Teori Kepuasan Kerja


Teori kepuasan kerja mencoba mengungkapkan apa yang membuat
sebagian orang lebih puas terhadap pekerjaanya daripada beberapa lainnya. Teori
ini juga mencari landasan tentang proses perasaan orang terhadap kepuasan kerja.
Di antara teori kepuasan kerja adalah Two-factor theory dan value theory
(Wibowo, 2007).

  1. Two-Factor Theory. Teori kepuasan kerja yang menganjurkan bahwa
    kepuasan dan ketidakpuasan merupakan bagian dari kelompok
    variabel yang berbeda, yaitu motivators dan Hygiene factors.
  2. Value Theory. Menurut konsep teori ini, kepuasan kerja terjadi pada
    tingkat di mana hasil pekerjaan diterima individu seperti yang
    diharapkan. Semakin banyak orang menerima hasil, akan semakin
    puas. Semakin sedikit mereka menerima hasil, akan kurang puas.
    Sedangkan menurut (Rivai dan Sagala, 2009) teori tentang kepuasan
    kerja yang cukup dikenal ada 3 teori yaitu :
  3. Teori ketidaksesuaian (Discrepancy theory)
    Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung
    selisih antara sesuatu yang seharusnya dengan kenyataan yang
    dirasakan. Sehingga apabila kepuasannya diperoleh melebihi dari
    yang diinginkan, maka orang akan menjadi lebih puas lagi, sehingga
    terdapat discrepancy, tetapi merupakan discrepancy yang positif.
    Kepuasan kerja seseorang tergantung pada selisih antara sesuatu yang
    dianggap akan didapatkan dengan apan yang dicapai.
  4. Teori keadilan (Equity theory)
    Teori ini mengemukakan bahwa orang akan merasa puas atau tidak
    puas, tergantung pada ada atau tidaknya keadilan (equity) dalam suatu
    situasi, khususnya situasi kerja.
  5. Teori dua faktor (two factor theory)
    Menurut teori ini kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja itu
    merupakan hal yang berbeda. Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap
    perkerjaan itu bukan suatu variabel yang kontinue