- Menurut Shaub, et al (1993) sensitivitas etika adalah kemampuan untuk menyadari adanya nilai-nilai etika dalam suatu keputusan. Rest (1986) menyatakan bahwa individu dapat terlibat dalam perilaku tidak etis jika mereka gagal untuk mengenali kehadiran nilai-nilai etika. Hunt dan Vitel (1986) menjelaskan bahwa kemampuan seseorang untuk memahami masalah etis dipengaruhi oleh lingkungan budaya, lingkungan industri, lingkungan organisasi dan pengalaman pribadi. Rest (1986) mengajukan model atau rerangka analisis empat komponen kerangka kerja untuk meneliti pengembangan proses berpikir moral dan perilaku individu dalam mengambil keputusan. Empat komponen tersebut adalah: 1) Pengenalan individu akan keberadaan masalah etis dan pengevaluasian. 2) Penentuan perilaku moral secara ideal yang sesuai untuk sebuah situasi. 3) Keputusan pada tindakan yang dimaksud berkaitan dengan berbagai hasil yang dinilai dan implikasi moralnya. 4) Pelaksanaan perilaku yang dimaksud. The Ethics Education Framework yang dipresentasikan oleh Dewan Standar Pendidikan Akuntansi Internasional dalam Alteer, et al (2013) menggambarkan sensitivitas etika sebagai kemampuan individu untuk mengenali ancaman etika dan menyadari tindakan alternatif yang dapat memecahkan masalah etika. Hal ini juga mencakup pemahaman bagaimana setiap tindakan alternatif mempengaruhi pihak-pihak yang terkait. Meningkatkan sensitivitas etika melalui pendidikan etika akan memungkinkan akuntan atau auditor untuk lebih mudah mengidentifikasi ancaman apapun. Saat individu berhadapan dengan dilema etika, persepsi individu dievaluasi dalam nilai etika atau penilaian moral untuk membuat keputusan. Namun, individu pertama-pertama harus memahami masalah etika untuk mengevaluasi situasi. Penilaian etika berasal dari pertimbangan nilai moral yang membimbing perilaku (Roxas dan Stoneback, 1997)
Teori Etika (skripsi dan tesis)
Etika berasal dari kata Yunani yaitu ethos yang berarti norma-norma, nilainilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia. Pojman (1989) menyatakan bahwa etika dapat dijelaskan sebagai usaha sistematis untuk mengerti arti konsep moral. Lebih lanjut, Pojman menyatakan konsep moral dapat dijelaskan sebagai suatu perbedaan antara yang benar dan salah, baik dan buruk serta adil dan tidak adil. Hilmarsen (2011) menyebutkan bahwa perbedaan antara etika dan moral sangat jelas dalam filsafat, etika dapat dipandang sebagai teori dan moralitas sebagai praktiknya. Teori etika dapat dijadikan sebagai pedoman bagi auditor sebagai individu dalam bertindak dan menjalankan profesinya. Profesi auditor membutuhkan pengabdian yang besar dan komitmen moral yang tinggi pada masyarakat. Hal itu disebabkan karena tuntutan masyarakat untuk memperoleh jasa auditor dengan standar kualitas yang tinggi. Standar etika diperlukan bagi profesi auditor karena auditor memiliki posisi sebagai orang kepercayaan dan menghadapi kemungkinan benturan-benturan kepentingan. Hal tersebut mendorong profesi auditor menetapkan standar teknis dan standar etika yang harus dijadikan panduan oleh para auditor dalam melaksanakan audit. Seorang auditor seringkali berada dalam konflik audit saat melaksanakan tugasnya. Konflik yang terjadi akan berkembang menjadi dilema etika ketika auditor menghadapi situasi pembuatan keputusan yang menyangkut independensi dan integritas dengan imbalan ekonomis (Tsui, 1996; Tsui dan Gul, 1996). Menurut Duska (2003), teori etika dikembangkan dalam tiga bagian yaitu: 1) Utilitarianism Theory Teori ini membahas mengenai optimalisasi pengambilan keputusan individu untuk memaksimumkan manfaat dan meminimalkan dampak negatif. Terdapat dua jenis utilitarisme yaitu: a. Act Utilitarisme yaitu perbuatan yang bermanfaat untuk banyak orang. b. Rule Utilitarisme yaitu aturan moral yang diterima oleh masyarakat luas. 2) Deontologi Theory Teori ini membahas mengenai kewajiban individu untuk memberikan hak kepada orang lain, sehingga dasar untuk menilai baik atau buruk suatu hal harus didasarkan pada kewajiban, bukan konsekuensi perbuatan. Para penganut etika deontologi seperti Imanuel Kant berpendapat bahwa norma moral itu mengikat secara mutlak dan tidak tergantung dari apakah ketaatan atas norma itu membawa hasil yang menguntungkan atau tidak, misalnya normal moral tidak boleh berbohong dan harus bersikap adil, tidak memerlukan pertimbangan menguntungkan atau tidak, melainkan harus selalu ditaati. Hukum moral mengikat mutlak semua manusia sebagai mahluk rasional (Desjardins, 2006). 1) Virtue Theory Teori ini menjelaskan disposisi watak seseorang yang memungkinkan untuk bertingkah laku baik secara moral. Virtue ethics berasal dari pemikiran Aristoteles yang mencoba membuat konsep mengenai kehidupan yang baik. Menurut Aristoteles kebahagiaan adalah kegiatan jiwa bukan kegiatan fisik sebagaimana konsep kebahagiaan hedonism. Individu akan akan mencapai kebahagiaan dengan dengan kehidupan yang penuh kebijakan. Menurut Aristoteles seseorang akan menjadi individu baik jika secara teratur melakukan tindakan kebijakan dan pendidikan etika dibutuhkan untuk mengetahui tindakan-tindakan baik. Teori ini berfokus kepada karakter moral dari pengambil keputusan, bukan konsekuensi dari keputusan (utilitarianisme) atau motivasi dari pengambil keputusan (deontologi). Menurut Brooks dan Dunn (2012), ada dua permasalahan utama dari virtue ethics adalah menentukan virtues apa yang harus dimiliki seseorang sesuai dengan jabatan serta tugasnya, dan bagaimana virtues ditunjukkan di tempat kerja
Standar Manajemen Mutu dan Keselamatan Pasien (MMKP) (skripsi dan tesis)
Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin keselamatan pasien maka setiap ruangan perlu mempunyai program peningkatan mutu dan keselamatan pasien agar bisa menjadi budaya. Pelaksanaan program tersebut memerlukan koordinasi dan komunikasi yang baik antara kepala ruang dan staf.
Standar Manajemen Perubahan (MP) (skripsi dan tesis)
Manajemen perubahan digunakan untuk merencanakan dan menindaklanjuti akibat yang terjadi dari perubahan dalam organisasi sebagai upaya untuk menjalankan tata kelola organisasi yang dinamis dalam menghadapi perkembangan jaman. Organisasi yang mau dan mampu melakukan perubahan akan bertahan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perubahan membawa dampak pada rasa nyaman sehingga hal ini dihindari banyak staf dalam organisasi, karena mempertahankan status yang ada. Oleh karena itu perubahan perlu persiapan dan harus direncanakan serta dikelola dengan baik. Organisasi kita selalu melakukan proses perbaikan dengan selalu bergerak dan berubah menuju ke arah yang lebih baik. Dalam era JKN saat ini hal yang bisa dilakukan untuk tetap dapat eksis melayani pasien dan rumah sakit tetapi tetap memperoleh pendapatan yang memadai untuk melakukan operasional baik pelayanan pasien, SDM dan investasi, salah satunya adalah dengan efisiensi di semua bidang. Pelayanan Keperawatan adalah tempat yang bisa digunakan untuk melakukan implementasi program efisiensi ini. Tujuan dari standar ini adalah supaya kepala ruang melakukan proses perubahan di masing masing unitnya secara terencana, terpantau dan mempunyai target, dengan demikian sekaligus untuk melatih para manajer keperawatan melakukan sesuatu secara terprogram dengan baik. Dalam implementasinya kepala ruang diharapkan dapat menyiapkan strategi perubahan sehingga staf ikut terlibat dalam upaya peningkatan mutu dan melakukan efisiensi dan menghilangkan pemborosan dalam pelayanan. Program ini dilaksanakan secara terus menerus berkelanjutan dilakukan setiap tahun. Oleh karena itu dipersyaratkan dibuat program minimal satu strategi perubahan setiap tahunnya. Strategi perubahan yang dipilih dituangkan dalam satu tulisan, yang terlebih dahulu dipresentasikan oleh kepala ruang dan disetujui Bidang Perawatan, dengan harapan semua progran sejalan dengan visi dan misi RSUP Dr Kariadi.
Standar Manajemen Logistik (Manlog) (skripsi dan tesis)
Pelayanan keperawatan memerlukan dukungan logistik, dengan berbagai macam barang kebutuhan ruang yang harus dikelola dengan baik, hal tersebut menjadi bagian dari tanggung jawabnya kepala ruang, yang secara teknis dilakukan oleh para staf di bawah tanggung jawabnya. Standar manajemen logistik ini membahas pengelolaan logistik yang mencakup integrasi informasi, transportasi, inventori, perawatan, pengelolaan, penyimpanan dan distribusi di setiap unit sesuai standar. Tujuan dari standar ini adalah agar kepala ruang dapat mengoptimalkan logistik yang disediakan rumah sakit sehingga dapat memanfaatkan barang yang ada secara efektif dan efisien, tepat waktu dan jumlah, mengelola dalam kondisi yang tepat, dan perencanaan biaya yang tepat sehingga dapat memberikan kontribusi yang baik untuk rumah sakit. Logistik yang dimaksud adalah pengelolaan obat, Bahan Berbahaya dan Beracun / B3, peralatan medis, non medis, linen, bahan habis pakai, pengelolaan sampah dan benda tajam serta dikelola dengan prinsip 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin).
Pengertian Manajemen ruang rawat (Manrura) (skripsi dan tesis)
Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit menjelaskan bahwa “Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan peroengertian Manajemen ruang rawat (Manrura) Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit menjelaskan bahwa “Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat” (Kemenkes RI, 2009). Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi mempunyai tanggung jawab horizontal dan vertikal sesuai dengan peran dan fungsinya. Tanggung jawab tersebut menjadi tugas bersama seluruh civitas organisasi dengan Visi “Menjadi Rumah Sakit Pendidikan dan Rujukan Nasional Yang Unggul” (Wibowo, 2014). Manajemen ruang rawat (Manrura) merupakan salah satu program inovasi dari RSUP Dr. Kariadi Semarang untuk melakukan tata kelola manajemen dalam menjalankan kegiatan operasional organisasi. Pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan, dimana hal tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan pelayanan dan citra rumah sakit dikarenakan langsung berhubungan dengan pasien dan Profesional Pemberi Asuhan (PPA), dengan demikian pemberi pelayanan keperawatan memerlukan proses bimbingan, monitoring dan evaluasi untuk mempertahankan performa pelayanan (Sadono, 2019). Evaluasi kinerja para perawat yang diberikan program manrura dilakukan setiap empat bulan oleh tim independen dengan teknik “Redowsko”(Regulasi, Dokumen, Wawancara, Simulasi, Konfirmasi, dan Observasi). Berdasarkan hal tersebut diatas diharapkan pelayanan yang diberikan oleh Perawat Pelaksana (PP), Perawat Penanggung Jawab Asuhan (PPJA), bersama dengan Profesional Pemberi Asuhan (PPA), dilakukan secara terarah dan terintegrasi, untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien (Sadono, 2019).rangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat” (Kemenkes RI, 2009). Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi mempunyai tanggung jawab horizontal dan vertikal sesuai dengan peran dan fungsinya. Tanggung jawab tersebut menjadi tugas bersama seluruh civitas organisasi dengan Visi “Menjadi Rumah Sakit Pendidikan dan Rujukan Nasional Yang Unggul” (Wibowo, 2014). Manajemen ruang rawat (Manrura) merupakan salah satu program inovasi dari RSUP Dr. Kariadi Semarang untuk melakukan tata kelola manajemen dalam menjalankan kegiatan operasional organisasi. Pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan, dimana hal tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan pelayanan dan citra rumah sakit dikarenakan langsung berhubungan dengan pasien dan Profesional Pemberi Asuhan (PPA), dengan demikian pemberi pelayanan keperawatan memerlukan proses bimbingan, monitoring dan evaluasi untuk mempertahankan performa pelayanan (Sadono, 2019). https://repository.unimus.ac.id Evaluasi kinerja para perawat yang diberikan program manrura dilakukan setiap empat bulan oleh tim independen dengan teknik “Redowsko”(Regulasi, Dokumen, Wawancara, Simulasi, Konfirmasi, dan Observasi). Berdasarkan hal tersebut diatas diharapkan pelayanan yang diberikan oleh Perawat Pelaksana (PP), Perawat Penanggung Jawab Asuhan (PPJA), bersama dengan Profesional Pemberi Asuhan (PPA), dilakukan secara terarah dan terintegrasi, untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien (Sadono, 2019).
Peti-Kemas (Containerization) (skripsi dan tesis)
Peti-kemas menunjukkan pengelompokan karton-karton induk untuk penanganan atau pengangkutan. Konsep peti-kemas meliputi semua bentuk penyatuan (Unitization), dari penggabungan dari 2 karton induk sampai kepada pemakaian TOFC khusus atau pengaturan transport terkoordinir lainnya. Semua peti-kemas ini hanya mempunyai satu tujuan pokok, yaitu meningkatkan efisiensi penanganan material dalam sistem operasi logistik. Peti-kemas dibagi menjadi dua yaitu peti-kemas yang tak kaku (Nonrigid containerization) dan peti-kemas kaku (Rigid containerization). (Bowersox, 2002) 1. Peti-kemas yang tak kaku (Nonrigid containerization) Peti-kemas yang tak kaku (Nonrigid containerization) ini tidak dilindungi oleh penutup yang lengkap. Variasinya yang paling lazim adalah menumpukkan karton-karton induk diatas pallet untuk maksud penanganan material. Pallet adalah sebuah landasan atau anjungan mendatar yang digunakan sebagai landasan untuk merakit, menyimpan dan memindahkan barang sebagai satu satuan muatan dan biasanya terdiri atas dua permukaan rata yang dipisahkan oleh tiga balok. Ciri-ciri pallet antara lain (Apple, 1990) : 1. Dapat diperlebar, serbaguna, atau untuk pemakaian khusus 2. Dapat bermuka dua atau tunggal 3. Dapat berbalik rendah dengan sayap tunggal atau ganda 4. dapat mempunyai satu, dua atau empat arah pemasukan 5. Terbuat dari kayu, kayu lapis, logam, plastik dan lain sebagainya 6. Melindungi barang yang sedang dipindah dari kerusakan, kebocoran dan lainnya 7. Mempermudah penyimpanan 8. Meningkatkan kebersihan dan pemeliharaan barang 9. Menyimpan barang tidak pada lantai (lepas pada lantai) sehingga mudah dipindahkan 10. Berguna untuk : – Sistem yang menggunakan banyak truk-bergarpu – Pemanfaatan barang – Pemanfaatan kubik bangunan – Meningkatkan ukuran muatan – Mengurangi pemindahan barang-barang secara satu demi satu – Meminimumkan pengepakan barang-barang secara satu demi satu a. Tipe dan Ukuran Pallet Kebanyakan asosiasi memilih suatu ukuran pallet yang standar untuk dipakai seluas mungkin oleh perusahaan-perusahaan besar dalam industri itu. Misalnya (Grocery manufacturers of America = Pengusaha pangan Amerika) telah menerima atau mengambil ukuran pallet 40 kali 48 inci dengan 4 jalan masuk sebagai konfigurasi yang diusulkan untuk distribusi pangan. Ukuran yang paling sering dipakai adalah 40 kali 48 inci, 32 kali 40 inci dan kali 36 inci. Jika sebuah pallet memberikan 4 jalan masuk (four-way-entry), maka pallet itu dapat digerakkan oleh peralatan penanganan dari sisi mana saja. Semakin besar sebuah pallet maka semakin ekonomis. Penentuan ukuran pallet didasarkan atas ukuran muatan, kecocokannya (Comptability) dengan peralatan penanganan dan transport yang dipakai diseluruh sistem logistik, dan praktek-praktek industri yang standard. Berbagai material yang dapat dipakai untuk membuat pallet adalah kayu keras (hardwood), tetapi ada juga yang terbuat dari baja, plastik, alumunium dan berbagai material sintetis. b. Penumpukan Karton Induk Ada 4 metode penumpukan yang dipakai dalam menyusun karton induk diatas pallet yaitu penumpukan dengan bentuk balok, bata, baris dan roda-jepit. Metode balok dipakai untuk karton yang sama lebar dan panjangnya. Jika panjang dan lebarnya berbeda yang dipakai adalah pola bata, baris dan roda-jepit. Untuk metode bata, baris dan roda-jepit kartonkarton yang ditempatkan diatas pallet dengan susunan dalam pola saling mengunci (interlocking) dengan tingkat-tingkat yang berdekatan pada sudut 0 90 satu sama lainnya. Stabilitas muatan akan meningkat dengan susunan saling mengunci (interlocking). c. Pengamanan Muatan Pallet Stabilitas pola pallet itu belum menjamin pengamanan muatan itu sementara pallet ditangani (handled) atau sewaktu dalam perjalanan. Metode-metode yang standard untuk menambah stabilitasnya meliputi pengikatan dengan tali, tiang-tiang disudut, lilitan baja, penggandengan dan pengeleman (glue bonding). d. Penentuan Posisi Pallet Untuk menentukan posisi pallet ada dua metode yaitu posisi 0 90 atau persegi dan posisi menyudut (angle). Posisi 0 90 atau persegi berarti pallet diletakkan tegak lurus pada gang (perpendicular to the aisle). Penempatan posisi menyudut berarti pallet ditempatkan pada suatu sudut. Sudut-sudut yang dipakai berkisar antara 0 10 sampai 0 45 dengan 0 26 yang paling lazim. Metode persegi digunakan dalam gudang- ,5 gudang yang mula-mula karena mudahnya denahnya. Sedangkan metode menyudut memberikan potensi yang lebih besar untuk efisiensi operasi. Lebar gang dapat dikurangi karena truk fork-lift dapat meletakkan pallet dalam sistem penempatan sudut ini tanpa perlu memutar penuh 0 90 . Efisiensi operasi meningkat karena mudahnya penempatan yang disebabkan oleh pendeknya pemutaran. Dalam keadaan tertentu, ganggang yang dikurangi (reduced aisles) dapat mengimbangi kerugian karena penyudutan (losses due to angling). (Bowersox, 2002). 2. Peti Kemas Kaku (Rigid containerization) Peti Kemas Kaku (Rigid containerization) adalah kotak didalam dimana ditempatkan karton-karton induk atau produk-produk lepas (loose product) selama dalam penggudangan dan perjalanan (transportation). Tujuannya adalah menempatkan barang kedalam suatu peti-kemas yang dapat melindungi dan juga mudah menanganinya (Bowersox, 2002). Manfaat dan kelebihan dari peti-kemas kaku antara lain : 1. Memperbaiki seluruh efisiensi pengangkutan material 2. Mengurangi kerusakan dalam penanganan dan perjalanan 3. Mengurangi pencurian 4. Mengurangi kebutuhan pengepakan pelindung 5. Meningkatkan proteksi terhadap produk dari lingkungan unsur 6. Memberikan satuan pengiriman yang dapat dipakai berkali-kali, sehingga mengurangi pemborosan dan tidak perlu membuang petikemas itu. Hambatan mengapa peti-kemas kaku belum terwujud didalam negri karena adanya 4 faktor berikut ini : 1. Sikap dan praktek para pengangkut (carrier) 2. Kurangnya standard 3. Kurangnya kepemimpinan 4. Kurangnya koordinasi
Jenis Peralatan Material Handling (skripsi dan tesis)
Terdapat empat jenis peralatan pemindah: (1) penghantar, (2) derek dan kerekan, (3) truk, (4) peralatan tambahan. Untuk masing-masing jenis klasifikasi lebih lanjut yaitu (Apple, 1990) : 1.Penghantar. Peralatan yang menggunakan gaya berat atau tenaga (mesin) biasanya digunakan untuk memindahkan muatan merata dari tempat ke tempat yang lain sepanjang satuan lintasan tetap, dengan fungsi utama menghantar. Contoh peralatan yang digunakan antara lain : a. Roda penghantar b. Sabuk penghantar c. Corong d. Rantai penghantar e. Keranjang penghantar f. Penghantar pneumatik g. Conveyor (ban berjalan) 2. Derek dan kerekan. Peralatan layang digunakan untuk memindahkan berbagai beban atau muatan secara serentak dan terputus-putus antara dua tempat yang tetap, melalui dukungan dan pengarahan rel, dengan fungsi utama memindahkan. Contoh peralatan yang digunakan antara lain : a. Derek-layang pemindah b. Derek jembatan c. Derek dinding d. Kerekan e. Derek penumpuk f. Monorel g. Cranes (derek) dan hoists (kerekan) 3. Truk industri. Kendaraan tangan atau bermesin yang digunakan untuk memindahkan beban campuran atau sejenis secara serentak sepanjang berbagai lintasan yang mempunyai permukaan dapat dilalui, dengan fungsi utama mengangkut. Contoh peralatan yang digunakan antara lain : a. Truk pengangkat (fork lift trucks) b. Truk anjungan (fork trucks) c. Truk tangan beroda dua (hand trucks) d. Kereta traktor-gandengan (trailer trains) e. Truk tangan penumpuk f. Truk dorong g. Automated guided vehicles (AGV) 4. Perlengkapan tambahan. Peralatan atau penunjang yang digunakan dengan peralatan pemindah agar lebih mudah dalam pemakaiannya. Contoh perlengkapan yang digunakan antara lain : a. Palet, gerobak b. Peti kemas c. Peralatan kait d. Penunjang truk-pengangkat e. Papan galangan dan pengaras f. Pemuat dan penurun muatan palet g. Penempat, peletak h. Peralatan penimbang
Jalan Lintasan (Aisle) Didalam Pemindahahan Barang (skripsi dan tesis)
Jalan lintasan atau aisle dalam gudang dipergunakan terutama untuk dua hal yaitu komunikasi dan transportasi. Perencanaan yang baik dari pada jalan lintasan ini akan banyak menentukan proses gerakan perpindahan dari personil, barang ataupun peralatan pemindah. Dengan demikian maka jalan lintasan ini dalam pabrik maupun gudang akan dipergunakan antara lain: Material handling Gerakan perpindahan personil Finished good product handling Pembuangan sekrap dan limbah industri lainnya Pemindahan peralatan produksi baik untuk pergantian baru maupun untuk perawatan Kondisi-kondisi darurat semacam kebakaran dan lain-lain Didalam penentuan lokasi dari jalan lintasan ini maka akan dijumpai dua macam problema utama yaitu: Di lokasi mana jalan lintasan tersebut akan ditempatkan Berapa lebar jalan lintasan yang sebaiknya diambil Pada dasarnya ada dua macam jalan lintasan yang umum dijumpai dalam suatu pabrik yaitu jalan lintasan utama (main aisle) dan jalan lintasan intern departemen (departemental aisle). Jalan lintasan utama disebut juga dengan back-bone aisle dipakai untuk lalu lintas perpindahan bahan dari satu departemen ke departemen yang lain dan juga perpindahan bahan dari luar ke dalam pabrik dan sebaliknya. Sedangkan jalan lintasan intern departemen dipergunakan untuk gerakan perpindahan bahan di dalam departemen itu sendiri. Suatu pabrik umumnya mempunyai sekurang-kurangnya satu jalan lintasan utama yang ditempatkan pada/atau dekat tengah-tengah bangunan (center of building) dan mempunyai lebar sekitar 10 sampai 20 feet atau sekitar 3 sampai 7 meter tergantung pada kebutuhan dan luas area pabrik yang ada.
Pola-pola Aliran Umum Gerak Barang (skripsi dan tesis)
Pola aliran ini menggambarkan barang masuk sampai barang keluar gudang. Beberapa pola aliran umum adalah (Purnomo, 2004): 1. Pola aliran garis lurus (Straight line) digunakan untuk proses pemindahan barang berlangsung pendek dan sederhana. 2. Pola aliran serpentine atau zig-zag (S-Shaped) dapat diterapkan jika lintasan lebih panjang dari ruangan yang dapat ditempatinya. 3. Pola aliran bentuk U (U-Shaped) digunakan jika aliran masuk barang dan aliran keluarnya barang pada lokasi yang relatif sama. 4. Pola aliran melingkar (Circular) digunakan jika keluar masuknya barang pada satu tempat/satu pintu, kondisi ini untuk memudahkan dalam pengawasan keluar masuknya barang. 5. Pola aliran bersudut ganjil (Old angle) merupakan pola tak tentu, tetapi sering digunakan untuk kondisi-kondisi seperti: a) Bilamana tujuan utamanya adalah untuk memperpendek lintasan aliran antar kelompok dari wilayah yang berdekatan. b) Bilamana proses handling dilaksanakan secara mekanis. c) Bilamana keterbatasan ruangan menyebabkan pola aliran yang lain terpaksa tidak dapat diterapkan. d) Bilamana lokasi permanen dari fasilitas yang ada menuntut pola seperti itu.
