi 2 yaitu, motivasi positif dan motivasi negatif yang
dapat dijelaskan menurut Hasibuan (2013) yaitu:
1) Motivasi Positif
Manajer memotivasi bawahan dengan memberikan hadiah (reward)
kepada mereka yang berpretasi baik. Dengan motivasi positif ini
semangat kerja bawahan akan meningkat, karena pada umumnya manusia
senang menerima yang baik.
2) Motivasi Negatif
Manajer memotivasi bawahannya dengan memberikan hukuman kepada
mereka yang pekerjaannya kurang baik (prestasinya rendah). Dengan
motivasi negatif ini samangat kerja bawahan dalam jangka pendek akan
meningkat, karena mereka takut dihukum, tetapi dalam waktu jangka
panjang akan berakibat kurang baik.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi


Menurut Kadarisman (2012) motivasi merupakan proses batin atau proses
psikologis dalam diri seseorang, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu:
1) Faktor Internal
a) Kematangan pribadi
b) Tingkat pendidikan.
c) Keinginan dan harapan pribadi.
d) Kebutuhan.
e) Kelelahan dan kebosanan.
2) Faktor Eksternal
a) Jenis dan sifat pekerja.
b) Kelompok kerja dimana seseorang bergabung.
c) Organisasi tempat bekerja.
d) Situasi lingkungan.
e) System imbalan

Pengertian Motivasi


Menurut Hasibuan (2016) motivasi adalah hal yang menyebabkan,
menyalurkan, dan medukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan
antusias mencapai hasil optimal.
Motivasi berkaitan dengan dorongan yang ada pada diri pegawai baik
internal maupun eksternal untuk meningkatkan potensi di dalam diri agar
mencapai kinerja yang terbaik untuk perusahaan. Menurut Sutrisno (2011)
motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan
suatu aktivitas tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula
sebagai faktor pendorong perilaku seseorang.
Sedangkan menurut widodo (2015) motivasi adalah kekuatan yang ada
dalam seseorang, yang mendorong perilakunya untuk melakukan tindakan.
Besarnya intensitas kekuatan dari dalam diri seseorang untuk melakukan
suatu tugas atau mencapai sasaran memperlihatkan sejauh mana tingkat
motivasinya.
Menurut Darmawan (2013) motivasi adalah keadaan jiwa yang
mendorong, mengaktifkan atau menggerakan seseorang yang kelak
mengarahkan serta menyalurkan perilaku, sikap dan tindakan yang selalu
dikaikan dengan pencapaian tujuan, baik tujuan pribadi masing-masing
pegawai.

Indikator Lingkungan Kerja


Menurut Nitisemito (2014), menyatakan bawah indikator lingkungan kerja
adalah sebagai berikut:
1) Fasilitas
Terdapat fasilitas yang memadai sehingga mampu mendukung sarana dan
prasarana dari kinerja para pegawai.
2) Pencahayaan
Diupayakan dalam sebuah lingkungan kerja memiliki pencahayaan.
3) Suhu udara
Tujuan suhu udara adalah agar mampu mengontrol situasi suasana dalam
bekerja.
4) Tata ruang
Tata ruang adalah salah satu hal mendasarkan dalam mengupaya adanya
sebuah struktur ruangan yang memadai dalam beekerja.
5) Hubungan antara pegawai
Adanya sebuah korelasi hubungan antara satu pegawai dengan pegawai
lain agar mencapai tujuan kinerja bersama.

Jenis-Jenis Lingkungan Kerja


Sedarmayanti (2010) menyatakan bawah secara garis besar, jenis
lingkungan kerja terbagi menjadi 2 yaitu:
1) Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan kerja fisik adalah “semua keadaan yang berbentuk fisik
terdapat disekitar tempat kerja dapat mempengaruhi karyawan baik secara
langsung maupun tidak langsung”. Lingkungan kerja fisik dapat dibagi 2
kategori, yaitu:
a) Lingkungan yang langsung berhubungan dengan karyawan, seperti
pusat kerja, kursi, meja dan sebagainya.
b) Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut
lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya;
temperature, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan,
getaran mekanis, bau tidak sedap, warna dan lain-lain.
2) Lingkungan Kerja Non Fisik
Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi dan yang
berkaitan dengan hubungan kerja.
a) Hubungan dengan atasan
b) Hubungan sesama rekan kerja
c) Hubungan dengan bawahan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


Menurut Sunyoto (2013) faktor-faktor yang berkaitan dengan lingkungan
kerja, sebagai berikut;
1) Hubungan karyawan
Dalam hubungan karyawan terdapat dua hubungan yaitu, hubungan
sebagai individu dan hubungan sebagai kelompok. Hunungan sebagai
individu, motivasi yang diperoleh seorang karyawan datangnya dari
rekan-rekan sekerja maupun atasan. Menjadi sebuah motivasi, jika
hubungan karyawan dengan rekan sekerja maupun atasan. Sedangkan
untuk hubungan sebagai kelompok, maka seorang karyawan akan
berhubungan dengan banyak orang, baik dengan secara individu maupun
secara kelompok.
2) Tingkat kebisingan lingkungan kerja
Lingkungan kerja yang tidak tenang atau bising akan dapat menimbulkan
pegaruh yang kurang baik yaitu, adanya ketidak tenangan dalam bekerja.
Bagi para pegawai tentu saja ketenangan lingkungan kerja yang sangat
membantu dalam penyelesaian pekerjaan.
3) Peraturan kerja
Peraturan kerja yang baik dan jelas akan memberikan pegaruh yang baik
terhadap kepuasan dan kinerja para pegawai untuk pengembangan karier
di perusahaan tersebut. Dengan perangkat peraturan tersebut pegawai
akan dituntut untuk menjalankan aktivitasnya agar mencapai tujuan
perusahaan maupun tujuan individu.
4) Keamanan
Lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan ketenangan den
kenyamanan. Keamanan yang dimaksudkan kedalam lingkungan kerja
adalah keamanan yang memiliki ke pribadian pegawai.

Pengertian Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan sangat penting untuk
diperhatikan manajemen. Meskipun lingkungan kerja tidak melaksanakan
proses produksi dalam suatu perusahaan , namun lingkungan kerja
mempunyai pengaruh langsung terhadap para pegawai yang melaksanakan
proses produksi tersebut. Lingkungan kerja adalah suasana dimana pegawai
melakukan aktivitas setiap harinya.
Menurut Kasmir (2016), lingkungan kerja adalah suasana atau kondisi
disekitar lokasi tempat bekerja. Lingkungan kerja dapat berupa ruangan,
loayout, sarana dan prasarana serta hubungan kerja dengan sesame rekan
kerja.
Lingkungan kerja merupakan komponen yang sangat penting untuk
karyawan yang melakukan aktivitas bekerja oleh Sunyoto (2013). Dengan
memperhatikan lingkungan kerja yang baik maka kita dapat menciptakan
kondisi kerja yang mampu memberikan motivasi untuk para pekerja, maka
akan membawa pengaruh terhadap kegairahan atau meningkatkan kinerja
pegawai.
Menurut Sedarmayanti (2010) adalah “ keseluruhan alat perkasa dan
bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja,
metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan
maupun sebagai kelompok”.
Menurut Danang Sunyoto (2012) lingkungan kerja adalah segala sesuatu
yang ada di sekitar para pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Lingkungan kerja merupakan
segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja, bukan berasal dari internal
pegawai. Tetapi lingkungan kerja mampu mempengaruhi pegawai dalam
kinerjanya.

Indikator Kompetensi


Menurut Gordon dalam Sutrisno (2011) indikator kompetensi adalah sebagai
berikut;
1) Pengetahuan
Kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya, seorang karyawan
mengetahui cara melakukan identifikasi belajar dan bagaimana
melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada
dengan efektif dan efesien di perusahaan.
2) Pemahaman
Kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki individu. Misalnya, seorang
karyawan dalam melaksanakan pembelajaran harus mempunyai
pemahaman yang baik tetang karakteristik dan kondisi secara efektif dan
efesien.
3) Kemampuan
Sesuatu yang dimiliki oleh individu yang melaksanakan tugas atau
pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya, kemampuan karyawan
dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan efesien.
4) Nilai
Suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah
menyatu dalam diri seorang. Misalnya, standar perilaku para karyawan
dalam melaksanakan tugas (kejujuran, keterbukaan, demokratis dan lainlain).
5) Sikap
Yaitu perasaan (senang tidak senang, suka tidak suka) atau reaksi
terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya, reaksi
terhadap krisis ekomoni, perasaan terhadap kenaikan gaji dan sebagainya.
6) Minat
Kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya,
melakukan aktivitas kerja.

Tujuan Kompetensi


Menurut Hutapea dan Nuriana (2011) mengungkapkan bawah penggunaan
kompetensi dalam organisasi atau perusahaan pada umumnya memiliki
beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut:
1) Pembentukan Pekerjaan
Kompetensi teknis dapat digunakan untuk menggambarkan fungsi,peran,
dan tanggung jawab pekerjaan di suatu organisasi, hal-hal tersebut
dipengaruhi oleh tujuan intansi. Sedangkan kompetensi perilaku digunakan
untuk menggambarkan tuntutan pekerjaan atas perilaku pemangku jabatan
agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan prestasi luar biasa.
2) Evaluasi Pekerjaan
Kompetensi dapat dijadikan salah satu factor pembobot dalam pekerjaan,
yang digunakan untuk mengevaluasi pekerjaan. Pengetahuan dan
keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan serta
tantangan pekerjaan yang merupakan komponen yang memberikan porsi
terbesar dalam penuntut. Pengetahuan dan keterampilan tersebut adalah
komponen dasar pembentukkan kompetensi.
3) Rekrutmen dan Seleksi
Kompetensi dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam
persyaratan jabatan, yang akan dijadikan pedoman untuk menyeleksi calon
pegawai yang akan mendudukin jabatan atau melaksanakn pekerjaan
tersebut.
4) Pembentukan dan Pengembangan organisasi
Kompetensi dapat menjadi suatu pondasi yang kuat untuk pembentukan
dan pengembangan organisasi kearah organisasi yang lebih produktif.
5) Membenuk dan Memperkuat dan Budaya Organisasi
Peran kompetensi sangat diperlukan untuk membentuk dan
mengembangkan nilai budaya organisasi. Hal ini dapat terjadi apabila nilai
budaya organisasi sesuai dengan kompetensi dalam perusahaan.
6) Pembelajaran Organisasi
Peran kompetensi bukan hanya untuk menambah pengetahuan dan
keterampilan melainkan juga untuk membentuk karakter pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan pegawai.
7) Manajemen Karier dan Penilaian Potensi Pegawai
Kompetensi dapat digunakan untuk membantu organisasi atau instansi
untuk menciptakan pengembangan karir, bagi pegawai yang mencapai
jenjang karir yang disesuai dengan potensi yang dimiliki.
8) Sistem Imbal Jasa
Pemberian imbal jasa yang dihubungkan dengan pencapaian kompetensi
individu akan mendukung pelaksanaan sistem kompetensi yang digunakan
oleh organisasi secara keseluruhan.

