Orientasi Kewirausahaan(skripsi dan tesis)

Orientasi kewirausahaan dalam perusahaan ditunjukkan oleh bagaimana
manajer puncak menjalankan bisnis dengan menyadari akan adanya risiko,
bersedia untuk berubah dan berinovasi dengan tujuan untuk memperoleh
keunggulan kompetitif pada perusahaan, dan bersaing dengan agresif terhadap
pesaing (Miller, 1983).
Orientasi kewirausahaan adalah kecenderungan untuk melakukan inovasi,
proaktif, mengambil risiko untuk memulai, dan mengelola usaha. Kewirausahaan
didefinisikan sebagai new entry yang dapat dilakukan dengan memasuki pasar
yang tetap atau pasar baru dengan produk atau jasa yang telah ada maupun baru
atau meluncurkan perusahaan yang baru, sedangkan orientasi kewirausahaan
digambarkan sebagai proses, praktik dan aktivitas pembuat keputusan yang
mendorong new entry (kewirausahaan) (Lumpkin dan Dess, 1996).
Orientasi kewirausahaan mengukur sejauh mana manajer perusahaan
menjadi lebih inovatif, proaktif, dan berani dalam mengambil risiko (Lumpkin
dan Dess, 1996). Perusahaan dengan orientasi kewirausahaan akan cenderung
mendukung adanya ide – ide baru, bersaing dengan kompetitif terhadap pesaing,
mengenalkan produk baru sebelum pesaing, melakukan perubahan dengan risiko
yang diperhitungkan dan mencari jalan untuk menghadapi risiko (Parkman et al.,
2012). Orientasi kewirausahaan memiliki tiga dimensi didalamnya, meliputi:
inovasi, proaktif, berani mengambil risiko (risk-taking) (Wickramaratne et al.,
2014).
Pada bagian lain (Lumpkin dan Dess, 1996) menyatakan bahwa ada lima
dimensi Corporate Entrepreneurship yang mempengaruhi kinerja perusahaan,
yaitu:
1) Autonomy
Aktivitas kewirausahaan adalah semangat independen dan kebebasan yang
diperlukan untuk menciptakan usaha baru. Agar dimensi otonomi kuat,
pengusaha harus beroperasi di dalam budaya yang mendorong pengusaha
untuk bertindak independen, untuk menjaga kontrol pribadi dan mencari
kesempatan dalam ketiadaan kendala sosial (Lee dan Peterson, 2000).
2) Innovativeness
Inovasi memainkan peran besar dalam kewirausahaan. Pengusaha yang
beroperasi dalam budaya yang mendukung ide-ide baru, eksperimentasi,
solusi baru terhadap masalah dan proses kreatif dari pengusaha akan
menentukan kekuatan dimensi inovasi dari orientasi kewirausahaan (Lee dan
Peterson, 2000).
3) Risk taking
Salah satu deskripsi yang paling banyak dikutip dari pengusaha atau
kewirausahaan adalah kemauan untuk menanggung risiko. Oleh karena itu,
pengambilan risiko adalah komponen penting dari orientasi kewirausahaan
yang kuat.
4) Proactiveness
Proactivenes sangat penting karena berkaitan dengan tahap pelaksanaan
kewirausahaan. Orang yang proaktif melakukan apa yang diperlukan agar
konsep mereka membuahkan hasil dan mendapatkan keuntungan dengan
menjadi yang pertama memanfaatkan peluang-peluang baru (Lumpkin dan
Dess, 1996).
5) Competitive aggressiveness
Dimensi agresivitas kompetitif mengacu pada budaya yang pro-hambatan
seperti suatu budaya dan mendorong potensi kewirausahaan (Lee dan
Peterson, 2000).
Berbagai teori dan penelitian dibidang kewirausahaan menjelaskan
pentingnya peran orientasi kewirausahaan serta pengaruhnya terhadap kinerja
pemasaran. Tzokas et al., (2001) dalam penelitiannya menemukan bahwa
perusahaan dengan EO yang kuat mampu mengembangkan kompetensi yang lebih
baik dibandingkan mereka yang tidak memiliki karakteristik ini. Weerawardena
(2003) juga menyatakan bahwa perusahaan yang berorientasi kewirausahaan akan
membangun dan memelihara kemampuan pemasaran.
Keh et al., (2007) dalam penelitiannya mengatakan bahwa orientasi
kewirausahaan memiliki peranan penting dalam meningkatkan kinerja usaha dan
memberikan pengaruh positif signifikan. Indikator berani mengambil risiko
menunjukkan sikap wirausahawan yang kesediaannya untuk mengikat
sumberdaya dan berani menghadapi tantangan dengan melakukan eksploitasi atau
terlibat dalam strategi bisnis di mana kemungkinan hasilnya penuh dengan
ketidakpastian. Proaktif mencerminkan wirausaha mendominasi pesaing melalui
suatu kombinasi dari gerak agresif dan proaktif, seperti memperkenalkan produksi
baru atau jasa diatas kompetisi dan aktivitas untuk mengantisipasi permintaan
mendatang untuk menciptakan perubahan dan membentuk lingkungan. Inovatif
mengacu pada suatu sikap wirausahawan untuk kreatif dalam proses percobaan
terhadap gagasan baru yang memungkinkan menghasilkan metode produksi baru
sehingga menghasilkan produk atau jasa baru, baik untuk pasar sekarang maupun
ke pasar baru.
Hughes dan Morgen (2007) pada hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
dari kelima dimensi orientasi kewirausahaan yang digunakan, hanya proactiveness
dan innovativeness yang berpengaruh terhadap kinerja bisnis sedangkan risk
taking memiliki hubungan yang negatif. Competitive aggresiveness dan
autonomy tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja usaha pada tahap
pertumbuhan.

Orientasi Pasar(skripsi dan tesis)

Orientasi pasar merupakan salah satu konsep utama dalam literatur
pemasaran karena mengacu pada sejauh mana perusahaan mengimplementasikan
konsep pemasaran (Kohli dan Jaworski, 1990). Orientasi pasar adalah budaya
organisasi yang paling efektif dan efisien dalam menciptakan perilaku yang
diperlukan untuk menghasilkan nilai superior bagi pembeli, dengan demikian
kinerja bisnis yang unggul terus menerus dapat tercapai. Konsep ini
menggambarkan tentang suatu evolusi strategi pemasaran dengan memfokuskan
perhatian bukan hanya pada satu sisi orientasi saja melainkan selalu
menyeimbangkan antara orientasi pelanggan dan pesaing (Narver dan Slater,
1996).
Perusahaan yang berorientasi pasar mempertahankan pelanggan yang
sudah ada dengan menjaga kepuasan dan loyalitas pelanggan, menarik pelanggan
baru, mencapai tingkat pertumbuhan yang diinginkan dan pangsa pasar, serta
akibatnya mampu mencapai tingkat yang diinginkan dari kinerja bisnis (Tsiotsou
dan Vlachopoulou, 2011).
Wang et al., (2012) menyatakan bahwa konsep utama dari orientasi pasar
masih melibatkan pembangkit, penyebaran, berbagi informasi, dan bereaksi
dengan baik terhadap perubahan kebutuhan pasar untuk mencapai tujuan
organisasi, menjamin kebutuhan serta keinginan dari pelanggan, sementara secara
bersamaan mempertimbangkan kepentingan seluruh pemangku kepentingan
perusahaan.
Orientasi pasar terdiri atas tiga komponen yaitu orientasi pelanggan,
orientasi pesaing, dan koordinasi antar fungsional yang mempunyai tingkat
kepentingan yang sama (Narver dan Slater, 1996).
1) Orientasi Pelanggan
Orientasi pelanggan adalah hasil dari intensitas penggarapan kebijakan
yang berorientasi pasar, perusahaan memiliki peluang untuk membentuk
persepsi pada pelanggan atas nilai yang dibangunnya, selanjutnya nilai
tersebut akan menghasilkan nilai kepuasan bagi pelanggan (Narver dan
Slater, 1996).
2) Orientasi Pesaing
Orientasi pesaing merupakan pemahaman mengenai kekuatan dan
kelemahan jangka pendek serta kemampuan dan strategi jangka panjang
pesaing yang ada dan pesaing potensial (Narver dan Slater, 1996).
3) Koordinasi Antarfungsional
Koordinasi antarfungsional dalam organisasi perlu dilakukan agar semua
sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat digunakan secara maksimal
untuk menciptakan nilai dan kepuasan konsumen serta menjaga setiap
langkah pesaing yang dapat menghambat strategi yang sedang
dikembangkan oleh perusahaan. Orientasi pelanggan dan orientasi pesaing
sesungguhnya mencakup semua kegiatan yang ditujukan untuk
mendapatkan informasi mengenai pembeli dan pesaing dalam pasar
sasaran, informasi tersebut kemudian dikembangkan dan disebarluaskan
melalui koordinasi antarfungsional di dalam organisasi (Han et al.,1998).
Berbagai penelitian yang menguji tentang orientasi pasar seperti yang telah
diteliti oleh Matsuno et al., (2002) menemukan dalam penelitiannya bahwa
orientasi kewirausahaan berpengaruh tidak langsung terhadap kinerja
organisasi dengan dimediasi oleh orientasi pasar pada perusahaan manufaktur di
Australia.
Hassim et al., (2011) di mana temuan penelitiannya menunjukkan bahwa
orientasi kewirausahaan dan inovasi memberikan efek positif pada perusahaan ke
kinerja bisnis, sedangkan orientasi pasar menunjukkan efek negatif terhadap
kinerja perusahaan. Faktor lingkungan eksternal yang memiliki efek memoderasi
pada hubungan antara orientasi pasar dan kinerja perusahaan. Pramesti dan
Giantari (2016) melakukan penelitian terhadap pengaruh mediasi orientasi pasar
terhadap kinerja UKM Endek dan hasil temuannya menunjukkan hubungan yang
signifikan antara orientasi kewirausahaan dengan kinerja pada UKM Endek.

Keterkaitan antara Orientasi Kewirausahaan (X1) dan Kompetensi Wirausaha (X2) dengan Keunggulan Bersaing (Y)(skripsi dan tesis)

Orientasi kewirausahaan merupakan hal penting dalam meningkatkan
posisi keunggulan daya saing berkelanjutan bagi UMKM. Koordinasi sumberdaya
strategik yang merupakan hasil dari perpaduan orientasi kewirausahaan dan
pembelajaran organisasi berupa kompetensi kewirausahaan yang akan mendukung
terciptanya sumberdaya yang non-imitability, non-transferability dan nonsubstitutability yang merupakan sumber dari daya saing berkelanjutan (sustained
competitive advantage) seperti yang dinyatakan oleh Durand (1999).
Dwi Novitasari dan Lukia Zuraiadaa (20150 dalam penelitiannya juga
menghasilkan kesimpulan bahwa Orientasi kewirausahaan dan Kompetensi
Wirausaha berpengaruh signifikan terhadap Daya Saing UMKM.

Keterkaitan antara Kompetensi Kewirausahaan (X2) dan Keunggulan Bersaing (Y)(skripsi dan tesis)

Pendekatan kompetensi telah menjadi populer pada studi karakteristik
kewirausahaan. Usaha kecil dan menengah memerlukan individu yang memiliki
kompetensi wirausaha yang efisien untuk meningkatkan dan mempertahankan
keunggulan kompetitif organisasi menurut Zaugg & Thom (2003) dalam Ismael
Byaruhanga (2015:22) .
Sementara itu kompetensi kewirausahaan dapat diteliti dari
inputnya, proses, atau hasil (Mole et al., 1993), pada penelitian ini
ditekankan pada proses atau pendekatan perilaku untuk meneliti kompetensi
kewirausahaan sehingga sejalan dengan dimensi proses pembentukan keunggulan
bersaing.
Pendekatan ini berasumsi bahwa kepemilikan kompetensi saja
tidaklah cukup membuat pengusaha kompeten. Lebih tepat apabila
kompetensi kewirausahaan dilihat dari perilaku, dari seseorang, yang
cocok dengan karakteristik dinamis dari daya saing.
Man et al (2002) telah melakukan studi awal dalam kompetensi
pengusaha dalam rangka mengkategorisasi semua identifikasi kompetensi
dalam aktivitas yang relevan atau perilaku dalam konteks UKM, untuk mencapai
keunggulan bersaing berkelanjutan.

Keterkaitan antara Orientasi Kewirausahaan (X1) dan Keunggulan Bersaing (Y)(skripsi dan tesis)

Untuk mencapai kesinambungan, pola perilaku kewirausahaan dan
orientasi kewirausahaan dapat dikomunikasikan melalui program pembelajaran
dan pengembangan yang berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan dan / atau
strategi bisnis untuk meningkatkan kemampuan inovatif, proaktif dan mengambil
risiko, sehingga menghasilkan keunggulan kompetitif menurut Beugelsdijk.S.
(2007) dalam Sulaiman Olusegun Atiku (2016:27)
Penelitian yang dilakukan oleh Mahmood dan Hanafi (2013)
menghasilkan kesimpulan bahwa ada pengaruh signifikan antara orientasi
kewirausahaan dan keunggulan bersaing.
Serupa dengan penelitian tersebut, Sirivanh et al. (2014) dalam
penelitiannya juga menyatakan bahwa orientasi kewirausahaan berpengaruh
positif terhadap keunggulan bersaing.
Pardi et al.(2014) dalam penelitiannya juga menghasilkan kesimpulan
bahwa orientasi kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap keunggulan
bersaing

Indikator Keunggulan Bersaing(skripsi dan tesis)

Ada tiga indikator yang digunakan untuk mengukur keunggulan besaing
dalampenelitian ini menurut Droge dan Vickery, (1994, p. 669-670) dalam Sensi
Tribuana Dewi ( 2006 : 28 ),yaitu:
• Keunikan produk
Adalah keunikan produk perusahaan yang membedakan produk dengan
yang lain pada umumnya.
•Kualitas produk
Adalah kualitas dari produk yang berhasil diciptakan oleh perusahaan
• Harga bersaing
Adalah kemampuan perusahaan untuk menyesuaikan harga produknya
dengan harga umum di pasaran.
Adapula pendapat dari Porter (1985) dalam Heri Prasetya (2007:1)
mengenai indikator keunggulan bersaing, yaitu
Keunggulan Biaya
Kemampuan perusahaan atau sebuah unit bisnis untuk merancang,
membuat, dan memasarkan sebuah produk sebanding dengan cara yang
lebih efisien daripada pesaingnya
Diferensiasi
Dalam strategi diferensiasi, perusahaan berusaha menjadi unik dalam
industrinya pada berbagai dimensi yang secara umum dihargai oleh
pembeli.
Fokus
Fokus berbeda dengan strategi lain karena menekan pilihan akan
cakupan bersaing yang sempit dalam suatu industri. Dengan
mengoptimalkan strategi untuk segmen pasar, penganut strategi fokus
berusaha untuk mencapai keunggulan bersaing di dalam segmen
sasaran walaupun tidak memiliki keunggulan bersaing secara
keseluruhan.

Karakteristik Perusahaan yang Memiliki Keunggulan Bersaing(skripsi dan tesis)

Menurut pendapat Glueck et al. (1987) dalam GL. Hery Pr
asetya (2008:35), suatu perusahaan dikatakan memiliki keunggulan
bersaing jika mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.Kompetensi khusus, misalnya mempunyai produk dengan mutu yang
lebih baik, mempunyai saluran distribusi yang lebih lancar,
penyerahan produk yang lebih cepat, mempunyai merk produk lebih
terkenal.
2.Menciptakan persaingan tidak sempurna. Dalam persaingan
sempurna, setiap perusahaan dapat masuk dan keluar pasar dengan
mudah sehingga perusahaan yang ingin mencari keunggulan bersaing
harus keluar dari pasar persaingan sempurna.
3.Keberlanjutan, artinya keunggulan bersaing harus dapat berlanjut
dan tidak terputus-putus.
4.Cocok dengan lingkungan eksternal. Lingkungan eksternal
memberikan peluang dan ancaman kepada perusahaan yang saling
bersaing. Oleh karena itu suatu keunggulan bersaing tidak hanya
melihat kelemahan pesaing, namun juga harus memperhatikan kondisi
pasar.
5.Laba yang diperoleh lebih tinggi daripada rata-rata laba perusahaan lain.

Pengertian Keunggulan Bersaing(skripsi dan tesis)

Keunggulan bersaing merupakan strategi keuntungan dari perusahaan
yang melakukan kerjasama untuk berkompetisi lebih efektif dalam pasar.
Perusahaan mengalami keunggulan bersaing ketika tindakan-tindakan dalam
suatu industri atau pasar menciptakan nilai ekonomi dan ketika beberapa
perusahaan yang bersaing terlibat dalam tindakan serupa (Barney,2010:9).
Keunggulan bersaing dianggap sebagai keuntungan dibanding
kompetitor yang diperoleh dengan menawarkan nilai lebih padakonsumen
dibanding penawaran kompetitor (Kotler, 2009:461). Keunggulan bersaing
diharapkan mampu untuk mencapai laba sesuai rencana, meningkatkan
pangsa pasar, meningkatkan kepuasan pelanggan, serta melanjutkan
kelangsungan hidup suatu usaha (Saiman,2014:128).
Keunggulan bersaing (competitive advantage) adalah jantung
kinerja pemasaran untuk menghadapi persaingan. Keunggulan bersaing diartikan
sebagai strategi benefit dari perusahaan yang melakukan kerjasama untuk
menciptakan keunggulan bersaing yang lebih efektif dalam pasarnya. Strategi ini
harus didesain untuk mewujudkan keunggulan bersaing yang terus menerus
sehingga perusahaan dapat mendominasi baik di pasar lama maupun pasar
baru.
Keunggulan bersaing merupakan strategi keuntungan dari perusahaan
yang melakukan kerjasama untuk berkompetisi lebih efektif dalam pasar. Strategi
yang didesain bertujuan untuk mencapai keunggulan bersaing yang terus menerus
agar perusahaan dapat terus menjadi pemimpin pasar Prakosa (2005).Keunggulan
bersaing pada dasarnya tumbuh dari nilai-nilai atau manfaatyang
diciptakan oleh perusahaan bagi para pembelinya. Pelanggan umumnya lebih
memilih membeli produk yang memiliki nilai lebih dari yangdiinginkan atau
diharapkannya (Agus Maulana, 2014:113).

indikator Kompetensi Kewirausahaan(skripsi dan tesis)

Dalam bukunya Triton PB yang dikutip dari A. Kuriloff,John M,Jr
dan Douglas Cloud yang diakses dari (www.puskur.net), diakses 24 mei
2007): Ada 4 kompetensi utama yang harus dimiliki seorang wirausaha :
1.Technical Competence, memiliki kompetensi dalam bidang
rancang bangun (know-how) sesuai bentuk usaha yang dipilih.
Misalnya kemampuan dalam bidang teknik produksi dan desain
produksi.
2.Marketing Competence, memiliki kompetensi dalam bidang
pemasaran, menemukan peluang pasar yang cocok, mengidentifikasi
pelanggan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan.
3.Financial Competence, memilki kompetensi dalam bidang keuangan,
seperti mengatur pembelian dan penjualan perusahaan, pembukuan,
dan perhitungan laba rugi perusahaan.
4. Human Relation competence, yaitu kompetensi dalam mengembangkan
hubungan per-sonal,seperti kemampuan berelasi dan menjalin
kemitraan antar perusahaan. Ke-empat faktor diatas akan dijadikan
indikator kompetensi wirausaha

Pengertian Kompetensi Kewirausahaan(skripsi dan tesis)

Kompetensi kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai karakteristik yang
mendasari seperti pengetahuan generik dan spesifik, motif, sifat, citra diri, peran sosial, dan keterampilan yang menghasilkan kelahiran, kelangsungan hidup, dan atau pertumbuhan usaha. (Bird 1995 dalam Siwan dan Jennifer 2010)
Studi tentang kompetensi wirausaha, yang mengembangkan kelompok
keterampilan dan kemampuan yang sama yang dijumpai dalam teori manajemen
atau kepemimpinan. Ada dua tambahan keterampilan dimunculkan : (1) membaca peluang, dan (2) memanaje diri sendiri.
Dalam mencapai kesuksesan karir di dalam suatu bisnis tentunya
tidaklah mudah, ada banyak hal yang harus diketahui dan dikuasai oleh
pelaku bisnis tersebut. Sehingga untuk menjadi wirausaha yang sukses harus
memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan kualitas individu yang meliputi
sikap, nilai, serta tingkah laku yang diperlukan untuk melaksakanakan pekerjaan atau kegiatan.

Indikator Orientasi Kewirausahaan(skripsi dan tesis)

Frishammar dan Horte (2007:68) menyarankan orientasi kewirausahaan
terdiri dari tiga dimensi: keinovasian, pengambilan risiko, dan proaktif.
Kemampuan inovasi berhubungan dengan persepsi dan aktivitas terhadap
aktivitas-aktivitas bisnis yang baru dan unik (Schumpeter dan Milton, 1989).
Kemampuan berinovasi adalah titik penting dari kewirausahaan dan esensi
dari karakteristik kewirausahaan. Beberapa hasil penelitian dan
literatur kewirausahaan menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan lebih
signifikan mempunyai kemampuan inovasi daripada yang tidak memiliki
kemampuan dalam kewirausahaan (Koh, 1997,p.9).
Proaktifitas seseorang untuk berusaha berprestasi merupakan petunjuk lain
dari aplikasi atas orientasi kewirausahaan secara pribadi. Demikian pula bila suatu
perusahaan menekankan proaktifitas dalam kegiatan bisnisnya, maka
perusahaan tersebut telah melakukan aktifitas kewirausahaan yang akan
secara otomatis mendorong tinginya kinerja (Weerawardena, 2003;424).
Perusahaan dengan aktifitas kewirausahaan yang tinggi berarti tampak dari
tingginya semangat yang tidak pernah padam karena hambatan,
rintangan,dan tantangan. Sikap aktif dan dinamis adalah kata kuncinya.
(Doukakis, 2002).
Seseorang yang berani mengambil risiko dapat didefinisikan
sebagai seseorang yang berorientasi pada peluang dalam ketidakpastian
konteks pengambilan keputusan. Hambatan risiko merupakan faktor
kunci yang membedakan perusahaan dengan jiwa wirausaha dan tidak.
Fungsi utama dari tingginya orientasi kewirausahaan adalah bagaimana
melibatkan pengukuran risiko dan pengambilan risiko secara optimal (Looy et
al. 2003).

Pengertian Orientasi Kewirausahaan(skripsi dan tesis)

Orientasi kewirausahaan merupakan konstruk yang mengintegrasikan
kewirausahaan dan manajemen strategik. Manajemen strategik menghendaki agar
perusahaan memiliki dan mengekploitasi keunggulan bersaing dalam konteks
lingkungan tertentu, pada saat yang sama, kewirausahaan giat berusaha mencari
keunggulan bersaing melalui produk, proses,dan inovasi pasar (Kuratko dan
Audretsch,2009). Menurut Risnawati dan Noermijati (2008), orientasi
kewirausahaan merupakan orientasi strategi perusahaan dalam berwirausaha untuk
memperoleh keunggulan kompetitif dengan indikator : pengambilan keputusan,
praktek dan metode.
Menurut Ginsberg dalam Isa (2011), pengertian orientasi kewirausahaan
sebagai kecenderungan individu untuk melakukan inovasi, proaktif dan mau
mengambil risiko untuk memulai atau mengelola usaha.
Menurut Morris dan Paul dalam Fayolle (2007, p.129), orientasi
kewirausahaan adalah kecenderungan manajemen puncak untuk mengambil risiko
yang telah diperhitungkan, inovatif dan untuk menunjukkan proaktif.

