Indikator Lingkungan Kerja



Sunyoto (2015), indikator dalam pengukuran lingkungan kerja adalah:

  1. Hubungan karyawan: dalam hubungan karyawan ini terdapat dua hubungan
    yaitu hubungan sebagai individu dan hubungan sebagai kelompok. Hubungan
    sebagai individu, motivasi yang diperoleh seorang karyawan datangnya dari
    rekan-rekan sekerja maupun atasan. Menjadi sebuah motivasi, jika hubungan
    karyawan dengan rekan sekerja maupun atasannya berlangsung harmonis.
  2. Tingkat kebersihan lingkungan: ingkungan kerja yang tidak tenang atau bising
    akan dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik yaitu adanya
    ketidaktenangan dalam bekerja. Bagi para karyawan tentu saja ketenangan
    lingkungan kerja sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan dan ini
    dapat meningkatkan produktivitas kerja.
  3. Peraturan kerja: peraturan kerja yang baik dan jelas dapat memberikan
    pengaruh yang baik terhadap kepuasan dan kinerja para karyawan untuk
    pengembangan karier di perusahaan tersebut. Dengan perangkat peraturan
    tersebut karyawan akan dituntut untuk menjalankan aktivitasnya guna
    mencapai tujuan perusahaan maupun tujuan individu dengan pasti. Di
    samping itu karyawan akan lebih termotivasi untuk bekerja lebih baik.
  4. Penerangan: penerangan dalam hal ini bukanlah terbatas pada penerangan
    listrik tetapi termasuk juga penerangan matahari. Hal ini sering kali karyawan
    memerlukan penerangan yang cukup, apalagi jika pekerjaan yang diperlukan
    menuntut ketelitian. Untuk melaksanakan penghematan biaya maka dalam
    usaha penerangan hendaknya diusahakan dengan sinar matahari.
  5. Sirkulasi udara, sirkulasi atau pertukaran udara yang cukup maka pertama
    yang harus dilakukan pengadaan ventilasi. Ventilasi harus cukup lebar
    terutama pada ruangan-ruangan yang dianggap terlalu panas.
  6. Keamanan lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan ketenangan
    dan kenyamanan, di mana hal ini akan dapat memberikan dorongan semangat
    untuk bekerja. Keamanan yang dimasukkan ke dalam lingkungan kerja adalah
    keamanan terhadap milik pribadi karyawan

Faktor-Faktor Lingkungan Kerja


Berikut ini beberapa faktor yang di uraikan Sedarmayanti (2017) yang dapat
memengaruhi terbentuknya kondisi lingkungan kerja diantaranya adalah:

  1. Penerangan/Cahaya di Tempat Kerja: Penerangan atau cahaya di tempat kerja
    merujuk pada tingkat kecerahan atau intensitas cahaya yang ada di area kerja.
    Tingkat penerangan yang memadai sangat penting untuk kesehatan mata
    karyawan dan untuk menjalankan tugas dengan efisien. Cahaya yang baik juga
    dapat meningkatkan produktivitas dan konsentrasi.
  2. Temperatur di Tempat Kerja: Temperatur di tempat kerja mencakup suhu
    lingkungan di area kerja. Suhu yang nyaman dan sesuai dapat memengaruhi
    kenyamanan karyawan dan mencegah masalah kesehatan yang disebabkan
    oleh suhu yang ekstrem, seperti dehidrasi atau kedinginan.
  3. Kelembapan di Tempat Kerja: Kelembapan mengacu pada kadar air atau
    kelembaban udara di area kerja. Kelembapan yang tepat dapat membantu
    mencegah masalah pernapasan dan kulit serta meningkatkan kenyamanan dan
    kesejahteraan karyawan.
  4. Sirkulasi Udara di Tempat Bekerja: Sirkulasi udara merujuk pada aliran udara
    di area kerja. Sistem ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi
    konsentrasi polusi dalam udara dan menjaga udara tetap segar. Sirkulasi udara
    yang buruk dapat menyebabkan masalah kualitas udara dalam ruangan dan
    mengganggu kesehatan karyawan.
  5. Kebisingan di Tempat Kerja: Kebisingan di tempat kerja adalah tingkat suara
    atau kebisingan yang ada di lingkungan kerja. Paparan kebisingan yang tinggi
    secara terus-menerus dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, dan masalah
    kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pengendalian kebisingan penting untuk
    melindungi kesehatan dan produktivitas karyawan.
  6. Tata Warna di Tempat Kerja: Tata warna di tempat kerja mencakup pemilihan
    warna untuk dinding, lantai, dan elemen dekoratif lainnya. Warna dapat
    memengaruhi suasana hati dan mood karyawan. Pemilihan warna yang tepat
    dapat menciptakan lingkungan kerja yang menenangkan, energetik, atau
    kreatif, tergantung pada kebutuhan dan karakteristik pekerjaan.
  7. Dekorasi di Tempat Kerja: Dekorasi mencakup elemen-elemen seperti
    furnitur, gambar, tanaman hias, dan aksesori lainnya di tempat kerja. Dekorasi
    yang menyenangkan dan fungsional dapat meningkatkan suasana kerja dan
    memberikan nuansa yang positif bagi karyawan.
  8. Keamanan di Tempat Kerja: Keamanan di tempat kerja mencakup segala
    upaya untuk melindungi karyawan dari potensi bahaya dan cedera. Ini
    melibatkan implementasi peraturan keselamatan, pelatihan keselamatan,
    penggunaan peralatan pelindung diri, serta pemeliharaan peralatan dan
    fasilitas untuk mencegah kecelakaan dan insiden yang tidak diinginkan

Faktor-Faktor Lingkungan Kerja


Berikut ini beberapa faktor yang di uraikan Sedarmayanti (2017) yang dapat
memengaruhi terbentuknya kondisi lingkungan kerja diantaranya adalah:

  1. Penerangan/Cahaya di Tempat Kerja: Penerangan atau cahaya di tempat kerja
    merujuk pada tingkat kecerahan atau intensitas cahaya yang ada di area kerja.
    Tingkat penerangan yang memadai sangat penting untuk kesehatan mata
    karyawan dan untuk menjalankan tugas dengan efisien. Cahaya yang baik juga
    dapat meningkatkan produktivitas dan konsentrasi.
  2. Temperatur di Tempat Kerja: Temperatur di tempat kerja mencakup suhu
    lingkungan di area kerja. Suhu yang nyaman dan sesuai dapat memengaruhi
    kenyamanan karyawan dan mencegah masalah kesehatan yang disebabkan
    oleh suhu yang ekstrem, seperti dehidrasi atau kedinginan.
  3. Kelembapan di Tempat Kerja: Kelembapan mengacu pada kadar air atau
    kelembaban udara di area kerja. Kelembapan yang tepat dapat membantu
    mencegah masalah pernapasan dan kulit serta meningkatkan kenyamanan dan
    kesejahteraan karyawan.
  4. Sirkulasi Udara di Tempat Bekerja: Sirkulasi udara merujuk pada aliran udara
    di area kerja. Sistem ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi
    konsentrasi polusi dalam udara dan menjaga udara tetap segar. Sirkulasi udara
    yang buruk dapat menyebabkan masalah kualitas udara dalam ruangan dan
    mengganggu kesehatan karyawan.
  5. Kebisingan di Tempat Kerja: Kebisingan di tempat kerja adalah tingkat suara
    atau kebisingan yang ada di lingkungan kerja. Paparan kebisingan yang tinggi
    secara terus-menerus dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, dan masalah
    kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pengendalian kebisingan penting untuk
    melindungi kesehatan dan produktivitas karyawan.
  6. Tata Warna di Tempat Kerja: Tata warna di tempat kerja mencakup pemilihan
    warna untuk dinding, lantai, dan elemen dekoratif lainnya. Warna dapat
    memengaruhi suasana hati dan mood karyawan. Pemilihan warna yang tepat
    dapat menciptakan lingkungan kerja yang menenangkan, energetik, atau
    kreatif, tergantung pada kebutuhan dan karakteristik pekerjaan.
  7. Dekorasi di Tempat Kerja: Dekorasi mencakup elemen-elemen seperti
    furnitur, gambar, tanaman hias, dan aksesori lainnya di tempat kerja. Dekorasi
    yang menyenangkan dan fungsional dapat meningkatkan suasana kerja dan
    memberikan nuansa yang positif bagi karyawan.
  8. Keamanan di Tempat Kerja: Keamanan di tempat kerja mencakup segala
    upaya untuk melindungi karyawan dari potensi bahaya dan cedera. Ini
    melibatkan implementasi peraturan keselamatan, pelatihan keselamatan,
    penggunaan peralatan pelindung diri, serta pemeliharaan peralatan dan
    fasilitas untuk mencegah kecelakaan dan insiden yang tidak diinginkan

Fungsi Lingkungan Kerja


Safaria dalam Sunyoto (2015), lingkungan kerja memiliki dua fungsi utama
yaitu:

  1. Sebagai proses integrasi internal, di mana para anggota organisasi dapat bersatu,
    sehingga mereka akan mengerti bagaimana berinteraksi satu dengan yang lain.
    Fungsi integrasi internal ini akan memberikan seseorang dan rekan kerja lainnya
    identitas kolektif serta memberikan pedoman bagaimana seseorang dapat bekerja
    sama secara efektif.
  2. Sebagai proses adaptasi eksternal, di mana lingkungan kerja akan menentukan
    bagaimana organisasi memenuhi berbagai tujuannya dan berhubungan dengan pihak
    luar. Fungsi ini akan memberikan tingkat adaptasi organisasi dalam merespons
    perubahan zaman, persaingan, inovasi, dan pelayanan terhadap konsumen.
    Fungsi lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas
    dan prestasi kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja
    dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat
    yang artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam waktu yang
    ditentukan. (Suwandi, 2017)

Indikator Dukungan Organisasi
Beberapa indikator dukungan organisasi menurut Hasibuan (2017) yaitu sebagai
berikut:

  1. Dukungan emosional: Indikator ini mencakup adanya dukungan sosial dan
    emosional yang diberikan oleh atasan dan rekan kerja kepada karyawan.
    Dukungan emosional dapat ditunjukkan melalui perhatian, penghargaan,
    dukungan moral, dan empati yang diberikan kepada karyawan dalam
    menghadapi masalah atau tantangan.
  2. Dukungan instrumental: Indikator ini mencakup adanya dukungan dalam
    bentuk sumber daya dan bantuan praktis yang diberikan oleh organisasi kepada
    karyawan. Dukungan instrumental dapat berupa fasilitas, peralatan kerja yang
    memadai, akses ke pelatihan dan pengembangan, serta bantuan dalam
    menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan.
  3. Dukungan informasional: Indikator ini mencakup adanya dukungan dalam
    bentuk informasi yang relevan dan berguna yang diberikan oleh organisasi
    kepada karyawan. Dukungan informasional mencakup akses yang mudah
    terhadap informasi terkait pekerjaan, kebijakan dan prosedur organisasi, serta
    umpan balik yang konstruktif untuk membantu karyawan meningkatkan kinerja
    mereka.
  4. Dukungan karir: Indikator ini mencakup adanya dukungan dari organisasi
    dalam pengembangan karir dan pertumbuhan profesional karyawan. Dukungan
    karir dapat berupa kesempatan pelatihan dan pengembangan, jenjang karir yang
    jelas, mentoring atau pembimbingan, serta dukungan dalam mencapai tujuan
    karir yang diinginkan.
  5. Dukungan keseimbangan kerja-kehidupan: Indikator ini mencakup adanya
    dukungan dari organisasi dalam menciptakan keseimbangan antara kehidupan
    kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Dukungan ini dapat berupa kebijakan
    fleksibilitas kerja, program kesejahteraan karyawan, cuti yang memadai, dan
    upaya untuk mengurangi beban kerja yang berlebihan

Faktor-faktor yang memengaruhi Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) mengidentifikasi beberapa faktor yang memengaruhi dukungan
organisasi. Berikut adalah beberapa faktor-faktor berikut:

  1. Kebijakan dan praktik manajemen sumber daya manusia (SDM): Kebijakan
    dan praktik SDM yang adil, transparan, dan konsisten dapat menciptakan iklim
    organisasi yang mendukung. Misalnya, kebijakan yang mengakui dan
    memberikan penghargaan pada prestasi kerja, keadilan dalam sistem
    penggajian, dan pengakuan atas kontribusi karyawan.
  2. Kepemimpinan yang mendukung: Kepemimpinan yang memperhatikan
    karyawan, memberikan arahan yang jelas, dan memberikan dukungan
    emosional dan instrumental dapat meningkatkan tingkat dukungan organisasi.
    Pemimpin yang memberikan perhatian pada kebutuhan karyawan, memberikan
    umpan balik konstruktif, dan mendukung perkembangan karir karyawan dapat
    menciptakan iklim yang positif.
  3. Budaya organisasi yang inklusif: Budaya organisasi yang menghargai
    keberagaman, kolaborasi, dan partisipasi karyawan dapat mempromosikan
    dukungan organisasi. Adanya norma-norma yang mendukung, saling percaya,
    dan saling peduli di dalam organisasi menciptakan lingkungan di mana
    karyawan merasa didukung.
  4. Keadilan organisasional: Keadilan dalam kebijakan, prosedur, dan
    pengambilan keputusan organisasi juga memengaruhi tingkat dukungan
    organisasi. Karyawan yang merasa diperlakukan secara adil dan merasa bahwa
    keputusan organisasi didasarkan pada kriteria yang objektif, merasakan tingkat
    dukungan yang lebih besar.
  5. Dukungan sosial: Interaksi positif antara karyawan, dukungan dari rekan kerja
    dan atasan, serta hubungan sosial yang baik dalam organisasi dapat
    memengaruhi tingkat dukungan organisasi. Dukungan sosial mencakup
    dukungan emosional, dukungan instrumental, dan akses ke sumber daya dan
    informasi yang relevan

Fungsi Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) menjelaskan fungsi-fungsi yang memengaruhi dukungan
organisasi:

  1. Meningkatkan kesejahteraan karyawan: Dukungan organisasi yang diberikan
    kepada karyawan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka secara
    keseluruhan. Dukungan tersebut dapat berupa dukungan emosional, dukungan
    instrumental, dan dukungan informasional. Dengan merasakan dukungan dari
    organisasi, karyawan dapat merasa lebih aman, puas, dan termotivasi dalam
    melaksanakan tugas-tugas pekerjaan mereka.
  2. Meningkatkan kepuasan kerja: Dukungan organisasi yang diberikan kepada
    karyawan juga dapat berdampak positif pada kepuasan kerja mereka. Ketika
    karyawan merasa didukung oleh organisasi, baik melalui dukungan dari atasan,
    rekan kerja, maupun sistem organisasi secara keseluruhan, mereka cenderung
    merasa puas dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat berkontribusi pada
    produktivitas dan kinerja yang lebih baik.
    Meningkatkan keterikatan karyawan: Dukungan organisasi juga berperan
    dalam meningkatkan keterikatan karyawan terhadap organisasi. Ketika
    karyawan merasakan dukungan yang kuat dari organisasi, mereka lebih
    cenderung mengembangkan rasa loyalitas, identitas, dan komitmen terhadap
    organisasi tempat mereka bekerja. Ini dapat membantu memperkuat ikatan
    antara karyawan dan organisasi, serta mengurangi kemungkinan turnover
    karyawan.
  3. Mengurangi stres dan kelelahan kerja: Dukungan organisasi dapat membantu
    mengurangi tingkat stres dan kelelahan kerja yang dialami oleh karyawan.
    Ketika karyawan merasa didukung, mereka dapat mengatasi tekanan dan
    tantangan dengan lebih baik. Dukungan organisasi dapat memberikan sumber
    daya dan bantuan yang diperlukan dalam menghadapi tuntutan kerja yang
    tinggi, sehingga membantu mengurangi risiko kelelahan dan burnout.
  4. Meningkatkan kinerja organisasi: Dukungan organisasi yang efektif juga dapat
    berdampak positif pada kinerja organisasi secara keseluruhan. Karyawan yang
    merasa didukung cenderung lebih termotivasi, berdedikasi, dan berkontribusi
    secara aktif dalam mencapai tujuan organisasi. Dukungan organisasi yang kuat
    juga dapat memfasilitasi kolaborasi, komunikasi yang efektif, dan inovasi, yang
    semuanya dapat meningkatkan kinerja dan keberhasilan organisasi.

Pengertian Dukungan Organisasi


Hasibuan (2017) dukungan organisasi dapat diartikan sebagai upaya yang
dilakukan oleh organisasi untuk memenuhi kebutuhan karyawan dan memberikan
sumber daya yang diperlukan agar karyawan dapat mencapai tujuan organisasi dan
meningkatkan kesejahteraan mereka. Sedangkan Rhoades, et al dalam Rosyiana (2019)
mengatakan bahwa dukungan organisasi dapat berarti menghargai kontribusi pegawai,
mendengar keluhan, merasa bangga akan hasil kerja atau prestasinya dan memenuhi
kebutuhan pegawai. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan dukungan organisasi
merupakan faktor yang perlu untuk diperhatikan oleh perusahan agar dapat berjalan
dengan efektif dan efisien.
Mujiasih (2015) Dukungan organisasi yang dirasakan adalah persepsi karyawan
tentang sejauh mana organisasi menghargai dan berkontribusi terhadap kesejahteraan
mereka. Dharmawan, Nurtjahjanti (2017) Persepsi dukungan organisasi adalah
keyakinan terhadap dukungan organisasi yang dikaitkan dengan kepedulian terhadap
kesejahteraan karyawan berdasarkan kontribusi yang telah diberikan individu kepada
perusahaan. Purnami (2017) mengungkapkan bahwa persepsi dukungan organisasi
juga dianggap sebagai keyakinan universal yang dipegang oleh setiap karyawan terkait
evaluasi kebijakan dan prosedur organisasi. Agustina (2012) Persepsi dukungan
organisasi, salah satu kekuatan yang memengaruhi perilaku guru untuk meningkatkan
perilaku atau kinerjanya. Saud (2016) Dukungan organisasi yang dirasakan oleh
karyawan menimbulkan rasa komitmen, karyawan tidak hanya merasa harus
berkomitmen terhadap atasannya, tetapi juga merasa berkewajiban untuk terlibat dalam
perilaku yang mendukung tujuan organisasi

Indikator Gaya Kepemimpinan


Hasibuan (2017), terdapat ada beberapa indikator gaya kepemimpinan yang
dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan otoritatif: Indikator ini mencakup adanya arahan dan keputusan
    yang jelas dari seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki gaya
    kepemimpinan otoritatif memberikan petunjuk yang jelas, memberikan
    keputusan dengan tegas, dan mengarahkan tim atau organisasi untuk mencapai
    tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Kepemimpinan partisipatif: Indikator ini mencakup adanya partisipasi dan
    keterlibatan anggota tim atau organisasi dalam pengambilan keputusan.
    Pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan partisipatif melibatkan anggota
    tim dalam proses pengambilan keputusan, mendengarkan dan menghargai
    pendapat mereka, serta memfasilitasi kolaborasi dan kontribusi dari seluruh
    anggota tim.
  3. Kepemimpinan demokratis: Indikator ini mencakup adanya kesetaraan dalam
    pengambilan keputusan dan proses pengelolaan organisasi. Pemimpin yang
    memiliki gaya kepemimpinan demokratis memberikan kebebasan kepada
    anggota tim atau organisasi untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan
    keputusan, menghormati kebebasan individu, serta mendorong kerjasama dan
    dialog yang terbuka.
  4. Kepemimpinan transformasional: Indikator ini mencakup adanya pemimpin
    yang mampu menginspirasi dan memotivasi anggota tim atau organisasi untuk
    mencapai tujuan yang lebih tinggi. Pemimpin yang memiliki gaya
    kepemimpinan transformasional memiliki visi yang jelas, mampu
    menggerakkan emosi dan semangat anggota tim, serta mendorong inovasi dan
    perkembangan individu.
  5. Kepemimpinan servant (pelayanan): Indikator ini mencakup adanya pemimpin
    yang mementingkan pelayanan kepada anggota tim atau organisasi. Pemimpin
    yang memiliki gaya kepemimpinan servant mengutamakan kepentingan
    anggota tim, mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan mereka, serta
    berperan sebagai pelayan yang membantu dan memfasilitasi kesuksesan
    individu dan tim

Faktor yang memengaruhi gaya kepemimpinan


Hasibuan (2017), ada beberapa faktor yang memengaruhi gaya kepemimpinan.
Berikut adalah beberapa faktor-faktor tersebut:

  1. Karakteristik kepemimpinan individu: Faktor ini mencakup karakteristik
    pribadi seorang pemimpin, seperti kepribadian, nilai-nilai, sikap, dan tingkat
    kepercayaan diri. Karakteristik individu ini akan memengaruhi gaya
    kepemimpinan yang diadopsi oleh pemimpin.
  2. Pengalaman kepemimpinan: Faktor ini mencakup pengalaman seorang
    pemimpin dalam memimpin dan mengelola tim atau organisasi. Pengalaman
    kepemimpinan dapat membentuk pemahaman dan keterampilan kepemimpinan
    seseorang, dan dapat memengaruhi gaya kepemimpinan yang dijalankan.
  3. Konteks organisasi: Faktor ini mencakup karakteristik dan kebutuhan
    organisasi di mana seorang pemimpin beroperasi. Misalnya, ukuran organisasi,
    struktur organisasi, budaya organisasi, dan tuntutan tugas yang ada dalam
    organisasi dapat memengaruhi gaya kepemimpinan yang dipilih oleh
    pemimpin.
  4. Kepentingan anggota tim atau organisasi: Faktor ini mencakup kepentingan dan
    kebutuhan anggota tim atau organisasi yang dipimpin. Seorang pemimpin perlu
    memperhatikan kebutuhan dan preferensi anggota tim dalam mengadopsi gaya
    kepemimpinan yang efektif.
  5. Lingkungan eksternal: Faktor ini mencakup faktor-faktor eksternal yang
    memengaruhi organisasi dan pemimpin, seperti kondisi pasar, persaingan,
    regulasi pemerintah, dan tren industri. Lingkungan eksternal ini dapat
    memengaruhi pilihan gaya kepemimpinan yang diperlukan untuk menghadapi
    tantangan dan peluang yang ada