Tujuan Material Handling (skripsi dan tesis)
Tujuan utama dari perencanaan material handling adalah untuk mengurangi biaya produksi. Beberapa tujuan dari sistem material handling antara lain (Purnomo,2004) : 1. Menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan, dan memberikan perlindungan terhadap material. 2. Meningkatkan keamanan dan mengembangkan kondisi kerja. 3. Meningkatkan produktivitas: a. Material akan mengalir pada garis lurus b. Material akan berpindah dengan jarak sedekat mungkin c. Perpindahan sejumlah material pada satu kali waktu d. Mekanisasi penanganan material e. Otomasi penanganan material f. Menjaga atau mengembangkan rasio antara produksi dan penanganan material g. Meningkatkan muatan/beban dengan penggunaan peralatan material handling 4. Meningkatkan tingkat penggunaan fasilitas : a. Meningkatkan penggunaan bangunan b. Pengadaan peralatan serbaguna c. Standardisasi peralatan material handling d. Menjaga dan menempatkan seluruh peralatan sesuai kebutuhan dan mengembangkan program pemeliharaan preventif e. Integrasi seluruh peralatan material handling dalam suatu sistem 5. Mengurangi bobot mati 6. Sebagai pengawasan persediaan
Pengertian Material Handling (skripsi dan tesis)
Terdapat banyak definisi atau pengertian untuk material handling. Secara umum ada dua definisi yaitu : 1. Material handling adalah seni dan ilmu pengetahuan dari perpindahan, penyimpanan, perlindungan dan pengawasan material. Seni. Material handling dapat dinyatakan sebagai seni karena masalah-masalah material handling tidak dapat secara eksplisit diselesaikan semata-mata dengan formula atau model matematika. Ilmu pengetahuan. Material handling dapat dinyatakan sebagai ilmu pengetahuan karena menyangkut metode engineering. Mendefinisikan masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, membuat alternatif solusi, evaluasi alternatif, memilih dan mengimplementasikan alternatif terbaik merupakan integral dari penyelesaian masalah material handling dan proses perancangan sistem. Perpindahan. Perpindahan material membutuhkan waktu dan memerlukan penggunaan tempat (yaitu penanganan material digunakan pada waktu yang tepat dan pada waktu yang benar). Perpindahan material memerlukan kesesuaian antara ukuran, bentuk, berat dan kondisi material dengan lintasannya dan analisis frekuensi gerakan. Penyimpanan. Penyimpanan material sebagai penyangga antar operasi, memudahkan dalam pekerjaan manusia dan mesin. Yang perlu dipertimbangkan dalam penyimpanan material antara lain, ukuran berat, kondisi dan kemampuan tumpukan material, keperluan untuk mengambil dan menempatkan material, kendala-kendala bangunan seperti beban lantai, kondisi lantai, jarak antar kolom dan tinggi bangunan. Perlindungan. Yang termasuk dalam perlindunagn material antara lain pengawasan, pengepakan, dan pengelompokan material untuk melindungi kerusakan dan kehilangan material. Sistem material handling harus dirancang untuk meminimasi keperluan pengawasan dan untuk menurunkan biaya. Pengawasan. Pengawasan material terdiri dari pengawasan fisik dan pengawasan status material. Pengawasan fisik adalah pengawasan yang berorientasi pada susunan dan jarak penempatan antar material. Sedang pengawasan status adalah pengawasan tentang lokasi, jumlah tujuan, kepemilikan, keaslian dan jadwal material. Material. Secara luas, material dapat berbentuk bubuk, padat, cair dan gas. Sistem penanganan diantara bentuk material mempunyai perlakuan yang berbeda diantara bentuk material. 2. Material handling mempunyai arti penanganan material dalam jumlah yang tepat dari material yang sesuai dalam kondisi yang baik pada tempat yang cocok, pada waktu yang tepat dalam posisi yang benar, dalam urutan yang sesuai dan biaya yang murah dengan menggunakan metode yang benar. Jika digunakan metode yang sesuai, maka sistem material handling akan terjamin/aman dan bebas dari kerusakan (Purnomo, 2004)
Fasilitas yang Diperlukan untuk Pergudangan (skripsi dan tesis)
Untuk menjamin kelancaran operasi penerimaan, maka beberapa fasilitas yang harus ada di dalam pergudangan antara lain adalah (Purnomo, 2004): 1. Area yang cukup digunakan untuk menempatkan alat angkutan 2. Dock door atau pintu dermaga sesuai dengan alat angkut yang biasa keluar masuk pabrik 3. Dock board, yaitu suatu alat sebagai jembatan penghubung antara lantai dock (dermaga) dan lantai trailer, untuk memudahkan perpindahan material dari trailer ke dermaga 4. Area untuk palet atau peti kemas barang produk 5. Area untuk penempatan produk sebelum dilakukan pengiriman 6. Suatu kantor untuk kegiatan administrasi 7. Serta fasilitas lain, seperti area untuk gang (aisle), jalan masuk dan sebagainya.
Aliran Gerak Barang dalam Pergudangan (skripsi dan tesis)
Menurut aliran kerja dari pergudangan, fungsi pergudangan merupakan rangkaian dari aktivitas-aktivitas berikut ini (Purnomo, 2004). 1. Receiving, yaitu melakukan penerimaan bahan dari pemasok 2. Prepackaging. Setiap bahan yang diterima setelah dilakukan aktivitas administrasi (pencatatan material masuk) selanjutnya dilakukan pengepakan. Pengepakan bisa dilakukan satu persatu dari satu komponen, bisa juga dikombinasikan dengan komponen lainnya. 3. Putaway. Material yang sudah dilakukan pengepakan (kemasan) ditempatkan pada tempat penyimpanan sebelum dilakukan proses selanjutnya. 4. Storage/Gudang, merupakan proses penahanan barang sambil menunggu permintaan. Bentuk gudang tergantung ukuran dan kuantitas item didalam persediaan dan karakter dari proses pemindahan/penanganan produk. 5. Orderpicking. Merupakan proses pemindahan/pengambilan komponen dari tempat penyimpanan (misalnya dari palet rak), memilih dan mengetahui sejauh mana barang sesuai dengan permintaan. 6. Pengepakan dan atau pemberian harga. Proses ini dilakukan setelah proses pemungutan/pengambilan barang dari tempat penyimpanan. Sama halnya dalam aktivitas prepacking, item-item barang baik secara individu maupun kombinasi dari beberapa item barang dilakukan pengepakan. Kemudian dilakukan penetapan daftar harga barang. 7. Sortation, merupakan Proses penyortiran barang yang tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan. 8. Proses pemuatan dan pengiriman. Sebelum dilakukan pengepakan dan pengirimasn ke pelanggan, maka terlebih dahulu dilakukan pengecekan barang yang akan dilempar ke pasar, kemudian dipak didalam kontainer yang sesuai., dengan meneliti dokumen-dokumen pengiriman termasuk packing list, pelabelan alamat dan bill of loading. Tugas lain adalah menimbang berat untuk menentukan biaya pengiriman, dan memuatnya kedalam alat angkut.
Manfaat Pergudangan (skripsi dan tesis)
Secara garis besar manfaat pergudangan antara lain (Purnomo, 2004): 1. Manufacturing support (pendukung proses produksi). Operasi pergudangan mempunyai peranan sangat penting dalam proses produksi. Sistem administrasi, proses penyimpanan, transportasi dan material handling, serta aktivitas lain dalam pergudangan diatur sedemikian hingga proses produksi berlangsung sesuai dengan target yang hendak dicapai. 2. Product mixing. Menerima pengiriman barang berbagai macam dalam jumlah besar dari berbagai sumber dan dengan sistem material handling baik otomatis maupun manual dilakukan penyortiran dan menyiapkan pesanan pelanggan selanjutnya mengirimnya ke pelanggan. 3. Sebagai perlindungan terhadap barang. Gudang merupakan jenis peralatan/ tempat dengan sistem pengamanan yang dapat diandalkan. Dengan demikian barang akan mendapatkan jaminan keamanan baik dari bahaya pencurian, kebakaran,banjir serta problem keamanan lainnya. 4. Dalam sistem pergudangan, material yang berbahaya dan material yang tercemar akan dipisahkan. Beberapa material ada yang beresiko membahayakan dan menimbulkan pencemaran, untuk itu dengan menggunakan kode keamanan tidak diizinkan material yang beresiko tersebut di tempatkan dekat dengan lokasi pabrik. 5. Sebagai persediaan. Untuk melakukan peramalan permintaan produk yang akurat merupakan hal yang sulit. Agar dapat melayani pelanggan setiap waktu operasi pergudangan dapat digunakan sebagai alternatif tempat persediaan barang
Jenis Gudang (skripsi dan tesis)
Terdapat beberapa jenis tempat penyimpanan yaitu antara lain : 1. Gudang bahan baku 2. Gudang komponen/suku cadang/barang dalam proses 3. Gudang barang produk jadi 4. Gudang pemasok kantor 5. Gudang peralatan Dari beberapa macam gudang diatas, gudang bahan baku dan gudang komponen, serta barang jadi memerlukan ruangan dan perhatian yang lebih dominan. Ruangan yang diperlukan untuk proses penyimpanan tergantung dari keputusan manajemen perusahaan dalam hal persediaan. Sedang menurut tenggang waktu penyimpanan, tempat penyimpanan/gudang dapat dibedakan atas gudang secara temporare dan gudang semi permanen. Temporare dalam arti barang disimpan/ditempatkan hanya untuk sementara waktu menunggu proses operasi berikutnya. Penyimpanan semi permanen merupakan proses penyimpanan barang jadi yang siap dilakukan pengiriman.(Purnomo, 2004) 1. Penyimpanaan sementara Suatu proses produksi yang dilakukan dengan melewati beberapa operasi akan menghasilkan barang setengah jadi, yaitu barang yang harus menunggu dilakukannya proses operasi berikutnya. Untuk barang setengah jadi, tempat penyimpanan bisa dilakukan dengan dua cara, yang pertama yaitu barang disimpan pada tempat tertentu dalam periode yang agak panjang sampai barang tersebut diperlukan. Sebagian besar penyimpanan barang setengah jadi dilakukan demikian. Yang kedua adalah dengan menaruh barang setengah jadi diantara tempat kerja atau mesin-mesin. Hal ini dapat dilakukan mengingat barang tersebut dalam waktu yang relatif tidak lama segera dilakukan proses operasi berikutnya. 2. Penyimpanan semi permanen Penyimpanan semi permanen merupakan penyimpanan untuk barangbarang menunggu perintah dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Yang termasuk barang-barang ini adalah barang produk jadi, barang sisa, skrap dan barang buangan perlu disimpan karena seringkali barang tersebut masih digunakan sebagai bahan baku utama dari perusahaan lain.
Fungsi Gudang (skripsi dan tesis)
Tujuan dari adanya tempat penyimpanan dan fungsi dari pergudangan secara umum adalah memaksimalkan penggunaan sumber-sumber yang ada disamping memaksimalkan pelayanan terhadap pelanggan dengan sumber yang terbatas. Dalam perancangan gudang dan sistem pergudangan diperlukan hal-hal berikut ini (Purnomo, 2004) : 1. Memaksimalkan penggunaan ruangan 2. Memaksimalkan penggunaan peralatan 3. Memaksimalkan penggunaan tenaga kerja 4. Memaksimalkan kemudahan dalam penerimaan seluruh material dan pengiriman barang 5. Memaksimalkan perlindungan terhadap material Tujuan umum dari metode penyimpanan barang (Apple, 1990) : 1. Penggunaan volume bangunan yang maksimum 2. Penggunaan waktu, buruh dan perlengkapan yang benar 3. Kemudahan pencapaian bahan 4. Pengangkutan bahan yang cepat dan mudah 5. Identifikasi barang yang baik 6. Pemeliharaan barang yang baik 7. Penampilan yang rapi dan tersusun.
Misi Pergudangan (skripsi dan tesis)
Sebagai fasilitas pelayanan produksi, pergudangan mempunyai misi antara lain sebagai berikut : 1. Sebagai penyeimbang dan penyangga bervariasinya antara jadwal produksi dan permintaan. Pergudangan biasanya ditempatkan dekat dengan titik proses produksi. Frekuensi aktivitas penambahan persediaan dilakukan dalam periode bulanan sampai tiga bulanan. 2. Sebagai produk mixing. Digunakan untuk menghimpun dan penggabungan produk dari berbagai macam proses produksi dari suatu perusahaan atau beberapa perusahaan sebelum dikirim kepada pelanggan. 3. Pergudangan akan memperpendek jarak transportasi dalam pendistribusian barang. Dengan frekuensi pengambilan item dan pengirimannya ke pelanggan dilakukan setiap hari (Purnomo, 2004)
Definisi Gudang (skripsi dan tesis)
Gudang atau storage merupakan tempat menyimpan barang baik bahan baku yang akan dilakukan proses manufakturing, maupun barang jadi yang siap dipasarkan. Sedangkan pergudangan tidak hanya kegiatan penyimpanan barang saja, melainkanDefinisi Gudang (skripsi dan tesis) proses penanganan barang mulai dari penerimaan barang, pencatatan, penyimpanan, pemilihan, penyortiran, pelabelan, sampai dengan proses pengiriman barang (Purnomo, 2004). Sistem produksi tepat waktu akan menjadikan operasi pergudangan seperti proses penerimaan barang, pencatatan dan proses pergudangan lainnya dilakukan seefektif dan seakurat mungkin. Empat hal utama dalam pergudangan yang saling terkait dan sangat penting antara lain : 1. Transportasi 2. Produksi 3. Pelayanan pelanggan 4. Biaya logistik
Objektif Model SCOR (skripsi dan tesis)
Model SCOR berperan sebagai basis dalam memahami cara rantai suplai mengoperasikan, mengidentifikasi semua pihak yang terkait, serta mengalisa kinerja rantai suplai. Model SCOR mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan. Model ini juga berperan sebagai basis bagi priyek perbaikan manajemen rantai suplai,dengan cara : a. Mengidentifikasi proses-proses dalam bahasa yang dapat dikomunikasikan ke seluruh elemen organisasi dan fungsional. b. Menggunakan terminology dan notasi standar,dan c. Menghubungkan berbagai aktifitas dengan ukuran/metric yang tepat mencakup setidaknya empat bidang : a. Interaksi antara seluruh penyuplai dan konsumen,mulai dari penerimaan pesanan hingga pembayaran tagihan b. Seluruh transaksi material fisik dari pihak penyuplai hingga konsumen pihak pelanggan,termasuk peralatan, bahan-bahan pendukung,suku cadang,produk curah,perangkat lunak dan lain-lain. c. Seluruh transaksi pasar,dari pemahaman akan permintaan agregat hingga pemenuhan setiap pesanan, dan d. Proses pengembalian. Meski demikian, terdapat beberapa keterbatsan SCOR. Model ini tidak mencakup proses administrasi penjualan,prpse pengembangan teknologi, proses disain dan pengembangan produk dan proses serta beberapa proses pendukung teknis pasca pengiriman. SCOR mengasumsikan namun tidak menyebut secara eksplisit kualitas dan administrasi teknologi informasi. SCOR terstruktur dalam enam proses manajemen berbeda : Plan,Source,Make, Deliver,Return dan Enable dari penyuplainya penyuplai hingga konsumen pihak pelanggan Pendekatan dalam membangun SCOR terdiri atas Proses,Praktik, Kinerja dan Keterampilan orang/SDM. Model SCOR menyajikan suatu kerangka bisnis proses yang unik, indicator kinerja, praktik terbaik dan tekonologi untuk mendukung komunikasi dan kolaborasi antarmitra rantai suplai, sehingga dapat meningkatkan efektivitas manajemen rantai suplai dan efektivitas penyempurnaan rantan suplai. Tabel notasi SCOR adalah bagian yang fundamental karena berperan sebagai acuan bahasa yang digunakan bersama untuk memfasilitasi pertukaran informasi di seluruh organisasi rantai suplai. Tabel ini memungkinkan para professional rantai suplai berbagai pengetahuan mereka mengenai prosesproses rantai suplai. Model SCOR bersifat hirarki,Lapisan pertama adalah tipe proses untuk menidentifikasi lingkup rantai pasok. Lapisan kedua adalah kategori proses yang memungkinkan anda mengkonfigurasi rantai suplai. Lapisan ketiga menunjukkan elemen-elemen proses,mendefinisikan rantai suplai,masukan/keluaran ( input/output ),indikator dan praktik terbaik..
COR sebagai Kerangka Proses Model (skripsi dan tesis)
referensi proses ini mengintegrasikan konsep-konsep terkemuka,yaitu perancangan proses bisnis,tolok ukur, serta analis praktik terbaik menjadi sebuah kerangka lintas fungsional. Perancangan proses bisnis menangkap kondisi saat ini (“as is”) dan mendapatkan kondisi yang dituju (“to-be”). Kinerja proses-proses tersebut akan diukur menggunakan serangkaian metric terstruktur. Tolok ukur digunakan untuk mengukur kinerja operasional dari perusahaanperusahaan sejenis dan menetapkan target-target internal berdasarkan hasil yang terbaik di kelasnya dengan menggunakan metric standar lintas industri. Analisis praktik terbaik dilakukan untuk menggambarkan prsktik-praktik manajemen, aturan-aturan bisnis dan aplikasi/solusi TI (teknologi informasi) yang menghasilkan kinerja yang terbaik di kelasnya.
Pengenalan SCOR (skripsi dan tesis)
Model SCOR disahkan oleh Supply Chain Council (SCC).SCC yang terbentuk pada tahun 19996 adalah asosiasi non profit inernasional dan independen dengan keanggotaan yang terbuka bagi semua perusahaan atau organisasi.Asosiasi ini berfokus pada riset,aplikasi serta upaya memajukan kecanggihan sistem dan praktik manajemen rantai suplai ( supply chain management ).Dengan menggunakan metode diagnastik dan tolok ukur (benchmarking) milinya SCC membantu perusahaan-perusahaan melakukan perbaikan nyata pada proses rantai suplai mereka (SCOR Version 11.0 Handbook,2014). Model SCOR diciptakan dalam rangka menyediakan suatu metode penilaian mandiri dan perbandingan aktivitas-aktivitas dan kinerja rantai pasok sebagai suatu standar manajemen rantai suplai lintas industry.Model ini menyajikan kerangka proses bisnis , indicator kinerja,praktik-praktik terbaik (best practice) serta teknologi yang unik untuk mendukung komunikasi dan kolaborasi antar mitra rantai suplai,sehingga dapat meningkatkan efektifitas manajemen rantai suplai dan efektivitas penyempurnaan rantai suplai (SCOR Version 11.0 Handbook,2014). Model SCOR adalah sebuah bahasa rantai suplai,yang dapat digunakan dalam berbagai konteks untuk merancang, mendeskripsikan, mengonfigurasi ulang berbagai jenis aktivitas komersial/bisnis. Penerapan model SCOR dalam batas-batas tertentu cukup fleksibel dan dapat disesuaikan untuk meningkatkan produktivitas demi memenuhi kebutuhan konsumen (SCOR Version 11.0 Handbook,2014). Model itu sendiri berisi beberapa bagian dan diselenggarakan sekitar lima manajemen utama Proses Plan, Source, Make, Deliver, dan Return
Model Supply Chain Operation Reference ( SCOR Model ) (skripsi dan tesis)
Hal ini diperlukan untuk menemukan cara untuk mengevaluasi dan mengukur model hipotesis diusulkan dalam tesis ini. Dengan mencari banyak metodologi, kami akhirnya memutuskan untuk menerapkan Supply Chain Operation Referensi Model (SCOR) ke model penilaian.
Tujuan dan Prinsip Supply Chain (skripsi dan tesis)
Tujuan rantai pasokan langsung mendukung sasarannya; seperti biasa tujuan rantai pasokan manufaktur dapat meningkatkan pendapatan melalui menghilangkan atau mengurangi hambatan operasi dalam sistem. Tujuan rantai pasokan yang langsung mendukung tujuan ini dapat diidentifikasisebagai: 1). Meningkatkan throughput 2). Mengurangi waktu siklus 3). Mengurangi persediaan pada berbagai tahap (Bahan baku – pekerjaan-in-proses – barang jadi). 4). Mengurangi keseluruhan modal 5). Manajemen Penundaan Sangat mudah untuk menyadari bahwa tujuan tersebut saling melengkapi satu sama lain. Contohnya, tujuan utama dari peningkatan throughput dalam rantai pasokan harus didukung oleh tujuan sekunder untuk mengurangi waktu siklus. Penurunan waktu proses dan set-up waktu akan memungkinkan batch yang lebih kecil untuk diproses lebih cepat, sehingga mengurangi kemacetan dalam sistem dan mendapatkan siklus pendek waktu. Ini juga akan membuat peningkatan throughput, dan akibatnya, aliran pendapatan lebih tinggi dalam rantai pasokan.Sebagai hasil dari perbaikan ini dalam rantai pasokan, tujuan tersier persediaan berkurang pada tahapan yang berbeda,yang mendukung kedua tujuan primer dan sekunder, dapat direalisasikan,karena persediaan pada berbagai tahap tidak perlu menunggu ketersediaan operasi untuk diproses lebih lanjut. Tujuan dapat diatur baik di tingkat kelompok untuk rantai pasokan, dan pada tingkat anggota untuk individu. Namun, tujuan dari dua set seharusnya dikoordinasikan agar ukuran kinerja yang efektif untuk rantai pasokan. Ini mungkin membutuhkan kesamaan tujuan dari anggota sehingga tujuan rantai pasokan dapat dipenuhi (Charu Chandra,Sameer Kumar2000).
Pelaksanaan Strategi Effektif SCM (skripsi dan tesis)
Tujuan utama dalam membangun rantai pasokan adalah untuk meminimalkan aliran bahan baku dan produk jadi di setiap titik di dalam pipa untuk meningkatkan produktivitas dan penghematan biaya (Cohen, 1996; Cooper and Ellram, 1993). Kesuksesan usaha rantai suplai yaitu mengelola beberapa elemen penting untuk bagian seperti unit bisnis individu dalam seluruh rantai pasokan. Strategi tercakup dalam aspek yang berbeda untuk memberikan kontribusi kepada keseluruhan hasil. 1). Membangun hubungan pemasok Hal ini penting untuk membangun kemitraan strategis dengan pemasok untuk kesuksesan rantai pasokan. Perusahaan telah mulai membatasi jumlah pemasok mereka dengan menerapkan program evaluasi vendor. Programprogram ini berusaha untuk menemukan pemasok dengan keunggulan operasional, sehingga pelanggan dapat menentukan pemasok yang pemasok melayani dengan baik. Kemampuan untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan atau pemasok sangat penting karena pemasok akan lebih mudah untuk bekerja sama. 2). Meningkatkan respon pelanggan Untuk tetap kompetitif, perusahaan fokus pada peningkatan upaya rantai pasokan untuk meningkatkan layanan pelanggan melalui peningkatan frekuensi pengiriman produk yang handal. Tuntutan meningkatkan tingkat layanan pelanggan menjadi arah kemitraan antara pelanggan dan pemasok. Kemampuan untuk melayani pelanggan mereka dengan tingkat yang lebih tinggi dari kualitas layanan, termasuk pengiriman cepat dari produk, adalah upaya penting. Memiliki hubungan yang sukses dengan pemasok adalah hasil dari kepercayaan dan kemampuan untuk mendorong pelanggan , kedektatan dengan pelanggan dan fokus dari pelanggan. 3). Membangun keunggulan kompetitif untuk saluran berorientasi produk Usaha mencapai dan mempertahankan keunggulan kompetitif dalam suatu industri tidak mudah bagi perusahaan. Banyak tekanan kompetitif memaksa perusahaan untuk tetap efisien. Beberapa keunggulan kompetitif melihat manajemen rantai pasokan untuk perusahaan yang mempekerjakan sumber daya untuk melakukan proses. Hal ini juga berfungsi untuk meningkatkan pengaruh pada saluran karena perusahaan-perusahaan ini diakui sebagai terdepan dan diperlakukan dengan hormat. Sebuah keunggulan kompetitif dapat berupa manajemen rantai pasokan, yang akan membantu perusahaan untuk melaksanakan proses yang lebih baik. Mencapai keunggulan kompetitif dalam channel dilengkapi dengan dukungan manajemen puncak untuk penurunan biaya, manajemen limbah dan meningkatkan keuntungan. Banyak perusahaan ingin mendorong biaya kembali ke pemasok mereka dan mengeluarkan biaya tenaga kerja dari sistem. Taktik mengurangi biaya ini cenderung meningkatkan efisiensi kompetitif dari seluruh rantai pasokan. Perusahaan telah menjadi saluran pasar yang lebih fokus. Mereka mengamati bagaimana kegiatan seluruh saluran mempengaruhi sistem operasi. Dalam beberapa kali, yang daya saluran telah bergeser ke pengecer. Daya saluran pengecer di saluran distribusi didorong oleh pergeseran untuk beberapa perusahaan ritel besar, seperti Wal-Mart, Kmart, dan Target. Ukuran besar pengecer ini memungkinkan mereka mempunyai kekuatan untuk mendikte persis bagaimana pemasok mereka ingin melakukan bisnis dengan mereka. Penggunaan titik data penjualan dan peningkatan efisiensi distribusi juga telah berperan dalam meningkatkan daya saluran dan kompetitif advantage (Magretta, 1998; Robinson, 1998; Ross, 1996). 4). Memperkenalkan solusi SCM dan memungkinkan teknologi informasi Informasi sangat penting untuk mengoperasikan rantai pasokan secara efektif. Kemampuan komunikasi suatu perusahaan ditingkatkan dengan sistem teknologi informasi.Namun, kompatibilitas sistem informasi antara mitra dagang dapat membatasi kemampuan untuk bertukar informasi. Sangat dibutuhkan sistem teknologi informasi yang ditingkatkan di mana mitra dalam saluran memiliki akses ke database umum yang diperbarui secara realtime. Dengan evolusi menuju hubungan pemasok tunggal, perusahaan memerlukan informasi seperti kinerja keuangan, strategi gain-sharing, dan perencanaan untuk mendisain pekerjaan bersama-sama. Mereka dapat menciptakan budaya yang sebanding dan juga menerapkan peramalan kompatibel dan teknologi sistem informasi. Hal ini dikarenakan pemasok mereka harus mampu menghubungkan secara elektronik ke dalam sistem pelanggan untuk mendapatkan detail pengiriman, jadwal produksi dan informasi apapun lainnya yang diperlukan (copacino 1996;Coyle et al;keller,1995).