Pengertian Kewirausahaan (skripsi dan tesis)

Enterpreneurship atau kewirausahaan adalah usaha kreatif yang
dibangun berdasarkan inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru,
memiliki nilai tambah, memberi manfaat, menciptakan lapangan kerja dan
hasilnya berguna bagi orang lain. (Eddy S. Soegoto, 2014: 26).
Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan
dasar, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju kesuksesan.
Beberapa literatur manajemen memberikan tiga landasan dimensi –dimensi
dari kecenderungan organisasional untuk proses manajemen kewirausahaan,
yakni kemampuan inovasi, kemampuan mengambil risiko, dan sifat
proaktif (Weerawerdeena,2003:110).
Kewirausahaan adalah proses dinamis dari visi, perubahan dan penciptaan
yang mensyaratkan aplikasi energi dan semangat terhadap penciptaan dan
implementasi dari ide baru dan solusi kreatif (Kuratko,2009:21).
Tidak semua orang memiliki kapabilitas kewirausahaan. Hanya orang
yang memiliki jiwa kewirausahaan dapat mendirikan dan mengelola usaha secara
profesional (Echdar, 2013:19)

Kategori Industri Kecil (skripsi dan tesis)

Kategori industri kecil menurut Departemen Perindustrian :
1. Industri Kecil Modern
Industri Kecil Modern mempunyai akses untuk menjangkau sistem
pemasaran yang relatif berkembang baik di pasar domestik atau
dipasar ekspor.
2. Industri Kecil Tradisional
Industri Kecil Tradisional kebalikan dari industri kecil modern.
Industri kecil tradisonal menggunakan teknologi yang sederhana,
teknologi bantuan Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang disediakan oleh
departemen perindustrian sebagai bagian dari progam bantuan
teknisnya

Industri Kecil Menengah (skripsi dan tesis)

Secara umum industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan
mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah
untuk mendapatkan keuntungan. Definisi industri berbeda-beda, berikut ini
definisi industri dari beberapa ahli.
1. Menurut Deperindag (Departemen Perindustrian dan Perdagangan) tahun
1999 Industri Kecil adalah kegiatan usaha industri yang memiliki
investasi sampai Rp. 200.000.000,- tidak termasuk bangunan dan tanah.
2. Menurut Biro Pusat Statistik (2003) Industri Kecil adalah usaha rumah
tangga yang melakukan kegiatan mengolah barang belum jadi menjadi
barang setengah jadi atau barang setengah jadi menjadi barang jadi yang
nilainya lebih tinggi agar dapat dijual dan mendapatkan keuntungan.
3. Menurut Bank Indonesia, Industri Kecil yakni industri yang asset (tidak
termasuk rumah dan bangunan) bernilai kurang dari Rp. 600.000.000,

Pengukuran Kinerja (skripsi dan tesis)

Schultz & Schultz (1994: 147) membagi pengukuran kinerja menjadi dua
kategori yaitu metode sasaran dan metode dugaan.
1. Metode sasaran ada enam bentuk, yaitu:
a. Quantity of output, merupakan penentuan nomor dari unit yang
diproduksi atau dirakit, dalam sebuah periode waktu tertentu.
b. Quality of output, penentuan nomor dari unit yang ditentukan, dari unit
yang ditentukan, dalam suatu inspeksi standard atau nomor kesalahan,
dari unit yang diproduksi.
c. Accidents, melihat kembali laporan kecelakaan dari pekerja.
d. Salary, melihat kembali sejarah pendapatan pekerja, meliputi tingkatan
dan frekuensi dari peningkatan gaji.
e. Absenteism, melihat kembali nomor dari hari yang hilang dari saat
bekerja.
f. Rate of advancement,melihat kembali rekaman promosi dari pekerja.
2. Metode dugaan, meliputi aspek:
a. Assesment by supervisor, penilaian yang dilakukan supervisor.
b. Assesment by peers, penilaian yang diberikan teman.
c. Self assesment, evaluasi yang diberikan karyawan, terhadap kinerjanya
sendiri.
d. Assesment by subordinate, penilaian dari bawahan, terhadap pimpinan.
e. Management by objectives, pekerja dan supervisornya, menentukan
tujuan yang bermutu.
f. Assesment center performance, mengevaluasi kinerja pekerja dalam
bentuk tugas pengukuran terpusat

Penilaian Kinerja (skripsi dan tesis)

Mondy dan Noe (1993: 394) mendefinisikan penilaian kinerja sebagai
sistem peninjauan formal, secara periodik dan evaluasi kinerja individu. Tujuan
penilaian kinerja menurut Cascio (1998: 58) adalah:
a) Memberikan dasar bagi keputusan tentang karyawan.
b) Sebagai kriteria penilaian sumberdaya manusia.
c) Sebagai prediktor untuk keputusan promosi.
d) Membantu menentukan tujuan dari program pelatihan
e) Menyediakan umpan balik bagi karyawan
f) Memberikan fasilitas untuk diagnosa dan pengembangan organisasi.
Penilaian kinerja digunakan oleh manajemen lini, dengan tujuan
mempengaruhi performa karyawan yang meliputi keputusan administratif dan
memberikan timbal balik bagi karyawan. Selain itu penilaian kinerja dapat
digunakan untuk membuat kebijakan mengenai kecocokan antara performa
kinerja dengan tujuan dan kebijakan alokasi kenaikan gaji, promosi dan
pemberian hadiah lainnya. Informasi yang diberikan manajer kepada karyawan
juga dapat digunakan sebagai umpan balik oleh karyawan, untuk meningkatkan
skills dan kemampuannya

Pengertian Kinerja IKM (skripsi dan tesis)

1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian kinerja
adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan
kerja. Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas
tertentu.
2. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat
dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan
memberikan kontribusi pada ekonomi. Kinerja adalah tentang
melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut
(Wibowo, 2007)
3. Menurut Mangkuprawira (2007) kinerja merupakan hasil dari proses
pekerjaan tertentu secara terencana pada waktu dan tempat dari
karyawan serta organisasi yang bersangkutan, ukuran kinerja dapat
dilihat dari sisi jumlah dan mutu tertentu sesuai standar organisasi atau
perusahaaan.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan kinerja adalah suatu tingkat
pencapaian hasil dari proses pekerjaan yang dilakukan terhadap pelaksanaan tugas
tertentu. Kinerja merujuk pada tingkat pencapaian ataupun prestasi dari
perusahaan dalam periode waktu tertentu. Adapun tujuan perusahaan terdiri dari :
tetap eksis (survive), memperoleh laba (benefit) dan dapatberkembang (growth),
dapat tercapai apabila perusahaan tersebut mempunyai performa yang baik
(Sinarsih, 2013

Berani Mengambil Resiko (skripsi dan tesis)

Menurut (Morris dan Kuratko, 2002) Berani Mengambil Resiko
menyangkut keinginan untuk meraih peluang yang kemungkinan dapat
menyebabkan kerugian atau ketidaksesuaian kinerja yang signifikan
Dalam menjalankan suatu usaha pasti akan ada resiko yang dihadapi. Berani
Mengambil Resiko menyangkut keinginan untuk meraih peluang yang
kemungkinan dapat menyebabkan kerugian atau ketidaksesuaian kinerja yang
signifikan. Dalam meraih peluang harus disertai sikap inovatif agar peluang yang
diambil dapat menguntungkan dan meminimalisir resiko yang ditimbulkan.
Pengambilan resiko menunjukan kemauan perusahaan untuk mendukung
proyek-proyek inovatif yang mengandung resiko walaupun hasil dari tindakan
tersebut tidak pasti. Resiko mempunyai arti yang bervariasi tergantung pada
konteks apa resiko ini diterapkan.
Definisi mengenai pengambilan resiko mempunyai arti ketidakpastian dan
dapat diaplikasikan secara umum pada kewirausahaan seperti resiko personal,
resiko sosial atau resiko psikologis.
Resiko adalah sesuatu yang di kaitkan dengan kemungkinan terjadinya
keadaan yang merugikan dan tidak terduga sebelumnya bahkan kebanyakan orang
tidak menginginkannya.
Menurut sifatnya resiko dapat di bedakan menjadi beberapa macam
diantaranya.
1. Resiko spekulatif
Yaitu resiko yang sengaja ditimbulkan oleh seseorang agar
memberikan keuntungan di pihak tertentu.
2. Resiko murni
Resiko yang terjadi tanpa kesengajaan dan akhirnya menimbulkan
kerugian. Seperti adanya bencana alam, kebakaran, pencurian dan
sebagainya.
3. Resiko fundamental
Resiko yang penyebabkan tidak dapat dilimpahkan kepada seseorang
dan akibat dari resiko ini banyak yang menderita. Resiko fundamental
seperti kebanjiran, angin topan dan sebagainya.
Menurut sumbernya resiko dapat dibedakan menjadi beberapa yaitu :
1. Resiko intern/internal
Resiko internal adalah resiko yang penyebabnya muncul dari dalam
perusahaan sendiri. Resiko internal seperti kurang pengalaman,
kurang pelatihan, kegagalan tim dalam kerjasama yang efektif,
kekurangan sumber daya dan sebagianya.
2. Resiko ekstern/eksternal
Resiko eksternal adalah resiko yang penyebabnya muncul dari luar
perusahaan. Resiko eksternal seperti kegiatan pemasok yang berakibat
kegagalan produk, kegiatan pesaing/adanya pesaing usaha yang sama,
tingkah laku pelanggan mengenai perubahan permintaan, selera dan
faktor alam

Proaktif (skripsi dan tesis)

Menurut Batement dan Crant dalam Prabhu (2013) proaktif adalah sebagai
kontruksi disposisional yang mendefinisikan perbedaan antara orang-orang dalam
hal sejauh mana mereka mengambil tindakan untuk mempengaruhi lingkungan
mereka.
Sikap proaktif harus dimiliki oleh seorang wirausaha karena dengan sikap
proaktif dapat memajukan usaha yang dijalankannya. Sikap proaktif juga dapat
menjadikan seseorang mampu menangkap peluang yang ada, memiliki visi yang
jelas kedepan, selalu aktif dan memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan usaha yang di jalaninya.
Menurut Convey (1995:256) dalam Hawa’im Machrus 2001 ciri-ciri
seseorang memilki kepribadian proaktif adalah.
1. Memilih sikap bertanggung jawab atas sikap dan perilakunya.
Seseorang yang memiliki sikap proaktif tidak menyalahkan keadaan
kondisi atau pengkondisian atas perilaku mereka. Perilaku adalah
pilihan sadar, berdasarkan nilai dan bukan produk dari suasana hati,
kondisioning atau tekanan sosial yang diterima.
2. Memusatkan energi dengan berfokus dan bekerja pada lingkaran
pengaruh (influence circle).
Individu proaktif selalu mengerjakan hal yang dapat mereka lakukan.
Sifat dari energi mereka adalah positif, memperluas dan memperbesar
yang menyebabkan lingkaran pengaruh mereka meningkat. Orang
reaktif sebaliknya menghabiskan energi dengan berfokus pada
kkelemahan orang lain, menuduh atau menyalahkan oarang lain.
3. Menggunakan pendekatan dari dalam keluar (in side out-appooach).
Yaitu berusaha memulai perubahan, dengan mengubah dirinya lebih
dulu, juga memeriksa kebenaran paradigma dan presepsi-presepsinya.
Individu reaktif bekerja dengan cara berlawanan. Seseorang memulai
usahanya degan mengubah lingkungannya lebih dulu, dengan harapan
apa yang terjadi pada dirinya bisa diubah, tidak mau menyadari bahwa
sebagian besar sumber masalah berada dalam dirinya sendiri.
4. Mendahulukan prinsip atau values di atas suasana hati, kondisi atau
tekanan sosial.
Seseorang yang proaktif hidup berpusat pada prinsip (principle
centered) kemudian menerjemahkan prinsip itu kedalam seperangkat
nilai yang telah dipilihnya yang telah dipilihnya secara
sadar.Berdasarkan nilai itulah mereka mengarahkan pilihan sikap dan
perilakunya. Ia dipengaruhi oleh suasana hati, situasi dan kondisi
lingkungan atau tekanan sosial, tetapi ia tidak akan membiarkan hal
diatas mengendalikan keputusan dan perilakunya. Ia betul-betul
bertanggungjawab dengan cara memilih respon tindakannya, sesuai
dengan nilai yang dianutnya.
5. Mengembangkan dan menggunakan “empat anugrah untuk manusia”
(four unique human gifts).
individu proaktif mengembangkan dan menggunakan empat anugrah
manusia secara optimal, seperti yang diyakini oleh pengikut mazhab
psikologi humanistik, sebagai sifat–sifat unik manusia yang
membuatnya berbeda dengan makhluk lainnya. Covey menyebutkan
“four unique human gifts” itu adalah: self awareness (kesadaran diri),
conscience (hati nurani), creative imagination (imajinasi kreatif) dan
independent will (kehendak yang bebas).

Inovatif (skripsi dan tesis)

Menurut (Lumpkin dan Dess, 1996 dalam Lestari 2011) Inovatif yaitu
kecenderungan manajemen organisasi untuk memperbarui bisnis mereka.
Perbaruan bisnis dilakukan untuk meningkatkan laba atau keuntungan bagi
perusahaan.
Inovatif adalah salah satu dari tiga karakteristik dalam Orientasi
Kewirausahaan. Inovatif adalah suatu gagasan baru, ide yang belum pernah di
publikasikan sebelumnya. Pengrajin sangkar burung harus memperhatikan inovasi
terbaru terhadap produknya. Inovasi dalam suatu produk dapat meningkatkan
minat konsumen terhadap pembelian produk sangkar burung, selain itu inovasi
akan mengurangi masalah terhadap produk yang sudah lama.
Manfaat yang diperoleh dengan melakukan inovasi diantaranya :
1. Memperoleh keuntungan yang lebih besar
Dengan melakukan inovasi akan mendatangkan keuntungan yang lebih
tinggi. Penciptaan suatu produk baru akan lebih menarik minat seseorang dalam
pembelian, selain itu produk kita terkesan tidak monoton dan lebih bervariasi
sehingga lebih banyak peminat dibandingkan produk sebelumnya.
2. Menarik minat pelanggan
Keuntungan kedua adalah menarik minat pelanggan. Penciptaan produk
baru dengan berbagai variasi akan membuat masyarakat tidak jenuh dengan
produk yang ada sehingga pelanggan akan meningkat secara bertahap dan
keuntungan akan jauh lebih besar.
Dengan menciptakan produk terbaru maka akan semakin banyak
pertumbuhan jumlah pelanggan. Mayoritas masyarakat akan memilih produk
terbaru dan berbeda dari yang lainnya.
3. Mengikuti kemajuan teknologi
Melakukan inovasi terhadap produk berarti pengrajin mengikuti
perkembangan teknologi yang sudah berkembang dengan pesat. Dalam
penciptaan produk baru diupayakan sesuai dengan teknologi dan perkembangan
zaman saat ini sehingga produk tidak terkesan kuno atau ketinggalan zaman.
Perkembangan zaman dan teknologi maka inovasi yang diciptakan harus semakin
bagus dan menarik sehingga akan lebih menarik minat masyarakat dalam
pembelian.
4. Jangan kalah bersaing dengan competitor
Dalam dunia usaha masalah competitor atau pesaing sudah tidak asing
lagi.Mempertahankan image agar tidak kalah dengan competitor memang tidak
mudah. Penciptaan inovasi akan lebih mudah mempertahankan image produk
tersebut sehingga tidak mudah dikalahkan dengan pesaing.
5. Mempermudah dalam melakukan promosi
Melakukan inovasi akan mempermudah dalam melakukan promosi. Dengan
produk yang unik dan memiliki banyak variasi maka akan lebih mudah dalam
promosi. Masyarakat akan lebih mudah menerima dan masyarakat akan
mengingat karena produk kita memiliki keunikan tersendiri.
Produk inovasi dapat gagal karena beberapa alasan. Kesalahan dalam
menerapkan strategi seperti desain produk kurang inovatif,salah memperkirakan
pesaing, masalahnya terletak pada desain atau biaya produksi yang jauh lebih
tinggi dari yang diperkirakan.
Keeh, et.al (2007) menjelaskan inovasi sangat penting karena terdapat
alasan berikut:
1. Teknologi berubah sangat cepat seiring adanya produk baru, proses
dan layanan baru dari pesaing, dan ini mendorong usaha
entrepreneurial untuk bersaing dan sukses. Yang harus dilakukan
adalah menyesuaikan diri dengan inovasi teknologi baru.
2. Efek perubahan lingkungan terhadap siklus hidup produk semakin
pendek, yang artinya bahwa produk atau layanan lama harus
digantikan dengan yang baru dalam waktu cepat, dan ini bisa terjadi
karena ada pemikiran kreatif yang me-nimbulkan inovasi.
3. Konsumen saat ini lebih pintar dan menuntut pemenuhan kebutuhan.
Harapan dalam pemenuh-an kebutuhan mengharap lebih dalam hal
kualitas, pembaruan, dan harga. Oleh karena itu skill inovatif
dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan konsumen sekaligus
mempertahankan konsumen sebagai pelanggan.
4. Dengan pasar dan teknologi yang berubah sangat cepat, ide yang
bagus dapat semakin mudah ditiru, dan ini membutuhkan metode
penggunaan pro-duk, proses yang baru dan lebih baik, dan layanan
yang lebih cepat secara kontinyu.
5. Inovasi bisa menghasilkan pertumbuhan lebih cepat, meningkatkan
segmen pasar, dan menciptakan posisi korporat yang lebih baik

Pengertian Orientasi Kewirausahaan (skripsi dan tesis)

a) Orientasi kewirausahaan sebagai salah satu yang terlibat dalam
inovasi produk-pasar, melakukan sedikit usaha berisiko, dan pertama
kali datang dengan proaktif, inovasi, serta memberikan pukulan
untuk mengalahkan pesaing (Miller 1983 dalam Mustikowati,
Tyasari, 2014)
b) Orientasi kewirausahaan sebagai strategi benefit perusahaan untuk
dapat berkompetisi secara lebih efektif di dalam market place yang
sama (Porter, 2008)
c) Orientasi kewirausahaan merupakan kemampuan kreatif dan inovatif
yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang
menuju kesuksesan. inovatif mengacu pada suatu sikap wirausahawan
untuk terlibat secara kreatif dalam proses percobaan terhadap gagasan
baru yang memungkinkan menghasilkan metode produksi baru
sehingga menghasilkan produk atau jasa baru, baik untuk pasar
sekarang maupun ke pasar baru (Sinarasri, 2013).
Orientasi kewirausahaan memegang peranan penting dalam
keberlangsungan usaha. Seorang wirausaha yang menjalankan Orinetasi
kewirausahaan memiliki sifat Inovatif, Proaktif dan Berani Mengambil Resiko.
Miller (1983) dalam Mustikowati, Tyasari (2014), menyatakan bahwa orientasi
kewirausahaan dapat ditentukan berdasarkan pada tiga dimensi, yaitu Inovatif,
Proaktif dan Berani Mengambil Resiko.
Nita Budhi (2011) menyebutkan bahwa orientasi kewirausahaan juga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Industri Kecil Menengah
(IKM). Orientasi kewirausahaan itu sendiri adalah kemampuan kreatif dan
inovatif yang dijadikan dasar dan sumber daya untuk mencari peluang menuju
kesuksesan.

Agency Theory ( Teori Kegunaan) (skripsi dan tesis)

Teori keagenan merupakan hubungan kontrak kerja antara pemilik
(prinsipal) dengan manajemen (agency). Teori keagenan merupakan hubungan
kontrak kerja antara prinsipal dan agen, dimana dalam dalam penelitian ini
prinsipal sebagai Industri Kecil Menengah dan agency sebagai agen pemasaran
yang bertugas untuk memasarkan produk yang telah dibuat oleh pengrajin di
Industri Kecil Menengah.
Jansen (1976) dan Meckling (1976) teori keagenan (agency theory)
merupakan hubungan agency yang muncul ketika satu orang atau lebih (prinsipal)
memperkerjakan orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa, kemudian
mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agen tersebut.

