Rahim dan Bonoma menyebutkan bahwa terdapat lima gaya penanganan
konflik yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk menghadapi dan menangani
konflik yang terjadi, yaitu; intergrating, obliging, dominating, avoiding, dan
compromising.
.1 Avoiding Style
Dalam karya doktoral I. A. Williams (2011) dijelaskan bahwa individu yang
mengaplikasikan gaya manajemen konflik menghindar atau avoiding style
menandakan bahwa individu tersebut telah mengetahui adanya konflik yang terjadi,
namun demikian tindakan yang diambilnya ialang pengabaian atas konflik yang
terjadi itu. Pemakaian gaya menghindar ini tidak direkomendasikan karena individu
atau pun pihak-pihak yang terlibat dan menggunakan gaya menghindar tersebut
akan membuatnya tidak keluar dari permasalahan yang ada serta menandakan tidak
adanya jalan keluar yang didapatkan dalam upaya penyelesaian masalah (Lam et
al., 2007)
Gaya manajemen konflik menghindar atau avoiding style ini memiliki
tingkat concern for others yang cukup rendah serta tingkat concern for self yang
rendah juga. Hal ini menyebabkan karyawan tersebut pada situasi “lose-lose” (K.
W. Chan et al., 2008; Lam et al., 2007; Rahim, 2004). Gaya avoidance ini juga
dapat menstimulasi masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dan dipecahkan
sehingga dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan (Gitlow & McNary,
2006). I. A. Williams juga menjelaskan bahwa menurut Starks gaya avoidance ini
cepat dalam menyelesaikan permasalahan akan tetapi resolusi yang dihasilkan
sifatnya sementara dan berpotensi untuk dapat berkembang lebih besar
permasalahannya (Starks, 2006).
Gaya manajemen konflik menghindar (avoiding style) ini diindikasikan
dengan adanya penarikan diri, tidak bertanggung jawab, serta sikap menghindar
dari suatu masalah. Hal tersebut memeberikan dampak yaitu terjadinya penundaan
berkala yang dilakuakn oleh individu sampai pada waktu yang tidak bisa ditentukan
atau hingga dirasa ada pada saat yang lebih baik, atau pun penghindaran yang
dilakukan hanya untuk membuat dirinya merasa. Gaya menghindar ini sering kali
dikarakteristikkan sebagai perilaku yang tidak peduli terhadap issue dan konflik
yang terjadi dalam sebuah organisasi.
Kreitner & Kinicki (2010, p.388) juga menjelaskan bahwa gaya menghindar
ini merupakan sebuah taktik yang akan melibatkan baik itu penarikan diri secara
pasif dari permasalahan ataupun aktif dalam masalah tersebut. Gaya ini sungguh
tepat dilakukan untuk permasalahan yang sepele atau ketika biaya konfrontasi lebih
besar daripada manfaat dari penyelesaian konflik tersebut. Gaya ini juga tidak tepat
digunakan untuk permasalahan yang sulit dan yang dapat memperburuk masalah.
Keunggulan utama dari gaya ini adalah bahwa gaya ini menunda waktu atau situasi
yang ambigu. Kelemahan utamanya adalah bahwa taktis ini hanya menawarkan
solusi yang temporer dan mengenyampingkan inti permasalahannya.
.2 Compromising Style
Menurut I. A. Williams (2011), gaya manajemen konflik kompromi ini
didefinisikan sebagai sebuah situasi atau pun kondisi dimana setiap kelompok yang
berkonflik sepakat pada beberapa isu yang dihasilkan lewat adanya kompromi
(Robbins & Judge, 2010; Starks, 2006). Bekerja dalam sebuah kelompok atau tim
itu sulit ketika sebuah konflik muncul. Salah satu metode untuk mendapatkan hasil
yang diinginkan dan dapat diterima oleh semua pihak dalam sebuah kelompok
adalah dengan cara mengkompromikan masalah tersebut hingga ada kata sepakat.
Tim ini mampu bersinergi dan meningkatkan kerjasama tim dan menjadi produktif
(Choudrie, 2005). Starks (2006) juga berpendapat bahwa gaya manajemen konflik
ini dapat menghasilkan kepuasan sebuah kelompok, namun di lain pihak,
permasalah tersebut dapat diabaikan. Gaya kompromi ini menunjukkan suatu
kepedulian yang menengah pada diri sendiri dan orang lain sehingga menghasilkan
situasi “no win – no lose” (K. W. Chan et al., 2008; Lam et al., 2007; Rahim, 2004).
Pendekatan compromising ini tidak efektif digunakan dalam studi pada bidang
manufaktur dalam menciptakan pengembangan produk baru (Lam et al., 2007).