Tujuan Gaya Kepemimpinan


Hasibuan (2011) tujuan kepemimpinan adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kinerja organisasi: Salah satu tujuan utama kepemimpinan
    adalah meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Seorang pemimpin
    bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan
    memotivasi karyawan untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan
    efisien.
  2. Mengembangkan dan memotivasi karyawan: Kepemimpinan juga bertujuan
    untuk mengembangkan potensi dan kemampuan karyawan agar dapat mencapai
    performa yang optimal. Seorang pemimpin harus dapat memberikan motivasi,
    arahan, dan dukungan kepada karyawan dalam mencapai tujuan pribadi dan
    profesional mereka.
  3. Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis: Pemimpin bertujuan untuk
    menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan saling mendukung di mana
    karyawan dapat bekerja dengan baik bersama dan saling menghormati. Hal ini
    dapat membantu meningkatkan keterlibatan karyawan, kepuasan kerja, dan
    kolaborasi antar anggota tim.
  4. Mengembangkan visi dan strategi: Kepemimpinan juga bertujuan untuk
    mengembangkan visi jangka panjang dan strategi organisasi. Seorang
    pemimpin harus memiliki kemampuan untuk melihat gambaran besar,
    merumuskan tujuan jangka panjang, dan merancang strategi yang efektif untuk
    mencapai tujuan tersebut

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Gaya Kepemimpinan adalah contoh perilaku yang dirancang sedemikian rupa
untuk mengarahkan bawahan dalam upaya memaksimalkan kinerja keseluruhan
bawahan mereka agar kinerja organisasi secara keseluruhan dan tujuan organisasi dapat
dimaksimalkan (Hidayat, 2018). Sedangkan Sutikno (2014) “Kepemimpinan dalam
organisasi diarahkan untuk memengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, agar mau
berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang lain yang
memimpinnya”.
Kartono (2017) mengatakan kepemimpinan adalah suatu keterampilan
memengaruhi orang lain, bawahan, atau kelompok, mengarahkan perilaku bawahan
atau orang lain untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok. Ketika Edison et al
(2018) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu tindakan memengaruhi orang
lain ketika mereka sedang down ingin bekerja untuk menjadi sukses tujuan tertentu.
Senada dengan itu, Suwatno & Priansa (2018) menyatakan bahwa Kepemimpinan
adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh yang konstruktif lain untuk
melakukan usaha kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan desain

Indikator Motivasi Kerja


Indikator motivasi kerja teori hirarki kebutuhan Maslow dalam Sofyandi dan
Garniwa (2012) terdiri dari:

  1. Kebutuhan fisiologis (Physiological-need) kebutuhan manusia yang paling
    dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan, minum,
    perumahan, oksigen, tidur dan sebagainya.
  2. Kebutuhan rasa aman (Safety-need). meliputi keamanan akan perlindungan dari
    bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya dan
    jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi bekerja.
  3. Kebutuhan sosial (Social-need). kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi dana
    interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan berkaitan
    dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang
    baik, rekreasi bersama dan sebagainya.
  4. Kebutuhan penghargaan (Esteem-need) meliputi kebutuhan keinginan untuk
    dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas kemampuan dan
    keahlian seseorang serta efektifitas kerja seseorang.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self-actualization need). berkaitan dengan proses
    pengembangan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. Kebutuhan untuk
    menunjukkan kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki seseorang

Faktor-faktor yang memengaruhi Motivasi Kerja


Hasibuan (2018) menjelaskan ada beberapa faktor yang memengaruhi motivasi
yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor Intrinsik:
  • Pengakuan: Pengakuan atas prestasi kerja dan kontribusi karyawan
    dapat meningkatkan motivasi kerja mereka.
  • Pekerjaan yang menantang: Tantangan dalam pekerjaan dapat
    memberikan dorongan tambahan untuk mencapai hasil yang baik.
  • Otonomi: Memberikan kebebasan kepada karyawan untuk mengambil
    keputusan dan mengatur pekerjaan mereka sendiri dapat meningkatkan
    motivasi intrinsik.
  1. Faktor Ekstrinsik:
  • Gaji dan imbalan: Kompensasi yang adil dan imbalan yang memadai
    menjadi faktor ekstrinsik yang penting dalam memotivasi karyawan.
  • Kebijakan penghargaan: Kebijakan penghargaan yang jelas dan
    transparan, seperti bonus atau promosi, dapat menjadi faktor penggerak
    yang kuat.
  • Lingkungan kerja yang mendukung: Lingkungan kerja yang positif,
    kolaboratif, dan mendukung dapat memengaruhi motivasi karyawan
    secara positif.
  • Kebijakan pengembangan karir: Kesempatan pengembangan karir yang
    jelas dan jalan untuk promosi dapat meningkatkan motivasi kerja.
  1. Faktor Personal:
  • Nilai-nilai pribadi: Kesenjangan antara nilai-nilai pribadi seseorang
    dengan nilai-nilai organisasi dapat memengaruhi motivasi kerja.
  • Tujuan pribadi: Karyawan yang memiliki tujuan yang jelas dan terkait
    dengan pekerjaan mereka cenderung lebih termotivasi untuk mencapai
    tujuan tersebut.
  • Keterampilan dan kompetensi: Rasa percaya diri dalam melaksanakan
    tugas-tugas pekerjaan dan keterampilan yang relevan juga dapat
    memengaruhi motivasi kerja

Fungsi Motivasi Kerja


Menurut Sardiman (2007), fungsi motivasi ada 3 (tiga), yaitu:

  1. Mendorong manusia untuk berbuat, motivasi dalam hal ini merupakan motor
    penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
  2. Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang hendak dicapai,
    sehingga motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus
    dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
  3. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan perbuatan apa yang
    harus dikerjakan yang sesuai guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan
    perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Pengertian Motivasi


Manullang dalam Agustina ika (2008), motivasi merupakan pekerjaan yang
dilakukan oleh seorang manajer memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada
orang lain. Sedangkan Robbin, dalam Andiyanto (2011) mengemukakan bahwa
motivasi adalah keinginan yang tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh
kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individual. Oleh sebab itu,
dapat dibuat kesimpulan seorang individu melakukan sesuatu atas dasar keinginan serta
adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan.
Motivasi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal yaitu: lingkungan kerja, pimpinan, perkembangan organisasi atau
tuntutan kerja, dorongan atau bimbingan dari atasan, dan kompensasi. Faktor internal,
yaitu: orang alami, tingkat pendidikan, pengalaman masa lalu, keinginan atau harapan
masa depan. (Wicaksono & Hermani, 2017). Hal ini diperlukan untuk memberikan
motivasi yang efektif kepada karyawan. Agar karyawan tidak selalu mengeluhkan hal-
hal yang sepele, tidak melanggar semua aturan yang diberikan perusahaan, dan juga
tidak saling menyalahkan sesama karyawan

Fungsi Manjemen Sumber Daya Manusia


Sutrisno (2017), mengemukakan fungsi-fungsi manajemen sumber daya
manusia adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi Manajerial, meliputi penentuan program sumber daya manusia yang
    akan membantu pencapaian tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.
  2. Fungsi Pengorganisasian, membentuk organisasi dengan merancang susunan
    dari berbagai hubungan antara jabatan, personalia, dan faktor-faktor fisik.
  3. Fungsi Pengarahan, mengusahakan agar karyawan mau bekerja secara efektif
    melalui perintah motivasi.
  4. Fungsi Pengendalian, mengadakan pengamatan atas pelaksanaan dan
    membandingkan dengan rencana dan mengoreksinya jika terjadi
    penyimpangan atau jika perlu menyesuaikan kembali rencana yang telah
    dibuat.
  5. Fungsi Operasional
    a. Pengadaan, perencanaan sumber daya manusia, perekrutan, seleksi,
    penempatan, dan orientasi karyawan, perencanaan mutu dan jumlah
    karyawan. Sedangkan perekrutan, seleksi, dan penempatan berkaitan
    dengan penarikan, pemilihan, penyusunan, dan evaluasi formulir lamaran
    kerja, tes psikologi, dan wawancara.
    b. Pengembangan, meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap
    karyawan agar dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kegiatan ini
    menjadi semakin penting dengan berkembangnya dan semakin
    kompleksnya tugas-tugas manajer.
    c. Kompensasi, pemberian penghargaan yang adil dan layak kepada
    karyawan sebagai jasa kerja mereka. Pemberian kompensasi merupakan
    tugas yang paling kompleks dan juga merupakan salah satu aspek paling
    berarti bagi karyawan ataupun organisasi.
    d. Integrasi, usaha-usaha untuk menyelaraskan kepentingan individu
    karyawan, organisasi, dan masyarakat. Untuk itu perlu memahami sikap
    dan perasaan karyawan untuk dipertimbangkan dalam pengambilan
    keputusan.
    e. Pemeliharaan, mencegah kehilangan karyawan-karyawan tetapi dimaksud
    untuk memelihara sikap kerja sama dan kemampuan bekerja karyawan
    tersebut.
    f. Pemutusan Hubungan Kerja, memutuskan hubungan kerja dan
    mengembalikannya kepada masyarakat. Proses pemutusan hubungan kerja
    yang utama adalah pensiun, pemberhentian, dan pemecatan

Dimensi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja dapat diukur dengan dimensi-dimensi kepuasan menurut Indeks
Deskriptif Jabatan (Job Descriptive Index). Menurut Smith (dalam Luthans, 2014) dimensi-
dimensi tersebut antara lain:
a. Atasan
1) Kesetiaan
2) Rasa keadilan,
b. Promosi
1) Peluang
2) Rasa keadilan mendapatkan promosi,
c. Benefit
1) Asuransi,
2) Fasilitas,
d. Contingen Reward
1) Rasa hormat,
2) Apresiasi,
e. Operating Procedure
1) Aturan,
2) Procedur

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja tidak semata-mata timbul dengan sendirinya. Kepuasan kerja timbul
karena adanya beberapa faktor yang mendorong karyawan merasa puas atas pekerjaannya.
Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mendorong timbulnya kepuasan kerja dalam diri
karyawan menurut (Abdus, 2014)
a. Faktor instrinsik
Merupakan faktor yang berasal dari diri karyawan dan dibawa oleh setiap karyawan
sejak mulai bekerja di mana dia bekerja.
b. Faktor ekstrinsik
Menyangkut hal-hal yang berada dari luar karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan
kerja, sistem penggajian dan interaksinya dengan karyawan lain.
Sementara itu Robbins memiliki pendapat lain mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja. Berikut ini merupakan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja menurut Robbins (2016):
a. Pekerjaan yang Menantang
Menurut Robbins (2016:36), Pekerjaan yang menantang adalah pekerjaan yang
memberikan kesempatan untuk menggunakan kemampuan, ketrampilan dan
menawarkan satu varietas tugas, umpan balik dan kebebasan tentang seberapa baiknya
melakukan pekerjaan yang secara praktek sangat menantang.
b. Ganjaran yang Pantas
Imbalan yang pantas, dan atau imbalan yang layak adalah merupakan keinginan
karyawan akan kebijakan promosi dan sistem upah yang mereka pandangan sebagai adil
dan segaris dengan pengharapan mereka. Bila upah dilihat sebagai adil yang didasarkan
pada tuntutan pekerjaan, tingkat ketrampilan individu, dan standar pengupahan
komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. Serupa pula karyawan
berusaha mendapatkan praktik promosi yang adil, karenaa promosi memberikan
kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, status sosial dan tanggung jawab yang
ditingkatkan. Oleh karenaa itu individu-individu yang berpandangan bahwa
keberagaman promosi dibuat dalam cara yang adil (Robbins, 2015:35).
c. Kondisi Kerja yang Mensupport
Menurut Robbins (2002:36), Kondisi kerja ini disampaikan bahwa para karyawan
memperhatikan lingkungan kerja mereka yang memperhatikan kenyamanan pribadi
maupun kemudahan untuk dapat bekerja dengan baik. pembelajaran menunjukkan
bahwa karyawan sangat peduli pada lingkungan fisik yang tidak berbahaya atau yang
nyaman. Selain itu kebanyakan karyawan lebih suka bekerja tidak jauh dari rumah,
dalam fasilitas yang bersih dan relatif modern, dan dengan alat dan perlengkapan yang
memadai. Kondisi kerja ini adalah berdasarkan lingkungan fisik dan non-fisik, yang
merupakan faktor penting dalam memberikan kepuasan kerja karyawan. Kondisi
lingkungan fisik: dingin, berdebu, panas, bising, dan lain-lain. Termasuk di sini adalah
kondisi tempat, penyinaran, ventilasi, kantin, dan tempat parkir.Sedangkan lingkungan
non-fisik diantaranya adalah lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
d. Rekan Kerja yang Mendukung
Menurut Robbins (2016:36): “Dari kerja orang mendapatkan hasil lebih dari sekadar
uang atau prestasi yang berwujud. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi
kebutuhan akan interaksi sosial”. Oleh karenaa itu tidak heran setiap orang memiliki
rekan kerja yang supportif dan bersahabat dapat meningkatkan kepuasan kerja. Perilaku
dari pimpinan juga merupakan faktor utama pada kepuasan kerja. Studi-studi umumnya
memberikan manfaat bahwa kepuasan karyawan ditingkatkan bila penyedia langsung
akan dapat memahami dan secara bersahabat, memberikan pujian atas kinerja hasil kerja
yang baik, mendengarkan keluh kesah karyawan dan menunjukkan minat pribadi
terhadap mereka. Kepuasan kerja karyawan akan dapat tercapai bilamana pimpinan
langsung dapat memahami, bersahabat dan memberikan pujian atas kinerja karyawan
yang baik, mendengarkan pendapat karyawan, dan menunjukkan minat pribadi terhadap
mereka. Rekan sekerja yang mendukung mengandung arti bahwa seseorang
mendapatkan lebih dari pada sekedar prestasi dan uang yang berwujud dari dalam kerja,
tetapi kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial, sehingga berharap penting
bagi mereka untuk memiliki rekan kerja yang sama smaa mendukung dan dapat bekerja
dengan baik. Dalam hal ini Luthans (2014:152) menambahkan bahwa selain pengaruh
teman sekerja, juga pengaruh atasan pada kepuasan kerja, seperti perhatian pimpinan
akan tingkat kesejahteraan pegawai/karyawan, bimbingan dan bantuan untuk melakukan
pekerjaan, komunikatif, serta mau melibatkan diri dalam pekerjaan akan menimbulkan
kepuasan kerja

Teori-Teori Kepuasan Kerja


Curphy dkk (2012) menyatakan bahwa teori tentang kepuasan kerja dapat
dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam teori, yaitu:
a. Teori Afektivitas
Mengacu pada kecendrungan seseorang untuk bereaksi terhadap rangasangan dalam
sikap emosi yang konsisten. Orang-orang dengan kecenderungan negatif secara tetap
bereaksi terhadap perubahan, peristiwa dalam sikap negatif sehingga tidak bahagia.
Sedangkan afektivitas positif secara konsisten bereaksi terhadap perubahan dengan sikap
positif.
b. Equity Theory (Teori Keseimbangan)
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Adam (1963). Prinsip teori ini adalah orang
akan merasakan puas atau tidak, tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan
(equity) atau tidak dalam situasi, diperoleh dengan cara membandingkan dirinya dengan
orang lain yang sekelas, sekantor maupun di tempat lain.
c. Two Factor Theory (Teori Dua Faktor) dari Herzberg
Teori ini menyatakan ada dua faktor yang dapat memberikan kepuasan dalam bekerja.
Kedua faktor tersebut adalah :
1) Sesuatu yang akan memotivasi (motivator)
Faktor ini antara lain faktor prestasi, penghargaan dan pengakuan, faktor tanggung
jawab, faktor memperoleh perkembangan dan kemajuan dalam bekerja khususnya
faktor pekerjaan atau promosi.
2) Kebutuhan kesehatan lingkungan kerja (hygiene factors)
Faktor ini dapat berbentuk upah/gaji, kondisi kerja, hubungan antara pekerja,
kebijaksanaan dan proses administrasi perusahaan

Pengertian Kepuasan Kerja


Suatu efektifitas atau respon emosional terhadap aspek pekerjaan. Kepuasan kerja
merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaan yang didasarkan atas aspek-aspek
pekerjaan. Kepuasan kerja merupakan masalah yang cukup menarik dan penting, baik bagi
individu sebagai pekerja maupun bagi perusahaan. Seorang manajer perlu menciptakan
lingkungan kerja yang dapat memenuhi kebutuhan atau motif pekerjaannya, guna terciptanya
tujuan organisasi sebagaimana yang diharapkan. Berikut ini terdapat beberapa pendapat ahli
tentang pengertian kepuasan kerja, yaitu:
Menurut Robbins dan Judge (2015: 78) kepuasan kerja merupakan “sikap umum
pada kegiatan personal yang menunjukkan bentuk suatu perbedaan antara jumlah
penghargaan yang diterima oleh pekerja serta jumlah yang mereka yakini seharusnya
mereka terima”. Kepuasan kerja merupakan respon afektif atau emosional terhadap berbagai
segi atau aspek pekerjaan seseorang sehingga kepuasan kerja bukan merupakan konsep
tunggal. Seseorang bisa dikatakan relatif puas dengan beberapa bidang pekerjaan dan kurang
puas dengan satu atau lebih aspek lainnya (Hasibuan, 2016:202).
Kepuasan Kerja merupakan indikasi sikap (positif) yang terjadi pada tenaga kerja
manusia terhadap hasil pekerjaan yang timbul berdasarkan penilaian terhadap proses situasi
kerja. Penilaian sedini mungkin dapat dilaksanakan terhadap salah satu rutinitas kerja,
penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam meraih nilai penting dalam pekerjaan.
Karyawan yang puas lebih mencintai situasi kerjanya daripada kurang menyukainya.
Perasaan yang berhubungan dengan puas dan ketidak puasan kerja cenderung mencerminkan
penilaian dari tenaga kerja tentang pengalaman kerja pada waktu sekarang dan masa lalu
daripada harapan untuk masa depan. Sehingga dapat disimpulkan terdapat dua pola kerja
penting dalam kepuasan kinerja yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-Kebutuhan dasar
(Robbins & Judge, 2015:46).
Definisi lain dikemukakan oleh Kinicki dan Fugate (2012) yang menyatakan bahwa
kepuasan kerja merupakan rangkaian tanggapan afektif atau emosi terhadap berbagai bentuk
kerja seseorang. Pengertian ini menyatakan bahwa kepuasan kerja bukanlah konsep tunggal.
Tepatnya orang sangat bisa relatif puas pada satu atau beberapa aspek pekerjaannya tetapi
mungkin tidak puas dengan satu kegiatan atau bidang lain dari pekerjaannya. Sedangkan
menurut Suparyadi (2015) kepuasan kerja dapat digolongkan pada suatu sikap positif suatu
bentuk pekerjaan dimana sesuai hasil atau jerih payah yang diterimanya.
Menurut Herman (dalam Yanuardini, 2014) kepuasan kerja berbentuk pada sikap
umum seseorang dalam menghadapi pekerjaannya personal yang tinggi kepuasan kerjanya
memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya, sedangkan seseorang yang tidak memperoleh
kepuasan didalam pekerjaannya memiliki sikap yang negatif terhadap pekerjaannya

Faktor Loyalitas Kerja


Steers & Porter (dalam Sari dan Widyastuti, 2008) menyatakan bahwa terciptanya
loyalitas pada kerja dipengaruhi oleh :
a. karakteristik pribadi meliputi masa kerja, usia, jenis kelamin, ras, prestasi yang dimiliki,
tingkat pendidikan dan sifat kepribadian
b. Karakteristik pekerjaan meliputi job enrichment, stress kerja, tantangan kerja,
kesempatan untuk berinteraksi sosial, identifikasi tugas, kecocokan tugas, dan umpan
balik tugas
c. Karakteristik desain perusahaan/organisasi yang dapat dilihat dari sentralisasi, tingkat
keikutsertaan dalam proses pengambilan keputusan, tingkat formalitas, paling tidak bisa
selalu menunjukkan berbagai tingkat asosiasi disertai tanggung jawab perusahaan;
d. Pengalaman kerja yang pernah diperoleh dalam perusahaan dan organisasi yaitu
internalisasi individu kepada perusahaan setelah menjalankan pekerjaan

Aspek Loyalitas Kerja.


Steers dan Porter (1983) menjeaskan beberapa aspek loyalitas yaitu motivasi yang
kuat, motivasi untuk bekerja semaksimalnya dan memiliki keyakinan yang pasti terhadap
nilai-nilai perusahaan. Sedangkan (Nitisemito, 2015 ) menekankan aspek loyalitas pada
aktivitas kerja karyawan antara lain: mentaati peraturan, menunjukkan sikat kerja yang
bertanggung jawab. Sekap mentaati peraturan ditunjukkan dengan mempunyai tekad dan
kesediaan untuk mematuhi segala peraturan, perintah perusahaan serta tidak melanggar
larangan yang ditetapkan baik secara lisan dan tertulis. Tanggung jawab yang dicirikan
dengan kesediaan karyawan dalam melakukan pekerjaan dengan hasil terbaik dan kesadaran
terhadap resiko dalam mengemban tugas akan memberikan pemahaman tentang kesediaan
dan keberanian merasa mendapat tanggung jawab akan menciptakan loyalitas kerja. Aspek
loyalitas menurut Kurniawan (2015) adalah : a) Taat dan patuh, b) tanggung jawab, c)
pengabdian, d) kejujuran. Taat adalah kesanggupan seorang karyawan untuk mematuhi
segala peraturan perusahaan yang berlaku dan mematuhi perintah atasan, serta bersedia tidak
melanggar aturan yang ditetapkan. Tanggung jawab ditandai dengan kesediaan seorang
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan sampai selesai dengan hasil yang baik, tepat waktu
serta berani menanggung resiko terhadap keputusan yang dibuat atau tindakan yang diambil.
Pengabdian, yaitu sumbangsih ide dan tenaga kepada perusahaan dengan penuh keikhlasan
dan kejujuran, adanya keserasian antara yang diucapkan dengan kenyataan. Dari keterangan
diatas dapat diartikan bahwa loyalitas kerja merupakan kesetiaaan karyawan terhadap
perusahaan. Seseorang karyawan dengan loyalitas kerja yang tinggi akan memiliki motivasi
yang tinggi untuk tetap menjadi berada di perusahaan, motivai yang tinggi untuk
mengembangkan perusahaan, mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan.