Financial Satisfaction(skripsi dan tesis)

Sahi (2013) mengemukakan bahwa financial satisfaction merupakan
kepuasan yang dirasakan individu berkaitan dengan berbagai aspek kondisi
keuangan mereka. Menurut Kim (1999), financial satisfaction adalah kepuasan
seseorang terhadap kondisi keuangan pribadi. Praag dan Carbonell (2001)
mengemukakan bahwa orang yang memiliki financial satisfaction adalah orang
yang merasa puas terhadap kondisi keuangan saat ini. Hira dan Mugenda
(1998) mengartikan kepuasan keuangan sebagai persepsi subjektif individu
pada kecukupan sumber daya keuangan yang dimiliki. Oleh karena itu,
kepuasan keuangan merupakan salah satu komponen dari kehidupan yang
ditandai dengan ketercukupan aset keuangan. Berpijak pada definisi tersebut,
tampak bahwa mencapai atau tidak mencapai kepuasan keuangan ditentukan
oleh bagaimana mengelola uang. Selain daripada itu, kepuasan keuangan
merupakan salah satu kewajiban bagi siapa saja untuk mewujudkannya.
Financial satisfaction dapat diukur melalui cara pandang seseorang
terhadap kepuasan dari income yang diterima, kemampuan mengatasi masalah
keuangan, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, level hutang yang
dimiliki, jumlah tabungan, ketersediaan uang untuk kebutuhan di masa depan,
serta tujuan hidup (Hira dan Mugenda, 1998). Penilaian financial satisfaction
dapat dilakukan secara objektif maupun secara subjektif. Penilaian secara
objektif yaitu melihat dari kondisi keuangan secara riil. Penilaian subjektif
merupakan penilaian dari dalam diri masing-masing individu dalam melihat
kondisi keuangan. Financial satisfaction dapat dinilai secara terpisah, yaitu
berdasarkan objektif saja atau berdasarkan subjektif saja, maupun secara
bersama-sama.
Menurut Tascano et al. (2006), tujuan kebahagian individu ialah untuk
memenuhi kebutuhan individu dan keinginan untuk membuat diri kita lebih
bahagia. Secara umum individu akan melakukan yang terbaik mengingat
situasi keuangan tertentu untuk memaksimalkan kebutuhan mereka. Untuk itu,
tingkat kepuasan yang berasal dari situasi financial yang diberikan akhirnya
akan menjadi penentu penting dari kebahagiaan individu. Oleh karena itu,
financial satisfaction dapat dilihat sebagai mediator antara pendapatan dan
kebahagiaan, karena kepuasan hidup dipengaruhi oleh banyak faktor selain
penghasilan, sedangkan financial satisfaction memiliki penghasilan input
utama. Penilaian secara subjektif masing-masing individu terhadap financial
satisfaction dinilai lebih akurat karena setiap individu dapat menilai kondisi
keuangan saat ini terhadap kondisi dimasa lalu, ekspektasi dimasa depan dan
standar sosial, dibandingkan melihat kondisi keuangan secara objektif saja.
Cara mengukur financial satisfaction disesuaikan terhadap sampel yang di uji.
Orang dapat mengevaluasi tingkat kesejahteraan yang berkaitan dengan
keadaan dan perbandingan kepada orang lain, pengalaman masa lalu dan
harapan masa depan. Faktor-faktor penentu kesejahteraan dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yang berbeda, yaitu atribut tujuan
(misalnya pendapatan, karakteristik pribadi dan jenis rumah tangga lainnya),
atribut yang dirasakan (misalnya kepuasan dengan standar hidup atau dengan
tabungan dan investasi sebagai indikator terkait atribut objektif), dan atribut
dievaluasi sebagai penilaian individu karakteristik keuangan dan non-keuangan
ketika dinilai terhadap standar perbandingan (misalnya aspirasi, harapan, dan
lain-lain).
B. Penelitian Terdahulu
Adapun beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini
antara lain adalah sebagai berikut:
1. Andrew dan Linawati (2014) dengan judul penelitian “Hubungan Faktor
Demografi dan Pengetahuan Keuangan dengan Perilaku Keuangan
Karyawan Swasta di Surabaya”. Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah perilaku keuangan, sedangkan variabel independen penelitian ini
adalah faktor demografi (jenis kelamin, pendidikan, dan pendapatan), serta
pengetahuan keuangan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis
korespondensi dan chi square. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara faktor demografi (jenis kelamin
dan pendapatan) serta pengetahuan keuangan terhadap perilaku keuangan
karyawan swasta di Surabaya. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan
perilaku keuangan.
2. Laily (2013) dengan judul penelitian “Pengaruh Literasi Keuangan
Terhadap Perilaku Mahasiswa Dalam Mengelola Keuangan”. Penelitian ini
menggunakan Path Analysis. Variabel dependen dari penelitian ini adalah
perilaku keuangan, sedangkan variabel independen dari penelitian ini adalah
jenis kelamin, usia, dan academic ability. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa literasi keuangan berpengaruh terhadap perilaku keuangan
mahasiswa.
3. Ida dan Dwinta (2010) dengan judul penelitian “Pengaruh Locus of Control,
Financial Knowledge, dan Income terhadap Financial Management
Behavior”. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah financial management
behavior, sedangkan variabel independen penelitian ini adalah locus of
control, financial knowledge, dan income. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh financial knowledge terhadap financial
management behavior. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak
terdapat pengaruh personal income dan locus of control terhadap financial
management behavior.
4. Herdijono dan Damanik (2013) dengan judul “Pengaruh Financial Attitide,
Financial Knowledge, Parental Income Terhadap Financial Management
Behavior”. Penelitian ini menggunakan tenik analisis chi square. Variabel
independen penelitian ini adalah financial Attitide, financial knowledge, dan
parental income, sedangkan variabel dependen adalah financial
management behavior. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa financial
Attitide, financial knowledge, dan parental income berpengaruh terhadap
financial management behavior.
C. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan pondasi utama dimana sepenuhnya
proyek penelitian itu ditujukan, hal ini merupakan jaringan hubungan antar
variabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan, dan diealaborasi dari
perumusan masalah yang telah di identifikasi melalui wawancara, observasi, dan
survey literature.
Sedangkan hubungan antara variabel bebas dan terikat merupakan
hubungan kausal (sebab-akibat), dan model hubungannya adalah variabel
penyebab sebagai variabel bebas dan variabel akibat sebagai variabel terikat,
sehingga yang akan diuji adalah bagaimana pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat. Secara teiro variabel bebas yang terdiri dari financial literacy dan
financial satisfaction di tingkatkan maka akan meningkatkan financial behavior.

Indikator Literasi Keuangan(skripsi dan tesis)

Literasi keuangan mencakup banyak aspek yang perlu diukur.
Literasikeuangan telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan
mendapatkan perhatian yang lebih, khususnya pada negara-negara maju. Istilah
literasi keuangan adalah kemampuan seorang individu untuk mengambil
keputusan dalam hal pengaturan keuangan pribadinya. Chen dan Volpe (1998)
dalam Margaretha (2015) membagi literasi keuangan menjadi empat aspek,
yaitu:
a. Pengetahuan keuangan dasar (basic financial knowledge) yang mencakup
pengeluaran, pendapatan, aset, hutang, ekuitas, dan risiko. Pengetahuan
dasar ini biasanya berhubungan dengan pengambilan keputusan dalam
melakukan investasi atau pembiayaan yang bisa mempengaruhi perilaku
seseorang dalam mengelola uang yang dimiliki.
b. Simpanan dan pinjaman (saving and borrowing), merupakan produk
perbankan yang lebih dikenal sebagai tabungan dan kredit. Tabungan
merupakan sejumlah uang yang disimpan untuk kebutuhan di masa
depan. Seseorang yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi
dibandingkan pengeluarannya akan cenderung menyimpan sisa uangnya
tersebut untuk kebutuhan di masa depan. Bentuk simpanan bisa berupa
tabungan dalam bank atau simpanan dalam bentuk deposito. Sedangkan
pinjaman (borrowing) atau disebut juga dengan kredit merupakan suatu
fasilitas untuk melakukan peminjaman uang dan membayarnya kembali
dalam jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
c. Proteksi atau asuransi (insurance) merupakan suatu bentuk perlindungan
secara finansial yang bisa dilakukan dalam bentuk asuransi jiwa, asuransi
properti, asuransi pendidikan, dan asuransi kesehatan. Tujuan dari
proteksi adalah untuk mendapatkan ganti rugi apabila terjadi hal yang
tidak terduga seperti kematian, kehilangan, kecelakaan, atau kerusakan.
Asuransi melibatkan pihak tertanggung untuk melakukan pembayaran
premi secara berkala dalam suatu waktu tertentu yang berguna sebagai
ganti polis yang menjamin perlindungan yang diperoleh oleh pihak
tertanggung.
d. Investasi merupakan suatu bentuk kegiatan penanaman dana atau aset
dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan di waktu yang akan
datang. Bentuk investasi bisa berupa aset riil (properti atau emas), aset
keuangan (saham, deposito, obligasi, dan aset keuangan lainnya), dan
lain-lain. Keuntungan dari tiap jenis investasi berbeda-beda dan masingmasing juga disertai dengan risiko investasi yang berbeda-beda. Menurut
hukum investasi yang ada, semakin tinggi risiko investasi semakin tinggi
keuantungan yang ditawarkan (high risk high return).
Dalam The Social Research Centre (2011) dinyatakan bahwa perilaku
yang terkait dengan uang dapat menjadi indikator literasi keuangan seseorang.
Dalam analisis ini ditemukaan 5 perilaku yang menjadi indikator diantaranya:
a. Menjaga catatan keuangan, misalnya selalu memantau saldo rekening
dan pengeluaran rumah tangga.
b. Perencanaan masa depan, termasuk perilaku seperti merencanakan
pendapatan saat masa pensiun, menggunakan konsultan keuangan, penggunaaan asuransi.
c. Memilih produk keuangan, misalnya memperluas pengetahuan produk
keuangan dan jasa keuangan untuk berbelanja.
d. Staying informed (selalu terdepan terhadap perkembangan informasi),
misalnya orang orang yang menggunakan informasi keuangan untuk
membuat keputusan.
e. Pengawasan keuangan termasuk hal-hal seperti pengendalian situasi
keuangan yang umum dan hutang dan kemampuan untuk menabung.

Financial Literacy(skripsi dan tesis)

Menurut Garman dan Forgue (2010), financial literacy adalah
pengetahuan akan fakta, konsep, prinsip, dan teknologi agar setiap orang
bersikap cerdas terhadap uang. Seseorang yang memiliki financial literacy
dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah
keuangan seharihari dan membantu dalam mengambil keputusan keuangan.
Atkinson dan Messy (2011) mengemukakan bahwa financial literacy
merupakan sebuah kombinasi dari kesadaran, pengetahuan, kemampuan
perilaku, dan kebiasaan yang diperlukan untuk mengambil keputusan keuangan
yang tepat dan pada akhirnya dapat mencapai kondisi keuangan yang
memuaskan. Financial literacy menekankan pada pentingnya menerapkan
pengetahuan dan kemampuan di bidang keuangan dalam pengambilan
keputusan keuangan.
Menurut Remund (2010), financial literacy memiliki hubungan dengan
kemampuan seseorang dalam mengelola uang. Definisi financial literacy
terbagi menjadi dua bagian yaitu, definisi secara konseptual dan definisi secara
operasional. Definisi secara operasional digunakan untuk menjelaskan konsep
financial literacy agar lebih mudah diukur. Definisi operasional dibagi menjadi
empat golongan, yaitu penganggaran, tabungan, pinjaman, dan investasi.
Definisi secara konseptual dibagi menjadi lima bagian, yaitu:
a. Kemampuan dalam memahami konsep keuangan, sehingga financial
literacy yang dimiliki dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan
keuangan.
b. Kemampuan mengatur keuangan pribadi, dengan menggunakan financial
literacy yang dimiliki untuk melakukan kegiatan keuangan seperti
melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran.
c. Kemampuan dalam mengambil keputusan yang tepat, menggunakan
financial literacy yang dimiliki.
d. Melakukan perencanaan keuangan secara efektif untuk kebutuhan
keuangan dimasa depan, financial literacy yang dimiliki digunakan untuk
merencanakan investasi keuangan (Remund, 2010).
Laily (2013) mengemukakan bahwa pengetahuan keuangan adalah
kecerdasan dan kemampuan seseorang dalam mengelola keuangannya.
Pengetahuan keuangan mencakup pengetahuan yang terkait masalah keuangan,
seperti pengenalan mengenai lembaga jasa keuangan, apa saja produk dan jasa
keuangan, fitur-fitur yang melekat pada produk dan jasa keuangan, manfaat
dan resiko dari produk dan jasa keuangan, serta hak dan kewajiban sebagai
konsumen pengguna jasa keuangan. Selain itu, pengetahuan keuangan juga
mencakup kemampuan dan keterampilan bagaimana caranya menghitung
bunga, hasil investasi, denda dan sebagainya.
Menurut Lusardi dan Mitchell (2007), financial literacy mencakup
empat konsep keuangan, yaitu:
a. Pengetahuan umum keuangan
Pengetahuan tentang keuangan mencakup pengetahuan keuangan
pribadi, yakni bagaimana mengatur pendapatan dan pengeluaran, serta
memahami konsep dasar keuangan. Konsep dasar keuangan tersebut
mencakup perhitungan tingkat bunga sederhana, bunga majemuk, pengaruh
inflasi, opportunity cost, nilai waktu uang, likuiditas suatu aset, dan lainlain.
b. Pengetahuan mengenai manajemen uang (money management)
Konsep money management mencakup bagaimana setiap individu
dapat mengelola dan menganalisis keuangan pribadi mereka. Pemahaman
literasi keuangan yang baik memberikan praktik keuangan yang baik pula
pada pengelolaan keuangan setiap individu. Dalam hal ini, setiap individu
juga diarahkan tentang bagaimana menyusun anggaran dan membuat
prioritaspenggunaan dana yang tepat sasaran.
c. Pengetahuan mengenai tabungan dan investasi
Tabungan merupakan akumulasi dana berlebih yang diperoleh
dengan sengaja mengkonsumsi sedikit dari pendapatan, sedangkan investasi
adalah menyimpan atau menempatkan uang agar bisa bekerja sehingga
dapat menghasilka uang yang lebih banyak (Garman dan Forgue, 2010).
Dalam pemilihan tabungan, ada enam faktor yang perlu dipertimbangkan,
yaitu: tingkat pengembalian (persentase kenaikan tabungan), inflasi,
pertimbangan pajak, likuiditas (kemudahan dalam menarik dana jangka
pendek tanpa kerugian atau dibebani fee), kemanan (ada tidaknya proteksi
terhadap kehilangan uang jika bank mengalami kesulitan keuangan), dan
pembatasan-pembatasan dari fee, yaitu penundaan atas pembayaran bunga
yang dimasukkan dalam rekening dan pembebanan fee suatu transaksi
tertentu untuk penarikan deposito.
d. Pengetahuan mengenai risiko
Cara menangani suatu risiko akan berpengaruh terhadap keamanan
finansial di masa yang akan datang. Salah satu cara cepat yang dapat
menanggulangi risiko tersebut yaitu dengan mengasuransikan aset ataupun
hal-hal beresiko. Literasi keuangan sangat diperlukan dalam memilih
asuransi aset sebagai pengelola risiko tersebut dan menghindari risiko
tambahan yang mungkin akan terjadi.

Financial Behavior(skripsi dan tesis)

Financial behavior mempelajari bagaimana manusia secara actual
berperilaku dalam sebuah penentuan keuangan, khususnya mempelajari
bagaimana psikologi mempengaruhi keputusan keuangan, perusahaan dan
pasar keuangan. Kedua konsep yang diuraikan secara jelas menyatakan bahwa
perilaku keuangan merupakan suatu pendekatan yang menjelaskan bagaimana
manusia melakukan investasi atau berhubungan dengan keuangan dipengaruhi
oleh faktor psikologi (Wicaksono dan Divarda, 2015).
Perilaku keuangan menjadi gambaran cara individu berperilaku ketika
dihadapkan dengan keputusan keuangan yang harus dibuat. Perilaku keuangan
juga dapat diartikan sebagai suatu teori yang didasarkan atas ilmu psikologi
yang berusaha memahami bagaimana emosi dan penyimpanan kognitif
mempengaruhi perilaku investor. Di tengah perkembangan ekonomi global saat ini, setiap individu harus dapat menjadi konsumen yang cerdas untuk dapat mengelola keuangan pribadinya dengan cara membangun melek finansial yang mengarah pada perilaku keuangan yang sehat. Kendali diri merupakan perilaku
keuangan yang sangat bermanfaat bila dipahami dan dapat diterapkan di
kehidupan seharihari (Lubis, et al., 2013).
Perilaku keuangan berhubungan dengan tanggung jawab keuangan
seseorang terkait dengan cara pengelolaan keuangan. Tanggung jawab
keuangan merupakan proses pengelolaan uang dan asset yang dilakukan secara produktif.

Pengelolaan uang adalah proses menguasai dan menggunakan aset keuangan. Ada beberapa elemen yang masuk ke pengelolaan uang yang efektif, seperti pengaturan anggaran dan menilai pembelian berdasarkan kebutuhan.
Aktivitas utama dalam pengelolaan uang adalah proses penganggaran.
Anggaran bertujuan untuk memastikan bahwa individu mampu mengelola
kewajiban keuangan secara tepat waktu dengan menggunakan penghasilan
yang diterima dalam periode yang sama (Ida dan Dwinta, 2010).
Ricciardi (2005) menyatakan bahwa financial behavior merupakan
suatu disiplin ilmu yang didalamnya melekat interaksi berbagai disiplin ilmu
dan terus menerus berintegrasi sehingga dalam pembahasannya tidak bisa
dilakukan isolasi. Financial behavior dibangun oleh berbagai asumsi dan ide
dari perilaku ekonomi. Keterlibatan emosi, sifat, kesukaan, dan berbagai
macam hal yang melekat dalam diri manusia sebagai makhluk intelektual dan
sosial akan berinteraksi melandasi munculnya keputusan melakukan suatu
tindakan.
Chinen dan Endo (2012) menyatakan bahwa individu yang memiliki
kemampuan untuk membuat keputusan yang benar tentang keuangan tidak
akan memiliki masalah keuangan di masa depan dan menunjukkan perilaku
keuangan yang sehat serta mampu menentukan prioritas kebutuhan. Perilaku
keuangan yang sehat ditunjukkan oleh aktifitas perencanaan, pengelolaan serta pengendalian keuangan yang baik.
Perilaku keuangan yang baik digambarkan dengan memiliki perilaku
yang efektif seperti menyiapkan catan keuangan, dokumentasi pada arus kas,
perencanaan biaya, membayar tagihan listrik, mengendalikan penggunaan
kartu kredit, serta merencanakan tabungan (Zaimah, et al., 2010). Perilaku
keuangan berasal dari ekonomi neoklasik. Homo economicus adalah model
perilaku ekonomi manusia yang sederhana mengasumsikan bahwa prinsipprinsip kepentingan pribadi sempurna, rasionalitas yang sempurna, dan
informasi yang sempurna mengatur keputusan ekonomi individu (Pompian,
2010). Menurut Dew dan Xiao (2011), financial behavior mencakup tiga
dimensi keuangan, yaitu:
a. Consumption
Konsumsi adalah pengeluaran atas berbagai barang dan jasa.
FinancialBehavior seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia melakukan
kegiatan konsumsinya seperti apa yang dibeli seseorang dan mengapa dia
membelinya (Ida dan Dwinta, 2010).
b. Cash-flow management
Arus kas adalah indikator utama dari kesehatan keuangan yaitu
ukuran kemampuan seseorang untuk membayar segala biaya yang
dimilikinya, manajemen arus kas yang baik adalah tindakan
penyeimbangan, masukan uang tunai dan pengeluaran. Cash flow
management dapat diukur dari apakah seseorang membayar tagihan tepat
waktu, memperhatikan catatan atau bukti dan membuat anggaran keuangan
dan perencanaan masa depan (Hilgert dan Hogart, 2003).
c. Saving and Investment
Tabungan dapat didefinisikan sebagai bagian dari pendapatan yang
tidak dikonsumsi dalam periode tertentu. Karena seseorang tidak tahu apa
yang akan terjadi di masa depan, maka uang harus disimpan untuk
mengantisipasi kejadian yang tidak terduga. Investasi yaitu mengalokasikan
atau menanamkan sumber daya saat ini dengan tujuan mendapatkan manfaat
di masa mendatang (Herdijono dan Damanik, 2013).

Perumusan Hipotesis(skripsi dan tesis)

Investor overconfidence karena keyakinan mereka tentang diri mereka
sendiri dan merasa bahwa mereka adalah investor yang lebih baik (Townsend,
Busenitz dan Arthur, 2010). Overconfidence memaksa investor untuk
berinvestasi dan ketika berinvestasi maka investor memiliki bias yang sulit
untuk diprediksi (Deaves, Luder dan Schroder, 2010). Di bidang keuangan
keputusan investasi membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kesadaran
Overconfidence
Optimisme
Keputusan Investasi stor tentang pasar, karena para investor lebih dipengaruhi oleh overconfidence yang memiliki pengalaman kurang tentang keputusan investasi
(Kida, Kimberly, Moreno & Smith, 2010). Overconfidence terkadangmenarik
investor dalam persepsi bahwa mereka kuat dan bisa melakukan segala sesuatu
(Fast, Sivanathan, Mayar & Galinsky, 2011) dan pengetahuan mereka harus
mengharuskan untukberinvestasi (Graham, Campbell & Harvey,
2009).Overconfidence memiliki dampak positif signifikan terhadap keputusan
investasi (Ullah et al, 2017). Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat
disimpulkan bahwa hipotesa sebagai berikut
Orang yang optimis ketika memiliki waktu hingga batas tertentu dengan
situasi dan hasil dari keputusan mereka diambil bersamaan dengan risiko
(Bracha dan Brown, 2012). Jika investor menerima kembali apa yang harapkan
maka akan optimis di masa depan dengan saham perusahaan tersebuttetapi jika
harapan mereka tidak memenuhi maka tidak akan berinvestasi di perusahaan
tersebut (Magnuson, 2011). Optimisme terkait secara positif signifikan dengan
keputusan investasi (Ullah et al, 2017). Investor yang optimisme mengabaikan
risiko, sebagai harga model aset menyatakan bahwa semakin tinggirisiko
makareturnyang diterima juga tinggi. Para investor optimis memprediksi
tentang masa depan atas dasar pengalaman bukan kinerja saham masa lalu
(Klein & Larsen, 2010), untuk berinvestasi dengan dasar kinerja saham masa
lalu maka hasil dapat bervariasi antara harapan dan di sisi lainpengalaman.

Rerangka Konseptual(skripsi dan tesis)

Aset model harga menunjukkan hubungan antara risiko dan
returnmenyatakan bahwa jika seseorang mengambil risiko tinggi juga memiliki
kemungkinan return yang tinggi juga.Dalam konteks perilaku keuangan
melakukan kegiatan keputusan investor yang dipengaruhi oleh kognitif dan
bias emosional. Bias ini, yang sebagian investor mungkin salah dan dapat
mempengaruhi keputusan mereka overconfidence dan optimisme. Bias ini
muncul karena faktor psikologis bukan karena perilaku ekonomi investor itu
sendiri dan juga karena banyak informasi atau sumber informasi tentang pasar.
Investor rentan terhadap bias overconfidence atas keputusan investasi karena
sebagian besar waktu dan uang yang dikeluarkan untuk mengumpulkan
berbagai macam informasi (Ullah et al, 2017). Bias optimisme secara positif
terkait dengan keputusan investasi karena investor mengabaikan risiko sebagai
aset model harga menyatakan bahwa semakin tinggi risiko semakin tinggi
retunrn yang akan diterima (Ullah et al, 2017). Di bidang keuangan keputusan
investasi membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kesadaran investor
tentang pasar, karena para investor lebih dipengaruhi oleh sifat overconfidence
yang memiliki pengalaman kurang tentang keputusan investasi (Kida,
Kimberly, Moreno & Smith, 2010).

Aspek-Aspek Optimisme(skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa aspek dalam individu memandang suatu
peristiwa atau masalah berhubungan erat dengan gaya pejelasan /
explanatory style (Seligman, 2008) :
1. Permanence
Permanence merupakan gaya penjelasan yang bersifat
sementara (temporary) dan menetap (permanance) untuk
menggambarkan bagaimana individu melihat peristiwa
berdasarkan waktu. Orang-orang yang pesimis melihat
peristiwa yang buruk sebagai sesuatu yang menetap dan
mereka cenderung menggunakan kata-kata “selalu” dan “tidak
pernah” sedangkan orang optimis sebaliknya mamandang
peristiwa buruk itu bersifat sementara.
2. Pervasif (spesifik versus universal)
Gaya penjelasan peristiwa ini berkaitan dengan ruang
lingkup peristiwa tersebut, yang meliputi universal
(menyeluruh) spesifik (khusus). Orang yang optimis bila
dihadapkan pada kejadian yang buruk akan membuat
penjelasan yang spesifik dari kejadian ini, bahwa hal buruk
terjadi diakibatkan oleh sebab-sebab khusus dan tidak akan
meluas kepada hal-hal yang lain.
3. Personalization
Merupakan gaya penjelasan masalah yang berkaitan
dengan sumber dari penyebab kejadian tersebut, meliputi dari
internal (dari dalam dirinya) dan eksternal (dari luar
dirinya).Saat hal buruk terjadi, seseorang bisa menyalahkan
dirinya sendiri (internal) atau menyalahkan orang lain atau
keadaan (eksternal)

Optimisme(skripsi dan tesis)

 

Optimisme merupakan bias di mana investor mengambil risiko dan
mengasumsikan masa depan yang menguntungkan, sukses dan mengabaikan
kegagalan (Ullah et al, 2017). Optimisme diusulkan sebagai saluran
perantara antara persepsi pengembalian portfolio masa lalu dan keputusan
keuangan (Khan et al, 2017). Individu optimis saat menghadapi kesulitan
akan terus berusaha mencapai tujuan dan akan menyesuaikan diri dengan
situasi yang dihadapi. Individu yang optimis dan pesimis, berbeda caranya
dalam mengatasi masalah dan menghadapi tantangan, cara dan hasil yang
diperoleh dalam menyelesaikan kesulitan yang dihadapi. Optimis ketika
menghadapi tantangan akan menghadapinya dengan percaya diri dan gigih,
meskipun kemajuan dalam menyelesaikan tantangan tersebut lambat karena
mereka percaya kesulitan dapat ditangani. Berbeda dengan optimis, pesimis
cenderung akan menyerah ketika menghadapi kondisi yang sulit dan
menantang, selain itu mereka juga cenderung memiliki perasaan negatif dan
membayangkan kalau suatu kejadian yang buruk akan terjadi.
Investor yang optimisme akan termotivasi dalam keputusan investasi
dengan berpikir positif tentang masa depan mereka dan percaya bahwa
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
investasi akan memberikan hasil positif dimasa depan (Schmitt et al, 2013).
Jika investor menerima return sesuai dengan yang diharapkan maka investor
akan optimisme di masa depan pada perusahaan saham tersebut tetapi jika
harapan mereka tidak terpenuhi maka mereka tidak akan menginvestasikan
uang mereka pada perusahaan tersebut (Magnuson, 2011).