Gaya manajemen konflik kompromi atau compromising style ini melibatkan
adanya “give and take” atau dapat juga diistilahkan dengan berbagi, yang
menjadikan kedua belah pihak memberikan sesuatu untuk dapat membuat
keputusan dimana dapat diterima secara bersama (Rahim, 2001). Ini mungkin
berarti membagi perbedaan, pertukaran konsesi, atau mencari jalan tengah dengan
cepat.
Bagi pihak-pihak yang terlibat dalam suatu konflik yang memiliki visi
bertolak belakang serta menginginkan kekuasaan dan kekuatan yang sama, gaya
manajemen konflik kompromi ini cocok untuk digunakan guna mencapai suatu
kesepakatan mutlak (Kreitner dan Kinicki, 2010). Namun untuk gaya manajemen
konflik kompromi ini tidak terlalu pas atau sesuai digunakan berlebihan dalam
upayanya mencapai kesepakatan bersama. Keunikan dan keunggulan dari gaya
manajemen konflik kompromi ini ialah tidak akan pihak yang merasa terlalu
disalahkan jugatidak ada pihak terlibat yang merasa dirugikan, namun demikian
hasil kesepatakan untuk pemecahan masalah secara kreatif ini sering kali bersifat
temporer.
2.2.2.3 Dominating Style
Dalam I. A. Williams (2011), dominating style dijelaskan sebagai suatu
keadaan dimana pihak-pihak yang terlibat saling bersaing dan ingin berkuasa lewat
paksaan terhadap pihak lain yang kemudian membuat pihak lain tersebut mengalah
(Starks, 2006). Gaya dominating ini dapat dikategorisasikan dalam suatu kelompok
dengan concern for self yang tinggi dan concern for others yang rendah sehingga
menghasilkan sebuah hasil yang “win-lose” (Rahim, 2004). Individu yang
menggunakan dominating style ini biasanya telah memahami tingkat kemampuan
rekan kerjanya. Pihak-pihak dalam konflik yang menggunakan gaya manajemen
konflik mendominasi ini, akan berusaha melampaui rekan kerja mereka, hal
tersebut menjadikan pihak dengan dominating style akan memandang konflik
sebagai sebuah kompetisi bagi mereka. Oleh karena itu, orang akan melihat orang
yang menggunakan gaya dominasi ini lebih sering berargumen dibanding
menyatakan sebuah fakta (Williams, 2011).
Individu yang mendominasi atau berkompetisi akan memperlihatkan segala
kemampuannya sebagai bentuk upayanya dalam memenangkan argumen, ide mau
pun perspektif yang ia miliki dan sebagai hasilnya adalah sering mengabaikan
kebutuhan dan harapan yang inginkan oleh pihak lainnya (Rahim, 2011).
Pendominasian yang dilakuan oleh seorang individu dapat memiliki arti sebagai
suatu keteguhan individu dalam mengakuisisi seseorang dan atau sebagai bentuk
pertahanan posisi pihak tersebut yang ingin menunjukkan bahwa pihak dengan gaya
manajemen konflik yang mendominasi adalah pihak yang benar. Terkadang orang
yang mendominasi ingin selalu menang dengan cara apapun. Seorang atasan yang
mendominasi akan menggunakan kekuatan posisi dia untuk mempengaruhi
keinginan bawahannya dan memerintahkan bawahannya untuk patuhi
keinginannya.
Kreitner dan Kinicki (2010, p.387) mengemukakan bahwa gaya manajemen
konflik ini disebut forcing karena hal itu bergantung pada wewenang formal untuk
memaksakan kepatuhan. Ketika solusi yang dianggap tidak lagi popular dijadikan
suatu acuan untuk kemudian diimplementasikan, maka manajemen konflik dengan
gaya mendominasi ini akan sangat cocok untuk digunakan, selain itu tipe dominasi
ini juga sesuai untuk mengtasi konflik yang terkait dengan isu yang minor, tenggak
waktu yang sudah dekat, atau menghadapi krisis. Kelemahan utama dari gaya
dominasi ini biasanya menimbulkan kebencian.
.4 Integrating Style
Suasana kerja yang menyenangkan dapat tercipta apabila karyawan mau
pun kryawati di suatu organisasi mau pun perusahaan dapat mengintegrasikan
konflik-konflik yang ada secara nyata (Williams, 2011). Segala persoalan yang
terjadi di tempat kerja akan melibatkan segelintir upaya pemecahan masalah dan
melibatkan beragam ide dan keinginan setiap pihak yang terlibat dalam
penyelesaian konflik yang ada. Para peneliti juga setuju bahwa dengan
mengaplikasikan gaya manajemen konflik integrasi dalam tempat kerja akan
memungkinkan karyawan mau pun karyawati untuk memberikan ide-ide kreatif
yang lebih dan solusi dari permasalahan tersebut (Guttman, 2009; Rahim 2004).