Isu-isu Penting Dalam SCM (skripsi dan tesis)
Beberapa permasalahan yang sering terjadi pada supply chain management adalah sebagai berikut ( Simchi-Levi & Kaminsky,2008 ): a. Supply chain tidak dapat ditentukan pada lingkungan yang terisolasi, karena secara langsung dipengaruhi oleh komponen lain yang terdapat dalam supply chain perusahaan itu sendiri. b. Tantangan terdapat pada supply chain adalah saat merancang dan menjalankannya sehingga total seluruh biaya sistem dapat diminimasi disamping tingkat kepuasan pelayanan terus dilakukan peningkatan. c. Dalam supply chain terdapat ketidak pastian dan yang melekat dalam setiap komponen didalamnya. Isu-isu penting dalam SCM antara lain sebagai berikut: a. Konfigurasi jaringan distribusi; bila secara geografis letak pengecer tersebar di beberapa wilayah sehingga perusahaan perlu mempertimbangkan untuk menerapkan lokasi dan kapasitas gudang serta tingkat keterbatasan produksi dan fasilitas yang dimiliki untuk transportasi. Di sisi lain, perusahaan juga dituntut untuk meminimalkan biaya total operasionalnya. b. Pengendalian persediaan; yaitu pertimbangan kepentingan dan kemampuan pengecer dalam mengendalikan persediaan yang dimilikinya, sedangkan di lain pihak permintaan konsumen selalu berubah. c. Kontrak pasokan; yaitu membangun hubungan kerja sama antara pemasok dengan pembeli yang bersifat lebih spesifik dan berfokus pada volume, distribusi, lead time, mutu, pengembalian, dan sebagainya d. Strategi dalam distribusi; terkait dengan penerapan strategi-strategi tertentu yang mendukung kinerja SCM secara terpadu. e. Integrasi rantai pasok dan strategi kemitraan; yaitu berkaitan dengan sifat rantai pasokan dalam perencanaan dan penerapannya yang dinamis dan penuh konflik dalam pencapaian sasaran, baik dari sisi fasilitas maupun bentuk kemitraan itu sendiri. f. Strategi pengadaan bahan baku dari luar; yaitu terkait dengan pembangunan kepercayaan antara setiap elemen rantai pasokan, terutama saat bertransaksi. g. Rancangan produk; yaitu rancangan produk yang efektif akan memainkan peranan penting dalam rantai pasokan, terutama dalam penyimpanan dan transportasi dengan difasilitasi oleh waktu tunggu produksi yang lebih pendek. h. Teknologi informasi dan decision support system; yaitu berkaitan dengan bentuk transfer data dalam sistem rantai pasok. i. Penilaian pelanggan terhadap peranan perusahaan yang didasarkan pada produk, pelayanan, dan lain-lain yang berkaitan dengan upaya perusahaan. Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang baru menyadari bahwa tantangan terhadap supply chain management tidak hanya mempertimbangkan dengan matang pembuatan keputusan pengaturan produksi, transportasi dan persediaan. Tetapi secara lebih umum dilakukan integrasi dari awal supply chain hingga akhir supply chain.Ketersediaan informasi berperan penting dalam integrasi supply chain,oleh karena itu harus dirancang agar informasi tersebut tersedia. Selain itu untuk mendukung optimasi supply chain,maka supply chain harus dirancang untuk dapat mengambil keuntungan terhadap informasi yang sudah tersedia dan juga terkadang perlu merancang jaringan yang memerlukan biaya lebih untuk mengkompensasi informasi yang kurang (Simchi-Levi & Kaminsky,2008).
Definisi SCM (skripsi dan tesis)
Secara umum, supply chain management mengkaji persoalan logistik. Dalam hal ini, logistik merupakan masalah yang membentang panjang sejak dari bahan dasar sampai menjadi barang jadi yang digunakan konsumen akhir dan tertata sebagai mata rantai penyediaan barang. SCM merupakan sebuah pendekatan yang digunakan secara efisien untuk mengintegrasikan pemasok, pabrik, gudang, dan toko-toko sehingga produk diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah, lokasi, dan waktu yang tepat. Semua ini dilakukan dengan tujuan untuk meminimalkan biaya yang dikeluarkan oleh sistem keseluruhan disamping memaksimalkan kepuasan pelanggan. Dalam mengelola supply chain perlu mempertimbangkan biaya dan peranan dalam setiap komponennya dalam pembuatan pembuatan hingga pendistribusian proudek yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Tujuan dari pengelolaan rantai pasok adalah untuk meningkatkan efisiensi dan meminimasi biaya pada seluruh sistem. Sistem yang dimaksud adalah semua aktivitas dan komponen dari mulai transportasi sampai distribusi dan dari barang mentah sampai barang jadi. Supply Chain terintegrasi dari pemasok, manufaktur, gudang dan toko. Hal tersebut meliputi aktivitas disetiap level pada perusahaan, dimulai dari perencanaan strategi sampai dengan pelaksanaan operasional. (Simchi-Levi dan Kaminsky, 2008). Dalam konsep SCM, semua fungsi yang terkait dengan pemenuhan tuntunan pelanggan selalu dilibatkan. Fungsi-fungsi tersebut adalah pengembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi, keuangan, dan pelayanan. The Council of Logistics Management mendefinisikan logistik sebagai: Logistik adalah bagian dari proses rantai pasokan dengan perencanaan, implementasi, dan mengendalikan efisien, aliran yang efektif dan penyimpanan barang, jasa, dan informasi terkait dari titik asal ke-point-of-konsumsi dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan,definisi ini menyiratkan bahwa logistik adalah bagian dari SCM. Manajemen rantai pasok merupakan masalah besar di banyak industri sebagai perusahaan yang menyadari pentingnya menciptakan hubungan yang terintegrasi antara pemasok dan pelanggan mereka. Mengelola rantai pasokan telah menjadi cara untuk meningkatkan persaingan dengan mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan layanan pelanggan. Peran perencanaan dan koordinasi dalam sistem terintegrasi yang kompleks dan informasi teknologi untuk menyinkronkan rantai pasokan dijelaskan dalam kerangka kerja yang menciptakan struktur yang tepat dan menginstal kontrol yang tepat dalam perusahaan dan pihak lain dalam rantai. Selama beberapa tahun terakhir, rantai pasok yang unggul, optimasi, dani ntegrasi telah menjadi fokus dan tujuan dari banyak organisasi di seluruh dunia. Memperkuat manajemen rantai pasokan dirasakan oleh banyak perusahaan sebagai cara untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan memungkinkan pertumbuhan yang menguntungkan.
Hambatan dalam logistik (skripsi dan tesis)
Banyak hal mengakibatkan sistem persediaan pada supply chain tidak efektif. Sebab-sebab tersebut sangat bervariasi, ada yang teknis da nada juga yang terkait dengan perilaku individu maupun organisasi. Lee dan billinton dalam tulisan nya di sloan management interview pada tahun 2017 mengemukakan jebakan yang bisa muncul dalam mengelola persediaan supply chain. Pada bagian ini kita akan mendiskusikan beberapa beberapa di antaranya, yaitu : 1. Tidak ada metrik kinerja yang jelas. Kinerja supply chain banyak terkait dengan persediaan. Misalnya tingkat perputaran persediaan (inventory turnover rate) rata-rata lama permintaan atau kebutuhan bisa dipenuhi oleh persediaan (inventory days of supply), banyaknya persediaan yang kadaluwarsa, dan sebagainya. Walaupun ukuran-ukuran tersebut relative jelas definisi dan cara mengukurnya di lapangan, memilih ukuran mana yang pas dan beberapa target yang harus di capai bukanlah hal yang simple. Supply chain memiliki tugas yang berbeda-beda dan strategis tersebut harus mencerminkan kemampuan sumber daya dan kebutuhan pasar. Supply chain yang berada pada lingkungan industri yang inovatif akan memiliki kriteria yang berbeda terhadap persediaan dibandingkan dengan mereka yang berada pada industri yang relative stabil dengan siklus produk yang panjang. Pengukuran kinerja persediaan selalu harus di hubungkan dengan kemampuan suplly chain untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Ukuran customer service seperti stockoutrate atau fill rate perlu di definisakin dengan baik. Perusahaan yang memasok banyak produk ke satu pelanggan harus melihat mana yang lebih penting mengukur fill rate untuk tiap item secara individu untuk semua item secara agregat. Pelanggan dan pemasok mungkin mempunyai target fill rate yang berbeda. Dalam supply chain, ukuran-ukuran kinerja harus mencerminkan kepentingan kedua belah pihak dan sedapat mungkin didefinisikan bersama dengan target yang sama pula. 2. Status pesanan tidak akurat. Ketika pelanggan memesan suatu produk ke pemasok, mereka berharap bisa mendapatkan informasi kapan pesanan tersebut bisa di penuhi. Walaupun pada awalnya pelanggan sudah mendapat informasi tersebut, mereka tetap mengharapkan informasi yang mutakhir tentang perkembangan pesanan mereka dari waktu ke waktu. Namun sangat sering terjadi supplier tidak mampu memberikan informasi tentang status pengiriman yang akurat. Akibatnya perasaan ketidakpastian tinggi dan mendorong pelanggan untuk menyimpan cadangan persediaan yang lebih banyak. 3. Sistem informasi tidak andal. Perusahaan tidak akan bisa memberikan informasi status pesanan kalau sistem infromasi antar bagian di dalam perusahaan maupun sistem yang bisa menghubungan perusahaan dengan pelanggan tidak andal. Sering kali tiap bagian di dalam perusahaan tidak memiliki informasi yang sama tentang persediaan. Catatan di gudang berbeda dengan catatan yang di miliki oleh bagian perencanaan produksi, bagian produksi juga memiliki catatan tersendiri. Bagian pemasaran tidak bisa mengakses data persediaan, sehingga mereka sering melakukan kesepakatan dengan pelanggan dengan menggunakan data persediaan yang tidak mutakhir. Banyak perusahaan yang sudah menggunakan sistem informasi yang terintegrasi (seperti ERP), sehingga semua bagian bisa mengakses data persediaan yang sama. Namun, tetap saja masalah akurasi catatan bisa bermasalah karena hal ini ditentukan oleh ketelitian dan kemauan mereka yang bertugas untuk memelihara data. 4. Kebijakan persediaan terlalu sederhana dan mengabaikan ketidakpastian. Pada literature kita banyak menjumpai model-model tersebut biasanya sederhana dan menggunakan berbagai asumsi yang sering tidak berlaku di lapangan. Dasar-dasar tersebut memang sangat penting sebagai landasan, namun kenyataan nya staf manajer perlu pemahaman situasi lapangan dengan banyak melakukan analisis data seperti leat time, permintaan akurasi catatan persediaan, persentase kerusakan (reject/defect rate), dan sebagainya. Perusahaan sering menyamaratakan kebijakan persediaan untuk semua item (SKU) yang sebenernya memiliki ketidakpastian karakteristik yang berbeda-beda. 5. Biaya-biaya persediaan tidak di taksir dengan benar. Ketika perusahaan mencari solusi terhadap lead time pengirim yang panjang dan tidak pasti, transportasi udara biasanya tidak masuk sebagai pertimbangan banyak orang yang sejak awal mengambil keputusan, tanpa analisis, bahwa pengiriman melalui udara pasti tidak layak.tentu hal ini tidak selalu benar. Ada perusahaan yang setelah melakukan analisis transportasi ternyata bisa merealisasikan penghematan luar biasa karena pindah dari transportasi laut ke transportasi udara. Untuk produk-produk yang relatif kecil volumenya membutuhkan kecepatan respons yang tinggi, ongkos transportasi yang jauh lebih mahal bisa dibayar dengan penghematan dari berkurangnya tumpukan persediaan yang menghabiskan biaya modal yang besar serta kesempatan jual yang lebih banyak akibat pemendekan waktu untuk mencapai pasar. Orang sering melupakan ongkos-ongkos kesempatan dalam menaksir biaya persediaan, terutama karena ongkos-ongkos tersebut tidak tercatat dalam laporan akuntansi. 6. Keputusan supply chain yang tidak terintegrasi. Implikasi dari keputusan suatu suplly chain terhadap persediaan sering tidak dipahami dengan baik. Sebelum dilakukan perubahan pada perkitan dan distribusi, sebuah perusahaan printer di amerika menerima pesanan dari pusat-pusat penjualan mereka di seluruh dunia. Setiap Negara biasanya memiliki kebutuhan yang berbeda, terutama karena perbedaan bahas yang akan digunakan pada buku petunjuk dan perbedaan sistem sumber daya listrik (power supply). Awalnya pabrik di amerika mengirim produk yang sudah jadi ke masing-masing pusat penjualan. Akibat pesanan tersebut biasanya dibuat berdasarkan ramalan, pusat penjualan sering kali mengubah pesanan ketika printer yang mereka pesan sudah hampir sampai ke tempat mereka. Akibatnya banyak terjadi penumpukan persediaan di satu loksai dan kekurangan di tempat lain. Mereka kemudian melakukan perubahan pada perakitan dan distribusi. Pabrik di amerika hanya membuat produk dasar standard dan masing-masing pusat distribusi bertugas untuk melakukan finalisasi produk berupa pemberian buku petunjuk dan perangkat power supply. Menurut ricky martono (2015 )Proses peramalan : a. Menentukan tujuan, misalnya: meramalkan penjualan, mengeluarkan produk baru, atau meramalkan kondisi perekonomian. b. Manusia dan keandalan sistem, termasuk manajer pengamat peramalan (forecast analyst) data dan software dari sumber yang sama dan disepakati setiap orang. c. Menyesuaikan tujuan peramalan dengan strategi perusahaan dan menentukan interval (mingguan, bulanan, atau tahunan) jika ingin meramalkan perekonomian, biasanya dilakukan dalam interval 1-2 tahun kedepan. d. Membuat asumsi yang disepakati semua pihak. Misalnya di asumsikan bahwa harga bahan bakar stabil sehingga prediksi penjualan kendaraan bermotor lebih akurat. Atau, asumsi bahwa penjualan di februari akan naik tinggi karena pesanan khusus dari organisasi lain dan bukan karena besaran pasar meningkat.
Hambatan Dalam pengiriman Logistik (skripsi dan tesis)
Reza Hermawanyadi (2017) Hambatan pengiriman adalah terjadinya akibat pengaruh kondisi lingkungan teknis yang berdampak pada ketidaklancaran pengiriman dan penerimaan pesan.Dalam hal ini hambatan pengiriman mencakup berbagai aspek teknis didalam sebuah perusahaan atau lingkungan bisnis. Misalkan saja pada aspek teknologi seperti terbatasnya fasilitas komunikasi atau fasilitas komunikasi yang kurang memadai. Dalam hal ini keterbatasan fasilitas komunikasi maupun fasilitas komunikasi yang kurang memadai dalam suatu sistem komunikasi pada para pelaku bisnis atau perusahaan akan sangat mempengaruhi iklim komunikasi didalamnya. Dimana jelas dalam keadaan seperti ini komunikasi tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Bisnis logistik di Indonesia yang seringkali harus menghadapi banyak sekali kendala. Lalu bagaimana solusinya dan apa yang harus segera dilakukan untuk mengatasinya? Pada era yang sudah serba digitalisasi seperti sekarang ini, sebagian besar masyarakat sudah mulai terbiasa untuk berbelanja secara online pada layanan e-commerce. Data dari Social Research & Monitoring soclab menunjukkan bahwa sekitar 88% dari 93,4 juta pengguna internet di Indonesia telah terbukti mencari informasi produk dan mereka merasa senang untuk berbelanja secara online. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi bahkan memperlambat perpindahan barang besar tersebut. Apa sajakah? Berikut ulasannya : 1. Konektivitas Maritim Indonesia Indonesia adalah negara kepulauan yang besar.Hal tersebut menjadi permasalahan yang cukup besar untuk logistik Indonesia karena perpindahan barang-barang besar antar pulau memakan waktu lama dan biaya yang besar.Selain itu, minimnya infrastruktur membuat konektivitas maritim menjadi masalah utama. 2. Biaya pengiriman Biaya pengiriman barang juga menjadi salah satu masalah layanan logistik Indonesia. Sebab, Indonesia adalah negara yang luas dan terbagi menjadi beberapa pulau sehingga moda transportasi yang digunakan untuk mengangkut barang dibanderol dengan harga yang relatif tinggi. 3. Teknologi Informasidan Komunikasi Banyaknya perusahaan logistik dan lainnya yang ingin mengirimkan barang mengalami hambatan karena kurangnya infrastruktur. Selain itu, masalah lain yang muncul adalah keterbatasan jangkauan jaringan pelayanan, non seluler, serta masih terbiasa memakai sistem manual dalam transaksi logistik. 4. infrastruktur salah satu masalah dalam logistik di indonesia yang sering kali ada hambatan adalah banyaknya infrastruktur yang belum memadai dari jalan yang rusak hingga minimnya pelabuhan untuk docking kapal logistik. Hal tersebut berisiko pada pengiriman barang ke tempat-tempat yang jauh. Terjadinya fenomena seperti inipun banyak sekali memberikan peluang terbesar bagi para pengusaha logistik sebagai salah satu media pengantaran barang kepada para klien.Namun, ternyata bisnis logistik di Indonesia juga masih harus menghadapi berbagai macam jenis kendala yang menyebabkan performa dan kinerjanya menjadi kurang maksimal. Dan akibat terburuknya adalah para klien mendapatkan pelayanan yang kurang memuaskan dari perusahaan logistik
Kegiatan Pengiriman Logistik (skripsi dan tesis)
Menurut I Nyoman pujawan (2017) Begitu pengiriman di lakukan, perusahaan pengirim maupun pemesan seharusnya bisa melacak posisi barang dalam perjalanan, serta mengevaluasi apakah kiriman bisa sampai tepat waktu sesuai jadwal atau tidak. Informasi ini sangat penting diketahui oleh kedua belah pihak, sehingga bisa dilakukan pengendalian secara dini.Proses monitoring atau pelacakan ini membutuhkan teknologi yang bisa secara real time melaporkan posisi barang setiap saat. Teknologi ini bisa meliputi komunikasi radio, satelit, barcording, intelligent messaging, GPS, dan sebagainya. Dewasa ini hamper semua peerusahaan jasa pengiriman yang besar telah memiliki fasilitas untuk tracking dan tracing. Banyak manfaat yang bisa diberikan dengan pemakaian teknologi yang tepat dalam memonitoring pengiriman. Beberapa manfaat tersebut adalah : a. Perusahaan pengiriman bisa melakukan pemetaan posisi geografis armada mereka dalam suatu peta elektronik. b. Terjadi pengurangan waktu pengiriman karena dimungkinkan melakukan perubahan rute untuk menghindari kemacetan/blockages c. Bisa melakukan perubahan tujuan atau tempat koleksi apabila terjadi perubahan tersebut dianggap penting dan mendesak. d. Perusahaan pengirim maupun pemesan bisa mendapatkan kepastian yang lebih tinggi terhadap barang. Apabila ada tanda-tanda keterlambatan, pemesan mungkin bisa mengambil tindakan alternative berubah pemesanan mendadak atau perubahan jadwal produksi (bila pihak pemesan adalah pabrik yang akan menggunakan barang tersebut sebagai bahan baku) Menurut Ricky Virona Martono (2018) Semua kegiatan di dalam sistem logistik ini dapat dilakukan oleh organisasi atau perusahaan yang sama maupun antar-organisasi (atau perusahaan) yang berbeda. Selanjutnya kita akan membahas gambaran besar konsep rantai pasok Logistik. Sebagai pengantar, berikut gambaran untuk logistik sepatu. Proses produksi sepatu dimulai dari pengolahan bahan mentah (misalnya, dari perkebunan karet) yang dikirim ke pabrik pengolahan menggunakan truk tangki ataupun kapal, tergantung lokasi dan jarak pengiriman karet. Jika lokasi diperkebunan dan dipabrik berbeda pulau, maka pengiriman dari perkebunan kepelabuhan menggunakan truk. Kemudian dari pelabuhan dikirim kepulau lain menggunakan kapal. Di pelabuhan di pulau tujuan, karet diangkut lagi menggunakan truk hingga tiba ke pabrik sepatu.
Rantai Pasok logistik (skripsi dan tesis)
Menurut Heizer and Render(2016) Manajemen rantai pasokan (supply-chain management) adalah pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan.Tujuannya adalah untuk membangun sebuah rantai pemasok yang memusatkan perhatian untuk memaksimalkan nilai bagi pelanggan. Kunci bagi manajemen rantai pasokan yang efektif adalah menjadikan para pemasok sebagai “mitra” dalam strategi perusahaan untuk memenui pasar yang selalu berubah Dalam definisi operasional pengertian rantai pasok terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan yaitu berikut ini. 1. Manajemen Rantai Pasok adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk mencapai pengintegrasian yang efisien dari supplier, manufacturer, distributor, retailer, dan customer. 2. Manajemen Rantai Pasok mempunyai dampak terhadap pengendalian biaya. 3. Manajemen Rantai Pasok mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan perusahaan kepada pelanggan.
Kebijakan Pelayanan (skripsi dan tesis)
(Menurut Donald J. Bowersox ; 2014) Sebagaimana telah berulangkali dikemukakan, sistem logistik itu adalah untuk memberikan pelayanan melalui distribusi fisik, manajemen material, dan operasi transfer persediaan internal.Sekarang perhatian kita curahkan kepada rumusan kebijaksanaan pelayanan. Pemasukan ini ke dalam analisa kita merupakan level ketiga dari integrasi yang ketiga dan terakhir ini adalah pada level perusahaan. Integrasi pada level yang menyeluruh ini membutuhkan koordinasi terhadap kriteria prestasi logistik dalam batas-batas (constraints) seluruh unit operasional dan menuju kepada sasaran-sasaran perencanaan perusahaan. Pendekatan total biaya dalam kebijaksanaan logistik ini menunjukan pengaturan yang paling ekonomis terhadap gudang-gudang sebagai suatu fungsi dari persediaandan transportasi. Diluar biaya murni, tujuan utama perencanaan adalah untuk menentukan dan memberikan prestasi menyeluruh yang di butuhkan oleh pemasaran dan pembuatan (manufacturing).Integrasi prestasi logistik kedalam operasi perusahaan yang menyeluruh ini dicapai dengan meluaskan analisa ini sampai kepada pengukuran biaya penghasilan. Bab ini memantapkan tema pokok dari buku ini yaitu bahwa sistem operating suatu logistik itu hendaklah didisain untuk memberikan tingkat prestasi tertentu dengan total biaya yang serendah mungkin.Dengan perusahaan dagang, satu-satunya angka yang penting adalah hasil-laba-garis-bawah (bottom-line-profit-result).Sasaran dari desain sistem logistik adalah untuk meningkatkan laba.Seksi pertama ini untuk meninjau secara ringkas sifat dari prestasi logistik.Berikutnya, diperkenalkan ukuran-ukuran prestasi.Seksi ketiga mengintrodusir analisa biaya penghasilan.Seksi selanjutnya memberikan suatu pendekatan konsepsional untuk merumuskan kebijakaan terhadap pelanggan. Seksi terakhir meninjau sejumlah faktor operasional terpilih yang perlu di pertimbangkan sebelum penyelesaian (finalization) suatu kebijaksanaan logistik
Pentingnya Layanan Pelanggan (skripsi dan tesis)
Menurut Kasmir (2015) pengertian layanan yang baik adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang dapat memberikan pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan standar yang telah di tetapkan. (Menurut anissa, rizkiet al., 2016)Seperti yang sudah saya sarankan, ada beberapa perusahaan yang tidakmengakui pentingnyapenyediaan layanan pelanggan yang baik.Tapi,mengapa begitu penting?Adabanyak jawaban yang berbeda untukpertanyaan ini, mulai dari pertumbuhan kompetisi untukkenaikan ekspektasi pelanggan untuk kesamaan produk dasar yangditawarkan.Salah satu cara untuk mempertimbangkan layanan pelanggan untuk membedakan antaraproduk inti itu sendiri dan unsur-unsur jasa yang terkait dengan produk. isi teknis,fitur produk, kemudahan penggunaan, gaya dan kualitas.Unsur-unsur pelayanan yang dapat disebut (produk surround), mewakili ketersediaanproduk,kemudahan pemesanan, kecepatan pengiriman, dan dukungan purna jual.Disanaadalah daftar panjang (seperti yang akan kita lihat nanti dalam bab ini), dan jelas tidak semua layananitem pada daftar kami ini relevan untuk semua produk. Hal ini diakui oleh departemen pemasaran banyak perusahaan yangproduk elemen surround yang sangat penting dalam menentukan permintaan akhir untukproduk.Selain itu, aspek ini sering mewakili hanya sebagian kecil daribiaya dari suatu produk.Jadi, benar dengan Pareto 80/20 aturan, diperkirakan bahwa produksurround atau logistik elemen mewakili sekitar 80 persen dari dampakproduk tetapi hanya mewakili 20 persen dari biaya.Jadi, tidak peduli seberapa menarikproduk mungkin, adalah penting bahwa unsurunsur layanan pelangganmemuaskan dan, seperti akan kita lihat, logistik memainkan peran penting dalam menyediakan baiklayanan pelanggan. Salah satu definisi logistik yang diberikan dalam bab pertama disebutuntuk posisi sumber daya pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, pada biaya yang tepat, padakualitas yang tepat.Definisi ini dapat diperluas ke dalam apa yang mungkin dianggap sebagaitujuh (hak) layanan pelanggan.Ini adalah jumlah yang tepat, biaya, produk,pelanggan, waktu, tempat dan kondisi, dan konsep mengaplikasikan pelanggan untuklayanan.Semua aspek yang berbeda dapat syarat kuncidari penawaran layanan pelanggan yang baik memang, masing-masing mungkin penting untukmemastikan bahwa produk mencapai penjualan yang diharapkan di berbagai pasar dimanatersedia.Perlu dicatat bahwa semua elemen ini dipengaruhi oleh standardan kualitas operasi logistik yang merupakan bagian integral dari mendapatkan produk. (Menurut Dong-Wook Song ; 2015) sebagai respons terhadap globalisasi shipper, perusahaan shipping dan forwarder seringkali didirikan di negara asing. Dengan jaringan logistik yang berbasis di luar negri ini, semakin berkembanglah layanan transportasi antarmoda di seluruh dunia.Rute-rute penting dimana freight dikirim dalam jumlah besar adalah dari cina dan ASEAN ke eropa dan amerika.Beragam layanan transportasi telah di kembangkan berdasarkan permintaan shipper, menciptakan jaringan transport antarmoda berskala besar. Sebagai contoh, nippon exspres, salah satu forwarder global besar, telah membangun basis operasi di lebih 200 kota di Negara lain dan menawarkan banyak layanan transport antarmoda dan dari basis-basis ini. Untuk mengelola layanan ini sebagai suatu jaringan yang terorganisir,perusahaan membentuk department transport antarmoda khusus yang mengembangkan layanan baru dan sistem informasi seperti penelusuran kargo (cargo tracing) dan manajemen inventory.