Overconfidence(skripsi dan tesis)

Overconfidence merupakan perasaan percaya diri secara berlebihan
(Wulandari dan Iramani, 2014). Overconfidence akan membuat investor
ketika berinvestasi pada saham yang sama akan melebih-lebihkan aspek
positif dari keputusan yang dibuat (Ullah et al, 2017). Overconfidence
menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar dalam
pengambilan untuk berinvestasi. Dengan kata lain investor yang
overconfidence lebih memandang suatu risiko itu rendah dan sebaliknya,
investor yang tidak overconfidence lebih memandang suatu risiko itu tinggi
(Wulandari dan Iramani, 2014). Investor overconfidence cenderung
berinvestasi pada saham yang familiar dan diversifikasi pada saham lebih
sedikit. Pria cenderung overconfidence dibandingkan wanita (Ritter, 2003).
Overconfidence menunjukkan metode satu sisi terhadap pandangan pada
suatu keadaan tertentu atau menilai lebih kemampuan yang dimiliki. Bias ini
dapat berakibat investor underestimate terhadap risiko yang diambil karena
terlalu yakin akan memenangkan pasar dan menghasilkan return yang besar
(Virigineni dan Rao, 2017).
Di bidang keuangan keputusan investasi membutuhkan lebih banyak
pengalaman dan kesadaran investor tentang pasar saham, karena investor
lebih dipengaruhi oleh bias overconfidence yang memiliki pengalaman
kurang tentang keputusan investasi (Kida et al, 2010). Menurut Jiangouxu
(2012), ketika harga saham meningkat investor akan overconfidence untuk
membeli saham tersebut dan ketika harga saham turun maka investor kurang
overconfidence untuk membeli saham sehingga keputusan investasi terkait
dengan kondisi pasar. Investor yang overconfidence memiliki keyakinan
bahwa mereka kuat dan bisa melakukan segala sesuatu dengan pengetahuan
yang dimiliki untuk berinvestasi (Fast et al, 2011).

Instrumen Pasar Modal(skripsi dan tesis)

Pasar modal adalah Kegiatan yang berkenaan dengan penawaran
umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek
yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek
(UU Pasar Modal No. 8 Tahun 1995). Adapun instrumen dalam pasar modal
diantaranya adalah:
1. Saham
Saham merupakan bentuk kepemilikan yang paling murni dan
paling dasar (Gitman dan Zutter, 2015). Menerbitkan saham merupakan
salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan
perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi
yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan
tingkat keuntungan yang menarik. Dengan menyertakan modal tersebut,
maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim
atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS).Saham dibagi menjadi 2 yaitu (Gitman dan Zutter,
2015) :
a. Common Stockmerupakan pemegang saham biasa yang artinya
sebagai pemilik residu karena menerima dividen setelah semua
klaim lain atas pendapatan perusahaan dan aset perusahaan telah
terpenuhi (Gitman dan Zutter, 2015).
b. Preferred Stock merupakan suatu bentuk kepemilikan khusus yang
memiliki dividen periodik tetap yang harus dibayar sebelum
pembayaran dividen kepada pemegang saham biasa (Gitman dan
Zutter, 2015).
Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan
membeli atau memiliki saham (Mudjiyono,2012):
a. Dividen
Dividen merupakan distribusi kas secara periodik kepada
pemegang saham perusahaan.
b. Capital Gain
Capital gain merupakan jumlah dimana harga suatu aset
melebihi harga beli aset (Gitman dan Zutter, 2015).
Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara
lain(Mudjiyono,2012):
a. Capital Loss
Capital loss merupakan harga jual saham lebih rendah
dibandingkan harga beli.
b. Risiko Likuidasi
Perusahaan yang sahamnya dimiliki dan dinyatakan
bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut
dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham
mendapaat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban
perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan
perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan
kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi
secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun
jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang
saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut.
2. Obligasi
Obligasi merupakan instrumen hutang jangka panjang yang
digunakan oleh bisnis dan pemerintah untuk mengumpulkan sejumlah
uang, umumnya dari kelompok pemberi pinjaman (Gitman dan Zutter,
2015). Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang
dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan
untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan
melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak
pembeli obligasi tersebut (www.idx.com).
Karakteristik Obligasi (www.idx.com) :
1. Nilai Nominal (Face Value)merupakan nilai pokok dari suatu
obligasi yang diterima saat jatuh tempo oleh pemegang obligasi.
2. Coupon Interest rate merupakan persentase nilai nominal obligasi
yang akan dibayarkan setiap tahun, biasanya dalam dua
pembayaran/semiannual yang sama, seperti bunga (Gitman dan
Zutter, 2015).
3. Maturity date adalah waktu dimana pemegang obligasi
mendapatkan kembali nilai nominal obligasi yang dimilikinya.
4. Penerbit / Emiten (Issuer) merupakan perusahaan yang
menerbitkan obligasi.
3. Reksa Dana
Reksa Dana diartikan sebagai wadah yang dipergunakan untuk
menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya di
investasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi (Undangundang nomor 8 tahun 1995 pasal 1 ayat 27). Reksa Dana (mutual fund)
menjelaskan bahwa pemilik menitipkan uang kepada pengelola
reksadana (manajer investasi) untuk digunakan sebagai modal
berinvestasi di pasar uang atau pasar modal (Mudjiyono, 2012). Ada
tiga hal yang terkait dari definisi tersebut, pertama, adanya dana dari
masyarakat pemodal. Kedua, dana tersebut diinvestasikan dalam
portofolio efek, dan ketiga, dana tersebut dikelola oleh manajer
investasi. Dengan demikian, dana yang ada dalam Reksadana
merupakan dana bersama para pemodal, sedangkan manajer investasi
adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana tersebut.

Risiko(skripsi dan tesis)

Risiko merupakan ukuran ketidakpastian atas tingkat pengembalian yang dapat dari suatu investasi atau variabilitas dari tingkat pengembalian atas
suatu aset (Gitman dan Zutter, 2015). Risk Tolerance adalah toleransi yang
diberikan investor terhadap risiko yang akan diterima (Wulandari dan
Iramani, 2014). Tinggi rendahnya toleransi risiko seseorang sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, pendapatan dan
kekayaan, pengalaman dan pendapatan atas investasi. Dengan risk tolerance
yang tinggi seseorang akan cenderung mengambil keputusan yang lebih
berani dibandingkan dengan oran dengan tingkat risk tolerance yang
rendah. Berdasarkan hasil penelitian Wulandari dan Iramani (2014) risk
tolerance berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan investasi.
Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa investor yang memiliki risk
tolerance tinggi cenderung akan memilih investasi saham, sedangkan
investor yang memiliki risk tolerance rendah cenderung akan memilih
keputusan investasi pada deposito.
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Setiap orang bereaksi terhadap risiko dengan cara yang berbeda. Para
ekonom menggunakan tiga kategori untuk menggambarkan bagaimana
investor merespon risiko (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Risk Averse
Risk averse merupakan sifat investor yang mencari keuntungan lebih
tinggi atas pengambilan risiko yang lebih tinggi.
2. Risk Neutral
Risk neutral merupakan sifat investor yang memilih investasi dengan
tingkat keuntungan yang lebih tinggi tanpa melihat risiko.
3. Risk Seeking
Risk seeking merupakan sifat investor dimana investor memilih
investasi yang memiliki risiko lebih tinggi meskipun tingkat
pengembaliannya rendah.
Risiko dapar dibagi menjadi dua yaitu (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Systematic risk
Systematic risk merupakan risiko yang berkaitan dengan perusahaan
yang terjadi pada pasar secara keseluruhan seperti inflasi, perubahan
suku bunga, kebijakan ekonomi secara menyeluruh dan perubahan
harapan investor terhadap perkembangan ekonomi.
2. Unsystematic risk
Unsystematic risk merupakan risiko yang tidak terkait dengan
perubahan pasar secara keseluruhan, dan terjadi karena karakteristik
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
perusahaan yang mengeluarkan sekuritas seperti kondisi lingkungan
kerja, kemampuan manajerial dan kebijakan investasi.

 Investasi dan Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Investasi merupakan kegiatan di mana orang menginvestasikan uang
untuk tujuan mendapatkan tambahan uang di masa depan (Ullah et al,
2017). Kegiatan investasi bertujuan untuk memperoleh tingkat
pengembalian atau pendapatan dimasa mendatang (Puspitaningtyas dan
Kurniawan, 2012). Untuk memperoleh penghasilan dalam bentuk dividen
dan nilainya diharapkan meningkat dimasa mendatang investor dapat
melakukan pembelian saham yang merupakan salah satu kegiatan investasi.
Capital gain dan dividen yield merupakan tingkat pengembalian investasi
pada saham. Tingkat pengembalian ini menjadi indikator untuk
meningkatkan kesejahteraan bagi para investor. Investor mengharapkan
investasi yang dilakukan dapat memperoleh tingkat pengembalian sebesarbesarnya dengan tingkat risiko tertentu dari waktu ke waktu
(Puspitaningtyas, 2012). Oleh karena itu, dalam pengambilan keputusan
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia investor berkepentingan untuk mempertimbangkan segala informasi yang
diterima.
Seperti telah disebutkan, keuntungan (return) yang diperoleh dari
kegiatan investasi pada umumnya berupa capital gain dan dividend.
Dividend yang diperoleh ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba. Sedangkan, capital gain dipengaruhi oleh fluktuasi harga
saham. Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dipengaruhi oleh
faktor mikro dan makro yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap
fluktuasi harga saham, serta akan memunculkan risiko investasi (Rahadjeng,
2011).
Keputusan investasi yang optimal hanya dapat dicapai apabila
investor mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat adalah
keputusan yang sesuai dengan pengaruh peristiwa terhadap nilai perusahaan.
Pengambilan keputusan heuristik merupakan aturan efisien yang diikuti oleh
orang-orang untuk membentuk penilaian dan membuat keputusan yang
biasanya melibatkan dan berfokus pada satu aspek dari masalah yang
kompleks dan mengabaikan aspek lainnya. Aturan-aturan ini bekerja dengan
baik dalam berbagai situasi, tetapi mungkin berbeda dari logika umum,
probabilitas atau teori pilihan rasional. Pada kenyataannya, investor
mengumpulkan informasi yang relevan dan rasional untuk dievaluasi, di
mana faktor-faktor mental dan emosional yang terlibat sulit untuk
dipisahkan. Faktor-faktor ini termasuk overconfidence, representativeness,
anchoring, herd behavior dan hindsight bias.
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Berdasarkan teori keputusan heuristik, proses pengambilan keputusan
investor akan dipengaruhi oleh lima bias yang berbeda berdasarkan pada
ketidakpastian dan risiko (Virigineni dan Rao, 2017) yaitu:
1. Overconfidencemenunjukkan metode satu sisi terhadap pandangan pada
suatu keadaan tertentu atau menilai lebih kemampuan yang dimiliki
(Virigineni dan Rao, 2017).Bias ini dapat berakibat investor
meremehkan risiko yang diambil karena terlalu yakin akan
memenangkan pasar dan menghasilkan return yang besar.
2. Representativeness menggambarkan suatu kesuksesan atas keputusan
yang di buat manajer cenderung akan berlanjut di masa depan juga.
Kecenderungan manajer dalam membuat keputusan, berdasarkan
pengalaman masa lalu dikenal sebagai stereotip/perwakilan
(Kannadhasan, 2009).
3. Anchoringterjadi ketika menggunakan sedikit data pengantar untuk
membuat penilaian yang dihasilkan. Pada situasi yang sama, penilaian
yang berbeda dibuat dan menyesuaikan pada anchor, dan ada
kecenderungan ke arah mengartikan data lain di sekitar anchor. Dalam
prediksi numerik, ketika sebuah nilai yang relevan tersedia, orang
membuat perkiraan mulai dari nilai awal yang disesuaikan untuk
menghasilkan jawaban akhir (Rekik dan Boujelbene 2014).
4. Herd behaviordisebabkan oleh kecenderungan individu yang menyalin
tindakan dari kelompok besar terlepas dari apakah mereka akan
membuat keputusan individual (Virigineni dan Rao, 2017). Tidak
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
adanya perbedaan dalam pembuatan pilihan, investor mengikuti pilihan
yang berbeda tanpa membuat masalah besar tentang konsekuensi dari
pemeriksaan khusus dan dasar spesialis di lapangan. Herd dapat
dianggap sebagai kecenderungan berlawanan dengan overconfidence
mengenai efisiensi informasi.
5. Hindsight biasdapat mengganggu kemampuan untuk membandingkan
informasi baru dengan harapan sebelumnya, sehingga akan
membingungkan harapan individu sebelumnya dengan informasi baru.
Karena hindsight bias, investor mungkin menderita overconfidence
sehingga merasa sebagai peramal yang lebih baik daripada yang
sebenarnya (Virigineni dan Rao, 2017).
Terdapat 2 klasifikasi investor pada saham yaitu (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Investor Individu
Investor individu merupakan investor yang memiliki jumlah saham
yang relatif kecil sehingga dapat memenuhi tujuan investasi pribadi.
2. Investor Institusional
Investor institusional merupakan investasi profesional seperti bank,
perusahaan asuransi, reksadana dan dana pensiun yang dibayar untuk
mengelola dan menyimpan surat berharga dalam jumlah besar atas
nama orang lain.
Terdapat 3 kelompok individu yang memiliki kepentingan
langsung/tidak langsung terhadap behaviral finance (Ricciardi dan Simon,
2000) :
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
1. Individual, yang terdiri dari small investor dan portfolio manager
2. Group, yang terdiri dari investor reksadana (portfolio)
3. Organization, misalnya financial institution dan non-profit entity
(Universitas).

Analisis Sektor (Industri) (skripsi dan tesis)

Analisis sektor (Industri) untuk mengetahui kondisi masing-masing
industri. Kita perlu mengetahui apa saja sektor industri yang paling
memiliki peluang untuk bertumbuh. Untuk mengetahui sektor mana yang sedang bertumbuh, maka harus mengetahui tahap-tahap pertumbuhan suatu
industri. Pada prinsipnya, industri selalu melalui 4 tahap pertumbuhan
hingga membentuk kurva Introduction adalah tahap awal pertumbuhan. Ditandai dengan investasi
awal yang besar, hutang yang besar, penjualan masih kecil. Competitor
masih sedikit atau tidak ada. Umumnya perusahaan dalam tahap ini
memiliki tingkat keuntungan yang rendah.
b. Growth, tahap dimana industri tumbuh lebih cepat. Keuntungan mulai
meningkat. Banyak perusahaan mulai berekspansi untuk meningkatkan
jumlah konsumen dan penjualan. Industri mulai dikenal dan mulai
menarik banyak minat competitor baru untuk masuk ke industri ini.
c. Maturity, pertumbuhan mulai stabil, demikin keuntungan. Ini adalah
puncak suatu industri. Ditahap ini tersisa pemain-pemain dominan di
pasar. Biasanya kompetisi sangat pesat dan mendorong kompetisi
harga.
d. Decline, ditahap ini pertumbuhan industri sudah mulai turun, ditandai
dengan turunya penjualan. Bial tidak ada inovasi baru, perusahaan akan
perlahan-lahan mati. Sedangkan bila ada inovasi, perusahaan akan
memulai siklusnya yang baru

Analisis Saham (skripsi dan tesis)

Ada dua teknik analisis yang biasa dipakai oleh investor untuk
mengetahui apakah suatu saham layak beli pada saat tertentu atau tidak.
a. Analisis fundamental
Analisis fundamental memperhitungkan berbagai faktor, seperti kinerja
perusahaan, analisis persaingan usaha, analisis industri, analisis
ekonomi, dan pasar mikro-makro dari sini dapat diketahui apakakah
perusahaan tersebut masih sehat atau tidak.
b. Analisis Teknikal
Analisis teknikal adalah teknik yang menganalisa fluktuasi harga saham
dalam rentan waktu tertentu. Dari pergerakan tersebut akan terlihat pola
tertentu yang dapat dipakai sebagai dasar untuk melakukan pembelian
atau penjualan. Pada dasarnya analisis teknikal digunakan untuk
menentukan apakah saham sudah Overbought (jenuh beli) atau Oversold
(jenuh jual)1

Bias Psikologi dalam Perilaku Keuangan(skripsi dan tesis)

Beberapa pola tentang perilaku keuangan secara bias psikologis
sebagai berikut (Ritter, 2003) :
1. Heuristik
Heuristik atau aturan praktis dalam proses pengambilan
keputusan lebih mudah, manusia cenderung membuat standar yang
sederhana untuk mengambil keputusan atau rule of thumb (Ritter,
2003).
2. Overconfidence
Investor overconfidence cenderung berinvestasi pada saham
yang familiar dan diversifikasi pada saham terlalu sedikit. Pria
cenderung lebih percaya diri dibandingkan wanita (Ritter, 2003)
3. Mental Accounting
Orang kadang memisahkan keputusan yang pada prinsipnya
harus digabungkan.
4. Framing
Framing adalah anggapan bahwa pola berfikir manusia dapat
dimanipulasi dengan cara konsep yang dikemas dengan menarik
kepada individu adalah hal yang penting.
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Reni Rezki Pratiwi
5. Representativeness
Investor terfokus pada investasi jangka panjang tanpa
memerhatikan investasi jangka pendek. Sehingga investor
cenderung overreact pada investasi jangka pendek.
6. Conservation
Investor cenderung lambat dalam terjadinya perubahan dan
ketika terjadi perubahan cenderung underract.

Pengertian Perilaku Keuangan(skripsi dan tesis)

Perilaku keuangan menawarkan perspektif teoritis alternatif pasar
keuangan (investor, harga aset dan perilaku pasar) berdasarkan
pandangan filosofis yang positif, yang tidak menganggap rasionalitas
penuh pelaku pasar (Ahmad et al, 2017). Dari perspektif akademik,
perilaku investor tidak hanya yang berkaitan dengan keuangan, tetapi
juga dipengaruhi oleh kombinasi variabel psikologis, sosiologis dan
keuangan. Keuangan tradisional mencoba menjelaskan proses
pengambilan keputusan atas dasar rasionalitas pasar dan para
pemainnya. Namun, investor bertindak tidak rasional, karena secara
tidak sengaja keputusan dipengaruhi oleh keadaan pikiran, emosi, teori
perdagangan, keyakinan dan interpretasi informasi. Bias perilaku yang
dilakukan mempengaruhi proses pengambilan keputusan investasi yang
sebenarnya (Virigineni dan Rao, 2017).
Perilaku keuangan telah berkembang untuk lebih memahami dan
menjelaskan bagaimana emosi dan kesalahan kognitif mempengaruhi
investor selama proses pengambilan keputusan. Suatu kemajuan baru
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Reni Rezki Pratiwi
dalam penelitian ekonomi dalam memahami bagaimana perasaan/emosi
mempengaruhi pembuatan keputusan individu secara umum, terutama
dalam kondisi risiko dan ketidakpastian (Dowling dan Lucey, 2008)

Jenis Deviden dan Pembayaranya (skripsi dan tesis)

Salah satu keuntungan memiliki saham adalah memperoleh deviden.
Pembayan deviden dapat dilakukan dalam bentuk tunai (cash) namun ada juga
pembayaran dividend dilakukan dalam bentuk pemberian saham, bahkan juga
dalam bentuk pemberian properti. Ada beberapa jenis deviden yang merupakan
realisasi dari pembayaran deviden, yaitu:
a. Deviden tunai (cash dividend), yaitu deviden yang dinyatakan dan
dibayarkan pada jangka waktu tertentu dan deviden tersebut berasal dari
dana yang diperoleh secara legal. deviden ini dapat bervariasi dalam jumlah
bergantung keppada keuntungan perusahaan.10
b. Deviden property (property dividend), yaitu”… a distribution of earning in
the form of property.”11 Suatu distribusi keuntungan perusahaan dalam
bentuk properi atau barang.
c. Deviden liquidasi (liquidating dividend) yaitu “ a distribution of capital
assets to shareholder is referred to as liquidating dividend.”12 Distribusi kekayaan perusahaan kepada pemegang saham dalam hal perusahaan
tersebut dilikuidasi

Faktor Penggerak Harga Saham (skripsi dan tesis)