Indikator Loyalitas Kerja


Adapun ciri-ciri karyawan yang mempunyai loyalitas tinggi pada perusahaan, antara
lain adalah:
a. siap bekerja berdedikasi tinggi
b. bangga terhadap kinerja perusahaan,
c. merasa terinspirasi
d. siap mengorbankan kepentingan pribadi
e. merasa ada kesesuaian nilai dengan perusahaan.
Kurniawan (2015) mengutarakan beberapa indikator loyalitas kerja antara lain:
a. patuh terhadap peraturan seperti, mematuhi segala undang-unadang dan peraturan yang
berlaku, kerja yang diberikan pimpinan yang berwenang, selalu mematuhi jam kerja
yang sudah ditetapkan
b. mempunyai tanggung jawab mampu menyelesaikan tugas secara tepat waktu dan dengan
hasil yang baik, selalu memelihara barang-barang perusahaan dengan sebaik-baiknya,
mengutamakan kepentingan perusahaan dari kepentingan pribadi, tidak pernah
menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuatnya.
c. menyumbangkan pemikiran dan tenaga secara ikhlas kepada perusahaan
d. jujur, antara lain selalu melaksanakan tugas secara ihlas tanpa merasa dipaksa, tidak
menyalah gunakan wewenang yang dipercayakan padanya dan melaporkan hasil
kerjanya kepada pimpinan secara apa adanya

Pengertian Loyalitas Kerja


Loyalitas kerja didefiniskan oleh Sudimin (2003) sebagai kesediaan karyawan untuk
turut berpartisipasi mencapai tujuan perusahaan dengan dengan mempergunakan semua
kemampuan, keterampilan, pikiran, waktu dan menjaga data nama perusahaan untuk tidak
melakukan kegiatan yang mengakibatkan perusahaan rugi. Loyalitas dirumuskan oleh
Sudimin (2003) sebagai jasa bakti kita kepada seseorang dan tidak menjadi pengkhianat
ketika dibutuhkann. Robbins (2015) mengutarkan bahwa loyalitas adalah kerelaan untuk
memproteksi serta menyelamatkan perasan dan fisik seseorang. Siswanto (2005)
mengartikan loyalitas sebagai suatu tekad dan kesediaan mematuhi, melakukan, dan
mendistribusi perintah yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran.
Agustian (2009) mendefinisikan loyalitas sebagai kesetiaan terhadap prinsip yang diyakini.
Loyalitas karyawan didefiniskan sebagai sikap emosional yang menggembirakan dan
menyukai pekerjaannya (Dessler, 2015. Pada dasarnya loyalitas berarti sebagai kesetiaan
terhadap seseorang pada suatu hal bisa berupa kesetian fisik maupun non fisik seperti
perhatian dan pikiran. Untuk bisa sukses dalam mencapai tujuan perusahan maka perusahaan
mutlak memerlukan karyawan dengan loyalitas tinggi. Hasibuan (2016) berpendapat bahwa
karyawan menunjukkan loyalitas dengan keikhlasan karyawan untuk membela dan menjaga
perusahaan tempat bekerja dari gangguan orang yang ingin menjatuhkan perusahaan.
Pendapat serupa diutarakan oleh Poerwadarminta (2002) loyalitas merupakan kepercayaan,
pengabdian dan kesetiaan yang dipersembahkan kepada seseorang atau instansi, dimana
didalamnya ada tanggung jawab dan cinta serta berperilaku dan memberikan pelayanan
terbaik. Nitisemito (2015) mengutarakan, loyalitas terhadap perusahaan adalah sikap yaitu
seberapa jauh seseorang karyawan mengidentifikasikan perusahaan tempat dimana dia
bekerja dengan menunjukkan keinginan bekerja dan berusaha yang terbaik dan loyalitas yang
diberikan untuk perusahaan merupakan perilaku, yaitu suatu keputusan seseorang untuk tetap
tinggal di perusahaan. Robbins (2006) berpendapat bahwa loyalitas berhubungan dengan
tingkat kepercayaan yaitu suatu keinginan untuk menyelamatkan dan melindungi seseorang.
Apabila loyalitas dan kepercayaan terhadap organisasi dimiliki oleh seseorang, maka orang
tersebut rela berkorban dan berjasa dengan hal apa yang diyakininya. Dengan demikian,
loyalitas mempunyai korelasi positif terhadap tingkat kepuasan, semakin tinggi level
kepercayaan karyawan kepada perusahaan, maka level loyalitas karyawan terhadap
perusahaan juga semakin tinggi. Purwopoespito (2014), mengutarakan loyalitas yang terjadi
pada pekerjaan dicerminkan oleh sikap karyawan yang mendedikasikan keahliannya,
melakukan pekerjaan dengan tanggung jawab, jujur dan disiplin dalam bekerja. Loyalitas
kerja para karyawan terhadap perusahaan akan dapat menciptakan rasa tanggung jawab dan
menimbulkan semangat dan motivasi kerja (Nitisemito, 2015). Agar dapat menciptakan
loyaIitas karyawan terhadap perusahaan maka perusahaan harus berusaha agar karyawan
merasa ikut memiliki perusaan. Dengan perasaan ikut memiliki perusahaan maka karyawan
akan juga ikut merasakan perkembangan perusahaan. Berdasarkan definisi yang diutarakan
oleh para ahli diatas, dapat diambil kesimpulkan bahwa loyalitas kerja adalah merupakan
kesetiaaan karyawan terhadap perusahaan yang ditunjukkan melalui keinginan yang kuat
untuk tetap berada dalam perusahaan dan bekerja dengan baik untuk kemajuan perusahaan
tersebut serta rela berkorban dan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Runtu (2014) Loyalitas hanya mungkin bisa dianggap sebagai bentuk yg
terjadi dengan sendirinya apabila seorang karyawan bergabung. Pada saat organisasi
menginginkan salah satu karyawan yang loyal, organisasi harus mengupayakan supaya
berubah kepada tingkatan lebih tinggi. Dengan apa yang terjadi karyawan tersebut sungguh
senang akan merasa “suka-duka” organisasi. Oleh karena itu loyalitas meliputi kesediaan
tetap harus bertahan, memiliki bentuk produktivitas standard. Loyalitas jangan diartikan
sebagai sesuatu yang terjadi dengan sendirinya ketika seorang karyawan bergabung di dalam
organisasi. Karyawan yang memiliki loyalitas yang rendah karena sifat karakternya,
kekecewaan pada karyawan, dan sikap dari atasan, serta perasaan secara negatif, seperti
meninggalkan organisasi, organisasi lain sangat menguntungkan, tidak dapat mendapat
manfaat, dan menyesali bergabung pada suatu organisasi.

Indikator Komunikasi Organisasi


Baik buruknya komunikasi organisasi dapat diukur dengan indikator dalam
komunikasi pada organisasi yang dikemukakan beberapa ahli seperti Suliyem (2016):
a. Kenyataan pesan yang disampaikan sesama individu
b. Kesamaan pemahaman makna berasal pada pesan diantara anggota semua organisasi
c. Adanya umpan balik antara anggota organisasi
Sedangkan Purwanto (2011) mengemukakan bahwa dimensi dan indikator dari
komitmen organisasi antara lain yaitu:
a. Dimensi Vertikal
1) Komunikasi yang berasal dari atas ke bawah. Indikatornya yaitu perintah, prosedur,
teguran dan pujian.
2) Komunikasi yang berasal dari bawah ke atas. Indikatornya yaitu saran dan laporan
pekerjaan.
b. Dimensi Horizontal
Indikatornya yaitu informasi, koordinasi tugas dengan bagian yang sama dan rapat.
c. Dimensi Diagonal
Indikatornya yaitu informasi diterima dengan cepat, hubungan antar divisi dan
koordinasi dengan bagian lain.

Komponen Komunikasi Organisasi


Menurut Muhammad (2014:17), Secara teknis dapat dilakukan bahwa komunikasi
organisasi melibatkan :
a. Pengirim pesan atau komunikator
adalah individu mengirim pesan. Pesan atau informasi akan diberikan berasal dari otak
pengirim pesan. Oleh karena itu proses sebelum pengirim mengirimkan pesan, pengirim
harus menciptakan pesan yang akan dikirimkannya.
b. Pesan
adalah informasi yang dapat dikirimkan pada komunikan. Pesan dapat berupa pesan
verbal atau non verbal. Pesan verbal itu bisa lisan dan juga bisa tulisan, sedangkan pesan
non verbal bisa berupa gerak tubuh, nada suara, ekspresi muka dan lain lain.
c. Saluran
adalah jalan yang dilalui pesan dari komunikator dengan komunikan. Channel yang
biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya serta suara yang bisa kita lihat dan
dengar, akan tetapi alat yang digunakan itu berbeda-beda.
d. Penerima pesan atau komunikan
adalah yang menganalisis serta menginterpretasikan pesan yang di terimanya.
e. Balikan (Feedback)
adalah respon terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan
atau komunikator. Dengan diberikannya reaksi ini kepada komunikator, komunikator
akan dapat mengetahui apakah pesan yang disampaikan dilaksanakan bersama selaras
dengan kesamaan yang disebut dengan komunikator

Arah dan Tujuan Komunikasi Organisasi


Menurut Robbins (2016:7) arah komunikasi terdiri dari:
a. Komunkasi dari atas ke bawah
Bentuk pembicaraan yang di dapati dari satu tingkatan pada suatu perkumpulan
organisasi ke tingkatan lebih rendah disebut komunikasi ke bawah. Komunikasi inilah
yang diberikan oleh pemimpin kelompok, manajer dalam menetapkan suatu tujuan,
menyampaikan bentuk instruksi, menginformasikan kebijakan dan prosedur kepada
karyawan, menunjukkan persoalan yang membutuhkan perhatian dan menawarkan
umpan balik mengenai kinerja.
b. Komunkasi dari bawah menuju atas
Komunikasi ke atas dapat mengalir menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi pada
salah satu kelompok dan organisasi. Komunikasi dapat dilakukan untuk membuat
peranan penting kepada orang–orang yang memegang kekuasaan, member mereka
informasi mengenai proses pencapaian tujuan, dan menyampaikan masalah–masalah
terkait.
c. Komunkasi lateral
Komunikasi terjadi antara anggota berdasar pada kelompok kerja seperjuangan, antara
anggota dari lingkungan perusahaan pada tingkatan yang sama, sesama manajer pada
tatanan yang sama atau diantara individu–individu yang setara secara horizontal.
Menurut Wahjono (2015:218), komunikasi organisasi menjalanan empat fungsi
yaitu:
a. Fungsi kendali (kontrol/pengawasan)
Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku pada kelompok pekerja supaya
mereka mematuhi total aturan dan hierarki yang diberikan wewenang dalam organisasi.
b. Fungsi motivasi
Dengan komunikasi dapat menjelaskan pada anggota apa yang harus dikerjakan dan
bagimana dapat bekerja lebih baik.
c. Fungsi pengungkapan emosi
Dengan komunikasi anggota dapat mengexpresikan ketidak puasan atau rasa puas tidak
terhingga yang mereka rasakan.
d. Fungsi informasi
Dengan komunikasi semua keputusan dapat diambil dan dapat diteruskan pada semua
anggota orgnisasi.
Sementara Menurut Bungin (2013) fungsi komunikasi dikatakan menjadi 4 dalam
organisasi yaitu fungsi informatif, regulatif, persuasif, serta integratif dijelaskan sebagai
berikut:
a. Informasi dalam sebuah organisasi sangat dibutuhkann dalam mengerjakan pekerjaan
tepat, baik dari pimpinan yang memberi informasi, maupun bawahan yang
membutuhkan informasi. Informasi juga dibutuhkann dalam mengatasi konflik, sebagai
contoh menghindari miscommunication atau misunderstanding, dan bisa untuk
menetapka suatu kebijakan.
b. Regulatif merupakan bentuk aturan yang berlaku dalam sebuah bentuk menejerial. Ada
2 regulatif pada suatu organisasi. Pertama, pimpinan organisasi memiliki kuasa memberi
perintah, intruksi kerja, membuat standar operation dalam bekerja. Kedua, anggota atau
bawahan membutuhkan bentuk peraturan dan wajib dipatuhi. Berikut harus diketahui
dan di pahami bawahan untuk menjalankan perintah atasan:
1) Kejelasan atasan menyampaikan perintah
2) Ketegasan atasan memberikan sanksi
3) Mewujudkan kepercayaan anggota atau bawahan kepada atasan,
4) Pesan yang disampaikan pada bawahan secara jelas dan benar.
c. Persuasif atau ajakan, untuk kesejahteraan organisasi biasanya pimpinan lebih memilih
untuk mengajak daripada memerintah anggota.
d. Integratif atau saluran dalam organisasi dibutuhkan oleh anggota. Ada 2 saluran, yaitu
saluran komunikasi formal seperti penerbitan bidang khusus pada organisasi tersebut
(newsletter, bulletin) dan laporan mengenai kemajuan organisasi juga komunikasi
informal, seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan
olahraga, dan kegiatan darmawisata. Maka pada pelaksanaan ini dapat menimbulkan
kontribusi dengan baik bagi anggota dalam kelompok sebuah organisasi

Definisi Komunikasi Organisasi
Komunikasi dalam organisasi memegang peranan sangat penting dalam menunjang
aktivitas organisasi. Setiap fungsi SDM selalui disertai dengsn komunikasi, serta dimulai
proses seleksi, interview sampai pemecatan pekerja semuanya membutuhkan komunikasi.
Komunikasi organisasi merupakan hal yang penting di dalam kehidupan berorganisasi
sehingga diperlukan beberapa pemahaman mengenai komunikasi organisasi.
Kata komunikasi (dengan kata Inggris “communication”) secara etimologi atau
menurut asalnya didapat kata bahasa latin communicare dan ini berasal pada kata communis.
Kata communis memiliki makna “berbagi” atau “menjadi hak bersama”, yaitu suatu
keinginan kerja yang bertujuan untuk memperoleh kebersamaan dan keberagaman makna.
(Hubeis dkk, 2012:4). Komunikasi adalah rangkaian penyampaian melalui pesan oleh
sesorang kepada semua orang untuk memberitahu serta untuk dapat selalu mengubah pada
sikap, gagasan, atau tingkah laku, baik secara langsung (lisan) maupun tidak (dapat
dilakukan pada media). (Hubeis dkk, 2012:5).
Sementara Waynespaces dan Faules menyebutkan bahwa definisi fungsional pada
komunikasi dalam organisasi sebagai petunjuk dan penafsiran didalam pesan diantara unit
bagian komunikasi apa merupakan bagian salah satu pada suatu organisasi tertentu (Ruliana,
2016:25). Depari (dalam Triana, Utami, & Ruhana, 2016) menyatakan bahwa komunikasi
adalah suata proses pada penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang diberikan dengan
lambang tertentu dapat mengandung arti dilakukan oleh penyampain melalui pesan untuk
diberikan kepada siapa penerima isi pesan. Muhammad (2014:4) dapat mengemukakan
apapun bahwa ada dalam di kaitannya dengan komunikasi pada organisasi, komunikasi
adalah bentuk pertukaran pada pesan verbal serta non verbal dari pengirim dan penerima
untuk mengubah pola tingkah pada perilaku. Perubahan tingkah laku pada pengertian yang
lebar yaitu pergantian yang akan terjadi pada dalam diri suatu individu didalam aspek
kognitif, efektif atau psikomotor. Menurut Purwanto (2011:4) komunikasi pada organisasi
merupakan suatu rangkaian pertukaran pada informasi pada individu melewati suatu cara
atau sistem yang biasa (wajar) baik bersama tanda, sinyal, maupun perilaku dan tindakan.
Robbins dan Jugde (2015:47) mengatakan bahwa, “organizational commitment is deefined as
a state in which an employee identifies with a particular organizatioon, its goals and wishes
to maintain membership in the organization.” Komitmen dalam organisasi dikelompokkan
untuk keadaan di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan organisasi, tujuan
organisasi dan keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Selanjutnya
menurut Davis & Newstroom (dalam Suliyem, 2016) mengemukakan bahwa,
“organizational commitment, organizational degree to which an employee identifiies with the
organization and wants to continue actively participating in it. Komitmen organisasi adalah
tingkatan dalam organisasi di mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan
organisasi dan melanjutkan keaktifan untuk berpartisipasi di dalam organisasi. Seperti gaya
magnet yang kuat menarik satu objek logam lain, itu adalah ukuran dari kesediaan karyawan
untuk tetap berada dalam organisasi demi masa depan. Adanya misi dan tujuan dari
seseorang dengan keinginan yang tinggi untuk berusaha mencapai prestasi dan niat untuk
terus bekerja pada organisasi.
Menurut Golddhaber (1986) mengetahui proses penciptaan untuk saling bertukar
pesan pada salah satu jaringan pada hubungan dimana tergantung pada yang lain guna
memberikan manfaat sekitar lingkungan yang kurang jelas atau yang selalu dapat berubah.
Pengertian ini mengandung proses beberapa salah konsep sebagai dari berikut :
a. Proses
adalah sistem kerja yang sangat terbuka serta dinamis yang secara tidak langsung.
Karenaa bentuk kegiatan yang diulang-ulang dan tidak terkontrol tersebut maka dapat
dinyatakan sebagai suatu proses.
b. Pesan
adalah rangkaian simbol dimana mengandung pengertian mengenai objek manusia,
kejanggalan kerja yang diberikan terhadap interaksi bersama dengan kelompok lain.
Pesan dalam suatu organisasi dilihat menurut jenis klasifikasi yang berhubungan
langsung dengan kata bahasa, penerima yang dikehendaki, metode difusi, dan arus untuk
tujuan berbagai beberapa pesan. Jenis pesan pada bahasa dibedakan menjadi 2 (dua)
kelompok yaitu verbal dan non verbal, dalam suatu organisasi adalah surat, memo,
percakapan, dan pidato. Sedangkan pesan non verbal pada suatu organisasi dapat berupa
bahasa gerak seluruh bagian tubuh.
c. Jaringan
Bentuk organisasi terbentuk dari satu seri manusia yang setiap person menduduki posisi
atau peranan penting pada suatu di dalam organisasi. Ciptaan serta pertukaran suatu
pesan dari seseoang terjadi melampaui suatu jalur jalan kecil yang disebut jaringan
komunikasi. Suatu kelompok komunikasi ini dapat mencukupi dengan lebih dari satu
orang, beberapa orang atau keseluruhan dalam organisasi. Luas dari system jaringan
komunikasi ini dijalankan oleh beberapa faktor arah & arus pesan, isi pesan, dan
hubungan peranan, serta lain-lain.
d. Keadaan dimana selalu membutuhkan
Hal ini dapat berubah sifat yang berada pada kelompok yang merupakan bentuk sistem
yang terbuka. Bila mengalami gangguan dapat berpengaruh divisi yang lainnya dan akan
terjadi juga kepada semua sistem organisasi.
e. Hubungan
Karena organisasi adalah bagian dari suatu sistem terbuka, sistem pada suatu kehidupan
sosial yang untuk memanfaatkan bagian-bagian dimana terletak pada individu yang ada
dalam organisasi. Oleh karenaa itu hubungan individu dalam organisasi yang menitik
beratkan pada tingkah laku komunikasi dari seseorang yang terlibat suatu hubunngan
perlu untuk dipelajari.
f. Lingkungan
Lingkungan adalah bentuk totalitas secara fisik dan faktor sosial yang diperhitungkan
dalam pembuatan dalam keputusan individu berada pada suatu sistematik. Yang menjadi
bagian dalam lingkungan internal adalah personal, staf, golongan fungsional dari
organisasi, dan juga bagian lainnya seperti tujuan, produk, serta lainnya. Organisasi
sebagai program terbuka yang mana harus berhubungan pada lingkungan eksternal
seperti: teknologi, ekonomi, dan faktor sosial. Karena faktor yang berada pada
lingkungan tidak tetap maka organisasi memerlukan sistem informasi baru guna
mengatasi perubahan pada lingkungan dengan menciptakan serta melakukan penukaran
pesan baik secara internal dan eksternal.
g. Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang
diharapkan. Ketentuan tidak pasti dalam organisasi didapatkan daripada informasi
sesungguhnya yang dimanfaatkan dan dihadapkan pada lingkungan yang bersangkutan.
Dapat dinyatakan ketidakpastian dapat disebabkan karena terlalu sedikitnya informasi
yang didapatkan dan sangat berlebih atau banyak informasi yang diberikan untuk
diterima.
Menurut Redding and Saborn dalam Safari dkk. (2019) “komunikasi organisasi
adalah pengiriman serta penerimaan pada informasi dalam kelompok sangat kompleks.
Komunikasi organisasi ini antara lain, hubungan antar manusia, komunikasi yang berasal
dimana atasan kepada bawahan, seperti : komunikasi dari asal bawahan kepada atasan,
komunikasi bersama sesama rekan kerja, keterampilan berkomunikasi dan berbicara
mendengarkan serta menulis”. Menurut Katz & Kahn dalam Safari dkk. (2019) “Bahwa
komunikasi organisasi merupakan bentuk arus informasi, pertukaran dari informasi dan
pemindahan arti dalam suatu organisasi”
Berdasarkan definisi komunikasi organisasi menurut para ahli di atas, dapat
diartikan bahwa komunikasi organisasi adalah proses di mana karyawan atau anggota
organisasi bertukar informasi di lingkungan perusahaan atau organisasi

Faktor Akibat atau Dampak Persepsi Dukungan Organisasi


Menurut Rhoades & Eisenberger (2002) persepsi pada dukungan kelompok kerja
memiliki beberapa akibat yang meliputi:
a. Komitmen organisasi
Berdasar norma komunikasi searah, persepsi suatu dukungan di dalam organisasi akan
menciptakan kewajiban untuk memperhatikan kesejahteraan organisasi. Kewajiban
kondisi tersebut akan menaikkan komitmen efektif pekerja terhadap organisasi.
b. Efek terkait pekerjaan
Persepsi dukungan organisasi mempengaruhi reaksi afektif karyawan terhadap
pekerjaannya, termasuk kepuasan kerja dan suasana hati yang positif. Kepuasan kerja
berdampak pada sikap keseluruhan karyawan terhadap pekerjaannya. Persepsi untuk
dukungan organisasi dapat berperan aktif terhadap kepuasan kinerja dengan
meningkatkan harapan penghargaan atas jerih payah, dan memperlihatkan peluang
bantuan bila dibutuhkann. Suasana jiwa yang sehat berbeda dengan kepuasan kerja
karena mendukung keadaan tidak stabil seseorang tidak menggunakan objek tertentu.
Persepsi terhadap dukungan organisasi dapat berkontribusi pada perasaan hati,
kompetensi diri dan kelayakan karyawan sehingga meningkatkan suasana hati yang
positif.