Manfaat Kompetensi


Menurut Ruky dalam Sutrisno (2012) mengemukakan bawah terdapat
berbagai alasan dan manfaat kompetensi SDM, yaitu sebagai berikut:
1) Mempelajarin standar kerja dan harapan yang ingin dicapai;
Keterampilan, pengetahuan dan prilaku apa saja yang dibutuhkan dalam
suatu pekerjaan.
2) Alat seleksi karyawan;
Penggunaan kompetensi ini sebagai alat seleksi karyawan dalam suatu
organisasi untuk memilih para calon karyawan yang terbaik, maka
diharapkan adanya kejelasan perilaku dari karyawan, seperti sasaran yang
efektif dan memperkecil biaya rekrutkmen.
3) Memaksimalkan produktivitas;
Untuk menjadikan suatu organisasi maka diharuskan perusahaan untuk
mencari karyawan yang dapat dikembangkan secara terarah untuk
menutupi kesenjangan dalam keterlampilan sehingga mampu maksimal
dalam bekerja.
4) Dasar pengembangan sistem remunisasi;
Untuk mengembangkan system remunisasi yang akan lebih terarah dan
transparan dengan mengaitkan sebanyak mungkin keputusan dengan suatu
set perilaku yang diharapkan untuk ditampilkan dari seorang karyawan.
5) Memudahkan adaptasi terhadap perubahan;
Untuk menetapkan keterlampilan apa saja yang akan dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan yang selalu berubah.
6) Menyelesaikan perilaku kerja dengan nilai-nilai organisasi;
Untuk mengkomunikasikan nilai-nilai dan hal-hal apasaja yang harus
menjadi fokus dalam unjuk kerja karyawan.

Jenis-Jenis Kompetensi


1) Kompetensi Individu
Kompetensi individu adalah kemampuan kerja yang dimiliki oleh
seseorang yang mengintegransikan pengetahuan, keterampilan, sikap serta
nilai-nilai pribadi berdasarkan pengalaman dan pembelajaran dalam upaya
pelaksanaan tugas secara professional yang efektif dan efesien. Menurut
Moeheriono (2010) mengemukakan bahwa dalam setiap individu terdapat
beberapa karakteristik kompetensi dasar, yaitu sebagai berikut:

  1. Watak (traits), yaitu yang membuat seseorang memiliki sikap dan
    perilaku atau bagaimana orang tersebut merespon sesuatu dengan cara
    tertentu.
  2. Motif (motive), yaitu semua yang diinginkan seseorang atau secara
    konsisten maka dipikirkan dan diingatkan yang mengakibatkan suatu
    tindakan atau dasar dari yang bersangkutan untuk melakukan suatu
    tindakkan.
  3. Bawaan (self concept), yaitu sikap dan nilai-nilai yang dimiliki
    seseorang.
  4. Pengetahuan (knowledge), yaitu informasi yang dimiliki seseorang
    pada bidang atau area tertentu.
  5. Keterampilan atau keahlian (skill), yaitu kemampuan untuk
    melaksanakan tugas tertentu baik secara fisik maupun mental.
    Kompetensi seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik
    dari dalam maupun dari luar, diantaranya sebagai berikut:
    a) Bakat bawaan, bakat yang sudah ada dan melekat sejak dilahirkan.
    b) Motivasi kerja tinggi.
    c) Sikap, motif dan cara pandang.
    d) Pengetahuan yang dimiliki (formal maupun non formal)
    e) Keterampilan atau keahlian yang dimiliki.
    f) Lingkungan hidup dari kehidupan sehari-hari.
    2) Kompetensi Organisasi
    Tidak dapat dipungkiri dan diragukan lagi bawah salah satu faktor yang
    paling penting dan mampu menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam
    suatu organisasi, faktor sumber daya manusia. Keunggulan yang akan
    bersaing (competitive advantage) dalam suatu organisasi yang sangat
    ditentukan dengan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu,
    penanganan dalam sumber daya manusia harus dilakukan secara menyeluruh
    dan sesama dalam kerangka sistem pengelolaan sumber daya manusia yang
    bersifat strategis, menyatu dan seling terhubung, sesuai tujuan dan visi misi
    organisasi (Moeheriono, 2010).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kompetensi


Menurut Zwell dalam Wibowo (2016) kompetensi seseorang dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1) Keyakinan dan nilai-nilai
Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh keyakinannya terhadap
dirinya sendiri dan orang lain. Bila orang percayaakan kemampuannya
dalam melakukan sesuatu, maka hal tersebut akan bias dikerjakan dengan
lebih mudah.
2) Keterampilan
Ketrampilan seseorang dalam menerjakan sesuatu akan meningkatkan
rasa percaya diri, dan akan menunjukkan bawah orang tersebut
mempunyai kompetensi dalam bidangnya.
3) Karakteristik kepribadian
Kepribadian bukanlah sesuatu yang tidak dapat dirubah, kepribadian
seseorangakan mempengaruhi cara-cara orang tersebut dalam
menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan ini,dan hal ini akan
membuat orang tersebut lebih kompeten. Seseorang akan berespons serta
beradaftasi dengan lingkungan dan kekuatan sekitarnya, yang akan
menambah kompetensi seseorang.
4) Motivasi
Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang mampu untuk
melakukan sesuatu. Daya dorong yang lebih bersifat psikologis membuat
bertambahnya kekuatan fisik, sehingga akan mempermudah dalam
aktivatas kerja, yang menambah tingkat kompetensi seseorang. Dorongan
atau motivasi yang diberikan atasan kepada bawahan juga berpengaruh
baik terhadap kinerja staf.
5) Isu Emosional
Kondisi emosional seseorang akan berpengaruh dalam setiap
penampilannya, termasuk dalam penampilan kerjanya. Rasa percaya diri
membuat orang akan dapat melakukan suatu pekerjaan dengan lebih baik,
begitu juga sebaliknya, gangguan emosional seperti rasa takut dan malu
juga bias menurunkan performance/penampilan kerja seseorang sehingga
kompetensinya akan menurun.
6) Kemampuan Intelektual
Kompetensi dipengaruhi oleh pemikiran intelektual, kognitif, analitis dan
kemampuan konseptual. Tingkat intelektual dipengaruhi oleh
pengalaman, proses pembelajaran yang sudah tentu pula kemampuan
intelektual seseorang akan meningkatkan kompetensinya.
7) Budaya Organisasi
Budaya organisasi berpengaruh pada kompetensi seseorang dalam
berbagai kegiatan, karena budaya organisasi mempengaruhi kinerja,
hubungan antar pegawai, motivasi kerja dan kesemuanya itu akan
berpengaruh pada kompetensi orang tersebut

Penegrtian Kompetensi


Kompetensi merupakan jenis keahlian, pengetahuan, pendidikan dan
kemampuan untuk menjalankan suatu kegiatan yang efektif. Kompetensi
pegawai adalah suatu untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas yang
dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja
yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Keterampilan atau kemampuan yang
diperlukan pegawai yang ditunjukkan oleh kemampuan dengan konsisten
memberikan tingkat kinerja yang memadai tinggi dalam fungsi pekerjaan.
Menurut Sudarmanto (2014) mendefinisikan kompetensi sebagai
pengetahuan keahlian, kemampuan, atau karakteristik pribadi, individu yang
mempengaruhi secara langsung kinerja pekerjaan. Kompetensi merupakan
penguasaan terhadap tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan
untuk menunjang keberhasilan.
Menurut Sandy (2013) kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik
yang dimiliki oleh seorang pegawai, berupa pengetahuan, sikap perilaku yang
diperlukan dalam tugas dan jabatan.
Sedangkan menurut Wibowo (2016) kompetensi adalah suatu kemampuan
untuk melaksanakan suatu perkerjaan atau tugas yang dilandasi atas
keterampilan dan pengetahuan serta dukungan oleh sikap kerja yang dituntut
oleh pekerjaan tersebut. Dengan demikian, kompetensi juga menunjukkan
karakteristik pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki atau dibutuhkan
oleh setiap individu yang mempunyai kemampuan untuk melakukan tugas
dan tanggung jawab mereka secara efektif dan meningkatkan standar kualitas
professional dalam pekerjaan mereka.

Indikator Kinerja


Menurut Kasmir (2016) untuk mengukur kinerja pegawai dapat digunakan
beberapa indikator, yaitu:
1) Kualitas
Pengukuran kinerja dapat dilakukan dengan melihat kualitas (mutu) dari
pekerjaan yang dihasilkan melalui suatu proses tertentu.
2) Kuantitas
Untuk mengukur kinerja dapat pula dilakukan dengan melihat dari
kuantitas (jumlah) dihasilkan oleh seseorang.
3) Waktu
Untuk jenis pekerjaan tertentu diberikan batas waktu dalam
menyelesaikan pekerjaannya.jika melanggar atau tidak memenuhi
ketenyuan waktu tersebut, maka dapat dianggap kinerjanya kurang baik,
demikian sebaliknya.

