Dalam melaksanakan kerja, karyawan mengkonsumsi input perusahaan
yang direalisasikan dalam bentuk biaya. Menurut (Darsono dan Siswandoko,
2011), Penilaian kinerja hakikatnya adalah untuk :
- Mengetahui kemampuan SDM mencapai sasaran kerja (efektivitas)
- Mengetahui kemampuan SDM menggunakan input untuk mencapai
sasaran kerja (efisiensi) - Untuk menentukan besarnya imbalan materiil dan non-materiil.
Dalam penilaian kinerja, penyedia atau supervisor memegang peranan
yang penting dimana mereka harus obyektif dalam melakukan penilaian. Suatu
penilaian akan salah dan merugikan karyawan dan perusahaan karena beberapa
sebab yaitu : - Penilai bertindak subyektif
- Standar kinerja (ukuran) yang ditetapkan terlalu tinggi atau rendah.
- Gaya manajemen : Otoriter, penilaian kinerja sangat subyektif karena
ukurannya dan kemampuan pemimpin. Demokratis, penilaian kinerja
obyektif karena ukurannya adalah potensi SDM