  1. Job Involvment (Keterlibatan Kerja)
    Keikut campuran kerja menuju pada identifikasi dan tertuju pada aktifitas harian yang
    dilakukan oleh orang tertentu. Kompetensi yang di terima karyawan sangat bergantung
    dengan keinginan. Dengan menitik beratkan tingakt kompetensi karyawan, persepsi yang
    terjadi pada dukungan organisasi bisa meningkatkan pada minat karyawan dalam
    kegiatan kerja yang dilakukan.
  2. Kinerja
    Persepsi pada dukungan organisasi yang dapat meningkatkan standar kinerja karyawan
    dengan tindakan yang melampaui pada tanggung jawab yang sudah ditentukan sehingga
    dapat memberi keuntungan organisasi. Tindakan tersebut berupa saling membantu
    sesama teman kerja, melakukan tindakan yang dapat melindungi organisasi dari berbagai
    resiko, berbagi ilmu dan ketrampilan yang memiliki manfaat bagi organisasi.

Dimensi Persepsi Dukungan Dalam Organisasi
Menurut Robbins & Judge (2016) terdapat beberapa tingkatan persepsi dukungan
organisasi yaitu meliputi:
a. Penghargaan
Penghargaan finansial baik yang berwujud gaji, upah, insentif, atau tunjangan sudah
amat popular. Namun penghargaan nonfinansial, seperti pujian, penerimaan, pengakuan
atau yang lainnya tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan kinerja karyawan.
Sebuah survey yang meminta karyawan memberikan nilai terhadap berbagai
penghargaan menemukan bahwa penghargaaan nonfinansial ada pada peringkat yang
lebih tinggi daripada penghargaan finansial (Luthans, 2011). Pengakuan dapat dijadikan
satu motivator yang ampuh. Tindakan pengakuan dapat berupa promosi, penempatan
pada proyek yang bergengsi, perluasan pekerjaan untuk memberinya lingkup pekerjaan
yang lebih menarik dan menguntungkan, dan berbagai simbol status dan kebanggaan.
b. Kepedulian
Kepedulian ialah bentuk perhatian pemimpin terhadap orang lain, khususnya anggota
tim dengan memberi sumbangan dalam bentuk materi, gagasan/pemikiran, waktu,
dan/atau, keahlian/keterampilan. Menurut Kaswan (2015) kepedulian menyiratkan
tentang banyak hal, yaitu empati dan mengutamakan orang lain.
c. Kesejahteraan
Kesejahteraan (well-being) juga dikenal dengan kesejahteraan subjektif atau emosi, atau
kebahagiaan. Pengertian lain kesejahteraan dikaitan dengan tujuan hidup yang
bermakna.
Sementara Rhoades & Eisenberger (2002) dalam Mujiasih (2015), persepsi dalam
dukungan pada organisasi memiliki aspek sebagai berikut:
a. Penghargaan pada kontribusi karyawan
Penghargaan perusahaan terhadap kontribusi atau usaha yang dilaksanakan oleh
karyawan berpedoman pada pengakuan dan perhatian, gaji dan promosi, serta akses
informasi atau bentuk lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya dengan
baik.
b. Perhatian atau bertanggung jawab terhadap besar kesejahteraan pada karyawan
Perhatian organisasi bisa berupa memperhatikan kesejahteraan karyawan, mendengarkan
pendapat atau keluh kesah kebutuhan karyawan untuk memperhatikan pekerjaan
karyawan.
Sedangkan indikator persepsi dukungan organisasi menurut Rhoades & Eisenberger
(2002:699) dalam Tjandra dkk (2018), yaitu:
a.Organisasi menghargai pada kontribusi karyawan.
b. Organisasi menghargai besar usaha lebih yang diberikan karyawan
c. Organisasi akan memperhatikan terhadap segala sebab akibat dari karyawan.
d. Organisasi sangat peduli terhadap kesejahteraan karyawan.
e. Organisasi akan menginformasikan pekerja apabila tidak melaksanakan pekerjaan dengan
baik.
f. Organisasi akan peduli anisasi menunjukan perhatian yang sangat besar terhadap
karyawan.
g. Organisasi akan mengapresiasi keberhasilan karyawan saat bekerja.

Definisi Persepsi Dukungan Organisasi


Disebut kontribusi yang diberikan oleh individu kemudian mendapatkan perhatian
dan kepedulian dari organisasi tentang kesejahteraan mereka. Teori ini mengartikan mereka
percaya bahwa organisasi akan memberikan perhatian dan kesejahteraan yang layak sesuai
dengan kontribusi kinerja yang dilakukan (Eisenberger dkk., 1986). Kemudian, Robbins
(2016) mengatakan Persepsi pada dukungan organisasi adalah merupakan tingkat sejauh
mana individu memiliki keyakinan bahwa kelompok usaha menghargai kontribusi mereka
yang kemudian peduli terhadap tingkat kesejahteraan mereka.
Dalam lingkungan interaksi sosial melibatkan begitu banyak hal seperti interaksi
sesama individu dan kelompok kemudian kelompok dengan kelompok sampai pada individu
dengan organisasi. Sehingga, teori persepsi dukungan organisasi mempelajari interaksi antara
individu dengan organisasi/instansinya. Bagaimana organisasi dalam memahami dan
memperlakukan mereka.
Sementara menurut Ningrum (2013), persepsi dukungan organisasi ialah persepsi
anggota mengenai seberapa jauh organisasi akan memberikan dukungan terhadap pegawai
dan sejauh mana menghadapi tingkat untuk kesiapan dalam organisasi guna akan bermanfaat
jika menggunakan bantuan pada saat akan dibutuhkan

Hubungan Pengaruh Reward Terhadap Produktivitas Kerja


Reward merupakan faktor penting bagi motivasi karyawan. Reward
disebut juga sebagai imbalan intrinsik yaitu imbalan yang merupakan bagian dari
pekerjaan itu sendiri, imbalan tersebut mencakup rasa penyelesaian, otonomi
dan pertumbuhan, maksutnya semangat untuk memulai atau menyelesaikan
suatu proyek pekerjaan merupakan hal penting bagi motivasi karyawan
irmayanti (2013), karena dengan adanya reward yang diberikan kepada
karyawan maka akan memotivasi karyawan lebih semangat dan giat dalam
bekerja sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh solikah, setyowati, dan
sanosra (2016) yang diperoleh hasil bahwa reward berpengaruh positif dan
signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan

Hubungan Pengaruh Pengalama Kerja Terhadap Produktivitas Kerja


Pengalaman Kerja sangat penting untuk melihat keterampilan karyawan,
karena semakin lama pengalaman kerja pada karyawan maka akan semakin
tinggi pula tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan
sehingga meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Seperti yang di
ungkapkan (fagbenle, 2012) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi produktivitas karyawan adalah berasal dari diri karyawan sendiri
atau human factor, salah satunya adalah pengalaman kerja. Hal ini didukung
dengan penelitian yang dilakukan oleh sulaeman (2015) yang diperoleh hasil
bahwa pengalaman kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
produktivitas kerja karyawan

Hubungan Pengaruh Dukungan Organisasi Terhadap Produktivitas Kerja


Dukungan organisasi merupakan salah satu elemen yang
mempengaruhi perilaku karyawan. Karena dukungan positif dari pimpinan dan
segenap karyawan akan menciptakan situasi kerja yang kondusif. Dukungan
organisasi mengacu pada presepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi
menilai kontribusi dan peduli pada kesejahteraan karyawannya Putra dan
Moeins (2019). Apabila karyawan menganggap dukungan organisasi yang
diterimanya tinggi, maka karyawan akan menyatukan keanggotaan sebagai
anggota organisasi di dalam diri mereka dan mereka akan mengembangkan
hubungan dan presepsi yang lebih positif terhadap organisasi tersebut,
sehingga produktivitas karyawan akan meningkat. Hal ini didukung dengan
penelitian yang dilakukan oleh Mujiasih (2015) yang diperoleh hasil bahwa
dukungan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas
kerja karyawan

Indikator Produktivitas Kerja Karyawan


Menurut Sutrisno (2014) untuk mengukur produktivitas kerja
diperlukan suatu indicator, sebagai berikut :
1) Kemampuan
Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Kemampuan karyawan
sangat bergantung pada ketrampilan yang dimiliki serta profesionalisme
mereka dalam bekerja dan menyelesaikan tugas – tugas yang diembannya.
2) Meningkatkan hasil yang dicapai
Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan salah
satu yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang
menikmati hasil pekerjaan tersebut. Jadi, upaya untuk memnfaatkan
produktivitas kerja bagi masing – masing yang terlibat dalam suatu
pekerjaan.
3) Semangat kerja
Semangat kerja merupakan upaya untuk lebih baik dari hari kemarin.
Indikator ini dapat dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapai dalam satu
hari kemudian dibandingkan dengan hari sebelumnya.
4) Membangun diri
Selalu mengembangkan diri untuk meningkatkan kemampuan kerja.
Pengembangan diri dapat dilakukan dengan melihat tantangan dan harapan
dengan apa yang akan dihadapi. Karenan semakin kuat tantangannya,
pengembangan diri mutlak dilakukan.
5) Mutu
Mutu merupakan hasil pekerjaan yang dapat menunjukkan kualitas kerja
seorang pegawai. Jadi, meningkatkan mutu bertujuan untuk memberikan
hasil terbaik yang akan sangat berguna bagi perusahaan dan pada dirinya
sendiri.
6) Efisiensi
Perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya
yang digunakan. Masukan dan keluaran merupakan aspek produktivitas
yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi karyawan

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja


Faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja menurut Mulyadi
(2015) adalah :
1) Pelatihan dan pendidikan karyawan
Dengan adanya program pelatihan dan pendidikan kerja pada karyawan
akan meningkatkan ketrampilan pada karyawan sehingga dapat
menggunakan peralatan yang disediakan perusahaan untuk melaksanakan
pekerjaannya. Setelah karyawan mendapatkan pelatihan dan pendidikan
yang tepat akan dapat melakukan perkerjaannya dengan benar dan
memperkecil kesalahan di masa lalu. Oleh sebab itu, pelatihan dan
pendidikan sebagai dasar pengetahuan kepada karyawan.
2) Hubungan industrial
Hubungan industrial adalah hubungan antara pimpinan atau wakil dari
perusahaan dan wakil pekerja atau serikat pekerja bila sudah mengenai
pekerjaan dan pribadi antara atasan dan bawahan yang dilakukan sehari –
hari. Hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan, antara sesame
karyawan, dan sesame atasan akan meningkatkan produktivitas kerja. Oleh
sebab itu, karyawan harus diperlakukan dengan baik, dengan demikian
sikap karyawan akan baik pula dalam menjalankan proses produksi,
sehingga akan berpengaruh pada tingkat produktivitas kerja.
3) Sikap mental dan kemampuan fisik karyawan
Kondisi sikap dan mentall semua karyawan akan menjadi hal yang sangat
penting bagi perusahaan atau organisasi, karena kondisi sikap dan fisik
karyawan sangat erat hubungannya dengan produktivitas kerja karyawan

Pengertian Produktifitas


Menurut Sutrisno (2014) produktivitas adalah ukuran efisiensi
produktif suatu perbandingan antara hasil keluaran dan masukan. Masukan
dalam hal ini sering dibatasi tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam
kesatuan fisik, bentuk dan nilai.
Menurut Kusrianto (Sutrisno, 2014) menyatakan bahwa produktivitas
adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran satu tenaga kerja
per satuan waktu. Yang dimaksud peran serta tenaga kerja disini adalah
penggunaan sumber daya manusia serta efektif dan efisien.
Berdasarkan kedua uraian pendapat tersebut maka dapat disimpulkan
produktivitas adalah perbandingan antara jumlah yang dihasilkan selama
produksi dan jumlah setiap sumber yang dipergunakan selama produksi

Faktor-faktor yang mempengaruhi Reward


Menurut Rivai (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi reward terbagi
menjadi dua yaitu, lingkungan eksternal dan internal. Lingkungan eksternal
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi reward dan berasal dari luar
perusahaan, seperti pasar tenaga kerja, kondisi ekonomi, peraturan pemerintah,
dan serikat pekerja, sedangkan untuk lingkungan internal berkaitan dengan hal-
hal didalam perusahaan yang turut memengaruhi reward tersebut.
1) Pasar tenaga kerja
Pasar tenaga kerja mempengaruhi pemberian reward dalam dua cara, yang
pertama tingkat persaingan tenaga kerja sebagian menentukan batas rendah
atau floor tingkat pembayaran. Tingkat pembayaran suatu perusahaan yang
terlalu rendah, tenaga kerja yang memenuhi syarat tidak akan bersedia
bekerja diperusahaan itu. Kedua, pada saat yang sama, mereka menekan
pengusaha untuk mencari alternatif, seperti penyediaan tenaga kerja asing,
yang harganya mungkin lebih rendah, atau teknologi yang mengurangi
kebutuhan tenaga kerja.
2) Kondisi ekonomi
Salah satu aspek yang juga mempengaruhi reward sebagai salah satu faktor
eksternal adalah kondisi-kondisi ekonomi industri, terutama derajat tingkat
persaingan, yang mempengaruhi kesanggupan untuk membayar perusahaan
itu dengan gaji tinggi.
3) Peraturan pemerintah
Pemerintah secara langsung mempengaruhi tingkat reward melalui
pengendalian upah dan petunjuk yang melarang peningkatan dalam reward
untuk para pekerja tertentu pada waktu tertentu, dan hukum yang menetapkan
tingkat tarif upah minimum, gaji, pengaturan jam kerja dan mencegah
diskriminasi. Pemerintah juga melarang perusahaan mempekerjakan pekerja
anak-anak dibawah umur (yang telah ditetapkan).
4) Serikat pekerja
Pengaruh eksternal penting lain pada suatu program reward kerja adalah
serikat kerja. Kehadiran serikat pekerja diperusahaan sektor swasta
diperkirakan meningkat upah 10 sampai 15 persen dan menaikkan tunjangan
sekitar 20 sampai 30 persen. Perbedaan upah antara perusahaan yang
mempunyai serikat pekerja dengan yang tidak mempunyai serikat pekerja
tampak paling besar selama periode resesi dan paling kecil selama periode
inflasi.
5) Anggaran tenaga kerja
Anggaran tenaga kerja secara normal identik dengan jumlah uang yang
tersedia untuk reward karyawan tahunan. Tiap-tiap unit perusahaan
dipengaruhi oleh ukuran anggaran tenaga kerja. Suatu anggaran perusahaan
tidak secara normal menyatakan secara tepat jumlah uang yang dialokasikan
ke masing-masing karyawan melainkan berapa banyak yang tersedia untuk
unit atau divisi.
6) Siapa yang membuat keputusan reward
Kita lebih mengetahui siapa yang membuat keputusan reward dibanding
sekitar beberapa faktor lain, tetapi masalah ini bukan suatu hal sederhana.
Keputusan atas berapa banyak yang harus dibayar, sistem apa yang dipakai,
manfaat apa untuk ditawarkan, dan sebagainya, dipengaruhi dari bagian atas
hingga dibawah perusahaan

Tujuan Penghargaan/Reward


Menurut Sedarmayanti (2017) tujuan diberikannya reward oleh
perusahaan kepada karyawannya adalah sebagai berikut:
1) Menarik SDM
Hendaknya setiap penghargaan kepada pegawai dapat menimbulkan
ketertarikan/hasrat bagi pegawai untuk memperolehnya.
2) Memotivasi SDM
Penghargaan pegawai harus memotivasi pegawai untuk dapat bekerja lebih
baik, lebih bersemangat dan lebih berkinerja tinggi.
3) Mengembangkan SDM
Penghargaan pegawai hendaknya dapat memberi peluang kepada pegawai
untuk berkembang, berkekmbang kemampuan dan wawasannya, berkembang
kariernya dan berkembang pendapatannya.
4) Memuaskan SDM
Hendaknya setiap penghargaan dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi
pegawai yang memperolehnya.
5) Memelihara SDM
Penghargaan pegawai hendaknya dapat mempertahankan keberadaan
pegawai pada organisasi tertentu sehingga tingkat turn over atau keluar dari
organisasi rendah

Sistem Penghargaan/Reward dari Perusahaan untuk Karyawan


Menurut Sedarmayanti (2017) membagi reward ke dalam beberapa
bentuk, yaitu sebagai berikut:
1) Keadilan
Model penghargaan organisasi dengan memberikan penghargaan kepada
pegawai sesuai proporsi
2) Kesamaan
Model penghargaan organisasi dengan memberi penghargaan yang sama
tanpa memandang kontribusi dan masing-masing individu
3) Kebutuhan
Model penghargaan organisasi dengan mendasarkan kebutuhan pegawai
daripada kontribusinya

Dimensi Penghargaan/Reward


Rewards dalam penelitian ini akan diukur menggunakan dimensi yang
digunakan oleh Karami et al (2013) dengan dimensi rewards sebagai berikut:
1) Financial Rewards
Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
uang atau finansial seperti gaji, bonus dan tunjangan.
2) Inherent Rewards
Adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk kebanggaan
dan rasa empati dari pihak perusahaan.
3) Non-Financial Rewards
Adalah rewards atau tunjangan yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
bukan uang seperti wewenang, apresiasi dan penunjukan pegawai sebagai
perwakilan perusahaan

Pengertian Reward


Menurut Fahmi (2016) reward merupakan bentuk pemberian balas jasa
yang diberikan kepada seseorang karyawan atas prestasi pekerjaan yang
dilakukan, baik berbentuk finansial maupun non finansial.
Menurut Siagian (2015) reward adalah pekerjaan itu sendiri, upah,
peluang promosi, pengawasan, dan rekan kerja. reward juga merupakan usaha
atau cara untuk menumbuhkan pengakuan atau perasaan diterima didalam
organisasi, yang meliputi non finansial dan finansial.
Menurut Satrohadiwirya (2010) yang mengatakan penghargaan
merupakan imbalan balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada para
tenaga kerja, karena tenaga kerja tersebut telah memberikan sumbangan tenaga
dan pikiran demi kemajuan perusahaan guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Berdasarkan definisi para ahli diatas, reward adalah ganjaran, hadiah, atau
imbalan. Dalam konsep manajamen reward merupakan salah satu alat untuk
meningkatkan motivasi para pegawai, metode ini bisa juga mengasosiasikan
perbuatan dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang dan
biasanya akan membuat mereka melakukan suatu perbuatan yang berulang-
ulang, selain motivasi reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi
usahanya untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi yang telah dapat
dicapainya. Maka dapat disimpulkan bahwa reward adalah segala imbalan balas
jasa yang diberikan oleh perusahaan atas kontribusi karyawan

Jenis-jenis motivasi

  1. Motivasi Positif (Insentif Positif)
    Maksudnya manajer memotivasi (merangsang) karyawan dengan memberikan
    hadiah (reward) kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar atau
    proses untuk mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita
    inginkan dengan memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah
    (reward.
  2. Motivasi Negatif (Insentif Negatif)
    Maksudnya manajer memotivasi karyawan dengan standar mereka akan
    mendapatkan hukuman atau proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau
    melakukan sesuatu yang kita inginkan tetapi teknik dasar yang digunakan
    adalah lewat kekuatan ketakutan

Motivasi


Menurut Hamzah Uno (2016) motivasi adalah dorongan dasar yang
menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
yang menggerakkan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan
dorongan dalam dirinya.
Menurut Hasibuan (2013) motivasi berasal dari kata latin movereyang berarti
dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation)dalam manajemen hanya
ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi
mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan agar
mau bekerja sama secara produktif sehingga tercapai tujuan yang ditentukan.
Menurut Gibson (2013) motivasi kerja adalah kekuatan yang mendorong
seseorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku karyawan.
Menurut Farida & Hartono (2016) motivasi merupakan daya penggerak yang
menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja
efektif dan terintegrasi dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan,
untuk mencapai kepuasan itu sendiri dibutuhkan alat motivasi atau daya penggerak
yang diberikan kepada karyawan salah satunya yaitu penghargaan (reward). Farida
& Hartono (2016) Menyatakan alat-alat motivasi (daya perangsang) yang diberikan
kepada karyawan dapat berupa :
1) Material incentive adalah motivasi yang bersifat materiil sebagai imbalan
prestasi yang diberikan kepada karyawan. Yang termasuk material incentive
adalah yang berbentuk uang dan barang-barang.
2) Nonmaterial incentive adalah motivasi yang tidak berbentuk materi. Yang
termasuk nonmaterial incentive adalah penempatan yang tepat, pekerjaan yang
terjamin, piagam penghargaan, bintang jasa, perlakuan yang wajar, dan
sejenisnya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengalaman Kerja