Pelayanan Logistik dan Pelanggan (skripsi dan tesis)
Menurut Christopher (2015) pengertian logistik adalah proses yang secara strategis mengelola pengadaan pergerakan, dan penyimpanan material, suku cadang dan barang jadi beserta aliran informasi terkait melalui organisasi dan kanal-kanal pemasarannya, dalam cara dimana keuntungan perusahaan, baik untuk saat ini maupun diwaktu yang akan datang, dapat dimaksimalkan dengan cara pemenuhan pesanan yang berbiaya efektif. (Menururt Tjipto ; 2016 ) mewujudkan pelayanan logistik dan pelanggan tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan secara cermat, karena upaya penyempurnaan kualitas layanan berdampak signifikan terhadap budaya organisasi secara keseluruhan Diantara berbagai faktor yang perlu mendapatkan perhatian utama adalah mengidentifikasikan determinan utama kualitas layanan, mengelola ekspetasi pelanggan, mengelola bukti (evidence) kualitas layanan, mendidik konsumen tentang pelayanan, memperkembangkan budaya kualitas, menciptakan automating quality, menindaklanjuti layanan dan mengembangkan sistem informasi layanan 1. mengidentifikasikan determinan utama kualitas layanan, setiap penyedia layanan wajib berupaya menyampaikan layanan berkualitas terbaik kepada para pelanggan sasarannya. Upaya ini membutuhkan proses mengidentifikasi determinan atau faktor penentu utama kualitas layanan berdasarkan sudut pandang pelanggan. 2. Mengelola ekspetasi pelanggan, tidak sedikit perusahaan yang berusaha melakukan segalacara untuk memikat sebanyak mungkin pelanggan, termasuk diantaranya mendramastis atau melebih-lebihkan pesan komunikasinya. Semakain banyak janji yang di berikan semakin besar jga ekspetasi pelanggan. Pada gilirannya ini akan memperbesar kemungkinan tidak terpenuhinya ekspetasi pelanggan oleh penyedia layanan. Untuk itu 7 ada satu pepatah bijak yang bisa dijadikan pegangan “jangan di janjikan apa yang tidak bisa diberikan, tetapi berikan lebih dari apa yang dijanjikan” 3. Mengelola bukti kualitas pelayanan, mengelola bukti kualitas layanan bertujuan untuk memperkuat persepsi pelanggan selama dan sesudah layanan disampaikan. Oleh karena itu layanan merupakan kinerja dan tidak dapat dirahasiakan sebagaimana halnya barang fisik, maka pelanggan cenderung memperhatikan dan mempersiapkan fakta-fakta tangibles yang berkaitan dengan layanan sebagai bukti kualitas 4. Mendidik konsumen tentang pelayanan, membantu pelanggan dalam memahami sebuah layanan merupakan upaya positif untuk mewujudkan prose penyampaian dan pengomumsusian layanan secara efektif dan efisien. Pelanggan yang lebih terdidik akan dapat mengambil keputusan pengambilan secara lebih baik dan lebih memahami peran serta kewajiban nya dalam proses penyampaian layanan. Oleh karenanya, kepuasan mereka dapat tercipta lebih tinggi. 5. Memperkembangkan budaya kualitas, budaya kualitas (quality culture) merupakan sistem nilai organisasi yang menghasilkan lingkungan yang kondusif bagi proses penciptaan dan penyempurnaan kualitas secara terus-menerus. Budaya kualitas terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, pelaksanaan, dan harapan yang berkenaan dengan peningkatan kualitas bisa ditumbuhkembangkan dalam sebyah organisasi, diperlukan komitment menyeluruh dari semua anggota organisasi mulai dari yang tertinggi hingga terendah dalam struktur organisasi. 6. Menciptakan automating quality, otomatisasi berpotensi mengatasi masalah variabilitas kualitas layanan yang di sebabkan kurangnya sumberdaya manusia yang dimiliki organisasi. Akan tetapi, sebelum memutuskan akan melakukan otomatisasi, penyedia layanan wajib mengkaji secara mendalam aspek-aspek yang membutuhkan sentuhan manusia (high touch) dan elemen-elemen yang memerlukan otomatisasi (high tech). keseimbangan antara high touch dan high tech sangan di butuhkan untuk menunjang kesuksesan penyampaian layanan secara efektif dan efisien. 7. Menindaklanjuti layanan, pendindaklanjutan layanan di perlukan dalam rangka menyempurnakan atau memperbaiki aspek-aspek yang sudah baik. Dalam rangka itu, perusahaan perlu berinisiatif untuk menghubungi sebagian atau semua pelanggan (tergantung skala bisnis perusahaan) guna mengetahui tingkat kepuasan dan persepsi mereka terhadap kualitas layanan yang mereka terima. Perusahaan dapat pula mengupayakan kemudahan dan kenyamanan bagi para pelanggan dalam berkomunikasi dengan pihak manajemen maupun karyawan kontak, sehingga mereka bisa menyampaikan kebutuhan spesifik, keluhan, dan/atau konstruktif.. Mengembangkan sytem informasi kualitas layanan, sistem kualitas informasi layanan (service quality information system)merupakan sistem yang mengintegrasikan berbagai macam rancangan riset secara sistematis dalam rangka mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi kualitas layanan guna mendukung pengambilan keputusan. informasi yang di butuhkan mencakup segala aspek, yaitu data saat ini dan masa lalu, kuantitatif dan kualitatif, internal dan eksternal, serta informasi mengenai perusahaan, pelanggan dan pesaing. Pengembangan sistem informasi kualitas layanan tidak hanya terbatas pada perusahaan besar. Namun Mendengarkan suara pelanggan (customer’s voice) merupakan hal yang mutlak harus di lakukan perusahaan kecil. Untuk memahami suara pelanggan diperlukan riset mengenai ekspetasi dan persepsi, baik pelanggan non-pelanggan. Melalui riset semacam ini akan didapatkan informasi tentang kekuatan dan kelemahan layanan perusahaan berdasarkan sudut pandang pelanggan yang memanfaatkan atau menggunakan layanan.
Pengendalian Persediaan Bahan Baku (skripsi dan tesis)
Menurut para ahli pengendalian persediaan adalah : Menurut Freddy Rangkuti (2004:25), pengawasan persediaan merupakan salah satu fungsi manajemen yang dapat dipecahkan dengan menerapkan metode kuantitatif. Sedangakan menurut pendapat Assauri (2004:176), pengendalian persediaan merupakan salah satu kegiatan dari urutan kegiatan-kegiatan yang berurutan erat satu sama lain dalam seluruh operasi produksi perusahaan tersebut sesuai dengan apa yang telah direncanakan lebih dahulu baik waktu, jumlah, kuantitas, maupun biayanya. Agus Sartono (2008 : 453), mengemukakan bahwa “Pengendalian Sistem Persediaan merupakan sistem yang dapat dipergunakan untuk menentukan tingkat persediaan yang tepat atau suatu sistem yang dapat menekan tingkat persediaan pada tingkat yang sangat rendah sehingga menjadi perputaran persediaannya akan sangat tinggi. Sedangkan menurut Agus Ristono (2009:4), pengelolaan persediaan adalah kegiatan dalam memperkirakan jumlah persediaan (bahan baku/penolong) yang tepat, dengan jumlah yang tidak terlalu besar dan tidak pula kurang atau sedikit dibandingkan dengan kebutuhan atau permintaan. Herjanto (2008:238), mengatakan bahwa pengendalian persediaan adalah serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan pesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan harus diadakan, jumlah atau tingkat persediaan yang dibutuhkan berbeda-beda untuk setiap perusahaan pabrik, tergantung dari volume produksinya, jenis perusahaan dan prosesnya. Dari pendapat para ahli dapat diuraikan kembali yaitu pengendalian persediaan merupakan serangkaian kegiatan memperkirakan atau merencanakan jumlah persediaan dengan tepat, agar tidak terjadi kerugian saat produksinya. Dengan tidak terjadi kerugian maka akan meningkatkan laba perusahaan
Biaya yang Ada Dalam Persediaan (skripsi dan tesis)
Menurut Sri Joko (2001:213), Biaya persediaan adalah semua pengeluaran dan kerugian yang timbul sebagai akibat adanya persediaan. Biaya-biaya persediaan terdiri dari: a. Biaya pembelian Biaya pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan. b. Biaya pengadaan Biaya pengadaan dibedakan menjadi 2 yaitu: Biaya pemesanan (ordering cost) adalah semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan barang dari luar. Yang mencakup biaya dari persediaan, formulir, pemrosesan pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan lain lain. Biaya pembuatan atau pemasangan (setup cost) adalah semua pengeluaran yang timbul dalam mempersiapkan produksi suatu barang. Ini termasuk waktu dan tenaga kerja yang membersihkan dan mengganti peralatan. c. Biaya penyimpanan Biaya penyimpanan adalah semua pengeluaran yang timbul akibat menyimpan barang sekaligus memelihara persediaan yang disimpan. Meliputi : Biaya memiliki persediaan, biaya gudang, biaya kerusakan dan penyusutan, biaya asuransi, biaya administrasi dan pemindahan. d. Biaya kekurangan persediaan Biaya kekurangan persediaan dapat berupa kuantitas yang tidak terpenuhi, waktu pemenuhan dan biaya pengadaan darurat
Fungsi Persediaan (skripsi dan tesis)
Menurut William J Stevenson dan Sum Chee Chuong (2015 : 181) segala jenis persediaan memiliki sejumlah fungsi diantaranya adalah : a. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang diperkirakan. Persediaan dalam fungsi ini dirujuk sebagai persediaan antisipasi karena disimpan untuk memuaskan permintaan yang diperkirakan. b. Untuk memperlancar persyaratan produksi. Perusahaan yang mengalami pola musiman dalam permintaan seringkali membangun persediaan selama periode pramusim untuk memenuhi kebutuhan yang luar biasa tinggi selama periode musiman, perseediaan ini diberi nama persediaan musiman c. Untuk memisahkan operasi. Perusahaan manufaktur telah menggunakan persediaan sebagai penyangga antara operasi yang berurutan untuk memelihara kontinuitas produksi yang dapat saja terganggu oleh kejadian seperti kerusakan perlengkapan dan kecelakaan yang menyebabkan sebaian dari operasi dihentikan secara sementara. Dari hal ini analisis persediaan penyangga dibutuhkan analisis yang berhati-hati yang dapat mengungkapkan baik titik dimana penyangga akan paling berguna maupun titik penyangga hanya akan meningkatkan biaya tanpa menambah nilai. d. Untuk perlindungan terhadap kehabisan persediaan. Pengiriman yang tertunda dan peningkatan yang tidak terduga dalam permintaan akan meningkatkan resiko kehabisan. Resiko kehabisan dapat dikurangi dengan menyimpan persediaan aman, yang merupakan persediaan berlebih dari permintaan rata-rata untuk mengompensasi variabilitas dalam permintaan dan waktu tunggu. e. Untuk mengambil keuntungan dari siklus pesanan. f. Untuk melindungi dari peningkatan harga. Kenaikan harga dapat dikalahkan dengan membeli lebih besar dari jumlah normal. Kemampuan perusahaan untuk menyimpan barang ekstra memunginkan perusahaan untuk mengambil keuntungan dari diskon harga untuk pesanan besar. g. Untuk mengambil keuntungan dari diskon kuantitas. Untuk pesanan besar biasannya pemasok akan memberikan diskon.
Faktor-Faktor yang Menentukan Persediaan (skripsi dan tesis)
Agus Ristono (2009 : 6), mengemukakan bahwa yang menjadi masalah bagi perusahaan adalah bagaimana menemukan persediaan yang optimal, oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya persediaan. Besar kecilnya persediaan bahan baku dan penolong dipengaruhi oleh faktor : a. Volume atau jumlah yang dibutuhkan, yaitu yang dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan (kontinuitas) proses produksi. b. Kontinuitas produksi tidak terhenti, diperlukan tingkat persediaan bahan baku yang tinggi dan sebaliknya c. Sifat bahan baku/penolong, apakah cepat rusak (durable good) atau tahan lama (undurable good). Barang yang tidak tahan lama tidak dapat disimpan lama, oleh karena itu bila bahan baku yang diperlukan tergolong barang yang tidak tahan lama maka tidak perlu disimpan dalam jumlah banyak.
Pengertian Persediaan (skripsi dan tesis)
Menurut pendapat para ahli definisi persediaan adalah : Menurut Sri Joko (2001 : 210) persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resource) yang menunggu proses lebih lanjut. Sedangkan menurut Fredi Rangkuti (2002 : 7) persediaan adalah salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara kontinu diperoleh, diubah kemudian dijual kembali. Pada dasarnya persediaan akan mempermudah dan memperlancar jalannya operasi perusahaan pabrik. Persediaan yang diadakan mulai dari bahan baku sampai barang jadi, antara lain berguna untuk :menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang, menghilangkan resiko barang rusak, mempertahankan stabilitas operasi perusahaan, mencapai penggunaan mesin yang optimal, dan memberi pelayanan yang sebaik-baiknya bagi konsumen. Menurut Pontas M. Pardede (2003 : 412) sediaan (inventory) adalah sejumlah bahan atau barang yang tersedia untuk digunakan sewaktu-waktu dimasa yang akan datang. Sedangkan menurut Kusuma (2009 : 132) persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang. Dan menurut William J Stevenson dan Sum Chee Chuong (2015 : 179) Persediaan (inventory) adalah stok barang atau simpanan barang-barang. Dari definisi diatas dapat dijelaskan kembali pengertian persediaan adalah sejumlah barang yang disimpan yang nantinya akan digunakan sebagai produksi atau akan dijual kembali. Yang nantinya persediaan tersebut akan mempermudah dan memperlancar kegiatan produksi perusahaan.
Ruang Lingkup Manajemen Operasional (skripsi dan tesis)
Menurut Richard B Chase (1998) Manajemen operasi didefinisikan sebagai desain, operasi dan perbaikan sistem produksi yang menciptakan barang dan jasa utama perusahaan. Manajemen operasi mulai berkembang pesat sejak tahun 1910-an. Pada saat itu Frederick W Taylor mengembangkan konsep yang terkait dengan efisiensi dibidang produksi menggunkan perdekatan ilmiah untuuk menghitung produktivitas, menggunakan fungsi manajemen untuk menemukan dan menggunakan aturan dan prosedur dalam operasi sistem produksi. Ruang lingkup manajemen operasional mencakup tiga aspek utama yaitu 1. Perencanaan sistem produksi yang meliputi perencanaan produk, perencanaan lokasi pabrik, perencanaan lingkungan kerja, perencanaan standar produksi. 2. Sistem pengendalian produksi yang meliputi pengedalian proses produksi, bahan, tenaga kerja, kualitas dan pemeliharaan. 3. Sistem informasi produksi, aspek ini meliputi struktur organisasi, produksi atas dasar pesanan, mass production. Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2005 ; 9) ada empat alasan perlunya mempelajari manajemen operasional yaitu, 1. Manajemen operasi dipelajari untuk menegtahui bagaimana orang mengorganisasikan diri mereka untuk mendapatkan perusahaan yang produktif. 2. Mempelajari manajemen operasional untuk mengetahui bagaimana barang dan jasa diproduksi. 3. Kita mempelajari manajemen operasional untuk memahami apa yang dikerjakan oleh manajer operasi. 4. Mempelajari manajemen operasional karena bagian ini merupakan bagian paling banyak mengeluarkan biaya dalam sebuah organisasi, sebagian besar pengeluaran perusahaan terletak pada manajemen operasi namun manajemen operasi memberikan peluang untuk meningkatkan keuntungan dan pelayanan terhadap masyarakat. Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2015:6) manajemen operasi memiliki sepuluh keputusan strategi penting yang memperlihatkan dengan jelas bahwa masing-masing keputusan membutuhkan perencanaan, pengorganisasian, pengaturan karyawan, pengarahan, dan pengendalian. Sepuluh keputusan tersebut diantaranya : 1. Desain Produk dan Jasa sebuah strategi di manajemen operasional yang menjabarkan tentang apa saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu kegiatan operasi pada masing-masing keputusan. 2. Manajemen mutu adalah pembuatan kebijakan dan prosedur untuk mencapai ekspektasi kualitas dari pelanggan seperti yang diinginkan. 3. Desain proses dan kapasitas adalah Penentuan seberapa baik barang ataupun jasa pada saat proses produksi dengan menggabungkan manajemen terhadap kualitas, sumberdaya manusia, inestasi/ modal serta teknologi untuk menentukan biaya dasar perusahaan. 4. Lokasi adalah strategi yang yang berhubungan dengan tempat yang akan ditempati yang memiliki kiteria seperti kedekatan dengan konsumen, dekat dengan bahan baku maupun dekat dengan pemasok, namun juga harus mempertimbangkan mengenai biaya, infrastruktur, logistic maupun pemerintah. 5. Desain tata letak atau strategi tata ruang yaitu penyelarasan antara kapasitas, teknologi, jumlah karyawan, dan jumlah persediaan yang dibutuhkan terhadap tata letak ruang yang dipakai agar mencapai tujuan informasi, biaya, dan orang dalam arus yang lancar. 6. Sumber daya manusia dan system kerja adalah strategi dalam melaksanakan perekrutan calon tenaga kerja, memberikan motivasi, dan mempertahan mereka yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan. 7. Manajemen rantai pasokan adalah penentuan rantai pasok kedalam manajemen perusahaan termasuk kedalam keputusan-keputusan yang menentukan barang apa yang harus dibeli dari siapa dan dengan syarat yang seperti apa. 8. Perawatan adalah pemeliharaan yang dilakukan kepada kapasitas fasilitas, pemintaan produksi, kebutuhan karyawan yang dapat diandalkan untuk menjaga setiap proses produksi. 9. Penjadwalan jangka pendek dan menengah adalah penentuan dalam penerapan jadwal jangka waktu baik menengah maupun pendek dan penggunaan tenaga kerja yang efektif dan efisien untuk memenuhi permintaan konsumen. 10. Manajemen persediaan adalah penentuan keputusan mengenai pemesanan dan penyimpanan persediaan dan sekaligus bagaimana cara pengoptimalan kapabilitas dari pemasok dan kapan persediaan tersebut akan diproduksi.
Manajemen Operasional (skripsi dan tesis)
Menurut para ahli pengertian manajemen operasional adalah sebagai berikut : Menurut Pontas M. Pardede (2003 : 13) manajemen operasi dan produksi secara umum dapat diartikan sebagai pengarahan dan pengendalian berbagai kegiatan yang mengolah berbagai jenis sumberdaya untuk membuat barangbarang atau jasa tertentu. Dalam pengertian yang luas manajemen operasi dan produksi mencakup segala bentuk dan jenis pengambilan putusan mulai dari penentuan jenis barang atau jasa yang dihasilkan, sumberdaya-sumberdaya yang dibutuhkan, cara mengolahnya, dan teknik-teknik operasi dan produksi yang akan digunakan, sampai barang atau jasa tersebut berada ditangan pemakai atau pengguna. Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2005 ; 9) Produksi (production) adalah proses penciptaan barang dan jasa. Manajemen operasi (operation management – OM) adalah serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output. Menurut Sofjan Assauri (2004 : 12), manajemen produksi dan operasi merupakan proses pencapaian dan pengoptimalisasian sumber-sumber daya untuk memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang berguna sebagai usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Dari berbagai pendapat para ahli dapat diuraikan bahwa manajemen operasional adalah serangkain proses produksi yang menghasilkan berbagai macam barang dan jasa mulai dari pemilihan bahan baku, cara mengolah, teknik operasi dan produksinya hingga produk tersebut menjadi produk jadi.
Manajemen (skripsi dan tesis)
Manajemen berasal dari bahasa inggris “Management” yang berarti pengelolaan atau tata laksanaan. Dari sini dapat diketahui secara istilah manajemen berarti usaha atau sebuah proses yang dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan. Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu menurut Drs. Malayu S.P Hasibuan (2009 : 3). Selain itu menurut Hery (2016 : 7) manajemen adalah proses mengkoordinir kegiatan pekerjaan secara efektif dan efisien dengan melalui orang lain. Selain pengertian diatas, suatu perusahaan yang menginginkan manajemen yang baik, maka perlu menguasai 4 fungsi utama manajemen yaitu Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating/directing (pengarahan), Controlling (pengontrolan). 1. Planning (Perencanaan) Proses ini menentukan tujuan awal perusahaan, merencanakan strategi-strategi yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut. Perencanaan merupakan bagian terpenting terpenting dari fungsi manajemen, tanpa adanya perencanaan fungsi yang lainnya tidak akan berjalan secara maksimal. 2. Organizing (Pengorganisasian) Fungsi ini digunakan untuk membagi sub kegiatan yang besar menjadi sub bagian yang lebih kecil. Hal ini dilakukan untuk mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang cocok dan kompeten untuk melaksanakan kegiatan yang telah di bagi tersebut. 3. Actuating/Directing (Pengarahan) Upaya yang diciptakan agar suasana kerja menjadi lebih dinamis dan kinerjannya menjadi lebih efektif dan efisien. Selain itu agar sesuai dengan yang dinginkan maka upaya tersebut dilakukan agar tujuan perusahaan dapat tercapai. 4. Controlling (Pengontrolan) Fungsi ini merupakan alat pengendalian atau penilaian kinerja, pengadaan evaluasi dan perbaikan jika dibutuhhkan.
Saving Matrix (skripsi dan tesis)
Tujuan dari metode “savings” adalah metode yang digunakan untuk menentukan rute distribusi produk ke wilayah pemasaran berdasarkan kapasitas alat angkut yang digunakan. Tujuannya adalah untuk memperoleh rute terpendek dan biaya distribusi yang minimal. Metode Saving Matrik juga merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk menjadwalkan sejumlah kendaran terbatas sehingga dapat meminimalisasikan jarak, waktu, dan biaya dengan mempertimbangkan kendala-kendala yang ada (Pujawan dan Mahendrawati. 2010).
Metode Vehicle Routing and Scheduling (VRS ) (skripsi dan tesis)
Salah satu keputusan operasional yang sangat penting dalam manajemen distribusi adalah penentuan jadwal rute pengiriman dari suatu lokasi ke beberapa lokasi tujuan. Keputusan seperti ini sangat penting bagi mereka yang harus mengirimkan barang dari suatu lokasi ( misalnya gedung regiona, pengangkutan sampah, pengambilan surat pada kotak pos) ke berbagai toko yang tersebar di sebuah kota. Perusahaan penerbitan Koran adalah salah satu contoh yang sangat tepat dimana permasalahan ini terjadi. Setiap pagi koran harus di distribusikan dari tempat dimana mereka dicetak ke tempat-tempat penjualan untuk seterusnya di edarkan juga ke pelanggan individu. Keputusan jadwal pengiriman serta rute yang akan di tempuh oleh tiap kendaraan akan sangat berpengaruh terhadap biaya-biaya pengiriman. Namun demikian biaya bukanlah satu-satunya factor pertimbangan dalam proses pengiriman, namun juga harus memeprtimbangkan jarak tempuh juga, dalam bahasa program matematis, salah satu tujuan tersebut bisa menjadi fungsi tujuan (objective function) dan lainya menjadi kendala (constraint), Misalnya, fungsi tujuannya adalah meminimumkan biaya pengiriman namun ada kendala-kendala di antaranya jumlah truk yang banyak dengan perbedaan kapasitas, perbedaan kecepatan dalam zona yang berbeda, rintangan dalam perjalanan (sungai, belokan, gunung), dan waktu istirahat untuk pengemudi adalah beberapa pertimbangan yang diperlukan dalam penentuan perancangan rute. Pekerjaan yang harus dilakukan adalah menentukan truk, artinya perlu diketahui truk mana yang akan mengunjungi toko yang mana. Tahap kedua nantinya adalah menentukan rute perjalanan masing-masing truk. Untuk menentukan rute yang paling baik dapat dikerjakan dengan satu metode yang dinamakan metode saving matrix (Pujawan dan Mahendrawati. 2010).
Macam Vehicle Routing Problem (skripsi dan tesis)
Menurut rute dapat dibedakan menjadi 3 menurut (Pujawan dan Mahendrawati. 2010) : 1. Daily routing yaitu rute dari sejumlah kendaraan yang harus di operasikan untuk 1 hari pengiriman. 2. Periode routing yaitu rute dari sejumlah kendaraan yang harus di operasikan untuk beberapa periode. 3. Fixed routing problem yaitu rute dari sejulah kendaraan yang harus di operasikan dan tidak berubah untuk beberapa periode tertentu.
Vehicle Routing Problem (VRP) (skripsi dan tesis)
Vehicle Routing Problem (VRP) merupakan manajemen distribusi barang yang memperhatikan pelayanan, periode waktu tertentu, sekelompok konsumen dengan sejumlah kendaraan yang beralokasi pada satu atau lebih depot yang dijalankan oleh sekelompok pengendara dengan menggunakan jaringan jalan (road network) yang sesuai. (Toth dan Vigo 2002) mendefinisikan VRP sebagai suatu pencarian solusi yang meliputi penentuan sejumlah rute, dimana masing-masing rute dilalui oleh satu kendaraan yang berawal dan berakhir di depot asalnya, sehingga permintaan semua pelanggan terpenuhi dengan tetap memenuhi kendala operasional yang ada dan juga meminimalisasikan biaya transportasi global Suatu perusahaan harus dapat mengoptimalkan sistem distribusinya agar dapat bersaing dengan perusahaan sejenis lainya. Salah satu caranya adalah dengan pengoptimalan transportasi. Salah satu permasalahan dalam transportasi adalah Vehicle Routing Problem (VRP) yaitu merancang m set rute kendaraan dengan jarak terpendek dimana tiap kendaraan berawal dan berakhir di depot, setiap konsumen hanya dilayani sekali oleh sebuah kendaraan, serta total permintaan yang dibawa tidak melebihi kapasitas kendaraan. Terdapat empat tujuan umum VRP (Toth dan Vigo, 2002) : Meminimalkan biaya transportasi global, terkait dengan jarak dan biaya tetap yang berhubungan dengan kendaraan Meminimalkan jumlah kendaraan ( pengemudi ) yang dibutuhkan untuk melayani semua konsumen Menyeimbangkan rute, untuk waktu perjalanan dan jatan kendaraan Meminmalkan penalti akibat service yang kurang memuaskan dari konsumen. VRP juga dapat dilihat sebagai kombinasi dari dua permasalahan optimasi lain, yaitu Travelling Saleman Problem (TSP). BPP dapat dieskripsikan sebagai berikut : “ Diberikan sejumlah angka, yang melambangkan ukuran dari sejumlah item, dan sebuah konstanta K, yang melambangkan kapasitas dari bin. Berapa jumlah bin minimum yang diperlukan?” Tentu saja satu item hanaya dapat berada dalam satu bin saja, dan total kapasitas item pada setiap bin tidak boleh melebihi kapasitas bin tersebut. Disamping itu, TSP adalah sebuah permasalahan tentang seorang salesman yang ingin mengunjungi sejumlah kota. Dia harus mengunjungi satu kota saja, dimulai dan diakhiri kota awal. Inti permasalahan adalah untuk menentukan jalur terpendek melalui semua kota yang ada. Hubungan keduanya dengan VRP adalah, Vehicle dapat dihubungkan dengan customer menggunakan BPP, dan urutan kunjungan vehicle terhadap tiap customer di selesaikan menggunakan TSP.