Berikut adalah faktor-faktor penggerak harga saham:
 Kondisi Fundamental Emiten
Faktor fundamental adalah faktor yang berkaitan langsung dengan
kinerja emiten itu sendiri. Semakin baik kinerja emiten maka semakin
besar pengaruhnya terhadap kenaikan harga saham. Begitu juga
sebaliknya, semakin menurun kinerja emiten maka semakin besar
kemungkinan merosotnya harga saham yang diterbitkan dan
diperdagangkan. Selain itu keadaan emiten akan menjadi tolok ukur
seberapa besar risiko yang bakal ditanggung oleh investor. Saham-saham
yang bagus, alias saham blue chip, tentu memiliki risiko yang lebih kecil
jika dibandingkan jenis saham lainnya. Ini karena faktor fundamental
perusahaan penerbitnya sangatlah bagus. Baik itu kondisi keuangannya,
startegi bisnisnya, produknya, manajemennya hingga keunggulan
lainnya yang bersifat comparative advantage.
 Hukum Permintaan Dan Penawaran
Faktor hukum permintaan dan penawaran berada di urutan kedua
setelah faktor fundamental karena begitu investor tahu kondisi
fundamental perusahaan tentunya mereka akan melakukan transaksi baik
jual maupun beli. Transaksi transaksi inilah yang akan mempengaruhi
fluktuasi harga saham. Perlu diwaspadai juga bahwa kenaikan harga
karena permintaan yang banyak atau penawaran yang sedikit tidak akan berlangsung terus, sebab pada suatu titik harga saham akan menjadi
terlalu mahal.
 Tingkat Suku Bunga (SBI)
Faktor suku bunga ini penting untuk diperhatikan karena rata-rata
semua orang, termasuk investor saham, selalu mengharapkan hasil
investasi yang lebih besar. Dengan adanya perubahan suku bunga,
tingkat pengembalian hasil berbagai sarana investasi akan mengalami
perubahan. Ada yang cenderung naik, ada juga yang cenderung turun.
Yang mengalami kecenderungan naik, misalnya investasi di pasar uang
seperti tabungan, deposito, valuta asing, dan lain sebagainya.
 Valuta Asing
Dalam kehidupan perekonomian global, hampir tak ada satupun
Negara yang dapat menghindari perubahan perekonomiannya dari
pengaruh pergerakan valuta asing, khususnya terhadap pengaruh US
dolar. Karena dolar Amerika telah menjadi mata uang International maka
mau tidak mau setiap Negara harus mengandalkan mata uang ini.
 Dana Asing Di Bursa
Dana asing di bursa perlu diketahui karena memiliki dampak yang
sangat besar. Jika sebuah bursa dikuasai oleh investor asing maka ada
kecenderungan tranasaksi saham sedikit banyak tergantung pada investor
asing tersebut.
 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
IHSG lebih mencerminkan kondisi keseluruhan transaksi bursa
saham yang terjadi jika dibandingkan menjadi ukuran kenaikan maupun
penurunan harga saham. Karena bursa saham merupakan salah satu
indicator perekonomian sebuah Negara, maka diperlukan sebuah standar
perhitungan tentang transaksi yang terjadi dalam bursa sepanjang periode
tertentu. Perhitungan ini yang akan dipergunakan sebagai tolok ukur
kondisi perekonomian dan investasi sebuah Negara. Perhitungan IHSG
menggunakan rumus tertentu yang merupakan gabungan dari semua
transaksi saham sektoral yang ada. Untuk saham-saham yang memiliki
nilai tinggi dan volume yang besar tentu akan mempunyai bobot yang
besar.
 News Dan Rumors
News dan rumor disini adalah semua berita yang beredar di
tengah masyarakat yang menyangkut berbagai hal baik itu masalah
ekonomi, sosial, politik, keamanan hingga seputar rencana reshuffle
kabinet. Sedangkan, rumors adalah berita-berita yang belum tentu benar
yang terkadang juga terselip diantara news berbagai media massa

Teori Efficient-Market Hypothesis(EMH)(skripsi dan tesis)

Pasar saham efisien terdiri dari banyak investor rasional yang
bereaksi cepat dan objektif terhadap informasi baru. Efficient-market
hypothesis merupakan teori dasar yang menggambarkan perilaku pasar
semacam itu, secara khusus menyatakan bahwa (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Sekuritas biasanya berada dalam equilibrium, yang berati harganya
cukup murah dan hasil yang diharapkan sama dengan tingkat
pengembalian yang diterima.
2. Pada waktu tertentu, harga sepenuhnya mencerminkan semua
informasi yang tersedia tentang perusahaan dan sekuritasnya, dan
harga ini bereaksi dengan cepat.
3. Karena harga sahamnya tersedia lengkap dan harga terjangkau,
investor tidak perlu membuang waktu untuk mencari sekuritas yang
salah (undervalued atau overvalued).
Tidak semua pelaku pasar percaya pada efficient-market hypothesis.
Beberapa percaya bahwa bermanfaat untuk mencari undervalued atau
overvalued dari sekuritas agar tidak terpengaruh oleh pasar yang
inefisien. Hanya keberuntungan saja yang memungkinkan investor
mengantisipasi informasi baru dengan benar dan sebagai hasilnya dilihat
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Reni Rezki Pratiwi
dari return yang diterima, yaitu return yang lebih besar dari yang
seharusnya diharapkan dengan adanya risiko investasi. Mereka percaya
bahwa tidak mungkin pelaku pasar mendapatkan hasil yang abnormal
dalam waktu panjang.

Saham (skripsi dan tesis)

Saham adalah tanda bukti kepemilikan perusahaan. Pemilik saham
disebut juga pemegang saham (shareholder atau stockholder). Bukti bahwa
seorang atau suatu pihak dapat dianggap sebagai pemegang saham adalah
apabila seseorang atau suatu pihak sudah tercatat sebagai pemegang saham
dalam buku yang disebut daftar pemegang saham (DPS).6
Sedangkan dalam kamus istilah akuntansi saham adalah:
 Tanda bukti penyertaan kepemilikan modal/dana pada suatu
perusahaan.
 Kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan
dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap
pemegangnya.
 Persediaan yang siap untuk dijual.7
Nilai yang berhubungan dengan saham dapat dilihat dalam 4 (empat) konsep
yaitu:
a. Nilai nominal (par value) yaitu nilai kewajiban yang ditetapkan untuk
tiap-tiap lembar saham.
b. Nilai buku (book value) yaitu per lembar saham menunjukkan aktiva
bersih (net assets) per lembar saham yang dimiliki oleh pemegang
saham. Nilai pasar (market value) yaitu nilai yang ditentukan oleh pelaku pasar
berkaitan dengan permintaan dan penawaran saham bersangkutan di
pasar bursa.
d. Nilai intrinsik (intrinsic value) atau nilai fundamental (fundamental
value) yaitu nilai sebenarnya dari saham yang diperdagangkan

Investasi (skripsi dan tesis)

Menurut Relly dan Brown investasi adalah, “investment is the current
commitment of dollar for a period of time to derive future payment that will
compensate the investor for (1) the time the funds are committed, (2) the
expected rate of inflation, (3) the uncertainty of the future payment.”2 Sharpe
dkk., menjelaskan bahwa investasi dalam arti luas, berarti mengorbankan dolar
sekarang untuk dolar pada masa depan.3
Dalam aktivitas investasi pada umumnya dikenal dua bentuk yaitu:
a. Real Investment
Investasi nyata (Real Investment) secara umum melibatkan asset
berwujud seperti tanah, mesin-mesin, dan pabrik.
b. Financial Investment
Investasi keuangan (Financial Investment) melibatkan kontrak
tertulis, seperti saham biasa (common stock) dan obligasi (bond).4
Pada dua bentuk investasi ini Sharpe dkk., menegaskan bahwa pada
perekonomian primitif hampir semua investasi lebih ke investasi nyata,
sedangkan pada perekonomian modern, lebih banyak melakukan investasi keuangan. Sehingga kita bisa melihat salah satu ukuran ekonomi suatu negara tersebut adalah maju dimana keberadaan dan kualitas bursa efeknya diakui oleh para pebisnis.

Pengaruh risk perception terhadap pengambilan keputusan investasi(skripsi dan tesis)

Ketika ada suatu hal yang akan te rjadi maupun yang telah tejadi,
maka tiap orang dapat mengartikannya secara sama maupun berbeda.
Hal tersebut yang membentuk persepsi. Persepsi adalah proses
individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensor
mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka (Robbins and
Judge, 2008:175). Risk perception adalah proses saat seseorang
menginterpretasikan informasi mengenai risiko yang diperoleh.
Persepsi risiko dibentuk secara sosial, Williamson & Weyman (2005)
mendefiniskan persepsi risiko sebagai hasil dari banyak faktor yang
menjadi dasar dari perbedaan pengambilan keputusan terhadap
kemungkinan kerugian. Masalah persepsi dan kecenderungan
kemudian berdampak pada kesiapan individu untuk mengambil
risiko. Kesiapan tersebut mungkin tergantung baik pada
ketidakpastian hasil karena pengetahuan yang tidak sempurna atau
pada skala potensi kerugian atau keuntungan. Risk perception
memainkan peran penting dalam perilaku manusia khususnya terkait
dengan pengambilan keputusan dalam keadaan tidak pasti. Seseorang
cenderung mendefinisikan situasi berisiko apabila mengalami
kerugian akibat jeleknya suatu keputusan, khususnya jika kerugian
tersebut berdampak pada situasi keuangannya. Oleh karena risk
perception merupakan penilaian seseorang pada situasi berisiko,
maka penilaian tersebut sangat tergantung pada karakteristik
psikologis dan keadaan orang tersebut.

Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Pasar modal adalah tempat dimana berbagai pihak khususnya perusahaan
menjual saham (stock) dan obligasi (bond) dengan tujuan dari hasil penjualan
tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan dana atau untuk
memperkuat modal perusahaan.1 Husnan mendefinisikan pasar modal sebagai pasar untuk berbagai instrument keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yangbisa diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta.
Menurut Tandelilin pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang
memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara
memperjualbelikan sekuritas.3 Sedangkan menurut UU Pasar Modal No. 8 tahun 1995, pengertian pasar modal dijelaskan lebih spesifik tentang kegiatan yang bersangkutan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan.
Pasar modal menawarkan manfaat bagi pemerintah, dunia usaha, dan
invetor. Manfaat ini adalah:
a. Pasar modal adalah sumber pendapatan bagi Negara karena
perusahaan yang go public membayar pajak kepada Negara Bagi perusahaan, pasar modal menjadi alternatif penghimpunan
dana, selain dari sistem perbankan dari masyarakat/pemodal, untuk
membiayai kehidupan perusahaan
c. Pasar modal adalah leading indicator bagi trend ekonomi Negara
d. Pasar modal menciptakan iklim yang sehat bagi perusahaan, karena
menyebarkan pemilikan, keterbukaan dan profesionalisme
e. Menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik

Pengaruh Mental Accounting terhadap pengambilan keputusan investasi(skripsi dan tesis)

Mental accounting berfokus pada bagaimana seyogyanya seseorang
menyikapi dan mengevaluasi suatu situasi saat terdapat dua atau lebih
kemungkinan hasil, khususnya cara mengkombinasikan
kemungkinan-kemungkinan hasil tersebut.
Menurut Thaler (1985), terdapat tiga komponen dalam proses mental
accounting, yakni :
a. Persepsi terhadap hasil (outcomes) dan membuat serta
mengevaluasi keputusan
b. Menetapkan aktivitas untuk pencatatan yang spesifik.
c. Menentukan pembatasan periode waktu terhadap mental
accounting lainnya yang berkaitan.
Mental accounting melingkupi prilaku manusia secara luas, tidak
hanya mengenai hubungan dengan masalah finansial atau keuangan.
Dengan memahami mental accounting, orang diharapkan akan
memahami dengan lebih baik proses psikologis yang melandasi
seseorang dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan
ekonomi dan lainnya, termasuk keputusan Investasi dan Kinerja Investasi.

Pengaruh overconfidence terhadap pengambilan keputusan investasi(skripsi dan tesis)

Overconfidence adalah perasaan percaya diri secara
berlebihan. Overconfidence akan membuat investor menjadi
overestimate terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh investor itu
sendiri, dan underestimate terhadap prediksi yang dilakukan karena
investor melebih-lebihkan kemampuan yang dimiliki (Nofsinger,
2005:10). Overconfidence juga akan mempengaruhi investor dalam
berperilaku mengambil risiko. Investor yang rasional berusaha untuk
memaksimalkan keuntungan sementara memperkecil jumlah dari
risiko yang diambil (Nofsinger, 2005:15). Overconfidence juga dapat
menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar dalam
pengambilan keputusan untuk berinvestasi. Dengan kata lain orang
yang overconfidence lebih memandang suatu risiko itu rendah dan
sebaliknya, orang yang tidak overconfidence lebih memandang suatu
risiko itu tinggi.
H2 : Overconfidence berpengaruh terhadap pengambilan keputusan
investasi

Pengaruh regret aversion bias terhadap pengambilan keputusan investasi(skripsi dan tesis)

Experienced regret merupakan penyesalan yang ditimbulkan
akibat kesalahan di masa lalu akan mempengaruhi keputusan di masa
yang akan datang. Seorang investor yang mengalami kerugian di masa
lalu akan menimbulkan sikap konservatif sehingga akan
mempengaruhi keputusan investasi yang akan datang. Dalam
mengambil suatu keputusan investasi, para investor seringkali
berperilaku tidak rasional. Ada juga investor yang tidak terpengaruh
oleh experienced regret dalam pengambilan keputusan investasinya.
Semakin besar kerugian yang dialami, maka semakin besar pula
tingkat keberanian dalam mengambil risiko lebih besar.
Anticipated regret timbul apabila rencana investasi yang
dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Responden
dihadapkan pada rencana investasi yang hasil pilihan investasinya
tidak lebih baik dari hasil rencana investasi yang lain. Hal ini
menimbulkan penyesalan yang akan membuat seorang investor
menghindari konsekuensi yang timbul setelah mengambil keputusan
investasi yang salah. Tindakan untuk menghindari konsekuensi
tersebut disebut Anticipated regret. Ketidakpastian akan investasi di
masa depan memaksa para investor untuk melakukan analisis untuk
investasi yang akan dipilih dengan lebih cermat agar tidak terjadi
kerugian di masa yang akan datang.
Penelitian terdahulu tentang experienced regret yang
dilakukan oleh Kinnerson dan Bailey (2005), Loomies dan Sudgen
(1982) bahwa hasilnya adalah experienced regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi. Selain itu, penelitian
terdahulu tentang anticipated regret yang dilakukan oleh Bell (1982)
serta Wong dan Kwong (2007) bahwa anticipated regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi.
Dengan demikian diduga keputusan investasi yang akan
diambil oleh responden baik dari kelompok experienced regret
maupun anticipated regret akan berbeda secara signifikan jika kedua
regret tersebut berpengaruh terhadap keputusan investasi.
H1 :Terdapat pengaruh regret aversion bias terhadap
pengambilan keputusan investasi.

Keputusan Investasi(skripsi dan tesis)

Pengambilan keputusan menurut Goetsch dan Davis (1997)
sebagaimana yang dikutip oleh Supranto (2003) sebagai berikut:
decision making is the process of selecting one course of action from
among two or more alternatives. Pengambilan keputusan adalah
memilih salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang ada.
Menurut Tandelilin (2001) investasi adalah sejumlah komitmen atas
sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat
ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang
akan datang.
Dari kedua definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
keputusan investasi adalah hasil dari pemilihan sejumlah komitmen
atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada
saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa
yang akan datang.
Dalam melakukan proses investasi, sangat diperlukan perilaku
yang seharusnya seorang investor lakukan dalam membuat
keputusan investasi dalam berbagai macam asset (riil atau finansial).
Adapun proses investasi tersebut melalui beberapa tahapan menurut
Ahmad (1996), yaitu:
(1) dengan menentukan tujuan investasi
(2) melakukan analisis
(3) melakukan pembentukan portofolio
(4) melakukan evaluasi kinerja portofolio
(5) melakukan revisi kinerja portofolio.
Ada 3 hal yang menjadi tujuan utama melakukan investasi.
Pertama, adanya kebutuhan masa depan atau kebutuhan yang belum
mampu dipenuhi saat ini. Kedua, adanya keinginan untuk
menambah nilai aset dan melindungi nilai aset yang sudah dimiliki.
Ketiga, karena adanya inflasi (Pratomo dan Nugraha 2005:6).

Risk Perception(skripsi dan tesis)

Risk perception adalah proses ketika seseorang
menginterpretasikan informasi mengenai risiko yang diperoleh.
Persepsi risiko dibentuk secara sosial, Williamson & Weyman
(2005) mendefiniskan persepsi risiko sebagai hasil dari banyak
faktor yang menjadi dasar dari perbedaan pengambilan keputusan
terhadap kemungkinan kerugian.
Daniel (1998) berpendapat bahwa (risk perception) persepsi
risiko dapat meningkatkan jumlah pencarian informasi apabila aset
yang diinvestasikan rendah. Demikian juga Byrne (2005)
menunjukkan bahwa risiko dan pengalaman investasi cenderung
untuk menunjukkan hubungan yang positif dan pengalaman masa
lalu yang berhasil meningkatkan toleransi risiko investor. Chou,
Huang, & Hsu (2010) berpendapat bahwa informasi mempunyai
hubungan positif terhadap risk perception, sehingga semakin banyak
informasi yang diterima, maka persepsi risiko investor akan semakin
mempengaruhi tingkat return yang diharapkan. Chou et al. (2010)
menunjukkan bahwa investor yang memperoleh informasi dari
laporan pasar optimis memiliki risk perception yang lebih rendah

Mental Accounting(skripsi dan tesis)

Investor yang mempunyai mental accounting dalam
pengambilan keputusan saat bertransaksi ialah investor yang
mempertimbangkan cost dan benefit dari keputusan yang diambil
(Nofsinger, 2005:45). Dengan seperti itu investor merasa aman.
Dalam arti investor lebih aman dalam melakukan transaksi sehingga
bisa meminimalkan resiko karena adanya pertimbangan cost dan
benefit yang akan diperoleh dengan keputusan yang diambil
misalnya resiko terjadinya loss dalam jumlah yang besar. Indikator
yang digunakan yaitu, “dalam berinvestasi investor selalu
menghitung keuntungan yang akan diperoleh; dalam melakukan
investasi investor selalu menghitung biaya yang akan dikeluarkan”.
Proses pembelian barang dalam mental accounting dipandang
dari sisi laba dan rugi. Barang yang diperoleh dianggap sebagai laba,
sedangkan uang yang dibayarkan dianggap sebagai rugi. Namun,
hasil penelitian yang dilakukan oleh Kahneman and Tversky (1984)
dan Thaler (1985) menolak gagasan tersebut. Menurut mereka
seseorang memperoleh dua macam utilitas dari proses pembelian
tersebut, yaitu utilitas akuisisi dan utilitas transaksi. Utilitas akuisisi
mengukur nilai dari barang yang diperoleh dibandingkan dengan
harga barang tersebut. Utilitas akuisisi merupakan nilai yang
bersedia dibayar pembeli. Penilaian barang tersebut dianggap
sebagai hadiah yang diperoleh dikurangi dengan harga yang harus
dibayarkan. Sedangkan utilitas transaksi adalah mengukur nilai yang
disepakati. Nilai yang disepakati ini merupakan harga regular yang
bersedia dibayar untuk memperoleh suatu barang. Harga tersebut
merupakan perbedaan dari jumlah yang dibayar oleh pembeli
dengan harga yang sebenarnya diharapkan pembeli atas barang
tesebut. Konsep utilitas transaksi ini tidak berlaku dalam model
ekonimi standar karena konsumsi individu selalu sama dalam
kondisi apapun.

Overconfidence(skripsi dan tesis)

Overconfidence akan membuat investor menjadi overestimate
terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh investor itu sendiri, dan
underestimate terhadap prediksi yang dilakukan karena investor
melebih-lebihkan kemampuan yang dimiliki (Nofsinger, 2005:10).
Overconfidence juga akan mempengaruhi investor dalam
berperilaku mengambil risiko. Investor yang rasional berusaha
untuk memaksimalkan keuntungan sementara memperkecil jumlah
dari risiko yang diambil (Nofsinger, 2005:15). Overconfidence juga
dapat menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar
dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi.
Overconvidence atau sikap terlalu percaya diri berkaitan
dengan seberapa besar prasangka atau perasaan tentang seberapa
baik seseorang mengerti kemampuan mereka dan batas pengetahuan
mereka sendiri. Hal ini didukung oleh pernyataan Shefrin (2007)
yang dikutip sebagai berikut,
“overconfidence is a bias that pertains to how well people
understand their own abilities and the limits of their knowledge”.
Penyebab dari overconfidence yaitu kepercayaan diri yang
berlebihan bahwa informasi yang diperoleh mampu dimanfaatkan
dengan baik karena memiliki kemampuan analisis yang akurat dan
tepat, namun hal ini sebenarnya merupakan suatu ilusi pengetahuan
dan kemampuan dikarenakan adanya beberapa alasan seperti
pengalaman yang kurang dan keterbatasan keahlian mengintepretasi
informasi (Baker & Nofsinger 2002).
Sheffrin (2007) membagi overconfidence ini kedalam dua
kelompok, yaitu: (1) terlalu percaya diri akan kemampuan atau
overconfidence about ability dan (2) terlalu percaya diri akan
pengetahuan atau overconfidence about knowledge. Orang yang
terlalu percaya diri akan kemampuan mereka biasanya berpikir
bahwa seseorang merasa lebih baik dari pada yang sebenarnya.
Sedangkan orang yang terlalu percaya diri akan level
pengetahuannya sendiri biasanya berpikir bahwa orang tersebut
tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya diketahui. Sikap ini
tidak selalu berarti bahwa investor tidak peduli atau tidak kompeten,
masalahnya hanya terletak pada pemikiran bahwa orang tersebut
lebih pintar dan lebih baik.
Investor dengan overconfidence akan mengesampingkan
informasi yang didapat karena dia terlalu percaya pada keyakinan
sendiri. Investor menjadi terlalu yakin dan percaya diri pada
pandangan dan pengetahuan individu sehingga informasi lain yang
didapat tidak terlalu dihiraukan. Rasa percaya diri yang berlebihan
menyebabkan investor menaksir terlalu tinggi terhadap pengetahuan
yang dimiliki, menaksir terlalu rendah terhadap risiko dan melebihlebihkan kemampuan dalam hal melakukan kontrol atas apa yang
terjadi.

Regret Aversiosn Bias(skripsi dan tesis)

 

Regret aversion bias adalah keputusan untuk bertindak
menghindari kesalahan keputusan yang sama karena adanya rasa
takut menghadapi kerugian yang sama di dalam diri seseorang
(Yohnson, 2008). Para peneliti mengidentifikasikan regret aversion
bias dalam dua komponen, yaitu experienced regret dan
anticipated regret. Experienced regret merupakan suatu penyesalan
yang timbul dari kesalahan masa lalu (Kinerson dan Bailey, 2005).
Responden dihadapkan pada rencana investasi yang hasil pilihan
investasinya tidak lebih baik dari hasil rencana investasi yang lain.
Penyesalan yang akan membuat seorang investor menghindari
konsekuensi yang timbul setelah mengambil keputusan investasi
yang salah. Tindakan untuk menghindari konsekuensi tersebut
disebut anticipated regret.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kinerson dan Bailey
(2005) dan Yohnson (2008), variabel regret aversion bias dibagi
menjadi dua yaitu experienced regret dan anticipated regret.
Experienced regret didasarkan pada penelitian Loomes dan
Sudgen(1982). Sedangkan anticipated regret didasarkan pada
penelitian Bell (1982). Pada penelitian sebelumnya, hasil dari
penelitian yang dilakukan oleh Kinnerson dan Bailey (2005),
Loomies dan Sudgen (1982) adalah experienced regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi. Hasil ini bertentangan
dengan penelitian Yohnson (2008) bahwa experienced regret tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Selain itu,
hasil penelitian tentang anticipated regret yang dilakukan oleh
Kinnerson dan Bailey (2005) dan Yohnson (2008) tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Hasil ini
bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bell (1982)
serta Wong dan Kwong (2007) bahwa anticipated regret
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Secara
keseluruhan, regret aversion bias mempengaruhi keputusan
investasi. Namun, masing-masing komponen dari regret aversion
bias (experienced regret/anticipated regret) memiliki perbedaan
pengaruh terhadap keputusan investasi.