Menurut Ismanto & Nano (2011) Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pengalaman tidaknya seorang karyawan sebagai indikator
pengalaman kerja, yaitu lama waktu atau masa kerja, tingkat pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki, dan penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.
1) Lama kerja atau masa kerja
Suatu ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh
seseorang karyawan dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan, dan telah
melaksanakan dengan baik.
2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
Suatu pengetahuan menunjuk pada konsep, prinsip, prosedur,
kebijakan, atau informasi lain yang dibutuhkan karyawan, pengetahuan juga
mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada
tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada
kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu
tugas atau pekerjaan.
3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan
Tingkat penguasaan seorang karyawan dalam melaksanakan aspek-
aspek teknis peralatan dan teknik pekerjaan.
4) Jenis pekerjaan
Semakin banyak jenis tugas yang dilaksanakan seorang karyawan maka
umumnya orang tersebut akan memperoleh hasil pelaksanaan tugas yang
lebih baik

Pengukuran Pengalaman kerja


Pengalaman kerja tidak hanya dari lamanya bekerja karyawan pada bidang
pekerjaan tertentu saja, akan tetapi dapat dilihat dari keterampilan, keahlian,
kemampuan, yang dimiliki oleh pekerja tersebut. Lamanya seseorang bekerja
pada pekerjaan yang sama atau sejenis akan mengakibatkan lebih tahu dan
terampil dalam melaksanakan pekerjannya (Hardiansah 2014).
1) Gerakan yang mantap dan lancar
Setiap karyawan yang sudah berpengalaman akan melakukan gerakan
yang mantap dan bekerja tanpa disertai keragunan.
2) Gerakan berirama
Gerakan berirama merupakan terciptanya dari kebiasaan dalam
melakukan pekerjaan sehari-hari.
3) Lebih cepat menanggapi tanda-tanda
Merupakan tanda-tanda seperti akan terjadinya kecelakaan kerja. Dapat
mengetahui atau timbul kesulitan sehingga lebih siap menghadapinya. Karena
didukung oleh pengalaman dapat mengetahui akan terjadinya kesulitan dan
siap menghadapinya.
4) Bekerja dengan tenang.
Seorang karyawan yang berpengalaman akan memiliki rasa percaya
diri yang cukup besa

Pengertian Pengalaman Kerja


Menurut Marwansyah (2014) pengalaman kerja adalah suatu pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dimiliki pegawai untuk mengemban
tanggungjawab dari pekerjaan sebelumnya, indikator dari pengalaman kerja
adalah : pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan tanggungjawab.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman kerja
merupakan suatu kemampuan yang dimiliki karyawan yang didapatkan dari
lamanya masa kerja karyawan tersebut.
Menurut Ismanto (2011) pengalaman kerja merupakan proses
pembentukan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena
keterlibatan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Organisasi


Menurut Eisenberger dalam Baliarti (2016), organizationalsupport
dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki oleh individu, serta pengamatan
mengenai keseharian organisasi dalam memperlakukan seseorang. Dalam hal ini
sikap organisasi terhadap ide-ide yang dilontarkan oleh pegawai, respon
terhadap pegawai yang mengalami masalah serta perhatian perusahaan terhadap
kesejahteraan dan kesehatan pegawai merupakan tiga aspek yang menjadi
perhatian utama dari pegawai. Ketiga aspek yang menjadi perhatian utama dari
pegawai yaitu:
1) Sikap Organisasi Terhadap Ide-Ide Pegawai
Organizational support dipengaruhi oleh sikap organisasi terhadap ide-
ide yangdilontarkan oleh pegawai. Bila organisasi melihat ide dari pegawai
sebagai sumbangan yang konstruktif, yang mungkin saja dapat diwujudkan
melalui perencanaan yang matang, maka individu yang bekerja ditempat
tersebut memiliki persepsi yang positif akan dukungan organisasi terhadap
diri mereka. Sebaliknya, dukungan organisasi akan menjadi negatif bila
perusahaan selalu menolak ide dari pegawai dan segala sesuatu merupakan
keputusan dari pimpinan puncak.
2) Respon Terhadap Pegawai
Menghadapi Masalah Organizational support juga dipengaruhi oleh
respon terhadap pegawai yangmenghadapi masalah. Bila organisasi
cenderung untuk berdiam diri dan tidak memperlihatkan usaha untuk
membantu individu yang terlibat masalah, maka pegawai akan melihat bahwa
tidak ada dukungan yang diberikan organisasi terhadap pegawai.
3) Respon Terhadap Kesejahteraan dan Kesehatan Pegawai
Perhatian organisasi akan kesejahteraan pegawai juga mempengaruhi
tingkat organizational support pegawai. Pegawai yang melihat bahwa
organisasiberusaha keras untuk meningkatkan kesejahteraan individu yang
bekerja didalamnya, akan melihat hal ini sebagai suatu hal yang positif.
Pegawai melihat bahwa organisasi memberikan dukungan agar setiap orang
dapat bekerja secara optimal demi tercapainya tujuan bersama. Pada dasarnya
organizational support merupakan suatu persepsi pegawai bahwa dirinya
dihargai dan diperhatikan oleh organisasi atau perusahaan tempatnya bekerja.
Bila organisasi memperhatikan dan menghargai upaya yang dilakukan oleh
individu untuk mencapai tujuan perusahaan maka individu akan
mempersepsikan bahwa organisasimemberikan dukungan terhadap mereka

Dampak dari Adanya Dukungan Organisasi


Berbagai penelitian menunjukan bahwa organizational support
mempunyai dampak baik bagi individu maupun organisasi. Dampak tersebut
menurut Indriana (2016), antara lain:
1) Komitmen organisasi
Pegawai yang mempersepsikan tingkat organizational support yang
tinggi melahirkan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaannya.
Pegawai merasa organisasi berkomitmen terhadap dirinya. Sebagai
balasannya, pegawai pun berkomitmen terhadap organisasi.
2) Kesiapan untuk berubah
Organisasi yang peduli dengan kemajuan yang dicapai oleh para
pegawai membuat pegawai memiliki tanggung jawab terhadap tujuan
organisasi. Ketika organisasi ingin menjadi lebih baik, pegawai siap
mendukungnya.
3) Intensitas meninggalkan organisasi
Pegawai yang memprersepsikan dukungan tinggi dari organisasi akan
membuat pegawai betah bersama organisasi. Pegawai cenderung tidak ingin
meninggalkan organisasi.
4) Organizational citizen behavior
Organizational support yang tinggi membuat pegawai percaya pada
organisasi. Dengan kepercayaan tersebut, pegawai mau melakukan pekerjaan
yang bukan tanggung jawab mereka dengan sukarela.
5) Kepuasan kerja
Organizational support mempunyai pengaruh terhadap job satisfaction
pegawai. Pegawai yang merasa adanya organizational support yang tinggi
cenderung puas terhadap gaji, rekan kerja, atasan dan promosi

Pengertian Dukungan Organisasi


Menurut Eisenberger dalam mangundjaya (2016) Teori dukungan
organisasi menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan emosional dan
menilai keuntungan dari peningkatan usaha dalam bekerja, karyawan
membentuk persepsi umum mengenai sejauhmana organisasi menghargai
kontribusinya dan peduli terhadap kesejahteraannya (persepsi dukungan
organisasi).
Bersamaan dengan itu menurut Erdogan dan Enders (2016) dukungan
oganisasi merupakan derajat kepercayaan individu terhadap organisasi bahwa
organisasi peduli kepadanya, menilai setiap masukan yang diberikan, dan
menyediakan pertolongan dan bantuan untuknya. Sugiyono (2015)
mendeskripsikan dukungan organisasi didefiniskan sebagai seberapa banyak
organisasi menilai kontribusi pegawai dan peduli terhadapnya.
Menurut Danish, Ramzan dan Ahmad (2013), Dukungan organisasi
merupakan ekspektasi pegawai bahwa organisasi menghargai kontribusi dan
pekerjaan yang pegawai lakukan dengan sebaiknya.
Menurut Robbins (2015) dukungan organisasi adalah dimana organisasi
menghadapi suatu lingkungan yang dinamis dan berubah agar organisasi
menyesesuaikan diri

Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia menurut Hasibuan
(2015), yaitu terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengendalian, pengadaan, pengembangan kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan, kedisiplinan dan pemberhentian. Menurut Flippo dalam
Yuniarsih dan Suwanto (2014), fungsi manajemen sumber daya manusia terdiri
dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi dan pemutusan hubungan
kerja. Menurut Harris, Yuniarsih, dan Suwanto (2014), fungsi manajemen
sumber daya manusia terdiri dari perencanaan, penempatan, pengevaluasian,
kompensasi, pengembangan dan mengatur hubungan yang efektif antar tenaga
kerja. Menurut Hasibuan (2015), fungsi manajemen sumber daya manusia
adalah sebagai berikut:
1) Perencanaan
Perencanaan (human resources planning) adalah merencanakan tenaga
kerja secara efektif dan efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan
dalam membantu mewujudkan tujuan perusahaan.
2) Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua
karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
wewenang, integrasi, dan koordinasi dalam bagan organisasi
(organization chart).
3) Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan,
agar mau bekerja sama dengan bekerja efektif dan efisien dalam mebantu
tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
4) Pengendalian
Pengendalian (controlling) adalah kegiatan mengendalikan semua
karyawan, agar menaati peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja
sesuai dengan rencana.
5) Pengadaan.
Pengadaan (procurement) adalah proses penarikan, seleksi,
penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang
sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
6) Pengembangan
Pengembangan (development) adalah proses peningkatan keterampilan
teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui Pendidikan dan
pelatihan.
7) Kompensasi
Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas jasa langsung
(direct) dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan
sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan.
8) Pengintegrasian
Pengintegrasian (integration) adalah kegiatan untuk mempersatukan
kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar terciptanya kerja
sama yang serasi dan saling menguntungkan.
9) Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau
meningkatkan kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan, agar mereka
tetap mau bekerja sama sampai pension.
10) Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan kunci
terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit terwujudnya
tujuan perusahaan yang maksimal.
11) Pemberhentian
Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang
dari suatu perusahaan. pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pension, dan
sebab-sebab lainnya

Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia


Peran manajemen Sumber Daya Manusia dalam menjalankan aspek
Sumber Daya Manusia, harus dikelola dengan baik sehingga kebijakan dan
praktik dapat berjalan sesuai dengan rencana yang diinginkan perusahaan,
menurut Rivai (2015) peran manajemen SDM antara lain:
1) Melakukan analisis jabatan (menetapkan karakteristik pekerjaan masing-
masing SDM)
2) Merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan merekrut calon pekerja
3) Menyeleksi calon pekerja
4) Memberikan pengenalan dan penempatan pada karyawan baru
5) Menetapkan upah, gaji, dan cara memberikan kompensasi
6) Memberikan intensif dan kesejahteraan
7) Melakukan evaluasi kinerja
8) Mengkomunikasikan, memberikan penyuluhan, menegakkan disiplin kerja
9) Memberikan pendidikan, pelatihan dan pengembangan
10) Membangun komitmen kerja
11) Memberikan keselamatan kerja
12) Memberikan jaminan kesehatan
13) Menyelesaikan perselisihan perburuhan
14) Menyelesaikan keluhan dan relationship karyawan

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Farida (2017) Manajemen sumber daya manusia adalah
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dari kegiatan
pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi dan pemeliharaan sumber
daya manusia dengan maksud untuk membantu pencapaian tujuan perusahaan,
individu dan masyarakat. Menurut Irianto dalam Herawati (2014) manajemen
sumber daya manusia merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga
organisasi sebagai sumber daya manusia yang sangat penting dalam memberi
kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi, dan penggunaan beberapa fungsi dan
kegiatan untuk memastikan bahwa SDM tersebut digunakan secara efektif dan
adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat. Menurut Hasibuan
(2014), “manajemen sumber daya manusia adalah ilmu & seni mengatur
hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.”
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya
manusia merupakan kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, dan
pemeliharaan serta penggunaan Sumber Daya manusia untuk mencapai tujuan
baik bagi industri atau perusahaan

Manajemen


Manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang
diinginkan oleh sebuah industri atau perusahaan. Manajemen juga sebagai ilmu
pengetahuan yang bersifat universal serta mempergunakan kerangka ilmu
pengetahuan yang sistematis.
Menurut Farida (2017) mengemukakan bahwa “manajemen adalah seni
dan ilmu dalam perencanaan, pengoorganisasian/organisasian, pengarahan, dan
pengawasan daripada sumber daya manusia untuk mencapai tujua yang telah
ditetapkan.
Menurut Hasibuan (2016) mengemukakan bahwa “manajemen merupakan
ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu”.
Pengertian Manajemen menurut Robbins, Coulter (2012) mengemukakan
“Manajemen melibatkan suatu koordinasi dan mengawasi aktivitas kerja lainnya
sehingga kegiatan mereka selesai dengan efektif dan efisien. Arti dari efisien
sendiri adalah mendapatkan hasil output terbanyak dari input yang seminimal
mungkin, sedangkan arti dari efektif adalah “melakukan hal yang benar”, yaitu
melakukan sebuah pekerjaan yang dapat membantu organisasi mencapai
tujuannya”.
Berdasarkan semua paparan di atas, dapat di pahami dan dapat
disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang
proses mengatur sumber daya manusia dan sumber daya lainnya guna mencapai
tujuan industri atau perusahaan secara efektif dan efisien

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kerja Inovatif


Munculnya sikap inovatif pada perilaku karyawan didukung beberapa
penunjang. Nijenhuis (2015) mengemukakan faktor eksternal maupun faktor
internal diperkirakan mampu meingkatkan timbulnya perilaku kerja inovatif
pada seorang pekerja.
a. Faktor eksternal
1) Tekanan berkompetitif
Tekanan untuk bersaing atau berkompetisi yang semakin tinggi dapat
menjadi faktor pendorong bagi pekerja untuk bekerja dengan lebih baik, hal
tersebut berimbas secara positif dalam memunculkan sikap inovatif pada
perilaku pekerja.
2) Tekanan sosial – politik
Suatu usaha yang disokong oleh pemerintah diharuskan untuk
menyajikan hasil kerja yang memuaskan secara terus menerus jika igin terus
mendapatkan sokongan tersebut, sehingga seluruh lapisan dalam suatu usaha
harus terus melakukan inovasidalam upaya memberi hasil yang baik pada
pekerjaannya.
b. Faktor Internal
1) Hubungan dengan atasan
Pekerja yang dapat menjalin hubungan baik dengan atasannya lebih
mampu meyakinkan bahwa sikap inovatif yang mereka miliki dapat
menghasilkan keuntungan kinerja, hal tersebut dikarenakan adanya
kepercayaan dan rasa hormat yang lebih.
2) Hubungan dengan rekan kerja
Pekerja yang dapat menjalin hubungan baik dengan rekan kerja akan
membantu mereka dalam menerapkan gagasan baru yang mereka miliki. Hal
tersebut dapat menambah idea generation pada organisasi.
Berdasarkan penelitan Hammon et al. (2011), 4 faktor utama yang
mempengaruhi perilaku kerja inovatif adalah sebagai berikut:
a. Individual Differences
Seorang individu tentu saja mempunyai kondisi yang tidak sama satu sama
lain dari sisi keingintahuan, kecerdasan, imajinasi, hingga kepekaan terhadap
sebuah seni.
b. Motivation
Motivasi mengacu pada keterlibatan pekerja dalam mengerjakan suatu tugas
disebut sebagai motivasi intrinsik, sedangkan motivasi yang mengacu adanya
rewards disebut sebagai motivasi ektrinsik.
c. Job Characteristic
Karakteristik pekerjaan dalam hal ini yang lebih sering dikenal, antara lain
role requirements, job autonomy, job complexity, dan time pressure,. Adapun
dalam kaitannya sebuah pekerjaan yang lebih kompleks, maka akan banyak
inovasi yang dilakukan oleh individu dengan fokus terhadap aspek pekerjaan
mereka secara bersamaan.
d. Job Contextual
Secara umum, ada faktor kontekstual yang dapat memengaruhi kinerja
inovatif. Dalam hal ini, pengaruhnya tentu saja berdampak pada motivasi
intrinsik pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Faktor konstektual dapat
berhubungan dengan dukungan sumber daya organisasi, kreativitas, dan
kepemimpinan transformasiona

Indikator Perilaku Kerja Inovatif


Janssen (2000) menyatakan dalam hal ini sebuah dimensi tentang perilaku
kerja inovatif yang diukur dengan indikator antara lain:
a. Penciptaan sebuah ide baru dalam rangka penyelesaian masalah
b. Pencarian metode kerja, baik itu teknik, maupun instrumen baru.
c. Penghasiilan sebuah solusi dalam penyelesaian masalah.
d. Pemobilisasian dalam sebuah dukungan ke dalam ide inovasi.
e. Sebuah upaya dalam menyetujui gagasan inovatif.
f. Pembuatan anggota organisasi antusias yang sejalan dengan gagasan yang
inovatif.
g. Pengubahan sebuah ide inovatif untuk menjadi aplikasi yang memiliki
kegunaan tertentu.
h. Penjabaran ide inovatif dalam sebuah lingkungan secara sistematis.
Sedangkan Jong & Hartog (2010) menjabarkan generalisasi ide yang
merupakan dimensi perilaku kerja inovatif dapat dilihat juga dalam penjelasan
di bawah ini, seperti:
a. Pembuatan gagasan baru dalam sebuah isu yang rumit.
b. Pencarian sebuah cara, baik itu secara teknis atau instrumen baru.
Kemudian ide promosi yang juga merrupakan dimensi perilaku kerja
inovatif dijelaskan dalam beberapa hal, seperti:
a. Pembuatan anggota organisasi paling antusias untuk ide inovatif.
b. Melakukan generalisasi terhadap sebuah solusi murni agar masalah bisa
teratasi.
c. Pemobilisasian sebuah dukungan terhadap ide yang inovatif.
d. Kejelasan sebuah persetujuan untuk pengembangan ide yang inovatif.
Selanjutnya, penerapan ide yang merupakan dimensi perilaku kerja inovatif
dapat dilihat serta diukur dalam penjelasan di bawah ini:
a. Melakukan transfer baik itu ide inovatif ke dalam penerapan yang berguna.
b. Pengenalan sebuah ide inovatif ke lingkungan kerja secara sistematis.
c. Pengevaluasian sebuah kegunaan ide inovatif itu sendir

Dimensi Perilaku Kerja Inovatif


Dalam penelitiannya, Janssen (2002) menjelaskan mengenai penjabaran
dimensi perilaku kerja inovatif oleh Scott & Bruce (1994) seperti berikut ini:
a. Idea Generation
Idea generation merupakan sebuah langkah dari seseorang di dalam
pekerjaan untuk menerapkan gagasannya dengan tujuan untuk memecahkan
problematika yang muncul pada pekerjaan.
b. Idea Implementation
Idea implementation merupakan proses individu yang berpartisipasi dalam
kegiatan sosial untuk membangun hubungan dengan latar belakang sebagai
pendukung yang diperlukan. (Galbraith dan Kanter, 1988 dalam Jassen, 2000).
c. Idea Realization
Idea realization adalah penerapan sebuah ide dalam proses individu yang
ada dalam peran kerja, kelompok, atau organisasi.
Sedangkan Jong & Hartog (2008), menjabarkan adanya dimensi pada
perilaku kerja inovatif sebagai berikut:
a. Idea Exploration
Idea exploration juga disebut eksplorasi ide adalah sebuah cara dalam
meningkatkan suatu layanan, produk, ataupun proses. Adapun untuk
menyelesaikan pada tahap ini bisa dicoba dalam melakukan sebuah pemikiran
dalam bentuk penyelesaian sebuah tahap.
b. Idea Generation
Idea generation berkaitan dengan suatu kegiatan untuk menjelaskan situasi
pasar yang baru, dimulai dari peningkatan kinerja yang sedang berlangsung
kemudian pengidentifikasian dalam pencarian pemecahan masalah.
c. Idea Championing
Idea championing atau biasa disebut juga dalam perjuangan terhadap
sebuah gagasan ide, dalam hal ini suatu usaha digunakan untuk mencari
dukungan dan membangun koalisi. Hal ini biasanya dilakukan dengan sebuah
ekspresi antusiasme dan kepercayaan diri terhadap keberhasilan akan sebuah
inovasi. Sebuah usaha yang gigih diperlukan keterlibatan sosok yang hebat
dalam suatu ide.
d. Idea Implementation
Idea implementation yang dalam hal ini biasa disebut juga implementasi
gagasan ide adalah pengimplementasian sebuah ide ke dalam proses dan
perilaku kerja rutin. Hal ini biasa juga dilihat dalam pengembangan produk
baru melalui tahap pengujian adau pemodifikasian

Pengertian Perilaku Kerja Inovatif


Perilaku kerja inovatif digambarkan dengan suatu proses menciptakan dan
menerapkan gagasan baru dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pada
sebuah usaha (Janssen, 2000). Scott & Bruce (1994) menyebut perilaku kerja
inovatif sebagai upaya pada seseorang dalam menerapkan gagasan barunya di
dalam pekerjaan dengan tujuan mencari keuntungan. Jong & Hartog (2008)
mendiskripsikan perilaku kerja inovatif sebagai sebuah tindakan seseorang
yang mempunyai tujuan untuk dapat mengenalkan ide atau gagasannya dalam
pembuatan sebuah produk baru

Prinsip Inovasi


Inovasi menurut Kuratko & Hodgetts (2017) mengacu pada berbagai prinsip
sebagai berikut:
a. Be action oriented, dimana individu yang berinovasi harus dapat selalu
membuat gagasan dan peluang baru.
b. Menciptakan produk yang dapat diterima khalayak dengan membuatnya
secara sederhana, sehingga cara kerja inovasi dapat dipahami dengan
mudah.
c. Inovator harus memulai dari yang kecil dan dapat mengembangkan dengan
idenya sehingga perencanaan dan perluasan dapat tumbuh dengan cara dan
waktu yang tepat.
d. Inovator dituntut untuk bersikeras pada tujuannya untuk menggapai
kesuksesan.
e. Test, try, and revise, dimana inovator harus melakukan proses uji coba
hingga pembetulan untuk dapat melihat kekurangan pada produk yang
dirancang.
f. Inovator harus dapat berkaca dari kesalahan yang lalu karena kegagalan
dapat menjadi pedoman dalam menciptakan sebuah inovasi