Perantara Saluran (skripsi dan tesis)
Perantara adalah individu atau kelompok (organisasi) bisnis yang beroperasi di antara produsen dan konsumen atau pembeli industri. Jenis-jenis perantara saluran distribusi produk, meliputi (Pujawan dan Mahendrawati. 2010) : 1. Pedagang besar (Wholesaler) adalah perantara yang menjual barang kepada pengecer, pedagang besar lain atau pemakai industri. Dikaitkan dengan pelaksanaan fungsi pemasran (penjualan, pengangkutan, dan penyimpanan), pedagang besar di bagi dua yaitu : a. Pedagang besar dengan fungsi penuh (pedagang yang melaksanakan seluruh fungsi pemasaran) b. Pedagang besar dengan fungsi terbatas (pedagang besar yang hanya melaksanakan beberapa fungsi pemasaran) 2. Pengecer (retailer) adalah perantara yang membeli produk ke produsen atau ke pedagang besar kemudian menjuaknya ke konsumen akhir. Berdasarkan produk line atau banyaknya jenis barang yang di jual, jenis pengecer (retailer) di bagi antara lain: General merchandise store, yaitu sebuah took yang menjual berbagai macam barang atau berbagai macam produk line. Misalnya: toko serba ada (department store) yang menjual berbagai macam produk. a. Single line store, yaitu sebuah toko yang menjual hanya satu kelompok atau beberapa macam produk terkait. Misal : toko makanan, toko bahan bangunan, dll. b. Speciaty store, yaitu toko yang mengkhususkan menjual satu garis produk. Misal : toko roti, sepatu pria dll. 3. Agen, yaitu perantara yang menyalurkan barang dari produsen ke pedagang besar, pengecer, pemakai industri dan tidak berhak memiliki barang (produk) yang di salurkan. Ada beberapa macam agen, yaitu : a. Agen penjualan, yaitu agen yang mempunyai tugas utama mencarikan pasar bagi produsen. b. Agen pembeli, yaitu agen yang mempunyai tugas utama menyarikan penyedia / supplier bagi pembeli.
Saluran distribusi (skripsi dan tesis)
adalah saluran yang di gunakan untuk menyalurkan suatu produk dari produsen ke konsumen (konsumen akhir atau pemakai produk industri). Fungsi saluran disitribusi (Pujawan dan Mahendrawati. 2010) : a. Mengumpulkan informasi yang di perlukan untuk perencanaan dan memudahkan pertukaran. b. Mengembangkan dan menyebarkan komunikasi lewat tawaran. c. Melakukan pencarian dan berkomunikasi dengan calon pembeli. d. Mengusahakan perundingan untuk mencapai persetujuan akhir atasa harga dan ketentuan lainya mengenai tawaran agar perpindahan kepemilikan dapat tercapai. e. Melaksanakan pengangkutan dan penyimpanan produk. f. Mengatur distribusi dana untuk menutup biaya saluran distribusi. g. Menerima resiko dalam hubugan dengan pelaksanaan pekerjaan saluran pemasaran
Fungsi Dasar Distribusi dan Transportasi (skripsi dan tesis)
Secara tradisional kita mengenal manajemen distribusi dan transportasi dengan berbagai sebutan. Sebagaian perusahaan menggunakan istilah manajemen logistik, sebagain lagi menggunakan istilah distribusi fisik. Apapun istilahnya, secara umum fungsi distribusi dan transportasi pada dasarnya adalah mengantarkan produk dari lokasi diman produk tersebut di produksi sampai dimana pelayanan kepada konsumen, serta layanan purna jual yang memuaskan. Kegiatan distribusi dan transportasi dapat di lakukan oleh perusahaan manufaktur dengan membentuk bagian distribusi atau transportasi sendiri atau di serahkan pihak ketiga. Dalam upayanya untuk memenuhi tujuan – tujuan di atas, siapapun yang melaksanakan (internal perusahaan atau mitra pihak ke tiga), manajemen distribusi dan transportasi pada umumnya melakukan sejumlah fungsi dasar yang terdiri dari (Pujawan dan Mahendrawati. 2010) : 1. Melakukan segmentasi dan melakukan target service level. Segmentasi konsumen perlu di lakukan karena kontribusi mereka pada revenue perusahaan bisa bervariasi dan karakteristik tiap konsumen bisa bebeda satu dengan lainya. Dengan memahami perbedaan karakteristik dan kontribusi tiap konsumen atau area distribusi, perusahaan bisa mengoptimalkan alokasi persediaan maupun kcepatan layanan. Misalnya, konsumen kelas 1, yang menyumbangkan pendapatan terbesar, memiliki target servis level yang lebih tinggi di bandingkan dengan konsumen kelas 2 atau kelas 3 yang kontribusinya lebih rendah. 2. Menentukan mode transportasi yang akan di gunakan. Tiap mode transportasi memiliki karakteristik yang beda dan memiliki keunggulan serta kelemahan yang berbeda juga, sebagai contoh, transportasi laut memiliki keunggulan dari segi biaya yang lebih rendah, namun lebih lambat di bandingkan dengan transportasi udara. Manajemen transportasi harus bisa menentukan mode apa yang akan di gunakan dalam mengirimkan produk – produk mereka ke konsumen, kombinasi dua atau lebih mode transportasi tentu bisa atau bahkan harus di lakukan tergantung pada situasi yang di hadapi. 3. Melakukan penjadwalan dan penetuan rute pengiriman. Salah satu kegiatan yang di lakukan oleh distributor adalah menetukan kapan kendaraan harus berangkat dan rute mana yang harus di lalui untuk memenuhi permintaan dari sejumlah konsumen. Apabila jumlah konsumen sedikit, keputusan ini dapat di ambil secara mudah. Namun perusahaan yang memiliki ribuan atau puluhan ribu toko atau tempat – tempat penjualan yang harus di kunjungi, penjadwalan dan penentuan rute pengiriman adalah pekerjaan yang sangat sulit dan kurang tepatan dalam mengambil dua keputusan tersebut bisa berimplikasi pada biaya pengiriman.
Transportasi (skripsi dan tesis)
Transportasi adalah suatu proses pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Proses transportasi merupakan gerakan dari tempat asal (tempat awal kegiatan pengangkutan dimulai), menuju ke tempat tujuan (tempat dimana kegiatan pengangkutan diakhiri). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya transportasi, yaitu ketersedianya muatan yang diangkut, ketersedianya kendaraan sebagai alat angkutannya, dan adanya jalanan yang dapat dilalui (Nasution, 1996). Transportasi dapat berarti perpindahan produk dari suatu tempat lain yang membuat produk tersebut sampai ke tangan konsumen. Transportasi merupakan kunci utama dalam rantai persediaan, karena produk jarang di produksi dan di konsumsi pada tempat / lokasi yang sama. Transportasi adalah komponen biaya yang signifikan dari kebanyakan pengeluaran (Nasution, 1996). Ada 2 kunci di dalam transportasi yang berlangsung di dalam suatu rantai persediaan : a. Pengiriman adalah pihak yang memerlukan bergeraknya produk antara dua lokasi didalam rantai persediaan. b. Pengangkut adalah pihak yang memindahkan atau mengangkut produk.
Distribusi (skripsi dan tesis)
Distribusi adalah kegiatan untuk memindahkan produk dari pihak suplier kepada konsumen dalam bentuk suatu supply chain. Distribusi merupakan suatu kunci keuntungan yang akan di peroleh perusahaan karena distribusi secara langsung akan mempengaruhi biaya dari supply chain dan kebutuhan konsumen, jaringan distribusi yang tepat dapat digunakan untuk mencapai berbagai macam dari kebutuhan supply chain mulai dari biaya yang rendah dan respons yang tinggi terhadap permintaan konsumen. Istilah distribusi sama dengan place (penempatan) yaitu aktivitas penyaluran atau penempatan barang (produk) dari produsen ke konsumen. Perpindahan material terjadi pada semua siklus proses manufaktur produk, baik itu sebelum maupun sesudah proses produksi (Lubis 2004). Dalam distribusi terdapat dua kategori, yaitu: 1. Pemindahan bahan dan hasil produksi dengan menggunakan sarana disribusi. 2. Mengangkut penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Maka distribusi adalah proses pemindahan hasil produksi dari suatu tempat ke tempat lain menggunakan alat distribusi. Distribusi adalah istilah yang biasa digunakan dalam pemasaran untuk menjelaskan bagaimana suatu produk atau jasa dibuat secara fisik tersedia bagi konsumen. Distribusi meliputi kegiatan pergudangan, transportasi, persediaan dan penanganan pesanan. Distribusi merupakan elemen keempat dari pemasaran tradisional yang mengacu pada cara suatu produk atau layanan dirancang sedemikian rupa sehingga bisa didapatkan oleh pelanggan. Distribusi meliputi beberapa kegiatan seperti: pengawasan pencatatan, proses pemesanan dan transportasi.
Pendekatan Efektivitas (skripsi dan tesis)
Gibson (2000:38) mengungkapkan tiga pendekatan mengenai efektivitas yaitu: a. Pendekatan Tujuan Pendekatan tujuan untuk mendefinisikan dan mengevaluasi efektivitas merupakan pendekatan tertua dan paling luas digunakan. Menurut pendekatan ini, keberadaan organisasi dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pendekatan tujuan menekankan peranan sentral dari pencapaian tujuan sebagai kriteria untuk menilai efektifitas serta mempunyai pengaruh kuat atas pengembangan teori dan praktik manajemen dan perilaku organisasi, tetapi sulit memahami bagaimana bagaimana melakukannya. Alternatif terhadap pendekatan tujuan ini adalah teori sistem. b. Pendekatan Teori Sistem Teori ini menekankan pada pertahanan elemen dasar masukan proses pengeluaran dan mengadaptasi terhadap lingkungan yang lebih luas yang menopang organisasi. c. Pendekatan Multiple Constituency Pendekatan ini adalah perspektif yang menekankan pentingnya hubungan relatif diantara kepentingan kelompok individual suatu organisasi. Dengan pendekatan yang memungkinkan mengkombinasikan tujuan pendekatan sistem guna memperoleh pendekatan yang lebih tepat bagi efektifitas organisasi. Robbins (1994:54) mengungkapkan juga mengenai pendekatan dalam efektivitas organisasi: a. Pendekatan pencapaian tujuan (goal attainment approach). Pendekatan ini memandang bahwa keefektifan organisasi dapat dilihat dari pencapaian tujuannya (ends) daripada caranya (means). Kriteria pendekatan yang populer digunakan adalah memaksimalkan laba, memenangkan persaingan dan lain sebaginya. Metode manajemen yang terkait dengan pendekatan ini dekenal dengan Manajemen By Objectives (MBO) yaiutu falsafah manajemen yang menilai keefektifan organisasi dan anggotanya dengan cara menilai seberapa jauh mereka mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. b. Pendekatan sistem. Pendekatan ini menekankan bahwa untuk meningkatkan kelangsungan hidup organisasi, maka perlu diperhatikan adalah sumber daya manusianya, mempertahankan diri secara internal dan memperbaiki struktur organisasi dan pemanfaatan teknologi agar dapat berintegrasi dengan lingkungan yang darinya organisasi tersebut memerlukan dukungan terus menerus bagi kelangsungan hidupnya. c.Pendekatan konstituensi-strategis. Pendekatan ini menekankan pada pemenuhan tuntutan konstituensi itu di dalam lingkungan yang darinya orang tersebut memerlukan dukungan yang terus menerus bagi kelangsungan hidupnya. d. Pendekatan nilai-nilai bersaing. Pendekatan ini mencoba mempersatukan ke tiga pendekatan diatas, masing-masing didasarkan atas suatu kelompok nilai. Masingmasing didasarkan atas suatu kelompok nilai. Masing-masing nilai selanjutnya lebih disukai berdasarkan daur hidup di mana organisasi itu berada.
Ukuran Efektifitas (skripsi dan tesis)
Menurut pendapat Gibson Ivancevich Donnelly dalam bukunya Prilaki, Struktur, Proses (1996:34) menyebutkan bahwa ukuran efektivitas organisasi, sebagai berikut : a. Produksi adalah merupakan kemampuan organisasi untuk memproduksi jumlah dan mutu output sesuai dengan permintaan lingkungan. b. Efesiensi adalah merupakan perbandingan (ratio) antara output dengan input. c. Kepuasaan adalah merupakan ukuran untuk menunjukan tingkat dimana organisasi dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. d. Keunggulan adalah tingkat dimana korganisasi dapat dan benarbenar tanggap terhadap perubahan internal dan eksternal. e. Pengembangan adalah merupakan mengukur kemampuan organisasi untuk meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi tuntutan masyarakat. Sehubungan dengan hal-hal yang dikemukakan di atas, maka ukuran efektivitas organisasi merupakan suatu standar akan terpenuhinya mengenai sasaran dan tujuan yang akan dicapai serta menunjukan pada tingkat sejauh mana organisasi, program/kegiatan melaksanakan fungsi-fungsinya secara optimal. Membahas masalah ukuran efektivitas memang sangat bervariasi tergantung dari sudut terpenuhinya beberapa kriteria akhir.
Pengertian Efektifitas. (skripsi dan tesis)
Menurut Mahmudi (2005:92) mendefinisikan efektifitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap pencapaian tujuan, makasemakin efektif organisasi, program atau kegiatan Efektivitas berfokus pada outcome (hasil), program, atau kegiatan yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat memenuhi tujuan yang diharapkan atau dikatakan spending wisely. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka efektivitas adalah menggambarkan seluruh siklus input, proses dan output yang mengacu pada hasil guna daripada suatu organisasi, program atau kegiatan yang menyatakan sejauhmana tujuan (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah dicapai, serta ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya dan mencapai target-targetnya. Hal ini berarti, bahwa pengertian efektivitas yang dipentingkan adalah semata-mata hasil atau tujuan yang dikehendaki. Menurut pendapat Markus Zahnd dalam bukunya Perancangan Kota Secara Terpadu mendefinisikan efektivitas dan efisiensi, sebagai berikut: “Efektivitas yaitu berfokus pada akibatnya, pengaruhnya atau efeknya,sedangkan efisiensi berarti tepat atau sesuai untuk mengerjakan sesuatudengan tidak membuang-buang waktu, tenaga dan biaya”.(Zahnd, 2006:200-2001) Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa efektivitas lebih memfokuskan pada akibat atau pengaruh sedangkan efisiensi menekankan pada ketepatan mengenai sumber daya, yaitu mencakup anggaran, waktu, tenaga, alat dan cara supaya dalam pelaksanaannya tepat waktu. Lebih lanjut menurut Agung Kurniawan dalam bukunya Transformasi Pelayanan Publik mendefinisikan efektivitas, sebagai berikut: “Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya”.(Kurniawan, 2005:109). Sehubungan dengan hal-hal yang dikemukakan di atas, maka secara singkat pengertian daripada efisiensi dan efektivitas adalah, efisiensi berarti melakukan atau mengerjakan sesuatu secara benar, , sedangkan efektivitas melakukan atau mengerjakan sesuatu tepat pada sasaran. Tingkat efektivitas itu sendiri dapat ditentukan oleh terintegrasinya sasaran dan kegiatan organisasi secara menyeluruh, kemampuan adaptasi dari organisasi terhadap perubahan lingkungannya. Mengaju pada penjelasan diatas, maka untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif perlu adanya harmonisasi kemampuan sumberdaya dengan menggunakan sarana yang lain sehingga sasaran yang akan dacapai menjadi jelas.Pencapaian sasaran tersebut dapat dikatakan efektif apabila adanya keharmonisan. Setiap pekerjaan pegawai dalam organisasi sangat sangat menentukan bagi pencapaian hasil kegiatan seperti yang telah direncanakan terlebih dahulu. Untuk itu faktor keefektifannya banyak mempengaruhi kepada kemampuan aparatur dan organisasi dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya. Tingkat pencapaian tujuan aparatur dalam suatu organisasi dikatakan efektif apabila pencapaian itu sesuai dengan tujuan organisasi dan memberikan hasil yang bermanfaat.
Pencapaian Efisiensi Kerja (skripsi dan tesis)
Sedarmayanti (2001:114) menyatakan bahwa efisiensi kerja dapat tercapai apabila: a. Berhasil Guna atau Efektif. Usaha Tertentu A Hasil Tertentu B Hasil Lebih Besar C Hasil Terbesar Yaitu untuk menyatakan bahwa kegiatan telah dilaksanakan dengan tepat artinya target tercapai sesuai waktu yang ditetapkan. b. Ekonomis. Dalam usaha mencapai efektifitas yang termaksud, maka biaya tenaga kerja, material, peralatan, waktu, ruangan dan lain-lainya, telah dipergunakan dengan setepat-tepatnya. c. Pelaksanaan Kerja dapat Dipertanggungjawabkan. Yaitu untuk membuktikan bahwa dalam pelaksanaan kerja, sumber-sumber telah dimanfaatkan dengan setepat-tepatnya dan dilaksankan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan yang ditetapkan. d. Pembagian Kerja Nyata. Yakni berdasarkan pemikiran bahwa tidak mungkin manusia seorang diri mengerjakan segala macam pekerjaan dengan baik, sebab bagaimanapun juga kemauan setiap orang pasti terbatas (real and factual distribution of work/DW). Oleh sebab itu harus ada pembagian kerja yang nyata yaitu benar-benar berdasarkan beban kerja (volume of work/VW). Ukuran kemampuan kerja dan waktu yang tersedia. e. Rasionalitas Wewenang dan Tanggung Jawab. Artinya jangan sampai terjadi seseorang mempunyai wewenang yang lebih besar dan tanggung jawabnya. Wewenang harus sama dan seimbang dengan tanggung jawabnya. f. Prosedur Kerja Praktis, Bekerja, dan dapat dilaksanakan . Yaitu pelaksanaan kerja yang dapat dipertanggungjawabkan serta pelayanan kerja yang memuaskan tersebut haruslah merupakan kegiatan operasional yang dapat dilaksanakan dengan lancar. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa efisiensi kerja akan tercapai apabila berhasil guna atau efektif, ekonomis, pelaksanaan kerjanya dapat dipertanggungjawabkan, terdapat pembagian kerja yang nyata, rasionalitas wewenang dan tanggung jawab, terdapat keseimbangan, serta terdapat prosedur yang praktis yang dapat dipahami oleh seluruh pegawai lingkungan kantor.
Pengertian Efisiensi (skripsi dan tesis)
Efisiensi dan efektivitas merupakan 2 macam kriteria yang biasa digunakan untuk menentukan prestasi suatu pusat pertanggungjawaban. Menurut Dearden yang di terjemahkan oleh agus Maulana dalam bukunya yang berjudul “Sistem Pengendalian Manajemen”,pengertian efisiensi adalah kemampuan suatu unit usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan, efisiensi selalu dikaitkan dengan tujuan organisasi yang harus dicapai oleh perusahaan(Maulana, 1992:46). Dalam kamus besar (1995:250) pengertian efisiensi adalah kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat (dengan tidak membuang-buang waktu,tenaga dan biaya). Pengertian efisiensi itu sendiri telah didefinisikan oleh banyak pakar ekonomi dan manajemen, diantara adalah pengertian Efisiensi menurut Hasibuan(1994:07) yaitu perbandingan terbaik antara input (masukan ) dan output (hasil), antara keuntungan dengan biaya (antara hasil pelaksanaan dengan sumber yang digunakan), seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas. Sedangkan menurut Supriyono (1997:35) dalam bukunya yang berjudul “Akuntansi Manajemen II” mendefinisikan efisiensi adalah juka suatu unit dapat bekerja dengan baik, sehingga dapat mencapai hasil atau tujuan yang diharapkan. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa efisiensi merupakan kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya untuk memperoleh hasil tertentu dengan menggunakan masukan (input yang serendah-rendahnya) untuk menghasilkan suatu keluaran (output), dan juga merupakan kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar. Suatu pusat pertanggungjawaban dikatakan efisiensi jika pusat pertanggungjawaban tersebut : a. Menggunakan sumber, atau biaya atau masukan lebih kecil untuk menghasilkan keluaran dalam jumlah yang sama. b. Mengguanakan sumber, atau biaya, atau masukan yang sama untuk menghasilkan keluaran dalam jumlah yang lebih besar.
Fungsi-fungsi saluran distribusi (skripsi dan tesis)
Saluran distribusi adalah jaringan organisasi yang melakukan fungsi-fungsi yang menghubungkan rodusen dengan pengguna akhir. Saluran distribusi terdiri dari berbagai lembaga atau badan yang saling tergantung dan saling berhubungan, yang berfungsi sebagai suatu sistem atau jaringan, yang bersama-sama berusaha menghasilkan dan mendistribusikan sebuah produk ke pengguna akhir (Cravens:28). Untuk menyampaikan produk-produk dari produsen ke pengguna akhir diperlukan beberapa fungsi. Fungsi-fungsi saluran distribusi diantaranya terdiri dari : 1. Transportasi. Transportasi menghilangkan jarak di antara pembeli dan penjual. Ini dilakukan dengan fungsi distribusi fisik. 2. Pemrosesan dan penyimpanan barang. Ini menyangkut pemecahan jumlah yang besar menjadi pesanan individual,sambil tetap menjaga persediaan dan mengumpulkan pesanan untuk dikirimkan. 3. Periklanan dan promosi penjualan. Mengkomunikasikan ketersediaan, tempat,dan ciri-ciri produk. 4. Penetapan harga. Menetepakan basis pertukaran diantara penjual dan pembeli. 5. Pengurangan resiko Dilakukan melalui mekanisme seperti asuransi, kebijakan retur yang kemungkinan terjual di masa depan. 6. Komunikasi Mencangkup kontak penjualan langsung, pesanan tertulis dan konfirmasi, dan arus informasi antara penjual dan pembelian
Tugas dan Fungsi Manajemen Produksi (skripsi dan tesis)
Menurut Taylor (1990) manajemen produksi semakin berkembang dan memiliki 4 tugas yaitu meliputi: a. Pengembangan terhadap ilmu pengetahuan bagi masing-masing unsur dari kerja untuk mengganti metode kerja yang telah dipraktekan. b. Seleksi secara ilmiah, latihan dan pengembangan para pekerja untuk membagikan kesempatan para pekerja untuk memilih spesilisasinya yang paling tepat bagi dirinya. c. Pengembangan terhadap semangat dan mental para pekerja dengan pendekatan antara pekerja dan manajer untuk menuimbulkan suasana kerja yang baik. d. Pembagian kerja dan tanggung jawab yang seimbang terhadap semua pekerja maupun manajer. Bidang ini merupakan pembagian kerja antara pekerja dan manajer yang merupakan bagian yang penting di dalam perencanaan dan pengawasan. Menurut Gitosudarmo (1976:13) di dalam manajemen produksi terdapat fungsi pengawasan yang meliputi: a. Supervisi yang menjamin agar kegiatan dilaksanakan dengan baik. b. Pembandingan berusaha mengecek apakah hasil kerja sesuai dengan yang dikehendaki. c. Koreksi berusaha menghilangkan kesulitan atau penyimpangan baik daripada pekerjaan maupun merubah rencana yang dipandang
Pengertian Produksi (skripsi dan tesis)
Produksi adalah salah satu faktor penting dalam kegiatan suatu perusahaan yang berhubungan untuk menciptakan atau menghasilkan barang atau jasa. Pengertian produksi atau operasi dapat lebih luas dan jelas dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Assauri dalam bukunya “Manajemen Produksi dan Operasi” (2004:10) mengemukakan bahwa pengertian produksi dan operasi dalam arti luas sebagai suatu kegiatan yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil keluaran (output) tercakup semua kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa serta kegiatan lain yang mendukung atau menunjang usaha untuk menghasilkan produk tersebut. Pengertian produksi menurut Prawirosentono dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Operasi” (2001:1)mengatakan bahwa produksi adalah proses kegiatan yang mengubah bahan baku menjadi barang lain yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi. Sedangkan menurut Jay dan Renderdalam bukunya “Operations and Productivity” (2001:4)mengatakan bahwa:Productions is the creation of goods and services”. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat dijelaskan bahwa pengertian produksi atau operasi adalah suatu kegiatan mentransformasikan input menjadi outputtermasuk segala kegiatan menghasilkan barang dan jasa serta kegiatan lainnya yang mendukung dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki
Komponen-komponen sistem logistik (skripsi dan tesis)
Berjalannya kegiatan logistik tentu saja didukung oleh komponen-komponen yang ada dalam sistem logistik tersebut. Menurut Bowersox(2002:63) di dalam sistem logistik terdapat komponenkomponen yang antara lain terdiri dari: a) Struktur lokasi fasilitas Jaringan fasilitas suatu perusahaan merupakan serangkaian lokasi ke mana dan melalui mana material dan produk diangkut. Untuk tujuan perencanaan, fasilitas-fasilitas tersebut meliputi pabrik, gudang, dan toko pengecer. Jika digunakan jasa khusus dari perusahaan pengangkutan atau gudang, maka fasilitas ini merupakan bagian terpenting dari jaringan kerja tersebut. b) Transportasi Kecepatan pelayanan transport adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pengangkutan. Kecepatan itu berkaitan dengan transport yang mampu memberikan pelayanan yang lebih cepat dan tarif tinggi, selain itu berkaitan pada lebih cepat pelayanan maka lebih pendek waktu produksi barangnya. c) Persediaan Pengadaan material dilaksanakan dalam sistem logistik untuk alasan yang berbeda dengan pengadaan produk jadi. Dengan pentahapan waktu MRP, tuijuan yang terpenting adalah mempertahankan kontinuitas jadwal produksi dengan komitmen yang minimum pengadaan persedian. d) Komunikasi Komunikasi adalah kegiatan yang tidak boleh diabaikan dalam sistem logistik. Kecepatan arus informasi itu juga berkaitan langsung dengan integrasi dari fasilitas, transportasi dan persediaan. Semakin efisien desain sistem logistik suatu perusahaan maka akan semakin peka terhadap gangguan dalam arus informasi. e) Penanganan (handling) dan penyimpanan. Dalam arti luas, penanganan dan penyimpanan ini meliputi pergerakan atau movement, pengepakan, dan containerization (pengemasan). Jadi semakin sedikit produk ditangani maka semakin terbatas atau efisien arus total fisiknya. Jika diintegrasikan secara efektif maka handling dapat mengurangi masalah dengan kecepatan dan kemudahan melalui sistem tersebut. Dalam konteks yang strategis, fokus pusat pada logistik adalah komitmen pada persediaan. Produk dan material dipandang sebagai kombinasi dari kegunaan bentuk, waktu, tempat dan pemilikan. Jika sebuah perusahaan tidak secara konsisten memenuhi kebutuhan waktu dan tempat, maka ia tidak secara efisien dicapai, sehingga laba dan pengembalian atas investasi akan dibahayakan.