Tujuan Penilaian Kinerja


Menurut kasmir (2016) bagi perusahaan , penilaian kinerja memiliki
beberapa tujuan antara lain yaitu:
a) Untuk memperbaiki kualitas pekerjaan
b) Keputusan penempatan
c) Perencanaan dan pengembangan karier
d) Kebutuhan pelatihan dan pengembangan
e) Penyesuaian kompensasi
f) Inventori kompetensi pegawai
g) Kesempatan kerja adil
h) Komunikasi efektif antara pimpinan dan bawahan
i) Budaya kerja
j) Menerapkan sanksi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai


Menurut Kasmir (2016) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja
pegawai, yaitu:
1) Kompetensi/Kemampuan
Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan.
Semakin memiliki kemampuan dan keahlian maka akan dapat
menyelesaikan pekerjaannya secara benar dan sesuai dengan yang
ditetapkan.
2) Pengetahuan
Maksudnya adalah pengetahuan tentamg pekerjaan. Seseorang yang
memiliki pengetahuan tentang pekerjaan secara baik akan memberikan
hasil pekerjaan yang bagus.
3) Rancangan kerja
Adapun rancangan pekerjaan yang akan memudahkan pegawai dalam
mencapai tujuannya.
4) Kepribadian
Kepribadian seseorang atau karakter yang dimiliki seseorang. Setiap
orang memiliki kepribadian atau karakter yang berbeda satu sama lain.
Seseorang yang memiliki kepribadian atau karakter yang baik akan dapat
melakukan pekerjaan secara sungguh-sungguh penuh tanggung jawab sehingga hasil
pekerjaannya juga baik.
5) Motivasi kerja
Adalah dorongan bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan. Jika
karyawan memiliki dorongan yang kuat dari dalam dirinya atau dorongan
dari luar dirinya (misalnya dari pihak perusahaan).
6) Kepemimpinan
Adalah perilaku seorang pemimpin dalam mengatur, mengelola dan
memerintah bawahannya untuk mengerjakan sesuatu tugas dan tanggung
jawab yang diberikannya.
7) Gaya kepemimpinan
Adalah gaya atau sikap seorang pemimpin dalam mengahadapin atau
memerintahkan bawahannya. Dalam pratiknya gaya kepemimpinan ini
dapat diterapkan sesuai dengan kondisi organisasinya.
8) Budaya organisasi
Adalah kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang berlaku dan dimiliki
oleh suatu organisasi atau perusahaan.
9) Kepuasan kerja
Adalah perasaan senang atau gembira, atau perasaan suka seseorang
sebelum dan setelah melakukan suatu pekerjaan.
10) Lingkungan kerja
Adalah suasana atau kondisi disekitar lokasi tempat bekerja. Limgkungan
kerja dapat berupa ruangan, layout, sarana dan prasarana serta hubungan
kerja dengan sesama rekan kerja.
11) Loyalitas
Adalah kesetiaan karyawan untuk tetap bekerja dan membela perusahaan
dimana tempatnya bekerja. Kesetiaan itu ditunjukan dengan terus bekerja
sungguh-sungguh sekalipun perudahaannya dalam kondisi kurang baik.
12) Komitmen
Adalah kepatuhan karyawan untuk menjalankan kebijakan atau peraturan
perusahaan dalam bekerja.
13) Disiplin kerja
Adalah usaha karyawana untuk menjalankan aktivitas kerjanya secara
sungguh-sungguh. Disiplin kerja dalam hal ini dapat berupa waktu,
misalnya masuk kerja selalu tetap waktu.

Pengertian Kinerja Pegawai


Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluhan
selama priode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan
berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target, sasaran atau kriteria
yang telah ditenyukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2013) kinerja adalah hasil kerja
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
Menurut Irham Fahmi (2016) kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh
suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non profit
oriented yang dihasilkan selama satu periode waktu.
Menurut Kasmir (2016) mengatakan kinerja merupakan hasil kerja dan
perilaku kerja yang telah dicapai dalam suatu menyesaikan tugas-tugas dan
tanggung jawab yang diberikan dalam suatu periode tertentu. Sedangkan
menurut Edison (2016) kinerja adalah hasil dari suatu peroses yang mengacu
dan diukur selama periode waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau
kesepakatan yang telah ditetapkan sebelumnya

Komponen Penilaian Kinerja


Pada penilaian kinerja terdapat empat komponen utama yang nantinya
dapat dievaluasi apakah sistem yang digunakan sudah efektif atau gagal, yaitu:
a. The Appraisal Process, yaitu panduan terhadap kebijakan dan
prosedur yang digunakan untuk mengimplementasikan dan
mengelola proses penilaian kinerja.
b. The Appraisal Interview, yaitu berkenaan dengan pertemuan formal
yang diadakan antara penilai dan ternilai sebagai proses untuk
menyampaikan umpan balik kepada ternilai untuk membahas hasil
penilaian kinerja, mendefinisikan dan mendiskusikan tujuan kinerja
yang perlu dicapai di masa depan.
c. The Appraisal Outcome, yaitu berkaitan dengan kesempatan
pelatihan, pengembangan karir, kenaikan gaji, dan performance
rating.
d. Fairness, yaitu berkaitan dengan keterbukaan yang didalamnya
terdapat aspek akurasi, transparansi, tepat waktu dan akuntabel.

Bias Dalam Penilaian Kinerja


Bias merupakan salah satu faktor negatif yang sulit dihindari dalam proses
penilaian kinerja. Dalam konteks Bahasa Indonesia, bias diartikan sebagai
prasangka atau kecenderungan yang dapat memberikan keuntungan namun juga
berpotensi merugikan pihak tertentu. Sikap ini mencerminkan pandangan tidak
objektif yang umumnya dipengaruhi oleh pengalaman pribadi atau kondisi
emosional individu yang melakukan penilaian. Bias memiliki beberapa bentuk
yang kerap muncul dalam proses penilaian kinerja, antara lain:
a. Halo Effect atau kesan pertama yang memengaruhi penilaian secara
keseluruhan.
b. Leniency and Severity effect yaitu kecenderungan untuuk bersikap
terlalu lunak atau terlalu keras.
c. Central Tendency yaitu kebiasaan menilai pada titik rata-rata tanpa
mempertimbangkan perbedaan nyata.
d. Assimilation Effect yaitu kecenderungan untuk memperkuat
keyakinan atau asumsi yang sudah dimiliki.
e. Differential Effect yang menunjukkan adanya perbedaan hasil
penilaian antara individu.
f. First Impression Error yaitu kegaagalan dalam menilai secara objektif
akibat terlalu terpengaruh oleh kesan awal.
g. Recency Effect yakni fokus berlebihan pada informasi atau kejadian
terbaru dengan mengabaikan data penting sebelumnya.

Manfaat penilaian kinerja


Penilaian kinerja menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efektivitas dan
efisiensi organisasi, baik di sektor pemerintahan maupun swasta. Penilaian ini
berfungsi sebagai sarana optimalisasi pemanfaatan sumber daya manusia
melalui penerapan evaluasi kinerja yang bersifat objektif. Kegiatan ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk mengevaluasi kinerja karyawan serta
memberikan masukan yang konstruktif guna mendorong peningkatan
produktivitas dalam organisasi.
Penilaian prestasi kinerja pegawai didasarkan pada prinsip bahwa proses
ini merupakan suatu kegiatan yang terstruktur untuk mengevaluasi kompetensi
dan keterampilan individu yang diarahkan pada upaya pengembangan diri demi
mendukung kepentingan dan kemajuan organisasi, Manfaat-manfaat penilaian
prestasi kinerja sebagai berikut:
a. Perbaikan prestasi kinerja
Merupakan bentuk umpan balik dari pelaksanaan tugas yang
memberikan kesempatan bagi seluruh sumber daya manusia untuk
melakukan perbaikan terhadap kesalahan yang telah terjadi
sebelumnya.
b. Penyesuaian kompensasi
Manfaat ini berperan dalam mendukung pengambilan keputusan oleh
pimpinan, khususnya dalam mempertimbangkan dan menetapkan
kenaikan gaji, pemberian kompensasi maupun bentuk penghargaan
lainnya.
c. Keputusan penempatan
Kesempatan untuk memperoleh promosi, mutase, maupun demosi
umumnya didasarkan pada tingkat pencapaian kinerja karyawan di
masa sebelumnya. Penempatan tersebut dapat berfungsi sebagai
bentuk penghargaan bagi karyawan dengan rekam jejak kinerja yang
baik, sekaligus sebagai konsekuensi bagi mereka yang menunjukkan
kinerja kurang memuaskan.
d. Menentukan kebutuhan pelatihan dan pengembangan
Kinerja yang tidak memenuhi ekspektasi mengindikasikan perlunya
perbaikan melalui program pelatihan yang tepat, sedangkan kinerja
yang memuaskan mencerminkan bahwa karyawan telah berhasil
mengembangkan kompetensinya, sehingga layak untuk memperoleh
apresiasi seperti peluang promosi atau kenaikan jabatan.

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut (Amstrong, 2012) menyatakan bahwa bagi konsumen,
pembelian bukan hanya merupakan suatu tindakan saja (misalnya
karena produk), melainkan terdiri atas beberapa tindakan yang satu
dan lainnya saling berkaitan. Indikator-indikator keputusan
pembelian terdiri atas sebagai berikut:
1) Pilihan produk
2) Pilihan Merek
3) Waktu pembelian
4) Jumlah pembelian

Faktor keputusan Pembelian


Menurut (Kotler, 2012) ada dua faktor yang berada diantara niat
pembelian dan keputusan pembelian:
1) Sikap orang lain
2) Faktor situasi yang tidak terantisipasi yang dapat mengubah
niat pembelian
Adapun penjelasan dari yang dapat mempengaruhi faktor
keputusan pembelian:

Faktor situasi yang tidak terantisipasi yang dapat muncul dan
mengubah niat pembelian
Keputusan konsumen untuk menimbang, menunda, atau
menghindari suatu keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh
risiko yang dirasakan. Pemasar harus memahami faktor-faktor
yang menimbulkan perasaan adanya risiko dalam diri konsumen
dan memberikan informasi serta dukungan untuk mengurangi
risiko yang dirasakan

Sikap orang lain.
Sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang
disukai seseorang akan tergantung pada dua hal, yaitu intensitas
sikap negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai
konsumen, dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan
orang lain. Semakin gencar sikap negatif orang lain dan semakin
dekat orang tersebut dengan konsumen maka semakin besar
konsumen akan mengubah niat pembeliannya. Dan sebliknya
preferensi seorang pembeli terhadap sssuatu merek yang sama
maka pengaruh orang lain menjadi rumit saat beberapa orang
yang dekat dengan pembeli memiliki pendapatan yang
berlawanan dan pembeli ingin menyenangkan mereka semua.