Jenis-Jenis Inovasi


Berikut ini adalah jenis-jenis dari inovasi berdasarkan Susanto & Putra
(2010):
a. Inovasi meliputi pembuatan produk baru.
b. Inovasi meliputi proses dari pembuatan produk hingga proses pengiriman
produk.
c. Inovasi pada supply chain, dimana inovasi dapat mengalihkan produk baik
dari input dan output.
d. Inovasi pemasaran, dimana hasil terlihat dengan adanya metode baru pada
pemasaran, tambahan pada desain produk, perubahan kemasan, perubahan
harga, dan sebagainya

Tujuan Inovasi


Secara umum, tujuan dari dilakukannya inovasi adalah untuk membuat
kondisi sebuah usaha agar dapat berkembang dengan pesat. Makmur & Thahier
(2015) menyebutkan bahwa terapat beberapa perspektif pada tujuan dari
inovasi:
a. Perspektif anggaran, dimana mencari cara untuk berinovasi dengan
menggunakan anggaran yang relatif kecil namun dapat menghasilkan jumlah
besar.
b. Perspektif pelanggan, dimana semua kalangan di dalam sebuah usaha
melakukan inovasi untuk mendapatkan konsumen sebanyak mungkin dan
dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin.
c. Perspektif pengolahan bisnis internal, dimana setiap bagian dalam sebuah
usaha dapat berinovasi dalam tujuan menciptakan kondisi yang mendukung.
d. Perspektif pertumbuhan, dimana inovasi dilakukan untuk perluasan bidang
usaha

Pengertian Inovasi


Van de Ven (1986) menyebut inovasi sebagai pengembangan dan penerapan
ide-ide baru oleh masing-masing orang pada sebuah organisasi. Ide-ide baru
tersebut dapat berupa pengumpulan gagasan yang telah ada yang bertujuan
untuk dapat menghadapi tantangan yang ada. Van de Ven (1986) menyebutkan
bahwa masing-masing orang dalam organisasi berkesempatan untuk memegang
peran dalam mengembangkan gagasannya. Oleh karena itu, inovasi dapat
disebut sebagai langkah dalam menemukan dan menerapkan suatu hal yang
baru pada situasi yang baru.
Dalam penelitian Scott dan Bruce (1994) disebutkan bahwa perilaku kerja
inovatif berasal dari perilaku inovatif individu yang merupakan inovasi tingkat
awal pada individu.
Trott (2008) menyebut inovasi memegang peran penting pada sebuah usaha
karena inovasi menyokong keberlangsungan hidup sebuah usaha sehingga
inovasi disebut sebagai pusat aktivitas pada sebuah usaha yang meliputi dari
pembentukan sebuah ide, hingga proses pemasaran produk yang melalui
pengembangan serta proses pembuatannya.
Sedangkan Drucker (2012) menyebutkan bahwa inovasi merupakan sebuah
alat bagi sebuah usaha karena dengan adanya perubahan atau inovasi yang
terjadi pada sebuah usaha, maka aka nada kesmepatan bagi sebuah usaa untuk
menjalankan sebuat usaha baru atau berbeda

Indikator Job Satisfaction


Dalam penelitian (Nurhandayani, 2022) menyatakan bahwa indikator dari
kepuasan kerja, yaitu:
a. Gaji
Besaran kompensasi yang diterima oleh karyawan untuk pekerjaan yang
dilakukan. Gaji merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi
kepuasan kerja, karena karyawan biasanya merasa dihargai apabila mereka
menerima gaji yang sesuai dengan upaya dan kinerja mereka.
b. Pekerjaan itu sendiri
Kepuasan yang berasal dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan yang
menarik, menantang, dan sesuai dengan minat atau keahlian seseorang dapat
meningkatkan kepuasan kerja. Sebaliknya, pekerjaan yang monoton atau
tidak sesuai dengan minat bisa menurunkan tingkat kepuasan.
c. Rekan Kerja
Hubungan dan interaksi yang terjalin dengan sesama karyawan juga menjadi
faktor penting dalam kepuasan kerja. Lingkungan kerja yang mendukung,
dengan rekan kerja yang kooperatif dan baik, dapat meningkatkan kepuasan
serta meningkatkan semangat kerja.
d. Atasan
Gaya kepemimpinan atasan dan hubungan interpersonal antara atasan dan
bawahan dapat memengaruhi kepuasan kerja. Atasan yang memberi
dukungan, memberikan umpan balik konstruktif, dan menciptakan
lingkungan kerja yang positif akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
e. Promosi
Kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan promosi atau kenaikan
pangkat merupakan faktor yang berpengaruh dalam kepuasan kerja.
Karyawan cenderung merasa lebih puas jika mereka memiliki peluang untuk
maju dalam karier dan mendapatkan pengakuan atas kinerja mereka.
f. Lingkungan Kerja
Lingkungan fisik dan psikologis tempat kerja juga memainkan peran dalam
kepuasan kerja. Lingkungan yang aman, nyaman, bersih, serta memiliki
fasilitas yang memadai dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan kerja
karyawan

Faktor-Faktor Job Satisfaction


Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kepuasan kerja yaitu (Tiong,
2023: 99):
a. Kesempatan untuk maju
Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan bagi karyawan untuk memperoleh
pengalaman dan peningkatan kemampuan selama bekerja.
b. Keamanan kerja
Sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria
maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan
karyawan selama bekerja.
c. Gaji
Faktor ini lebih banyak ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan
kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang akan diperoleh.
d. Perusahaan dan manajemen
Perusahaan dan manajemen yang baik adalah faktor yang mampu
memberikan situasi dan kondisi yang stabil. Faktor ini yang menengtukan
kepuasan kerja karyawan.
e. Pengawasan (supervisi)
Bagi karyawan supervisor dianggap sebagai figure ayah dan sekaligus atasan.
Supervisi yang buruk berakibat absensi dan turnover.
f. Faktor intrinsik dari pekerjaan
Dimana atribut yang ada pada pekerjaan masyarakat keterampilan tertengtu.
Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan atau
mengurangi kepuasan.
g. Kondisi kerja
Faktor ini termasuk dalam kondisi kerja, ventilasi penyinaran, kantin dan
tempat parker.
h. Aspek sosial dalam pekerjaan
Merupakan salah satu sikap yang digambarkan tetapi dipandang sebagai
faktor yang menunjang kepuasan atau ketidakpuasaan dalam pekerjaan.
i. Komunikasi
Komunikasi yang lancar antara karyawan dan pihak manajemen banyak
dipakai sebagai alasan untuk menyukai jabatannya, dalam hal ini adanya
kesediaan piha atasan untuk mau mendengar, memahami, dan mengakui
pendapat ataupun prestasi karyawan. Keadaan ini akan sangat berperan dalam
menimbulkan rasa puas terhadap pekerjaan.
j. Fasilitas
Faktor ini seperti hal nya perusahaan memberikan fasilitas rumah sakit, cuti,
dana pension merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi
akan menimbulkan rasa puas

Teori Job Satisfaction


Ada lima teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja (Indrasari, 2017:42),
yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Teori pemenuhan kebutuhan
    Teori ini berargumen bahwa kepuasan kerja diukur melalui penghargaan yang
    diterima oleh karyawan atau tingkat kebutuhan yang berhasil dipenuhi.
    Karyawan akan merasa puas jika mereka mendapatkan apa yang mereka
    butuhkan. Semakin banyak kebutuhan yang terpenuhi, semakin tinggi
    kepuasan yang dirasakan oleh karyawan, dan sebaliknya. Terdapat hubungan
    positif yang langsung antara kepuasan kerja dan pemenuhan kebutuhan yang
    diharapkan.
  2. Teori equity
    Teori ini menjelaskan bahwa kepuasan seseorang bergantung pada persepsi
    keadilan yang dirasakannya. Rasa keadilan atau ketidakadilan ini muncul dari
    perbandingan diri dengan orang lain yang berada dalam posisi yang sama,
    baik di lingkungan kerja maupun di tempat lain. Teori ini membagi konsep
    equity menjadi tiga kompon utama:
    a. Input, yang mencakup segala sesuatu yang dianggap berharga oleh
    pegawai sebagai kontribusi untuk pekerjaannya, seperti pendidikan,
    pelatihan, dan alat kerja.
    b. Out comes, yang merujuk pada segala hal yang dianggap berharga oleh
    pegawai sebagai hasil dari pekerjaannya, termasuk gaji, status, dan
    pengakuan atas prestasi.
    c. Comparisons person, yaitu perbandingan antara input dan out comes yang
    diterima. Menurut teori ini, kepuasan atau ketidakpuasan pegawai
    ditentukan oleh perbandingan antara input-output dirinya dan input-output
    pegawai lain. Jika perbandingan tersebut menunjukkan keadilan, maka
    pegawai akan merasa puas, sebaliknya jika tidak, maka ketidakpuasan
    akan muncul
  3. Teori Ketidaksesuaian
    Teori ini menjelaskan bahwa untuk menilai kepuasan kerja individu, perlu
    dilakukan analisis terhadap perbedaan antara harapan yang dimiliki terhadap
    pekerjaan dan realitas yang dialaminya. Tingkat kepuasan kerja seseorang
    dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara harapan, kebutuhan, atau nilai-nilai
    yang diinginkan dengan apa yang dirasakan atau dicapai melalui pekerjaan
    tersebut. Oleh karena itu, sikap karyawan terhadap pekerjaannya sangat
    dipengaruhi oleh perbedaan yang mereka rasakan.
  4. Teori motivasi dua faktor
    Teori ini menyatakan bahwa terdapat dua kategori yang mempengaruhi
    tingkat kepuasan dan ketidakpuasan pegawai, yaitu:
    a. Faktor pemeliharaan atau faktor ketidakpuasan, yang meliputi elemen-
    elemen yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk mencapai
    kenyamanan fisik, seperti gaji, kualitas supervisi, kebijakan organisasi,
    serta hubungan interpersonal di antara rekan kerja, atasan, dan bawahan,
    serta aspek keamanan kerja, status, dan kondisi kerja.
    b. Faktor motivator atau faktor kepuasan, yang berfokus pada kebutuhan
    psikologis pegawai. Faktor ini berkaitan dengan pengharg aan terhadap
    individu yang berhubungan langsung dengan pekerjaan, seperti prestasi,
    pengakuan, dan karakteristik pekerjaan itu sendiri.
  5. Teori kelompok acuan sosial
    Teori ini memiliki kesamaan dengan teori pemenuhan kebutuhan, tetapi
    perbedaannya terletak pada fakta bahwa harapan, keinginan, dan kepentingan
    berasal dari individu dalam konteks kelompok, bukan sebagai individu yang
    terpisah. Teori ini menyatakan bahwa jika pekerjaan sejalan dengan
    kepentingan, harapan, dan tuntutan individu dalam kelompok, maka individu
    tersebut akan merasakan kepuasan dalam pekerjaannya. Namun, dalam
    praktiknya, individu tidak selalu mengikuti keputusan kelompok dan
    terkadang menunjukkan sikap independen

Pengertian Job Satisfaction


Kepuasan kerja pada dasarnya berkaitan dengan perilaku seseorang dalam
bekerja, di mana seorang karyawan akan merasa nyaman dan memiliki loyalitas
tinggi terhadap perusahaan apabila ia mendapatkan kepuasan kerja yang sesuai
dengan harapannya (Yuliani, 2023: 136). “Job satisfaction may be as pleasurable
as positive emotional state resulting from the appraisal of one’s job or job
experiences, state resulting from the appraisal of one’s job or job experiences”.
Kepuasan kerja dapat diartikan sebagai suatu kondisi positif yang dirasakan oleh
seseorang setelah menilai pekerjaan atau pengalaman yang mereka jalani. Hal ini
tercipta ketika individu merasa bahwa pekerjaan yang dilakukannya memenuhi
harapan dan kebutuhan mereka, baik dalam hal tantangan, penghargaan, maupun
keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.“The appraisal of one s job
as attaining or allowing the attainment of one’s important job value, providing these
value are congruent with or help full fit one’s basic needs” hal ini menunjukan
bahwa seseorang akan merasa puas dengan pekerjaannya jika pekerjaan itu tidak
hanya memberikan apa yang mereka nilai penting, tetapi juga jika pekerjaan
tersebut dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti kebutuhan emosional,
finansial, atau kebutuhan akan tantangan dan penghargaan dalam pekerjaan.
(Indrasari, 2017:38).
Kepuasan kerja merupakan perasaan positif atau negatif yang dirasakan oleh
seorang pegawai terkait pekerjaannya maupun kondisi pribadinya. Perasaan yang
berkaitan dengan pekerjaan mencakup aspek seperti upaya yang dikeluarkan,
peluang pengembangan karir, hubungan antar rekan kerja, penempatan posisi, dan
struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan kondisi
pribadi mencakup usia, kesehatan, kemampuan, serta tingkat pendidikan (Setiono
& Sustiyatik, 2019: 173). Kepuasan kerja adalah respons emosional positif atau
negatif yang dirasakan individu terhadap pekerjaan yang mereka lakukan, yang
pada akhirnya memengaruhi tindakan mereka dalam menyelesaikan tugas guna
mencapai tujuan perusahaan (Rony & Yulisyahyanti, 2022). Kepuasan kerja adalah
sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaanya. Sikap ini
dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja (Ernanto &
Indriyaningrum, 2023).
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan job satisfaction atau kepuasan kerja merupakan sikap positif yang
dirasakan oleh karyawan melalui penilaian terhadap berbagai aspek yang dianggap
baik dalam pekerjaan dan kondisi diri mereka. Kepuasan kerja mencakup perasaan
senang atau tidak senang yang dialami individu sehubungan dengan pekerjaan yang
dijalani

Indikator Burnout


Indikator-indikator burnout meliputi empat hal utama (Rosada, 2023), yaitu:
a. Kelelahan Fisik
Merujuk pada kondisi tubuh yang sangat lelah atau letih akibat beban kerja
yang berlebihan, kurang tidur, atau terlalu banyak waktu yang dihabiskan
untuk pekerjaan. Kelelahan fisik ini dapat mengurangi energi dan
mempengaruhi kinerja secara keseluruhan.
b. Kelelahan Mental
Ini berkaitan dengan keletihan yang dirasakan pada tingkat kognitif atau
pemikiran. Individu yang mengalami kelelahan mental mungkin merasa sulit
untuk berkonsentrasi, memproses informasi, atau membuat keputusan. Ini
terjadi akibat stres yang berkepanjangan atau tuntutan kognitif yang berat di
tempat kerja.
c. Kelelahan Emosional
Ini mengacu pada perasaan kewalahan secara emosional, seperti merasa
kosong, tidak termotivasi, atau kehilangan semangat dalam menjalani
pekerjaan. Kelelahan emosional sering kali diiringi dengan perasaan tidak
dapat mengatasi tuntutan pekerjaan atau hubungan interpersonal yang ada di
tempat kerja.
d. Penghargaan Diri yang Rendah
Individu yang mengalami burnout sering merasa bahwa mereka tidak
dihargai atau diakui atas pekerjaan yang mereka lakukan. Ini bisa
menurunkan rasa percaya diri mereka dan mengurangi motivasi untuk bekerja
lebih keras, yang semakin memperburuk kondisi burnout.

Dampak Burnout


Adapun dampak dari burnout adalah sebagai berikut (Hibah, 2023:10):
a. Burnout is Lost Energy
Pekerja yang mengalami kelelahan mental akan merasakan stres, merasa
tertekan, dan kehabisan energi. Mereka juga akan mengalami kesulitan dalam
tidur serta cenderung menjauh dari lingkungan sekitar. Kondisi ini akan
berdampak negatif pada kinerja mereka. Selain itu, produktivitas dalam
pekerjaan juga akan semakin menurun.
b. Burnout is Lost Enthusiasm
Keinginan untuk beraktivitas dalam pekerjaan semakin menurun, menjadikan
segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan terasa kurang menyenangkan.
Kreativitas dan minat terhadap pekerjaan juga semakin berkurang, sehingga
hasil yang dicapai menjadi sangat terbatas.
c. Burnout is Lost Confidence
Tanpa adanya energi dan partisipasi aktif dalam pekerjaan, kinerja pekerja
akan terhambat. Hal ini dapat menyebabkan pekerja merasa semakin tidak
efektif dan meragukan kemampuan diri mereka. Dampak dari kondisi ini akan
berpengaruh pada hasil pekerjaan secara keseluruhan. Ambiguitas peran,
motivasi intrinsik, dan konflik peran merupakan faktor yang berkontribusi
terhadap kelelahan kerja, yang memiliki hubungan dengan komitmen
organisasi, kepuasan kerja, kinerja tenaga penjual, serta keinginan untuk
berpindah

Faktor-faktor penyebab Burnout


Burnout umumnya terjadi akibat adanya ketidaksesuaian atau
ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan atau sumber
daya yang dimiliki oleh pekerja. Ketika individu merasa pekerjaan yang dilakukan
tidak sesuai dengan keterampilan, minat, atau nilai-nilai pribadinya, hal ini dapat
menyebabkan stres yang berkepanjangan. Ketidaksesuaian tersebut akan
mengganggu kesejahteraan fisik dan mental, serta menurunkan motivasi dan kinerja
kerja secara signifikan. Dengan kata lain, semakin besar perbedaan antara individu
dengan pekerjaannya, semakin besar kemungkinan terjadinya burnout yang dapat
mempengaruhi efektivitas dan produktivitas kerja. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi munculnya burnout (Alam, 2022:50), yaitu:
a. Work Overloaded
Work Overloaded dapat terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara pekerja dan
tugas yang diberikan. Pekerja sering kali dibebani dengan terlalu banyak
pekerjaan dalam waktu yang terbatas. Kondisi ini muncul karena pekerjaan
yang harus diselesaikan melebihi kapasitas kemampuan manusia yang
memiliki batasan. Akibatnya, kualitas kerja dapat menurun, hubungan antar
rekan kerja menjadi kurang sehat, kreativitas berkurang, dan risiko burnout
meningkat.
b. Lack of Work Control
Setiap orang memiliki keinginan untuk mendapatkan kesempatan dalam
membuat pilihan dan keputusan, serta memanfaatkan kemampuan berpikir
menyelesaikan masalah untuk mencapai prestasi. Namun, aturan yang ada
kadang-kadang membatasi inovasi pekerja, sehingga mereka merasa kurang
memiliki tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai akibat pengawasan
yang terlalu ketat dari atasan.
c. Rewarded for Work
Minimnya penghargaan di tempat kerja dapat menyebabkan karyawan merasa
tidak dihargai. Penghargaan tidak hanya diukur dari bonus finansial, tetapi
juga dari hubungan yang harmonis antara rekan kerja dan antara karyawan
dengan atasan. Penghargaan yang diberikan dapat meningkatkan perasaan
positif karyawan, yang merupakan indikator penting bahwa mereka telah
melaksanakan tugas dengan baik
d. Breakdown in Community
Karyawan yang tidak merasakan rasa memiliki terhadap komunitas di tempat
kerja cenderung mengalami kurangnya keterikatan positif. Seseorang akan
memberikan performa terbaiknya ketika merasa nyaman dan bahagia, yang
terbangun melalui saling menghargai. Namun, seringkali lingkungan kerja
justru menciptakan situasi yang berlawanan. Terdapat kesenjangan baik di
antara rekan kerja maupun dengan atasan, di mana masing-masing lebih fokus
pada diri sendiri dan kurang memiliki waktu berkualitas bersama.
e. Treated Fairly
Perasaan tidak diperlakukan secara adil merupakan salah satu faktor yang
dapat menyebabkan burnout. Keadilan melibatkan penghargaan terhadap
perbedaan dan saling menghormati. Rasa saling menghargai ini akan
memperkuat keterikatan dengan komunitas di tempat kerja. Tanpa adanya
keadilan, pekerja akan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan
kerjanya. Ketidakadilan sering kali muncul dalam konteks promosi atau
ketika pekerja disalahkan atas kesalahan yang tidak mereka buat

Pengertian Burnout


Burnout adalah sindrom yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental
yang intens, yang mencakup perkembangan konsep diri yang negatif, penurunan
kemampuan untuk berkonsentrasi, serta munculnya perilaku kerja yang buruk.
Burnout juga dikatakan sebagai kelelahan yang muncul akibat seseorang bekerja
dengan sangat intens tanpa memperhatikan kebutuhan pribadi mereka (Alam,
2022:42). Burnout merupakan kondisi kelelahan atau kejenuhan yang dialami oleh
seseorang dalam dunia kerja, yang umumnya disebabkan oleh beban kerja yang
berlebihan atau lingkungan kerja yang kurang mendukung. Ketika seseorang
mengalami burnout dalam tingkat yang tinggi, ia cenderung menarik diri
dari pekerjaannya (Amalia, 2021: 4-5).
Burnout merupakan suatu perasaan overload dari kelelahan fisik dan mental
yang merupakan akumulasi dari stres sehari-hari. Burnout juga mengakibatkan
produktivitas dan efekti vitas yang rendah bagi organisasi. Uraian di atas
menunjukkan bahwa burnout memiliki dampak negatif baik bagi individu maupun
organisasi (Natalia, 2016). Kemudian burnout juga dikatakan suatu sindrom karena
adanya tekanan kerja yang menyebabkan seseorang menjadi merasa letih, kelelahan
mental dan emosional, serta perasaan tidak berdaya, yang disebabkan oleh stres
akibat pekerjaan yang terlalu berat (Rosada, 2023).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa burnout adalah suatu
sindrom psikologis yang timbul akibat kelelahan yang sangat berat, baik fisik,
mental, maupun emosional, yang mengakibatkan gangguan pada individu dan
penurunan dalam pencapaian prestasi pribadi

Burnout


Dalam lingkungan profesional, seringkali tuntutan beban kerja yang tinggi
dapat menyebabkan karyawan menghadapi konflik peran yang mengganggu
kemampuan mereka untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaan dengan baik.
Konflik ini sering kali menyebabkan kesulitan dalam mencapai kepuasan kerja,
karena karyawan merasa tertekan oleh berbagai tuntutan yang tidak sejalan atau
bertentangan satu sama lain. Salah satu tantangan terbesar di bidang Sumber Daya
Manusia (SDM) adalah bagaimana mengurangi risiko burnout atau kelelahan akibat
pekerjaan

Indikator Innovative Behavior


Indikator dalam perilaku inovatif ada empat bagian (Puji Astuti et al., 2019)
sebagai berikut:
a. Pencarian Ide
Kemampuan mencari tahu teknologi baru, proses, teknik dan ide-ide baru.
Pencarian ide merupakan langkah pertama dalamkel proses inovasi, dimana
kreativitas dan kemampuan untuk berfikir out of the box sangat dibutuhkan
untuk menemukan solusi baru atau peluang yang belum dieksplorasi.
b. Pengembangan Ide
Kemampuan untuk mengembangkan, memperbaiki dan menghasilkan ide-ide
kreatif. Pada tahap ini, ide-ide tersebut dievaluasi, disempurnakan, dan
dipersiapkan untuk diterapkan. Proses ini memerlukan analisis mendalam dan
pengolahan informasi yang baik untuk menciptakan solusi yang lebih matang.
c. Implementasi Ide
Tahap ini melibatkan kemampuan untuk menerapakan ide yang telah
dikembangkan menjadi tindakan nyata dalam organisasi. Implementasi
meliputi proses perencanaan, pengorganisasian sumber daya, dan penerapan
solusi inovatif kedalam sistem kerja atau produk yang lebih nyata.
d. Pengambilan Risiko
Inovasi sering kali melibatkan ketidakpastian dan kemungkinan kegagalan.
Kemampuan untuk mengambil resiko mencerminkan kesiapan untuk
mencoba hal baru meskipun belum tentu terjamin keberhasilannya.