Proses Logistik (skripsi dan tesis)
menurut Saluran Menurut Revzan (dalam buku Manajemen Pemasaran Modern, 1990:285) mengatakan bahwa saluran merupakan suatu jalur yang dilalui oleh arus barang-barang dari produsen ke perantara akhirnya sampai pada pemakai. Menurut Walters (dalam buku Manajemen Pemasaran Modern,1990:286) mengatakan bahwa saluran merupakan sekelompok pedagang dan agen perusahaan yang mengkombinasikan antara pemindahan fisik dan nama dari suatu produk untuk menciptakan kegunaan bagi pasar tertentu. Menurut American Marketing Assosiation saluran merupakan suatu struktur unit organisasi dalam perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri atas agen,dealer, pedagang besar, dan pengecer, melalui mana suatu produk atau jasa dipasarkan. Saluran logistik terdiri dari sejumlah perusahaan independen yang bersama-sama menyerahkan produk dan berbagai material ke lokasi yang tepat pada waktu yang tepat. Sejumlah fungsi harus dilaksanakan secara bersama-sama oleh anggota saluran ini dalam proses logistik tersebut. Arus logistik dalam suatu saluran adalah ibarat mekanisme gigi kunci inggris. Gerakan fisik yang paling ekonomis adalah gerakan satu arah yang menuju kepada lokasi terakhir nasabah. Menurut Simamora (2000:731) dari sudut distribusi fisik atau logistik, layanan pelanggan adalah kemampuan sistem saluran untuk memuaskan kebutuhan pelanggan, pemakai industrial, atau perantara saluran (seperti para pengecer) dalam hal-hal: a) Waktu siklus pesanan, yang mengacu kepada seberapa lama perusahaan menerima, memproses, dan menhirimkan sebuah pesanan. b) Keteladanan, yang berkaitan dengan konsistensi/keandalan pengiriman. Hal ini kemungkinan merupakan elemen yang paling penting dari layanan distribusi-terutama bagi perusahaan yang menerapkan sistem tepat waktu. c) Komunikasi yang terjadi diantara pembeli dan penjual, yang memungkinkan kedua belah pihak memecahkan masalah pada tahap yang sangat dini. d) Kemudahan, berarti bahwa sistem cukup luwes untuk mengakomodasikan kebutuhan khusus dari pelanggan yang berbeda.
Pengertian Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)
Secara historis dalam logistik atau distribusi fisik ini tercangkup dua kegiatan utama yaitu pengangkutan dan penyimpanan. Biasanya, kegiatan pengangkutan dan penyimpanan dipandang sebagai kegiatan yang terpisah. Menurut Swastha (1990:321) pengangkutan adalah pemindahan barang melalui suatu jalan atau jalur yang mengambil tempat di antara lembaga-lembaga saluran atau antara lembaga saluran dengan konsumen. Sedangkan, penyimpanan atau penggudangan merupakan pengamanan barang-barang selama dibutuhkan. Manajemen logistik merupakan aliran barang secara baik, efektif dan efisien mulai dari pengiriman barang dari pemasok atau supplier ke toko, penyimpanan yang baik di dalam gudang, pendistribusiannya hingga barang tersebut sampai kepada konsumen untuk dikonsumsi, selain itu juga di dalam manajemen logistik memiliki jasa pelayanan serta informasi mengenai produk yang dimilikinya di dalam penjualan barang. Manajemen Logistik merupakan suatu tanggungjawab untuk membuat dan mengatur sistem guna mengatasi aliran bahan baku dan barang jadi (Swasta, 1990:322). The Council of Logistic Management (1998) mendefinisikan Manajemen Logistik merupakan bagian dari proses Supply Chain yang berfungsi untuk merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan keefisienan dan keefektifan aliran dan penyimpanan barang, pelayanan dan informasi terkait dari titik permulaan (point of origin) hingga titik konsumsi (point of consumption) dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan. Menurut Swasta (1990) manajemen logistik mempunyai tugas lain yaitu dengan menentukan macam sistem logistik yang dipakai, memilih logistik privat atau logistik agen, memilih jenis alat angkutan umum, mendisain organisasi logistik, menentukan logistik mix menentukan operasi gudang, menentukan operasi gudang. Menurut Bowesox (2002:13) manajemen Logistik adalah unik karena ia nerupakan satu aktivitas perusahaan yang tertua tetapi juga termuda. Aktivitas logistik (lokasi fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi, dan pengurusan dan penyimpanan) telah dilaksanakan orang semenjak awal spesilisasi komersil. Pendapat Ballou (2004) mengenai definisi dari logistik adalah “Logistic or Supply Chain is a collection funtional activities (transportation, inventory, control, etc.) which are repeated many times throughout the chanel through which raw materials are converted into finished products and consumer value is added.” Logistik atau Supply Chain adalah kegiatan pengumpulan fungsional (transportasi, persediaan, kontrol, dll) yang diulang berkalikali di seluruh chanel di mana bahan baku diubah menjadi produk jadi dan nilai konsumen ditambahkan. Logistik merupakan suatu bagian yang integral dalam kegiatan saluran. Adapun tugas umum dari manajemen logistik adalah mengadakan keseimbangan antara biaya dan penghasilan untuk mencapai laba tertentu (Swastha,1990:322) Logistik merupakan suatu istilah yang dipinjam dari militer yang menjelaskan suatu proses secara strategik mengelola aliran efisien dan penyimpanan sejumlah bahan mentah, persediaan dalam proses, dan persediaan barang jadi dari titik asal sampai ke titik konsumsi ( Daniel, 2001:31) Menurut Bowersox (2002:13) logistik merupakan proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplaier, di antara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para langganan. Menurut Simamora (2000:730) distribusi fisik atau logitik ini melibatkan perencanaan, penerapan dan pengendalian arus fisik bahanbahan baku dan barang jadi dari titik asal ke titik konsumen untuk memenuhi kebutuhan pelanggan pada keuntungan tertentu.
Metode Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)
Metode yang banyak digunakan untuk pengendalian persediaan adalah metode visual. Metode visual dilakukan dengan cara petugas farmasi memeriksa sisa stok yang masih ada dan membandingkannya dengan jumlah stok yang harus ada. Jika jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang harus ada maka dilakukan pemesanan kembali (West, 2009). 1) Analisis ABC Jumlah obat-obatan di rumah sakit sangat banyak sehingga sulit untuk menerapkan metode yang sudah dijelaskan sebelumnya. Untuk itu, terdapat metode kontrol tambahan yakni metode kontrol ABC. Metode ini mebagi barang-barang ke dalam tiga tingkatan. Latar belakang metode ini lahir dari prinsip bahwa sebagaian kecil jumlah barang berperan dalam sebagaian besar investasi (prinsip pareto) (Paterson, 2004). Masing-masing jenis barang membutuhkan analisis tersendiri untuk mengetahui besarnya order size dan order poin. Namun, berbagai jenis barang yang ada dalam persediaan tersebut tidak seluruhnya memiliki tingkat prioritas yang sama. Sehingga, untuk mengetahui jenis-jenis barang yang perlu mendapat prioritas, dapat digunakan analisis ABC, karena analisis ini dapat mengklasifikasi seluruh jenis barang berdasarkan tingkat kepentingan (Rangkuti, 1996). Berdasarkan analisis ABC 10% barang berkontribusi pada 70% dari nilai dan disebut dengan kelompok A, kelompok B merupakan 20% barang berkontribusi pada 20% nilai, dan yang terakhir kelompok C merupakan 70% barang yang berkontribusi pada 10% nilai. Hal ini menunjukan bahwa degan mengontrol sebagaian kecil barang, yaitu 10% dari jumlah total barang akan menghasilkan kontrol tetap 70% dari nilai total persediaan (Reddy, 2008). Dalam membuat analisis ABC ada hal yang harus diperhatikan (Reddy, 2008), yaitu : a) Jika barang dapat saling mensubsitusi maka mereka di anggap sebagai satu barang. b) Dalam mengklasifikasi menjadi kelompok A, B, dan C yang harus dilihat adalah total nilai konsumsi, bukan harga per unit barang. c) Semua barang yang dikonsumsi oleh organisasi harus diklasifikasikan bersama-sama, tidak di kelompokan lagi. d) Periode konsumsi tidak harus selama 1 tahun, dapat disesuaikan dengan kebutuhan seperti misalnya 6 bulan, 4 bulan, dan bahkan 1 bulan. Keterbatasan melakukan analisis ABC (Reddy, 2008) : a) Harus ada standarisasi dan pengkodean setiap barang. b) Dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap barang yang kritis tetapi nilainya rendah. c) Harus di review secara periodik sehingga perubahan harga dan konsumsi dapat dipertimbangkan kembali. Cara melakukan analisis ABC : 1) Analisis ABC Pemakaian a) Mengurutkan dari nilai pemakaian terbesar nilai pemakaian terkecil, kemudian dibuat kumulatif pemakaian. b) Mencari nilai presentase kumulatif pemakaian. c) Mengklasifikasi barang persediaan tersebut berdasarkan presentase kumulatif pemakaiannya. d) Jika nilai frekuensi kumulatifnya 0 sampai dengan 70%, maka dikategorikan sebagai A. Jika nilainya berkisar antara 70-90%, maka dikategorikan sebagai B. Sedangkan, nilai pada kisaran 90-100%, dikategorikan sebagai barang C. 2) Analisis ABC Nilai Investasi a) Menghitung jumlah pemakaian per tahun untuk setiap satuan unit barang. b) Mencari harga setiap barang tersebut. c) Mengkalikan pemakaian dengan biaya per barang untuk meperoleh nilai investasi. d) Mengurutkan nilai investasi dari yang terbesar sampai yang terkecil, kemudian dibuat presentase nilai investasi. e) Mencari nilai investasi kumulatif. f) Mengklasifikasi barang persediaan tersebut berdasarkan presentase kumulatif nilai investasinya. g) Jika nilai frekuensi kumulatifnya 0 sampai dengan 70%, maka dikategorikan sebagai A. Jika nilainya berkisaran antara 70-90%, maka dikategorikan sebagai B. Sedangkan, nilai pada kisaran 91- 100%, dikategorikan sebagai C. Setelah didapatkan kelompok barang A, B, dan C, maka selanjutnya dapat dibuat kebijakan untuk pengendaliannya sesuai dengan kepentingan kelompok barang tersebut.
Biaya-biaya Persediaan (skripsi dan tesis)
1) Biaya Penyimpanan (Holding Cost atau Carriying Cost) Merupakan biaya yang bersifat variabel terhadap kuantitas persediaan. Artinya, biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas barang yang dipesan semakin banyak atau rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah : biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan, dan sebagainya),biaya modal, biaya keusangan, biaya perhitungan fisik, biaya asuransi persediaan, biaya pajak persediaan, biaya pencurian, pengerusakan atau perampokan, biaya penanganan persediaan, dan sebagainya. Biaya penyimpanan persediaan biasanya berkisar antara 12 sampai 40 persen dari biaya atau harga barang. Biaya penyimpanan persediaan tahunan adalah 26% dari nilai persediaan per unit per tahun (Heizer, 2015). 2) Biaya Pemesanan atau Pembelian (Ordering Cost atau Procurement Cost) Berbeda dengan biaya penyimpanan, biaya pemesanan tidak naik (konstan) apabila kuantitas pemesanan bertambah besar. Namun, apabila semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan per periode turun, maka biaya pemesanan total pun akan turun. Hal ini berarti, biaya pemesanan total tahunan adalah sama dengan jumlah pesanan yang dilakukan setiap periode dikalikan biaya yang harus dikeluarkan setiap kali pesan. Komponen biaya pesanan meliputi : biaya pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi, upah, biaya telepon, pengeluaran surat menyurat, biaya pengepakan dan penimbangan, biaya pemeriksaan penerimaan, biaya pengiriman, biaya utang lancar, dan sebagainya. 3) Biaya Penyiapan (Set-up Cost) Biaya ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, namun di produksi sendiri oleh perusahaan. Biasanya perusahaan manufacture akan menghadapi biaya ini meliputi : biaya mesin menganggur, biaya penyiapan tenaga kerja langsung, biaya penjadwalan, biaya ekspedisi, dan sebagainya. 4) Biaya Kehabisan atau Kekurangan Bahan (Shortage Cost) Biaya ini timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya tersebut meliputi : kehilangan penjualan, kehilangan langganan, biaya pemesanan khusus, biaya ekspedisi, selisih harga, tergantungnya operasi, tambahan pengeluaran manajerial, dan sebagainya.
Jenis-jenis Persediaan (skripsi dan tesis)
Jenis-jenis persediaan (Lambert et al, 1998 dan West, 2009), yaitu : 1) Cycle Stock Merupakan persediaan yang diperlukan untuk memenuhi permintaan. Jika permintaan dan lead time diketahui dan konstan sehingga tidak diperlukan persediaan lain selain cycle stock. 2) Batch Stock Merupakan persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan dalam jumlah yang lebih besar dari pada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Keuntungan yang diperoleh dari adanya batch stock adalah a. Memperoleh potongan harga pada harga pembelian b. Memperoleh efisiensi produk c. Adanya penghematan di dalam biaya angkutan 3) Safety atau Buffer stock Merupakan persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi lead time dan permintaan yang tidak dapat diramalkan. Bila terdapat fluktuasi permintaan yang sangat besar maka persediaan ini dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik turunya permintaan tersebut. 4) Anticipatory atau Spectulative Stock Merupakan persediaan yang diadakan untuk mengahadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pula musiman yang terdapat dalam 1 tahun, atau karena adanya kenaikan harga.
Manfaat Persediaan (skripsi dan tesis)
Pada dasarnya persediaan memperudah atau memperlancar jalannya operasi perusahaan secara berturut-turut untuk meproduksi barang-barang atau jasa selanjutnya disampaikan pada langganan atau konsumen. Persediaan bermanfaat antara lain (Waters, 2003) : 1) Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahanbahan yang dibutuhkan perusahaan. 2) Menghilangkan resiko akibat dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan. 3) Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi. 4) Memberikan pelayanan pada pelanggan agar setiap waktu kebutuhan langganan dapat dipenuhi, atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang-barang jadi tersebut. 5) Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilakn secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan tersebut tidak dipasarkan. 6) Sangat menguntungkan jika terjadi inflansi.
Pengertian Persediaan (skripsi dan tesis)
Menurut Rangkuti (1996), persediaan adalah sejumlah bahan-bahan, bagian-bagian yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta bahan-bahan jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan konsumen atau langganan setiap waktu. Persediaan ini merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara kontinu diperoleh, diubah kemudian dijual lagi. Persediaan adalah aktiva yang disimpan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan, jua aktiva yang tersedia untuk digunakan sebagai bahan dalam proses produksi (Skousen, 2009). Persediaan meliputi sebuah barang yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali dan atau dikonsumsi dalam operasional normal perusahaan (Hartanto, 2002). Kesimpulan dari pengertian persediaan adalah suatu istilah yang menunjukan segala sesuatu dari sumber daya yang ada dalam suatu proses yang bertujuan mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi baik karena adanya permintaan maupun adanya masalah lain (Yans, 2011)
Logistik di Rumah Sakit (skripsi dan tesis)
Rumah sakit sebagai unit usaha yang menghasilkan suatu jasa harus memperhatikan persediaan obat, barang atau peralatan yang dibutuhkan dalam memproduksi jasa tersebut (Aditama, 2002). Menurut Reddy (2008), peran rumah sakit berbeda dengan peran logistik secara umum karena : a. Kebutuhan atas material berkelanjutan terus menerus karena rumah sakit beroperasional 365 hari dan setiap saat dalam setahun. b. Persyaratan material sangatlah penting. Ketidaksediaan material tertentu bisa mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, seperti contohnya jika oksigen atau obat-obatan kritis tidak tersedia. c. Kualitas material yang dibeli sangatlah penting. Kualitas yang tidak memenuhi standar tidak dapat ditolerir. Contohnya, penggunaan jarum suntik sekali pakai yang terkontaminasi bisa menyebabkan reaksi berbahaya terhadap pasien; darah yang terinfeksi dapat menyebabkan hepatitis dan AIDS. d. Rumah sakit tidak memiliki departemen kontrol kualitas sendiri untuk memastikan kualitas material yang telah dibeli. Alat-alat medis yang telah dibeli untuk masing-masing departemen harus dicek sendiri oleh pengguna di departemen-departemen tersebut. e. Dokter-dokter berandil besar dalam keputusan pembelian. f. Persyaratan material didasarkan oleh jumlah pasien masuk, yang didasarkan juga dari berbagai macam faktor seperti reputasi rumah sakit, iklim, hari libur nasional, dan kondisi ekonomi pasien tersebut. Maka itu, perencanaan persyaratan material sangatlah susah untuk dibakukan. g. Tanggal kadaluarsa sangatlah penting dalam material rumah sakit. Kebanyakan obat-obatan yang dibeli memiliki masa pakai yang terbatas, yang tidak boleh digunakan lagi setelah melewati tanggal kadaluarsa. Menurut bidang pemanfaatannya, barang dan bahan yang harus disediakan di rumah sakit dapat dikelompokan menjadi : persediaan farmasi, persediaan makanan, serta persediaan logistik umum dan teknik. Munurut Aditama (2002), biaya rutin terbesar di rumah sakit pada umumnya terdapat pada pengadaan persediaan farmasi, yang meliputi : a. Persediaan obat, mencakup obat-obatan esensial, non esensial, obatobatan yang cepat dan lama terpakai. b. Persediaan bahan kimia, mencakup persediaan unuk kegiatan operasional laboraturium dan produksi farmasi intern, serta kegiatan non medis. c. Persediaan gas medik, kegiatan pelayanan bagi pasien di kamar bedah, ICU atau ICCU membutuhkan berbagai jenis gas medik. d. Peralatan kesehatan, berbagai peralatan yang dibutuhkan bagi kegiatan perawatan maupun kedokteran yang dapat dikelompokan sebagai barang habis pakai serta barang tahan lama atau peralatan elektronik dan non elektronik. Semua hal diatas perlu dilakukan pengendalian persediaan yang bertujuan menciptakan keseimbangan antara persediaan dan permintaan. Karena itu hasil stok opname harus seimbang dengan permintaan yang didasarkan atas satu kesatuan waktu tertentu, misal 1 bulan atau 2 bulan (Aditama, 2002). Pengadaan barang yang dalam sehari-hari disebut juga pembelian merupakan titik awal dari pengendalian persediaan. Jika pembelian tidak tepat, maka pengendalian akan sulit dikontrol. Pembelian harus sesuai dengan pemakaian, sehingga ada keseimbangan antara pemakaian dan pembelian. Keseimbangan ini tidak hanya antara pembelian dengan pemakaian tetapi harus lebih rinci lagi yaitu antara penjualan dan pembelian dari setiap jenis obat. Obat yang laku keras terbeli dalam jumlah relatif banyak dibanding obat yang laku lambat (Aditama, 2002).
Tujuan Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)
Tujuan manajemen logistik adalah menyampaikan barang jadi dan bermacam-macam material dalam jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai, kelokasi dimana dibutuhkan, dan dengan total biaya terendah (Aditama, 2002). Dalam bukunya yang berjudul Manajemen Administrasi Rumah Sakit (Aditama, 2002) juga menjelaskan kegiatan logistik secara umum memiliki tiga tujuan yaitu : 1) Tujuan Operasional Tujuan operasional adalah agar tersedianya barang, serta bahan dalam jumlah yang tepat dan mutu yang memadai. 2) Tujuan Keuangan Tujuan keuangan meliputi pengertian bahwa upaya tujuan operasional dapat terlaksana dengan biaya yang serendah-rendahnya. 3) Tujuan Pengamanan Tujuan pengamanan bermaksud agar persediaan tidak terganggu oleh kerusakan, pembrosan, penggunaan tanpa hak, pencurian, dan penyusustan yang tidak wajar lainnya, serta nilai persediaan sesungguhnya dapat tercermin di dalam sistem akutansi.
Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)
Logistik adalah ilmu yang mempelajari aktivitas fungsional yang menentukan aliran bahan di sebuah perusahaan. Logistik menentukan semua kegiatan yang bertujuan untuk memastikan pembelian, aliran, dan pengelolaan bahan dengan benar. Masalah yang terjadi pada logistik akan menjadi masalah dalam pelayanan (Ghiani et al, 2013). Dalam suatu rumah sakit logistik adalah bagian yang bertanggung jawab pada pembelian sesuai dengan kebutuhan aktual rumah sakit (Amrollahi, 2012). Manajemen logistik adalah ilmu pengetahuan dan atau seni serta proses mengenai perencanaan dan penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan serta penghapusan material atau alat-alat. The Council of Logistic Management (1991) menyatakan definisi manajemen kurang lebih sama yaitu “the process of planning, implementing, and controlling the efficient, effective flow and stronge of goods, services, and related information from the point of origin to the point of consumption for the purpose of conforming to customer requirments”. Manajemen logistik merupakan proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para supplier, diantara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para langganan. Terdapat lima komponen yang membentuk sistem logistik, yaitu : struktur lokasi fasilitas, transportasi, persediaan (inventory), komunikasi, serta penanganan (handling) dan penyimpanan (storage) (Bowersox, 1995).
Instalansi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) (skripsi dan tesis)
Instalansi farmasi adalah bagaian dari rumah sakit yang bertugas menyelenggarakan, mengkoordinasi, mengatur, dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi (UU RI, 2009). Nstalansi farmasi memiliki pengaruh terhadap ekonomi dan biaya operasional rumah sakit karena bagian ini merupakan bagian di rumah sakit yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan dan pengendalian seluruh sediaan dan pemebekalan kesehatan yang beredar di rumah sakit (Siregar, 2003). Pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai di rumah sakit harus dilakukan oleh instalansi farmasi melalui sistem satu pintu, yaitu bahwa rumah sakit hanya memiliki satu kebijakan kefarmasian termasuk dalam pembuatan formalium, pengadaan, dan distribusi alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan pasien (UU RI, 2009). Pelayanan kefarmasian di rumah sakit meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan farmasi klinik dan kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dan kegiatan pelayanan farmasi klinik. Kegiatan tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia, sarana, dan peralatan. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai harus dilaksanakan secara multi disiplin, terkoordinir, dan menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya (Depkes RI, 2014a).