Menurut I. A. Williams (2011), dalam sebuah studi terhadap staf perawat
rumah sakit, gaya manajemen konflik yang kooperatif atau terintegrasi adalah salah
satu cara untuk diasosiasikan dengan kepuasan kerja (Montoro-Rodriguez & Small,
2006). Gaya manajemen konflik ini berkontribusi dalam memberian efektifikasi
untuk top management teams dan inovasi organisasi (Tjosvold, 2006). Oleh karena
itu, gaya integrasi ini akan menunjukkan hasil yang “win-win” serta menunjukkan
kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain yang tinggi (K. W. Chan et al., 2008;
Lam et al., 2007; Rahim, 2004). Karakteristik seseorang yang menggunakan gaya
integrasi ini adalah individu tersebut akan menginvestigasi sebuah permasalahan
untuk mencari solusi yang terbaik bagi seluruh pihak yang terlibat (Rahim, 1983).
Menurut Rahim (2001), integrasi disebut juga sebagai gaya yang mencari
solusi dari permasalahan. Hal ini melibatkan kolaborasi dari setiap pihak seperti
keterbukaan, pertukaran informasi, pemeriksaan perbedaan-perbedaan untuk
mendapatkan solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Follet (1926/1940)
juga menegaskan bahwa aturan pertama untuk melakukan integrasi adalah
mengesampingkan permasalahan anda terlebih dahulu, hadapi permasalahan
utama, mengungkap konflik, bawa semua hal lebih terbuka untuk dibicarakan
(Rahim, 2001).
Gray (1989) menggambarkan hal ini sebagai pengkolaborasian, yakni
sebuah proses dimana setiap pihak yang terlibat melihat konflik serta pemecahan
masalahnya dari suatu sudut pandang yang berbeda, dan secara kontrukstif
mengeksplorasikan perbedaan mereka dan mencari solusi yang melebihi batas
padangan mereka sendiri tentang apa yang bisa didapat (Rahim, 2001).
Kreitner dan Kinicki (2010, p.386) mengemukakan bahwa pihak-pihak
yang memiliki kepentingan tersebut akan menghadapi masalah yang ada dan secara
terintegasi akan melakukan identifikasi masalah, untuk menghasilkan dan
mempertimbangkan sebuah solusi alternatif, untuk penyelesaian konflik tersebut.
Gaya manajemen konflik sesuai digunakan untuk masalah yang kompleks yang
mengandung kesalahpahaman. Akan tetapi, mengintegrasikan tidak sesuai
digunakan untuk menyelesaikan konflik yang berakar dalam menentang sistem.
.5 Obliging Style
Menurut I. A. Williams (2011), gaya manajemen konflik obliging seperti
ini dapat dijelaskan sebagai suatu keadaan dimana satu kelompok mengatur
kepentingan mereka untuk memuaskan atau mengakomodasi kelompok lain
(Starks, 2006). Gaya konflik untuk diidentifikasikan sebagai suatu kesediaan dalam
membantu serta menunjukkan kepedulian terhadap diri sendiri rendah dan
kepedulian terhadap orang lain yang tinggi sehingga menghasilkan situasi yang
“lose-win” (Rahim, 2004).
Menurut Rahim (2001), gaya konflik ini disebut juga sebagai gaya yang
mengakomodasikan konflik. Gaya seperti ini diasosiasikan dengan berusaha untuk
27
mengecilkan perbedaan dan menekankan kesamaan untuk memenuhi kepedulian
dari pihak lain.
Kreitner dan Kinicki (2010) mengemukakan bahwa individu yang
mengakomodasikan konflik yang terjadi akan mengabaikan kekhawatiran dirinya
sendiri untuk lebih memikirkan keprihatinan orang lain. Gaya manajemen konflik
yang juga biasa disebut smoothing ini diidentifikasikan sebagai perasaan yang
mengecilkan perbedaan yang ada ditengah konflik yang terjadi, dengan cara
menekankan kesamaan. Gaya manajemen konflik mengakomodasi ini sesuai
diaplikasikan sebagai suatu strategi penyelesaian konflik ketika masalah tersebut
memungkinkan untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan pada akhirnya. Akan
tetapi tidak sesuai digunakan untuk permasalahan yang kompleks atau yang
memperburuk masalah literatur mengenai konflik telah banyak menggunakan
paradigma lima gaya tersebut diatas, tetapi hal ini telah diuji secara empiris sulit
untuk membedakan antara gaya integrasi, obliging, dan kompromi (cf., Weider-
Hatfield, 1988). Pada tingkat makro, integrasi, obliging, dan kompromi mungkin
menunjukkan bahwa semua itu berkolaborasi dengan pihak lain seperti gaya
kooperatif (De Dreu & Van de Vliert, 1997). Berbeda dengan gaya menghindari
dan mendominasi, mengelola konflik dengan berkolaborasi dengan integrasi,
membantu dan/atau kompromi dapat menyebabkan keefektifan individu dan tim
lebih besar (De Dreu & Van de Vliert, 1997).