Aspek Innovative Behavior


Perilaku innovative behavior memiliki 5 aspek penting yang harus
diperhatikan (Laily & Wahyuni, 2018:45) yaitu sebagai berikut:
a. Opportunity Exploration
Aspek ini mengacu pada proses mempelajari dan mengetahui lebih banyak
tentang oeluang untuk berinvasi dan mengembangkan ide-ide baru. Ini
melibatkan analisis dan identifikasi potensi peluang yang dapat dimanfaatkan
untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kinerja, dengan langkah-
langkah seperti mengidentifikasi kebutuhan masalah, mengumpulkan
informasi. Menganalisis data, mengidentifikasi peluang, dan
mengembangkan strategi untuk memanfaatkan peluang yang telah
diidentifikasi.
b. Generativy
Aspek ini mengacu pada kemampuan untuk memunculkan konsep-konsep
baru dan inovatif untuk tujuan pengembangan. Ini melibatkan proses kreatif
yang memungkinkan individu atau tim untuk menghasilkan ide-ide baru,
memecahkan masalah, dan mengembangkan solusi yang lebih baik. Dengan
demikian, generativy meminkan peran penting dalam mendorong inovasi dan
kemajuan dalam berbagai bidang.
c. Formative Investigation
Aspek ini mengacu pada proses pemberian perhatian untuk menyempurnakan
ide, solusi, dan opini, dengan melakukan peninjauan dan evaluasi sistematis.
Dalam proses ini, ide-ide yang telah dihasilkan dievaluasi dan disempurnakan
untuk memastikan bahwa mereka efektif, efisien, dan sesuai dengan
kebutuhan. Dengan demikian, aspek ini memainkan peran penting dalam
meningkatkan kualitas dan keefektifan Solusi yang dihasilkan.
d. Championing
Aspek ini mengacu pada adanya praktek-praktek usaha untuk merealisasikan
ide ide. Dengan kata lain dalam aspek ini, mengambil langkah-langkah nyata
untuk membuat ide-ide menjadi kenyataan, dengan mempromosikan,
mendukung, dan mengdvokasi mereka agar dapat dimplementasikan dan
mencapai hasil yang diinginkan.
e. Application
Aspek ini mengacu pada mencoba untuk mengembangkan, menguji coba, dan
mengkomersialisasikan ide-ide inovatif. Dalam tahap ini ide-ide yang telah
dihasilkan dan disempurnakan kemudian diimplementasikan dalam bentuk
nyata, diuji coba untuk memastikan keefektifanya, dan dipasrkan untuk
mencapai kesuksesan komersial.

Faktor-Faktor Innovative Behavior


Terdapat dua faktor utama yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku
inovatif, yaitu faktor internal dan eksternal (Nardo et al., 2022:13).

  1. Faktor Internal
    a. Tipe Kepribadian
    Individu dengan tipe kepribadian yang berani mengambil risiko cenderung
    lebih mampu mengembangkan dan melaksanakan perilaku inovatif.
    b. Gaya Pemecahan Masalah
    Karyawan yang memiliki gaya pemecahan masalah yang intuitif dapat
    mengasilkan ide-ide baru, yang pada gilirannya akan menciptakan solusi
    inovatif.
  2. Faktor Eksternal
    a. Kepemimpinan
    Hubungan yang baik antara karyawan dan pemimpin dapat mendorong
    munculnya perilaku inovatif. Karyawan yang merasa dihargai dan didorong
    oleh pemimpin yang memberikan harapan tinggi akan lebih cenderung
    menunjukan perilaku inovatif.
    b. Dukungan untuk berinovasi
    Dukungan dari orang-orang di sekitar individu, termasuk rekan kerja dan pihak
    dalam organisasi, sangat penting untuk menciptakan suasana yang mendukung
    perilaku inovatif.
    c. Tuntutan Pekerjaan
    Tingginya tuntutan pekerjaan dapat menjadi pemicu bagi karuawan untuk
    meningkatkan kreativitas dan menghasilkan ide-ide inovatif. Tuntutan ini
    menjadi dorongan bagi karyawan untuk menunjukan perilaku inovatif.
    d. Iklim Psikologis
    Iklim psikologis mengacu pada bagaimana karyawan memandang dan menilai
    lingkungan organisasi mereka, yang dapat mepengaruhi kemampuan mereka
    untuk berinovasi

Pengertian Innovative Behavior


Innovative behavior atau perilaku inovatif dapat dipahami sebagai
serangkaian tindakan individu yang bertujuan untuk menciptakan,
memperkenalkan, dan mengimplementasikan hal-hal baru yang memberikan
manfaat bagi organisasi secara keseluruhan (Nardo et al., 2022: 9). Perilaku inovatif
merupakan tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam upaya
menemukan solusi terhadap suatu permasalahan dengan menggali dan menerapkan
ide-ide baru, baik dalam konteks bisnis maupun organisasi (Ausat et al., 2023: 55).
Innovative behavior merupakan rangkaian aktivitas individu yang berfokus
pada identifikasi dan penerapan hal-hal baru yang memberikan keuntungan bagi
organisasi (Zain et al., 2024). Perilaku inovatif adalah pengenalan masalah dan
permulaan demonstrasi yang disengaja dari pemikiran baru dan berharga, termasuk
seperangkat perilaku yang diharapkan untuk menciptakan, mengirimkan, dan
melaksanakan pemikiran dengan rencana untuk meningkatkan kinerja individu
(Ernanto & Indri yaningrum, 2023)

Innovative Behavior


Setiap inovasi akan selalu diikuti dengan suatu perubahan, namun tidak setiap
perubahan selalu didorong oleh ide baru yang langsung memberikan pengaruh
positif terhadap kemajuan, perkembangan, dan pertumbuhan suatu organisasi.
Keunggulan kompetitif perusahaan dalam dunia bisnis bisa tercapai melalui budaya
kerja yang inovatif, serta adanya dukungan penuh dari pihak manajemen. Oleh
karena itu, perusahaan harus memandang hal ini sebagai faktor penting dalam
strategi mereka. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan memberikan
dorongan dan motivasi kepada karyawan agar mereka senantiasa mengembangkan
perilaku inovatif. Dengan meningkatkan perilaku inovatif, karyawan dapat
merasakan kepuasan dalam pekerjaan mereka, yang pada gilirannya akan
berdampak positif pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Inovasi yang
didorong oleh perilaku kreatif dan terintegrasi dengan visi perusahaan akan
mempercepat pencapaian tujuan dan memperkuat posisi kompetitif perusahaan

Pengaruh Work-Life Balance terhadap Innovative Work Behavior


WLB tidak hanya memberikan manfaat bagi kesejahteraan individu, tetapi
juga memiliki implikasi penting terhadap kinerja inovatif. Keseimbangan hidup
memungkinkan individu untuk memulihkan energi secara emosional dan fisik,
menjaga kesehatan mental, serta mempertahankan semangat dan motivasi dalam
bekerja. Fisher et al. (2009) menjelaskan bahwa individu yang merasa memiliki
kontrol atas jadwal dan tuntutan hidupnya akan lebih siap dalam menghadapi
tantangan kerja dan lebih terbuka terhadap perubahan. Hal ini menjadi dasar bagi
munculnya kreativitas, fleksibilitas kognitif, dan inisiatif inovatif.
Kim dan Yun (2019) menegaskan bahwa WLB berkontribusi secara
signifikan terhadap kualitas hidup kerja yang berdampak langsung pada perilaku
inovatif karyawan. Wibowo (2024)menemukan bahwa WLB berkontribusi positif
terhadap peningkatan IWB. Karyawan yang mampu menjaga keseimbangan antara
pekerjaan dan kehidupan pribadinya cenderung memiliki tingkat keterlibatan kerja
yang lebih tinggi, sehingga lebih terdorong untuk mengemukakan ide-ide baru dan
mencoba pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan tugas. Temuan ini
mengindikasikan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi dapat menjadi
faktor penting yang menopang kesiapan mental karyawan untuk berinovasi.
WLB menciptakan ruang psikologis yang aman bagi individu untuk
berinovasi. Ketika guru merasa bahwa kehidupan pribadinya tidak terancam oleh
tuntutan pekerjaan, mereka akan lebih berani untuk mengambil risiko kognitif dan
eksperimen dalam pengajaran. Ini memperlihatkan bahwa WLB bukan hanya soal
pengelolaan waktu, tetapi menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya mindset
inovatif dalam dunia pendidikan

Pengaruh Employee Engagement terhadap Work-Life Balance


Meskipun EE secara umum dianggap sebagai hal yang positif, penelitian
menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan kerja yang tinggi dapat berdampak
ambivalen terhadap WLB. Di satu sisi, keterlibatan kerja dapat menyebabkan
kelelahan apabila tidak di padukan dengan sistem kerja yang mendukung
keseimbangan hidup. Namun, studi oleh Ali et al. (2022) menunjukkan bahwa
dalam konteks organisasi yang memiliki fleksibilitas kerja dan budaya dukungan
sosial, EE justru berkontribusi positif terhadap pencapaian WLB. Dalam kondisi
demikian, individu yang engaged merasa lebih memiliki kontrol atas waktu dan
peran-peran kehidupannya, sehingga lebih mampu menjalankan fungsi pribadi
maupun profesional secara seimbang.
Penelitian oleh Christian et al., (2011) menyatakan bahwa EE yang sehat
memungkinkan individu untuk mengelola energi mereka secara adaptif, termasuk
dalam menyeimbangkan tuntutan kerja dan kehidupan pribadi. Guru yang memiliki
keterlibatan tinggi, namun juga mampu mengatur waktu istirahat dan interaksi
sosial di luar pekerjaan, akan mengalami tingkat stres yang lebih rendah dan
kepuasan hidup yang lebih tinggi. EE yang ideal bukan hanya menciptakan
produktivitas tinggi, tetapi juga memperkuat kapasitas individu untuk mengatur
keseimbangan hidup. Guru yang memiliki EE yang sehat tidak memandang
keterlibatan kerja sebagai beban, melainkan sebagai ekspresi aktualisasi diri,
sehingga mampu menjaga batasan sehat antara ranah pekerjaan dan kehidupan
pribadi. Dalam konteks pendidikan modern yang menuntut fleksibilitas tinggi, EE
yang dikombinasikan dengan keterampilan pengelolaan diri akan menjadi kunci
utama tercapainya WLB.
Dinh, (2020) menambahkan bahwa EE secara tidak langsung berperan
sebagai pengatur stres kerja. Ketika individu merasa terhubung secara positif
dengan pekerjaannya, mereka cenderung memiliki persepsi kontrol yang lebih
tinggi terhadap beban kerja dan tuntutan waktu. Kondisi ini memungkinkan
terciptanya keseimbangan antara peran profesional dan personal, yang pada
akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan

Pengaruh Employee Engagement terhadap Innovative Work Behavior


Karyawan yang memiliki tingkat EE yang tinggi umumnya menunjukkan
antusiasme, dedikasi, dan keterlibatan penuh dalam pekerjaan mereka. Schaufeli et
al. (2002)dalam Ali et al., (2022) mendeskripsikan engagement sebagai suatu
kondisi psikologis positif yang mendorong individu untuk bekerja dengan penuh
semangat, memiliki komitmen terhadap organisasi, dan secara aktif terlibat dalam
pencapaian tujuan kerja. Keterlibatan ini menciptakan lingkungan psikologis yang
kondusif bagi munculnya inisiatif, pemikiran kreatif, dan perilaku proaktif. Dalam
konteks pendidikan, guru yang engaged tidak hanya menjalankan tugas mengajar
secara rutin, tetapi juga terdorong untuk mengeksplorasi metode pembelajaran
baru, menyesuaikan pendekatan pengajaran dengan kebutuhan siswa, serta aktif
mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di kelas (Xanthopoulou et al.
2013).
Amanda et al., (2024) dalam penelitiannya membuktikan bahwa EE
memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku kerja inovatif. Penelitian tersebut
menyoroti bahwa keterlibatan guru berkontribusi terhadap munculnya keberanian
dalam mengambil risiko terukur, serta keinginan untuk terus memperbarui strategi
pengajaran secara mandiri. Selain itu, Saks (2019) menyatakan bahwa engagement
berkorelasi positif dengan perilaku kerja ekstra-peran, termasuk inovasi dan
partisipasi dalam pengembangan organisasi EE berfungsi tidak hanya sebagai
pendorong motivasi internal, tetapi juga sebagai sumber energi psikis yang
memungkinkan individu untuk menanggung ketidakpastian dan risiko dalam proses
inovasi. Dalam dunia pendidikan, guru yang engaged cenderung lebih resilien
terhadap hambatan struktural seperti keterbatasan fasilitas atau resistensi terhadap
perubahan, karena mereka memiliki dorongan intrinsik untuk berkontribusi lebih.
Elamin et al., (2024) yang menunjukkan bahwa EE tidak hanya berkorelasi
langsung dengan perilaku kerja inovatif, tetapi karyawan yang engaged cenderung
lebih terbuka dalam bertukar ide dan pengalaman, yang pada akhirnya menciptakan
lingkungan yang mendorong eksplorasi dan implementasi ide-ide baru. Hal ini
menegaskan bahwa EE dapat menjadi katalis yang kuat untuk inovasi yang
berkesinambungan dalam organisasi. Oleh karena itu, EE menjadi prasyarat penting
untuk menciptakan perilaku kerja inovatif yang berkelanjutan di lingkungan
pendidikan. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa IWB sangat dipengaruhi oleh
kondisi psikologis individu, dukungan organisasi, dan keterlibatan kerja. Ali et al.
(2022) menemukan bahwa karyawan yang memiliki EE yang tinggi lebih
cenderung menunjukkan perilaku inovatif karena merasa memiliki tanggung jawab
lebih besar terhadap perbaikan di tempat kerja

Dimensi Work-Life Balance


Hayman (Hayman, 2005), mengidentifikasi tiga dimensi utama yang
menyebabkan mana individu dapat menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan
kehidupan pribadi secara efektif:

  1. Work Interference with Personal Life (WIPL), merupakan ukuran
    sejauh mana pekerjaan individu mengganggu atau menghambat
    kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab
    dalam kehidupan pribadi. Tingginya tingkat WIPL menunjukkan
    adanya tekanan pekerjaan yang berdampak negatif terhadap kualitas
    kehidupan non-pekerjaan.
  2. Personal Life Interference with Work (PLIW), menggambarkan
    sejauh mana tanggung jawab dan kegiatan pribadi memengaruhi
    performa, fokus, dan keterlibatan individu di tempat kerja. Dimensi
    ini menekankan adanya interaksi timbal balik antara kehidupan
    pribadi dan pekerjaan, yang dapat mempengaruhi efektivitas individu
    dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
  3. Work/Personal Life Enhancement (WPLE), mencerminkan dampak
    positif dari interaksi antara kehidupan kerja dan pribadi, yaitu sejauh
    mana pengalaman, keterampilan, atau sumber daya yang diperoleh
    dari salah satu domain dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas di
    domain lainnya. Dimensi ini menekankan peran synergy antara
    pekerjaan dan kehidupan pribadi dalam mendukung kesejahteraan
    individu dan produktivitas organisasi

Work-Life Balance


Work-life balance (WLB) merupakan suatu kondisi di mana individu dapat
menjalankan peran dan tanggung jawab dalam pekerjaan maupun kehidupan
pribadi secara harmonis, tanpa menyebabkan konflik yang berlebihan di salah satu
aspek kehidupannya. Konsep ini menekankan pada pentingnya keseimbangan
antara tuntutan profesional dan kebutuhan pribadi agar individu dapat berfungsi
secara optimal di kedua ranah tersebut. (Ali et al., 2022) menjelaskan bahwa WLB
mencerminkan kapasitas seseorang dalam mengelola waktu, energi, dan perhatian
secara proporsional antara pekerjaan dan kehidupan personal, sehingga ia dapat
mempertahankan stabilitas emosional dan performa kerja yang sehat. Dalam
kerangka kerja modern, WLB dipandang bukan hanya sebagai isu kesejahteraan
karyawan, tetapi juga sebagai faktor strategis yang dapat mempengaruhi motivasi,
keterlibatan kerja, dan bahkan perilaku inovatif di tempat kerja.
Wood et al. (2020) menunjukkan bahwa WLB memiliki pengaruh positif
terhadap keterlibatan kerja harian dan kesiapan psikologis karyawan untuk
menghadapi beban kerja. Mereka menyatakan bahwa individu yang secara teratur
mampu menciptakan jeda mikro (micro-breaks) dan mengelola keseimbangan
energi antara aktivitas kerja dan non-kerja akan cenderung menunjukkan
keterlibatan yang lebih tinggi dan sikap kerja yang lebih adaptif. Dalam konteks
organisasi, WLB mendukung pencapaian kinerja berkelanjutan karena mampu
menekan tingkat kelelahan emosional, meningkatkan kepuasan kerja, dan
memperbesar kemungkinan munculnya gagasan atau inovasi baru.
Kim dan Yun (2019) menegaskan bahwa WLB berkontribusi secara
signifikan terhadap kualitas hidup kerja yang berdampak langsung pada perilaku
inovatif karyawan. Individu yang merasakan keseimbangan hidup cenderung lebih
kreatif, terbuka terhadap perubahan, serta bersedia untuk berpartisipasi dalam
penciptaan dan pelaksanaan ide-ide baru. WLB juga memungkinkan seseorang
untuk memproses tantangan pekerjaan secara lebih konstruktif karena tidak
mengalami tekanan berlebihan dari aspek kehidupan pribadinya

Employee Engagement


Employee engagement (EE) menggambarkan sejauh mana karyawan
terlibat secara emosional dan kognitif dalam pekerjaannya. Menurut Kahn (1990)
dalam Huang et al., (2022), EE mencakup keterlibatan fisik, kognitif, dan
emosional karyawan dalam peran kerja mereka. Schaufeli et al. (2002) dalam Ali
et al., (2022) menambahkan bahwa EE adalah kondisi positif yang ditandai oleh
vigor (semangat), dedication (dedikasi), dan absorption (keterlibatan penuh). Vigor
mengacu pada energi dan ketahanan mental yang tinggi saat bekerja, dedication
mencerminkan keterlibatan kuat dan rasa bangga terhadap pekerjaan, sedangkan
absorption adalah keadaan di mana karyawan sepenuhnya tenggelam dalam
pekerjaannya sehingga waktu terasa berlalu dengan cepat

Innovative Work Behavior


Innovative work behavior (IWB) merujuk pada perilaku individu di tempat
kerja yang bertujuan untuk menghasilkan, mengembangkan, serta menerapkan ide-
ide baru guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi. Menurut Farrukh
et al. (2022), IWB melibatkan proses penciptaan, adopsi, dan implementasi ide-ide
baru untuk produk, layanan, dan praktik kerja oleh karyawan. Dalam konteks ini,
inovasi tidak terbatas pada teknologi, tetapi juga mencakup cara kerja baru,
perbaikan proses, hingga pendekatan interaksi kerja yang lebih efisien. IWB bukan
hanya tentang ide, tetapi juga keberanian untuk memperjuangkannya dan
menjadikannya nyata dalam praktik kerja. Perilaku inovatif ini menjadi kunci
penting dalam menciptakan organisasi yang adaptif dan berkelanjutan.
Menurut De Jong & Den Hartog (2010), dalam Ali et al. (2022), IWB terdiri
dari empat fase utama: eksplorasi peluang, generasi ide, promosi ide, dan
implementasi ide. Pada tahap eksplorasi, individu aktif mengamati dan
mengidentifikasi kebutuhan atau peluang di lingkungan kerjanya yang dapat
direspons melalui perubahan. Generasi ide mencerminkan proses berpikir kreatif
dalam menghasilkan solusi baru terhadap masalah yang ada. Promosi ide
melibatkan upaya untuk memperoleh dukungan dari atasan atau rekan kerja
terhadap ide-ide tersebut. Terakhir, implementasi ide mengacu pada penerapan
solusi tersebut secara nyata dalam kegiatan kerja sehari-hari, yang diharapkan
mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi organisasi.
Elamin et al. (2024) menekankan bahwa adanya keterlibatan dalam
knowledge sharing, kepercayaan terhadap pimpinan, dan sistem penghargaan dapat
memperkuat munculnya IWB di lingkungan kerja. Faktor personal seperti rasa
percaya diri dan keinginan untuk berkontribusi juga menjadi pemicu internal yang
penting. IWB memiliki implikasi besar baik terhadap individu maupun organisasi.
Bagi organisasi, perilaku inovatif karyawan mendorong efisiensi proses,
peningkatan kualitas produk atau layanan, serta keunggulan kompetitif yang
berkelanjutan Hock-Doepgen et al. (2025) menjelaskan bahwa perilaku inovatif
karyawan merupakan faktor penting dalam menciptakan inovasi berkelanjutan yang
mampu menjaga daya saing organisasi di pasar yang dinamis. Dalam tingkat
individu, IWB meningkatkan rasa kepemilikan terhadap pekerjaan, memperluas
kompetensi, dan memberi peluang pertumbuhan karier. Yen et al. (2025)
menegaskan bahwa perilaku inovatif individu berkontribusi pada pengembangan
keterampilan baru dan memperkuat motivasi intrinsik untuk berprestasi lebih baik
dalam pekerjaannya.
Pemahaman IWB dapat diperkuat dengan Job Demands-Resources (JDR)
Model dari Bakker & Demerouti (2007) dalam Hwang & Yi, (2025), yang
menekankan bahwa perilaku karyawan dipengaruhi oleh keseimbangan antara
tuntutan pekerjaan (job demands) dan sumber daya pekerjaan (job resources). Job
demands yang tinggi tanpa sumber daya yang memadai dapat menimbulkan stres
dan mengurangi kapasitas inovatif, sedangkan job resources seperti dukungan
atasan, otonomi, dan kesempatan pengembangan kompetensi dapat meningkatkan
employee engagement, motivasi, dan perilaku inovatif. Dengan demikian, model
JDR menyediakan kerangka teoritis yang kuat untuk menjelaskan mengapa
karyawan mampu menunjukkan perilaku inovatif secara konsisten dan
berkelanjutan

Self efficacy terhadap perilaku kerja inovatif.