Proses Keputusan Pembelian


Keberhasilan diraih dengan pemasar melihat faktor yang
mempengaruhi pembeli dan mengembangkan pemahaman mengenai
bagaimana konsumen melakukan keputusan pembelian. Pemasar harus
mengidentifikasi siapa yang membuat keputusan pembelian, jenis-jenis
keputusan pembelian, dan langkah-langkah dalam proses pembelian.

  1. Peran pembelian
    Menurut (Kotler, 2012) lima peran yang dimainkan orang dalam
    keputusan pembelian:
    a. Pencetus: Seseorang pertama kali mengusulkan gagasan untuk
    membeli suatu produk atau jasa.
    b. Pemberi pengaruh: seseorang yang pandangan atau sarannya
    mempengaruhi keputusan.
    c. Pengambilan keputusan: Seseorang yang mengambil
    keputusan untuk setiap komponen keputusan pembelianapakah membeli, tidak membeli, bagaimana membeli, dan di
    mana akan membeli.
    d. Pembeli : Orang yang melakukan pembelian yang
    sesungguhnya.
    e. Pemakai: Seseorang yang mengkonsumsi atau menggunkana
    produk atau jasa yang bersangkutan
  2. Perilaku pembelian
    Pengambilan keputusan konsumen berbeda-beda, bergantung pada
    jenis keputusan pembelian. Pembelian yang mahal dan rumit
    membutuhkan banyak pertimbangan pembelian. Menurut (Kotler,
    2012) membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen
    berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan
    merek, yaitu:
    a) Perilaku Pembelian yang Rumit. Ada beberapa langkah yaitu,
    Pembeli mengembangkan keyakinan tentang produk tersebut,
    membangun sikap tentang produk tersebut, membuat pilihan
    pembelian yang cermat.
    b) Perilaku Pembelian Pengurangan Ketidaknyamanan.
    Konsumen sangat terlibat dalam pembelian namun melihat
    sedikit perbedaan di antara berbagai merek. Keterlibatan yang
    tinggi didasari oleh fakta bahwa pembelian tersebut mahal,
    jarang dilakukan, dan berisiko.
    c) Produk Pembelian karena Kehabisan. Perilaku konsumen
    seperti ini biasanya konsumen tidak secara luas mencari
    informasi tentang merek, mengevaluasi karakteristik merek,
    dan memutuskan merek apa yang akan di beli.
    d) Perilaku Pembelian yang Mencari Variasi. Beberapa situasi
    pembelian ditandai oleh keterlibatan konsumen yang rendah
    namun perbedaan merek yang signifikan. Konsumen sering
    melakukan peralihan merek karena mencari variasi bukan
    karena ketidakpuasan.

Dimensi Keputusan Pembelian


Menurut (Kotler, 2012) menyebutkan dimensi keputusan pembelian terdiri
dari:

  1. Pilihan Produk
  2. Pilihan Merek
  3. Pilihan Saluran Pembelian
  4. Waktu Pembelian
  5. Jumlah Pembelian

Indikator Harga


Harga menjadi salah satu bagian terpenting dalam proses jual beli,
karena harga adalah alat tukar dalam transaksi. Menurut (Stanton, 2012)
menjelaskan indikator-indikator harga yaitu:

  1. Keterjangkauan harga
  2. Daya saing harga
  3. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Adapun pengertiannya sebagai berikut:
  5. Keterjangkauan harga
    Harga merupakan faktor penentu dalam membeli barang. Barang
    harus disesuaikan dengan pasar dan sesuai tingkat perekonomian
    masyarakat. Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan
    oleh perusahaan. Harga mahal bukan menjadi penentu konsumen untuk
    melakukan pembelian. Pemasar harus mampu menawarkan produk yang
    dapat dijangkau masyarakat sehingga menimbulkan keuntungan yang
    lebih besar bagi pemasar.
  6. Daya saing harga
    Harga sering menimbulkan pertimbangan bagi pembeli. Harga suatu
    produk harus bisa bersaing dengan produk lain. Pesaing harga perlu
    dilakukan agar konsumen berani memilih untuk melakukan pembelian
    sesuai dengan kebutuhannya. Pesaing harus sesuai dengan harga pasar.
  7. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
    Harga yang ditawarkan seharusnya sesuai dengan kualitas produk
    yang ditawarkan sehingga konsumen tidak merasa tertipu akan produk
    yang dibelinya. Harga mahal bukan berarti menjadi pilihan bahwa
    kualitas produk tinggi dan begitu juga sebaliknya.
  8. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Manfaat sebuah produk membuat konsumen ingin memiliki sebuah
    produk yang lebih dari produk lain. Harga tidak menjadi masalah dalam
    mendapatkan produk yang lebih tinggi

Tujuan Penetapan Harga


Harga tentu sangat penting dalam kesepakatan jual-beli dari
produsen ke konsumen. Melalui penetapan harga, timbullah sebuah
tujuan dari penetapan harga tersebut.
Menurut (Tjiptono, strategi pemasaran, 2011) pada dasarnya ada empat
jenis tujuan penetapan harga, yaitu :
1) Tujuan berorientasi pada laba
2) Tujuan berorientasi pada volume
3) Tujuan berorientasi pada citra
4) Tujuan stabilisasi harga

Strategi Harga


Ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu perusahaan harus selalu
meninjau kembali strategi penetapan harga produk-produknya yang sudah
ada di pasar, di antaranya yaitu (Shinta, 2011):
1) Adanya perubahan dalam lingkungan pemasaran, misalnya ada
pesaing besar yang menurunkan harganya.
2) Adanya pergeseran permintaan, misalnya terjadi perubahan selera
konsumen.
Melakukan penilaian kembali dalam strategi penetapan harga yang
telah dilakukan, perusahaan memiliki tiga alternatif strategi yaitu
mempertahankan harga, menurunkan harga, dan menaikkan harga (Shinta,
2011)
1) Mempertahankan Harga
2) Menurunkan Harga
3) Menaikkan Harga

Definisi Harga


Harga adalah jumlah yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa. Lebih
luas lagi, harga adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan
untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu
produk atau jasa (Cravens, 2013) Menurut (Amstrong, 2012) Harga
merupakan sesuatu yang diserahkan dalam pertukaran untuk mendapatkan
suatu barang maupun jasa. Harga khususnya merupakan pertukaran uang
bagi barang atau jasa

Indikator Promosi


Menurut (Kotler, 2012) indikator yang mencirikan promosi adalah:
1) Jangkauan promosi, yaitu jumlah promosi yang dilakukan oleh
perusahaan dalam waktu tertentu melalui media promosi yang
tersedia
2) Kuantitas promosi, yaitu tolak ukur yang menjadi acuan
penilaian dari promosi yang telah dilakukan
3) Kualitas promosi, yaitu penilaian yang diberikan konsumen
dari promosi yang telah dilakukan
4) Waktu promosi, yaitu jangka watu promosi yang akan
dilakukan oleh perusahaan
5) Ketepatan sasaran promosi, yaitu kesesuaian target yang
diperlukan ketika melakukan promosi untuk mencapai sasaran
yang menjadi tujuan perusahaan.

Bauran Promosi


Menutut (Tjiptono, Pemasaran Jasa, 2014) Meskipun secara umum
bentuk-bentuk promosi memiliki fungsi yang sama, tetapi bentukbentuk tersebut dapat dibedakan berdasarkan tugas-tugas khususnya.
Beberapa tugas khusus itu atau sering disebut bauran promosi
(promotion mix, promotion blend, communication mix) adalah :
1) Personal selling,
2) Mass selling, terdiri atas periklanan dan publisitas,
3) Promosi penjualan,
4) Public relations (hubungan masyarakat)
5) Direct marketing
Adapun penjelasan mengenai bauran promosi sebagai berikut, yaitu :
1) Personal selling, adalah komunikasi langsung (tatap muka) antara
penjual dan calon pelanggan dan membentuk pemahaman
pelanggan terhadap produk sehingga mereka kemudian akan
mencoba dan membelinya.
2) Mass selling, merupakan pendekatan yang menggunakan media
komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada khalayak
ramai dalam satu waktu.
3) Promosi penuajualan, adalah bentuk persuasi langsung melalui
penggunaan berbagai insentif yang dapat diatur untuk
merangsang pembelian produk dengan segera dan/atau
mengingatkan jumlah barang yang dibeli pelanggan.
4) Public relations (hubungan masyarakat), merupakan upaya
komunikasi menyeluruh dari suatu perusahaan untuk
mempengaruhi persepsi, opini, keyakinan dan sikap berbagai kelompok
terhadap perusahaan tersebut.
5) Direct marketing, adalah sistem pemasaran yang bersifat
interaktif, yang memanfaatkan satu atau beberapa media iklan
untuk menimbulkan respon yang terukur dan atau tranksaksi di
sembarang lokasi.

Tujuan Promosi


Promosi adalah fungsi pemasaran yang fokus untuk
mengkomunikasikan program-program pemasaran secara persuasif
kepada target audience (pelanggan-calon pelanggan) untuk mendorong
terciptanya tranksaksi – pertukaran antara perusahaan dan audience.
Kegiatan promosi dilakukan untuk mencapai berbagai tujuan berikut :
(Cravens, 2013)
1) Menciptakan atau meningkatkan awareness produk atau brand.
2) Meningkatkan preferensi brand pada target pasar.
3) Meningkatkan penjualan dan market share
4) Mendorong pembelian ulang merek yang sama.
5) Memperkenalkan produk baru.
6) Menarik pelanggan baru.