Prospect Theory(skripsi dan tesis)

Kahneman dan Tversky (2000) menjelaskan tentang prospect
theory yang berkaitan dengan ide bahwa manusia tidak selalu
berperilaku secara rasional. Keterlibatan emosi, kesukaan, sifat dan
berbagai macam hal yang melekat di dalam diri manusia sering
menyebabkan manusia tidak selalu berperilaku rasional dalam
mengambil sebuah keputusan. Tingkat kerugian yang dialami
dipandang oleh kebanyakan orang lebih menonjol dibandingkan
dengan tingkat keuntungan yang didapatkan dengan asumsi tingkat
kerugian dan keuntungan nilainya sama. Teori ini beranggapan
bahwa ada bias yang melekat dan pengaruh faktor – faktor
psikologis yang mempengaruhi pilihan seseorang pada kondisi
ketidakpastian.
Teori ini disebutkan juga teori pilihan rasional yang lebih
dikenal dengan pendekatan dengan ilmu politik dan sering mewakili
alternatif model dominan untuk menjelaskan tingkah laku. Secara
obyektif, teori ini tidak untuk menguji prediksi terhadap orang-orang
dengan model pilihan rasional. Sebaliknya, disediakan sebagai dasar
perbandingan untuk memeriksa nilai penjelasan dan prediksi yang
diberikan oleh teori prospek.

. Generasi Y(skripsi dan tesis)

Generasi Y adalah individu yang lahir pada tahun 1980-2000
(Meier, Austin, dan Crocker, 2010). Generasi ini lahir di era
perkembangan teknologi informasi dan dunia pendidikan sehingga
memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi
sebelumnya. Misalnya saja, generasi Y lebih memperhatikan aspek
work life balance dibandingkan generasi X (Meier, Austin, dan
Crocker, 2010). Masing-masing generasi ini memiliki karakteristik
yang berbeda. Generasi Y akan cenderung kritis saat akan
melakukan sesuatu. Fakta bahwa apa yang generasi Y akan lakukan
harus memiliki nilai tambah bagi mereka secara individu sehingga
apa yang generasi Y lakukan akan sesuai dengan apa yang mereka
harapkan. Menurut Solnet (2008) generasi yang disebut millenials
biasanya akan mengutamakan diri sendiri dan membutuhkan adanya
feedback, peghargaan dan pujian yang konstan dari atasan mereka.
Generasi Y memiliki harga diri yang tinggi, entrepreneurial dan
menginginkan pekerjaan yang memiliki arti sesegera mungkin serta
sangat antusias terhadap pekerjaan.

 Investasi(skripsi dan tesis)

Investasi merupakan penempatan sejumlah dana pada saat
ini dengan harapan dapat menghasilkan keuntungan di masa depan
(Halim, 2005). Dalam melakukan keputusan investasi, investor
memerlukan informasi-informasi yang merupakan faktor-faktor
penting sebagai dasar untuk menentukan pilihan investasi. Dari
informasi yang ada, kemudian membentuk suatu model
pengambilan keputusan yang berupa kriteria penilaian investasi
untuk memungkinkan investor memilih investasi terbaik di antara
alternatif investasi yang tersedia.
Beberapa produk investasi dikenal sebagai efek atau surat
berharga. Definisi efek adalah suatu instrumen bentuk kepemilikan
yang dapat dipindah tangankan dalam bentuk surat berharga,
saham/obligasi, bukti hutang (promissory notes), bunga atau
partisipasi dalam suatu perjanjian kolektif (Reksa dana), Hak untuk
membeli suatu saham (Rights), garansi untuk membeli saham pada
masa mendatang atau instrumen yang dapat diperjual belikan. Jenis
investasi ada dua, yaitu:
1. Investasi riil
Investasi yang memiliki wujud fisik / riil
a. Investasi tanah, diharapkan dengan bertambahnya populasi
dan penggunaan tanah; harga tanah akan meningkat di masa
depan.
b. Investasi pada tabungan deposito, diharapkan investor akan
mendapat untung dari suku bunga deposito.
c. Investasi pada emas, diharapkan investor akan mendapat
keuntungan dari peningkatan harga emas di pasar.
2. Investasi financial
a. Investasi pendidikan, dengan bertambahnya pengetahuan dan
keahlian diharapkan pencarian kerja dan pendapatan lebih
besar.
b. Investasi saham, diharapkan perusahaan mendapatkan
keuntungan dari hasil kerja atau penelitian.
c. Investasi instrumen mata uang asing, diharapkan investor akan
mendapatkan keuntungan dari menguatnya nilai tukar mata
uang asing terhadap mata uang lokal.
d. Investasi pada obligasi, diharapkan investor akan memperoleh
untung melalui tingkat suku bunga obligasi.
e. Investasi pada reksadana pendapatan tetap, diharapkan
investor akan mendapat keuntungan dari reksadana yang
memiliki pendapatan tetap.
f. Investasi pada reksadana pasar uang, ekuitas, campuran
pengembangan, indeks, dan terproteksi

Pekerjaan dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Pekerjaan secara umum didefinisikan sebagai sebuah kegiatan aktif yang
dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk
suatu tugas atau kerja yang menghasilkan sebuah karya bernilai imbalan dalam bentuk uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah pekerjaan dianggap sama dengan profesi.
Pekerjaan juga turut mempengaruhi seseorang untuk melakukan investasi
dan mengambil keputusan dalam berinvestasi. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam pekerjaan membuat orang tersebut overconfidence dalam mengambil keputusan.

Pendapatan dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi(skripsi dan tesis)

Menurut salah satu ahli yaitu Rollin (1999), pendapatan adalah kenaikan kotor
atau garis dalam modal pemilik yang dihasilkan dari penjualan barang dagangan,
pelayanan jasa klien, penyewaan harta, peminjaman uang, dan semua kegiatan
yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan. Pendapatan seorang investor juga
mempengaruhi investor tersebut dalam memilih jenis investasi, karena jika salah
memilih jenis investasi maka risiko yang diterima dapat dikatakan akan sangat
merugikan dirinya sendiri.

Usia dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi(skripsi dan tesis)

Usia merupakan satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau
makhluk baik yang hidup maupun yang mati.
Biasanya semakin lanjut usia, semakin takut akan risiko. Karena investor
yang berusia lanjut lebih memilih memikirkan hari tua yang menyenangkan
dibandingkan dengan memikirkan risiko yang disebabkan oleh investasi. Berbeda
dengan investor yang masih muda, mereka lebih berani menghadapi risiko karena
semakin tinggi risiko maka return yang diharapkan juga semakin besar.

Gender dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi(skripsi dan tesis)

Gender dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana individu yang lahir secara
biologis sebagai laki-laki atau perempuan yang kemudian memperoleh pencarian
sosial sebagai laki-laki atau perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan
feminitas yang sering didukung oleh nilai-nilai atau sistem dan simbol di
masyarakat yang bersangkutan. Gender termasuk salah satu aspek dari demografi
yang mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan investasi. Karena
seorang laki-laki biasanya lebih berani mengambil risiko dibandingkan wanita.
Sehingga aspek ini juga berpengaruh dalam pemilihan jenis investasi
seseorang.

Pengaruh Karakteristik Demografi Terhadap Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Karakteristik demografi sangatlah mempengaruhi suatu pemilihan jenis investor.
Gender berpengaruh terhadap perilaku dan pemilihan jenis investasi, investor
laki-laki cenderung lebih percaya diri (overconfidence) dibandingkan dengan
perempuan. Sehingga dijelaskan bahwa laki-laki lebih berani menanggung risiko
dalam melakukan investasi.
Bhandari dan Deaves (2006) melaporkan bahwa laki-laki lebih percaya diri
dibanding perempuan, dan semakin tinggi pendidikan dan pendapatan yang
dimiliki membuat investor cenderung overconfidence. Selain itu usia seorang
investor juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan, yaitu dengan
ditunjukkan bahwa investor yang masih muda lebih overconfidence dibanding
dengan yang sudah berusia lanjut. Memiliki jabatan yang tinggi dalam suatu
pekerjaan juga membuat seorang investor cenderung overconfidence dalam
pengambilan keputusan investasi (Barber dan Odean, 2001).

Instrumen Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Dalam berinvestasi di pasar modal terdapat beberapa instrumen yang umumnya
dimanfaatkan oleh investor dalam berinvestasi adalah sebagai berikut :
1. Saham
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), saham adalah tanda bukti
memiliki perusahaan dimana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang
saham (shareholder dan stockholder). Terdapat dua jenis saham yaitu
saham preferen dan saham biasa. Saham preferen (preferred stock) adalah
jenis saham yang memiliki hak terlebih dahulu untuk menerima laba dan
memiliki hak laba kumulatif. Saham biasa (common stock) adalah jenis
saham yang akan menerima laba setelah laba bagian preferen dibayarkan.
2. Obligasi
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), obligasi adalah tanda bukti
perusahaan memiliki utang jangka panjang kepada masyarakat yaitu diatas
3 tahun. Pihak yang membeli oblligasi disebut pemegang obligasi
(bondholder) dan pemegang obligasi akan menerima kupon sebagai
pendapatan dari obligasi yang dibayarkan setiap 3 atau 6 bulan sekali.
Pada saat pelunasan obligasi oleh perusahaan, pemegang obligasi akan
menerima kupon dan pokok obligasi.
3. Reksa Dana
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), dilihat dari segi perdagangan efek,
reksa dana adalah suatu produk yang diperdagangkan, sedangkan manajer
investasi sebagai pengelola produk tersebut.

Jenis-Jenis Investasi (skripsi dan tesis)

Menurut Senduk (2004:24), bahwa produk-produk yang tersedia di pasaran antara
lain :
1. Tabungan di bank
Dengan menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku
bunga tertentu yang besarnya mengikuti kebijakan bank yang
bersangkutan. Produk tabungan biasanya memperbolehkan kita
mengambil uang kapanpun yang kita inginkan.
2. Deposito di bank
Produk deposito hampir sama dengan produk tabungan. Bedanya,
dalam deposito tidak dapat mengambil uang kapanpun yang diinginkan,
kecuali apabila uang tersebut sudah menginap di bank selama jangka
waktu tertentu (tersedia pilihan antara satu, tiga, enam, dua belas,
sampai dua puluh empat bulan, tetapi ada juga yang harian). Suku
bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga tabungan.
Selama deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan
terpengaruh pada naik turunnya suku bunga di bank.
3. Properti
Investasi dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau
rumah. Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua, yaitu :
a. Menyewakan properti tersebut pada pihak lain sehingga mendapat
uang sewa.
b. Menjual properti tersebut dengan harga yang lebih tinggi.
4. Barang-barang koleksi
Contoh barang-barang koleksi adalah perangko, lukisan, barang antik,
dan lain sebagainya. Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada
barang-barang koleksi adalah dengan menjual koleksi tersebut kepada
pihak lain.
5. Emas
Emas adalah barang berharga yang dapat diterima di seluruh dunia
setelah mata uang asing dari negara-negara G-7 (sebutan bagi tujuh
negara yang memiliki ekonomi paling kuat, yaitu Amerika, Jepang,
Jerman, Inggris, Italia, Kanada, dan Perancis). Harga emas akan
mengikuti kenaikan nilai mata uang dari negara-negara G-7. Semakin
tinggi kenaikan nilai mata uang asing tersebut, maka semakin tinggi
pula harga emas. Selain itu harga emas biasanya berbanding searah
dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya semakin tinggi pula
harga emas. Seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan
inflasi itu sendiri.
6. Mata uang asing
Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi.
Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan
investasi dalam saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia
menganut sistem mengambang bebas (free float). Yaitu benar-benar
tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran. Di Indonesia
mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
7. Saham
Saham adalah kepemilikan atas sebuat perusahaan tersebut. Dengan
membeli saham, berarti membeli sebagian perusahaan tersebut. Apabila
perusahaan tersebut mengalami keuntungan, maka pemegang saham
biasanya akan mendapatkan sebagian keuntungan yang disebut dividen.
Saham juga bisa dijual kepada pihak lain, baik dengan harga yang lebih
tinggi yang selisih harganya disebut capital gain, maupun yang lebih
rendah daripada saat kita membelinya yang selisih harganya disebut
capital loss. Keuntungan yang bisa didapat dari saham ada dua, yaitu
dividen dan capital gain.
8. Obligasi
Obligasi atau sertifikat obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan
oleh pemerintah maupun perusahaan, baik untuk menambah modal
perusahaan atau membiayai suatu proyek pemerintah. Karena sifatnya
yang hampir sama dengan deposito, maka agar lebih menarik para
investor suku bunga obligasinya biasanya sedikit lebih tinggi dibanding
suku bunga deposito. Selain itu, seperti saham kepemilikan obligasi
dapat juga dijual kepada pihak lain dengan harga yang lebih tinggi
maupun lebih rendah daripada ketika membelinya.
Jenis investasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis investasi yang
berada di pasar modal.

Pengertian Investasi dan Tujuan Investasi (skripsi dan tesis)

Menurut Abdul Halim (2005 : 4) “investasi adalah penempatan sejumlah dana
pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang”.
Menginvestasikan sejumlah dana pada aset riil (tanah, emas, mesin, atau
bangunan), maupun aset financial (deposito, tabungan, saham, atau obligasi)
merupakan aktivitas investasi yang umumnya dilakukan.
Pada dasarnya tujuan orang melakukan investasi adalah untuk
menghasilkan return yang tinggi. Sedangkan tujuan investasi yang lebih luas
adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor. Tetapi investor juga harus
memikirkan bahwa return yang tinggi juga menimbulkan risiko yang tinggi pula.
Ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi, yaitu :
1. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa datang.
2. Untuk mengurangi tekanan inflasi.
3. Sebagai dorongan untuk menghemat pajak.

Dasar Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Dasar Keputusan Investasi
Dasar keputusan investasi terdiri dari tingkat return yang diharapkan, tingkat
risiko, serta hubungan antara return dan risiko. Return yang diharapkan investor
dari investasi yang dilakukan merupakan kompensasi atas biaya kesempatan dan
risiko penurunan daya beli akibat adanya pengaruh inflasi. Didalam konteks
manajemen investasi, return dibedakan menjadi 2 macam, antara lain :
1. Return yang diharapkan merupakan tingkat return yang diantisipasi
investor dimasa datang.
2. Return yang terjadi merupakan tingkat return yang diperoleh investor
pada masa lalu.
Umumnya semakin besar risiko, semakin besar pula tingkat return yang
diharapkan. Investor yang lebih berani memiliki risiko investasi yang lebih tinggi,
yang diikuti oleh harapan tingkat return yang tinggi pula. Sebaliknya, investor
yang tidak mau menanggung risiko dengan return yang terlalu tinggi, tentunya
tidak bisa mengharapkan tingkat return yang tinggi pula. Jadi dapat disimpulkan
bahwa hubungan antara risiko dan return memiliki hubungan yang searah atau
linier. Artinya, semakin besar risiko suatu aset, semakin besar pula return yang
diharapkan atas aset tersebut, demikian sebaliknya.

Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Keputusan investasi merupakan keputusan seorang individu untuk meletakkan
sejumlah dananya pada jenis investasi tertentu. Penilaian keputusan investasi
dapat dinilai dengan presentase individu dalam menentukan besarnya dana yang
diinvestasikan pada pasar modal maupun pasar uang.
Keputusan investasi berkaitan dengan pemilihan alternatif investasi yang
dinilai akan menguntungkan bagi suatu perusahaan/ individu. Dalam penelitian ini
lebih dikhususkan pada keputusan investasi untuk memilih jenis investasi yang
diinginkan seorang investor sesuai dengan faktor demografinya. Biasanya faktor
demografi juga turut mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan
investasi, baik dari segi gender, usia, pendidikan, pendapatan, maupun pekerjaan.

Pengaruh regret aversion bias terhadap pengambilan keputusan investasi (skripsi dan tesis)

Experienced regret merupakan penyesalan yang ditimbulkan
akibat kesalahan di masa lalu akan mempengaruhi keputusan di masa
yang akan datang. Seorang investor yang mengalami kerugian di masa
lalu akan menimbulkan sikap konservatif sehingga akan
mempengaruhi keputusan investasi yang akan datang. Dalam
mengambil suatu keputusan investasi, para investor seringkali
berperilaku tidak rasional. Ada juga investor yang tidak terpengaruh
oleh experienced regret dalam pengambilan keputusan investasinya.
Semakin besar kerugian yang dialami, maka semakin besar pula
tingkat keberanian dalam mengambil risiko lebih besar.
Anticipated regret timbul apabila rencana investasi yang
dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Responden
dihadapkan pada rencana investasi yang hasil pilihan investasinya
tidak lebih baik dari hasil rencana investasi yang lain. Hal ini
menimbulkan penyesalan yang akan membuat seorang investor
menghindari konsekuensi yang timbul setelah mengambil keputusan
investasi yang salah. Tindakan untuk menghindari konsekuensi
tersebut disebut Anticipated regret. Ketidakpastian akan investasi di
masa depan memaksa para investor untuk melakukan analisis untuk
investasi yang akan dipilih dengan lebih cermat agar tidak terjadi
kerugian di masa yang akan datang.
Penelitian terdahulu tentang experienced regret yang
dilakukan oleh Kinnerson dan Bailey (2005), Loomies dan Sudgen
(1982) bahwa hasilnya adalah experienced regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi. Selain itu, penelitian
terdahulu tentang anticipated regret yang dilakukan oleh Bell (1982)
serta Wong dan Kwong (2007) bahwa anticipated regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi.
Dengan demikian diduga keputusan investasi yang akan
diambil oleh responden baik dari kelompok experienced regret
maupun anticipated regret akan berbeda secara signifikan jika kedua
regret tersebut berpengaruh terhadap keputusan investasi.

Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Pengambilan keputusan menurut Goetsch dan Davis (1997)
sebagaimana yang dikutip oleh Supranto (2003) sebagai berikut:
decision making is the process of selecting one course of action from
among two or more alternatives. Pengambilan keputusan adalah
memilih salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang ada.
Menurut Tandelilin (2001) investasi adalah sejumlah komitmen atas
sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat
ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang
akan datang.
Dari kedua definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
keputusan investasi adalah hasil dari pemilihan sejumlah komitmen
atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada
saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa
yang akan datang.
Dalam melakukan proses investasi, sangat diperlukan perilaku
yang seharusnya seorang investor lakukan dalam membuat
keputusan investasi dalam berbagai macam asset (riil atau finansial).
Adapun proses investasi tersebut melalui beberapa tahapan menurut
Ahmad (1996), yaitu:
(1) dengan menentukan tujuan investasi
(2) melakukan analisis
(3) melakukan pembentukan portofolio
(4) melakukan evaluasi kinerja portofolio
(5) melakukan revisi kinerja portofolio.
Ada 3 hal yang menjadi tujuan utama melakukan investasi.
Pertama, adanya kebutuhan masa depan atau kebutuhan yang belum
mampu dipenuhi saat ini. Kedua, adanya keinginan untuk
menambah nilai aset dan melindungi nilai aset yang sudah dimiliki.
Ketiga, karena adanya inflasi (Pratomo dan Nugraha 2005:6).

Risk Perception (skripsi dan tesis)

Risk perception adalah proses ketika seseorang
menginterpretasikan informasi mengenai risiko yang diperoleh.
Persepsi risiko dibentuk secara sosial, Williamson & Weyman
(2005) mendefiniskan persepsi risiko sebagai hasil dari banyak
faktor yang menjadi dasar dari perbedaan pengambilan keputusan
terhadap kemungkinan kerugian.
Daniel (1998) berpendapat bahwa (risk perception) persepsi
risiko dapat meningkatkan jumlah pencarian informasi apabila aset
yang diinvestasikan rendah. Demikian juga Byrne (2005)
menunjukkan bahwa risiko dan pengalaman investasi cenderung
untuk menunjukkan hubungan yang positif dan pengalaman masa
lalu yang berhasil meningkatkan toleransi risiko investor. Chou,
Huang, & Hsu (2010) berpendapat bahwa informasi mempunyai
hubungan positif terhadap risk perception, sehingga semakin banyak
informasi yang diterima, maka persepsi risiko investor akan semakin
mempengaruhi tingkat return yang diharapkan. Chou et al. (2010)
menunjukkan bahwa investor yang memperoleh informasi dari
laporan pasar optimis memiliki risk perception yang lebih rendah

Mental Accounting (skripsi dan tesis)

Investor yang mempunyai mental accounting dalam
pengambilan keputusan saat bertransaksi ialah investor yang
mempertimbangkan cost dan benefit dari keputusan yang diambil
(Nofsinger, 2005:45). Dengan seperti itu investor merasa aman.
Dalam arti investor lebih aman dalam melakukan transaksi sehingga
bisa meminimalkan resiko karena adanya pertimbangan cost dan
benefit yang akan diperoleh dengan keputusan yang diambil
misalnya resiko terjadinya loss dalam jumlah yang besar. Indikator
yang digunakan yaitu, “dalam berinvestasi investor selalu
menghitung keuntungan yang akan diperoleh; dalam melakukan
investasi investor selalu menghitung biaya yang akan dikeluarkan”.
Proses pembelian barang dalam mental accounting dipandang
dari sisi laba dan rugi. Barang yang diperoleh dianggap sebagai laba,
sedangkan uang yang dibayarkan dianggap sebagai rugi. Namun,
hasil penelitian yang dilakukan oleh Kahneman and Tversky (1984)
dan Thaler (1985) menolak gagasan tersebut. Menurut mereka
seseorang memperoleh dua macam utilitas dari proses pembelian
tersebut, yaitu utilitas akuisisi dan utilitas transaksi. Utilitas akuisisi
mengukur nilai dari barang yang diperoleh dibandingkan dengan
harga barang tersebut. Utilitas akuisisi merupakan nilai yang
bersedia dibayar pembeli. Penilaian barang tersebut dianggap
sebagai hadiah yang diperoleh dikurangi dengan harga yang harus
dibayarkan. Sedangkan utilitas transaksi adalah mengukur nilai yang
disepakati. Nilai yang disepakati ini merupakan harga regular yang
bersedia dibayar untuk memperoleh suatu barang. Harga tersebut
merupakan perbedaan dari jumlah yang dibayar oleh pembeli
dengan harga yang sebenarnya diharapkan pembeli atas barang
tesebut. Konsep utilitas transaksi ini tidak berlaku dalam model
ekonimi standar karena konsumsi individu selalu sama dalam
kondisi apapun

Overconfidence (skripsi dan tesis)

 