Dalam studi sebelumnya pada penelitian Dewa Nyoman dan
Komang Ardan (2016) telah ditemukakan bahwa berdasarkan hasil
dari uji regresi linier berganda nilai Sig. pada variabel self efficacy
sebesar 0,000 dan lebih kecil dari alpa 0,05. Sehingga hasil ini
memberikan bukti bahwa self efficacy memiliki pengaruh yang
signifikan dan positif terhadap perilaku kerja inovatif karyawan.
Dengan semakin tinggi self efficacy yang dihasilkan individu maka
semakin tinggi pula perilaku kerja inovatif yang timbul pada diri
karyawan. Hasil penelitian pun diperkuat oleh penelitian terdahulu
pada hasil penelitian Hsi-Chi Hsiao et al., (2011),
Wahyuningrum,dkk. (2012), dan Momeni et al., (2014) yang
menyatakan bahwasannya self efficacy memiliki pengaruh positif
terhadap perilaku kerja inovatif.

Budaya organisasi islami terhadap perilaku kerja inovatif
Dalam penelitian Bondan Ndaru (2014) menyatakan hasil
bahwasannya budaya organisasi memiliki pengaruh signifikan
terhadap perilaku kerja inovatif dengan hasil t-statistik sebesar
(2,756)>t-tabel (1,671). Maka hasil ini memberikan artian bahwa

dengan adanya budaya organisasi yang kuat bahwa akan membuat
karyawan untuk dapat berfikir, berbuat, berprilaku sesuai yang telah
ditetapkan ada pada organisas. Sehingga kesesuaian yang terbentuk
dari masing-masing individu karyawan didalam suatu organisasi akan
mendorong mereka untuk dapat berperilaku inovatif dalam bekerja.
Hasil olah data dari penelitian terdahulu diatas diperkuat oleh hasil
penelitian yang dilakukan oleh Desphande and Farley (2004), Hult et
al. (2004) di dalam penelitian Bondan (2014) bahwasannya
keterkaitan budaya organisasi merupakan determinan utama bagi
perilaku kerja inovatif, juga menekankan pada aspek lingkungan pada
organisasi yang berorientasi pada budaya riset dan pengembangan
sebagai faktor penting perusahaan dalam menghadapi persaingan

Self efficacy terhadap budaya organisasi islami


Self efficacy merupakan kepercayaan yang muncul dari dalam diri
individu akan kemampuannya dalam menjalankan tugasnya agar
mencapai tujuannya (Venna et al, 2017:164). Faktor dari self efficacy
salah satunya yaitu faktor budaya, budaya dapat memberikan
pengaruh kepada self efficacy melalui nilai, kepercayaan dan proses
pengaturan diri yang memiliki fungsi sebagai sumber penilaian self
efficacy juga sebagai keyakinan akan self efficacy. Jika di dalam
organisasi terdapat budaya organisasi yang berlandaskan islami dan
membawa dampak positif dalam perusahaan maka akan mampu
meningkatkan self efficacy dalam bekerja. Sehingga dari budaya
organisasi islami yang positif didalam organisasi tentunya akan
menambah kepercayaan diri pada karyawan dalam mengapresiasikan
pendapatnya. Dalam penelitian Kwan dan Eddy (2013) menunjukkan
bahwa adanya pengaruh positif dari budaya organisasi dan self
efficacy karyawan melalui pengujian inner model menunjukkan
sebesar 0,535. Dengan adanya budaya organisasi dalam perusahaan
dapat memberikan dampak pada karyawan dengan merasa turut
terlibat menjadi bagian dari organisasi sehingga dengan keterlibatan
tersebut memberikan dorongan pada rasa kepercayaan individu dalam
bertindak.

Menurut Muhammad (2004:263) adapun manfaat budaya organisasi
islami bagi berbagai pihak terkait yaitu sebagai berikut:
1) Bagi karyawan muslim. Dapat memberikan dorongan dalam hal:
a) Kesempatan berperan
b) Berprestrasi
c) Aktualisasi diri
d) Mendapatkan pengakuan
e) Penghargaan
f) Kebanggaan kerja
g) Rasa ikut memiliki dan bertanggung jawab
h) Meningkatkan memimpin dan
i) Memecahkan masalah
2) Bagi perusahaan tempat bekerja. Budaya organisasi islami dan
perusahaan akan mampu:
a) Meningkatkan kerjasama
b) Mengefektifkan koordinasi
c) Integrasi dan singkronisasi
d) Memperlancar komunikasi dan hubungan kerja
e) Menumbuhkan kepemimpinan yang partisipatif
f) Mengeliminasi hambatan psikologis dan kultural
g) Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan
h) Mendorong kreativitas karyawan

Indikator dalam budaya organisasi islami


Menurut Muhammad (2004:264) indikator dalam nilai-nilai budaya
kerja islami yaitu:
1) Komitmen dan konsisten. Dalam bekerja karyawan harus
menjaga komitmen dalam perjanjian kerja serta menaatinya
dengan menjaga konsistensi dalam bekerja.
2) Wewenang dan tanggungjawab. Menjaga tanggung jawab
merupakan nilai yang harus dipegang teguh setiap karyawan
agar tidak terjadi penyelewengan dalam bekerja.
3) Keikhlasan dan kejujuran. Dalam bekerja harus memunculkan
niat yang ikhlas dengan pengharapan Ridho Allah semata
dengan bekerja penuh kejujuran yang utama.
4) Kreativitas dan kepekaan. Dalam bekerja diharuskan setiap
karyawan memiliki kreativitas dalam bekerja sehingga mampu
menghadapi persaingan di dunia luar serta menjaga kepekaan
dengan setiap rekan kerja.
5) Kepemimpinan dan keteladanan. Dalam bekerja kepemimpinan
dengan memegang teguh nilai islami bersumber dari Rasulullah
SAW merupakan keteladanan yang wajib dicontoh.
6) Kebersamaan dan dinamika kelompok. Dalam bekerja menjaga
kebersamaan dalam menghadapi kesulitan menjadi kunci utama
agar terus terjalin komunikasi yang baik antar kelompok.
7) Keakurasian dan kecepatan. Dalam bekerja kecepatan dan
keakurasian menjadi keharusan dan harus dipertahankan agar
terus bergerak mencapai tujuan yang diinginkan.
8) Rasionalitas dan kecerdasan emosi. Dalam bekerja karyawan
dengan pikiran emosional dan rasional sangat berkaitan erat
saling melengkapi, emosi memberikan masukan dan informasi
kepada pikiran rasional.
9) Keteguhan dan ketegasan. Dalam bekerja karyawan seharusnya
teguh dalam memegang prinsip tetapi tetap luwes dalam
mengoreksi kesalahan dan tidak ragu-ragu.
10) Disiplin dan keteraturan kerja. Dalam bekerja karyawan
diwajibkan menjaga kedisiplinan dalam bekerja ini merupakan
contoh karyawan yang siap untuk bekerja dengan teratur sesuai
dengan peraturan yang ada dalam perusahaan.
11) Keberanian dan kearifan. Dalam bekerja penting menjunjung
tinggi keberanian dalam mengemukakan pendapat jika benar
dan jika salah menghindari kemungkaran terjadi disekelilingnya
dalam bekerja.
12) Dedikasi dan loyalitas. Dalam bekerja penting perlunya loyalitas
karyawan dalam bekerja dengan mencurahkan seluruh keahlian
yang dimilikinya dengan dedikasi penuh pada pekerjaannya.
13) Semangat dan motivasi. Dalam bekerja karyawan perlu menjaga
semangat serta motivasi yang tinggi agar dapat memberikan
dorongan dalam bekerja.
14) Ketekunan dan kesabaran. Dalam bekerja semua butuh proses
yang tidak instan butuh pengorbanan, kesabaran diimbangi
dengan ketekunan yang menjadikan pekerjaan menjadi
15) Keadilan dan keterbukaan. Dalam bekerja Rasulullah pun
menerapkan keadilan dalam bekerja serta bersikap keterbukaan
yang terus dipertahankan.
16) Penguasaan ilmu dan teknologi. Dalam bekerja tantangan terus
ada dengan perkembangan teknologi menjadikan karyawan
harus mampu menguasai ilmu yang mendalam dan teknologi
sebagai pendamping yang bersatu padu.

Pengertian budaya organisasi islami


Menurut Robbins dan Judge (2008) budaya organisasi
merupakan sebuah sistem dimana para anggota organisasi
menganutnya bersama sehingga membedakan organisasi tersebut
dengan organisasi lainnya. Sedangkan menurut R.Denison dalam
Umam (2010) mengatakan bahwa budaya organisasi merupakan
nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip-prinsip dasar yang merupakan
sebagai landasan serta perilaku yang gunanya untuk meningkatkan
atau menguatkan dari prinsip-prinsip tersebut. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa budaya organisasi islami menurut Diah (2015)
yaitu suatu sistem makna dengan nilai-nilai, kepercayaan yang
berdasarkan pada nilai islami yang dianut didalam organisasi
tersebut menjadi sebuah rujukan dalam bertindak serta
membedakan dengan organisasi lainnya

Karakter individu dengan perilaku kerja inovatif


Menurut George dan Zhou (2001) dalam Sujarwo (2017)
menyatakan tentang karakter dari individu yang memiliki perilaku
kerja inovatif ada beberapa karakter yaitu,
1) Mencari tahu teknologi baru, proses, teknik dan ide-ide baru.
2) Menghasilkan ide-ide kreatif
3) Memajukan serta memperjuangkan ide-ide tersebut ke orang
lain.
4) Meneliti serta menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk
mewujudkan ide-ide baru.
5) Mengembangkan rencana serta jadwal yang matang untuk dapat
merealisasikan ide baru tersebut

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kerja inovatif


Menurut Etikariena dan Muluk (2014) dalam Bobo (2017) ada
beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku kerja inovatif
yaitu:
1) Faktor Internal
a) Tipe Kepribadian
Individu yang memiliki tipe kepribadian ialah
individu yang mampu serta berani menanggung resiko
terhadap perilaku inovatif yang dibuat. Sehingga orang
yang menyatakan dirinya mampu akan dengan mudah
untuk munculnya perilaku kerja inovatif.
b) Gaya individu memecahkan masalah.
Individu yang mempunyai gaya dalam pemecahan
masalah bersifat intuitif dapat memberikan ide sehingga
menghasilkan solusi yang baru. Individu seperti ini dapat
dengan mudah menyesuaikan beradaptasi dengan cepat
akan kondisi yang terjadi untuk dapat memecahkan
masalah yang terjadi didalam lingkungan kerja.
2) Faktor Eksternal
a) Kepemimpinan
Jika bawahan yang kurang menjaga hubungan baik antar
bawahan dan atasannya, hal ini dapat menjadikan perilaku
inovatif individu kurang terlihat, tetapi jika individu
karyawan memiliki hubungan baik dengan atasannya, maka
dapat memunculkan perilaku inovatif pada diri karyawan.
b) Dukungan dalam berinovasi
Dukungan yang berasal dari orang-orang sekitar dapat
membantu individu karyawan dalam berperilaku inovatif,
tetapi bukan hanya dukungan dari orang dalam pun bisa
memunculkan perilaku inovatif bagi karyawan tersebut.
Sehingga dukungan orang sekitarnya bekerja seperti rekan
kerja sangat mampu untuk individu berinovatif karena
lingkungan sekitarnya mendukung dirinya.
c) Tuntutan dalam pekerjaan
Tuntutan pekerjaan berasal dari perusahaan tempatnya
bekerja yang cenderung memicu semangat karyawan dalam
berperilaku inovatif, sehingga menjadi sebuah dorongan
tersendiri bagi karyawan. Akibat yang muncul dari adanya
adanya tuntutan pekerjaan yang tinggi adalah berperilaku
inovatif.
d) Iklim psikologis
Iklim psikologis menunjukkan bagaimana lingkungan
tempatnya bekerja dipersiapkan dan di interpretasikan oleh
karyawan

Indikator perilaku kerja inovatif


Indikator perilaku kerja inovatif menurut Jenssen (2000) dalam
Aditya dan Ardhana (2016) terdiri dari beberapa indikator yaitu,
1) Generasi ide (idea generation)
Indikator ini mengacu pada pengembangan serta dari
penggunaan ide-ide yang memberi banyak manfaat bagi
organisasi sendiri. Indikator ini dapat diukur dari tanggapan
responden terhadap upayanya dalam mencari metode kerja yang
baru. Dalam bekerja individu dapat mencari metode kerja yang
baru yang dapat meningkatkan kinerjanya agar bermanfaat bagi
perusahaan.
2) Promosi ide (idea promotion)
Indikator ini mengacu pada perilaku individu yang
bertujuan menjual ide inovatifnya pada rekan kerjanya ataupun
pada atasannya sekalipun. Pada indikator ini dapat diukur dari
bagaimana tanggapan dari responden pada upayanya untuk
mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak seperti atasan
ataupun rekan kerjanya sehingga ide inovatif yang dimiliki
individu dapat tersampaikan. Dapat mengkonsultasikan ide baru
nya hingga membicarakannya kepada atasan akan ide barunya
yang membawa manfaat agar dapat diterapkan di lingkungannya
bekerja.
3) Impelementasi ide (idea implementation)
Indikator mengacu pada penyertaan perilaku individu yang
mengarah untuk realisasi serta pengaplikasian ide atau
gagasannya di tempatnya bekerja. Pada indikator ini dapat
diukur dari tanggapan responden terhadap bagaimana cara
individu untuk mewujudkan ide-ide barunya tersebut menjadi
aplikasi atau program yang dapat digunakan. Ide baru yang telah
diajukan sehingga dapat diterapkan didalam lingkungannya
bekerja serta membawa manfaat bagi sekitar.
Dari indikator perilaku kerja inovasi diatas menurut Jenssen
(2000) yang telah diuraikan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
indikator perilaku kerja inovasi dibagi menjadi beberapa indikator
yaitu generasi ide (idea generation), promosi ide (idea promotion), dan
impelementasi ide (idea implementation)

Pengertian perilaku kerja inovatif


Menurut Farr dan Ford dalam Wardhani dan Gulo (2017)
menyatakan bahwa perilaku kerja inovatif yaitu bentuk perilaku
dengan tujuan untuk mencapai inisiasi serta pengenalan suatu ide,
proses, prosedur maupun produk baru yang berguna bagi
organisasi. Menurut Inkeles, et al dalam Wardhani dan Gulo (2017)
mengartikan sebagai bagian proses dari modernisasi yang dikaitkan
pada perilaku kerja inovatif sebagai bagian dari proses perubahan
dalam kehidupan masyarakat, dengan diikuti oleh perubahan sikap,
sifat serta gaya hidup individu dalam bermasyarakat. Menurut
West dan Farr (1989) dalam Wardhani dan Gulo (2017) perilaku
kerja inovatif yaitu penemuan, pengalaman serta pengaplikasian
dari ide, proses, produk dan prosedur yang baru lalu digunakan ke
dalam organisasi untuk mendapatkan manfaat terhadap performa
kerja, kelompok kerja, organisasi dan masyarakat luas. Jadi dapat
disimpulkan bahwa perilaku kerja inovatif merupakan suatu bentuk
perilaku individu akan penemuan, pengalaman dengan
mengimplementasikan ide-ide, gagasan, proses, produk, hingga
prosedur baru untuk digunakan dalam organisasi serta berguna

Dimensi self efficacy


Dimensi self efficacy menurut Bandura dalam Ismail (2016:39)
memiliki tiga dimensi yaitu,
1) Tingkat (level).
Yaitu persepsi diri individu tentang kemampuannya untuk
memperoleh tingkah laku atau perilaku yang akan diukur
dengan tingkat tugas yang menunjukkan variasi kesulitan
tugas. Maka dengan tingkatan kesulitan yang dimiliki akan
mampu mengindikasi dimensi kecerdikan, tenaga, serta akurasi
yang dibutuhkan untuk menyebutkan beberapa dimensi
perilaku kerja. Jika individu karyawan yang memiliki self
efficacy yang tinggi akan mampu bahwa dirinya yakin dapat
menyelesaikan tugas yang sulit sedangkan jika individu
memiliki self efficacy yang rendah memiliki keyakinan bahwa
dirinya hanya mampu menyelesaikan tugas yang mudah saja.
2) Keluasan (generality).
Yaitu individu menilai keyakinannya berfungsi di berbagai
kegiatan tertentu. Dimensi ini berkaitan dengan bagaimana
penguasaan individu dengan bidang atau tugas pekerjaan.
Maka jika individu dengan self efficacy yang tinggi mampu
menguasai beberapa bidang sekaligus untuk dapat
menyelesaikan suatu tugas. Sedangan jika individu dengan self
efficacy yang rendah hanya menguasai sedikit bidang yang
diperlukan dalam menyelesaikan tugas karena rendahnya
penguasaan individu terhadap beberapa bidang pekerjaan.
3) Kekuatan (strenght).
Yaitu pada dimensi ini lebih menekankan pada tingkatan
kekuatan atau kemantapan individu terhadap keyakinannya.
Maka Self efficacy menjadi dasar dalam melakukan usaha yang
keras, bahkan jika menemukan hambatan-hambatan dalam
pekerjaan. Jika individu karyawan yang memiliki tingkat
kekuatan yang tinggi dengan memiliki keyakinan diri kuat
akan kompetisi maka karyawan tidak akan mudah untuk
menyerah, putus asa atau frustasi dalam menghadapi hambatan
serta memiliki kecenderungan untuk menadaptkan
keberhasilan yang lebih besar dibandingkan dengan individu
yang memiliki kekuatan yang rendah

Pengertian Self efficacy


Menurut Bandura (1997) dalam Ismail (2016) Self efficacy
merupakan sebagai keyakinan diri dari individu akan kemampuannya
untuk mengorganisasikan serta melakukan tindakan atau sikap yang
dianggap perlu agar mencapai hasil yang diinginkan. Menurut Baron
dan Byrne (1991) dalam Al Musadieq (2016) efikasi diri (self efficacy)
sebagai evaluasi individu mengenai kemampuan atau kompetensi
dirinya untuk melakukan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi
hambatan. Keitner dan Kinicki (2003) dalam Venna, Endang dan
Cahyo (2017) self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai
peluangnya untuk berhasil mencapai tugas tertentu. Jadi dapat
disimpulkan bahwa efikasi diri (self efficacy) adalah kemampuan
individu untuk dapat meyakinkan dirinya bahwa dirinya mampu
melakukan sesuatu. Dalam konteks penelitian ini yang akan diteliti
adalah peranan dari self efficacy dari individu karyawan, sehingga
nantinya peneliti akan mencari tahu kemampuan individu dalam
meyakinkan dirinya dalam mengerjakan tugas sehingga harapannya
ketika ada self efficacy dari dalam individu karyawan maka individu
akan lebih mampu untuk berinovasi

Hubungan antara Psychological Capital dan Budaya organisasiTerhadap Perilaku Kerja Inovatif

Menurut Li & Zheng (2014), perilaku kerja inovatif dipengaruhi oleh
dua faktor, yaitu faktor individual dan faktor organisasi. Modal psikologi
merupakan salah satu dari faktor individual yang membentuk sebuah
inovasi dalam bekerja. Dan faktor organisai salah satu contohnya adalah
budaya organisasi, dimana ketika budaya di organisasi tersebut
mendukung maka perilaku kerja inovatif pun ikut meningkat

Hubungan antara Psychological Capital dan Budaya organisasiTerhadap Perilaku Kerja Inovatif


Menurut Li & Zheng (2014), perilaku kerja inovatif dipengaruhi oleh
dua faktor, yaitu faktor individual dan faktor organisasi. Modal psikologi
merupakan salah satu dari faktor individual yang membentuk sebuah
inovasi dalam bekerja. Dan faktor organisai salah satu contohnya adalah
budaya organisasi, dimana ketika budaya di organisasi tersebut
mendukung maka perilaku kerja inovatif pun ikut meningka

Hubungan Budaya Organisasi dengan Perilaku Kerja inovatif


Kreativitas dan inovasi merupakan hal yang memiliki kaitan dengan
pengelolaan sumber daya manusia pada organisasi. Secara eksplisit
berfokus pada interaksi dinamis antara pengembangan individu dalam
keterampilan berfikir kreatif dan budaya organisasi yang mendukung,
melalui peningkatan praktek dalam manajemen sumber daya manusia
dalam organisasi yang mendasarkan pada nilai objektifitas didalam
lingkungan organisasi (Prayudhayanti, 2014) . Hal ini menunjukkan
adanya keterkaitan antara perilaku kerja inovatif pada guru dengan budaya
organisasi yang terjadi pada instansi