Definisi Promosi


Menurut (Hasan, 2014) Promosi merupakan proses
mengkomunikasikan variabel bauran pemasaran (marketing mix) yang
sangat penting untuk dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan
produk. Lalu juga ditinjau dalam pendapat (Shinta, 2011) Pada hakikatnya
promosi merupakan bentuk komunikasi pemasaran. Komunikasi
pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha untuk menyebarkan
informasi, mempengaruhi/membujuk dan atau mengingatkan pasar sasaran
atas perusahaan dan produknya agar bisa menerima, membeli dan loyal
pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.

Indikator Kualitas Produk


Menurut (Tjiptono, strategi pemasaran, 2011) ada 5 indikator
kualitas produk, yaitu : (1) Kinerja (perfomance), (2) Keistimewaan
tambahan (features), (3) Keandalan (reliability), (4) kesesuain dengan
spesifikasi (conformance to specifications), (5) Estetika (asthethic).
Adapun penjelasan mengenai indikator kualitas produk sebagai
berikut:
1) Kinerja (perfomance)
Karakteristik operasi pokok dari produk inti seperti kecepatan,
kemudahan, kenyamanan, dan sebagainya.
2) Keistimewaan tambahan (features)
Karakteristik sekunder atau pelengkap seperti kelengkapan interior
dan eksterior.
3) Keandalan (reliability)
Kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai
seperti mobil tidak sering rewel/rusak.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specificatons)
Sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standartstandart yang telah ditetapkan sebelumnya seperti standar
keamanan dan emisi terpenuhi.
5) Estetika (asthethic)
Daya tarik suatu produk terhadap panca indera. Misalnya bentuk
fisik mobil yang menarik atau desain, warna, dan sebagainya.

Dimensi Kualitas Produk


Menurut (Firmansyah, 2019) apabila perusahaan ingin
mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan
harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen
untuk membedakan produk yang dijual oleh perusahaan tersebut dengan
produk pesaing. Dimensi kualitas produk tersebut terdiri dari : (1)
Perfomance (kinerja), (2) Durability (daya tahan), (3) Conformance to
specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), (4) Features (fitur),(5)
Reliability (reliabilitas), (6) Aesthetics (estetika), (7) Perceived quality
(kesan kualitas).
Adapun penjelasan dari dimensi kualitas produk tersebut, yaitu :
1) Perfomance (kinerja)
Kinerja berhubungan dengan operasi dasar pada suatu produk, seperti
pelanggan yang mempertimbangkan produk tersebut untuk dibelinya.
2) Durability (daya tahan)
Daya tahan merupakan sebuah umur produk atau berapa lama produk
tersebut dapat digunakan. Semakin besar frekuensi pemakaian atas
suatu produk maka akan semakin besar pula daya produk tersebut.
3) Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi)
Kesesuaian merupakan sejauh mana spesifikasi tertentu dari
konsumen atau dengan kata lain tidak ditemukan cacat pada suatu
produk tersebut.
4) Features (fitur)
Fitur merupakan karakteristik sebuah produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk untuk menambah ketertarikan
konsumen atas produk tersebut.
5) Reliability (reliabilitas)
Reliabilitas atau keandalan merupakan produk yang bersangkutan
akan bekerja dengan baik dan memuaskan ataupun tidak dalam waktu
periode tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan
pada suatu produk maka berarti produk tersebut dapat diandalkan.
6) Aesthetics (estetika)
Estetika berkaitan dengan bagaimana tampilan produk yang
bersangkutan.
7) Perceived quality (kesan kualitas)
Merupakan suatu perasaan yang dimiliki oleh seorang konsumen
mengenai keadaan suatu produk apakah berkualitas atau tidak.

Definisi Kualitas Produk


Menurut (Amstrong, 2012)menyatakan bahwa kualitas produk
merupakan salah satu sarana positioning utama untuk pemasar yang
memiliki dampak langsung pada kinerja produk. Menurut (Kotler, 2012)
menyatakan bahwa the ability of a product to perform its functions, it
includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of
operation and repair, and other valued attributes.
Dengan arti sebagai berikut, kemampuan sebuah produk dalam
memperagakan fungsinya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas,
reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoprasian dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya.

Klasifikasi Produk


Menurut (Amstrong, 2012) produk dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa kelompok yaitu : (1) berdasarkan wujudnya, (2) berdasarkan
aspek daya tahannya, (3) berdasarkan tujuan konsumsi. Adapun penjelasan
mengenai klasifikasi produk diatas, yaitu:
1) Berdasarkan wujudnya, dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok
utama, yaitu : Pertama, barang merupakan suatu produk yang
berwujud fisik, yang dapat dilihat, disentuh, dipegang, dirasa,
dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya. Kedua, jasa merupakan
aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual yang
dapat dikonsumsi oleh pihak lain. Seperti halnya salon, bengkel, hotel
dan sebagainnya.
2) Berdasarkan aspek daya tahannya, dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu : Pertama, barang tidak tahan lama (nondurable goods)
merupakan suatu barang berwujud yang biasanya bisa habis di
konsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian dengan kata lain
umur ekonomisnya dalam pemakaian normal kurang dari satutahun.
Kedua, barang tahan lama (durabel goods) merupakan barang berwujud
yang biasanya bisa bertahan lama dengan kata lain umur ekonomisnya untuk
pemakaian normal adalah satu tahun atau lebih.
3) Berdasarkan tujuan konsumsi, dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu : Pertama, barang konsumsi (consumer’s goods) merupakan
suatu produk yang langsung dapat di konsumsi tanpa melalui
pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat dari produk
tersebut. Kedua, barang industri (industrial’s goods) merupakan jenis
produk yang memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan
suatu manfaat tertentu, yang biasanya hasil dari pemrosesan tersebut
dijual belikan kembali

Definisi Produk


Menurut (Amstrong, 2012) Produk adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keinginan atau
kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat,
properti, organisasi, informasi, dan ide. Menurut Alma (2013) produk ialah
seperangkat atribut baik berwujud, termasuk didalamnya masalah warna,
harga, nama baik pabrik, nama baik toko yang menjual (pengecer), dan
pelayanan pabrik serta pelayanan pengecer, yang diterima oleh pembeli
guna memuaskan keinginannya.

Indikator Citra Merek


Menurut (Kotler, 2012) menyatakan bahwa citra merek dapat diukur
dengan indikator- indikator sebagai berikut:
1) Kekuatan(strengthness)
Kekuatan produk merupakan keunggulan yang dimilki suatu merek
produk yang bersifat fisik yang tidak ditemukan pada merek produk
lain
2) Keunikan(uniqueness)
Keunikan suatu produk yaitu tingkat pembeda produk dari
pesaingnya, kesan ini didapat konsumen atas atribut yang dimiliki
suatu produk yang tidak dimiliki produk lainnya.
3) Keunggulan(favorable)
Keunggulan suatu merek merupakan kemudahan suatu merek
produk yang mudah diucapkan oleh konsumen, mudah diingat dan
produk menjadi favorit konsumen.

Manfaat Citra Merek


Menurut (Priansa, 2017) Citra merek dianggap sebagai persepsi
masyarakat terhadap jati diri merek atau perusahaan. Ia menyatakan bahwa
manfaat citra merek yang baik dan kuat, yaitu sebagai berikut :
1) Kemampuan daya saing jangka menengah dan panjang.
Perusahaan berusaha memenangkan persaingan pasar dengan
menyusun strategi pemasaran yang taktis, yaitu citra merek
yang positif dibangun untuk menghasilkan keuntungan
berkelanjutan
2) Daya tahan terhadap krisis. Sebagian besar masyarakat dapat
memahami atau memaafkan kesalahan yang dibuat perusahaan
dengan citra baik, yang menyebabkan mereka mengalami krisis
3) Menjadi daya tarik eksekutif handal, karena eksekutif handal
adalah aset perusahaan
4) Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran
5) Menghemat biaya operasional karena citranya yang baik

Definisi Citra Merek


Menurut (Amstrong, 2012) menyatakan bahwa citra merek adalah
respons konsumen pada keseluruhan penawaran yang diberikan oleh
perusahaan. Citra perusahaan dapat dipahami juga sebagai sejumlah
kepercayaan, dan kesan pelanggan kepada perusahaan. (Rangkuti, 2014)
mengemukakan bahwa “ citra merek adalah sekumpulan asosiasi merek
yang terbentuk dibenak konsumen”

Tingkatan Arti Merek dan Kriteria Pemberian Merek


Menurut (Amstrong, 2012) menyatakan enam tingkatan arti senuah
merek berkenaan dengan atribut, manfaat, nilai, budaya, kepribadian, dan
pemakai seperti dijelaskan sebagai berikut.
a. Atribut (attributes); suatu merek mengingatkan atribut-atribut
tertentu.
b. Manfaat (benefit); atribut-atribut harus diterjemahkan menjadi
manfaat fungsional dan emosianal.
c. Nilai (value); merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai
produsen.
d. Budaya (culture); merek dapat mewakili atau melambangkan
suatu budaya tertentu.
e. Personal (personality); merek mampu mencerminkan
kepribadian tertentu.
f. Pemakai (user); merek tersebut menyiratkan jenis konsumen
yang membeli atau menggunakan produk tersebut.