Missi Logistik (skripsi dan tesis)
Missi logistik suatu perusahaan adalah mengembangkan suatu sistem yang dapat memenuhi kebijaksanaan pelayanan dengan biaya pengeluaran serendah mungkin Bowersox(1995).Sistem logistik terutma menyangkut sokongan terhadap pembuatan (manufacturing) dan operasi pasar.Pada tahapan kebijaksanaan, masalah yang kritis adalah menentukan tahapan prestasi yang dikehendaki dan menetapkan biaya yang berhubungan dengan operasi logistik. Menurut Bowersox(1995) perencanaan sokongan logistik menyangkut 2 pertimbangan kebijksanaan yaitu prestasi pelayanan dan total pengeluaran biaya yang memberikan hasil tercapainya pengembalian yang dikehendaki atas investasi atau sasaran-sasaran tertentu lainya dari perusahaan. Keseimbangan ini adalah kebijaksanaan logistik yang selnjutnya akan memberikan mndt mnajerial untuk menuntun desain sistem. 1) Prestasi logistik Hampir setiap level pelayanan logistik dapat dicapai apabila perusahaan mau membayar harganya, pada akhirnya prestsi logistik itu adalah masalah prioritas dan biaya.Apabila suatu barang tidak tersedia pada waktu dibutuhkan oleh pabrik maka pabrik tersebut mungkin terpaksa ditutup dengan akibat kerugian biaya dan kemungkinan kerugian penjualan.Prioritas yang diberikan kepada prestasi ini dalam situasi tersebut biasanya tinggi. Prestasi logistik diukur dengan penyediaan (avaibility), kemampuan (capability) dan kualitas (quality).Avaibility adalah menyangkut kemampuan perusahaan untuk secara konsisten memenuhi kebutuhan material atau produk, jadi avaibility menyangkut ke persediaan.Umumnya, makin rendah frekwensi pengeluaran stok yang direncanakan, maka makin besar investasi dalam ratarata persediaan. Capability prestasi logistik adalah menyangkut jarak waktu antara penerimaan sutu pesanan dengan pengantaran barangnya.Capability ini menyangkut kecepatan pengantaran dan konsistenya dalam waktu tertentu.Suatu perusahaan penerima dari suatu sistem logistik lebih menghargai konsistensi daripada kecepatn pelayanan.Mutu (Quality) prestasi dalah menyangkut seberapa jauh baiknya tugas logistik secara keseluruhan dilaksanaka.Kualitas dapat dilihat dari besarnya kerusakan, item-item yang betul serta pemecahan masalah yang tidak terduga. Tidak ada gunanya pengantaran yang cepat dan konsisten jika mutu tidak terjaga.Hal tersebut dapat mengecewakan konsumen karena kualitas barang yang dipesan tidak sesuai dengan yang diharapkan konsumen.Standar prestasi hendaklah ditetapkan secara selektif.Sebagian produk lebih kritis daripada produk lainya karena pentingnya bagi pembeli dan arena profitabilityatau tingkat keuntunganya.Prestasi yang rendah atu dibawah standar karena kebijakan yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah yang besar bagi perusahaan. 2) Biaya logistik Sistem logistik hendaklah dipandang sebagai pusat biaya.Sifat dari avaibility yang tinggi, capability yang cepat dan konsisten dan quality yang tinggi itu ada hubunganya masing-masing dengan biaya.Semakin tinggi masing-masing aspek ini dari total prestasi, makin tinggi masing-masing aspek ini maka semakin besar biaya logistiknya Bowersox (1995). Masalah perencanaan yang penting timbul dari fakta bahwa biaya logistik dan peningkatan prestasi itu mempunyai suatu hubungan yang tidak proposional. 3) Keseimbangan sistem logistik Biasanya perushaan akan mendapatkan bahwa hubungan yang terbaik antara prestasi logistik dengan biaya itu adalah hubungan yang berimbang antara prestasi yang layak dengan pengeluaran biaya yang realistis Bowersox(1995). Jarang sekali total biaya yang terendah itu atau prestasi pelayanan yang tinggi itu merupakan sasaran logistik yang terbaik. Kemajuan- kemajuan penting telah dicapai dalam perkembangan alat-alat pembantu bagi manajemen dalam mengukur imbalan biaya prestasi. Suatu kebijakan yang sehat hanya dapat dirumuskan apabila ada kemungkinan untuk menaksir pengeluaran-pengeluaran untuk tingkat-tingkat alternatif dari prestasi perusahaan tersebut, begitu pula tingkat-tingkat alternatif dari prestasi perusahan tidak akan ada artinya apabila tidak dilihat dari sudut kebutuhn pemasaran dan manufacturing. Membuat penetpaan missi logistik adalah tugas perumusan dan perencanaan kebijakan, jadi prestasi logistik adalah hasil yang ingin dicapai perusahaan saat menerapkan sistem logistik
Unsur – unsur sistem manajemen logistik (skripsi dan tesis)
Ada 5 unsur yang digabungkan untuk membentuk sistem logistik dlam organisasi perusahaan yaitu struktur fasilitas, transportasi, persediaan, komunikasi, pengelolaan dan penyimpanan Bowersox (1995). 1) Struktur fasilitas Bisnis tidak dapat mengabaikan dampak dari struktur lokasi terhadap kemampuanya memperoleh pengembalian yang memadai atas investsinya.Jaringan fasilitas yang dipilih merupakan sutu hal yang sangat fundamental bagi hasil akhir logistiknya.Jumlah dan pengaturan fasilitasnya yang dioperasikan dalam perusahaan mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan pelayanan terhadap penggunaan akhir produk, barang serta terhadap biaya logistiknya. Pasar pengguna produk akhir yang berbeda akan menyebabkan aktivitas logistik yang digunakan juga berbeda. Jaringan fasilitas suatu perusahaan merupakan suatu kegiatan logistik dengan kemana dan melalui mana material suku cadang, barang jadi diangkut.Guna tujuan perencanaan yang baik fasilitas tersebut meliputi pabrik, gudang, toko-toko pengecer jika umum maka fasilitas dari spesialis dianggap merupakan hal yang penting.Seleksi terhadap alternative lokasiyang unggul dapat memberikan banyak keuntungan yang kompetitif, karena efisiensi logistik dapat dicapai dengan baik. Peranan pemilihan jaringan fasilitas yang sebaik mungkin itu tidaklah berlebihan walaupun pemindahan (relocation) semua fasilitas pada satu waktu tidaklah masuk akal untuk suatu perusahaan, namun terdapat ruang gerak yang luas bagi perusahan dalam memilih lokasi dan desain fasilitas selama jangka waktu tertentu. 2) Transportasi Dalam suatu jaringan fasilitas, transportasi merupakan suatu mata rantai penghubung. Hampir setiap perusahaan dari ukuran apa saja mempunyai manajer lalu lintas yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan program transportasinya. Pada umumnya perusahaan mempunyai 3 alternatif untuk menetapkan kemmpun transportasinya.Pertama armada peralatan swasta dibeli atau disewa. Kedua, kontrak khusus dapat diatur dengan spesialis transport untuk mendapatkan kontrak jasa pengangkutan. Ketiga bentuk transport ini dikenl sebagai private (swasta), contract (kontrak) dan common carriage(angkutan umum). Jika dilihat dari sistem logistik terdapat 3 faktor yang memegang peranan dalam menentukan kemampun pelayanan transportasi. 16 Ketiga fakor tersebut menurut Bowersox (1995) adalah biaya, kecepatan, dan konsistensi.Biaya transportasi terdiri dari pembayaran sesungguhnya untuk pengangkutan diantara 2 tempat, plus ongkos yang berkaitan dengan pemilikan persediaan dalam perjalanan. Sistem logistik hendaklah dirancang untuk meminimumkan biaya transport dalam hubunganya dengan seluruh biaya sistem. Kecepatan pelayanan transport adalah wktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pengangkutan diantara 2 lokasi. Kecepatan dan biaya berkaitan dalam 2 hal. Pertama, spesialis transport yang mampu memberikan pelayann yang lebih cepat akan membebankan tarif yang lebih tinggi. Kedua, lebih cepat pelayanan makin pendek waktu material dan produk itu berd dalam perjalanan. Konsistensi pelayanan transport menunjukan prestasi waktu yang teratur dari sejumlah pengangkutan diantara 2 lokasi, jika kemampuan transport tidak konsisten maka haruslah diadakan penjagaan terhadap jumlah persediaan yang aman dalam sistem itu untuk perlindungan terhadap kemcetan pelayanan. Konsistensi transport itu mempengaruhi baik komitmen persediaan penjual dan pembeli maupun resiko yng dipikulnya. Dalam merancang suatu sistem logistik hendaklah dimantapkan suatu keseimbangan yang teliti antara biaya transportasi itu dengan mutu pelayanannya dalam beberapa hal adalah lebih baik pengangkutan yang lambat dengan biaya yang murah.Mendapatkan keseimbangan transportasi yang tepat merupakan salah satu tujuan utama dari analisa sistem logistik.Ada 3 aspek yang harus diperhatikan dalam transportasi yaitu pertama, seleksi fasilitas menetapkan suatu struktur atau jaringan yang membatasi ruang lingkup alternatif transport dan menentukan sifat dari usaha pengangkutan yang hendak diselesaikan.Kedua, biaya pengangkutan fisik itu menyangkut lebih daripada ongkos pengangkutan saja antara2 lokasi. Ketiga seluruh usaha mengintegrasikan kemmpuan transport kedalam suatu sistem terpadumungkin akn sia-sia jika pelayanan tidak teratur dan tidak konsisten. 3) Persediaan Kebutuhan akan transport di antara berbagai fasilitas itu didasarkan atas kebijaksanan persediaan yang dilaksnakan oleh suatu perusahaan. Secara teoritis, suatu perusahaan dapat saja mengadakan persediaan setiap barang yang ada dalam persediaanya pada setiap fasilitas dalam jumlah yang sama. Akan tetapi, jarang perusahaan yang akan melaksanakan program persediaan yang semewah itu, karena total biayanya sangat tinggi sekali. Tujuan dari intergrasi persediaan dalam sistem logistik adalah untuk mempertahankan jumlah item yang serendah mungkinyang sesuai dengan sasaran pelayanan konsumen. Program logistik hendaklah diadakan dengan tujuan mengingatkan sesedikit mungkin aktiva pada pengadaan persediaan.Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi persediaan menurut Bowersox (1995) yaitu mutu nasabah, mutu produk, integrasi transport dan kegiatan saingan. 4) Komunikasi Komunikasi adalah kegiatan yang seringkali diabaikan dalam sistem logistik.Dijaman lampau mengbaikan ini disebabkan oleh kurangnya peralatan pengolah data dan peralatan penyampaian data yang dapat menangani arus informasi yang diperlukan.Kurangnya komunikasi ini tentu berpengaruh terhadap prestasi logistik perusahaan.Kekurangan dalam mutu informasi dapat menimbulkan banyak sekali masalah. Kekurangan tersebut digolongkan menjadi 2 kategori besar.Pertama, informasi yang diterima mungkin tidak betul dalam penilaian trend dan peristiwa. Oleh karena itu banyak sekali arus logistik itu merupakan antisipasi bagi transaksi di masa depan, maka penilaian yang tidak akurat dapat menyebabkan kekurangan persediaan atau komitmen yang berlebihan. Kedua, informasi mungkin kurang akurat dalam hal kebutuhn suatu konsumen tertentu. Suatu perusahaan yang mengolah suatu pesanan yang tidak betul akan menanggung semua biaya tnpa memperoleh hasil penjualan.Biaya ini seringkali ditambah dengan dengan biaya barang yang dikembalikan dan jika kemungkinan penjualan masih ada, mka perushahaan harus berusaha lagi menyediakan barang yang tepat bagi konsumen. Semakin efisien desain sistem logistik suatu perusahaan, maka semakin peka ia terhadap gangguan-gangguan arus informasi. Informasi yang tidak betul dapat menimbulkan gangguan pada prestasi sistem dan keterlambatan dalam arus komunikasi dapat memperbesar permasalahan itu sehingga menyebabkan serangkian kegoncangan dalam sistem tersebut Karen koreksi yang berlebihan atau koreksi yang kurang. Mutu dan informs yang tepat waktu merupakan faktor penentu yang utama dalam kestabilan sistem. 5) Pengelolaan dan penyimpanan Pengelolaan dan penyimpanan juga merupkan bagian yang integral dalam sistem logistik, tetapi tidak cocok dengan skema struktural dan komponen-komponen yang lain. Pengelolaan dan penyimpanan menembus sistem ini dan langsung berhubungan dengan semua aspek operasi. Menyangkut arus persediaan melalui dan di antara fasilitas-fasilitas dengan arus tersebut yang hanya bergerak untuk mennggapikebutuhan akan suatu produk atau material. Dalam arti luas, pengelolaan dan penyimpanan ini meliputi pergerakan (movement), pengepakan dan pengemasan Bowersox (1995). Pengelolaan ini menimbulkan banyak sekali biaya logistik dilihat dari pemgeluaran untuk operasi juga pengeluaran untuk modal. Semakin sedikit kalinya produk ditangani dalam keseluruhan proses itu mka semakin terbatas dan makin efisien arus total fisiknya. Apabila di integrsikan secara efektif kedalam operasi logistik suatu perusahaan, maka pengelolaan dan penyimpanan ini dapat mengurangi masalah yang berkaitan dengan kecepatan dan kemudahan pengangkutan barang melalui sistem tersebut. Kekuatan utama logistik terletak pada pengembangan teknik dan konsep untuk penanganan komponen-komponen berdasarkansuatu basis yang terpadu.Teknologi sistem memberikn kerangka untuk menilai alternative-alternatif desain logistik atas basis total biaya. Didalam konteks yang strategis focus dan pusat dri logistik adalah komitmen pada persediaan. Produk dan material dipandang sebagaimana mestinyayaitu sebagai kombinasi dari kegunaan bentuk, waktu dan pemilikan. Persediaan tidak banyak gunanya sebelum bentuknya ditempatkan pada waktu yang tepat pada lokasi dimana ia memberikan kesempatan untuk menikmati pemilikan. Apabila suatu perusahaan tidak konsisten memenuhi kebutuhan waktu dan tempat maka ia secara efisien tidak dapat dicapai, maka laba pengembalian invests terancam. Sebelum kegunaan waktu dan tempat dicapai, maka sedikit sekali nilai yng ditambahkan dalam proses logistik dari teori tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur logistik adalah kegiatan yang membentuk sistem logistik di dalam perusahaan.Semua unsur tersebut harus dijalankan dengan baik untuk bisa menerapkan sistem logistik yang baik pada perusahaan.
Faktor –faktor sistem logistik (skripsi dan tesis)
Menurut Gitosudarmo (2000) ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam sistem logistic terpadu oleh organisasi perusahan. 1) Pengumpulan yang dimaksud adaaah kegiatan pengumpulan sejumlah barang dari sebagian barang yang ditunjuk guna penjualan akhir pada konsumen. Sejumlah barang ini merupakan kumpulan barang yang tersendiri dari sejumlah barng yang ada. 2) Penyimpanan yang dimaksud adalah kegiatan yang berkosentrasi pada penyimpanan barang. Fungsi penyimpanan ini biasanya disebar diantara perusahaan di dalam kelompoknya. Setiap perusahaan akan bersedia menanggung jumlah penyimpanan minimum yang perlu untuk menunjang kegiatan transaksinya. 3) Transfer adalah suatu mekanisme transformasi dari suatu atau beberapa macam barang yang harus diubah bentuknya secara fisik guna menunjang transaksi. 4) Penyebaran adalah kegiatan penempatan produk yang disesuaikan dengan jenis klasifikasi pada tempat tertentu yang tepat, waktu yang tepat. Penyebaran ini biasanya merupakan tahap akhir dari kegiatan logistik dan juga berkaitan dengan pelayanan terhadap pengguna produk akhir. 5) Pembiayaan adalah anggaran keuangan yang harus dikeluarkan oleh perusahaan guna melaksanakan kegiatan logistik. Pembiayaan yang disiapkan harus merupakan biaya yang benar-benar bisa digunakan dalam kegiatan logistik. Biaya logistik diusahakan seefisien mungkin sehingga perusahaan akan bisa mendapat kepemimpinan biaya logistik. 6) Komunikasi adalah penyampaian ide, konsep, gagasan, informasi ke arah hasil akhir yang diharapkan. Komunikasi juga digunakan di antara saluran transaksi dengan saluran logistik dalam hal serupa, kuantitas, lokasi dan waktu. Komunikasi terus berlangsung selama produk, barang ditransfer, disesuaikan dan disimpan dalam menghadapi perubahan transaksi di masa mendatang jadi faktor-faktor logistik adalah kegiatan yang mempengaruhi sistem logistik. Sangat penting bagi perusahaan untuk mengawasi setiap faktor logistik agar kegiatan logistik bisa berjalan dengan baik.
Sistem manajemen logistik (skripsi dan tesis)
Menurut Gitosudrmo (2000) manajemen logistik bisa terwujud apabila ada suatu sistem.Sistem manajemen logistik ini diharapkan mampu mengkoordinir kegiatan logistik secara terpadu di dalam perusahan.Manajemen kegiatan logistik biasanya diarahkan dan diawasi dari berbagai kegiatan dalam bagian yang ada dalam perusahaan. Bila terjadi kerancuan hak, wewenang dan tanggung jawab akan mengakibatkan terjdinya pemborosan yang sering menghambat tercapainya tujuan logistik itu sendiri. Konsep logistik terpadu akan memberikan logika yang utuh guna penentuan rencana kegiatan logistik dalam suatu struktur industri dalam kerangka saluran yang bekerja sama secara terpadu. Sistem ini memberikan kedalaman kegiatan terhadap segala usaha terpadu guna pencapaian logistik yang telah dibuat dan ditentukan sebelumnya.Tujuan logistik dari sistem logistik berbeda-beda tujuanya, mislnya tujuan biaya serendah mungkin atau tujuan penyimpnan barang yang awet atau sebagainya maka perlu desain suatu sistem logistik disesuaikn dengan tujuan yang ditentukan sehingga sistem tersebut akan mampu memberikan hasil yang dikehendaki. Keyakinan bahwa prestasi sistem terpadu akan memberikan suatu harapan tentang hasil akhir yang lebih baik daripada kegiatan yang kurang terkoodinir atau kegiatan yang terpisah-pisah, hal ini merupakan titik pusat perhatian konsep logistic teradu. Menurut Donald J. Bowersox (1995) konsep logistic terpadu terdiri dari operasi logistic dan koordinasi logistik.Operasi logistik adalah mengenai manajemen pemindahan (movement) dan penyimpanan material dan produk jadi perusahaan.Jadi, operasi logistik itu dapat dipandang sebagai berawal dari pengangkutan pertama material atau komponen-komponen dari sumber perolehany dan berakhir pada penyerahan produk yang dibuat atau diolah itu kepada langganan atau konsumen.Operasi logistik dapat dibagi kedalam 3 kategori yaitu manjemen distribusi fisik, mnajemen material, transfer persediaan barang di dalam perusahaan. Koordinasi logistik Menurut Donald J. Bowersox (1995) adalah mengenai identifikasi kebutuhan pergerakan dan penetapan rencana untuk memadukan seluruh operasi logistik.Koordinsi dibutuhkan untuk memantapkan dan mempertahankan kontinuitas operasi. Koordinasi dapat dibagi dalam 4 bidang manajerial yaitu peramalan (forecasting) pasar produk, pengelolaan pesanan, perencanaan operasi dan procurement atau perencanaan kebutuhan material. Dari teori diatas dapat disimpulkan sistem manajemen logistik adalah sistem untuk mengkoordinir jaringan operasi logistik agar dapat berjalan dengan baik.
Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)
Logistik adalah proses merencanakan, menerapkan dan mengendalikan yang efektif dan efisien dari aliran dan penyimpanan bahan baku persediaan dalam proses, dan barang jadi yang terhubung dengan informasi dari titik asal ke titik konsumsi, untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan (Ronald H. Ballou,1992).Sedangkan menurut pendapat Donald J Bowersox (1995) prosespengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplier, diantara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan.Siahaya (2012) mendefinisikan bahwa Manajemen logistik adalah bagian dari Supply Chain Management (Manajemen Rantai Pasok) yang merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan aliran barang secara efektif dan efisien, meliputi transportasi, penyimpanan, distribusi dan jasa layanan serta informasi terkait mulai dari tempat asal barang sampai ke tempat konsumsi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan Persaingan bisnis yang semakin ketat di era globalisasi ini menuntut perusahaan untuk menyusun kembali strategi dan sistem logistik dalam perusahaan. Esensi dari persaingan terletak pada bagaimana perusahaan mengimplementasikan proses dalam menghasilkan produk baik, barang atau jasa yang lebih baik, lebih murah dan cepat dibanding pesaingnya, untuk itu sebuah perusahaan harus dapat memperbaiki kinerja sistem logistiknya agar dapat terus bersaing dan mengalami kemajuan. Suatu kegiatan usaha di butuhkan aktivitas logistik di dalamnya karena, logistik adalah bagian dari proses rantai pasokan atau (supply chain). Aktivitas logistik terdiri dari lokasi fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi, penaganan dan penyimpanan. Perusahaan harus mempertimbangkan masalah logistikagar dapat memastikan bahwa logistik mendukung strategi perusahan jika fungsi operasional mendukung daripada strategi perusahaan secara keseluruhan maka logistik harus mendukung strategi fungsi opersional. Sebaliknya, jika fungsi operasional tidak mendukung strategi perusahaan, maka operasional perusahaan akan terhambat seperti produksi yang terlambat karena ketiadaan bahan baku yang akan berimabs pada konsumen. Berdasarkan teori diatas logistik merupakan aliran bahan baku dari supplier sampai ke penyimpanan.
Pencatatan dan Pelaporan (skripsi dan tesis)
Pencatatan dan pelaporan terhadap seluruh rangkaian kegiatan dalam pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai, baik sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di puskesmas atau unit pelayanan lainnya (Permenkes RI. 2017).
Pendistribusian (skripsi dan tesis)
Distribusi merupakan pennyaluran/ menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/ pasien dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketetapan waktu (Kemenkes RI. 2010). Tujuan distribusi adalah sebagai berikut: a. Terlaksananya pengiriman obat secara merata dan teratur sehingga dapat diperoleh pada saat dibutuhkan. b. Terjaminnya mutu obat dan perbekalan kesehatan pada saat pendistribusian. c. Terjamin kecukupan dan terpeliharanya penggunaan obat di unit pelayanan kesehatan. d. Terlaksananya pemerataan kecukupan obat sesuai kebutuhan pelayanan dan program kesehatan. Kegiatan distribusi obat terdiri dari: a. Kegiatan distribusi rutin yag mencakup distribusi untuk kebutuhan pelayanan umum di unit pelayanan kesehatan. b. Kegiatan distribusi khusus yang mencakup distribusi obat untuk Pogram kesehatan, kejadian luar biasa (KLB). c. Bencana (alam dan sosial).
Penyimpanan (skripsi dan tesis)
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dan menempatkan obat dan perbekalan kesehatan yang diterima pada tempat dan dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat dan perbekalan kesehatan. Sistem penyimpanan berdasarkan Alphabetis, Farmakologis, Bentuk sediaan, First in first out (FIFO) dan First expired first out (FEFO) (Kemenkes RI. 2010).
Penerimaan (skripsi dan tesis)
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua dokumen terkait penerimaan barang harus tersimpan dengan baik (Kemenkes RI. 2010)
Pengadaan (skripsi dan tesis)
Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan perencanaan, yang bertujuan untuk memperoleh obat yang dibutuhkan dengan harga layak, mutu baik, pengiriman obat terjamin tepat waktu, proses berjalan lancar tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebihan. Pengadaan dapat dlakukan melalui Tender Terbuka (Open Tender), Pembelan secara langsung dan sumbangan atau hibah (droping) (Kemenkes RI. 2010).
