Equity Sensitivity (skripsi dan tesis)

Prinsip keadilan yang dianut seseorang berbeda satu dengan lainnya. Setiap orang memiliki persepsi tersendiri terhadap equity (adil) dan inequity (tidak adil), hal tersebut juga akan mempengaruhi perilaku etis auditor dalam pengambilan keputusan (Widiastuti, 2015). Equity sensitivity merupakan suatu persepsi seseorang terhadap keadilan dengan membandingkan antara input dan outcome yang diperoleh dari orang lain (Kusuma dan Budisantoso, 2017) Equity theory mengasumsikan bahwa ketika kita terlibat dalam hubungan pertukaran dengan organisasi, dan mengevaluasi keadilan dari apa yang kita dapatkan dari pertukaran ini dengan membandingkan rasio input-output kita sendiri dengan yang lain. Hal ini untuk menentukan apakah kita dibayar kurang atau dibayar lebih (Roen, 2012). Equity theory atau teori keseimbangan menurut Adams (1963) berfokus pada rasio input-output dalam organisasi. Input diwakili oleh kontribusi kita terhadap organisasi sedangkan output adalah segala sesuatu yang kita terima dari organisasi. Huseman (1987) menyatakan bahwa setiap individu memiliki persepsi tersendiri terhadap equity (adil) dan inequity (tidak adil), Huseman, et al (1987) membagi persepsi individu terhadap equity dan inequity dalam tiga kategori yaitu: 1) Benevolents Individu benevolent cenderung berperilaku murah hati dan lebih senang memberi daripada menerima serta cenderung melakukan tindakan etis sebagai akibat sifatnya yang tidak mementingkan diri sendiri. Selain itu individu benevolent akan merasa puas jika ratio outcome atau input mereka lebih rendah dibanding orang lain. 2) Equity sensitivitiy Individu equity sensitivity menganut norma equity dan merasa tidak puas ketika orang lain diberikan penghargaan lebih atau kurang. Seseorang dengan equity sensitivity akan lebih puas ketika ratio outcome atau input mereka sama dengan orang lain. Individu ini digambarkan sebagai individu yang memiliki keseimbangan antara input dan outcomes. 3) Entitleds Individu entitled digambarkan sebagai individu yang lebih senang menerima lebih daripada memberi. Mereka akan merasa tidak puas jika tidak mendapat outcome atau input yang lebih sedikit dibanding orang lain. Individu entitled lebih banyak menuntut haknya daripada memikirkan apa yang diberikan, sehingga individu ini cenderung melakukan perilaku tidak etis. Nugrahaningsih (2005) dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara auditor benevolents dan auditor entitleds, dimana auditor benevolents cenderung mempunyai perilaku lebih etis daripada auditor entitleds. Prinsip keadilan yang dianut seseorang berbeda satu dengan lainnya. Setiap orang memiliki persepsi tersendiri terhadap equity (adil) dan inequity (tidak adil), hal tersebut juga akan mempengaruhi perilaku etis auditor dalam pengambilan keputusan (Widiastuti, 2015). Equity sensitivity merupakan suatu persepsi seseorang terhadap keadilan dengan membandingkan antara input dan outcome yang diperoleh dari orang lain (Kusuma dan Budisantoso, 2017) Equity theory mengasumsikan bahwa ketika kita terlibat dalam hubungan pertukaran dengan organisasi, dan mengevaluasi keadilan dari apa yang kita dapatkan dari pertukaran ini dengan membandingkan rasio input-output kita sendiri dengan yang lain. Hal ini untuk menentukan apakah kita dibayar kurang atau dibayar lebih (Roen, 2012). Equity theory atau teori keseimbangan menurut Adams (1963) berfokus pada rasio input-output dalam organisasi. Input diwakili oleh kontribusi kita terhadap organisasi sedangkan output adalah segala sesuatu yang kita terima dari organisasi. Huseman (1987) menyatakan bahwa setiap individu memiliki persepsi tersendiri terhadap equity (adil) dan inequity (tidak adil), Huseman, et al (1987) membagi persepsi individu terhadap equity dan inequity dalam tiga kategori yaitu: 1) Benevolents Individu benevolent cenderung berperilaku murah hati dan lebih senang memberi daripada menerima serta cenderung melakukan tindakan etis sebagai akibat sifatnya yang tidak mementingkan diri sendiri. Selain itu individu benevolent akan merasa puas jika ratio outcome atau input mereka lebih rendah dibanding orang lain. 2) Equity sensitivitiy Individu equity sensitivity menganut norma equity dan merasa tidak puas ketika orang lain diberikan penghargaan lebih atau kurang. Seseorang dengan equity sensitivity akan lebih puas ketika ratio outcome atau input mereka sama dengan orang lain. Individu ini digambarkan sebagai individu yang memiliki keseimbangan antara input dan outcomes. 3) Entitleds Individu entitled digambarkan sebagai individu yang lebih senang menerima lebih daripada memberi. Mereka akan merasa tidak puas jika tidak mendapat outcome atau input yang lebih sedikit dibanding orang lain. Individu entitled lebih banyak menuntut haknya daripada memikirkan apa yang diberikan, sehingga individu ini cenderung melakukan perilaku tidak etis. Nugrahaningsih (2005) dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara auditor benevolents dan auditor entitleds, dimana auditor benevolents cenderung mempunyai perilaku lebih etis daripada auditor entitleds.