Overconfidence akan membuat investor menjadi overestimate terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh investor itu sendiri, dan underestimate terhadap prediksi yang dilakukan karena investor melebih-lebihkan kemampuan yang dimiliki (Nofsinger, 2005:10). Overconfidence juga akan mempengaruhi investor dalam berperilaku mengambil risiko. Investor yang rasional berusaha untuk memaksimalkan keuntungan sementara memperkecil jumlah dari risiko yang diambil (Nofsinger, 2005:15). Overconfidence juga dapat menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi. Overconvidence atau sikap terlalu percaya diri berkaitan dengan seberapa besar prasangka atau perasaan tentang seberapa baik seseorang mengerti kemampuan mereka dan batas pengetahuan mereka sendiri. Hal ini didukung oleh pernyataan Shefrin (2007) yang dikutip sebagai berikut, “overconfidence is a bias that pertains to how well people 17 understand their own abilities and the limits of their knowledge”. Penyebab dari overconfidence yaitu kepercayaan diri yang berlebihan bahwa informasi yang diperoleh mampu dimanfaatkan dengan baik karena memiliki kemampuan analisis yang akurat dan tepat, namun hal ini sebenarnya merupakan suatu ilusi pengetahuan dan kemampuan dikarenakan adanya beberapa alasan seperti pengalaman yang kurang dan keterbatasan keahlian mengintepretasi informasi (Baker & Nofsinger 2002). Sheffrin (2007) membagi overconfidence ini kedalam dua kelompok, yaitu: (1) terlalu percaya diri akan kemampuan atau overconfidence about ability dan (2) terlalu percaya diri akan pengetahuan atau overconfidence about knowledge. Orang yang terlalu percaya diri akan kemampuan mereka biasanya berpikir bahwa seseorang merasa lebih baik dari pada yang sebenarnya. Sedangkan orang yang terlalu percaya diri akan level pengetahuannya sendiri biasanya berpikir bahwa orang tersebut tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya diketahui. Sikap ini tidak selalu berarti bahwa investor tidak peduli atau tidak kompeten, masalahnya hanya terletak pada pemikiran bahwa orang tersebut lebih pintar dan lebih baik. Investor dengan overconfidence akan mengesampingkan informasi yang didapat karena dia terlalu percaya pada keyakinan 18 sendiri. Investor menjadi terlalu yakin dan percaya diri pada pandangan dan pengetahuan individu sehingga informasi lain yang didapat tidak terlalu dihiraukan. Rasa percaya diri yang berlebihan menyebabkan investor menaksir terlalu tinggi terhadap pengetahuan yang dimiliki, menaksir terlalu rendah terhadap risiko dan melebihlebihkan kemampuan dalam hal melakukan kontrol atas apa yang terjadi

Regret Aversion Bias (skripsi dan tesis)

Regret aversion bias adalah keputusan untuk bertindak
menghindari kesalahan keputusan yang sama karena adanya rasa
takut menghadapi kerugian yang sama di dalam diri seseorang
(Yohnson, 2008). Para peneliti mengidentifikasikan regret aversion
bias dalam dua komponen, yaitu experienced regret dan
anticipated regret. Experienced regret merupakan suatu penyesalan
yang timbul dari kesalahan masa lalu (Kinerson dan Bailey, 2005).
Responden dihadapkan pada rencana investasi yang hasil pilihan
investasinya tidak lebih baik dari hasil rencana investasi yang lain.
Penyesalan yang akan membuat seorang investor menghindari
konsekuensi yang timbul setelah mengambil keputusan investasi
yang salah. Tindakan untuk menghindari konsekuensi tersebut
disebut anticipated regret.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kinerson dan Bailey
(2005) dan Yohnson (2008), variabel regret aversion bias dibagi
menjadi dua yaitu experienced regret dan anticipated regret.
Experienced regret didasarkan pada penelitian Loomes dan
Sudgen(1982). Sedangkan anticipated regret didasarkan pada
penelitian Bell (1982). Pada penelitian sebelumnya, hasil dari
penelitian yang dilakukan oleh Kinnerson dan Bailey (2005),
Loomies dan Sudgen (1982) adalah experienced regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi. Hasil ini bertentangan
dengan penelitian Yohnson (2008) bahwa experienced regret tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Selain itu,
hasil penelitian tentang anticipated regret yang dilakukan oleh
Kinnerson dan Bailey (2005) dan Yohnson (2008) tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Hasil ini
bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bell (1982)
serta Wong dan Kwong (2007) bahwa anticipated regret
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Secara
keseluruhan, regret aversion bias mempengaruhi keputusan
investasi. Namun, masing-masing komponen dari regret aversion
bias (experienced regret/anticipated regret) memiliki perbedaan
pengaruh terhadap keputusan investasi.

Prospect Theory (skripsi dan tesis)

Kahneman dan Tversky (2000) menjelaskan tentang prospect
theory yang berkaitan dengan ide bahwa manusia tidak selalu
berperilaku secara rasional. Keterlibatan emosi, kesukaan, sifat dan
berbagai macam hal yang melekat di dalam diri manusia sering
menyebabkan manusia tidak selalu berperilaku rasional dalam
mengambil sebuah keputusan. Tingkat kerugian yang dialami
dipandang oleh kebanyakan orang lebih menonjol dibandingkan
dengan tingkat keuntungan yang didapatkan dengan asumsi tingkat
kerugian dan keuntungan nilainya sama. Teori ini beranggapan
bahwa ada bias yang melekat dan pengaruh faktor – faktor
psikologis yang mempengaruhi pilihan seseorang pada kondisi
ketidakpastian.
Teori ini disebutkan juga teori pilihan rasional yang lebih
dikenal dengan pendekatan dengan ilmu politik dan sering mewakili
alternatif model dominan untuk menjelaskan tingkah laku. Secara
obyektif, teori ini tidak untuk menguji prediksi terhadap orang-orang
dengan model pilihan rasional. Sebaliknya, disediakan sebagai dasar
perbandingan untuk memeriksa nilai penjelasan dan prediksi yang
diberikan oleh teori prospek.

Generasi Y (skripsi dan tesis)

Generasi Y adalah individu yang lahir pada tahun 1980-2000
(Meier, Austin, dan Crocker, 2010). Generasi ini lahir di era
perkembangan teknologi informasi dan dunia pendidikan sehingga
memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi
sebelumnya. Misalnya saja, generasi Y lebih memperhatikan aspek
work life balance dibandingkan generasi X (Meier, Austin, dan
Crocker, 2010). Masing-masing generasi ini memiliki karakteristik
yang berbeda. Generasi Y akan cenderung kritis saat akan
melakukan sesuatu. Fakta bahwa apa yang generasi Y akan lakukan
harus memiliki nilai tambah bagi mereka secara individu sehingga
apa yang generasi Y lakukan akan sesuai dengan apa yang mereka
harapkan. Menurut Solnet (2008) generasi yang disebut millenials
biasanya akan mengutamakan diri sendiri dan membutuhkan adanya
feedback, peghargaan dan pujian yang konstan dari atasan mereka.
Generasi Y memiliki harga diri yang tinggi, entrepreneurial dan
menginginkan pekerjaan yang memiliki arti sesegera mungkin serta
sangat antusias terhadap pekerjaan.

Investasi (skripsi dan tesis)

Investasi merupakan penempatan sejumlah dana pada saat
ini dengan harapan dapat menghasilkan keuntungan di masa depan
(Halim, 2005). Dalam melakukan keputusan investasi, investor
memerlukan informasi-informasi yang merupakan faktor-faktor
penting sebagai dasar untuk menentukan pilihan investasi. Dari
informasi yang ada, kemudian membentuk suatu model
pengambilan keputusan yang berupa kriteria penilaian investasi
untuk memungkinkan investor memilih investasi terbaik di antara
alternatif investasi yang tersedia.
Beberapa produk investasi dikenal sebagai efek atau surat
berharga. Definisi efek adalah suatu instrumen bentuk kepemilikan
yang dapat dipindah tangankan dalam bentuk surat berharga,
saham/obligasi, bukti hutang (promissory notes), bunga atau
partisipasi dalam suatu perjanjian kolektif (Reksa dana), Hak untuk
membeli suatu saham (Rights), garansi untuk membeli saham pada
masa mendatang atau instrumen yang dapat diperjual belikan. Jenis
investasi ada dua, yaitu:
1. Investasi riil
Investasi yang memiliki wujud fisik / riil
a. Investasi tanah, diharapkan dengan bertambahnya populasi
dan penggunaan tanah; harga tanah akan meningkat di masa
depan.
b. Investasi pada tabungan deposito, diharapkan investor akan
mendapat untung dari suku bunga deposito.
c. Investasi pada emas, diharapkan investor akan mendapat
keuntungan dari peningkatan harga emas di pasar.
2. Investasi financial
a. Investasi pendidikan, dengan bertambahnya pengetahuan dan
keahlian diharapkan pencarian kerja dan pendapatan lebih
besar.
b. Investasi saham, diharapkan perusahaan mendapatkan
keuntungan dari hasil kerja atau penelitian.
c. Investasi instrumen mata uang asing, diharapkan investor akan
mendapatkan keuntungan dari menguatnya nilai tukar mata
uang asing terhadap mata uang lokal.
d. Investasi pada obligasi, diharapkan investor akan memperoleh
untung melalui tingkat suku bunga obligasi.
e. Investasi pada reksadana pendapatan tetap, diharapkan
investor akan mendapat keuntungan dari reksadana yang
memiliki pendapatan tetap.
f. Investasi pada reksadana pasar uang, ekuitas, campuran
pengembangan, indeks, dan terproteksi.

Usia dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Usia merupakan satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau
makhluk baik yang hidup maupun yang mati.
Biasanya semakin lanjut usia, semakin takut akan risiko. Karena investor
yang berusia lanjut lebih memilih memikirkan hari tua yang menyenangkan
dibandingkan dengan memikirkan risiko yang disebabkan oleh investasi. Berbeda
dengan investor yang masih muda, mereka lebih berani menghadapi risiko karena
semakin tinggi risiko maka return yang diharapkan juga semakin besar

Gender dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Gender dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana individu yang lahir secara
biologis sebagai laki-laki atau perempuan yang kemudian memperoleh pencarian
sosial sebagai laki-laki atau perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan
feminitas yang sering didukung oleh nilai-nilai atau sistem dan simbol di
masyarakat yang bersangkutan. Gender termasuk salah satu aspek dari demografi
yang mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan investasi. Karena
seorang laki-laki biasanya lebih berani mengambil risiko dibandingkan wanita.

Instrumen Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Dalam berinvestasi di pasar modal terdapat beberapa instrumen yang umumnya
dimanfaatkan oleh investor dalam berinvestasi adalah sebagai berikut :
1. Saham
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), saham adalah tanda bukti
memiliki perusahaan dimana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang
saham (shareholder dan stockholder). Terdapat dua jenis saham yaitu
saham preferen dan saham biasa. Saham preferen (preferred stock) adalah
jenis saham yang memiliki hak terlebih dahulu untuk menerima laba dan
memiliki hak laba kumulatif. Saham biasa (common stock) adalah jenis
saham yang akan menerima laba setelah laba bagian preferen dibayarkan.
2. Obligasi
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), obligasi adalah tanda bukti
perusahaan memiliki utang jangka panjang kepada masyarakat yaitu diatas
3 tahun. Pihak yang membeli oblligasi disebut pemegang obligasi
(bondholder) dan pemegang obligasi akan menerima kupon sebagai
pendapatan dari obligasi yang dibayarkan setiap 3 atau 6 bulan sekali.
Pada saat pelunasan obligasi oleh perusahaan, pemegang obligasi akan
menerima kupon dan pokok obligasi.
3. Reksa Dana
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), dilihat dari segi perdagangan efek,
reksa dana adalah suatu produk yang diperdagangkan, sedangkan manajer
investasi sebagai pengelola produk tersebut

Jenis-Jenis Investasi (skripsi dan tesis)

Menurut Senduk (2004:24), bahwa produk-produk yang tersedia di pasaran antara
lain :
1. Tabungan di bank
Dengan menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku
bunga tertentu yang besarnya mengikuti kebijakan bank yang
bersangkutan. Produk tabungan biasanya memperbolehkan kita
mengambil uang kapanpun yang kita inginkan.
2. Deposito di bank
Produk deposito hampir sama dengan produk tabungan. Bedanya,
dalam deposito tidak dapat mengambil uang kapanpun yang diinginkan,
kecuali apabila uang tersebut sudah menginap di bank selama jangka
waktu tertentu (tersedia pilihan antara satu, tiga, enam, dua belas,
sampai dua puluh empat bulan, tetapi ada juga yang harian). Suku
bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga tabungan.
Selama deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan
terpengaruh pada naik turunnya suku bunga di bank.
3. Properti
Investasi dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau
rumah. Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua, yaitu :
a. Menyewakan properti tersebut pada pihak lain sehingga mendapat
uang sewa.
b. Menjual properti tersebut dengan harga yang lebih tinggi.
4. Barang-barang koleksi
Contoh barang-barang koleksi adalah perangko, lukisan, barang antik,
dan lain sebagainya. Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada
barang-barang koleksi adalah dengan menjual koleksi tersebut kepada
pihak lain.
5. Emas
Emas adalah barang berharga yang dapat diterima di seluruh dunia
setelah mata uang asing dari negara-negara G-7 (sebutan bagi tujuh
negara yang memiliki ekonomi paling kuat, yaitu Amerika, Jepang,
Jerman, Inggris, Italia, Kanada, dan Perancis). Harga emas akan
mengikuti kenaikan nilai mata uang dari negara-negara G-7. Semakin
tinggi kenaikan nilai mata uang asing tersebut, maka semakin tinggi
pula harga emas. Selain itu harga emas biasanya berbanding searah
dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya semakin tinggi pula
harga emas. Seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan
inflasi itu sendiri.
6. Mata uang asing
Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi.
Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan
investasi dalam saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia
menganut sistem mengambang bebas (free float). Yaitu benar-benar
tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran. Di Indonesia
mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
7. Saham
Saham adalah kepemilikan atas sebuat perusahaan tersebut. Dengan
membeli saham, berarti membeli sebagian perusahaan tersebut. Apabila
perusahaan tersebut mengalami keuntungan, maka pemegang saham
biasanya akan mendapatkan sebagian keuntungan yang disebut dividen.
Saham juga bisa dijual kepada pihak lain, baik dengan harga yang lebih
tinggi yang selisih harganya disebut capital gain, maupun yang lebih
rendah daripada saat kita membelinya yang selisih harganya disebut
capital loss. Keuntungan yang bisa didapat dari saham ada dua, yaitu
dividen dan capital gain.
8. Obligasi
Obligasi atau sertifikat obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan
oleh pemerintah maupun perusahaan, baik untuk menambah modal
perusahaan atau membiayai suatu proyek pemerintah. Karena sifatnya
yang hampir sama dengan deposito, maka agar lebih menarik para
investor suku bunga obligasinya biasanya sedikit lebih tinggi dibanding
suku bunga deposito. Selain itu, seperti saham kepemilikan obligasi
dapat juga dijual kepada pihak lain dengan harga yang lebih tinggi
maupun lebih rendah daripada ketika membelinya.
Jenis investasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis investasi yang
berada di pasar modal

Pengertian Investasi dan Tujuan Investasi (skripsi dan tesis)

Menurut Abdul Halim (2005 : 4) “investasi adalah penempatan sejumlah dana
pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang”.
Menginvestasikan sejumlah dana pada aset riil (tanah, emas, mesin, atau
bangunan), maupun aset financial (deposito, tabungan, saham, atau obligasi)
merupakan aktivitas investasi yang umumnya dilakukan.
Pada dasarnya tujuan orang melakukan investasi adalah untuk
menghasilkan return yang tinggi. Sedangkan tujuan investasi yang lebih luas
adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor. Tetapi investor juga harus
memikirkan bahwa return yang tinggi juga menimbulkan risiko yang tinggi pula.
Ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi, yaitu :
1. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa datang.
2. Untuk mengurangi tekanan inflasi.
3. Sebagai dorongan untuk menghemat pajak

Dasar Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Dasar keputusan investasi terdiri dari tingkat return yang diharapkan, tingkat
risiko, serta hubungan antara return dan risiko. Return yang diharapkan investor
dari investasi yang dilakukan merupakan kompensasi atas biaya kesempatan dan
risiko penurunan daya beli akibat adanya pengaruh inflasi. Didalam konteks
manajemen investasi, return dibedakan menjadi 2 macam, antara lain :
1. Return yang diharapkan merupakan tingkat return yang diantisipasi
investor dimasa datang.
2. Return yang terjadi merupakan tingkat return yang diperoleh investor
pada masa lalu.
Umumnya semakin besar risiko, semakin besar pula tingkat return yang
diharapkan. Investor yang lebih berani memiliki risiko investasi yang lebih tinggi,
yang diikuti oleh harapan tingkat return yang tinggi pula. Sebaliknya, investor
yang tidak mau menanggung risiko dengan return yang terlalu tinggi, tentunya
tidak bisa mengharapkan tingkat return yang tinggi pula. Jadi dapat disimpulkan
bahwa hubungan antara risiko dan return memiliki hubungan yang searah atau
linier. Artinya, semakin besar risiko suatu aset, semakin besar pula return yang
diharapkan atas aset tersebut, demikian sebaliknya

Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Keputusan investasi merupakan keputusan seorang individu untuk meletakkan
sejumlah dananya pada jenis investasi tertentu. Penilaian keputusan investasi
dapat dinilai dengan presentase individu dalam menentukan besarnya dana yang
diinvestasikan pada pasar modal maupun pasar uang.
Keputusan investasi berkaitan dengan pemilihan alternatif investasi yang
dinilai akan menguntungkan bagi suatu perusahaan/ individu. Dalam penelitian ini
lebih dikhususkan pada keputusan investasi untuk memilih jenis investasi yang
diinginkan seorang investor sesuai dengan faktor demografinya. Biasanya faktor
demografi juga turut mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan
investasi, baik dari segi gender, usia, pendidikan, pendapatan, maupun pekerjaan

Social Interaction adalah interaksi antara satu Investor dengan
Investor lainnya atau Investor dengan broker atau dengan pihak lain
yang berkaitan dengan transaksi di pasar modal yang dapat
mempengaruhi keputusan Investor dalam berinvestasi.
penelitian oleh ( Puspitasari , 2014) dimana terdapat pengaruh
faktor social interaction dalam keputusan Investor berinvestasi pada
reksadana , begitu juga dengan penelitian ( limanjaya, 2014) social
interaction mempengaruhi terhadap perilaku investor dalam
berinvestai.

Pengaruh data mining terhadap keputusan Investor bernvestasi di pasar modal syariah (skripsi dan tesis)

Data mining adalah data masa lalu yang dugunakan oleh Investor
untuuk melihat kenerja intumen di pasar modal sebagai acuan untuk
mengambil keputusan berinvestasi di intrumen tersebut. Penelitian
yang dilakukan oleh ( Puspitasari, 2014) terdapat pengaruh data mining
terhadap keputusan Investor berinvestasi pada reksadana. Penelitian
oleh ( limanjaya, 2014) bahwa data mining berpengaruh terhadap
perilaku Investo dalam melakukan investasi

Pengaruh faktor Overconfidence terhadap keputusan Investor berinvestasi di pasar modal syariah (skripsi dan tesis)

Overconfidence adalah perasaan percaya pada dirinya sendriri
secara berlebiihan. Ini menyebabkan Investor sangat percaya
terhadap pengetahuan yang dimiliki, overconfidence terjadi ketika
Investor melebih lebihkan kemampuan dalam memprediksi suatu
investasi dan mengabaikan dampak yang akan terjadi dalam hal ini
adalah resiko ( Nofsinger, 2014: 11 ). Berdasarkan penelitian (
Puspitasari, 2014 ) faktor overconfidence berpengaruh pada
keputusan Investor dalam berinvestasi pada reksadana.

Pertimbangan prinsip syariah dalam investasi (skripsi dan tesis)

Bagi seorang investor Muslim, aspek rasionalitas bukan hanya aspek
satu-satunya yang harus dipertimbangkan dalam keputusan investasinya.
Ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya yaitu moral spritual yang akan
memfilter kegiatan yang dilarang dalam investasi. Prinsip Islam dalam
kegiatan investasi setidaknya mencakup lima aspek, yaitu: tidak mencari
rezeki pada hal yang haram, tidak mendzalimi dan tidak didzalimi,
keadilan dalam distribusi pendapatan, dan tidak ada unsur riba, maysir
(perjudian, spekulasi), dan gharar (ketidakjelasan) (Agustin, 2014).
Aspek agama dalam berinvestasi turut berpengaruh terhadap
pertimbangan investor. Indonesia yang mayoritas peduduknya beragama
Islam menyebabkan produk investasi syariah berkembang baik. Prinsip
dan peraturan agama dapat membatasi investor dalam memilih produk
invetasi tertentu, karena tidak sedikit investor yang mencari produk
investasi syariah walaupu tidak semua investor mengitamakan aspek
syariah ( Diko Surya , 2015).
Prinsip-prisnip syariah yang menjadi pertimbangan Investor dalam
berinvestasi menurut ( Manan, 2012: 181) adaalah sebagai berikut:
a. Prinsip halal
Kata halal berasal dari bahasa Arab dari lafadz halla yang
berarti “ Lepas atau “ tidak terikat. Dalam kamus istilah fikih,
kata halal dikatakan sebagai segala sesuatu yang boleh dikerjakan
dan dimakan dengan artian bahwa orang yang melakukannya
tidak mendapat sanksi dari Allah SWT. istilah halal biasanya
berhubungan dengan masalah makanan an minuman . namun,
dalam berinvestasi juga diterapkan prinsip halal. Di Indonesia
sendiri untuk menetukan kehalalan suatu produk investasi yaitu
melalui Majelis Ulama Indonesia ( MUI ). Kehalalan tidak hanya
cukup pada barang dan jasa namun pada enggunaannya juga, jika
pengguaan dan tujuan tidak benar, meski barang dan jasa halal,
investasi yang dilakukan termasuk haram. Oleh karena itu untuk
mengetahu halal haram suatu produk investasi bias melalui
Majelis Ulama Indonesia ( MUI ).
b. Prinsip maslahah
Dalam bahasa arab maslahah di artiakan “ manfaat”.
Maslahah berinvestasi yang dilakukan seseorang hendaknya
harus mendapat manfaat bagi setiap pelaku investasi. Prinsip
maslahah adalah suatu hal yang penting dalam hal muamalah,
menginvestasikan harta pada yang tidak ada maslahat meski
keuntungan besar, hal ini tidak sesuai dengan prisnip syariah.
c. Prisnip terhindar dari Investasi yang terlarang
1) Investasi syubhat
Investasi syubhat adalah periaku ( jasa ) atau barang (
efek, uang, komoditas ) yang masih diragukan kehalalan atau
keharamannya. Investor muslim di anjurkan untuk
meninggalkan investasi yang berbau syubhat.
2) investasi yang haram
Investasi ini yaitu segala perilaku ( jasa ) atau barang
yang dilarang dalam syariat islam, jika dikerjakan mendapat
dosa dan jika ditinggalakan akan mendapat pahala. Yang
termasuk transaksi haram adalah karena Tadlis, gharar,
maysir riba dan terhindar dari ihtikar dan an-Najasy