Definisi Merek


Menurut (Kotler, 2012)Merek adalah sebuah nama, istilah, tanda,
simbol, atau desain, atau sebuah kombinasi di antaranya, yang bertujuan
untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang dihasilkan oleh
produsen. Brand adalah segala sesuatu yang mengidentifikasi barang atau
jasa penjual dan membedakannya dari barang dan jasa lainnya. Merek
dapat berupa sebuah kata, huruf-huruf, sekelompok kata, simbol, desain,
atau beberapa kombinasi kata di atas (Simamora, 2014). Menurut
(Sumarwan, 2013) mendefinisikan merek sebagai simbol dan indikator
kualitas dari sebuah produk

Indikator Kinerja


Menurut Suyadi Prawirosentono (2008: 27), kinerja dapat dinilai atau
diukur dengan beberapa indikator, yaitu:
a. Efektifitas
Efektifitas yaitu bila tujuan kelompok dapat dicapai dengan
kebutuhan yang direncanakan.
b. Tanggung jawab
Merupakan bagian yang tak terpisahkan atau sebagai akibat
kepemilikan wewenang.
c. Disiplin
Yaitu taat pada hukum dan aturan yang belaku.Disiplin karyawan
adalah ketaatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati
perjanjian kerja dengan perusahaan dimana dia bekerja.
d. Inisiatif
Berkaitan dengan dayapikir, kreatifitas dalam bentuk suatu ide
yang berkaitan tujuan perusahaan. Sifat inisiatif sebaiknya mendapat
perhatian atau tanggapan perusahaan dan atasan yang baik. Dengan
perkataan lain inisiatif karyawan merupakan daya dorong kemajuan yang
akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan.
Stephen P Robbins (2006:260) menyatakan bahwa indikator untuk
mengukur kinerja karyawan adalah:
a. Kualitas kerja
Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
pekerjaan yang dihasilkanserta kesempurnaan tugas terhadap
keterampilan dan kemampuan karyawan.
b. Kuantitas kerja
Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti
jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
c. Ketepatan waktu
Merupakan tingkat aktivitasdiselesaikan pada awal waktu yang
dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta
memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
d. Efektivitas
Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga,
uang , teknologi , bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud
menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
e. Kemandirian
Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat
menjalankan fungsi kerjanya komitmen kerja. Merupakan suatu tingkat
dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan
tanggung jawab karyawan terhadap kantor.
Pendapat lain mengenai pengukuran kinerja karyawan dikemukakan
oleh Gomes (2003 : 134) yang menyatakan indikator-indikator kinerja
karyawan adalah :
a. Quantity of work : Jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode
waktu yang ditentukan.
b. Quality of work : kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat
kesesuaian dan kesiapannya.
c. Job Knowledge : Luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan
keterampilannya.
d. Creativeness : Keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dari
tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang
timbul.
e. Cooperation : kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain
(sesama anggota organisasi).
f. Dependability : Kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran
dan penyelesaian kerja tepat pada waktunya.
g. Initiative : Semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam
memperbesar tanggung jawabnya.
h. Personal Qualities : Menyangkut kepribadian, kepemimpinan,
keramah-tamahan, dan integritas pribadi.
Berdasarkan masalah kinerja pada PT Langkat Nusantara Kepong,
maka indikator kinerja karyawan pada penelitian ini yaitu:
a. Efektifitas yaitu penyelesaian pekerjaan karyawan sesuai yang
direncanakan dan tepat pada waktu yang telah ditetapkan.
b. Tanggung jawab yaitu melaksanakan kewajiban dan beban pekerjaan
sesuai batas-batas pada job description.
c. Disiplin yaitu kepatuhan karyawan terhadap peraturan yang berlaku di
perusahaan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Faktor-faktor penentu pencapaian prestasi kerja atau kinerja karyawan
dalam organisasi menurut Mangkunegara (2005:16-17) adalah sebagai
berikut:
a. Faktor Individu
Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang
memiliki integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya
(jasmaniah). Dengan adanya integritas yang tinggi antara fungsi psikis
dan fisik, maka individu tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik.
Konsentrasi yang baik ini merupakanmodal utama individu manusia untu
mampu mengelola dan mendayagunakan potensi dirinya secara optimal
dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas kerja sehari-hari dalam
mencapai tujuan organisasi.
b. Faktor Lingkungan Organisasi
Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu
dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang
dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai,
target kerja yang menantang, pola komunikasi yang efektif, hubungan
kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan
fasilitas kerja yang relatif memadai.
Menurut Grifin dalam Sule dan Saefullah (2005:235) kinerja terbaik
ditentukan oleh 3 faktor, yaitu:
a. Motivasi, yaitu yang terkait dengan keinginan untuk melakukan
pekerjaan
b. Kemampuan, yaitu kapabilitas dari tenaga kerja atau SDM untuk
melakukan pekerjaan
c. Lingkungan pekerjaan,yaitu sumber daya dan situasi yang dibutuhkan
untuk melakukan suatu pekerjaan tersebut

Definisi Kinerja

Kinerja berasal dari pengertianper formance. Ada pula yang
memberikan performance sebagai hasil kerja atau prestasi kerja. Namun,
sebenarnya kinerja mempunyai makna yang lebih luas, bukan hanya hasil
kerja, tetapi termasuk bagaimana proses pekerjaan berlangsung.
Payaman Simanjuntak dalam Veithzal Rivai (2014:406) menyatakan
Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan
perusahaan.
Murphy dan Cleveland mengatakan bahwa kinerja adalah kualitas
perilaku yang berorientasi pada tugas dan pekerjaan. Sedangkan menurut
Suntoro kinerja (performance) adalah hasil kerja yang dicapai oleh
seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai
tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum
dan sesuai dengan moral dan etika (Nawawi, 2013:212).
Menurut Amstrong dan Baron dalam Wibowo (2013:7) kinerja
merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan
strategis organisasi, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada
ekonomi.
Dengan demikian, kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan
hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang
dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya

Pengaruh Kepuasan Kerja

Terhadap Kinerja Karyawan Kepuasan kerja mempunyai posisi yang sangat penting dalam suatu proses kerja. Dengan tercapainya kepuasan kerja, karyawan akan berusaha melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Kepuasan Kerja adalah sebuah perasaan karyawan yang menyenangkan atau tidak pada pekerjaannya. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda- beda sesuai dengan sistem nilai – nilai yang berlaku pada dirinya. Karyawan yang merasa puas dalam bekerja akan menimbulkan semangat kerja dan rasa dalam diri untuk selalu meningkatkan kinerja dalam bekerja. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Arifin (2016), menunjukkan bahwa variabel kepuasan kerja berpengaruh signifikan parsial terhadap kinerja karyawan. Jadi semakin karyawan merasa puas maka karyawan semakin terpacu untuk semangat kerja dan meningkatkan kinerja. Sehingga semakin tinggi kepuasan kerja semakin tinggi kinerja karyawan

Pengaruh Disiplin Kerja

Terhadap Kinerja Karyawan Kinerja merupakan hasil kerja yang dihasilkan oleh seorang karyawan secara kualitas dan kuantitas dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Apabila kinerja karyawan menurun maka akan mengakibatkan penurunan stabilitas perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu meningkatkan kinerja karyawan salah satunya dengan meningkatkan disiplin kerja. Disiplin kerja adalah sebuah sikap karyawan yang berprilaku sesuai dengan peraturan – peraturan yang ada dalam sebuah perusahaan. Disiplin kerja mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kinerja karyawan. Ketika seorang karyawan memiliki disiplin kerja yang tinggi pada saat berangkat kerja hingga pulang kerja mentaati peraturan perusahaan biasanya memiliki kinerja yang tinggi. Maka disiplin kerja memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan. Sebagaimana hasil dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Putra, Subudi (2016), menunjukkan bahwa secara parsial variabel disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan. Jadi, karyawan yang disiplin akan memiliki kinerja baik dan akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Sehingga semakin tinggi disiplin kerja semakin tinggi pula kinerja karyawan

Indikator Kepuasan Kerja

Menurut Luthans (2006:243) aspek-aspek yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja adalah sebagai berikut : a. Pekerjaan itu sendiri b. Gaji c. Pengawasan d. Rekan Kerja Pekerjaan itu sendiri merupakan sumber utama kepuasan. Yang termasuk pekerjaan yang memberikan kepuasan adalah pekerjaan yang menarik dan menantang, pekerjaan yang tidak membosankan, serta pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan keterampilan. Kepuasan kerja merupakan fungsi dari jumlah absolute dari gaji yang diterima, derajat sejauh mana gaji memenuhi harapan-harapan tenaga kerja, dan gaji yang sesuai dengan beban kerja. Gaji diakui merupakan faktor yang signifikan terhadap kepuasan kerja. Kemampuan supervisor untuk melakukan pengawasan terhadap karyawan ketika bekerja dan perilaku dukungan serta objektivitas terhadap penilaian kinerja karyawan. Kebutuhan dasar manusia untuk melakukan hubungan sosial akan terpenuhi dengan adanya atasan dan rekan kerja yang mendukung. Jika terjadi konflik dengan rekan kerja, maka akan berpengaruh pada tingkat kepuasan karyawan terhadap pekerjaan.

Faktor – Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja

Banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan kinerja karyawan. Faktor – faktor itu sendiri dalam perananya memberikan kepuasan kepada karyawan tergantung pada pribadi masing – masing karyawan. Menurut Sutrisno (2011) faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja yaitu : 1. Faktor psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan, yang meliputi minat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan ketrampilan. 2. Faktor sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial antarkaryawan maupun karyawan dengan atasan. 3. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur, dan sebagainya. 4. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan, yang meliputi sistem dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam – macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi, dan sebagainya.

Pengertian Kepuasan kerja

Seorang karyawan akan merasa nyaman dan tinggi loyalitasnya pada perusahaan apabila memperoleh kepuasan kerja sesuai dengan apa yang diinginkan. Karyawan yang tidak memperoleh kepuasan psikologis dan akhirnya akan timbul sikap atau tingkah laku negatif . Menurut Sutrisno (2011) Kepuasan kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan yang diterima dalam kerja, dan hal – hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis. Handoko (2001:193), menyatakan bahwa kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Dari definisi – definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan psikologis karyawan yang menyenangkan yang dirasakan oleh karyawan disekitarnya dalam melakukan pekerjaannya.

