Sensitivitas Etika (skripsi dan tesis)

  • Menurut Shaub, et al (1993) sensitivitas etika adalah kemampuan untuk menyadari adanya nilai-nilai etika dalam suatu keputusan. Rest (1986) menyatakan bahwa individu dapat terlibat dalam perilaku tidak etis jika mereka gagal untuk mengenali kehadiran nilai-nilai etika. Hunt dan Vitel (1986) menjelaskan bahwa kemampuan seseorang untuk memahami masalah etis dipengaruhi oleh lingkungan budaya, lingkungan industri, lingkungan organisasi dan pengalaman pribadi. Rest (1986) mengajukan model atau rerangka analisis empat komponen kerangka kerja untuk meneliti pengembangan proses berpikir moral dan perilaku individu dalam mengambil keputusan. Empat komponen tersebut adalah: 1) Pengenalan individu akan keberadaan masalah etis dan pengevaluasian. 2) Penentuan perilaku moral secara ideal yang sesuai untuk sebuah situasi. 3) Keputusan pada tindakan yang dimaksud berkaitan dengan berbagai hasil yang dinilai dan implikasi moralnya. 4) Pelaksanaan perilaku yang dimaksud. The Ethics Education Framework yang dipresentasikan oleh Dewan Standar Pendidikan Akuntansi Internasional dalam Alteer, et al (2013) menggambarkan sensitivitas etika sebagai kemampuan individu untuk mengenali ancaman etika dan menyadari tindakan alternatif yang dapat memecahkan masalah etika. Hal ini juga mencakup pemahaman bagaimana setiap tindakan alternatif mempengaruhi pihak-pihak yang terkait. Meningkatkan sensitivitas etika melalui pendidikan etika akan memungkinkan akuntan atau auditor untuk lebih mudah mengidentifikasi ancaman apapun. Saat individu berhadapan dengan dilema etika, persepsi individu dievaluasi dalam nilai etika atau penilaian moral untuk membuat keputusan. Namun, individu pertama-pertama harus memahami masalah etika untuk mengevaluasi situasi. Penilaian etika berasal dari pertimbangan nilai moral yang membimbing perilaku (Roxas dan Stoneback, 1997)