Factor psikologi investor (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian ini, faktor psikologis investor di ukur dengan
menggunakan variable, sebagai berikut:
a. Overconfidence
Overconfidence adalah perasaan percaya pada diri sendiri secara
berlebihan. Ini menyebabkan Investor sangat percaya terhadap
pengetahuan yang dimiliki,. Overconfidence terjadi ketika investor
melebih lebihkan kemampuan dalam memprediksi suatu investasi
dan mengabaikan dampak yang akan terjadi dalam hal ini dengan
resiko. ( Nofsinger, 2014 : 11 ). Overconfidence juga mempengaruhi
investor dalam menilai resiko, Investor yang rasional berusaha untuk
memaksimalkan keuntungan dan memperkecil jumlah risiko yang
diambil, bukan menghilangkannya.
Overconfidence merupakan salah satu bias yang paling
merugikan yang dapat ditunjukan oleh seorang investor. Hal ini
disebabkan mereka terlalu meremehkan akibat yang mungkin terjadi
Karena kepercayaan yang berlebihan.
b. Data Mining
Data mining adalah data masa lalu ( historical data ) hasil kinerja
suatu intrumen investasi, yang digunakan oleh Investor sebagai
acuan untuk memprediksi kinerja intrumen invesasi di masa yang
akan datang. Hal ini mempengaruhi Investor dalam mengambil
keputusan investasi.
Investor yang termasuk dalam data mining adalah Investor yang
menjadikan data dan kinerja intrumen investasi di masa lalu sebagai
acuan serta memprediksi kenerja intrumen investasi di yang akan
datang berdasarkan kinerja masa lalu( Puspitasari, 2014).
c. Social Interaction
Dalam pasar modal investor saling berinteraksi satu sama lain,
interaksi social dengan pelaku pasar ini yang berkaitan dengan
transaksi di pasar dapat mempengaruhi keputusan individu dalam
melakukan transaksi (Nofsinger, 2014: 75). Dalam hal ini interaksi
antar individu atau kelompok yang akan mempengaruhi keputusan
transaksi individu terhadap instrumen aset yang digunakan untuk
berinvestasi.
Investor yang termasuk dalam social interaction dapat
memilih maupun mengubah keputusan investasi berdasarkan
percakapan maupun saran yang diberikan oleh sesame investor
ataupun pelaku dalam investasi, secara teori, interaksi social dan
lingkungan mampu memengaruhi orang lain untuk melakukan
pengambilan keputusan investasi. Jadi, semakin banyak
berinteraksi dengan orang lain semakin besar pula toleransi
investor terhada resiko( Puspitasari, 2014).
d. Emotion
Emotion merupakan bagian penting dalam proses
pengambilan keputusan yang memilki tingkat ketidakpastian
yang tinggi, Factor emosi berkaitan dengan badmood atau
goodmood seorang investor. Emotion juga dapat mempengaruhi
keputusan berinvestasi, karena semakin kompleks dan adanya
ketidakpastian dari suatu situasi, emosi akan mempengaruhi
keputusan dalam berinvestasi. Ketika goodmood, investor dapat
mengambil dapat mengambil keputusan dengan baik dan benar,
sebaliknya pada saat badmood investor cenderung kurang tepat
dalam mengambil keputusan dengan baik dan benar

Perilaku keuangan (Behaviour finance) (skripsi dan tesis)

Menurut (Nofsinger ,2014: 211) mendefinisikan perilaku keuangan
yaitu mempelajari bagaimana manusia secara actual berperilaku dalam
sebuah penentuan keuangan. Khususnya, mempelajari bagaimana
psikologi mempengaruhi keputusan keuangan, perusahaan dan pasar
keuangan. Pada konsep yang diuraikan secara jelas menyatakan bahwa
perilaku keuangan merupakan sebuah pendekatan yang menjelaskan
bagaimana manusia melakukan investasi atau berhubungan dengan
keuangan dipengaruhi oleh faktor psikologi.
Teori perilaku keuangan dapat diartikan sebagai aplikasi ilmu
psikologi dalam disiplin ilmu keuangan. Perilaku keuangan merupakan
analisis berinvestasi yang menggunakan ilmu psikologi dan ilmu
keuangan, yaitu suatu pendekatan yang menjelaskan bagaimana manusia
(investor) melakukan investasi atau berhubungan dengan keuangan
dipengaruhi oleh factor psikologi. Perilaku keuangan bermaksud untuk
memahami perilaku investor dalam mengambil keputusan investasi dan
bertindak di pasar modal yang akan berpengaruh pada market.
Konsep perilaku keuangan mengatakan bahwa keputusan investasi
yang dilakukan oleh investor lebih mempertimbangkan aspek-aspek nonekonomi terutama aspek psikologis yang dapat mempegaruhi perilaku
investor. Hal ini karena Investor dalam kenyataannya seringkali
melakukan tindakan berdasarkan judgment dan bertentangan dengan teori
yang selama ini dikemukakan dalam pasar modal tentang asumsi
rasionalitas. Pasar mungkin memberikan reaksi cepat terhadap informasi
(seperti yang disyaratkan dalam Efficient Market Hypothesis), namun
pengaruh reaksi tersebut justru mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh
unsur subyektifitas, emosi, dan berbagai faktor psikologis lainnya.

Tipe Investor (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan kegitan investasi Investor akan mengharapkan
tingkat keutungan yang tinggi atas investasi yang telah dilakukan. Namun,
investor yang rasional tentunya akan mencoba memaksimalkan tingkat
pengembaliannya pada level resiko tertentu , atau meminimalkan risiko
pada tingkat pengembalian tertentu. Investor membutuhkan informasi
penting terkait dengan investasi untuk dijadikan acuan dalam mengambil
keputusan supaya dapat memilih berbagai macam investasi dari berbagai
pilihan yang tersedia. Terdapat tiga jenis perilaku investor dalam
mengahadapi risiko, yaitu:
a. Risk Seeker
Investor yang selalu mengaharpkan tingkat pengebalian yang
tinggi karena tergolong agresif, sehingga mereka lebih berani
mengambil resiko dibanding tipe Investor lainnya.
b. Risk Neutral
Investor yang lebih memilih untuk investasi pada asset yang
tidak terlalu berisiko, tipe Investor yang meminta kenaikan tngkat
pemegembalian yang sama untuk setiap kenaikan resiko. Oleh
karena itu Investor ini cenderung hati-hati dalam mengambil
keputusan investasi.
c. Risk Averter
Investor yang merasa tidak nyaman terhadap risiko, karena
tergolong konservatif. Mereka memilih untuk lebih menghindari
berbagai investasi dengan resiko tinggi, sehingga jika apabila
dihadapkan pada dua pilihan investasi yang tingkat pengembalian
sama dengan resiko yang berbeda, maka investor ini akan mengambil
investasi yang beresiko kecil

Produk pasar modal syariah (skripsi dan tesis)

1) Saham Syariah
Saham merupakan surat berharga keuangan yang diterbitkan
oleh suatu perusahaan saham patungan sebagai suatu alat untuk
meningkatkan modal jangka panjang. Para pembeli saham
membayarkan uang pada perusahaan dan mereka menerima
sertfikat saham sebagai tanda bkti kepemiikan mereka atas saham –
saham dan kepemilikan mereka dicatat dalam daftar saham
perusahaan. ( Manan, 2012: 284). Saham bisa disebut dengan tanda
penyertaan atau tanda kepemilikan seseorag atau badan dalam
suatu perusahaan atau perusahaan terbatas.
Saham syariah adalah saham berdasarkan prinsip syariah,
saham saham yang masuk dalam indek syariah adalah emiten yang
kegiatan usahanya tidak bertentangan denagan dengan syariah,
seperti: usaha perjuadian dan permainan yang tergolong judi,
lembaga keuangan konvensional (ribawi ) termasuk perbankan dan
asuransi konvensional, usaha yang mendistribusikan makanan dan
minuman haram dan yang terakhir usaha yang memproduksi,
mendistribusikan ,menyediakan barang-arang yang dapat merusak
moral dan banya mudaratnya.
2) Reksadana syariah
Reksadana adalah suatu bentuk investasi kolektif yang
memungkinkan bagi investor yang memiliki tujuan investasi
sejenis untuk mengumpulkan dananya, agar dapat diinvestasikan
dalam bentuk portofolio oleh manajer investasi ( Manan, 2012:06).
Reksadana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun
dana dari masyarakat pemodal, utuk selanjutnya di investasikan
lagi dalam bentuk portofolo efek oleh manajer investasi.
Reksadana Syariah adalah sebagai reksadana yang pegelolaan dan
kebijakan investasinya mengacu pada saiat Islam. Reksadana
syariah misalnya tidak menginvestasikan atau produknya
bertetangan dengan syariat Islam, seperti membangun pabrik
minuman yang mengandung alcohol, beternak babi dan sebagainya
( Huda dan Nasution, 2007:106).
Reksadana syariah pertamakali di perkenalkan pada tahun 1995
oleh National Commercial Bank di Saudi Arabia dengan nama
Global Trade Equiity dengan kapitalisasi sebesar U$ 150 juta.
Sedangkan di Indonesia resadana Syariah ada pada tahun 1998 oleh
PT Dana Reksa Investment Manjemen. Fatwa DSN ( Dewan
Syariah Nasional ) MUI N0 20/DSN MUIIX/2000 yang
menyatakan reksadana syariah adalah reskadana yang beroperasi
menurut ketentuan dan prinsip syyariah Isla, baik dalam bentuk
akad anatra pemodal sebagai milik harta ( shahib al-ml/rabb al-
mal) dengan manajer invetasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun
anatara manajer investasu sebagai wakil shahib al-mal dengan
pengguna investasi ( Muzdaifa, 2009).
3) Sukuk
Sukuk merupakan intrumen yang di perdagangkan di pasar
modal syariah. kata sukuk berasal dari bahasa Arab, Shukuk,
bentuk jamak dari kata shaak. Menurut Dewan Syariah Nasional (
DSN ) N0. 32/DSN- MUI/IX/2012 sukuk adalah surat berharga
jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan
Emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan
emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi
syariah berupa bagi hasil, margin, aatau fee serta membayar
kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.
Sedangkan menurut UU surat Berharga Syariah Negara ( SBSN
) sukuk adalah sukuk adalah surat berharga yang diterbitkan
berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti bagian penyertaan asset
SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun asing

Pengertian efek Syariah (skripsi dan tesis)

Dalam peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13 tentang
penerbitan efek syariah, efek syariah adalah efek sebagaimana yang
dimaksud oleh UU Nomor 8 tahun 1995 tentang pasar moda dan
peraturan pelasanaannya, akad, cara dan kegiatan usaha yang tidak
bertentangan ddengan prinsip-prinsip syariah anatara lain:
1) Perjudian dan permainan yang tergoong judi
2) Perdagangan yang dilarangmenurut syariah
3) Jasa keuangan ribawi
4) Jual beli yang mengandung unsur keetidak pastian ( gharar, maisir)
5) Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap

Prinsip dasar pasar modal syariah (skripsi dan tesis)

Secara umum, pasar modal syariah tidak mempunyai perbedaan
dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa
karakteristik khusus di pasar modal syariah yaitu bahwa kegiatan
investasi harus sesuai dengan prnsip-prinsip syariah. penerapan prinsip
syariah di pasar modal adalah pasar modal dengan seluruh kegiatan
investasi terutama mengenai emiten, jenis efek yang diperdagangkan
dan mekanisme perdagangan telah sesuai dengan prinsip syariah. suatu
efek di pandang telah sesuai syariah apabila mendpat pernyataan
kesesuai syariah dari DSN – MUI ( Himpunan Fatwa Keuangan
Syariah, 2014 ).
Terdapat beberapa hal perlu di perhatikan dalam melakukan
investasi agar sesuai dengan prinsip syariah, menurut ( Huda dan
Nasution,2007: 16) prinsip tersebut adalah:
1) Transaksi dilakukan atas harta yang memberikan nilai manfaat
dan harus menghindari transaksi yang dzalim
2) Uang berfungsi sebagai alat pertukaran nilai yang
menggambarkan daya beli suatu barang, bukan merupakan
komoditas perdagangan
3) Transaksi yang dilakukan harus bersifat transparan
4) Resiko harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak melebih
kemampuan menanggung risiko
5) Manajemen yang diterapkan adalah manajemen Islam

Pengertian pasar modal syariah (skripsi dan tesis)

Kegiatan Pasar modal di Indonesia diatur dalam UU Nomor 8
tahun 1995 ( UUPM ). Pasal 1 butir 13 UU Nomor 8 tahun 1995
menjelasakn bahwa pasar modal merupakan kegiatan yang berkaitan
dengan penawaran, perdagangan efek, perusahaan public yang
berkaitan dengan efek yang diterbitkan, serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan efek.
Pasar modal syariah adalah pasar modal yang dalam kegiatannya
harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. pasar modal adalah salah
satu alternative sumber pendanaan bagi perusahaan seta sarana
investasi bagi para investor. Hal ini dapat dikatakan bahwa perusahaan
dapat memperoleh pendanaan melalui penerbitan efek yang bersifat
ekuitas atau surat hutang. Sementara Investor melakukan investasi
dengan cara membeli intrumen investasi. Kegiatan kegiatn ni
merupakan kegiatan ekonomi yang termasuk dalam kegiatan
muamalah.
Kegiatan muamalah adalah suatu kegiatan yang mengatur
hubungan perniagan. Menurut kaidh fikih, hukum asal investasi adalah
boleh ( mubah ) ( Sholihah: 2015 ). Di Indonesia pekembangan pasar
modal syariah sudah sejak tahun 1997. Ditandai dengn lahirnya
reksadana syariah yang diprakarsai oleh PT Danareksa. Selanjutnya PT
Bursa Efek Jakarta ( BEJ ) bersama PT. Danareksa Investment
Management (DIM) meluncurkan Jakarta Islamic Index ( JII ).

Norma dalam Berinvestasi (skripsi dan tesis)

Islam sebagai aturan hidupa yang mengatur seluruh sisi
kehidupan umat manusia, enawarkan berbagai cara dan kiat untuk
menjalani kehidupan yang sesuai dengan norma dan aturan Allah
SWT. Dalam berinvestasi Allah SWT memberikan petunjuk dan
rambu-rambu pokok yang harus di ikuti oleh setiap muslim yang
beriman. ( Huda dan Nasution 2007: 17 ) Diantara ketentuanketentuan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Terbebas dari unsur riba
2) Terhindar dari unsur gharar ( ketidak pastian )
3) Terhindar dari unsur maysir ( judi )
4) Terhindar dari unsur haram
5) Terhindar dari unsur subhat

Investasi dalam Perspektif Islam (skripsi dan tesis)

Secara konseptual, kegiatan berinvetasi dalam ajaran Islam
merupakan kegiatan ekonomi sekaligus kegiatan muamlah. Kegiatan
ini berupa suatu aktifitas yang mengatur hubungan antara manusia.
Dalam kaedah fikih, hukum asal dari kegiatan muamlah itu adalah
mubah ( boleh). Dengan demikian segala hal yang berkaitan dengan
mnusia boleh kecuali yang jelas ada larangaanya ( Shalihah, 2015 ).
Menurut ( Huda dan Nasution, 2007,16) di katakana bahwa
investasi keuangan menurut syari’ah dapat berkaitan dengan kegiatan
perdagangan yang berkaitan dengan suatu produk maupun usaha jasa.
Investasi menurut syari’ah pada prinsipnya kegitan yang dilakukan
oleh pemilik harta (investor) terhadap pemilik usaha (emiten) untuk
memberdayakan pemilik usaha dan melakukan kegiatan usahanya.
Dimana pemilik harta (investor) berharap untuk memperoleh manfaat
tetentu. Kegiatan pembiayaan dan investasi keuangan pada dasarnya
sama dengan kegiatan usaha lainnya, yaitu memelihara keadilan dan
kehalalan.
Investasi secara syari’ah merupakan salah satu ajaran dari
konsep Islam, yang dapat dibuktikan dengan konsep investasi itu
sendiri. Selain sebagai pengetahuan juga bernuansa sepiritual karena
mengunakan norma syari’ah, sekaligus merupakan hakekat dari sebuah
ilmu dan amal, oleh karenanya investasi sangat dianjurkan bagi setiap
muslim. Investasi dalam perspektif Islam hanya dapat dilakukan pada
intrumen yang sesuai dengan syari’ah Islam dan tidak mengandung
unsur yang dilarang dalam Islam

Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Untuk mencapai tujuan investasi, membutuhkan proses dalam
pengambilan keputusan, sehingga dalam keputusan tersebut sudah
mempetimbangkan keuntungan yang akan di dapat juga besar resiko
yang akan dihadapi. Dalam melakukan keputusan investasi, Investor
memerlukan informasi-infomasi mengenai investasi utuk menentukan
pilihan investasi. Tahapan proses investasi:
1) Menentukan kebijakan investasi
artinya bahwa investor menentukan tujuan investasi dan
kemampuan serta kekayaan yang dapat diinvestasikan. Hal ini
penting karena antara return dan resiko berhubungan positif,
tujuan investasi harus dinyatakan baik dalam keuntungan
maupun dalam resiko.
2) Analisis sekuritas,
Melakuakn analisis yang meliputi penilaian terhadap
sekuritas secara individual dengan tujuan mengidentifikasi
sekuritas yang salah harga ( mispriced) . Tujuan penilaian
sekuritas di dasari oleh preferensi investor terhadap resiko yang
akan di dapat.
3) Pembentukan portofolio,
Identiifkasi asset dan penentuan beberapa besar investasi
pada setiap asset tersebut. Biasanya Investor akan menggunakan
berbagai sekuritas dalam berinvestasi, oleh karena itu portofoloio
di bentuk.
4) Melakukan revisi portofolio,
Pada tahapini merupakan pengulangn terhadap tiga tahap
sebelumnya, dengan maksud jika dperlukan melakukan
perubahan
5) Evaluasi kinerja portofolio,
Melakukan penilaian terhadap kinerja portofolio secara
periodic meliputi return dan risiko yang dihadapi.
Para investor mempunyai tujuan investasi yang berbeda, yaitu
untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek dan keuntugan jangka
panjang, jadi dapat disimpulkantujuan investasi adalah untuk
menghasilkan keuntungan di masa yang akan datang

Tujuan dan manfaat Investasi (skripsi dan tesis)

Tujuan Investasi adalah mendapat sejumlah keutuungan.
Menurut ( Kamaruddin, 2004:3 ) dalam kontek ekonomi ada beberapa
tujuan mengapa seseorang melakukan investasi anatra lain adalah
1) Untuk mendapatkan kehidupan yang layak dimasa depan.
Seseorang akan meningkakan taraf hidupnya dari waktu ke waktu
setidaknya untuk tetap mempertahankan pendapatannya agar
tidak berkurang dimasa yang akan datang.
2) Mengurangi tekanan inflasi. Faktor inflasi tidak bisa dihindarkan
dalam perekonomian, yan dapat dilakukan yaitu meminimalkan
resiko salah satunya yaitu dengan berinvestasi,agar ketika inflasi
terjadi nilai asset atau kekayaan tidak jatuh nilainya karena
dampak inflasi.
2) Manfaat bagi Negara, untuk menghemat pajak, diantara Negara
lain banyak mendorong masyarakat untuk berinvestasi melalui
pemberian fasilitas perpajakak kepada masyarkat yang
berinvestasi

Pengertian Investasi (skripsi dan tesis)

Istilah investasi berasal dari bahasa latin , yaitu investire (
memakai), sedangkan dalam bahasa Inggris disebut Investment yang
mempunyai arti menanam. Dalam kamus lengkap Ekonomi yang telah
dijelaskan oleh Achsien Iggie dalam bukunya yang berjudul Investasi
Syariah di pasar modal, investasi diartikan sebagai saham penukaran
uang dengan bentuk-bentuk kekayaan lain seperi saham atau harta
tidak bergerak yang diharapkan dapat ditahan selama periode waktu
tertentu supaya menghasilkan pendapatan ( Huda dan Nasution, 2007:
7 ).
Para ahli dalam bidang investasi memilki pandangan yang
berbeda mengenai konsep investasi, ( fitzgeral dalam Manan, 2012:
149) menyatakan investasi adalah aktivitas yang berkaitan penarikan
sumber dana yang digunakan untuk pemberian barang modal itu akan
menghasilkan produk baru. Dalam defenisi lain, ( Kamaruddin Ahmad
dalam Manan, 2012: 149 ) menyatakan bahwa investasi adalah
menempatkan uang atau dana dengan harapan mendapatkan tambahan
tertentu atas uang atau dana tersebut.
Dalam Kamus Beasr Bahasa Indonesia ( KBBI) disebutkan yang
dimaksud dengan investasi adalah pertama, penanaman uang atau
modal di suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh
keunungan dan kedua, jumlah uang atau modl yang ditanam ( Manan,
2012:149). Jadi, pada dasarnya investasi diartikan sebagai komitmen
atas sejumlah dana atau sumber daya lain yang dilakukan pada saat ini
, dengan tujuan mendapat keuntungan dimasa yang akan datang.
Pada umumnya investasi dibedakan menjadi beberapa jenis yakni
berdasarkan asset, pengaruh, ekonomi, dan menurut sumbernya (
Manan, 2012: 155). Hal ini dapat dilihat sebagai berikut:
1) Investasi berdasarkan asset
Investasi ini di bedakan menjadi dua macam yaitu pertama
investasi pada real asset berupa investasi yang berwujud seperti
investasi gedung, kendaraan, kedua investasi pada financial asset
yaitu berupa dokumen ( surat-surat berharga), dan investasi ini
bisa dilakukan di pasar modal, berupa saham, obligasi, reksadana
dan yang lainnya.
2) Investasi berdasarkan pengaruh
Investasi ini merupakan investasi yang didasarkan pada
keadaan dan faktor dimana berpengaruh tidaknya terhadap kegiatan
investasi. Investasi berdasarkan pengaruh di bagi menjadi dua yaitu
: pertama, investasi autonomous ( berdiri sendiri ), yiautu investasi
yang tidak dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, bersifat spekulatif,
misalnya pembelian surat berharga; kedua, investasi induced (
memengaruhi-menyebabkan ), investasi ini dipengaruhi oleh
permintaan kenaikan akan barang dan jasa.
3) Investasi berdasarkan sumber pembiayaan
Investasi ini didasarkan kepada pembiayaan atau asal usul
investasi memperoleh dana. Investasi ini ada dua jenis yaitu,
investasi yang berasal dari dalam negeri yaitu investor local dan
investasi dari modal asing , bersumber dari investor asing.
Kelebihan dari investasi asing yaitu bersifat jangka panjang.
4) Investasi berdasarkan bentuk
Invesatasi berdasarkan ini di bagi dua yaitu investasi langsung
dan tidak langsung. Investasi langsung biasanya dikaitkan dengan
keterlibatan secara langsung dari pemilik modal dalam kegiatan
pengelolaan modal. Investasi seperti ini bisa berupa pendirian
perusahaan patungan dengan mitra local , melakukan kerja sama
operasi tanpa membentuk perusahaan baru, mengorversikan
pinjaman menjadi penyertaan mayoritas dalam local, memberikan
bantuan teknik dan manajerial maupun dengam memberikan
lisensi.
Investasi tidak langsung merupakan penanaman modal jangka
pendek yang didalamnya ada transaksi di pasar modal dan pasar
uang. Pada investasi tidak langsung pemegang saham tidak
mempunyai kontrol pada pengelolaan kegiatan sehari-hari,
sehingga tidak dapat menggugat perusahaan yang menjalankan
kegiatannya. resiko ditanggung sendiri oleh pemilik modal.
Dalam berinvestasi, hampir semua investasi mengandung
resiko. Pemodal tidak mengetahui pasti hasil yang akan di
dapatkan setelah melakukan investasi. Dalam hal ini dikatakan
bahwa pemodal akan menghadapi resiko dalam investasi yang
dilakukannya, karena adanya resiko, pilihan investasi tidak dapat
hanya mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan (
Shalolihah, 2015).
Dengan kata lain dapat di artikan semakin tinggi keuntungan
yang di harapkan semakin tinggi juga peluang resiko yang
didapatkan. Oleh karena itu perlu di pahami bagaimana proses
investasi, dari awal perumusan kebijakan sampai dengan evaluasi
kenerja investasinya