Kepuasan Kerja

Manusia dalam hidup mempunyai kebutuhan mendasar yang tidak mungkin dapat dihilangkan, karena kebutuhan tersebut mendasari perilaku seorang karyawan. Jika seorang karyawan dalam bekerja merasa kebutuhannya sudah terpenuhi,maka akan timbul kepuasan bekerja dalam diri mereka. Kepuasan kerja merupakan salah satu elemen yang cukup pentng dalam sebuah perusahaan.Hal ini disebabkan kepuasan kerja dapat mempengaruhi perilaku kerja seperti malas,rajin,produktif,dan lain-lain

Faktor yang mempengaruhi disiplin kerja

Menurut Singodimedjo (2002), faktor yang mempengaruhi disiplin kerja yaitu : 1. Besar kecilnya pemberian kompensasi 2. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan 3. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan 4. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan 5. Ada tidaknya pengawasan pimpinan 6. Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan 7. Diciptakan kebiasaan – kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin Besar kecilnya pemberian kompensasi dapat mempengaruhi tegaknya disiplin. Para karyawan akan mematuhi segala peraturan yang berlaku, bila karyawan merasa mendapatkan jaminan balas jasa yang setimpal dengan jerih payahnya yang telah dikontribusikan bagi perusahaan. Karyawan akan dapat bekerja tenang dan tekun, serta selalu berusaha bekerja dengan sebaik – baiknya. Keteladanan pimpinan sangat penting sekali, karena dalam lingkungan perusahaan, semua karyawan akan selalu memperhatikan bagaimana pimpinan dapat menegakkan disiplin dirinya dan bagaimana ia dapat mengendalikan dirinya dari ucapan, perbuatan dn sikap yang dapat merugikan aturan disiplin yang sudah ditetapkan. Pembinaan disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam perusahaan bilatidak ada aturan tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan pegangan bersama. Disiplin tidak mungkin ditegakkan bila peraturan yang dibuat hanya berdasarkan intruksi lisan yang dapat berubah – ubah sesuai dengan kondisi dan situasi. Bila ada seorang karyawan yang melanggar disiplin, maka perlu ada keberanian pimpinan untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya. Dengan adanyan tindakan terhadap disiplin, sesuai dengan sangksi yang ada, maka semua karyawan aka merasa terlindungi Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan perlu ada pengawasan, yang aka mengarahkan karyawan agar dapat melaksankan pekerjaan dengan tepat sesuai dengan yang telah ditetapkan. Karyawan adalah manusia yang mempunyai perbedaan karakter antara yang satu dengan yang lain. Seorang karyawan tidak hanya puas dengan penerimaan kompensasi yag tinggi, pekerjaan, yang menantang, tetapi juga mereka masih membutuhkan perhatian besar dari pimpinannya sendiri. Pemimpin yang kurang baik, yang memakai kekuasaannya dengan sewenang –wenang dan menggunakan ancaman terus menerus kadang dapat memperoleh apa yang tampak sebagai disiplin yang baik, namun gelisah dan tidak tentram yang timbuldari peraturan yang keras dan paksaan saja, dapat meledak di muka pemimpin setiap waktu

Pengertian Disiplin Kerja

Tindakan pelanggaran terhadap pedoman normatif yang berlaku merupakan salah satu bentuk nyata dari tindakan ketidakdisiplinan para karyawan 13 yang tentunya merugikan perusahaan. Nitisemito (2002) menerangkan bahwa disiplin adalah sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari perusahaan baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Singodimedjo (2002), mengatakan disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma – norma peraturan yang berlaku disekitarnya. Disiplin karyawan yang baik akan mempercepat tujuan perusahaan, sedangkan disiplin yang merosot akan menjadi penghalang dan memperlambat pencapaian tujuan perusahaan. Menurut Rivai (2004) disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma – norma sosial yang berlaku. Berdasarkan pengertian diatas disimpulkan bahwa disiplin kerja merupakan suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis, dan bila melanggar akan ada sanksi atas pelanggaranya

Indikator Kinerja

Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Indikator untuk mengukur kinerja karyawan menurut Dharma (2010), antara lain : 1. Kualitas Kerja 2. Kuantitas Kerja 3. Ketetapan Waktu Kualitas kerja terkait dengan proses atau hasil mendekati sempurna/ ideal dalam memenuhi maksud dan tujuan. Kualitas kerja diukur dari presepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan sesuai dengan standar operasional perusahaan Kuantitas Kerja terkait dengan satuan jumlah atau kuantitas yang dihasilkan. Kuantitas kerja diukur dari hasil kerja sesuai dengan target yang ditetapkan perusahaan. Ketetapan Waktu terkait dengan pengukuran waktu yang digunakan dalam menyelesaikan tugas/ pekerjaan

Faktor yang mempengaruhi Kinerja Karyawan

;Kinerja merupakan hasil pelaksanaan suatu pekerjaan baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Dimana, setiap karyawan dalam melaksanakan tugas – tugasnya sebagaimana terdapat dalam deskripsi uraian tugas atau jabatan maka perlu dilaksanakan pengukuran kinerja pada periode tertentu. Untuk menentukan pencapaian kinerja ada faktor – faktor yang mempengaruhi dalam pencapaian kinerja tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Mangkunegara (2002) mengenai faktor – faktor penentu pencapaian prestasi kerja atau kinerja individu dalam organisasi yaitu : 1) Faktor Individu Secara psikologis individu yang normal adalah individu yang memiliki intergritas yang tinggi anatara fungsi psikis (rohani ) dan fisiknya (jasmaniah) dengan adanya integritas tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik. Konsentrasi yang baik ini merupakan modal utama individu tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik. Konsentrasi yang baik ini merupakan modal utama individu manusia untuk mampu mengelola dan mendayagunakan potensi dirinya secara optimal dalam melaksanakan kegiatan atau aktifitas kerja sehari hari dalam mencapai tujuan organisasi. 2) Faktor Lingkungan Organisasi Faktor lingkungan organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai

Pengertian Kinerja

Suatu organisasi atau perusahaan jika ingin maju atau berkembang maka dituntut untuk memiliki pegawai yang berkualitas. Pegawai yang berkualitas adalah pegawai yang kinerjanya dapat memenuhi target atau sasaran yang ditetapkan oleh perusahaan. Untuk memperoleh pegawai yang memiliki kinerja baik maka diperlukan penerapan kinerja. Mangkunegara (2002:22) mengemukakan kinerja adalah kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas vsesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Untuk meningkatkan kinerja karyawan dan tujuan perusahaan tercapai, maka perusahaan harus mampu mendorong karyawannya untuk mampu meningkatkan kinerja karyawan. Dessler (2009:41 ) berpendapat kinerja karyawan adalah perbandingan antara hasil kerja dengan standart yang ditetapkan. Prawirosentono (2008) kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing – masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai modal dan etika. Berdasarkan pengertian – pengertian kinerja dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja karyawan adalah hasil kerja yang dihasilkan oleh seorang karyawan secara kualitas dan kuantitas dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan

Tujuan Penilaian Kinerja


Dalam melaksanakan kerja, karyawan mengkonsumsi input perusahaan
yang direalisasikan dalam bentuk biaya. Menurut (Darsono dan Siswandoko,
2011), Penilaian kinerja hakikatnya adalah untuk :

  1. Mengetahui kemampuan SDM mencapai sasaran kerja (efektivitas)
  2. Mengetahui kemampuan SDM menggunakan input untuk mencapai
    sasaran kerja (efisiensi)
  3. Untuk menentukan besarnya imbalan materiil dan non-materiil.
    Dalam penilaian kinerja, penyedia atau supervisor memegang peranan
    yang penting dimana mereka harus obyektif dalam melakukan penilaian. Suatu
    penilaian akan salah dan merugikan karyawan dan perusahaan karena beberapa
    sebab yaitu :
  4. Penilai bertindak subyektif
  5. Standar kinerja (ukuran) yang ditetapkan terlalu tinggi atau rendah.
  6. Gaya manajemen : Otoriter, penilaian kinerja sangat subyektif karena
    ukurannya dan kemampuan pemimpin. Demokratis, penilaian kinerja
    obyektif karena ukurannya adalah potensi SDM

Pengertian Kinerja Perusahaan


Menurut (Soedjono, 2005), kinerja organisasi atau kinerja perusahaan
merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan
keberhasilan manajer / pengusaha. Menurut (Suci Rahayu P, 2009), kinerja
sebuah perusahaan adalah hal yang sangat menentukan dalam perkembangan
perusahaan. Kinerja perusahaan merujuk pada tingkat pencapaian atau prestasi
dari perusahaan dalam periode waktu tertentu. Menurut (Jauch dalam Suci, 2009),
Kinerja perusahaan dapat dilihat dari tingkat penjualan, tingkat keuntungan,
pengembalian modal, tingkat turnover dan pangsa pasar yang diraihnya. Menurut
(Umar, 2005), kinerja perusahaan adalah dari sisi bagaimana manajemen
perusahaan mersespons kondisi eksternal dan internalnya, yang dengan tolak ukur
tertentu dapat diketahui berapa tingkat turbelensinya dan berapa tingkat
perusahaan mampu mengantisipasinya.
Dapat disimpulkan dari beberapa pengertian kinerja perusahaan diatas,
yaitu kinerja perusahaan merupakan suatu tingkat pencapaian suatu perusahaan
pada periode waktu tertentu sebagai tolak ukur tingkat keberhasilan suatu
pengusaha / manajer (atasan).

