Metode Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Metode yang banyak digunakan untuk pengendalian persediaan adalah metode visual. Metode visual dilakukan dengan cara petugas farmasi memeriksa sisa stok yang masih ada dan membandingkannya dengan jumlah stok yang harus ada. Jika jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang harus ada maka dilakukan pemesanan kembali (West, 2009). 1) Analisis ABC Jumlah obat-obatan di rumah sakit sangat banyak sehingga sulit untuk menerapkan metode yang sudah dijelaskan sebelumnya. Untuk itu, terdapat metode kontrol tambahan yakni metode kontrol ABC. Metode ini mebagi barang-barang ke dalam tiga tingkatan. Latar belakang metode ini lahir dari prinsip bahwa sebagaian kecil jumlah barang berperan dalam sebagaian besar investasi (prinsip pareto) (Paterson, 2004). Masing-masing jenis barang membutuhkan analisis tersendiri untuk mengetahui besarnya order size dan order poin. Namun, berbagai jenis barang yang ada dalam persediaan tersebut tidak seluruhnya memiliki tingkat prioritas yang sama. Sehingga, untuk mengetahui jenis-jenis barang yang perlu mendapat prioritas, dapat digunakan analisis ABC, karena analisis ini dapat mengklasifikasi seluruh jenis barang berdasarkan tingkat kepentingan (Rangkuti, 1996). Berdasarkan analisis ABC 10% barang berkontribusi pada 70% dari nilai dan disebut dengan kelompok A, kelompok B merupakan 20% barang berkontribusi pada 20% nilai, dan yang terakhir kelompok C merupakan 70% barang yang berkontribusi pada 10% nilai. Hal ini menunjukan bahwa degan mengontrol sebagaian kecil barang, yaitu 10% dari jumlah total barang akan menghasilkan kontrol tetap 70% dari nilai total persediaan (Reddy, 2008). Dalam membuat analisis ABC ada hal yang harus diperhatikan (Reddy, 2008), yaitu : a) Jika barang dapat saling mensubsitusi maka mereka di anggap sebagai satu barang. b) Dalam mengklasifikasi menjadi kelompok A, B, dan C yang harus dilihat adalah total nilai konsumsi, bukan harga per unit barang. c) Semua barang yang dikonsumsi oleh organisasi harus diklasifikasikan bersama-sama, tidak di kelompokan lagi. d) Periode konsumsi tidak harus selama 1 tahun, dapat disesuaikan dengan kebutuhan seperti misalnya 6 bulan, 4 bulan, dan bahkan 1 bulan. Keterbatasan melakukan analisis ABC (Reddy, 2008) : a) Harus ada standarisasi dan pengkodean setiap barang. b) Dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap barang yang kritis tetapi nilainya rendah. c) Harus di review secara periodik sehingga perubahan harga dan konsumsi dapat dipertimbangkan kembali. Cara melakukan analisis ABC : 1) Analisis ABC Pemakaian a) Mengurutkan dari nilai pemakaian terbesar nilai pemakaian terkecil, kemudian dibuat kumulatif pemakaian. b) Mencari nilai presentase kumulatif pemakaian. c) Mengklasifikasi barang persediaan tersebut berdasarkan presentase kumulatif pemakaiannya. d) Jika nilai frekuensi kumulatifnya 0 sampai dengan 70%, maka dikategorikan sebagai A. Jika nilainya berkisar antara 70-90%, maka dikategorikan sebagai B. Sedangkan, nilai pada kisaran 90-100%, dikategorikan sebagai barang C. 2) Analisis ABC Nilai Investasi a) Menghitung jumlah pemakaian per tahun untuk setiap satuan unit barang. b) Mencari harga setiap barang tersebut. c) Mengkalikan pemakaian dengan biaya per barang untuk meperoleh nilai investasi. d) Mengurutkan nilai investasi dari yang terbesar sampai yang terkecil, kemudian dibuat presentase nilai investasi. e) Mencari nilai investasi kumulatif. f) Mengklasifikasi barang persediaan tersebut berdasarkan presentase kumulatif nilai investasinya. g) Jika nilai frekuensi kumulatifnya 0 sampai dengan 70%, maka dikategorikan sebagai A. Jika nilainya berkisaran antara 70-90%, maka dikategorikan sebagai B. Sedangkan, nilai pada kisaran 91- 100%, dikategorikan sebagai C. Setelah didapatkan kelompok barang A, B, dan C, maka selanjutnya dapat dibuat kebijakan untuk pengendaliannya sesuai dengan kepentingan kelompok barang tersebut.