Perencanaan (skripsi dan tesis)
Para ahli di bidang manajemen telah mengemukakan definisi atau pengertian tentang perencanaan, namun setiap pengertian perencanaan senantiasa memiliki batasan yang berbeda tergantung ahli manajemen yang mengemukakan. Perencanaan di bidang kesehatan pada dasarnya merupakan suatu proses untuk merumuskan masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang harus disediakan, menetapkan tujuan yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dari batasan tersebut, perencanaan akan menjadi efektif jika sebelumnya dilakukan perumusan masalah berdasarkan fakta (Hartono, 2007). Menurut (Azwar, 2010) perencanaan menurut ilmu administrasi kesehatan terdapat 3 aspek pokok yang harus diperhatikan meliputi: a. Hasil kerja perencanaan (outcome of planning). b. Perangkat perencanaan (mechanic of planning). c. Proses perencanaan (proces of planning). Menurut Handoko (2009) perencanaan adalah suatu proses yang tidak berakhir bila rencana telah ditetapkan, rencana harus diimplementasikan. Setiap saat selama proses implementasi dan pengawasan, rencana mungkin memerlukan modifikasi agar tetap berguna. Febriawati (2013) mengemukakan bahwa perencanaan adalah proses untuk merumuskan sasaran dan menentukan langkah langkah yang harus dilaksanakan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Handoko (2009) mengungkapkan bahwa salah satu aspek penting perencanaan adalah pembuatan keputusan (decision making), proses pengembangan dan penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk mememecahkan suatu masalah tertentu. Perencanaan adalah pekerjaan mental untuk memilih sasaran, kebijakan, prosedur dan program yang diperlukan untuk mencapai apa yang diinginkan pada masa yang akan datang. Sedangkan rencana adalah sejumlah keputusan mengenai keinginan dan berisi pedoman pelaksanaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi setiap rencana mengandung unsur tujuan dan pedoman. (Hasibuan, 2011). Anshari (2009) mengungkapkan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Perencanaan pada dasarnya merupakan sutu proses untuk menetapkan diawal berbagai hasil akhir (end result) yang ingin dicapai perusahaan di masa yang akan datang. Antara kegiatan perencanaan dengan hasil akhir yang ingin dicapai diasumsikan terdapat jeda waktu (time lag), dimana semakin panjang rencana yang dibuat maka jeda waktu antara perencanaan dengan hasil akhir yang ingin dicapai semakin besar dan derajat kepastian pencapaian hasil tersebut juga semakin meningkat. Sebaliknya, semakin pendek jeda waktu antara perencanaan yang dibuat dengan target hasil yang ingin dicapai maka derajat kepastian pencapaian hasil akan menurun (Solihin, 2009). a. Tahapan Perencanaan Perencanaan pada dasarnya memiliki tahapan. Tahapan perencanaan menurut Handoko (2009) yaitu: 1. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan. Perencanaan dimulai dengan keputusan keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan kerja yang jelas organisasi akan menggunakan sumber daya sumber dayanya secara tidak efektif. 2. Merumuskan keadaan saat ini. Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber daya sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang. 3. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan. Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor faktor lingkungan itern dan ekstern yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya, atau yang menimbulkan masalah. 4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan pencapaian tujuan. Tahap terakhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik (paling memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada. Muninjaya (2004) berpendapat ada lima langkah yang perlu dilakukan pada proses penyusunan sebuah perencanaan kesehatan yaitu: 1. Analisis situasi Analisis situasi adalah langkah pertama proses penyusunan perencanaan. Langkah ini dilakukan dengan analisis data laporan yang dimiliki oleh organisasi (data primer) atau mengkaji laporan lembaga lain (data sekunder) yang datanya dibutuhkan, observasi dan wawancara. 2. Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya Melalui analisis situasi akan dihasilkan berbagai macam data. Data dianalisis lebih lanjut menggunakan pendekatan epidemiologi untuk dapat dijadikan informasi tentang distribusinya disuatu wilayah. Setelah masalah kesehatan masyarakat ditetapkan menjadi prioritas di suatu wilayah, selanjutnya ditetapkan tujuan programnya. 3. Menentukan tujuan program Setelah masalah kesehatan ditetapkan, manajer program menetapkan tujuan program. Perumusan sebuah tujuan operasional program kesehatan harus bersifat SMART (specific, measurable, appropriate, realistic, time bound). 4. Mengkaji hambatan dan kelemahan program Langkah keempat proses penyusunan adalah mengkaji kembali hambatan dan kelemahan program yang pernah dilaksankan. Tujuannya adalah untuk mencegah atau mewaspadai timbulnya hambatan serupa. Selain mengkaji hambatan yang pernah dialami, juga dibahas prediksi kendala dan hambatan yang mungkin akan terjadi dilapangan pada saat program dilakukan. 5. Menyusun rencana kerja operasional (RKO) Pada saat memasuki fase ini tim perencana sudah menetapkan tujuan dan target yang ingin dicapai. b. Maksud Perencanaan (Purpose of Planning) Salah satu maksud utama perencanaan adalah melihat bahwa program-program dan penemuan sekarang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian tujuan-tujuan di waktu yang akan datang yaitu meningkatkan pembuatan keputusan yang lebih baik. (Handoko, 2009). Hasibuan (2011) mengungkapkan bahwa maksud dari suatu perencanaan antara lain adalah: 1. Perencanaan merupakan salah satu fungsi manajer yang meliputi seleksi atas alternatif alternatif tujuan, kebijaksanaan, prosedur dan program. 2. Perencanaan, sebagian merupakan usaha membuat hal-hal terjadi sebagaimana yang dikehendaki. 3. Perencanaan adalah suatu proses pemikiran, penentuan tindakan tindakan secara sadar berdasarkan keputusan menyangkut tujuan, fakta dan ramalan. 4. Perencanaan adalah usaha menghindari kekosongan tugas, tumpang tindih dan meningkatkan efektivitas potensi yang dimiliki. Perencanaan organisasi harus aktif, dinamis, berkesinambungan dan kreatif. c. Tujuan Perencanaan (Objective of Planning) Menurut Handoko (2009) ada dua alasan dasar perlunya perencanaan yaitu: 1. Protective benefits yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan. 2. Positive benefits dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi. Tujuan dari perencanaan secara objektif di kemukakan oleh Hasibuan (2011) antara lain: 1. Perencanaan bertujuan untuk menentukan tujuan, seleksi atas alternatif alternatif tujuan, kebijakan kebijakan, prosedur dan program serta memberikan pedoman cara-cara pelaksanaan yang efektif dalam mencapai tujuan. 2. Perencanaan adalah suatu usaha untuk memperkecil resiko yang dihadapi pada masa yang akan datang. 3. Perencanaan menyebabkan kegiatan-kegiatan dilakukan secara teratur dan bertujuan. 4. Perencanaan memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang seluruh pekerjaan. 5. Perencanaan membantu penggunaan suatu alat pengukuran hasil kerja. 6. Perencanaan membantu peningkatan daya guna dan hasil guna organisasi. d. Manfaat perencanaan (Purpose of Planning) Manfaat perencanaan akan lebih terencana, terarah, efektif dan efisien karena dapat mengurangi suatu pekerjaan yang tidak pelu. Suatu perencanaan yang baik juga memerlukan dana mulai dari dana survey awal, pengumpulan data hingga pelaksanaan.(Hartono, 2007). Menurut Muninjaya (2004) mengungkapkan bahwa perencanaan terdapat manfaat, keuntungan dan kerugian yang dapat diperoleh suatu organisasi. Manfaat perencanaan adalah diketahui tujuan yang ingin dicapai, cara mencapainya, jenis, struktur yang dibutuhkan, dan bentuk serta standar yang dibutuhkan. Perencanaan mempunyai banyak manfaat antara lain membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan lingkungan, membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah masalah utama, memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas, membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat, memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi, memudahkan dalam melakukan koordinasi diantara berbagai bagian dalam organisasi, membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan mudah dipahami, meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti, menghemat waktu usaha dan dana. (Handoko, 2009). Muninjaya (2004) mengungkapkan beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari perencanaan antara lain: 1. Perencanaan memberikan landasan pokok fungi manajemen terutama pengawasan. 2. Perencanaan akan mengurangi atau menghilangkan jenis pekerjaan yang tidak produktif. 3. Perencanaan dapat dipakai untuk mengukur hasil kegiatan yang telah dicapai, karena dalam perencanaan ditetapkan berbagai standar. 4. Perencanaan dapat menyebabkan berbagai macam aktivitas organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dan dapat dilakukan secara teratur. Menurut Azwar (2010) untuk menilai keberhasilan dari sebuah rencana dikelompokkan dalam tiga macam yaitu: 1. Kriteria keberhasilan unsur masukan yakni menunjuk pada terpenuhinya unsur masukan, misalnya tersedianya tenaga, dana dan sarana sesuai dengan rencana. 2. Kriteria unsur proses yakni menunjuk pada terlaksananya unsur proses. 3. Kriteria keberhasilan unsur keluaran yakni menunjuk pada tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan adalah salah satu fungsi yang menentukan dalam proses pengadaan farmasi di Gudang Farmasi yang bertujuan agar tidak terjadi kesinambungan antara permintaan dan distribusi, sehingga distribusi obat berjalan lancar dari pihak gudang farmasi ke pihak yang memutuhkan serta menghindai terjadinya stock out (kekosongan) obat (Kemenkes RI. 2010). Ada beberapa metode perencanaan, yaitu: 1. Metode Epidemiologi Metode Epidemiologi berdasarkan kebutuhan obat yang digunakan berdasarkan pada penyakit yang sering muncul dimasyarakat. 2. Metode Konsumsi Metode Konsumsi berdasarkan pada kebutuhan obat pada periode lalu dengan penyesuaian dan koreksi berdasarkan pada penggunaan obat tahun sebelumnya. 3. Metode Kombinasi/Campuran Metode Kombinasi berdasarkaan metode konsumsi dan metode epdemiologi, disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Pengelolaan Instalasi Farmasi (skripsi dan tesis)
Pengelolaan perbekalan farmasi merupakan suatu siklus kegiatan yang dimulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan, pelaporan dan pemusnahan serta monitoring dan evaluasi (Kemenkes RI, 2010).
Pengertian Logistik (skripsi dan tesis)
Logistik adalah suatu ilmu mengenai pengadaan, pemeliharaan dan penyediaan transportasi termasuk pelayanan persediaan dalam jumlah yang sangat besar kepada banyak orang ditempat-tempat yang jaraknya berjauhan. Dalam suplai mencakup semua aspek produsen, penyalur ke apotek, toko obat dan sampai pada penggunaan obat dalam hal ini adalah pasien bersangkutan. Menurut Aditama (2003) dalam Badaruddin (2015), kegiatan logistik secara umum ada 3 (Tiga) tujuan yakni: Tujuan operasional adalah agar supaya tersedia barang serta bahan dalam jumlah yang tepat dan mutu yang memadai. Tujuan keuangan meliputi pengertian bahwa upaya tujuan operasional dapat terlaksanan dengan biaya yang serendahrendahnya. Tujuan pengamanan dimaksudkan agar persediaan tidak terganggu oleh kerusakan, pemborosan, penggunaan tanpa hak, pencurian dan penyusutan yang tidak wajar lainnya, serta nilai yang sesungguhnya dapat tercermin di dalam sistem akuntansi. Menurut Seto (2004) Kegiatan logistik di Fasilitas Kesehatan dilakukan berdasarkan siklus yang berlangsung terus menerus secara berkesinambungan untuk kepentingan produksi jaya pelayanan kesehatan yang bermutu. Fungsi-fungsi tersebut tergambar dalam suatu siklus manajemen logistik yang satu sama lain saling berkaitan dan sangat menentukan keberhasilan kegitaan logistik dalam organisasi.
Pengawasan (Controlling) (skripsi dan tesis)
Pengawasan yaitu untuk mengawasi apakah gerakan dari organisasi ini sudah sesuai dengan rencana atau belum. Serta mengawasi penggunaan sumber daya dalam organisasi agar bisa terpakai secara efektif dan efisien tanpa ada yang melenceng dari rencana.
Penggerakan (Actuating)
Penggerakan yaitu untuk menggerakan organisasi agar berjalan sesuai dengan pembagian kerja masing-masing serta menggerakan seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi agar pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan bisa berjalan sesuai rencana dan bisa mencapai tujuan.
Perencanaan (Planning) (skripsi dan tesis)
Perencanaan yaitu sebagai dasar pemikiran dari tujuan dan penyusunan langkah-langkah yang akan dipakai untuk mencapai tujuan. Merencanakan berarti mempersiapkan segala kebutuhan, memperhitungkan matang-matang apa saja yang menjadi kendala, dan merumuskan bentuk pelaksanaan kegiatan yang bermaksud untuk mencapai tujuan.
Pengertian Manajemen (skripsi dan tesis)
Menurut Siagian (2009), manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Istilah logistik bersumber dari ilmu kemiliteran yang mengandung 2 aspek yaitu perangkat lunak dan perangkat keras. Termasuk perangkat lunak adalah kegiatan-kegiatan yang meliput perencanaan dan pelaksanaan dalam lingkup kegiatan-kegiatan produksi, pengadaan, penyimpanan, distribusi, evaluasi termasuk kontruksi. Sedangkan yang dimaksud perangkat keras adalah personil, persediaan dan peralatan (Mahmud, 2015). The Liang Gie dalam Mawaddah (2016) menjelaskan Manajemen adalah unsur yang merupakan rangkaian perbuatan menggerakkan karyawan-karyawan dan mengarahkan segenap fasilitas kerja agar organisasi yang bersangkutan benar-benar tercapai.
Gantt Chart (skripsi dan tesis)
Bantuan visual yang disebut bagan Gantt atau Gant charts digunakan untuk berbagai tujuan yang berhubungan dengan pembebanan dan penjadwalan. Tujuan dari bagan Gantt adalah untuk mengorganisasi dan secara visual menampilkan penggunaan sumber daya actual atau yang diinginkan dalam sebuah kerangka kerja waktu. Skala waktu diwakili secara horizontal dan sumber daya yang akan dijadwalkan ditampilkan secara vertikal. Penggunaan dan waktu menganggur Dario sumber daya tercerminkan dalam bagan tersebut (Stevenson W. J. & Chuong S.C., 2014:399). Gantt Chart banyak digunakan untuk penjadwalan, budgeting, dan manajemen proyek. Keseluruhan aktivitas ini telah melekat pada kehidupan berorganisasi. Timelines mewujudkan objektivis, asumsi monotemporal tentang waktu dan memungkinkan sub-kelompok kerja dan organisasi dengan perbedaaan asumsi untuk bernegosiasi dan mengolah waktu secara prospektif dan retrospektif. Gantt chart dengan representasi hubungan fakta dengan waktu menjadikannya kontribusi yang paling penting dalam seni manajemen yang dibuat dalam generasi ini. Bagan sederhana ini mempermudah pembaca untuk melihat dan mengatur suatu proyek (Yakura, E. K., 2002:956, Clark, 1922:3, 138). Penjadwalan adalah proses yang penting sekaligus kompleks dalam mengatur aktivitas-aktivitas koordinasi beberapa orang dalam suatu proyek yang besar. Penjadwalan proyek pada umumnya digambarkan dalam suatu bagan Gantt. Bagan Gantt atau Gantt chart sendiri adalah serangkaian aktivitas yang divisualisasi dengan bagan berbentuk batangan (bar chart) disertai suatu timeline berdasarkan kapan mengawali dan mengakhiri kegiatan (Huang, D. et al., 2009:951).
Definisi Penjadwalan (skripsi dan tesis)
Dalam sebuah organisasi, penjadwalan atau scheduling berhubungan dengan penetapan waktu dari penggunaan sumber daya spesifik dari organisasi tersebut. Penjadwalan berhubungan dengan penggunaan perlengkapan, fasilitas, dan aktivitas manusia. Penjadwalan terjadi di dalam setiap organisasi tanpa memandang sifat dari aktivitasnya. Penjadwalan yang efektif dapat menghasilkan penghematan biaya dan peningkatan produktivitas. Selain itu, penjadwalan efektif dapat menghasilkan keuntungan-keuntungan yang lain (Stevenson W. J. & Chuong S.C., 2014:394).
Jenis Warehousing (skripsi dan tesis)
Jenis warehouse dalam rantai apsokan sangat bervariasi, tergantung dari perannya dalam rantai pasokan, diantaranya (Rushton, A., dkk., 2010): a. By the stage in the supply chain, warehouse dikenal sebagai tempat penyimpanan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. b. By geographic area, contohnya seperti sebuah regional warehouse yang diperuntukkan melayani seluruh dunia atau beberapa negara, warehouse nasional untuk melayani daerah-daerah di seluruh wilayah satu negara, atau warehouse lokal untuk melayani wilayah tertentu. c. By product type, warehouse untuk penyimpanan suku cadang, gudang perakitan (misalnya untuk perakitan mobil), makanan beku, makanan yang mudah rusak (perishable), dan barang-barang yang berbahaya. d. By function, warehouse untuk penyimpanan persediaan, warehouse untuk sortasi (misalnya sebagai hub dari kiriman warehouse pengolahan). e. By ownership, warehouse yang dikelola sendiri oleh penggunanya (misanya produsen atau pengecer) atau warehouse yang dikelola perusahaan penyedia jasa logistik (third-party logistics). f. By company usage, misalnya warehouse khusus untuk satu perusahaan (dedicated warehouse), atau warehouse yang digunakan bersama (sharedwarehouse). g. By area, warehouse dengan luas mulai dari 100 meter persegi atau kurang dan warehouse dengan luas lebih dari 100.000 meter persegi. h. By height, mulai dari warehouse sekitar 3 meter hingga warehouse “highbay” dengan tinggi lebih dari 45 meter. i. By equipment, dari warehouse yang mengoperasikan secara manual atau warehouse dengan operasi otomatis.
Definisi Warehousing (skripsi dan tesis)
Gudang atau warehouse merupakan komponen penting dari rantai pasokan modern. Rantai pasokan melibatkan kegiatan dalam berbagai tahap seperti sourcing, produksi, dan distribusi barang dari penanganan bahan baku dan barang dalam proses hingga produk jadi. Warehouse dapat digambarkan sebagai bagian dari suatu sistem logistik sebuah perusahaan yang berfungsi untuk menyimpan produk dan menyediakan informasi mengenai status serta kondisi material atau persediaan yang disimpan dalam gudang sehingga informasi tersebut selalu up-todate dan mudah diakses oleh siapapun yang berkepentingan. Warehouse merupakan bagian integral dari rantai pasokan. Tren tantangan dalam rantai pasokan seperti peningkatan volatilitas pasar, dan kebutuhan untuk memperpendek lead time pelanggan semua berdampak pada peran yang diharapkan dari adanya gudang (http://supplychainindonesia.com/, Rushton, A., dkk., 2010).
Jenis-Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)
Untuk mengakomodasi fungsi-fungsi dari persediaan, perusahaan menetapkan empat jenis persediaan (Heizer dan Render 2013:512): a. Raw material inventory, adalah persediaan tempat menampung bahan baku yang telah dibeli namun belum di proses; b. Work-in-process inventory, adalah komponen-komponen atau bahan mentah yang telah mengalami suatu perubahan bentuk tetapi belum sempurna; c. Maintenance/repair/operating supply inventory (MRO), adalah persediaan yang digunakan untuk menjaga peralatan mesin dan proses produksi tetap produktif. Persediaan ini digunakan untuk keperluan merawat ataupun memperbaiki peralatan (maintenance); d. Finished-goods inventory, adalah persediaan akhir dimana suatu produk telah selesai diproduksi dan menunggu untuk dikirim (shipment). Barang jadi membutuhkan tempat dalam persediaan disebabkan ketidakpastian permintaan konsumen di masa depan.
Fungsi Persediaan (skripsi dan tesis)
Persediaan mempunyai sejumlah fungsi, diantaranya yang paling penting adalah (Stevenson W. J. & Chuong S.C., 2014): a. Untuk memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan; b. Untuk memperlancar persyaratan produksi; c. Untuk memisahkan operasi; d. Untuk perlindungan terhadap kehabisan persediaan; e. Untuk mengambil keuntungan dari siklus pesanan; f. Untuk melindungi dari peningkatan harga; g. Untuk memungkinkan operasi; h. Untuk mengambil keuntungan dari diskon kuantitas. Dalam penelitian ini, fungsi yang lebih ditekankan adalah mengenai untuk perlindungan terhadap kehabisan persediaan, untuk mengambil keuntungan dari diskon kuantitas dan untuk memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan. Fungsi memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan memiliki arti persediaan yang mampu mengantisipasi untuk memuaskan permintaan yang telah diperkirakan. Fungsi perlindungan terhadap kehabisan persediaan memiliki arti persediaan yang mampu menghindari penundaan yang menyebabkan peningkatan risiko kehabisan produk dalam persediaan (stockout). Fungsi mengambil keuntungan dari diskon kuantitas memiliki arti bahwa pemasok dapat memberikan diskon untuk pesanan besar. Persediaan bahan baku bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian produksi akibat fluktuasi pasokan bahan baku. Persediaan penyangga dan komponen berguna untuk mengurangi ketidakpastian produksi akibat kerusakan mesin. Sementara itu persediaan produk jadi berguna untuk memenuhi fluktuasi permintaan yang tidak dapat dengan segera dipenuhi oleh produksi mengingat untuk produksi dibutuhkan bahan baku (Kusuma, H., 1999:135). Persediaan yang dimiliki perusahaan bertujuan untuk menjaga kelancaran usaha. Bagi perusahaan dagang persediaan barang dagang memungkinkan perusahaan untuk memenuhi permintaan pembeli. Sedangkan bagi perusahaan industri, persediaan bahan baku dan barang dalam proses bertujuan untuk memperlancar kegiatan produksi, sedangkan persediaan barang jadi ditujukan untuk memenuhi kebutuan pasar. Fungsi persediaan terbagi atas empat jenis yaitu : fungsi pemisah wilayah, fungsi decoupling, fungsi penyeimbang dengan permintaan, dan fungsi penyangga (Siagian, 2006:162-163).
Definisi Persediaan (skripsi dan tesis)
Persediaan (inventory) adalah stok atau simpanan barang-barang. Perusahaan biasanya menyimpang ratusan atau bahkan ribuan barang dalam persediaan. Persediaan merupakan bagian vital dari bisnis. Persediaan bukan hanya perlu untuk operasi tetapi juga berkontribusi terhadap kepuasan pelanggan. (Stevenson W. J. & Chuong S.C., 2014:179).
Biaya Transportasi (skripsi dan tesis)
Terdapat beberapa biaya transportasi yang akan dikaji dalam penelitian ini, diantaranya adalah (Ardianto, I.D., 2014): a. Biaya tenaga kerja langsung atau Direct Labor Cost, adalah biaya yang langsung dikeluarkan oleh perusahaan berdasarkan upah yang harus dibayarkan kepada karyawan yang bekerja di lantai produksi. b. Biaya tenaga kerja tidak langsung atau Indirect Labor Cost. c. Biaya lain-lain atau Other Cost. Biaya transportasi dalam penelitian kali ini sama dengan Biaya Operasional Kendaraan (BOK). Biaya Operasional Kendaraan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh seorang pengendara mobil meliputi beberapa komponen yaitu, konsumsi bahan bakar, konsumsi minya pelumas, konsumsi ban, pemeliharaan dan suku cadang, depresiasi, dan asuransi. Dalam analisis BOK, konsumsi bahan bakar menjadi komponen yang paling dominan (Subandriyo, E., dkk., 2014).
Definisi Transportasi (skripsi dan tesis)
Transportasi adalah suatu proses pergerakan atau perpindahan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan mempergunakan suatu sistem tertentu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan cara bergerak dan saling berhubungan. Fungsinya adalah menghubungkan orang dengan tata guna lahan, pengikat kegiatan dan memberikan kegunaan tempat dan waktu untuk komoditi yang diperlukan. (Ritonga, D., dkk., 2015).
Layout dan Dock-Door Assignment (skripsi dan tesis)
Riset sebelumnya ditemukan bahwa bentuk crossdock persegi atau bentuk “I” adalah bentuk yang mengedepankan efisiensi tenaga kerja dibanding bentukbentuk crossdock lainnya (bentuk “I” diperuntukkan crossdock usaha kecil yakni dibawah 150 pintu). Bentuk “T” lebih atraktif apabila digunakan untuk 150-200 pintu, dan untuk kebutuhan lebih dari 200 pintu, bentuk “X” lebih menunjukkan tingkat efisiensi dibanding bentuk lainnya. Tingkat efisiensi bergantung kepada cara trailer dikaitkan dengan pintu dermaga muatan (Luo, G., dan Noble, J.S., 2012, Bartholdi.
Jenis-Jenis Crossdocking (skripsi dan tesis)
Terdapat beberapa jenis dari crossdocking yang pada umumnya dapat diterapkan antara lain (http://logistics.about.com): a. Pre-Packed Cross Docking, kemasan (misalnya pallet, peti, dll) dipilih oleh supplier berdasarkan pesanan dari toko, diterima dan dibawa menuju outbound docks untuk digabungkan dengan kemasan yang sama dari supplier lain untuk dimuat ke dalam kendaraan pengiriman ke toko tanpa proses handling lebih lanjut. b. Intermediate Handling Cross Docking, kemasan diterima, lalu dibuka, kemudian diberi label kembali ke dalam kemasan baru oleh distribution center untuk dikirimkan kembali ke toko. Kemasan baru ini kemudia dikirim ke outbound dock untuk digabungkan dengan kemasan yang serupa dari supplier lain di dalam kendaraan pengiriman. Berikut adalah jenis crossdocking dalam skenario manajemen gudang: a. Manufacturing Cross Docking, jenis ini melibatkan prosedur penerimaan produk pembelian dan produk yang masuk yang dibutuhkan dalam kegiatan manufaktur. Gudang dapat menerima produk dan mempersiapkan subassemblies (rakitan) untuk pesanan produksi. b. Distributor Cross Docking, jenis ini memiliki proses konsolidasi produk yang masuk dari berbagai macam vendor yang berbeda menjadi satu campuran produk pallet yang dimana akan dihantarkan kepada pelanggan ketika bagian akhir dari barang tersebut telah diterima. Contohnya adalah distributor parts computer yang dapat memperoleh bagian-bagian rakitan komputer tersebut dari berbagai macam sumber dan mengombinasikannya menjadi satu kesatuan produk yang kemudian baru dikirimkan ke pelanggan. c. Retail Cross Docking, proses yang melibatkan penerimaan produk dari beberapa vendor dan menyusunnya untuk diarahkan ke truk keluar sesuai dengan jumlah toko ritel yang dituju. Metode ini sebelumnya digunakan oleh Wal-Mart pada tahun 1980. Mereka menyediakan dua jenis produk, produk yang mereka gunakan untuk dijual setiap hari sepanjang tahun disebut dengan staple stock, dan produk dengan kuantitas yang besar yang hanya dibeli sekali dan dijual pada toko-toko yang biasanya tidak dilakukan restock. Procurement pada jenis produk kedua disebut direct freight dan Wal-Mart meminimalisasikan seluruh biaya gudang direct freight dengan menggunakan crossdocking untuk mengurangi penggunaan gudang sekecil mungkin
Definisi Crossdocking (skripsi dan tesis)
Sistem crossdocking diterapkan secara luas dalam industri ritel dan truk untuk mengonsolidasikan pengiriman barang dari berbagai sumber secara cepat dan mempertimbangkan skala ekonomi saat pengeluaran barang keluar (outbound transportation). Crossdocking pada dasarnya digunakan untuk mengeliminasi fungsi tempat penyimpanan dari gudang (warehouse,) namun tetap dapat melakukan fungsi pengiriman (shipping). Ide besarnya adalah memindahkan muatan langsung dari pengiriman yang baru saja tiba kedalam trailer yang akan keluar tanpa menyimpannya dalam gudang pada waktu perpindahan tersebut. Berlandaskan sistem ini, barang-barang yang berada dalam fasilitas tersebut menghabiskan waktu kurang dari 24 jam bahkan kadang kurang dari satu jam. Sistem crossdocking adalah strategi bidang logistik yang penting terutama dalam perusahaan ritel, eceran dan industri-industri yang bergerak dalam bidang distribusi. Crossdocking mampu mengurangi biaya persediaan dan transportasi perusahaan di tengah persaingan harga yang ketat (Luo, G. & Noble, J.S., 2012:1, Bartholdi, J.J., 2003:1). Crossdocking adalah aplikasi dari ilmu logistik dimana memindahkan muatan material dari truk muatan yang datang ke truk muatan yang keluar, baik dengan memanfaatkan tempat penyimpanan maupun tidak sama sekali. Keberadaan konsep Just-in-time menjadikan implementasi operasi crossdock mereposisikan fokus selama ini yaitu warehousing inventory menjadi pengelolaan melalui alur transit dari pemasok langsung tertuju kepada pelanggan. Crossdocking menjadi suatu strategi yang penting untuk meningkatkan performa dari kinerja rantai pasokan dalam hal kecepatan pergerakan barang, persediaan dan respon (Li., Z., dkk., 2011). Konsep crossdocking adalah salah satu strategi distribusi yang pada penerapannya ditujukan untuk melancarkan aliran produk dari pabrik hingga ke ritel. Crossdocking adalah suatu konsep dimana warehouse tidak lagi sebagai tempat penyimpanan persediaan. Pada sistem distribusi crossdocking ini, produk dari pabrik yang tiba di warehouse, dipindahkan ke alat pengiriman yang ada di warehouse dan dikirim ke ritel atau distributor sesegera mungkin, sistem ini meminimasi inventory cost (Mubin, 2003, Levi, 2000). Crossdocking merupakan salah satu teknik logistik yang relatif masih baru, yang digunakan pada pusat distribusi dan industri transportasi. Sistem ini berfungsi untuk mengkonsolidasikan antara produk-produk yang tiba di pusat distribusi untuk selanjutnya dikirim ke ritel dengan memperhatikan faktor waktu dan beban muatan unit transportasi (Mubin, 2003). Crossdocking adalah suatu tipe jaringan operasi hub-and-spoke yang digunakan dalam bidang distribusi barang dari pemasok ataupun manufaktur kepada penjual dan ritel. Melalui proses konsolidasi, pengiriman dari berbagai pemasok tersebut dapat diatur untuk menciptakan full truckload shipments menuju ritel-ritel yang berbeda demi mencapai skala ekonomis transportasi. Segala macam bentuk penundaan (delay) dalam penanganan proses tersebut, dapat mengurangi performa keseluruhan jaringan operasi (Wang, J.F., 2008).