Indikator Kepuasan Kerja Karyawan


Kepuasan kerja karyawan adalah suatu sikap umum seorang individu
terhadap pekerjaannya (Robbin, 2001), Variabel kepuasan kerja karyawan ini
secara operasional diukur dengan mengunakan 4 (empat) indikator yang diadopsi
dari teori dua faktor Herzberg dalam (Mangkunegara, 2005) yaitu :
a. Kompensasi
Kompensasi merupakan hal yang bersifat multi dimensional. Hal ini
berarti bahwa kepuasan karyawan bukan hanya terletak pada jumlah
gaji/ upah semata, namun lebih dari itu kepuasan pada pembayaran
dibentuk dari empat dimensi yaitu:

  • Kepuasan terhadap administrasi dan kebijakan penggajian.
  • Kepuasan terhadap berbagai jenis tunjangan yang ada .
  • Kepuasan terhadap tingkat gaji /upah
  • Kepuasan terhadap kenaikan gaji/ upah
    b. Kondisi kerja
    Maksudnya adalah lingkungan kerja atau tempat kerja dimana
    karyawan tersebut melaksanakan tugasnya. Lingkungan kerja disini
    juga meliputi parkir, tempat ibadah, kantin, ventilasi ruangan,
    penyinaran ruangan, dan sebagainya. Bila semua hal tersebut dapat
    terpenuhi dengan baik, maka kepuasan kerja dapat terwujud.
    c. Sistem administrasi dan kebijakan perusahaan
    Faktor ini sangat mendukung dalam timbulnya kepuasan dalam diri
    seseorang karyawan, sebab sistem administrasi dan kebijakan yang
    ada dalam perusahaan itu mengatur dan memastikan supaya jembatan
    yang menghubungkan perusahaan dan karyawan bisa terbangun
    dengan baik, kokoh, dan mendatangkan manfaat besar bagi
    perusahaan.
    d. Kesempatan untuk berkembang
    Apabila karyawan bekerja dengan lebih rajin dan disiplin, maka
    karyawan tersebut memperoleh hak untuk mendapat promosi jabatan
    yang lebih baik lagi dari jabatan sebelumnya. Hal ini sangat perlu
    untuk seorang atasan agar tercipta kepuasan kerja pada karyawan

Cara Untuk Meningkatkan Kepuasan


Beberapa cara yang dapat dilakukan organisasi untuk meningkatkan
kepuasan kerja karyawannya berdasarkan (Greenberg dan Baron, 2003):

  1. Make jobs fun
    Orang akan lebih puas dengan pekerjaan yang mereka nikmati
    daripada yang membosankan. Walaupun beberapa pekerjaan memang
    bersifat membosankan, tetap ada cara untuk menyuntikkan beberapa
    level keasyikan ke dalam hampir setiap pekerjaan. Teknik-teknik
    kreatif yang telah diterapkan misalnya mengoper buket bunga dari
    meja satu orang ke yang lainnya setiap setengah jam dan mengambil
    gambar lucu orang lain ketika sedang bekerja lalu memasukkannya ke
    papan buletin.
  2. Pay people fairly
    Ketika orang merasa bahwa mereka dibayar atau diberi imbalan secara
    adil, maka kepuasan kerja mereka cenderung akan meningkat.
  3. Match people to jobs that fit their interests
    Semakin orang merasa bahwa mereka mampu memenuhi kesenangan
    atau minat mereka saat bekerja, semakin mereka akan mendapatkan
    kepuasan dari pekerjaan tersebut.
  4. Avoid boring, repetitive jobs
    Orang jauh lebih merasa puas terhadap pekerjaan yang
    memungkinkan mereka untuk mencapai keberhasilan dengan memiliki
    kontrol secara bebas tentang bagaimana mereka melakukan tugas-
    tugas mereka

Respons Terhadap Ketidakpuasan Kerja


Dalam suatu organisasi di mana sebagaian terbesar pekerjaanya
memperoleh kepuasan kerja, tidak tertutup kemungkinan sebagian kecil di
antaranya merasakan ketidakpuasan. Ketidakpuasana pekerja dapat ditunjukan
dalam sejumlah cara. (Robbins, 2003) menunjukan empat tanggapan yang
berbeda satu sama lain dalam dimensi konstruktif/destruktif dan aktif/pasif,
dengan penjelasan sebagai berikut (Wibowo, 2007).

  1. Exit
    Ketidakpuasan ditunjukan melalui perilaku diarahkan pada
    meninggalkan organisasi, termasuk mencari posisi baru atau
    mengundurkan diri.
  2. Voice
    Ketidakpuasan ditunjukkan melalui usaha secara aktif dan konstruktif
    untuk memperbaiki keadaan, termasuk menyarankan perbaikan,
    mendiskusikan masalah dengan atasan, dan berbagai bentuk aktivitas
    perserikatan.
  3. Loyalty
    Ketidakpuasan ditunjukan secara pasif, tetapi optimistik dengan
    menunggu kondisi untuk memperbaiki, termasuk dengan berbicara
    bagi organisasi dihadapan kritik eksternal dan mempercayai organisasi
    dan manajemen melakukan hal yang benar.
  4. Neglect
    Ketidakpuasan ditunjukan melalui tindakan secara pasif membiarkan
    kondisi semakin buruk, termasuk kemangkiran atau keterlambatan
    secara kronis, mengurangi usaha, dan meningkatkan tingkat
    kesalahan

Teori Kepuasan Kerja


Teori kepuasan kerja mencoba mengungkapkan apa yang membuat
sebagian orang lebih puas terhadap pekerjaanya daripada beberapa lainnya. Teori
ini juga mencari landasan tentang proses perasaan orang terhadap kepuasan kerja.
Di antara teori kepuasan kerja adalah Two-factor theory dan value theory
(Wibowo, 2007).

  1. Two-Factor Theory. Teori kepuasan kerja yang menganjurkan bahwa
    kepuasan dan ketidakpuasan merupakan bagian dari kelompok
    variabel yang berbeda, yaitu motivators dan Hygiene factors.
  2. Value Theory. Menurut konsep teori ini, kepuasan kerja terjadi pada
    tingkat di mana hasil pekerjaan diterima individu seperti yang
    diharapkan. Semakin banyak orang menerima hasil, akan semakin
    puas. Semakin sedikit mereka menerima hasil, akan kurang puas.
    Sedangkan menurut (Rivai dan Sagala, 2009) teori tentang kepuasan
    kerja yang cukup dikenal ada 3 teori yaitu :
  3. Teori ketidaksesuaian (Discrepancy theory)
    Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung
    selisih antara sesuatu yang seharusnya dengan kenyataan yang
    dirasakan. Sehingga apabila kepuasannya diperoleh melebihi dari
    yang diinginkan, maka orang akan menjadi lebih puas lagi, sehingga
    terdapat discrepancy, tetapi merupakan discrepancy yang positif.
    Kepuasan kerja seseorang tergantung pada selisih antara sesuatu yang
    dianggap akan didapatkan dengan apan yang dicapai.
  4. Teori keadilan (Equity theory)
    Teori ini mengemukakan bahwa orang akan merasa puas atau tidak
    puas, tergantung pada ada atau tidaknya keadilan (equity) dalam suatu
    situasi, khususnya situasi kerja.
  5. Teori dua faktor (two factor theory)
    Menurut teori ini kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja itu
    merupakan hal yang berbeda. Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap
    perkerjaan itu bukan suatu variabel yang kontinue

Pengertian Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja adalah sikap umum terhadap pekerjaan seseorang, yang
menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan
jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima (Robbins, 2003) dalam
bukunya (Wibowo, 2007) ”Manajemen Kinerja”. Menurut (Rivai dan Sagala,
2009) kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas
perasaan sikapnya senang atau tidak senang, puas atau tidak puas dalam bekerja.
Kemudian menurut (Luthans, 2006) kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi
karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai
penting.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan suatu
yang mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, atau sikap positif
karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan
kerjanya.

Indikator Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan seperti yang dikutip di depan merupakan norma
yang digunakan sewaktu mencoba memengaruhi perilaku orang lain seperti yang
dilihat oleh orang lain tersebut. oleh, karena pada hakikatnya perilaku dasar
pemimpin tersebut melakukan proses pemecahan masalah dan pembuatan
Gaya Pemimpin

  1. Orentasi Tugas
  2. Orentasi Orang
    Mempengaruhi
    Perilaku
  3. Anggota
  4. Sumber Daya
    Kekuatan
    Pemimpin
  5. Pengaruh
  6. Kekuasaan
  7. Legitimasi
  8. Indiosinkratik
  9. Wewenang
  10. Politik
    Pemimpin Tujuan
    keputusan. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain kearah tujuan
    organisasi (Bartol dalam Tika, 2006), Variabel kepemimpinan ini secara
    operasional diukur dengan menggunakan 4 (empat) indikator yang diadopsi dari
    teori kepemimpinan situasional (Hersey-Blanchard dalam Miftah Thoha, 2013)
    yaitu :
  11. Instruksi
    Yaitu pemimpin memberikan batasan peranan pengikutnya dan
    memberitahu tentang apa, bagaimana, bilamana, dan di mana melaksanakan
    berbagai tugas, inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan
    semata-mata dilakukan oleh pemimpin. Pemecahan masalah dan keputusan
    di umumkan dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh pemimpin.
  12. Konsultasi
    Yaitu pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan masih
    membuat yang hampir sama dengan keputusan, tetapi hal ini ikuti dengan
    meningkatkan komunikasi dua arah dan perilaku mendukung, dengan
    berusaha mendengar perasaan pengikut tentang keputusan yang dibuat, serta
    ide-ide dan saran mereka. Meskipun dukungan ditingkatkan, pengendalian
    (Control) atas pengambilan keputusan tetap pada pimpinan.
  13. Partisipasi
    Yaitu pemimpin dan pengikut saling tukar-menukar ide dalam pemecahan
    masalah dan pembuatan keputusan. Komunikasi dua arah ditingkatkan, dan
    peranan pemimpin secara aktif mendengar. Tanggung jawab pemecahan
    masalah dan pembuatan keputusan sebagaian besar berada pada pihak
    pengikut. Hal ini sudah sewajarnya karena pengikut memiliki kemampuan
    untuk melaksanakan tugas.
  14. Delegasi
    Yaitu pemimpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan
    sehingga tercapai kesepakatan mengenai definisi masalah yang kemudian
    proses pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada
    bawahan. Sekarang bawahanlah yang memiliki kontrol untuk memutuskan
    tentang bagaimana cara pelaksanaan tugas. Pemimpin memberika
    kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melaksanakan pertunjukan
    mereka sendiri karena mereka memilki kemampuan dan keyakinan untuk
    memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka sendir